<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Informasi-Informasi Kerajaan Sriwijaya by Theodorus Eugene Wedjo Sila</title>
      <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-04-28 00:30:18 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-05-04 13:02:03 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Sumber Berita</title>
         <author>24257070theo</author>
         <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3426987346</link>
         <description><![CDATA[<p>Informasi mengenai kerajaan Sriwijaya dapat diketahui melalui beberapa sumber yaitu : </p><p><br></p><p><strong>1. Prasasti-Prasasti</strong></p><p>Ini sumber lokal yang sangat penting:</p><ul><li><p><strong>Prasasti Kedukan Bukit</strong> (683 M): Ditemukan di Palembang. Ini salah satu bukti tertua tentang pendirian Sriwijaya dan ekspedisi militernya. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dengan aksara Pallawa.</p></li><li><p><strong>Prasasti Talang Tuwo</strong> (684 M): Menyebutkan pembangunan taman Sriksetra oleh Raja Sri Jayanasa, sebagai wujud kebajikan dan cita-cita Buddhis.</p></li><li><p><strong>Prasasti Telaga Batu</strong>: Dianggap sebagai prasasti paling "politik", isinya semacam sumpah setia dan kutukan bagi siapa pun yang berkhianat terhadap kerajaan.</p></li><li><p><strong>Prasasti Kota Kapur</strong> (686 M): Menyebutkan ekspedisi militer ke pulau Bangka dan daerah sekitarnya untuk menaklukkan wilayah yang "tidak tunduk".</p></li></ul><p><strong>2. Catatan Asing</strong></p><ul><li><p><strong>I-Tsing</strong> (seorang biksu Tiongkok): Dia tinggal di Sriwijaya selama 6 bulan sekitar tahun 671 M. Dalam catatannya, dia menyebut Sriwijaya sebagai pusat belajar agama Buddha yang hebat, bahkan menyarankan biksu lain belajar di sana sebelum ke India.</p></li><li><p><strong>Catatan Dinasti T’ang (Tiongkok)</strong>: Menyebut Sriwijaya (disebut <em>Shih-li-fo-shih</em>) sebagai kekuatan besar di kawasan barat daya Asia Tenggara.</p></li><li><p><strong>Catatan Arab dan Persia</strong>: Pedagang Arab mengenal Sriwijaya sebagai pusat dagang yang kaya, bahkan dalam beberapa catatan disebut sebagai "Zabag".</p></li></ul><p><strong>3. Peninggalan Arkeologis</strong></p><ul><li><p><strong>Candi Muara Takus</strong> (di Riau): Meskipun lokasinya agak jauh dari Palembang, banyak ahli meyakini ini adalah bagian dari wilayah kekuasaan atau pengaruh Sriwijaya.</p></li></ul><p><strong>Artefak Buddha</strong>: Banyak arca Buddha ditemukan di Sumatra bagian selatan, menunjukkan kuatnya pengaruh agama Buddha di kerajaan ini.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3030307729/5b85ef5f8715535d77a71925e49c6ff8/image.png" />
         <pubDate>2025-04-28 00:55:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3426987346</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Awal Kemunculan</title>
         <author>24257070theo</author>
         <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3426992399</link>
         <description><![CDATA[<p>          Kerajaan Sriwijaya muncul pada abad ke-7 Masehi di wilayah Sumatera bagian selatan, terutama di sekitar Sungai Musi, yang memiliki posisi strategis di jalur perdagangan antara India dan Tiongkok. Keberadaannya tidak lepas dari perkembangan perdagangan maritim internasional pada masa itu, di mana jalur laut menjadi sangat penting untuk menghubungkan berbagai peradaban besar.</p><p>          Sebelum menjadi kerajaan besar, daerah Palembang dan sekitarnya terdiri dari komunitas-komunitas kecil yang kemudian berhasil disatukan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Melalui ekspedisi militer yang disebut dalam Prasasti Kedukan Bukit, Dapunta Hyang membawa sekitar 20.000 pasukan untuk menaklukkan daerah-daerah strategis, memperkuat kekuasaan, dan mengamankan jalur perdagangan. Selain kekuatan politik dan ekonomi, Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat agama Buddha, yang memperkuat hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan besar di India dan Tiongkok. Semua faktor ini mendorong kemunculan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang kuat dan makmur.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3030307729/b61cd61e86868f1fac3db461feb78c10/image.png" />
         <pubDate>2025-04-28 00:59:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3426992399</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Raja - Raja Terkenal</title>
         <author>24257070theo</author>
         <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3427005027</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Dapunta Hyang Sri Jayanasa Dapunta Hyang</strong>&nbsp;</p><p><br></p><p>Sri jayanasa adalah sosok di balik berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa Dapunta Hyang merupakan anggota Wangsa Syailendra. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa ia berasal dari Minangatamwan. Baca juga: Perkembangan dan Kemunduran Kerajaan Sriwijaya Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, diceritakan bahwa `apunta Hyang berhasil melakukan perluasan wilayah kekuasaan hingga ke Minangatamwan. Ia juga berhasil menaklukkan beberapa wilayah, dan membuat sebuah wanua (perkampungan), yang kemudian berkembang menjadi pusat Kedatuan Sriwijaya di Palembang.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3030307729/0de3e6644fb3871ba353afb985a750da/image.png" />
         <pubDate>2025-04-28 01:06:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3427005027</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Raja - Raja Terkenal</title>
         <author>24257070theo</author>
         <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3427010034</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Sri Cudamani Warmadewa</strong> </p><p><br></p><p>Adalah Raja Sriwijaya yang terkenal dalam kronik Tiongkok sebagai Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa. Pada tahun 1003, Raja Sri Cudamani Warmadewa pernah membangun sebuah candi sebagai&nbsp; bentuk dedikasinya kepada kaisar Tiongkok. Candi itu diberi nama Cheng Tien Wan Shou. Nama raja Sri Cudamani Warmadewa diabadikan sebagai nama Vihara Culamani Farma di bagian selatan India. Hal ini tertulis dalam Prasasti Leiden.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3030307729/221f05779fec1b6ce31b7150e76c1b64/image.png" />
         <pubDate>2025-04-28 01:08:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3427010034</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Raja - Raja Terkenal</title>
         <author>24257070theo</author>
         <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3427014681</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Balaputradewa</strong></p><p><br></p><p><strong> </strong>Merupakan raja yang mampu membawa Sriwijaya pada puncak kejayaannya. Menurut Prasasti Nalanda, Balaputradewa merupakan keturunan Dinasti Syailendra. Ia adalah cucu dari seorang raja Jawa yang dijuluki Wirawairimathana (penumpas musuh perwira). Berdasarkan prasasti itu juga, Balaputradewa disebut sebagai raja Suwarnadwipa, yakni nama kuno untuk Pulau Sumatera.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3030307729/4f057dc6ef169035afec45e4592e155e/image.png" />
         <pubDate>2025-04-28 01:10:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3427014681</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Raja - Raja Terkenal</title>
         <author>24257070theo</author>
         <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3427022653</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Sanggrama Wijayattunggawarman Sri Maharaja</strong>&nbsp;</p><p><br></p><p>Sangrama-Wijaya Tungga Warmadewa atau Sanggrama Wijayattunggawarman adalah salah satu raja terkenal dari Kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan Prasasti Tanjore tahun 1030, Kerajaan Sriwijaya pernah diserang oleh Kerajaan Chola dari India, dipimpin Raja Rajendra Chola. Namun, Raja Sanggrama tidak dapat menangkis serangan tersebut. Ia ditangkap dan ditahan. Lalu pada masa kekuasaan Raja Kulotungga I Kerajaan Chola, Raja Sanggrama pun dibebaskan.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3030307729/51ad31c28ec104e329279d28298ea2a8/image.png" />
         <pubDate>2025-04-28 01:14:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3427022653</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Raja - Raja Terkenal</title>
         <author>24257070theo</author>
         <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3427027549</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Sri Sudamaniwarmadewa</strong>&nbsp;</p><p><br></p><p>Pada masa pemerintahannya, terjadi serangan dari Raja Dharmawangsa. Namun, serangan itu berhasil digagalkan tentara Sriwijaya. Sri Sudamaniwarmadewa kemudian digantikan oleh putranya bernama Marawijayatunggawarman.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3030307729/12fd5e62feedafd8c5c6859a15e63f03/image.png" />
         <pubDate>2025-04-28 01:17:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3427027549</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Masa Kejayaan dan Bukti - Buktinya</title>
         <author>24257070theo</author>
         <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3427031967</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Catatan I-Tsing (Yijing)<br></strong> Seorang biksu dari Tiongkok yang singgah di Sriwijaya tahun 671 M. Ia mencatat bahwa Sriwijaya adalah pusat studi agama Buddha yang maju, dan menyarankan biksu lain untuk belajar di sana sebelum ke India.<br><br></p><p><strong>Prasasti Kedukan Bukit (683 M)<br></strong> Prasasti ini ditemukan di Palembang dan menunjukkan ekspedisi militer yang berhasil, serta memperlihatkan kekuatan dan perluasan wilayah Sriwijaya.<br><br></p><p><strong>Prasasti Ligor (775 M)<br></strong> Ditemukan di Thailand Selatan, membuktikan pengaruh Sriwijaya sampai ke Semenanjung Malaya.<br><br></p><p><strong>Prasasti Nalanda di India<br></strong> Menyebutkan raja Sriwijaya bernama Balaputradewa membangun asrama untuk pelajar asal Sriwijaya di Universitas Nalanda, menunjukkan hubungan budaya dan keagamaan yang kuat dengan India.<br><br></p><p><strong>Pengaruh di wilayah luas<br></strong> Sriwijaya menguasai wilayah Sumatra, sebagian Jawa, Kalimantan Barat, Semenanjung Malaya, dan pesisir Thailand, menjadikannya kekuatan maritim dominan di Asia Tenggara.<br><br></p><p><strong>Penemuan artefak Buddha<br></strong> Patung-patung dan arca Buddha dari zaman Sriwijaya ditemukan di Sumatra dan sekitarnya, mencerminkan kejayaan budaya dan agama</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3030307729/7a4ef1b4ce4a21c8512b6b17432ab9d3/image.png" />
         <pubDate>2025-04-28 01:19:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3427031967</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Masa Keruntuhan dan Penyebabnya</title>
         <author>24257070theo</author>
         <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3435419735</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-7 hingga abad ke-13. Berpusat di Sumatra, terutama di sekitar Palembang modern, Sriwijaya dikenal sebagai pusat perdagangan dan agama Buddha Mahayana. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka menjadikan Sriwijaya sebagai simpul penting dalam jaringan dagang internasional yang menghubungkan India, Tiongkok, dan wilayah Asia Tenggara lainnya. Selain perdagangan, kerajaan ini juga terkenal sebagai pusat pembelajaran agama Buddha, yang menarik banyak pelajar dan biksu dari berbagai negara, termasuk Tiongkok, seperti yang dicatat oleh pengelana Tiongkok I-Tsing pada abad ke-7.</p><p>Keruntuhan Sriwijaya terjadi secara bertahap, bukan dalam satu peristiwa tunggal. Salah satu penyebab utamanya adalah serangan dari Kerajaan Chola dari India Selatan pada tahun 1025 M. Serangan ini melemahkan kekuatan militer dan ekonomi Sriwijaya secara signifikan. Selain itu, munculnya kekuatan-kekuatan baru di Nusantara seperti Kerajaan Majapahit dan berkembangnya kerajaan-kerajaan di Jawa, serta berpindahnya jalur perdagangan dari Selat Malaka ke jalur lain, menyebabkan pengaruh Sriwijaya menurun drastis. Faktor internal seperti perebutan kekuasaan dan lemahnya sentralisasi pemerintahan juga turut mempercepat keruntuhannya.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-05-04 12:53:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3435419735</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kehidupan Sosial-Ekonomi</title>
         <author>24257070theo</author>
         <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3435420741</link>
         <description><![CDATA[<p>Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim dengan kehidupan sosial dan ekonomi yang maju, didukung oleh lokasinya yang strategis di jalur perdagangan internasional. Kehidupan sosialnya ditandai dengan keberagaman etnis dan budaya, sementara perekonomiannya didorong oleh perdagangan laut dan pertanian</p><p><br></p><ul><li><p><strong>- Keragaman Etnis dan Budaya:<br></strong>Sriwijaya memiliki masyarakat yang beragam etnis dan budaya, menciptakan lingkungan yang multikultural.&nbsp;</p></li><li><p><strong>- Sistem Kasta dan Kelas Sosial:<br></strong>Terdapat sistem kasta dan kelas sosial yang mengatur kehidupan masyarakat, meskipun kurang jelas seperti apa struktur kasta tersebut.&nbsp;</p></li><li><p><strong>- Agama dan Kepercayaan:<br></strong>Agama Buddha, khususnya aliran Mahayana dan Hinayana, berkembang di kalangan masyarakat Sriwijaya, selain itu juga ada pengaruh agama lain seperti Hindu dan kepercayaan lokal.&nbsp;</p></li><li><p><strong>Pendidikan:<br></strong>Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai pusat pendidikan agama Buddha, menarik cendekiawan dan peziarah dari berbagai negara.&nbsp;</p></li></ul><p><strong>Kehidupan Ekonomi:</strong></p><ul><li><p><strong>- Perdagangan Laut:<br></strong>Perdagangan laut menjadi tulang punggung perekonomian Sriwijaya, dengan jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Asia Tenggara dengan negara-negara lain seperti Tiongkok dan India.&nbsp;</p></li><li><p><strong>- Komoditas Ekspor:<br></strong>Sriwijaya mengekspor berbagai komoditas seperti timah, gading, kayu cendana, kapur barus, kayu gaharu, rempah-rempah, dan produk pertanian.&nbsp;</p></li><li><p><strong>- Pajak:<br></strong>Kerajaan Sriwijaya menerapkan sistem pajak terhadap kapal yang singgah di wilayahnya untuk mendapatkan pendapatan.&nbsp;</p></li><li><p><strong>- Pertanian:<br></strong>Pertanian juga merupakan bagian penting dari perekonomian, dengan hasil pertanian yang diperjualbelikan kepada pedagang asing.&nbsp;</p></li></ul><p><strong>- Pusat Perdagangan:<br></strong>Letak geografis yang strategis di jalur perdagangan internasional menjadikan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan yang ramai dan makmur.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3030307729/51126d5c54c5b8a60c337315417e453c/image.png" />
         <pubDate>2025-05-04 12:56:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3435420741</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kehidupan Kebudayaan-Agama</title>
         <author>24257070theo</author>
         <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3435422301</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p><strong>Agama Buddha sebagai Agama Utama<br></strong> Buddha Mahayana menjadi agama utama dan didukung penuh oleh kerajaan. Sriwijaya dikenal sebagai pusat studi Buddha yang terkenal di dunia timur.</p></li><li><p><strong>Hubungan Agama Internasional<br></strong> Sriwijaya memiliki hubungan erat dengan pusat-pusat keagamaan di India dan Tiongkok. Raja Balaputradewa bahkan membangun asrama untuk pelajar Sriwijaya di Universitas Nalanda, India.</p></li><li><p><strong>Toleransi Agama<br> Meskipun agama Buddha mendominasi, kepercayaan lokal dan pengaruh Hindu tetap hidup berdampingan dalam masyarakat.</strong></p></li><li><p><strong>Peran Raja dalam Keagamaan<br></strong> Raja tidak hanya sebagai pemimpin politik, tapi juga sebagai pelindung agama. Dukungan kerajaan terhadap kegiatan keagamaan sangat besar, termasuk pembangunan vihara dan tempat belajar agama.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3030307729/0c27a8f729c8981a277f715db73dfe60/image.png" />
         <pubDate>2025-05-04 12:59:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3435422301</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peninggalan - Peninggalan Bersejarah</title>
         <author>24257070theo</author>
         <link>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3435423319</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>1. Prasasti Kedukan Bukit</strong></p><p>Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang pertama adalah berupa prasasti yaitu Prasasti Kedukan Bukit. Prasasti ini ditemukan di sekitar tepian sungai Batang, Kedukan Bukit di Kota Palembang.</p><p>Pada prasasti peninggalan kerajaan, tertulis angka tahun yaitu pada 686 M yang ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa serta menggunakan bahasa Sansekerta.</p><p>Dalam prasasti tersebut, berisi ungkapan tentang Dapunta Hyang yang menaiki sebuah perahu serta mengisahkan tentang kemenangan dari Kerajaan Sriwijaya.</p><p><strong>2. Prasasti Kota Kapur</strong></p><p>Peninggalan kedua dari Kerajaan Sriwijaya adalah prasasti Kota Kapur yang ditemkan di sekitar Pulau Bangkan di sebelah barat dan berisi mengenai kutukan untuk orang-orang yang berani melanggar perintah dari Raja Kerajaan Sriwijaya saat itu.</p><p><strong>3. Prasasti Telaga Batu</strong></p><p>Prasasti berikutnya adalah prasasti Telaga Batu yang ditemukan di Kolam Telaga Biru di Kecamatan Ilir Timur di Kota Palembang. Dalam prasasti tersebut, berisi mengenai kutukan mengenai orang-orang jahat yang berada di sekitar wilayah Kerajaan Sriwijaya.</p><p><strong>4. Prasasti Karang Berahi</strong></p><p>Prasasti ini disebut sebagai Karang Berahi dikarenakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini ditemukan di Desa Karang Berahi, Merangi di Jambi. Dalam prasasti tersebut, berisi mengenai kutukan mengenai orang yang bersikap jahat serta tidak setia pada Raja Sriwijaya.</p><p><strong>5. Prasasti Palas Pasemah</strong></p><p>Peninggalan lain dari Kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di sekitar pinggir rawa Desa Palas Pasemah di Lampung Selatan. Dalam prasasti tersebut, ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa serta menggunakan bahasa Melayu Kuno. prasasti ini berisi mengenai kutukan pada orang-orang jahat yang tidak setia kepada Raja Sriwijaya.</p><p><strong>6. Prasasti Talang Tuo</strong></p><p>Dalam prasasti Talang Tuo, berisi tentang doa dari Buddha Mahayana serta kisah tentang pembangunan sebuah taman dari Sri Jayasana.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3030307729/3a48baaab6d9fc8632f2cc9833133204/image.png" />
         <pubDate>2025-05-04 13:02:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/24257070theo/ztxeuu823rmgy36l/wish/3435423319</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
