<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Perlawanan bangsa Indonesia terhadap Kolonialisme dan Imperialisme by Wanda Muti alivia</title>
      <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20</link>
      <description>Silakan gunakan kolom-kolom diskusi di bawah ini sesuai kebutuhan. Tambahkan topik atau tanggapan Anda di masing-masing kolom.</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-08-19 21:51:18 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-02 09:41:27 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/8.0/svg/1f341.svg</url>
      </image>
      <item>
         <title>PERLAWANAN DALAM ASPEK SOSIAL BUDAYA</title>
         <author>wandamutialiviaa</author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548107921</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Gerakan Sosial di atas Tanah Partikelir</strong></p><p>Gerakan sosial ini adalah bentuk protes dan perlawanan atas peraturan Belanda yang tidak adil, serta rasa tidak puas atas kondisi sosial-ekonomi yang kurang memberikan tempat bagi kehidupan para pelaku dan pendukung gerakan sosial ini. Gerakan sosial ini muncul di kalangan petani yang merasakan ketidakadilan karena praktik penjualan atau pemberian hadiah tanah oleh Pemerintah Belanda kepada perseorangan atau swasta, yang kemudian menjadi tuan tanah.</p><p>Tanah inilah yang kemudian menjadi tanah partikelir (swasta). Para tuan tanah tersebut merasa memiliki hak untuk menindas penduduk yang ada di tanah partikelir mereka. Penduduk di tanah tersebut diharuskan menyerahkan hasil garapan mereka dan memeras tenaga mereka selayaknya budak.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQpnavwdK6xuxHIyy8jC23EmRxdGS0e2oZN_g&amp;s" />
         <pubDate>2025-08-19 22:25:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548107921</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PERLAWANAN DALAM ASPEK SENI DAN SASTRA </title>
         <author>wandamutialiviaa</author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548178039</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Eduard Douwes Dekker: Max Havelaar</strong></p><p>Eduard Douwes Dekker merupakan nama pena dari Multatuli, seorang Belanda yang peduli pada nasib kaum pribumi. Nama Multatuli sendiri diambil dari bahasa Latin yang berarti “banyak yang sudah aku derita”. Kepedulian Douwes Dekker ini kemudian dituangkan dalam novelnya yang berjudul Max Havelaar (1860). Novel inilah yang kemudian menjadi inspirasi pergerakan nasional Indonesia serta mendorong sastrawan-sastrawan Indonesia menuangkan pemikiran mereka mengenai penjajahan Belanda, khususnya angkatan Pujangga Baru (1933–1942).</p><p><br></p><p><strong>Mas Marco Kartodikromo: Student Hidjo dan Rasa Merdeka</strong></p><p>Mas Marco merupakan keturunan priyayi rendahan di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Mas Marco bergabung dengan Medan Prijaji yang menjadi surat kabar yang menyuarakan pemikiran pribumi terpelajar.</p><p>Medan Prijaji ini dipimpin oleh Tirto Adhi Suryo. Saat bekerja di Medan Prijaji, Mas Marco bertemu dengan Ki Hajar Dewantara dan Douwes Dekker, yang kemudian menjadi bagian dari Indische Partij.</p><p>Lewat tulisan-tulisannya, Mas Marco mengajak kaum terdidik Indonesia pada masa itu untuk membangun kesadaran politik masyarakat pribumi. Kesadaran politik ini dianggap penting untuk menggerakkan masyarakat pribumi untuk bergerak melawan pemerintahan kolonial dalam kesetaraan dan solidaritas.</p><p>Tulisan-tulisannya inilah yang kemudian membuat Mas Marco ditangkap dan dibuang oleh pemerintah kolonial ke Boven-Digoel, Papua, pada tahun 1926. Mas Marco kemudian meninggal di sana pada tahun 1932 karena malaria.</p><p><br></p><p><strong>Soewarsih Djojopoespito: Manusia Bebas</strong></p><p>Soewarsih merupakan pengarang perempuan yang menulis novel “Manusia Bebas” pada tahun 1940. Novel tersebut diterbitkan dalam bahasa Belanda dengan judul “Buiten het Gareel” yang berarti “Di Luar Kekang”.</p><p>Novel ini berkisah mengenai para pendiri dan guru “sekolah liar” yang tak pernah putus asa walau hidup serba kekurangan dan tak pernah mengenal takut sekalipun diawasi dan diancam ditangkap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sekolah liar pada masa penjajahan Belanda adalah sekolah-sekolah swasta yang didirikan oleh para tokoh pendidikan Indonesia untuk memajukan pendidikan bagi masyarakat pribumi.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://static.wixstatic.com/media/89f178_700440232d744c9db24f56e5a7643c78~mv2.jpg/v1/fill/w_654,h_392,al_c,lg_1,q_80,enc_avif,quality_auto/89f178_700440232d744c9db24f56e5a7643c78~mv2.jpg" />
         <pubDate>2025-08-20 00:08:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548178039</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PERLAWANAN DALAM ASPEK PENDIDIKAN</title>
         <author>wandamutialiviaa</author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548180212</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Indisch Nederlandse School Kayu Tanam</strong></p><p>Indisch Nederlandse School Kayu Tanam didirikan di Kayu Tanam, Padang, pada tanggal 31 Oktober 1926 oleh Mohammad Syafei, tokoh pendidikan nasional yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ketiga dalam Kabinet Sjahrir II. Sekolah ini kemudian melahirkan beberapa nama besar dalam sejarah politik dan seni nasional, seperti Ali Akbar Navis, Mochtar Lubis, dan Tarmizi Taher.</p><p>Mohammad Syafei sangat menekankan pentingnya pendidikan bagi bangsa Indonesia karena melalui pendidikan, bangsa Indonesia dapat mengembangkan rasa nasionalisme. Visi pendidikan Mohammad Syafei adalah head, heart, dan hand.&nbsp;&nbsp;</p><p>Head berarti sekolah memfasilitasi para siswanya untuk mampu berpikir rasional, heart berarti sekolah memfasilitasi para siswanya menjadi pribadi dengan karakter yang mulia, dan hand berarti sekolah memfasilitasi para siswanya agar dapat memiliki keterampilan yang nyata sesuai dengan bakat yang dikaruniakan Tuhan kepada masing-masing orang.</p><p><br></p><p><strong>Taman Siswa</strong></p><p>Taman Siswa didirikan pada tanggal 3 Juli 1922 oleh Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta. Taman Siswa menjadi salah satu organisasi pergerakan yang bergerak di bidang pendidikan pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ki Hajar Dewantara menerapkan tiga konsep pengajaran di Taman Siswa, yaitu <em>ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani</em>.</p><p><em>Ing ngarso sung tulodo</em> memiliki arti bahwa para guru memiliki tanggung jawab dalam memberikan pendidikan dan harus mampu memberi contoh sikap dan perilaku yang baik, agar dapat menjadi teladan bagi para siswanya.</p><p><em>Ing madya mangun karsa</em> memiliki arti bahwa guru harus mampu memberikan motivasi yang baik pada para siswanya dan memberikan bimbingan yang terus-menerus supaya para siswanya mampu berkembang sesuai dengan bakat dan minat mereka.</p><p>Sementara <em>Tut wuri handayani</em> memiliki arti bahwa guru wajib membimbing para siswanya agar dapat menggali sendiri pengetahuannya dan menemukan makna dari pengetahuan yang mereka peroleh, agar pengetahuan mereka dapat berguna bagi kehidupan mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9d/One_of_the_corners_of_INS_Kayutanam.png/250px-One_of_the_corners_of_INS_Kayutanam.png" />
         <pubDate>2025-08-20 00:10:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548180212</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Bali (1848-1908)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548299201</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><mark>Perjuangan Rakyat Bali Melawan Pemerintahan Kolonial Belanda</mark></strong></p><p>Atika Sari Pangesti (9)</p><p>Aurel Sasi Kirana (10)</p><var>
</var><p>perang Bali yang terjadi antara tahun 1846–1908 berawal dari kebijakan tradisional rakyat Bali yang disebut tawan karang, yaitu hak untuk menguasai kapal asing yang karam di wilayahnya. Kebiasaan ini dianggap merugikan perdagangan Belanda, sehingga dijadikan alasan untuk melakukan intervensi dan penyerangan. Pada tahun 1846, sebuah kapal Belanda karam di perairan Buleleng dan diambil oleh rakyat setempat sesuai adat, sehingga memicu Belanda melancarkan serangan militer ke Bali. Perlawanan rakyat Bali berlangsung sengit dan melibatkan berbagai kerajaan, seperti Buleleng, Karangasem, Badung, dan Klungkung. Pertempuran besar terjadi berulang kali hingga akhirnya mencapai puncaknya dalam peristiwa Puputan Badung dan Puputan Klungkung, ketika rakyat Bali memilih berperang habis-habisan daripada menyerah kepada Belanda. Meskipun perlawanan tersebut akhirnya berhasil dipatahkan dan Bali masuk ke dalam kekuasaan Hindia Belanda, peristiwa ini sangat penting karena menunjukkan keberanian rakyat Bali dalam mempertahankan kedaulatan, serta menjadi simbol harga diri dan semangat anti-kolonialisme bangsa Indonesia.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://pin.it/pIVop603X" />
         <pubDate>2025-08-20 01:39:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548299201</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Rakyat Batak (1878-1907)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548304327</link>
         <description><![CDATA[<p>Nanda Islami Fitriani (23)</p><p>Regita Anggraeni (29)</p><p><br></p><p><br></p><p>Pusat Kerajaan Batak terletak di Bakkara (sebelah barat daya Danau Toba) dengan raja terakhir Kerajaan Batak bernama Sisingamangaraja XII.</p><p>Perang Batak meletus saat Belanda menempatkan pasukan di Tarutung untuk melindungi penyebaran agama Kristen oleh Nommensen. Raja Sisingamangaraja XII menyerang kedudukan Belanda, dan perang berlangsung tujuh tahun di Tapanuli Utara (Bahal Batu, Siborong-borong, Balige, Laguboti, Lumban Julu).</p><p>Tahun 1894, Belanda menyerang pusat kerajaan di Bakkara sehingga Sisingamangaraja XII pindah ke Parlilitan. Tahun 1904, Belanda memperluas serangan dari Aceh dan Medan. Tahun 1907, istri dan anak-anaknya tertangkap, namun Sisingamangaraja XII tetap bertahan. Pada 17 Juni 1907 ia gugur bersama putrinya Lopian dan dua putranya, menandai berakhirnya Perang Batak.</p><p>Hal-hal penting Perlawanan Rakyat Batak:</p><p>1. Latar belakang: Belanda masuk Tarutung untuk melindungi penyebaran Kristen oleh zending Nommensen.</p><p>2. Dipimpin oleh: Raja Sisingamangaraja XII.</p><p>3. Wilayah perang: Tapanuli Utara (Bahal Batu, Siborong-borong, Balige, Laguboti, Lumban Julu).</p><p>4. Tahun penting:</p><p>1894 → Belanda serang pusat kerajaan di Bakkara, Sisingamangaraja pindah ke Parlilitan.</p><p>1904 → Belanda melancarkan serangan besar dari Aceh dan Medan.</p><p>1907 → Istri dan anak Sisingamangaraja tertangkap, lalu 17 Juni 1907 ia gugur di hutan Simsim.</p><p>5. Akibat: Gugurnya Sisingamangaraja XII → berakhirnya Perang Batak.</p><p>6. Makna: Perlawanan ini menunjukkan semangat pantang menyerah rakyat Batak melawan penjajahan Belanda.</p><p>Akhir dari Perang Batak, pasukan Marsose di bawah pimpinan Kapten Christoffle berhasil menangkap keluarga Sisingamangaraja XII. Sisingamangaraja XII beserta pengikutnya me-larikan diri ke hutan Simsim. Dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907, Sisingamangaraja XII gugur bersama seorang putrinya yang bernama Lapian dan dua orang putranya yang bernama Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta sejumlah pengikutnya.</p><p>tangsi Jenazah Sisingamangaraja XII dibawa ke Taruntung dan dimakamkan di depan tan militer Belanda, kemudian pada tahun 1953 makam Sisingamangaraja XII dipindahkan ke Soposurung di Balige.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://pin.it/ERnMp1tWa" />
         <pubDate>2025-08-20 01:43:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548304327</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Bali Tahun 1848-1908</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548305133</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Andira Riandika/6</strong></p><p><strong>Andreas Bagus/7</strong></p><p><br></p><p>Penjelasan :</p><p>📖 Materi Perang Bali (1848–1908)</p><p>1. Latar Belakang</p><p>Abad ke-19, Belanda semakin memperluas kekuasaan di Nusantara.</p><p><br></p><p>Bali memiliki sistem kerajaan-kerajaan kecil yang masih kuat, belum mau tunduk pada Belanda.</p><p><br></p><p>Penyebab utama:</p><p><br></p><p>Sistem tawan karang (kapal asing yang karam boleh diambil isinya oleh rakyat Bali) ditentang Belanda.</p><p><br></p><p>Belanda ingin menguasai Bali karena letaknya strategis di jalur perdagangan.</p><p><br></p><p>Konflik politik antara kerajaan-kerajaan Bali dan campur tangan Belanda.</p><p><br></p><p>2. Jalannya Perang</p><p>1846 : Belanda pertama kali menyerang Buleleng, namun mendapat perlawanan sengit.</p><p><br></p><p>1848–1849 :</p><p><br></p><p>Perang besar terjadi di Jagaraga (Buleleng), dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik.</p><p><br></p><p>Muncul perlawanan puputan (perang habis-habisan sampai mati) sebagai simbol kehormatan.</p><p><br></p><p>1858–1868 : Belanda terus melakukan ekspedisi militer ke berbagai kerajaan Bali (Bangli, Klungkung, Karangasem).</p><p><br></p><p>1906 : Puputan di Denpasar (Kerajaan Badung) melawan Belanda.</p><p><br></p><p>1908 : Puputan terakhir terjadi di Klungkung, menandai runtuhnya kedaulatan kerajaan-kerajaan Bali.</p><p><br></p><p>3. Tokoh-Tokoh Penting</p><p>I Gusti Ketut Jelantik → Pahlawan Jagaraga.</p><p><br></p><p>Raja-Raja Bali (Badung, Klungkung, Karangasem, dll.) → memimpin rakyat melawan Belanda.</p><p><br></p><p>4. Akibat Perang Bali</p><p>Banyak korban jiwa karena tradisi puputan (perang sampai mati).</p><p><br></p><p>Kerajaan-kerajaan Bali akhirnya jatuh ke tangan Belanda.</p><p><br></p><p>Bali resmi menjadi bagian dari Hindia Belanda pada tahun 1908.</p><p><br></p><p>Semangat perjuangan rakyat Bali menjadi inspirasi bagi perlawanan daerah lain.</p><p><br></p><p>5. Nilai-Nilai yang Bisa Dipetik</p><p>Keberanian &amp; pengorbanan dalam mempertahankan tanah air.</p><p><br></p><p>Pantang menyerah meskipun menghadapi senjata modern Belanda.</p><p><br></p><p>Cinta tanah air dan solidaritas antar masyarakat Bali.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4242215344/7ce2bcb61cb5a4469d678703a2df735f/1200px_Puputan_of_the_Raja_of_Boeleleng.jpg" />
         <pubDate>2025-08-20 01:43:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548305133</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sultan Agung Melawan VOC</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548310015</link>
         <description><![CDATA[<p>Fairus Qyren Cotrounada/16</p><p>Rifka Aulya Nur Az Zahra/32</p><p><br></p><p>Sultan Agung dari Kerajaan Mataram menentang monopoli perdagangan VOC di Jawa yang merugikan pedagang pribumi dan rakyat.</p><p>Alasan serangan ke Batavia: monopoli VOC, penghalangan kapal dagang Mataram ke Malaka, penolakan pengakuan kedaulatan Mataram, dan ancaman VOC di Batavia terhadap masa depan Jawa.</p><p>Serangan Pertama (1628): Pasukan Mataram di bawah Tumenggung Baureksa menyerang Batavia, namun gagal karena kekuatan senjata VOC yang unggul.</p><p>Serangan Kedua (1629): Sultan Agung mempersiapkan serangan kedua dengan meningkatkan jumlah kapal, senjata, dan membangun lumbung beras, namun persiapan ini diketahui VOC, sehingga lumbung beras dihancurkan dan serangan kembali gagal karena persenjataan VOC yang lebih lengkap.</p><p>Meskipun perlawanan Sultan Agung gagal, semangat dan cita-cita melawan dominasi asing tetap tertanam, namun tidak diwarisi oleh raja-raja penggantinya, sehingga Mataram melemah dan dikendalikan VOC setelah Sultan Agung meninggal pada tahun 1645.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://images.app.goo.gl/RG1PFicLu9pppLEFA" />
         <pubDate>2025-08-20 01:47:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548310015</guid>
      </item>
      <item>
         <title>GOWA MELAWAN VOC</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548312060</link>
         <description><![CDATA[<p>BUNGA (13)FATIYA (17)</p><p><br></p><p>Kerajaan Gowa yang berpusat di Somba Opu menjadi pusat perdagangan internasional dan menolak monopoli VOC karena masyarakat Gowa menganut prinsip bahwa tanah dan laut adalah milik bersama. Hal ini membuat VOC berusaha menguasai Pelabuhan Somba Opu yang strategis, namun serangan pertama pada 1634 gagal. Sultan Hasanuddin kemudian bertekad menghentikan monopoli VOC, sementara VOC melakukan politik divide et impera dengan menggandeng Aru Palaka dari Bone. Pada 7 Juli 1667 pecahlah Perang Gowa, di mana VOC yang dipimpin Cornelis Janszoon Speelman bersama pasukan Ambon, Manipa, serta Aru Palaka berhasil mengalahkan Gowa karena memiliki senjata lebih lengkap. Benteng pertahanan Gowa jatuh, dan Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Isi perjanjian tersebut antara lain </p><p><br></p><p>1)Gowa harus mengakui hak monopoli VOC</p><p><br></p><p>2)semua orang Barat selain Belanda harus meninggalkan Gowa</p><p><br></p><p>3)Gowa wajib membayar biaya perang.</p><p><br></p><p>Meskipun Sultan Hasanuddin sempat menolak, pada akhirnya ia terpaksa melaksanakan perjanjian tersebut. Akibatnya, benteng pertahanan Gowa dikuasai VOC dan dijadikan Benteng Rotterdam, sehingga kekuatan Gowa melemah dan VOC semakin berkuasa di Indonesia</p><p> Timur.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://youtu.be/Bz4mbGdJ7NM?si=1JujyhQbCk54FeSM" />
         <pubDate>2025-08-20 01:49:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548312060</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Diponegoro (1825-1830)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548313302</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Perang Jawa</strong> juga dikenal sebagai <strong>Perang Diponegoro</strong> (<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris">Inggris</a>: <em>Java War</em>, <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Belanda">Belanda</a>: <em>De Java Oorlog</em>) adalah perang besar dan berlangsung selama lima tahun (1825-1830) di Pulau <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>, <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hindia_Belanda">Hindia Belanda</a> (sekarang <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>). Perang ini melibatkan pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hendrik_Merkus_de_Kock">Hendrik Merkus de Kock</a> yang berusaha meredam perlawanan penduduk Jawa di bawah pimpinan <a rel="noopener noreferrer nofollow" class="mw-redirect" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pangeran_Diponegoro">Pangeran Diponegoro</a>. Akibat perang ini, penduduk Jawa yang tewas mencapai 200.000 jiwa, sementara korban tewas di pihak Belanda berjumlah 8.000 tentara Belanda dan 7000 serdadu pribumi. Akhir perang menegaskan penguasaan Belanda atas Pulau Jawa.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQMQSl38QbDgStTOlbVgqxoriz5iJq_8nt4n29HNs8eHh77fHGlkasl_tY&amp;s=10" />
         <pubDate>2025-08-20 01:50:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548313302</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Banten Melawan VOC </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548314370</link>
         <description><![CDATA[<p>• Devina Hapsari   (15)</p><p>• Launa Fatmasuri (19)</p><p><br></p><p><br></p><p> <strong>Alasan VOC ingin kuasai Banten :</strong></p><p><br></p><p>  •Banten adalah bandar perdagangan internasional yang strategis.</p><p>  •VOC ingin memonopoli perdagangan dan mengalahkan posisi Banten sebagai pusat perdagangan internasional.</p><p><br></p><p><strong>Usaha Sultan Ageng Tirtayasa melawan VOC :</strong></p><p><br></p><p>  • Mengembangkan perdagangan dengan bangsa Eropa (Inggris, Prancis, Denmark) dan Asia (Persia, Benggala, Siam, Tonkin, Cina, India).</p><p>  • Membuat benteng pertahanan di Banten (Benteng Surosowan, Benteng Speelwijk, dan lainnya).</p><p>  •Membangun irigasi untuk meningkatkan pertanian dan memperkuat ekonomi rakyat.</p><p><br></p><p> <strong>Penyebab konflik internal :</strong></p><p><br></p><p>   Terjadi perebutan kekuasaan antara <strong>Sultan Ageng Tirtayasa</strong> dan putranya <strong>Sultan Haji</strong>.</p><p>  • Sultan Haji meminta bantuan VOC untuk memperkuat posisinya melawan ayahnya.</p><p><br></p><p><strong>Isi perjanjian Sultan Haji dengan VOC :</strong></p><p><br></p><p>  1. Banten harus menyerahkan Cirebon kepada VOC.</p><p>  2. VOC memonopoli lada di Banten dan menyingkirkan pedagang dari Persia, India, Cina.</p><p>  3. Banten harus membayar 600.000 ringgit jika melanggar janji.</p><p>  4. Pasukan Banten di Priangan harus ditarik.</p><p><br></p><p> <strong> Akibatnya </strong>:</p><p><br></p><p>  •Tahun 1681 VOC berhasil merebut Kesultanan Banten.</p><p>  •Sultan Haji menjadi sultan boneka di bawah kendali VOC.</p><p>  •Sultan Ageng Tirtayasa melawan, tetapi akhirnya kalah pada 1682 setelah istana Surosowan jatuh ke tangan VOC.</p><p><br></p><p><br></p><p> Jadi, <strong>alasan utama konflik</strong> : VOC ingin memonopoli perdagangan internasional di Banten, ditambah konflik internal antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji yang dimanfaatkan VOC.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://www.kompas.com/skola/image/2020/10/19/194717569/perlawanan-banten-terhadap-voc?page=1" />
         <pubDate>2025-08-20 01:50:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548314370</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Pattimura</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548315669</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Muna Salsabila (22)</strong></p><p><strong>Yessica Herawati (35)</strong></p><p><br></p><p>Perjuangan melawan pemerintah kolonial Belanda terjadi di Maluku. Perjuangan rakyat Maluku dalam melawan pemerintah kolonial Belanda di bawah pimpinan Pattimura</p><p><br></p><p>Latar belakang perlawanan rakyat Maluku</p><ol><li><p>Pemerintah kolonial memberlakukan kembali penyerahan wajib dan kerja wajib.</p></li><li><p>Pemerintah kolonial menurunkan tarif hasil bumi yang wajib diserahkan, sedangkan pembayarannya tersendat-sendat</p></li><li><p>Pemerintah kolonial memberlakukan uang kertas, sedangkan rakyat Maluku telah terbiasa dengan uang logam.</p></li><li><p>Pemerintah kolonial menggerakkan pemuda Maluku untuk menjadi prajurit Belanda.</p></li></ol><p><br></p><p>Perlawanan rakyat Maluku dimulai oleh Kapitan Pattimura yang mengajukan keluhan atas tindakan semena-mena Belanda, yang tidak ditanggapi. Akibatnya, rakyat Maluku menyerbu Benteng Duurstede dan membunuh Residen Van den Bergh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan wilayah lain, mendesak kedudukan Belanda. Belanda kemudian mengerahkan kekuatan dan berhasil merebut kembali Benteng Duurstede pada awal Agustus 1817, tetapi perlawanan berlanjut secara gerilya. Perlawanan berakhir saat Kapitan Pattimura dan teman-temannya menyerah, kemudian diadili dan di Ambon dan dihukum mati pada 16 Desember 1817 di depan Benteng Nieuw Victoria, mereka gugur sebagai pahlawan dalam membela rakyat yang tertindas.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://pin.it/57X4GR77w" />
         <pubDate>2025-08-20 01:51:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548315669</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Aceh (1873-1904) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548317364</link>
         <description><![CDATA[<p>1.Anggita Reza Aulia (08) </p><p>2.Rasya Aliffia Gieska Ramadhani (28) </p><p><br></p><p>Perang Aceh adalah konflik militer bersenjata antara Kesultanan Aceh dan Kerajaan Belanda yang dipicu oleh diskusi antara perwakilan Aceh dan Amerika Serikat di Singapura pada awal tahun 1873.</p><p>Penyebab Perang Aceh</p><p>1.Aceh terletak di jalur strategis perdagangan internasional, terutama setelah dibukanya Terusan Suez (1869).</p><p>2.Aceh merupakan negara Islam yang kuat dan berdaulat.</p><p>3.Semakin berkembangnya politik ekspansi Belanda di Nusantara.</p><p>4.Traktat Sumatra (1871), perjanjian Inggris–Belanda yang memberi keleluasaan Belanda untuk menguasai Aceh.</p><p><strong><em>Jalannya Perang</em></strong></p><p>• 1873: Perang pertama pecah, Belanda sempat kewalahan.</p><p>• Belanda mengirim ahli Islam Dr. Snouck Hurgronje untuk meneliti masyarakat Aceh. Ia menulis De Atjehers yang mengungkap kelemahan rakyat Aceh.</p><p>• Snouck menyarankan Belanda memisahkan antara pemimpin agama dan pemimpin adat.</p><p>• Jenderal Van Heutsz kemudian memimpin serangan besar dibantu pasukan Marechaussee (Marsose), pasukan elit Belanda yang banyak beranggotakan pribumi.</p><p>• Kedudukan Aceh makin terdesak. Beberapa tokoh penting gugur:</p><p>• Teuku Umar (1899)</p><p>• Cut Nyak Dhien ditangkap</p><p>• Panglima Polim menyerah</p><p>Akhir Perang</p><p>Walau perang resmi dinyatakan berakhir tahun 1904, perlawanan rakyat Aceh terus berlangsung dalam bentuk gerilya hingga tahun 1912</p><p><strong><em>Kesimpulan:</em></strong></p><p>Perang Aceh berlangsung lama karena rakyat Aceh berjuang gigih mempertahankan kedaulatan, tetapi akhirnya Belanda berhasil menaklukkan Aceh dengan strategi politik dan militer. Namun, semangat perlawanan rakyat Aceh tetap hidup dan menjadi teladan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4242213258/7e8184d8ba77ed9ba7e3716a199a7c66/924e8abc42b8f148bf9479528e6fc46f.jpg" />
         <pubDate>2025-08-20 01:53:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548317364</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Banjar</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548318166</link>
         <description><![CDATA[<p>1.Alzea Grading(4)</p><p>2.Noval Ridho(26)</p><p><br></p><p> </p><p><strong>Perang Banjar</strong></p><p>	•	<strong>Latar belakang</strong>:</p><p>Setelah Sultan Adam wafat (1857), terjadi perebutan tahta di Kesultanan Banjar.</p><p>Ada tiga kelompok cucu Sultan Adam:</p><p>	1.	<strong>Pangeran Tamjidillah</strong> → didukung Belanda, tapi dibenci rakyat.</p><p>	2.	<strong>Pangeran Prabu Anom</strong> → tindakannya sewenang-wenang, juga tidak disukai rakyat.</p><p>	3.	<strong>Pangeran Hidayatullah</strong> → disenangi rakyat dan dijagokan jadi penerus.</p><p>	•	<strong>Jalannya konflik</strong>:</p><p>	•	Belanda mengangkat Tamjidillah sebagai Sultan (1852/1857), meskipun ditolak rakyat.</p><p>	•	Prabu Anom dibuang ke Jawa oleh Belanda.</p><p>	•	Tahun 1859 meletus <strong>Perang Banjar</strong> dipimpin <strong>Pangeran Antasari</strong> (putra Sultan Muhammad, anti-Belanda).</p><p>	•	Belanda mencoba menjadikan Hidayatullah sebagai Sultan, tapi ia menolak.</p><p>	•	Tahun 1860 Belanda mencaplok Kesultanan Banjar sepenuhnya.</p><p>	•	Perang dipimpin Pangeran Antasari hingga wafat (1862) karena sakit cacar.</p><p><br></p><p>⸻</p><p><br></p><p>👉 <strong>Kesimpulan</strong>: Perang Banjar (1859–1862) adalah perlawanan rakyat Kalimantan Selatan terhadap Belanda akibat campur tangan Belanda dalam perebutan tahta. Tokoh pentingnya adalah <strong>Pangeran Antasari</strong> dan <strong>Pangeran Hidayatullah</strong>.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4242220432/93a3cee879f7a1765a56fe5bee204a25/image.png" />
         <pubDate>2025-08-20 01:54:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548318166</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PERANG PADRI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548318444</link>
         <description><![CDATA[<p>ADITYA BINTANG (1) </p><p>ANDIKA DESILVA (5) </p><p><br></p><p><br></p><p>Perang Padri berawal dari konflik internal di Minangkabau, Sumatera Barat, pada awal abad ke-19. Saat itu muncul dua kelompok:</p><p><br></p><p>Kaum Padri → golongan ulama Islam yang baru pulang dari Mekkah. Mereka terinspirasi oleh gerakan Wahabi yang mengajarkan kemurnian Islam dan menentang kebiasaan yang dianggap bertentangan dengan syariat, seperti judi, sabung ayam, minum tuak, dan adat matrilineal. Tokoh utamanya adalah Tuanku Nan Renceh, Tuanku Imam Bonjol, dan Tuanku Tambusai.</p><p><br></p><p>Kaum Adat → golongan penghulu dan pemimpin adat Minangkabau. Mereka ingin mempertahankan adat istiadat turun-temurun, meskipun sebagian tidak sesuai dengan ajaran Islam.</p><p><br></p><p>Perselisihan antara dua kelompok ini berkembang menjadi perang saudara di Minangkabau sekitar tahun 1803–1821.</p><p><br></p><p>Pada tahun 1821, kaum Adat yang terdesak oleh tekanan kaum Padri meminta bantuan kepada Belanda. Belanda menyambut kesempatan ini karena mereka ingin memperluas kekuasaan di Sumatera Barat.</p><p><br></p><p>Sejak itu, perang antara kaum Padri dan Belanda pun dimulai. Kaum Adat pada awalnya bersekutu dengan Belanda, tetapi kemudian banyak yang sadar bahwa Belanda hanya memanfaatkan mereka untuk menjajah.</p><p><br></p><p>Perang Padri berlangsung sangat sengit dan lama, karena kaum Padri menggunakan strategi perang gerilya di daerah pegunungan.</p><p><br></p><p>Tuanku Imam Bonjol: pemimpin karismatik kaum Padri yang mendirikan benteng pertahanan di Bonjol.</p><p><br></p><p>Tuanku Nan Renceh: salah satu ulama awal yang menentang adat.</p><p><br></p><p>Tuanku Tambusai: pejuang gigih yang terus melawan hingga akhir.</p><p><br></p><p>Belanda semakin memperkuat pasukannya dan secara bertahap merebut wilayah Padri.</p><p><br></p><p>Pada 1837, benteng Bonjol berhasil direbut Belanda.</p><p><br></p><p>Tuanku Imam Bonjol ditangkap dengan cara licik (diundang untuk berunding, lalu ditangkap) dan kemudian diasingkan ke Cianjur, Ambon, dan akhirnya wafat di Manado pada tahun 1864.</p><p><br></p><p><br></p><p>Belanda berhasil memperluas kekuasaan dan menguasai Sumatera Barat.</p><p><br></p><p>Konflik antara Padri dan Adat akhirnya berdamai. Mereka menyepakati “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” yang berarti adat didasarkan pada ajaran Islam.</p><p><br></p><p>Perang Padri menjadi salah satu bukti bahwa penjajah selalu memanfaatkan perpecahan internal untuk memperkuat kekuasaannya.</p><p><br></p><p>Jadi, inti dari Perang Padri bukan hanya konflik antara Islam vs Adat, tapi juga berubah menjadi perlawanan rakyat Minangkabau melawan penjajahan Belanda.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-20 01:54:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548318444</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Diponegoro (1825-1830) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548319659</link>
         <description><![CDATA[<p>Rendy eka p (30) </p><p>Rendy Pratama j (31)</p><p><br></p><p>Perjuangan dalam melawan Belanda dilakukan di Jawa. </p><p>Sebab umum terjadinya perang Diponegoro :</p><ol><li><p>Rakyat dibelit pajak</p></li><li><p>Pihak keraton tak berdaya</p></li><li><p>Pihak keraton hidup mewah</p></li></ol><p>Sebab khusus terjadinya perang Diponegoro :</p><ol><li><p>Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan</p></li><li><p>Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan menerobos makam </p></li></ol><p><br></p><p>Diponegoro mendapat dukungan luas dari rakyat, bangsawan, dan ulama, sehingga perang meluas di Jawa. Belanda menanggapi dengan strategi benteng stelsel untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro. Meski pasukan Diponegoro sempat kuat, kekuatan makin melemah setelah tokoh-tokoh pendukung seperti Kiai Mojo dan Sentot Ali Basya ditangkap. Akhirnya Diponegoro menyerah setelah perundingan dengan Jenderal De Kock, lalu diasingkan hingga wafat di Makassar tahun 1855.</p><p><br></p><p>Dampak perang:</p><p>1. Kekuasaan wilayah Yogyakarta dan Surakarta berkurang. </p><p>2. Belanda mendapatkan beberapa wilayah yogyakarta dan surakarta. </p><p>3. Banyak menguras kas belanda. </p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://images.app.goo.gl/eWeDSfLnNc6nJewj7" />
         <pubDate>2025-08-20 01:55:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548319659</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Riau melawan VOC</title>
         <author>yosasetiawan018</author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548321387</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Latar Belakang</strong></p><p><br></p><p>Setelah VOC (Belanda) menguasai Malaka pada tahun 1641, Belanda berusaha memonopoli perdagangan di Selat Malaka.</p><p>Hal ini mengancam Kerajaan Johor-Riau-Lingga, yang sebelumnya merupakan pusat perdagangan penting dan memiliki hubungan dagang bebas dengan bangsa lain.</p><p>VOC menekan Riau untuk tunduk pada monopoli perdagangan Belanda, sehingga memicu perlawanan.</p><p><br></p><p><strong> Pengertian</strong></p><p><br></p><p>Perlawanan Riau terhadap VOC adalah perjuangan yang dilakukan oleh rakyat dan kerajaan Riau-Lingga (bagian dari Kesultanan Johor-Riau) untuk menolak monopoli perdagangan VOC Belanda dan mempertahankan kedaulatan politik serta kebebasan berdagang di kawasan Selat Malaka.</p><p><br></p><p><strong> Tujuan Perlawanan </strong></p><p><br></p><p>1. Menolak monopoli VOC yang merugikan pedagang dan kerajaan.</p><p>2. Mempertahankan kedaulatan Kerajaan Johor-Riau-Lingga.</p><p>3. Melindungi jalur perdagangan internasional di Selat Malaka.</p><p>4. Mengusir VOC dari wilayah Riau.</p><p><br></p><p><strong> Tahun &amp; Pemimpin</strong></p><p><br></p><p>Puncak perlawanan terjadi pada 1782–1784.</p><p>Dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah III (Sultan Riau-Johor-Lingga).</p><p>Rakyat Riau juga dibantu oleh perwira Bugis, terutama Daeng Kamboja dan keturunannya (Bugis sangat berpengaruh di Johor-Riau saat itu).</p><p><br></p><p><strong> Kerajaan/Kelompok yang Terlibat</strong></p><p><br></p><p>1. Kerajaan Johor-Riau-Lingga (pusat di Riau saat itu).</p><p>2. Kaum Bugis yang menjadi sekutu penting dan memiliki kekuatan militer laut.</p><p>3. VOC (Belanda) yang ingin menguasai perdagangan dan politik di Riau.</p><p><br></p><p><strong> Hasil Perlawanan </strong></p><p><br></p><p>Pada tahun 1784, pasukan Riau-Bugis berhasil mengalahkan VOC dalam pertempuran di laut Riau.</p><p>VOC mengalami kekalahan besar; bahkan armada laut VOC hancur dan Belanda kehilangan dominasi sementara di wilayah itu.</p><p>Namun, pada akhirnya VOC kembali memperkuat posisinya lewat perjanjian politik, sehingga Riau tetap berada dalam tekanan Belanda.</p><p><br></p><p><strong> Kesimpulan:</strong></p><p><br></p><p>Perlawanan Riau (1782–1784) di bawah pimpinan Sultan Mahmud Syah III bersama bantuan Bugis bertujuan menolak monopoli VOC dan mempertahankan kedaulatan dagang. Meski sempat menang besar (VOC kalah di laut Riau), Belanda akhirnya tetap kembali menekan Riau melalui jalur politik.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4242291709/b97d2899c9ef574312c5c3304fb65b3b/siasat_hadiah_sultan_strategi_rakyat_riau_melawan_voc_lRC_thumb.jpg" />
         <pubDate>2025-08-20 01:56:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548321387</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Pattimura</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548322721</link>
         <description><![CDATA[<p>Satya pratista n (33)</p><p>alfiyan eka (3)</p><p><br></p><p>Perlawanan rakyat Maluku terhadap pemerintah kolonial Belanda dipimpin oleh Pattimura.Perlawanan dimulai dengan penyerangan Benteng Duurstede di Saparua pada 16 Mei 1817 yang dipimpin Pattimura, sehingga Residen van den Berg beserta pasukannya terbunuh. Belanda kemudian mengirim pasukan dari Ambon, Banda, dan Batavia, namun rakyat Maluku tetap gigih melawan. Akhirnya pada bulan Agustus 1817 Pattimura dan tokoh lainnya tertangkap, lalu dijatuhi hukuman mati oleh Belanda.</p><p><br></p><p>latar belakang perlawanan rakyat maluku</p><p>1) Pemerintah kolonial memberlakukan kembali penyerahan wajib dan kerja wajib.</p><p>2) Pemerintah kolonial menurunkan tarif hasil bumi yang wajib diserahkan, sedangkan pembayarannya tersendat-sendat..</p><p>3) Pemerintah kolonial memberlakukan uang kertas, sedangkan rakyat Maluku telah terbiasa dengan uang logam.</p><p>4) Pemerintah kolonial menggerakkan pemuda Maluku untuk menjadi prajurit Belanda.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4242315702/9c552fd9d103109f92f892bcd56e3c5a/IMG_0865.jpeg" />
         <pubDate>2025-08-20 01:57:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548322721</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PERANG BANJAR</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548323226</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>•Awang Arum (11)</strong></p><p><strong>•Mita Widyaningrum (21)</strong></p><p><br></p><p>Belanda mulai masuk ke wilayah Banjarmasin pada masa pemerintahan Sultan Adam. Pada tahun 1850 terjadi permusuhan di antara keluarga kerajaan.</p><p><br></p><p>Kerajaan Banjarmasin ada tiga kelompok yang saling berebut kekuasaan, yaitu:</p><ol><li><p><strong>kelompok Pangeran Tamjidillah (Cucu Sultan Adam)</strong></p><p>adalah kelompok yang sangat di benci oleh rakyat karena tingkah lakunya yang kurang baik. Belanda mengangkat pangeran Tamjidillah sebagai sultan pada tahun 1852.</p></li><li><p><strong>kelompok pangeran Prabu Anom (Cucu sultan Adam)</strong></p><p>adalah kelompok yang juga tidak di senangi rakyat karena tindakannya yang sewenang-wenang </p></li><li><p><strong>kelompok pangeran Hidayatullah (Cucu Sultan Adam)</strong></p><p>adalah kelompok yang di senangi rakyat dan di calonkan menjadi pengganti sultan Adam.</p><p><br></p></li></ol><p>Setelah sultan Adam meninggal pada tahun 1857, Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai sultan kerajaan Banjarmasin. Pada waktu terjadi kekacauan meletus lah perang banjar atau Banjarmasin (1859) yang di gerakan oleh pangeran antasari. Pangeran Antasari adalah putra sultan Muhammad yang anti-Belanda. Perang Banjarmasin tersebut belanda berusaha menarik perhatian rakyat dengan menurunkan Pangeran Tamjidillah dan mengangkat pangeran Hidayatullah sebagai sultan, tetapi pangeran Hidayatullah menolak. Pangeran Hidayatullah memihak Pangeran Antasari, tetapi pada tahun 1862 Pangeran Hidayatullah ditawan Belanda dan di buang ke Cianjur. Pangeran Antasari yang di angkat menjadi sultan oleh rakyat setelah itu menjadi sultan, perang berkobar kembali. Setelah sakit beberapa hari, Pangeran Antasari meninggal pada tahun 1862.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f5/PERANG_BANJAR_1857-1859.jpg" />
         <pubDate>2025-08-20 01:58:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548323226</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sultan Agung Melawan VOC</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548335683</link>
         <description><![CDATA[<p>Chila Rizkita Febyla 14</p><p>Meilan Alfira Putri Artikasari 20</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Sultan Agung menentang keberadaan VOC di Jawa yang terus memaksakan kehendak untuk melakukan monopoli perdagangan Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia alasan Sultan Agung menyerang</p><ol><li><p>Tindakan monopoli perdagangan yang dilakukan VOC. </p></li><li><p>VOC sering menghalang-halangi kapal-kaoal dagang Mataram yang akan berdagang ke Malaka. </p></li><li><p>VOC menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram. </p></li><li><p>Keberadaan VOC di Batavia telah memberikan ancaman serius bagi masa depan pulau Jawa.</p></li></ol><p>Pada tanggal 22 Agustus 1628 pasukan Mataram dibawah pimpinan Tumenggung Baureksa menyerang Batavia. tetapi kekuatan tentara VOC dengan senjatanya yang unggul dapat memukul mundur kekuatan pasukan Mataram. dalam pertempuran tersebut Tumenggung Baureksa gugur dan serangan Sultan Agung pada tahun 1628 belum berhasil. </p><p>   </p><p>  </p><p>Dengan kekalahan tersebut, Sultan Agung segera mempersiapkan serangan yang kedua pada tahun 1629 pasukan Mataram dibawah pemimpinan Tumenggung Singaranu, Kyai Dipati Jumilah, dan Dipati Purbaya berangkat menuju Batavia. Namun, persiapan yang dilakukan oleh pasukan Mataram diketahui oleh VOC. VOC mengirim kapal-kapal perang untuk menghancurkan lubang-lubang beras. Serangan kedua Sultan Agung mengalami kegagalan. </p><p><br/></p><p>Dengan keberhasilan voc, membuat VOC semakin berambisi untuk terus memaksa monopoli dan memperluas pengaruhnya kedaerahan yang lain. VOC selalu berjaga-jaga dan mengawasi segala gerak gerik pasukan Mataram. </p><p><br/></p><p>Walaupun perlawanan Sultan Agung terhadap VOC mengalami kegagalan semangat dan cita cita untuk melawan dominasi asing di Nusantara terus tertanam pada jiwa Sultan Agung dan para pengikutnya. Mataram menjadi semakin lemah dan berhasil dikendalikan VOC setelah Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 dan digantkan oleh sunan Amangkurat l (1646-1677). </p>]]></description>
         <enclosure url="https://images.app.goo.gl/1rMpX64R3AtpZZWX9" />
         <pubDate>2025-08-20 02:07:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548335683</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Padri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548338100</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nimas Ika Saputri </p><p>No : 24</p><p><br></p><p>Perang Padri terjadi pada tahun 1821-1837 di Minangkabau, Sumatra Barat. Perang padri merupakan perlawanan kaum padri terhadap dominasi pemerintahan Belanda dan kaum adat dalam masalah praktik keagamaan, pada tanggal 18 Februari 1821 Belanda yang diberi kemudahan oleh kaum adat berhasil menduduki Simawang. Tindakan Belanda tersebut ditantang keras oleh kaum padri sehingga meletuslah Perang Padri pada tahun 1821.</p><p>Perang padri dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu :</p><ol><li><p>Fase pertama (1821-1825)</p><p>Kaum padri menyerang pos pos dan pencegatan terhadap patroli patroli Belanda, kesatuan kaum padri yang terkenal berpusat di Bonjol dg pemimpinnya Peto Syarif (Tuanku Imam Bonjol), Tuanku Imam Bonjol sangat gigih sehingga Belanda kewalahan dan mengadakan perundingan damai pada 26 Januari 1824, yang dikenal sebagai perjanjian musang</p></li><li><p>Fade kedua (1825-1830)</p><p>pada fase ini ditandatangani perjanjian Padang pada tanggal 15 November </p><p>a. belanda mengakui kekuasaan pemimpin padri di batusangkar </p><p>b. kedua belah pihak tidak akan saling menyerang</p><p>c. kedua belapihakmelindungi para pedagang </p><p>d. secara bertahap belanda melarang praktik adu ayam </p></li><li><p>Fase ketiga (1830-1837/1838)</p><p>Pada Fase ini sebagai upaya gencatan senjata pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan plakat panjang. Plakat panjang adalah pernuataan atau janji yang isinya tidak akan ada lagi peperangan antara Belanda dan Kaum Padri tapi tetap ada juga yang berdamai tapi ada juga yang tetap melakukan perlawanan, 16 Agustus 1837 </p><p>Benteng bonjol berhasil dikepung dan dilumpuhkan tetapi Imam Bonjol dapat meloloskan diri, pada 28 Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol menerima tawaran damai tetapi ternyata hanya tipu muslihat, Tuanku Imam Bonjol ditangkap dan dibawa ke Batavia</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4242214852/bfd85fae3b2b2da65a0eb399c5954f9c/1755654213299.jpg" />
         <pubDate>2025-08-20 02:09:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3548338100</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Diponegoro (1825-1830)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3556231636</link>
         <description><![CDATA[<p>Hanum Nisrina Azzah / 18</p><p>Tiara Almira Tunggadewi Riyanto / 34</p><p><br/></p><p>Perjuangan dalam melawan pemerintah Belanda juga dilakukan di Jawa, seperti yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro.</p><p><br/></p><p>Sebab umum terjadinya Perang Diponegoro:</p><p>1) Rakyat dibelit berbagai bentuk pajak dan pungutan.</p><p>2) Pihak Keraton Yogyakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial.</p><p>3) Pihak keraton hidup mewah dan tidak memedulikan penderitaan rakyat.</p><p><br/></p><p>Sebab khusus terjadinya Perang Diponegoro:</p><p>1) Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan karena menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran Diponegoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo.</p><p>2) Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yang menerobos makam leluhur Pangeran Diponegoro.</p><p><br/></p><p>Hal tersebut yang membuat Pangeran Diponegoro marah. Untuk memperkuat kekuatannya, Pangeran Diponegoro membangun pusat pertahanan di Selarong. Dukungan datang dari Pangeran Mangkubumi Sentot Alibasya Prawirodirjo, dan Kiai Mojo. Untuk menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro, Belanda mendatangkan pasukan dari Sumatra Barat dan Sulawesi Selatan di bawah pimpinan Jenderal Marcus de Kock.</p><p><br/></p><p>Pangeran Diponegoro memimpin pasukannya dengan perang gerilya. Gubernur Jenderal Van der Capellen menugaskan Jenderal Marcus de Kock untuk menjalankan strategi benteng stelsel, yaitu mendirikan benteng di setiap tempat yang dikuasainya. Taktik benteng stelsel bertujuan mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro. Pasukan Diponegoro semakin bertambah lemah terlebih lagi pada tahun 1829 Kiai Mojo dan Sentot Alibasya Prawirodirjo memisahkan diri. Lemahnya kedudukan Diponegoro tersebut menyebabkan ia menerima tawaran berunding dengan Belanda di Magelang.</p><p><br/></p><p>Perundingan tersebut, diwakili oleh Jenderal De Kock. Perundingan tersebut gagal mencapai sepakat, kemudian Belanda menangkap Pangeran Diponegoro dan dibawa ke Batavia, selanjutnya dipindahkan ke Manado, lalu dipindahkan lagi ke Makassar dan meninggal di Benteng Rotterdam pada tanggal 8 Januari 1855.</p><p><br/></p><p>Dampaknya:</p><p>1) Kekuasaan wilayah Yogyakarta dan Surakarta berkurang.</p><p>2) Belanda mendapatkan beberapa wilayah Yogyakarta dan Surakarta.</p><p>3) Banyak menguras kas Belanda.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4271028677/f16558dfdbc2a0db9d155314d1c8f6ee/IMG_20250827_WA0009.jpg" />
         <pubDate>2025-08-27 01:27:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3556231636</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Diponegoro (1825-1830)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3556241644</link>
         <description><![CDATA[<p>Hanum Nisrina Azzah / 18</p><p>Tiara Almira Tunggadewi Riyanto / 34</p><p><br></p><p>Perjuangan dalam melawan pemerintah Belanda juga dilakukan di Jawa, seperti yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro.</p><p><br></p><p>Sebab umum terjadinya Perang Diponegoro:</p><p>1) Rakyat dibelit berbagai bentuk pajak dan pungutan.</p><p>2) Pihak Keraton Yogyakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial.</p><p>3) Pihak keraton hidup mewah dan tidak memedulikan penderitaan rakyat.</p><p><br></p><p>Sebab khusus terjadinya Perang Diponegoro:</p><p>1) Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan karena menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran Diponegoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo.</p><p>2) Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yang menerobos makam leluhur Pangeran Diponegoro.</p><p><br></p><p>Hal tersebut yang membuat Pangeran Diponegoro marah. Untuk memperkuat kekuatannya, Pangeran Diponegoro membangun pusat pertahanan di Selarong. Dukungan datang dari Pangeran Mangkubumi Sentot Alibasya Prawirodirjo, dan Kiai Mojo. Untuk menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro, Belanda mendatangkan pasukan dari Sumatra Barat dan Sulawesi Selatan di bawah pimpinan Jenderal Marcus de Kock.</p><p><br></p><p>Pangeran Diponegoro memimpin pasukannya dengan perang gerilya. Gubernur Jenderal Van der Capellen menugaskan Jenderal Marcus de Kock untuk menjalankan strategi benteng stelsel, yaitu mendirikan benteng di setiap tempat yang dikuasainya. Taktik benteng stelsel bertujuan mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro. Pasukan Diponegoro semakin bertambah lemah terlebih lagi pada tahun 1829 Kiai Mojo dan Sentot Alibasya Prawirodirjo memisahkan diri. Lemahnya kedudukan Diponegoro tersebut menyebabkan ia menerima tawaran berunding dengan Belanda di Magelang.</p><p><br></p><p>Perundingan tersebut, diwakili oleh Jenderal De Kock. Perundingan tersebut gagal mencapai sepakat, kemudian Belanda menangkap Pangeran Diponegoro dan dibawa ke Batavia, selanjutnya dipindahkan ke Manado, lalu dipindahkan lagi ke Makassar dan meninggal di Benteng Rotterdam pada tanggal 8 Januari 1855.</p><p><br></p><p>Dampaknya:</p><p>1) Kekuasaan wilayah Yogyakarta dan Surakarta berkurang.</p><p>2) Belanda mendapatkan beberapa wilayah Yogyakarta dan Surakarta.</p><p>3) Banyak menguras kas Belanda.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4271104310/0d6bc53158bfa76aa53a32e007d06d0c/IMG_20250827_WA0009.jpg" />
         <pubDate>2025-08-27 01:32:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3556241644</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Pangeran Diponegoro</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3589933681</link>
         <description><![CDATA[<p>Nindi Tri Anggita/ XlB/ 26</p><p><br/></p><p>Perang Diponegoro yang juga dikenal sebagai Perang Jawa merupakan salah satu perang besar di Pulau Jawa. Perang ini melibatkan pasukan Belanda dan penduduk Jawa. Perang yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro ini terjadi di Jogja yang bermula karena adanya campur tangan Belanda dalam persoalan internal Kasultanan Jogja.Pihak keraton tidak berdaya akan pengaruh politik pemerintahan kolonial dan justru hidup mewah serta tidak mempedulikan rakyatnya.</p><p>Penyebab utama pecahnya Perang Diponegoro adalah ketika Belanda dengan sengaja menanam patok-patok untuk membuat jalan di atas makam leluhur Pangeran Diponegoro.</p><p>Pangeran Diponegoro menggunakan strategi gerilya dan taktik pertempuran yang terampil untuk melawan pasukan Belanda yang jauh lebih besar dalam jumlah dan persenjataan.</p><p>Penangkapan Diponegoro oleh Letnan Jenderal De Kock . Pangeran Diponegoro adalah pemimpin utama dalam Perang Jawa (1825-1830). Meskipun dijanjikan jaminan keamanan, ia ditangkap selama perundingan damai. Pieneman melukis lukisan ini atas perintah De Kock, yang bertanggung jawab atas pengkhianatan ini.</p><p>Perjanjian yang mengakhiri Perang Diponegoro pada tahun 1830 adalah Perjanjian Salatiga. Perjanjian ini ditandatangani oleh Pangeran Diponegoro dan Belanda pada tanggal 28 Maret 1830.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads-usc1.storage.googleapis.com/4389235791/cecbad91b67e64adb18e1f97cd6793ad/pangeran_diponegoro__1_.jpg" />
         <pubDate>2025-09-17 13:58:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3589933681</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PERANG DIPONEGORO</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3591956755</link>
         <description><![CDATA[<p>(1825-1830)</p><p><br/></p><p>Afrizal Figa Nailufar </p><p>2/XID</p><p><br/></p><p>Perang perlawanan pangeran Diponegoro dan para pejuang rakyat Jawa kepada belanda.</p><p><br/></p><p>1. Sebab Umum Perang Diponegoro</p><p><br/></p><p>Penindasan Belanda terhadap rakyat, seperti pajak yang berat.</p><p><br/></p><p>Campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan Yogyakarta.</p><p><br/></p><p>Adanya ketidakadilan sosial dan ekonomi akibat monopoli perdagangan Belanda.</p><p><br/></p><p>Perasaan anti-kolonial dan semangat rakyat untuk melawan penjajahan.</p><p><br/></p><p>2. Sebab Khusus Perang Diponegoro</p><p><br/></p><p>Pemasangan patok jalan oleh Belanda yang melewati tanah milik Pangeran Diponegoro di Tegalrejo tanpa izin.</p><p><br/></p><p>Hal ini dianggap sebagai penghinaan besar terhadap kehormatan dan kedaulatan keluarganya.</p><p><br/></p><p>3. Hal yang Membuat Pangeran Diponegoro Marah</p><p><br/></p><p>Pemasangan patok jalan di makam leluhur keluarganya di Tegalrejo.</p><p><br/></p><p>Perlakuan Belanda yang merendahkan martabat bangsawan dan rakyat Jawa.</p><p><br/></p><p>Adanya intrik politik Belanda dalam urusan istana Yogyakarta.</p><p><br/></p><p>4. Dampak yang Terjadi</p><p><br/></p><p>Perang Diponegoro berlangsung lama (1825–1830) dan menewaskan sekitar 200.000 rakyat Jawa serta 8.000 tentara Belanda.</p><p><br/></p><p>Perekonomian Jawa hancur karena ladang dan desa banyak rusak akibat perang.</p><p><br/></p><p>Belanda semakin memperkuat cengkeraman politik dan militer di Jawa setelah menang.</p><p><br/></p><p>Pangeran Diponegoro akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Makassar sampai wafat (1855).</p><p><br/></p><p>Muncul semangat perlawanan di daerah lain sebagai inspirasi melawan penjajah.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-18 12:33:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3591956755</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Diponegoro </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3593069707</link>
         <description><![CDATA[<p>Perang Diponegoro, yang juga dikenal sebagai Perang Jawa, adalah perang besar pangeran Diponegoro dan rakyat Jawa terhadap pemerintah kolonial Belanda.Perang ini dianggap sebagai salah satu perang terbesar selama masa pendudukan Belanda di Indonesia.</p><p><br/></p><p>&nbsp;Latar belakang: </p><p>1.Campur tangan Belanda di Keraton Yogyakarta:            Belanda semakin ikut campur dalam urusan internal keraton. Ini terjadi saat istana mengalami ketidakstabilan, terutama ketika Sultan Hamengkubuwono IV masih kecil.</p><p>2.Kebijakan yang merugikan rakyat: Rakyat dibebani pajak yang tinggi dan merasa sengsara akibat berbagai kebijakan kolonial.</p><p>3.Pembangunan jalan yang melewati makam leluhur: Puncak kemarahan Pangeran Diponegoro dipicu oleh pemasangan patok-patok untuk pembangunan jalan yang melintasi makam leluhurnya di Tegalrejo.</p><p>4.Kekhawatiran terhadap pengaruh Barat: Banyak kalangan ulama merasa khawatir dengan masuknya budaya Barat yang dianggap merusak nilai-nilai tradisional dan keagamaan.</p><p>5.Pencopotan kekuasaan bangsawan: Para bangsawan kehilangan sebagian besar sumber penghasilan mereka karena dikuasai oleh Belanda. </p><p><br/></p><p><strong>Kronologi</strong></p><ul><li><p><strong>Dimulainya perang (1825):</strong> Belanda menyerbu Tegalrejo untuk menangkap Pangeran Diponegoro, tetapi ia berhasil meloloskan diri dan menjadikan Gua Selarong sebagai markas perlawanan.</p></li><li><p><strong>Strategi gerilya:</strong> Pangeran Diponegoro dan pasukannya menerapkan taktik perang gerilya yang sangat merepotkan pasukan Belanda. Ia dibantu oleh sejumlah tokoh, seperti Kyai Mojo dan Sentot Alibasah Prawirodirjo.</p></li><li><p><strong>Belanda terdesak:</strong> Akibat perang yang berlarut-larut dan kerugian besar, Belanda terpaksa mengubah strateginya.</p></li><li><p><strong>Taktik Benteng Stelsel (1827):</strong> Jenderal De Kock menerapkan taktik Benteng Stelsel, yaitu membangun benteng-benteng di berbagai wilayah untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro.</p></li><li><p><strong>Tokoh-tokoh ditangkap:</strong> Dengan taktik ini, satu per satu pemimpin pasukan Diponegoro mulai tertangkap, termasuk Kyai Mojo dan Sentot Alibasah.</p></li><li><p><strong>Penangkapan Diponegoro (1830):</strong> Pada 28 Maret 1830, Belanda mengajak Pangeran Diponegoro berunding di Magelang. Namun, perundingan ini hanyalah siasat licik. Pangeran Diponegoro justru ditangkap.</p></li><li><p><strong>Akhir hayat Diponegoro:</strong> Pangeran Diponegoro diasingkan ke Makassar dan wafat pada 8 Januari 1855 di Benteng Rotterdam.&nbsp;</p></li></ul><p><br/></p><p>      Dampak Perang Diponegoro</p><p>Korban jiwa: Perang ini menelan korban sangat besar, diperkirakan 200.000 jiwa dari rakyat Jawa dan ribuan tentara Belanda.</p><p>Kerugian finansial Belanda: Perang ini menguras kas Belanda hingga nyaris bangkrut. Untuk menutupi kerugian, Belanda menerapkan sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) pada tahun 1830.</p><p>Penguasaan Belanda atas Jawa: Kekalahan Pangeran Diponegoro semakin menegaskan penguasaan Belanda atas Pulau Jawa, dan banyak raja serta bupati tunduk di bawah kekuasaan kolonial.</p><p>Inspirasi perjuangan: Meskipun berakhir dengan kekalahan, Perang Diponegoro menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan di masa mendatang. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-19 02:25:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wandamutialiviaa/z43cykk03qaf9l20/wish/3593069707</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
