<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Tuliskan masalah-masalah pembelajaran yang muncul pada saat kamu sekolah by Nindya Adiasti</title>
      <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762</link>
      <description>Sebanyak-banyaknya</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-09-15 00:22:41 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-16 00:02:48 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4ac.png</url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584274075</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ristah Paulus</p><p>Npm: 2340605026</p><p><br/></p><p><strong>Permasalahan Selama Sekolah Daring di Luar Negeri Selama Pandemi Covid-19 :</strong></p><p><br/></p><ul><li><p>Selama menjalani pembelajaran daring di SMK karena covid-19, saya menghadapi berbagai kendala yang cukup berat, terutama karena saya berada di luar negeri. Posisi saya yang jauh dari Indonesia membuat saya kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Perbedaan waktu, jaringan internet yang tidak stabil, serta keterbatasan interaksi secara langsung dengan guru dan teman-teman menjadi tantangan tersendiri.</p><p><br/></p></li><li><p>Selain itu, pembelajaran di jurusan Akuntansi sangat membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap konsep, teori, dan praktik. Namun, karena pembelajaran dilakukan secara daring, materi yang disampaikan sering kali terasa kurang jelas dan terbatas. Guru lebih sering memberikan tugas-tugas secara langsung tanpa penjelasan yang memadai terhadap materi yang seharusnya dipelajari terlebih dahulu. Hal ini membuat saya kesulitan dalam menyelesaikan tugas, karena belum benar-benar memahami materi dasarnya.</p><p><br/></p></li><li><p>Kondisi ini tidak hanya memengaruhi pemahaman saya terhadap pelajaran, tetapi juga berdampak pada motivasi belajar. Ketidakhadiran proses pembelajaran interaktif secara langsung menyebabkan saya merasa kurang terhubung dengan proses pembelajaran itu sendiri. Hal ini menjadi tantangan besar dalam mengikuti pelajaran, khususnya dalam bidang yang cukup kompleks seperti akuntansi.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:38:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584274075</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584274248</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama	: Anjhely Nusita</p><p>Npm	: 2340605126</p><p>Lokal	: A1</p><p><br/></p><p>Problem pada saat masih bersekolah di bangku (SMP) pada saat Covid-19.</p><p><br/></p><p>Saat pandemi Covid-19 datang, semua kegiatan belajar di sekolah tiba-tiba berubah menjadi daring. Kalau biasanya saya bisa bertemu guru dan teman-teman di kelas, mendengarkan penjelasan langsung, serta bertanya dengan mudah, saat itu semuanya harus dilakukan lewat Google Classroom dan Zoom. Awalnya terasa seperti hal baru yang cukup menarik, karena bisa belajar dari rumah. Namun, setelah beberapa minggu, mulai terasa banyak masalah yang membuat proses belajar tidak semudah yang dibayangkan.</p><p>Salah satu masalah terbesar adalah koneksi internet. Tidak semua daerah memiliki jaringan yang stabil, apalagi ketika Zoom digunakan untuk tatap muka. Sering kali suara guru terputus-putus, gambar tersendat, bahkan kadang saya harus keluar masuk Zoom karena koneksi terputus. Hal ini membuat penjelasan materi jadi tidak utuh saya terima.</p><p>Selain itu, penggunaan Google Classroom pun tidak selalu lancar. Memang, guru biasanya memberikan materi, tugas, atau link Zoom lewat Classroom, tapi karena banyak notifikasi dan kadang penumpukan tugas, saya sering bingung mana yang harus dikerjakan lebih dulu. Belum lagi kalau ada tugas yang terlambat terbaca karena tidak ada pemberitahuan masuk.</p><p>Rasa bosan dan kurangnya interaksi juga jadi masalah. Di kelas tatap muka, saya bisa langsung berdiskusi dengan teman atau bertanya ke guru. Tapi saat daring, suasana berbeda: suasana hening, sebagian besar teman menonaktifkan kamera dan mikrofon, sehingga terasa seperti belajar sendirian. Kalau pun ada pertanyaan, sering kali harus menunggu giliran, atau kadang saya merasa segan karena khawatir mengganggu jalannya kelas online.</p><p>Selain itu, keterbatasan perangkat juga menjadi kendala. Tidak semua siswa memiliki laptop pribadi, sebagian hanya mengandalkan ponsel. Saat membuka Zoom, lalu berpindah ke Google Classroom atau mengerjakan dokumen, sering terasa ribet dan tidak sepraktis jika belajar langsung di sekolah dengan buku dan papan tulis.</p><p>Akhirnya, masalah lain yang cukup terasa adalah kurangnya pemahaman materi. Walaupun guru sudah menjelaskan lewat Zoom atau mengunggah materi di Classroom, tidak semuanya bisa saya pahami dengan baik. Terkadang guru memberikan penjelasan singkat, lalu langsung memberi tugas. Karena tidak ada interaksi langsung yang intens seperti di kelas, saya merasa proses belajar jadi kurang mendalam.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:39:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584274248</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584274379</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Angie Shara</p><p>Npm: 2340605155</p><p>Lokal: A1</p><p><br/></p><p>Pengalaman Kesulitan Belajar Laptop di SMK</p><p><br/></p><p>Saya ingin berbagi pengalaman mengenai kesulitan yang saya hadapi saat awal masuk SMK, yaitu ketika harus belajar menggunakan laptop. Waktu SMP dulu, kebetulan di angkatan saya tidak ada mata pelajaran TIK, padahal sebelumnya ada. Jadi ketika di SMK harus menggunakan laptop, saya benar-benar merasa kesulitan.</p><p><br/></p><p>Awalnya saya masuk jurusan akuntansi, meskipun sebelumnya sempat diarahkan ke TKJ. Karena tidak terbiasa, saya sering merasa bingung ketika diminta mengerjakan tugas dengan komputer. Apalagi waktu kelas 10 masih banyak belajar daring karena pandemi, jadi semakin jarang praktek langsung. Ketika kelas 11 mulai sering tatap muka, saya semakin tertekan karena hampir semua tugas harus dikerjakan menggunakan aplikasi komputer seperti Microsoft Word, Excel, bahkan coding sederhana.</p><p><br/></p><p>Teman-teman saya sudah terbiasa mengetik, membuat file, sampai presentasi, sedangkan saya masih kesulitan mencari menu atau klik yang benar. Rasa malu dan minder sering muncul, ditambah frustasi karena tidak bisa mengikuti penjelasan guru dengan baik.</p><p><br/></p><p>Akhirnya saya berinisiatif belajar sendiri di laboratorium komputer sekolah. Selain itu, saya juga membayangkan seandainya ada aplikasi berbasis Al yang. bisa langsung memberi panduan bagi pemula secara real-time. Misalnya, saat membuka Word lalu bingung, aplikasi tersebut bisa memberikan arahan singkat langkah demi langkah.</p><p><br/></p><p>Sekarang sebenarnya sudah ada teknologi canggih yang bisa membantu, seperti bertanya langsung ke Google atau asisten suara. Tinggal tanya, misalnya "Bagaimana cara membuat tabel di Word?" lalu langsung muncul petunjuknya. Dengan adanya bantuan seperti ini, saya mulai bisa belajar laptop dengan lebih santai tanpa tekanan. Sekarang pun saya merasa jauh lebih percaya diri dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah secara </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:39:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584274379</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584275240</link>
         <description><![CDATA[<p>1.	Permasalahan Di Waktu SD </p><p>	Selama sekolah dasar, khususnya dalam pembelajaran Matematika, saya menghadapi permasalahan ketika guru hanya berpatokan pada penjelasan di kelas tanpa memperhatikan apakah murid benar-benar memahami materi. Guru tidak memberi kesempatan bagi siswa yang mengalami kesulitan untuk dibimbing lebih lanjut, sehingga proses pembelajaran hanya berjalan satu arah. Ironisnya, perhatian baru diberikan ketika siswa mengikuti les tambahan di luar jam sekolah yang diselenggarakan oleh guru itu sendiri. Hal ini menimbulkan rasa tidak adil, karena siswa yang mampu membayar les mendapatkan pendampingan lebih, sementara yang tidak ikut les merasa terabaikan. </p><p>	Dari sisi guru, masalah muncul karena metode mengajar yang monoton, kurang peduli terhadap perbedaan kemampuan siswa, serta adanya kecenderungan menjadikan les tambahan sebagai prioritas demi tambahan penghasilan. Dari sisi siswa, hal ini menimbulkan rasa minder, kehilangan motivasi, dan muncul kesenjangan prestasi antara siswa yang ikut les dan tidak. Dari sisi sekolah, tampak bahwa pengawasan terhadap praktik guru di kelas masih lemah, fasilitas pembelajaran terbatas, dan tidak adanya program remedial gratis untuk siswa yang tertinggal. Kepala sekolah juga kurang melakukan monitoring, cenderung membiarkan praktik guru yang lebih fokus pada les, serta tidak menyediakan pelatihan agar guru lebih kreatif dalam mengajar. </p><p> </p><p>2.	Permasalahan Di waktu SMP </p><p>	Pada waktu SMP kelas 8, pengalaman saya dalam pembelajaran Matematika cukup berbeda. Guru saya memiliki kebiasaan menuliskan soal di papan tulis terlebih dahulu, kemudian menunjuk siswa untuk maju mengerjakannya. Jika siswa tidak mampu menjawab dengan benar, maka diberikan hukuman berupa jalan jongkok. Setelah itu barulah guru menjelaskan cara mengerjakan soal tersebut. Pola pembelajaran semacam ini menimbulkan masalah karena siswa seolah dipaksa memahami soal tanpa terlebih dahulu mendapat penjelasan yang memadai. Hal ini membuat banyak siswa merasa tertekan, takut salah, dan enggan maju ke depan. </p><p>	Dari sisi guru, metode ini menunjukkan kecenderungan lebih menekankan pada “uji coba kemampuan langsung” tanpa memberikan pondasi konsep yang jelas terlebih dahulu. Guru tampak ingin melatih keberanian dan kedisiplinan, tetapi caranya kurang tepat karena menggunakan hukuman fisik yang tidak mendidik. Dari sisi siswa, pembelajaran ini membuat rasa percaya diri menurun, bahkan bisa menimbulkan rasa takut terhadap Matematika. Alih-alih fokus belajar, siswa lebih cenderung mencari cara agar tidak ditunjuk atau menghindari hukuman. </p><p> </p><p>3.	Permasalahan Di Waktu SMA </p><p>	Pada waktu SMA kelas 12, pada pembelajaran Matematika Minat, saya mengalami perbedaan cara mengajar guru di awal dan akhir semester. Pada awal semester, guru mampu menjelaskan materi dengan baik sehingga siswa-siswi dapat memahami materi yang disampaikan. Suasana kelas terasa jelas, terarah, dan siswa merasa terbantu dengan penjelasan langsung dari guru. Namun, pada akhir semester, metode pembelajaran yang digunakan guru mulai berubah. Beliau lebih sering memperlihatkan video yang menjelaskan cara mengerjakan soal, lalu setelah itu memberikan latihan soal kepada siswa. Pergeseran metode ini menimbulkan masalah karena siswa tidak lagi mendapat penjelasan langsung secara rinci dari guru. Tidak semua siswa mampu belajar secara efektif hanya dari video, sehingga banyak yang kesulitan memahami materi secara mendalam. </p><p>	Dari sisi guru, perubahan metode ini mungkin terjadi karena keterbatasan waktu, rasa lelah, atau ingin mencoba pendekatan baru. Namun, penggunaan video tanpa adanya pendampingan atau penjelasan lanjutan membuat pembelajaran menjadi kurang interaktif. Dari sisi siswa, muncul rasa kebingungan karena tidak semua pertanyaan bisa terjawab hanya melalui tayangan video. Siswa yang lebih visual mungkin terbantu, tetapi siswa yang membutuhkan penjelasan verbal dan tanya jawab langsung justru merasa tertinggal. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:39:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584275240</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584275894</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Febrian Fajar Suryana </p><p>NPM : 2340605189</p><p>Lokal : A1 2023</p><p>Masalah-masalah pembelajaran yang terjadi di sekolah </p><ol><li><p>Wali kelas jarang masuk kelas</p></li><li><p>Guru jarang menjelaskan tapi rajin memberi tugas</p></li><li><p>Guru yang suka mencaci siswanya karena kurang bisa </p></li><li><p>Guru yang suka marah jika siswanya tidak tertib</p></li><li><p>Guru yang memukul siswanya walaupun hanya kesalahan kecil</p></li><li><p>Guru yang pilih kasih terhadap siswa yang pintar ketimbang siswa yang bodoh </p></li><li><p>Kurang tegas terhadap siswa yang suka buat ulah apalagi pelanggaran berat </p></li><li><p>Kurang pede buat bertanya saat pembelajaran </p></li><li><p>Siswa kurang tertib saat berpakaian </p></li><li><p>Siswa jarang aktif saat dikelas karena pembelajaran terasa monoton</p></li><li><p>Guru tidak memberikan toleransi bagi siswa telat padahal sudah memberikan alasan yang jelas </p></li><li><p>Siswa sering bolos karena kurang suka dengan pelajaran </p></li><li><p>Siswa yang kurang tertib terkait potongan rambut </p></li><li><p>Siswa yang sering merokok dikelas</p></li><li><p>Siswa yang kurang tertib dengan aturan sekolah </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:39:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584275894</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584276541</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA: PUTRI AYU SUKMA DEWI</p><p>NPM: 2340605137</p><p><br/></p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari sisi saya sebagai siswa, sering kali saya merasa kesulitan dalam belajar karena motivasi yang naik turun. Kadang saya hanya belajar saat akan ujian saja, bukan untuk memahami materi. Saya juga masih sering menunda tugas sehingga pekerjaan menumpuk. Selain itu, saya juga mudah terdistraksi dengan HP atau ajakan teman, sehingga waktu belajar menjadi berkurang. Saat diminta presentasi, saya sering minder takut salah, sehingga tidak percaya diri untuk berbicara. Mudah putus asa saat menghadapi soal sulit, tidak terbiasa berpikir kritis.</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari sisi guru, saya merasakan bahwa ada guru yang mengajar dengan cara yang monoton, hanya menggunakan metode ceramah tanpa variasi. Hal ini membuat pelajaran terasa membosankan. Kadang juga guru hanya fokus menyelesaikan materi tanpa memastikan semua siswa paham. Bahkan, ada guru yang lebih memperhatikan siswa tertentu, sehingga saya atau teman lain kadang merasa terabaikan. Terkadang tugas yang dikembalikan tidak disertai penjelasan kenapa salah, jadi saya tidak tahu bagaimana memperbaikinya. Guru jarang menggunakan metode belajar kolaboratif, sehingga kami tidak terbiasa kerja sama.</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari sisi sekolah, fasilitas yang ada belum sepenuhnya mendukung proses belajar, seperti Perpustakaan tidak terlalu menarik karena bukunya jarang diperbarui dan jarang terdapat buku cerita yang menarik untuk dibaca, laboratorium juga jarang digunakan biasanya dipakai kalau beberapa pembelajaran saja dan sedikit dibatasi untuk ruang melakukan eksperimen kreatif. Jadwal pelajaran terlalu padat, sehingga membuat saya cepat lelah.</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari sisi kementerian, saya merasa kurikulum yang sering berubah membuat guru dan siswa harus terus beradaptasi. Beban belajar juga terlalu padat dengan banyak mata pelajaran setiap hari, sehingga saya sering merasa lelah. Selain itu, fasilitas pendidikan di sekolah tidak merata. Siswa di kota mungkin bisa belajar dengan teknologi canggih, sedangkan di sekolah saya masih terbatas.</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari sisi orang tua, kadang orang tua terlalu sibuk dengan kehidupannya sehingga tidak sempat mendampingi saya belajar. Ada juga tekanan dari orang tua yang ingin saya selalu mendapatkan nilai tinggi/peringkat. Hal itu membuat saya merasa terbebani dan takut jika hasil belajar tidak sesuai harapan mereka.</p><p>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari sisi teman sebaya, pengaruh teman sangat besar. Jika berteman dengan siswa yang rajin, saya ikut termotivasi. Namun, jika teman lebih sering bolos atau main game, saya kadang terbawa arus. Bahkan, ada teman yang suka mengejek kalau saya rajin belajar, sehingga membuat saya tidak percaya diri. Kadang teman lebih suka mengajak bermain daripada belajar bersama, sehingga saya ikut tergoda.</p><p>7.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari sisi lingkungan sosial, suasana di sekitar rumah saya kadang tidak mendukung untuk belajar. Lingkungan yang bising atau ramai membuat saya sulit berkonsentrasi. Selain itu, ada juga anak-anak di sekitar yang lebih sering bermain daripada belajar.</p><p>8.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari sisi ekonomi, saya menyadari bahwa ada siswa yang mengalami kesulitan membeli buku, seragam, atau alat tulis yang lengkap. Bahkan, ada yang harus membantu orang tua bekerja sehingga waktu belajarnya berkurang. Hal ini tentu memengaruhi semangat belajar. Saya juga pernah kesulitan ikut kegiatan sekolah yang berbayar, misalnya study tour padahal kegiatan itu bagus jika gratis karena bisa meningkatkan pengetahuan lebih.</p><p>9.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari sisi teknologi, saya merasa terbantu dengan adanya internet, tetapi sering juga justru teralihkan. HP lebih sering saya gunakan untuk bermain media sosial atau game dibanding mencari materi belajar. Sering juga jaringan internet tidak stabil, terutama saat belajar daring.</p><p>10.&nbsp; Dari sisi sistem penilaian, saya merasa nilai lebih dihargai daripada proses belajar. Hal ini membuat saya belajar hanya untuk ujian, bukan untuk memahami materi. Penilaian di sekolah lebih banyak fokus pada ujian tertulis, sehingga siswa yang punya kemampuan praktik atau kreativitas kurang di berikan nilai plus . Ada juga soal ujian yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan guru, sehingga membuat bingung. Penilaian sering menekankan hafalan, padahal tidak semua siswa kuat menghafal. Serta Remedial kadang hanya sekadar mengulang tes, bukan bimbingan tambahan.</p><p>11.&nbsp; Dari sisi kesehatan dan psikologis, saya juga menyadari bahwa kondisi tubuh sangat berpengaruh. Ketika sakit, saya sulit mengikuti pelajaran dengan baik. Selain itu, tekanan belajar dan rasa takut gagal bisa membuat saya stres. Saya terkadang kurang tidur karena terlalu lama mengerjakan tugas atau main HP sampai malam. Kalau masuk kelas dalam keadaan mengantuk, konsentrasi saya berkurang. Saya juga merasa cemas setiap kali ada ujian, takut nilainya jelek dan dimarahi orang tua.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:40:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584276541</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584278243</link>
         <description><![CDATA[<p>Refina Suwardi </p><p>2340605096</p><p><br/></p><p>Selama saya bersekolah, sebenarnya banyak hal yang membuat saya kesulitan dalam belajar. Dari sisi saya sendiri sebagai siswa, saya sering merasa kurang semangat ketika pelajaran terlalu sulit atau tidak dikaitkan dengan kehidupan nyata. Kadang saya juga malu bertanya karena takut salah di depan teman-teman. Selain itu, saya sering menunda mengerjakan tugas sehingga tugas menumpuk dan membuat saya tambah tertekan. Konsentrasi saya pun mudah terganggu, terutama jika suasana kelas kurang tenang atau ketika pikiran saya sibuk dengan hal lain. </p><p>Dari sisi guru, saya melihat ada guru yang sangat sabar dan kreatif, tetapi ada juga yang hanya mengajar dengan cara ceramah tanpa variasi. Itu membuat saya merasa cepat bosan. Kadang guru juga terlalu fokus pada target materi sehingga tidak semua siswa benar-benar paham. Ada juga guru yang sulit didekati, sehingga saya ragu untuk bertanya atau meminta bimbingan lebih. </p><p>Kalau dari sisi sekolah, saya merasa fasilitas masih terbatas. Misalnya, buku di perpustakaan kurang lengkap, dan akses internet sering tidak stabil. Hal ini membuat proses belajar kurang maksimal, apalagi ketika butuh mencari referensi tambahan. Program bimbingan konseling juga kurang aktif, sehingga siswa yang mengalami masalah belajar atau pribadi jarang mendapat pendampingan. </p><p>Dari sisi kepala sekolah, menurut saya kepsek sering lebih sibuk dengan urusan administrasi atau acara formal daripada mendengarkan aspirasi siswa. Padahal, siswa juga butuh ruang untuk menyampaikan pendapat agar sekolah bisa lebih berkembang. </p><p>Kalau dilihat dari sisi kementerian, saya merasa kurikulum yang sering berubah membuat guru dan siswa bingung beradaptasi. Materinya juga terlalu padat, sehingga kadang terasa hanya mengejar hafalan, bukan pemahaman. Sistem penilaian pun masih terlalu menekankan ujian, sementara proses belajar sehari-hari kurang dihargai. </p><p>Pada akhirnya, saya menyadari bahwa belajar itu memang bukan hal yang mudah. Ada banyak kendala, mulai dari diri saya sendiri yang kadang malas dan menunda tugas, sampai pada hal-hal di luar kendali saya seperti metode guru, fasilitas sekolah, atau kebijakan dari kementerian. Tapi justru dari semua kesulitan itu saya belajar untuk lebih sabar, berusaha mencari cara sendiri agar tetap paham, dan tidak mudah menyerah meski situasi belum ideal. </p><p>Bagi saya, refleksi ini penting karena membuat saya sadar bahwa masalah bukan hanya untuk dikeluhkan, tapi juga untuk dicari solusinya. Mungkin saya tidak bisa langsung mengubah kurikulum atau fasilitas sekolah, tapi saya bisa mengubah sikap saya sendiri: lebih berani bertanya, lebih rajin membaca, dan lebih disiplin mengatur waktu. Dengan begitu, saya berharap proses belajar saya bisa lebih bermakna meski ada banyak keterbatasan. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:41:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584278243</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584278255</link>
         <description><![CDATA[<p>maura dirla adha</p><p>2340605169</p><p><br/></p><p>Saat saya bersekolah dulu, sering kali saya menghadapi kesulitan dalam belajar salah satunya menjaga motivasi belajar, rasa bosan mudah muncul, apalagi ketika saya lebih tergoda oleh hiburan seperti media sosial atau permainan di gadget. Selain itu, saya juga jarang belajar secara mandiri dan lebih sering hanya menunggu penjelasan guru tanpa berusaha mencari tahu sendiri, saya hanya belajar jika ada tugas ataupun ujian. Saya juga sulit megaur waktu antara sekolah, tugas, dan kegiatan di luar sekolah, sehingga tugas menumpuk dan belajar tidak menjadi efektif. Saya juga jarang bertanya ketika saya tidak paham tentang materi yang diajarkan saya merasa malu ketika bertanya. Saya juga suka menunda-nunda mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru saya lebih pilih bermain dari pada mengerjakan tugas. Waktu saya bersekolah dulu banyak guru yang mengajar menggunakan metode ceramah sehingga membuat saya merasa bosan dan mengantuk saat jam Pelajaran berlangsung. Banyak juga guru yang hanya memberikan tugas tanpa menjelaskan tugas tersebut juga tidak mendampingi siswanya di dalam kelas sehingga kelas tidak kondusif. Ada juga yang mengajar terlalu cepat sehingga siswa lain sulit memahami Pelajaran. Saya merasa jika fasilitas terbatas akan mempengaruhi konsentrasi belajar siswa, waktu saya bersekolah dulu di ruang kelas terbatas kipas angin sehingga membuat kami tidak fokus untuk belajar karena kepanasan, selain itu juga lcd yang terbatas. Akses internet juga masih kurang masih ada beberapa tempat yang tidak di pasangkan wifi. Jumlah siswa yang terlalu banyak membuat guru sulit memberikan perhatian untuk anak yang tertinggal.  Kepala sekolah kadang terlalu banyak membuat kegiatan sehingga membuat siswa lebih fokus untuk kegiatan dari pada belajar. Kadang juga kepala sekolah kurang mendengarkan saran-saran dari siswa karena sering sibuk dengan kegiatannya. Kepala sekolah juga kadang lebih fokus pada prestasi lomba dibanding meningkatkan kualitas belajar siswa. Dan banyak juga kepala sekolah yang terlalu tegas sehingga membuat siswanya takut. Pemerintah sering mengganti terkait kurikulum sehingga membuat siswa susah untuk beradaptasi akan perubahan tersebut, pemerintah juga lebih menekankan penilaian berupa angka dan ujian tidak fokus pada kemampuan yang dimiliki siswa. Biasanya bantuan yang diberikan pemerintah juga tidak merata kadang ada siswa yang kurang mampu tidak mendapatkan bantuan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:41:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584278255</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584279215</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Adinda Nurfadzhilla </p><p>NPM : 2340605133</p><p><br/></p><p><br/></p><p>1.	Dari Sisi Siswa </p><p>•	Kurang motivasi belajar → lebih senang main dengan waktu yang tak terbatas dibanding belajar. </p><p>•	Sulit fokus → mudah bosan, pelajaran terasa monoton. </p><p>•	Perbedaan gaya belajar → ada yang lebih suka visual, ada yang kinestetik, tapi metode guru tidak selalu sesuai. </p><p>•	Rasa takut salah → tidak percaya diri bertanya ke guru. </p><p>•	Tekanan tugas &amp; ujian → membuat stres, kadang lebih hafalan daripada paham konsep. </p><p>•	Latar belakang keluarga → ekonomi, kurang dukungan orang tua, atau minim bimbingan belajar di rumah. </p><p>•	Perbedaan kemampuan → yang  pintar merasa bosan,sementara  yang lambat masih tertinggal. </p><p>•	Kurangnya literasi digital → bingung mengakses sumber belajar online. Karena fasilitas (hp) masih terbatas untuk digunakan adapun terkadang jaringan daerah tidak memumpuni.</p><p> </p><p>2.	Dari Sisi Guru </p><p>•	Masih ada guru yang mengajar dengan cara lama (ceramah panjang) → kurang interaktif hingga bikin kantuk.</p><p>•	Kurangnya kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran.</p><p>•	Ada guru yang kurang memahami karakter siswa (melankolis, sanguinis,) → tidak semua siswa cocok dengan gaya mengajar mereka. </p><p>•	Keterbatasan waktu → terlalu banyak materi, sedikit jam pelajaran. </p><p>•	Fokus ke capaian akademik → kurang memperhatikan karakter &amp; soft skill siswa. Sehingga pendidikan seakan hanya sebatas hafalan saja.</p><p>•	Ada guru yang terlalu otoriter sehingga siswa takut, bukan termotivasi. </p><p>•	Guru kadang tidak konsisten dalam penilaian → nilai bukan murni dari usaha siswa. Sehingga terkadang mengakibatkan pengabaian tugas atau menganggap remeh.</p><p> </p><p>3.	Dari Sisi Sekolah </p><p>•	Fasilitas kurang → laboratorium terbatas, perpustakaan sepi/buku lama, komputer sedikit. </p><p>•	Ruang kelas penuh → jumlah siswa terlalu banyak dalam satu kelas. (Kurang)</p><p>•	Jadwal terlalu padat → siswa kelelahan, tidak ada ruang untuk kreativitas. </p><p>•	Kegiatan ekstrakurikuler terbatas → kurang wadah minat &amp; bakat siswa. </p><p>•	Lingkungan belajar tidak kondusif → kelas panas, bising, kursi/meja rusak. </p><p>•	Kurang konseling → siswa yang bermasalah sering tidak mendapat perhatian. </p><p><br/></p><p> </p><p>4.	Dari Sisi Kepala Sekolah </p><p>•	Ada kepsek yang lebih fokus ke administrasi &amp; laporan daripada kualitas pembelajaran. </p><p>•	Belum semua kepala sekolah mendukung inovasi guru (kadang ide guru malah tidak dijalankan) </p><p>•	Terlalu menekankan prestasi akademik (nilai ujian, lomba) dibanding kenyamanan belajar. </p><p>•	Kurangnya komunikasi dengan siswa → suara siswa jarang didengar. </p><p> </p><p>5.	Dari Sisi Kementerian / Kebijakan </p><p>•	Kurikulum sering berubah → siswa &amp; guru kebingungan adaptasi. </p><p>•	Materi terlalu padat → banyak hafalan, sedikit praktik. </p><p>•	Sistem ujian nasional dulu → bikin siswa stres karena nilai jadi patokan segalanya. </p><p>•	Distribusi guru tidak merata → ada sekolah kekurangan guru mapel tertentu. </p><p>•	Dana BOS kadang tidak maksimal → sehingga sekolah  kekurangan fasilitas. </p><p>•	Penilaian pendidikan lebih fokus ke angka → bukan ke kemampuan berpikir kritis, kreativitas, atau karakter. (Tidak berkembang)</p><p>•	Akses pendidikan tidak merata → sekolah di kota lebih maju dibanding di desa. </p><p> </p><p>6.	Dari Sisi Fasilitas </p><p>•	Internet tidak stabil → susah pembelajaran online. </p><p>•	Alat praktik (IPA, komputer, olahraga) sering rusak atau tidak lengkap. </p><p>•	Perpustakaan tidak update → buku pelajaran lama, minim buku motivasi/ilmu populer. </p><p>•	Kantin &amp; lingkungan sekolah kadang </p><p>kurang sehat → memengaruhi kenyamanan belajar. </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:41:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584279215</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584279217</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Lusiana Katarina Tuto</p><p>NPM. : 2340605041</p><p><br></p><ol><li><p>Kurangnya motivasi belajar karena merasa pelajaran sulit dan tidak menarik.</p></li><li><p>Terlalu sering menunda tugas.</p></li><li><p>Tidak punya strategi belajar yang efektif (misalnya belajar hanya menghafal, tidak memahami konsep).</p></li><li><p>Ketergantungan pada gadget dan media sosial sehingga waktu belajar berkurang.</p></li><li><p>Rasa malas, cepat bosan, atau tidak disiplin dalam belajar.</p></li><li><p>Stres karena beban tugas yang terlalu banyak sedangkan materi pelajaran selalu tertinggal dikarenakan terlalu banyak ekstrakurikuler yang diadakan oleh sekolah</p></li><li><p>Rasa minder atau takut bertanya saat tidak paham dikarenakan guru yang terlalu garang (sering menampar, menjitak dan menendang siswa)</p></li><li><p>Guru masih menggunakan metode mengajar yang monoton sehingga kebanyakan siswa selalu merasa bosan dan tidak memperhatikan pelajaran.</p></li><li><p>Kurangnya variasi media pembelajaran (jarang pakai alat peraga, teknologi, atau praktik).</p></li><li><p>Tidak semua guru bisa memahami karakter dan gaya belajar siswa yang berbeda.</p></li><li><p>Ada guru yang kurang sabar atau cenderung memarahi siswa</p></li><li><p>Waktu mengajar terbatas, sehingga guru sering terburu-buru menyelesaikan materi pelajaran.</p></li><li><p>Tugas terlalu banyak tanpa mempertimbangkan beban siswa yang setiap hari mengikuti kegiatan ekstrakulikuler</p></li><li><p>Kebanyakan guru mengajar tidak sesuai dengan bidang studi yang ia tempuh waktu berkuliah, sehingga penyampaian materi kurang akurat dan tidak menarik (tidak menguasai materi pembelajaran)</p></li><li><p>Guru yang tidak mengajar saat jam nya mengajar, namun terus menyuruh siswa membawa bibit, pupuk, dan poliback kesekolah, sedangkan mata pelajaran yang ia ajar tidak berkaitan dengan hal tersebut.</p></li><li><p>Fasilitas sekolah kurang memadai (perpustakaan tidak lengkap, dan laboratorium terbatas).</p></li><li><p>Kegiatan ekstrakurikuler yang banyak, sehingga minat belajar siswa di kelas jadi menurun.</p></li><li><p>Sistem tata tertib sekolah terkadang terlalu kaku, membuat siswa tertekan. Contohnya siswa yang diwajibkan datang seblum jam 6 karena jam masuk sekolah jam 6.30 dan yang datang terlambat tidak diizinkan untuk mengikuti pembelajaran, dalam artian yang datang lewat dari jam 6.30 di suruh pulang mulai dari siswa maupun guru.</p></li><li><p>Fokus pada pengembangan minat, bakat, karakter dan keterampilan non akdemik siswa sehingga banyak mata pelajaran yang tertinggal dan membuat siswa kecapean</p></li><li><p>Kurang mendorong inovasi guru dalam metode mengajar sehingga mengakibatkan kebosanan dan kejenuhan pada siswa</p></li><li><p>Kurikulum sering berubah-ubah, membuat guru dan siswa bingung beradaptasi.</p></li><li><p>Sistem ujian nasional/asesmen kadang menekankan hafalan, bukan pemahaman.</p></li><li><p>Anggaran pendidikan belum merata, sekolah di kota lebih maju dibandingkan sekolah di desa.</p></li><li><p>Program bantuan (buku, beasiswa, fasilitas) tidak selalu tepat sasaran.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:41:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584279217</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584279493</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Alivia Maharani</p><p>Npm   : 2340605056</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Permasalahan yang saya alami hanya saat saya duduk di bangku SMA yaitu dari segi :</p><p>a. Infrastruktur</p><p>Sebagai seorang siswa, saya merasa kurang nyaman dengan kondisi toilet sekolah yang kurang memadai, terutama saat air sering mati sehingga toilet menjadi kotor dan tidak bisa digunakan dengan baik. Hal ini yang membuat saya enggan untuk ke toilet dan kadang mengganggu konsentrasu saat belajar dikelas.</p><p><br/></p><p>b. Guru</p><p>Sebagai seorang siswa, saya merasa kurang mendapatkan pembelajaran yang maksimal ketika guru jarang masuk kelas dan hanya memberikan tugas, hal ini yang membuat saya sering belajar sendiri tanpa bimbingan yang jelas sehingga terkadang sulit memahami materi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:41:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584279493</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584281778</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Rendy satria saputra </p><p>NOM: 2340605154</p><p>LOKAL A1</p><p><br/></p><ol><li><p>Wali kelas yang jarang masuk kelas waktu SD</p></li><li><p>Guru yang hanya memberikan hapalan </p></li><li><p>Guru yang memberikan catatan dan membaca dan kurangnya pemahaman atau penjelasan </p></li><li><p>Kurang percaya diri untuk bertanya </p></li><li><p>Terkadang guru lebih memperhatikan murid yang lebih pintar</p></li><li><p>Kurangnya buku di perpustakaan </p><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:43:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584281778</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584281805</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Masruriyah Muaddas</p><p>2340605111</p><p><br/></p><p>Permasalahan di SD  </p><p>Saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar, saya mengalami problem yang berasal dari keterbatasannya infrastruktur yang belum sepenuhnya mendukung proses pembelajaran. Seperti:  </p><p>-	Sebagian ruang belajar atau kelas terasa panas, sehingga beberapa siswa terganggu konsetrasinya saat belajar.  </p><p>-	Fasilitas belajar yang kurang memadai, terutama pada pembelajaran IPA (Misalkan pada materi kerangka tubuh manusia, organ-organ manusia, dll). Walaupun sudah tersedia tetapi ada saja kerusakan atau ketidaklengkapan.  </p><p>-	Alat olahraga terbatas, bola, raket, atau net sering mengalami kerusakan bahkan jumlahnya kadang tidak memadai.   </p><p>Jika saja, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, sekolah tersebut lebih banyak menyediakan fasilitas praktik, mungkin minat belajar saya terhadap pembelajaran didalam kelas akan lebih berkembang. </p><p><br/></p><p>Permasalahan di SMP  </p><p>Ketika memasuki SMP, hambatan belajar lebih banyak berasal dari dalam diri saya sendiri. Seperti:  </p><p>-	Pada saat kelas VII-VIII, saya merasa pernah mengalami kurangnya rasa percaya diri dalam proses pembelajaran. Karena di dalam kelas teman saya rata-rata pintar semua, sehingga membuat saya ragu terhadap kemampuan saya sendiri.  </p><p>-	Selama bersekolah saya mengalami semangat belajar yang tidak konsisten. Saya sering malas belajar kecuali pada saat diadakannya ujian. Yang membuat hasil ujian saya terkadang tidak sesuai dengan keinganan.  </p><p>-	Pada proses pembelajaran, saya banyak diam nya ketika ada pembelajaran yang tidak saya pahami, terutama dalam pembelajaran Bahasa Inggris.  </p><p>-	Sering lelah dan kurang disiplin dengan waktu belajar, karena saya susah mengatur waktu antara, belajar, ekstrakulikuler, dan bermain.  </p><p>Selain dalam diri saya, saya menemukan problem dari guru yang pernah mengajari saya, seperti:  </p><p>-	Pada saat proses pembelajaran, guru saya rata-rata menggunakan metode ceramah. Yang membuat kami di dalam kelas bosan dengan pelajaran tersebut, dan membuat beberapa siswa sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. </p><p>-	Ada beberapa guru yang hanya fokus pada siswa aktif, sementara beberapa siswa yang tergolong pendiam merasa terabaikan.  </p><p>Dan problem yang saya temui terakhir yaitu dari infrastruktur sekolah.  </p><p>Seperti: </p><p>-	Ruang kelas panas karena diantara ruang belajar/kelas pada saat itu belum  tersedia kipas angin, kecuali ruang lab, musholla, ruang guru, dll.  </p><p>-	Kantin sekolah yang kecil sehingga sangat sulit untuk siswa-siswi beristirahat dengan nyaman dikarenakan antrian pembeli makanan yang sangat panjang. </p><p>-	Bahkan ketersediaan air bersih disekolah tidak semudah yang sekarang. Karena dulu tiap kamar mandi ada saja ditemukan air mati, dan air yang mengalir tetapi airnya keruh, </p><p><br/></p><p>Permasalahan di SMA </p><p>Di SMA, tantangan semakin besar karena problem yang terdapat dalam diri saya bertambah. Apalagi pada saat saya SMA bebarengan dengan situasi pandemic Covod-19.  </p><p>Seperti:  </p><p>-	Pada saat proses pembelajaran daring, terutama diadakannya G-Meet saya merasa kurang fokus dalam situasi itu. Karena saya lebih tergoda dalam membuka media sosial dibandingkan harus fokus dalam pembelajaran daring ini.  </p><p>-	Rasa malas meningkat, sering menunda mengerjakan tugas sampai mendekati deadline.  </p><p>-	Pada saat pembelajaran online, saya merasa sangat sulit memahami materi yang berhubungan dengan hitung-hitungan, seperti Matematika, Kimia, dan Fisika. Saya harus dijelaskan secara langsung didalam kelas karena jika dijelaskan melalui G-Meet, saya merasa kurang puas dalam memahaminya.  </p><p>-	Rasa malas dalam hal membaca buku karena pada saat saya SMA kelas XII saya lebih terbiasa dengan ringkasan atau materi yang di salin dari internet.  </p><p>-	Saya sering menyepelekan pelajaran yang dianggap mudah, padahal akhirnya tetap mengalami kesulitan saat ujian diadakan.  </p><p>-	Saya juga kurang sabar ketika menghadapi tugas sulit, sehingga lebih memilih menyalin teman saja.  </p><p>Selain dalam diri saya, infrastruktur sekolah juga menjadi problem pada saat saya masih SMA. Seperti WIFI sekolah terbtas yang berarti hanya guru yang bisa mengakses nya dan tidak terbuka untuk siswa, LCD/Proyektor hanya tersedia beberapa saja, dan tidak semua siswa bisa memanfaatkannya, dll.   </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:43:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584281805</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>nurhayatikdn1012</author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584282078</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nurhayati</p><p>Npm : 2340605036</p><p><br/></p><p>Selama menjalani pendidikan dari SD hingga SMA, saya menyadari bahwa ada berbagai problematika pembelajaran yang pernah saya hadapi. Masalah tersebut tidak hanya datang dari faktor sekolah atau guru, tetapi juga dari diri saya sendiri. Berikut beberapa refleksi saya : </p><p>1.	Dari Sisi Infrastruktur </p><p>•	Fasilitas belajar yang kurang memadai </p><p>Di beberapa sekolah, terutama pada masa SD dan SMP, fasilitas seperti ruang kelas yang kurang nyaman, kurangnya alat peraga atau media pembelajaran interaktif membuat proses belajar menjadi kurang optimal. Misalnya, ruang kelas yang panas mengganggu konsentrasi belajar. </p><p>•	Keterbatasan akses teknologi  </p><p>Pada masa sekolah dulu, akses ke komputer, internet, dan sumber belajar digital masih sangat terbatas. Hal ini membatasi saya dalam mencari informasi tambahan dan belajar secara mandiri di luar jam pelajaran.  </p><p>•	Keterbatasan buku dan bahan ajar Kadang buku pelajaran yang tersedia kurang lengkap atau kurang update, sehingga saya kesulitan mendapatkan materi yang lebih mendalam. </p><p> </p><p>2.	Dari Sisi Diri Sendiri </p><p>•	Kurangnya motivasi dan disiplin belajar </p><p>Saya sering merasa kurang termotivasi, terutama ketika menghadapi materi yang sulit atau kurang menarik. Disiplin dalam mengatur waktu belajar juga masih kurang, sehingga sering menunda-nunda tugas. </p><p>•	Kesulitan dalam memahami materi tertentu  </p><p>Ada beberapa mata pelajaran yang saya rasa sulit untuk dipahami, seperti matematika dan fisika, yang membutuhkan pemahaman konsep yang kuat dan latihan rutin. </p><p>•	Kurang percaya diri </p><p>Kadang saya merasa kurang percaya diri untuk bertanya atau berpartisipasi aktif di kelas, sehingga kesempatan untuk memperdalam pemahaman menjadi terlewatkan. </p><p>•	Manajemen waktu yang belum optimal  </p><p>Saya sering kesulitan membagi waktu antara belajar, istirahat, dan kegiatan lain sehingga kadang merasa kelelahan atau kurang fokus. </p><p> </p><p>3.	Dari Sisi Guru </p><p>•	Metode pengajaran yang kurang variatif </p><p>Beberapa guru cenderung menggunakan metode ceramah yang monoton, sehingga membuat suasana belajar menjadi kurang menarik dan siswa mudah bosan. </p><p>•	Kurangnya perhatian individual </p><p>Karena jumlah siswa yang banyak, guru terkadang sulit memberikan perhatian khusus kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. </p><p>•	Komunikasi yang kurang efektif </p><p>Ada kalanya penjelasan guru kurang jelas atau terlalu cepat, sehingga saya dan teman-teman kesulitan mengikuti materi. </p><p>•	Kurangnya feedback konstruktif </p><p>Feedback yang diberikan terkadang hanya berupa nilai tanpa disertai penjelasan yang membantu siswa memahami kesalahan dan cara memperbaikinya. </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:43:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584282078</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584283628</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Muhammad Rizki Ramadhan</p><p>Npm: 2340605051</p><p>Lokal: A1</p><p><br/></p><ol><li><p>Ada salah satu guru yang jarang memasuki kelas sehingga mapel nya itu sama sekali tidak di pelajari, tapi pas akhir semester baru guru itu masuk dan mengajar</p></li><li><p>Guru lebih sering memberikan tugas tanpa materi itu di jelaskan terlebih dahulu</p></li><li><p>kurangnya fasilitas yang baik dari segi sarana dan prasarana </p></li><li><p>guru lebih friendly kepada murid yang pintar </p></li><li><p>guru lebih sering menggunakan teori menjelaskan dari pada melakukan aksi </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:44:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584283628</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584283870</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Ayu Devi Permatasari </p><p>NPM : 2340605071</p><p>Problematika yang terjadi selama sekolah yaitu sebagai berikut.</p><p>Problem - problem selama saya bersekolah:&nbsp;</p><p>1. Metode pembelajaran yang monoton sehingga di kelas banyak siswa merasa ngantuk ketika mendengarkan pembelajaran yang guru berikan salah satunya pembelajaran sosiologi yang gaya belajarnya dengan metode ceramah dan tidak ada contoh diberikan </p><p>2. Sarana dan prasarana yang kurang memadai di mana di sekolah tersebut sarana dan prasarana nya sangat kurang memadai seperti alat laboratorium yang kurang lengkap sehingga menghambat proses pembelajaran.</p><p>3. Minimnya sumber daya guru. Guru Sosiologi mungkin kurang memiliki akses ke pelatihan yang relevan atau sumber daya yang memadai untuk mengembangkan materi pembelajaran yang inovatif.</p><p>4. Banyaknya biaya yang dikeluarkan ketika lagi ada praktek</p><p>5. Pada saat covid-19 terjadinya penurunan motivasi siswa terhadap pembelajaran, terisolasi dan kurang mendapatkan dukungan sosial dari teman dan guru.</p><p>6.&nbsp; Peningkatan stres, pada saat pandemi kecemasan, dan depresi di kalangan siswa dan guru akibat isolasi sosial, tekanan akademik pada saat covid 19 kemarin</p><p>7.&nbsp; Terbatasnya materi Yang hanya berpatokan pada buku.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:44:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584283870</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584284534</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Ardianto</p><p>Npm : 234060515</p><p>Lokal : A1</p><p><br/></p><p>Permasalahan saya waktu di SD</p><p><br/></p><p>1 . kurangnya fasilitas di sekolah </p><p>2. Guru yang memberikan tugas aja tidak menjelaskan dan keluar dari ruangan kelas </p><p>3. Kadang ² guru nya jarang masuk </p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://4.Guru">4.Guru</a> hanya masuk sebentar di dalam ruangan kelas </p><p>5. Guru nya juga memberikan tugas tampa memberikan materi </p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:44:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584284534</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584284848</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Siti Rahma </p><p>Npm   : 2340605106</p><p><br/></p><p>Permasalahan yang saya alami selama sekolah yaitu : </p><ol><li><p>Sulit memahami materi karena cara guru mengajar yang kebanyakan menggunakan metode ceramah.</p></li><li><p>Kurangnya motivasi belajar karena saya cenderung merasa pembelajaran membosankan. </p></li><li><p>Saya yang kurang percaya diri seperti bertanya kepada guru.</p></li><li><p>Sering menunda - nunda tugas.</p></li><li><p>Kurangnya fasilitas sekolah seperti buku, kipas dan lainnya. </p></li><li><p>Kurangnya perhatian individual</p><p>Karena jumlah siswa cukup banyak, guru sulit memberi perhatian khusus kepada yang tertinggal dalam pelajaran.</p></li><li><p>Keadaan kelas yang sering kali kurang kondusif yang membuat saya kurang fokus dalam pembelajaran.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:44:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584284848</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584287271</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Jumalia</p><p>Npm :2340605131</p><p><br></p><p>Masalah-masalah yang muncul saat saya sekolah waktu SD-SMA </p><p>Dari Sisi Sendiri</p><p>1. Kurang motivasi belajar</p><p>2. Tidak tahu tujuan belajar(belajar hanya karena kewajiban, bukan karena ingin tahu)</p><p>3. Ketergantungan pada guru atau contekan</p><p>5. Tidak terbiasa berpikir kritis</p><p>6. Cepat menyerah saat menghadapi kesulitan</p><p>7. Kurang disiplin belajar di rumah</p><p>10. Takut bertanya di kelas</p><p>11. Rasa malu atau minder terhadap teman yang lebih pintar</p><p>12. Tidak terbiasa belajar secara mandir</p><p>15. Kurangnya kebiasaan membaca</p><p>20. Kurang percaya diri dan motivasi diri</p><p><br></p><p>Permasalahan dari Sisi Guru</p><p>1. Metode mengajar monoton dan tidak menarik</p><p>2. Kurang memahami karakter atau kebutuhan siswa</p><p>3. Terlalu fokus pada nilai, bukan pemahaman</p><p>4. Tidak memanfaatkan teknologi pembelajaran</p><p>5. Kurang memberikan kesempatan siswa aktif di kelas</p><p>6. Tidak sabar menghadapi siswa yang lambat belajar</p><p>7. Kurang memberi umpan balik atau motivasi kepada siswa</p><p>8. Tidak membangun kedekatan emosional dengan siswa</p><p>9. Sering terlambat masuk kelas atau tidak hadir</p><p>13. Komunikasi buruk dengan orang tua siswa</p><p>14. Kesenjangan kualitas guru antar sekolah</p><p><br></p><p>Permasalahan dari Sisi Sekolah</p><p>1. Fasilitas tidak memadai (kelas sempit, bocor, tidak ada AC, dll.)</p><p>2. Kurangnya laboratorium, perpustakaan, atau ruang seni</p><p>3. Sarana belajar tidak lengkap (buku, alat praktik, komputer, dll.)</p><p>4. Koneksi internet lambat atau tidak tersedia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:46:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584287271</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584288116</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Ushlatunnur</p><p><strong>NPM  : 2340605076</strong></p><p><br/></p><p><strong>#</strong> Problem Selama Sekolah</p><p><br/></p><p>1. Dari Sisi Siswa</p><p><br/></p><p>Kurangnya motivasi belajar karena merasa materi sulit, tidak relevan dengan kehidupan nyata, atau membosankan. Manajemen waktu yang buruk, sulit membagi antara belajar, tugas, organisasi, dan hiburan.</p><p><br/></p><p>Kecanduan gawai/media sosial yang membuat konsentrasi belajar menurun.</p><p><br/></p><p>Kesulitan memahami pelajaran tertentu (misalnya matematika, fisika, atau bahasa Inggris).</p><p><br/></p><p>Kurang percaya diri untuk bertanya atau mengemukakan pendapat di kelas.</p><p><br/></p><p>Kelelahan fisik dan mental akibat jadwal sekolah padat, ditambah tugas menumpuk.</p><p><br/></p><p>Perbedaan gaya belajar (visual, auditori, kinestetik). </p><p><br/></p><p>Kurangnya keterampilan belajar mandiri, terlalu bergantung pada penjelasan guru.</p><p><br/></p><p>Masalah pribadi/keluarga yang terbawa ke sekolah sehingga mengganggu konsentrasi.</p><p><br/></p><p>Kurangnya fasilitas belajar di rumah (internet lambat, buku terbatas, tempat belajar kurang kondusif). </p><p><br/></p><p>2. Dari Sisi Guru</p><p><br/></p><p>Metode mengajar monoton (ceramah tanpa variasi). </p><p><br/></p><p>Kurangnya pendekatan individual kepada siswa yang kesulitan.</p><p><br/></p><p>Terlalu fokus pada nilai/ujian dari pada pemahaman konsep.</p><p><br/></p><p>Kurangnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.  </p><p> </p><p>Guru tidak selalu up-to-date dengan perkembangan kurikulum atau metode belajar baru.</p><p><br/></p><p>Komunikasi yang kurang baik dengan siswa (ada guru yang terlalu keras, ada yang kurang tegas). </p><p><br/></p><p>Keterbatasan waktu dalam menjelaskan semua materi karena beban kurikulum padat. </p><p><br/></p><p>Kurangnya perhatian pada kesehatan mental siswa. </p><p><br/></p><p>Perbedaan standar antar guru (ada yang sangat disiplin, ada yang longgar) membingungkan siswa.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>3. Dari Sisi Sekolah</p><p><br/></p><p>Fasilitas kurang memadai (perpustakaan, laboratorium, wifi, ruang kelas sempit, AC/kipas terbatas). </p><p><br/></p><p>Jumlah siswa terlalu banyak dalam satu kelas sehingga guru sulit fokus.</p><p><br/></p><p>Ekstrakurikuler terbatas sehingga bakat siswa tidak terwadahi.</p><p><br/></p><p>Sistem administrasi ribet (izin, surat, birokrasi terlalu panjang).</p><p><br/></p><p>Lingkungan sekolah kurang nyaman (kebersihan, kantin, toilet, area belajar).</p><p><br/></p><p>Kurangnya bimbingan konseling yang benar-benar membantu masalah siswa.</p><p><br/></p><p>Pengelolaan jadwal pelajaran tidak seimbang (terlalu banyak jam berat dalam sehari).</p><p><br/></p><p>Kurangnya sarana digital untuk pembelajaran modern.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:46:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584288116</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584290775</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: muhammad syahril gunawan</p><p>Lokal : A1 </p><p>Angkatan : PGSD 2023</p><p><br/></p><p><br/></p><p>-Guru sering memberikan PR atau tugas proyek tanpa memberi contoh atau penjelasan yang jelas. Siswa jadi bingung dan hanya menyalin dari teman.</p><p>-Tujuan belajar jadi hanya untuk mendapat nilai bagus, bukan untuk memahami materi. Setelah ulangan selesai, semua materi dilupakan.</p><p>-metode belajar hampir selalu sama: mendengarkan guru, mencatat, lalu menghafal. Tidak ada proyek, diskusi kelompok, atau pembelajaran kreatif.</p><p>-Sering kali memilih diam karena takut dimarahi jika bertanya. Akibatnya, siswa tidak paham materi tapi tidak berani bicara.</p><p>-Setelah  mengerjakan tugas atau ujian, guru hanya memberi nilai, tanpa memberi tahu di mana kesalahannya dan bagaimana memperbaikinya.</p><p>-Ketika siswa ingin memberi masukan tentang pelajaran atau metode belajar, guru sering mengabaikan. Ada saja oknum </p><p>-Ruang kelas minim ventilasi, kipas tidak ada atau rusak, sehingga suasana belajar tidak nyaman.</p><p>-<strong>Papan tulis buram, spidol atau kapur sering habis </strong>Hal-hal kecil seperti ini mengganggu proses belajar, tapi sering diabaikan pihak sekolah</p><p>-Buku-buku sudah usang dan tidak menarik. Tidak ada program membaca atau kegiatan literasi yang rutin</p><p>-Sebagai siswa, saya dan teman-teman sering mengalami berbagai kendala dalam belajar. Salah satu yang paling sering terjadi adalah <strong>kurangnya motivasi untuk belajar</strong>. Banyak siswa datang ke sekolah hanya karena kewajiban, bukan karena keinginan untuk belajar dan berkembang. Selain itu, <strong>rasa tidak percaya diri</strong> sering muncul, terutama ketika diminta untuk berbicara di depan kelas atau menjawab pertanyaan. <strong>Takut salah</strong> dan <strong>malu ditertawakan teman</strong> menjadi alasan utama mengapa siswa cenderung pasif.</p><p>-Guru merupakan kunci dalam proses pembelajaran, namun tidak semua guru memiliki kemampuan atau kesempatan untuk mengajar secara optimal. Beberapa guru masih menggunakan <strong>metode mengajar yang monoton</strong> dan tidak menarik, seperti hanya ceramah atau membaca buku pelajaran. Akibatnya, siswa menjadi cepat bosan dan tidak fokus, </p><p>-Selain itu, ada guru yang <strong>kurang memahami karakter siswa</strong>, sehingga pendekatan yang digunakan tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Beberapa guru juga kurang terbuka terhadap perubahan dan <strong>tidak memanfaatkan teknologi pembelajaran</strong> yang seharusnya bisa membuat pembelajaran lebih menarik. <strong>Tugas administrasi yang menumpuk</strong> juga sering kali mengurangi fokus guru terhadap kualitas pengajaran.</p><p>-Permasalahan yang tidak kalah penting datang dari sistem pendidikan itu sendiri. <strong>Perubahan kurikulum yang terlalu cepat dan tidak merata sosialisasinya</strong> membuat guru dan siswa kesulitan menyesuaikan diri. Selain itu, <strong>terlalu banyaknya administrasi</strong> yang dibebankan pada guru membuat waktu mereka tersita, dan mengurangi fokus pada pembelajaran.</p><p>-Banyak siswa (termasuk saya dulu) merasa bahwa PPKn cuma hafalan pasal-pasal dan nilai Pancasila. Tidak ada aktivitas yang menarik</p><p>-Siswa tahu Pancasila, tapi tidak paham bagaimana menerapkannya dalam kehidupan. Nilai-nilai seperti kejujuran, gotong royong, atau tanggung jawab tidak benar-benar ditanamkan</p><p>-Kurang minat karena tidak melihat manfaat langsung,Banyak siswa merasa pelajaran ini tidak sepenting Matematika atau IPA, karena tidak terlihat kaitannya</p><p>-Mengajar dengan metode ceramah monoton, Guru hanya menyuruh siswa membaca buku, mencatat, dan menghafal. Tidak ada diskusi, studi kasus, atau permainan edukatif</p><p>-Fokus pada nilai, bukan pada sikap</p><p>Nilai PPKn sering dinilai dari ulangan saja, padahal yang paling penting justru perilaku siswa sehari-hari</p><p>-PPKn kurang mendapatkan perhatian khusus Pelajaran ini sering dianggap "pelengkap", bukan pelajaran inti. Kadang jam pelajaran dipakai untuk kegiatan lain karena dianggap tidak terlalu penting</p><p>-Tidak adanya budaya sekolah yang mendukung nilai PPKn Misalnya, sekolah mengajarkan gotong royong, tapi tidak ada kegiatan kerja bakti. Mengajarkan demokrasi, tapi siswa tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan kelas</p><p>-Tidak menekankan pentingnya pendidikan karakter Kepala sekolah lebih fokus pada akademik dan lomba-lomba, tapi nilai-nilai seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan nasionalisme tidak menjadi perhatian utama</p><p>-Kurang memberi ruang inovasi dalam PPKn Guru tidak diberi kebebasan atau dukungan untuk membuat model pembelajaran PPKn yang kreatif dan menyenangkan</p><p>-Terlalu banyak materi hafalan (pasal-pasal, undang-undang), dan kurang menekankan pada pemahaman konteks serta praktik nyata di lingkungan siswa</p><p>-Sistem penilaian nasional masih lebih fokus pada angka/nilai kognitif, bukan sikap dan karakter</p><p>-Setelah saya pelajari kembali, pelajaran PPKn seharusnya bisa menjadi salah satu pelajaran paling bermakna di sekolah karena berkaitan langsung dengan kehidupan sebagai warga negara. Sayangnya, karena pendekatannya yang kurang menarik dan terlalu fokus pada hafalan, siswa tidak bisa merasakan pentingnya nilai-nilai Pancasila, demokrasi, hukum, dan HAM dalam kehidupan nyata yang bisa di pakai contoh dari dasar dasar.</p><p>-Siswa tidak bisa membedakan teori dan praktik Siswa belajar tentang gotong royong, tapi di sekolah justru enggan ikut kegiatan bersih-bersih atau membantu teman</p><p>-Dari awal sampai akhir pelajaran, guru hanya bicara sendiri. Siswa pasif, hanya duduk dan mencatat</p><p>-Penilaian PPKn hanya dilihat dari ulangan dan tugas tulis. Tidak ada penilaian sikap atau karakter, Nilai PPKn hanya dinilai dari otak, bukan dari perilaku siswa</p><p>-Nilai seperti toleransi, tanggung jawab, dan keadilan hanya diajarkan di kelas. Di luar kelas, tidak ada budaya yang mendukung</p><p>-Guru kadang menjelaskan terlalu teoritis dan berat, padahal siswa SD perlu pendekatan yang sederhana dan konkret Materi tidak tersampaikan dengan baik sesuai tahap perkembangan anak</p><p>-Ketika ada guru yang tidak hadir, pelajaran PPKn sering dikorbankan untuk pelajaran lain yang dianggap "utama" PPKn dianggap tidak penting dibandingkan pelajaran lain</p><p>-Siswa tidak diajak ke luar kelas untuk melihat kehidupan masyarakat atau terlibat dalam kegiatan sosial</p><p>-Pelajaran hanya berisi teori lama, tidak pernah dikaitkan dengan kejadian nyata di masyarakat</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 00:48:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584290775</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584307801</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Siti Rahayu</p><p>Npm : 2340605121</p><p>Lokal A1</p><p><br/></p><p><strong>Permasalahan Pembelajaran di Sekolah</strong></p><ol><li><p>Metode mengajar monoton. Guru terlalu sering menggunakan metode ceramah yang terus-menerus sehingga membuat siswa bosan.</p></li><li><p>Fasilitas belajar tidak merata. Masih kurang sarana teknologi dan media pembelajaran di beberapa kelas/sekolah.</p></li><li><p>Beban tugas berlebihan. Tugas dan ujian yang terlalu banyak membuat siswa mengalami stres.</p></li><li><p>Pembelajaran tidak kontekstual. Materi yang diajarkan kurang dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa.</p></li><li><p>Kurangnya waktu untuk praktik. Terlalu banyak teori, sedangkan praktik langsung sangat minim.</p></li><li><p>Sistem penilaian hanya fokus pada nilai akhir. Tidak memperhatikan proses belajar atau perkembangan siswa.</p></li><li><p>Guru jarang masuk kelas. Guru hanya memberikan tugas tanpa menjelaskan materi terlebih dahulu.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 01:00:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584307801</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584310237</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: teben mielly saputri</p><p>Npm: 2340605175</p><p><br/></p><p>1. Selama saya sekolah, ada beberapa permasalahan yang pernah saya alami. Waktu di SD, saya sering merasa kesulitan untuk memahami pelajaran tertentu, terutama pelajaran Matematika. Kadang guru menjelaskan dengan cepat, sementara saya butuh waktu lebih lama untuk mengerti. Selain itu, saya juga pernah mengalami kesulitan saat harus tampil di depan kelas karena rasa grogi dan kurang percaya diri.</p><p>2. ⁠Selama saya sekolah, saya pernah mengalami permasalahan yang berhubungan dengan guru. Ada guru yang cara mengajarnya terlalu cepat sehingga saya agak kesulitan mengikuti penjelasan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 01:02:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584310237</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584350705</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : irma ramadani</p><p>Npm : 2340605021 </p><p><br/></p><p>Permasalahan yang saya ambil pada waktu sma. </p><ul><li><p>Pada saat jam pembelajaran guru hanya masuk di dalam kelas, duduk dan tidak mengabsen ataupun menjelaskan materi apapun. Dia hanya fokus dengan hpnya. Guru itu hanya menyuruh kami melakukan apapun asalkan tidak ribut dan tidak keluar kelas. Begitu terus setiap mata pelajarannya. </p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 01:25:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584350705</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584378729</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Meyli Stefi</p><p>NPM : 2340605116</p><p>Lokal : A1</p><p><br/></p><p>Permasalahan saya muncul Pada waktu saya SMA ada mata pelajaran peminatan dimana saya ambil mata pelajaran peminatan Teknik Informatika dimana setiap kelas dari Ipa 1 sampai Ipa 4 bergabung di dalam 1 ruangan komputer. Jika sudah waktunya mata pelajaran itu tiba saya bersama teman teman langsung cepat cepat naik supaya kami mendapatkan tempat dan komputer yang bagus, di karnakan di dalam ruang lap itu banyak komputer yang rusak entah itu keyboardnya atau komputernya dan itu yang menyebabkan kami harus berganti gantian.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 01:40:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584378729</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584379248</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Ade Neyla Ibrahim </p><p>Npm : 2340605001 </p><p>Lokal : A-1 </p><p><br/></p><p>permasalahan yang saya hadapi selama sekolah yaitu </p><p>1. terkadang metode pengajaran yang digunakan kurang variatif sehingga membuat pelajaran terasa membosankan.</p><p>2. saya sering merasa mengalami kesulitan memahami pelajaran di kelas karena penjelasan guru terlalu cepat dan kurang di sertai dengan contoh yang jelas. </p><p>3. dari fasilitas yang kurang seperti ruang kelas yang kurang nyaman.  </p><p>4. saat smp juga pada saat pembelajaran hanya memfokuskan pada hafalan saja. </p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 01:40:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584379248</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584389268</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Alpina meldayanti </p><p>Npm:2340605160</p><p>Lokal: A-1</p><p><br/></p><p>permasalahan saya waktu sekolah di sd :</p><p>1.perpustakaan yang kecil sehingga kurang nyaman untuk pergi membaca buku dan meminjam buku untuk bahan tugas.</p><p>2. Guru yang selalu jarang masuk masuk sehingga kurang nyaman dan materi nya lambat untuk di pelajari.</p><p>3. ⁠selalu memberikan tugas dan kadang jarang menjelaskan.</p><p>4. ⁠kantin yang kecil sehingga menyebabkan ketidaknyamanan untuk berbelanja.</p><p>5. ⁠ruangan yang panas sehingga mengganggu  proses pembelajaran.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 01:46:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584389268</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584443282</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Mitcheal</p><p>Lokal  : A1</p><p>Npm   : 2340605101</p><ol><li><p>Les privat dan ketimpangan nilai</p></li></ol><p>Waktu SD, guru saya juga membuka les privat di rumahnya. Teman-teman yang ikut les selalu nilainya lebih bagus karena sudah lebih dulu mempelajari soal yang akan dibahas di sekolah. Sementara kami yang tidak ikut les sering kebingungan dan merasa tertinggal, sehingga seolah-olah dipaksa juga untuk ikut les agar tidak ketinggalan.</p><ol start="2"><li><p>Guru lupa waktu mengajar </p></li></ol><p>saya punya guru yang baik orangnya bagus materi yang di sampaikan mudah kami pahami tapi sering lupa waktu ketika mengajar. Akibatnya, jam istirahat kami terpotong, padahal waktunya hanya sebentar untuk ke kantin dan makan. Kalau ada siswa yang mengingatkan, beliau biasanya mengetuk kepala siswa itu dengan batu akiknya sebagai candaan. Karena itu, kami punya satu teman yang selalu ditugaskan untuk mengingatkan, walau sering jadi “korban akik”.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-15 02:14:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3584443282</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3586324619</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Mella Royani</p><p>NPM : 2340605011</p><p>Lokal : A1</p><p><br/></p><p>Analisis Problematika Siswa SMK Krayan</p><p>Sebagai siswa di SMK Krayan, saya menghadapi berbagai kendala dalam proses pendidikan. Dari segi sarana dan prasarana, fasilitas belajar seperti laboratorium, buku, dan peralatan praktik masih terbatas, bahkan sebagian tidak sesuai standar industri. Infrastruktur sekolah seperti ruang kelas, listrik, dan toilet juga belum memadai, ditambah akses internet yang sering terganggu karena lokasi terpencil. Kendala transportasi dengan jalan rusak serta cuaca buruk turut memengaruhi kehadiran dan konsentrasi belajar.</p><p>Dari sisi proses pembelajaran, keterbatasan guru sesuai jurusan membuat materi tidak selalu diajarkan secara mendalam. Metode pembelajaran yang cenderung monoton juga membuat pelajaran terasa membosankan, sehingga saya sering kesulitan memahami konsep teknis. Kurangnya media dan waktu pengulangan materi menambah hambatan dalam pencapaian hasil belajar.</p><p>Selain itu, dalam pengembangan diri, kesempatan untuk melaksanakan magang/PKL sangat terbatas karena minimnya industri di wilayah Krayan. Akibatnya, pengalaman kerja nyata yang seharusnya menjadi bekal penting bagi siswa berkurang, sehingga kesiapan menghadapi dunia kerja belum optimal.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-16 00:02:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nindyaadiasti/yvpsk2yc1tu8m762/wish/3586324619</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
