<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>The Work Of A Genius by ZiegQuantom II</title>
      <link>https://padlet.com/ziegquantomii/yhjguhvt5jnn</link>
      <description>Made with a taste for adventure</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2018-11-28 16:21:39 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2018-11-28 16:30:45 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>PENGENALAN</title>
         <author>ziegquantomii</author>
         <link>https://padlet.com/ziegquantomii/yhjguhvt5jnn/wish/308880074</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Batu Bersurat Terengganu dianggarkan berusia 700 tahun dengan ukiran paling tua dan ber</strong><a href="https://ms.wikipedia.org/wiki/Tulisan_Jawi"><strong>tulisan Jawi</strong></a><strong>pertama ditemui di </strong><a href="https://ms.wikipedia.org/wiki/Malaysia"><strong>Malaysia</strong></a><strong> membuktikan Islam telah tiba ke </strong><a href="https://ms.wikipedia.org/wiki/Terengganu"><strong>Terengganu</strong></a><strong> pada 1303 Sebelum Masihi. Penemuan oleh </strong><a href="https://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Sayid_Husin_bin_Ghulam_al-Bokhari&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>Sayid Husin bin Ghulam al-Bokhari</strong></a><strong> di tebing Sungai Tersat (Sungai Tara), Kampung Buluh di </strong><a href="https://ms.wikipedia.org/wiki/Kuala_Berang"><strong>Kuala Berang</strong></a><strong>, menjadi bukti dan teks pada batu mengesahkan agama </strong><a href="https://ms.wikipedia.org/wiki/Islam"><strong>Islam</strong></a><strong> sudah bertapak dan menjadi anutan masyarakat dan pemerintah di Terengganu</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="http://www.wonderfulmalaysia.com/attractions/files/2015/03/batu-bersurat-stone-inscription-terengganu-3.jpg" />
         <pubDate>2018-11-28 16:26:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ziegquantomii/yhjguhvt5jnn/wish/308880074</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penyebaran Islam di Nusantara</title>
         <author>ziegquantomii</author>
         <link>https://padlet.com/ziegquantomii/yhjguhvt5jnn/wish/308881656</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><br></strong>  proses menyebarnya agama <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Islam">Islam</a> di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Nusantara">Nusantara</a> (sekarang <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>). Islam dibawa ke Nusantara oleh pedagang dari <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Gujarat">Gujarat</a>, <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/India">India</a> selama abad ke-11, meskipun <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Muslim">Muslim</a> telah mendatangi Nusantara sebelumnya.<sup>[</sup><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan"><em><sup>butuh rujukan</sup></em></a><sup>]</sup> Pada akhir abad ke-16, Islam telah melampaui jumlah penganut <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Hindu">Hindu</a> dan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Buddhisme">Buddhisme</a> sebagai agama dominan bangsa <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa">Jawa</a> dan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Sumatra">Sumatra</a>. <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Bali">Bali</a> mempertahankan mayoritas Hindu, sedangkan pulau-pulau timur sebagian besar tetap menganut <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Animisme">animisme</a> sampai abad 17 dan 18 ketika agama <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kristen">Kristen</a> menjadi dominan di daerah tersebut.<br><br></div><div><br>Penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya didorong oleh meningkatnya <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jalur_perdagangan">jaringan perdagangan</a> di luar kepulauan Nusantara. Pedagang dan bangsawan dari kerajaan besar Nusantara biasanya adalah yang pertama mengadopsi Islam. Kerajaan yang dominan, termasuk <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram">Kesultanan Mataram</a> (di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah">Jawa Tengah</a> sekarang), dan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Ternate">Kesultanan Ternate</a> dan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Tidore">Tidore</a> di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Maluku">Kepulauan Maluku</a> di timur. Pada akhir abad ke-13, Islam telah berdiri di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Utara">Sumatera Utara</a>, abad ke-14 di timur laut <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Malaya">Malaya</a>, <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Brunei">Brunei</a>, <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Filipina">Filipina</a> selatan, di antara beberapa abdi kerajaan di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur">Jawa Timur</a>, abad ke-15 di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Malaka">Malaka</a> dan wilayah lain dari <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Malaya">Semenanjung Malaya</a> (sekarang <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Malaysia">Malaysia</a>). Meskipun diketahui bahwa penyebaran Islam dimulai di sisi barat Nusantara, kepingan-kepingan bukti yang ditemukan tidak menunjukkan gelombang konversi bertahap di sekitar setiap daerah Nusantara, melainkan bahwa proses konversi ini rumit dan lambat.<br><br></div><div><br>Meskipun menjadi salah satu perkembangan yang paling signifikan dalam sejarah Indonesia, bukti sejarah babak ini terkeping-keping dan umumnya tidak informatif sehingga pemahaman tentang kedatangan Islam ke Indonesia sangat terbatas. Ada perdebatan di antara peneliti tentang apa kesimpulan yang bisa ditarik tentang konversi masyarakat Nusantara kala itu.<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Penyebaran_Islam_di_Nusantara#cite_note-RICKLEFS-1"><sup>[1]</sup></a><sup>:3</sup> Bukti utama, setidaknya dari tahap-tahap awal proses konversi ini, adalah <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Batu_nisan">batu nisan</a> dan beberapa kesaksian peziarah, tetapi bukti ini hanya dapat menunjukkan bahwa umat Islam pribumi ada di tempat tertentu pada waktu tertentu. Bukti ini tidak bisa menjelaskan hal-hal yang lebih rumit seperti bagaimana gaya hidup dipengaruhi oleh agama baru ini, atau seberapa dalam Islam mempengaruhi masyarakat. Dari bukti ini tidak bisa <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Cuius_regio,_eius_religio">diasumsikan</a>, bahwa karena penguasa saat itu dikenal sebagai seorang Muslim, maka proses Islamisasi daerah itu telah lengkap dan mayoritas penduduknya telah memeluk Islam; namun proses konversi ini adalah suatu proses yang berkesinambungan dan terus berlangsung di Nusantara, bahkan tetap berlangsung sampai hari ini di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a> modern. Namun demikian, titik balik yang jelas terjadi adalah ketika Kerajaan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Hindu">Hindu</a> <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit">Majapahit</a> di Jawa dihancurkan oleh Kerajaan Islam <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak">Demak</a>. Pada 1527, pemimpin perang Muslim <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Fatahillah">Fatahillah</a> mengganti nama <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kelapa">Sunda Kelapa</a> yang baru ditaklukkannya sebagai "Jayakarta" (berarti "kota kemenangan") yang akhirnya seiring waktu menjadi "<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta">Jakarta</a>". <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Asimilasi_budaya">Asimilasi budaya</a> Nusantara menjadi Islam kemudian meningkat dengan cepat setelah penaklukan ini.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 16:28:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ziegquantomii/yhjguhvt5jnn/wish/308881656</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ziegquantomii</author>
         <link>https://padlet.com/ziegquantomii/yhjguhvt5jnn/wish/308881901</link>
         <description><![CDATA[Penyebaran Islam di Nusantara]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-28 16:28:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ziegquantomii/yhjguhvt5jnn/wish/308881901</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ziegquantomii</author>
         <link>https://padlet.com/ziegquantomii/yhjguhvt5jnn/wish/308883104</link>
         <description><![CDATA[<div><mark>Hubungan dan jalinan diplomatik dengan negara sekitar.<br>Hubungan perdagangan dan politik yang dijalin oleh Sultan Melaka, Parameswara dengan Maharaja Cina, Yung Lo pada 28 Oktober 1403 merupakan perhubungan dengan negara luar pertama pernah dibuat oleh seorang sultan di Tanah Melayu. Laksamana Yin Ching yang diutuskan oleh Maharaja Yung Lo dari Dinasti Ming menjadi pengutus yang bertanggungjawab membuat persetujuan dagangan dua hala itu. Catatan sejarah menyebut, Parameswara (Sultan Iskandar Shah) merasa perlu menjalinkan persahabatan dengan negeri China yang terkenal dengan kuasa besarnya bagi mengelakkan negeri Melaka dari serangan neger-negeri yang berhampiran. <br>Sultan Melaka sendiri telah meminta Negeri China menjadi penaungnya. Oleh itu, Melaka aman dari sebarang ancaman, terutama Siam. Perkahwinan Sultan Mansur Shah dengan Puteri Hang Li Po merupakan perkahwinan campur di negeri Melaka. Ia telah melahirkan suku kaum yang ada pada hari ini dikenali sebagai Baba Melaka yang kebanyakannya beragama Islam</mark></div>]]></description>
         <enclosure url="http://4.bp.blogspot.com/-HWEA8V7ofo4/USugD5BsctI/AAAAAAAAVns/Ws4dKQmcCOM/s1600/maharaja-cina.jpg" />
         <pubDate>2018-11-28 16:30:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ziegquantomii/yhjguhvt5jnn/wish/308883104</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
