<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Padlet Magang Litbang Sintesa Kelompok 1 by Ni Luh Feby Riveranika</title>
      <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25</link>
      <description>Masa Kuliah dan Hustle Culture</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-10-23 00:06:35 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-01 23:29:57 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4c2.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>[Pojok Opini] Sukses di Mata Mahasiswa</title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837406410</link>
         <description><![CDATA[<div><sub>Oleh: </sub><strong><sub>Ni Luh Feby Riveranika, Sosiologi UGM 2021</sub></strong></div><blockquote><blockquote><br>Sukses memiliki berbagai macam definisi tergantung pada siapa yang mendeskripsikannya dan bagaimana kata tersebut dideskripsikan. Namun, secara umum sukses didefinisikan sebagai tercapainya berbagai rencana, tujuan, mimpi, atau cita yang telah dibuat. Sukses tidak melulu ketika seseorang berhasil mencapai suatu prestasi atau penghargaan yang besar, tetapi dapat pula berarti keberhasilan seseorang dalam mencapai target-target kecil yang telah ia buat.&nbsp;<br><br></blockquote></blockquote><div><br></div><pre>Saat ini, orang berlomba-lomba untuk mencapai kesuksesannya masing-masing. Mulai dari ingin sukses di bidang akademik dengan mendapatkan nilai tinggi, mempunyai banyak relasi dan teman, memiliki banyak pengalaman, mendapatkan pekerjaan yang bagus, menjadi seseorang yang kaya dan atau terkenal, memiliki keluarga yang berbahagia, hingga ingin bermanfaat untuk orang lain. Untuk mencapai kesuksesan itu, semua orang memerlukan motivasi--baik yang datang dari diri sendiri maupun yang datang dari lingkungan. Motivasi dapat datang dari hal-hal negatif berupa kegagalan atau omongan dari orang lain ataupun hal-hal positif berupa masukan dan dukungan dari teman dekat dan keluarga.</pre><div><br></div><pre>Dalam kehidupan mahasiswa, sukses kerap dianggap tercermin dalam <em>curriculum vitae </em>(CV) saja, sehingga mahasiswa berlomba-lomba untuk membuat CV yang baik dan bagus dengan cara mengembangkan potensinya di bidang akademik maupun organisasi. Dalam proses menuju kesuksesan tersebut, pada kenyataannya tidak sedikit mahasiswa yang terperangkap dalam <em>hustle culture</em> yang dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik, mental, dan emosional. Namun, tak jarang pula mahasiswa merasa senang<em> </em>dalam proses untuk menggapai kesuksesan mereka sendiri-sendiri.
<br></pre>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-23 01:02:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837406410</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837417218</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://www.theladders.com/wp-content/uploads/success-190926.jpg" />
         <pubDate>2021-10-23 01:14:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837417218</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837421388</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://media4.giphy.com/media/BlVnrxJgTGsUw/giphy.gif" />
         <pubDate>2021-10-23 01:18:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837421388</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837424366</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://media1.giphy.com/media/l0IxZ7nF7EhX7tzFu/giphy.gif" />
         <pubDate>2021-10-23 01:21:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837424366</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AXIS 1 : &quot;Menelisik Akar Hustle Culture : Mengapa Beracun?&quot;</title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837429391</link>
         <description><![CDATA[<div><sub>Karenina Aryunda, HI UGM 2020<br></sub><br>Pernahkah kalian melihat kehidupan orang lain yang terlalu produktif? Atau mungkin hidup kalian sendiri yang dipenuhi berbagai kegiatan yang padat. Bangun tidur, mencari HP, <em>dating </em>bersama laptop, dihantui grup dan jarang merasakan rileks? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?</div><div><br></div><div>Fenomena di atas sering kali dikenali sebagai <em>hustle culture</em>. Budaya ini menetapkan standar masyarakat bahwa sebagai manusia kita harus mengerahkan diri untuk bekerja keras dan mengerahkan performa diri 100% di setiap saat. Bekerja keras sendiri bukanlah hal yang salah, justru seharusnya kita pertahankan. Akan tetapi, bekerja keras ini seringkali disalah artikan menjadi bekerja tanpa mengenal waktu. Budaya ini lama-kelamaan memiliki makna <em>toxic </em>yang mendorong persepsi bahwa dengan memanfaatkan istirahat dan waktu luang, maka kita akan berbalik arah ke jurang kegagalan.&nbsp;</div><div><br></div><div><em>Hustle culture </em>ini menyebabkan manusia memanfaatkan seluruh waktunya demi sebuah kegiatan. Di lingkup mahasiswa, <em>hustle culture </em>telah diromantisasi sebagai bagian hidup dari mahasiswa. Jika tidak memiliki gaya hidup seperti <em>hustle culture </em>maka mahasiswa tersebut dicap tidak sukses dan hanya membuang-buang waktunya sebagai mahasiswa. Belajar dan pengalaman organisasi yang sebelumnya sebagai proses untuk mengembangkan diri kini berubah menjadi racun yang membunuh diri sendiri.</div><div><br></div><div>Lalu sebenarnya darimana akar pemikiran <em>toxic </em>dari <em>hustle culture </em>ini?</div><div>Berakar pada psikologi perilaku, <em>hustle culture</em> menggunakan <a href="https://www.simplypsychology.org/schedules-of-reinforcement.html"><em>reinforcement schedule</em></a> dari <strong><em>operant conditioning </em></strong>(Headversity, 2021). Hal ini muncul karena adanya apresiasi yang diberikan kepada individu ketika mereka melakukan sesuatu. Apresiasi acak ini berlangsung secara berulang yang menyebabkan individu tersebut kecanduan, sehingga untuk mendapatkannya, individu akan cenderung melakukan segala sesuatu secara berulang untuk mendapatkan apresiasi. Kondisi ini sudah sangat masif dalam kehidupan mahasiswa. Contohnya, mahasiswa akan sering mengikuti berbagai kepanitiaan atau organisasi agar mendapat pengakuan bahwa mereka sebagai mahasiswa yang aktif baik di akademik maupun non-akademik. Belum lagi dengan kegiatan hari Sabtu-Minggu yang dipenuhi oleh webinar atau pelatihan online untuk mendapatkan sertifikat. Mahasiswa mulai berorientasi pada hasil dan pengakuan yang dituliskan di dalam CV. Rasa gengsi menjadi makanan sehari-hari serta untuk memenuhi konten yang semakin menjadi-jadi. Bahkan jika kita pikir-pikir lagi, sejak masih kecil, manusia dituntut untuk belajar banyak hal agar sukses dan menghasilkan uang yang banyak. Akan tetapi, apakah semua orang memiliki arti sukses yang sama?</div><div><br></div><div>Justru dengan adanya <em>hustle culture, </em>kehidupan semakin membosankan dan membawa beberapa kerugian. Dengan mengurangi sedikit pola <em>toxic </em>dari <em>hustle culture,</em> kita akan bisa menikmati film tanpa memikirkan pekerjaan, menghabiskan waktu luang dengan keluarga, terhindar dari <em>burnout, </em>dan yang pasti akan menemukan arti kebahagiaan dan kesuksesan milik sendiri.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://thecommonernews.com/wp-content/uploads/2021/04/woman-5741663_1920.jpg" />
         <pubDate>2021-10-23 01:26:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837429391</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AXIS 2: Hail Hustle CultureAXIS 2: Hail Hustle Culture</title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837432950</link>
         <description><![CDATA[<div><em>Hustle culture</em>, sebuah fenomena yang akrab dengan kehidupan masyarkat usia produktif, membawa perubahan esensi dari bekerja untuk hidup dan hidup untuk bekerja. Mementingkan kuantitas dibanding kualitas. Kepuasan karena bekerja tidaklah salah. Namun, tren glorifikasi <em>hustle culture</em> seakan menjadi hal yang lumrah. Fenomena ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari seolah gaya hidup seperti itu adalah gaya hidup yang keren. Tanpa sadar memengaruhi sekitar untuk mengikuti gaya hidup yang sama. Entah sejak kapan multitasking menjadi kebanggaan dan tameng guna melanggengkan gaya hidup <em>hustle culture</em>. Faktanya, multitasking hanyalah mitos belaka. Multitasking mengarahkan kita pada produktivitas semu karena otak manusia memiliki kapasitasnya sendiri.&nbsp;<br><br></div><blockquote>Rupaya kampanye kerja dengan cerdas terlihat lebih baik dibanding kerja dengan keras. &nbsp;</blockquote><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1418459994/78b54376faf7e697382bb12c7e96f9c9/Multitasking2015.jpg" />
         <pubDate>2021-10-23 01:30:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837432950</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Puisi  </title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837447785</link>
         <description><![CDATA[<div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;PENGAKUAN<br><br>Andai saat itu aku berhenti<br>Benarkah semua pasti kembali?<br>Andai kala itu aku menyerah<br>Akankah mereka mengalah?<br>Jika saja kuberikan kesempatan itu pada yang lain<br>Mungkinkah bisa kudapatkan ketenangan batin<br><br>Mereka tak menyerah mengejarku<br>Terus merajuk dan merengek dengan ketus<br>Tak ada kah hal lain yang bisa disampaikan padaku?<br>Selain sumpah serapah dan perasaan yang hangus<br><br>Jika dalam diriku terukir sebuah mimpi<br>Jika dalam diriku terbayang bangunan-bangunan tinggi<br>Jika dalam diriku hidup seekor macan liar yang mati<br>Bahkan jika dalam dirikupun tumbuh bengisnya ambisi<br>Akan terus kuterima meski raga tak bernyawa<br>Kubiarkan tumbuh liar menjadi monster yang mencekik<br>Hingga suatu saat nanti kutemui jalan buntu dengan air mata pelik<br><br>Lelah, lemah, pasrah<br>Tak cukup hanya bicara tanpa kata<br>Mereka terus menggerogoti kepercayaanku akan kesuksesan<br>Tertawa hebat ketika sukma ku perlahan mati<br><br>Bahkan, tak dapat dipungkiri<br>Curahan hati tak cukup menghakimi diri<br>Kesadaranku tak bisa menerima kebenaran abadi<br>Karena penyebab semua perkara ini<br>Tidak pernah ada, kecuali diriku sendiri &nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-23 01:45:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837447785</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pojok Berbagi</title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837491441</link>
         <description><![CDATA[<div><sub>&nbsp;Oleh : Matthew Valentino Tjioewinata, Ilmu Komunikasi UGM 2021 <br></sub><br><em>Hustle Culture : Sebuah Pilihan atau Larangan</em><br><br>Halo sobat sintesais! Gimana <em>nih</em> kabar jam tidurnya? Semoga tidak ada dari kalian yang ingin pindah kuliah ya. Khusus buat para maba, gimana nih rasanya jadi anak kuliahan? <em>Yaa</em> walaupun <em>online</em>, tapi tetep berasa bedanya <em>kan</em>? Pada edisi Lensa kali ini, sintesa akan menceritakan pengalaman seorang maba biasa saja, yang kebetulan berkuliah di universitas terbaik di Indonesia (katanya).<br><br></div><div>Sering merasa tertinggal oleh teman-teman sekelas? Atau mungkin, anda sering membandingkan <em>linkedin</em> anda dengan orang lain yang seusia? Selamat datang di era baru, sebuah era yang katanya mengantarkan kita menuju <em>#indonesiamaju2045</em>. <em>Hustle culture</em>, sebuah terobosan terbaru dalam dunia perkuliahan.<br><br>Sebagai mahasiswa baru UGM, tentu ada rasa kebanggaan tersendiri saat diterima. Selain lebih disayang orang tua, masuk UGM membuat pertanyaan "kuliah dimana <em>dek</em>?" Menjadi pertanyaan yang ditunggu-tunggu saat berkenalan dengan orang baru. UGM, universitas yang katanya dihuni oleh mahasiswa-mahasiswi pintar. Betul, sejak kelas <em>online </em>di UGM, hal ini terbukti dengan banyaknya partisipan yang <em>raise hand</em> di hari pertama kuliah. Ternyata memang terbukti bahwa UGM dipenuhi oleh mahasiswa pintar nan aktif. Lalu pertanyaanya, apakah semua mahasiswa seperti itu? Apa kabarnya mereka yang jarang <em>raise hand</em> dan aktif bertanya kepada dosen?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-23 02:29:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837491441</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837492410</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1413162533/56cd4d64daaae6622914a1773d62c559/image.webp" />
         <pubDate>2021-10-23 02:30:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837492410</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Normalisasi Hustle Culture, Apa Dampaknya?</title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837493281</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div><sub>Oleh: </sub><strong><sub>Salsabilla Azzahra Octavia, HI UGM 2021</sub></strong><strong><br></strong><br></div><div>Normalisasi <em>hustle culture</em> tidak dapat lepas dari pengaruh pandemi. Seruan tetap produktif di kala Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara tidak sadar mendorong seseorang untuk melakukan <em>multitasking</em> di rumah, terutama didorong kemudahan teknologi. Semua hal yang dapat dilakukan secara <em>online</em> terkadang menjadi alasan untuk melakukan berbagai aktivitas berbarengan. Selain itu, normalisasi <em>hustle culture</em> juga dipengaruhi oleh stigma bahwa bekerja keras itu keren. Orang yang lebih sedikit bekerja akan dianggap tidak produktif dan malas. Padahal, semua orang memiliki prioritas dan tujuan hidup masing-masing. Istirahat sejenak dan mengurangi kegiatan tidak akan membuat kita tidak lebih baik dari orang lain. <br><br>Fenomena normalisasi <em>hustle culture</em> menyebabkan banyak orang mementingkan <em>quantity</em> dibanding dengan <em>quality</em> dengan alasan produktif. Tanpa pikir panjang, mereka ikut banyak aktivitas karena gengsi semata dan terdampak <em>fear of missing out</em> (FOMO). Fenomena ini harus dihindari karena sangat membuang buang waktu dan menguras tenaga. Produktif bukan tentang melakukan banyak hal, tetapi juga mengenai kualitas yang dihasilkan dari aktivitas yang telah dilakukan. Semua orang, terutama kita sebagai mahasiswa harus mempunyai skala prioritas yang disinkronkan dengan kemampuan diri. Sedari awal, kita harus tahu mengenai hal apa yang kita suka dan ingin dalami dengan matang.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1413418867/490517182ef07a8ee59425cad36b8759/Untitled_design__2_.png" />
         <pubDate>2021-10-23 02:31:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837493281</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Serba Serbi Hustle Culture bagi Mahasiswa Generasi Sandwich dan Non Generasi Sandwich</title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837496932</link>
         <description><![CDATA[<div>&nbsp;<sub>oleh Cindy Aulia Fitriana - DPP UGM 2020 </sub><br><br></div><div>Saat ini persaingan dalam dunia kuliah dan kerja sangatlah kompetitif bagi generasi muda sehingga memunculkan fenomena <em>hustle culture</em>. Sebetulnya, <em>hustle culture</em> sudah ada jauh sebelum undang-undang keselamatan kerja yang dibawa oleh revolusi industri melarang eksploitasi pekerja dan pekerja anak dengan kondisi kerja yang tidak manusiawi, lingkungan kerja yang berbahaya, upah rendah, dan jam kerja yang panjang. Tanpa melupakan akar sejarah <em>hustle culture</em>, nyatanya budaya ini cenderung diterima oleh generasi saat ini (Balkeran, 2020). Budaya <em>hustle culture </em>sering kita jumpai pada mahasiswa-mahasiswa di seluruh Indonesia, dimana mereka melakukan banyak pekerjaan dan aktivitas yang begitu padat di luar aktivitas akademik di bangku kuliah. Contohnya seperti ikut banyak UKM, organisasi, kepanitiaan, <em>volunteer</em>, lomba, magang, bahkan melakukan kerja <em>part time</em>. Tentu tiap-tiap mahasiswa memiliki tujuan dan alasan sendiri mengapa melakukan hal tersebut. Kemudian, fenomena <em>hustle culture</em> juga ternyata masih ada hubungannya dengan generasi<em> sandwich</em>. <br><br>Generasi <em>sandwich</em> adalah generasi yang harus menanggung hidup tidak hanya orang tua dan juga anak-anak mereka. Generasi <em>sandwich</em> rentan mengalami banyak tekanan karena menjadi sumber utama penyokong kehidupan keluarganya (Syafina, 2019). Banyak dari&nbsp; kita yang berpikiran untuk menjadi generasi sandwich harus berumur terlebih dahulu, nyatanya menjadi generasi <em>sandwich</em> tidak harus menunggu usia 30-40 tahun dan memiliki rumah tangga, bahkan anak yang masih berumur belia bisa saja menjadi bagian generasi <em>sandwich</em>. Fenomena mahasiswa yang harus membiayai kebutuhan kuliahnya sendiri karena keterbatasan finansial orang tua menjadi hal yang sering kita temui belekanga ini. Selain memenuhi kebutuhannya sendiri, terkadang mereka juga harus menjadi tulang punggung keluarga untuk membiayai hidup dan sekolah adik-adiknya. Sehingga selain kuliah, mereka dituntut untuk melakukan kegiatan di luar kampus dengan bekerja lebih keras agar memiliki masa depan yang lebih baik bisa terjamin.&nbsp;<br><br></div><div>Hal ini tentu mengundang pro dan kontra di masyarakat umumnya dan mahasiswa khususnya. Penulis merangkum komentar dari beberapa mahasiswa yang berasal dari kampus berbeda di seluruh Indonesia. Dua diantaranya bukanlah bagian dari generasi <em>sandwich</em>, dan dua lainnya merupakan bagian dari generasi <em>sandwich</em>. <br><br></div><div><em>&nbsp;</em></div><div><br></div><blockquote><strong>Kesimpulannya...<br></strong>Baik mahasiwa generasi <em>sandwich</em> maupun yang tidak, sama-sama mendukung <em>hustle culture</em> selama itu berdampak baik dan tidak merugikan orang lain, karena tujuannya bagus untuk menambah pengalaman yang berguna setelah kuliah selesai sekaligus bisa menambah kemampuan diri sendiri. Akan tetapi, tidak tepat jika <em>hustle culture</em> dilakukan secara berlebihan sampai membuat diri sendiri sakit secara fisik maupun mental. Tetap harus memperhatikan kemampuan dan batasan diri.&nbsp;</blockquote>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-23 02:35:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837496932</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bukan generasi sandwich</title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837497439</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><br></strong><br></div><div><strong>ZHR, Mahasiswa Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada&nbsp;<br></strong><br></div><div><em>Setuju gak setuju sih sama hustle culture karena hal itu bisa menunjang karir nantinya, aku juga punya tanggung jawab akademik ke orang tua, jadi tetap harus seimbang gitu. Jadi jangan sampai timpang antara aktivitas di luar kampus dan aktivitas akademik, karena kadang banyak mahasiswa yang lebih fokus urusan di luar daripada kuliahnya. Dan yang terpenting tahu batasan sih, jangan overwhelmed. Kalau udah berlebihan banget sih, BIG NO.<br></em><br></div><div><strong>JVK, Mahasiswa Psikologi Universitas Indonesia&nbsp;<br></strong><br></div><div><em>Marak banget sih itu, banyak banget mahasiswa sekarang yang ikut lomba, kepanitian, sama organisasi secara bersamaan sampai kadang meet pakai double device berkedok dengan alasan “cari pengalaman”. Tapi banyak banget kok mahasiswa yang enjoy dengan kesibukannya, karena ya yang tau limit ya diri kita masing-masing. Cuma gue gak setuju kalau hustle culture dilakuin sampai bikin stressful.<br></em><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-23 02:36:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837497439</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Generasi sandwich</title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837498833</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><br></strong><br></div><div><strong>FRY, Mahasiswa Teknik Kimia Institute Teknologi Sepuluh November&nbsp;<br></strong><br></div><div><em>Setuju sama hustle culture sih, karena bermanfaat buat kita juga. Bisa dapat pengalaman lebih setelah lulus, memaksimalkan kinerja diri, berguna banget sih pas udah lulus. Cepet dapet kerja dan bisa bantu keluarga juga pastinya. Cuma aku nggak menampik kalau misal terlalu diforsir pasti gak bagus juga. Tetap harus menarget sesuai kemampuan dan nggak memforsir diri terlalu tinggi.<br></em><br></div><div><strong>JSC, Mahasiswa Pendidikan Tata Niaga Universitas Negeri Surabaya&nbsp;<br></strong><br></div><div><em>Ya gimana ya, kita kan jadi penopang ekonomi keluarga, kalau keluarga kita ada yang sakit mau gamau ya kita yang bakal ngeluarin uang. Kondisi keluarga emang kayak begitu dan kita jadi tumpuan, so harus hard work. Tapi tetap bukan berarti kita bisa gila-gilaan kerja karena itu bisa buat kita sakit juga, tetap harus di jaga kesehatannya. Kalau kita sakit terus gimana bisa ngehidupi ekonomi keluarga?</em></div><div><em><br></em><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-23 02:37:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837498833</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837502238</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1413162533/85561e4dd3be5a953c43f4955fc85f40/ostrichpillow_blog_falling_asleep_at_work_main_1200x1200.jpg" />
         <pubDate>2021-10-23 02:41:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837502238</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837528309</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://open.spotify.com/track/5drW6PGRxkE6MxttzVLNk5" />
         <pubDate>2021-10-23 03:04:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837528309</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837532214</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://open.spotify.com/track/3AmI1juQjQRHHNyymm5vFH" />
         <pubDate>2021-10-23 03:08:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837532214</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837544463</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://open.spotify.com/track/6Dh1zHQjEaOp29VW9pp3xG" />
         <pubDate>2021-10-23 03:22:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837544463</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>niluhfebyriveranika</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837546318</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://open.spotify.com/track/3FPlY1uqTe1oFfIgI0BnoA" />
         <pubDate>2021-10-23 03:24:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837546318</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>annisaberlianaredinaputri</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837624467</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Eksplorasi Diri dengan Organisasi Tanpa Takut </strong><strong><em>Burnout, Why Not?</em></strong></div><div><strong><em><br></em></strong>Oleh: Annisa Berliana Redina Putri, Sosiologi UGM 2021<br><br></div><blockquote>Apa kabar Sintesaist? Harapannya, semoga selalu baik, ya! <br><br>Di pojok berbagi kali ini sangat spesial karena kami akan membahas tentang pentingnya eksplorasi diri dalam gelombang <em>hustle culture</em> melalui organisasi tanpa takut <em>burnout</em>. Dalam kesempatan ini, Sintesa telah mengobrol bersama dengan Reza, mahasiswa Sosiologi UGM angkatan 2019 yang aktif di beberapa organisasi, seperti&nbsp; FOF (Forum Olahraga Fisipol), KBMP GAMA (Ormada), KMS (Keluarga Mahasiswa Sosiologi), dan organisasi lainnya.<br><br>Yuk, simak pembahasan menarik ini!</blockquote>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-23 05:11:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837624467</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>annisaberlianaredinaputri</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837627492</link>
         <description><![CDATA[<div>Masa kuliah tentunya menjadi momentum untuk mengeksplorasi diri secara maksimal&nbsp; guna mencari pengalaman yang berharga bagi setiap orang. Sebab, sebagai Mahasiswa kita memiliki kebebasan dalam memilih jalan hidup perkuliahan kita sendiri. Salah satu kegiatan yang dapat kita lakukan selama masa perkuliahan adalah mengembangkan kemampuan berorganisasi untuk berdinamika dalam lingkup kampus, seperti yang dilakukan Achmad Reza Pahlavi. Menurut laki-laki berumur 21 tahun yang biasa dipanggil Reza tersebut,&nbsp; mengikuti organisasi merupakan bagian dari eksplorasi diri sesuai dengan minat kita yang tentunya akan membawa kebermanfaatan. Selain menambah pengalaman, berdinamika dalam suatu organisasi juga dapat menjadi sarana bersosialisasi dengan banyak orang sehingga kita mampu menumbuhkan kepekaan sosial. Dimana setiap orang yang kita jumpai tersebut pastinya memiliki berbagai macam karakter yang berbeda.&nbsp;</div><div><br></div><div>Terkait taktik agar tidak terjebak dalam <em>hustle culture- </em>sebuah budaya bekerja/berkegiatan secara berlebih untuk mengikuti standar orang lain yang dampaknya menyebabkan <em>burnout </em>atau stress berat, Reza beranggapan bahwa kita cukup fokus terhadap pilihan yang diambil, lalu mengerjakannya dengan senang hati, tanpa perlu dianggap sebagai beban karena mengejar ekspektasi tertentu. Karena menurutnya, <em>privilege</em> kita sebagai mahasiswa adalah bisa melakukan apapun sesuai keinginan untuk mengeksplorasi diri akan hal baru yang disukai. Reza juga menambahkan bahwa standar kesuksesan seseorang itu masing-masing, jadi kita cukup fokus terhadap apa yang kita lakukan dengan maksimal dan juga tetap menyeimbangkan kewajiban yang ada dalam bidang akademik tentunya. Apalagi jika kegiatan tersebut hal yang positif, tentunya akan&nbsp; membawa manfaat signifikan terhadap produktivitas kita sebagai mahasiswa. Sebagai penutup, ada <em>quotes</em> menarik, nih, dari Mas Reza: “Hidup itu mengalir saja. Kalau ada kesempatan ambil, kalau nggak ada, ya, ditunggu. Intinya sih, memanfaatkan peluang yang ada.”<br><br></div><div>Wah, keren banget ‘kan, pendapat Reza ini?<br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-23 05:17:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837627492</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>annisaberlianaredinaputri</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837628764</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1418645331/ca037042be4bcd42f6c12bd793fb4842/WhatsApp_Image_2021_10_20_at_17_09_33.jpeg" />
         <pubDate>2021-10-23 05:20:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837628764</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Playlist For Stu(dying)</title>
         <author>salsabillaazzahraoctavia</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837643739</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://open.spotify.com/embed/playlist/1nATcDoQnzejKjIQVvncR6" />
         <pubDate>2021-10-23 05:52:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837643739</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>salsabillaazzahraoctavia</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837657368</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://media3.giphy.com/media/l2RbeHTkknU52SfPq/giphy.gif" />
         <pubDate>2021-10-23 06:19:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1837657368</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>salsabillaazzahraoctavia</author>
         <link>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1885808831</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1413418867/cab4a834048e1ec37085b8c678b0f3df/Dia_lelah_Tapi_dia_kuat.png" />
         <pubDate>2021-11-12 04:03:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/niluhfebyriveranika/xp9jyhox3fgmbk25/wish/1885808831</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
