<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>BACTERIAL IN DENTISTRY by Yasinia Annisa Purbomurti</title>
      <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3</link>
      <description>Everything we need to know about bacterial in dentistry!</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-12-29 01:28:33 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-12-20 15:46:12 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f9a0.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Aditya Ramadhan (J2A020051)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044801324</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Video about what does porphyromonas gingivalis mean<br><br><a href="https://youtu.be/rNTGOz59eKo">https://youtu.be/rNTGOz59eKo</a></div>]]></description>
         <enclosure url="https://youtu.be/rNTGOz59eKo" />
         <pubDate>2020-12-29 03:24:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044801324</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ita Febriani (J2A020030)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044802777</link>
         <description><![CDATA[<div>Aggregatibacter actinomycetemcomitans merupakan bakteri Gram negatif, nonmotil, anaerob fakultatif, pendek (0,4-1 μm), berbentuk batang dengan ujung membulat. Bakteri ini menggunakan sel epitelium sebagai reservoir saat perlekatan inisial dan pada akhirnya berpindah ke permukaan gigi. Faktor virulen yang dimiliki oleh bakteri ini adalah leukotoksin, lipopolisakarida (LPS), dan Cytolethal distending toxin (Cdt). Leukotoksin memainkan peran yang signifikan pada patogenesitas periodontitis agresif oleh aggregatibacter actinomycetemcomitans.<br><br>Sumber : Ridha Andayani,dkk.(2016). Kemampuan Air Rebusan Daun Salam (Eugenia Polyantha Wight) Terhadap Jumlah Makrofag Pada Gambaran Histologi Periodontitis Agresif (Penelitian Pada Tikus Model. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 03:25:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044802777</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044809719</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama alefan hidayatullah<br>Nim J2A020032<br>PeriodontitisPeriodontitis merupakan penyakit inflamasi yang menyerang jaringan pendukung gigi <br>yang disebabkan oleh mikroorganisme spesifik atau sekelompok organisme spesifik, yang <br>menyebabkan kerusakan progresif dari ligamen periodontal dan tulang alveolar dengan <br>pembentukan poket, resesi, atau keduanya. Bakteri gram-negatif seperti Porphyromonas <br>gingivalis, Aggregatibacter Actinomycetemcomitans, dan Bacteroides forsythus merupakan <br>bakteri utama penyebab terjadinya periodontitis. Porphyromonas gingivalis dan Bacteroides <br>forsythus sering ditemukan pada periodontitis kronis, sedangkan Aggregatibacter<br>Actinomycetemcomitans sering ditemukan pada periodontitis agresif (Newman et al.,2015)<br><br> Aggregatibacter actinomycetemcomitans merupakan agen etiologi primer dari hampir <br>seluruh kasus localized aggressive periodontitis (Newman et al., 2015). Aggregatibacter<br>actinomycetemcomitans membentuk koloni pada celah subgingival dan menyebabkan kerusakan <br>pada jaringan periodontal karena faktor virulensi yang dimilikinya, seperti adhesin, fimbriae, <br>eksotoksin, dan endotoksin. (Aberg, 2015)<br><br>ANDALAS DENTAL JOURNAL<br>Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas, PERBEDAAN DAYA HAMBAT MADN KONSENTRASI 100% <br>TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI PORPHYROMONAS <br>GINGIVALIS DAN AGGREGATIBACTER <br>ACTINOMYCETEMCOMITANS Indah Wulandari dkk </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/929221318/590075bcafcaaf3b27efd75878d1f011/images__41_.jpeg" />
         <pubDate>2020-12-29 03:32:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044809719</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Awa Mumtaza Faradiza </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044809943</link>
         <description><![CDATA[<div>(J2A020049)<br><br>PENGERTIAN BAKTERI STREPTOCOCCUS MUTANS DAN EFEKTIVITAS EKSTRAK SELEDRI (Apium graveolens L. var. secalinum Alef.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans SEBAGAI ALTERNATIF OBAT KUMUR<br><br>Streptococcus mutans merupakan bakteri yang paling penting dalam proses terjadinya karies gigi dan juga merupakan bakteri Gram positif yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan bau nafas tak sedap. Berbagai tindakan telah dilakukan untuk menjaga kesehatan rongga mulut, salah satunya adalah menggunakan obat kumur. Chlorhexidine gluconate telah menjadi gold standard sejak 1940 karena efektif dan mempunyai spektrum antimikroba yang luas. Meskipun demikian, penggunaan chlorhexidine gluconate dalam jangka panjang tidak dianjurkan karena efek samping yang dapat terjadi. Berdasarkan hal tersebut penulis ingin memberi solusi alternatif dengan memanfaatkan ekstrak seledri (Apium graveolens L. var secalinumAlef) yangmengandung flavonoid, saponin, dan tannin yang merupakan senyawa bersifat antibakteri. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan metode dilusi untuk menentukan Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimal (KBM). Penelitian ini menggunakan 6 tabung dan 2 tabung kontrol dengan konsentrasi 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, dan 3,125%. Berdasarkan hasil pengamatan, Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) yang didapatkan adalah 3,125%, sedangkan untuk Konsentrasi Bunuh Minimal (KBM) tidak dapat ditentukan. Tidak dapat ditentukan diduga terkait dengan rendahnya senyawa aktif pada sampel penelitian ini. serta diduga terdapat degradasi senyawa aktif dalam ekstrak seledri akibat paparan sinar matahari, panas, dan pH. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa ekstrak seledri (Apium graveolens L. var secalinum Alef)  mampu menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans namun tidak dapat membunuh bakteri tersebut.<br><a href="http://e-repository.unsyiah.ac.id/JKS/article/view/9150">http://e-repository.unsyiah.ac.id/JKS/article/view/9150</a><br><br>Di dapatkan dari Mardani Bafianti Suminto,dkk  jurnal fakultas kedokteran Syiah Kuala, 2017<br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <pubDate>2020-12-29 03:33:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044809943</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Arnila Ayu Prahesti (J2A020009)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044812061</link>
         <description><![CDATA[<div><br>berikut merupakan vidio  mekanisme kerja streptococcus mutans.<br><br>https://youtu.be/r4MbE2eN4XA<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://youtu.be/r4MbE2eN4XA" />
         <pubDate>2020-12-29 03:35:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044812061</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ghina Salmanissa (J2A020034)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044824672</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Etiologi Periodontitis Agresif<br></strong><br></div><div>Periodontitis agresif adalah penyakit multifaktorial yang penyebabnya merupakan hasil dari interaksi antara faktor mikrobiologi dan respon spesifik host. Bakteri patogen yang berperan dalam periodontitis agresif adalah bakteri anaerob Gram negatif terutama <em>Aggregatibacter actinomycetemcomitans </em>yang memiliki leukotoksin, endotoksin dan enzim lainnya yang berperan dalam merusak sel imun seperti PMN, leukosit dan lain-lain. Selain itu, faktor dari luar seperti kebiasaan merokok dan faktor genetik juga merupakan faktor predisposisi dari penyakit ini .<mark><br></mark><br></div><div><strong>Morfologi </strong><strong><em>Aggregatibacter actinomycetemcomitans </em></strong><strong><br></strong><br></div><div>A.actinomycetemcomitans adalah bakteri Gram negatif, berbentuk kokobasil, bersifat fakultatif anaerob yang berukuran 0.4 ± 0.1X 0.1 ± 0.4 micrometers. <em>A.actinomycetemcomitans</em> memiliki fimbriae, vesikel dan materi amorf ekstraseluler . Bakteri ini dapat tumbuh soliter atau berkoloni. Bakteri ini membentuk koloni dengan ukuran diameter 0,5-1,0  mm pada media agar plate. Koloni ini memiliki morfologi yang kasar dengan karakteristik <em>star-shaped </em>pada bagian tengah.<br><br>https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/102405<br><br>di dapatkan dari Arofah Noor Berliana, jurnal Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember, 2018</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/929221407/fc4d52d45ed04bbf5a3ae681888be4fb/images__8_.jpg" />
         <pubDate>2020-12-29 03:49:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044824672</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nada Nikmaturrizqi (J2A020018)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044828960</link>
         <description><![CDATA[<div>Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri melanogenik, nonsakarolitik, dan bagian dari koloni bakteri Black-pigmented Gram-negative anaerobes.Bakteri P. gingivalis banyak ditemukan dalam plak gigi dan bakteri tersebut menyebabkan perubahan patologik jaringan periodontal dengan pengaktifan respons imun dan inflamatori inang, dan secara langsung mempengaruhi sel-sel periodonsium. P. gingivalis memproduksi berbagai faktor virulensi patogenik, seperti lipopolisakarida dan hidrogen sulfida, yang dapat menginduksi inang untuk melepaskan IL-1 dan TNF-α.<br><br></div><div>Porphyromonas gingivalis tumbuh dalam media kultur membentuk koloni berdiameter 1-2 mm, konveks, halus dan mengkilat, yang bagian tengahnya menunjukkan gambaran lebih gelap karena produksi protoheme, yaitu suatu substansi yang bertanggung jawab terhadap warna khas koloni ini.5 Identifikasi P. gingivalis isolat lokal ini akanmemberi peluang besar untuk dikembangkannya suatu metode intervensi oral yang digunakan untuk melawan spesies bakteri ini, dan selanjutnya berguna untuk pencegahan dan perawatan penyakit periodontal.<br><br>https://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/74150/banun%20k_uji%20biokimiawi%20sistem%20API_%28FKG%29.pdf?sequence=1&amp;isAllowed=y<br><br>sumber : Banun Kusumawardani,dkk. 2010. Uji biokimiawi sistem API 20 A mendeteksi Porphyromonas gingivalis isolat klinik dari plak subgingiva pasien periodontitis kronis. Jember-Indonesia: Jurnal PDGI</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 03:54:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044828960</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Yasonda Windari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044835074</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>NIM : J2A020052</strong><br><br>Gingivitis adalah salah satu dari penyakit periodontal. Gingivitis merupakan peradangan yang terjadi pada gingiva, muncul sebagai akibat dari timbunan plak. Plak terdiri dari koloni bakteri yang terus tumbuh dan dapat mengiritasi gingiva. Menjaga kebersihan mulut adalah cara terbaik untuk mencegah gingivitis (Wade dan Meldrum, 2011). <em>Aggregatibacter actinomycetemcomitans</em> positif ditemukan pada plak yang akan menjadi penyebab utama gingivitis maupun periodontitis(Cortelli, 2010). <em>Aggregatibacter actinomycetemcomitans</em> adalah bakteri gram negatif yang terdapat dalam rongga mulut dan merupakan flora normal (Johansson, 2011).<br><br>Sumber : Cortelli, J. 2010. Occurrence of Aggregatibacter actinomycetemcomitans in Brazilians with chronic periodontitis.<br>Johansson, Anders. 2011. Aggregatibacter actinomycetemcomitans Leukotoxin: A Powerful Tool with Capacity to Cause Imbalance in the Host Inflammatory Response.<br>Wade and Meldrum. 2011. Gingival Disease-Their Etiology, Prevention and Treatment. Croatia: In Tech.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 04:02:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044835074</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044836482</link>
         <description><![CDATA[<div>Tasya Fattikha Nizar<br>J2A020014<br><br>Porphyromonas gingivalis, anaerob gram negatif, merupakan agen penyebab utama dalam inisiasi dan progresi bentuk parah penyakit periodontal.  Untuk menyebabkan penyakit periodontal, P. gingivalis harus berkoloni di daerah subgingiva, suatu proses yang melibatkan beberapa langkah berbeda dan beberapa produk gen.  Organisme pertama-tama harus menavigasi di dalam cairan mulut untuk mencapai jaringan keras atau lunak mulut.  Retensi dan pertumbuhan bakteri pada permukaan ini difasilitasi oleh repertoar adhesins termasuk fimbriae, hemagglutinins dan proteinases.  Setelah terbentuk secara subgingiva, sel P. gingivalis berpartisipasi dalam jaringan komunikasi antar sel dengan sel prokariotik oral lainnya dan dengan sel eukariotik.  Pembentukan beberapa antarmuka interaktif ini dapat menyebabkan pembentukan biofilm, invasi dentin akar, dan internalisasi di dalam sel epitel gingiva.  Lokasi bakteri dan sel inang yang dihasilkan, produk dan nasib berkontribusi pada keberhasilan P. gingivalis dalam menjajah daerah periodontal.<br><br>https://scholar.google.com/scholar?hl=id&amp;as_sdt=0%2C5&amp;q=Porphyromonas+gingivalis&amp;btnG=#d=gs_qabs&amp;u=%23p%3D73bYYN_Ckv0J</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 04:04:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044836482</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Fitria Rahmadina Nindyta</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044840735</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>(J2A020028)<br><br></strong>Perawatan pada periodontitis agresif meliputi perawatan mekanis dengan scaling dan root planning (SRP) serta perawatan penunjang berupa antibiotik. Antibiotik yang dapat digunakan pada perawatan periodontitis salah satunya adalah tetrasiklin. Antibiotik ini dapat diberikan secara lokal atau sistemik karena memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan <em>Aggregatibacter actinomycetemcomitans</em> serta dapat menghambat destruksi jaringan dan membantu regenerasi tulang alveolar karena memiliki efek antikolagenase. Adapun kekurangan dari tetrasiklin jika digunakan secara berlebihan dapat menimbulkan efek samping berupa gangguan pencernaan, sensitif terhadap cahaya, peningkatan nitrogen urea pada darah, pusing, sakit kepala, serta menimbulkan perubahan warna pada gigi anak-anak<br> <br>Sumber :  Ridhwana Luthfi, dkk. 2020.  Efektivitas Antibakteri Ekstrak Daun Katsuri (<em>Mangifera casturi</em>) Terhadap Pertumbuhan Bakteri <em>Aggregatibacter actinomycetemcomitans.</em> Jurnal Kedokteran Gigi. 4 (2):49-55<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 04:09:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044840735</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dyah Ayu Puspaning Tyas (J2A020010)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044846280</link>
         <description><![CDATA[<div>Mekanisme perlekatan bakteri tersebut ada dua tahap. Pada tahap pertama bakteri melekat pada suatu permukaan di dalam rongga mulut dengan perantara pelikel. Tahap kedua bakteri tersebut berkembang biak sehingga pelikel berubah membentuk plak.<br><br></div><div>Proses perlekatannya dimulai dari adanya interaksi antara bakteri dengan pelikel. Mekanisme interaksi tersebut dipengaruhi oleh kekuatan elektrostatik, hidrofobik, komponen organic dan <em>multiple binding sites</em>.</div><div>Pada permukaaan bahan restorasi, bakteri yang melekat karena adanya interaksi elektrostatik melalui <em>calcium bridging</em>, yaitu Ca 2+ dalam saliva akan mengikat permukaan sel bakteri dan pelikel gigi yang bermuatan negatif. </div><div>Komponen organik <em>S. mutans</em> dengan mengunakan enzim <em>glycosyltransferase (GTF)</em> dan <em>non-enzym glucanbinding</em> protein untuk mensintesis polisakarida ekstraseluer dan akan membentuk glukan yang digunakan sebagai tempat perlekatan <em>S.mutans</em> pada permukaan gigi.<br><br></div><div>sedangkan perlekatan bakteri melalui <em>multiple binding site </em>karena adanya interaksi <em>lectinlike</em>, yaitu protein yang terdapat pada permukaan bakteri <em>S. mutans </em>akan bereaksi dengan <em>high molecular weight</em> <em>salivary glycoproteins </em>dan mengadsorbsi hidroksiapatit enamel sehingga terjadi interaksi antara bakteri dengan pelikel gigi.<br><br>Source : Suwito, Marani Bafianti, et al, 2017, “EFEKTIVITAS EKSTRAK SELEDRI (Apium Graveolens L. Var. Secalinum Alef.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus Mutans SEBAGAI ALTERNATIF OBAT KUMUR.” <em>Jurnal Kedokteran Syiah Kuala</em>, vol. 17, no. 3, Dec. 2017.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 04:15:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044846280</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Zalfa Alzena (J2A020007)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044916309</link>
         <description><![CDATA[<div>Streptococcus mutans pertama kali diisolasi oleh Clark pada tahun 1924 dari gigi manusia yang mengalami karies. Streptococcus mutans berperan penting terhadap trejadinya karies gigi. Istilah Streptococcus mutans diambil berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi dengan pengecatan gram. <br><br>Bakteri ini berebentuk oval dan lain dari bentuk spesies Streptococcus yang lain, sehingga disebut sebagai mutan dari Streptococcus. Taksonomi dari Streptococcus mutans adalah sebagai berikut:<br>Kingdom : Monera <br>Divisio     : Firmicutes <br>Class        : Bacili <br>Order       : Lactobacilalles <br>Family      : Streptococcaceae Genus      : Streptococcus <br>Species    : Streptococcus mutans<br><br>Streptococcus mutans diklasifikasikan berdasarkan serotype menjadi 8 kelompok yaitu serotype “a” sampai “h”. Pembagian serotype ini berdasarkan perbedaan karbohidrat pada dinding sel. Akan tetapi, berdasarkan hibridasi DNA bakteri ini dibagi menjadi 4 kelompok genetic. Pembagian ini berdasarkan prosentase basa DNA yaitu guanine dan cytosine. <br><br>Strain Streptococcus mutans yang banyak terdapat pada manusia adalah serotype c, e dan /(36 to 38% G + C), dimana Streptococcus mutan serotype c merupakan bakteri utama penyebab karies gigi.<br><br>source:  Dwi Warna Aju Fatmawati (2011).  HUBUNGAN BIOFILM STREPTOCOCCUS MUTANS TERHADAP RESIKO TERJADINYA KARIES GIGI.  Bagian Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 05:21:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044916309</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rizqika Sufi Aini</title>
         <author>rizqikasufi01</author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044918477</link>
         <description><![CDATA[<div>(J2A020026)<br><br>Aggregatibacter actinomycetemcomitans (sebelumnya Actino</div><div>bacillus actinomycetemcomitans) adalah gram-negatif kecil</div><div>organisme coccobacillary yang tumbuh perlahan. Actinobacillus actinomycetemcomitans, terlibat dalam bentuk penyakit periodontal yang sangat agresif pada remaja, juga telah direklasifikasi sebagai Aggregatibacter actinomycetemcomitans.  Strain capnophilic sering membutuhkan 5-10% CO2 untuk pertumbuhan. Sel-sel memiliki lapisan permukaan yang mengandung molekul yang merangsang resorpsi tulang, serta polisakarida penentu serotipe. A. actinomycetemcomitans menghasilkan berbagai faktor virulensi termasuk leukotoksiin yang kuat, kolagena, faktor imunosupresif dan protease yang mampu membelah IgG; selain itu, strain dapat invasif untuk sel-sel epitel. A. actinomycetemcomitans juga merupakan patogen oportunistik, yang diisolasi dari kasus endokarditis, abses otak dan subkutan, osteomyelitis, dan penyakit periodontal. <br><br>Sumber:  Marsh, P.D., Martin, M.V., 2009, Oral Microbiology 5th ed., Churchill Livingstone Elsevier, Philadelphia. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/929218104/fc36de40294e62d81485b68569ca81bd/Cuplikan_layar_2020_12_29_121052.jpg" />
         <pubDate>2020-12-29 05:23:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044918477</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jauza Hasna Roudhotuljannah (J2A020004)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044944303</link>
         <description><![CDATA[<div>Karies gigi merupakan suatu penyakit infeksi pada jaringan keras gigi, yaitu email, dentin dan sementum. Karies gigi disebabkan aktivitas mikroba pada suatu karbohidrat yang mengalami fermentasi.  <br>Faktor agen atau mikroorganisme yaitu adanya bakteri plak gigi. Plak gigi memegang peranan peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies. Plak adalah suatu lapisan lunak yang terdiri atas kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak di atas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan. Hasil penelitian menunjukkan komposisi mikroorganisme dalam plak berbeda-beda. Pada awal pembentukan plak, kokus gram positif merupakan jenis yang paling banyak dijumpai seperti Streptococcus mutans.<br> Koloni dan adesi Streptococcus mutans pada permukaan gigi melalui mekanisme sucrose-independent dan sucrose-dependent. Adesi sucrose independent terhadap komponen saliva dalam acquired enamel pellicle akan menyebabkan proses perlekatan awal. Akan tetpai, adesi sucrose dependent bertanggung jawab pada pembentukan kolonisasi pada permukaan gigi. Intake sukrosa merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan tingkat kolonisasi bakteri pada bayi. Adesi pre-formed glucan pada permukaan gigi juga memfasilitasi pembentukan koloni. Streptococcus mutans pada bayi disebabkan oleh adanya transmisi dari ibu. Kemampuan sintesis glukan oleh Streptococcus mutans akan meningkat dengan adanya adesi dan perubahan proporsi Streptococcus mutans pada dental plak. Jadi, peran utam adesi sucrosedependent adalah menciptakan ekologi plak yang dapat memicu karies gigi.<br><br>source:  Dwi Warna Aju Fatmawati (2011).  HUBUNGAN BIOFILM STREPTOCOCCUS MUTANS TERHADAP RESIKO TERJADINYA KARIES GIGI.  Bagian Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 05:48:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044944303</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Inggranita Oktavania (J2A020008)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044956363</link>
         <description><![CDATA[<div>Streptococcus mutans mengandung suatu jalur glikolitik yang kompleks dan dapat menghasilkan laktat, format, asetat dan etanol sebagai hasil fermentasi karbohidrat. Distribusi yang tepat dari hasil fermentasi tergantung pada kondisi pertumbuhan dengan laktat sebagai produk utama pada saat jumlah glukosa melimpah. Kekurangan dehidrogenase laktat strain (LDH) akan menyebabkan kemampuan kariogenik Streptococcus mutans berkurang. Tidak adanya LDH pada biofilm dapat mematikan Streptococcus mutans. Hal ini menjadi dasar pengembangan rekayasa genetika untuk mencegah adanya karies gigi. <br> Streptococcus mutans mempunyai kemampuan menghasilkan asam sangat cepat. Kecepatan pembentukan asam oleh Streptococcus mutans berhubungan dengan terjadinya karies gigi. Asidogenik Streptococcus mutans dapat menyebabkan perubahan ekologi dalam flora biofilm, seperti tingginya komposisi Streptococcus mutans  dan bakteri asidogenik lain serta spesies bakteri yang toleran terhadap asam. Hal ini akan mempengaruhi virulensi biofilm Streptococcus mutans dalam menyebabkan karies gigi.<br><br>source:  Dwi Warna Aju Fatmawati (2011).  HUBUNGAN BIOFILM STREPTOCOCCUS MUTANS TERHADAP RESIKO TERJADINYA KARIES GIGI.  Bagian Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 06:00:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1044956363</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ida Tri Mega Hastuti (J2A020048)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045213553</link>
         <description><![CDATA[<div>PENGERTIAN <strong><br></strong><em>Staphylococcus aureus </em>adalah bakteri berbentuk kokus dan bersifat </div><div>gram positif, tersebar luas dialam dan ada yang hidup sebagai flora normal </div><div>pada manusia yang terdapat di aksila, daerah inguinal dan perineal, dan </div><div>lubang hidung bagian anterior. Sekitar 25-30 % manusia membawa </div><div><em>Staphylococus aureus </em>didalam rongga hidung dan kulitnya (Soedarto, </div><div>2014). </div><div><em>Staphylococcus aureus </em>dapat menimbulkan penyakit pada manusia </div><div>atau bersifat patogen. Jaringan tubuh dapat diinfeksi dan menyebabkan </div><div>timbulnya penyakit dengan tanda-tanda khas, yaitu peradangan, nekrosis, </div><div>dan pembentukan abses. Infeksi yang disebabkan bakteri <em>Staphylococcus </em></div><div><em>aureus </em>dapat berupa infeksi tenggorokan, pneumonia, meningitis, </div><div>keracunan makanan, berbagai infeksi kulit, dan impetigo. Penyebaran </div><div>penyakit ini cukup tinggi didaerah endemik (FKUI, 2002). </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 11:14:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045213553</guid>
      </item>
      <item>
         <title>TEGAR PRAMUDITA_J2A020042</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045233775</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>KLASIFIKASI STAPHYLOCOCCUS AUREUS</strong><br>Staphylococcus aureus memiliki klasifikasi sebagai berikut:<br>Kingdom :  <em>Bacteria</em><br>Phylum    :  <em>Firmicutes</em><br>Class        :  <em>Bacili</em><br>Ordo        :  <em>Cocacceae</em><br>Family      :  <em>Staphylococcaceae</em><br>Genus      :  <em>Staphylococcus</em><br>Species    :  <em>Staphylococcus aureus</em><br>(G.M. Garrity et al. 2007).<br><br>Sumber : http://repository.unimus.ac.id/3208/4/BAB%20II.pdf</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 11:46:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045233775</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045250076</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>FAJRIN NAJMA AZIZY</strong></div><div><strong>(J2A020038)</strong></div><ul><li>Pengobatan</li></ul><div>pengobatan terhadap infeksi S. aureus dilakukan melalui pemberian antibiotik, yang disertai dengan tindakan bedah, baik berupa pengeringan abses  maupun nekrotomi. Pemberian antiseptik lokal sangat dibutuhkan untuk menangani furunkulosis (bisul) yang berulang. Pada infeksi yang cukup berat, diperlukan pemberian antibiotik secara oral atau intravena, seperti penisilin, metisillin, sefalosporin, eritromisin, linkomisin, vankomisin, dan rifampisin. Sebagian besar galur Stafilokokus sudah resisten terhadap berbagai antibiotik tersebut, sehingga perlu diberikan antibiotik berspektrum lebih luas seperti kloramfenikol,amoksilin, dan tetrasiklin (Ryan et al., 1994; Warsa, 1994; Jawetz et al., 1995)</div><ul><li>video staphylococcus aureus</li></ul><div>https://youtu.be/EkGPOoIJCoc</div>]]></description>
         <pubDate>2020-12-29 12:10:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045250076</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tarissa Luthfia U.F (J2A020040)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045352059</link>
         <description><![CDATA[<div>FUNGSI STPAHYLOCOCCUS AUREUS : <br>-berfungsi sebagai antigen merupakan substansi penting didalam struktur dinding sel, tidak membentuk spora, dan tidak membentuk flage (Jawetz, dkk., 2005). </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 14:31:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045352059</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurul Annisa Sri Febrianty</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045367112</link>
         <description><![CDATA[<div>(J2A020047)<br><br>Berikut video analisa Staphylococcus aureus dengan metode spread plate(cawan agar sebar)<br><br><a href="https://youtu.be/IBGHrspb80U">https://youtu.be/IBGHrspb80U</a></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 14:50:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045367112</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Abiri Sabila Izzati (J2A020050)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045672570</link>
         <description><![CDATA[<div>--&gt;Porphyromonas merupakan bakteri anaerob Gram negatif, tidak berspora, tidk punya alat gerak. Kebanyakan sel di dalam media, berukuran kecil dari 0,5-0,8 hingga 1,0-1,5 µm, tetapi terkadang ada yang lebih panjang 4-6 µm, hal ini mungkin disebabkan oleh perubahan bentuk (Leslie, dkk., 1998).<br><br></div><div><br></div><div>--&gt;Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri Gram negatif anaerob yang berkoloni di dalam rongga mulut manusia yang <strong>berhubungan dengan penyakit periodontal kronis.<br></strong><br></div><div>--&gt;Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri melanogenik, nonsakarolitik, dan bagian dari koloni bakteri Black-pigmented Gramnegative anaerobes.<br><br></div><div>--&gt;Bakteri P. gingivalis banyak ditemukan dalam plak gigi dan bakteri tersebut menyebabkan perubahan patologik jaringan periodontal dengan pengaktifan respons imun dan inflamatori inang, dan secara langsung (Umemoto, dkk., 2008; Wakabayashi, dkk., 2009).<br><br></div><div>--&gt;<strong>Taksonomi P. gingivalis</strong> sebagai berikut (Grenier dan Mayrand, 2011)</div><div><strong>Kingdom</strong> : Bacteria</div><div><strong>Superphylum</strong> : Bacteroidetes/Chlorobi group</div><div><strong>Phylum  </strong> : Bacteroidetes</div><div><strong>Class</strong>       : Bacteroides</div><div><strong>Orde</strong>       : Bacteroisales</div><div><strong>Family</strong>    : Porphyromonadaceae</div><div><strong>Genus</strong>    : Porphyromonas</div><div><strong>Species </strong> : Porphyromonas    gingivalis<br><br></div><div>--&gt;<strong>Karakteristik Porphyromonas gingivalis</strong> :</div><div>Porphymonas gingivalis memiliki bercak hitam, pleomorphic terutama batang pendek (coccoballi), anaerob Gram negatif, non-fermentasi, dapat tumbuh optimum pada suhu 36,8 – 39 ºC dengan pH antara 7,5 – 8,0, tidak membentuk spora dan obligat anaerob (Naito, dkk.,2008).<br><br>Sumber :<br>http://repository.unimus.ac.id/2119/3/6.%20BAB%202.pdf<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 21:30:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045672570</guid>
      </item>
      <item>
         <title>📹</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045681490</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <pubDate>2020-12-29 21:46:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045681490</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Oxsa aditya okta julia </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045721091</link>
         <description><![CDATA[<div>J2A020054 <br><br><strong>Faktor Virulensi S. aureus</strong><br>S. aureus dapat menimbulkan penyakit melalui kemampuannya tersebar <br>luas dalam jaringan dan melalui pembentukan berbagai zat ekstraseluler. Berbagai <br>zat yang berperan sebagai faktor virulensi dapat berupa protein, termasuk enzim <br>dan toksin, contohnya :<br>1. Katalase<br>Katalase adalah enzim yang berperan pada daya tahan bakteri terhadap proses <br>fagositosis. Tes adanya aktivitas katalase menjadi pembeda genus <br>Staphylococcus dari Streptococcus (Ryan et al., 1994; Brooks et al., 1995).<br>2. Koagulase<br>Enzim ini dapat menggumpalkan plasma oksalat atau plasma sitrat, karena <br>adanya faktor koagulase reaktif dalam serum yang bereaksi dengan enzim <br>tersebut. Esterase yang dihasilkan dapat meningkatkan aktivitas<br>penggumpalan, sehingga terbentuk deposit fibrin pada permukaan sel bakteri <br>yang dapat menghambat fagositosis (Warsa, 1994).<br>3. Hemolisin<br>Hemolisin merupakan toksin yang dapat membentuk suatu zona hemolisis di <br>sekitar koloni bakteri. Hemolisin pada S. aureus terdiri dari alfa hemolisin, <br>beta hemolisisn, dan delta hemolisisn. Alfa hemolisin adalah toksin yang <br>bertanggung jawab terhadap pembentukan zona hemolisis di sekitar koloni <br>S. aureus pada medium agar darah. Toksin ini dapat menyebabkan nekrosis <br>pada kulit hewan dan manusia. Beta hemolisin adalah toksin yang terutama <br>dihasilkan Stafilokokus yang diisolasi dari hewan, yang menyebabkan lisis <br>pada sel darah merah domba dan sapi. Sedangkan delta hemolisin adalah <br>toksin yang dapat melisiskan sel darah merah manusia dan kelinci, tetapi efek <br>lisisnya kurang terhadap sel darah merah domba (Warsa, 1994).<br>4. Leukosidin<br>Toksin ini dapat mematikan sel darah putih pada beberapa hewan. Tetapi <br>perannya dalam patogenesis pada manusia tidak jelas, karena Stafilokokus<br>patogen tidak dapat mematikan sel-sel darah putih manusia dan dapat <br>difagositosis (Jawetz et al., 1995). <br>5. Toksin eksfoliatif<br>Toksin ini mempunyai aktivitas proteolitik dan dapat melarutkan matriks <br>mukopolisakarida epidermis, sehingga menyebabkan pemisahan intraepitelial <br>pada ikatan sel di stratum granulosum. Toksin eksfoliatif merupakan penyebab<br>Staphylococcal Scalded Skin Syndrome, yang ditandai dengan melepuhnya <br>kulit (Warsa, 1994).<br>6. Toksin Sindrom Syok Toksik (TSST)<br>Sebagian besar galur S. aureus yang diisolasi dari penderita sindrom syok <br>toksik menghasilkan eksotoksin pirogenik. Pada manusia, toksin ini <br>menyebabkan demam, syok, ruam kulit, dan gangguan multisistem organ <br>dalam tubuh (Ryan, et al., 1994; Jawetz et al., 1995).<br>7. Enterotoksin<br>Enterotoksin adalah enzim yang tahan panas dan tahan terhadap suasana basa </div><div>di dalam usus. Enzim ini merupakan penyebab utama dalam keracunan </div><div>makanan, terutama pada makanan yang mengandung karbohidrat dan protein <br>(Jawetz et al., 1995).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-29 23:01:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045721091</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Salma Mei Asti (J2A020020)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045806119</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><mark>Porphyromonas Gingivalis dan Prevalensinya</mark></strong> </div><ul><li>P. gingivalis tampaknya menjadi salah satu agen penyebab utama dalam patogenesis dan perkembangan kejadian inflamasi penyakit periodontal. Bakteri periodontopatik ini ditemukan pada 85,75% sampel plak subgingiva dari pasien periodontitis kronis.</li><li>Bakteri Gram-negatif non-motil, asakarolitik, dan Gram negatif ini merupakan batang obligat anaerobik yang membentuk koloni agar darah berubah menjadi hitam setelah 6 sampai 10 hari karena akumulasi heme, Ia memiliki kebutuhan mutlak akan zat besi dalam pertumbuhannya. (gambar dibawah).</li><li>Habitat utama P. gingivalis adalah sulkus subgingiva rongga mulut manusia. Ini bergantung pada fermentasi asam amino untuk produksi energi, sebuah properti yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya di kantong periodontal dalam, di mana ketersediaan gula rendah.</li></ul><div><br><strong><mark>Faktor Virulensi</mark></strong></div><ul><li>Enzim (hyaluronidase, chondroitin sulfatase), kapsul</li><li>Lipopolisakarida</li><li>Fimbriae, eksopolisakarida, protein membran luar.</li><li>Kolagenase, protease mirip tripsin, gelatinase</li><li>Aminopeptidase</li></ul><div><br><strong><mark>Efektor Pada Inang</mark></strong></div><ul><li>Mengurangi fagositosis untuk invasi, penghambat kemotaksis</li><li>Resorpsi tulang, protease imunoglobulin</li><li>Adhesi atau keterikatan pada membran luar inang</li><li>Degradasi inhibitor protease plasma, kerusakan jaringan periodontal </li><li>Degradasi protein transpor zat besi</li></ul><div>Sumber : How, K.Y., Song, K.P.,  Chan, K.G., 2016.<em> Porphyromonas gingivalis : An Overview of Periodontopathic Pathogen below the Gum Line. V</em>ol. 7: 53. Front Microbiol.  doi: <a href="https://dx.doi.org/10.3389%2Ffmicb.2016.00053">10.3389/fmicb.2016.00053</a></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/929221437/391d242980b50582bb6c7b996116f2cc/BAKTERY.jpg" />
         <pubDate>2020-12-30 00:43:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045806119</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Siti Nisa Amalia (J2A020044)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045982075</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Apa itu </strong><strong><em>Staphylococcus aureus</em></strong><strong> ?</strong></div><div><em>Staphylococcus aureus</em> , adalah spesies bakteri gram positif sferis yang umumnya menyebabkan infeksi bedah dan kulit, bakteremia  (bakteri dalam darah) dan keracunan makanan. Ini adalah mikroorganisme yang ada di mana-mana, dan dapat ditemukan pada kulit hewan berdarah panas. 20 spesies berbeda dari genus <em>Staphylococcus</em> telah dikenali.<br><br></div><div>Keberadaan <em>Staphylococcus aureus</em> diuji untuk memeriksa kontaminasi selama pengolahan makanan, serta kontaminasi setelah pengolahan atau pemasakan. <em>Staphylococcus aureus</em> sangat penting dalam industri farmasi dan perawatan kesehatan karena kemampuannya untuk menyebarkan kontaminasi.<br><br>sumber : Felix MONTERO-JULIAN PhD (2020). <sub>PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI </sub><em><sub>STAPHYLOCOCCUS AUREUS</sub></em></div><div>berikut merupakan gambar staphylococcus aureus : </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/929221495/208e5bb68d919b5522a087abaeb5d682/sterile_science_staphylococcus_01.jpg" />
         <pubDate>2020-12-30 02:44:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1045982075</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lanang Samudera Mas&#39;ud (J2A020001)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1046017200</link>
         <description><![CDATA[<div>Pengobatan dari infeksi Streptococcus mutans dapat dilakukan dengan pemberian penisilin G, vankomisin, atau generasi pertama sefalosporin (Leboffe and Pierce, 2011). <br><br>Sumber: Lutfi Muhammad. 2015.  Korelasi Jumlah Streptococcus mutans (S. mutans) dan Level Ekspresi Interlukin 8 (IL-8) pada Severe Early Childhood Caries. Universitas Airlangga: Surabaya </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-30 03:14:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1046017200</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Viona sekar melati (J2A020005)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1046300718</link>
         <description><![CDATA[<div>Sifat Streptococcus mutans<br><br> Streptococcus mutans merupakan bakteri anaerobik fakultatif, nonhemofilik asidogenik, dan dapat memproduksi polisakarida ekstraseluler dan intraseluler. <br> Streptococcus mutans tidak termasuk bakteri yang didapat sejak lahir, melainkan bakteri yang didapat sesuai perkembangan usia. <br><br> Streptococcus mutans mempunyai sifat-sifat tertentu yang berperan penting dalam proses karies gigi, S. Mutans memfermentasikan berbagai jenis karbohidrat menjadi asam sehingga mengakibatkan penurunan pH; S. mutans membentuk dan menyimpan polisakarida intraselular dari berbagai jenis karbohidrat, yang selanjutnya dapat dipecahkan kembali oleh bakteri tersebut sehingga dengan demikian akan menghasilkan asam terus-menerus; S. mutans mempunyai kemampuan untuk membentuk polisakarida ekstraselular (dekstran) yang menghasilkan sifat-sifat adhesif dan kohesif plak pada permukaan gigi; S. mutans mempunyai kemampuan untuk menggunakan glikoprotein dari saliva pada permukaaan gigi.<br><br>sumber : Prananda,Adiguna.(2017).Uji MIC Ekstrak Rumput Laut Sebagai Antibakteri <br>Terhadap Streptococcus mutans.Universitas Diponegoro</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-30 08:31:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1046300718</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nofhario Fahrur Rois (J2A020027)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1046643022</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>Bakteri penyebab periodontitis adalah spesies bakteri gram negatif yang berkolonisasi pada plak subgingiva, salah satunya adalah Aggregatibacter actinomycetemcomitans (sebelumnya disebut Actinobacillus actinomycetemcomitans). Bakteri ini mempunyai sejumlah faktor virulensi yang membantu progresivitas penyakit (Afrina dkk, 2016).</div><div><br></div><div>Penggolongan bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans menurut Priyanka et al, ( 2016) adalah sebagai berikut : </div><div>Kingdom : Bacteria </div><div>Phylum : Proteobacteria </div><div>Class : Gammaproteobacteria </div><div>Order : Pasteurellales </div><div>Family : Pasteurellaceae </div><div>Genus : Aggregatibacter </div><div>Species : Aggregatibacter actinomycetemcomitans</div><div><br></div><div>Sifat dan karakteristik Aggregatibacter actinomycetemcomitans Sejumlah faktor virulensi dari bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans diantaranya adalah lipopolisakarida (endotoksin), leukotoksin, kolagenase, bakteriosin, faktor penghambat kemotaksis, faktor sitotoksik, protein pengikat Fc (Fragment crystallizable), faktor penghambat fibroblas, faktor imunosupresif serta faktor penghambat adesif, invasi, dan fungsi dari leukosit PMN (Priyanka et al, 2014).</div><div><br></div><div>http://repository.unimus.ac.id/</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-30 16:30:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1046643022</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ika Della Wahyuning Tyas (J2A020035)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1047256697</link>
         <description><![CDATA[<div>Aggregatibacter actinomycetemcomita merupakan bakteri Gram-negative yang bersifat patogen oportunistik dan merupakan bagian flora normal yang berkolonisasi dirongga mulut, gigi dan orofaring. Prevalensi bakteri ini bervariasi tergantung pada suku, usia dan gaya hidup pada setiap populasi. Bakteri A. actinomycetemcomitans biasanya ditemukan di plak gigi, poket periodontal dan sulkus gingiva. <br><br><strong>Morfologi </strong><strong><em>Aggregatibacter actinomycetemcomita</em></strong><strong><br></strong><br>Aggregatibacter actinomycetemcomita adalah bakteri gram negarif yang berbentuk kokobasil, bersifat fakultatif anaerob yang berukuran 0.4 ± 0.1X 0.1 ± 0.4 micrometers. Aggregatibacter actinomycetemcomita memiliki fibriae, vesikel dan materi amorf ekstraseluler. Bakteri ini dapat tumbuh soliter atau koloni pada metode agar plate. Koloni ini morfologi yang kasar dengan karakteristik star-shaped pada bagian tengah. Aggregatibacter actinomycetemcomita merupakan bakteri Gram-negative yang bersifat patogen oportunistik dan merupakan bagian flora normal yang berkolonisasi dirongga mulut.<br><br>Sumber :<br>http://repository.unej.ac.id/</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-31 04:20:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1047256697</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Siti Nur Salsabila</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048157750</link>
         <description><![CDATA[<div>(J2A020041)<br><a href="http://i-lib.ugm.ac.id/jurnal/jurnal.php?jrnlId=1680">Jurnal Sain Veteriner 2013, XXXI(2)</a><br>(Isolasi, Identifikasi dan Uji Sensitivitas Staphylococcus aureus terhadap Amoxicillin dari Sampel Susu Kambing Peranakan Ettawa (PE) Penderita Mastitis Di Wilayah Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta = Isolation, Identifica))<br><br>Staphylococcus aureus merupakan bakteri utama penyebab mastitis pada kambing persilangan Ettawa. Mastitis menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan akibat penurunan produksi ASI. Mastitis pada kambing dapat mengancam kelangsungan hidup anaknya karena menurunnya kualitas dan kuantitas produk susunya. Racun yang dihasilkan S. aureus juga dapat menyebabkan kematian ibunya. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi S. Aureus dari sampel susu mastitis kambing blasteran Ettawa, serta sensitivitasnya terhadap amoksisilin. Sampel susu diambil dari kambing Ettawa hasil persilangan mastitis di daerah Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta. Pada penelitian kali ini digunakan 20 sampel susu kambing persilangan Ettawa untuk mengisolasi dan mengidentifikasi S. aureus berdasarkan uji kultur, pewarnaan Gram, biokimia dan gula. Isolat tersebut kemudian diuji kepekaannya terhadap amoksisilin. Sembilan isolat dalam penelitian ini diidentifikasi sebagai S. aureus dimana mereka tumbuh pada MSA, membentuk cluster sel bulat, Gram +, fermentasi manitol, laktosa dan maltosa. Mereka membekukan plasma kelinci dan bereaksi positif terhadap faktor penggumpalan dan uji Voges Proskouer. Berdasarkan hasil uji kepekaan terhadap amoksisilin 10 Ilg diketahui bahwa 8 isolat (88,89%) sensitif terhadap amoksisilin. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat 9 isolat dari 20 sampel susu mastitis kambing ras Ettawa yang teridentifikasi sebagai S. aureus. Isolat Staphylococcus aureus sebagian besar sensitif terhadap amoksisilin.(</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-01 11:46:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048157750</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Huzaim hab(J2A020023)
</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048201260</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://youtu.be/i8ASjBrLv84" />
         <pubDate>2021-01-01 14:00:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048201260</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rifdani  Amelia (J2A020006)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048224760</link>
         <description><![CDATA[<div> Morfologi <em>Streptococcus mutans <br></em> Secara mikroskopis, S. mutans merupakan gram positif, tidak begerak aktif, tidak membentuk spora, dan mempunyai susunan rantai dua atau lebih. Berbentuk bulat dengan diameter 0,5 – 0,7 mm. Kadang bentuknya mengalami pemanjangan menjadi batang pendek, tersusun berpasangan atau membentuk rantai pendek. Susunan rantai panjang diperoleh S. mutans berada dalam media Brain Heart Infusion Broth (BHIB). Dinding sel S. mutans memiliki beberapa karakter, antara lain : Surface protein antigen I/II yang berfungsi sebagai mediator perlekatan, Serotipe yang terdiri dari 6 serotipe yang berfungsi spesifik adherence; dalam hal ini berupa setotipe c, Glukan Binding Protein (GBP) yang berfungsi sebagai akumulasi. Media yang dapat digunakan untuk membiakkan S. mutans adalah Tryptone Yeast Cysteine (TYC) dan media agar darah. Gambaran koloni bakteri tersebut yaitu ukuran koloni dengan diameter 1 – 5 mm, permukaan koloni berbutir kasar, licin, menyerupai bunga kasar dengan pusat menyerupai kapas. Konsistensi koloni keras dan sangat lekat, warna koloni seperti salju yang membeku, agak buram mengkilat (opaque), kuning buram dengan lingkaran putih. Sedangkan tepi koloni tidak teratur. Seperti pada bakteri bentuk bulat gram positif lainnya, S. mutans terdiri dari dinding sel dan membran protoplasma. Matriks dinding sel terdiri atas peptidoglikan rantai silang yang mempunyai komposisi gula amino N-asetil, asam N-asetilnuramik dan beberapa peptida. Sedangkan struktur antigenik dinding sel S. mutans terdiri dari antigen protein, polisakarida spesifik dan asam lipotekoat. Antigen-antigen tersebut menentukan imunogenitas S. mutans. Sejumlah antigen yang telah ditemukan yang terpenting adalah protein, yang terdiri dari enzim glukosil transferase dan antigen protein. Enzim glukosil transferase berfungsi sebagai enzim yang mengubah sukrosa menjadi glukan. Sedangkan antigen protein yang bersifat hidrofobik berfungsi pada proses interaksi S. mutans dan pelikelpelikel (membran tipis pelindung) di permukaan gigi.<br><br>Sumber : Prananda,Adiguna. (2017). Uji MIC Ekstrak Rumput Laut Sebagai Antibakteri Terhadap Streptococcus muntas. Universitas Diponegoro</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-01 15:11:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048224760</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048225114</link>
         <description><![CDATA[<div> </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-01 15:12:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048225114</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Azhara Wardah (J2A020031)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048487261</link>
         <description><![CDATA[<div>Vidio about what does Aggregatibacter actinomycetemcomita </div>]]></description>
         <enclosure url="https://youtu.be/HST10VhFxqc" />
         <pubDate>2021-01-02 02:11:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048487261</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Daffa Putra M (J2A020012)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048604252</link>
         <description><![CDATA[<div>Porphyromonas gingivalis termasuk dalam golongan bakteri black-pigmented Gram-negative anaerobes. Bakteri ini memiliki sejumlah faktor virulensi yang dapat menyebabkan penyakit secara langsung atau tidak langsung oleh karena aktivasi dari sel host untuk melepaskan mediator-mediator inflamasi. P. gingivalis merupakan bakteri proteolitik, dimana hasil metabolit ekstraseluler utamanya berupa eksotoksin Netrofil merupakan sel inflamasi yang berfungsi sebagai pertahanan pertama terhadap infeksi bakteri. Dalam fungsi bakterisidal, netrofil mengeluarkan suatu enzim untuk melawan bakteri yang menyerang tubuh, salah satu enzim yang dikeluarkan adalah proteinase. Diduga salah satu cara perlawanan proteinase netrofil terhadap bakteri adalah dengan memfragmentasi eksotoksin yang disekresi bakteri patogen menjadi berat molekul yang lebih kecil, sehingga eksotoksin menjadi t idak vii aktif dan tidak patogenik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis aktivitas proteinase netrofil terhadap eksotoksin bakteri periodontitis P. gingivalis. <br><a href="http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/12890">http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/12890</a></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-02 06:29:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048604252</guid>
      </item>
      <item>
         <title>agiel sinung w (J2A020017)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048626059</link>
         <description><![CDATA[<div>Porphyromonas gingivalis termasuk dalam filum Bacteroidetes dan merupakan bakteri patogen nonmotil, Gram-negatif, berbentuk batang, anaerobik, dan patogen. Ini membentuk koloni hitam pada blood agar.<br><br>Porphyromonas gingivalis Ini ditemukan di rongga mulut, di mana ia terlibat dalam penyakit periodontal, serta di saluran pencernaan bagian atas, saluran pernapasan, dan usus besar. Ini telah diisolasi dari wanita dengan vaginosis bakteri<br><br>degradasi kolagen yang diamati pada penyakit peridontal kronis sebagian disebabkan oleh enzim kolagenase spesies ini. telah dibuktikan dalam penelitian.<br><br>Porphyromonas gingivalis dapat menyerang fibroblas gingiva manusia dan dapat bertahan hidup dengan adanya antibiotik<br><br>sumber: Naito M, Hirakawa H, Yamashita A, et al. (August 2008). <a href="https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2575886">"Determination of the Genome Sequence of Porphyromonas gingivalis Strain ATCC 33277 and Genomic Comparison with Strain W83 Revealed Extensive Genome Rearrangements in <em>P. gingivalis</em>"</a>. <em>DNA Research</em>. <strong>15</strong> (4): 215–25.<br>  <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-02 07:20:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048626059</guid>
      </item>
      <item>
         <title>agiel sinung w (J2A020017)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048630112</link>
         <description><![CDATA[<pre>Porphyromonas gingivalis termasuk dalam filum Bacteroidetes dan merupakan bakteri patogen nonmotil, Gram-negatif, berbentuk batang, anaerobik, dan patogen. Ini membentuk koloni hitam pada agar darah.Porphyromonas gingivalis termasuk dalam filum Bacteroidetes dan merupakan bakteri patogen nonmotil, Gram-negatif, berbentuk batang, anaerobik, dan patogen. Ini membentuk koloni hitam pada agar darah.
bakteri ini dapat ditemukan di rongga mulut, di mana ia terlibat dalam penyakit periodonta serta di saluran pencernaan bagian atas, saluran pernapasan, dan usus besar. Ini telah diisolasi dari wanita dengan vaginosis bakteri.
Degradasi kolagen yang diamati pada penyakit periodontal kronis sebagian disebabkan oleh enzim kolagenase spesies ini. Telah dibuktikan dalam penelitian in vitro bahwa P. gingivalis dapat menyerang fibroblas gingiva manusia dan dapat bertahan dengan adanya antibiotik.

P. gingivalis menyerang sel epitel gingiva dalam jumlah besar, dalam hal ini bakteri dan sel epitel dapat bertahan untuk waktu yang lama. Kadar antibodi spesifik yang tinggi dapat dideteksi pada pasien yang mengandung P. gingivalis.
sumber:  Naito M, Hirakawa H, Yamashita A, et al. (August 2008). <a href="https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2575886">"Determination of the Genome Sequence of Porphyromonas gingivalis Strain ATCC 33277 and Genomic Comparison with Strain W83 Revealed Extensive Genome Rearrangements in <em>P. gingivalis</em>"</a>. <em>DNA Research</em>. <strong>15</strong> (4): 215–25. <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Doi_(identifier)">doi</a>:<a href="https://doi.org/10.1093%2Fdnares%2Fdsn013">10.1093/dnares/dsn013</a>. <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/PMC_(identifier)">PMC</a> <a href="https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2575886">2575886</a>. <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/PMID_(identifier)">PMID</a> <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18524787">18524787</a>.
<br></pre><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-02 07:30:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048630112</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048778627</link>
         <description><![CDATA[<div>Alifia Tuhfatul Muluk<br>(J2A020033)<br><br></div><h1>Aggregatibacter Actinomycetemcomitans</h1><div>Actinobacillus actinomycetemcomitans menghasilkan dispersin B, hidrolase glikosida yang mendegradasi PIA / PNAG dengan tingkat spesifisitas yang sangat tinggi pada ikatan β (1,6), membuatnya sangat efektif melawan biofilm stafilokokus (Ramasubbu, Thomas, Ragunath, &amp; Kaplan, 2005 ).<br><br></div><div>Sumber: <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780123943828000022">Maju dalam Mikrobiologi Terapan , 2012<br></a><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-02 12:27:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1048778627</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1049012957</link>
         <description><![CDATA[<div>IDAM BAGUS MAULANA<br>(J2A020039) <br><br>mekanisme kerja obat untuk mengatasi infeksi bakteri staphylococcus aureus salah satunya <br>obat KLORAMFENIKOL bekerja menghambat sintesis protein pada sel bakteri. <br>Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50 S, <br>sehingga mencegah ikatan antara asam amino dengan ribosom. Obat ini berikatan <br>secara spesifik dengan akseptor (tempat ikatan awal dari amino asil t-RNA) atau <br>pada bagian peptidil, yang merupakan tempat ikatan kritis untuk perpanjangan<br>rantai peptida (Setiabudy dkk, 1995; Katzung, 1998).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-02 18:11:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1049012957</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Deviana Adinda Nurfatimah (J2A020011)</title>
         <author>devianaadinda52</author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1049183266</link>
         <description><![CDATA[<div>Karakteristik Streptococcus mutans<br>-merupakan bakteri gram positif, non motil(tidak bergerak), fakultatif anaerob dan bersifat β-hemolisis(total hemolisis menunjukan warna bening pada medium pembenihan agar darah disekitar koloni).<br>-hasil kulturnya memiliki karakteristik koloni yang menonjol, cembung dan putih.<br>-bakteri ini berkembang biak pada suhu 37 ֯ selama 48jam di media selektif.<br>-Bakteri hidup di permukaan padat seperti gigi.<br>-bakteri ini menghasilkan asam dan mampu tinggal di lingkungan asam(asidurik)<br>-bakteri ini memanfaatkan enzim dekstransukrase untuk mengubah sukrosa menjadi dekstran(polisakarida perekat ekstraseluler/pelikel. melalui pelikel ini bakteri akan membentuk plak gigi.<br><br>Sumber: Sacha Annisa. (2005). Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Kemangi (Ocimun basilicum) terhadap Streptococcus Mutans in vitro. <em>Hilos Tensados</em>, <em>1</em>.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-02 23:07:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1049183266</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Naufal Ridho (J2A020019)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1049977526</link>
         <description><![CDATA[<div>Penyakit Alzheimer.Penelitian lainnya juga menunjukkan adanya hubungan antara mediator imun seperti TNF-α dan antibodi terhadap patogen periodontal dengan penyakit Alzheimer.                             Penelitian oleh Sophie juga menunjukkan bahwa LPS dari patogen periodontal seperti P.gingivalis dapat mencapai otak pada pasien Alzheimer. Beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara infeksi bakteri periodontal seperti P. gingivalis dengan kejadian penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.<br> Mekanisme neuroinflamasi juga berperan penting pada terjadinya gangguan kognitif dan memori yang dimediasi oleh aktivasi jalur persinyalan TLR  Tidak hanya LPS P. gingivalis yang dapat masuk ke otak dan menyebabkan neuroinflamasi, tetapi endotoksinnya seperti gingipain juga dapat memicu gangguan kognitif. Hasil penelitian yang dikemukakan oleh Amburst dkk menunjukkan bahwa Gingipain R2 (RgpB) dapat mengaktivasi meprin β yang merupakan enzim alternatif dari β-secretase pada amyloid precursor protein (APP) dan memicu terjadinya penumpukan plak amyloid penyakit Alzheimer.                                     Pada tinjauan pustaka ini akan dibahas mengenai keterkaitan antara infeksi bakteri P. gingivalis di rongga mulut dengan induksi neuroinflamasi di otak yang dapat menyebabkan penyakit neurodegeneratif seperti penyakit Alzheimer.                                                <br><br></div><div> Citra Feriana Putri, Endang Winiati Bachtiar. Porphytomonas Gingivalis dan Patogenesis Disfungsi Kognitif: Analisis Peran Sitokin Neuroinflamasi. Jurnal Unsyiah. Vol 12 No. 1  <br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-03 15:49:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1049977526</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Berlian Febbyana (J2A020043)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1050013326</link>
         <description><![CDATA[<div>Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri ini:<br>• pada saat sistem imun menurun, maka bakteri ini akan masuk ke dalam tubuh baik melalui mulut, inhalasi, maupun penetrasi kulit.<br>• apabila bakteri ini sudah masuk ke dalam tubuh, pada awalnya akan menyebabkan gejala infeksi ringan seperti bisul, jerawat, impetigo, dan infeksi luka ringan.<br>• infeksi oleh Staphylococcus aureus ditandai dengan kerusakan jaringan yang biasanya akan disertai abses bernanah.<br>• jika bakteri ini sudah masuk ke dalam peredaran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya maka akan merusak organ-organ tubuh tersebut.<br>• penyakit berat yang ditimbulkan bakter ini: infeksi pada folikel rambut dan kelenjar keringat serta penyakit pneumonia, mastitis, plebitis, meningitis, infeksi saluran kemih, osteomielitis, dan endokarditis. <br>• staphylococcus aureus juga merupakan penyebab utama infeksi nosokomial, keracunan makanan dan sindrom shock toksik. <br><br>=slide share of institut Teknologi Sepuluh November  (May 15, 2017)</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-03 16:23:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1050013326</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hidan Muhammad Syakirin(J2A020003)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1050722906</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Patogenesis </strong><strong><em>Streptococcus mutans</em></strong><em> <br></em><strong><br></strong>Salah satu penyakit yang disebabkan oleh <em>Streptococcus mutans </em>adalah karies<br>gigi. Ada beberapa hal yang menyebabkan karies gigi bertambah parah; contohnya<br>adalah gula, air liur, dan juga bakteri pembusuknya. Setelah mengkonsumsi sesuatu<br>yang mengandung gula–terutama sukrosa, dan bahkan setelah beberapa menit<br>penyikatan gigi dilakukan, glikoprotein yang lengket (kombinasi molekul protein dan<br>karbohidrat) bertahan pada gigi untuk mulai pembentukan plak pada gigi. Pada waktu yang bersamaan berjuta-juta bakteri yang dikenal sebagai <em>Streptococcus mutans </em>juga<br>bertahan pada glikoprotein itu. Walaupun banyak bakteri lain yang juga melekat, hanya<br><em>Streptococcus mutans </em>yang dapat menyebabkan rongga atau lubang pada gigi.<br>Pada langkah selanjutnya, bakteri menggunakan fruktosa dalam metabolisme<br>glikolisis untuk memperoleh energi. Hasil akhir dari glikolisis di bawah kondisi<br>anaerob adalah asam laktat. Asam laktat ini menciptakan kadar keasaman yang ekstra<br>untuk menurunkan pH sampai batas tertentu sehingga dapat menghancurkan zat kapur<br>fosfat di dalam email gigi yang menngarah kepada pembentukan suatu rongga atau<br>lubang. <em>Streptococcus mutans </em>mempunyai suatu enzim yang disebut glukosil<br>transferase diatas permukaannya yang dapat menyebabkan polimerisasi glukosa pada<br>sukrosa dengan pelepasan dari fruktosa, sehingga dapat mensintesa molekul glukosa<br>yang memiliki berat molekul yang tinggi yang terdiri dari ikatan glukosa alfa (1-6) alfa<br>(1-3). Pembentukan alfa (1-3) ini sangat lengket, sehingga tidak larut dalam air. Hal ini<br>dimanfaatkan oleh bakteri <em>Streptococcus mutans </em>untuk berkembang dan membentuk<br>plak gigi. Dekstran bersama dengan bakteri melekat dengan erat pada enamel gigi dan<br>menuju ke pembentukan plak pada gigi. Hal ini merupakan tahap pembentukan rongga<br>atau lubang pada gigi yang disebut dengan karies gigi. <br><br>SUMBER : oleh P Adiguna ·(‎2017)Universitas Diponegoro , patogenesis bakteri streptococcus mutans<br><br> </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-04 03:28:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1050722906</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Berlian Shinta (J2A020002)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1050876475</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Gambar Histologis<br>Streptococcus mutans<br><br></strong>sumber jurnal:<br>Ranganathan V, Akhila CH. Streptococcus mutans: has it become prime perpetrator for oral manifestations? J Microbiol Exp. 2019;7(4):207-213. DOI: <a href="https://doi.org/10.15406/jmen.2019.07.00261">10.15406/jmen.2019.07.00261</a></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/734679992/79180955a2e8422cb4c12cb15e3ad2f0/streptococcus_mutans.png" />
         <pubDate>2021-01-04 05:00:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1050876475</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nibrosy Khalda N.S.F. (J2A020021)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1051772524</link>
         <description><![CDATA[<div><em>P.gingivalis</em> telah diketahui merupakan bakteri yang menginduksi respon inflamasi periodontal. Bakteri ini dapat menstimulasi aktivitas netrofil. Penyakit periodontal, khususnya periodontitis yang merupakan penyakit inflamasi kronis pada jaringan pendukung gigi. Terdapat beberapa bakteri yang bersifat patogen pada periodontitis, salah satunya adalah <em>P.gingivalis</em>. Bakteri ini sangat berpengaruh dalam inisiasi dan keparahan penyakit periodontal.<br><br>Dalam respon inflamasi, netrofil adalah fagosit utama dalam sirkulasi darah yang berperan mengenal, mencerna serta menghancurkan mikroba. Netrofil berperan sebagai barisan pertama sistem pertahanan tubuh dengan cara menghancurkan patogen-patogen yang mengancam melalui mekanisme mikrobisidal, baik oksidatif maupun non-oksidatif. Mekanisme mikrobisid utama pada netrofil adalah mekanisme oksidatif yang diperankan oleh metabolit-metabolit oksigen yang sangat aktif (ROS). Pada saat leukosit memfagosit bakteri, terjadi <em>respiratory burst</em> yang merupakan peningkatan penggunaan oksigen yang disertai produksi sejumlah besar derivat reaktif yang disebut radikal bebas, yaitu superoksid (O2), hidrogen proksida (H2O2), hidroksi (OH) dan ion-ion hidroksil(OCL). Keseluruhan radikal bebas tersebut bersifat mematikan bagi sebagian besar bakteri, bahkan bila jumlahnya sedikit. <br><br>Keberadaan bakteri <em>P.gingivalis</em> menyebabkan rekruitmen netrofil yang selanjutnya disusul dengan aktivasi netrofil. Diduga saat aktivasi netrofil berupa proses fagositosis, terjadi penggunaan oksigen dalam jumlah besar. Oksigen yang ada direduksi menjadi ion superoksid untuk menghancurkan <em>P.gingivalis</em>. Akan tetapi bila hal ini berlangsung berat dan lama, maka akan menimbulkan kerusakan pada netrofil itu sendiri.<br><br>Fitriyana, Nahdiya dkk. 2013. <em>Pemaparan P.gingivalis mempengaruhi produksi superoksid netrofil</em>. Dentofasial, Vol. 12, No. 3 (152-158). https://jdmfs.org/index.php/jdmfs/article/viewFile/370/370</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-04 13:27:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1051772524</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Beby Angel Wiharyo (J2A020029)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1051834807</link>
         <description><![CDATA[<div>Aggregatibacter actinomycetemcomitans merupakan patogen primer yang berkaitan dengan periodontitis agresif lokalisata dan termasuk flora normal yang berada dalam mukosa rongga mulut, gigi dan orofaring. Aggregatibacter actinomycetemcomitans merupakan salah satu bakteri Gram negatif yang memiliki sıfat fakultatif anaerob, patogen opportunistik dan mempunyai sejumlah faktor virulensi yang dapat menimbulkan infeksi pada tubuh manusia. Faktor virulensi yang mampu dihasilkan oleh Aggregatibacter actinomycetemcomitans adalah lipopolisakarida, kolagenase, dan leukotoksin. Berbentuk kokobasil, dan berukuran sekitar 0,7 x 1,0 phi, soliter atau berkoloni.<br><br>sumber: <a href="http://www.repository.trisakti.ac.id/webopac_usaktiana/digital/00000000000000006782/2019_TA_KG_040001500049_Bab-2.pdf">http://repository.trisakti.ac.id/</a></div>]]></description>
         <pubDate>2021-01-04 13:45:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1051834807</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Munawir(J2A020016)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1052743933</link>
         <description><![CDATA[<div>Bakteri  P. gingivalis</div><div>mempunyai   faktor virulensi   yang   bersifat   merusak  host  </div><div>salah satunya yaitu enzim proteolitik. Enzim proteolitik</div><div>paling   utama   yang   dihasilkan  </div><div>P.  gingivalis adalah   gingipain.   Gingipain   (protease ekstraselular)   pada   bakteri  black-pigmented Gram   negative anaerob  digunakan   untuk</div><div>menghindari respon imunitas </div><div>host dengan cara memecah   molekul-molekul   pengenal bakteri pada  host,   sehingga   bakteri   tersebut   dapat</div><div>bertahan   hidup   dalam   jaringan periodontal. Selain itu, dapat mendestruksi immunoglobulin,</div><div>faktor  komplemen, menginvasi jaringan lunak serta menghambat migrasi leukosit PMN [17].</div><div>Enzim protease dapat memecah protein yang ada pada membran sel  host  seperti neutrofil, sehingga menyebabkan neutrofil menjadi lisis Membran   terluar   bakteri  P.   gingivalis tersusun oleh lipopolisakarida (LPS). LPS dapat menginduksi   produksi   dan   pelepasan   sel-sel</div><div>radang, seperti reactive oxygen species (ROS) yang dapat menyebabkan reaksi berantai dan</div><div>menghasilkan   senyawa   radikal   bebas   baru dalam jumlah besar yang bersifat sangat toksik</div><div>dan dapat mengakibatkan kerusakan oksidatif mulai dari tingkat sel hingga ke organ tubuh [18].</div><div>Adanya   faktor   virulensi tersebut  yaitu   enzim protease   dan   LPS  menyebabkan   sel  host</div><div>menjadi   rusak.  Hal  inilah   yang terjadi   pada kelompok kontrol, neutrofil yang dipapar dengan</div><div>P. gingivalis dan tanpa diinkubasi ekstrak daun pepaya menunjukkan banyak neutrofil yang lisis. Pada kelompok perlakuan yang diinkubasi</div><div>dengan   ekstrak   daun   pepaya,   neutrofil   pada pengamatan menggunakan mikroskop  inverted terlihat   berukuran   lebih   besar   dibandingkan</div><div>dengan   kelompok   I   (kontrol)   yang   tidak diinkubasi ekstrak daun pepaya. Hal ini diduga</div><div>karena ekstrak daun pepaya melapisi membran neutrofil, sehingga tampak lebih besar. Adanya lapisan   tersebut   diduga mengisolasi   reseptor</div><div>neutrofil sehingga adhesin bakteri  P. gingivalis tidak   dapat   berikatan   dengan   reseptor yang</div><div>pada akhirnya menyebabkan adhesi bakteri P. gingivalis</div><div>terhadap neutrofil menjadi terhambat. Adhesi dari bakteri pada permukaan sel dapat dihambat oleh enzim dan bahan kimia yang secara spesifik merusak atau mengisolasi adhesin bakteri maupun reseptor sel host [10].</div><div>Enzim   dan   bahan   kimia   ini   diduga   juga terkandung dalam ekstrak daun pepaya. Ekstrak</div><div>daun pepaya mengandung komposisi senyawa kimia yaitu flavonoid, vitamin C, tanin, alkaloid karpain,   cyanogenic   glucosides  dan   enzim papain [19]. <br><br></div><div>sumber:<br>- Wilson, JW, MJ Schurr, CL LeBlanc, R. Ramamurthy, KL Buchanan, CA Nickerson. Mechanisms of Bacterial Pathogenicity. J. Postgrad Med. 2002; Vol: 78: 216-224.<br><br>-Eleazu, CO, Eleazu KC, Awa E Chukwuma, SC. Comparative Study of The Phytochemical Composition of The Leaves of Five Nigerian Medicinal Plants. Journal of Biotechnology and Pharmaceuticalo Research. 2012, Vol. 3 (2): 42-46.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-04 17:12:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1052743933</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mufid Pratama (J2A020015)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1054072872</link>
         <description><![CDATA[<div>Porphyromonas  gingivalis  merupakan  bakteri  utama  penyebab  penyakit  periodontal.  Bakteri  ini memiliki  faktor  virulensi  seperti lipopolisakarida  dan  gingipain.  Faktor  virulensi  ini  dapat membuatnya lolos dari sistem imun periodontal lalu masuk ke dalam sirkulasi darah atau bakterimia. <br><br></div><div>Bakterimia yang  terjadi kemudian  menyebabkan bakteri berpindah ke  sistem saraf  pusat sehingga mengaktivasi  mikroglia  dan  respon  neuroinflamasi. <br>Patogen  yang  berperan pada </div><div>periodontitis yaitu  Porphyromonas  gingivalis </div><div>(P.gingivalis)  memiliki  faktor  virulensi  yang membuatnya dapat lolos dari sistem imun dan masuk ke dalam  sirkulasi darah.  Bakteri ini atau produknya merupakan  bakteri  rongga mulut yang sering  dilaporkan dapat dideteksi dalam peredaran darah, maka tinjauan pustaka ini  akan  membahas  P.gingivalis  atau produknya dalam patogenesis  disfungsi kognitif. Bakteri  P  gingivalis  dan  faktor virulensinya,  seperti  fimbriae,  gingipain, dan Lipopolysaccharide (LPS) adalah yang paling berperan  dalam  menginduksi  periodontitis. Mikroorganisme  ini  beserta  produknya  dapat masuk  ke  dalam  sirkulasi  darah  dan menyebabkan  bakterimia  serta  penyebaran </div><div>produk  bakteri  secara  sistemik.  P.  gingivalis </div><div>memiliki  kemampuan      menginvasi  jaringan </div><div>otak dengan  menembus Blood  Brain Barrier. Mekanisme  ini  kemudian  mengaktivasi  sel mikroglia  di  dalam  sistem  saraf  pusat  yang dapat  menyebabkan  neurodegenerasi  pada </div><div>kejadian disfungsi kognitif, sebagai awal  dari patogenesis penyakit Alzheimer. Mekanisme  peningkatan  molekul inflamasi di otak akibat  molekul proinflamasi perifer  terdiri  dari  dua  jalur, yaitu sirkulasi sistemik  dan  jalur  neuron.  Ketika  mencapai otak,  molekul  proinflamasi  dapat  secara langsung  meningkatkan  ekspresi  sitokin proinflamasi,  atau  secara  tidak  langsung </div><div>mengkativasi  sel  glia  yang  kemudian mensekresi sitokin proinflamasi. <br><br>Bakteri  Porphyromonas  gingivalis dan Faktor Virulensinya  merupakan bakteri  yang  tersering  dikaitkan dgn patogensis  periodontitis. Hampir  40-100% kasus periodontitis dipicu oleh antigen bakteri opurtunistik  ini. Studi  pada  plak  subgingiva pasien periodontitis kronis  ditemukan adanya bakteri ini sebanyak 85,75%. Ciri  utama dari P. gingivalis diantaranya adalah bakteri Gram negatif, berbentuk  batang, non-motile, bersifat anaerob, dan assacharolytic<br><br>Bersumber dari Citra Feriana Putri,dkk jurnal <strong>CAKRADONYA DENTAL JOURNAL </strong>fakultas kedokteran gigi unsyiah<strong>, </strong>2020</div>]]></description>
         <enclosure url="http://jurnal.unsyiah.ac.id/CDJ/article/view/17068/12423" />
         <pubDate>2021-01-05 01:00:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1054072872</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Putri wahyu kartika (J2A020013)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1054174411</link>
         <description><![CDATA[<div>P. gingivalis memproduksi berbagai faktor virulensi patogenik, seperti lipopolisakarida dan hidrogen sulfida, yang dapat menginduksi inang untuk melepaskan IL-1 dan TNF-α.4<br>Porphyromonas gingivalis tumbuh dalam media kultur membentuk koloni berdiameter 1-2 mm, konveks, halus dan mengkilat, yang bagian tengahnya menunjukkan gambaran lebih gelap karena produksi protoheme, yaitu suatu substansi yang bertanggung jawab terhadap warna khas koloni ini.5 Identifikasi P. gingivalis isolat lokal ini akan memberi peluang besar untuk dikembangkannya suatu metode intervensi oral yang digunakan untuk melawan spesies bakteri ini, dan selanjutnya berguna untuk pencegahan dan perawatan penyakit periodontal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan metode API 20A untuk identifikasi P. gingivalis isolat klinik.<br>Sampel dalam media transport digetarkan dengan vortex mixer selama 30 detik, kemudian 1 ml sampel diencerkan dengan 9 ml dilution buffer dan dibuat 5 kali pengenceran. Larutan sampel yang telah diencerkan sebanyak 0,5 ml ditanam dalam media blood agar yang terdiri dari 2 ml brucella broth ditambahkan 0,4 μl/ml vitamin K1 dan 5 μl/ml hemin kemudian diberi 10% sheep blood. <br>Setiap spesimen diambil 10 koloni bakteri Black-pigmented Gram-negative Anaerobes untuk isolasi P. gingivalis. Selanjutnya dilakukan subkultur sampai ditemukan koloni bakteri Black- pigmented Gram-negative Anaerobes murni yang berwarna hitam kehijauan atau kecoklatan. Setelah itu diidentifikasi secara biokimiawi menggunakan sistem API 20A, pengecatan Gram, morfologi koloni dan mikroskopik. Sebagai kontrol digunakan bakteri P. gingivalis strain ATCC 33277.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="http://jurnal.pdgi.or.id/index.php/jpdgi/article/download/13/9" />
         <pubDate>2021-01-05 01:53:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1054174411</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Enrico cannavaro Alghifary (J2A020045)                                           Pengujian aktivitas antimikroba Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi agar dan metode dilusi cair digunakan untuk Candida albicans. Dari hasil pengujian aktivitas antimikroba ekstrak herba kemangi fase n-heksana, fase etil asetat dan ekstrak etanol 70% masih mempunyai aktivitas pada konsentrasi 125 g/mL terhadap Staphylococcus aureus. Pengujian aktivitas antimikroba ekstrak herba kemangi fase etil asetat masih mempunyai aktivitas pada konsentrasi 500 g/mL terhadap Candida albicans. Sebagai kontrol positif digunakan amoksisilin 25 g/mL dan ketokonazol 10 g/mL. Sebagai kontrol negatif digunakan pelarut n-heksana, etil asetat dan etanol 70%. Berdasarkan hasil penapisan fitokimia ekstrak herba kemangi mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, triterpenoid dan tanin. </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1054252724</link>
         <description><![CDATA[<div><br><a href="http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/24317">http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/24317</a><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-01-05 02:41:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yasiniaap/bacterialBMS3/wish/1054252724</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
