<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Fakta pangan  by ramfika</title>
      <link>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf</link>
      <description>Made with true love from me </description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-03-26 10:15:41 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-05-17 17:48:22 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f495.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>GANDUM </title>
         <author>farhatputra1713</author>
         <link>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1356618181</link>
         <description><![CDATA[<div>1.Kebutuhan Masyarakat Terhadap Sumber Pangan:Hasil dari data Badan Pusat Statistik periode tahun 2013 sampai 2017 impor gandum di Indonesia menurut negara asal utama. Dari data tersebut Australia menjadi negara paling banyak dalam impor gandum di Indonesia yang disusul urutan kedua yaitu negara Kanada. Pada tahun 2013 sampai 2015 impor gandum mengalami kenaikan sekitar 12% - 15 % per tahunnya. Namun pada tahun 2016 impor gandum mengalami penurunan yaitu sekitar 17% dan pada tahun 2017 impor gandum mulai naik lagi sekitar 20% yang lebih tinggi dari tahuntahun sebelumnya. Impor gandum indonesia pada tahun 2017 mencapai 5,1 juta ton dan indonesia merupakan importir terbesar ke dua di dunia.&nbsp;<br>2.Kemampuan dan Upaya memenuhi kebutuhan: Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2015). Yang menyimpulkan bahwa, kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dollar semakin melemah, namun impor gandum justru semakin meningkat yang dikarenakan masyarakat Indonesia tidak dapat terlepas dari pola konsumsi yang beralih ke makanan berbasis gandum. Perubahan pola konsumsi tersebut semakin meningkatkan impor gandum walaupun kondisi rupiah terus melemah, nyatanya kebutuhan gandum dalam negeri harus tetap dipenuhi. Impor gandum tidak dapat dikurangi oleh pemerintah dan oleh para produsen dalam negeri yang disebabkan oleh faktor alamiah seperti iklim yang tidak cocok untuk tanaman biji gandum dan faktor tanah yang kurang subur untuk ditanami biji gandum.&nbsp;<br>Sumber=http://eprints.ums.ac.id/78386/11/NASKAH%20PUBLIKASI-53.pdf<br>3.Hasil olahan pangan=</div><ul><li>Roti gandum</li><li>Roti tawar</li><li>Oatmeal</li><li>Mie</li><li>Pasta</li><li>Kue kering</li><li>biskuit</li><li>dan berbagai jenis olahan yang lain</li></ul><div>Sumber:https://www.ahyari.net/berbagai-olahan-gandum/<br>4.Refleksi atau kesimpulan pribadi:<br>Indonesia merupakan Negara yang Kaya dan dengan penduduk yang memilikki berbagai macam pikiran.Indonesia di sekarang ini masih belum bisa untuk memproduksi gandum sendiri.Padahal Gandum merupakan sesuatu yang lekat dan dekat untuk seluruh ataupun sebagian penduduk Indonesia.Seperti contoh mie instan,mie instan makanan yang sangat membutuhkan gandum sebagai bahan dasar.Juga mie instan sudah mendunia dan terkenal.Begitu juga dengan roti,roti makanan yang juga membutuhkan gandum dan juga disukai oleh masyrakat Indonesia.Dalam hal ini kita sangat perlu Gandum untuk keberlangsungan hidup kita walaupun kita juga punya beras sebagai bahan pangan kita.Dengan impor juga sudah  menutup keraguan akan kekurangan bahan pangan gandum.Tetapi tidak hanya sampai situ,banyak faktor yang bisa terjadi jika kita selalu impor dengan negara lain.Kita tidak bisa mandiri dan hanya bergantung dengan negara-negara lain.Seperti misal   jika Indonesia bermasalah dengan negara lain dan kita tidak menginginkan itu untuk terjadi.Indonesia harus punya produksi sendiri dalam hal gandum.Supaya kita bisa mandiri dan tidak bergantung oleh pihak lain.Bisa dengan mengerahkan ilmuan-ilmuan untuk meneliti lebih lanjut tentang tanaman gandum yang ditanam diIndonesia.Pemerintah sebaiknya juga ikut dalam hal ini,supaya bisa menekan turun angka impor dan menjadi produsen gandum sendiri.<br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-26 10:35:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1356618181</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kedelai</title>
         <author>farhatputra1713</author>
         <link>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1356879336</link>
         <description><![CDATA[<div>1.Kebutuhan masyarakat terhadap sumber pangan :<strong> Tahlim Sudaryanto dan Dewa K.S. Swastika Pusat Analisis Sosial-Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor:</strong>&nbsp; Dalam kelompok tanaman pangan, kedelai merupakan komoditas terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Selain itu, kedelai juga merupakan komoditas palawija yang kaya akan protein. Kedelai segar sangat dibutuhkan dalam industri pangan dan bungkil kedelai dibutuhkan untuk industri pakan. Kedelai berperan sebagai sumber protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat, karena selain aman bagi kesehatan juga relatif murah dibandingkan sumber protein hewani. Kebutuhan kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan baku industri olahan pangan seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, dan sebagainya (Damardjati et al. 2005). Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memperkirakan konsumsi kedelai saat ini sekitar 1,8 juta ton, dan bungkil kedelai sekitar 1,1 juta ton (Ditjentan 2004). Hal ini diperkuat oleh data statistik dari FAO dan BPS, bahwa konsumsi kedelai pada tahun 2004 sebesar 1,84 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0,72 juta ton. Kekurangannya diimpor sebesar 1,12 juta ton, atau sekitar 61% dari total kebutuhan. Konsumsi per kapita berfluktuasi tergantung ketersediaan, yaitu dari 4,12 kg pada tahun 1970 menjadi 10,85 kg pada tahun 2000 dan 7,90 kg pada tahun 2005, atau secara keseluruhan meningkat rata-rata 2,3% per tahun selama 35 tahun terakhir (BPS 2006). 2 Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan Lebih dari 90% kedelai di Indonesia digunakan sebagai bahan pangan, terutama pangan olahan, yaitu sekitar 88% untuk tahu dan tempe dan 10% untuk pangan olahan lainnya serta sekitar 2% untuk benih (Kasryno et al. 1985, Sudaryanto 1996, Damardjati et al. 2005, Swastika et al. 2005). Produk kedelai sebagai bahan olahan pangan berpotensi dan berperan dalam menumbuh-kembangkan industri kecil dan menengah. Berkembangnya industri pangan berbahan baku kedelai juga membuka kesempatan kerja, mulai dari budi daya, pengolahan, transportasi, pasar sampai pada industri pengolahan. Sifat multiguna dari kedelai menyebabkan kebutuhan kedelai terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan berkembangnya industri pangan berbahan baku kedelai. Kandungan gizi kedelai cukup tinggi, terutama proteinnya dapat mencapai 34%, sehingga sangat diminati sebagai sumber protein nabati yang relatif murah dibandingkan dengan sumber protein hewani (Ditjentan 2004). <strong><em>Namun produksi kedelai dalam negeri selama tiga dasawarsa terakhir belum mampu memenuhi kebutuhan. Padahal sebelum tahun 1975, Indonesia mampu berswasembada kedelai dengan nisbah produksikonsumsi lebih besar dari 1,0 (Swastika et al. 2000). Ketidakmampuan produksi memenuhi kebutuhan dalam negeri telah menyebabkan impor kedelai terus meningkat. Mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam negeri. Upaya tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningakatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, peningkatan kualitas produk, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infrastruktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha. <br></em></strong>2<strong><em>.</em></strong>Kemampuan dan Upaya memenuhi kebutuhan: Produktivitas kedelai perlahan meningkat, yaitu dari 0,72 t/ha pada tahun 1970 menjadi sekitar 1,11 t/ha pada tahun 1990 dan 1,23 t/ha pada tahun 2000, serta sekitar 1,28 t/ha pada tahun 2004. Dengan kata lain, produktivitas kedelai meningkat rata-rata 1,70% per tahun selama periode 1970-2004. Selama periode 1990-2004, pertumbuhan produktivitas kedelai sudah menurun namun tetap positif, yaitu sekitar 1,01% per tahun. Peningkatan produktivitas merupakan cerminan adanya kemajuan teknologi budidaya kedelai. Namun demikian, pertumbuhan produktivitas masih jauh di bawah laju penurunan areal panen, sehingga produksi kedelai masih menurun tajam selama sekitar 15 tahun terakhir. Secara lebih rinci, perkembangan areal dan produksi kedelai disajikan pada Tabel 1. Selama periode 1970-1992, produksi kedelai nasional masih tumbuh meyakinkan, yaitu dari sekitar 0,50 juta ton pada tahun 1970 menjadi sekitar 0,65 juta ton dan 1,49 juta ton berturut-turut pada tahun 1980 dan 1990, serta mencapai puncaknya pada tahun 1992 dengan produksi 1,87 juta ton. <strong><em>Tingginya pertumbuhan ini sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan areal panen, dan sebagian lagi karena perkembangan teknologi. </em></strong>Pertumbuhan areal panen yang cukup nyata merupakan hasil dari berbagai program peningkatan produksi menuju swasembada kedelai selama Pelita IV (1984-1988) dan Pelita V (1989-1993). Program-program tersebut antara lain: Insus Kedelai, Inmum Kedelai, dan Opsus Kedelai, termasuk pengembangan kedelai di lahan marginal (Sihombing 1995, Manwan dan Sumarno 1996). <strong><em>Selanjutnya sejak 1992, produksi kedelai menurun tajam seiring dengan penurunan areal panen, yaitu menjadi 0,82 juta ton pada tahun 2000 dan 0,81 juta ton pada tahun 2005.</em></strong> <strong><em>Dengan demikian, pertumbuhan produksi selama 15 tahun terakhir adalah masing-masing –3,72% per tahun selama&nbsp; periode 1990-2000, dan –4,51% per tahun selama periode 2000-2005. Penurunan produksi yang sangat tajam ini telah menyebabkan Indonesia sangat tergantung pada impor kedelai.&nbsp;</em></strong></div><div><strong><em>Sumber:http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2016/03/dele_1.tahlim-1.pdf</em></strong>33</div><div>3.Hasil olahan pangan:</div><ol><li>Tahu. Bahan <strong>makanan</strong> berbahan dasar <strong>kedelai</strong> yang berbentuk kotak, bertekstur lembut dan umumnya berwarna putih ditemukan pertama kali di China pada dinasti Han sekitar 2200 tahun yang lalu. ...</li><li>Tempe. ...</li><li>Kecap. ...</li><li>Tauco. ...</li><li>Tausi. ...</li><li>Miso. ...</li><li>Natto.</li></ol><div>4. Refleksi atau kesimpulan pribadi:<br>Kedelai merupakan bisa dibilang sebagai "makanan wajib" untuk seluruh manusia di Indonesia ini,mengapa demikian.Karena di setiap rumah tangga pasti kebanyakan tersaji tempe dan tahu di meja makan.Itulah yang menjadikan kedelai merupakan salah satu bagian dari berbagai aspek kebutuhan seluruh warga Indonesia.Apalagi tempe dan tahu memilikki kandungan protein yang tinggi dan tentunya sehat serta murah,di luar negeri mereka dianggap spesial.Beberapa hal inilah yang menjadikan tempe dan tahu sebagai andalan Ibu-Ibu diseluruh penjuru Indonesia.Dengan konsumsi yang sangat tinggi dan banyaknya penduduk di Indonesia.Seperti yang dituliska diatas "<strong><em>Ketidakmampuan produksi memenuhi kebutuhan dalam negeri telah menyebabkan impor kedelai terus meningkat. Mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam negeri. "&nbsp;.</em></strong>Serta area yang selalu menurun menekan pula Produksi dari kedelai itu sendiri.Sehingga Indonesia lagi dan lagi harus impor bahan makanan yang berupa kedelai.Seperti halnya gandum yang masih bergantung kepada impor.Sebaiknya mengerti tentang kebutuhan kedelai dengan cara,harus lebih memprioritaskan kedelai.Seperti menyiapkan lahan yang luas untuk penanaman kedelai dan memberikan penyuluhan kepada petani-petani kedelai supaya bisa mendapatkan kedelai dengan kualitas dan kuantitas yang baik sehingga kita bisa menjadi negara dengan produksi kedelai sendiri.</div><div><strong><br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-26 12:30:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1356879336</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>farhatputra1713</author>
         <link>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1356887389</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1097335334/b5ff127a1d06c53526d3432951d1c797/018417300_1537620481_Fakta_Seputar_Gandum_Utuh_yang_Perlu_Diketahui_By_Frolova_Elena_Shutterstock__1_.jpg" />
         <pubDate>2021-03-26 12:32:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1356887389</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>farhatputra1713</author>
         <link>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1359499200</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1097335334/3a54fcdf42e629361b619cb399288bfb/8_manfaat_kacang_kedelai_bagi_tubuh_bantu_atasi_diabetes_hingga_sehatkan_tulang.jpg" />
         <pubDate>2021-03-27 07:03:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1359499200</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jagung</title>
         <author>farhatputra1713</author>
         <link>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1359502043</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Kebutuhan masyarakat terhadap sumber pangan: Jagung (Zea mays L.) Merupakan komoditas pangan penting ke tiga dunia, setelah padi dan gandum. Khusus jagung biji warna putih, penelitian dan pengembangannya belum intensif dibandingkan jagung kuning, disebabkan jagung kuning fungsinya untuk bahan baku industri pakan, sedangkan jagung putih hanya untuk kudapan atau konsumsi rumah tangga. Jagung merupakan bahan pangan kedua di Indonesia setelah beras ditinjau dari aspek pengusahaan dan penggunaan hasilnya, yaitu sebagai bahan baku pangan dan pakan. Menurut Suherman dkk. (2002) dalam Susanto dan Sirappa (2005) sebagian besar produksi jagung dimanfaatkan untuk bahan baku pakan, terutama unggas. Dari total bahan baku yang dibutuhkan untuk pembuatan pakan unggas, porsi jagung berkisar 50%. Di Indonesia jagung merupakan makanan pokok kedua setelah padi karena jagung memiliki kandungan karbohidrat, protein dan kalori yang hampir sama dengan beras. (Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pertanian, 2019) produksi jagung di Indonesia pada tahun 2016 sebesar 23.576.293 ton. Kebutuhan jagung di Indonesia baik untuk konsumsi dan peternakan pada tahun 2016 sebesar 17,51 juta ton (Pusdatin, 2017).&nbsp; Jagung putih lokal merupakan salah satu jenis jagung yang banyak di konsumsi masyarakat. Kandungan gizi jagung putih beras atau padi.beras mengandung karbohidrat yang kaya dan zat gula/ glukosa,kalau jagung merupakan substitusi atau suplemen bahan pangan yang kaya yang mengandungan karbohidrat pada bagian bijinya. Tidak heran jika sebagian masyarakat Indonesia memanfaatkan jagung sebagai sumber pangan utama selain beras. Permintaan jagung sebagai bahan pangan dari tahun ke tahun semakin tinggi seiring dengan pertambahan penduduk. Namun, produksi jagung di Indonesia masih relatif rendah dan belum mampu memenuhi kebutuhan. Padahal sebagai salah satu komoditas pangan,jagung memiliki prospek agribisnis yang sangat baik.<br>Sumber:http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/6894/2/BAB%20I.pdf<br>2. Kemampuan dan Upaya memenuhi kebutuhan: Usaha yang dapat dilakukan dalam peningkatan produksi jagung yaitu melalui ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi berkaitan dengan peningkatan produksi melalui perluasan areal tanam dan peningkatan indeks pertanaman. Sedangkan intensifikasi berkaitan dengan peningkatan produktivitas tanaman atau kemampuan tanaman untuk berproduksi optimal melalui perbaikan komponen teknologi produksi antara lain pemupukan, penggunaan varietas berdaya hasil tinggi dan umur genjah, pengendalian hama dan penyakit serta penurunan kehilangan hasil Andriyani dan Kiswanto, (2013) dalam Sulistya ningrum dkk, (2015).&nbsp; Jagung berperan penting dalam perekonomian nasional dengan berkembangnya industri pangan yang ditunjang oleh teknologi budi daya dan varietas unggul. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat, Indonesia mengimpor jagung hampir setiap tahun mencapai 1,26 juta ton dan produktivitas jagung diwilayah tertentu berkisar 1,5–2,2 ton/ha. Tanggapan masyarakat sudah mulai berubah terhadap jagung yang tidak lagi dianggap kurang gengsi,karena ternyata memiliki gizi yang beragam dan tinggi dan seiring meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat.bahkan sifat pangan fungsional spesifik yang berperan dalam kesehatan yang telah menjadi pertimbangan penting.hal ini kesempatan bagi pengolahn jagung untuk di promosikan sebagai bahan pangan.&nbsp;<br>Sumber=-http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/6894/2/BAB%20I.pdf<br>-http://eprints.ums.ac.id/48358/3/BAB%20I.pdf<br>3.Hasil olahan pangan:<br>1. Bakwan jagung terbuat dari tepung, jagung, dan telur, lalu digoreng.&nbsp;<br>2. Jenang jagung semakin langka, padahal rasanya enak dengan tekstur lembut.&nbsp;<br>3. Lepet jagung dikenal sebagai makanan khas dari Jawa yang menggunakan parutan jagung sebagai bahan utamanya. Biasanya dibalut kelobot, lalu dikukus sampai matang<br>4. Nasi jagung menggunakan jagung tua atau pipil sebagai bahan utamanya.&nbsp;<br>5. Grontol, jagung rebus yang diberi taburan parutan kelapa ini berasal dari Jawa Tengah.<br>Sumber:https://www.idntimes.com/food/dining-guide/prila-arofani/makanan-berbahan-dasar-jagung/7<br>4.Refleksi atau kesimpulan pribadi:Jagung merupakan tanaman yang kaya akan kandungan-kandungan baik didalamnya.Jagung adalah tanaman yang sangat mudah ditanam di alam seperti Indonesia ini tidak seperti gandum.Sehingga memungkinkan untuk tidak terjadi kegiatan Impor tetapi justru kita yang mengekspor.Tapi sesuai teks diatas kita juga masih mengimpor jagung.Jika ada perluasan lahan serta pemerintah juga membantu dalam hal memberikan subsidi pupuk,penyuluhan kepada petani,dll.Kita bisa saja tidak mengimpor tapi jika lebih kita bisa mengekspor bahan pangan tersebut.<br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-27 07:08:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1359502043</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>farhatputra1713</author>
         <link>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1359604571</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1097335334/a6e6bbaf9c78a65f617120ea6949aec7/10_manfaat_luar_biasa_yang_dikandung_dari_sebiji_jagung.jpg" />
         <pubDate>2021-03-27 09:38:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1359604571</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ubi Kayu</title>
         <author>farhatputra1713</author>
         <link>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1359605495</link>
         <description><![CDATA[<div>1.Kebutuhan Masyarakat terhadap Sumber Pangan: Ketersediaan ubi kayu untuk dikonsumsi per kapita per tahun mengalami fluktuasi dengan kecenderungan yang meningkat sebesar 15,07 persen yaitu dari 57,21 kg. pada tahun 1993 menjadi 47,09 kg. pada tahun 2020. Pertumbuhan ketersediaan untuk konsumsi periode 2016-2020 diestimasi menurun sebesar 1,06 persen per tahun. Tetapi konsumsi ubi kayu secara nasional terus mengalami peningkatan. Pada tahun 1993, konsumsi nasional ubi kayu adalah 10,7 juta ton ubi kayu dan pada tahun 2020 diproyeksikan menjadi 12,06 juta ton atau meningkat sebesar 16,67 persen per tahun. Sedangkan dilihat dari rata-rata periode 2016-2020, konsumsi nasional ubi kayu meningkat menjadi 3,22 persen.&nbsp;<br>2.Kemampuan dan Upaya memenuhi kebutuhan: Ekspor dan Impor Ubi Kayu (1) Ekspor Walaupun volume ekspor ubi kayu masih sangat kecil, yaitu rata-rata sebesar 171 ribu ton per tahun, namun pertumbuhan volume ekspor ubi kayu tahun 2000-2015, rata-rata meningkat lebih dari 96 persen per tahun, demikian halnya dengan nilai ekspornya yang meningkat sebesar 118,22 persen per tahun, walaupun nilai rata-rata per tahun pada periode 2000-2015 hanya sekitar US32 juta. Ekspor ubikayu Indonesia.<br>&nbsp;Impor Ubi Kayu Indonesia adalah merupakan negara pengimpor ubi kayu yang cukup besar dengan volume dan nilai impor yang berfluktuasi. Pada tahun 2000, Indonesia mengimpor ubi kayu sebesar 211,6 ribu ton dengan nilai US$ 33,8 juta. Pada tahun 2015, volume impor itu naik menjadi 600,7 ribu ton dengan nilai US$257,5 juta. Jadi pertumbuhan volume impor ubi kayu periode 2000-2015 adalah sebesar 76,32 persen dan pertumbuhan nilai impornya adalah 67,41 persen per tahun. Kalau dilihat pada periode 2011-2015, total volume impor ubi kayu Indonesia adalah 2,35 juta ton dengan nilai US$1,12 milyar. Menurut Pusat Data dan Informasi Sistem Pertanian Pusdatin(2016) impor ubi kayu Indonesia umumnya dalam bentuk pati ubi kayu (cassava flour), ubi kayu kepingan kering (cassava shredded) dan ubikayu pelet (Cassava pellets) terutama berasal dari ThaiLand, Vietnam dan Myanmar&nbsp;<br>Sumber:https://repository.uai.ac.id/wp-content/uploads/2017/10/Prospek-Ekonomi-Ubi-Kayu-di-Indonesia.pdf<br>3.Hasil olahan dan pangan:</div><ul><li>Keripik Singkong Balado. Keripik singkong balado adalah salah satu cemilan khas Padang.&nbsp;</li><li>Kue Getuk Lindri Singkong.&nbsp;</li><li>Kue Klepon Singkong</li><li>Kue Sawut Singkong.&nbsp;</li><li>Kue Talam Singkong.&nbsp;</li></ul><div>Sumber:<a href="https://katalogkuliner.com/2015/09/5-aneka-olahan-singkong-favorit-di-indonesia.html"><br>5 Aneka Olahan Singkong Favorit di Indonesia – Katalog Kuliner</a></div><div>https://katalogkuliner.com › 2015/09 › 5-aneka-olahan-si...<br>4.Refleksi atau kesimpulan pribadi:<br>Menurut saya Indonesia sudah cukup baik dalam pengelolaan singkong dalam bentuk jaga-jaga dalam pertahanan pangan.Menurut bacaan diatas Indonesia pun sudah bisa mengekspor tetapi Indonesia juga masih mengimpor.Singkong sangatlah cocok untuk ditanam di Indonesia.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-27 09:39:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1359605495</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>farhatputra1713</author>
         <link>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1359723329</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1097335334/2bc49e8edeea5f632d8bec344a0bfa22/8_manfaat_ubi_kayu_untuk_kesehatan_menjaga_fungsi_otak_hingga_cegah_kanker.png" />
         <pubDate>2021-03-27 11:53:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/farhatputra1713/xkot85p7l4siginf/wish/1359723329</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
