<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA by FADIL ZAHWA herman</title>
      <link>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-09-05 02:21:31 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2026-03-17 19:43:47 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA  </title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1717013143</link>
         <description><![CDATA[<div>Kelompok 5&nbsp;<br><br>- Fadil Zahwa&nbsp;<br>- Alyssa Ratu Ramadina&nbsp;<br>- Karunia Indah Mulandari&nbsp;<br>- Melandri Sukma </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/407298ab234df928c3310ea24cf5a29d/WhatsApp_Image_2021_09_05_at_9_22_45_AM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-05 02:36:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1717013143</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1717044737</link>
         <description><![CDATA[<div>Berkembangnya agama Islam secara cepat dan meluas di Indonesia terutama di daerah pesisir karena adanya kontak dagang antara pedagang Islam dengan pedagang Indonesia. Para pedagang Islam dari Gujarat dalam menyiarkan agama Islam dengan cara bijaksana dan tanpa paksaan atau kekerasaan. Sehingga banyak pedagang maupun penduduk Indonesia pada masa lampau yang tertarik kepada agama Islam. Selain itu ajaran Islam tidak mengenal kasta.&nbsp;<br><br>Makin kuatnya pengaruh Islam dikalangan penduduk mendorong tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di kepulauan Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam terkenal di Indonesia pada masa lampau dapat dijelaskan dibawah ini.  &nbsp;&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-05 03:21:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1717044737</guid>
      </item>
      <item>
         <title>1. Kerajaan Islam Samudara Pasai </title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1717054821</link>
         <description><![CDATA[<div>Dari catatan Ibnu Battutah, dapat dipastikan bahwa Kerajaan Samudera Pasai berdiri lebih awal dibandingkan dinasti Usmani di Turki, kira-kira pada tahun 1297. Perkiraan tersebut dikuatkan dengan catatan Marcopolo, seorang saudagar dari Venesia, Italia, yang singgah di Samudera Pasai pada 1292. Marcopolo menerangkan bahwa telah melihat keberadaan kerajaan Islam yang berkembang pada waktu itu, yakni Samudera Pasai dengan ibukota Pasai. Selain dua catatan tersebut, sejarah Kerajaan Samudera Pasai juga dapat dilacak dari Hikayat Raja Pasai.<br>Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari dua kerajaan, yakni Samudera dan Pasai. Penggabungan tersebut dilakukan oleh Marah Silu, raja pertama dengan gelar Sultan Malik Al-Saleh yang memimpin dari tahun 1285-1297. Setelah Marah Silu wafat, digantikan oleh putranya bernama Sultan Muhammad yang bergelar Malik Al Tahir (1297-1326).<br><br><strong>Masa kejayaan</strong>&nbsp;<br>Masa kejayaan Kerajaan Samudera Pasai berlangsung saat dipimpin oleh Mahmud Malik Az Zahir. Sultan Mahmud Malik Az Zahir adalah raja ketiga Samudera Pasai yang memerintah dari tahun 1326-1345. Ia meneruskan mempimpin setelah Marah Silu atau Sultan Malik Al Saleh (raja pertama) dan Sultan Muhammad Malik Az Zahir atau Sultan Malik al Tahir I (raja kedua). Pada masa kepemimpinannya Kerajaan Samudera Pasai mengalami perkembangan pesat dan terus menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di India maupun Arab. Puncak kejayaan Kerajaan Samudera Pasai juga ditandai dengan aktivitas perdagangan yang sudah maju, ramai, dan menggunakan koin emas sebagai alat pembayaran.<br>Koin emas yang disebut dirham ini pertama kali diperkenalkan oleh Sultan Muhammad Malik Az Zahir, ayah Mahmud Malik Az Zahir, dan kemudian digunakan secara resmi di kerajaan. Pada masa kejayaannya, Samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan nusantara. Samudera Pasai memiliki banyak bandar yang dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam, Arab, dan Persia. Kerajaan ini juga dikenal sebagai penghasil rempah-rempah terkemuka di dunia dengan lada sebagai komoditas andalannya. Tidak hanya itu, Samudera Pasai juga menjadi produsen sutra, kapur barus, dan emas. Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/1904bb459f28465a8a9b78f0022e09ac/WhatsApp_Image_2021_09_05_at_10_25_06_AM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-05 03:37:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1717054821</guid>
      </item>
      <item>
         <title>2. Kerajaan Islam Demak</title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1717062603</link>
         <description><![CDATA[<div>Kesultanan Demak atau Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa. Kerajaan Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa di bawah kepemimpinan raja pertamanya. Kerajaan Demak berdiri pada awal abad ke-16 Masehi seiring kemunduran Majapahit.<br>Pendiri Kerajaan Demak adalah Raden Patah. Raden Patah adalah putra Raja Majapahit dan istrinya yang berasal dari China dan menjadi mualaf.&nbsp;<br><br>Kerajaan Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam di bawah kepemimpinan Raden Patah dengan adanya peran sentral Wali Songo. Periode kepemimpinan Raden Patah adalah fase awal semakin berkembangnya ajaran Islam di Jawa. Raja Kerajaan Demak setelah Raden Fatah wafat pada 1518 yaitu Adipati Unus (1488 - 1521). Adipati Unus adalah putra Raden Patah. Sebelum menjadi sultan, Pati Unus terkenal dengan keberaniannya sebagai panglima perang. Julukan Pati Unus yaitu Pangeran Sabrang Lor muncul dari keberaniannya sebagai panglima tersebut.</div><div>Pati Unus memimpin penyerbuan kedua ke Malaka melawan Portugis pada 1521. Pati Unus wafat pada pertempuran tersebut.&nbsp;<br><br>Masa kejayaan Kerajaan Demak berlangsung saat dipimpin Sultan Trenggana (1521 - 1546). Sultan Trenggana naik takhta setelah Pati Unus.</div><div>Letak Kerajaan Demak berada di Demak, Jawa Tengah. Pada periode Sultan Trenggana, wilayah kekuasaan Demak meluas ke Jawa bagian timur dan barat. Pada 1527, pasukan Islam gabungan dari Demak dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah atas perintah Sultan Trenggana berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.</div><div>Nama Sunda Kelapa lalu diganti menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan yang sempurna. Jayakarta kelak berganti nama menjadi Batavia, lalu Jakarta, ibu kota Republik Indonesia.</div><div>Sultan Trenggana wafat pada 1546. Insiden saat menyerang Panarukan, Situbondo, yang saat itu dikuasai Kerajaan Blambangan (Banyuwangi) membuat Sultan Trenggana terbunuh.</div><div><br>Wafatnya Sultan Trenggana membuat tampuk kepemimpinan Kerajaan Demak diperebutkan. Pangeran Surowiyoto atau Pangeran Sekar berupaya untuk menduduki kekuasaan mengalahkan Sunan Prawata, putra Sultan Trenggana. Sunan Prawata lalu membunuh Surowiyoto dan menduduki kekuasaan.</div><div>Kejadian tersebut menyebabkan surutnya dukungan terhadap kekuasaan Sunan Prawata. Ia lalu memindahkan pusat kekuasaan Demak ke wilayahnya di Prawoto, Pati, Jawa Tengah. Ia hanya berkuasa selama satu tahun karena dibunuh Arya Penangsang, putra Surowiyoto pada 1547.</div><div>Arya Penangsang menduduki takhta Kerajaan Demak setelah membunuh Sunan Prawata. Ia juga menyingkirkan Pangeran Hadiri atau Pangeran Kalinyamat, penguasa Jepara karena dianggap berbahaya bagi kekuasaannya.<br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/f903733dc3ce8caf75e119a0b990ab5b/WhatsApp_Image_2021_09_05_at_10_35_57_AM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-05 03:50:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1717062603</guid>
      </item>
      <item>
         <title>3. Kerajaan Islam Pajang </title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1718712323</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada tahun 1568 berdiri kerajaan Islam Pajang. Pendiri kerajaan ini adalah <strong>Sultan</strong> <strong>Adiwijoyo</strong> atau <em>Joko Tingkir</em>. Ia berhasil mengalahkan Arya penangsang raja Demak. Ia kemudian memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang, dapat dikatakan bahwa berdirinya kerajaan Islam Pajang erat kaitannya dengan kerajaan Demak. <br><br>Sultan Adiwijoyo atau Joko Tingkir adalah seorang yang suka menghargai pendukung atau pengikut yang turut bertempur bersamanya sewaktu menghadapi Arya Penangsang. Mereka yang telah berjasa oleh Sultan Adiwijoyo diberi hadiah penghargaan. Kedua orang yang dinilai sangat berjasa yaitu <strong>Kiai Ageng Pemanahan</strong> dihadiahi tanah di Mataram (sekitar Kotagede, dekat Yogyakarta). Sedangkan <strong>Kiai Panjawi</strong> dihadiahi tanah di daerah Pati. Mereka sekaligus diangkat menjadi bupati di daerahnya masing-masing. <br><br>Kiai Ageng Pemanahan yang menjadi Bupati Mataram mempunyai seorang putra bernama <strong>Sutowijoyo</strong>. Ia memiliki bakat di bidang kemiliteran. Sutowijoyo lebih dikenal sebagai <em>Senapti Ing Alaga</em> (Panglima Perang). Karena itu setelah Kiai Ageng pemanahan wafat pada tahun 1575, pemerintahan dilanjutkan oleh Sutowijoyo, putranya. <br><br>Setelah Sultan Adiwijoyo wafat pada tahun 1582, maka <strong>Arya Pangiri</strong> putra Sunan Pratowo (dari Demak) mencoba merebut kekuasaan dari <strong>Pangeran Benowo</strong> yang ketika itu menjadi penguasa Pajang menggantikan ayahnya. Pangeran Benowo meminta bantuan Sutowijoyo dalam menghadapi Arya Pangiri. Perebutan kekuasaan yang dilakukan Arya Pangiri tidak berhasil. Kemudian Pangeran Benowo menyerahkan kekuasaan Pajang kepada saudara angkatnya yang bernama Sutowijoyo karena tidak mampu lagi melanjutkan pemerintahan. Kemudian oleh Sutowijoyo pusat pemerintahan dipindahkan ke mataram. Dengan demikian tamatlah kerajaan Pajang.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/145d50babb3bc495c3445cde305202c0/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_10_08_37_AM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 06:45:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1718712323</guid>
      </item>
      <item>
         <title>4. Kerajaan Islam Mataram</title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1718809458</link>
         <description><![CDATA[<div>Kerajaan Mataram Islam atau yang disebut dalam bahasa jawa<strong> Nagari Kasultanan Mataram</strong> merupakan kerajaan berbasis pertanian dengan menerapkan ajaran Islam.<br>Pusat Pemerintahan Kesultanan Mataram Islam terletak di wilayah <strong>Kuthagedhe</strong> yang berada di Kota Yogyakarta sekarang. <br><br>Kerajaan ini bermula dari keberhasilan <strong>Dhanang Sutowijoyo </strong>yang mengalahkan Aria Penangsang dalam sebuah pertempuran. Sebagai hasilnya, Sutowijoyo mendapatkan Hutan Mentaok dari <em>Sultan Hadi Wijaya</em> yang awalnya dimiliki oleh Sutowijoyo, yakni <strong>Kiai Ageng Pemanahan</strong>. Sutowijoyo yang memegang Hutan Mentaok kemudian mendapat gelar Panembahan <em>Senopalti Ing Alaga Sayidin Pantagama</em>. Lokasi Hutan Mentaok sebelumnya berada di kawasan Banguntapan, lalu kemudian pusat pemerintahannya berada di Kotagede.<br><br>Setelah Sutowijoyo meninggal, kekuasaan diturunkan pada putranya <strong>Prabu Hanyakrawati</strong>. Namun, Hanyakrawati hanya memerintah sebentar karena wafat saat berburu di hutan Krapyak. Atas kejadian tersebut, Hanyakrawati mendapat sebutan <em>Penembahan Seda ing Krapyak</em> yang berarti Raja yang wafat di Krapyak. Kekuasaan kemudian berada di tangan putra Hanyakrawati yaitu <strong>Adipari Martapura</strong>. Lagi-lagi kekuasaan tak bertahan lama. Karena sakit, tahta kemudian diserahkan pada<strong> Mas Rangsangpada</strong>. <br><br>Di masa inilah, Kesultanan Mataram mencapai kejayaannya. Raden Mas Rangsang atau yang dikenal sebagai<strong> Sultan Agung</strong> memerintah pada 1613-1645.<br>Sultan Agung berhasil melakukan ekspansi dan menguasai hampir seluruh wilayah di tanah Jawa.<br>Ia juga melakukan perlawanan kepada <strong>VOC</strong> dengan bekerja sama bersama Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon.<br><br>Seusai wafatnya Sultan Agung, tahta kerajaan diserahkan kepada <strong>Amangkurat I</strong>. Di masa ini, lokasi <strong>Keraton</strong> dipindahkan ke <strong>Plered</strong>. Selain itu, Gelar Sultan pun diganti menjadi Sunan.<br>Jika Sultan Agung sangat anti-VOC, Amangkurat I justru berteman dengan VOC. Hal ini menyebabkan perpecahan dalam Kerajaan Mataram Islam. Keraton kemudian dipindahkan lagi ke <strong>Kartasura</strong>. <br>Jika diurutkan, pengganti Amangkurat I adalah <strong>Amangkurat II</strong>, lalu <strong>Amangkurat III</strong>, kemudian <strong>Pakubuwana I</strong>, <strong>Amangkurat IV</strong>, dan <strong>Pakubuwana II</strong>.<br>Menurut Ki Sabdacarakatama, perpecahan kepada Kerajaan Islam Mataram dikarenakan <strong>VOC</strong> masih terjadi hingga Pakubuwana III naik tahta. Pada masa ini, wilayah Mataram dibagi menjadi Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada tahun 1755.&nbsp;<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/dd90e853ff3b8d464d346d3877269c1f/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_1_48_02_PM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 07:32:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1718809458</guid>
      </item>
      <item>
         <title>5. Kerajaan Islam Cirebon   </title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1718833327</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada tahun 1522 berdiri kerajaan Islam Cirebon. Pendiri kerajaan yang sekaligus menjadi rajanya bernama <strong>Fatahillah</strong>. Ia sangat berjasa dalam mengislamkan Jawa Barat. Dibawah pemerintahannya kerjaan Islam Cirebon mencapai kejayaan. Daerah kekuasaannya bertambah luas. Kerajaan Islam Cirebon menjalin hubungan yang baik dengan kerajaan Islam Mataram. Pada tahun 1570 Fatahillah wafat. Selanjutnya ia digantikan oleh putranya bernama <strong>Pangeran Pasarean</strong>. Dalam perkembangannya kemudian pada tahun 1679 kerjaan Islam Cirebon dibagi menjadi dua kerajaan yaitu <em>Kasepuhan</em> dan <em>Kanoman</em>. <br><br>Pada masa tersebut kedudukan <strong>VOC</strong> di <strong>Batavia</strong> semakin kuat. Mereka bermaksud meluaskan kekuasaannya ke Cirebon. Maka Belanda dan VOC nya mengatur siasat dengan menerapkan politik adu domba atau <em>Devide et Impera</em>. Hal ini bertujuan untuk memperlemah kerajaan Islam Cirebon. Kerajaan islam cirebon yang sudah dipecah menjadi dua, oleh Belanda VOC dipecah lagi menjadi tiga masing-masing <em>Kasepuhan</em>, <em>Kanoman</em> dan<em> Kacirebonan</em>.&nbsp;<br><br>Dengan terpecahnya kerajaan Islam Cirebon menjadi 3 menyebabkan kerajaan Islam Cirebon semakin lemah kedudukannya. Keadaan ini terus dimanfaatkan oleh Belanda dan VOC untuk mengadu domba. Akhirnya pada abad ke-17 Cirebon berhasil dikuasai VOC. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/78f3ff92a70998bdff00e1537fecfd05/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_10_23_16_AM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 07:45:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1718833327</guid>
      </item>
      <item>
         <title>6. Kerajaan Islam Banten </title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1718873179</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Kerajaan Islam Banten</strong> adalah salah satu kerajaan Islam di Pulau Jawa yang pernah menjadi penguasa jalur pelayaran dan perdagangan. Hal ini didukung oleh posisinya yang strategis, yaitu di ujung barat Pulau Jawa, lebih tepatnya di Tanah Sunda, Provinsi Banten. Kerajaan Banten didirikan oleh <em>Syarif Hidayatullah</em> atau<em> Sunan Gunung Jati</em><strong> </strong>pada abad ke-16. Demikian, Sunan Gunung Jati tidak pernah bertindak sebagai raja. Raja pertama Kesultanan Banten adalah <strong>Sultan Maulana Hasanuddin</strong>, yang berkuasa antara 1552-1570 M.<br>Sedangkan masa kejayaan Kerajaan Banten berlangsung ketika pemerintahan <strong>Sultan Ageng Tirtayasa</strong> (1651-1683 M). Sultan Ageng Tirtayasa berhasil memajukan kekuatan politik dan angkatan perang Banten untuk melawan VOC. Hal itu pula yang kemudian mendorong Belanda melakukan politik adu domba hingga menjadi salah satu penyebab runtuhnya Kerajaan Banten.<br><br>Sebelum periode Islam, Banten adalah kota penting yang masih dalam kekuasaan Pajajaran. Pada awalnya, penguasa Pajajaran bermaksud menjalin kerjasama dengan Portugis untuk membantunya dalam menghadapi orang Islam di Jawa Tengah yang telah mengambil alih kekuasaan dari tangan raja-raja bawahan Majapahit. Namun, sebelum Portugis sempat mengambil manfaat dari perjanjian dengan mendirikan pos perdagangan, pelabuhan Banten telah diduduki oleh orang-orang Islam. <strong>Sunan Gunung Jati</strong><strong><em> </em></strong>berhasil menguasai Banten pada 1525-1526 M. <br><br>Kedatangan Sunan Gunung Jati ke Banten adalah bagian dari misi <strong>Sultan Trenggono</strong> dari Kerajaan Demak untuk mengusir Portugis dari nusantara. <br>Setelah berhasil menguasai Banten, Sunan Gunung Jati segera mengambil alih pemerintahan, tetapi tidak mengangkat dirinya sebagai raja. Pada 1552 M, Sunan Gunung Jati kembali ke Cirebon dan menyerahkan Banten kepada putra keduanya, <strong>Sultan Maulana Hasanuddin</strong>. Sejak saat itu, Sultan Maulana Hasanuddin resmi diangkat sebagai raja pertama Kerajaan Banten.<br><br>Setelah menjadi raja, Sultan Maulana Hasanuddin melanjutkan cita-cita ayahnya untuk meluaskan pengaruh Islam di tanah Banten. Bahkan Banten mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di nusantara, khususnya di wilayah Jawa Barat, Jakarta, Lampung, dan Sumatera Selatan. Menurut catatan sejarah Banten, sultan yang berkuasa masih keturunan Nabi Muhammad, sehingga agama Islam benar-benar menjadi pedoman rakyatnya. Meski ajaran Islam memengaruhi sebagian besar aspek kehidupan, masyarakatnya telah menjalankan praktik toleransi terhadap pemeluk agama lain. Terlebih lagi, banyak orang India, Arab, Cina, Melayu, dan Jawa yang menetap di Banten. Kehidupan sosial masyarakat Banten semakin makmur pada masa pemerintahan <strong>Sultan Ageng Tirtayasa</strong>. Sebab, sultan sangat memerhatikan kesejahteraan rakyatnya, salah satu caranya dengan menerapkan sistem perdagangan bebas.&nbsp;<br><br>Kerajaan Banten berhasil mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Beberapa hal yang dilakukannya untuk memajukan Kesultanan Banten di antaranya, sebagai berikut :&nbsp; Memajukan wilayah perdagangan Banten hingga ke bagian selatan Pulau Sumatera dan Kalimantan, Banten dijadikan tempat perdagangan internasional yang memertemukan pedagang lokal dengan pedagang Eropa, Memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam, Melakukan modernisasi bangunan keraton dengan bantuan arsitektur Lucas Cardeel, Membangun armada laut untuk melindungi perdagangan dari kerajaan lain dan serangan pasukan Eropa<br><br>Kegigihan Sultan Ageng Tirtayasa dalam melawan VOC mendorong Belanda melakukan politik adu domba. Politik adu domba ditujukan kepada Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya, Sultan Haji, yang kala itu sedang terlibat konflik. Siasat VOC pun berhasil, hingga Sultan Haji mau bekerjasama dengan Belanda demi meruntuhkan kekuasaan ayahnya. Pada 1683, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dipenjara sehingga harus menyerahkan kekuasaannya kepada putranya. Penangkapan Sultan Ageng Tirtayasa menjadi tanda berkibarnya kekuasaan VOC di Banten. Meski Sultan Abu Nashar Abdul Qahar atau Sultan Haji diangkat menjadi raja, tetapi pengangkatan tersebut disertai beberapa persyaratan yang tertuang dalam Perjanjian Banten.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/66dd2ea9b69e3bde25b4e9348d104f0f/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_2_46_12_PM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 08:07:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1718873179</guid>
      </item>
      <item>
         <title>7. Kerajaan Islam Ternate dan Tidore</title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1718898976</link>
         <description><![CDATA[<div>Kerajaan Ternate dan Tidore merupakan dua kerajaan besar yang terletak di Kepulauan <strong>Halmahera Maluku Utara</strong>. Letak kedua kerajaan berada di Kepulauan Maluku merupakan menjadi sumber atau penghasil rempah-rempah Nusantara dan dunia. Sumber rempah-rempah tersebut mendorong bangsa-bangsa Eropa untuk menguasai. Kerajaan Ternate dan Tidore memiliki peran yang menonjol dalam menghadapi kekuatan-kekuatan asing yang mencoba menguasai Maluku.<br><br>Kerajaan Ternate atau dikenal Kerajaan <strong>Gapi </strong>dan Kerajaan Tidore berdiri pada abad ke-14. Pada masa itu, rempah-rempah umumnya diperlukan bangsa-bangsa Eropa. Sehingga harganya cukup tinggi dan telah membuat makmur rakyat Maluku. Pada pertengahan abad ke-15, kegiatan perdagangan rempah-rempah di Maluku semakin berkembang. Banyak sekali pedagang Jawa, Melayu, Arab, dan China yang datang ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Kedatangan mereka sebaliknya membawa beras, tenunan, perak, gading, dan barang-barang lainnya. Kerajaan-kerajaan di Maluku sangat akrab menjalin hubungan ekonomi dengan pedagang Jawa. <br><br>Bahkan pedagang Maluku sering berkunjung ke Jawa dan sebaliknya pedagang Jawa sering datang ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Hubungan tersebut berpengaruh terhadap proses penyebaran Islam di Kerajaan Ternate dan Tidore. Agama Islam pertama kali masuk di kepulauan Maluku dibawa oleh pedagang-pedagang dari Malaka dan para mubaligh dari pulau Jawa. Raja Ternate yang pertama kali menganut Islam adalah <strong>Zainal Abidin</strong> (1465-1486) yang berganti nama menjadi <strong>Sultan Marhum</strong>. Sementara Raja Tidore yang pertama kali masuk Islam adalah <strong>Ciriliyah</strong> yang kemudian berganti nama menjadi <strong>Sultan Jamaludin</strong>. Kerajaan Ternate dan Tidore awalnya hidup berdampingan secara damai.<br><br>Pada 1575, <strong>Sultan Baabullah</strong> mampu mengalahkan dan mengusir <strong>Portugis</strong> dari Ternate. Portugis kemudian pindah ke <em>Ambon</em> tapi tidak lama. Karena diserang oleh Kerajaan Tidore. Akhirnya Portugis pindah ke <strong>Timor Timur (Timor Leste)</strong>. Berakhirnya kekuasaan Portugis di Maluku membuat dua kerajaan mencapai puncak kejayaannya. Kerajaan Ternate mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Baabulah.&nbsp;<br><br>Sementara itu di kerajaan Tidore agama Islam pun berkembang pesat. Seperti halnya Ternate, kerajaan Tidore berubah menjadi kerajaan Islam, Tidore yang dipimpin oleh&nbsp; Sultan Tidore. Kedua kerajaan ini pada mulanya hidup berdampingan secara damai, saling menghormati kedaulatan&nbsp; masing-masing. Tetapi oleh bangsa Portugis dan Spanyol kedua kerajaan ini diadu domba. Sehingga nyaris terjadi pertentangan yang menjurus perang. Untung  kedua pimpinan kerajaan menyadari hal ini. Mereka tidak mau diadu domba dengan bangsa sendiri. Kemudian kerajaan ini bersatu, bahu-membahu&nbsp; dalam menghadapi Portugis.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/3f7b050b69be5fd12568863cdab3b9b0/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_2_55_20_PM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 08:22:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1718898976</guid>
      </item>
      <item>
         <title>8. Kerajaan Islam Makassar</title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1719030491</link>
         <description><![CDATA[<div>Kerajaan Makassar berdiri pada abad ke-16 Masehi yang awalnya terdiri atas dua kerajaan yaitu<strong> kerajaan Gowa dan Tallo</strong>, kemudian keduanya bersatu dibawah pimpinan raja Gowa yaitu <strong>Daeng Manrabba</strong>. Setelah menganut agama Islam, Ia bergelar <em>Sultan Alauddin</em>. Sedangkan Raja Tallo sendiri yaitu <strong>Karaeng Mattoaya</strong> yang bergelar <em>Sultan Abdullah</em>, Bersatunya kedua kerajaan ini bersamaan dengan tersebarnya agama Islam di <em>Sulawesi Selatan</em>.<br><br>Awalnya Upaya penyebaran agama Islam dari Jawa ke Makassar tidak banyak membawa hasil.&nbsp; Demikian pula usaha <strong>Sultan Baabullah</strong> dari Ternate yang mendorong penguasa Gowa-Tallo agar memeluk agama Islam.&nbsp; Islam baru dapat berpijak kuat di Makassar berkat upaya<strong> Datok Ribandang</strong> dari <em>Minangkabau</em>. <br><br>Pada tahun 1650, penguasa Gowa dan Tallo memeluk agama Islam. Dalam perjalanannya kerajaan masing-masing, dua kerajaan bersaudara ini dilanda peperangan bertahun-tahun. Hingga kemudian pada masa Gowa dipimpin <strong>Raja Gowa X</strong>, Kerajaan Tallo mengalami kekalahan. Kedua kerajaan kembar itu pun menjadi satu kerajaan dengan kesepakatan <em>“Rua Karaeng se’re ata”(dua raja, seorang hamba)</em>.&nbsp; Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo ini akhirnya meleburkan Pusat pemerintahan dari Kerajaan Makassar terletak di <strong>Sombaopu</strong>.&nbsp; <br>Letak kerajaan Makassar sangat strategis karena berada di jalur lalu lintas pelayaran antara Malaka dan Maluku. Letaknya yang sangat strategis itu menarik minat para pedagang untuk singgah di pelabuhan Sombaopu. Dalam waktu singkat, Makassar berkembang menjadi salah satu Bandar penting di wilayah timur Indonesia.<br><br>Pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama <em>Bate Salapang (Sembilan Bendera)</em>, yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: <strong>Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. <br><br></strong>Kerajaan ini memiliki raja yang paling terkenal bergelar <strong>Sultan Hasanuddin</strong>, yang saat itu melakukan peperangan yang dikenal dengan <strong>Perang Makassar </strong>(1666-1669) terhadap VOC yang dibantu oleh <strong>Kerajaan Bone</strong> yang dikuasai oleh satu wangsa <em>Suku Bugis</em> dengan rajanya <strong>Arung Palakka</strong>. Perang Makassar bukanlah perang antarsuku karena pihak Gowa memiliki sekutu dari kalangan Bugis; demikian pula pihak Belanda-Bone memiliki sekutu orang Makassar. Perang Makassar adalah perang terbesar VOC yang pernah dilakukannya di abad ke-17. <br><br>Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun) adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama <strong><em>I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe.</em></strong><br><br>Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar <strong>Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana</strong>, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Karena keberaniannya, ia dijuluki <em>De Haantjes van Het Oosten</em> oleh Belanda yang artinya&nbsp; Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur. Ia dimakamkan di <strong>Katangka, Makassar</strong>.<br><br><strong><br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/10ab3b81ea95dabcf9ad154f865bf8e7/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_3_23_25_PM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 09:43:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1719030491</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peta/Tahun Kesultanan Islam Nusantara</title>
         <author>fadilzahwa</author>
         <link>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1719034950</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326133860/014457fb91be4cc6966982443a2f53fc/WhatsApp_Image_2021_09_06_at_4_34_56_PM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-06 09:46:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/fadilzahwa/x0tsi3u8904nq5ra/wish/1719034950</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
