<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Tugas Kelompok Kimia Kelas XI MIA3 by Rahmawati M.</title>
      <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf</link>
      <description>Titrasi Asam Basa</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2018-04-28 06:03:25 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-02-06 14:37:51 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet-assets.s3.amazonaws.com/icons/Hotsun.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Kelompok 7(Siap Dang👏)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260337091</link>
         <description><![CDATA[<div>*Muh.Amrullah Ananta A.G (85) (76)</div><div>*Ilham Akbar (85) (75)<br>*Mustafa (85) (75)<br><br>TUGAS<br>*Titrasi Asam Kuat Dan Basa Kuat<br>Sebagai contoh adalah titrasi 25mL Larutan CH3COOH 0,1 M (Ka=1,8x10-5) dengan larutan NaOH 0,1 M.perubahan pH yang terjadi adalah sbb:<br>Pada titrasi ini tidak terjadi lonjakan nilai pH,terutama pada volume sebelum titik ekuivalen,yaitu saat jumlam CH3COONa yanh bersifat basa dengan pH=8,72.meskipun pH di atas 7,indikator PP masih dapat di gunakan pada titrqsi karena trayek perubahan pH-nya berada pada kisaran 8,3-10</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/289831768/d3b74dde5c57356775c5b6275f39e87a/15262760968271164991549.jpg" />
         <pubDate>2018-05-14 05:18:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260337091</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 5</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260337446</link>
         <description><![CDATA[<div>~Zalwa Nurul Shafira (95) (90)<br>~Wina Khaerunnisa (95) (80)<br><br>TITRASI ASAM KUAT DAN BASA KUAT<br><br></div><h1>Titrasi Asam Basa</h1><div><a href="https://jenggaluchemistry.files.wordpress.com/2011/02/titrasi1.png"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://jenggaluchemistry.files.wordpress.com/2011/02/titrasi1.png?w=272&amp;h=300" width="272" height="299"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a>Titrasi asam-basa sering disebut juga dengan titrasi netralisasi. Dalam titrasi ini, kita dapat menggunakan larutan standar asam dan larutan standar basa.<br><br></div><div><br>~<strong>Pengertian Titrasi Asam Basa</strong></div><div>Titrasi adalah prosedur menetapkan kadar suatu larutan dengan mereaksikan sejumlah larutan tersebut yang volumenya terukur dengan suatu larutan lain yang telah diketahui kadarnya (larutan standar) secara bertahap. Berdasarkan jenis eaksi yang terjadi, titrasi dibedakan menjadi titrasi asam basa, titrasi pengendapan, dan titrasi <a href="https://www.studiobelajar.com/reaksi-redoks/">redoks</a>.<br><strong>Perubahan pada Titrasi Asam Basa</strong></div><div>Pada saat larutan basa ditetesi dengan larutan asam, pH larutan akan turun. Sebaliknya, jika larutan asam ditetesi dengan larutan basa, maka pH larutan akan naik. Jika pH larutan asam atau basa diplotkan sebagai fungsi dari volum larutan basa atau asam yang diteteskan, maka akan diperoleh suatu grafik yang disebut kurva titrasi. Kurva titrasi menunjukkan perubahan pH larutan selama proses titrasi asam dengan basa atau sebaliknya.sebaliknya. Bentuk kurva titrasi memiliki karakteristik tertentu yang bergantung pada kekuatan dan konsentrasi asam dan basa yang bereaksi.<br><strong>Rumus Umum Titrasi</strong></div><div>Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:</div><div><strong>mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa<br></strong><br></div><div>Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:<br><br></div><div><strong>NxV asam = NxV basa<br></strong><br></div><div>Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:<br><br></div><div><strong>nxMxV asam = nxVxM basa<br></strong><br></div><div>keterangan :<br>N = Normalitas<br>V = Volume<br>M = Molaritas<br>n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH – (pada basa)</div><div><strong>Titrasi asam kuat dengan basa kuat</strong></div><div>Sebagai contoh, 40 mL larutan HCl 0,1 M ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M sedikit demi sedikit. Berikut kurva titrasi yang menggambarkan perubahan pH selama titrasi tersebut.<figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://i0.wp.com/www.studiobelajar.com/wp-content/uploads/2017/03/kurva-titrasi-asam-basa.png?resize=267%2C269" width="267" height="269"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></div><div>Kurva titrasi asam basa: HCl dengan NaOH. <br><br></div><div>Dari kurva tersebut dapat disimpulkan:<br><br></div><ul><li>Mula-mula pH larutan naik sedikit demi sedikit</li><li>Perubahan pH drastis terjadi sekitar titik ekivalen</li><li>pH titik ekivalen = 7 (netral)</li><li>Indikator yang dapat digunakan: metil merah, bromtimol biru, atau fenolftalein. Namun, yang lebih sering digunakan adalah fenolftalein karena perubahan warna fenolftalein yang lebih mudah diamati.</li></ul><div><br></div><div><strong>Contoh Soal:</strong><br>Berikut diberikan sebuah kurva titrasi asam basa hasil percobaan untuk menentukan konsentrasi larutan NaOH 20 mL. <br><br></div><div><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/proxy/0lIA8995Malb4vGeTQwUPRoiohuWQuJKx-jgJ9GlH3OqhMUi9HiJygvxXNLCm2nE9gxTiuD0LzG3AD16_Uc7sp6ODTHAXEEgqb-EWjI6iBB3Wb8W6w=s0-d" width="225" height="125"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure> </div><div><br><br></div><div><br>Jika asam yang digunakan untuk titrasi adalah HCl 0,1 M, tentukan konsentrasi larutan NaOH yang dititrasi! </div><div><strong>Pembahasan</strong><br>Dari kurva di atas terlihat bahwa titik ekivalen terjadi saat volume HCl adalah 40 mL. Data selengkapnya:<br>V<sub>HCl</sub> = V<sub>a</sub> = 40 mL<br>M<sub>HCl</sub> = M<sub>a</sub> = 0,1 M<br>n<sub>HCl</sub> = n<sub>a</sub> = 1<br>V<sub>NaOH</sub> = V<sub>b</sub> = 20 mL<br>M<sub>NaOH</sub> = M<sub>b</sub> = .....?<br>n<sub>NaOH</sub> = n<sub>b</sub> = 1<br><br></div><div><br>Konsentrasi NaOH dengan demikian adalah <br><br></div><div><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/proxy/meh-Ha2AUMKNbZQpMLmNvF5JfnLlOYExk2M4zm2Jfge-Q1AD1W3bKjbxKOJEjeegNi7o6y6_Cxh7Zr1SZBhug_IFsmzxb63G1nlY50LMr_fBM0QXlA=s0-d" width="274" height="101"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure> </div><div><br><br></div><div><strong><br></strong><br></div><div><br><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br><br></div><div><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-05-14 05:21:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260337446</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 6</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260337550</link>
         <description><![CDATA[<div>-Eka Yulianti R (90) (78)<br>-Mulyana Nurul Aqsa (90) (80)<br><br>Tugas<br>TITRASI ASAM LEMAH DAN BASA KUAT<br>1) Titrasi asam lemah dengan basa kuat<br>&nbsp;Sebagai contoh adalah titrasi 25 mL larutan CH3COOH 0,1 M(Ka=1,8×10-5) dengan larutan NaOH 0,1M.Perubahan pH yang terjadi adalah sebagai berikut.<br>Pada titrasi ini tidal terjadi lonjakan nilai pH terutama pada volume sebelum titik ekuivalen.Hal ini dikarenakan terbentuknya larutan penyangga saat sebelum titik ekuivalen sehingga pH relatif tetap (tidak berubah secara drastis).pada titik ekuivalen,yaitu saat sejumlah CH3COOH tepat habis bereaksi dengan NaOH, yang ada dalam larutan adalah garam CH3COONa yang bersifat basa dengan pH = 8,72. Meskipun pH di atas 7, indikator PP masih dapat digunakan pada titrasi ini karena trayek perubahan pH-nya berada pada kisaran 8,3 - 10<br><strong>* Pengertian asam lemah dan basa kuat <br>&nbsp; Asam kuat</strong> adalah <strong>asam</strong> yang terionisasi 100% dalam larutan. <strong>asam lemah</strong> adalah salah satu yang tidak terionisasi seluruhnya ketika <strong>asam lemah</strong> tersebut dilarutkan dalam air. ...<strong>basa lemah</strong> adalah salah satu yang tidak berubah seluruhnya menjadi ion hidroksida dalam larutan.<br>*BASA KUAT</div><div>Basa kuat adalah jenis senyawa sederhana yang dapat mendeprotonasi asam sangat lemah di dalam reaksi asam-basa. Contoh paling umum dari basa kuat adalah hidroksida dari logam alkali dan logam alkali tanah seperti NaOH dan Ca(OH)<sub>2</sub>.&nbsp;<br>Berikut ini adalah daftar basa kuat:</div><ul><li>Kalium hidroksida (KOH)</li><li>Barium hidroksida (Ba(OH)<sub>2</sub>)</li><li>Caesium hidroksida (CsOH)</li><li>Natrium hidroksida (NaOH)</li><li>Stronsium hidroksida (Sr(OH)<sub>2</sub>)</li><li>Kalsium hidroksida (Ca(OH)<sub>2</sub>)</li><li>Magnesium hidroksida (Mg(OH)<sub>2</sub>)</li><li>Litium hidroksida (LiOH)</li><li>Rubidium hidroksida (RbOH)</li></ul><div>Kation dari basa kuat di atas terdapat pada grup pertama dan kedua pada daftar periodik (alkali dan alkali tanah). Asam dengan p<em>K</em><em><sub>a</sub></em> lebih dari 13 dianggap sangat lemah, dan basa konjugasinya adalah basa kuat.<br><br></div><div><br></div><div>Beberapa basa kuat seperti kalsium hidroksida sangat tidak larut dalam air. Hal itu bukan suatu masalah – kalsium hidroksida tetap terionisasi 100% menjadi ion kalsium dan ion hidroksida. Kalsium hidroksida tetap dihitung sebagai basa kuat karena kalsium hidroksida 100% terionisasi.</div><div>Menentukan pH basa kuat</div><div>Skema metode penentuan pH basa kuat</div><ul><li>Tentukan konsentrasi ion hidroksida.</li><li>Gunakan Kw untuk menentukan konsentrasi ion hidrogen.</li><li>Ubahlah konsentrasi ion hidrogen ke bentuk pHBasa lemah<br><br>*BASA LEMAH</li><li>Basa lemah adalah larutan basa tidak berubah seluruhnya menjadi ion hidroksida dalam larutan.</li><li>Amonia adalah contoh basa lemah.</li><li>Akan tetapi, reaksi berlangsung reversibel, dan pada setiap saat sekitar 99% amonia tetap ada sebagai molekul amonia. Hanya sekitar 1% yang menghasilkan ion hidroksida.<br>Berikut ini contoh basa lemah :<br><br><ul><li>gas amoniak (NH<sub>3</sub>)</li><li>besi hidroksida (Fe(OH)<sub>2</sub>)</li><li>Hydroksilamine (NH<sub>2</sub>OH)</li><li>Aluminium hidroksida (Al(OH)<sub>3</sub>)</li><li>Ammonia hydroksida (NH<sub>4</sub>OH)</li><li>*PERUBAHAN PH PADA LARUTAN ASAM BASA&nbsp;</li><li>ditetesi dengan larutan asam, pH larutan akan turun. Sebaliknya, jika larutan asam ditetesi dengan larutan basa, maka pH larutan akan naik. Jika pH larutan asam atau basa diplotkan sebagai fungsi dari volum larutan basa atau asam yang diteteskan, maka akan diperoleh suatu grafik yang disebut kurva titrasi. Kurva titrasi menunjukkan perubahan pH larutan selama proses titrasi asam dengan basa atau sebaliknya. Bentuk kurva titrasi memiliki karakteristik tertentu yang bergantung pada kekuatan dan konsentrasi asam dan basa yang bereaksi.</li><li><br></li></ul></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/289832400/b6f947c53757875d0d68630544faab95/1526344276572_718612491.jpg" />
         <pubDate>2018-05-14 05:22:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260337550</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260338151</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-05-14 05:28:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260338151</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 4</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260338730</link>
         <description><![CDATA[<div>-Nurdiana (90) (85)<br>-elisabet (90) (78)<br>-Nurul azima R (90) (80)<br><br></div><div>TITRASI ASAM KUAT DAN BASA KUAT<br>1.pengertian titrasi<br>  Titrasi dalah prosedur menetapkan kadar suatu larutandengan mereaksikan sejuamlah larutan tersebut yang volumenya terukur dengan suatu larutan lain yng telah di ketahui kadarnya(larutan standar)secara bertahap .<br>2.perubahan ph pada titrasi asam basa <br> Pada saat larutan basa di tetesi dengan larutan asam ,ph larutan akan turun .sebaliknya jika larutan asam di tetesi dengan larutan basa maka ph larutan akan naik.<br> Kurfa titrasi terlihat bahwa lonjokan nilai ph terjadi pada sekitar titik ekuivalen.titi ekuivalen terjadi pada ph=7 untuk mengetahui kapn titik ekuivalen ini di capai ,maka diperlukan indikator yang berubah warna pada ph=7 (ph saat titik ekuifalen terjadi).pada tutrasi asam kuat dan basa kuat indikator yng warnanya berubah secara drastis secara indikator fenolftalein (pp),yaitu dari tdk berwarna menjadi merah ungu.oleh karena itu,titrasi asam kudan dan basa kuat akan di akhiri pada saat warna indikator pp mulai ada perubahan warna dri tdk berwarna menjadi merah muda.<br><strong>Rumus Umum Titrasi</strong></div><div>Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:</div><div><strong>mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa</strong></div><div>Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:</div><div><strong>NxV asam = NxV basa</strong></div><div>Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:</div><div><strong>nxMxV asam = nxVxM basa</strong></div><div>keterangan :<br>N = Normalitas<br>V = Volume<br>M = Molaritas<br>n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH – (pada basa)<br><br></div><div><strong>Titrasi angtara basa kuat dengan asam kuat<br></strong>PH akan naik ketika suatu larutan asam ditetesi larutan basa,begitu pula sebaliknya.<br>Apabila penambahan zat dilakukan tetes demi tetes kemudian dihitung pH–nya akan diperoleh kurva titrasi,yaitu grafik yang menyatakan pH dan jumlah larutan standar yang ditambah.<br><br></div><div>a.Titrasi Asam Kuat oleh Basa Kuat<br><br></div><div>*.Kurva titrasi asam kuat oleh basa kuat ditunjukkan pada gambar:<br><br></div><div><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://alfikimia.files.wordpress.com/2011/06/titrasi-1.jpg?w=326" width="326" height="254"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></div><div>*Untuk titrasi asam kuat oleh basa kuat,besarnya pH saat titik ekuivalen adalah 7.<br><br></div><div>*Pada pH ini asam kuat tepat habis bereaksi dengan basa kuat,sehingga larutan yang terbentuk adalah garam air yang bersifat netral.<br><br></div><div><strong>Prinsip Titrasi Asam basa<br></strong><br></div><div>Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.<br><br></div><div>Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.<br><br></div><div>Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.<br><br></div><div><strong>Cara Mengetahui Titik Ekuivalen<br></strong><br></div><div>Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa.<br><br></div><div>1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”.<br><br></div><div>2. Memakai indicator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.<br><br></div><div>Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.<br><br></div><div>Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indicator yang perbahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes.<br><br></div><div>Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.<br><br></div><div>Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.<br><br></div><div><br><br></div><div><strong><br></strong><br></div><div>Contoh disini adalah 25 mL NaOH 1 M dititrasi dengan 1 M HCl, reaksi dan grafiknya adalah sebagai berikut:<br><br></div><div><a href="http://ekimia.web.id/wp-content/uploads/2015/11/contoh-reaksi-asam-kuat-dan-basa-kuat.png"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://ekimia.web.id/wp-content/uploads/2015/11/contoh-reaksi-asam-kuat-dan-basa-kuat.png" width="421" height="67"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div><a href="http://ekimia.web.id/wp-content/uploads/2015/11/kurva-1-titrasi-basa-kuat-dengan-asam-kuat.png"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://ekimia.web.id/wp-content/uploads/2015/11/kurva-1-titrasi-basa-kuat-dengan-asam-kuat.png" width="438" height="287"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div>Dari grafik diatas dapat di ketahui bahwa penurunann nilai pH melambat hingga titrasi mendekati titik ekuivalen. Jika dihitung pH akan mengalami perubahan yang cukup drastis pada saat Anda menambahkan 24,9 mL HCl yakni dari pH 11,3 menjadi 2,7 saat Anda menambahkan 25,1 mL HCl.<br><br></div><div>tabel keadaan reagen yang habis dan tersisa sebelum titik ekuivalen, saat titik ekuivalen, dan setelah titik ekuivalen.<br><br></div><div><a href="http://ekimia.web.id/wp-content/uploads/2015/11/cara-menghitung-pH-titrasi-asam-kuat-vs-basa-kuat.png"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://ekimia.web.id/wp-content/uploads/2015/11/cara-menghitung-pH-titrasi-asam-kuat-vs-basa-kuat.png" width="493" height="170"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div>Sedangkan untuk grafik jika analitnya adalah HCl maka diperoleh grafik seperti berikut:<br><br></div><div><a href="http://ekimia.web.id/wp-content/uploads/2015/11/kurva-2-titrasi-antara-asam-kuat-dengan-basa-kuat.png"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://ekimia.web.id/wp-content/uploads/2015/11/kurva-2-titrasi-antara-asam-kuat-dengan-basa-kuat.png" width="464" height="292"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div>Tendensi perubahan pH juga sama dimana dari grafik diatas kenaikan pH melambat hingga titrasi mencapai titik ekuivalen. Titik ekuivalen kedua titrasi diatas terletak pada pH 7. Masih ingat kan jika asam kuat di reaksikan dengan basa kuat maka hasilnya adalah garam dan air, dimana garamnya tidak terhidrolisis sehingga pH nya adalah 7<br><br></div><div><br>Soal nomor 1<br>Konsentrasi LOH dengan demikian kut data hasil titrasi larutan HCl dengan larutan NaOH 0,1 M. <figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://kimiastudycenter.com/images/11-titrasi-asam-basa-no-2.png" width="376" height="103"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></div><div><br>Berdasarkan data tersebut, konsentrasi larutan HCl adalah...<br>A. 0,070 M<br>B. 0,075 M<br>C. 0,080 M<br>D. 0,133 M<br>E. 0,143 M<br>(un kim 011)<br><br><strong>Pembahasan</strong><br>Menentukan mol NaOH 0,1 M<br>mol = 15 x 0,1 = 1,5 mol<br><br>Menentukan mol HCl <figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://kimiastudycenter.com/images/11-titrasi-asam-basa-no-2b.png" width="185" height="39"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure><br><br>mol HCl adalah 1,5 mmol<br><br>Menentukan konsentrasi HCl <figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://kimiastudycenter.com/images/11-titrasi-asam-basa-no-1c.png" width="268" height="20"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure><br><br>M HCl = mol/volume = 1,5 mmol / 20 mL = 0,075 M<br><br><strong>Soal No. 2</strong><br>Berikut diberikan sebuah kurva titrasi asam basa hasil percobaan untuk menentukan konsentrasi larutan NaOH 20 mL. <figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://kimiastudycenter.com/images/11-titrasi-asam-basa-no-3a.png" width="225" height="125"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure><br><br>Jika asam yang digunakan untuk titrasi adalah HCl 0,1 M, tentukan konsentrasi larutan NaOH yang dititrasi! <br><br><strong>Pembahasan</strong><br>Dari kurva di atas terlihat bahwa titik ekivalen terjadi saat volume HCl adalah 40 mL. Data selengkapnya:<br>V<sub>HCl</sub> = V<sub>a</sub> = 40 mL<br>M<sub>HCl</sub> = M<sub>a</sub> = 0,1 M<br>n<sub>HCl</sub> = n<sub>a</sub> = 1<br>V<sub>NaOH</sub> = V<sub>b</sub> = 20 mL<br>M<sub>NaOH</sub> = M<sub>b</sub> = .....?<br>n<sub>NaOH</sub> = n<sub>b</sub> = 1<br><br>Konsentrasi NaOH dengan demikian adalah <figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://kimiastudycenter.com/images/11-titrasi-asam-basa-no-3b.png" width="274" height="101"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure><br><br><strong>Soal No. 3</strong><br>Perhatikan grafik titrasi asam-basa berikut!<figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://kimiastudycenter.com/images/11-titrasi-asam-basa-no-4a.png" width="239" height="135"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure><br><br>Jika volume larutan yang dititrasi sebanyak 10 mL maka konsentrasi larutan basa LOH itu adalah... <br>A. 0,25 M<br>B. 0,125 M<br>C. 0,1 M<br>D. 0,075 M<br>E. 0,025 M<br><em>(un kimia 2012)</em><br><br><strong>Pembahasan</strong><br>Dari kurva di atas terlihat bahwa titik ekivalen terjadi saat volume asam HX adalah 25 mL. Data yang diperlukan:<br><strong>Asam HX</strong><br>V<sub>a</sub> = 25 mL<br>M<sub>a</sub> = 0,1 M<br>n<sub>a</sub> = 1<br><br><strong>Basa LOH</strong><br>V<sub>b</sub> = 10 mL<br>M<sub>b</sub> = .....?<br>n<sub>b</sub> = 1<br><br>Konsentrasi LOH dengan demikian adalah <figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://kimiastudycenter.com/images/11-titrasi-asam-basa-no-4b.png" width="279" height="40"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></div><div><strong><br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/289832266/bd9ee6cca7648238056e654db65f5890/1526344595577_.jpg" />
         <pubDate>2018-05-14 05:35:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260338730</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 2</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260338806</link>
         <description><![CDATA[<div>~Mariana (100) (80)<br>~Armelyani Putri (100) (80)<br><br>*Tugas<br>1) Fungsi Buret<br>Fungsi Buret adalah meneteskan sejumlah reagen cair dalam eksperimen yang memerlukan presisi, seperti pada eksperimen titrasi. Pengukuran buret sangatlah akurat, buret kelas A memiliki akurasi sampai dengan ? 0,05 cm3 lebih akurat dibandingkan Gelas ukur maupun pipet tetes. Oleh karena ketelitian buret yang tinggi, kehati-hatian pengukuran volume dengan buret sangatlah penting untuk menghindari kesalahan sistematik.<br><br>2) Fungsi Pipet Gondok<br>Fungsi Pipet Gondok adalah untuk memindahkan cairan dari satu wadah ke wadah yang lain, biasanya untuk memindahkan larutan baku primer atau sample pada proses titrasi. Pemindahan cairan dapat dilakukan secara manual dengan disedot menggunakan mulut atau menggunakan piller.<br><br>3) Peralatan Titrasi Asam Basa<br>Langkah 1 :</div><div><br></div><div>Larutan yang akan diteteskan dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala). Larutan dalam buret disebut penitrasi.</div><div><br></div><div>Langkah 2 :</div><div><br></div><div>Larutan yang akan dititrasi dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan mengukur volumenya terlebih dahulu memakai pipet gondok.</div><div><a href="http://4.bp.blogspot.com/-6mBAuO7Qnfk/UdZ0i9ggW3I/AAAAAAAAUdk/v6N5FxMR2Js/s392/mengukur-volume-larutan-menggunakan-pipet-gondok-572013.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-6mBAuO7Qnfk/UdZ0i9ggW3I/AAAAAAAAUdk/v6N5FxMR2Js/s320/mengukur-volume-larutan-menggunakan-pipet-gondok-572013.jpg" width="225" height="320"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a><br>Gambar 2. Mengukur volume larutan menggunakan pipet gondok.</div><div>Langkah 3 :</div><div><br></div><div>Memberikan beberapa tetes indikator pada larutan yang dititrasi (dalam erlenmeyer) menggunakan pipet tetes. Indikator yang dipakai adalah yang perubahan warnanya sekitar titik ekuivalen.</div><div><br></div><div>Langkah 4 :</div><div><br></div><div>Proses titrasi, yaitu larutan yang berada dalam buret diteteskan secara perlahan-lahan melalui kran ke dalam erlenmeyer. Erlenmeyer igoyang-goyang sehingga larutan penitrasi dapat larut dengan larutan yang berada dalam erlenmeyer. Penambahan larutan penitrasi ke dalam erlenmeyer dihentikan ketika sudah terjadi perubahan warna dalam erlenmeyer. Perubahan warna ini menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (titik ekuivalen).</div><div><br></div><div>Langkah 5 :</div><div><br></div><div>Mencatat volume yang dibutuhkan larutan penitrasi de ngan melihat volume yang berkurang pada buret setelah dilakukan proses titrasi.</div><div><br></div><div><a href="http://1.bp.blogspot.com/-XcCOJrJZMQk/UdZ0jVkPNXI/AAAAAAAAUdo/5DN6_2AgSGQ/s650/metode-titrasi-572013.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-XcCOJrJZMQk/UdZ0jVkPNXI/AAAAAAAAUdo/5DN6_2AgSGQ/s400/metode-titrasi-572013.jpg" width="308" height="400"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div> </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/289831913/62d7c3e17296aec5dfce51938d3a7cf3/1526276231676_445005743.jpg" />
         <pubDate>2018-05-14 05:35:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260338806</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompol one(1)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260338864</link>
         <description><![CDATA[<div>1)Awaluddin<br>2)Renaldi</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/289833106/9ad5045db1664f77c900a58129784f74/1526276439557_1871113640.jpg" />
         <pubDate>2018-05-14 05:36:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260338864</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 8</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260340256</link>
         <description><![CDATA[<div>-Mutiyara pratiwi putri<br>-yuyun yolanda halik<br>-sumarni </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/289832516/b5523b1809267ee948602385676b9ebe/1526277309970536375759.jpg" />
         <pubDate>2018-05-14 05:51:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260340256</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok ganteng </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260340578</link>
         <description><![CDATA[<div>1.zfwn_aswtllh (80)(75)<br>2.hendri irawan (80)(75)<br>3.irgi arindra (80)(75)<br><br>C.Titrasi basa lemah dengan asam kuat<br><br>Titik ekuivalen terjadi pada pH=5,28 sehingga indikator yang digunakan harus mempunyai trayek pH antara 4-6. Indikator yang memungkinkan adalah metil merah dengan trayek pH 4,2-6,4 dengan perubahan warna dari merah ke kuning.<br><br>Pemilihan indikator yang tidak tepat pada titrasi dapat berakibat terjadinya kesalahan titrasi,yaitu perbedaan volume akhir titrasi dengan volume titik ekuivalen yang di dasarkan pada perhitungan teoretis. Semakin besar selisih volume tersebut, semakin besar kesalahan titrasinya.oleh karena itu, titrasi penentuan kadar suatu zat dilakukan minimal 3 kali untuk mengurangi kesalahan teknis.<br><br><strong>Prinsip Titrasi Asam basa<br></strong><br></div><div>Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.<br><br></div><div>Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.<br><br></div><div>Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.<br><br><strong>Cara Mengetahui Titik Ekuivalen<br></strong><br></div><div>Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa.<br><br></div><div>1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”.<br><br></div><div>2. Memakai indicator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.<br><br></div><div>Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.<br><br></div><div>Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indicator yang perbahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes.<br><br></div><div>Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.<br><br></div><div>Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/289833387/800ef0f6af42cdbb3519ce3c6de98f8f/15262773132791017554360.jpg" />
         <pubDate>2018-05-14 05:54:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260340578</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 7</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260340838</link>
         <description><![CDATA[<div>*Muh.Amrullah Ananta A.G<br>*Ilham Akbar<br>*Mustafa<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/289831768/3908138940f1b6d5f1a8e1bc9fa82d4f/1526277395867652745859.jpg" />
         <pubDate>2018-05-14 05:57:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260340838</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260341503</link>
         <description><![CDATA[<div>Nurdiana (85)<br>Elisabet (80)</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/289832266/66296e64383951c1a4e07b8c2fe37f91/1526277870485_.jpg" />
         <pubDate>2018-05-14 06:03:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260341503</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Klompok 3 (79)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260343689</link>
         <description><![CDATA[<div>Andi mei purnama (100) (85)<br>Nhurwana (100) (85<br><br>PERALATAN TITRASI ASAM DAN BASA<br><strong>1. Buret Dan Statif</strong></div><div><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/buret1.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/buret1.jpg?w=244&amp;h=300" width="244" height="300"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a>Buret dipakai sebagai tempat titran, biasanya yang dipakai adalah buret dengan volume 50 mL. Skala 0 ada dibagian atas dan 50 ada di bawah. Statif dipakai untuk menahan buret (meletakkan buret) pada waktu titrasi.</div><div><br></div><div><strong>2. Erlenmeyer</strong><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/erlen.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/erlen.jpg?w=648" width="250" height="250"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a>Erlenmeyer dipakai untuk meletakkan analit. Biasa yang dipergunakan untuk titrasi adalah ukuran 250 mL agar mudah dipegang dan lebih mudah melihat analit.</div><div><br></div><div><strong>3. Pipet Volume</strong><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/pv.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/pv.jpg?w=300&amp;h=127" width="300" height="127"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div>Pipet volume berfungsi untuk mengambil analit dengan volume tertentu misal 10, atau 25 mL. Dilarang untuk menggunakan gelas ukur karena pipet volume lebih presisi.<br><br></div><div><br></div><div><strong>4. Labu Takar<br></strong><br></div><div><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/labu-ukur.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/labu-ukur.jpg?w=179&amp;h=300" width="179" height="300"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a>Labu takar dipakai untuk membuat larutan standar dengan volume tertentu misalnya 10, 25, 50 mL. Jangan gunakan beaker glass untuk membuat larutan standar sebab labu ukur lebih presisi.</div><div><strong><br></strong><br></div><div><strong>5. Pipet Tetes</strong></div><div><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/359.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/359.jpg?w=199&amp;h=300" width="199" height="299"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div>Pipet tetes biasanya dipakai untuk mengambil indikator yang akan digunakan pada waktu titrasi.</div><div><br></div><div><strong>6. Gelas Arloji</strong></div><div><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/images.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/images.jpg?w=648" width="273" height="185"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a>Digunakan sebagai alas pada waktu menimbang zat kimia (zat untuk larutan standar) maka jangan mengunakan kertas akan tetapi harus meggunakan gelas arloji.</div><div><br></div><div><strong>7. Karet Penghisap</strong></div><div><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/pipetteerballon.png"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/pipetteerballon.png?w=648" width="237" height="184"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a>Gunakan karet penghisap untuk mengambil analit pada saat menggunakan pipet ukur.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/289831745/ae39f984591f4cbd3424b653cf0541ea/1526279264306_256535540.jpg" />
         <pubDate>2018-05-14 06:20:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260343689</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 1</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260660636</link>
         <description><![CDATA[<div>1) Awaluddin (90) (78)<br>2) Renaldi (90) (75)<br><br>Tugas<br>1) Fungsi Buret<br>Fungsi buret adalah untuk meneteskan sejumlah <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Reagen">reagen</a> <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Cair">cair</a> dalam <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Eksperimen">eksperimen</a> yang memerlukan presisi, seperti pada eksperimen <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Titrasi">titrasi</a>.<br>2) Fungsi Pipet Gondok<br>Fungsi pipet gondok adalah untuk mengambil larutan dengan volume tertentu sesuai dengan ukuran pipet gondok. Pipet volume atau pipet gondok adalah salah satu alat ukur kuantitatif dengan tingkat ketelitian tinggi, ditandai dengan bentuknya yang ramping pada penunjuk volume dan hanya ada satu ukuran volume. Pipet volume digunakan untuk memindahkan cairan dari satu wadah ke wadah yang lain, biasanya untuk memindahkan larutan baku primer atau sample pada proses titrasi. Pemindahan cairan dapat dilakukan secara manual dengan disedot menggunakan mulut atau menggunakan piller.<br>3) Alat Titrasi Asam-Basa<br><strong>ALAT-ALAT DALAM TITRASI</strong></div><div><br></div><div>Sebelum melakukan titrasi, mahasiwa diharapkan sudah akrab terlebih dahulu dengan berbagai macam alat yang akan dipergunakan untuk titrasi. Dengan mengetahui fungsi daripada alat-alat tersebut maka diharapkan mahasiswa bisa melakukkan dan menggunakan alat tersebut untuk keperluan titrasi yang lebih akurat.</div><div><br></div><div>Sebagai contoh pada waktu menimbang zat yang dipakai untuk larutan standar biasanya para mahasiswa ada yang menggunakan alas berupa kertas, padahal hal ini tidak boleh dilakukan, sebagai pengganti kertas dapat digunakan gelas arloji sebagai alas untuk menimbang zat tersebut. Dengan demikian perhitungan akan menjadi lebih presisi.</div><div><br></div><div>Peralatan yang umum dipakai untuk keperluan titrasi adalah buret dan statis, erlenmeyer, labu ukur, pipet ukur, gelas arloji, pipet tetes, dan karet penghisap.</div><div><br></div><div><strong>1. Buret Dan Statif</strong></div><div><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/buret1.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory-files-wordpress-com.cdn.ampproject.org/i/s/chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/buret1.jpg" width="406" height="500"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a>Buret dipakai sebagai tempat titran, biasanya yang dipakai adalah buret dengan volume 50 mL. Skala 0 ada dibagian atas dan 50 ada di bawah. Statif dipakai untuk menahan buret (meletakkan buret) pada waktu titrasi.</div><div><br></div><div><strong>2. Erlenmeyer</strong><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/erlen.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory-files-wordpress-com.cdn.ampproject.org/i/s/chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/erlen.jpg" width="250" height="250"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a>Erlenmeyer dipakai untuk meletakkan analit. Biasa yang dipergunakan untuk titrasi adalah ukuran 250 mL agar mudah dipegang dan lebih mudah melihat analit.</div><div><br></div><div><strong>3. Pipet Volume</strong><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/pv.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory-files-wordpress-com.cdn.ampproject.org/i/s/chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/pv.jpg" width="472" height="200"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div>Pipet volume berfungsi untuk mengambil analit dengan volume tertentu misal 10, atau 25 mL. Dilarang untuk menggunakan gelas ukur karena pipet volume lebih presisi.<br><br></div><div><br></div><div><strong>4. Labu Takar<br></strong><br></div><div><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/labu-ukur.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory-files-wordpress-com.cdn.ampproject.org/i/s/chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/labu-ukur.jpg" width="340" height="569"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a>Labu takar dipakai untuk membuat larutan standar dengan volume tertentu misalnya 10, 25, 50 mL. Jangan gunakan beaker glass untuk membuat larutan standar sebab labu ukur lebih presisi.</div><div><strong><br></strong><br></div><div><strong>5. Pipet Tetes</strong></div><div><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/359.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory-files-wordpress-com.cdn.ampproject.org/i/s/chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/359.jpg" width="206" height="310"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a></div><div>Pipet tetes biasanya dipakai untuk mengambil indikator yang akan digunakan pada waktu titrasi.</div><div><br></div><div><strong>6. Gelas Arloji</strong></div><div><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/images.jpg"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory-files-wordpress-com.cdn.ampproject.org/i/s/chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/images.jpg" width="273" height="185"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a>Digunakan sebagai alas pada waktu menimbang zat kimia (zat untuk larutan standar) maka jangan mengunakan kertas akan tetapi harus meggunakan gelas arloji.</div><div><br></div><div><strong>7. Karet Penghisap</strong></div><div><a href="https://chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/pipetteerballon.png"><figure class="attachment attachment--preview"><img src="https://chemslaboratory-files-wordpress-com.cdn.ampproject.org/i/s/chemslaboratory.files.wordpress.com/2015/04/pipetteerballon.png" width="237" height="184"><figcaption class="attachment__caption"></figcaption></figure></a>Gunakan karet penghisap untuk mengambil analit pada saat menggunakan pipet ukur.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-05-14 22:53:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/260660636</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 9</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/262532246</link>
         <description><![CDATA[<div>Nurannisa (85) (78)<br>Nirwana (85) (78)<br><br><strong>Titrasi basa lemah dengan asam kuat </strong><br>Sebagai contoh adalah titrasi 25ml larutan NH4OH 0,1m dengan menggunakan larutan HCL 0,1m.Perubahan pH yang terjadi kurva titrasinya adalah sebagai berikut....<br><br><br>Titik ekuivalen terjadi pada pH 5,28 sehingga indikator yang digunakan harus mempunyai trayek pH antara 4-6.Indikator yang memungkinkan adalah metil merah dengan trayek pH. 4,2-6,4 dengan perubahan warna dari merah ke kuning.Dalam praktiknya ,pada saat titrasi baru dimulai,warna indikator metil adalah kuning.Titrasi harus di akhiri pada saat berubah menjadi jingga.<br><br>Pemiliihan indikator ang tidak tepat pada titrasi dapat berakibat terjadinya kesalahan titrasi,yaitu perbedaan volume akhir titrasi dengan volume titik ekuivalen yang di dasarkan pada perhitungan teoritis.Semakin besar selisih volume tersebut,semakin kesalahan titrasinya.Oleh karena itu,titrasi penentuan kadar suatu zat di lakukan minimal 3 kali mengurangi kesalahan teknis.Tidak volume hasil pengamatan digunakan semua,tetapi di ambil</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-05-22 00:15:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/262532246</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 10</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/265768677</link>
         <description><![CDATA[<div>Sri Andini (85) (79)<br>Wahyuni (85) (79)<br><br><strong>Menentukan konsentrasi asam-basa dari hasil titrasi</strong><br>Soal...<br>Untuk menentukan konsentrasi larutan HCL dilakukan titrasi terhadap 25 ml larutan HCL dengan menggunakan larutan standar NaOH 0,1 m dan indikator fenolftalein (pp).Titrasi dilakukan sebanyak 5 kali dan dihasilkan data sebagai berikut:<br>Titrasi ke-  1 2 3 4 5<br>Volume NaOH yang digunakan (ml)- 21,2 20,9 24,9 20,8 21,1<br>Berdasarkan data tersebut,tentukan konsentrasi larutan HCL tersebut.<br>JAWAB;;<br>Berdasarkan data pengamatan,terdapat data yang harus di buang,yaitu titrasi ke tiga dengan volume 24,9 ml.Data hasil pengamatan ini di anggap salah,karena berdasarkan data pengamatan yang lain,volume NaOH sekitar 20-21 ml.Dengan demikian,volume rata rata dari prngamatan tersebut hanya di ambil dari data 1,2,4 dan 5 sehingga volume rata rata NaOH adalah :<br> Volume rata rata NaOH :21,2+20,9+20,8+21,1/4 = 21mL<br>Jadi,jumlah mol NaOH yang digunakan adalah 0,1mol/L×21mL = 2,1mmol<br>Persamaan reaksinya adalah:<br>HCL (aq) +NaOH (aq) NaCL(aq)+H2O (l)<br>2,1mmol 2,1mmol<br>Dari persamaan reaksi,diperoleh bahwa jumlah mol HCL yang ada dalam 25mL larutqn yang dititrasi adalah 2,1mmol sehingga konsentrasi HCL adalah:<br>M = 2,1mmol/25mL 0,084mol/L</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-06-06 01:18:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/265768677</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 8</title>
         <author>rahmawatim</author>
         <link>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/266086665</link>
         <description><![CDATA[<div>-mutiyara pratiwi putri (90) (89)<br>-yuyun yolanda halik (90) (85)<br>-sumarni B (90) (87)<br><br>*TITRASI BASA LEMAH DAN ASAM KUAT<br>Titik ekuivalen terjadi pada pH=5,28 sehingga indikator yang digunakan harus mempunyai trayek pH antara 4-6.indikator yang memungkinkan adalah metil merah dengan trayek pH 4,2-6,4 dengan perubahan warna dari merah kekuning.dalam praktiknya,pada saat titrasi baru dimulai,warna indikator metil merah adalah kuning. Titrasi harus diakhiri pada saat warna berubah menjadi jingga.<br>Pemilihan indikator yang tidak tepat pada titrasi dapat berakibat terjadinya kesalahan titrasi,yaitu perbedaan volume akhir,titrasi,dan volume titik ekuivalen yang didasarkan pada perhitungan teoretis. Semakin besar selisih volume tersebut,semakin besar kesalahan titrasinya. Oleh karena itu,titrasi penentuan kadar suatu zat dilakukan minimal 3kali untuk mengurangi kesalahan teknis. Tidak selamanya volume hasil pengamatan digunakan semua,tetapi diambil volume yang relatif tetap. Hasil pengamatan yang terlalu menyimpang dapat dibuang karena dianggap sebagai data yang salah akibat pengamatan.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/289832516/78658fa06d737a644d709aefe2e59a86/1526275885601_1394960556.jpg" />
         <pubDate>2018-06-07 11:37:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/rahmawatim/wt034xco0gf/wish/266086665</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
