<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>ANALISIS UNSUR INEKS KARYA SASTRA 12 IPS 1 by Yuli Widayanti</title>
      <link>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/wmxhkokzfbf9m5ik</link>
      <description>Tulislah unsur-unsurnya dengan tepat!</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-10-11 11:44:17 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2020-12-01 01:56:53 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Kelompok 1</title>
         <author>yuliwidayantisusilo</author>
         <link>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/wmxhkokzfbf9m5ik/wish/823413937</link>
         <description><![CDATA[<div>Muhammad Havel Dhiya Ulhaq <br>Dafa Pahlevi Putra Kindy<br>Bayu Setiawan<br>Faiz Haikal Nugraha Sunarto<br>Ramadhan Putra Purwanto<br><br>Unsur Intrinsik Teks 1 <br><br>Tema : agama<br>Tokoh : ajo sidi,haji shaleh,kakek/takmir<br>Latar tempat : Kampung , Masjid<br>Latar suasana : menegangkan<br>Latar tempat : Kampung , Serambi surau.<br>Penokohan : Haji shaleh(tritagonis) ajo sidi (antagonis)<br>Kakek (protagonis)<br><br>Alur : maju<br>Sudut Pandang : sudut pandang ke-3<br><br>Unsur Ekstrinsik <br><br>Nilai sosial = Teks tersebut mengajarkan kita sebagai manusia untuk peduli akan masyarakat dan lingkungan disekitar kita juga membantu sesama.<br><br>Nilai agama = Teks tersebut menceritakan sseorang tokoh yang sangat baik dan alim dalam menjalankan kehidupan beragamanya<br><br>Nilai budaya = Kesederhanaan suatu masyarakat yang tradisional pada saat itu<br><br>Nilai ekonomi = Membahas Mata pencaharian.<br><br>Biografi penulis : Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padangpanjang, Sumatra's Westkust, 17 November 1924 – meninggal di Padang, Sumatra Barat, 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis 'Sang Pencemooh' adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan, tetapi jika dikasih memilih, ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu risikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu.<br>Nilai<br><br><br>Unsur Intrinsik Teks 2 (kemarau)<br><br>Tema : Agama<br>Tokoh : Sutan duano(protagonis), Wali Negeri(protagonis), Sutan Caniago(tritagonis), Haji Tumbijo(tritagonis), Lembak Tuah(antagonis),  Acin(tritagonis), Saniah(antagonis), Rajo Bodi(tritagonis), Masri, Arni<br>Alur : Maju<br>Sudut Pandang : Orang ketiga<br>Latar tempat : Kampung dan ladang/sawah, dan danau<br>Latar suasana: Cemas, Sedih, dan Semangat<br>Latar Waktu : Musim Kemarau, Pagi hari.<br><br>Unsur Ekstrinsik <br><br>Biografi penulis : Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padangpanjang, Sumatra's Westkust, 17 November 1924 – meninggal di Padang, Sumatra Barat, 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis 'Sang Pencemooh' adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan, tetapi jika dikasih memilih, ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu risikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu.<br><br>Nilai budaya = Pada novel tersebut dijelaskan mengenai kebiasaan atau adat istiadat di daerah tersebut<br><br>Nilai sosial = Pada novel tersebut dijelaskan dan diceritakan mengenai interaksi berbagai masyarakat yang terdapat konflik dan masalahh yang harus diselesaikan<br><br>Nilai ekonomi = Pada novel tersebut dijelaskan pula mengenai jual beli tanah yang dilakukan beberapa orang<br><br>Nilai agama = Nilai-nilai ajaran agama juga dimasukkan kedalam novel tersebut khususnya agama islam<br><br>Nilai politik = Pada novel tersebut dijelaskan pula mengenai urusan-urusan pemimpin desa contohnya Wali negeri<br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <pubDate>2020-10-13 02:19:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/wmxhkokzfbf9m5ik/wish/823413937</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 2</title>
         <author>yuliwidayantisusilo</author>
         <link>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/wmxhkokzfbf9m5ik/wish/823414153</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Indra Fajar K.<br>2. Aditia Galih<br>3. Faiz Marhaditya<br>4. M. Atha Fahrezy<br>5. Arief Alvian<br><br>Unsur Intrinsik "Robohnya Surau Kami"<br><br>Tema : Religi/Agama<br>Tokoh : Kakek, Ajo Sidi, Haji Shaleh<br>Penokohan : Kakek (antagonis), Ajo Sidi (Protagonis) , Haji Shaleh (Tritagonis)<br>Alur : Campuran<br>Sudut Pandang : Orang ke-tiga<br>Setting Tempat : Kampung, tempat pangkas, serambi surau, <br>Setting Waktu : Hari Jumat<br>Setting Suasana : Menegangkan. Menyedihkan<br><br>Unsur ekstrinsik :<br>1.) Nilai sosial = mengajarkan berbagai bentuk kepedulian terutama terhadap sekitar sehingga dapat membantu dan meringankan satu sama lain.<br> 2.) Nilai agama = berisi berbagai ajaran agama dengan dicontohkannya seorang yang rajin beribadah dan taat pada agama<br> 3.) Nilai budaya = mengajarkan sebuah nilai kesederhanaan dan pentingnya rasa syukur.<br> 4.) Nilai ekonomi = masyarakatnya yang berusaha memenuhi kebutuhannya membuat teks ini memiliki nilai ekonomi.<br> <br>Unsur Intrisik "Sinopsis Novel Kemarau"<br><br>Tema : Religi/Agama<br>Tokoh : Sutan Duano, Wali negeri, Sutan Tumbijo, Sutan Caniago, Lembah Tuah, Acin, Gundam, Rajo Bodi, Saniah<br>Penokohan : Sutan duano : protagonis, Wali Negeri: protagonis, Sutan Caniago : tritagonis, Haji Tumbijo :tritagonis, Lembak Tuah : antagonis,  Acin: tritagonis, Saniah : antagonis), Rajo Bodi :tritagonis, Masri, Arni<br>Alur : Maju<br>Sudut Pandang : Orang ketiga<br>Setting tempat : Kampung, sawah<br>Setting Waktu : Musim kemarau, sangatlah panjang, Pagi<br>Setting Suasana : Penuh perjuangan dan kecemasan<br><br>Unsur ekstrinsik :<br>1.) Nilai budaya = Cerita tersebut memiliki banyak menceritakan mengenai kebiasaan dan kebudayaan daerah setempat.<br> 2.) Nilai sosial = cerita ini menceritakan bagaimana kehidupan pada suatu desa tersebut. Dengan menceritakannya secara detail<br> 3) Nilai ekonomi = cerita ini juga menceritakan bagaimana masyarakat desanya berusaha menjual hasil panen padi mereka. Yang berarti terdapat jual-beli <br> 4.) Nilai agama = A.A Nafis di cerita ini juga menegaskan dan menceritakan bagaimana suatu agama tersebut bisa dijalankan.<br> 5.) Nilai politik = Cerita ini juga memiliki nilai politik sebab pemimpin desa ini atau bisa disebut kepala desa memiliki peranan yang sangat penting terhadap kemajuan desanya.<br><br>Biografi Penulis :<br>A.A Nafis merupakan seorang penulis dengan nama asli Haji Ali Akbar Nafis yang lahir di jawa , 17 November 1924. Beliau merupakan sastrawan yang sangat dikenal di indonesia, karena tulisannya yang dianggap sebagai media menggambarkan kehidupannya. Beliu juga memiliki julukan " Sang Pencemooh " karena di penulisannya ia tidak segan segan berkata terus terang sebagai tanda dari sebuah kritik sehingga dapat membangun kesadaran setiap individu yang membaca kisahnya, agar senantiasa memperbaiki kehidupannya masing masing. Beliau meninggal di Padang, Sumatra Barat pada 22 Maret 2003 diumurnya yang ber usia 78 tahun.<br> <br><br><br><br></div>]]></description>
         <pubDate>2020-10-13 02:19:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/wmxhkokzfbf9m5ik/wish/823414153</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 3 </title>
         <author>yuliwidayantisusilo</author>
         <link>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/wmxhkokzfbf9m5ik/wish/823414301</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama :<br>1. Fathan Aqsha Fahreza (14)<br>2. Iftikar Nadhif Alim (15)<br>3. Muhammad Nizam R (20)<br>4. Rifqi Farhan Razak (23)<br><br>Unsur Intstinsik :  " Sinopsis novel kemarau "<br><br>Tema  : Ketuhanan.<br><br>Tokoh : Sutan duano , Wali negeri , Sutan tumbijo , Sutan caniago, Acin, .Lembak Tuah, Rajo Bodi, Saniah<br><br>Penokohan : Sultan duano = Protagonis ,  Sultan Caniago = Tritagonis, Acin = Tritagonis, Lembak Tuah = Antagonis, Wali Negeri = Protagonis,  Rajo Bodi = Tritagonis, Saniah = Antagonis.<br><br>Alur : Maju<br><br>Sudut pandang : Orang ke tiga<br><br>Latar tempat : Kampung , Sawah ,dan Danau.<br><br>Latar suasana : Menegangkan, menyedihkan, penuh perjuangan<br><br>Latar Waktu : Pagi Hari, Musim Kemarau<br><br>Unsur Intstinsik :  " Robohnya Surau Kami  "<br><br>Tema  : Ketuhanan<br><br>Tokoh : Ajo sidi , Kakek , Haji Shaleh.<br><br>Penokohan : Haji shaleh = Tritagonis( Mudah menyerah ) , Kakek = Protagonis ( Mudah menyerah )  , Ajo sidi = Antoagonis (Pembual ).<br><br>Alur : Campuran<br><br>Sudut pandang : Orang ke tiga.<br><br>Latar tempat : Kampung , Serambi surau.<br><br>Latar suasana : Sedih. <br><br>Latar Waktu : Hari Jumat<br><br>*Unsur ekstrinsik " Novel kemarau "<br><br>1.) Nilai budaya = Pada novel kemarau, terdapat unsur - unsur kebiasaan yang dapat dinilai sebagai adat istiadat dari latar pada cerita tersebut.<br><br>2.) Nilai sosial = Novel kemarau juga menceritakan bagaimana kehidupan disuatu desa.<br><br>3.) Nilai ekonomi = Di novel ini terdapat kisah mengenai jual beli hasil panen dari desa tersebut.<br><br>4.) Nilai agama = Ajaran suatu agama juga ditekankan pada kisah yang ditulis oleh A.A.Nafis.<br><br>5.) Nilai politik = Kisah tersebut juga memiliki ilmu politik dimana faktor pemimpin atau kepala desa juga merupakan sesuatu yang penting.<br><br>*Unsur ekstrinsik " Robohnya surau kami " <br><br>1.) Nilai sosial = Desa tersebut mengajarkan seseorang untuk peduli terhadap sekitar sehingga dapat membantu satu sama lain.<br><br>2.) Nilai agama = Desa tersebut juga menceritakan mengenai suatu tokoh yang senantiasa ber ibadah kepada tuhannya.<br><br>3.) Nilai budaya = Kehidupan yang masih sederhana menjadi unsur budaya dalam kehidupan di kisah ini.<br><br>4.) Nilai ekonomi = Adanya sebuah mata pencaharian dalam kisah ini menggambarkan nilai ekonomi.<br><br>*Biografi penulis = <br>A.A Nafis merupakan seorang penulis dengan nama asli Haji Ali Akbar Nafis yang lahir di jawa , 17 November 1924. Beliau merupakan sastrawan yang sangat dikenal di indonesia, karena tulisannya yang dianggap sebagai media menggambarkan kehidupannya. Beliu juga memiliki julukan " Sang Pencemooh " karena di penulisannya ia tidak segan segan berkata terus terang sebagai tanda dari sebuah kritik sehingga dapat membangun kesadaran setiap individu yang membaca kisahnya, agar senantiasa memperbaiki kehidupannya masing masing. Beliau meninggal di Padang, Sumatra Barat pada 22 Maret 2003 diumurnya yang ber usia 78 tahun.<br><br><br><br></div>]]></description>
         <pubDate>2020-10-13 02:19:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/wmxhkokzfbf9m5ik/wish/823414301</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 5</title>
         <author>yuliwidayantisusilo</author>
         <link>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/wmxhkokzfbf9m5ik/wish/823414849</link>
         <description><![CDATA[<div>Firza 04<br>Gilbran 01<br>Bhara 10<br>Adi 02<br><br>Unsur Intrinsik "Robohnya Surau Kami"<br><br>Tema : Agama<br>Alur : Maju<br>Latar Tempat : Kampung, Tempat Pangkas, Surau<br>Latar Waktu : Hari Jumat<br>Latar Suasana : Menegangkan, <br>Sudut Pandang : Orang Ketiga<br>Tokoh : Haji Saleh, Ajo Sidi, Kakek<br>Watak : Haji Saleh (Berlebihan), Ajo Sidi (Pembual), Kakek (Terinspirasi)<br>Penokohan : Haji Saleh (Protagonis), Ajo Sidi (Antagonis), Kakek (Tritagonis)<br>Amanat : Seimbangkan agama dengan duniawi<br><br>Unsur Intrinsik "Novel Kemarau"<br><br>Tema : Sosial<br>Alur : Maju<br>Latar Tempat : Kampung, Sawah, Kota<br>Latar Suasana : Mencekam, Menegangkan, Menyedihkan<br>Latar Waktu : Pagi, Siang dan Sore  <br><br>Unsur Ekstrinsik "Novel Kemarau"  <br><br>1) Nilai agama <br>Nilai agama yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan aturan/ajaran yang bersumber dari agama tertentu. <br>2) Nilai moral <br>Nilai moral yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan akhlak/perangai atau etika. Nilai moral dalam cerita bisa jadi nilai moral yang baik, bisa pula nilai moral yang buruk/jelek. <br>3) Nilai budaya <br>Nilai budaya adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan kebiasaan/tradisi/adatistiadat yang berlaku pada suatu daerah. 4) Nilai sosial <br>Nilai sosial yaitu nilai-nilai yang berkenaan dengan tata pergaulan antara individu dalam masyarakat. <br><br><br>Unsur Ekstrinsik "Robohnya Surau Kami" <br><br>A.  Nilai Sosial :</div><div>Kita harus saling membantu jika orang lain dalam kesusahan seperti dalam cerpen tersebut karena pada hakikatnya kita adalah mahluk sosial.</div><div><br></div><div>B.  Nilai Moral</div><div>Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati.</div><div><br></div><div>C.  Nilai Agama</div><div>Kita harus selalu melakukan kehendak Allah, jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.</div><div><br></div><div>D.  Nilai Pendidikan</div><div>Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga.</div><div><br></div><div>E.  Nilai Adat</div><div>Kita harus memegang teguh nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.</div><div><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-10-13 02:20:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/wmxhkokzfbf9m5ik/wish/823414849</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 4</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/wmxhkokzfbf9m5ik/wish/855318121</link>
         <description><![CDATA[<div>Anugrah Rido<br>Ariel Ardiva<br>Agra Rayhan<br>David Maulana<br>Pasya Athaya<br><br>Unsur Intrinsik "Robohnya Surau Kami"<br><br>Tema : Religi/Agama<br>Tokoh : Kakek, Ajo Sidi, Haji Shaleh<br>Penokohan : Kakek (antagonis), Ajo Sidi (Protagonis) , Haji Shaleh (Tritagonis)<br>Alur : Campuran<br>Sudut Pandang : Orang ke-tiga<br>Setting Tempat : Kampung, tempat pangkas, serambi surau, <br>Setting Waktu : Hari Jumat<br>Setting Suasana : Menegangkan. Menyedihkan<br> <br>Unsur Intrisik "Sinopsis Novel Kemarau"<br><br>Tema : Religi/Agama<br>Tokoh : Sutan Duano, Wali negeri, Sutan Tumbijo, Sutan Caniago, Lembah Tuah, Acin, Gundam, Rajo Bodi, Saniah<br>Penokohan : Sutan duano : protagonis, Wali Negeri: protagonis, Sutan Caniago : tritagonis, Haji Tumbijo :tritagonis, Lembak Tuah : antagonis,  Acin: tritagonis, Saniah : antagonis), Rajo Bodi :tritagonis, Masri, Arni<br>Alur : Maju<br>Sudut Pandang : Orang ketiga<br>Setting tempat : Kampung, sawah<br>Setting Waktu : Musim kemarau, sangatlah panjang, Pagi<br>Setting Suasana : Penuh perjuangan dan kecemasan<br><br>Unsur ekstrinsik "Robohnya surau kami"<br><br>Biografi Ali Akbar Navis :</div><div>Penulis lahir di Padang,17 November 1924. Istri bernama Aksari Yasin. Anak bernama Dini Akbari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto amanda dan Rika Anggraini. AA Navis adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Karyanya yang paling fenomenal adalah cerita pendek “Robohnya Surau Kami” yang ia tulis pada 1955. Navis dijuluki sebagai sang pencemooh karena tulisannya yang mengandung kritik ceplas-ceplos dan apa adanya.</div><div><br>-Nilai Sosial :</div><div>Kita harus saling membantu jika orang lain dalam kesusahan seperti dalam cerpen tersebut karena pada hakikatnya kita adalah mahluk sosial.</div><div><br></div><div><br>-Nilai Moral</div><div>Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati.</div><div><br>-Nilai Agama</div><div>Kita harus selalu melakukan kehendak Allah, jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.</div><div><br> -Nilai Pendidikan</div><div>Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga.</div><div><br>-Nilai Adat</div><div>Kita harus memegang teguh nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.<br><br>Unsur Ekstrinsik "Novel kemarau"<br><br>-Nilai budaya = Beberapa momen diceritakan dalam novel ini dapat diartikan sebagai adat yang biasanya terjadi.<br><br>-Nilai sosial = Novel ini menceritakan suasana desa yang dimana desa sendiri memiliki penggambaran umum yang sangat kuat akan nilai-nilai sosial.<br><br>-Nilai ekonomi = Novel ini juga mengambarkan adanya jual beli beras yang terjadi di desa tersebut.<br><br>-Nilai agama = Nilai agama dapat dilihat ketika penulis menyebutkan surau yang identik dengan nilai agama.<br><br>-Nilai politik = Dan nilai politik bisa dilihat dari struktur desa dimulai dari Kepala desa sebagai badan tertinggi yang mempunyai kewajiban memimpin desa tsb<br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-10-23 09:46:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/yuliwidayantisusilo/wmxhkokzfbf9m5ik/wish/855318121</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
