<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>GCED WORKSHOP by Marsiajar</title>
      <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z</link>
      <description>2-3 November 2024</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-11-01 22:14:45 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-11-25 11:15:25 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2976793082/0485a4de8b99f801d7000457bef41616/Advance_Media_Production__Flyer__Instagram_Post___2_.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>PERTANYAAN REFLEKSI - Global Warming</title>
         <author>marsiajaran</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198144179</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p><strong>Pengalaman Pribadi:</strong></p><ul><li><p>"Apakah Anda pernah merasakan secara langsung dampak perubahan iklim di lingkungan sekitar Anda, baik di sekolah atau di tempat tinggal? Bagaimana perasaan Anda ketika menyadari perubahan ini, dan tindakan apa yang Anda lakukan setelahnya?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Peran Sebagai Guru:</strong></p><ul><li><p>"Bagaimana Anda pertama kali memperkenalkan konsep perubahan iklim kepada siswa? Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi saat menjelaskan kompleksitas masalah ini kepada mereka, terutama yang masih sangat muda?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Dampak Lingkungan Sekolah:</strong></p><ul><li><p>"Apakah Anda melihat perubahan iklim berdampak langsung pada sekolah atau komunitas lokal Anda (misalnya, banjir, suhu ekstrem, atau polusi)? Bagaimana Anda berusaha mengaitkan fenomena ini dengan pelajaran di kelas?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Keterlibatan Siswa:</strong></p><ul><li><p>"Bagaimana siswa Anda bereaksi terhadap pembelajaran mengenai perubahan iklim? Apakah mereka menunjukkan ketertarikan atau kepedulian? Apa tindakan nyata yang pernah diinisiasi oleh siswa di sekolah terkait mitigasi perubahan iklim?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Refleksi Tindakan Pribadi:</strong></p><ul><li><p>"Apa tindakan kecil atau besar yang telah Anda lakukan secara pribadi untuk mengurangi jejak karbon Anda? Bagaimana perubahan tersebut memengaruhi cara Anda hidup, dan apa tantangan yang Anda hadapi dalam mempertahankan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Pendidikan dan Aksi:</strong></p><ul><li><p>"Pernahkah Anda memfasilitasi atau terlibat dalam proyek sekolah yang berfokus pada pelestarian lingkungan atau pengurangan dampak perubahan iklim? Bagaimana hasil dari proyek tersebut, dan apa yang bisa Anda tingkatkan ke depannya?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Refleksi Emosional:</strong></p><ul><li><p>"Apakah Anda pernah merasa cemas atau tidak berdaya melihat situasi perubahan iklim global yang semakin parah? Bagaimana perasaan tersebut mempengaruhi cara Anda mengajarkan isu ini kepada siswa, dan bagaimana Anda mengelola emosi tersebut?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Penerapan Konsep Global di Lokal:</strong></p><ul><li><p>"Bagaimana Anda mengaitkan isu global seperti perubahan iklim dengan konteks lokal sekolah atau komunitas Anda? Apakah Anda merasa siswa lebih tergerak ketika memahami dampak lokal dari isu global ini?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Kolaborasi dengan Komunitas:</strong></p><ul><li><p>"Bagaimana Anda melibatkan komunitas sekolah atau orang tua dalam upaya mengedukasi siswa tentang perubahan iklim? Pernahkah Anda menghadapi resistensi atau tantangan dari pihak-pihak yang mungkin belum sepenuhnya memahami pentingnya isu ini?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Belajar dari Kegagalan:</strong></p><ul><li><p>"Pernahkah Anda mengadakan program atau aktivitas lingkungan di sekolah yang tidak berjalan sesuai harapan? Apa yang membuat program tersebut kurang berhasil, dan bagaimana Anda akan menanganinya secara berbeda di masa mendatang?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Visi Jangka Panjang:</strong></p><ul><li><p>"Jika Anda memiliki sumber daya yang cukup, program jangka panjang seperti apa yang ingin Anda terapkan di sekolah untuk mengatasi atau menyadarkan siswa tentang perubahan iklim? Bagaimana Anda akan melibatkan siswa, guru lain, dan masyarakat dalam inisiatif ini?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Kepedulian di Usia Dini:</strong></p><ul><li><p>"Bagaimana cara terbaik menurut Anda untuk menumbuhkan kesadaran tentang perubahan iklim pada siswa usia dini? Apakah pendekatan berbasis praktek, seperti mengajarkan mereka berkebun atau mengurangi sampah plastik, lebih efektif dibandingkan pendekatan teori?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Inovasi Pengajaran:</strong></p><ul><li><p>"Pernahkah Anda menggunakan metode pengajaran kreatif (misalnya, game, proyek kolaboratif, atau eksperimen) untuk mengajarkan perubahan iklim? Apa yang paling berhasil, dan bagaimana siswa meresponsnya?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Dampak Global dan Tanggung Jawab Lokal:</strong></p><ul><li><p>"Bagaimana menurut Anda, tanggung jawab pribadi dan kolektif kita dalam menghadapi perubahan iklim? Bagaimana Anda menjelaskan kepada siswa bahwa tindakan individu mereka, meskipun kecil, dapat berkontribusi pada perubahan yang lebih besar?"</p></li></ul></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-01 22:27:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198144179</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PERTANYAAN REFLEKSI - Perundungan</title>
         <author>marsiajaran</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198144636</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p><strong>Pengalaman Pribadi:</strong></p><ul><li><p>"Apakah Anda pernah menyaksikan atau mengalami tindakan bullying di sekolah? Bagaimana perasaan Anda pada saat itu, dan apa yang Anda lakukan atau inginkan untuk dilakukan saat itu?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Peran Sebagai Guru:</strong></p><ul><li><p>"Sebagai guru, bagaimana Anda pertama kali menyadari bahwa ada siswa yang mengalami bullying di kelas Anda? Apa tanda-tanda awal yang mungkin terlewatkan, dan bagaimana Anda bereaksi setelah menyadarinya?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Strategi dan Tantangan:</strong></p><ul><li><p>"Tindakan apa yang pernah Anda lakukan untuk mencegah atau mengatasi kasus bullying di sekolah Anda? Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam menerapkan tindakan tersebut, dan bagaimana Anda mencoba mengatasinya?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Refleksi Emosional:</strong></p><ul><li><p>"Bagaimana perasaan Anda ketika Anda tidak dapat mencegah atau menghentikan sebuah tindakan bullying yang Anda ketahui terjadi di sekitar Anda? Apa yang bisa dilakukan secara berbeda untuk membantu korban?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Dampak Terhadap Lingkungan Belajar:</strong></p><ul><li><p>"Bagaimana Anda melihat bullying memengaruhi dinamika kelas dan proses belajar siswa secara keseluruhan? Apakah pernah ada perubahan signifikan setelah insiden bullying teratasi atau sebaliknya?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Kolaborasi dengan Siswa:</strong></p><ul><li><p>"Dalam pengalaman Anda, seberapa efektif siswa lain dalam membantu menghentikan bullying? Apakah Anda pernah melihat siswa mengambil tindakan aktif untuk melindungi teman mereka? Bagaimana cara Anda sebagai guru mengedukasi dan mendorong siswa untuk menjadi agen perubahan di kelas mereka?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Langkah Pencegahan:</strong></p><ul><li><p>"Apa tindakan pencegahan yang menurut Anda paling efektif dalam mencegah bullying di kelas atau sekolah Anda? Bagaimana pengalaman Anda dengan metode tersebut, dan apakah Anda pernah mengadaptasinya sesuai dengan situasi tertentu?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Dukungan Terhadap Korban:</strong></p><ul><li><p>"Pernahkah Anda berinteraksi dengan seorang siswa yang menjadi korban bullying? Bagaimana Anda membantu mereka mengatasi trauma atau ketakutan yang mereka alami, dan apa yang menurut Anda paling efektif dalam proses tersebut?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Belajar dari Kegagalan:</strong></p><ul><li><p>"Pernahkah Anda merasa bahwa upaya Anda untuk mencegah atau menangani bullying gagal? Bagaimana pengalaman ini memengaruhi Anda secara pribadi dan profesional, dan apa yang Anda pelajari dari kegagalan tersebut?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Visi Jangka Panjang:</strong></p><ul><li><p>"Jika Anda memiliki kekuatan penuh untuk merancang program anti-bullying di sekolah Anda, langkah-langkah apa yang akan Anda prioritaskan berdasarkan pengalaman pribadi Anda, dan bagaimana Anda akan melibatkan siswa serta komunitas sekolah dalam proses ini?"</p></li></ul></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-01 22:28:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198144636</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PERTANYAAN REFLEKSI - Toleransi</title>
         <author>marsiajaran</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198145330</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p><strong>Pengalaman Pribadi:</strong></p><ul><li><p>"Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana Anda harus menunjukkan toleransi terhadap pandangan, agama, atau budaya yang berbeda? Bagaimana perasaan Anda pada saat itu, dan bagaimana Anda mengelola perbedaan tersebut?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Peran Sebagai Guru:</strong></p><ul><li><p>"Dalam pengalaman Anda sebagai guru, bagaimana Anda menangani perbedaan pendapat atau konflik antar siswa yang disebabkan oleh perbedaan latar belakang? Apa strategi yang Anda gunakan untuk menjaga harmoni dan saling menghormati di kelas?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Mengajarkan Toleransi:</strong></p><ul><li><p>"Bagaimana Anda mendidik siswa untuk menghargai perbedaan dan mempraktikkan toleransi di sekolah? Apakah ada momen tertentu di mana Anda merasa berhasil dalam menanamkan nilai-nilai tersebut?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Refleksi Emosional:</strong></p><ul><li><p>"Pernahkah Anda menghadapi situasi di mana siswa atau komunitas sekolah menunjukkan intoleransi? Bagaimana perasaan Anda dan langkah apa yang Anda ambil untuk mengatasi situasi tersebut?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Dinamika Kelas:</strong></p><ul><li><p>"Bagaimana Anda mengelola dinamika kelas yang terdiri dari siswa dengan latar belakang agama, budaya, atau suku yang berbeda? Bagaimana Anda memastikan bahwa setiap siswa merasa dihargai dan diterima?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Peran Pendidikan dalam Membentuk Sikap Toleransi:</strong></p><ul><li><p>"Menurut Anda, bagaimana pendidikan dapat berperan dalam mempromosikan toleransi di masyarakat yang semakin beragam? Apa contoh nyata dari pengalaman mengajar Anda yang mencerminkan peran ini?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Pencegahan Diskriminasi:</strong></p><ul><li><p>"Apa tindakan konkret yang Anda lakukan untuk mencegah diskriminasi atau stereotip negatif di kelas? Pernahkah Anda menghadapi tantangan dalam mempromosikan kesetaraan dan penerimaan di lingkungan sekolah?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Kolaborasi dengan Komunitas:</strong></p><ul><li><p>"Bagaimana Anda melibatkan komunitas sekolah, orang tua, atau rekan guru dalam upaya mempromosikan toleransi di lingkungan sekolah? Apakah pernah ada keberhasilan atau tantangan dalam kolaborasi ini?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Belajar dari Kegagalan:</strong></p><ul><li><p>"Pernahkah Anda merasa bahwa upaya Anda dalam mempromosikan toleransi di sekolah tidak berhasil? Apa yang Anda pelajari dari situasi tersebut, dan bagaimana Anda akan menanganinya secara berbeda ke depannya?"</p></li></ul></li><li><p><strong>Visi Jangka Panjang:</strong></p><ul><li><p>"Jika Anda memiliki kebebasan penuh untuk merancang program toleransi di sekolah, apa saja langkah-langkah yang akan Anda prioritaskan, dan bagaimana Anda akan melibatkan siswa serta komunitas sekolah dalam inisiatif ini?"</p></li></ul></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-01 22:31:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198145330</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Petunjuk menjawab</title>
         <author>marsiajaran</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198147286</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p><strong>Tuliskan nama dan asal sekolah anda, serta unggah foto anda pada setiap jawaban anda.</strong></p></li><li><p><strong>Baca dan Pahami Pertanyaan dengan Seksama</strong><br>Sebelum menjawab, luangkan waktu untuk benar-benar memahami maksud dari pertanyaan refleksi. Ini akan membantu memastikan jawaban yang diberikan sesuai dengan yang diminta.</p></li><li><p><strong>Renungkan Pengalaman Pribadi yang Relevan</strong><br>Coba ingat pengalaman-pengalaman pribadi yang berkaitan dengan topik yang ditanyakan, misalnya tentang pencegahan bullying, perubahan iklim, atau kesetaraan gender. Pengalaman nyata akan memberikan konteks yang lebih mendalam pada jawaban.</p></li><li><p><strong>Fokus pada Perasaan dan Pemikiran Pribadi</strong><br>Saat menjawab, fokuskan pada bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi perasaan dan pemikiran Anda. Bagaimana perasaan Anda pada saat itu? Bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi cara pandang Anda?</p></li><li><p><strong>Jelaskan Alasan di Balik Perasaan Tersebut</strong><br>Setelah menggambarkan perasaan, coba jelaskan mengapa Anda merasa seperti itu. Apa yang memicu perasaan tersebut? Apakah ada kejadian atau situasi tertentu yang berperan?</p></li><li><p><strong>Hubungkan dengan Dampak pada Orang Lain</strong><br>Coba pikirkan bagaimana pengalaman atau refleksi Anda dapat memengaruhi orang lain, baik itu siswa, rekan guru, atau masyarakat. Bagaimana perasaan atau tindakan Anda dapat berkontribusi terhadap perubahan di lingkungan Anda?</p></li><li><p><strong>Refleksikan Pembelajaran dari Pengalaman Tersebut</strong><br>Apa yang Anda pelajari dari pengalaman itu? Bagaimana pengalaman tersebut mengubah cara Anda bertindak atau berpikir, terutama dalam peran Anda sebagai pendidik? Ini akan memberikan dimensi yang lebih dalam pada refleksi.</p></li><li><p><strong>Tulis dengan Jujur dan Terbuka</strong><br>Jawaban yang jujur dan reflektif biasanya paling kuat. Tidak ada jawaban yang benar atau salah dalam refleksi, yang penting adalah bagaimana pengalaman tersebut berdampak pada diri Anda dan bagaimana Anda tumbuh dari situ.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-01 22:38:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198147286</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sari Ayu Mahgdalena (Contoh)</title>
         <author>marsiajaran</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198147408</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Sari Ayu Mahgdalena</p><p>Asal Sekolah : </p><p><br></p><p>"Saya pertama kali menyadari adanya bullying di kelas saya ketika seorang siswa, sebut saja namanya Dita, mulai menunjukkan perubahan perilaku yang cukup signifikan. Dita dulunya anak yang ceria dan selalu aktif dalam kegiatan kelas, tetapi tiba-tiba ia menjadi pendiam, sering menyendiri, dan terlihat cemas. Ketika saya mencoba mendekatinya untuk bertanya apakah semuanya baik-baik saja, dia hanya menjawab singkat dan menghindari kontak mata. </p><p><br></p><p>Awalnya saya pikir ini mungkin hanya perubahan suasana hati biasa, tetapi setelah melihat pola yang konsisten selama beberapa minggu, saya mulai merasa ada sesuatu yang salah. Saya memutuskan untuk lebih memperhatikan interaksi di antara siswa saat istirahat dan ketika ada kegiatan kelompok. Saya perhatikan bahwa Dita sering diabaikan oleh teman-temannya, dan beberapa dari mereka bahkan sengaja mengejek atau mempermalukannya, meski secara halus. Salah satu insiden yang membuat saya benar-benar khawatir adalah ketika saya mendengar seorang siswa mengatakan hal yang menyakitkan tentang penampilan Dita, dan saat itu Dita hanya diam dan tidak membela diri.</p><p><br></p><p>Sebagai reaksi awal, saya merasa sangat terpukul dan kecewa. Saya tidak menyangka bahwa bullying seperti ini bisa terjadi di kelas saya, dan saya merasa bersalah karena tidak menyadarinya lebih cepat. Saya tahu bahwa saya harus bertindak segera untuk menghentikan perilaku ini dan membantu Dita.</p><p><br></p><p>Langkah pertama yang saya ambil adalah berbicara secara pribadi dengan Dita. Saya ingin memastikan dia merasa didengar dan dipahami. Awalnya, dia enggan untuk berbicara, tetapi setelah beberapa kali pendekatan yang lebih lembut, dia mulai terbuka tentang apa yang telah dialaminya. Dia mengaku merasa takut dan tidak tahu harus bagaimana, terutama karena dia tidak ingin dianggap sebagai 'pengadu' oleh teman-temannya.</p><p><br></p><p>Setelah berbicara dengan Dita, saya menghubungi konselor sekolah untuk mendiskusikan situasinya lebih lanjut. Kami sepakat untuk melakukan pendekatan yang lebih sistematis, termasuk pertemuan pribadi dengan siswa-siswa yang terlibat dalam bullying tanpa langsung menuduh mereka. Saya juga melakukan diskusi kelas tentang pentingnya empati, menghormati perbedaan, dan dampak buruk bullying, tanpa menyebutkan nama secara spesifik, agar suasana kelas tetap kondusif.</p><p><br></p><p>Saya merasa penting untuk tidak hanya menghentikan bullying secara langsung, tetapi juga menciptakan lingkungan kelas yang mendukung dan inklusif, di mana setiap siswa merasa aman dan diterima. Saya mulai lebih sering mengadakan aktivitas kelompok yang menekankan kerjasama dan saling menghargai. Saya juga bekerja sama dengan wali kelas dan guru lain untuk memastikan tidak ada siswa yang merasa diabaikan atau tersisih.</p><p><br></p><p>Pengalaman ini membuka mata saya bahwa bullying sering kali terjadi tanpa kita sadari, dan sebagai guru, saya memiliki tanggung jawab besar untuk peka terhadap tanda-tanda awal. Saya belajar bahwa mendengarkan siswa, memberikan dukungan emosional, dan mengambil tindakan yang tepat sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif. Satu hal yang saya pelajari adalah pentingnya membangun budaya kelas yang peduli sejak awal, di mana setiap siswa merasa didengar dan dihargai."</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2976793082/86844c25c5206138c33d850f67d5662d/Buat_games_Pakai_AI_Cover.jpg" />
         <pubDate>2024-11-01 22:38:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198147408</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anna</title>
         <author>marsiajaran</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198274324</link>
         <description><![CDATA[<p>nama</p><p>asal sekolsh</p><p><br></p><p>"</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-02 04:03:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198274324</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Sri Juliana, Asal Sekolah : UPT SDN 064005 Medan Labuhan</title>
         <author>srijuliana71</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198281304</link>
         <description><![CDATA[<p>Berdasarkan pengalaman pribadi selama mengajar, saya pernah menyaksikan salah satu siswa saya di bully oleh teman-teman satu kelasnya. Ketika saya menyaksikan hal tersebut, saya merasa sedih dan menyayangkan hal seperti itu bisa terjadi disekolah. Sebagai seorang guru, saya merasa bertanggung jawab dan ada andil dalam menangani hal tersebut. Sehingga saya mencoba menguatkan anak yang terkena bully karena saya lihat anak tersebut suka murung dan menyendiri serta hilang keceriaanya, sehingga mendorong keinginan saya untuk bertanya kepada anak tersebut. Sehingga saya merasa terkejut dan berniat menindaklanjutin siswa yang melakukan pembullyan.</p><p>Ada pun tindakan yang saya lakukan untuk mencegah atau mengatasi kasus bullying disekolah adalah dengan mencoba menerapkan tiga langkah penerapan segitiga restutusi. Langkah pertama dengan menguatkan identitas terhadap anak-anak yang melakukan pembulian, bahwa setiap orang pasti pernah membuat kesalahan. Kemudian langkah kedua yang saya lakukan adalah dengan memvalidasi tindakan &nbsp;yang salah terhadap anak-anak yang terlibat dalam melakukan pembulian terhadap temannya tersebut. Menanyakan alasan mereka melakukan itu dan menyadarkan mereka bahwa semua tindakan manusia, baik atau buruk, pasti memiliki maksud/tujuan tertentu. Kemudian tahap ketiga menanyakan akan keyakinan kelas yang telah disepakati secara bersama sehingga mereka mampu menyelesaikan masalah dengan motivasi internal dan bertanggung jawab terhadap pilihannya dan dapat mempertanggung jawabkan kesalahan yang dilakukannya dengan baik.</p><p>Ketika saya tidak dapat mencegah atau menghentikan sebuah tindakan bulling yang saya ketahui, saya akan sangat merasa bersalah dan sedih. Hal yang bisa saya lakukan ketika saya tidak dapat kapasitas untuk menangani hal tersebut adalah dengan menghubungi pihak yang lebih berwajib akan menangani hal tersebut. Seperti pihak keluarga, atau lainnya.</p><p>Tindakan bulling disekolah harus sebaiknya dicegah sedini mungkin Karena hal itu sangat memengaruhi dinamika kelas dan proses belajar siswa yang terkena bully. Siswa yang terkena bully akan merusak mentalnya dan menjauhkan semangatnya untuk belajar. Jika tindakan pembullyan itu dapat diatasi dengan baik, maka semangat belajar siswa untuk kesekolah pasti akan sangat tinggi.</p><p>Semua tindakan pembullyan ini dapat diatasi dengan meminta bantuan terhadap siswa lain untuk bertindak membela temannya yang terkena perundungan dan melaporkan hal tersebut kepada guru. Serta menumbuhkan rasa saling menyayangi dan memiliki diantara siswa sehingga apabila yang satu merasakan sakit, maka semuanya juga akan merasa tersakiti.</p><p>Untuk siswa yang menjadi korban bullying sebagai guru memiliki peran yang sangat penting dalam mengatasi trauma atau ketakutan mereka alami yaitu dengan cara memberikan perhatian setiap harinya, mengajak mengobrol, serta meminta teman-temannya untuk selalu menghibur dan mengajak nya bermain sehingga lambat laun anak tersebut merasa bahwa dirinya itu tidak sendiri.</p><p>Jika saya memiliki kekuatan penuh untuk merancang program anti bullying disekolah, saya akan menerapkan beberapa langkah yaitu:</p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Membentuk tim anti bullying disekolah</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Promosikan sikap saling menghargai dan toleransi di antara siswa.</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lakukan pelatihan anti-bullying untuk siswa dan staf sekolah.</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Gencarkan pengawasan dan pemantauan terhadap perilaku siswa di sekolah maupun di dunia maya.</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Libatkan orang tua dalam mendukung kampanye anti-bullying di rumah dan sekolah</p><p>&nbsp;</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977343566/bc3700b6f196a9500c8f84847e3c80d8/WhatsApp_Image_2024_11_02_at_11_11_48.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-02 04:23:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198281304</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Siti Maryam Harahap Asal Sekolah : UPT SD Negeri 068009 Medan Belawan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198290478</link>
         <description><![CDATA[<p>Saya pernah menyaksikan dan mengalami tindakan bullying di sekolah. Melihat keadaan tersebut saya merasa sangat prihatin. Saya merasa perlu adanya solusi dan tindakan untuk mengatasi hal tersebut agar tindakan tersebut bisa terhindarkan.</p><p><br/></p><p>Pertama sekali saya sebagai guru menyadari bahwa ada siswa disekolah yang mengalami tindakan bullying pada saat mereka bermain di luar kelas. tanda-tanda awalnya saya melihat perubahan sikap pada anak yang di bully. anak tersebut menjadi pendiam, tidak percaya diri dan murung tidak seperti hari-hari biasanya. saya merasa prihatin melihat kondisi siswa yang suka melaukakn tindak bullying begitu juga pada korban bullying. karna pada dasarnya mungkin peserta didik belum begitu paham apa-apa saja tindakan bullying tersebut serta efek samping dari tindakan tersebut, mereka mungkin berfikir hanya untuk sekedar lucu-lucuan padahal sebenarnya menjadikan beban mental bagi korban bullying. </p><p><br/></p><p>tindakan yang pernah saya lakukan untuk mecegah atau mengatasi kasus bullying di sekolah saya adalah dengan cara memberikan bimbingkan konseling kepada pelaku dan korban bullying, juga mensosialisasikannya kepada seluruh peserta didik diskeolah apa itu bullying serta efek samping dari tindakan bullying tersebut. saya dan pihak sekolah juga mensosialisasikannya kepada orangtua murid, dengan mengundang mereka kesekolah dan menjelaskan tentang perlunya menghindari tindak bullying kepada anak-anak.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>perasaan saya ketika saya tidak dapat mencegah atau menghentikan tindakan bullying saya merasa sedih, mengapa tindakan bullying begitu sulit untuk dihindari.</p><p><br/></p><p>cara berbeda yang saya lakukan untuk membantu korban adalah saya mencoba memahami, berbagi cerita, mengembalikan kepercayaan dirinya, dan membuat suasana kelas menjadi nyaman tanpa adanya tindak bullying.</p><p><br/></p><p>siswa-siswa juga ikut andil dalam memberantas tindak bullying ini, saya memilih perwakilan siswa sebagai duta anti bullying untuk sama-sama mengingatkan teman-temannya agar menjauhi tindakan bullying dan ini berjalan dengan baik. beberapa siswa sudah mulai saling mengingatkan teman-temannya saat mereka melihat jika ada yang terlepas melakukan tindak bullying</p><p>saya sebagai guru mengedukasikan peserta didik dengan cara menonton film pendek inspiratif tentang perundungan, menjelaskan lebih rinci apa-apa saja yang termasuk dalam tindakan bullying serta efek samping yang akan terjadi ketika kalian melakukan perundungan. saya melatih peserta didik untuk saling peduli satu sama lain, saling menghargai dan menghormati dan indahnya kelas dan lingkungan sekolah yang harmonis. </p><p><br/></p><p>saya pernah berinteraksi dengan orangtua/wali siswa yang menjadi korban bullying, ketika saya tau anak tersebut menjadi korban bullying, saya memulai dengan  membimbing anak tersebut dilanjutkan dengan interaksi kepada orangtua/wali siswa. saya menginformasikaan kepada orangtua siswa yang menjadi korban serta orangtua lainnya lewat bimbingan konseling dan juga sosialisasi karena semua berawal dari rumah. anak-anak sangat membutuhkan dukungan dari orang tua dan orang terdekatnya. </p><p>pengalaman ini mengajarkan saya bahwa segala sesuatu hal pasti ada solusinya dan tidak hanya dengan satu cara saja, kegagalan bisa terjadi dan cobalah terus agar benar-benar dapat menyelesaikan solusi yang ada.</p><p><br/></p><p>kebetulan disekolah kami ada tim perundungan yang dibentuk pihak sekolah, dan saya sendiri bagian dari tim Adiwiyata, ketika saya ikut andil dalam sosialisasinya saya merasa ini sudah sangat efektif dengan melibatkan peserta didik dan orangtua,  peserta didik sebagai duta anti perundungan sedangkan orangtua ikut membimbing dan mengingatkan ketika mereka berada dirumah. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977345559/927a0eaf75890c5c3342a77420791cd0/WhatsApp_Image_2024_10_09_at_14_40_00_309314f0.jpg" />
         <pubDate>2024-11-02 04:51:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198290478</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ira Yusma</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292297</link>
         <description><![CDATA[<p>"Pertama kali saya mengetahui bahwa ada bullying di kelas adalah ketika seorang siswa , bernama Ando, dia menunjukkan perubahan sikap yang signifikan. Biasanya saya melihat dia ceria bermain dengan teman-temannya yang lain. Tapi waktu itu saya melihat dia murung dan menyendiri tidak bergabung bersama temannya yang lain seperti biasa. Saya mencoba untuk mendatanginya danbertanya "apakah ada sesuatu yang terjadi padamu ando?" Tapi ia menjawab tidak ada bu, saya tidak apa-apa dan langsung pergi meninggalkan saya. Tapi saya merasa dari sorot matanya dia menyimpan sesuatu.</p><p>Awalnya saya pikir itu mungkin hanya peubahan sikap karena ada masalah dirumahnya. Tetapi setelah memperhatikannya berminggu minggu saya merasa ada yang salah. Saat dia berdiskusi dengan teman temannya dia terlihat diam dan enggan untuk terlibat seperti takut untuk membantu. Saat itu saya juga mendengar teman yang lain mengucapkan "awas kau yaa, jangan lupa". Wajah nando saat itu menjadi semakin takut dan seperti kebingungan. </p><p><br></p><p>Saat itu saya masih bingung dengan apa yang terjadi, dan setelah kegiatan tersebut saya juga mendengar lagi teman ando si nova mengancam lagi. Saya merasa ada yang janggal dan tidak beres. Saya merasa tidak bisa membiarkan begitu saja. </p><p><br></p><p>Jadi saya mencoba memanggil Ando, dan berbicara berdua dengannya. Saya menanyakan kepadanya apa yang terjadi kenapa ibu memperhatikan beberapa kali nova dan teman -teman seperti mengancam kamu. Ternyata selama ini Nova dan teman-teman yang lain sering mengancam ando jika dia tak menuruti perkataan mereka dan sering mengejek fisik Ando dengan mengatakannya Gajah dan diancam untuk tidak boleh meceritakan hal tersebut kepada ibu guru.</p><p><br></p><p>Saya merasa terpukul mengetahui adanya pembullyng dikelas saya. Saya merasa harus bertindak cepat agar bullying ini tidak terus berlanjut.  Langkah yang saya ambil adalah menenangkan Ando saya mengatakan bahwa dia adalah anak yang hebat dan luar biasa. Jangan merasa sedih dengan apa yang dikatakan mereka. Kemudian saya memanggil Nova dan teman-temannya untuk menjelaskan apa yang terjadi. Mereka berkata mereka hanya sedang bermain-main saja. Saya menyatakan itu bukan sesuatu yang bisa dijadikan mainan. Karena bisa saja menyakiti hati orang lain. Kalian harus meminta maaf kepada Ando dan jangan mengulangi hal tersebut karena kalian adalah teman yang harusnya saling melindungi. </p><p><br></p><p>Kemudian saya mengadakan pendekatan dikelas mengenai rasa empati dan simpati kepada sesama. Menjelaskan bahwa semua manusia memiliki hak dan kesempatan yang sama tidak membedakan berdasarkan fisik, berdasarkan agama atau yang lainnya. Bahwa kita semua harus saling menghormati satu sama lainnya. </p><p><br></p><p>Untuk menghentingkan bullying saya juga merasa harus bisa menciptakan kelas yang mendukung dan inklusif agar peserta merasa aman dan tenang tanpa harus takut. Setiap kegiatan kelompok saya juga terus menekankan untuk saling bekerjasama dan tidak boleh membeda-bedakan. Saya menjadi lebih sering bertanya mengenai bagaimana perasaan mereka hari ini? apakah ada sesuatu yang mau diceritakan kepada ibu guru ? sehingga tidak ada siswa yang merasa terabaikan atau tersisih.</p><p><br></p><p>Hal ini mebuat saya menyadari bahwa bullyng bisa terjadi tanpa kita sadari. Hal yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan lingkungan belajar yang membuat seluruh peserta didik merasa aman. </p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977361689/5eb20155911feea6c739c107db1439c9/ira.jpg" />
         <pubDate>2024-11-02 04:57:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292297</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nelayanti Despan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292326</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nelayanti Despan, S.H.,S.Pd</p><p>Asal Sekolah : SDS Islam Tunas Mekar</p><p><br/></p><p>Kala itu saya duduk di bangku SD kelas 4, kebetulan satu sekolah dengan adik dan abang-abang saya. Ada perasaan bahwa dengan adanya mereka di satu sekolah saya merasa terlindungi dan tak ada yang berani untuk menggannggu apalagi menyakiti. Teman saya bernama Faisal, anak salah satu guru saya sangat jahil.  Ketika itu bel istirahat berbunyi, saya dan teman saya menuju kantion yang berada di belakang sekolah. Nah, pada saat itu Faisal memasukkan belalang kebaju saya, tepatnyya dibagian belakang. Dikarenakan kaki-kaki belalang itu tajam, saya merasa kesakitan dan berteriak sambil meremas belalang tersebut. </p><p>Saat itu suasana jadi heboh karena Teman saya itu lari. Akibat dari kejadian itu saya pingsan. Temab-teman malah mengadukan itu ke abang-abang saya. Langsunglah mereka turun tangan mencari teman saya. Dan, akhirnya teman saya itu dipukul oleh abang-abang saya. Perasaan saya tidak karuan saat itu, disamping saya kasian melihat teman saya, namun saya juga tak ingin dia disakiti oleh abang-abang saya. Akhirnya, semua masuk kantor, masalah sasat itu diselesaikan oleh Wali kelas kami.</p><p><br/></p><p>Sebagai Kepala Sekolah, ketika mendengar ada siswa saya melakukan tindakan pembullyan, saya langsung turun tangan dengan memanggil siswa tersebut ke kantor. Saya mendapatkan laporan dari Wali kelas atau langsung, kami melalukan tindakan gerakan cepat. Agar supaya masalah ini tidak berlarur-larut dan berlanjut. Mengapa tindakan ini saya lalukan, sebagai isu yang sedang hangat saat ini, hal ini jangan dibiarkan, sebab akan berdampak negatif terhadap psikologis siswa, keamanan dan kenyamanan sekolah. </p><p><br/></p><p>Tantangan tentu pasti ada, terutama ketidakjujuran dari pelaku, keengganan korban untuk melaporkan juga ketidakterimaan orangtua karena anaknya dituduh atau orangtua si korban.</p><p>Hal yang saya lakuka  adalah pembinaan terhadap si pelaku, dan memberikan psikologis eduaktif kepada si korban dan pelaku. Memberikan pengertian dan pendekatan kepada pembully, korban dan orangtua. JIka tidak ada titik temu, kami akan memmanggil pihak ketiga dan melaporkan kepada pihak yang berwenang.</p><p><br/></p><p> Bullying sangat mempengaruhi dinamika sekolah apalagi kelas, sebab ini berdampak kepada psikologis siswa. Kami tetap mendampingi anak-anak yang menjadi korban dan memfasilitasi jika sudah ke tingkat yang lebih serius. </p><p>Namun untuk saat ini, kami belum mengalami kendala dalam penanganan anak-anak yang melakukan pembullyan, perubahan yang signifikan terjadi karena strategi yang kami lakukan berjalan baik.</p><p><br/></p><p>Tindakan yang kami lakukan adalah edukasi,sosialisasi, pembentukan tim saber bullying. Meskipun maksimal, namun memberi dampak yang signifikan. Kuncinya adalah konsisten dalam menjalankan misi ini, sehingga tidak ada lagi ruang dan peluang anak merasa tidak diperhatikan dan diabaikan.</p><p><br/></p><p>Saat berinteraksi dengan korban, kami melakukan pendekatan emosional dan memberikan perlindungan sepenuhnya kepadanya dan tetap mengawasi jalannya pembelajaran, juga waktu-waktu yang memebrikan peluang terjadinya pembullyan. Mendampingi jika korban merasa trauma.</p><p><br/></p><p>Kegagalan tentu tidak, namun perlu konsisten dalam menjalankan program pencegahan bullyng di sekolah sehingga semua dapat berjalan dengan lancar. </p><p>Dengan melakukan Monitoring dan evaluasi terhadap program ini, tentunya misi pencegahan terhadap bullying tentu akan berhasil, dengan kerjasama dan kolaborasi yang baik dengan siswa, orangtua dan stakeholder lainnya. </p><p>Mengajak siswa untuk berkampanye lewat pembuatan produk poster di sekolah dan memanfaatkan tim saber bullying adalah hal efektif dalam mengurangi bullying disekolah.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977370138/ec9577a556649847cf074b8844c92db0/420541623_7220993141255037_1482955344883308509_n.jpg" />
         <pubDate>2024-11-02 04:57:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292326</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Deni Lubis</title>
         <author>idennls2303</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292437</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Deni Lubis</p><p>Asal Sekolah: SDS Cita Luhur</p><p><br/></p><p>Mengajar di sekolah umum yang memiliki  siswa majemuk, terdiri dari beragam suku, dan agama menjadikan saya sebagai guru harus bisa menciptakan suasana kelas yang harus saling menghargai tanpa membeda-bedakan siswa saya. Sebagai contoh kecil di dalam kelas saat berdoa sebelum memulai kegiatan pembelajaran maupun selesai pembelajaran atau bahkan ketika ingin makan siang, saya harus membimbing dan memastikan siswa-siswa saya untuk berdoa dengan cara yang benar sesuai dengan agama mereka masing-masing. Siswa yang beragama Islam harus menengadahkan kedua tangannya, agama Kristen menggenggam kedua tangan dan meletakkan di depan dada mereka, agam Khatolik harus membuat tanda salib terlebih dahulu dan agama Buddha harus merapatkan kedua tangan mereka. Kebahagiaan tersendiri pastinya yang saya rasakan saat siswa-siswi saya bisa mengingatkan teman-teman mereka untuk berdoa dengan cara yang benar sesuai dengan agama mereka masing-masing.</p><p><br/></p><p>Ada suatu kejadian di dalam kelas yang membuat saya tersenyum bahagia pada saat itu adalah ketika pemimpin doa di kelas tidak memulai doa kelas karena ada siswa yang belum mengambil posisi doa yang benar sesuai dengan agamanya dan ada siswa lain yang sedang melakukan kegiatan lain. Pemimpin doa berusaha menunggu siswa tersebut selesai dengan kegiatannya itu dan memastikan semua siswa siap untuk berdoa bersama.</p><p><br/></p><p>Saya selalu mengingatkan kepada siswa-siswa saya, bahwa kita tidak hidup sendiri. Kita bersama dengan orang-orang lain yang pastinya berbeda dengan diri kita. Dalam banyak hal, seperti agama, suku, warna kulit, bentuk rambut, sifat, karakter, bahkan hal yang dianggap sepele sekalipun, seperti cara mereka berbicara. Tidak jarang ada beberapa siswa yang kesal karena tidak sabar dengan tempo berbicara temannya, atau hal yang disampaikan oleh temannya yang tidak sesuai dengan topik pembicaraan pada saat itu. Sebagai guru saya berusaha memberi pemahaman kepada siswa agar siswa mampu mengendalikan diri untuk menghargai teman-temannya dan membantu teman-temannya yang dianggap berbeda dari dirinya. </p><p><br/></p><p>Suatu ketika saya menemani siswa saya mengunjungi sekolah lain karena ada suatu kegiatan. Setelah kegiatan selesai, ada seorang siswa yang saya lupa dari sekolah mana bertanya kepada saya, apa agama siswa saya, mengapa cara berdoanya berbeda. Saya menjawab sambil tersenyum. Saya menjelaskan bahwa siswa saya memiliki agama yang berbeda dengan dirinya dan yang tadi itu adalah cara mereka berdoa menurut agamanya.</p><p><br/></p><p>Di akhir setelah pembelajaran selesai dan sebelum pulang sekolah. Saya selalu mengajak siswa-siswa saya untuk melakukan refleksi dari kegiatan yang sudah dilakukan seharian di kelas. Bagaimana perasaan mereka dalam pembelajaran. Apakah ada hal-hal yang membuat mereka bersedih, atau adakah hal-hal intoleransi yang mereka alami. Hal ini saya lakukan untuk memastikan bahwa seluruh siswa merasa bahagia, diterima dan dihargai.</p><p><br/></p><p>Sebagai guru, saya merasa bahwa itu merupakan bagian dari tanggung jawab saya. Saya pastinya tidak bisa bekerja sendiri untuk mencapai tujuan saya, bagaimana siswa menjadi siswa yang toleran dan saling menghargai sesama. Saya berkolaborasi dengan semua guru dan warga sekolah lainnya. Termasuk orang tua siswa untuk senantiasa membimbing siswa untuk menanamkan sikap toleransi.</p><p><br/></p><p>Saya berharap ke depannya, sikap saling toleransi antar siswa dan seluruh warga sekolah terus berjalan. Siswa memahami perbedaan sesama.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977343145/cd7ca0bc704cc3f54c4c0a78adab0e33/WhatsApp_Image_2024_03_07_at_08_08_57_98db803b___Copy.jpg" />
         <pubDate>2024-11-02 04:57:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292437</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PERUNDUNGAN</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292550</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Devi Novia Rahma</p><p>Asal Sekolah : SD ISLAM ASH-SHOLIHAH </p><p><br/></p><p>Halloo, perkenalkan namaku Devi seorang guru SD (sekolah dasar ) yang saat ini menjadi wali kelas 6. Saya merupakan alumni dari Universitas Sumatera Utara jurusan Sastra Arab. Saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman saya dibully ketika saya menduduki bangku Madrasah Tsanawiyah sampai SMK. Ketika itu, saya merupakan murid yang berprestasi di sekolah saya tetapi ada saja kekurangan dari saya yang membuat saya dibully oleh teman-teman saya, ketika ingin baris dihalaman ataupun sewaktu jam istirahat, saya selalu dikatain  "manusia jerawat dan perempuan yang gak bisa menjaga kebersihan diri bahkan sampai ada yang bilang ke saya "Siapalah yang mau jadi suamimu nanti itu,mencium nya aja gak mau dia".Saya merasa tidak punya kawan ketika itu, saya hanya berteman dengan diri sendiri dan teman-teman saya yang mau berteman dengan saya hanya memanfaatkan saya untuk meminta jawaban dari saya saja. Kata-kata itu yang membuat saya sedih dan enggan untuk memberitahukan kepada guru ataupun kepada orang tua saya. Saya simpan dan pendam sendiri karena saya takut ketika saya adukan mereka, mereka dipanggil oleh guru. Kemudian,hari demi hari membuat saya malas sekolah,inscure dengan muka sendiri bahkan selalu memakai masker  dan saya sering berdiam diri serta malas berbicara ke semua orang. Kejadian perundungan ini saya alami sampai saya menduduki bangku 2 SMK. Bahkan sampai saya selalu membawa sikat gigi dan odol untuk menyikat gigi saya selalu selesai makan karena saya pikir penyebab jerawat adalah karena dari makanan yang saya makan tetapi saya salah menggosok gigi terus menerus membuat gigi saya menjadi sensitif. Kemudian,di kelas  3 SMK  saya berusaha untuk rutin menghilangkan jerawat saya. Perjuangan saya menghilangkan nya sangat banyak sampai saya mengalami depresi karena ga tau lagi cara menghilangkannya bagaimana dan selalu dikata-katain oleh teman-teman saya.Perjuangan yang cukup panjang tetapi alhamdulillah sampai sekarang jerawat dimuka saya sudah tidak ada lagi dan orang-orang yang membully saya sekarang malah berjerawat banyak. Saya ikhlas dan pasrah dan tawakal kepada Allah SWT karena apapun yang terjadi didalam kehidupan kita itu adalah rencana dari Allah SWT. Bahkan ketika saya dibully saya terus mengupgrade diri saya untuk menjadi siswa berprestasi dan unggul di sekolah  sehingga saya mendapat apresiasi dari kepala sekolah sebagai muri berprestasi.Terkadang kita harus menjaga mulut dan lisan kita agar tidak menyakiti perasaan orang lain. </p><p><br/></p><p>Sebagai seorang guru saya juga menanamkan kepada siswa siswi saya untuk tidak membully kepada temannya masing-masing dengan kesepakatan kelas yang ada dikelas. Terkadang kami juga setelah pulang sekolah selalu meminta maaf satu sama lain karena sudah belajar dan berjuang sejauh ini. Kemudian,ketika saya dapati anak murid saya mendapatkan pembullyan dari temannya saya akan mencoba menghampiri anak tersebut secara pribadi dan berbicara baik-baik dengannya. Kemudian antara korban maupun yang ngebully harus meminta maaf masing-masing dan berjanji kesalahan itu tidak akan diulangi kembali.</p><p>Sebagai guru saya merasa sedih dan merasakan sakit hati jika murid saya mengalami kasus pembulian. </p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977346169/dcce418ec61b78eb1dc4afa6be57cfa6/DSCF8072.JPG" />
         <pubDate>2024-11-02 04:58:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292550</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perundungan</title>
         <author>junitasihite86</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292657</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Junita Rotua Sihite</p><p>Asal Sekolah : UPT SMP Negeri 6 Medan</p><p><br/></p><p>Saya adalah seorang guru Pendidikan Pancasila dan seorang wali kelas 9 - C. Setiap pertemuan di kelas saya selalu menyempatkan waktu saya untuk memberikan pengarahan dan perhatian terhadap siswa saya dan mengamati perilaku mereka sebelum memulai pembelajaran. Di suatu hari saya melihat seorang siswa sebut saja Rofi sedang sendu dan tidak bersemangat seperti biasa. Rofi punya teman yang sering dia ajak berinteraksi bernama Marco. Namun kali ini berbeda, dia tampak menjauh dari Marco dan Marco dan temannya yang lain seperti Mudi dan Bardo. Biasanya mereka berempat selalu bersama dan saling bersenda gurau. Saya bertanya kepada Rofi apakah dia baik - baik dan Rofi menjawab sambil lirih "baik bu". Saya heran dengan sikapnya dan mengedarkan pandangan ke sekitar kelas sekira ada siswa lain yang bisa memberikan penjelasan, namun tidak ada siswa yang menjelaskan dan mereka sibuk dengan mempersiapkan buku dan alat tulis.</p><p><br/></p><p>Awalnya saya berpikir mungkin hari itu Rofi lagi kurang sehat dan saya menganjurkan dia boleh ke UKS bila dia merasa kurang sehat, tapi beberapa kesempatan berikutnya saya melihat bahwa Rofi makin murung dan perilaku Marco seperti mencibir cibir Rofi, hal itu membuat saya curiga dan khawatir apakah ada hal yang tidak beres dengan mereka. </p><p><br/></p><p>Setelah kelas berakhir, langkah pertama yang saya lakukan adalah pergi ke guru bimbingan konseling di ruang BK, saya menceritakan kejadian itu. Setelah kami berdiskusi, kami memutusakan untuk memanggil Rofi ke ruang BK. Lalu kemudian Rofi mendatangi BK dan ditanya oleh ibu Mira namun Rofi enggan bercerita. Keoergian Rofi ke ruang BK diketahui oleh Marco dan geng sehingga Rofi kembali dirudung oleh Marco,Mudi dan Bardo. Anak - anak yang lain tahu perbuatan Marco, Mudi dan Bardo, namun mereka takut dengan Marco, mereka takut menjadi korban berikutnya. Sampai suatu ketika, Marco berang karena tugas Matematika nya tidak dikerjakan oleh Rofi, sehingga Rofi kembali dipukul dan diseret oleh Marco, Mudi dan Bardo ke belakang kelas dan memukulinya di sana. Rein selaku ketua kelas melihat kejadian itu dan buru - buru lari ke ruang BK dan meminta bantuan dan melaporkan kejadian yang di lihatnya kepada guru BK dan saya selaku wali kelas. Singkat cerita kejadian itu akhirnya di proses dan dengan pendekatan yang baik Marco, Mudi dan Bardo diberikan pemahaman dan di kelas bu Mira juga memberikan pendidikan karakter anti bullying dan juga bu Mirabu Mira mendapatkan bahwa Rofi dibully. Saya juga selaku wali dan bu Mira selaku guru BK berupaya menciptakan aktivitas bersama yang dapat meningkatkan persahabatan dan persaudaraan diantara mereka dengan tetap mendampingi kegiatan bersama siswa dalam pembuatan projek yang dapat mereka presentasikan dan kampanyekan.</p><p><br/></p><p>Sebagai wali kelas saya merasa kecewa dan sedih karena di kelas saya terjadi perundungan. Saya merasa penting untuk menghentikan tindakan perundungan di kelas saya dan saya juga ingin bahwa siswa - siswa saya menghargai satu dengan yang lain dengan menciptakan lingkungan kelas yang nyaman di mana setiap siswa merasa aman dan diterima. Saya mulai melakukan aktivitas yang melibatkan kerjasama dan kolaborasi dengan melakukan kegiatan gotong royong di kelas, membuat projek anti bullying seperti poster yang akan dipajang di kelas. Saya juga bekerjasama dengan bu Mira untuk tetap memberikan bimbingan di kelas saya dan memotivasi siswa agar berani bicara dan berani bertindak dengan melaporkan ke pihak guru. Saya juga memberikan pendampingan dan dukungan secara moral kepada siswa saya yang menjadi korban bully. Hal yang saya pelajari dari kejadian ini adalah bahwa penting membangun budaya positif di kelas sesuai dengan keyakinan kelas yang sudah kami sepakati bersama. </p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2809687351/154e62712e653f09935af625deea10b3/WhatsApp_Image_2024_11_02_at_12_01_09.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-02 04:58:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292657</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Toleransi di dalam lingkungan sekolah </title>
         <author>yusufpasaribu87</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292704</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman Pribadi : </p><p>di sekolah tempat saya mengajar kami memiliki beragam agama, Islam, Kristen dan juga budha, dikarenakan kami memiliki keragaman agama membuat saya harus memilki sikap toleransi terhadap agama lain, dimana pada saat itu, teman saya (guru)  sedang masuk jam pelajaran, dan beliau harus pergi ke tempat ia biasa beribadah, dan dstu dia meminta saya untuk masuk di kelas nya sebagai pengganti dia mengajar. dan saya pun meng iya kan</p></li><li><p> Peran sebagai guru</p><p>peran saya sebagai guru saya selalu berusaha memberikan edukasi kepada peserta didik agar menjaga ke rukunan antar agama melalu vidio</p></li><li><p>Mengajarkan toleransi</p><p>di sebahagian pertemuan dengan peserta didik, saya sering memberi nasehat dan edukasi kepada peserta didik untuk menjaga ke rukunan dan saling menghargai perbedaan agama, lebih seringnya saya membuka vidio tentang pentingnya toleransi terhadap yang berbeda agama</p></li><li><p> Refleksi Emosional</p><p>pernah suatu ketika saya marah kepada salah satu peserta didik, yang mengucapkan hal yang tidak boleh di ucapkan  berkaitan dengan agama yang berbeda.</p></li><li><p>Dinamika Kelas</p><p>dikarenakan di sekolah kami ada juga guru agama untuk setiap agama, jadi saya sebagai guru agama islam, saya menyuruh peserta didik untuk menjumpai guru yang sesuai dengan agama mereka</p></li><li><p>Peran pendidikan dalam membentuk sikap toleransi</p><p>Toleransi sangatlah penting baik di sekolah atau di lungkan lainnya, saya sebagai guru berupaya memberikan pemahaman tentang pentingnya toleransi, sehingga saya membentuk pertemuan di satu aula yang mana pada saat itu saya mengumpulkan semua peserta didik yang beragam agama untuk duduk bersama, dan memberikan nasehat-nasehat dan juga memperlihatkan vidio tentang penting nya toleransi</p></li><li><p>Pencegahan Diskriminasi</p><p>Pencegahan konkrit yang sudah saya lakukan di lingkungan sekolah </p><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2756854967/48fc7af364621c8c5c738d38be7a9a23/WhatsApp_Image_2024_11_02_at_11_11_31.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-02 04:58:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292704</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Herlina Sari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292724</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama             : Herlina Sari</p><p>Asal Sekolah : UPT SD Negeri 060874 Medan Perjuangan</p><p><br/></p><p>Saya mengajar mulai dari tahun 2012 sampai 2022 di sekolah swasta SMP-SMA yang bernuansa islami. Pada tahun 2022 saya lulus P3K di SD negeri. Seminggu saya di sekolah tersebut saya mulai beradaptasi dengan kondisi yang jauh berbeda yang saya lakukan di sekolah sebelumnya. Mulai dari beradaptasi dengan warga sekolah dan fasilitas yang ada. Biasanya setiap pagi saya menyempatkan membaca al-quran dan mereka menghidupkan lagu rohani dengan speaker. Perasaan saya saat itu gelisah dan saya berusaha untuk menunjukkan toleransi terhadap keadaan. Alhamdulillah mesjid berada di samping sekolah jadi saya kadang singgah ke mesjid untuk menunaikan ibadah saya. Saya juga berusaha untuk mengajak siswa yang muslim berteman dengan siswa non muslim padahal sebenarnya saya mengajak diri saya sendiri untuk menerima mereka menjadi anak saya di sekolah.</p><p><br/></p><p>Saya mengajar di kelas I sd, yang pada dasarnya siswa saya belum memahami arti toleransi antar teman. Apalagi mereka merupakan anak yang sedang menjalani masa transasi PAUD ke SD. Saya mengajak siswa menyanyikan lagu saling berteman, saling menyayangi dan tidak bertengkar.</p><p>Saya memberikan contoh sesuai sila pancasila dengan mengaitkan pada kehidupan mereka sehari-hari. </p><p><br/></p><p>Tahap awal saat pembelajaran saya meminta siswa secara bergantian setiap harinya untuk memimpin membawakan doa sebelum dan setelah pembelajaran. Kemudian secara bergantian juga menjadi dirigen menyanyikan lagu nasional di kelas. Ketika diskusi kelompok saya menggabungkan murid yang berbeda agama untuk saling berkomunikasi dalam diskusi dan saling mendukung dalam satu kelompok. Saya membuat jadwal piket dengan menggabungkan murid agar mereka bisa mengenal saling toleransi terhadap pandangan, agama dan budaya yang berbeda. Saya juga sering mengeksplorasi cerita rakyat, kuliner, musik, ataupun tari dari berbagai daerah. Saya juga selalu membagikan kegiatan pembelajaran ke grup whatsapp orangtua murid dan memberikan tugas untuk siswa berkolaborasi dengan orangtuanya.  </p><p><br/></p><p>Ada momen yang membuat saya tersenyum sendiri dan disaksikan oleh guru lain saat siswa saya berdoa di lapangan setelah senam pagi. Salah satu siswa saya bernama Van Hellen yang non muslim kurang fokus  karena ingin bermain, lalu siswa saya Saleh yang beragama islam juga merupakan temannya mengajaknya berdoa dengan memperagakan gerakan tangan berdoa agama temannya dan memejamkan matanya. Kemudian secara spontan Van Hellen mengikuti contoh yang diperagakan Saleh. </p><p><br/></p><p>Saya selalu mengingatkan kepada siswa saya untuk saling menyayangi, melindungi, menjaga kekompakan, dan tidak bertengkar. Karena di dalam satu ruangan merupakan satu keluarga dengan istilah "keluargaku surgaku".</p><p><br/></p><p>Pendidikan berperan penting dalam membentuk karakter dan toleransi antar umat beragama. Oleh karena itu, toleransi dalam pendidikan harus ditanamkan sejak usia dini. Setiap hari selasa, jadwal pelajaran di kelas saya  pelajaran agama dan yang beragama islam diadakan sholat dhuha. Ketika siswa beragama islam ada yang sedang membuka sepatu, ada yang sedang berwudhu dan ada yang membentangkan karpet, ternyata siswa saya yang beragama non muslim ikut membantu membentangkan karpet tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap teman sebelum mereka menuju ke kelas agama mereka. Berhubung kelas di sekolah kami terbatas, pada saat pelajaran agama bagi siswa yang beragama kristen belajar didekat meja piket. Kemudian ketika siswa saya yang beragama islam mengambil wudhu dideka meja kelas temannya yang beragama kristen mereka tidak mengeluarkan suara saat temannya memulai pelajaran dengan lagu rohaninya. </p><p><br/></p><p>Komunitas sekolah juga sangat berperan penting dalam mempromosikan toleransi di lingkungan sekolah. Salah satunya dalam mempersiapkan kegiatan hari besar keagamaan. komunitas sekolah selalu mengajak guru, orang tua siswa dan siswa saling membantu dalam mempersiapkan kegiatan tersebut. Jika kegiatan dipersiapkan dengan matang meski adanya tantangan yang dihadapi, kegiatan tetap berjalan dengan lancar.</p><p><br/></p><p>Kita sebagai pendidikan harus dilatih untuk menjadi agen perubahan yang dapat menginspirasi dan membimbing siswa dalam mengembangkan sikap dan karakter yang toleran. Kita juga harus membuat strategi dan langkah - langkah yang menjadi prioritas dan berkolaborasi dengan komunitas sekolah. Maka untuk membentuk karakter dan toleransi di lingkungan sekolah diperlukannya penyuluhan rutin secara berkala dengan mengundang narasumber dari siswa, guru, tokoh masyarakat, bahkan jika memungkinkan narasumber terbaik yang dapat menumbuhkan karakter dan toleransi anak. Selain itu mengadakan kegiatan refleksi mingguan secara rutin untuk seluruh siswa di lapangan sekolah. Kegiatan refleksi ini bertujuan untuk menumbuhkan kepercayaan diri, kerjasama, empati, simpati siswa secara global. Pada kegiatan ini kami melakukan ice breaking bersama seluruh guru dan siswa. Selanjutnya mereka menunjukkan bakat akademis, seni seperti nyanyi, tari dan musik. Kemudian seluruh guru dan siswa memberikan apresiasi untuk penampilkan yang telah ditampilkan.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977346382/e11684d571b4100321acce9e3d546205/WhatsApp_Image_2024_11_02_at_11_17_06.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-02 04:58:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292724</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anna Maria Sianturi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292747</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama  : Anna Maria Sianturi</p><p>Asal Sekolah : SD Methodist 6 Medan</p><p><br></p><p>--&gt;Saya sebagai guru (Wali Kelas) di kelas 5 punya pengalaman tentang anak yang mengalami perundungan di kelas.</p><p>Secara tiba-tiba saya mendapat laporan dari guru, bahwa anak saya Janeta menangis histeris di toilet.  </p><p>Selama saya mengajar 2 tahun di sekolah, untuk pertama kali menghadapi kasus perundungan bahkan pengancaman yang dilakukan oleh siswa yang saya didik sendiri.</p><p>Kejadian ini terjadi di Semester awal (Juli), awal agustus adalah puncaknya, di dalam kelas ada anak bernama janeta dan clara. Clara menjual sekotak stiker dengan harga Rp. 100.000, suatu hari clara membawa 2 kotak, sepulang sekolah ternyata 2 kotak stiker ini tinggal di laci clara, dan janeta melihat, ia membawa pulang 2 kotak stiker tersebut k rumah. Esoknya janeta memberikan sekotak stiker kepada Clara dan mengaku 1 kotaknya lg sudah hilang. mereka coba menyelesaikan masalah dengan Janeta yang akan menganti berupa uang Rp. 100.000 kepada Clara dengan cara mencicil.</p><p>Disini lah awal mulai perundungan kepada Janeta.</p><p><br></p><p>--&gt;Saya merasa suasana di kelas berbeda, saya memperhatikan gerak-gerik teman-teman Janeta di sekitar mejanya seperti mengasingkannya. Tapi saya masih mengabaikan nya. saya kira masalah seperti biasa anak-anak, yang sebentar2 berteman lalu bermain sebentra lagi.</p><p>Ternyata penilaian saya salah.</p><p><br></p><p>--&gt;Terjadilah, dimana Clara membawa gunting (di waktu selesai pembelajaran PKC) menemui Janeta ke kamar mandi dan terjadi pengancaman kepada Janeta.</p><p>Sebelum hal tersebut terjadi ternyata di kelas Clara sudah merundung Janeta di kelas dengan ucapan yang merendahkan Janeta (orang miskin, punya hutang gak bayar2,gak punya bapak,jelek, mau ikut2an tapi gak mampu)</p><p><br></p><p>--&gt;Saya sebagai guru merasa terkejut dan kecewa dengan masalah yang sudah terjadi beberapah waktu dan saya tidak menyadari dan abai.</p><ol><li><p>Ketika saya mulai untuk menyelesaikan masalah ini, saya berbicara secara pribadi kepada Janeta dulu, dia mengakui kesalahannya telah mengambil barang yg bukan miliknya. Selama saya konseling Janeta, dia juga ungkapkan dia sering merasa menjadi anak yang lemah karena papanya telah pergi, dulu papa selalu memberikan apa yang saya minta, tp skrg semua tidak dengan mama. </p><p>Saya bisa menemukan mengapa janeta mellakukan tindakan tersebut, langkah selanjuntnya saya komunikasi dengan mamanya. Puji Tuhan mamanya mau menrima masalah ini, dan menyadari bahwa ia kurang memperhatikan Janeta dan emosional mamanya yang belum stabil dengan keadaan keluarganya.</p></li><li><p>Selanjutnya saya berkomunikasi dengan orangtua dari Clara. Mamanya juga menyesali hal ini bisa terjadi, dan anaknya yg menjadi penyebabnya. ternyata dalam keluarganya Clara memiliki sifat yang angkuh,sesuka hati ketika berbicara ataupun merespon tindakan dari saudara-saudarnya di rumah. di rumah Clara lah anak yg memilik rupa dan fisik yang paling baik. tp hal ini menjadi kesombongan untuknya</p></li></ol><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977350259/613afb25a9eb0aa43398196884209000/WhatsApp_Image_2024_11_02_at_11_13_02.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-02 04:58:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292747</guid>
      </item>
      <item>
         <title>sri susanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292750</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama    : Sri Susanti</p><p>Sekolah : UPT SDN 064005 Medan Labuhan</p><p>. <strong>pengalaman Pribadi</strong></p><p>saya pernah merasakan perubahan iklim ini terlihat pola curah hujan yang ekstrim  sehingga menimbulkan banjir yang mengganggu aktifitas proses kegiatan pembelajaran di sekolah dan perasaan pada saat itu sangat adanya rasa kurang nyaman pada situasi tersebut karena mengalami hujan yang terus-menerus dalam beberapa minggu dan tindakan yang dilakukan pada saat itu adalah dengan memberikan edukasi kepada para siswa agar tetap menjaga kesehatan dan selalu menjaga kebersihan  lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal pada siswa</p><p>.<strong> Peran Sebagai Guru</strong></p><p>konsep perubahan iklim kepada siswa diperkenalkan pada siswa adalah pada saat proses pembelajaran berlangsung </p><p>atau pada saat apel pagi menghimbaukan  dan mengarahkan pada siswa lagar lebih menjaga kebersihan lingkungan sekolah ataupun di lingkungannya.</p><ul><li><p>tantangan terbesar yang dihadapi dalam pada saat menjelaskan masalah ini kepada mereka adalah  dengan memberikan pengertian tentang perubahan iklim berdasarkan konsep pemahaman mereka dan menjelaskan dampak sebab dan akibatnya akan perubahan iklim tersebut serta cara bagaimana untuk mengantisipasinya terhadap diri sendiri  dan lingkungan terhadap perubahan lingkungan</p></li><li><p><strong>Dampak Lingkungan Sekolah</strong></p><p>iya, perubahan iklim berdampak langsung pada sekolah yaitu sekolah mengalami banjir jika terjadi hujan apabila mengalami intensitas curah hujan yang cukup tinggi</p><p>dan cara yang saya lakukan sebagai guru dengan menggaitkan fenomena ini dengan pelajaran dikelas adalah  apabila ada pembelajaran mengenai tumbuhan dengan memberikan edukasi tentang  pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya misalnya tidak boleh  merusak tanaman karena tanaman memiliki banyak manfaanya  mulai penghasil oksigen,maupun mampu menyerap air sehingga dapat mencegah banjir dll. </p></li><li><p>keterlibatan Siswa</p><ul><li><p>Dengan memberikan edukasi disetiap kesempatan baik pada waktu apel pagi maupun pada saat proses pembelajaran para siswa mulai  menunjukkan kepedulian nya tindakan nyata yang dapat dilihat mulai dari hal kecil yaitu para siswa dapat menjaga kebersihan dilingkungan sekolah dengan dapat membuang sampah pada tempatnya serta ketika dintruksikan membawa tanaman dan menanamnya disekitar sekolah para siswa sangat antusias dalam melkukannya.</p></li><li><p>Refleksi Tindakan Pribadi</p><p>tindakan kecil yang dilakukan secara pribadi untuk menguranggi jejak karbon adalah mengajak para siswa untuk memulai hal kecil yaitu dengan menanam tanaman disekitar lingkungan sekolah dengan cara bergotong royong dengab para siswa</p></li><li><p>Pendidikan Dan Aksi</p><p>sebagai guru saya memberikan fasilitas dalam proyek tersebut yaitu dengan membuat poster dengan </p><p><br/></p></li></ul></li></ul><p>  </p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-02 04:58:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292750</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dedi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292872</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Dedi suhardianto</p><p>Unit tugas : UPT SDN 067249</p><p>Medan Marelan</p><p><br></p><p>Pengalaman pribadi</p><p>Sebagai manusia yang mendiami bumi ini lebih kurang 38 tahun, saya merasakan perubahan yang terjadi di bumi ini baik didarat, air dan udara terutama ditempat tinggal saya maupun tempat kerja saya. Perubahan itu nyata terjadi bukan hanya saya yang merasakan begitu juga orang disekitar saya. Perubahan itu adalah perubahan cuaca yang tidak menentu, suhu udara yang meningkat serta berbagai bencana atau kejadian alam yang sering terjadi. Saya merasa khawatir dan saya mencoba mencari sebabnya. </p><p><br></p><p>Peran sebagai guru</p><p>Cara saya mengenalkan perubahan iklim kepada siswa dengan cara merasakan perubahan yang terjadi secara langsung kepada siswa dikelas dan melihat bukti langsung apa yang terjadi dilingkungan sekitar. Tantangan yang dihadapi menumbuhkan pemahaman dan kesadaran tentang perubahan iklim ini.</p><p><br></p><p>Dampak lingkungan sekolah</p><p>Disekolah saya sering terjadi banjir akibat curah hujan yang cukup lebat dan suhu udara yang meningkat jika dimusim kemarau. Saya sering mengaitkan kejadian nyata yang terjadi disekolah maupun lingkungan sekolah dengan pelajaran yang dipelajari.</p><p><br></p><p>Keterlibatan siswa</p><p>Mereka tertarik dengan perubahan iklim ini karena memang mereka semua merasakan dampak yang terjadi dan perubahan iklim ini menantang untuk kita pelajari karena memang solusinya ada pada diri kita masing - masing.</p><p><br></p><p>Refleksi tindakan pribadi</p><p>Dari diri pribadi tindakan yang bisa saya lakukan adalah memulai dari hal kecil yang setiap hari bisa kita lakukan yaitu menggunakan alat elektronik seperlunya, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan listrik sesuai kebutuhan serta berusaha menerapkan gogreen disekolah maupun di rumah untuk mengurai polusi.</p><p><br></p><p>Pendidikan dan aksi</p><p>Saya serta warga sekolah pernah melakukan kegiatan gogreen salah satunya menanam bunga dan tumbuhan disekolah untuk penghijauan serta untuk  mengurangi polusi.</p><p>Dampaknya sekolah menjadi asri sejuk dan indah, tetapi banjir masih terjadi maka kedepannya mungkin akan memperbaiki saluran pembuangan selokan sekolah. </p><p><br></p><p>Refleksi emosional</p><p>Saya pernah merasa cemas tentang banjir yang masih terjadi di sekolah saya dan bencana yang semakin sering terjadi terutama banjir dan tanah longsor yang terjadi dilingkungan sekitar. Saya tetap terus menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa perubahan iklim yang terjadi dapat kita cegah dimulai dari diri kita sendiri dan mulai dari hal kecil yang bisa kita lakukan.</p><p><br></p><p>Penerapan konsep global dilokal</p><p>Kami tetap melakukan kegiatan peduli lingkungan disekolah seperti jumat bersih, memanam bunga sebagai penghijauan disekolah.</p><p><br></p><p>Kolaborasi dengan komunitas</p><p>Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan disekolah seperti jumat bersih dan menamam bunga digrup kelas yang juga dibaca orang tua siswa, orang tua siswa juga setuju dan mendukung.</p><p><br></p><p>Belajar dari kegagalan</p><p>Saya pernah gagal dalam membuat kegiatan disekolah seperti kegiatan rutin bulanan, yang saya lakukan mengevaluasi kegiatan tersebut dan mendapatkan permasalahan yang terjadi bahwa kurangnya koordinasi dan kejelasan kegiatan yang akan dilakukan dengan warga sekolah. Kami sebagai guru akan membuat kegiatan tersebut lebih terencana dan disesuaikan dengan keadaan siswa dan lingkungan sekitar.</p><p><br></p><p>Visi jangka panjang</p><p>Saya akan membuat program "cinta lingkungan dimulai dari diri dan hal kecil" memulai dari diri dan dari hal kecil yang dapat dilakukan bersama hingga membudaya, seperti membuang sampah pada tempatnya, merawat bunga yang ditanam.</p><p><br></p><p>Kepedulian diusia dini</p><p>Menanamkan pemahaman tentang perubahan iklim melalui praktik baik disekolah yang dilakukan konsisten bersama seluruh warga sekolah.</p><p><br></p><p>Inovasi pengajaran</p><p>Saya belum pernah mengajarkan materi tentang perubahan alam karena tidak ada materi tersebut pada pokok pembahasan dikelas saya namun saya sering menyelipkan penjelasan tentang perubahan iklim pada setiap pembelajaran saya dengan memperaktikan hal kecil tetap menjaga kebersihan kelas setelah melakukan praktik membuat sesuatu atau membiasakan melalui keteladanan dalam membuang sampah pada tempatnya, membiasakan kebersihan dikelas dengan menerapkan kesepakatan kelas dalam hal piket.</p><p><br></p><p>Dampak global dan tanggung jawab lokal</p><p>Tanggung jawab untuk menanggulangi permasalahan perubahan iklim ini sangat serius dan konsisten dengan program / kegiatan sekolah yang dilakukan dengan keterlibatan seluruh warga sekolah dan dengan keteladanan,</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977347304/d7be6bd749ab3639c911494d23297bb5/dedi_sbox__1_.png" />
         <pubDate>2024-11-02 04:59:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198292872</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198293126</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Ridha Junita Siregar</p><p>Asal Sekolah : UPT SMPN 38 Medan</p><p>"Saya pernah mendapat perlakuan tidak nyaman dan tidak menyenangkan saat saya berada dibangku SD. Diawali dari seorang teman laki-laki yang satu kelas dengan saya mengejek saya setiap bertemu dengan saya. sebut saja namanya si A .saat itu saya memiliki penyakit kulit ditangan yang disebut eksim, dimana tangan seperti terkelupas dan kasar ketika bersentuhan dengan teman.  Saya merasa malu untuk berdekatan dengan teman apalagi bersentuhan kulit. Saya selalu menyembunyikan tangan saya yang sakit setiap berdekatan dengan teman disekolah, setiap menit saya mengoleskan lotion ketelapak tangan supaya tertutupi kulit kering yang kasar. ..namun disaat seorang  teman laki-laki saya mengetahuinya...saat itulah dunia saya berasa sempit. Si A selalu mengejek dan menghina saat bertemu dengan saya sehingga teman-teman lainnya yang tidak mengetahuinya menjadi tahu, bahkan dia mengumumkan kepada teman-temannya. Teman yang dekat dengan saya pun ikut mengejek saya.</p><p><br/></p><p>Saya ingin berontak dan berteriak</p><p>saya ingin marah sebesar-besarnya</p><p>saya ingin memukul mereka semuanya, sangat jahat yang mereka lakukan kepada saya,...namun yang saya lakukan hanya berlari, bersembunyi dari mereka. setiap mereka mengejek saya hanya bisa menghindar dan pergi dan  tidak percaya dengan teman-teman lagi.</p><p>Selalu saya berkata sendiri, "aku juga tidak suka dengan ini"  aku merasa malu , "kenapa aku yang harus merasakan hal seperti ini". saat itu aku benci semua teman-temanku. aku memilih untuk tidak berteman dan menyendiri. Awalnya saya seorang siswi yang selalu ingin berperan dalam pembelajaran, setelah kejadian itu saya selalu menarik diri. memang ada beberapa orang teman yang membela saya namun mereka tetap tidak berhenti mengejek saya. saya tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun karena  malu. saya tidak menceritakan kepada orang tua karena tidak ingin orang tua merasa sedih. saya berusaha untuk membiarkan dengan harapan mereka akan bosan seiring berjalannya waktu.</p><p><br/></p><p>Berdasarkan pengalaman tersebut, saya sering memperhatikan prilaku peserta didik saya saat berada dilingkungan kelas dan lingkungan sekolah. terkadang saat jam pembelajaran sering saya bergabung bersama peserta didik untuk semakin mengamati prilaku mereka dan sering berdialog santai diluar jam pembelajaran. Adakah salah satu diantara mereka yang mengalami bullying ataupun memiliki masalah yang tidak bisa mereka ceritakan karena alasan tertentu dan dapat menghambat perkembangan diri mereka.</p><p><br/></p><p>Ketika saya menemukan kejadian bullying secara verbal, saya langsung memanggil anak tersebut dan memberikan pengertian bahwa yang dilakukannya salah. Saya juga mensosialisasikan tentang Bulliying kepada peserta didik. saya mengambil waktu sebelum memulai pembelajaran untuk memberikan himbauan anti bullying dan dampak dari Bulliying.  kegiatan yang saya lakukan ini kemudian saya sampaikan kepada rekan sejawat dan mulai diikuti karena mulai tampak kejadian bulying disekitar baik secara verbal maupun non verbal dan ini sangat meresahkan kita sebagai Pendidik. Sedari dini kita berharap bullying dilingkungan peserta didik segera dapat dihilangkan.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977346914/30ed9d23602fd3e3d3923a23f13a3050/WhatsApp_Image_2024_11_02_at_11_20_05.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-02 05:00:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198293126</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Riris</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198293131</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama             : Riris</p><p>Asal Sekolah : UPT SDN No 060949</p><p>Medan Labuhan</p><p>*Pengalaman Pribadi :</p><p>  Saya pernah menyaksikan bullying di sekolah. Perasaan saya saat itu adalah saya berusaha untuk meluruskan masalah tersebut. Yang saya lakukan saat itu adalah saya mendatangi murid-murid yang membullying tersebut dan berusaha  membantu menyelesaikan masalahnya. Dengan cara berkomunikasi, mencari tahu apa masalahnya dan berusaha untuk menyelesaikan.</p><p><br/></p><p>*Peran sebagai Guru</p><p>  Sebagai guru, pertama kali saya menyadari bahwa ada siswa yang mengalami bullying di sekolah, saya merasa terkejut dan heran kenapa anak yang masih duduk di sekolah dasar sudah bisa membullying teman satu sekolah. Cuman karena perbedaan fisik yang terjadi pada anak tersebut. Yang menyebabkan anak tersebut dibullying oleh teman-teman lainnya. Saya melihat memang ada salah satu anak perempuan yang fisiknya tinggi sekali, yang berbeda dengn teman lainnya. Dan ini menjadi penyebab salah satunya anak perempuan tersebut dibullying oleh teman-teman lainnya. Saya pun baru menyadarinya. Ternyata fisik yang berbeda dari yang lainnya bisa menyebabkan teman-temannya membullying anak perempuan tersebut. </p><p><br/></p><p>* Strategi dan Tantangan:</p><p>   Tindakan yang pernah saya lakukan untuk mencegah atau mengatasi kasus bullying di sekolah saya yaitu memberikan pemahaman kepada murid-murid bahwa perbedaan fisik bukanlah hal yang harus dijadikan ejekan atau bullying terhadap yang lainnya. Selain itu saya juga berusaha untuk berkomunikasi dua arah dengan anak-anak yang melakukan bullying. Tantangan terbesar yang saya hadapi dalam menerapkan tindakan tersebut adalah sikap anak-anak yang masih SD yang belum bisa diajak berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang tinggi, karena mereka cenderung belum paham apa yang saya maksud. Jadi saya berusaha untuk menggunakan bahasa yang sederhana yang mudah dicernah oleh anak-anak tersebut. </p><p><br/></p><p>* Refleksi Emosional :</p><p>   Perasaan saya ketika saya tidak dapat mencegah atau menghentikan sebuah tindakan bullying yang saya ketahui terjadi di sekolah saya yaitu saya merasa saya gagal menjadi seorang pendidik. Karena tugas seorang pendidik bukan hanya mentransfer ilmu tetapi juga bagaimana meluruskan sesuatu yang salah. Membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Saya harus bisa mengatasi masalah bullying ini sampai tuntas. Saya berharap tidak akan terjadi di kemudian hari. Setiap masalah pasti ada solusinya, tergantung kesabaran diri kita dalam menyelesaikan masalah tersebut. Yang saya bisa lakukan secara berbeda untuk membantu korban yaitu saya akan datang ke rumah anak tersebut sebagai guru yang peduli dengan anak tersebut. Saya berusaha berkomunikasi dengan keluarga anak tersebut. Memberikan pemahaman dengan apa yang terjadi di lapangan. Karena menurut saya, dengan komunikasi yang baik dan saling bersinergi akan memberikan ketenangan jiwa dan kelapangan pikiran. </p><p><br/></p><p>*Dampak Terhadap Lingkungan belajar </p><p>  Saya melihat bullying mmepengaruhi dinamika kelas dan proses belajar siswa secara keseluruhan. Karena anak yang menjadi korban bullying akan merasa tertekan saat di sekolah dan membuat akan malas untuk datang ke sekolah. Ada perubahan signifikan setelah insiden bullying tersebut. Perubahan tersebut lebih ke karakter atau sikap anak yang menjadi korban karena anak tersebut merasa percaya dirinya menurun dan jika tidak diatasi dengan tuntas akan membawa dampak yang tidak baik.</p><p><br/></p><p>*Dampak terhadap kolaborasi dengan siswa yaitu hubungan pertemanan yang regang antara anak yang menjadi korban dengan yang membullying. Saya sebagai pendidik berusaha memberikan cerita ilustrasi tentang dampak yang akan terjadi dengan adanya kasus bullying. Kemudian saya memberikan pemahaman tentang apa sih sebenarnya bullying dan efek apa yang akan ditimbulkan jika bullying tetap terus dilakukan. Saya sebagai pendidik berusaha membentuk agen perubahan yang terdiri dari murid-murid yang menjadi duta untuk stop bullying yang dimulai di kelas sendiri. Saya berharap duta stop bullying ini dapat mencerahkan anak-anak yang lain untuk tidak membullying teman yang lain. </p><p><br/></p><p>*Langkah pencegahan</p><p>  Cara yang paling efektif yang saya bisa lakukan adalah memberikan pemahaman kepada murid untuk selalu menghargai dan menghormati teman walaupun berbeda baik fisik, maupun yang lainnya. Tanamkan rasa toleransi dengan sesama teman. Saya termasuk tipe guru yang sering bercerita dengan murid-murid. Dengan saya membawa mereka bercerita dengan memasukkan sikap toleransi dengan teman, saya berharap anak-anak mampu menerapkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. </p><p>  Dengan anak yang menjadi korban, saya berusaha untuk mendekatinya dan berusaha berkomunikasi dengan bercerita hal-hal yang lucu supaya rasa trauma anak tersebut perlahan hilang. Saya melihat komunikasi adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah bullying di tingkat anak sekolah dasar karena anak-anak ini masih sangat kecil sehingga pemahaman anak-anak tentang bullying masih belum paham. </p><p><br/></p><p>*Belajar dari kegagalan </p><p>  Saya pernah merasa bahwa komunikasi adalah upaya yang gagal untuk mencegah bullying. Karena yang saya hadapi adalah anak-anak yang masih SD, dimana pola pikir mereka yang masih abstrak dan juga bahasa/verbal yang mereka miliki masih sebatas yang sederhana. Jadi pada saat saya berkomunikasi dengan anak-anak SD, hanya harus berkomunikasi seperti layaknya berdongeng atau bercerita sehingga makna yang tersirat dapat dimengerti oleh anak-anak. Sehingga saya sebagai pendidik menjadikan semua ini adalah pembelajaran saya, bagaimana seharusnya berkomunikasi yang baik terhadap anak-anak. Pembelajaran yang saya dapati adalah bahwa pada saat seorang pendidik mau menyampaikan sesuatu yang bersifat mendidik ke anak-anak, ada baiknya sebagai pendidik mampu menemukan cara berkomunikasi yang tepat. Apakah komunikasi tersebut di mulai dari berdongeng atau bercerita dulu, sehingga seorang pendidik mampu masuk ke dunia anak-anak. Setelah itu baru seorang pendidik memberikan refleksi apa yang tersirat dalam cerita tersebut. Sehingga anak-anak paham dan mampu mengimplementasikannya di lingkungan kelas, sekolah dan masyarakat.</p><p><br/></p><p>*Visi Jangka Panjang</p><p>  Jika saya memiliki kekuatan penuh untuk merancang program anti bullying di sekolah saya, langkah-langkah yang akan saya prioritaskan  berdasarkan pengalaman pribadi saya adalah menumbuhkan rasa kekeluargaan dengan sekali seminggu mengadakan kegiatan yang menumbuhkan rasa kekeluargaan misalnya sarapan pagi bersama duduk bersama di lapangan. Saya melibatkan semua guru, siswa dan bagian adm sampai satpam sekolah tersebut. Dengan makan bersama sambil duduk bersama akan terbentuk rasa kekeluargaan yang diharapkan dapat menghindari bullying di sekolah. </p><p>       </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977345519/d8443dc68779eed15c8d98c212601ce3/foto_ris.jpg" />
         <pubDate>2024-11-02 05:00:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198293131</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Jihan Agustina</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198294756</link>
         <description><![CDATA[<p>Pertama kali saya menyaksikan tindakan bullying yaitu di kelas saya. perasaan saya pada saa itu tentu saja sedih dan yang saya inginkan pada saat itu agar anak tersebut bisa kembali seperti dahulu.</p><p><br/></p><p>pada awalnya saya menyadari bahwasaanya hal tersebut termasuk perundungan di awali dengan tanda-tanda dimana anak tersebut biasanya berperilaku ceria dan semangat dalam belajar menjadi diam dan pasif dalam belajar.</p><p><br/></p><p>Tindakan saya untuk mencegah ataupun mengatasi perundungan di kelas saya yaitu dengan menggunakan strategi mencari tau apa inti dari masalah dan kenapa bisa sampai terjadi dikelas saya. pertama saya akan bertanya kepada si anak yang mengalami perundungan mengapa dalam proses belajar dia menjadi penurunan dan pasif. setelah saya mengetahui inti dari permasalah ternyata ada 2 teman yang selalu mengejek dan menghina ketika dia selalu bisa dalam belajar. sebut saja nama kedua anak ini faeza dan anri. setelah saya telusuri dan mencari tau tentang kedua anak ini mereka mengaku bahwasannya mereka benar berbuat seperti itu kepada si anak yang dibully sebut saja namanya raffiq. saya menanyakan apa tujuan dan inti kepada kedua anak ini kenapa berbuat seperti itu kepada raffiq. hal itu dilakukan karena mereka iri dan tidak suka kalau si raffiq yang terus saya puji dan beri award sehingga menyebabkan kedua anak ini melakukan hal ini kepada si raffiq. </p><p>Refleksi emosional : perasaan saya ketika saya tidak dapat mencegah atau menghentikan sebuah tindakan bullying yaitu saya merasa sedih dan kecewa kepada diri sendiri karena tidak bisa menangani hal ini di kelas saya. dan tentunya akan membuat nama kelas saya menjadi jelek di lingkungan sekitar sekolah. nah yang bisa saya lakukan kepada si anak adalah memanggil kedua orang tua yang melakukan pembullyan agar kedua anak ini dapat dilakukan pembinaan terhadap orangtua dan sekolah. </p><p>Dampak terhadap lingkungan belajar yaitu dinamika proses belajar anak menjadi menurun secara keseluruhan jika permasalahan ini tidak bisa diatasi sampai tuntas.</p><p>Kolaborasi dengan siswa yaitu dengan memanggil beberapa saksi bahwasannya benar kedua anak yang pembully raffiq itu benar terjadi dan dilakukan setiap hari. saya sebagai guru terus mengedukasi anak untuk berani jujur dan mau mengemukakan apa yang mereka lihat sebgai agen perubahan di kelas mereka.</p><p>Langkah Pencegahan yaitu saya akan memanggil kedua anak yang melakukan pembullyan kepada raffiq. saya menanyakan apa tujuan dan inti  permasalahan kenapa bisa berbuat seperti itu? dan setelah saya mengetahui saya memberikan nasehat kepada kedua anak tersebut untuk tidak melakukan hal tersebut kepada raffiq. serta memanggil kedua orangtua anak yang melakukan pembullyan untuk dilakukan pembinaan agar ada efek jera kepada anak.</p><p>nah dari sini juga saya menyadari bahwa saya juga disini salah karna tidak bersikap adil kepada semua anak dan berpihak kepada anak-anak yang memiliki prestasi yang bagus.</p><p>Dukungan terhadap korban yaitu: dukungan saya terhdap korban bullying yaitu raafiq adalah memberikan motivasi dan semangat untuk membantu dia menghilangkan rasa trauma dan ketakutan yang dilakukan temannya. </p><p>Belajar dari kegagalan : dari sini saya belajar dari kegagalan bahwasaanya untuk perlunya  bersikap adil kepada seluruh anak agar tidak ada anak yang merasa tidak dipedulikan oleh gurunya.</p><p>Visi jangka panjangnya yaitu saya akan melakukan membuat program-program anti bullying disekolah dan melibatkan peserta didik untuk turut andil berpartisipasi mengikuti program tersebut yaitu dengan membuat poster-poster bersama anak-anak  dengan berkaitan dengan perundungan. dengan membuat program ini tentunya akan mengurangi dampak dri perundungan yang terjadi di sekolah. </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977370504/1b648e4620e8a052b1a1d2d82576c2c6/3_x_4_merah.jpg" />
         <pubDate>2024-11-02 05:05:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198294756</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dwi Putri, S.Pd</title>
         <author>dwiputri721</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198295105</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Dwi Putri, S.Pd</p><p>Unit tugas : UPT SDN 060800 Medan Area</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Saya adalah seorang guru kelas 1. saya menyadari adanya bullying dikelas saya ketika salah satu orang tua murid saya menunjukkan perubahan prilaku yang cukup signifikan. Sebut saja namaya Habil, Habil sebelumnya anak yang periang, suka berteman dan juga rajin sekolah, sampai akhirnya Habil ini menjadi jarang sekolah dan menjadi pendiam, suatu ketika saya bertanya " Kenapa Habil tidak istirahat nak? kok hanya di dalam kelas?" kemudian dia menjawab " tidak apa - apa buk ". terus saya meyakinkan lagi bener tidak apa - apa? dia menjawab kembali iya buk. Kemudian keesokannya Habil tidak hadir kembali ke sekolah. lalu keesokkannya datang orang tua habil mengantar Habil sekolah dan menyampaikan alasan Habil menjadi malas sekolah dan pendiam di sekolah karena Uang Jajan nya selalu di minta oleh siswa lain dari sekolah tetangga dan mendapat ancaman akan dipukul kalo tidak memberikan uangnya. alangkah terkejutnya saya mendengar kabar tersebut, dan ini tidak terjadi sekali saja.</p><p><br/></p><p>Sebagai seorang guru saya sangat menyesal sekali karena tidak mengetahui kejadian yang dialami siswa saya yang terlebih lagi masih kelas 1 dan sangat sangat butuh perhatian. dan sebagai gurunya saya harus segera menyelesaikan masalah ini agar tidak terjadi lagi dan menimpa siswa saya yang lain.</p><p><br/></p><p>Langkah awal yang saya lakukan adalah saya mendengar penjelasan Habil terlebih dahulu bagaimana awal mula kejadian yang menimpanya terjadi, mulanya Habil takut untuk menceritakannya, tapi dengan pendekatan yang saya lakukan dan membujuknya untuk bercerita, akhirnya Habil mau bercerita yang di dampingi orang tuanya . Setiap pulang sekolah  ketika Habil menunggu kakakknya pulang dia selalu dimintai uang jajannya dan diancam sehingga takut untuk pergi ke sekolah.</p><p><br/></p><p>Setelah mendengar penjelasan Habil, kemudian saya berbicara dengan kepala sekolah untuk menyelesaikan masalah ini. langkah yang kami ambil yaitu pertama sekali menyampaikan kejadian ini kepada pihak sekolah anak yang melalukan Bullying tersebut, kemudian memanggil anak tersebut untuk menanyakan kenapa melakukan bullying dan berulang kali. ternyata anak tersebut adalah anak broken home, tidak mendapat perhatian orang tuanya, dan tidak mendapat uang jajan sehingga kemudian anak tersebut melakukan bullying kepada siswa saya. kemudian pihak sekolah anak tersebut memanggil orang tuanya untuk memberitahukan yang dilakukan anak tersebut dan memberikan bimbingan kepada anak tersebut agar tidak melakukan hal itu kembali dan dampak negatifnya bagi anak yang di bullying. </p><p><br/></p><p><br/></p><p>Saya merasa sangat penting sekali untuk menghentikan prilaku bullying dimana pun  karena sejatinya prilaku bullying adalah prilaku yang sangat sangat jahat dan dapat memberikan dampak yang buruk bagi  korban yang di bullying. </p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977343739/a1f8bf93fc4910c7e2e409cf2ce543aa/PAS_PHOTO__2_.jpg" />
         <pubDate>2024-11-02 05:06:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198295105</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198298776</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama             : Agustriana Sitorus</p><p>Asal sekolah  : UPT SDN 068007 Kecamatan Medan Tuntungan</p><p><br/></p><p>Saya pernah berada dalam situasi dimana saya harus menunjukkan toleransi terhadap pandangan, agama, dan budaya yang berbeda. Perasaan saya pada saat itu justru menjadikan saya lebih kuat karena saya yakin Tuhan punya rencana yang lebih indah walau tiap hari harus mengalah dengan situasi tersebut namun dengan doa dan terus berusaha penuh keyakinan perbedaan tersebut menghasilkan sebuah pandangan yang indah.</p><p><strong>Peran sebagai guru:</strong></p><p>Sebagai seorang guru dalam hal menangangi pendapat atau konflik antar siswa yang disebabkan oleh perbedaan latar belakang tentunya guru harus bisa sebagai mediator atau penengah. Dengan strategi yang guru gunakan agar menjaga harmonis dan saling menghormati di kelas dengan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk mengatasi konflik antar siswa:</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Memiliki skill komunikasi yang baik</strong></p><p>Guru perlu belajar peka terhadap situasi dan memahami konsep konseling dan mediasi.&nbsp;</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Menciptakan lingkungan belajar yang inklusif</strong></p><p>Guru perlu memperlakukan setiap siswa dengan penuh perhatian dan penghargaan.&nbsp;</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Memberikan kesempatan yang sama bagi setiap siswa</strong></p><p>Guru perlu memastikan bahwa tidak ada diskriminasi yang terjadi di lingkungan belajarnya.&nbsp;</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Mengajak komunikasi terbuka</strong></p><p>Guru dan siswa dapat saling menyampaikan apa yang menjadi timbul adanya konflik-konflik tertentu.&nbsp;</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Melibatkan orang tua</strong></p><p>Guru dapat mengadakan pertemuan dengan orang tua untuk membahas perkembangan siswa dan mengatasi masalah bersama.&nbsp;</p><p><strong>Mengajarkan toleransi :</strong></p><p>Guru mendidik siswa untuk menghargai perbedaan dan mempraktikkan toleransi di sekolah dengan berapa cara yaitu:</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Memberikan contoh</strong>: Guru dapat menjadi teladan dalam berperilaku.&nbsp;</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Menumbuhkan apresiasi</strong>: Guru dapat menumbuhkan apresiasi terhadap perbedaan.&nbsp;</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Menggunakan metode diskusi</strong>: Guru dapat menggunakan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran.&nbsp;</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Melakukan permainan</strong>: Guru dapat melakukan permainan yang menyenangkan untuk membuat belajar lebih menyenangkan.&nbsp;</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Selektif dalam memilih tontonan</strong>: Guru dapat selektif dalam memilih tontonan anak, dan memeri batasan ketika menggunakan media tertentu</p><p>Tentunya ada moment guru berhasil dalam menanam nilai-nilai untuk menghargai perbedaan tersebut.</p><p><strong>Refleksi Emosional:</strong></p><p>Guru pernah menghadapi situasi dimana siswa atau komunitas sekolah menunjukkan intoleransi. Perasaan yang guru rasakan tentunya sedih ya, serba salah gitu jadinya karena kalau ini dilakukan terus menerus pasti akan terjadi konflik maka guru mengambil langkah dengan :</p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menanamkan Pemahaman bahwa Setiap Orang Berbeda. Mengingatkan <strong>teman</strong> tidak harus dalam wujud menasehati dengan lantang.</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menyisipkan Saran untuk Menghormati Perbedaan.</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Memberi Contoh yang Baik.</p><p><strong>Dinamika kelas;</strong></p><p>Guru mengelolah dinamika kelas yang siswa berlatarbelakang agama, budaya, atau suku yang berbeda dengan cara :</p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Memahami <strong>Karakteristik</strong> Siswa.</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ciptakan Lingkungan Belajar yang Inklusif.</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Gunakan Berbagai Metode Pembelajaran.</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berikan Dukungan dan Bimbingan Individual.</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berkolaborasi dengan Orang Tua.</p><p>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tetap Terbuka dan Bersedia Belajar.</p><p>7.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Catatan.</p><p>Guru memastikan bahwa setiap siswa merasa dihargai dan diterima dengan cara <strong>Menciptakan budaya kelas yang inklusif</strong> : Guru perlu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung di mana semua siswa merasa dihargai dan dihormati. Mereka dapat melakukannya dengan mempromosikan inklusivitas, mendorong dialog terbuka, dan menangani setiap kejadian diskriminasi atau pengucilan.</p><p><strong>Peran pendidik dalam membentuk sikap toleransi :</strong></p><p>Menurut guru pendidikan dapat berperan dalam mempromosikan toleransi di masyarakat yang semakin beragam dengan adanya <strong>Pendidikan karakter yang mendalam dapat membantu mencegah prasangka, diskriminasi, dan konflik di masyarakat.</strong></p><p><strong>Contoh nyata :</strong></p><p>Guru memberikan contoh berdoa bersama di kelas sebelum belajar .</p><p><strong>Pencegahan Diskriminasi :</strong></p><p>Guru melakukan tindakan yang konkret untuk mencegah diskriminasi atau stereotip negatif dikelas dengan cara <strong><br>promosi toleransi dan empati</strong> adalah kunci untuk mengatasi stereotip, diskriminasi, dan bullying. Penting untuk mengajarkan anak-anak dan orang dewasa tentang kewajiban memahami dan menghormati pandangan, kepercayaan, dan pengalaman orang lain.</p><p>Guru pernah menghadapi tantangan dalam mempromosikan kesetaraan dan penerimaan dilingkungan sekolah, pada saat penerimaan siswa baru.</p><p><strong>Belajar dari kegagalan:</strong></p><p>Guru pernah merasa bahwa upaya saya dalam mempromosikan toleransi di sekolah tidak berhasil . Untuk itu guru belajar dari pengalaman orang lain yang pernah mengalami hal ini, agar tidak terjadi hal yang sama kedepannya. Adapun hal yang guru pelajari adalah:</p><p><strong>Menjadi teladan</strong>: Guru dapat menunjukkan contoh perilaku yang baik dalam berperilaku.&nbsp;</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Menumbuhkan apresiasi terhadap perbedaan</strong>: Guru dapat mengajarkan siswa untuk menghargai perbedaan, memahami sudut pandang orang lain, dan bekerja sama tanpa memandang latar belakang.&nbsp;</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Menjelaskan keanekaragaman Indonesia</strong>: Guru dapat menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang bersatu karena hidup dengan toleransi tinggi dan saling menghargai perbedaan.&nbsp;</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Membimbing siswa melihat persamaan</strong>: Guru dapat membimbing siswa untuk melihat persamaan melalui kegiatan menggambarkan potret diri.&nbsp;</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Menggunakan metode diskusi kelompok</strong>: Guru dapat menggunakan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran.</p><p><strong>Visi Jangka Panjang:</strong></p><p>Adapun Langkah-langkah yang guru perioritaskan untuk merancang program toleransi disekolah adalah menanamkan nilai toleransi juga dapat melalui kegiatan pembelajaran dengan menggunakan beberapa metode seperti <strong>memberikan keteladanan, tolong menolong, serta saling menghargai</strong>. Situasi sebagaimana digambarkan mesti disikapi oleh sekolah melalui penanaman nilai- nilai toleransi.</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977353190/dbfe043baa92cb6c24c7829cc82c159b/WhatsApp_Image_2024_11_02_at_11_21_59.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-02 05:20:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198298776</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198308128</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Titis Sri Sundari, S.Pd.I</p><p>Asal Sekolah : UPT SD Negeri 060806</p><p><br/></p><p>"Pengalaman saya dikucilkan di kelas pada saat saya duduk di bangku sekolah dasar, saya tidak tahu apa yang terjadi dan apa penyebab nya yang saya tahu teman-teman perempuan saya menjauhi saya, tetapi saya sadari saya cantik dan menawan. pada masa itu sedang musim eforia ajang pencari bakat di stasiun televisi swasta AFI. mereka membuat grub tari dan hanya saya saja yang tidak ikut. sedih, kecewa, patah hati. anak berumur 10 tahun merasakan patah hati pertama nya. dikala suara tepuk tangan dan hentakan kaki riuh memenuhi ruang, saya hanya bisa menunggu di luar menatap bola diperebutkan, hanya es mambo yang menemani saya. saya tidak ingin melakukan apa-apa, yang ada dalam benak saya ,kapan pulang...?</p><p><br/></p><p>"Beberapa tahun kemudian saya menjadi seorang guru yang setiap hari bertemu dengan berbagai karakter pola anak-anak. saya pernah mengajar di salah satu SMA swasta di kota Medan. tepatnya di kelas 12 IPA. pertama kali saya menyadari siswa saya mengalami bullying, sebut saja namanya Ari. yang jarang masuk sekolah, perilaku dikelas sangat pasif, pendiam dan tidak mau bergaul dengan teman-teman yang lain, dimana ari dulu anak yang periang dan aktif. ketika saya tanya ada apa?. ari selau menjawab tidak ada apa-apa bu. dan menghindari kontak mata. awalnya saya anggap biasa saja, mungkin ada masalah dengan orang tua atau pacar. namun sikapnya terus berlanjut sampai beberapa minggu kemudian. sehingga saya memutuskan untuk memanggilnya secara personal. di saat itu saya coba bertanya dengan sangat hati-hati tanpa melukai perasaan dan memposisikan sebagai orang tua sekaligus teman nya. di sana Ari bercerita bahwa dia sering di rundung oleh teman-teman nya dari kelas lain di luar sekolah yang melukai perasaan nya membuat dia sedih dan kecewa tanpa terasa dia bercerita dengan berurai air mata. saya mendengar cerita nya merasa sangat terpukul dan kecewa, anak didik saya ada yang mengalami perundungan seperti ini. tindakan awal saya adalah saya memberi motivasi dan semangat untuk ari bahwa dirinya sangat berharga, lalu saya berdiskusi pada guru konseling di sekolah tentang situasi ini. adapun tindakan kami melakukan pendekatan yang sistematis terhadap siswa-siswa yang terlibat dalam perundungan ini tanpa langsung menuduh mereka, dan kami juga membuat sosialisasi tentang pentingnya sikap empati, saling menghargai, menyayangi dan menghormati perbedaan. berkaca dari peristiwa tersebut saya menjadi lebih peduli terhadap perubahan perilaku siswa-siswi saya. bahwa bullying bisa saja terjadi dimana saja tanpa kita sadari, dan saya sebagai guru memiliki tanggung jawab besar terhadap awal dan dampaknya, serta kesehatan mental siswa-siswai saya.</p><p>saya belajar bahwa kesehatan mental anak sangat mempengaruhi perkembangan tumbuh kembang anak, sehingga dengan menjadi guru, teman, pendengar, konsultan. guru memegang peranan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977347323/6127a6ca0fe442466644f1f54fd76a15/WhatsApp_Image_2024_11_02_at_12_48_51.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-02 05:53:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198308128</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Global Warming</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198313236</link>
         <description><![CDATA[<p>"Pertama kali saya berdinas di unit kerja saya tahun 2023 sebagai ASN PPPK berlokasi di daerah pesisir laut Belawan, disambut air pasang ROB bercampur dengan berbagai sampah yaitu (pamfers, plastik, botol, dan sebagainya). Bagi saya ini hal yang tidak pernah saya rasakan disejarah hidup saya. Sehingga saya merasakan jijik, bau, bahkan gatal di anggota badan saya yang terkena air pasang tersebut. Belum lagi saya harus beradaptasi dengan cuaca panas yang luar biasa. Kemudian pandangan saya tidak nyaman ketika melihat sekitaran sekolah terkhusus dibawah-bawah kolongan rumah warga (karena rumah mereka bentuk panggung) banyak terdapat sampah sehingga keliatan pemandangan yang begitu kumuh. Sebagai orang baru dengan dihadapkan kondisi seperti ini, adrenalin saya sebagai penyelidik terpacu. Saya mengajak penjaga sekolah dan masyarakat  berkomunikasi terkait beberapa hal yaitu; perbedaan intensitas pasang rob yang terjadi dari dulu hingga sekarang, kesadaran masyarakat terhadap sampah, pembuangan sampah serta petugas kebersihan. Dari komunikasi yang saya lakukan ternyata intensitas pasang rob yang terjadi dulu dengan sekarang berbeda, lebih sering terjadi pada saat sekarang ini karena kalau dahulu hanya terjadi 1x dalam setahun sedangkan sekarang pasang rob terjadi setiap bulannya bahkan sekarang seminggu sekali terjadi. Masyarakat juga kurang menyadari terhadap pembuangan sampah yang mereka lakukan disembarang tempat, padahal petugas kebersihan dan juga tempat pembuangan sampah ada. Sungguh miris saya mendengarnya, walaupun mungkin saya tidak berdomisili disini akan tetapi saya berdinas disini, karena saya berpikir bencana datang sesuka hati, tidak pernah menentukan waktunya kapan tanggal berapa. Untuk melakukan kesadaran masyarakat adalah hal sulit pastinya bagi saya karena keterbatasan tugas dan waktu saya. Saya mengambil inisiatif yang saya lakukan adalah saya harus bergerak terlebih dahulu dari diri saya sendiri. Mulai berbenah sebagai contoh kepada peserta didik dan rekan sejahwat terkait me njaga kebersihan diri, kelas dan lingkungan sekolah. Menggunakan tempat bekal dan minum yang bisa dipakai berulang. Namun hal ini tidak cukup pada diri saya saja, saya juga harus melibatkan aspek kepala sekolah, rekan sejahwat, peserta didik, serta orang tua.</p><p>Pada rekan sejahwat saya mengusulkan untuk pemilihan tema P5 "Gaya Hidup Berkelanjutan" topik "SAMPAH" karena berkesinambungan dengan masalah di lingkungan sekolah. Rekan kerja sejahwat menyetujui akan usulan ini dan menyampaikan terkait hal ini kepada kepala sekolah yang juga ternyata menyetujuinya. Apakah cukup sampai disini? Jawaban nya tidak. Saya dan rekan sejahwat terbentur pada bagaimana menyusun modul ajar P5 dengan penyesuaian terhadap lingkungan tempat kami bekerja. Saya kemudian mengikuti berbagai komunitas belajar dengan pikiran barangkali akan mendapatkan informasi yang berhubungan dengan pengembangan modul ajar P5 dan sebagainya. Misi yang saya lakukan dengan mengikuti berbagai kombel tepat, saya mendapatkan link penyeleksian sebagai "CO Fasilitator Pemilahan Sampah dan Peluncuran Modul Gaya Berkelanjutan oleh PT Gema Nirmala Indonesia" dari komunitas KGBN. Alhamdulillah dengan melakukan seleksi, saya terpilih menjadi salah satu peserta dari 9 orang yang lulus mengikuti pelatihan bersama pak Berto Sitompul. Setelah pelatihan 2 hari yang saya lakukan, saya diminta untuk membuat RTL disekolah saya. RTL yang saya lakukan adalah melakukan sosialiasi dengan kepala sekolah, rekan sejahwat, dan peserta didik terkait tentang sampah, bahaya sampah,pemilahan sampah dan sebagainya. Kemudian membuat Bank Sampah (mendesain nama bank sampah, membuat sk bank sampah, serta bentuk kegiatan). Bank sampah yang didirikan bernama bank sampah CETAR (Cerdas,Edukatif,Terampil,Aktif dan Religius), dengan melakukan kegiatan bernama "Sedekah sampah" pelaksanaan setiap jum'at. Kegiatan ini sangat antusias dilakukan oleh peserta didik dilihat dengan keseriusan peserta didik membawa sampah dari rumahnya bahkan jika ketinggalan membawa sampah, orang tua peserta didik datang menghantarkan sempah kesekolah. Alasan mereka seantusias itu berpikir selama ini bersedakah dengan uang namun ternyata dengan sampah tidak hanya menyelamatkan lingkungan akan tetapi bisa berbagi dengan sesama.</p><p>Kemudian yang saya lakukan ini saya imbaskan kepada rekan sejahwat sebagai pemateri (Fasilitator) di kecamatan Belawan untuk memotivasi mereka agar mencintai lingkungan. Bank sampah yang tadinya hanya 9, kini sudah ada 28 bank sampah sekolah se kecamatan Medan Belawan yang bekerjasama dengan PT Gema Nirmala Indonesia. </p><p>Fasilitator yang didedikasikan ke saya oleh PT Gema Nirmala Indonesia mengemban tanggung jawab yang berat karena saya akan menjadi model yang senantiasa dilihat oleh rekan sejahwat  baik dari unit saya bekerja ataupun di luar unit saya bekerja. Hal ini, mengubah hidup saya yang tadinya berpikir konsumtif menjadi tidak konsumtif jika masih bisa digunakan kenapa harus mengganti baru, menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekolah, memakai seperlu nya saja tidak berlebihan dan sebagainya. Tantangan yang saya hadapi adalah saya harus punya kesabaran ekstra didalam memotivasi dan menggugah orang lain agar bergerak mencintai lingkungan. </p><p>Proyek yang saya lakukan yang berfokus pada lingkungan yaitu bank sampah masih berjalan sampai sekarang bahkan sampah yang ada disekolah mulai berkurang dan sudah terpilah selain itu juga nantinya akan dilanjutkan pengimbasan praktik baik kepada rekan sejahwat se kecamatan medan marelan dan se kecamatan hamparan perak. Serta saya berharap target selanjutnya adalah melakukan berbagai gerakan bersama dengan masyarakat sekitar sekolah. Agar sampah dan kesadaran masyarakat juga tumbuh sehingga ketika pasang rob terjadi tidak lagi membawa sampah-sampah yang banyak dan mencegah terjadi nya tsunami ataupun barangkali nantinya Bagan Deli tenggelam.</p><p>Keterlibatan peserta didik dalam kegiatan proyek bank sampah, melibatkan orang tua untuk mendukung peserta didik dalam melaksanakan pengumpulan sampah setiap jumatnya dengan program "Sedekah sampah" serta melibatkan diri sebagai motivator yaitu mengimbaskan praktik baik dengan rekan sejahwat baik dalam maupun luar dinas saya bekerja. Memang tidak mulus karena tidak semua menerima sepenuhnya apa yang dilakukan terkadang ada segelintir cemoan menambah beban kerja namun memiliki kesabaran dalam menyadarkan bahwa dampak dari jika kita mengabaikan kepedulian terhadap lingkungan. </p><p>Permasalahan sampah merupakan salah satu yang akan memberikan dampak pada perubahan iklim. Sampah yang bertumpuk tersebut akan mengeluarkan gas metana yang sangat berbahaya. Sehingga menjaga lingkungan dari sampah itu penting dan merupakan tanggung jawab semuanya. Walaupun kita melakukan kegiatan sekecil apapun misalkan menyimpan sampah di laci maka jika sampah itu bisa mengundang bakteri dan akan menimbulkan bau tidak sedap, dan akan berdampak lebih besar adalah ketika pasang rob bercampur sampah maka peserta didik mengalami penyakit kulit dan sebagainya. </p><p>Mari bergerak dan melakukan pergerakan demi meyelamatkan diri dan bumi. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977343857/18b6f5aaccff7cdd2de57c6c763ca398/WhatsApp_Image_2024_11_02_at_11_15_23_17de6388.jpg" />
         <pubDate>2024-11-02 06:10:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198313236</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Phellys Martha Junita Sitompul UPT SMP Negeri 11 Medan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198348855</link>
         <description><![CDATA[<p>Pengalaman Pribadi: </p><ul><li><p>Saya pernah menyaksikan dan mengalami murid saya yang mengalami Bullying di kelas VIII-6 saat itu. Perasaan saya saat itu adalah kaget, marah, dan ingin segera menindak pelaku Bullying.</p></li></ul><p>Peran sebagai Guru : </p><ul><li><p>Pertama tanda yang saya dapati yaitu ada muridsaya yang sering tidak datang dengan berbagai alasan yaitu sakit, dan ijin. Semakin lama ketidakhadirannya tidak ada alasan. Saya mengundang orangtuanya sampai 2 x dan tidak ada respon sampai panggilan dari BK juga tidak direspon. Ternyata si murid ini yang tidak menyampaikan semua udangan dan panggilan dari sekolah setelah si ayah datang ke sekolah ketemu dengan saya menyampaikan anaknya tidak mau lagi bersekolah. Saya kaget dan merasa kecolongan akibat kejadian ini. Lalu saya memanggil perangkat kelas untuk mengetahui permaslahan dan saya menindak ke 6 murid pembullying itu sampai mereka menyadari kesalahan mereka dan meminta maaf.Akhirnya mereka kompak kembali dan si murid korban Bullying itu bahagia dan tetap sekolah sampai tamat SMP.</p></li></ul><p><br/></p><p>Strategi dan Tantangan: </p><ul><li><p>Strategi saya melakukan pendekatan personal dan mengarahkan murid sebelum memberikan materi pembelajaran. Pengarahan tentang Bullying agar murid mempunyai kesadaran. Tantangan yang saya hadapi yaitu tidak semua kelas saya masuki mendapatka arahan mengenai Bullying hanya 10 kelas dari 30 rombel.Saya mengatasinya yaitu dengan membicarakan hal Bullying &nbsp;ini ke guru BK untuk membuat pengarahan kepada seluruh murid di sekolah.</p></li></ul><p><br/></p><p>Refleksi Emosional: </p><ul><li><p>Saya merasakan kecewa berat dan gagal karena tidak dapat menolong korban Bullying. Saya akan melakukan pendekatan personal kepada korba Bullying untuk memberikan kekuatan, dan dorongan moril agar korban mampu melawan tindakan Bullying kepada dirinya serta mencari orang yang dapat membantu korban.</p></li></ul><p>&nbsp;</p><p>Dampak Terhadap Lingkungan Belajar: </p><ul><li><p>Tindakan Bullying ini sangat mempengaruhi dinamika kelas dan kondisi sekolah. Aapabila dibiarkan maka akan membuat murid korban Bullying tertekan dan pelaku Bullying merasa semakin berkuasa. Tindakan kepada pelaku Bullying ini harus dilakukan segera mungkin sehingga murid merasa nyaman maka dinamika sekolahpun menjadi aman dan kondisi sekolah menjadi kondusif.</p></li></ul><p>&nbsp;</p><p>Kolaborasi dengan siswa: </p><ul><li><p>Siswa/siswi mempunyai peranan penting dalam menghentikan tindakan Bullyiing. Jika ada dalam satu kelas mempunyai 6 orang pelaku Bullying siswa/siswi yang 29 menolak/melawan 6 orang dengan memberikan pengertian pada 6 orang itu buruknya tindakan Bulying itu maka tindakan Bullying itu akan berhenti. Hal itu sudah pernah saya lihat seorang murid berani membentak teman-temannya yang membully 1 orang. Murid itu mengatakan buruknya effek bullying dan murid itu akan melaporkan tindakan mereka ke guru. Cara saya mengedukasi mereka yaitu selalu memberikan arahan sebelum mulai materi pembelajaran. Selain itu ssaya selalu memberikan edukasi tentang etika, budi pekerti, dll.</p></li></ul><p>&nbsp;</p><p>Langkah Pencegahan: </p><ul><li><p>Tindakan pencegahan yang saya lakukan yaitu selalu mengadakan pendekatan personal dan memberkan pengarahan mengenai etika, budi pekerti, dan lain-lain sebelum memulai pembelajaran. Dengan begitu murid mempunyai wawasan mengenai etika dan budi pekerti yang baik. Selain itu selalu mengadakan komunikasi yang baik dengan orangtua setiap hari melalui buku penghubung dan whatssup. Hal inilah yang saya lakukan selama ini.</p></li></ul><p>&nbsp;</p><p>Dukungan terhadap korban: </p><ul><li><p>Saya pernah berinteraksi dengan murid korban Bullying di kelas VIII-6. Dukungan saya padanya yaitu menyelesaikan masalahnya sampai tuntas dan menjamin keamanannya di sekolah. Menurut saya pendekatan personal dan memberi perhatian padanya sangat effektif untuk mengobati traumanya.</p></li></ul><p>&nbsp;</p><p>Belajar dari Kegagalan: </p><ul><li><p>Sejauh ini saya belum pernah mengalami kegagalan dalam mengatasi kasus Bullying di sekolah. Pendekatan personald an menjalin komunikasi yag intens kepada orangtua murid.</p></li></ul><p>&nbsp;</p><p>Visi Jangka &nbsp;Panjang: </p><ul><li><p>Saya akan merancang program Stop Bullying di sekolah dengan membicarakan program ini dengan Kepala Sekolah terutama guru BK berkolaborasi dengan seluruh warga/komunitas sekolah beserta siswa/siswi.</p></li></ul><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977458035/9023115a6b2aa942903f15febacf2a44/WhatsApp_Image_2024_10_28_at_15_04_15.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-02 07:59:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198348855</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aulia Rohman         SMK Negeri 3 Medan </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198472793</link>
         <description><![CDATA[<p>PERUNDUNGAN</p><p><br/></p><p>PENGALAMAN PRIBADI </p><p>saya menyaksikan langsung dan mengalami langsung tidak pernah. saya rasa saat saya berada di posisi korban saat itu saya akan melawan. saya melihat dari kondisi sikologisnya sehari sehari selama dia berada di sekolah. saya akan melakukan pendekatan kepadanya. dan memberi penguatan peguatan untuk melewati keterpurukannya. </p><p><br/></p><p>STRATEGI DAN TANTANGAN </p><p>dengan membekali murid tentang kesadaran antara hak dan kewajibannya sebagai murid dan warga sekolah. tantangannya adalah minimnya respon dari peserta didik. saya membuat analogi analogi sederhana untuk mendapatkan perhatian mereka .</p><p><br/></p><p>REFLEKSI EMOSIONAL </p><p>saya akan sangat penasaran dan tertantang untuk menyelsaikan perkara ini. meyehatkan fikirannya, menguatkan fisiknya memberi pelajran beladiri kepadanya .</p><p><br/></p><p>DAMPAK TERHDAP LUNGKUNGAN BELAJAR </p><p>ketidak seimbangan semangat belajar anatar siswa, komunikasi tidak sehat di dalam kelas . akan ada perubahan jika kesadaran berubah para pelaku mengalami efek jera yang terasa. </p><p> </p><p>KOLABORASI DENGAN SISWA </p><p>sebenarnya kekuatan terbesar ada siswa yang bukan menjadi pelaku jika melakukan tindakan aktif. dengan membangun kesepakan kelas dan membangun dinamika kelas </p><p><br/></p><p>LANGKAH PENCEGAHAN </p><p>dengan mengajari siswa tentang akidah akhlak. pengalaman saya mengadapi kendala karena ada beberapa siswa yang tidak begitu cepat merespon segala nilai2 dari metode menananmkan akidah akhlak. mukin karena tidak ada pembiasaan dari rumah. </p><p>DUKUNGAN TERHADAP KORBAN </p><p>belum pernah beriteraksi dengan korban bullying.  menyehatkan raganya mengembalikan semangat hidupnya. </p><p>BELAJAR DARI KEGAGALAN </p><p>saya akan evaluasi sejauh mana keterlibatan peserta didik, orang tua serta seluruh guru disekolah. dan seberapa kuat dan efektifnya program2 yang sudah dibuat terhadap respon perubahan siswa. </p><p><br/></p><p>VISI JANGKA PANJANG </p><p>saya akan melakukan pemetaan peserta didik baik kategori korban, pelaku, atau  yang pernah terkena imbasnya / lalu mengedukasi mereka, sesuai dengan pengalaman mereka, lalu memberikan target perubahan bagi tiap kelompok sesuai pemetaan.  </p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2977581973/991edc98ef419a0523406fab4d9e0b29/photo.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-02 13:07:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198472793</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Maria Imelda Hutapea, S.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198568365</link>
         <description><![CDATA[<p>Sebagai seorang guru, saya hampir setiap hari menyaksikan tindakan bullying di sekolah. Bukan hanya terjadi pada para siswa, dengan rekan guru juga sering melakukan tindakan bullying, meskipun itu dirasa hanya bercanda tapi perasaan seseorang yang mengalaminya pasti sedih (dalam hatinya mengatakan ya ampun kok gitu kali ya), walaupun saat itu dia ikut tertawa bersama teman-teman yang lain. Mungkin hanya dengan mengatakan "Ini ni ibu ini (misalnya namanya Nia) duduk porsi dua orang, diborong semuanya, makanya bu makannya di rem." Atau ada juga yang mengatakan kepada para guru yang janda " Nah ini ni para janda selalu di depan".  </p><p><br/></p><p>Nah, dengan melihat dan merasakan sedihnya seperti menyayat hati saat tindakan bullying terjadi pada rekan guru, ini membuat saya tergerak untuk menasehati siswa saya yang suka membullying atau mengejek temannya saat di kelas. Ada 2 orang siswa India di kelas saya, yang satu aktif dan yang satunya jarang bicara. Nah, siswa yang aktif ini bernama Monica, dia sering sekali di ejek temannya yang bernama Fadhil dengan mengatakan Ee...keleng (karena dia hitam). Nah si Monica ini tidak mau kalah juga, dia membalas dengan memukul si Fadhil karena sudah diejek, akhirnya suasana kelas menjadi ribut.</p><p><br/></p><p>Nah, akhirnya saya memanggil keduanya ke depan kelas, dan menenangkan suasana kelas. Saya melakukan pendekatan kepada keduanya, dengan menanyakan terlebih dahulu kepada Fadhil kenapa kamu sering mengejek Monica? Jawabnya: karena semalam dia gangguin aku saat belajar bu. nah demikian juga, saya bertanya kepada Monica, kenapa kamu memukulnya? karena dia mengejek aku keleng bu.</p><p>Nah, saya bertanya apakah kalian sakit hati diejek ataupun dipukul? Iya lah bu, jawab mereka. Saya kasih contoh kepada mereka berdua, jika kalian melukis sebuah gambar, dan gambar itu dirusak, dirobek oleh teman mu, apakah kamu sebagai pelukisnya marah? Iya lah bu jawab mereka berdua. Nah begitu juga dengan Pencipta Alam semesta, kita semua manusia adalah ciptaanNya, rancanganNya, jika kamu ejek temanmu atau pukul teman mu, kira-kira Pencipta marah tidak? Iya pasti marah bu. Apakah orang yang merusak itu akan di hukum? Kalau kalian berdua sama-sama merusak, saling mengejek, memukul, berarti yang dihukum siapa? Kami berdua bu. Nah apakah kalian berdua mau dihukum? Tidak lah bu. Kalau begitu sekarang kalian minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.</p><p><br/></p><p>Dengan memberikan nasehat seperti ini, mereka berdua tidak lagi saling ejekan atau memukul. Dan ini menjadi pelajaran bagi semua siswa yang melakukan tindakan bullying di kelas. </p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2978499314/ffec3eb95bf9eafbed8ff04fd8fcad02/foto1.jpg" />
         <pubDate>2024-11-02 16:04:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198568365</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sekarzatayu</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198629239</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Sekar Zat Ayu </p><p>Asal Sekolah: SDS Islam Ash-Sholihah</p><p><br></p><p><br></p><p>"Pengalaman saya mengalami perundungan ketika duduk di bangku SMP kelas 2. Saya berasal dari keluarga yang kurang mau tampil modis, apalagi untuk anak yang masih sekolah. Akan tetapi, hal ini kurang diterima oleh teman disekitar saya, sehingga tidak sedikit dari mereka yang tidak menyukai penampilan saya mulai dari pakaian kebesaran, kaos kaki kepanjangan dan yang lainnya. Ada juga anak yang membicarakan saya kepada temannya, yang berakhir mereka tidak berteman dengan saya.</p><p><br></p><p>Saat itu, dikelas saya merasa tidak punya teman untuk curhat karena rasanya tidak ada tempat yang benar-benar bisa menampung keluhan saya, takut semakin diejek perihal penampilan. Dalam pelajaran pun, saya merasakan penurunan, merasa jadi yang paling bodoh, karena pada saat itu saya fokus pada "bagaimana agar mereka tidak menjauhi saya?" daripada mengurus pelajaran yang jelas lebih penting.</p><p><br></p><p>Saya mencoba meminta kepada keluarga saya, mengatakan bahwa saya ingin sedikit merubah penampilan karena merasa tidak percaya diri dengan diri saya pada saat itu, saya ingin seperti teman-teman saya, bermain dengan bebas. Ya, saya ingin bebas berpenampilan dan bermain, akan tetapi orang tua saya tidak membolehkan. Ini sempat membuat saya frustasi, sedih, karena merasa tidak dipedulikan. Adakalanya saya ingin cepat dewasa, saat itu. Saya heran, di saat keluarga lain memfasilitasi penampilan anaknya, kenapa keluarga saya tidak?</p><p><br></p><p>Langkah awal yang saya ambil untuk mengurangi rasa tidak nyaman, mendekatkan diri pada yang maha kuasa, mengabaikan apapun yang tidak berhubungan dengan sekolah, menganggap hal yang dilakukan teman-teman saya adalah hal wajar yang dilakukan anak-anak puber, yang ingin tampil menarik dan diperhatikan. Saya mencoba tetap fokus pada guru, dengan duduk dibangku paling depan (depan meja guru) agar lebih leluasa bertanya. Lambat laun (beneran lambat), teman-teman yang tadinya menjaga jarak, mulai bersikap biasa dan mau berbicara dengan saya. Hubungan kami menjadi pertemanan biasa pada umumnya, tidak jauh juga tidak terlalu dekat, yang penting mereka berhenti menggunjing penampilan saya.</p><p>Sekian tahun berlalu, saat saya sudah dewasa, pikiran saya mulai terbuka tentang semuanya. Ada hal yang membuat saya sangat bersyukur dengan tindakan keluarga saya pada saat itu yang sebenarnya adalah untuk menjaga dan melindungi anak ataupun adik perempuan mereka dari pergaulan bebas yang memang merajalela pada saat itu. Keputusan mereka yang sempat membuat saya insecure pada diri sendiri, yang membuat saya overthinking pada keluarga sendiri, pada akhirnya Keputusan itu pulalah yang menyelamatkan saya, yang pada akhirnya menjadi hal yang paling saya syukuri dalam hidup, terhindar dari pergaulan yang salah, yang memungkinkan rusaknya masa depan dan penyesalan dikemudian hari”.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2978902646/6a0fdade77e67d54c73d9834b1fcc1e9/IMG20240726101850.jpg" />
         <pubDate>2024-11-02 18:27:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198629239</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Khairun Nisa, S.Pd (SD IT AD-Durrah Medan Marelan)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198730426</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p><strong>Pengalaman Pribadi </strong></p><p>" Saya pribadi mengalami dan merasakan langsung perubahan iklim yang terjadi saat ini baik disekolah maupun dirumah dan dimanapun kita berada. saat menyadari hak ini saya merasa sedih dan khawatir untuk itu saya terdorong untuk melakukan sesuatu dan berkontribusi sebisa mungkin dalam menjaga lingkungan."</p><p><br></p></li><li><p><strong>Peran sebagai guru</strong></p><p>"untuk mengenalkan konsep perubahan iklim kepada anak SD yang saya lakukan adalah bercerita dan diskusi dengan mengaitkan fenomena yang terjadi saati ini secara langsung kepada mereka, seperti curah hujan yang tidak menentu, banjir yang terjadi dan meningkatnya suhu panas dibumi yang akhir-akhir ini juga dirasakan langsung oleh anak-anak. tantangan terbesar yang saya hadapi saat menjelaskan ini terutama kepada anak-anak SD adalah keterbatasan kosakata yang sulit mereka pahami, konsentrasi yang singkat, kemampuan pemahaman yang berbeda beda, dan kesulitan untuk membayangkannya secara langsung.</p><p><br></p></li><li><p><strong>Dampak Lingkungan Sekolah</strong></p><p>" dampaknya sendiri kalau untuk kesekolah sejauh ini adalah karena adanya perubahan suhu ekstrem yang meningkat dan cuaca yang tidak menentu, anak-anak mudah sakit, selain itu terjadi banjir dijalan-jalan yang mempersulit akses anak-anak menuju sekolah. saya akan mengaitkan fenomena-fenomena ini kepada anak-anak, karena hal hal ini secara tidak langsung telah mereka lalui dan rasakan adalah dampak dari perubahan iklim tersebut" </p><p><br></p></li><li><p><strong>Keterlibatan siswa</strong></p><p>"saya sangat antusias dalam pembelajaran ini dan siswapun sangat tertarik dalam hal ini. sejauh ini tindakan nyata yang dilakukan oleh siswa adalah menggunakan botol minum isi ulang, tempat bekal makan siang tidak menggunakan plastik, menghemat energi listrik dengan mematikan lampu atau peralatan listrik yang tidak digunkan."</p><p><br></p></li><li><p><strong>Refleksi Tindakan Pribadi</strong></p><p>"secara pribadi saya secara sadar betapa meresahkan perubahan iklim yang terjadi dibumi kita ini, hal hal kecil yang saya lakukan secara konsisten adalah membuat apotik hijau dirumah menanam sendiri cabai jahe, sereh, kunyit dll dipekarangan rumah. mengurangi penggunaan kantong plastik saat belanja sayur dengan tas khusus belanja. tidak membuang sampah sembarangan mendaur ulang sampah dapur seperti kulit bawang, kulit sayuran atau sisa sampah dapur ke tanaman agar menjadi pupuk kembali. mematikan sumber aruslistrikyang tidak digunakan.tantangan yang saya hadapi adalah kadang dibilang ribet oleh keluarga dan tetangga, kemudian belum bisa meninggalkan penggunaan kendaraan pribadi untuk akses pergi kemana-mana."</p><p><br></p></li><li><p><strong>Pendidikan dan aksi</strong></p><p>" saya pernah membuat proyek ekobrik daur ulang botol plastik menjadi kursi bersama siswa dalam mengurangi penggunaan sampah plastik. hasil proyek tersebut sangat bermanfaat dan memiliki nilai jual jika dikemas dengan lebih baik lagi. saya ingin proyek ini bisa diterapkan oleh sekolah-sekolah lain juga."</p><p><br></p></li><li><p><strong>Refleksi emosional</strong></p><p>"saya merasa cemas dan tidak berdaya melihaat situasi ini perubahan iklim ini, terlebih marelan dan hamparan perak sangat banyak pabrik. melihat limbah limbah pabrik yang dibuang kesungai dan asap-asap pabrik yang mengepul diudara. saya semakin bersemangat mengajarkan siswa tentang perubahan iklim tersebut."</p><p><br></p></li><li><p><strong>Penerapan konsep global dilokal</strong></p><p>"saya lakukan dengan cara menampilkan video - video pembelajaran yang berkaitan dengan perubahan iklim, agar lebih tergambarkan oleh mereka secara visual isu-isu global yang terjadi saat ini"</p><p><br></p></li><li><p><strong>Kolaborasi dengan komunitas</strong></p><p>"saya akan memberikan lkpd kepada siswa yang melibatkan orang tua siswa agar bersama-sama memahami pentingnya dampak yang akan terjadi jika tidak melakukan perubahan secara bersama"</p><p><br></p></li><li><p><strong>Belajar dari kegagalan</strong></p><p>"sejauh ini belum ada program atau aktivitas lingkungan disekolah yang tidak berjalan sesuai harapan."</p><p><br></p></li><li><p><strong>Visi jangka panjang</strong></p><p>"setiap siswa membuat ecobrik, setiap rumah memiliki kursi hasil daur ulang sampah plastik"</p><p><br></p></li><li><p><strong>Kepedulian diusia dini</strong></p><p>"ya saya akan melakukan pendekatan berbasis praktek".</p><p><br></p></li><li><p><strong>Inovasi pengajaran</strong></p><p>"metode yang saya gunakan PJBL dan menghasilkan sebuah produk, siswa sangat bahagia dan bangga dengan hasil proyek yang mereka lakukan."</p><p><br></p></li><li><p><strong>Dampak global dan tanggungjawab lokal</strong></p><p>"semua orang bertanggungjawab untuk melakukan dan menyelamatkan bumi serta memberikan perubahan yang lebih baik untuk lingkungan sekitar, karena dampak dari perubahan iklim ini, imbasnya bukan hanya dirasakan oleh satu orang, tapi seluruh makhluk yang ada dibumi"</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2979410866/1d674a92380b5ed5da8ca5062d794da2/Untitled.jpg" />
         <pubDate>2024-11-03 00:25:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198730426</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NURBAITY</title>
         <author>nurbaityspdi05</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198804408</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nurbaity</p><p>Asal Sekolah: UPT SDN 060973</p><p><br/></p><p>Saat awal pindah tugas ke Kota Medan pada tahun 2013 saya dihadapkan dengan rekan sejawat yang berbeda dan jumlah murid yang cukup banyak berasal dari latar belakang yang berbeda, sementara saya berasal dari sekolah kecil di salah satu daerah di kabupaten Langkat mayoritas beragama Islam. Saat ada perayaan hari besar agama lain saya bingung harus berbuat apa dan menempatkan posisi dimana.</p><p><br/></p><p>Pada saat pembelajaran di kelas, saya selalu mengingatkan pentingnya saling menghargai dalam perbedaan. Bahwa keragaman adalah sesuatu yang indah. Bahkan saya pernah membuat game untuk menggambar burung Garuda secara estafet, untuk melatih kekompakan dan menghargai ide dari teman lainnya.</p><p><br/></p><p>Kami pernah mengalami intoleransi saat di sekolah tidak ada guru agama Buddha, akhirnya murid yang beragama Buddha saat belajar agama ikut belajar dengan yang agama Kristen. Hal ini sangat  memprihatikan, dan menjadi perhatian kami bersama. Kemudian kepala sekolah membuat permohonan untuk membuka formasi bagi guru agama Buddha. Dan akhirnya sekarang kami memiliki guru P3K agama Buddha.</p><p><br/></p><p>Di dalam kelas saya memperlakukan siswa sama tidak membeda-bedakan tanpa memandang latar belakangnya. </p><p><br/></p><p>Dalam kurikulum merdeka sesuai mapel yang saya ampu yaitu pendidikan agama Islam hampir di setiap jenjang ada materi tentang toleransi dan indahnya saling menghargai. </p><p><br/></p><p>Yang sudah saya lakukan secara konkret adalah saya mendorong dan mengajak siswa untuk menyisihkan sebagian uang jajannya untuk memberi bingkisan kepada temannya yang kurang mampu, tanpa memandang suku dan agamanya.</p><p><br/></p><p>Saat peringatan hari besar agama di sekolah, yang melibatkan siswa dan orang tua, secara bergantian kami saling membantu untuk kelancaran acara tersebut. Di mulai dari persiapan mendekor, menjaga ketertiban saat acara sampai acara selesai.</p><p><br/></p><p>Kegagalan yang pernah saya rasakan adalah ketika berdikusi ada beberapa siswa yang terkadang masih ego dengan pendapatnya dan tidak mau mendengar dan tidak menghargai pendapat temannya.</p><p>Disini saya terus mendampingi siswa saat berdiskusi untuk berdiskusi dengan baik agar menghindari hal-hal tersebut.</p><p><br/></p><p>Visi saya ke depannya untuk menjaga toleransi adalah mengusulkan kepada kepala sekolah untuk membuat program jum'at ibadah. Dimana setiap hari jum'at setiap siswa melaksanakan ibadah bersamaan sesuai dengan agamanya masing-masing di tempat yang berbeda dengan bimbingan guru agama dibantu rekan guru lainnya.</p><p> </p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2635176054/17020c719cd0de0a5dc26d8db16169da/WhatsApp_Image_2024_11_03_at_11_58_06.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-03 05:02:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198804408</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perundungan</title>
         <author>arbipasaribu73_</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198839040</link>
         <description><![CDATA[<p>Pengalaman saya terkait bully tidak secara langsung mengalami atau menyaksikan perilaku dan pihak terkait</p><p><br/></p><p>Yang saya rasaban adalah dampak yang terjadi pada salah satu siswa di sekolah saya. Siswa ini sebut saja Doni, murid pindahan dari sekolah lain. Saat itu, saya adalah kepala sekolah, dan Doni ini pindah pada kelas IV. </p><p><br/></p><p>Di awal pendaftaran dań perkenalan, orang tua nya menyampaikan alasan terkait kepindahannya dari sekolah sebelumnya. Mendengar cerita yang membuat saya terkejut sekaligus miris, tidak menyangka pelecehan yang pernah ditonton di siaran-siaran televisi nyata tertampak di hadapan saya. </p><p><br/></p><p>Saya menunjukkan sikap empati pada kedua orang tua dengan menyatakan bahwa sekolah mengedepankan kenyamanan siswa didukung oleh sikap guru-guru yang memiliki pendekatan humanis pada murid. </p><p><br/></p><p>Di awal, kami tidak melihat kondisi yang mengkhawatirkan pada Doni. Hingga suatu hari, di pekken pertama bersekolah, saya bermaksud memeluknya dari belakang secara diam-diam. Ternyata respon yang ditunjukkan oleh Doni sangat mengejutkan saya. Dia menggigit tangan saya dan berteriak dengan kuat dan berlari menjauhi saya dengan cepat. </p><p><br/></p><p>Saya menyampaikan hal tersebut pada wali kelasnya. Yang disambut dengan memberikan informasi lain yang cukup mengejutkan saya.   Ternyata selama ini saat Belajar Doni selalu tidak fokus dan lebih senang keluar dari kelas untuk melakukan hal-hal yang tidak berkaitan dengan kegiatan belajarnya. </p><p><br/></p><p>Berdasarkan informasi ini saya bersama wali kelas mencoba berkomunikasi dengan orang tua terrait kondisi Doni tersebut. Dari hais diskusi dengan orang tua, kami merekomendasikan agar orang tua mencoba membawa Doni periksa pada psikolog untuk mendapatkan kejelasan status dan rekomendasi Tindakan yang perlu dilakukan. </p><p><br/></p><p>Orang tua setuju untuk memeriksakan dan konsultasi ke psikolog. Setelah dilakukan dan didapat rekomendasinya kami cukup terkejut dengan hasilnya. Ternyata Doni mengalami status autism. Dan hal ini menyebabkannya sering mengalami Tindakan bully pada sekolah sebelumnya. </p><p><br/></p><p>Mendapati hal ini kami bersama wali kelas dan orang tua Sepakat untuk melakukan Edukasi pada teman-teman sekelasnya terkait kondisi dan perilaku yang mestinya diberikan pada Doni sehari-harinya. </p><p><br/></p><p>Saya kemudian menyampaikan kondisi Doni tersebut pada rekan-rekan satu kelasnya, yang ketepatan tidak banyak berjulah kurang dari 10 orang. Saya didampingi oleh Wali kelas nya menceritakan hal-hal yang harus dipahami oleh teman-temannya dan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk membantu proses Belajar sehari-hari Doni. </p><p><br/></p><p>Akhirnya dengan kerjasama semua pihak kami dapat memberikan lingkungan belajar yang nyaman untuk Doni   hingga selesai kelas VI. </p><p><br/></p><p>Karena orang tua Doni sering pindah tugas, Selesai SD mereka pindah ke beberapa kota lain dan kami kehilangan kontak. Hingga beberapa tahun kemudian, seingat saya Doni sudah kuliah kami berkesempatan bersilaturrahim ke rumah orang tuanya di Pulau Jawa, bertemu dengannya dan cukup takjub mengingat Doni masih mengingat semua guru-guru yang pernah berinteraksi dengannya di sekolah kami. </p><p><br/></p><p>Satu hal yang sangat mengharukan saya. Di tengah kekurangannya, disitu pula letak kelebihannya. </p><p>Dan butuh kerjasama semua pihak untuk menghindarkan aksi perundungan bagi anak-anak demi tumbuh kembang yang Sehat di masa depannya. </p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2194026740/52dd7b8c9b02aff2d630b9549a75f826/photo.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-03 07:06:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198839040</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198851962</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pengalaman Pribadi</p><p>saya melihat banyak siswa di sekolah yang belum menyadari penting menghemat air. Sering sekali saya temukan keran air terbuka sehingga air disekolah terbuang begitu saja. Jika kebiasaan ini dibiarkan tertanam pada diri siswa akan berdampak pada lingkungan kita. Jika setiap anak tidak diajarkan pentingnya menghemat air ini akan berdampak pada kehidupan mereka dimasa depan. Anak-anak yang tidak memahami pentingnya menghemat air mungkin tidak menyadari bahwa air bersih adalah sumber daya yang terbatas. Jika kebiasaan boros terus berlanjut, mereka dapat berkontribusi pada krisis air di masa depan.</p></li><li><p>Peran sebagai guru</p><p>Sebagai guru memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik dan menyadarkan siswa tentang pentingnya menghemat air dan menjaga lingkungan. Mengintegrasikan materi tentang konservasi air dalam kurikulum, menjelaskan dampak penggunaan air yang berlebihan, dan mengajarkan praktik hemat air. Mendorong siswa untuk berdiskusi tentang kebiasaan mereka dan mengapa menghemat air itu penting. Mengorganisir proyek seperti penanaman pohon, kampanye hemat air, atau kegiatan daur ulang. Mengajak orang tua untuk terlibat dalam pendidikan lingkungan di rumah, misalnya dengan mengadakan seminar atau pertemuan.</p></li><li><p>Dampak Lingkungan sekolah</p><p>Pemborosan air di sekolah dapat berkontribusi pada penurunan cadangan air bersih apalagi dengan ada ancaman kekeringan di masa depan. Pemborosan air dalam penyiraman taman atau kebun dapat menyebabkan erosi tanah, mengurangi kesuburan dan kesehatan tanah. tentun ini mengancam keberadaan sekolah. Pemborosan air sering kali berhubungan dengan penggunaan energi yang berlebihan untuk mengolah dan mendistribusikan air, meningkatkan emisi gas rumah kaca. Penggunaan air yang boros dapat menyebabkan biaya tagihan air yang lebih tinggi, yang pada akhirnya dapat membebani anggaran sekolah.</p></li><li><p>Keterlibatan siswa</p><p>Melibatkan siswa dalam menyelesaikan masalah pemborosan air di sekolah adalah langkah penting untuk membangun kesadaran dan tanggung jawab lingkungan. Ajak siswa untuk membuat poster atau pamflet tentang cara menghemat air dan memajangnya di sekolah. Ajak siswa untuk berpartisipasi dalam memantau penggunaan air di sekolah, mencatat penggunaan, dan mencari cara untuk menguranginya. Bentuk klub lingkungan yang fokus pada konservasi air, di mana siswa dapat berbagi ide dan melaksanakan proyek terkait.</p></li><li><p>Refleksi Tindakan Pribadi</p><p>Perlu memberikan contoh kepada siswa agar peduli terhadap penghematan penggunaan air di sekolah. Mencari referensi yang beragam agar bisa menyadarkan siswa terkait pemahaman ini.</p></li><li><p>Pendidikan dan Aksi</p><p><strong>Meningkatkan Kesadaran:</strong></p><ul><li><p><strong>Kurikulum Lingkungan:</strong> Integrasikan pendidikan lingkungan dalam kurikulum, mengajarkan siswa tentang pentingnya air, dampak pemborosan, dan cara menghematnya.</p></li><li><p><strong>Workshop dan Seminar:</strong> Selenggarakan workshop yang menghadirkan ahli lingkungan untuk berbicara tentang isu-isu air dan lingkungan.</p></li></ul></li><li><p><strong>Pengembangan Keterampilan:</strong></p><ul><li><p><strong>Proyek Praktis:</strong> Ajak siswa terlibat dalam proyek nyata, seperti membuat taman sekolah atau sistem pengumpulan air hujan, yang mengajarkan mereka keterampilan praktis dalam konservasi.</p></li><li><p><strong>Kegiatan Ekstrakurikuler:</strong> Bentuk klub lingkungan untuk mendalami isu-isu seperti penghematan air dan pengelolaan limbah.</p></li></ul></li><li><p><strong>Penggunaan Media:</strong></p><ul><li><p><strong>Materi Visual:</strong> Gunakan video, poster, dan infografis untuk menjelaskan dampak pemborosan air dan pentingnya konservasi.</p></li><li><p><strong>Sosial Media:</strong> Ajak siswa menggunakan media sosial untuk membagikan informasi tentang cara menghemat air dan dampak positifnya.</p></li></ul></li><li><p><strong>Edukasi Keluarga:</strong></p><ul><li><p><strong>Tugas di Rumah:</strong> Berikan tugas yang melibatkan keluarga, seperti mencatat penggunaan air di rumah dan mendiskusikan cara untuk menguranginya.</p></li><li><p><strong>Kegiatan Keluarga:</strong> Selenggarakan acara di mana siswa dapat mengajak orang tua untuk belajar tentang konservasi air bersama.</p></li></ul></li></ol><p>Aksi</p><ol><li><p><strong>Kampanye Hemat Air:</strong></p><ul><li><p><strong>Inisiatif Sekolah:</strong> Luncurkan kampanye hemat air di sekolah, mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam praktik hemat air, seperti mematikan keran saat tidak digunakan.</p></li><li><p><strong>Kompetisi Kelas:</strong> Buat kompetisi antar kelas untuk melihat siapa yang dapat menghemat paling banyak air dalam periode tertentu.</p></li></ul></li><li><p><strong>Proyek Konservasi:</strong></p><ul><li><p><strong>Taman Sekolah:</strong> Buat taman yang menggunakan teknik irigasi efisien, seperti irigasi tetes, untuk menghemat air.</p></li><li><p><strong>Sistem Pengumpulan Air Hujan:</strong> Libatkan siswa dalam membangun sistem untuk mengumpulkan air hujan, yang dapat digunakan untuk menyiram tanaman.</p></li></ul></li><li><p><strong>Keterlibatan Komunitas:</strong></p><ul><li><p><strong>Kerja Sama dengan Organisasi Lokal:</strong> Berkolaborasi dengan organisasi lingkungan untuk melakukan kegiatan bersih-bersih di area sekitar sekolah atau komunitas.</p></li><li><p><strong>Penyuluhan kepada Masyarakat:</strong> Ajak siswa untuk menyampaikan informasi tentang penghematan air kepada masyarakat melalui presentasi atau pameran.</p></li></ul></li><li><p>Refleksi Emsional</p><p><strong>Identifikasi Perasaan:</strong> Ajak siswa untuk mengenali dan mengekspresikan perasaan mereka terkait penggunaan air dan dampaknya. Apakah mereka merasa bersalah, prihatin, atau bahkan tidak peduli?</p><p><strong>Jurnal Emosi:</strong> Minta siswa menulis di jurnal tentang pengalaman mereka terkait pemborosan air, termasuk perasaan yang muncul saat menyaksikan pemborosan atau saat berpartisipasi dalam kegiatan konservasi.</p><p><strong>Cerita Pribadi:</strong> Ajak siswa untuk berbagi cerita tentang pengalaman mereka dengan air, misalnya, ketika mereka melihat dampak kekeringan di daerah mereka atau saat membantu menghemat air di rumah.</p><p><strong>Refleksi Kelompok:</strong> Diskusikan pengalaman bersama dalam kelompok kecil untuk mendorong rasa empati dan saling memahami.</p><p><strong>Gambaran Situasi:</strong> Minta siswa membayangkan bagaimana dunia akan terlihat jika mereka terus memboroskan air. Apa yang mereka rasakan saat membayangkan lingkungan yang kering dan rusak?</p><p><strong>Kegiatan Kreatif:</strong> Ajak siswa untuk menggambar atau membuat poster tentang apa yang mereka rasakan ketika melihat dampak dari pemborosan air.</p><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet.com/marsiajaran/gced-workshop-wio2t93n2w31wz6z/wish/AL83WzDLBdYXQ0Pg" />
         <pubDate>2024-11-03 07:39:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198851962</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perubahan iklim</title>
         <author>lasmapasaribu01</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198852486</link>
         <description><![CDATA[<p>Perubahan iklim sangat berdampak bagi diri sendiri, biasanya di lingkungan rumah suhu udara tidaklah sangat panas. semenjak perubahan iklim udara sangatlah panas ditambah lagi polusi yang bisa berdampak tidak baik bagi kesehatan.</p><p>biasanya yang saya kaitkan dalam pembelajaran di kelas bagaimana saya dan anak-anak menanam pohon di lingkungan sekolah.</p><p><br/></p><p>Keterlibatan siswa :</p><ol><li><p>membawa botol minuman dan alat makan dari rumah</p></li><li><p>Membawa tanaman di polibeck untuk di tanam di lingkungan sekolah</p></li><li><p>Mengajarkan anak-anak memilah sampah plastik dan organik di rumah maupun di sekolah</p></li><li><p>Mengajarkan bahwa kita butuh penghijauan untuk menurunkan suhu di sekitar sekolah</p></li><li><p>Mengajarkan pohon, binatang dan ekosistem di dalam sekolah adalah sahabat yang harus kita rawat dengan cinta.</p></li></ol><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-03 07:40:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198852486</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Kamala Rahayu Candra Sary, S.Pd (UPT SDN 066041)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198870266</link>
         <description><![CDATA[<p>Saat ini, perubahan iklim sangat mempengaruhi kehidupan kita. Hal yang paling saya rasakan saat ini adalah perubahan iklim yang tidak menentu. Kenaikan suhu yang sangat ekstrem, kualitas udara yang semakin hari semakin &nbsp;buruk, perubahan musim yang sudah tidak lagi konsisten, kekeringan , banjir, dan kerusakan ekosistem.</p><p><br></p><p>Merasakan hal ini secara langsung tentunya membuat saya merasa sedih. Jika kondisi ini terus terjadi bagaimana kondisi bumi kita kedepannya? Perubahan iklim tentunya akan sangat berpengaruh pada kehidupan generasi mendatang. Saat ini alam sudah mulai tak bersahabat. Langit yang selalu tersenyum ceria dengan birunya, kini lebih sering berwarna keabuan atau bahkan gelap. Mentari yang selalu ceria, tak lagi bertengger dengan manis disinggasananya. Ia tampak marah dan menyengat dengan dahsyatnya. Semua ini akibat dari ulah kita.</p><p><br></p><p>&nbsp;Apa yang dapat saya lakukan? ini pertanyaan pertama terlintas dalam pikiran saya. Saatnya saya bergerak mulai dari diri dan mengajak orang-orang di sekitar. Salah satunya dengan gerakan sekolah adiwiyata. Adiwiyata sangat berperan dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dan mengatasi perubahan iklim yang terjadi saat ini. Saya percaya jika hal ini dilakukan sebagai gerakan bersama, akan menghasilkan hal yang sangat signitifan.</p><p><br></p><p>Langkah pertama &nbsp;yang saya lakukan di sekolah adalah dengan melakukan sosialisasi tentang kondisi bumi yang saat ini kepada seluruh warga sekolah. Saya ingin mereka menyadari dan tergerak untuk menjaga lingkungan. Langkah berikutnya membentuk team adiwiyata sekolah, berkolaborasi dengan dinas lingkungan hidup kota Medan. </p><p><br></p><p>Kegiatan dimulai dengan pembiasaan hidup bersih dan sehat di sekolah. Peserta didik diajarkan bagaimana memilah dan memilih sampah. Memanfaatkan sampah organik. Mendaur ulang sampah anorganik menjadi sesuatu yang bermanfaat. Meniadakan kantin sekolah dengan tujuan agar peserta didik membawa bekal makanan sendiri dari rumah sebagai upaya mengurangi sampah dan menjaga pola hidup sehat. Membudayakan cinta tanaman, penghematan energy listrik dan air.</p><p><br></p><p>Tantangan terbesar yang saya &nbsp;hadapi adalah bagaimana menjadikan budaya bersih dan cinta lingkungan menjadi pembiasaan di sekolah. Peserta didik dengan &nbsp;berlatar belakang kebiasaan hidup yang beragam, membutuhkan waktu dan tenaga&nbsp; ekstra untuk selalu mengingatkan dan memantau gerakan pembiasaan tersebut.</p><p><br></p><p>Gerakan yang saya dan warga sekolah lakukan menunjukkan dampak yang signifikan bagi sekolah. Halaman sekolah mulai tertata dan hijau dengan ragam tanaman. Peserta didik sadar tentang kebersihan dengan rutin melaksanakan tugas piket. Membuang sampah sesuai dengan tempatnya. &nbsp;Menghemat listrik dan air. Pembiasaan hidup bersih dan sehat ini menjadi pembiasaan dalam keseharian di sekolah. baik dalam kegiatan kokurikuler, intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Sehingga udara di sekolah menjadi lebih segar.</p><p><br></p><p>Seluruh peserta didik terlibat secara aktif dalam gerakan ini. Peserta didik ikut mengelolah sampah menjadi ecobright, hiasan dll. Bahkan peserta didik mewaliki sekolah untuk mengikuti perlombaan mengelolah sampah menjadi bermanfaat.</p><p>Tindakan kecil yang telah saya lakukan secara pribadi adalah dengan tidak menggunakan kantong plastic saat berbelanja. Menanam tanaman hijau di halaman rumah. Hemat energi dan mengajak orang lain untuk peduli lingkungan. Aksi nyata yang pernah ku lakukan adalah dengan melaksanakan program adiwiyata di sekolah dan berhasil menjadi sekolah adiwiyata kota medan tahun 2023. Dan program selanjutnya adalah menuju sekolah adiwiyata tingkat provinsi.</p><p><br></p><p>Untuk mengatasi kecemasan dalam diri saya mengenai masalah ini. Langkah yang dapat saya lakukan adalah dengan mengajak peserta didik berdiskusi untuk memahami dampak perubahan iklim secara mendalam, memberi contoh nyata yang dilakukan komunitas atau individu yang berhasil mengatasi tantangan perubahan iklim dan melibatkan mereka dalam aksi nyata (proyek lingkungan)</p><p>Perubahan iklim ini saya kaitkan dalam program adiwiyata dan kurikulum sekolah. kegiatan ini berkolaborasi dengan dinas lingkungan hidup. Program adiwiyata sekolah berjalan sesuai harapan meskipun banyak kendala disana sini. Cara terbaik menumbuhkan kepedulian sejak dini adalah dengan menjadi contoh tauladan bagi peserta didik dan warga sekolah. mulai berbuat dari diri, kemudian mengajak orang-orang di sekitar.</p><p><br></p><p>Dalam pembelajaran saya mengajak peserta didik terjun kelapangan mengamati lingkungan, menganalisis masalah yang ada berkaitan dengan global warming dan menstimulus mereka untuk bernalar bagaimana mengatasi masalah tersebut, ternyata peserta didik sangat antusias.</p><p><br></p><p>Saya menanamkan pemahaman kepada peserta didik. Bahwa masalah ini adalah tugas dan tanggung jawab semua orang. Oleh sebab itu mari selamatkan bumi kita.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2979998470/2bec50b694146bd5a45c9e7ebc76b730/20240127_082150.jpg" />
         <pubDate>2024-11-03 08:30:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198870266</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurbaity</title>
         <author>nurbaityspdi05</author>
         <link>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198883906</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nurbaity,S.Pd.I</p><p>Asal Sekolah : UPT SD Negeri 060973 Medan Selayang</p><p><br></p><p>Saat awal pindah tugas saya dihadapkan dengan rekan sejawat yang berbeda dan jumlah murid yang cukup banyak berasal dari latar belakang yang berbeda, sementara saya berasal dari sekolah kecil di salah satu daerah di kabupaten Langkat mayoritas beragama Islam. Saat ada perayaan har besar agama lain saya bingung harus berbuat apa dan menempatkan posisi dimana.</p><p><br></p><p>Pada saat pembelajaran di kelas saya selalu mengingatkan pentingnya saling menghargai perbedaan. Bahwa keragaman adalah sesuatu yang indah. Bahkan saya pernah membuat game untuk menggambar burung Garuda secara estafet, untuk melatih kekompakan dan menghargai ide dari teman lainnya.</p><p><br></p><p>Didalam kelas saya selalu menekankan pentingnya sikap saling menghargai perbedaan, walaupun terkadang saat berdiskusi masih ada siswa yang ego ingin pendapatnya saja yang di dengar. Disini saya terus mendampingi dan mengarahkan siswa saat berdiskusi, dan selalu mengingatkan tentang pentingnya menghargai pendapat temannya yang berbeda.</p><p><br></p><p>Yang sudah saya lakukan adalah saya mendorong dan memfasilitasi murid kelas 5 berdiskusi untuk menyisihkan sebagian uang jajannnya membeli bingkisan yang sudah disepakati pada saat diskusi kelompok untuk diberikan kepada teman, adik kelas maupun kakak kelasnya yang kurang mampu tanpa melihat suku maupun agamanya.</p><p><br></p><p>Pada saat perayaan hari besar keagamaan kami bersama saling membantu secara bergantian untuk memeriahkan acara dari awal sampai acara selesai.</p><p><br></p><p>Sejauh ini saya belum menemukan kendala dalam pelaksanaan toleransi di sekolah, karena kami sangat menghargai perbedaan.</p><p><br></p><p>Visi saya kedepannya adalah mengusulkan kepada kepala sekolah untuk melaksanakan kegiatan jum'at ibadah dengan bimbingan dari gurua agama masing-masing dibantu rekan guru lain.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2635176054/60271a883d662c2e85e341ce5a96ffb6/WhatsApp_Image_2024_11_03_at_11_58_06.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-03 09:06:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/marsiajaran/wio2t93n2w31wz6z/wish/3198883906</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
