<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Task Board by Dina Nurfadillah Hasanah</title>
      <link>https://padlet.com/ppgdinahasanah00/Bimbingan_Konseling</link>
      <description>Come and Find your answer</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-03-12 07:56:29 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-03-12 08:46:58 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4bb.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Gerakan Transformasi Ki Hadjar Dewantara dalam Perkembangan Pendidikan Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan</title>
         <author>ppgdinahasanah00</author>
         <link>https://padlet.com/ppgdinahasanah00/Bimbingan_Konseling/wish/2915278937</link>
         <description><![CDATA[<p>           Perkembangan pendidikan di Indonesia tidak lepas dari sosok bapak pendidikan, Ki Hadjar Dewantara yang dengan pemikirannya berusaha mengubah landasan pendidikan Indonesia sesuai dengan nilai budaya dan karakteristik yang ada di masyarakat. <mark>Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan merupakan tempat untuk menyemai benih-benih yang merupakan kebudayaan yang hidup di masyarakat dan menjaga agar kebudayaan tetap tumbuh dan dapat diteruskan ke generasi selanjutnya. Selain itu pendidikan haruslah sesuai dengan kodrat peserta didik yang diajar, pendidikan tidak boleh dilakukan dengan paksaan.</mark> Pendidik bertugas untuk membantu mengarahkan dan menuntun peserta didik sesuai dengan tugas perkembangan dan potensi yang dimilikinya &nbsp;serta selaras dengan keadaan zamannya.</p><p><br></p><p>           Pada era sebelum kemerdekaan, tidak semua orang mendapatkan pendidikan, <mark>pendidikan hanya ditujukan untuk keturunan eropa dan para bangsawan dan penduduk pribumi mengalami diskriminasi dan tidak meratanya pendidikan.</mark> Pendidikan yang diberikan juga hanya berfokus pada pendidikan intelektual. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut namun kebudayaan luar mesti dinasionalisasikan karena jenis pendidikan tersebut kurang cocok dengan masyarakat Indonesia yang memiliki nilai adat istiadat dan budi pekerti yang berbeda pendidikan barat. Pendidikan pada era kolonial tidak mencerdaskan bangsa tetapi mengajarkan orang untuk pasif dan bergantung pada nasib.(Zuriatin dkk., 2021). <mark>Pendidikan diberikan untuk membantu bangsa eropa terutama belanda dalam menjalankan tugas-tugas dan perusahaanya</mark>. Pada tahun 1854 dibangun sekolah-sekolah kabupaten untuk mendidik calon-calon pegawai dan sekolah-sekolah bumiputera yang hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung seperlunya. Sekolah untuk bidan untuk membantu menangani permasalahan cacar air yang mewabah yang ditakutkan akan mempengaruhi hasil panen. Sekolah-sekolah di era tersebut dibuat hanya untuk kepentingan Belanda. Kondisi tersebut membuat Ki Hadjar Dewantara berinisiatif untuk berjuang mengenai pendidikan Indonesia baik secara politik maupun dengan menjadi jurnalis dan aktivis kemerdekaan. <mark>Beliau menyadari bahwa untuk memajukan dan mengembangkan kebudayaan pendidikan harus diberikan secara merata</mark>. (Anisa, 2023).</p><p><br></p><blockquote><p>           Pendidikan berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batin, yang mampu mencapai perubahan dan bermanfaat bagi lingkungan (Aina, 2020) </p></blockquote><p><br></p><p>Pada tahun 1922 didirikanlah Perguruan Taman Siswa. Perguruan ini didirikan agar siswa diharapkan menjadi manusia yang takwa, merdeka lahir-batin, luhur akal budinya serta sehat jasmina untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggungjawab. Pasca kemerdekaan pendidikan Indonesia terus mencari cara untuk menghilangkan paham pendidikan kolonial yang membekas dalam sistem mereka dengan menambahkan berbagai budaya yang ada di Indonesia agar bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Prinsip pendidikan perguruan Taman Siswa hingga kini masih menjadi bagian besar pada era pendidikan modern. <em><mark>“Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” </mark></em>yang berarti pendidik yang memiliki lebih banyak pengetahuan dan pengalam memberikan contoh bagi peserta didik, pendidik harus mampu mengembangkan minat, keinginan dan kemauan siswa untuk berkreasi dan berkarya, serta memberi pengaruh dan kesempatn pada peserta didik untuk berjalan sendiri (Anisa, 2023). Kini pemikiran tersebut tertanam dalam kurikulum merdeka yang mana pendidikan harus memerdekakan siswa dengan cara mengedepankan proses perkembangan siswa sesuai dengan potensi dan minat belajaranya, membiarkan siswa berproses dengan dirinya hingga dapat mengatur dirinya sendiri dan bermanfaat bagi lingkungannya.</p><p><br></p><p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p><ol><li><p>Aina, D. K. (2020). Merdeka Belajar dalam Pandangan Ki Hadjar Dewantara dan Relevansinya bagi Pengembangan Pendidikan Karakter. <em>Jurnal Filsafat Indonesia</em>, <em>3</em>(3).</p></li><li><p>Anisa, A. N. (2023). Ki Hajar Dewantara Dan Revolusi Pendidikan Pada Masa Pergerakan Nasional Di Indonesia. <em>JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah &amp; Sejarah</em>, <em>3</em>(1). <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://doi.org/10.22437/jejak.v3i1.24821">https://doi.org/10.22437/jejak.v3i1.24821</a></p></li><li><p>Zuriatin, Nurhasanah, &amp; Nurlaila. (2021). Pandangan Dan Perjuangan Ki Hadjar Dewantara Dalam Memajukan Pendidikan Nasional. <em>JURNAL PENDIDIKAN IPS</em>, <em>11</em>(1). <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://doi.org/10.37630/jpi.v11i1.442">https://doi.org/10.37630/jpi.v11i1.442</a></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2334376103/bd7490beb089fe7c23d709ffb4c0b37f/image.png" />
         <pubDate>2024-03-12 08:45:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ppgdinahasanah00/Bimbingan_Konseling/wish/2915278937</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
