<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>My stunning padlet by Gavy</title>
      <link>https://padlet.com/G_uk/w19n127pufo78q5r</link>
      <description>Made with ♥</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-03-31 07:36:41 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-27 07:23:50 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/263a.png</url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author>G_uk</author>
         <link>https://padlet.com/G_uk/w19n127pufo78q5r/wish/1370927964</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Kebutuhan masyarakat terhadap sumber panganhttps://www.kompas.com/skola/read/2021/01/15/150220369/bagaimana-masyarakat-memanfaatkan-sumber-daya-alam<br><br>2.Kemampuan dan Upaya memenuhi kebutuhan<br>Mengimpor kebutuhan pangan melalui mekanisme perdagangan internasional adalah suatu hal yang umum bagi negara-negara di dunia. Sangat langka suatu negara mampu memenuhi kebutuhan seluruh pangannya mandiri, tanpa suplai dari negara lain. Globalisasi dan urbanisasi telah merubah kebiasaan pola konsumsi masyarakat di dunia. Rejim perdagangan bebas telah meruntuhkan hambatan perdagangan dan memudahkan konsumen untuk mengakses bahan pangan impor.&nbsp; Ketidakcukupan bahan pangan lokal yang dibutuhkan juga menjadi pertimbangan untuk melakukan impor.&nbsp; Negara berdalih bahwa impor pangan dibutuhkan untuk menjamin suplai nasional sekaligus menjaga <em>food security</em> (keamanan pangan).<br><br></div><div>Impor pangan menjadi sensitif terutama dikaitkan dengan <em>staple food</em> (bahan pokok)<em>)</em> seperti gandum, beras, jagung yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Gandum&nbsp; (<em>Triticum Aestivum</em>) bersama jagung, beras adalah komoditas pangan paling banyak diperdagangkan didunia dan mempunyai nilai&nbsp; strategis. Kerusuhan,&nbsp; dan ketidakstabilan acap kali terjadi di negara berkembang yang belum mampu memenuhi kebutuhan pangan, karena masyarakat tidak mampu mengakses kebutuhan pokok.&nbsp;<br><br></div><div>Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), <em>Henry Kissinger</em> melontarkan idenya yang terkenal&nbsp; tentang pangan sebagai alat strategis bagi keamanan Nasional AS yaitu “Siapa mengontrol suplai pangan berarti mengontol bangsa”. Pengelolaan bahan pangan pokok oleh pemerintah&nbsp; merepresentasikan kemampuan mendasar&nbsp; dalam mengelola perekonomian dan kesejahteraan warga negaranya. Dalam hubungan antar bangsa, negara pengekspor dimungkinkan memiliki posisi tawar lebih tinggi daripada negara importer terutama negara dengan tingkat ketergantugan impor pangannya tinggi. &nbsp;<br><br></div><div>Indonesia sepenuhnya masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan gandum.&nbsp; Sejak 2018, Indonesia menjadi negara pengimpor gandum terbanyak didunia dengan jumlah 10.096.299 juta ton. Ini merupakan 6,1 % dari jumlah total impor dunia (BPS,2019). Posisi Indonesia sebagai pengimpor gandum nampaknya tidak akan berubah karena pesatnya konsumsi kebutuhan domestik terhadap gandum baik untuk orang dan ternak. Diperkirakan Indonesia akan membutuhkan sekitar 11,3 juta ton gandum dari pasar global pada periode 2019-2020 (USDA, 2019).&nbsp;<br><br></div><div>Australia merupakan partner tradisional yang mendominasi suplai gandum di Indonesia.&nbsp; Tahun 2012-2017, negara ini menguasai 50-60%&nbsp; impor gandum di Indonesia. Pada tahun 2018, mengutip Biro Pusat Statistik Indonesia (BPS) empat negara teratas pengimpor gandum di Indonesia adalah Ukraina (2.419.768) juta ton,&nbsp; Australia (2.419.709),&nbsp; Kanada 1973.706, dan AS 904.174. Meski Ukraina &nbsp; tahun ini sedikit melampau Australia sebagai negara pengimpor gandum terbanyak di Indonesia, namun sesungguhnya gandum Ukraina lebih banyak untuk pakan ternak&nbsp; menggantikan impor jagung yang dilarang untuk melindungi jagung domestik.<br><br></div><div>Kecenderungan ketergantungan terhadap suplai gandum impor khususnya dari Australia ini menimbulkan pertanyaan. Apa artinya ketergantungan impor gandum ini khususnya bagi keamanan pangan Indonesia? Apakah ketergantungan impor gandum akan memberi kontribusi untuk ketahanan pangan Indonesia atau justru sebaliknya menimbulkan ketidak amanan pangan?<br><br></div><div><strong>Pro dan Kontra Impor Gandum Australia<br></strong><br></div><div>Terdapat pertimbangan keuntungan komparatif dari impor gandum dari Australia. Fakta bahwa Australia penghasil gandum terbesar didunia, sementara Indonesia belum mampu memproduksi gandum secara ekonomis. Kondisi cuaca dan iklim di Indonesia ditengarai menjadi faktor penghalang bagi tumbuhnya gandum di negara ini.&nbsp; Gandum dari Australia ini&nbsp; mendukung&nbsp; ketersediaan pangan ketika produksi lokal tidak mampu memenuhi menyediakan.&nbsp; Bagi Indonesia maka ini adalah opsi yang paling realistik untuk menjamin kebutuhan gandum yang terus meningkat. Dikaitkan dengan kebutuhan untuk mendukung keamanan pangan, maka tidak bisa dipungkiri bahwa impor gandum ini mendukung ketersediaan suplai dalam negeri.<br><br></div><div>Faktor kedekatan geografis antara Indonesia dan Australia menambahkan keuntungan komparatif dalam perdagangan gandum keduanya. Dibandingkan dengan negara produser gandum dunia lain, Australia adalah negara terdekat dengan wilayah Indonesia. Mengimpor gandum dari Australia&nbsp; adalah cara yang efisien dalam hal waktu dan biaya transportasi.&nbsp; Adalah&nbsp; logis bahwa kedekatan geografis ini menjadi faktor menentukan penguasaan pasar gandum di Indonesia oleh Australia.<br><br></div><div>Ketergantungan Indonesia terhadap gandum Australia juga dipicu oleh permintaan pasar.&nbsp; Produser tepung terigu Indonesia mengakui bahwa gandum asal Australia adalah paling sesuai dengan kebutuhan produksinya. Bagi industri penggilingan gandum, jenis gandum putih asal Australia adalah yang paling cocok untuk produksi mi yang saat ini dikonsumsi secara luas (APTINDO 2017).&nbsp; Kharakter khusus gandum Australia ini tidak dapat digantikan oleh gandum dari negara lain.&nbsp;<br><br></div><div>Namun kondisi ketergantungan ini juga memberikan resiko terhadap masa depan kemandirian <em>(self sufficiency)</em> dan kedaulatan&nbsp; (<em>Sovereignty</em>) pangan Indonesia. Indonesia tidak hanya sebagai pengimpor terbesar gandum didunia sekaligus hampir 100 % bergantung pada impor. Ini adalah bertentangan dengan ide nasional untuk merealisir kemandirian dan kedaulatan pangan yang dicanangkan oeh Presiden Jokowi sejak awal pemerintahan Periode 1, <em>Nawa Cita</em>.<br><br></div><div>Impor pangan membantu kesediaan pangan <em>(food availability</em>) nasional, tapi juga merugikan produksi pangan lokal. Perubahan pola makan masyarakat Indonesia yang beralih ke produk gandum telah menyingkirkan pangan lokal. Keprihatinan terhadap kualitas produk impor akan kandungan berbahaya misalnya karena Indonesia tidak mempunyai wewenang dalam proses produksi gandum di luar wilayah RI. Otoritas Indonesia lemah dalam pengawasan ini.<br><br></div><div>Kondisi ketergantungan terhadap impor pangan yang masif beresiko bagi masa depan pangan Indonesia. Peningkatan harga pangan impor secara drastis akan berdampak pada turunnya kemampuan daya beli masyarakat. Ketergantungan kronis terhadap impor gandum ini juga akan menguras nilai tukar rupiah. Kondisi ini sudah dialami ketika krisis keuangan Asia pada tahun 1997 saat nilai tukar Indonesia anjlok dan berimbas pada turunnya daya beli masyarakat secara drastis. Inflasi terhadap gandum dimungkinan akibat petani di Australia menghadapi perubahan iklim yang menganggu kualitas dan kuantitas produksi gandum.&nbsp; Dilaporkan bahwa desertifikasi yang masif telah terjadi di Australia telah menggangu produksi gandum (Hochman et.all, 2017; Minchin,2019). Turunnya pasokan akan menaikkan harga gandum di pasar internasional.<br><br></div><div>Ketergantungan terhadap impor gandum ini rentan bagi Indonesia.&nbsp; Gangguan hubungan dagang kedua pihak dimungkinkan terjadi mengingat sejarah dinamika hubungan keduanyaa&nbsp; berfluktuasi, mengalami krisis dan ketegangan yang berimbas pada sektor ekonomi. Perselisihan dagang keduaanya pernah terjadi terkait komoditi impor sapi Australia, dimana Indonesia mempunyai ketergantungan tinggi pada komoditi ini. Akibat memburuknya hubungan diplomatik kedua negara, Australia menyetop kran ekspor sapi sehingga menimbulkan kekacauan di pasar Indonesia karena mahalnya harga daging sapi. Skenario semacam ini dimungkinkan terulang dimasa mendatang pada kasus gandum.<br><br>http://news.unair.ac.id/2020/07/16/ketergantungan-indonesia-terhadap-gandum-impor-australia/<br><br><br>3.hasil olahan pangan<br><strong>Gandum</strong> merupakan salah satu bahan makanan yang bisa diolah dan dikreasi menjadi berbagai menu yang lezat. Di Indonesia memang belum banyak orang yang tertarik untuk mempelajari cara mengolah makanan dari bahan yang satu ini. namun ketika seseorang tahu akan manfaatnya, pasti orang tersebut akan semakin tertarik untuk mengonsumsinya. Bahan ini memang terbukti sangat baik bagi tubuh karena dapat mencegah dan mengobati berbagai jenis penyakit. Dan tentunya bisa kita konsumsi dengan mudah.</div><div>Olahan dari bahan ini memang ada banyak sekali. Setelah diolah menjadi tepung terigu atau tepung gandum, maka anda bisa semakin mudah untuk mengonsumsi bahan ini dan mendapatkan manfaatnya. Makanan yang merupakan olahan yang sehat dan lezat dari bahan tersebut antara lain:<br><br></div><ul><li>Roti gandum</li><li>Roti tawar</li><li>Oatmeal</li><li>Mie</li><li>Pasta</li><li>Kue kering</li><li>biskuit</li><li>dan berbagai jenis olahan yang lain</li></ul><div>Dengan banyaknya variasi olahan makanan yang bisa dibuat dari bahan <a href="http://bungasari.com/flour_power/flour_101_detail/56"><strong>gandum</strong></a> ini, maka semakin meningkat pula peminatnya. Selain baik dikonsumsi saat sedang diet, bahan ini juga baik bagi anda yang memiliki kolesterol tinggi dan diabetes. Bahan ini memiliki kandungan gizi yang baik, terutama karbohidrat yang cukup tinggi. Namun anda tak perlu khawatir karena dalam bahan ini juga terdapat serat larut yang membuat proses pencernaan karbohidrat lambat sehingga dapat menekan naiknya kadar gula dalam darah.<br>https://www.ahyari.net/berbagai-olahan-gandum/<br>4. refleksi saya<br>=jadi Idonesia memiliki ketergantungan pengimporan gandum dari australia ke indonesia.Indonesia belum bisa menghentikan ketergantungan terhadap australia karena belum mempersiapkan diri ke perdagangan gandum lokal.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-31 07:39:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/G_uk/w19n127pufo78q5r/wish/1370927964</guid>
      </item>
      <item>
         <title>kedelai</title>
         <author>G_uk</author>
         <link>https://padlet.com/G_uk/w19n127pufo78q5r/wish/1370971833</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Kebutuhan masyarakat terhadap sumber pangan<br>Tanaman pangan merupakan komoditas penting dan strategis, karena pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi bagi setiap rakyat Indonesia. Salah satu komoditas tanaman pangan yang penting untuk dikonsumsi masyarakat adalah kedelai. Kedelai (Glicine max) dikenal sebagai makanan rakyat karena selain merupakan sumber protein nabati paling menyehatkan, kedelai juga dikenal murah dan terjangkau oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Rakyat mengolah kedelai menjadi berbagai produk pangan seperti tempe, tahu, tauco, kecap, susu dan lain-lain dengan permintaan yang selalu meningkat setiap tahunnya sebanding dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan hasil pertanian di dalam negeri dan keterbatasan produksi dalam negeri, pemerintah memenuhi dengan cara impor komoditi hasil pertanian. Saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor kedelai terbesar di dunia. Setiap tahunnya jumlah kedelai yang diekspor rata-rata di atas 1 juta ton dari total kebutuhan rata-rata diatas 2 juta ton. Dari jumlah itu, sekitar 88 persen digunakan sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu, 10 persen untuk pangan olahan lainnya seperti industri tepung dan pati serta sisanya sebanyak 2 persen untuk benih. Sebagian besar kedelai diimpor berasal dari Amerika, Kanada, Argentina dan Brasil. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) menelaah penawaran kedelai dunia dan permintaan impor kedelai Indonesia, (2) menganalisis perkembangan kebijakan perkedelaian nasional saat ini, (3) merumuskan alternatif strategi pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia. Lingkup penelitian ini meliputi menelaah penawaran kedelai dunia dan permintaan impor kedelai Indonesia antara tahun 2005-2012, menganalisis kebijakan perkedelaian Indonesia serta merumuskan alternatif strategi pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder dalam bentuk time series (deret waktu) dengan periode waktu 8 tahun, yaitu dari tahun 2005 sampai tahun 2012. Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data luas panen, produktivitas dan produksi kedelai dunia dan domestik, data negara penghasil/produsen kedelai dunia, data eksportir kedelai dunia, data importir kedelai dunia, data harga kedelai dunia, data kebijakan negara penghasil/produsen kedelai dunia, data luas panen, produktivitas dan produksi kedelai domestik, data harga kedelai domestik, neraca perdagangan kedelai domestik dan data negara pengekspor kedelai ke Indonesia. Data tersebut merupakan informasi statistik yang terkait dengan masalah penelitian diperoleh dari instansi-instansi seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Pusat Data dan Informasi Pertanian (PUSDATIN), Departemen Pertanian, Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Direktorat Jendral Tanaman Pangan, Balai Penelitian Tanaman Pangan, Badan Urusan Logistik, Food and Agriculture Organization (FAO) dan U.S. Departement of Agriculture (USDA). Metode yang digunakan dalam menganalisis data pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. 3 Metode deskriptif kualitatif ini digunakan untuk menelaah keragaan penawaran kedelai dunia dan permintaan impor kedelai Indonesia antara tahun 2005-2012, menganalisis perkembangan kebijakan perkedelaian nasional serta alternatif strategi pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia. Pada penelitian ini, diketahui perdagangan kedelai dunia masih didominasi oleh Amerika Serikat sebagai produsen sekaligus eksportir kedelai nomor satu di dunia diikuti Brazil, Argentina, China dan India. Dengan produksi rata-rata mencapai 84 juta ton/tahun, Amerika Serikat menguasai sekitar 36,08 persen dari total produksi kedelai dunia. Amerika serikat juga mengekspor lebih dari 30 juta ton kedelai setiap tahunnya atau sekitar 42,94 persen dari total ekspor dunia saat ini. Angka ini hanya sekitar 36 persen dari total produksi Amerika Serikat pada tahun 2009. Kebutuhan kedelai Indonesia rata-rata setiap tahunnya di atas angka 2 juta ton, dimana 90 persen diantaranya digunakan sebagai bahan pangan, terutama pangan olahan yaitu sekitar 88 persen tahu dan tempe, 10 persen untuk pangan olahan lainnya seperti industri tepung dan pati serta sisanya sebanyak 2 persen untuk benih. Sayangnya, sekitar 63,41 persen dipasok oleh kedelai impor yang memiliki harga lebih murah dan kualitas lebih baik sedangkan sisanya 36,59 persen dipenuhi melalui produksi dalam negeri. Dan Amerika Serikat menjadi negara yang paling banyak menyuplai kedelai ke Indonesia dengan rata-rata di atas 70 persen setiap tahunnya diikuti Argentina, Kanada, Malaysia, Singapura dan Myanmar secara bergantian. Berbagai kebijakan pengembangan kedelai nasional telah dilakukan antara lain Prokema 2000, Program Bangkit Kedelai Nasional 2008, Rencana Strategis Kementrian Pertanian 2010-2014 mengenai pencapaian swasembada kedelai tahun 2014, kebijakan harga dasar dan proteksi harga kedelai serta kebijakan tarif impor kedelai. Namun, belum memberikan dampak yang signifikan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor kedelai. Alternatif strategi pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia yang dirumuskan peneliti meliputi peningkatan produksi kedelai lokal, pembatasan volume impor kedelai dengan penetapan tarif impor kedelai yang tepat minimal 10 persen, efisiensi rantai tataniaga, dan dukungan serta peran industri berbasis kedelai.<br>https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/58077<br>2..Kemampuan dan Upaya memenuhi kebutuhan<br>Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang telah mengubah pola konsumsi penduduknya, dari pangan penghasil energi ke produk penghasil protein. Karena itu, kebutuhan protein baik nabati maupun hewani akan terus meningkat, seiring dengan pertambahan penduduk, urbanisasi, dan peningkatan pendapatan (Silitonga et al. 1996, Hutabarat 2003). Salah satu komoditas pangan penghasil protein nabati yang dikenal masyarakat adalah kedelai. Sejalan dengan perkembangan tersebut, maka industri pangan berbahan baku kedelai akan terus berkembang. Di sisi lain, kebutuhan akan protein hewani telah mendorong berkembangnya industri peternakan, sehingga memacu pertumbuhan industri pakan ternak. Komponen terpenting kedua dari pakan konsentrat (setelah jagung) adalah bungkil kedelai (Tangendjaja et al. 2003). Di Indonesia, perkembangan industri pangan berbahan baku kedelai dan industri pakan telah menyebabkan permintaan akan kedelai terus meningkat jauh melampaui produksi dalam negeri.</div><div>Dalam kelompok tanaman pangan, kedelai merupakan komoditas terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Selain itu, kedelai juga merupakan komoditas palawija yang kaya akan protein. Kedelai segar sangat dibutuhkan dalam industri pangan dan bungkil kedelai dibutuhkan untuk industri pakan. Kedelai berperan sebagai sumber protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat, karena selain aman bagi kesehatan juga relatif murah dibandingkan sumber protein hewani. Kebutuhan kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan baku industri olahan pangan seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, dan sebagainya (Damardjati et al. 2005). Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memperkirakan konsumsi kedelai saat ini sekitar 1,8 juta ton, dan bungkil kedelai sekitar 1,1 juta ton (Ditjentan 2004). Hal ini diperkuat oleh data statistik dari FAO dan BPS, bahwa konsumsi kedelai pada tahun 2004 sebesar 1,84 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0,72 juta ton. Kekurangannya diimpor sebesar 1,12 juta ton, atau sekitar 61% dari total kebutuhan. Konsumsi per kapita berfluktuasi tergantung ketersediaan, yaitu dari 4,12 kg pada tahun 1970 menjadi 10,85 kg pada tahun 2000 dan 7,90 kg pada tahun 2005, atau secara keseluruhan meningkat rata-rata 2,3% per tahun selama 35 tahun terakhir (BPS 2006).</div><div>Sudaryanto dan Swastika: Ekonomi Kedelai di Indonesia 1</div><div>Lebih dari 90% kedelai di Indonesia digunakan sebagai bahan pangan, terutama pangan olahan, yaitu sekitar 88% untuk tahu dan tempe dan 10% untuk pangan olahan lainnya serta sekitar 2% untuk benih (Kasryno et al. 1985, Sudaryanto 1996, Damardjati et al. 2005, Swastika et al. 2005). Produk kedelai sebagai bahan olahan pangan berpotensi dan berperan dalam menumbuh-kembangkan industri kecil dan menengah. Berkembangnya industri pangan berbahan baku kedelai juga membuka kesempatan kerja, mulai dari budi daya, pengolahan, transportasi, pasar sampai pada industri pengolahan.</div><div>Sifat multiguna dari kedelai menyebabkan kebutuhan kedelai terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan berkembangnya industri pangan berbahan baku kedelai. Kandungan gizi kedelai cukup tinggi, terutama proteinnya dapat mencapai 34%, sehingga sangat diminati sebagai sumber protein nabati yang relatif murah dibandingkan dengan sumber protein hewani (Ditjentan 2004).</div><div>Namun produksi kedelai dalam negeri selama tiga dasawarsa terakhir belum mampu memenuhi kebutuhan. Padahal sebelum tahun 1975, Indonesia mampu berswasembada kedelai dengan nisbah produksi- konsumsi lebih besar dari 1,0 (Swastika et al. 2000). Ketidakmampuan produksi memenuhi kebutuhan dalam negeri telah menyebabkan impor kedelai terus meningkat.</div><div>Mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam negeri. Upaya tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningakatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, peningkatan kualitas produk, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembang- an infrastruktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha.</div><div>Tujuan tulisan ini adalah untuk menguraikan tentang profil ekonomi kedelai saat ini dan prospek ke depan produksi kedelai di Indonesia, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan pengembangan komoditas ini. Tulisan ini sebagian besar memanfaatkan hasil-hasil penelitian sebelumnya dengan melakukan pemutakhiran untuk data yang tersedia sampai tahun 2005.<br><br>Selama periode 1970-2005, areal panen kedelai di Indonesia berfluktuasi, yaitu meningkat dari sekitar 0,69 juta ha pada tahun 1970 menjadi sekitar 1,33 juta ha pada tahun 1990 dan mencapai puncaknya pada tahun 1992 yaitu 1,66 juta ha, kemudian terus menurun menjadi 0,82 juta ha pada tahun 2000, dan 0,62 juta ha tahun 2004.</div><div>Penurunan areal panen mulai tajam dalam dekade 1990-2000, dengan laju pertumbuhan –4,69%, dan lebih tajam lagi dalam periode 2000-2004, yaitu –9,02% per tahun. Pertumbuhan areal panen yang negatif ini merupakan ancaman bagi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan konsumsi kedelai dalam negeri.</div><div>Produktivitas kedelai perlahan meningkat, yaitu dari 0,72 t/ha pada tahun 1970 menjadi sekitar 1,11 t/ha pada tahun 1990 dan 1,23 t/ha pada tahun 2000, serta sekitar 1,28 t/ha pada tahun 2004. Dengan kata lain, produktivitas kedelai meningkat rata-rata 1,70% per tahun selama periode 1970-2004. Selama periode 1990-2004, pertumbuhan produktivitas kedelai sudah menurun namun tetap positif, yaitu sekitar 1,01% per tahun. Peningkatan produktivitas merupakan cerminan adanya kemajuan teknologi budidaya kedelai. Namun demikian, pertumbuhan produktivitas masih jauh di bawah laju penurunan areal panen, sehingga produksi kedelai masih menurun tajam selama sekitar 15 tahun terakhir. Secara lebih rinci, perkembangan areal dan produksi kedelai disajikan pada Tabel 1.</div><div>Selama periode 1970-1992, produksi kedelai nasional masih tumbuh meyakinkan, yaitu dari sekitar 0,50 juta ton pada tahun 1970 menjadi sekitar 0,65 juta ton dan 1,49 juta ton berturut-turut pada tahun 1980 dan 1990, serta mencapai puncaknya pada tahun 1992 dengan produksi 1,87 juta ton. Tingginya pertumbuhan ini sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan areal panen, dan sebagian lagi karena perkembangan teknologi. Pertumbuhan areal panen yang cukup nyata merupakan hasil dari berbagai program peningkatan produksi menuju swasembada kedelai selama Pelita IV (1984-1988) dan Pelita V (1989-1993). Program-program tersebut antara lain: Insus Kedelai, Inmum Kedelai, dan Opsus Kedelai, termasuk pengembangan kedelai di lahan marginal (Sihombing 1995, Manwan dan Sumarno 1996).</div><div>Selanjutnya sejak 1992, produksi kedelai menurun tajam seiring dengan penurunan areal panen, yaitu menjadi 0,82 juta ton pada tahun 2000 dan 0,81 juta ton pada tahun 2005. Dengan demikian, pertumbuhan produksi selama 15 tahun terakhir adalah masing-masing –3,72% per tahun.<br>http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2016/03/dele_1.tahlim-1.pdf<br>3.hasil pangan<br><br></div><ol><li>Tahu.</li><li>Tempe.&nbsp;</li><li>Kecap.</li><li>Tauco</li><li>Tausi&nbsp;</li><li>Miso&nbsp;</li><li>Natto</li></ol><div>4.kesimpulan<br>kedelai cukup Banyak dipuoduksi di indonesia daripada jagung.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-31 08:00:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/G_uk/w19n127pufo78q5r/wish/1370971833</guid>
      </item>
      <item>
         <title>jagung</title>
         <author>G_uk</author>
         <link>https://padlet.com/G_uk/w19n127pufo78q5r/wish/1371029201</link>
         <description><![CDATA[<div>1.<br>Jagung sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi makanan pokok alternative karena kandungan gizi jagung khususnya protein dan karbohidrat tidak kalah dengan beras. Apalagi hasil panen yang paling unggul di Desa Genjahan adalah jagung, tidak sedikit orang yang berada di desa tersebut sengaja untuk menyisihkan hasil panennya lalu disimpan dan akan dibuat nasi di masa paceklik/jumlah bahan pangan berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui selera konsumen terhadap konsumsi nasi jagung dengan nasi beras dan lebih ekonomis manakah antara nasi beras dengan nasi jagung. Data diperoleh melalui metode survey yaitu dengan wawancara terhadap masyarakat yang biasanya mengkonsumsi nasi jagung di Desa Genjahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasi jagung dapat dimanfaatkan sebagai alternative sumber pangan pengganti nasi beras dengan biaya produksi yang cukup terjangkau disemua kalangan masyarakat.<br>2.Negara Indonesia sebagai Negara kepulauan yang memiliki beragam system sangat cocok , bahan pangan penduduknya beragam. Penyediaan bahan pangan sesuai potensi daerah masing-masing akan sangat memudahkan masyarakat karena masurakat dapat mencukupi kebutuhan pangan dengan apa yang tersedia didaerahnya. (Hubeis, 2012). Ketahanan pangan sangat penting dalam rangka membentuk manusia Indonesia yang cukup, aman, bermutu, bergisi, dan beragam serta merata di seluruh wilayah dan terjangkau oleh daya beli masyarakat . ( Departemen Pertanian, 2004).</div><div>Jagung berperan penting dalam perekonomian nasional dengan berkembangnya industry pangan yang ditunjang oleh teknologi budidaya dan varietas unggul. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yan terus meningkat , Indonesia mengimpor jagung hampir setiap tahun mencapai 1, 26 juta ton dan produktivitas jagung di wilayah tertentu berkisar 1,5- 2,2 ton/ ha. Jagung di pedesaan sangat mudah ditemukan , para petani lebih suka menanam jagung dari pada yang lainnya karena jagung mudah untuk</div><div>tumbuh. Dan ketika menanam padi hanya di musim tertentu saja dan ketika musim penghujan lalu kemarau maka padi sulit tumbuh.</div><div>Jagung juga memiliki banyak manfaat, jagung juga merupakan bagian dari penghasilan para petani. Jagung juga ada beberapa macam jenis yaitu jagung kuning dan jagung putih. Hasil dari jagung kuning dan jagung putih dapat dibuat nasi jagung, grontol, marning, jagung bakar, jagung rebus, dan bakwan. Batang dari hasil panen jagung dapat dijual atau dibakar supaya tidak berserakan di sawah. Bagi peminat nasi jagung maka nasi jagung juga banyak dipasaran dan nasi jagung juga dapat digunakan sebagai pengganti nasi beras. Jika para petani tidak mempunyai beras untuk dimasak maka akan memasak nasi jagung sebagai makanan sehari- hari.</div><div>Dalam proses memasak nais jagung harus dipersiapkan secara matang dalam artian proses memasak jagung juga membutuhkan waktu yang lama. Dari jagung diselep dahulu kemudian dipisahkan dari hal yang tidak diperlukan. Sehingga di haluskan terlebih dahulu dan kemudian di masak atau dalam bahasa jawanya di dang. Adanya pengecekan beberapa</div><div>kali terhadap nasi apakah nasi jagung tersebut sudah matang atau belum. Dan bisa dicicipi untuk mengetahui apakah nasi tersebut matang atau belum matang. Kemudian ketika matang , nasi siap untuk dihidangkan sehingga setelah melewati beberapa proses , nasi jagung siap untuk dimakan. Tujuan dari artikel untuk mengetahui hasil panen jagung untuk konsumsi pangan di desa genjahan. Manfaat dari artikel untuk mengetahui pemanfaatan hasil panen jagung untuk konsumsi pangan di desa genjahan.<br>Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) menilai keberhasilan program upaya khusus (Upsus)untuk meningkatkan produksi jagung dalam negeri masih menghadapi tantangan berupa kemampuan dan kapasitas mesin pengering yang dinilai belum mumpuni saat ini. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan mesin pengering yang ada saat ini membutuhkan waktu 2-3 hari untuk mengeringkan beras yang butirannya lebih kecil. Dengan demikian, waktu pengeringan jagung pun akan semakin lama. Padahal, di tengah suplai jagung yang semakin tinggi dibutuhkan mesin pengering dengan kemampuan lebih baik guna menghindari serangan aflatoksin pada jagung. Namun, menurutnya hal ini akan segera terjawab. Pasalnya, pemerintah telah merencanakan pengalokasian dana untuk pengadaan mesin-mesin pengering dengan kapabilitas dan kapasitas yang lebih baik. Kendati demikian, Winarno menilai pemerintah telah sukses dalam rencana meningkatkan produksi jagung dalam negeri melalui progran upaya khusus (Upsus). Ketua KTNA Winarno Tohir menyebutkan dengan adanya Upsus, saat ini Indonesia bisa memenuhi kebutuhan jagung dalam negeri sembari melindungi petani dari impor. “Hasilnya sudah bagus, signifikan dengan mencukupi kebutuhan dalam negeri yang tidak dengan impor dan juga mengurangi jumlah impor yang sangat besar sekali, termasuk perlindungan dari impor sehingga harganya bagus terus,” katanya kepada Bisnis, Selasa (24/7/2018).<br><br><a href="https://ekonomi.bisnis.com/read/20180724/99/820296/masih-ada-pr-dari-keberhasilan-program-upsus-jagung">https://ekonomi.bisnis.com/read/20180724/99/820296/masih-ada-pr-dari-keberhasilan-pr</a><br>hasil pangan&nbsp;<br><br>1.Bakwan jagung terbuat dari tepung, jagung, dan telur, lalu digoreng. Gurih dan renyahnya bikin susah berhenti ngunyah</div><div>2. Jenang jagung semakin langka, padahal rasanya enak dengan tekstur lembut. Rasanya agak manis<br>3. Lepet jagung dikenal sebagai makanan khas dari Jawa yang menggunakan parutan jagung sebagai bahan utamanya. Biasanya dibalut kelobot, lalu dikukus sampai matang</div><div>4. Nasi jagung menggunakan jagung tua atau pipil sebagai bahan utamanya. Biasanya dimakan sebagai pengganti nasi putih, cocok buat diet</div><div>5. Grontol, jagung rebus yang diberi taburan parutan kelapa ini berasal dari Jawa Tengah. Perpaduan rasa gurih, manis, dan asinnya asyik banget</div><div>6. Jasuke alias jagung susu keju memiliki perpaduan rasa gurih dan manis yang nikmat. <em>Street food </em>ini paling sering ditemui saat bazar</div><div>7. Tinutuan, bubur khas Manado, terdiri dari jagung yang dicampur labu kuning, beras, bayam, kangkung, dan sebagainya</div><div>8. Marning terbuat dari butiran jagung kering yang digoreng, paling banyak dijumpai di Jawa Timur dan Jawa Tengah.</div><div>9. Talam jagung sangat terkenal di Semarang. Dibuat dari jagung manis serut, tepung custard, gula, vanili, dan santan</div><div>10. Jagung bose, olahan jagung khas Nusa Tenggara Timur, biasanya dimakan bareng ikan bakar sebagai lauknya.<br>kesimpulan<br>jagung bisa débuta makanan apapun seperti jagung bose marning dan lain lain.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-31 08:27:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/G_uk/w19n127pufo78q5r/wish/1371029201</guid>
      </item>
      <item>
         <title>makanan alternatif!</title>
         <author>G_uk</author>
         <link>https://padlet.com/G_uk/w19n127pufo78q5r/wish/1371056322</link>
         <description><![CDATA[<div>Sorgum merupakan salah satu komoditas pertanian Indonesia yang masih belum banyak berkembang hingga kini. Sorgum masih berada di urutan kelima setelah gandum, jagung, padi dan jelai. Menurut data Kementerian Pertanian, produksi sorgum secara nasional rata-rata berkisar 4.000-6.000 ton setahun, yang ditanam di lima provinsi yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur.<br><br></div><div>Jumlah ini masih sangat rendah dibandingkan produksi beras secara nasional, yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 mencapai sekitar 32 juta ton, dari total produksi padi (gabah kering giling) sebanyak 56,54 juta ton. Angka ini belum ditambah jumlah beras impor, yang pada 2018 tercatat sebanyak 2,11 juta ton.<br><br></div><div><br></div><div><br></div><div>Romo Marcelinus Hardo Iswanto, CM, menunjukkan bulir sorgum yang siap panen, di pertanian organik Gubug Lazaris, Pare, Kediri. (Foto: VOA/Petrus Riski)</div><div>Masih rendahnya produksi sorgum, tidak lepas dari minimnya promosi untuk mengenalkan sorgum sebagai alternatif bahan pangan pokok selain beras. Diungkapkan oleh Romo Marcelinus Hardo Iswanto, CM, dari komunitas pengembangan pertanian organik Gubug Lazaris, peminat sorgum masih terbatas pada kalangan tertentu, terutama yang menganut pola hidup sehat.<br><br></div><div>Padahal kata Romo Hardo, sorgum merupakan bahan pangan pokok sumber karbohidrat, yang dapat tumbuh tanpa mengenal musim dan mampu hidup di tanah yang tandus.<br><br></div><div>“Karena yang dipromosikan besar-besaran itu adalah padi sama jagung, sedangkan sorgum tidak. Namun, dengan perkembangan zaman, manusia mulai sadar pola hidup sehat, sekarang mulai orang itu mencari alternatif sumber karbohidrat yang lain, selain padi dan jagung," kata Romo Hardo Iswanto.<br><br></div><div>"Misalnya, seperti sagu di Papua, umbi-umbian di NTT, juga sorgum ini juga dikembangkan di NTT, karena sorgum itu bisa tumbuh subur di lahan-lahan yang tandus, kering,” katanya.<br><br></div><div><br></div><div><br></div><div>Petani membajak sawah menggunakan traktor sebelum ditanami tanaman pangan, di pertanian organik Gubuk Lazaris, Pare, Kediri. (Foto: VOA/Petrus Riski)</div><div><strong>Perlu Kreatifitas Pengolahan Hasil Pertanian<br></strong><br></div><div>Selain sorgum, masih banyak lagi bahan pangan pokok sumber karbohidrat yang dimiliki Indonesia selain padi atau beras, seperti umbi-umbian dan sagu. Penanaman produk tanaman pangan ini selain untuk melestarikan, juga sebagai upaya mengenalkan produk tanaman pangan pokok Indonesia kepada generasi penerus.<br><br></div><div>Romo Hardo Iswanto menyampaikan pentingnya kreativitas pengolahan hasil pertanian, sebagai upaya mewujudkan kemandirian petani. Potensi yang ada di pertanian harus dapat dioptimalkan menjadi sesuatu yang lebih memiliki nilai ekonomis, terlebih dalam mengolah komoditas tanaman pangan menjadi produk pangan olahan.</div><div><br></div><div>&nbsp;Pop-out player</div><div>“Saya itu bertani bukan hanya mengikuti kebutuhan pabrik yang mengolah produk-produk makanan tertentu, tetapi terutama saya menanam itu apa yang menjadi kebutuhan keluarga pada umumnya, misalnya sayuran, buah-buahan, atau makanan pokok, tanaman-tanaman tumpang sari lainnya, itu sebenarnya keperluan hidup harian yang kita butuhkan," katanya.<br><br></div><div>"Kalau kita itu mau merawat lingkungan kita, menanam hal-hal yang kita butuhkan itu, otomatis kita tidak menilai apa yang saya makan itu dengan uang, tetapi dengan aktivitas, kreativitas, kita itu sudah banyak mendapatkan makanan, dengan sendirinya kita tidak perlu belanja," lanjut Romo Hardo.<br><br></div><div><br></div><div><a href="https://www.voaindonesia.com/a/memanfaatkan-energi-terbarukan-untuk-pertanian/5563080.html">BACA JUGA:</a><br><a href="https://www.voaindonesia.com/a/memanfaatkan-energi-terbarukan-untuk-pertanian/5563080.html">Memanfaatkan Energi Terbarukan untuk Pertanian</a></div><div><strong>Saat Pandemi Sektor Pertanian Bisa Bertahan<br></strong><br></div><div>Pada masa pendemi corona ini, pertanian menurut Romo Hardo, merupakan sektor yang masih mampu bertahan menghadapi ancaman resesi ekonomi.&nbsp;<br><br></div><div>Meski pemerintah telah berupaya mengembangkan dan memasyarakatkan aneka komoditas tanaman pangan pokok selain padi, namun penerapannya di masyarakat masih sangat rendah karena sudah terbiasa dengan beras sebagai makanan pokok sehari-hari. Ini dipengaruhi pula oleh pola hidup masyarakat yang biasa mencari produk makanan yang mudah disajikan.<br><br></div><div><br></div><div><br></div><div>Lahan pertanian organik Gubuk Lazaris, Pare, Kediri ditanami tanaman kedelai (Foto: Courtesy/Romo Hardo)</div><div>Padahal secara nilai gizi dan penerapan dalam berbagai produk olahan makanan, komoditas tanaman pangan pokok seperti; umbi-umbian, sagu, serta sorgum, telah banyak dimanfaatkan menyajikan aneka jajanan dan makanan olahan lainnya. Sorgum serta bahan pangan pokok lainnya juga dapat dibuat menjadi tepung, untuk memudahkan membuat berbagai olahan makanan seperti kue, roti, mie, dan aneka jajanan lainnya.<br><br></div><div>Dosen Fakultas Teknobiologi, Program Kekhususan Bionutrisi dan Inovasi Pangan, Universitas Surabaya, Christina Mumpuni Erawati mengatakan, perlu ada sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat sejak usia dini, untuk lebih mengenal dan menyukai produk olahan pangan pokok selain dari beras, melalui pelatihan maupun strategi pengembangan produk.<br>2.Kemampuan dan Upaya memenuhi kebutuhan<br>Peranan sektor pertanian di Indonesia sangat penting dilihat dari keharusannya memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang pada tahun 2005 berjumlah 219,3 juta, dan diprediksikan terus bertambah sebesar 1,25 persen (Nainggolan, 2006:78). Pemerintah harus melaksanakan kebijakan pangan, yaitu menjamin ketahanan pangan yang meliputi pasokan, diversifikasi, keamanan, kelemba- gaan, dan organisasi pangan. Kebijakan ini diperlukan untuk meningkatkan kemandirian pangan. Pembangunan yang mengabaikan keswadayaan dalam kebutuhan dasar pendu- duknya, akan menjadi sangat tergantung pada negara lain, dan itu berarti menjadi negara yang tidak berdaulat (Arifin, 2004).</div><div>Konsep Malthus yang menyatakan bahwa pertumbuhan pangan bagaikan deret hitung dan pertumbuhan penduduk bagai deret ukur, nampaknya mendapat momen-</div><div>tumnya sekarang. Bangsa Indonesia dengan pertumbuhan penduduk positif, apabila tidak disertai dengan kenaikan produksi pangan, maka akan berpeluang menghadapi persoalan pemenuhan kebutuhan pangan penduduknya di masa datang. Kebutuhan pangan senantiasa meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Di sisi pemenuhannya, tidak semua kebutuhan pangan dapat dipenuhi, karena kapasitas produksi dan distribusi pangan semakin terbatas. Hal ini menyebabkan ketidakstabilan pangan antara kebutuhan dan pemenuhannya secara nasional.</div><div>Dengan demikian pemenuhan kebutuhan pangan ini menjadi sangat penting dan strate- gis dalam rangka mempertahankan kedaulat- an negara, melalui tidak tergantung pada impor pangan dari negara maju. Ketergan- tungan suatu negara akan impor pangan (apalagi dari negara maju), akan mengakibat-</div><div>2 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 1, Juni 2008</div><div><br></div><div>kan pengambilan keputusan atas segala aspek kehidupan menjadi tidak bebas atau tidak merdeka, dan karenanya negara menjadi tidak berdaulat secara penuh (Arifin, 2004).</div><div>Konsep pangan menurut Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 adalah segala sesuatu yang berasal dari hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan dan minum- an yang dikonsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman.</div><div>Konsep ketahanan pangan menurut Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Berdasar konsep tersebut, maka terdapat beberapa prinsip yang terkait, baik langsung maupun tidak langsung terhadap ketahanan pangan (food security), yang harus diperhati- kan (Sumardjo, 2006):</div><ul><li>Rumah tangga sebagai unit perhatian terpenting pemenuhan kebutuhan pangan nasional maupun komunitas dan individu.</li><li>Kewajiban negara untuk menjamin hak atas pangan setiap warganya yang terhimpun dalam satuan masyarakat terkecil untuk mendapatkan pangan bagi keberlangsungan hidup.</li><li>Ketersediaan pangan mencakup aspek ketercukupan jumlah pangan (food sufficiency) dan terjamin mutunya (food quality).</li><li>Produksi pangan yang sangat menentukan jumlah pangan sebagai kegiatan atau proses menghasilkan, menyiapkan,</li></ul><div>mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali dan atau mengubah bentuk pangan.</div><ul><li>Mutu pangan yang nilainya ditentukan atas dasar kriteria keamanan pangan, kandungan gizi dan standar perdagangan terhadap bahan makanan dan minuman.</li><li>Keamanan pangan (food safety) adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat menganggu, merugikan dan membahayakan keadaan manusia.</li><li>Kemerataan pangan merupakan dimensi penting keadilan pangan bagi masyarakat yang ukurannya sangat ditentukan oleh derajat kemampuan negara dalam menja- min hak pangan warga negara melalui sistem distribusi produksi pangan yang dikembangkannya. Prinsip kemerataan pangan mengamanatkan sistem pangan nasional harus mampu menjamin hak pangan bagi setiap rumah tangga tanpa terkecuali.</li><li>Keterjangkauan pangan mempresentasi- kan kesamaan derajat keleluasaan akses dan kontrol yang dimiliki oleh setiap rumah tangga dalam memenuhi hak pangan mereka. Prinsip ini merupakan salah satu dimensi keadilan pangan yang penting untuk diperhatikan.</li><li>Konsep ketahanan pangan seperti disebut di atas, selanjutnya dapat diringkas kedalam aspek:</li><li>Ketersediaan pangan: ketercukupan jumlah pangan (food sufficiency).</li><li>Keamanan pangan (food safety): pangan yang bebas dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat</li></ul><div>Yunastiti Purwaningsih - Ketahanan Pangan: Situasi, Permasalahan 3</div><div><br></div><div>menganggu, merugikan dan membahaya- kan keadaan manusia, serta terjamin mutunya (food quality) yaitu memenuhi kandungan gizi dan standar perdagangan terhadap bahan makanan dan minuman.</div><ul><li>Kemerataan pangan: sistem distribusi pangan yang mendukung tersedianya pangan setiap saat dan merata.</li><li>Keterjangkauan pangan: kemudahan rumah tangga untuk memperoleh pangan dengan harga yang terjangkau.</li><li>PEMBAHASAN Situasi Pangan</li></ul><div>1. Ketersediaan pangan</div><div>Negara berkewajiban untuk menjamin keter- sediaan pangan dalam jumlah yang cukup (selain terjamin mutunya) bagi setiap warga negara, karena pada dasarnya setiap warga negara berhak atas pangan bagi keberlang- sungan hidupnya. Penyediaan pangan oleh negara harus diupayakan melalui produksi pangan dalam negeri, dimana produksi ini harus senantiasa meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan pertambahan penduduk.</div><div>Sebagai penyedia bahan pangan,</div><div>perjalanan sektor pertanian di Indonesia semenjak 1967 sampai sekarang, secara umum mengalami lima fase: fase konsolidasi, fase tumbuh tinggi, fase dekonstruksi, fase krisis, fase transisi dan desentralisasi (Arifin, 2004). Kinerja ekonomi pertanian selama kurun waktu tersebut, menunjukkan pertumbuhan tanaman pangan yang terus menurun setelah tahun 1986. Ini berarti ketersediaan pangan secara otomatis juga mengalami tren yang menurun. Kinerja selengkapnya pada setiap fase disarikan dalam Tabel 1.</div><div>Berdasar pada data Tabel 1 tersebut, apabila diurai setiap fase sebagai berikut (Arifin, 2004):</div><div>a. Pada fase konsolidasi 1967-1978, tanaman pangan tumbuh dengan 3,58 persen. Tiga kebijakan yang diterapkan pemerintah pada fase ini dalam membangun pertanian yaitu melalui intensifikasi, ekstensifikasi dan diver- sifikasi.</div><div>Intensifikasi menunjuk pada peng- gunaan teknologi biologi dan kimia (pupuk, benih unggul, pestisida, dan hibrisida), serta teknologi mekanis (traktorisasi dan kombinasi mana-<br><br>hasil pangan<br><strong>Sagu</strong></div><div>Sagu merupakan bahan makanan yang diperoleh dari serat batang pohon sagu. Kemudian diolah menjadi tepung sagu dan dimasak kembali untuk dijadikan pasta dan dicampurkan dengan bahan-bahan lain agar terasa lebih lezat. Tanaman pangan ini banyak dijumpai di kawasan timur Indonesia, mencakup Sulawesi, Maluku, dan Papua. Perlu diketahui bahwa dalam 100 gram sagu kering terdapat 94 gram karbohidrat. Inilah yang membuatnya cocok dijadikan sebagai alternatif sumber karbohidrat pengganti nasi.</div><div>ADVERTISEMENT</div><div><strong>Singkong</strong></div><div>Jenis tanaman umbi-umbian ini tumbuh dengan baik di Indonesia. Singkong bahkan pernah menjadi tanaman pangan yang paling banyak dikonsumsi saat penjajahan kolonial Belanda. Singkong mengandung karbohidrat dalam jumlah tinggi dan bebas kolesterol. Rasa manis yang dihasilkan oleh singkong bahkan tidak berbahaya bagi penderita diabetes. Tekstur singkong yang lebih padat jika dibandingkan dengan nasi mampu menghasilkan energi dalam jumlah besar.</div><div><strong>Talas</strong></div><div>Siapa bilang talas tidak bisa dijadikan tanaman pangan pengganti nasi? Tanaman yang banyak tumbuh di tanah Jawa ini juga merupakan sumber karbohidrat yang baik untuk tubuh. Talas memiliki kandungan nustrisi yang cukup tinggi dan mudah dicerna. Untuk menanam talas bahkan Anda tidak membutuhkan lahan khusus. Tanaman pangan ini bisa tumbuh subur di wilayah berair, seperti di pematang sawah, tepi empang, selokan, atau bahkan sungai.</div><div><strong>Kentang</strong></div><div>Sampai saat ini kentang banyak dikonsumsi sebagai menu diet pengganti nasi. Hal ini dikarenakan kentang mengandung zat pati yang cukup tinggi sebagai sumber tenaga dan membuat Anda merasa kenyang. Bahan makanan ini juga mudah diolah menjadi beragam menu hidangan lezat lainnya. Mulai dari kentang rebus, perkedel kentang, donat, atau ditambahkan ke dalam sayur sop yang Anda buat.</div><div><strong>Ubi jalar</strong></div><div>Satu lagi tanaman pangan yang bisa dijadikan alternatif pengganti padi, yaitu ubi jalar. Iya, jenis umbi yang satu ini juga layak dikonsumsi sehari-hari sebagai sumber karbohidrat yang baik. Menariknya, ubi jalar juga memiliki kandungan beta karoten dan berbagai vitamin lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Bagi penderita diabetes dan maag, ubi jalar jauh lebih aman dikonsumsi daripada nasi.</div><div>Beberapa tanaman pangan tadi bisa Anda pertimbangkan untuk mengganti nasi sebagai makanan pokok sehari-hari. Menanam padi mungkin memberikan keuntungan besar karena ini adalah makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, tidak ada salahnya jika Anda menanam tanaman-tanaman pangan tadi sebagai variasi hasil panen yang juga dapat dikonsumsi sehari-hari.<br>kesimpulan<br>=makanan alternatif lebin hemat dari padi karena bisa membuat sehat.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-03-31 08:39:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/G_uk/w19n127pufo78q5r/wish/1371056322</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
