<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kronologi by Vdya</title>
      <link>https://padlet.com/hcqkc76nh5/vybg3goopehh9pvt</link>
      <description>Gulir untuk melihat</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-11-05 17:59:32 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-11-06 02:44:37 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f39e.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Surat Kecil untuk Tuhan</title>
         <author>hcqkc76nh5</author>
         <link>https://padlet.com/hcqkc76nh5/vybg3goopehh9pvt/wish/3202972846</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada suatu pagi Keke terbangun dari tidurnya dengan mata merah serta hidungnya berdarah. Orang tuanya membawanya ke dokter untuk diperiksa. Awalnya orang tua Keke mengira kalau Keke hanya flu biasa dan kecapean sehabis mengikuti olah raga volly. </p><p><br/></p><p>Akan tetapi salah, orang tua Keke mendapatkan kabar kalau Keke mengidap penyakit kanker ganas yang diprediksi hidupnya tinggal lima hari lagi. Kanker ganas itu menggerogoti bagian wajahnya sehingga terlihat busuk seperti monster.</p><p><br/></p><p>Meski Dalam keadaan yang demikian, Keke terus berjuang, dan berusaha untuk tetap bersekolah lagi layaknya gadis remaja normal lainnya. Orang tua Keke bingung dalam mengambil keputusan dalam jalan penyembuhan kanker yang diderita oleh Keke. Mereka tidak ingin jika separuh wajah Kekek harus hilang karena di operasi.</p><p><br/></p><p>Oleh sebab itulah, orang tua Keke merahasiakan penyakit yang sedang dialami dari Keke. Namun, waktu terus berjalan akhirnya Kekepun mengetahui apa sebenarnya penyakit yang dideritanya. Mengetahui hal tersebut, Keke sama sekali tidak marah, ia hanya bisa pasrah dengan apa yang sedang menimpanya. Dan ia selalu tersenyum kepada siapa saja yang dia temui serta selalu terlihat baik-baik saja.</p><p><br/></p><p>Dengan penyakit kanker dideritanya, Keke masih dapat menjadi anak yang berprestasi dan hidup normal di sekolahnya. Tuhan memberikan kesempatan lebih dengan memberikan nafas panjang pada Keke untuk melawan kanker itu sesaat. Begitu juga dengan ayahnya, yakni Joddy Triapianto ia juga tidak mau menyerah begitu saja, ia terus berusaha supaya Keke dapat sembuh dari penyakit itu. Begitu mengharukan, dan kondisi yang pas-pasan ayah Keke mencari pengobatan alternatif dan ke seluruh Indonesia, meski dicoba lagi dengan hasil yang nihil.</p><p><br/></p><p>Oleh sebab itu, mau tidak mau tidak ada jalan lagi ayah Keke harus kembali ke jalan medis. Menurut dokter cara lain yang dapat menimbulkan Keke dari penyakit kanker tersebut adalah dengan kemoterapi. Kemudian, ketika menjalani kemoterapi, sekali kemoterapi dapat merontokan semua rambut yang ada di seluruh tubuhnya. Kayaknya menjalani kemoterapi itu sebanyak 25 kali. Dan pada akhirnya setelah enam bulan jalan kemoterapi Keke dapat sembuh dari penyakit kanker ganasnya.</p><p><br/></p><p>Kasus kanker yang dialami oleh Keke ini adalah kasus kanker pertama yang ada di Indonesia, serta menjadi perdebatan besar di kalangan kedokteran, di mana penyakit kanker tersebut hanya menyerang orang tua, bukan pada remaja seusia Keke. Ditambah lagi, soal keberhasilan dokter Indonesia sukses menyembuhkan kanker tersebut adalah sebuah prestasi yang membanggakan sekaligus membuat semua dokter-dokter di belahan dunia bertanya-tanya.</p><p><br/></p><p>Karunia Tuhan sungguh luar biasa yang membuatnya dapat hidup lebih lama bersama keluarga dan sahabat yang ia cintai. Setelah kejadian itu Keke menjalani dan menikmati kehidupannya dengan rasa syukur atas kesembuhannya itu. Akan tetapi, pada akhirnya penyakit kanker itu kembali lagi setelah menjalani kebahagiannya sesaat, kanker itu kembali hadir di lokasi yang berbeda, yaitu di bagian pelipis mata sebelah kanan. Keke sadar bahwa kehidupannya di dunia ini semakin sempit. Mengetahui hal tersebut ia tidak marah pada Tuhan, justru ia sangat bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk hidup lebih lama dari penyakit yang dideritanya dan akhirnya dapat bernafas lebih panjang hingga tiga tahun lamanya.</p><p><br/></p><p>Dalam proses penyembuhan yang selanjutnya, ayah Keke mencoba pengobatan kemoterapi lagi, seluruh rambut yang ada di kepala kaki rontok tak satu pun tersisa. Tapi, sepertinya kanker tersebut mulai kebal dari bahan kimia. Kanker tersebut masih duduk manis di pelipis mata kanan Keke, mengetahui hal tersebut ayah Keke kemudian membawa Keke ke Singapura untuk keperluan operasi, namun karena depresi mereka akhirnya kembalikan ke Indonesia dengan kondisi Keke semakin parah.</p><p><br/></p><p>Meskipun demikian, semangat Keke untuk menimba ilmu tidak surut, ia tetap kukuh pendirian untuk tetap bersekolah, bahkan sampai disaat tangan dan kakinya telah tidak mampu lagi digerakkan.</p><p><br/></p><p>Waktu terus berjalan, kondisi Keke belum juga menandakan kesembuhan dan akhirnya Keke harus dirawat inap di RSCM serta mengalami koma selama tiga hari. Diwaktu opname tersebut ada berita yang begitu membahagiakan baik untuk Keke maupun ayah Keke bahwa Tuhan memberikan suatu coba kepada hambaNya sesuai kemampuannya. “Keke mendapat juara tiga di sekolahnya dalam ujian akhir sekolah”. </p><p><br/></p><p>Namun, itulah kebahagiaan dapat dirasakan Keke untuk terakhir kalinya. Dokter menyerah terhadap penyakit yang dideritanya, di nafasnya yang terakhir Keke menulis sebuah surat kecil pada Tuhan.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://images.pexels.com/photos/6156885/pexels-photo-6156885.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-05 18:06:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcqkc76nh5/vybg3goopehh9pvt/wish/3202972846</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
