<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>PK_POV_Memori 1998 by Hefiza Cahaya Rayyani</title>
      <link>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-09-23 03:42:09 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-23 04:09:15 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Keyko Naura Nafisa_035_A</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z/wish/3598807258</link>
         <description><![CDATA[<p>Suara bising dan ramai memecah fokusku saat kelas berlangsung, terdengar juga bisik bisik teman kelas yang terasa seperti tertuju padaku. Perasaan tidak nyaman mulai menyelimuti hati bersamaan dengan tempo hentakan kaki yang semakin cepat, kabar dari dosen bahwa kelas hari ini dibubarkan lebih cepat justru membuat perasaanku semakin gelisah. Drrt, drrt, kuambil telepon genggam di saku celanaku, terlihat tulisan “mama” muncul di layar, kalimat selanjutnya yang keluar dari telepon genggam itu sontak membuat kaki ku semakin lemas tak berdaya.</p><p><br/></p><p><em>“Widjaja, banyak orang mengamuk di luar toko, jangan pulang hari ini.”</em></p><p><br/></p><p>Seolah tidak mendengar kalimat terakhir, aku bergegas menunggangi motor kesayanganku dengan jantung yang berdetak bagaikan genderang perang, beradu cepat dengan suara knalpot yang membelah angin. Di tengah perjalanan, kulihat gerombolan orang marah menghalangi jalan.</p><p><br/></p><p>“WOY ADA CINA!” teriak salah satu dari mereka.</p><p><br/></p><p>Belum sempat berputar balik, tanganku ditarik paksa dan bogem mentah mendarat tepat di pipiku, disusul dengan hantaman hantaman yang lain hingga kepalaku rasanya seperti berputar putar dan pandangku mulai sedikit kabur. Samar samar, kulihat salah satu dari mereka pergi membawa motorku bersamaan dengan mulai mereda nya pukulan mentah yang mereka berikan, meninggalkan aku sendiri terkulai lemas tak berdaya di tengah jalan.</p><p><br/></p><p>Kupaksa kaki ku berdiri walau tertatih-tatih, karena bagaimanapun, aku harus pulang. Dengan mata yang bengkak menolak menunjukkan dunia dengan jelas dan kaki yang berdenyut seperti jantung dipindah ke telapak kaki sedangkan jantung yang asli berdetak tak karuan, aku tetap berusaha melangkah ke arah toko milik keluargaku.</p><p><br/></p><p>Sedikit lagi, sedikit lagi aku sampai. Tetapi, jantungku serasa jatuh ke perut saat melihat kobaran api melahap habis toko yang menjadi sumber penghidupan keluargaku selama ini. Kaki ku jatuh ke tanah, tenggorokanku tercekat, isakanku pecah dan air mata panas mengalir di pipi. Ingin rasanya seseorang menamparku sekali lagi sekarang untuk memastikan apakah ini mimpi atau bukan, karena jika ini bukan mimpi semata, bagaimana caraku melanjutkan hidup sekarang tanpa kedua malaikatku?</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-23 03:45:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z/wish/3598807258</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Olympias Sayundra Winarsih_054_POV Orang Ketiga</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z/wish/3598810285</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada sore itu, di tahun 1998 di tengah ricuhnya kota Jakarta, seorang mahasiswa bernama Widjadja sedang berada di kelas untuk menimba ilmu. Ketika dosen sedang mengajar, tiba-tiba muncullah dering telefon. Dengan rasa penasaran ia pun mengangkat telefon genggamnya. Begitu diangkat, betapa kagetnya Widjadja mendengar suara Ibu nya menyuruh untuk jangan kembali ke rumah yang sekaligus menjadi toko tempat mereka mendapatkan penghasilan untuk hidup, “Nak, pulang kelas jangan kembali ke rumah ya. Pergi jauh-jauh dari sini, maaf karena harus menanggung beban ini, semoga kamu sehat selalu dan dapat lulus dengan lancar. Mama dan Papa sayang kamu. Selalu.” kata sang Ibu sebelum langsung menutup telefon genggamnya. Mendengar hal tersebut, Widjadja pun langsung kalut dalam keadaan khawatir dan kepanikan. Ia pun segera meninggalkan kelas dan bergegas&nbsp; menuju parkiran untuk pergi melihat keadaan orang tuanya dan rumah yang sekaligus menjadi toko mereka.</p><p><br/></p><p>Begitu sampai di parkiran, Widjadja dengan perasaan kalut langsung menyalakan motornya dan bergegas pergi meninggalkan kampus yang menjadi tempatnya menimba ilmu. Dalam perjalanan, betapa kagetnya ia melihat jalanan yang sudah ricuh dan ramai dengan tindakan apatis dari rakyat untuk sesama rakyat. Toko-toko yang dijarah, orang yang beretnis Tionghoa dipukul, bahkan dari ujung matanya ia dapat melihat seorang perempuan yang ditarik oleh segerombolan orang. Sakit hatinya melihat pemandangan itu, apalagi mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa karena etnis yang dimilikinya.</p><p><br/></p><p>Di tengah perjalanan, tiba-tiba muncul segerombolan orang yang menyampiri dan menghentikan motornya sambil menyerukan “Woi Cina, woi ada Cina! Sini lo!” mereka pun langsung menyerbu Widjadja dan menghentikan motornya. dengan keadaan tidak bisa melawan dan berbuat apa-apa, ia hanya mampu berpasrah sambil ditarik menuju gang yang kosong dan sempit. Di gang kosong itu, ia langsung dipukul dan dicemooh. Mereka pun terus-menerus memukuli Widjadja hingga ia babak belur dan meninggalkannya tergeletak habis di tengah kemuraman gang kosong nan sempit itu.</p><p><br/></p><p>Ketika hari mulai menggelap, Widjadja akhirnya tersadar dan terbangun. Mengingat kata-kata terakhir dari orang tuanya, dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia tetap berusaha untuk bangun meski dalam keadaan sekujur badannya yang sudah hancur dan habis. Ia berjalan, berjalan, dan terus berjalan sambil menahan rasa sakit yang dideritanya.</p><p><br/></p><p>Sambil berjalan menahan rasa sakit, betapa sedihnya ia melihat kota yang sebelumnya menjadi tempatnya bertumbuh kembang sudah hancur dan penuh dengan kobaran api dimana-mana. Dari ujung matanya terlihat bentukan toko yang sekaligus menjadi rumahnya itu sudah terbakar dan termakan si jago merah, ia pun langsung bergegas, berusaha mempercepat langkahnya. Pilu dan deru keringat sudah menghiasi badannya, tapi ia sudah tidak peduli lagi memikirkan keadaan orang tuanya yang terus tertanam di dalam benaknya. Begitu melihat keadaan tokonya yang sudah habis, air mata pun tak kuasa ia tahan dan langsung menetas dari ujung matanya. Ia terjatuh terduduk sambil berusaha memikirkan skenario terbaik akan apa yang terjadi pada orang tua nya. Namun, tiba-tiba tante yang ia kenal sedari kecil mendatanginya dan menepuk pundaknya sambil berkata “Widjadja, maafkan Ieie tidak bisa menjaga orang tua mu nak. Ieie sungguh kecewa dengan diri sendiri, kamu pasti kuat nak. Untuk orang tua mu.” Mendengar hal itu, rasanya seluruh dunia Widjadja langsung runtuh. Ia pun langsung berlutut dan menangis, meraung-raung sambil meratapi nasibnya. Dalam benaknya ia berharap ini semua hanyalah mimpi belaka, bahwa sesungguhnya sekarang ini ia masih berada di meja makan dan makan malam dengan tenang bersama kedua orang tuanya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-23 03:47:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z/wish/3598810285</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hefiza Cahaya Rayyani_118_C_POV Orang Ketiga</title>
         <author>cahayahefiza06</author>
         <link>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z/wish/3598813593</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada tahun 1998, di Kota Jakarta. Kericuhan semakin memarak. Widjaya samar-samar mendengar suara sang dosen yang memerintahkan para mahasiswa agar segera kembali ke rumah. Ia mengangkat tas dan berjalan keluar, membaur dengan rombongan mahasiswa yang berlarian menuju gerbang. Dirogohnya kunci motor dalam saku celana, kemudian tubuh kurusnya menaiki motor tua yang terparkir di belakang gedung fakultas. Saat tangannya hendak menyalakan mesin, ponsel genggamnya bergetar pelan. Nama Mama tertera jelas pada layar.</p><p><br/></p><p>“Halo? Ada apa, Ma?” tanya Widjaya begitu mengangkat telepon.</p><p><br/></p><p>Suara dari seberang terdengar serak. “Nak, untuk sekarang kamu jangan pulang dulu ke rumah, ya. Pergi menginap di teman kamu saja dulu atau ke tempat yang lebih aman.”</p><p><br/></p><p>Detik itu, Widjaya tahu bahwa orang tuanya merasa cemas. Terlebih karena keluarganya berasal dari ras Tionghoa, dan beberapa hari terakhir, ada begitu banyak kabar tidak mengenakkan yang datang dari tetangganya. Penjarahan toko mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Terkadang Widjaya menebak-nebak kapan rumahnya mendapat ‘giliran’. Bukan karena mendoakan, tetapi ia merasa harus bertanggung jawab untuk melindungi keluarganya kapan pun hal itu terjadi. Selama ini, Widjaya adalah anak penurut. Ia tidak pernah membantah perintah orang tuanya. Namun, begitu mendengar suara sang Mama, Widjaya berubah pikiran. Ia mematikan telepon dengan segera, kemudian menyalakan mesin motor, tanpa mengubah tujuan seperti yang Mamanya minta.</p><p><br/></p><p>Dekat dengan area pemukiman rumahnya, Widjaya bisa melihat kericuhan. Orang-orang berteriak, berlarian, dan berjatuhan. Ia hampir membawa motornya dalam kecepatan penuh, tetapi sebuah pukulan kencang yang membentur badan membuatnya terpaksa menghentikan kendaraannya. Widjaya tidak bisa memastikan ada berapa orang yang berdiri mengelilinginya dengan raut wajah berkerut. Satu hal yang ia sadari bahwa beberapa dari mereka memiliki aura menyeramkan yang sangat kuat. Dan itu berarti, ia akan meregang nyawa dalam beberapa menit ke depan. Widjaya bahkan tidak bisa berpikir lagi ketika salah satu dari mereka menyeretnya turun dari motor. Ia berusaha memberontak dan berteriak, tetapi orang lainnya membungkam dengan menutup mulutnya. Tubuh ringkihnya ditendang, dipukul, hingga dihantam dengan kayu-kayu yang entah mereka dapatkan dari mana. Widjaya nyaris memuntahkan darah. Kepalanya berputar cepat, pandangannya sudah mengabur sejak detik-detik yang lalu. Kalau saat ini ada ambulans lewat, mungkin paramedis yang bertugas sudah membebat seluruh tubuhnya dengan perban. Atau bahkan ia akan dilabeli dengan tanda cedera berat. Widjaya tidak menghitung berapa lama ia menerima siksaan tersebut, tahu-tahu saja tubuhnya sudah tergeletak lemah di atas tanah. Berlapis debu. Darah. Air mata. Kedua sudut matanya tidak menangkap kehadiran motor tua yang ia bawa.</p><p><br/></p><p>“Persetan dengan motor,” gumamnya pelan.</p><p><br/></p><p>Widjaya berdiri. Ia melangkah tertatih dengan kaki pincang—yang sebenarnya bisa ia tebak terdapat beberapa retakan di antaranya. Tinggal beberapa meter lagi sebelum ia mencapai rumahnya. Saat ini, yang Widjaya pikirkan adalah kedua orang tuanya. Harta paling berharganya. Luka-luka berat yang menderanya seolah tidak memiliki harga diri. Tetangga yang mengenali sosoknya berteriak, tetapi Widjaya pura-pura tidak mendengar.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p><p>“Widjaya! Hei, mau ke mana kau!” suara itu menggelegar. “Jangan kembali! Di sini berbahaya!”</p><p><br/></p><p>Sesaat, Widjaya merasa kesal. Orang-orang selalu menyuruhnya untuk pergi melindungi diri, lantas bagaimana caranya melindungi keluarganya di rumah?</p><p><br/></p><p>Widjaya ingat, Mama dan Papa sering kali memperingatkannya untuk berhati-hati. Hanya butuh hitungan hari bagi keluarga mereka untuk berada di sisi genting. Namun, Widjaya tidak pernah mengira hari itu akan datang begitu cepat. Sangat cepat hingga rasanya ia tidak sanggup berpikir apa pun lagi. Lima meter di hadapan halaman rumahnya, Widjaya melihat kobaran siluet merah yang menari-nari bengis mengitari bangunan. Rasanya seolah kulit tubuhnya akan mengelupas kalau ia melangkah mendekat sekali lagi. Degup jantungnya terdengar bertalu-talu, memecah pendengarannya yang seketika memudar. Ia ingin memuntahkan seisi perutnya. Mual dan takut mendera. Kedua kakinya jatuh menghantam tanah, sementara kedua tangannya gemetar hebat sembari mencengkeram tas hitam yang robek di banyak sisi. Widjaya tidak tahu apakah orang tuanya masih hidup atau tidak. Air matanya membasahi wajah hingga mengering tanpa sisa. Tidak ada yang bisa Widjaya lakukan. Ia hanya dapat bersimpuh di hadapan kobaran api dengan putus asa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-23 03:49:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z/wish/3598813593</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Christian Jonathan Gani_A_006_POV ORANG KEDUA</title>
         <author>christiangani46</author>
         <link>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z/wish/3598814915</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>                           Memori 1998</strong></p><p>Suasana semakin ricuh di kota Jakarta, kamu yang sedang melaksanakan kuliah di Universitas Trisakti pun mendapat kabar bahwa kamu harus pulang lebih cepat hari ini. Orang tua kamu yang khawatir juga meneleponmu. “Kring -Kring -Kring” Suara telefon terdengar ditengah- tengah situasi uang mencekam .Kamu disuruh&nbsp; untuk jangan pulang&nbsp; ke rumah karena di sana sudah tidak aman. Kamu tidak mendengar pesan kedua orang tuamu . Pikiranmu penuh dengan dugaan, tetapi kamu belum bisa memastikan karena kamu belum ada di sana. Kamu pun&nbsp; segera berlari menuju parkiran.</p><p><br/></p><p>Kamu pun segera menaiki motormu menuju ke rumah. Ditengah-tengah perjalanan terlihat asap tebal bertebaran,darah-darah berada di tengah jalan, teriakan di mana-mana. Sebelum kamu dapat mencerna itu semua, tiba-tiba sekumpulan&nbsp; orang datang menghampirimu. Kamu disuruh turun dari motor dan akhirnya kamu dipukul,dihina, disiksa&nbsp; secara bergantian. . Kamu tidak bisa melawan, hanya bisa pasrah dengan keadaan . Setelah selesai, mereka kabur sambil mencuri motormu. Kamu mulai menyalahkan dirimu sendiri,Apakah karena aku terlahir Cina sampai mereka memperlakukanku seperti ini, Aku berharap menjadi pribumi saja. Kamu berusaha berdiri dan memaksakan diri untuk terus berjalan dalam keadaan sakit, setiap langkahmu darahmu meninggalkan jejak, jantungmu berdetak sangat kencang seperti orang memukul drum. Kamu terus berlari dan berlari sambil memikirkan kedua orang tuamu,”Apa yang terjadi sampai mereka menyuruhku jauh dari rumah?”.</p><p><br/></p><p>Usahamu tidak sia-sia, kamu sampai dirumah dengan keadaan selamat meski berlumuran darah.Kebahagiaanmu tidak bertahan lama, kamu melihat rumahmu telah dijarah oleh orang dan api sudah mulai besar. Kamu mencari orang tuamu di jalanan, berharap bahwa mereka masi selamat.Kamu melihat pamanmu , kamu pun menghampiri mereka sambil bertanya dimana orang tuamu. Tatapan mereka kosong, berlumuran air mata, lidah mereka tersendat, kamu mulai menyadari orang tuamu telah tiada. “Maafkan Ie Ie , orang tuamu terjebak di dalam, Api sudah sangat besar. Kakimu tidak bisa berdiri lagi, badanmu lemas, matamu mulai menggelap, dan akhirnya kamu pun tergeletak di tengah jalan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-23 03:50:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z/wish/3598814915</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Rezha Rinaldo_065_B_POV ORANG KEDUA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z/wish/3598816044</link>
         <description><![CDATA[<p>Siang itu di Universitas Trisakti, ketika kamu sedang menuntut ilmu di kampus, ibumu tiba-tiba menelepon kamu untuk berlindung di tempat yang aman dan jangan pulang ke rumah. Khawatir, seketika kamu sedang bergegas untuk pulang kepada keluargamu di kota yang sudah jatuh ke dalam kericuhan. Tidak ada yang menyangka bahwa kamu akan menjadi salah satu korban dalam masa kelam ini.</p><p><br/></p><p>Bergegas sekuat tenaga, sekolompok massa yang marah memberhentikan kamu di jalan raya yang dipenuhi kericuhan dan aksi demonstrasi. Tidak sempat melarikan diri, mereka menindasmu karena tampangmu, mengambil hakmu, dan pergi begitu saja. Segala rasa kemanusiaan yang dimiliki mereka terhadapmu sudah hilang tertutupi oleh amarah dari tindakan ketidakadilan. Disitu lah kamu tergeletak tak berdaya, kendaraan yang kamu bawa sudah hilang. Kehilangan kesadaran, waktu berlalu dan matahari mulai jatuh. Kamu pun terbangun di jalanan yang kacau balau menjadi hening dan sepi. Lalu seketika kamu teringat kembali, bagaimana nasib dari keluargamu di masa yang gelap ini?</p><p><br/></p><p>Berlari tak menyerah, kamu tetap berjuang walau pincang untuk mencapai rumahmu, hanya untuk melihat jiwa merah yang menyelimuti apa yang kamu dulu sebut sebagai rumah. Kamu berteriak memanggil ibu dan ayahmu, namun hanya ada suara dari kobaran api yang menjawab. Hampir tidak ada yang tersisa dari rumah yang kamu tinggali itu. Dagangan dari usaha ayahmu bahkan tidak terlihat lagi, entah telah dijarah, ataupun sudah dimakan oleh api yang terus meraung. Salah satu kerabatmu menghampirimu, membawa berita duka yang sudah menjadi mimpi terburuk, bahwa ibu dan ayah sudah tidak akan ada bersamamu lagi. Akhirnya, kamu hanya bisa berlutut dan menangis dan merengek atas nasib yang kamu miliki di negara yang sedang terluka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-23 03:51:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z/wish/3598816044</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Indri Vidya Goutama_A_044</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z/wish/3598816076</link>
         <description><![CDATA[<p>Point of View: Orang Pertama</p><p><br/></p><p>Sore itu terasa mencekam. Langit menggantung kelabu, angin berhembus membawa aroma menegangkan yang membuat dadaku sesak. Telepon dari mama masih bergabung di telingaku, </p><p>"Anakku Widjadja, hari sudah mulai larut dan keadaan tidak kondusif. Pergilah jauh-jauh dari rumah, cari tempat aman. Jangan khawatir sama mama dan papa ya nak, kami akan baik-baik saja."</p><p><br/></p><p>Tapi bagaimana aku bisa percaya dengan kata-kata itu? Ada sesuatu yang bergetar di dalam hatiku, suara lirih yang seolah mengabarkan bahaya, hawa  buruk yang menempel di tubuhku seperti bayangan. Sedari kemarin keadaan di kota Jakarta sedang tidak kondusif. Kekhawatiran itu menelan logikaku. Tanpa berpikir panjang, aku bergegas menuju vespa tuaku yang terparkir di lapangan.</p><p><br/></p><p>Perjalanan pulang terasa panjang dan berat. Jalanan yang biasanya ramah kini terasa begitu dingin, asing, dan penuh bisikan. Setiap tikungan seperti menahan jalanku, seolah menyuruhku pergi. Hatiku semakin berat, seakan ikut menumpukkan ribuan tanda tanya ke dalam pikiranku.</p><p><br/></p><p>Namun saat roda motorku berbelok ke gang menuju rumah, bencana pertama menemuiku. Sekelompok wajah asing muncul dari kegelapan, menyeringai dengan mata yang menyimpan niat jahat. “Woyyy ada Cinaaa woy cinaaa goblokk!” Mereka bagai serigala lapar mengitari mangsanya. Pentungan besi menghantam tubuhku, rasa sakitnya merambat hingga ke sumsum tulang. “Awww!” “Hngghh!” “Sakiitt!” jeritanku terkatup oleh kebrutalan mereka. </p><p><br/></p><p>Aku tersungkur, mencoba bertahan. Dalam sekejap, ranselku direnggut, laptopku dirampas, dan harga diriku diinjak dengan tawa liar mereka. Tubuhku terbaring lemas di tanah yang kotor dan dingin. Mataku sudah babak belur memar, tangan dan kakiku meninggalkan bercak ungu bengkak, dan darah mengalir di sekujur tubuhku. Aku mencoba bangkit dengan terhuyung, berdiri dengan tubuh babak belur lalu memaksa langkah menuju rumah dengan langkah sempoyongan. </p><p><br/></p><p>Namun sesampainya di depan pagar, duniaku runtuh.Si jago merah menari dengan rakus, melahap rumah kayu yang selama ini jadi tempat kediamanku. Aku membeku. Jantungku seakan pecah, darahku berhenti mengalir, tulang seakan menghilang dari tubuhku. Rumahku… bukan lagi rumah. Ia telah jadi altar kobaran yang menelan semua kenangan. “Mama… papa…” bisikku, dengan suara yang hampir tak keluar. Kakiku lunglai. Kulitku dingin, pucat bak mayat.</p><p><br/></p><p>Kerabatku yang tinggal di dekat rumah menghampiriku dengan tersedu-sedu. “Maafkan ii ya Wid, api melahap rumah mama dan papa mu begitu cepat. Ii turut berdukacita…” Perasaanku hancur bagai kaca pecah berkeping-keping. Ingin rasanya aku berlari menembus api, tapi api itu bukan hanya membakar kayu, ia juga membakar hatiku. Dan di titik itulah aku sadar, mungkin aku sudah terlambat. “Mama, papa, kenapa kita terlahir sebagai Cina… kenapa bukan pribumi saja… tunggu pembalasan dariku wahai kalian para bedebah bajingan!”</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-23 03:51:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cahayahefiza06/vwfdh00toyt17f0z/wish/3598816076</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
