<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>My bold padlet by Martina Prativi</title>
      <link>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0</link>
      <description>Made with joy</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-09-07 07:16:11 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-12-21 03:51:58 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Kelompok Fenomenologi</title>
         <author>martinaprativi</author>
         <link>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0/wish/1721167743</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p>Nama:</p><ol><li><p>Pratiwi Afifah Zahra (23123017)</p></li><li><p> Tara Marsita 23123019</p></li><li><p>amalia ramadhani tangkudung 23123010</p></li><li><p>suci setyo saputri 23123004</p></li><li><p>filia ayuningsi 23123009</p></li><li><p>Gloria oematan 23123013</p></li><li><p>Syaima Assyadiah 23123022</p></li></ol><p>    8. Armeta ayu   23123015</p><p>5 Pertanyaan :</p><ol><li><p>Apa yang dimaksud dengan pendekatan fenomenologis dan berikan contoh penerapannya?</p></li><li><p>Apa yang menjadi fokus utama dalam penelitian fenomenologi?</p></li><li><p>apa hubungan fenomenologi dengan filsafat?</p></li><li><p> Sebutkan 6 konsep kunci teori fenomenologi menurut Husserl</p></li><li><p>Siapa yang memperkenalkan fenomenologi?</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-07 07:17:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0/wish/1721167743</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok Pragmatis</title>
         <author>martinaprativi</author>
         <link>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0/wish/2826064875</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:</p><ol><li><p>Irene Apriliyanti Bura 23123031</p></li><li><p>Ayu Putri Pembayun 23123007</p></li><li><p>Cindy Mahoklory 23123012</p></li><li><p>Ristanti Aryunani 23123001</p></li><li><p>Orpa Plorensia 23123028</p></li><li><p>Adela Tanika putri 23123020</p></li><li><p>Deby Nandini 23123027</p></li></ol><p><br></p><p>5 Pertanyaan:</p><ol><li><p>Apa yang dimaksud dengan Pragmatis dalam filsafat? </p></li><li><p>Sejauh mana relevansi teori dengan konteks praktis menjadi pertimbangan utama dalam pemikiran pragmatis?</p></li><li><p>Contoh pragmatis dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam bidang pendidikan!</p></li><li><p>Siapa saja tokoh pragmatis?</p></li><li><p>Bagaimana ciri-ciri manusia yang pragmatis?</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-15 05:56:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0/wish/2826064875</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok Eksistensialisme</title>
         <author>martinaprativi</author>
         <link>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0/wish/2826065430</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:</p><ol><li><p>Isna Nur Annisak 23123002</p></li><li><p>Whelsa Rairezki 23123023</p></li><li><p>Safia 23123032</p></li><li><p>Nica Purnama 2312301</p></li><li><p>Fransisca Vita Widya Ayu Puspita 23123026</p></li><li><p>Yofriana Yenny Fahik 23123033</p><p><br></p><p>Pertanyaan :</p><p>1.Apa yang di maksud dengan Eksistensialisme?</p></li></ol><p>       2.Siapa saja tokoh penting dalam    gerakan eksistensialisme?</p><ol start="3"><li><p>Jelaskan bagaimana sejarah lahirnya filsafat eksistensialisme?</p></li><li><p>Berikan contoh eksistensialisme dalam keseharian!</p></li><li><p>Apa yang membedakan eksistensialisme dengan aliran yang lainnya?</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-15 05:56:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0/wish/2826065430</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pragmatis</title>
         <author>martinaprativi</author>
         <link>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0/wish/2826086743</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pragmatis adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran dari segala sesuatu berdasarkan pada kegunaan yang diberikannya oleh sesuatu tersebut. Aliran ini mengajarkan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata. Pragmatis berasal dari kata bahasa Yunani "pragma" yang berarti tindakan atau perbuatan.</p></li><li><p>Sejauh mana relevansi teori pragmatisme dengan konteks praktis menjadi pertimbangkan utama dalam pemikiran prakmatis. Teori pragmatisme, yang dikembangkan oleh Charles S. Peirce, John Dewey, dan William James, menekankan pemikiran tentang</p><p> tindakan dan kemanfaatan dalam kehidupan</p><p>Beberapa poin penting dari teori pragmatisme meliputi:</p><p>Kemanfaatan dalam kehidupan: Pragmatisme menekankan bahwa suatu teori akan benar jika teori tersebut dapat berfungsi atau membakan hasil yang bermanfaat dalam kehidupan</p><p>Pengalaman hidup: Dalam pemikiran pragmatis, pengalaman hidup dan cara menghadapi masalah dimanapun agar nantinya peserta didik dapat berfikir kritis dan berhasil beradaptasi dengan perubahan</p><p>Esensi realitas: Pragmatisme menyatakan bahwa realitas adalah perubahan dan esensi realitas hanya dapat diperoleh melalui pengalaman</p><p>Hakikat social dan biologis: Pragmatisme menekankan bahwa hakikat social dan biologis manusia yang esensial dapat berubah dan terus berkembang</p><p>Realitas value: Pragmatisme menyatakan bahwa nilai benar salah, baik itu didasarkan pada kemanfaatan dalam kehidupan masyarakat dan bukan didasarkan pada teori yang abstrak</p><p>Dalam konteks pendidikan, teori pragmatisme dianggap relevan untuk mengembangkan keterampilan praktis dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan</p><p>Pendekatan pragmatisme dalam pendidikan modern melibatkan penggunaan metode yang berbasis pengalaman, penelitian, dan pengembangan solusi yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan siswa</p><p>Selain itu, pragmatisme juga diperkenalkan dalam etika, dimana filsafat ini menekankan pemikiran tentang tindakan dan ketergantungan pada hasil</p><p>Secara keseluruhan, teori pragmatisme memiliki implikasi yang signifikan dalam berbagai konteks praktis, mulai dari pendidikan hingga etika, dengan fokus pada kemanfaatan dalam kehidupan dan pengalaman hidup.</p></li><li><p>Contoh pragmatis dalam kehidupan sehari hari dalam pendidikan adalah ketika seorang guru yang hanya memekirkan bagaimana caranya mengajarkan siswanya sesuai dengan kurikulu tanpa memikirkan apakah siswanya menangkap pelajaranyang diberikan atau tidak</p></li><li><p>Otto von Bismarck, Margaret Thatcher Winston Churchill David Hume,</p><p>Dwight D. Eisenhower</p></li><li><p>1. Fokus pada hasil: Orang pragmatis cenderung memprioritaskan hasil konkret dan kegunaan dari suatu tindakan atau keputusan. Mereka tertarik pada apa yang efektif dan dapat memberikan manfaat yang nyata.</p><p>2. Penyesuaian dengan situasi: Individu pragmatis berupaya menyesuaikan diri dengan kebutuhan spesifik dari situasi atau kondisi saat itu. Mereka dapat menanggapi perubahan dengan cepat dan melakukan adaptasi berdasarkan keadaan yang ada.</p><p>3. Desakan pada solusi: Sikap pragmatis seringkali ditandai dengan keinginan kuat untuk menemukan solusi konkret dan menggunakan pendekatan yang praktis dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.</p><p>4. Orientasi pada tindakan: Individu pragmatis cenderung lebih suka bertindak daripada hanya berbicara. Mereka menunjukkan sikap yang proaktif dalam menangani masalah dan mencari solusi.</p><p>5. Skeptisisme terhadap teori tanpa implementasi langsung: Orang pragmatis mungkin cenderung skeptis terhadap konsep-konsep teoretis yang tidak langsung dapat diimplementasikan dalam praktik sehari-hari atau tidak memberikan hasil yang jelas.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-15 06:32:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0/wish/2826086743</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Fenomenologi</title>
         <author>martinaprativi</author>
         <link>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0/wish/2826086831</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pendekatan fenomenologi adalah metode penelitian kualitatif yang berfokus pada pengalaman subyektif dan mencoba menggabungkan sifat obyektif dan subjektif. Fenomenologi mempelajari fenomena yang berdampak pada individu dan mengidentifikasi suatu fenomena yang dirasakan oleh individu.Pendekatan ini menyoroti kekhususan dan mengidentifikasi suatu fenomena yang dirasakan oleh individu.</p></li></ol><p>Contoh :</p><ul><li><p>Pengamatan: Fenomenologi melibatkan pengamatan yang suatu replika dari benda di luar manusia yang intrapsikis.</p><ul><li><p>Pengalaman subyektif: Pendekatan fenomenologi berpikir dalam konteks perspektif netralitas dan menggunakan preferensi orang yang bersangkutan untuk mencoba melakukan rekonstruksi dalam dan aspek kedua dari pendekatan fenomenologi adalah mengkonstruksi rancangan taksonomi untuk pusat perhatian fenomenologi agama, sebenarnya hanya terfokus kepada pencarian esensi, makna, dan struktur fundamental dari pengalaman keberagamaan manusia.</p></li><li><p>Study agama: Pendekatan fenomenologi digunakan dalam studi agama untuk memahami agama orang lain dalam perspektif dan menggunakan preferensi orang yang bersangkutan untuk mencoba melakukan rekonstruksi dalam dan aspek kedua dari pendekatan fenomenologi adalah mengkonstruksi rancangan taksonomi untuk pusat perhatian fenomenologi agama, sebenarnya hanya terfokus kepada pencarian esensi, makna, dan struktur fundamental dari pengalaman keberagamaan manusia.</p></li></ul><p>2. Fenomenologi berfokus pada bagaimana orang mengalami fenomena tertentu, artinya orang mengalami sesuatu bukan karena pengalaman tetapi karena fenomena yang terjadi di kehidupannya.Fokus utama penelitian fenomenologi adalah memahami dan menjelajahi pengalaman subjektif individu terkait dengan suatu fenomena atau kejadian. Metode ini bertujuan untuk merinci dan memahami makna yang melekat dalam pengalaman manusia, tanpa terpengaruh oleh teori atau asumsi sebelumnya.</p><p>3. pendekatan filsafat yang memusatkan perhatian pada gejala yang membanjiri kesadaran manusia, menurut Bagus dalam (Hasbiansyah, 2008). Ilmu bisa diperoleh dengan mengalami secara sadar suatu peristiwa. Dalam fenomenologi tidak ada teori, tidak ada hipotesis, dan tidak ada sistem (Hasbiansyah, 2008).</p></li></ul><ol start="4"><li><p>Intensionalitas, noema, noesis, epoche, reduksi eidetik, esensi pengalaman.</p></li><li><p>Pelopor yang memperkenalkan aliran eksistensialisme adalah Edmund Husserl. Edmund secara formal memperkenalkan fenomenologi sebagai suatu bentuk filosofi yang mandiri. Fenomenologi adalah aliran filsafat yang dikembangkan oleh Husserl, yang berpendapat bahwa hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dapat dicapai melalui pengamatan terhadap fenomena. Fenomenologi bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan fenomena sebagaimana adanya. Oleh karena itu, seseorang harus menyimpan sementara atau mengisolasi asumsi, keyakinan, dan pengetahuan yang telah dimiliki tentang fenomena tersebut. Hanya dengan proses inilah seseorang mampu mencapai pemahaman yang murni tentang fenomena. Husserl tetap dikenal sebagai penemu dan tokoh sentral perkembangan fenomenologi</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-15 06:32:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0/wish/2826086831</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Eksistensialis</title>
         <author>martinaprativi</author>
         <link>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0/wish/2826086960</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Apa yang dimaksud dengan Eksitensialisme? </p><p><br></p></li></ol><p>Jawab : Eksitensialisme merupakan salah satu pemikiran aliran yang berusaha sadar pada diri manusia itu sendiri,dimana menempatkan manusia pada titik sentrum dari segala relasi kemanusiaan. Eksistensialisme berakar dari upaya untuk bangkit dari segala hegemoni untuk menemukan eksistensi dan esensi diri.</p><p><br></p><ol start="2"><li><p> Tokoh yang berperan penting dalam eksistensialisme</p><p><br></p><p>a. Karl Jaspers = Eksistensialisme ditandai dengan pemikiran yang menggunakan semua pengetahuan obyektif serta mengatasi pengetahuan obyektif  sehingga manusia sadar akan dirinya dan memandang filsafat bertujuan mengembalikan manusia kepada jati dirinya</p><p>b. Soren Aabye Kiekeeraard = Manusia bukan sesuatu yang statis dan kaku</p><p>c. Jean Paul Sartre = Manusia yang bereksistensi adalah makhluk yang hidup yang berada dengan sandaran dan bebas bagi dirinya sendiri.</p><p>d. Fredrich Nietzshe = Manusia harus memiliki keinginan untuk berkuasa. </p><p>e. Martin Heidegger = Memusatkan semua hal pada manusia dan mengembalikan semua masalah apapun ujungnya manusia sebagai objek atau subjek dari masalah tersebut.</p><p><br></p></li><li><p>Sejarah lahirnya eksistensialisme</p></li></ol><p><br></p><p>Jawab : Filsafat eksistensialisme muncul sebagai reaksi terhadap perubahan sosial, budaya, dan pemikiran filosofis pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Sejumlah faktor yang memengaruhi munculnya eksistensialisme melibatkan perubahan dalam ilmu pengetahuan, agama, dan kondisi sosial. Berikut adalah tahap-tahap sejarah lahirnya filsafat eksistensialisme:</p><p><br></p><p>a. <em>Kierkegaard dan Awal Pemikiran Eksistensialis:</em></p><p>   - Seorang filosof Denmark, Søren Kierkegaard (1813–1855), dianggap sebagai pendahulu eksistensialisme.</p><p>   - Karyanya, seperti "Fear and Trembling" dan "Either/Or," menekankan pentingnya eksistensi individu, keyakinan pribadi, dan kebebasan dalam membuat pilihan hidup.</p><p><br></p><p>b. <em>Reaksi terhadap Hegelianisme:</em></p><p>   - Eksistensialisme muncul sebagai reaksi terhadap dominasi pemikiran Hegelianisme pada waktu itu, yang menekankan rasionalitas dan keberadaan abstrak.</p><p>   - Filosof-filosof eksistensialis menentang pandangan bahwa kehidupan dan kebenaran dapat dijelaskan secara tuntas dengan konsep-konsep rasional.</p><p><br></p><p>c. <em>Nietzsche dan Pemberontakan Terhadap Nilai Tradisional:</em></p><p>   - Filsafat Friedrich Nietzsche (1844–1900) memberikan kontribusi besar terhadap eksistensialisme dengan penolakan terhadap nilai-nilai tradisional dan agama.</p><p>   - Ide tentang "kehendak berkuasa" dan "superman" Nietzsche memberikan inspirasi bagi eksistensialis untuk mengeksplorasi kebebasan dan penciptaan nilai-nilai baru.</p><p><br></p><p>d. <em>Pengaruh Perang Dunia I dan II:</em></p><p>   - Perang Dunia I dan II memberikan latar belakang historis bagi munculnya eksistensialisme. Kondisi perang dan traumanya memunculkan pertanyaan tentang makna hidup, kematian, dan tanggung jawab individu.</p><p><br></p><p>e. <em>Sartre dan Eksistensialisme Prancis:</em></p><p>   - Filosof Prancis Jean-Paul Sartre (1905–1980) menjadi tokoh sentral eksistensialisme abad ke-20.</p><p>   - Karya Sartre, seperti "Being and Nothingness," mengeksplorasi tema-tema seperti kebebasan, tanggung jawab, dan kesendirian individu.</p><p><br></p><p>f. <em>Eksistensialisme Feminis:</em></p><p>   - Beberapa tokoh eksistensialis, seperti Simone de Beauvoir (1908–1986), memperluas filsafat ini ke dalam konteks feminis, menyoroti peran gender dan kesetaraan.</p><p><br></p><p>g. <em>Absurdisme dan Karya Camus:</em></p><p>   - Albert Camus (1913–1960) memberikan kontribusi pada eksistensialisme dengan teorinya tentang absurdisme, mengeksplorasi ketidakpastian dan kurangnya makna dalam hidup manusia.</p><p>   - Karyanya, termasuk "The Stranger" dan "The Myth of Sisyphus," mempertanyakan makna hidup dalam dunia yang absurd.</p><p>Sejarah eksistensialisme melibatkan evolusi pemikiran dari Kierkegaard hingga pengembangan lebih lanjut oleh filosof-filosof seperti Nietzsche, Sartre, dan Camus. Filsafat ini menawarkan perspektif yang unik tentang eksistensi manusia, kebebasan individu, dan pencarian makna hidup.</p><p><br></p><ol start="4"><li><p>Contoh eksistensialisme</p><p><br></p></li></ol><p>Jawab : a. Ketika seorang anak mengikuti lomba disitu peserta didik dapat berexsistensi dengan mengembangkan potensi individu</p><p><br></p><p>b. Seorang individu yang memutuskan untuk mengambil jalur karier yang tidak konvensional atau mengejar impian pribadinya, bahkan jika itu melibatkan risiko dan ketidakpastian, dapat dianggap sebagai ekspresi dari kebebasan eksistensialis.</p><p><br></p><p>c. Kesadaran akan kematian bisa menciptakan kesadaran akan nilai waktu dan membuat seseorang lebih cenderung menjalani hidup dengan penuh arti, menghargai momen-momen kecil, dan menghargai hubungan interpersonal.</p><p><br></p><ol start="5"><li><p>Apa yang membedakan eksistensialisme dengan aliran lainnya?</p><p><br></p></li></ol><p>Jawab : Eksistensialisme memiliki beberapa perbedaan kunci dengan aliran filsafat lainnya. Berikut beberapa poin perbedaan yang mencirikan eksistensialisme:</p><p><br></p><p>a. <em>Fokus pada Eksistensi Individual:</em></p><p><br></p><p>   Eksistensialisme menempatkan keberadaan individu sebagai pusat perhatian. Lebih dari sekadar mengajukan pertanyaan tentang realitas atau esensi suatu objek, eksistensialisme lebih menitikberatkan pada pengalaman dan keberadaan unik setiap individu.</p><p><br></p><p>b. <em>Betapa Pentingnya Pengalaman Subjektif:</em></p><p><br></p><p>   Eksistensialisme menekankan pentingnya pengalaman subjektif individu. Ini berarti bahwa pemahaman dan makna hidup tidak hanya ditentukan oleh fakta objektif, tetapi juga oleh interpretasi dan pengalaman subjektif.</p><p><br></p><p>c. <em>Kebebasan dan Tanggung Jawab Pribadi:</em></p><p><br></p><p>   Kebebasan individu dan tanggung jawab pribadi merupakan tema sentral eksistensialisme. Eksistensialis meyakini bahwa kebebasan memunculkan tanggung jawab untuk membuat pilihan dan menghadapi konsekuensinya.</p><p><br></p><p>d. <em>Penolakan Terhadap Struktur dan Norma Tetap:</em></p><p><br></p><p>   Eksistensialisme seringkali menolak ide-ide tetap dan norma-norma moral yang diterapkan secara universal. Mereka cenderung memandang setiap individu sebagai entitas yang unik, sehingga norma dan nilai-nilai tidak selalu dapat diterapkan dengan cara yang sama pada setiap situasi.</p><p><br></p><p>e. <em>Pentingnya Kesendirian dan Kesepian:</em></p><p><br></p><p>   Eksistensialisme membahas tema-tema seperti kesendirian, kesepian, dan kebebasan dalam membuat pilihan sendiri. Keseimbangan antara kebebasan dan kesendirian menjadi fokus bagi eksistensialis dalam perjalanan eksistensi manusia.</p><p><br></p><p>f. <em>Pemahaman Terhadap Kematian:</em></p><p><br></p><p>   Banyak eksistensialis mengeksplorasi pemahaman terhadap kematian dan bagaimana kesadaran akan kematian memengaruhi cara individu menjalani hidup mereka. Ini mencakup pemikiran tentang makna hidup di tengah ketidakpastian dan kejelasan.</p><p><br></p><p>g. <em>Pengaruh Substansial dari Kierkegaard, Nietzsche, dan Heidegger:</em></p><p><br></p><p>   Filosof-filosof seperti Søren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, dan Martin Heidegger memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan eksistensialisme. Kontribusi mereka membantu membentuk ciri khas gerakan ini.</p><p>Perbedaan-perbedaan ini menciptakan landasan filosofis eksistensialisme yang unik dan membedakannya dari aliran filsafat lainnya, seperti rasionalisme, empirisme, atau idealisme.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-15 06:32:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/martinaprativi/vh55cfou6bhkuet0/wish/2826086960</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
