<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Sydney - Bahasa Indonesia G12 24/25 by Hildharizuzuuu</title>
      <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17</link>
      <description>Buatlah sebuah deskripsi perwatakan tokoh fiksimu secara fisik dan sifat dari salah seorang temanmu di kelas!</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-10-01 05:04:37 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-02-06 04:58:26 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4ac.png</url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147775077</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Ialah dia menyukai main game beberapa kali dalam Game populer seperti MLBB dan Genshin. Dia salah satu siswa di sekolah yang menyukai olahraga bola besar seperti sepak bola dan bola basket. Dia berteman dengan banyak yang kadang lebih terdalam apa yang banyak laki-laki melakukan seperti main bola habis pulang sekolah, suka ramai main bola besar, dan lain-lain. Kepada siapa pun, ialah dia cara mengobrol dengan siapa pun dengan beda, kadang tenang dan baik, kadang ramai dengan perempuan, kadang ramai dengan gengs gitu di dalam satu kelas, sama juga suka mendengar musik. Dia suka main lelucon, tapi ya lebih dengan tertawa lebih dari bilangin leluconnya. Ia memang tentang siswa remaja ini memang terdengar bergaya tetapi bukan, dia adalah salah satu siswa yang bisa membuat hidup siapapun seru (kadang) dan baik hati dengan berbicaranya.</p></li></ol><p><br/></p><p>-Jonathan Marvel Saptrasto</p><p><br/></p><ol start="2"><li><p> sebagai siswa yang paling mandiri di sekolah, salah satunya. Ialah dia membuat skedul dengan tepat dengan apa yang akan terjadi terdalam kegiatannya. Dia bisa bertolong dengan siapa pun kalau adayang minta pertolongannya dia dengan beberapa pelajaran yang dia bisa. Iya dia sangat baik dan hidup berbahagia, cara dia membelajar di sekolah iya sangat edukatif, sangat pintar, tetapi sangat baik juga didalam hatinya, dialah adalah salah satu siswa yang juga bercontoh ialah bagaimana hidup kita, kalau kita belajar keras dan menjadi siswa yang paling mandiri, dengan sebaiknya.</p></li></ol><p><br/></p><p>-Jonathan marvel Saptrasto.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 07:50:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147775077</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147794583</link>
         <description><![CDATA[<p>Faishal xii sydney: </p><p>Ha'arav menyeret kaki panjangnya melalui mayat-mayat anak buahnya, mata-mata tak bernyawa menatapnya. Ia menggenggam erat bendera terakhir koloni <em>Fempryo</em>, yang melambangkan keteguhan untuk tetap berdiri. Ia terus berjalan, dan berjalan, melalui rasa sakit yang tak berkesudahan. Ia berjalan tanpa henti, kacamatanya yang bulat dan tanpa emosi tetap menempel di wajahnya. Berjalan, dan terus berjalan melalui jalan tanpa ujung. Rambut keritingnya tak berubah, dan ia berjalan dengan tatapan mata bulat yang dulu ia gunakan untuk memandang pasukannya yang pernah berdiri gagah. Dialah pahlawan <em>Fempryo</em>. Dialah Ha'arav, <em>Watcher of Men</em>.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 08:03:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147794583</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147796317</link>
         <description><![CDATA[<p>Kezia - 12 Syndey </p><p>Hari itu terasa berbeda. Cuaca mendung dan gerimis kecil mulai mengguyur aku ketika aku berlari terburu-buru menuju sekolah. Jam menunjukkan bahwa aku sudah telat lima belas menit, Panik menyelimuti hatiku. Ketika aku sedang menulis namaku dalam daftar keterlambatan siswa;</p><p>Tanpa sadar, aku berhenti menulis. Dalam keramaian yang sibuk, seolah waktu berhenti sejenak. Dia mengangkat wajahnya dan bertemu pandang denganku. Senyumnya yang hangat seolah mampu menghapus ketegangan di hatiku. </p><p>Mata hitam nya yang mengkilap seperti mutiara, Rambut nya yang pendek berwarna merah keunguan gelap, dan badan nya yang tidak terlalu tinggi. Ia berlari menuju ke kelas nya dengan terburu - buru setelah menulis namanya dalam daftar keterlambatan siswa. namun, tak sempat ku menanyakan namanya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 08:05:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147796317</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147796523</link>
         <description><![CDATA[<p>Phoebe Aurelya - 12 Sydney</p><p><br/></p><p>Pada suatu hari saat aku sedang berjalan - jalan mengunjungi suatu mall setelah pulang kuliah dan mengunjungi suatu toko untuk membeli barang. Aku melihat - lihat semua barang di toko tersebut yang mayoritasnya perempuan. Saat aku ingin mengambil barang itu, karena terlalu tinggi dan jatuh, disebelahku ada seorang perempuan yang juga sedang ingin mengambil barang tetapi di bagian rak bawah, lalu karena barang yang ingin aku ambil tersebut jatuh dan berantakan kebawah, perempuan yang tidak jauh tingginya dariku dan berjilbab itu tertimpa barang yang jatuh sehingga kacamatanya jatuh. Akupun minta maaf dan segera membantu mengambil barang dan memastikan ia baik - baik saja. Tetapi dengan baik hatinya ia menjawab tidak apa - apa dan segera membantu membawakan barang yang ingin kuambil itu berjatuhan, ternyata ialah seorang teman masa kecilku. Tetapi ia mengenaliku terlebih dahulu dan aku mencoba untuk mengingat, ia berubah sekali sejak terakhir bertemu saat SD. Dia adalah Kiyura, dahulu ia memiliki rambut yang keriting, mata yang kecil, memiliki kulit kuning langsat, dan belum berkacamata. Sekarang penampilan ia sedikit berubah hingga membutuhkan waktu untuk mengenalnya.                                                                                                        </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 08:05:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147796523</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147798441</link>
         <description><![CDATA[<p>MOHAMMAD NOOR GHAZALI 12 SYDNEY</p><p><br/></p><p>Lulecon yang telah lama berlalu tidak akan hilang dari memoriku ini. Tawa candanya yang begitu khas ketika bertindak konyol seperti tiada rasa malu, sungguh hal itu tidak terlupakan. </p><p><br/></p><p>Ketelatan menjadi sebuah hal ikonik yang ada pada dirimu. Kulit putihmu yang semakin lama menjadi sawo matang karena begitu siangnya dirimu menuju sekolah, hal itu sudah biasa bagimu.  Mungkin kemalasan sudah tertanam panas dalam dirimu, begitu melekat sampai bermain video gim saat pelajaran sudah menjadi hal yang biasa. Begitu menyatu seakan mengabaikan tugas tidak masalah bagi hidupmu. Sungguh, kami tidak akan berbohong, tingkah laku mu telah mewarnai memori SMA yang kelak akan berlalu. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 08:06:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147798441</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147800478</link>
         <description><![CDATA[<p>Dhafina Naila - XII Sydney</p><p><br/></p><p>Segera aku menggendong tas biruku yang berisikan buku serta perlengkapan alat tulis yang terletak di sofa kamarku. Pagi ini sudah menunjukkan pukul 07:27 yang artinya sebentar lagi bel sekolah akan berbunyi untuk menunjukkan pelajaran pertama akan segera dimulai. Aku pun bergegas pergi ke sekolahku yang untungnya bisa dihitung dengan hanya beberapa langkah. Sesampainya, aku langsung berancang-ancang untuk lari menuju kelas agar terhindar dari surat yang tidak dinginkan oleh semua murid yang datang terlambat. Aku pun sampai di kelas tepat beberapa detik sebelum bel berbunyi. Dengan nafas yang masih terengah-engah, aku pun melihat sosok yang membuatku tak bisa menahan senyumku. Seperti biasa, aku pun tersenyum menyeringai kepadanya. Ia adalah salah satu teman baikku sejak 4 tahun yang lalu, kami berteman sejak SMP. Aku pun tidak tau mengapa kami bisa berkawan, seiring dengan waktu yang kami habiskan, kami berbincang tanpa ingat waktu dengan sendirinya. Oh iya, namanya adalah Ayu. Seperti namanya ia adalah seseorang yang cantik, manis, dan rupawan. Ia juga merupakan seseorang yang cerdas, sedari dulu aku sangat mengaguminya. Ia pun membalas senyumanku seperti biasanya sembari membenarkan kerudung segitiganya yang selalu ia pakai sejak dulu. Ia pun menghampiriku dengan dengan kakinya yang lebih kecil dari ku. "Ih kamu telat ya" candanya sembari mendorongku tipis, membuka topik untuk berbincang. Memang ia terkadang menyebalkan dan seperti mengajakku bertengkar, namun bagaimanapun aku sangat menyayanginya. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 08:08:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147800478</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147801829</link>
         <description><![CDATA[<p>Jam berdetak, Alice membuka matanya perlahan. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 04.00. Kemudian, ia berjalan ke toilet untuk mandi dan berwudhu. Setelah itu, ia melaksanakan sholat setelah mengenakan seragam sekolahnya. Ia melihat wajah cantiknya di kaca kemudian menggunakan skincare dan melanjutkan rutinitas di pagi harinya. Pada pukul 06.00, ia sudah berangkat ke sekolah. Ia merasa kesepian, sehingga ia mendengarkan lagu Taylor Swift karena ia adalah seorang swiftie sejati. Setelah semua teman Alice tiba di sekolah, pelajaran pertama dimulai, yaitu Bahasa Inggris. Ia berbicara Bahasa Inggris dengan lancar dan memiliki sentuhan aksen British.</p><p>-Kayla Ariani - XII SYDNEY</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 08:09:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147801829</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147802905</link>
         <description><![CDATA[<p>Karenina - XII Sydney</p><p><br/></p><p>&nbsp;&nbsp; Setiap kali malam memelukku, aku selalu teringat akan kata-kata salah satu temanku yang kadang-kadang menyengat di hati. Pada saat itu aku dikelilingi oleh teman-teman terdekat, kita sedang saling bercerita, dengan harapan agar detik-detik berlalu lebih cepat. Satu per satu dari kita bergiliran mencurahkan perasaan, hingga tiba giliranku. Aku mengungkapkan kegelisahan, kecemasan, dan ketakutanku terhadap masa depanku. Saat itu, aku meminta pendapat dari salah satu temanku aku anggap sebagai orang yang sangat amat realistis dan bijaksana. Ia adalah sosok yang tinggi, atletis, dan penampilan yang seperti mencerminkan campuran darah Indo-Arab.</p><p>&nbsp; &nbsp; Namun, yang dia lakukan justru menyerangku secara pribadi, dengan wajahnya yang selalu datar dan nada suaranya yang monoton. Meskipun, sebenarnya tidak sepenuhnya serangan personal—karena apa yang dia katakan memang benar adanya. Semua ucapannya didasarkan pada kenyataan, namun justru itulah yang membuatku kesal. Rasanya seperti ada api yang menyala di dalam diriku, memunculkan keinginan kuat untuk membuktikan bahwa aku mampu mencapai apa yang kuinginkan. Dalam hati, aku ingin melawan dan menunjukkan bahwa dia salah menilaiku. Ironisnya, dari pertemuan kecil itu, aku justru merasa lebih termotivasi. Apa yang dia lakukan tidak sepenuhnya salah, karena akulah yang meminta pendapatnya dan apa yang dia bicarakan membuatku introspeksi diri.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 08:10:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147802905</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147812326</link>
         <description><![CDATA[<p>Ananto haryo-xi boston.</p><p><br/></p><p>akhirnya, ia pun datang membawa helm motornya.</p><p><br/></p><p>Kulit seputih baju seragam yang ia pakai, di kontraskan dengan rambut ikal dan alis tebal yang berwarna hitam. Tubuhnya seperti personifikasi karya-karya vincent van gogh, william shakespeare, dan ludwig van beethoven diggabungkan, dari tingginya hingga kekarnya badan ia . ditambah dengan suara lembut nan maskulin. Ditambah dengan watak ia yang setenang air kolam di pagi hari dan mukanya yang tidak terlihat seperti rakyatindonesia membuat ia seperti bidadari yang jatuh.</p><p><br/></p><p>tetapi sebenarnya, ia kemungkinan adalah bidadari yang jatuh, dulunya ia masuk ke sekolah smp terbagus di sekitar daerah ini, dan jika dilihat dari sejarah ia disekolah tersebut ia berhasil jauh lebih baik dibandingkan aku. Mungkin karena rahasia yang ia tetapkan membuat beliau jatuh dari surga</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 08:16:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147812326</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147826035</link>
         <description><![CDATA[<p>Aiman Fazil Hidayat XII Sydney</p><p><br/></p><p>Aku baru saja masuk kelas, bernapas ngosngosan, hari ini aku nyaris telat masuk ke kelas sebelum bel. Ketika aku masuk ke kelas aku melihat dia, duduk di belakang kelas, rambut keritingnya dan sosoknya yang tinggi menutupi papan di belakangnya, dengan kulitnya yang bersinar bagaikan matahari siang, matanya matanya lelah dan memberi isyarat padaku untuk berinteraksi dengannya. Sungguh hal yang tidak biasa melihat dia datang sebelum kelas mulai. Aku manyapa dia dan membuat komentar sarkas tentang ketepatan waktunya hanya bersalaman tangan dengan aku dan lanjut membaca komik di laptopnya. Walaupun tugasnya dia menumpuk setinggi langit, dia masih bisa membaca komik dengan santai. Dia bertanya mengapa aku ngosngosan, walaupun dia malas, dia tidak sengan merawat aku dan sikeriting dan berkacamata yang satu lagi. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 08:26:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3147826035</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148129616</link>
         <description><![CDATA[<p>Rizqy Radithya - XII Sydney : &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;</p><p><br/></p><p>&nbsp;&nbsp; &nbsp; Aku melihat Lisa dari kejauhan sembari kesulitan membawa boks cokelat menuju kelas Pak Bono. Lisa, mantan sahabatku yang dulu kuanggap layaknya saudariku sendiri sedang mengobrol dengan Langit. Dengan penampilan berupa rambut panjang berantakan, warna kulit putih bersinar, dan mata pandanya. Dibalik penampilan tersebut, muncul sebuah kepribadian sanguinis yang sering berbicara mengenai idol favoritnya secara fanatik. Wajar saja dia dianggap sebagai seorang itik oleh para angsa di Eglantine karena kepribadiannya. Aku memanggil dia mantan sahabatku karena kita memutuskan hubungan sehari sebelum aku bergabung dengan kelompok Aura dan teman-temannya.</p><p><br/></p><p>&nbsp; &nbsp; &nbsp; Aku teringat kalimat yang dia sampaikan saat itu, "Aku tidak setuju kamu bergabung ke kelompok itu, kamu juga tau kan kalau kaum mereka merendahkan siswa-siswi yang bukan bagian dari kelompok mereka di Eglantine." Mengetahui hal tersebut yang ia katakan, aku tetap tidak mendengarkan dia dan lebih memilih untuk bergabung ke kaum angsa. Maka karena itu, aku memutuskan hubungan kita berdua sebagai pesan bahwa aku tidak akan dipandang lagi sebagai seorang itik. Masa lalu telah berlalu, sekarang aku merupakan salah satu bagian dari kelompok Aura. Aku yakin keputusanku bergabung ke kelompok sosial elit di Eglantine ini dapat meningkatkan reputasiku dan memudahkan kehidupan SMA-ku.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 12:02:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148129616</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148180688</link>
         <description><![CDATA[<p>Atasha Aivania Sani XII Sydney</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </p><p>Suara <em>ringtone</em> HP-ku terdengar dengan jelas. Entah mengapa, badanku terasa nyaman, seakan sedang dipeluk oleh selimut dinginku ini. Namun, hatiku terhentak seketika. Sudah jam 10 pagi, rambut cokelat panjangku masih berantakan, belum disisir. Kelopak mataku dengan bulu mata yang lentik masih setengah tertutup. HP-ku terus berbunyi. Aku seharusnya sudah siap sejak 30 menit yang lalu. Sahabat-sahabatku sudah menunggu di luar rumah. Kami seharusnya makan siang di Jakarta hari ini karena sahabatku dari London sedang berkunjung ke Indonesia.</p><p><br/></p><p>"Alaya, makeup-an di mobil gua aja, cepat ganti baju," ucap Xela dengan nada sebal.</p><p>Kita sudah bersahabat sejak kecil: aku, Xela, Aluna, dan Vania. Semenjak Vania pindah ke London dan Xela pindah sekolah ke Jakarta, kita semakin jarang bertemu. Walaupun begitu, kita berusaha bertemu sebulan sekali untuk sekadar bercerita. Dengan cepat, aku segera menggunakan <em>body lotion </em>di tanganku yang sebenarnya sudah putih ini dan mengenakan jeans dan baju berwarna hitam.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 12:33:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148180688</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148189844</link>
         <description><![CDATA[<p>Nataya Shireen </p><p><br></p><p>Setelah pulang sekolah, Lani mengunjungi tempat les bahasa inggrisnya. Lani merupakan murid yang pekerja keras, ia selalu belajar dengan sangat keras dan berat untuk mendapatkan hasil yang maksimal di sekolah. Lani memiliki badan yang sangat tinggi, rambut lurus dan panjang, berkulit putih, dan selalu tampil rapih atau <em>presentable</em> di mana-mana. Ketika Lani sampai di tempat les tersebut, Lani berpapasan dengan seorang murid perempuan yang ia tidak kenal. “Hai, salam kenal! Aku Mawar” Lani menoleh ketika didatangi oleh Mawar. “Oh iya, salam kenal juga. Aku Lani dari Sekolah 123,” Lani menjawab. “Oh kamu dari Sekolah 123? Aku ada teman disana. Kamu kenal Wulan tidak?” Mawar bertanya, “Ohh iya-iya, Wulan teman aku juga. Kita malahan sekelas,” ujar Lani. Setelah itu, Lani dan Mawar melanjutkan percakapan mereka di tempat les. Mereka mulai untuk mengenal satu sama lain sambil mengikuti pelajarannya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 12:38:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148189844</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148214036</link>
         <description><![CDATA[<p>Marianne Andra</p><p><br></p><p>Sekarang pelajaran yang paling kubenci dimulai. ya betul, fisika. Aku duduk terpaku, menatap papan tulis yang penuh dengan rumus-rumus aneh. Pikiranku mulai melayang, dan seperti biasa, sosoknya muncul lagi di benakku. Setiap kali melihatnya dari mejaku, aku bertanya-tanya, bagaimana bisa ada seseorang yang begitu sempurna. Suara lembut tiba-tiba memanggil, "Ndra... Andra." Aku tersadar, ternyata dia yang memanggilku. Kulitnya seputih porselen, alis tebalnya membingkai mata cokelat yang menatapku penuh perhatian. Di tangannya, iPad yang selalu dia gunakan untuk belajar. Dengan tenang, dia bertanya apa yang membuatku bingung. "Semuanya" jawabku tanpa sadar. Bukan hanya kecantikannya yang memukau, tapi kecerdasannya juga luar biasa. Dia sabar menjelaskan meski pikiranku belum sepenuhnya sadar. Saat dia berbicara, aku melihat ada butiran debu di hijabnya. Kugapai lembut untuk membersihkannya, meski sedikit debu itu tak pernah bisa meredupkan pesonanya. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 12:52:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148214036</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148288188</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Kiarra Andraya Fuadi XII SYDNEY</strong></p><p><em>Morning Cibubur siders,</em> gumamku. Ku buka jendela kamarku yang dihiasi tirai berwarna merah muda, disambut dengan paparan sinar matahari hangat menunjukkan bahwa hari sudah tidak sepagi itu. Jam di ponsel ku menunjukkan pukul 10, yang berarti hanya ada waktu sekitar 1 jam untukku bersiap sebelum menemui <em>client</em> penting ku hari ini. </p><p><br/></p><p><em>Client? </em>Ya, aku adalah seorang <em>fashion designer </em>di kawasan metropolitan Cibubur. Tiap harinya, orang-orang dari semua kalangan umur datang ke butikku untuk membeli sampai menyewa pakaian. Tidak jarang, ada juga orang yang berminat untuk memesan pakaian dengan desain <em>customize</em> personal seperti <em>client</em> ku yang satu ini.</p><p><br/></p><p>Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya aku bertemu beliau. Beberapa minggu yang lalu kami sudah sempat bercakap-cakap tentang desain yang Ia inginkan untuk pakaiannya. Nama <em>client </em>ku yang satu ini adalah <strong>Mbak Aurel. </strong></p><p><br/></p><p>Jika boleh jujur.. Mbak Aurel pantas ku berikan panggilan <strong><em>“The Ariel of Cibubur.”</em></strong><em> </em>Bagaimana tidak? Saat kemarin Ia ke butikku, aku malah salah fokus dengan <em>tumbler </em>nya yang bermotif Ariel dan <em>Disney Princess. </em>Aku<em> </em>pun juga langsung tahu kalau Mbak Aurel sangat menyukai warna ungu, tosca, dan <em>pink</em> karena hampir 70% barang-barangnya berwarna demikian. 30% nya? Diwakilkan oleh warna kuning dari mobil listrik mini nya. Perawakan Mbak Aurel juga cocok kok dimiripkan dengan Ariel, karena rambutnya yang panjang serta kulitnya yang putih. </p><p><br/></p><p>Sudahlah, aku kebanyakan bergumam sendiri. Aku harus cepat-cepat bersiap dan pergi ke butik. Lalu, ya, melanjutkan pesanan Mbak Aurel. Apalagi kalau bukan membuat kostum <em>Disney Princess</em> untuk foto buku tahunannya!</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 13:29:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148288188</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148303630</link>
         <description><![CDATA[<p>Nathan XII</p><p>Malam sudah tiba, projek p5 menguras hawa dari badan aku. Sudah 5 jam aku mengerjakanya. Tanpa adanya dia, ketekunanya, daya juangnya, aku tidak akan bisa lanjut sampai sekarang. Langit sudah gelap, tetapi kediaman dia menelan semua kesepianya, keminatan terlihat di matanya, yang membuatku sanggup lanjut. </p><p><br/></p><p>5 jam menjadi 6 dan ia tidak henti, kemudaan terlihat dengan energi yang dipunyai oleh dia. Aku admirasi, dia sosok yang mampu untuk memberi aku keinginan untuk melewati batas yang kukura tidak akan pernah dilewati. Ialah lampu yang bersinar didalam kegelapan. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 13:36:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148303630</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148336701</link>
         <description><![CDATA[<p>Annisa Ayu - XII Sydney</p><p><br/></p><p>Aku memaksa diriku untuk berjalan menuju lapangan. Aku ingin pulang. Dia yang sedang memakai baju olahraga terengah-engah setelah bermain di lapangan. Senyuman lembutnya dan kulitnya yang bercahaya terlihat sedikit merah karena kepanasan. Begitu juga dengan rambutnya yang terlihat sedikit merah di bawah matahari yang terik. Angin yang berhembus mengibas rambutnya yang tidak panjang namun tidak pendek. Dia menghampiriku yang sedang sendirian dipinggir lapangan dan mengajakku untuk ikut bermain dengan teman-teman yang lain. Sebelum aku bisa menjawab, dia menatapku dengan mata coklat tuanya dan berkata "Kamu kenapa kok lemes gitu?" Aku sadar bahwa hari ini wajahku terlihat pucat dan hanya dia yang menanyakan kondisiku. "Ayo ke UKS." Ujarnya sambil menatap kembali ke lapangan. Aku tau dia sebenarnya masih ingin main dengan yang lain, tetapi dia memilih untuk mengantarkan sahabatnya yang sedang sakit ke UKS. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 13:51:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148336701</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148348686</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Mazaya Ainaya Taufiq - XII Sydney</strong></p><p>Ramai, begitulah suasana pada malam itu. Malam itu adalah malam yang ditunggu-tunggu, malam terlaksananya pentas seni di sekolahku. Aku berdiri di antara kerumunan penonton, menunggu artis kesukaanku untuk tampil. Suasana penuh semangat memenuhi lapangan, dengan berbagai senyuman dan teriakan dari para penonton. Namun, ada satu momen yang akan selalu kuingat dari hari itu.</p><p><br/></p><p>Setelah menunggu beberapa lama, mulailah penampilan dari artis kesukaanku, Dewa 19. Aku merasakan semangat yang menggebu-gebu, sudah berbulan-bulan aku menantikan penampilan ini. Di sebelahku, terdapat seorang perempuan dengan rambut keriting yang indah juga berdiri, ia terlihat sangat menikmati penampilan tersebut. Suaranya yang merdu ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan oleh Dewa 19, aku tidak dapat menahan diri untuk tidak mencuri pandang ke arahnya. Mata hitamnya yang indah membuatku tenggelam di dalamnya. Aku pun mulai melupakan penantian berbulan-bulanku akan penampilan ini, perhatianku teralihkan oleh perempuan di sebelahku.</p><p><br/></p><p>Setelah beberapa lagu, aku memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara. Aku mendekatinya dengan hati yang berdebar kencang. Mata hitam itu pun balas menatap mataku, senyum yang ia berikan membuatku jauh lebih tenang. Auranya yang secerah matahari, menyala paling terang di antara banyaknya kelap-kelip lampu konser pada malam ini. Kami pun lanjut membicarakan musik kesukaan masing-masing, kesibukan saat ini, dan berbagai topik lainnya. Seluruh pertanyaanku ia jawab dengan penuh semangat. Tanpa aku sangka, aku telah menemukan pujaan hatiku pada malam pentas seni sekolah.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 13:56:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148348686</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148351895</link>
         <description><![CDATA[<p>PENULIS : RADITYA ATHALLAH FAIZAN INDRASTATA</p><p><br/></p><p>3000 anak panah meluncur ke arahnya, sang pejuang berdiri dengan tegap dan berani, seketika waktu berhenti seakan mengagumi ia yang serasa telah mengetahui bagaimana akhir dari kisahnya yang melegendaris. Ialah Namian atau biasa disebut sebagai sang Parka Coklat, dengan terlahir di desa kecil nan tradisional bernama Lizafian De Namore, itulah membuatnya mampu untuk melawan dahsyatnya tekanan yang ia akan hadapi pada kehidupannya. Dikisahkan oleh penduduk Lizafian De Namore, awal mulanya, sang Parka Cokelat merupakan seseorang yang merantau dari desa kelahirannya demi menempuh pendidikan sebagai seorang pelajar kelas menengah. Salah satu kebiasan yang kerap sang Parka lakukan semasa ia duduk sebagai seorang pelajar adalah menawarkan sebuah jabat tangan. Memang, hal tersebut terdengar remeh bagi sebagian besar masyarakat, namun kononnya, hal tersebut dilakukan sebagai suatu bentuk iktikad dan rasa syukur yang luar biasa darinya kepada para leluhur dari tanah Namore yang telah mendahului, karena dengan menggenggam tangan ia mampu menyerap kefasikan dari sisi manusia. Sehingga, kebahagiaan dapat selalu dipancarkan dalam jiwa orang-orang di sekitar sang Parka Coklat.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Pada kesehariannya, Namian merupakan seorang pelajar yang riang dan antusias dalam menempuh pendidikan yang dimana telah menjadi komitmen awal darinya untuk merantau dari tanah kelahirannya. Salah satu perwujudan dari hal tersebut ialah dengan matangnya strategi yang telah diterapkan oleh Namian disaat pembelajaran berlangsung. Pada saat pembelajaran ilmu esensi gerak abadi, Namian seringkali menempati kursi yang terdekat dengan ruang presentasi sang master. Hal tersebut dilakukan olehnya agar mampu mendapatkan visualisasi secara langsung dari pembelajaran nan rumit tersebut. Namun, apabila bel jam pembelajaran humaniora telah dibunyikan, ia langsung menaruh dirinya pada posisi duduk yang paling terbelakang. Terdapat beberapa pihak yang menyebutkan momen pembelajaran tersebut ia gunakan untuk mengisi energinya, walau memang hal tersebut seringkali dibantah olehnya. Antusiasme dari sang Parka Coklat kian hari semakin meningkat, bahkan ia mampu untuk mengembangkan suatu praktik perdagangan terhadap teman sekelasnya dengan suatu produk penutup makanan sebagai bentuk penerapan nyata dari pembelajaran humanioranya. Mendengar kabar kesuksesan dari bocah rantau tersebut, para keluarga dari Desa Lizafian De Namore secara bergiliran, pada setiap minggunya kerap mengirimkan surat yang terbuat dari hasil gilingan daun jati dengan tinta merah tersebut. Surat tersebut hanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang ringan terhadap kehidupan sehari-hari Namian, seperti, “apakah ananda&nbsp; sudah makan hari ini?”. Sederhana, tetapi “segalanya” bagi dirinya.</p><p><br/></p><p>Namun, pada minggu ketiga pada bulan purnama ke-29, pesan-pesan tersebut mendadak tidak pernah dikirimkan oleh para kerabatnya. Hal tersebutlah yang ternyata menjadi pertanda pertama bagi sang Parka Coklat bahwa para kerabatnya sedang dalam situasi yang amat genting. Selama berhari-hari ia telah menunggu dan penasaran mengapa secarik kertas yang seharusnya ia sudah terima tersebut belum sampai, akhirnya, pada suatu siang hari, kabar dari Kerajaan Mandiri sampai di telinga sang Parka Coklat. Berita yang berasal dari kerajaan yang sekarang menguasai semua daerah dari timur sampai ke barat – termasuk Desa Lizafian De Namore – mengabarkan bahwa suatu dinasti telah mengambil alih sebagian besar wilayah milik mereka. <br><br>Pada saat itulah, entah mengapa, Namian memiliki prasangka kuat bahwa desanya telah menjadi bagian dari yang sedang dijajah oleh dinasti tersebut. Dengan bersegera ia mengemas barangnya dan pulang ke kampung halamannya tersebut dan hanya untuk menyaksikan sebagian besar tempat tinggal yang dulu ada telah dibumihanguskan oleh dinasti biadab tersebut. Titisan air mata keluar dari mata sang Parka Coklat yang bersinar tersebut menelusuri hidung dan kumisnya yang terlihat seakan-akan terbelah menjadi dua. Dengan postur yang kurus dan relatif tinggi tersebut, tubuhnya sangat mudah terlihat dari kejauhan oleh kami yang sedang ditawan pada sisi lainnya di desa kami. Dengan poni rambut coklat tuanya yang lebat dan menutupi hampir seluruh penglihatannya, ia melihat dari kejauhan akan pasukan yang tengah membawa para kerabatnya tersebut. Namian pun menggerek suatu pedang yang tersisa dari puing-puing desa tersebut, abu yang tersisa dari pedang tersebut membuat lengannya yang berkulit sawo matang berubah menjadi kehitaman. Ia berjalan ke arah sebuah lapangan yang luas dimana semua prajurit dan masyarakat desa berada, sang Namian yang tak memiliki rasa takut tersebut pun berteriak sambil mengancam mengacungkan pedangnya tersebut “Kalian! Berhenti! Tidak ada yang boleh membawa masyarakatku tanpa seizinku! Rekan-rekan kerabatku, pergilah dan berlari sampai ufuk lautan, biarkan aku yang berjuang disini”. Pada saat itulah, semua pasukan bersiap untuk mengisi seluruh artileri nya dan membidik pemuda berkumisan dengan jaket warna coklat tersebut dengan panah yang entah berapa jumlahnya. “Asal kalian tahu! aku merantau untuk berjuang demi kalian! mungkin aku tidak dapat menyaksikan, tapi aku tahu kalian semua akan menjadi seorang yang bebas!” terdengar suaranya yang remang-remang dari kejauhan. Teman, saudara, dan sepupu darinya hanya dapat meneteskan secercah air mata untuk apa yang akan menimpa dirinya. Ribuan panah menembus jaket coklatnya tersebut, ribuan pula jiwa yang akan terbebas.&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 13:58:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148351895</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148384295</link>
         <description><![CDATA[<p>Keysha Amelia Teddy - XII Sydney</p><p><br/></p><p>Jam menunjukan pukul 7 pagi, alarm Anindita sudah berbunyi lebih dari 5 kali, namun ia tak kunjung bangun. Pintu kamarnya terbuka, dan samar-samar terdengar suara seseorang yang berusaha membangunkannya, “Bangun dek, udah jam 7 ini, nanti kamu telat loh.” Anindita pun terbangun dan panik karena dia bisa saja terlambat datang ke sekolah dan mendapatkan surat teguran keterlambatan. Dia segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Setelah pamit kepada orang tuanya, ia masuk ke mobil. Saat sampai di sekolah, jam sudah hampir menunjukkan pukul 8. Anindita tahu dia akan tertangkap oleh guru piket yang berjaga, oleh karena itu, dia memilih untuk lewat belakang agar tidak tertangkap. Dia berjalan cepat menuju kelas. Dia hampir saja tertangkap oleh guru tersebut, tetapi berhasil melarikan diri. Pintu kelas terbuka, namun guru mata pelajaran pertama belum datang. Anindita bernapas lega karena berhasil menghindar dari guru.</p><p><br/></p><p>Bel pulang berdering. Anindita sangat bersemangat untuk pulang, tetapi dia merasa mengantuk karena semalam dia begadang untuk menonton Netflix hingga berakhir terlambat masuk sekolah. Dalam perjalanan pulang, dia memutuskan untuk mampir ke minimarket sejenak untuk membeli minuman dan roti kesukaannya. Saat berdiri di depan kulkas untuk mengambil minuman, tiba-tiba seorang laki-laki memperhatikannya. Laki-laki itu menggunakan masker dan jaket hitam. Merasa diperhatikan, Anindita pun segera bergegas menuju kasir untuk membayar. Laki-laki itu tetap berdiri di sana, memperhatikannya dari jauh.Setelah membayar, Anindita cepat-cepat keluar dari minimarket. Namun, perasaan tidak nyaman masih menghinggapi hatinya. Laki-laki itu masih berdiri di dekat pintu minimarket, seolah-olah mengamatinya. Anindita mempercepat langkahnya menuju mobil, menoleh beberapa kali untuk memastikan bahwa pria itu tidak mengikutinya. Setelah masuk ke mobil, ia menyalakan mesin dan pergi dengan cepat, berusaha mengenyahkan pikiran buruk yang mulai muncul. </p><p><br/></p><p>Sepanjang perjalanan pulang, Anindita tak bisa menghilangkan rasa gelisahnya. Setiap kali melihat bayangan di kaca spion, ia merasa seperti sedang dibuntuti. Ia ingat cerita-cerita yang pernah ia dengar tentang orang asing yang tiba-tiba muncul dalam hidup seseorang dan menimbulkan masalah. Pikiran itu terus menghantuinya sampai akhirnya ia sampai di rumah. Anindita berusaha menenangkan diri, menegaskan bahwa itu hanyalah imajinasinya semata. Setelah meletakkan barang belanjaannya di meja, ia pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Ia meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja esok hari.</p><p><br/></p><p>Namun, saat malam tiba, sebuah pesan masuk di ponselnya. "Kamu baik-baik saja tadi?" Pesan itu dikirim oleh nomor yang tidak dikenal. Anindita terperangah, seolah-olah jantungnya berhenti berdetak. Ia membaca pesan itu berulang kali, memastikan apakah benar ini hanya kebetulan, atau ada sesuatu yang lebih mengerikan sedang terjadi. Sejurus kemudian, bayangan laki-laki berjaket hitam di minimarket tadi kembali melintas di pikirannya. Anindita menggigil, merasa sesuatu yang ia takutkan mungkin saja baru saja dimulai. Anindita mencoba mengabaikan pesan itu, meyakinkan dirinya bahwa mungkin ini hanya lelucon atau salah kirim. Namun, kegelisahannya semakin menjadi-jadi. Pikirannya terus berputar, mengaitkan setiap detail kecil yang ia temui sepanjang hari. Siapa pria itu? Bagaimana dia bisa mendapatkan nomor teleponnya? Jantung Anindita berdegup semakin kencang saat ponselnya kembali bergetar, kali ini sebuah panggilan masuk dari nomor yang sama. Tangannya gemetar saat ia memandang layar, tak berani menjawab. Namun, rasa takut yang membuncah memaksanya untuk bertindak. Ia menekan tombol terima, dan suara berat di ujung telepon menyapa, “Kamu harus lebih berhati-hati mulai sekarang, Anindita.” Suara itu dingin dan penuh ancaman, membuat tubuhnya membeku. Ponselnya terlepas dari genggaman, jatuh ke lantai. Mata Anindita terbelalak, pikirannya berputar cepat, dan ia tahu, ini bukan lagi sekadar kebetulan.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-10-01 14:13:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3148384295</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3258736062</link>
         <description><![CDATA[<p>Faiz Ahmad Majorca - XII sydney</p><p><br/></p><p>Hari itu, seperti biasa, Honda duduk di pojok kelas, dengan kacamata yang hampir tak pernah lepas dari wajahnya, menatap layar laptop yang menampilkan tugas matematika yang harus segera diselesaikan. Rambut ikalnya yang panjang sedikit berantakan, seolah ia tak sempat merapikannya pagi tadi. Tangan kirinya terlihat cekatan menulis rumus di buku catatan, sementara tangan kanannya sesekali menekan tombol keyboard dengan hati-hati.</p><p>Honda bukan tipe orang yang suka menjadi pusat perhatian. Ia lebih senang mengamati dan menyendiri dalam keheningan, mengerjakan segala sesuatu dengan cara yang teratur. Meski tubuhnya tinggi dan kurus, ia sering kali tidak tampak menonjol di keramaian. Namun, ada sesuatu yang unik tentangnya—sifatnya yang selalu tenang dan selalu bisa menemukan solusi dalam situasi apapun.</p><p>Pagi itu, guru matematika memberikan tugas kelompok, dan Honda terpaksa harus bekerja sama dengan dua teman sekelasnya yang lebih ramai, yaitu Rani dan Bimo. Sambil mengerjakan tugas, Rani dan Bimo selalu bercanda dan tertawa keras, membuat Honda sedikit terganggu. Meski begitu, Honda tetap tenang dan memfokuskan perhatian pada tugas tersebut.</p><p>Namun, di tengah-tengah diskusi, Rani yang selalu ceria tiba-tiba menghentikan tawanya dan menatap Honda dengan serius.</p><p>"Hei, Honda, kenapa sih kamu selalu diem aja? Pasti ada banyak hal yang bisa kamu ceritain, kan?" tanya Rani.</p><p>Honda tersenyum tipis, lalu mengangkat bahu. "Gak ada yang spesial. Aku lebih suka fokus pada hal yang aku kerjakan aja."</p><p>Bimo yang ada di samping Rani tertawa. "Bener tuh, Honda emang kalau ngomong jarang banyak. Tapi, setiap kata yang keluar dari mulutnya pasti berarti. Kalau Honda ngomong sesuatu, pasti kita harus dengerin."</p><p>Honda sedikit tersipu. Ia merasa nyaman dengan teman-temannya, meski sifatnya yang tenang seringkali membuatnya merasa seperti orang yang paling asing di antara mereka. Namun, ia tidak pernah merasa kesepian. Setiap kali ia meluangkan waktu untuk berbicara, teman-temannya akan mendengarkan dengan penuh perhatian.</p><p>Tugas kelompok itu akhirnya selesai setelah beberapa jam bekerja. Sambil merapikan barang-barangnya, Honda melihat ke luar jendela. Cahaya matahari yang mulai meredup memberikan sentuhan keemasan pada langit yang sudah memasuki waktu senja. Ia selalu suka melihat matahari terbenam, karena itu mengingatkannya pada betapa berharga setiap detik yang ia jalani. Terkadang, kesibukan sehari-hari membuatnya lupa untuk berhenti sejenak dan menghargai waktu yang ada.</p><p>"Jadi, Honda, kita mau kemana setelah sekolah?" tanya Rani sambil menyentuh bahunya.</p><p>Honda mengerutkan kening. "Ke taman, mungkin. Aku mau sedikit duduk di sana, menikmati senja."</p><p>"Ah, kamu dan senja! Pasti enak banget ya bisa menikmati keindahan hal-hal sederhana kayak gitu," kata Bimo dengan nada bergurau.</p><p>Honda hanya tersenyum, tak berkata apa-apa. Ia tahu, meski mereka tidak sepenuhnya mengerti, teman-temannya menghargai cara dia melihat dunia. Dalam kesunyian senja, Honda merasa bahwa ada keindahan dalam setiap momen yang ia jalani—baik itu di dalam kelas yang penuh tawa, ataupun di luar, di bawah langit yang mulai gelap.</p><p>Hari itu, seperti hari-hari lainnya, Honda menemukan kedamaian dalam kesederhanaan, dan ia merasa bahagia, meski hanya dengan duduk di bangku taman, melihat langit yang semakin malam.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-13 07:35:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hcgmth8chs/v7irejg97yekwv17/wish/3258736062</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
