<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Xenofobia dan Rasisme by Astrida Fitri Nuryani</title>
      <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a</link>
      <description>1 Contoh Xenofobia dan Rasisme
1 Contoh Kasus pengungsi terkait Rasisme
Akar budaya pada kasus tersebut
Link sumber, screenshot, video kasus tersebut</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-11-30 11:58:50 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-11-18 10:01:46 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Cina vs Pribumi: Sebuah Kenangan Pahit Masa Lalu</title>
         <author>srezza18</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970859303</link>
         <description><![CDATA[<div>Masih tergambar jelas, kenangan pahit masa lalu yang terjadi pada Mei 1988. Terjadi kerusuhan rasial terhadap etnis tionghoa yang terjadi pada 13 Mei-15 Mei 1988, di beberapa daerah lain khususnya di Ibu Kota Jakarta. Banyak toko dan perusahaan milik warga Indonesia keturunan Cina yang menjadi korban penjarahan dan pengurasakan masa. Peristiwa tersebut menjadi kenangan yang memilukan bagi warga keturunan Tionghoa. Setelah peristiwa tersebut, banyak warga keturunan Tionghoa yang mengubah nama Tionghoa-nya menjadi nama yang khas dengan Indonesia yaitu nama Jawa. Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa terjadi Xenopobia pada masyarakat keturunan Tionghoa. Tahun demi tahun berlalu, beberapa masih ingat betul peristiwa tersebut. Bahkan terjadi pembedaan kelas antara pribumi dan Tionghoa. Tionghoa membedakan dirinya dengan pribumi. Beberapa dari mereka menganggap bahwa level mereka jauh diatas pribumi dan menganggap bahwa kasta yang tepat untuk para pribumi adalah menjadi bawahan atau jongos mereka. Hal ini tentu tidak semena-mena terjadi begitu saja. Kenangan pahit masa lalu yang terjadi antara pribumi dan Tionghoa bisa saja menjadi alasan atau latar belakang tindakan tersebut. Sejarah akan terus berulang jika kita tidak mempelajari sejarah tersebut. Peristiwa Mei 1988 menjadi sejarah yang tak pernah terselesaikan. Ketika luka yang timbul masih membekas, lantas tak ada yang mengobati. Kita seakan acuh pada sejarah tersebut, seolah-olah sejarah tersebut tidak pernah terjadi. Xenophobia akan terus tumbuh jika tidak ada kesepakatan atau tindakan sebagai bentuk rekonsiliasi. Rasa benci, takut, dan was-was pada masyarakat keturunan Tionghoa akan selalu tumbuh.&nbsp;<br><br>https://magdalene.co/story/menjadi-cina-antara-mei-1998-dan-2019</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/886960056/cc7c86037860a33ea08fbe1a23862163/Screen_Shot_2020_11_30_at_18_49_31.png" />
         <pubDate>2020-11-30 12:04:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970859303</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Vicky Adrian Sinaga</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970860146</link>
         <description><![CDATA[<div>Perilaku Rasisme yang terjadi di Amerika Serikat yang dialami oleh George Floyd adalah satu perilaku yang sangat semena-mena dan tidak berperikemanusiaan. Pandangan dalam melihat orang kulit hitam sebagai minoritas dan terkadang juga melihat orang kulit hitam sebagai penjahat dan pemberontak ini kemudian membuat banyak sekali perilaku yang sangat kejam dan penuh dengan kekerasan yang dilakukan oleh orang kulit putih kepada orang kulit hitam. Perilaku yang dilakukan oleh institusi kepolisian terhadap George Floyd adalah tindakan kekerasan yang berujung sampai pada kematian Floyd. Dimana salah satu orang dari institusi kepolisan tersebut yaitu Derek Chauvin menahan Floyd dengan cara menindih lehernya mengunakan  salah satu lutut kakinya. Hal ini kemudian membuat Floyd sampai kehabisan napas dan meninggal dunia di tempat. <br><br>https://kema.unpad.ac.id/rasisme-dan-bagaimana-agar-menjadi-pribadi-yang-anti-rasis/<br><br>Selain itu, Xenophobia adalah salah perilaku yang melihat semua orang asing itu adalah orang yang membawa kerugian dan patut didiskriminasi. Orang yang di luar komunitas suatu kelompok atau pendatang akan dianggap asing dan adalah orang yang yang tidak boleh masuk ke dalam komunitas tersebut.<br>Salah satu contoh kasus perilaku Xenophobia adalah pada fasisme di Italia dibawah kepemimpinan Benito Mussolini. Dimana paham nasionalisme ekstrem tersebut sangat mendiskriminasi bahkan menyerang segala sesuatu yang dari luar negaranya.<br><br>https://kumparan.com/absal-bachtiar/xenofobia-penyakit-sosial-yang-kerap-tertukar-dengan-rasisme-1538387008994750854/full<br><br>Contoh kasus pengungsi yang dialami oleh kaum Rohingnya di Myanmar. Dimana pengungsi Rohingya ini dibuat terlantar karena tidak memiliki tempat tinggal. Semua tempat tinggal atau pemukiman kaum Rohingya yang sudah diratakan. Pemerintah Myanmar sendiri sering memberikan harapan palsu kepada kaum Rohingnya yang ingin kembali. Bahkan dikatakan juga bahwa peristiwa genosida yang dilakukan pemerintah Myanmar (Burma) yang mayoritasnya Buddha terhadap kaum Rohingya (warga Muslim) adalah salah satu cara pembataian etnis. Selain itu, ada juga dikatakan bahwa wilayah Rakhine itu tenang dan damai sejak tidak ada kaum Rohingya. Warga Budha Rakhine mengatakan kepada kami bahwa mereka tidak akan pernah lagi menerima warga muslim tinggal berdampingan dengan mereka.<br><br>Bisa dilihat bahwa ternyata akar budaya dari sampai terjadi kasus diatas adalah karena adanya rasa tidak nyaman antara orang-orang Buddha dengan umat Muslim di tempat itu sehingga kemudian terjadi konflik yang sampai membuat kaum Rohingya harus kehilangan tempat tinggal mereka dan mengungsi keluar dari Myanmar. <br><br>https://www.bbc.com/indonesia/dunia-49643468<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/886925570/a10cb1d203882ad04750d7b886fa090b/1_1.png" />
         <pubDate>2020-11-30 12:05:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970860146</guid>
      </item>
      <item>
         <title>munculnya rasisme terhadap masyarakat tionghoa setelah wabah corona by Rafi Fadillah faqih</title>
         <author>rafifadillah</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970862455</link>
         <description><![CDATA[<div>masyarakat tionghoa atau Asia itu sannat diidentifikasikan sebagai pembawa virus bagi negara lain. contoh kasusnya yang terjadi di kanada, adannya casusu perundungan terhadap masyarakat tioghoa. kemudian University of California menyatakan rasa takutnya atau phobia yang disebut sebagai xenophobia sebagai suatu reaksi yang normal mengingat krisis kesehatan yang masih terus berlangsung. Mendapat banyak protes dari bêberapa mahasiswa di negara lain, universitas yang memiliki banyak mahasiswa dari Asia ini kemudian meminta maaf. diskriminasi seperti ini tidak bisa diterima, dikarenakan tidak semua anak membawa virus dari negara nya yaitu asia. kemudian hal ini pun sangat dikatakan rasism, Karena seseorang anaka tionghoa yang bekajar di luar terkena bullyan dari teman temannya. dari adannya kasus ini lah banyak mengundang kesejangan budaya anatara anak-anak asia dan penduduk asli amerika di lingkungan kampus. kita bisa simpulkan disini bahwasannya banyak Anak asia yang bertempat tinggal di amerika atau bersekolah di amerika terkena dampak rasisme Oleh warga setempat karena asal mereka, hal ini pun tidak dapat dipuji dengan adannya perlakuan seperti itu, dan pada akhirnya masyarakat tionghoa lah yang meminta maaf Karena telah menyebarkan virus corona ke negara tersebut.<br><br>munculnya xenophobia sudah di rasakan seajak jaman kolonial yang dimana masyarakat tionghoa tidak di perlakukan dengan baik oleh warga pribumi. pada tahun 1998 pedagang pedagang cina toko nya di jahat Oleh masyarakat pribumi, peristiwa yang terjadi ini meninggalkan luka lama Oleh bangsa tionghoa. dengan adannya pejarahan tersebut akhirnya masyarakat. tionghoa di ungsikan ke masjid oleh beberapa masyarakat yang masih respect terhadapnya. hal tersebut lah yang memunculkan xenophobia bagi masyarakat tionghoa. karena kedudukan masyarakat pribumi lebih besar di bandingkan mereka, dan rasa xenophobia itu akan selalu muncul alam masyarakat tionghoa kalau tida adannya kesepakan dan tindakan bersama. karena mereka juga sudah naro rasa takut dan benci terhadap masyarakat yang melakukan hal itu. hal ini lah yang sampe sekarang masih di rasakan Oleh mayarkat tionghoa, dengan bentuk rasisme dan kenangan masa lampau. <br><br>kemudian kita bisa tarik satu cerita dari liana yang dulunnya ia tingal di indonesia kemudian ngungsi ke Australia akibat adannya kerusuhan 1998. dia memutuskan mengungsi, di karenakan tempat tinggal dekat dyngan toko supermarket dan dua bank di sampingnya. feelingnya tersbeut pun ternyata benar keesokan harinnya toko tersebut di jarah. <br><br>"Sebelum peristiwa tersebut, kami sebenarnya sudah membeli makanan untuk disimpan sebagai tindakan berjaga-jaga. Namun walau pelayan restoran kami disuruh keluar dari rumah, namun akhirnya semua kompleks pertokoan tersebut hangus dibakar massa," kata Liana lagi.<br>semenjak peristiwa ini lah liana vergi ke autralia sebagai pengungsi dan sekarang bekerja di sektor pariwisata menjadi tour guide.<br><br>Muncul Rasisme terhadap Etnis Tionghoa setelah Wabah Virus Corona<br><br>Artikel ini telah tayang di <a href="https://www.kompas.com/">Kompas.com</a> dengan judul "Muncul Rasisme terhadap Etnis Tionghoa setelah Wabah Virus Corona", Klik untuk baca: <a href="https://www.kompas.com/tren/read/2020/02/01/200000165/muncul-rasisme-terhadap-etnis-tionghoa-setelah-wabah-virus-corona?page=all">https://www.kompas.com/tren/read/2020/02/01/200000165/muncul-rasisme-terhadap-etnis-tionghoa-setelah-wabah-virus-corona?page=all</a>. <br>Penulis : Luthfia Ayu Azanella<br>Editor : Rizal Setyo Nugroho<br><br>Download aplikasi <a href="https://www.kompas.com/">Kompas.com</a> untuk akses berita lebih mudah dan cepat:<br>Android: <a href="https://bit.ly/3g85pkA">https://bit.ly/3g85pkA</a><br>iOS: <a href="https://apple.co/3hXWJ0L">https://apple.co/3hXWJ0L</a><br><br><br></div><h1>Kisah Liana Ang, Korban Kerusuhan Mei 1998 yang Kini Tinggal di Australia</h1><div><br>https://www.abc.net.au/indonesian/2018-05-16/rumahnya-dibakar-20-tahun-lalu-di-jakarta/9735154</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-30 12:06:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970862455</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhamad Bimo Dwiyono</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970863511</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada dasarnya, xenofobia merupakan sebuah istilah yang menggambarkan bagaimana masyarakat dihadapkan pada ketakutan akan sesuatu hal. Dari ketakutan inilah seiring dengan berjalannya waktu memunculkan kebencian terhadap sesuatu, sehingga dari kebencian inilah timbul perasaan ingin memusnahakan atau menghancurkan apa yang dibenci olehnya, dalam hal ini sesuatu yang dianggap asing oleh seseorang.<br><br>Adapun konsep mengenai rasisme sendiri adalah sebuah istilah yang menggambarkan pembedaan sikap yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu  terhadap seseorang yang dianggap berbeda dengan kelompoknya ini. <br><br>Konsep antara xenofobia dan rasisme merupakan dua konsep yang sangat bertolak belakang, dimana pada dasarnya, seseorang yang memiliki sifat xenofobia sudah pasti memiliki sifat rasisme di dalam dirinya, sedangkan seseorang yang memiliki sifat rasisme, maka belum tentu memiliki sifat xenofobia. Hadirnya xenofobia di dalam kehidupan sosial bermula dari adanya isu rasisme di tempat tersebut yang umumnya tidak mendapatkan perhatian khusus dari pihak berwenang. Dari ketidakpedulian inilah yang membuat rasisme di sebuah wilayah dapat tersebar secara luas, sehingga dari turunan inilah membuat xenofobia hadir di tengah masyarakat, sehingga menimbulkan konflik sosial.<br><br>Adapun contoh kasus mengenai xenofobia dan rasisme adalah sebagai berikut: <br>a. Xenofobia : Pembantaian yang dilakukan oleh oknum tentara Burma terhadap muslim Rohingya di Myanmar. <br><br>Pembantaian etnis Rohingya di Myanmar pada dasarnya disebabkan oleh eksistensi etnis ini yang dianggap sebagai penduduk ilegal. Dari adanya anggapan inilah membuat kaum militer melakukan upaya pembantaian-pembantaian atas dasar pembersihan etnis. Kelompok militer yang didukung oleh kelompok agama garis keras dan organisasi sipil ultranasionalis membuat keadaan semakin meruncing, sehingga pembunuhan, terror, atau pemerkosaan tidak dapat terelakkan.<br><br>b. Rasisme : Adanya kebijakan pengusiran Imigran Muslim di Perancis<br><br>Pengusiran yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri Perancis pada dasarnya dilatarbelakangi oleh adanya pemenggalan yang dilakukan oleh seorang imigran terhadap seorang guru setelah mempertontonkan kartun bertajuk Nabi. Mengetahui hal tersebut, pemerintah setempat membuat kebijakan deportasi bagi imigran-imigran ini agar dapat keluar dari negara tersebut. Adapun akar budaya yang terdapat dalam fenomena ini adalah sentimen sekular yang terdapat di negara tersebut, dimana orang-orang Perancis seringkali menganggap kebebasan berpendapat merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan, meskipun menyinggung persoalan agama sekalipun. Dari kebebasan berpendapat inilah kemudian muncul sebuah karikatur nabi. Selain itu, masyarakat Perancis juga mengganggap bahwa pada dasarnya, orang Islam banyak sekali yang menjadi ekstremis dan membuat kekacauan bagi masyarakat dunia. Mengacu dari sumber berita, bahwa seorang guru dipenggal kepalanya karena menunjukkan karikatur nabi. Dari sini kemudian meyakinkan masyarakat Perancis bahwa orang-orang Islam merupakan seorang yang ekstremis, sehingga imigran-imigran yang merupakan seorang muslim diusir dari negaranya.<br><br>- https://www.bbc.com/indonesia/majalah-41745004<br>- https://indonesiainside.id/news/internasional/2020/10/19/prancis-usir-231-imigran-setelah-seorang-guru-dipenggal-karena-mempertontonkan-kartun-nabi</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-30 12:06:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970863511</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ferrys Rastra Zahdia</title>
         <author>ferrys_zahdia</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970867741</link>
         <description><![CDATA[<div>Xenofobia : Pembantaian ras atau genosida yang dilakukan oleh Nazi pada masa perang dunia ke-2 kepada penduduk beragama yahudi. <br>https://embassies.gov.il/addis_ababa/NewsAndEvents/Pages/Holocaust-Starts-with-Speeches-of-Hatred,-Xenophobia,-and-Racism-Israeli-Ambassador-Warns.aspx<br>Rasisme : 'racial profiling' yang dilakukan oleh penduduk amerika serikat yang berkulit putih terutama mereka yang berada di bidang kepolisian.<br>https://www.usnews.com/news/best-states/california/articles/2020-01-02/report-california-cops-more-likely-to-stop-black-drivers</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-30 12:09:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970867741</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Briliana Kanza </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970871942</link>
         <description><![CDATA[<h1>Xenofobia, Sikap Rasis yang Muncul Akibat Virus Corona</h1><div><br>Dinukil dari <em>Ditchthelabel.org</em>, xenophobia adalah ketidaksukaan atau prasangka berlebih terhadap orang-orang dari negara lain. Istilah “fobia” yang disematkan di dalamnya bukan berarti ‘takut’ semata, tapi cenderung diskriminasi yang bernuansa sosial atau politik. Sering kali, alasan pelaku xenofobia adalah irasional.<br><br></div><div><br>Di lain sisi, rasisme sering bercampur dengan xenofobia, dan keduanya kerap berjalan beriringan. Akan tetapi, xenofobia biasanya merujuk pada kebangsaan dan budaya seseorang, bukan secara eksklusif kepada ras tertentu.<br><br>Dilansir dari <em>This Week in Asia</em>, contoh sikap xenofobia ini misalnya dengan mengatakan bahwa virus ini tak akan berlangsung lama karena “<em>Made in China</em>”. Lalu, ada pula yang menyindir soal kebiasaan warga negara Tiongkok gemar mengonsumsi hewan ekstrem.<br><br></div><div><br>Bahkan, ada ujaran bahwa warga China mengonsumsi apa pun yang berkaki empat kecuali meja dan semua yang terbang kecuali pesawat! Sama sekali tidak etis, bukan?<br><br></div><div><br>Tak cuma itu, banyak orang Barat yang tidak memperbolehkan etnis Tionghoa untuk berada di dekatnya. Bahkan, di Jepang (sekalipun sesama etnis Asia), mereka menolak semua orang China—meski mereka tidak terinfeksi virus—untuk masuk ke tokonya.<br><br>Jadi bisa dilihat dari berita diatas akar budaya yang terjadi pada kasus diatas adalah karena adanya rasa tidak suka dan tidak nyaman terhadap etnis Tionghoa yang kemudian terjadi konflik yang sampai membuat kaum kulit putih atau asia bahkan dari etnis Tionghoa harus kehilangan pekerjaan bahkan tempat tinggal nya dan menyuruh keluar dari negara barat seperti Amerika bahkan di Jepang etnis Tionghoa juga di benci padahal mereka sama-sama orang asia karena kasus covid ini bermula dari China. <br>https://www.google.com/url?sa=t&amp;source=web&amp;rct=j&amp;url=https://m.klikdokter.com/amp/3637049/xenofobia-sikap-rasis-yang-muncul-akibat-virus-corona&amp;ved=2ahUKEwjFg6zwnqrtAhUByzgGHdeJBJMQFjAAegQIARAB&amp;usg=AOvVaw3GPgg6A_cUHOkghI7ZmvdO&amp;ampcf=1</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/886890076/ba4dd2edf9895b280a49c1ead3baeea2/Screenshot_2020_11_30_18_35_10_739_com_android_chrome.jpg" />
         <pubDate>2020-11-30 12:11:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970871942</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mohamad Ishfahari Hijra</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970875649</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Asrama Papua: Cek fakta kasus bendera merah putih dan makian rasialisme di Surabaya<br><br>segelintir mahasiswa yang berasal dari papua mengalami tindakan diskriminatif dan rasisme oleh sejumlah oknum yang berpakaian seragam tentara, polisi serta seragam bebas di surabaya. Para oknum tersebut langsung membabi buta dengan teriak-teriak serta panggilan menghina ras mereka didepan asrama yang mereka tempati. Pemicunya ialah para oknum melihat bendera merah putih yang berada dalam asrama mereka berada di dalam saluran pembuangan air atau got. Dengan mengambil kesempatan tersebut para oknum menjadikan momen itu sebagai alasan untuk mengecam dan menyudutkan para mahasiswa papua yang berada di asrama. Biasanya hal tersebut terjadi karena lingkungan selalu memandang ras papua dengan stigma buruk seperti suka merusak, mabuk-mabukan, emosian, dan kasar. Artinya dengan lingkungan yang memiliki pemikiran rasa takut atau xenofobia akan kehadiran ras papua maka sering terjadi bentuk pengecaman pada ras papua. Stigma buruk papua terbentuk dari stereotipe yang sudah sejak lama meskipun tidak semua ras papua berperilaku seperti itu. Jadi intinya masih banyak lingkungan yang enggan menerima kehadiran ras papua sebagai bentuk antisipasi diri dan lingkungannya.  <br><br><br></div><h1>Muslim Uighur di Cina: Persekusi melalui kamp 'pendidikan-kembali'</h1><div><br>Etnis Uighur merupakan etnis minoritas beragama islam yang berada di Xinjiang, China. Etnis tersebut mendapat preksekusi dari pemerintah china dan menuding islam sebagai kelompok extrimisme. Akhirnya pemerintah china menahan semua etnis uighur dalam dalih 'kamp pendidikan' sebagai pembentukan pemikiran dari awal, nyatanya itu sebuah derita bagi etnis uighur. Akibatnya banyak dari etnis tersebut yang mencoba keluar dan melarikan diri untuk mengungsi dalam negara lain. Tetapi sayangnya masih banyak negara yang menutup dan menolak kedatangan para etnis uighur yang mencoba mengungsi. Salah satu negara yang menerima adalah Indonesia dan terjadi ketika melihat pelarian uighur di dekat perairan aceh. Sehingga mendapat pertolongan dan menerima kehadriannya karena mayoritas penduduk aceh yang beragama islam maka memiliki penanaman pemikiran sesama muslim adalah saudara.<br><br><br><br><br>Sumber :<br>https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49446765<br>https://www.bbc.com/indonesia/dunia-45835871</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-30 12:13:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970875649</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rasisme terhadap Penduduk Beretnis China di Montreal, Canada. By Ferdi Syafaat</title>
         <author>ferdissyafaat</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970875933</link>
         <description><![CDATA[<div>Sikap Rasisme yang dilakukan oleh penduduk kulit Putih terhadap penduduk beretnis cina di China sangatlah mengganggu. Hal ini bermula ketika pandemi Covid-19 yang terjadi di Wuhan, China. Dikarenakan penyakit tersebut berasal dari cina, beberapa oknum menganggap semua penduduk cina yang tinggal di Montreal adalah pembawa penyakit tersebut. Di chinatown, beberapa toko dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Salah satu pemilik restoran di daerah Chinatown, Berinisiatif untuk memberikan “fortune cookies” bagi mereka yang ingin memesan makanan dari restoran mereka. Didalam kue tersebut berisikan kata-kata yang baik dan positif. Dan juga pemilik restoran memasukkan kata-kata agar hal rasisme yang mereka alami setidaknya berkurang. “<em>The Wise Practice Social Distancing, not Racial Discrimination” </em>adalah salah satu isi yang disematkan kedalam kertas yang kemudian ditaruh didalam kue. Sumber :<a href="https://montreal.ctvnews.ca/mobile/montreal-s-chinese-community-responds-to-racism-with-fortune-cookies-of-acceptance-1.5169594">https://montreal.ctvnews.ca/mobile/montreal-s-chinese-community-responds-to-racism-with-fortune-cookies-of-acceptance-1.5169594</a></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/886972130/8786dbc256e9b4fa519c512ce342b87a/276951B6_9CE6_42BE_A2C7_ACAF6419EEC5.png" />
         <pubDate>2020-11-30 12:13:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970875933</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Naufal Satrio Putrantau</title>
         <author>naufalsatrio</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970877678</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada sekitar tahun 1933 hingga 1945 terjadi sebuah Holocaust yang dila oleh partai Nazi dan para partisannya. Kejahatan kemanusiaan ini didasarkan pada rasisme terhadap Kaum Yahudi. Banyak kebijakan-kebijakan deskriminatif yang menindas masyarakat keturunan Yahudi diantara masyarakat Jerman. Menurut George Sanford dan Gerhard L. Weinberg dalam bukunya <em>Adolf Hitler dan Holocaust</em> (2007) untuk mewujudkan cita-cita Adolf Hitler, muncul apa yang dinamakan peristiwa Holocaust yakni pembantaian umat manusia secara sistematis. Orang-orang Yahudi menjadi sasaran utama.<br>Xenofobia juga muncul sebagai penyebab dari Holocaust disebabkan karena seuah anggapan bahwa Yahudi ialah sebab terjadinya krisis ekonomi pada saat itu. Menang saat era perang dunia dibutuhkan perekonomian yang maju untuk melawan negara penjajah maupun negara yang akan dijajah, oleh karena itu Adolf Hitler melakukan pembantaian terhadap Kaum Yahudi. Menurut Hitler bahwa bangsa Arya memiliki kedudukan tertinggi sehingga Kaum Yahudi dianggap sebagai kaum yang cacat. Orang rasis meyakini bahwa karakteristik seseorang bisa dibawa dari sejak lahir atas turunannya. Orang rasis terdoktrin bahwa darah merupakan penanda identitas bangsa maupun etnis. <br><br>Untuk tujuan menyelamatkan diri, Kaum Yahudi kemudian mengungsi kembali pada negara asalnya. Beberapa pengungsi lain juga menyelamatkan dirinya salahsatunya ke Filipina. Pada tahun 1937-1941 sekitar 1200 orang Yahudi. Pemerintah setempat menyambut para pengungsi dengan cukup baik dan kendala penyesuaian diri dari pengungsi Yahudi terkait cuaca, bahasa, dan makanan juga dipermudah atas sambutan masyarakat Filipina.<br><br>https://voi.id/memori/2194/alasan-di-balik-adolf-hitler-melakukan-holocaust</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/887008878/f58e0861fb15b018d5b207b8b30f94cd/messageImage_1606738590663.jpg" />
         <pubDate>2020-11-30 12:14:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970877678</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aizul Bagaskara</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970903432</link>
         <description><![CDATA[<div>Pada kasus muslim Uighur di China yg mengalami tindak kekerasan karena pemerintah China merasa terganggu dengan keberadaan muslim di daerahnya. Negara yg berbatasan langsung dengan beberapa negara muslim tersebut melakukan tindakan seperti menekan jumlah keturunan dari muslim uighur. Tindakan tersebut termasuk dalam jenis Xenofobia serta rasisme terhadap ras muslim oleh pemerintahan China. Meskipun mendapat kecaman dari berbagai negara di penjuru dunia, pemerintah China meng-klaim jika tindakan kekerasan/penganiayaan muslim Uighur sudah dikurangi. Ditambah dengan tindakan “pemaksaan” oleh pemerintah China seperti memasang alat kontrasepsi terhadap perempuan Uighur demi melancarkan wacana mengurangi populasi dari muslim Uighur. <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://www.google.co.id/amp/s/www.bbc.com/indonesia/dunia-53229806.amp" />
         <pubDate>2020-11-30 12:25:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970903432</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tasya Afiniya </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970905690</link>
         <description><![CDATA[<div>Penjelasan dari xenophobia sendiri adalah rasa ketakutan yang dialami oleh orang asing ketika bertemu dengan seseorang yang berbeda dengan dirinya , dimana ketakutannya itu terhadap ras, agama dan suku. Ketakutannya itu ialah rasa was was ketika betemu dengan masyarakat asing dan kebencian terhdap suatu hal yang serba asing. <br><br>Hal ini bisa terlihat di Amerika dimana di negara tersebut muncul xenopobhia yang di barengi oleh rasisme, kenapa di Amerika muncul xenophobia dan rasisme terhadap orang berkulit hitam karena pada masa kolonialisme di amerika atau perbudakan amerika itu tenaga kerjanya berasal dari afrika, dimana pekerja disana itu di perlakukan dengan kerja paksa untuk memenuhi perkebunan - perkebunan di Amerika yang di peruntukkan untuk Eropa. Mulai dari situ terlihat bahwa orang afrika yang berkulit hitam di jadikan budak oleh kaum berkulit putih, dan kaum kaum kulit putih menganggap orang kulit hitam bukanlah manusia seutuhnya melainkan mereka adalah sub human yaitu dianggap manusia yang bodoh, inferior, terbelakang, dan barbar, karena orang kulit hitam mengganggap orang hitam dengan istilah seperti itu maka orang kulit putih menganggap harus memerintah orang berkulit hitam dan orang kulit hitam merupakan budak, dan dari situ orang kulit putih menganggap bahwa dirinya merupakan superior dari orang yang berkulit hitam.<br><br>Dan contoh kasus yang saya akan jabarkan disini adalah munculnya rasisme yang di lakukan oleh mahasiswa Amerika terhadap mahasiswa asal Indonesia yang berasal dari Papua,contoh kasusnya adalah mahasiswa Amerika mengejek atau merendahkan orang Papua dengan omongan yang sangat rasis yaitu ih kok ada ya orang papua bisa masuk kuliah di Amerika, contoh lainnya adalah  banyak sekali pertanyaan yang di lontarkan orang amerika kepada orang Papua yang menurut saya pertanyaanya  tidak etis jika di tanyakan ke orang asing contohnya yaitu di papua udah ada baju belum? Di papua masi makan orang gaa ? Ih kamu cantik ya untuk ukuran orang Jayapura. Perlakuan yang ada di atas itu di dapatkan oleh seorang pelajar yang yang belajar di Amerika yang bernama Florida dan tindakan rasis itu juga di lakukan oleh orang indonesia yang berada di Amerika contoh kasus  yg di alami oleh florida adalah  contohnya saat dia berada di dalam bis dia mengatakan tidak ada satupun orang yang mau duduk di sebelahnya walaupun bangku yang di sebelah Florida tersebut kosong. Berita ini di up di BBC dengan judul hinaan rasis terhadap mahasiswa Papua : semangat membanggakan papua lebih besar dari cercaan ih ada orang hitam kok bisa sampai ke amerika<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://www.bbc.com/indonesia/dunia-53009570" />
         <pubDate>2020-11-30 12:26:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970905690</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Presiden AS dan penghapusan Obamacare sebagai bentuk asuransi kesehatan masyarakat. By Sultan Erlangga R</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970922227</link>
         <description><![CDATA[<div>Donald Trump sebagai Presiden AS menghapuskan Obamacare yaitu bentuk asuransi kesehatan yang dibuat oleh presiden AS sebelumnya, Barrack Obama dalam rangka mensejahterakan kesehatan masyarakat AS. Asuransi dengan sistem subsidi ini dihapuskan tanpa pembenaran hukum dan alasan moral yang jelas. Pasalnya, penghapusan Obamacare merugikan setidaknya 40.000 warga AS dan parahnya lagi saat menghadapi Pandemi Covid 19 seperti saat ini. mengapa kemudian kasus ini saya angkat dalam diskusi malam ini, sepenangkapan saya melalui penjelasan Bu Astrida adalah bahwa Rasisme tidak hanya berhubungan dengan suku, agama, ras ataupun etnis. Rasisme dapat terbentuk hanya karena adanya kebencian. Dalam kasus ini, penghapusan Obamacare menurut beberapa sumber disebabkan oleh adanya kebencian Donald Trump terhadap beberapa daerah yang salah satunya adalah meksiko. untuk lebih memperjelasnya lagi, penghapusan Obamacare digantikan dengan Trumpcare, namun ada beberapa poin yang dianggap sangat tidak manusiawi yaitu orang dengan penuakit jiwa diharuskan menanggung biaya sendiri. Sekitar 20 juta orang Amerika memperoleh cakupan kesehatan di bawah Obamacare, Undang-Undang Perawatan Terjangkau tahun 2010. Tetapi politikus Republik menganggap UU ini membuat pemerintah federal terlalu berlebihan cakupannya sementara pasien jadi memiliki pilihan terbatas dan dikenakan premi yang lebih tinggi.<br><br>Kemudian, kasus rasisme dengan pengungsi saya angkat yaitu masyarakat Jogja dengan pendatang dari timur. Isu ini saya angkat berdasarkan pengalaman pribadi dan orang-orang sekitar. Banyaknya mahasiswa perantau dari luar jogja membuat kota ini dijuluki kota pelajar. Banyaknya mahasiswa  yang berasal dari luar daerah salah satunya berasal dari Timur (maayarakat Papua, NTT, NTB dsb) dengan stigma negatif masyarakat timur yang negatif dikarenakan suka meminum minuman keras dan berwatak keras, banyak Kost atau kontrakan yang tidak menerima semua mahasiswa yang berasal dari timur ataupun non-Muslim. Alasan pemilik-pemilik tempat tinggal ini memberlakukan hal tersebut dikarenakan takut akan terjadi keributan disekitarnya, tidak islaminya daerah tempat tinggalnya, dsb. dari kasus ini penulis beranggapan bahwa ini merupakan contoh rasisme sederhana yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari kita. perlu diingatkan bahwa tidak semua orang timur memiliki sikap yang jelek dan tidak semua orang non-Muslim memiliki pengaruh jelek bagi orang sekitarnya. Tujuan baik untuk menuntut ilmu dihambat oleh sikap Rasisme masyarakat sekitar dengan stigma yang asal muasalnyq masih belum jelas darimana.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/886913398/f9e9696eed4b386419df6fc2f0fbed7a/9C466F4D_E25D_4718_AF84_E2BAC5A7F49E.png" />
         <pubDate>2020-11-30 12:33:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970922227</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mochamad Angga Pratama</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970941349</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Rasisme antara etnis cina dan jawa di surabaya : di konten youtube MLI terdapat salah satu video yang mengangkat isu ttg rasisme cina dan jawa, ada wawancara dari dua orang etnis tersebut yang sangat menggambarkan bagaimana xenophobia dan rasisme ini sangat nyata, mereka saling mengumpat dan menunjukkan keunggulan ras mereka. Mungkin masalah seperti ini akibat dari sejarah tionghoa bagaimana bisa besar dan menetap di Indonesia. <br> Meskipun kebanyakan konten di Channel MLI adalah bercanda, namun, akan tidak etis jika masalah seperti itu dibuat sebagai bahan guyonan. </div><div>2. Masalah pengungsi timur tengah ke benua eropa. <br><br></div><div>Pada 1 Maret 2020, sebanyak 30.000 migran berkerumun di tepi Laut Aegea dan tepi Sungai Evros yang membentuk batas tanah antara Turki dan Yunani. <br><br></div><div>Selama dua minggu terakhir, orang-orang yang mencoba menyeberang ke Yunani telah berdebat dengan pasukan keamanan di Kastanies, desa di Yunani di perbatasan dengan Turki. Menurut pejabat setempat, pihak berwenang Yunani telah menolak puluhan ribu orang yang mencoba memasuki Eropa dan menangkap sekitar 300 orang yang berhasil lewat. Adegan suram di kota kecil itu mengungkapkan bagaimana kontrol perbatasan Eropa yang mencolok dan tanpa kompromi telah terjadi. UE menutup pintunya, mengabaikan komitmen hukum internasionalnya kepada para pencari suaka yang melarikan diri dari konflik, dan gagal memenuhi nilai-nilai yang seharusnya menjadi inti blok itu. Definisi seorang pengungsi dan siapa yang berhak mengajukan permohonan suaka telah mengalami perubahan sewenang-wenang sejak akhir Perang Dingin. Pada 1985, ketika Eropa Barat menerima lebih banyak permohonan suaka daripada tahun lalu, puluhan ribu orang dari Polandia, Rumania, dan Yugoslavia diberikan perlindungan semata-mata dengan alasan tinggal di negara-negara yang dianggap totaliter oleh Eropa Barat. Kedatangan mereka ke Eropa yang demokratis berfungsi sebagai kemenangan simbolis dalam Perang Dingin. Namun, pada 1990-an situasinya berubah. Negara-negara Eropa tidak tertarik pada suaka politik dan membuat prosesnya semakin ketat.  Pada 2015, Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan perbatasan Eropa terbuka untuk pengungsi. Setahun kemudian, ketika niat baik politik untuk keputusan itu tak lagi berlaku, Uni Eropa menemukan alasan untuk tidak mengizinkan masuknya para pengungsi dalam bentuk kesepakatan UE-Turki yang secara efektif menyuap Erdogan sebagai penjaga Eropa. <br>https://youtu.be/Euu-YgIbvcg</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/886894721/c9688cae063c281daaa762d0a96b9c7e/Screenshot_2020_11_30_19_32_56_900_com_android_chrome.png" />
         <pubDate>2020-11-30 12:41:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/970941349</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>raraaugusta_</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971029017</link>
         <description><![CDATA[<div>Xenofobia adalah ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain, atau yang dianggap asing. Terkadang hal yg menyebabkan xenofobia terbentuk dari keirasionalan dan ketidakmasukakalan. Xenophobia ini juga bisa karena takut dengan orang yg berbeda dengan dirinya. <br><br>Contoh kasus yang dapat dikaitkan dengan ini adalah Ku Klux Klan, organisasi ekstrem dalam menyuarakan superioritas orang kulit putih dan rasisme juga diskriminasi terhadap orang kulit berwarna terutama orang kulit hitam, yahudi, komunis dll. Mereka sangat menekankan supremasi kulit putih. KKK ini di era yang semakin maju dan berkembang ini, mereka semakin merasa terancam dan takut dengan dunia luar. Mereka dengan ini bergerak secara underground dan bergerilya mencari anggota baru.<br><br>Dengan ini, banyak orang yang kulit berwarna, yahudi atau yang bukan kulit putih merasa terpinggirkan dan banya 'mengungsi' atau pindah ke tempat lain yang jauh dari orang-orang kulit putih. Mereka takut akan diusir dan menganggap kulit putih mengancam dan membahayakan. <br><br>https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com/science/discovery/amp/steven-gerrard/5-fakta-ku-klux-klan-organisasi-rasis-terbesar-di-amerika-serikat-exp-c1c2<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-30 13:12:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971029017</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lucky widya ramadhanty </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971041551</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Menjadi Asean dalam memerangi rasidme,diskriminasi dan xenophobia di kawasan Asia Tenggara.<br>  Membangun identitas ASEAN merupakan salah satu elemen inti dari ASEAN Sosio Cultural Comunity blue print 2016-2025, yang diantaranya berusaha untuk mempromosikan kesadaran akan pentingnya membangun rasa persaudaraan sebagai satu identitas dan komunitas di kawasan Asia Tenggara. Dalam proses pembangunannya sebagai suatu identitas ASEAN seringkali dihadapkan oleh sebuah tantangan sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat ASEAN. salah satunya adalah kenyataan bahwa masih banyaknya fenomena rasisme,deskriminasi,dan xenophobia di kawasan Asia Tenggara yang disebabkan oleh perbedaan kultur,keyakinan dan berkembangnya stigma negatif di masyarakat. Menurut UNESCO ,rasisme dapat diartikan sebagai pemahaman ras hieraks yang berpendapat bahwa ras unggul harus dilestarikan dan harus mendominasi yang lain.rasisme juga bisa menjadi  tidak adil terhadap kelompok etnis lain ,dalam hal ini rasisme juga dapat di definsikan sebagai permusuhan kekerasan terhadap kelompok sosial. Deskriminasi adalah perbedaan ,pembatasan atau preferensi berdasarkan ras,warna kulit,atau etnis yang memiliki tujuan untuk meniadakan dari sebuah pengakuan,hak asasi manusia dan kebebasa foundamental dibidang politik,ekonomi,sosial,budaya atau kehidupan publik lainya. Sedangkan,xenophobia dapat didefinisikan sebagai sikap ,prasangka dan perilaku yang menolak,mengecualikan dan sering menjelekan orang berdasrkan pada presepsi bahwa mereka adalah orang luar atau orang asing bagi masyarakat atau identitas nasional.Fenomena rasisme,deskriminasi, dan xenophobia muncul beriringan dengan gelombang demokrasi dan internasionalisasi di dunia. Fenomena tersebut saat ini marak dibahas dalam forum pertemuan antar negara karena dianggap melanggar hak asasi manusia dan menghambat perkembangan demokrasi dengan beberapa diantaranya mengangkat kasus yang terjadi di Asia Tenggara seperti Myanmar. Dalam hal ini terdapat dua hal yang menyebabkan fenomena rasisme,deskriminasi, dan xenophobia berkembang ,yang pertama adalah pola pada migrasj baru yang berkembang sebagai efek dari internasionalisasi,migrasi internasional selain membawa manfaat juga menyebabkan perubahan pada konstruksi sosial di tingkat nasional. Di negara-negara penerima, kelompok sosial dalam posisi yang tidak menyenangkan menganggap para perndatang baru sebagai pesaing untuk pekerjaan dan layanan publik.Hal tesebut memupuk iklim sosial dan politik yang menghasilkan banyak masyarakat domesik “alergi” terhadap kedatangan masyarakat di luar daerahnya.Yang kedua, adalah globalisasi yang berdampak pada meningkatnya persaingan antar negara  menyebabkan negara mengurangi layanannya di bidang kesejahteraan sosial, pendidikan dan kesehatan. Pengurangan ini mempengaruhi khususnya segmen populasi yang hidup di pinggiran masyarakat, kelompok-kelompok ini sering bersaing langsung dengan para migran untuk layanan kesejahteraan dan tempat berkembang biak utama bagi fenomena rasisme, diskriminasi dan xenophobia. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketidaksetaraan ekonomi yang parah dan marjinalisasi orang dari akses ke kondisi ekonomi dan sosial dasar menimbulkan ketegangan dan memunculkan manifestasi rasisme dan xenophobia, globalisasi juga berdampak bagi perkembangan keyakinan, norma, bahkan ideology yang datang dari pemahaman bangsa lain dan dianggap tidak sesuai dengan keyakinan masyarakat domestik. Kelompok atau individu yang menganut pemahaman baru tersebut akan didiskriminasi karena tidak sesuai dengan keyakinan masyarakat domestik.Dalam lingkup ASEAN, penghormatan atas hak asasi manusia tidak dapat dilepaskan dari pelaksanaan demokrasi. Oleh karena itu, hak atas perlindungan manusia pada dasarnya merupakan hal yang vital dalam demokrasi terkait dengan HAM,kasus kekerasan yang berawal dari diskriminasi, rasisme dan xenophobia di Kawasan Asia Tenggara seperti peristiwa Rakhine di Myanmar sudah seharusnya dicegah untuk dapat menegakkan keadilan HAM dan demokrasi di Asia Tenggara.<br>https://koinupn.wixsite.com/home/post/menjadi-asean-dalam-memerangi-rasisme-diskriminasi-dan-xenophobia-di-kawasan-asia-tenggara<br>2.Pengungsi suriah hadapi rasisme di Mesir &amp; Libanon .<br>Para pengungsi Suriah yang tinggal di Mesir dan Libanon kerap dijadikan kambing hitam atas segala ketidakberesan yang terjadi di sekitar lokasi pengungsian. Para pengungsi itu dituding memihak dan ikut campur tangan atas krisis politik di Mesir, sementara di Libanon mereka dituding mengurangi lapangan kerja bagi penduduk Libanon. Di Mesir,media punya andil yang besar untuk menyebarkan sentimen anti-Suriah, mereka menuduh para pengungsi bergabung dalam protes dalam mendukung tergulingnya mantan Presiden Mohammed Morsi.Sementara di Libanon, keberadaan 600 ribu pengungsi Suriah telah menimbulkan kebencian, karena mereka menilai keberadaan para pengungsi telah menumbuhkan masalah ekonomi dan sosial. Berdasarkan hasil survei terbaru, 82 persen warga Libanon menuduh para pengungsi Suriah mencuri pekerjaan mereka sebanyak 70 persen lainnya tidak nyaman membagi makanan dengan pengungsi Suriah.Selain itu, 54 persen penduduk juga setuju agar pemerintah Libanon menutup wilayah perbatasan Libanon-Suria,Libanon memutuskan untuk mengambil tindakan tegas pada pengungsi Libanon, sebelumnya mereka tidak pernah membatasi besarnya jumlah pengungsi yang masuk. Sedangkan,menteri Keuangan Libanon, Nicolas Nahas mengatakan bahwa para pengungsi Suriah di Lebanon tidak memiliki hak untuk bekerja kecuali dalam bisnis dan perdagangan.<br>https://international.sindonews.com/berita/765293/43/pengungsi-suriah-hadapi-rasisme-di-mesir-libanon<br><br></div>]]></description>
         <pubDate>2020-11-30 13:16:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971041551</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Xenofobia of Westerners</title>
         <author>viatusalaska</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971042455</link>
         <description><![CDATA[<div>kasus xenofobia yang terjadi di Indonesia dapat dilihat dari ketakutan dengan bangsa asing yang berasal  dari barat (eropa atau amerika). Salah satu yang terlihat hingga sekarang ini ada pada jurnalis amerika yang ditangkap karena mengikuti sidang legislatif tentang hak atas tanah adat di kalimantan tengah. hal ini dikarenakan jurnalis tersebut dianggap telah menjadi mata-mata dan merusak indonesia. Penangkapan jurnalis tersebut dianggap oleh pihak internasional sebagai bentuk xenofobia terhadap mereka westerners.</div><div>(https://www.scmp.com/week-asia/opinion/article/3048120/indonesias-arrest-us-journalist-reflects-trend-xenophobia-against)</div><div><br></div><div>xenofobia ini tentunya terpupuk semenjak indonesia sebagai negara yang terjajah oleh negara lain. Hal ini kemudian memicu adanya tindakan rasisme yang muncul terhadap mereka yang bukan bangsa pribumi. Mereka yang non pribumi pun hingga sekarang ini ada bentuk penolakan yang terjadi. Salah satu penolakan tersebut ada pada provinsi DIY yang masih memegang teguh surat perintah wakil gubernur tentang larang kepemilikan tanah bagi bangsa non pribumi. Menurut sejarah hal ini dilakukan sebagai bentuk ketakutan adanya ketimpangan ekonomi terhadap mereka yang non-pribumi dengan pribumi.</div><div>(https://yogyakarta.kompas.com/read/2018/03/01/11395741/mengapa-warga-nonpribumi-tidak-boleh-punya-tanah-di-jogja?page=all)</div><div><br></div><div>Xenofobia ini semakin diperkuat lagi dengan kejadian meledaknya bom di Bali sebanyak dua kali. Peristiwa ini dilakukan karena banyaknya orang-orang barat yang berada di Bali, sehingga digunakan sebagai bentuk peringatan dari kelompok teroris JI (Jemaah Islamiah). Peringatan tersebut menunjukkan bahwa kelompok teroris ini, ingin mengusir mereka bangsa asing atau barat dari Indonesia, atas dasar tidak sesuai dengan ideologi agama dari kelompok teroris tersebut. Tentunya peristiwa ini bisa menjadi sebuah bentuk dari rasisme yang berubah menjadi xenofobia terhadap mereka orang-orang bangsa barat.</div><div>(https://www.bbc.com/news/world-asia-19881138)</div><div><br></div><div>Ketiga kejadian diatas, apabila ditelusuri lebih lanjut bisa saja ada kebenarannya bahwa masyarakat indonesia (meskipun tidak semua) memiliki ketakutan terhadap bangsa asing yang ada pada negara Indonesia. Akan tetapi, hal ini ada tolak belakangnya dengan keinginan dari kepariwisataan Indonesia untuk berkembang, yang kemudian menciptakan banyaknya wisatawan asing ke Indonesia. Oleh karena itu, tentunya masyarakat  internasional masih ada anggapan bahwa masyarakat indonesia memiliki Xenofobia terhadap bangsa barat atau non-pribumi. Hal ini perlu adanya penghapusan sentimen-sentimen negatif kita masyarakat indonesia kepada mereka para bangsa asing.</div><div><br></div><div>(Revisi Tambahan)</div><div>Apabila melihat dari kasus-kasus xenofobia terhadap westerner yang terjadi, bisa dilihat bahwa  kasus pengungsian berdasarkan rasisme dilihat adanya sebuah penangkapan  untuk mereka yang berbangsa asing ketika masa pemerintahan Presiden Soeharto. tentunya hal terlihat secara nyata ada pada bangsa cina yang ditekan oleh Soeharto dalam instruksi presidennya. Hal ini tentunya membuat banyak hak-hak yang dimiliki oleh bangsa cina direngut oleh negara atas dasar ketakutan terhadap penjajahan ekonomi yang dilakukan bangsa cina. Tentunya hal ini tidak hanya terjadi pada bangsa cina saja, melainkan kepada bangsa-bangsa asing yang sekiranya dapat menggoyahkan pemerintahan indonesia dibawah kepemimpinannya Presiden Soeharto.  </div><div><br></div><div>Hal ini tentunya dapat terasa seperti membuat sebuah pengungsian yang berisikan bangsa asing atau bangsa cina, dikarenakan pergerakan dalam berbagai bidang ditekan oleh pemerintah sehingga tidak memiliki hak yang sama dengan mereka pribumi atau bangsa Indonesia. Tertekannya bangsa asing pun membuat mereka pergi melarikan diri dari negara Indonesia dan tidak dapat kembali lagi ke Indonesia ketika masa orde baru. Mereka yang berada di luar Indonesia baru dapat kembali ke Indonesia setelah masa orde baru. Selain itu penekanan hak yang terjadi pada bangsa cina tentunya mulai menghilang atau merasakan hak yang sama ketika masa orde baru selesai.</div><div><br></div><div>Sayangnya hal ini sedikit berbeda dengan yang terjadi di Yogyakarta. Hal ini dikarenakan bangsa asing masih belum boleh mendapatkan sertifikat tanah dan hanya mendapatkan hak guna bangunan, meskipun telah berwarganegaraan Indonesia. Hal ini tentunya menjadi bentuk rasisme antara mekera non-pribumi dengan pribumi sendiri. </div><div><br></div><div>(<a href="https://tirto.id/intrik-politik-soeharto-yang-melarang-dan-membelokkan-makna-imlek-cENG">https://tirto.id/intrik-politik-soeharto-yang-melarang-dan-membelokkan-makna-imlek-cENG</a>)</div><div><br></div><div>Kasus-kasus yang terjadi terhadap xenophobia dan rasisme terhadap mereka bangsa asing pun dirasakan sekali ketika melihat jauh ke sejarah Indonesia yang merasa terjajah atau tertakut terhadap bangsa asing yang datang. Kasus menjadikan bangsa asing pengungsian dengan menekan hak-hak milikinya hingga penangkapan dan pemenjaraan terhadap bangsa asing yang melawan pemerintah, menjadi bentuk-bentuk adanya indikasi bangsa Indonesia atau pribumi masih memiliki ketakutan terhadap mereka bangsa asing dikarenakan kesuperioran mereka di tanah Indonesia. </div><div><br></div><div>Ketakutan pada masa penjajahan menjadikan kita memiliki budaya bahwa bangsa asing merupakan bangsa yang menakutkan dan sangat superior dari bangsa Indonesia. Hal ini kemudian memperlihatkan bahwa bangsa Indonesia ingin mencoba berkuasa dari bangsa asing ketika berada ditanahnya sendiri. Hal ini dilakukan dengan memenjarakan bangsa asing yang menentang pemerintahan Indonesia, atau adanya penekanan terhadap hak-hak yang seharusnya dimiliki bangsa asing, sehingga hak-hak tersebut hilang ketika berada di Indonesia, meskipun bangsa asing tersebut telah berwarganegaraan Indonesia.</div><div><br></div><div>referensi:</div><div>BBC. (2012, October 11). <em>The 12 October 2002 Bali bombing plot</em>. Retrieved from bbc.com: https://www.bbc.com/news/world-asia-19881138</div><div><br></div><div>Cochrane, J. (2020, Januari 30). <em>Indonesia’s arrest of US journalist reflects trend of xenophobia against Westerners</em>. Retrieved from scmp.com: https://www.scmp.com/week-asia/opinion/article/3048120/indonesias-arrest-us-journalist-reflects-trend-xenophobia-against</div><div><br></div><div>Raditya, I. N. (2018, Februari 16). <em>Intrik Politik Soeharto yang Melarang dan Membelokkan Makna Imlek</em>. Retrieved from tirto.id: https://tirto.id/intrik-politik-soeharto-yang-melarang-dan-membelokkan-makna-imlek-cENG</div><div><br></div><div>Yuwono, M. (2018, Maret 01). <em>Mengapa Warga Nonpribumi Tidak Boleh Punya Tanah di Jogja?</em> Retrieved from yogyakarta.kompas.com: https://yogyakarta.kompas.com/read/2018/03/01/11395741/mengapa-warga-nonpribumi-tidak-boleh-punya-tanah-di-jogja?page=all</div><div><br></div>]]></description>
         <pubDate>2020-11-30 13:16:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971042455</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rasisme dalam politik Apartheid dan Kasus Suku Rohingya</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971059079</link>
         <description><![CDATA[<div>INDAH ARIESTY LIYAN (185120101111011)<br><br><br><br>1) Menurut saya yang menjadi contoh tindakan rasisme sekaligus xenofobia aalah politik apartheid di Afrika Selatan. Politik apartaheid lebih dikenal dengan politik perbedaan warna kulit, yang berawal pada tahun 1899-1902 terjadi Perang Boer dan dimenangkan oleh Inggris, yang kemudian inggris mendirikan sebuah negara dominan Union of South Africa.  Yang menjadi rasisme dan xenofobia adalah bagaimana akhirnya ras kulit putih merasa lebih superior dan unggul dibandingkan ras kulit hitam yaitu penduduk afrika asli. Perlakuan kaum Inggris yang buruk dan mendeskriminasi orang-orang Afrika , dimana mereka marasa benci dan merasa bahwa orang kulit hitam bukanlah manusia. Penduduk Afrika lantas dibagi menjadi empat golongan besar yaitu kulit putih keturunan Eropa, Orang Asia, Orang kulit beradarh campuran, dan kulit hitam Afrika. <br><br>2) Kasus pengungsi yang saya lihat adalah kasus para pengungsi Rohingya. Kasus tersebut erat kaitannya dengan rasisme dan xonofobia.  Suku Rohingya merupakan suku minoritas yang menganut agama islam, sementara rata-rata penduduk Myanmar adalah penganut agama Buddha. Tahun 1942 kaum muslim Rohingya orang-orang Budhaa Mag dengan menggunakan senjata dan banyak menyebabkan suku Rohingya meninggal dunia.  Kemudian puncak dari kekejaman penduduk Myammar  adalah pengusiran suku Rohingya yang menyebabkan suku Rohingya mengungsi kemana-mana, bahkan sampai ke Indonesia. Suku Rohingya mencari tempat untuk mengungsi karena ingin mendapat hidup yang layak dan bebas dari kekejaman Myanmar. Tetapi tidak berhenti di situ sampai di tempat pengungsian pun kisah suku Rohingya masih sering jadi sorotan.<br><br><br>3) Kemudian jika kita kaitkan kedua permasalahan di atas dengan masing-masing akar budaya menurut saya apa yang terjadi di kedua negara tersebut adalah sebuah bentuk sistem politik dari masing-masing negara. Baik ras kulit putih atau penduduk Myanmar yang mayoritas beragama buddha telah berupaya mendoktrin atau  menjalankan program yang disusun berdasarkan asumsi rasisme untuk melaksanakan prinsip-pripsip yang rasis atau menunjuang politik berasis ras. Dimana mereka percaya ras kulit hitam adalah orang yang buruk, jelek dan tidak pantas diperlakukan seperti manusia, demikian pula dengan suku Rohingya yang merupakan muslim yang di anggap tidak pantas untuk tinggal di Myanmar. .<br><br><br><br><br><br><br>https://www.kelaspintar.id/blog/edutech/asal-usul-politik-apartheid-di-afrika-selatan-4261/<br>https://kisahmuslim.com/5057-sejarah-umat-islam-rohingya-di-myanmar.html</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/887182020/c6be531a1474650e18dcb5ec3cc056e4/Screenshot_20201130_203658.jpg" />
         <pubDate>2020-11-30 13:21:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971059079</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Abdullah Hanif</title>
         <author>abdullahhanif998</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971080684</link>
         <description><![CDATA[<div>Dilansir dari situs (Human Right Watch, 2020), eksistensi Pandemi COVID-19 ternyata memicu munculnya kekerasan rasial, xenophobia dan diskriminasi terhadap orang Asia dan orang-orang keturunan Asia. Dari beberapa kasus yang ada, Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang cukup mencolok khususnya terkait sentiment anti-Asia yang menyebar di berbagai penjuru negara bagian. Beberapa bentuknya ditunjukkan dari aksi kekerasan, baik secara verbal maupun fisik. Seperti pelecehan, penyerangan bahkan dalam satu kasus terdapat insiden penusukan (BBC News, 2020). Fenomena tersebut tidak terlepas dari virus COVID-19 yang kerapkali dikonotasikan dengan virus yang berasal dari Asia (China). Ini juga sempat diperparah dengan pernyataan Donald Trump yang mengatakan virus ini sebagai “Chinese Virus” (virus China). Sehingga itu semakin memicu persepsi masyarakat terhadap orang-orang Asia-Amerika atau mereka yang berasal dari Asia. Seperti yang diilustrasikan dalam screenshot berikut yang menujukkan seorang pemilik toko keturunan Asia yang dibantu oleh pria merapikan stand pajangan setelah sekelompok remaja merusak tokonya di kawasan Chinatown, San Fransisco pada tanggal 16 Maret 2020 silam. Itu hanya satu dari sekian banyak kasus rasisme dan Xenophobia yang terjadi di Amerika Serikat, dan setidaknya terdapat lebih dari 1.700 laporan yang tersebar di berbagai negara bagian sekaligus menandai merebaknya sentiment anti-Asia selama pandemi. Sebeneranya jika dilihat dari sisi historis dan budaya, persepsi-persepsi rasis atau xenophobia terhadap suatu ras atau komunitas tertentu seakan menjadi sesuatu yang secara sistemik mengiringi sejarah rasisme di Amerika Serikat, khususnya kesenjangan rasial yang dialami oleh warga kulit hitam. Sedangkan perlakuan rasisme yang terjadi terhadap keturunan Asia-Amerika merupakan bagian dari budaya rasisme yang masih ada dan terus berlanjut di Amerika Serikat. Hal tersebut juga direspon dengan pembentukan organisasi “Stop AAPI Hate” yang berusaha mengkampanyekan aksi penghentian kebencian terhadap komunitas Asia-Amerika di Amerika Serikat. Namun hal ini semakin diperparah selama pandemi, dimana kasus-kasus yang menujukkan rasa kebencian terhadap komunitas ini semakin meningkat. <br><br></div><h1>Referensi</h1><div>BBC News. (2020, Mei 27). <em>News</em>. (H. Cheung, Z. Feng, &amp; B. Deng, Producers) Retrieved November 4, 2020, from BBC Web site: https://www.bbc.com/news/world-us-canada-52714804</div><div>Human Right Watch. (2020, Mei 12). <em>News</em>. Retrieved November 30, 2020, from Human Right Watch Web site: https://www.hrw.org/news/2020/05/12/covid-19-fueling-anti-asian-racism-and-xenophobia-worldwide</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/887207859/998edd5b411a97d35eed37731615089a/202005asia_global_antiasian.jpg" />
         <pubDate>2020-11-30 13:27:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971080684</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>abdullahhanif998</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971097066</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://www.dw.com/id/tahun-2017-terjadi-lebih-2200-serangan-terhadap-pengungsi-di-jerman/a-42772934" />
         <pubDate>2020-11-30 13:31:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971097066</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nena Nabiyah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971223618</link>
         <description><![CDATA[<div>Pandemi covid-19 yang terjadi secara global tidak terkecuali di indonesia telah merubah perilaku dan sudut pandang masyarakat. Virus corona yang telah menyebabkan banyak korban memberikan ketakutan tersendiri kepada masyarakat indonesia. Sifat virus corona yang mudah menyebar dari manusia ke manusia mengakibatkan masyarakat menghindari ODP (Orang Dalam Pengawasan), pasien covid, dan jenazah yang meninggal karena virus ini. <br><br>Jika dihubungkan dengan materi malam hari ini, maka ketakutan masyarakat indonesia terhadap orang orang yang terjangkit maupun yang sudah meninggal karena covid-19 merupakan salah satu kasus dari xenofobia. Hal ini dilihat dari masyarakat yang tidak terjangkit oleh virus corona merasa takut pada 'golongan' odp, pasien, dan jenazah yang meninggal karena virus corona. Masyarakat yang tidak terjangkit virus takut atas keberadaan masyarakat yang terjangkit virus corona akan memberikan dampak negatif kepada mereka yaitu menularkan penyakit virus corona. Katakutan masyarakat akan terjangkit virus corona memunculkan diskriminasi kepada ODP, pasien maupun jenazah virus corona. Misalnya, penolakan masyarakat terhadap jenazah, memberikan stigma kepada pasien, bahkan dalam berita masyarakat melempari batu kepada para petugas medis. Tidak dipungkiri hal ini secara tidak langsung dikarenakan oleh berita yang terus menerus di dapatkan oleh masyarakat sehingga memuncilkan rasa takut terhadap golong yang berkaitan dengan virus corona. <br><br>(Link: <br> https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/tren/read/2020/04/13/164454765/salah-kaprah-stigmatisasi-dan-diskriminasi-terhadap-pasien-covid-19  )<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-30 13:59:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971223618</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Arif Al Kautsar</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971259023</link>
         <description><![CDATA[<div>Kini semenjak Trump menjadi Presiden AS segala kebijakan kontra terhadap muslim yang berada di AS membuat mereka semakin terdiskriminasi. Pada saat in masyarakat muslim disana menganggap Presiden Donald Trump dianggap tidak bersahabat kepada mereka sedangkan Presiden Barrack bama bersahabat dengan mereka. Setengah dari responden mengatakan hidup sebagai Muslim di AS telah menjadi semakin sulit dalam beberapa tahun terakhir, sedangkan 48% mengaku mereka secara pribadi pernah mengalami diskriminasi selama setahun belakangan.<br><br></div><div>Bentuk diskriminasi paling umum yang mereka sebutkan ialah diperlakukan dengan prasangka (32% dari responden), diperlakukan secara khusus oleh petugas keamanan bandara (19%), disebut dengan nama panggilan yang menghina (18%), diperlakukan secara khusus oleh penegak hukum (10%), dan diancam secara fisik atau diserang (6%). Hal tersebut dalam pemilihan presiden berpengaruh kearah Hillry Clinton, sudah diduga bahwa mereka tidak senang dengan orang-orang di puncak pemerintahan saat ini. Namun pengalaman mereka didiskriminasi, dan upaya Presiden Donald Trump untuk membatasi masuknya orang-orang dari beberapa negara Muslim, juga memengaruhi pandangan itu.<br><br></div><div> <br><br></div><div>Pada kasus rasisme dengan pengungsi contohnya pada salah satu media online yang berjudul “Manusia Perahu Asal Bangladesh Terus Banjiri Aceh, Bukan Pengungsi Rohingnya”. Myanmar mengategorikan warga Rohingya dalam dua golongan. Pertama adalah Rohingya yang datang bersama pasukan Inggris saat kerajaan itu menjajah Myanmar. Golongan pertama ini membaur lama dengan masyarakat Myanmar. Mereka, kata Iza, juga fasih berbahasa Myanmar. Golongan kedua adalah para pengungsi musiman yang masuk memanfaatkan celah di perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar yang mencapai 196 mil atau sekitar 312 kilometer. Mereka tidak bahasa Myanmar. Konflik antara pemerintahan Myanmar dengan masyarakat Bangladesh sebenarnya tidak disebabkan oleh sentimen agama tetapi oleh  perkembangan politik di Bangladesh, hal ini dianggap sebagai permasalahan agama. Mereka hanya ingin menuntut hak otonomi daerah yang lebih luas<br><br></div><div>Akibatnya, masyarakat memilih mengungsi untuk menghindari pertempuran akibat operasi militer yang dilakukan militer Myanmar. Menurut narasumber pada berita t. ersebut, seharusnya masyarakat pengungsi ditampung di negara yang lebih makmur. Tetapi dikarenakan dalam perjalanan menuju negara tersebut kapal mereka didorong agar menjauh oleh otoritas negara tujuan dan terdampar di perairan Indonesia. Namun dengan naluri kemanusiaan masyarakat Aceh ingin membantu dan membertikan pertolongan.</div><div> <br><br></div><div>Sumber :<br><br></div><div><a href="https://www.bbc.com/indonesia/dunia-40737491">https://www.bbc.com/indonesia/dunia-40737491<br></a><br></div><div><a href="https://www.rmoljatim.id/2020/07/07/manusia-perahu-asal-bangladesh-terus-banjiri-aceh-bukan-pengungsi-rohingnya">https://www.rmoljatim.id/2020/07/07/manusia-perahu-asal-bangladesh-terus-banjiri-aceh-bukan-pengungsi-rohingnya<br></a><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://www.bbc.com/indonesia/dunia-40737491" />
         <pubDate>2020-11-30 14:06:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971259023</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rasisme dan Xenophobia Finlandia </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971271085</link>
         <description><![CDATA[<div>Deandra Adine H.<br><br>Diskriminasi yang tertuju pada imigran terlebih para pencari suaka dan muslim di Finlandia meningkat dalam diskusi politik. Dilihat dari latar belakang Finlandia yang tertulis di artikel Aljeera, menyebutkan bahwa hanya 6.6% warga Finlandia yang lahir di negara asing. Hal ini dapat menyebabkan intoleransi dan menimbulkan rasisme bahkan ketakutan/kebencian dan ada rasa ingin melenyapkan kelompok yang dianggap berbeda (Xenophobia). Tidak hanya itu, beberapa kelompok marjinal seperti LGBT,  keturunan Afrika, dan komunitas yahudi. <br><br>Sumber : https://www.aljazeera.com/news/2019/9/11/racism-on-the-rise-in-finland-council-of-europe</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-30 14:09:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971271085</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Keterhubungan Xenophobia dan Rasisme Dalam Isu Kekerasan Para Imigran Pencari Suaka di Wilayah Negara Yunani</title>
         <author>mw_arya</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971296074</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>            Yunani sebagai salah satu negara yang tergabung dalam Uni Eropa yang memiliki <em>concern </em>terhadap para imigran pengungsi pencari suaka, justru melakukan bentuk rasisme. Rasisme itu ditunjukan dengan bentuk-bentuk konflik sosial seperti adanya kekerasan oleh aparatur keamanan Negara Yunani dalam bentuk dipukuli, dilempari gas air mata, hingga adanya dugaan korban meninggal dunia yang dialami oleh para pengungsi yang notabene berasal dari Suriah akibat peperangan sipil di negara asalnya (TEMPO.CO, 2020). Lalu apa alasan dan latar belakang yang melatari isu rasisme ini. Hal itu yang akan dibahas oleh penulis.</div><div><br></div><div>            Berdasarkan pernyataan Perdana Menteri Yunani, yaitu Kyriakos Mitsotakis menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh aparat pertahanan mereka adalah sebagai bentuk perlindungan perbatasan negaranya (dalam Hidayati, 2020). Mereka berdalih bahwa pengungsi tersebut akan menjadi beban negara dalam jangka panjang karena akan menimbulkan konsekuensi secara ekonomi-politik. Oleh sebab itu, mereka melakukan upaya untuk mencegah bertambah masifnya imigran dengan melakukan deportasi secara persuasive hingga dalam bentuk kekerasan (Schmitz &amp; Angeloudis, 2020).  Dalam konteks ini, pertentangan tersebut utamanya karena berbagai gejala sosial yang dapat ditimbulkan, yaitu seperti lapangan pekerjaan yang akan menjadi semakin kompetitif. Implikasinya adalah lapangan pekerjaan akan semakin sedikit bagi penduduk pribumi (Bonasir, 2015). Kemudian dari aspek ideologi, ras para imigran pengungsi yang notabene menganut ideologi agama yang bertentangan dengan mereka akan menimbulkan suatu konflik sosial dalam masyarakatnya. Hal ini yang semakin membuat Negara-Negara di perbatasan Benua Eropa, termasuk Negara Yunani enggan untuk melakukan penerimaan secara sukarela dan jumlah yang relatif banyak terhadap para pengungsi pencari suaka di negara-negara yang terhimpun dalam Federasi Uni Eropa. </div><div><br></div><div>            Alasan dan latar belakang yang telah dipaparkan itu mengilustrasikan bahwasanya terdapat adanya isu rasialisme yang juga dimotori dengan ideologi agama yang berbeda sehingga menciptakan suatu perilaku yang dinamakan xenophobia. Dalam konteks ini, xenophobia merupakan suatu pola perilaku atau tindakan yang membenci dan ingin melenyapkan sesuatu hal karena didasarkan pada rasa takut (Tisdall, 2018). Sehubungan dengan itu, xenophobia erat kaitannya dengan rasisme. Karena rasisme sendiri secara konseptual hadir akibat adanya prasangka maupun diskriminasi yang didasarkan terhadap ras, utamanya karena perbedaan ideologi hingga kebudayaan. Pada prinsipnya, xenophobia dan rasisme ini tepat dengan latar belakang dan alasan yang menyebabkan tindakan konflik sosial berupa perilaku kekerasan yang dialami oleh para imigran pengungsi pencari suaka oleh aparatur keamanan Negara Yunani. Karena adanya doktrin atau prasangka yang dilandasi dengan adanya sistem politik berbasis ras (Hauser, 2020). Di samping itu, sifat xenophobia juga melandasi kebijakan politik Negara Yunani yang ditunjukan oleh perdana menterinya justru melegalkan tindakan kekerasan tersebut.</div><div><br></div><div> <br><br></div><div>Referensi<br><br></div><div>Bonasir, R. (2015). <em>Di balik penolakan imigran oleh Eropa Timur</em>. BBC NEWS Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150923_dunia_imigran_eropatimur<br><br></div><div>Hauser, C. (2020). <em>Merriam-Webster Revises ‘Racism’ Entry After Missouri Woman Asks for Changes</em>. The New York Times. https://www.nytimes.com/2020/06/10/us/merriam-webster-racism-definition.html<br><br></div><div>Hidayati, N. (2020). <em>Krisis Pengungsi dan Sekaratnya Moral Eropa di Perbatasan Yunani</em>. Matamata Politik. https://www.matamatapolitik.com/di-balik-dilema-persatuan-vs-pemisahan-uni-eropa-analisis/<br><br></div><div>Schmitz, F., &amp; Angeloudis, E. (2020). <em>Benarkah Pengungsi Diperlakukan Tidak Manusiawi oleh Polisi Yunani?</em> Deutsche Welle. https://www.dw.com/id/benarkah-pengungsi-diperlakukan-tidak-manusiawi-oleh-polisi-yunani/a-52174682<br><br></div><div>TEMPO.CO. (2020). <em>Turki Sesalkan Perlakuan Buruk Yunani ke Pengungsi</em>. TEMPO.CO. https://dunia.tempo.co/read/1317016/turki-sesalkan-perlakuan-buruk-yunani-ke-pengungsi<br><br></div><div>Tisdall, S. (2018). <em>Rise of xenophobia is fanning immigration flames in EU and US</em>. The Guardian. https://www.theguardian.com/world/2018/jun/22/as-immigration-crisis-explodes-xenophobes-gain-ground-in-eu<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/887049556/f485de706641aed0b4ca1f7981832ac5/37527593_303.jpg" />
         <pubDate>2020-11-30 14:13:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971296074</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Sampit: Peristiwa Kelam Dayak-Madura dalam Kegagalan Merawat Perbedaan</title>
         <author>thoriqalf</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971444320</link>
         <description><![CDATA[<div>            Konflik Sampit adalah pecahnya kerusuhan antaretnis di Indonesia, berawal pada Februari 2001 dan berlangsung sepanjang tahun. Konflik tersebut dimulai di kota Sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke seluruh provinsi. Konflik ini terjadi anatara suku Dayak asli dan warga migran Madura dari pulau Madura. Konflik tersebut pecah pada 18 Februari 2001 ketika dua warga Madura diserang oleh sejumlah warga Dayak, yang mengakibatkan lebih dari 500 kematian, dengan lebih dari 100.000 warga Madura kehilangan tempat tinggal. Sedikitnya 100 warga Madura dipenggal kepalanya selama konflik ini. Suku Dayak memiliki sejarah praktik ritual pemburuan kepala <em>(Ngayau), </em>meski praktik ini dianggap musnah pada awal abad ke-20 (Wibisono, 2018).<br><br></div><div>            Penulis kemudian mencari tahu akar permasalahannya. Apabila dicermati secara mendalam, konflik etnis di Kalimantan Tengah antara orang Madura dengan warga masyarakat Dayak bukanlah suatu peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Puncak peristiwanya terjadi dalam sesaat, namun sesungguhnya benih-benihnya ternyata sudah berakumulasi selama bertahun-tahun. Konflik-konflik terdahulu yang melibatkan orang Dayak dan Madura yang tidak pernah diselesaikan secara untas menyisakan residu konflik yang siap meledak sewaktu-waktu. Begitulah sebagian latar belakang tragedi Sampit yang kemudian meluas menjadi tragedi Kalimantan Tengah.<br><br></div><div>            Ternyata memang ada praktik rasisme rasial dan juga sikat xenophobia dalam kasus ini. Kontekstualisasi rasisme rasial itu sendiri terjadi sudah lama setelah gelombang pertama penduduk Madura tiba di Kalimantan pada tahun 1930, di bawah program transmigrasi yang rencanakan oleh pemerinah kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Maka dari hal tersebut muncul stigma dan perbedaan kelompok masyarakat yang ada di Sampit, Kalimantan Tengah. Ada perbedaan antara penduduk asli, dan penduduk pendatang. Apalagi setelah disahkannya hukum-hukum baru yang memungkinkan warga Madura memperoleh kontrol terhadap banyak industri komersial. Seperti perkayuan, penambangan dan perkebunan. Pada akhirnya menciptakan persaingan di bidang ekonomi antara suku asli Dayak dan suku pendatang Madura (Wibisono, 2018).<br><br></div><div>            Hal tersebut menyebabkan pertikaian antar kelompok dengan melibatkan permasalahan ras. Ada beberapa suku Dayak yang beranggapan mereka (pendatang) tidak pantas mendapatkan penguasaan atas aset ekonomi yang orang Dayak miliki, karena status mereka adalah pendatang dan bukan dari golongan suku asli Dayak. Kemudian ada juga dari suku pendatang Madura yang mengatakan dasarnya memang kami adalah pekerja keras dan mereka adalah pemalas dan lain sebagainya. Kecemburuan sosial tersebut telah menyebabkan mereka saling bermusuhan, termasuk di dalamnya penghinaan secara rasial.<br><br></div><div>            Kemudian dalam kontekstualisasi xenophobia Situasi seperti itu diperparah kebiasaan dan nilai-nilai yang berbeda, bahkan mungkin berbenturan. Misalnya, adat orang Madura yang membawa parang atau celurit ke mana pun pergi, membuat orang Dayak melihat sang "tamu"-nya selalu siap berkelahi. Sebab, bagi orang Dayak, membawa senjata tajam hanya dilakukan ketika mereka hendak berperang atau berburu. Muncul rasa takut dan kebencian terhadap suku Madura yang dianggap asing akan tetapi selalu menenteng parang dan celurin ditanah yang didominasi oleh suku Dayak. Salah pemaknaan tersebut menciptakan rasa takut dan kebencian karena memandang suku pendatang Madura siap untuk berperang (Rinaldo, 2019).<br><br></div><div>            Segala pertikaian mulai dari perbedaan pandangan mengenai nilai-nilai yang bertentangan antara 2 suku, kecemburuan sosial, rasisme rasial, dan puncaknya adalah peristiwa saling melenyapkan (perang), pada akhirnya terdapat nilai positif dari kejadian berdarah ini. Sampit kini dikenal sebagai kota yang damai, sejahtera, dan keseharian penduduk yang rukun. Sampit tentu telah belajar dari kerusuhan Februari 2001, bahwa kebencian antarwarga sebangsa hanya akan memunculkan pihak yang kalah dan tanpa pemenang.<br><br></div><h1><strong>REFERENSI</strong>        </h1><div>Rinaldo. (2019, Februari 18). <em>Kerusuhan Sampit, Kegagalan Merawat Perbedaan 18 Tahun Silam</em>. Diambil kembali dari liputan6.com: https://www.liputan6.com/news/read/3897282/kerusuhan-sampit-kegagalan-merawat-perbedaan-18-tahun-silam<br><br></div><div>Wibisono, S. G. (2018, Februari 18). <em>Kayau, tradisi lama orang Dayak penggal kepala</em>. Diambil kembali dari lokadata.id: https://lokadata.id/artikel/kayau-tradisi-lama-orang-dayak-penggal-kepala<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/887119490/7240d490c0c2c2e5e1d09fbcd23f8ffb/sampit.jpg" />
         <pubDate>2020-11-30 14:41:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971444320</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nofana Uziati</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971466143</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>1.    Permasalahan Xenophobia</div><div>Xenophobia merupaka persaaan rasa takut berlebih (benci) kepada orang asing tertentu maupun tempat. Salah satu contohnya adalah fenomena Xenophobia yang terjadi di Alexsandria, Johanesberg Afrika selatan pada September 2019 lalu. Bentuk fenonmena yang terjadi adalah adanya kekerasan  berupa ketakutan warga Afrika selatan terhadap warga imigran asing dalam hal persaingan di bidang perekonomian. bentuk tindakannya berupa penjarahan dan penganiayaan yang dilakukan oleh masyarakat Afrika Selatan kepada para pelaku usaha yang berasal dari Nigeria, Ethiopia DLL. Mereka menuntut pemerintah untuk segera mendeportasi para imigran. </div><div> </div><div><a href="https://www.bbc.com/indonesia/dunia-49572897">https://www.bbc.com/indonesia/dunia-49572897</a></div><div> </div><div>2.    Masalah pengungsi Rohingnya yang mencari suaka ke Indonesia<br><br></div><div>Permasalahan muslim rohingnya yang kehilangan hak atas tanah mereka di daerah Rakhine menyebapkan mereka harus berpindah dan mencari suaka ke negara-negara yang lain. Permasalahan ini awalnya dilatar belakangi oleh konflik antar agama. Masyarakat mayoritas dan pemerintah Myanmar yang beragama Budha mencoba untuk memerintahkan pasukan militer untuk mengambil alih daerah tersebut dan melakukan penyerangan terhadap masyrakat muslim rohingnya. Selain ditengarai oleh isu budaya, permasalahan ini di duga juga disebapkan karena permasalahan penguasaan sumber daya alam di daerah tersebut oleh pemerintah. Akibat yang ditimbulkan masyarakat Rohingnya banyak yang mengungsi ke negara tetangga, salah satunya Indonesia. Tercatat hingga pada bulan September 2020 Indonesia di Lhoksumawe Aceh tepatnya telah menerima sekitar 400 pengungsi Rohingnya yang telah 7 bulan terombang ambing dilaut. Meraka rata-rata perempuan berusia dibaah 18 th. Pada saat kedatangannya mereka telah dinyatakan negative dari covid-19. Dalam pernyatanyaan mentri luar negeri Indonesia mengatakan bahwa membantu para pencari suaka dari rohingga merupakan tanggung jawab bersama, tetapi pemerintah dan masyarkat juga harus tetap waspada akan adanya ancaman terorisme terselubung dan <em>people Smugling</em> di masa pandemi. Mengingat keadaan berupa kemiskinan dan resisi merupakan incara bagi kelompok-kelompok teroris tersebut.<br><br></div><div><a href="https://news.detik.com/berita/d-5170679/menlu-indonesia-terima-400-pengungsi-rohingya-dalam-2-bulan">https://news.detik.com/berita/d-5170679/menlu-indonesia-terima-400-pengungsi-rohingya-dalam-2-bulan<br></a><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/887469758/e02bd9ef85c5cd53c729654eb36da179/2020_11_30__1_.png" />
         <pubDate>2020-11-30 14:45:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971466143</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sentimen Rasial Akibat Corona, Mahasiswa Dipukuli di Inggris. </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971554428</link>
         <description><![CDATA[<div>Putri malihah salsabila <br>185120101111027 <br><br>kasus ini terjadi di London, Inggris karena seorang mahasiswa asal singapura yang menjadi korban perundungan hingga menerima perlakuan kekerasan karena ia berasal dari ras asia dan juga berasal dari negara yang termasuk kedalam negara penyebar virus corona. Jonathan Mok mengaku diserang oleh sekelompok orang ketika sedang berjalan di Oxford Street, salah satu pusat perbelanjaan di London pada Senin (24/2) sekitar pukul 9.15 malam. Mereka memukuli Mok di tengah meningkatnya ketakutan terhadap orang asing yang juga berasal dari negara bagian asia yang dipandang masyarakat diluar benua asia sebagai negara penyebar virus corona, hal ini tidak terjadi hanyak di inggris saja melainkan diseluruh dunia.<br> <br> 1. xenophobic <br> kasus ini dilihat termasuk kedalam xenophobic karena rasa ketakutan mahasiswa yang merupakan masyarakat London, Inggris terhadap mahasiswa asia tersebut yang dikarenakan stigma masyarakat Inggris terhadap masyarakat yang berasal dari asia sebagai aktor penyebar virus corona. sehingga karena rasa ketakutan tersebut mahasiswa dan sekelompok orang itu menyerang Jonathan Mok yang merupakan mahasiswa dengan penampilan seperti masyarakat Asia<br> <br> 2. rasisme <br> dalam kasus ini juga tidak hanya xenophobic yang terjadi tapi juga termasuk kedalam rasisme dikarenakan sekelompok orang yang menyerang tersebut membawa dalih ras asia yang menjadi penyebar virus corona. <br> <br> 3. pengungsi <br> kasus pengungsi juga di ambil berdasarkan kasus yang sama. hal ini karena diketahui bahwa tidak sedikit mahasiswa asia yang berada diinggris memilih untuk mengungsi ketempat yang lebih aman atau berdiam diri ditempat tinggalnya masing masing, hal ini mereka lakukan karena dampak yang mereka liat terhadap kasus mok yang membuat sampai menderita patah tulang hidung bahkan sampai harus melakukan rekonstruksi bentuk wajah.<br> <br> https://m.cnnindonesia.com/internasional/20200304111055-134-480374/sentimen-rasial-akibat-corona-mahasiswa-dipukuli-di-inggris</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/886958176/989740f41d08b518aa99839c29597849/20201130_203212.jpg" />
         <pubDate>2020-11-30 15:01:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971554428</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Problematik Xenofobia dan Rasisme terhadap Kos-kosan Muslimah </title>
         <author>sheilajanitra18</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971634296</link>
         <description><![CDATA[<div>Indonesia dikatakan sebagai negara yang berdemokrasi dan tinggi toleransi. Namun, apakah kondisi tersebut dapat dikatakan sebagai pernyataan yang benar ? hingga saat ini terdapat kesenjangan di berbagai belahan wilayah Indonesia, termasuk hadirnya Xenofobia dan Rasisme terhadap kaum non muslim. Walaupun Indonesia dapat dikatakan sebagai mayoritas Islam, dan sangat menjungjung persatuan, tapi mengalami problematika terhadap stigma perilaku non muslim. Hal tersebut dapat di hadirkan dengan adanya permasalahan kos-kosan muslimah yang terletak di Yogyakarta. Intoleransi terhadap keagamaan non muslim tersebut dinyatakan bahwasanya memiliki ketakutan apabila tidak muslim akan menimbulkan pergaulan bebas. Selain itu, asumsi lainnya hadir terhadap pemilik kos yang tidak ingin menyewakan tempat tersebut kepada non muslim takut menimbulkan najis, yang dimana hal tersebut ketakutaan yang menimbulkan rasisme. </div><div> </div><div>Sehingga, Xenophobia yang terdapat dalam masyarakat tersebut menjadikan stigma yang erat terhadap ketakuttan masyarakat untuk menyewakan kos-kosan muslimah selain umat keberagamaan Islam. Oleh karena itu, sering kali disandingkan mengenai ketaatan agama dengan hak pemilik kos, dengan memunculkan sikap Xenophobia yang diperlihatkan dengan rasa takut, cemas dan menimbulkan tindakan tegas untuk menolak non muslim dapat bertinggal di kos muslimah.  <br><br></div><h1>Daftar Pustaka </h1><div><br></div><div>Fasya, A. M. (2019, Agustus 20). <em>Fenomena Kos-kosan Hanya Buat Muslim Saja, Di Tempatmu Bagaimana?</em> Retrieved November 30, 2020, from Islami.Co: https://islami.co/fenomena-kos-kosan-hanya-buat-muslim-saja-di-tempatmu-bagaimana/</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/887409291/80e45e97596a3367bb56893a6b0b42ed/Screen_Shot_2020_11_30_at_22_14_28.png" />
         <pubDate>2020-11-30 15:15:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971634296</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aulia Izzah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971706670</link>
         <description><![CDATA[<div>Xenofobia dan Islamophobia adalah dua diantara sejumlah temuan komisi antar pemerintah ASEAN urusan HAM (AIHCR) terkait masa pandemi COVID-19 di negara-negara kawasan Asia Tenggara.<br>Yuyun Wahyuningrum selaku perwakilan Indonesia di AIHCR menyampaikan bahwasanya stigma ujaran kebencian rasis terhadap masyarakat Tionghoa  yang dianggap membawa virus telah terjadi sejak bulan Maret yang lalu.<br>Persekusi terhadap muslim Tionghoa yang tersebar di kawasan Asia Tenggara tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Fillipina. Yuyun menyebutkan bahwasanya ada sekitar 17.039 orang yang ditahan karena tidak mematuhi jam malam dikala sedang melakukan ibadah. Xenofobiadapat teraktualisasikan dimanapun dan kaanpun bahkan mempengaruhi kehidupan pribadi seorang individu yang menjadi bagian dari kelompok tertentu. Ini menunjukkan bahwasanya, ruang yang aman masih belum menjadi kepemilikan bersama. Kaum minoritas masih tidak bisa mengakses ruang aman tersebut untuk keberlangsungan hidup mereka.<br><br>Tidak berhenti disitu, permasalahan rasial ini juga berlanjut pada kelompok pengungsi, yaitu Rohingya. Di Indonesia, pengungsi Rohingya diterima salah satunya di Aceh. Namun kemudian para pengungsi ini menimbulkan permasalahan baru pada daerah yang menerima mereka. Ada dua permasalahan yang terjadi yaitu dilema kesenjangan sosial dan kemanusiaan. Masyarakat Indonesia yang memiliki histori terjajah pasti tahu betul rasanya menjadi masyarakat asli yang dijajah dan diusir dari negaranya. Namun, di satu sisi yang lain permasalahan kemiskinan yang disebabkan oleh tidak meratanya perekonomian di Aceh menjadi beban pemerintah yang belum usai apalagi ditambah dengan kasus pengungsi Rohingya ini. Hal ini menunjukkan bahwasanya tiap negara harus selesai dengan urusan otonomi daerahnya terlebih dahulu apabila ingin membantu kelompok lain yang terdampak bencana. Perlu sinergisitas yang kuat antara pemerintah lokal dan pusat dalam menghadapi permasalahan ini.<br><br>https://www.antaranews.com/berita/1437844/xenofobia-islamofobia-jadi-temuan-aichr-dalam-wabah-covid-19-di-asean. <br>https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-53163613</div>]]></description>
         <enclosure url="https://www.antaranews.com/berita/1437844/xenofobia-islamofobia-jadi-temuan-aichr-dalam-wabah-covid-19-di-asean" />
         <pubDate>2020-11-30 15:27:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971706670</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nofia Fridayanti</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971728522</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Dalam kasus rasisme dan xenofobia dapat ditilik melalui pandemi korona yang terjadi pada kurun tahun 2020. Asal mula penyebaran COVID-19 berawal di Wuhan, Cina yang kemudian menyebar ke dunia internasional. Adanya ketakutan terhadap penyakit baru yang mewabah luas menjadi alasan untuk menjauhi orang Cina, tidak hanya warga negaranya namun juga merambah pada etnis Cina di negara lain yang bahkan tidak melakukan perjalanan ke negara Cina / tidak terkonfirmasi terjangkit COVID. Sikap ini juga diikuti dalam bentuk hate speech baik di dunia maya maupun protes di lingkungan, kemudian bullying yang dilakukan kepada etnik Cina. Ditambah dengan kaum Cina yang termasuk minoritas di wilayah negara negara tertentu seperti Barat atau di Indonesia, semakin memperparah rasisme yang diberikan atas isu COVID-19 ini. Para pelaku rasisme dan xenophobia berusaha mengucilkan dan membuat etnik Cina inferior dan harus bertanggung jawab atas wabah yang meluas. Contoh seperti ucapan yang menyuruh etnis Cina tersebut untuk "kembali ke negara asal" meskipun etnis tersebut lahir dan besar di negara Amerika / Indonesia. Adapun pembullyian yang terjadi di Kanada, yang mempertanyakan kebiasaan makan etnik Cina yang tidak sepatutnya, menjadi penyebab permasalahan pandemi. Kemudian di negara Jepang, restoran memberlakukan peraturan agar etnik Cina dilarang memasuki kawasan tersebut. Sikap xenophobia ini tidak hanya terjadi di beberapa negara tersebut, melainkan sudah mendunia.<br>https://www.cnbcindonesia.com/news/20200204140818-4-135108/corona-lahirkan-xenophobia-ini-kata-duterte-hingga-trudeau<br>2. . Sehubungan dengan kasus pengungsi, yang paling terkenal adalah pengungsi Rohingya yang berasal dari Myanmar. Sejarahnya, suku Rohingya adalah imigran yang berasal dari Bangladesh dan masuk ke Myanmar. Konflik dari suku rohingya bertabrakan dengan suku rakhine, atau antara ajaran islam dengan budha. Keberadaan suku rohingya tidak diakui oleh pemerintah myanmar, disebabkan kebijakan burmanisasi, yakni hanya mengakui suku beragama budha di myanmar. Tidak adanya pengakuan warga negara membuat suku rohingya kesulitan ekonomi dan pendidikan. Mereka tidak memiliki kartu tanda penduduk sehingga sulit untuk mencari pekerjaan dan mendapatkan hak sebagaimana mestinya warga negara yang lain. Hal ini mendorong pada kekerasan yang kemudian semakin memuncak ketika ada kasus pemerkosaan pada suku rakhine dan kemudian dibalas dengan pembunuhan 10 laki laki muslim suku rohingya. Keadaan yang tidak menerima dari Myanmar, membuat suku rohingya memutuskan untuk mengungsi ke negara lain, contohnya Malaysia. Pada Juni 2020 lalu terdapat 99 orang suku Rohingya yang terdampar di perairan Aceh, yang sebenarnya hendak memasuki negara Malaysia. Namun ditolak atas dasar ekonomi dan ketidak sanggupan pemerintah Malaysia mengurus pengungsi ditengah pandemi. Pemerintah Indonesia juga hendak mengembalikan suku rohingya keluar perbatasan perairan, namun dikecam oleh warga Aceh atas dasar kemanusiaan. Disini jelas ada xenophobia yang terjadi, pertama antra suku rakhine dengan suku rohingya, kemudian negara luar dengan suku rohingya. Tindakan negara menjadi sulit karena harus mempertimbangkan pendekatan kemanusiaan, namun juga harus mengatasi adanya kecemburuan sosial yang mungkin terjadi jika pemerintah memberikan perhatian khusus, yang kemudian bisa menjadi kasus yang sama dengan pengucilan suku rohingya di Myanmar. Xenofobia dapat terpicu ketika sejumlah pengungsi yang berhasil keluar dari negara asalnya mencari bantuan ke negara lain. Sejumlah negara dengan mayoritas beragama islam seperti Indonesia, Malaysia, memutuskan untuk membantu kasus pengungsi atas dasar aqidah yang sama, serta asas kemanusiaan. Namun dalam perkembangannya pengungsi dapat menjadi sasaran rasisme dan xenofobia dari warga lingkungan tempat mengungsi, dikarenakan perhatian khusus yang diberikan pemerintah kepada sekelompok pengungsi mengingat negara tersebut bukanlah penjamin hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara yang sah. <br>https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-53163613.amp<br>3. Jika dikaitkan dengan akar budaya, pada kasus rasisme yang terjadi kepada etnis Cina setelah wabah pandemi, sesungguhnya telah ada sejak lama. Etnis Cina mempunyai reputasi yang buruk di dunia internasional, sebut saja salah satunya dari turis. Kemudian, sejarah perang dan krisis moneter dimana sikap benci terhadap Cina diturun temurunkan dari generasi ke generasi contohnya di Amerika, Jepang , Indonesia. Hal ini membuat sikap rasisme dan xenophobia semakin mengakar kuat dan sulit untuk dihilangkan karena doktrin yang sudah ditekankan sejak lama. Kemudian untuk kasus pengungsi Rohingya, terdapat ketakutan pada suku Rakhine di Myanmar dan juga pemerintah negara lain bahwa pengungsi Rohingya akan mendominasi hak hak dari warga asal. Dan kemudian menimbulkan kecemburuan jika pemerintah hanya memihak pengungsi Rohingya. Dan sejarah antara suku Rohingya yang beragama muslim dengan suku Rakhine yang beragama Budha tidak pernah selaras dengan agama yang berbeda yang membuat sikap xenophobia itu menjadi permasalahan bagi pengungsi rohingya<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/887234886/f92f4e55668f623104b2658fa7515180/Screenshot__170_.png" />
         <pubDate>2020-11-30 15:31:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971728522</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Diskriminasi penduduk Asia Timur (Jepang)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971765099</link>
         <description><![CDATA[<div>Jendica Margaretha Simarmata (185120101111040)<br><br></div><div> <br><br></div><div>Xenofobia dan rasisme sering terjadi di negara asia timur, jepang merupakan salah satu negara yang penduduknya mengalami diskiriminasi, rasisme yang terjadi  terdapat di tempat kerja bagi mereka yang ingin melamar kerja sangat sulit untuk mendapatkan posisi pekerjaan karena bagi yang melamar kerja bukan orang jepang sekitar 25 persen orang yang ditolak lamaran pekerjaannya, begitu pula agi penduduk yang melamar pekerjaan dan terima namun bukan masyarakat jepang asli akan mendapatkan upah bayaran yang lebih rendah dibanding teman teman sepekerjaannya.<br><br></div><div>Diskriminasi yang sering terjadi dikawasan timur merupakan hal yang sulit untuk diminimalisir karena pada dasarnya masyarakat di jepang merupakan negara yang kental akan kulture yang ada karena masyarakat jepang sudah terlalu erat hubungannya dengan masyarakat jepang sendiri.<br><br>https://tirto.id/diskriminasi-dan-rasisme-di-asia-timur-cmbm</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/887445607/a3663d0fc464036e35d57139d3ee50af/Screenshot__3_.png" />
         <pubDate>2020-11-30 15:38:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971765099</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kasus rasisme yang dialami oleh Paul Shaddy di platform Ome.TV</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971821042</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-30 15:48:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971821042</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Damiana Asti Kusmagi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971830077</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Salah satu contoh perilaku rasisme adalah yang sempat terjadi terhdap Rohingya, yaitu etnis minoritas Muslim di Myanmar yang mayoritas bertempat tinggal di kamp-kamp pengungsian dekat perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh dan di Bangladesh itu sendiri, dimana etnis ini dianggap sebagai penganut muslim yang ekstrim yang dianggap telah menjadi korban dari pencucian otak di Bangladesh. Salah satu petinggi di negara Myanmar mengujarkan hal rasisme terhadap Bangladesh terutama terhadap kaum muslim, ia menganggap bahwa Bangladesh tidak memperbolehkan Rohingya kembali karena telah dicuci otak di tempat pengungsian dan menganggap bahwa agama kaum Rohingya merupakan agama ekstrim. Sehingga akibat hal tersebut, pemerintah Bangladeh memanggil perwakilan Myanmar dan mengecam pernyataan tersebut dan menganggap bahwa pernyataan tersebut merupakan perilaku rasisme. <br><br></div><div>Kemudian salah satu contoh dari perilaku xenophobia adalah yang sempat terjadi terhadap industry music di Asia khususnya Korea atau K-pop salah satunya terhadap <em>boyband</em> BTS yang tergolong sebagai boyband Korea yang memiliki popularitas yang cukup tinggi di dunia khususnya di Amerika Serikat lewat penggemarnya yang sangat banyak disana dan penjualan albumnya terlaris nomor 2 di Amerika Serikat, namun acapkali mereka sulit untuk mendapatkan tempat di Amerika itu sendiri, seperti ketika mereka memenangkan penghargaan di Amerika, mereka justru dianggap melakukan kecurangan. Selain hal itu, <em>boyband</em> ini pun sering menjadi sasaran diskriminasi dari berbagai kalangan ras Amerika Serikat, salah satunya adalah ujaran dari seorang agen <em>real estate </em>Amerika Serikat yang mengujar hal lewat cuitannya di twitter yang bernada layaknya xenophobic dengan berkata bahwa mereka (<em>boyband</em> BTS) terlihat seperti anak-anak dan bukan seperti orang dewasa, ia pun menambahkan bagaimana para perempuan Asia bisa tertarik dengan laki-laki di Asia (yang satu ras dengan mereka). <br><br></div><div>2. Melihat pada perilaku rasisme pada Rohingya sebelumnya, dapat dilihat bahwa para sekelompok orang tersebut berupaya melarikan diri ke beberapa negara di Asia dengan menempuh perjalan laut yang cukup berbahaya untuk menghindari kekerasan di tempat asalnya, akan tetapi lebih dari 100.000 orang etnis Rohingya di Myanmar terus hidup di kamp-kamp pengungsian disana dan mereka dilarang meninggalkan kamp-kamp pengungsian tersebut oleh otoritas Myanmar. Namun terdapat beberapa negara tujuan pengungsian mereka selain Bangladesh, yaitu Malaysia, dimana Malaysia dengan negara mayoritas muslim itu telah lama menjadi sasaran bagi para pengungsi Rohingya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Rohingya sendiri merupakan sebuah kelompok etnis asal Myanmar yang berisikan kaum muslim, dimana hal ini berbanding terbalik dengan mayoritas masyarakat Myanmar, dan pada 1982, pemerintahan Myanmar memberlakukan hukum kewarganegaraan di Myanmar dan menolak status kewarganegaraan Rohingya. Rohingya pun dianggap oleh beberapa media dan organisasi hak asasi manusia sebagai sebagai etnis minoritas yang paling tertindas.<br><br></div><div><br></div><h1>Pratiwi, N. (2018). <em>Bangladesh: Sikap Rasis Myanmar Jadi Alasan Rohingya Menolak Pulang. </em>Pantau.com. <a href="https://www.pantau.com/topic/internasional/bangladesh-sikap-rasis-myanmar-jadi-alasan-rohingya-menolak-pulang">https://www.pantau.com/topic/internasional/bangladesh-sikap-rasis-myanmar-jadi-alasan-rohingya-menolak-pulang</a></h1><h1>Dotzler, P. (2020). <em>Xenophobia Towards the Biggest Band in the World, BTS. </em>The Paper Cut. <a href="https://shsthepapercut.com/48814/opinion/xenophobia-towards-the-biggest-band-in-the-world-bts/">https://shsthepapercut.com/48814/opinion/xenophobia-towards-the-biggest-band-in-the-world-bts/</a></h1><h1>Rama, A. (2020). <em>Sering Jadi Sasaran, BTS Kembali Rasakan Komentar Rasis dan Kebencian. </em>POPBELA.com. <a href="https://www.popbela.com/career/working-life/ajenk-rama/sering-jadi-sasaran-bts-kembali-rasakan-komentar-rasis-dan-kebencian/5">https://www.popbela.com/career/working-life/ajenk-rama/sering-jadi-sasaran-bts-kembali-rasakan-komentar-rasis-dan-kebencian/5</a></h1><h1>Gufrianto, T. (2020). <em>Ini Dia Alasan Malaysia Menolak Terima Pengungsi Muslim Rohingya. </em>HARGO.co.id. <a href="https://hargo.co.id/berita/ini-dia-alasan-malaysia-menolak-terima-pengungsi-muslim-rohingya.html">https://hargo.co.id/berita/ini-dia-alasan-malaysia-menolak-terima-pengungsi-muslim-rohingya.html</a></h1>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/887040658/83934f3a9cba9f3d7cf10aa386f7eb8f/IMG_20201130_212020.jpg" />
         <pubDate>2020-11-30 15:49:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971830077</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>amirwilliam</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971832626</link>
         <description><![CDATA[Amir William Andal (185120100111023)

Xenophobia merupakan suatu fenomena dimana seseorang mengalami sebuah gejala ketakutan berlebih terhadap seusatu yang dianggap “asing”(Bordeau, J 2009). Seingkali juga keadaan Xenophobia memunculkan fenomena rasisme dalam masyrakat terhadap suatu hal atau individu yang dianggap asing. Bukti konkret xenophobia di Indonesia baru-baru ini adalah bentuk penolakan beberapa masyarakat terhadap jenasah penderita covid-19 dan aksi pelemparan batu kepada petugas kesehatan dan orang-orang yang rentan untuk berinteraksi dengan virus covid-19. Menurut beberapa ahli hal ini dikarenakan adanya infodemic yang kurang menyebarkan informasi covid-19 dengan benar dan terllau menonjolkan sisi negatifnya, sehingga dapat memicu adanya xenophobia terhadap orang yan terkena covid-19 dan dianggap sebagai orang asing.
 

DAFTAR PUSTAKA
Bordeau, J. (2009). Xenophobia. The Rosen Publishing Group, Inc.

Berita
https://health.grid.id/read/352088674/warga-tolak-pemakaman-jenazah-covid-19-paramedis-dilempar-batu-dan-kayu-bupati-turun-tangan-gali-sendiri]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-30 15:50:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971832626</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kasus rasisme yang dialami Paul Shaddy saat bermain OME.tv oleh Muhammad Raihan Azizi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971842103</link>
         <description><![CDATA[<div>Saat itu, Paul bertatap muka dengan dua orang pria dewasa. Kedua pria ini kemudian menghina Paul dan mengatainya sebagai salah satu suku di Indonesia. Meski Paul tidak berasal dari suku itu, tapi tetap saja hinaan tersebut sangat salah. salah satu dari pria tersebut mengatakan "Ambon *njing, G*bl*k, Congor lu tebel G*bl*k" kemudian pria yang satu lagi mengaqtakan berulang kali kata kriminal, dan kedua pria tersebut tertawa. setelah Paul Shady berkata akan merekam mereka berdua, kedua pria tersebut langsung mengskip kamera mereka berdua.<br>Sumber: https://www.vyonna.com/2020/11/youtuber-papua-paul-shady-rasisme-ometv.html<br><br>Kasus Pengungsi Rohingya<br>Xenophobia adalah ketakutan atau benci terhadap orang asing. Rasa takut dan benci ini dapat menimbulkan rasa benci dan ingin melenyapkan. seperti contohnya kasus rohingya. kasus yang terjadi di negara Myanmar ini dilatarbelakangi oleh rasa takut akan tersaingi dalam mencari pekerjaan. hingga kasus ini menyebar dan mencapai tahap "Genosida" yang dilakukan oleh angkatan bersenjata Myanmar dan masyarakat sipil yang membenci Etnis rohingya yang beragama muslim, sedangkan mayoritas agama di negara Myanmar adalah Buddha. walaupun kejadian tersebut sudah dikecam oleh Dalai lama ummat Buddha, namun kegiatan tersebut masih terus berlanjut hingga detik ini.<br>Sumber: https://www.merdeka.com/dunia/apa-sebenarnya-penyebab-myanmar-menindas-muslim-rohingya.html</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-30 15:51:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971842103</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aksi rasisme terhadap warga China di tengah pandemi, restoran di Swedia pajang gambar Xi Jinping sebagai &#39;Manusia Kelelawar&#39;</title>
         <author>ghiffari_p</author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971869490</link>
         <description><![CDATA[<div>dalam artikel ini mengenai rasisme dan fenomena xenophobia yang terjadi adalah yaitu, etnis Cina disini merupakan bagian dari suku yang secara asal keturunan berbeda dengan suku mayoritas yang terdapat di Negara Swedia tersebut yang mana suku disana mayoritas merupakan suku orang kulit putih atau orang-orang Eropa. artikel tersebut menjelaskan bagaimana saat wabah COVID-19 ini menyebarluas hingga menjadi pandemi di seluruh dunia, warga negara Swedia dalam menanggapi pandemi tersebut yaitu dengan melakukan aksi rasisme yang memajang foto Xi Jinping yang merupakan Presiden Cina. menurut opini saya sendiri, hal ini terjadi karena banyaknya <em>framing</em> media massa yang menyorot bahwa warga Cina memiliki gaya hidup yang jorok sehingga hal tersebut menciptakan pola pikir dan citra yang buruk terhadap etnis Cina, sehingga hal ini yang melontarkan sikap rasisme terhadap warga Cina yang menetap di Swedia. kemudian ketakutan terhadap orang asing atau <em>Xenophobia</em> disini dilihat bahwa orang-orang Cina lah yang menjadi penyebab terjadinya wabah COVID-19 ini.<br><br>Sumber: https://www.bbc.com/indonesia/majalah-54504847</div>]]></description>
         <enclosure url="https://www.bbc.com/indonesia/majalah-54504847" />
         <pubDate>2020-11-30 15:57:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971869490</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Binda Suci Ramadhani                                                                Penghisapan Ekonomi, Rasisme dan pengalaman Orang Papua</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971886642</link>
         <description><![CDATA[<div>Rasisme di Indonesia sering sekali terjadi dan sudah banyak berita yang bermunculan tentang rasisme. Ms, E. Tendayi Achiume, Pelapor Khusus PBB  kelima tentang bentuk-bentuk rasisme, dalam laporannya menyebutkan, diskriminasi ras, xenophobia, intoleransi, dan Popularisme nasionalis yang mengedepankan kebijakan eksklusif, atau represif yang merugikan kelompok, berdasarkan ras, etnis, asal suku, agama dan kategori sosial lainnya mengancam prinsip-prinsip hak asasi manusia non diskriminasi dan kekerasan.<br><br>Papua menjadi salah satu yang paling sering mengalami perlakuan rasis dari segi ekonomi, sosial, budaya, hukum dan demokrasi lainnya namun selalu didiamkan dan tidak ditanggapi. Contohnya dapat dilihat dari kasus Pepera 1969 dimana rakyat Papua mengalami perlakuan rasis dengan berbagai kekerasan rasial, pembunuhan, intimidasi, pembungkaman dan pembatasan oleh militer Indonesia. Kedua adalah kasus Surabaya, saat 57 orang Papua ditangkap dan ditahan di beberapa penjarah di Indonesia. Pemerintah Indonesia memandang hal inibah bahwa tahanan tersebut tidak ada kaitannya dengan persitiwa politik, melainkan sebuah tindak pidana. Pemerintah dan aparat keamanan memisahkan perlakuan rasial ini dengan isu politik Papua sehingga hal ini dapat menunjukan bahwa hukum yang berlaku masih bersifat diskriminatif dan rasial terhadap orang Papua. Provokator dari pengujar rasis hanya dihukum ringan dibanding orang Papua yang mengalami perlakuan rasial dihukum dengan berat. <br><br>Kasus-kasus lain yang memperlihatkan diskriminatif terhadap rakyat Papua juga dapat dilihat dari kebebasan pendapat yang mereka miliki masih sangat minim dihadapan hukum, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang dengan adanya kekerasan terhadap mereka, perkataan dengan fisik, ujaran kebencian yang merendahkan martabat rakyat Papua. Sedangkan apabila rakyat Papua mengajukan kasus pelanggaran HAM dan ekekrasan yang mereka alami, hal itu akan dibiarkan begitu saja tanpa ada proses hukum terhadap pelaku kekerasan atau penyebar ujaran keebncian sebelumnya. <br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://suarapapua.com/2020/06/12/penghisapan-ekonomi-rasisme-dan-pengalaman-orang-papua/" />
         <pubDate>2020-11-30 16:00:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/971886642</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Listya Arrum Wibowo</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/973348614</link>
         <description><![CDATA[<div>Rasisme adalah prasangka atau diskriminasi berbasis ras. Pada artikel ini mahasiswa papua di Malang dan Surabaya memperingati 1 tahun hari kera, kejadian rasis. Konflik ini bermula ketika dugaan perusakan bendera merah putih yang dibuang di selokan asrama mahasiswa papua di Surabaya. Hal ini membhat aparat gabungan dan ormas reaksioner mengepung asrama mahasiswa papua. Pengepungan dan intimidasi terjadi lebih dari 24 jam yang disertai dengan ujaran kebencian dan makian berupa kata kata binatang yaitu "monyet" yang diteriakan kepada mahasiswa papua. Aparat keamanan beberapa kali menembakan gas air mata ke dalam asrama selama pengepungan. Lantas mahasiswa papua tersebut dibawa dan ditahan di polrestabes tetapi tidak ditemukan bukti dan pelaku yang merusak bendera merah putih. Kasus rasisme ini memang sering terjadi pada masyarakat papua karena dianggap berbeda mengenai warna kulit yang cenderung lebih gelap. Tindakan rasis juga seringkali terjadi di media sosial dengan melontarkan kalimat yang tidak pantas kepada masyarakat papua yang bermaksud merendahkan. <br><br>https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200818121144-20-536793/mahasiswa-papua-surabaya-peringati-setahun-rasisme-monyet</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/886935225/ea7d3e91214f4b7b828911fa307b29f3/20201201_033500.jpg" />
         <pubDate>2020-11-30 20:35:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/973348614</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Daffa Feri Trilaksana</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/973726030</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Xenofobia<br>Untuk membahas xenophobia secara lebih kontekstual, saya menyematkan satu fenomena yang saya nilai sebagai suatu fenomena xenophobia. Fenomena tersebut adalah konflik etnis dayak dan etnis madura yang terjadi di Sampit, Kamlimantan Tengah. Konflik ini dilatarbelakangi oleh kekecewaan etnis  dayak terhadap etnis madura yang telah merugikan etnis dayak berulang-ulang (Pratiwi). Dengan kekecewaan tersebut, etnis dayak pun mulai bertindak anarkis terhadap etnis madura dan kemudian menimbulkan banyak korban jiwa. Jika disandingkan dengan konsep xenophobia, maka fenomena ini dapat dikatakan termasuk ke dalam bentuk xenophobia. Hal ini dikarenakan pada dasarnya xenophobia merupakan sebuah kondisi yang menggambarkan bagaimana individu dihadapkan pada ketakutan akan sesuatu yang asing. Dari ketakutan tersebut, lama kelamaan akan muncul suatu sifat, yaitu kebencian. Kebencian itulah yang kemudian akan mendorong individu untuk melakukan tindakan yang bersifat destruktif terhadap objek yang dibenci. Dalam konteks ini, dengan kerugian yang telah ditimbulkan oleh etnis madura, menyebabkan etnis dayak harus mengalami ketakutan akan hal tersebut. Ketakutan yang dialami oleh etnis dayak kemudian berlangsung secara berkelanjutan seiring dengan berkelanjutannya pula tindakan merugikan yang ditimbulkan etnis madura. Sehingga, lama kelamaan akan timbul rasa benci dari etnis dayak dan dengan rasa benci tersebut kemudian etnis dayak melakukan tindakan destruktif kepada etnis madura yang berujung pada konflik etnis yang menimbulkan banyak korban jiwa. <br><br>2. Rasisme<br>Selanjutnya, untuk membahas isu rasisme secara lebih kontekstual, saya menyematkan satu kasus, yaitu kasus pembakaran Mobil Pengungsi Afghan oleh Polisi Iran yang menimbulkan korban jiwa. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 5 Juni 2020 lalu di Provinsi Yazd, Iran. Secara kronologis, berdasarkan keterangan dari (Erina, 2020) dalam artikel berita di <em>rmol.id</em>,  hal ini dipicu oleh krisis ekonomi yang kian dalam akibat wabah Covid-19 dan sanksi internasional, sehingga pemerintah Iran berupaya mengusir para pengungsi dari Afghanistan (Erina, 2020). Akibat dari hal tersebut, banyak terjadi kasus kriminal yang dilakukan oleh oknum dari aparat dari Iran, terutama kasus pembunuhan, dan salah satunya yaitu kasus ini. Jika dianalisis, kasus ini dapat dikatakan kasus rasisme yang cukup parah. Hal ini dikarenakan hanya karena perbedaan antar ras dan upaya untuk mencari perlindungan dari konflik yang terjadi di negaranya, penduduk Afghanistan harus mengalami perlakuan yang buruk dari Iran. <br><br><br>https://sejarahlengkap.com/indonesia/peristiwa-sampit<br>Erina, R. (2020, Juni 9). <em>Kekerasan Rasisme Terjadi Lagi, Pembakaran Mobil Pengungsi Afghan oleh Polisi Iran Gaungkan 'Afghan Lives Matter'</em>. Retrieved from https://dunia.rmol.id: https://dunia.rmol.id/read/2020/06/09/438386/kekerasan-rasisme-terjadi-lagi-pembakaran-mobil-pengungsi-afghan-oleh-polisi-iran-gaungkan-afghan-lives-matter<br><br></div><div> <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://sejarahlengkap.com/indonesia/peristiwa-sampit" />
         <pubDate>2020-11-30 22:51:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/973726030</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M. Rafikhul Ikhsan Eka Putra</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/975090456</link>
         <description><![CDATA[<div>Saat ini, fenomena xenophobia sudah menjadi hal yang lumrah dibahas dalam ruang lingkup studi Hubungan Internasional, khususnya mengenai peningkatan protes xenofobia di Eropa. Xenophobia sendiri merupakan sentimen yang dimiliki seseorang karena rasa takut, tidak suka atau kebencian terhadap orang asing. Masyarakat yang memiliki pemikiran xenofobia cenderung memandang imigran sebagai penjahat yang kejam, jahat, miskin, dan tidak berpendidikan. Pemikiran ini juga terjadi di bidang-bidang tertentu memiliki kualitas pendidikan yang tinggi yaitu Eropa. Selama periode 2012 hingga 2017, sentimen xenofobia telah meningkat pesat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan ini berbanding lurus dengan peningkatan jumlah imigran di Eropa. Dari statistik Uni Eropa (EU) tahun 2017, negara-negara di Eropa menerima sekitar 4,7 juta imigran dari arus imigrasi pada 2015 sedangkan 2,8 juta jiwa memilih untuk mencabut tempat tinggal sebagai negara anggota UE. Dari semua Dalam jumlah tersebut, Prancis adalah negara ketiga setelah Jerman dan Inggris menampung paling banyak pendatang, yaitu sebanyak 363,9 ribu jiwa Masalah xenofobia sendiri bukanlah hal baru di Prancis. Xenophobia yang mulai muncul dari tahun 1880 mengalami peningkatan dan penurunan. Namun mulai tahun 2012 saat Prancis diduduki oleh administrasi Francois Hollande dan Emmanuel Macron, tokoh xenofobia terus meningkat hingga tahun 2017. Sementara tindakan melawan xenofobia saat ini lebih besar untuk para imigran di Prancis, komunitas minoritas di Prancis juga menjadi sasaran. Stereotip masyarakat tentang imigran telah terbentuk dengan buruk. Sarkozy pernah berkata bahwa minoritas dan imigran hidup di pinggiran kota sebagai klan pemberontak atau pemberontak. Secara teori, kondisi ras yang heterogen dapat meningkatkan laju ketegangan ras karena semakin besar proporsi kelompok minoritas, semakin besar pula persaingan yang terbentuk dalam kesempatan kerja dan semua akses ekonomi dalam sumber daya negara. Tidak hanya berupa benda, tapi sebagai Persepsi subjek, orang yang berpenampilan berbeda dari orang kebanyakan bisa menjadi ancaman. Sedangkan dilihat dari sistemnya Hukum Prancis sendiri, tidak disebutkan secara eksplisit nasionalisme, ras, etnis atau agama minoritas. Hanya sistem hukum Prancis menegaskan hubungan antara negara dan individu saja. Dengan tujuan awal untuk menegakkan kesetaraan mutlak, yang terjadi dalam kenyataan adalah bahwa sistem hukum membuat minoritas tidak terlihat di hadapan hukum. Itu juga ditafsirkan itu pemerintah dilarang menghitung data atau statistik mengenai ras, suku, agama atau hal-hal yang masih belum terlihat dalam masyarakat Prancis maupun dalam sensus pertanyaan kebangsaan tidak boleh melibatkan pertanyaan selera atau etnis <br><br></div><div><br></div><h1> </h1><div><br></div><div>PERTIWI, E. A. (2018). <em>ANALISIS MENINGKATNYA FENOMENA XENOFOBIA TERHADAP KEBIJAKAN PEMERINTAH PRANCIS PADA ERA PEMERINTAHAN FRANCOIS HOLLANDE DAN EMMANUAL MACRON (2012 – 2018).</em> Yogyakarta : Univeritas Islam Indonesia.<br><br></div><div> </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-01 11:01:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/975090456</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Astrida</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/978640621</link>
         <description><![CDATA[<div>Tolong yang sudah dikomentari, menambah dengan kasus pengungsi </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/891545376/4c36eace8e37011a9bc688148439a71f/Screenshot_20201202_122034.png" />
         <pubDate>2020-12-02 05:20:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/978640621</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Astrida (2)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/978656478</link>
         <description><![CDATA[<div>Tambahan Revisi</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/891545376/f19a9da713c0ee54c4fa01df6e782eeb/Screenshot_20201202_123413.png" />
         <pubDate>2020-12-02 05:34:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/astridafn/v0d5bem37bolaw3a/wish/978656478</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
