<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kondisi Masyarakat Indonesia Pada Masa Invasi Kekaisaran Jepang by Gwen Annabel Lumban Tobing</title>
      <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua</link>
      <description>XI 2 KELOMPOK II</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-03-10 08:18:07 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-06-19 00:20:22 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1001193214/edd0b914ef2ec7fddb210ecf6ed9fc34/download__9_.jpg</url>
      </image>
      <item>
         <title>Angelina Wardani (06)</title>
         <author>gwenparkers</author>
         <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2912557622</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda ditaklukan oleh Jepang. Semenjak itu dimulailah masa penjajahan Jepang di Indonesia. Sistem pendidikan di Indonesia pun diambil alih oleh Jepang. Selanjutnya, Jepang membuka sekolah untuk seluruh kalangan masyarakat, bukan hanya bangsawan saja. Jepang juga menyediakan sekolah rakyat sebagai pendidikan dasar,  sekolah menengah sebagai pendidikan menengah, dan terdapat sekolah kejuruan bagi para guru. </p><p><br></p><p>Jepang juga berusaha mengambil hati rakyat Indonesia dengan memperkuat kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan menggantikan kedudukan bahasa Belanda yang sebelumnya menjadi bahasa kelas sosial atas. Di samping itu, Jepang banyak menanamkan ideologi mental kebangsaan dengan memberlakukan tradisi seperti menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, senam bersama menggunakan lagu Jepang (Taiso), mengibarkan bendera, dan penghormatan terhadap kaisar. Sistem pendidikan yang dianut oleh Jepang untuk Indonesia sangat membuat rakyat Indonesia menderita. Jepang memberikan pendidikan untuk rakyat Indonesia semata-mata hanya untuk keuntungan kemiliteran Jepang saja.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2167711143/903aa0b69b69b554f9a1885143b24920/Beige_Simple_Modern_Newspaper_Business_Instagram_Post_20240314_142151_0000.png" />
         <pubDate>2024-03-10 08:58:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2912557622</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gwen Annabel Lumban Tobing (13)</title>
         <author>gwenparkers</author>
         <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2912558019</link>
         <description><![CDATA[<p>Kondisi masyarakat Indonesia Pada Masa Invasi Kekaisaran Jepang dari segi kemanusiaan dapat digambarkan melalui salah satu mekanisme yang diterapkan oleh pemerintah Jepang dalam mendukung kekuatan militer, yaitu <em>Jugun Ianfu. Jugun Ianfu </em>sendiri merupakan sebutan untuk kumpulan para wanita perawan atau yang tidak perawan dan bekerja sebagai seorang "budak seks" secara paksa dan sukarela kepada para tentara Jepang di tengah perang Asia Raya atau perang Pasifik untuk mewujudkan filsafat Hakko I Chiu. <em>Jugun Ianfu </em>dibentuk pada tahun 1943 atas perintah dari Kaisar Hirohito dan berlaku hingga tahun 1945 setelah Jepang mengaku kalah kepada sekutu pada tanggal 2 September 1945 seusai penolakannya terhadap perjanjian Postdam, serta pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.</p><p><br></p><p><em>Jugun Ianfu </em>memberikan dampak yang sangat berpengaruh terhadap kondisi sosial masyarakat khususnya teruntuk para kaum hawa yang berstatus sebagai mantan <em>Jugun Ianfu. </em>Karena selain dipandang buruk di tengah-tengah masyarakat, mereka jadi sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Belum lagi dengan tekanan secara fisik dan psikis yang menyebabkan trauma serta gangguan-gangguan kesehatan yang apabila tidak segera diobati maka dapat menyebabkan kematian. Derita para <em>Jugun Ianfu </em>dalam pusaran perang tidak akan pernah berhenti jika seandainya Jepang tidak menyatakan kekalahannya kepada pihak sekutu.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2370292123/d93e14cf53279af0e081c665d948430c/Brown_Scrapbook_Natural_History_Infographic.png" />
         <pubDate>2024-03-10 08:59:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2912558019</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Marsha Chelsea Andriani (18)</title>
         <author>gwenparkers</author>
         <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2912558290</link>
         <description><![CDATA[<p>Perkembangan teknologi saat ini membuat banyak sekali variasi pakaian, mulai dari warna, model, hingga bahannya. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi pada jaman penjajahan Jepang tahun 1942-1945.</p><p><br></p><p>Dalam rangka memenuhi kebutuhan Perang Dunia II, Jepang merampas segala kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, tidak terkecuali pakaian. Saking susahnya mendapatkan pakaian, rakyat Indonesia terpaksa menggunakan pakaian dari kain goni yang sangat tidak nyaman dipakai, sebab seratnya yang kasar, menyebabkan gatal di kulit saat terkena keringat, bahkan ada banyak kutu pada kain yang menggigit kulit, sehingga ketika siang hari pakaian akan dilepas untuk dijemur di bawah sinar terik matahari untuk menghilangkan kutunya. Hal yang paling memperihatinkan adalah beberapa rakyat di kalangan kelas bawah yang tidak memiliki kain goni akan bertelanjang dada dan sesekali mereka hanya menutupi tubuh mereka dengan alang-alang kering atau kulit kayu.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2365654256/b58b02e9e40067f07576ad519a4fe7b3/IMG_20240324_WA0007.jpg" />
         <pubDate>2024-03-10 09:00:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2912558290</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Marsha Chelsea Andriani (18)</title>
         <author>gwenparkers</author>
         <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2912558417</link>
         <description><![CDATA[<p>Kumiai atau koperasi desa pada masa pendudukan Jepang bertujuan untuk memanipulasi seluruh sektor perekonomian semasa perang. Padi hasil panen dari petani wajib diserahkan kepada Jepang atau dijual dengan harga yang sangat murah (rugi) dengan persentase 30-50% untuk keperluan logistik pangan pasukan Jepang dalam Perang Dunia II.</p><p><br></p><p>Dampak dari hal tersebut adalah terjadinya kelangkaan bahan pangan bagi rakyat pribumi, sehingga banyak penduduk yang mengalami bencana kelaparan, gizi buruk, dan penurunan angka kesehatan.</p><p><br></p><p>Pada masa pendudukan Jepang, rakyat memakan bahan pangan alternatif seperti olah singkong: sawut, gaplek, tiwul, gatot; jagung: ampok, gronjol; ubi; serta umbian-umbian atau tanaman yang lain.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2365654256/97008ad193a31bb273825b57c31b7636/Beige_and_Brown_Vintage_History_Project_Cover_A4_Document_20240315_061120_0000.png" />
         <pubDate>2024-03-10 09:00:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2912558417</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dayinta Widya Sampurna (10)</title>
         <author>gwenparkers</author>
         <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2912558823</link>
         <description><![CDATA[<p>sumber: Materi Sejarah II_1 Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang.pdf</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2365654502/1d99283876e95e8cbd12981e90cec873/1_20240311_140025_0000.png" />
         <pubDate>2024-03-10 09:01:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2912558823</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gwen Annabel Lumban Tobing (13)</title>
         <author>gwenparkers</author>
         <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2912559296</link>
         <description><![CDATA[<p>Foto dokumenter tersebut diambil pada tahun 1945 di Kamp Selektah yang terletak di Singapura. Foto tersebut merupakan salah satu situasi ketika seorang buruh kasar di Singapura tengah terbaring di atas kain jerami karena mengalami luka-luka, sebagian kulit tubuhnya membusuk, dan menderita sakit penyakit karena kebutuhannya yang tidak tercukupi. Kemungkinan besar, pekerja tersebut kelaparan, namun tetap dipaksa untuk bekerja sepanjang hari dan juga disertai kekerasan fisik dari para tentara Jepang yang mengawasinya. Hal sedemikian dapat terjadi karena pekerja tersebut merupakan seorang pekerja <em>Romusha.</em></p><p>&nbsp;</p><p><em>Rōmusha (労務者) </em>atau <em>Japanese Corvee </em>merupakan sebutan Kekaisaran Jepang terhadap para "serdadu kerja" atau orang-orang berusia 16-40 tahun yang dipekerjakan secara paksa selama masa invasi Jepang terhadap Indonesia sejak Oktober 1943-September 1945 yang ditandai dengan menyerahnya Jepang kepada sekutu seusai Perang Asia Timur Raya.</p><p>&nbsp;</p><p><em>Romusha</em> diartikan sebagai para pekerja kasar atau buruh yang pada dasarnya memiliki tujuan yang sama dengan sistem kerja paksa atau tanam paksa pada masa penjajahan Belanda, yang tak lain untuk mempersiapkan segala kebutuhan Jepang dalam menghadapi perang Pasifik atau Asia Timur Raya. Setelah adanya tiga daerah administratif, mereka mulai bekerja untuk militer Jepang melalui aparat pemerintahan lokal dengan instruksi bersifat sukarela dan memaksa. </p><p><br></p><p><em>Romusha</em> dimobilisasi berdasarkan pengaturan suplai tenaga kerja yang dibutuhkan dan hasil yang ingin dicapai pada ketiga daerah administratif dengan pekerjaan membangun jalan raya, lapangan udara, rel kereta, fasilitas kilang minyak, menggali tambang batu bara, fasilitas pertahanan perang seperti goa dan benteng-benteng militer, dsb. Mereka dipekerjakan dengan latar belakang adanya propaganda Jepang hingga meraup angka 200.000-500.000 orang pekerja (didominasi orang Jawa) untuk sebagian dikirim ke luar Jawa dan ke Burma (Myanmar), Muangthai (Thailand), Vietnam, Singapura, dan Malaya.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1001193214/008e8ee7b2d7c62f7b23823dc0f2f91a/JPEG_2000.png" />
         <pubDate>2024-03-10 09:02:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2912559296</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Naomira Jasmine Anwari (21)</title>
         <author>njasminea0204_</author>
         <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2916981923</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p>Untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan, pemerintahan militer Jepang di Jawa mewajibkan petani menyerahkan sebagian hasil panen padi. Kantor Urusan Pangan di bawah Gunseikanbu menghi­tung jumlah padi yang harus diserahkan oleh masing masing shu (provinsi) sesuai dengan jumlah produksi zaman sebelum perang. Kemudian pemerintahan shu mengalokasikan jumlah itu ke kabupaten di bawahnya. Kabupaten lantas menga­lokasikannya ke kecamatan untuk kemu­dian dihitung ke desa. Setiap desa menga­lokasikannya ke petani. Di daerah subur kadang-kadang persentase yang diwajib­kan ke masing-masing petani mencapai 30-50 % dari panen.</p><p><br></p><p>Ukuran sawah yang digarap oleh petani Jawa rata-rata kecil karena kurang dari 0.5 hektare. Hasilnya pun hampir semua untuk konsumsi sendiri. Mereka hanya menjual sebagian hasilnya untuk membayar pajak dan membeli kebutuhan sehari-hari. Kalau dipaksa menjual 30-50% ke pemerintah militer Jepang, mere­ka pasti mengalami kekurangan pangan. Mengapa jatah penyerahan­nya begitu tinggi? Kemungkinan besar prosentase menjadi semakin besar di tingkat bawah. Pemerintah daerah di tiap tingkat khawatir  jatahnya tidak dipenuhi. Karena itu, mereka menambah jatah yang diperintahkan dari atas. Yang jelas, di tingkat paling bawah, yaitu di desa, jatahnya jauh lebih besar dibanding yang ditentukan oleh Kan­tor Urusan Pangan di pusaHarga padi yang diwajibkan jual ke pemerintah militer sangat murah. Meskipun makanannya kurang, petani tidak bisa membeli kembali karena hampir tidak ada beras yang dijual di pasar. Karena itulah para petani berusaha menyembunyikan padi mereka semak­simal mungkin. Contohnya, mereka melakukan panen pada tengah malam agar aparat tidak bisa mengetahui hasil panen. Di lain pi­hak, kepala desa giat mengontrol kegiatan petani dan mewajibkan petani melapor bila hendak panen. Panen diawasi oleh petugas dan pembeli padi.</p><p><br></p><p>Padi yang dipotong langsung ditimbang di sawah dan jatah wajib serah padi langsung dibawa ke tempat pengum­pulan padi. Beras yang diterima Kantor Urusan Pangan tentara militer Jepang sebagian diedarkan di pasar di daerah perkotaan un­tuk kebutuhan penduduk dan sisanya diserahkan untuk konsumsi pasukan militer.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2167702289/8634479f010ee41daa9d1394cb1e70b3/8286752b_fd6a_40cf_b7c5_a2d5c1e25229.mp4" />
         <pubDate>2024-03-13 09:08:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2916981923</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Wardah Rihaddatul Hanifah (35)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2917390823</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tonarigumi</strong>&nbsp;(<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jepang">Jepang</a>:&nbsp;隣組) atau dalam&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia">Bahasa Indonesia</a>&nbsp;artinya "kerukunan tetangga" (sekarang di&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>&nbsp;disebut sebagai&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="mw-redirect" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Rukun_Tetangga">Rukun Tetangga</a>) merupakan sebuah struktur kemasyarakatan yang dibuat oleh tentara pendudukan&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kekaisaran_Jepang">Kekaisaran Jepang</a>&nbsp;selama&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II">Perang Dunia II</a>, khususnya di&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Manchuria">Manchuria</a>,&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="mw-redirect" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Korea">Semenanjung Korea</a>,&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="new" href="https://id.m.wikipedia.org/w/index.php?title=Kepulauan_Sakhalin&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kepulauan Sakhalin</a>,&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Asia_Tenggara">Asia Tenggara</a>, termasuk Indonesia juga memiliki sistem ini.</p><p>Setiap satu&nbsp;<em>tonarigumi</em>&nbsp;terdiri atas 10 sampai 20 kepala rumah tangga, diketuai oleh&nbsp;<em>tonarigumichō</em>&nbsp;dan diangkat oleh&nbsp;<em>kuchō</em>&nbsp;(<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="mw-disambig" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Lurah">lurah</a>). Setiap&nbsp;<em>tonarigumi</em>&nbsp;harus melaksanakan&nbsp;<em>tonarigumijōkai</em>&nbsp;(rapat berkala) yang harus dilaporkan sebulan sekali (di Indonesia disebut "<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Arisan">arisan</a>"). Setiap lima sampai enam&nbsp;<em>tonarigumi</em>&nbsp;kemudian disatukan dalam satu struktur yang lebih tinggi, yang disebut&nbsp;<em>chonaikai</em>&nbsp;atau rukun kampung (sekarang di Indonesia disebut sebagai&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" class="mw-redirect" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Rukun_Warga">Rukun Warga</a>).&nbsp;<em>Chonaikai</em>&nbsp;itu dahulu sebenarnya ukurannya adalah satu kampung atau satu desa dan setiap&nbsp;<em>chonaikai</em>&nbsp;harus melakukan&nbsp;<em>azajōkai</em>&nbsp;(rapat berkala tingkat&nbsp;<em>chonaikai</em>) setiap sebulan sekali</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2376216687/572cabe0a27d9b8450a42da8e2314b2d/sejarah_Tonarigumi_.png" />
         <pubDate>2024-03-13 14:25:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2917390823</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aida Fitriani (02)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2921402774</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada 9 Maret 1942 mulai pendudukan Jepang di Indonesia. Mula-mula kedatangan Jepang di Indonesia disambut gembira oleh rakyat Indonesia. Simpati bangsa Indonesia dapat dipahami dengan alasan karena </p><p>1) Jepang merupakan bangsa Asia pertama yang mampu mengalahkan Barat pada awal abad 20. Kemenangan Jepang atas Barat itu menimbulkan kekaguman pada bangsa Indonesia.   </p><p>2) Alasan kedua karena gagasan tentang persemakmuran Asia Timur Raya merupakan cara yang cukup realistis untuk menghadapi Barat karena bangsa Indonesia sudah cukup lama berjuang mengusir penjajah, tetapi tidak berhasil.  </p><p>3) Alasan ketiga karena percaya pada ramalan Jayabaya. Menurut Budi Susanto, tidak mudah berpropaganda untuk memobilisasi dan menguasai massa rakyat di wilayah Hindia Belanda  (Nederland Oost Indies/NOI) yang sangat beragam latar belakang budayanya.</p><p>Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pengibaran Bendera Merah Putih, merupakan awal pilihan politik Jepang yang mengena bagi psikologis rakyat Indonesia meskipun pada akhirnya hal itu dilarang sebab selama penjajahan Belanda hal itu tidak diperbolehkan.</p><p>Mobilisasi dilakukan oleh Jepang juga dalam masalah kesenian. Masa itu, ada sebuah badan, Jawa Eiga Kosya yang bertugas mengumpulkan dan menyusun lakon/sandiwara yang berisi semangat zaman. Jawa Eiga Kosya juga mempunyai rombongan sandiwara yang dipimpin oleh Anjar Asmara. Rombongan sandiwara tesebut mengadakan pertunjukkan keliling Jawa—Madura.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2380154438/03a6f11eff953ac94e678cb4975e5c45/Brown_and_Cream_Scrapbook_Ancient_History_Infographic.jpg" />
         <pubDate>2024-03-16 15:16:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2921402774</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>njasminea0204_</author>
         <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2930938870</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2167702289/c592ef6495e744d6b34c67a0269c242d/Black_White_Simple_Background_School_Page_Border_A4__Landscape__20240320_171317_0000.jpg" />
         <pubDate>2024-03-23 14:13:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2930938870</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dayinta W. Sampurna (10) dan Naomira J. Anwari (21)</title>
         <author>njasminea0204_</author>
         <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2930939051</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2167702289/4d949210480225468f7bc5c93c6e400c/20240314_085823_0000.png" />
         <pubDate>2024-03-23 14:13:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2930939051</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ratu Meutia Anfasa Syakieb (27)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2931545320</link>
         <description><![CDATA[<p>Kondisi Masyarakat Indonesia pada masa invasi kekaisaran Jepang, mulai tahun 1943-1945, cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak, rakyat Indonesia mengalami banyak kekejaman dan penyiksaan yang tidak manusiawi. Terlebih lagi, Jepang sangat lihai mengambil hati rakyat Indonesia melalui kebijakan-kebijakan taktis yang dalihnya untuk mencapai kemakmurkan rakyat namun nyatanya hanya sebagai cara untuk membantu kemiliteran Jepang yang kala itu menghadapi peperangan. </p><p><br></p><p>Beberapa taktis tersebut diantaranya ialah dengan mengubah sistem pendidikan di Indonesia yang awalnya dualis pada masa penjajahan Belanda menjadi sistem populis, mengadakan pusat kebudayaan yakni Keimin Bunkei Shidoso dimana seniman diberi pengawasan dalam berkarya, Jugun Ianfu atau perbudakan seksual yang awalnya diming-imingi dengan janji akan disekolahkan secara gratis dan bekerja, sistem tonarigumi sebagai basis pelatihan militer warga desa untuk membantu pembelaan Jepang melawan sekutu pada Perang Dunia ke-II, dan masih banyak lagi.</p><p><br></p><p>Namun demikian, terjadinya hal ini juga disebabkan masyarakat Indonesia sendiri yang pada saat itu kurang mawas diri atas  taktik yang digencarkan, mudah terkelabui, dan mudah terbawa arus propaganda Jepang. Jepang penuh taktis dapam memikat hati rakyat Indonesia.  Seperti halnya dalam bidang pendidikan, Jepang memberlakukan sistem populis atau membuka sekolah bagi seluruh golongan masyarakat, namun pada akhirnya jumlah sekolah mengalami penurunan secara drastis. Selain itu, Jepang banyak menanamkan ideologi mental kebangsaan dengan diberlakukannya tradisi menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, senam Taiso, mengibarkan bendera, dll. Seharusnya rakyat Indonesia memiliki kesadaran penuh berjiwa nasionalisme sehingga perlu mempertahankan kebangsaan dengan tidak menjunjung lagu nasional atau bendera negara lain.</p><p>Atau dalam hal sosial budaya, Jepang membentuk pusat kebudayaan Keimen Bunkei Shidoso yang dalihnya sebagai wadah pengembangan kesenian namun nyatanya membatasi ruang gerak bagi seniman yang karyanya bertentangan dengan Jepang.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2167696994/63e121fe3174fddc13c5389fef001ffc/Beige_Vintage_Old_Paper_Ephemera_Carriage_Stationery_A4_Document.png" />
         <pubDate>2024-03-24 18:55:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/gwenparkers/kelompokduaxidua/wish/2931545320</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
