<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Membuat CERPEN_XI PK 1 by Indah Husna Al Hidayah</title>
      <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen</link>
      <description>Buatlah ragangan cerpen berdasarkan gambaran ALUR</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-11-13 02:04:39 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-03-03 07:25:10 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/8.0/png/1f680.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>PENGUMUMAN</title>
         <author>indahhusna190299</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223637620</link>
         <description><![CDATA[<p><br>Hari ini minimal mengumpulkan kerangka CERPEN</p><ol><li><p>pengenalan (orientasi)</p></li><li><p>konflik</p></li><li><p>penyelesaian</p></li></ol><p>atau boleh langsung berbentuk paragraf, yang penting hari ini ada progres pembuatan cerpen. Semangat!!!<br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 05:54:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223637620</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PERJALANAN SANTRI PEMALAS (Habibie)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223673259</link>
         <description><![CDATA[<p>Di sebuah kota yang panas pakai buaggett dan terdegar suara bising hiruk-pikuk perkotaan, ada seorang santri bernama Sholihin. Sholihin adalah anak yang ceria, membara dan meyala, akan tetapi dia itu pemalas dalam pelajaran formal namun semagat dalam pembelajaran agama. Setiap sepertiga malam, ia bangun sebelum subuh, sholat tahajjud, membersihkan diri, dan bersiap menuju musholla nurul anwar. Di sana, ia belajar mengaji fathul qorib, tafsir, hadits, dan berbagai ilmu agama lainnya.  Sholihin memiliki mimpi besar. Ia ingin menjadi pendai dan hafidzul qur’an yang bisa mengajarkan ilmu agama ke seluruh penjuru negeri. Setiap malam, sebelum tidur, setelah membaca surah al-mulk, ia selalu berdoa kepada Sang Kholik agar diberikan kemampuan untuk menggapai mimpinya.</p><p>Suatu ketika ia melihat brosur sebuah lomba, dan ia pun tertarik dengan perlombaan tersebut, yakni khitobah, yang diadakan oleh UIN maulana malik ibrohim, diapun lagsung mendaftarkan diri untuk megikuti perlombaan tersebut, deangan adanya perlombaan tersebut membuat, Sholihin yang notabenetnya pemalas dan ceria akhirnya bersemangat dan rajin dalam berlatih khitobah, </p><p>Dikarena sholihin belum bias mentranslate secara sempura, akhirnya ia meminta teks dai tersebut ditranslate oleh gurunya, yakni ustadz huda, ustadz huda adalah guru bahasa arab yang sagat perfect, walaupun beliau nampaknya seperti guru biasaa, tapi jagan salah, beliau telah menempuh pedidikan di Negara arab selama sebelas tahun, jadi kemampuan beliau dalam bahasa arab tidak perlu ditanyakan lagi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:20:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223673259</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gol Terakhir Untuk Pembuktian</title>
         <author>rofidzein</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223696662</link>
         <description><![CDATA[<p>Di sudut sebuah madrasah yang berdiri anggun di antara hijau persawahan, ada seorang siswa bernama Nafi. Bukan siswa biasa, Nafi adalah seorang anak dengan sejuta mimpi, namun di matanya tersimpan lelah yang jarang dibaca orang lain. Hobinya bermain futsal telah membawanya ke banyak lapangan, baik di dunia nyata maupun dalam khayalannya. Baginya, futsal bukan hanya permainan, itu adalah napas kedua setelah ia mengucap salam dan doa di pagi hari. Namun, ada satu hal yang terus mengganjal di hati Nafi, yaitu keinginannya untuk membawa nama madrasahnya dalam turnamen futsal selalu terbentur tembok bernama penolakan. Entah sudah berapa kali ia mengajukan proposal, tetapi hasilnya selalu sama. Proposal itu hanya berakhir sebagai tumpukan kertas berdebu di sudut meja ruang guru.</p><p><br></p><p>Suatu pagi yang cerah, Nafi dan teman-temannya sedang berdiskusi di kafet(kantin) madrasah. “Naf, kenapa nggak nyoba lagi? Kali aja yang kali ini diterima,” ujar Munip, sahabat setianya yang juga anggota tim futsal.</p><p>Nafi menghela napas panjang.</p><p>“Udah berapa kali, Nip? Empat kali? Lima kali? Jawabannya selalu sama, Tidak boleh. Rasanya capek juga kalau usaha kita nggak pernah dihargai.”</p><p>Munip tersenyum simpul, mencoba menyuntikkan semangat.</p><p>“Tapi kalau kita berhenti sekarang, siapa yang tahu kalau kita bakal sukses?”</p><p>Kata-kata itu menggantung di udara. Nafi memandang langit biru yang membentang, seperti mencari jawaban dari pertanyaan yang seolah tak pernah usai.</p><p><br></p><p>Seminggu kemudian, Nafi kembali mengetuk pintu ruang waka dengan membawa proposal yang telah ia susun semalaman. Kali ini, ia merasa yakin. Proposal itu tidak hanya mencantumkan anggaran, tetapi juga rencana matang untuk membawa nama madrasah ke tingkat yang lebih tinggi. Namun, seperti yang sudah-sudah, wajah waka kesiswaan hanya menunjukkan senyum tipis.</p><p>“Maaf, Nafi. Dana kita terbatas. Kita harus prioritaskan hal lain yang lebih penting, seperti lomba-lomba akademik.”</p><p>Kata-kata itu terasa seperti pisau tajam yang menusuk harapan Nafi. “Tapi, Bu... futsal juga bisa jadi kebanggaan madrasah kita. Kita bisa tunjukkan kalau siswa madrasah nggak cuma jago ngaji, tapi juga bisa bersaing di olahraga.”</p><p>Ibu Waka hanya menggeleng pelan.</p><p>“Saya paham semangatmu, Nafi. Tapi keputusan ini sudah final.”</p><p>Nafi keluar dari ruangan itu dengan langkah lemas. Di belakangnya, suara azan zuhur menggema, seolah mencoba menenangkan gejolak hatinya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:36:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223696662</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jejak Pilihan (Devano Irza)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223700104</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>ORIENTASI</strong></p><p>Senja menyapa Desa Tegal Besar dengan warna jingga yang perlahan menyelimuti langit. Di sebuah rumah sederhana, seorang pemuda bernama Samsuri duduk galau di beranda rumahnya.</p><p>Anak sulung dari tiga bersaudara itu memikul tanggung jawab besar sejak ayahnya meninggal dua hari yang lalu. Sebagai tulang punggung keluarga, Samsuri mengorbankan impian masa mudanya untuk menjadi arsitek demi membantu ibu dan adik-adiknya.</p><p>Saat ini, Samsuri bekerja sebagai buruh tani di sawah Pak Timothy Ronald, crazy rich di desa itu. Setiap hari ia memeras keringat di bawah terik matahari, meski hatinya masih menyimpan keinginan untuk melanjutkan pendidikan di kota.</p><p>Suatu malam, Dani, sahabat karib Samsuri, datang membawa kabar gembira. "Suri, aku baru saja diterima beasiswa di Universitas Jember! Kau ingat, kita dulu berencana melanjutkan kuliah bersama. Kau juga bisa mencoba, Suri!"</p><p>Samsuri hanya tersenyum mewing. "Ngga bisaa, Dani. Tanggung jawabku terlalu besar. Kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga ibu dan adik-adikku?"</p><p>Namun, Dani tidak menyerah. "Suri, kau punya bakat luar biasa. Kau pantas mendapat lebih dari ini. Jangan biarkan mimpimu mati</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:38:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223700104</guid>
      </item>
      <item>
         <title>RESAH JADI LUKA</title>
         <author>dedenadzdzin27</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223710498</link>
         <description><![CDATA[<p>Di setiap masa yang telah ku lewati, aku sering merasa sesak, seperti ada beban yang menimpa, entah dari mana asalnya. Resah datang tanpa bisa diraba, tiba-tiba menyusup ke dalam jiwa, seperti kabut yang bergulat di sekitar, sulit dihindari.</p><p>Di sekolah, ada sesuatu yang mengganjal, waktu terasa lama sekali. Ketika jam menunjukkan pukul 9 pagi rasanya sudah berjam-jam aku duduk di bangku kesayangan. Rasa bosan mulai melanda, dengan serius aku menyimak penjelasan guru tapi tidak sengaja mengalihkan perhatian dengan membuka ponsel, berharap ada notif atau kabar yang bisa mengalihkan perasaan kosong di dada. Tetapi tak ada. Hanya layar hitam wallpaper hitam yang memantulkan wajah seoarang badut.</p><p>Aku mencoba berpikir positif. Rasa ini hanya sementara. Masih ada hari esok atau lusa untuk merasa lebih baik. Namun, setiap kali aku berusaha menenangkan diri, ada suara yang terus berbisik dalam pikiran. <em>Evaluasi lagi? Mengapa kau selalu merasa seperti ini?. </em>Lelah dengan pertanyaan itu, lebih Lelah dengan perasaan resah yang bergelombang, masuk ke dalam hati tanpa izin.</p><p>Sesekali aku tertidur lelap di kelas, angin sepoi-sepoi membuat rasa ngantuk bergejolak. Setelah setengah jam tidur aku dikagetkan dengan “Hey, bangun!” suara Arvin mengkagetkanku. Aku sedikit marah bercampur malu karena tidur sambil ngiler. “Ada apa vin?” tanyaku. Arvin menjawab dengan mimik wajah penasaran “Kamu kenapa? Kok seperti orang <em>overthinking </em>aja.” Aku sedikit kaget karena tidak menyangka Arvin akan bertanya seperti itu, padahal aku bersikap biasa saja di kelas. “tidak apa-apa.” Jawabku mencoba tersenyum lebar. Arvin mengerutkan kening “apa iya? Capek? Ceritain dong.” Serontak aku berlari menuju gerbang sekolah untuk meninggalkan Arvin karena bel sekolah sudah berbunyi.</p><p>Arvin dengan sifat cerdiknya yang tahu bahwa aku tipe orang yang suka cerita via WhatsApp dia memaksaku untuk menceritakan masalahku. Aku tidak menjawabnya bahkan tidak membaca pesan dia. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 aku masih terlena dengan game dan berharap ada notif dari<em> special women</em>. “Nak.. cepat mandi” ucap orang tuaku dengan nada tinggi. “Yayaya..” jawabku dengan nada sedikit <em>bad mood</em>. Setelah mandi aku kembali melihat pesan WhatsApp, “Wow... apa ini mimpi?” ucapku dengan bahagia. <em>special women </em>kembali mengirimkan pesan, tapi bahagiaku langsung menghilang. “Maaf ya aku gabisa melanjutkan ini semua.” Ucapnya. Aku hanya bisa termenung meretapi nasib. Masalah apalagi yang melandaku ini.</p><p>Tiba-tiba ibuku datang membuka pintu kamar lalu bertanya “kenapa kamu teriak? Kamu baik-baik saja kan?” Aku mencoba tersenyum. "Iya, aku baik-baik saja. Hanya... kadang merasa capek, gitu." Jawabku. Ibu dengan ekspresi curiga. "Capek? Maksudnya? Kamu nggak bisa sembunyiin apa yang kamu rasain. Ibu bisa lihat kok ada yang mengganjal di kamu. Ceritain dong." Aku menunduk, merasa sedikit cemas. Ia memang merasa resah, tapi entah bagaimana cara menjelaskan perasaan yang begitu kabur itu. Ia takut jika ia mengungkapkan perasaan itu, orang lain justru akan melihatnya sebagai orang yang lemah.</p><p>"Aku nggak tahu, Bu. Rasanya semua jadi semakin berat. Aku... takut kalau-kalau aku nggak bisa menghadapinya. Semuanya... terasa mencekik," kataku perlahan. Ibu diam sejenak, lalu meraih tanganku. "kamu nggak sendiri. Kalau kamu terus memendamnya, rasa itu cuma akan semakin dalam dan jadi luka. Ibu tahu, nggak mudah untuk bicara tentang perasaan, tapi itu bisa jadi langkah pertama untuk sembuh."</p><p>Aku terdiam, merasa seakan ada sesuatu yang menyentuh hati. Luka itu sudah lama membekas, namun Aku selalu berusaha mengabaikannya, berharap itu akan hilang dengan sendirinya. Tapi, kata-kata Ibu seperti membuka pintu bagi semua perasaan yang selama ini Aku pendam.</p><p>Sejak saat itu, Aku mulai berani berbicara tentang apa yang menggangguku. Aku bercerita kepada ibu tentang rasa takut yang selalu membayangi hidupku. Ibu, yang selama ini tampak begitu kuat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka duduk bersama di ruang tamu yang sederhana, berbincang dalam keheningan malam yang sejuk.</p><p>"Kenapa kamu nggak pernah bilang?" tanya ibu, suaranya penuh kelembutan.</p><p>"Karena aku takut. Takut ibu jadi khawatir, takut aku bikin ibu susah," jawabku dengan suara gemetar.</p><p>Ibu mengelus rambutku dengan lembut. "Kamu nggak perlu takut. Ibu selalu ada untuk kamu. Apapun yang terjadi, kita akan melalui ini bersama. Rasa resah itu memang berat, tapi bukan berarti kamu harus menanggungnya sendirian."</p><p>Aku menatap ibu, merasa ada ketenangan yang mulai merasuk ke dalam diriku. Perlahan, rasa resah yang selama ini menghantui mulai sedikit mereda. Meski Aku tahu itu tidak akan hilang begitu saja, setidaknya ada kelegaan saat Aku tahu bahwa Aku tidak sendirian.</p><p>Hari-hari berlalu, dan Aku berusaha untuk lebih terbuka dengan orang lain. Aku mulai berbicara lebih banyak tentang apa yang Aku rasakan, tak lagi membiarkan resah itu menumpuk di dalam hati. Namun, luka yang ditinggalkan oleh masa lalu masih terasa. Setiap kali Aku melihat <em>special women</em> dalam mimpi, atau mendengar cerita orang lain tentang dunia percintaannya, ada rasa perih yang menggores hati. Aku merasa kehilangan, meski tidak bisa mengungkapkan secara jelas apa yang Aku rasakan.</p><p>Aku tahu, luka itu tidak akan hilang dengan cepat. Kadang, rasa sakit itu datang begitu saja, tanpa peringatan. Namun, Aku juga belajar bahwa resah yang dibiarkan terlalu lama hanya akan menjadi luka yang lebih dalam. Mungkin untuk sembuh membutuhkan waktu, dan mungkin luka itu tak akan pernah benar-benar hilang, tetapi Aku juga tahu bahwa Aku memiliki orang-orang yang peduli dan mendukungku.</p><p>Akhirnya, Aku mengerti bahwa resah yang selama ini Aku rasakan adalah bagian dari proses penyembuhan. Setiap kali Aku membuka diri, luka itu sedikit demi sedikit mulai sembuh. Aku tidak perlu takut lagi untuk merasakannya, karena Aku tahu bahwa meskipun ada luka, ada juga orang baru yang bisa mengobatinya.</p><p>Dan mungkin, itulah yang selama ini Aku cari: untuk belajar menerima luka, untuk hidup bersama dengan ketakutan, dan untuk mengerti bahwa dalam setiap resah yang datang, ada harapan yang tersembunyi di baliknya.</p><p><br></p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3056816075/1dd8bfd60cd9710e2b6f6ed3db4b9179/WhatsApp_Image_2024_12_07_at_10_42_32_75e54590.jpg" />
         <pubDate>2024-11-19 06:45:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223710498</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MALAM 1 SURO...XIXIXIIXI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223711429</link>
         <description><![CDATA[<p>DI… Kesunyian… malam …ini…, nahloh pasti takut kan lu pada aowkoakowk,,. Di malam yg sunyi di pngabdi s3tan itu memang serem tapi ada yg ga kalah serem yaitu….</p><p>&nbsp;</p><p>Di pagi yang cerah tepatnya pada hari kamis 16 april 1999, Hasan akan berangkat melaksanakan kegiatan which is salah satu wishlist dia yang ingin banget dia lakukan yakni “nyunset + kemah di Watu Ulo beach”. Hasan akan berangkat dengan bbrp temannya yakni ada Fairus,RahmatAHALU,shakur,dan suttur. Mereka berlima berencana akan kumpul di tikum(TITIKKUMPUL) yg mana tikumnya di rumahnya si kembar yakni si shakur dan suttur pada jam 2 siang,kenapa di sana? &nbsp;karna paling deket dgn pantainya.</p><p>&nbsp;</p><p>Setelah makan siang hasan mau pamit ke nenek nya {eitss bentar,kemana ortu si hasan??apa Yteam Pyatu? Yaps benar ortunya meninggal sudah 18 tahun lalu sejak hasan kelas 1 sd}&nbsp; “nek, aku tarlagi berangkat yaa..ngumpul di rumahny shakur dlu soalnya..” izin hasan ke nenek, “ya le..tp yakin ta mau ngemah ndek watu ulo? Saiki malem 1 suro lo le..” jawab nenek sambal mengingatkan ke cucu tersayangnya</p><p><br/></p><p>[belom slesai y bu ini...]</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3056591210/1506b4bb4debc68ba60d61bb1a1d93eb/dayatbluescreen.JPG" />
         <pubDate>2024-11-19 06:45:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223711429</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223712895</link>
         <description><![CDATA[<p>"Apa-apaan ini kakek tua!!, kenapa kau mengurungku dalam genangan air ini" protes anak barmata giok itu.Kakek Lin hanya menatap manik mata anak tersebut, kemudian pergi meninggalkannya sambil berkata "jika kau memang seorang dewa maka ciptakanlah kebebasanmu sendiri".</p><p>                                                                                                  Pagi hari sebelumnya…&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;                                   Suara kicauan burung bersamaan dengan cuaca yang cerah menciptakan harmoni yang menghiasi pagi hari.Cahaya matahari menembus ke sela-sela jendela rumah, Sebagian orang masih terlelap dengan mimpi indahnya dan sebagian telah mamulai aktivitasnya masing-masing.Pagi itu merupakan pagi yang tenang dan indah bagi rakyat desa KOKAO, dengan perasaan yang gembira Dory dan Brogy memulai hari mereka dengan berlari keatas bukit desa.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3056624350/5e0ced6ecfb40cc51b3d02e66a6b985a/dayat_biru.jpg" />
         <pubDate>2024-11-19 06:46:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223712895</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Simpang Masa Lalu</title>
         <author>farisfarhan612</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223715152</link>
         <description><![CDATA[<p>Memang Tuhan menciptakan manusia untuk hidup saling berdampingan, sebagaimana pelangi diciptakan untuk menyatukan warna – warna meski tak benar – benar bersama. Sama halnya dengan warna – warni pelangi, ini kisahku, antara aku dan dia, dimana dua jiwa bertemu di simpang perbedaan. &nbsp;Aku tau, bahwa kami tak selamanya sejalan, layaknya arus sungai yang mengalir deras dan meliuk – liuk tajam mengikuti jalan, namun tetap mengalir bersama.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:48:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223715152</guid>
      </item>
      <item>
         <title>DANISH APRILLIAN PUTRA FITYA_09</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223715342</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>TANGGA KEHIDUPAN</strong></p><p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Hari itu, 2 April 2008. Matahari terbit lebih cerah dari biasanya. Di sebuah rumah kecil yang sederhana, seorang ibu tengah merasakan kegembiraan yang tak terhingga. Di ruang bersalin yang penuh doa, suara tangisan pertama seorang bayi pun terdengar. Itu adalah tangisan dari seorang anak yang baru saja lahir ke dunia, mengisi hidup orang tuanya dengan harapan dan kebahagiaan.</p><p><br/></p><p>"Selamat, Bu. Ini bayi laki-laki Anda," ujar perawat dengan senyum lebar.</p><p><br/></p><p>Ibu itu hanya bisa terdiam, menatap sang bayi yang terbaring di tangannya. Matanya penuh air mata bahagia. "Alhamdulillah ya Allah…" gumamnya. Bayi kecil itu, dengan tubuh mungil dan kulit yang masih merah, menjadi kebahagiaan yang tak terhingga bagi keluarga kecil ini.</p><p><br/></p><p>Bayi itu diberi nama Danish, yang berarti "Anak laki-laki yang berpengetauhan luas" dalam bahasa Sanskerta. Nama itu dipilih karena ibunya berharap Danish akan menjadi anak yang bisa memiliki pengetahuan luas dengan harapan dapat menerangi kehidupan orang lain.</p><p><br/></p><p>Waktu berlalu begitu cepat. Kini Danish sudah berusia 2 tahun. Ia sudah bisa berjalan meskipun kadang-kadang jatuh dan menangis. Setiap kali jatuh, ibunya selalu ada untuk menghiburnya dan membimbingnya bangkit lagi. "Cup cup cup… anak Bunda nggak boleh nangis, nanti gantengnya hilang loh…" kata ibu dengan senyuman lembutnya.</p><p><br/></p><p>Kini Danish yang berusia 3 tahun “Danish, sudah siap untuk sekolah?” tanya ayahnya suatu sore ketika mereka sedang duduk bersama di ruang tamu.</p><p><br/></p><p>Danish mengangguk dengan penuh semangat. "Iya, Yah. Danish mau belajar banyak, supaya jadi pintar seperti Ayah," jawabnya polos. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:48:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223715342</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Prima najmi zhuliant</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223717832</link>
         <description><![CDATA[<p>&nbsp;</p><p>Anak yang penakut, cengeng, dan pemalu, bahkan pergi ke kamar mandi saja dia masih di antar oleh kakak nya. Alan namanya, anak yang berumur 8 tahun dan masih duduk di bangku SD, tak seperti teman-teman sebaya nya asik bermain di luar, dia lebih suka menghabiskan waktunya di kamar dengan membaca buku cerita dan menyusun lego. Saat di sekolah pun, dia hanya duduk di meja dan membaca buku cerita yang ia bawa dari rumah. Jauh berbeda dengan si kakak, Lala namanya, gadis ceria berumur 17 tahun, kakak alan jauh lebih aktif dan ekstrovert, hobi mereka pun sangat berseberangan, jika Alan menghabiskan waktu untuk menyusun lego, maka kakak alan menghabiskan waktu untuk menaklukkan puncak gunung.</p><p>“Alan...” mama Alan memanggil dari dapur</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:49:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223717832</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ahmad Haafidh Zuhdi Aufaa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223722342</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Luka Tak Terlihat</strong></p><p>Sore itu, langit gelap menurunkan hujan. Di teras rumah, Maimunah duduk memeluk lutut. Air matanya bercampur dengan tetes hujan yang menderas. Hatinya seperti dihujam ribuan jarum tajam. Kecewa, marah, dan kesedihan berbaur menjadi satu.</p><p>maimunah baru saja menemukan kenyataan pahit: Agus, orang yang selama ini dicintainya dengan sepenuh hati, memilih pergi bersama orang lain. Padahal, Maimunah telah memberikan segalanya, kepercayaan, dan cinta yang tanpa syarat. Mereka telah berjanji untuk saling setia, namun semua itu hanya menjadi kenangan manis yang kini terasa palsu.</p><p>Rasa sakit di hati Maimunah tak bisa terlukiskan. Ia mengingat kembali semua janji yang pernah diucapkan Agus. Janji-janji itu kini hanyalah bayangan kosong yang menghantui setiap pikirannya. Di balik senyumnya yang lembut, Maimunah belajar menyembunyikan luka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:52:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223722342</guid>
      </item>
      <item>
         <title>DI BALIK JENDELA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223722779</link>
         <description><![CDATA[<p>Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh hamparan sawah hijau, hiduplah seorang remaja bernama Ezza. Ezza memiliki kebiasaan unik setiap sore, ia duduk di dekat jendela rumahnya, memandangi langit yang berubah warna saat matahari terbenam. Jendela itu bukan hanya sekadar pembatas antara dalam dan luar rumahnya, tetapi juga menjadi portal ke dunia impian dan harapan.</p><p>Hari itu, seperti biasanya, Ezza duduk sambil meneguk secangkir kopi hitam. Dia merenungkan betapa sunyinya hidup ini. Teman-teman sebayanya telah pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, sementara dia memilih untuk tinggal di desa dan membantu orang tuanya bertani. Meski begitu, hatinya selalu terisi dengan rasa ingin tahu tentang dunia luar. Dia sering mendengar cerita dari para wisatawan yang lewat, tentang gedung-gedung tinggi, keramaian kota, dan kehidupan yang serba modern.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:53:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223722779</guid>
      </item>
      <item>
         <title>remaja penuh cerita (Dawam Alfarabbi)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223724993</link>
         <description><![CDATA[<p>razel, razel adalah seorang anak pertama dari 2 bersaudara. ia tinggal di sebuah desa yang tidak jauh dari perkotaan, sekarang razel masih kelas 3 sma, sekolahnya tidak jauh dari rumahnya, mungkin 15 menit sudah sampai di sekolahnya, </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:54:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223724993</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Apa yang kamu cari?</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223725228</link>
         <description><![CDATA[<p>Suasana di hari itu panas seperti hari-hari sebelumnya, wajar saja saat itu memang dalam keadaan musim kemarau. Tetapi, entah mengapa rasanya suasana saat musim hujan disini malah lebih panas dari musim kemaraunya. Sebagian orang juga mengatakan bahwa ini adalah kota yang kotor, karena memang banyak sampah berserakan disini. Penduduk sekitar sini sepertinya belum terbiasa untuk membuang sampah di tempatnya, padahal banyak tempat sampah yang sudah disediakan oleh pemerintah di sekitar jalan-jalan.</p><p>“Sepertinya aku harus menyesuaikan dengan keadaan di lingkungan ini. Mau bagaimana lagi aku sudah memutuskan untuk santri di kota ini.”</p><p>Namaku adalah Eren Yayuk, aku berasal dari desa di kota sebelah. Kehidupanku sekarang mulai berubah sejak aku memutuskan untuk mondok di kota ini. Aku adalah anak yang tidak teralalu pintar, mukaku juga tidak menjanjikan bahkan temanku bilang kalau mukaku mirip orang prindapan. Walaupun begitu aku selalu berusaha berbuat baik kepada teman-temanku.</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:54:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223725228</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Malioboro at Midnight</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223726916</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Serenity, terdengar remeh namun bak menggenggam bumi dan langit dalam satu genggaman. Mencari apa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana dan siapa&nbsp;itu ketenangan, adalah hobi yang telah menjadi pekerjaan primer para manusia. Manusia .........</p><p>“<em>Woi! lagi bengongin apa?.”</em> teriak Ian sambil memukul memecah lamunan zie.</p><p><em>“apasii lu, ganggu bgt jadi orang, kayak rentenir!.”</em></p><p><em>“yee, gak gtu juga kali.. hahaha.”</em></p><p><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em>Ian dan Zie, dua sahabat yang tak terpisahkan bagai matahari dan bulan. Ditemani secangkir kopi ditengah bisingnya Djoga, diselimuti dinginnya angin sepoi-sepoi kendaraan, dan gemerlap bulan bintang. Mereka berdua menjalani rutinitas mereka yang bisa dibilang tidak bermanfaat. Tapi bagi mereka berdua, rutinitas itu bagai O<sup>2</sup> yang tanpa itu, manusia bisa mati.</p><p><br/></p><p>/Arkhhh tolonggg akuu.... gmna ini.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:55:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223726916</guid>
      </item>
      <item>
         <title> Menyerah bukanlah pilihan (Syafiq)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223727139</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p>“Awas jatuh” Kata Saha kepada adiknya Abdil ketika hendak mengambil permen di atas kulkas, “Iya Kak” Kata si Abdil adik keduanya. Saha adalah anak laki-laki pertama dari tiga bersaudara, ia hidup bersama ibu, dan adik-adiknya. Saha dikenal orang-orang dikampungnya sebagai anak yang baik, santun, suka menolong, dan dermawan. Ayahnya sudah wafat 3 tahun yang lalu ketika ia masih duduk di kelas 1 smp. Saha tinggal di rumah sederhana peninggalan ayahnya, walaupun hidup sangat sederhana Kehidupan Saha dan keluarganya selalu terasa harmonis dan penuh kehangatan. “Nak, tolong ambilkan kain hijau di lemari ibu!” kata ibu kepada Saha, “Iya bu” jawab Saha dengan sopan, “disebelah mana bu?” tanya Saha, “Di <em>sekat</em> paling bawah” jawab ibu, “yang mana? Yang ini?” tanya Saha, “Iya” Jawab ibunya. Sepeninggalan ayahnya, ibunya kini bekerja sebagai penjahit baju dirumahnya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:55:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223727139</guid>
      </item>
      <item>
         <title>CINTA BERAWAL DARI TERPAKSA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223728992</link>
         <description><![CDATA[<p>Waktu begitu cepat dan realistis yang mengisi pikiran suasana. Aura ruangan perpustakaan begitu sunyi, hanya deru mesin pendingin yang menemani yola menyelesaikan tugas akhir dan juga ditemani oleh penjaga perpustakaan yang tiap hari merawat buku -buku dan mengawasinya. Matahari sore mulai merangkak masuk melalui jendela, menyinari tumpukan buku di mejanya. Cahaya itu seakan menjadi pengingat akan tenggat waktu yang semakin dekat.</p><p>“yoll,ada yang nyariin tuh,” terdengar suara seseorang yang memecah keheningan perpustakaan.</p><p>Yola pun dan mendongak, matanya bertemu dengan sepasang mata hitam milik seorang yang taka sing lagi baginya, rasya. Cowok yang selalu menjadi persaingan sejak SMP.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 06:57:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223728992</guid>
      </item>
      <item>
         <title>JANJI BERHENTI </title>
         <author>muhammadilfanenggalw21</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223741774</link>
         <description><![CDATA[<p>Entah kebetulan atau sebuah kebiasaan, ketika ada remaja termenung di gubuk kebunnya di temani sebungkus rokok dan secangkir kopi di dekat nya, beberapa kali dia melihat burung yang berterbangan, dia merasa bahwa burung burung tersebut menunjukan rasa cinta antara burung satu dengan burung yang lainnya, dia merasa sangat beruntung orang orang yang bisa mencintai pasangan nya, akan tetapi dia tetap sulit untuk melupakan masalalu nya. sesekali dia berfikir ingin untuk menghubungi masalalu nya.</p><p>"Berhenti" bisik suara lembut dalam hati. "Masalah mu akan bertambah" .</p><p>Namun masih saja alasan untuk tidak berhenti, akhirnya rasa susah melupakan itu semakin bertambah. Tak lama dari kejadian itu akun instagram dengan username @al... memfollow akun istagram dia. Tak lama berselang tiba tib notifikasi pesan istagram masuk.</p><p>"Hai, salam kenal"</p><p>lantas berfikirlah dia "siapa orang asing ini"</p><p>dia tak menghiraukan chat itu, lama kelamaan rasa penasaran itu menyelimuti, akhirnya dia membuka notifikasi pesan itu sembari membalas pesan itu.</p><p>"iya,siapa ini"</p><p>tanpa hitungan menit akun tersebut langsung membalas.</p><p>"tak perlu tau aku siapa, intinya aku suka kamu"</p><p>sontak dia penasaran dan mencari pemilik akun tersebut.</p><p>Keesokan hari nya di sekolah, dia tidak sengaja mentap perempuan yang berparas cantik dengan senyum manisnya yang sedang duduk sambil mengenakan sepatu di kaki kirinya, tak lama kemudian perempuan tersebut membalas menatap sambil melambaikan tanganya.</p><p>bak terkena sabetan pedang dia jatuh cinta di pandangan pertama.</p><p>sepulang sekolah dia melihat hp dan terdapat pesan instagram.</p><p>"kamu sudah tau kan" pesan dari akun yang kemarin mengirim pesan kepadanya.</p><p>Akhirnya dia memberanikan diri untuk mengawali pembicaraan dengan perempuan tersebut. sangkin asiknya tak terasa rasa nyaman mulai timbul di hati dia. tak terkadang dia meceritakan masalalu nya yang susah untuk di lupakan, dan perempuan tersebut berpesan kepadanya.</p><p>"cinta itu berat, cinta itu masalalu, seperti kamu yang sedang menarik batu yang sangat besar dengan sebuah tali dan kamu ingin berjalan dengan nyaman, dan masalalu itu bagaikan tali, ketika kamu tidak melepakan ikatan tali itu di badan mu maka kamu akan selalu merasa berat".</p><p>Akhirnya dia mengerti bahwa kalau tidak berusaha melepas masalalu tersebut maka dia akan tetap merasa berat untuk melupakan nya. Akhirnya sedikit demi sedikit bisa melupakan masalalu nya dan sekarang dia di temani orang baru yang menjadi suport sistem untuk dirinya. Waktu demi waktu dia mulai melangitkan nama pemilik akun tersebut tanpa sepengetahuan pemilk nama. Dia susah untuk menyatakan cintanya kembali, tak jarang dia berfikir "Tidak semua hal mesti disampaikan, mencintaimu, misalnya. Jangan tanya kenapa, mungkin aku hanya belum siap untuk melupakan rasa sakit yang dulu pernah ku rasakan". Aku telah mengubur rasa ini dalam diam yang teramat sangat. Sendirian, lamat-lamat. Aku tahu. Aku menyadari itu. Namun diri ini tak bisa pergi, aku ingin mengungkapkannya, tetapi Langkah ini hanya menuntunku kembali ke awal lagi. Tragisnya, aku mengulanginya lagi dan lagi. Maaf untuk diriku sendiri. </p><p> </p><p><br></p><p>A</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3039122527/2fc3bcc756e032e74ac72e8e565aa124/foto_mine_2.jpg" />
         <pubDate>2024-11-19 07:05:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223741774</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M HANDIKA JULIO</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223743729</link>
         <description><![CDATA[<p>“LUKA TAPI TIDAK BERDARAH”</p><p>Di bawah malam yang sunyi aku berdiri di atas gedung asramaku, aku berdiri mematung di atas gedung tersebut. Hujan baru saja reda, meninggalkan genangan air di dekat aku berdiri. Hatiku tak tenang, pikiranku penuh oleh bayangan seseorang gadis yang telah menyakitiku lebih dalam dari yang pernah kubayangkan. Gadis tersebut itu berulang kali melintas di benakku, seperti luka yang tidak akan pernah sembuh. Dia adalah orang pertama yang kucintai dengan sepenuh hati, tapi juga orang pertama yang menghancurkannya. Selama bertahun-tahun, aku percaya bahwa hubungan kami dibangun atas cinta yang kuat. Namun kenyataannya, semua itu hanyalah bayangan yang kususun sendiri, yang akhirnya retak di malam itu.<br><br></p><p>Kenangan yang telah aku lalui bersama gadis tersebut yang tak pernah aku lupakan. Di saat aku perkenalkan kepada kedua orang tuaku di saat aku lulus pada masa MTS, lalu di kala itu gadis tersebut berani memperkenalkan dirinya kepada kedua orang tuaku. Setelah aku memasuki sekolah baru yaitu sekolah MAN 1 jember, aku mendapat kabar dari teman temanku dan teman-teman gadis yang sudah menjadi milikku. Di kala itu aku mendapat kabar tentang gadis yang telah bersamaku telah mendapat seseorang yang lebih baik dariku, aku berdiam diri di kala itu aku tidak percaya dengan kabar yang telah aku dapati. Aku berpikir sangat mudah aku tergantikan begitu saja oleh orang lain dan kata-kata lebih baik dariku terus melintas di benakku.<br><br></p><p>Setelah satu semester aku lalui di MAN 1 jember aku baru saja mendapat kan kabar kedua kalinya tentang gadis tersebut aku mendapat kabar gadis tersebut telah menikah pada tahun 2023 aku pun sangat sedih mendengar kabar tersebut. Aku berusaha untuk menutupi semua luka ini, aku pun berusaha untuk bersabar menerima keadaan ini yang telah menyakitiku sampai sedalam ini</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 07:06:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223743729</guid>
      </item>
      <item>
         <title>FANNY EZZA MAULANA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223772806</link>
         <description><![CDATA[<p>Di sebuah mahad, ada tiga sahabat baik: Jaki, Heri, dan Sumar. Jaki dan heri merupakan anak yang aktif, banyak bicara dan pintar. Sedangkan Sumar merupakan anak yang pendiam dan tidak terlalu pandai.&nbsp; Setiap hari, setelah selesai pembelajaran sore, mereka bertiga duduk dihalaman mahad untuk&nbsp; menikmati senja.</p><p>Suatu sore, saat langit mulai berwarna merah tua Sumar duduk dibawah pohon jati, merenung. Ia teringat pada ucapan ibunya yang selalu mengingatkan untuk tidak pernah putus asa dalam belajar. Dalam pikirannya, terbayang wajah ibu yang lembut, menyiapkan makanan dengan penuh kasih sayang.</p><p>Tiba-tiba,&nbsp; Jaki dan Sumar datang menghampiri, lalu jaki berkata ”Mar,&nbsp; ayo berangkat ke masjid! Ada muhadhoroh malam ini” ajak Jaki&nbsp; dengan penuh semangat</p><p>Sumar tersenyum , “Iyaa, bentar lagi” Sumar tahu bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan menambah ilmu</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 07:21:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223772806</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Si kecil berkaromah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223888989</link>
         <description><![CDATA[<p>Berlatar di sebuah pondok pesantren yang terletak di Bondowoso,Jawa timur. Pondok pesantren itu bernama PP.Rahmatul hidayah. KH. Abdul Wahab al jailani merupakan pendiri sekaligus pengasuh dari pondok pesantern tersebut. Beliau beraliran Nahdlatul Ulama’ dan juga merupakan Pengurus cabang NU di Bondowoso. Beliau memiliki istri cantik yang bernama Nyai Lailatul hasanah. Mereka dikaruniahi seorang anak laki laki yang bernama Muhammad Bayazid al jailani. Akan tetapi,Bayazid adalah anak yang nakal.</p><p>Setiap hari,Bayazid selalu menghabiskan waktunya untuk bersantai,tidur dan bermain-main. Tentu saja guru dan temannya merasa kesal dengan sifat nakalnya Bayazid. Meskipun sudah berulang kali mendapat teguran dan hukuman dari ustad,Byazid tetap saja bermalas-malasan. Para asatid sudah berulang kali mengeluh tentang bayazid kepada ayahnya,yakni KH Abdul wahab. Tetapi,beliau tetap sabar dan tersenyum. Beliau hanya berkata kepada asatid agar tetap sabar dalam mendidik putranya. Akhirnya,para asatid sudah tidak tahan beniat memberi hukuman yang akan membuat Bayazid menjadi jera.</p><p>Pada suatu pagi,wali kelas Bayazid yang bernama Ustad Anwaruddin ingin memberi hukuman pada Bayazid yang terlihat sedang membuang sampah sembarangan di depan kelas. “Heh! Yazid.kenapa kamu membuang kertas ini sembarangan.padahal sudah lihat ada tempat sampah disana?!” kata ustad Anwauddin dengan marah. Bayazid pun menjawab dengan santai”Ustad,untuk apa ada jadwal piket kalau tidak ada sampah?saya cuma membantu temen supaya ada tugasnya.biar nggak tidur terus,ustad.” jawab Bayazid tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ustadnyapun bingung ingin menjawab apa. Akhirnya,beliau masuk kedalam kelas dengan rasa kesal.</p><p>Beberapa hari kemudian,Bayazid bolos Diniyah. Alasannya karena hari ini adalah jadwal piket kelasnya. Bayazid kemudian pergi menuju ke kamar mandi untuk bersembunyi dari ustad. Tepat sebelum memasuki kamar mandi,tiba-tiba seorang kakak kelas Bayazid menarik tangannya dan memaksanya untuk merokok. Padahal.merokok adaalah peranggaran yang sangat berat di pesantrennya. Bayazid meencoba menolaknya,tetapi kakak kelasnya mengancam akan memukulnya jika dia menolak. Tepat saat itu,ustad Anwaruddin datang untuk mencari bayazid. Ustad Anwaruddin sangat marah ketika melihat kakak kelas Bayazid bolos Diniyah dan merokok di kamar mandi. Kakak kelas itu langsung dibawa ke kantor keamanan pesantren. Anehnya,ustad Anwaruddin tidak melihat Byazid disana. Seolah-olah Bayazid memiliki kekuatan untuk menghilang. Merasa tidak dilihat oleh ustad,Bayazid berlari kembali ke kelasnya. Bayazid berusaha untuk tidak menceritakan kejadian janggal itu kepada teman-temannya. Bagaimana bisa seperti itu?...</p><p>Malam harinya,Bayazid tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian aneh yang telah ia alami. Ia mencoba untuk keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan untuk menenangkan pikirannya. Di tengah jalan yang sepi,ia melihat almarhum kakeknya sedang berdiri di pinggir jalan dengan pakaian serba putih. Bayazid sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. Kakek itu memanggil Bayazid dengan suara yang lirih. Bayazid berusaha memberanikan diri untuk menghampiri sosok tersebut. Ia berpesan kepada Bayazid.”Yazid,kamu ini anaknya Kyai.kamu itu orang hebat. Jangan sering bolos diniyah. Dengerin ustadnya kalau ngomong. Kamu harus membantu orang-orang dengan tenagamu. Pangkal dari semua maksiat,kelalaian, dan syahwat adalah puas/mengikuti terhadap hawa nafsu. Sedangkan pangkal dari semua ketaatan,kesadaran, dan rasa harga diri adalah ketidakpuasan/penentangan terhadap hawa nafsu dari dirimu”. Bayazid merasa sangat bingung. Terutama kalimat akhir yang dikatan oleh sosok itu. Belum sempat berbicara,sosok itu tiba-tiba menghilang. Bayazid langsung lari kembali ke kamar dengan ketakutan dan langsung tidur. Tetapi,ia merasa ada yang mengawasinya.</p><p>Keesokan paginya,Bayazid yang biasanya bolos diniyah,kini memaksakan dirinya untuk pergi ke kelas. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang aneh lagi. Setelah diniyah,bayazid kembali ke kamarnya untuk mengambil alat mandi. Sesaimpainya di kamar mandi,Bayazid bertemu temannya.”Dika,kenapa kamu digundul?habis melanggar ya”kata Bayazid sambil tertawa.”Nggak kok,ini cukur sendir.soalnya-kan aku ini anak baik hehehe..”Dika berbohong kepada Bayazid karena malu.”Dik,kamu mau keramas nggak?”tanya Bayazid.”Iya,memangnya kenapa?”.jawab Dika dengan heran.”kamu kan gundul,jadi nggak usah keramas.nah,aku minta shamponya boleh nggak hehehe..”. Setelah mandi.Bayazid bersiap-siap untuk berangkat sekolah.sesampainya di sekolah,Bayazid mulai mengikuti pelajaran seperti biasanya. Lagi-lagi,Bayazid tertidur di kelas saat guru sedang mengajar. Tidak ingin mengambil pusing,sang guru mengambil sebotol air dan menyiramnya ke Bayazid. Bayazid yang terkejut berteriak”Hadir bu!”. Teman-temannya menertawakan Bayazid yang baru bangun dari tidurnya selama 5 jam.</p><p>Waktu istirahat tiba,Bayazid yang ingin pergi ke kantin tiba-tiba diberhentikan oleh kakak kelasnya.”Eh,beliin air dong.tapi,pake uangmu”. Bayazid menolak permintaan dari kakak kelasnya itu. Sang kakak kelas mengancam akan memukul Bayazid jika menolak. Berusaha menghindari kakak kelasnya,Bayazid terpeleset di tangga. Tetapi,kejadian aneh terjadi. Sesosok putih bercahaya menggenggam tangan Bayazid yang nyaris terjatuh dan menyelamatkannya. Sosok itu kemudian menghilang entah kemana. Dengan perasaan bingung,Bayazid melanjutkan perjalanan ke kantin. Sesampainya di kantin, Bayazid mendengar teriakan dari kantin.”Maling!kembalikan uangku!”Bayazid melihat siswa yang sedang berlari dengan membawa dompet diikuti oleh seorang siswi yang mengejarnya. Melihat itu,Bayazid berlari mengejar siswa tersebut. Pencuri itu berlari sekuat tenaga meninggalkan mereka. Bayazid dan siswi tadi mulai kehabisan tenaga dan terjatuh. Tiba-tiba si pencuri menabrak sesuatu dan terjatuh. Ia seperti menabrak tembok yang tidak terlihat. Melihat itu. Bayazid bergegas menghampiri pencuri yang tidak berdaya itu. Bayazid kemudian mengambil dompet itu mengembalikannya ke siswi tersebut.”Makasih ya...kamu baik sekali maaf merepotkan” kata siswi itu.”Nggak papa. Aku nggak repot kok hehehe...”jawab Bayazid tersipu malu.&nbsp; Bayazid kemudian kembali ke kelasnya dengan perasaan senang.</p><p>Sesampainya di kelas. Bayazid tidak bisa berhenti memikirkan siswi yang ia tolong tadi. Ia bertanya kepada teman-temanmya tentang nama siswi tadi. Sayangnya,teman-temannya tidak mengenali siswi tersebut. Merasa tidak puas,Bayazid menanyakan kepada kelas lain siapakah nama siswi yang ia temui tadi. Akhirnya,ia mengetahui bahwa nama dari siswi tersebut adalah Mazaya. Dengan perasaan senang,Bayazid kembali ke kelasnya sambil menyebut-nyebut nama Mazaya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-19 08:43:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3223888989</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fajrianmp</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3225481086</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Perjuangan Seorang Santri</strong></p><p>Di sebuah desa kecil di kaki Gunung Merapi, hiduplah seorang anak bernama Ali. Sejak kecil, Ali sudah sangat mencintai ilmu agama. Ayahnya, seorang adalah seorang petani, ia selalu menanamkan semangat belajar dan beribadah dalam diri Ali. </p><p><br></p><p>Saat umur Ali 15 tahun, ia diantar oleh ayahnya ke sebuah pesantren untuk menuntut ilmu, disana Ali sangat tekun dan rajin belajar, akhlaknya pun tak kalah bagus, hingga mampu menguasai berbagai ilmu agama, ia pun sangat disayang oleh kyai dan di segani oleh teman-temannya.</p><p><br></p><p>3 tahun berselang, Ali pun lulus, ia menjadi salah satu santri terbaik sekaligus mendapat beasiswa untuk melanjutkan study ke mekah. Ali pun merasa senang, ia langsung berangkat setelah 2 bulan kelulusannya dari pesantren. Setelah sampai di mekah, Ali sangat bersemangat hingga ia berjanji pada dirinya tidak akan menyia-nyiakan waktu saat belajar disana. Namun setelah 1 bulan Ali belajar di Mekah, tiba-tiba sang ibu menelponnya dan berkata bahwa ayahnya telah tiada, Ali sangat bersedih mendengar perkataan ibunya. hingga ia tak henti-henti berdoa selama 7 hari, 7 malam untuk ayahnya</p><p><br></p><p>Setelah menimba ilmu selama bertahun-tahun, Ali akhirnya kembali ke kampung halamannya. Ia mendirikan sebuah pesantren dan memiliki ribuan santri, dan menjadi seorang ulama yang sangat dihormati.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-20 03:35:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3225481086</guid>
      </item>
      <item>
         <title>LABIL</title>
         <author>ghanimali288</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3229230190</link>
         <description><![CDATA[<p>&nbsp;</p><p>Adakalanya hari yang bahagia berubah jadi penuh resah. Terbitlah pilihan untuk maju atau diam di tempat menunggu waktu yang terbuang sia sia. Cerita seorang putra sulung yang mendadak menjadi remaja. Manusia 15 tahun yang bingung arah mana yang di tuju. Banyak pemberitahuan dan peringatan “sekolah di sana bisa meningkatkan kemampuan speaking mu”, “sekolah di situ lebih membuatmu paham mengenai agama”. Di paksa memilih hingga tak tau mau kemana. Angannya bilang “lebih baik memperdalam agama , karena penting bagi masa tua”. Namun hatinya berkata “cita citamu bukan menjadi ustadz”.</p><p>&nbsp;</p><p>Sosok Manusia 15 tahun yang bertransformasi menjadi Manusia 16 tahun. Si manusia 16 tahun memilih arah mengikuti akalnya, entah itu arah yang benar atau salah. Si manusia selalu mencoba menerobos apa pun , hingga ia lupa mencari kawanan untuk menunjang hidupnya. Di jauhi , di telantarkan , dan di biarkan diam tak di hiraukan sudah menjadi makanannya. Angannya selalu berkata “benarkah pilihanku ini, benarkah putusanku ini, siapa yang sebenarnya salah, jalanku atau siapa”. Menempuh masa remaja yang datang tiba tiba dengan sedikit air mata , terlihat cengeng namun dirinya itu kuat. “Masa bodoh perkataan orang aku yang menentukan jalanku”. Namun tetap bingung harus tetap maju atau berhenti di tengah jalan ini. Bak jalan di atas jembatan yang terombang-ambing di atas luasnya lautan harapan.</p><p>&nbsp;</p><p>Wanita yang datang tiba tiba, tanpa pemberitahuan , tanpa tanda. Yang di kira hanya sebatas tau nama, menjadi motivasi yang menjadikan dirinya ingin serba bisa sebagai sosok pria. Cinta monyet yang di kira hanya sebatas cerita fantasi , menjadi sebuah realiti. Wanita bak cheerleader yang meberi semangat ketika bertanding. Apakah hal baik bila melanjutkan kisah cinta ini, bagaimana masa depan nanti, mungkin saja terganggu , atau memang kehadirannya hanya sebatas pengganggu. Janji beribu janji terlontar dari terompet diri. “hei nanti kita sama sama terus ya…” dengan polos si manusia menjawab “iya”. Masa-masa awal sangat lah bahagia hingga pikirnya akan berlanjut hingga masa dewasa. Yang awalnya khawatir mengenai prosesku , malah menjadi khawatir apakah wanita itu pantas untukku.</p><p>&nbsp;</p><p>Terbitlah solusi cerita , dimana si manusia 16 tahun menjadi, si manusia 17 tahun. Yang mengira prosesnya akan mudah namun ternyata susah dan penuh derita. Kisah cinta yang berakhir begitu saja, menjadi awal mula si manusia 17 tahun. Bukan karena masalah , namun pola pikir yang berbeda dengan si wanita. Ku kira bisa fokus dengan proses diri namun menjadi babak paling awal terciptanya sang remaja. Paham bagaimana alur cerita berlanjut , ke kiri ke kanan, ke depan ke belakang , bukan menjadu halangan yang buat diri si manusia bimbang. Seputung tembakau yang menemani masa remaja, asap yang awalnya asing , menjadi teman dekat dikala galau melanda. tertawa bak tuan crab &nbsp;yang untung usahanya. Memang salah apa yang kulakukan, kesehatan menjadi masalah namun pikir ku tak apa bila ku nyaman menjalaninya. Pikiran dewasa mulai terbentuk, mulai paham akan arah tujuan, mulai paham bagaimana kehidupan seharusnya. Sadar akan sulitnya masa remaja yang penuh masalah, dimana setiap manusia harus mengadapi yang namanya realita. Ini bukan novel atau kisah fantasi serigala dan gaun merah, inilah hidup maju kedepan tanpa ada rasa takut, menjadi hebat tanpa bisa ciut.</p><p>Terima Kasih<br>P1= orientasi&nbsp;&nbsp; P2= konflik&nbsp;&nbsp;&nbsp; P3= solusi</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3039091973/7b2447864675d6dd1ec752807e8de9d7/cerpen_Ghanim_algifari.docx" />
         <pubDate>2024-11-22 02:24:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3229230190</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ahmad Haafidh Zuhdi Aufaa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3229249908</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Luka Tak Terlihat</strong></p><p>Sore itu, langit gelap menurunkan hujan. Di teras rumah, Maimunah duduk memeluk lutut. Air matanya bercampur dengan tetes hujan yang menderas. Hatinya seperti dihujam ribuan jarum tajam. Kecewa, marah, dan kesedihan berbaur menjadi satu.</p><p>maimunah baru saja menemukan kenyataan pahit: Agus, orang yang selama ini dicintainya dengan sepenuh hati, memilih pergi bersama orang lain. Padahal, Maimunah telah memberikan segalanya, kepercayaan, dan cinta yang tanpa syarat. Mereka telah berjanji untuk saling setia, namun semua itu hanya menjadi kenangan manis yang kini terasa palsu.</p><p>Rasa sakit di hati Maimunah tak bisa terlukiskan. Ia mengingat kembali semua janji yang pernah diucapkan Agus. Janji-janji itu kini hanyalah bayangan kosong yang menghantui setiap pikirannya. Di balik senyumnya yang lembut, Maimunah belajar menyembunyikan luka.</p><p>Hari-hari berikutnya, Maimunah berusaha melupakan Agus. Ia berusaha bangkit meski tak mudah. Setiap sudut kota yang mereka lewati bersama mengingatkannya pada kenangan yang dulu indah, tetapi sekarang hanya menyisakan kepahitan. Namun, Maimunah sadar bahwa ia harus kuat.</p><p>"Aku tidak boleh kalah dengan luka ini," bisiknya pada diri sendiri. Ia mulai menulis, menuangkan semua rasa sakitnya ke dalam kata-kata. Cerita demi cerita ia tulis, hingga perlahan ia menemukan kekuatan dari setiap lembar yang ia tulis.</p><p>Waktu berjalan, dan Maimunah menemukan kedamaian dalam kesendirian. Sakit hati yang pernah menyiksanya menjadi pelajaran berharga. Ia belajar bahwa mencintai diri sendiri adalah hal terpenting sebelum mencintai orang lain. Dalam luka, ia menemukan jati dirinya yang lebih kuat.</p><p>Di suatu sore yang cerah, Maimunah menutup bukunya dengan senyum. Ia sudah memaafkan Agus, bukan untuk dirinya, tetapi untuk kedamaian hatinya sendiri.</p><p>Pesan yang dapat kita ambil adalah jangan terlalu berharap kepada manusia karna bisa saja manusia yang kita harapkan hanya akan menjadi sebuah pengalaman yang tidak bisa dilupakan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-22 02:37:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3229249908</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Devano Irza Aditya (11)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3229350352</link>
         <description><![CDATA[<p>WOCO GUYSS</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3073229061/4933102bbe8ab48fe4e2ad005dde7ef0/Jejak_Pilihan.docx" />
         <pubDate>2024-11-22 03:44:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3229350352</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M. Imam Ali Mustofa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3230961304</link>
         <description><![CDATA[<p>PERJALANAN PENUH INSPIRASI</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Namaku Wakidi, dan aku ingin membagikan kisah perjalanan hidupku yang penuh liku dan inspirasi. Sejak kecil, aku selalu memiliki mimpi untuk menjadi seorang penulis. Namun, perjalanan menuju impian itu tidaklah mudah.</p><p>Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan gunung, aku tumbuh dalam suasana yang tenang dan damai. Keluargaku hidup sederhana, tetapi mereka selalu mendukung cita-citaku. Setiap malam, ayah membacakan cerita-cerita klasik yang membangkitkan imajinasiku. Dari situlah, aku mulai menulis cerita-cerita kecil tentang kehidupan sehari-hari di desaku.</p><p>Namun, saat aku memasuki sekolah menengah, aku mulai meragukan diriku sendiri. Teman-temanku memiliki cita-cita yang lebih “praktis” seperti dokter atau insinyur. Di tengah tekanan tersebut, aku merasa bahwa mimpiku sebagai penulis adalah hal yang konyol. Aku mulai mengalihkan fokusku untuk mengejar jurusan yang lebih sesuai dengan harapan orang lain, meskipun hatiku menolak.</p><p>Suatu ketika, aku bertemu dengan seorang guru bahasa Indonesia baru di sekolah. Namanya Bu Meri. Ia sangat bersemangat dan penuh inspirasi. Setiap kali ia mengajar, matanya berbinar saat memulai pelajaran. Ia mendorong kami untuk menulis, tidak peduli seberapa sederhana tulisan itu. Bu Meri selalu berkata, “Setiap kata yang kau tulis adalah cerminan dari jiwamu.”</p><p>Kata-kata itu menempel di pikiranku. Setelah kelas, aku mulai menulis lagi, tetapi kali ini aku lebih berani. Aku menulis tentang hal-hal yang aku lihat di sekitarku—kehidupan petani, perayaan di desa, bahkan mimpi-mimpi yang terpendam. Aku menyimpan semua tulisan itu dalam sebuah jurnal kecil.</p><p>Saat ujian akhir tiba, aku harus memilih jurusan kuliah. Akhirnya, setelah berjam-jam berpikir, aku memutuskan untuk mengambil jurusan sastra. Keputusan itu mengejutkan keluargaku, tetapi mereka mendukungku. “Ikuti kata hatimu,” ujar ibuku.</p><p>Di bangku kuliah, aku menemukan dunia yang baru. Aku bertemu banyak orang dengan latar belakang yang berbeda, dan setiap pertemuan memberi warna baru dalam hidupku. Aku aktif mengikuti komunitas penulis, mengikuti lomba-lomba menulis, dan mulai menerbitkan cerpen di majalah kampus. Setiap kali tulisanku dibaca oleh orang lain, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan.</p><p>Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada kalanya aku mengalami kebuntuan ide dan kehilangan semangat. Suatu ketika, aku mengikuti sebuah lomba menulis cerpen yang sangat kompetitif. Aku menghabiskan berhari-hari menulis, tetapi ketika hasilnya keluar, aku tidak terpilih. Kekecewaan melanda, dan aku merasa semua usaha dan impianku sia-sia.</p><p>Di tengah keresahan itu, aku teringat pada Bu Meri. Ia selalu berkata, “Kegagalan adalah bagian dari proses belajar.” Dengan semangat yang mulai bangkit, aku menulis lagi, kali ini tentang pengalaman kegagalan itu sendiri. Ternyata, tulisan itu mendapat sambutan yang baik. Banyak pembaca yang mengaku terinspirasi oleh kisahku.</p><p>Setelah lulus kuliah, aku memutuskan untuk menjadi penulis lepas. Awalnya sulit, tetapi aku terus berusaha. Aku menulis artikel, cerpen, dan bahkan novel. Setiap tulisan yang kuterbitkan membawa rasa puas dan bahagia. Aku juga mulai mengajar di sekolah-sekolah, membagikan pengalaman dan motivasi kepada anak-anak agar mereka berani bermimpi.</p><p>Kini, setelah bertahun-tahun, aku telah menerbitkan beberapa buku dan menjadi pembicara di berbagai seminar. Melihat perjalanan ini, aku sadar bahwa setiap langkah, baik yang menyakitkan maupun membahagiakan, adalah bagian dari proses menuju impian.</p><p>Kepada siapa pun yang membaca kisahku, ingatlah: perjalanan mengejar mimpi mungkin tidak selalu mudah, tetapi setiap tantangan adalah pelajaran berharga. Jangan pernah ragu untuk mengikuti kata hatimu, karena di sanalah inspirasi sejati berada.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-23 14:02:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3230961304</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3231439704</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3080610565/3d7bd2fffd3cc9feb0b2537fc4c16770/DI_BALIK_JENDELA.docx" />
         <pubDate>2024-11-24 10:32:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3231439704</guid>
      </item>
      <item>
         <title>09_DANISH APRILLIAN PUTRA FITYA_XI PK 1</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3236508136</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>TANGGA KEHIDUPAN</strong></p><p><br></p><p>Hari itu, Matahari terbit lebih cerah dari biasanya. Di sebuah rumah kecil yang sederhana, seorang ibu tengah merasakan kegembiraan yang tak terhingga. Di ruang bersalin yang penuh doa, suara tangisan pertama seorang bayi pun terdengar. Itu adalah tangisan dari seorang anak yang baru saja lahir ke dunia, mengisi hidup orang tuanya dengan harapan dan kebahagiaan.</p><p>"Selamat, Bu. Ini bayi laki-laki Anda," ujar perawat dengan senyum lebar.</p><p><br></p><p>Ibu itu hanya bisa terdiam, menatap sang bayi yang terbaring di tangannya. Matanya penuh air mata bahagia. "Alhamdulillah ya Allah…" gumamnya. Bayi kecil itu, dengan tubuh mungil dan kulit yang masih merah, menjadi kebahagiaan yang tak terhingga bagi keluarga kecil ini.</p><p><br></p><p>Bayi itu diberi nama Danish, yang berarti "Anak laki-laki yang berpengetauhan luas" dalam bahasa Sanskerta. Nama itu dipilih karena ibunya berharap Danish akan menjadi anak yang bisa memiliki pengetahuan luas dengan harapan dapat menerangi kehidupan orang lain.</p><p><br></p><p>Waktu berlalu begitu cepat. Kini Danish sudah berusia 2 tahun. Ia sudah bisa berjalan meskipun kadang-kadang jatuh dan menangis. Setiap kali jatuh, ibunya selalu ada untuk menghiburnya dan membimbingnya bangkit lagi. "Cup cup cup… anak Bunda nggak boleh nangis, nanti gantengnya hilang loh…" kata ibu dengan senyuman lembutnya.</p><p><br></p><p>Kini Danish yang berusia 3 tahun “Danish, sudah siap untuk sekolah?” tanya ayahnya suatu sore ketika mereka sedang duduk bersama di ruang tamu. Danish mengangguk dengan penuh semangat. "Iya, Yah. Danish mau belajar banyak, supaya jadi pintar seperti Ayah," jawabnya polos.</p><p><br></p><p>Hari pertama Danish masuk sekolah akhirnya tiba. Dengan seragam yang rapi dan tas sekolah yang lebih besar dari tubuh kecilnya, Danish melangkah dengan langkah penuh percaya diri. Ibunya sedikit cemas, tetapi ia tahu inilah waktunya bagi Danish untuk mulai belajar banyak hal di dunia luar.</p><p>"Jangan lupa berdoa ya, Nak. Bunda selalu mendoakanmu," kata ibu sambil memeluk Danish erat sebelum ia masuk ke dalam kelas.</p><p><br></p><p>Danish melambaikan tangan kepada ibunya, lalu melangkah menuju ruang kelas. Di dalam kelas, ia bertemu dengan teman-teman baru yang juga tampak gugup dan canggung. Tetapi, Danish yang ceria cepat beradaptasi. Ia mulai berbicara dengan teman-temannya, bermain bersama mereka, dan mulai menikmati dunia sekolah yang penuh warna.</p><p><br></p><p>"Danish, ayo sini. Kita belajar angka!" ajak guru dengan senyum ramah. Danish duduk dengan penuh perhatian, menatap papan tulis dengan rasa ingin tahu yang besar. Ini adalah awal dari perjalanan panjang yang penuh pembelajaran, tantangan, dan juga kegembiraan.</p><p><br></p><p>Hari pertama di SD pun berakhir dengan senyum lebar di wajah Danish. Ketika ia kembali ke rumah, ia bercerita dengan antusias kepada bundanya tentang teman-temannya, guru yang baik, dan apa saja yang dipelajari di sekolah. "Bunda, Danish sudah belajar angka satu, dua, tiga! Danish seneng banget!" kata Danish dengan ceria.</p><p>Danish tersenyum mendengarnya. Setiap detik yang Danish jalani selalu menjadi kenangan indah yang tak tergantikan. Dari saat ia lahir ke dunia, hingga kini menjadi anak kecil yang siap untuk menapaki perjalanan pendidikan yang panjang, ibu merasa bangga dan penuh harapan. Dan begitu, perjalanan Danish baru dimulai. Setiap hari, ada hal baru yang ia pelajari, ada teman baru.</p><p><br></p><p>6 tahun telah berlalu, Danish menginjak jenjang SMP. Memasuki kelas, tidak disangka ia bertemu kembali dengan teman SD-nya, Teguh. Mengingat masa lalu, Teguh merupakan siswa yang tidak kalah menonjol semasa SD-nya, entah dari segi kecerdasan, prestasi, kebaikannya, atau bisa disebut rival Danish.</p><p><br></p><p>“ehh Teguh, ketemu lagi kita. Bagaimana kabarnya?” sapa danish, “kan bisa liat sendiri? Jelas baik gini” jawab cuek teguh. “Biasa aja kalee, kan udah lama ga ketemu” tegur Danish, “ya dah” jawab singkat dari teguh.</p><p><br></p><p>Tanpa diketahui oleh Danish, Teguh lah orang yang paling membenci Danish, karena kekalahannya yang selalu ia alami semasa SD. Teguh lah yang selalu menjadi saingan Danish dalam berbagai ajang perlombaan olimpiade. Ia mencoba berkali-kali untuk merebut posisi Danish, bahkan ia pernah melakukan kecurangan dalam perlombaan untuk memenangkan lebih dari Danish. Tetapi apa yang ia usahakan hasilnya tetap gagal. Sehingga Teguh jauh di lubuk hatinya ia memendam rasa kesalnya sewaktu SD, dan akhirnya waktu yang Teguh tunggu-tunggu, kini telah datang.</p><p><br></p><p>Teguh memiliki niat jahatnya mulai pada awal jenjang SMP ini. Ia ingin melakukan cara apapun itu, agar dapat merebut posisi Danish.</p><p><br></p><p>Suatu hari, sekolah mengadakan kompetisi ilmiah antar kelas, dan Danish dipilih sebagai ketua tim untuk mewakili kelasnya. Ia bekerja keras memimpin tim dan membantu teman-temannya menyiapkan presentasi yang luar biasa. Di tengah persiapan, Teguh, yang merasa cemburu karena Danish selalu mendapat perhatian lebih, mulai merencanakan sesuatu.</p><p><br></p><p>Teguh menyebarkan rumor di antara siswa bahwa Danish telah menyontek materi presentasi dari sumber luar dan mengklaimnya sebagai hasil kerja kerasnya sendiri. Teguh juga diam-diam mengirim pesan kepada beberapa siswa di kelas dengan foto-foto bukti palsu yang seolah-olah menunjukkan Danish sedang mencari informasi dari luar sekolah. Beberapa siswa yang sempat mendengar rumor itu mulai ragu dan menjauh dari Danish.</p><p><br></p><p>Satu hari, saat Danish sedang mempresentasikan hasil kerja keras timnya di depan kelas, Teguh berdiri dan mengajukan pertanyaan yang tidak ada dalam materi presentasi. Danish mencoba menjawab dengan tenang, tetapi jawab Danish dari pertanyaan itu mengungkit keraguan di benak teman-temannya. Beberapa teman sekelas mulai menatap Danish dengan curiga. "Danish, apakah kamu benar-benar membuat ini semua sendiri?" tanya Evan, salah satu sahabat sekelas yang semula selalu mendukungnya.</p><p><br></p><p>Danish terkejut dan merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu tanpa membuat situasi semakin buruk. Perlahan-lahan, rasa percaya diri Danish mulai terkikis. Hari-hari berikutnya, ia merasa semakin tertekan. Di sekolah, Danish tidak lagi semangat mengikuti pelajaran, dan bahkan ia mulai menghindari pertemuan dengan teman-teman yang dulu akrab dengannya. Ia yang ceria, aktif, ramah, rajin, berbagai lomba olimpiade ia raih, itu hanyalah kisah masa lalu. Ia sekarang berubah menjadi pendiam, tidak mudah bergaul, tidak mau untuk menampakkan diri.</p><p><br></p><p>Teguh, yang melihat keadaan Danish semakin terpuruk, merasa puas. Ia tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh Danish, karena yang penting baginya adalah membuatnya kalah dan merasa tidak berdaya. Namun, ada seorang siswa lain, Nia, yang mulai merasa curiga dengan sikap Teguh. Nia memutuskan untuk menyelidiki dan menemukan bahwa foto-foto bukti yang disebarkan Teguh ternyata diubah dan dibuat-buat.</p><p><br></p><p>Dengan bantuan beberapa teman sekelas yang lain, Nia berhasil mengumpulkan bukti-bukti yang membuktikan bahwa Danish tidak bersalah. Nia kemudian membawa bukti itu kepada guru dan kepala sekolah. Setelah penyelidikan, Teguh dipanggil dan dihadapkan dengan fakta-fakta tersebut. Ia akhirnya mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada Danish.</p><p><br></p><p>Danish, meskipun merasa lega karena namanya dibersihkan, masih merasa trauma dengan kejadian itu. Ia belajar bahwa dalam hidup, tidak semua orang yang dekat dengannya benar-benar mendukungnya. Namun, ia juga belajar bahwa ada teman sejati yang akan membela kebenaran, bahkan di saat-saat sulit.</p><p><br></p><p>Kepercayaan diri Danish mulai pulih berkat dukungan teman-teman yang benar-benar peduli padanya. Meskipun ia harus berusaha keras untuk melupakan pengalaman itu, Danish tahu bahwa dia akan lebih berhati-hati dalam memilih siapa yang layak dipercayai di masa depan. Dan bagi Teguh, kejadian itu menjadi pelajaran bahwa keinginan untuk mengalahkan orang lain dengan cara yang salah hanya akan membuatnya kehilangan rasa hormat dan kepercayaan dari orang lain.</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3095639423/0e281a6a11ced5babe024f680d52121b/111.JPG" />
         <pubDate>2024-11-27 10:02:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3236508136</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jejak</title>
         <author>abdulsalamsatrio</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3240032884</link>
         <description><![CDATA[<p>Duku duduk di bangku belakang kelas, melamun. Jam pelajaran hampir selesai, tapi pikirannya nggak bisa berhenti terbang ke masa lalu. Di luar jendela, langit sore terlihat cerah, namun hatinya terasa berat. Di tengah keramaian teman-teman yang sibuk dengan tugas dan ujian, Duku merasa seperti berada di tempat yang salah—terjebak antara masa depan yang masih samar dan kenangan masa kecil yang terus mengganggu.</p><p>Saat ini, di bangku SMA, Duku sudah jauh dari masa-masa SD yang penuh warna. Tapi kenangan itu tak pernah benar-benar hilang, terutama kenangan tentang Febryn. Febryn, sahabat yang selalu ada sejak Duku masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka hampir tidak terpisahkan dari pulang sekolah bersama, belajar bersama, sampai ngobrol tentang masa depan yang penuh harapan.</p><p>Dulu, saat mereka masih kecil, dunia terasa begitu sederhana. Kenangan itu begitu hidup di benaknya waktu-waktu ketika mereka berdua bercanda tanpa beban, merencanakan apa yang ingin mereka capai ketika dewasa. "Nanti kita kuliah bareng, ya?" Febryn pernah berkata, dengan senyum lebar, saat mereka duduk di bawah pohon sekolah. Duku hanya bisa tertawa dan menjawab, "Iya, nanti kita kuliah bareng. Kamu jadi dokter, aku jadi arsitek." Waktu itu, semuanya terasa mudah. Tak ada keraguan, tak ada kekhawatiran. Mereka hanya berdua, dengan impian yang sama.&nbsp;&nbsp;</p><p>Namun, seperti halnya masa kecil yang indah, semua itu berubah ketika Duku harus pindah ke kota lain setelah mereka lulus SD. Walaupun mereka berjanji untuk tetap berhubungan, kenyataannya jarak memisahkan mereka. Lama kelamaan, komunikasi mereka pun semakin jarang, hingga akhirnya hilang. Kehilangan itu bukan hanya tentang berpisah dengan teman, tetapi juga tentang perasaan yang tiba-tiba menghilang begitu saja perasaan yang sulit Duku jelaskan.</p><p><strong><em>Ceritanya Flashback – Masa SD yang Tak Terlupakan</em></strong></p><p>Kenangan tentang Febryn selalu membuat Duku tersenyum, meski sedikit ada rasa kesedihan di dalam hatinya. Mereka selalu berjalan bersama ke sekolah setiap pagi, berdua, tanpa takut akan apapun. "Mau jadi apa nanti, Duku?" Febryn pernah bertanya, dengan wajah penasaran. "Aku nggak tahu, mungkin jadi arsitek," jawab Duku sambil tertawa. Febryn hanya mengangguk sambil berkata, "Aku mau jadi dokter." Seperti itu setiap hari berbagi cerita tentang masa depan yang mereka bayangkan bersama.</p><p>Namun, masa kecil itu tidak selamanya ada. Febryn harus pindah, dan Duku harus melanjutkan hidup tanpa dia. Saat-saat mereka berdua yang penuh tawa itu mulai memudar seiring berjalannya waktu.</p><p><strong><em>Kembali ke Masa Kini – Duku di SMA</em></strong></p><p>Sekarang, di bangku SMA, Duku merasa jauh dari masa itu. Meskipun ia punya teman-teman baru, meskipun kehidupannya kini lebih sibuk dan lebih rumit, rasanya tetap ada sesuatu yang hilang. Bagaimanapun, kenangan itu selalu datang kembali kenangan tentang Febryn, tentang tawa mereka, dan tentang impian mereka yang dulu mereka rencanakan bersama.</p><p>Di antara teman-temannya yang kini sibuk memikirkan ujian dan masa depan mereka, Duku sering merasa seperti orang asing. Semua orang sepertinya sudah tahu apa yang mereka inginkan, mereka sudah memiliki tujuan hidup yang jelas. Sementara Duku, meski sudah berusaha keras, masih merasa terjebak antara masa lalu dan masa depan.</p><p>Suatu hari, saat istirahat, teman-temannya sedang ngobrol tentang rencana kuliah dan ujian akhir yang semakin dekat. Duku hanya mendengarkan, mencoba untuk ikut dalam obrolan, tapi hatinya kosong. Pikirannya malah melayang ke Febryn. Apa kabar dia sekarang? Apakah dia sudah mencapai impian yang dulu mereka rencanakan bersama? Mungkin dia sudah menjadi dokter, seperti yang dia inginkan. Sementara Duku? Masih ragu dengan jalannya sendiri.</p><p>Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Duku melihat nama pengirimnya—Febryn. Hatinya langsung berdebar lebih cepat. Pesan itu sederhana, hanya bertanya kabar. Namun, bagi Duku, pesan itu seperti lonceng yang membangunkan kenangan lama. Kenangan yang sudah lama ia coba lupakan. "Febryn..." Duku menyebut nama itu pelan. Perasaan yang dulu ia sembunyikan mulai muncul kembali, tapi kali ini Duku lebih bijak. Ia tahu, apapun yang terjadi, ia tidak bisa terus terjebak dalam kenangan itu. Duku memandangi pesan itu sejenak, lalu mulai mengetik balasan. "Febryn, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kamu?" Pesan itu terkirim, dan Duku merasa lega, meskipun sedikit cemas. Ia tahu, mungkin ini bukan awal dari sesuatu yang baru, tetapi setidaknya ia telah memberi kesempatan pada dirinya untuk melepaskan masa lalu yang selama ini menghantui.</p><p>Malam itu, setelah pesan terkirim, Duku duduk sejenak di depan jendela, menatap langit malam yang gelap. Ia tahu, masa lalu tidak bisa diubah. Febryn mungkin sudah berjalan di jalan hidupnya yang berbeda, dan Duku pun harus melangkah ke depan. Kenangan tentang Febryn akan selalu ada, tapi Duku tahu, untuk bisa melangkah maju, ia harus menerima kenyataan bahwa masa lalu itu sudah selesai.</p><p>Mungkin suatu saat nanti, mereka akan bertemu lagi atau mungkin tidak. Tapi yang jelas, Duku kini mulai mengerti bahwa untuk berkembang, ia harus berhenti hidup dalam bayangan masa lalu. Masa depan sudah menunggu.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3039109029/b53c42741cacc20d1453132f992830f1/JEJAK.docx" />
         <pubDate>2024-11-29 14:03:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3240032884</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nafis Fairuz Syafiq</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3244083795</link>
         <description><![CDATA[<p>Apa Yang Kamu Cari?</p><p>&nbsp;</p><p>Suasana di hari itu panas seperti hari-hari sebelumnya, wajar saja saat itu memang dalam keadaan musim kemarau. Tetapi, entah mengapa rasanya suasana saat musim hujan disini malah lebih panas daripada musim kemaraunya. Sebagian orang juga banyak yang mengatakan bahwa ini adalah kota yang kotor, karena memang banyak sampah berserakan disini. Penduduk sekitar sini sepertinya belum terbiasa untuk membuang sampah di tempatnya, padahal banyak tempat sampah yang sudah disediakan oleh pemerintah di sekitar jalan-jalan.</p><p>“Sepertinya aku harus menyesuaikan dengan keadaan di lingkungan ini. Mau bagaimana lagi aku sudah memutuskan untuk manjadi santri di kota ini.”</p><p>Namaku adalah Kafa Burhanuddin, temanku-temanku biasanya memanggilku Kafa aku berasal dari desa di kota sebelah. Kehidupanku sekarang mulai berubah sejak aku memutuskan untuk mondok di kota itu. Aku adalah anak yang kurang pintar, mukaku juga tidak menjanjikan bahkan temanku bilang kalau mukaku mirip orang prindapan. Walaupun begitu aku selalu berusaha berbuat baik kepada teman-temanku.</p><p>Hari-hariku di pondok ini terasa begitu cepat, bagamaimana tidak disini aku bersama dengan santri lainnya harus belajar dari subuh sampai larut malam. Mencari waktu untuk bermain saja sulit disini, untungnya hari ahadnya libur kalo ndak, wah bisa&nbsp; stress aku disini.</p><p>Walaupun kegiatan disini sangat padat, aku masih bisa mengikutinya karena aku memiliki seorang teman yang selalu menyemangatiku. Rasanya menjadi lebih ringan&nbsp; ketika dia menemaniku selama ini. Tapi dia telah keluar dari pondok ini di semester kemarin. Sedih rasanya ketika dia memutuskan untuk pindah dari sini. Tidak apa-apa aku pasti bisa melewati semua ini meskipun dia sudah tidak ada. Karena aku akan menjadi seorang ulama yang ahli agama untuk membuat kedua orang tuaku bangga.</p><p>&nbsp;“Hufftt capek banget rasanya hari ini, mana panas banget disini”</p><p>Aku menjalani hari-hari itu seperti biasanya. Senin sampai sabtu belajar terus, klo udah ahad baru aku bisa santai. Biasanya kalo ahad aku buat mencuci baju-bajuku atau jalan-jalan keluar pondok.</p><p>Akhirnya hari senin kembali tersenyum padaku. Ketika aku telah sampai di kelas aku terkejut saat melihat dibawah loker mejaku terdapat sebuah surat. “Kira-kira dari siapa ya surat ini?”.</p><p>Isi surat itu adalah</p><p>“Haii Kaf. Gimana nih perasaanmu setelah libur di hari Ahad?. Pasti capek ya belajar terus disini, sabar dan tetap semangat ya kamu pasti bisa :D”</p><p>Aku terheran-heran dengan isi surat tersebut. Bagaimana&nbsp; bisa dia tau kalo aku sekarang masih capek karena hari ahad kemarin aku pakai untuk mengerjakan tugas, terus siapa sih yang ngirim surat ini, kan ndak mungkin seorang cewek yang ngirim surat ini karena disini hanya pondok untuk laki-laki. Rasa penasaran terus berada di pikiranku selama aku di sekolah, akupun berpikir untuk membalas surat tersebut. Tapi setelah itu, mau aku kirim ke siapa surat ini. Akhirnya aku mulai bertanya terlebih dalulu kepada teman sekelasku tentang siapa yang mengirim surat ini. Ternyata tak seorang pun dari teman-temanku yang mengirim surat ini untukku, aku semakin penasaran siapakah pengirim surat ini Aku berpikir agak lama tentang hal ini dan aku memutuskan untuk menulis balasan surat itu lebih dahulu.</p><p>Aku membalas surat itu dengan sebuah pertanyaan</p><p>“Kamu siapa? Kok bisa tau kalo aku memang lagi capek sekarang?”</p><p>Singkat padat dan jelas. Tak lama setelah aku selesai menulisnya, aku tersadar bahwa hari semakin gelap dan membuatku terpaksa harus pulang dengan keadaan terburu-buru sehingga aku melupakan surat itu diatas mejaku. Keesokan harinya aku kembali ke kelas untuk bersekolah, betapa kagetnya aku saat melihat surat yang aku tulis kemarin ternyata sudah dijawab kembali oleh orang tersebut.</p><p>“Loh, kok bisa ya suratnya udah dijawab lagi?”</p><p>Kemudian aku membaca surat itu dengan seksama.</p><p>“Gak penting kamu tau siapa aku, pokoknya aku nulis di surat ini agar kamu bisa meluangkan keluh kesahmu disini hehe. Terus hari ini gimana? Masih capek atau udah mending?</p><p>Mana bisa aku balas-balasan surat sama orang yang gak aku ketahui, tapi sepertinya dia benar, aku memang butuh tempat untuk menuliskan keluh kesahku disini. Mungkin aku bisa balas-membalas surat ini sekaligus mencari siapa pengirimnya.</p><p>“Tapi kenapa dia tidak ingin dirinya diketahui? Hmmm.. Mungkin dia malu jika bertemu langsung dengamku, bahkan dia hanya membalas suratku ketika surat itu tinggalkan di mejaku”</p><p>Sebulan berlalu sejak kejadian itu dan aku masih balas membalas surat dengan orang yang tidak aku ketahui tapi aku sangat yakin bahwa orang itu adalah orang yang baik. Selama sebulan ini aku juga terus mencari siapa orang itu dan aku mulai mendapatkan petunjuk tentang siapa orang itu.</p><p>Sebentar lagi ujian kenaikan kelas semakin dekat, hari-hariku juga mulai bertambah berat karena mempersiapkan untuk ujian kenaikan kelas ini. Nah, disini juga aku mulai semakin panjang lebar menuagkan keluh kesahku di dalam surat ini karena memang pengirim surat ini seperti sangat kenal padaku dan memperhatikanku setiap hari. Hal ini membuatku yakin bahwa orang yang mengirim surat ini adalah teman sekelasku.</p><p>Hari ini adalah hari ketiga sebelum ujian, aku telah lama memikirkannya, bahwa pengirim surat ini adalah teman sebangkuku Amin, orang yang paling logis untuk dijadikan tersangka, setidaknya jika bukan dia yang mengirim surat ini kemungkinan besar besar dia tau siapa yang mengirim surat ini. Setelah itu aku pergi untuk menanyainya tentang surat ini walau keadaanku saat ini sepertinya sangat lelah karena tadi malam aku belajar mapel yang cukup berat dan sulit. Setelah aku bertemu dengannya, dia tampak takut padaku. Tapi aku tidak mempeduilkan itu dan langsung bertanya padanya setelah pelajaran di kelas berakhir.</p><p>Kafa: “Min, yang ngirim surat ini kamu ya?”</p><p>Amin: “Ndak, bukan aku yang mengirimnya”</p><p>Kafa: “Masa bukan kamu sih, kayaknya yang paling logis buat surat ini itu kamu”</p><p>Amin: ”Ngapain loh aku ngirim surat buat kamu”</p><p>Setelah aku tanya berkali-kali dia tetap tidak mengakuinya.</p><p>Kafa: “Hmm.. kalo gitu kamu tau ngak siapa yang ngirim surat ini?”</p><p>Amin: “Aneh banget kamu ini masa ndak tau sapa yang buat surat.”</p><p>Kafa: “Loh, kamu tau siapa pelakunya”</p><p>Amin: “Jelas banget surat ini yang ngirim itu namanya Udin”</p><p>Kafa: “Hah?”</p><p>Setelah itu dia pergi meninggalkanku karena sudah sore dan aku juga memutuskan untuk kembali ke kamar. Malamnya aku benar-benar bingung siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Amin. Tapi, karena aku sudah ngantuk dan sekarang sudah larut malam jadinya aku mau untuk tidur saja.</p><p>Tidurku nyenyak sekali malam itu bahkan sebelum aku tidur aku bermimpi seperti mendengar suara sangat bising. Kejadian yang cukup aneh untukku, tapi paling itu hanya sebatas imajinasiku saja karena aku capek banget.</p><p>Aku juga bermimpi melihat wajah ibuku yang sedang memperhatikanku, tapi mengapa wajahnya mengeluarkan air mata ketika melihatku. Ntah apakah itu air mata karena kesedihan atau kebahagiaan akupun tidak paham. Meskipun begitu, rasanya aku sangat bahagia bisa melihat wajah ibuku setelah sekian lama aku belajar di pondok. Aku berharap mimpi ini bisa menjadi sebuah kenyataan agar aku bisa selalu melihat wajah ibuku.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3120985210/826e98d097a978febe8aa3a5eda0042a/20240624_161759.jpg" />
         <pubDate>2024-12-03 06:09:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3244083795</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ALAN BUKAN ANAK PENAKUT</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3246419866</link>
         <description><![CDATA[<p>Alan Bukan Anak Penakut</p><p>Alan berdiri di depan pintu rumahnya, menatap ke jalan yang mulai gelap. Senja baru saja menyapa, namun malam sudah mulai mengintip dari balik horizon. Sebuah angin sejuk berhembus, menggerakkan dedaunan pohon yang ada di halaman rumahnya. Biasanya, pada waktu seperti ini, Alan merasa aman dan nyaman di dalam rumah. Namun hari ini, perasaan itu hilang begitu saja.</p><p>"Alan, sudah waktunya tidur. Jangan lama-lama di luar, nanti kedinginan," seru ibu dari dalam rumah.</p><p>Alan mengangguk pelan, namun hatinya tak tenang. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kecilnya. Entah mengapa, sore itu, dia merasa ada yang aneh di sekitar rumah mereka. Tiba-tiba, suara aneh terdengar dari ujung jalan—suara langkah kaki yang berat dan berderak. Alan menoleh, namun tak ada siapa-siapa. Hanya bayangan pohon yang bergoyang tertiup angin.</p><p>"Alan, jangan takut. Kamu bukan anak penakut," pikirnya, mencoba menenangkan diri.</p><p>Namun, semakin lama, langkah itu semakin dekat. Makin jelas, makin nyata. Seperti ada seseorang yang sedang berjalan mendekatinya. Alan merasa seakan-akan ada mata yang mengawasinya dari kegelapan. Tak pernah sebelumnya dia merasa cemas seperti ini.</p><p>"Sudah saatnya pulang, Alan," bisik hati kecilnya.</p><p>Tapi, saat ia berbalik hendak masuk ke rumah, tiba-tiba sesosok bayangan besar melintas di depan rumahnya, di bawah cahaya bulan yang samar. Alan terkejut. Di balik bayangan itu, ada sosok yang tampak tinggi dan gelap. Alan sempat membeku. Namun, meski rasa takutnya datang menghampiri, dia menegakkan punggungnya dan menatap bayangan itu dengan berani.</p><p>"Siapa di sana?" Alan berteriak dengan suara keras, berusaha menunjukkan bahwa dia tidak takut.</p><p>Bayangan itu berhenti sejenak, lalu muncul sebuah suara parau yang terdengar serak. "Aku... aku tidak mau mengganggumu," suara itu terdengar seperti rintihan.</p><p>Alan mendekat sedikit. Kini, bayangan itu mulai tampak jelas—ternyata hanya seekor anjing besar, dengan bulu lebat yang kusut. Anjing itu tampaknya terlantar, kelaparan, dan tampak kebingungan.</p><p>Alan merasa lega. Meskipun awalnya ketakutannya menguasai, ia menyadari bahwa tidak ada yang perlu ditakuti. Dengan hati yang lebih tenang, ia mendekati anjing tersebut, yang tampak cemas dan lapar. Tanpa ragu, Alan memberi makan sedikit roti yang ada di kantongnya. Anjing itu mengendusnya, lalu mulai makan dengan lahap.</p><p>"Maaf, aku kira kamu... makhluk aneh," kata Alan sambil tersenyum.</p><p>Saat anjing itu selesai makan, ia menatap Alan sejenak sebelum berlari pergi ke dalam kegelapan. Alan pun melangkah kembali ke rumah, merasa sedikit lebih berani.</p><p>Sesampainya di dalam, Alan melihat ibunya sedang duduk di ruang tamu, dengan tatapan penuh perhatian. "Ada apa, Alan? Kenapa lama sekali?"</p><p>Alan tersenyum dan berkata, "Aku bukan anak penakut, Bu. Tadi ada anjing besar, dan aku memberinya makan."</p><p>Ibu hanya mengangguk, bangga dengan keberanian Alan. "Kamu benar, Nak. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu bisa menghadapi rasa takutmu."</p><p>Malam itu, Alan tertidur dengan tenang, merasa bangga karena bisa mengatasi rasa takutnya. Mungkin, kadang rasa takut itu hanya ada dalam pikiran kita, dan yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk menghadapinya. Alan belajar bahwa bukan berarti dia tak pernah takut, tetapi dia tahu cara menghadapinya dengan kepala tegak.</p><p>Tamat</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3128053354/b617faf9b2ad442010401c989cacca0d/Gambar_WhatsApp_2024_12_04_pukul_20_04_54_d6f9545c.jpg" />
         <pubDate>2024-12-04 13:08:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3246419866</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cinta berawal dari keterpaksaan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3246839194</link>
         <description><![CDATA[<p>Di sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh pegunungan hijau, damai dan ramahnya penduduk di sekitaran, tiap lalu lalang bekerja untuk kebutuhan keluarga nya, ada juga yang setiap pagi sudah semangat membawa dagangan untuk dijual di pasar, hiduplah seorang gadis bernama Salma. Ia adalah seorang mahasiswi seni rupa yang penuh semangat dan juga keturunan arab yang sangat cantik di kampus nya. Namun, di balik senyumnya yang ceria, ada satu hal yang selalu mengganggu pikirannya, karena tekanan dari orang tuanya untuk segera menikah. Mereka menginginkan salma untuk menikah dengan Rafie, anak seorang pengusaha kaya di kota itu. Rafie adalah sosok yang tampan dan sukses, tetapi bagi Salma, ia hanyalah teman masa kecil yang tidak pernah ia cintai. Suatu hari, saat Salma sedang asyik menggambar di taman, ponselnya bergetar. Ternyata, itu adalah pesan dari ibunya yang meminta agar Salma datang ke rumah malam itu. Dengan hati yang berat, ia pun berangkat. Di rumah, suasana terasa tegang. Ayah dan ibunya duduk di meja makan, menunggu kedatangannya."Salma," kata ibunya dengan nada serius. "Kami sudah berdiskusi dan memutuskan. Kamu harus bertunangan dengan Rafie."Salma hanya terdiam. Ia merasa seolah dunia di sekelilingnya runtuh. "Tapi Bu, aku belum siap untuk menikah! Aku masih ingin mengejar mimpiku, aku juga ingin bekerja biar aku bisa mandiri dan bisa mencari penghasilan" jawabnya dengan suara bergetar.Ayahnya menatapnya tajam. "Kamu tidak bisa terus-menerus menghindar dari kenyataan Salma. Ini adalah keputusan terbaik untuk masa depanmu."Salma merasa terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya. Ia tahu bahwa menolak permintaan orang tuanya akan membuat mereka kecewa, tetapi hatinya menolak untuk menerima kenyataan itu.</p><p>Pertemuan Tak Terduga</p><p>Beberapa hari kemudian, Salma bertemu Rafie di sebuah acara keluarga. Rafie menyapanya dengan senyum hangat. "Hai, Salma! Sudah lama kita tidak bertemu," katanya.Salma hanya membalas dengan senyuman tipis. Dalam hati, ia merasa terpaksa harus bersikap ramah padanya meskipun hatinya menolak. Rafie tidak tahu betapa beratnya beban yang dipikul Salma. Selama acara berlangsung, mereka terlibat dalam percakapan ringan. Rafie bercerita tentang pekerjaannya dan rencananya untuk memperluas bisnis keluarganya. Salma mendengarkan dengan seksama meskipun pikirannya melayang jauh."Bagaimana dengan seni? Apa kamu masih menggambar?" tanya Arif tiba-tiba."Ya, aku masih menggambar, masih suka mendalami seni kaligrafi kadang -kadang" jawab Salma pelan. "Tapi aku tidak tahu seberapa lama aku bisa melakukannya."Rafie menatapnya dengan serius. "Kamu harus tetap mengejar passion-mu, Salma. Jangan biarkan apapun menghalangimu. Aku juga bisa membantumu jika kamu butuh pekerjaan"Salma terkejut mendengar kata-kata itu. Meskipun ia merasa terpaksa berada di situasi ini, Rafie menunjukkan sisi lain dari dirinya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.</p><p>Awal Perubahan</p><p>Sejak pertemuan itu, Salma mulai melihat Rafie dengan cara yang berbeda. Ia bukan hanya sekadar anak pengusaha kaya; ia juga memiliki impian dan ambisi. Semakin sering mereka bertemu dalam acara keluarga, semakin banyak waktu yang mereka habiskan bersama.Suatu sore, saat mereka berjalan-jalan di taman, Rafie tiba-tiba berhenti dan berkata, "Salma, aku tahu ini mungkin terdengar aneh kalau dibilang, tetapi aku merasa kita memiliki koneksi yang lebih dari sekadar teman."Salma terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tapi kita terpaksa dalam suatu hal yang akhirnya kita berada di sini karena orang tua kita."Rafie tersenyum lembut. "Memang benar kita terpaksa berada di sini, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita menjalani ini agar keinginan orang tua bahagia dan membuat senang ."Kata-kata Rafie menyentuh hati Salma. Ia mulai merasakan benih-benih cinta tumbuh dalam dirinya meskipun awalnya ia merasa terpaksa.</p><p>Menghadapi Kenyataan</p><p>Ketika hubungan mereka semakin dekat, tekanan dari orang tua Salma semakin kuat. Suatu malam, ibunya kembali membahas rencana pertunangan mereka."Salma, kami sudah mengatur semuanya untuk pertunanganmu dengan Rafie minggu depan," kata ibunya tanpa basa-basi.Salma merasakan jantungnya berdegup kencang. "Bu, aku... aku butuh waktu untuk memikirkan ini," jawabnya terbata-bata."Jangan membuat kami kecewa lagi," ayahnya menambahkan dengan nada tegas.Dalam hatinya ia kebingungan dan ketidakpastian, Salma mencari dukungan dari Rafie. ia menghubungi Rafie untuk bertemu di kafe favorit mereka dan berbicara panjang lebar tentang masa depan mereka."Rafie," kata Salma dengan suara pelan. "Aku merasa terjebak antara cinta dan kewajiban."Rafie meraih tangannya dan menatap matanya dalam-dalam. "Cinta tidak seharusnya datang dari paksaan. Kita harus jujur pada diri sendiri, namun kita harus menghadapi kenyataan."Salma merasa hatinya bergetar mendengar kata-kata itu . Ia tahu bahwa ia harus mengambil keputusan penting untuk hidupnya.</p><p>Keputusan Cinta</p><p>Hari pertunangan tiba dengan cepat. Di tengah keramaian acara tersebut, Salma berdiri di depan banyak orang dengan hati yang berdebar-debar. Ketika saatnya tiba untuk mengucapkan janji setia kepada Rafie, ia banyak merasakan keraguan dalam dirinya.Namun saat melihat wajah Rafie yang penuh harapan dan cinta, semua keraguannya sirna seketika. Dengan suara tegas dan penuh keyakinan, Salma berkata kepada semua hadirin,"Saya dari keluarga Salma tidak ingin bertunangan karena paksaan atau harapan orang tua saya. Saya ingin mencintai dan dicintai tanpa tekanan."Suasana hening sejenak sebelum tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Orang tua Salma terlihat terkejut namun tak bisa berkata apa-apa.Rafie hanya tersenyum lebar dan menggenggam tangan Salma erat-erat. Mereka saling menatap satu sama lain dan merasakan cinta yang tulus tumbuh di antara mereka.</p><p>Epilog</p><p>Sejak hari itu, hubungan Salma dan Rafie menjadi sesuatu yang indah dan tulus tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Mereka belajar untuk saling mendukung dalam mengejar impian masing-masing sambil membangun cinta yang kuat berdasarkan kejujuran dan saling pengertian.Cinta mereka memang berawal dari terpaksa, tetapi dunia kini telah berubah menjadi sesuatu yang lebih indah, cinta sejati yang lahir dari pilihan hati masing-masing untuk saling mencintai tanpa syarat atau keterpaksaan.sekian trimakasih. ❤︎❤︎❤︎</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3129341766/68e8c7789e7eb42c1f7f42284ae9f1b6/20240624_161355.jpg" />
         <pubDate>2024-12-04 17:38:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3246839194</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Zachary Al Farabi Hidayat</title>
         <author>hidayatzacharyalfarabi</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3248215761</link>
         <description><![CDATA[<p>Ary dan jalan yg tak pasti</p><p><br/></p><p>Nama saya Ary, hanya Ary. Saya hanya seorang anak SMA biasa, di kota kecil yang nyaris tidak pernah muncul di peta. Tidak ada yang istimewa dari hidup saya, sampai-sampai kadang saya bertanya-tanya, apa gunanya saya ada di sini?</p><p><br/></p><p>Saya ini bukan tipe anak yang jadi pusat perhatian. Di kelas, saya lebih sering duduk di bangku dekat jendela, memperhatikan daun-daun bergoyang tertiup angin daripada mendengarkan guru menjelaskan. Bukan karena saya tidak pintar, tapi karena saya merasa... yah, dunia luar itu jauh lebih menarik daripada deretan angka di papan tulis.</p><p><br/></p><p>Oh, dan satu hal lagi: saya penakut. Bukan penakut dalam arti takut gelap atau hantu, tapi lebih ke takut mencoba hal baru, takut gagal, takut&nbsp; terjatuh, dan takut terlihat bodoh di depan orang lain. Setiap kali ada tantangan, otak saya langsung memikirkan sejuta alasan untuk mundur.</p><p><br/></p><p>Tapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang berubah. Entah kenapa, saya mulai merasa lelah dengan semua rasa takut itu. Saya mulai bertanya-tanya, bagaimana rasanya kalau sekali saja saya melawan ketakutan saya? Apa jadinya kalau saya mencoba melakukan sesuatu yang benar-benar keluar dari zona nyaman?</p><p><br/></p><p>Dan hari itu, kesempatan itu datang.</p><p><br/></p><p>Ketika itu saya sedang asik bermain hp, scroll intagram, sampai saya menemukan postingan teman saya dengan senyum kemenangannya sambil membawa plang bertuliskan gunung riang 3332 MDPL dengan background pemandangan diatas gunung yang sangat cantik nan indah. Saya pun terkagum dengan postingannya, sampai saya berangan-angan “ bagaimana kalau saya diatas sana nantinya”, pikir saya, maka saya pun membuat keputusan akan mendaki gunung riang, salah satu gunung terindah tetapi juga menyandang julukan gunung angker.</p><p><br/></p><p>Hari pun tiba, untuk perjalanan ini saya membawa kedua teman saya, abil yang sudah berpengalaman, bahkan dia mendaki gunung sejak zaman pendaki flanel dan ila ( hanya teman biasa ;)). Mereka adalah sahabat dan teman bermain saya sejak saya kecil, bahkan bisa dianggap saudara.</p><p><br/></p><p>Dari awal, saya merasa gugup . saya terus memeriksa perlengkapan, khawatir ada yang kurang, meski Abil sudah memastikan semuanya siap. Saya berdiri diam, memandangi jalur itu dengan dada yang berdebar. Rasa takut saya kembali mengahantui, Saya selalu berpikiran “bagaimana kalau ini”, “bagaimana kalau itu”. Di depan, Abil dan Ila  sedang memeriksa perlengkapan mereka, tampak santai. Berbeda dengan saya, mereka jelas terlihat seperti orang yang tahu apa yang sedang mereka lakukan.</p><p><br/></p><p>“Ry, kamu siap kan?” tanya Abil, menoleh sambil menepuk bahu saya.</p><p><br/></p><p>“Sip,” jawab saya singkat, sambil mengacungkan jempol, meski lutut saya sedikit gemetar.</p><p><br/></p><p>Ila, yang selalu ceria, tersenyum lebar. “Santai aja, Ry. Kalau capek, tinggal bilang. Kita kan di sini buat menikmati perjalanan.”</p><p><br/></p><p>Saya hanya mengangguk, meskipun kepala saya penuh dengan pikiran negatif. Bagaimana kalau saya menyerah di tengah jalan?. Bagaimana kalau saya tersesat?. Tapi jauh di dalam hati, saya tahu satu hal: perjalanan ini bukan hanya soal mencapai puncak. Ini adalah tentang membuktikan bahwa saya mampu mengatasi ketakutan terbesar saya, diri saya sendiri.</p><p><br/></p><p>Kami mulai melangkah. Setiap langkah terasa berat, tapi saya mencoba untuk tidak memikirkan apa yang ada di depan. Perjalanan baru saja dimulai.</p><p><br/></p><p>Hari pertama berlalu tanpa banyak masalah, meskipun tubuh saya sudah mulai protes. Jalur setapak yang kami lalui cukup bersahabat, dan suasana ceria Abil dan Ila sedikit membantu mengalihkan rasa lelah saya. Tapi semuanya berubah di hari kedua.</p><p><br/></p><p>Jalur mulai menanjak curam. Batu-batu besar dan akar pohon yang menjalar membuat setiap langkah terasa seperti ujian. Napas saya tersengal, keringat mengalir deras, meski udara dingin. Saya mulai tertinggal jauh di belakang.</p><p><br/></p><p>“Ry, istirahat dulu aja,” seru Ila dari depan, tapi saya hanya menggeleng. Rasa malu karena terus tertinggal membuat saya memaksa diri untuk terus berjalan.</p><p><br/></p><p>Namun, ada yang aneh. Saat melangkah lebih jauh, saya merasa ada yang mengawasi. Awalnya saya pikir itu hanya imajinasi, tapi perasaan itu semakin kuat. Ketika saya menoleh, saya melihat sesuatu di balik kabut—bayangan seorang pria. Dia berdiri diam, seolah memandang saya. Saya tidak menghiraukannya berharap saya hanya salah lihat. Ketika saya menoleh lagi, bayangan itu sudah hilang. Untunglah...</p><p><br/></p><p>Malam itu, saya bermimpi buruk. Dalam mimpi, saya berada di jalur sempit di tepi jurang. Kabut menutupi pandangan, tapi di ujung jalur, saya melihat sosok yang sama—pria misterius dengan jaket flanel. Dia menatap saya tanpa ekspresi, dan sebelum saya bisa berkata apa-apa, tanah di bawah kaki saya runtuh. Saya terbangun dengan keringat dingin, napas terengah-engah.</p><p><br/></p><p>“Kamu kenapa, Ry?” Ila bertanya, wajahnya dengan penuh kekhawatiran.</p><p><br/></p><p>“Cuma mimpi,” jawab saya pendek. Tapi dalam hati, saya tahu itu lebih dari sekadar mimpi.</p><p><br/></p><p>Hari ketiga, kami memasuki Jalur Hening. Benar-benar hening. Tidak ada suara burung, tidak ada gemerisik angin, hanya langkah kaki kami yang menggema. Kabut tebal menyelimuti jalur, membuat jarak pandang hanya beberapa meter.</p><p><br/></p><p>Saya mulai tertinggal lagi. Ila dan Abil sudah jauh di depan. Suara mereka lenyap. Saya merasa sendirian, dan panik mulai menyerang.</p><p>“Abil! Ila!” Saya berteriak, tapi tidak ada jawaban.</p><p><br/></p><p>Saat itu, saya melihatnya lagi. Pria misterius itu berdiri di tengah jalur, kali ini lebih dekat. Dia melambaikan tangan, memberi isyarat agar saya mengikutinya.</p><p>Saya ragu, tapi tidak punya pilihan lain. Dengan langkah berat, saya berjalan ke arahnya. Jalur semakin asing, semakin sempit. “Kita hampir sampai?” saya bertanya, tapi dia tidak menjawab.</p><p>Dia berhenti di tepi jurang, lalu berbalik menatap saya. Tatapannya menusuk, membuat saya merinding. "Kamu akan tetap di sini, atau kamu akan melangkah lebih jauh? Pilihanmu menentukan," kata pria itu, matanya kini berkilat tajam.</p><p>Tiba-tiba, pria itu menghilang begitu saja. Seperti ditelan kabut. Arman hanya bisa berdiri terpaku, mata terbelalak, bingung, dan takut. "Apa yang terjadi? Siapa dia?".</p><p>Saya berdiri di sana, terpaku. Tubuh saya gemetar, tapi suara Ila yang memanggil nama saya dari kejauhan membangunkan saya dari kebingungan. Dengan sisa tenaga, saya mengikuti suara itu.</p><p><br/></p><p>Kami akhirnya sampai di puncak Gunung Meranti. Angin dingin menyapa, dan langit yang cerah menyuguhkan pemandangan luar biasa.</p><p><br/></p><p>Saya berdiri di sana, memandangi dunia yang terbentang di bawah, dan untuk pertama kalinya, saya merasa ringan. Semua keraguan, ketakutan, dan beban yang saya bawa seolah hilang.</p><p><br/></p><p>“Ry, kamu berhasil,” kata Ila sambil tersenyum lebar.</p><p><br/></p><p>Saya tersenyum balik. “Terima kasih,” jawab saya pelan. Bukan hanya kepada Ila dan Abil, tapi juga kepada diri saya sendiri.</p><p><br/></p><p>Saya tidak tahu siapa pria misterius itu, atau apakah dia benar-benar ada. Tapi satu hal yang saya tahu, kata-katanya telah mengubah saya.</p><p><br/></p><p>Beberapa bulan kemudian, saya kembali ke Gunung Meranti seorang diri. Saya menemukan sebuah papan kecil di jalur tempat pria itu muncul. Tulisan di atasnya berbunyi:</p><p><em>"Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah melangkah meski rasa takut itu ada." </em>Saya tersenyum. Perjalanan itu bukan hanya soal mencapai puncak, tapi juga menemukan diri saya yang sebenarnya. Saya tahu, di hidup ini, langkah pertama selalu yang paling sulit. Tapi yang terpenting adalah terus berjalan.</p><p><br/></p><p>5-12-24</p><p><br/></p><p>alhamdulillah.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3133229535/0601b605355205a63bb6832019c67ea8/Cuplikan_layar_2024_09_11_220414.png" />
         <pubDate>2024-12-05 13:44:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3248215761</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M HANDIKA JULIO</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3250357677</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>“LUKA TAPI TIDAK BERDARAH”</strong></p><p>Di bawah malam yang sunyi, aku berdiri di atas gedung asramaku. Aku mematung di sana, memandang jauh ke langit yang masih dihiasi sisa-sisa awan hitam bekas hujan. Genangan air yang tertinggal di dekat kakiku memantulkan bayangan diriku yang rapuh. Hatiku gelisah, pikiranku penuh oleh bayangan seorang gadis yang telah menyakitiku lebih dalam daripada yang pernah kubayangkan. Gadis itu terus-menerus melintas di benakku, seperti luka yang tidak akan pernah sembuh. Dia adalah orang pertama yang kucintai sepenuh hati, tapi juga orang pertama yang menghancurkan hatiku dengan begitu kejam.</p><p>Selama bertahun-tahun, aku percaya bahwa hubungan kami dibangun di atas cinta yang kuat. Namun kenyataannya, semua itu hanyalah bayangan semu yang kususun sendiri bayangan yang akhirnya retak pada malam itu. Kenangan yang pernah kami ciptakan bersama kini terasa seperti serpihan kaca yang menusuk setiap sudut hatiku. Aku masih ingat saat memperkenalkannya kepada kedua orang tuaku, penuh kebanggaan karena aku pikir dia adalah masa depanku. Begitu pula ketika dia dengan percaya diri memperkenalkan dirinya kepada keluargaku, aku yakin bahwa kami akan menghadapi dunia bersama.</p><p>Namun semuanya berubah setelah aku masuk ke MAN 1 Jember. Kabar buruk itu datang, membawa guncangan besar dalam hidupku. Teman-temanku dan teman-temannya mulai berbicara tentang bagaimana dia telah menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Aku tidak percaya. Aku mencoba mengabaikannya, mencoba menerima kenyataan yang pahit itu. Tapi di dalam diriku, aku sadar bahwa aku telah tergantikan begitu saja, seperti aku tidak pernah berarti. Kata-kata “lebih baik darimu” terus bergema di pikiranku, melukai harga diriku.</p><p>Satu semester berlalu. Aku berhasil bertahan, meskipun dengan hati yang terluka. Tapi luka itu semakin dalam ketika aku mendengar kabar bahwa dia telah menikah muda pada tahun 2023. Dunia seakan berhenti berputar. Gadis yang pernah bersumpah akan bersamaku selamanya kini telah memilih jalannya sendiri, meninggalkanku dalam kehancuran. Aku berusaha menutupi semua luka ini, mencoba bersabar menerima kenyataan yang begitu menyakitkan.</p><p>Malam itu, di atas gedung asrama, aku berdiri dengan perasaan yang bercampur aduk. Hujan yang baru saja reda meninggalkan aroma tanah basah yang samar. Namun, aku tahu aku tidak bisa terus seperti ini.</p><p>Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba memahami bahwa cinta tidak selalu berjalan sesuai harapan. Aku memutuskan untuk bangkit, meskipun perlahan. Aku mulai menuangkan perasaan dalam tulisan, mencoba merangkai kata demi kata untuk menyembuhkan hatiku sendiri. Aku sadar, mungkin aku tidak akan pernah benar-benar melupakan dia. Tapi setidaknya, aku bisa belajar menerima.</p><p>"Luka itu akan tetap ada, tapi bukan lagi sebagai beban, Melainkan sebagai pengingat bahwa aku pernah mencintai dan pernah kehilangan". "Dan dari kehilangan itu, aku belajar untuk lebih kuat menghadapi apa pun yang akan datang di masa depan". Jadi ingat bahwa cinta tidak selamanya berjalan dengan sesuai apa yang di inginkan salah satu dan jika ingin berjalan dengan sesuai apa yang di inginkan maka saling memahami, saling mendukung, saling memberi effort, dan saling menjaga satu sama lain.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-07 03:09:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3250357677</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3250361647</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3140440434/8bffd8c0ad4c47ab27f24e94a7b3aabf/CERPEN_FANNY_EZZA.docx" />
         <pubDate>2024-12-07 03:20:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3250361647</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pengumuman</title>
         <author>indahhusna190299</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3252003377</link>
         <description><![CDATA[<p>Terakhir pengumpulan Kamis, 12 Desember 2024</p><ol><li><p>kumpulkan dengan format word</p></li><li><p>jangan lupa diberi foto penulis</p></li></ol><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-09 05:47:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3252003377</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3252016656</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3147280239/37459ec1e6bba9b13e25d39d18c4363d/Cerpen.docx" />
         <pubDate>2024-12-09 06:02:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3252016656</guid>
      </item>
      <item>
         <title>09 DANISH APRILLIAN XI PK 1</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3252028416</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3147278905/cb600f1971b7dcee951ec61b356b95f7/TANGGA_KEHIDUPAN.docx" />
         <pubDate>2024-12-09 06:14:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3252028416</guid>
      </item>
      <item>
         <title>sultan sabil</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3255866363</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3160342261/21823f56b46c319098ff8a0101b8aca4/Petualangan_di_Hutan_Misterius.docx" />
         <pubDate>2024-12-11 15:14:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3255866363</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Abdullah Habibie</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3255945809</link>
         <description><![CDATA[<p>PERJALANAN SANTRI PEMALAS...</p><p><br/></p><p>Di sebuah kota yang panas dan terdegar suara bising hiruk-pikuk perkotaan, ada seorang santri bernama Sholihin. Sholihin adalah anak yang ceria, membara dan meyala, akan tetapi dia itu pemalas dalam pelajaran formal namun semagat dalam pembelajaran agama. Setiap sepertiga malam, ia bangun sebelum subuh, sholat tahajjud, membersihkan diri, dan bersiap menuju musholla nurul anwar. Di sana, ia belajar mengaji fathul qorib, tafsir, hadits, dan berbagai ilmu agama lainnya.</p><p><br/></p><p>Sholihin memiliki mimpi besar. Ia ingin menjadi pendai dan hafidzul qur’an yang bisa mengajarkan ilmu agama ke seluruh penjuru negeri. Setiap malam, sebelum tidur, setelah membaca surah al-mulk, ia selalu berdoa kepada Sang Kholik agar diberikan kemampuan untuk menggapai mimpinya.</p><p>Suatu ketika ia melihat brosur sebuah lomba, dan ia pun tertarik dengan perlombaan tersebut, yakni khitobah, yang diadakan oleh UIN maulana malik ibrohim, diapun lagsung mendaftarkan diri untuk megikuti perlombaan tersebut, deangan adanya perlombaan tersebut membuat, Sholihin yang notabenetnya pemalas dan ceria akhirnya bersemangat dan rajin dalam berlatih khitobah,</p><p>Dikarena sholihin belum bias mentranslate secara sempura, akhirnya ia meminta teks dai tersebut ditranslate oleh gurunya, yakni ustadz huda, ustadz huda adalah guru bahasa arab yang sagat perfect, walaupun beliau nampaknya seperti guru biasaa, tapi jagan salah, beliau telah menempuh pedidikan di Negara arab selama sebelas tahun, jadi kemampuan beliau dalam bahasa arab tidak perlu ditanyakan lagi.</p><p>Pas hari H perlombaan, Sholihin bangun dengan semangat 45! Dia merasa hari itu adalah hari spesial yang akan menentukan masa depannya. Setelah mandi dan memakai baju terbaiknya, dia berangkat ke tempat lomba dengan penuh percaya diri.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Saat sampai di tempat lomba, Sholihin melihat banyak peserta lain yang juga terlihat sangat bersemangat. "Wah, banyak juga ya yang ikut lomba ini," pikirnya. Tapi itu tidak membuatnya gentar. Dia tetap fokus pada tujuan utamanya.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Ketika tiba gilirannya untuk tampil, Sholihin naik ke panggung dengan sedikit grogi. Tapi begitu melihat wajah-wajah penonton dan dewan juri yang penuh perhatian, rasa gugupnya perlahan menghilang. Dia mulai khitobah dengan suara lantang dan penuh keyakinan. Semua yang dia pelajari selama latihan bersama Ustadz Huda terasa sangat membantu.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Penonton dan juri tampak terpesona dengan penampilannya. Setelah selesai, Sholihin mendapat tepuk tangan meriah. Dia merasa sangat lega dan bangga dengan dirinya sendiri.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Beberapa hari kemudian, hasil lomba diumumkan. Sholihin tidak menyangka namanya disebut sebagai pemenang pertama! Dia merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah SWT atas bantuan-Nya. Kini, dia semakin yakin untuk mengejar mimpinya menjadi pendakwah dan hafidzul Qur'an yang bisa membawa manfaat bagi banyak orang.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Dengan kemenangan ini, Sholihin semakin giat belajar dan berlatih. Dia percaya bahwa usaha dan doa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan membuahkan hasil. Dan perjalanan santri pemalas yang kini berubah menjadi santri penuh semangat ini baru saja dimulai.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Begitulah, Sholihin terus melangkah maju menggapai mimpinya, tanpa pernah menyerah. Siapa tahu, mungkin suatu hari nanti, kita akan mendengar namanya sebagai pendakwah hebat yang dikenal di seluruh negeri.</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3160596954/36e00d74b419afca2a5e8f4fd6637ab2/IMG_1326.JPG" />
         <pubDate>2024-12-11 16:11:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3255945809</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Abdullah Habibie</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3255951666</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3160596954/3aa5beed98e3f73ed93a3eb39cf4acbe/cerpeen.docx" />
         <pubDate>2024-12-11 16:16:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3255951666</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>asonmafud13</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256147075</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><em>MALAM 1 SURO...XIXIXIIXI</em></strong></p><p>DI… Kesunyian… malam …ini…, nahloh pasti takut kan lu pada aowkoakowk,,. Di malam yg sunyi di <em>pngabdi s3tan</em> itu memang serem tapi ada yg ga kalah serem yaitu….</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Di pagi yang cerah tepatnya pada hari kamis 16 april 1999, Hasan akan berangkat melaksanakan kegiatan which is salah satu wishlist dia yang ingin banget dia lakukan yakni “nyunset + kemah di Watu Ulo beach”. Hasan akan berangkat dengan bbrp temannya yakni ada Fairus,RahmatAHALU,shakur,dan suttur. Mereka berlima berencana akan kumpul di tikum(TITIKKUMPUL) yg mana tikumnya di rumahnya si kembar yakni si shakur dan suttur pada jam 2 siang,kenapa di sana?&nbsp; karna paling deket dgn pantainya.</p><p>Setelah makan siang hasan mau pamit ke nenek nya {eitss bentar,kemana ortu si hasan??apa Yteam Pyatu? Yaps benar ortunya meninggal sudah 18 tahun lalu sejak hasan kelas 1 sd}&nbsp; “nek, aku tarlagi berangkat yaa..ngumpul di rumahny shakur dlu soalnya..” izin hasan ke nenek, “ya le..tp yakin ta mau ngemah ndek watu ulo? Saiki malem 1 suro lo le..” jawab nenek sambal mengingatkan ke cucu tersayangnya. nenek pun mengiyakan dan berpesan ke hasan "yawes nek gitu,ati ati ae pokoke ya le,dijaga barange,adab e,baca doa seng banyak". hasan mantuk dan salim ke nenek lalu berangkat ke tikum.</p><p>&nbsp;</p><p>~~</p><p>&nbsp;</p><p>"gimana ges?redi??? yok wes ndang budal selak kesoren.." ucap shakur ke semua temen"nya.. lalu dijawab oleh semua serentak "yokk!!"</p><p>(berangkatlah mereka berlima ke lokasi tujuan setelah asar...</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>~</p><p>&nbsp;</p><p>"berapa pak harga tiket masuk e?" tanya hasan ke penjaga pintu masuk. “ber5 yo?50k.” jawab bapak penjaga pintu masuk.. “nak kono kate ngecamp?” Tanya pak penjaga pintu masuk ke hasan yang dijawab dengan anggukan kepala saja, “saiki malem 1 suro lo genna te ngecamp? Ati ati ae wes..” lanjut pak penjaga pintu masuk, hasan sudah menebak apa yang akan ditanyakan sama pak penjaga ke dia, dan benar itu pertanyaan yg di tanyakan. Lalu kembalilah hasan ke temen-temennya sembari membawa karcis masuk dan mengajak teman temannya capcus ke pantai nya..</p><p>&nbsp;</p><p>Setelah memasang tenda dengan semangat, mereka berlima duduk di tepi pantai, menunggu momen yang telah mereka impikan: sunset di Watu Ulo. Langit mulai berwarna jingga keemasan, dan suasana terasa magis. Gelombang ombak yang berdebur menambah keindahan malam itu. Namun, kebahagiaan mereka tak bertahan lama.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Eh, mana makanan yang kita bawa?” tanya Rahmat, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“sek, Harusnya ada di tas Fairus!” jawab Shakur, terlihat panik.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Gak mungkin, aku udah bawa semua bahan masakan!” Fairus membela diri, wajahnya mulai memerah.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Kalau gitu, siapa yang bawa? Kita udah lapar banget ini!” Suttur mulai berteriak, suasana semakin tegang.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Jangan saling menyalahkan, guys! Kita harus cari solusinya!” Hasan mencoba menenangkan teman-temannya, meskipun perutnya juga sudah keroncongan.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Mereka mulai mencari-cari di sekitar tenda, berharap makanan itu hanya terselip di suatu tempat. Namun, semua usaha mereka sia-sia. Makanan yang seharusnya ada, kini menghilang entah ke mana.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Gimana kalau kita cari makanan di warung terdekat?” usul Shakur.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Di sini? Malam-malam gini?” Rahmat meragukan.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Ya udah, kita masak saja apa yang ada di sekitar!” Suttur berusaha optimis.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Namun, saat mereka berusaha mencari bahan-bahan alami di sekitar pantai, suasana semakin mencekam. Angin malam berhembus kencang, dan suara ombak seolah berbisik. Tiba-tiba, mereka mendengar suara aneh dari balik batu besar di dekat tenda.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Eh, kalian denger itu?” tanya Fairus, suaranya bergetar.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Denger! Kayak suara orang nangis!” jawab Hasan, merinding.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Jangan-jangan itu hantu! Malam 1 Suro, kan?” Rahmat berusaha bercanda, tapi nada suaranya menunjukkan ketakutan.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Sudahlah, kita kembali ke tenda saja!” Hasan menarik tangan temannya, berusaha mengalihkan perhatian dari suara misterius itu.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Mereka kembali ke tenda, duduk melingkar dengan wajah cemas. Dalam keheningan, tiba-tiba tenda bergetar hebat.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Anjer! Apa ini?!” teriak Suttur, panik.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Tenang! paleng cuma angin!” Hasan berusaha menenangkan, meskipun hatinya berdebar.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Namun, suasana semakin mencekam. Tiba-tiba, lampu senter yang mereka bawa mati, dan kegelapan menyelimuti mereka.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Ini gak lucu, ges!” teriak Fairus, suaranya semakin panik.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Coba kita keluar!” saran Shakur.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Mereka berempat keluar dari tenda, dan apa yang mereka lihat membuat mereka terdiam. Di depan mereka, sosok bayangan berdiri di tepi pantai, menghadap ke laut.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“sopo iku?!” bisik Rahmat, ketakutan.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Ndak tahu, tapi kita harus pergi dari sini!” Hasan menarik tangan temannya, berusaha menjauh.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Namun, saat mereka berbalik, sosok itu berbalik juga, dan wajahnya terlihat samar. Tiba-tiba, semuanya menjadi gelap.Hasan terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia melihat jam di dinding, menunjukkan pukul 3 pagi. “Hah? Ternyata cuma mimpi?” pikirnya, menghela napas lega. </p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Ia teringat semua kejadian aneh yang terjadi dalam mimpinya. “Malam 1 Suro…,” gumamnya. </p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>Dengan rasa syukur, Hasan beranjak dari tempat tidurnya. Ia bertekad untuk tetap melanjutkan rencana kemahnya dengan teman-temannya, tetapi kali ini, ia akan lebih berhati-hati dan memastikan semua barang bawaannya aman. </p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>“Moga ga ada kejadian aneh lagi,” ucapnya sambil tersenyum, merencanakan petualangan yang sebenarnya di Watu Ulo.</p><p>&nbsp;</p><p>by: ason creepypasta</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3073192675/045629406c47caa731ed9b3fd612b158/IMG_1024.JPG" />
         <pubDate>2024-12-11 19:01:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256147075</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>asonmafud13</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256148219</link>
         <description><![CDATA[<p>format word malam 1 suro</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3073192675/51d728bc8224bb7b60666f2adb0306df/MALAM_1_SURO_by_ason_creepypasta.docx" />
         <pubDate>2024-12-11 19:02:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256148219</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256633536</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3162819987/301914ae2aa4f8cff8e053730ca5a457/10_Dawam_Alfarabbi_XIPK1_CERPEN.docx" />
         <pubDate>2024-12-12 03:22:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256633536</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Syafiq Abdul Hakim</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256716655</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3163026842/c29b6027f6b2cc2c8fdad53f8c500d29/Cerpen.odt" />
         <pubDate>2024-12-12 04:45:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256716655</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Faza Ahmad Arrifani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256746047</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3162988166/1d97c8d5ce5ae6df56db1857154083a9/SI_KECIL_BERKAROMAH_.docx" />
         <pubDate>2024-12-12 05:08:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256746047</guid>
      </item>
      <item>
         <title>FARIS FARHAN MUHTAROM 14</title>
         <author>farisfarhan612</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256803916</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3039103639/02bd78a2b7647cf7e845dd94ecaf140e/Simpang_Masa_Lalu_Cerpen_by_Faris_Farhan_Muhtarom.docx" />
         <pubDate>2024-12-12 06:01:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256803916</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Faris Farhan 14</title>
         <author>farisfarhan612</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256807214</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Simpang Masa Lalu</strong></p><p>Memang Tuhan menciptakan manusia untuk hidup saling berdampingan, sebagaimana pelangi diciptakan untuk menyatukan warna – warna meski tak benar – benar bersama. Sama halnya dengan warna – warni pelangi, ini kisahku, antara aku dan dia, dimana dua jiwa bertemu di simpang perbedaan.&nbsp; Aku tau, bahwa kita tak selamanya sejalan, layaknya arus sungai yang mengalir deras dan meliuk – liuk tajam mengikuti jalan, namun tetap mengalir bersama.</p><p>Suara ombak bergemuruh, memecah keheningan yang tercipta. Aku duduk di warung kecil pinggir pantai, sambil nikmatin segelas cappucino yang baru aja aku pesan. Di depan, laut terlihat tak berujung, seolah menyatu dengan indahnya langit senja yang berwarna jingga. Tenang banget, pandanganku&nbsp; terhanyut oleh keindahannya, entah apa yang kupikirkan saat itu. Gak lama, temenku datang bareng perempuan yang aku gak kenal.</p><p>“Ehh, kenalin nih,” kata Kevin sambil ngeluarin rokok dari kantongnya. “Ini Chika, tetangga sebelah rumah.”</p><p>Chika tersenyum tipis,&nbsp; mengulurkan tangannya. “Hai, aku Chika.”</p><p>Aku mengangguk singkat, menjabat tangannya dengan sedikit nervous. “Brata.”</p><p>Dia membalas dengan senyuman ramahnya, lalu duduk. Rambutnya tergerai, dan kayak ada sesuatu di wajahnya yang bikin candu, ya mungkin senyumnya. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke laut dan memandangi matahari yang perlahan tenggelam, mencoba menghindari rasa canggung yang tiba – tiba muncul.</p><p>“Bagus ya sunsetnya!”&nbsp; katanya, memecah lamunku.</p><p>Aku tersenyum tipis. ”suka sunset juga?”</p><p>“Iya,” jawabnya sambil melihat ke arah langit. ”Apalagi kalo liatnya di pantai, rasanya kayak beda gitu, tenang banget.”</p><p>Obrolan kita terus berlanjut, <em>ngalor – ngidul</em>, dari sunset, laut sampai hal – hal yang lain. Chika itu tipe orang yang gampang berinteraksi, nggak pernah kehabisan topik. Aku yang biasanya nggak banyak bicara malah jadi nyaman kalo ngedenger ceritanya.</p><p>Tanpa sadar malam pun larut, langit yang tadinya terang berubah jadi gelap. Angin malam mulai terasa dingin, teman – teman lain mulai masuk ke warung. Tapi aku sama Chika tetep duduk di tempat, nikmatin suasana pantai yang adem.</p><p>“Gak kerasa ya, kita ngobrol lumayan lama juga,” kata Chika sambil natap ke arah laut.</p><p>“Iya, kerasa kayak cepet banget kalo udah ngobrol gini,” jawabku sambil mikir, ngerasa kayak ada yang beda dari biasanya.</p><p>Suasana tiba – tiba hening, aku balik noleh ke belakang buat liat temen – temen,ehh gataunya mereka pada liatin aku sama Chika ngobrol. “Liat apa mas?” tegurku sambil <em>nyengir – nyengir</em> malu.</p><p>Kevin nyengir iseng sawmbil hembusin asap rokok dari mulutnya. “Gak ada, lanjut aja ngobrolnya,” katanya sambil becanda bareng temen yang lain.</p><p>Aku Cuma geleng – geleng kepala sambil ketawa kecil nahan malu. Chika juga ikutan ketawa, tapi gak lama langsung balik ngalihin pandangan ke laut. “Temen – temen kamu seru juga ya,” kata Chika dengan suara pelannya yang hampir ga kedengeran.</p><p>“Anak – anak emang pada asik semua, apalagi kalo kumpul bareng gini, rame sendiri, ada aja yang di bercandain,” jawabku sambil ketawa.</p><p>Chika ketawa, kali ini lebih lepas. “Tapi enak sih, punya banyak temen sama lingkungan yang rame gitu. Aku kadang ngerasa bosen di rumah, mau keluar juga bingung kemana.”</p><p>Aku ngangguk, ngeliatin ombak. “Iya, kadang suasana kumpul bareng gini yang bikin kangen kalo anak – anak dah pada pisah.”</p><p>Chika diem sebentar sambil terus liatin laut. Kayak lagi ada yang dipikirin, tapi pendem sendiri. Aku coba ngebuka obrolan lagi, biar suasana nggak terlalu canggung. “Omong – omong kamu sering kesini ?”</p><p>“Nggak sih, kalo ada yang ngajak aja. Kalo kamu sendiri, sering kesini?” jawabnya sambil nanya balik.</p><p>Aku ngeliatin dia sebentar. “Lumayan, pantai ini kayak udah jadi tempat ngumpul sama anak – anak kalo sore. Tenang, tapi tetep ada suasana rame kalo lagi kumpul gini.”</p><p>Angin malam mulai terasa lebih dingin. Temen – temen yang lain juga udah mulai pamit, Kevin juga udah keliatan mau balik juga. “Chik, gak mau balik juga nih, apa mau balik sama Brata?” tegurnya ke Chika.</p><p>Chika nengok, sambil masang &nbsp;raut wajah &nbsp;jengkel &nbsp;“Ihh, apaan sih Kev, bareng kamu aja.”</p><p>“Yaudah ayo buruan, udah siap nih,” bales Kevin sambil jalan ke arah motor.</p><p>Chika ngeliat aku sebentar, terus berdiri sambil ngerapiin rambutnya yang berantakan kena angin. “Aku balik duluan ya bareng Kevin.”</p><p>Aku senyum kecil. “Oke, hati – hati!”</p><p>Gak lama, Chika balik lagi sambil ngeluarin HP dari tas. “Ehh, tukeran nomer dulu yuk. Siapa tau bisa ngobrol lagi kan atau ketemu&nbsp; gitu.”</p><p>Aku langsung buka HP, buru – buru nyimpen nomer Chika. “Wahh, spesial nih, jangan lupa save balik tapi.”</p><p>“Siap, mass! Btw, thanks ya buat yang tadi,” kata Chika sambil becanda, lalu nerusin jalannya nyusul Kevin naik ke motor.</p><p>Aku ngeliatin mereka pergi sambil – senyum sendiri, sambil ngebatin. “Kok aku kayak ngerasa&nbsp; nyaman ya kalo ngobrol bareng Chika.”</p><p>Setelah tukeran nomer, kita jadi sering ngobrol bareng. Kadang cuma nanya kabar, kadang ngobrol soal hal – hal receh. Nggak lama, kita juga sering ketemu lagi, entah itu di pantai yang sama atau&nbsp; tempat ngopi langganan aku sama temen – temen. Rasanya beda aja gitu kalo ada Chika ikut nimbrung bareng, kayak lebih tenang, lebih kondusif.</p><p>Hari – hari berikutnya,&nbsp; kita jadi makin deket. Kita udah mulai saling terbuka, cerita soal apa aja, dari hal – hal receh sampai topik yang lebih serius. Chika sering curhat soal keluarganya, salah satunya tentang papanya yang dapat tawaran kerjaan di Surabaya. Sebaliknya, aku juga cerita tentang hal – hal personalku, pertemanan, dan hal yang aku suka, termasuk kebiasaanku nongkrong bareng temen – temen.</p><p>Di awal, emang semua kerasa kayak baik – baik aja. Dia juga keliatan nggak keberatan aku&nbsp; sering maen sama temen – temen sampai malam, ya meski dia nggak selalu ikut. Tapi makin lama, perbedaan itu mulai kelihatan. Aku ngerasa kayak ada sesuatu yang nggak selaras, buka soal obrolan, tapi soal kita ngeliat banyak hal atau yang biasa dikenal dengan <em>mindset.</em></p><p>Sampai suatu sore, saat kita lagi di pantai, dia akhirnya buka suara. “Brata,” katanya dengan suara serius,</p><p>“kenapa Chik?” tanyaku sambil nyeruput minuman.</p><p>Dia diem sebentar, nyusun kata – kata. “ Aku nggak ngerti, kok kamu bisa nyaman ya sama lingkungan kayak gitu?”</p><p>Aku diem bentar, nggak langsung ngerti maksudnya. “Lingkungan apa? Temen – temenku?”</p><p>Dia ngangguk. “Iya, emang sih mereka asik, aku nggak bilang nggak. Tapi mareka kayak nggak ada batasan. Minum – minum, bercandaan yang kasar, ada juga yang sampe ribut sama orang lain gara – gara gak sadar. Aku nggak nyaman sama suasana kayak gitu.”</p><p>Aku tarik napas panjang, coba ngejelasin. “Mereka emang gitu, tapi aku kan nggak pernah ikutan, ada batasan sendiri.”</p><p>Dia menoleh, raut wajahnya serius. “Iya, sekarang kamu tahu batasannya. Tapi lingkungan kayak gitu, kalo udah dalem masuknya, susah buat keluarnya.”</p><p>Aku ngerasa sedikit gak nyaman. “Mereka itu temen – temen aku dari dulu, nggak enak kan kalo tiba – tiba ninggalin mereka gitu aja.”</p><p>Suasana jadi canggung, Chika diem. Gak lama, akhirnya dia ngomong lagi, kali ini nadanya agak pelan. “Aku nggak maksud buat ngatur – ngatur kamu, aku juga nggak maksa kamu buat berubah. Aku tau kamu beda, tapi tetep aja... kamu bisa ketarik ke situ kapan aja.”</p><p>Obrolan itu bikin suasana jadi agak canggung. Aku pengen bilang kalo aku nggak bakal berubah cuma gara – gara lingkungan, tapi aku juga nggak mau bikin Chika makin kecewa. Di hari – hari berikutnya, Chika mulai jarang ikut ngumpul bareng . Kadang aku mikir, aku ngerti kalo Chika gitu itu karena peduli, tapi disisi lain, aku juga mikir kalo aku nggak bisa ninggalin temen – temen gitu aja.</p><p>Sampai suatu hari, waktu aku lagi di pantai. Chika ngasih kabar lewat HP kalo dia mau pindah ke Surabaya, papanya jadi terima tawaran kerjaan di sana. Yahh, aku nggak tahu mau ngomong apa lagi, aku cuma bisa duduk di tempat biasa ngobrol sambil ngeliatin senja yang katanya bisa bikin tenang. Tapi aku sadar, di balik pertemuan&nbsp; ini, ada sebuah pelajaran berharga yang bisa aku petik, yaitu di tengah perbedaan kita di ajarkan untuk saling menerima, bukan saling memaksa. Ego hanyalah bayangan yang memudarkan cahaya yang ada, memaksakan kehendak hanya akan menciptakan jarak, sementara menerima adalah jalan untuk menyatukan jiwa dalam damai.</p><p>Ternyata benar, warna – warna &nbsp;pelangi yang dulu menyatukan kita kini memudar, menyisakan jejak yang hanya bisa dikenang. Meski tak lagi bersama, aku tahu, di suatu tempat jauh di sana, Dia masih membawa kenangan tentang kita. Kita adalah dua jiwa yang bertemu di simpang perbedaan, dan di sana juga kisah&nbsp;kita&nbsp;berakhir.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3039103639/e2051667a5822738f0c149ed1fa5f95f/PROVAIL.jpg" />
         <pubDate>2024-12-12 06:05:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3256807214</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mustofa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3257338428</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3164920369/9e356c7d9e71fe8db8d0b14e2ee47efd/Cerpen_Perjalanan_Penuh_Inspirasi.docx" />
         <pubDate>2024-12-12 14:10:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3257338428</guid>
      </item>
      <item>
         <title>LUTFI ULIN NUHA</title>
         <author>mlun25ul</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3257343732</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3164989871/92651aa862a5e5eb3f8387b589328aea/CINTA_BERAWAL_DARI_TERPAKSA.docx" />
         <pubDate>2024-12-12 14:14:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3257343732</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>achmadalfiyanazizy</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3257474430</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Malioboro at Midnight</strong></p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Serenity. Terdengar remeh, namun seolah merangkul bumi dan langit dalam satu dekapan. Mencari apa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana dan siapa itu ketenangan, adalah hobi yang telah menjadi pekerjaan primer para manusia. Manusia akan terus merasa terombang-ambing&nbsp; arus kehidupan tanpa tujuan yang pasti sampai ia menemukan makna sejati dari ..... .</p><p>“Woi! Lagi ngapain? Ngelamun mulu, ntar kerasukan siapa yang repot?.” teriak Nando memecah kebisingan kepala Ai</p><p>“Apasii lu, ganggu banget jadi orang, kayak rentenir!.”</p><p>“Yee, gak gitu juga kali... hahaha.”</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Airan Eshvara Evander dan Nando Rafael D Carlo, dua cowok yang tak terpisahkan, bagai matahari dan bulan. Ditemani secangkir kopi di tengah gemuruh kendaraan malam. Udara malam Yogyakarta menyelimuti mereka dengan lembut. Embusan angin semilir membawa aroma khas bakaran sate dan rempah-rempah yang menggelitik indra penciumannya.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Cahaya lampu-lampu neon Malioboro yang berkelindan dengan bulan purnama menciptakan harmoni visual yang menenangkan.Mereka berdua menjalani rutinitas mereka yang bisa dibilang tidak terlalu bermanfaat. Tapi bagi mereka berdua, rutinitas itu bagai O<sup>2</sup> yang tanpa itu, manusia bisa mati.</p><p>“Ndo, ayo pulang”</p><p>“Hah apa? Pulang?! Pesen kopi, duduk, ngelamun, pulang?</p><p>“Iya, ayoo pulang”</p><p>“Sumpah?! Gajelas banget ini orang” ocehan nando yang berusaha menyesuaikan langkah Ai.</p><p><em>Cling cling cling</em></p><p>Namun, setelah beberapa langkah ponsel Ai bergetar. Ia segera mengeluarkannya dari saku dan menatap kosong benda persegi yang sedang ia pegang.</p><p><em>“Ai, sibuk ga? Aku ditempat biasa, bisa ke sini?”</em></p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ia diam terpaku, pesan dari seorang gadis itu sederhana, namun mengacaukan kepalanya.</p><p>“Ndo, lo duluan aja ke parkiran”</p><p>“Apasi ini orang, katanya pulang” cehan nando yang mulai sedikit kesal dengan .....</p><p>“Udaa dluan ajaa” jawab nando sambil menatap ponselnya</p><p>“Pesan cinta ya? Jangan lupa traktir kalau jadian” ledek nando sambil tertawa meninggalkan Airan</p><p>“Ga ada hubungannyaaa” teriak ia sambil menatap kepergian Nando</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ia kembali menatap pesan itu, sederhana, namun memiliki kekuatan yang tidak bisa dipahami sepenuhnya oleh dirinya. "Aku di tempat biasa.". Dua kata sederhana, tapi penuh makna baginya. Tempat itu hanya sebuah kursi kayu panjang di pinggir trotoar. Berdiri sendiri di bawah sebuah lampu jalan yang cahayanya temaram, kursi itu seolah menantang waktu di antara lalu lalang manusia yang tak pernah berhenti.</p><p>Ai tidak tahu apa yang menantinya di sana, hanya saja langkah kakinya terasa ringan menuju tempat tersebut. Langit Malioboro berwarna abu-abu tua, dihiasi bintang-bintang yang bersinar samar, Ai menyusuri jalan yang mulai sepi, hanya tersisa beberapa pedagang yang membereskan barang dagangan mereka. Di tengah keheningan, di sebuah bangku di sudut trotoar, di bawah lampu jalan yang temaram, Ai menemukan sosok yang mengirimkan pesan sederhana itu.Perempuan itu duduk dengan santai, mengenakan sweater abu-abu dan celana panjang hitam. Rambutnya yang panjang tergerai terlihat anggun dan menawan</p><p>“Nadya?” panggil Ai, suaranya sedikit gemetar.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perempuan itu menoleh, matanya berbinar senyum kecil yang manis terukir di wajahnya .</p><p>“Hai, Aii..”</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Suara lembut itu membuat Ai terpaku sejenak. Nadya Selene Evandra, seorang gadis berkepribadian lembut yang baru Ai kenal beberapa minggu lalu. Pertemuan mereka terjadi secara kebetulan, saat Ai membantu Nadya yang tersesat di tengah keramaian Malioboro. Sejak itu, mereka sering bertemu, saling berbagi cerita di bangku yang sama di bawah lampu jalan yang temaram.</p><p>“Kamu... kok ada di sini?” tanya Ai.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Nadya&nbsp; tersenyum tipis, menepuk bangku di sebelahnya.</p><p>“Sini duduk. Aku ngga tau kenapa, tapi sepertinya tempat ini punya sesuatu yang berbeda”</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ai duduk disebelah Nadya tanpa mengucapkan sepatah kata. Ada perasaan hangat aneh yang menyelimuti mereka, seolah malam itu sedang merangkai kisah baru untuk&nbsp; &nbsp; mereka berdua.</p><p>“Tempat ini selalu jadi tempat kamu, kan? Aku suka suasana disini, tenang. Apalagi ada kamu.” suaranya lembut disertai senyum manis bibirnya.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ai tertawa kecil, meski masih diliputi kebingungan.</p><p>“Tempat ini... iya, selalu ada sesuatu di sini.”</p><p>Seiring waktu, hubungan Ai dan Nadya semakin dekat. Mereka berbagi banyak hal—tentang mimpi, masa lalu, dan ketakutan yang jarang diungkapkan kepada orang lain. Bagi Ai, Nadya adalah seseorang yang membuat Malioboro terasa berbeda. Bersama Nadya, tempat itu tidak hanya menjadi trotoar penuh pedagang dan pengamen, tetapi juga ruang yang memberi arti. Bagi Ai, Nadya adalah bagian dari ketenangan yang selama ini ia cari.</p><p>“Ai, menurutmu, Malioboro itu kayak apa si?” tanya Nadya suatu malam.</p><p>“Malioboro itu... tempat yang selalu penuh cerita. Tapi sejak ketemu kamu, tempat ini jadi lebih berarti,” jawab Ai, setengah bercanda.</p><p>&nbsp;“Gombal banget.”. Nadya tertawa kecil, pipinya memerah samar.</p><p>Namun, canda itu perlahan menjadi kenyataan. Mereka resmi berpacaran, dan Malioboro menjadi saksi bisu cinta mereka. Malam-malam dihabiskan dengan tawa, percakapan panjang, atau sekadar duduk diam menikmati keheningan.</p><p>Namun, tidak ada hubungan yang sempurna. Setelah beberapa bulan bersama, Ai mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa.</p><p>“Nadya, menurut kamu... kita ini apa sih?” tanya Ai suatu malam, tiba-tiba.</p><p>Nadya terkejut mendengar pertanyaan itu. “Maksud kamu? Kita pacaran, kan?”</p><p>“Ya, aku tahu. Tapi aku merasa... ada yang kurang. Aku nggak tahu kenapa.”</p><p>Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hati Nadya. Ia mencoba menyembunyikan rasa sakitnya, tetapi suaranya bergetar ketika berkata, “Jadi aku nggak cukup buat kamu?”</p><p>“Aku nggak bilang begitu. Kamu luar biasa, Nadya. Aku cuma... aku ngerasa masih ada sesuatu yang aku cari. Dan aku nggak tahu apa itu.”</p><p>Malam itu, keheningan menjadi jarak di antara mereka. Ai mulai menyadari bahwa cinta mereka, meskipun indah, tidak mampu mengisi kekosongan dalam dirinya.</p><p>Suatu malam, Ai duduk sendiri di bangku yang biasa ia tempati bersama Nadya. Nadya tidak datang, tetapi ia merasa tidak terganggu. Ia memandang sekitar, mencoba memahami perasaan yang berkecamuk dalam dirinya.</p><p>“Mungkin serenity itu bukan Nadya, atau bahkan Malioboro,” gumamnya. “Mereka cuma pengantar.”</p><p>Ai mulai merenungkan perjalanan emosionalnya. Nadya dan Malioboro memang memberinya kebahagiaan, tetapi mereka bukanlah jawaban dari kekosongan yang ia rasakan. Serenity, pikir Ai, adalah sesuatu yang harus ia temukan di dalam dirinya sendiri.</p><p>Ketika ia bertemu Nadya lagi di malam berikutnya, percakapan mereka terasa berbeda.</p><p>“Ai, aku tahu aku bukan orang yang bisa menyelamatkan kamu,” kata Nadya dengan suara lembut, tetapi tegas.</p><p>“Aku nggak butuh kamu menyelamatkan aku. Aku cuma butuh waktu untuk menemukan diri aku sendiri,” jawab Ai.</p><p>Nadya tersenyum tipis, meski matanya sedikit berkaca-kaca.</p><p>“Aku harap kamu menemukannya, Ai. Karena kamu pantas mendapatkan ketenangan itu.”</p><p>Beberapa minggu kemudian, Ai duduk di bangku yang sama, sendirian. Kali ini, ia tidak merasa kehilangan. Malioboro tetap seperti biasa—penuh cerita, suara, dan kehidupan.</p><p>Namun, bagi Ai, tempat itu tidak lagi menjadi pelarian, melainkan pengingat. Nadya adalah bagian dari perjalanannya, tetapi bukan tujuannya. Serenity adalah sesuatu yang ia temukan dalam keberanian untuk menerima dirinya sendiri, dan dalam menghargai momen-momen kecil yang sering ia abaikan.</p><p>Ai tersenyum, menatap langit yang penuh bintang. Untuk pertama kalinya, ia merasa utuh.</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3073194516/92820fc7212488918ddea17718676a8d/IMG_20240830_WA0028.jpg" />
         <pubDate>2024-12-12 15:52:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3257474430</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PENTING</title>
         <author>indahhusna190299</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3259398151</link>
         <description><![CDATA[<p>Yang belum mengumpulkan </p><ol><li><p>khoirul</p></li><li><p>arsyad</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-13 14:03:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3259398151</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MOHAMMAD ADZDZIN KHOIR</title>
         <author>dedenadzdzin27</author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3259415880</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3056816075/f3292bf36757b60d5bba92c607b71df0/CERPEN___RESAH_JADI_LUKA.docx" />
         <pubDate>2024-12-13 14:19:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3259415880</guid>
      </item>
      <item>
         <title>GALANG SANDY PRATAMA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3259561401</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><strong>             Aku adalah Pemenangnya</strong></p><p><br/></p><p>Mentari pagi perlahan naik dari ufuk timur, memercikkan warna keemasan di atas desa kecil tempatku tinggal. Namun, sinar itu tidak mampu menerangi kegelapan di hatiku. Aku, Rehan, seorang remaja yang selama ini dikenal sebagai "yang kalah".</p><p>Setiap lomba, setiap pertandingan, aku selalu berada di urutan belakang. "Tidak apa-apa, Rehan. Tidak semua orang harus menang," kata Ibu, menenangkan. Tapi aku tahu, jauh di lubuk hati, beliau pasti ingin melihatku berhasil sekali saja.</p><p>Hingga suatu hari, desa kami mengadakan perlombaan maraton. Sebuah pengumuman yang biasa saja bagi sebagian orang, tetapi bagiku, itu seperti panggilan terakhir untuk membuktikan bahwa aku bukan seseorang yang layak diabaikan.</p><p>Aku mulai berlatih, tanpa henti, siang dan malam. Nafasku tersengal-sengal setiap kali menaiki bukit, tapi aku terus mendaki. Kakiku sering gemetaran, tetapi aku melatih mereka untuk menjadi lebih kuat. Aku jatuh berulang kali, tetapi aku berdiri lagi, menepuk-nepuk tanah dari lututku.</p><p>Ketika hari perlombaan tiba, kerumunan berkumpul di lapangan desa. Semua peserta tampak lebih berpengalaman dariku—mereka yang terbiasa menang, yang tahu cara menghadapi kerasnya jalur lintasan. Aku memulai dengan perlahan, menjaga langkah.</p><p>Satu per satu peserta mulai menjauh, tapi aku tidak berhenti. Aku mengatur napas, menggenggam keyakinan seperti bara kecil di dalam hatiku. Tidak perlu menjadi yang pertama. Aku hanya ingin finis.</p><p>Tiba-tiba, hujan turun tanpa permisi, menyiram lintasan yang sudah licin dan berlumpur. Para peserta mulai kehilangan kendali. Sebagian dari mereka tergelincir, beberapa berhenti berteduh. Tapi aku terus berjalan, melewati jalan berlumpur dan kaki yang mulai mati rasa.</p><p>Hingga akhirnya, aku melihat pita finis itu di kejauhan. Aku merasa seperti angin mendorongku ke depan. Nafasku habis, kakiku hampir menyerah, tetapi ada satu hal yang tersisa—tekadku.</p><p>Ketika aku melangkah melewati garis finis, bukan sorak sorai atau tepuk tangan yang kudengar, tetapi suara Ibuku. "Rehan, kau melakukannya!" Katanya dengan mata berkaca-kaca. Tidak peduli siapa yang duluan sampai—yang penting aku selesai, aku menang melawan diriku sendiri.</p><p>Sejak saat itu, aku mengerti. Pemenang sejati bukanlah mereka yang pertama melangkah ke podium, tetapi mereka yang tidak menyerah pada diri mereka sendiri. Dan hari itu, aku—aku adalah pemenangnya.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3170469183/547c7f3b1abf37b7aaef15b0a65aa72f/IMG_20241210_WA0051.jpg" />
         <pubDate>2024-12-13 16:33:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/agitatedleaveeducation/membuatcerpen/wish/3259561401</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
