<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>PENGUKURAN_Tes Inteligensi_Kel 4 by Endhitya D. M. (111911133084)</title>
      <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4</link>
      <description>Kelas Pengukuran Psikologis B-1</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-09-09 13:58:27 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-29 15:03:16 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4d6.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Disusun Oleh Kelompok 4 Tes Inteligensi</title>
         <author>endhityamaritza</author>
         <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/746960658</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama Anggota:</div><div>- Tanya Taqilla                                    111911133059 </div><div>- Felyana Triadotelly                   111911133078</div><div>- Endhitya Davina Maritza         111911133084 </div><div>- Gayatri Safa Ramadhanty			111911133089 </div><div>- Shafa Shafira Mahendra Putri		111911133105</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-09-15 07:26:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/746960658</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KOLOM TANYA-JAWAB</title>
         <author>endhityamaritza</author>
         <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/746980989</link>
         <description><![CDATA[<div>Bagi teman-teman yang memiliki pertanyaan seputar materi yang kami buat, silahkan untuk sampaikan disini ya! Jangan lupa juga untuk menyertakan (Absen_NIM_Nama)</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-09-15 07:38:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/746980989</guid>
      </item>
      <item>
         <title>BAB I: PENGERTIAN INTELIGENSI</title>
         <author>endhityamaritza</author>
         <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/746984774</link>
         <description><![CDATA[<div>Inteligensi merupakan salah satu kemampuan manusia yang bersifat potensial dan merupakan kemampuan atau kecakapan umum. Kemampuan atau kecakapan ini dapat diaplikasikan secara nyata karena bantuan lingkungan (M.Ed, 2010). Kita dapat mendefinisikan kecerdasan sebagai kapasitas multifaset yang memanifestasikan dirinya dalam perbedaan cara melintasi rentang hidup. Secara umum kecerdasan meliputi kemampuan untuk memperoleh dan menerapkan pengetahuan, beralasan secara logis, membuat rencana secara efektif, membuat simpulan dengan tanggap, membuat penilaian yang tepat dan memecahkan masalah, memahami dan memvisualisasikan konsep, memerhatikan, intuitif, memukan kata-kata dan pikiran yang tepat, juga mengatasi, menyesuaikan diri, dan memanfaatkan situasi baru (Cohen-Swerdlik, 2010).<br>Meskipun sebagian besar ilmuwan perilaku saat ini percaya bahwa kemampuan intelektual yang diukur mewakili interaksi antara (1) kemampuan bawaan dan (2) pengaruh lingkungan, kepercayaan tersebut tidak terlalu populer pada masa yang lalu. Pada awal abad ke-17, preformationism mulai menjejakkan kakinya, hal ini dimulai saat ilmuwan-ilmuwan pada masa itu melakukan penemuan yang mendukung doktrin ini. Preformasionisme berpendapat bahwa hidup semua organisme dilakukan dari lahir: Semua struktur organisme, termasuk kecerdasan, dibentuk sebelumnya saat lahir dan oleh karena itu tidak dapat diperbaiki (Cohen-Swerdlik, 2010). <br>Pada 1672, seorang ilmuwan mempelajari embrio ayam, menggeneralisasi studinya untuk menarik kesimpulan hal yang serupa mengenai manusia. Pengaruh teori preformasionis perlahan mulai memudar dikarenakan bukti yang tidak konsisten mulai bermunculan. Misalnya, teori tersebut tidak dapat menjelaskan regenerasi anggota tubuh udang karang dan berbagai organisme lain (Cohen-Swerdlik, 2010).<br>Dengan kemajuan pekerjaan di bidang genetika, preformasionisme perlahan-lahan diganti dengan predeterminisme. Predeterminisme adalah doktrin yang menyatakan bahwa kemampuan seseorang ditentukan sebelumnya oleh warisan genetik dan tidak ada jumlah pembelajaran atau intervensi lain dapat meningkatkan apa yang telah dikodekan secara genetis untuk terungkap dalam waktu. Yang pasti, pertanyaan tentang natur-nurture intelgensi memiliki sejarah panjang debat dan kontroversi (Cohen-Swerdlik, 2010).<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-09-15 07:40:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/746984774</guid>
      </item>
      <item>
         <title>BAB II: PENGUKURAN INTELIGENSI</title>
         <author>gayatrisafa</author>
         <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/746988070</link>
         <description><![CDATA[<div>Pengukuran inteligensi adalah prosedur pengukuran yang meminta peserta untuk menunjukkan performa maksimum yang dilakukan dalam beberapa macam bentuk tes sebagai fungsi dari level perkembangan .<br><br></div><div><strong>Tipe aktivitas yang digunakan dalam test kecerdasan</strong></div><div>Biasanya tipe aktivitas yang digunakan dalam test kecerdasan disesuaikan berdasarakan umur. Seperti pada masa infacy (usia 0-18 bulan), assesement yang digunakan biasanya untuk mengukur perkembangan sensory motoric. Seperti contoh mengukur respon motoric nonverbal seperti membalikkan badan, mengangkat kepala, mengikuti benda yang bergerak dengan mata, meniru gerakan dan meraih objek tertentu. Biasanya para penguji atau examiner pada test kecerdasan ini harus memiliki kemampuan untuk membangun dan menjaga hubungan dengan individu atau anak yang diuji apalagi mereka belum mengetahui apa itu kerja sama dan kesabaran, sehingga memerlukan keterampilan yang mendukung. Selanjutnya evaluasi atau pengukuran yang dilakukan kepada anak yang lebih tua setelah masa infacy fokusnya adalah  kemampuan verbal dan kinerja. Lebih spesifik lagi, anak dapat melakukan aktivitas yang dirancang untuk mengukur pengetahuan informasi yang dapat diterima secara umum, kosakata, penilaian sosial, bahasa, penalaran, konsep numerik, memori auditori dan visual, konsentrasi, dan spasial visualisasi (Cohen-Swerdlik, 2010).<br><br>Kecerdasan juga berkaitan erat dengan konsep mental age dan chronological age.  Mental age adalah indeks yang mengacu pada penyetaraan usia kronologis berdasarkan performa individu pada sebuah tes atau subtes. Sedangkan usia kronologis atau chonological age adalah usia inidvidu yang sebenarnya pada saat menjalani tes. Ketika pengukuran intelegensi ini dilakukan oleh seorang professional dan diujikan pada orang dewasa, pengukuran ini dapat mengetahui peluang pada setiap individu dikemudian hari. sedangkan pada anak usia sekolah pengukuran ini, berguna untuk  mengklasifikasikan individu berdasarkan dengan kebutuhan dan kemampuan dalam melakuakn pembelajaran, sehingga guru dapat menyesuaikan system pembelajarannya (Cohen-Swerdlik, 2010).<br><br></div><div>Menurut Wechsler (1958), skala kecerdasan orang dewasa diukur berdasarkan kemampuan mengingat informasi umum, penalaran kuantitatif, bahasa ekspresif dan memori, dan penilaian sosial, Sedangkan pada anak-anak skala pengukurannya sama tetapi dengan item yang berbeda. Data dari pengukuran memungkinakan untuk mengevaluasi kemampuan dari individu yang memiliki gangguan, seperti pikun, trauma, atau gangguan yang lainnya dengan tujuan  untuk menilai kompetensi individu tersebut (Cohen-Swerdlik, 2010).<br><br></div><div><br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-09-15 07:42:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/746988070</guid>
      </item>
      <item>
         <title>BAB II: PENGUKURAN INTELIGENSI (lanjutan)</title>
         <author>gayatrisafa</author>
         <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/746991816</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><br>Perkembangan dan Interpretasi dalam Teori Tes Intelegensi</strong></div><div>Pada awalnya Galton mengemukakan bahwa intelegensi atau kecerdasan merupakan “natural gives” dimana hal tersebut berarti kecerdasan adalah sesuatu yang diturunkan secara biologis.  Binet juga menuliskan tentang hal yang sama, tetapi formal teori yang dituliskan oleh Binet berkaitan dengan teori milik Carl Spearman’s dengan general factor sebagai pusatnya. Teori Carls Spearman memiliki 2 faktor G-factor (general factor) dan S-factor (Specific factor). Sedangkan David Wechsler menekankan bahwa kecerdasan dapat dinilai dari berbagai aspek, tidak hanya kemampuan kognitif tetapi juga factor yang berkaitan dengan personality. Wechsler sendiri dalam alat tesnya membagi kecerdasan dalam kedua factor teori, yaitu kemampuan verbal dan kemampuan performance.  Selanjutnya ada teori baru tentang kecerdasan yang dikemukakan oleh Edward Lee Thorndike. Beliau mengklasifikasikan ke dalam 3 bentuk kemampuan yaitu : kemampuan abstraksi yang merupakan kemampuan untuk bekerja menggunakan symbol-simbol dan gagasan, kemampuan mekanik yang merupakan untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan aktivitas sensori motorik, dan kemampuan sosial. Walaupun  teori Thorndike ini ada, tetapi tidak ada tes intelegensi utama yang pernah dikembangkan berdasarkan teori multifactor milik Thorndike ini.<br><br></div><div><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-09-15 07:44:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/746991816</guid>
      </item>
      <item>
         <title>BAB III: SEJARAH PEMIKIRAN BEHAVIORAL SCIENTISTS DAN TES-TES PENGUKURAN INTELIGENSI</title>
         <author>gayatrisafa</author>
         <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/746995466</link>
         <description><![CDATA[<div>3.1. <strong>Francis Galton</strong></div><div><br>Francis Galton merupakan ahli biologi Inggris. Galton tidak menjelaskan definisi Inteligensi secara rinci namun ia memiliki paham pendekatan yang berciri psikofisik (Fatmawiyati, 2018). Galton diingat sebagai tokoh pertama yang mengusulkan teori adanya pengaruh keturunan dan genetik dalam inteligensi manusia (Midori &amp; Rizky, 2020). Namun teori inteligensi bergantung dari nenek moyang ini mendapat kritikan dari penganut <em>nurture.<br></em><br></div><div>Galton juga berpendapat bahwa inteligensi yang dimiliki manusia adalah seberapa bagus dan baiknya individu memiliki kemampuan sensorik. Hal ini dikarenakan Galton mengamati bahwa informasi yang didapat dan diterima oleh manusia awalnya berasal dari kemampuan sensorik manusia. Galton mengukur inteligensi dengan melihat kemampuan sensomotorik pada individu (Midori &amp; Rizky, 2020). Sehingga individu dengan kemampuan peka yang tinggi dan berfungsinya alat indera serta alat gerak dengan baik, maka nilai inteligensinya semakin tinggi (Rohmah, 2011).  <br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-09-15 07:46:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/746995466</guid>
      </item>
      <item>
         <title>3.2.  Alfred Binet: The Stanford-Binet Intelligence Scales</title>
         <author>gayatrisafa</author>
         <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/747000579</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Alfred Binet adalah seorang psikolog Prancis yang menemukan tes IQ praktikal pertama, yang bernama tes Binet-Simon. Meskipun karyanya memiliki efek besar dalam meluncurkan tes penguji untuk inteligensi dan karakteristik lainnya, Alfred Binet sendiri tidak menciptakan sebuah definisi eksplisit dari inteligensi (McMorris &amp; Kundert, 1994). Namun, Binet menulis tentang komponen-komponen dari inteligensi. Komponen inteligensi menurut Binet antara lain penalaran, penilaian, memori, dan abstraksi.<br><br></div><div>Dalam makalah yang mengkritik pendekatan Galton terhadap penilaian intelektual, Binet dan rekannya menyerukan pengukuran kemampuan intelektual yang lebih kompleks. Galton memandang inteligensi sebagai sejumlah proses yang berbeda atau kemampuan yang hanya bisa dinilai dengan tes terpisah. Sebaliknya, Binet membantahnya, ketika seseorang memecahkan masalah tertentu, kemampuan yang digunakan tidak dapat dipisahkan karena mereka berinteraksi satu sama lain untuk menghasilkan solusi (McMorris &amp; Kundert, 1994). Misalnya, memori dan konsentrasi berinteraksi ketika subjek diminta untuk mengulang angka yang disajikan secara lisan. Saat menganalisis penguji menanggapi tugas semacam itu, sulit untuk menentukan kontribusi relatif memori dan konsentrasi ke solusi yang berhasil. Kesulitan dalam menentukan kontribusi relatif dari kemampuan yang berbeda-beda adalah alasan mengapa Binet berpendapat pada pengukuran inteligensi yang lebih kompleks (McMorris &amp; Kundert, 1994).<br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-09-15 07:49:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/747000579</guid>
      </item>
      <item>
         <title>The Stanford-Binet Intelligence Scales</title>
         <author>gayatrisafa</author>
         <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/747005148</link>
         <description><![CDATA[<div><em><br>The Stanford-Binet Intelligence Scales</em> merupakan tes intelegen pertama yang dirancang untuk menyediakan administrasi yang mendetail dan terorganisasi. Tes ini juga disertai dengan instruksi skoring yang rinci. Sehingga menjadikan tes ini yang pertama di Amerika yang menerapkan konsep IQ. Meskipun edisi pertama Stanford-Binet tentu saja memiliki beberapa kelemahan (seperti kurangnya keterwakilan sampel standardisasi), namun dalam tes ini juga terkandung beberapa inovasi penting (McMorris &amp; Kundert, 1994).<br><br></div><div><br>Pada tahun 1926, diadakan proyek untuk merevisi tes ini. Lewis Terman memulai kolaborasi dengan kolega dari Stanford, bernama Maude Merrill. Diperkirakan bahwa proyek ini akan membutuhkan waktu 11 tahun untuk diselesaikan. Inovasi dalam skala 1937 termasuk pengembangan dua bentuk ekuivalen berlabel L dan M, serta jenis tugas baru untuk digunakan dengan penguji tingkat pra-sekolah dan orang dewasa (Cohen-Swerdlik, 2010). Perancang tes melakukan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu membentuk sampel standarisasi yang memadai. Namun, selain dari kemajuan yang diraih tes ini, kritik yang sama terhadap tes-tes sebelumnya muncul kembali, yaitu masih kurangnya representasi dari kalangan minoritas selama perkembangan tes berlangsung.<br><br></div><div><br>Pada edisi revisi tes Stanford-Binet tahun 1960, tes hanya terdiri dari satu formulir (berlabel L-M) dan termasuk item yang dianggap terbaik dari dua bentuk tes yang dilakukan pada tahun 1937, tidak ada item baru yang ditambahkan ke tes. Inovasi utama dari versi ini adalah penggunaan tabel IQ deviasi sebagai pengganti tabel rasio IQ (Cohen-Swerdlik, 2010).  Versi awal Stanford-Binet telah menggunakan rasio IQ, yang didasarkan pada konsep usia mental (tingkat usia di mana seseorang tampak berfungsi secara intelektual). Yang dimaksud dari Rasio IQ yaitu rasio usia mental penguji dibagi usia kronologisnya, dikalikan dengan 100 untuk menghilangkan desimal.<br><br></div><div><br>Revisi selanjutnya kembali dirancang pada tahun 1972. Layaknya revisi-revisi sebelumnya, kualitas sampel standardisasi dikritik. Secara khusus, file manual tidak menjelaskan tentang jumlah individu minoritas dalam standardisasi sampel, hanya menyatakan bahwa "sebagian besar" dari individu yang dimasukkan berkulit hitam dan berkebangsaan Spanyol. Norma yang berlaku pada tahun 1972 mungkin juga terlalu merepresentasikan Barat dan komunitas perkotaan besar (Waddell, 1980) dalam (McMorris &amp; Kundert, 1994). Edisi keempat dari Skala Kecerdasan Stanford-Binet (SB: FE; Thorndike et al., 1986) dalam (McMorris &amp; Kundert, 1994), mewakili penyimpangan yang signifikan dari versi sebelumnya dari Stanford-Binet dalam faktor organisasi teoritis, organisasi pengujian, administrasi tes, penilaian tes, dan interpretasi tes. Apabila sebelumnya item-item berbeda dikategorikan berdasar pada umur dan sering disebut dengan <em>age scale</em>. Stanford-Binet edisi keempat menggunakan skala yang berbeda yaitu <em>point scale</em>. Bertolakbelakang dengan <em>age scale</em>, <em>point scale</em> merupakan tes yang diorganisir kedalam beberapa subtes berdasarkan kategori item tersebut, dan bukan berdasarkan usia. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa sebagian besar penguji dianggap mampu menanggapi dalam cara yang dikunci sebagai benar.<br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-09-15 07:52:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/747005148</guid>
      </item>
      <item>
         <title>The Stanford-Binet Intelligence Scales: Fifth Edition</title>
         <author>gayatrisafa</author>
         <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/747006846</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Edisi kelima dari Stanford-Binet dirancang untuk mengadministrasi bagi orang yang berada pada rentang umur dimulai dari dua tahun sampai yang tertua yaitu 85 tahun atau lebih. Tes ini menghasilkan angka skor gabungan, termasuk IQ Skala Penuh yang berasal dari pemberian sepuluh subtes (Cohen-Swerdlik, 2010). SB5 didasarkan pada teori kemampuan intelektual Cattell-Horn-Carroll (CHC) (Cohen-Swerdlik, 2010). SB5 mengukur lima faktor CHC dengan cara membedakan jenis tugas dan subtes di berbagai tingkat. Menurut Roid (2003b) dalam (Cohen-Swerdlik, 2010), analisis faktor awal Bentuk L dan M. menunjukkan bahwa “faktor CHC dapat dikenali dengan jelas pada edisi awal <em>Binet scales</em>."<br><br></div><div>Kekhasan berkenaan dengan skor Skala Penuh Stanford-Binet yaitu mengubahnya menjadi kategori nominal yang ditentukan oleh batas tertentu untuk referensi. Dikutip dari (Cohen-Swerdlik, 2010), untuk SB5, berikut adalah batas batas dengan kategori nominal yang sesuai:<br><br></div><div><strong>IQ </strong><strong><em>Range</em></strong><strong>: Kategori</strong></div><div>145–160: Sangat berbakat atau sangat maju</div><div>130–144: Berbakat atau sangat mahir</div><div>120–129: Superior</div><div>110–119: Rata-rata tinggi</div><div> 90–109: Rata-rata</div><div> 80–89: Rata-rata rendah</div><div> 70–79: Garis batas rusak atau tertunda</div><div> 55–69: Gangguan ringan atau tertunda</div><div> 40–54: Cukup rusak atau tertunda<br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-09-15 07:53:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/747006846</guid>
      </item>
      <item>
         <title>3.3. David Wechsler</title>
         <author>endhityamaritza</author>
         <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/747009738</link>
         <description><![CDATA[<div>Menurut Wechsler inteligensi dapat diartikan sebagai agregat atau kapasitas global yang dimiliki individu untuk bertindak dengan sengaja, berpikir rasional dan menangani lingkungan disekitarnya dengan efektif. Inteligensi bersifat agregat atau global karena inteligensi terdiri dari elemen atau kemampuan yang meskipun tidak sepenuhnya independen, namun dapat dibedakan secara kualitatif (Swerdlik, 2010). Dengan mengukur kemampuan ini, kita dapat mengevaluasi inteligensi yang dimiliki. Namun inteligensi tidak identik dengan jumlah belaka (keseluruhan) tetapi bersifat inklusif (terhitung). Satu-satunya cara untuk mengevaluasi kemampuan ini secara kuantitatif adalah dengan mengukur berbagai aspek kemampuan itu sendiri (Swerdlik, 2010).<br>Dalam definisi ini, kita dapat melihat bahwa inteligensi merupakan sesuatu yang kompleks dan konseptualisasinya sebagai “agregat” dan kapasitas “global”. Wechsler juga menambahkan bahwa ada faktor yang tidak termasuk dalam kecerdasan akademik yang harus diperhitungkan saat mengukur inteligensi (Kaufman,1990) dalam (Swerdlik, 2010) Faktor tersebut juga berisi “kemampuan yang lebih bersifat konatif, afektif, atau ciri-ciri kepribadian yang mencakup sifat-sifat tersebut sebagai dorongan, ketekunan, dan kesadaran tujuan serta potensi individu untuk memahami dan menanggapi nilai-nilai sosial, moral dan estetika” (Wechsler, 1975) dalam (Swerdlik, 2010).<br>Namun pada akhirnya David Wechsler berpendapat bahwa cara terbaik untuk mengukur “kemampuan global” ini dengan mengukur beberapa aspek kemampuan secara “qualitative differentiable” atau “dibedakan dengan kualitatif”. Secara hisoris, pengguna tes Wechsler menafsirkan data tes dengan mengacu pada skor subtes individu serta skor Verbal, Kinerja, dan Skala Penuh, dengan IQ dihitung berdasarkan indeks.<br>a.  	Wechsler Intelligence Scale for Children<br>Tes intelegensi WISC adalah tes intelegensi untuk anak usia 8-15tahun. Tes ini terdiri atas 2 jenis tes, yaitu tes verbal dan tes performance. Tes verbal terdiri atas materi informasi, pengertian, hitungan, persamaan, perbendaharaan kata, rentangan angka. Sedangkan tes performance terdiri atas melengkapi gambar, mengatur gambar, rancangan balok, merakit obyek, simbol, dan mazes (Nur‘aeni, 2012: 26) dalam (Mudhar &amp; Rafikayati, 2017). Beberapa ahli memilih untuk hanya menggunakan tes performance saja dan ada juga yang tetap menggunakan keduanya (verbal dan performance) dengan beberapa modifikasi misalnya penambahan gambar. Tes WISC memiliki kemampuan untuk mendeskripsikan berbagai aspek kecerdasan anak, seperti wawasan dan minat pengetahuan, daya konsentrasi dan daya ingar jangka pendek, berbagai kemampuan seperti: Bahasa, matematika, berpikir logis dan abstrak, visual motoric coordination, visual perception organization, visual-spatial relationship dan field dependence, adaptasi terhadap lingkungan dan pemahaman terhadap norma-norma sosial (berkaitan dengan antisipasi masalah sosial dan keterampilan sosial), dan kreativitas. Beberapa penelitian telah menggunakan WISC untuk mengungkap gejala-gejala klinis pada anak, seperti main brain disfunction/brain damage, emotional disturbance, anxiety, delinquency, learning disabilities dan lain-lain (Sattler 1978 dalam Nanik) dalam (Mudhar &amp; Rafikayati, 2017). <br>a.  	Wechsler Adult Intelligence Scale<br>Sejak kemunculannya, tes WAIS telah menarik perhatian luas dari berbagai kalangan akademisi dan praktisi, khususnya para pakar di bidang psikologi, sehingga memicu berbagai penelitian tentang tes WAIS, baik yang berkenaan dengan isi maupun fungsinya. Berdasarkan hasil dari penelitianpenelitian para ahli tersebut, telah memberikan kritik dan masukan terhadap perkembangan tes WAIS (Basri, 2019)<br>Di sisi lain, perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan juga mempengaruhi isi atau materi tes WAIS,sehingga sampai saat ini tes WAIS telah mengalami perubahan dan perbaikan sebanyak tiga kali. Secara garis besar perubahan pertama kali dari WBS (TheWechsler-Belleveu Scale) sampai berubah menjadi WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) menurut Fudiyartanta (2004) dalam (Basri, 2019) berkaitan dengan pemekaran dan pembaharuan isi, atau aitem dalam subtes, konstruksi, organisasi dan penskoran atau deviasi IQ. Perubahan ini berlanjut pada edisi revisi WAIS-R (Wechsler, 1981) dalam (Basri, 2019). Kemudian perubahan dan perbaikan yang terakhir terjadi penambahan sub-tes menjadi 13 sub-tes. Edisi yang terakhir ini dikenal dengan nama WAIS-III (Wechsler, 1997) dalam (Basri, 2019)<br><br>Tes WAIS sebagai salah satu skala kecerdasan secara umum memiliki beberapa unsur pokok yang perlu dipahami baik dari segi isi maupun prosedur. Pertama, dalam tes WAIS ada empat faktor dominan sebagai skala kecerdasan. Kedua, adanya kemampuan tes WAIS untuk diagnosa klinis atau dapat diterapkan bagi klien dengan indikasi psikiatrik.Kemampuan tes WAIS dalam diagnosa klien psikiatri ini dilakukan dengan melihat skor pada beberapa kombinasi subtes. Seperti hipotesis yang diajukan Rapaport (dalam Ralp dkk, 1989; Piedmont dkk, 1989) dalam (Basri, 2019), bahwa kombinasi beberapa subtes dapat mendiagnosis indikasi klinis tertentu.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-09-15 07:54:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/747009738</guid>
      </item>
      <item>
         <title>3.4. Jean Piaget</title>
         <author>endhityamaritza</author>
         <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/747012905</link>
         <description><![CDATA[<div>Sejak awal tahun 1960-an, penelitian teoritis psikolog perkembangan Swiss Jean Piaget (1954, 1971) telah menarik perhatian dari psikolog perkembangan di seluruh dunia. Penelitian yang dilakukan oleh Piaget difokuskan pada perkembangan kognisi pada anak anak: bagaimana anak anak berfikir, bagaimana mereka memahami diri mereka sendiri dan dunia luar, dan bagaimana mereka bernalar serta memecahkan suatu masalah. (McMorris &amp; Kundert, 1994)<br>      	Bagi Piaget, kecerdasan dapat dipahami sebagai semacam adaptasi biologis yang berkembang ke dunia luar. Ketika suatu keterampilan kognitif didapatkan, maka level adaptasi secara simbolis meningkat dan trial and error mental menggantikan trial and error fisik. Padahal, menurut Piaget, proses perkembangan kognitif dianggap terjadi tidak semata mata melalui proses pendewasaan atau hanya melalui pembelajaran. (McMorris &amp; Kundert, 1994)<br>      	Menurut teori ini, aspek biologis dari perkembangan mental diatur oleh mekanisme pematangan yang melekat. Saat tahapan individu telah dilalui dan tercapai, maka anak juga memiliki pengalaman dalam lingkungan. Setiap pengalaman baru, menurut Piaget, membutuhkan beberapa bentuk organisasi kognitif atau reorganisasi dalam struktur mental yang disebut skema. Lebih spesifik lagi, Piaget menggunakan istilah skema tersebut untuk merujuk pada tindakan terorganisir atau struktur mental yang apabila diterapkan, mengarah pada pengetahuan atau pemahaman. (McMorris &amp; Kundert, 1994). Ada empat jenis inteligensi yang dikemukakan oleh Piaget, sesuai dengan tahap perkembangan kognitif, yaitu :<br> a. Inteligensi sensori motoris, tahap ini merupakan tahap pertama. Tahap ini dimulai sejak lahir sampai usia 2 tahun. Pada tahap ini, bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan fisik. Dengan berfungsinya alat-alat indera serta kemampuan kemampuan-kemampuan melakukan gerak motorik dalam bentuk refleks ini, maka seorang bayi berada dalam keadaan siap untuk mengadakan hubungan dengan dunianya. (Fatmawiyati, 2018)<br> b. Inteligensi praoperasional, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar ataupun simbol. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. (Fatmawiyati, 2018)<br>c. Inteligensi operasional, inteligensi yang memiliki ciri memahami operasi nyata. Bentuk operasi nyata yaitu, (1) konversi, perubahan dapat terjadi secara bolak balik ; dan (2) klasifikasi, penggolongan sesuatu menurut jenis atau tingkatan. (Fatmawiyati, 2018)<br>d. Inteligensi operasional formal, inteligensi yang memiliki ciri mampu berpikir hipotetik, mampu menguji secara sistematik berbagai penjelasan mengenai kejadian tertentu, dan mampu berpikir abstrak. (Fatmawiyati, 2018)<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-09-15 07:56:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/747012905</guid>
      </item>
      <item>
         <title>DAFTAR PUSTAKA</title>
         <author>endhityamaritza</author>
         <link>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/747014321</link>
         <description><![CDATA[<div>Basri, A. S. (2019). Penggunaan Short Form Tes WAIS pada Klien Psikiatrik. <em>Jurnal Ilmiah Psikohumanika</em> <em>, XI</em>, 45-64.<br><br>Cohen-Swerdlik. (2010). Psychological Testing and Assessment: An Introduction to Tests and Measurement, 7th Edition. The McGraw−Hill.<br><br>Fatmawiyati, J. (2018). Telaah Intelegensi. <em>Researchgate</em>, <em>October</em>, 1. https://www.researchgate.net/publication/328224033_TELAAH_INTELEGENSI<br><br>McMorris, R. F., &amp; Kundert, D. K. (1994). Book Review: Psychological testing and assessment: An introduction to tests and measurement (2nd ed.). <em>Journal of Psychoeducational Assessment</em>, <em>12</em>(4), 401–409. <a href="https://doi.org/10.1177/073428299401200411">https://doi.org/10.1177/073428299401200411<br></a><br>Mudhar, &amp; Rafikayati, A. (2017). ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN ALAT TES INTELEGENSI WECHSLER INTELLIGENCE SCALE FOR CHILDREN (WISC) UNTUK ANAK TUNARUNGU. <em>Seminar Nasional Bimbingan Konseling Universitas Ahmad Dahlan</em> .<br><br></div><div>Midori, L., &amp; Rizky, M. (2020, Maret). <em>Serba-Serbi Tes Inteligensi</em>. Retrieved from Researchgate:https://www.researchgate.net/publication/340246748_Serba-Serbi_Tes_Inteligensi<br><br></div><div>Rohmah, U. (2011). TES INTELEGENSI DAN PEMANFAATANNYA. <em>Cendekia</em>, 129.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-09-15 07:57:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/endhityamaritza/TesInteligensi_Kel4/wish/747014321</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
