<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Secercah Ilmu by PUDJI ASTUTI</title>
      <link>https://padlet.com/hastutipuji61/u6mtjaqqtdb92y64</link>
      <description>Dibuat dengan hati yang tulus dan penuh harapan</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-03-04 03:19:03 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-03-23 06:52:51 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f343.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Keragaman Agama</title>
         <author>hastutipuji61</author>
         <link>https://padlet.com/hastutipuji61/u6mtjaqqtdb92y64/wish/2077191321</link>
         <description><![CDATA[<div>Agama merupakan kepercayaan yang dianut oleh setiap individu. Termasuk kepercayaan terhadap Tuhan ataupun kepercayaan terhadap animisme maupun dinamisme. Setiap kepercayaan harus dihargai dan dihormati. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1601444829/5d0d309d28e5f66425b684473fbcb56a/humanities.jpg" />
         <pubDate>2022-03-04 03:21:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hastutipuji61/u6mtjaqqtdb92y64/wish/2077191321</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MATERI PPKN KELAS XI &quot;Bentuk Partisipasi Warga Negara dalam Menjaga Keutuhan Indonesia&quot; </title>
         <author>hastutipuji61</author>
         <link>https://padlet.com/hastutipuji61/u6mtjaqqtdb92y64/wish/2108712968</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><strong><mark>Bentuk Partisipasi Warga Negara dalam Menjaga Keutuhan Indonesia</mark></strong></blockquote><div><br><strong>1. Cinta Tanah Air<br>2. Membina Persatuan dan Kesatuan <br>3. Rela Berkorban</strong><br><br><mark><sup>Contoh-contoh partisipasi warga negara untuk menjaga keutuhan Indonesia.</sup></mark><br><br>Apa saja bentuk partisipasi warga negara dalam menjaga keutuhan Indonesia? Berpartisipasi dapat dilakukan dalam tiga bentuk: tenaga, pikiran, serta&nbsp; uang dan barang.<br><br>Apa itu partisipasi? Partisipasi adalah sikap untuk turut serta atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat dapat menjaga keutuhan wilayah dan bangsa Indonesia. Berpartisipasi dapat dilakukan di berbagai tempat atau lingkungan. Misalnya, dari lingkungan kecil seperti Rukun Tetangga (RT), kampung, desa atau kelurahan, tingkat kabupaten, provinsi, selanjutnya negara.<br><br>Partisipasi Warga Negara dalam Menjaga Keutuhan Indonesia: <br><mark><br>1. </mark><em><mark>Contoh Partisipasi Warga Negara di Lingkungan Rukun Tetangga (RT) atau Kampung</mark></em></div><ul><li>Ikut melakukan ronda malam (bagi orang dewasa).</li><li>Tamu wajib lapor.</li><li>Melapor pada pihak berwenang bila ada kejadian yang mencurigakan.</li><li>Ikut gotong royong membersihkan lingkungan desa.</li><li>Saling membantu antar warga desa.</li><li>Menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan desa.</li><li>Menjenguk tetangga yang sedang sakit.</li></ul><div><br></div><div><mark>2. </mark><em><mark>Contoh Partisipasi Warga Negara di Lingkungan Sekolah</mark></em></div><ul><li>Aktif mengikuti upacara bendera.</li><li>Terlibat dalam kegiatan kepramukaan.</li><li>Menerima kehadiran teman dari suku lain.</li><li>Menjaga kebersihan dan ketertiban sekolah.</li><li>Rajin belajar dan mengerjakan tugas sekolah.</li><li>Bersikap baik kepada teman, guru, dan karyawan sekolah.</li><li>Menjaga kerukunan di lingkungan sekolah.</li></ul><div><br></div><div><mark>3. </mark><em><mark>Contoh Partisipasi Warga Negara di Lingkungan Kabupaten atau Provinsi</mark></em></div><ul><li>Mengikuti pertukaran pelajar.</li><li>Mengikuti kegiatan seni atau olahraga antar wilayah.</li><li>Menjadi duta kabupaten atau provinsi.</li><li>Ikut menjaga fasilitas publik di wilayah kabupaten atau provinsi.</li><li>Menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan kabupaten atau provinsi.</li></ul><div><br></div><div><mark>4. </mark><em><mark>Contoh Partisipasi di Lingkungan Negara</mark></em></div><ul><li>Menjadi sukarelawan korban gempa.</li><li>Mengikuti kegiatan pendidikan bela negara.</li><li>Membayar pajak.</li><li>Menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia.</li><li>Menjadi duta negara di luar negeri.</li><li>Menjaga kenyamanan dan kebersihan fasilitas publik.</li><li>Mengikuti ajang kompetisi yang bisa mengharumkan nama negara di kancah internasional.</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="https://2.bp.blogspot.com/-OowEWPfIU3Y/XKIlvhCDUMI/AAAAAAAAAaA/-246fvw7iSA2GpjS0hOwly75dtMd3n__gCLcBGAs/s320/Perilaku%2Byang%2BMenunjukkan%2BSikap%2BMenjaga%2BKeutuhan%2BNegara%2BKesatuan%2BRepublik%2BIndonesia.jpg" />
         <pubDate>2022-03-23 01:40:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hastutipuji61/u6mtjaqqtdb92y64/wish/2108712968</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PEREMPUN DAN &quot;KUTUKAN&quot; BUDAYA</title>
         <author>hastutipuji61</author>
         <link>https://padlet.com/hastutipuji61/u6mtjaqqtdb92y64/wish/2108813675</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>Fenomena perempuan bekerja sebenarnya&nbsp; bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang istri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi.</div><div>Kemudian, ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris hingga kemudian industri, keterlibatan perempuan pun sangat besar. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan memang bukan baru-baru saja tetapi sudah sejak zaman dulu.<br><br></div><div>Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan-pekerjaan di atas bukan termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran (yang bekerja di kantor) atau di ranah publik. Padahal, dimanapun dan kapanpun perempuan itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja.<br><br>Upaya untuk mendedikasikan diri dan mengoptimalkan kemampuan diri, akhirnya wanita di era sekarang banyak yang bekerja di sektor publik (bekerja dengan mendapat gaji atau upah), entah dengan tujuan agar mendapat tambahan pendapatan atau hanya ingin menyalurkan ilmu dan keterampilannya.<br><br>Akan tetapi terdapat konsekuensi yang harus diteguk oleh perempuan pekerja tersebut. Meskipun dia sudah bekerja di luar rumah, seorang perempuan masih terbebani dengan kutukan atau kontstruksi budaya masyarakat akan pekerjaan domestik (pekerjaan rumah tangga) yang dianggap seolah-olah menjadi <strong>kodrat</strong> perempuan. Pekerjaan domestik itu diantaranya termasuk mengurus rumah, membersihkan rumah, memasak, mengurus suami, mengasuh anak dan seabrek pekerjaan rumah lainnya. Menurut sosiologi hal yang dialami perempuan ini disebut dengan "<strong><em>double burden</em></strong>" atau beban ganda. Jadi, perempuan selalu dibebani dengan setumpuk pekerjaan. Ketika terdapat perempuan yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut, dianggap sebagai perempuan yang melanggar aturan atau norma masyarakat. Dengan demikian, agar perempuan terhindar dari stigma atau cap negatif dari masyarakat, dia harus tangguh menyelesaikan berbagai macam pekerjaan.&nbsp; <br><br>Contoh fenomena seperti ini dapat diilustrasikan sebagai berikut:<br> Terdapat satu keluarga yang terdiri dari ayah sebagai perawat, ibu sebagai perawat, dan anak yang masih sekolah. Ketika si ibu sudah selesai bekerja dan pulang ke rumah, dia langsung disuguhi banyak pekerjaan, diapun harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut, seperti misalnya memasak, mengasuh anak, mencuci dan lain sebagainya. Sedangkan si ayah ketika sudah pulang ke rumah, dia tidak wajib mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Dia juga tidak akan mendapat stigma negatif dari masyarakat. Hal ini berbeda dengan ibu. Apabila sesekali saja dia tidak memasak atau mencuci atau mengasuh anak-anak, Maka akan mendapat stigma atau cap tidak baik dari masyarakat, terutama pada kalangan masyarakat dengan pemahaman gender yang masih kurang.<br><br>Fenomena seperti ini tentu merupakan hasil atau produk dari konstruksi atau bisa saya katakan sebagai kutukan budaya masyarakat, yang sudah mendarah-daging. Baik budaya yang diwariskan dari budaya Jawa maupun Islam. Karena kebudayaan tersebut mendukung konsepsi perempuan harus bekerja, berada, dan mengurus rumah serta keluarga.<br><br><strong><em><mark><sub>(Sosiologi gender)</sub></mark></em></strong><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1601444829/529468fa7987d8387768fd310d0f21c1/FB_IMG_1647840643932.jpg" />
         <pubDate>2022-03-23 02:44:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hastutipuji61/u6mtjaqqtdb92y64/wish/2108813675</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
