<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Peran Guru dan Peer dalam PIBK by Yuliezar Perwira Dara</title>
      <link>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb</link>
      <description>Buat Kelompok maks 3 mhswa, carilah jurnal  5 thn terakhir tentang Peran Guru dan Peer (teman sebaya) dalam PIBK. Bisa pendidikan inklusi, umum, segregasi (SLB), Homeschooling, dll, lalu diskusikan hasilnya: tantangannya apa? kemudahannya apa? apa dampaknya bagi indv penyandang disabilitas  di konteks pendidikan?? adakah penjelasan/temuan tambahan dr artikel tersebut? masing2 kelompok wajib mengomentari minimal 1 artikel kelompok lain.  Beri nama akun sesuai nama Andaa..</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-09-12 06:36:02 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-09-19 11:20:37 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f929.png</url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author>perwiradara1</author>
         <link>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb/wish/2291818547</link>
         <description><![CDATA[<div>Misal dari jurnal ini....&nbsp;Silahkan berikan tanggapan kalian.. demikian jg dari artikel teman2 kelompok lainnya</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1615368994/99237d7e893dcf32f099630860994718/Studi_Literatur_Peran_Guru_Pendidikan_Khusus_di_Se.pdf" />
         <pubDate>2022-09-12 06:52:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb/wish/2291818547</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 1 </title>
         <author>erriskanuraulia</author>
         <link>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb/wish/2292168357</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Anggota Kelompok :</strong><br>Salvinia Natans, RA (205120300111054)<br>Riki Adi putra (205120319111001)<br>Erriska Nur Aulia (205120301111059)<br><br><strong>Analisis Jurnal<br><br>Tujuan <br></strong>Tujuan diadakannya Penelitian yang berjudul “Peranan Guru Melalui Pendidikan Inklusi Dalam Menanamkan Sikap Sosial Siswa Di Sd Negeri 14 Mulyoharjo Pemalang” bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran guru terhadap pendidikan yang berbasis inklusi dalam hal menanamkan sikap sosial antara siswa yang berkebutuhan khusus dengan siswa reguler lainnya di SD Negeri 14 Mulyoharjo Pemalang. Proses intervensi yang dilaksanakan adalah bermula dari tahap persiapan lembaga yang di dalamnya melalui 3 tahapan, yaitu sosialisasi, identifikasi, dan assesment. Tahap sosialisasi diberikan dengan harapan guru, siswa, dan orang tua memiliki gambaran terhadap pendidikan inklusi. Tahap kedua, yaitu identifikasi dengan tujuan agar diketahui jumlah siswa yang termasuk siswa berkebutuhan khusus. Dan tahap ketiga, yaitu assesment melalui tes yang diberikan dari psikolog agar mengetahui masuk dalam kateogori apa siswa berkebutuhan khusus tersebut, serta diketahui pula bentuk penanganannya. Adapun peranan guru dalam proses intervensi tersebut agar terciptanya sikap sosial yang baik antara siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus. Karena, diterapkannya 2 model pembelajaran, diantaranya adalah siswa berkebutuhan khusus belajar bersama dengan siswa reguler, dan yang kedua siswa berkebutuhan khusus berada di kelas khusus untuk dibimbing sesuai dengan kemampuannya. <br><br><strong>Kemudahan :</strong><br>1. pembelajaran lebih fleksibel karena kurikulum yang digunakan merupakan kurikulum terpadu, sehingga lebih dapat menyesuaikan dengan kemampuan siswanya.<br><br>2. lebih mengajarkan siswanya untuk saling bekerjasama, memahami kekurangan temannya, dan peduli terhadap kelemahan teman sekelasnya dengan menerapkan metode Cooperative Learning. Sehingga secara tidak langsung metode pembelajaran ini akan membantu guru untuk menjalankan pendidikan inklusif dengan menggeser metode persaingan antar teman sekelas. Dimana pada akhirnya metode ini juga lebih mengasah kecerdasan dan kepekaan sosial para siswa. <br><br>3. Pendidikan Inklusi membantu tenaga pendidik untuk mendidik siswa untuk tidak diskriminatif dan menghargai keanekaragaman bagi semua siswa. <br><br>4. Dengan diadakannya pendidikan inklusi bisa membantu anak berkebutuhan khusus untuk bersosialiasi dengan teman teman sebayanya, dan membantu mereka untuk meningkatkan kepercayaan dirinya.<br><br><strong>Tantangan :</strong><br>antangan:<br>1. Memerlukan tenaga pendidik tambahan (GPK) untuk membantu siswa menyesuaikan dengan pelajaran.<br>2.&nbsp; Guru harus mengadakan kelas tambahan di hari yang berbeda untuk siswa yang belum dapat mengikuti dengan baik pelajaran pada kelas reguler.<br>3. Memerlukan bantuan kerjasama dengan psikolog untuk memberikan asassmen kepada calon siswa yang digunakan untuk mengukur kemampuan dan kepribadian siswa agar dapat disesuaikan.<br><br><strong>Dampak :<br></strong>Sehingga dapat disimpulkan bahwa dampak bagi siswa berkebutuhan khusus dalam konteks pendidikan di SD Negeri 14 Mulyoharjo Pemalang adalah siswa berkebutuhan khusus dapat merasakan kesetaraan sosial dengan dengan siswa reguler lainnya, merasa dihargai, dan dapat bersosialisasi dengan baik juga dengan siswa lainnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/860752003/dc402b08b8ca225841c22c97ebb89b0f/PERANAN_GURU_MELALUI_PENDIDIKAN_INKLUSI_DALAM_MENANAMKAN.pdf" />
         <pubDate>2022-09-12 11:59:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb/wish/2292168357</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 2</title>
         <author>widyanti</author>
         <link>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb/wish/2292170436</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Anggota Kelompok:</strong><br>1. Dipta Pramudhita Darmawan (632201120045)<br>2. Michael Euaggelion Wiharja (205120300111057)<br>3. Widyanti (205120301111064)<br><br><strong>Analisis Jurnal:</strong><br><br><strong>Kemudahan:</strong></div><div>1. Pada Pasal 1 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Dididk yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa menjelaskan, bahwa:&nbsp; “ Pendidikan inklusi adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.” Artinya, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan kondisi kekurangan fisik ataupun mental yang dimiliki, masing-masing mendapatkan kesempatan yang sama seperti anak reguler untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki tanpa ada diskriminasi.</div><div>2. Di sekolah inklusi, layanan yang diberikan meliputi layanan sekolah reguler bagi siswa reguler dan layanan khusus bagi siswa berkebutuhan khusus yang didampingi oleh shadow teacher/guru pendamping. Selain itu, sekolah inklusi juga mengembangkan pendidikan yang berkenaan dengan potensi, bakat, dan minat dari siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus. Sehingga, baik siswa reguler maupun siswa berkebutuhan khusus dapat mengembangkan bakat, minat, serta potensi yang dimiliki secara maksimal.</div><div>3. Teman sekolah yang reguler menerima&nbsp; keberadaan ABK di&nbsp; kelas&nbsp; maupun&nbsp; di sekolah</div><div>4. Teman sekolah yang reguler akan memberikan bantuan kepada ABK ketika ada yang menyuruh&nbsp; mereka&nbsp; untuk&nbsp; memberikan&nbsp; bantuan atau pada&nbsp; saat&nbsp; ABK&nbsp; meminta bantuan&nbsp; kepada&nbsp; peserta&nbsp; didik reguler secara langsung.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Tantangan:</strong></div><div>1. Teman sekolah yang reguler kurang responsive dalam memberikan bantuan pada ABK</div><div>2. Beberapa teman sekolah bersikap netral, tidak mencemooh namun juga tidak membantu</div><div>3. Sulit terjalin interaksi antara anak reguler dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Anak reguler cenderung menganggap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah makhluk aneh yang lahir ke bumi. Begitu pula dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang menganggap anak reguler adalah makhluk yang kejam dan kurang menghargai kekurangan yang dimiliki oleh Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).</div><div>4. Terkadang penggabungan yang dilakukan dapat menimbulkan tindakan intoleransi yaitu bullying kepada ABK yang notabenya adalah minoritas di sekolah.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>Dampak bagi Individu penyandang disabilitas dalam konteks Pendidikan:<br></strong><br></div><div><strong>- Positif</strong></div><div>1. Anak ABK mendapatkan Pendidikan yang sama seperti siswa regular dan dapat berbaur bersama mereka</div><div>2. Mendapatkan banyak teman baru yang peduli inklusi dan belajar dan berdiskusi bersama teman sebaya</div><div>3. Dapat diperlakukan sama dengan siswa regular lainnya</div><div>&nbsp;</div><div><strong>- Negatif</strong></div><div>1. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), cenderung sulit untuk&nbsp; bersosialisasi,&nbsp; pendiam,&nbsp; sensitif,&nbsp; dan&nbsp; minder&nbsp; dalam lingkungan sekolah.</div><div>2. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) terkadang sulit untuk mengikuti pelajaran dengan normal apalagi jika tidak didukung dengan teman sebaya</div><div>3. Rawan terjadi bullying apabila tidak diawasi oleh pihak sekolah<br><strong><br>Pengenalan ABK bagi siswa reguler:</strong></div><div>Program&nbsp; Budaya&nbsp; Inklusi tidak hanya&nbsp; berfokus&nbsp; pada ABK saja,&nbsp; tetapi juga berlaku&nbsp; untuk peserta didik reguler dengan melakukan pemberian informasi terkait Anak Berkebutuhan &nbsp; Khusus (ABK) melalui materi sekolah inklusi&nbsp; pada&nbsp; Masa Pengenalan&nbsp; Lingkungan Sekolah Peserta Didik Baru (MPLSPDB). Serta dalam mata pelajaran Bimbingan Konseling (BK)&nbsp; &nbsp; yang setiap minggunya terjadwal untuk satu jam mata pelajaran, guru mata pelajaran Bimbingan Konseling (BK) bersama Guru Pendamping Khusus (GPK) bekerjasama untuk memberikan materi, pengarahan dan juga solusi mengenai hambatan dan masalah yang berkaitan&nbsp; dengan ABK di setiap kelas, serta bagaimana menyikapi&nbsp; keterbatasan yang&nbsp; dimiliki oleh ABK yang&nbsp; merupakan&nbsp; teman&nbsp; sekolah peserta&nbsp; didik&nbsp; regular sehingga kelas berjalan dengan kondusif dan tidak ada diskriminasi.</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-pendidikan-kewarganegaraa/article/view/30961/28175" />
         <pubDate>2022-09-12 12:01:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb/wish/2292170436</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb/wish/2292208675</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Anggota Kelompok :</strong><br>1. Titis Cahya Aji Pamungkas [205120300111082]<br>2. Muhammad Rafly Nafrullah Rafsanzani [632201120046]<br>3. Diva Maharani Putri [205120301111065]<br><br></div><div>ANALISIS JURNAL</div><div><br><strong>TANTANGAN</strong><br>Setiap peserta didik berkebutuhan khusus memiliki karakteristiknya masing-masing. Berangkat dari hal tersebut, setiap peserta didik pun memerlukan konseling dan bimbingan yang disesuaikan dengan karakteristiknya.<br><br><strong>KEMUDAHAN</strong><br>kemudahan yang dapat dirasakan oleh siswa berkebutuhan khusus adalah mendapatkan suatu pelayanan yang intens mengenai perkembangan diri dan kemampuan mereka. guru dalam hal ini, melakukan berbagai kolaborasi demi terciptanya pemahaman dan kualitas pendidikan yang baik bagi siswa berkebutuhan khusus. beberapa contoh pihak atau profesi yang melakukan kerjasama dengan guru adalah masyarakat, orang tua, konselor, terapis, dan lain lain. adanya evaluasi dan rencana pembelajaran juga dilakukan agar langkah kedepannya bisa terus mengalami progresivitas. <br><br><strong>Dampak bagi individu penyandang disabilitas</strong><br>Layang bimbingan dan konseling yang baik akan membantu para siswa penyandang disabilitas dalam membentuk rasa percaya diri, mengenali potensi, serta menerima keterbatasan. Tiga hal tersebut adalah tiga tonggak utama dalam membentuk kemandirian siswa&nbsp; penyandang disabilitas.<br><br><strong>Penemuan Tambahan dari jurnal</strong>&nbsp;<br>secara garis besar Proses Pendidikan Khusus merencanakan, melaksanakan, menilai, dan mengawasi proses pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusu, selain itu untuk mengupayakan memfasilitasi dan juga untuk memberikan pemahaman dan edukasi yang tepat kepada peserta didik berkebutuhan khusus. adapun peran teman sebaya yang teman sebaya menjadi lingkungan yang bisa mengembangkan kemampuan anak untuk berinteraksi. Dalam hal ini guru juga perlu memastikan bahwa teman sebayanya harus juga merasa nyaman dan tidak terpaksa ketika dijadikan role model untuk temannya yang berkebutuhan khusus. kesimpulan yang dapat saya pahami yakni Setiap guru diharapkan untuk dapat melaksanakan perannya secara maksimal agar dapat memenuhi kebutuh siswa ABK pada saat proses pembelajaran. Hal ini dimksudkan agar siswa ABK dapat merasa nyaman selama proses pembelajaran. Mereka tidak merasa tersisih dan berbeda dengan siswa yang lain. Sebagai guru kita harus mampu mengajak dan mengakomodir semua siswa agar dapat menerima temanya yang merupakan ABK. dan itu juga berlaku pada teman sebayanya</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1311540413/848965af619f891e60b8389ecec640dd/236_475_1_SM.pdf" />
         <pubDate>2022-09-12 12:28:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb/wish/2292208675</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>upi_anisah</author>
         <link>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb/wish/2292227304</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Kelompok 4 </strong><br>1. Eikel Christian (165120307111058)<br>2. Melodyna Adhesiva (205120301111053)<br>3. Rania Amalia (205120307111048)<br>4. Mupi Anisah (195120301111013)<br><br><strong><mark>ANALISIS JURNAL</mark></strong><br><strong>a. Peran: </strong><br>- teman sebaya membantu teman tunanetra untuk melakukan mobilitas dengan menyapa menggunakan sentuhan pada punggung tangan dan memberi aba-aba ketika melewati jalan sempit<br>- teman sebaya memberi bantuan pada teman tunanetra dengan membacakan tulisan yang ada di papan tulis<br>- sebagai tutor sebaya yang akan membantu ketika teman tunanetra mendapat kesulitan<br><br><strong>b. Tantangan:</strong><br>- aksesibilitas yang masih kurang memadai untuk siswa berkebutuhan khusus di SMKN 7 Padang<br>- pendamping awas masih ada yang belum memahami teknik pendampingan mobilitas<br>- pembelajaran dilakukan di ruangan yang berbeda-beda sehingga sering ada mobilitas antar satu kelas ke kelas yang lain<br><br><strong>c. Kemudahan:</strong><br>- sekolah tersebut merupakan sekolah inklusi yang terbuka dengan Siswa Berkebutuhan Khusus<br>- adanya siswa sebaya yang menjadi pendamping awas bagi Siswa Berkebutuhan Khusus untuk membantu mobilitas dan pembelajaran mereka<br><br><strong>d. Dampak bagi penyandang disabilitas:</strong><br>- siswa tunanetra terbantu dalam mengikuti pelajaran dengan adanya teman sebaya<br>- siswa tunanetra terbantu dalam mobilitas di sekolah dengan adanya arahan dan aba-aba dari teman sebaya</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1208713991/380370ffd4c43713844ebce65161b904/jurnaal.pdf" />
         <pubDate>2022-09-12 12:38:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb/wish/2292227304</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok 5</title>
         <author>alexanderivan1</author>
         <link>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb/wish/2292241827</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Nur Hidayah (175120301111015)</div><div>Faris Saifuddin Wafiq (185120307111008)</div><div>Meyse Raveena (205120301111054)</div><div>Alexander Ivan Gunawan (205120307111053)<br><br></div><div><strong>Tantangan</strong></div><ol><li>Paradigma guru yang awalnya hanya pengajar, kini beralih menjadi pelatih, pembimbing, serta manajer belajar.</li><li>Aspek kompetensi guru berupa pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat harus dijadikan data sebelum diturunkan ke lapangan.</li><li>Harus adanya dukungan dari seluruh pihak sekolah meliputi guru, kepala sekolah dan staf lainnya.</li><li>Kurikulum perlu disesuaikan atau dibuat fleksibel dengan pencapaian dan tujuan belajar (kurikulum heterogen).</li></ol><div><br></div><div><strong>Kemudahan</strong></div><ol><li>Siswa berkebutuhan khusus tidak memerlukan pendamping tambahan karena guru dapat memenuhi tuntutan keperluan siswa.</li><li>Kekreatifan dari strategi, materi, media, serta lingkungan pembelajaran, yang dibuat, dapat meningkatkan mood atau fokus siswa yang bersangkutan karena dalam ranah individual.</li></ol><div><br></div><div><strong>Dampak</strong></div><ul><li>Pendidikan dengan model inklusi adalah model pengajaran yang diselingi dengan permainan atau games, yang mana bagi individu penyandang disabilitas membuat mereka terhibur dan senang dalam kelas belajarnya. namun dengan metode ini, individu penyandang disabilitas juga akan merasa mudah lelah apabila permainan atau games yang diselingi tersebut terlalu lama atau berat.&nbsp;</li><li>Kelas inklusi adalah kelas yang berisikan individu penyandang disabilitas dengan kecenderungan memiliki tingkat kecerdasan dibawah rata-rata, maka akan berdampak pada kesulitan untuk menangkap materi pembelajaran yang diberikan apabila metode yang digunakan oleh gurunya kurang tepat.</li><li>Dengan model inklusi dijelaskan bahwa terdapat tambahan jam kelas untuk individu penyandang disabilitas yang akan menambah pengetahuan dan keterampilan mereka dalam berbagai aspek pendidikan, namun juga membuat mereka mudah lelah dan bosan karena jam pembelajaran yang cukup lama.</li></ul><div><br></div><div><strong>Penjelasan</strong></div><div>Untuk mewujudkan sekolah inklusif dibutuhkan beberapa hal diantaranya: a) Kompetensi Guru Sekolah Inklusif; b) Model dan Strategi Pembelajaran oleh Guru.</div><div><br></div><ol><li>Kompetensi Guru Sekolah Inklusif</li></ol><div>Paradigma Guru yang awalnya hanya pengajar (<em>teacher</em>), kini beralih menjadi pelatih (<em>coach</em>), pembimbing (<em>counselor</em>) serta manajer belajar (<em>learning manager</em>) (Lattu, 2012). Perubahan paradigma pada guru mendorong guru untuk dapat memenuhi beberapa aspek kompetensi diantaranya:</div><ul><li>Pengetahuan (<em>knowledge</em>): Mengetahui cara mengidentifikasikan kebutuhan belajar dan bagaimana melakukan pembelajaran terhadap siswa-siswi berkebutuhan khusus sesuai dengan kebutuhan juga fase perkembangannya.</li><li>Pemahaman (<em>understanding</em>): Memiliki pemahaman tentang karakteristik dan kondisi siswa-siswi berkebutuhan khusus, agar dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien. Guru juga perlu memahami gangguan dan kemampuan belajar yang terjadi pada siswa. (Mash, 2010).</li><li>Kemampuan (<em>skill</em>): Memodifikasi kurikulum yang sesuai dengan kemampuan siswa-siswi berkebutuhan khusus, memilih metode yang sesuai dalam menyampaikan materi, serta mampu memilih atau membuat alat peraga sederhana untuk memberi kemudahan belajar kepada siswa siswi berkebutuhan khusus.</li><li>Nilai (<em>value</em>): Memiliki standar perilaku jujur, terbuka, demokratis, dan penghargaan terhadap perbedaan kondisi individual siswa-siswi berkebutuhan khusus.</li><li>Sikap (<em>attitude</em>): Reaksi positif terhadap pembelajaran siswa-siswi berkebutuhan khusus</li><li>Minat (<em>interest</em>): Kecenderungan Guru untuk mempelajari atau melakukan pembelajaran bagi siswa-siswi berkebutuhan khusus. (Garnida, 2015 dan Mulyasa, 2013).</li></ul><div><br></div><div>Selain aspek kompetensi yang harus dimiliki guru ada juga langkah-langkah yang perlu dipersiapkan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif:</div><ol><li>Perencanaan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan siswa siswi dengan mengacu pada kurikulum yang disesuaikan. Guru mampu menyusun rencana program pembelajaran individual (PPI) yang mampu memodifikasi kurikulum disesuaikan kemampuan anak didik.</li><li>Proses pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa-siswi yang menekankan pada proses belajar yang optimal. Pembelajaran dapat bersifat fleksibel dengan melihat pada kemajuan anak.&nbsp;</li><li>Penilaian meliputi pengukuran terhadap materi yang telah dipelajari dengan standar individual pada kemampuan dasar yang harus dikuasai.</li><li>Pengawasan pembelajaran dilakukan tidak hanya oleh pihak sekolah namun bekerja sama dengan orang tua dan lingkungan masyarakat. (Hamalik, 2014)</li></ol><div><br></div><ol><li>Model dan Strategi Pembelajaran oleh Guru</li></ol><ul><li>Model pertama pada pembelajaran yang dilakukan oleh Guru yaitu model klasikal dimana siswa normal dan berkebutuhan khusus mengikuti pembelajaran dalam satu kelas.&nbsp;</li><li>Model kedua yaitu model pembelajaran individual dimana siswa yang mengalami kesulitan belajar/berkebutuhan khusus mendapatkan tambahan jam belajar yang biasanya dilaksanakan setelah jam pelajaran selesai.&nbsp;</li><li>Selain itu terdapat guru pendamping yang bertugas mendampingi guru kelas ketika di dalam pembelajaran guru kelas tersebut mengalami kesulitan.&nbsp;</li><li>Strategi guru dalam mengajar kelas inklusi yaitu guru menyampaikan materi pelajaran yang diselingi dengan sedikit permainan atau games. Hal ini dikarenakan siswa kelas inklusi cenderung memiliki tingkat konsentrasi yang dibawah rata-rata.</li><li>Teknik evaluasi yang dilakukan oleh guru kelas dengan cara mengurangi kompetensi bagi kelas inklusi serta menurunkan tingkat materi bagi siswa.&nbsp;</li><li>Adapun strategi atau metode yang biasa dilakukan guru seperti tanya jawab, diskusi yang dikemas menggunakan teknik-teknik yang dimiliki oleh guru kelas itu sendiri dengan menyesuaikan kondisi peserta didiknya begitu juga dengan penataan tempat duduk yang dibuat melingkar dan mengelompok.</li><li>Dalam hal penilaian siswa kelas inklusi mendapatkan dua buah buku laporan siswa yaitu laporan nilai (raport) dan buku laporan perkembangan siswa.</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="https://journal.univetbantara.ac.id/index.php/komdik/article/view/440" />
         <pubDate>2022-09-12 12:45:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/perwiradara1/u31gwz520h2xeyvb/wish/2292241827</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
