<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Latihan deskripsi by Hardianti Nti</title>
      <link>https://padlet.com/wordergirl/u02718286py1qde</link>
      <description>Kelompok 3
Hardianti
Lisa arianti
Cici murniasih</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-12-01 03:45:34 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2020-12-21 13:27:07 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Kerangka karangan</title>
         <author>wordergirl</author>
         <link>https://padlet.com/wordergirl/u02718286py1qde/wish/1035880099</link>
         <description><![CDATA[<div>Kenakalan Remaja</div><div> </div><div>I. PENDAHULUAN</div><div>1.1 Latar Belakang</div><div>1.2 Rumusan Masalah</div><div>1.3 Tujuan</div><div>II. PEMBAHASAN</div><div>2.1 Pengertian Kenakalan Remaja</div><div>2.2 Penyebab Kenakalan Remaja</div><div>2.3 Solusi Kenakalan Remaja</div><div>III. PENUTUP</div><div>III.1 Kesimpulan</div><div>III.2 Saran</div><div>Daftar Pustaka </div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-21 13:11:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wordergirl/u02718286py1qde/wish/1035880099</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kenakalan remaja</title>
         <author>wordergirl</author>
         <link>https://padlet.com/wordergirl/u02718286py1qde/wish/1035888905</link>
         <description><![CDATA[<div>PENDAHULUAN</div><div>1.1 Latar Belakang</div><div>Kenakalan remaja sampai saat ini merupakan persoalan yang aktual serta dalam kondisi yang memprihatinkan. Kenakalan remaja menunjukan kebrutalan para remaja yang dapat merugikan dirinya sendiri, dan merupakan bahaya yang sangat mengancam masyarakat suatu bangsa, hingga terjerumus kearah kriminalitas. Yang mana akhir-akhir ini sering terdengar tindakan remaja yang kurang pantas di dengar, mulai dari pembunuhan, penganiyayaan, pencurian, minum-minuman keras, tawuran, hamil di luar nikah dan lain-lain. Lalu timbul pertanyaan siapa yang bertanggung jawab tentang hal ini, masyarat, aparat pemerintahan, atau keluarga? Tentunya ketiga unsur tersebut harus bersama-sama untuk menanggulangi, tidak mungkin ditanggung oleh satu unsur saja.  </div><div>Mengingat hal tersebut, maka usaha menanggulangi kenakalan remaja tidak lepas dari pendidikan baik pendidikan sekolah maupun pendidikan diluar sekolah. Tetapi usaha penanggulangan itu tidak bisa dilakukan oleh tenaga ahli saja seperti psikolog dan pendidik, melaikan perlu kerja sama semua pihak antara lain guru, orang tua, pemerintah serta masyarakat. Kerjasama itu pun perlu didukung oleh dana, sarana dan prasarana yang memadai.  Dengan melihat kejadian dan kenyataan yang terjadi sekarang, yaitu dengan adanya kemajuan informatika, arus modernisasi dan globalisasi, dibawah langit industrialisasi dan penggunaan teknologi canggih, ternyata membawa dampak negatif disamping dampak positif yang bisa kita nikmati seperti sekarang ini, misalnya sering mengakses video porno di internet. Dari kemajuan itu ternyata banyak remaja SMP bahkan SMA terkena imbasnya dan hal itu sangat meresahkan masyarakat sekolah.</div><div>Para siswa sering terlibat tawuran, kurangnya rasa hormat kepada orang yang lebih tua/guru, walaupun itu terjadi tidak pada semua siswa, akan tatapi tetap saja harus di cari jalan pecegahannya, sebelum merajarela dan membesar menjadi masalah kriminalitas.</div><div>Oleh karena itu masalah kenakalan remaja seharusnya mendapatkan perhatian yang serius dan terfokus untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif, yang titik beratnya untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi kenakalan di kalangan remaja.</div><div> </div><div> </div><div>1.2 Rumusan Masalah</div><div>1. Apakah kenakalan remaja itu?</div><div>2. Apa penyebab kenakan remaja?</div><div>3. Bagaimana solusi mengatasi kenakalan remaja?</div><div> </div><div>1.3 Tujuan</div><div>1. Untuk mengetahui apa itu kenakalan remaja.</div><div>2. Untuk mengetahui penyebab kenakan remaja.</div><div>3. Untuk mengetahui bagaimana solusi mengatasi kenakalan remaja. </div><div>PEMBAHASAN</div><div> </div><div>2.1 Pengertian Kenakalan Remaja</div><div>Kenakalan remaja adalah semua perubahan anak remaja (usia belasan tahun) yang berlawanan dengan ketertiban umum (nilai dan norma yang diakui bersama) yang ditujukan pada orang, binatang, dan barang-barang yang dapat menimbulkan bahaya atau kerugian pada pihak lain Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.</div><div>Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi dan pencarian jati yang mana diperlukannya penanaman nilai, dan norma yang diberikan sejak dini agar dapat mempengaruhi sikap, perbuatan mental seorang anak untuk dapat memilah mana hal yang perlu ditiru, dan mana hal yang tidak patut ditiru, pada intinya seorang anak dapat melihat mana yang baik dan mana yang tidak baik. Apabila peran orang tua tidak maksimal sejak anak masih kecil, pada saat tumbuh menjadi seorang remajapun tidak menutup kemungkinan seorang remaja berbuat hal yang melanggar aturan. Seperti banyak contoh yang terjadi, seorang remaja kedapatan sedang merokok, meminum-minuman keras, sampai sex bebas dilakukan tanpa rasa bersalah. Hal itu karena tidak adanya pengawasan orang tua, atau kurangnya perhatian dari orang tua.</div><div>Banyak faktor-faktor yang membuat remaja memasuki dunia pergaulan yang rusak. Biasanya hal ini berawal dari mereka berteman dengan teman yang membawa dampak buruk, karena masa remaja itu masa dimana keadaan psikis remaja bisa mudah terpengaruh. Ada faktor yang berasal dari keluarga, karena kurangnya perhatian dari keluarga membuat anak menjadi royal dalam pergaulan. Faktor terpenting yang membuat remaja mudah terjerumus dipergaulan bebas karena kurangnya agama yang membentengi pikiran dan jiwa anak. Oleh karena itu, pendidikan dasar agama pada anak sangat diperlukan dalam kehidupan si anak. Berhasil atau tidak berhasilnya anak, kembali lagi pada peran keluarga dalam memberikan pendidikan agama dan pada diri anak sendiri.</div><div> </div><div><br></div><div>2.2 Penyebab Kenakalan Remaja</div><div>Remaja yang masih dalam tarap pencarian jati diri biasanya sering terjerumus kepergaulan yang salah yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja. Kenakalan-kenakalan ringan yang mengganggu ketentraman lingkungan sekitar seperti sering keluar malam dan menghabiskan waktunya hanya untuk hura-hura seperti minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, berkelahi, berjudi, dan lain-lainnya itu akan merugikan dirinya sendiri, keluarga, dan orang lain yang ada disekitarnya.</div><div>Cukup banyak faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja. Berbagai faktor yang ada tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Berikut ini penjelasannya secara ringkas :</div><div>Faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja secara umum dapat dikelompokan ke dalam dua faktor, yaitu sebagai berikut:</div><div>     1.      Faktor Intern</div><div>      a)      Faktor Kepribadian</div><div>Kepribadian adalah  suatu organisasi yang dinamis pada system psikosomatis dalam individu yang turut menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya (biasanya disebut karakter psikisnya). Pada periode ini, seseorang meninggalkan masa anak-anak untuk menuju masa dewasa. Masa ini di rasakan sebagai suatu Krisis identitas karena belum adanya pegangan, sementara kepribadian mental untuk menghindari timbulnya kenakalan remaja atau perilaku menyimpang.</div><div> </div><div>      b)      Faktor Kondisi Fisik</div><div>Faktor ini dapat mencakup segi cacat atau tidaknya secara fisik dan segi jenis kelamin. Ada suatu  teori yang menjelaskan adanya kaitan antara cacat tubuh dengan tindakan menyimpang (meskipun teori ini belum teruji secara baik dalam kenyataan hidup).  Menurut teori ini, seseorang yang sedang mengalami cacat fisik cenderung mempunyai rasa kecewa terhadap kondisi hidupnya. Kekecewaan tersebut apabila tidak disertai dengan pemberian bimbingan akan menyebabkan si penderita cenderung berbuat melanggar tatanan hidup bersama sebagai  perwujudan kekecewaan akan kondisi tubuhnya.</div><div> </div><div>      c)      Faktor Status dan Peranannya di Masyarakat</div><div>Seorang anak yang pernah berbuat menyimpang terhadap hukum yang berlaku, setelah selesai menjalankan proses sanksi hukum (keluar dari penjara), sering kali pada saat kembali ke masyarakat status atau sebutan “eks narapidana” yang diberikan oleh masyarakat sulit terhapuskan sehingga anak tersebut kembali melakukan tindakan penyimpangan hukum karena meresa tertolak dan terasingkan.</div><div> <br>2.   Faktor Ekstern</div><div>      a.       Kondisi Lingkungan Keluarga</div><div>Khususnya di kota-kota besar di Indonesia, generasi muda yang orang tuanya disibukan dengan kegiatan bisnis sering mengalami kekosongan batin karena bimbingan dan kasih sayang langsung dari orang tuanya sangat kurang. Kondisi orang tua yang lebih mementingkan karier daripada perhatian kepada anaknya akan menyebabkan munculnya perilaku menyimpang terhadap anaknya. Kasus kenakalan remaja yang muncul pada keluarga kaya bukan karena kurangnya kebutuhan materi melainkan karena kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua kepada anaknya.</div><div> </div><div>     b.​Kontak Sosial dari Lembaga Masyarakat Kurang Baik atau Kurang Efektif</div><div>Apabila system pengawasan lembaga-lembaga sosial masyarakat terhadap pola perilaku anak muda sekarang kurang berjalan dengan baik, akan memunculkan tindakan penyimpangan terhadap nilai dan norma yang berlaku. Misalnya, mudah menoleransi tindakan anak muda yang menyimpang  dari hukum atau norma yang berlaku, seperti mabuk-mabukan yang dianggap hal yang wajar, tindakan perkelahian antara anak muda dianggap hal yang biasa saja. Sikap kurang tegas dalam menangani tindakan penyimpangan perilaku ini akan semankin meningkatkan kuantitas dan kualitas tindak penyimpangan di kalangan anak muda.</div><div> </div><div>      c.       Kondisi Geografis atau Kondisi Fisik Alam</div><div>Kondisi alam yang gersang, kering, dan tandus, dapat juga menyebabkan terjadinya tindakan yang menyimpang dari aturan norma yang berlaku, lebih-lebih apabila individunya bermental negative. Misalnya, melakukan tindakan pencurian dan mengganggu ketertiban umum, atau konflik yang bermotif memperebutkan kepentingan ekonomi.         </div><div> </div><div>      d.​Faktor Kesenjangan Ekonomi dan Disintegrasi Politik</div><div>Kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan orang miskin akan mudah memunculkan kecemburuan sosial dan bentuk kecemburuan sosial ini bisa mewujudkan tindakan perusakan, pencurian, dan perampokan. Disintegrasi politik (antara lain terjadinya konflik antar partai politik atau terjadinya peperangan antar kelompok dan perang saudara) dapat mempengaruhi jiwa remaja yang kemudian bisa menimbulkan tindakan-tindakan menyimpang.</div><div> </div><div>      e.​Faktor Perubahan Sosial Budaya yang Begitu Cepat (Revolusi)</div><div>Perkembangan teknologi di berbagai bidang khususnya dalam teknologi komunikasi dan hiburan yang mempercepat arus budaya asing yang masuk akan banyak mempengaruhi pola tingkah laku anak menjadi kurang baik, lebih-lebih anak tersebut belum siap mental dan akhlaknya, atau wawasan agamanya masih rendah sehingga mudah berbuat hal-hal yang menyimpang dari tatanan nilai-nilai dan norma yang berlaku.</div><div> </div><div>2.3 Solusi Kenakalan Remaja</div><div>Dari berbagai faktor dan permasalahan yang terjadi di kalangan remaja masa kini sebagaimana telah disebutkan di atas, maka tentunya ada beberapa solusi yang tepat dalam pembinaan dan perbaikan remaja masa kini. Kenakalan remaja dalam bentuk apapun mempunyai akibat yang negatif baik bagi masyarakat umum maupun bagi diri remaja itu sendiri. Tindakan penanggulangan kenakalan remaja dapat dibagi dalam:</div><div>1. Tindakan Preventif </div><div> </div><div>Usaha pencegahan timbulnya kenakalan remaja secara umum dapat dilakukan melalui cara berikut:</div><div>1. Mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja.</div><div>2. Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja. Kesulitan-kesulitan mana saja yang biasanya menjadi sebab timbulnya pelampiasan dalam bentuk kenakalan.</div><div>Usaha pembinaan remaja dapat dilakukan melalui:</div><div>1. Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.</div><div>2. Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengetahuan dan keterampilan melainkan pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etiket.</div><div>3. Menyediakan sarana-sarana dan menciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar.</div><div>4. Memberikan wejangan secara umum dengan harapan dapat bermanfaat.</div><div>5. Memperkuat motivasi atau dorongan untuk bertingkah laku baik dan merangsang hubungan sosial yang baik.</div><div>6. Mengadakan kelompok diskusi dengan memberikan kesempatan mengemukakan pandangan dan pendapat para remaja dan memberikan pengarahan yang positif.</div><div>7. Memperbaiki keadaan lingkungan sekitar, keadaan sosial keluarga maupun masyarakat di mana banyak terjadi kenakalan remaja.</div><div>Sebagaimana disebut di atas, bahwa keluarga juga mempunyai andil dalam membentuk pribadi seorang remaja. Jadi untuk memulai perbaikan, maka harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Mulailah perbaikan dari sikap yang paling sederhana, seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan, membaca doa setiap melakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada anak dan masih banyak hal lagi yang bisa dilakukan oleh keluarga. Memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik, tetapi semua itu bisa dilakukan dengan pembinaan yang perlahan dan sabar.</div><div>Dengan usaha pembinaan yang terarah, para remaja akan mengembangkan diri dengan baik sehingga keseimbangan diri yang serasi antara aspek rasio dan aspek emosi akan dicapai. Pikiran yang sehat akan mengarahkan para remaja kepada perbuatan yang pantas, sopan dan bertanggung jawab yang diperlukan dalam menyelesaikan kesulitan atau persoalan masing-masing.</div><div>Usaha pencegahan kenakalan remaja secara khusus dilakukan oleh para pendidik terhadap kelainan tingkah laku para remaja. Pendidikan mental di sekolah dilakukan oleh guru, guru pembimbing dan psikolog sekolah bersama dengan para pendidik lainnya. Usaha pendidik harus diarahkan terhadap remaja dengan mengamati, memberikan perhatian khusus dan mengawasi setiap penyimpangan tingkah laku remaja di rumah dan di sekolah.</div><div>Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja. Ada banyak hal yang bisa dilakukan pihak sekolah untuk memulai perbaikan remaja, di antaranya melakukan program “monitoring” pembinaan remaja melalui kegiatan-kegiatan keagamaan, kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah dan penyelenggaraan berbagai kegiatan positif bagi remaja. </div><div>Pemberian bimbingan terhadap remaja tersebut bertujuan menambah pengertian remaja mengenai:</div><div>1. Pengenalan diri sendiri: menilai diri sendiri dan hubungan dengan orang lain.</div><div>2. Penyesuaian diri: mengenal dan menerima tuntutan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.</div><div>3. Orientasi diri: mengarahkan pribadi remaja ke arah pembatasan antara diri pribadi dan sikap sosial dengan penekanan pada penyadaran nilainilai sosial, moral dan etik.</div><div>Bimbingan yang dilakukan terhadap remaja dilakukan dengan dua pendekatan:</div><div>1. Pendekatan langsung, yakni bimbingan yang diberikan secara pribadi pada remaja itu sendiri. Melalui percakapan mengungkapkan kesulitan remaja dan membantu mengatasinya.</div><div>2. Pendekatan melalui kelompok, di mana ia sudah merupakan anggota kumpulan atau kelompok kecil tersebut.</div><div> </div><div>3. Tindakan Represif</div><div>Usaha menindak pelanggaran norma-norma sosial dan moral dapat dilakukan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap perbuatan pelanggaran. Dengan adanya sanksi tegas pelaku kenakalan remaja tersebut, diharapkan agar nantinya si pelaku tersebut “jera” dan tidak berbuat hal yang menyimpang lagi. Oleh karena itu, tindak lanjut harus ditegakkan melalui pidana atau hukuman secara langsung bagi yang melakukan kriminalitas tanpa pandang bulu.</div><div>Sebagai contoh, remaja harus mentaati peraturan dan tata cara yang berlaku dalam keluarga. Disamping itu perlu adanya semacam hukuman yang dibuat oleh orangtua terhadap pelanggaran tata tertib dan tata cara keluarga. Pelaksanaan tata tertib harus dilakukan dengan konsisten. Setiap pelanggaran yang sama harus dikenakan sanksi yang sama. Sedangkan hak dan kewajiban anggota keluarga mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan umur.</div><div>Di lingkungan sekolah, kepala sekolahlah yang berwenang dalam pelaksanan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Dalam beberapa hal, guru juga berhak bertindak. Akan tetapi hukuman yang berat seperti skorsing maupun pengeluaran dari sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. Guru dan staf pembimbing bertugas menyampaikan data mengenai pelanggaran dan kemungkinan-kemungkinan pelanggaran maupun akibatnya. Pada umumnya tindakan represif diberikan dalam bentuk memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kepada pelajar dan orang tua, melakukan pengawasan khusus oleh kepala sekolah dan tim guru atau pembimbing dan melarang bersekolah untuk sementara waktu (skors) atau seterusnya tergantung dari jenis pelanggaran tata tertib sekolah.</div><div> </div><div>4. Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi</div><div>Tindakan ini dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap perlu mengubah tingkah laku pelanggar remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi melalui pembinaan secara khusus yang sering ditangani oleh suatu lembaga khusus maupun perorangan yang ahli dalam bidang ini.</div><div>Solusi internal bagi seorang remaja dalam mengendalikan kenakalan remaja antara lain:</div><div>• Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.</div><div>• Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.</div><div>• Remaja menyalurkan energinya dalam berbagai kegiatan positif, seperti berolahraga, melukis, mengikuti event perlombaan, dan penyaluran hobi.</div><div>• Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.</div><div>• Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.</div><div>Jika berbagai solusi dan pembinaan di atas dilakukan, diharapkan kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi. Dari pembahasan mengenai penanggulangan masalah kenakalan remaja ini perlu ditekankan bahwa segala usaha pengendalian kenakalan remaja harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian remaja yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat jasmani dan rohani, teguh dalam kepercayaan (iman) sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air. </div><div>PENUTUP</div><div>I.1 Kesimpulan</div><div>Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.</div><div>Faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa krisis identitas dan kontrol diri yang lemah. Sedangkan faktor eksternal berupa kurangnya perhatian dari orang tua; minimnya pemahaman tentang keagamaan; pengaruh dari lingkungan sekitar dan pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebaya; dan tempat pendidikan.</div><div>Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja akan berdampak kepada diri remaja itu sendiri, keluarga, dan lingkungan masyarakat.</div><div>Solusi dalam menanggulangi kenakalan remaja dapat dibagi ke dalam tindakan preventif, tindakan represif, dan tindakan kuratif dan rehabilitasi. Adapun solusi internal bagi seorang remaja dalam mengendalikan kenakalan remaja antara lain:</div><div>• Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan</div><div>• Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama</div><div>• Remaja menyalurkan energinya dalam berbagai kegiatan positif</div><div>• Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul</div><div>• Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.</div><div>Segala usaha pengendalian kenakalan remaja harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian remaja yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat jasmani dan rohani, teguh dalam kepercayaan (iman) sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.</div><div> </div><div>I.2 Saran</div><div>Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis menyarankan untuk lebih menaruh perhatian terhadap persoalan sosial, terutama kenakalan remaja. Hendaknya kita dapat mencegah dan mengendalikan perilaku remaja sehingga tidak menimbulkan masalah sosial yang terjadi akibat kenakalan-kenakalan remaja tersebut.</div><div> </div><div>Daftar Pustaka</div><div>Santrock. J. W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja.(edisi keenam) Jakarta: Erlangga.</div><div>Desmita. (2006). Psikologi Perkembangan. Bandung. Remaja Rosdakarya.</div><div>Kartini Kartono. (2005). Patologi Sosial 2; Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.</div><div>  </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-12-21 13:15:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wordergirl/u02718286py1qde/wish/1035888905</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
