<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kelas XII-C by Vika Puspitasari</title>
      <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0</link>
      <description>Kerjakan dengan baik, dan jangan keluar kelas</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-08-20 23:54:19 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-08-27 22:16:01 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Simak video berikut, kemudian ikutilah petunjuk yang diberikan. (Cara menjawab dengan &quot;klik&quot; tombol + pada bagian kanan bawah)</title>
         <author>vikapuspitasari546</author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549494814</link>
         <description><![CDATA[<p>Simaklah video berikut dengan seksama, kemudian silahkan jawab pertanyaan di bawah ini:</p><ol><li><p>Mengapa perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dibagi menjadi 2: a) Perjuangan Fisik b) Perjuangan Diplomasi</p></li><li><p>Menurut pemaparan beberapa sejarawan yang ada pada video tersebut, mengapa beberapa perundingan mengalami kegagalan terutama adanya pengingkaran dari pihak Belanda?</p></li><li><p>Menurut pendapat kalian, apa latar belakang sebenarnya Indonesia melakukan perundingan-perundingan?</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://www.youtube.com/watch?v=oEl5MbXVcHI" />
         <pubDate>2025-08-21 00:00:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549494814</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549817353</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><strong>1.</strong> Perjuangan mempertahankan kemerdekaan dibagi menjadi perjuangan fisik dan diplomasi karena keduanya saling melengkapi. Perjuangan fisik menunjukkan tekad bangsa melawan penjajah, sedangkan diplomasi dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dunia internasional dan menghentikan agresi Belanda.</p><p><br/></p><p><strong>2.</strong> Beberapa perundingan gagal karena Belanda sering mengingkari kesepakatan. Belanda tidak sungguh-sungguh mau mengakui kemerdekaan Indonesia dan tetap ingin menjajah kembali melalui agresi militer.</p><p><br/></p><p><strong>3.</strong> Latar belakang Indonesia melakukan perundingan adalah untuk mengurangi korban perang, mencari jalan damai, serta mendapatkan pengakuan internasional. Perundingan juga memperkuat legitimasi Indonesia sebagai negara merdeka di mata duniaa</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 03:59:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549817353</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549822174</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Mengapa perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Fisik b) Perjuangan Diplomasi?</p><p>dibagi menjadi dua: </p><p>a) Perjuangan Fisik</p><p>b) Perjuangan Diplomasi </p><p>Perjuangan fisik dilakukan lewat bersenjata untuk menghadapi agresi militer Belanda.</p><p>Perjuangan diplomasi dilakukan melalui perundingan dan upaya internasional, seperti pembentukan Kementerian Luar Negeri (19 Agustus 1945) untuk menyampaikan proklamasi dan mendapatkan dukungan diplomatik</p><p>Alasannya:</p><p>1. Strategi ganda: Fisik untuk bertahan secara militer, diplomasi untuk mendapat pengakuan politik dan mengurangi korban.</p><p>2. Menghindari kerugian besar dengan membuka jalur damai serta menunjukkan bahwa Indonesia mampu menyelesaikan konflik secara beradab.</p><p> 2. Mengapa beberapa perundingan mengalami kegagalan, terutama karena pengingkaran oleh pihak Belanda?</p><p>Menurut isi video dan sumber pendukung:</p><p>Perjanjian seperti Linggarjati (25 Maret 1947) memberikan pengakuan de facto atas Indonesia atas wilayah Jawa, Sumatra, dan Madura</p><p>Namun, Belanda kemudian melancarkan Agresi Militer I (police action) pada Juli 1947, melanggar kesepakatan yang sudah dituangkan dalam perjanjian</p><p>tersebut.</p><p>Ini menandakan pengingkaran kesepakatan, di mana Belanda tidak menjalankan apa yang telah disetujui, menimbulkan kegagalan dalam perundingan dan memunculkan konflik lanjutan</p><p>3. Latar belakang sebenarnya Indonesia melakukan perundingan-perundingan?</p><p>Video dan sumber lainnya menekankan hal-hal berikut:</p><p>Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia perlu menjangkau dunia internasional untuk mengenalkan diri sebagai negara merdeka. Diplomasi menjadi jalan untuk mendapatkan</p><p>pengakuan politik dan hukum.</p><p>Perundingan seperti Linggarjati dan Renville adalah upaya konkret untuk mendapatkan pengakuan de facto dan menciptakan solusi politik damai</p><p>Pada akhirnya, hasil tertinggi adalah Konferensi Meja Bundar (KMB) yang membawa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia secara legal dan</p><p>internasional</p><p>Jadi, motif diplomasi Indonesia adalah:</p><p>Menghindari korban lebih banyak dari pertempuran lanjutan.</p><p>Memperoleh legitimasi di mata dunia, terutama melalui pengakuan negara sahabat dan pelibatan badan internasional (seperti PBB).Jadi, motif diplomasi Indonesia adalah:</p><p>Menunjukkan kematangan politik dan menggunakan jalur diplomasi sebagai jalan utama dalam perjuangan kemerdekaan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 04:04:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549822174</guid>
      </item>
      <item>
         <title> </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549826709</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dibagi menjadi dua karena setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia menghadapi agresi dari Belanda yang ingin kembali berkuasa. Oleh karena itu, dilakukan dua upaya:</p><p>•Perjuangan Fisik: Melalui pertempuran dan perlawanan bersenjata.</p><p>•Perjuangan Diplomasi: Melalui perundingan dan perjanjian dengan pihak Belanda serta mencari dukungan internasional.</p><p>2. Beberapa perundingan mengalami kegagalan karena:</p><p>•Ketidaksepakatan Mendasar: Perbedaan pandangan yang signifikan antara Indonesia dan Belanda mengenai status kemerdekaan Indonesia.</p><p>•Pengingkaran Belanda: Belanda seringkali mengingkari atau melanggar perjanjian yang telah disepakati.</p><p>•Kepentingan Belanda: Belanda masih berupaya untuk mempertahankan kepentingan ekonomi dan politiknya di Indonesia.</p><p>3. Latar belakang Indonesia melakukan perundingan-perundingan adalah:</p><p>•Mengurangi Konflik Bersenjata: Mencegah atau mengurangi eskalasi konflik bersenjata yang lebih besar.</p><p>•Mencari Pengakuan Internasional: Mendapatkan pengakuan dan dukungan dari negara-negara lain terhadap kemerdekaan Indonesia.</p><p>•Mempertahankan Kemerdekaan: Memastikan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia diakui secara sah oleh dunia internasional.</p><p>•Kepentingan Nasional: Mencapai solusi yang menguntungkan bagi kepentingan nasional Indonesia melalui jalur diplomasi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 04:09:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549826709</guid>
      </item>
      <item>
         <title>1. Mengapa perjuangan mempertahankan Kemerdekaan dibagi menjadi dua: a) Perjuangan Fisik b) Perjuangan Diplomasi?</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549848993</link>
         <description><![CDATA[<p>a) Perjuangan fisik: dilakukan dengan pertempuran bersenjata melawan agresi militer Belanda.</p><p><br/></p><p>b) Perjuangan diplomasi: ditempuh melalui jalur perundingan dan usaha internasional, misalnya pembentukan Kementerian Luar Negeri (19 Agustus 1945) untuk menyampaikan Proklamasi ke dunia internasional.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Alasan pembagian tersebut:</p><p><br/></p><p>1. Strategi ganda → fisik untuk bertahan secara militer, diplomasi untuk memperoleh pengakuan internasional.</p><p><br/></p><p>2. Menghindari korban jiwa dan menunjukkan bahwa Indonesia mampu menyelesaikan konflik secara damai dan beradab.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>2.   Mengapa beberapa perundingan mengalami kegagalan, terutama karena pengingkaran oleh pihak Belanda?</p><p><br/></p><p>Contoh: Perjanjian Linggarjati (25 Maret 1947) memberi pengakuan de facto wilayah Jawa, Sumatra, dan Madura kepada Indonesia.</p><p><br/></p><p>Tetapi, Belanda kemudian melanggar kesepakatan dengan melancarkan Agresi Militer I (Juli 1947).</p><p><br/></p><p>Hal ini menunjukkan bahwa Belanda tidak konsisten dan sering mengingkari hasil perjanjian, sehingga banyak perundingan berakhir gagal.</p><p><br/></p><p>3. Apa latar belakang sebenarnya Indonesia melakukan perundingan-perundingan?</p><p><br/></p><p>Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia perlu memperkenalkan diri ke dunia internasional.</p><p><br/></p><p>Diplomasi dijalankan untuk memperoleh pengakuan politik dan hukum sebagai negara merdeka.</p><p><br/></p><p>Perundingan seperti Linggarjati dan Renville menjadi langkah konkret untuk mencapai pengakuan de facto serta solusi damai.</p><p><br/></p><p>Puncaknya adalah Konferensi Meja Bundar (KMB, 1949) yang membuat Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Motif utama diplomasi Indonesia:</p><p><br/></p><p>1. Mengurangi korban jiwa akibat peperangan.</p><p><br/></p><p>2. Mendapatkan legitimasi internasional, termasuk melalui PBB.</p><p><br/></p><p>3. Menunjukkan kematangan politik bangsa Indonesia dengan menempuh jalur diplomasi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 04:31:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549848993</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549925215</link>
         <description><![CDATA[<p>---</p><p><br/></p><p>1. Mengapa perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dibagi menjadi 2 (Fisik &amp; Diplomasi)?</p><p><br/></p><p>Perjuangan Fisik → Dilakukan dengan senjata dan peperangan karena Belanda berusaha kembali menjajah Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.</p><p><br/></p><p>Perjuangan Diplomasi → Dilakukan melalui meja perundingan, karena selain perang, Indonesia juga butuh pengakuan internasional serta cara damai untuk menekan Belanda.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>---</p><p><br/></p><p>2. Mengapa beberapa perundingan mengalami kegagalan, terutama karena pengingkaran Belanda?</p><p><br/></p><p>Belanda tidak mengakui sepenuhnya kemerdekaan Indonesia. Mereka masih ingin menguasai kembali wilayah Indonesia.</p><p><br/></p><p>Belanda sering melanggar hasil perjanjian (contohnya setelah Linggarjati &amp; Renville, Belanda tetap melakukan agresi militer).</p><p><br/></p><p>Ada perbedaan kepentingan: Indonesia ingin kedaulatan penuh, sementara Belanda ingin Indonesia tetap berada di bawah kekuasaan mereka dalam bentuk negara federal.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>---</p><p><br/></p><p>3. Latar belakang sebenarnya Indonesia melakukan perundingan-perundingan</p><p><br/></p><p>Indonesia masih negara baru dengan kondisi militer, ekonomi, dan politik yang lemah.</p><p><br/></p><p>Perang terus-menerus bisa menimbulkan banyak korban &amp; kerugian.</p><p><br/></p><p>Indonesia butuh dukungan internasional (misalnya dari PBB, Amerika, negara Asia lainnya) agar kemerdekaan diakui dunia.</p><p><br/></p><p>Dengan diplomasi, Indonesia bisa menekan Belanda secara politik dan memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 05:32:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549925215</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549925281</link>
         <description><![CDATA[<p>1.pejuang fiksi adalah pejuang yang bersenjata untuk melawan agresi militer Belanda sedangkan pejuang diplomasi yang di lakukan dengan perundingan, agar dunia internasional mengakui kedaulatan Indonesia </p><p>2.karena Belanda tidak tulus mengakui kemerdekaan Indonesia, Belanda juga sering mengingkari hasil kesepakatan dan juga Belanda masih ingin menguasai Indonesia </p><p>3.Indonesia melakukan perundingan karena kekuatan militer masih lemah, ingin menghindari korban perang yang besar, perlu mencari pengakuan kedaulatan dari dunia internasional, serta sebagai strategi politik untuk memperkuat posisi dalam negeri dan luar negeri.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 05:32:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549925281</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549937404</link>
         <description><![CDATA[<p>1.pejuang fiksi adalah pejuang yang bersenjata untuk melawan agresi militer Belanda sedangkan pejuang diplomasi yang dilakukan dengan perundingan agar dunia internasional mengakui kedaulatan Indonesia </p><p>2.karena Belanda tidak tulus mengakui kemerdekaan Indonesia, Belanda juga sering mengingkari hasil kesepakatan dan juga Belanda masih ingin menguasai Indonesia </p><p>3.Indonesia melakukan perundingan karena kekuatan militer masih lemah, ingin menghindari korban perang yang besar, perlu mencari pengakuan kedaulatan dari dunia internasional, serta sebagai strategi politik untuk memperkuat posisi dalam negeri dan luar negeri.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 05:43:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549937404</guid>
      </item>
      <item>
         <title>1. Perjuangan Fisik:</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549947203</link>
         <description><![CDATA[<p>Melibatkan pertempuran bersenjata, serangan gerilya, dan perlawanan fisik lainnya untuk mempertahankan kemerdekaan. </p><p>Bertujuan untuk mengusir penjajah secara langsung dari wilayah Indonesia. </p><p>Contoh: Pertempuran Medan Area, Pertempuran Surabaya, Pertempuran Ambarawa, Bandung Lautan Api. </p><p>2. Perjuangan Diplomasi:</p><p>Melibatkan perundingan, negosiasi, dan lobi dengan pihak asing, terutama Belanda, untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan. </p><p>Bertujuan untuk menarik simpati dunia internasional dan mendapatkan dukungan politik. </p><p>Contoh: Perjanjian Linggarjati, Perjanjian Renville, Perjanjian Roem-Royen, Konferensi Meja Bundar. </p><p>3. Kegagalan Perundingan karena Pengingkaran Belanda:</p><p>Beberapa sejarawan menyoroti bahwa Belanda seringkali tidak menepati hasil kesepakatan perundingan. </p><p>Contoh: Perjanjian Linggarjati yang dilanggar oleh Belanda dengan melakukan Agresi Militer I. </p><p>Belanda memiliki kepentingan untuk mempertahankan kekuasaannya di Indonesia, sehingga seringkali mencari cara untuk membatalkan atau mengubah hasil perundingan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 05:52:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549947203</guid>
      </item>
      <item>
         <title>1. Karena selain dengan berperang Indonesia juga melakukan beberapa diplomasi untuk meraih kemerdekaannya, karena waktu itu kekuatan militer Indonesia belum cukup kuat untuk melawan penjajahan maka dipilihlah jalan diplomasi. 2.Karena ketidakpuasan Belanda terhadap wilayah kekuasaan yang diberikan Indonesia. 3.Dipilihnya jalur diplomasi untuk meraih kemerdekaan karena itu adalah jalan terbaik pada saat itu mengingat belum cukupnya kekuatan militer</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549951245</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 05:56:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549951245</guid>
      </item>
      <item>
         <title>1.Perjuangan Fisik: karena bangsa Indonesia harus melawan agresi militer Belanda yang ingin kembali menjajah dengan kekuatan senjata.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549952311</link>
         <description><![CDATA[<p>• Perjuangan Diplomasi: karena selain berperang, Indonesia juga butuh jalan damai untuk mendapatkan pengakuan dunia internasional dan memperkuat posisi sebagai negara merdeka.                                           2.Karena Belanda sering mengingkari kesepakatan yang sudah dibuat. Mereka tidak sungguh-sungguh mau mengakui kemerdekaan Indonesia dan tetap berusaha menjajah kembali melalui agresi militer.</p><p>3. • Untuk mengurangi korban perang dan mencari jalan damai.</p><p>• Untuk mendapatkan pengakuan internasional bahwa Indonesia benar-benar merdeka.</p><p>• Untuk memperkuat legitimasi Indonesia sebagai negara yang sah di mata dunia.</p><p>• Agar perjuangan tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tapi juga dukungan politik dan diplomasi internasional.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 05:56:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549952311</guid>
      </item>
      <item>
         <title>1. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan dibagi dua yaitu fisik (melawan agresi militer Belanda dengan senjata) dan diplomasi (mencari pengakuan internasional serta menghentikan agresi lewat perundingan).</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549953754</link>
         <description><![CDATA[<p>2. Beberapa perundingan gagal karena Belanda sering mengingkari kesepakatan, tidak sungguh-sungguh mau mengakui kemerdekaan Indonesia, dan tetap ingin menjajah kembali dengan agresi militer.</p><p><br/></p><p>3. Latar belakang Indonesia melakukan perundingan adalah untuk mengurangi korban perang, mencari jalan damai, serta memperoleh pengakuan internasional agar kemerdekaan Indonesia diakui dunia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 05:57:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549953754</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549969391</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Indonesia mempertahankan kemerdekaannya melalui dua jalur utama: perjuangan fisik dan diplomasi, yang saling melengkapi. Perjuangan fisik, seperti pertempuran dan perlawanan bersenjata, menunjukkan tekad bangsa Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan, sementara diplomasi, melalui perundingan dan pengakuan internasional, memperkuat posisi Indonesia di mata dunia. </p><p>Dengan menggabungkan kedua strategi ini, Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaannya dan mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. </p><p><br/></p><p> </p><p>2. Beberapa perundingan antara Indonesia dan Belanda sering gagal karena adanya pengingkaran dari pihak Belanda, seringkali melalui interpretasi yang berbeda terhadap hasil perundingan atau pelanggaran perjanjian yang telah disepakati, sebagai contoh dalam Perjanjian Linggarjati, Belanda hanya mengakui kedaulatan Indonesia atas sebagian wilayah, sementara Indonesia menginginkan pengakuan atas seluruh wilayahnya. dan Agresi Militer I yang dilancarkan Belanda pada tahun 1947 adalah contoh nyata pelanggaran terhadap Perjanjian Linggarjati. serta Belanda kembali melakukan Agresi Militer II yang merupakan bentuk pengingkaran terhadap Perjanjian Renville.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>3. menurut saya indonesia melakukan perundingan adalah untuk mencapai pengakuan kemerdekaan dari Belanda dan menyelesaikan sengketa yang timbul akibat perbedaan kepentingan. Perundingan ini juga merupakan upaya diplomasi untuk menghindari konflik bersenjata yang berkepanjangan dan mencari solusi damai atas permasalahan yang ada</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 06:11:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549969391</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mapel Sejarah (Kamis, 21 Agustus 2025)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549975580</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dibagi ke dalam dua jalur, yaitu fisik dan diplomasi, karena realitas kekuatan saat itu menuntut strategi yang seimbang antara pertahanan militer dan pengakuan politik. Secara militer, Indonesia masih sangat terbatas dalam persenjataan dan logistik, namun melalui gerilya dan perlawanan rakyat, Republik dapat menunjukkan eksistensi de facto dan menumbuhkan semangat nasionalisme. Sementara itu, jalur diplomasi digunakan untuk memperoleh pengakuan de jure dari dunia internasional, melemahkan posisi Belanda di forum global, serta menginternasionalkan masalah Indonesia agar tidak lagi dipandang sebagai urusan internal kolonial. Dengan demikian, kedua bentuk perjuangan ini bukanlah dua jalan yang terpisah, melainkan strategi yang saling melengkapi, di mana kekuatan fisik meningkatkan posisi tawar dalam perundingan, sementara diplomasi memperkuat legitimasi hasil perjuangan di medan tempur.</p><p><br></p><p>2. Kegagalan sejumlah perundingan, seperti Linggarjati dan Renville, terutama disebabkan oleh adanya pengingkaran dan pelanggaran dari pihak Belanda yang masih ingin mempertahankan pengaruh kolonialnya. Perbedaan visi yang mendasar antara kedua pihak menjadi akar masalah: Republik menuntut kedaulatan penuh dan bentuk negara kesatuan, sedangkan Belanda berupaya membangun negara federal melalui pembentukan negara negara bagian agar kendali kolonial tetap bertahan. Hal ini tercermin dari tindakan Belanda yang melancarkan Agresi Militer I (1947) dan Agresi Militer II (1948) meskipun sebelumnya telah menandatangani kesepakatan gencatan senjata. Selain motif politik, dorongan ekonomi untuk menguasai kembali komoditas strategis pascaperang juga memperkuat sikap Belanda dalam mengingkari hasil perundingan. Akibatnya, perjanjian yang disusun sering kali tidak berjalan efektif, menimbulkan krisis kepercayaan, dan justru mempercepat isolasi diplomatik Belanda di mata dunia.</p><p><br></p><p>3. Latar belakang utama Indonesia melakukan perundingan adalah kesadaran realistis akan keterbatasan kekuatan militer dan pentingnya legitimasi internasional bagi sebuah negara yang baru lahir. Tanpa pengakuan luar negeri, Republik berisiko dipandang sebagai pemberontakan semata, sehingga diplomasi menjadi jalan strategis untuk memperkuat kedudukan hukum internasional dan menarik simpati dunia, terutama melalui dukungan negara negara Asia, Arab, serta lembaga global seperti PBB. Selain itu, perundingan dipakai untuk mengurangi beban rakyat akibat blokade, operasi militer, dan tekanan ekonomi yang ditimbulkan oleh konflik berkepanjangan. Namun diplomasi bukan berarti melemahkan perjuangan fisik, melainkan melengkapinya: perlawanan gerilya memberi bukti eksistensi Republik, sementara diplomasi menjadikan bukti itu bernilai dalam forum internasional. Dengan demikian, perundingan dilakukan bukan sekadar kompromi, melainkan bagian dari strategi besar perjuangan nasional yang akhirnya membawa Indonesia pada pengakuan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar tahun 1949.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 06:16:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3549975580</guid>
      </item>
      <item>
         <title>I wayan radita pratama</title>
         <author>dektia309</author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3550220133</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p><strong>1. Mengapa perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dibagi menjadi 2 (fisik &amp; diplomasi)?</strong><br>Karena bangsa Indonesia berjuang dengan dua cara:</p><ul><li><p><strong>Perjuangan fisik</strong> → menggunakan kekuatan senjata, peperangan, dan perlawanan langsung untuk melawan tentara Belanda maupun sekutunya.</p></li><li><p><strong>Perjuangan diplomasi</strong> → dilakukan lewat perundingan, diplomasi internasional, dan jalur politik agar kemerdekaan Indonesia diakui dunia.<br>Keduanya saling melengkapi: fisik untuk menunjukkan bahwa Indonesia benar-benar ingin merdeka, diplomasi untuk mendapatkan pengakuan resmi di dunia internasional.</p></li></ul><p><strong>2. Mengapa beberapa perundingan mengalami kegagalan terutama adanya pengingkaran dari pihak Belanda?</strong><br>Karena Belanda tidak sungguh-sungguh mengakui kemerdekaan Indonesia. Mereka masih ingin menjadikan Indonesia sebagai jajahannya, sehingga sering melanggar perjanjian, menunda-nunda, dan melakukan agresi militer setelah perundingan.</p><p><strong>3. Menurut pendapat kalian, apa latar belakang sebenarnya Indonesia melakukan perjuangan diplomasi?</strong><br>Latar belakangnya adalah agar kemerdekaan Indonesia diakui secara internasional, menghindari lebih banyak korban akibat perang, serta menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang beradab dan bisa menyelesaikan masalah dengan cara damai selain perang. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 10:48:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3550220133</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3550323505</link>
         <description><![CDATA[<p>1.Perjuangan Fisik, yang mempertaruhkan kekuatan militer melalui pertempuran bersenjata.</p><p>Perjuangan Diplomasi, berupa negosiasi politik dan upaya memperoleh pengakuan internasional .</p><p>Alasan pembagiannya:</p><p>Jalur Perjuangan	Alasan Utama</p><p>Fisik	Untuk menunjukkan keberanian, membangkitkan semangat nasionalisme, dan menekan musuh secara langsung, contohnya melalui Pertempuran Surabaya, Ambarawa, Bandung Lautan Api, hingga Agresi Militer Belanda I &amp; II .</p><p>Diplomasi	Menghindari jatuhnya banyak korban jiwa, membangun citra positif di mata dunia, serta mendapatkan pengakuan dan dukungan internasional .</p><p>Keduanya saling melengkapi: kekuatan fisik memperkuat posisi Indonesia di atas meja perundingan, sedangkan diplomasi membuka jalan menuju pengakuan internasional .</p><p><br/></p><p>2.Beberapa perundingan gagal karena perbedaan kepentingan dan interpretasi antara Indonesia dan Belanda:</p><p>Perundingan Hoge Veluwe (April 1946): Belanda hanya bersedia memberikan otonomi, bukan mengakui kedaulatan de jure Indonesia; mereka tetap menginginkan bentuk negara federal demi mempertahankan pengaruhnya — menyebabkan kegagalan perundingan .</p><p>Perjanjian Linggarjati (November 1946): Meskipun Belanda sudah mengakui de facto (termasuk Jawa, Sumatra, dan Madura), pelaksanaannya tidak konsisten. Mereka kemudian melancarkan Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947 — indikasi pelanggaran atas kesepakatan .</p><p>Perundingan seringkali mandek karena Belanda enggan melepaskan pengaruh ekonomi dan politik, serta memiliki interpretasi sendiri atas isi perjanjian, sehingga tidak mematuhi komitmen secara penuh.</p><p><br/></p><p>3. 1.Politik Internasional: Indonesia memerlukan pengakuan internasional agar memperkuat legitimasi kemerdekaan dan menghindari isolasi .</p><p>2. Mengurangi Korban: Diplomasi dianggap jalan yang lebih aman dan manusiawi, menghindari jatuhnya korban nyawa dalam pertempuran langsung .</p><p>3. Kekuatan Tawar: Dengan memiliki kekuatan militer (proses fisik), Indonesia memiliki posisi tawar lebih kuat dalam perundingan .</p><p>4. Strategi Ganda Efektif: Kombinasi mesra antara kekuatan tempur dan diplomasi memungkinkan perjuangan yang efisien dalam berbagai front sekaligus — militer dan politik internasional.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 13:00:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3550323505</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ni Luh Agustini_28_XIIC</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3550791006</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Mengapa perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dibagi menjadi:</p><p><br/></p><p>a) Perjuangan Fisik</p><p><br/></p><p>b) Perjuangan Diplomasi</p><p><br/></p><p>Perjuangan Fisik mencakup aksi-aksi langsung, yakni perlawanan bersenjata terhadap agresi militer Belanda pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945. Ini penting untuk menunjukkan determinasi dan kesiapan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dengan kekuatan nyata.</p><p><br/></p><p>Perjuangan Diplomasi diperlukan agar perjuangan fisik tersebut mendapatkan legitimasi internasional — tujuan utamanya adalah memperoleh pengakuan formal dari negara-negara dunia, sehingga kedaulatan RI diakui secara sah dan tidak semata ditentukan oleh kekuatan militer saja .</p><p><br/></p><p>Keduanya melengkapi: perlawanan bersenjata membuktikan keseriusan perjuangan, sementara diplomasi mengamankan posisi Indonesia di mata dunia.</p><p><br/></p><p>2. Menurut sejarawan dalam video: mengapa beberapa perundingan mengalami kegagalan, terutama disebabkan pengingkaran pihak Belanda?</p><p><br/></p><p>Berulang kali, Belanda melakukan pelanggaran terhadap perjanjian yang telah disepakati bersama. Meskipun secara diplomatis ia mungkin sudah menandatangani, secara praktik Belanda masih berusaha mempertahankan kekuasaan kolonialnya, seringkali melalui penafsiran sepihakatau tindakan militer setelah perundingan.</p><p><br/></p><p>Misalnya, perundingan Linggarjati yang dipandang sebagai langkah maju diplomatis, kemudian diikuti dengan agresi militer yang melanggar hasil kesepakatan, hingga akhirnya PBB turun tangan .</p><p><br/></p><p>Perundingan seperti Renville dan Hooge-Veluwe juga berakhir tanpa hasil yang mengikat karena Belanda tetap mengutamakan kepentingan kolonialnya, bahkan setelah kesepakatan awal dicapai .</p><p><br/></p><p>Secara ringkas, kegagalan diplomasi berasal dari ketidaktulusan dan ambisi Belanda untuk tetap mengontrol Indonesia.</p><p><br/></p><p>3. Menurut pendapat kalian, apa latar belakang sebenarnya Indonesia melakukan perundingan-perundingan?</p><p><br/></p><p>Mencari legitimasi internasional: Indonesia yang baru merdeka membutuhkan pengakuan dunia agar kemerdekaannya tidak bisa diabaikan atau dinegosiasikan ulang sepihak.</p><p><br/></p><p>Meminimalkan korban dan kerugian: Perang berkepanjangan bisa menyebabkan kehancuran dan korban jiwa besar. Diplomasi adalah jalan yang lebih aman dan manusiawi.</p><p><br/></p><p>Menekan Belanda lewat tekanan internasional: Dengan membawa masalah ke meja diplomasi dan bahkan ke forum internasional (seperti PBB), Indonesia memperkuat posisinya melalui opini dunia dan intervensi luar yang mendukung.</p><p><br/></p><p>Memanfaatkan momentum historis: Belanda setelah Perang Dunia II berada di bawah pengawasan internasional, sehingga peluang diplomatik terbuka lebar jika dikelola efektif.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-21 20:50:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3550791006</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3551108626</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Mengapa Perjuangan Dibagi Menjadi Fisik dan Diplomasi?</p><p>Saling Melengkapi:</p><p>Kedua jalur ini merupakan strategi yang berbeda namun saling menopang. Perjuangan fisik menunjukkan keteguhan dan kekuatan bangsa dalam menghadapi penjajah, sementara diplomasi berfungsi untuk mencari dukungan internasional dan mencapai kesepakatan damai. </p><p>Menghadapi Situasi Berbeda:</p><p>Jalur fisik dilakukan dengan senjata untuk perlawanan bersenjata dan pertempuran, sedangkan diplomasi dilakukan melalui perundingan dan komunikasi politik untuk mencapai kesepakatan. </p><p>Mencari Pengakuan:</p><p>Diplomasi bertujuan untuk mendapatkan pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia, sementara perjuangan fisik bertujuan mengusir penjajah secara langsung dari wilayah Indonesia. </p><p>2.Mengapa Perundingan Sering Gagal?</p><p>Pengingkaran Belanda:</p><p>Belanda tidak pernah sepenuhnya menerima kemerdekaan Indonesia dan memiliki keinginan untuk tetap menguasai wilayah Indonesia dengan berbagai dalih, seperti diungkapkan oleh beberapa sejarawan. </p><p>Ketidakpercayaan:</p><p>Pihak Indonesia tidak bisa mempercayai Belanda karena pihak Belanda sering mengingkari hasil perjanjian yang telah disepakati. </p><p>Dukungan Internasional:</p><p>Belanda berusaha memanfaatkan situasi politik internasional, seperti kemenangan Sekutu dalam Perang Dunia II, untuk kembali merebut Indonesia. </p><p>3. Mengapa Indonesia Melakukan Perundingan?</p><p>Mencari Dukungan Internasional:</p><p>Jalur diplomasi digunakan untuk menarik simpati dan dukungan dari negara-negara lain di dunia agar kemerdekaan Indonesia mendapatkan pengakuan internasional. </p><p>Upaya Damai:</p><p>Perundingan merupakan jalur yang lebih damai untuk menyelesaikan konflik dibandingkan dengan kekerasan fisik, yang dapat menimbulkan korban jiwa dan kerusakan yang lebih besar. </p><p>Menunjukkan Kekuatan Diplomasi:</p><p>Perundingan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan politik untuk menyelesaikan masalah dengan pihak asing melalui jalur negosiasi yang cerdas. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-22 02:31:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3551108626</guid>
      </item>
      <item>
         <title>TUGAS SEJARAH</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3553755161</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Berikut alasan mengapa perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan indonesia di bagi menjadi dua:</p><p><strong><mark>A. Perjuangan Fisik</mark></strong></p><p>Kita ketahui bersama setelah proklamasi 17 Agustus 1945 Belanda tidak serta-merta mengakui kemerdekaan Indonesia, dan mereka  melakukan Agresi Militer I &amp; 2  yaitu Agresi Militer 1 (1947) dan Agresi Militer II (1948). Dalam kondisi itu  tentu rakyat Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan dengan senjata dan perang gerilya.</p><p><strong><mark>B. Perjuangan Diplomasi:</mark></strong></p><p>Kita tidak bisa menutup mata bahwa secara militer Indonesia masih lemah dengn persenjataan yg terbatas, dan belum mampu melawan Belanda secara penuh. Oleh karena itu Indonesia menempuh jalan diplomasi  untuk mencari dukungan dunia internasional (PBB, negara-negara besar) agar Belanda mendapat tekanan dan akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia.</p></li><li><p>Beberapa perundingan dapat mengalami kegagalan, dikarenakan hal hal sebagai berikut:</p><ol><li><p>Dalam setiap perundingan, Belanda sering menandatangani kesepakatan tetapi  mengingkarinya dengan alasan Indonesia dianggap tidak patuh.</p></li><li><p>Posisi Indonesia saat itu masih lemah secara militer serta persenjataan, sehingga Belanda merasa lebih unggul dan berani melanggar perjanjian.</p></li><li><p>Belanda belum rela kehilangan wilayah jajahannya yang kaya dengan sumber daya. Belanda jg masih berambisi menguasai Jawa dan Sumatera, bukan hanya wilayah-wilayah kecil.</p></li><li><p>Ada juga beberap faktor dari Belanda yang ingin mempertahankan kepentingan ekonomi (perkebunan, perdagangan,&nbsp;hutang).</p></li></ol></li><li><p>Saya berpendapat bahwasannya jika kita melihat latar belakang Indonesia melakukan perundingan, sebenarnya ada beberapa alasan yang sangat mendasar.</p><p><mark>Pertama, kita baru saja merdeka. </mark>Tentara kita belum terorganisir atau tertata dengan baik, dgn persenjataan masih sangat terbatas, sehingga jelas sulit menghadapi Belanda yang saat itu memiliki keunggulan dalam militer dann bahkan didukung oleh kekuatan sekutu. Kondisi ini membuat kita harus realistis, bahwa  perang saja tidak cukup.</p><p><mark>Kedua, kemerdekaan yang diproklamasikan memang sudah sah di mata bangsa sendiri, tetapi belum diakui secara internasional.</mark> Nah lewat jalur diplomasi, kita bisa memperjuangkan legitimasi itu agar dunia juga mengakui bahwa Indonesia benar-benar merdeka. Dan diplomasi juga menjadi cara untuk menekan Belanda. Knapa begitu? Dengan membuka simpati negara-negara besar seperti Amerika Serikat, India, , hingga dukungan PBB, posisi Indonesia akan aman dan lebih kuat. Belanda tidak bisa lagi bertindak semena-mena kepada indonesia karena dunia internasional ikut menyorot.</p><p>Dan terakhir, ada visi besar yang diyakini oleh Bung Hatta: <mark>bahwa cita-cita kemerdekaan sebaiknya diwujudkan lewat jalan damai. </mark>Diplomasi dianggap sebagai pilihan yang cerdass, yang mampu menjaga harga diri bangsa tanpa harus terus-menerus menumpahkan darah.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-25 11:11:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3553755161</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3556946727</link>
         <description><![CDATA[<p>1: Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dibagi menjadi dua bentuk karena situasi dan kebutuhan bangsa saat itu berbeda-beda dalam menghadapi ancaman penjajah. Berikut alasannya:</p><p><br/></p><p>a) Perjuangan Fisik</p><p><br/></p><p>Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Belanda ingin kembali menjajah Indonesia melalui NICA (diboncengi tentara Sekutu).</p><p><br/></p><p>Bangsa Indonesia melakukan perlawanan bersenjata untuk mempertahankan kedaulatan, contohnya Pertempuran Surabaya (10 November 1945), Pertempuran Medan Area, Bandung Lautan Api, dan Agresi Militer Belanda I &amp; II.</p><p><br/></p><p>Perjuangan fisik diperlukan karena penjajah menggunakan kekuatan militer.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>b) Perjuangan Diplomasi</p><p><br/></p><p>Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan perang, sehingga diperlukan jalur diplomasi untuk mencari pengakuan internasional dan menekan Belanda di meja perundingan.</p><p><br/></p><p>Melalui diplomasi, Indonesia berhasil mendapat pengakuan kedaulatan, contohnya Perjanjian Linggarjati (1947), Perjanjian Renville (1948), Perjanjian Roem-Royen (1949), hingga Konferensi Meja Bundar (1949).</p><p><br/></p><p>2:Menurut pemaparan para sejarawan, beberapa perundingan Indonesia–Belanda pada masa mempertahankan kemerdekaan sering gagal karena:</p><p><br/></p><p>1. Belanda tidak tulus mengakui kemerdekaan Indonesia</p><p><br/></p><p>Belanda hanya menganggap Indonesia sebagai bekas jajahan yang harus kembali dikuasai.</p><p><br/></p><p>Mereka mau berunding, tetapi sebenarnya hanya mencari waktu dan strategi untuk memperkuat posisi militernya.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>2. Adanya pengingkaran isi perjanjian oleh Belanda</p><p><br/></p><p>Setelah perjanjian ditandatangani (seperti Linggarjati dan Renville), Belanda tidak menjalankan kesepakatan dengan baik.</p><p><br/></p><p>Contoh: Belanda tetap melakukan agresi militer walau seharusnya menghentikan tembak-menembak.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>3. Perbedaan tujuan Indonesia dan Belanda</p><p><br/></p><p>Indonesia ingin pengakuan kedaulatan penuh, sementara Belanda hanya bersedia memberi status “negara persemakmuran” dalam Uni Belanda.</p><p><br/></p><p>Perbedaan pandangan ini membuat perundingan sering buntu.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>4. Tekanan politik dan militer Belanda</p><p><br/></p><p>Belanda menggunakan perundingan sebagai “topeng diplomasi”, sementara di lapangan mereka terus memperluas wilayah kekuasaan dengan kekuatan senjata.</p><p><br/></p><p>3:Menurut pendapat saya, latar belakang sebenarnya Indonesia melakukan berbagai perundingan dengan Belanda maupun pihak internasional adalah:</p><p><br/></p><p>1. Menghindari pertumpahan darah yang lebih besar</p><p><br/></p><p>Setelah proklamasi, Belanda datang lagi bersama Sekutu. Jika hanya mengandalkan perang, korban rakyat dan kerugian bangsa akan semakin besar.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>2. Kondisi militer Indonesia masih terbatas</p><p><br/></p><p>Senjata dan perlengkapan perang Indonesia kalah jauh dibanding Belanda yang didukung Sekutu. Maka, diplomasi menjadi jalan penting selain perjuangan fisik.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>3. Mencari pengakuan internasional</p><p><br/></p><p>Indonesia perlu dukungan dunia agar kemerdekaan yang diproklamasikan diakui secara sah oleh negara-negara lain.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>4. Tekanan dari dunia internasional</p><p><br/></p><p>Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ikut mendorong agar masalah Indonesia–Belanda diselesaikan lewat meja perundingan, bukan hanya peperangan.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>5. Strategi politik bangsa Indonesia</p><p><br/></p><p>Dengan perundingan, Indonesia bisa memperkuat posisi diplomasi, sambil tetap berjuang di medan perang bila Belanda mengingkari janji.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 11:06:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3556946727</guid>
      </item>
      <item>
         <title>IDA BAGUS GEDE WIADNYANA PUTRA(19)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3557046909</link>
         <description><![CDATA[<p>1: Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dibagi menjadi dua bentuk karena situasi dan kebutuhan bangsa saat itu berbeda-beda dalam menghadapi ancaman penjajah. Berikut alasannya:</p><p><br/></p><p>a) Perjuangan Fisik</p><p><br/></p><p>Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Belanda ingin kembali menjajah Indonesia melalui NICA (diboncengi tentara Sekutu).</p><p><br/></p><p>Bangsa Indonesia melakukan perlawanan bersenjata untuk mempertahankan kedaulatan, contohnya Pertempuran Surabaya (10 November 1945), Pertempuran Medan Area, Bandung Lautan Api, dan Agresi Militer Belanda I &amp; II.</p><p><br/></p><p>Perjuangan fisik diperlukan karena penjajah menggunakan kekuatan militer.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>b) Perjuangan Diplomasi</p><p><br/></p><p>Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan perang, sehingga diperlukan jalur diplomasi untuk mencari pengakuan internasional dan menekan Belanda di meja perundingan.</p><p><br/></p><p>Melalui diplomasi, Indonesia berhasil mendapat pengakuan kedaulatan, contohnya Perjanjian Linggarjati (1947), Perjanjian Renville (1948), Perjanjian Roem-Royen (1949), hingga Konferensi Meja Bundar (1949).</p><p><br/></p><p>2:Menurut pemaparan para sejarawan, beberapa perundingan Indonesia–Belanda pada masa mempertahankan kemerdekaan sering gagal karena:</p><p><br/></p><p>1. Belanda tidak tulus mengakui kemerdekaan Indonesia</p><p><br/></p><p>Belanda hanya menganggap Indonesia sebagai bekas jajahan yang harus kembali dikuasai.</p><p><br/></p><p>Mereka mau berunding, tetapi sebenarnya hanya mencari waktu dan strategi untuk memperkuat posisi militernya.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>2. Adanya pengingkaran isi perjanjian oleh Belanda</p><p><br/></p><p>Setelah perjanjian ditandatangani (seperti Linggarjati dan Renville), Belanda tidak menjalankan kesepakatan dengan baik.</p><p><br/></p><p>Contoh: Belanda tetap melakukan agresi militer walau seharusnya menghentikan tembak-menembak.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>3. Perbedaan tujuan Indonesia dan Belanda</p><p><br/></p><p>Indonesia ingin pengakuan kedaulatan penuh, sementara Belanda hanya bersedia memberi status “negara persemakmuran” dalam Uni Belanda.</p><p><br/></p><p>Perbedaan pandangan ini membuat perundingan sering buntu.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>4. Tekanan politik dan militer Belanda</p><p><br/></p><p>Belanda menggunakan perundingan sebagai “topeng diplomasi”, sementara di lapangan mereka terus memperluas wilayah kekuasaan dengan kekuatan senjata.</p><p><br/></p><p>3:Menurut pendapat saya, latar belakang sebenarnya Indonesia melakukan berbagai perundingan dengan Belanda maupun pihak internasional adalah:</p><p><br/></p><p>1. Menghindari pertumpahan darah yang lebih besar</p><p><br/></p><p>Setelah proklamasi, Belanda datang lagi bersama Sekutu. Jika hanya mengandalkan perang, korban rakyat dan kerugian bangsa akan semakin besar.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>2. Kondisi militer Indonesia masih terbatas</p><p><br/></p><p>Senjata dan perlengkapan perang Indonesia kalah jauh dibanding Belanda yang didukung Sekutu. Maka, diplomasi menjadi jalan penting selain perjuangan fisik.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>3. Mencari pengakuan internasional</p><p><br/></p><p>Indonesia perlu dukungan dunia agar kemerdekaan yang diproklamasikan diakui secara sah oleh negara-negara lain.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>4. Tekanan dari dunia internasional</p><p><br/></p><p>Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ikut mendorong agar masalah Indonesia–Belanda diselesaikan lewat meja perundingan, bukan hanya peperangan.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>5. Strategi politik bangsa Indonesia</p><p><br/></p><p>Dengan perundingan, Indonesia bisa memperkuat posisi diplomasi, sambil tetap berjuang di medan perang bila Belanda mengingkari janji.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 13:00:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3557046909</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ni kadek suastini </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3557053550</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Mengapa perjuangan dibagi menjadi fisik dan diplomasi?</p><p>Dua pendekatan yang saling melengkapi:</p><p>Kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 harus dipertahankan dari ancaman Belanda yang ingin kembali berkuasa. </p><p>Perjuangan Fisik:</p><p>Merupakan upaya perlawanan bersenjata, seperti pertempuran, untuk melawan kekuatan militer Belanda. Ini memberikan posisi tawar bagi Indonesia di meja perundingan. </p><p>Perjuangan Diplomasi:</p><p>Merupakan upaya melalui jalur negosiasi, perundingan, dan mencari simpati dunia internasional untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan. </p><p>2. Mengapa beberapa perundingan gagal? </p><p>Pengingkaran Belanda: Belanda memiliki agenda tersembunyi, yaitu untuk kembali menjajah dan menguasai kembali Indonesia sebagai koloni. Ini terlihat dari sikap Belanda yang sering mengingkari kesepakatan atau melancarkan agresi militer setelah perundingan.</p><p>Meskipun Indonesia sudah merdeka, Belanda tidak ingin mengakui kemerdekaan Indonesia secara sukarela .</p><p>3. Latar belakang Indonesia melakukan perundingan?</p><p>Menggalang Pengakuan Internasional:</p><p>Setelah proklamasi, Indonesia belum sepenuhnya diakui oleh dunia. Perundingan dilakukan untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Belanda dan Sekutu. </p><p>Menghindari Perang yang Berkepanjangan:</p><p>Perjuangan fisik akan memakan banyak korban jiwa. Perundingan adalah cara untuk mencapai perdamaian dan kemerdekaan tanpa banyak menimbulkan korban. </p><p>Mencari Dukungan dari Pihak Internasional:</p><p>Indonesia mencari dukungan dari negara-negara lain, seperti Amerika Serikat dan Inggris, untuk memberikan tekanan pada Belanda dan mendukung kemerdekaan Indonesia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 13:05:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3557053550</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3557111234</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Mengapa perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dibagi menjadi dua:</p><p><br/></p><p>a) Perjuangan Fisik</p><p>b) Perjuangan Diplomasi</p><p><br/></p><p>Perjuangan Fisik melibatkan pertempuran langsung, seperti gerilya dan aksi militer melawan Belanda dan sekutunya. Ini dilakukan karena saat itu Belanda masih ingin menguasai kembali wilayah Indonesia dan menolak kemerdekaan yang telah diproklamasikan. Perjuangan ini menjadi pendorong pertama dalam mempertahankan kekuasaan dan wilayah Republik Indonesia serta menunjukkan tekad bangsa untuk merdeka.</p><p><br/></p><p>Perjuangan Diplomasi dilakukan secara simultan melalui jalur negosiasi dan perundingan di meja diplomasi: Linggarjati, Renville, Roem-Royen, hingga Konferensi Meja Bundar (KMB). Tujuannya adalah mendapatkan pengakuan kedaulatan, memperkuat legitimasi RI, dan memenangkan simpati dunia internasional selain menekan Belanda untuk menerima fakta kemerdekaan RI.</p><p><br/></p><p>Pembagian dua jalur ini mencerminkan sinergi antara kekuatan militer (untuk mempertahankan wilayah fisik) dan negosiasi diplomatik (untuk memperoleh pengakuan internasional dan penyelesaian damai).</p><p><br/></p><p>2. Menurut pemaparan beberapa sejarawan, mengapa beberapa perundingan mengalami kegagalan terutama karena adanya pengingkaran dari pihak Belanda?</p><p><br/></p><p>Sejarawan menjelaskan bahwa kegagalan dalam perundingan Indonesia dan Belanda tidak lepas dari sikap Belanda yang tidak konsisten. Di satu sisi, mereka duduk di meja perundingan dan menandatangani kesepakatan, tetapi di sisi lain mereka tetap melancarkan agresi militer untuk melemahkan Republik. Hal ini menunjukkan bahwa Belanda tidak sungguh-sungguh berniat mengakui kedaulatan Indonesia, melainkan hanya menjadikan diplomasi sebagai cara untuk mengulur waktu dan memperbaiki posisi mereka di mata dunia.</p><p>Setiap kali perjanjian ditandatangani, Belanda selalu menemukan celah untuk menafsirkan isi perjanjian sesuai kepentingan mereka. Misalnya, setelah Perjanjian Linggarjati (1946), Belanda malah melancarkan Agresi Militer I (1947). Begitu juga setelah Perjanjian Renville (1948), mereka melanggar kesepakatan dengan melaksanakan Agresi Militer II (1948). Hal ini jelas menunjukkan adanya pengingkaran terhadap hasil perundingan.</p><p>Selain itu, terdapat perbedaan visi yang tidak dapat dipertemukan. Belanda ingin Indonesia berada dalam bentuk negara federal yang tetap terkait dengan Kerajaan Belanda, sedangkan Indonesia ingin berdiri sebagai negara kesatuan yang merdeka penuh. Pertentangan prinsip ini membuat perundingan sulit menghasilkan jalan keluar yang permanen.</p><p>Belanda juga memanfaatkan kekuatan militer sekaligus diplomasi internasional. Mereka menekan Indonesia dengan kekuatan senjata, tetapi di mata dunia mereka tetap menampilkan citra sebagai pihak yang mau berunding. Sementara itu, Indonesia yang masih baru merdeka menghadapi keterbatasan diplomasi dan tekanan dari berbagai pihak, sehingga posisi tawarnya sering kali lebih lemah.</p><p>Dengan demikian, para sejarawan menilai kegagalan perundingan terjadi karena Belanda tidak tulus, sering mengingkari isi perjanjian, memiliki tujuan yang berbeda dengan Indonesia, serta menggunakan diplomasi hanya sebagai alat politik sambil tetap mengandalkan kekuatan militer.</p><p><br/></p><p>3. Menurut pendapat kalian, apa latar belakang sebenarnya Indonesia melakukan perundingan?</p><p><br/></p><p>Menurut saya, latar belakang dilakukan perundingan sebenarnya adalah sebagai langkah strategis karena:</p><p><br/></p><p>Kekurangan sumber daya militer dan ekonomi: </p><p>Indonesia masih baru merdeka, kekuatan militer dan persenjataan masih terbatas dibanding Belanda yang memiliki sumber daya lebih besar.</p><p><br/></p><p>Mendapatkan pengakuan internasional: </p><p>Perundingan membuka peluang bagi Indonesia mendapat legitimasi sah secara global. Ini memperkuat posisi diplomatik di PBB dan internasional, mendesak Belanda ke sudut.</p><p><br/></p><p>Menekan Belanda lewat opini dunia: </p><p>Dengan membawa konflik ke arena diplomasi dan PBB, Indonesia memaksa Belanda menghadapi tekanan moral dan politik global seperti dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam agresi militer.</p><p><br/></p><p>Mencari solusi damai separatisasi wilayah: Perundingan membuka opsi penyelesaian yang tidak lagi lewat perang total, sehingga meminimalisir korban dan kerusakan luas terhadap rakyat dan infrastruktur.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 13:46:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3557111234</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3557591943</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Perjuangan mempertahankan kemerdekaan ke dalam fisik dan diplomasi karena keduanya saling melengkapi dan sama-sama penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.</p><p>B. Perjuangan diplomasi Upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui jalur perundingan atau jalur damai. Seperti Perjanjian Linggarjati yang dilaksanakan pada 11-14 November 1946, Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948, dan Perjanjian Meja Bundar 23 Agustus - 02 November 1949. Ini dilakukan untuk mendapatkan pengakuan di dunia internasional atas kemerdekaan Indonesia dan agar tidak terjadi pertumpahan darah yang lebih banyak.</p><p>A. Perjuangan fisik upaya mengalahkan penjajah dengan menggunakan kekuatan senjata warga indonesia. Dimana terjadi banyak peperangan seperti Agresi Militer Belanda ke 1 dan ke 2 yang merupakan serangan besar besaran.Sehingga dilakukannya perjuangan fisik untuk membela indonesia secara nyata di medan perang dan menunjukkan kekuatan dan tekad bangsa.</p></li><li><p>Menurut sajerawan beberapa perundingan mengalami kegagalan terutama adanya pengingkaran dari pihak belanda karena pihak Belanda merasa tidak puas dengan hasil perundingan, seperti Perjanjian Linggarjati yang di ingkari karena merasa tidak puas dengan wilayah kekuasaannya. Perjanjian Glue Value dan Renville yang selalu di ingkari oleh pihak Belanda. Belanda tidak serius dalam mengakui Kemerdekaan Indonesia.</p></li><li><p>Menurut pendapat saya latar belakang Indonesia melakukan perundingan- perundingan agar tidak terjadi banyaknya pertumpahan darah dan untuk memperoleh pengakuan dari negara lain seperti luar negeri karena dengan ini kita bisa memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 21:45:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3557591943</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sejarah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3557606808</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Perjuangan mempertahankan kemerdekaan indonesia dibagi menjadi perjuangan fisik dan diplomasi. Hal ini terjadi karena situasi saat itu menuntut perjuangan di lapangan perang dan juga meja perundingan. Melawan penjajah dengan senjata karena Belanda ingin kembali menjajah. Contohnya seperti pertempuran surabaya, pertempuran ambarawa, aggresi militer 1 &amp; 2.  Dengan adanya perjuangan secara fisik ini menunjukan bahwa bangsa indonesia benar benar berdaulat, rela berkorban, dan tidak tinggal diam ketika kedaulatannya di rampas. Karena perjuangan fisik saja tidak cukup, sementara indonesia perlu pengakuan internasional agar kemerdekaan diakui secara sah. Maka dilakukanlah upaya diplomasi melalu perundingan dan jalur politik. Tujuannya tentu agar Indonesia mendapatkan pengakuan atas kedaulatannya. Jadi pembagian ini terjadi karena bangsa indonesia menyadari bahwa mempertahankan kemerdekaan tidak bisa hanya dengan senjata(fisik) atau hanya dengan kata kata (diplomasi), melainkan harus seimbang.</p></li><li><p> Menurut sejarawan, perundingan indonesia-belanda sering gagal karena Belanda tidak sungguh sungguh mengakui kemerdekaan indonesia. Belanda berusaha mempertahankan kekuasaan kolonialnya, menuntut syarat yang merugikan indonesia, dan sering melanggar hasil perjanjian. Akibatnya, ketegangan meningkat hingga Belanda melancarkan agresi militer.</p></li><li><p>Menurut saya, apa latarbelakang sebenarnya Indonesia melakukan perundingan-perundingan, adalah karena perjuangan fisik saja tidak cukup dan menimbulkan banyak korban., Indonesia perlu pengakuan internasional agar kemerdekaan sah-di mata dunia, posisi militer Indonesia pada saat itu masih lemah dibandingkan dengan Belanda, serta  strategi diplomasi untuk menunjukan bahwa indonesia bangsa cinta damai dan ingin mempertahankan kemerdekaan secara resmi tanpa hanya mengandalkan perang.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 22:16:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vikapuspitasari546/tzt7mcsmrv218pk0/wish/3557606808</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
