<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>TUGAS 2 KLS IPS 2 by kasman rejadi</title>
      <link>https://padlet.com/kasmangeo/txmeizy4f18z</link>
      <description>POLA KERUANGAN DESA KOTA</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2017-08-24 03:21:44 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-01-22 02:05:45 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet-assets.s3.amazonaws.com/icons/Simplehouse.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Mawar</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kasmangeo/txmeizy4f18z/wish/293701207</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Tanya Taqilla<br>2. Asfilah<br>3. Imelda Destina<br>4. Abu Thayyib<br>5. Wiwik Ashary<br>6. Farah Eka Reski<br><br>Ciri Sosial Masyarakat Desa<br><br>1. <strong>Sistem Kekerabatan Erat</strong></div><div>Masyarakat desa memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Kehidupan mereka relatif berkelompok dan berlandaskan asas kekeluargaan. Kegiatan bertani sering dilakukan bersama-sama dan tidak berasaskan spesialisasi keahlian, yang penting dia punya tenaga dan fisik yang baik. Jika ada pembangunan fasilitas umum, masyarakat desa sering bergotong royong untuk menyelesaikannya seperti jembatan, mesjid, jalan dan rumah.  Dalam hal ini, Emile Durkeim menyebutnya sebagai solidaritas mekanik atua <em>geminschaft </em>yang artinya kelompok yang semua anggotanya saling terikat secara emosional.</div><div><br></div><div><strong>2. Pola Kehidupan Diatur Kondisi Alam</strong></div><div>Penduduk desa umumnya memiliki kegiatan sehari-hari seperti petani atau nelayan.  Artinya mereka sangat bergantung dengan kondisi alam seperti cuaca. Jika musim hujan tiba, maka masyarakat desa akan turun ke sawah untuk bercocok tanam sedangkan saat musim kemarau tiba mereka tidak pergi ke sawah namun mencari pekerjaan lain seperti menjadi buruh bangunan atau berdagang. Nelayan di pantai akan libur melaut jika cuaca buruk dan kembali melaut jika cuaca sudah membaik. <br><strong>3. Mata pencaharian homogen</strong></div><div>Masyarakat di desa secara umum memiliki jenis pekerjaan mayoritas homogen. Ada desa yang mayoritas petani, nelayan atau pengrajin. Hanya beberapa orang saja yang menekuni pekerjaan lain seperti berdagang atau menjadi guru dan lainnya.  <br><br><br></div><div><strong>4. Terikat Adat Istiadat</strong><br>Masyarakat desa umumnya yang masih tradisional masih sangat terikat oleh adat istiadat. Aturan adat sangat mengikat kehidupan setiap orang. Usia dan ketokohan sangat berperan dalam kehidupan penduduknya. Golongan orang tua atau <em>sesepuh </em>adalah orang penting yang sering dimintai nasihat bila ada kesulitan. Tokoh-tokoh adat sangat disegani dan semua kebijakan harus disetujui terlebih dahulu oleh kepala adat. Adat istiadat harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh setiap orang. Hal ini menjadi kearifan lokal tersendiri yang yang harus dilestarikan.<br><br><strong>5. Pola Pikir Tradisional</strong><br>Karena jauh dari modernisasi dan pendidikan memadai, maka pola pikir masyarakat desa cenderung masih tradisional atau kuno. Ada beberapa desa yang masih enggan menerima perubahan. Mereka menganggap perubahan dan modernitas hanya akan menghancurkan tatanan kehidupan mereka yang sudah berlaku sejak zaman nenek moyang. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/325006204/ecd3708a6144b3d8f8a69e6423ab1ba0/06B03535_8704_4B34_9899_B06C9083B499.jpeg" />
         <pubDate>2018-10-17 06:45:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kasmangeo/txmeizy4f18z/wish/293701207</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anggrek Balmond</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kasmangeo/txmeizy4f18z/wish/293701563</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Andi syifa salsabila<br>2. Indhy ambarwati hatta<br>3. Erni arwin<br>4. Leony azzahrah<br>5. Resky kamelia L.<br>6. M. Fhauzan A.R<br><br>*Ciri ciri fisik kota*<br>Antara lain:<br>1. Didominasioleh bangunan fasilitas umum bersama<br>Terdapat sarana perekonomian seperti pasar, supermarket, dan minimarket.<br>2. Terdapatsarana rekreasi dan olahraga seperti taman bermain dan hiburan, pasar malam, dsb.<br>3. Terdapatalun-alun kota sebagai sarana bersosialisai antar warga kota tsb.<br>4. Terdapat gedung-gedungpemerintahan yang dapat mengakomodir kegiatan-kegiatan pemerintahan kota.<br>5. Terdapat tempat parkir yang memadai.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-10-17 06:46:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kasmangeo/txmeizy4f18z/wish/293701563</guid>
      </item>
      <item>
         <title>IPS BISA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kasmangeo/txmeizy4f18z/wish/293701887</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama kelompok : <br>1. Dindah Nursafira Putri Udin<br>2. Andi Nurul Assyifa Zahra<br>3. Nurul Ramadani<br>4. Siti Nurhalisa<br>5. St Raina Jannatul Azalia<br>6. Adeline Dwigita<br><br><strong><em>CIRI SOSIAL MASYARAKAT KOTA</em></strong><br><br>Beberapa ciri sosial masyarakat kota, antara lain:<br><br></div><div><strong>Pelapisan Sosial Ekonomi<br></strong><br></div><div>Perbedaan tingkat pendidikan dan status sosial dapat menimbulkan suatu keadaan yang heterogen. Heterogenitas tersebut dapat berlanjut dan memacu adanya persaingan, lebih-lebih jika penduduk di kota semakin bertambah banyak dan dengan adanya sekolah-sekolah yang beraneka ragam terjadilah berbagai spesialisasi di bidang keterampilan ataupun di bidang jenis mata pencaharian.<br><br></div><div><br></div><div><strong>Individualisme<br></strong><br></div><div>Perbedaan status sosial-ekonomi maupun kultural dapat menimbulkan sifat “individualisme”. Sifat kegotongroyongan yang murni sudah sangat jarang dapat dijumpai di kota. Pergaulan tatap muka secara langsung dan dalam ukuran waktu yang lama sudah jarang terjadi, karena komunikasi lewat telepon sudah menjadi alat penghubung yang bukan lagi merupakan suatu kemewahan. Selain itu karena tingkat pendidikan warga kota sudah cukup tinggi, maka segala persoalan diusahakan diselesaikan secara perorangan atau pribadi, tanpa meminta pertimbangan keluarga lain.<br><br></div><div><strong>Toleransi Sosial<br></strong><br></div><div>Kesibukan masing-masing warga kota dalam tempo yang cukup tinggi dapat mengurangi perhatiannya kepada sesamanya. Apabila ini berlebihan maka mereka mampu akan mempunyai sifat acuh tak acuh atau kurang mempunyai toleransi sosial. Di kota masalah ini dapat diatasi dengan adanya lembaga atau yayasan yang berkecimpung dalam bidang kemasyarakatan.<br><br></div><div><strong>Jarak Sosial<br></strong><br></div><div>Kepadatan penduduk di kota-kota memang pada umumnya dapat dikatakan cukup tinggi. Biasanya sudah melebihi 10.000 orang/km<sup>2</sup>. Jadi, secara fisik di jalan, di pasar, di toko, di bioskop dan di tempat yang lain warga kota berdekatan tetapi dari segi sosial berjauhan, karena perbedaan kebutuhan dan kepentingan.<br><br></div><div><strong>Pelapisan Sosial<br></strong><br></div><div>Perbedaan status, kepentingan dan situasi kondisi kehidupan kota mempunyai pengaruh terhadap sistem penilaian yang berbeda mengenai gejala-gejala yang timbul di kota. Penilaian dapat didasarkan pada latar belakang ekonomi, pendidikan dan filsafat. Perubahan dan variasi dapat terjadi, karena tidak ada kota yang sama persis struktur dan keadaannya.<br><br></div><div>Suatu hal yang perlu ditambahkan sebagai penjelasan ialah pengertian mengenai istilah <em>“neighborhood”</em>. Dalam pengertian <em>“neighborhood” </em>terkandung unsur-unsur fisis dan sosial, karena unsur-unsur tersebut terjalin menjadi satu unit merupakan satu unit tata kehidupan di kota. Unsur-unsurnya antara lain gedung-gedung sekolah, bangunan pertokoan, pasar, daerah-daerah terbuka untuk rekreasi, jalan kereta api, jalan mobil dan sebagainya. Unsur-unsur tersebut menimbulkan kegiatan dan kesibukan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, sesungguhnya <em>“neighborhood” </em>ini sudah tidak merupakan hal baru bagi kita. Dalam kota terdapat banyak unit atau kelompok <em>“neighborhood”</em>, karena <em>“neighborhood”</em>ini dibatasi oleh beberapa persyaratan tertentu, antara lain:<br><br></div><ul><li>Lingkungan ini terbatas pada jarak pencapaian antara seseorang dengan toko atau sekolah, misalnya dapat dilakukan dengan jalan kaki.</li><li>Bila seseorang terpaksa harus memakai kendaraan, maka pekerjaannya tidak perlu melalui lalu lintas yang ramai dan padat.</li><li>Dari segi jumlah penduduk, maka satu unit <em>“neighborhood” </em>didiami oleh 5.000 sampai 6.000 orang. Untuk tempat-tempat di Indonesia angka ini tentu tidak akan sama dan mungkin akan menunjukkan angka yang lebih besar.</li><li><br></li></ul><div>Sebuah unit <em>“neighborhood” </em>dapat terbentuk kalau terjadi jalinan dan interaksi sosial diantara warga kota sesamanya. Unit atau kelompok <em>“neighborhood” </em>ini dapat terjadi dengan sendirinya, tetapi dapat juga terjadi dengan suatu perencanaan pembangunan kota, yaitu dengan merencanakan daerah-daerah lingkungan kehidupan yang khusus dan memenuhi persyaratan praktis dan menyenangkan. Bertambahnya penghuni kota baik berasal dari dari penghuni kota maupun dari arus penduduk yang masuk dari luar kota mengakibatkan bertambahnya perumahan-perumahan yang berarti berkurangnya daerah-daerah kosong di dalam kota. Semakin banyaknya anak-anak kota yang menjadi semakin banyak pula diperlukan gedung-gedung sekolah. Bertambah pelajar dan mahasiswa berarti bertambah juga  jumlah sepeda dan kendaraan bermotor roda dua. Toko-toko. Warung makan atau restoran bertambahnya terus sehingga makin mempercepat habisnya tanah-tanah kosong di dalam kota. Kota terpaksa harus diperluas secara bertahap menjauhi kota.</div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-10-17 06:47:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kasmangeo/txmeizy4f18z/wish/293701887</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Marvel</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kasmangeo/txmeizy4f18z/wish/293701955</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Nadia Nuradilah Ardy<br>2. Dilawati Linsangan<br>3. Rizqika Raudatul Jannnah<br>4. A. Triana Tasya<br>5. Agustina Alimin<br>6. Tasya Syasmita<br><br><strong>KLASIFIKASI KOTA<br><br></strong>Klasifikasi-klasifikasi Kota</div><div>Berikut merupakan klasifikasi kota, yakni:<br><br></div><ul><li>Berdasarkan Sejarah Berdirinya</li></ul><ol><li>Kota sebelum Masehi, kota tua yang didirikan 2500 th SM misalnya Roma, Athena, Babilon</li><li>Kota-kota abad pertengahan. Kota yang dibangun sekitar abad ke 5 hingga abad 10, karena pengaruh perdagangan misalnya, Genoa dan Vehicia</li><li>Kota-kota lama di Timur Tengah dan Tumur Jauh. Misalnya, Portugis, Spanyol, Bagdad, Damaskus, Beijing</li><li>Kota-kota dunia modern akibat perkembangan yang pesat bidang ekonomi, trasnportasi.</li></ol><div><br></div><ul><li>Berdasarkan Tingkat Perkembangannya</li></ul><ol><li>Tingkat Eopolis. Tahap perkembangan desa yang sudah teratur, sehingga organisasi masyarakat penghuni daerah tersebut sudah memperlihatkan cirri-ciri perkotaan.&nbsp; Merupakan peralihan dari pola kehidupan desa tradisional ke arah kehidupan kota.</li><li>Tahap Polis. Tahapan dimana suatu daerah kota yang masih bercirikan sifat-sifat agraris atau berorientasi pada sektor pertanian.&nbsp; Sebagian besar kota di Indonesia bercirikan ini.</li><li>Tahap Metropolis. Merupakan kelanjutan dari polis, yang ditandai oleh sebagian besar berorientasi kehidupan ekonominya mengarah ke industri.&nbsp; Misalnya Jakarta, Bandung dan Surabaya.</li><li>Tahap Megapolis(Kota Maha Besar). Suatu wilayah perkotaan yang ukurannya sangat besar biasanya terdiri atas beberapa kota metropolis yang menjadi satu sehingga membentuk jalur perkotaan.&nbsp; Kota Megapolis ini biasanya telah mencapai tingkat tertinggi dan memperlihatkan tanda-tanda akan mengalami penurunan kualitas.&nbsp; Misalnya Washington, San Fransisco, Dll.</li></ol><div><br></div><ul><li>Berdasarkan fungsinya</li></ul><ol><li>Kota Pusat Produksi (Production Centre). Fungsinya sebagai pemasok baik berupa bahan mentah, setengah jadi maupun bahan jadi.&nbsp; Misalnya, kota Industri pertambangan : Soroako (nikel), Bukit Asam dan Ombilin (batu bara).&nbsp; LNG (Arun dan Bontang) dll</li><li>Kota Pusat Perdagangan (Centre of Trade and Commerce). Misalnya kota memiliki fungsi sebagai pusat perdagangan baik domestik maupun Internasional.</li><li>Kota Pusat Pemerintahan (Politic Capital). Kota memiliki fungsi sebagai pusat ibukota negara</li><li>Kota Pusat Kebudayaan (Culture Center). Kota sebagai pusat kebudayaan (Yogya, Surakarta).&nbsp; Pusat keagamaan misalnya Mekkah, Vatikan, Yerusalam.</li><li>Kota Pusat Kesehatan dan Rekreasi (Health and Recreation Center).</li></ol><div><br></div><ul><li>Berdasarkan jumlah penduduknya</li></ul><ol><li>Kota kecil (20.000 – 50.000) misalnya ibukota kecamatan</li><li>Kota sedang (50.000 – 100.000) misalnya Sibolga, Bukit Tinggi</li><li>Kota Besar (100.000 – 1.000.000) Misalnya Cirebon, Kerawang, Serang</li><li>Kota Metropolitan (1.000.000 – 5.000.000) Misalnya Bandung, Medan,&nbsp; Surabaya, Semarang, Ujung Pandang</li><li>Kota Megapolitan (lebih 5.000.000) misalnya Jakarta, Tokyo dan lain-lain</li></ol><div><br></div><ul><li>Klasifikasi Kota berdasarkan Karakteristik (Pertumbuhannya menurut Houston J.M)</li></ul><ol><li>Nuclear Phase atau stadium Pembentukan inti kota. Tahap pembentukaan CBD (Central Business Distric) pada tahap ini baru dimulai pembangunan digedung-gedung baru karena masih dipenuhi di foundasi gedung berumur tua, bentuk klasik dan mengelompok.</li><li>Formatif phase atau Stadium formatif . Ditandai kamempuan sector industri, transfortasi dan perdagangan, makin meluasnya dan kompleksnya pabrik dan perumahan</li><li>Stadium Modern atau Modern Phase. Kota mulai komplek, timbulnya gejala penggabungan dengan pusat-pusat kegiatan baik kota satelit maupun dengan kota lain yang berdekatan.&nbsp; Misalnya GERBANG SUSILA untuk mengengbangkan wilayah Surabaya, JOGLO SEMAR, JABODETABEK dan lain-lain.</li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-10-17 06:48:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kasmangeo/txmeizy4f18z/wish/293701955</guid>
      </item>
      <item>
         <title>The real THANOS</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kasmangeo/txmeizy4f18z/wish/293702478</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Muh Fahmi Tsaqif<br>2. Muhammad Fauzan Patta<br>3. Muhammad Zuljalali<br>4. Muhammad Farhan<br>5. Rafli Paiyasa<br>6. Kevin Daniel<br><br> klarifikasi desa</div><div>Desa dapat diklasifikasikan menurut:<br><br></div><div>Menurut aktivitasnya</div><ul><li>Desa agraris, adalah desa yang mata pencaharian utama penduduknya adalah di bidang pertanian dan perkebunanan.</li><li>Desa industri, adalah desa yang mata pencaharian utama penduduknya adalah di bidang industri kecil rumah tangga.</li><li>Desa nelayan, adalah desa yang mata pencaharian utama penduduknya adalah di bidang perikanan dan pertambakan.</li></ul><div>Menurut tingkat perkembangannya</div><ul><li>Desa Swadaya</li></ul><div>Desa swadaya adalah desa yang memiliki potensi tertentu tetapi dikelola dengan sebaik-baiknya, dengan ciri:<br><br></div><ol><li>Daerahnya terisolir dengan daerah lainnya.</li><li>Penduduknya jarang.</li><li>Mata pencaharian homogen yang bersifat agraris.</li><li>Bersifat tertutup.</li><li>Masyarakat memegang teguh adat.</li><li>Teknologi masih rendah.</li><li>Sarana dan prasarana sangat kurang.</li><li>Hubungan antarmanusia sangat erat.</li><li>Pengawasan sosial dilakukan oleh keluarga.</li></ol><ul><li>Desa Swakarya</li></ul><div>Desa swakarya adalah peralihan atau transisi dari desa swadaya menuju desa swasembada. Ciri-ciri desa swakarya adalah:<br><br></div><ol><li>Kebiasaan atau adat istiadat sudah tidak mengikat penuh.</li><li>Sudah mulai menpergunakan alat-alat dan teknologi</li><li>Desa swakarya sudah tidak terisolasi lagi walau letaknya jauh dari pusat perekonomian.</li><li>Telah memiliki tingkat perekonomian, pendidikan, jalur lalu lintas dan prasarana lain.</li><li>Jalur lalu lintas antara desa dan kota sudah agak lancar.</li></ol><ul><li>Desa Swasembada</li></ul><div>Desa swasembada adalah desa yang masyarakatnya telah mampu memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya alam dan potensinya sesuai dengan kegiatan pembangunan regional. Ciri-ciri desa swasembada<br><br></div><ol><li>kebanyakan berlokasi di ibukota kecamatan.</li><li>penduduknya padat-padat.</li><li>tidak terikat dengan adat istiadat</li><li>telah memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai dan labih maju dari desa lain.</li><li>partisipasi masyarakatnya sudah lebih efektif.</li></ol><div>Potensi Desa</div><div>Potensi desa dibagi menjadi 2 macam yaitu:<br><br></div><ul><li>Potensi fisik yang meliputi, tanah air, iklim dan cuaca, flora dan fauna</li><li>Potensi non fisik, meliputi; masyarakat desa, lembaga-lembaga sosial desa, dan aparatur desa, jika potensi dimanfaatkan dengan baik, desa akan berkembang dan desa akan memiliki fungsi, bagi daerah lain maupun bagi kota.</li></ul><div>Fungsi Desa</div><div>Fungsi desa adalah sebagai berikut:<br><br></div><ul><li>Desa sebagai <em>hinterland</em> (pemasok kebutuhan bagi kota)</li><li>Desa merupakan sumber tenaga kerja kasar bagi perkotaan</li><li>Desa merupakan mitra bagi pembangunan kota</li><li>Desa sebagai bentuk pemerintahan terkecil di wilayah Kesatuan Negara Republik Indonesia</li></ul><div>Ciri-ciri Masyarakat Desa</div><ul><li>Kehidupan keagamaan di kota berkurang dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.</li><li>Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.</li><li>Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.</li><li>Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa.</li><li>Interaksi yang lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi.</li><li>Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.</li><li>Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh</li></ul><div>Pola persebaran desa</div><div>Pola persebaran desa di Indonesia dibagi menjadi 3 yaitu:<br><br></div><ul><li>Pola Memanjang (linier).</li></ul><div>Pola memanjang dibagi menjadi 4 yaitu:<br><br></div><ol><li>Pola yang mengikuti jalan. Pola desa yang terdapat di sebelah kiri dan kanan jalan raya atau jalan umum. Pola ini banyak terdapat di dataran rendah.</li><li>Pola yang mengikuti sungai. Pola desa ini bentuknya memanjang mengikuti bentuk sungai, umumnya terdapat di daerah pedalaman.</li><li>Pola yang mengikuti rel kereta api. Pola ini banyak terdapat di Pulau Jawa dan Sumatera karena penduduknya mendekati fasilitas transportasi.</li><li>Pola yang mengikuti pantai. Pada umumnya, pola desa seperti ini merupakan desa nelayan yang terletak di kawasan pantai yang landai.</li></ol><div>Maksud dari pola memanjang atau linier adalah untuk mendekati prasarana transportasi seperti jalan dan sungai sehingga memudahkan untuk bepergian ke tempat lain jika ada keperluan. Di samping itu, untuk memudahkan penyerahan barang dan jasa.<br><br></div><ul><li>Pola Desa Menyebar</li></ul><div>Pola desa ini umumnya terdapat di daerah pegunungan atau dataran tinggi yang berelief kasar. Pemukiman penduduk membentuk kelompok unit-unit yang kecil dan menyebar.<br><br></div><ul><li>Pola Desa Tersebar</li></ul><div>Pola desa ini merupakan pola yang tidak teratur karena kesuburan tanah tidak merata. Pola desa seperti ini terdapat di daerah karst atau daerah berkapur. Keadaan topografinya sangat buruk<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-10-17 06:49:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kasmangeo/txmeizy4f18z/wish/293702478</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
