<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Introduction to International Relations by Dept HI Unhas</title>
      <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-09-09 01:36:26 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-09-29 11:58:13 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Instructions</title>
         <author>hifisipunhas</author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3108995972</link>
         <description><![CDATA[<p>Silahkan pilih diantara 3 perspektif HI di bawah ini</p><p>- Realisme</p><p>- Liberalisme</p><p>- Strukturalisme</p><p>Berikan penjelasan singkat mengenai perspektif tersebut. </p><p>Kumpulkan dengan menyertakan Nama-NIM, paling lambat sebelum memulai perkuliahan minggu depan. </p><p>Terima kasih.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://www.ia-forum.org/Images/Content/United_Nations_Flags_-_500.jpg" />
         <pubDate>2024-09-09 05:28:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3108995972</guid>
      </item>
      <item>
         <title>E031241036 M.RAMDAN PRATAMA </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109021206</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA = M.RAMDAN PRATAMA</p><p>NIM = E031241036</p><p>PRODI = SOSIOLOGI </p><p>Realisme, liberalisme, dan strukturalisme adalah tiga perspektif utama dalam studi hubungan internasional.</p><p><br/></p><p>Realisme</p><p>Realisme fokus pada kekuatan dan kepentingan nasional sebagai pendorong utama perilaku negara. Dalam pandangan ini, dunia dianggap sebagai arena anarkis di mana negara bertindak untuk memaksimalkan kekuatan dan keamanan mereka. Realisme tekanan sifat manusia yang egois dan konflik yang melekat dalam hubungan internasional, sehingga memandang kerjasama antarnegara sebagai hal yang jarang terjadi dan bersifat sementara.</p><p><br/></p><p>Liberalisme</p><p>Liberalisme, sebagai perspektif tandingan, tekanan pentingnya kerjasama dan interdependensi antarnegara. Para penganut liberalisme percaya bahwa hubungan internasional dapat dibangun melalui institusi internasional, perdagangan, dan norma-norma yang mendukung perdamaian. Mereka berargumen bahwa dengan mengutamakan dialog dan kompromi, negara dapat mengatasi konflik dan mencapai stabilitas yang lebih baik.</p><p><br/></p><p>Strukturalisme</p><p>Strukturalisme, di sisi lain, tekanan peran struktur sosial dan ekonomi dalam membentuk perilaku negara. Pendekatan ini melihat hubungan internasional sebagai produk dari struktur yang lebih luas, termasuk sistem kapitalis global. Strukturalisme fokus pada bagaimana kekuatan dan ketidaksetaraan dalam sistem internasional mempengaruhi interaksi antarnegara, serta bagaimana perubahan dalam struktur ini dapat mempengaruhi dinamika politik global.</p><p>Perspektif ketiga ini menawarkan cara yang berbeda untuk memahami interaksi antarnegara dan dinamika global.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-09 05:42:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109021206</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan Singkat Mengenai Perspektif Liberalisme </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109262510</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Doril Wirli Septriel </strong></p><p><strong>NIM: E061241044</strong></p><p><br/></p><p>Liberalisme merupakan salah satu dari tiga perspektif Hubungan Internasional selain Realisme dan Strukturalime. Secara definisi, perspektif Liberalisme memiliki arti perspektif yang memandang bahwa manusia pada dasarnya mempunyai sifat yang baik, manusia masih mempunyai hati nurani untuk menciptakan sebuah kedamaian. Perspektif Liberalisme sendiri merupakan kebalikan dari perspektif Realisme sehingga seringkali dianggap sebagai tandingan bagi perspektif Realisme. Landasan berpikir perspektif Liberalisme menyatakan bahwa peran dan konflik dapat dikurangi melalui kerja sama, reformasi, atau tindakan kolektif yang diinisiasi oleh para pemimpin individu. Namun, bukan berarti konflik dihilangkan. Perspektif Liberalisme mengasumsikan bahwa kerja sama dan keterlibatan internasional mungkin terjadi, selama seluruh pihak mematuhi norma-norma global dasar. Perspektif Liberalisme mulai mendominasi setelah akhir Perang Dunia I hingga awal Perang Dunia II meskipun ide mengenai kemunculannya telah dimulai sejak abad ke-17 dan abad ke-18. Dalam perspektif Liberalisme, kerja sama antarnegara tumbuh karena kebutuhan negara itu sendiri, bukan dari faktor eksternal atau tekanan dari luar. Maka dari itu, perspektif Liberalisme memunculkan banyak kerja sama bilateral dan regional. Contoh dari praktek perspektif Liberalisme ialah Liberalisasi perdagangan yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Asia dan Afrika dan juga keikutsertaan negara-negara Asia dan Afrika dalam kancah <em>fashion</em>, olahraga, dan kesenian internasional. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-09 08:03:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109262510</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mengenal Perspektif Realisme dalam Hubungan Internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109339601</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA : AHMAD MANRUPPAY JUNIOR</p><p>NIM : E071241031</p><p>PRODI : ANTROPOLOGI SOSIAL</p><p><br/></p><p>Realisme adalah pandangan dari interaksi konflik. Realisme dianggap sebagai ilmu pertama HI karena pada dasarnya manusia hidup sebagai makhluk yang sering bertentangan. Realisme adalah pandangan ilmiah HI yang bisa mendorong pemikiran manusia yang egois dan kontradiktif. Perspektif ini percaya bahwa negara harus menggunakan kekuatannya untuk hidup dan terhubung dengan negara lain. Realisme percaya bahwa negara-negara yang hidup di dunia dalam sistem Internasional yang berdasarkan anarki. Sistem politik internasional dianggap sebagai arena perang dan semua negara menganut moto "setiap orang bekerja untuk dirinya sendiri".</p><p><br/></p><p>sumber literasi : <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.studocu.com/id/document/universitas-airlangga/pengantar-hubungan-internasional/mengenal-perspektif-realisme-dalam-hubungan-internasional/12091416">https://www.studocu.com/id/document/universitas-airlangga/pengantar-hubungan-internasional/mengenal-perspektif-realisme-dalam-hubungan-internasional/12091416</a></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-09 08:51:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109339601</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Fahri Hadi (E051241031) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109350818</link>
         <description><![CDATA[<p>Diantara ketiga perspektif diatas, saya memilih untuk menjelaskan perspektif Liberalisme, berikut penjelasan singkat dari saya :</p><p><br/></p><p>Liberalisme dalam hubungan internasional </p><p>adalah sebuah perspektif yang fokus pada kerja sama dan koperasi antarnegara atau teori yang menekankan pentingnya kerjasama internasional, hukum, dan institusi untuk mencapai perdamaian dan kemakmuran global. liberalisme percaya bahwa negara dan aktor non-negara dapat bekerja sama untuk mengatasi masalah global dan mencapai tujuan bersama melalui organisasi internasional dan perjanjian.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-09 08:58:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109350818</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109482489</link>
         <description><![CDATA[<p>Penjelasan singkat mengenai perspektif HI.</p><p>Nama : Dita adya maryanti</p><p>Nim    : E071241032</p><p>Prodi  : Antropologi sosial</p><p><br/></p><p>Realisme :</p><p>Dalam disiplin Hubungan Internasional (HI), realisme adalah aliran pemikiran yang menekankan sisi kompetitif dan konfliktual dalam hubungan internasional. Akar realisme sering dikatakan ditemukan dalam beberapa tulisan sejarah paling awal umat manusia, khususnya sejarah Thucydides tentang Perang Peloponnesia, yang berkecamuk antara tahun 431 dan 404 SM. Thucydides, yang menulis lebih dari dua ribu tahun yang lalu, bukanlah seorang 'realis' karena teori HI tidak ada dalam bentuk yang disebutkan hingga abad kedua puluh. Namun, ketika melihat kembali dari sudut pandang kontemporer, para ahli teori mendeteksi banyak kesamaan dalam pola pikir dan perilaku dunia kuno dan dunia modern. Mereka kemudian mengacu pada tulisan-tulisannya, dan tulisan-tulisan orang lain, untuk memberi bobot pada gagasan bahwa ada teori abadi yang mencakup semua sejarah manusia yang tercatat. Teori itu dinamai 'realisme'.</p><p><br/></p><p>Liberalisme :</p><p>Liberalisme adalah ciri khas demokrasi modern, yang diilustrasikan oleh prevalensi istilah 'demokrasi liberal' sebagai cara untuk menggambarkan negara-negara dengan pemilihan umum yang bebas dan adil, supremasi hukum, dan kebebasan sipil yang dilindungi. Namun, liberalisme ketika dibahas dalam ranah teori HI telah berkembang menjadi entitas tersendiri yang berbeda. Liberalisme mengandung berbagai konsep dan argumen tentang bagaimana lembaga, perilaku, dan hubungan ekonomi menahan dan mengurangi kekuatan kekerasan negara. Jika dibandingkan dengan realisme, ia menambahkan lebih banyak faktor ke dalam bidang pandang kita terutama pertimbangan warga negara dan organisasi internasional. Yang paling menonjol, liberalisme telah menjadi lawan tradisional realisme dalam teori HI karena ia menawarkan pandangan dunia yang lebih optimis, yang didasarkan pada pembacaan sejarah yang berbeda dengan yang ditemukan dalam kajian realis.</p><p><br/></p><p>Strukturalisme :</p><p>Strukturalisme adalah bagian teori hubungan internasional (HI) yang menekankan pengaruh struktur ekonomi dunia pada kehidupan politik, sosial, budaya, dan ekonomi setiap negara.</p><p>Kaum strukturalis tidak terlalu peduli dengan jenis rezim, sistem partai atau pemilihan umum, tatanan politik ekonomi, atau kualitas hubungan negara dan masyarakat. Strukturalis cenderung mempelajari struktur yang mendasari masing-masing fenomena tersebut. Teori sistem dunia Immanuel Wallerstein dan teori dependensi Andre Gunder Frank merupakan contoh penerapan strukturalisme pada analisis hubungan internasional dan politik komparatif.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-09 10:33:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109482489</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109546454</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA: ZALZABILLAH INTAN RAMADHANI</p><p>NIM: E041241035</p><p>Tentu, mari kita bahas lebih dalam tentang realisme dan liberalisme dalam Hubungan Internasional (HI). Kedua paradigma ini merupakan dua sudut pandang yang paling dominan dalam memahami dinamika politik global. </p><p>1. Realisme</p><p>Fokus: Kekuasaan, konflik, pascis, negara utama.</p><p>Pandangan: dunia internasional anarkis, tanpa pusat otoritas yang memadai. Negara menggunakan kekuatan alam sebanyak mungkin untuk mempertahankan eksistensi mereka sendiri dan mencapai kepentingan nasional.</p><p>Asumsi dasar: Manusia adalah makhluk egois dan kerap mencari keuntungan atas dirinya sendiri. Konflik internasional adalah kondisi alami.</p><p>Contoh: Perang dingin dapat dijelaskan dalam kerangka realisme: AS dan Uni Soviet saling bersaing untuk kendali dunia.</p><p>2. Liberalisme</p><p>Fokus: Kerjasama, institusi, demokrasi.</p><p>Pandangan: Dunia internasional tidak selalu saling bertentangan. Kerjasama antara negara-negara dapat tercapai melalui lembaga-lembaga internasional dan nilai-nilai bersama seperti demokrasi dan hak asasi manusia.</p><p>Dasar yang diambil: Manusia pda dasarnya rasional dan mampu meraih kesepakatan. Institusi internasional mampu mengurangi konflik dan mendorong perdamaian.</p><p>Contoh: United Nation dan UN Eropa adalah institusi liberal yang wilayahnya didirikan untuk mengatur kerjasama internasional.NAMA: ZALZABILLAH INTAN RAMADHANI NIM: E041241035  Tentu, mari kita bahas lebih dalam tentang realisme dan liberalisme dalam Hubungan Internasional (HI). Kedua paradigma ini merupakan dua sudut pandang yang paling dominan dalam memahami dinamika politik global.   1. Realisme Fokus: Kekuasaan, konflik, pascis, negara utama. Pandangan: dunia internasional anarkis, tanpa pusat otoritas yang memadai. Negara menggunakan kekuatan alam sebanyak mungkin untuk mempertahankan eksistensi mereka sendiri dan mencapai kepentingan nasional. Asumsi dasar: Manusia adalah makhluk egois dan kerap mencari keuntungan atas dirinya sendiri. Konflik internasional adalah kondisi alami. Contoh: Perang dingin dapat dijelaskan dalam kerangka realisme: AS dan Uni Soviet saling bersaing untuk kendali dunia.  2. Liberalisme Fokus: Kerjasama, institusi, demokrasi. Pandangan: Dunia internasional tidak selalu saling bertentangan. Kerjasama antara negara-negara dapat tercapai melalui lembaga-lembaga internasional dan nilai-nilai bersama seperti demokrasi dan hak asasi manusia. Dasar yang diambil: Manusia pda dasarnya rasional dan mampu meraih kesepakatan. Institusi internasional mampu mengurangi konflik dan mendorong perdamaian. Contoh: United Nation dan UN Eropa adalah institusi liberal yang wilayahnya didirikan untuk mengatur kerjasama internasional.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-09 11:23:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109546454</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NAMA : ILYAN NAUFAL SYAM                                  E051241025 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109683621</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>LIBERALISME</strong></p><p><br></p><p>Liberalisme merupakan ideologi politik dan filosofi sosial yang membahas pentingnya kebebasan individu, HAM, dan kesetaraan di hadapan hukum. Muncul pada abad ke-17 dan ke-18, liberalisme bertujuan untuk mengurangi kekuasaan otoriter dan memperkuat otonomi individu. Ideologi ini menekankan kebebasan dalam urusan pribadi dan ekonomi, memungkinkan individu untuk mengambil keputusan hidup mereka tanpa tekanan dari luar.Liberalisme juga melindungi hak-hak dasar seperti kebebasan berbicara, beragama, dan berkumpul.</p><p>Dalam konteks pemerintahan, liberalisme mendukung sistem demokrasi partisipasi rakyat melalui pemilihan umum dan perwakilan politik. Di bidang ekonomi, liberalisme mendorong adanya pasar bebas dengan sedikit aturan dari pemerintah, yang memungkinkan individu memiliki properti dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi secara mandiri. Ideologi ini juga menekankan pentingnya toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman dalam pandangan politik, budaya, dan kepercayaan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-09 12:46:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109683621</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan singkat mengenai perspektif strukturalisme </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109950499</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA: WINDI ZISKY ARLINI</p><p>NIM: E071241026</p><p>PRODI: ANTROPOLOGI SOSIAL </p><p><br></p><p>Strukturalisme adalah pendekatan yang melihat hubungan internasional sebagai sistem yang didasarkan pada struktur sosial, politik, dan ekonomi yang ada di dunia. Pendekatan ini melihat bagaimana struktur global khususnya sistem kapitalisme global menciptakan ketimpangan kekuatan dan sumber daya antara negara-negara maju dan berkembang. Pada intinya, perspektif ini menganggap bahwa sistem ekonomi kapitalis global cenderung menguntungkan negara-negara yang sudah maju, sementara negara-negara berkembang sering kali terperangkap dalam posisi subordinat. Teori ini sangat dipengaruhi oleh pandangan Marxian, yang melihat ketidaksetaraan ekonomi sebagai pendorong utama konflik dan ketidakstabilan dalam hubungan internasional. Strukturalisme memandang hubungan internasional sebagai sistem hierarkis di mana negara-negara inti (core) mengendalikan dan mengeksploitasi negara-negara perifer. Negara-negara inti biasanya terdiri dari kekuatan ekonomi dan politik utama, seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa Barat, sedangkan negara-negara perifer mencakup sebagian besar negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Dalam hubungan ini, perdagangan internasional, investasi asing, dan lembaga-lembaga global seperti IMF dan Bank Dunia sering kali dianggap memperkuat ketidakadilan ini. Sistem global tersebut dikatakan mengatur distribusi kekayaan dan kekuasaan sehingga menciptakan ketergantungan dan eksploitasi. Sebagai contoh, negara-negara berkembang sering kali mengandalkan ekspor bahan mentah atau produk bernilai rendah, sementara negara-negara maju menghasilkan dan mengekspor barang dengan nilai tambah tinggi. Ketergantungan ini menciptakan kesenjangan ekonomi yang terus melebar. Dalam keseluruhan pandangan ini, perbaikan ketidakadilan global dianggap perlu untuk menciptakan sistem internasional yang lebih adil dan stabil.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-09 14:49:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3109950499</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Putri aulida salsabila</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3110620827</link>
         <description><![CDATA[<p>Nim: E071241022</p><p>Prodi: Antropologi sosial</p><p><br/></p><p>Liberalisme adalah sebuah ideologi politik dan filosofi yang menekankan pada kebebasan individu, hak asasi manusia, pemerintahan yang terbatas, serta pasar bebas. Dalam berbagai literatur dan jurnal ilmiah, liberalisme dianalisis dari berbagai perspektif—politik, ekonomi, sosial, dan budaya. </p><p><br/></p><p>Doktrin yang sepenuhnya ditujukan kepada perilaku manusia di dunia ini. Dalam analisa terakhir, ia tidak memiliki tujuan lain ketimbang pemajuan kesejahteraan </p><p>materiil dan duniawi mereka, dan tidak secara langsung menyoroti kebutuhan-kebutuhan </p><p>spiritual dan metafisik mereka. Ia tidak menjanjikan pada manusia kebahagiaan dan kepuasan, melainkan hanya pemuasan paling besar atas semua hasrat yang bisa dipuaskan oleh hal-hal materiil dan duniawi.</p><p><br/></p><p> Liberalisme sering kali dikecam karena sikap yang murni eksternal dan </p><p>materialistik terhadap apa yang duniawi dan sementara in</p><p>Liberalisme sebagai ideologi mencakup spektrum yang luas, mulai dari kebebasan individu dan pasar bebas, hingga keadilan sosial dan peran pemerintah dalam mengurangi ketidaksetaraan. Berbagai jurnal akademik membahas isu-isu ini melalui lensa yang berbeda, menyoroti kekuatan, kelemahan, serta kritik terhadap liberalisme di berbagai konteks.</p><p><br/></p><p>https://bpsdm.kemendagri.go.id/Assets/Uploads/laporan/d91d1785c85edef7847e2ad67e161457.pdf</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-09 22:46:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3110620827</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Liberalisme </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3111145292</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Muh. Fauzan Reski Ramadhan </p><p>NIM : E071241033</p><p>Prodi : Antropologi Sosial</p><p><br/></p><p>Liberalisme adalah sebuah ideologi politik, filsafat, dan moral yang berfokus pada kebebasan individu, persetujuan dari yang diperintah, dan persamaan di hadapan hukum. Liberalisme adalah sebuah pandangan filsafat politik dan moral yang didasarkan pada kebebasan, persetujuan dari yang diperintah dan persamaan di hadapan hukum. Orang-orang liberal mendukung beragam pandangan tergantung kepada pemahaman mereka tentang prinsip-prinsip ini, tetapi umumnya mereka mendukung hak-hak individu (termasuk hak-hak sipil dan hak asasi manusia), demokrasi, sekularisme, kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan beragama dan ekonomi pasar.</p><p><br/></p><p>Liberalisme menjadi salah satu gerakan utama di Zaman Pencerahan dan menjadi populer di kalangan filsuf dan ekonom Barat. Liberalisme berusaha untuk menggantikan norma-norma hak istimewa turun-temurun, agama negara, monarki absolut, hak ilahi raja dan konservatisme tradisional dengan demokrasi perwakilan dan supremasi hukum. Para liberal juga mengakhiri kebijakan merkantilis, monopoli kerajaan dan hambatan perdagangan lainnya. Ini dimaksudkan untuk mempromosikan perdagangan bebas dan marketisasi.</p><p><br/></p><p>Kata-kata seperti liberal, liberty, libertarian, dan libertine semuanya mempunyai akar sejarah ke bahasa Latin liber, yang berarti “bebas”. Salah satu contoh pertama yang tercatat dari penggunaan kata liberal terjadi pada tahun 1375, ketika digunakan untuk menggambarkan seni liberal dalam konteks pendidikan yang diinginkan untuk orang yang merdeka.</p><p><br/></p><p>Hubungan awal kata itu dengan pendidikan klasik universitas abad pertengahan membuka jalan bagi munculnya denotasi dan konotasi yang berbeda. Liberal dapat merujuk pada “bebas dalam menganugerahkan” sejak tahun 1387, “dibuat tanpa tugas” pada tahun 1433, “diizinkan secara bebas” pada tahun 1530 dan “bebas dari pengekangan”—seringkali sebagai komentar yang merendahkan—pada abad ke-16 dan ke-17.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-10 03:42:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3111145292</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan singkat mengenai Perspektif Strukturalisme dalam Hubungan Internasional </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3111581081</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:Santa Srigina Rantekada</p><p>NIM:E031241037</p><p>Perspektif Strukturalisme dalam Hubungan Internasional adalah pendekatan teoretis yang menekankan peran struktur sosial, ekonomi, dan politik worldwide dalam membentuk dinamika hubungan antar negara.</p><p>Dengan demikian, Perspektif Strukturalisme dalam Hubungan Internasional menawarkan sudut pandang yang kritis terhadap peran struktur worldwide dalam membentuk dinamika politik internasional dan menyoroti ketidakadilan yang mungkin muncul akibatnya.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-10 07:47:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3111581081</guid>
      </item>
      <item>
         <title>E071241023 ARFIKA PAEDAH ANTROPOLOGI </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3113228591</link>
         <description><![CDATA[<p>Dari ketiga perspektif HI saya memilih perspektif realisme.</p><p>Realisme mengatakan bahwa negara bangsa atau negara-negara adalah karakter utama dari kisah utama hubungan internasional yang terus berkembang. Ada karakter lain- individu dan bisnis, khususnya- tetapi mereka memiliki kekuatan yang terbatas, dimasa perang negara akan berbicara dan bertindak sebagai satu kesatuan dengan mempertimbangkan kepentingan nasional mereka sendiri. Realisme bisa dianggap sebagai paradigma/ perspektif/ pendekatan, teori, filsafat politik, atau bahkan filsafat ilmu.</p><p> Sebagai paradigma realisme memiliki tiga asumsi dasar pertama yaitu realisme memandang bahwa hakikat aktor adalah tunggak dan rasional dalam dunia yang anarki, rasional dimaknai sebagai sifat aktor yang senantiasa mementingkan diri sendiri da anarki diartikan sebagai ketiadaan otoritas diatas negara. Kedua realisme memandang bahwa hubungan internasional adalah konfliktual, tidak ada yang menjamin negara lain akan bersikap baik, maka relasi antara bangsa dipenuhi rasa curiga terhadap maksud pihak lain. Ketiga realisme memandang bahwa struktur internasional ditentukan oleh kapabilitas material, realisme percaya bahwa perilaku negara dibentuk struktur materi seperti poster, militer suatu negara, pendapatan perkapita, jumlah anggaran pertahanan, jumlah senjata nuklir, posisi geografis, hingga kekayaan sumber daya alam. Poin utam dalam memahami realisme adalah realisme ialah teori yang berpendapat bahwa tindakan yang tidak menyenangkan seperti perang adalah alat yang diperlukan dalam kenegaraan di dunia yang tidak sempurna dan para pemimpin harus menggunakannya jika itu demi kepentingan nasional.</p><p> Perlu dicatat bahwa invasi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003, yang dilakukan sebagai bagian dari perang global melawan teror,ditentang oleh sebagian besar realis terkemuka sebagai penyalahgunaan kekuasaan yang tidak akan melayani kepentingan nasional Amerika Serikat. Ini karena kemungkinan bahwa penggunaan kekuasaan militer Amerika Serikat yang tidak proporsional akan menyebabkan reaksi keras dari kebencian wilayah tersebut. Dalam kasus ini realisme menghasilkan hasil kuat sebagai alat analisis seperti yang ditunjukkan oleh kebangkitan kelompok negara Islam pada tahun-tahun setelah invas Irak.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-11 02:03:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3113228591</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan Singkat Mengenai Perspektif Liberalisme</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3114198930</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Ari Aryadi</p><p>NIM : E051241029</p><p><br/></p><p>Liberalisme, sebagai fondasi demokrasi modern, menekankan pada pentingnya hak individu, kebebasan sipil, dan supremasi hukum. Ini tercermin dalam konsep "demokrasi liberal," di mana pemilihan umum yang bebas, lembaga yang adil, dan kontrol terhadap kekuasaan negara menjadi pusat perhatian. Dalam konteks liberalisme menawarkan pandangan optimis yang berfokus pada kerja sama internasional, dengan menambahkan elemen-elemen seperti peran warga negara dan organisasi internasional ke dalam analisis.</p><p><br/></p><p>Berbeda dengan realisme yang menekankan kekuatan dan kepentingan negara, liberalisme melihat sistem internasional sebagai ruang di mana kerja sama dan perdamaian lebih mungkin terjadi, terutama antara negara demokratis. Ini didukung oleh teori perdamaian demokratis, yang berargumen bahwa negara demokrasi cenderung tidak berperang satu sama lain. Selain itu, liberalisme mendorong pembangunan lembaga internasional dan perdagangan bebas sebagai cara untuk mengurangi konflik, karena hubungan ekonomi dan norma internasional yang kuat membuat negara-negara lebih cenderung menjaga perdamaian.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-11 12:09:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3114198930</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PERSPEKTIF LIBERALISME DALAM HUBUNGAN NASIONAL</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3114588242</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA: MUH. ILHAM ZAKIR</p><p>NIM : E041241040</p><p>PERSPEKTIF LIBERALISME DALAM HUBUNGAN NASIONAL</p><p>Perspektif liberalism dalam hubungan internasional berfokus pada keyakinan bahwa manusia pada dasarnya bersifat baik dan dapat bekerja sama untuk mencapai perdamaian dan kesejahteraan global tanpa kekerasan atau perang. Dalam pandangan ini, kerja sama reformasi, dan Tindakan kolektif dipandang sebagai cara untuk mengurangi konflik dan meningkatkan kebaikan Bersama, meskipun konflik masih dapat terjadi dan dianggap sebagai hal yang konstruktif.</p><p>Menurut Robert Jakcson dan Georg Sorensen, liberalism menganggap hubungan internasional sebagai koopertif, berbeda dari pandangan realisme yang lebih focus pada konflik dan persaingan. Dalam liberalism, negara-negara berkolaborasi untuk kepentingan Bersama dan mematuhi norma-norma global dasar</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-11 15:23:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3114588242</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Prespektif liberalisme di dalam hubungan internasional </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3114626697</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama  : Adriano Michael L Samma </p><p>NIM     : E041241032</p><p>PRODI : ILMU POLITIK </p><p>Liberalisme dalam teori hubungan internasional berfokus pada perdamaian dan kerja sama global. Berasal dari pemikiran liberal Zaman Pencerahan, paham ini mengkaji: 1. Teori Perdamaian Demokratis: Pengaruh rezim politik dalam negeri terhadap hubungan internasional. 2. Teori Perdamaian Perdagangan: Bagaimana perdagangan bebas dan globalisasi mendukung kedamaian. 3. Teori Perdamaian Kelembagaan: Kerja sama dalam anarki dan prioritas kepentingan jangka panjang. 4. Pengaruh Organisasi Internasional: Peran forum internasional dan aktor global. 5. Peran Hukum Internasional: Hukum internasional dalam mengatur perilaku negara. 6. Pengaruh Norma Liberal Hubungan antara negara-negara liberal. 7. Peran Perserikatan: Aliansi dan entitas seperti NATO atau Uni Eropa. 8. Kosmopolitanisme: Melampaui batas negara untuk tujuan global.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-11 15:41:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3114626697</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan singkat mengenai perspektif liberalisme </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3115491061</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Thabita Nailha</p><p>NIM:E051241024</p><p><br/></p><p>Liberalisme muncul pada masa Renaissance sebagai reaksi terhadap dominasi gereja yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, sehingga kebebasan individu sangat terbatas. Liberalisme berfokus pada otonomi individu, di mana seseorang bebas dari intervensi eksternal dalam menentukan tindakan dan pilihan hidupnya. Kebebasan individu dianggap sebagai hak penting yang harus dijamin oleh hukum, dan kesuksesan atau kegagalan seseorang bergantung pada tindakan dan keputusannya sendiri.</p><p><br/></p><p>Dalam hubungan internasional, liberalisme menekankan pentingnya kerjasama antar negara, institusi internasional, dan norma-norma global untuk menciptakan perdamaian serta stabilitas.liberalisme dalam hubungan internasional mengusulkan bahwa melalui institusi global, kerjasama, dan interdependensi, perdamaian dan stabilitas dapat dicapai serta dipertahankan dalam sistem internasional.liberalisme juga percaya bahwa negara-negara bisa bekerja sama untuk mencapai perdamaian dan kemakmuran, bukan hanya bersaing atau berkonflik, serta mendorong demokrasi dan hak asasi manusia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-12 01:57:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3115491061</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan Singkat perspektif HI (Liberalisme)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3115514970</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Miftahul Ni'mah</p><p>NIM : E011241036</p><p><br/></p><p>Liberalisme muncul pasca Perang Dunia 1 yang dimana pada saat itu para ilmuwan mencoba mencari sebuah solusi lebih baik untuk menjauhkan perang dari interaksi antar negara. Liberalisme secara harfiah dikatakan sebagai sebuah ideologi kebebasan (liberte). Namun, dalam studi Hubungan Internasional, liberalisme adalah salah satu teori untuk memahami suatu permasalahan mengenai realitas interaksi antar negara. </p><p><br/></p><p>Selain itu, Liberalisme didasarkan pada argumen moral bahwa memastikan hak individu untuk hidup, kebebasan, dan harta benda adalah tujuan tertinggi pemerintah. Liberalisme memiliki esensi utama, yaitu seperti perdamaian, kompromi, pengendalian diri, sikap tidak berlebihan. Liberalisme menolak adanya sentralisasi pada aktor Hubungan Internasional meskipun pada praktiknya keberadaan mereka pasti dibutuhkan pada proses Hubungan Internasional.</p><p><br/></p><p>Salah satu bentuk dari Liberalisme adalah kerjasama internasional. Kerjasama Internasional merupakan sisi lain dari konflik internasional yang termasuk ke dalam aspek Hubungan Internasional. Contoh dari Liberalisme adalah: adanya perekonomian yang bebas aktif, adanya globalisasi di berbagai sektor, adanya kebebasan mengeluarkan pendapat dan bebas ber-ekspresi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-12 02:07:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3115514970</guid>
      </item>
      <item>
         <title>perspektif HI dalam Reaslisme </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3115871441</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Nama : Masyita</p><p>Nim : E021241050</p><p>Prodi : Ilmu Komunikasi </p><p><br/></p><p>Realisme adalah suatu perspektif yang berpusat pada empat ide utama, yaitu grupisme politik, <a rel="noopener noreferrer nofollow" class="new" href="https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Egoisme_rasional&amp;action=edit&amp;redlink=1">egoisme</a>, anarki internasional, dan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.wikipedia.org/wiki/Politik_kekuasaan">politik kekuasaan</a>. asumsi utama realisme berpusat pada sistem nasional anarkis yaitu sistem yang dianggap tidak memiliki otoritas yang lebih tinggi untuk mengatur interaksi antarnegara. oleh karena itu, dalam perspektif ini negara harus membina sendiri hubungan dengan negara lain. pada perspektif ini juga, mengatur negara sebagai aktor utama yang dimana negara sebagai aktor tunggal yang rasional dalam dunia yang anarkis. negara cenderung mengejar kepentingan pribadi dan membangun militer untuk bertahan hidup.</p><p><br/></p><p>pada perspektif realisme hubungan internasional dianggap sebagai konfliktual,dan tidak ada yang menjamin negara lain akan bersikap baik. relasi antarbangsa dipenuhi rasa saling curiga terhadap maksud pihak lain. serta dalam struktur internasionalnya ditentukan dari kapabilitas material maksudnya dibentuk oleh perilaku negara dibentuk oleh struktur material seperti postur militer, pendapat perkapita, jumlah anggaran pertahan dan lainnya. </p><p><br/></p><p>adapun tujuan utama negara dalam perspektif realisme adalah mempertahankan keamanan, kedaulatan, dan kepentingan nasional. dimana sebuah negara harus selalu siap menghadapi ancaman dan menentukan strategi untuk mempertahankan posisi dan kekuatan. jadi, di dalam  perspektif hubungan internasional dalam realisme berfokus pada kepentingan nasional, keamanan, dan keseimbangan kekuatan, serta menganggap sistem internasional sebagai lingkungan yang konfliktual dan anarkis.</p><p><br/></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-12 05:11:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3115871441</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan Singkat Perspektif Strukturalisme</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3116460964</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Nafsyiah Mutmainnah</strong></p><p><strong>Nim :E041241038</strong></p><p>Nah, disini saya akan menjelaskan tentang strukturalisme yang bagi saya perspektif ini kurang diketahui adanya.</p><p><br/></p><p><strong>Strukturalisme</strong> adalah sebuah pendekatan yang mulai dikenal dan dikembangkan di Prancis pada tahun 1950-an dari pemikiran linguis Ferdinand de Saussure. Menurut Saussure, prinsip dasar strukturalisme adalah bahwa alam semesta terjadi dari relasi (forma) dan bukan benda (substansial). Di bidang antropologi dua tokoh strukturalis yang paling berpengaruh adalah Claude Lévi- Strauss (1908-2009) dan Roland Barthes3 (1915 –1980). Selain itu, strukturalisme juga dapat diartikan sebagai sebuah perspektif dalam ilmu sosial dan humaniora yang menekankan pentingnya memahami struktur dasar yang membentuk suatu sistem, baik dalam bahasa, budaya, masyarakat, atau berbagai fenomena lainnya. Perspektif strukturalisme didasarkan pada gagasan bahwa makna dan fungsi dari suatu unsur hanya dapat dipahami dalam hubungannya dengan unsur-unsur lain dalam sistem tertentu.</p><p><br/></p><p><strong>Prinsip-Prinsip Utama Strukturalisme:</strong></p><p>1. <strong>Struktur sebagai Fondasi </strong>: Segala sesuatu dalam dunia sosial dan budaya dipahami melalui struktur-struktur dasar yang membentuknya. Struktur ini bisa berupa aturan-aturan, pola, atau relasi antar unsur.</p><p>2. <strong>Hubungan Antar Unsur</strong> : Unsur-unsur dalam suatu sistem (misalnya, kata dalam bahasa, norma dalam budaya) tidak memiliki makna secara independen. Makna mereka ditentukan oleh posisi dan relasi mereka dengan unsur-unsur lain dalam sistem tersebut.</p><p>3. <strong>Bahasa sebagai Model</strong> : Strukturalisme sering kali menggunakan bahasa sebagai model untuk memahami struktur-struktur lain. Ini berasal dari karya Ferdinand de Saussure, seorang ahli linguistik yang menekankan bahwa makna kata tidak datang dari hubungan dengan dunia nyata, tetapi dari hubungan dengan kata-kata lain.</p><p>4. <strong>Invarian dan Aturan Universal</strong> : Strukturalisme mencari aturan-aturan umum yang berlaku dalam berbagai konteks. Misalnya, Claude Lévi-Strauss, seorang antropolog strukturalis, mencari struktur-struktur universal dalam mitos-mitos dan cerita rakyat dari berbagai budaya.</p><p>5. <strong>Mengabaikan Sejarah dan Subjektivitas Individu </strong>: Strukturalisme cenderung mengabaikan faktor-faktor sejarah atau subjektivitas individu dan lebih fokus pada pola-pola umum yang dapat diamati dalam struktur sosial atau budaya.</p><p><br/></p><p><strong>Penerapan Strukturalisme:</strong></p><p>- <strong>Linguistik</strong> : Ferdinand de Saussure mengembangkan konsep-konsep seperti <strong>langue</strong> (sistem bahasa) dan <strong>parole</strong>(penggunaan bahasa individu), serta membedakan antara&nbsp; <strong>signifier</strong> (penanda) dan <strong>signified</strong> (petanda).</p><p>- <strong>Antropologi</strong> : Claude Lévi-Strauss menggunakan pendekatan strukturalis untuk menganalisis mitos, adat istiadat, dan pola-pola budaya yang menunjukkan struktur-struktur mendasar yang sama dalam berbagai masyarakat.</p><p>- <strong>Sastra</strong> : Dalam studi sastra, strukturalisme menekankan analisis terhadap narasi, plot, karakter, dan motif untuk mengidentifikasi struktur-struktur yang mendasarinya.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, perspektif strukturalisme berusaha untuk menemukan pola-pola mendasar yang tersembunyi di balik fenomena yang tampak, dengan keyakinan bahwa struktur-struktur ini adalah kunci untuk memahami dunia sosial dan budaya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-12 11:26:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3116460964</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muh. Syamri D (E071241030)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3116680535</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Realisme</strong></p><p>Dalam disiplin Hubungan Internasional, realisme merupakan aliran pemikiran yang menekankan aspek kompetitif dan konfliktual dalam hubungan internasional. Sering di katakan bahwa akar realisme dapat di temukan dalam beberapa tulisan sejarah, khususnya History of the Peloponnesian War karya Thucydides, yang berkecamuk antara tahun 431 dan 404 SM. Thucydides, yang menulis lebih dari dua ribu tahun yang lalu, bukanlah seorang <em>realis </em>karena teori hubungan internasional belum ada dalam bentuknya yang di tentukan sampai abad ke 20. Namun, jika melihat kembali dari perspektif kontemporer, para ahli teori menemukan banyak kesamaan dalam pola pikir dan perilaku di dunia kuno dan modern. Mereka kemudian memanfaatkan karyanya dan karya orang lain untuk menekankan gagasan bahwa ada teori abadi yang mencakup seluru sejarah manusia yang tercatat.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-12 13:41:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3116680535</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mengenal Hubungan Internasional dalam Perspektif Liberalisme</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3116718413</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Yosefus Nong Yando</p><p>NIM : E041241033</p><p>Prodi : Ilmu Politik</p><p><br/></p><p>Di antara tiga perspektif di atas, saya memilih perspektif liberalisme dan pandangan perspektif tersebut terhadap Hubungan Internasional. </p><p><br/></p><p>Liberalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang menekankan pada kebebasan individu, hak asasi manusia, dan pemerintahan yang berbasis pada hukum. Hubungan internasional dalam perspektif liberalisme memandang dunia sebagai arena di mana negara-negara, organisasi internasional dan perusahaan multinasional dapat berinteraksi secara damai dan saling menguntungkan. Oleh karena itu, kebijakan luar negeri liberal sering kali berfokus pada penciptaan norma-norma dan nilai-nilai global yang dapat diterima secara universal.</p><p>Pendekatan liberal terhadap hubungan internasional juga menyoroti bahwa perdamaian dan stabilitas global dapat dicapai melalui penyebaran demokrasi dan pembangunan ekonomi. Dalam sistem internasional yang demokratis, negara-negara lebih cenderung untuk menyelesaikan konflik mereka melalui negosiasi dan kerja sama, bukan melalui perang atau kekerasan. Ini didasarkan pada teori "Democratic Peace Theory," yang menyatakan bahwa negara-negara demokratis jarang berperang satu sama lain karena mereka memiliki mekanisme internal untuk menyelesaikan perbedaan secara damai.</p><p><br/></p><p>Dalam perspektif liberal, keterkaitan ekonomi antara negara-negara melalui perdagangan bebas dan globalisasi juga dianggap dapat mengurangi potensi konflik. Ketergantungan ekonomi saling menguntungkan dan diharapkan dapat menciptakan kepentingan bersama dalam menjaga perdamaian dan stabilitas. Pandangan ini mengasumsikan bahwa dunia yang lebih terintegrasi dan saling terkait secara ekonomi akan meminimalkan kemungkinan perang, karena biaya konflik menjadi jauh lebih tinggi daripada manfaatnya.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, perspektif liberal dalam hubungan internasional memandang dunia sebagai sistem yang dinamis di mana aktor-aktor internasional, termasuk negara, organisasi internasional, dan aktor non-negara, dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, mengurangi konflik, dan mempromosikan perdamaian serta kemakmuran global.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-12 14:01:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3116718413</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NAMA : MUH DARUL AZIS                                 NIM : E021241042                                            PRODI : ILMU KOMUNIKASI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3117417649</link>
         <description><![CDATA[<p>Teori realisme dalam hubungan internasional menempatkan konsep power sebagai pusat dari semua perilaku negara-bangsa. Teori ini berasumsi bahwa negara-negara bertindak untuk memaksimalkan power mereka, sehingga dapat mencapai tujuan mereka sendiri dengan lebih baik. Realisme juga menganggap bahwa sistem internasional tidak memiliki otoritas pusat atau pemerintahan global yang mengatur perilaku negara <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://negar.la">negara. Sistem ini dianggap anarkis, yang berarti tidak ada struktur hierarkis yang mengontrol tindakan negara.</a></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-12 23:32:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3117417649</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3117425600</link>
         <description><![CDATA[<p>Achmad Setiawan </p><p>E031241031</p><p>Sosiologi </p><p><br/></p><p>Liberalisme adalah paham yang berfokus pada kebebasan individu dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam politik, liberalisme mendukung sistem demokrasi dan hak asasi manusia. Setiap individu memiliki hak untuk berpendapat dan menentukan pilihan politiknya sendiri. Dalam bidang ekonomi, liberalisme mendorong pasar bebas, di mana harga ditentukan oleh mekanisme pasar, bukan oleh pemerintah. Pemerintah hanya berperan sebagai pengawas agar persaingan tetap sehat. Di sisi sosial, liberalisme menekankan toleransi dan kebebasan beragama. Paham ini juga menentang otoritarianisme atau pemerintahan yang terlalu mengekang kebebasan warga. Kebebasan individu adalah inti utama dari liberalisme, namun tetap diimbangi dengan tanggung jawab. Prinsip ini sering dianggap sebagai landasan penting dalam demokrasi modern. Liberalisme muncul sebagai reaksi terhadap sistem feodalisme dan absolutisme yang mengekang kebebasan rakyat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-12 23:41:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3117425600</guid>
      </item>
      <item>
         <title>TUGAS HUBUNGAN INTERNATIONAL </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118172738</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>NAMA: ANDIKA RAHMAT</strong></p><p><strong>NIM: E021241044</strong></p><p><strong>PRODI : ILMU KOMUNIKASI</strong></p><p><br/></p><p><strong>Definisi Liberalisme&nbsp;</strong></p><p>Liberalisme dan kata-kata sejenis lainnya seperti liberal, liberty, libertarian, dan libertine semuanya mempunyai akar sejarah ke bahasa Latin yang sama yaitu liber, yang berarti “bebas”. Memang, <strong>liberalisme adalah</strong> sebuah paham, ideologi, atau pandangan yang menghendaki adanya kebebasan.</p><p>Dalam KBBI, <strong>pengertian liberalisme</strong> adalah aliran ketatanegaraan dan ekonomi yang menghendaki demokrasi dan kebebasan pribadi untuk berusaha dan berniaga (pemerintah tidak boleh turut campur); usaha perjuangan menuju kebebasan.</p><p>Artinya, <strong>paham liberalisme adalah</strong> sebuah paham yang menuntut kebebasan individu untuk kemerdekaan pribadi, kebebasan tempat tinggal, hak menentang penindasan, hingga hak perlindungan pribadi serta hak milik. Artinya, paham ini memang akan berkembang baik dalam sistem demokrasi, meski juga kebebasan yang dimaksud di sini merupakan kebebasan yang dipertanggungjawabkan bukan semata-mata kebebasan yang tidak terbatas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-13 07:17:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118172738</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SYAHRIAL_E051241028_ILMU PEMERINTAHAN</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118259971</link>
         <description><![CDATA[<p>Realisme dalam hubungan internasional adalah teori yang melihat dunia sebagai sistem anarki, di mana tidak ada otoritas global yang dapat mengatur negara-negara. Negara dipandang sebagai aktor utama yang bertindak demi kepentingan nasionalnya, terutama untuk keamanan dan kekuasaan. Realisme menekankan bahwa negara-negara cenderung bersaing satu sama lain untuk mempertahankan keseimbangan kekuasaan. Kerjasama internasional sulit tercapai karena negara-negara tidak sepenuhnya mempercayai satu sama lain dan lebih fokus pada kepentingan sendiri.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-13 08:19:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118259971</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PENJELASAN SINGKAT TENTANG LIBERALISME</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118346782</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA:MUH.FARHAN MUBARAK</p><p>NIM: E021241046</p><p>PRODI: ILMU KOMUNIKASI</p><p>Liberalisme&nbsp;adalah sebuah&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ideologi_politik">ideologi politik</a>, pandangan filsafat&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Filsafat_politik">politik</a>&nbsp;dan&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Etika">moral</a>&nbsp;yang didasarkan pada&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kebebasan">kebebasan</a>,&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Persetujuan_dari_yang_terperintah">persetujuan dari yang diperintah</a>&nbsp;dan&nbsp;<a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Persamaan_di_hadapan_hukum">persamaan di hadapan hukum</a></p><p>Orang-orang liberal mendukung beragam pandangan tergantung kepada pemahaman mereka tentang prinsip-prinsip ini, tetapi umumnya mereka mendukung hak-hak individu (termasuk hak-hak sipil dan hak asasi manusia), demokrasi, sekularisme, kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan beragama dan ekonomi pasar.</p><p>Liberalisme menjadi salah satu gerakan utama di Zaman Pencerahan dan menjadi populer di kalangan filsuf dan ekonom Barat. Liberalisme berusaha untuk menggantikan norma-norma hak istimewa turun-temurun, agama negara, monarki absolut, hak ilahi raja dan konservatisme tradisional dengan demokrasi perwakilan dan supremasi hukum. Para liberal juga mengakhiri kebijakan merkantilis, monopoli kerajaan dan hambatan perdagangan lainnya. Ini dimaksudkan untuk mempromosikan perdagangan bebas dan marketisasi.</p><p><br/></p><p><strong>Ciri-Ciri Liberalisme</strong></p><p>Ada beberapa ciri-ciri paham liberalisme yang bisa ditemukan dalam kehidupan, beberapa di antaranya:</p><p>Setiap manusia punya kesempatan yang sama.</p><p>Semua orang berhak mendapat perlakuan yang sama.</p><p>Hukum diterapkan ke semua orang.</p><p>Pemerintah ditentukan dengan persetujuan masyarakat.</p><p>Negara hanya alat untuk mencapai tujuan.</p><p>Selain itu, ada beberapa ciri-ciri yang muncul dalam berbagai bidang dalam paham liberalisme.</p><p>Di bidang politik, muncul demokratisasi.</p><p>Di bidang sosial, ada kebebasan pendapat, kesempatan yang sama untuk semua orang dalam usaha, reformasi sosial, hingga perasaan egaliter.</p><p>Dalam bidang seni dan budaya, ada kebebasan berekspresi, seperti dalam lukisan, drama, seni, musik, dan lain sebagainya.</p><p>Dalam bidang ekonomi, muncul ekonomi pasar yang demokratis.</p><p><br/></p><p><strong>Contoh dan Penerapan Liberalisme</strong></p><p>Globalisasi merupakan dampak dari penerapan liberalisme dalam kehidupan saat ini.</p><p><br/></p><p>Dalam globalisasi ada pasar bebas, hiperliberasi individu, dan ada upaya mengurangi peran pemerintah di sektor ekonomi. Di Indonesia contohnya, liberalisme memang tak diterapkan dalam politik, tetapi diterapkan dalam bidang ekonomi.</p><p><br/></p><p>Pengaruh terbesar justru tampak dari berkembangnya gaya hidup yang terus mengikuti zaman yang ada. Gaya hidup mewah dan kebebasan memilih kebutuhan adalah salah satu ciri-ciri liberalisme. Di negara-negara lain, liberalisme juga dijunjung tinggi, terutama di negara-negara seperti Jerman, Prancis, hingga Amerika Serikat.</p><p><br/></p><p>Penerapan demokrasi jadi salah satu parameternya, membuat rakyat bebas berekspresi dan berpendapat. Selain itu, juga terlihat dari pasar demokratis di bidang ekonomi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-13 09:28:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118346782</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PENJELASAN SINGKAT MENGENAI PERSPEKTIF LIBERALISME DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118468882</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Rezky Martin</p><p>Nim    : E021241045</p><p><br/></p><p>    Jika kita mengulik sejarahnya,maka  Liberalisme didefinisikan sebagai  ideologi politik yang menekankan pada kata " kebebasan " yang berarti baik kebebasan secara individu, kelompok,Ham, perlindungan terhadap kebebasan pers dan berkumpul.Liberalisme juga mendukung sistem pemerintahan demokratis dimana konsep ini muncul sebagai tanggapan terhadap sistem monarki/ otoriter yang mengekang untuk menciptakan kehidupan sosial yang lebih baik </p><p>      Definisi Liberalisme dalam hubungan internasional tidak beda jauh dari definisi diatas,dimana dalam hubungan internasional Liberalisme didefinisikan sebagai teori yang menekankan pentingnya hubungan " kerja sama " dengan institusi internasional dan norma- norma bersama,dimana negara tidak hanya sebatas sebagai pelaku utamanya atau the main actor  tetapi juga mengakui pentingnya berpartisipasi dalam faktor -faktor non negara seperti lembaga- lembaga, organisasi, perusahaan multinasional, masyarakat atau individu, misalnya dengan perjanjian perdagangan / resolusi konflik dimana Liberalisme menganggap negara-negara Demokratis cenderung lebih damai dan adil</p><p>   </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-13 11:20:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118468882</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Muhammad Aslam  Nim: E061241045  prodi: Hubungan Internasional </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118502059</link>
         <description><![CDATA[<p>Realisme adalah teori hubungan internasional yang berfokus pada negara-negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional. Teori ini menekankan pada kepentingan nasional, kekuasaan, dan ketidakpercayaan antarnegara. Teori realisme politik berawal dari tulisan-tulisan Thomas Hobbes dan Niccolò Machiavelli. Teori ini muncul sebagai pendekatan berbasis hubungan internasional pada masa selang antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II.&nbsp;Teori realisme politik berawal dari tulisan-tulisan Thomas Hobbes dan Niccolò Machiavelli.&nbsp;Teori ini muncul sebagai pendekatan berbasis hubungan internasional pada masa selang antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II.&nbsp;</p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-13 11:51:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118502059</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan tentang perspektif realisme</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118661759</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Lidya nuramanda febrianti</p><p>Nim : E071241027</p><p>Prodi : Antropologi sosial</p><p><br/></p><p>Realisme yaitu sesuatu yang fokus kepada kekuasaan, perang negara, dan juga politik dunia.Nah didalam realisme terbagi menjadi 3 yaitu:</p><p>•Realisme klasik itu sifat manusia untuk memaksa negara dan indivudu mengutamakan kepentingan di atas ideologi sudah ada dari dulu. </p><p>•Realisme liberal percaya bahwa sistem internasional meski strukturnya anarkis, membentuk perkumpulan negara yang norma dan kepentingan bersamanya. </p><p>•Nonrealisme  berfokus pada struktur anarkis sistem internasional.</p><p>Tujuan utama realisme adalah untuk menjelaskan dinamika kekuasaan dan kepentingan negara dalam sistem internasional yang anarkis. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-13 13:35:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118661759</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan Singkat Mengenai Perspektif Realisme dalam HI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118720443</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Ferdy Gosaly</p><p>NIM: E021241047</p><p>Program Studi: Ilmu Komunikasi</p><p><br/></p><p>Dari ketiga opsi di atas, saya memilih realisme. Realisme merupakan salah satu dari tiga perspektif Hubungan Internasional selain Liberalisme dan Strukturalime. Perspektif realisme dalam hubungan internasional menekankan bahwa negara adalah aktor utama yang beroperasi dalam sistem anarki tanpa otoritas global. Negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional, terutama untuk keamanan dan kekuasaan. Realisme cenderung pesimis terhadap kerjasama internasional, menekankan pentingnya kekuatan militer, dan melihat politik global sebagai persaingan kekuasaan di mana setiap negara berjuang untuk bertahan hidup dan mendominasi.</p><p><br/></p><p>Realisme memiliki tiga asumsi dasar.&nbsp;Pertama, realisme memandang hakikat aktor adalah tunggal (unitary) dan rasional dalam dunia yang anarkis.&nbsp;Rasional&nbsp;dimaknai sifat aktor yang senantiasa mementingkan diri sendiri. Sementara anarkis diartikan ketiadaan otoritas di atas negara.</p><p><br/></p><p>Kedua, realisme memandang hubungan internasional adalah konfliktual. Tidak ada yang menjamin negara lain akan bersikap baik. Maka dari itu, relasi antar bangsa dipenuhi rasa saling curiga terhadap maksud pihak lain.</p><p><br/></p><p>Ketiga, realisme memandang struktur internasional ditentukan kapabilitas material. Realisme percaya bahwa perilaku negara dibentuk struktur material seperti postur militer suatu negara, pendapat perkapita, jumlah anggaran pertahanan, jumlah senjata nuklir, posisi geografis, hingga kekayaan sumber daya alam.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-13 14:11:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118720443</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Andi Nayla Chayaka Anbiya P Nim : E051242023.                                             Penjelasan singkat mengenai prespektif hubungan internasional (Liberalisme)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118743357</link>
         <description><![CDATA[<p>Landasan berpikir perspektif liberalisme menyatakan bahwa perang dan konflik dapat dikurangi melalui kerja sama, kebebasan, reformasi, atau tindakan kolektif.</p><p><br/></p><p>Dalam hubungan internasional, prespektif iberalisme memandang bahwa hubungan internasional bersifat kooperatif. Liberalisme sangat menjunjung tinggi kebebasan dan kemajuan individu. Individu akan membentuk sebuah kelompok atau organisasi yang dapat saling memberikan kebahagian satu sama lain. dan dari kelompok-kelompok tersebut, setiap individu dapat mencapai kebahagiannya dengan menyatukan kepentingan-kepentingan bersama. bagi perspektif liberalisme hubungan antar negara dapat dilakukan seperti itu. karena negara terbentuk dari individu-individu yang mempunyai kepentingan bersama sehingga mencapai sebuah kebahagiaan</p><p><br/></p><p>Dan dalam perspektif liberalisme juga, kerja sama antarnegara terjadi karena kebutuhan dan kepentingan negara itu sendiri, bukan dari faktor eksternal atau tekanan dari luar dan tanpa paksaan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-13 14:25:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3118743357</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan singkat mengenai perspektif HI (Realisme)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3119498042</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Martina </p><p>NIM : E011241033</p><p>Prodi : Administrasi Publik </p><p><br/></p><p>Realisme dalam hubungan internasional (HI) merupakan salah satu perspektif klasik yang ada di dalam HI dan menjadi perspektif yang dominan sejak tahun 1940-an (susilo 2018). Realisme yang dikenal sebagai realisme politik, adalah pandangan politik internasional yang menekankan sisi kompetitif dan konfliktualnya. Realisme juga berfokus pada anarki internasional di mana negara - negara sebagai aktor utama bersaing untuk kekuasaan dan keamanan. Menurut perspektif ini, negara tidak sesuai dengan kepentingan nasional mereka sendiri, menganggap hubungan internasional sebagai tempat konflik dan persaingan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-14 08:22:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3119498042</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mengenal perspektif strukturalisme dalam hubungan internasional </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3119526882</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Cahya Melani Putri </p><p>Nim : E051241030</p><p><br/></p><p>Strukturalisme dalam hubungan internasional adalah salah satu perspektif teoritis yang menyoroti pentingnya struktur ekonomi dan politik global dalam membentuk hubungan antarnegara. Perspektif ini sering kali terkait dengan teori Marxisme dan teori ketergantungan, yang melihat ketidaksetaraan kekuatan antara negara-negara kaya (negara pusat) dan negara-negara berkembang (negara pinggiran) sebagai pusat dari analisisnya.  Berikut adalah beberapa poin utama mengenai perspektif strukturalisme dalam hubungan internasional: </p><p><br/></p><p> 1.Ketimpangan Ekonomi Global: Strukturalisme menyoroti ketimpangan antara negara maju dan negara berkembang. Negara-negara maju seringkali mendominasi ekonomi global, memanfaatkan sumber daya dari negara-negara berkembang untuk mempertahankan kekayaan dan kekuasaan mereka.  </p><p><br/></p><p>2.Hubungan Pusat-Pinggiran: Strukturalis sering membagi dunia menjadi dua bagian: pusat (negara-negara maju, industri) dan pinggiran (negara-negara berkembang, produsen bahan mentah). Negara-negara di pinggiran dianggap tergantung pada pusat dalam hal teknologi, modal, dan pasar.  </p><p><br/></p><p>3.Teori Ketergantungan: Perspektif ini berpendapat bahwa negara-negara berkembang berada dalam keadaan ketergantungan struktural pada negara-negara maju. Hubungan ekonomi global ini menyebabkan eksploitasi dan ketidakmampuan negara-negara pinggiran untuk berkembang tanpa mengikuti model yang ditentukan oleh negara pusat.  </p><p><br/></p><p>4.Penekanan pada Struktur Ekonomi Global: Strukturalisme memandang bahwa politik internasional tidak bisa dipisahkan dari ekonomi internasional. Kekuatan ekonomi dianggap sebagai faktor utama yang mempengaruhi perilaku negara dalam sistem internasional.  </p><p><br/></p><p>5.Pengaruh Kapitalisme Global: Perspektif strukturalisme melihat kapitalisme global sebagai penyebab utama ketidakadilan dan ketidaksetaraan dalam hubungan internasional. Negara-negara kuat memanfaatkan kapitalisme untuk mempertahankan dominasinya atas negara-negara lemah. </p><p><br/></p><p> 6.Kritik terhadap Teori Realis dan Liberal: Strukturalisme menolak pandangan realis yang berfokus pada negara sebagai aktor utama dan pandangan liberal yang menekankan pada kerja sama internasional. Bagi strukturalis, kekuatan ekonomi dan eksploitasi adalah faktor yang lebih mendasar dalam menjelaskan konflik dan ketidakadilan internasional.</p><p> </p><p>Dalam konteks hubungan internasional, perspektif strukturalisme membantu kita memahami bagaimana kekuatan ekonomi global mempengaruhi hubungan politik antarnegara dan memperlihatkan struktur ketidaksetaraan yang mendasari banyak konflik dan ketegangan internasional.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-14 09:22:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3119526882</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NAMA: NUR AISYAH YUSRAN NIM : E061241048</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3119557128</link>
         <description><![CDATA[<p>Penjelasan singkat mengenai realisme </p><p><br/></p><p>Realisme adalah aliran dalam seni, sastra, dan filsafat yang berfokus pada penggambaran kehidupan sehari-hari dan dunia nyata secara objektif dan akurat, tanpa idealisasi atau penambahan unsur fantasi. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap romantisme yang sering kali menggambarkan emosi, imajinasi, dan hal-hal luar biasa.</p><p><br/></p><p>Dalam sastra, realisme berusaha menampilkan cerita yang mencerminkan kehidupan nyata, dengan karakter-karakter yang mungkin menghadapi masalah sosial, politik, atau moral yang relevan pada masanya. Tokoh-tokoh dalam sastra realis biasanya digambarkan dengan kekurangan dan kelebihan mereka, mirip dengan manusia pada umumnya.</p><p><br/></p><p>Secara filosofis, realisme menyatakan bahwa dunia objektif ada terlepas dari persepsi kita tentangnya, dan kita dapat memahami dunia ini melalui pengamatan dan pengalaman. Realisme filosofis berlawanan dengan idealisme, yang menyatakan bahwa realitas terutama ditentukan oleh pikiran atau kesadaran kita.</p><p><br/></p><p>Dalam Ilmu Hubungan Internasional (HI), Realisme adalah salah satu teori utama yang berfokus pada bagaimana negara-negara berinteraksi dalam sistem internasional. Teori ini menekankan aspek kekuatan, kepentingan nasional, dan perilaku negara sebagai aktor utama dalam politik global. </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-14 10:21:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3119557128</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3119706425</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Hafiizhah Falisha Halik</strong></p><p><strong>NIM: E071241034</strong></p><p><strong>Prodi: Antropologi Sosial</strong></p><p><br/></p><p>Perspektif liberalisme dalam hubungan internasional menawarkan pandangan yang berbeda dibandingkan dengan realisme. Jika realisme fokus pada konflik dan kekuasaan antarnegara, liberalisme menekankan pada potensi kerjasama dan pentingnya institusi internasional.</p><p><br/></p><p>Menurut teori liberalisme, negara-negara dapat mencapai perdamaian dan kemakmuran melalui kerjasama yang saling menguntungkan. Teori ini percaya bahwa institusi internasional dapat mengurangi konflik dengan menetapkan aturan dan prosedur yang mengatur hubungan antarnegara.</p><p><br/></p><p>Liberalisme juga menyoroti peran penting dari aktor non-negara, seperti organisasi internasional dan LSM, serta pengaruh nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia dalam politik global. Dalam pandangan liberalisme, kerjasama ekonomi dan sosial dianggap sebagai cara untuk meningkatkan hubungan antarnegara dan menciptakan dunia yang lebih harmonis.  Perspektif ini menganggap bahwa meskipun konflik mungkin tidak bisa dihindari, upaya sistematis melalui kerjasama dan institusi dapat mengurangi kemungkinan terjadinya perang dan meningkatkan kesejahteraan global.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-14 14:16:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3119706425</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perspektif Realisme Dalam Hubungan Internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3119783904</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Muh Rasya Islami Rahman </p><p>Nim: E021241041</p><p><br/></p><p>Realisme merupakan paradigma paling dominan dalam studi hubungan internasional disamping liberalisme, paradigma ini menjadi perspektif yang dominan sejak 1940-an, dan mentingkirkan pengaruh idealisme yang mendominasi dalam rentang 1919 hingga 1930-an.</p><p><br/></p><p>Jeffrey W. Legro dan Andrew Moravcsik dalam <em>Is anybody still a realist? International Security</em> (1999) menjelaskan bahwa realisme memiliki tiga asumsi dasar.</p><p><br/></p><ol><li><p>Pertama, realisme memandang hakikat aktor adalah tunggal (<em>unitary</em>) dan rasional dalam dunia yang anarkis. Rasional dimaknai sifat aktor yang senantiasa mementingkan diri sendiri. Sementara anarkis diartikan ketiadaan otoritas di atas negara.</p></li></ol><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Kedua, realisme memandang hubungan internasional adalah konfliktual. Tidak ada yang menjamin negara lain akan bersikap baik. Maka dari itu, relasi antar bangsa dipenuhi rasa saling curiga terhadap maksud pihak Ketua</p><p><br/></p></li><li><p>Ketiga realisme memandang struktur internasional ditentukan kapabilitas material. Realisme percaya bahwa perilaku negara dibentuk struktur material seperti postur militer suatu negara, pendapat perkapita, jumlah anggaran pertahanan, jumlah senjata nuklir, posisi geografis, hingga kekayaan sumber daya alam.</p></li></ol><p><br/></p><p>Dalam teori realisme, negara merupakan aktor utama dalam menjalankan kerja sama internasional. Perilaku negara dalam interaksi hubungan internasional digerakkan dengan kepentingan nasional secara rasional, termasuk dalam hubungan diplomatik. Paradigma realisme melihat bahwa dunia itu konfliktual. Realisme menekankan bahwa kendala politik dalam hubungan kerja sama internasional muncul dari sifat egois manusia dan tidak adanya otoritas pusat di atas negara.</p><p><br/></p><p>Maka dari itu, paradigma realisme mendorong negara bekerja sama karena dilema keamanan (<em>security dilemm</em>a) guna meningkatkan sektor pertahanan. Dalam paradigma realisme, perdamaian akan terwujud, apabila negara berada dalam status <em>balance of powe</em>r (keseimbangan dalam kekuatan).</p><p><br></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-14 15:54:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3119783904</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perspektif Realisme</title>
         <author>dbhq9qp7rq</author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120020840</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Rameyza Mauli Fatiha</p><p>Nim: E061241047</p><p>Prodi: Hubungan Internasional</p><p><br/></p><p>Teori realisme dalam hubungan internasional bisa dipahami sebagai cara melihat dunia yang menekankan kenyataan bahwa di panggung global, tidak ada satu pun otoritas tertinggi yang bisa mengatur semua negara. Singkatnya, negara-negara berada di dunia yang anarkis, dan mereka harus bertahan dengan cara mereka sendiri. Beberapa poin utama dari pandangan realisme adalah:</p><ol><li><p>Negara sebagai Pemain Utama: Dalam pandangan realisme, negara adalah aktor yang paling penting. Segala keputusan yang mereka ambil bertujuan untuk melindungi kepentingan mereka, terutama terkait keamanan dan eksistensi.</p></li></ol><ol start="2"><li><p>Anarki Internasional: Karena tidak ada pemerintah global yang bisa mengatur hubungan antarnegara, setiap negara harus mengandalkan diri sendiri. Ini seringkali menimbulkan ketegangan dan ketidakpercayaan di antara mereka.</p></li></ol><ol start="3"><li><p>Fokus pada Kekuatan dan Kepentingan: Negara-negara cenderung fokus membangun kekuatan—baik dari segi militer atau ekonomi—untuk memastikan mereka tetap aman dan kuat di hadapan ancaman dari luar.</p></li></ol><p><br/></p><p>Tokoh-tokoh yang paling sering dikaitkan dengan teori realisme ini di antaranya adalah Thucydides, Niccolò Machiavelli, dan Hans Morgenthau.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 00:24:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120020840</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120026955</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nadiyah Anugrah Mu’adzah</p><p>Nim : E031241033</p><p><br/></p><p>Istilah liberalisme berasal dari kata latin Liber yang berarti bebas. Makna bebas kata liber ini pada awalnya mengandung pengertian orang yang bebas bukan seorang budak atau suatu keadaan di mana seseorang itu bebas dari kepemilikan orang lain. Makna bebas atau kebebasan (liberal) ini kemudian juga dipahami sebagai padanan kata freedom dan liberty. Kedua istilah ini mengandung arti suatu keadaan di mana Seseorang Bebas dari berbuat atau melakukan sesuatu ini ialah Bebas dari segala bentuk pengaturan dan pembatasan baik ini berupa suruhan, larangan, perintah atau ajaran. Karena semua yang dianggap membatasi, mengatur dan mengekang apapun itu bentuknya dianggap berlawanan dengan kebebasan. makna bebas atau kebebasan istilah liberalisme ini kemudian mengalami pengembangan makna sesuai dengan sudut pandang bidang atau disiplin tertentu. Secara politis liberalisme mengandung makna sebagai ideologi politik yang berpusat pada individu, dianggap sebagai memiliki hak dalam pemerintahan, termasuk persamaan hak dihormati, hak berekspresi dan bertindak serta bebas dari ikatan ikatan agama dan ideologi. Dalam konteks sosial liberalisme diartikan sebagai suatu etika sosial yang membela kebebasan (Liberty) dan persamaan (Equality) secara umum. Menurut Budi Munawwar Liberalisme merupakan paham kebebasan, artinya manusia memiliki kebebasan atau kalau kita lihat dengan perspektif Filosofis merupakan Toto pemikiran yang landasan pikirannya adalah manusia yang bebas karena manusia mampu berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan. Jadi bisa disimpulkan bahwa liberalisme merupakan paham yang menyuarakan dan memperjuangkan kebebasan dan melakukan penyadaran atas manusia tentang kebebasan sebagai nilai luhur yang melekat dalam diri manusia sehingga manusia benar benar menjadi makhluk yang bebas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 00:46:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120026955</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PERSPEKTIF LIBERALISME DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120035719</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Sajidahtuzzahrah Alqudsi</p><p>NIM: E041241036</p><p><br/></p><p>Liberalisme sering dipandang sebagai karakteristik filsafat politik Barat modern. Prinsip-prinsip utamanya – kebebasan, hak asasi manusia, akal, kemajuan, toleransi – dan norma-norma konstitusionalisme dan demokrasi tertanam dalam budaya politik Barat.</p><p><br/></p><p>Liberalisme adalah ciri khas demokrasi modern, sebagaimana dibuktikan dengan penggunaan istilah "demokrasi liberal" untuk menggambarkan negara-negara dengan pemilu yang bebas dan adil, supremasi hukum, dan melindungi kebebasan sipil. Namun, ketika dibahas dalam konteks teori hubungan internasional, liberalisme telah berkembang menjadi entitasnya yang berbeda.  Liberalisme mencakup berbagai gagasan dan argumen tentang bagaimana institusi, perilaku, dan hubungan ekonomi menahan dan mengurangi kekerasan negara.  Jika dibandingkan dengan realisme, ini memasukkan lebih banyak faktor ke dalam kerangka acuan kami, terutama penyertaan warga negara dan organisasi internasional.</p><p><br/></p><p>Liberalisme didasarkan pada argumen moral bahwa tujuan tertinggi pemerintah adalah untuk melindungi hak individu atas kehidupan, kebebasan, dan properti.  Akibatnya, kaum liberal menekankan kesejahteraan individu sebagai dasar dari sistem politik yang adil. Sistem politik yang ditandai dengan kekuasaan yang tidak terkendali, seperti monarki atau kediktatoran, tidak mampu melindungi kehidupan dan kebebasan warganya. Akibatnya, perhatian utama liberalisme adalah membangun lembaga yang melindungi kebebasan individu dengan membatasi dan memeriksa kekuasaan politik. Meskipun ini adalah masalah domestik, bidang hubungan internasional juga penting bagi kaum liberal karena tindakan negara di luar negeri dapat berdampak signifikan pada kebebasan di dalam negeri. Kebijakan luar negeri militeristik sangat mengganggu kaum liberal. Kekhawatiran utama adalah bahwa perang mengharuskan negara-negara mengumpulkan kekuatan militer. Kekuatan ini dapat digunakan untuk melawan negara lain, tetapi juga dapat digunakan untuk menindas warganya. Akibatnya, sistem politik yang didasarkan pada liberalisme sering membatasi kekuatan militer dengan memastikan kontrol sipil atas militer (Meiser, 2018)</p><p><br/></p><p>Liberalisme dalam Hubungan Internasional menekankan peran lembaga internasional, kerja sama, dan saling ketergantungan dalam membentuk perilaku negara. Tidak seperti realisme, yang memandang sistem internasional sebagai anarkis, kaum liberal percaya bahwa negara dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan mengatasi tantangan global. Internasionalis liberal menganjurkan diplomasi, multilateralisme, dan struktur politik supranasional.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 01:22:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120035719</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perspektif HI tentang strukturalisme</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120051172</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Darlene Awlya Dyana</p><p>NIM: E061241049</p><p>Prodi: HI</p><p><br/></p><p>Strukturalisme dapat digambarkan sebagai perspektif <em>bottom up</em> tentang dunia yang memprioritaskan penderitaan orang miskin, kelompok yang terpinggirkan, dan kelas tertindas di dunia. Para strukturalis berpendapat bahwa hubungan ekonomi global yang rumit ini dirancang untuk menguntungkan kelas sosial tertentu (Steans, Pettiford, dan Diez, 2005:75).</p><p><br/></p><p>Bagian teori hubungan internasional (HI) yang dikenal sebagai strukturalisme menekankan bagaimana struktur ekonomi global memengaruhi kehidupan politik, sosial, budaya, dan ekonomi setiap negara.<br><br>Dalam perspektif strukturalisme, semua komponen adalah aktor; ini termasuk negara, organisasi non-negara (IGO), perusahaan multinasional (MNC), dan bahkan individu. Struktur internasional dimulai dari hubungan yang ada di antara organisasi internasional ini. Struktur global dibangun oleh aktor yang saling tawar-menawar, bersepakat, dan membangun koalisi di dalam dan luar negeri.<br></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 02:18:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120051172</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120083789</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA : SULISTYAWATI KUMALA DEWI </p><p>NIM :E071241029</p><p>PRODI: ANTROPOLOGI SOSIAL </p><p><br/></p><p>Liberalisme adalah sebuah ideologi politik, pandangan filsafat politik dan moral yang didasarkan pada kebebasan, persetujuan dari yang diperintah dan persamaan di hadapan hukum.liberalisme dalam Hubungan Internasional (HI) adalah salah satu teori utama yang menekankan pentingnya kerja sama antarnegara, peran lembaga internasional, dan nilai-nilai demokrasi serta hak asasi manusia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas global.</p><p>Menurut Buku "The Open Society and Its Enemies" yang ditulis oleh filsuf Karl Popper membahas pandangannya tentang liberalisme, terutama dalam konteks bagaimana masyarakat terbuka (open society) dapat bertahan dari ancaman totalitarianisme dan dogmatisme. Meskipun buku ini tidak secara eksplisit mengkaji teori liberalisme dalam konteks Hubungan Internasional, banyak ide yang disampaikan Popper selaras dengan nilai-nilai inti liberalisme, seperti kebebasan individu, demokrasi, dan penolakan terhadap otoritarianisme.</p><p>Secara keseluruhan, "The Open Society and Its Enemies" mendukung nilai-nilai inti liberalisme seperti kebebasan individu, demokrasi, pluralisme, dan penolakan terhadap totalitarianisme, meskipun Popper lebih berfokus pada filsafat politik daripada teori liberalisme dalam hubungan internasional.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 04:00:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120083789</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ayudia Nawang Wulan (E011241038) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120110060</link>
         <description><![CDATA[<p>Liberalisme adalah sebuah ideologi politik yang didasarkan pada kebebasan, persetujuan dari yang diperintah dan persamaan di hadapan hukum.</p><p> </p><p>Liberalisme memandang bahwa hubungan internasional bersifat kooperatif. Liberalisme sangat menjunjung tinggi kebebasan dan kemajuan individu. Individu akan membentuk sebuah kelompok atau organisasi yang dapat saling memberikan kebahagian satu sama lain dan dari kelompok-kelompok tersebut, setiap individu dapat mencapai kebahagiannya dengan menyatukan kepentingan-kepentingan bersama. </p><p><br/></p><p>Bagi perspektif liberalisme hubungan antar negara dapat dilakukan seperti itu karena negara terbentuk dari individu-individu yang mempunyai kepentingan bersama sehingga mencapai sebuah kebahagiaan. Perspektif liberalisme percaya bahwa hubungan internasional lebih bersifat kooperatif daripada konfliktual. Teori ini sangat menghargai manusia sebagai makhluk yang baik yang diciptakan oleh Tuhan. </p><p><br/></p><p>Contoh liberalisme dalam hubungan internasional sebagai berikut:</p><p>• Liberalisasi perdagangan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Afrika.</p><p>• Perdagangan bebas membuat masyarakat Asia Afrika bebas melakukan perdagangan luar negeri secara sekuler.</p><p>• Negara-negara Asia Afrika mulai mengembangkan produk industri masing-masing.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 05:23:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120110060</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MEMAHAMI TENTANG PERSPEKTIF LIBERALISME DALAM ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120141930</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Azzah Muthi’ah Armyana</p><p>Nim: E071241025</p><p>Prodi: Antropologi Sosial</p><p><br/></p><p>Perspektif liberalisme dalam ilmu hubungan internasional berfokus pada 3 poin penting, yakni kerjasama, lembaga, dan hubungan antar pihak dengan tujuan menciptakan dunia yang lebih stabil, aman, dan damai.</p><p><br/></p><ol><li><p>Kerjasama Internasional, yaitu kerjasama beberapa negara” dengan tujuan memecahkan berbagai masalah global, seperti perubahan iklim, atau terorisme.</p></li><li><p>Peran lembaga, liberalisme menekankan betapa pentinya lembaga internasional, seperti PBB atau WTO. Karena lembaga” inilah yang membantu negara-negara berkoordinasi, menyelesaikan perselisihan secara damai, serta menrtapkan aturan yang dapat dipatuhi bersama.</p></li><li><p> Hubungan Antarpihak, karena bukan hanya hubungan antarnegara yang diperlukan, tapi hubungan sosial, ekonomi, dsb pun dibutuhkan dalam ilmu hubungan internasional.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 06:55:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120141930</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan singkat mengenai perpesktif Liberalisme dalam Hubungan  Internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120296778</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama: Arzety Mutiara Handayani </strong></p><p><strong>Nim: E041241031</strong></p><p><br/></p><p>Liberalisme merupakan salah satu landasan berpikir dalam hubungan internasional. Liberalisme adalah ideologi yang memprioritaskan kebebasan individu sebebas-bebasnya dalam segala aspek.</p><p>Liberalisme didasarkan pada argumen moral bahwa memastikan hak individu untuk hidup, kebebasan, dan harta benda adalah tujuan tertinggi pemerintah. perspektif liberalisme mengejar kebijakan untuk kebaikan bersama, bukan berfokus pada pengaruh negara sebagai satu entitas dalam suatu kelompok. </p><p>Liberalisme melihat sistem internasional sebagai arena di mana negara-negara memiliki potensi untuk bekerjasama demi mencapai tujuan bersama. berbeda dengan realisme yang menekankan konflik dan persaingan, liberalisme percaya bahwa negara-negara bisa mengatasi masalah global melalui kerjasama. menurut perspektif liberalisme, kerja sama antar negara tumbuh karena kebutuhan negara itu sendiri bukan dari faktor eksternal. contoh liberalisme dalam hubungan internasional yaitu, beragamnya sekolah dan perguruan tinggi yang bebas dipilih oleh masyarakat Asia Afrika. Terdapat 3 asumsi dasar dalam teori liberalisme. </p><p>1. Liberalisme memandang positif terhadap sifat manusia.</p><p>2. ⁠Liberalisme yakin bahwa hubungan internasional dapat bersifat kooperatif dibanding konfliktua.</p><p>3. ⁠Liberalisme percaya pada kemajuan di banyak aspek kehidupan.</p><p>secara singkat, perspektif liberalisme dalam hubungan internasional berpendapat bahwa dengan menciptakan dan memelihara institusi yang kuat,menghormati norma internasional, mendukung nilai-nilai demokrasi dan mempromosikan kerjasama ekonomi, negara-negara dapat menciptakan tatanan global yang stabil atau teratur.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 11:45:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120296778</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perspektif Strukturalisme dalam Hubungan Internasional</title>
         <author>felisatandi59</author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120298355</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Felisa Marimbunna T.</p><p>NIM   : E061241050</p><p><br/></p><p>Perspektif Strukturalisme dalam Hubungan Internasional.</p><p>Strukturalisme merupakan satu dari pendekatan ilmu hubungan internasional (HI) yang dimana perspektif strukturalisme ini menekankan pentingnya struktur dan pola dalam memahami dinamika politik global. Perspektif ini memiliki fokus utama yaitu agaimana struktur sistem internasional membentuk perilaku negara dan aktor internasional lainnya.</p><p><br/></p><p>Terdapat beberapa poin kunci dari perspektif strukturalisme dalam hubungan internasional, yaitu: </p><ol><li><p>Struktur Sistem Internasional: Dalam poin kunci&nbsp; perspektif ini menjelaskan bahwa struktur sistem internasional meliputi distribusi kekuatan, hubungan antara negara-negara, dan institusi-institusi global, mempengaruhi bagaimana negara dan aktor lain berperilaku. Misalnya, sistem internasional yang didominasi oleh beberapa kekuatan besar akan berbeda dampaknya dibandingkan dengan sistem yang lebih multipolar.</p></li><li><p>Posisi dan Peran: posisi dan peran negara dalam sistem internasional sangat penting. Negara-negara dengan kekuatan lebih besar atau posisi strategis tertentu mungkin memiliki lebih banyak pengaruh, sementara negara-negara kecil atau terpinggirkan mungkin memiliki pengaruh yang lebih terbatas.</p></li><li><p>Determinisme Struktur : Strukturalisme cenderung menekankan bahwa struktur sistem internasional memiliki dampak deterministik pada perilaku negara. Misalnya, dalam sistem anarkis (tanpa otoritas pusat), negara-negara cenderung mengejar keamanan mereka sendiri dan melakukan aliansi untuk meningkatkan posisi mereka.</p></li><li><p>Teori Karl Marx: Dalam teori hubungan internasional, strukturalisme sering dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx, yang mengkaji bagaimana struktur ekonomi global dan hubungan kelas mempengaruhi politik internasional. Pendekatan ini fokus pada bagaimana ketidaksetaraan ekonomi dan kekuasaan dalam sistem kapitalis mempengaruhi hubungan antar negara.</p></li><li><p>Teori Dependensi:&nbsp; Dalam perspektif strukturalis, teori dependensi juga penting. Teori ini mengklaim bahwa negara-negara berkembang seringkali terjebak dalam hubungan ketergantungan dengan negara-negara maju, yang mempengaruhi struktur dan dinamika internasional.</p></li><li><p>Perubahan dan Stabilitas: Strukturalisme juga mengkaji bagaimana struktur sistem internasional dapat mengalami perubahan, baik secara gradual maupun revolusioner, dan bagaimana perubahan ini mempengaruhi stabilitas dan dinamika global.</p></li></ol><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, perspektif strukturalisme menawarkan kerangka kerja untuk memahami bagaimana struktur sistem internasional mempengaruhi interaksi antar negara dan aktor internasional lainnya, serta bagaimana struktur tersebut dapat berkontribusi pada stabilitas atau ketidakstabilan dalam hubungan internasional.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 11:48:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120298355</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mengenal perspektif liberalisme dalam Hubungan Internasional                           Nama : Nurhidayah                                      Nim : E071241024                                      Prodi : Antropologi Sosial  </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120317129</link>
         <description><![CDATA[<p>Liberalisme adalah sebuah ideologi politik, pandangan filsafat politik dan moral yang didasarkan pada kebebasan, persetujuan dari yang diperintah dan persamaan di hadapan hukum. Liberalisme bisa dipahami sebagai suatu paradigma, teori, dan filsafat politik, tetapi tidak ada aliran liberalisme dalam filsafat ilmu. Liberalisme terkadang juga dipahami sebagai antitesis dari realisme karena liberalisme lebih optimis dalam memandang dunia. Optimisme liberalisme berakar dari filsafat abad pencerahan yang mengatakan bahwa sifat manusia itu pada dasarnya baik karena manusia memiliki rasio. Liberalisme melihat secara ‘bottom up’ yakni tindakan negara dan interaksi antar bangsa di dunia hanyalah hasil dari dinamika politik domestik. Singkatnya, menurut liberalisme hubungan internasional adalah “sistem politik dan ekonomi domestik yang beroperasi di tingkat internasional”</p><p><br/></p><p>Dalam perspektif liberalisme, kerja sama antarnegara tumbuh karena kebutuhan negara itu sendiri, bukan dari faktor eksternal atau tekanan dari luar. Maka dari itu, perspektif liberalisme memunculkan banyak kerja sama bilateral dan regional. Contoh liberalisme dalam hubungan internasional sebagai berikut: </p><p> 1. Liberalisasi perdagangan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Afrika. </p><p>2. Perdagangan bebas membuat masyarakat Asia Afrika bebas melakukan perdagangan luar negeri secara sekuler. </p><p>3. Negara-negara Asia Afrika mulai mengembangkan produk industri masing-masing. </p><p>4. Taraf kehidupan masyarakat Asia Afrika meningkat. </p><p>5. Hadirnya sistem pendidikan egaliter di negara-negara Asia Afrika. </p><p>6. Berkembangnya budaya populer di negara-negara Asia Afrika. </p><p>7. Keikutsertaan negara-negara Asia Afrika dalam kancah fashion, olahraga, dan kesenian internasional. Misalnya, ajang Piala Dunia sepak bola, Piala Dunia Basket, Miss Universe, dan lain sebagainya. </p><p>8. Beragamnya sekolah dan perguruan tinggi yang bebas dipilih oleh masyarakat Asia Afrika.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 12:20:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120317129</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penjelasan Singkat mengenai Liberalisme</title>
         <author>janejesiastianggrena</author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120318762</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Jane Jesiasti Anggrena</p><p>NIM: E061241046</p><p>Prodi: Hubungan Internasional</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Liberalisme adalah sebuah ideologi politik, pandangan filsafat politik dan moral yang didasarkan pada kebebasan, persetujuan dari yang diperintah dan persamaan di hadapan hukum.</p><p>Orang-orang liberal mendukung beragam pandangan tergantung kepada pemahaman mereka tentang prinsip-prinsip ini, tetapi umumnya mereka mendukung hak-hak individu (termasuk hak-hak sipil dan hak asasi manusia), demokrasi, sekularisme, kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan beragama dan ekonomi pasar.</p><p>Liberalisme menjadi salah satu gerakan utama di Zaman Pencerahan dan menjadi populer di kalangan filsuf dan ekonom Barat. Liberalisme berusaha untuk menggantikan norma-norma hak istimewa turun-temurun, agama negara, monarki absolut, hak ilahi raja dan konservatisme tradisional dengan demokrasi perwakilan dan supremasi hukum. Para liberal juga mengakhiri kebijakan merkantilis, monopoli kerajaan dan hambatan perdagangan lainnya. Ini dimaksudkan untuk mempromosikan perdagangan bebas dan marketisasi. Filsuf John Locke sering dianggap sebagai pendiri liberalisme, sebuah tradisi yang didasarkan kontrak sosial, dengan alasan bahwa setiap orang memiliki hak alami untuk hidup, atas kebebasan dan properti dan pemerintah tidak boleh melanggar hak-hak ini. Jika tradisi liberal Inggris menekankan perluasan demokrasi, liberalisme Prancis menekankan penolakan otoritarianisme dan terkait dengan pembangunan bangsa.</p><p>Para pemimpin dalam Revolusi Agung Inggris tahun 1688, Revolusi Amerika tahun 1776 dan Revolusi Perancis tahun 1789 menggunakan filosofi liberal untuk menggulingkan kedaulatan kerajaan yang absolut dengan senjata. Liberalisme mulai menyebar dengan cepat terutama setelah Revolusi Perancis. Pada abad ke-19, banyak pemerintahan liberal didirikan di sebagian besar negara-negara di Eropa dan Amerika Selatan. Ini bersamaan dengan mapannya republikanisme di Amerika Serikat. Di Inggris era Victoria, liberalisme digunakan untuk mengkritik institusi politik yang mapan, dengan merujuk pada ilmu pengetahuan dan akal budi atas nama rakyat. Selama abad ke-19 dan awal abad ke-20, liberalisme di Kekaisaran Ottoman dan Timur Tengah mempengaruhi periode reformasi seperti Tanzimat dan Al-Nahda serta munculnya konstitusionalisme, nasionalisme, dan sekularisme. Sebelum 1920, lawan ideologi utama liberalisme adalah komunisme, konservatisme dan sosialisme, tetapi liberalisme kemudian menghadapi tantangan ideologis utama dari fasisme dan Marxisme-Leninisme sebagai lawan baru. Selama abad ke-20, ide-ide liberal menyebar lebih jauh, terutama di Eropa Barat, ketika demokrasi liberal tampil sebagai pemenang dalam kedua perang dunia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 12:22:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120318762</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mengenal perspektif liberalisme dalam Hubungan Internasional </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120328580</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nurhidayah</p><p>Nim : E071241024</p><p>Prodi : Antropologi Sosial </p><p><br/></p><p><br/></p><p>Liberalisme adalah sebuah ideologi politik, pandangan filsafat politik dan moral yang didasarkan pada kebebasan, persetujuan dari yang diperintah dan persamaan di hadapan hukum. Liberalisme bisa dipahami sebagai suatu paradigma, teori, dan filsafat politik, tetapi tidak ada aliran liberalisme dalam filsafat ilmu. Liberalisme terkadang juga dipahami sebagai antitesis dari realisme karena liberalisme lebih optimis dalam memandang dunia. Optimisme liberalisme berakar dari filsafat abad pencerahan yang mengatakan bahwa sifat manusia itu pada dasarnya baik karena manusia memiliki rasio. Liberalisme melihat secara ‘bottom up’ yakni tindakan negara dan interaksi antar bangsa di dunia hanyalah hasil dari dinamika politik domestik. Singkatnya, menurut liberalisme hubungan internasional adalah “sistem politik dan ekonomi domestik yang beroperasi di tingkat internasional”</p><p><br/></p><p>Dalam perspektif liberalisme, kerja sama antarnegara tumbuh karena kebutuhan negara itu sendiri, bukan dari faktor eksternal atau tekanan dari luar. Maka dari itu, perspektif liberalisme memunculkan banyak kerja sama bilateral dan regional. Contoh liberalisme dalam hubungan internasional sebagai berikut: </p><p> 1. Liberalisasi perdagangan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Afrika. </p><p>2. Perdagangan bebas membuat masyarakat Asia Afrika bebas melakukan perdagangan luar negeri secara sekuler. </p><p>3. Negara-negara Asia Afrika mulai mengembangkan produk industri masing-masing. </p><p>4. Taraf kehidupan masyarakat Asia Afrika meningkat. </p><p>5. Hadirnya sistem pendidikan egaliter di negara-negara Asia Afrika. </p><p>6. Berkembangnya budaya populer di negara-negara Asia Afrika. </p><p>7. Keikutsertaan negara-negara Asia Afrika dalam kancah fashion, olahraga, dan kesenian internasional. Misalnya, ajang Piala Dunia sepak bola, Piala Dunia Basket, Miss Universe, dan lain sebagainya. </p><p>8. Beragamnya sekolah dan perguruan tinggi yang bebas dipilih oleh masyarakat Asia Afrika.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 12:37:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120328580</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MUH FARID WAJID E051241021 ILMU PEMERINTAHAN</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120340567</link>
         <description><![CDATA[<p>Realisme adalah aliran dalam seni, sastra, dan filsafat yang menekankan penggambaran kehidupan dan dunia secara akurat dan objektif. Dalam konteks seni, realisme muncul pada abad ke-19 sebagai reaksi terhadap romantisisme dan berusaha untuk menggambarkan kehidupan sehari-hari dan kondisi sosial dengan cara yang lebih realistis dan tanpa idealisasi. Pelukis-pelukis realis seperti Gustave Courbet dan Jean-François Millet terkenal karena karya mereka yang menampilkan kehidupan kelas pekerja dan situasi sosial yang sebenarnya.</p><p>Dalam sastra, realisme juga berfokus pada penggambaran karakter dan situasi dengan cara yang jujur dan tanpa penyimpangan. Penulis seperti Gustave Flaubert dan Leo Tolstoy mengeksplorasi kehidupan sehari-hari dan kompleksitas psikologis karakter dengan kedalaman dan detail yang mendalam.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 12:56:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120340567</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Seperti apa perspektif realisme dalam Hubungan Internasional?</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120345981</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Yusriana Sri Amalia Saleh</p><p>Nim: E071241021</p><p>Program Studi: Antropologi Sosial</p><p><br/></p><p>Realisme adalah perspektif paling awal dalam ilmu Hubungan Internasional. Realisme berawal dari reaksi terhadap gagasan liberal di akhir Perang Dunia Pertama. Realisme ini adalah pandangan dari interaksi konflik.</p><p>Realisme dianggap sebagai ilmu pertama HI Karena pada dasarnya, manusia sendiri pernah hidup sebagai makhluk yang saling bertentangan. Realisme telah berkembang sejak kelahiran manusia.</p><p><br/></p><p>Realisme adalah mazhab teori hubungan internasional. Realisme adalah "spektrum ide" yang berpusat pada empat ide utama, yaitu grupisme politik, egoisme, anarki internasional, dan politik kekuasaan. Realisme mencakup berbagai pendekatan dan mengklaim tradisi teoritis yang panjang.</p><p><br/></p><p>Dalam disiplin Hubungan Internasional, realisme adalah aliran pemikiran yang menekankan sisi kompetitif dan konfliktual dalam hubungan internasional.</p><p>Dalam pandangan realisme, negara-negara akan melakukan segala cara untuk memaksimalkan kepentingan nasional mereka, bahkan jika itu berarti harus menggunakan kekuatan militer dalam perang.</p><p>Yang dimana berfokus pada kekuasaan, kepentingan nasional, dan anarki sistem internasional, Realisme menawarkan pandangan pragmatis dan seringkali pesimistis mengenai hubungan antarnegara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 13:05:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120345981</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MUHAMMAD FAUZAN (E051241032)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120350354</link>
         <description><![CDATA[<p>PERSPEKTIF LIBERALISME.</p><p>Liberisme adalah salah satu paham utama dalam teori Hubungan Internasional. Liberalisme berasal dari pemikiran liberal pada zaman Renaissance yang dimana isu utama yang diangkat oleh kaum liberalis adalah masalah yang muncul dalam mencapai perjanjian dan kerjasama internasional yang abadic serta berbagai metode yang dapat berkontribusi menyelesaikan masalah tersebut. Liberalisme memandang bahwa hubungan internasional bersifat kooperatif. Liberalisme sangat menjunjung tinggi kebebasan dan kemajuan individu.</p><p>Aktor dalam Hubungan Internasional menurut liberalisme bukan hanya negara tetapi juga melibatkan aktor non-negara seperti multinational corporation, organisai internasional dan lain-lain. Bahkan dalam liberalisme aktor non-negara dianggap lebih mempunyai peran dibandingkan aktor negara itu sendiri. Karena pandangan ini maka dibuatlah suatu organisasi internasional yang bernama Liga bangsa-bangsa pada tahun 1920 dengan tujuan untuk menciptakan perdamaian. Tetapi akhirnya Liga bangsa-bangsa ini gagal dengan adanya perang dunia kedua. Kegagalan ini membuat perspektif realisme mendominasi dan berkembang kuat pada era ini. Perspektif liberalisme percaya bahwa hubungan internasional lebih bersifat kooperatif daripada konfliktual. Teori ini sangat menghargai manusia sebagai makhluk yang baik yang diciptakan oleh Tuhan.&nbsp;</p><p>Sehingga, ketika kebaikan mereka harus terbentur dengan kepentingan yang mereka wajib penuhi, orang liberalis percaya bahwa mereka akan mencoba untuk menggunakan cara cara kooperatif yang mengutamakan agar manusia &nbsp;menjalin kerjasama dan persahabatan yang baik antar makhluk hidup ketimbang ke arah hal hal yang bersifat konfliktual condong pada &nbsp;kekerasan.&nbsp;</p><p>Mungkin sekian penjelasan singkat mengenai Perspektif Liberalisme dari saya, saya Muhammad Fauzan dari Ilmu Pemerintahan mengucapkan Terima Kasih.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 13:13:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120350354</guid>
      </item>
      <item>
         <title>materi tentang perspektif realisme dalam hubungan internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120359386</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>NAMA : Andi Nurfebyta Valent Nawir</strong></p><p><strong>NIM : E051241035</strong></p><p><br/></p><p>Dalam disiplin ilmu hubungan internasional, terdapat teori-teori umum atau perspektif-perspektif teoritis yang saling bertentangan. Realisme, yang juga dikenal sebagai realisme politik, adalah pandangan politik internasional yang menekankan sisi kompetitif dan konfliktualnya. Realisme biasanya dikontraskan dengan idealisme atau liberalisme, yang cenderung menekankan kerja sama. Kaum realis menganggap aktor-aktor utama di arena internasional adalah negara-negara, yang peduli dengan keamanan mereka sendiri, bertindak untuk mengejar kepentingan nasional mereka sendiri, dan berjuang untuk mendapatkan kekuasaan. Sisi negatif dari penekanan kaum realis pada kekuasaan dan kepentingan pribadi sering kali adalah skeptisisme mereka mengenai relevansi norma-norma etika dengan hubungan antarnegara. Politik nasional adalah ranah otoritas dan hukum, sedangkan politik internasional, menurut mereka, adalah ranah tanpa keadilan, yang dicirikan oleh konflik aktif atau potensial antarnegara, di mana standar-standar etika tidak berlaku.</p><p>Akan tetapi, tidak semua realis menyangkal keberadaan etika preskriptif dalam hubungan internasional. Perbedaan harus dibuat antara realisme klasik—yang diwakili oleh para ahli teori abad kedua puluh seperti Reinhold Niebuhr dan Hans Morgenthau—dan realisme radikal atau ekstrem. Sementara realisme klasik menekankan konsep kepentingan nasional, itu bukanlah doktrin Machiavellian “bahwa segala sesuatu dibenarkan dengan alasan negara” (Bull 1995, 189). Itu juga tidak melibatkan pemuliaan perang atau konflik. Para realis klasik tidak menolak kemungkinan penilaian moral dalam politik internasional. Sebaliknya, mereka kritis terhadap moralisme—wacana moral abstrak yang tidak memperhitungkan realitas politik. Mereka menetapkan nilai etika pada tindakan politik yang berhasil berdasarkan kehati-hatian: kemampuan untuk menilai kebenaran tindakan tertentu dari antara kemungkinan alternatif berdasarkan kemungkinan konsekuensi politiknya.</p><p>Realisme mencakup berbagai pendekatan dan mengklaim tradisi teoritis yang panjang. Di antara para pendirinya, Thucydides, Machiavelli, dan Hobbes adalah nama-nama yang paling sering disebutkan. Realisme klasik abad ke-20 saat ini sebagian besar telah digantikan oleh neorealisme, yang merupakan upaya untuk membangun pendekatan yang lebih ilmiah terhadap studi hubungan internasional. Baik realisme klasik maupun neorealisme telah menjadi sasaran kritik dari para ahli teori hubungan internasional yang mewakili perspektif liberal, kritis, dan pasca-modern. Meningkatnya ketegangan di antara negara-negara adikuasa telah menghidupkan kembali perdebatan realis-idealis di abad ke-21 dan telah menyebabkan kebangkitan kembali minat terhadap tradisi realis.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 13:27:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120359386</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Prespektif Liberalisme dalam Hubungan Internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120387559</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Kayla Nabilah</strong></p><p><strong>NIM : E071241035</strong></p><p><br/></p><p>Tradisi liberal dalam HI sangat erat kaitannya dengan muncul nya negara liberal modern. Flisuf liberal, dimulai dari John Locke di abad ke-17, melihat potensi yang besar bagi kemajuan manusia dalam civil society dan perekonomian kapitalis modern, keduanya dapat berkembang dalam negara-negara yang menjamin kebebasan individu. Modernitas membentuk kehidupan yang baru dan lebih baik, bebas dari pemerintah yang otoriter dan dengan tingkat ke sejahteraan material yang jauh lebih tinggi.</p><p><br/></p><p>Kaum liberal umumnya mengambil pandangan positif tentang sifat manusia. Mereka memiliki keyakinan besar terhadap akal pikiran manusia dan mereka yakin bahwa prinsip-prinsip rasional dapat dipakai pada masalah-masalah internasional. Kaum liberal mengakui bahwa individu selalu mementingkan diri sendiri dan bersaing terhadap suatu hal. Tetapi mereka juga percaya bahwa individu-individu memiliki banyak kepentingan dan dengan demikian dapat terlibat dalam aksi sosial yang kolaboratif dan kooperatif, baik domestik maupun internasional, yang menghasilkan manfaat besar bagi setiap orang baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dengan kata lain, konflik dan perang tidak dapat dihindarkan, ketika manusia memakai akal pikirannya mereka dapat mencapai kerja sama yang saling menguntungkan bukan hanya dalam negara tetapi juga lintas batas internasional. Teoretisi liberal kemudian yakin bahwa akal pikiran manusia dapat mengalahkan ketakutan manusia dan nafsu akan kekuasaan. Tetapi mereka tidak sepakat mengenai besar nya hambatan dalam perjalanan perkembangan manusia. Bagi sebagian kaum liberal hal itu merupakan proses jangka panjang dengan banyak hambatan; bagi yang lain, keberhasil an hanya tinggal menunggu waktu saja. Dengan demikian, semua kaum liberal sepakat bahwa dalam jangka panjang kerja sama yang didasarkan pada kepentingan timbal balik akan berlaku.</p><p><br/></p><p>Sumber literasi : Buku pengantar studi Hubungan Internasional (edisi kelima) oleh Robert Jackson &amp; Georg Sorensen.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 14:06:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120387559</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perspektif Realisme dalam Hubungan Internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120412255</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : M. Isra Immawan</strong></p><p><strong>NIM : E051241027</strong></p><p><br/></p><p>Perspektif realisme dalam hubungan internasional memandang negara sebagai aktor utama yang didorong oleh kepentingan nasional dan kekuasaan dalam sistem anarkis. Realisme menekankan pada konflik dan perang sebagai kemungkinan yang selalu ada, serta skeptis terhadap kerjasama internasional jangka panjang. Varian realisme meliputi realisme klasik yang menekankan pada sifat manusia, dan neo-realisme yang fokus pada struktur sistem internasional. Meskipun banyak dikritik karena mengabaikan aktor non-negara, kerjasama, dan perubahan, realisme tetap relevan dalam menjelaskan aspek politik global terkait konflik, keamanan, dan persaingan kekuasaan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 14:35:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120412255</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perspektif realisme dalam Hubungan Internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120426405</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Adinda Ashry Fatiha</p><p>Nim: E041241039</p><p><br/></p><p>Perspektif realisme dalam hubungan internasional adalah salah satu pendekatan utama yang menekankan bahwa negara-negara adalah aktor utama dalam sistem internasional yang anarkis, di mana tidak ada otoritas global yang lebih tinggi dari negara. Realisme berfokus pada konsep kekuasaan dan kepentingan nasional sebagai pendorong utama perilaku negara. Dalam pandangan realisme, negara selalu bertindak untuk memperjuangkan kepentingan mereka, terutama dalam hal keamanan dan kelangsungan hidup. Karena dunia dianggap sebagai lingkungan yang kompetitif dan sering kali berbahaya, negara-negara harus mengandalkan kekuatan militer dan ekonomi untuk melindungi diri mereka. Alasan utamanya adalah bahwa tidak ada negara lain atau lembaga internasional yang bisa diandalkan sepenuhnya untuk menjamin keamanan suatu negara. Tokoh-tokoh utama dalam teori realisme termasuk Thomas Hobbes, yang menganggap keadaan alamiah hubungan antarnegara sebagai "perang semua melawan semua," serta Niccolò Machiavelli dan Thucydides. Teori ini juga berkembang lebih lanjut oleh ilmuwan politik modern seperti Hans Morgenthau dan Kenneth Waltz, yang memperkenalkan "realisme klasik" dan "realisme struktural" (neorealisme). </p><p>Secara keseluruhan, perspektif realisme menekankan pentingnya kekuasaan, kepentingan nasional, dan anarki sebagai unsur-unsur utama yang membentuk hubungan antarnegara dalam politik global.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 14:53:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120426405</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perspektif Realisme Hubungan Internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120435710</link>
         <description><![CDATA[<p>Oleh,</p><p>Mukhlisatul Amaliyah Putri</p><p>NIM.E041241037</p><p>Prodi Ilmu Politik</p><p><br/></p><p>Realisme merupakan paradigma paling dominan yang digunakan dalam studi hubungan internasional. Paradigma ini menjadi perspektif yang dominan sejak 1940-an, menyingkirkan pengaruh idealisme yang mendominasi dalam rentang 1919 hingga 1930-an.</p><p>&nbsp;</p><p>Jeffrey W. Legro dan Andrew Moravcsik dalam Is anybody still a realist? International Security (1999) menjelaskan bahwa realisme memiliki tiga asumsi dasar. Pertama, realisme memandang hakikat aktor adalah tunggal (unitary) dan rasional dalam dunia yang anarkis. Rasional dimaknai sifat aktor yang senantiasa mementingkan diri sendiri. Sementara anarkis diartikan ketiadaan otoritas di atas negara.</p><p>&nbsp;</p><p>Kedua, realisme memandang hubungan internasional adalah konfliktual. Tidak ada yang menjamin negara lain akan bersikap baik. Maka dari itu, relasi antar bangsa dipenuhi rasa saling curiga terhadap maksud pihak lain.</p><p>&nbsp;</p><p>Ketiga, realisme memandang struktur internasional ditentukan kapabilitas material. Realisme ini percaya bahwa perilaku negara dibentuk struktur material seperti postur militer suatu negara, pendapat perkapita, jumlah anggaran pertahanan, jumlah senjata nuklir, posisi geografis, hingga kekayaan sumber daya alam.</p><p>&nbsp;</p><p>Dalam teori realisme, negara merupakan aktor utama dalam menjalankan kerja sama internasional. Perilaku negara dalam interaksi hubungan internasional digerakkan dengan kepentingan nasional secara rasional, termasuk dalam hubungan diplomatik.</p><p>&nbsp;</p><p>Paradigma realisme melihat bahwa dunia itu konfliktual. Realisme menekankan bahwa kendala politik dalam hubungan kerja sama internasional muncul dari sifat egois manusia dan tidak adanya otoritas pusat di atas negara.</p><p>&nbsp;</p><p>Maka dari itu, paradigma realisme mendorong negara bekerja sama karena dilema keamanan (security dilemma) guna meningkatkan sektor pertahanan. Dalam paradigma realisme, perdamaian akan terwujud, apabila negara berada dalam status balance of power (keseimbangan dalam kekuatan).</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 15:04:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120435710</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perspektif Realisme dalam Ilmu Hubungan Internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120445849</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Salsa Kurnia Syahbani</p><p>NIM: E061241043</p><p><br/></p><p>Realisme dalam ilmu hubungan internasional adalah paradigma yang menekankan bahwa negara adalah aktor utama dalam sistem internasional, yang beroperasi dalam konteks anarki di mana tidak ada otoritas yang lebih tinggi. Pendekatan ini berfokus pada kepentingan nasional dan kekuasaan, dengan asumsi bahwa negara bertindak secara rasional untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mendapatkan keuntungan.</p><p>Asumsi dasar realisme mencakup:</p><p>- <strong>Anarki Internasional</strong>: Tidak ada entitas di atas negara yang mengatur hubungan internasional.</p><p>  </p><p>- <strong>Kepentingan Nasional</strong>: Negara berfokus pada keuntungan dan keamanan mereka sendiri, berusaha untuk mengumpulkan sumber daya sebanyak mungkin.</p><p>  </p><p>- <strong>Konflik dan Kerja Sama</strong>: Meskipun ada potensi untuk kerja sama, hubungan antar negara sering kali ditandai oleh konflik dan ketidakpercayaan.</p><p>Realisme klasik, yang dipelopori oleh pemikir seperti Thucydides dan Machiavelli, berlanjut ke neorealisme yang dikembangkan oleh Kenneth Waltz, yang lebih menekankan struktur sistem internasional daripada sifat manusia.</p><p> Realisme tetap menjadi perspektif dominan dalam analisis hubungan internasional, terutama dalam konteks konflik dan keamanan global saat ini.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 15:15:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120445849</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tugas 1 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120448471</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Afifah Izzatul Mutiah </strong></p><p><strong>Nim : E031241035 </strong></p><p><strong>Prodi : Sosiologi <br></strong><br>Dari ketiga perspektif yang diberikan, saya memilih perspektif strukturalisme.<br>Perspektif strukturalisme dalam hubungan internasional adalah pandangan yang menekankan pengaruh struktur ekonomi dunia terhadap perilaku negara-negara dan aktor-aktor lainnya dalam sistem internasional. Perspektif ini memiliki akar dari pemikiran neo-klasik Karl Marx dan juga berfokus pada bagaimana struktur ekonomi kapitalis yang menciptakan ketidakadilan dan ketimpangan di antara negara-negara. <br><br>Berikut merupakan asumsi dasar dari perspektif strukturalisme dalam hubungan internasional : <br><br>1. Struktur Ekonomi Dunia: Hubungan internasional yang dibentuk oleh struktur ekonomi dunia yang kapitalis.<br>2. Aktor Utama: Negara, perusahaan multinasional (MnC), dan kelas-kelas sosial transnasional merupakan aktor-aktor utama.<br>3. Ketidakadilan Kapitalisme: Kapitalisme dianggap sebagai tatanan sosial dan ekonomi yang tidak adil, yang berimbas menghasilkan kesenjangan sosial.<br>4. Politik dan Ekonomi: Politik internasional sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi.<br>5. Kepentingan Kelas Dominan: Negara lebih mencerminkan kepentingan kelas-kelas dominan dibandingkan dengan kepentingan nasionalnya. <br><br>Strukturalisme juga menyoroti bagaimana kapitalisme global menciptakan hal ketidakadilan dan ketimpangan, terutama di negara-negara berkembang dan miskin. Perspektif ini diharapkam dapat menciptakan sistem dunia yang lebih adil dan merata.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 15:18:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120448471</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perspektif Realiasme dalam hubungan internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120453903</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Vira humaira</p><p>Nim : E071241028</p><p>Prodi : antropologi</p><p><br/></p><p>Perspektif realisme dalam hubungan internasional adalah pendekatan yang menekankan peran utama kepentingan nasional dan kekuasaan dalam dinamika global. Realisme berpendapat bahwa negara adalah faktor utama dalam sistem internasional dan bahwa mereka bertindak berdasakan dorongan untuk mencapai dan mempertahankan kekuasaan. Perspektif ini berakar pada pandangan bahwa dunia internasional adalah arena anarki, yaitu tanpa otoritas pusat yang dapat memaksa kepatuhan terhadap  aturan-aturan internasional</p><p><br/></p><p>Menurut realisme, negara-negara beroperasi dalam lingkungan yang tidak memiliki struktur pemerintahan global yang mengatur perilaku mereka. Karena itu, negara-negara lebih fokus pada kepentingan mereka sendiri untuk memastikan keamanan dan kelangsungan hidup mereka. Konsekuensinya, konflik dan persaingan sering di anggap sebagai hal yang wajar dan terhindarkan. Dalam pandangan ini, aliansi dan kerja sama inetrnasional dilihat sebagai strategi untuk memperkuat posisi kekuatan suatu negara dan mengatasi ancaman dari negara lain, bukan sebagai upaya untuk menciptakan perdamaian abadi.</p><p><br/></p><p>Realisme menganggap bahwa moralitas dan prinsip-prinsip etika sering kali subordinat terhaap kepentingan praktis dan strategis. Dalam konteks ini, hubungan internasional sering di lihat sebagai permainan kekuasaan di mana negara-negara mengejar kekuasaan relatif untuk memperkuat posisi mereka dibandingkan dengan negara lain. Tokoh-tokoh Thucydides, Niccolò Machiavelli, dan Hans Morgenthau adalah beberapa pemikir yang telah mempengaruhi teori realisme.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, realisme memberikan penekanan pada analisis kekuasaan dan kepentingan nasional sebagai kunci untuk memahami perilaku negara dan interaksi internasional,serta melihat sistem internasional sebagai tempat di mana kekuasaan dan persaingan dominan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 15:26:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120453903</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perspektif Liberalisme dalam Hubungan Internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120472440</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Syathir Fadhil Saputra</p><p>NIM: E051241022</p><p><br/></p><p>Liberalisme dalam konteks hubungan internasional menawarkan perspektif yang optimis tentang kemungkinan kerjasama antar negara dan pencapaian perdamaian dunia. Pandangan ini berakar pada prinsip-prinsip dasar liberalisme yang diterapkan pada skala global.</p><p>Perspektif liberal dalam hubungan internasional menekankan beberapa poin kunci:</p><p>Demokrasi dan Perdamaian: Liberalisme berpendapat bahwa negara-negara demokratis cenderung tidak berperang satu sama lain, konsep yang dikenal sebagai "teori perdamaian demokratis". Ide ini mendasari upaya untuk mempromosikan demokrasi di seluruh dunia sebagai cara untuk menciptakan sistem internasional yang lebih damai.</p><p>Institusi Internasional: Kaum liberal mendukung pembentukan dan penguatan organisasi internasional seperti PBB, WTO, dan lainnya. Mereka percaya bahwa institusi-institusi ini dapat memfasilitasi kerjasama, menengahi konflik, dan menciptakan aturan bersama yang mengatur perilaku negara.</p><p>Interdependensi Ekonomi: Liberalisme menekankan pentingnya hubungan ekonomi antar negara. Mereka berpendapat bahwa perdagangan bebas dan globalisasi ekonomi menciptakan saling ketergantungan yang membuat konflik menjadi lebih mahal dan tidak menarik bagi negara-negara.</p><p>Hak Asasi Manusia: Perspektif liberal mendorong promosi dan perlindungan hak asasi manusia secara global. Mereka sering mendukung intervensi kemanusiaan dan sanksi terhadap negara-negara yang melanggar hak asasi manusia.</p><p>Kerjasama dalam Isu-isu Global: Liberalisme menekankan pentingnya kerjasama internasional dalam mengatasi tantangan global seperti perubahan iklim, terorisme, dan penyebaran penyakit menular.</p><p>Transparansi dan Diplomasi: Kaum liberal mendukung diplomasi terbuka dan transparansi dalam hubungan internasional, menentang diplomasi rahasia yang mereka anggap dapat memicu ketidakpercayaan dan konflik.</p><p>Meskipun perspektif liberal dalam hubungan internasional telah memiliki pengaruh besar, terutama setelah Perang Dingin, ia juga menghadapi kritik dan tantangan. Kritik terhadap pendekatan liberal termasuk tuduhan bahwa ia terlalu idealistis, mengabaikan realitas kekuatan dalam politik internasional, dan cenderung mendukung hegemoni Barat.</p><p>Terlepas dari kritik, perspektif liberal terus memainkan peran penting dalam membentuk kebijakan luar negeri banyak negara dan dalam pengembangan norma-norma internasional. Pendekatan ini menawarkan visi tentang dunia yang lebih terhubung, damai, dan sejahtera melalui kerjasama internasional dan penyebaran nilai-nilai demokratis.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 15:48:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120472440</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120556624</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Alif Ardian Arsyad</p><p>NIM: E021241043</p><p><br/></p><p>Liberalisme</p><p>Ideologi Liberalisme adalah suatu paham tentang kebebasan. Istilah liberalisme berasal dari bahasa Latin,<em>libertas </em>atau dalam bahasa Inggris disebut <em>liberty</em> yang artinya kebebasan.</p><p><br/></p><p>Liberalisme mengutamakan kebijakan yang bermanfaat bagi semua orang, bukannya kekuatan negara sebagai bagian dari kelompok. Pemimpin individu dapat melakukan reformasi, kerja sama, atau tindakan kolektif untuk mengurangi peran dan konflik, menurut landasan berpikir perspektif </p><p>liberalisme. Namun, ini tidak berarti konflik dihilangkan karena hal itu dapat bersifat positif dan konstruktif. Menurut perspektif liberalisme, kerja sama dan kolaborasi internasional hanya dapat terjadi jika semua pihak mematuhi standar global utama. </p><p><br/></p><p>Dalam buku Pengantar Studi Hubungan Internasional (1999), Robert Jackson dan Georg Sorensen mengatakan bahwa liberalisme melihat hubungan internasional sebagai kooperatif daripada konflik seperti yang digambarkan oleh realisme.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-15 17:29:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120556624</guid>
      </item>
      <item>
         <title>LIBERALISME</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120825093</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Yasmine alifah wahyudi </p><p>NIM   : E011241035 </p><p>Prodi  : Administrasi publik </p><p>Kelas  : Pengantar HI C</p><p><br/></p><p>Liberalisme merupakan salah satu landasan berpikir dalam hubungan internasional sekaligus perspektif tandingan&nbsp;<a rel="noopener" href="https://tirto.id/teori-realisme-dalam-hubungan-internasional-dan-contohnya-gPv6">realisme</a>.</p><p>Perspektif liberalisme mengasumsikan bahwa kerja sama dan keterlibatan internasional mungkin terjadi, selama seluruh pihak mematuhi norma-norma global dasar.</p><p>Robert Jackson dan Georg Sorensen dalam buku <em>Pengantar Studi Hubungan Internasional</em> (1999) menjelaskan bahwa perspektif liberalisme percaya <a rel="noopener" href="https://tirto.id/prinsip-dan-asas-hubungan-internasional-beserta-penjelasannya-gxeg">hubungan internasional</a> bersifat kooperatif, alih-alih konfliktual seperti yang dijelaskan dalam perspektif realisme.Perspektif liberalisme dalam hubungan internasional baru mendominasi setelah Perang Dunia I. Kala itu, Woodrow Wilson, Presiden Amerika Serikat--salah satu negara liberal--memelopori pembentukan&nbsp;<a rel="noopener" href="https://tirto.id/apa-sejarah-asas-dan-tujuan-perserikatan-bangsa-bangsa-pbb-gnV4">Liga Bangsa-Bangsa</a>&nbsp;(LBB). Perkumpulan antar-negara tersebut merupakan implementasi konsep keamanan bersama (<em>collective security</em>), yang bertujuan mencegah terjadinya perang serta menciptakan kedamaian dunia.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Sejak saat itu, studi akademis hubungan internasional dalam rentang periode Perang Dunia I dan II didominasi oleh perspektif liberalisme. Teori-teori liberalisme dalam hubungan internasional mulai mengemuka, juga ketentuan peraturan politik global.</p><p><br/></p><p>Namun, pecahnya Perang Dunia II menjadi bukti kegagalan ketentuan peraturan politik global yang ditawarkan liberalisme. Pengaruh perspektif liberalisme pun mengalami keredupan, digantikan oleh perspektif realisme dalam studi hubungan internasional setelah Perang Dunia II.</p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://tirto.id/ideologi-liberalisme-sejarah-ciri-ciri-dan-contoh-penerapannya-gkhn">Contoh liberalisme</a>&nbsp;dalam hubungan internasional sebagai berikut:</p><p><br/></p><ul><li><p>Liberalisasi perdagangan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Afrika.</p></li><li><p>Perdagangan bebas membuat masyarakat Asia Afrika bebas melakukan perdagangan luar negeri secara sekuler.</p></li><li><p>Negara-negara Asia Afrika mulai mengembangkan produk industri masing-masing.</p></li><li><p>Taraf kehidupan masyarakat Asia Afrika meningkat.</p></li><li><p>Hadirnya sistem pendidikan egaliter di negara-negara Asia Afrika.</p></li><li><p>Berkembangnya budaya populer di negara-negara Asia Afrika.</p></li><li><p>Keikutsertaan negara-negara Asia Afrika dalam kancah fashion, olahraga, dan kesenian internasional. Misalnya, ajang Piala Dunia sepak bola, Piala Dunia Basket, Miss Universe, dan lain sebagainya.</p></li><li><p>Beragamnya sekolah dan perguruan tinggi yang bebas dipilih oleh masyarakat Asia Afrika.</p></li></ul><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-16 00:54:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120825093</guid>
      </item>
      <item>
         <title>&quot;Liberalisme: Ideologi Kebebasan Individu dan Pemerintahan Terbatas&quot;</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120979835</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Riski Marwah Ayu</p><p>Nim : E031241032</p><p><br/></p><p>Liberalisme adalah ideologi politik yang menekankan kebebasan individu dan hak asasi manusia. Prinsip utamanya termasuk kebebasan individu, hak asasi manusia, pemerintahan terbatas, kebebasan ekonomi, serta toleransi dan pluralisme. Dalam pandangan ini, individu memiliki hak untuk mengatur hidupnya sendiri tanpa campur tangan berlebihan, semua orang memiliki hak yang sama, pemerintah harus campur tangan hanya untuk melindungi kebebasan, pasar bebas didukung, dan pandangan yang beragam harus dihormati. Liberalisme berusaha membatasi peran pemerintah agar tidak terlalu mengontrol kehidupan masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-16 03:53:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120979835</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Prespektif Realisme Dalam Hubungan Internasional </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120995490</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Putri sake </p><p>Nim : E011241040 </p><p><br/></p><p>Realisme adalah salah satu teori utama dalam studi hubungan internasional yang berfokus pada aspek kekuatan, kepentingan nasional, dan konflik antar negara. Perspektif realisme mengasumsikan bahwa negara adalah aktor utama dalam politik internasional dan selalu bertindak berdasarkan kepentingan sendiri untuk menjaga keamanan dan kelangsungan hidupnya.</p><p><br/></p><p>perspektif realisme memberikan pandangan yang pesimis tentang hubungan internasional, di mana keamanan dan kepentingan negara lebih penting daripada kerja sama dan nilai-nilai moral.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-16 04:11:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3120995490</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Naylah Puang Maharani Andi Sufarid Nim: E011241032 Prodi: Administrasi Publik </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3122546130</link>
         <description><![CDATA[<p>Perspektif Liberalisme dalam Hubungan Internasional</p><p><br/></p><p>Perspektif liberalisme dalam hubungan internasional baru mendominasi setelah Perang Dunia I. Kala itu, Woodrow Wilson, Presiden Amerika Serikat--salah satu negara liberal--memelopori pembentukan <a rel="noopener" href="https://tirto.id/apa-sejarah-asas-dan-tujuan-perserikatan-bangsa-bangsa-pbb-gnV4">Liga Bangsa-Bangsa</a>(LBB). Perkumpulan antar-negara tersebut merupakan implementasi konsep keamanan bersama (<em>collective security</em>), yang bertujuan mencegah terjadinya perang serta menciptakan kedamaian dunia. Perspektif liberalisme dalam hubungan internasional menekankan pentingnya kerjasama, institusi internasional, dan norma-norma dalam mencapai perdamaian dan keamanan global. Landasan berpikir perspektif liberalisme menyatakan bahwa peran dan konflik dapat dikurangi melalui kerja sama, reformasi, atau tindakan kolektif, yang diprakarsai para pemimpin individu. Namun, bukan berarti konflik dihilangkan. Sebab, hal itu dapat bersifat positif dan konstruktif.</p><p>Perspektif liberalisme mengasumsikan bahwa kerja sama dan keterlibatan internasional mungkin terjadi, selama seluruh pihak mematuhi norma-norma global dasar. Robert Jackson dan Georg Sorensen dalam buku Pengantar Studi Hubungan Internasional (1999) menjelaskan bahwa perspektif liberalisme percaya hubungan internasional bersifat kooperatif, alih-alih konfliktual seperti yang dijelaskan dalam perspektif realisme.</p><p><br/></p><p>Berikut beberapa contoh Liberalisme dalam hubungan internasional sebagai berikut:</p><p><br/></p><p>* Liberalisasi perdagangan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Afrika.</p><p>* Perdagangan bebas membuat masyarakat Asia Afrika bebas melakukan perdagangan luar negeri secara sekuler.</p><p>* Hadirnya sistem pendidikan egaliter di negara-negara Asia Afrika.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-16 23:41:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3122546130</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Andi Gemilang Putra Ramadhan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3122558003</link>
         <description><![CDATA[<p>Nim : E031241039</p><p>Prodi : Sosiologi </p><p><br/></p><p>Liberalisme adalah pandangan politik dan filosofi sosial yang menekankan kebebasan individu, hak asasi manusia, dan sistem pemerintahan yang demokratis. Berikut adalah beberapa prinsip utama dalam liberalisme:</p><ol><li><p><strong>Kebebasan Individu</strong>: Liberalism menekankan pentingnya kebebasan pribadi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kebebasan berbicara, beragama, dan berpendapat.</p></li><li><p><strong>Hak Asasi Manusia</strong>: Prinsip ini mendukung perlindungan hak-hak fundamental setiap individu, seperti hak untuk hidup, kebebasan, dan kepemilikan.</p></li><li><p><strong>Demokrasi dan Pemerintahan</strong>: Liberalism mendorong sistem pemerintahan yang demokratis dan transparan, di mana kekuasaan berasal dari rakyat dan terdapat mekanisme akuntabilitas.</p></li><li><p><strong>Ekonomi Pasar</strong>: Dalam banyak bentuk liberalisme, terdapat dukungan terhadap ekonomi pasar bebas, di mana perdagangan dan industri diatur oleh mekanisme pasar dengan intervensi pemerintah yang minimal.</p></li><li><p><strong>Kesetaraan</strong>: Liberalism juga mendukung prinsip kesetaraan di hadapan hukum dan kesempatan yang setara untuk semua orang, meskipun pendekatan terhadap kesetaraan sosial dapat bervariasi.</p></li></ol><p>Secara keseluruhan, liberalisme bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang menghargai kebebasan individu dan berusaha mencapai kesejahteraan dengan cara yang adil dan rasional.</p><p>4o mini</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-16 23:57:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3122558003</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NAMA：Haslyana Nisha Ravi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3122583686</link>
         <description><![CDATA[<p>NIM:E011241037</p><p>KELAS: PENGANTAR HI C</p><p><br/></p><p><strong>Liberalisme</strong> adalah sebuah <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ideologi_politik">ideologi politik</a>, pandangan filsafat <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Filsafat_politik">politik</a> dan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Etika">moral</a> yang didasarkan pada <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kebebasan">kebebasan</a>, <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Persetujuan_dari_yang_terperintah">persetujuan dari yang diperintah</a> dan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Persamaan_di_hadapan_hukum">persamaan di hadapan hukum</a>. Orang-orang liberal mendukung beragam pandangan tergantung kepada pemahaman mereka tentang prinsip-prinsip ini, tetapi umumnya mereka mendukung hak-hak individu (termasuk <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hak_sipil_dan_politik">hak-hak sipil</a> dan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hak_asasi_manusia">hak asasi manusia</a>), <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Demokrasi">demokrasi</a>, <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sekularisme">sekularisme</a>, <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kebebasan_berbicara">kebebasan berbicara</a>, <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kebebasan_pers">kebebasan pers</a>, <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kebebasan_beragama">kebebasan beragama</a>dan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_pasar">ekonomi pasar</a>.</p><p>Liberalisme menjadi salah satu <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gerakan_politik">gerakan</a> utama di <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Abad_Pencerahan">Zaman Pencerahan</a> dan menjadi populer di kalangan filsuf dan ekonom <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Dunia_Barat">Barat</a>. Liberalisme berusaha untuk menggantikan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Norma_sosial">norma-norma</a> <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bangsawan">hak istimewa turun-temurun</a>, <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Agama_negara">agama negara</a>, <a rel="noopener noreferrer nofollow" class="mw-redirect" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_mutlak">monarki absolut</a>, <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hak_ilahi_raja-raja">hak ilahi raja</a> dan <a rel="noopener noreferrer nofollow" class="mw-redirect" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Konservatisme_tradisionalis">konservatisme tradisional</a> dengan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Demokrasi_perwakilan">demokrasi perwakilan</a> dan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Rule_of_law">supremasi hukum</a>. Para liberal juga mengakhiri kebijakan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Merkantilisme">merkantilis</a>, <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Monopoli_hukum">monopoli kerajaan</a> dan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hambatan_perdagangan">hambatan perdagangan</a> lainnya. Ini dimaksudkan untuk mempromosikan perdagangan bebas dan marketisasi. Filsuf <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/John_Locke">John Locke</a> sering dianggap sebagai pendiri liberalisme, sebuah tradisi yang didasarkan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kontrak_sosial">kontrak sosial</a>, dengan alasan bahwa setiap orang memiliki <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hak_kodrati_dan_hak_ikhtiyari">hak alami</a> untuk hidup, atas kebebasan dan properti dan pemerintah tidak boleh melanggar hak-hak ini. Jika <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Liberalisme_Gladstone">tradisi liberal Inggris</a> menekankan perluasan demokrasi, liberalisme Prancis menekankan penolakan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Otoritarianisme">otoritarianisme</a> dan terkait dengan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme">pembangunan bangsa</a>.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-17 00:24:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3122583686</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perspektif Liberalisme dalam Hubungan Internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3123596227</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Alifah Putri Zaldy</p><p>NIM: E021241048</p><p>Landasan berpikir perspektif liberalisme menyatakan bahwa peran dan konflik dapat dikurangi melalui kerja sama, reformasi, atau tindakan kolektif, yang diprakarsai para pemimpin individu. Namun, bukan berarti konflik dihilangkan. Sebab, hal itu dapat bersifat positif dan konstruktif.</p><p>Perspektif liberalisme mengasumsikan bahwa kerja sama dan keterlibatan internasional mungkin terjadi, selama seluruh pihak mematuhi norma-norma global dasar.</p><p><br/></p><p>Argumen inti liberalisme adalah bahwa konsentrasi kekuatan kekerasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan merupakan ancaman mendasar bagi kebebasan individu dan harus dibatasi. Sarana utama untuk membatasi kekuasaan adalah lembaga dan norma di tingkat domestik dan internasional. Di tingkat internasional, lembaga dan organisasi membatasi kekuasaan negara dengan mendorong kerja sama dan menyediakan sarana untuk mengenakan biaya kepada negara yang melanggar perjanjian internasional. Lembaga ekonomi khususnya efektif dalam mendorong kerja sama karena manfaat substansial yang dapat diperoleh dari saling ketergantungan ekonomi. Terakhir, norma liberal menambahkan batasan lebih lanjut pada penggunaan kekuasaan dengan membentuk pemahaman kita tentang jenis perilaku apa yang pantas. Saat ini, jelas bahwa liberalisme bukanlah teori 'utopis' yang menggambarkan dunia impian yang damai dan bahagia seperti yang pernah dituduhkan. Ia memberikan tanggapan yang konsisten terhadap realisme, yang berakar kuat pada bukti dan tradisi teoritis yang mendalam.</p><p><br/></p><p>Dalam perspektif liberalisme, kerja sama antarnegara tumbuh karena kebutuhan negara itu sendiri, bukan dari faktor eksternal atau tekanan dari luar. Maka dari itu, perspektif liberalisme memunculkan banyak kerja sama bilateral dan regional. Contoh Liberalisme dalam hubungan internasional sebagai berikut:</p><p><br/></p><ul><li><p>Liberalisasi perdagangan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Afrika.</p></li><li><p>Perdagangan bebas membuat masyarakat Asia Afrika bebas melakukan perdagangan luar negeri secara sekuler.</p></li><li><p>Negara-negara Asia Afrika mulai mengembangkan produk industri masing-masing.</p></li><li><p>Taraf kehidupan masyarakat Asia Afrika meningkat.</p></li></ul><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-17 13:33:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3123596227</guid>
      </item>
      <item>
         <title> Ekklesia Amanda Firsthin (E051241033)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3131300978</link>
         <description><![CDATA[<p>Perspektif realisme dari HI</p><p>Dari perspektif Realisme, Hubungan Internasional sejatinya adalah tempat untuk negara negara berdaulat bersaing dalam meningkatkan keamanan dan kekuatan negara masing masing. Teori ini berfokus pada prinsip bahwa di dunia tidak ada sistem internasional yang bisa memaksa suatu keputusan dan ketentuan hukum pada negara negara, sehingga setiap negara mementingkan kepentingan nasional nya dalam mencegah adanya ancaman.</p><p>Yang menjadi aktor utama dalam perspektif ini adalah negara, yang menjadi kepentingan nasional nya adalah meningkatkan ketahanan dan kekuatan nasional untuk mencegah ancaman.</p><p>Realisme sering menekankan bahwa konflik dan kompetisi merupakan sifat alami dari hubungan internasional, karena setiap negara pada dasarnya berusaha untuk bertahan hidup di dunia yang penuh dengan ketidakpastian.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-22 05:54:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3131300978</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perspektif Liberalisme dalam Hubungan Internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3131388636</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Zill Fauziah Ramadhana</p><p>NIM : E061241042</p><p>Prodi : Hubungan Internasional</p><p><br/></p><p>Perspektif liberalisme dalam hubungan internasional menekankan pentingnya kerja sama dan interdependensi antarnegara. Berakar dari pemikiran Zaman Pencerahan, liberalisme menganggap bahwa individu dan kelompok masyarakat adalah aktor utama dalam sistem internasional, bukan hanya negara. Dalam pandangan ini, hubungan internasional bersifat kooperatif, di mana negara-negara berusaha untuk mencapai perdamaian dan stabilitas melalui dialog dan kolaborasi.</p><p>Liberalisme percaya bahwa anarki dalam sistem internasional tidak selalu memicu konflik; sebaliknya, kondisi ini mendorong negara untuk bekerja sama demi kepentingan bersama. Keberadaan institusi internasional dan rezim hukum dianggap vital untuk mengatur interaksi antarnegara dan meminimalkan ketidakpastian yang dapat menyebabkan konflik. Selain itu, liberalisme juga menekankan bahwa isu-isu sosial-ekonomi sering kali lebih penting daripada keamanan nasional, dengan fokus pada kesejahteraan global.</p><p>Secara keseluruhan, perspektif liberalisme menawarkan pandangan optimis bahwa melalui kerjasama yang saling menguntungkan, negara-negara dapat mengatasi tantangan global dan menciptakan dunia yang lebih damai dan stabil.</p><p><br/></p><p>Sources:</p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://tirto.id/apa-itu-perspektif-liberalisme-dalam-hubungan-internasional-gPwq">https://tirto.id/apa-itu-perspektif-liberalisme-dalam-hubungan-internasional-gPwq</a></p><p><br/></p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://ejournal.undip.ac.id/index.php/ip/article/download/50775/22700">https://ejournal.undip.ac.id/index.php/ip/article/download/50775/22700</a></p><p><br/></p><p><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://www.kompasiana.com/unggundwiprasetyo/60b2feb08ede483eeb164852/prespektif-liberalisme-dalam-hubungan-internasional">https://www.kompasiana.com/unggundwiprasetyo/60b2feb08ede483eeb164852/prespektif-liberalisme-dalam-hubungan-internasional</a></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-22 08:55:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3131388636</guid>
      </item>
      <item>
         <title>A. Zalsabila Nan Fitri E031241034 sosiologi </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3131996143</link>
         <description><![CDATA[<p>Perspektif liberisme dalam hubungan internasional menekankan pentingnya kerjasama, interdependensi, dan norma-norma internasional. Liberalisme berargumen bahwa aktor non-negara, seperti organisasi internasional dan LSM, memainkan peran penting dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas.</p><p>beberapa kunci poin perspektif ini meliputi:</p><p>1. kerjasama internasional</p><p>2. interpendensi ekonomi</p><p>3. norma dan institusi</p><p>4. demokrasi dan perdamaian</p><p>5. peran aktor non negara</p><p>Liberalisme menawarkan pandangan optimis mengenai potensi kolaborasi di dunia yang saling terhubung</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-22 23:30:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3131996143</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3132100833</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nur fadhilah Amaliyah</p><p>Nim : E051241034</p><p>Prodi Ilmu pemerintahan</p><p><br/></p><p>Perspektif realisme dari HI</p><p>Dari perspektif Realisme, Hubungan Internasional sejatinya adalah tempat untuk negara negara berdaulat bersaing dalam meningkatkan keamanan dan kekuatan negara masing masing. Teori ini berfokus pada prinsip bahwa di dunia tidak ada sistem internasional yang bisa memaksa suatu keputusan dan ketentuan hukum pada negara negara, sehingga setiap negara mementingkan kepentingan nasional nya dalam mencegah adanya ancaman.</p><p>Yang menjadi aktor utama dalam perspektif ini adalah negara, yang menjadi kepentingan nasional nya adalah meningkatkan ketahanan dan kekuatan nasional untuk mencegah ancaman.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-23 01:04:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3132100833</guid>
      </item>
      <item>
         <title>E011241039 Nur Yasarah Ashilah </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3132154751</link>
         <description><![CDATA[<p>Ide liberalisme sebenarnya telah dikemukakan oleh para filsuf dan pemikir politik sejak abad ke-17 dan 18. Dalam buku An Introduction to International Relations Theory: Perspectives and Themes (2001), diceritakan bahwa pada masa itu para pemikir telah memulai perdebatan tentang cara menciptakan keadilan, keteraturan, dan hubungan yang aman antar-manusia. Landasan berpikir perspektif liberalisme menyatakan bahwa peran dan konflik dapat dikurangi melalui kerja sama, reformasi, atau tindakan kolektif, yang diprakarsai para pemimpin individu. Namun, bukan berarti konflik dihilangkan. Sebab, hal itu dapat bersifat positif dan konstruktif.</p><p>Perspektif liberalisme mengasumsikan bahwa kerja sama dan keterlibatan internasional mungkin terjadi, selama seluruh pihak mematuhi norma-norma global dasar.</p><p>Robert Jackson dan Georg Sorensen dalam buku Pengantar Studi Hubungan Internasional (1999) menjelaskan bahwa perspektif liberalisme percaya hubungan internasional bersifat kooperatif, alih-alih konfliktual seperti yang dijelaskan dalam perspektif realisme.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-23 01:37:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3132154751</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Prespektif Liberalisme dalam Hubungan Internasional</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3132219324</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Ratih Amelia</strong></p><p><strong>NIM : E011241031</strong></p><p><strong>Prodi : Administrasi Publik</strong></p><p><br/></p><p>Liberalisme dalam Hubungan Internasional adalah salah satu paradigma utama yang berusaha menjelaskan bagaimana negara-negara berinteraksi satu sama lain. Berbeda dengan realisme yang menekankan pada konflik dan kekuasaan, liberalisme lebih optimis dan melihat potensi kerjasama serta saling ketergantungan antar negara<strong>.</strong></p><p><br/></p><p>Contoh Penerapan Liberalisme dalam Dunia Nyata:</p><p><br/></p><p>1) <strong>Pembentukan organisasi internasional</strong>: PBB, WTO, dan Uni Eropa adalah contoh nyata dari institusi internasional yang didirikan berdasarkan prinsip-prinsip liberalisme.</p><p>2)<strong> Kesepakatan perdagangan bebas: </strong>Perjanjian perdagangan bebas seperti NAFTA dan ASEAN adalah contoh kerjasama ekonomi yang didorong oleh liberalisme.</p><p>3) <strong>Diplomasi dan negosiasi</strong>: Liberalisme menekankan pentingnya diplomasi dan negosiasi sebagai alat untuk menyelesaikan konflik dan mencapai kesepakatan.</p><p><br/></p><p>Liberalisme menawarkan perspektif yang berbeda dalam memahami hubungan internasional. Meskipun memiliki kritik, liberalisme tetap menjadi salah satu paradigma yang paling berpengaruh dalam studi hubungan internasional. Dengan memahami prinsip-prinsip dasar liberalisme, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dinamika hubungan antar negara dan potensi untuk menciptakan tatanan internasional yang lebih damai dan sejahtera<strong>.</strong></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-23 02:18:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3132219324</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Strukturalisme</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3139655468</link>
         <description><![CDATA[<p>Ghea Dwi Evania Dasa'</p><p>E031241038</p><p>Sosiologi</p><p><br/></p><p>Strukturalisme adalah keyakinan bahwa fenomena kehidupan manusia yang tidak dimengerti kecuali melalui keterikatan antara mereka. Semua masyarakat dan kebudayaannya mempunyai satu struktur yang sama dan tetap. </p><p><br/></p><p>Prinsip : mengutamakan relasi daripada esensi dan kurang menganggap penting peran individu dibanding peran sistem.  </p><p><br/></p><p>Jenis : </p><ul><li><p>- Strukturalisme Formalis</p></li><li><p>- Strukturalisme Dinamik</p></li><li><p>- Strukturalisme Genetik</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-26 05:40:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3139655468</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3144358223</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Alfito Rama Darmawan</p><p>NIM: E011241034</p><p>PRODI: Administrasi Publik</p><p><br/></p><p>Realisme adalah tradisi teoritik yang mendominasi studi hubungan internasional selama masa Perang Dingin. Pendekatan teoritik ini menggambarkan hubungan internasional sebagai suatu pergulatan memperebutkan kekuasaan diantara negara-negara yang masing-masing mengejar kepentingan nasionalnya sendiri dan umumnya pesimistik mengenai prospek upaya penghapusan konflik dan perang. Realisme mendominasi masa Perang Dingin karena gagasan ini bisa memberi penjelasan yang sederhana tetapi cukup meyakinkan mengenai perang, aliansi, imperialisme, hambatan terhadap kerjasama, dan berbagai fenomena internasional, dan karena penekanannya pada kompetisi waktu itu sesuai dengan sifat pokok persaingan AS-Uni Soviet (US). Realisme memang bukan teori tunggal dan pemikiran realis selama masa Perang Dingin telah mengalami perubahan. Realis “klasik” seperti Hans Morgenthau dan Reihold Niebuhr yakin bahwa, seperti halnya makhluk manusia, setiap negara memiliki keinginan naluriah untuk mendominasi negara-negara lain, sehingga membuat mereka berperang. Morgenthau juga menekankan peran penting dari sistem perimbangan kekuatan multi-polar klasik dan memandang sistem bipolar yang memungkinkan persaingan sengit antara AS dan US sebagai sistem yang sangat berbahaya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-29 11:58:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/hifisipunhas/twhmkk83jnil7isx/wish/3144358223</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
