<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>HASIL DISKUSI KELOMPOK: PERLAWANAN INDONESIA TERHADAP KOLONIALISME BANGSA BARAT by Erwansyah Nasrul Fuad</title>
      <link>https://padlet.com/ErwanLead/tpnz7clwlltszr8t</link>
      <description>Selamat Bekerja, dan buat sekreatif mungkin!!!</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2023-11-15 17:23:45 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-11-17 01:47:56 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f1f2-1f1e8.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Sultan Dayalu / Hidayatullah (Perlawanan Ternate terhadap Portugis tahun 1577) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ErwanLead/tpnz7clwlltszr8t/wish/2793277137</link>
         <description><![CDATA[<p>Latar Belakang : keserakahan  Portugis dalam menguasai perdagangan rempah-rempah dan tindakan Portugis yg berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat Ternate, Portugis ingin memonopoli  perdagangan, terjadi  konflik agama, portugis mencampuri  urusan internal kerajaan Ternate, pembunuhan  Sultan Khairun </p><p><br></p><p>Dampak : Portugis tersingkirkan  ke Pulau Timor, perginya  Portugis  membuka jalan bg bangsa Belanda untuk menanamkan kekuasaan nya, umat islam dan kristen hidup berdampingan </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-17 01:33:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ErwanLead/tpnz7clwlltszr8t/wish/2793277137</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sultan Ageng Tirtayasa, perlawanan VOC di Banten</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ErwanLead/tpnz7clwlltszr8t/wish/2793277233</link>
         <description><![CDATA[<p>Latar belakang: </p><p>Perlawanan VOC di Banten terjadi pada abad ke-17 ketika Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, berusaha menguasai daerah Banten di pulau Jawa, Indonesia. Perlawanan ini mencakup konflik militer dan politik antara VOC dan Kesultanan Banten. Faktor-faktor seperti persaingan ekonomi, kontrol perdagangan rempah-rempah, dan upaya VOC untuk memperluas wilayah kekuasaannya di Nusantara menjadi pemicu utama perlawanan ini.</p><p><br/></p><p>Dampak perang :</p><p>Perlawanan Banten terhadap VOC menunjukkan semangat juang dan nasionalisme rakyat Banten yang tidak mau tunduk kepada penjajah asing. Perlawanan ini juga menjadi inspirasi bagi perlawanan-perlawanan rakyat lainnya di Nusantara, seperti perlawanan Aceh, Paderi, Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan lain-lain.</p><p>Perlawanan Banten terhadap VOC mengguncang kekuatan dan kestabilan VOC di Nusantara. Perlawanan ini membuat VOC harus mengeluarkan banyak biaya dan tenaga untuk menghadapi Banten. Perlawanan ini juga mengganggu monopoli perdagangan VOC di kawasan pesisir Jawa. Perlawanan ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kemunduran dan kebangkrutan VOC pada abad ke-18.</p><p>Perlawanan Banten terhadap VOC menyisakan warisan budaya yang berharga bagi Indonesia. Perlawanan ini melahirkan tokoh-tokoh heroik yang patut dihormati dan diteladani, seperti Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Purbaya, Ki Gedeng Tapa, Syekh Yusuf, dan lain-lain. Perlawanan ini juga meninggalkan jejak-jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti Istana Surosowan, Keraton Kaibon, Masjid Agung Banten, Benteng Speelwijk, Makam Sultan Ageng Tirtayasa, dan lain-lain.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-17 01:33:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ErwanLead/tpnz7clwlltszr8t/wish/2793277233</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perang Jawa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ErwanLead/tpnz7clwlltszr8t/wish/2793279666</link>
         <description><![CDATA[<p>Tokoh : Sunan Mataram Pakubuwono 2</p><p>Latar Belakang : Setelah lama ditindas oleh pemerintah kolonial Belanda, etnis Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta) memberontak pada 7 Oktober 1740, sehingga menewaskan lima puluh tentara Belanda di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) dan Tanah Abang.[2] Pemberontakan ini dipadamkan oleh Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier, yang mengirimkan 1.800 pasukan, bersama dengan schutterij (milisi) dan sebelas batalion wajib militer, ke Meester Cornelis dan Tanah Abang; mereka menetapkan jam malam terhadap seluruh warga Tionghoa di dalam tembok kota tersebut agar mereka tidak dapat bersekongkol melawan Belanda.[2] Ketika 10.000 etnis Tionghoa dari sekitar Tangerang dan Bekasi dihadang di depan pintu gerbang pada hari berikutnya,[3] Valckenier segera mengadakan pertemuan darurat pada 9 Oktober.[4] Pada hari pertemuan tersebut, Belanda dan kelompok etnis lainnya di Batavia mulai membunuh seluruh etnis Tionghoa di kota tersebut, mengakibatkan sekitar 10.000 orang tewas dalam waktu dua minggu.[5]</p><p>Dampak Perang : Membagi wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dibawah kepemimpinan Pakubuwono 3 dan Kesultanan Yogyakarta dibawah kepemimpinan Mangkubumi</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-17 01:35:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ErwanLead/tpnz7clwlltszr8t/wish/2793279666</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perlawanan Terhadap Pemerintahan Hindia Belanda Di Sumatera Utara</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/ErwanLead/tpnz7clwlltszr8t/wish/2793280491</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Tokoh yang melawan adalah Sisingamangaraja </p></li><li><p>Latar belakang terjadinya perlawanan adalah setelah membentuk Karesidenan Tapanuli di tahun 1942, Belanda berusaha meluaskan kekuasaannya ke Dataran Tinggi Toba dan Dairi. Hal itu penting untuk keamanan Belanda di daerah pesisir, karena sering ada gangguan. Kesan yang ditinggalkan oleh pasukan Paderi di Toba juga berakibat adanya kecurigaan terhadap datangnya orang-orang asing, seperti yang dialami penyiar-penyiar agama Kristen sebelum Nomensen.</p></li><li><p>Dampak dari perlawanan, Sisingamangaraja tewas pada 17 Juni 1907 saat disergap oleh sekelompok anggota Korps Marsose, sebuah pasukan khusus Belanda. Turut gugur juga yaitu putranya, Patuan Nagari Sinambela, Patuan Anggi Sinambela, dan Lopian br. Sinambela. Sisingamangaraja kemudian dikebumikan oleh Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-17 01:36:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ErwanLead/tpnz7clwlltszr8t/wish/2793280491</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
