<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>My stunning stream by spoocrew archive</title>
      <link>https://padlet.com/spoocrew/s8qiz2t5p7v0</link>
      <description>Made with fortitude</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2018-09-01 14:54:50 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-06-19 02:25:03 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet-assets.s3.amazonaws.com/icons/Bigthunderstorm.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Jembatan Ancol</title>
         <author>spoocrew</author>
         <link>https://padlet.com/spoocrew/s8qiz2t5p7v0/wish/277083132</link>
         <description><![CDATA[<div>Jembatan Ancol sampai kini masih diyakini sebagai salah satu lokasi angker di Jakarta Utara. Jembatan tersebut berlokasi di Jalan RE Martadinata, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara atau bisa ditemui usai melewati Kampung Bahari. Jembatan tersebut juga diberi nama Jembatan Goyang. Konon disebut jembatan goyang lantaran setiap pengendara yang melintas merasakan goncangan cukup kuat sampai bergoyang.<br><br>Jembatan goyang diyakini jadi lokasi bermain hantu Maryam (nama aslinya adalah Siti Ariah, Maryam merupakan nama yang digunakan untuk film dan sinetron Si Manis Jembatan Ancol di tahun 1993) atau Si Manis. Bunyi klakson dari setiap pengendara yang melintas jadi pertanda angkernya jembatan goyang. Terlebih di malam hari. Selain lampu penerangan yang kurang, pagar jembatan goyang hanya sekitar satu meter dan berdiri di atas laut Ancol.<br><br>"Di sini jatuhnya masih masuk kawasan mainnya Si manis sampai sini. Kalau malam- malam lewat sini, ya klakson 3 kali. Percaya nggak percaya dari pada nyungsep ke laut. Saya pernah lihat taksi nyemplung ke laut," kata Kurniawan yang diwawancarai sebuah media, Jumat 21 April 2017.<br><br>Bang Haji Awan, sapaan Kurniawan, mengaku sejak duduk sekolah menengah pertama (SMP) sudah diingatkan kedua orang tuanya untuk membunyikan klakson jika melintas jembatan goyang.<br><br>Namun, dirinya mengaku tidak pernah melihat langsung kehadiran hantu Si Manis. Tapi setiap melintasi jembatan goyang seolah matanya diarahkan ke pinggir jembatan dan merasakan ada sosok wanita yang memperhatikannya.<br><br>"Makanya kenapa saya klakson tadi itu emang sudah kebiasaan dari dulu. Sering juga di sini kecelakaan. Mulai motor jatuh sampai yang kelindes (truk) kontainer. Mata tuh arahnya ke laut aja, terus suka merinding aja kaya lagi dilihatin. Pikirannya takut ada cewek minta bonceng aja," imbuh dia lagi.<br><br>Selain Si Manis, dia juga mendapat cerita bahwa ada mahluk tinggi besar hitam yang menjaga jembatan goyang. Warga mengenalnya dengan sebutan Jin Volker. Nama Volker diambil dari daerah yang tidak jauh dari lokasi jembatan goyang dan mengarah ke laut.<br><br>"Iya pokoknya ceritanya kalau lewat jembatan ini tiba-tiba gelap, ya itu katanya Jin Volker lagi main di sini, makannya orang yang nggak klakson atau waspada biasanya nyungsep diarahin ke laut," ujar Bang Haji Awan.<br><br>Sekilas tak ada perbedaan yang menonjol antara jembatan goyang dengan jembatan di lokasi lain. Jembatan goyang berada di bibir jembatan Solo Bone yang menjadi lokasi kapal-kapal bersandar. Jembatan goyang diketahui pernah ambles pada September 2010.<br><br>Kurniawan melanjutkan, menurut sebagian orang, amblesnya jembatan goyang saat itu karena Si Manis marah lalu menyuruh siluman buaya putih mematahkan jembatan dengan mengibaskan buntutnya. Namun menurut dia, saat itu jembatan kemungkinan tergerus air laut yang seringkali naik saat kapal sandar.<br><br>"Dulu pas ambles katanya gitu ada yang lihat buaya putih lewat. Tapi kalau menurut saya, itu kan kalau kapal mendarat airnya ngombak tuh, nah itu air lautnya ngantem jembatan," ujar dia.<br><br>Pengendara lain, Ridho Tanjung, mengaku melihat jembatan goyang ambruk. Saat itu dia tengah menuju pulang dari kantornya di kawasan Gajah Mada jakarta Pusat, ke rumahnya di Cilincing.<br><br>"Subuh-subuh waktu itu saya abis pulang kerja. Ya waktu itu banyak warga yang cerita malam sebelum kejadian ada yang lihat buaya putih," tutur dia.<br><br>Dia menuturkan, kawasan jembatan goyang memang terkenal seram dan rawan. Apalagi di malam hari. Beberapa aksi penodongan pun tak jarang diawali pelaku mengikuti korbannya dari jembatan goyang.<br><br>"Nggak heran di sini seram. Udah gitu rawan juga kan kadang ada yang nodong, begal di sini. Gelap jalan, terus kalau kecelakaan ya mungkin ada yang lihat hantu atau gak karena jalan licin kan," ujar dia.<br><br>Tidak jauh dari jembatan goyang, tepatnya di pinggir Jalan RE Martadinata, terdapat bangunan kosong tak berpenghuni. Jendela dan pintu ditutup olehw triplek dan dipaku. Menurut dia, bangunan itu dulunya dijadikan pos polisi.<br><br>"Itu pos polisi aja kosong kan nggak dipakai. Ya seram juga kali di sini. Setahu saya itu emang pos polisi," tutur dia.<br><br>Terdapat bangunan pos polisi itu seperti sudah lama kosong. Pos polisi itu berdiri tepat di depan Kampung Bahari atau sekitar 50 meter sebelum jembatan goyang. Di lokasi itu polisi sering melakukan penggerebekan narkoba.<br><br>Sejarah mengatakan, pada awal abad 19, zaman Hindia Belanda, di Batavia, hidup Mak Emper dan dua anaknya, Mpok dan Siti Ariah. Mereka tinggal di sebuah paviliun milik seorang juragan kaya.<br><br>Saat Ariah berusia 16 tahun, sang juragan berniat menikahi Ariah. Namun, Ariah tidak mau dengan alasan selain hanya akan menjadi selir, ada kakak Ariah, Mpok Ariah belum menikah. Maka, Ariah pun kabur dari rumah untuk menghindari sang juragan kaya.<br><br>Dalam pelariannya itu ternyata berjumpa Oey Tambahsia, seseorang yang terkenal kaya raya di Batavia saat itu, ia punya vila di kawasan Bintang Mas (sekarang daerah Ancol), memergoki Ariah. Ibaratnya Ariah keluar dari kandang macan masuk ke sarang buaya, Oey juga mata keranjang.<br><br>Oey yang dikenal suka mengoleksi perempuan muda pun begitu terpesona dengan kecantikan yang dimiliki oleh Siti Ariah. Maka, Oey memerintahkan dua orang centengnya untuk menangkap Siti Ariah.<br><br>Ariah berlari dan memberikan perlawanan yang sangat hebat kepada dua centeng bernama Pi’un dan Surya itu. Hingga akhirnya, di Bendungan Dempet dekat Danau Sunter yang waktu itu terkenal sangat angker, menjadi saksi tewasnya Ariah di tangan kedua centeng tersebut.<br><br>Jenazahnya dibuang di area persawahan, sekitar 400 meter dari Jembatan Ancol. “Peristiwa itu terjadi pada 1817,” kata Ridwan Saidi, tokoh Betawi yang melakukan penelitian tentang legenda Ariah dari saksi-saksi hidup pada tahun 1955-1960.<br><br>Berangkat dari kisah tersebut, di sekitar Sunter dan Ancol sering terjadi penampakan gadis manis yang dipercaya sebagai hantu dari Siti Ariah yang gentayangan.<br><br>Banyak cerita mistis yang berkaitan dengan Si Manis Jembatan Ancol ini. Di tahun 60-an ketika daerah Ancol masih berupa empang-empang (tambak), seorang pendayung perahu pernah bertemu dengan Si Manis. Perempuan itu naik perahu malam-malam dan membayar pendayung tersebut dengan daun.<br><br>Penjual rokok di dekat pintu keluar Ancol, Anshori, mengaku pernah melihat Siti Ariah dari dekat. Ia membuka pertama kali kios rokoknya di sini pada 1990, tepatnya di samping jembatan goyang.<br><br>Saat itu malam Jumat, Anshori sedang menunggui kiosnya, agak gerimis. Sekitar pukul 1 pagi, lewat seorang perempuan. Ketika sudah agak jauh, perempuan itu berbalik arah menghampiri kios Anshori sembari tersenyum. Anshori menyapa perempuan yang dikiranya calon pembeli dagangannya itu. Jarak Anshori dengan perempuan itu kira-kira 50 cm.<br><br>Menurut Anshori, perempuan itu berwajah manis, serta memakai kemeja kuning dan rok abu-abu. Setelah ditanya hendak belanja apa, perempuan itu menghilang.<br><br>Pada 1995, seorang pelukis di Ancol didatangi seorang perempuan yang meminta dilukis. Ketika itu hari telah gelap dan gerimis mulai turun. Sesuai permintaan perempuan tersebut, sang pelukis mulai menyapukan kuasnya pada permukaanw kanvas. Namun, saat sang pelukis baru menggambar setengah bagian tubuhnya, perempuan itu menghilang. Warga percaya bahwa perempuan itu adalah Si Manis Jembatan Ancol.<br><br>Dalam buku Ketoprak Betawi terbitan Intisari (2001), budayawan Betawi Ridwan Saidi berbagi cerita tentang asal-usul dari kisah hantu manis ini. Saidi mengawali ceritanya tentang koran-koran tahun 1950-an seperti Keng Po yang memuat berita tentang banyaknya kecelakaan lalu lintas di Jembatan Ancol.<br><br>Tak jarang, kecelakaan itu menimbulkan korban jiwa.<br><br>Sebagian penumpang atau sopir yang selamat kemudian berbagai kisah tentang penyebab kecelakaan yang biasanya terjadi di malam hari tersebut. Mereka mengisahkan tentang sosok perempuan cantik yang terlihat berdiri seorang diri di tengah jembatan. Beberapa saksi mengatakan, perempuan tersebut terkadang menyeberang jalan.<br><br>Nah, keberadaan sosok inilah yang dituding sebagai penyebab terjadinya kecelakaan. Para pengemudi kerap terpesona dengan dengan kecantikan si perempuan cantik ini sehingga tanpa sadar mobil mereka keluar dai badan jalan, menabrak pohon, atau terjungkal. Beberapa koran Belanda seperti Java Bode menduga, keberadaan perempuan cantik itu hanyalah halusinasi dari para sopir yang sudah kelelahan. Namun masyarakat terlanjur percaya bahwabitu adalah ulah Si Manis. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/308444299/72116239f7a4bb83091207b224a2d9eb/images__4_.jpeg" />
         <pubDate>2018-09-01 14:55:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/spoocrew/s8qiz2t5p7v0/wish/277083132</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rangkuman</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/spoocrew/s8qiz2t5p7v0/wish/277218337</link>
         <description><![CDATA[<div>Narasi pembukaan:</div><div>Jembatan Ancol sampai kini masih diyakini sebagai salah satu lokasi angker di Jakarta Utara. Jembatan tersebut berlokasi di Jalan RE Martadinata, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara atau bisa ditemui usai melewati Kampung Bahari. Jembatan tersebut juga diberi nama Jembatan Goyang. Konon disebut jembatan goyang lantaran setiap pengendara yang melintas merasakan goncangan cukup kuat sampai bergoyang.</div><div><br></div><div>Jembatan goyang diyakini jadi lokasi bermain hantu Maryam (nama aslinya adalah Siti Ariah, Maryam merupakan nama yang digunakan untuk film dan sinetron Si Manis Jembatan Ancol di tahun 1993) atau Si Manis. Bunyi klakson dari setiap pengendara yang melintas jadi pertanda angkernya jembatan goyang. Terlebih di malam hari. Selain lampu penerangan yang kurang, pagar jembatan goyang hanya sekitar satu meter dan berdiri di atas laut Ancol.</div><div><br></div><div>Cerita:</div><div>Sejarah mengatakan, pada awal abad 19, zaman Hindia Belanda, di Batavia, hidup Mak Emper dan dua anaknya, Mpok dan Siti Ariah. Mereka tinggal di sebuah paviliun milik seorang juragan kaya.</div><div><br></div><div>Saat Ariah berusia 16 tahun, sang juragan berniat menikahi Ariah. Namun, Ariah tidak mau dengan alasan selain hanya akan menjadi selir, ada kakak Ariah, Mpok Ariah belum menikah. Maka, Ariah pun kabur dari rumah untuk menghindari sang juragan kaya.</div><div><br></div><div>Dalam pelariannya itu ternyata berjumpa Oey Tambahsia, seseorang yang terkenal kaya raya di Batavia saat itu, ia punya vila di kawasan Bintang Mas (sekarang daerah Ancol), memergoki Ariah. Ibaratnya Ariah keluar dari kandang macan masuk ke sarang buaya, Oey juga mata keranjang.</div><div><br></div><div>Oey yang dikenal suka mengoleksi perempuan muda pun begitu terpesona dengan kecantikan yang dimiliki oleh Siti Ariah. Maka, Oey memerintahkan dua orang centengnya untuk menangkap Siti Ariah.</div><div><br></div><div>Ariah berlari dan memberikan perlawanan yang sangat hebat kepada dua centeng bernama Pi’un dan Surya itu. Hingga akhirnya, di Bendungan Dempet dekat Danau Sunter yang waktu itu terkenal sangat angker, menjadi saksi tewasnya Ariah di tangan kedua centeng tersebut.</div><div><br></div><div>Jenazahnya dibuang di area persawahan, sekitar 400 meter dari Jembatan Ancol. “Peristiwa itu terjadi pada 1817,” kata Ridwan Saidi, tokoh Betawi yang melakukan penelitian tentang legenda Ariah dari saksi-saksi hidup pada tahun 1955-1960.</div><div><br></div><div>Sekilas tak ada perbedaan yang menonjol antara jembatan goyang dengan jembatan di lokasi lain. Jembatan goyang berada di bibir jembatan Solo Bone yang menjadi lokasi kapal-kapal bersandar. Jembatan goyang diketahui pernah ambles pada September 2010.</div><div><br></div><div>Kurniawan melanjutkan, menurut sebagian orang, amblesnya jembatan goyang saat itu karena Si Manis marah lalu menyuruh siluman buaya putih mematahkan jembatan dengan mengibaskan buntutnya. Namun menurut dia, saat itu jembatan kemungkinan tergerus air laut yang seringkali naik saat kapal sandar.</div><div><br></div><div>Yang mendukung teori ini ialah kesaksian dari seorang warga yang menyatakan ia menyaksikan buaya putih lewat saat jembatan ambles.</div><div><br></div><div><br></div><div>Penampakan:</div><div>Berangkat dari kisah tersebut, di sekitar Sunter dan Ancol sering terjadi penampakan gadis manis yang dipercaya sebagai hantu dari Siti Ariah yang gentayangan.</div><div><br></div><div>Yang kepertama berasal dari seorang pendayung perahu, ia melihat seorang perempuan tengah naik perahu malam-malam dan membayar pendayung tersebut dengan daun.</div><div><br></div><div>Yang kedua berasal dari seorang penjual rokok di dekat pintu keluar Ancol, Anshori, mengaku pernah melihat Siti Ariah dari dekat. Ia membuka pertama kali kios rokoknya di sini pada 1990, tepatnya di samping jembatan goyang.</div><div><br></div><div>Saat itu malam Jumat, Anshori sedang menunggui kiosnya, agak gerimis. Sekitar pukul 1 pagi, lewat seorang perempuan. Ketika sudah agak jauh, perempuan itu berbalik arah menghampiri kios Anshori sembari tersenyum. Anshori menyapa perempuan yang dikiranya calon pembeli dagangannya itu. Jarak Anshori dengan perempuan itu kira-kira 50 cm.</div><div><br></div><div>Menurut Anshori, perempuan itu berwajah manis, serta memakai kemeja kuning dan rok abu-abu. Setelah ditanya hendak belanja apa, perempuan itu menghilang.</div><div><br></div><div>Kemudian ada juga pernyataan dari seorang pelukis di Ancol yang didatangi seorang perempuan yang meminta dilukis. Ketika itu hari telah gelap dan gerimis mulai turun. Sesuai permintaan perempuan tersebut, sang pelukis mulai menyapukan kuasnya pada permukaanw kanvas. Namun, saat sang pelukis baru menggambar setengah bagian tubuhnya, perempuan itu menghilang. Warga percaya bahwa perempuan itu adalah Si Manis Jembatan Ancol.</div><div><br></div><div>Menurut hasil wawancara penduduk sekitar, kalau malam-malam mau melewati Jembatan Goyang maka harus mengklakson 3 kali.</div><div><br></div><div>Ada yang mengatakan bahwa setiap melintasi jembatan ini, matanya seolah diarahkan ke pinggir jembatan dan merasakan ada sosok wanita yang memperhatikannya. Juga ada yang mengatakan mereka pernah melihat taksi nyemplung ke laut.</div><div><br></div><div>Penutup :</div><div>Tak jarang terjadinya kecelakaan di Jembatan Goyang yang menimbulkan korban jiwa. Korban jiwa tersebut dikatakan matanya kerap mengarah ke laut.</div><div><br></div><div>Sebagian penumpang atau sopir yang melewati Jembatan Goyang mengisahkan tentang sosok perempuan cantik yang terlihat berdiri seorang diri di tengah jembatan. Beberapa saksi mengatakan, perempuan tersebut terkadang menyeberang jalan.</div><div><br></div><div>Nah, keberadaan sosok inilah yang dituding sebagai penyebab terjadinya kecelakaan. Para pengemudi kerap terpesona dengan dengan kecantikan si perempuan cantik ini sehingga tanpa sadar mobil mereka keluar dai badan jalan, menabrak pohon, atau terjungkal. Beberapa koran Belanda seperti Java Bode menduga, keberadaan perempuan cantik itu hanyalah halusinasi dari para sopir yang sudah kelelahan. Namun masyarakat terlanjur percaya bahwabitu adalah ulah Si Manis. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-09-03 03:37:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/spoocrew/s8qiz2t5p7v0/wish/277218337</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
