<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>[MERAKI] W6: Author Meet OC(s) by syaa</title>
      <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-08-08 04:40:35 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-08-29 04:20:02 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>[untitled]</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256532088</link>
         <description><![CDATA[<div><em>"u-ugh....d-dimana...."</em><br>&nbsp; &nbsp; Ruang hampa nan hening adalah tempat yang ia singgahi sekarang. Rasa sakit yang ada didalam kepalanya perlahan-lahan menghilang,pandangan yang awalnya kabur menjadi jelas kembali. ia mulai berdiri dengan sambil memerhatikan sekitarnya. <em>putih, hanya ruangan yg penuh dengan warna putih.</em> gumamnya,<br>&nbsp; &nbsp; Selangkah demi selangkah ia hentakan, tak tau menahun soal arah yang ingin ditempuh. Bagaimana ia bisa tau, dia saja tidak tau sekarang ada dimana.<br><br><em>"hiks hiks....huwaaa!!!"</em><br>&nbsp; &nbsp; Suara tangisannya memenuhi telinga bocah remaja yang tengah buta akan arahnya. Tersentak karna kaget, ia langsung menghampiri asal suara itu dengan harapan orang tersebut tau apa yg sebenarnya terjadi<br><br>"Hey, um...kau tidak apa-apa?"<br>&nbsp; &nbsp; Ia menepuk pundaknya yg tengah menangis tak karuan disana.<br>&nbsp; &nbsp; Rambut ungu ke biruan seperti krital yg menyala saat goa mempunyai kegelapan terdalamnya, diikal berwarna putih seputih salju dimusimnya. Dilihat dari pakaiannya, seperti abad pertengahan...apa yg terjadi disini. Isi fikirannya pada saat itu<br>&nbsp; &nbsp; Berdiri menghadapnya sambil mengelap air mata, ia kini bisa melihat jelas bentuk rupanya. Gadis kecil berkisaran tujuh atau delapan tahun dengan wajahnya yg putih bersih dan kalung bulan sabit yg menjadi sorotan matanya, lalu apa benda runcing di kepalanya? Apa itu tanduk? Lalu lingkaran diatasnya, itu halo? Oh tuhan apakah aku sudah mati? <br><br>"Um...nak,kau tau jalan keluar dari sini?"<br>&nbsp; &nbsp; Sepertinya agak janggal ia memanggil nya dengan sebutan nak, ia rasa mengenali gadis ini. Tetapi sepertinya ingatan tidak mendukungnya saat itu. Bagaimanapun, umurnya dengan umur gadis itu sangatlah berbeda.<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Tanpa berlangsung lama dan menjawab pertanyaannya, gadis itu lansung mengambil dan menarik tangganya dengan berlari kearah suatu putaran yang didalamnya seperti sebuah tempat dengan bunga bermekaran dimana-mana. Tunggu- apa? Itu apa? Dan taman? Apa maksud semua ini?. Pertanyaan yang ia ajukan untuk dirinya sendiri didalam hatinya.<br><br><br>"Yang mulia utsukushi, selamat pagi" <br><br>"Mirren, panggil biasa saja"<br><br>"Ahaha, baiklah kalau kakak bilang begitu"<br><br>&nbsp; &nbsp; Kicauan burung dan angin yg agak kencang bisa dirasakan oleh mereka yg tengah duduk menikmati secangkir teh dekat taman bunga mawar merah dipagi hari itu.<br><br>"Hah! Hah! Semua! Aku bawa teman baru!"<br><br>&nbsp; &nbsp; Suara nafas yg terengah-engah oleh gadis kecil itu sangat bisa terdengar olehnya. Sesosok perempuan dengan rambutnya yang seperti air tepi pantai yang berkilau dan terlihat sangat anggun,menghampiri gadis kecil itu dengan nada yg lembut serta heran. <br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Ah ya, sekarang aku ingat. Mereka adalah karakter yang aku ciptakan. Tapi bagaimana bisa aku ada disini? Mungkin ini hanyalah mimpi.<br><br>"Ah ya, siapa teman barumu ini?"<br><br>&nbsp; &nbsp;Ia sempat kaget karna lamunanya, tak berlangsung lama ia pun menjawabnya<br><br>"Milly...."<br>&nbsp; &nbsp;Dengan nada canggung, ia lontarkan kepadanya dengan senyuman yang agak meragukan. Seorang pria yg hampir sama dengan gadis itu berdiri tegap menghapiri milly lalu diselipi dengan senyumnya yang khas.<br><br>"Milly ya? Nama yang indah, saya mirren de lebrande obelia. Ini adalah kakakku, utsuki dan yg disamping anda itu adalah adikku yg punya nama sama seperti saya. mau bergabung dengan kami? Kami baru saja memulai acara minum teh"<br>&nbsp; &nbsp; Ia melebarkan matanya seolah-olah tidak percaya apa yg tengah terjadi sekarang. dengan senyumannya yg lembut, ia pun menggabguk dengan diselipi suatu kalimat.<br><br><em>ya, tentu saja saya mau....</em><br><br><br><br>ᴛʜᴇ ᴇɴᴅ.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 09:00:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256532088</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Arsip 001 (2015); Sherin Shepia</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256532873</link>
         <description><![CDATA[<div>Author name: Arkana<br>___<br><br>Ini hari kesekian cuti asramaku.Aku menghabiskannya dengan pulang ke rumah orang tua, meninggalkan tanah rantauan. Tadi pagi, sambil merapikan kamar, mataku menangkap satu kotak yang didekorasi dengan manis. Penasaran akan isinya, aku menyeret kursi putar dan naik untuk mengambil kotak itu. Ringan, kotak itu berbunyi seperti kaleng beras ketika kutarik dari tempatnya. Aku melupakan sejenak bersih-bersihnya, mengalihkan seluruh perhatianku pada kotak bertuliskan "IV" itu.<br><br>'<em>Aku tak ingat pernah menciptakan dunia yang satu ini,</em>' batinku yang sedang membuka kotak sepatu penuh manik-manik yang 7 tahun ini tersimpan di atas rak bukuku. Sambil telentang di karpet abu-abu, aku membaca lembar perlembar kertas garis-garis dengan cap berbentuk globe oval. Kertas-kertas itu menampilkan tulisan cakar ayam dengan ilustrasi bergaris acak-acakan. <br><br><em>SHERIN</em>.<br>Ilustrasi seorang gadis kecil menyertai baris-baris biodata itu. Aku tak mengingat siapa anak ini. Ia terlihat seperti orang sakit jiwa yang akan menyumpahi setiap orang yang mengganggunya.<br><br><em>SHEPIA</em>.<br>Terlihat mirip dengan yang sebelumnya. Hanya berbeda warna, anak ini terlihat lebih cerah. Aku tersenyum simpul. Dinamika hubungan yang klasik. Sang rembulan dan mataharinya<br><br><em>CHAKRA.<br>ARIN.<br>GARDHA.<br>CENDANA.</em><br><br>Belasan nama yang tak kukenali memenuhi lembaran tua itu. Belasan nama yang selama ini tak kugunakan di setiap ceritaku. <br><br><em>Tep!</em><br>Listrik rumah ini mati. Jendela kaca yang terbuka tanpa ganjalan berdebam ketika angin menerpanya kuat.<br>Aku bangkit berdiri. Bergegas menuruni tangga menuju ke bawah. Apa yang terjadi? Aku tak ingat memiliki tangga spiral panjang di rumah minimalis ini. Kakiku terus melangkah setengah berlari menuruni ratusan anak tangga itu.&nbsp;<br><br>"Duniamu sangat sederhana, benar?"<br>Gema suara seorang gadis memekakkan telinga. Membuatku kehilangan keseimbangan. Kakiku meleset, tak menapak pada anak tangga yang seharusnya. Aku tak memekik, jatuh begitu saja ke hamparan manik-manik.<br><br>"Arsip 001, selamat datang, Arkana." Gema itu lagi. Ruang ini terasa pengap dan sesak, berdinding kardus. Ini kotak sepatu, arsip 001 tahun 2015. Saat itu, aku tahu aku bermimpi. Belasan orang buruk rupa mendekatiku dengan wajah yang miring sana sini. Mereka seperti lembaran kertas yang bergerak tak teratur.&nbsp;<br><br>Aku berlari dari mereka, tersudut di sisi kardus. Tak bisa kemana-mana lagi.<br><br>Bingung dengan segalanya, aku memutuskan untuk menutup mata. Lalu membukanya hanya untuk mendapati diriku duduk di kursi kayu ruang belajar asrama putra. Kosong, seluruh siswa sudah tertidur pukul 02.00 malam Minggu begini.&nbsp;<br><br>Di meja belajarku tertulis hitung mundur hari cuti. Dan beberapa buku yang tersusun rapi. Tak ada kotak sepatu penuh manik-manik cantik. Aku tertawa kecil. Melirik gadis kembar berambut hitam sebahu di belakangku.<br><br>"Kau masih mengingat dunia sederhanamu, Arkana." Mereka tersenyum membaca ketikan di layar laptopku.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 09:03:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256532873</guid>
      </item>
      <item>
         <title>We all have same pain</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256533217</link>
         <description><![CDATA[<div>Author name : Kayza<br>___<br><br>"Anjir ini dimana coeg?!"<br><br>"Lu siapa?"<br><br>"Berisik sekali... KALIAN BISA PADA TENANG GAK SIH?!"<br><br>"Nek... Nana mau pulang...!"<br><br>Beberapa remaja berada di satu ruangan besar semacam aula (ada yang dewasa, tapi hanya 1 orang).<br><br>Ada yang bingung, ngajak gelud, saling bertanya satu sama lain, bahkan tidur di lantai pakai sleeping bag karena tidak peduli dengan keadaan.&nbsp;<br><br>"Hai semuanya! Maaf karena tiba-tiba membuat kalian datang ke sini."<br><br>Terlihat dari ujung ruangan, ada seorang gadis dengan jaket hitam, kaus kuning, dan celana training abu-abu. Dia memiliki rambut panjang yang diikat dan kulit sawo matang. Beberapa dari mereka merasa jengkel saat melihat gadis itu, kecuali...<br><br>"Halo Min Kay! Aku kangen banget plis! Udah SMK gak ngajak-ngajak sih, masa aku masih SMP kelas 1 hiks!" Ucap Geena, anak berambut hitam dengan poni serta mata merah. Dia memeluk penciptanya dengan rasa senang serta gemas, karena dia adalah karakter pertama yang dibuat sekaligus termuda diantara yang lain.&nbsp;<br><br>"Nanti kamu juga SMA kok, kan ada timeskip."<br><br>"Tapi aku maunya SMK aja kayak author, biar aku bisa langsung kerja dan gak bergantung lagi sama uang pensiun nenek."<br><br>"Nanti aku pikirin ya."<br><br>"Yey!"<br><br>"Tch, ngapain lu bawa gw dan OC lain ke sini? Gw udah capek sama elu, tau gak?!" Laki-laki culun berambut cokelat tua dengan baju SMA dan rompi biru kehijauan akhirnya angkat bicara. Mata hitamnya menatap dingin dan benci ke arah si gadis, tangannya sudah memegang pisau tajam yang siap untuk membunuh siapa pun.&nbsp;<br><br>"Aku benar-benar harus membunuhmu..." Anak itu langsung melepaskan lensa kontaknya dan memperlihatkan mata oranye kemerahannya. Dia berjalan mendekati Geena dan Kayza. "Akan kubuat kau menderita, aku akan mendengarkan keinginan bisikan-bisikan itu." Ucapnya. "Jika kau mati, penderitaan Mama dan semua sahabatku akan berakhir."<br><br>"Asher, hentikan. Jangan buang-buang waktumu."<br><br>Noah langsung menghentikannya. Si rambut biru keabu-abuan mencegatnya dan mengatakan, "Kau tau kalau kau tidak bisa membunuhnya, kan? Identitasmu sebagai pembunuh berantai nanti malah ketahuan sama ketiga sahabatmu di belakang. Aku juga ingin menghajarnya, tapi buat apa? Kita ini tidak nyata."<br><br>"Aku tau, lagipula ingatan kita selama disini akan dihapus... Aku tidak peduli jika mereka tau aku ini iblis atau pembunuh." Asher langsung menepis tangan Noah dan tetap ingin membunuh.<br><br>Geena masuk posisi bertahan dan melindungi penciptanya. "Kau membencinya karena kau tidak tahu apa yang dia rasakan! Kau pikir hanya kau saja yang dikhianati sahabatmu sendiri dan trauma? Dia juga mengalaminya!"<br><br>"Kita tidak hanya dibuat untuk cerita atau peran roleplay author, tapi penyaluran rasa sakit dan kebahagiaan yang pernah diterima author. Kita memiliki apa yang author miliki, misalkan sahabat. Aku hanya memiliki 3 teman dekat karena saat aku diciptakan, dia hanya punya 3."<br><br>"Kak Asher, kakak punya banyak sahabat kan? Kakak juga punya mantan sahabat yang pernah mengkhianati kakak sehingga bikin kakak trauma. Author juga pernah dikhianati oleh sahabatnya waktu SD dan satu sekolah dengannya saat SMP."&nbsp;<br><br>Semua main character langsung melihat ke arah gadis penulis itu. "Jadi kau menciptakan kita semua berdasarkan pengalaman dan sifatmu?" Tanya Asher dengan wajah sedikit terkejut, dia merasa sedikit bersalah setelah mendengar perkataan Geena. Kayza mengiyakan jawabannya dengan anggukan kepala ringan.<br><br>"Rayris berasal dari sifat malasmu... aku, Geena, dan Kuroo berasal dari hobi dan kesukaanmu terhadap anime dan komik... Noah memiliki sifat ramahmu, sedangkan Miku dan Vassol punya kepolosanmu waktu SD. Aku mengerti sekarang..."<br><br>Kayza menghelakan napasnya dan bilang, "Aku sangat minta maaf karena membuat kalian semua menderita. Tapi ingat satu hal, aku tidak pernah mengganggap kalian hanya sebagai karakter di gambar ataupun tulisanku. Kalian adalah sahabat dalam mimpiku sekaligus salah satu alasan aku ingin berjuang. Terima kasih sudah membuat imajinasiku berwarna."<br><br>"Akhh! Aku lupa ini sudah waktunya kalian untuk kembali ke timeline dan universe kalian masing-masing! Aku juga harus bangun! Aku lupa mengerjakan tugas informatika dan matematikaku, orang tua dan adikku juga sedang pergi keluar kota sekarang ini!" Teriak Kayza dalam kepanikan setelah melihat waktu di jam tangannya. "Kalau begitu selamat tinggal semua! Sampai bertemu lagi!"<br><br>Mereka semua tersenyum lebar dan menghilang dari pandangan mata, begitu pula dengan author wibu bau bawang itu.&nbsp;<br><br>Sementara itu, setelah Kayza bangun dari tidurnya...<br><br><br><br>"ANJIR TUGAS CATATAN INFORMATIKANYA KOK BANYAK AMAT?!"</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 09:04:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256533217</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kami Percaya Padamu</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256534421</link>
         <description><![CDATA[<div>Author : kurozuki<br>___<br>⚠️ suicide<br><br>"Gelap, dimana ini?"<br><br>Aku terbangun di sebuah tempat yang aku tidak ketahui, dan yang paling mengherankan. Aku bahkan tidak ingat kenapa aku ada disini.<br><br>Aku mulai menyesuaikan pandanganku ke sekitar, ruangan remang - remang minim cahaya dengan tembok berwarna biru. Aku tidak menyadari bahwa sedaritadi ada yang mengawasiku di sudut ruangan yang gelap itu.<br><br>"Sudah bangun rupanya kau..."<br><br>Suara lelaki mengagetkanku, dengan reflek ku menoleh ke arah sumber suara. Seketika mendekat sebuah siluet orang berkacamata dengan perawakan tinggi dan aura yang mengintimidasi.<br><br>"Kamu siapa?"<br><br>Aku tidak ingat pernah mengenal lelaki berkacamata hitam didepanku ini, setidaknya untuk sesaat sebelum suatu nama terlintas di benakku.<br><br><em>Dark Holsein</em><br><br>Iya dia bernama Dark, nama yang aneh kan? Tentu saja. Karena aku sendiri yang menamainya itu.<br><br>"Jangan berbohong, kamu tahu namaku"<br><br>Nada suaranya terdengar mengejek. Membuatku kembali terdiam lalu aku berbisik pelan kepadanya.<br><br>"...kenapa aku ada disini, Dark?"<br><br>Aku sangat takut dengan jawaban yang dia berikan,&nbsp; Tapi aku sudah bersiap.<br><br>"Kamu...ingin berhenti" <br><br>Kata-katanya sangat ambigu. berhenti? Aku mencoba mengingat - ingat apa yang kulakukan sebelum aku berada di tempat ini.<br><br>"Kamu ingin semuanya berakhir"<br><br>Seketika terlintas lagi kejadian itu.<br><br><em>Dengan muka sembab, aku berada di kamar dan memegang sesuatu</em><br><br>Tapi, apa yang terjadi setelah itu? Aku ingin bertanya lagi tapi aku semakin takut untuk mendengarkan jawabannya.<br><br>"Aku antarkan saja kau pulang, ikuti aku"<br><br>Kali ini suaranya terdengar lembut. Aku hanya mengangguk dan mencoba mengikutinya dari belakang.<br><br>Kami melewati lorong gelap, lorong yang seperti tidak ada ujungnya dengan banyak sekali ruangan disampingnya.<br><br>Dia berhenti di salah satu ruangan. Ruangan ini terang, tidak seperti ruangan sebelumnya. Ruangan ini berwarna serba putih dengan sebuah pintu di tengahnya.<br><br>"Kamu bisa kembali melewati itu"<br><br>Dia menunjuk ke arah pintu itu, aku pun reflek melihat ke arah dia menunjuk dan hanya mengangguk.<br><br>"Jadi aku hanya perlu memasuki pintu itu?"<br><br>"Benar"<br><br>"Ah kuharap ini bukan <em>prank</em>"<br><br>Aku terkekeh, mencoba untuk bercanda dengannya. Tapi aku tidak benar - benar bisa melihat ekspresinya di balik kacamata hitam itu.<br><br>"Tidak, aku serius. Kau akan kembali setelah melewati pintu itu"<br><br>Dia tersenyum. Kurasa dia menyukai leluconku, pikirku. Aku hanya menatapnya sebentar lalu berbalik menatap ke arah pintu itu lagi.<br><br>"Sebelum itu, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu"<br><br>Aku menoleh lagi kepadanya. Mendengar dia ingin mengatakan sesuatu membuatku penasaran.<br><br>"Iya, kau mau mengatakan apa?"<br><br>Dia terdiam sejenak, mengalihkan pandangannya ke arah lain<br><br>"Aku ingin kau mengerti, bahwa kami masih peduli padamu"<br><br>"Kami ingin kau tidak berhenti, kami ingin kau terus berjuang. Meski menyakitkan."<br><br>Kata-kata itu menusukku, entah kenapa menusukku. Aku hanya menunduk, mencerna kata - katanya. <br><br>"Kami tahu kamu bisa, kami percaya padamu"<br><br>Sial, kata - katanya membuatku ingin berteriak padanya. Namun, aku mencoba menahan. <br><br>"Saatnya kau kembali, cepat masuk"<br><br>Dia menepuk bahuku lembut dan mendorongku ke depan pintu. Sebelum memasuki pintu aku melambaikan tangan dan berterima kasih padanya.<br><br>"Hei, terima kasih"<br><br>Dia hanya tersenyum, perlahan - lahan wujudnya kabur oleh sinar dari dalam pintu. <br><br>"Ah!"<br><br>Aku terbangun, kali ini aku berada di kamarku. Aku menoleh ke arah tangan kananku. Aku memegang benda yang familiar, sebuah gunting kecil.<br><br>"Uh, aku dikamar ya? Apa tadi mimpi?"<br><br>Pikiranku campur aduk tapi aku mencoba melupakan kejadian tadi. Aku bangkit dan akan meletakkan gunting kecil itu di mejaku, tetapi ada sesuatu hal yang menarik perhatianku. <br><br>Sebuah bingkisan kecil.<br><br>"Apa ini?"<br><br>Aku meraih bingkisan itu, terikat rapi dengan pita warna hijau, warna kesukaanku. Aku melihat sebuah kartu ucapan yang tergantung di pita itu. <br><br><em>"Kami percaya padamu" - dark</em><br><br>Aku yang melihatnya kemudian tersenyum lebar, tidak terasa bulir - bulir air mataku jatuh membasahi kartu itu.<br><br>"Terima kasih"<br><br><strong>End</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 09:06:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256534421</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tcalie</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256534718</link>
         <description><![CDATA[<div>author: naht hanzel<br>___<br><br><br>Derap langkah terdengar, diikuti dengan suara gonggongan anjing. Pemuda bermanik merah itu terus berlari, sesekali menoleh ke belakang di mana seekor anjing cukup besar mengejarnya.<br><br>Dia takut anjing.<br><br>Kakaknya pernah berkata bahwa, jangan pernah berlari saat melihat anjing jika tidak ingin dikejar. Tapi dia takut anjing! Tubuhnya selalu refleks berlari ketika melihat seekor anjingーbahkan jika itu hanya anak anjing kecil.<br><br>Walau pun begitu, wajahnya terlihat tenang dari waktu ke waktu. Hanya jika memandang wajahnya cukup lama, ada jejak ketakutan di kedua mata besarnya.<br><br><br>Pemuda ituーRafael, berlari cukup cepat hingga meninggalkan anjing besar itu jauh di belakangnya. Dia berhenti kala menyadari bahwa, anjing itu tidak mengejar dirinya lagi. Diam diam dia menghela nafas lega.<br><br>Rafael menetralkan nafasnya, menatap ke depan dan sekitarnya yang nampak asing, "Aku tersesat lagi ...?"<br><br>Hanya ada pepohonan dan beberapa perumahan dengan jarak yang cukup jauh. Sebentar lagi malam tiba, jika dia tidak bisa kembali sebelum makan malam, Rafael tidak bisa membayangkan seberapa kesal Edgar jika mengetahuinya nanti. Ah ... dan juga kakak dan papanya.<br><br>Dia berjalan perlahan menyusuri jalan beton setapak yang telah memiliki lubang, berusaha mencari penduduk untuk bertanya jalan pulang.<br><br>Rafael itu buta arah, bahkan jika dia bisa mengingat setengah jalannya, Rafael akan tetap tersesat.<br><br>Semakin jauh dia berjalan, semakin asing pula tempat yang dia lihat. Sebenarnya, ini bukan kali pertama Rafael tersesat, tetapi jika boleh jujur, dia tidak pernah tersesat terlalu jauh.<br><br>Tiba tiba seseorang menghampirinya, pemuda tinggi dengan manik heterochromia, eh ...? Seseorang dengan kedua mata berwarna berbeda benar-benar ada!<br><br>"Apa kamu tersesat? Mengapa kamu di sini sendirian?"<br><br>Tunggu, apa dia benar benar seorang laki-laki? Untuk ukuran seorang remaja lelaki sepertinya, suaranya terdengar terlalu lembut dan halus!<br><br>Rafael menatap kedua manik berbeda warna itu, "Bagaimana kamu tau?"<br><br>Orang itu terlihat sedikit terkejut sebelum membalas, "Aku baru pertama kali melihatmu di sini. Kamu juga terlihat kebingungan sebelumnya."<br><br>Pembohong yang buruk, pikir Rafael. Namun, sebaliknya pemuda itu tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu.<br><br>"Siapa namamu ...? Um, apa kamu tau jalan kembali ke Ibu Kota?"<br><br>"Seharusnya kamu memperkenalkan diri sebelum menanyakan namaku," ucap orang itu dengan nada halus, makin membuat Rafael meragukan gendernya, "Namaku Naht Hanzel. Jalan kembali ke Ibu Kota ... Zeal? Aku sepertinya tau. Omong-omong siapa namamu?"<br><br>Naht terus memperhatikan Rafael dengan tatapan teduhnya. Seperti yang diharapkan, Rafael-nya tidak pandai berbicara. Tapi walau pun, begitu, masih tetap nyaman berada di dekatnya.<br><br>"Ada baiknya kamu berhenti menatapku begitu, itu membuatku sedikit takut."<br><br>Semoga dia ingat untuk mengurangi sifat jujur Rafael saat kembali nanti.<br><br>"Namaku Rafael Agathea Er-lang, kamu bisa memanggilku Rafael," ucap Rafael dengan wajah tenang seperti biasa.<br><br>Rafael merasa orang ini agak aneh. Entah mengapa dia berpikir Naht bukanlah seseorang yang berasal dari sini. Seperti menampakkan kepala naga suatu ketika dan ekornya di lain waktu. Naht juga terasa akrab, seolah olah mereka pernah bertemu sebelumnya.<br><br>Mungkin ... hanya perasaannya saja.<br><br>Usapan di atas kepalanya membuat Rafael sadar dari lamunannya. Dia menatap Naht yang mengusap rambutnya, Rafael baru menyadari bahwa, dia mengerutkan keningnya.<br><br>"Apa yang kamu pikirkan hingga kening mu mengkerut seperti itu? Huh ... jangan buat kepalamu berpikir terlalu banyak!"&nbsp;<br><br>Rafael seperti mendengar omelan kakak perempuannya. Dia hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.<br><br>"Kamu tau jalan menuju Ibu Kota, kan?" tanya Rafael yang dibalas anggukan oleh Naht, "Kalau begitu bisa'kah kamu mengantarku pulang?"<br><br>Naht terlihat berpikir sebentar lalu mengangguk. Dia mengulurkan tangannya yang mengundang tatapan bingung Rafael. Pemuda bersurai silver itu menghela nafas pelan, dia benar benar harus membuat Rafael-nya lebih hidup!<br><br>Tanpa kata Naht menggenggam tangan Rafael, "Jika begini, kamu tidak akan menghilang dan tersesat lagi. Siapa tau ada seorang wanita atau pria yang ingin menculik anak manis sepertimu."<br><br><br>Seperti yang dia duga, Rafael tidak menolak. Anak baik!<br><br>Keduanya berjalan beriringan dengan Naht yang menggenggam tangan kecil Rafael. Ada perbincangan kecil di antara mereka.<br><br>"Kamu tau, aku memiliki adik kecil yang mirip denganmu," ucap Naht sambil sesekali melirik Rafael, melihat respon anak itu, "Dia sangat manis, tapi tidak pandai mengekspresikan perasaannya. Terkadang sangat lucu melihatnya ragu ragu untuk mengekspresikan diri."<br><br>Rafael mengerutkan bibir dan membalas, "Kamu terdengar jahat ...! Bukannya ... hal itu akan membuatnya merasa tidak nyaman ...?"<br><br>Tepat sekali!&nbsp;<br><br>Omong-omong, yang aku bicarakan adalah dirimu. Bagaimana kamu bisa berbicara dengan wajah poker seperti itu, padahal posisimu dan dia sama?! Pikir Naht, merasa agak sedikit frustrasi.&nbsp;<br><br>"Ya! Aku terkadang ingin memberi tahunya, jika tidak apa apa menolak dan menyuarakan isi hatinya. Tapi kamu tau, terkadang dia berpikir pendek dan memilih diam di saat jelas jelas dia merasa tidak nyaman."<br><br>Naht menyadari, Rafael tiba tiba mengeratkan genggamannya pada tangannya. Sepertinya, anak itu merasa tidak nyaman?<br><br>Rafael membalas dengan suara setenang air, "Kenapa ... kamu tidak mencoba berbicara dengannya ...?"<br><br>Dia menatap anak di sampingnya dengan pandangan yang sulit diartikan.&nbsp;<br><br>Pada saat ini, Naht sangat ingin mengatakan 'maaf, aku tidak bisa melakukannya', tetapi kata kata itu tergantung di tenggorokannya.&nbsp;<br><br>Pada saat yang bersamaan Naht melihat Rafael bergerak lebih dekat kepadanya. Dia juga melihat seekor anjing hitam yang cukup besar menatap mereka dari balik gang.<br><br>Ya, Naht ingat, Rafael takut anjing. Lucunya.<br><br>"Jika kamu takut anjing, bukannya lebih baik kamu mengatakannya? Aku bisa mengajakmu melewati jalan yang berbeda," kata Naht sambil menunggu balasan Rafael. Namun, setelah beberapa menit berlalu, anak itu tidak mengatakan sepatah kata pun.<br><br>Kebiasaan lama memang tidak bisa pernah berubah terlalu cepat, ya.<br><br>Mereka berjalan dengan keheningan yang canggung. Bahkan ketika melewati anjing tersebut, Rafael hanya mengeratkan pegangannya tanpa sepatah kata pun.<br><br>Hal ini membuat sudut mulut Naht berkedut. Setelah cukup jauh, dia berhenti dan menarik kedua pipi Rafael. Tentunya membuat anak menatapnya dengan sorot mata terkejut.<br><br>"U-uh ...?! Kenwapwa-"<br><br>Dia bahkan tidak bereaksi banyak?!<br><br>"Rafael! Lain kali katakan apa yang kamu rasakan. Tidak ada yang memarahi mu."<br><br>Aku tidak akan pernah membuat bagian itu, pikir Naht. Rafael menatap Naht dengan pandangan ragu.<br><br>"... Maawf?"<br><br>Naht menghela nafas pelan lalu melepas cubitannya. Dia mengusap rambut hitam lembut milik Rafael. Naht selalu ingin melakukan ini.<br><br>"Jangan meminta maaf, kamu tidak salah."<br><br>Naht yang salah.<br><br>Terasa sangat berbeda ketika dia hanya mengamati Rafael dari jauh dan berinteraksi langsung dengannya. Sepertinya, dia juga harus berinteraksi langsung dengan yang lainnya seperti ini.<br><br>"Rafael!" teriakan terdengar, menarik atensi keduanya. Naht dan Rafael menatap ke asal suara dan melihat seorang pemuda berlari ke arah mereka.<br><br>Itu Edgar, pelayan ... tidak, lebih tepatnya teman Rafael.<br><br>Naht menatap Rafael dan tersenyum, "Edgar sudah mencari mu. Sana temui dia, Edgar pasti merasa sangat panik ketika menyadari kamu menghilang lagi."<br><br>Rafael tidak melepaskan genggamannya, dia menatap Naht dengan banyak pertanyaan di benaknya. Orang ini, memang benar benar aneh.<br><br>"Temui Edgar dulu, aku akan memberi tahu mu nanti."<br><br>Dengan ragu anak itu melepaskan tangan Naht. Dia lantas berlari menghampiri Edgar yang telah siap mengomelinya itu. Diam diam dia melirik ke tempat Naht berdiri.<br><br>Namun, Rafael tidak melihat siapa pun. Naht telah pergi. Dasar pembohong.<br><br>-Fin-</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 09:07:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256534718</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Menyambut</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256535712</link>
         <description><![CDATA[<div>Author: Wahi<br>___<br><br><em>Tok tok tok</em><br><br>Ketukan pintu terdengar, membuat seisi Mansion menoleh memasang wajah bertanya-tanya, salah satu diantaranya beranjak menuju pintu tuk dibuka.<br><br>Seseorang perawakan remaja tengah berdiri dengan pakaiannya yang terlihat rapi, kedua mata si pembuka pintu melebar, ia sangat terkejut dengan tamu- tidak, bukan tamu, tapi. "Nawyan! Siapa itu? jangan membuat tamu menunggu disana —" pria yang berujar sebelumnya menyusul Pria bernama Nawyan yang membukakan pintu, ia langsung saja terdiam setelah melihat siapa yang berdiri diluar. "A- author?" Celetuknya bersamaan.<br><br>"Kalian ini bagaimana sih? Masa dengan penulis sendiri tidak disuruh masuk? Kaget sekali kelihatannya," alis si penulis terangkat sebelah, dengan wajah terheran, ia melangkah menarik kedua pria itu untuk dipeluk. "Aku tuh kangen kalian tau gak, jarang-jarang aku turun kemari." Kedua pria itu masih terkesiap, mereka sadar sedang didekap oleh penulisnya sendiri, sedikit lucu karena perbedaan tinggi antara penulis dan para karakter orisinalnya. <em>"Narator! Jangan membahas tinggi badan!" Ah... maaf. Penulis ini agak pemarah saat membahas tinggi badan. "Aku dengar itu!" Baik.</em> Dekapan antar ketiganya dilepas sepihak, Dua pria itu masih mengedip tidak percaya apa yang dilihatnya.<br><br>Pria berambut putih dalam ruangan pun mulai melangkah menghampiri mendengar percakapan dua pria yang berada diambang pintu, "Tuan Nawyan? Tuan Kamayel?" Pria berambut putih ini menoleh pada seseorang diluar, mencari sebab kenapa dua Pria ini masih diam ditempat. "Anda? Penulis disini...? Tidak saya sangka akan bertemu, biasanya hanya persona anda yang saya lihat. Masuklah." Nama pria ini Aeul, lebih lengkapnya Wynazlan Archaphaeul. Dia malaikat disini. Ucapannya yang ramah nan lembut, hawanya yang menenangkan hati dan pikiran, membuat orang yang berhadapan dengannya seolah tenang walau terkesan kaku.<br><br>"Aeul! Kamu tinggi sekali rupanya," Penulis ini mendongakkan kepalanya untuk melihat ketiga karakter orisinalnya, Dua pria yang sebelumnya terkesiap tersebut langsung meneguk ludahnya sendiri, seolah sedang gugup. "Ayo masuk," ujar Nawyan di sambil merangkul punggung si penulis dengan cara yang lembut, ia perlu agak membungkuk untuk mencapai penulisnya itu. <em>"Ekhem." Baik.</em><br><br>Kamayel, pria berumur 29 tahun itu sesekali melirik pada penulisnya sendiri, benaknya bertanya-tanya. <em>Apa yang ingin kamu lakukan disini? Apa aku kurang kuat sampai kamu harus turun?</em> Batinnya. Si penulis sendiri berlari berkeliling ruangan dengan semangat, tidak disangka mansion ini akan begitu luas. "Bagaimana kamu bisa masuk? Ditempat ini, gerbangnya sangat luas, pintu otomatis pun tidak kami pikirkan, Aeul pun harus keluar untuk membukakan gerbang."<br><br>"Kalian ini seperti tidak tahu bagaimana penulis mencari langkah, ya..." pandangannya tidak ia toleh pada pria bernama Kamayel, langkahnya juga tidak dibuat diam, ia terus melangkah memperhatikan sekeliling ditemani oleh Aeul disampingnya. Nawyan sendiri langsung menelungkup pada sofa dengan kepala sedikit terangkat melihat penulisnya sendiri yang tidak bisa diam, biasanya ia yang akan berjalan-jalan seperti itu, tetapi hari ini Nawyan baru kembali dari laut terdalam, Dirinya sedang kelelahan. Walau demikian, ia akan kembali aktif jika sedang ingin.<br><br>"Aku lebih nyaman memanggil mu dengan nama asli, daripada memanggil mu dengan nama pena, penulis," Kamayel berjalan menghampiri penulisnya itu, tubuhnya ia rendahkan dengan menekuk lutut seolah akan melamar dihadapan si penulis. "Begini, penulis. Aku sudah lama melindungi mu, aku ingin memanggil mu dengan nama asli, tapi aku selalu menunggu persetujuan darimu." Pria berambut cokelat di kuncir rambut panjang itu berucap dengan ucapan yang terdengar romantis, meski hal itu membuat si penulis berdebar, ia tidak akan semudah itu terlena. "Kamayel, aku paham. Nama pena ku sudah hampir mendekati nama asli. Jadi tidak perlu seperti itu."&nbsp;<br><br>PRAAANK!!! Suara nampan terjatuh.<br><br>?! Semua orang dalam ruangan terkejut, sontak menoleh pada asal suara yang dikeluarkan. "Tu- tuan Kamayel berlutut- tuan— u-uhh..." Salah satu pelayan yang baru muncul menutup separuh wajah, ekspresinya terpasang tidak percaya, dengan matanya yang berkaca-kaca.<br><br>Wahi, si penulis mengernyitkan alis, mencoba mengingat siapa pelayan wanita disini. Aneh memang, ia yang membuat karakternya, ia yang lupa.<br><br>Kamayel pun langsung beranjak berdiri tegap, dua tangannya ia gunakan untuk merapikan pakaian yang dikenakannya.<br><br>"Tidak ku sangka. Siapa kamu?" Pelayan wanita itu menghampiri si penulis yang masih diam ditempat, dua tangannya ditarik, digenggam dengan erat.<br><br>Benar, si penulis tidak mengenalkan diri pada perempuan disini, ia khawatir akan terjadi sesuatu jika mengenalkan diri sebagai "penulis". Karena faktanya, perempuan disini dipertahankan untuk melayani secara hormat.<br><br>"A-aku Wahi, kamu cantik sekali kalau dari dekat, biasanya hanya melihat mu dari balik layar—" kalimatnya ia pelankan diakhir.<br><br>"Balik layar..?"<br><br>"Ah- ha hahahaha, Aya..." Nawyan beranjak, menginterupsi obrolan antar penulis dan pelayan wanitanya. "AH! Maafkan Aya, Aya akan membersihkannya..." Hayashibara Aya, bersurai pendek sebawah telinga berwarna peach kecoklatan dengan manik kebiruannya yang indah. Aya lalu berlari menghampiri Kamayel yang sedang membersihkan nampan dan isinya yang tumpah. "Tidak perlu, tuan. Maaf."<br><br>Seingat Wahi, perempuan itu mengajukan diri sebagai pelayan disini. Pandangannya lalu ditutupi oleh tubuh Nawyan yang mengajaknya berkeliling mansion, "Ayo, Wahi. Zeeshan akan terkejut melihatmu juga, aku tidak sabar melihat ekspresinya itu, khukhukhu." Tawanya terdengar remeh. Wahi menoleh pada Kamayel, Aeul dan Aya yang sedang merapikan, tapi terlihat Aya yang memarahi mereka karena malah ikut merapikan.<br><br>Pandangannya kembali lurus, Wahi sendiri sedang digenggam tangannya oleh Nawyan, wajah Nawyan tampak senang. _Apa yang membuat Naga ini begitu senang?_ dirinya sendiri memang terlihat senang, namun dalam beluk hatinya sangat senang melihat para karakter orisinalnya sendiri.<br><br>Nawyan tanpa mengetuk pintu, ia langsung mendobrak pintu kamar Zeeshan yang sepertinya sedang menelepon seseorang, sontak saja ia meminta maaf sebelum menyudahi telepon tersebut secara sepihak. "Apa-apaan Nawyan?! Ketuk pintu dahulu —! " Zeeshan dengan manik mata kemerahan melangkah cepat menghampiri Nawyan, ia tampak jengkel sebelum melihat Seseorang yang berada disamping Pria bermanik Biru tersebut. "... Ah- Penulis?! Kenapa tiba-tiba," Ia terus menghampiri Seseorang yang dikenalnya dengan mimik tidak percaya, Sedangkan Nawyan sudah mengira kalau hal ini akan terjadi, ekspresi wajah Zeeshan adalah favoritnya saat ini.<br><br>"Hee- Zeeshan, kemari.." si penulis merentangkan kedua tangannya bersiap menyambut pelukan dari pria bermanik kemerahan tersebut, Zeeshan awalnya gengsi, tapi dirinya ada rasa ingin menyambar. Nawyan yang sepertinya paham langsung mendorong Zeeshan agar memeluk si penulis, wajahnya merona tipis. Si penulis hanya terkekeh, ia mendekap tubuh Zeeshan yang membungkuk juga membalas pelukannya. "Bagaimana kabarmu dengan pacar-istrimu itu? Kamu satu-satunya yang punya hubungan baik diluar Mansion." Pria berambut cokelat itu terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan yang diberikan dari si penulis, "Hubungan kami baik, hanya saja...&nbsp;<br><br>"Hanya saja?"<br><br>"Rasanya malu, aku terlalu cemburuan, kesal sekali..." Kesahnya terhadap diri sendiri, si penulis paham perasaan bucin yang tengah dialami Zeeshan. Tanpa disadari dua orang yang saling memeluk, Nawyan hanya memperhatikan dengan mimik wajah sukar diartikan. Zeeshan hanya curhat perasaan pada si penulis. _Apa aku juga perlu?_ Batinnya. Tapi dirinya tidak ingin membuat khawatir si penulis, makanya tempat curhatnya hanya pada Kamayel atau Aeul.<br><br>Kunjungannya menjadi hal favorit warga dalam mansion, bahkan si kembar tiga mengajak Wahi berbincang dengan teramat akrab, terlihat lebih hangat dari biasanya. Aeul sendiri mendapat Energi positif dari pertemuan antar penulis dan karakter orisinalnya sendiri.<br><br>"Aeul! Kemari, kamu juga salah satu dari kami," salah satu tangan si penulis menarik Aeul untuk bergabung tanpa rasa terasing.<br><br>"Terima kasih sudah menerima saya, Tuan Wahi," senyumannya merekah, Aeul pun melangkah menghampiri kumpulan Energi positif tersebut.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 09:10:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256535712</guid>
      </item>
      <item>
         <title>[untitled]</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256537301</link>
         <description><![CDATA[<div>Author : Arufiatto<br>___<br><br>Nada lagu itu terus bergema. <br><br>Gema. Gema. Dan gema. Ruang yang kosong. Itu yang sedang aku rasakan, bukan sesuatu yang besar. Kekosongan telah menimpaku sejak lama. Makanya tidak asing lagi di kepalaku. Hanya saya yang aku ingat selalu di otak kecilku adalah... <br><br><strong>hari ini menggunakan wajah apa ya?</strong><br><br>Aku hanya seorang manusia biasa yang mempunyai nama. Bakat? Hobi? Emang aku pikirkan. Semua emosi hanya terpendam dalam diriku semata. Membagi dengan orang? Sayangnya aku pemain <em>dramaturg</em> yang handal. Aku bangga dengan itu. Hanya saja seiring berkembangnya waktu. Aku menemukan sebuah harta karun zaman sekarang. <br><br>Lihat, aku menemukan sebuah suara yang bersumber dari benda segi empat itu. Suaranya cukup, apa ya? Cempleng? Bukankah yang menyanyi ini seorang laki-laki. Dikira semua laki-laki memiliki suara yang cukup berat. Tpi pokusku teralihkan sama movie video dia. Terlalu abstrak dan sukar di pahami. Heh, ini juga di sebut seni? Emang ada yang menyukainya? Ternyata ribuan komennya. <br><br>"Apa dia pernah bertemu dengan karakter yang dia ciptakan?" <br><br>Karakter yang di ciptakan. Rasanya unik sepertinya kalau di pikirkan. Apa aku juga menjadi sepertinya menciptakan seni abstrak itu? Karena, aku juga sudah bertemu dengan karakter ciptaanku bukan? <br><br>Berdiri di sebuah cermin. Lihat, ini karakter yang aku ciptakan. Pantulan diriku di dalam imajinasi serta pikiranku berbeda sekali. Yang aku liat seorang gadis rambut panjang, punya pontail secuil. Oh, jangan lupakan kacamata terpasang di batang hidungnya. Berbeda denganku yang rambut tergerai, muka kusut, dan kulitku sudahlah. Diriku emang tidak bisa mengurus diri sendiri. Menyedihkan. <br><br>"Fia! Awali pagi dengan selamat pagi!!" Ah, dia ceria sekali. <br><br>"Fia apa kita bisa bertemu di dalam mimpi?" Entah suaraku yang serak atau memang suaraku yang selalu begini. Terlalu sendu untuk di dengar. <br><br>"Mari Fia ajak jalan-jalan!" <br><br>Baru kali ini aku bisa tersenyum seperti ini. Ini yang ku dambakan tersenyum bagaikan <em>malaikat.</em><br><br><strong>End</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 09:11:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256537301</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Already Someone Else</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256538165</link>
         <description><![CDATA[<div>Author name: Ischyra Asensio (Chyra)<br>___<br><br><em>Foundations</em>, bedak, kontur, dan lain sebagainya. Aroma khas yang terpadu membuat kesan khusus, kau tau 'kan bau-bau <em>make-up</em> pengantin? Yah seperti itulah.<br><br>Seorang gadis terduduk di depan cermin sementara seorang wanita paruh baya memoles wajahnya, dan seorang lagi tengah menata rambut. Menoleh pada pantulan wajah yang tergambar di cermin, Gadis tersebut tidak tersenyum atau menampilkan emosi apapun, memang betul jika ia di sebut serupa dengan boneka. Mengingat lengkungan wajah yang sempurna, surai berwarna biru senada dengan manik.&nbsp;<br><br>Usai dengan segala persiapan, sejumlah orang membawakan beberapa gaun yang akan di kenakan sang gadis. Pegawai MUA menunjukkan gaun terbaiknya, "Nona Ischyra, yang mana hendaknya anda pakai?"<br><br>Ada tiga pilihan gaun, gaun pertama berwarna putih —namun dalam adat lama, memakai gaun putih saat menghadiri pernikahan seseorang itu tidaklah sopan—gaun kedua berwarna babby blue, sedikit lebih terang dari surai si gadis. Sementara gaun terakhir berwarna hitam keemasan, memiliki kesan elegan dan tidak terlalu berlebihan.<br><br>Alih-alih memilih satu di antara ketiganya, dia justru menunjuk sebuah gaun di dalam lemari kaca, yang mana gaun tersebut berwarna merah. Dalam etiket lama, mengenakan gaun saat menghadiri pernikahan seseorang juga menimbulkan perdebatan. Maka pegawai MUA kembali menanyakan pilihan ischyra, ia bersikukuh untuk tetap memakai gaun tersebut dengan dalih 'Dahulu telah berlalu, aturan itu terlalu kolot,'<br><br>Setelah berkutat dengan hal-hal merepotkan, Ischyra menyempatkan diri untuk menatap dirinya sekali lagi pada cermin besar. Kemudian lantas meninggalkan ruangan, berjalan ke arah luar gedung, bersiap menuju tempat prosesi pernikahan.<br><br>Ada sedikit rasa tidak percaya dalam lubuk hatinya, pria yang sedari kecil menemaninya kini telah menjadi milik orang lain, rasanya seperti baru kemarin mereka berpisah di persimpangan jalan, kala matahari memberat, meninggalkan langit bersama kegelapan malam.<br><br>Sampai di gedung pernikahan, Ischyra sedikit merasa linglung pasalnya tempat itu seperti bukan tempat yang ia tuju, ia terhenti sejenak, menghela napas. Menggenggam erat pegangan pintu, menekan gagang pintu kebawah dan barulah ia membuka pintu tersebut.&nbsp;<br><br>Betul, semua hal di dalamnya terasa _dejavu_, Ischyra berdiri tepat di bibir pintu, menganalisis pemandangan di sekitar. harusnya ini kali pertama ia menginjakkan kaki di tempat itu, tapi Ischyra merasa memiliki kenangan menyedihkan.&nbsp;<br><br>Seorang pria bersurai merah muda dengan iris hijau, menghampiri Ischyra. Tatapan tak percaya nampak jelas dimimik wajahnya.&nbsp;<br><br>"Ischyra?" Tanya pria tersebut memastikan bahwa gadis di hadapannya memang orang yang ia kenal atau tidak.&nbsp;<br><br>Ischyra mengangguk, sang pria mengulurkan tangan sembari berkata, "Saya Shan, saya harap anda tidak melupakan itu,"<br><br>Deg!<br><br>Aneh, namanya mirip sekali dengan karakter fiksi yang pernah Ischyra tulis. Maka Ischyra lagi-lagi hanya terdiam.&nbsp;<br><br>Atensi hadirin segera berpindah pada keduanya, ketika menyadari bahwa gaun yang di kenakan Ischyra berwarna merah.&nbsp;<br><br>"Lebih baik mari kita duduk terlebih dahulu," ajak Shan yang merasa risih dengan tatapan julid khalayak ramai.<br><br>"Sebentar, ini pernikahan siapa?" Ischyra bertanya sebab ia masih tak ingat juga kenapa tempat itu berbeda dengan konsep seharusnya.<br><br>"Ah itu ... Nona Haswerners dan tuan muda Acheron Haswerners," jawab Shan.<br><br>Belum sempat ia mencerna kata-kata Shan, suara letusan senapan bersahut-sahutan. Semua orang menjadi panik, berlari tunggang langgang mencari tempat aman.<br><br>"B*jingan, aku ingat akhir dari cerita i—" Seru Ischyra tertahan. Shan mengerutkan alis, "Apa yang anda tulis Nona?"<br><br>Tidak tau bagaimana acara tersebut berakhir, yang Ischyra tau, dia kemudian dicekik seseorang misterius.<br><br>***<br><br>AKU MALES BUAT ENDINGNYA, SO KALIAN PIKIRKAN SENDIRI</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 09:13:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256538165</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ketika Sang Author tinggal bersama para OC - nya</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256538728</link>
         <description><![CDATA[<div>Author : Ara Ishikawa<br>___<br><br>"Hari yang cukup cerah" Ucapku ketika membuka gorden jendela, melihat mentari telah bangun dari tidurnya dan bahkan beberapa orang berlalu lalang melakukan kegiatannya masing-masing.<br><br>Senyumanku yang mengembang karena merasakan ketenangan jiwa sembari menutup mata dan menghidup udara pagi yang segar. Sangat tenang dan damai hingga diriku mendengar suara suatu benda yang pecah disusul suara riuh pikuk bagai pasar.<br><br>“Bwhahahaha!”<br>“Bang- (sensor)”<br>“Astaga! Hati-hati dong bawa piringnya”<br>“Eh? Ada apa?”<br>“Jangan kesana, ada pecahan kaca. Biar aku bawa ke ruang tamu”<br>“Jika kalian tak becus, mending kalian duduk nonton tv saja”<br><br>Dan beberapa percakapan lagi yang tak ingin ku dengar. Helaan nafas kecil keluar dari hidung ku dan aku keluar kamar sambil tersenyum.<br><br>"Pagi semuanya.. jadi.. ulah apa lagi yang dibuat dua makhluk meresahkan ini?" Tanyaku kepada keramaian disana sembari menunjuk ke arah dua orang pemuda yang surainya berwarna seperti cabai dan satunya seperti sayur kangkung. Diego dan Khalid.<br><br>“Aku yakin kau tak buta, nona..” Jawab seorang wanita bersurai biru bagaikan lagi sembari membantu kembarannya yang memiliki surai sakura. Mereka adalah Aira dan Quorra.<br><br>“Daijobu ne, Ara-sama. Hanya piring yang tak sengaja dijatuhkan Diego-san dan Khalid-san." Ucap Quorra dengan sopan dan lembut. Ya, salah satu oc kesayangan ku yang memiliki karakter keibuan dan lemah lembut. Sangat berkebalikan dengan diriku, haha.<br><br>“Tenang saja, nona Ara. Semua aman terkendali. Lihat! Meja sudah rapi dan makanan sudah tersaji kan!" Seru seorang wanita bersurai coklat sembari memainkan sebuah pisau daging bernama Athalea. <br><br>Aku hanya bisa speechless melihatnya. Terkadang aku pun menyesal membuat karakternya yang yandere penyuka benda tajam. Seperti saat ini yang tengah mengancam Khalid dan Diego dengan pisau daging agar tidak membuat ulah lagi.<br><br>"Morning, Prim! Morning, Luke!"<br>“Morning too, Ara”<br><br>Ahh, entah kenapa semua hal yang ada membuatku tenang ketika melihat senyuman manis Primrose. Walau ia memiliki kekurangan yaitu tak bisa melihat, tetapi senyuman bak mentarinya langsung membawa aura positif disekitar. Namun, hal itu langsung hilang ketika aku merasakan hawa dingin. Iya. Hawa dingin dari Luke yang cuek pengen ku tendang. Setidaknya lebih baik adanya cowo kalem diantara keramaian tak tertolong ini kan?<br><br>"Eh.. Dimana Alexsha?" Tanyaku yang kebingungan tak melihat nona sinis pt. 2 setelah Aira. <br><br>“Aku baru saja dari kamarnya.. emm.. dia tengah tidur.. aku bisa bangunkan dia..” Jawab seorang gadis bersurai hitam bak langit malam yang takut jika dimarahi olehku bernama Eara.<br><br>“Tak perlu. Dia kan vampir, wajar dia tidur manis sambil maskeran di peti mati yang disebutnya kasur itu.” Ucap Aira sembari pergi ke belakang untuk membuang pecahan kaca.<br><br>“Benar. Apalagi disini ada musuh bebuyutannya. Makanya jangan nakal. Dasar anjing.” Sambung Athalea yang kemudian memukul kepala Khalid.<br><br>“Ouch! Apalagi salahku?!” Seru Khalid yang kesakitan. Ia tak marah disebut sebagai 'Anjing' karena werewolf atau serigala termasuk ke dalam ras anjing. Toh, dia juga sering adu debat hingga pukul-pukulan dengan Alexsha.<br><br>“Sudah sudah. Ayo sarapan, sebelum makanannya jadi dingin.”<br><br>Kami semua pun menuruti Quorra seperti menuruti sang ibunda. Iyep. Julukan Quorra adalah Ibunda maha sabar nan lembut diantara makhluk-makhluk tak waras disekitarnya. Sabar menghadapi kami semua yang punya 'kelebihan', kelebihan emosi contohnya.<br><br>Sarapan kali ini begitu tenang, damai dan khidmat. Hanya saat sarapan, makan siang ataupun makan malam. Diluar dari itu selalu ada kerusuhan di setiap sudut rumah maupun saat pergi berjalan-jalan diluar.<br><br>Kalian bisa bayangkan sendiri seberapa rusuh mereka semua.<br><br><strong>- THE END-</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 09:14:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256538728</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Relaxa</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256539281</link>
         <description><![CDATA[<div>Author name : SilverGin (Zero)<br>___<br><br>Beberapa lembaran kertas berserak di atas meja belajarku, tumpukan buku juga ikut memenuhi ruang yang tersisa di sisi kiri dan kanan. Berulang kali kubuka satu persatu buku yang ada, memindahkannya dari sisi kanan ke kiri atau sebaliknya ketika selesai membacanya dengan metode <em>skipping</em>, metode yang selalu kupakai jika sudah selesai membaca semua materi yang ada dengan seksama.<br><br>Seluruh buku telah berpindah posisi, sekarang membaca beberapa soal dan materi yang terdapat di setiap lembaran yang berserak di hadapanku sembari merapikannya.<br><br>Selesai membaca sekaligus merapikan lembaran-lembaran tadi, aku melipat tanganku di belakang kepala, menatap kosong ke arah lembaran yang kini telah bertumpuk rapi. Bersandar pada punggung kursi yang berputar ke kanan dan ke kiri mengikuti dorongan kakiku.<br><br>"Aahh... Besok ujian dan aku belum bisa tidur. Semua materinya sudah kubaca, sekarang harus ngapain?" <br><br>Mengeluh, salah satu kebiasaan burukku jika sudah merasa jenuh. Membaca ulang materi hanya akan menyia-nyiakan waktu dan tenaga, karena kalau sudah begini tidak akan ada materi yang menembus kepalaku.<br><br>Kurentangkan tanganku ke atas dan menjatuhkan tubuh bagian depanku ke arah meja. Pipi kiriku mendarat di atas tumpukan kertas dengan tangan yang terjulur ke depan. Kulipat lenganku setelahnya, menjadikannya bantalan.<br><br>"Sepi kali... Abang dan dua bocah berisik tu pasti dah tidur. Masih sisa satu setengah jam sebelum Ayah dan Ibu pulang. Belum ngantuk... Enggak laper, tapi pengen minum susu, tapi gak ada susu di kulkas. Di lemari tinggal kopi doang, sama teh. Bosan, bosan, bosan... Aku pengen keluar rumah, tapi dah malam. Pengen jalan-jalan, tapi gak tau mau kemana. Mau nghemhil thaphmi mhales... mmm..." <br><br>Mataku perlahan menutup bersama gumaman yang semakin tidak jelas untuk didengar -bahkan untuk diri sendiri- terus mengalir dari mulutku.<br><br>Tepat setelah suaraku semakin kecil dan menghilang di telan kesunyian, tiga ketukan berjeda terdengar dari meja bersama suara nyanyian lirih dari balik punggungku.<br><br>"<em>Hanako-san, asobi mashou!</em>"<br><br>Keningku berkerut, kau kata aku hantu penunggu toilet apa?!<br><br>"Haaah... Kau belum tidur, Kim? Pengen susu Kim..." Hanya bibirku yang bergerak -itupun sekedar menyesuaikan huruf yang keluar agak terdengar sedikit jelas-, tidak dengan anggota badan yang lain -tetap berada pada posisi terakhir-.<br><br>Tidak ada respon balik darinya. Namun, aku merasa sebuah jari berjalan pelan di tengkukku, turun menyusuri leher, punggung, lalu bersarang di pinggang dan menusuk-nusuknya.<br><br>Aish, apa sih maunya anak ini?!<br><br>"Udah ah, Bang! Geli lho..." Suaraku terdengar parau, malas rasanya mengeluarkan tenaga lebih untuk meladeninya.<br><br>Suara kekehan kecil tertangkap oleh telinga kananku yang terbuka lebar. Sebentar, ini bukan suara Abang! Lha ,terus siapa? Masa hantu?<br><br>Kuangkat kepalaku malas, membuka mataku perlahan sebelum menoleh menangkap pelaku pengganggu ketenangan.<br><br>"Huah!!" Aku terlonjak kaget, spontan mendorong kursi dan menjauh dari meja. <br><br>"Kalian siapa?! Gimana kalian bisa masuk?!"<br><br>Sosok pria pemilik surai sewarna jeruk sunkist merekahkan senyumnya, memperlihatkan deretan giginya yang putih, membetulkan posisi berdirinya namun tak melangkah maju ataupun mundur.<br><br>Ekhem- sebentar, mungkin aku masih syok karena tiba-tiba ada makhluk lain berada di kamarku.<br><br>Sebenarnya yang berada di hadapanku ini bukan sosok pria, melainkan wanita yang tampak seperti pria, mungkin begitu. Dan lagi, bukan hanya seorang, tetapi dua. Dua orang wanita yang tampak seperti pria?! Dan kenapa warna rambut dan mata mereka terlalu mencolok?! <em>Cosplayer</em> kah? Atau Abang sedang mengusiliku?<br><br>Eh, tapi Abang kan bukan tipe yang berniat iseng seperti ini. Lha, terus siapa? Kalau dipikir-pikir, yang bisa menyamai tinggi keduanya hanya Ayah, Abang, atau Tetangga seberang rumahku. Namun sepertinya tidak mungkin. <br><br>Rasanya mereka berdua tidak asing. Masa mereka... Haha- gak mungkin lah!<br><br>Aku menelan pikiran-pikiran rumit, menggaruk kepala yang tidak gatal sambil terus memperhatikan gerak-gerik keduanya. Si Sunkist itu terus menaik-turunkan alisnya sambil tetap tersenyum. Sedangkan yang disebelahnya -yang tampak seperti apel racun Putri Salju pada dongeng Disney- tak menunjukkan ekspresi apapun, bahkan sama sekali tak bergerak barang bergeser sedikit, seperti patung.<br><br>Mungkin lelah dengan keheningan yang ada, akhirnya Si Sunkist angkat suara.<br><br>"Kak Zero gak ingat kami berdua?" Tanyanya sambil menunjuk dirinya. <br><br>Aku mengernyitkan kening. "Aku? Ingat kalian berdua? Memang kita pernah ketemu dimana? Eh, kau belum jawab pertanyaanku tadi!"<br><br>"Heehh~ Kakak juga membalas pertanyaanku dengan pertanyaan lagi lho!" Si Sunkist itu menggoyang-goyangkan jari telunjuknya.<br><br>"Oke, oke. Kita impas sekarang!" Aku mengalah.<br><br>"Okee, kita impas! Jadi tolong jawab pertanyaankuuu!" <br><br>"Eitts, stop!" Aku mengarahkan kedua lenganku ke depan, menghentikan Si Sunkist sebelum maju mendekat. "Biarkan kita saling menjawab beberapa pertanyaan dengan posisi ini, oke?"<br><br>"Ya!"<br><br>Kali ini yang menyetujui adalah Si Apel, Si Sunkist hanya berdecak kesal. Sepertinya Si Apel ini punya kontrol besar terhadap Si Sunkist. Si Apel kini berdiri sejajar dengan Si Sunkist, memegang pundak kanannya seperti mengatakan "tidak apa-apa" lewat telepati.<br><br>"Baik, kita sepakat! Jawaban untuk pertanyaanmu adalah tidak." Kataku. Kulihat Si Sunkist tampak sedikit kecewa. Si Apel tetap memasang wajah tenang. <br><br>Suasana apa ini?? Seperti ada yang salah!<br><br>Ah, harusnya aku tidak meladeni dua orang aneh ini! Bukan, bukan! Bukan mereka yang aneh. Aku yang aneh! Kenapa tidak kuusir saja?? Aishh!!<br><br>Tenang dulu wahai diriku... Tenang dulu, oke!?<br><br>"Nah, sekarang jawab pertanyaanku!" Sekarang giliranku bertanya. <br><br>"Karena aku tidak kenal kalian berdua, biarkan aku tau siapa kalian. Dua, bagaimana kalian bisa masuk?. Tiga, Kenapa kamu memanggilku Zero? Emp-"<br><br>"Banyak sekali!! Aku kan cuma tanya satu pertanyaan doang tadi!!" Protes Si Sunkist memotong pertanyaanku.<br><br>Si Apel menepuk pundaknya, "Biarkan Kak Zero menyelesaikan pertanyaannya. Jangan terbiasa menyela perkataan orang lain!" <br><br>Suara Si Apel sangat tenang, namun juga tegas. Kulirik Si Sunkist, dia menutup mulutnya rapat.<br><br>Si Apel menatapku, "Tolong lanjutkan pertanyaannya!"<br><br>"Pertanyaan keempat, bagaimana kalian bisa mengenalku? Apa kita pernah berpapasan di suatu tempat? Sudah, silahkan dijawab."<br><br>Si Apel melirik Si Sunkist, "kau ingin menjawabnya?" <br><br>Si Sunkist mengangguk.<br><br>"Kurasa Kak Zero bukan tidak mengenal kami, lebih tepatnya meragukan keberadaan kami. Benar bukan?"<br><br>Aku mengangguk ragu, mungkin begitu... tapi bisa juga bukan.<br><br>"Aneh rasanya memperkenalkan diri kami sendiri pada tuan yang biasa menggambar dan menceritakan tentang kami. Haha, tapi tak apalah. Aku Gin Yamada, dan di sebelahku ini Nafita Kandoji."<br><br>Kepalaku masih memproses perkataan terakhirnya. Seperti isyarat <em>loading</em> ketika memasuki sebuah data.<br><br>"Sebentar, aku harap aku gak salah dengar. Coba tolong ulang sekali lagi!" Pintaku.<br><br>Pemudi bersurai Sunkist yang mengaku bernama Gin Yamada itu menghela napasnya.<br><br>"Aku Gin Yamada, dan dia ini Nafita Kandouji." Ulangnya perlahan sambil mengisyaratkan jarinya ke arah dirinya sendiri dan wanita di sisinya.<br><br>Aku mengambil napasku perlahan, mencoba memahami situasi yang ada. <br><br>"Lanjutkan!" <br><br>"Kami masuk kesini lewat pintu tentu saja. Kami bukan pencuri. Kemudian kenapa aku memanggilmu Zero, itu karena kalau aku panggil Gin, bukannya sama seperti memanggil diriku sendiri? Aku tidak mau memanggilmu Silver, lebih bagus memanggilmu Zero. Bukankah Zero juga namamu?"<br><br>Aku menggaruk kepalaku lagi, "Iya sih... Rasanya asing aja kalau di panggil orang yang baru kutemui dengan nama itu."<br><br>"Yang terakhir, kita memang baru kali ini tatap muka secara langsung. Tapi itu bukan berarti kami tidak mengenalmu, ataupun sebaliknya. Kau kan-"<br><br>"Oke, aku paham sekarang!" Aku memijit pelipisku. "Nah, sekarang apa keperluan kalian sampai menemuiku begini?"<br><br>"Mengajak Kakak jalan-jalan keluar."<br><br>Aku melirik jam dinding, pukul 20.40 WIB. <br><br>"Ini sudah malam,Gin."<br><br>"Kau perlu mencari udara segar, Kak. Rambutmu akan semakin menipis jika dipaksakan bergelut dengan materi semalaman." Navy memberi alasan yang logis.<br><br>"Lagi pula aku yakin, kau sudah tidak fokus untuk membaca lagi kan? Gak ada salahnya kita melihat-lihat langit malam sambil menghirup udara di luar." Gin menarik tanganku, "Ayo!"<br><br>Aku menurut. Mengambil jaket biru dongker dari gantungan baju dan memakainya. Memeriksa ketiga kamar adikku, memastikan mereka tidur dengan aman. <br><br>Setelah mengunci pintu. Aku mengejar Navy yang berjalan lebih dahulu, mengimbanginya. Gin yang tadi kutinggal juga ikut mengejar dan meraih pergelangan tangan kananku.<br><br>Menyusuri jalan gang ditemani bunyi angin yang mengibas dedaunan, sunyi. Semua penduduk sudah mengurung diri di kediaman mereka. Menghabiskan malam bersama keluarga tentunya.<br><br>"Hii, kenapa lampu jalannya cuma sedikit?" Tanya Gin sedikit bergidik. Sekedar informasi, Gin itu takut gelap.<br><br>"Menghemat listrik mungkin," aku meliriknya sesaat. Gin celingukan melihat ke kanan dan ke kiri. "Kalau ga salah, kadang-kadang ada sesuatu yang berkeliaran pas gelap gini, mm... Sesuatu yang putih dan-"<br><br>Cengkeraman Gin semakin menguat, "haha, aku ga takut kok."<br><br>Daerah tempat tinggalku memang kurang pencahayaan, terutama di jalan gang. Cahaya yang ada hanya berasal dari lampu-lampu rumah yang menyala di luar. Jarak antar rumahnya pun terbilang lumayan jauh. Belum lagi sekelilingnya di tumbuhi tanaman pagar dan tumbuhan tinggi yang lain.<br><br>Langit tak begitu terlihat, tertutup oleh pepohonan yang menjulang tinggi dengan daun-daun lebatnya. Kalian bisa bayangkan betapa gelapnya daerah ini.<br> <br>"Pfft-" aku mencoba menahan agar tak tergelak.<br><br>"Ihh, aku beneran ga takut kok!" Gin kini berjalan di sisiku. Akhirnya kami berjalan bersisian. Jika ada seorang lagi yang berjalan di samping Gin, kami sepenuhnya telah memblokir jalan.<br><br>"Okee, aku percaya." Kutautkan jemariku dengan jemari Gin. Dia tampak senang, bahkan menggenggamnya lebih erat. <br><br>Tangan Gin hangat. Biasanya aku tidak suka di genggam pemilik tangan hangat, karena tanganku pun begitu. Namun kali ini kehangatan tanganku dikalahkan olehnya.<br><br>Berjalan di antara kedua bocah ini membuatku merasa semakin pendek. Gin sepertinya berusia 17 tahun seperti yang selalu kuceritakan, wajar jika kusebut bocah. Kalau Navy, aku sedikit ragu.<br><br>"Hey, Navy! Umurmu sekarang berapa?" Tanyaku.<br><br>"Hm?" Navy menoleh sedikit.<br><br>"Kak Zero gak tau umurnya Kak Navy?" Gin menatapku heran.<br><br>"Aku tau, cuma ragu."<br><br>"Hee... Kalau aku?" Gin menunjuk dirinya dengan jari telunjuk kanan.<br><br>"17 tahun."<br><br>"Kalau begitu, kutebak, umur Kak Zero dua tahun diatasku."<br><br>"Yups." Aku senang seseorang menebak usiaku dengan tepat. <br><br>Gin kembali memamerkan deretan gigi putihnya. Aku menoleh, menunggu jawaban Navy.<br><br>"25."<br><br>"25 ya... Eeeehhh, Berarti sekarang kau sudah jadi direktur dong!"<br><br>Navy mengangguk.<br><br>"Kalau gitu, gimana hubunganmu dengan Yuki?" Aku menyikut lengan Navy.<br><br>"Seperti biasa."<br><br>"Dengan yang lain? Nao, Rai, Jino?"<br><br>"Kak Nao baru saja diangkat menjadi kepala Divisi Kriminal. Kak Raizel menjabat sebagai CEO. Jino, dia dan Sera sudah menikah." Pandangannya lurus seperti menatap sesuatu yang jauh di sana.<br><br>"Hey, kenapa tiba-tiba manggil Rai pakai embel-embel kakak?" Aku heran, seingatku aku belum pernah merencanakan itu. Kalau Nao, aku memang sudah merencanakannya dari awal. Nao itu menganggap Navy layaknya adik sedarah, dia selalu ingin dipanggil kakak oleh Navy. <br><br>"Kau punya rasa padanya yaaa?" Gin menggoda Navy.<br><br>"Tidak." <br><br>"Kau sendiri bagaimana? Jangan-jangan masih jomblo!?" Aku melempar ledekan pada Gin.<br><br>Gin tertawa, "Bukannya kak Zero yang masih jomblo?! Aku kan sudah bareng Yuuta." Menjulurkan lidahnya.<br><br>"Aku menyesal mengenalkan Yuuta padamu. Kasihan Yuuta." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, memberi kesan iba pada Yuuta.<br><br>"Tenang saja, aku akan melindunginya!"<br><br>"Percaya diri sekali." Aku mencibir.<br><br>Tepat beberapa langkah ke depan, sebuah kios mie ayam masih diterangi oleh cahaya kuning lampu LED. Itu warung mie ayam Pakde Jadie.<br><br>"Hey, ayo mampir makan mie. Mie ayam Pakde Jadie enak lho!" Ku tarik tangan keduanya memasuki kios. Duduk di salah satu meja panjang yang disediakan.<br><br>"Pakde, mie ayamnya tiga!" Kataku memesan.<br><br>Beberapa menit kemudian, Pakde Jadie membawakan 3 mangkuk mie ke hadapan kami.<br><br>"<em>Monggo!</em> Ini temannya mba?" Tanya Pakde Jadie, melihat kedua manusia asing di sebelahku. <br><br>"<em>Nggih</em>, Pakde."<br><br>"Makan yang banyak yo." Pakde Jadie meninggalkan meja kami dan kembali melayani pelanggan lain.<br><br>Tidak banyak percakapan selama makan, hanya beberapa komentar Gin tentang rasa mie yang tidak asing bagi lidahnya atau es teh yang terlalu manis.&nbsp;<br><br>Selesai makan dan membayar. Kami meninggalkan kios, berjalan beberapa langkah lagi sampai menemukan sebuah batu panjang di persimpangan jalan. Duduk berjejer memandang bulan yang membulat sempurna dengan cahayanya yang bersinar terang. Menghirup udara malam yang sejuk dengan suasana yang tenang. Hamparan bintang menambah keindahan langit malam.<br><br>Dari sini langit dapat terlihat jelas, terbentang tanpa penghalang. Selagi memandang langit, tiba-tiba terbesit beberapa pertanyaan yang mengganjal dalam benakku.<br><br>"Hey, kalian."<br><br>"Hm?" Keduanya merespon panggilanku bersamaan.<br><br>"Sebenarnya dari tadi aku merasa sedikit aneh. Bagaimana kalian bisa memahami bahasaku?"<br><br>"Aku dan Kak Navy kan multilingual." Gin tersenyum bangga.<br><br>"Tidak ada alasan. Kita hanya terhubung." Navy meluruskan.<br><br>Aku mengangguk-angguk.&nbsp;<br><br>Sebuah kaleng dingin menempel di pipiku, membuatku sedikit terkejut.&nbsp;<br><br>"Soda?" Gin meyodorkan kaleng hijau yang tadi di tempelkannya.<br><br>"Aku tidak minum soda." Tolakku.<br><br>"Kalau susu?" Gin menyodorkan kaleng lain dengan warna yang serupa. Aku menerimanya.<br><br>"Aku ambil. Terimakasih."<br><br>Gin memberikan kaleng yang tadi ku tolak pada Navy.<br><br>"Kapan kau beli?" Tanyaku sambil membuka penutup kaleng.<br><br>"Tadi, saat keluar dari kios." Gin meneguk soda orangenya.<br><br>Kami kembali memandang langit.&nbsp;<br><br>"Hey, kalian. Ceritakan gimana caranya kalian bisa kemari!" Pintaku.<br><br>"Rahasia!" Gin dan Navy menjawab serempak.<br><br>"Yaah..." Kumanyunkan bibirku. "Kenapa yang datang harus kalian berdua sih. Aku sedikit menyesal."<br><br>"Ehh, bukankah sewaktu ada angket random tentang OC yang paling ingin ditemui, Kakak mengisinya dengan nama kami berdua?" Gin memberi argumen.&nbsp;<br><br>"Penyesalan selalu muncul terakhir." Navy menambahkan sambil meneguk sodanya. Sepertinya keduanya tau jika aku hanya berpura-pura. Kombinasi keduanya memang pas, tak salah ketika ku satukan mereka dalam satu frame kertas.<br><br>"Navy, nanti kau bakal nikah dengan siapa ya? Aku masih belum bisa menerka siapa pasangan hidupmu."<br><br>"Sudahi pertanyaan aneh itu." Navy memejamkan matanya.<br><br>Gin menggeser duduknya, mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Sepertinya nanti bakal nikah dengan Raizel," bisiknya.<br><br>"Eh, kenapa begitu?" Aku menanggapinya dengan bisikan pula.<br><br>"Hubungan mereka dekat lho! Sekarang Redleaf dan Firefox sudah bergabung jadi satu perusahaan. Dan lagi posisi mereka berdua sangat dekat kan?"<br><br>"Kau tau sejauh itu? Ah, banyak yang terjadi sebelum aku sempat menyelesaikan cerita kalian ya." Mataku menerawang jauh.<br><br>"Makanya, Kak Zero jangan menunda-nunda lagi. Selesaikan sekarang."<br><br>"Hentikan obrolan kalian! Kalian berbisik namun terdengar jelas olehku." Navy jengah dengan aktivitas berbisik kami yang sengaja kami perdengarkan padanya.<br><br>"Eh, Navy tidak menyangkal?" Aku menggodanya.&nbsp;<br><br>"Cukup!"&nbsp;<br><br>Gin tertawa, senang bisa melihat reaksi Navy yang terganggu.<br><br>"Sekarang sudah pukul setengah sepuluh. Ayo kembali!" Navy bangkit dari duduknya. Lalu berjalan meninggalkan kami berdua yang masih duduk.<br><br>"Heeyyy, kau tidak mau lihat bintang lagi?" Lagi-lagi aku harus mengejarnya. Dan Gin tertinggal lagi-<br><br>Kami kembali menyusuri jalan pulang. Kali ini Navy yang berjalan di tengah.<br><br>"Jalan pulang lebih menyeramkan dari pada saat kita pergi tadi." Ujar Gin.<br><br>"Hm-m." Aku mengangguk mengiyakan. "Karena rumah yang di sana lampunya remang. Kalau yang di sebelah situ rumahnya sapi, jadi gak pakai lampu."&nbsp;<br><br>Kami sudah tiba di depan pintu. Saat aku masuk, keduanya tak mengikutiku.<br><br>"Kalian gak mau masuk? Ayo masuk dulu." Aku melambaikan tanganku, memberi isyarat agar mereka masuk.<br><br>Navy mengangkat tangannya, membalas dengan isyarat pula. "Kami akan langsung pulang."&nbsp;<br><br>"Ehhh... Cepat sekali." Keluhku. "Kenapa kalian gak tinggal di sini aja beberapa hari? Setidaknya sampai aku selesai ujian." Pintaku.<br><br>Navy menggeleng. "Tidak bisa."<br><br>Aku memanyunkan bibirku lagi, cemberut.&nbsp;<br><br>"Tenang, tenang! Di lain waktu kami akan mengunjungi Kak Zero lagi. Sampai saat itu tiba, Kau harus selalu semangat dan fokus belajar." Gin mengacungkan jempolnya dan memberikan cengiran khasnya.&nbsp;<br><br>Aku tersenyum.<br><br>"Jangan terlalu memaksakan diri." Tambah Navy.<br><br>"Aku ga mau dengar kata-kata itu darimu." Aku mencibir. Navy hanya tersenyum.&nbsp;<br><br>"Masuklah! Malam semakin dingin." Perintah Navy. Aku tertawa kecil, senang. Rasanya seperti dapat kakak dan adik perempuan sesaat.<br><br>Saling melambaikan tangan tanda perpisahan, walau dalam hati kecilku berharap mereka datang lagi. Keduanya berjalan menjauh, meninggalkan rumah. Terus kupandang punggung mereka sampai menghilang bersama kegelapan, mengunci pintu dan memasuki kamarku.<br><br>Kurebahkan diriku di atas kasur, suhu udara semakin dingin. Ku tarik selimutku, membaca doa sebelum tidur. Lelah namun juga menyenangkan. Menghabiskan sedikit waktu dengan mereka berdua, membicarakan hal-hal random, berjalan di jalan yang gelap berdampingan. Seperti halusinasi.<br><br>Kesadaranku mengabur, pandanganku juga ikut berkabut. Aku ingin istirahat. Ketika hari esok tiba, malam ini apakah mimpi atau nyata, aku tak peduli lagi.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 09:16:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256539281</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hujan, berpihak pada siapa?</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256541937</link>
         <description><![CDATA[<div>Author : Naila Hanifah<br>___<br><br>Berkatnya, aku tahu jika hujan itu tidak pernah memihak pada satu keadaan. Berkatnya juga, aku tahu jika melakukan hal buruk tak akan menyelesaikan permasalahan.&nbsp;<br><br>Namaku Bylen, remaja lelaki dengan kisah hidup yang cukup biasa. Di kenaikan kelas 11, ternyata aku satu kelas dengan gadis berkacamata yang ... Lucu?&nbsp;<br><br>Dari detik itulah, aku mulai mengenalnya, Shara, si gadis cantik dan menggemaskan.<br><br>Waktu berlalu dengan cepat sejak kenaikan kelas. Karena sering menghabiskan waktu berdua, aku mulai menyukainya. Kesukaannya terhadap hujan, ia yang tertawa karena hal kecil, betapa imut dirinya tatkala melihat seekor kucing, segala tentang Shara, aku sangat menyukainya.&nbsp;<br><br>Melihat sikap Shara yang sangat baik padaku, membuat harapan besar jika dia juga memiliki perasaan yang sama.&nbsp;<br><br>Bermodal nekat dan tanpa pikir panjang, aku mengungkap perasaanku yang rasanya sudah tak terbendung lagi. Harapan besarku mengibarkan rasa cita, berdebar, penuh keinginan untuk terlelap dalam kasih sayangnya.&nbsp;<br><br>"Maaf, Byl. Aku ga bisa nerima perasaanmu,"<br><br>Tetapi segala bayang itu hancur, Shara menolakku.&nbsp;<br><br>Kenapa? Kenapa? Kenapa?<br><br>Aku tak tahu, apalagi yang kurang?&nbsp;<br><br>Ah, seolah Tuhan masih berbelas kasih, kami bersama lagi di kenaikan kelas 12. Tekadku untuk meraihnya tak hirap.<br><br>Aku mendekatinya dengan berbagai cara, dan dari sana juga aku menemukan sesuatu yang baru tentangnya.&nbsp;<br><br>"Shara, kamu suka banget sama hujan, ya?"<br><br>"Oh, haha ... Iya, soalnya suasana hujan cocok banget buat ngegalau."<br><br>Mendengar balasannya, aku tersenyum menggoda. "Galauin siapa tuh?"<br><br>"Ya gitu, deh!"<br><br>Ini adalah saatnya, ini saat yang tepat untuk menembak Shara lagi.&nbsp;<br><br>Di bawah derai hujan, awan mendung bergemuruh menjadi saksi bisu. Angin berbisik padaku untuk segera mengungkapkan perasaan yang kedua kalinya.&nbsp;<br><br>"Aku ... menyukaimu, masih tetap menyukaimu."<br><br>Semenjak saat itu, Shara telah menjadi pacarku. Ini mimpi atau bukan, aku tidak peduli. Bahkan jika ini mimpi, aku akan terus tertidur agar tidak terbangun dari sini.&nbsp;<br><br>Bahkan setelah Shara mengatakan 'ya', hujan semakin deras ibarat menyoraki keberhasilanku.&nbsp;<br><br>Shara memiliki perasaan yang sama denganku, Shara mencintaiku.&nbsp;<br><br>Segalanya terasa begitu indah dengannya, musim hujan tahun ini sangat menyenangkan.&nbsp;<br><br>"Shara, besok aku nggak Sekolah karena ada lomba futsal."<br><br>Gadis idamanku ini mendongak, dia sangat pendek sehingga ingin sekali aku gendong setiap saat.&nbsp;<br><br>"Lomba futsal?"<br><br>"Iya, babak final, lho! Keren kan pacarmu ini? Hehe."<br><br>Shara tersenyum menggoda, "Nggak keren sama sekali."<br><br>"Dih, apresiasi dikit, dong ...."<br><br>Gelak tawa keluar dari gadis berkacamata ini, dia menjewer pelan hidungku. "Bercanda. Pacarku keren banget, deh!"<br><br>Lihat seberapa lucu dirinya? Bahkan jika dia memakai baju sejelek apa pun, akan tetap terlihat lucu!<br><br>Duniaku penuh warna karenanya. Kesan pertamaku pada hujan, suram dan menyedihkan, berubah karena Shara.&nbsp;<br><br>"I love you."<br><br>Mendengar pernyataan dariku tiba-tiba, Shara kaku, dan menepuk pelan pundakku. "Apa, sihh? Hahaha!"<br><br>Menyenangkan, bahagia, seolah segala beban hidupku diangkat hidup-hidup oleh gadis ini.&nbsp;<br><br>Semangatku untuk lomba futsal kali ini berkali-kali lipat lebih banyak, dan akhirnya membawa kemenangan.&nbsp;<br><br>"Aku akan menelpon Shara, dia harus tahu tentang prestasi pacarnya ini."<br><br>Tapi sebelum sempat aku menekan tombol 'panggil', salah satu temanku datang dengan wajah tergesa-gesa.&nbsp;<br><br>"Byl, aku ada informasi terkece badai!"<br><br>Dasar lelaki ini, menganggu saja. "Apa?"<br><br>"Pacarmu, Shara, dia boncengan sama mantannya!"<br><br>Rasanya sedikit berat dalam benakku, tetapi aku berusaha untuk mencoba baik-baik saja. Itu hanya berboncengan, hanya berboncengan ....<br><br>Tidak, bukankah aku memiliki hak untuk cemburu? Aku adalah pacarnya.&nbsp;<br><br>Pada akhirnya, aku memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa kamu boncengan sama mantanmu?"<br><br>Shara yang sibuk memakan makanannya, terdiam. "Itu ... Lagi hujan, ojek Sekolah udah pulang semua."<br><br>"....."<br><br>"Jangan marah ya, Bylen? Tolong pahami kondisiku. Lagian, kamu tahu aku boncengan sama mantan dari mana?"<br><br>"Aku tahu dari temen. Tapi, oke, jangan perpanjang masalah ini."&nbsp;<br><br>Aku mengakhirinya karena tidak ingin perdebatan panjang, tetapi hati ini masih cemas. Bagaimana jika Shara malah diam-diam pergi dengan mantannya? Itu menakutkan, aku tidak mau itu terjadi.&nbsp;<br><br>Pada akhirnya aku membuat beberapa peraturan yang mengekangnya.&nbsp;<br><br>"Kamu memposting artis ini lagi di status whatsapp." ujarku kesal sembari menunjuk gambar artis lelaki terkenal.&nbsp;<br><br>Shara mengangkat kedua bahunya, "Karena aku suka mereka."<br><br>Aku merasa iri, hatiku yang cemas menjadi semakin berat. "Kamu nggak pernah post fotoku di status whatsapp, Shara."<br><br>"Pernah, Bylen. Siapa yang bilang nggak pernah?"<br><br>"Tapi jarang, kan? Dan kamu post foto artis itu hampir setiap hari. Di sini, yang jadi pacarmu itu aku, bukan artis itu."<br><br>"Apa, sih? Itu hak aku, karena aku suka sama mereka. Kamu marah karena hal kecil kayak gini?"<br><br>Hatiku semakin berat tatkala melihat kerutan kesal di wajah cantik Shara. Apakah dia marah? Pertanyaanku membuatnya tak nyaman?&nbsp;<br><br>Gemuruh hujan semakin keras, menjawab pertanyaanku.&nbsp;<br><br>Awalnya di bawah hujan, kami selalu membuat suasana yang manis. Tetapi kali ini berbeda, aku sangat tidak menyukainya.&nbsp;<br><br>"Itu bukan hal kecil, Shara. Sekarang posisiku adalah pacarmu. Aku juga punya hak untuk bertanya."<br><br>"Ya, oke, kamu pacarku. Tapi semua peraturan yang kamu buat selama ini itu terlalu mengekang! Sebenernya di matamu aku ini apa, Bylen?"<br><br>Aku mengepalkan tanganku, "Kamu itu pacarku!"<br><br>Shara berdecak, "Beneran pacar? Atau di matamu aku cuma kucing yang kehujanan, terus kamu merasa kasihan, dan jadiin aku hewan piara?"<br><br>"Mana mungkin, aku bukan lelaki kayak gitu, Shara!"<br><br>"Kamu itu kayak gitu!" Shara kini meneteskan air mata. "Semua peraturan omong kosong, dan semua laranganmu—bikin aku ngerasa terbatasi! Aku capek!"<br><br>Ini parah, hatiku menggedor berusaha untuk membela diri secara kasar. Tidak, jangan marah padanya, jangan marah ...<br><br>"Aku juga capek! Apa kamu nggak perhatiin perasaanku? Kamu yang terlalu asik sama orang lain, bahkan deket sama mantan kamu!"<br><br>Pada akhirnya aku membentaknya, aku membentak gadis cantikku.&nbsp;<br><br>"Mereka cuma temen, Bylen!"<br><br>"Ya, tapi tolong perhatikan aku sebagai pacarmu di sini!"<br><br>"Pacar, pacar, pacar! Terus aja ungkit kata 'pacar'! Kamu kira pacar itu punya hak penuh atas diriku sendiri?"<br><br>"....."&nbsp;<br><br>Shara membuang pandangannya, "Ayo putus."<br><br>Dua kata yang menikam benakku, membuatku tak bisa mengatakan apa pun lagi.&nbsp;<br><br>Ini gila, bukan ini akhir yang aku inginkan. Aku tidak ingin mendengar kata perpisahan ini darinya.<br><br>Tetapi aku bisa berbuat apa? Hanya dapat terkapar, memohon permintaan maaf. Astaga, apa yang selama ini aku lakukan?&nbsp;<br><br>Hujan yang selama ini terlihat seperti mendukungku, kini berbunyi sangat keras seolah tengah mengejek diriku yang tak berdaya.&nbsp;<br><br>"Maaf, Shara ... "<br><br>Duniaku terombang-ambing seketika, warna hidup menjadi abu terkulai dalam getaran hampa.&nbsp;<br><br>Tolong, tolong tarik aku kembali dari kelabu. Tolong terima kembali diriku, aku muak dengan rabaan sesak ini.&nbsp;<br><br>Menjadi pribadi buruk, pulang malam dan merokok, aku menjadi seorang yang asing dalam waktu singkat.&nbsp;<br><br>Kenapa aku melakukan ini?<br><br>Hujan, bisakah kau menjawabnya?&nbsp;<br><br>Padahal sudah kelas 12, sebentar lagi kita lulus dan sibuk dengan ujian beruntun. Tetapi mengapa aku melakukan ini?&nbsp;<br><br>Untuk apa?&nbsp;<br><br>Aku bersandar di kursiku, menatap langit malam yang terlihat semakin hitam karena mendungnya hujan.&nbsp;<br><br>"Awalnya kukira kau hanya memihak pada keadaan yang menyenangkan, hujan. Tetapi sekarang? Aku merasa terkhianati."<br><br>Shara, aku kini tahu betul alasan mengapa kau sangat menyukai hujan. Sepertinya aku juga menyukainya.&nbsp;<br><br>"Untuk apa aku merusak diri karena dirinya?"<br><br>Ayo berubah, relakan dirinya.&nbsp;<br><br>Maaf, Shara, aku akan berubah.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 09:22:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256541937</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ephemeral</title>
         <author>mcgneto</author>
         <link>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256543344</link>
         <description><![CDATA[<div>Author: Ciel<br>___<br><br></div><var>Ephemeral</var><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; <sub>lasting for a very short time<br></sub><br></div><div><br>Altair tidak tahu sejak kapan atau bagaimana ia bisa ada di sana; sebuah kastil tua yang asing namun juga familier. Ia memiliki sedikit sangkaan dalam benak. Hamparan salju putih yang tampak dari jendela menambah keyakinan akan dugaannya. Kastil tua dan musim dingin yang menyelimutinya.<br><br><em>Tidak salah lagi, tempat ini seperti kastil tempat Astra—<br></em><br>“Persis seperti kastil tempat Astra diisolasi, bukan begitu?”<br><br>Lamunannya praktis pecah, atensi beralih pada sosok berperawakan androgini beberapa langkah di depannya. Perak dan <em>amethyst</em> saling bertukar pandang dalam hening. Altair tidak mengenal orang itu, anehnya, ia tidak merasa waspada—seakan ada sesuatu dalam dirinya yang menganggap orang itu tidak berbahaya. Jujur, rasanya aneh, bagaimana bisa ia tidak merasa waspada terhadap orang asing? Namun, sejak awal memang segalanya sudah aneh; seperti dirinya yang tiba-tiba berada di kastil tua tersebut, pun orang asing yang kini memasang senyum penuh arti di hadapannya.<br><br>Benaknya senantiasa bertanya-tanya, ia sedang bermimpi atau apa?<br><br>“Aku punya banyak pertanyaan, apa kau bisa menjawabnya?”<br><br>“Beberapa, kurasa.”<br><br>“Kau siapa? Bagaimana aku bisa ada di sini? Apakah semua ini nyata? Bagaimana kau bisa tahu tentang adikku? Apakah kau semacam roh? Apa—”<br><br>“TAHAN!”<br><br>Altair praktis menutup mulutnya, sebagai gantinya ia menatap intens figur di hadapan, menunggu jawaban. Senyum orang itu kini hilang, air mukanya seperti tengah menimang-nimang kalimat yang tepat untuk diucap.<br><br>“Pertama-tama, kau bisa memanggilku Ciel, Al—”<br><br>“Dari mana kau tahu namaku?”<br><br>Hening yang aneh. Orang yang mengaku sebagai Ciel itu terlihat merutuk sambil mengusap wajahnya. Kemudian seutas senyum canggung terukir, pun tawa kering yang dipaksakan.<br><br>“Yah, aku tahu cukup banyak tentangmu dan keluargamu ... sayangnya, aku tidak bisa memberitahumu bagaimana atau dari mana aku tahu itu,” Ciel mengalihkan pandangannya, enggan menatap sepasang perak yang tengah menatapnya intens. Jelas sekali orang ini tidak hanya sedang menyembunyikan sesuatu, tapi ada banyak yang berusaha ia sembunyikan dari Altair!<br><br>“Kalau begitu—hei! Mau ke mana?!”<br><br>“MAU SENTUH SALJU DI LUAR!”<br><br>Altair terdiam, heran. Kendatipun demikian pemuda itu tetap membawa kakinya untuk mengikuti Ciel. Langkah keduanya bergema dalam keheningan koridor, sesekali Altair mengalihkan atensi pada sekitar.<br><br>Kenangan itu sudah lama sekali, namun ia masih tetap mengingatnya meskipun samar. Tentang kehidupan pertamanya; tentang janjinya untuk menjemput sang adik dari tempat ini. Sebuah janji semu yang tidak pernah terwujud. Ia bahkan tidak tahu bagaimana nasib sang adik setelah ‘kematiannya’. Rasa bersalah yang terus menghantui kalbu masih tinggal hingga kini, seolah perasaan itu enggan pergi kendatipun segalanya telah baik-baik saja. Altair sangat ingin bertanya, namun nahasnya orang-orang yang ingin ia mintai jawaban tidak lagi memiliki ingatan lamanya.<br><br>“Al?”<br><br>“Ah, iya?”<br><br>Pemilik helai seputih salju itu terlalu larut dalam kalut marut benaknya, ia baru sadar jikalau dirinya sudah berada di halaman kastil kala udara dingin menyapu lembut kulitnya. Dingin itu terasa nyata.<br><br>“Salju asli—AL! SALJU ASLI!” Ciel menunjuk-nunjuk hamparan putih di hadapan dengan mata yang berbinar-binar, persis seperti anak kecil.<br><br>Jujur, Altair tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Ia hanya diam memperhatikan di saat pemilik pucuk hitam sibuk berguling-guling di salju bahkan memakannya. Ia sangat heran, tetapi ia sendiri tidak tahu latar belakang Ciel. Bisa jadi Ciel tinggal di negara tropis sehingga tidak pernah merasakan salju, bukan?<br><br>Bagaimanapun, Altair masih memiliki segunung pertanyaan.<br><br>“Al, apa sekarang kau bahagia?”<br><br>Itu pertanyaan yang mendadak. Tingkah kekanakan Ciel lesap dalam sekejap, orang itu kini berdiri di sebelahnya dengan sepasang <em>amethyst</em> yang menerawang angkasa.<br><br>“Ah, maksudku, apa kau bahagia di kehidupanmu yang sekarang?”<br><br>Altair tahu benar pertanyaan itu cukup aneh untuk ditanyakan oleh orang asing yang baru ia temui—namun, entah mengapa cara Ciel menanyakan itu seakan-akan ia selalu mengawasi perjalanannya. Apakah Ciel ini sebenarnya semacam Roh Agung atau sejenisnya? Entahlah, ia lebih tidak mengerti mengapa seutas senyum memaksa terbit.<br><br>“Ada banyak masa lalu yang masih menganggu pikiranku. Tapi ... ya, aku bahagia.”<br><br>Altair melihat Ciel tersenyum, terlihat sarat akan kelegaan. Ia tidak mengerti karena apa. Di saat dirinya hendak mengutarakan kebingungannya, tiba-tiba segalanya memudar. Baik dirinya, Ciel, pun kastil beserta Hutan Eden—semuanya memudar. Samar-samar ia mendengar suara Ciel sebelum cahaya yang menyilaukan seperti memaksanya bangun dari sebuah mimpi.<br><br>“Senang bertemu denganmu, anak pertamaku—Altair!”<br><br>、。。。、<br><br>Altair terbangun di ranjang rumah sakit, lengkap dengan sambutan wajah gelisah keluarganya. Aneh, ia tidak ingat memiliki riwayat penyakit apapun. Memangnya ia sakit apa sampai harus berada di kamar inap rumah sakit?<br><br>“Al, ingat sesuatu?” ia praktis mengerjap mendengar pertanyaan saudari kembarnya.<br><br>“Kak Al, minum dulu—”<br><br>“Seperti kastil dan salju?”<br><br>“<em>What</em>?” lima anggota keluarga menyahut kompak, menatap Altair seperti menatap makhluk asing dalam keluarga mereka.<br><br>“<em>What</em>...?”<br><br>“Al, kau tiba-tiba pingsan saat resital kita,” ujar Alleine.<br><br>“Hah?”<br><br>“Kakak membuat seisi auditorium panik,” Astra menimpali.<br><br>“Hah?!”<br><br>“Lalu resital kalian harus dibatalkan,” Charlize mengakhiri cerita singkat kilas balik mereka.<br><br>Altair memijat pangkal hidungnya, ia sama sekali tidak ingat ada kejadian seperti itu. Jadi, secara singkat ia tiba-tiba hilang kesadaran di tengah resital, kemudian entah bagaimana caranya kesadarannya berada di antah-berantah yang persis seperti suatu tempat di kehidupan lamanya—lalu bertemu dengan orang aneh yang lebih anehnya lagi mengetahui seluk-beluk riwayat hidupnya. Sejujurnya, itu terlalu nyata untuk disebut mimpi, tetapi jelas itu tidak bisa disebut nyata.<br><br>“Eh?”<br><br>“Kak, ada apa?”<br><br><em>Tunggu, orang yang tadi itu ... siapa?<br></em><br>Altair tidak bisa mengingat rupa apalagi namanya.<br><br>、。。。、<br><strong>「End」</strong></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-08-08 09:25:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/meraki2/W6_authc/wish/2256543344</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
