<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Narasi Diskusi Charlotte Mason Vol. 6 Batch 3 by CMid Jakarta</title>
      <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i</link>
      <description>&quot;A Philosophy of Education&quot;</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-02 04:40:09 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f4d4.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478851</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 1]<br>Sebuah Pengantar, hal. 1-3<br>Kamis, 1 September 2022<br><br>Miss Mason menuangkan tulisannya, bahwa perang dunia 1 telah usai, dan saat itu Inggris bersukacita akan kekuatan dan keberanian dalam perang, karena Inggris memiliki tentara² hebat. Tentara² yang dihasilkan dari sekolah militer yang disiplin, terstruktrur dan terorganisir.<br><br>Tetapi disisi lain, bagaimana dengan para pria yang bukan militer yang hanya memilih untuk bersantai? Mereka ini juga dihasilkan dari sebuah pendidikan. Tetapi pendidikan yang seperti apa? Sampai mereka ini hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tidak ada jiwa patriotisme ( keberanian, pantang menyerah, berani membela bangsa dan negara) dengan nalarnya?&nbsp;<br><br>Berhati hatilah, jangan sampai keliru akan hakikat pendidikan. Perlu dipikirkan, apakah pendidikan itu sekedar melatih otot dan fisik semata? apakah pendidikan itu didapat dari hanya membaca buku? apakah pendidikan itu dari teknis² yang diajarkan? apakah pendidikan didapat dari guru² yang menjejalkan pengetahuan pada para murid, tetapi kebanyakan murid hanya menyerap sedikit?&nbsp;<br><br>Bukankah pendidikan itu juga seharusnya melibatkan budi yang diberi nutrisi baik dengan ide ide besar dan&nbsp; pemikiran-pemikiran besar? Tidak hanya sekedar diberikan pelatihan² saja? Bangsa yang akan memiliki masa depan yang cerah adalah bangsa yang memikirkan bahwa pengetahuan itu memiliki tujuan akan pengetahuan itu sendiri.<br><br>Pendidikan untuk anak itu holistik dan utuh, semakin banyak baca, semakin banyak asupan ide, semakin anak berkembang untuk paham artinya hidup. Hidup bermasyarakat dengan jiwa pelayanan.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478851</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Damba Risma</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478852</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 1]<br>Sebuah Pengantar, hal. 1-3<br>Kamis, 1 September 2022<br><br>Pengantar<br>Pendidikan. Apa kira-kira yang terlintas di benak masyarakat kita ketika dimintai pendapat mengenai apa pendidikan itu? Mungkin berikut adalah jawaban yang ramai sekali dipilih. Anak-anak baiknya sejak dini&nbsp; sudah berseragam, membawa tas di pundaknya, duduk rapi menghadap papan tulis dengan guru di depan kelas yang sibuk berbicara mengenai ini dan itu. Sebelum anak-anak itu sempat bertanya ini dan itu pula, waktu sudah habis dan guru akan memberikan PR sebagai bentuk pengulangan dan latihan&nbsp; di rumah. Kemudian anak, untuk mengerjakan PR tadi, kembali dihadapkan kepada guru (baca guru les). Latihan demi latihan untuk semakin trampil dalam mengerjakan soal-soal yang akan masuk materi ujian terus diupayakan demi nilai bagus. Kursus demi kursus yang akan menambah kompetensi anak dalam dunia kerja terus dikejar. Begitulah hari-hari dilalui sampai akhirnya mereka mengenakan jubah toga pertama mereka pada akhir tahun ajaran, di usia 5 tahun mungkin, sebagai tanda telah menuntaskan kriteria atau target&nbsp; kelulusan. Demikian hal ini terus berlanjut, sampai ke jenjangnya yang tertinggi di perkuliahan. Lulus dengan nilai yang terbaik atau cukup, kemudian lanjut cari pekerjaan, dan seterusnya. Orang seperti inilah yang jamak disebut sebagai orang berpendidikan atau sering juga disebut orang bertitel. Jadi kalau ada yang bertanya, pendidikan nya apa? Maka lazimnya orang tersebut akan menjawab dengan gelar kesarjanaannya.<br>Namun ketika kita diperhadapkan pada kesulitan negara dalam menemukan penerus kepemimpinan di berbagai jenjang, mengapa sulit sekali menemukan yang setia, cakap, dan rela berkorban? Dimana gerangan para pemuda harapan bangsa yang memiliki patriotisme berbasis nalar? Sebaliknya, media malah dipenuhi berita para pemimpin yang lalim dan korup. Para kader partai politik cenderung mementingkan golongannya sendiri, bahkan menghasut, memeras demi memenangkan kekuasaan.&nbsp; Para penegak hukum malah menjadi pelaku 'intelek' dari berbagai kasus hukum yang tersistemasi dari pucuk pimpinan sampai bawahan.<br><br>Hal senada diutarakan Miss Mason, ketika melihat fakta Sejarah di Inggris, yang walaupun masih ada orang-orang pemberani yang mau maju, berperang membela negara, namun ada juga orang yang berdiam di rumah saja, tak peduli akan tugas tanggung jawabnya. Maka dengan gamblangnya Miss Mason menolak menyebut hal di atas tadi sebagai pendidikan. Segala praktik pelatihan hal-hal praktis saja pada akhirnya hanya akan membuat manusia&nbsp; kembali berpusat pada kepentingan-kepentingan pribadi semata. Ada yang hilang dari praktik seperti ini, dan sayangnya bagian yang hilang inilah yang Miss Mason maksudkan sebagai pendidikan yang sebenarnya. Yang ketika hal itu tidak ada, segala pelatihan, kursus untuk menaikkan kompetensi itu ibarat menjadikan manusia sebagai pribadi yang tidak utuh, timpang, hanya menjadikannya sebagai pribadi mekanis, sekrup-sekrup cadangan di tangan para pemilik agenda. Jadi, apakah yang hilang itu?<br><br>Mengapa kehilangan yang sangat besar ini terus menerus terjadi di kalangan masyarakat kita juga dunia? Masyarakat selalu mengagungkan pendidikan, di saat yang sama mengeluh dan merasa bahwa ada yang salah dengan pendidikan. Jika dilihat lebih jauh masalahnya&nbsp; berakar pada konsep budi yang disalah mengerti. Secara turun temurun guru disodori konsep bahwa pikiran atau budi terdiri dari&nbsp; berbagai fakultas yang harus dikembangkan. Kekeliruan ini diturunkan dari pemahaman bahwa berpikir hanya dipandang sebagai fungsi otak. Sementara Miss Mason sendiri memiliki pemahaman bahwa pendidikan berkepentingan terhadap pengetahuan itu sendiri, bukan terhadap pengembangan fakultas ini dan itu dari budi. Artinya budi haruslah diasupi pengetahuan yang memadai dari waktu ke waktu dengan pemikiran, ide atau gagasan dari para pemikir yang pernah ada. Inilah hakikat pendidikan yang hilang dari masyarakat itu, bahwasannya hanya pemikiran yang bisa menggugah budi. Pelatihan-pelatihan fisik maupun kejuruan dipandang sebagai satu kesatuan pendukung, tak terpisahkan tapi bisa dibedakan posisinya, yang mengikuti arah pemikiran, agar seseorang cakap dalam menghadapi kehidupan dengan segala problematikanya, bertumbuh secara holistik, serta secara sadar mampu berkontribusi melayani sesama.<br><br>Damba<br>Pangkalan Kerinci, 2 Sept 2022<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478852</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hiyashinta Klise</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478853</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 1]<br>Sebuah Pengantar, hal. 1-3<br>Kamis, 1 September 2022<br><br>Banyak orang keliru tentang konsep pendidikan karena mereka melupakan hakikat budi.&nbsp;<br><br>Padahal akal budilah yang membuat manusia bukan hanya sekedar mencari nafkah, tetapi tahu caranya hidup. Dan budi ini hanya dapat dibangun dari pendidikan yang benar. Lalu bagaimana pendidikan yang benar itu? Yang bisa membangun akal budi. Tapi bagaimana caranya? Haha..&nbsp;<br><br>Oke, CM menuliskan bahwa budi bisa dibangun dari pemikiran dan ide-ide hidup.&nbsp;<br>Pemikiran. Mikir. Kata ini selalu dipahami sebagai kerja otak fisik semata. Ini juga yang saya pahami sebelumnya. Kalau mendengar kata 'mikir', yang terlintas adalah mengerjakan soal-soal. Apalagi matematika. Mikir banget lah itu. Dan anak yang terlihat tidak mengerjakan soal-soal artinya enggak mikir. Jadi tugas-tugas banyak diberikan agar anak tidak nganggur dan terus ber'pikir'.&nbsp;<br><br>Tetapi ternyata artinya lebih luas daripada itu. Mikir artinya mengolah pengetahuan yang kita dapat. Merelasikan pengetahuan itu dengan pengetahuan lain atau pengalaman kita sebelumnya. Merenungkan, merefleksikannya. Sehingga setelah mikir kita mendapat ide baru. Buah pikir kita sendiri, yang dapat berguna untuk diri sendiri dan sesama, seperti pemikiran para cendikia.&nbsp;<br><br>Bahan untuk dipikirkan adalah ide-ide. Yang sebenarnya adalah juga buah-buah pikir dari orang-orang terdahulu, yang telah memikirkan hal-hal besar untuk kebelangsungan hidup sesama manusia dan alam sekitarnya.&nbsp;<br><br>Begitulah para pendidik seharusnya dapat memfasilitasi proses berpikir yang seperti itu.&nbsp;<br><br>Inilah bedanya pendidikan dan pelatihan.&nbsp;<br>Pelatihan adalah hal teknis dalam mempelajari sesuatu. Bukannya tidak penting, tetapi banyak orang mendewakan hal-hal teknis ini dan melupakan hakikat pendidikan yang sebenarnya untuk tujuan-tujuan sempit di hidupnya dan&nbsp; membuat akal budinya tidak bertumbuh.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478853</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478854</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 1]<br>Sebuah Pengantar, hal. 1-3<br>Kamis, 1 September 2022<br><br>Charlotte Mason mencoba menyoroti keadaan setelah Perang Dunia I yaitu tentang banyak pria yang memilih untuk tinggal di rumah daripada pergi berperang. Mengapa begitu banyak orang tampaknya tidak memiliki dorongan untuk bermurah hati, tidak ada patriotisme berbasis nalar, tidak ada kemampuan untuk melihat melampaui kepentingan-kepentingan sempit mereka sendiri? CM berkata ketika mereka merasa mapan, merasa telah berhasil dengan dengan pendidikan yang ada maka tidak merasa punya kewajiban untuk melayani sesama mereka. Lalu kemudian yang menjadi pertanyaan apakah yang mereka dapat bukan pendidikan? Apa yang salah dengan pendidikan yang mereka dapatkan?<br><br>Maka sesungguhnya kata CM kita sedang menjalani hal yang keliru – bukan tentang pendidikan itu sendiri – melainkan tentang pemahaman kita terhadap hakikat akal budi. Sesungguhnya pendidikan bukan hanya sedang menjalankan fungsi otak untuk berpikir. Pendidikan semestinya lebih dari itu, dimana prosesnya, pengetahuan dan pemikirannya tidak lain sedang memberi asupan bagi akal budi. Akal budi yang membedakan kita manusia dari mahluk ciptaanNya yang lain. Pemikiran yang satu menghasilkan lebih banyak pemikiran. Dan bahwa hanya pemikiran yang dapat menggugah budi. Semua aktivitas indra dan otot seharusnya melatih budi bukan saja fisik.<br><br>Pemahaman masyarakat yang keliru memahami tentang hakikat pendidikan. Bahwa kita beranggapan pendidikan telah berhasil ketika anak mampu dan mandiri memenuhi kebutuhannya sendiri. Ketika anak telah memiliki segala pengetahuan, menguasai keahlian tertentu, dst. Perlahan-lahan kita mulai memahami hakikat Pendidikan, bahwa Pendidikan itu berhasil ketika anak menjadi pribadi yang utuh dan berkembang secara holistik, semakin mampu ia memenuhi potensi dirinya, menjalani hidupnya dan melayani masyarakat.<br><br>Pendidikan yang tidak saja mendidik keahlian kita, keterampilan kita namun yang terpenting adalah mendidik akal budi kita. Aku jadi terpikir, kalau tujuan pendidikan kita hanya semata agar anak mampu mandiri, memenuhi kebutuhannya sendiri, memiliki kehalian ini dan itu. Mungkin akan tiba waktunya, kita manusia tak ubahnya seperti robot. Dunia akan diisi oleh robot berwujud manusia, yang bisa melakukan banyak hal, menciptakan banyak hal, dst namun tidak memiliki budi yaitu alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk; tabiat; akhlak; watak,; perbuatan baik; kebaikan, daya upaya; ikhtiar, akal (mengutip dari sharing mbak lisa).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478854</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Diana Minita</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478855</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 1]<br>Sebuah Pengantar, hal. 1-3<br>Kamis, 1 September 2022<br><br>Pada tulisan kali ini CM menyoroti bagaimana keberhasilan prajurit2 yang memiliki semangat nasionalisme dan patriotisme yang tinggi&nbsp; tetapi banyak pula yang memilih tinggal di rumah dan menolak untuk ikut berperang.CM menyorotinya dan mempertanyakannya hasil pendidikan formal yang mulai menganggap pendidikan dapat diperoleh dari hal lain selain buku yang bersifat teknis dan keahlian. Apa yang disampaikan CM saat ini sungguh menjadi suatu kenyataan yang biasa ditemui pada pendidikan saat ini. Buku2 yang berkualitas yang syarat ide2 hidup bukanlah sesuatu yang populer dalam pendidikan formal saat ini. Anak bisa apa, ahli di bidang apa menjadi sesuatu yang dinilai dan tolok ukur keberhasilan pendidikan padahal itu hanya sebatas keahlian.<br><br>Budi pekerti dan nilai2 seperti patriotisme, kebaikan, nasionalisme didiktekan kepada anak2 sehingga mereka pun tidak memiliki koneksi dan gambaran hidup seperti apakah yang dimaksud dengan nama2 yang terasa abstrak itu. Pendidikan ujung2nya berfokus pada keahlian untuk siap kerja, bagaimana kepribadian, kedewasaan berpikir dan nilai2 budi pekerti lain tidak mendapat perhatian yang cukup.&nbsp;<br><br>Keahlian bisa dipelajari siapa saja tetapi memiliki karakter luhur dan berani menentang arus ketika sistem nilai yang ada di sekelilingnya sudah berbelok menjauhi yang baik dan benar itu tidak dpat diperoleh dri pelatihan teknis tapi peluhuran karakter. Kenapa pendidikan saat ini lebih "suka" yang mengajarkan keahlian mungkin karena kita sulit untk beriman dan tidak sabar menunggu penantian panjang dari pendidikan menuju budi pekerti luhur itu. Semakin cepat terlihat hasilnya memang terasa melegakan di awal ya buat para orang tua, merasa anaknya bisa mandiri dan mapan dalam waktu singkat tapi apakah benar demikian?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478855</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Titin Mufarrahah</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478856</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 1]<br>Sebuah Pengantar, hal. 1-3<br>Kamis, 1 September 2022<br><br>Membaca pengantar vol. 6 Filsafat Pendidikan Ibu CM, yang terlintas pertama kali adalah soal kedisiplinan. Dalam suatu kesempatan, Mbak Ellen menyampaikan pengalamannya mendampingi kelas-kelas peningkatan kapasitas diri. Banyak dari peserta memiliki masalah kedisiplinan. Persis seperti keadaan yang dijelaskan Ibu CM usai perang dunia I. Para pasukan Inggris berani mati, hasil dari pengondisian kedisiplinan. Mereka melakukan kegiatan-kegiatan terorganisir. Namun, warga yang terdiri dari laki-laki dewasa yang sehat. Mampu membaca, menulis dan menalar enggan mengambil bagian, bersikap patriotik membela negara.<br><br>Kedisiplinan seperti sulit dilakukan secara mandiri. Kendor di hadapan individu. Berujung pada kemalasan. Dan aku teringat sabda Nabi Muhammad yang mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan dari keburukan malas.&nbsp;<br><br>Wajah pendidikan kita hari ini memupuk kemalasan semakin subur. Siswa dimanjakan. Guru yang berupaya keras mengambil alih mengolah pendidikan. Budi mereka dibekukan. Materi dipilihkan. Lalu dipenuhi fakta-fakta pengetahuan. Sesak membayangkannya. Padahal tujuan pendidikan tidak sekedar untuk tahu. Lambat laun, hasrat alami siswa akan pengetahuan membeku. Tertidur lelap.<br><br>Kekhawatiran terbesar lainnya ada anggapan kuat atas terbelahnya fungsi otak. Otak dianggap sebagai media penting dalam menyerap pengetahuan. Keterbelahan itu melahirkan kondisi berpikir parsial. Mengunggulkan dan mengakhirkan satu sama lain. Saat ini kita masih digombali bahwa sains, matematika, logika, nalar menempati kasta tertinggi dalam berpikir. Turut memakmurkan kemajuan dunia. Sementara belahan otak wilayah seni, rasa dan agama dicap sebagai penahan laju kemakmuran dunia. Tak perlu dikembangkan.<br><br>Betapa terbelah wajah pendidikan. Ketidakwajaran diterima sebagai hal wajar. Tak apa tak memahami diri. Yang penting mencetak banyak prestasi. Tak jadi soal korupsi, yang penting komunikasinya menarik simpati. Kompetisi makin menjadi, sementara nurani mati suri. Mengapa begini? Dari mana asal mula permasalahan pelik terjadi?<br><br>Menurut Ibu CM, akar masalah wajah pendidikan bermula dari cara pandang yang salah terhadap budi. Bahkan beliau secara tegas membedakan pendidikan dan pelatihan. Kesamaan keduanya, sama-sama butuh aktivitas indra dan otot. Namun, Ibu CM mengingatkan utk menggunakan sesuai porsinya. Lebih lanjut, budi hanya mampu diasupi oleh gagasan. Hanya ide-ide cemerlang dari zaman ke zaman lah yang mampu menumbuhkan budi. Ide yang biasanya tertuang dalam buku-buku berkualitas tinggi.&nbsp;<br><br>Belajar memperdalam sebuah program komputer misalnya. Kalau sudah menguasai banyak program, lantas apa selanjutnya? Generasi saat ini boleh jadi heran mengapa generasi awal 70-an dan akhir 80-an mencurahkan aktivitas indra dan ototnya demi mendalami sebuah program. Padahal saat ini program-program itu berada di HP pintar.<br><br>Hanya melalui pendidikan holistik, memandang otak sebagai media berpikir secara manunggal, manusia akan bangkit menyadari kemanusiaannya. Manusia yang tidak hanya siap bekerja. Namun, manusia yang menyadari kemampuannya sesuai cetak biru hidupnya. Dan melayani masyarakat sekitarnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478856</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478857</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 1]<br>Sebuah Pengantar, hal. 1-3<br>Kamis, 1 September 2022<br><br>Membaca pengantar buku Vol. 6 dari Charlotte Mason membuatku merenungkan, atmosfer semacam apa yang terjadi saat itu. Perang, ketidak stabilan situasi dan kondisi sosial, memantik CM untuk berpikir panjang dan mendalam. Dalam narasinya, terdapat deskripsi bahwa kondisi Inggris saat itu begitu berat usai Perang Dunia ke-1 dan betapa masyarakat Inggris saat itu terbagi menjadi golongan dominan atas masyarakat yang acuh dan masyarakat yang turut serta dalam pebaikan pendidikan Inggris.<br><br>Sebuah situasi, dirasakan oleh ribuan maupun ratusan ribu orang, namun yang tergerak untuk melakukan perubahan nyatanya hanyalah minoritas. Ini membuatku berpikir, bahwa betapa sebuah situasi bisa menghasilkan <em>output</em> yang berbeda, dengan perspektif maupun pandangan yang bisa menjadi pilihan setiap individu. CM menjadi tokoh yang berdampak luas bahkan dari abad ke-18 hingga kini. Berapa banyak orang yang memilih jalan yang ditempuh oleh CM? Berapa banyak orang yang memilih utk menjadi apatis?&nbsp;<br><br>Baru di kata pengantar ini saja apa yang disampaikan CM membuatku merenung dalam, jika aku, saat itu, hidup dan hadir di zaman yang serupa, sikap seperti apa yang aku ambil?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478857</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478858</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 2]<br>Introduction, hal. 3-5<br>Kamis, 8 September 2022<br><br>Tulisan selanjutnya dari Miss Mason soal filosofi pendidikan bahwa sebenarnya teror perang hanyalah suatu gejala yang mempengaruhi kondisi saat itu. Kondisi karakter bobrok dan perilaku yang bobrok. Ada banyak yang mempengaruhi, salah satunya pemikiran Darwin. Saat itu, siapa yang kuat memberikan pengaruh, dialah yang berkuasa. Seperti ada sekat ilmu pengetahuan alam dengan moral juga spiritual. Padahal idealnya ilmu alam, moral dan spiritual berdampingan.Kondisi saat itu sepertinya masih terjadi sampai sekarang. Kalau direfleksikan dengan kondisi sekarang dengan kasus banyak yang terjadi saat ini di kalangan penguasa. Penguasa pemegang kekuasaan bisa melakukan apapun sesuai nalar mereka tanpa memandang moral dan hati nurani misalnya dengan melakukan korupsi uang rakyat sampai pembunuhan.Hakikat pendidikan menurut Miss Mason, adanya relasi nalar, moral, dan hati nurani yang seimbang. Otak tidak hanya dilatih untuk melakukan aktivitas fisik, tapi otak pun dilatih agar mempunyai akalbudi baik dengan diberi asupan bergizi dengan ide pemikiran baik sehingga tidak ada sekat antara ilmu pengetahuan dan spiritual.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478858</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478859</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 2]<br>Introduction, hal. 3-5<br>Kamis, 8 September 2022<br><br>Kebobrokn prilaku di Jerman (Perang Ddunia I), menurut CM lebih disebabkan oleh karena pemikiran yang telah diajarkan kepada rakyat selama tiga atau empat generasi. Pemikiran/ teori Darwin yang diyakini oleh bangsa Jerman menjadi seperti alasan pembenar bagi mereka kala itu untuk menghalalkan segala cara mencapai tujuan bangsa Jerman.<br><br></div><div>Ide-ide tentang ras super, negara super, hak bagi negara terkuat untuk mengabaikan perjanjian dan menghancurkan negara-negara yang lebih lemah, dan untuk tidak mengakui hukum kecuali yang melayani kepentingannya sendiri - ini berasal dari Darwinisme sepasti ayam berasal dari telur. Dan pada dasarnya sifat manusia cenderung lebih menyukai hukum-hukum alam daripada hukum-hukum spiritual dan untuk mendapatkan kode etiknya dari sains daripada Tuhan. Dan itulah sebabnya Jerman menjadikan teori Darwin sebagai pembenaran untuk menjadi brutal.<br><br></div><div>Buchner juga menyederhanakan teori Darwin dan membuatnya lebih populer. 'Semua hal yang dilakukan otak yang kita anggap sebagai aktivitas fisik hanyalah fungsi dari otak fisik. Pikiran bagi otak setara dengan empedu bagi hati.' Bahwa bagaimana kita memberi asupan/ memberi makan otak kita maka akan mempengaruhi apa yang dihasilkan/ produksi/ tindakan kita kemudian. Oleh karena itu ide-ide yang kita hidupi/ kita pelajari menjadi sangat penting.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478859</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Vebriyani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478860</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 2]<br>Introduction, hal. 3-5<br>Kamis, 8 September 2022<br><br>&nbsp;<br>Selama ini, semua orang tua menginginkan pendidikan yang layak untuk anak-anak mereka. Belajar keterampilan A, B, dan C. Dicukupi kebutuhan dan latihan fisik supaya sehat. Semua itu tujuan hidup mencari nafkah dan memiliki kecukupan materi. Seiring berjalannya waktu, kondisi yang dibicarakan Ibu CM berhubungan dengan apa yang terjadi dizaman sekarang. Berbagai keterampilan hidup atau kekuatan fisik tak cukup sebagai bekal mencari nafkah dimasa depan. Praktek korupsi, penipuan, atau tindakan kriminal menjadi keprihatinan bagi kalangan orangtua. Padahal anak-anak mereka sudah memperoleh pendidikan. Ternyata mereka menjadi pribadi yang tak bisa dipercaya dalam masyarakat. Orang tua akhirnya menyadari pentingnya pendidikan yang tidak hanya membuat anak bisa mencari nafkah saja.&nbsp;<br><br>Nah, pendidikan seperti apa yang sebenarnya perlu diterima anak?&nbsp;<br>Pendidikan yang diperlukan anak-anak adalah pendidikan yang mempersiapkan anak untuk kehidupan bukan hanya untuk mencari nafkah. Mereka memerlukan pendidikan secara holistik. Ibu CM mengungkapkan: "Semakin anak dididik secara holistik ia akan mampu memenuhi potensi dirinya, menjalani hidupnya dan melayani masyarakat.".<br>Dalam perang dunia 1, kita bisa mempelajari apa yang menyebabkan kebobrokan karakter bangsa Jerman. Selama 3-4 generasi Jerman menerima ide-ide dan selama 25 tahun sudah memahami tentang teori materialistik dan kemudian teori-teori seleksi alam dari Darwin memberikan mereka alasan logis untuk bertindak brutal. Mereka ingin menguasai dunia karena mereka menganggap merekalah ras, dan negara terbaik yang berhak berkuasa atas negara yang lemah dan yang berhak mengabaikan hukum kecuali yang menguntungkan diri mereka sendiri.&nbsp;<br>Teori materialistik menganggap manusia ini hanya daging. Pondasi segala sesuatu adalah materi. Lalu, pikiran serta roh hanyalah paduan kekuatan alam. Hukum alam diagungkan. Hukum spiritual diabaikan. Manusia hanya perlu mengembangkan otak dan fakultas-fakultasnya. Padahal manusia juga terdiri dari budi dan roh.&nbsp;<br>Pemahaman teori materialistik ini mengedepankan nalar manusia yang cenderung membenarkan pemikiran- pemikirannya sendiri. Tanpa diimbangi dengan menanamkan nilai -nilai dan moral dengan cara mengasupi budi dengan ide dan pemikiran maka keputusan dan tindakan yang diambil adalah hal yang tidak manusiawi. Karakter yang muncul juga buruk. Masih ingat, di zaman Nazi mereka mampu membuat 7 buah sabun dari seorang manusia. Akhirnya, kita bisa melihat, pendidikan yang dilandasi pengertian teori materialistik dan seleksi alam membuat moral hilang, orang lemah ditindas, kejahatan dan perang akan terus ada.&nbsp;<br>Di sekolah, anak-anak lebih banyak dilatih daya nalarnya dan pendidikan moral maupun spiritual menurut saya sangat sedikit. Sebenarnya menjadi rasional itu baik, kita bisa tahu bagaimana kita akan melakukan sesuatu. Tetapi kehidupan intelektual dan kehidupan spiritual ini tidak terpisahkan. Jadi, sebaiknya anak-anak memperloleh pendidikan yang seimbang mengembangkan nalar maupun budi anak itu sendiri. Ini tentunya menjadi tugas yang tak mudah bagi para orang tua. Namun, dimana ada kemauan disitu ada jalan.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478860</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478861</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 3]<br>Introduction, hal. 5-8<br>Kamis, 15 September 2022<br><br>Tulisan Miss Mason di vol 6 bagian ini, semakin menarik untuk dipahami, tentang bagaimana harusnya model pendidikan bekerja untuk manusia.<br><br>Perang Dunia 1 yang terjadi, menjadi pelajaran untuk semua orang, bahwa tubuh manusia tidak terdiri dari daging saja tapi ada roh di dalam tubuh. Roh ini yang membantu mengarahkan secara holistik manusia. Tidak ada pemisahan pengetahuan dengan spiritualitas. Lewat pemikiran besar, peristiwa besar, dan kepedulian menjadi ide besar pemikiran dalam pendidikan yang harusnya diestafetkan ke generasi berikutnya.<br><br>Aksioma Darwiniah mempengaruhi pemikiran pendidikan bahwa pelatihan dan kebugaran fisik terpenting. Tapi menurut miss Mason bukan itu yang terpenting. Dibuktikan dari Prussia kalah dari Napoleon, bukan karena Napoleon yang hebat tapi karena kebodohan manusianya. Yang menyelamatkan adalah para filsuf dengan pemikiran luasnya akan sejarah, puisi, filsafat. Pendidikan hendaknya bukan hanya pelatihan dan kebugaran fisik tapi mengembangkan kepribadian, menghasilkan pemikiran besar, moral baik, dan inisiatif.<br><br>Pendidikan yang telah dilakukan di PNEU selama kurang lebih 30 tahun telah terbukti berhasil. Pendidikan yang menyuburkan pikiran tanpa mengabaikan pelatihan kejuruan dan kebugaran fisik. Dengan prinsip :<br>1. Prinsip sekali baca dan dinarasikan lisan maupun tulisan.<br>2. Buku² kualitas sastrawi dari pemikiran² dan tulisan² orang besar.<br>3. Guru sifatnya tut wuri handayani, yang berperan banyak adalah murid².<br>4. Guru sdikit mengajar, murid semakin banyak belajar.<br>5. Tidak adanya pujian, iming² hadiah, diberi peringkat untuk membuat anak² ingin belajar. Karena anak² dengan sukarela dan sukacita menikmatj proses belajar.<br>6. Kurikulum kaya (sejarah, sastra, filsafat, geografi, matematika, bahasa, dll).<br>7. Buku tidak perlu dirangkum atau dipenggal².<br><br>Beberapa prinsip ini diterapkan dalam PNEU (Parents National Education Union) yang didirikan Miss Mason, terbukti berhasil. Anak² sukacita dalam proses belajar. Dan prinsip² ini juga telah diterapkan pada sekolah di rumah saat jaman Miss Mason di Inggris. Anak² menunjukkan pemikiran luas mirip layaknya anak² berasal dari sekolah terdidik di Inggris saat itu.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478861</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Latifah Rahma</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478862</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 1-2]<br>Sebuah Pengantar, hal. 1-3<br>Kamis, 1,8 September 2022<br><br>Melihat fenomena dalam perang Dunia Pertama. Dimana Inggris melahirkan banyak sekali prajurit yang gagah berani. Tapi di sisi lain juga kita melihat kenyataan dari banyaknya pria yang memilih bertahan di rumah. kaum ini hadir dari kalangan yang menurut kita 'terdidik'.. Kita bertanya mengapa banyak sekali orang yang tidak memiliki kepedulian yang melebihi dirinya? Lalu kita bertanya mengapa? Hal-hal ini lahir dari pendidikan tapi bukankah yang sudah kita berikan adalah pendidikan?&nbsp;<br><br>Jika kita mengatakan ini sebuah kekeliruan dalam pendidikan. Maka ini dimulai dari bagaimana kita mengartikan budi. Pendidikan yang kita kenal membagi otak sesuai fungsi-fungsinya, sehingga pendidikan hanya sekedar bagaimana cara anak belajar bukan apa yang dipelajari. Para guru berjibaku mengajar tapi anak menyerap sedikit. Lalu kita berdalih minat bakat anak itu bukan disini tapi disitu. Kita sibuk mencari bidang apa yang disukai anak tapi kita lupa apa yang seharusnya dipelajari jiwa anak keseluruhan..&nbsp;<br><br>Guru-guru sedang mencari teori tepat untuk mengakomodasi semua kebutuhan. Teori ini harus bisa mengenali pikiran dan hal apa saja yang di butuhkan pikiran untuk menggugah budi sehingga melahirkan lebih banyak pikiran yang menggugah budi lagi. Pelatihan indra dan otot harus diletakan sesuai tempatnya, tidak mengungguli atau diabaikan semua itu harus mendukung budi untuk bekerja. Ketika kita menganggap belajar teori saja atau belajar teknis saja adalah pendidikan. Mari kita renungkan apakah itu arti pendidikan yang sesungguhnya? Kita kekurangan informasi dan tidak banyak yang membicarakannya sampai kita menyadari untuk hidup, pendidikan seperti itu masih kurang. Orang tua memberikan pendidikan holistik yang tidak hanya sekedar belajar sisi ini dan itu tapi belajar secara holistik dan faktanya membuktikan anak yang belajar secara holistik mampu tumbuh menjadi anak yang mengerti diri dan tugas sosialnya.&nbsp;<br><br>Menelisik bobroknya karakter prilaku jerman menyadari apa yang terlihat (perang) itu hanya gejala saja dari sebuah pemikiran yang dalam. Darwin hanya memantik dari sebuah pehaman yang telah mendarah daging. Pemujaan pada hukum alam dari pada hukum spritual. Sains sebagai pembenaran dan pelenggangan atas apa yang dia percaya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478862</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Latifah Rahma</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478863</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 2-3]<br>Introduction, hal. 3-5<br>Kamis, 8,15 September 2022<br><br>Aku dapat hikmah yang begitu dalam ketika saya menyaksikan peristiwa meninggalnya tetangga, bagaimana proses ruh itu terlepas dari jasad. Sesungguhnya raga ini lemah dan yang membuatnya menjadi arti adalah ruh.. Jadi bagamaina ruhnini memaknai badan ini selama hidup itu perlu dipikirkan dan di jalankan..&nbsp;<br><br>Seirama dengan apa yang diucapkan CM kalau ruh atau budi itu lebih dari jasadnya. Kalau ruh itu yang akan memberikan 'warna' pada jasad. Bahwa tubuh akan akan melakukan apapun untuk keinginannya. Sebagai konsekuensin pentingnya spritualitas dalam diri manusia harus ada nilai pendidikan yang kita bisa wariskan. Ketika prussia dikaramkan dalam perang napoleon, orang sadar bahwa musuh bangsa terhebat bukanlah napoleon melainkan kebodohan. Filusuf mengambil alih, bangsa mulai tercerahkan berkat pendidikan yang menggugah akal budi. Tapi sejarah berulang ketika pendidikan yang menggugah akal budi di matikan. Jerman mulai membuat sekolah berkurikulum utilitarian dan inilah awal dari kejatuhan moral.&nbsp;<br><br>Kita mengingkan pendidikan yang tidak abai pada salah satunya. CM dan PNEU telah mencapai susunan teori yang seperti itu, yang telah diuji puluhan tahun lamanya yang di bukukan dalam seri home education.&nbsp;<br><br>Point-point penting yang berbeda dari kebanyakan metode yang telah beredar sebagai berikut:<br><br>1. Anak-anak sebagai pemanggul tunggal dalam belajar dengan usahanya sendiri.&nbsp;<br><br>2. Para guru hanya bersifat pemantik, sedikit menjelaskan, memberikan semangat psikologis tetapi semua pekerjaan sesungguhnya ada pada siswa.&nbsp;<br><br>3. Dalam satu term akademis siswa membaca buku sesuai dengan usia, sekolah dan levelnya yang bukunya sudah ditentukan. Banyaknya halaman yang di baca dengan metode sekali baca yang diuji dengan narasi lisan dan esai. Ketika ujian caturwulan datang tidak ada remidi, siswa menuliskan apa yang telah mereka pahami dari sekian banyak buku yang telah dibaca pada bagian apapun.&nbsp;<br><br>Banyak yang meremehkan metode belajar dari buku karena pendidikan sekarang ini berbasis materialistik dan pragmatis. Tapi CM membuktikan kekuatan dari metodenya bagaimana anak-snak yang membaca banyak halaman buku dalam sekali baca tapi tetap bisa menuliskan kembali secara akurat tanpa beban apa yang mereka dapatkan setelah berbulan-bulan kemudian..&nbsp;<br><br>4. Bacaan tidak dipenggal, diseleksi hanya karena suka/tidak suka. Buku yang telah di seleksi dibaca secara penuh dalam kurun waktu tertentu.&nbsp;<br><br>5. Anak membaca banyak subjek dari banyak buku tapi tidak menunjukan kebingungan. Hampir tidak ditemui anak yang menjawab ngawur.&nbsp;<br><br>6. Belajar demi kesenangan yang di dapatkan para anak2 CM ini datang bukan dari cara tapi dari bagaimana mengaggunkannya buku-buku itu<br><br>7. Menggunakan buku sastrawi<br><br>8. Tidak diperlukan nilai, penghargaan, peringkat, hadiah, dll untuk menggugah konsentrasi siswa dalam belajar.&nbsp;<br><br>9. Dalam pelajaran yang butuh disiplin tinggi seperti matematika dan tatabahasa keberhasilan ditentukan pada kekuatan para guru. Kebiasaan memperhatikan para siswa juga diperlukan dalam subjek ini.&nbsp;<br><br>10. Pelajaran tidak di selang dngan topik remeh. Anak mendapatkan pengetahuan secara berkesinambungan.&nbsp;<br><br>Karakter para siswa yang begitu menakjubkan terhadap ilmu pengetahusn mencuri perhatian publik bahwa anak-anak ini pasti dibesarkan dalam keluarga terdidik. Sulit meyakinkan bahwa sekolah rumah dapat membentuk karakter anak yang begitu menawan terhadap ilmu pengetahuan. Ini memberikan kesempatan yang lebar bagi kaum marginal untuk mendapatkan pendidikan yang merdeka. Milik semua bukan hanya kaum elit saja.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478863</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Latifah Rahma</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478864</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 3-4]<br>Introduction, hal. 5-8<br>Kamis, 15,22 September 2022<br><br><br>Saat camping kemarin, Mas Aji suami Mbak Shinta mengatakan alasan seseorang melakukan sesuatu itu salah satunya karena ketidaktahuan.. Hasil karakter yang menganggumkan dari metode ibu CM ini merupakan prinsip-prinsip yang belum dikenali dan apabila ini dikenali maka akan memberikan fondasi cerdas bagi dunia pendidikan kita.&nbsp;<br><br>CM ingin menambahkan bahwa metodenya ini tidak hanya berhasil bagi anak-anak yang cerdas saja, metode ini pun bekerja efektif bagi anak yang biasa dan cacat.&nbsp;<br><br>Sekolah dengan metode CM membutuhkan waktu belajar yang lebih sedikit dengan muatan mata pelajaran yang sama.&nbsp;<br><br>Tidak ada remidi, waktu luang dilakukan untuk mengerjakan hal lain hobi atau pelatihan kejuruaan. Tidak ada PR, semua tugas membaca dikerjakan pagi hari sehingga sore hari bisa dilanjutkan nature study di luar ruangan dan aktivitas lainnya. Para siswa dengan aktivitas yang padat seperti itu menunjukan kualitas dan kuantitas yang mengejutkan.&nbsp;<br><br><br>Semangat CM dalam membagikan apa yang dia miliki ini sangat terasa saat kita membacanya. Bagaimana dia dengan senang hati membagikan sesuatu yang ia dan rekan yakini mampu merubah dunia.&nbsp;<br><br>CM membagikan pengalaman yang menghantarkannya kepada kesimpulan-kesimpulang yang menghasilkan karakter yang sangat memuaskan.&nbsp;<br><br>CM muda mengenal anak yang memiliki budi pekerti yang menawan, rasa empati yang besar, dia mampu merasakan kesusahan orang lain bahkan dikala dirinyapun susah. Anak-anak itu membuat CM terkesima. Sebagai guru muda CM mengajar di SD dan SMA yang memberikan CM pengalaman berinteraksi dengan anak rentang usia yang beragam. Tinggal bersama anak half India itu, dan mengajar disekolah memberikan CM sebuah pengalaman kalau anak-anak berprilaku berbeda di rumah dan di sekolah ini memberikan pelajaran bagi CM bahwa anak adalah pribadi utuh. Anak-anak mungkin melebihi dari kita orang dewasa kecuali dalam hal yang belum mereka pelajari.&nbsp;<br><br>Ketika CM menemukan kekurangan anak-anak dalam belajar dan berusaha meyakini dan berusaha mengajar dengan menyenangkan tapi anak2 tetap menolak, dia mendapati bahwa budi anak mampu menolak atau menerima pengetahuan baru tergantung pada kebutuhannya. Bagi CM ini adalah bukti bahwa budi anak secara aktif mencari apa yang dibutuhkannya. Sama halnya tubuh, budi pun butuh nutrisi untuk bertumbuh dengan sehat. Budi tidak terlihat sehingga makanannya pun berjenis sama berbentuk spritual. Dengan kemampuan mencari makanan anak2pun di yakini CM telah diberikan kemampuan dalam mencerna makan bagi budinya.&nbsp;<br><br>Anak mampu mengolah sendiri makanan budinya dengan cara yang mereka pilih sendiri. Dan CM berpandangan apa yang disajikan guru sebagai rangkuman, pertanyaan, dll bisa menghalangi anak dalam melahap makanan budinya. Ketika anak menemukan ide yang tepat baginya. Dia akan melahap ide tersebut seperti anak yang lapar perutnya.&nbsp;<br><br>Seperti nafsu makan/ rasa lapar. Hasrat untuk memenuhi lapar akal budi pun dimiliki setiap anak manusia. Tapi hasrat ini bisa menghilang atau dilumpukan olah hasrat-hasrat alami yang lain. Kekeliruan para pengajar yang merangsang hasrat lain lebih berkuasa dari hasrat lapar anak untuk memenuhi kelaparan akal budinya dengan dalih agar anak semangat belajar justru mematikan hasrat alami anak yang sudah ada dalam mencintai proses belajar.&nbsp;<br><br><br>Seberapa banyak pengetahuan yang dibutuhkan seseorang? Seluruh dunia dan isinya tidak akan mampu mengenyangkan seorang anak kecuali anak itu telah mengalami busung lapar spiritualitas dan menjadi apatis. Lalu apa sebenrnya hakikat pengetahuan? Menurut miss Mason pengetahuan yang seseorang punya adalah yang ia serap ketika budinya secara aktif mencerna.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478864</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478865</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 4]<br>Paraphrase, hal. 8-12<br>Kamis, 22 September 2022<br><br></div><div>Membaca tulisan CM tentang “Prinsip-Prinsip yang Sebelumnya Diabaikan atau Tidak Dikenali”. Sistem pendidikan yang dirancang sedemikian rupa, dimana pemberian tugas tidak diperlukan, tidak ada pengulangan (remedi), waktu belajar yang pendek-pendek, tidak mengenal ceramah, tidak ada pertanyaan komprehensi/ menyebutkan pokok-pokok pikiran, dlsb.&nbsp; Aku membayangkan betapa idealnya model/ sistem pendidikan yang diusung oleh CM. Yang menjadi pertanyaan bagiku adalah mengapa sistem pendidikan seperti ini sulit untuk diterapkan sebagai sistem atau metode secara global atau umum di sekolah-sekolah yang ada. Pertanyaan ini membuat aku berefleksi barangkali kita sebagai orang tua yaitu pendidik yang utama dan pertama bagi anak-anak kita. Yaitu apakah sesungguhnya Pendidikan menurut kita. Mengapa Pendidikan itu menjadi penting. Mengapa anak-anak memerlukan Pendidikan/ belajar. Apa sesungguhnya yang jadi tujuan Pendidikan kita. Barangkali dengan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini maka kita bisa memahami mengapa hal-hal yang ditekankan oleh CM yaitu “Prinsip-Prinsip yang Sebelumnya Diabaikan atau Tidak Dikenali” menjadi penting (prinsipil) dalam suatu penyelenggaraan Pendidikan.<br><br></div><div>Proses merefleksikan hal ini juga aku alami, bahkan menjadi proses yang sangat menyita pikiran, emosi dan perasaanku. Dan hingga saat ini aku masih terus berproses dalam hal ini. Memahami apa yang menjadi hal prinsipil dalam Pendidikan. Bahwa orang tua tidak sekedar menyekolahkan anak karena ya anak harus sekolah, menempuh pendidikan tertentu, kalau tidak sekolah nanti mau jadi apa? “Memaksa”&nbsp; anak untuk belajar, mendaftarkan anak ke berbagai les/ pelatihan keterampilan tertentu, dlsb. Tanpa paham sebetulnya apa yang menjadi esensi dari Pendidikan itu sendiri.<br><br></div><div>Bahwa menurut Charlotte Mason “tujuan utama Pendidikan adalah pembentukan karakter”. Oleh karenanya sekolah/ belajar/ Pendidikan dalam arti apapun tidak bisa dijalankan dengan cara atau metode yang umum terjadi sekarang ini. Pendidikan mestinya dimulai dari inisiatif anak. Pendidikan yang mampu memantik rasa ingin tahu anak yang mengajak anak berpikir “mengapa” tentang segala hal yang dialaminya dan rasa ingin tahunya mendorongnya untuk mencari jawaban-jawabnnya. Pendidikan yang diselenggarakan mestinya mampu membangun relasi antara anak dengan pengetahuan sehingga anak mampu menginternalisasi secara mandiri Pendidikan/ hal yang dipelajari. Pendidikan mestinya mendewasakan karakter anak, bukan melulu melengkapi dengan berbagai keterampilan sementara aspek moral/ karakter menjadi nomor dua. pendidikan semestinya tidak memberi jarak antara pengetahuan dan hal spiritual.<br><br></div><div>Setelah paham akan hal-hal ini, aku relatif lebih “kalem” dalam menjalankan peran sebagai pendidik bagi anak-anaku. Walaupun saat ini masih jauh dari kondisi ideal seperti yang dikemukakan CM, tapi paling tidak aku paham “why”-nya. Paling tidak saat ini aku yakin berada di rel yang tepat dan dalam proses menuju pada tujuan Pendidikan kami.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478865</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478866</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 4]<br>Paraphrase, hal. 8-12<br>Kamis, 22 September 2022<br><br>Tulisan Miss Mason yang kami baca dan diskusi kali ini sangat menarik untuk dicerna. Saya terkesima dengan penjelasan dari Miss Mason soal metode yang dia ingin bagikan ke banyak keluarga untuk banyak anak. Metode yang belum banyak diketahui banyak orang. Metode yang cocok bukan hanya untuk keluarga atas bahkan semua kalangan bahkan anak cacat sekalipun.<br><br>Metode ini sudah dicoba lebih dari 30 tahunan di PNEU. Metode ini bisa diaplikasikan baik di sekolah maupun di rumah dengan jarak jauh. Tidak ada PR, pelajaran singkat, membaca banyak buku kualitas sastrawi, lalu menarasikannya. Anak² hakikatnya akan melahap pengetahuan dengan seksama. Karena hasrat mengejar pengetahuan alamiah ada pada setiap anak. Anak² tidak perlu ada ranking karena bisa memicu persaingan, penghargaan bisa memicu sifat rakus, pujian bisa mencetuskan kesombongan, hadiah bisa memicu ambisi. Hasrat alami anak akan pengetahuan bisa dipudarkan dengan hal² ini.&nbsp;<br><br>Ketika Miss Mason masih muda belajar filsafat pendidikan, dan tinggal di rumah temannya yang&nbsp; di rumahnya ada anak separuh India, Miss Mason menyaksikan bahwa anak² itu mempunyai daya imajinasi tinggi dan hikmat moral yang bagus. Anak² di rumah malah bisa bebas memperlihatkan diri apa adanya. Berbeda ketika Miss Mason memperhatikan anak² di sekolah, tidak sebebas anak² memperlihatkan dirinya di rumah. Suatu hari, anak yang separuh India berumur 5 th ini jalan², lalu pulang² ia menangis sesesunggukan, ketika ditanya dengan hati², ia bercerita ia melihat kakek² kelaparan tidak punya rumah. Betapa Miss Mason bisa melihat anak ini punya hikmat moral.<br><br>Tetapi, bibi anak itu dimana teman Miss Mason mengatakan, anak² itu untuk diajarkan tata bahasa sulit. Miss Mason tidak percaya, sehingga ia mencoba mengajarkan dari buku menarik yang dibuatnya. Ternyata memang sulit. Budi anak itu menolak, seberapapun ia mencobanya. Karena anak² masih sulit menerima sesuatu yang abstrak. Budi akan menerima atau menolak tergantung dari kebutuhannya.<br><br>Budi itu spiritual, bila memang budinya membutuhkan akan mencari² makan yaitu ide², seperti jasmani bila lapar membutuhkan makan dengan nutrisi yang tepat. Ya, anak² sudah diberikan perangkat yang lengkap oleh Nya untuk menjadikan tiap idenya sebagai sebuah pemikiran.<br><br>Sungguh, aku berterimakasih Tuhan mengirimkan hambaNya seperti Miss Mason, mau bersusah payah membagikan pemikirannya, menuangkan dalam tulisannya, yang bisa berguna untuk mendidik anak².<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478866</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Titin Mufarrahah</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478867</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 5]<br>Paraphrase, hal. 12-13<br>Kamis, 29 September 2022<br><br>Hasrat ingin tahu alami yang terinstall baik di diri setiap anak, dan luasnya bidang pengetahuan, perlu difasilitasi serius. Tidak boleh coba-coba. Juga jangan membatasi dengan hal-hal manipulatif yang tidak menyentuh hakikat belajar. Seperti menjebak siswa dengan sumber pengetahuan yang sepenggal-penggal. Tidak memuat informasi yang utuh. Sistem nilai dan rangking yang memelihara hasrat kompetisi. Memainkan karisma guru yang memotivasi belajar siswa jangka pendek.<br><br>Ibu CM meyakini, belajar merupakan kerja spiritual jiwa. Seyogyanya asupannya juga bersifat spiritual. Itu berarti akal jiwanya hanya menerima gagasan-gagasan hidup. Jiwanya akan menjadi lebih hidup. Kaya raya oleh ide-ide yang memantik. Sehingga dari proses itu akan lahir sebuah tindakan (luhur). Lebih lanjut Ibu CM mengatakan, satu-satunya jalan menuju lebih cendekia, yaitu ketika pemikiran akan melahirkan pemikiran selanjutnya. Sehingga kita menjadi lebih berpikir. Tak ada batasan untuk mengakses gagasan-gagasan besar para tokoh dengan beragam mahakaryanya yang tertuang dalam buku-buku berkualitas tinggi. Ibu CM mengistilahkannya livingbooks.<br><br>Buku-buku yang memuat gagasan hidup. Ditulis dengan bahasa sastra. Buku yang bersastra tinggi, akan memuat informasi secara utuh.&nbsp; Karakter tokohnya jelas. Latar belakang gagasannya lengkap. Pembaca dimanjakan dengan deskripsi bahasa yang mendayu-dayu. Sehingga timbul kesan mendalam atas karakter tokoh dan alur peristiwa yang disuguhkan. Dan kesan mendalam itu melahirkan ingatan yang kokoh dalam benak.<br><br>Hal itu sejalan dengan teori pikiran sadar dan bawah sadar. _Impression_ (kesan mendalam) salah satu kondisi pembuka informasi yang dibawa oleh pikiran sadar. Agar diterima oleh pikiran bawah sadar. Di area pikiran bawah sadar ini, _long term memory_ bercokol hebat. Wajar bila siswa masih mengingat dengan baik tokoh dan peristiwa yang dibacanya. Setelah berbulan-bulan kemudian.&nbsp;<br><br>Satu info penting lainnya, yang diamarkan Ibu CM adalah perihal cara membaca buku. Sebanyak apapun buku yang dibaca, ketika tidak dibaca secara aktif, kegiatan itu tidak akan membuat pembacanya lebih cendekia. Menurutku membaca aktif ini persis gagasan yang diusung Hernowo Hasim untuk mengikat makna. Gagasan di dalam buku diikat dengan cara membaca lantang. Kegiatan itu membantu pembaca dalam memahami isi teks. Selanjutnya menemukan ide pokok (utama) dalam sebuah paragraf untuk kemudian direlasikan dengan pengetahuan lain. Terakhir memproduksi pengetahuan itu dengan kalimat kita sendiri (narasi tulis dan narasi lisan yang direkam). Sedemikian rumit dan terjalnya jalan menuju cendekia. Semoga selalu dimudahkan. Apapun tantangan di depan. Amin.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478867</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Damba Risma</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478868</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 5]<br>Paraphrase, hal. 12-13<br>Kamis, 29 September 2022<br><br></div><div>Pendidikan Liberal<br><br></div><div>Ms Mason konsisten menegaskan bahwa mendidik anak (manusia) tidaklah bergantung pada status sosialnya. Setiap anak memiliki ketertarikan alami terhadap pengetahuan yang luas dan beragam sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, karena memang terlahir demikian.&nbsp;<br>&nbsp;Pandangan yang membatasi pendidikan anak berdasarkan status sosial, warisan genetik, ataupun lingkungan buatan adalah pengerdilan terhadap jiwa manusia.</div><div>Ketika pendidikan menggunakan tiga pandangan sempit tadi, budi manusia sebenarnya secara tidak sadar meronta, merasa lelah, karena telah dikendalikan atau digerakkan oleh pasar. Padahal ketika budi memakan pengetahuan yang tepat disitulah jiwa manusia berkembang. Pemikiran(besar)nya bertemu dengan pemikiran besar manusia agung lain yang ada sebelumnya, menghasilkan pemikiran baru. Demikianlah pendidikan itu bersifat spiritual, sebab melampaui materi, tak tergantikan oleh berbagai aktivitas manipulatif atau teknis kosong yang mengejar keuntungan semata.&nbsp;</div><div>Membaca buku-buku berkualitas banyak-banyak. Ini adalah metode pendidikan yang diusung oleh Ms Mason, karena mampu menyentuh dan menggerakkan budi kita. Namun bukankah buku-buku juga yang dipakai oleh sekolah-sekolah? Apa yang salah? Ternyata budi tidak bisa melahap sembarang buku kecuali buku yang ditulis dengan indah, bernilai sastrawi. Memang membaca buku sastrawi tidaklah sesederhana yang kita kira, sebab kita telah terlalu lama disuguhi buku-buku yang sebaliknya, sehingga mau tak mau menghilangkan selera kita akan keindahan buku-buku sastrawi. Untuk bisa kembali ke selera asal, kita memang harus mendisiplin diri untuk itu, sampai kita tercengang betapa ternyata nikmat sekali buku-buku sastrawi itu.&nbsp; Satu hal lagi, buku berkualitas yang dibaca asal-asalanpun akhirnya akan gagal mempertemukan budi kita dengan pemikiran besar. Membaca haruslah dengan kondisi budi yang aktif memahami bacaan, sampai pengetahuan itu menjadi milik pribadi, mengerakkan budi menghasilkan pemikirannya sendiri.</div><div>Ms Mason memberi jaminan, ketika kedua hal ini dilakukan dengan seksama, tentang pemilihan jenis buku dan cara membacanya serta mematuhi prinsip-prinsip terkait budi maka anak-anak akan memiliki atensi yang mapan terhadap suatu bidang atau bacaan, bahkan jika ada bagian yang membosankan (rasanya ini yang terjadi pada sulung saya, ia kadang bosan, tapi tetap tak membuyarkan atensinya untuk memahami bacaan) bukan sekedar karena ada guru yang kharismatik, atau pelajaran-pelajaran yang betul-betul menarik bagi mereka. Jadi pada akhirnya anak-anak akan tertarik dan meminati beraneka ragam pengetahuan. Sekali waktu, saya mendengar perbincangan antara Wanda Ponika dengan seorang desainer muda berbakat Tex Saverio, yang walau tak lulus SMA, ketika diberi kepercayaan oleh orangtua atas apa yang ia pilih, ia tak menyia-nyiakan kepercayaan itu, sehingga ia mampu mengejar passionnya, berprestasi serta rendah hati. Ketika ditanya kenapa bisa nyambung mau diajak ngobrol apapun, walau itu bukan bidang yang digelutinya, ia menjawab bahwa ia suka sekali membaca. Hmm.. 😊</div><div>Jakarta, 5 Oktober 2022</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478868</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Danni Junus</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478869</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 4]<br>Paraphrase, hal. 8-12<br>Kamis, 29 September 2022<br><br>Sampai sekarang memang benar adanya bahwa sulit untuk meyakinkan orang banyak bahwa sekolah rumah itu dapat menghasilkan murid yang luar biasa. Jangankan orang lain, terkadang kami orang tuanya saja lupa dan hilang iman bahwa anak yang dididik di rumah itu istimewa. Kami terkadang suka lupa bahwa anak-anak memiliki kemampuan luar biasa untuk menyerap informasi dan pengetahuan secara alami, karena secara natural pula mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar dan mengembangkan relasinya dengan hal-hal yang menimbulkan rasa ingin tahunya tanpa perlu dijejalkan dengan segudang penjelasan, detail, rangkuman dan pendapat-pendapat dari pendidiknya. Semua hal itu seringkali malah membuat anak-anak berkurang rasa ingin tahunya. Ini adalah perkara sulit, apalagi bila pendidik memang terlahir gemar bercerita panjang lebar dan mengungkapkan pendapatnya. Maka dari itu prinsip mendidik dari CM ini sangatlah penting untuk dijadikan kebiasaan oleh pendidik seperti ini, di mana ‘Less is more, makin sedikit mengajari makin baik.’ How less is the limit? Mari kita ikuti paragraph-paragraf berikutnya agar lebih mengerti bagaimana cara mendidik yang lebih baik.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478869</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478870</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 5]<br>Paraphrase, hal. 12-13<br>Kamis, 29 September 2022<br><br>Tulisan demi tulisan pada buku Vol 6 Ibu CM ini, memberikanku penguatan bahwa ceramah panjang, pertanyaan komprehensif, peralatan² artifisial yang ditujukan untuk mengolah budi anak tidak diperlukan. Kerja budi itu spiritual. Sekali budi mendapat makanan yang tepat, maka pengetahuan itu akan menjadi milik anak². Dengan memberikan ceramah panjang, peralatan² artifisial, justru akan mengkerdilkan kemampuan berpikir anak.<br><br>Paparkan anak dengan banyak buku kualitas sastrawi, agar anak mendapatkan pemikiran dari orang besar, sehingga pemikiran bertemu dengan pemikiran yang memantik ide besar. Lalu dengan aktif, dicerna dengan bernarasi baik lisan maupun tulisan. Menurut ibu CM, Ide² besar dalam buku² berbahasa sastrawi dari pemikiran² orang besar terbukti membuat sesesorang memusatkan perhatian, mencurahkan akalbudinya untuk mencerna. Bukan karena guru yang bisa menyajikan pelajaran dengan sebaik²nya, atau guru²nya hebat, tapi begitulah kerja budi, akan menggarap habis bila dibutuhkan. Fokus tanpa distraksi secara alamiah terjadi bila disajikan banyak2 buku berkualitas sastrawi, karena buku yang kita kenal dengan living books ini, bisa menghadirkan cerita² bergizi yang membuat pembacanya menikmati alur pemikiran yang tertuang.<br><br>Metode pendidikan ini mematahkan teori abad pertengahan bahwa intelegensi adalah milik orang² kelas priyayi. Pun dengan genetika, tidak memberi pengaruh besar.&nbsp;<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478870</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478871</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 3]<br>Paraphrase, hal. 8-12<br>Kamis, 15 September 2022<br><br>Hukum Emas Comenius <em>"Hendaknya guru makin sedikit mengajar dan siswa makin banyak belajar". </em>Hukum Comenius ini mungkin sekilas nampak mudah untuk dilakukan, namun sesungguhnya mempraktekkannya butuh proses Panjang. Butuh refleksi mendalam, riview secara terus menerus, evaluasi yang mendalam terhadap pelaksanannya. Guru sebagai pendidik perlu betul-betul merelfleksikan sungguh-sungguh perannya sebagai pendidik, dan apa sesungguhnya yang menjadi tujuan pengajarannya, apa yang diharapkannya dari murid-muridnya lalu bagaimana mewujudkannya.&nbsp;<br><br></div><div>Jika tujuan pendidikan adalah utilitarian yaitu sekedar murid diperlengkapi dengan keahlian-keahlian tertentu, lalu kelak dapat menghidupi kehidupannya sendiri, maka hukum Comenius ini menjadi tidak relevan. Namun jika yang menjadi tujuan pendidikan adalah peluhuran karakter maka dituntut adanya pembelajaran yang betul-betul dipastikan muris-murid itu mempunyai relasi dengan pengetahuan. Murid berinisiatif untuk mencari tahu mengenai sesuatu lalu mengalami sendiri tentang kebenaran dari apa yang dipelajarinya. Seperti anak kecil yang sedang dilatih untuk mampu makan mandiri, kita siapkan banyak pilihan makanan berigzi. Anak memilih sendiri makanannya, lalu berusaha memegang makanannya dengan tangannya yang mungil, menyuapkannya ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya, merasakan sensasinya di dalam mulutnya, rasa yang berbeda di lidahnya, lalu menelannya, dst. Ada sensasi yang baru yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, dan itu memantik rasa penasaran, rasa ingin tahu anak, dan kemudian membuat anak ingin mencoba lagi lagi dan lagi.&nbsp;<br><br></div><div>Begitu juga dengan pendidikan. Bagaimana guru memantik rasa ingin tahu murid, bagaimana agar pikirannya menjadi subur diisi dengan ide-ide hidup, bagaimana memantik anak untuk mencoba banyak hal baru yang ada di sekitarnya, tanpa kita banyak bicara. CM menekankan betapa pentingnya pikiran anak diisi dengan ide-ide dari pikiran-pikiran brilian orang-orang hebat. Dengan banyak membaca buku yang berisi ide-ide hidup (living books), akan memantik anak untuk berpikir, mengeluarkan ide-ide yang ada dalam benaknya sebagaimana Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk pembelajar. Tanpa mesti diceramahi, didikte, disarikan bacaan-bacaan dalam buku, dlsb. Selain itu juga membuat anak mampu berkonsentrasi, focus, memahami bacaan bahkan mampu merelasikannya dengan kejadian-kejadian yang dialaminya. Anak mampu menyerap semua ide-ide hidup itu. Inilah yang disebut dengan <em>guru makin sedikit mengajar dan siswa makin banyak belajar.</em>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478871</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478872</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 5]<br>Paraphrase, hal. 12-13<br>Kamis, 29 September 2022<br><br>Kecenderungan alamiah anak-anak untuk belajar, dan semangat mereka untuk mencari tahu soal apa saja, membuatku menyimpulkan bahwa luasnya bidang yang bisa diakses oleh anak-anak untuk mereka pelajari jangan pernah dibatasi secara artifisial.” Aku coba meng-highlight bagian ini. Karena mengalami sekali bagaimana hal ini terjadi pada si sulung kami. Bukan bagaimana tertariknya dia pada satu atau banyak hal. Justru karena sebaliknya, kesalahan kami sejak dini dalam memantik rasa ingin tahu, memantik benak anak, telah membuat hasrat alami anak seakan mati. Aku perhatikan bagaimana si sulung menjalani sekoahnya, bagaimana jawabannya ketika aku bertanya tentang sekolahnya, dlsb. Semua jawabannya seolah menyiratkan betapa sekolah/ metode belajar yang dijalaninya sekarang tidak menyenangkan bagi dia. Lalu aku banyak berefleksi dengan tulisan-tulisan CM tentang pendidikan/ sekolah/ belajar, dlsb.<br><br></div><div>Sangat tepat apa yang dikatakan oleh CM. Bahwa belajar adalah kerja spiritual dari jiwa, dan tak bisa dipaksakan dengan menyuruh anak memandangi objek-objek tertentu atau menyuruhnya memanipulasi jari-jarinya. Hal-hal yang berasal dari budi itulah yang membuat budi tertarik. Pemikiran melahirkan pemikiran berikutnya, dengan cara itulah kita menjadi cendekia. Sehingga CM dengan tegas mengatakan bahwa metode pendidikan satu-satunya yang esensial sepertinya adalah: <em>anak-anak harus membaca buku-buku berkualitas, banyak-banyak.</em></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478872</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Danni Junus</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478873</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 6]&nbsp;<br>Vol. 6 Paraphrase, Hal. 14-15<br>Kamis, 6 Oktober 2022<br><br>Anak-anak terlahir dengan rasa butuh akan banyak pengetahuan. Tentunya rasa butuh ini datang satu paket dengan kemampuan untuk mencerna berbagai asupan pengetahuan pula. Ini seperti makanan dengan alat cerna, ada makanan tentu ada alat cerna yang disiapkan secara alamiah. Anggapan bahwa anak tidak dapat mencerna pemikiran besar yang disajikan dengan bahasa terbaik yang sastrawi seperti hanya meremehkan daya cerna seorang anak. Walaupun memang sajian pengetahuan perlu disesuaikan dengan tingkat usia dan kemampuan masing-masing anak yang berbeda.&nbsp;<br><br></div><div>Menurut analisa CM selama bertahun-tahun mengamati proses belajar anak, CM mengambil kesimpulan bahwa cara terbaik untuk memenuhi rasa lapar pengetahuan anak ialah dengan memberikan variasi asupan kurikulum dengan media buku-buku berkualitas hasil pemikiran orang-orang besar yang dituangkan dalam tulisan yang menggunakan bahasa sastrawi yang indah dan hidup. Cara menyajikannya pun tidak seperti kebiasaan guru yang kita temukan pada umumnya, bacaan ini disajikan dengan metode ‘single reading’ diikuti dengan narasi dari bacaan tersebut. Bukan hal yang mudah untuk menarasikan apa yang kita baca dalam dengan sekali baca atau sekali dengar. Ini membuat saya ingat pada materi pelatihan saya beberapa waktu yang lalu, di mana disebutkan bahwa informasi yang diserap dalam sekali presentasi seseorang tidaklah banyak, hanya 10% saja dari semua materi yang disajikan. Tentu ini bukan hasil tebakan, saya yakin ada penelitian dibalik pernyataan ini. Ini mengukuhkan pendapat bahwa melakukan narasi bukanlah hal yang mudah. Namun narasi ini berguna untuk membuat kita berpikir dan membuahkan pikiran baru, dan merelasikannya dengan hasil pikir budi kita itu. Kalau saja kita terbiasa untuk melakukan narasi dengan single readin, angka rata-rata penyerapan sebuah materi yang disajikan tentu akan menembus lebih dari 10% dan ada bonus di mana kita dapat merelasikan dan membuahkan ide baru dari pikiran kita yang terpantik dari pemikiran-pemikiran yang kita baca atau dengarkan.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478873</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Diana Minita</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478874</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 5]<br>Paraphrase, hal. 12-13<br>Kamis, 29 September 2022<br><br>Manusia terlahir dengan hasrat akan pengetahuan tentang Tuhan, alam, etika, seni, keindahan dsb. Demikian juga anak2 sama seperti orang dewasa sudah terlahir dengan hasrat tersebut, akal budi. Budi tidak tertarik dengan fakta2 kecuali disajikan dalam bentuk yang layak baginya. Budi itu tertarik dengan segala keindahan yang membangkitkan rasa kagum, argumen yang bernalar dan imaginasi. Segala hal yang ditampilkan drngan sastrawi tidak akan membosankan bagi akal budi. Namun jika terus disuruh pasif mendengarkan, akal budi akan menjadi lelah dan bosan. Itulah mengapa cerewetan guru dan textbook yang melulu isinya fakta sangat membosankan bagi anak2, tidak membangkitkan dan memberi asupan yang cukup bagi akal budi mereka.<br>&nbsp;Tulisan CM ini kembali mengingatkanku betapa minimnya asupan akal budi anak2 di sekolah formal yang menyuguhkan textbook dengan harga selangit tapi tidak membangkitkan akal budi. Betapa bosan dan matinya akal budi jika terus menerus mendengarkan cerewetan pengajar di kelas dan itulah hal yang kualami bertahun2. Sepertinya bagiku sekarang perlu untuk kembali menghidupkan akal budi mendidik diri dengan asupan yang dibutuhkan si akal budi sembari memperbaiki rentang atensi oleh gempuran berbagai distraksi hidup zaman modern yang sarat gadget dan minim bacaan berkualitas yang sudah dialami bertahun2, supaya anak2ku kelak tidak harus mengalami kegersangan akal budi dan matinya rasa ingin tahu mereka.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478874</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478876</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 6]&nbsp;<br>Vol. 6 Paraphrase, Hal. 14-15<br>Kamis, 6 Oktober 2022<br><br>Sulit untuk menulis secara rinci cara kerja budi. Ide utamanya adalah bahwa anak² adalah pribadi yang utuh yang bisa mencerna pengetahuan dengan caranya masing². Mereka semua memiliki hasrat akan pengetahuan yang membutuhkan beragam asupan pengetahuan dari geografi, humaniora, sejarah, seni, sampai agama.<br><br>Budi itu bagai lambung mencerna makanan, bisa melahap berbagai macam pengetahuan tanpa batas. Bila kita meyakini pribadi utuh ini, maka tidak akan ragu untuk menjalani metode yang Miss Mason temukan. Dengan membaca buku, lalu menarasikannya, anak² memusatkan perhatian. Metode inilah yang dipakai para cendikia yang tau banyak hal, dan para pakar yang mendalami 1 subjek.&nbsp;<br><br>Cara kerja budi adalah dengan menangkap pemikiran, imajinasi, dan nalar yang berargumen. Budi akan lelah bila hanya menerima ceramah, dan obrolan remeh temeh. Seperti yang disajikan saat ini di sekolah², pelajaran fakta² kering, yang sepertinya tujuannya hanya mendapatkan memori jangka pendek, mendapat nilai. Cara kerja budi tidak seperti itu, budi itu akan aktif mencerna bila disajikan secara sastrawi. Hal ini sudah dibuktikan oleh Miss Mason, dari banyaknya buku² sastrawi yang disajikan, dan prinsip sekali baca, anak² bisa mencerna dan menarasikan, baik narasi lisan atau tulisan. Budi mereka melahap sajian itu dan kemampuan memusatkan perhatian pun menunjukkan hasil yang luar biasa.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478876</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478877</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 6]&nbsp;<br>Vol. 6 Paraphrase, Hal. 14-15<br>Kamis, 6 Oktober 2022<br><br>Membaca pemikiran CM di bagian ini membuat saya semakin memahami, mengapa subjek-subjek yang dibuat begitu meluas dan beragam. Seperti bagaimana hidup begitu berwarna dan luasnya ilmu pengetahuan, maka beragam sajian ilmu pengetahuan akan mempertajam naluriah anak tentang menyikapi hidup.<br><br>Memaknai cara belajar dengan membaca seperti cara cendikia, tidak sulit bagi metode ini membuat saya percaya dan yakin karena ia sejalan dengan pelajaran agama Islam karena wahyu pertama dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah “bacalah!”. Sebuah seruan untuk membaca. Bukan lainnya. Bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci hidup. Dan hanya dengan ilmu pengetahuan, seseorang mampu mengenal Tuhan-nya.<br><br>Sebagaimana luasnya ilmu pengetahuan, maka ragam pilihan subyek tentulah diperlukan sebagai sebuah upaya untuk memperlebar sajian variasi ilmu guna memberi makan pada budi seperti para cendekia. Sebagaimana prinsip bahwa semua anak haus akan ilmu pengetahuan, maka dengan beragam ilmu, niscaya budi nya tidak hanya dikenyangkan tapi juga betumbuh sehat dan semakin terasah.<br><br>Metode membaca (dan tulis), adalah suatu metode konvensional dan primitif namun ia terbukti bisa diberlakukan pada semua lapisan masyarakat karena ia tidak menuntut sumber daya yang berlebihan. Ia hanya membutuhkan nalar dan budi yang sehat yang siap untuk mencerna sajian-sajian ilmu yang berkualitas.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478877</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lina Wahyuni</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478878</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 6]&nbsp;<br>Vol. 6 Paraphrase, Hal. 14-15<br>Kamis, 6 Oktober 2022<br><br>Beberapa orang pernah bilang, kita itu bisa belajar bearaneka ragam pengetahuan hanya dari sebuah buku. Dan itu memang benar. Tapi mengapa buku-buku yang dipakai di sekolah dan disebarluaskan sebagai sesuatu yang wajib itu adalah buku-buku yang tidak punya narasi yang baik, yang tidak ubahnya seperti teka-teki silang yang dulu biasa kubeli di abang gerobak mainan.&nbsp;<br>Alangkah indahnya kehidupan anak-anak yang digambarkan oleh CM dalam tulisannya di vol 6 ini. Di mana akal budi mereka selalu di siram dengan kurikulum yang tidak mengekang mereka dalam ruang kelas selama berjam-jam.&nbsp; Walaupun begitu tetap saja mereka bisa membicarakan hal-hal yang memantik rasa ingin tahu mereka lewat buku-buku yang membangun budi ini.&nbsp;<br>Aku membayangkan anak-anak tumbuh menjadi manusia yang bahagia yang juga tahu apa yang harus mereka lakukan di dunia ini, untuk mereka sendiri dan untuk orang lain disekitarnya.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478878</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Titin Mufarrahah</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478879</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 7]<br>Vol 6 Paraphrase, hal. 16-17<br>Kamis, 13 Oktober 2022<br><br>Membaca pandangan Ibu CM terhadap metode hafalan dalam pendidikan, rasanya sulit untuk tidak sepakat. Secara ilmiah kemampuan otak depan (prefrontal cortex) memang terbatas. Sekira 12%. Dari itu PFC mudah lelah. Teringat keluhan teman-teman dan kualami juga. Usai diskusi serius, kami didera kelaparan dan kelelahan. Selama diskusi, pikiran sadar kami gunakan untuk memahami, menelaah, mencermati, menautkan teks dengan pengetahuan lain. Hal ini bukti nyata penelitian sains kapasitas pikiran sadar. Lalu bayangkan, 12% itu diforsir, diperas untuk menghafal sebuah teks. Betapa pikiran sadar lelah. Boleh jadi saking lelah, pikiran sadar kehilangan kemampuan untuk mengerjakan tugas-tugas sadar lainnya. Yaitu memahami, menelaah, menarasi lisan dan tulisan, serta menautkan dengan beragam pengetahuan lainnya.&nbsp;<br><br>Maka benar kata Ibu CM. Hafalan akan melemahkan daya atensi. Karena ada pengulangan dalam hafalan. Tak hanya kata per kata harus sama, bahkan sampai tingkat tanda baca tak boleh geser. Hal itu didramatisasi dengan kekuatan hafalan yang hanya berjangka pendek di memori. Sehingga hafalan seseungguhnya berputar-putar di titik tertentu saja. Berhenti menghafal, sama dengan memensiunkan memori kata tertentu dalam pikiran. Ibu CM menaruh hormat metode hafalan, tapi ia mengingatkan hafalan jangan sampai mengalahkan pemusatan perhatian.<br><br>Atensi terkait erat dengan cara kerja budi. Keterbatasan pikiran sadar, akan tertolong dengan pemusatan perhatian. Sehingga proses belajar tidak bertele-tele. Dan dilakukan secara short lesson. Lebih lanjut Ibu CM memaparkan pengalamannya selama 40 tahun mengamati kerja budi. Mengutip pepatah yang disampaikan sahabatnya, "Budi tak mengetahui apapun kecuali jawaban yang ia produksi sendiri terhadap pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri." Ya jika di dunia ini ada sesuatu yang tidak bergantung apapun, bekerja secara mandiri, itulah budi. Memikirkan pepatah itu, aku tersuruk ke dalam penyesalan. Mengingat caraku dulu memperlakukan budi anakku. Aku demikian gandrung untuk menunjukkan gagasan pokok dalam sebuah teks. Aku amat mengelukan gagasan yang kutemukan untuk menggiring opini anakku. Godaan itu dahsyat. Hingga detik ini. Betapa tidak mudah menekan diri untuk tidak mendikte, saat anakku sedang bercengkrama bersama budinya.<br><br>Dengan dalih, "Supaya banyak pengetahuan yang anak serap, " atau "Takut anak tidak belajar apa-apa," pendidik mencoba menggiring opini supaya anak tercerahkan. Kalau toh untuk mengeluarkan pengajaran moral dalam benak anak, bisa dilakukan dengan pertanyaan sokratik. Dalam kerangka menstimulus pemikiran anak. Kembali Ibu CM memberi batasan pada pendidik yang tak sabar. Atau pendidik yang tidak mengimani anak mampu mencerna sendiri pengetahuan? Alih-alih menyodorkan buku-buku yang menampakkan pesan moral secara gamblang, pendidik minimal menguasai metode bertanya sokratik. Agar terhindar dari mengacaukan budi anak, saat ia sedang menjahit pengetahuan demi pengetahuan yang ia konstruksi secara pribadi. Kemandirian budi anak menjadi pembentuk kedaulatan dirinya kelak.<br><br>Akhirnya narasi ini menyisakan rasa penasaran mendalam. Tradisi menghafal kitab suci dan buku rujukan utama pengetahuan lainnya yang dilakukan pemikir besar muslim, seperti Ibn Sina, Imam Syafi'i, Badiuzzaman Said Nursi, dan selain mereka. Tiga ulama tsb. menghafal kitab suci saat pre teen. Namun, nama-nama tsb. menguasai beragam disiplin ilmu. Butuh waktu untuk menjawab penasaran ini. Rasa penasaran berikutnya, mampukah diri ini mengupayakan titik balik secara radikal untuk mengimani anak sejak lahir mampu mencerna pengetahuan dengan caranya sendiri? Belajar harusnya bersifat swadaya, mengikuti cara kerja budi. Jikalau pendidik ngotot ingin mengajukan pertanyaan yang dianggap pokok, itu dilakukan di akhir proses anak mencerna gagasan. Bukan menyela saat anak sedang menyampaikan narasi-narasinya. Apalagi membajak sejak awal dengan menggiring opini. Duh tobat, Gusti.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478879</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478880</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 7]<br>Vol 6 Paraphrase, hal. 16-17<br>Kamis, 13 Oktober 2022<br><br>Narasi lisan atau tertulis? ah mudahlah, tak perlu susah² dilatih. Tapi apakah bila 1 kali dibacakan, bisa? lalu sumber yang digunakan adalah buku² berkualitas? berkualitas disini isi dan bahasanya berbobot tidak hanya berisi fakta² seperti disajikan di sekolah formal saat ini. Ibu CM menantangnya dengan prinsip sekali baca, dan coba narasikan dengan lisan atau tulisan? saya sendiri membaca tulisan Ibu CM ini terasa sangat menantang diri saya sendiri. Terasa sangat tidak mudah, karena berusaha untuk mencerna apa maksud dari tulisannya. Lalu menarasikan dengan runut kata demi kata setiap ide yang tersaji dari ibu CM. Tidak mudah.<br>.<br>Mencerna tulisan dari bacaan berkualitas beda bila kita menghafal. Dengan menghafal, saat ini kita hafal, tapi bila tidak diulang dan tidak dibuat jembatan keledai utk menghafal akan terasa sulit dan lekas lupa. Bukan berarti hafalan ini tidak perlu, tapi hafalan bisa menyepelekan kerja budi seseorang untuk melatih fokus memusatkan perhatian lalu dicerna lalu dikeluarkan dengan narasi lisan dan narasi tulisan.&nbsp;<br>.<br>Saya kagum atas penemuan ibu CM ini, prinsip sekali baca, pusatkan perhatian, cerna baik² maksudnya, lalu keluarkan dengan bernarasi baik lisan atau tulisan. Itulah kerja budi sebenarnya. Tak ada narasi yang sia², tak ada narasi yang buruk. Selama bernarasi tidak boleh ada pertanyaan, tidak boleh ada interupsi. Pertanyaan sokratik memantik hanya boleh dilakukan di akhir.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478880</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Reviyani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478881</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 7]<br>Vol 6 Paraphrase, hal. 16-17<br>Kamis, 13 Oktober 2022<br><br>Narasi yang digaung-gaungkan di dalam pendidikan CM, tidak sama dengan metode hafalan. Ketika dalam hafalan kita diharuskan untuk membaca berulang - ulang suatu bagian yang ingin dihafal/diingat, dalam narasi itu tidak berlaku. Yang diperlukan dalam narasi adalah mengerahkan fokus/ segenap atensi untuk menyimak materi yang dibacakan dalam sekali jalan. Tidak ada pengulangan.&nbsp;<br><br>Dalam bekerja, budi membutuhkan motivasi, fakta bahwa dalam pendidikan CM siswa akan diminta untuk memberikan narasi dalam bentuk tertulis maupun lisan sesaat setelah dibacakan, merupakan bentuk motivasi moral bagi mereka untuk dapat beratensi penuh ketika menyimak bacaan yang disajikan.<br><br>Hal yang membedakan pula hafalan dan narasi adalah dalam hafalan kita akan dapat dengan mudah melupakan hal yang sudah kita hafal ketika tujuan penghafalan sudah tercapai (misal : untuk tes). Sedangkan dalam narasi, apa yang kita dapat cenderung bertahan lebih lama karena didapat dari proses dialog yang dilakukan budi atas apa yang perlu ia serap dan apa yang tidak atau dalam proses pencariannya akan sebuah&nbsp; jawaban dari pertanyaan yang ditanyakannya sendiri.&nbsp;<br><br>Ketika dihadapkan pada materi yang tepat, budi memang akan aktif memilah apa yang layak dia ambil untuk dirinya dan apa yang tidak. Oleh karenanya sangat penting untuk memilih bahan bacaan yang bisa memantik budi untuk berfungsi secara maksimal. Bahan bacaan dengan bahasa yang sastrawi dan memiliki poin-poin yang berkualitas di dalamnya yang menantikan budi untuk mencernanya tanpa ceramah tidak bermutu adalah bacaan yang ideal yang dapat mengaktifkan kinerja budi.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478881</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertanyaan Sokratik - Lina Wahyuni</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478882</link>
         <description><![CDATA[<div>Pertanyaan sokratik, apa itu?&nbsp;<br><br>Aku belum begitu jelas memahaminya, yang aku tahu anak-anak akan secara otomatis bercerita bahwa dia tidak menyukai cerita itu, dari pada memaksanya maka aku pun memilih bertanya "apa yang kamu tidak suka dari cerita ini? " Setelah dia menjawabnya, maka aku pun kembali bertanya, "jika kamu tadi sudah memberitahu Bunda bagian yang tidak kamu suka, adakah kemudian bagian yang kamu suka dari cerita itu, atau setidaknya bagian yang kamu ingat untuk bisa kamu ceritakan?"<br>Kebiasaan seperti ini sudah menjadi budaya di dalam keluarga kami, dengan anak tertua sampai yang terkecil, kami suka berdiskusi mengapa buku ini menarik, tidak menarik, hal-hal yang aku suka darinya sampai hal-hal yang tidak aku suka darinya.&nbsp;<br><br>Aku pikir dengan begitu, aku telah menghargai bahwa mereka adalah pribadi yang utuh. Setiap orang punya rasa suka dan tidak suka bukan, sedari kecil mereka bahkan sudah tahu apa yang menarik dan apa yang tidak menarik untuk mereka.&nbsp;<br><br>Maka, berbicara tentang buku menjadi budaya yang menarik yang mengisi hari-hari keluarga, semangat kami pun terpacu dengan rasa bahagia karena gagasan-gagasan yang ada didalamnya.&nbsp;<br>Selalu ada gagasan menarik yang bisa kita perbincangkan setiap harinya, tentang gagasan yang kita peroleh dari manapun. <br>Have a nice day<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478882</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478883</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 6]&nbsp;<br>Vol. 6 Paraphrase, Hal. 14-15<br>Kamis, 6 Oktober 2022<br><br>Anak-anak terlahir membawa semua yang mereka butuhkan untuk mencerna pengetahuan, sama seperti mereka terlahir dengan semua yang mereka butuhkan untuk mencerna makanan. Mereka datang ke dunia sudah terprogram dengan rasa lapar akan pengetahuan sekaligus kemampuan luar biasa, hampir tanpa batas, untuk memusatkan perhatian.<br><br></div><div>Pernyataan ini mungkin sangat perlu dipahami sebagai pegangan bagi para pendidik, khususnya pendidik seperti saya yang masih saja meragukan betapa luar biasanya cara kerja budi seorang anak. Bahwa kita tidak perlu bersusah-susah “mengunyahkan” pengetahuan pada anak, tidak perlu bersusah-susah berceramah, menjelaskan, dlsb. Apa yang diyakini Charlotte Mason hasil dari pengamatan dan penemuannya selama bertahun-tahun mendampingi murid-muridnya, bahwa cara kerja budi yang luar biasa cukup dengan dipantik oleh satu ide, satu pemikiran, bacaan-bacaan yang hidup. Tidak perlu ceramah yang bertele-tele, bacaan-bacaan yang menyajikan fakta. Hal itu memantik rasa ingin tahu anak dan membuat anak focus menyimak berbagai macam pengetahuan yang disajikan. Sebaliknya, budi dibuat lelah dan bosan mendengarkan ceramah-ceramah tidak bermutu, sajian-sajian tentang fakta-fakta kering yang tidak mengandung ide hidup.<br><br></div><div>Akhirnya, yang perlu untuk selalu diingat dan dilakukan oleh orang tua sebagai pendidik adalah taburkanlah sebanyak mungkin ide-ide hidup, sajikanlah sebanyak mungkin makanan bergizi untuk budi anak. Karena belajar adalah kerja spiritual jiwa yang tidak bisa kita lihat dengan serta merta, ide manakah yang memantik benak anak. Apakah yang ini, ataukah yang itu, kita tidak tahu. Karena itu, menyajikan ide-ide hidup bagi anak, tidak hanya kualitatif dan kuantitatif namun juga variatif.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478883</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478885</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 8]<br>Vol 6 Paraphrase, hal. 18-19<br>Kamis, 20 Oktober 2022<br><br>Ibu CM disini menuliskan bahwa narasi adalah bagian dari motivasi moral dari anak². Anak² menarasikan ulang dari buku yang berkisah (sastrawi) dengan bahasa dan pemahaman yang didapat, orisinil bahasa mereka. Dengan narasi, tidak ada kesempatan untuk mencontek dan dalam narasi tidak ada siaran ulang, seperti yang sekarang ini terjadi di sekolah formal. Yang mana, materi dipelajari dari buku fakta kering lalu diuji dengan pertanyaan komprehensif, soal isian titik titik, soal pilihan berganda. Belajarnya pun bisa dibuat sistem kebut semalam. Tapi pertanyaannya, apakah ilmu yang dipelajari itu bisa terekam di benak anak? apakah bisa terekam untuk jangka panjang anak? apakah bisa memantik anak untuk menjalankan ide tersebut?Di sekolah juga guru takut menegakkan otoritasnya. Anak² tidak dibiasakan untuk mendengar materi, instruksi 1 kali saja. 1 siswa minta diulang, beberapa siswa minta diulang akan diulangi oleh guru tersebut.<br><br>Filosofi pendidikan Ibu CM ini sudah teruji puluhan tahun. Asal materi yang disajikan itu sesuai untuk budi anak, disajikan singkat, tidak bertele², anak² akan melahapnya dengan cepat, dengan memusatkan perhatian mereka.Mereka akan berimajinasi, mengasimilasi pengetahuan yang didapat dari buku² terbaik (sastrawi/berkisah) tersebut. Anak² itu secara alami haus akan pengetahuan, seperti lambung butuh makanan bergizi. Akal budi anak itu butuh sajian terbaik.<br><br>Tidak perlu iming2 hadiah, bujukan, ancaman agar materi yang dipelajari itu lekat dalam budi anak².</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478885</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478886</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 9]<br>Vol 6, Paraphrase hal 19-20<br>Kamis, 27 Oktober 2022<br><br>Pada paragraf hal 19 dan 20 dalam vol 6 tulisan ibu Mason ini, beliau menuangkan prinsip² metodenya kembali. Seperti anak² tidak butuh pertanyaan² komprehensif dalam belajar, mereka tidak butuh ceramah panjang lebar. Hal ini membuat saya mengingat pendidikan yang saya dapat dulu di sekolah formal, bahkan masih terjadi sampai anak saya sekolah formal kondisi saat ini. Bacaan²nya fakta, setelah itu dievaluasi dengan ulangan yang isinya pertanyaan komprehensif. Saat ulangan ingat, tapi memori tidak ingat jangka panjang. Saya sendiri jadi refleksi, selama ini duduk di bangku sekolah dari TK sampai SMA yang melekat pada fakta yang dipelajari apa? Pernyataan ini bukan berarti tidak ada yang melekat sama sekali, tapi yang melekat pada budiku rasanya adalah hanya yang idenya hidup, yang bisa terhubung dengan keseharian dalam menjalani hidup. Misal yang saya ingat, saya tertarik belajar biografi seseorang yang berjuang dalam hidupnya sampai akhirnya sukses, memiliki perilaku moral baik sehingga bisa memberikan semangat dalam menjalani hidup saya sampai saat ini.<br><br>Ibu CM menuliskan pada hal ini, bahwa anak² butuh keragaman materi yang kaya. Butuh pendampingan yang "cukup dan sewajarnya" dari orangtua dan guru, seperti membantu menyiapkan peralatan utk sains, mendampingi "cukup namun teratur" dalam tata bahasa, dan matematika.<br><br>Budi itu butuh makanan yang cukup dalam segi "jumlah, variasi dan keteraturan". Budi itu butuh "diedukasi", sedangkan indra dan otot cara kerjanya berbeda, tidak bisa diedukasi tapi hanya dilatih. Budi itu mencerna dan melahap dengan atensi dan refleksi. Budi tidak suka sajian yang hambar, garing, seperti yang masih terjadi di sekolah² formal kebanyakan saat ini. Budi butuh ide hidup dari bacaan sastrawi(berkisah).<br><br>Bila anak² kita dididik dengan paham filosofi pendidikan yang telah dituangkan Ibu CM, paham bagaimana prinsip budi bekerja, apa itu budi, apa bedanya budi dengan otot dan indra, maka anak² bisa terbentuk karakter baik, pengendalian diri baik, inisiatif, mental baik. Walau masih anak², tapi budi mereka matang.&nbsp;<br><br>Semoga apa yang saya dapat dari tulisan ibu CM ini, bisa dengan lembut saya terapkan ke anak².<br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478886</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478887</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 7]<br>Vol 6 Paraphrase, hal. 16-17<br>Kamis, 13 Oktober 2022<br><br>Membaca dan narasi mungkin terlihat sederhana. Namun jika kita pahami lebih sungguh-sungguh, dalam aktivitas narasi terdapat proses penjalinan relasi antara benak anak dengan pengetahuan, dengan apa yang dibacanya, dengan apa yang diamatinya. Di dalam bernarasi dibutuhkan atensi, aktivitas pemusatan perhatian Benak anak seolah sedang berbincang-bincang, berdiskusi tentang segala hal yang masuk ke dalam otaknya. Benaknya memproses segala hal yang dia baca, dia lihat/ amati, yang dia dengar, bahkan yang dialaminya sendiri. Berbagai pertanyaan muncul dengan sendirinya yang merupakan hasil dari diskusi benaknya sendiri.<br><br></div><div>Oleh karenanya menjadi sangat penting untuk menyajikan bacaan-bacaan dan media-media yang sarat dengan ide-ide hidup atau <em>living </em>sebagai bahan diskusi/ pengamatan anak. Misalnya buku-buku (<em>living books</em>)<em>, </em>mengamati alam (<em>nature</em> <em>journal</em>). Ibarat sedang berbincang-bincang atau berdiskusi dengan orang lain, Ketika membaca dan bernarasi, maka benak anak sesungguhnya sedang mendiskusikan pemikiran-pemikiran atau ide-ide atau setiap hal yang memantik benaknya. Hal ini juga secara tidak langsung melatihkan kebiasaan pada anak dan diri kita sendiri, ketika kita berdiskusi atau berbincang-bincang maka yang jadi topik adalah ide atau pemikiran atau membicarakan kehidupan seorang tokoh yang menginspirasi dan bukannya membicarakan atau <em>ghibah </em>tentang keburukan atau kejelekan orang lain yang banyak dilakukan oleh orang-orang [saya] di luar sana.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478887</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478888</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 8]<br>Vol 6 Paraphrase, hal. 18-19<br>Kamis, 20 Oktober 2022<br><br>Menurut Charlotte Mason, anak-anak sebagai pribadi utuh lengkap dengan segala kebutuhan spiritual dan kemampuannya. Bahwa anak-anak telah dibekali oleh Yang Maha Kuasa dengan:<br><br></div><div>* Hasrat akan pengetahuan (rasa ingin tahu).</div><div>* Kemampuan untuk menyerap pengetahuan dengan jalan memusatkan<br>atensi.</div><div>* Cukup imajinasi, refleksi, kemampuan menimbang, dlsb., yang ia<br>butuhkan untuk mengolah pengetahuan, dan tak butuh bergantung pada bantuan<br>artifisial dari luar.&nbsp;</div><div>* Minat bawaan alamiah pada segala jenis pengetahuan yang dia akan<br>butuhkan sebagai manusia hidup.&nbsp;</div><div>* Kemampuan untuk menyimpan dan mengartikulasi pengetahuan, dan<br>mengasimilasi hal-hal yang dia butuhkan dalam dirinya.&nbsp;</div><div>Maka yang perlu disediakan oleh orang tua atau guru sebagai pendidik adalah makanan/ asupan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Bacaan-bacaan yang living yang sarat dengan ide-ide hidup, berbagai macam subjek bahasan seperti agama, humaniora, sains, seni, dlsb dibutuhkan oleh anak. Guru atau orang tua tidak perlu berceramah, hanya memberi pengarahan seperlunya, kata-kata yang memotivasi, penghargaan/ simpati atas pekerjaannya, bantuan teknis sewajarnya, menyiapkan eksperimen, dlsb.&nbsp;</div><div>Dan satu hal lagi, menurut Charlotte Mason semua unsur ini harus ada dan kemudian kita melakukannya dengan total tidak setengah-setengah atau sebagian-sebagian. Maka kemajuan demi kemajuan dari hari ke hari bis akita lihat dan rasakan. Kita tidak bisa berharap banyak ketika kita melaksanakan metode pendidikan ini dengan setengah-setengah. Sangat penting untuk menerapkan metode Pendidikan ini dengan sungguh-sungguh dan menyeluruh.<br><br></div><div>Misalnya, ketika kegiatan membaca dan narasi hanya dilakukan sesekali, tidak setiap hari. Juga buku yang dipakai adalah buku yang menyajikan sekedar fakta/ informasi dimana tidak ada ide yang memantik atau bahasanya yang tidak sastrawi sehingga tidak mampu memantik benak anak untuk berpikir. Atau pendidikan dilaksanakan dengan banyak ceramah, penjelasan, bantuan yang tidak perlu seolah mengkerdilkan anak, dlsb. Metode pendidikan yang dijalankan Charlotte Mason semestinya dilakukan secara menyeluruh, tidak bisa mempraktekkan sebagian saja.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478888</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478889</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 9]<br>Vol 6, Paraphrase hal 19-20<br>Kamis, 27 Oktober 2022<br><br>Kali ini Charlotte Mason mencoba menjelaskan tentang keberhasilan metode Pendidikan yang dipakainya. Walaupun di sisi lain beliau tetap memberikan ruang untuk bertanya apakah metode Pendidikan yang digagasnya merupakan satu-satunya metode yang tepat untuk mendidik. Sikap diri Charlotte Mason ini menurutku adalah sebuah pengakuan atau kerendahan hati untuk mengakui bahwa setiap peradaban itu memiliki caranya masing-masing dan segala sesuatu begitu cepat berubah.<br><br></div><div>Dalam hal ini, aku melihat bahwa hal yang penting dalam pendidikan dan mendidik menurut Cahrlotte Mason adalah <em>mendidik budi</em>. Ketika dipastikan bahwa proses pendidikan dan segala unsur yang ada didalamnya mampu mendidik budi, maka metode pendidikan itu berada di jalur yang benar. Segala teknis dan caranya kemudian bisa menyesuaikan.&nbsp;<br><br></div><div><strong>Budi</strong>, seperti anggota tubuh lainnya, butuh <em>suplai makanan yang cukup dalam jumlah, ragam, dan keteraturan</em>. Budi, seperti tubuh, punya seleranya sendiri, yakni <em>rasa ingin tahu</em>. Budi, seperti tubuh, sepenuhnya <em>mampu menelan dan mencerna makanannya via atensi dan refleksi</em>. Budi, seperti tubuh, <em>tidak suka makanan yang basi, garing, dan hambar</em>. Budi maunya makan <em>makanan yang bermutu sastrawi</em>. Diet bagi budi dibatasi oleh satu kondisi: <em>budi hanya bisa menyerap ide dan fakta yang terkoneksi dengan ide-ide hidup sebagai cantolannya</em>.<br><br></div><div>Maka sebagai orang tua, aku diingatkan dalam segala hal apapun yang kulakukan, kukatakan, keberikan, dan kusajikan. Apakah aku sedang mendidik budi anak-anakku? Apakah aku sedang memberi makan budi anak-anakku dengan makanan bergizi? Ataukah aku sekedar memuaskan hasratku sebagai orang tua untuk mendapatkan cinta dari anak-anakku? Atau untuk mendapatkan pujian dari orang lain bahwa aku adalah orang tua yang sukses mendidik anak karena semua anaknya berprestasi? Namun sesungguhnya kitalah yang tau seperti apa <em>kualitas</em> anak-anak kita sesungguhnya. Apakah Mereka mengembangkan kemampuan, kekuatan karakter, pengendalian diri, inisiatif, dan rasa tanggung jawab? Apakah mereka mampu tampil sebagai warga negara yang baik dan pemikir?<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478889</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hiyashinta Klise</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478890</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 8]<br>Vol 6 Paraphrase, hal. 18-19<br>Kamis, 20 Oktober 2022<br><br>Awal mula saya membaca tentang CM dari Website CMId, saya sungguh merasa metode ini sangat ‘berat’, karena sangat filosofis. Saya sering bertanya, “Lalu bagaimana menerapkannya?”&nbsp;<br><br></div><div>Rasanya seperti mengawang-awang dan tak ada bentuknya.&nbsp;<br><br></div><div>Ternyata saya salah, Ibu CM telah memikirkan semuanya. Beliau mengistilahkan sistem pendidikannya sebagai ‘sistem filosofis terapan’. Istilah ini menurut pengertian saya adalah sistem yang mendasar dan mendalam tetapi memuat juga teknis-teknis yang bisa diterapkan oleh siapapun.&nbsp;<br><br></div><div>Dia sebenarnya malah berhati-hati sekali untuk tidak memakai istilah yang terlalu filosofis. Ah saya selalu kagum dengan orang-orang yang bisa membahasakan sesuatu yang ‘berat’ dengan bahasa yang membumi agar bisa dipahami oleh banyak orang.<br><br></div><div>Secara filosofis, metodenya meyakini setiap anak adalah pribadi yang utuh, yang memiliki hasrat, minat dan atensi terhadap pengetahuan, serta mampu untuk mengolah pengetahuan tersebut tanpa bantuan artifisial dari luar.<br><br></div><div>Secara teknis, pengetahuan yang diberikan kepada anak-anak tersebut sebagian besar harus diberikan dalam bahasa sastrawi dan berkisah. Setelah itu anak-anak diminta mereproduksi pengetahuan yang didapatnya itu dengan cara bernarasi, yaitu menceritakan kembali apa yang dibaca, dengan bahasanya sendiri. Jika anak sudah terbiasa bernarasi, narasinya akan berkembang dengan tambahan ungkapan pendapat pribadinya, atau tambahan pengetahuan lain yang berhasil anak relasikan dengan apa yang baru ia baca.<br><br></div><div>Menurut saya narasi adalah juga bentuk latihan refleksi dan sebuah cara menginternalisasikan pengetahuan ke dalam diri kita.<br><br></div><div>Berdasarkan pengalaman CM, ini lebih efektif untuk membuat anak memahami secara utuh pengetahuan dan menggugah budinya. Bukan sekedar mencekokinya dengan fakta-fakta kering.<br><br></div><div>Karena tujuan dari pendidikan CM bukan sekedar anak mengetahui banyak fakta, tapi bagaimana pengetahuan bisa menggerakkan budinya, untuk mencapai visi pemuliaan karakter.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478890</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Diana Minita</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478891</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 6]&nbsp;<br>Vol. 6 Paraphrase, Hal. 14-15<br>Kamis, 6 Oktober 2022<br><br>Anak-anak terlahir dengan rasa lapar akan pengetahuan dan kemampuan untuk mencerna berbagai pengetahuan. Mereka terlahir dengan budi yang seperti halnya tubuh membutuhkan asupan yang bernutrisi. Budi tidak tertarik dengan fakta-fakta kosong yang tidak membangkitkan rasa takjub dan imaginasi. Dalam pengalamannya, CM menemukan bahwa anak-anak tidak perlu dibujuk rayu untuk belajar sesuatu karena mereka telah terlahir dengan hasrat tersebut. Mereka tertarik dengan alam karena ada rasa takjub dan penasaran akan lingkungan sekitar dimana mereka hidup. Mempelajari moral dan etika juga akan menolong mereka dalam bergaul dan menempatkan diri di tengah masyarakat. Pengenalan akan Tuhan juga diperlukan karena pasa dasarnya ada kerinduan yang dimiliki setiap orang di dalam hatinya akan Tuhan. CM juga menemukan bahwa baik mereka yang belajar di kelas dengan beragam subjek pengetahuan maupun mereka yang hanya mendalami satu subjek secara mendalam sama2 belajar melalui bacaan. Jadi, anak2 tidak perlu dibujuk atau dibangkitkan rasa ketertarikannya akan suatu subjek pelajaran. Melalui bacaan2 yang beragam yang hidup dan kaya yang dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan mereka, ibarat nutrisi spesifik yang diperlukan untuk setiap tubuh. Dengan banyaknya bacaan yang dibutuhkan, setiap bacaan bahkan hanya sempat dibacakan satu kali dan ini tidak akan membuat anak2 merasa bosan atau perlu dibujuk2 untuk belajar.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478891</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hiyashinta Klise</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478892</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 9]<br>Vol 6, Paraphrase hal 19-20<br>Kamis, 27 Oktober 2022<br><br>Pada bagian ini, beberapa prinsip diutarakan oleh CM, antara lain: (1) Anak-anak harus dihadapkan langsung dengan buku-buku, bukan ceramah-ceramah yang akan membuat mereka bosan. (2) Anak-anak harus mendapat kurikulum yang kaya. Berbagai pengetahuan di bidang agama, ilmu alam, seni, budaya, sejarah, matematika dll, perlu dihidangkan kepada mereka. (3) Pendidik hanya membantu seperlunya, dalam hal teknis misalnya.&nbsp;<br><br>Jika semua ini dilakukan, maka baik murid maupun guru akan bergairah dalam proses pendidikan, karena prosesnya menyenangkan.&nbsp;<br><br>Banyak orang mungkin merasa sudah mengetahui prinsip-prinsip ini dan merasa sudah 'sedikit banyak' menerapkannya. Tapi CM menegaskan prinsip-prinsip yang dia sebutkan itu akan memberikan hasil jika dilakukan dengan cermat dalam praktiknya di lapangan. Bukan hanya secara ala kadarnya. Harus sungguh-sungguh dan konsisten.&nbsp;<br><br>Dengan rendah hati CM mengatakan metodenya mungkin bukan satu-satunya cara yang tepat untuk mendidik (walaupun sudah terbukti berhasil di ribuan anak) , tetapi dia berkata dengan yakin bahwa arus pendidikan yang ada di masanya sangat dangkal dan keruh, karena tidak memiliki landasan prinsip yang kokoh yang diterapkan dengan sungguh-sungguh.&nbsp;<br>Sebuah warisan yang ditinggalkan oleh perang Dunia.&nbsp;<br><br>Sekali lagi dia menegaskan bahwa yang bisa dididik hanyalah budi. Indra dan otot hanya bisa dilatih. Budi dididik dengan memberikan ide-ide hidup atau gagasan-gagasan ataupun pemikiran-pemikiran besar yang menginspirasi, yang menggugah.&nbsp;<br><br>CM meyakinkan bahwa anak-anak yang dididik dengan cara demikian yakni yang budinya disuplai secara rutin ide-ide hidup, akan menunjukkan hasil yang mengejutkan. Mereka menunjukkan karakter yang kuat, inisiatif, pengendalian diri dan rasa tanggung jawab. Bahkan CM menilai, meskipun masih anak-anak mereka tampil sebagai warna negara yang baik dan pemikir.&nbsp;<br><br>Menanggapi pemikiran CM ini, aku hanya ingin berterima kasih. Hidupnya dicurahkan untuk memikirkan hal-hal yang tidak terpikirkan banyak pendidik.&nbsp;<br>Arus pendidikan menurutku masih sama sampai sekarang, tidak ada prinsip kuat yang melandasinya. Jadi, jika setuju dengan pemikiran CM, maka harus berani melawan arus.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478892</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alif Uzayani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478893</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 7]<br>Vol. 6 Paraphrase, hal 16-17<br>Kamis, 13 Okt 2022<br><br>Teknik membaca bab per bab dan menarasikannya dalam metode CM, seringkali di-salaharti-kan sebagai teknik menghafal. Me"narasi"kan sama sekali tidak sama dengan menghafal. Narasi akan melibatkan seluruh indra yang kita punya. Fokus membaca dan mendengar, akal berpikir dan budi mengeluarkan seluruh dayanya untuk mengolah semua bacaan, kemudian dilahirkan kembali menjadi sebuah pendapat, gagasan dan ide-ide baru. Proses seperti ini diyakini ibu CM, akan menjadikan pengetahuan bisa dimiliki secara intim dan personal.<br>Narasi akan menuntut kita untuk memusatkan perhatian, bahkan pada bagian yang biasanya luput atau terabaikan. Dengan narasi, semua bagian akan tervisualisasikan dalam pikiran.<br><br>Berbeda dengan menghafal. Menghafal biasanya dilakuan dengan mengulang-ulang atau menciptakan jembatan keledai untuk memudahkan menghafal. Biasanya menghafal akan mudah hilang juga jika tujuannya telah tercapai, seperti untuk tes atau semacamnya. Bukan berarti menghafal tak dibutuhkan dalam pendidikan, namun jangan sampai teknik menghafal menggantikan cara utama belajar yaitu memusatkan pehatian.<br><br>Dengan bernarasi, budi akan memproduksi sendiri pertanyaan sekaligus jawaban-jawaban dalam diri sendiri. Ini akan menjadi sebuah dialog batin yang menjadi satu-satunya syarat agar pengetahuan benar-benar dimiliki oleh seseorang.<br>Teknik bernarasi dilakukan dengan satu kali baca dan pertanyaan pada point yang ingin ditekankan oleh pendidik bisa diajukan setelah narasi selesai dilakukan oleh anak didik.<br><br>Kunci bernarasi adalah atensi.<br>Materi yang disajikan singkat, tidak bertele-tele serta sesuai dengan tingkat intelektualitas anak. Dan satu lagi, yaitu motivasi moral, anak harus tahu bahwa setelah membaca atau mengalami sebuah pengalaman, dia akan diminta untuk menarasikannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478893</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alif Uzayani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478894</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemun 8]<br>Vol. 6 Paraphrase, hal 18<br>Kamis, 20 Okt 2022<br><br>Filosofi pendidikan CM ini berdasarkan apa yang telah diterapkan sendiri oleh CM selama 40 tahun. Lalu dirumuskanlah sebuah metode pendidikan ala CM yang berangkat dari filosofi tersebut.<br><br>Inilah rangkaian filosofi yang dikemukakan oleh ibu CM :<br>1. Bahwa setiap anak adalah pribadi utuh<br>2. Budi membutuhkan makanan layaknya tubuh. Pengetahuan adalah makanan bagi budi<br>3. Anak terlahir dengan membawa potensi-potensi bawaan yaitu :<br>* hasrat belajar<br>* kemapuan menyerap dan mencerna 4pengetahuan<br>* minat pada pengetahuan<br>* imajinasi dan refleksi untuk mengolah pengetahuan<br><br>Pengetahuan sebaiknya disajikan pada anak dalam bentuk sastrawi atau berkisah. Kenapa? Karena seperti yang telah disampaikan pada bab terdahulu, bahwa sejatinya manusia pasti menyukai keindahan, ini adalah naluriah. Dan bahasa sastra adalah bahasa yang indah.<br>Tentu anak-anak akan tertarik dan suka dengan sendirinya.<br>Lalu ketika anak nanti mereproduksi pengetahuan itu, akan ada sentuhan dari masing-masing anak sesuai keunikan dan orisinalitasnya.<br><br>Karena anak diyakini sudah mempunyai kemampuan untuk menyerap dan mencerna pengetahuan sendiri, maka pendidik tidak memerlukan dorongan dari luar seperti hadiah, hiburan atau ancaman untuk memacu anak-anak.<br>Yang dibutuhkan hanyalah dorongan moral agar anak bisa memusatkan perhatian, itu saja.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478894</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478895</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 10]<br>Vol 6, Paraphrase hal 21,<br>Bag. I Self Education hal 23<br>Kamis, 3 November 2022<br><br>Charlotte Mason lagi-lagi menyajikan suatu ide pendidikan yang cemerlang yaitu pendidikan mandir. Beliau mencontohkan melalui pendekatan modern; motorik kasar perlu dilatih sehingga gerakan indah dan luwes, motorik halus dilatih agar terampil dan presisi, mata dilatih agar melihat tajam, telinga mendengar peka, suara dilatih berbagai nada. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa semua Latihan-latihan ini membawa kegembiraan bagi anak. Namun di sisi lain Charlotte Mason tetap menekankan bahwa segala latihan-latihan tadi tidaklah berdampak pada karakter dan prilaku anak. Beliau seperti hendak menjelaskan bahwa pendidikan mandiri lewat latihan-latihan tersebut hanya akan jadi pemanis, atau sekedar aksesoris bagi anak dan bukan hal yang menetap dan vital dalam diri anak. Karena untuk membentuk karakter, watak dan prilaku anak tidak bisa dilakukan dari luar namun harus dilakukan dari dalam.&nbsp;<br><br></div><div>Lagi-lagi Charlotte menekankan betapa pentingnya mendidik budi yang akan menentukan kualitas karakter dan prilaku anak. Bahwa pendidikan mandiri melalui latihan-latihan tersebut di atas adalah penting dan tidak bisa disepelekan. Namun perlu dipastikan apakah budi anak sudah mendapat asupan yang tepat. Sehingga ketika anak melakukan latihan-latihan tersebut, budi anak telah lebih dulu terbentuk. Yang utama tetaplah pendidikan bagi budi anak, yang&nbsp; paling penting untuk diperhatikan apakah semua Pendidikan, Latihan-latihan itu berdampak untuk mendidik budi anak. Karena kalau tidak, maka latihan-latihan keterampilan bagi motorik kasar dan halus hanya berfungsi sebagai hiasan dari luar yang sifatnya sementara dan tidak menetap.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478895</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Vebriyani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478896</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 10]<br>Vol 6, Paraphrase hal 21,<br>Bag. I Self Education hal 23<br>Kamis, 3 November 2022<br><br>Membaca tentang "Self Education ", yang terlintas memang sebuah kebebasan berekspresi bagi anak-anak dalam belajar. Apakah itu sebenarnya yang dimaksud Ibu CM atau ada kebenaran lain? Dalam pendidikan, motorik kasar perlu dilatih supaya gerakannya luwes dan indah. Motorik halus perlu dilatih supaya terampil dan presisi. Begitu juga masing-masing indera perlu dilatih supaya peka dan berfungsi maksimal.&nbsp;<br><br>Pada prinsipnya anak adalah pribadi yang utuh. Ia hidup. Apa yang membuatnya bertumbuh adalah nutrisi yang masuk kedalam tubuhnya. Anak butuh makanan untuk tubuh dan ide hidup untuk akal budi. Apa yang ada diluar dirinya tidak bisa membuatnya bertumbuh. Seperti latihan fisik dan keterampilan atau hasta karya tak membuat karakter anak lebih mulia. Semuanya hanya tempelan dan hiasan bagi anak yang membuatnya tampak hebat dan terampil karena ia bisa ini dan itu. Hasil pendidikan dari luar itulah yang merupakan representasi karakter anak. Melalui pelatihan fisik atau keterampilan anak-anak mengekspresikan dirinya, disanalah ia menunjukkan bagaimana ia mampu mengerahkan energinya mempelajari sesuatu dengan segenap karakter yang ia punya. Sebenarnya semua itu perlu dipelajari tetapi yang paling penting bagaimana anak bisa mempelajari semua pelatihan itu dengan benar dan memberi manfaat bagi dirinya, orang lain serta lingkungan sekitar. Boleh saja belajar hasta karya tetapi ingat pelajari dengan benar, tidak boleh asal-asalan dan bisa menghasilkan sesuatu benda yang bermanfaat atau menjadi berkat bagi orang lain.&nbsp;<br><br>Sambil merenungi tentang "pendidikan mandiri", saya teringat sebuah perumpamaan dalam Alkitab tentang dua macam dasar. Ada orang yang membangun rumahnya diatas pasir dan diatas batu. Rumah yang dibangun diatas batu akan mampu menahan hujan, banjir dan terpaan angin. Sedangkan rumah yang dibangun diatas pasir akan mudah rubuh. Sebagai orangtua, saya sadari saat ini sedang membimbing anak-anak membangun karakternya, karakter ini sebagai pondasi hidup mereka yang akan melekat dan kokoh menopang. Semewah apapun rumah tanpa pondasi yang kuat tak akan mampu bertahan dalam menghadapi segala bencana. Sebanyak apapun latihan fisik dan keterampilan yang dipelajari tanpa ada karakter dan perilaku yang baik anak akan mudah tumbang dalam menjalani hidup.&nbsp;<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478896</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478897</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 10]<br>Vol 6, Paraphrase hal 21,<br>Bag. I Self Education hal 23<br>Kamis, 3 November 2022<br><br>Pada halaman ini, ibu Mason menuangkan pemikirannya, bahwa metode CM ini bisa digunakan untuk seluruh keluarga, sekalipun keluarga yang secara ekonomi rendah bisa menggunakan metode ini. Semua kalangan keluarga.<br><br>Benar, yang aku rasakan memakai metode ini, anak² tetap bisa mendapat akses buku yang variatif dengan biaya bisa diatur sendiri. Karena tidak perlu buku yang baru, bisa memakai living book bekas layak pakai yang bisa dicari dari marketplace. Sekali lagi dijelaskan oleh ibu Mason, bahwa budi itu sifatnya dari dalam, budi itu mencerna melalui atensi dan refleksi. Cantolannya adalah ide hidup. Ide hidup yang dapat mengembangkan karakter seseorang dari dalam. Disini ibu CM mengatakan, segala rupa stimulasi otot dan indra itu perlu tapi pendidikan tidak hanya sekedar melatih itu. Lalu berharap hasilnya "segera" terlihat dan berharap terbentuk karakter dan menjadi warganegara yang baik. Di halaman ini, ibu CM memiliki keraguan dengan cara ini, karena kerja budi yang membentuk karakter bukan seperti itu. Butuh waktu yang panjang dan tidak instant.<br><br>Segala rupa tempelan manis dari luar sifatnya tidak menetap (keterampilan, minat bakat). Budi yang mendapat nutrisi dari ide hidup inilah yang akan menetap sehingga terbentuk karakter baik.&nbsp;<br><br>There is no education, but self education. Pendidikan mandiri yang dicerna dari hasil mendidik budi dengan nutrisi yang tepat dan dicerna melalui atensi dan refleksi.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478897</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Danni Junus</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478898</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 7]<br>Vol. 6 Paraphrase, hal 16-17<br>Kamis, 13 Okt 2022<br><br>Menjelaskan bagaimana budi kita bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan haus akan pengetahuan tidaklah mudah. Kita mengerti bahwa setiap anak, setiap orang memiliki hasrat2 pribadi untuk mendapatkan pengetahuan. Bagaimana memenuhi hasrat ini? Di sinilah budi memiliki peran banyak. Budi tidak menyukai penjelasan panjang lebar penuh detail dan fakta-fakta pada saat berkelana mencari pengetahuan. Kalau saya boleh membahasakannya dengan pengertian sendiri, budi itu ibarat pengelana, suka tantangan, tidak suka sesuatu yang mudah, instan dan sudah jadi. Budi perlu sesuatu yang membuatnya melakukan pencarian sampai mendapatkan sang pengetahuan. Jadi banyak pendidik yang selama ini memberikan materi penuh detail dan fakta malah membuat budi ini tidak bersemangat dan tidak acuh, sehingga terbiasa bekerja kurang maksimal. Bagaimana agar budi bisa bekerja dengan maksimal? Metode membaca, apalagi dengan sekali waktu membaca, dengan bacaan yang sarat makna dengan bahasa sastrawi dan hidup akan membangkitkan sang budi untuk bekerja dan berkelana jauh untuk memahami pengetahuan tersebut. Inilah yang membuat narasi setiap individu akan berbeda hasilnya, karena perjalanan untuk mendapatkan pengetahuan di dalam diri masing-masingpun akan berbeda sesuai dengan perjalanan budi masing-masing individu.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478898</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisana Sidqi Aliya</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478899</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 11]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 24<br>Kamis, 10 November 2022<br><br>Perumpamaan kepribadian seseorang&nbsp; adalah seperti tubuh jasmani yang memerlukan makanan, istirahat dan akan berkembang jika mendapatkan asupan yang tepat. Kita dapat mengetahui bahwa seorang anak mendapatkan asupan yang tepat jika jasmani dan akal budi atau kepribadiannya "hidup" sehat dan berkembang. Asupan-asupan bergizi itu haruslah dimakan atau dicerna oleh budinya, diserap dan diinternalisasi dalam dirinya, sebagaimana makanan fisik haruslah dimakan jasmaninya.</div><div><br></div><div>Tempelan eksternal (berupa pelatihan indera dan otot) tidaklah dapat membuat budinya hidup, sebagaimana susu atau perasan buah yang digunakan mandi alih-alih diminum tidaklah akan membuat jasmaninya sehat. Hal itu hanyalah pemanis luar belaka, yakni sebatas fakta bahwa anak ini bisa melakukan ini dan itu.</div><div><br></div><div>Pandangan bahwa budi seorang anak ibarat tanaman yang dapat diubah dan diatur berbagai bentuknya oleh tukang kebun adalah anggapan yang keliru menurut Miss Mason. Kenyataannya setiap anak dilahirkan as a person yang memiliki kepribadian bawaan tertentu. Lambat laun, kepribadian ini dapat terwarnai baik oleh faktor internal (kontemplasi dan refleksi) maupun oleh faktor eksternal (misal, pengalaman dalam berinteraksi dengan orang lain yang berbeda ide/pandangan). Bagaimana cara kita memandang kepribadian seorang anak sangat penting karena akan menentukan bagaimana cara kita mendidiknya.</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478899</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hiyashinta Klise</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478900</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 11]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 24<br>Kamis, 10 November 2022<br><br>Sebuah implikasi dari prinsip anak terlahir sebagai pribadi utuh adalah sebagai pribadi dia itu hidup. Dan karena dia hidup, dia bertumbuh. Tidak ada tempelan dari luar yang bisa membuatnya bertumbuh. Hanya nutrisi yang masuk ke tubuhnya lah yang bisa membuatnya bertumbuh.&nbsp;<br><br>Dalam pribadi tersebut, yang bertumbuh bukan hanya jasmaninya tetapi budinya (keseluruhan kodrat spiritual anak) juga bertumbuh. Karenanya budi juga butuh nutrisi.&nbsp;<br>Nutrisi untuk budi ini porsinya harus banyak dan beragam.&nbsp;<br><br>Di sinilah saya merasa pendidikan CM ini sungguh pendidikan yang holistik. Rohani dan jasmani semua harus seimbang. Maka pribadi seorang anak akan tumbuh secara optimal.&nbsp;<br><br>Di sini pulalah saya menyadari bahwa saya juga harus memberi budi saya nutrisi yang cukup agar dia juga berkembang. Dengan demikian saya bisa mendampingi tumbuh kembang anak saya dengan baik.&nbsp;<br><br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478900</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478901</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 11]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 24<br>Kamis, 10 November 2022<br><br>Children are born person. Anak² terlahir sebagai pribadi yang lengkap/ utuh. Sepemahaman saya atas tulisan ibu CM ini adalah, anak² bukan selembar kertas kosong, yang dengan bantuan luar (orangtua, mentor, guru) lalu di beri pendidikan dan pelatihan sesuka hati lalu anak bisa mengikutinya. Kemudian yang membentuk memiliki harapan, anak bisa terbentuk cepat dan bagus, tanpa memperhatikan pribadi anak. Mungkin efeknya malah akan menghambat tumbuh kembangnya.<br><br>Pribadi adalah jasmani yang memiliki karakter. Pribadi ini terdiri dari jasmani, pikiran dan jiwa. Pribadi ini hidup, bertumbuh dan berkembang.&nbsp;<br><br>Jasmani perlu diasup nutrisi beragam dengan makanan sehat agar tubuh tumbuh bugar, sehat dan kuat. Pun dengan pikiran dan jiwa perlu diberi nutrisi bergizi yang beragam dari macam² ide² hidup (pemikiran orang² besar seperti tertuang di alkitab dan buku² living book). Sehingga membuat seorang anak atau seorang manusia bisa memusatkan perhatiannya (atensi) dengan seksama dan memeriksa perjalanan hidupnya dengan melihat ke dalam dirinya sendiri (reflektif). Pikirannya bisa berkembang dan bisa bertumbuh secara keseluruhan sesuai kodrat manusia yang terlahir utuh itu.<br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478901</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisana Sidqi Aliya</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478902</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 12]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 25<br>Kamis, 17 November 2022</div><div><br></div><div>Memberikan tempelan eksternal bagi mind ibarat hanya berada di luar namun tidak sampai menyentuh mind itu sendiri.&nbsp;<br><br>Beberapa guru atau orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan mungkin menganggap aktivitas yang melibatkan pelatihan sensorik (misal, mengurutkan gradasi warna, tekstur, mengidentifikasi aroma, dsb), kesenian dan olah tubuh (menari, musik, dsb), nature study, dll adalah sama dengan mendidik. Padahal, betapapun pentingnya hal-hal tersebut, organ sensorik dan motorik kita tidaklah dapat dididik, melainkan sebatas dilatih, dan pelatihan-pelatihan itu tidaklah dapat mempengaruhi watak dan perilaku manusia.</div><div><br></div><div>Menurut Miss Mason, komponen manusia yang merupakan sasaran pendidikan (bukan pelatihan), yang dengannya dapat menentukan pandangan hidup seseorang beserta watak dan perilakunya, tidak lain adalah mind atau akal budi. Dan makanan bagi mind adalah ide atau gagasan. Ide-ide ini dapat disajikan dalam bentuk literatur tertulis (seperti living book) ataupun berupa literatur oral seperti pepatah, tradisi, atau adat yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.</div><div><br></div><div>Penyajian ide dalam bentuk literatur ini dimungkinkan untuk sampai dan tercerna oleh mind seseorang karena dengan penyajian yang deskriptif dan naratif, seseorang dapat membayangkan alur cerita dan merasakan perasaan berbagai tokoh sehingga muncul&nbsp; empati yang merupakan bekal bagi nuraninya.</div><div><br></div><div>Namun, sebaik apapun berbagai literatur itu disajikan, tidaklah menjadi jaminan akan terinternalisasi menjadi bagian dari kepribadian kita selama tidak dimakan atau dicerna, atau dalam hal ini tidak direfleksikan BIG WHYnya oleh mind, karena tidak ada proses self-education di dalamnya. Padahal menurut Miss Mason, selama tidak ada proses self-education, maka perbuatan seseorang, betapapun baiknya, hanyalah merupakan hasil dorongan eksternal yang rentan hilang seiring dengan hilangnya motivasi eksternal tersebut.</div><div><br></div><div>Sebagaimana jasmani yang membutuhkan asupan bervariasi (dalam hal kualitas) dalam jumlah yang mencukupi (secara kuantitas), demikian pula mind juga memerlukan makanan yang berkualitas dengan kuantitas memadai agar dapat hidup dan tumbuh. (Pertanyaan pribadi: bagaimana mengetahui ciri mind yang hidup dan bertumbuh sehat?)</div><div><br></div><div>Sayangnya pendidikan modern saat ini lebih terpaku pada hal-hal yang sifatnya tempelan pemanis seperti pelatihan sensorik, motorik maupun kognitif semata, sementara asupan bagi mind kurang terperhatikan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478902</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Titin Mufarrahah</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478903</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 12]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 25<br>Kamis, 17 November 2022<br><br>Tak mudah memahami prinsip pertama Ibu CM, _Children are born person_ . Di benakku begitu banyak hal-hal memusingkan terkait istilah _person_. Apa mungkin sejak dini anak mampu menakar dan memposisikan dirinya, kapan saja dan di mana saja. Nyatanya ketiga anakku membutuhkan bantuanku dan kehadiranku untuk memaknai peristiwa yang berlangsung di kehidupan mereka. Sepertinya aku terlampaui jauh memaknai _person_ .<br><br>Merujuk pada vol. 4 _Ourselves_ , telah terinstall sempurna piranti lunak dan keras _(software, hardware)_ di dalam diri manusia. Sehingga sejak bayi dia seorang _Person_. Ibu CM menuliskannya dengan baik perihal kerajaan jiwa manusia yang rumit, terkait dengan _person_ tsb.<br><br>Sejak lahir manusia memiliki hasrat, keinginan dan kehendaknya. Di vol. 6 hlm. 24 Ibu CM membantu untuk mengenal ciri utama pribadi, yaitu: hidup. Kehidupan suatu organisme (apapun) bergantung pada asupan bergizi yang masuk ke dalam tubuhnya. Itu berarti kebutuhan utamanya adalah makanan.&nbsp;<br><br>Selain tubuh jasmani, anak juga memiliki budi. Ibarat tubuh, keseluruhan kodrat spiritual anak (budi) bertumbuh dari makanan bergizi dan beragam. Ia membutuhkan istirahat. Butuh bernafas dan beraktivitas juga.<br><br>Hidup budi tergantung pada nutrisi ide-ide yang ditransfer satu budi orang ke budi orang lainnya. Sebuah ide besar yang ditulis seseorang yang memiliki _passion_ terhadap ide itu. Sehingga tugas utama pendidik adalah memaparkan budi anak langsung ke sumber utama dan pertama. Memberi kesempatan budi anak untuk melakukan percakapan dengannya. Tanpa bantuan atau halangan upaya-upaya pendidikan yang terjadi di luar budi.<br><br>Aku tertarik pada peringatan Ibu CM terkait kemandirian budi. Teringat pula kelakuan sendiri. Dahulu karena terdorong oleh motivasi agar anakku menyerap banyak pengetahuan dan ekspektasi tinggi yang bertumpu pada utilitarianisme, sikap membantu dan menghalangi tak terelakkan.<br><br>Boleh jadi aku tidak menyodori anakku hafalan. Namun aku sempat melecehkan pandangan pribadinya ketika ia menyampaikan narasi . Kutambahkan, kuinterupsi, kubetulkan kerja mental yang susah payah ia bangun.&nbsp;<br><br>Ibu CM menyindir keras para pendidik, untuk selalu mengupayakan ide mental dan ilham seni di balik kegiatan yang dipilihkan atau dipilih oleh anak. Percobaan ilmiah, pelajaran menari, aktifitas jasmani, jalan ke alam lalu menjurnalkannya itu semua baik. Namun, alih-alih fokus pada pencapaian, sebuah ide harus melandasi tindakannya. Di sini pentingnya memahami landasan berpikir sebuah tindakan. Perkara teknis akan seturut pemahaman sebuah ide.<br><br>Bukan perkara mudah menyadari kemampuan budi. Lalu memfasilitasinya dengan nutrisi tepat dan tinggi gizi. Hal itu butuh memeriksa kembali apa yang dianggap sebagai sebuah kebenaran. Mengamini kedaulatan budi, memiliki konsekuensi serius. Pendidik tak lagi menjadi sumber pengetahuan dan kebenaran.<br><br>Ketidaksanggupan tunduk pada hakikat budi, akan melanggengkan korupsi terhadap kebenaran. Alih-alih mengupayakan secara sadar, mencermati hakikat anak. Pendidik terus terjebak membela kekeliruan yang dianggap sebagai kelaziman&nbsp;<br><br>Cita-cita luhur melahirkan generasi yang memiliki inisiatif tinggi, daya reflektif yang mendalam, imajinasi moral subur yang memampukan mereka untuk bersikap simpatik dan empatik makin jauh dari kenyataan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478903</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478904</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 12]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 25<br>Kamis, 17 November 2022<br><br>Lagi² dalam tulisan ibu CM, membahas soal budi untuk diberi nutrisi yang tepat teratur dengan kuantitas yang besar . Seperti jasmani yang butuh nutrisi dalam sehari ada 3x makan besar. Dalam tulisan ibu CM, pembacanya diajak untuk merefleksikan sudahkah kita sebagai orangtua memberikan asupan gizi ke budi anak dengan kuantitas yang memadai, dengan teratur dan konsisten? atau jangan² kita ini lebih banyak memberikan "olahraga mental" yakni pelatihan otot dan indera saja? seperti memberikan latihan olahraga pada tubuh, bawa jalan² ke alam, melakukan percobaan ilmiah ini dan itu, melatih sensorik ini dan itu dengan berbagai macam teknis² yang ditawarkan?<br><br>Ibu CM menuliskan dalam vol 6 di halaman ini, dia menulis apa yang ia gumuli selama 50 tahun soal apa itu budi, bagaimana cara bekerjanya, dengan cara apa budi bisa bekerja. Ibu CM tidak memberikan to do list bagaimana caranya, tapi mengajak kita untuk menimbang prinsip ini dan itu.&nbsp;<br><br>Budi itu kerjanya berasal dari ide, melahap dengan atensi dan refleksi, menimbang prinsip ini dan itu. Tidak mudah memang memberi nutrisi pada budi. Jaman ibu CM, di sekolah² belum bisa memberi makan budi. Guru² enggan bersusah payah utk memberi makan budi. Dan sampai jaman sekarang pun, sekolah² belum bisa memberi makan budi. Dilihat dari mana? dilihat dari sekolah hanya mengejar nilai² akademis. Buku²nya pun berisi fakta kering (nice info). Murid² sekolah secara akademis pintar², tapi kenyataannya inisiatif, daya imajinasi, menimbang prinsip ini dan itu, masih kebingungan. Mereka masih butuh pendampingan dari pendidik yang jg mampu bersama menjadi kawan seperjalanan mengisi budi dengan asupan ide². Darimana ide² itu? dari buku² hidup yang bila dibaca membuat berefleksi, dan bisa dari pepatah, tradisi, adat istiadat yang diwariskan dari leluhur.<br><br>Lalu, saya berefleksi, apakah saya sudah memfasilitasi anak², memberi suplai ide pada budinya? sedang berusaha, saat ini sedang dijalani, perlahan demi perlahan, dengan menjadi kawan seperjalanan bersama mengisi budi dengan ide².<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478904</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisana Sidqi Aliya</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478905</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Why it is important to understand "a child is born person".</strong></div><div><br></div><div>Diskusi seru kemarin menyisakan pertanyaan bagi kami mengenai apa implikasi pentingnya memahami bulir pertama filosofi Charlotte Mason yakni "<em>a child is born person</em>" dalam praktek keseharian dalam mendampingi anak. Hal ini menjadi pemantik untuk merefleksikan lebih lanjut, meskipun dengan keterbatasan keilmuan saat ini tentu saja tidak akan bisa memberikan jawaban yang definitif mengenai tafsiran sesungguhnya dari ide besar seorang Charlotte Mason, dan bahkan akan sangat banyak memerlukan koreksi di sana sini.</div><div><br></div><div>Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya memahami terlebih dahulu hakikat manusia (<em>a person</em>) menurut Miss Mason. Di dalam volume IV Miss Mason menuliskan "<em>The central foundational thought of my idea will sound rather obvious: the child is a whole, complete person with all the possibilities and capabilities already included in his personality</em>." Dalam vol IV dijabarkan juga bahwasanya manusia ibarat kerajaan yang terdiri dari beberapa bagian atau departemen, yakni tubuh (jasmani), akal budi (<em>mind</em>), hati, dan jiwa. (Sebagaimana yang telah digambarkan dalam diagram), masing-masing bagian tersebut memiliki komponen yang khas dan spesifik.&nbsp;</div><ul><li>Departemen tubuh/jasmaniah terdiri atas 1) komponen yang terlibat langsung dalam keberlangsungan hidup (survival) seperti rasa lapar dan haus, rasa ingin bergerak, rasa lelah, dan rasa ingin bereproduksi; dan 2) komponen yang sifatnya seperti "dayang" yang memberikan nilai tambah, yakni kelima indra kita yaitu pengecap, penghidu, peraba, penglihatan dan pendengaran.</li><li>Departemen akal budi atau mind terdiri atas 1) komponen yang bertanggung jawab dalam hal-hal kognitif, yakni intelektualitas (dalam hal imajinasi, sains, sejarah, dsb) dan nalar (dalam hal reasoning); dan 2) komponen hasrat, yakni hasrat ingin disukai, ingin jadi hebat, ingin berkuasa, ingin bersosialisasi, dan hasrat akan pengetahuan.</li><li>Departemen hati terdiri atas 1) komponen cinta, yakni rasa belas kasih, kedermawanan, simpati, keramahan, kesetiakawanan, rasa syukur, keberanian, loyalitas, kerendahan hati, dan kegembiraan; dan 2) komponen keadilan, yakni ketidakberpihakan, respek, ketajaman persepsi dan apresiasi.</li><li>Departemen jiwa.</li></ul><div><br></div><div>Jadi, menurut hemat saya, seluruh hal-hal di atas bersifat general (sama) yang dimiliki manusia normal pada umumnya, yang artinya secara umum setiap manusia dilahirkan dengan membawa seluruh komponen yang sama meskipun secara komposisi (persentase) dapat berbeda-beda. <em>Thus, a child is born person</em>. Namun demikian, kombinasi komposisi komponen, di mana ada yang bersifat dominan di beberapa komponen dan resesif di komponen lain, akan membentuk suatu karakter bawaan tertentu. Dan adanya berbagai faktor internal (seperti refleksi) dan faktor eksternal (pendidikan dan pengalaman hidup) memungkinkan terjadinya penguatan atau pelemahan suatu karakter bawaan seseorang. Kombinasi berbagai karakter inilah yang kemudian membentuk <em>personality </em>(kepribadian) yang unik pada setiap orang dan dapat berubah seiring dengan perubahan instrumen pendidikan yang dimilikinya, yakni atmosfer, <em>life </em>(asupan bagi akal budi/<em>mind</em>), dan disiplin yang dijalaninya.</div><div><br></div><div>Memahami definisi<em> a person</em> ini dapat membantu menempatkan diri kita dalam mendidik anak (dan bahkan diri kita sendiri) dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Misalnya saat anak menolak memakan makanan wajibnya yang berupa lauk pauk lengkap dan hanya mau makan makanan yang terasa enak saja, orang tua yang tidak mau tahu hakikat manusia mungkin tidak akan memvalidasi adanya keinginan dari "dayang" tersebut sehingga penegakan aturannya menjadi otoriter. Atau mungkin menjadi sebaliknya, terlalu permisif dengan keinginan anak, berprinsip yang penting anaknya mau makan. Hal ini juga bisa bermula dari ketidakpahaman hakikat manusia sehingga men-generalkan frase "bahwa setiap anak berbeda" hingga kebablasan memaknainya.</div><div><br></div><div>Dalam kondisi tersebut, sesungguhnya orang tua dapat merefleksikannya bersama bahwa pada kondisi tersebut, komponen "dayang" tubuh yakni indra pengecap sedang ingin mengambil alih menjadi tuan atas tubuhnya, ingin dilayani. Padahal posisinya seharusnya hanyalah sebatas memberikan nilai tambah bagi komponen survival yakni rasa lapar. Orang tua yang memahami hal ini kemudian dapat merancang HoO yang paling tepat bagi kondisi tersebut sehingga dapat menjadi pihak otoritatif tanpa menjadi otoriter, atau sebaliknya tanpa menjadi terlalu permisif sehingga mengizinkan anak diperbudak oleh nafsunya.</div><div><br>Contoh kedua, bagian dari manusia<em> as a person</em> yang berikutnya adalah akal budi (mind). Orangtua yang memahami bahwa setiap anak dilahirkan sebagai seorang manusia yang sudah memiliki hasrat akan pengetahuan tidak akan memanipulasi hasrat-hasrat lainnya untuk merangsang minat belajarnya, misal hasrat ingin hebat yang dimanipulasi dalam bentuk ranking, atau hasrat ingin disukai yang dimanipulasi dalam bentuk pujian, atau bahkan justru dalam bentuk ancaman. Selain itu, memahami bahwa secara alamiah seorang anak memiliki intelektualitas dan nalar juga memungkinkan orangtua mengimani bahwa anak mampu mencerna berbagai pengetahuan yang disajikan untuknya, sehingga tidak perlu dan bahkan tidak semestinya memeras pengetahuan dan ide-ide menjadi setetes fakta atau menjejalkan pesan moral dari bacaannya menjadi ceramah-ceramah yang mana justru merendahkan kemampuan akal budinya. Miss Mason berpendapat, dalam mengambil keputusan moral, metode terbaik adalah dengan melalui dialog Sokratik, bukan ceramah, sehingga anak memiliki kesempatan untuk merefleksikan dan mempertanyakan dirinya sendiri dan memperoleh jawaban dari dalam dirinya sendiri, yang mana dengan demikian ia telah mendidik dirinya sendiri (<em>self-education</em>).<br><br>Dengan demikian, prinsip-prinsip dalam pendidikan memang sudah sepatutnya selalu berfokus kepada pembangunan berbagai aspek dalam diri anak yang memang sudah terinstal benihnya dalam diri seseorang semenjak ia dilahirkan. Dengan kata lain, kembali kepada prinsip "<em>a child is born person</em>". Namun dalam pendekatan teknisnya, bisa disesuaikan kembali dengan kepribadian (<em>personality</em>) anak dan nilai yang dianut oleh masing-masing keluarga agar selaras dengan apa yang dicita-citakannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478905</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hiyashinta Klise</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478906</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 12]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 25<br>Kamis, 17 November 2022<br><br>CM selalu menekankan tentang pendidikan budi. Karena yang bisa dididik dari pribadi seseorang adalah budinya. Indra dan otot hanya bisa dilatih tidak bisa diedukasi.&nbsp;<br><br>Pendidikan budi sangat bergantung pada ide-ide hidup sebagai makanannya. Seperti tubuh jasmani, budi juga bertumbuh sehingga membutuhkan makanan.&nbsp;<br><br>Budi adalah karakter, dia bertumbuh menuju kebijaksanaan.&nbsp;<br><br>Banyak orang menganggap pendidikan indrawi atau sensorik juga bisa memberikan ide. Memang betul, tetapi dalam arti memberikan ide untuk penemuan-penemuan fisik baru. Misalnya dari pendidikan indrawi tersebut, orang mendapat ide membuat design rumah atau membuat lagu baru.&nbsp;<br><br>Sedangkan yang dimaksud CM adalah ide yang dapat mengubah jalan hidup dan karakter dalam upaya untuk mencapai kebijaksanaan tadi. Melatih kita untuk memiliki daya reflektif, inisiatif, dan mampu berimajinasi moral.&nbsp;<br><br>Ide seperti ini hanya dapat ditransfer dari budi satu orang ke budi orang lainnya.&nbsp;<br>CM memberi contoh transfer ide berbentuk literatur lisan.&nbsp;<br>Misalnya dengan mendengar pembicaraan orang lain, tradisi keluarga atau pepatah filosofis. Namun biasanya transfer ide dari literatur lisan tersebut porsinya sedikit dan tidak teratur. Kuantitas, keberagaman, dan keteraturan (konsistensi) suplai ide ke budi sangat penting. Cara lainnya untuk mencukupi suplai ide tersebut belum dijelaskan CM di halaman ini.&nbsp;<br><br>Buat saya pribadi, saya termasuk beruntung karena cukup sering mendapat suplai ide berbentuk literatur lisan. Bertemu langsung dengan orang-orang yang bisa menyuplai ide ke budi saya. Masyarakat adat dengan segala kearifan lokalnya, budayawan-budayawan dengan pemikiran-pemikiran bijaknya, teman-teman aktivis dengan semangat juangnya, dan beberapa orang lain dengan beragam latar belakang.&nbsp;<br><br>Misalnya, kemarin saya bertemu keluarga petani dan penenun di Kepulauan Tanimbar, lalu berdiskusi. Dia menyampaikan prinsip hidupnya yang tidak mau berhutang. Hidup secukupnya dengan apa yang dia punya.&nbsp;<br>Lalu ada lagi, Pak Yakobus, seorang nelayan dan petani, ia tidak pernah mau menjual tanahnya walaupun banyak tawaran menggiurkan. Dia bilang, "Tanah ini istri saya, dia memberi makan saya. Saya tidak akan pernah menjual istri saya".<br>Dia juga menyampaikan pemikirannya tentang uang: orang yang memiliki uang banyak akan lebih cepat menghabiskannya daripada mereka yang punya lebih sedikit.&nbsp;<br><br>Wuah!&nbsp;<br><br>Setiap kali bertemu dengan orang-orang seperti ini, pikiran saya terganggu, tapi hati saya penuh.Budi saya terisi.&nbsp;<br><br>Saya baru paham apa yg dikatakan CM, ternyata ketika berdiskusi dengan mereka, saya tengah memakan pikiran mereka.&nbsp;<br>Pikiran saya bertemu dengan pikiran mereka, sehingga saya semakin berpikir.&nbsp;<br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478906</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Diana Minita</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478907</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 13]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 25-26<br>Kamis, 24 November 2022<br><br>CM mengatakan bahwa tidak ada tempelan apapun, upaya eksternal apapun yang dapat membangun budi karena budi itu tumbuh dari dalam. Makanan untuk budi itu berupa ide-ide hidup yang pada kenyataannya sangat sedikit sekali didapatkan saat ini di sekolah-sekolah yang menggunakan text books. Budi itu butuh makan besar, tidak hanya dalam kualitasnya saja tetapi juga kuantitas yang besar. Ibaratnya tubuh jasmani organisme, budi butuh makanan bernutrisi dan istirahat. Ide-ide yang memperkaya budi dapat diperoleh dari orang lain melalui percakapan, tradisi, karya seni dan musik yang diterima oleh orang lain seperti sebuah literatur lisan. CM mengatakan bahwa saat ini mungkin kita hanya memberi makan budi sebesar satu biji kacang per hari padahal yang dibutuhkan budi jauh lebih banyak dari itu. Pada kenyataannya, seringkali kita tidak mencari tahu makanan apa yang dibutuhkan budi untuk tumbuh dan inilah yang terjadi di banyak pendidikan formal saat ini. Kita tahu sekarang budi tidak akan bertumbuh dengan literatur yang miskin ide dan tidak menggugah budi, tetapi itulah yang terus menerus terjadi di pendidikan formal yang ada saat ini. Sesuatu pola yang keliru tetapi tidak disadari terud berlanjut, berharap budi dapat bertumbuh tetapi nutrisi yang diberikan untuk pertumbuhan budi kurang bahkan tidak tersedia. Semua yang ditawarkan bersifat eksternal dan tempelan yang tidak memperkaya budi anak-anak.&nbsp;</div><div>Dari penggalan tulisan ini semakin diingatkan kembali bahwa diet untuk pertumbuhan budi membutuhkan nutrisi dalam jumlah besar secara kuantitas maupun kualitas sesuai dengan kebutuhan tiap anak. Ini sekaligus menjadi tantangan dan evaluasi bagi saya pribadi, sejauh manakah saya sudah mengusahakan diet budi ini untuk anak-anak saya? Diet budi seperti apakah yang dibutuhkan oleh anak-anak saya pada saat ini? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab tetapi menjadi suatu motivasi untuk terus mengevaluasi dan memikirkan strategi dan arah pendidikan budi yang ingin dicapai bagi pendidikan anak-anak kami.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478907</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Reviyani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478908</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 11]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 24<br>Kamis, 10 November 2022<br><br>Anak, yang merupakan pribadi hidup, sama halnya dengan mahluk hidup atau organisme lain. Oleh karenanya juga berbagi kesamaan proses dan kebutuhan seperti halnya organisme lain. Mereka bertumbuh, dengan ciri khas sendiri yang membuatnya berbeda dari individu lain, namun tetap membutuhkan asupan untuk membantunya bertumbuh sesuai kodrat alamiahnya secara optimal.<br><br>Proses dan kebutuhan anak yang sedang kita bicarakan di sini menyangkut 2 hal : jasmaniah dan rohaniah/spiritual.&nbsp;<br>Secara jasmaniah masyarakat umum sudah lebih banyak mengetahui bahwa untuk tumbuh mereka membutuhkan nutrisi dari makanan, kecukupan gerak dan paparan sinar matahari, serta istirahat yang cukup sesuai kebutuhan tubuh yang angka-angkana atau jenis-jenisnya sudah&nbsp; banyak dipaparkan oleh imuwan-ilmuwan melalui hasil peneliatiannya. Dan kita secara sadar mempercayai itu, dan berusaha menerapkannya sebaik mungkin dalam proses kita merawat dan mengasuh anak.<br><br>Namun demikian, kesadaran para orang tua mengenai kebutuhan anak yang lain, yaitu dari sisi spritiual tidaklah selalu mumpuni. Atau terkadang mereka kurang tepat dalam memaknainya. Banyak dari orang tua mengira bahwa memberi anak beragam pengetahuan akan membuat mereka serta merta bertumbuh. Bertambah pintar atau mengetahui dan bisa melakukan lebih banyak hal (saja) dinilai sebagai bertumbuh atau dianggap sebagai indikator bahwa pendidikan yg mereka lakukan sudah berhasil.<br><br>Memang cenderung lebih mudah untuk menakar hal-hal nyata yang tampak seperti itu, namun menurut CM hal-hal tampak luar seperti itu hanyalah "tempelan" yang tidak bisa menyatakan siapa diri anak sesungguhnya. Kita tidak serta merta bisa melihat dan menduga bagaimana cara anak memandang, menimbang, merasa dan bereaksi atau merespon setiap peristiwa hidup besar ataupun kecil yang mereka temui sepanjang hidup mereka. Padahal hal-hal internal seperti itulah yang sebetulnya lebih berpengaruh besar terhadap diri mereka dan lingkungan serta masyarakat karena mempengaruhi keputusan dan tindakan apa yang mereka lakukan di satu dan lain peristiwa.<br><br>Contoh ekstrimnya : hanya karena 2 orang sama-sama mempunyai pengetahuan dan kemampuan tentang mikroorganisme atau ilmu farmasi tidak lantas membuat keduanya melakukan hal yang mulia dan berguna bagi sesama. Orang yang satu mungkin akan melakukan pekerjaan sebagai peneliti yang sedang merumuskan obat untuk mengobati kanker, sedangkan orang yang lainnya sedang bekerja di lab ilegal di suatu tempat merumuskan formula untuk aksi genosida yang didalangi golongan tertentu yang menurutnya mempunyai alasan yang benar untuk dilakukan atau dia mendapatkan kompensasi yang setimpal atasnya.<br><br>Hal-hal spritual semacam itu yang biasanya luput digarap karena ketidaksadaran akan bagaimana sebenarnya cara yang tepat dan pentingnya membantu dan memfasilitasi proses internal dalam diri anak tersebut. Pendidikan dan perubahan hanya bisa terjadi dari dalam, tugas orang tua/pendidiklah yang harus memastikan proses itu berjalan dengan baik dan optimal sebagaimana kita inginkan terjadi dalam proses luar dan jasmaniah mereka.<br><br>Ketika orang tua/ pendidik mengetahui pentingnya memfasilitasi pertumbuhan spiritual anak, maka orang tua akan berusaha lebih keras untuk mengakomodasi pendidikan di area itu. Menurut CM, spiritual / budi anak tidaklah beda dengan jasmaniahnya, keduanya butuh asupan yang baik sebagai penggerak proses bertumbuhnya. Tubuh jasmaniah membutuhkan asupan nutrisi dari makanan-makan sehat bernutrisi tinggi, dari paparan sinar matahari dan hormon-hormon baik yang mengalirkan nutrisi di dalam darah dan sekujur tubuhya agar bertumbuh dan sehat, maka sisi spiritual anakpun sama. Ia membutuhkan nutrisi yang senantiasa mengaliri jiwanya untuk menyuplai bahan bakar yang membuat proses pertumbuhannya berjalan dengan optimal.&nbsp;<br><br>Asupan nutrisi untuk kebutuhan spiritual yang tak kasat mata ini berupa hal yang tak kasat mata pula, berupa ide-ide dan pemikiran yang bisa datang dari banyak orang dan banyak hal. Selama hal-hal tersebut menyajikan hal berkualitas yang tidak merendahkan kemampuan berpikir anak dengan menggamblangkan pesan moral karena mengira anak tidak akan mengerti apabila tidak disajikan jelas seperti itu, tetapi malah bisa memantik dan membangkitkan kemampuan akalbudinya untuk merenungkan, mengkait-kaitkan dan memikirkan hal-hal yang sudah dia temui sebelumnya, maka hal-hal seperti itulah yang harus lebih banyak kita paparkan kepada anak dalam upaya membantunya bertumbuh secara spiritual sambil kita tetap menghargainya sebagai seorang pribadi utuh yang mempunyai kecenderungan dan ciri khasnya sendiri.<br><br>Kesadaran akan hal tersebut, akan membantu kita membantu membersamai mereka bertumbuh dengan cara yang tidak selalu sama satu sama lain secara teknis, namun sebenarnya tetap sama secara prinsip. Hal tersebut dalam upaya memastikan proses pendidikan tetap terjadi dengan baik dengan menggali cara yang paling tepat untuk diterapkan pada setiap anak yang berbeda-beda sesuai dengan kepribadian mereka yang utuh. Kelak merekapun akan merefleksikan, mengolah dan mengejawantahkan semua asupan itu dengan cara yang khas sesuai kecenderungan kepribadian mereka masing-masing.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478908</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478909</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 11]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 24<br>Kamis, 10 November 2022<br><br>Charlotte Mason terus mengulang-ulang tentang anak terlahir sebagai pribadi utuh. Dan ciri utama seorang pribadi ialah hidup. Selanjutnya, menurut CM tidak ada hal apapun yang ada di luar yang bisa menjadi sumber kehidupan atau mampu membuat pribadi bertumbuh. Bahwa budi sama seperti tubuh, butuh makanan untuk tumbuh. Namun budi yang adalah keseluruhan kodrat spiritual anak – bukan jasmaniah – butuh diberi makanan spiritual juga. Karena itu CM tidak setuju terhadap perumpamaan budi seperti tanaman atau kebun. Bahwa budi anak seumpama tanaman yang bisa dikendalikan oleh tukang kebun, untuk dibuat seperti apa yang dimaui oleh tukang kebun itu sendiri. Tanaman memang mahluk hidup tapi tidak sama dengan seorang pribadi anak yang mempunyai kepribadian sendiri.<br><br></div><div>Bahwa pribadi seorang anak terlahir utuh dan sudah mempunyai kecenderungannya masing-masing. Bahwa kita sebagai orang tua tidak bisa mendikte bla bla bla apa yang harus dipilih untuk dilakukan oleh anak. Kita sebagai orang tua sebatas memberikan ide-ide, pilihan-pilihan dan selanjutnya anak yang memilih. Ketika anak memilih yang tidak baik secara prinsipil atau bertentangan dengan hukum alam misalnya, kita sebatas melatihkan, membantu agar anak kemudian mampu memilih apa yang baik dari sekian banyak pilihan yang tidak baik.<br><br></div><div>Lalu timbul pertanyaan, bagaimana budi dapat dilatih untuk memilih yang baik dari sekian banyak pilihan yang tidak baik? Bagiku agar dapat menjawab pertanyaan ini, kita perlu lebih dulu paham ap aitu budi? Mengapakah budi menjadi begitu penting untuk kita perhatikan? Dan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Bagiku budi menjadi begitu penting karena semua apa yang kita hasilkan bergantung dari seperti apa budi memprosesnya. Seorang yang budinya cukup diberi makan/ asupan bergizi tinggi, akan terlihat dari apa yang dipikirkan, dilakukan, dikatakan, dan dihasilkan. Budi menjadi bagian penting untuk diperhatikan ketika kita sedang berbicara mengenai “children are born person”. Bahwa yang utama yang perlu dibenahi adalah budi.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478909</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisana Sidqi Aliya</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478910</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 13]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 25-26<br>Kamis, 24 November 2022<br><br>Menurut Miss Mason, pengetahuan bukanlah 100% pengalaman inderawi (sensoris) sebagaimana yang diungkapkan oleh Protagoras. Memang, panca indera merupakan salah satu sarana memperoleh pengetahuan secara empiris melalui persepsi sensoris. Namun pengetahuan yang diperoleh berdasarkan sensoris semata belumlah holistik karena belum menyentuh ranah mind (budi), melainkan masih sebatas melatih skill atau keterampilan. Ranah mind (budi) dididik dengan ide atau gagasan. Dan ide-ide ini dihasilkan oleh mind dan diteruskan kepada mind yang lain, dengan kata lain pikiran bertemu pikiran menghasilkan pikiran lainnya.</div><div><br></div><div>Yang menjadi pertanyaan di sini adalah apakah yang dimaksud dengan ide itu sendiri? Menurut Britannica, ide adalah 1) sebuah pemikiran, rencana atau saran mengenai hal yang akan dilakukan; 2) sebuah pendapat atau keyakinan; 3) sebuah bayangan atau gambaran mental mengenai suatu hal; 4) pengetahuan atau pemahaman mengenai suatu hal; 5) tujuan utama dari suatu tindakan.&nbsp;</div><div><br></div><div>Jadi, membaca ensiklopedia atau buku teks, mengamati miniatur tata surya, membaca buku tutorial hasta karya dan menyajikan berbagai hal serupa lainnya memang memungkinkan diperolehnya pengetahuan, dan pengetahuan tersebut bisa saja membangkitkan sebuah ide yang dimanifestasikan dalam bentuk tindakan nyata dalam kehidupannya. Namun, besar kemungkinan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman sensoris demikian sebatas melatih keterampilan kognitif semata. Sedangkan yang dimaksud oleh Miss Mason dengan pendidikan holistik harus mencakup komponen mind (budi) yang hanya dapat dicapai dengan menyuguhkan ide-ide yang dapat mengubah watak (karakter) dan perilaku seseorang. Ide seperti apa yang dapat mengubah watak dan perilaku? Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, ide-ide demikian banyak terkandung baik dalam literatur lisan (tradisi, pepatah, dsb) dan literatur tertulis (<em>living book</em>) yang disajikan secara naratif deskriptif sehingga dapat membentuk imajinasi dan menumbuhkan empati sehingga dapat membentuk sikap moral atas apa yang dibaca/dipelajarinya. Dan karena salah satu ciri khas budi adalah mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri dan kemudian menjawabnya sendiri, maka ide-ide itu akan dicerna/diinternalisasi melalui proses tersebut yang disebut dengan <em>self-education</em>.</div><div><br>Miss Mason juga berpendapat selayaknya jasmaniah, budi juga memerlukan asupan dalam kualitas dan kuantitas yang mencukupi. Faktanya, dengan pelajaran yang diterima murid-murid selama ini di sekolah, budi yang lapar tidak mendapatkan asupan yang memadai. Ibaratnya, mereka meminta roti namun mereka mendapat batu yang yang tidak dapat dicerna. Pertanyaan berikutnya, seberapa banyakkah “cukup” menurut Miss Mason di sini? Dari paragraf sebelummya dapat dipahami bahwa yang dikatakan berkualitas adalah bila sumber pelajaran tersebut mengandung ide-ide berharga yang dapat dicerna, yang berarti kaya akan <em>living ideas</em> atau ide-ide hidup. Sedangkan secara kuantitas, tampaknya Miss Mason merujuk kepada prinsip kurikulum yang bervariasi, yang mencakup berbagai bidang termasuk di dalamnya pengetahuan akan Tuhan, pengetahuan akan manusia dan pengetahuan akan alam yang harus diterima murid dalam skala harian.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478910</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Diana Minita</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478911</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 14]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 26<br>Kamis, 1 Desember 2022<br><br>CM mengutip perkataan bahwa pendidikan itu adalah perkara rohani jadi tidak ada usaha pendidikan eksternal apaapun yang bisa digunakan untuk menambahkan pengetahuan dalam budi. Jadi pendidikan mandirilah yang diperlukan anak-anak. Kenyataannya yang ada saat ini pendidikan disajikan secara eksternal dengan menyediakan informasi-informasi yang tidak menggugah budi. Ibarat menyajikan bubur untuk jasmani yang sehat, suatu makanan yang seharusnya mungkin diberikan pada manusia yang sakit.<br>&nbsp;Budi membutuhkan asupan yang berkualitas dalam jumlah yang banyak. Kuantitas dan kualitas sama pentingnya dan meskipun sumber kita terbatas untuk memberi makan budi tetapi kita tahu dimana mencari sumber asupan budi yang melimpah dan berkualitas. Tidak ada yang bisa menggantikan peran buku-buku berkualitas ini dalam mensuplai makanan bagi budi anak. Melalui buku-buku tersebut, budi anak dipertemukan dengan berbagai ide dan pemikiran orang lain yang memiliki minat mendalam dan dedikasi penuh dalam bidang mereka masing-masing. Budi sendiri akan mengolah semua ide-ide tersebut dengan imajinasi dan penafsiran yang beragam sesuai dengan berbagai karakter unik yang dimiliki oleh setiap individu tanpa perlu disuruh-suruh, diberi iming-iming, ataupun dipaksa menjawab sejumlah pertanyaan ujian.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478911</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Vebriyani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478912</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 13]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 25-26<br>Kamis, 24 November 2022<br><br>Protagoras pernah mengungkapkan bahwa pengetahuan adalah pengalaman indrawi. Hal indrawi ini berkaitan dengan sensorik. Saat ada pengaruh atau rangsangan dari luar diri menggunakan sensorik ini untuk mengenali apa yang sesungguhnya terjadi. Berbeda dengan Ibu CM yang menyatakan bahwa pengetahuan sama sekali tidak berkaitan dengan pengalaman indrawi atau pengetahuan diperoleh melalui pengalaman Indrawi. Tetapi pengetahuan kita peroleh dengan memakan ide dari budi seseorang. Ketika pemikiran bertemu dengan pemikiran lain maka akan muncul pemikiran baru. Budi akan bekerja seperti tubuh yang mencerna makanan dan menyerap nutrisinya. Sepertinya budi Tuhan berikan bagi Setiap kita sebagai sistem pencernaan yang memproses dan mengedarkan nutrisi bagi tumbuh kembang sisi spiritual manusia. Ketika tidak ada ide hidup untuk dimakan maka tak ada nutrisi bagi spiritual anak lalu budi gagal fungsi dan bisa saja spiritual anak mati tak bertumbuh. Jadi, analogi pertumbuhan fisik manusia dengan budi seseorang adalah hal yang tepat.&nbsp;<br><br>Setiap anak dan tentunya manusia memerlukan ide-ide hidup untuk dimakan dan pemikiran membuat budi bekerja. Setiap ide hidup yang diterima biarlah memberi informasi dihubungkan dengan prinsip, diilhami dengan gagasan yang kemudian digunakan untuk membangun relasi antara satu ide dengan ide yang lain seperti sebuah jaringan dalam tubuh kita.&nbsp; Tetapi selama ini yang banyak dialami anak-anak dan kita sebagai orangtua adalah kita membutuhkan ide hidup untuk bertumbuh namun kita menerima fakta-fakta kering semata yang sesungguhnya tak bisa dicerna budi bahkan akan langsung dikeluarkan dalam sebuah ujian tertulis diatas kertas? Perumpamaan&nbsp;<br><br>Anak minta roti namun kita beri batu ini sangat berelasi dengan kondisi anak dalam sistem pendidikan disekolah saat ini. Buku teks disajikan berisi fakta-fakta kering bagai batu yang keras, tanpa ada ide hidup, tak ada nutrisi. Lalu dipaksa untuk dikeluarkan dari budi anak dalam wujud jawaban ujian. Proses menerima ide =&gt; proses mencerna ide dengan merefleksikan atau merelasikan pemikiran=&gt; proses ekskresi dalam bentuk narasi sama sekali tak terjadi.&nbsp;<br>Anak-anak butuh sajian ide hidup seperti layaknya roti yang merupakan makanan bernutrisi. Roti mampu dicerna tubuh. Sama seperti ide hidup dicerna budi. Setiap proses pengolahan ide hidup terjadi dengan runut. Pengetahuan menjadi milik anak seutuhnya sesuai kebutuhan mereka. Seperti yang pernah saya dengar dalam pembahasan prinsip pendidikan Ibu CM dikatakan bahwa pengetahuan belum menjadi milikmu jika kamu belum bisa membagikannya.&nbsp;<br>Maka sebagai orang tua tugas kita adalah:<br>1. mempertemukan anak-anak dengan ide-ide hidup dalam kurikulum yang kaya. Seperti dalam menu makanan empat sehat lima sempurna. Sajikan makanan bergizi bagi anak setiap hari. Lalu beriman tubuh anak akan menyerap nutrisi makanan ini dan bertumbuh. Mengapa? Menyajikan ide hidup berarti memberi anak bahan berpikir. Saat berpikir budi anak bekerja. Lalu ada pemikiran baru yang terbentuk.&nbsp;<br>Pendidikan adalah perkara rohani. Tak ada pendidikan terbaik selain Pendidikan mandiri. Karena setiap manusia adalah pribadi pembelajar sejak lahir. Pendidikan eksternal tak mampu mengubah karakter seseorang. Sediakan ide-ide hidup dari pemikiran-pemikiran terbaik yang ada dalam buku - buku berkualitas (livingbooks) lalu sajikan secara bertahap.&nbsp;<br><br>2. Meminta anak narasi. Seperti tubuh, setelah makan banyak, pasti ada BAB. Tandanya pencernaan anak bekerja dengan baik dan nutrisi sudah terserap.&nbsp;<br>Untuk apa? Anak perlu mereproduksi pengetahuan yang ia terima. Narasi membantu anak membangun relasi antara satu ide dengan ide yang lain ataupun pengalamannya. Hal ini bisa kita ketahui dengan mendengarkan pemikiran anak secara lisan atau tulisan setelah menerima ide hidup yang kita sajikan.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478912</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478913</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 13]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 25-26<br>Kamis, 24 November 2022<br><br>Dalam halaman ini, ibu Mason menuliskan bahwa pengetahuan itu bukan dari pengalaman indrawi.&nbsp;<br><br>Saya jadi merelasikan pendidikan anak² yang terjadi saat ini, menghafal subjek² pelajaran dari buku² pelajaran yang disajikan, berlatih ini dan itu, ternyata belum bisa dikatakan mendapatkan pengetahuan. Bisa dikatakan mendapat pengetahuan bila budi mendapat ide / gagasan dari suatu pemikiran. Pemikiran bertemu dengan pemikiran jadilah suatu ide yang lalu dilaksanakan dengan tindakan. Budi bekerja terhubung dari suatu prinsip, yang mana timbul ide itu.&nbsp;<br><br>Budi di dapat dari sajian buku² hidup yang dikenal dengan living books. Dimana isi living books itu berisi cerita yang naratif, ketika membacanya, budi bisa atensi dan refleksi, sehingga efek jangka panjangnya membentuk watak dan perilaku yang baik. Selain dari living books, makanan budi jg dari tradisi adat istiadat, petuah dari tetua² leluhur, yang didapat secara lisan.&nbsp;<br><br>Tanpa harus dipaksa² (sperti contoh nyata sekarang di sekolah diberi buku² banyak, lalu dengan deadline diujikan di kertas ujian lalu dinilai), budi akan melahap dan mencerna sesuai dengan kebutuhannya yang direlasikan dengan kehidupan yang terjadi.<br><br>Tetap sayangnya, dari jaman Ibu Mason sampai sekarang masih tetap pendidikan itu kebanyakan orang taunya, adalah dengan melatih inderawi. Apa jadinya penemuan inderawi misal seperti bom atom, dipakai untuk membunuh sesama manusia? dan sudah terjadi saat peristiwa Hiroshima Nagasaki di Jepang lalu. Contoh pemahaman bahwa pengetahuan adalah pengalaman inderawi, yang didapat dari stimulasi inderawi, tanpa mengasup sampai ranah budi.<br><br>Kata ibu Mason, anak minta roti tapi disajikan batu. Ingin anak budinya dapat makanan yang tepat dengan jumlah yang tepat tapi, belum paham bagaimana prinsip pendidikan dan cara kerja pendidikan.<br><br>Pendidikan itu perkara rohani, apa yang disajikan sekarang dengan variasi dan jumlah yang disajikan, tiap² anak yang dikeluarkan belum tentu sama. Ibarat lambung diisi makanan, yang dicerna dan keluarkan untuk menjadi nutrisi bergizi untuk badan, masing² berbeda.&nbsp;<br><br>Di halaman ini, bagi saya, ibu Mason ingin mengingatkan untuk orangtua, pendidik, untuk bersabar mengimani perjalanan pendidikan anak² terkait dengan budi.&nbsp; Yang terpenting adalah tetap sajikan makanan budi dengan jumlah yang banyak, variatif, sedikit demi sedikit namun konsisten.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478913</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Danni Junus</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478914</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 13]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 25-26<br>Kamis, 24 November 2022<br><br>Protagoras mengatakan bahwa “Pengetahuan adalah pengalaman indrawi”. Ini tidak tepat menurut pemahaman CM. Pengetahuan tidak berwujud hanya dalam batasan fisik dan rasa, ada hal-hal spiritual dalam setiap pengetahuan yang bisa diasah oleh manusia. Sesuatu yang seringkali tidak dapat dijelaskan oleh individu lain, namun dapat dirasakan dan dicerna secara individual. Perjalanan seseorang mendapatkan pengetahuan belum tentu dirasakan, dipahami dan dilihat oleh individu lain. Ini merupakan perjalanan rohani manusia itu sendiri dalam memahami dan mencerna pengetahuan itu sendiri. Hanya masing2 individu yang memahami 100% proses menjalaninya. Kita yang merupakan makhluk di luar dirinya hanya bisa menduga secara kasat mata dan dengan instinct apa hasil dari pengetahuan yang didapat orang lain termasuk anak kita. Maka dari itu, kita sebagai pendamping pendidikan anak hanya dapat berusaha untuk terus konsisten menyediakan berbagai menu pengetahuan yang terbaik bagi anak. Salah satu cara memenuhinya adalah dengan menyajikan berbagai hidangan pengetahuan melalui karya-karya terbaik berupa berbagai hasil pemikiran terbaik&nbsp; dari para ahli. Pikiran-pikiran ini akan memancing pikiran-pikiran terbaik dalam diri individu sendiri. Ini akan menjadi sebuah perjalanan rohani setiap individu dalam memproses pengetahuan yang didapatkannya.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478914</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478915</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 14]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 26-28<br>Kamis, 1 Desember 2022<br><br>Terkait paragraf terakhir diskusi ini, aku terpantik dgn narasi Mbak Shinta yg mengatakan ttg metode yg ditemukan oleh Bu CM ini bisa jadi/ternyata sudah diterapkan oleh orang2 terdahulu.<br><br>Aku mencoba menganalisanya terkait asal muasal kehadiran sekolah kembali, mungkinkah pergeseran metode yg dahulunya dianggap baik tp tergantikan oleh metode utilitarian yg diusung sekolah, sebenarnya akan terus terulang pola nya?<br><br>Kalau sekarang kita mungkin mengalaminya dalam hal teknologi. Dulu, kemunculan internet begitu menggemparkan dunia sehingga informasi begitu mudah didapat. Tapi, masalah bermunculan jg mulai dari berita hoax hingga narsum yg tdk dapat dipercaya. Tak jarang, sumber belajar kita, masih didominasi literatur yang mungkin sudah hadir sebelum internet itu ada. Tak jarang, kita akhirnya perlu membatasi arus informasi, bahkan puasa gadget.<br><br>Di setiap siklus jaman ternyata terdapat tantangan2 tersendiri yg sdh tersedia kunci jawabannya oleh CM: selalu berefleksi atas hal2 yg terjadi di sekeliling kita.<br><br>Maka, jangan2 yang diharapkan Bu CM melalui metode nya ini dasarnya adalah mengingatkan kita untuk selalu mengingat hakikat hidup dan tujuan penciptaan kita.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478915</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478916</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 13]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 25-26<br>Kamis, 24 November 2022<br><br>"Pengetahuan adalah pengalaman indrawi" adalah ucapan Protagoras yang menurut CM, adalah suatu kesalah pahaman konsep pendidikan. Menurutnya, pengetahuan adalah perkara rohani. Aku setuju dengan pendapat ini. Aku mencoba merelasikannya dengan kisah Helen Keller.<br><br>Helen Keller terlahir di dunia ini dalam keadaan sempurna. Hingga pada usia tertentu (kalau tidak salah 8 bulan), ia mengalami demam tinggi yang membuatnya buta, tuli, dan bisu. Setelahnya, kehidupannya seolah-oleh menjadi kelam karena ditutupnya akses indrawi terhadap jiwanya.<br><br>Berbagai guru sudah didatangkan oleh orang tuanya, namun semuanya menyerah mendidik Helen yg saat itu sudah usia anak-anak namun bertingkah seperti bayi. Tidak bisa berkomunikasi dan tidak tahu tatakrama maupun empati. Kedatangan guru Anne Sullivan yang mengubah hidupnya. Dengan iman dan empati terhadap Helen, ia yakin Helen mampu menjadi manusia terdidik.<br><br>Ia mengawali pendidikan Helen dengan menamai benda dengan nama. Menggunakan bahasa isyarat yang diraba tangan Helen, ia memulai perjuangannya memberitahukan Helen bahwa setiap benda memiliki nama. Tapi, bak manusia primitif, bagaimana memperkenalkan itu semua sedangkan akses ke dalam jiwa Helen sudah tertutup, kecuali indra peraba dan pengecap.<br><br>Singkat cerita, Helen melalui proses pendidikannya. Awalnya sulit, lama kelamaan ia mampu menghafal gerakan-gerakan tangan bak robot. Dipikirnya, ini hanya permainan tangan. Ia mampu merapal beberapa kosa kata, namun tak paham bahwa itu adalah nama benda. Hingga pada satu titik, terdapat 'aha' momen ketika ia menyetuh air sembari diberitahukan kata "w-a-t-e-r".<br><br>Berikut adalah kutipannya: "<em>I stood still, my whole attention fixed upon the motions of her fingers (Anna Sullivan). Suddenly I felt a misty consciousness as of something forgotten — a thrill of returning thought; and somehow the mystery of language was revealed to me. I knew then that w-a-t-e-r meant the wonderful cool something that was flowing over my hand. The living word awakened my soul, gave it light, hope, set it free!</em>".<br><br>Dari pengalaman itu, aku mengasosiasikan bahwa benar indrawi adalah faktor penting, namun bukan yang utama. Helen nyata terbukti mampu merapal ulang gerakan-gerakan huruf bahasa isyarat, namun ia tak memahami maknanya. Barulah setelah ada pencerahan dalam jiwanya, setelah latihan berulang dan berulang, ia mampu menjalin relasi dalam benaknya.<br><br>Disini peran pendidik adalah kunci utama, perpanjangan tangan Tuhan, yang mengizinkan Helen untuk tercerahkan. Tanpa iman, empati, dan konsistensi, jiwa tercerahkan bisa jadi hanya keniscayaan. Maka aku berdoa, semoga aku mampu memiliki kebijaksanaan dan ketekunan dalam membimbing anakku dalam perjalanan hidupnya mendapatkan inspirasi-inspirasi yang mendekatkannya pada Tuhan-nya dan menjadikannya sesuai dengan tujuan penciptaannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478916</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478917</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 11]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 24<br>Kamis, 10 November 2022<br><br>Pembahasan mengenai budi, tak akan mampu dilakukan tanpa mendefinisikan apa itu budi itu. Budi, awalnya aku maknai sebagai kalbu. Ia hadir satu paket dengan jasmani manusia. Kalbu, erat hubungannya dengan pikiran, perasaan. Menurut deskripsi buku "Definition of Mind", <strong>Budi</strong> adalah serangkaian kemampuan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kognisi">kognitif</a> yang memungkinkan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kesadaran">kesadaran</a>, <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi">persepsi</a>, pertimbangan, dan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Ingatan">ingatan</a> pada <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Manusia">manusia</a> dan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Organisme">organisme</a> lain.<br><br>Menurut CM, budi sama seperti tubuh. Budi hidup berdampingan dengan jasmani. Ia butuh dipelihara, diberi makan, istirahat, dan sejenisnya. Membesarkan anak hanya dengan berfokus pada kesehatan jasmani, akan menjadikan anak tidak bertumbuh secara budi.<br><br>Yang menjadi catatan penting adalah, sebagai orang tua, penting untuk memaknai bahwa budi lah yang akan bekerja mengendalikan tubuh jasmani. Jasmani yang sehat, hanyalah alat untuk tujuan yang lebih besar. Budi, sang penggerak tubuh, adalah tuan atas diri manusia. Ia harus memiliki kekuatan kehendak atas mana yang baik dan buruk - karena itulah pendidikan untuk mengasah budi diterapkan dalam pendidikan CM.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478917</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Titin Mufarrahah</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478918</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 13, 14]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 26-28<br>Kamis, 1 &amp; 8 Desember 2022<br><br>Narasi halaman 25-27.<br><br>Dewasa ini, pendidikan tak memiliki konsep seragam dalam memandang hakikat anak didiknya. Hingga detik ini dapat kita saksikan bagaimana transfer ilmu pengetahuan penuh perdebatan.<br><br>Kata Protagoras, "Pengetahuan adalah pengalaman indrawi." Panca indra didaulat sebagai sumber pengetahuan. Melalui panca indra, pengetahuan diolah dan diproduksi. Konsep pendidikan ini tentu mengandalkan fungsi syaraf sensorik sebagai metode transfer pengetahuannya.<br><br>Pemahaman bahwa pengetahuan bersumber dari panca indra akan mendorong upaya pemenuhan pengetahuan pengetahuan yang semata mata bersifat jasmaniah, yang akhirnya bisa mengabaikan yang spiritual. Pengetahuan yang sematamata indirawi juga bisa terjebak pada semangat utiliarian yang bersifat teknis, mekanis, dan kenikmatan sesaat.<br><br>Oleh karena itu pemikir lain beranggapan bahwa sumber pengetahuan sesungguhnya tidak nampak oleh tangkapan kelima indra. Kata Lord Haldane, "Pendidikan adalah perkara ruhani." Lebih lanjut Ibu CM menegaskan, "Pengetahuan bukan pengalaman indrawi, tidak pula diperoleh lewat pengalaman indrawi."<br><br>Satu-satunya yang bisa dididik dari manusia adalah akal budinya. Dan ini bersifat spiritual. Melalui akal budi, manusia mampu memahami gagasan-gagasan besar yang ditulis oleh orang yang ahli dan mencintai ide yang ditulisnya. "Kita memakan ide dari budi orang lain; dan ketika pemikiran dipertemukan dengan pemikiran, akan lahir pemikiran lagi, lalu kita menjadi semakin berpikir (vol. 6, hlm. 26). Relasi akal budi ini menumbuhkan pandangan yang universal. Tidak ego sentris.<br><br>Pendidikan yang didasarkan pada teori utuh akan mencetak generasi terdidik yang menumbuhkan rasa simpati, empati dan karakter-karakter mulia lainnya. Sehingga siswa memiliki rasa tanggung jawab atas keberlangsungan hidup di dunia. Menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menebar kasih sayang. Rahmatan lil 'âlamîn.<br><br>Visi misi pendidikan utuh ini tak terpisahkan dengan beragam disiplin ilmu pengetahuan. Misalnya ilmu psikologi dan sosiologi. Dalam kerangka membangun relasi dengan diri sendiri dan orang lain.<br><br>Pengetahuan diri penting dikenalkan sejak dini. Sejak anak mampu berkomunikasi. Supaya potensi-potensi diri mudah dideteksi. Mengenali sejak awal kekurangan dan kelebihan jiwanya. Menumbuhkan potensi baiknya dan menyiangi potensi buruknya.<br><br>Jika pengenalan diri berhasil dipelajari dengan baik, hal itu akan menjadi modal besar dalam memahami konekvitas diri dengan orang lain. Bahwa dunia ini milik bersama. Menjadi tanggung jawab kita semua untuk memakmurkannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478918</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478919</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 16]<br>Vol 6 Paraphrase hal 29<br>Kamis, 15 Desember 2022<br><br>"Anak² terlahir sebagai pribadi utuh" kredo (pernyataan iman) dari prinsip pertama ibu Mason. Anak² sudah dibekali pribadi yang khas oleh Tuhan, bukan selembar kertas putih kosong yang harus ditulis oleh orangtua ataupun sekitarnya.<br>.<br>Ibu Mason dalam halaman ini menulis bahwa bila cara yang sudah dijelaskan pada tulisan² sebelumnya, coba saja dengan rutin membacakan buku kualitas sastrawi pada umur 6-18 th, lalu minta mereka menarasikan. Maka hasil yang didapat adalah mereka mampu menceritakan ulang dengan gaya bahasa mereka sendiri. Daya atensi baik, kaya kosakata, dengan 1 kali melihat tulisan bisa langsung mengingatnya.&nbsp;<br>.<br>Pada tulisan halaman ini, Ibu Mason memberikan peneguhan, bahwa bila para pendidik memiliki keyakinan memandang anak adalah pribadi utuh,&nbsp; dan melakukan usaha konsisten dengan metode yang ditemukan oleh Ibu CM, maka hasil yang dituai nyata.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478919</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nuranisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478920</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 1]<br>Sebuah Pengantar, hal. 1-3<br>Kamis, 1 September 2022</div><div>&nbsp;</div><div>Dalam paragraph ini, saya menangkap ada 2 golong yang yang berbeda setelah perang dunia 1 selesai. Golongan pertama Para laki2 yang mempunyai jiwa patriot dan mau membela negaranya. Dan golong yang kedua adalah Golongan dimana para laki2 cendikia yang berpendidikan memilih tetap dirumah. Mis Mason bertanya2 mengapa ini bisa terjadi?.</div><div>&nbsp;</div><div>Apakah ini berakar dari konsep Pendidikan yang tidak menyentuh Budi (Hati Nurani) dimana Pendidikan hanya sampai ke otak? Sampai akhirnya para Peserta didik tidak bisa merasakan panggilan untuk melakukan hal-hal patriot atau rasa untuk mebela negaranya dalam perang dunia 1. Budi membuthkan makanan setiap hari.<br><br>Terimakasih.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478920</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lina Wahyuni</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478921</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 1]<br>Sebuah Pengantar, hal. 1-3<br>Kamis, 1 September 2022<br><br>Aku memulai kembali bernarasi dari awal dengan dorongan karena betul-betul ingin mengerti secara utuh seperti apa sih pemikiran CM. Di buku vol 6 ini, CM mengawali dengan menjelaskan salah satu realita yang CM lihat dalam masyarakat pada masa itu. Pada saat itu perang Dunia satu berakhir, dan semua orang di sana bersuka cita untuk kekuatan, keberanian dan pengabdian yang ditunjukkan oleh tentara mereka.&nbsp;<br><br>Tetapi Miss Mason juga bertanya-tanya kenapa ada para laki-laki yang berdiam diri di rumah dan tidak merasa terpanggil&nbsp; untuk berperang dan membela negaranya padahal mereka adalah golongan terpelajar, walaupun begitu tidak bisa dipungkiri mereka tidak bisa mendeteksi sesat pikir yang ada di dalam pikiran mereka.&nbsp;<br><br>Ternyata akar permasalahannya berada pada pendidikan yang telah dikembangkan pada umumnya adalah pendidikan yang hanya menyentuh akal saja, dan tidak menyentuh budi manusia. Sehingga pendidikan hanya sekedar kumpulan informasi dikepala. Seberapa pun banyaknya otak kita dijejali dengan informasi-informasi penting dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan tetap tidak akan mampu memantik peserta didik untuk melakukan sesuatu dan berbuat atau dalam kasus di atas yaitu merasa terpanggil ke medan perang&nbsp; untuk membela negaranya.&nbsp;<br><br>CM lagi-lagi mengatakan, bahwa budi membutuhkan makanan pengetahuan setiap hari.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478921</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lina Wahyuni</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478922</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 2]<br>Introduction, hal. 3-5<br>Kamis, 8 September 2022<br><br>Pada zaman di mana Charlotte Mason hidup, Orang-orang tidak memahami hakikat dari pendidikan. Mereka tidak yakin betul dengan apa sih yang disebut pendidikan dan apa yang disebut pelatihan kejuruan.&nbsp;<br><br>Apakah pendidikan itu sama dengan pelatihan kejuruan. Mereka mengharapkan anak-anak mereka untuk menguasai keterampilan yang bisa membantu mereka mencari nafkah, seperti misalnya bertani, berlatih komputer atau keterampilan lainnya.&nbsp;<br><br>Tetapi pada akhirnya mereka juga menuntut agar anak-anak mereka belajar tentang bagaimana menghadapi kehidupan.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478922</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478923</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 17]<br>Bab 1, hal 30-31<br>Kamis, 12 Januari 2023<br><br>Pada hal ini Ibu Mason, memberi point² penting yang perlu diperhatikan bagi para pendidik dan pendamping anak².&nbsp;<br>1. Pendidikan pada anak² haruslah menyentuh jiwanya.<br>2. Bacakanlah buku² bermutu sebelum mengajari mereka teknis baca dan tulis.<br>3. Setelah membaca, ada sesi bernarasi sehingga ada yang bisa dicerna dan direfleksikan bukan hanya sekedar membunyikan kata².<br>4. Boleh mulai untuk jadwal terstruktur pada usia anak 6 th sembari diajari baca dan tulis.<br>5. Tidak masalah sampai 2 tahun anak² belum biaa membaca dan menulis, karena melalui buku² yang bermutu mereka mencerna banyak kosakata.<br>6. Masing² anak memiliki kemampuan yang berbeda², jangan disamakan.<br>7. Pada murid² yang memakai metode Charlotte Mason mereka tidak hanya membaca buku saja tetapi mereka juga belajar banyak keterampilan (hasta karya, perkakas).<br>8. Anak² bisa menyerap banyak prinsip² dasar sains. Fokuslah pada buku dan apa yang diteliti bukan pada nilai, ranking ( untuk memuaskan egonya).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478923</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478924</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 18]<br>Bab 2, hal 34<br>Kamis, 19 Januari 2023<br><br>Pada halaman ini ibu Mason menuliskan bahwa tujuan pendidikan untuk anak jelas untuk apa. Daftar buku dibuat untuk apa? buku² yang ini dan itu ditujukan untuk apa. Jelas tujuannya. Pendidik tidak hanya menjejalkan pengetahuan ini dan itu tapi lebih menjadi kawan seperjalanan dengan bersama² menyusuri tiap pemikiran, pengetahuan yang tersedia di dunia ini.<br><br>Dan di halaman ini diingatkan bahwa anak² itu bukan lembar kosong. Mereka mempunyai pikirannya sendiri, mempunyai imajinasi sendiri, mempunyai relasi pengetahuan yang didapat dari sejak mereka lahir sampai mereka dewasa. Mungkin kabur tapi ingatan mereka terlihat. Seperti seorang pujangga "Thomas Traherne" yang ingat bagaimana ia semasa hidupnya. Tuhan menciptakan dunia dan isinya yang membuat ia mengaguminya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478924</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478925</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 19]<br>Bab 2, hal 34-36<br>Kamis, 26 Januari 2023<br><br>Pujangga jaman ibu CM, banyak yang bisa menarasikan dengan kata2 indah apa yang dipikirkan. Ditautkan dengan keindahan alam, masa kecilnya, tapi apakah mereka sungguh benar dalam mengungkapkan tulisan mereka itu? apakah mereka sungguh merasakan yang mereka tulis indah itu? Kita yang manusia biasa yang bukan pujangga, terkadang kita suka berpikir memang benarkah bgitu?&nbsp;<br><br>Bukan hanya pujangga saja yang bisa mengingat, mengamati, menyerap, dan menulis kata² indah saja yang bisa, tapi kita orang biasa pun sebenarnya jg bisa, bahkan bayi pun bisa, malah tanpa kritikan. Bayi mengamati, menyerap semua yang datang pada indera mereka.<br><br>Ini membuktikan bahwa anak² itu terlahir dengan lengkap dari pemikiran, kecerdasan masing² yang Tuhan berikan. Akalbudi mereka itu adalah instrumen pendidikan mereka yang dibawa selama hidupnya. Bukan guru atau pendidik yang membuat mereka cerdas tapi memang sudah ada dari lahir.&nbsp;<br><br>Dalam halaman ini ibu CM berbagi pengalamannya melihat anak² usia 3 th sudah mahir berbahasa lebih dari 1 bahasa. Iya anak² itu terlahir cerdas, guru² dan pendidik yang kemudian menstimulasi dan mendampingi mereka selama bertumbuh dan berkembang.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478925</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478926</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 20]<br>Bab 2, hal 37<br>Kamis, 2 Februari 2023<br><br>Kalimat CM yang mengatakan anak memiliki nurani, membuat saya termenung. Tepat seminggu sebelumnya, kami mengikuti kelas Habit of Attention dan membahas tentang Habit of Obedience, Mbak E, mentor kami, juga mengatakan frase tersebut.<br><br>Dalam Islam, anak yang terlahir memiliki fitrah baik. Ini yang aku korelasikan memiliki maksud yang sama dengan kata-kata CM. Mereka memiliki nurani. Tanpa diajarkan hal baik, mereka tahu mana yang baik. "Mereka sudah bisa membedakan benar atau salah, dari sejak mereka belum belajar berjalan."&nbsp;<br><br>Bayi tanpa diajarkan tersenyum bisa tersenyum untuk berekspresi bahagia. Tapi juga berlaku yang sebaliknya, mereka menangis untuk sebagai ekspresi atas simbol ketidaknyamanan. Seperti bagaimana Tuhan menciptakan dunia ini berpasang-pasangan, manusia sejatinya diciptakan dengan fitrah baiknya tapi juga sudah memiliki hawa nafsu yang mengikutinya. Ia seperti yin dan yang dalam teori keseimbangan dari Tiongkok.&nbsp;<br><br>Lantas, pendidikan ketaatan benar adanya bisa dilatihkan sejak ia bayi, agar menjadi pondasi atas pendidikannya sebagai seorang hamba kepada Tuhannya. Agar ia tahu bagaimana menahan kehendaknya sesuai aturan Tuhannya. Agar ia tahu bagaimana menjalankan hidup sesuai keinginan Tuhannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478926</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Damba</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478927</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan ke-20]<br>Hal 36-37<br>Kamis, 2 Februari 2023<br><br><strong><em>Imajinasi, Ketaatan dan Kehendak</em></strong><br><br>H. J. Wells berkata dalam salah satu bukunya, “Literature, the drama, art, that is the sort of food upon which the young imagination grows stout and tall.”<br><br>Imajinasi bertumbuh melalui bacaan literatur, drama, juga karya seni bermutu. Digambarkan bahwa dari sana anak-anak, juga kita akan dibawa menjelajah ke berbagai hal yang membebaskan. Aku merasa sepertinya CM ingin terus mengingatkan kita ini makhluk spiritual, jadi jangan terkerangkeng oleh hal-hal material semata. Kita seharusnya mengizinkan imajinasi membawa kita ke bagian-bagian yang mungkin tidak serta merta terlihat jelas di ranah materi. Tapi sesungguhnya, akan membawa kita lebih mengerti lagi tentang apa yang terjadi di ranah materi. Jadi imajinasi bukan ingin membuat kita lari dari kenyataan, namun sebaliknya, imajinasi membantu kita memahaminya lebih tepat dan mendalam.&nbsp;<br><br>Einstein berkata "If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales."&nbsp;<br>Berpikir kritis, kreatif, cerdas butuh imajinasi. Bagaimana mungkin kita minta anak berhenti berimajinasi hanya karena hal-hal yang dia pikirkan tidak terlihat langsung di alam nyata. Jika ada ide yang melintas anak akan mempertanyakan, imajinasinya akan membawanya menjelajah, tapi agaknya nalarpun tidak akan tinggal diam. Nalar akan menyiapkan seperangkat alur untuk mencari tahu dan membuktikan pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benaknya itu.<br>Seperti apa Tuhan itu, bagaimana surga, ada apa dibalik langit gelap, ingin terbang seperti burung, orang yang sudah mati pergi kemana dsb akan selalu menjadi pertanyaan yang menarik bagi anak.&nbsp;<br><br>Di lain pihak, kita tentunya tidak ingin anak tersesat mengembara dalam imajinasinya. Kita juga harus tetap menjadi kawan seperjalanan mereka, mau&nbsp; medengarkan, merespon dengan ramah. Tak ketinggalan asupan ide-ide berkualitas hidup yang terus kita sediakan juga pastinya akan membantu membangun pemahaman mereka menjadi lebih solid dan kokoh.&nbsp;<br><br>Bagian ketaatan pun akan menjadi sangat penting untuk menumbuhkan anak, agar&nbsp; nurani, nalar, imajinasi bersinergi berfungsi dengan semestinya. Nalar mereka bisa saja salah, membawa mereka ke jalan yang menjauhi kebenaran, nurani mereka bisa terabaikan, imajinasi bisa tak terkendali. Namun ketaatan yang dilatih bisa membuahkan kehendak kuat untuk memegang prinsip kebenaran agar imajinasi, nalar, nurani tetap sehat.<br><br><br>Damba<br>09 Feb 2023<br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478927</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Damba</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478928</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan ke-21]<br>Paragraf 1-2 (hal. 37-39)<br>Kamis, 9 Februari 2023<br><br>"Yang terlahir dari daging adalah daging, yang terlahir dari roh adalah roh"<br><br>Pada tulisannya di Vol 1 Home Education, Ms Mason ingin menjelaskan tentang hutang orangtua dan guru kepada anak-anak di tahun-tahun pertama kehidupan mereka, selama mereka mengajarkan sesuatu pada diri mereka sendiri (self-education) dan meningkatkan kemampuan mereka melalui berbagai kegiatan sehari-hari yang mereka jalani.<br>Mengapa self-education? Ya karena lagi-lagi mereka terlahir sebagai pribadi utuh dengan potensi menakjubkan yang sudah ada dalam diri. Mereka sendiri yang mencerna ide hidup yang disajikan orangtua atau guru untuk diasup sesuai kebutuhan mereka. Jadi mereka pandai bukan karena guru atau orangtua yang membuat mereka pandai. (10')<br><br>Ms Mason, lagi, ingin menekankan bahwa yang terutama adalah akal budi, bukan otak semata. Ya otak sebagaimana anggota tubuh jasmani lainnya (butuh nutrisi, udara segar, istirahat, cukup olahraga dan perawatan) memang penting. Namun untuk menjalankan fungsinya dibutuhkan akalbudi.<br><br>Ms Mason mengumpamakan otak seperti piano. Piano adalah instrumen musik, tapi bukan musik itu sendiri. Apalah artinya piano tanpa musik. Apalah artinya otak tanpa akalbudi. Ada hal immateriil yang membuat hal materiil bisa berfungsi. Ini yang sering luput dari perhatian khalayak umum, sehingga keliru menempatkan posisi keduanya dan berimbas pada cara memperlakukan seseorang.<br><br>Dunia psikologi juga acapkali membuat akalbudi semakin tersingkir, karena kajiannya kebanyakan mengurusi pikiran bawah sadar. Mengapa Ms Mason tidak mendahulukan masalah pikiran bawah sadar? Karena membuat kita hanya sibuk mengamati gejala perilaku. Namun bukan berarti pikiran bawah sadar tidak ada fungsinya. Hanya saja, Ms Mason menekankan bahwa pikiran bawah sadar tidak bisa kita kendalikan (dan memang harus tetap dibiarkan demikian sesuai fungsinya), jadi tidak bisa jadi patokan untuk didahulukan. Justru pikiran sadar yang bisa dikendalikan.<br><br>Oleh karena itu, yang utama adalah akalbudi yang bersifat spiritual (tidak mengalami lelah seperti tubuh jasmani) dan otak sebagai instrumennya yang kalau dipenuhi kebutuhan nya juga akan terus bekerja dengan baik. Jadi urusan kita berikutnya adalah menemukan jalan menuju akalbudi tersebut, alias mengasupi akalbudi dengan makanannya. Apakah itu pelajaran berbalut permainan? Lingkungan belajar yang ditata sedemikian keren? Atau melatihkan tarian demi tarian sebagai olah tubuh? Bukan. Semua itu bersifat 'daging' Jalan menuju akalbudi hanyalah satu, yaitu ide. Dengan medium ide akalbudi bersentuhan dengan akalbudi lainnya. Jadi lagi-lagi bukan berarti yang bersifat daging ini tidak penting, tapi kalau yang terutama adalah akalbudi, maka urutannya tidak boleh dibalik, yang rohani (ide) ada terlebih dahulu, karena itulah yang melandasi kita melakukan sesuatu.<br><br>"Ga ada ide nih..!"&nbsp; pasti kita sering mendengar seruan seperti itu. Hal ini benar menggambarkan bagaimana manusia butuh ide (roh) agar ia (dagingnya) bisa mengeksekusi berbagai hal dengan jelas dan mantap. Sekali lagi, ini urutan yang benar, jangan dibalik. Kalau dibalik, jadinya kita melakukan hal-hal teknis yang bisa jadi kosong (tak bermakna), sekedar mengalir saja, kemana arahnya tidak jelas.<br><br>Damba<br>15 Februari 2023<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478928</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Irni Annisa                                     </title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478929</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 21]<br>Sesi 8, Hal 37-36<br>Kamis. 9 Februari 2023<br><br><strong><em>Akal Budi Anak Usia Sekolah</em></strong><br>&nbsp;<br>Menjadi orangtua atau guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Kita perlu memahami hakikat anak. Seorang anak terlahir sudah membawa akalbudi yang memiliki potensi baik juga buruk. Otak adalah instrumen dari akal budi. Sama seperti tubuh akalbudi juga membutuhkan makanan untuk bertumbuh.Jika ada pepatah mengatakan yang terlahir dari daging adalah daging dan yang terlahir dari roh adalah roh.&nbsp;<br> Para orangtua seringkali keliru mereka berfikir bahwa jika anak latihan mengerjakan soal atau melatih tangan dan kaki agar luwes mengikuti irama musik atau mendesain mata pelajaran semenarik mungkin membuat akalbudi anak bertumbuh.&nbsp;<br> Akalbudi haruslah bersentuhan dengan akalbudi. Makanan dari akalbudi adalah ide. Jika ide bertemu dengan ide maka akan melahirkan ide yang baru. Bukankah ide ini hal yang sifatnya immaterial. Ceramah panjang atau pelajaran yang diberikan dengan alat peraga membuat anak menjadi bosan. Teknis seperti ini hanya berdampak sedikit bagi pertumbuhan akalbudi. Menurut CM sebaliknya paparkan ide maka ia akan mendesak untuk mencari bukti.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478929</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478930</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 20]<br>Paraphrase hal 36 - 37<br>Kamis, 2 Februari 2023<br><br>Ibu CM pada hal ini, masih menuliskan bahwa anak itu pribadi yang utuh. Anak² memiliki imajinasi yang tinggi, mereka bebas untuk masuk pada pikiran imajinasinya. Anak² punya nalar juga punya imajinasi. Begitu anak² bisa mengkomunikasikan nalarnya, dia akan terus bertanya banyak hal ini dan itu.<br><br>Anak² memiliki potensi baik juga potensi buruk. Mereka bisa menjadi tiran kecil yang kadang orang dewasa berpikir, anak memiliki kehendak yang kuat dengan cara meminta paksa apa yang diinginkan dengan cara berteriak, menangis. Tapi ternyata hal itu bukan membuktikan anak punya kehendak kuat. Kehendak kuat itu, ketika anak bisa taat terhadap yang menantang dan sulit dia lakukan, biasa yang disebut dengan kewajiban. Menurut pada aturan bisa dipaksa, tetapi menurut sukarela adalah pilihan bebas.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478930</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478931</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 21]<br>Paraphrase hal 38 -39<br>Kamis, 9 Februari 2023<br><br>"Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari firman yang keluar dari mulut Tuhan"<br><br>Ayat ini, teringat ketika membaca tulisan pada halaman ini. Pada kali ini topiknya adalah "Akalbudi anak usia sekolah".<br><br>Ibu CM menuliskan disini, memberi perumpamaan dengan piano adalah instrument (alat) direlasikan dengan otak (jasmaniah), musik yang dihasilkan dari piano tersebut adalah akalbudi ( imateri / tidak kelihatan konkrit).<br><br>Kebanyakan pendidikan yang ada sekarang, sepertinya mengabaikan bahwa otak ini perlu diisi makanan yaitu ide. Apa buktinya? kalau melihat dari dunia pendidikan saat ini, berjamuran bagaimana membalut pelajaran dengan permainan, mengajari siswa menari agar gerakan fisik baik, mendesain lingkungan belajar yang bagus. Bolehkah itu? boleh² saja. Asal kita tidak lupa prinsip bahwa pendidikan juga menyentuh benak dan akal budi, karena sebenarnya akal budi itulah instrument pendidikan yang paling penting untuk diisi. Diisi dengan apa? diisi dengan ide² hidup.&nbsp;<br><br>Dari tulisan ini juga aku teringat dengan Aristoteles, yang mengutarakan bahwa hidup ini lebih bermakna bila manusia memiliki&nbsp; keterampilan seperti contohnya dapat mengelola emosi agar tetap tenang, tumbuhnya tanggungjawab dalam diri, keterampilan problem solving, bisa bersikap ramah. Keterampilan yang tolak ukurnya bisa dibilang abstrak dan suka terlewatkan untuk diajarkan, karena kebanyakan fokus pada keterampilan seperti pada subjek²pelajaran yang konkrit dan teknis seperti math, fisika.<br><br>Iya, manusia tidak hidup dari roti saja tetapi dari yang sifat imateri itulah manusia hidup, dari benak dan akal budi yang diisi dengan ide.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478931</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Annisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478932</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 21]<br>Sesi 8, Paragraf 1 dan 2, Hal 37-38<br>Kamis, 9 februari 2023<br><br>Diparagraf ini Ibu Cm mulai membahas tentang Akal budi anak usia sekolah &amp; Fase Pendidikan terstruktur. Ibu Cm ingin menyadarkan bahwa anak lahir membawa akalbudi yang mengagumkan. Otak adalah salah satu instrumen akalbudi anak, otak sama seperti anggota tubuh lainnya yang butuh asupan nutrisi dan olahraga agar tetap sehat. Namun untuk melaksanakan fungsi-fungsinya, otak bergantung pada akalbudi yang imateriil.<br><br>Saat itu, dunia sudah mulai terobsesi dengan psikologi atau dunia bawah alam sadar, yang&nbsp; kerjanya tidak dapat di kendalikan oleh syaraf dan darah, ang menurut Ibu Cm ini sebaiknya tidak di kotak katik. karna dampaknya justru cenderung mengabaikan soal akalbudi dan sibuk dengan dunia gejala perilaku.<br><br>Akal budi itu spritual yang tidak akan kelelahan, dan jika kita memberikan otak nutrisi yang bergizi dan merefreshnya otakpun tidak akan merasa kelelahan.<br><br>Membungkus pendidikan seperti minan dan cakep memang baik, namn&nbsp; itu tidak menuju akalbudi. Pepatah religius mengatakan "yang dilahirkan daging adalah daging" menggambarkan pendidikan seperti yang di atas. sedang lanjutan pepatah tersebut "Yang terlahir dari roh adalah roh" Jalan menuju akalbudi itu hanya satu. Akalbudi harus bersentuhan dengan akalbudi lewat medium ide.<br><br>Ketika membaca tentang keluhan seorang ayah ini saya jadi berpikir ternyata yang dilakukan kakak Aya dan Ata saat memaksa saya menyediakan bahan2 ketika mereka ingin berekplorasi adalah bagian dari ide? seperti Ata yang selalu meminta ijin saya untuk mengambil sabun dan dia membuat gelembung lalu diberi pewarna dan dia tempelka ke bajunya. awalnya saya khawatir ternyata dia sedang eksperimen membuat gambar dari gemlembung di kain.<br>dan Kakak Aya, meminta saya membelikan bahan2 masakan untuk dia olah, contoh dia ingin membuat donat, pertama di membuatnya menurutnya gagal. lalu dia minta ijin lagi untuk membeli bahan dan dia mencobanya lagi.<br><br>Otak saya masih terlalu dangkal untuk memahami volume 6 :) tapi saya tetap semangat untuk terus bertumbuh bersama anak-anak dan teman-teman disini.<br><br>Terimakasih<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478932</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Reviyani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478933</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 22]<br>Hal 39-40<br>Kamis, 16 Februari 2023<br><br><strong><em>Akal Budi Anak Sekolah<br></em></strong><br>Pendidikkan selayaknya iman, sesuatu yang tidak tampak tapi kita rasakan dan yakini. Kita harus terlebih dahulu meyakini akan adanya kebutuhan tubuh dan jiwa kita untuk bertumbuh. Bertumbuh tidak hanya fisik namun juga rohani. Kedua bagian dari diri kita (jasmani dan rohani) sejatinya membutuhkan asupan yang hidup untuk bertumbuh, sesederhana karena kita adalah mahluk hidup, maka kita perlu sesuatu yang hidup pula untuk membuat kita tetap hidup dan bertumbuh.&nbsp;<br><br>Makanan jasmani dibutuhkan berupa makanan bergizi dari enzim hidup yang bisa dicerna tubuh secara instan, berasal dari makanan mentah dari tumbuhan berupa buah dan sayur tanpa atau dengan sedikit saja proses pemanasan. Secara anatomis gigi manusia memiliki hanya dua taring dan jenis gigi lain sisanya. Artinya kitapun secara alami membutuhkan protein hewani namun dalam jumlah yang tidak sebanyak makanan hidup dr tumbuhan.<br><br>Berbicara tentang rohani, kita mempunyai akalbudi dalam diri kita yang juga butuh asupan bergizi yang tak lain berupa ide-ide hidup. Ide hidup berasal dari pemikiran yang bertemu pemikiran lain. Berasal dari pemaparan yang menggerakkan benak kita untuk mengembara menelusuri alur "cerita" atau konsep dari apa yang terpapar di depan kita dan mencari jawab dari apa yang mungkin menarik untuk diketahuinya namun belum tuntas terjawab.<br>Proses mencari jawaban atas pertanyaan sendiri inilah yang diyakini sebagai proses pendidikkan dan proses bertumbuh yang sebenarnya.<br><br>Adapun paparan ide bisa berupa hal yang kita baca atau dengar. Semua ini menjadi sumber akalbudi kita mencari makanannya. Tentu, ketika kita menyadari ini, kita akan dengan sangat ingin memilihkan paparan² yang sarat nutrisi dan gizi yang kita hendak sajikan untuk diri dan anak-anak kita.<br><br>Proses bagaimana akal budi kita menyerap makanannya, atau bagian mana yang ingin dimakannya, ini memang bersifat personal, artinya, walau dua orang disuguhi paparan yang sama, bisa jadi apa yang memantik akalbudinya berbeda, dan ini lumrah terjadi. Satu orang mungkin menyoroti poin yang satu, sedangkan orang/anak yang lain menyoroti dan merenungi poin yang lainnya dari paparan tersebut. Namun demikian secara umum akalbudi akan bekerja dengan cara yang sama di setiap orang yaitu memakan ide hidup yang masih memberinya ruang untuk berimajinasi dan merenung serta merelasikan ide-ide yang dia terima kini dan sebelumnya. Bukan sekedar fakta-fakta yang bersifat informasi yang tidak menyentuh ranah pengembaraan jalan fikiran/benaknya.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478933</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Danni Junus</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478934</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 21]<br>Sesi 8, Paragraf 1 dan 2, Hal 37-38<br>Kamis, 9 Februari 2023<br><br>Menurut Charlotte Mason, urutan yang benar untuk belajar adalah, ‘yang bersifat rohani (ide) muncul dulu lalu mendesak untuk diuji dan dicarikan bukti-bukti’. Ini adalah lanjutan dari pemikiran bahwa seorang anak memiliki rasa ingin tahu dan ingin belajar secara alamiah. Ide akan muncul dari rasa haus akan pengetahuan dari seseorang. Ketika timbul rasa ingin tahu yang besar, akal budi akan melahirkan ide-ide orisinil yang dengan sendirinya akan membangkitkan hasrat besar untuk mencari tahu dan mempelajari sesuatu untuk memenuhi sejuta pertanyaan yang lahir pada saat ide itu muncul. Charlotte mengatakan bahwa tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan mengapa harus muncul ide dulu baru mencari bukti-bukti. Mungkin (ini hanya dugaan tanpa penelitian ilmiah), ketika ide datang sendiri, ada rasa memiliki dan ingin tahu yang dahsyat dan sangat besar pada diri sang anak, sehingga otomatis dirinya ingin mempelajarinya lebih lanjut dengan kesungguhan luar biasa. Ini tidak bisa dibandingkan dengan rasa ingin tahu yang datang dengan ide-ide yang disajikan dan disuapi oleh pengajar. Ini yang banyak terjadi di sekolah di mana segudang ide-ide disuapkan kepada para murid dan seringkali dengan serangkaian informasi pilihan jawaban bagaiman untuk membuktikan ide-ide tersebut. Bisa disajikan secara menarik atau tidak, tapi sekalipun menarik ini akan mengurangi keterlibatan anak dan petualangannya dalam pencarian pengetahuan itu. Relasi antara ide dan pencarian pengetahuan itu sendiri lebih dangkal daripada saat ide benar-benar datang secara natural dan orisinil.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478934</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Danni Junus</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478935</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 22]<br>Sesi 8, Paragraf 3 dan 4, Hal 39-40<br>Kamis, 16 Februari 2023<br><br>Selama ini sering sekali berdiskusi soal <em>living books, </em>mengapa <em>living books</em> adalah alat terbaik untuk menyertai sesi belajar. Paragraf ini membuatku lebih jauh memahami maksud dari pernyataan ini. Ide bersifat hidup. Setuju sekali dengan kalimat ini. Ya, ide muncul tanpa diundang, bisa kapan saja di mana saja, tanpa diharapkan kedatangannya. Sebersit dan sepenggal ide yang terlihat kecil dan tak berarti itu ibarat benih yang kita tebar tanpa sengaja. Ide akan terus hidup dengan laju yang tidak kita rencanakan, tidak terduga. Hari ini timbul ide, nanti malam ide akan berkembang&nbsp; sedikit, setelah mengalami sesuatu, besok atau lusa atau minggu depan ide yang sama akan tumbuh lagi begitu seterusnya seiring dengan pengalaman yang kita dapatkan. Mengenai ide yang terpantik dari sajian bacaan yang kita lahap sangatlah menguraikan perasaan dan kenangan pribadi di masa lampau pada saat melahap buku-buku bacaan bermutu yang kita kenal sebagai <em>living books</em>. Sajian yang hidup akan membawa kita terbuai dan terbawa ke dalam alam yang dipaparkan oleh buku tersebut. Benar adanya, kita bisa dengan jelas merasa berada di alam tersebut, merasakan dunia yang disajikan, melukiskan aroma, warna, rasa apa saja sesuai yang disajikan dalam buku. Pengalaman ini yang seringkali membuat diriku merasa bahkan film-film yang merupakan adaptasi dari sebuah buku tidak sebaik apa yang kurasakan saat membaca karya sang penulis. Pengalaman spiritual dalam memantik, menangkap, merasakan ide yang datang inilah yang harus dipastikan didapatkan oleh anak sepanjang hidupnya. Menikmati ide dan mengalami ide tersebut tumbuh dan berkembang.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478935</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Damba</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478936</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 22]<br>Bab 2, Hal 39-41<br>Kamis, 16 Februari 2023<br><br><strong><em>Ide hidup - bagaimana mendapatkannya, bagaimana ia berkembang pada anak usia sekolah</em></strong><br><br>Ide hidup, sebagaimana sel yang hidup akan bertumbuh kembang, demikianlah ide hidup. Ia akan terus membelah, berkembang menjadi ide-ide baru lain. Tidak bisa dihentikan, begitu seseorang terpantik suatu ide, maka beberapa saat kemudian ia akan memiliki ide lain, dan keesokan harinya ide-ide itu berkembang lagi menjadi lebih besar dari sebelumnya.&nbsp;<br><br>Momen ketika anak usia dini kita diminta untuk mengasupi anak-anak dengan ide hidup dari banyak menghabiskan waktu di alam, bacaan-bacaan bermutu, atmosfir keluarga, kemudian membiarkan dengan ber-masterly inactivity, membebaskan mereka bercengkrama dengan ide-ide itu tanpa kita campuri (dikte) dengan menjelaskan panjang lebar hal-hal yang tidak ia tanyakan atau minati.&nbsp;<br>Begitupun di usia sekolah kita tetap melanjutkan memantik mereka dengan menyediakan kurikulum yang kaya, dari berbagai subjek pelajaran, alam, dan atmosfir. Kemudian tetap membiarkan merka secara independen dan leluasa mengolah semua ide yang mereka dapatkan. Mereka pemeran utama, kita hanya figuran, begitulah seharusnya yang terjadi. Bukan kita yang mengunyahkan sambil memaksa mereka menelan hasil kunyahan kita.&nbsp;<br><br>'Pengalaman' yang mereka 'alami' ketika mendengar atau membaca buku-buku berkualitas hidup digambarkan sebegitu nyatanya seolah-olah mereka berada di sana. Tulisan-tulisan itu berhasil menghantarkan roh mereka ke sana.&nbsp; Begitulah cara akalbudi melahap semua ide dengan seperti langsung 'mengalaminya'&nbsp;<br><br>Jadi di usia sekolah, vital sekali urusan buku berkualitas hidup ini. Pelajaran Geografi, Sejarah, Sains, Filosofi, Matematika dsb hendaklah menggunakan buku yang berdaya hidup, yang bisa membuat intelek bersama rekan-rekannya berjuang untuk menjelajah dengan berselera dan riang gembira.<br><br>Damba,&nbsp;<br>Jakarta 21 Feb 2023<br><br></div><div><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478936</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisana Sidqi Aliya</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478937</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 21]<br>Sesi 8, Paraphrase hal 38 -39</div><div>Kamis, 9 Februari 2023</div><div><br></div><div>Akalbudi dihasilkan oleh instrumen tubuh bernama otak, sebagaimana alunan nada dihasilkan oleh instrumen musik. Akalbudi bersifat spiritual, sebagaimana alunan nada bersifat immaterial. Pada dasarnya instrumen yang kita miliki tersebut secara alamiah memiliki kemampuan menghasilkan suatu produk yang bersifat spiritual. Masalahnya, seperti apakah produk spiritual yang dihasilkan oleh seseorang yang tak terlatih menggunakan instrumen tersebut? Apakah alunannya tertata indah sehingga dapat dinikmati jiwa, ataukah justru nada-nada acak yang tak sedap didengar telinga? Apakah akalbudinya akan peka, adil dan bijaksana, ataukah justru membuat pusing kepala?&nbsp;</div><div><br></div><div>Manusia terlahir utuh dengan instrumen yang dibekali oleh Sang Pencipta. Maka tugas kita adalah melatih menggunakannya sehingga sinergis dan selaras dengan tujuan penciptaan manusia. Kalau begitu, seperti apakah cara mengasah instrumen spiritual ini? Seperti apakah jalan menuju akalbudi yang berpendidikan? Banyak yang mengira training fisik seperti menari, olahraga dsb adalah caranya. Banyak juga yang menganggap drilling fakta adalah kuncinya. Dan tak sedikit yang membungkus pelajaran dengan permainan, seolah akalbudi tak menyukai pengetahuan dan harus dibujuk dengan beragam kesenangan atau dipaksa di bawah ancaman. Padahal menurut Charlotte Mason, semua itu bukanlah cara akalbudi bekerja.<br><br>Akalbudi memiliki rasa lapar dan butuh asupan yang tepat. Dan karena ia adalah sebuah instrumen spiritual, maka asupannya pun tersampaikan dalam medium spiritual, yakni berupa ide atau gagasan. Akalbudi akan mencerna ide tersebut, mempertanyakannya, membenturkannya dengan ide-ide yang telah ia miliki sebelumnya, menjawabnya sendiri berdasarkan value-value yang ia yakini, menginternalisasikannya untuk memperkuat atau melemahkan value-value sebelumnya dan mengejawantahkannya dalam bentuk karakter nyata.&nbsp;<br><br>Namun kemampuan untuk membangun karakter luhur yang mampu memilah kebenaran di atas kebatilan tidaklah dimiliki begitu saja. Jalan pertumbuhan di atas jalan kebenaran adalah sebuah jalan sunyi yang akan ditapaki dengan perjuangan. Akan ada berbagai persimpangan antara pilihan kebenaran yang penuh semak belukan vs kesenangan-kesenangan yang mudah. Tugas pendidikan adalah memampukan anak untuk meletakkan pilihan demi pilihan di jalan yang benar, setapak demi setapak, senantiasa bergulir terus menerus, berkembang seiring sejalan mengasah ketajaman logika, kepekaan nurani dan kemampuan mengendalikan impuls naluri.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478937</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478938</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 22]<br>Paraphrase hal 39 - 40<br>Kamis, 16 Februari 2023<br><br>Pendidikan adalah iman. Ini seperti memberikan angin segar dan penguatan padaku ketika membaca hal ini. Tubuh secara alami ingin tumbuh, tumbuhnya pun dapat dari asupan ide hidup. Akal budi makanannya adalah ide, ide tidak hanya sekedar fakta fakta saja. Apa yang dirasakan, dilihat, diamati, diresapi dengan panca indera itu bisa menjadi ide, dimana ide itu tadi adalah makanan akalbudi. Ide datangnya dari pengalaman yang tak bisa diduga dan masing² pribadi berbeda cara mendapatkan ide. Misalnya dengan mendengar pengalaman seseorang bercerita, membaca kitab suci, mengunjungi pameran², bisa jadi sumber ide itu.&nbsp; Dan disitulah pendidikan terjadi, yaitu menyentuh akalbudi, benak secara mandiri tanpa dipaksa².<br><br>Dalam tulisan ini, ibu CM memberikan pandangan akan tulisan Traherne, akalbudinya begitu rinci detail menangkap dari pelajaran geografi yang ia pelajari. Traherne menangkap ide² itu dari cerita sebuah pulau di sebrang lautan. Dari sebuah cerita, ia bisa membayangkan bagaimana gambaran pulau, rakyatnya, yang ia dapat dari cerita.<br><br>Kata kuncinya dari bacaan ini, manusia secara alami haus ingin bertumbuh. Tumbuhnya itu bisa dari berbagai macam pantikan ide. Tidak perlu dipaksa², tidak perlu dijejalkan, berikan sajian ide yang indah dan berkualitas dengan ragam varian yang kaya, suatu saat yang tepat, seiring perjalanan hidupnya, maka percayalah disitu yang namanya pendidikan. Seorang manusia bertumbuh.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478938</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lina Wahyuni</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478939</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 21]<br>Hal. 37-39<br>Kamis, 9 Februari 2023<br><br><br>Kita tidak bisa menjalankan peran sebagai pendidik asal-asalan seperti selama ini.&nbsp;<br><br>Pesan di atas merupakan salah satu penggalan dari buku vol 6 charlotte Mason. Menyentilku karena merasa amat kekurangan dalam menjadi fasilitator yang baik untuk anak-anak.&nbsp;<br><br>Tidak boleh asal-asalan disini terutama untuk menyediakan kepada mereka ide-ide luhur yang berdaya hidup baik tentang agama, sejarah atau pun sains. Mereka lebih membutuhkan ide daripada fakta. Mungkin itu sebabnya, membaca banyak buku ensiklopedia atau ilmu pengetahuan tidak membuat mereka tergugah.&nbsp;<br><br>Lain halnya dengan membaca living book. Jangankan seorang anak, kita pun menyukainya. Kita dapat merasakan setting tempat kejadian begitu nyatanyata, seolah ruh kita masuk kedalamnya.&nbsp;<br><br>Kita dapat mengunjungi dan menikmati semua lokasi tadi dalam akal budi meskipun peristiwa itu sudah terjadi&nbsp; beribu-ribu tahun yang lalu.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478939</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Reviyani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478940</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 23]<br>Hal 40-42<br>Kamis, 23 Februari 2023<br><br>Di bagian ini CM membahas mengenai pembelajaran geografi. Indikator yang bisa kita lihat untuk menilai apakah kita sudah memfasilitasi anak belajar geografi dengan baik sesuai dengan kodrat kerja akalbudinya atau tidak adalah dengan cara mempelajari respon anak terhadap bacaan atau bahan ajar geografi mereka. Apakah yang mereka baca dan dengar telah menciptakan imaji mental dalam diri mereka seolah mereka bisa membayangkan diri mereka berasa dalam scene-scene yang diceritakan dalam buku/kisahnya? Apakah mereka bisa merasakan seolah mereka ada di suatu bentang wilayah yang sedang dibahas atau merasa dekat dengan karakteristik² alam dan masyarakat yang sedang yang dipelajari?&nbsp;<br><br>Jika tidak, berarti guru kurang mempunyai keyakinan akan kemampuan anak dalam memahami sesuatu yang bisa dia lakukan sendiri, oleh karenanya guru biasanya akan menerangkan dan mengarahkan sebanyak mungkin kepada anak supaya mereka bisa mengerti, yang sayangnya malah akan membuat anak bosan dan sulit memahami.<br><br>Anak-anak sejatinya selalu siap menerima pengetahuan melalui sumber-sumber yang utuh yang kita sajikan dengan baik sejalan dengan cara mereka belajar tanpa banyak intervensi dan batasan yang kita berikan kepada mereka yang terbentuk dari pemahaman kita yang sudah tidak otentik terhadap banyak hal. Pembelajaran haruslah bersifat murni tanpa dicampuri agenda-agenda pendidik yang bersifat memperdaya anak untuk berpikir atau menyimpulkan sesuai cara kita. Karena sejatinya anak mampu melakukan hal itu sendiri. Malah bisa melakukan lebih dari yang orang dewasa bisa lakukan.&nbsp;<br><br>CM menyebutkan, untuk membuat anak memahami sebuah bacaan, mereka bahkan tidak memerlukan gambar ilustrasi. Mereka bisa membentuk ilustrasi-ilustrasi khas mereka sendiri di dalam benaknya yang membuat mereka bisa memahami apa yg sedang diceritakan dengan baik secara personal.<br>Menurut CM, satu-satunya gambar yang mereka perlu nikmati dan perhatikan dengan seksama adalah karya-karya seni seniman hebat yang mengandung banyak unsur selain dari sekedar ilustrasi.&nbsp;<br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478940</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478941</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 23]<br>Paraphrase hal 40 - 42<br>Kamis, 23 Februari 2023<br><br>Pada hal ini, ibu CM memberi pandangan tentang bagaimana seseorang belajar geografi. Dan teman2 pada sesi diskusi memberi pandangan yang menarik dari tulisan ibu CM ini.&nbsp;<br>Berbekal dari pemahaman tulisan ibu CM sebelum ini, bahwa pendidikan adalah iman, memang kita butuh keyakinan, akal budi anak itu luar biasa, anak memiliki daya imajinasi lebih luas dari sekadar dengar ceramah dan membaca buku² teks fakta (bukan berarti buku berisi fakta tidak baik). Seimbangkan juga diberi buku living book yang cara penyajiannya adalah naratif, jadi secara tidak sadar, pun banyak belajar tentang sebuah kota, sebuah negara. Buku yang berisi ide hidup (ada narasi bagaimana hamparan pegunungan dan kondisi air laut pasang, imaji dibawa untuk membayangkan kondisi tersebut), tidak butuh ilustrasi gambar yang mengarahkan bagaimana anak² berimajinasi. Anak² bisa lebih dari itu, dan imaji tiap anak berbeda satu dengan yang lain.<br><br>Anak2 juga butuh asupan karya seniman besar, yang ternyata dalam kurikulum kaya ibu CM amarkan dengan picture study itu didalamnya ada ide, ada pesan dan rasa yang ingin disampaikan oleh sebuah karya besar seniman.<br><br>Benak setiap anak dan manusia tidak ada yang bisa mengetahui kecuali dirinya sendiri.&nbsp;<br><br>"Siapa yang bisa menaksir batin seorang anak secara akurat? Jin botol dalam kisah Arabian Nights masih belum seajaib anak. Bagaikan jin, seorang anak bisa dimerdekakan dari botolnya dan dilepas berkeliling dunia. Celakalah kita jika kita terus memenjarakannya dalam botol" (Vol 6, hal 42).</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478941</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Titin Mufarrahah</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478942</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 24]<br>Hal 42-43<br>Kamis, 2 Maret 2023<br><br>Ada sebuah ungkapan. Hakikat manusia selamanya akan menjadi sebuah misteri. Barangkali ungkapan tsb. ada benarnya. Kemajuan sains belum mampu menyimpulkan misteri otak secara utuh.<br><br>Aku senang, dapat bocoran dari Ibu CM tentang hakikat manusia. Memang memahami tulisannya, bak menemukan jarum dalam tumpukan jerami. Timbul khawatir, tapi hal itu tak membuat diri menyingkir.<br><br>Manusia, kata Ibu CM, lahir lengkap dengan akal budi sebagai sarana yang digunakannya untuk mempertahankan eksistensinya. Tapi alih-alih sekedar untuk bertahan hidup, akal budinya digunakan untuk hal yang lebih substantif. Misalnya memahami beragam pengetahuan yang akan memperkaya kerajaan jiwanya.<br><br>Setiap manusia seyogyanya mendapat keistimewaan untuk menikmati dinamika sains, mencermati sejarah yang lambat laun berulang, membumbung ke langit tujuh bersama sastra, bercumbu ria dengan hal-hal spekulatif dalam ranah filsafat dan menikmati sumber ketenangan dari agama. Sungguh kenikmatan tiada tara, misalnya saat berbelanja di pasar saling membacakan puisi dan berfilsafat. Mengobrolkan fenomena sains yang dahsyat. Dan saling memetakkan gagasan supaya kekejaman sejarah cukup terjadi pada tempo dulu. Alangkah rindunya semua kalangan terdidik, dan dunia menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni.<br><br>Akal budi menjadi hidup, teraktivasi oleh ide-ide besar yang mudah ditemukan oleh siapa saja dan di mana pun.<br><br>Tak hanya akal budi yang ditumbuhkan. Hati nurani juga mendapat kebutuhannya. Agar senantiasa mekar dan cemerlang, hati butuh menikmati keindahan dan keadilan.<br><br>Setiap manusia membutuhkan media belajar agar nuraninya semakin tajam. Memiliki kesempatan menikmati beragam panorama alam, galeri-galeri lukisan sang maestro, mendapat kenyamanan psikologis dan keamanan jiwa. Semuanya itu akan ia koleksi dalam galeri mentalnya. Sehingga imajinasinya makin kaya raya. Hatinya lebih luas dari semesta raya. Dan ia sanggup menampung apa saja yang ditawarkan oleh dunia. Baik dan buruknya.<br><br>Sungguh sumber kesenangan, meski sekedar memikirkan keindahan pertumbuhan akal budi dan nurani. Semoga sang Maha Pemberi, menganugerahkan kita semua kekuatan jiwa dan raga untuk memenuhi asupan kebutuhan jiwa putra putri kita. Dan berita baiknya, makin kita memberi hal terbaik pada mereka, keajaiban yang sama juga terjadi pada kita, orangtuanya. Amin.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478942</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Reviyani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478943</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 24]<br>Page 42-44<br>Kamis, 2 Maret 2023<br><br>With his mind, one might make a living. But is the mind only to do so?&nbsp;<br>CM said that it is more to do than that. Adult people tend to spend most of their time to make a living. But what do they do in their free time? Especially in the future, people will have a lot of free time due to the automation in many areas.&nbsp;<br><br>If one was not trained enough to activate his mind in daily basis, chances are he won't be able to spend his free time wisely and effectively. As we know, routine doesnt provide us with so much input for our mind to grow. We might be stucked in between our routines that doesnt really allow us to enjoy the beauty of life nor do fulfilling thing.<br><br>It all started with the education that we had. Did it provide us with subjects that nourish our artistic nature? CM said that art, history, literature and stuff should not be exclusively for people with certain social status, but for all of the people in general instead. For every children are installed with natural grasp and interest in art, an education should accommodate people with good and wide variety of arts as art create imagination and imagination goes beyond.<br><br>Children indeed are equiped with all those tendency of loving the kindness and the beauty, but it is the constant expossure that will also affect them in how they will percieve the world and act accordingly. Thus, the education should always goes alinged with that nature instead of againts it as it either will nourish or destroy it.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478943</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Vebriyani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478944</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 23]<br>Hal 42-43<br>Kamis, 23 Februari 2023<br><br>Orangtua memiliki tugas sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Sudah menjadi tanggungjawab kita mendidik anak-anak dengan sungguh-sungguh bukan asal-asalan. Setiap orangtua harus memberikan semua ide luhur yang berdaya hidup bagi mereka. Salah satunya dalam memberikan ide tentang pelajaran geografi.&nbsp;<br><br>Akalbudi anak sungguh luar biasa. Sekalian lagi saya diingatkan Ibu CM tentang akalbudi anak yang bekerja sebagai satu kesatuan dari nalar, imajinasi, penilaian, refleksi, dll. Sebagai orang dewasa kita sering meremehkan kemampuan seorang anak karena pengalaman kita yang sudah tak otentik lagi.&nbsp;<br><br>Hal ini, juga mengingatkanku pada sebuah pengalaman ketika kelas 5 SD. Saya tertarik untuk membaca kitab Keluaran. Memang benar apa yang dialami Ibu CM, saya pun merasakannya. Betapa imajinasi saya sungguh membuat saya merasa ada dalam cerita itu. Melihat padang pasir, menyaksikan perjalanan bangsa Israel keluar dari tanah mesir menuju tanah Kanaan. Membayangkan seperti apa mengambil Manna (Roti), menangkap burung puyuh dan melihat air keluar dari batu.&nbsp;<br><br>Seperti yang telah disampaikan Ibu CM kita memang harus beriman ketika membimbing anak belajar geografi. Tak perlu ceramah panjang lebar atau banyak-banyak membeberkan fakta. Kita hanya perlu membawa roh anak ketempat itu. Biarkan imajinasi anak berkembang dengan mengajaknya mengenal dunia lewat membacakan livingbook, mengenal kota-kota dan kehidupan penduduknya, serta permukaan bumi. Mereka akan memiliki sukacita sama seperti saat mereka jalan-jalan. Maka, mereka akan memiliki sendiri ruang dalam hati untuk pelajaran ini.&nbsp;<br><br>Menurut saya, asupan ide hidup geografi tak kalah pentingnya dengan mengajak anak jalan-jalan ke suatu tempat. Ide hidup seperti bekal seorang musafir untuk mengunjungi tempat-tempat baru. Bekal memberikan kekuatan musafir dalam perjalanan. Ia kenyang dengan ide, sehingga mampu lebih banyak berimajinasi dan merelasikan tiap pengalamannya di dunia nyata. Ia tak perlu ilustrasi detail. Ia hanya perlu lukisan yang penuh makna karya pelukis besar daripada sekedar ilustrasi.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478944</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478945</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 24]<br>Bag. 1, Bab 1 Hal 42 - 43<br>Kamis, 2 Maret 2023<br><br>Di bagian ini, saya banyak merefleksikan pemikiran Charlotte Mason dalam perjalanan kehidupan saya. Saya setuju dengan pemikiran CM bahwa akalbudi membutuhkan imaji-imaji keindahan. Saya ingat, dari kecil saya termasuk orang yang mengapresiasi keindahan dalam berbagai bidang. Meskipun yang terpapar bukanlah karya seni maestro-masetro legendaris generasi pertama, tapi saya suka musik, filem.&nbsp;<br><br>Saya suka menggambar dan mencoba berbagai keterampilan. Saya merasa potongan-potongan ingatan saya tentang bagaimana masa kecil saya saya habiskan, sangat berpengaruh dengan diri saya hari ini. Saya ingat, ada kebahagiaan tersendiri ketika memberi makan akalbudi. Dulu mungkin saya tidak memahaminya, tapi saya yakin itu adalah proses pemberian makan akalbudi karena saya ingat saya merasa penuh ketika melakukannya.<br><br>Saya membayangkan, itukah yang mungkin juga dirasakan oleh K ketika sedang bermasterly inactivity? Kebahagiaan ketika mampu mengerjakan sesuatu dengan merdeka, sekaligus mengasah akalbudinya? Sungguh bacaan ini sungguh mencerahkan dan memberi angin segar dalam perjalanan pemberdayaan diri dalam mengasuh anak-anak. Memberi keyakinan bahwa akal budi yang diberi makan, nyata dicerna dan memberi database pemikiran yang tidak diduga-duga.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478945</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Titin Mufarrahah</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478946</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 25]<br>Hal 44<br>Kamis, 9 Maret 2023<br><br>Seorang guru yang menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya, akan jauh berbeda perlakuannya ke murid, di banding seorang guru yang menyiapkan diri ala kadarnya.<br><br>Persiapan ala kadarnya tidak memberi ruang untuk memahami esensi manusia seutuhnya. Meniadakan keluasan jiwa yang kompleks. Menggerus keunikan masing-masing pribadi. Membuat benak anak didik menganggur. Memberi ceramah satu arah. Bicara berbusa-busa hingga murid terantuk dan merasakan kebosanan luar biasa. Alih-alih menimbang ulang sistem pendidikan, persiapan ala kadarnya mencoba membangkitkan hasrat kompetisi, keserakahan, dan kesombongan anak didiknya.<br><br>"Ayo, terus berprestasi. Cetak pencapaian-pencapaian. Harumkan nama baik orang tua, pendidik dan institusi."<br><br>Lalu para siswa itu makin terasing dengan dirinya sendiri. Hidup dalam bayangan agenda orang lain.<br><br>Ada yang menyela, bukannya guru sudah sibuk luar biasa memikirkan bahan ajar yang bagus. Memang, pendidik sibuk luar biasa. Namun kesibukannya berpusat pada keperluan dirinya. Menunjang agenda pribadinya. Ilustrasi yang ditawarkan Ibu CM tepat sekali untuk menggambarkan keadaan pendidikan macam itu. Bak guci berkualitas tinggi, mampu menampung banyak air, namun lehernya sedemikian sempit. Guci tsb. berpulang dalam keadaan kosong.<br><br>Seorang guru yang mengetahui keutuhan dirinya dan anak didiknya, akan mengawali proses pendidikan dengan pertanyaan tidak biasa. Seperti,<br><br>"Aku punya materi apa ya, yang membuat benak-benak anak didikku sibuk dan membangkitkan kemandirian mereka?"<br><br>"Apa yang mampu kulakukan untuk memantik motivasi dari dalam anak didikku ya?"<br><br>"Apa yang harus kugali, dalam diriku, sumber-sumber potensialku, agar proses pendidikan memunculkan kebaikan untuk diriku dan diri anak didikku?"<br><br>Pertanyaan semacam di atas, memotivasi pendidik untuk lebih menelisik kebutuhan akal budi. Akal budi yang sehat menghasrati pengetahuan yang menumbuhkan. Mendorongnya untuk berpikir mendalam. Menautkan pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan baru yang diperolehnya.<br><br>Hi you, Guys, semoga selalu semangat dengan persiapan sebaik-baiknya ya. Agar kemanusiaan putra-putri kita tersingkap hingga sisi rahasianya. Amin.<br><br>Titin. Vol. 6. Hlm. 44.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478946</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Revi</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478947</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 25]<br>Hal 44<br>Kamis, 9 Maret 2023<br><br>Motivasi Belajar<br><br>Apa yang diyakini seorang guru tentang hakikat seorang anak maupun pendidikannya, amatlah penting karena akan menjadi dasar sikap bagaimana dia membersamai anak didiknya. Apakah dia akan berusaha sekeras mungkin menerangkan hal-hal penting yang dia anggap siswanya perlu tau dan mengerti dengan baik, atau dia akan membersamai mereka dengan segentle mungkin sejalan dengan kodrat dan cara alami benak dan otak manusia bekerja? Ketika memahami hakikat pendidikan dengan baik dan seksama, guru akan bisa membuat proses belajar siswa berjalan dengan efektif dan menggugah alih-alih membosankan dan membebani mereka.&nbsp;<br><br>Berbicara tentang pendidikan yang bagus, kita bisa memandangnya sebagai privilege karena tidak semua orang bisa mendapatkannya. Walaupun ini tidak selalu benar, namun seringkali ditemui golongan masyarakat-masyarakat tertentu terutama dr kalangan ekonomi rendah,mereka acapakali harus mengenyam pendidikan yang tidak berkualitas yang alih-alih memperkaya mereka, malah membuat potensi mereka menjadi terbatas.<br>Pada dasarnya manusia terlahir dengan segala potensi intelektualitasnya, namun apakah potensi tersebut dapat teroptimalkan atau terkerdilkan, sangat tergantung dr jenis pendidikan yg mereka terima. Walaupun potensi mereka bagus, tapi akan terpudarkan oleh pendidikan yang keliru, walaupun secara kasat mata mereka bisa jadi dianggap berhasil menempuh pendidikan dengan baik -karena mengacu pada standar yang kurang tepat- namun perubahan internal yang terjadi dalam diri mereka bisa jadi tidak ada.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478947</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478948</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 24]<br>Paraphrase hal 42 - 44<br>Kamis, 2 Maret 2023<br><br>Otak adalah organ terpenting bagi makhluk hidup. Fungsi otak adalah seperti mesin untuk makhluk hidup. Otak manusia fungsinya mengatur berpikir, merasakan, semua diatur dalam otak. Untuk manusia, informasi untuk tubuh dipengaruhi kerja otak, bisa disebut dengan Akalbudi (mind). Akalbudi itu seperti intelektualitas, daya serap seseorang. Akalbudi ini perlu diasup dengan berbagai macam asupan bergizi, dari sastra, filsafat, sejarah, karya seni, sains. Berbicara akalbudi anak, perlu banyak dipaparkan dengan semua itu.&nbsp;<br><br>Hak istimewa seperti mendapat kurikulum yang kaya seperti disebutkan di atas, bukan hanya untuk keluarga kelas atas, semua strata sosial harusnya pun mendapatkannya. Itu kerja pendidikan seharusnya.<br><br>Kerja akalbudi tidaklah hanya digunakan untuk sekedar mencari nafkah. Pekerjaan monoton sehari² tidak membuat akalbudi bekerja, olehkarenanya asupan yang kaya membuat akalbudi menghasilkan banyak imaji² hebat yang pada akhirnya melahirkan ide hebat.<br><br>Lalu apakah hanya akalbudi saja yang perlu diberikan asupan baik?<br>Apa kabar dengan nurani? iya, seorang anak tak cukup hidup hanya dengan akalbudi yang bertumbuh, tapi ada hati nurani yang perlu senantiasa dijaga dan diasup hal baik, sehingga siap sedia mengingatkan dikala harus menimbang mana yang baik dan buruk. Nurani anak yang menurut ibu CM dalam halaman ini adalah kerendah hatian, ramah, penuh keadilan, ketulusan. Hati nurani anak pada dasarnya senantiasa terjaga. Tugas pendidik untuk senantiasa menjaga dan memberi asupan sehat.<br><br>- Oline<br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478948</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478949</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 25]<br>Paraphrase hal 44-45 (Motivasi Belajar)<br>Kamis, 9 Maret 2023<br><br>Pendidik hendaknya paham hakikat anak bahwa mereka bukanlah ember kosong.&nbsp;<br><br>Bila paham anak bukan ember kosong dan bukan bonsai yang bisa sesuka hati bisa dibentuk, maka melangkah menjadi kawan seperjalanan anak dalam mendidik dapat tercerahkan.<br><br>Dalam halaman mengenai motivasi belajar ini, aku mendapat insight dari teman², aku pun membatin, apakah aku sudah sesuai dengan prinsip Ibu CM yang memahami hakikat anak?&nbsp;<br><br>Sepertinya butuh cek bolak balik kesadaranku, untuk mengingat bahwa anak bukan ember kosong, anak adalah pribadi utuh yang memiliki kekhasannya. Apakah masih banyak agenda, ambisi yang belum terpenuhikah pada diri orang dewasa? Apakah prefrontal korteks ini sudah terbentuk baik? Buat apa buru²? padahal pelan sambil menikmati prosesnya itu lebih baik. Apakah ego sebagai pendidik sudah ditata direl yang tepat ketika mau menerima hal² baru sebagai bekal menemani anak² dalam bertumbuh dan berkembang?<br>Menata ego, menata kesadaran, merunduk tetap menjaga rendah hati PR besar. Tapi bukan sesuatu yang mustahil.&nbsp;<br><br>Disisi lain, banyak anak² kurang mampu di luar sana, belum mendapat pendidik dan sistem pendidikan yang mumpuni, karena orangtua mereka berpikir untuk sesuap nasi saja butuh perjuangan apalagi berpikir panjang soal pendidikan mumpuni, mencari tahu lebih dalam hakikat anak. Pada akhirnya mereka menerima saja sistem pendidikan yang ada di tempat mereka apa adanya. Suatu tantangan pada pendidikan sampai saat ini.<br><br>-Oline</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478949</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Danni Junus</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478950</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 24]<br>Paraphrase hal 42 - 44<br>Kamis, 2 Maret 2023<br><br>Sang akalbudi tidak berwujud fisik, adalah ia yang hanya bisa dirasakan. Tetapi ia tetap perlu makanan bergizi, sama saja dengan tubuh kita yang perlu nutrisi baik. Tanpa diet yang baik, akan menjadi kerdil, tidak sehat dan tidak bertumbuh dan berkembang. Maka akalbudi perlu diberikan asupan berkualitas, beragam dan perlu olahraga. Hanya bentuk makanan dan olahraganya tentu berbeda dengan yang dibutuhkan tubuh. Pekerjaan rutin dan monoton memiliki tendensi mengerdilkan akalbudi, apabila tidak diimbangi dengan beragam aktivitas dan sajian yang sifatnya menghidupkan akalbudi kita. Kita yang memiliki andil besar untuk mengembangkan akalbudi kita sendiri. Kita yang perlu mencukupkan gizi/nutrisi untuk akalbudi kita. Pengetahuan akan seni, budaya, perkembangan sains dengan bahasa sastrawi bukan hanya tersedia untuk para ilmuwan dan siswa sekolah tingkat Pendidikan tinggi saja. Semua itu tersedia untuk semua kalangan, semua lapisan masyarakat. Semua seharusnya dapat dinikmati setiap orang.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478950</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Danni Junus</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478951</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 25]<br>Hal 44<br>Kamis, 9 Maret 2023<br><br>Sebelum mengenal Metode CM, aku sempat mencoba mendampingi anak untuk belajar dengan materi dari Buku Ajar sekolah. Baru membacakan sedikit bagian dari buku itu, lalu aku tertegun, berhenti membacakan dan mencoba melihat lagi isi halaman lainnya. Walaupun pada saat itu belum mengenal CM, aku berpikir keras, materi pelajaran seperti ini bagaimana bisa membuat belajar itu menjadi kegiatan yang menyenangkan?&nbsp;<br><br></div><div>Hal ini berbeda sekali dengan rasa pada saat membacakan buku2 berkualitas baik semacam living books. Rasa yang dirasakan pendamping dan pelajar sungguh berbeda. Hal ini adalah salah satu sumber motivasi yang baik dalam mendidik. Mengetahui sajian yang akan diberikan pada anak, menikmatinya bersama. Memang ini bukan satu-satunya yang perlu diperhatikan untuk membangkitkan motivasi untuk haus akan pengetahuan.&nbsp;<br><br></div><div>Memahami bahwa anak memiliki suara dan isi pikiran sendiri juga bisa jadi sumber energi yang baik untuk tetap menghidupkan semangat belajar anak. Sulit sekali dilakukan sampai harus berulang-ulang orangtuanya ikut belajar memahami dan menerima bahwa anak itu memiliki potensi sendiri.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478951</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Irni Annisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478952</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 25]<br>Hal 44<br>Kamis, 9 Maret 2023<br>&nbsp;<br>Para pengajar atau orangtua sejatinya memahami hakikat anak, mereka bukanlah kertas kosong atau tanaman yang mudah dibengkokan atau bahkan lilin plastisin yang mudah dibentuk. Meraka born person terlahir sebagai manusia yang sudah memiliki potensi. Jika para orangtua atau pengajar memahami hal ini pastinya mereka akan bertanya "Aku punya apa yang bisa aku tawarkan pada mereka? Karena mereka memiliki jiwa yang luas. Ceramah yang panjang atau latian mengerjakan soal itu membosankan bagi anak. Jika anak bosan maka sang guru akan memantiknya dengan motivasi murahan semisal mengiming-imingi dengan hadiah atau mendapat rangking pertama yang tentu saja itu hanya sebagai hiasan artifisial bagi anak yang tidak menumbuhkan akal budinya. Dan yang terjadi sekarang adalah para pengajar juga orangtua seringkali menghalangi proses berpikir anak dengan ceramah panjang seperti makanan yang sudah diencerkan anak tinggal menelannya. Sehingga yang terjadi anak-anak tidak memiliki gairah intelektual atau berefleksi.&nbsp;<br>&nbsp;Begitupun anak-anak yang secara finansial kurang beruntung. Orangtua mereka sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga orangtua hanya mengandalkan pendidikan yang ada disekolah-sekolah mereka tak punya cukup ide yang bisa diserap dari lingkungan yang berbudaya. Charlotte mengumpamakan mereka Seperti guci yang bagus tapi tak mampu menampung banyak air karena lehernya sempit sehingga sedikit air yang menetes masuk. Kemampuan berpikir anak luar biasa didesain oleh Sang Pencipta. Mereka mampu mencerna ide-ide dari Tokoh-tokoh besar, namun guru&nbsp; melecehkannya dengan memberikan penjelasan-penjelasan yang membuat akalbudi anak berhenti untuk berpikir. Maka yang dihasilkan dari sekolah-sekolah itu anak-anak yang hanya mampu menjawab kuis dan hanya sibuk memuaskan ekspektasi orang lain. Seperti guci air yang kosong.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478952</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alif Uzayani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478953</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 25]<br>Hal 44<br>Kamis, 9 Maret 2023<br><br>Motivasi Belajar.<br>Ketika seorang guru tahu, bahwa anak-anak itu punya daya serap yang luas dan akalbudi yang selalu lapar akan ide pengetahuan. Maka, tentu saja baginya tidak akan tega memberikan kepada anak-anak itu "pengetahuan" yang berwujud fakta-fakta tak menggugah atau ramuan-ramuan buatan yang mereka duga sebagai pengetahuan.<br><br>Masalahnya disini, ada dua kondisi yang mungkin saja berseberangan dari wacana diatas. Pertama, bisa jadi guru tak tahu bagaimana hakikat anak. Dan yang kedua, guru meyakini sebuah ide lain yang berbeda, bahwa pengetahuan memang harus disodorkan dalam kunyahan praktis dan instan, agar benak anak cepat menyerapnya. Padahal yang seperti ini tidak bisa menggugah selera makan akalbudinya.<br><br>Dalam paragraf ini, pikirku juga tergelitik soal motivasi murahan yang memanfaatkan keserakahan dan kesombongan. Serakah dan sombong adalah potensi pasti yang dimiliki manusia. Tapi kenapa bisa disebut sebagai motivasi murahan, mungkin maksud CM adalah karena dorongan itu di"nunut"kan pada naluriah sifat negatif manusia. Dan yang jelas, motivasi yang datang dari luar, motivasi yang tidak ditanamkan dalam kesadaran, biasanya hanya akan menjadi semangat yang berusia pendek.<br><br>Anak-anak yang lingkungannya tidak memberikan asupan ide bagi akalbudinya, ibarat guci berleher sempit. Benak anak selalu siap dan mampu menampung banyak pengetahuan, tapi jika yang disodorkan hanya ide-ide siap saji, maka tentu saja akalbudinya tidak terpacu dan tergugah.<br>Seperti halnya guci berleher sempit, yang hanya bisa menerima air dan benda-benda encer sejenis. Miris, kapasitasnya ada tapi tidak bisa terisi penuh&nbsp;bahkan&nbsp;kosong.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478953</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Damba</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478954</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 25]<br>Hal 44<br>Kamis, 9 Maret 2023<br><br>Motivasi Belajar<br><br>Ada dua kasus yang Ms Mason beri untuk menggambarkan bagaimana biasanya motivasi diberikan oleh guru.<br><br>Pertama<br>Guru yang berhadapan dengan para murid dengan jiwa muda nan luas potensi serta keindahan dalam diri mereka masing-masing. Disertai rasa haus akan pengetahuan, inteleknya ingin menjelajah kemana-mana, akalbudi nya kelaparan, menghasrati makanan berkualitas yang beragam, teratur dengan jumlah yang cukup. Guru ini&nbsp; membatin tentang apa kiranya yang akan ia berikan kepada para murid, apakah ia mampu memenuhi semua kebutuhan mereka itu. Ia mulai ragu, karena ia semakin menyadari hakikat mereka, melihat gelagat para murid yang makin lama makin kebosanan ketika hanya diberi latihan soal-soal untuk dikerjakan. Fakta-fakta kering yang membuat akal budi mereka enggan makan.<br>Gurupun merasa tak tega, ia merasa telah memanipulasi mereka dengan seolah "mengundang mereka ke perjamuan makan besar, padahal yang tersedia hanya air dan asap"&nbsp;<br><br>Di tengah rasa bersalah dan kebingungannya, guru yang tak berdaya ini menawarkan motivasi yang ia kira akan membuat para murid bersemangat, padahal ia kembali memanipulasi murid dengan motivasi murahan yang sesungguhnya memupuk kesombongan serta keserakahan. Mengejar prestasi, nilai atau hadiah semata memang sungguh bisa membuat para murid seolah bersemangat, namun pada akhirnya mereka akan menemui banyak masalah di dalamnya.<br><br>Betapa malangnya baik guru maupun jiwa-jiwa muda ini, saling berharap satu sama lain namun hasilnya ibarat menepuk angin.&nbsp;<br><br>Kedua<br>Guru yang berhadapan dengan para murid yang berasal dari daerah kumuh, secara finansial mereka sangat lemah, sehingga kebanyakan tidak memiliki atmosfir yang memadai untuk menyerap aneka makanan yang akalbudi mereka butuhkan. Akibatnya mereka gagap, dengan kosakata yang terbatas mereka belum mampu bercakap-cakap untuk mengungkapkan kebutuhan mereka ataupun mengimbangi apa yang disampaikan guru. Mereka ibarat guci bagus dengan daya tampung yang besar, tapi sayangnya dengan leher sekecil itu hanya sedikit yang bisa mereka tampung.&nbsp;<br>Guru yang merasakan ketidakmampuan para murid ini tidak mau ambil pusing, ia mengambil jalan pintas, yaitu dengan membuat pelajaran seringkas dan semudah mungkin untuk dicerna. Akibatnya para murid makin lemah dan tak bergairah, akalbudi mereka tidak mendapat apa yang dibutuhkan, karena asupan mereka hanyalah bubur yang sangat diencerkan. Bisa dibilang mereka kosong.<br><br>Mendengar kejadian-kejadian tak masuk akal atau mengerikan yang sering diberitakan kurang lebih adalah cerminan 'kosongnya' seseorang dikarenakan motivasi yang salah ketika menempuh 'pendidikan'. Begitu besar potensi manusia, namun tidak terbangunkan. Masalah dimana-mana, lubang yang belum bisa diatasi sekalipun ramai-ramai berbagai penyedia pendidikan menawarkan pendidikan berbasis karakter.&nbsp;<br>Semoga makin hari, para guru, pendidik dan orangtua makin menyadari hakikat manusia dan berpijak pada itu, semua bisa bekerjasama mendidik jiwa-jiwa muda di hadapan mereka.<br><br>Jkt, 16 Maret 2023</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478954</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tina</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478955</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 25]<br>Hal. 44<br>Kamis, 9 Maret 2023<br><br>Dengan betul-betul menyadari hakikat akal budi anak yaitu pembelajar, selalu ingin tahu, mengeksplorasi segala hal di sekitarnya dengan caranya sendiri, dan saat itu anak sedang belajar banyak hal. Guru atau orang tua semestinya tidak lagi mendikte, menceramahi anak, berkata ini dan itu. Ms. Mason juga mengatakan, guru dan orang tua perlu menyadari bahwa ceramah dan semua perbendaharaan pengetahuan yang kita miliki tidak akan cukup untuk memuaskan rasa lapar anak. Justru itu akan menghalangi proses anak menyerap pengetahuan. Setiap anak adalah pribadi utuh. Satu cerita yang sama tidak akan sama persis dinarasikan oleh dua orang anak.<br><br>Aku diingatkan bahwa potensi anak betul-betul luar biasa. Bagaimana kita sebagai orang tua memunculkan potensi itu keluar ke dalam berbagai bentuk skill atau keahlian. Dan lagi-lagi diingatkan bahwa cara untuk memunculkan potensi ini menentukan bagaimana hasil akhirnya nanti. Ms. Mason selalu mengulang-ulang bahwa anak-anak bukan hanya mampu menarasikan karya-karya seniman besar, fasih mengeja dan menulis, dlsb. Namun berulang kali juga Ms. Mason menulis bahwa anak-anak berprilaku baik. Mungkin inilah yang jadi pembeda ketika akal budi anak terdidik bukan hanya tentang pengetahuan tetapi lebih dalam yaitu pendidikan yang di dalamnya mencakup mendidik akal budi anak.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478955</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478956</link>
         <description><![CDATA[<div>[PERTEMUAN 2]</div><div>SEBUAH PENGANTAR</div><div>HAL 3 - 5<br>Kamis, 8 September 2022</div><div><br></div><div>Pada Masa ini, Masyarakat tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang hakikat pendidikan. Namun, banyak juga yang mulai mengerti sehingga mereka mulai menuntut anak-anak mereka menerima pendidikan yang mempersiapkan mereka untuk hidup dan bukan hanya mencari nafkah.</div><div><br></div><div>saat itu Mis mason melihat fakta bahwa orang yang telah membaca dan memikirkan segala macam subjek dan juga mendapatkan pelatihan yang dia butuhkan, akan menjadi orang yang paling mampu dalam bidangnya.&nbsp;</div><div><br></div><div>Semakin kita berhasil membuat anak menjadi pribadi yang utuh dan berkembang secara holistik, semakin mampu ia memenuhi potensi dirinya, menjalani hidupnya dan melayani masyarakat.</div><div><br></div><div>Menurut Mis Mason, Kebobrokan perilaku di Jerman (di Perang Dunia I) disebabkan oleh pemikiran yang telah diajarkan kepada Rakyat selama tiga atau empat generasi. salah satunya pemikiran Darwin tentang seleksi alam atau siapa yang kuat dia yang berkuasa.&nbsp;</div><div><br></div><div>Sifat manusia cenderung lebih menyukai hukum-hukum alam daripada hukum-hukum spiritual dan untuk mendapatkan kode etiknya dari sains daripada Tuhan. Dan itulah sebabnya Jerman menjadikan teori Darwin sebagai pembenaran untuk menjadi brutal.</div><div><br></div><div>Cara Jerman menngunakan ajaran Darwin tidak membuat prihatin kecuali urusan perang. Dan konsep budi dapat di perdebatkan.&nbsp; seperti yang di katakan Ensiklopedi Britannica di topik Psikologi, dan mereka punya kapasitas untuk berpendapat. Kita memiliki budi dan kita memiliki materi. Jika, seperti yang disampaikan ke kita, psikologi bergantung pada perasaan, lalu bagaimana dengan pikiran dan materi fisik? Apakah ada yang lain?</div><div><br></div><div><br></div><div>Terimakasih</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478956</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478957</link>
         <description><![CDATA[<div>[PERTEMUAN 7]</div><div>PARAPHRASE</div><div>HAL 16 - 17<br>Kamis, 13 Oktober 2022</div><div><br></div><div>Membacakan atau di bacakan buku dari bab ke bab lalu menarasikannya,mungkin banyak yang berkomentar itu hanya untuk melatih hafalan saja. Namun, jika kita mencoba sendiri bernarasi, narasi dapat menuntun akal budi kits, poin yang semula terabaikan kini masuk kedalam ingatan. Seluruh bacaan tervisualisasi dan menjadi pusat perhatian secara tak biasa. Tanpa disadari, adegan atau argument yang ada di buku itu telah menjadi bagian dari pengalaman personal. dan paragraf ini membuat saya memahami keajaiban bernarasi.</div><div><br></div><div>Bernarasi bukan menghafal, Untuk menghafal, kita mesti mengulang-ulang satu perikop atau serial poin atau nama lagi dan lagi, menciptakan jembatan keledai sebagai penolong. Kita bisa menghafalkan serangkaian fakta atau kata dengan cara ini, dan memori ini berguna dalam jangka pendek, tapi fakta itu tidak betul-betul terserap. Setelah kepentingan kita selesai, kita akan melupakan hafalan itu.</div><div><br></div><div>Mis Mason juga bilang “Hafalan ada gunanya juga dalam pendidikan meski hanya temporer, tetapi hafalan jangan pernah menggantikan posisi sarana utama pendidikan, yakni kemampuan untuk memusatkan perhatian.</div><div><br></div><div>Ketika seseorang menarasikan bahan yang baru saja ia baca, yang terjadi Budi menanyai dirinya sendiri, “lalu apa?” untuk mengingat setiap detil urut-urutan isinya. Ini sebab pentingnya MIs Mason hanya mengizinkan Sekali Baca.</div><div><br></div><div>Berusaha memakai memori hafalan akan melemahkan kekuatan memusatkan perhatian, padahal memusatkan perhatian itulah persisnya yang perlu dikerjakan budi. dan jika ingin memberikan pertanyaan, baikanya dilakukan setelahnya, bukan sebelum dan selama Narasi. ( tidak memdistraksi)</div><div><br></div><div>Mis Mason Menambahkan “Bahwa atensi selalu siaga, gesit, dan konsisten asalkan materi yang disajikan pada para siswa memang cocok dengan tuntutan intelektual mereka, dan asalkan materi itu disajikan secara singkat, langsung, dan tidak bertele-tele, sama seperti kualitas semua karya tulis yang baik. Dan Intelek membutuhkan motivasi moral.</div><div><br></div><div>Terimakasih</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478957</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478958</link>
         <description><![CDATA[<div>[PERTEMUAN 8]</div><div>PARAPHRASE</div><div>HAL 18 - 19<br>Kamis, 20 Oktober 2022</div><div><br></div><div><br></div><div>Di Paragraf ini MIs Mason membahas gambaran rangkaian lengkap, seperti mata rantai, filosofi pendidikan yang telah Mis Mason coba tuntaskan. Filosofi ini layak di apresiasi karena telah terbukti sukses dalam praktik di lapangan.</div><div><br></div><div>Dan di paragraf ini Mis Mason menjelaskan secara ringkas rangkaiannya. salah satunya dalah “Bahwa Setiap anak adalah pribadi utuh dengan segala kebutuhan spiritual dan kemampuannya”.</div><div><br></div><div>Bernarasi adalah bagian dari motivasi moral anak,</div><div>ketika dibacakan buku berkualitas sastrawi dan anak diminta untuk bernarasi disitu anak akan menyampaikan dengan kepribadiannya yang unik sehingga menjadi lebih Orsinil.</div><div><br></div><div>Membaca paragrfa selanjutnya membuat saya tersentil. dimana saya lebih banyak berceramah saat anak melakuakn kesalahan. padahal mereka pasti sangat bosan mendengarnya.&nbsp;</div><div><br></div><div>Anak-anak jugs butuh pengetahuan yang beragam dan kaya,&nbsp; dengan sejumlah bacaan yang di jadwalkan untuk setiap subjek. Dan guru mestinya memberi siswa dengan pengarahan seperlunya, seperti membantu hal -hal teknis dan bantuan sewajarnya. maka pelajaran akan lebig menyenangkan dan baik guru atau siswa akan semangat melihat kemajuan dari hari kehari.</div><div><br></div><div>Terimakasih</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478958</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478959</link>
         <description><![CDATA[<div>[PERTEMUAN 9]</div><div>PARAPHRASE</div><div>HAL 19 - 20<br>Kamis, 27 Oktober 2022</div><div><br></div><div>Paragraf selanjutnya, dengan Rendah hati Mis Mason mengatakan “Masih harus dibuktikan apakah metodenya ini adalah satu-satunya cara yang tepat untuk mendidik”.</div><div>meskipun sudah tebukti dari ribuan siswa yang telah memakai metode ini.</div><div><br></div><div>Namun Mis Mason meyakinkan bahwa arus pedidikan saat ini dangkal dan keruh karena tak ada prinsip-prinsip kokoh yang menjadi landasannya dan yang diterapkan secara sungguh-sungguh. ini adalah warisan dari perang dunia.</div><div><br></div><div>Mis Mason menegaskan kembali, bahawa indaa dan otot hanya bisa di latih. sedang budi, bisa dididik. Budi seperti tubuh butuh asuapan yang sehat dan bergizi seperti Ide-ide hidup atau gagasan pemikiran - pemikiran besar yang mengugah dan menginspirasi.</div><div><br></div><div>Jika Anak-anak budinya rutin diberi asupan yang baik, maka&nbsp; akan melahirkan karakter yang kuat, inisiatif, pintar mengendalikan diri dan memounyai rasa tanggung jawab.</div><div><br></div><div>Terimakasih</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478959</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478960</link>
         <description><![CDATA[<div>[PERTEMUAN 10]</div><div>PARAPHRASE</div><div>HAL 21</div><div>BAG. I SELF EDUCATION</div><div>HAL 23<br>Kamis, 3 November 2022</div><div><br></div><div>Mis Mason sangat bersukacita karena telah memberi kesempatan para siswa dari semua kelas sosial ekonomi untuk memdapat fondasi pengetahuan dan pemikiran yang mereka bisa miliki secara setara. Fondasi ini membuat mereka semua semua akrab dengan koleksi karya sastra dan sejarah yang sama.</div><div><br></div><div>Juga suatu capaian yang menggembirakan bahwa anak-anak dari golongan keluarga berpenghasilan rendah, bahkan dengan segala keterbatasan peluang mereka, bisa mendapat akses ke jenis pendidikan ini.</div><div><br></div><div>Anak-anak itu akan mendapatkan peluang setara untuk mengembangkan budi yang tak mudah terombang-ambing dan keluhuran karakter sebagai hasil dari pendidikan yang kaya dan berlimpah.</div><div><br></div><div>“Self Education” mendengarnya saja sudah menyenangkan. ya, Mis Mason membuat metode Pendidikan mandiri dengan tujuan agar anak bebas mengekspresikan diri.&nbsp;</div><div><br></div><div>menurut Mis Mason, pendekatan modern ini sebaiknya tidak di spelekan, seperti motorik kasar perlu dilatih sehingga melahirkan garakan indah dan luwes, sedang motorik halus dilatih agar terampil dan persisi, mata di latih agar meliat tajam dan telinga mendengar peka.</div><div><br></div><div>Dan kita disadari bahwa semua latihan ini bisa menjadi sumber kegembiraan dalam hidupdan mestinya dipelajari oleh setiap anak. sehingga kita menantikan dengan tak sabar spserti apa mutu warga negara yang akan di tuai dari semangat pendidikan kita zaman ini.</div><div><br></div><div>Pada intinya Karakter seseorang tidak dibangun dari luar, tapi dari dalam, karena dia pribadi yang hidup. Segala rupa teknik dan aktivitas pendidikan yang bersifat eksternal, sekalipun dimaksudkan untuk membentuk wataknya, hanya akan menjadi tempelan pemanis, tapi tidak menetap sebagai bagian vital dalam dirinya.</div><div><br></div><div>Terimakasih</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478960</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478961</link>
         <description><![CDATA[<div>[PERTEMUAN 11]</div><div>BAG. I SELF EDUCATION</div><div>HAL 24<br>Kamis, 10 November 2022</div><div><br></div><div>Impikasi dari prinsip “Anak Terlahir Sebagai Pribadi Yang utuh” Dan Ciri Utama Pribadi itu adalah Dia Hidup. Tidak ada tempelan apapun dari luar yang bisa menjadi sumber kehidupan atau membuatnya bertumbuh.</div><div><br></div><div>Mis Mason memberikan Perumpamaan kepribadian seseorang seperti tubuh jasmani yang memerlukan makanan, istorhat dan akan berkembang dengan asupan yang baik.&nbsp; begitu pula budi, budi akan “Hidup” Jika di beri supan yang baik.</div><div><br></div><div>DI paragraf ini menyadarkan saya bahwa pribadi seorang anak akan tumbuh secara optimal jika diberikan pendidikan yang holistik serta keseimbangan pendidikan rohani dan jasmaninya.</div><div><br></div><div>Terimakasih&nbsp;</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478961</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478962</link>
         <description><![CDATA[<div>[PERTEMUAN 12]</div><div>BAG. I SELF EDUCATION</div><div>HAL 25<br>Kamis, 17 November 2022</div><div><br></div><div>Hidupnya budi bergantung pada nutrisi ide; tak mungkin budi seseorang memiliki gairah intelektual kecuali ide-ide disajikan baginya beberapa kali setiap hari. Budi sama seperti tubuh manusia, butuh asupan yang bergizi yaitu ide-ide yang bisa didapat dari berbagai ide seperti mendengar pembicaraan orang, tradisi keluarga atau pepatah filosofis.</div><div><br></div><div>Sekolah-sekolah banyak melulusakan anak muda yang cerdas, namun semua kualitas ini hanya kalau saja diet idenya tepat. sedangkan dalam buku teks yang mereka pelajari sehari-hari, kuantitas idenya tidak mencukupi. MIs Mason sangat menekankan bahwa “Budi butuh Makanan besar, sama seperti tubuh.</div><div><br></div><div>Untuk menyuplai budi dengan asupan yang tepat itu bukan perkara yang mudah. bahkan para guru pun enggan bersusah payah mencari tau nutrisi yang teapt untuk budi itu apa.</div><div><br></div><div>Dan dsini saya juga jadi berpikir, apakah saya sudah memberikan asupan nutri yang baik untuk Budi anak-anaka saya?&nbsp; semoga ini adalah salah satu usaha dan proses yang sedang saya jalankan untuk bisa bertumbuh bersama anak-anak.</div><div><br></div><div>Terimakasih</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478962</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478963</link>
         <description><![CDATA[<div>[PERTEMUAN 13]</div><div>BAG. I SELF EDUCATION</div><div>HAL 25 - 26<br>Kamis, 24 November 2022</div><div><br></div><div>Di paragraf ini Mis Mason menyatakan bahwa “ Pengetahuan bukan pengalaman Indrawi”, kebalikan dari protagoras. Kita memakan ide dari budi orang lain; dan ketika pemikiran dipertemukan dengan pemikiran, akan lahir pemikiran yang lain lagi, lalu kita menjadi semakin berpikir. Budi sama seperti tubuh bisa mencerna sendiri makanannya sesuai jenisnya, dan budi harus mencerna makanan agar ia tidak menjadi gagal fungsi.</div><div><br></div><div>Sayangnya apa yang anak-anak mau kita malah memberikan yang lain, yang hanya langsung di cerna lalau dikeluarkan. Tapi mencoba membiarkan informasi terhubung dengan prinsip, diilhami gagasan, maka informasi akan diserap dengan penuh gairah dan budi akan membangun jaringan seperti tubuh menggunakan makanan untuk membangun jaringan fisik.</div><div><br></div><div>Teimakasih</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478963</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478964</link>
         <description><![CDATA[<div>[PERTEMUAN 15]</div><div>BAG. I SELF EDUCATION</div><div>HAL 28 - 29<br>Kamis, 8 Desember 2022</div><div><br></div><div>Mis Mason menyebutkan beberapa keuntungan dari teori yang ia buat. salah satunya, pendidikan ini akan tepat bagi semua usia, bahkan tujuh periode hidup manusia. Dan saya salah satu yang sangat beruntung bisa mendapat manfaat dari pikiran Mis Mason tentang pendidikan ini.</div><div><br></div><div>Anak yang dididik dengan cara ini mampu mengekspresikan diri secara verbal dengan meyakinkan, lancar, dan kaya kosakata. serta menampilkan ketenangan, kesatbilan mental, karena intelek mereka sibuk, benak dan hidup mereka manjadi bersih-murni.</div><div><br></div><div>Orangtua jadi tertarik pada bahan pelajaran anak-anaknya dan mendapati anak-anak mereka jadi “kawan seperjalanan yang menyenangkan”. ini juga yang saya rasakan saat memulai metode CM dengan anak-anak saya.</div><div><br></div><div>Moetode CM sebenarnya sangat membantu, para guru tidak perlu kerja keras mengkoreksi kertas ujian, anak-anak yang dididik dengan metode ini pun bisa mengikuti pelajaran dengan sangat baik, tanpa iming - iming nilai, rangking atau hadiah.</div><div><br></div><div>Lebih dari 30 tahun, Mis Mason menulis Home Education (Volume 1) tentang mengajar dan melatih anak dalam keluarga. banyak orang menyurati dan bertanya, bagaimana semua saran Mis Mason bisa dijalankan dengan sempurna jika merekan tidak puya guru privat?&nbsp;</div><div>pertanyaan itu memantik Mis Mason untuk mencuptakan semacam panduan kurikulum yang selaras dengan prinsip-prinsipnya.</div><div><br></div><div>Maka, Mis Mason menyatakan kembali bahwa pendidikan mereka sebagian besar mestilah berupa belajar mandiri. dan Mis Mason pun menyelenggarakan semacam sekolah jarak jauh dangan motto “'I am, I can, I ought, I wil”.</div><div><br></div><div>Dan Motto itu sangat efektif membuat anak-anak menyadari bahwa sebagai pribadi yang utuh mereka memiliki berbagai peluang, kemampuan, tanggung jawab, dan daya dalam memutuskan akan berbuat baik atau buruk.&nbsp;</div><div><br></div><div>Terimakasih</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478964</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478965</link>
         <description><![CDATA[<div>[PERTEMUAN 16]</div><div>BAG. I SELF EDUCATION</div><div>HAL 29<br>Kamis, 15 Desember 2022</div><div><br></div><div>Anak-anak terlahir sebagai pribadi utuh adalah prinsip yang pertama dari keyakinan pendidikan Mis Mason. Mis mason terkejut melihat respon yang di tunjukan oleh anak-anak usia 6 - 18 th setelah menerima pedidikan jenis ini. Anak-anak menunjukan kemampuan berkonsentrasi, haus akan pengetahuan, kejernihan dalam berpikir, sanggup memilih kwalitas buku, serta mampu mempelajari banyak subjek sekaligus, Mis Mason Sudah Tahu Kapasitas Anak-anak sejak semula.</div><div><br></div><div>Mis Mason sebelumnya pernah menjelaskan pengetahuan pada tulisan2 sebelumnya. Mis Mason Memberikan Tes untuk membacakan buku berkualitas sastrawi kepada anak usia 6 - 10 tahun, lalu minta mereka menarasikannya. Maka, mereka akan menarasikannya dengan bahasanya sendiri dan menambah sentuhan personal yang menarik dan bahkan berbulan - bulan kemudian, mereka masih bisa menceritakannya karena ia telah memvisualisasikannya dan menginternalisasinya.</div><div><br></div><div>Tulisan yang ditulis ala artikel koran tidak akan meninggalkan kesan seperti tulisan yang ditulis dengan sastrawi yang indah. membacakan secara ulang juga hanya membuat anak menarasikan hafalan kata perkata,&nbsp; sentuhan personal akan hilang dari naraasinya.</div><div><br></div><div>Saat itu, Seseorang Mampu Menarasikan Pamflet karya burke yang padahal hanya dibacanya satu kali. Kekmampuan itu hasil dari daya perhatian, minat, literasi, kekayaan kosakata, kecintaan pada buku dan keterampilan mengartikulasikan pikiran.</div><div><br></div><div>Mis Mason merasa bahwa kemampuan ini harusnya dikembangkan di dalam pendidikan di sekolah, agar menjadi cara hidup anak di sepanjang hayatnya, dan akan menjadi generasi impian semua. Namun bagaimana kita mencapai cita-cita ini?.</div><div><br></div><div>Terimakasih</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478965</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478966</link>
         <description><![CDATA[<div>[PERTEMUAN 22]</div><div>HAL 39 - 40<br>Kamis, 16 Februari 2023</div><div><br></div><div>Pendidikan Ibarat iman, tidak terlihat namun terbukti. Tubuh butuh makanan yang mengandung daya bidup untuk sel-sel dalam tubuh. begitu pula Budi, satu-satunya makanan untuk budei adalah ide dan idepun bagaikan sel dalam jaringan berproses melewati berbagai tahap dan fungsi, berdaya hidup.</div><div><br></div><div>Ide Hidup memberi makan budi dengan cara yang tak benar-benar kita pahami. ketika mendengar temuan obat terbaru atau mengobrol dengan orang lain, itu akan menambah gagasan untuk ide dan akan menumbuhkan ide-ide besar lainnya.</div><div><br></div><div>Tugas kita adalah menyediakan bagi anak-anak segala ide luhur yang berdaya hidup, ide tentang agama, sejarah, sains. Ide-idelah yang mereka butuhkan, bukan sekadar fakta. dan kita harus memberikan keleluasaan kepada anak-anak menngolah ide secara merdeka.</div><div><br></div><div>Di paragraf ini, Mis mason memberikan pandangan kembali tulisan Traherne karena akal budinya menangkap pelajaran geografi yang iya pelajari dengan sangat rinci, dan dari sebuah cerita alkitap Traherne seperti hidup didlam cerita itu, meskipun peristiwa itu sudah lama terjadi, namun seolah itu sedang terjadi sekarang padanya.</div><div><br></div><div>Tulisan Mis Mason dipertemuan ini sangat menyetil ku, apakah sudah memberi makan yang sehat untuk ide anak-anak? ataukah jangan-jangan hanya memberikan nya asal-asalan? semua itu perlu saya pahami lagi, agar saya tidak memberikan makanan budi mereka secara asal.</div><div><br></div><div>Terimakasih</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478966</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478967</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 26]<br>Paraphrase hal 44-45<br>Kamis, 16 Maret 2023<br><br>Pada hal ini, ibu Mason memberikan pernyataan, bahwa metode yang ditemukan ini, bisa digunakan semua anak termasuk anak berkebutuhan khusus.&nbsp;<br><br>Guru2 yang pengalaman memakai metode CM ini tidak perlu menggunakan iming2 prestasi, tetapi karena paham kebutuhan dan prinsip anak, maka hasil mendidiknya bisa terlihat. Disini dituliskan bahwa narasi lisan dan narasi tertulis memperlihatkan hasil yang mencengangkan dari anak2, bahkan anak2 dari tempat kumuh mampu bernarasi tertulis dari buku bacaan terpilih dengan baik.<br><br>Bukti pemakaian metode CM ini berhasil untuk banyak anak tanpa terkecuali dan sudah didukung dengan banyak evidensi.<br><br>- Oline</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478967</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisana Sidqi Aliya</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478968</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 26]</div><div>Paraphrase hal 44 - 45</div><div>Kamis, 16 Maret 2023</div><div><br></div><div>Pada paragraf ini, CM menceritakan pengalamannya, yang tidak hanya sebatas mengkonsep teori pendidikannya, namun juga sekaligus mempraktekkannya pada anak-anak didiknya. Beliau melihat dengan jelas betapa metodenya, yang meliputi setiap anak dan tidak terkecuali anak-anak berkebutuhan khusus bisa memberikan kemajuan pada pendidikan mereka. Betapa anak-anak dapat menarasikan dengan baik materi-materi para penulis besar yang telah mereka pelajari, dapat menuturkan dengan detail karya para maestro seniman lukis, dan yang terpenting betapa mereka tidak perlu dibujuk dengan iming-iming untuk dapat melahap materinya, karena mereka menikmatinya. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah bahkan kaum proletar yang umumnya termarjinalkan dalam hal pendidikan juga memberikan hasil yang sama memuaskannya saat dididik dengan metode ini.</div><div><br></div><div>Anak-anak pun tumbuh dengan budi pekerti yang baik, serta memiliki pengetahuan yang mendalam karena para pendidiknya mau bersusah payah dalam memahami hakikat anak sehingga mereka mampu mendidiknya tanpa mencederai born person (fitrah) mereka. Para guru pun tidak dibekali dengan tips dan trik bagaimana memenangkan atensi siswa, atau membuat kelas tenang dengan iming-iming hadiah dan ancaman, karena pantikan internal mereka sudah mampu menggantikan semua rekayasa eksternal tersebut.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478968</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478969</link>
         <description><![CDATA[<div>(PERTEMUAN 23)</div><div>HAL 41 - 42<br>Kamis, 23 Februari 2023</div><div><br></div><div>Pada kali ini Mis Mason membahas tentang pelajaran Geografi. bagaimana anak2 bisa terbawa dan merasa seperti sedang ada di tempat2 yang sedang dipelajarinya? disini Orang tua perlu mengimani sang anak, dengan kekuatan akal budi anak bisa memahaminya lebih baik.</div><div><br></div><div>Dalam akal budi anak-anak ada gambar-gambar ilustrasi yang lebih mencengangkan, dan biasanya lebih akurat ketimbang yang bisa kita bayangkan, karena pengalaman kita sudah tak otentik lagi. Anak-anak mampu membaca makna tersirat dan menambahkan segala rincian yang tak tertulis.</div><div><br></div><div>Anak-anak butuh nutrisi intelektual dalam jumlah besar, dalam segala ragam. dan tugas orang tua memebrikan nutrisi yang baik untuk budi seperti memberikan nutri pada tubuhnya.</div><div><br></div><div>Biarkan anak belajar tentang dunia dengan cara yang sama seperti kesenangan kita saat sedang berjalan-jalan. Memberikan Pengalaman langsung atau Mengajak anak belajar tentang kehidupan kota-kota, Gunung, sungai. Maka, mereka akan menyimpan dibenaknya dalam kamar khusus.</div><div><br></div><div>Bagaikan jin, seorang anak bisa dimerdekakan dari botolnya dan dilepas berkeliling dunia. Celakalah kita jika kita terus memenjarakannya dalam botol.</div><div><br></div><div>Terimakasih</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478969</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478970</link>
         <description><![CDATA[<div>(PERTEMUAN 24)</div><div>HAL 42 - 44<br>Kamis, 2 Maret 2023</div><div><br></div><div>Mis Mason pada paragfar ini mencukupi membahas mengenai akal budi yang adalah sarana setiap orang untuk memcari nafkah namun urusannya lebih besar dari sekedar itu. jika akal budi tidak dibuat aktif setiap hari, maka saat punya lebih banyak waktu luang, tidak ada yang bisa memanfaatkannya dengan bijaksana.</div><div><br></div><div>Pada Bahasan berikutnya, Hak Istimewa mendapatkan kurikulum yang kaya seharusnya bukan hanya untuk keluarga kelas atas, semua strata sosial seharusnya bisa mendapatkannya juga. Pendidikan seharusnya menyiapkan rakyat untuk menjelajahi segala ranah keemasan ini.</div><div><br></div><div>Stiap anak terlahhir dengan kepekaan pada keindahan, dan akal budi membutuhkan imaji-imaji keindahan karena imaji bisa berkembang secara ajaib.</div><div><br></div><div>&nbsp;Di paragraf terakhir, Mis Mason berkata “Betapa tulusnya Hati anak-anak” yang murah hati dan mudah disenangkan, begitu ramah dan tidak neko-neko, begitu empatik dan senang membantu, begitu setia dan rendah hati, begitu peka soal keadilan. berilah ia nutrisi yang baik, maka saat dia melakukan keburukan maka hatinya akan menegur.</div><div><br></div><div>Terimakasih</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478970</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478971</link>
         <description><![CDATA[<div>(PERTEMUAN 25)</div><div>HAL 44<br>Kamis. 9 Maret 2023</div><div><br></div><div>Motivasi belajar</div><div>Disini seorang Guru tau bahwa anak-anak mempunyai</div><div>Akal budi tidak menghasrati fakta dan informasi kering, yang ingin mereka lahap adalah pengetahuan. Dan tak sampai hati memberikan pelajaran yang garing.</div><div><br></div><div>Namun di kondisi satunya, Guru tak punya cukup ide, sang anak malah diberikan pelajaran yang sudah diencerkan, sehinga tidak dapat dicerna oleh akal budi.</div><div><br></div><div>Terimakasih</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478971</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478972</link>
         <description><![CDATA[<div>(PERTEMUAN 26)</div><div>HAL 44- 45<br>Kamis, 16 Maret 2023</div><div><br></div><div>Pada Bahasan kali ini. Mas Mason menyatkan bahwa metodenya untuk “Setiap Anak” Tak terkecuali “Anak Berkebutuhan Khusus”.&nbsp;</div><div><br></div><div>Saat Mis Mason memeriksa kertas ujian dari puluhan ribu anak yang memakai metodenya. Mis Mason melihat bahwa anak-anak sangat menikmati pengetahuan, betapa menariknya jawaban mereka, antusias anak-anak itu menjadi bukti kebrhasilan metode ini.</div><div><br></div><div>Saat itu sekolah tidak mengkotak-kotakan murid, dan guru juga tidak membuat anak harus tenang di kelas. Tidak seperti saat ini, dimana anak-anak dikotak-kotakkan yang pintar dengan yang pintar sedang yang tertinggal dianggap tidak terlalu penting. itu sangat menyedihkan.&nbsp;</div><div><br></div><div>Padahal itu seharusnya todak terjadi, seharusnya para guru tau kapasitas dan kebutuhan para siswa, dan anak-anak harus dididik tentang apa saja, dengan kurikulum yang kaya dan setara.</div><div><br></div><div>Terimakasih</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478972</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Irni Annisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478973</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 27]<br>Hal 46-47<br>Kamis, 30 Maret 2023<br><br>&nbsp;1. Kesejahteraan tubuh pg 47-49<br>&nbsp;Dulu saat memutuskan untuk tidak menyekolahkan anak² alasannya terkesan simpel aja, kami ingin menjadi pendidik bagi anak² selain itu kami juga ingin melindungi anak² dari sikap bully yg bisa diperoleh dari guru maupun teman²nya seperti yang pernah aku alami di sekolah. Saat itu aku masih inget gara-gara salah mengerjakan soal matematika yang ditulis guru di papan tulis aku sampe disuruh berdiri&nbsp; hingga pelajaran matematika itu selasai.&nbsp; Memang Latar belakang kami bukanlah dari akademisi sehingga banyak dari keluarga maupun teman meragukan bahkan mencibir keputusan ini. Mau jadi apa anakmu kalau tidak sekolah???&nbsp; pertanyaan itu&nbsp; sering kali kami dapatkan. Yah...tujuan dari belajar atau sekolah bagi mereka hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus sehingga bisa mengahasilkan banyak uang dan menjadi kaya. Sesimpel itu tujuannya.<br>&nbsp;Butir ke2 dari filosofi Charlotte Mason ini sepertinya simpel,mudah diinget tetapi sulit untuk diyakini. Anak terlahir sudah memiliki potensi dengan berpeluang menjadi baik atau jahat. Orangtua atau guru seringkali terburu-buru melebeli anak dengan sebutan bodoh,nakal, cengeng atau anak manis,penurut jika si anak mau mengerjakan perintah orangtuanya. Orangtua seringnya kurang sabar dengan proses anak. Tidak ada anak bodoh atau tidak ada anak yang manis penurut jika orangtuanya tidak melatihkan sedari kecil. Yahhh...orangtua lah yang akan menuai dari apa yang ditanamkannya kepada anaknya. "Jika orangtua mau bersusah payah melatihkan kebiasaan baik maka akan menjamin hari-hari yang mulus, sedang orangtua yang membiarkan anaknya terbentuk asal-asalan maka dia akan mengalami kelelahan karena terus berkonflik dengan anak-anaknya" ingatan dari mba Ellen ketika aku mengikuti HoO(kalo tidak salah). Anak- anak seperti juga kita punya selera pada yang baik juga yang buruk. Baik didalm tubuh maupun akalbudi, hati dan jiwa dan tugas orangtua lah untuk melumpuhkan yang buruk dan memperkuat yang baik. Misalnya: anak memiliki kecenderungan untuk berkata tidak jujur jika melakukan kesalahan alasannya mungkin karena takut dimarahi, orangtua seharusnya paling peka dengan potensi yang dimiliki anak. Maka setelah tau ada potensi berbohong pada anak yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah menerima potensi buruk&nbsp; itu ada pada anak dan melatihkan kebiasaan berkata jujur.&nbsp;<br>&nbsp;Banyak sekolah yang menjual produk karakter...dan orangtuapun mau membayar mahal agar kelak anaknya menjadi anak yang memiliki karakter luhur. Sekolah ibarat laundri kita masukan pakain kotor lalu laundry mencucinya dan setelah bersih kita tinggal bayar dan ambil. Tetapi mendidik karakter anak tidak sesimpel itu.&nbsp;<br>&nbsp;Menurut Miss Mason para ibu memiliki kepekaan dalam mengenali potensi-potensi anaknya baik kelemahan maupun kelebihannya. Potensi baik itu bisa bertumbuh sehingga mencapai kehidupan yang lebih mulus. Anak-anak dirumah menampilkan dirinya apa adanya dibanding di sekolah. Orangtua lah yang paling kenal anak-anaknya. Sehingga mereka punya iman. Iman itu akan bertumbuh jika kita mengenal apa yang kita imani.maka kita perlu mengenali kodrat manusia yang ada pada anak-anak. Panca indra pun butuh dilatihkan. Anak yang terbiasa mencium berbagai bunga ataupun buah maka anak akan terbiasa mencium berbagai aroma sehingga tidak terpatok pada aroma yang disukainya saja. Atau tidak pilih-pilih makan sayur karena terbiasa memakan berbagai sayur. Dan yang perlu diingat adalah bahwa semua makanan yang di makan anak, udara bersih yang dihirup maupun istirahat juga olah raga yang dilakukan anak bukan hanya untuk kebutuhan jasmani tetapi juga sistem syarafnya. Jika anak dijejali dengan hafalan sebagai materi ujian maka anak akan mengalami ketegangan di sel syarafnya yang menyebabkan gangguan syaraf saat kelak dewasa. Juga guru yang terlalu dominan membuat anak mengeluarkan banyak energi. Maka benar sebagai orangtua harus belajar juga ilmu fisisologi juga psikologi sehingga anak-anak kelak ketika dewasa menjadi orang yang sehat dan tangguh.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478973</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478974</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 27]<br>Hal 46-47<br>Kamis, 30 Maret 2023<br><br>Kodrat Baik dan Jahat<br><br></div><div>Aku pribadi percaya bahwa setiap insan diciptakan baik adanya karena memang awal penciptaannya adalah niat baik dari Sang Pencipta. Bahwa setiap manusia memiliki nurani baik di dalam dirinya sehingga sejahat apapun perbuatan seseorang sesungguhnya jauh di dalam hati kecilnya ada niat baik yang tersimpan. Itu sebabnya banyak sekali karya drama atau film-film yang menayangkan bagaimana seorang pemeran antagonis yang kemudian di akhir kisah hidupnya menyadari perbuatan jahatnya dan memilih jalan hidup yang baik.&nbsp;<br><br></div><div>Setelah membaca tulisan CM tentang kodrat baik dan jahat, aku jadi tercerahkan bahwa ya setiap insan terlahir dengan berpotensi menjadi baik dan juga potensi yang sama untuk menjadi jahat. Potensi untuk menjadi baik sama besarnya dengan potensi untuk menjadi jahat. Potensi baik dan jahat dalam diri seseorang sama-sama bisa berkembang pesat. Bukan berarti bahwa potensi jahat lebih kecil kemungkinannya daripada potensi baik ataupun sebaliknya. Kecenderungan itu adalah fifty-fifty. Dan peran kita sebagai orang tua atau pendidik sangat penting dalam hal ini. Berhikmat dalam segala sikap dan ucap kita karena kesemuanya bisa melumpuhkan kecenderungan jahat pada anak dan menumbuhkan kecenderungan baik atau malah sebaliknya. Hal ini memberikan harapan di dalamnya sekaligus tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan kepada kita sebagai orang tua. CM mengatakan bahwa sesulit apapun prilaku anak saat ini, tetaplah yakin bahwa pasti ada kecenderungan positif di dalam diri anak. Terus bersemangat untuk mengaktualisasi kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri anak. Melatih segala panca indera anak untuk mampu mengeluarkan segala potensi dirinya. Bukan hanya tentang tubuh dan inderanya, namun lebih dalam CM mengaskan bagaimana potensi dalam diri anak yang terkait dengan system-sistem sarafnya juga penting untuk diperhatikan. Bahwa kerja Pendidikan secara menyeluruh harus mampu mencegah atau menghilangkan gejala stress yang efeknya terlihat dalam jangka Panjang. Sehingga dapat dipastikan bahwa setiap anak tumbuh sehat dan Tangguh.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478974</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478975</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 25-26]<br>Hal. 44-46<br>Kamis, 9-16 Maret 2023<br><br>Motivasi Belajar<br><br></div><div>Berulang-ulang CM menjabarkan mengenai hasrat belajar seorang anak. Bahwa penting untuk diingat, seorang anak pada dasarnya adalah seorang pembelajar. Hasrat ingin taunya adalah modal besar bagi seorang anak bak pintu gerbang untuk menuju kemana pun yang anak inginkan. Menjadi pengingat bagiku untuk menjaga “modal besar” ini jangan sampai padam hanya karena “nafsu dunia”ku sebagai orang tua yang ingin segera melihat anak bisa ini dan itu, memenangi lomba ini dan itu, lebih unggul dari si ini dan si itu dan lain sebagainya. Sehingga aku berusaha mendidik anak-anakku dengan cara yang kolot seperti yang dicontohkan CM. Menjejali anak-anak dengan latihan-latihan soal, menceramahi mereka dengan tiada henti, mendikte mereka untuk melakukan ini dan itu, menghujani mereka dengan berbagai macam les ini dan itu, dan masih banyak lagi praktek-praktek pendidikan yang keliru. Dengan tameng bahwa anak harus dibantu untuk memahami banyak pelajaran, bahwa anak harus dibekali keahlian ini dan itu. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Kita sedang mematikan hasrat belajar anak dengan menjejalinya “makanan yang tidak bergizi” bagi akal budinya. Alih-alih menumbuhkan rasa ingin tahu anak justru kita sedang menghalangi pertumbuhannya.<br><br></div><div>CM mencontohkan bagaimana anak-anak didik mereka – yang diajar dengan metode pendidikan yang diyakini menjawab hasrat ingin tahu anak – menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam memproses pengetahuan. Bagaimana anak-anak mampu menarasikan karya-karya seniman besar kala itu. Bagaimana anak-anak mampu mendeskripsikannya dengan begitu detil dan panjang lebar hingga berjam-jam jika dibiarkan. Dengan mengerti dan menyadari hakikat kebutuhan anak akan pendidikan, memberikan “makanan yang tepat” sesuai dengan kebutuhan dan usia mereka dengan cara yang tepat bagaimana memenuhi rasa haus dan lapar mereka. Anak akan merasakan dan mengalami sendiri bahwa setiap hal dalam kehidupan yang mereka jalani menawarkan banyak hal untuk dijelajahi untuk dipelajari. Dan semua itu tersedia untuk memenuhi rasa haus dan lapar mereka akan pengetahuan. Tanpa perlu ceramah, dikte, dan lain sebagainya. Anak mampu mencerna itu semua karena itulah makanan yang tepat untuk akal budi mereka. Aku harus senantiasa mengingat hal ini dan perlahan-lahan meninggalkan praktek-praktek kolot dalam mendidik.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478975</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478976</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 27]<br>Hal 46-47<br>Kamis, 30 Maret 2023<br><br>Diingatkan pada hal 47 ini, tulisan Miss Mason, bahwa anak itu punya potensi tidak 100% baik pun juga tidak 100% buruk. Anak² ya sama dengan orang dewasa.<br><br>Kala itu Miss Mason mendapat protes keras, masa iya anak² tidak 100% baik?&nbsp;<br><br>Beginilah beberapa pernyataan Miss Mason pada Vol 6 hal 47 :&nbsp;<br>"Yang benar adalah anak-anak itu ya seperti kita orang dewasa. Bukan setelah besar anak-anak baru menjadi seperti kita. Mereka terlahir memiliki kecenderungan dan selera pada yang baik maupun yang buruk, seperti kita juga. Dan menariknya mereka punya intuisi tentang mana yang benar dan mana yang salah. Situasi ini memberi arahan untuk kerja pendidikan. Baik di tubuh maupun akalbudi, hati maupun jiwa, anak-anak punya kecenderungan baik maupun jahat, maka kita memiliki harapan dan tugas untuk memperkuat yang baik dan melumpuhkan yang buruk di dalam diri mereka. Ini hanya bisa dikerjakan jika pendidikan berada di bawah tuntunan agama".<br><br>Kerja pendidikan yang ideal adalah holistik. Akalbudi terisi, ranah hati nurani terpenuhi, juga sisi agama pun ada. Aku teringat pada prinsip pendidikan Miss Mason bahwa tidak ada sekat antara pengetahuan dan spiritualitas. Agama hendaknya bekerja untuk semua manusia, tidak hanya untuk keselamatan 1 individu.<br><br>Menjadi tugas orangtua lah, memetakan mana potensi buruk yang perlu disiangi, memupuk dan meningkatkan potensi baik anak²nya. Kerja orangtua tentu tidak mudah, karena mendidik anak² tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan dan tentu jalannya tidak mulus² saja. Anak² bukan mesin, tapi mereka seorang manusia yang dilengkapi dengan akalbudi dan nurani yang kerjanya kadang tak pasti. Tetapi dibalik kesusahan itu, Tuhan memberikan keyakinan (iman) dan hikmat pada setiap orangtua, bahwa setiap anak memiliki potensi baik yang terus bisa dimunculkan dari detik ke detik.<br><br>Kerja pendidikan juga untuk semua kalangan. Bukan untuk si kaya saja, si miskin biarlah tetap terbelakang. Bukan begitu. Pendidikan yang pada tujuannya memberikan sukacita untuk bumi ini bukan untuk penderitaan.<br><br>- Oline<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478976</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478977</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 23]<br>Hal. 41-42&nbsp;<br>Kamis, 23 Februari 2023<br><br>CM mencontohkan pelajaran geografi sebagai salah satu dari banyak materi yg mampu mempertajam roh anak, jiwa anak dalam melihat dan mengagumi karya ciptaan Ilahi yg Maha Agung. Hal ini bisa terjadi hanya jika jiwa anak, roh anak dibiarkan mencerna, mengembara kesana kemaei ke tempat² yang menarik hatinya. Dan hanya jika benaknya diberikan makanan bergizi, makanan bernutrisi sesuai dengan kebutuhan usianya. Ketika anak diperlihatkan sebuah lukisan karya seniman besar, benaknya mampu menangkap pesan tersirat dalam lukisan itu. Sangat detil dari yang mampu kita orang dewasa lihat. Nalar, imajinasi, refleksi, dlsb sudah ada dalam diri anak. Dan semua perangkat itu bekerja sama mencerna semua yang anak lihat, dengar dan alami sendiri melalui panca inderanya. Guru atau pendidik tidak perlu bersusah-susah menceramahi. Sebaliknya, pendidik hanya perlu beriman bahwa semua yang sedang dan akan dialami oleh anak adalah guru terbaik baginya. Tidak diperlukan guru yang menjelaskan tentang lukisan ini, atau menjelaskan tentang bola dunia yang dilihat anak, atau berceramah tentang musim panas san dingin, dlsb. Roh dan jiwanya mampu mencerna semua itu karena memang Tuhan Sang Pencipta telah membekali tiap-tiap anak dengan kemampuan yang luar biasa. Yang menjadi peer kemudian adalah, memastikan pendidik yaitu orang tua [saya] untuk menyediakan "makanan bergizi" dan beriman bahwa anak mampu bahkan sangat mampu mencerna makanan itu tanpa perlu interfensi dari kita untuk membantu mencernanya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478977</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478978</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 27]<br>Bab 3, hal. 47<br>Kamis, 30 Maret 2023<br><br>Membaca paragraf ini membuat saya merenung kembali tentang definisi "potensi buruk" pada anak. Sebagaimana Charlotte mendapat kecaman dari pakar pendidikan seolah Charlotte menuduh anak-anak sebagai pendosa. Buruk memiliki makna dan turunan yang luas, contohnya sikap buruk bisa memiliki turunan; malas, pemarah, dan sebagainya. Buruk juga bisa diarahkan pada pemukul, penjahat, dan sebagainya.<br><br>Mungkin terminologi "buruk" memang sulit diterima oleh para orang tua yang belum benar-benar merenungkan apa yang dimaksud oleh Charlotte. Apakah sulit karena ego? Atau karena pemahaman agama bahwa anak terlahir suci/memiliki fitrah baik (dalam ajaran agama Islam).<br><br>Tapi semua yang pernah membersamai dan membesarkan anak dari bayi, tentu pernah melihat dan membuktikannya sendiri. Bahwa ketika anak mulai memiliki sedikit menyadari realitasnya di dunia, dia mulai mengeluarkan "sisi lain" dirinya. Bisa melempar barang ketika kemauannya tidak dituruti, bisa memukul walaupun tidak diberi contoh. Atau mungkin dia mencerapnya dari serangkaian informasi yang ditangkap, lalu menjadikannya sebagai formula ekspresi yang dia gunakan untuk menyampaikan maksudnya, dan lain sebagainya.<br><br>Namun di momen itu kita sadar, bahwa itu adalah kebiasaan yang tidak baik dan harus meluruskannya. Lalu kita bisa kembali ke pernyataan Charlotte sebelumnya, bahwa anak "terlahir dengan kualitas baik dan buruk". Buruk tidak berarti berpotensi kriminal. Buruk, bisa dimaknai sesimpel ia tidak/belum taat pada instruksi orang tuanya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478978</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478979</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 28]<br>Bab 3, hal. 48<br>Kamis, 6 April 2023<br><br>Di paragraf ini saya memaknai bahwa kualitas baik dalam diri seseorang, harus diimbangi dengan asupan-asupan yang baik pula, sehingga yang terjadi di dalam dirinya adalah proses pencernaan yang maksimal hingga menghasilkan output yang baik pula.<br><br>Contohnya begini; setiap individu tentu menyukai keindahan. Saya yakin, setiap dari kita, tidak perlu harus belajar tapi pasti mampu menikmati keindahan. Contohnya? Ketika hormon-hormon dalam tubuh mengeluarkan endorfin dan serotonin dengan sendirinya ketika kita berada di alam. Alam, dengan potensi-potensinya, adalah keindahan yang dihadirkan oleh Sang Pencipta kepada kita. Tak perlu jauh-jauh ke obyek pariwisata alam yang populer, hanya berada di atas rumput dan dibawah teduhnya pohon, tentu memberi efek yang berbeda pada tubuh.<br><br>Maka jika dalam metode CM diberikan kesempatan besar untuk anak terpapar oleh keindahan-keindahan alam dan seni, maka tubuhnya akan secara otomatis memproses informasi-informasi itu menjadi suatu letupan output yang tidak kita sangka-sangka suatu hari. Bahwa dengan mengimani, apa yang kita asupkan pada diri mereka, adalah modal besar untuk tubuh dan akalnya bertumbuh menjadi karakter yang mengarah pada potensi baik.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478979</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Vebriyani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478980</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 27]<br>Halaman 47<br>Kamis, 30 Maret 2023<br><br>Kodrat Baik dan Jahat Anak<br><br>Ibu CM menyampaikan bahwa anak memiliki potensi baik dan buruk dalam dirinya. Dan pernyataan ini dikecam oleh salah satu pakar pendidikan pada masa itu karena dianggap menuduh anak sebagai pendosa. Padahal menganggap anak seperti malaikat pun sama berbahayanya.&nbsp;<br>&nbsp;<br>Anak lahir sebagai pribadi utuh sama seperti orang dewasa. Pilihan baik dan buruk menuntun mereka untuk menunjukkan perilaku. Atmosfer, disiplin dan asupan ide saya rasa memegang pengaruh besar dalam pemikiran mereka. Dalam masa mendampingi tumbuh kembang seorang anak sebagai orang tua kita perlu memahami seperti apa kepribadian anak kita. Karena dalam tipe kepribadian tertentu ada kecenderungan seseorang untuk memilih hal yang buruk dan tentu saja perlu dilemahkan. Supaya pilihan yang baik semakin kuat dan karakter mulia terus bertumbuh.&nbsp;<br><br>Tak mudah memang menjadi orangtua. Namun lewat tuntunan agama orang tua juga ditopang untuk bisa menguatkan karakter mulia anak. Agama bukan sekedar sebagai identitas tetapi ajaran didalamnya mampu menumbuhkan benih-benih kebaikan dalam diri seseorang bahkan anak sekalipun. Seperti tertulis dalam Alkitab pada Galatia 5:22-23<br>Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.<br>Inilah sikap yang perlu diterus dipupuk supaya tumbuh subur dalam diri anak. Dan menjadi penunjuk bagi orangtua akan berkembangnya potensi buruk ketika anak mulai lemah dalam melakukan tindakan dalam ayat diatas (dalam ajaran Kristiani).&nbsp;<br><br>Walaupun saat ini sudah banyak sekolah berbasis Agama namun pada kenyataannya ajaran agama belum bisa menyentuh jiwa anak-anak dalam lingkup sekolah. Kenapa, karena semua ajarannya hanya berupa teori, ceramah, seperti bubur encer yang disuapkan kepada semua siswanya tanpa memberi kesempatan batin mereka menjadi aktif. Mereka tak mampu merelasikan setiap ide yang mereka terima. Jiwa mereka tandus, benih kebaikan mungkin tumbuh tapi kerdil. Sedangkan potensi buruk tetap berkembang.&nbsp;<br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478980</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478982</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 22]<br>Hal. 39-40<br>Kamis, 16 Februari 2023<br><br></div><div>Menyelami tulisan-tulisan Ibu CM ini sungguh membuatku berpikir tentang sebuah surga dimana terdapat segala wujud kesempurnaan mengenai jiwa, pribadi seorang anak [manusia]. Bahwa sejatinya tidak ada yang tidak mungkin untuk kita wujudkan dari diri seorang manusia. Pernyataan CM bahwa “Pendidikan ibarat iman” – proses mengimani ide-ide hidup sebagai benih yang ditabur yaitu segala hal yang kita pikirkan, kita baca, kita lihat, kita dengar, kita alami oleh panca indera kita, dlsb yaitu – sebagai proses yang sedang menumbuhkan [benak] manusia. Dan kesemuanya itu tidak terbatas oleh apapun. Imajinasi, nalar, refleksi, dan semua yang mampu dilakukan oleh benak kita adalah tidak terbatas adanya. Tidak terbatas oleh kemampuan fisik, tidak terbatas oleh kaya dan miskin, tidak terbatas oleh cerdas atau tidak cerdas, tidak terbatas oleh jabatan, dlsb. Selama kita memiliki iman bahwa sejatinya tubuh [benak] kodratnya adalah untuk bertumbuh, ketika makanan [ide] tersaji dengan baik maka benak bertumbuh berkembang dengan cara-cara yang sulit kita pahami. Taburkanlah benih [ide-ide hidup], siang dan malam, kapanpun dimanapun, sebanyak mungkin sesering mungkin, dan berimanlah bahwa benih itu akan bertumbuh dan menghasilkan buahnya pada waktunya.<br><br></div><div>“Pendidikan ibarat iman” mengingatkanku secara pribadi bahwa proses panjang ini bukanlah sebuah perlombaan, proses ini bukanlah untuk menunjukkan kemampuanku, kemampuan anak-anakku, kemampuan keluargaku. Pendidikan bukanlah tentang anakku sudah mampu melakukan ini, anakku sudah menjuarai ini dan itu, dlsb. Aku diingatkan bahwa sejatinya pendidikan adalah sebuah perjalanan panjang hingga akhir hayat. Dimana dalam perjalanan itu kita belajar banyak hal tentang kehidupan. Segala sesuatu yang kita alami, mampukah kita merelasikannya dengan sesensi dari kehidupan itu sendiri. Kita belajar tentang alam, mampukah kita merelasikan ciptaan-ciptaan Tuhan ajaib, karya-karya agung seniman besar dengan menjaga dan melestarikannya? Ketika kita belajar matematika, mampukah mata hati kita melihat orang yang kekurangan di sekeliling kita, lalu membagi, yang kita punya dengan sadar bahwa apa yang kita miliki akan berkurang. Mampukah kita berkata bahwa lima atau sepuluh yang kita miliki sudah cukup bagi kita dan mensyukurinya. Ketika kita belajar bahasa apakah tutur kata kita baik kepada orang-orang di sekeliling kita, apakah lisan kita menumbuhkan orang lain atau malah sebaliknya. Jadi semakin paham bahwa pendidikan bukan semata belajar satu subject lalu ikut ujian dan lulus ujian dengan nilai terbaik.<br><br></div><div>“Pendidikan ibarat iman” mengingatkanku untuk terus melangkah maju ketika kesemua hal itu belum juga terlihat pada diri anak-anakku bahkan pada diriku sendiri. Menjalani perjalanan panjang ini dengan iman dan sabar. Dengan kesadaran penuh bahwa aku sedang menabur benih [ide]. Merawat benih itu, menyiraminya ketika perlu, menyianginya dari “hama” pengganggu, “memotong” bagian yang tidak perlu,&nbsp; dlsb. Proses panjang yang tidak selalu menyenangkan, ada kalanya [sering] prosesnya menyakitkan. Dan kelak akan [pasti] tiba waktunya untuk menuai buah dari benih yang kita tabur.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478982</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478983</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 28]<br>Hal 47-48<br>Kamis, 6 April 2023<br><br>Pada paragraf kali ini, saya mencoba untuk mengingat ingat pada kehidupan saya sehari² dengan anak². Apakah benar pada tulisan ibu CM bahwa anak² perilaku di luar dengan orang lain berbeda dengan di dalam rumah atau hanya bersama orangtuanya? hmm.&nbsp;<br><br>Menarik pernyataan ini untuk di refleksikan. Iya benar juga, kalau aku perhatikan dan rasakan pada anak²ku, mereka benar² apa adanya berperilaku, mengutarakan pendapat, bercerita, tidak ada rasa malu. Mau marah, mau takut, mereka tidak enggan untuk mengeskpresikan perilaku, pikiran dan perasaannya. Ketika di luar orangtuanya, anak² lebih menjaga sikap, menjaga perasaannya.&nbsp;<br><br>Aku ingat² lagi, ini tidak berlaku usia balita, tetapi mulai usia 6 th ke atas. Karena balita masih tetap all out mengungkapkan perilaku dan perasaannya, tidak ada perbedaan. 😅. Sedangkan usia 6 th ke atas sudah lebih bisa menjaga sikap dan perasaan mereka.<br><br>Tulisan Ibu CM membuat saya berpikir, memang benar ya, pendidik perlu terus mengamati, mencari tau, mempelajari ilmu biologi, fisiologi, psikologi manusia. Kodrat manusia itu sendiri. Karena setiap bertambah umur anak², jasmani mereka berkembang, pun akalbudi mereka bertumbuh.&nbsp;<br><br>Pendidik perlu memupuk dan merawat terus hal² baik yang sebenarnya sudah ada dari lahir (ketaatan, disiplin, kejujuran, konsisten) yang sudah ada pada diri anak², dan menyiangi hal² buruk (memaksa kehendak mereka dengan hal² yang enak tetapi efeknya tidak baik) yang hadir pada anak².<br><br>Anak² sepertinya tidak sadar akan hal² buruk yang mereka lakukan, ucapkan. Karena pada awal² di umur mereka, semua mereka cerna.&nbsp; Hal² buruk misal berbohong, ini secara alami bisa muncul, bahkan pernah sava diskusi dengan anak saya yang toddler dia tidak tau bila itu yang dinamakan berbohong. Contoh konkrit dari memang manusia ada potensi buruk.<br><br>Dalam hal biologis, panca indera yang diberikan Tuhan pada manusia perlu tuntunan, stimulasi yang memadai. Istirahat yang cukup, butuh banyak ke alam agar dapat udara segar, dan makanan bergizi. Karena jasmani yang baik akan membuat perkembangan syaraf yang baik sehingga anak² tumbuh sehat fisiknya, pikirannya pun bahagia dan positif.<br><br>Orangtua yang punya kedekatan dan paham kodrat anak²nya jadi mampu mendeteksi adanya gejala² stress dan ketegangan pada anaknya.<br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478983</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisana Sidqi Aliya</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478984</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 24]</div><div>Paraphrase hal 42 - 43</div><div>Kamis, 02 Maret 2023</div><div><br></div><div>Tentang Liberal Education</div><div><br></div><div>Membaca paragraf ini membuat saya menjadi sedikit banyak merefleksikan realita pendidikan saat ini. Seorang anak, di strata manapun ia dilahirkan, tetaplah manusia, yang memiliki hak atas pendidikan yang layak. Layak artinya memadai untuk menjadikannya manusia seutuhnya, tak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia namun juga mampu mengantarkannya menjadi pribadi mulia di akhirat kelak. Hal ini berarti seorang anak memerlukan pembangunan di seluruh aspek dirinya secara holistik, baik intelektualitasnya untuk memahami berbagai fenomena, keterampilannya untuk bertahan hidup, akal budinya yang merupakan alat batin untuk menimbang baik dan buruk, kekuatan kehendak dan atensi untuk membantunya mengawal pilihan-pilihannya dalam hidup, dan sebagainya.&nbsp;</div><div><br></div><div>Namun sumber daya yang saat ini dikeluarkan untuk mengakses sekolah-sekolah, sayangnya banyak yang tak sebanding dengan apa yang anak dapatkan, mereka terlatih namun belum bisa dikatakan terdidik. Adapun sekolah-sekolah yang menawarkan pendidikan bermutu sangat sedikit jumlahnya dengan akses yang sangat terbatas. Belum lagi fakta bahwa kaum marginal saat ini lebih sulit mengenyam sekolah (apalagi pendidikan bermutu). Padahal menurut CM, pendidikan seharusnya untuk semua kalangan dan tidak sepantasnya dibatasi hanya untuk kalangan elite saja. Selepas jenjang pendidikannya, anak-anak seharusnya memiliki galeri mental berisi imaji tentang karya seni dan sastra para maestro dan juga panorama alam yang siap ia kunjungi kapan saja ia membutuhkan untuk mengembangkan imajinasinya.</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478984</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisana Sidqi Aliya</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478985</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 27]</div><div>Paraphrase hal 46 - 47</div><div>Kamis, 30 Maret 2023</div><div><br></div><div>Kodrat Baik dan Jahat Anak</div><div><br></div><div>Menurut Charlotte Mason, setiap anak, sebagaimana orang dewasa, terlahir dengan potensi baik dan buruk, karena mereka sudah memiliki berbagai instrumen yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan potensi-potensi baik dan buruk tersebut. Mereka juga mampu menyerap beragam ide dari lingkungan yang kemudian mewarnai karakter mereka. Dalam mengelola potensi baik dan buruk ini, menurut CM, agama akan memegang peranan penting dalam menentukan arah keputusan yang akan diambil oleh anak. Tidak cukup hanya sampai beriman saja, namun ada esensi lebih jauh yang harus dicapai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang bertanggung jawab. Merefleksikan hal ini, mungkin pendidik sekuler tidak setuju dengan beliau, bahwa agama adalah aspek yang terpisah dari kehidupan sosial, sehingga rumusan gagasan CM menjadi tidak relevan dan tidak universal. Namun demikian, jika kita merelasikannya dengan pemikiran Scott Peck dalam The Road Less Traveled, sesungguhnya setiap orang memiliki “agama” tertentu dalam hidupnya, yakni sesuatu yang diyakininya, yang terbentuk perlahan-lahan semenjak kelahirannya dan dijadikannya sebagai kacamata dalam memandang segala sesuatunya di dunia ini. Cara pandang yang terbentuk dalam diri seorang anak ini sebetulnya merupakan suatu mekanisme pertahanan alami yang terbentuk untuk melindungi sang anak untuk bertahan dari kenestapaan tak berujung di masa kecil. Namun terkadang, seiring dengan semakin besarnya ia, cara pandangnya (yang disebut “agama” oleh Scott Peck ini) menjadi tidak lagi relevan dengan lingkungannya yang telah berubah. Sebagai contoh, seorang anak yang tumbuh dalam doktrin bahwa Tuhan yang Pengasih dan Penyayang namun dibesarkan dalam lingkungan yang abusif akan mengalami kontradiksi dalam dirinya, mengekstrapolasikan pengalaman sempitnya ke dunia luas, dan berakhir dengan mengembangkan pemahaman keliru mengenai dunia (Tuhan) yang kejam. Jika ia terus menerus memakai kacamata “agama” yang keliru ini, maka bisa jadi sisa hidupnya akan digunakannya dengan mengembangkan potensi buruknya alih-alih potensi-potensi baiknya.</div><div><br></div><div>Dalam hal ini, peran orang tua menurut CM adalah mengenali potensi-potensi anak, juga minat-minatnya dan kelemahan-kelemahannya. Orang tua mengemban tugas berat namun juga mulia untuk memetakan, mengantisipasi keburukan, dan mengembangkan kebaikan, dalam rangka membekali anak suatu kemampuan untuk secara mandiri merefresh kacamata “agama” yang dipakai agar selalu relevan dengan kehidupan nyata.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478985</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Reviyani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478986</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 29]<br>Hal 48-51<br>Kamis,&nbsp;11 Mei 2023<br><br><br>Sikap seorang guru dalam membersamai anak didik terkadang malah memupuk kebiasaan tidak mandiri alih-alih membentuk mereka menjadi pembelajar mandiri yang antusias.&nbsp;<br><br>Itulah lagi-lagi pentingnya seorang guru memahami kodrat seorang anak, bagaimana mereka adalah mahluk emosional yang mudah terpengaruh perasaannya dan setiap sikap guru akan turut pula membentuk kebiasaan belajar dan persepsi mereka terhadap ilmu pengetahuan.<br><br>Disebutkan bahwa guru yang terlalu dominan akan justru menghabiskan energi anak. Sepertinya hal itu dikarenakan anak tidak menemukan antusiasme dan relasi dalam dirinya dengan ilmu pengetahuan yang sedang gurunya coba sampaikan di kelas. Benak mereka seperti dipaksa menerima hal yang sulit mereka pahami karena penyampaian yang tidak sejalan dengan cara kerja otak dan akal budi manusia. Akibatnya anak bisa jadi bosen dan mencerna pelajaran akan terasa melelahkan.<br><br>Pun ketika guru salah memperlakukan anak, yang menurut pandangan umum sekilas akan terlihat baik seperti memberi pujian (namun tidak tepat), memberikan gestur² tubuh tanda menyetujui sesuatu dll dan membuat mereka senang dan mendapatkan approval dari guru, hal itu bisa membuat motivasi belajar dalam diri anak berubah. Dari yang seharusnya untuk mencari ilmu dan atau meningkatkan kecakapan tertentu menjadi mengejar approval dari guru.<br><br>Yang paling buruk dari pola pendidikan yang keliru seperti itu adalah efek jangka panjang bagi murid, mereka mungkin akan tetap mengadopsi pola kebiasaan yang sama yaitu haus akan pengakuan dari orang lain, termasuk figur2 tertentu yang berpengaruh bagi mereka (seperti guru) sehingga mereka akan menggantungkan pemenuhan kebutuhan bathinnya pada perilaku orang lain dan bukan dari melakukan hal yang benar. Dengan kata lain pendidikan yang dilakukan oleh guru yang tidak berusaha memahami kodrat manusia, malah bisa membawa murid ke arah yang berkebalikan dari tujuan pendidikan itu sendiri dan tidak menumbuhkan seperti seharusnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478986</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478987</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 29]<br>Hal 48-51<br>Kamis, 11 Mei 2023<br><br>Kali ini Ibu CM menyoroti peran seorang guru yang jika dalam praktek tidak dilakukan dengan proporsional, maka peran guru malah justru bisa merusak karakter seorang anak. Guru yang terlalu dominan bukannya membantu anak sebaliknya malah menguras energi anak. Anak bukannya terbantu malah menjadi beban bagi anak. Bahkan CM mengatakan lebih ekstrim lagi, bahwa seorang guru perlu untuk berhati-hati ketika memberikan anggukan tanda setuju, pujian, atau senyuman yang berpamrih. CM menekankan kita untuk selalu ingat akan Kodrat seorang anak sebagai makhluk yang antusias dan emosional yang begitu mudah tersihir dengan karisma atau pesona yang dimiliki oleh gurunya.<br><br>Untuk menghindarkan anak dari mengidolakan sosok seorang guru secara berlebihan. Yang paling merusak kata Ibu CM adalah bahwa ketika anak tidak memiliki dorongan semangat dari dalam diri sendiri yaitu menjadi bergantung pada sosok seorang guru yang menjadi idolanya. Menjadikan orang lain sebagai pusat kehidupannya. Selanjutnya, membuat anak menjadi tergantung pada hal di luar dirinya, benda atau pribadi di luar dirinya untuk menjadi pendorong semangat.&nbsp;<br><br>Dari bacaan ini aku menjadi diingatkan, bahwa aku juga sebagai orang tua sangat punya peluang untuk membuat anak menjadi tertekan secara emosional dan psikologis ketika aku tidak melakukan peranku secara proporsional. Membuat anak jadi tergantung padaku, membuat anak menjadi tidak mandiri, membuat anak menjadi tertekan karena terlalu banyak tuntutan, membuat anak kehilangan sosok teladan ketika peranku tidak seperti seharusnya, dlsb. Menjalani peran sebagai orang tua dengan seimbang juga sangat penting untuk terus diperhatikan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478987</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Vebriyani</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478988</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 29]<br>Hal 48-51<br>Kamis, 11 Mei 2023<br><br><br>Dalam mendidik anak bukanlah tugas yang mudah. Seorang guru perlu berhati-hati dalam menjalankan perannya. Ketika membimbing anak, pribadi terlalu dominan dari seorang guru bisa menghabiskan energi anak. Mengapa? Anak-anak adalah pribadi yang antusias dan emosional. Jadi, saat anak melihat sosok guru yang mempesona, guru itu menjadi seseorang yang dia idolakan.&nbsp;<br><br>Sosok idola tadi bagi anak-anak menjadi seseorang yang ia kagumi, membuat anak-anak mengikuti kemauan sang guru tanpa banyak bertanya. Guru menjadi figur yang ingin ia senangkan. Disinilah masalahnya, ketika anak belajar dan dikondisikan untuk memenangkan perhatian guru, Ibu CM mengungkapkan bahwa hal ini akan menekan dan menindas kepribadian anak-anak. Anak akan terobsesi naik ke standar yang dituntut guru idola. Lalu anak menjadi stres. Apalagi kalau anak tak mampu memenuhi standar itu. Anak menjadi kecewa.&nbsp;<br><br>Jadi, harus bagaimana menjadi seorang guru dan menggunakan pesonanya tanpa merusak emosi anak? Menjadi guru yang memahami kodrat manusia. Dalam hal ini kodrat dasar manusia menurut Notonegoro yaitu: sifat manusia sebagai makhluk sosial dan individu, manusia yang tersusun dari cipta, rasa, dan karsa, dan manusia sebagai makhluk Tuhan serta pribadi sendiri. Hal ini penting untuk diperhatikan karena guru yang ambisius dan memiliki daya pikat bisa memanipulasi pikiran para murid. Saat dimanipulasi guru, pikiran anak tidak stabil dan ia terjerat pesona guru itu. Ini adalah hal yang sangat merusak karena menumbuhkan kebiasaan buruk yaitu membuat anak selalu butuh pribadi lain untuk ia puja untuk menjadi pusat hidupnya. Anak tak bisa jadi dirinya sendiri dan tak punya ide-ide yang cemerlang dari pikirannya.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478988</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478989</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 29]<br>Hal 48-51<br>Kamis, 11 Mei 2023<br><br>Pada hal ini dibahas tentang seorang guru. Guru hendaknya sedikit mengajar, sedikit memberi ceramah. Guru seharusnya memantik anak² didiknya untuk memakai akal budi yang dimiliki seorang anak.<br><br>Guru yang ambisius dan pintar, bisa memiliki daya tarik tersendiri bagi murid²nya. Salah satu efeknya, murid² bisa mengidolakannya. Baik guru dan murid menghasilkan efek buruk. Guru akan terus memikat anak didiknya dengan daya tariknya saat mengajar, dan murid²nya bisa jadi tidak memiliki percaya diri, karena perlu persetujuan dari guru yang diidolakan.<br><br>Guru seyogyanya adalah guru yang paham bagaimana kodrat anak, sekali anak dipantik dengan hal yang menggugah, maka akalbudinya dengan taktis bisa merelasikannya. Disitulah salah satu memahami kodrat anak.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478989</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Irni Annisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478990</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 30]<br>Hal 51-54<br>Kamis, 25 Mei 2023<br><br></div><div>Jika tubuh kita tunduk kepada hukum alam lalu perasaan dan cinta tunduk pada hukum moral lantas bagaimana dengan akal budi, apakah imajinasi itu tidak ada batasnya?? Sama seperti tubuh akalbudi pun punya kecenderungan ke arah yang baik juga kearah yang buruk. Jika kita malas untuk menyikat gigi setiap hari maka yang terjadi gigi kita akan rusak, lalu bagaimana dengan akal budi jika kita terus menerus membiarkannya tanpa batas padahal efek dari kelalaian ini tak kasat mata.&nbsp;<br><br></div><div>Menurut Charlotte setiap anak terlahir limited edition, mereka tertarik dengan berbagai hal, mereka tertarik pada sains, astronomi hanya saja cara kita menyampaikan semua materi itu diajarkan secara teoritis garing, banyak ceramah,melakukan eksperimen garing dan anak tidak bisa fahami. Guru lupa bahwa dengan kata-kata yang tepat anak mampu membuat imajinasi dalam akalbudinya. Anak mampu mengambil pelajaran atau hikmat dari sebuah cerita.&nbsp;<br><br></div><div>Begitupun dengan pelajaran matematika, anak memilikidaya tarik yang besar meski terbilang mata pelajaran ini seperti mendaki gunung. Jika anak belajar sastra menurut Charlotte seperti memindahkan anak ke kerajaan kaya nan jaya atau mengantarkan mereka ke liburan yang tak ada habisnya juga memberikan jamuan mewah. Semuanya itu bisa dilakukan asal kita memberikan buku-buku dari karya-karya terbaik. Menurut guru bijak di Gloucestershire bahwa anak-anak terganggu jika sedang membaca atau dibacakan buku kita sibuk menterjemahkan kosakata karena anak mampu mencernanya sendiri bisa dilihat dari narasinya. Ada seorang anak yang “dianggap biasa saja“ lalu disuruh menarasikan kisah Romulus dan Remus tetapi kemampuan narasi dan refleksinya terbaik dikelasnya. Bahkan gurunya meremehkan bahwa anak seusianya belum mampu mencerna karya sastra. Kemampuan anak luar biasa jika kita membiarkan mereka berpikir seperti menyeretnya ke sungai yang beraliran deras.<br><br></div><div>Terus apa maksdunya penyakit Intelektual? Banyak terjadi anak-anak yang bersekolah itu didapati akalbudinya tidur bahkan guru mencoba membangunkan akalbudinya dengan iming-iming hadiah dan rangking Hal itu disebabkan karena guru terlalu banyak ceramah, anak bosan mendengarkan ceramah yang itu-itu saja selain itu gurumenyuruh anak mengulang pelajaran sampai faham dan Menurut Charlotte kemonotonan yang mematikan. Jika kita menginginkan anak-anak bertumbuh kita harus ubah paradigma pikiran kita “anak bukan sapi” jika kita tidak tega memberi mereka muntahan fisik maka jangan biarkan memamah muntahan intelektual.yang membuat akal budi mereka lumpuh.<br><br></div><div>Kita sering lupa anak-anak dites untuk mengukur seberapa banyak anak menyerap pelajaran. Menurut Charlotte seperti kita meminta anak memuntahkan setiap tahap pencernaanya lalu kita memeriksanya. Bukankah proses pencernaan anak akan terganggu??akalbudi anak mampu mencerna ide itulah yang harus kita Imani.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478990</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478991</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 30]<br>Hal 51-54<br>Kamis, 25 Mei 2023<br><br>Dalam sesi kali ini, pembahasan banyak mengenai akal budi. Bagaimana seorang murid di sekolah kebanyakan, akalbudinya seolah tertidur. Seperti tidak terinspirasi karena atmosfer yang tidak mendukung.<br><br>Padahal, di zaman Renaissance dimana banyak mahakarya tercipta dan kebudayaan terdefinisikan, ternyata setiap orang tidak menspesialisasikan dirinya. Satu orang bisa berarti pelukis, pandai emas, arsitek, dan sebagainya. CM membahasnya sebagai zaman dimana akal budi begitu teraktivasi sehingga menghasilkan output yang luar biasa.<br><br>Dari pembahasan ini saya menafsirkan bahwa ketika akal budi kita pelihara secara hidup, maka akan terjadi relasi-relasi luar biasa yang akan terjadi di dalam otak kita. Ketika kita memperkaya diri dengan input-input bergizi, hidup dengan hirupan atmosfer yang sehat, niscaya apa yang terhasilkan pasti akan baik.<br><br>Sebagaimana kita makan makanan yang bergizi, pasti hasil ekskresi nya pun akan sehat. CM tak henti-hentinya membahasakan tentang akalbudi. Mungkin, ini hal abstrak yang mungkin sulit dipahami orang secara instan. Ia perlahan-lahan terus mengingatkan, yang berujung bahwa education is a faith. Maka mari kita juga fokuskan pada proses terbaik kita, karena perkara hasil bukanlah menjadi urusan kita saat ini. Dengan menjaga akal budi kita dan anak-anak kita, niscaya tak mungkin tak ada hasil baik yang tak kita tuai. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478991</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478992</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 30]<br>Vol 6, Paraphrase hal 51-54<br>Kamis, 25 Mei 2023<br><br>Pada halaman ini Miss Mason menulis bagaimana seharusnya belajar sastra. Belajar sastra itu berasal dari sumber buku yang terbaik, sehingga memantik akalbudi, benak anak untuk hidup. Buku sastra dari kisah² hidup. Bukan dari buku teks yang membosankan dan dari kakek nenek kita tak berubah. Hal ini memunculkan penyakit intelektual, murid menunjukkan gesture gelisah, mata menggembara, karena asupan akalbudi anak tak sesuai kebutuhannya.<br><br>Pendidik (guru dan orangtua) tidak perlu banyak ceramah. Dan tidak perlu pelajaran dari buku teks itu diulang ulang. Maka disini pentingnya buku sastra yang beride hidup sehingga anak terpantik merelasikannya.&nbsp;<br><br>Sajian yang bervariasi dan tepat untuk akal budi itu membuat anak menjadi kaya akan pemikiran, pada hal ini dicontohkan tokoh Leonardo Da Vinci, dia pelukis, tp pintar geometri, bisa memahat, lihai sebagai arsitektur. Akalbudinya kaya karena ragam sajian untuk akalbudinya tepat dan kaya.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478992</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tina</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478993</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 31]<br>Hal. 54-56<br>Kamis, 8 Juni 2023<br><br>Mendidik budi. Mendidik budi. Mendidik budi. Aku merasa Ibu CM begitu menekankan betapa pentingnya setiap apa yang kita berikan pada anak dan diterima oleh anak adalah dalam rangka mendidik budi mereka. Di luar dari hal itu Ibu CM sangat mengharamkannya. Tes tertulis terukur disebut Ibu CM adalah haram karena menghambat tumbuh kembang anak. Pertanyaan-pertanyaan yang hanya sekedar menguji logika berpikir anak namun tidak punya daya reflektif seolah sedang mendidik anak untuk belajar hanya demi nilai, demi ekspektasi orang lain dan membuat anak tidak punya gairah intelektual rasa ingin tahu anak.<br>Ibu CM juga menekankan bahwa tidak selalu nalar itu benar. Bahwa nalar pun bisa jadi sesat oleh karenanya perlu diuji dengan kebenaran/ prinsip. Oleh karenanya CM berkata bahwa perlu mensupply intelektual anak tentang bagaimana caranya mengapresiasi keindahan. Keindahan dalam kata-kata, keindahan dalam lukisan, keindahan dalam gerak, keindahan dalam tetumbuhan, atau ciptaan Tuhan lainnya, dlsb. Bagaimana kita mampu mendidik anak mengagumi keindahan sebanyak-banyaknya, sehingga bisa mengenali keindahan saat melihatnya, dan menjaga diri tetap rendah hati di hadapannya. Ini relate dengan apa yang kami alami beberapa waktu lalu ketika nature waalk bersama si kembar 3. Waktu itu kami menemukan beberapa bunga teratai di halaman rumah orang. Lalu aku mengajak anak melihat. Aku bilang cantik ya bunganya. Ternyata di halaman rumah lain ada lagi jenis bunga teratai yang berbeda yang lebih mekar, lebih banyak kelopaknya dan lebih besar. Dan mereka berkata "ini lebih cantik ma daripada yang tadi". Aku jawab, "Oya! Tau tidak mama belajar apa dari 2 bunga ini? Mama jadi sadar bahwa kita tidak bisa sombong karena kita lebih baik, lebih pintar, lebih cantik, dlsb. Karena pasti akan banyak yang lebih dari kita. Sama kayak bunga ini, yg pertama tadi cantik ternyata ada yg lebih cantik lagi. Mungkin nanti kalau kita jalan ke tempat lain akan ketemu yg lebih cantik lagi". Mereka diam. Entah sedang mencerna atau bingung aku tidak tau ahahah.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478993</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Revi</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478994</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 32]<br>Hal 56-57<br>Kamis, 15 Juni 2023<br><br>Hasrat Intelektual<br>Manusia oleh Tuhan secara alami dianugrahi berbagai hasrat yang seyogyanya dipenuhi dan diasah dengan baik sehingga dia bisa menggunakannya dengan bijaksana.<br><br>Hanya mengasah dan memenuhi hasrat- hasrat tertentu saja akan membuat manusia pincang secara jiwa.&nbsp;<br><br>Hasrat, mungkin diciptakan Tuhan untuk membantu manusia memenuhi kebutuhan, memperoleh kebahagiaan dan mencapai tujuan-tujuan. Orang tua ketika mendampingi anak, hendaknya menghargai hasrat anak sehingga bisa memenuhinya dengan secara adil dan bukan memanipulasinya.<br><br>Sudah umum terjadi, hasrat intelektual manusia di tengah maraknya industri pendidikan seringkali dipelintir dan dimanfaatkan oleh para otoritas untuk mencapai tujuan mereka seperti memenangkan kompetisi, mendapat ranking, memperoleh beasiswa dll sehingga bukanlah ilmu pengetahuan yang ingin mereka kejar, namun pencapaian-pencapaian lain yang tidak murni memenuhi hasrat intelektual alamiahnya seperti kebanggaan meraih sesuatu, pengakuan masyarakat dll.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478994</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tina</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478995</link>
         <description><![CDATA[<div>(Pertemuan 32)<br>Hal. 56-57<br>Kamis, 15 Juni 2023<br><br>Hasrat Intelektual<br>Hasrat yang satu ini pun tidak luput dari perhatian Ibu CM. Bagaimana menggarap hasrat intelektual agar tidak berubah bentuk menjadi hasrat yang negatif yang kemudian mengerogoti jiwa manusia itu sendiri. Dan luar biasanya lagi hasrat ini ternyata telah ada pada setiap jiwa manusia bahkan ketika manusia itu tidak mengerti apa makna dari semua itu. Ibu CM mengibaratkan ketika seorang anak suka dipuji, senang ketika diberi predikat "anak hebat", "anak pintar", dlsb. Dan ternyata hal ini memupuk bibit-bibit yang tidak baik bagi perkembangan jiwa anak. Hasrat intelektual anak dimanipulasi dengan gelar-gelar, peringkat, hadiah, dlsb. Hal ini perlahan namun pasti, mematikan hasrat anak pada pengetahuan, hasrat anak untuk belajar hal-hal baru. Sesungguhnya yang menjadi penting menurut Ibu CM adalah bagaimana memumpuk "sukacita belajar" yang terbukti mampu membuat anak menjalani proses belajar dengan berhasil dan menyenangkan. Lalu bagaimana caranya? Ini peer yang tidak mudah. Tapi dengan niat baik dan kerja keras bukan tidak mungkin untuk mewujudkannya. Semangat!!</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478995</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jangan memanjakan satu hasrat saja. (Lina) </title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478996</link>
         <description><![CDATA[<div>Aku akan merayakan niat baikku untuk bernarasi dengan mengerjakan narasi.&nbsp;<br><br>Dari mana aku akan memulai?&nbsp;<br>Baiklah... Bagaimana kalau dimulai dari pemikiran awalku bahwa spesialisasi itu bagus, semakin mengerucut hal yang dipelajari maka semakin expert lah dia. Begitulah yang aku pikirkan.&nbsp;<br><br>Lalu ternyata mbak CM bilang jangan memanjakan hanya satu hasrat saja. Ya... Intinya anak-anak harus belajar beraneka ragam disiplin ilmu.&nbsp;<br><br>Aku pikir-pikir benar juga ya... Kalau kita nguplek dari pagi sampai sore untuk urusan dapur aja, ya... Pasti bosen dan capek juga walaupun perkara dapur adalah perkara yang kita sukai.&nbsp;<br><br>Kalau kata mba Ellen, kitanya sendiri tidak dimanusiakan, makanya banyak bapak-bapak yang capek pulang kantor terus pulang hiburannya main game, karena merasa kelelahan secara mental dan fisik, jadi butuh hiburan.&nbsp;<br><br>Jadi perkara pembelajaran holistik ini bukan hanya perkara agar anak serba tahu berbagai hal, tetapi agar anak merasa bahagia menjadi manusia seutuhnya. Gitu sih mbak... Yang baca narasi aku...&nbsp;<br><br>GR ya... Kayak ada yang baca ajah... 🐱🐱🐱</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478996</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hasrat Jadi Juara (Lina) </title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478997</link>
         <description><![CDATA[<div>Ibu CM bercerita kehidupan bersekolah di zaman itu, yaitu tentang adanya penerapan hadiah, peringkat, pujian, tekanan dan hukuman di sekolah. Kurang lebih sama yah seperti sekarang. Hihihi... Sudah berapa ratus tahunan penerapan tentang ini? Herannya, Ibu CM bisa memikirkan bahwa metode ini tidak tepat bahkan berbahaya. Kenapa? Karena metode itu bisa membunuh hasrat alami anak tentang pengetahuan.&nbsp;<br><br>Tapi pengetahuan macam apa dulu, ya... Kalau yang dikaji disekolah membosankan dan menguras otak ya hasrat alami akan pengetahuan juga lama-lama aus, tidak terpantik untuk tumbuh yahhh. Menurutku sih...&nbsp;<br><br>Miss Mason bahkan bilang bahwa kita harus waspada terhadap hasrat untuk mengalahkan orang lain mengalahkan hasrat rasa cinta dan keadilan. Ini betul-betul harus menilik lebih dalam, siapa sih yang tahu kedalaman hasrat kita, apa niat di dalam hati kita kalau bukan diri kita sendiri. Jadi hal baik belum tentu punya nita baik, betul-betul harus berdialog dengan diri sendiri tentunya.&nbsp;<br><br>Di ruang kelas sendiri kita juga perlu berhati-hati kalau anak bekerja makin lama makin keras untuk urusan sekolah karena terobsesi menjadi juara, maksudnya jangan sampai hasrat ini mengalahkan rasa cinta akan pengetahuan itu sendiri.&nbsp;<br><br>Banyak juga sih kasus semacam itu sekarang, karena memang kita disiapkan untuk berkompetisi, bukan untuk bersinergi. Begitupun kehidupan ini, manusia berlomba-lomba saling menindas, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, persinggungan dengan seseorang menimbulkan konflik, tidak punya modal alias modal kecil maka akan tergerus oleh pemodal besar. Peminjaman modal bukan untuk membantu si ekonomi lemah, tetapi untuk mengeruk sebesar-besarnya keuntungan dari si miskin ini dengan riba.&nbsp;<br><br>Salah satu anak yang kukenal sangat mudah sekali termotivasi oleh faktor eksternal, nggak mau terkalahkan oleh orang lain, dia pun sll menjadi juara, kemampuan akademisnya selalu no 1 disekolahnya. Tetapi ada yang salah di hal lain, seperti bagaimana dia bersikap kepada orang lain, orang tua, saudara, dll.&nbsp;<br><br>Terus temanku yang selalu rangking satu dari SD juga bercerita kalau kutukan rangking satu membuat dia egois dan lelah.&nbsp;<br><br>Buat aku, hidup itu memang perlombaan, tapi bukan mengalahkan orang lain.&nbsp;<br><br>Justru mengalahkan hasrat keburukan yang ada di dalam diri sendiri. <br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478997</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478998</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 31]<br>Vol 6<br>Hal 54 - 56<br>Kamis, 8 Juni 2023<br><br>Pada halaman ini dijabarkan bahwa untuk mengukur akal budi tidak efektif hanya dengan soal² uji komprehensif. Saya merasakan sendiri ketika ingat di sekolah menengah atas, mengejar prestasi akademis, bisa mendapat target apa yang diinginkan tapi setelah selesai adakah yang masih diingat? Ada sih, tapi kebanyakan lupa. Apakah yang lain juga merasakan seperti saya ya?&nbsp;<br><br>Disini dibahas tentang nalar, nalar jangan dijadikan majikan tapi dijadikan hamba. Nalar berkaitan dengan intelektualitas, dengan rasionalisasi. Dengan nalar, orang bisa membenarkan yang salah. Olehakarena itu, pendidikan itu baiknya memantik refleksi, bisa menimbang argumen, sembari dapat asupan informasi yang benar agar bisa menjadi warganegara yang bijak.<br><br>Kapasitas intelektualitas lainnya adalah mengapresiasi keindahan. Keindahan yang sumbernya dari apa yang indera kita lihat, rasakan, bisa didapat dari pemandangan, lukisan². Berikan berbagai macam variasi keindahan, tapi tetap berhati² dengan menjaga rendah hati. Tau banyak bukan untuk menyombongkan diri, tapi kapasitas intelektual yang baik, dapat berbagi untuk banyak orang. Pendidikan yang benar tak hanya mengedepankan intelektualitas tapi moralitas.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478998</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Irni Annisa</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478999</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 11]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 24<br>Kamis, 10 November 2022<br><br>Narasi Sesi 5, Bab I Pendidikan Mandiri (Self-Education)<br><br>Melatih motorik kasar maupun motorik halus memang perlu dilatihkan kepada anak-anak, mata dilatih untuk melihat dengan tajam,telinga dilatih untuk mendengar dengan peka, suara dilatih berbagai nada. Kegiatan-kegiatan yang menyenangkan agar anak-anak mampu mengekspresikan dirinya sampai-sampai kita tidak sabar ingin melihat kelak menjadi apakah si anak ini? Apakah kegiatan seperti ini berdampak pada karakter dan perilakunya??<br>Menurut Miss Mason segala aktivitas pendidikan yang bersifat fisik hanya akan menjadi tempelan-tempelan artifisial dan tidak menetap dalam dirinya. Hal serupa disampaikan oleh Lord menurutnya pendidikan adalah perkara rohani.Namun tetap saja para orangtua dan guru masih mengejar aksesoris eksternal yang tidak menumbuhkan karakter karakter anak.<br>&nbsp;"Anak adalah pribadi yang utuh" bunyi butir pertama dari 20 butir filosofi pendidikan Charlotte Mason. Kita sebagai orangtua seringkali lupa membentak anak jika berbuat salah atau tidak mendengar pendapatnya karena anak belum berpengalaman bahkan lebih sering orangtua merasa sok tahu mengatur semua kangkah hidup si anak dengan dalih"ini yg terbaik untukmu nak". Anak bukanlah lembaran putih yang siap kita tulisi apapun sesuka kita atau lilin plastis yang bisa kita bentuk atau layaknya sebuah tanaman yang bebas kita atur mau dibengkokan kemanapun sesuai kemauan kita orangtua. Lebih dari itu semua anak seperti kita orang dewasa yang lahir sudah memiliki rasa,keinginan juga kepribadian. Anak bukanlah produk pasaran. Ia unik juga istimewa. Di dalam dirinya sudah ada potensi-potensi baik maupun buruk. Dan tugas orangtua membantu anak memilih jalan hidupnya dengan melatihkan kebiasaan-kebiasaan baik. Memang berat seperti merawat anak yang sedang sakit campak. Selain itu pasoklah benak anak dengan ide-ide positif dan inspiratif. Budi anak seperti halnya tubuh butuh makan yang bergizi, istirahat juga bernafas agar terus bertumbuh. Makanan dari budi adalah ide. Jika pemikiran bertemu dengan pemikiran yang lain maka akan menghasilkan pemikiran yang baru. Mengajak anak berjalan-jalan dialam atau melakukan percobaan ilmiah juga mengandung ide tetapi tidak mempengaruhi watak dan perilakunya.<br>&nbsp;Bersyukur bertemu dengan komunitas Charlotte Mason yang memaparkan prinsip pendidikan yang jauh berbeda dengan pendidikan pada umumnya membuatku seperti orang kusta yang sedang berpesta sendirian diluar gerbang sementara didalam gerbang masih banyak orang yang masih berada dalam kondisi dusta dalam jiwa.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636478999</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636479000</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 14]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 26-28<br>Kamis, 1 Desember 2022<br><br>Pada halaman 26-28, dalam tulisan yang indah di tulis, dengan perumpamaan alkitab, ibu Mason merendahkan dirinya seperti orang kusta, yang tak ingin berpesta sendiri di luar gerbang. Ibu Mason ingin membagikan kebenaran² pendidikan yang sebenarnya sudah ada.<br><br>Pendidikan itu holistik yang tidak hanya dibekali ilmu psikologi, tapi didampingi dengan ilmu sosiologi. Pada diskusi lalu, ada insight bahwa dalam mendidik anak, orangtua perlu memperhatikan aspek psikis anak (misal ketika anak tidak patuh, orangtua perlu dengan pendekatan yang halus tanpa mengancam) dan karena manusia itu makhluk sosial maka perlu pemahaman bahwa kita hidup berdampingan dengan sesama lain sehingga pentingnya melatihkan anak untuk hidup tenggang rasa, toleransi.&nbsp;<br><br>Intinya pada halaman ini, ibu Mason ingin berbagi pada banyak orang seluas²nya tentang sistem teori pendidikan yang tampak berhasil memenuhi tuntutan rasional manapun, bahkan seperti kutipan pada tulisan ibu Mason " kriteria terberat yang diberikan Plato : " mampu menghadapi serangan kritik, siap mematahkan semuanya, bukan hanya berbasis opini, tapi didasarkan atas kebenaran yang tak terbantahkan".<br><br>Mari kita lihat dan simak terus tulisan pada vol 6, agar makin melihat harta karun yang dibagikan oleh Ibu Mason.<br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636479000</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636479001</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 15]<br>Vol 6 [Sesi 6]<br>Bab 1 Self Education hal. 28-29<br>Kamis, 8 Desember 2022<br><br>Ibu CM semakin ke belakang tulisannya pada volume 6, semakin memberikan saya peneguhan dan pencerahan akan pemilihan metode untuk anak² saya menjalani homeschooling. Dengan metode ini dipaparkan oleh ibu CM bisa digunakan oleh semua anak dengan ragam usia, sekalipun anak itu lambat. Konsentrasi, inisiatif, minat, atensi dijamin bertumbuh baik.<br><br>Ibu CM memaparkan di halaman ini bahwa anak² yang dididik dengan metode ini, kaya akan kosakata, mentalnya lebih tenang, benaknya sibuk dengan ide² hidup, sehingga hidupnya bersih (seperti tidak ada waktu untuk membicarakan hal² negatif). Orangtua menjadi kawan seperjalanan anak, karena lewat buku² yang berisi ide hidup (living book) menarik para orangtua membacanya bersama dengan anak. Karena memang menarik, memantik benak untuk merelasikan hal satu dengan yang lain.<br><br>Sekalipun anak² duduk di bangku sekolah, maka guru tidak perlu bersusah payah menjejalkan materi agar materi menarik untuk anak, tidak perlu ada iming² hadiah, peringkat.&nbsp;<br><br>Motto yang diusung oleh ibu CM adalah I am, I can, I ought, I will. Menyadarkan anak² bahwa mereka sebagai pribadi yang utuh memiliki kemampuan, peluang, tanggung jawab, dan memiliki daya memutuskan mana yang baik dan benar.<br><br>Refleksi dari penerapan sehari² metode CM pada anak² saya, tentu belum semulus pada hasil yang ibu CM tulis pada halaman ini. Masih butuh waktu panjang sampai kepada hasil ini. Karena butuh 3 prinsip penting juga dijalankan konsisten, perlahan, gentle yaitu butuh atmosfer orang tua, pelatihan kebiasaan baik terus menerus, dan ide² hidup (lewat living books, petuah² leluhur, adat istiadat). Tetapi, paling tidak, ibu CM sudah memberikan pencerahan bahwa pada akhirnya tujuan pendidikan akan sampai pada hasil yang menakjubkan. Education is a faith. Butuh iman untuk terus berjalan dalam waktu panjang sampai di tujuan akhir.💪</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636479001</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636479002</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 12]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 25<br>Kamis, 17 November 2022<br><br>Miss CM menekankan pentingnya diet ide yang ketat bagi akal budi. Bahwa betul budi perlu disuplay makanan bergizi agar budi tumbuh dan berkembang namun bukan semata makanan bergizi tetapi juga perlu diperhatikan kuantitas dan kualitasnya. Juga yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa ide hidup itu yang berasal dari satu pemikiran kemudian bertemu dengan pemikiran lainnya. Ketika benak anak mencerna ide yang dibacanya dari pemikiran seseorang kemudian anak mencerna lalu melahirkan ide pemikiran yang baru. Dalam hal ini kita sebagai orang tua dituntut untuk menghadirkan atmosfir ide-ide hidup itu dalam keseharian kita.&nbsp;<br><br></div><div>CM mengibaratkan orang tua/ pendidik yang enggan untuk menyuplai ide-ide hidup bagi anak muridnya sebagai seorang yang menderita “dusta dalam jiwa”. Yang sulit menyadari bahwa apa yang diyakini adalah suatu kekeliruan. Kondisi seperti ini mungkin termasuk didalamnya adalah mereka yang sesungguhnya mengetahui apa yang baik dan benar untuk diajarkan kepada anak muridnya. Namun keengganan, kemalasan untuk berusaha, berlelah-lelah mendidik anak membuat mereka menjadi membohongi dirinya sendiri. Mengetahui apa yang baik namun enggan untuk melakukannya. Barangkali dengan terus berefleksi tentang apa yang sesungguhnya menjadi tujuan besar dari apa yang sedang dilakukan, akan membantu menyadarkan jiwa yang sedang menderita “dusta dalam jiwa”.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636479002</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisana Sidqi Aliya</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636479003</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 14]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 26<br>Kamis, 1 Desember 2022<br><br>Ada banyak sekali teori dan praktek pendidikan modern yang bermunculan pada saat Miss Mason menuliskan volume ini. Namun jika ada kesamaan yang dapat ditarik dari kesemuanya, nampaknya itu adalah adanya eksklusi aspek psikologis dan sosiologis pada penerapan pendidikan modern atau “Gaya Baru” yang berfokus memperoleh pengetahuan melalui pengalaman indrawi semata, dipisahkan dari aspek psikologis dan sosiologis. Menurut Miss Mason, pendidikan yang yang semacam ini hanya akan memunculkan sisi negatif pada anak, bahkan secara spesifik mengarah kepada kondisi patologis atau yang berkaitan dengan penyakit. Sebagai contoh dikotomi ini tampak pada materi-materi pelajaran yang disajikan. Anak-anak secara alami tertarik dengan sesuatu yang dapat membangkitkan imajinasi mereka. Maka pelajarannya harus disajikan melalui literatur yang dapat membangkitkan berbagai imaji, karena dari situlah akan muncul emosi dan empati. Namun alih-alih demikian, pengetahuan modern disajikan apa adanya, sebatas deretan fakta yang jika dibaca tidak melahirkan emosi bagi pembacanya. Akibat ketiadaan emosi ini, empati pun tidak tumbuh karena meskipun akalnya terlatih namun budinya tidak tersentuh. Bagian diri yang menjadikannya manusia pun tercerabut perlahan-lahan dari jiwanya yang terlahir bersih dan suci. Kepeduliannya yang murni dan tulus kepada sesama dan lingkungannya dikerdilkan menjadi kekhawatiran akan sederetan angka-angka di rapornya semata yang mana hal itu pun tidak tercermin dalam sikap kesehariannya. Mereka terlatih namun tidak terdidik.&nbsp;</div><div><br></div><div>Miss Mason menyebutkan bahwa konsep pendidikan yang ia ungkapkan dalam keenam volumenya ini sesungguhnya bukanlah hal yang sama sekali baru, melainkan harta warisan kuno namun terkubur sedemikian dalam dan lama sehingga seolah menjadi sesuatu yang sama sekali asing. Jika kita merefleksikannya kembali, pendidikan klasik yang sudah diterapkan secara alamiah semenjak manusia pertama diciptakan, juga telah berhasil menelurkan banyak sekali orang-orang yang tidak hanya cendekia namun juga berakhlak mulia. Pendidikan difokuskan pada pembangunan manusia seutuhnya dan tidak hanya pada aspek kognitif semata. Sementara itu, konsep persekolahan modern memang diciptakan untuk suatu tujuan penyeragaman tertentu. Terlebih lagi di masa pasca revolusi industri, sekolah modern digunakan sebagai alat rekayasa sosial yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja dan buruh-buruh manusia patuh yang “terstandar”. Namun apakah hanya sampai di situ tujuan sesungguhnya pendidikan bagi manusia? Pertanyaan inilah yang sepatutnya ditanyakan kepada diri kita masing-masing agar jangan sampai terjebak pada arus modern semata tanpa tahu kemana arah dan tujuan kita semestinya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636479003</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636479004</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 13]<br>Vol 6, Bag. I<br>Self Education hal 25-26<br>Kamis, 24 November 2022<br><br>Lagi-lagi CM menekankan bahwa Pendidikan adalah kerja spiritual. Berbalik dari apa yang dikatakan oleh Protagoras bahwa, “Pengetahuan adalah pengalaman indrawi”. Pendidikan sesungguhnya adalah pendidikan yang dialami sendiri oleh anak, dicerna sendiri dalam pikirannya, sehingga melahirkan pemikiran/ ide yang baru yang betul-betul hidup dalam jiwanya. Sehingga sulit untuk melupakannya, sulit untuk menyangkalnya. Bukan pengetahuan yang hanya sampai pada titik matanya melihat, tidak tau menjadi tau, mendengar suaranya, merasakannya dengan kulitnya, dan lain sebagainya.&nbsp;<br>CM menekankan, betapa penting melibatkan kerja spiritual, bagaimna pikirannya mengolah segala apa yang dialami oleh panca inderanya, bagaimana pikirannya memunculkan berbagai pertanyaan mengapa begini, mengapa begitu, bagaimana hatinya tergugah untuk mencari tau jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pikirannya. Pendidikan adalah bagaimana jiwa dan hatinya mampu merefleksikan segala apa yang dialami oleh panca inderanya sehingga setiap hal begitu melekat dalam benaknya, dalam jiwanya. Dengan mengenalkan anak pada ide-ide hidup melalui bacaan-bacaan yang berasal dari pemikir-pemikir yang mampu menggugah benak dan jiwanya. Buku-buku berkualitas dan berkuantitas menjadi penting untuk dihadirkan dalam proses Pendidikan anak. Dan CM menekankan, orang tua sebagai pendidik tidak perlu bekerja terlalu keras untuk menjelaskan, ceramah seolah mengunyahkan makanan pada bayi. Dengan menyajikan bacaan-bacaan dengan ide hidup banyak-banyak, benak dan jiwa anak dengan sendirinya akan mengolah ide-ide itu. Para pendidika mesti ingat, anak sudah dibekali dengan kemampuan belajar semacam itu sejak dia dilahirkan.</div><div>Hal ini betul-betul mengingatkanku untuk terus konsisten menghadirkan ide-ide hidup baik melalui bacaan-bacaan, diskusi-diskusi, dan juga terus berusaha memberikan atmosfer/ teladan. Belajar untuk mengurangi mendikte, ceramah, dan lain sebagainya. Tapi bagaimana agar pengalaman Pendidikan bagi anak betul-betul dialami sampai kepada benak dan jiwa spiritual anak tidak berhenti pada pengalaman indrawinya.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636479004</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hentina Hotria Sitanggang</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636479005</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 15]<br>Vol 6 [Sesi 6]<br>Bab 1 Self Education hal. 28-29<br>Kamis, 8 Desember 2022<br><br>Lalu apa manfaat yg diperoleh anak dari pendidikan semacam ini? CM menjabarkan betapa banyak keuntungan ketika menerapkab metode pendidikan yg "ditemukan" oleh CM. Beliau tidak menyebut telah "menciptakan" metode pendidikan semacam itu. Sekali lagi dengan rendah hati, beliau meyakini bahwa cara belajar, metode pendidikan yg dia ungkapkan sesungguhnya telah ada sejak lama. Beliau hanya menemukannya. Lalu keuntungan semacam apakah itu?<br><br></div><div>Charlotte Mason mengatakan dengan sederhana namun penuh makna bahwa metode Pendidikan yang beliau temukan mampu memuaskan anak-anak yang cemerlang sekaligus mencerdaskan anak-anak yang lamban. Betapa ungkapan yang menghangatkan hati. Metode ini menjamin adanya atensi, minat, dan konsentrasi, tanpa harus mereka atau guru mereka bersusah payah.&nbsp;<br><br></div><div>Semua anak yang dididik dengan cara ini mampu mengekspresikan diri secara verbal dengan meyakinkan, lancar, dan kaya kosakata. Mereka menampilkan ketenangan dan kestabilan mental yang melampaui rata-rata; dan karena intelek mereka sibuk, benak dan hidup mereka menjadi bersih-murni. Orangtua jadi tertarik pada bahan pelajaran anak-anaknya dan mendapati anak-anak mereka jadi ‘kawan seperjalanan yang menyenangkan’.<br><br></div><div>Sekilas apa yang dijabarkan oleh CM di atas terkesan sangat ideal, sempurna, dlsb. Bagiku secara pribadi, prinsip-prinsip Pendidikan yang dijabarkan oleh CM sungguh merupakan jati diri manusia itu sendiri. Bahwa seorang pribadi tercipta dengan keinginan untuk belajar. Keinginan belajar seperti apa? Barangkali hal inilah yang harus disadari oleh banyak orang tua juga pendidik. Termasuk saya secara pribadi. Beriman bahwa Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan kebutuhan spiritualitas untuk mempelajari banyak hal. Dan aku secara pribadi mesti sadar sepenuhnya, bahwa belajar atau Pendidikan tidak melulu terjadi di ruang kelas, di atas meja dan duduk di kursi namun jiwa dan benaknya mengembara kemana-mana.&nbsp;<br><br></div><div>Bahwa Pendidikan adalah dimana pikiran/ budi anak mencari dan menemukan sendiri makanan apa yang dia ingin makan. Bukan disuapi atau didikte atau diceramahi dlsb. Mencerna makanan itu perlahan merasakan segala rasanya dan begitu menikmatinya. Betapapun baginya terasa sulit, namun karena anak menyukainya, menarik baginya, menggugah jiwanya, anak terus menerus mencoba dan mencoba. Hingga jiwa dan benaknya terpuaskan. Hingga rasa ingin tahunya terjawab. Hingga anak tidak bisa kemudian berdiam diri, namun jiwanya tergugah untuk membagikan apa yang ada dalam dirinya. Aku pribadi menggarisbawahi bagian ini. Dan tentu saja hingga sampai pada titik ini bukanlah perkara mudah. Namun perlu kerja keras, disiplin dan konsisten. Sesulit dan semudah itu. 😊&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-02 07:20:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636479005</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>gitasumitra</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636781446</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 32]<br>Hal. 56-57<br>Kamis, 17 Juni 2023<br><br>Aku mendapati tulisan CM disini sangat relate dengan yang baru aku alami beberapa hari yang lalu.&nbsp;<br><br>Disini CM menjabarkan, anak terlahir dengan hasrat alamiah. Ingin disukai, ingin berkompetisi, ingin menjadi yang terbaik. Tinggal bagaimana kita mengarahkan hasrat-hasrat alamiah itu agar tidak menjadi salah ujungnya. Berkompetisi, pada porsinya, bukanlah hal nista. Tapi, dibalik kompetisi, pernahkah kita memaknai, apa tujuannya? Apa yang akan terjadi pada karakter anak kita, jika niat kompetisinya dipupuk dengan ambisi?<br><br>Aku bertemu dengan teman-temanku. Kami saling bertukar cerita, dan mengarah pada cerita tentang pendidikan anak. Sampai narasinya menjadi tentang kelebihan sekolah, dan manfaatnya bagi anak-anak mereka. Kadang kelebihan tersebut seolah terdengar sebuah glorifikasi, atau bisa jadi ini hanya rasaku saja. Mereka berpikir, sekolah menawarkan hal positif bagi anak-anaknya yang terdorong untuk menjadi kompetitif dan berbuah menjadi kompetensi; ingin memiliki nilai yang terbaik, dan sebagainya.<br><br>Aku hanya menyimak saja, tak berkomentar dan merasa tak perlu memberi opini yang tidak diminta. Sedikit kurasakan upaya mereka untuk memastikan bahwa aku cukup waras dalam upaya homeschoolingku karena mempertaruhkan masa depan anak. Simpulan dari pernyataan mereka, tak ada yang salah dengan sekolah. Ya, tak apa juga dengan pernyataan itu. Kalau sekolah itu membodohi siswa, mana ada orang yang mau menyekolahkan anaknya?<br><br>Di akhir pembicaraan itu, yang kupikirkan hanyalah bahwa mungkin mereka hanya kurang pergaulan. Jika aku secara intense bergaul dengan teman-teman homeschooling dan aku merasa mereka baik-baik saja, mungkin hal itu yang tidak pernah mereka lihat dan rasakan. Aku terima sebagai rasa sayang mereka atas kepeduliannya pada nasib anakku, namun rasanya aku berada di atmosfer yang berbeda dan membuatku kesulitan bernafas. Mungkin perlu beradaptasi dan belajar bernapas jika ada di atmosfer itu. Atau ya tidak usah sering-sering masuk ke dalamnya. Hehe. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-03 01:47:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2636781446</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tina</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2639089706</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 33]<br>Hal. 58-60<br>Kamis, 22 Juni 2023<br><br>Hasrat berkompetisi secara alamiah telah ada pada diri setiap anak. Yang menjadi penting untuk diperhatikan adalah bagaimana agar hasrat-hasrat itu tidak mengalahkan semangat, rasa cinta untuk belajar sementara hasrat-hasrat lainnya tetap berfungsi secara alamiah di dalam diri anak. Namun yang sering kita temui adalah bagaimana lembaga-lembaga sekolah formal "mempermainkan" hasrat alamiah secara berlebihan. Kemudian yang terjadi adalah kita mendapati anak ingin belajar, mengerjakan tugas, dsb hanya untuk mendapat pengakuan atau persetujuan dari teman atau gurunya. Bukan semata karena anak memang cinta belajar, bukan semata karena rasa ingin tahu anak terhadap sesuatu. Mungkin itulah yang menyebabkan, seiring bertambah dewasanya anak, bertambah banyaknya beban pekerjaan dan tanggung jawab yang dipikul, sehingga membuat kebosanan atau keengganan untuk mempelajari sesuatu yang baru. Akhirnya pekerjaan dan tugas yang dikerjakan hanya sekedar rutinitas belaka.<br><br>Miss CM menyoroti hal ini. Bahwa efek jangka panjang seperti inilah yang kemudian ditimbulkan ketika "semangat cinta belajar, menjaga rasa ingin tahu anak" tidak menjadi concern kita. Karena itu Miss CM menekankan agar kita menyajikan pengetahuan yang kaya pada anak. Pengetahuan yang orisinil, bukan hasil ceramah, dikte, dsb. Pengetahuan yang merupakan buah dari pikiran sang pemikir-pemikir besar. Kita mesti menyuplai mereka dengan banyak-banyak puisi, sejarah, sastra, geografi, kisah perjalanan, biografi, sains, dan matematika. Dan membiarkan mereka mencernanya sendiri, mengimani proses belajar mandiri dimana mereka menjadi pemimpinnya dan kita hanya berperan sedikit saja. Karena kita tidak tau ide mana yang memantik benak anak.&nbsp;<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-06 00:37:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2639089706</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2639976313</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 32]<br>Vol 6, Hal 56 - 57<br>Kamis, 15 Juni 2023<br><br>Pada halaman ini dituliskan ibu CM soal hasrat. Hasrat ingin diakui, hasrat ingin dapat duluan, hasrat untuk makan enak, dan mungkin ada banyak hasrat² lain yang bila kita merenung dan merefleksikan itu timbul karena memang alamiah manusia seperti itu. Tapi diamarkan dalam tulisan ibu CM, hasrat yang sudah ada ini, bila diikuti secara sembrono maka dampaknya tak sehat untuk kesehatan jiwa dan raga. Hasrat tak boleh dimanjakan, tapi perlu dididik. Pendidikan harusnya holistik, mendidik tak hanya yang kelihatan dengan menjejalkan anak² belajar ini dan itu, untuk mendapat ranking, beasiswa, insentif, dan iming² lainnya yang memang menggiurkan. Hasrat ingin tahu akan pengetahuan yang alami pada manusia, hendaknya dipikirkan secara bijak agar rasa ingin tau akan pengetahuan dan semangat belajar pada anak tetap menyala nyala selama hidupnya. Inilah salah satu tugas pendidikan yang seharusnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-07 00:12:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2639976313</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2640002904</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 33]<br>Vol 6 hal 57-59<br>Kamis, 22 Juni 2023<br><br>Kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang hasrat. Lalu bagaimana dengan caranya melatih hasrat alamiah anak² ?<br><br>Sebagai guru/pendidik/orangtua,perlu memahami, mempelajari, dulu bahwa setiap anak memang punya hasrat. Salah satunya hasrat pengetahuan. Agar kita eling, ibu CM menulis 2 kata, adanya Cinta dan Keadilan. Ibu CM dan tim sudah membuktikan selama mereka membimbing selama 12 tahun anak² pada masanya, bahwa iming² hadiah, bahkan tekanan atau hukuman tak diperlukan untuk menjaga antusias mereka belajar. Kita diminta untuk berhati² berhadapan dengan anak manusia, karena mereka tak hanya terdiri dari seonggok daging tapi kita bermain dengan ciptaan Tuhan yang memiliki akal budi dan perasaan.<br><br>Tidak perlu dimanipulasi emosinya agar tak kebablasan misalnya pada pertandingan olahraga, hasrat alamiah pasti akan muncul misal ingin menang pasti ada, tapi pendidik/guru/orangtua agar selalu ingat akan 2 kata Cinta dan Keadilan.&nbsp;<br><br>Pendidik tak perlu berceramah moral bertele², sampai anak bosan dan cuek, atau makin ambisius, andalkan sumber² lain yang berkualitas dari mempelajari biografi, banyak puisi, sastra sastra, kisah perjalanan, matematika, sains. Sajikan beragam, karena kita tak tau mana yang akan memantik anak.<br><br>Hasilnya sudah dilihat ibu CM dan tim pada masanya bahwa pendidikan yang menyentuh banyak ranah dengan memikirkan kedalaman siapa manusia itu, maka menghasilkan anak² yang mampu menyebarkan : kebaikan, kemurahan hati, keriangan, kebahagiaan, kesetiaan, rasa iba, rasa terima kasih, perhatian. Karena sebenarnya mereka sudah dibekali itu dari yang Maha Pencipta. Tugas pendidik yang menjaga agar terus berkembang menjadi pribadi yang otentik sepanjang hidup mereka bukan memanipulasi sehingga berkembang jadi pribadi yang tak sehat, semua diseragamkan, didoktrinasi, dibuat jadi pribadi yang pasaran.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-07 00:39:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2640002904</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2640020252</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 34]<br>Vol 6, hal 59-62<br>Kamis, 6 Juli 2023<br><br>Sungguh bacaan demi bacaan yang dituliskan ibu CM, mampu membuat aku jadi "on fire", tulisannya mampu membuatku berkata : "ini dia pendidikan holistik yang ingin kubimbing anakku agar bisa menjadi pribadi yang kuat, tak hanya akademis semata".<br><br>Tulisannya seperti setinggi langit, tapi ternyata ibu CM dan tim sudah melakukannya dan bisa dan menunjukkan hasil luar biasa. Jadi tidak ada yang tak mungkin kita bersama² dalam komunitas ini untuk mewujudkan bersama.<br><br>Pada halaman ini, aku mendapati beberapa kata kunci : Cinta, Keadilan, Hak dan Kewajiban, Komunikasi, Daya refleksi, Integritas, Prinsip.<br><br>Sebagai pendidik perlu ada cinta dan keadilan, agar dapat mengarahkan hasrat alami anak². Cinta dan keadilan itu dipakai berdasarkan hak dan kewajiban sesuai porsinya lalu agar tidak terjadi komunikasi yang ngawur, anak² diajarkan untuk berefleksi, dan dibimbing untuk memahami prinsip, menyusup prinsip hidupnya. Prinsip ini penting dalam menjalani kehidupan, karena prinsil adalah "keyakinan-keyakinan yang dijunjung sebagai pedoman tindakan dan pikiran seseorang". Sehingga pada akhirnya bisa menghasilkan sosok yang mempunyai integritas terhadap dirinya juga skitarnya, seperti "aku mempunyai integritas untuk tangan tetap bersih ketika memangku jabatan yang tinggi sekalipun".<br><br>Olehkarena itu caranya mengajari ini semua adalah dengan anak perlu mendapat bahan bacaan yang luas, terencana dan sistematis.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-07 01:00:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2640020252</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisana Sidqi Aliya</title>
         <author>lisanaaliya</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2643555205</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 30]</div><div>Paraphrase hal 51 - 54</div><div>Kamis, 25 Mei 2023</div><div><br></div><div>Matematika adalah subjek yang diibaratkan oleh Ms. Mason sebagai proses pendakian. Sulit, namun rasa kepuasan akan muncul jika berhasil menaklukkannya. Anak-anak juga berhak untuk mendapatkan sumber ide terbaik yang bisa para orangtua berikan kepada mereka. Dan sumber mana lagi yang lebih baik daripada sumber-sumber primer, a first-hand source. Sayangnya, sumber-sumber terbaik ini kerap kali hanya dapat dijangkau oleh kalangan terbatas. Anak-anak dari kalangan terpelajar yang sudah terbiasa dengan buku mungkin saja dapat memahami isi bacaan dengan baik. Namun bagaimana anak-anak yang kesulitan mengakses buku-buku terbaik? Apakah mereka juga memiliki kemampuan yang setara.</div><div><br></div><div>Ternyata, setiap anak memiliki potensi yang luar biasa dalam memahami pengetahuan. Namun, perkembangan kemampuan mereka justru kerap menjadi terhambat manakala guru sibuk menjelaskan arti atau kosakata yang dianggap sulit. Anak-anak menjadi terdistraksi dan kurang menikmati alur bacaan. Kenyataannya seringkali anak-anak dapat memahami garis besar isi bacaan meskipun ada kata atau kalimat yang belum dipahaminya. Benak mereka akan bekerja, menerka dan mencocokkan dengan konteks. Jika diberi kesempatan, niscaya kita akan tercengang dengan kemampuan anak-anak, yang secara umum akan bisa menarasikan isinya dengan baik.&nbsp;</div><div><br></div><div>Ada sebuah penyakit intelektual yang harus diwaspadai, yakni akal budi yang tertidur yang dapat diakibatkan karena dua hal. Yang pertama adalah karena para guru sibuk berceramah, mengunyah dan mencernakan ide-ide yang seharusnya dikerjakan oleh pelajar sehingga mereka hanya mendapatkan segelintir pembelajaran. Akibatnya, para murid tidak menyukai belajar meskipun mereka senang bersekolah serta bertemu teman-teman dan guru-guru mereka. Yang kedua adalah karena anak-anak hanya mendapatkan buku-buku pelajaran yang sama membosankannya, mengulang-ulang buku yang itu-itu saja sementara benak mereka sesungguhnya lapar akan asupan ide bernutrisi.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-12 12:28:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2643555205</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tina</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2644862139</link>
         <description><![CDATA[<div>Pertemuan 35<br>Hal. 62-65<br>Kamis, 13 Juli 2023<br><br>Aku jadi terpantik untuk bertanya, mengapa seorang yang penuh gairah, semangat, passion akan satu hal, bahkan mampu menghasilkan karya yang besar bahkan mendunia. Namun tidak jarang hidup seorang yang "besar" tersebut berakhir tragis. Ada yang menjadi "gila" atau sakit mental bahkan mengakhiri hidupnya sendiri. Salah satu contoh, seniman yang karyanya sedang ramai diperbincangkan/ dipamerkan saat ini yaitu Vincent "Van Gogh".<br><br>Ibu Mason mengatakan, "Hal-hal di sekitarnya tak bisa memuaskan jiwa manusia, karena semuanya terbatas, terukur, tak sempurna, sementara daya jangkau jiwanya lebih daripada itu. Hanya satu yang bisa memuaskan jiwa. Kebutuhan yang mendesak, menghantui, tak tertahankan, adalah Sang Tak Terbatas." Bahkan Ibu Mason dengan lantang mengatakan, "Aku menginginkan Tuhan, aku diciptakan untuk Tuhan, dan aku harus mendapatkan Tuhan”. Benar bahwa Sang Pencipta, menciptakan manusia - satu-satunya mahluk ciptaanNya yang mulia, yang serupa dengan gambarNya - dengan begitu magis. Bahwa insan manusia tidak bisa "hidup" tanpa mengisi jiwanya dengan kehadiran penciptaNya, cintaNya, firmanNya. Dengan kedaulatanNya menciptakan manusia dengan satu ruang yang hanya bisa diisi olehNya sendiri. Apapun yang ada di dunia ini, bahkan hal yang luar biasa megah, mewah, indah, dahsyat, ajaib, dlsb. Tidak akan mampu mengisi ruang kosong dalam jiwa insan manusia. Kesadaran dan pengetahuan akan kebenaran ini penting untuk dimiliki dan diyakini oleh setiap anak. "Karuniailah kami di dunia ini dengan pengetahuan akan kebenaran-Mu". Kiranya menjadi doa yang mendasari setiap hal atau apapun yang kita [anak] pelajari. Pengetahuan apapun yang diperoleh berpusat pada kebenaranNya. Sehingga tidak ada lagi insan manusia yang tampak besar, penuh dengan karya luar biasa, dahsyat, mendunia namun sesungguhnya jiwanya rapuh tanpa arah dan tujuan.<br><br><br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-14 02:49:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2644862139</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Reviyani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2645386475</link>
         <description><![CDATA[<div>Kamis 13 Juli 2023. Hal 62-65<br><br>Diakui atau tidak, disadari atau tidak setiap anak bahkan manusia dewasa mempunyai kebutuhan intelektual yang harus dipenuhi, imajinasi yang harus terfasilitasi.<br>Jika tidak, maka jiwa manusia akan tetap mencari dan berusaha memenuhinya dengan cara yang belum tentu baik di kemudian hari dalam bentuk yang bisa jadi membuat kita mungkin terkejut-kejut karena tindakannya tidak masuk akal, tega, keji dsb. Imajinasi dan kapasitas intelektualitas manusia yg sedemikian besar akan sangat mungkin untuk tidak terbendung dalam batas-batas tertentu dan membuatnya tergelincir dalam tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.<br>Sebagai pendidik, kita mestilah menyadari hal itu, anak-anak tidak hanya butuh kemampuan akademis seperti membaca, menulis dan berhitung, namun kita juga perlu memenuhi kebutuhan intelektualnya yang perlu ditantang dan daya imajinasinya yang perlu dipantik.<br>Memenuhi kebutuhan mereka akan hal itu bisa didapatkan dengan cara sesederhana mengijinkan mereka menikmati karya-karya buah pemikiran sastrawan dan seniman yang berdedikasi dan memikirkan dengan sepenuh hati persembahan mereka bagi peradaban. Karya-karya yang tidak asal jadi, namun ada idealisme yang luhur di dalamnya. Ketika anak dipaparkan dengan karya-karya tersebut, mereka akan bergairah karena mereka terpantik untuk mengeksplor sisi-sisi dalam diri mereka untuk berfungsi saat mereka berusaha menikmati apa yang tersaji dihadapannya.&nbsp;<br><br>Mensejahterakan jiwa manusia tidak cukup hanya dengan hal-hal kasat mata, terukur dan yang kita pahami. Karena jiwa manusia meminta lebih dari itu. Kecenderungan manusia untuk terpenuhi kebutuhannya, kepuasannya, ekpektasinya akan selalu meningkat di manapun tahapannya berada. Satu hal yang bisa kita jadikan sandaran adalah hal yang melebihi itu semua : hal yang tak terukur, tak terbatas yang lebih besar dari pemikiran dan pemahaman kita. Hanya dengan itu manusia bisa melengkapi kebutuhan jiwanya.&nbsp;<br>Menyadari hal itu, sebagai pendidik, memperkenalkan anak-anak pada pengetahuan akan Dzat tak terbatas itu haruslah juga menjadi hal yang wajib ada dalam rancangan pendidikan kita. Dan seperti halnya memenuhi tantangan intelektulitas dan kebutuhan berimajinasi, pengetahuan akan Tuhan inipun kita perkenalkan dari sumber tertulis yang memantik yaitu Kitab Suci. Mempelajari kita suci bukanlah agenda sempilan sambil-sambil dalam pendidikan, tapi merupakan topik utama yang porsinya tidak lebih kecil dari pengetahuan tentang manusia dan alam raya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-15 00:42:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2645386475</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hasrat Jadi Juara (Lina)</title>
         <author>linawahyuni129</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2646402175</link>
         <description><![CDATA[<div>CM menceritakan bahwa pada zaman itu sudah diterapkan hadiah, peringkat, pujian, tekanan dan hukuman di sekolah.<br><br>Miss Mason juga bilang bahwa sebetulnya itu tidak perlu, karena seorang anak sudah dibekali oleh rasa cinta akan ilmu pengetahuan.<br><br>Miss Mason mengingatkan bahwa kita harus waspada terhadap hasrat alamiah yang akan muncul otomatis bahkan saat dalam kegiatan olahraga. Jangan sampai hasrat ingin menang mengalahkan rasa cinta dan keadilan, di ruang kelas sendiri kita juga perlu berhati-hati kalau anak bekerja makin lama makin keras untuk urusan sekolah karena terobsesi menjadi juara, maksudnya hati-hati kalau hasrat ini mengalahkan&nbsp; rasa cinta&nbsp; akan pengetahuan itu sendiri.<br><br>Kalau dipikir-pikir, banak juga sih kasus semacam itu, seperti keponakan yang mudah sekali termotivasi oleh faktor eksternal, enggak mau dikalahkan orang lain dsb. Di satu sisi si anak ini selalu jadi juara, kemampuan akademisnya selalu no 1 disekolahnya. Tapi ada yang salah di hal lain, seperti bagaimana dia bersikap kepada orang lain, kepada orangtua, kepada saudara dll.<br><br>Terus temanku yang selalu rangking 1 dari SD juga bercerita kalau kutukan dari rangking 1 ini membuat dia capek sebetulnya karena egois dan selalu waspada (takut dikalahkan orang).<br><br>Buat aku hidup itu memang perlombaan, tapi bukan mengalahkan orang lain. Justru diri sendiri lah yang harus dikalahkan, nafsu ke arah keburukan maksudku.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-07-17 12:58:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2646402175</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alif Uzayani</title>
         <author>alifuzayani</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2655156349</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 27]<br>Kamis 30 Maret 2023<br><br>KODRAT BAIK DAN JAHAT ANAK<br>Kesehat-sejahteraan Tubuh<br><br>Pemikiran CM bahwa anak punya peluang yang sama untuk menjadi baik atau jahat, sempat mendapat kecaman dari pakar pendidikan lain di masa itu. Menurut mereka, hal itu terlalu kejam untuk memberikan penilaian bahwa seorang anak bisa berpotensi menjadi jahat sama dengan orang dewasa. Mereka tidak membayangkan seorang anak bisa masuk neraka karena kejahatan yang dibuatnya.<br><br>CM memberi sanggahan, jika pikiran kita pada anak-anak adalah sebaliknya, bahwa anak-anak pasti baik, sebaik malaikat, justru malah akan membuai dan berbahaya. CM menegaskan bahwa anak-anak sama seperti halnya orang dewasa yang sudah mempunyai kecenderungan baik atau jahat. Maka, tugas orangtuanyalah untuk membantu merawat kecenderungan yang baik dan melemahkan yang jahat.<br><br>Dan ketika disadari bahwa pengetahuan sejatinya harus dimiliki oleh setiap anak dengan tidak memandang agama ataupuan kasta sosialnya, maka seharusnya tidak sepantasnya jika kita hanya memikirkan tentang pendidikan anak sendiri saja. Pengetahuan itu terbuka untuk semua anak, maka semestinya kita juga memikirkan pendidikan untuk semua anak, bahkan dari kalangan bawah sekalipun, itu menjadi tanggung jawab bersama.<br><br>Yang melegakan dari hasil pemikiran CM ini adalah, seandainya saja, jika ditemukan realitas seorang anak berperilaku tidak baik atau jahat maka kita masih punya keyakinan bahwa pasti masih ada potensi baik yang bisa kita gali dalam diri anak itu. Yang diperlukan hanyalah keyakinan dan terus mencari cara untuk mengaktualisasi jiwa malaikatnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-03 02:33:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2655156349</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alif Uzayani</title>
         <author>alifuzayani</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2655156979</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 28]<br>Kamis 6 April 2023<br><br>Semestinya orang tua paham bahwa anak selalu punya potensi baik dan jahat, yang harus dibantu untuk dikelola. Biasanya pemahaman tentang ini tumbuh secara alamiah. Keimanan bertumbuh seiring dengan semakin dekat dan mengenalnya kita akan sebuah hal. Karena orang tualah yang punya ikatan (bonding) dengan anak dan membersamainya sepanjang waktu. Bukan guru atau orang lain.<br>Namun, masih banyak orang tua yang menyerahkan pendidikan karakternya pada pihak luar, seperti sekolah atau lembaga lainnya.<br><br>Tubuh dan semua indra anak perlu dilatih. Meski, kajian tentang tubuh manusia terus berkembang, apalagi pengetahuan tentang otak yang sebagian besar masih menjadi misteri. Namun, bukan berarti, sebagai pendidik kita diam dan hanya menunggu semua ditemukan dan jadi gamblang. Dengan pengetahuan yang telah teruji dan terverifikasi, kita perlu yakin untuk mengikuti prinsip-prinsip&nbsp; pengetahuan tumbuh kembang anak yang sudah ada.<br>Dan bukan hanya otak, otot atau indra yang perlu dilatih secara fisik. Asupan organ-organ itu juga harus diperhatikan. Makanan bergizi, udara segar dan pengelolaan emosi itu juga inputan penting untuk syaraf otak.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-03 02:34:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2655156979</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alif Uzayani</title>
         <author>alifuzayani</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2655157358</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 32]<br>Kamis 15 Juni 2023<br><br>Hasrat intelektual<br><br>Seperti halnya tubuh yang memiliki banyak hasrat, begitupun jiwa. Jiwa-jiwa manusia penuh dengan hasrat yang setiap saat siap melesat.<br>Jika hasrat tubuh adalah lapar, ingin makan, ingin bergerak, mengindrawi keindahan, dan seterusnya. Maka hasrat jiwa adalah keinginan spiritual dan intelektual, ingin dipuji, ingin jadi yang terbaik, ingin disukai, ingin mengatur, dan sejenisnya. Dan anak-anak sudah memiliki itu semua dalam jiwanya.<br><br>Tugas orang tua adalah mendidik anak unuk mengelola hasrat spiritual-intelektual dengan tepat dan bijaksana. Perlu evaluasi diri dan refleksi jika kita selama ini masih sering memanfaatkan hasrat anak untuk memanipulasinya. Mengiming-imingi hadiah kalau anak mau belajar yang mungkin akan menjadikannya malah serakah, atau memberi predikat juara yang mungkin akan memupuk ambisiusitas anak berlebihan, atau jika kita selalu memberikan pujian meskipun anak sedang berada di posisi salah, ini akan membuat anak selalu haus akan penghargaan.<br><br>Bukan hal yang salah kalau kita merawat hasrat-hasrat itu. Hasrat yang dimiliki anak adalah potensi baik jika disalurkan dengan tepat dan seimbang. Anak mempunyai hasrat akan pengetahuan sejak mereka lahir, sebaiknya kita mencari cara agar hasrat itu terjaga sampai dewasa bahkan tua nanti, dengan alamiah, bukan dengan iming-iming materi, pujian atau apapun yang memacu hasratnya berlebihan.<br><br>Keingintahuan anak akan pengetahuan yang telah dianugrahkan oleh Tuhan, mestinya sudah cukup menjadi bahan bakar sampai kelak mereka menjadi tua. Semangat alamiahnya akan utuh jika terjaga.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-03 02:34:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2655157358</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alif Uzayani</title>
         <author>alifuzayani</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2655157632</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 33]<br>Kamis, 22 Juni 2023<br><br>Afeksi Salah Arah.<br><br>Setelah tubuh dan akalbudi dalam pribadi seorang anak, ada sebuah hal lagi yang juga harus diperhitungkan, yaitu perasaan atau emosi. Perasaan anak layaknya perasaan orang dewasa, mereka bisa sedih, senang, gembira, takut, dsb.&nbsp;<br>Terkadang, kita bermaksud mengarahkan anak agar menjadi manusia bermoral dan beradab tapi kadang cara kita keliru. Kita berceramah yang akan membuat anak pasti merasa bosan, kita obral pujian atau malah menyalahkan yang membuat anak nantinya akan berperilaku hanya atas dasar persetujuan, bukan karena kebenaran.<br><br>Emosi yang dianugrahkan oleh sang Pencipta pun sebenarnya sungguh sangat memadai untuk anak-anak bertumbuh menjadi sosok yang baik dan bijaksana. Tapi dalam perjalanannya banyak ditemui indoktrinasi, penyeragaman dan bahkan mungkin diciderai. Ini mungkin disebabkan karena tidak adanya penerimaan dan&nbsp; penyangkalan atas emosi-emosi anak yang muncul.<br><br>Lalu seharusnya bagaimana kita sebagai orang tua dan pendidik?<br>CM menyarankan agar kita semestinya meng-asup anak dengan sumber terbaik untuk belajar moral. Apa saja itu? Bisa belajar dari biografi, sejarah, sastra atau puisi dari para pemikir, filsuf, pahlawan ataupun tokoh- tokoh besar. Paparan atas kehidupan para tokoh itu akan menjadi makanan, terserap dan menginspirasi mereka dalam bermoral, menjadi manusia yang bijak dan mulia. Biarkan emosi anak terseret, terbawa arus dan hanyut dalam kehidupan para filsuf dan biarkan mereka mengambil hikmah sendiri tanpa campur tangan, termasuk dari kita sebagai orang tuanya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-03 02:35:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2655157632</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2659256288</link>
         <description><![CDATA[<div><br>[Pertemuan 35]<br>Kamis, 13 Juli 2023<br><br>Vol 6 Hal 62-65<br><br>Pada halaman ini ibu CM menulis tentang pendidikan harus mampu meraih sampai relung lubuk hati anak, karena daya imajinasi anak itu tak terbatas. Banyak kenakalan pada remaja, karena akalbudi, imajinasinya tidak terasupi dengan baik. Pendidikan berfokus hanya baca, tulis, hitung.&nbsp;<br><br>Anak² perlu diberi bacaan dari pemikir utama para filsuf, dan dibuktikan pada jaman ibu CM, anak² mampu menarasikan bacaan puisi sulit yang orang dewasa nampaknya kesulitan. Percayalah anak mampu mencerna yang sulit, bila isi bacaannya pun tepat sesuai akalbudi anak. Bacaan yang tak garing, tapi penuh daya imajinasi. Ibu CM melihat anak² mampu menarasikan ulang puisi dari George Herbert kala itu.<br><br>Dicoba pada anak² dari berbagai latar belakang, anak yang dari keluarga kumuh sekalipun ternyata hasilnya mencengangkan, mereka mampu. Akalbudi mereka haus akan asupan yang mewah.<br><br>Pendidikan macam apa yang layak untuk anak² yang memang diberi karunia akalbudi dan imajinasi yang tak terbatas ini? tentunya pengetahuan akan Tuhan perlu juga untuk memuaskan para anak. Anak² perlu mendapat sajian spiritual yaitu kebenaran akan Tuhan yang menciptakan dunia ini. Yang tak dapat kita lihat secara kasat mata, tapi kita bisa merasakan bahwa Tuhan hadir. Kitab suci adalah buku yang tepat untuk mendampingi sajian rohani bagi anak.<br><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-10 06:52:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2659256288</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2660565508</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 36]<br><br>Kamis, 3 Agustus 2023<br><br>Vol 6 Hal 65-67<br><br>Tulisan ibu CM disini sungguh rumit menurutku untuk dinarasikan ulang, karena menuntutku untuk membayangkan apa maksud sebenarnya dari ibu CM ini dan aku berusaha untuk memperhatikan pendidikan sekarang, juga kodrati anak² terutama anak²ku.<br><br>Pada halaman ini yang aku terpantik dari tulisan ibu CM adalah :<br>1. Akalbudi yang tak terbatas ini bisa menjadi layu, pun hati nya menjadi layu karena pendidikan yang sekarang berjalan banyak ceramah, dijejalkan dengan pelajaran² teknis lalu di evaluasi dengan ulangan² yang sungguh melelahkan. Dari tuliasan ibu CM sebelumnya, menuliskan kodrati anak itu hakikatnya lapar mencari² jika memang asupan nya benar. Asupan yang beride. Salah satunya dari asupan bacaan, puisi, yang hidup.<br>2. Ibu CM tidak setuju dengan psikologi yang populer bahwa "ekspresikan dirimu". Anak² belum banyak mampu mengekspresikan dirinya (Anak² bisa berekspresi baru sebatas dari ajaran dan pengaruh lingkungannya). Disini aku berpikir pada instrument pendidikannya ibu CM : Atmosfer, melatihkan kebiasaan baik, dan dapat sajian ide hidup (dari pustaka hidup). Jadi ketiga instrument ini tentunya penting dan saling berelasi sehingga bisa membantu anak berjalan menuju kodrat sesungguhnya, salah satunya memiliki karakter baik dan berbudi luhur.<br>Dari asupan yang didapat, sesuai akalbudi anak² mampu mencerna sendiri² maksudnya. Bisa jadi asupannya sama, tapi yang dikeluarkan si anak berbeda². Born Person.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-12 06:53:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2660565508</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2671268073</link>
         <description><![CDATA[<div><br>[Pertemuan 37]<br><br>Vol 6 Hal 68-71 (Bab 4 Otoritas dan Penurutan)<br><br>Kamis, 10 Agustus 2023<br><br>Menarik sekali menurutku pada halaman ini tulisan ibu CM. Dibahas tentang otoritas, prinsip universal, penurutan, kebebasan. Ternyata hakikat manusia, sebenarnya suka akan ketaatan, penurut, tapi menyukai juga kebebasan.&nbsp;<br><br>Otoritas diperlukan untuk mewujudkan suatu ketaatan. Tetapi jangan sampai karena punya otoritas jadi bersikap sewenang², malah akan menimbulkan bencana dan kacau balau.&nbsp;<br><br>Menegakkan otoritas sesuai dengan prinsip kebenaran yang universal bukan asal asalan.&nbsp;<br>(Hidup yang tidak mengikuti aturan-aturan seperti itu ibarat planet yang keluar dair orbitnya, tak berguna bagi masyarakat. Penting sekali kita semua mengikuti aturan secara tertib. Anak-anak, bahkan bayi-bayi, harus mulai dipersiapkan untuk terbiasa hidup sesuai norma-norma yang akan mereka terus ikuti seumur hidup, Vol 6 hal 70).<br><br>Tugas rawan seorang pendidik bagaimana kita bisa berada di tengah, bersikap tegas memiliki otoritas tetapi bisa menghasilkan ketaatan yang sukarela untuk anak² kita.<br><br>Menjadi wakil Tuhan tetapi juga menjadi kawan seperjalanan untuk anak², hmm... ideal sekali tulisan ini, tapi karena aku memiliki iman, aku yakin bisa mencapai tujuan itu walau praktiknya sungguh tak mudah. Perjalanan masih sangat panjang, perlu dinikmati prosesnya.. 😊<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-24 10:46:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2671268073</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2671282168</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 38]<br><br>Vol 6 hal 71-74<br><br>Kamis, 24 Agustus 2023<br><br>Pada halaman ini aku diajak untuk merenungkan tulisan ibu CM. Ada beberapa kata kunci yang disebut ibu CM yaitu sajikan kurikulum kaya yang memantik akal budi, karena sajian idenya memantik akal budi maka tak perlu ceramah panjang, biasanya anak² akan sukarela berceloteh tentang ide yang disajikan karena sajian nya hidup memantik akal budi mereka, pendidik (guru dan orangtua) konsisten menjalankan aturan yang telah dibuat, olah fisik dan pelatihan pelatihan dibuat seimbang, jangan terlalu banyak. Sajian ide untuk akalbudi butuh banyak karena manusia bukan makhluk material saja, tapi imaterial, akalbudinya tak habis² untuk mencerna. Ajak anak anak untuk berdiskusi dari sajian hidup tersebut sehingga anak² bebas untuk berpikir merelasikan sajian hidup apa yang didapat.<br><br>Contoh pada seorang bernama Stephen Hawking, seorang scientist ahli fisika, memiliki jasmani yang tak sempurna, tapi akalbudinya sungguh hampir sempurna. Ini bukti bahwa otak manusia ini melampaui jasmani.&nbsp;<br><br>(Ada dua syarat mutlak untuk memastikan adanya penurutan dan ketaatan, yang kalau dipenuhi akan meminimalisir konflik kehendak antara guru dan siswa. Syarat pertama adalah: guru atau orangtua harus selalu bertindak sesuai aturan yang tidak berubah-ubah. Anak-anak harus melihat dengan sangat jelas bahwa pembimbingnya itu juga terikat pada otoritas. Anak-anak dengan lekas mengenali bahwa orang dewasa ternyata sama taatnya pada aturan yang ditetapkan; bahwa aturan-aturan tidak dibuat semata agar hidup orangtua jadi mudah dan senang. (Aku berasumsi bahwa setiap orang dewasa yang memperoleh amanah untuk membesarkan anak-anak telah mengakui adanya Otoritas Tertinggi yang kepada-Nya kita berbakti;) tanpa pengakuan ini, aku pikir mustahil membangun relasi yang mulus antara guru dan siswa. Syarat kedua adalah anak-anak harus merasa punya kemerdekaan untuk memilih dan berpikir sesuai pengetahuan mereka dengan sesedikit mungkin campur tangan dari guru. Mereka membuat pilihan dan mereka bahagia menjalankan pekerjaannya, sehingga tidak diperlukan paksaan atau ceramah panjang lebar yang membuat anak menulikan telinga, Vol 6 hal 73-74).<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-24 11:10:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2671282168</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Prinsip dan Penurutan</title>
         <author>linawahyuni129</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2674907344</link>
         <description><![CDATA[<div>"Setiap orang membawa serta dalam dirinya otoritas titipan"<br><br>Vol 6, hal 68<br><br>Pada jabatan melekat otoritas, tanpa prinsip ini masyarakat akan kacau balau.<br><br>Dalam Islam sendiri ada ayat yang berbunyi "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri (pemegang kekuasaan di antara kamu.<br><br>Jadi intinya, kita semua punya otoritas dan penurutan atau kalau pakai bahasa sekarang lebih familiar disebut ketundukkan/atau ketaatan.&nbsp;<br><br>Otoritas kita bergantung pada peran-peran yang kita miliki, kaitannya dalam pendidikan, berarti otoritas kita disini sebagai orang tua. Kita memiliki kewajiban untuk membantu anak-anak mentaati kita sebagai orang tua. Miss Mason menjelaskan, kalau kita tidak memakai otoritas ini, maka anak-anak akan tunduk atau taat kepada otoritas yang lain yang tersedia diluaran sana.<br><br>Kita sebagai orang tua juga punya tugas untuk membimbing mereka kepada otoritas yang lebih tinggi lagi yaitu, Tuhan YME.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-28 08:41:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2674907344</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aturan-aturan Teknis</title>
         <author>linawahyuni129</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2674930823</link>
         <description><![CDATA[<div>Vol 6, hal 73<br><br>Kebayang gak sih, bentar-bentar kita ngasih tahu anak "tidak boleh begini," "tidak boleh begitu" atau kapan waktu menceramahi anak perihal ini, kapan lagi perihal itu, dan kapan-kapan mulut kita berbusa-busa berbicara tentang seharusnya begini dan seharusnya begitu.<br><br>Pekerjaan sebagai orang tua kok rasanya berat sekali dan susah dinikmati kalau begitu ya... mungkin kita juga tidak ubahnya seperti kaset ceramah yang isinya memang melulu ceramah.<br><br>Intinya, anak-anak perlu tahu tentang aturan, anak-anak juga perlu dibiasakan mengikuti aturan agar mereka tidak bingung&nbsp; dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Tetapi mereka juga layak mendapatkan pendidikan yang memberikan ruang untuk berpartisipasi.<br><br>Kata Ibu CM, pendidikan semacam ini membuat kita tidak perlu direpotkan dengan aturan-aturan seperti kapan harus duduk, berdiri, datang dan pergi. Dan pendidikan yang parsitipatoris ini bisa didapatkan dari membacakan buku-buku LV dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bernarasi. Mereka dengan bebas bisa memilih hal-hal yang mereka suka atau tidak suka dari cerita tersebut, memilih hal-hal menarik yang menjadi insight mereka. Mungkin itu yang disebut Ibu CM dengan "mencernanya dengan cara mereka sendiri."<br><br>Ibu CM juga membandingkan antara aktivitas mental dan ativitas fisik. Mba Damba mengibaratkan ini seperti Stehpen Hawking yang menderita cacat fisik parah tapi masih memiliki daya penggerak yang kuat, begitulah kekuatan mental yang bersumber dari akal budi yang kaya,<br><br>Tapi kita juga punya PR agar aktivitas fisik dan mental ini seimbang, karena fisik yang sehat tentu saja menunjang kehidupan yang baik.<br><br>Wallahu'alam</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-28 09:08:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2674930823</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Anisa</title>
         <author>nisanis2411</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2678949594</link>
         <description><![CDATA[<div>(PERTEMUAN 27)</div><div>HAL 46 - 47<br>Kamis, 30 Maret 2023</div><div><br></div><div>Tidak ada Anak yang terlahir Jahat, Anak terlahir dengan berbagai peluang menjadi baik atau jahat, di bagian ini Mis Mason memberikan padangannya&nbsp; jika anak di sesempurna malaikat sama berbahayanya dengan meggapnya pendosa. menurut Mis Mason yang benar adalah anak-anak sama seperti manusi dewasa. merekamempunyai intuisi yang mana yang baik dan yang mana yang buruk.</div><div><br></div><div>Dan pada sesi ini, Mis Masson juga menyatakan bahwa, Pendidikan adalah hak asasi semua anak, sebaiknya kita tidak hanya memikirkan pendidikan anak kita sendiri tetapi juga anak-anak dilingkungan. dan prospeknya menggairahkan. selayaknya mengubah penderitaan menjadi Sukacita.&nbsp;<br><br>Terimakasih</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-08-31 00:17:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2678949594</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertemuan 33</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2687066778</link>
         <description><![CDATA[<div>Kamis, 22 Juni 2023<br><br>Afeksi Salah Arah<br><br>Anak-anak mampu menyelesaikan 12 tahun disekolah dengan modal sukacita belajar. Hasrat akan pengetahuan ini yang perlu mereka miliki dan pelihara terus-menerus. Cukup ini saja, jangan memanfaatkan hasrat lain untuk membuat anak melakukan. sesuatu untuk belajar. Pengetahuan yang murni cukuplah sebagai motivasi mereka menyelesaikan proses belajar. &nbsp;<br><br>Dalam berinteraksi dengan anak-anak pastinya kita juga tak hanya berinteraksi dengan tubuh dan akal budinya saja. Tetapi juga dengan perasaannya atau emosinya. Atau hal non material dalam dirinya yang menjadi bagian identitas anak. Kita sudah di bekali dengan cinta dan keadilan. Kapanpun kita membutuhkan, cinta dan keadilan dalam diri kita tak pernah habis. Hal penting yang harus anak-anak miliki adalah melakukan sesuatu 'karena itu benar' bukan karena membutuhkan persetujuan orang lain.&nbsp;<br><br>Pendidikan moral adalah mendidik kepekaan perasaan. Tugas kita menyajikan bagi mereka pengetahuan langsung dari sumbernya dengan berbagai macam mata pelajaran. Bukan dengan ceramah, contoh ini itu. Biarkan mereka mengunyah dan mencerna sendiri tentang nilai-nilai moral melalui mengamati atau mendengar kisah perjalanan hidup beragam orang. Yang mereka butuhkan yaitu makanan mental yang beragam. Berikan suplai dari berbagai puisi, sejarah, geografi, matematika,&nbsp; biografi, dan sains. Kita tak tahu dari ide yang mana dirinya akan terpantik. Anak memerlukan bacaan beragam sehingga ia bisa mencerna sendiri bacaan itu sehingga sisi moral dirinya akan terpupuk.&nbsp;<br><br>Anak sudah diberkati Tuhan dengan kemampuan merumuskan hikmat moral sendiri yang mereka butuhkan. Sungguh Tuhan luar biasa memperlengkapi manusia. Sayangnya ketika dewasa pikiran kita sudah di indoktrinasi, dicemari bahkan diseragamkan. Dalam mengajarkan anak tentang moral jangan mengandalkan diri sendiri tetapi andalkan sumber terbaik yang kaya ragam. Sajikan seni dan sastra terutama kitab suci.<br><br>Mengandalkan diri sendiri untuk mengajar pendidikan moral memang kurang tepat. Lewat pemaparan Ibu CM kita diingatkan untuk selalu mengingat bahwa anak-anak itu luar biasa besar potensi baiknya. Tugas kita menemani dan berjalan bersama mereka bahkan bertumbuh bersama. Ceramah dan omelan tak perlu diumbar. Kisah nyata dari biografi, sains, maupun kisah dalam kitab suci, puisi, sastra itu yang mereka perlukan untuk melatih kepekaan perasaan. Hidup jadi pribadi yang tidak pasaran dan sesuai kehendak Tuhan.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-09-06 16:20:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2687066778</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertemuan 40</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2711941810</link>
         <description><![CDATA[<div>Kamis, 14 Sept 2023<br><br>hal. 77-79<br><br>Di awal paragraf, aku menangkap bahwa Ibu CM mencoba menjabarkan betapa pentingnya ketika anak-anak/ para pembelajar betul-betul memastikan fokus atensinya pada apa yang sedang dipelajari atau dikerjakan. Sehingga memastikan bahwa benak anak memproduksi sendiri pendidikan bagi dirinya sendiri. Secara "mandiri" mengolah sendiri apa yang dilihatnya, didengarnya, dibacanya, melalui karya-karya orang besar (lukisan, patung, dslb), buku-buku dengan ide-ide hidup di dalamnya. Sehingga anak kemudian dilatih untuk memiliki otoritas atas dirinya sendiri. Mampu memerintahkan dirinya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dan ide-ide untuk melakukan sesuatu ini muncul dari bacaan-bacaan atau interaksi mereka dengan karya-karya besar bahkan dengan sajian alam yang begitu luar biasa mampu manggugah rasa ingin tau mereka.&nbsp;<br><br>Lalu pada paragraf terakhir, ada kalimat:<br>"Namun banyak lelaki dan perempuan muda yang mengalami cacat lebih parah dibanding itu. Mereka tak punya minat intelektual, tak tertarik pada sejarah dan puisi, hanya sedikit berminat pada kemajuan sains; hidup bagi mereka hanya berkisar seputar “pekerjaan” dan bersenang-senang dengan teman-teman. Bagaimana manusia hari demi hari menjalani eksistensi yang lumpuh ini, tanpa memupuk atau memanfaatkan intelek, membuat para pegiat pendidikan gelisah, karena tahu bahwa pendidikan adalah hal terpenting kedua setelah agama; sesungguhnya pendidikan adalah tangan kanan yang niscaya diperlukan agama."<br><br>Barangkali ini yang Ibu CM lihat bahwa efek dari keengganan untuk melatihkan atensi/ fokus/ pembelajar mandiri bagi dirinya sendiri sehingga hasrat intelektual itu tetap tumbuh dalam diri seseorang. Bahwa hasrat intelektual itu tidak akan pernah padam oleh apapun. Sekalipun seorang telah hidup sangat nyaman, pekerjaan bagus, keluarga baik, dlsb. Namun jiwanya terus ingin belajar, memberi bagi sekitarnya apa yang bisa diberikan, sembari merawat alam yang telah memberikan banyak kenyamanan baginya. Sungguh merupakan efek jangka panjang yang jika tidak dibiasakan/ dilatihkan sedari sekarang, lalu kapan lagi?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-09-20 02:45:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2711941810</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2718366234</link>
         <description><![CDATA[<div>Pertemuan 39</div><div><br></div><div>Kamis , 7 September 2023</div><div>Hal 74 - 76</div><div><br></div><div>1. Tanggung jawab diberikan ke murid bergiliran, salah satunya bisa diberi tanggung jawab menjadi ketua kelas di kelas.</div><div><br></div><div>2. Diberi tugas sedemikian rupa agar murid belajar bertanggung jawab dalam proses dan penyelesaiannya.</div><div><br></div><div>3. Memahami materi adalah tanggung jawab mereka, pendidik tidak perlu memberi siaran ulang. Siaran ulang atau remedi malah melemahkan daya fokus, memori. Memberikan remedi, rangkuman, seolah² guru yang berusaha menjejalkan materi ke murid dan bertugas membuat paham ke murid, padahal bukan seperti itu. Yang bertanggung jawab memahami materi adalah murid itu sendiri.</div><div><br></div><div>Pelajaran diulang ulang, murid jadi bosan, pelajaran menjadi hambar akhirnya timbul keusilan pada murid.</div><div><br></div><div>4. Pendidik perlu percaya bahwa akalbudi anak itu luar biasa, anak² haus akan pengetahuan, sekali dipantik dan menyentuh benaknya, maka ide tersebut akan berkembangbiak. Olehkarena nya sajikan ide itu dari sumbernya langsung dari buku buku terbaik dari penulis terbaik.</div><div><br></div><div>5. Ternyata merendahkan akalbudi anak lainnya adalah tidak memberikan buku² yang bahasanya sastrawi, menganggap bahasa itu terlalu sulit dipahami anak². Menganggap hanya anak dari keluarga terpelajar atau kelas atas saja yang mampu mencerna buku² baik yang berbahasa sastrawi. Hal ini keliru.&nbsp;</div><div><br></div><div>(Di dalam diri setiap anak ada kekuatan besar, ibarat daya air terjun Niagara, yang siap di-klik ON untuk menaati perintah anak itu sendiri, atau untuk memberikan perlawanan tanpa akhir pada perintah yang datang dari luar dirinya. Mari kita lihat daya perhatian itu sebanding dengan rasa lapar jasmaniah dan</div><div>kita suplai daya perhatian itu dengan berbagai buku dan pengetahuan. Anak-anak bisa menangani semua itu dengan cara mereka sendiri; kita tak perlu berperan seperti Dewa dalam proses belajar-mengajar; pengetahuan kita terlalu terbatas, kosakata kita terlalu miskin, tak bisa diandalkan, tak memadai, untuk mengimbangi kesanggupan bocah-bocah yang haus akan pengetahuan ini. Kita harus taruh dalam jangkauan mereka semua sumber pengetahuan, yang harus kita jadikan sumber belajar buat kita sendiri juga, yakni buku-buku terbaik dari penulis-penulis terbaik. - Vol 6 hal 75-76).</div><div><br></div><div>5. Untuk melatih daya konsentrasi dan fokus tidak perlu dengan rayuan, bujukan, iming², gambar dan alat² peraga yang wah. Berikan kesempatan murid untuk membaca dari buku² terbaik dari penulis terbaik disitulah bisa mengaktifkan akalbudi dan benak mereka yang luar biasa, yang memang Tuhan sudah berikan kepada masing² ciptaanNya.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-09-25 01:00:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2718366234</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2732968226</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 40]</div><div><br></div><div>Vol 6, Hal 76-79</div><div><br></div><div>Kamis, 14 September 2023</div><div><br></div><div>Pada halaman ini ada beberapa point dari pemikiran dan pengalaman ibu CM.&nbsp;</div><div><br></div><div>1. Pendidikan itu bukan hanya sekedar menemukan bahan ajar yang ajaib dan bisa diselesaikan dengan mudah dan cepat. Tetapi belajar untuk mempunyai daya atensi penuh, sehingga outputnya, ilmu itu bisa mengendap pada anak, sampai anak ini mandiri mempunyai komando atas dirinya sendiri untuk melakukan ilmu tersebut. Ini memang butuh konsisten dan butuh iman agar sampai disini. Karena pada teknisnya banyak hal yang menggoda seperti anak mau nya mengerjakan yang dia suka, mengerjakan yang menurutnya mudah.&nbsp;</div><div><br></div><div>2. Berikan anak sumber buku klasik yang sastrawi dan ajak ke tempat nya setelahnya. Cara ini membuat anak bisa berelasi cepat dibanding hanya langsung mengajak ke tempatnya tanpa ada pengetahuan dibaca yang mendahuluinya. Sajian yang bermutu seperti dari sumber buku klasik ini bisa membuat pemersatu kalangan, pendidikan merdeka untuk semua kalangan, tidak hanya kaum elit saja, semua kalangan bisa menjamah dan melakukannya. Pendidikan yang memakai sumber buku klasik bahasa sastrawi dan setelah itu dinarasikan membuat mental intelektual anak terlatih.&nbsp;</div><div><br></div><div>3. Daya atensi yang baik dan ingatan kuat ini penting untuk dilatih.&nbsp;</div><div>(Bayangkan generasi yang punya daya fokus tinggi dan ingatan tajam, berapa nilainya untuk pemilik perusahaan dan kepala instansi, sungguh aset bangsa yang berharga! Minggu ini aku mendengar seorang kolonel berkata bahwa ajudan terbaiknya adalah siswa Parents’ Union School [sekolah yang didirikan CM dkk]. Dan cerita semacam ini sering disampaikan pada kami. Siapa atasan yang tak paham betapa merugikan dan mengganggunya bawahan yang tak bisa berkonsentrasi dan pelupa. Bayangkan dunia dengan capaian-capaian mengejutkan ketika anak-anak terlatih berpikir cepat dan mengingat instruksi, Vol 6 hal 78).</div><div><br><br></div><div>4. Pendidikan ini bagaikan marathon dan seumur hidup, bukan hanya selesai sampai usia sekolah saja, lalu setelahnya hanya asik dengan pekerjaan untuk bertahan hidup dan bersenang² dengan teman². Point ini menjadi bahan refleksi bagi pendidik.</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-05 01:02:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2732968226</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertemuan 40</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2733048457</link>
         <description><![CDATA[<div>Hal. 77-79<br>Kamis, 14 Sept 2023<br><br>"Namun bisa menyuruh diri sendiri fokus sampai paham, ini bagai menjadi raja yang berkuasa! Dan bagi anak-anak kepuasannya makin bertambah karena hasrat akan pengetahuan alamiah mereka terpuaskan."<br><br>Miss Mason mengibaratkan bahwa seorang anak yang mampu mengkomando dirinya sendiri untuk melakukan ini dan itu hingga tuntas, memperlajari ini dan itu sampai paham, dst, adalah bak seorang raja yang berkuasa. Raja yang punya otoritas dan menggunakan otoritasnya tersebut untuk suatu hal nyata-nyata baik dan benar. Bukan saja bagi dirinya namun bagi khalayak. Betapa pentingnya seorang menjadi pembelajar mandiri yang mencintai ilmu pengetahuan. Miss Mason memberi istilah sukacita pengetahuan. Memastikan anak memiliki relasi dengan pengetahuan yang sedang dipelajarinya. Sehingga pengetahuan tidak menjadi sekedar informasi baginya namun melekat dibenaknya, menjadi pengalaman hidupnya.<br><br>" .... lulusan kita lantas mencukupkan stimulasi mental mereka hanya dengan menonton di bioskop, menonton sepak bola atau balap mobil, dan hiburan-hiburan sesuai kelas sosial masing-masing. Mereka tak punya minat intelektual, tak tertarik pada sejarah dan puisi, hanya sedikit berminat pada kemajuan sains; hidup bagi mereka hanya berkisar seputar “pekerjaan” dan bersenang-senang dengan teman-teman."<br><br>Kondisi ini yang membuat akhirnya benak manusia yang sejatinya adalah seorang pembelajar berhenti mencari pengetahuan. Miss Mason dengan lantang mengatakan menjadi "lumpuh".&nbsp;<br><br>Begitulah betapa krusialnya untuk memastikan setiap anak [kita] untuk terus mengkondisikan benak kita tidak berhenti belajar, mengusahakan relasi dengan segala pengetahuan atau apapun yang alam sediakan bagi kita. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-05 01:59:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2733048457</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi diskusi tanggal 5 Okt 2023 - Page 80-81</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2741962546</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>Menerapkan prinsip otoritas tidak berarti mengabaikan respek terhadap anak sebagai individu. Ini termasuk dalam hal menanamkan nilai2 yang kita yakini. Tidak jarang dalam mengajarkan anak akan kebenaran yang kita yakini anak mempertanyakan kebenaran tersebut. Dan tidak jarang pula orang tua akan menjawab bahwa kami tahu yang benar dan baik untukmu. “Semua yang kami ajarkan demi kebaikanmu, Nak! Percayalah, karena kami punya pengalaman jauh lebih banyak daripadamu.” Agaknya ini jawaban yang tidak tepat dan harus dikurangi penggunaannya.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>~ Danni ~</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-11 14:48:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2741962546</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2742652692</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 41]</div><div><br></div><div>Vol 6, Hal 80 ( Bab 5 Sakralnya Kepribadian) - 81<br><br>Kamis, 5 Oktober 2023</div><div><br></div><div>Orangtua adalah wakil Tuhan, yang memiliki otoritas atas anak²nya, pada bab ini ada 2 kata Otoritas dan Penurutan, adanya otoritas membentuk ketaatan, tetapi untuk menegakkan ini kita sebagai orangtua diingatkan tetap menghargai pribadi anak untuk tidak melakukannya dengan memanipulasi perasaan anak (membohongi, mengancam, menakuti, membentak, memarahi). Memakai otoritas dengan sewenang wenang terhadap anak.<br><br></div><div>Bagaimana kita sebagai orangtua perlu memiliki pandangan tentang anak, bahwa anak² itu juga mempunyai perasaan, mempunyai ide, ia dilahirkan oleh Tuhan mempunyai maksud. (Urusan kita sebagai orang tua adalah memahami betapa dahsyatnya misteri pribadi manusia. Semua tindakan dilahirkan dari ide-ide yang kita yakini. Jika kita serius merenungkan kepribadian manusia, kita bakal tersadar bahwa tak ada kejahatan yang lebih berat dibanding membungkam, menggilas, atau merusak bagian mana pun dari pribadi seseorang, Vol 6 hal 80).</div><div><br></div><div>Mau anak itu memiliki IQ rendah, IQ tinggi, berkebutuhan khusus, mereka tetap memiliki pribadi yang perlu dihormati sebagai anak² yang memiliki pribadi yang unik, dan berhak mendapat pendidikan yang sama, dihargai perasaannya, diakui kehadirannya.</div><div><br></div><div>Anak² sebenarnya sudah memiliki ketaatan itu, hanya saja memang tergantung bagaimana orang dewasa memakai otoritas dan penurutan ini tanpa memanipulasi perasaan anak². Ya, kita perlu memiliki iman, percaya, anak² punya ketaatan. Seringkali dalam praktiknya memang anak berulah dengan mau mencoba seberapa konsisten dan tegas orangtua nya, disinilah sebagai orangtua diuji kesabarannya. Memang mendidik dan membersamai anak² adalah perjalanan panjang. Refleksi dengan mengingat sebenarnya pribadi anak bagaimana, mempermudah kita sebagai orangtua kembali ke jalur yang sebenarnya.</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 00:40:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2742652692</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tina</title>
         <author>hhslimbong</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2742832375</link>
         <description><![CDATA[<div>Pertemuan 41<br>Hal. Hal. 77-79<br><br><em>"Prinsip-prinsip otoritas dan penurutan dibatasi oleh rasa respek layak terhadap anak ....... tak ada kejahatan yang lebih berat dibanding membungkam, menggilas, atau merusak bagian mana pun dari pribadi seseorang."</em><br><br>Aku sering kali melakukan hal ini. Tanpa kusadari bereaksi atas sikap anak-anak yang sesungguhnya mereka sedang bersikap jujur pada dirinya sendiri dan padaku. Si sulung yang sering kali bersikap "malas" pada sekolahnya. Sering kali lupa mengerjakan PR, malas jika ditanya tentang PR atau pelajarannya di sekolah. Dan aku sering kali bersikap "take it personal" yang tidak jarang jadi berkata-kata yang merendahkannya, bukannya menyemangatinya.<br><br><em>"..... anak-anak yang juga manusia, tak peduli mereka jenius atau terbelakang, berkembang cepat atau lambat, IQ tinggi atau rendah, dalam pendidikan ini semua anak sama bertumbuh ....."</em>&nbsp;<br><br>Menghidupi pernyataan Ibu CM ini memang bukan hal mudah. Bukan pula hal yang bisa dijalani dengan sesekali, melainkan proses latihan yang panjang, terus-menerus dan butuh kesadaran diri. Meyakini bahwa si sulung kami sedang belajar dan bertumbuh dengan cara dan waktunya sendiri. Yang mungkin berbeda dari kebanyakan anak pada umumnya. Kuyakini dia merasa pelajaran di sekolahnya tidak ada yang memantik baginya.&nbsp;<br>Namun di lain kesempatan, yang sering kali luput dari perhatianku, dia melakukan banyak hal di luar urusan sekolahnya. Yang mungkin bagiku itu tidak berhubungan dengan sekolahnya, namun itu yang memantiknya. Dia sering kali sibuk dengan buku-buku kecilnya, menggambarinya, mewarnainya, memberi nama pada gambarnya, membuat karya-karya dari bahan-bahan yang ada di rumah, meng-edit-edit menggunakan canva, dll. Ya Tuhan, aku masih harus banyak belajar menjadi gembala yang baik bagi anak-anakku. Melihat mereka sebagai pribadi yang punya proses, waktu dan cara mereka masing-masing untuk belajar dan bertumbuh.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-10-12 02:45:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2742832375</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2772929680</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 42]<br></p><p>Vol 6, Hal 81-83</p><p><br></p><p>Kamis, 12 Oktober 2023</p><p><br></p><p>Sugesti dan Kharisma</p><p><br></p><p>Pada halaman ini point yang aku dapatkan adalah soal sugesti dan kharisma.</p><p><br></p><p>Untuk sugesti menurutku memang benar agar berhati² pada kalimat yang digunakan pada anak. Bila sugestinya memuat kalimat positif maka akan berdampak baik pada pemikiran anak, tetapi bila sugesti itu berupa kalimat menjatuhkan, bisa akal budi anak menjadi menerima yang buruk dan mensugesti bahwa dirinya memang buruk seperti yang dilabelkan.</p><p><br></p><p>Kharisma, tanpa mengeluarkan kata², seseorang sudah memancarkan kharisma dengan memberikan atmosfer. Tetap jadilah diri sendiri untuk tetap menjadi diri yang alami&nbsp; dan apa adanya sehingga menampilkan kharisma alami tanpa dibuat².</p><p><br></p><p>Berhati² pada sugesti dan kharisma.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-02 00:30:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2772929680</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2772961630</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p>[Pertemuan 43]</p><p>Vol 6, Hal 83-86</p><p><br></p><p>Kamis, 19 Oktober 2023</p><p><br>Hasrat</p><p><br></p><p>Pada halaman ini yang di highlight adalah "Hasrat". Ada hasrat alami dan hasrat bertanding (emulasi). Pada KBBI, <strong>emu·la·si</strong> /émulasi/ <em>n</em> <strong>1</strong> ambisi atau usaha keras untuk menyamai atau melebihi yang lain dalam prestasi; kedengkian; iri hati; <strong>2</strong> imitasi; tiruan.&nbsp;</p><p><br></p><p>Pada dasarnya manusia sendiri memiliki hasrat alami, tetapi perlu berhati² dalam memantiknya bila sampai kebablasan maka hasrat ini menjadi hasrat hanya memenuhi sesuatu hal (misal dapat peringkat, memuaskan guru, dapat beasiswa dengan cara yang bisa saja menghalalkan segala cara mungkin saja dengan memberi gratifikasi pada guru, sehingga guru sulit memandang objektif dalam memberikan peringkat atau cara tidak baik lainnya).&nbsp;</p><p><br></p><p>Kenyataan yang terjadi saat ini sesuai tulisan ibu CM, agar bisa memantik hasrat belajar paling mudah dan cepat dengan memanipulasi hasrat alamiah dengan iming² peringkat, beasiswa. Tetapi yang perlu diingat sebenarnya, tanpa memanipulasi hasrat, layaknya tubuh bila lapar akan mencari makanan, pun juga dengan hasrat pengetahuan sebenarnya kalau akal budi itu haus akan pengetahuan maka akan mencari dengan cara yang benar.</p><p><br></p><p>Praktik di sekolah memang saat ini masih berlangsung, agar hasrat pengetahuan tetap berjalan akhirnya memakai sistem ranking peringkat dan ada ganjaran mendapat beasiswa. Hmm, menurut saya sah² saja ya, tetapi tetap didampingi dengan asupan bacaan pengetahuan dalam mendidik karakter. Pendidiknya juga diasup dengan paham filosofi pendidikan dan psikologi anak. Bacaannya dibuat beragam dan murid² diajak untuk berefleksi dan bernarasi. Membaca dengan 1 kali baca agar fokus memperhatikan dan setelah bernarasi lisan agar terlatih berbicara di depan publik dan narasi tertulis, agar hasrat akan pengetahuan benar² dipenuhi karena pengetahuan telah menjadi miliknya sendiri. Bukan karena hasrat yang dipantik hanya untuk memenuhi nilai tinggi, rangking, beasiswa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-02 00:55:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2772961630</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertemuan ke-42</title>
         <author>hhslimbong</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2773119232</link>
         <description><![CDATA[<p>Kamis 12 Okt 2023</p><p><br></p><p>CM menjelaskan bagaimana kita sebagai pendidik, baik guru maupun orang tua sering memanfaatkan hasrat alami yang terdapat pada pribadi seorang anak yaitu cinta. Dengan atau tanpa kita sadari, sering kali kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu pada anak atas nama cinta. Bagaimana kita memanfaatkan rasa cinta yang secara alami ada dalam diri anak. Bukan hanya memanipulasi rasa cinta. Bahkan ada lagi yang dinamakan dengan sugesti dan kharisma. Semua hal ini membuat kepribadian gagal untuk berkembang. &nbsp;Anak menjadi tergantung pada hal-hal di luar dirinya, tergantung pada karakter yang lebih kuat, mudah dipengaruhi, menjadi labil/ sulit mengambil keputusan bahkan sulit untuk mengenali dirinya sendiri.</p><p>Pengalamanku pribadi bersama anak-anak, tentang bagaimana mereka bertumbuh khusunya ketika bersosialisasi atau belajar. Sepertinya hal-hal yang dikatakan oleh CM, tentang memanfaatkan rasa cinta, sugesti dan kharisma adalah hal-hal yang mungkin tidak bisa secara frontal untuk tidak dilalui oleh anak-anak. Apalagi anak-anakku yang menjalani pendidikan formal yang banyak melihat atau terpapar dengan banyak hal yang prinsipnya mungkin sangat berbeda dengan prinsip keluarga kami. Contohnya: bagaimana anak-anak menjalani proses belajar-mengajar di sekolah yang mungkin saja para gurunya secara tidak sadar melakukan apa yang digambarkan oleh CM. Misalnya ketika anak mengerjakan peer hanya karena takut dimarahi oleh guru, maka pelan-pelan aku beri pengertian bahwa mengerjakan peer adalah salah satu contoh bahwa dia bertanggung jawab atas hidupnya dalam hal ini sekolahnya. Atau bahkan aku pribadi yang terkadang masih saja mengatasnamakan cinta yang ada pada mereka, atau melalui sugesti bahkan kharisma yang ada padaku sebagai orangt tua mereka.</p><p>Bagaimana CM menggambarkan betapa sakralnya kepribadian anak. Bahkan atas nama cinta sekalipun kita dilarang “mengotak-atik” hal yang satu ini. Bahwa membiarkan anak berkembang, menerima suatu hal melalui pengalamannya, menimbang-nimbangnya dalam benaknya, lalu memahami hal tersebut secara mandiri melalui proses yang dilaluinya, dan kemudian memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan, menerima atau tidak menerima, setuju atau tidak setuju, dst. Hal inilah yang menjadi penting bagi proses pertumbuhan dan perkembangan spiritual anak yang berdampak ke dalam setiap aspek dalam kehidupannya kelak. Anak tidak kehilangan proses untuk belajar dari kesalahan, anak melalui proses menimbang dalam benaknya untuk memilih yang memungkinkan anak bertumbuh dengan karakter yang otentik sesuai jati dirinya yang terus bertumbuh.</p><p>Sehingga apapun yang dikerjakan oleh anak adalah murni hasil dari pemahamannya terhadap suatu hal. Motivasi dari luar selain dari dalam dirinya hanya sebatas menjadi bahan pertimbangan, pelajaran, dlsb. Namun pengambil keputusan tetap berasal dari dalam dirinya sendiri. Bukan karena hal dari luar dirinya, seperti orang tua, guru, teman, dst.</p><p>Kesadaran kita sebagai orang tua sekaligus pendidik akan sakralnya kepribadaian anak, membuat kita lebih berhati-hati dan penuh pertimbangan ketika membersamai anak. Bahwa pertumbuhan anak yang otentik, anak menjadi mampu mengenali dirinya sendiri, tidak lagi bergantung pada banyak hal di luar dirinya, percaya bahwa dirinya mampu dan ada potensi besar dalam dirinya. Bahwa ketika kita melakukan hal sebaliknya, memanipulasi atas nama cinta, sugesti dan charisma. Maka hal sebaliknya yang akan terjadi. Anak jadi sulit mengenali dirinya sendiri, bergantung pada orang lain, tidak percaya akan potensinya, dst.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-02 02:45:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2773119232</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisana Sidqi Aliya</title>
         <author>lisanaaliya</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2781650339</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 43]</p><p>Vol 6, Hal 83-86</p><p>Kamis, 19 Oktober 2023</p><p><br>Hasrat</p><p>Setiap manusia terlahir memiliki berbagai hasrat yang membantu keberlangsungan hidupnya di dunia, yang sayangnya, berbagai hasrat ini juga rentan dimanipulasi oleh pendidik ataupun orang tua. Mendapatkan persetujuan juga merupakan salah satu jenis dari hasrat. Secara alamiah anak ingin memastikan bahwa tindak-tanduknya mendapatkan restu dari orang yang dianggap memiliki kredibilitas di matanya, apakah itu pengasuh/orang tua, guru, atau teman-temannya. Sikap patriotisme yang mengundang decak kagum ataupun anarkisme yang mengundang kegelisahan sesungguhnya banyak bersumber dari hasrat 'ingin disetujui' atau 'diakui' ini.</p><p><br></p><p>Menurut saya di sinilah juga pentingnya seorang anak diajarkan juga kemampuan untuk mengenali value benar dan salah, baik dan buruk. Sehingga ia tidak terjerumus dalam fanatisme personal.</p><p><br></p><p>Hasrat lain yang juga kerap diintervensi adalah emulasi atau hasrat bertanding, baik dalam perlombaan, beasiswa dan sebagainya. Titik kritis kekhawatiran CM adalah jika seorang anak terpacu belajar atau berlatih demi memenangkan hal itu semata dan tidak dilandasi dengan kesadaran yang lebih mendalam akan pengetahuan itu sendiri, dan juga tanpa tujuan yang lebih besarnya mengapa ia perlu berjuang meraih hal tersebut.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-08 14:19:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2781650339</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2781655692</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 44]</p><p>Kamis, 2 November 2023</p><p>Vol 6, Hal 86-88</p><p><br></p><p>Hasrat berkuasa , Hasrat berkelompok</p><p><br></p><p>Kedua hasrat ini alami ada pada diri seorang manusia.</p><p>Hasrat berkuasa bila memang dipergunakan untuk mengayomi, merangkul, menegakkan kedisiplinan bersama, demi kemajuan bersama, bisa berefek baik. Tetapi bila hasrat berkuasa ini dibarengi dengan jiwa ambisius yang justru memprovokasi menjadi licik, keji, jadi berbahaya.</p><p>Tugas pendidik misal di sekolah untuk menyalurkan ambisi yang sehat pada anak didiknya. Misal saja hasrat berkuasa ini, anak² yang menonjol jiwa kepemimpinannya, si pemimpin mengayomi teman²nya untuk membuat proyek cinta bumi, saling kerjasama mengerahkan teman²nya untuk membuat proyek daur ulang. Melakukan yang baik untuk kepentingan banyak orang. Memiliki kekuasaan bukan untuk melakukan perbuatan keji misalnya saja korupsi.</p><p><br></p><p>Hasrat berkelompok&nbsp;</p><p><br></p><p>Tiap manusia memiliki hasrat berkelompok, kelompok ibu² gaul suka nongkrong di cafe, kelompok anak suka main game, kelompok anak suka baca buku. Olehkarenanya anak muda masih butuh bimbingan karena siapa kawan yang dipilih, dan untuk alasan apa berkelompok sangat menentukan pribadi manusia itu.</p><p><br></p><p>Setiap orang berhak mendapat sajian mewah pada akalbudinya. Tidak hanya kalangan kelas atas saja yang mempunyai previlege dapat sajian mewah. Karenanya memilih kelompok yang benar itu penting.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-08 14:22:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2781655692</guid>
      </item>
      <item>
         <title>[Pertemuan 44]                           Vol 6, Hal 86-88.                   Kamis, 02 November  </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2781673301</link>
         <description><![CDATA[<p>- Hasrat ingin berkuasa -</p><p>Hasrat ingin berkuasa terdapat pada diri setiap manusia. Sedari kecilpun anak-anak sudah menunjukkan hasratnya ini kepada orang-orang di sekitar. Namun jelas sekali jika hasrat yang sedianya adalah salah satu bagian dari diri yang dapat menyuplai pertumbuhan akalbudi manusia dan digunakan untuk melayani sesama, malah membawa manusia mengalami kemunduran karena digunakan secara serampangan untuk memanipulasi dan memanfaatkan orang lain. </p><p><br></p><p>Para pendidik harus waspada supaya hasrat untuk berkuasa pada seorang anak tidak menghilangkan kebebasan anak-anak lain untuk memilih berdasarkan pertimbangan mereka masing-masing. </p><p>Namun pendidik juga wajib menolong anak-anak mengendalikan hasrat berkuasanya, agar mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang keji dengan cara menyediakan saluran atas hasratnya itu. Bisa dengan memberinya ruang menjadi pemimpin kelas yang juga harus bergilir dengan anak-anak lain. Di samping itu di dalam penguasaan terhadap pengetahuan juga tersedia ruang yang luas untuk mereka, sehingga tidak merugikan orang lain.</p><p><br></p><p>- Hasrat berkelompok -</p><p>Hasrat lain yang juga untuk menyuplai akalbudi manusia adalah hasrat untuk berkelompok. Di sini, jika hasrat itu tidak dirawat dan dikendalikan sebagaimana mestinya, maka akan muncul geng-geng anak nakal, para pemberontak yang merasa mereka hebat karena berkomplot, entah itu untuk bersenang-senang saja, entah itu untuk melakukan hal tidak terpuji lainnya. </p><p>Kelompok penggosip, penggunjing, dan macam-macam kelompok yang hanya ingin tau urusan orang tanpa menyentuh ranah ide ataupun solusi. </p><p><br></p><p>Di sini para pendidik mestilah waspada. Anak-anak harus dibekali perjamuan ide yang kaya, agar anak-anak tidak hanya mau gabung dengan kelompok yang itu-itu saja, tidak canggung dan bisa ngobrolin hal-hal yang luas, bahkan dengan para ahli dari berbagai bidang. Bukan sekedar membicarakan tentang cuaca yg cerah, kemudian bingung mau ngobrolin apa lagi. Bukan cuma ngomentarin kelakuan atau penampilan orang yang berakhir dengan olok-olok bahkan perselisihan yang tak perlu. Benak anak akan senantiasa terpantik dengan hal-hal mulia walau sederhana jika mereka menguasai beragam pengetahuan. Dengan demikian negeri jiwa manusia akan terus bertumbuh semakin holistik.</p><p><br></p><p>Damba, Jakarta 8 November 2023.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-08 14:32:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2781673301</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2781786507</link>
         <description><![CDATA[<p>Pertemuan 37</p><p>Kamis, 10 Agustus 2023</p><p>Halaman 68-71</p><p><br></p><p>Otoritas dan Penurutan</p><p><br></p><p>Ada dua prinsip yang bekerja dalam diri anak yaitu prinsip otoritas dan penurutan. Sebagai pendidik, orangtua memiliki Otoritas terhadap anak. Begitupun di sekolah seorang guru juga memiliki Otoritas pada muridnya. Namun Otoritas ini harus digunakan tanpa merendahkan anak. Anak bisa menilai mana yang menggunakan otoritasnya untuk kesenangannya sendiri atau yang menggunakan otoritas karena ia sendiri tunduk di bawah hukum yang sama. Adanya Otoritas justru akan menolong anak untuk bisa merdeka. Ia mengerti apa yang benar dan harus dilakukan dalam batas aturan yang ada.  Untuk bisa taat pada otoritas, Ibu CM juga menyampaikan bahwa perlu prinsip penurutan. Penurutan ini adalah sikap mau diajar. Dalam penurutan ada kesetaraan antara pendidik dan anak, dalam mengejar pengetahuan yang sama inilah akan nyata sebuah kedamaian. </p><p>Disini saya belajar bahwa sebagai pendidik punya tugas berat. Bagaimana memenangkan ketaatan anak pada aturan yang ada. Otangtua harus membantu anak membangun relasi dengan hukum-hukum alam dan sosial tertinggi yang mengatur kita semua. Anak dari kecil harus sudah diajarkan norma-norma yang berlaku dalam hidup sehingga tetap ada dalam orbit layaknya planet pada orbitnya. Jika ia lepas dari orbit ia akan menimbulkan kekacauan pada lingkungannya, masyarakat bahkan negara. Bagaimana menemukan jalan tengahnya? Anak diatur tanpa merasa diatur. Kemudian hasilnya adalah kebebasan yang tertib (sistem demokrasi) . Mungkin seperti: "Kamu boleh bebas bermain selama satu jam di halaman rumah tetapi tidak boleh diluar pagar ya!". Anak juga perlu dididik supaya bangga ketika memperoleh tugas dan menyelesaikan tugas itu adalah prestasi. Nah, ini yang jadi PR besarku... </p><p><br></p><p>Tak hanya itu, dalam kehidupan anak ada otonomi dan juga penurutan. Ia perlu belajar mengendalikan diri dan menjalani hidup yang merdeka. Indah sekali nampaknya ya. Bagaimana bisa merdeka jika ada aturan? Merdeka yang seperti apa maksudnya? Disatu sisi ia punya kuasa atas dirinya sendiri sedangkan disisi lain ia harus tunduk pada hukum dan kebenaran. Bahkan orang dewasa dan masyarakat pun mengalami itu. Maka, inilah yang disampaikan Ibu CM: "Kalau kebenaran memerdekakan kamu,  maka kamu benar-benar merdeka.". Bayangkan saja hidup seperti apa yang akan kita dan anak-anak jalani jika setiap hari kita hidup melawan hukum serta kebenaran. Pasti hidup yang kita jalani akan kacau dan melelahkan. Hidup Damai itu memang penting ya, dimulai dari taat aturan dulu lalu kebahagiaan akan datang. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-08 15:37:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2781786507</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Volume 6 – Hal.81-83 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2781955312</link>
         <description><![CDATA[<p>Dari 3 paragraf yang kubaca ini, jujur terjadi kegagalan fokus di awal. Perhatian tertuju pada nama David Copperfield. Lho kok buku jaman dahulu kala membawa nama Copperfield. Lalu baru kemudian aku mengerti bahwa nama ini adalah karakter sebuah novel klasik karya Charles Dickens. Yak secara impulsive aku langsung mencari tahu siapa itu Copperfield. Tapi jangan sedih, walaupun tak fokus dan cara bekerja otakku ini abstrak tak tentu arah, ini membuatku merelasikan dengan poin penting dari paragraph-paragraf yang kubaca. Beberapa hal yang muncul di benakku:</p><p><s>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengapa aku sering kali melakukan tugas pada detik-detik terakhir?</s></p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengapa aku merasa ada yang kurang dalam diri, ‘kurang update, kurang pengetahuan’ Ketika tidak tahu karya sastra milik seorang Charles Dickens?</p><p>Kemudian ada bisikan lain di hatiku, “Apakah aku korban terror, korban sugesti? Mungkinkah di masa lalu aku sering mendengar komentar-komentar seperti ‘harus pintar dan banyak-banyak pengetahun biar jadi orang hebat’, ‘mau sukses ya harus tahu banyak hal, harus update terus’, ‘masak gitu saja ga tahu’. Dan setelah itu aku coret poin nomor 1. Apa hubungannya pula melakukan tugas pada detik terakhir dengan sugesti? Maka aku hapus nomor 1. Kuingat-ingat kembali mengapa aku tulis sebelumnya, ternyata aku menganggap karena dalam diriku sudah tertanam sugesti membuat sesuatu harus dengan baik, tadi kumerasa belum bisa narasi yang baik maka urung terus niat melakukannya. Padahal pada akhirnya hasilnya sama saja.</p><p>&nbsp;</p><p>Selanjutnya aku berpikir ulang, apakah sebenarnya aku paham betul apa arti sugesti? Kalau mau jujur jawabannya tidak. Tadi kusempatkan membaca narasi teman-teman, tapi taky akin juga sudah menemukan jawabannya.</p><p>&nbsp;</p><p>Sekian. Terimakasih.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-08 17:25:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2781955312</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Etika, Mental dan Kewajiban</title>
         <author>alifuzayani</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2782393313</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pertemuan ke 38</strong></p><p><strong>Hal 71 - 74</strong></p><p><br></p><p>Soal etika, jika anak-anak diberi ruang dan kebebasan untuk ikut berperan serta, maka tidak akan ada masalah dalam etiket mereka.</p><p>Tugas utama guru dan orang tua bukan urusan etika, namun bagaimana agar akalbudi mereka mendapatkan nutrisi yang segar, bergizi dan beragam.</p><p>Ketika akalbudi terpantik oleh ide yang menarik, mereka akan duduk manis dengan fokus, tanpa ribut, gaduh atau melakukan hal yang tidak sopan lainnya pada guru. </p><p>Ketika akalbudi anak sibuk mencerna asupan, tidak akan ada waktu bagi mereka untuk berbuat hal yang tidak senonoh. Mereka asyik masyuk dengan pikiran sendiri, membuat relasi-relasi yang berarti.</p><p>Tapi, pikiran dan imajinasi itu liar, kadang tak bisa dikendalikan. Jika hal itu datang, mereka sudah punya bekal untuk memilih mana yang baik dan yang benar, sesuai prinsip dan hukum alam, juga kebenaran universal. Karena akalbudi mereka bertumbuh dan berkembang.</p><p><br></p><p>Untuk urusan fisik dan mental, mana yang harus didahulukan?</p><p>Banyak sekolah yang sudah sadar akan pentingnya kesehatan fisik, olahraga menjadi rutinitas yang diutamakan, tapi kesehatan mental malah dikesampingkan. </p><p>Dua duanya penting untuk dijaga, bukan hanya jasmani, mental yang aktif juga akan menjamin kualitas kehidupan. Mental, sering dianggap tidak penting, bahkan tidak dianggap, karena tidak tampak secara fisik. Dalam buku Loving the Wounded Soul disebutkan bahwa penyakit mental harus diperjuangkan untuk dianggap dan diakui sebagai sebuah pertanda ketidak-sehatan.</p><p>Maka semestinya pula, mental perlu dikaryakan sejak dini. Mental anak-anak perlu diasah, bukan sedikit-sedikit dimaklumi. Agar mereka tumbuh menjadi pribadi tangguh.</p><p>Lalu, apa asupan mental?</p><p>Subjek yang beragam, yang tidak mengolah fisik saja namun melibatkan akalbudi juga. Subjek yang membuka relasi dengan banyak hal dan yang utama harus berelasi dengan Tuhan. Kenapa? agar anak tau dimana tempat kembali dan bergantung saat mentalnya menghadapi badai cobaan.</p><p><br></p><p>Tentang kewajiban. </p><p>Ini bukan soal bagaimana asal melakukan kewajiban saja, tapi bagaimana agar anak sadar dengan kewajibannya.</p><p>Menuntun anak untuk sekedar menunaikan kewajiban, mungkin mudah saja. Tapi dampaknya mereka akan selamanya tergantung pada ajakan dan perintah orangtua, tanpa ada kesadaran dalam diri sendiri. Tercipta sebagai manusia banyak kewajiban yang harus diemban. Baik kewajiban terhadap alam, sesama dan juga Tuhan.  </p><p>Dalam metode CM, ortu atau guru dan anak harus memiliki ketaatan yang sama pada kewajiban. Ortu tidak boleh semena-mena melanggar atau bermain dengan kesenangan.</p><p>Dan ortu sebaiknya mengajak anak untuk berpikir tentang kewajiban, lalu kemudian membebaskannya, akankah memilih untuk mentaatinya atau tidak. Tentu dengan sedikit saja arahan dan gambaran konsekuensi atau imbalan. Bukan dengan ceramah panjang yang membosankan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-09 00:31:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2782393313</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol. 6 – Hal. 83-86 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2782479241</link>
         <description><![CDATA[<p>Menyoal belajar untuk mendapatkan nilai bagus dan beasiswa semata pasti banyak kita dapatkan contoh riilnya. Banyak orang tua yang melakukan drill pada anaknya sejak usia dini, tujuannya supaya anak menjadi seorang pintar dan luar biasa berprestasi, mendapatkan sekolah bahkan beasiswa terbaik di sekolah terbaik di dunia. Membaca tulisan Miss Mason mengenai banyak sekolah2 yang menyiapkan siswanya untuk menjadi pelajar terpilih di sekolah terbaik dan meraih beasiswa, dengan menyajikan modul2 tertentu itu persis sama dengan sebuah pop-up iklan di media sosial yang saya temukan beberapa waktu yang lalu. Saat itu saya kaget, baru tahu, ternyata ada ya orang yang melihat peluang bisnis dengan potensi sangat besar untuk menyediakan jasa bimbingan pada anak dengan target masuk sekolah terbaik seperti MIT, Harvard, dll. Dan ini tidak dengan biaya yang murah, bisa ratusan ribu USD. Pasalnya orangtua memasukan anak mulai dari usia dini, mungkin 12/13 tahun ya, agar mereka mendapatkan program khusus untuk masuk sekolah terbaik. Semua diprogram, mulai dari asupan pendidikan yang harus dikuasai, kegiatan pendukung yang pasti bisa membantu siswa lolos ujian. Macam robot yang diprogram komputer dengan algorithma tertentu saja. Buat apa? Apakah anak tidak bisa dimerdekakan dengan cara-cara alami lagi untuk mencapai itu semua? Apakah benar target tersebut baik untuk anak?</p><p>&nbsp;</p><p>Sekian. Terimakasih.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-09 01:29:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2782479241</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tina</title>
         <author>hhslimbong</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2782554673</link>
         <description><![CDATA[<p>Pertemuan ke-44</p><p>Kamis, 2 November 2023</p><p>Vol.6, Hal. 86-88</p><p><br/></p><p>Aku terpantik dengan pernyataan Ibu CM,</p><p><br/></p><p><em>“Kekuasaan itu berguna ketika dipakai untuk melayani orang lain, tetapi berbahaya jika disalahgunakan semata demi kesenangan memerintah dan mengatur orang lain.”</em></p><p><br/></p><p>Barang kali hal inilah yang banyak “terlewati” di dunia pendidikan kita. Aku rasa negeri ini tidak kekurangan orang-orang yang pintar, cerdas, berpengetahuan luas, dlsb. Namun kemampuan-kemampuan itu tidak dibarengi dengan sikap hati untuk melayani. Hal itu yang kemudian menciptakan para pemimpin yang cenderung menjadi penguasa. Mungkin karena kita sibuk dengan menanamkan ambisi ini dan itu pada anak-anak kita. Pertanyaan: “kamu sudah bisa apa?” “kamu ranking berapa di sekolah?”, “kamu ikut lomba juara berapa?”, dst dst. Tanpa kita sadari kita menanamkan jiwa ambisisus kepada anak-anak kita, semangat untuk lebih dari orang lain, semangat untuk selalu menjadi yang terbaik, nomor satu, dlsb. Lalu apa salahnya? Menjadi masalah ketika kita lupa bahwa hasrat-hasrat untuk menjadi yang terbaik, menjadi nomor satu, menjadi lebih unggul dari pada yang lain akan menjadi liar ketika tidak dibarengi dengan hasrat untuk melayani. Sesungguhnya kita sedang memupuk hasrat berkuasa yang memang secara alami telah ada di dalam setiap jiwa manusia. Namun tidak diimbangi dengan hasrat untuk melayani/ hasrat untuk bermanfaat bagi sesama.</p><p><br/></p><p><em>“Sama seperti hasrat alamiah lainnya, hasrat berkuasa bisa menghancurkan hidup seseorang kalau dibiarkan merajai diri; ambisi adalah penyebab dari separuh bencana yang diderita umat manusia.”</em></p><p><br/></p><p>Aku terenyuh melihat fenomena yang ada di negeri kita saat ini. Bagaimana para pemimpin [penguasa] menggunakan kekuasaannya untuk lebih berkuasa dan lebih berkuasa lagi. Bahkan dengan cara-cara yang nyata-nyata melanggar aturan. Seperti kasus gugatan batas usia presiden dan wakil presiden, kasus para pejabat yang tersandung kasus korupsi, dan kasus-kasus penyalahgunaan wewenang lainnya. Seolah nurani/ moral menjadi tumpul karena hasrat untuk berkuasa merajai jiwa mereka. Dan pada akhirnya yang dipertaruhkan bukan lagi seorang individu atau satu keluarga atau satu kelompok. Tetapi masa depan sebuah bangsa.</p><p><br/></p><p>Hal ini sungguh menjadi refleksi bagiku, bagaimana aku sebagai orang tua untuk selalu sadar merawat hasrat berkuasa ini pada anakku dan juga diriku sendiri. Merawatnya dengan selalu menanamkan bahwa apapun yang kita kerjakan sebisa mungkin adalah dengan semangat melayani yaitu membawa kebermanfaatan bagi orang lain. Mungkin bisa dimulai dari mengajarkan anak-anak untuk berempati kepada ART di rumah yang sehari-hari membantu kami, orang-orang yang sering kami temui yang tidak seberuntung kami. Walaupun anak-anak tau mereka dibayar untuk bekerja untuk melayani kami, namun tetap harus bersikap sopan ketika meminta bantuan, berusaha memperlakukan ART dengan layak, dlsb. Memberikan barang-barang yang masih layak untuk dipakai pada pemulung barang bekas atau petugas kebersihan komplek, dsb. Kiranya hasrat-hasrat berkuasa yang secara alamiah tumbuh di dalam jiwa mereka juga diimbangi dengan hasrat untuk melayani/ kebermanfaatan bagi orang lain. Apapun kelak profesi yang mereka tekuni, hasrat untuk melayani selalu ada dalam jiwa mereka. Amin.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-09 02:20:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2782554673</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>cmidjakarta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2790825212</link>
         <description><![CDATA[<div>[Pertemuan 45]<br>Hal. 89-92<br>Kamis, 9 November 2023<br><br>Di paragraf ini, CM menekankan makna pendidikan yang menggugah jiwa. Bagaimana sejatinya setiap individu memiliki dahaga akan ilmu pengetahuan, dan ditindaklanjuti dengan kurang tepat melalui kurikulum dan metode belajar sistematik yang terjebak teknis. Ketika individu tersebut sudah terjebak di dalam sistem tersebut, tak banyak pilihan lain selain mengikuti arus dan menganggap itu adalah suatu kewajaran, hingga akhirnya ditemukan perilaku-perilaku “penyimpangan”, jika bukan “pemberontakan”, yang akhirnya menunggu sebuah kesadaran memantiknya di suatu fase dalam hidup, bahwa jiwa nya dahaga akan gagasan yang hidup.<br><br>Aku berpikir, apa yang selama ini kupelajari di sekolah? Dan ketika memperhatikan bagaimana anakku yang tidak bersekolah mendapat pengetahuannya. Ternyata, ia berproses lebih baik dari yang aku lalui dulu, paling tidak seingatku pengalamanku dahulu sangat bertolak belakang. Ah, sungguh aku mendapat suatu angin segar akan harapan pendidikan yang lebih tinggi lagi di masa yang akan kami jalani berikutnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-15 13:21:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2790825212</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tina</title>
         <author>hhslimbong</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2792069024</link>
         <description><![CDATA[<p>Pertemuan ke-45</p><p>Hal. 89-92</p><p>Kamis, 9 Nov 2023</p><p><br></p><p><br></p><p>“Hasrat terakhir yang kita bahas, yakni hasrat akan pengetahuan, fungsinya yang sepatutnya terlalu sering dikebiri di sekolah-sekolah karena didesak oleh sumber-sumber perilaku lainnya, terutama hasrat berkompetisi, hasrat menonjolkan diri, keserakahan, hasrat akan kekayaan dan keuntungan kasat mata. Rasa ingin tahu pemberian Tuhan yang seharusnya menciptakan rasa haus untuk belajar ini dikerdilkan menjadi minat pada urusan-urusan remeh”.</p><p>Ibu CM lagi-lagi menekankan betapa Hasrat akan pengetahuan penting untuk betul-betul ada di dalam jiwa setiap anak. Namun system Pendidikan kita tidak mendukung hal ini. Banyak alasan yang kemudian membuat sekolah tanpa sadar telah mengerdilkan keberadaan hasrat ini. Akhirnya seorang murid hanya belajar demi nilai, demi agar lulus, demi mendapat pekerjaan semata, dlsb. Bukan karena jiwanya haus akan pengetahuan, bukan karena rasa keingintahuannya, bukan karena ingin mengaktualisasi diri dan memberikan sesuatu yang ada padanya kepada sekitarnya. Dan pada akhirnya berpengaruh secara jangka panjang.</p><p>“Guru yang mengajarkan bahwa nilai dan peringkat adalah tujuan utama tentu berhasil menuai anak-anak yang menyelesaikan tugas, tetapi tidak akan ada yang namanya cinta belajar demi pengetahuan itu sendiri, dan di lumbung hati anak-anak tidak ada bekal untuk menghadapi kegelisahan hidup saat dewasa.”</p><p>Hal seperti ini memang tidak terlihat dalam waktu sehari dua hari. Namun ibu CM mengingatkan, ketika Hasrat akan pengetahuan diganggu oleh hasrat-hasrat yang lain, maka lambat namun pasti akan mempengaruhi kemampuan bertahan seorang anak dalam menghadapi naik turun dalam kehidupannya. Aku melihat bahwa hasrat akan pengetahuan ini membuat anak [kita] menjadi fokus kepada diri kita sendiri bukan lagi kepada hal di luar diri kita. Dengan kata lain membuat kita menjadi seorang yang egois karena yang menjadi focus adalah diri kita, yaitu apa yang menjadi cita-cita, apa yang ingin kita capai. Artinya bukan ingin berbuat sesuatu kepada orang lain melainkan ingin mencapai banyak hal untuk memenuhi Hasrat/ keinginan di dalam diri kita.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-16 07:55:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2792069024</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tina</title>
         <author>hhslimbong</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2792070077</link>
         <description><![CDATA[<p>Pertemuan ke-46</p><p>Hal. 92-93</p><p>Kamis, 16 Nov 2023</p><p><br/></p><p>“Anak yang biasa bekerja supaya jadi unggul dan mendapat keuntungan belum tentu akan menjadi warga negara yang tenang dan disiplin dalam merekatkan masyarakat dan mengabdi pada Negara.’</p><p><em>“Mengejar pengetahuan demi rasa cinta akan pengetahuan itu menenangkan sekaligus memuaskan. Ketika guru mendapati bahwa siswa di kelasnya sama senang belajar, sama menikmati proses mereproduksi pengetahuan, dan sama tertarik mendalami para tokoh bijaksana atau pahlawan, guru dan siswa jadi terkoneksi dan menjalin ikatan batin. Siswa yang akalbudinya merasa terpuaskan oleh proses belajar jadi terhindar dari hasrat dan kegelisahan untuk menonjolkan diri.”</em></p><p>Aku tertegun membaca tulisan-tulisan CM ini. Bagaimana beliau menekankan bahwa cara kerja pendidikan itu sangat penting. Bagaimana proses pengetahuan itu dicerna oleh benak anak menjadi penting untuk diperhatikan. Bukan sekedar anak menyelesaikan bab demi bab dalam buku pelajaran, lulus ujian, naik kelas, lalu bekerja, dst dst.</p><p><em>“Massa dikobarkan semangatnya dengan janji bahwa semua warga negara bisa memperoleh jabatan dan kekuasaan, tanpa menyadarkan tentang kewajiban yang sebanding dengan kekuasaan itu.”</em></p><p>Pada akhirnya, motivasi yang memenuhi jiwa anak adalah kepentingan dirinya sendiri. Selama membawa keuntungan bagi dirinya atau kelompoknya, maka usaha sedemikian rupa akan dilakukan untuk mencapainya. Tanpa menyadari bahwa di setiap hal dalam kehidupan ini terdapat dua sisi yaitu hak dan kewajiban. Namun apa yang menjadi kewajiban menjadi tertutup oleh hasrat-hasrat yang selama ini dipupuk dalam jiwa anak. Hasrat berkuasa, hasrat menjadi yang terbaik dengan menghalalkan segala cara, dst. Barangkali kita [aku] harus berhenti mencekoki anak dengan pertanyaan-pertanyaan atau narasi-narasi tentang sebuah cita-cita. Bahwa profesi a kelak akan menjadi seorang yang penting yang dihormati banyak orang, profesi b kelak bisa menjadi seorang presiden yang penuh kuasa, profesi c kelak akan menjadi seorang yang kaya raya, dst dst. Lalu apa yang harus kita lakukan?</p><p>Memastikan bahwa proses belajar anak-anak kita betul-betul memuaskan akal budinya, rasa ingin tahunya. Bahwa anak memiliki relasi dengan setiap hal yang dia pelajari. Sehingga apapun yang diproses di dalam benaknya mampu direfleksikan untuk kemudian dipersembahkan ke luar dirinya. Tidak lagi berfokus pada dirinya sendiri, untuk dirinya sendiri, demi dirinya sendiri. Memang jalan ini adalah jalan sunyi, jalan yang tidak dilalui oleh banyak orang. Yang memerlukan kerja keras untuk membuka jalannya, dengan harapan menjadi mudah untuk dilalui. Sudah tepat aku berada disini, di komunitas ini. Demi hidup yang lebih baik. Demi masa depan anak cucu yang lebih baik. Demi semesta yang lebih baik. Amin!</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-16 07:56:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2792070077</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>hhslimbong</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2792084282</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 45]</p><p>Hal. 89-92</p><p>Kamis, 9 November 2023</p><p><br></p><p><br></p><p>Sebelumnya perbincangan masalah hasrat ingin berkumpul sebagai hasrat yang turut berperan membantu menumbuhkan akal budi, berubah menjadi tak baik ketika hasrat ini dibiarkan berkuasa sehingga membuat akalbudi mangkrak, alias tidak bertumbuh. Inggris sudah merasakan dampak tidak baiknya ini dengan menuai banyak keluhan tentang betapa kakunya sistem sosial yang berlaku di sana. Sebuah kelompok di sana kebanyakan hanya berisi orang-orang dari latar belakang yang sama, tak mau bergabung dan atau tak mampu bergabung dengan kelompok lain. </p><p>Padahal sebenarnya, hasrat anak yang ingin bisa berbicara dengan para cendekia dari berbagai bidang yang berbeda bukanlah sesuatu yang salah.</p><p>Hasrat akan pengetahuan adalah hasrat terakhir yang kita bahas.</p><p>Hasrat ini sering sekali dilumpuhkan oleh para pendidik atau guru dengan mengecilkan kemampuan dan kemauan belajar anak. Berpikir bahwa anak harus selalu diberi pendorong atau penyemangat dalam mencapai suatu pengetahuan berupa emulasi, peringkat, hadiah, nilai dan sama saja dengan mematikan hasrat alami mereka akan pengetahuan itu sendiri, berganti dengan pengejaran semu akan nilai, peringkat, materi dan persaingan yang melelahkan. Tidak ada lagi sukacita dalam mengejar pengetahuan itu sendiri.</p><p>Ms Mason juga mengandaikan hal ini dengan orang yang selalu berjalan menggunakan bantuan kruk jadi tidak punya kekuatan untuk berjalan sendiri. Orang yang selalu mengonsumsi bubur membuat pencernaannya menjadi lemah. Orang yg selalu menutupi matanya ketika berjalan di bawah mentari, jadi tidak tahan dengan cahaya matahari.</p><p>Bayangkan ketika kruk itu dibuang, bubur encer itu tak tersedia, penutup mata tak tersedia. </p><p>Siapa yang mau membaca buku kalau tidak ada ujian?</p><p>Siapa yang akan maju mengerjakan sesuatu jika tidak ada benefit yang biasanya selalu tersedia? Siapa yang mau menyelesaikan suatu masalah jika tidak dibayar pantas. Pengejaran-pengejaran akan hal-hal rendah inilah yang membuat anak-anak kelak menjadi dewasa yang jauh dari nilai-nilai luhur yang harus dimiliki seorang warganegara yang rela bertaruh jiwa raga demi terwujudnya masyarakat adil makmur.</p><p>Jadi kembali lagi ke hasrat alami akan pengetahuan, maka Ms Mason mengangkat lagi temuan berharga bahwa hasrat akan pengetahuan pada anak-anak akan sangat responsif dengan segala sesuatu yang disajikan dalam bentuk Sastra baik lisan maupun tulisan yang berisikan ide-ide hidup dengan kosakata yang kaya. Jangan lagi menganggap anak-anak tidak mampu, tapi biarkan hasrat akan pengetahuan yang ada pada anak mengambil alih untuk mencernanya dan kita akan bisa melihat buah-buahnya kelak. Mereka kenyang, bertumbuh dalam setiap aspek, lebih tenang dalam bersikap dan mengambil keputusan. </p><p>Beda halnya dengan anak yang diajari mengejar sesuatu demi nilai dan peringkat, ia hanya akan ruwet dengan kompetisi yang bersifat teknis dan mekanis juga sempit. Hal ini justru menghilangkan sukacita dalam proses pengejaran pengetahuan. </p><p>Jadi di dalam kehidupan nyata, hal ini akan sangat terasa, bagaimana seorang dewasa yang hasrat akan pengetahuannya dikebiri akan terus-menerus berkutat pada masalah yang sama, tanpa ada kemajuan yang berarti. Kemampuan problem solvingnya di usia 22 sama-sama saja dengan ketika ia berumur 12. Tidak demikian halnya dengan dewasa yang mendapatkan pendidikan sejati, karena semakin hari pertumbuhannya sebagai pribadi utuh akan semakin terasa kemajuannya, tidak mandeg, dan tidak mundur.</p><p>Damba</p><p>Jakarta, 15 November 2023</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-16 08:10:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2792084282</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kesetaraan pendidikan apakah membahayakan? </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2799283507</link>
         <description><![CDATA[<p>Pertemuan 46</p><p>Hal 91 - 93</p><p><br></p><p>Aku perlu membaca ini dua kali agar faham apa yang sedang dibincangkan miss Mason dalam paragraf ini. </p><p><br></p><p>Tampaknya di masa itu sedang ada wacana pemerataan pendidikan untuk semua strata sosial, dan ini disebut-sebut sebagai hal yang membahayakan, kenapa ya? </p><p>Katanya akan terjadi kekacauan secara sosial seperti yang terjadi pada revolusi Prancis. </p><p>Ahhh jadi ingat, kalau negara Indonesia sendiri terbentuk karena politik balas budi pemerintah Hindia Belanda yang memberikan kesempatan bagi bumi putera untuk mengecap pendidikan, tujuannya sih untuk jd tenaga profesional yang diperlukan oleh perusahaan-perusahaan Belanda, tapi rupanya itulah yang menjadi cikal bakal para bumi putera mengimajinasikan sebuah negara. </p><p>Apa yang disebut membahayakan di dalam paragraf ini seperti itu? </p><p><br></p><p>Tapi kata CM, doktrin peluang untuk setara bagi setiap orang itu memang  berbahaya. Ia menambahkan bahwa ini adalah versi intelektual dari ajaran seleksi alam dan sudah mengalami betapa mengerikannya ketika doktrin ini dijalankan. Aku ingat waktu itu CM di vol 6 memang pernah menceritakan bahwa Hitler menjadikan doktrin ini sebagai pembenaran terhadap tindakan yang ia lakukan. </p><p><br></p><p>Penjelasannya begini: ada orang-orang yang ambisius, tidak sabaran dan mengambil peluang paling depan bahkan merebut semua peluang, mendominasi rekan-rekannya dan menghalalkan segala cara untuk memajukan dirinya sendiri dan keyakinan-keyakinannya. </p><p><br></p><p><br></p><p>CM bilang; janji bahwa semua warga negara bisa mendapatkan kekuasaan dan jabatan harus diiringi dengan kesadaran kewajiban dalam kekuasaan itu. Ia pun menaruh curiga, Jangan-jangan unjuk rasa buruh ada kaitannya dengan kebiasaan di sekolah yang bekerja untuk hadiah dan peringkat. </p><p><br></p><p>Nah dari situ CM membandingkan dengan metode pendidikan yang ia rumuskan salah satunya penggunaan LV. Intinya dengan bacaan2 yang mengandung ide hidup ini, anak-anak di sekolah gak perlu loh diiming-imingi dengan perangkat-peringkat itu dan mereka tetap belajar dengan sungguh-sungguh. Kalau kata mbah Leonardo Da Vinci manusia punya curriocity, yaitu rasa ingin tahu yang memang sudah fitrahnya. </p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-22 11:35:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2799283507</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2799535988</link>
         <description><![CDATA[<p>Pertemuan 46</p><p>(Halaman 91-93) </p><p>Kamis, 15 November 2023</p><p><br></p><p>Ibu CM membahas tentang pemertaan pendidikan buat semua kalangan yang ternyata membuat sebagian orang merasa cemas. Mengapa? Karena mereka mengaitkannya dengan dengan Revolusi Perancis, terjadinya kekacauan sosial. Salah satunya karena protes rakyat kepada pemerintahan yang korup. Apa benar? Disebutkan lagi bahwa doktrin kesempatan yang setara bagi semua orang itu berbahaya.  Dan ini disebut sebagai seleksi alam versi intelektual. Lalu, seharusnya bagaimana? apakah pemerataan pendidikan sama dengan kesempatan yang sama bagi semua orang itu sama pengaruhnya bagi kehidupan kita? </p><p><br></p><p>Melalui penjelasan Ibu CM, jika pendidikan disertai adanya kompetisi dengan iming-iming hadiah dan peringkat munculah dikemudian hari orang-orang yang ambisius dan keinginan untuk menonjolkan diri. Saat memperoleh kekuasaan ia menggunakannya untuk dirinya sendiri. Bukan untuk mengabdi pada masyarakat. Dan terjadilah seleksi alam sebuah prinsip dalam Teori Evolusi yang menyatakan bahwa makhluk hidup yang terus dapat bertahan hidup (beradaptasi) akan tetap hidup sedangkan makhluk hidup yang tidak dapat bertahan hidup akan mati. Mengerikan bukan? </p><p><br></p><p>Maka pendidikan yang benar adalah pendidikan yang mencakup seluruh bagian  diri manusia. Setiap orang seharusnya mengejar pengetahuan karena cinta akan pengetahuan itu. Pribadi - pribadi yang hasrat pengetahuannya terjaga akal budinya terpuaskan, jiwanya tenang, dan munculah pribadi berkarakter luhur. Saat ia menerima kekuasaan ia paham hidup tak sekedar tentang materiil tetapi ada cita-cita luhur didalamnya, disertai dengan pengabdian pada masyarakat dan negara sebuah kerendahan hati untuk melayani sesama. Pemerataan pendidikan yang holistik inilah yang diperlukan supaya tercipta masa depan yang baik bagi semua orang. </p><p><br></p><p>Mungkin ini contoh nyata tentang menstimulasi hasrat kompetisi yang kemudian menekan hasrat akan pengetahuan disekolah bisa berakibat besar dalam sebuah negara. Bekerja keras untuk sebuah hadiah atau peringkat adalah cita-cita rendahan yang perlu kita waspadai. </p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-22 15:23:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2799535988</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol. 6 – Hal. 86-88</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2800069197</link>
         <description><![CDATA[<p>Mungkin kita semua pernah mengalami merasakan kepuasan pada saat berada di tengah-tengah diskusi dan tampil dengan keyakinan ketika terlihat tingkat pemahaman yang mendalam terhadap materi yang dibicarakan. Sepertinya ini yang menunjukkan hasrat alamiah yang bisa menjadi positif tapi bisa menghancurkan ketika kita berlebihan dan tidak bisa mengontrolnya dengan baik. Merupakan sesuatu yang alamiah ketika kita merasa senang, malah kadang bangga ketika diri bisa menguasai suatu hal dengan sangat baik dan diakui oleh orang lain. Hasrat ini pula yang sering kali dijadikan alat untuk menghasilkan siswa2 ‘kualitas terbaik’ di banyak sekolah. Ini pula yang dengan mudah dijadikan alat untuk menarik perhatian orang tua murid untuk berlomba2 memasukkan anaknya untuk masuk ke sekolah terbaik. Terlihat tidak berbahaya, tapi sebenarnya hal ini tanpa disadari memicu anak2 untuk memiliki dorongan menjadi yang terbaik hanya dengan alasan menyenangkan orang tua, memuaskan diri dan mencari rasa kagum dari orang2 di sekitarnya. Belajar hanya untuk berprestasi. Padahal belajar itu sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan asupan akal budi kita.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-23 02:50:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2800069197</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2808302120</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 45]</p><p><br></p><p>Kamis, 9 November 2023</p><p>Vol 6, Hal 88-91</p><p><br></p><p>Dari tulisan ibu CM ini saya mendapatkan renungan untuk tetap di jalur tengah untuk mempergunakan hasrat² "terutama hasrat berkompetisi, hasrat menonjolkan diri, keserakahan, hasrat akan kekayaan dan keuntungan kasat mata". Hasrat ini ada alamiah dalam diri manusia. Sebagai pendidik, bertugas mendampingi anak dengan cara yang sekarang saya pahami misal dengan melatih habit training, berusaha rutin untuk menjalankan evaluasi refleksi terhadap apa yang telah dilakukan selama proses pembelajaran. Sehingga anak² juga saya paham apa sih yang menjadi kelemahahan, kelebihan dari diri kita masing². Jangan sampai kebablasan secara tidak sadar menstimulasi hasrat² yang justru malah memancing hal buruk dalam diri seorang anak.</p><p><br></p><p>Untuk hasrat pengetahuan semua anak memiliki. Mereka ingin tahu apa saja yang memantik akal budinya. Dari sini ibu CM memberikan tulisannya, bahwa dengan memberikan sajian buku yang sastrawi dan berkualitas sehingga ide baik bisa tertanam pada benak anak yang tujuannya baik untuk mereka ke depan. Ini perlu diingat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-30 02:03:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2808302120</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2808366427</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 46]</p><p><br></p><p>Kamis, 16 November 2023</p><p>Vol 6, Hal 91-93</p><p><br></p><p>Pada halaman ini aku sejujurnya agak bingung dengan dituliskan oleh ibu CM. Ibu CM menuliskan pemerataan pendidikan itu berbahaya dan memungkinkan "Orang-orang yang tak sabaran dan ambisius maju paling depan, merebut semua peluang, mendominasi rekan-rekannya, dan menghalalkan segala cara untuk memajukan dirinya sendiri dan keyakinan-keyakinannya. Mereka naik lewat jalan persaingan ujian. Ambisi dan kerakusan membawa sertanya kegigihan."</p><p><br></p><p>Mungkin yang dimaksud disini jika pendidikan disamaratakan, orang² yang born personnya memang tak sabaran dan ambisius itu bisa maju paling depan sehingga bisa saja menjadi seorang pemimpin lalu memberikan doktrin yang tak baik untuk orang banyak.</p><p><br></p><p>Sedangkan yang born personnya lambat, tenang, tak menonjol justru terlibas dengan orang² seperti ini.&nbsp;</p><p><br></p><p>Pendidikan yang disamaratakan berpotensi menjadi tak baik untuk ke depannya. Manusia yang diciptakan Tuhan berbeda², jadi idealnya pendidikan yang dibuat pun sesuai dengan manusia nya. Tapi apakah bisa jika dalam 1 negara ini orangnya banyak?&nbsp;</p><p>yang jelas pada hal ini yang memantikku adalah mengejar pengetahuan dengan rasa ingin tahu, dengan rasa cinta akan pengetahuan itu, lebih memuaskan jiwa raga seorang manusia, sehingga hasrat pengetahuan terpenuhi, pun hasrat menonjolkan diri, hasrat untuk diakui ini bisa ditekan tak berlebihan. Mengejar pengetahuan memang untuk ingin tau, ingin berelasi dengan pengetahuan tersebut sehingga tujuan baik membentuk manusia seutuhnya bermartabat luhur bisa tercapai.&nbsp;</p><p><br></p><p>Pengetahuan didapat tak hanya untuk meraup material sebanyak mungkin, bukan untuk iming iming hadiah, bukan iming² untuk diakui. Pengetahuan untuk kemajuan diri kita yang pada akhirnya bisa berguna untuk kepentingan orang banyak.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-30 02:54:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2808366427</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol. 6 - Hal. 89-92</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2816650205</link>
         <description><![CDATA[<p>Setiap individu memiliki rasa haus akan pengetahuan. Saat bedang haus, sering kali penawar dahaga yang kita terima air yang manis, air bersoda, air dengan berbagai varian rasa. Apakah air seperti itu bisa mengobati rasa haus? Padahal yang kita butuhkan air putih tatar tanpa rasa. Mungkin seperti itu yang terjadi juga dengan pendidikan yang ada saat ini di banyak sekolah2. Anak2 yang haus lalu disuguhi air berbagai rasa dan manis, kadang bersoda agar mereka tertarik berlomba2 untuk merasakan pelajaran di sekolah. Pelajaran dikemas dengan manis, dengan banyak daya tarik subaya murid2 şemandat menikmatinya dan berkompetisi satu sama lain. Padahal pengetahuan tidak perlu dikemas sedemikian rupa dan mudah cerna, karman setiap anak sedianya memiliki keinginan mendalam untuk mencari pengetahuan. Ketika mereka dibiasakan untuk mendapatkan pengetahuan kering yang dikemas menarik justru hasrat ingin tahunya akan meredam sedikit demi sedikit.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-06 23:44:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2816650205</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2819488308</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 47]</p><p><br></p><p>Kamis, 7 Desember 2023</p><p>Vol 6 (Sesi 18 hal 94-97 ; Bab 6 Tiga Instrument Pendidikan)</p><p><br></p><p>Pada halaman ini dibahas ada 3 instrument penting pada pendidikan metode Charlotte Mason, yaitu pendidikan adalah atmosfer, pendidikan adalah pelatihan kebiasaan baik, pendidikan sumbernya dari ide² hidup.</p><p><br></p><p>Pendidikan adalah atmosfer. Bagi CM, atmosfer asli yang sesuai kehidupan sehari²&nbsp; apa yang ada pada sekitarnya, itu menghasilkan pribadi anak yang bisa kuat mentalnya. Bertumbuh pada lingkungan asli yang ada, menghirup udara segar, berelasi dengan alam yang apa adanya, berelasi dengan status sosial atas sampai bawah, bersenda gurau dengan kakak atau adiknya, mengikuti aturan rumah yang disusun oleh ibu, tertawa dengan ayahnya, berelasi dengan tukang². Iya layaknya kehidupan yang terjadi sehari².&nbsp;</p><p><br></p><p>Tetapi tetap, anak butuh dibimbing dan dipantau agar terjaga dari pengaruh buruk lingkungan sekitarnya.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-09 14:37:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2819488308</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol. 6 Hal. 92-93</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2819775739</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 46]</p><p>Kamis 16 November 2023</p><p><br/></p><p>Doktrin peluang yang setara bagi setiap orang memang berbahaya. Berulang-ulang aku mencerna kata2 ini. Di tengah perenungan lalu teringat jargon negara AS, “US land of freedom, land of opportunities”. Dan mengingat kembali bahwa di negara ini paling sering terlihat pendidikan dengan menanamkan rasa kompetisi yang besar, menjadi yang terunggul dan terbaik adalah tujuan. Mungkin ini maksud dari kalimat tadi. Kalau saja terbiasa untuk memiliki ambisi selalu menjadi terbaik, yang paling banyak bersuara, paling vokal, paling tampil akan selalu dianggap superior dan patut didengar, dan semua berlomba2 untuk menjadi yang paling. Ambisi seperti ini sebenarnya banyak bisa ditemukan sampai saat ini, dalam perebutan kekuasaan dalam pemerintahan, dalam dunia korporasi. Contoh sehari2 di dunia korporasi yang paling sering aku temukan, karena memang aku berada di tengah2 dunia korporasi. Tidak sedikit individu unggul dan ambisius yang sering mendominasi dalam sebuah team kerja, dan memiliki kesabaran tipis untuk mendengarkan anggota team yang tampak biasa-biasa saja. Banyak pula di antara mereka yang berpengalaman sangat banyak dan memang banyak prestasinya, ketika diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan akan hal2 yang dianggap sepele, menepis kesempatan itu karena berpikir pelatihan itu hal remeh yang tidak ada manfaatnya, hanya buang2 waktu. Apakah ketika banyak pengalaman membuat kita merasa tidak penting lagi untuk menambah pengetahuan yang tidak terlihat wah/istimewa? Sementara itu, bila pelatihan ini menjadi target yang harus dicapai untuk evaluasi tahunan, banyak pekerja yang ‘dengan terpaksa’ mengambilnya demi poin dan harapan imbalan penilaian bagus artinya naik gaji. Ketika terasa perlu pergeseran pemain, di mana karyawan senior ada kesempatan untuk mengambil peran/jabatan lebih tinggi, yang dipertimbangkan hanyalah ‘Wani piro?’ Berapa dulu imbalannya? Kalau tidak banyak ya buat apa. Padahal dalam pemikiranku banyak deretan individu lain yang mungkin perlu kesempatan ini untuk diambil oleh seniornya, agar yang lain bisa berkembang. Tapi hal ini jarang menjadi pertimbangan. Ya, bahaya bila kita punya keyakinan materi, imbalan adalah target dari mengapa kita harus mengenyam pendidikan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-10 05:01:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2819775739</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bab 6 3 Insstrumen Pendidikan      Pg 94( Irni Annisa)</title>
         <author>irniannisa248</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2823528392</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pendidikan adalah Atmosfer</p><p>Menurut Charlotte dibutuhkan 3 instrumen dalam pendidikan, yang akan dibahas dihalaman ini adalah Atmosfer. Sebagai orangtua kita sering kali merasa khawatir dengan anak-anak kita,merasa tak tega jika anak-anak mengalami kesulitan ataupun kita terkadang tak tega jika melihat anak kita sedang dimarahi oleh ibu-ibu komplek sebelah rumah. Menurut Charlote tidak baik mengisolasi anak-anak ke dalam lingkungan artifisial,anak hanya merasakan manisnya kehidupan seperti halnya tanaman yang selalu dilindungi dari cuaca maka jika terkena badai maka tanaman itu akan binasa. Menurutnya rumah adalah sekolah perdana yang mengesankan bagi anak. 1/3 hasil pendidkan disumbang dari atmosfer keluarga. Bagaimana anak belajar berbagi mainan ataupun makanan dengan sodaranya atau anak melihat bagaimana seorang ibu menata interior rumahnya, kebersihan rumahnya. Anak melihatnya meskipun ia tidak mengatakannya. mereka bisa saja menirunya.</p><p>Memiliki taggung jawab besar sebagai orangtua atau inspirator bagi anak bukan berarti kita terus-terusan memakai topeng didepan anak. berpura baik meski jengkel atau tetap tersenyum walaupun hati menangis. biarkan anak menghadapi hidup seperti apa adanya. dengan kesulitankeslitan yang dihadapinya jusru ada pelajaran bagi anak.Dirumah orantua dan anak biasanya menampilkan diri mereka apa adanya.tepatlah jika pendidikan karakter itu berawal dari keluarga. </p><p><br></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-13 07:04:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2823528392</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol. 6 Pg. 94-97</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2827087690</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 47]&nbsp;<br>Kamis, 07 Desember 2023</p><p><br/></p><p>Instrumen pertama dari pendidikan anak yang disebutkan CM adalah ‘Pendidikan adalah atmosfer’. Atmosfer tempatindividu berada memiliki pengaruh paling besar dalam membangun dirinya. Atmosfer seperti apa yang paling sesuai untuk mendidik anak? Bila aku tidak mempelajari CM mungkin aku berpikir atmosfer itu hanyalah soal ruang yang diberikan untuk anak dengan tujuan anak belajar dengan ruang yang sesuai dengan tumbuh kembangnya. Padahal atmosfer tidak soal ruang semata, tapi juga bagaimana orang tua memberikan atmosfer, suasana, contoh nyata yang akan membuat anak bisa berelasi dan menikmati perjalanan belajarnya. Terdengar mudah tapi ya sulit. Terdengar sulit tapi sebenarnya tidak juga, kalau saja kita menyadari bahwa semuanya itu tidak perlu diatur khusus (artifisial). Biarkan mengalir dengan alamiah. Biarkan anak juga menyaksikan betapa orang tuanya pun mengalami proses ‘belajar’ bersama2, beriring2an dengan dirinya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-12-16 15:59:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2827087690</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Vebriyani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2844351339</link>
         <description><![CDATA[<p>Pertemuan 48</p><p>Kamis, 14 Desember 2023</p><p>Volume 6 hal. 97-98</p><p><br></p><p><br></p><p>Atmosfer itu adalah salah satu instrumen pendidikan yang bisa kita gunakan. Tetapi ada amaran yang perlu dipegang teguh yaitu hindari rekayasa. Anak-anak perlu belajar tentang kehidupan. Biarkan atmosfer disekitarnya memancar apa adanya tanpa dibuat-buat. Saat kita mensterilkan anak dari  atmosfer sesungguhnya sesungguhnya ia akan menjadi pribadi yang ringkih. Biarkan ia tahu mamanya menangis lalu memeluknya. Namun relasi yang benar harus dijaga, orang tua sebagai pemegang Otoritas dan anak taat. Orang tua tidak over ekspektasi terhadap anak. Kemudian membuat anak menghadapi pilihan moral dan ini adalah hal berat yang bukan tanggungjawabnya. </p><p><br></p><p>Ibu CM memberikan sebuah penjelasan melalui cerita seorang guru yang cemas. Ia memiliki harapan lebih bahwa para siswanya paham pelajarannya. Atmosfer seperti ini memancar ke anak-anak didiknya. Kegiatan belajar jadi tidak nyaman. Anak-anak merasakan ketegangan dalam kelas, kondisi overstimulasi hingga anak merasa cemas. Mungkin ada yang menangis hingga mengalami gejala penyakit mental. Apa sebenarnya yang salah? Atmosfernya! Bukan belajarnya. </p><p><br></p><p>Perhatianku terpaut pada kalimat ini:</p><p>"Aku kuatir X akan gagal dalam ujiannya; dia suka ke sekolah, tapi selalu menangis kalau diminta menggarap latihan soal ujian. Atau mungkin aku yang selama ini terlalu menuntut dia harus dapat nilai tinggi, sehingga kalau merasa tidak bisa mencapai nilai sempurna dia jadi sedih?”</p><p>Pada kalimat kedua nampak sang guru membuat alibi moral bahwa ia menuntut anak harus dapat nilai tinggi. Ini yang kemudian menempatkan anak pada pilihan moral. Anak seharusnya belajar karena cinta akan pengetahuan tapi ia memiliki pilihan lain yaitu belajar dan bekerja keras demi peringkat, nilai sempurna atau nilai tinggi. Bukankah ini berat?</p><p><br></p><p>Sebagai pendidik kita memang seharusnya sadar bahwa yang anak butuhkan adalah rasa cinta akan pengetahuan sehingga mereka akan belajar dengan tekun tanpa iming-iming apapun. Sama seperti hasrat seorang bayi yang haus akan air susu ibu ia akan tenang saat menyusu karena lapar dan dahaganya terpuaskan. </p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-10 15:15:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2844351339</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2844870558</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 48]</p><p><br></p><p>Kamis, 14 Desember 2023</p><p>Vol 6 hal 97-98</p><p><br></p><p>Pada halaman ini aku mendapat point² dari ibu CM bahwa :</p><p><br></p><p>1. Berikan atmosfer apa adanya terhadap anak, agar anak lebih tangguh terhadap kondisi nyata kehidupan. Misal : ibunya sedih karena sesuatu hal, ketika anaknya melihat ibunya sedih, baiknya ibu ceritakan saja kesedihannya apa, tidak perlu disembunyikan, dengan berkata "tidak apa² ibu hanya kelilipan" padahal sebenarnya tidak begitu. Anak² bisa belajar bahwa emosi itu banyak macam, saatnya sedih tidak apa² menangis. Emosi tidak hanya yang senang² saja. Anak bisa belajar empati.</p><p><br></p><p>2. Tetapi juga jangan overekspektasi dengan anak. Misal memang anak memiliki hasrat belajar, ketika anak suka sama sesuatu hal, durasinya ditambah jadi lebih panjang karena melihat anak tertarik mempelajarinya, padahal faktanya durasi fokus si anak masih belum panjang. Atau contoh lain jika di sekolah dari sekian banyak pelajaran, anak dituntut untuk mendapat nilai 100 semua dalam semua mata pelajaran.&nbsp;</p><p><br></p><p>3. Tugas pendidik mengupayakan terbaik untuk anak² didiknya dan tetap menjaga hasrat alamiah pengetahuan si anak. Bila anak² membutuhkan pengetahuan, maka pasti anak² akan mencarinya bagaikan bayi yang lapar mencari air susu ibu dan terpuaskan ketika sudah mendapatkannya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-11 00:11:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2844870558</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>gitasumitra</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2844989362</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 48]</p><p>Hal. 97-98</p><p>Kamis, 14 Desember 2023</p><p><br></p><p>Disini CM mengingatkan tentang cara kerja atmosfer bagi kehidupan anak. Kita boleh saja mengandalkan atmosfer sebagai instrumen penting pendidikan anak, tapi ada beberapa amaran tentangnya: jangan sampai atmosfer yang dihadirkan adalah atmosfer buatan yang penuh rekayasa agar anak tidak tumbuh dalam rumah kaca. Tumbuh baik tapi tidak tahan terpaan iklim.</p><p><br></p><p>CM memaparkan, bahwa atmosfer di sekolah bisa saja sudah melalui berbagai rekayasa. Suatu ilmu "diencerkan", "dikunyahkan", sehingga yang sampai ke anak tidak lagi orisinal, dan melenceng jauh dari tujuan utama akan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.</p><p><br></p><p>Kita seharusnya tidak menyepelekan hasrat belajar anak, bahwa sesungguhnya anak perlu merasakan kejujuran dan ketulusan yang dapat mereka rasakan dalam hidup yang sesungguhnya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-11 02:33:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2844989362</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Otoritas dan Penurutan</title>
         <author>alifuzayani</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2847646070</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 37]</p><p>Hal 68-71<br>Kamis, 10 Agustus 23</p><p><br></p><p><br></p><p>Otoritas dan Penurutan</p><p>Adalah 2 hal yang pasti dan mendasar dalam pendidikan dan pengasuhan.</p><p><br></p><p>Sebuah cerita dari orang-orang kuno di pantai Danau Galilea yang menyadari bahwa Yesus mampu berbicara secara otoritatif pada kaumnya dibanding ulama-ulama mereka, menjadi salah satu latar belakang kenapa CM mengamarkan dua prinsip ini dalam pendidikan, otoritas dan penurutan (ketaatan).</p><p> </p><p>Otoritas dan ketaatan, adalah dua sisi sikap yang berpasangan. Otoritas menuntut ketaatan, dan ketaatan tentu saja berangkat dari sebuah otoritas. Setiap diri kita, secara alamiah sudah tertanam keduanya, tinggal dipakai pada saat yang tepat nantinya. Kita bisa mengamati prinsip otoritas yang berlaku pada realitas kehidupan. Otoritas bisa saja melekat pada usia, jabatan, predikat, dan seterusnya. Misalnya saja otoritas yang dimiliki oleh polisi, orang tua, pemimpin daerah, atau kakak pada adeknya.</p><p><br></p><p>Alam semesta pun bekerja dengan 2 prinsip ini, hanya saja berbeda istilah ada gaya sentripetal dan sentrifugal yang kita sudah kenal. Kita lihat saja bagaimana bumi bisa mengorbit pada matahari dengan tidak tertarik pada gravitasi matahari, tapi juga tidak terpental jauh dari garis edar nya sendiri. Dengan hukum-hukum alam yang berlaku teratur, semua akan berjalan harmonis sesuai dengan kehendak sang Pencipta. Bayangkan saja jika semua benda di alam ini bergerak semaunya, bisa dipastikan alam dan seisinya akan kacau dan penuh malapetaka.</p><p><br></p><p>Begitu juga kehidupan manusia, otoritas dan ketaatan menjadi niscaya. Bahkan sejak anak-anak pun, mereka sudah punya keduanya, sealamiah adanya naluri dan imajinasi yang mereka punya. Maka dari itu, untuk mengasuh dan mendidik mereka, keduanya harus dipakai dengan tepat dan sesuai porsinya, agar anak teratur menjalani hidupnya dan tidak menjadi pemberontak atau sebaliknya.</p><p><br></p><p>Anak harus dilatih ketaatan dari sejak kecil, bahkan dari ketika mereka masih bayi. Mereka harus tau bahwa ada hukum alam dan aturan sosial yang bekerja dan harus diikuti di kehidupannya kelak. Orangtua dan guru setara kedudukannya dengan anak dalam ketaatan pada hal-hal diatas. Hanya saja orang tua bisa menjadi perwakilan otoritas atas hukum dan aturan yang berlaku, karena orang tua lah yang lebih tau dahulu soal ini. Tetapi orang tua tidak boleh menyelewengkan hak otoritas ini pada ketaatan yang bersifat pribadi atau personal.</p><p><br></p><p>Tugas orang tua adalah melatih anak-anak agar bisa taat dengan bangga dan menurut secara bermartabat. Ini adalah ciri dan karakter orang-orang besar, yang biasanya bekerja dan berkarya dari hati untuk masyarakat dan melampaui kepentingan dirinya sendiri. Bagaimana bisa membuat anak taat tapi dengan rasa bangga? Ketika kita bisa memahamkan pada anak-anak bahwa Tuhan, hukum dan aturan adalah pemegang otoritas tertinggi untuk ditaati maka ketaatan mereka adalah pencapaian tertinggi juga. Dan kebanggaan itu akan otomatis muncul ketika mereka mampu melakukannya.</p><p><br></p><p>Satu hal yang terlarang adalah agar sebisa mungkin orang tua tidak menjadi penghalang relasi anak dengan hukum alam dan aturan sosial. Dengan cara membangun ketaatan yang bukan semata-mata hanya berdasar pada pribadi pemegang otoritas, namun pada hukum dan aturan. Dan dengan </p><p>membiarkan anak merasakan sendiri manfaat dari ketaatan atau konsekuensi atas pelanggaran yang diperbuat. Dengan begini, anak akan menjalin relasi sendiri dengan hukum-hukum yang berlaku.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-13 13:58:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2847646070</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>alifuzayani</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2847647502</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 38]</p><p>Hal 71-73<br>Kamis, 24 Agustus 2023</p><p><br></p><p>Menurut CM, kriteria asupan akalbudi layaknya asupan untuk tubuh. Harus bergizi, bervariasi, menarik selera dan melimpah serta harus disajikan dengan utuh dan segar. Benak langsung membayangkan bagaimanakah wujud ide/gagasan, yang merupakan asupan akalbudi itu memenuhi kriteria-kriteria diatas? mungkin tidak mudah mencari padanan bergizi, menarik selera, utuh dan segar-nya bentuk ide itu seperti apa. Tapi paling tidak, mestinya semua itu bisa dirasakan oleh akalbudi sendiri, sama seperti respon tubuh atas asupan yang masuk ke dalammya. Seperti yang CM pernah utarakan, bahwa akalbudi akan memilih sendiri apa yang dia butuhkan, dia akan berselera pada bahasa keindahan dan dia juga suka pada gambaran utuh sebuah gagasan. Pada intinya, akalbudi sendirilah yang harus mengolah, mencerna dan merasakannya secara mandiri.</p><p>Makanya, pengetahuan-pengetahuan itu janganlah dipaksa disuapkan apalagi disajikan dalam bentuk sudah setengah matang. Itu akan mengurangi kadar kelezatan sebuah nutrisi.</p><p><br></p><p>Akalbudi melakukan kerja mental, sedangkan tubuh melakukan kerja fisik. Subjek pendidikan sejatinya adalah akalbudi, karenanya pendidikan adalah sebuah kerja mental. Namun pendidikan bukan hanya soal pengetahuan akademis saja. Kebutuhan jasmani juga harus terpenuhi, hanya saja bukan hal yang utama tetapi tetap penting, fisik yang sehat dan kuat akan mendukung kerja-kerja mental. Kata seorang fisiolog, aktifitas mental bisa membuat hidup lebih panjang, namun sebaliknya, jika aktifitas fisik berlebihan justru tidak terlalu bagus untuk kesehatan. Inilah kenapa porsi olah fisik jangan sampai menjadi yang lebih dominan.</p><p>CM juga menekankan bahwa anak harus berelasi dengan banyak hal, karena dunia ini ada banyak sekali yang perlu dipelajari. Tumbuhan, hewan, lingkungan, hubungan sesama manusia, fisik dan psikologi manusia itu sendiri, kota dan negara tempat tinggalnya, sejarah, sastra, sains, teknologi dan masih banyak lagi, dan bisa saja mungkin tidak terbatas. Semua pasti mempunyai hubungan dan keterkaitan, maka mestinya kita juga tidak menspesialisasi hanya pada satu bidang saja. Pendidikan itu holistik.</p><p><br></p><p>Kesadaran atas kewajiban juga harus dimiliki anak. Ketika orang tua atau guru mengajarkan anak tentang kewajiban ini, maka orang tua juga harus menjalankannya tanpa kecuali dan tanpa dispensasi. Ketaatan anak akan mudah terbentuk dengan tanpa banyak konflik dan drama, jika orang tua memposisikan diri setara dalam hal ini, sama-sama harus taat. Orang tua memiliki otoritas untuk mengawal anak, tapi orang tua juga mesti tunduk pada otoritas tertinggi yaitu Tuhan, hukum alam dan sosial. Anak harus tau bahwa kewajiban-kewajiban itu bertujuan untuk kesehat-sejahteraan diri bukan semata-mata tuntutan dan kesenangan orang tua.</p><p>Kunci kedua, agar anak bisa dengan mudah taat adalah memberi kebebasan anak untuk memilih sendiri sesuai dengan kapasitas berpikirnya. Dengan hasil pilihannya sendiri diharapkan mereka akan senang menjalaninya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-13 14:01:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2847647502</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>alifuzayani</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2847649131</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 39]</p><p>Hal 74-76<br>Kamis, 07 September 2023</p><p><br></p><p>Prinsip otoritas dan ketaatan bisa dilatihkan pada anak dengan cara memberi mereka tanggung jawab dalam posisi/jabatan dalam kelas. Misalnya dengan menjadi ketua kelas atau pengurus harian. Sebisa mungkin diatur agar ada bagian jabatan lainnya hingga semua anak kebagian tanggung jawab. Dari hasil pengamatan CM tentang praktik ini, bahkan anak yang sepertinya tampak inkompeten, bisa menunjukkan tanggung jawabnya dengan sangat baik.</p><p><br></p><p>Selain itu, anak juga mesti punya rasa tanggung jawab atas proses belajarnya sendiri. Bukan guru yang harus bertanggung jawab. Guru hanya memaparkan bahan bacaan dan ide dan sedikit membantu menguraikan jika mereka kesulitan tapi tidak terlalu banyak campur tangan. Anak harus sadar bahwa tanggung jawab belajar dan penyerapan pengetahuan sepenuhnya ada pada diri mereka sendiri. Makanya kenapa ada prinsip sekali baca, tidak ada pengulangan apalagi remidi, agar anak fokus dan tidak menyepelekan. Pengulangan dan remidi itu justru akan memindahkan tanggung jawab pada guru, seolah gurulah yang harus bertanggung jawab agar anak menjadi paham dan mengerti pelajaran. Tanggung jawab guru hanya sebatas agar anak memperoleh asupan, bagaimana asupan itu tercerna dengan baik itu urusan anak.</p><p><br></p><p>Menurut CM, ada 3 sesat pikir yang diyakini oleh para guru, dan ini bisa jadi penghambat proses belajar.</p><p><br></p><p>Pertama, guru menganggap dirinya superior dan anak-anak inferior. Maka, mereka menyuapi pengetahuan pada anak sedemikian hingga karena meremehkan kemampuan akalbudi anak mencerna. Terkadang mereka menurunkan kualitas pelajaran, bahasa, bacaan atau apapun itu dengan maksud agar lebih mudah dipahami oleh murid. Padahal akalbudi anak mampu untuk itu.</p><p><br></p><p>Kedua, tentang daya perhatian anak. Seringkali, agar anak-anak lebih memperhatikan apa yang disampaikan guru, maka banyak cara ditempuh untuk mencapai tujuan itu. Mulai dari memberikan banyak ilustrasi, gambar, alat peraga dan iming-iming. Daya perhatian bukanlah sesuatu yang mesti ditumbuhkan seperti itu, daya perhatian adalah kemampuan akalbudi itu sendiri, jadi cara merawat dan meningkatkannya adalah dengan memberi asupan pada si akalbudi. Dengan menyediakan semua sumber pengetahuan dekat dengan mereka, menyediakan akses seluas-luasnya pada bacaan-bacaan berkualitas lah yang akan membuat daya perhatian itu tetap terjaga.</p><p><br></p><p>Ketiga, anggapan bahwa tujuan pendidikan hanyalah sebagai bekal untuk mencari materi kelak dan agar anak menjadi warga negara yang baik, cukup itu saja. </p><p>Dari sudut pandang diatas, maka keilmuan humaniora tidak diperlukan. Filsafat, seni, sejarah dan bahasa jadi tidak perlu diajarkan. Yang diajarkan hanya ketrampilan bekerja serta pendidikan kewarganegaraan saja.</p><p>Padahal tujuan pendidikan bisa lebih dari itu, pendidikan adalah peningkatan kualitas pribadi seseorang di segala bidang. Jika kualitas pribadi seseorang meningkat maka kualitas hidup, pekerjaan, kehidupan sosial, agama dan seterusnya pun akan menjadi lebih baik dan makin bertanggung jawab.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-13 14:06:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2847649131</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>alifuzayani</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2847650248</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 40]</p><p>Hal 77-79<br>Kamis, 14 September 2023</p><p><br></p><p>Daya perhatian dan rentang fokus anak, bukan hanya dipandang sebagai masalah yang perlu diseleseikan dengan cepat memakai triks dan tips hebat.</p><p>Soal atensi ini, perlu dipandang sebagai sesuatu yang vital yang berkaitan dengan otoritas. Dimana letak relevansinya?</p><p>Ketika anak mampu menuangkan atensinya secara penuh saat belajar maka dia dianggap bisa menggunakan otoritasnya untuk mengendalikan dirinya sendiri.</p><p>Dia mampu menyuruh fisik dan akalbudinya untuk mengerahkan perhatiannya pada pelajaran. Dan hasil akhirnya adalah hasrat keingintahuan mereka akan terpuaskan. Semakin mereka merasa bisa mencapai kepuasan itu semakin mereka akan berusaha menambah atensi dan begitu seterusnya. Hingga tak perlu lagi campur tangan kita untuk urusan ini.</p><p><br></p><p>Kisah seorang gadis yang diajak neneknya berkunjung ke suatu tempat, dan setelahnya dia begitu antusias menceritakan semua hasil pengamatannya terutama yang berkaitan dengan arsitektur yang menjadi minatnya saat itu. Secara spontan pula, si gadis meminta pada orang tuanya untuk berkunjung ke museum-museum yang pernah dibaca dan dipelajarinya. Orangtuanya hanya mengantarkan saja, hanya membantu mengakses sumber pengetahuan yang diinginkan sang anak. Inilah bukti bahwa anak bisa menggunakan otoritasnya sendiri dalam pengetahuan.</p><p><br></p><p>Anak yang terus terasah daya perhatiannya akan menjadi generasi dengan daya fokus tinggi yang bisa diandalkan dalam bidang pekerjaannya. Banyak alumni sekolahan CM masa itu yang dilaporkan bahwa mereka mampu menjaga atensi dengan baik di lingkup pekerjaan mereka dan membuat bangga. Dari sini CM merasa bahwa metode belajar yang digagasnya telah menunjukkan hasil sesuai yang diharapkan.</p><p><br></p><p>Sebuah pandangan keliru yang kadang masih melekat pada kita sampai saat ini adalah, menganggap kita lebih tahu soal apapun dari anak hanya karena kita tahu lebih dahulu. Kita merasa sudah tahu teori ini itu, seolah sudah paham bagaimana hakikat anak, tapi nyatanya sulit dilakukan dalam tindakan. Seringkali kita masih memberikan penjelasan panjang lebar, ceramah berkepanjangan yang ternyata tidak dibutuhkan anak.</p><p>Sebenarnya ceramah itu bukan sama sekali tidak diperbolehkan. Ceramah dari orang-orang yang benar-benar berilmu, yang sudah sangat menguasai bidangnya, yang mendedikasikan hidupnya pada sebuah subjek, biasanya akan memberikan banyak pencerahan pada kita. Tapi, tidak banyak kita jumpai orang seperti ini. Dan belum tentu juga cocok dengan kondisi anak, karena anak bisa saja terdistraksi dengan kepribadiannya.</p><p>Untuk anak-anak cukuplah hasrat ingin tahunya dan kesenangannya akan pengetahuan terjaga secara alamiah untuk mempertahankan atensi.</p><p><br></p><p>Satu hal lagi yang disayangkan dan menjadi perhatian CM adalah, ketika pada masa-masa sekolah anak diupayakan untuk belajar sedemikian rupa, digencar untuk terus belajar dan mendapat banyak pengetahuan, dikonsep agar pendidikan terus menjadi lebih baik untuk mereka. Namun, setelah masa sekolah selesai, setelah sampai pada masa berkarya dan bekerja, mereka hanya akan menghabiskan waktu untuk bekerja dan bersenang-senang menghilangkan kepenatan. Lupa untuk terus mengembangkan diri dan terus belajar, mengejar pengetahuan</p><p><br>Hal 77-79</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-13 14:08:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2847650248</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2852635882</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 49]</p><p><br></p><p>Kamis, 11 Januari 2023</p><p><br></p><p>Vol 6, Hal 98 - 101</p><p><br></p><p>Jadi pendidikan atmosfer yang ditulis oleh ibu CM ada tersedia 2 pilihan :&nbsp;</p><p>1. apakah mensterilkan anak dari segala macam pengaruh dari luar, atau menciptakan pengkondisian seperti rumah kaca, anak jadi terlihat bagus dari luar, tapi sebenarnya di dalam diri anak rapuh, ringkih, kena terpaan pengaruh dari luar akan goyang.</p><p><br></p><p>atau</p><p><br></p><p>2. Membiarkan anak terkena tiupan kencang dari luar dengan tetap menjaga dan merawat anak dari dalam agar tetap kuat bila mendapat terpaan badai dari luar, seperti teman yang salah, atau info tidak baik dari luar, anak tetap kokoh.</p><p><br></p><p>Setiap yang kita jalankan untuk anak selalu ada hasil yang kita tuai baik atau buruknya perlu ditimbang.</p><p><br></p><p>Lalu pada halaman berikutnya ibu Mason menuliskan "Pendidikan adalah disiplin".</p><p><br></p><p>Otak dan motorik akan singkron baik bila dibentuk oleh kebiasaan² yang dilatihkan setiap hari. Baik anak atau pendidik memiliki batasan dan aturan bila melatihkan kebiasaan baik ini, tidak bisa bebas semaunya. Tentunya sesuai hukum kebenaran yang ada.</p><p><br></p><p>Seperti hasrat belajar pada anak, tidak perlu dipaksa, asal materi, kurikulumnya pas disusun untuk mereka, maka mereka akan melahap semuanya. Juga porsi waktu disesuaikan dengan anak² maka tanpa dipaksa mereka sukarela mempelajarinya.</p><p><br></p><p>Memang pendidik butuh kerja keras untuk membuat kewajiban mereka dijalani konsisten dan mengkawal pada kebiasaan yang dibentuk.&nbsp;</p><p><br></p><p>Salah satu kebiasaan dalam belajar yang wajib dibentuk dan hasilnya akan memudahkan anak adalah dengan melatih fokus, dengan buku² yang berkualitas (buku beride hidup). Dari atensi pada buku² yang disajikan, anak akan ada proses mengolah di akal budinya. Dari melatih membaca, melatih atensi, lalu melatih anak bernarasi lisan, dari narasi lisan ada hal yang akan dipetik yaitu anak berlatih mengungkapkan pikiran dari ide yang didapat. Hasilnya akan membentuk respek terhadap diri sendiri.&nbsp;</p><p><br></p><p>Melatih kebiasaan² yang baik itu butuh disiplin, tidak ada cara lain selain melatihkannya setiap hari dengan konsisten. Memang berat dan ada rasa bosan disitu. Tapi akan ada harga yang dibayar, anak akan kokoh pada kebiasaan baik yang dibentuk, anak tidak akan mudah goyah pada paparan yang buruk yang akan hadir pada perjalanan kehidupannya. Lebih baik bersusah di awal, daripada di akhir. Ketika kebiasaan baik sudah dimapankan dari awal, maka hasil baik yang dituai.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-18 00:39:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2852635882</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>hiyashinta</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2858211216</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 50]</p><p>18 Januari 2024</p><p>Vol 6 Hal 100-102</p><p><br></p><p>Di sini CM mengatakan pentingnya kebiasaan berpikir dan bertindak benas untuk mempermudah hidup kita. Kebiasaan ini harus ditanamkan sejak anak-anak oleh mereka yang bertugas menanamkan kebiasaan ini. Jika tidak, hidup kita akan dipenuhi kegugupan, kebimbangan dan keraguan dalam memilih. Di masa lampau (Abad 18), kebiasaan baik kerap diterapkan dengan kejam. Tetapi di masa sekarang, justru para orang tua terlalu membebaskan anak atau tidak dengan tegas melatih kebiasaan berpikir dan bertindak benar ke anak. Padahal yang namanya kebiasaan itu tidak bisa dihindari. Kalau kebiasaan berpikir dan bertindak benar tidak dimapankan, maka yang menjadi kebiasaan adalah berpikir dan bertindak salah. Fenomena ini diistilahkan CM sebagai pendulum pengasuhan yang bergerak dari ekstrem yang satu ke sisi ekstrem yang lain. &nbsp;</p><p><br></p><p>Kita sendiri secara teori sebenarnya sudah mengetahui kebiasaan apa saja yang baik, tetapi umumnya selalu merasa kesulitan untuk mempraktekannya. Memang butuh niat kuat dari dalam diri yang membuat orang bisa memerintah diri sendiri untuk melatihkan kebiasaan baik tersebut. Tidak seperti kebiasaan buruk dan zona nyaman yang sangat menyenangkan dan menggoda, membentuk kebiasaan baik umumnya selalu menimbulkan konflik, pergulatan, dan kerja keras. Namun CM berkata, kita harus percaya dan optimis bahwa diri kita (otot dan akalbudi ) sudah dilengkapi kemampuan untuk memapankan kebiasaan baik.</p><p><br></p><p>Akal budi kita akan tergugah jika mendapat ide inspiratif. Kemudian, muncullah tindakan setelah kita tergugah tersebut. Tindakkan yang dilakukan berulang-ulang akan melahirkan kebiasaan. Dari kebiasaan baik itu, karakter kita terbentuk. Dengan kata lain, langkah awal untuk membentuk kebiasaan baik adalah dengan menabur ide dulu sehingga membuat tindakan itu terasa penting.</p><p><br></p><p>Menabur ide itu juga harus secara ringan, mengalir dalam kehidupan sehari-hari dan tidak berlebihan. Karena kalau pendamping terlihat ambisius, anak malah justru akan mengeraskan diri dan melawan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-23 07:37:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2858211216</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pertemuan ke-49</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2860977636</link>
         <description><![CDATA[<p>Kamis, 11 Januari 2024</p><p>Hal. 98 - 101</p><p><br/></p><p>Aku pribadi mengimani tulisan CM tentang kebiasaan baik ini. Bahwa sejatinya otak mampu merekam apa yang kita lakukan berulang-ulang sehingga lama-lama menjadi kebiasaan. Yang menjadi pertanyaan adalah, kebiasaan yang bagaimana yang kemudian dilakukan menjadi otomatis. Apakah kebiasaan baik atau sebaliknya yaitu kebiasaan buruk. Disini yang menjadi PeeR dibutuhkan kerja keras untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan yang baik menjadi otomatis. Karena jika tidak dengan sengaja dilatihkan kebiasaan-kebiasaan baik, maka yang menjadi otomatis adalah kebiasaan-kebiasaan buruk. Karena kebiasaan buruk pada dasarnya tidak membutuhkan latihan. Secara alamiah tubuh kita mesti memilih hal-hal yang mengenakkan, dan apa yang enak tidak selalu baik.</p><p>Contoh sederhana dalam hal memilih makanan untuk dimakan. Makanan-makanan cepat saji pasti sangat nikmat dilidah daripada makanan “<em>real food</em>” namun kita tahu apa pengaruhnya bagi tubuh kita jika kita terus-menerus mengkonsumsi makanan seperti itu. Tidak perlu pelatihan untuk memilih makanan-makanan semacam ini. Sebaliknya yang perlu kerja keras adalah membiasakan untuk mengkonsumsi makanan sehat yang jika dilakukan secara konsisten maka akan menjadi kebiasaan. Hal ini juga berlaku bagi kebiasaan-kebiasaan lainnya.</p><p>Dalam prakteknya, memang pelatihan kebiasaan baik ini bukanlah hal yang mudah. Perlu konsistensi yang luar biasa untuk membentuk jalur kebiasaan yang baru pada otak. Perlu kerja keras, kerja cerdas, dan bukan hal yang instant. Perlu kesabaran yang luar biasa karena melatihkan kebiasaan baik tidak tepat untuk dikerjakan dengan cepat-cepat, melainkan kerja marathon yang panjang dan tidak sebentar.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-25 01:51:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2860977636</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol. 6 pg. 97-98</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2867802554</link>
         <description><![CDATA[<p>Kalau kita mencoba mengingat kembali ketika mempersiapkan kehadiran anak pertama kita di dunia, apa yang kita pikirkan saat itu? Saya mencoba mengingat dan memang ada momen2 di mana saya ingin memberikan lingkungan terbaik untuk anak. Tapi lingkungan seperti apakah yang terbaik? Ini bisa terjawab salah satunya dengan apa yang dikatakan CM mengenai atmosfer terbaik bagi anak, atmosfer itu adalah atmosfer sewajar mungkin, sealami mungkin yang bisa kita berikan. Ya betul, kita harus memberikan asupan2 baik salah satunya dengan cara menyediakan atmosfer yang baik. Tapi waspadalah akan kata baik ini. Baik bukan berarti baik tanpa cacat, putih seperti kertas kosong tanpa noda, suci tanpa cela. Karena sesungguhnya tidak ada di dunia ini suatu hal yang sempurna tanpa cacat, dan atmosfer seimbang antara kebaikan dan kesalahan ini yang harus dijaga dan diberikan pada anak.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-31 03:35:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2867802554</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2869169254</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 50]</p><p><br></p><p>Kamis, 18 Januari 2024</p><p><br></p><p>Vol 6 hal 101-104</p><p><br></p><p>Halaman ini masih membicarakan pendidikan itu adalah disiplin. Pada halaman ini saya menemukan beberapa kata kunci dari terjemahan tulisan ibu CM sebagai panduan kita pendidik jg orangtua, yaitu :</p><p><br></p><p>1. Dari contoh yang dijabarkan ibu CM seperti tentara yang tangguh, juga wanita bangsawan bisa duduk tegak selama mengikuti pesta berjam², jika kita melihat hasilnya wah keren ya. Tapi tentu dibalik hasil yang didapat ada kebiasaan disiplin dilatihkan berulang² sampai membentuk jalur kebiasaan mapan.</p><p><br></p><p>2. Disiplin biasanya terkait dengan&nbsp;</p><p>niat dari dalam yang membuat orang memerintah diri sendiri untuk melakukan sesuatu; namun sejenis ketegangan dibutuhkan dalam pembentukan kebiasaan baik, sebab setiap kebiasaan baik adalah hasil dari konflik. (terjemahan vol 6 hal 101-102). Memang perlu kerja keras dalam memperoleh hasilnya. Yang perlu kita pahami, Tuhan sudah memberikan modal dasar yaitu otot dan akalbudi yang sanggup untuk dilatihkan dan kita bisa memerintah atas diri kita sendiri. Jadi sesulit apapun kalau kehendak kuat pasti bisa.</p><p><br></p><p>3. Pembentuk karakter awalnya dari sebuah ide. Dari menabur ide, lalu dilakukan dengan tindakan, dari tindakan lalu menabur kebiasaan, dari kebiasaan terbentuk karakter.</p><p>Namun perlu diingat memasok ide perlu sering diulang dan antusias, mengalir ringan dalam sehari², jangan berlebihan dan ambisius, karena anak akan cenderung mengkeraskan hati dan melawan karena menangkap ambisi berlebih dari orangtua ataupun guru.</p><p><br></p><p>4. Melatih kebiasaan adalah bagian dari ketaatan pada otoritas, melatihkan tanpa beban. Ini perlu diingat oleh pendidik dan orang tua. Jika pendidik atau guru merasa bersalah, kasian melatihkan kebiasaan yang dilatih pada anak, maka anak² akan menghirup atmosfer ketidak konsistenan dan pelatihan kebiasaan baik akan terseok². Anak menjadi tak taat.</p><p><br></p><p>5. Akal budi, kebugaran jasmani, moral, sopan santun, kebiasaan hidup religius sangat tergantung pada proses pembiasaan. Memasok ide ide dari orang² besar, salah satunya dari living books bisa membantu anak² secara bertahap untuk memapankan ide bawah sadar mereka pada hal² baik. Anak² perlahan mampu mengungkapkan pendapat mereka. Cara ini bisa membebaskan anak dari ikut tren atau ikut arus yang terjadi, anak bisa kokoh. Terhindar dari salah arah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-01 01:15:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2869169254</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol. 6 pg. 99-100</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2869523015</link>
         <description><![CDATA[<p>Pendidikan adalah disiplin. Disiplin dalam hal apa? Pemahamanku mengatakan disiplin ini dalam hal membentuk kebiasaan2 yang ditanamkan pada diri. Penerapan kebiasaan yang berawal dari keluarga ini mencakup berbagai hal, mulai dari kesopanan, tata krama, cara berpikir hingga kebiasaan yang berhubungan dengan kondisi fisik. Seperti diskusi kita hari ini mengenai perjalanan spiritual yang kerap kali merupakan pembiasaan diri untuk mengikuti kegiataan religi yang diharuskan dari keluarga. Karena terbiasa walaupun pada awalnya kurang memahami dengan bai kapa tujuan kegiatan tersebut, seiring dengan waktu kita belajar untuk memahaminya sedikit demi sedikit dan akhirnya kebiasaan tesebut menjadi hal yang memberikan kebahagiaan dalam menjalaninya. Kebiasaan yang diterapkan dengan menjalani kegiatan akademis yang disarankan CM, yaitu narasi, tanpa disadari akan membawa kita terbiasa untuk meningkatkan rentang atensi, cepat tanggap dan mampu mengemukakan pendapat sesuai konteks tanpa merasa canggung atau rendah diri. Dari menjalani kebiasan2 ini dengan taat dan disiplin, otak kita akan membentuk jalur kebiasaan ini sehingga mirip seperti otomasi, semua hal baik ini akan mengalir begitu saja terlaksana secara refleks.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-01 07:50:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2869523015</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol.6 pg. 100-103</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2870771580</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><em>Kita perlu cara menabur ide besar secara ringan dalam hidup sehari-hari, mengalir saja dan jangan berlebihan, karena kalau anak mendeteksi ambisi dari mentornya, dia ada kecenderungan untuk mengeraskan diri dan melawan.</em></strong></p><p><br></p><p>Kalimat ini mengingatkan kembali akan kesiasiaan ceramah panjang lebar dan detail pada anak. Menanamkan kebiasaan itu baiknya dilakukan sedikit demi sedikit dan dengan menebarkan ide mengapa kebiasaan tersebut perlu dilakukan. Menebar ide ini tidak harus dilakukan selalu dengan perintah, dengan pidato panjang, ide bisa ditebarkan dengan memberikan contoh, dengan asupan cerita dari berbagai sumber. Dari ide2 inilah timbul keinginan untuk melakukan aksi nyata dari dalam diri anak yang setelah repetisi aksi ini pun akan menjadi kebiasaan.</p><p>Untuk memilih kebiasaan baik apa yang kira2 perlu diterapkan pun perlu dipertimbangkan apa esensi dan tujuan yang ingin dicapai dengan pembiasaan tersebut. Apakah betul pembiasaan itu hal yang benar, tepat dan perlu, sesuai dengan prinsip hidup kita. Bukan sekedar karena banyak yang melakukannya lalu itu pasti baik untuk kita, atau karena terlihat baik untuk dirinya lalu itu baik untuk diriku.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-02 03:41:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2870771580</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol. 6 pg. 103-104</title>
         <author>dannijunus</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2874905669</link>
         <description><![CDATA[<p>Semua pembiasaan, termasuk hidup religius perlu dilatih agar mapan dan menyenangkan. Ini kutipan dari halaman 103 buku volume 6 dari CM. Mapan dan menyenangkan ini yang kerap kali tidak terlihat nyata di saat orang tua menerapkannya pada anak. Dari hasil diskusi kemarin pun ternyata banyak di antara teman2 yang merasa pembiasaan mengikuti ibadah itu dulu sama sekali tidak terasa menyenangkan, malah terasa sebagai sebuah pemaksaan. Hal ini sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, karena memang pembiasaan, pemahaman dan proses perjalanan spiritual seseorang tidak akan kentara hasilnya dalam waktu singkat. Seperti investasi jangka panjang, orang tua menanamkan bibit2 ide dan pengertian sedikit demi sedikit. Bibit2 ini dengan konsisten disiram terus dengan berbagai media, memantik dengan berbagai cerita dari buku2 yang baik, dari pengalaman orang2, dari kisah kitab suci, sehingga pada waktunya nanti akan terlihat buah manis dari apa yang ditanamkan padanya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-06 10:58:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2874905669</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pendidikan adalah Disiplin pg 101-102</title>
         <author>irniannisa83</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2883819768</link>
         <description><![CDATA[<p>Menurut Charlotte setiap anak memiliki keinginan utk belajar jika materi yg diajarkannya memang menarik. Yang butuh kerja keras adalah membentuk kebiasaan² baiknya. Sebagai orangtua membaca bagian ini aku merasa diringankan, heheee menurut Charlotte kebiasaan intelektual akan terbentuk jika kurikulum yg dijalankan tepat artinya anak² terbiasa membaca buku kemudian menarasikannya menjadikan anak² terbiasa berpikir. Anak juga terbiasa utk memperhatikan dimana kebiasaan memperhatikan biasa dilakukan oleh cendekia. Selain itu efek dari narasi ini anak² juga terbiasa utk fokus juga terbiasa mengutarakan pendapatnya yang benar dan mampu menilai secara adil. Menurut CM pendidikan itu seperti melakukan sesuatu yang berulang maka akan meninggalkan jejak. Memang tidak bisa dijelaskan karena itu tindakan yang kasar mata. Yakinlah bahwa sebuah tindakan yang berulang akan meninggalkan jejak didalam otak maka latihan anak diatas rel² kebiasaan baik sehingga bisa meluncur ke stasiun cita² dengan lancar tanpa hambatan. Dulu anak² dilatih kebiasaan dengan cara yang kasar dengan hukuman tetapi sekarang banyak orangtua yang lembek terhadapa anaknya, alih² melatih kebiasaan baik orangtua justru tidak tega. Padahal dengan cara melatih kebiasaan baik inilah anak² bisa melaju ke stasiun cita² pendidikan. Tidak semua kegiataan kita lakukan harus berpikir terlebih dahulu, kebiasaan mengangkat sendok kita tak perlu membuang banyak energi untuk berpikir sekedar mengangkat sendok tetapi bisa dilakukan dengan melatihnya. Saat tersedia makananan didepan kita gampang sekali secara otomatis tangan kita tergerak untuk mengangkat sendok dan menyuap makanan kemulut kita. Nah semudah itulah kebiasaan baik itu dilakukan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-02-14 18:17:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2883819768</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisana Sidqi Aliya</title>
         <author>lisanaaliya</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2918420827</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 52]</p><p>Vol 6, Hal 104-106</p><p>Kamis, 07 Maret 2024</p><p><br></p><p>Akalbudi, yakni suatu bagian tubuh yang merupakan paduan akal dan perasaan yang berfungsi untuk mempertimbangkan hal baik dan buruk, memerlukan makanan agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Satu-satunya asupan yang dapat dicerna olehnya dan membuatnya bertumbuh adalah ide.&nbsp; Ide bagi akalbudi adalah sebagaimana makanan fisik bagi jasmani.</p><p><br></p><p>Ide itu laksana makhluk tak kasat mata yang mampu mencengkeram, membetot, dan meninggalkan jejak dalam diri kita. Keberadaannya hidup, dan dapat membuahkan tindakan nyata. Itulah sebabnya dibalik setiap pilihan yang diambil, komitmen yang dijalani, atau kebiasaan yang ditekuni, pasti ada ide yang melatarbelakanginya. Sedemikian pentingnya ide, sehingga pendidikan, sejatinya adalah upaya menumbuhkan akalbudi melalui asupan ide dan bukan mengembangkan kecakapan teknis semata. Dengan demikian, proses pendidikan sepatutnya bergelut dengan ide yang kaya.&nbsp;</p><p><br></p><p>Namun sayangnya, berbagai upaya pendidikan saat ini justru alergi dengan bahasan mengenai ide. Sumber pelajaran dipangkas sedemikian rupa sehingga menyisakan fakta-fakta kering minim ide yang tidak menggugah selera bagi akalbudi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-14 05:15:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2918420827</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pendidikan itu Hidup</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2918654593</link>
         <description><![CDATA[<p><em>Pertemuan 55</em></p><p>Hal 104-106</p><p><br></p><p>Pendidikan itu lahir dari ide, menangkap ide, meneruskan ide dan mengembangkan ide. Nah kalau mau ngomongin "ide" Itu sendiri apa sih. Di buku vol 6 nya CM disimpulkan kalau ide itu adalah "sesuatu yang berdaya hidup bagi akal budi". Kesimpulan ini didapatkan CM dari para pemikir besar seperti Plato sampai Bacon sampai Colleridge. </p><p><br></p><p>Berdaya hidup ini artinya bisa bikin diri seseorang tergerak untuk "menendang", "mencengkram", "meninggalkan jejak" dll. </p><p>Setiap orang butuh makan dan minum, coba bayangkan kalau kita cuma mengonsumsi obat-obatan, vitamin atau suplemen lainnya tanpa mengonsumsi makanan bergizi dan minum air putih, apa yang terjadi pada diri kita? Mungkin mula-mula badan kita terasa lemas kemudian pusing, tidak bergairah dan berakhir dengan sakit-sakitan. Begitu pun jiwa kita jika tidak mendapatkan asupan ide-ide hidup, mungkin awal mula kita merasa galau, bosan, tidak tahu apa yang harus dilakukan serta tidak memiliki daya penggerak untuk melakukan sebuah perubahan. Bahkan ada sebuah istilah yang agak kasar yang menyatakan suatu kondisi seseorang itu seperti "bangkai hidup" atau mati sebelum mati. Ahhh... Mudah-mudahan kita dan anak-anak keturunan kita diberikan petunjuk untuk menjadi insan kamil yang dicita-citakan itu... </p><p><br></p><p>Nah kalau buku-buku pelajaran yang dipakai oleh anak-anak kita miskin asupan ide bagaimana? atau bahkan tidak ada asupan ide sama sekali, kering karena sudah disterilkan dari ide-ide yang sebenarnya. Kalaulah fakta ini diketahui banyak orang, mungkin sekian orang itu tidak akan tega menghadirkan anak-anaknya di institusi tersebut. Tapi bisa jadi karena memang tidak ada pilihan lain, karena berat juga jika mengambil alih pendidikan menjadi pendidikan keluarga sepenuhnya walaupun memang seharusnya begitu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-14 08:50:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2918654593</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pendidikan adalah Hidup </title>
         <author>irniannisa83</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2922068766</link>
         <description><![CDATA[<p>Irni Annisa</p><p>Pg 105- 108</p><p><br> Makanan bagi tubuh seperti bahan bakar untuk mesin uap sebagai satu-satunya sumber energi. Begitu juga dengan akalbudi yang butuh terus disuplai dengan makanan rohani yang tak kasat mata. Menyupai pengetahuan berton-ton belum tentu menggugah akalbudi anak untuk bertumbuh. Bahkan menurut CM dibuku CYB berilah anakmu satu ide saja dipagi hari,asal benar tertancap maka ide itu akan berlipat ganda menjadi rantai pemikiran yang tak ada putusnya. <br> Lalu apa itu ide dan darimana kita mendapatkan ide itu?<br> Ide itu seperti kuman spiritual, begitu tertancap maka ide itu akan berlipat ganda dan berkembang biak. Jika satu pemikiran bertemu dengan pemikiran yang lain maka akan melahirkan pemikiran yang baru. Anak-anak memperoleh ide dari buku-buku terbaik,pemikiran dan karya yang mengubah dunia. Sebab itu anak-anak hqrus memperoleh kurikulum yang kaya.Sama halnya makanan bagi tubuh tidak semua makanan itu bergizi bagi tubu. Begitu juga dengan buku,hanya buku yang berisi ide inspiratif bukan yang menyajikan fakta kering. <br> Seperti Columbus saat terombang ambing di laut bebas lalu mendapat ide untuk membuat kompas sehingga mengerti arah mata angin,ataupun dijelaskan di Yesaya 28:24-29 Semua ide dari penemuan terbesar itu sebenarnya datangnya dari Tu(h)an. Bisa saja ide itu datang tetapi kita belum terlalu jelas melihatnya lalu ada suatu kejadian yang membuat ide itu terang. Jadi inget sebuah Firman " Jangan menolak didikan Tuhan" meskipun sakit pasti ada cara Tuhan memandaikan kita.<br> Sebagai orangtua kita juga bisa jadi sumber ide bagi anak. Perilaku,tata cara kita berbicara atau tata cara kita menata interior rumah. Kita tentu saja tidak paham ide mana yang anak serap apakah dari kebiasaan kita yang baik atau kebiasaan buruk kita? <br> Ide itu seperti benih,dibutuhkan juga matahari,udara dan air untuk bertumbuh. Ide juga butuh dipasok setiap hari secara konsisten dan sesuai porsi.Tinggalkan&nbsp; fungsi pendidikan untuk mengembleng akal budi untuk mengeluarkan sesuatu dalam diri anak. Kalau era modern mangatakan bahwa mengeluarkan orisinilitas dalam diri anak. Padahal segala sesuatu yang ada didunia ini tidak ada yang original,mungkin kita pernah melihatnya namun kita belum tertarik. Kita hanya penerus pembawa obor dari generasi sebelumnya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-03-17 18:57:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2922068766</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kamis, 21 Maret 2024</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2941876533</link>
         <description><![CDATA[<p>Volume 6 Halaman 109-111</p><p><br></p><p>Pada halaman ini Ibu CM menuliskan bahwa tahun² pertama, anak² nampak seperti lembar kosong, bagai ember kosong yang tugas orang tua mengisi dan menggores mereka dengan berbagai hal. Namun, semakin bertambah usia, semakin terlihat bahwa apa² yang diberikan pada anak, seperti ide² dari buku yang orangtua bacakan, atmosfer yang terhirup oleh anak², goresan² gambar², celoteh diskusi yang dikeluarkan dari sekitarnya, anak² ternyata menyerapnya. Mereka bukan ember kosong, karena mereka sudah membawa karakter mereka masing².</p><p><br></p><p>Sebagai orangtua, guru, pendidik anak bertanggungjawab untuk menyuplai kaya ide pada anak, karena tidak tau ide mana yang akan diambil oleh anak. Bisa jadi 10 ide yang diberi, 9 ide itu ditolak atau tidak dipakai. Semakin anak bertambah usia, bisa jadi ide yang diberi sebelum²nya baru berelasi dengannya. Tidak perlu memaksa maksa anak karena mereka tidak suka. Kodrat anak adalah pembelajar dan punya hasrat belajar. Imanilah.</p><p><br></p><p>Sajian ide itu hendaknya konkrit bisa dilihat anak dan dirasakan anak, karena jika abstrak dan tidak hidup, sulit mereka mencerna, seperti menjejalkan pelajaran matematika dengan rumus² yang harus dihafalkan tapi tidak diberi tau dari mana asal muasal sejarah angka² itu terbentuk. Bagaimana caranya agar konkrit dan hidup? Bisa dengan membacakan cerita sejarah Phytagoras, bagaimana sampai akhirnya terbentuk rumus Phytagoras. Anak² bisa berelasi dengan cerita tokoh² dibalik itu.</p><p><br></p><p>Dalam memberikan sajian ide, perlu diingat, kita sebagai pendidik jangan buru² untuk memberikan opini kita terhadap anak, biarkan anak itu mencerna dan mengeluarkan sesuai apa yang dirasa berelasi dengannya. Bisa saja apa yang dipikirkan kita orang dewasa berbeda dengan anak².&nbsp;</p><p><br></p><p>Berikan sajian kurikulum yang kaya beragam, jangan anggap remeh atau juga jangan anggap terlalu mewah, pesan dari ibu CM, berilah aneka ragam ide banyak, secara teratur, anggap pemberian makan akal budi sama halnya dengan pemberian makanan sehat untuk jasmani anak.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-04-03 14:13:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2941876533</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol.6, Sesi 21, hal.112-114</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2977147522</link>
         <description><![CDATA[<p>Bertajuk ‘Cara Kita Menggunakan Akal Budi’, bagian awal bab ini menjadi pengantar mengenai apa itu akal budi dan hubungannya dengan ide menurut beberapa ahli Pendidikan. Menurut Herbart jiwa anak itu seperti kantong kosong yang sekedar menampung berbagai ide dari pendidik, maka cara pendidik memberikan ide yang memiliki peran banyak dalam mendidik anak. Jiwa itu tidak memiliki peran apa pun dalam menangkap, mencerna dan memelihara ide, bisa dibilang diri dikendalikan oleh ide-ide yang masuk tanpa dicerna. Pemikiran ini berbeda pula dengan konsep bahwa anak adalah kertas kosong (tabula rasa), di mana jiwa atau akal budi berkembang sesuai arahan atau bentuk yang diinginkan oleh pendidik. Lalu ada gagasan lain di mana kantong akal budi itu memiliki semacam pintu atau katakanlah filter, di mana ide2 akan berebut masuk, mana yang kuat akan masuk dan berkuasa di dalam kantong tersebut. Semua pemikiran akan akal budi ini yang nanti akan kita pelajari lebih lanjut, bagaimana penerapan gagasan tersebut dalam pendidikan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-05-02 00:51:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2977147522</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Caroline Dwi Lestari</title>
         <author>owleen</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2988645301</link>
         <description><![CDATA[<p>Kamis, 2 Mei 2024</p><p><br></p><p>[Sesi 21] Hal 114-118</p><p><br></p><p>Pada halaman ini dipaparkan ibu CM tentang filosofi Herbart dan filosofi CM memandang pendidikan. </p><p>Filosofi Herbart memandang anak perlu sentuhan guru agar bisa mendapat ide. Tugas guru disini berperan penting seperti membuat dan menyusun pembelajaran yang disusun dari cuilan² bahan ajar berupa unit studies. Guru yang menyeleksi ide ide, menjahit satu ide yang ada ke ide lainnya, guru perlu menyajikan semenarik mungkin agar anak tertarik belajar, dan jika semua berjalan dengan lancar maka pendidikan itu selesai.</p><p>Lalu dengan prinsip Herbartian, menulis kreatif, murid² diminta untuk membuat karangan sederhana, dengan guru menulis beberapa kalimat, murid merangkai kalimat tersebut, dan semua murid menyalinnya.</p><p>Sedangkan metode CM, melatihnya dengan dibacakan sekali saja pada buku yang akan dinarasikan, dan dari buku yang tidak disederhanakan isinya tetapi buku orisinil. Dan hasilnya murid² dapat menceritakan secara lisan panjang lebar juga dapat menuliskan secara tulisan panjang.</p><p>Bagi CM yang memahami hasrat belajar anak itu sudah ada dan kerja akal budi anak dapat mencerna, mempertimbangkan, memilah mana yang baik mana yang buruk, menyeleksi, mengelompokkan ide² yang masuk, prinsip Herbart justru melecehkan akal budi anak karena semua datangnya dari guru.</p><p>Jenis ide yang dibutuhkan adalah dari sajian bacaan sastrawi dan tanpa diringkas.</p><p>Semoga pemikiran ibu CM ini bisa dengan konsisten diimani walau memang perjalanan nya tidak mudah. Karena yang sekarang masih kebanyakan terlihat pendidikannya menganut prinsip Herbartian.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-05-11 03:50:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/2988645301</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>gitasumitra</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3012627349</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 58]</p><p>Hal. 112-114</p><p>Kamis, 24 April 2024</p><p><br></p><p>Pada paragraf ini, CM memberikan suatu gambaran tentang bagaimana akalbudi diterjemahkan oleh beberapa filsuf.</p><p>Menurut teori Herbartian, ada yang menamai akalbudi sebagai “jiwa”, dimana jiwa ini berupa wadah statis, mati, kosong, yang diisi ide2. Ide2 tersebut bekerja sendiri, tanpa terkoneksi dengan jiwa “inang”nya.</p><p><br></p><p>Menurut teori Leibnitz, kegiatan internal jiwa adalah sesuatu yg orisinil, tanpa sangkut paut dari faktor eksternal. Tidak bisa diterjemahkan. Ia bersifat pasif.</p><p>Lalu muncul gagasan, bahwa jiwa adalah sasaran empuk ide2. Ide paling kuat yang berkuasa.</p><p><br></p><p>Prof. William James berpikir, jgn terlalu yakin dgn ilmu psikologi. Krn ia terus berkembang, bukan suatu simpulan final.</p><p><br></p><p>——</p><p><br></p><p>Menarik sekali melihat para filsuf berusaha memahami tentang ide. Setiap perspektif memiliki simpulannya sendiri. Mungkin paragraf ini masih berupa deskripsi dan paparan tanpa simpulan, tp saya menebak arah bicara CM, dan merelasikannya dengan “born person”, rasanya saya melihat gagasan CM sebagai titik keseimbangan dari 3 perspektif diatas. </p><p><br></p><p>Apa yang CM gagas, menjawab dan menjembatani temuan2 tadi. Jiwa bukan sesuatu yang pasif, ia aktif, tapi ia hidup. Ia mampu menyeleksi mana ide yang mau diterima&nbsp;atau&nbsp;ditolak.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-05-30 04:26:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3012627349</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>gitasumitra</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3012649678</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 60]</p><p>Hal. 118-121</p><p>Kamis, 16 Mei 2024</p><p><br></p><p>Pada paragraf ini, CM menjelaskan tentang sistem pendidikan negeri yang terlalu berfokus tentang bagaimana kurikulum pendidikan anak-anak dirancang untuk menjadikan anak-anak menjadi SDM yang siap untuk bekerja dengan berbagai materi yang berfokus pada membaca, menulis dan berhitung (drilling). Tapi sistem pendidikan ini melupakan sisi lain dari mental dan karakter seorang anak, apakah ia cukup tangguh untuk memili rentang fokus yang panjang, mengobati kebosanan dengan kegiatan yang membangun, rasa ingin tahu, dan hal-hal yang berkaitan dengan kerja mental lainnya.</p><p><br></p><p>Kalau saya pikirkan kembali, begitu banyak hal-hal sudah dikunyahkan ketika saya mengenyam pendidikan dulu. Ketika mencoba mengingat, tidak ada pelajaran yang begitu menggugah mental, kalaupun ada, itu adalah jasa beberapa orang guru yang memang mampu menularkan semangatnya pada para siswa. </p><p><br></p><p>Apa tujuan pendidikan yang sebenarnya?</p><p><br></p><p>Di paragraf akhir-akhir, CM menuliskan kurang lebih seperti ini "paling tidak, anak-anak yang lulus ini mampu menjalani hidup, bukan hanya menafkahi hidup". Sungguh makna yang dalam. Bagi saya yang sudah dewasa ini, isu kehidupan saat ini masih bekubang dalam "berlatih konsisten, berlatih mindful, berlatih kehendak". Hal-hal yang saya sadari sangat sulit dilakukan oleh orang dewasa sekalipun.</p><p><br></p><p>Dengan mimpi-mimpi dan idealisme CM yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya, rasanya kemahiran tersebut diatas bukanlah suatu impian kosong bahwa di suatu hari, anak-anak mampu menguasainya kelak, jika dibimbing dengan tepat. Dan kita sedang membangun rel itu satu demi satu, ia belum terlihat jelas tapi mari kita tapaki jalan tersebut agar yang tadinya mimpi kelak bisa menjadi realitas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-05-30 04:45:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3012649678</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Procastination</title>
         <author>linawahyuni129</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3045424669</link>
         <description><![CDATA[<p>Awal bab 8</p><p>The Way of the Will and The Way of Reason</p><p><br></p><p>Procastination (menunda-nunda) adalah kata yang aku pikirkan saat hendak menulis narasi tentang The Way of the Will (kehendak) vs The Way of Reason. Kenapa? karena setiap kali selesai diskusi, sudah terbayang bagiku untuk membuat narasinya di padlet, tapi kemudian menundanya sampai akhirnya bertemu dengan pertemuan selanjutnya. </p><p><br></p><p>Nah begitulah ingin dan hendak. "Ingin" mewakili rasa senang sesaat, sedangkan "hendak" mewakili rasa senang untuk jangka waktu yang akan datang.</p><p><br></p><p>Ingin mewakili dorongan impulsif; aku ingin noton aja dulu deh. Setelah nonton kemudian menyesal karena belum mengerjakan tugas yang seharusnya dilakukan.</p><p><br></p><p>Kehendak mewakili; aku harus mengerjakan pekerjaan ini dulu, aku harus bertanggung jawab dengan pekerjaanku, sehingga di hari kemudian dia akan merasakan senang karena keberhasilannya.</p><p><br></p><p>Anak-anak harus dilatih untuk memilih kehendak dibandingkan keinginannya tetapi anak-anak juga tidak boleh bergerak dengan sugesti orang-orang disekelilingnya. Dia harus punya kesadaran untuk bersikap. Anak-anak juga harus mengalami kegagalan dan keberhasilannya sendiri agar dia bisa belajar dari kejadian-kejadian itu.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://live.staticflickr.com/3182/3042617511_1bdd8b1b32_z.jpg" />
         <pubDate>2024-07-04 14:31:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3045424669</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Batu Numbuh Lumut</title>
         <author>linawahyuni129</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3050899248</link>
         <description><![CDATA[<p>Diskusi Buku Vol 6 CM</p><p><br></p><p>Hal 130 </p><p><br></p><p>Pekan ini masih ngomongin tentang Will atau The Way of the Will. Ini sih menurutku PR banget ya... soalnya bukan cuma anak-anak yang perlu menguatkan kehendak, tapi yang paling utama adalah orang-tua.</p><p><br></p><p>Tadi pagi sedikit (nggak sampai selesai) mendengarkan podcast Indah G Show yang bahasa Inggrisnya cas...cis...cus karena emang pernah kuliah di luar negeri. Nah Indah ini ngundang Cinta Laura di podcastnya. Terus sepemahamanku yang bahasa inggrisnya nerka-nerka, yang aku tangkep adalah bangsa kita ini sangat menyenangi kenyamanan, hidupnya bisa nyaman-nyaman aja tanpa kerja terlalu kerja keras kaya orang luar. Mungkin kalau dihubungkan sama lagu Koes Plus: tongkat kayu sama batu aja jadi tanaman. Hihihi... apa iyaya... oh bisa juga sih... batu numbuh lumut</p><p><br></p><p>Bedanya orang luar sendiri, terutama negara dengan 4 musim ya... Mereka itu memang sudah terbiasa ditempa dengan keadaan. Harus membuat persediaan makanan untuk musim dingin. Gitu katanya...</p><p><br></p><p>Tapi jangan mau tersugesti juga untuk mengiyakan bahwa bangsa kita tidak mau bekerja keras, kan banyak juga orang kita yang juga pekerja keras, jadi orang kaya yang tetap banyak membantu orang. Siapa ya? enggak tahu sih... kayaknya sih ada...</p><p><br></p><p>Ok, kita balik ke topik untuk mengokohkan kehendak, kata mba CM ini bisa diupayakan dengan memahami kerajaan yang ada di dalam jiwa kita, intinya kita harus mengenali diri kita sendiri, apa yang kita sukai, apa yang membuatku bahagia, apa yang membuatku sedih, apa yang membuatku bersemangat. Pemahaman terhadap itu bukan untuk minta di validasi dari orang lain, tapi bagaimana kita bisa memvalidasi diri sendiri agar tugas-tugas yang kita emban sebagai manusia bisa berjalan sebagaimana mestinya...</p><p><br></p><p>Bener nggak?</p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://images.unsplash.com/photo-1690810589257-15c1b1f7c61b?crop=entropy&amp;cs=srgb&amp;fm=jpg&amp;ixid=M3w3ODI2fDB8MXxzZWFyY2h8MTF8fGJhdHUlMjBiZXJsdW11dHxpZHwxfHx8fDE3MjA2ODU2NzB8MA&amp;ixlib=rb-4.0.3&amp;q=85" />
         <pubDate>2024-07-11 08:15:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3050899248</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Marxisme dalam Pandangan Charlotte Mason</title>
         <author>linawahyuni129</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3105849349</link>
         <description><![CDATA[<p>Narasi hal 144-147 vol 6</p><p><br/></p><p>CM membincangkan perihal 10 Maxim Marxis. Kalau aku berada di zaman itu apakah aku akan mengerti ideologi semacam itu beserta implikasinya terhadap banyak hal dalam keberlangsungan hidup bernegara. Statemen itulah yang aku pertanyakan kepada diriku sendiri pada saat membaca vol 6 filosofi pendidikan CM hal 144-147.</p><p><br/></p><p>Setelah membaca kesemuanya aku baru faham bahwa ini memang mengancam keutuhan jiwa manusia jika wajib pendidikan yang termaktub dalam 10 Maxim Marxis ini adalah wajib pendidikan yang teknis lewat sistem pendidikan vokasi, sehingga tidak memandang manusia secara utuh sebagaimana pandangan CM terhadap seorang anak. Maka wajarlah CM mengkritisi itu. Terlebih lagi, angin segar yang awalnya dibawa oleh Marxis adalah menawarkan kebebasan dan kesejahteraan yang sama rata untuk semua orang namun pada prakteknya semua orang wajib kerja dan semua orang harus menjalani wajib militer. Aku juga bertanya-tanya, apa salahnya wajib militer? mengingat idol-idol Korea seakan-akan menjadi gambaran teladan yang mencintai negara dengan melakukan kewajiban mereka terhadap negaranya. </p><p><br/></p><p>Bisa jadi, karena CM adalah seorang pendidik yang dikenal dengan pendekatan humanis dan menghargai kebebasan dalam pendidikan dan pengembangan individu, mungkin melihat wajib militer sebagai tindakan yang membatasi kebebasan seseorang untuk memilih jalannya sendiri, baik dalam karier maupun kehidupan pribadi. Ini bertentangan dengan pandangan utopis awal yang diusung oleh ideologi sosialis mengenai kebebasan dan kesejahteraan yang seharusnya dinikmati oleh semua orang.</p><p><br/></p><p>Wallahu Alam...</p>]]></description>
         <enclosure url="https://pixabay.com/get/g2faf1270b6b219c07bb00cf4d72b4ce8245c2b1a96d73169cdaeb507f03585eef58d8dd8df347811443c4fa91e92e954.jpg" />
         <pubDate>2024-09-06 07:48:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3105849349</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>gitasumitra</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3127068846</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 69]</p><p>Hal. 143-147</p><p>Kamis, 5 September 2024</p><p><br/></p><p>Pada paragraf ini, CM memaparkan bahwa nalar akan selalu mengarahkan kita pada apapun kecenderungan pilihan kita. Bisa dibuktikan dengan adanya perbedaan pilihan dari orang-orang bijak, masing-masing dengan argumentasinya terhadap suatu hal. </p><p><br/></p><p>Benarlah bahwa manusia adalah makhluk yang subyektif, manusia selalu bisa mencari kebenaran dari setiap sisi pandang. Yang menjadi pertanyaan, apakah manusia mau mengasah akalbudi nya untuk terus selalu mencari kebenaran yang hakiki?</p><p><br/></p><p>Di akhir paragraf, CM menegaskan bahwa pendidikan bukanlah untuk mengejar suatu keterampilan tertentu, tapi untuk membina kepribadian yang utuh. Bagaimana mengasah akalbudi anak sebagai jiwa dan pribadi yang mengetahui hakikatnya di dunia ini, maka niscaya apapun pilihan jalan setapak yang ia hadapi, akan mampu ia daki dengan kesiapan jiwa dan mental.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-19 05:22:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3127068846</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>gitasumitra</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3205741260</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 74]</p><p>Hal. 155-157</p><p>Kamis, 17 Oktober 2024</p><p><br/></p><p>Kurikulum - CM menjelaskan tentang hakikat kurikulum. Banyak sekolah-sekolah yang 'tersesat' dan 'terjebak' disebabkan oleh satu kata ini. Ketika seharusnya pendidikan menjadi aspirasi anak, orang-orang dewasa pemangku kedudukan malah menggeser hakikat dasar pendidikan menjadi hukum ekonomi. </p><p><br/></p><p>Orang tua, sebagai wali anak, seringkali terbawa arus dan ikut terlena dengan arus utilitarian yang makin hari makin deras. Berani melawan arus bukan hal yang mudah. Dibutuhkan keberanian dan sumber daya yang cukup untuk mengeluarkan ekstra energi melewati terjangan arus yang begitu kuat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 04:46:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3205741260</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gita Mustika Sumitra</title>
         <author>gitasumitra</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3205776104</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 75]</p><p>Hal. 157-160</p><p>Kamis, 24 Oktober 2024</p><p><br/></p><p>CM menjelaskan bahwa salah satu yang terpenting untuk diketahui, adalah pemahaman tentang Tuhan. Salah satunya, karena ia mengantarkan pada jalan kebahagiaan yang hakiki.</p><p><br/></p><p>Dalam hal ini, melalui sang Ibu, anak bisa lebih mengenal Tuhannya. Seorang Ibu yang sebagian besar waktunya dihabiskan bersama anaknya, yang bisa menyisipkan nilai-nilai keluhuran Tuhan melalui keseharian yang penuh makna dan inspirasi. Dalam pendampingannya bersama anak, disitu kebesaran dan kebaikan Tuhan tertanam.</p><p><br/></p><p>Hal ini tidak didapatkan di sekolah karena kesalahan hakikat pendidikan itu sendiri, bahwa banyak konsep ketuhanan yang disaring, dipilah, dikunyahkan sedemikian rupa sehingga anak hanya mendapatkan ampasnya saja.</p><p><br/></p><p>Seorang anak, dengan kapasitasnya yang sudah siap mencerna ilmu pengetahuan, hanya akan merespon terhadap apa yang dipantik oleh gurunya. Dengan segala keluarbiasaan benaknya, pengetahuan yang dicernakan tersebut adalah dimulainya proses pengkerdilan kapasitas anak.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 05:09:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3205776104</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol. 6, p.160-163, Kamis, 14 Nov 2024</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3234132816</link>
         <description><![CDATA[<p>Mengenalkan Tuhan pada anak bukanlah dimulai dengan ceramah panjang lebar yang harus ditelan tanpa argumen dari anak. Walaupun pendidikan akan ketuhanan diawali bukan dengan mengandalkan intuisi semata, pengenalan secara gentle tetap merupakan pilihan terbaik. Mengenyam cerita2 yang berdasar pada kitab suci lebih membekas dalam memori anak-anak. Mereka akan mengingatnya dan mencerna kisah2 tersebut secara perlahan, dan seringkali merelasikannya dengan diri sendiri dalam bentuk cerita dari buah pikirnya saat menarasikannya. Menolak dan menghalangi anak untuk mencari jawaban atas pertanyaannya tentang ketuhanan mungkin malah akan menghentikan atau menghalangi pencariannya dalam menerima Tuhan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-26 03:46:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3234132816</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Damba</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3236481580</link>
         <description><![CDATA[<p>[Pertemuan 75]</p><p>Hal. 157-160</p><p>Kamis, 24 Oktober 2024</p><p><br/></p><p>Pengetahuan tentang TUHAN (Bagian 1)</p><p><br/></p><p>Duh, aku ga paham-paham banget ni tentang agama. Kata-kata yang sering terdengar ketika kita menganggap kitab suci sebagai sesuatu yang hanya mampu ditelaah oleh ahli kitab saja. </p><p><br/></p><p>Sementara di dalam metode pendidikan a la CM, pengetahuan akan TUHAN menempati prioritas yang tertinggi. Artinya berdampak serius terhadap keseluruhan hidup (sekarang dan nanti). </p><p><br/></p><p>Jadi dari mana kita bisa mengenal TUHAN? Bagaimana mengenalkan TUHAN? Kapan mengenalkan TUHAN?</p><p>CM tegas memaparkan bahwa dalam kurikulum pendidikan anak, pengenalan akan TUHAN tidaklah berbasis intuisi, juga bukan sekedar emosi. </p><p><br/></p><p>Pengenalan anak akan TUHAN justru harus berakar kuat dari pengetahuan akan siapa TUHAN itu. </p><p>Jadi bagaimana kita bisa mengenalkan siapa TUHAN itu? Tentu dari kitab suci. </p><p>Ah, tapi kitab suci tidak segampang itu untuk dipahami oleh anak, kita saja orang dewasa tidak serta merta paham. Nah, konsep mengecilkan kapasitas pemahaman anak inilah yang sering jadi batu sandungan, penghalang anak mengenal TUHAN-nya.</p><p>Padahal dari dalam, anak sudah punya “kecenderungan hati bawaan”&nbsp; akan relasi dengan TUHAN.</p><p>Kita sebagai orangtua harus menyambut kapasitas mereka itu dengan kesiapan. Iya, kesiapan. Bukan siap dalam artian kita tahu segala-galanya dulu. Tapi menyadari bahwa ada yang perlu diusahakan di sini. Kita orangtua musti menyingsingkan lengan baju untuk mengenalkan TUHAN kepada anak-anak kita secara terencana, bertahap, dan teratur.</p><p><br/></p><p>Ibu sebagai figur pertama yang membuat anak mengenal TUHAN. Dibandingkan dengan sosok lain di luar keluarga inti, entah itu guru agama, pemuka agama, ahli kitab. Kans keberhasilan ibu sebagai sosok pertama yang mengenalkan kepada anak akan siapa TUHAN, lebih optimal. Mengapa? Karena ibu yang paling paham anaknya. Ia yang lebih banyak bersama dengan anaknya, tau apa yang disukai anaknya, dan bisa lebih dalam memandang sosok seorang anak. Lagipula alaminya, setiap saat dan dalam berbagai kondisi anak bisa bertanya dan mengemukakan pertanyaan atau rasa ingin taunya kepada ibu tanpa rasa malu atau segan.&nbsp;Ibu tau persis kapasitas anaknya. Ibu lebih leluasa menceritakan tentang TUHAN melalui teladan kehidupannya sendiri sebagai pribadi yang menyayangi, merawat, memelihara, mengawal, mengasihi anaknya sepenuh hati. Di rumah, anakpun bisa melihat keseluruhan diri ibu apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi.</p><p><br/></p><p>Bahkan ibu bisa mengawal anak agar ia bisa menceritakan kembali tentang kisah di dalam kitab suci kepada orang yang sangat disayanginya. Entah itu kepada ayah, pengasuh, kakek, nenek, paman, bibi, sepupunya tentang kisah dalam kitab suci yang sudah dibacakan untuknya. </p><p><br/></p><p>Mengapa ibu (orangtua) harus memastikan anak meceritakan kembali apa yang sudah ia dengar? Apa tidak boleh anak tidak menceritakan ulang? Apakah harus dipaksa jika belum bisa? </p><p><br/></p><p>Menarik sekali CM megisahkan seorang ibu yang mengetahui bahwa anaknya suka bercerita kepada seorang pelayan yang disayanginya. Oleh karena itu ibu sengaja, bukan memaksa, meminta anaknya memanggil pelayan itu segera setelah ia dibacakan dan menceritakan kisah itu pada ibunya, karena ia tau bahwa si anak akan langsung bercerita juga kepada pelayan kesayangannya dengan semangat dan sukacita. </p><p><br/></p><p>Demikianlah kesan pertama dari kisah yang berhasil ia cerna tidak hilang begitu saja.</p><p>Mental anak telah secara sadar mencerna apa yang ia dengar atau baca dengan menceritakan ulang. Inilah mengapa menceritakan ulang menjadi sangat penting dalam proses pendidikan.</p><p><br/></p><p>Sungguh CM menempatkan ibu sebagai lapis pertama untuk memastikan proses kesadaran mental anak terlatih untuk mencerna pengetahuan secara mandiri tentang TUHAN.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-27 09:42:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3236481580</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol.6 hal. 163-165 - 21 Nov 2024</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3237556033</link>
         <description><![CDATA[<p>Bagian ini cukup menjelaskan bahwa adalah hal yang hampir pasti bahwa pembacaan kitab suci akan memantik anak2 untuk bertanya-tanya dan di kemudian hari melakukan pencarian lebih lanjut secara alami. Saya rasa bahkan orang dewasa pun masih melakukan pencarian jawaban pada hal2 yang dirasa belum dipahami betul. Memang rangkaian kata dalam kitab suci begitu indah, sederhana namun rumit. Rumit dalam arti perlu perenungan dalam memahaminya. Menurutku ini yang membuatnya Istimewa, pembuktian bahwa kitab suci adalah sebuah desain yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia. Intuisi mengenai kebenaran kitab suci dan ketuhanan akan menguat dan datang seiiring dengan waktu.</p><p>Adalah benar ketika membaca kitab suci, akan timbul pertanyaan siapa yang menuliskannya? Dan banyak pertanyaan2 lain yang belum tentu bisa dijawab oleh orang tua. Dan saya sepakat bahwa pertanyaan2 tersebut tidak perlu dipaksakan untuk kita jawab. Merupakan hal wajar dan disarankan ketika tidak yakin dan tahu jawabannya, orang tua mengatakan dengan jujur dan memperlihatkan pada anak bahwa dirinya masih akan mencari tahu mengenainya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-28 02:29:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3237556033</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Narasi Charlotte Mason Vol. 6, hal. 169</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3333766032</link>
         <description><![CDATA[<p>Sejarah disebutkan sebagai bagian vital dari pendidikan. Tapi mengapa ya?</p><p>Mengingat kembali pelajaran sejarah yang pernah dialami di masa lampau, hanya sedikit yang memberikan kesan yang menyenangkan. Ketika guru di depan kelas menceritakan dengan deskriptif bagaimana orang jaman dahulu menjalani hidupnya dan berpindah pulau dengan berkendara perahu ini membuat saya sebagai murid menyimak dan membayangkan dengan baik. Di luar itu, memori studi sejarah yang didapatkan melulu soal lini masa sebuah negara dengan banyak nama dan tanggal tapi minim cerita mengenai peristiwa pada masa itu sendiri. Ini yang sepertinya membuat sejarah menjadi pelajaran yang kurang menarik dan cenderung ditinggalkan pada masa sekolah. Padahal di luar itu cerita2 mengenai peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu, yang tentunya merupakan bagian dari sejarah juga, adalah hal yang menarik untuk diketahui. Dari sini kita bisa mengintip apa yang terjadi di masa lalu, bagaimana bisa terjadi dan apa akibatnya. Hal2 ini yang rasanya melatarbelakangi mengapa sejarah dianggap penting sekali menjadi bagian dari pendidikan. Memahami sebab akibat dari berbagai peristiwa di masa lampau yang membuat masa kini menjadi ada dan seperti sekarang. Misalpun belum mencapa tahap memahami kaitannya dengan apa yang ada sekarang, memahami apa yang terjadi di masa lampau memberikan referensi penting dalam hal memberikan referensi bagi kita akan pertanyaan2 “Apa yang terjadi jika …” Ini dapat memberikan pertimbangan2 pada kita dalam membuat sebuah keputusan. Jadi, sepenting itu ya sejarah?</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-02-19 04:50:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3333766032</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ruang Lingkup Sekolah Kejuruan</title>
         <author>linawahyuni129</author>
         <link>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3614688955</link>
         <description><![CDATA[<p>Aku coba meringkas bab ini (dari halaman 280–290) menjadi poin-poin utama supaya lebih mudah dipahami, kira-kira begini:</p><p><br/></p><p>Bab 3 – Ruang Lingkup Sekolah Kejuruan</p><p><strong>1. Latar Belakang Sejarah</strong></p><p>* Setelah perang Napoleon, Eropa menyadari pentingnya pendidikan untuk menyembuhkan generasi yang sakit secara moral dan intelektual.</p><p>* Prussia memimpin reformasi dengan menekankan filsafat &amp; sejarah (Fichte, Karl Stein, Tugendbund).</p><p>* Dari sini muncul kebangkitan intelektual, meski akhirnya gelombang pendidikan utilitarian (berorientasi ekonomi) lebih dominan.</p><p><strong>2. Munculnya Pendidikan Kejuruan</strong></p><p><em> Gerakan </em>continuation school* (Sekolah Kejuruan) awalnya karena iri pada kesuksesan Inggris di bidang industri.</p><p>* Di Jerman (Munich), pendidikan vokasi unggul, tapi banyak pemikir memperingatkan bahaya pendidikan yang terlalu utilitarian: kehilangan idealisme dan hanya menguntungkan ekonomi.</p><p>* Pemikir seperti Dr. Kirschensteiner (1900) menguatkan gagasan ini dan pengaruhnya menyebar ke Amerika (Dewey, Stanley Hall) dan Inggris.</p><p><strong>3. Kritik Terhadap Pendidikan Utilitarian</strong></p><p>* Anak-anak dididik untuk bermanfaat bagi masyarakat, tapi tidak dipedulikan soal tujuan hidup pribadi mereka.</p><p>* Pandangan keliru: seakan-akan pengetahuan cukup lewat indra &amp; kerja praktis, padahal akal budi perlu asupan bergizi (literatur, ide, sejarah).</p><p>* Pendidikan semata-mata teknis → menghasilkan remaja bosan, dangkal, mudah diprovokasi → kegagalan moral.</p><p><strong>4. Alternatif: Model Denmark</strong></p><p><em> Nicolai Grundtvig (Bapak </em>Folk High School*) menekankan pendidikan humanistik: inspirasi, keindahan, kasih sayang, literatur, puisi, sejarah bangsa.</p><p>* Sekolah Tinggi Rakyat Denmark (usia 18–25 tahun, berformat asrama) sukses besar → membentuk masyarakat pembaca &amp; memperkuat budaya bangsa.</p><p><em> Hasil nyata: produk agrikultur Denmark (misalnya mentega) berkualitas tinggi, karena basisnya bukan hanya teknis tapi juga </em>humaniora*.</p><p><strong>5. Pelajaran Bagi Inggris</strong></p><p>* Inggris tidak harus meniru Sekolah Kejuruan ala Jerman.</p><p>* Lebih tepat meniru semangat Denmark: memberi makanan bergizi untuk akal budi, bukan hanya keterampilan teknis.</p><p>* Pendidikan harus mencakup tiga ranah:</p><p>  1. <strong>Pengetahuan tentang Tuhan</strong> – lewat Kitab Suci.</p><p>  2. <strong>Pengetahuan tentang manusia</strong> – lewat sejarah, sastra, kewarganegaraan, moralitas.</p><p>  3. <strong>Pengetahuan tentang alam</strong> – lewat sains dasar, observasi langsung.</p><p><strong>6. Prinsip Besar</strong></p><p><em> “Tidak ada pendidikan kecuali pendidikan diri sendiri” (</em>there is no education but self-education*).</p><p>* Anak/remaja harus diberi kesempatan menyerap pengetahuan berharga melalui buku dan pengalaman nyata.</p><p>* Akal budi yang dikenyangkan dengan ide-ide besar akan bekerja sendiri, tanpa harus dipaksa ceramah atau latihan utilitarian.</p><p>---</p><p><br/></p><p>Jadi inti dari bab ini: Charlotte Mason menolak pendidikan yang semata-mata teknis/utilitarian (ala Jerman) dan menekankan pendidikan humanistik &amp; spiritual (ala Denmark), yang memberi makan akal budi manusia dengan ide-ide besar, literatur, sejarah, dan iman.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-10-02 04:40:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/cmidjakarta/rk8p3s8tm1x4oo5i/wish/3614688955</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
