<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Pemikiran KHD Modul 1.1  by Yohanes Carol</title>
      <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28</link>
      <description>19 Oktober 2021, Sesi 2</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-10-19 07:59:57 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-10-13 10:59:40 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f1ee-1f1e9.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Petunjuk Pengisian</title>
         <author>vjharus</author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826459693</link>
         <description><![CDATA[<div>* Klik gambar ( + ) di pojok kanan bawah<br>* Isilah judul/<em>subject</em> dengan (nama) dan (asal sekolah)<br>* Berpindah ke bagian bawah untuk menulis refleksi melalui pertanyaan berikut:<br>1. Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)?<br><br></div><div>2. Bagaimana perwujudan <strong>‘menuntun’ </strong>yang saya lihat<strong> </strong>dalam konteks <strong>sosial budaya </strong>di daerah saya?&nbsp;<br><br></div><div>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan <em>kodrat alam </em>dan <em>kodrat zaman</em>? &nbsp;<br><br></div><div>4. Apa relevansi pemikiran KHD <em>“Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” </em>dalam peran saya sebagai pendidik?</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 08:01:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826459693</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>vjharus</author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826488111</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1279618024/b675804a4d27c07c192b483632ded726/CGP_A4_Modul_1_1_Refleksi_Filosofi_Pendidikan_KHD_Manggung.pptx" />
         <pubDate>2021-10-19 08:17:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826488111</guid>
      </item>
      <item>
         <title>1. Pembalajaran yang berfikir kritis. 2. Menuntun agar bakat nya muncul 3. karena kodrat alam dan kodrat zaman yang dialami siswa pasti berbeda beda , tentunya kodrat alam dan zaman menjadi peranan penting dalam menuntun siswa.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826729438</link>
         <description><![CDATA[<div>4. pembelajaran student center merupakan solusi tepat dalam menuntun dan mengembangkan bakat siswa</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:23:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826729438</guid>
      </item>
      <item>
         <title>RAMDAN SANI, SMPN 16 BANDUNG pengajaran merupakan proses pendidikan merdeka belajar mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman menuntun sifat dan bentuk serta isi dan wirama pendidikan yang menyenangkan dan tidak merasa diperintah untuk mencapai tujuan pembelajaran keselamatan dan kebahagiaan siswa sebagai manusia</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826735047</link>
         <description><![CDATA[<div>1. pendidikan dengan pembuatan video youtube yang membuat anak tidak merasa terpaksa dalam mempelajari materi<br>2. kamis nyunda salah satu memumtun pendidikan sosial budaya daerah<br>3. anak sebagai SDM merupakan sumber daya yang sangat berharga, sudah secara alam memiliki sifat dan bentuk dan secara zaman mengikuti perkembangan dalam isi dan wirama sehingga pendidikan menjadi tuntunan dalam pencapaian keselamatan kebahagiaan anak<br>4. menuntun laku merdeka belajar sesuai dengan kodrat alami anak dalam mencapai tujuan</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:26:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826735047</guid>
      </item>
      <item>
         <title>CGP A4_Modul 1.1_Refleksi Filosofi Pendidikan KHD_Manggung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826743476</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pembelajaran yang berpusat pada siswa, guru hanya sebagai fasilitator.<br>2. Memberikan tuntunan kepada siswa dalam berprilaku yang baik, yang mencerminkan pada pemikiran KHD.<br>3.&nbsp;Karena kita sebagai pendidik harus mengetahui bahwa setiap anak memiliki sifa, karakter yang berbeda-beda selain itu pendidik jg harus tau perkembangan zaman sekarang yang di dominasi oleh perkembanga IPTEK.<br>4. Relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan yang berpihak pada anak adalah dengan cara menuntun peserta didik untuk menjadikan manusia yang bermanfaat. Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘fasilitator’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘fasilitator’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:31:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826743476</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Fitria Agustini_SDN 089 Babakan Ciparay Kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826743655</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman yang saya lakukan terkait proses yang mencerminkan KI Hajar Dewantara adalah bagaimana memberikan pengalaman belajar siswa dengan bermain, hal ini mengasyikan bagi siswa tetapi permasalahanya sesi permainan ini menjadi menguasai segalanya karena sering kali jika ditanya atau disambungkan ke dalam pembelajaran hanya beberapa orang saya yang mendominasi untuk mengeluarkan pendapat atau aktif berpendapat selebihnya mereka lebih asyik bermain. sedangkan tuntutan materipun harus selesai menjadikan delimatis bagi saya sebagai pendidik karena takut materi tidak tersampaikan yang pada akhir berdampak pada kegiatan penilaian akhir misalnya.<br>2. Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya terkadang menjadi kontradiktif dengan lingkungan anak di rumah, saat kita menuntun siswa untuk tidak berbicara kasa tetapi malah lingkungan lebih kuat untuk anak melakukan itu, sehingga menjadi kesulitan tersendiri bagi guru.&nbsp;<br>3.&nbsp; Karena setiap daerah tentu saja memiliki potensi alam yang berbeda misalnya saja siswa-siswa yang di daerah pesisir pantai dengan daerah di pedesaan dan perkotaan kita sebagai pendidik harus bisa memanfaatkan potensi daerah yang ada sebagai sarana bagi tempat belajar. Kodrat zaman bahwa perkembangan dunia ini dinamis kita tidak bisa menutup mata atas perkembangan zaman tetapi kita harus bisa menanamkan nilai-nilai atau budaya yang ada di Indonesia.<br>4. Relevansi pemikiran KHD pendidikan berpihak pada anak bahwa kita sebagai pendidik harus bisa menyediakan atau mengupayakan kegiatan pembelajaran yang bisa mengakomodasi potensi dan masing-masing anak didik kita. namun sering kali saya merasa kesulitan untuk mewujudkan semua itu jika dihadapkan dilapangan bagaimana saya harus bisa mengakomodasi kebutuhan siswa dalam mengembangkan potensi. mudah2an dengan mengikuti guru penggerak ini sayang akan mendapat ilmu yang bisa membantu saya untuk bisa mewujudkan pendidikan yang berpihak pada anak</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:31:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826743655</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yayan Bayanti _SDN 235 LENGKONG KECIL  KOTA Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826746049</link>
         <description><![CDATA[<div>1. pengalaman saya terkait pembelajran yang mengimplementasikan pemikiran KHD adalah saya memberikan tuntunan dan motivasi bagi pseerta didik saya yang mengalami keterlambatan dalam pembelajran (slow learn). karena mnurut siswa&nbsp; tidak ada yang&nbsp; bodoh yang ada siswa yang paham dan mngerri di eaktu yang tidak bersamaan. sehingga guru harus sabar dalam mnghadapi keragaman kemampuan siswa.<br>2.&nbsp; perwujudan MENUNTUN yang saya lihat dalam konteks sosial budaya sebagai guru kita harus bisa mngrahkan /membimbing siswa baik dalam proses pembelajaran formal ataupun informal<br>3. menurut saya Pendidikan indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman dikarenakan kodrat alam tidak bisa dilepaskan oleh kodrat zaman. kodrat alam setiap siswa berbeda beda dan hidup di zaman yang berbeda pula sehingga pendidikan perlu mmeprtimbangkan itu.<br>4. relevansi pemikiran KHD yang berhamba pada anak  saya terapakan dalam mengajar misalnay saya tidak pernah memmaksakan kehendak saya sebagai guru, saya harus bisa mndengar keluhan cara anak didik saya dalam belajra. saya harus bisa mnciptakan knyamanan siswa saya dalam belajar.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:32:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826746049</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anggie Anggraini Tri Saptari (SMAN 11 BANDUNG)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826747349</link>
         <description><![CDATA[<div>Proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD yaitu "menuntun" bukan "menuntut". Artinya, kita sebagai pendidik hanya memberikan arahan agar anak bisa mengembangkan potensi yang dimiliki.<br><br>Perwujudan "menuntun" yang saya lihat di daerah saya (Jawa Barat) yaitu program yaitu Jabar Masagi yang fokus membangun manusia berkarakter. Dimana manusia itu memiliki karakter sebagai manusia yang belajar merasakan (niti surti), belajar memahami (niti Harti), belajar melakukan (niti bukti), dan belajar hidup bersama (niti bukti).<br><br>Pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena sebuah pendidikan haruslah membangun "iklim". Maksudnya bahwa pendidikan harus menyesuaikan dengan kondisi juga perkembangan zaman peserta didik saat ini.<br><br>Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak" dalam peran saya sebagai guru adalah memerdekakan anak. Maksudnya, saya sebagai guru memberikan kebebasan anak dalam berekspresi juga eksplorasi pada hal yang mereka sukai, berusaha mendekati anak sesuai dengan karakter  mereka juga menyesuaikan diri dengan zamannya mereka.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:33:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826747349</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Novi Nurhayati_SMPN 22 Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826756709</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD adalah saat praktikum IPA di laboratorium. Saya selalu memberi semangat dan arahan kepada siswa bahwa tidak ada yang salah dengan data hasil praktikum apapun hasilnya. Jika data tidak sesuai teori biarkan saja, cukup analisis dimana penyebab kesalahannya agar jadi pelajaran untuk memperbaiki. Saya mengajarkan budi pekerti jujur dan berani bertanggung jawab sesuai dengan dasar pendidikan KHD tentang budi pekerti.<br>2. Memberi tuntunan dalam konteks sosial budaya artinya memberi contoh atau teladan berperilaku baik pada orang di sekitar kita.<br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam karena setiap siswa berbeda dengan segala keunikan yang bisa dikembangkan.<br>4. Pendidikan yang berpihak kepada siswa artinya saya harus memfasilitasi pembelajaran yang berdiferensiasi sesuai dengan kebutuhan siswa.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://1.bp.blogspot.com/-7fSkC7dt3rw/W5i4sO9GiQI/AAAAAAAACas/hGybn8eYUD80LLevkkvkmkT7tRAxEVQxgCLcBGAs/s1600/2%2BIPA.jpg" />
         <pubDate>2021-10-19 10:40:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826756709</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SUGIHARTI, M.Pd. - SMKN 3 Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826757225</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Salah Satu Pengalaman Pembelajaran yang Merefleksikan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara:<br>Saya mengajar di SMK. Sebagai sekolah pendidikan vokasi, pembelajaran harus berorientasi pada implementasi budaya kerja industri. Saya mencoba mengajak para siswa untuk memahami konsep dan implementasi budaya literasi tersebut melalui permainan numerasi yang dianalogikan ke dalam implementasi budaya kerja. Konsepnya, mengarahkan anak bagaimana memahami dan mengimplementasikan budaya kerja dengan perasaan senang dan bahagia. Cara ini menurut saya efektif karena semua siswa terlibat dalam permainan numerasi tersebut dan berkolaborasi membangun konsep tentang implementasi budaya kerja tersebut.<br>2. Perwujudan 'menuntun' yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya (Jawa Barat) adalah dengan menuntun anak untuk memperoleh kebahagiaan (Bagja) melalui niti harti, surti, bukti, bakti. Jadikan anak sebagai subjek belajar agar mencapai kebahagiaan.<br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zama karena pendidikan harus terus tumbuh sesuai dengan perubahan dan tuntutan zaman, tetapi harus tetap berpegang pada nilai-nilai budaya masyarakatnya.<br>4. Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba pada anak" dalam peran saya sebagai guru adalah pendidikan berpusat pada anak. Anak dijadikan sebagai subjek belajar. Dalam pembelajaran, kita harus memahami karakteristik peserta didik dan menuntunnya untuk mengembangkan potensi-potensi baik pada anak. Guru berperan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar dapat  mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam kehidupannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:40:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826757225</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Evi Kuswanty (SDN 250 Jakapurwa Kota Bandung)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826763890</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) dengan menerapkan permainan dalam pembelajaran, menghargai pendapat siswa, mengaitkan semua mata pelajaran dengan nilai budi pekerti.<br>2. Perwujudan <strong>‘menuntun’ </strong>yang saya lihat<strong> </strong>dalam konteks <strong>sosial budaya </strong>di daerah saya (Suku Sunda - Jawa Barat) yaitu&nbsp;</div><h1>menuntun agar siswa menjadi manusia yang belajar merasakan (niti surti), belajar memahami (niti Harti), belajar melakukan (niti bukti), dan belajar hidup bersama (niti bukti).</h1><h1>3.Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan <em>kodrat alam </em>dan <em>kodrat zaman karena k</em>odrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi, yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul <strong>sifat-sifat baiknya</strong> dan menutupi <strong>sifat-sifat jeleknya</strong>. Sehingga mereka menjadi pribadi yang terampil, berakhlak mulia dan bijaksana sehingga mereka akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan.</h1><div>4.Relevansi pemikiran KHD <em>“Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” </em>dalam peran saya sebagai pendidik menjadikan pembelajaran yang 'student center' dan guru sebagai fasilitator dengan memberi tuntunan serta mewujudkan merdeka belajar. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:45:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826763890</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Desi Triyani_SMPN 39 Kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826765905</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu dalam kegiatan penilaian kompetensi keterampilan anak, saya tidak memberikan patokan khusus media yang harus mereka pakai. Saya berikan keleluasaan murid untuk mengerjakan penugasan menggunakan media apa saja yang dikuasai dan disenangi oleh mereka. Potensi mereka akan terlihat dengan sendirinya, karena mereka tidak dituntut untuk sama seragam dengan tugas teman-temannya yang lain.<br><br>2. Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya yaitu dalam filosofis Sunda "Silih asah ku pangabisa, Silih asih ku pangarti, silih asuh ku pangaweruh" yang artinya kita sesama manusia harus bisa berkolaborasi dalam konteks saling menumbuhkan kebaikan, meningkatkan kompetensi, pemikiran, dan pengetahuan yang baik dengan penuh rasa kasih dan mengayomi.<br><br>3. Karena jika dilihat dari&nbsp; segi geografis Indonesia memiliki alam yang beraneka ragam sehingga membentuk karakter masyarakat yang berbeda-beda. Dan kita selalu mengalami perubahan perkembangan zaman dari waktu ke waktu yang semakin maju dan menjadi sebuah tantangan tersendiri.<br><br>4. "Pendidikan yang berhamba pada anak" adalah pendidikan yang berpihak atau berpusat pada anak. Anak diberikan ruang yang seluas-luasnya untuk mengemukakan pendapat atas apa yang mereka ketahui dan kita pendidik menjadi fasilitator dan penuntun dalam proses tersebut.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:46:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826765905</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Juhriansyah _SDN 099 Babakan Tarogong Kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826768396</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya dalam merefleksikan pemikiran KHD adalah pemberian teladan kepada murid. Ternyata menyuruh dengan memberi teladan itu lebih cepat dilaksanakan oleh murid tanpa merasa terbebani (merdeka). <br><br>2. Yang saya rasakan ternyata membelajarkan anak dengan cara menuntun lebih menyenangkan hati saya dan murid. Sedangkan dengan cara menuntut itu membuat aura pembelajaran menjadi negatif, anak jadi tegang dan guru juga dipenuhi oleh dengan negative thinking terhadap murid bahkan mudah emosi. <br><br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam&nbsp; karena Indonesia tersebar diberbagai pelosok daerah yang mempunyai karakter daerah masing-masing yang perlu intervensi dengan cara yang beragam. Sedangkan Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat zaman karena tiap zaman akan itu terjadi perubahan yang sesuai dengan zamannya. Pendidikan zaman dulu pasti berbeda dengan pendidikan zaman saat ini. Oleh karena pendidikan harus bersifat dinamis, tidak statis/stagnan.<br><br>4.&nbsp; Relevansi pemikiran KHD <em>“Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” </em>dalam peran saya sebagai pendidik bermakna bahwa saya sebagai pendidik harus dengan ikhlas/tulus dan sepenuh hati mencurahkan segala kemampuan dalam menuntun mereka (murid) dalam mendapatkan pengajaran dan pendidikan yang sesuai dengan kekuatan kodrat masing-masing untuk meraih kesuksesan dan kebahagian lahir batin.<br><br><strong><em>#Terima kasih Pak Yohanes atas sharing ilmunya... <br>Semoga Bapak Sehat Selalu.. </em></strong>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:48:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826768396</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tinna Dewi Fitriana,S.Pd SDN 147 Citarip Barat Kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826768573</link>
         <description><![CDATA[<div>1.Pengalaman saya mengenai proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran KHD yaitu ketika siswa melaksanakan pembelajaran dengan cara merdeka belajar,mereka bisa melaksanakan pembelajaran secara bahagia yaitu dengan cara meningkatkan potensi yang ada pada mereka sehingga dengan potensi yang mereka miliki&nbsp; bisa membuat mereka menjadi bagian dari masyarakat yang mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinngi tingginya.<br><br>2.Perwujudan menuntun dalam konteks sosial dan budaya adalah dengan adanya pertukaran kebudayaan antara satu tempat dengan yang lainnya,tetapi pertukaran kebudayaan ini bukan berarti merubah&nbsp; atau menghilangkan kebudayaan tersebut tetapi semakin meningkatkan jati diri bangsa.<br><br>3.Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman,karena kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan dalam diri anak .Seorang anak akan lahir dari kodrat alam (potensi,bakat dan kemampuan)yang berbeda beda sehingga kita sebagai guru harus bisa memotivasi mereka agar bisa tumbuh secara maksimal sesuai jenjang usia mereka.<br>Kodrat zaman lebih kepada bagaimana guru dapat membimbing siswanya untuk bisa bersaing di abad 21 ini secara positif yaitu dengan cara mengupgrade penguasaan tekhnologi dan ketrampilan yang harus dikuasai di abad 21 ini.<br><br>Relevansi pendidikan yang menghamba pada anak adalah seorang guru harus memiliki rsa hormat,memuliakan anak sehingga jika tumbuh perasaan tersebut tanpa mereka sadari alam diri mereka akan tumbuh perasaan senang dan bahagia.Dengan kondisi seperti ini maka akan memudahkan siswa dapat menyerap ilmu pengetahuan secara optimal.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:48:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826768573</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Heni Endriyani. SMPN 11 Kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826769897</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Menggunakan metoda pembelajaran yang cukup bervariasi supaya tidak membosankan anak. Membuat latihan atau tugas-tugas berupa games.&nbsp;<br><br></div><div>2. Perwujudan ‘menuntun’ dalam konteks sosial budaya di daerah/sekolah saya, adalah membimbing dengan cara bersama-sama melaksanakan kebiasaan-kebiasaan baik, seperti kegiatan pembiasaan yang biasa dilakukan di sekolah saya, seperti upacara bendera di hari Senin, membaca Al quran di jam ke nol di setiap hari selasa, dan jumat, solat dzuha bersama-sama di hari Rabu, membaca buku cerita di lapangan di hari kamis.<br><br></div><div>Perubahan konkret apa yang dapat saya lakukan untuk mewujudkannya diantaranya ; karena saya pembina literasi sekolah, saya akan semakin meningkatkan pembiasaan literasi di hari kamis, dengan kegiatan-kegiatan literasi yang lebih bervariasi, agar peserta didik semakin gemar membaca dan mulai menulis untuk menuangkan ide-idenya.<br><br></div><div>3. Karena pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia sesungguhnya. KHD mengingatkan juga bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia.<br><br></div><div>4. Relevansi pemikiran KHD <em>“Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” </em>dalam peran saya sebagai pendidik adalah melaksanakan proses pembelajaran yang berpusat pada anak, memberikan kebebasan cara belajar yang disesuaikan dengan kemampuannya dalam menangkap/memahami pelajaran, mendorong anak agar dapat menggali potensi dirinya, sehingga tercapai cita-citanya dan mereka menjadi manusia yang mandiri.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:49:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826769897</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Puspa Ayu Lestary_SDN 025 Cikutra kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826771591</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran KHD adalah &nbsp; melakukan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman, salah satunya saya pernah berkolaborasi dengan rekan guru untuk menggunakan aplikasi yang mudah diakses peserta didik saat pembelajaran daring. Pada Budi Pekerti yaitu menerapkan dan membiasakan 5S yaitu, senyum, salam, sapa, sopan dan santun, dan melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada anak serta mengarahkan sesuai bakat dan minatnya.<br>2. Perwujudan MENUNTUN yang saya lihat dalam konteks sosial budaya sebagai seorang pendidik, yaitu mengarahkan serta membimbing sesuai bakat dan minat anak.<br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena alam itu artinya lingkungan awal dari lingkungan anak di mana dia tinggal dan dengan siapa dia tinggal. Karena tempat tinggal akan mempengaruhi apa yang ada di dalamnya.</div><div>Keadaan zaman itu perkembangan yang selalu dinamis. Pendidikan itu harus sesuai dengan zamannya saat ini, dengan pendidikan mengikuti perkembangan akan memberikan perlakuan yang tepat terhadap tantangan zaman yang dihadapi.<br>maka pendidikan saat ini harus lebih mengutamakan kecerdasan, pengetahuan dan keterampilan agar anak mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan dan persaingan di masa depan.<br>4. Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak" dalam peran saya sebagai pendidik adalah mengidentifikasi potensi maupun bakat pada setiap anak yang mempunyai keunikan dan karakter yang berbeda. merancang pembelajaran yang berpusat dan mengutamakan keaktifan pada anak, dan membuat pembelajaran yang menyenangkan, aktif, kreatif dan inovatif.<br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:50:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826771591</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dadi Sulistiyati_SDN 041 Cibuntu Warung Muncang Kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826776271</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Menurut pengalaman saya, memperlakukan anak dengan rasa hormat, penuh kasih sayang menjadikan anak menjadi berlaku bijaksana, menjalani proses pembelajaran dengan bahagia. Dan yang lebih membahagiakan buat saya, sampai mereka dewasa, mereka mengingat Guru sebagai teladan mereka yang mengajari mereka memanusiakan manusia.<br>2. Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya adalah melalui berbagai pembiasaan untuk menanamkan karakter mulia. Salah satunya (misalnya) pada hari Kamis, Kota Bandung menerapkan Kamis Nyunda dengan berpakaian Pangsi dan Kebaya dan berbahasa Sunda saat pembelajaran menuntun mereka mencintai budaya daerah.<br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena kita sebagai pendidik hanya mempertebal sketsa samar dari anak yang sudah dibawa sejak lahir sebagai kodrat alam, dengan terus mengikuti perkembangan zaman, supaya tidak ketinggalan zaman.<br>4. Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak" dalam peran saya sebagai pendidik adalah orientasi pembelajaran haruslah mengutamakan murid, berpusat pada murid. Orientasi pada anak murid merupakan hal paling esensial bagi saya sebagai pendidik.<br><br><strong>Pertanyaan untuk Pak Yohanes:</strong><br>Pendidikan harus holistisk dan seimbang dalam olah cipta. olah rasa, olah karsa dan olah raga, supaya tercipta insan-insan bijaksana. Bagaimana cara kita sebagai pendidik menerapkan dan mengetahui bahwa pendidikan yang kita berikan sudah seimbang? Apa indikatornya?<br><br><strong>Dari Yohanes Carol:</strong><br>Kalau berbicara seperti apa indikatornya, dapat dilihat pada aktivitas yang dihidupi, minimal dilakukan...atau bisa kita sebut dengan prilaku berbudi. secara oprasional, bisa seperti proyek sosial kah, atau proyek dalam keluarga, ini dapat menjadi indikator dari rangkaian proses belajar yang holistik.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:53:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826776271</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Adinda Khoerunnisa_SDN 240 Cijerah Indah Kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826781477</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya terkait dengan proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah menerapkan strategi pembelajaran diferensiasi, dimana sebelum proses pembelajaran dimulai, saya mendiagnosa potensi, minat dan bakat para peserta didik saya, sehingga konten, proses, dan produk pembelajaran memang di desain berbasis kebutuhan para peserta didik. Kemudian saya memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung proses pembelajaran.<br>2. Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah Niti Surti, niti harti, niti bukti, niti bhakti, niti jadi, dimana anak belajar merasakan, anak belajar memahami, anak belajar&nbsp; untuk hidup bersama, anak belajar untuk melakukan hal positif, dan anak belajar untuk menjadi seseorang yang bermanfaat.<br>3. Pendidikan Indoensia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman, karena segala hal akan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal, saya dapat katakana kodrat alam dan zaman adalah faktor eksternal yang berpengaruh selamat atau Bahagia tidaknya anak-anak kita memperoleh Pendidikan baik di sekolah formal maupun non formal. Dimana kodrat alam adalah penyesuaian pendidikan berdasarkan lokasi dimana mereka berada, keadaan alam, sosial dan budayanya.</div><div>Kemudian kodrat zaman adalah penyesuaian Pendidikan berdasarkan generasi/ zaman. Sehingga tentu penting sekali guru mendidik anak sesuai dengan generasi dan tantangan zaman, mengintegrasikan teknologi informasi dalam pembelajaran menjadi salah satu contoh yang dapat dilaksanakan.<br>4. Relevensi pemikiran KHD berkenaan dengan pendidikan yang berhamba pada anak adalah memberikan pelayanan pendidikan yakni pembelajaran yang berorientasi kebutuhan siswa, memerhatikan segala potensi yang mereka miliki sehingga mereka akan merasa bahagia menjalani proses pembelajaran yang kita berikan.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 10:56:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826781477</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Eka P. Kentaswari, SMPN 34 Bandug</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826787969</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya terkait refleksi pemikiran KHD, diantaranya adalah menuntun anak agar memiliki rasa berani berpendapat, percaya diri, mandiri dan bertanggung jawab dalam pembelajaran di kelas baik luring (PTMT saat ini) maupun secara daring.&nbsp;<br><br>2. Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya didaerah saya. terdapat slogan "Silih asah, silih asih, silih asuh, sisilih wawangi".&nbsp; Saya sebagai guru mengajak peserta didik untuk senantiasa berkolaborasi dan mengkomunikasikan, saling menghargai pendapat, berempati terhadapat teman-temannya terumakan yang berkebutuhan khusus atau memiliki keistimewaan, untuk mewujudkan nilai sekolah yakni 4B, berliterasi digital, berbudaya sehat, berprestasi dan berahlakul karimah.<br><br>3. Pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman. ya kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk ligkungan dimana anak berada, setiap anak sudah membawa sifat dan karakternya masing-masing, maka sebagai guru harus dapat membimbing mereka agar tumbuh sifat-sifat baik mereka yang akan mengcover sifat yang tidak baik. guru juga harus mampu membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya, agar mereka dapat beradaptasi, mandari dan bertanggung jawab terhadap dirinya, orang-orang disekitarnya dan masyarakat luas pada umumnya.&nbsp;<br><br>4. relevasi pemikiran KHD, pendidikan yang berhamba pada anak dalam peran saya sebagai pendidik, adalahmenghormati dan memperlakukan anak dengan sebaik-baiknya, sesuai kodratnya, dan melayani mereka dengan setulus hati. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 11:00:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826787969</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Wiwin Sawinah_SD Uchuwwatul Islam Kota Bandung              Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara                                             1. Yang terkait pemikiran Ki Hjar Dewantara (KHD)  bahwa dalam pengajarannya kita harus disesuaikan dengan karakter anak dan yang dibutuhkan oleh anak. Pengalaman saya, pada saat itu saya  guru kelas 3 dan saya ketika itu ada anak didik yang usianya bukan usia kelas 3 dia itu umurnya 11 tahun dan IQ 53, pada saat itu saya bingung memberikan pengajarannya kepada anak itu, saya mencari-carai cara agar memberikan pengajaran yang tepat untuk anak itu saya bertanya-tanya ke teman yang mengajar di SLB, saya ajarkan anak itu sesuai dengan saran teman saya, ternyata sangat efektif. dan ketika pemikiran dari Ki Hajar Dewantara ini ternyata mendidik anak itu disesuaikan kebutuhan anak.  </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826790674</link>
         <description><![CDATA[<div>2. Menuntun anak disesuaikan kebisaan dengan daerahnya dalam menanamkan perilaku yang baik.<br>3. Karena di Indonesia penduduknya beragam, dari keragaman ini pendidikannya disesuaikan dengan kodrat alam anak itu berada&nbsp; dan kodrat zaman memberikan pengajarannya disesuaikan dengan zaman saat ini pengajarannya&nbsp;<br>4. Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak adalah pengajarannya berpusat pada anak dan disesuaikan kebutuhan anak.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 11:02:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826790674</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Julfah Rodiyah Kusumawati_SMPN 55 Bandung</title>
         <author>julfahrodiyah</author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826795039</link>
         <description><![CDATA[<ol><li>Dasar pendidikan KHD salah satunya adalah menuntun, dalam hal ini saya berpendapat dan yakin bahwa setiap guru di Indonesia ini berusaha dan mencoba untuk menuntun siswa dengan baik. Pengalaman saya yang mencerminkan pemikiran KHD dalam proses pembelajaran adalah berusaha menggunakan pendekatan-pendekatan pemelajaran yang berorientasi kepada siswa, seperti PBL, Discovery learning dsb. Dengan pendekatan-pendekatan tersebut diharapkan agar siswa merdeka menemukan penyelesaiannya,dan kita guru sebagai pembimbing/fasilitatornya.</li><li>Perwujudan menuntun tercermin dalam semboyan KHD, Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani. Warga Indonesia terkenal dengan sifat ramahnya hingga mancanegara, hal ini merupakan salah satu bukti bahwa perwujudan menuntun di hampir seluruh wilayah Indonesia termasuk daerah saya yaitu Kota Bandung sudah mulai terwujud.</li><li>Kodrat alam dan kodrat zaman sangat berkorelasi. Indonesia sangat perlu mempertimbangkan kodrat alam dan zaman yang setiap waktu mengalami perubahan. Untuk Masa Kini, kita sebagai pendidik berusaha untuk menciptakan profil pelajar pancasila yang siap untuk menghadapi transformasi ekonomi 4.0 yang semuanya berbasis digital. Maka dari itu Indonesia sangat perlu untuk senantiasa mengupgrade dan mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman.</li><li>Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mencanangkan program merdeka belajar yang orientasi utama kita adalah Siswa/peserta didik. Siswa dibiarkan tumbuh/memilih cara mereka belajar yang menyenangkan dan tidak menuntut. Karena hakikatnya setiap siswa bukanlah sebuah kertas kosong, mereka sudah membawa kodrat yang masih samar-samar dan tugas kitalah sebagai pendidik untuk memfasilitasi siswa dengan cara menebalkan tulisan-tulisan tersebut agar mereka menjadi manusia seutuhnya. Tugas kita sebagai pendidik adalah menuntun, bukan menuntut. Menuntun agar Budi Pekerti mereka terbentuk, agar cipta, rasa, karsa dan raga mereka tumbuh dengan seutuhnya.</li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 11:05:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826795039</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Feni Febryani Zaman _ SDN 079 Kopo Pajagalan Kota Bandung Jawa Barat</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826805389</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)?</div><div>Jawab: Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) adalah saya menuntun siswa untuk termotivasi belajar dengan saya terlebih dahulu, merangkul semua siswa dari berbagai latar belakang dan beraneka ragam karakteristik, setelah siswa termotivasi, kemudian saya seoptimal mungkin memberikan pembelajaran yang menyenangkan dan memberikan kenyamanan serta melakukan pelayanan belajar tambahan terhadap siswa yang kurang dalam memahami pembelajaran tanpa memungut biaya.</div><div>&nbsp;</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bagaimana perwujudan <strong>‘menuntun’ </strong>yang saya lihat<strong> </strong>dalam konteks <strong>sosial budaya </strong>di daerah saya?&nbsp;</div><div>Jawab: Perwujudan <strong>‘menuntun’ </strong>yang saya lihat<strong> </strong>dalam konteks <strong>sosial budaya </strong>di daerah saya adalah Bandung Masagi. Bandung Msagi adalah penguatan pendidikan karakter yang dimiliki oleh Kota Bandung yang didalamnya mencakup komponen religi, peduli lingkungan, jaga budaya, dan bela Negara yang dilaksanakan dengan silih asih (saling menyayangi), silih asuh (saling membimbing), silih asah (saling mencerdaskan), dan silih wawangi (saling memberikan dukungan satu sama lain) yang harapannya akan menciptakan siswa yang cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (pintar/pandai/cerdas), singer (mawas diri), sehingga terciptalah <em>student wellbeing</em> yang bahagia lahir dan bathin sebagaimana yang diungkapkan dalam pendidikan KHD.</div><div>&nbsp;&nbsp;</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan <em>kodrat alam </em>dan <em>kodrat zaman</em>?&nbsp;</div><div>Jawab: Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan <em>kodrat alam </em>dan <em>kodrat zaman </em>agar anak-anak dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.</div><div>&nbsp;</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Apa relevansi pemikiran KHD <em>“Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” </em>dalam peran saya sebagai pendidik?</div><div>Jawab: Relevansi pemikiran KHD <em>“Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” </em>dalam peran saya sebagai pendidik adalah bahwasannya pendidikan harus berpusat pada murid, sebagai pendidik saya harus memberikan kasih sayang tulus pada murid, bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati murid, bukan untuk meminta suatu hak, setulus hati mendidik murid hingga tujuan pendidikan tercapai dan murid mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupn anggota masyarakat.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 11:11:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826805389</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rina Kurniasari SMA Pasundan 3 Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826812638</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya dalam proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara antara lain:&nbsp;<br>Saat Saya memberikan Tugas Projek Base Learning pada Siswa Kelas 12 IPS di Mata Pelajaran Sosiologi.&nbsp;<br>Saya memberikan semangat dan Dorongan agar Anak didik saya dapat Menghasilkan Karya-Karyanya yang terbaik.<br>Dimana Siswa diminta secara Berkelompok untuk membuat strategi Pemberdayaan Komunitas di Wilayah tempat Tinggalnya. Pada Prosesnya, Saya sebagai Guru, Menuntun anak didik Saya membuat perencanan terlebih dahulu, yang meliputi: a. menentukan terlebih dahulu Potensi &nbsp; yang dimiliki wilayahnya untuk diberdayakan, Kemudian menentukan waktu dan tempat untuk melaksanakan pemberdayaannya itu sendiri ( Contohnya : Kelompok Siswa yang tinggal di Wilayah Cibaduyut , mereka menuliskan potensi-potensi apa saja yang ada diwilayah tersebut yang bisa dikembangkan)<br>b. Langkah selanjutnya Saya menuntun Anak didik untuk mengeluarkan ide-idenya untuk menyusun strategi pemberdayaan komunitas di wilayahnya tersebut<br>c. Kemudian Anak didik menyusun Rencana&nbsp; kegiatan tersebut dalam sebuah laporan<br>d. Mempresentasikan hasil laporannya di dalam diskusi kelas, yang nantinya akan diberi tanggapan dan saran untuk pembuatan strategi yang lebih baik.<br>e. Menyanpaikan Laporan Tersebut Ke Pada Pihak terkait yang membutuhkan ( Melalui RT,RW , Kelurahan, Kecamatan Dimana Anak didik tersebut tinggal )<br><br>2. Perwujudan menuntun yang Saya lihat dalam konteks sosial budaya saya, Yaitu antara lain, Anak Didik dituntun untuk berbicara bahasa sunda dalam berinteraksi dengan orang lain, terutama disekolah , diberi aturan Rabu Nyunda, dimana anak didik diminta berbicara dalam bahasa sunda sekaligus menggunakan Baju Kebaya untuk siswi dan Baju Pangsi untuk Putra. Kemudian menuntun anak didik untuk mengikuti "PEMBIASAAN" Yaitu membantu Orang Tua di rumah sebelum berangkat ke sekolah, dan mengawali pembelajaran dis ekolah dengan mengaji, melantunkan Asmaulhusna dan menyanyikan Lagu indonesia Raya ( Sebagai pembentukan Karakter Profil Pelajar Pancasila)<br><br>3. Mengapa Pendidikan di indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?&nbsp;<br>Dalam hal ini Pendidik memperhatikan kodrat alam yang berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan dimana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama, Artinya setiap anak sudah membawa sifat dan karakternya amsing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi, yang bisa dilakukan adalah menunjukkan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga menutup/mengaburkan sifat-sifat jeleknya. Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru, harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri. dengan istilah lain Kecakapan Abad 21<br><br>4. Apa Relevansi Pemikiran KHD " Pendidikan yang menghamba (berpihak ) pad anak" dalam peran sebagai pendidik ?<br>Dalam hal ini bahwa Saya sebagai pendidik harus berpihak pada anak, pendidikan tidak semata-mata suatu hak. Sebagai Contoh : Kita menginginkan Anak Didik kita menjadi Juara. Maka Saya meminta anak didik pertolongan apa yang harus diberikan kepada anak didik, agar mereka dapat mencapai Predikat Juara. jadi Dalam hal ini Pendidik membantu Proses Anak Didik tersebut mencapai juara atau mencapai Cita-citanya.&nbsp;<br>Dengan demikian saya sebagai pendidik, berusaha memimpin perkembangan jasmani dan rohani peserta didik ke arah kedewasaan.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 11:16:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826812638</guid>
      </item>
      <item>
         <title>gantrina _SDN 147 Citarip Barat</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826846571</link>
         <description><![CDATA[<div>1. pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran KHD yaitu saya melakukan pendekatan emosional terlebih dahulu dengan siswa, karena kebetulan saya mengajar dikelas 1 SD,saya menempatkan dan mengatakan kepada siswa saya adalah orang tuanya disekolah, jangan takut dan sungkan kepada saya, anggap saya adalah ibu kalian dirumah,dengan begitu siswa menjadi dekat dan saya bisa melihat karakter dan keinginan keinginan, juga bakat yang ada pada anak, saya mnegikuti kemauan anak ,tapi saya juga tidak melupakan kewajiban mereka dalam belajar .<br>2. memberikan tuntunan bahwa belajar itu luas , silahkan gali terus ilmu,apalagi perkembangan iptek sekarang yang tidak bisa kita bendung, namun kita tetap mengingatkan bahwa budaya atau prinsip prinsip dasar budaya kita tetap harus dipakai dengan kata lain , kemajuan era globalisasi ini harus tetap kita saring<br>3.pendidikkan diindonesia harus mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat jaman, kodrat alam dimaana anak tetap pada tempat dan lingkungannya berasal, bahwa anak kita tuntun agar selamat dan bahagia, kodrat zaman bahwa pendidikkan itu berkembang sesuai zaman, jadi pendidikkan itu jangan diam, tetapi harus berkembang sesuai dengan zaman, dan kita harus bisa mengikutinya<br>4.relevansi pendidik yang mengamba kepada anak dalam peran saya sebagai pendidik, tetap sebagai pendidik kita harus mempusatkan kepada anak, karakter, bakat, kompetensi yang dimiliki anak, dengan segala kelebihan dan segala kekurangan anak.dibalik kekurangan anak, saya yakin akan ada kelebihan kelebihan lainnya yang muncul, dan kita sebagai pendidik menuntunnya agar bisa menjadi pelajar pancasila dengan 6 pilarnya, beriman, berkebhinekaan global,gotong royong, mandiri, kreatif dan kritis.biarkan anak anak tumbuh sesuai bakatnya , sesuai kelebihannya, tanpa harus memaksakan kita membentuk anak harus seperti A atau seperti B</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 11:36:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826846571</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sumarni_SDN 200 Leuwipanjang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826846772</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Salah satu pengalaman tentang proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara : Saya pernah mempunyai murid yang memiliki sifat sangat tertutup, tidak bisa bersosialisasi bahkan sulit diajak komunikasi, dengan teman-teman pun tidak pernah bermain bersama. Dia selalu sendiri. Saya melakukan pendekatan secara pribadi, mencari tahu ke rumahnya dan berbicara dengan orang tua. Saya sering menemani anak tersebut saat istirahat, diajak makan bersama, jajan,&nbsp; walaupun pada awalnya susah diajak bicara tetapi lama kelamaan semakin dekat dan berani menyampaikan keluh kesahnya. Untuk pembelajaran saya sering memberikan bimbingan khusus setelah anak yang lain pulang.&nbsp; Latar belakang keluarga yang kurang perhatian dan tidak mau mendengarkan anak akhirnya membuat dia jadi tertutup merasa tidak perlu ntuk bicara.<br>2.&nbsp; Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya adalah berusaha mewujudkan potensi yang dimiliki anak dengan memberikan motivasi dan mengarahkan untuk mewujudkan potensi dirinya, serta berusaha agar anak bisa&nbsp; menyesuaikan diri dan hidup dalam lingkungan masyarakat dengan baik, mengikuti norma-norma yang berlaku di lingkungannya.&nbsp;<br>3. Pendidikan perlu memeprtimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman, karena anak memiliki potensi yang harus dikembangkan dan diwujudkan untuk aktualisasi diri dan mencapai kebahagiaan secara pribadi dan diterima di lingkungan masyarakat. Anak harus dididik sesuai dengan zamannya, berusaha memebrikan konten dan konteks pembejaran sesuai dengan tuntutan pekembangan zaman.<br>4. Relevansi " Pendidikan yang berhamba pada anak" diterjemahkan bahwa kita sebagai pendidik harus memberikan pelayan yang terbaik untuk anak, mengutamakan anak dalam pembelajaran disesuaikan dengan kondisi dan potensi anak. Pembelajaran yang berpusat pada anak, memberikan ruang belajar yang nyaman, anak terlayani dalam belajar  sehingga anak mendapatkan pembelajaran yang bermanfaat untuk kehidupannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 11:37:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826846772</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yusi Pebruanti_SDN 229 CIBADUYUT</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826855153</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Salah satu Pengalaman saya yang mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) dalam proses pembelajaran yaitu saya sering melakukan ice breaking agar siswa merasa gembira saat belajar. Hal ini sesuai dengan kodrat anak yang sangat suka bermain dan saya sebagai pendidik harus membelajarkan siswa sesuai dengan kodratnya.<br><br></div><div>2. Perwujudan <strong>‘menuntun’ </strong>yang saya lihat<strong> </strong>dalam konteks <strong>sosial budaya </strong>di daerah saya yaitu setiap pendidik membimbing siswa untuk dapat berkembang baik sebagai manusia maupun bagian dari masyarakat yang berbudaya sesuai dengan perkembangan zamannya.<br><br></div><div>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan <em>kodrat alam </em>dan <em>kodrat zaman karena setiap anak yang lahir ke dunia ini sudah dianugrahi beragam potensi dari Sang Pencipta sebagai kodrat alamnya. Tugas kita sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia ialah menebalkan atau meningkatkan potensi yang dimiliki setiap anak agar mereka tumbuh dan berkembang sesuai minat dan bakatnya sehingga mereka mampu menjawab segala tantangan di masa depan.</em><br><br></div><div>4. Relevansi pemikiran KHD <em>“Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” </em>dalam peran saya sebagai pendidik yaitu Saya harus merancang proses pembelajaran yang berpusat pada siswa. Saya harus dapat mengakomodasi segala keragaman karakteristik yang dimiliki setiap anak dengan tulus hati dan sebaik-baiknya pengabdian.</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 11:41:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826855153</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Elan Lantia (TK Pertiwi I)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826902835</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman merefleksikan pemikiran KHD saya coba saat menentukan kegiatan pembelajaran , berupaya untuk berpusat pada anak. pada proses KBM saya memberikan beberapa pilihan kegiatan untuk anak (meja bermain), dimana anak dapat memilih sesuai minatnya. Anak berhak memilih kegiatan bermain mana yang akan dia ikuti pada hari itu. Sebelumnya anak ajak diajak untuk mengenal tema yang menjadi fokus pembelajaran . Kami lakukan kegiatan tanya jawab sebagai kegiatan apersepsi untuk mengetahui "pengetahuan anak" tentang materi tersebut. Anak menyenceritakan pengalamannya.<br>2. Pengalaman menuntun terkait dengan konteks sosial budaya yang saya alami adalah ketika terjadi perbedaan antara pola asuh antara sekolah dengan rumah (orang tua). salah satunya, ketika di sekolah anak dituntun untuk belajar mandiri, berani mencoba segala sesuatu sendiri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, belajar untuk membuat keputusan sederhana. sementara di rumahnya anak serba dilayani, mengandalkan peran asisten rumah tangga, sehingga anak "tau beres" , tidak memberikan kesempatan anak untuk belajar, karena ingin cepat selesai dan hasilnya baik. <br>3. Pendidikan harus mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman, karena setiap anak dianungerahkan Allah potensi yang berbeda-beda, tugas kita adalah mengarahkannya ke arah yang lebih baik, memaksimal potensi yang dimilikinya sehingga serta meluruskannya ketika anak melenceng dari jalur. Namun tentu saja pendidikannya harus mengikuti perkembangan zaman, agar anak dapat senantiasa beradaptasi dan mengikuti tuntutan zaman.<br>4.Relevansi&nbsp; <em>“Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” . </em> Setiap individu (anak) adalah unik yang menuntut pendekatan yang berbeda pula . Kita tidak bisa memberikan treatment atau pola yang sama untuk setiap anak. Berdasarkan hal tersebut, maka seorang pendidik harus mengenali "anak didiknya", mengenali potensi dan gaya belajar anak, sesuai dengan asas merdeka belajar. kemerdekaan tersebut diberikan kepada anak untuk mengekspresikan dirinya, tanpa rasa malu dan ragu, tentu saja dengan bingkai rasa tanggung jawab dan kaidah akhlak yang berlaku.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 12:06:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826902835</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hendra Kusnendar SDN O43 Cimuncang . 1. Pembelajaran yang kreatif 2. pembelajaran yang menuntun Bakat sehingga potensi setiap siswa muncul .3. setiap anak dilahirkan dalam kodrat alam dan zaman yang berbeda. 4. Pembelajaran berbasis pada siswa Student center . Tadi sudah cuman lupa tulis nama ...keburu adzan magrib</title>
         <author>uhenteahendra</author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826922975</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 12:14:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1826922975</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rofiqoh Nurwahidah, SMAN 11 Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827028801</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya selama mengajar yang mencerminkan pemikiran Ki Hadjar dewantara adalah melakukan pembelajaran menggunakan pendekatan yang berpusat kepada siswa dan tidak lepas dari arahan guru. Menciptakan suasana menjadi menarik karena pembelajaran yang menarik dapat membuat siswa berkesan dan penasaran pada materi. Siswa&nbsp; menggunakan alat peraga dalam pembelajaran yang mereka buat dan mereka gunakan dilapangkan untuk mengukur suatu benda yang tidak dapat diukur secara langsung seperti gedung tinggi, menara, dll.<br><br>2. Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya terutama di sekolah yaitu membiasakan anak hidup bersih dengan merutintan membersihkan kelas setelah pembelajaran, merutinkan membaca kitab suci sebelum pembelajaran dimulai sebagai rasa syukur kepada Tuhan.&nbsp;<br><br>3. Indonesia penting untuk memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman dalam pendidikan. Setiap siswa memiliki karakter yang berbeda. Kita tidak bisa merubah sifat dasar manusia, tetapi kita harus meluruskan, membimbing kodrat mereka menjadi lebih baik serta harus mengikuti kodrat zaman saat ini&nbsp; dari segi sistem pembelajarannya.<br><br>4. Relevansi pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang mengatakan bahwa pendidikan yang berhamba pada anak dalam peran saya yaitu tidak memaksakan atau menuntut siswa dalam pembelajaran. Mengikuti belajar siswa dengan kenyamanan belajar mereka masing masing dengan terus membimbingnya, mendengarkan kesulitan belajar mereka dan membantu memecahkannya.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 12:53:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827028801</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Agus Gustiawan_SMA Negri 4 Bandung</title>
         <author>agusgustiawan1970</author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827036541</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan pemkiran KHD yaitu selalu memaham kemampuan siswa yang beragam juga dalam proses pembelajaran selalu menyeimbangkan antara kogintf, afektif dan psikomotor. Dalam hal ini saya selalu mengingatkan saya bahwa dalam pemeblajaran jangan selalu mengejar nlai semata sedang sikap dan keterampilan di kesampingkan. Apalagi mendapatkan nilainya dengan cara melakukan kecurangan. Banyak orang yang pengetahuannya cemerlang tapi tidak bermanfaat kehidupannya d keluarga, masyarakat karena berperilaku buruk. Misalkan ada anak yang dapat mengambil motor yang terkunci dalam htungan detik, secara fakta sangatlah jelas anak tersebut penegtahuannya sangat tnggi.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Ing Madyo Mangun Karso salah satunya, selalu memberikan karya yang nyata di lingkungan masyarakat dengan cara memberkan ide-ide dalam kegiatan sosial, contohnya peka terhadap warga yang terkena musibah dan mengajak warga lain untuk gotong royong menggalang dana.</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pendidikan mengandung makna ada merdeka batn, sehingga pendidikan di Indonesia selalu mpertimbangkan kodrat alam&nbsp; sangatlah penting dengan alasan bahwa dari hasil pendidikan ada tuntutan berupa kemanfaatannya&nbsp; bagi kehduapannya kelak . Adapun kodrat zaman perlu dipertimbangkan supaya tidak ada pergeseran budaya asli orang Indonesa yang akan merusak akhlak generas muda.</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Relevans Pendidikan yang berpihak pada anak saya bisa lakukan dengan menganggap bahwa siswa yang sedang kita ddik dianggap sebaga anak kandung sendiri. Jika sudah danggap sebagai anak sendri akan muncul sifat ikhlas, tulus dan tidak menntut hak apapun terhadap siswa setelah kelak sswa kita mencapai ketuntasan dalam Pendidikan. Dalam menuntun siswa menjadi manusia yang merdeka secara batin, pendidika juga punya tanggung jawab yang besar untuk menjaga supaya siswa kita tidak sampai terkena virus yang akan menggerogoti sifat psotf pada sswa.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 12:55:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827036541</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Fitra Fitria Rahmandhani_SDN 025 Cikutra Kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827129159</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD adalah melakukan pembelajaran yang berpusat pada anak, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai pamong dalam memberi tuntunan dan arahan. Contohnya ketika pembelajaran anak mencari, menggali serta menemukan konsep pengetahuan melalui lingkungan atau pengalaman langsung. Saya melakukan pembelajaran yang sesuai dengan zamannya serta mengarahkan anak sesuai dengan bakat dan minatnya.&nbsp;<br>2. Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya adalah menerapkan pembiasaan baik pada peserta didik seperti saling menghargai pendapat yang berbeda, menghargai karya teman. Saling menghormati, membantu teman yang membutuhkan, bertutur kata yang sopan.<br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan dimana anak berada,setiap anak memiliki potensi, bakat dan kemampuan yang berbeda oleh karena itu sebagai seorang guru diharapkan mampu membantu dan memotivasi juga mengarahkan anak sesuai dengan bakat dan minatnya. Kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama, bila melihat kodrat zaman pada saat ini pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki kemampuan abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia, sebagai seorang guru diharapkan mampu membimbing anak memasuki abad 21, namun pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri .<br>4. Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak" dalam peran saya sebagai pendidik adalah memiliki rasa hormat terhadap anak, membuat anak nyaman ketika dalam pembelajaran sehingga anak dapat dengan mudah menyerap ilmu pengetahuan, menggali potensi yang ada dalam diri anak, menumbuhkan rasa percaya diri pada anak dan menanamkan bahwa setiap anak memiliki potensi juga bakat dan minat yang berbeda, sehingga tanpa disadari dalam diri anak akan tumbuh kepercayaan diri dan anak akan merasa senang dalam pembelajaran. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 13:22:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827129159</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Siti Sariah Kartini (SMA YAS Bandung)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827426417</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Menerapkan pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Dimana siswa dalam proses pembelajaran tidak diwajibkan untuk membuat satu tugas untuk menguur ketercapaian kompetensi. tetapi diberi kebebasan bagi mereka untuk menggali potensi mereka atau kesukaan mereka. Misal siswa yang suka akan seni boleh menjawab asesmen/evaluasi pembelajaran dalm bentuk gambar, cerita komik, poster, infogravis atau ppt. sedangkan siswa yang suka sastra melakukanasesmennya melalui cerpen, sajak atau artikel.<br>2. Perwujudan "menuntun" dalam konteks sosial-budaya , Pengembangan pendidikan harus selaras dengan nilai budaya untuk memperkuat dinamika pendidikan sebagai penguat bangsa.&nbsp; Guru dapat berperan sebagai yang membimbing serta memimpin anak didik dengan lembut, untuk mengembangkan bakat, potensi dan karakteristik peserta didik. Hal ini kalo diwujudkan di daerah tempat saya tinggal (Jawa Barat) adalah dengan mewujudkan visi Jabar Masagi yaitu 'Niti Surti" : manusia Jawa Barat yang belajar merasakan, menghargai peri kehidupan manusia; 'Niti harti' : manusia yang belajar&nbsp; untuk mengetahui mengembangkan akal; 'Niti Bukti" :manusia Jawa Barat yang belajar untuk melakukan, membuktikan laku diri; 'Niti Bakti' : manusia Jawa Barat&nbsp; yang belajar untuk hidup bersama berbakti untuk negeri.<br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan <em>kodrat alam </em>dan <em>kodrat zaman </em>karena&nbsp; setiap anak itu tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh lingkungan&nbsp; alam tempat dia tinggal, kultur budaya dan kondisi geografisnya maka pendidikan harus disesuaikan dengan budayanya agar merka memiliki karakter yang kuat. Pendidikan juga harus mempertimbangkan kodrat jaman agar anak peserta didik bisa bersaing dengan masyarakat dunia sesuai&nbsp; dengan perubahan zaman dari waktu ke waktu. Pada masa sekarang maka pendidikan itu harus bisa mempersiapkan anak untuk&nbsp; memiliki keterampilan Abad 21 sehingga mereka bisa bersaing dalam menghadapai Revolusi Industri 4.0 dan nantinya mereka dapat bergaul dalam masyarakat global/dunia. <br><br>4. Relevansi pemikiran KHD <em>“Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” </em>dalam peran saya sebagai pendidik adalah mewujudkan peserta didik/anak yang merdeka. Dengan jiwa merdeka mereka nantinya akan berbakti untuk negara dan bangsa.<br>Sebagai guru saya akan 'menuntun' anak/peserta didik untuk aktif dan mandiri dalam proses belajarnya, yang bertanggung jawab dan berinisiatif untuk mengenali kebutuhan belajarnya, menemukan sumber-sumber informasi untuk dapat menjawab kebutuhannya, membangun serta mempresentasikan pengetahuannya berdasarkan kebutuhan serta sumber-sumber yang ditemukannya. Dalam batas-batas tertentu siswa dapat memilih sendiri apa yang akan dipelajarinya.&nbsp;<br>Dengan demikian diharapkan natinya mereka menjadi manusia yang berkualitas dan berkarakter baik seperti  kreatif, mandiri, berjiwa pemimpin, percaya diri, berdisiplin, bernalar kritis, mampu berkomunikasi dan bekerjasaman dengan baik dalam tim serta berwawasan global. sehingga akhirnya mereka dapat beradaptasi dengan perubahan zaman.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 14:38:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827426417</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Asep Nandar_SDN 079 Kopo Pajagalan_Kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827549821</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Melaksanakan proses pembelajaran yang aktif,inovatif,efekif dan menyenangkan melalui model&nbsp; MASAGI adalah suatu bentuk tindakan nyata dari buah pemikiran Ki Hajar Dewantara. Sesuai kodrat anak yang senang bermain, model MASAGI ini banyak permainan dan banyak mengadopsi kearifan budaya local seperti sakali guyub,sakali moyeg,sakali wayang motekar dll, juga pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student center) melayani ke tiga&nbsp; gaya belajar anak baik audio,visual,,kinestetik .dan melayani ketiga potensi baik kognitif,afektif dan psikomotorik anak.<br><br>2. Perwujudan <strong>‘menuntun’ </strong>yang saya lihat<strong> </strong>dalam konteks <strong>sosial budaya </strong>di daerah saya, yaitu Salah satunya pada hari Kamis, Kota Bandung menerapkan Kamis Nyunda dengan berpakaian Pangsi dan Kebaya dan berbahasa Sunda saat pembelajaran menuntun mereka mencintai budaya daerah.<br><br>3. Bahwa dalam menuntun kodrat anak harus disesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam adalah lingkungan alam tempat peserta didik berada baik itu kultur budaya maupun kondisi alam geografisnya.&nbsp;<br><br>Sedangkan kodrat zaman adalah perubahan dari waktu ke waktu. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki&nbsp;<br><br>Keterampilan Abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia sesungguhnya. KHD mengingatkan juga bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia.&nbsp;<br><br>Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh KHD adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri<br><br>4. “Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak.” (Ki Hajar Dewantara, 1922)*<br><br></div><div>Pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Pendidikan harus menuju pada kebudayaan yang kita cita-citakan. Saat ini teknologi digital telah merevolusi kebudayaan dengan sangat cepat dan akan terus semakin cepat. Pendidikan pun harus berrevolusi. Pendidikan harus berperan aktif bertransformasi untuk menjawab tantangan-tantangan kebudayaan "jaman now."<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1411768404/bb95220275f2fa65858b84f10754c32c/IMG_20190821_085928___Copy__2_.jpg" />
         <pubDate>2021-10-19 15:12:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827549821</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nirmala Ayuningtyas SDN 025 Cikutra KOta BAndung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827556789</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah merancang, melaksanakan dan menilai pembelajaran menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe TGT (Teams Games Tournament). Model pembelajaran ini memiliki ciri siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil, games tournament, penghargaan kelompok. Manfaatnya adalah meningkatkan keaktifan siswa sehingga lebih dominan dalam pembelajaran, dapat meningkatkan rasa menghormati dan menghargai orang lain dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap pelajaran yang sedang berlangsung.<br>2. Perwujudan "menuntun" yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah selalu menanamkan pembiasaan yang baik kepada para siswa baik itu pembiasaan dalam keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Misalnya pembiasaan anak selalu membaca (literasi), cinta tanah air, nasionalisme, mandiri, percaya diri dan lain sebagainya. Pembiasaan tersebut dilakukan setiap hari namun tema akan diubah setiap minggunya.<br>3. Pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat zaman dan kodrat alam karena negara Indonesia terdiri atas keanekaragaman budaya, tentunya setiap daerah akan berbeda sesuai dengan kondisi alamnya. Selain itu juga,&nbsp; pedidikan di Indonesia harus berubah mengikuti zamannya, karena jika pendidikan dilaksanakan sesuai dengan zamannya maka Indonesia akan terus berkembang dan dapat bersaing secara internasional.<br>4. Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak-anak dalam peran saya sebagai pendidik adalah sistem pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam hal ini, guru sebagai fasilitator siswa, menuntun siswa untuk mencari informasi terbaru yang dapat mereka temukan sendiri. Sehingga mereka mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna.<br><br>Sekian penjelasan dari saya, terima kasih.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 15:14:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827556789</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rifal Rinaldi_SMA YWKA Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827594566</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Saya mengajar sebagai guru PJOK, dalam pembelajaran PJOK banyak sekali materi yang harus di pelajari oleh siswa baik berupa praktik atau bukan praktik, dengan durasi pertemuan yang sangat terbatas pada setiap materi, oleh karena itu saya tidak memaksakan siswa untuk mahir seluruh materi yang di pelajari, untuk mengembangkan bakat dan minatnya saya menyarankan siswa untuk mengikuti ekstrakulikuler di sekolah atau club/komunitas olahraga yang ada di luar sekolah.<br><br>2. Perwujudannya yaitu menuntun siswa mengembangkan bakatnya di bidang olahraga sesuai dengan kemahirannya, memberikan informasi terkait beasiswa untuk berprestasi.<br><br>3. Karena perubahan adalah hal pasti, kita sebagai guru harus bisa beradaptasi dengan kondisi murid setiap waktunya, baik berupa hari ataupun tahun.&nbsp;<br><br>4. Anak di berikan kebebasan dalam mengemukakan pendapat, memberikan kesempatan kepada murid untuk bercerita apa yang murid rasakan dan murid inginkan.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1412341415/8e39ce0294fc6ae41522ccfe99eacbaf/Screenshot_20211019_221727_Instagram.jpg" />
         <pubDate>2021-10-19 15:24:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827594566</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Debby Raeni Aprilian_SMAN 7 Kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827692515</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pengalaman yang terkait proses pembelajaran merefleksikan atau mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu menerapkan Ing Ngarso Sung Tulada (di depan memberi contoh), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun semangat), Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan) adalah dengan bermain peran pada mata pelajaran Ekonomi dimana semua siswa ikut terlibat artinya pembelajaran berpusat di siswa, Siswa adalah anak didik kita yang harus kita didik dengan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kompetensi-kompetensi yang berlaku saat ini, selain itu siswa memiliki kodrat alam yang selalu ingin merdeka sejak dari kandungan, hingga jiwa merdeka saat ia dewasa dan selain itu ketika pembiasaan didalam kelas menerapkan Ing Ngarso Sung Tulada berarti ketika guru berada di depan memberikan contoh misalnya ketika memberikan senyum, salam dan sapa ke sesama guru dan sikap seperti itu yang bisa ditiru oleh siswa kepada teman temannya. Kemudian yang kedua Ing madya Mangun karsa yaitu pada saat di saya mendengarkan apa yang dikatakan oleh siswa dan mencari solusinya disini terlihat&nbsp; guru bisa bersahabat dengan siswa dan yang ketiga Tut Wuri Handayani yaitu dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan atau arahan, ketika siswa mengikuti OSN atau kejuaraan lainnya sebaiknya seorang guru untuk menyemangati dan memberi motivasi kepada siswa tersebut dan yang segera akan saya terapkan dalam pembelajaran yang mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah: mendesain dan melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan, menarik dan berpusat pada peserta didik (student centered).</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Perwujudan Pendidik harus <strong>menuntun</strong> anak agar bisa berbaur dan bersosialisasi dengan lingkungannya tanpa mengesampingkan budaya di daerahnya. Salah satu bentuk perwujudan yang sudah dilakukan adalah dengan mengingatkan anak agar selalu bisa saling menghargai lingkungan dan masyarakat, bertutur kata yang baik dan sopan terhadap orang yang lebih tua, menasehati anak untuk tidak bergaul dengan lingkungan yang memiliki dampak negatif bagi dirinya dan sekitarnya</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan Kodrat Alam,Karena Indonesia terdiri dari 34 provinsi yang setiap provinsinya mempunyai nilai-nilai budaya atau adat istiadat sendiri, maka dari itu pendidikan di Indonesia harus mempertimbangkan kodrat alam sesuai dengan budaya atau adat istiadat setempat. Pendidikan yang mempertimbangkan kodrat alam tecermin dari visi pendidikan yang harus berorientasi pada lingkungan, sosial, budaya, dan seni yang ada di sekitar. Kemudian pendidikan juga harus mempertimbangkan kodrat zaman karena setiap tahun setiap zaman terdapat ilmu ilmu yang baru atau terdapat pembaruan mengenai ilmu, sehingga bisa mampu bertahan di masa yang akan datang</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantara “Pendidikan Yang berhamba (berpihak) pada anak&nbsp; dalam peran saya sebagai pendidik,&nbsp; kita tidak bisa memaksakan kehendak yang kita inginkan. Anak adalah sang pemeran utama yang merupakan subjek bukan objek pendidikan. Guru dan murid harus berkolaborasi bersama untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya dan dapat mengakomodasi karakteristik masing-masing agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Semua dapat tercermin dalam pendidikan saat ini yaitu merdeka belajar. Dengan adanya pendidikan yang berhamba pada anak membuat anak menjadi lebih bahagia ketika saat pembelajaran sedang berlangsung tidak terbeban dengan pencapaian skor atau nilai tertentu.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 15:52:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827692515</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Geget Mulyana_SDN 208 Luginasari Sukagalih Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827693704</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara kodrat anak itu adalah bermain maka permainan bisa dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar. Bermain itu sudah pasti gembira dan menyenangkan maka dari itu saya sebisa mungkin menjadikan kegiatan belajar mengajar di dalam ataupun di luar kelas harus dapat membuat perasaan anak gembira dan menyenangkan. Maka dari itu saya selalu menyelipkan hal-hal yang bisa membuat anak didik bergembira dan senang dalam kegiatan belajar mengajar, minimal mereka dapat tertawa atau tersenyum. Adapun proses pembelajaran yang merefleksikan pemikiran KHD yang saya alami adalah saya selalu menyajikan hal-hal yang dapat membuat anak-anak senang, gembira, tertawa dan tersenyum dengan memberikan permainan, humor-humor yang ringan, tebak-tebakan ataupun dengan gestur tubuh.&nbsp;<br><br>2. Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya adalah budaya sangat dapat menuntun atau mengarahkan seseorang kearah yang baik atau sebaliknya maka dari itu sebisa mungkin kita memfilter setiap corak budaya yang beraneka ragamnya kdalam onteks sosial budaya yang ada.<br><br>3. Kodrat alam bisa dikatakan tempat. Maka mengapa pendidikan di Indonesia harus mempertimbangkan kodrat alam atau tempat karena seperti yang kita ketahui bahwa daerah Indonesia itu sangat luas dengan keadaan dari satu daerah dengan darah lainnya itu berbeda-beda maka pendidikan Indonesia pun harus di sesuaikan dengan kodrat alamnya, misal daerah pegunungan pasti mempunyai karakter yang berbeda dengan daerah pesisir pantai.<br>Begitupun dengan kodrat zaman itu tidak sama dari waktu ke waktu maka dari itu pendidikan Indonesaia pun harus berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan zaman yang di jalani. Misalnya, dahulu ketika zaman 0.4 dimana keadaan teknologi dalam pendidikan masih sangat sederhana yang segalanya hanya berdasarkan buku bacaan, nah maka di zaman sekarang yang sudah 4.0 dimana dunia pendidikan sudah mengenal istilah hybird learning maka kita harus bisa beradaptasi.<br><br>1. Relevansi pemikiran KHD “ pendidikan yang berpihak pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik adalah sebisa mungkin akan lebih “memanusiakan”siswa, karena selama ini saya merasa baru ada dalam level ”mensiswakan” siswa, dengan begitu insyAll akan membuat anak didik kita merasa senang, gembira dan bahagia, insyaAllah.&nbsp;<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 15:52:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827693704</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Djuangsih Dewi Kurniasari_SMPN 36 Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827722531</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman terkait proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD, yaitu saat saya memberikan materi IPS mengenai keragaman etnik dan budaya Indonesia. Saya dan murid-murid membicarakan mengenai hal apa yang mudah agar mereka dapat mengenal keragaman etnik dan budaya Indonesia. Anak-anak ada yang memilih membuat pakaian adat dari barang bekas, dan bahan alam. Seperti dari keresek bekas, kain bekas, kardus bekas, dedaunan yang ada sekitar rumah mereka dan dari bahan bekas alinnya. Ada juga yang memilih membuat makanan khas daerah, berbicara bahasa daerah, membuat senjata khas daerah. Mereka berkreasi dengan apa yang ada dalam pikiran mereka.<br><br>2. Perwujudan menuntun yang saya lihat dalam kontek sosial budaya di daerah saya yaitu dengan melalkukan pembiasaan menggunkan pakaian khas daerah setiap satu minggu satu kali. Dalam hal ini pakaian khas untuk laki-laki yang biasa digunakan adalah&nbsp; pangsi atau pakaian berwarna hitam dan celana hitam, yang pada jaman dulu merupakan pakaian sehari-hari orang Sunda. Untuk perempuan menggukan keatasan kebaya. Semua berlaku untuk warga sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Bandung.<br><br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena kodrat alam Indonesia ini sangatlah beragam. Sehingga dalam menerapkan pembelajaran tidak dapat disamaratakan, harus disesuaikan dengan kondisi daerahnya masing-masing. Kodrat zaman, saat ini begitu pesatnya perkembangan teknologi dimana anak-anak selalu lebih cepat tau dari kita sebagai guru atau orang tua. Sehingga guru juga dituntut untuk dapat mengimbangi pengetahuan anak-anak mengenai teknologi. Guru harus mau belajar untuk bisa mengajar. Seperi kata pepatah " Ajarilah anak sesuai dengan jamannya."<br><br>4. Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berpihak pada anak, guru memberikan kebebasan  kepada anak-anak dalam menjalankan proses belajarnya. Namun bukan kebebasan yang tanpa arah, guru harus tetap menjadi contoh baik bagi anak-anak. Anak-anak bebas berpendapat dengan tujuan untuk  meningkatkan kompetensi mereka.  Tut Wuri Handayani, di depan pendidik bisa menjadi teladan, ditengah pendidikan harus bisa memberikan ide, dan di belakang pendidikan harus bisa memberikan dorongan. (motivasi)</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1184829484/f575216ec2970e03b8b0b0949ff2d580/PicsArt_09_09_10_38_00.jpg" />
         <pubDate>2021-10-19 16:00:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1827722531</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yani Purbaningrum, SDN 223 Bhakti Winaya Kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1829094753</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pembelajaran berpusat pada siswa sudah tertanam dalam prinsip pribadi saya, namun terkadang terbentur dengan tuntutan pencapaian kompetensi yang mengikat sebagai sebuah aturan. Pengalaman saya dalam menerapkan merdeka belajar adalah membiarkan anak - anak mengeksplorasi lingkungan sekitarnya untuk mempelajari tentang ekosistem, rantai makanan, dan membuat teks sederhana tentang lingkungan sekitar mereka. Anak - anak bebas memilih tempat, menemukan sebuah ekosistem, menggambarkan rantai makanan yang terjadi pada ekosistem tersebut, kemudian menjelaskan hasil temuannya dalam sebuah video yang mereka kreasikan sendiri. Di akhir, bersama - sama membuat kesimpulan tentang apa yang di dapatkan dan dipelajari dari kegiatan tersebut.<br>2. Perwujudan "menuntun" yang saya lihat di daerah saya adalah bagaimana seorang pendidik membuat garis/batas sehingga siswa nya tidak terpengaruh dengan lingkungan masyarakat yang kurang baik. Melalui kegiatan sharing, motivasi, diskusi, menganalogikan resiko kepada anak, seorang guru diharapkan bisa membuat siswa memiliki batasan dan membangun prinsip pada dirinya sendiri sehingga dapat terhindar dari pengaruh buruk lingkungan.<br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena Indonesia terdiri dari beribu pulau yang tentunya memiliki keunikan dan kodrat alamnya masing - masing. Tidak bisa menyamaratakan sebuah konsep dan kebijakan. Namun, standar minimal pelaksanaan mungkin dilakukan. Bagi penduduk kota mungkin bisa dengan mudah mengikuti perubahan, bagaimana dengan penduduk di desa atau daerah terpencil? Atau daerah kota namun pinggiran. Juga dari segi ekonomi, sekian beragamnya kegiatan ekonomi masyarakat tentunya akan sangat berpengaruh pada siswa sebagai subjek sekaligus objek dari pendidikan. Kondisi alam di setiap daerah yang berbeda juga memunculkan tipikal anak dan masyarakat yang berbeda. Di sebuah daerah bahkan menganggap pendidikan tidak lebih penting daripada membantu orangtua bertani. Sistem Pendidikan di Indonesia harus dapat mengakomodir hal ini. Kodrat zaman juga memang tidak bisa dilupakan, perkembangan zaman yang cepat dan karena Indonesia adalah sebuah negara berkembang dengan 200 juta lebih penduduk, membuat variasi adaptasi masyarakatnya pun beragam. Berbagai pertimbangan memang diperlukan untuk menuju pendidikan yang lebih baik. Dan pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Semua harus saling bahu membahu demi perubahan dan transformasi pendidikan.<br>4. Sebagai pendidik, berpihak pada murid adalah prinsip yang relevan. Anak - anak punya aturan, kodrat, dan berasal dari didikan keluarganya masing - masing. Hadir ke sekolah, sebagai siswa kita, tidak bisa kita mengubahnya menjadi "anak kita" semua. Mengolah kelas dan pembelajaran menjadi tempat mereka menemukan passion dan kebahagiaan adalah tantangan kita. Membuat batasan positif dan mendidik anak - anak memiliki prinsip, adalah tantangan yang lainnya. Semangat Guru Indonesia</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-20 02:29:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1829094753</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurbani SMPN 39 Kota Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1829591440</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya terkait proses pemebelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah salah satunya daam hal membiasakan peserta didik berpikir kritis supaya apa yangmenjadi kodrat dari perserta didik kita tuntun ke arah yang lebih baik lagi dengan pembiasan pembiasaan baik, dengan pola saya sadar (SS)&nbsp; saya Berpikir (SB) anak dibiasakan berpikir kritis, hal itu dilakukan ketika selesai pembelajaran pada sesi refleksi. contohnya dalam materi Iman Kepada Hari Akhir, pola SS (saya sadar bahawa hari kiamat pasti terjadi) SB (saya berpikir bagaimana caranya agar saya selamat di dunia dan akhirat karena setelah hari kiamat ada kehidupan lain dan saya harus mempertanggungjawabkan kehidupan saya sewaktu di dunia) ini salah satu jawaban peserta didik.<br>2. Perwujudan menuntun dalam konteks sosial budaya di lingkungan saya, saya mencoba untuk mengkolaborasikan dengan sosial budaya di sekitar sekolah saya dengan para pengrajin dan para usahwan kebetuan sekolah tempat saya mengajar dikelilingi oleh para pengusaha pengusaha baik perusahaan perkantoran maupun rumahan seperti produksi makanan, kain dan lainya. mencoba menuntu peserta didik untuk mandiri dan bisa memanfaatkan kondisi lingkungan yang ada, seperti memanfaatkan kain perca menjadi barang barang yang berguna.<br>3 betul sekali karena zaman terus berjalan dinasim dan pendidikan pun mengikuti nya dalam artian perubahan itu adalah hal yang alami dan abadi, maka praktik pendidikan disesuaikan dengan zaman dimana peserta didik ada dengan kata lain didiklah anak sesuai zamannya.<br>4. Relevansi pemikiran KHD berhamba pada anak , sebagai pengajar saya tidak berhak memaksakan kehendak saya misalnya anak harus memenuhi kompetensi tertentu tapi menuntunnya supaya anak mau dan berusaha untuk menyelesaikan kompetensi tertentu dan diberi kebebasan untuk menentukan dengan cara apa  mereka menyelesaikannya misalnya ketika ada kompetensi anak dapat membacakan ayat tentang Iman kepada hari akhir, anak boleh mengirimkan lewat video, voice note atau langsung bertatap muka.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-20 07:10:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1829591440</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sandi N.C. Aditya_SDN 265 Bandungkulon</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1832659882</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman belajar yang menyenangkan&nbsp;<br>2. Memberikan bimbingan dalam pengembangan bakat dan minat peserta didik dalam kegiatan kedaerahan.<br>3. Agar peserta didik dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat dimana dia ditumbuh dan dapat mengikuti perkembangan zaman yang ada.<br>4. sebagai pendidik kita berperan sebagai penuntun/pembimbing dalam mengembangkan kemampuan, bakat dan minat masing-masing peserta didik dengan menggunakan kegiatan yang menyenangkan .   </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-21 06:19:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1832659882</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Solehkun Kodir - SMAN 1 Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1832857999</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman saya dalam memberikan pembelajaran dengan cerminan KHD adalah dengan menerapkan kegiatan pembelajaran berbasis riset.<br>2. Peserta didik dapat memilih apa yang ingin mereka pelajari, bukan apa yang ingin guru ajarkan.<br>3. Karena setiap manusia Indonesia itu tidak sama, setiap individu adalah unik.<br>4. Relevansinya adalah pentingkan apa yang akan dipelajari anak bukan apa yang harus guru paksakan agar anak bisa.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-21 08:15:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1832857999</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sopian Trenggana (SMA Negeri 7 Bandung)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1832879302</link>
         <description><![CDATA[<div>Refleksi Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD)<br>1. Pengalaman dalam PBM yang mereflesikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD, ketika kita memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir kritis yang sifatnya membangun keberanian dan rasa percaya diri, sehingga dengan memiliki kemampuan mengkritisi positif peserta didik dapat menjadi diri sendir (kodrat Alam)<br>2. "menuntun" dalam konteks sosial budaya daerah merupakan suatu hal yang menjadi tuntutan sebagai seorang pendidik, ada dan mungkin banyak nilai-nilai sosial budaya yang harus diberikan penjelasan, sehingga masyarakat dapat mengerti dengan keadaaan sosial budayanya.<br>3. kodrat alam dan kodrat zaman, merupakan dua hal yang selalu ada pada diri manusia, manusia dilahirkan dan diciptakan dengan sifat dan karakter yang berbeda-beda. dan, manusia hidup dengan perubahan zaman yang terus berkembang, sehingga menuntut manusia untuk hidup dengan perubahan zaman.<br>relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak"&nbsp; kaitan dengan proses belajar mengajar, sudah barang tentu sangan berkaitan, pendidik dituntut untuk melibatkan peserta didik dalam setiap kegiatan PBMnya, untuk itu, model dan metodologi pembelajaran sekarang ini terpusat pada keaktifan peserta didi.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-21 08:28:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1832879302</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Riestha Sugianti SMPN 40 BANDUNG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1833036690</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pengalaman yang merefleksikan pemikiran KHD adalah guru sebgaai motivator dan fasilitator. Dan pendidikan berpusat kepada siswa.&nbsp;<br>2. Di sekolah kami ada literasi bahasa sunda&nbsp; jd siswa membaca buku sunda dan menceritakan kembali apa yang dibacakan.&nbsp;<br>3. karena setiap anak atau siswa mempunyai karakternya masing masing sehingga dibimbing agar memperlihatkan kelebihannya dan kekurangannya tersamarkan<br>4. Menghamba pada siswa artinya pendidikan berpusat pada siswa dan membangkitkan holistik siswa dan siswa lebih aktif kreatif dengan cara guru memberikan inovasi misalkan berupa media ajar youtube  </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-21 10:01:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1833036690</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Puji Astuti_SMA Pasundan 2 Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1833087041</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pembelajaran yang mencerminkan Pemikiran KHD adalah bahwa Pendidikan Menuntun sehingga pendidik sebagai penuntun siswa yang mempunyai kemampuan bakat dan minat yang sudah dibawa sejak lahir. Siswa terlahir dengan tulisan-tulisan dan pendidiklah yang membuat tulisan itu terlihat nyata (itulah karakter siswa dituntun oleh pendidik sebagai bekal dalam kehidupannya)<br>2. Perwujudan "menuntun"yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya kepada siswa terlihat dari pengembangan ekstrakurikuler yang ada seperti angklung arumba, dimana minat dan bakat siswa yang diwadahi dan dibimbing/dituntun sehingga karakternya semakin kuat.<br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena ketersediaan alam selalu berubah sedangkan kodrat zaman akan berbeda di tempat yang berbeda sehingga saat zaman berbeda maka perbedaan itu keniscayaan. Kita tidak mungkin menolak adanya perubahan zaman dan munculnya perubahan dalam kurun waktu 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun dan seterusnya. Kita harus mengikuti dan memahami sifat dan karakter siswa yang dan membuat inovasi terhadap pembelajaran di kelas walaupun materi dan bahan ajar sama tetapi cara penyampaian, media, metode harus mengikuti kodrat zaman tersebut.<br>4. Relevansi pemikiran KHD "Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak dalam peran saya sebagi pendidik untuk memahami dan memberikan layanan terbaik sesuai dengan apa yang diperlukan siswa dan mengembangkan potensi yang ada di siswa. "Berhamba" nya seorang pendidik merupakan pemahaman atas kebutuha siswa yang berbeda-beda dan memperlakukan siswa sesuai dengan keunikannya tersebut sehingga siswa menjadi pribadi dan karakter yang sesuai dengan minat dan bakatnya&nbsp;<br>2.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-21 10:35:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1833087041</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Arie Permana_SMK Merdeka Bandung</title>
         <author>ariepermana81</author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1834599664</link>
         <description><![CDATA[<ol><li>Pembelajaran yang menyenangkan bagi anak didik, dengan tidak melupakan maksud dan tujuan pendidikan sebagai upaya untuk menumbuhkembangkan budi pekerti, pikiran dan tubuh anak, dalam rangka mencapai kesempurnaan hidup yang selaras dengan perkembangan zaman merupakan salah satu bagian dari pemikiran Ki Hajar Dewantara.</li><li>Anak didik hendaknya dipandang sebagai manusia yang seutuhnya dan bukan secara parsial sebagaimana kodrat yang telah dimilikinya, baik itu kodrat alam maupun kodrat zamannya.&nbsp;</li><li>Pendidikan yang memerdekakan akan membangun jiwa dan raga peserta didik secara utuh, sedangkan pendidikan yang hanya menekankan pada aspek perkembangan intelektual saja hanya akan membentuk karakter <strong><em>peserta didik yang cerdas namun tidak tercerahkan</em></strong> karena peserta didik akan cenderung <em>individualis&nbsp;</em>dan bahkan&nbsp;<em>hedonis. </em>Yang mana hal ini tentunya akan membentuk suatu <em>"ketimpangan karakter" </em>peserta didik dan bahkan dapat merusak karakter bangsa.</li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-21 20:02:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1834599664</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Neneng Juliani Fujayanti, SMP Pahlawan Toha Bandung</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1835481203</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pembelajaran berpusat pada siswa, dimana saya selalu berusaha memberikan ruang selebar-lebarnya kepada siswa untuk aktiv ketika proses kegiatan belajar. Pembelajaran dengan mengadakan kuis sehingga siswa turut aktiv dan berebut untuk menjawan . Hal tersebut bisa menstimulus dan memotivasi siswa serta mendoring siswa untuk aktiv mengemukakan pendapatnya.<br><br>2. Menuntun siswa agar siswa menjadi manusia yang belajar merasakan (niti surti), belajar memahami (harti), belajar melakukan (bukti), dan belajar hidup bersama (bakti). Menjadikan anak sebagai subjek belajar sehingga mencapai keberhasilan.&nbsp;<br><br>3. Pendidikan indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan zaman karena pendidikan harus terus tumbuh dan maju sesuai dengan perubahan zaman. Akan tetapi harus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai budaya. Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri.&nbsp;<br><br>4. Relevansi pemikiran KHD.<br>Pendidikan yang berpihak pada siswa. Sebagai pendidik saya mengorientasikan pembelajaran mengutamakan siswa. Siswa diberikan ruang seluas-luasnya untuk mengemukakan pendapatnya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-22 04:41:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/vjharus/reykbs1pwihi1g28/wish/1835481203</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
