<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>MAIBETIARNI TUGAS KELOMPOK PAI KELAS 9C by Maibetiarni Sukri</title>
      <link>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud</link>
      <description>TULISKAN SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA </description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-09-03 05:04:02 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-27 07:27:21 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud/wish/1719472279</link>
         <description><![CDATA[<div>Sejarah Masuknya Kerajaan Islam Di Indonesia&nbsp;<br><br>Kelompok 4</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1325917653/67d1c99d65d156459968aa33cd1ea896/PAI_KEL4.docx" />
         <pubDate>2021-09-06 14:25:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud/wish/1719472279</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sejarah Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud/wish/1720530136</link>
         <description><![CDATA[<div>Kelompok 1<mark><br></mark>- Muhammad Grenady Dwi Putra Budiono<br>- Dwi Puspa Ningtyas<br>- Putri Lidya Artamega<br>- Muhammad Raihan Al Zaidan<br>- Tubagus Lathif Anhari<br><br>1) <mark>Kerajaan Islam Samudra Pasai</mark><br>&nbsp; &nbsp; Pada abad ke-13 berdirilah kerajaan islam pertama di Indonesia yaitu Samudra Pasai. Pendiri kerajaan ini sekaligus menjadi raja pertama bernama <strong>Sultan Malik al Saleh</strong>. Letak kerajaan ini berada di daerah Aceh Utara di Kabupaten Lokseumawe. Pada tahun 1297 Sultan Malik al Saleh wafat lalu digantikan oleh putranya, <strong>Sultan Ahmad</strong>. Pada tahun 1326 Sultan Ahmad juga wafat. Pemerintahan kerajaan Samudra Pasai dipimpin oleh Sultan Ahmad yg bergelar <strong><em>Sultan Malik Al Tahir</em></strong>.<br><br>2) <mark>Kerajaan Islam Demak</mark><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Pada abad ke-15 di Pulau Jawa berdiri kerajaan Islam Demak. Demak merupakan kerajaan islam pertama di Pulau Jawa. Pendiri kerajaan ini bernama <strong>Raden Patah</strong>. Ia sebenarnya adalah salah satu seorang Bupati di kerajaan Majapahit yg berkedudukan di Demak dan menganut agama islam. Kekuasaan Majapahit ketika itu sudah lemah, keadaan ini mendorong Raden Patah untuk mendirikan kerajaan islam Demak. Kemudian pada tahun 1518 Raden Patah wafat. Ia digantikan oleh putranya, <strong>Pati Unus</strong>. Pemerintahannya hanya berlangsung 3 tahun karena setelah itu ia wafat. Selanjutnya kerajaan Islam Demak dipimpin oleh <strong>Sultan Renggono</strong>, Adik Pati Unus. Pada masa kepemimpinan Sultan Renggono, Kerajaan Demak berhasil menguasai Jawa Timur. Tetapi dalam serangannya ke Pasuruan tahun 1546, Sultan Renggono gugur.<br><br>3) <mark>Kerajaan Islam Panjang</mark><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Pada tahun 1568 berdiri Kerajaan Islam Pajang. Pendiri kerajaan ini adalah <strong>Sultan Adiwijoyo/Joko Tingkir</strong>. Ia berhasil mengalahkan Arya penangsang raja Demak. Ia kemudian memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang. Dgn demikian dapat dikatakan bahwa berdirinya kerajaan Islam Pajang erat kaitannya dgn kerajaan Demak. Sultan Adiwijoyo/Joko Tingkir adalah seseorg yg suka menghargai pendukung/pengikut yg turut tempur bersamanya sewaktu menghadapi Arya penangsang. Mereka yg telah berjasa oleh Sultan Adiwijoyo diberi hadiah penghargaan. Kedua org yg dinilai sangat berjasa yaitu <strong>Kiai Ageng Pemanahan</strong> dihadiahi tanah di Mataram (sekitar Kotagede, dekat Yogyakarta) dan <strong>Kiai Panjawi</strong> dihadiahi tanah di daerah Pati. Mereka sekaligus diangkat menjadi Bupati di daerah masing masing.<br><br>4) <mark>Kerajaan Islam Mataram</mark><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Pada tahun 1586 berdiri kerajaan Islam Mataram. Pendiri kerajaan ini bernama <strong>Sutowijoyo</strong> yg bergelar <strong><em>Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Pantagama</em></strong>. Letak kerajaan ini berada di Kotagede, sebelah Tenggara kota Yogyakarta. Pada tahun 1601, Sutowijoyo wafat. Ia dimakamkan di Kotagede. Setelah Sutowijoyo wafat, kerajaan Mataram diperintah oleh <strong>Mas Jolang/Penembahan Seda Ing Krapyak</strong>. Pada tahun 1612, Surabaya melakukan perlawanan. Mas Jolang kemudian mengirimkan tentaranya berusaha menumpas pemberontakan. Sementara upaya memadamkan pemberontakan terus berlangsung dan blm berhasil di padamkan, Mas Jolang wafat. Ia dimakamkan di Kotagede. Pengganti Mas Jolang bernama <strong>Adipati Martapura</strong>. Tetapi pengganti ini tidak mampu menjalankan tugas pemerintahan karna keadaan fisik yg lemah serta sakit-sakitan. Selanjutnya untuk meneruskan pemerintahan Adipadi Martapura digantikan oleh <strong>Mas Rangsang.<br><br></strong>5) <mark>Kerajaan Islam Cirebon</mark><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Pada tahun 1522 berdiri kerajaan Islam Cirebon. Pendiri kerajaan yg sekaligus menjadi rajanya bernama <strong>Fatahillah</strong>. Ia sangat berjasa dlm mengislamkan Jawa Barat. Pada tahun 1570, Fatahillah wafat. Ia digantikan oleh putranya bernama <strong>Pangeran Pasarean</strong>.<br><br>6) <mark>Kerajaan Islam Banten</mark><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Pada tahun 1552 berdiri kerajaan Islam Banten. Pendiri kerajaan ini bernama <strong>Hasanuddin</strong>. Ia naik tahta menjd raja di Banten setelah memperoleh mandat dari ayahnya Fatahillah. Seperti yg telah kita ketahui, bahwa Fatahillah pd mulanya menguasai daerah Sunda Kelapa, Cirebon dan Banten. Hasanuddin menikah dgn putri <strong>Sultan Indrapura</strong>. Oleh mertuanya Hasanuddin dihadiahi tanah di daerah Selebar. Setelah Hasanuddin wafat, digantikan oleh putranya bernama <strong>Pangeran Yusuf</strong>. kemudian pada tahun 1580 Pangeran Yusuf wafat. Kerajaan Islam Banten dipimpin oleh <strong>Maulana Muhammad</strong>. Setelah Maulana Muhammad wafat timbul persoalan di kalangan kerajaan karena yg seharusnya menggantikannya adalah putranya, <strong>Abdul Mufakkir</strong>. Tetapi pada waktu itu Abdul Mufakkir baru berusia 5 bulan. Maka pemerintahan sementara dipegang oleh seorg mangkubumi. Dlm perkembangannya kemudian muncul org kuat bernama <strong>Pangeran Ranamenggala</strong> yg mengendalikan Banten mendampingi Abdul Muffakir yg blm dewasa. Renamanggala wafat pd tahun 1624.<br><br>7) <mark>Kerajaan Islam Ternate dan Tidore</mark><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Pada abad ke-13 di Maluku telah berdiri beberapa kerajaan seperti Ternate, Tidore, Bacan, dan Obi. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut ternyata kerajaan ternate dan tidore yg berkembang lebih maju. Hal ini disebabkan hasil buminya yg berupa rempah-rempah terutama <em>cengkeh</em>. Pada abad ke-14 agama islam berkembang pesat di Ternate. Dlm perkembangannya kemudian Ternate berubah menjd kerajaan Islam. Kerajaan ini dipimpin oleh <strong>Sultan Harun</strong>. Setelah Sultan Harus wafat, ia digantikan oleh putranya bernama <strong>Sultan Baabullah</strong>. Sementara itu, di kerajaan Tidore agama islam pun berkembang pesat. Seperti halnya Ternate, kerajaan Tidore berubah menjd kerajaan Islam Tidore yg dipimpin oleh <strong>Sultan Tidore</strong>. Kedua kerajaan ini pd mulanya hidup berdampingan secara damai, saling menghormati kedaulatan masing-masing. Tetapi oleh bangsa portugis dan spanyol, kedua kerajaan ini diadu domba sehingga nyaris terjadi pertentangan yg menjurus perang. Untungnya, kedua pimpinan kerajaan menyadari hal ini. Mereka tidak mau diadu domba dgn bangsa sendiri. Kemudian Kerajaan ini bersatu, bahu membahu dlm menghadapi portugis.<br><br>8) <mark>Kerajaan Islam Makassar</mark><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Pada abad ke-16 di Sulawesi Selatan telah berdiri beberapa kerajaan seperti Gowa, Bone, Wajo, Luwu, dan Soppeng. Dlm perkembangannya kerajaan Gowa dan Tallo mengalami kemajuan yg lebih pesat dibanding dgn yg lainnya. Hal ini disebabkan letak kerajaan ini sangat strategis dan menguntungkan yakni terletak di tengah-tengah lalu lintas pelayaran antara Malaka dan Maluku. Kedua kerajaan ini yaitu Gowa dan Tallo yg rajanya telah menganut agama islam bersepakat menyatukan kerajaan mereka menjd kerajaan Islam Makassar. Rajanya bernama <strong>Sultan Alauddin</strong>. Ia semula bernama <strong><em>Daeng Manrabia</em></strong>, raja Gowa. Sedangkan Mangkaubumi bernama <strong>Sultan Abdullah</strong>. Ia semula bernama<strong><em> Karaeng Matoaya</em></strong>, raja Tallo. Kerajaan Islam Makassar mencapai puncak kejayaannya ketika diperintah <strong>Sultan Hasanuddin </strong>berkuasa pd tahun 1654-1669. Ia adalah salah seorg cucu Sultan Alauddin. Pendiri kerajaan Islam Makassar.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-09-07 02:28:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud/wish/1720530136</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PAI </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud/wish/1726896484</link>
         <description><![CDATA[<div>KELOMPOK 3</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1334745463/c13b9a247def85102952d4535d6f81ec/SEJARAH_KERAJAAN_ISLAM.pdf" />
         <pubDate>2021-09-09 04:00:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud/wish/1726896484</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PAI KELOMPOK 5 </title>
         <author>dinamrtdzh</author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud/wish/1733243333</link>
         <description><![CDATA[<div>Kelompok 5<br>- Dina Martadzah<br>- Maryam Surya Fijriah<br>- Muhammad Rafli<br>- Affan Raza Faizan<br><br><strong>1. Kerajaan Islam samudra pasai</strong><br>Kerajaan Islam Samudra Pasai terletak di Aceh, dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Bukti-bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah ditemukannya makam raja-raja Pasai di kampung Geudong Aceh Utara. Makam ini terletak di dekat reruntuhan bangunan pusat kerajaan Samudera di desa Beuringen, kecamatan Samudera, Di antara makam raja-raja tersebut, terdapat nama Sultan Malik Al-Saleh, Raja Pasai pertama. Malik Al-Saleh adalah nama baru Meurah Silu setelah ia masuk Islam, dan merupakan sultan Islam pertama di Indonesia. Berkuasa lebih kurang 29 tahun (1297-1326 M). Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peureulak, dengan raja pertama Malik Al-Saleh.<br><br><strong>2. Kerajaan Islam Demak</strong><br>Kesultanan Demak memiliki beberapa peninggalan, salah satunya masjid tertua di Indonesia. Berikut sejarah Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa<br>Kesultanan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa. Kerajaan ini berdiri pada awal abad ke-16 Masehi seiring<br>kemunduran Maja pahit. Kesultanan Demak pun mulai memperlihatkan eksistensinya dan tentunya meninggalkan peninggalan sejarah. Dalam buku Sejarah yang ditulis oleh Nana Supriatna diungkapkan, Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Patah, putra Raja Maja pahit dari istri seorang perempuan asal Cina, yang telah masuk Islam. Raden Patah memimpin Demak pada 1500 hingga 1518 M.<br>Di bawah kepemimpinan Raden Patah, Kesultanan Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam dengan peran sentral Wali Songo. Periode ini adalah fase awal semakin berkembangnya ajaran Islam di Jawa.<br><br><strong>3. Kerajaan Islam pajang<br></strong>Dikaitkan dengan kerajaan yang sudah ada sebelumnya, yaitu Demak dan Pajang. Setelah Kerajaan Demak mengalami kemunduran, ibu kotanya dipindahkan ke Pajang, dan dimulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. Kerajaan Pajang terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik dengan keluarga Arya Penangsang dari kadipaten Jipang Panolan (berada di sekitar Cepu, Blora). Pada akhirnya, Arya Penangsang berhasil ditaklukkan juga. Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, sebagai raja dari Kerajaan Pajang memberi hadiah kepada dua orang yang dianggap berjasa dalam menaklukkan Arya Penangsang, yaitu Kiai Ageng Pemanahan dan Kiai Panjawi. Kiai Ageng Pemanahan dianugerahi wilayah tanah di hutan Mentaok (sekarang Kotagede, Yogyakarta) dan Kiai Panjawi mendapatkan jatah wilayah di Pati. Kiai Ageng Pemanahan membangun tanah tersebut menjadi desa yang makmur dan kemudian menjadi kerajaan<strong> </strong>yang mampu bersaing dengan Kerajaan Pajang. <br><br><strong>4. Kerajaan Islam Mataram<br></strong>Kerajaan Islam di Pulau Jawa yang berkuasa antara abad ke-16 hingga abad ke-18. Pendiri Kerajaan Mataram Islam adalah Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan ketika diperintah oleh Sultan Agung (1613-1645 M). Di bawah kekuasaannya, Mataram mampu menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya, termasuk Madura.<br><br><strong>5. Kerajaan Islam Cirebon<br></strong>Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan di Jawa pada abad ke-15 dan 16, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antara pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa. Kesultanan Cirebon didirikan di Dalem Agung Pakungwati sebagai pusat pemerintahan negara Islam kesultanan Cirebon, letak Dalem Agung Pakungwati sekarang menjadi Keraton Kasepuhan.<br><br><strong>6. Kerajaan Islam Banten<br></strong>Kesultanan Banten adalah sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di Tatar Pasundan, Banten. Berawal sekitar tahun 1526 M, ketika kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukkan&nbsp; beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan sebagai antisipasi terealisasinya perjanjian antara kerajaan Sunda dan Portugis tahun 1522 M.<br><br><strong>7. Kerajaan Islam Ternate dan Tidore</strong><br>Nama aslinya adalah Kerajaan Gapi, kemudian berubah menjadi Kesultanan Ternate karena mengikuti nama ibu kotanya. Kerajaan Ternate didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada 1257 M, dan sejak saat itu memainkan peran penting di kawasan timur nusantara hingga abad ke-17. Masa kejayaannya berlangsung pada abad ke-16, berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya.<br><br>Ternate dikenal sebagai kota penghasil rempah-rempah, sehingga penduduknya kerap berhubungan dengan pedagang dari Arab, Melayu, dan Tionghoa. Pada 1257, pemimpin klan Sampalu yang bernama Momole Ciko terpilih menjadi Raja Gapi pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272 M).<br><br><strong>8. Kerajaan Islam Makassar</strong><br>Kerajaan ini merupakan gabungan dari dua kerajaan yang berasal dari keturunan Kerajaan Gowa, yang didirikan oleh Tumanurung Bainea pada awal abad ke-14. Pada abad ke-15, kerajaan ini dibagi menjadi dua, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Pada masa pemerintahan Raja Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi Kallonna, Gowa dan Tallo bersatu dan sejak saat itu disebut sebagai Kerajaan Gowa-Tallo atau Kerajaan Makassar.<br><br>Kesultanan Gowa-Tallo mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin atau yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Di bawah kekuasaannya, kerajaan ini menjadi pusat perdagangan di Indonesia bagian timur. Sultan Hasanuddin juga memimpin perjuangan melawan penjajah di daerah Makassar.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1326752986/811b8b6df02c10dfe98683fd06fe4dc6/WhatsApp_Image_2021_09_12_at_10_15_32_AM.jpeg" />
         <pubDate>2021-09-12 05:42:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud/wish/1733243333</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SEJARAH MASUKNYA KERAJAAN KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud/wish/1765793892</link>
         <description><![CDATA[<div>Kelompok II&nbsp;<br>- Nadya Salzabila Pinardhi<br>- Prisila Berliyana Kıta<br>- Denisa Aulia<br>- Muhamad Rizki Israndriana<br>- Alfie Syafarizky Putra<br><br></div><pre><strong><mark>a) PraSejarah Nusantara Pada Era Kerajaan Islam</mark></strong></pre><div><br></div><h1>Kerajaan Islam di Indonesia diperkirakan kejayaannya berlangsung antara abad ke-12 sampai dengan abad ke-16.Berkembangnya kerajaan-kerajaan tersebut di karenakan maraknya lalu lintas perdagangan laut yang terjadi. Pedagang-pedagang <em>Islam</em> dari <em>Arab</em>, <em>India,Persia,Tiongkok</em> berbaur dengan masyarakat Indonesia yang menyebabkan menyebarnya agama Islam di Indonesia. Kerajaan tersebut tersebar pesat dibeberapa daerah di Indonesia yaitu di Sumatra, Jawa, Maluku, dan Sulawesi Masuknya Islam di Indonesia menandai munculnya era baru dalam berbagai aspek kehidupan yang berkembang di masyarakat. Aturan-aturan hidup yang mulai menjadi bagian yang tidak terpisahkan mulai dipraktekkan atau diimplemantasikan dalam setiap aspek kehidupan. Aturan-aturan hidup tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek legalitas formal yang bernuansa hukum, melainkan pula nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama Islam yang berkaitan dengan aspek kehidupan ekonomi, budaya, sosial kemasyarakatan bahkan politik yang menjadi bagian dari bagaimana Islam mendekatkan diri pada masyarakat Nusantara.</h1><div><br></div><pre><strong><mark>b) Sejarah Kerajaan Islam di Nusantara</mark></strong></pre><div><br>Masuknya agama islam ke Nusantara (indonesia) pada abad 7 akhir dibawa oleh Para Al - Mujahid periode I atau Fase Pertama, telah membawa banyak perubahan dan perkembangan pada masyarakat, adat dan budaya dan pemerintahan. Perubahan dan Perkembangan tersebut terlihat jelas dengan berdirinya kerajaan-kerajaan yang bermula bercorak hindu dan menganut animisme mengadopsi agama Islam. Antara lain sebagai berikut :<br><br>1.&nbsp; <strong>Kesulatanan Banten</strong></div><div><br><strong>Kesultanan Banten</strong> adalah sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di Tatar Pasundan, Provensi Banten, Indonesia. Berawal sekitar tahun 1526, ketika Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukkan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan sebagai antisipasi terealisasinya Perjanjian antara Kerajaan Sunda dan Portugis tahun 1522 m. Maulana Hasanuddiin, putra Sunan Gunung Jati berperan dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin mengembangkan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan (dibangun 1600 M) menjadi kawasan kota pesisir yang kemudian hari menjadi pusat pemerintahan setelah Banten menjadi kesultanan yang berdiri sendiri.</div><div><br></div><div><br><br></div><div>2.&nbsp; <strong>Kesultanan Samudera Pasai</strong></div><div><br>Kesultanan Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, dengan sebutan singkat yaitu Pasai adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatra kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik as Saleh, sekitar tahun 1297.&nbsp;</div><div><br>Para sejarawan menelusuri keberadaan kerajaan ini menggunakan sumber dari Hikayat Raja-raja Pasai serta peninggalan sejarah adat istiadat serta budaya setempat yang masih berjalan dan dipertahankan oleh masyarakat pesisir pantai utara Sumatra. Hal ini dibuktikan dengan beberapa makam raja yang datang pertama kali pada tahun 710 Masehi serta penemuan koin berbahan emas dan perak dengan tertera nama keturunan rajanya. Keberadaan kerajaan ini juga tercantum dalam kitab <em>Rihlah ila l-Masyriq</em> (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah Ibn Batuthah(1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri ini pada tahun <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1345">1</a>345. Kesultanan Pasai akhirnya runtuh setelah serangan Portugal pada tahun 1521.<br><br><br><br>3.&nbsp; <strong>Kesultanan Tidore</strong><br><br>Kesultanan Tidore adalah Kerajaan Islam yang berpusat di wilayah Kota Tidore, Maluku Utara, Indonesia sekarang. Pada masa kejayaannya (sekitar abad ke-16 sampai abad ke-18), kerajaan ini menguasai sebagian besar Pulau Halmahera selatan, Pulau Buru, Pulau Seram, dan banyak pulau-pulau di pesisir Papua barat.<br><br>Pada tahun <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1521">1</a>521, Sultan Mansur dari Tidore menerima Spanyol sebagai sekutu untuk mengimbangi kekuatan Kesultanan Ternate saingannya yang bersekutu dengan Portugal. Setelah mundurnya Spanyol dari wilayah tersebut pada tahun 1663 karena protes dari pihak Portugal sebagai pelanggaran terhadap Perjanjian Tordesillas 1494, Tidore menjadi salah satu kerajaan paling merdeka di wilayah Maluku. Terutama di bawah kepemimpinan Sultan Saifuddin (memerintah 1657-1689), Tidore berhasil menolak pengusaan VOC terhadap wilayahnya dan tetap menjadi daerah merdeka hingga akhir abad ke-18.<br><br><br><br><br>4. <strong>&nbsp;Kesultanan Gowa</strong><br>Gowa (juga dieja Goa) (Bahasa Makasar: ᨅᨈᨙᨔᨒᨄ <em>Baté Salapang</em>) merupakan sebuah kerajaan dan kesultanan yang berpusat di daerah Sulawesi Selatan, tepatnya di jazirah selatan dan pesisir barat semenanjung yang mayoritasnya didiami oleh suku Makassar. Wilayah inti bekas kerajaan ini sekarang berada di bawah Kabupaten Gowa dan beberapa bagian daerah sekitarnya.<br><br><br><br>5.&nbsp; <strong>Kesultanan Sumbawa<br></strong><br>Kesultanan Sumbawa atau juga dikenal dengan Kerajaan Samawa adalah salah satu dari tiga kerajaan Islam besar di Pulau Sumbawa. Diperkirakan agama Hindu-Budha telah berkembang pesat di kerajaan-kerajaan kecil di Pulau Sumbawa sekitar 200 tahun sebelum invasi Kerajaan Majapahit ke wilayah ini. Beberapa kerajaan itu antara lain Kerajaan Dewa Mas Kuning di Selesek (Ropang), Kerajaan Airenung (Moyo Hulu), Kerajaan Awan Kuning di Sampar Semulan (Moyo Hulu), Kerajaan Gunung Setia (Sumbawa), Kerajaan Dewa Maja Paruwa (Utan), Kerajaan Seran (Seteluk), Kerajaan Taliwang, dan Kerajaan Jereweh.<br><br></div><blockquote><strong><mark>Pada akhir abad 16 M, tidak terjadi kemunduran dalam hal penyebaran Islam melalui kerajaan-kerajaan. Hal ini tidak membawa pengaruh yang cukup luas pada perubahan Hukum Islam, walaupun tetap menjadi bagian yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Pengaruh tidak ada kemunduran kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia berbanding lurus dengan munculnya V.O.C (</mark></strong><strong><em><mark>Vereenigde Oostindische Compagnie</mark></em></strong><strong><mark>) sebagai perwakilan kolonialisme dengan motif perniagaan (perdagangan). Masa peralihan penguasaan wilayah Indonesia dari kerajaan-kerajaan Islam ke V.O.C dan Kerajaan Belanda, tidak secara langsung mengubah keadaan masyarakat Indonesia dalam mengamalkan aturan-aturan Islam yang telah menyatu dalam ritualitas kehidupan beragama muslim Indonesia. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan sikap penguasa Kolonial tetap mempertahankan lembaga peradilan agama di wilayah Aceh, Jambi, Kalimantan Selatan dan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gajo, Alas, Tapanuli dan Sumatera Selatan, dan Jawa, walaupun tetap berada di bawah pengadilan negeri</mark></strong></blockquote>]]></description>
         <enclosure url="https://sijai.com/wp-content/uploads/2017/10/Kerajaan-Islam-di-Indonesia-Beserta-Nama-Rajanya-dan-Peninggalannya.png" />
         <pubDate>2021-09-24 14:17:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud/wish/1765793892</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud/wish/1783050111</link>
         <description><![CDATA[<div>Kelompok 4</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1379652261/74f99ea8e14105550654257babac0c83/PAI_KEL4_9C_____.docx" />
         <pubDate>2021-10-01 02:20:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/maibetsukri/r7jm2wa0itg44iud/wish/1783050111</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
