<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>IPS-01 KEARIFAN LOKAL - KI HADAR DEWANTORO by Sinyamin Sinyamin</title>
      <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-11-25 12:14:27 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-10-03 15:06:46 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Baris atas, untuk identitas</title>
         <author>sinyamin091</author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2397925059</link>
         <description><![CDATA[<div>1. klik (+) di kanan bawah<br>2. Tulis nama, NIM, Asal Sekolah di kolom&nbsp; atas jawaban Anda<br>3. Tulis jawaban di kolom ke-2 (bawah), untuk semua jawaban.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-25 12:20:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2397925059</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Naskah Soal Asynkronus 2</title>
         <author>sinyamin091</author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2397926587</link>
         <description><![CDATA[<div>Petunjuk :<br><br></div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Baca dan Jawablah pertanyaan dalam lembar ini dengan cermat</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Tuliskan Jawaban dan Opini Anda dalam draf (boleh MS-Word, atau sejenisnya), kemudian copykan dalam “Padlet” dengan link yang dikirim oleh Instruktur.</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Baris pertama Padlet : identitas Mahasiswa</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Baris kedua Padlet : Jawaban Mahasiswa terhadap tugas</div><div>5.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Rapikan naskah anda sebelum di update (share)<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>Naskah Soal :<br><br></div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.<br><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div>--- Selamat Mengerjakan, Semoga Allah Ridlo ---<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-25 12:22:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2397926587</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mohammad Alvin Muzakki  (223174915554) PPG IPS/01 Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399061374</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Kekuatan konteks sosio-kultural di daerah Anda yang sejalan dengan pemikiran KHD : Jika dilihat dari pengertiannya, sosio-kultural adalah gagasan atau sistem yang mengatur tingkah laku manusia. Ki Hajar Dewantara dalam pemikirannya menjelaskan bahwa pendidikan dan pengajaran di Indonesia merupakan upaya yang dilakuakan sebagai usaha bersama dalam mempersiapkan dan menyediakan kebutuhan hidup manusia baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun berbudaya. Banyak terdapat kekuatan yang berakar dari sosio kurtural yang ada dimasyarakat sekitar/daerah setempat seperti: Sikap gotong royong, jadi konteks sosio-kultural di daerah asal saya yaitu kabupaten Nganjuk yang sejalan dengan pemikiran KHD dengan nilai gotong royong adalah kegiatan:</div><div>a.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>"Nyadran"</strong> - Kerja bakti membersihkan lingkungan yang biasa dilakukan oleh masyarakat contoh bersih desa, biasanya di daerah saya di awali dengan membersihkan desa dan di akhirhi dengan kegiatan hiburan kebudayaan – kebidayaan jawa seperti ludruk maupun wayang</div><div>b.&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>“Soyo”</strong> -&nbsp; Membantu tanpa di minta / kesadaran diri, seperti contohnya membuat dek atap rumah maupun mengganti genteng rumah</div><div>c.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>“rewang”</strong> – membantu mempersiapkan acara – acara hajatan&nbsp;<br><br><br></div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Diskripsi dari kesesuaian tersebut berdasarkan dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat adalah Sikap gotong royong karena budaya gotong royong didaerah kita amat kental. Budaya ini memiliki kekuatan di nilai kebersamaan dan kegembiraan. Misalnya ketika suasana duka seperti ada warga yang terkena musibah, maka warga akan bergotong royong membantu hingga mengadakan sumbangan bersama. Begitu juga dengan situasi suka, Ketika ada hajatan atau kegiatan pesta, mereka dengan gembira akan bergotong royong bersama dengan gembira. Pembiasaan baik berupa 3s (senyum, salam, sapa), ramah tamah, tegur sapa, Masyarakat kita terkenal ramah tamah, senyum ketika bertemu, bersalaman dan saling menyapa. Tegur sapa menjadi sesuatu yang sangat kental bagi warga sekitar kita. Jika bertemu, mereka akan langsung bertegur sapa dengan panggilan khas daerahnya dengan mengintegrasikan nilai sosio kultural dalam kurikulum sekolah agar dapat diimplementasikan dalam kegiatan akademik dan non akademik sekolah, Sikap gotong royong, ramah tamah, tegur sapa, 3S, dan kegiatan keagamaan dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar regular. Misalnya jika di implementasika di sekolah bisa di gunakan untuk kegiatan jum’at bersih, Bersama -sama menghias dan membersihkan kelas, tempat ibadah maupun toilet sekolah, mengadakan acara bakti sosial. Sikap seperti itu bisa di tumbuhkan di diri peserta didik jika adanya pembiasaan – pembiasaan kegiatan di sekolah yang secara tidak langsung nantinya bisa membuat anak tesebut terbiasa dalam bergotong royong di lingkungan sekolahan maupun lingkungan sekolah.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-27 13:39:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399061374</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Asma Kumalasari (223174915548)                      PPG Prajabatan IPS 01                                       Filosofi Pendidikan                                         Pemikiran Ki Hadjar Dewantara</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399071298</link>
         <description><![CDATA[<div>Jawab:<br>1. Sosio kultural adalah proses yang berhubungan antara manusia dengan budaya daerahnya. Salah satu contoh sosio-kultural yang ada di daerah saya yaitu Budaya <strong>“silih-silih”</strong> sebelum acara pernikahan di desa Dadapan, Balong, Ponorogo.<br><br>2. Budaya “silih-silih” ini dilakukan oleh semua pemuda dan bapak-bapak dalam satu RT dua hari sebelum acara pernikahan. Silih-silih dalam bahasa Jawa artinya meminjam. Pada acara “silih-silih” ini tidak hanya meminjam perlengkapan yang diperlukan acara pernikahan, tetapi juga membantu warga yang mempunyai hajat untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dalam hal ini terdapat nilai <strong>gotong-royong</strong> yang sangat penting untuk ditekankan dalam penanaman karakter dengan tujuan siswa mampu untuk hidup bersama masyarakat atau orang lain agar saling bahu membahu dalam menyelesaikan tugas atau permasalahan yang ada sehingga menjadi mudah dan ringan serta memunculkan jiwa kekeluargaan. Ki Hajar Dewantara menjelaskan, Budi Pekerti merupakan keselarasan (keseimbangan) hidup antara cipta, rasa, karsa dan karya. Keselarasan hidup anak dilatih melalui pemahaman kesadaran diri yang baik tentang kekuatan dirinya kemudian dilatih mengelola diri agar mampu memiliki <strong>kesadaran sosial bahwa ia tidak hidup sendiri dalam relasi sosialnya</strong> sehingga ketika membuat sebuah keputusan yang bertanggungjawab dalam kemerdekaan dirinya dan kemerdekaan orang lain.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-27 13:56:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399071298</guid>
      </item>
      <item>
         <title>CAMELIA ANALISA PUTRI 	(223174915505) PENDIDIKAN IPS/01 UNIVERSITAS NEGERI MALANG </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399073623</link>
         <description><![CDATA[<div>Pembahasan terlampir. Terimakasih. </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-27 14:01:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399073623</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alfiyan Nur Fuad (223174915553) PPG Prajabatan 2022 Universitas Negeri Malang </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399337522</link>
         <description><![CDATA[<div>tugas terlampir</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-27 22:07:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399337522</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Imam Bagus Mahadi (223174915635) - PPG Prajab IPS 01</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399342491</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><em>Asychronus 2 Padlet Instruktur</em></strong></div><div><strong><em>MK Filosofi Pendidikan Indonesia</em></strong></div><ol><li>Pilihlah salah satu kekuatan konteks sosio-kultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</li><li>Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.</li></ol><div>&nbsp;</div><div><strong>Jawab:</strong></div><ol><li>Saya berdomisili di Kota Kediri Jawa Timur yang terkenal dengan julukan “Kota Tahu”. Saya tinggal di sebuah perumahan, dan tetangga sekitar rumah saya tidak hanya satu kepercayaan (agama) dan etnis dengan saya. Poin kebudayaan yang ingin saya ambil dari lingkungan saya tersebut adalah di setiap perayaan hari keagamaan, masing-masing dari kami selalu memberikan sesuatu khas atau umum disebut “berkat” (umumnya berupa makanan) kepada tetangga yang lain tanpa terkecuali yang berbeda keyakinan sekalipun. Selain itu kami sebagai sebuah masyarakat pun saling tolong menolong tanpa melihat latar belakang kepercayaan (agama) maupun etnis.</li><li>Konteks nilai-nilai luhur budaya daerah saya tersebut selaras dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam penguatan konteks diri siswa, sesuai dengan kekuatan kodratnya sebagai manusia dan anggota masyarakat, yakni mengandung nilai-nilai <strong>berkebhinekaan global </strong>dan <strong>gotong royong</strong>. Di lingkungan tempat tinggal saya masih banyak sekali anak-anak usia sekolah yang sangat membutuhkan pengalaman hidup dan contoh-contoh yang baik dalam menjadi anggota sebuah masyarakat. Ketika kelak anak-anak tersebut tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa, maka mereka pasti akan dihadapkan dengan berbagai situasi yang akan mudah mereka hadapi jika mereka telah banyak belajar dari lingkungan kesehariannya. Nilai-nilai <strong>berkebhinekaan global</strong> dan <strong>gotong royong </strong>yang ditekankan dalam profil pelajar pancasila ini bertujuan untuk melatih kepekaan sosial anak-anak dalam berinteraksi dengan orang lain yang berbeda dengan dirinya, baik dari sisi kepercayaan (agama), etnis, suku, kebudayaan, dan banyak lainnya. Terlebih di era ini yang menjadi tempat kabar palsu (<em>hoax</em>) tumbuh subur berkat hadirnya media sosial.&nbsp;</li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-27 22:18:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399342491</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MOHAMMAD NAUFAL ZABIDI (223174915503) PENDIDIKAN IPS/01 UNIVERSITAS NEGERI MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399428181</link>
         <description><![CDATA[<div>Hasil dan Pembahasan Terlampir, Terima Kasih.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-28 00:52:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399428181</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sherly Indah Tri Kurnia Sari (223174915527) PPG Prajab IPS 01</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399443009</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Naskah dan Jawaban :</strong></div><div><strong>1. Pilihlah salah satu kekuatan konteks sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara!</strong></div><div>Salah satu kekuatan konteks sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada&nbsp; di daerah saya yaitu “Tradisi Kembar Mayang” pada acara pernikahan di Desa Plaosan Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang.&nbsp;</div><div><strong>2. Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat!</strong></div><div>Adat pernikahan yang ada di Indonesia beragam. Hal tersebut dilatar belakangi oleh adanya suku dan budaya yang ada di Indonesia sangat majemuk. Sifat kemajemukan memiliki beberapa ciri yaitu budaya yang beragam dapat dilihat dari perbedaan suku, bahasa, keyakinan, serta kebiasaan kultural (Rahardjo, 2010).</div><div><strong>Untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dananggota masyarakat </strong>yaitu diawali dari pemikiran KHD mengenai <strong>kodrat alam</strong>dapat diartikan sebagai asal tempat tinggal, budaya, maupun kondisi geografisnya. Kodrat alam menekankan pada karakter yang dimiliki anak sejak lahir. Sehingga atas dasar tersebut guru memiliki tuntutan untuk menjadi contoh serta teladan yang baik bagi peserta didik. Lahirnya lembaga sosial dilatarbelakangi oleh nilai dan norma yang ada di masyarakat. Hal tersebut sebagai wujud dari nilai sosial sehingga menciptakan tata aturan untuk membatasi perilaku masyarakat yang biasa disebut norma sosial. Terbentuknya lembaga sosial selain didasari oleh nilai dan norma juga didasari dari adat istiadat serta tata perilaku masyarakat.&nbsp;</div><div>Nilai dan norma dalam kehidupan masyarakat memiliki pengaruh penting karena adanya nilai dan norma merupakan hasil dari kesepakatan seluruh masyarakat. Nilai dan norma dianggap sebagai salah satu peninggalan budaya secara turun temurun. Masyarakat menganggap bahwa nilai dan norma membawa kebaikan dalam kehidupan. Masyarakat dapat menciptakan nilai serta tata aturan dalam lingkungannya sesuai dengan kebutuhan. Contohnya, dalam tradisi Kembar Mayang terdapat sebuah nilai yang mulai dari proses pembuatan hingga Kembar Mayang. Dalam proses pembuatan Kembar Mayang masyarakat saling membantu sehingga kerukunan antar masyarakat tetap terjaga. <strong>Nilai gotong royong</strong> nampak pada bagian ini. Selain itu, dalam setiap komponen Kembar Mayang memiliki nilai yang penting dalam menjalani kehidupan di antaranya selalu bersyukur kepada Allah atas rezeki yang sudah diberikan.&nbsp;</div><div><strong>Untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dananggota masyarakat </strong>yaitu untuk kodrat zaman berarti bahwa pendidikan harus dapat menyesuaikan perubahan dari waktu ke waktu. Seorang pendidik memiliki tuntutan untuk menambah pengetahuan berdasarkan perkembangan zaman sehingga mampu menyesuaikan diri dengan peserta didiknya. Hal tersebut sesuai dengan waktu secara pasti pertama kali adanya Kembar Mayang di Desa Plaosan belum diketahui. Sehingga tokoh utama pencetus Kembar Mayang di Desa Plaosan juga tidak diketahui secara jelas. Masyarakat melaksanakan tradisi Kembar Mayang karena melanjutkan tradisi dari leluhur. Hal tersebut&nbsp; dilatarbelakangi karena masyarakat Jawa menjadikan kehidupan masa lalu sebagai tolak ukur bagi kehidupan masa sekarang yang menjadikan peran leluhur berpengaruh besar (Santoso, 2013).</div><div>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-28 01:09:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399443009</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Santi Dwi Retno Eko Putro (223174915519) PPG Prajabatan IPS-01 UM</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399483437</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>BARIKAN PUNDEN<br>(Desa Jatisari, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang)<br></strong><br></div><ol><li>Barikan pada umumnya adalah suatu tradisi yang dilakukan masyarakat dengan cara berkumpul di suatu tempat dan membawa makanan dari rumahnya masing-masing yang kemudian makanan tersebut di tengah-tengah kerumunan dan dibacakan doa yang dipimpin oleh sesepuh/tokoh masyarakat. Perbedaan antara barikan punden Desa Jatisari dengan barikan pada umumnya yaitu waktu, tempat, dan cara pelaksanaannya. Barikan punden dilakukan setiap malam satu suro di punden desa (makam Mbah Haji Umar sesepuh yang membabat alas Desa Jatisari). Barikan dilakukan dengan mengarak tumpeng nasi kuning, tumpeng hasil bumi (pala pendem, buah, sayur, dll) mengelilingi desa dengan tujuan akhir punden Mbah Haji Umar. Tujuan barikan punden ini merupakan wujud syukur masyarakat atas jasa Mbah Haji Umar yang membabat alas sebagai tempat warga desa saat ini tinggal. Yang unik dari barikan punden yaitu masyarakat desa percaya akan kekuatan ghaib untuk meminta izin pelaksanaan barikan punden yaitu mengelilingi tumpeng sembari membawa dupo sebelum tumpeng dikarak (beberapa masyarakat saja yang percaya). Setelah selesai mengarak tumpeng, barikan dilanjutkan dengan penabuhan gamelan di punden dilanjutkan dengan acara pengajian (mayoritas warga Desa Jatisari beragama islam).</li><li>Barikan punden ini jika dapat dihubungkan dengan konsep pemikiran ‘kodrat alam’ Ki Hadjar Dewantara. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana tempat anak berada. <strong>Barikan punden memiliki banyak nilai-nilai sosial yang bisa diajarkan dalam diri anak. Nilai-nilai tersebut yaitu melatih jiwa sosial anak menjadi warga masyarakat yang mampu berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya. Barikan punden juga mengajarkan anak untuk guyub rukun menjaga persatuan antar warga. Selain itu, melalui kegiatan barikan anak akan diajarkan betapa pentingnya sikap toleransi atau saling menghargai terutama masyarakat yang berbeda kepercayaan dengan anak tersebut.</strong></li></ol><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-28 01:50:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399483437</guid>
      </item>
      <item>
         <title>PATRICK GLENN/ 223174915540/ PENDIDIKAN IPS/ 01/ UNIVERSITAS NEGERI MALANG</title>
         <author>patrickglenn2020</author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399609071</link>
         <description><![CDATA[<div>Soal&nbsp;<br><br></div><div>1. Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.&nbsp;<br><br></div><div>2. Deskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat<br><br></div><div>Jawab<br><br></div><ol><li>Saya tinggal di Desa Beji Kota Wisata Batu. Walaupun berada di lingkungan wisata namun beberapa desa di Kota Batu tetap mempertahankan beberapa kebiasan kebiasaan nilai luhur budaya.&nbsp; Salah satu contoh sosio cultual yang ada di wilayah saya adalah kegiatan Kenduren/Kenduri. Kenduren dilaksanakan untuk memperingati hari hari tertentu atau bentuk syukur masyarakat desa saya terkait hal hal yang sudah dilalui.&nbsp;<br><br></li><li>Kegiatan Kenduren/Kenduri merupakan kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat Desa Beji dalam rangka mensyukuri hasil panen maupun memperingati beberapa hal seperti, ulang tahun Kemerdekaan Indonesia, Hari ulang tahun Desa dan masih banyak lagi. Kenduren dimeriahkan dan dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat tua,muda, agama satu dan lainya semua bercampur menjadi satu yakni warga Desa Beji. Dalam kegiatan ini semua masyarakat menyumbangkan hasil hasil bumi berupa makanan berbentuk tumpeng atau bahan makanan lainya untuk di kumpulkan menjadi satu dan berdoa bersama sama untuk saling bersyukur dan mengharapkan kebaikan di masa selanjutnya. Hampir semua masyarakat terlibat dalam kegiatan ini. Doa yang dipanjatkan pun tidak hanya ada dari satu agama saja melainkan beberapa agama yang lainya juga. Nilai nilai sosial yang terkandung dalam kegiatan ini sangatlah beragam mulai dari nilai keberagaman, toleransi, gotong royong dan kesopanan. Nilai nilai ini sangat bermakna dalam pembentukan kepribadian seseorang. Ketika masyarakat terlibat dalam kegiatan tersebut secara tidak langsung mereka sudah mengamalkan nilai nilai yang ada, yang mana nilai tersebut sejalan dengan Pancasila. Bagi anak anak dan remaja kegiatan ini memberikan contoh bagi mereka bahwa kita hidup berdampingan dalam suatu masyarakat yang aman kita harus selalu membantu satu sama lain dalam susah maupun senang, saling menghargai dan membantu merupakan kunci kedamaian. Nilai nilai tadi bisa membentuk kodrat alam seorang individu, yang mana dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara kodrat alam diartikan sebagai lingkungan alam tempat peserta didik berada, baik kultur budaya maupun kondisi alam geografisnya. Ketika seorang individu berada di lingkungan yang tepat dan baik, pastinya mereka akan mengamalkan apa yang sudah di lihat dan dicontoh untuk berbuat baik kepada sesama dan berinteraksi dengan orang lain baik di dalam maupun di luar lingkungannya. Selain kodrat alam, kodrat zaman juga merupakan salah satu hal yang berpengaruh dalamkehidupan seorang individu. Ketika perubahan terjadi namun kita masih tetap mempertahankan nilai nilai sosial yang baik di lingkungan, maka individu tersebut juga akan menjadi seorang yang baik dengan mengamalkan nilai nilai sosial yang ada.&nbsp;<br><br></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-28 03:58:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399609071</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kuntari Hardianti (223174915515) PPG Prajabatan IPS-01 UM</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399628612</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Pilihlah salah satu kekuatan konten sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara.</strong></div><div>Tempat tinggal saya berada di Desa Siraman Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar. Terdapat banyak kebudayaan di Kabupaten Blitar. Salah satu konten sosio-cultural yang ada di daerah saya yaitu <strong>“Tradisi </strong><strong><em>Methik Pari</em></strong><strong>”</strong>.&nbsp; Tradisi Methik Pari ini tidak hanya di lakukan di desa saya saja, melainkan juga di desa-desa lainnya di Kabupaten Blitar.</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Diskripsikan kesesuaikan tersebut berdasarkan Dasar-Dasar Pemikiran Ki Hajar Dewantara, yang dapat digunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.</strong></div><div>Tradisi <em>Methik pari</em> merupakan tradisi jawa&nbsp; yang berarti memetik atau istilah dalam pertanian adalah memanen. Tradisi methik ini sebagai bentuk simbolis rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat dan rezeki yang telah diberikan. <em>Methik pari </em>biasanya dilakukan setiap akan memulai panen. Untuk tradisi <em>methik pari </em>di Desa saya Desa Siraman Kecamatan Kesamben yaitu masyarakat desar Siraman yang memiliki sawah di sana melaksanakan kenduri atau <em>slametan. </em>Kenduri biasanya dilaksanakan di tengah sawah dan warga masyarakat menyediakan makanan seperti nasi, ayam ingkung, pisang raja, adapula jajanan khas jawa yakni jenang, jadah dan wajik dengan menggunakan wadah beragam ada yang menggunakan daun, ada yang menggunakan kertas minyak dll. Tradisi ini bertujuan untuk menyampaikan rasa syukur masyarakat atas segala nikmat dan berkah yang diberikan Allah SWT dan sekaligus berdoa semoga dihindarkan dari balak dan segala gangguan agar hasil panen kedepannya melimpah.</div><div>Tradisi <em>methik pari ­</em> digunakan untuk <strong>menebalkan konteks diri siswa </strong>sebagai manusia dan anggota masyarakat yang <strong>pandai bersyukur, kebersamaan</strong>, <strong>senang berbagi kepada sesama, menghormati usaha orang dan bekerja keras</strong>. Kekuatan kodrat anak sebagaimana yang dimaksud dalam pemikiran KHD ialah potensi diri baik potensi berfikir, potensi emosi, dan potensi fisik yang dimiliki oleh anak. Pendidikan menurut pemikiran KHD adalah anak dididik sesuai dengan kodratnya. Pendidik menuntun anak sesuai dengan kodratnya agar anak tidak kehilangan arah, mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan. Melalui tradisi <em>methik pari </em>&nbsp;ini dapat menumbuhkan karakter anak agar memiliki rasa menghargai dan rasa syukur atas nikmat yang diperoleh. Selain itu juga menguatkan silaturahmi antar warga dan menumbuhkan rasa peduli dan empati yang tinggi. Dengan kegiatan methik pari anak juga diajarkan untuk menghargai alam dengan cara bekerja keras merawat alam (sawah dan tanamannya) agar tumbuh dengan baik dan hasil panennya berkualitas serta melimpah.</div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-28 04:24:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399628612</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SRI NUZULIA (223174915510) PPG PRAJAB IPS/01 UNIVERSITAS NEGERI MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399676372</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Saya berdomisili di Kediri, Kabupeten Ngadiluwih, tepatnya di desa Tales. Desa saya terkenal Industri genteng&nbsp; tanah liat yang memiliki kulitas baik dengan tekstur yang halus membuktikan jika genteng tersebut memiliki pori-pori yang kecil, semakin kecil pori-pori genteng tanah liat semakin bagus kualitasnya. Industri genteng ini sudah secara turun-temurun menjadi social budaya ekonomi warga desa Tales dengan melebarkan industri tersebut lewat elektonik commercial atau pemesanan online yang dapat menjagkau semua kalangan masyarakat di luar Kediri, banyak manfaat yang dapat diperoleh dari terlestarikannya industri genteng tanah liat ini, yang pertama potensi sumber daya alam tanah liat di desa Tales dapat dimanfaatkan sebagai sumber perekonomian warga, kedua meningkatkan sumber penghasilan tetap warga desa Tales, ketiga Budaya industri genteng tanah liat yang turun temurun menjadikan kualitas genteng tanah liat tidak pernah menurun. Keempat banyak pekerja buruh yang dulu memiliki penghasilan jika waktu panen saja sekarang memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Kesesuaian berdasarkan pemikiran KHD dalam menyikapi perubahan sesuai zamannya agar bisa bertahan hidup, berkarya dan menyesuaikan diri. Dalam konteks ini industri genteng tanah liat dapat berkembang lebih baik dengan kecakapan Abad 21 yaitu anak muda Desa Tales memanfaatkan teknologi untuk menyebarluaskan kualitas genteng tanah liat desa Tales serta meningkatkan ranah pemasaran dan produksi.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-28 05:19:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2399676372</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Afan Nur Mubarok (223174915549) PPG Prajabatan IPS-01 UM</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2401047757</link>
         <description><![CDATA[<div>Jawaban&nbsp;<br>1. Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di<br>daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.<br>Jawab: Wayang memiliki makna wewayanganing ngaurip, pengertian wayang darisisi lain adalah refelksi kehidupan.&nbsp; Nilai-nilai intangible wayang seperti memayu-hayu bawana (membuat tatanan dunia yang damai), jiwa ksatria, budi luhur, kesempurnaan hidup, harmoni adalah falsafah Timur yang bisa dikaji untuk memperkaya falsafah Barat. Setiap orang yang ingin belajr wayang tentu harus tau soal rasa, perasaan.&nbsp;</div><div>Wayang dalam setiap pertunjukanya Sebagian besar&nbsp; selalu menampilkan tontonan, ttanan dan tuntunan. Hal nib isa terjadi karena ada kemungkinan bahwa wayang selama berabad-abad telah menjadi symbol kehidupan manusia (wewayangane ngaurip), kisah manusia dari lahir sampai mati. Maka dari itu wayang memilik daya artistic yang tinggi dari berbagai sisi.</div><div>Pemerintah sudah menetapkan hari wayang pada 7 November melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2018, tertanggal 17 Desember 2018. Penetapan Hari Wayang Nasional berasal dari usulan masyarakat, ekosistem komunitas pewayangan Indonesia melalui Senawangi (Sekretariat Nasional Wayang Indonesia) yang kemudian dihantarkan oleh Kemendikbud, Kementerian PMK dan Setneg.</div><div>Wayang merupakan seni edipeniadiluhung, artinya seni yang selain indah juga mengandung nilai-nilai keutamaan hidup. Inilah yang membuat UNESCO menetapkan wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 7 November 2003, dan kemudian masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO untuk kategori Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity dengan judul The Wayang puppet theater tertanggal 4 November 2008.</div><div>Pembelajarn Ki Hajar Dewantar mengenal pembelajaran cultur dan kebudayaan. Wayang merupakan kesenian atau aristik yang memiliki banyak nilai dan sejarah. Penggunaan wayang sudah ada sejak sebelum KHD mencetuskan pemikirannya terkait sistem Pendidikan didalam wayang sudah ada pemahaman mengenal didir sendiri, mengetahui tujuan hidup dan mengenal alam raya atau dalam istilah wayang disebut arcopodo. Didalam wayang juga sudah ada pandangan terkai ngilmu jauh sbelum KHD memperkenalkan ngelmu dalam pemikirannya. Maka&nbsp; darisegi kebudayaan, artistic,&nbsp; dan pandangan hidup wayang setidaknya ada beberapa kesaam untuk membuat manusia mengetahui dirinya dan alam. Dalam pemikiran KHD dicetuskan peemikiran untuk mengenal dirinya /nalurialamiahnya. Maka baik wayang maupun pemikiran Ki Hajar Dewantara terdapat keselarasan.&nbsp;</div><div><br>2. Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat<br>dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan<br>anggota masyarakat.<br>Jawab : Sejauh perkembanan jaman ini wayang tetap bertahan hidup dan terus mengalami perkembangan dan mendapat pengaruh oleh agama, serta nila-nilai. budaya yang masuk dan berkembang di Indonesia. Proses akulturasi ini berlangsung sejak lama sehingga seni wayang memiliki daya tahan dan daya kembang tinggi.</div><div>Menurut Fery Taufiq El-Jaquene, wayang merupakan sebuah penggambaran sebuah alam pikiran seseorang yang dualistik. Maknanya wayang merupakan terususn dari dua hal yaitu baik dan jelak, halus dan kasar. Kedua hal bertentangan ini harus dikendalikan agar bisa seibang. Wayang juga bisa menjadifasilitas dalam pengendalian sosial. Maksudnya ilah wayang bisa di susunkan atas adanya&nbsp; fenomina sosial yang terjadi.</div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Wayang dianggap&nbsp; mampu menjadi bentuk solidaritas dalam masyarakat dikarenakan mampu memberikan fasilitas hiburan serta pendidikan berupa nasihat yang ada dalam pertunjukkan wayang. Dalam sebuah pertunjukkan wayang, mengandung berbagai nilai-nilai kehidupan manusia. Nilai nilai kehidupan dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hukum dapat termuat dalam pertunjukkan. Dapat dikatakan bahwa wayang mengandung 3T, yakni : tatanan, tuntunan, serta tontonan. Tatanan dalam wayang maksudnya adalah etika atau konvensi yang memiliki kandungan norma atau sifat kepribadian.</div><div>&nbsp;</div><div>Setiap ada pagelaran wayang terjadi introyeksi bagi siapa yang mengikuti pagelaran. Introyeksi berupa proses penanaman nilai . Penonton menyerap nilai-nilai dari pertunjukan wayang&nbsp; untuk kemudian dilebur ke dalam sistem nilai pribadinya. Ada banyak nilai yang diintroyeksikan oleh lakon wayang seperti nilai-nilai kesatriaan, patriotisme, martabat dan kehormatan, kesediaan berkorban. Nilai-nilai yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai perilaku normatif. Contohnya: seorang pemimpin pantang menarik ucapannya. Jiwa ksatria tidak mengenal kata mundur bila ia benar. Akan tetapi selalu siap mengaku salah ketika khilaf. Kehalusan berbahasa dan nada suara yang pelan adalah ciri satria terhormat. Sebaliknya suara lantang dan tutur kata yang kasar digolongkan sebagai sifat denawa atau raksasa dari negeri seberang alias tidak n’jawani.</div><div>&nbsp;</div><div>Wayang merupaka warisan budaya dan masih terjaga hingga sekarang. Dalam setiap kesenian yang ada pada wayang memilik nilai-nilai luhir bagi manusia. Setiap nilai yang ada bisa mejadi pendanan hidup bagi manusia.&nbsp; Nilai-nilai ini sudh teruji dan tetap ada sampai jaman sekarang. Bila dihubungkan dengan filosofi Ki Haja Dewantara dalam prinsip among memiliki dua hal yaitu belajar sesuai dengan naluri alamiah dan sesuai jaman. maka&nbsp; dengan memahami nilai-nilai yang ada pada wayang masih bidasa dijadika panutan dan diamalkan. Wayang juga sudah teruji oleh jaman dengan tetap terjaga dan eksis di era sekarang maka sejalan dengan pandangan Ki Hajar Dewantara untuk melajar sesuai jamannya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-28 23:58:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2401047757</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anida Hasniah Habieb (223174915512) IPS-01 UM </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2401772537</link>
         <description><![CDATA[<div>Salah satu kekuatan konteks sosio-cultural yang ada di daerah saya yaitu ‘’Tradisi Jamasan Pusaka’’ yang ada di Desa Ngliman Kecamatan sawahan kabupaten nganjuk.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-29 11:54:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2401772537</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ardika Fateh Hukama (223174915516) Pendidikan IPS 01 Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2401885825</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Ngaji di Langgar (Surau)</strong></div><div>Salah satu kekuatan konteks sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang masih berkembang dan dijadikan kegiatan sehari-hari didesa tempat saya tinggal (Kab. Nganjuk), oleh anak-anak saat ini adalah ngaji dilanggar. Langgar merupakan tempat pertama sebelum anak-anak keluar untuk mengenal dunia lebih luas, mulai dari sebelum magrib sampai selepas isya’ mereka melakukan kegiatan bersama teman-temannya dengan di bimbing oleh kyai langgar. Bimbingan yang di berikan oleh kyai mulai dari&nbsp; pembelajaran agama, mengenal al-Qur’an, mengenal Islam, dan sebagainya. Anak-anak sejak kecil diperkenalkan dan diajarkan seperti apa Islam itu, Islam yang ramah dan juga toleran.</div><div>Jika dikaitkan berdasarkan dasar-dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara, cukup banyak kegiatan yang dilakukan anak-anak dilanggar (surau) yang dipergunakan untuk menebalkan konteks diri siswa atau kekuatan kodrat mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat. Seperti contoh mereka datang bersama teman-teman menuju ke surau ketika sore menjelang waktu magrib, untuk melaksanakan adzan, puji-pujian dan iqomah. Mereka bergantian atau bergiliran dalam melaksanakan kegiatan tersebut, hal ini mencerminkan <strong>dasar-dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu anak-anak akan mampu mempertebal diri sebagai manusia yang religius, tanggung jawab, pemberani dan memiliki sikap tertib dan teratur.</strong></div><div>Kegiatan lain yang dapat di ambil contoh dari kegiatan di surau dalam mempertebal kodrat anak sebagai manusia adalah petunjuk dan bimbingan dari kyai langgar, dalam petunjuk dan bimbingan kyai, anak-anak diajarkan pedoman mendasar tentang ilmu dan bekal kehidupan mulai dari pelajaran huruf hijaiyah, hingga membaca al-Qur’an (sorogan). Selain itu tajwid juga di ajarkan. Hal paling mendasar juga diajarkan seperti ‘fasholatan’ atau belajar sholat. Ada lagi belajar huruf pegon, yakni belajar membaca dan menulis huruf jawa-arab dan juga adab dalam menuntut ilmu. <strong>Kegiatan demikian tentu pasti akan mampu mempertebal kodrat anak sebagai manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai sopan santun, berbudi luhur serta bertakwa kepada ALLOH SWT.</strong></div><div>Kodrat sebagai anggota masyarakat juga mampu di pertebal kepada anak-anak dengan mengikuti kegiatan di langgar (surau) yang dilaksanakan sejak turun temurun, seperti ketika dihari jumat ada kegiatan ro’an (bersih langgar) dan ada juga peringatan hari-hari besar Islam untuk bersama-sama membawa tumpeng nasi atau berkat untuk di makan bersama di langgar. <strong>Tentu kegiatan tersebut akan menebalkan anak-anak dengan kodratnya sebagai anggota masyarakat yang memiliki rasa syukur, kebersamaan dan gotong royong.</strong> Semoga budaya ngaji dilanggar (surau) akan terus lestari. Amiin.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-29 13:24:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2401885825</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lira Trisnaning Beta (223174915547) IPS-01</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2401892382</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pilihkah salah satu kekuatan konteks sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah anda sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara<br><br></div><div>2. Deskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan dasar-dasar pemikiran KHD yang dapat digunakan untuk menebalkan konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-29 13:29:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2401892382</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Zainul Mustofa (223174915547) IPS-01 UM</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402007797</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>TRADISI RUWAT AIR DAN PEMIKIRAN KHD</strong></div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Tradisi Ruwat Air Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Di tempat tinggal saya ada salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yaitu tradisi Ruwat Air di Lereng Gunung Semeru Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang. Diruwat artinya dilepaskan atau dibebaskan. Pelaksanaan tradisi ini disebut ngruwat atau ruwatan, berarti melepaskan atau membebaskan. Ngruwat dapat juga berarti dipulihkan atau dikembalikan pada keadaan semula. Tradisi ruwat air yaitu suatu upacara yang diadakan oleh masyarakat sebagai bentuk melestarikan dan memulihkan air di sekitar Gunung Semeru agar tetap melimpah dan berkah.<br>Tradisi Ruwat Air yang dilaksanakan di desa penanggal, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang merupakan bentuk wujud syukur atas air yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi Ruwat Air ini juga bertujuan untuk melestarikan adat istiadat desa penanggal. Masyarakat berharap dengan dilakukannya tradisi ini air dari gunung semeru tetap lestari dan mengalir ke seluruh wilayah di Lumajang.</div><div>Nilai moral yang terkandung dalam tradisi ruwat air ialah kesadaran menjaga/melestarikan lingkungan dan gotong royong. Hal ini terlihat dari kerja sama yang dilakukan oleh masyarakat dalam melestarikan dan menjaga air di sekitar gunung semeru agar tetap melimbah.&nbsp; Nilai yang terkandung dalam ruwat air menjadi kekuatan dalam mendidik siswa sesuai dengan kodrat alam dan zamanya. Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan anak sejatinya menuntun anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Bila melihat dari kodrat alam maka konteks lokal sosial budaya peserta didik di setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-29 14:36:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402007797</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lintang Atika Tifani (223174915530), PIPS 01 - Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402079131</link>
         <description><![CDATA[<div>1. <strong>Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</strong>&nbsp;</div><div>Jawaban :</div><div>Kekuatan konteks sosio kultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah saya adalah kegiatan rutinan “Gandrung Sewu” yang dilaksanakan di Banyuwangi setiap satu tahun sekali. Kegiatan tersebut merupakan salah satu kegiatan yang dicanangkan oleh pemerintah daerah guna melestarikan budaya di Banyuwangi dengan melibatkan 1000 penari asli dari Banyuwangi. Adapun penari tersebut merupakan perwakilan siswa dari sekolah menengah atas di seluruh penjuru Kabupaten Banyuwangi.<br><br></div><div><strong>2. Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.</strong></div><div>Jawaban :</div><div>Kegiatan Gandrung Sewu yang diikuti oleh siswa di Banyuwangi memiliki nilai yang terkandung didalamnya, diantaranya ;&nbsp;</div><div>a.&nbsp; Rasa cinta tanah air.&nbsp;<br>Sebagai bentuk upaya dalam melestarikan hasil cipta karsa masyarakat di Banyuwangi kegiatan tersebut melibatkan kalangan remaja khususnya siswa yang masih aktif duduk di bangku sekolah. Hal ini sesuai dengan sistem among Ki Hajar Dewantara yang menuntun siswa untuk dapat menumbuh kembangkan rasa cinta akan kebudayaan yang ia miliki ditengah maraknya budaya asing yang masuk dikalangan remaja saat ini.</div><div>b. Kesehatan dan Kebugaran.&nbsp;<br>Sebagai salah satu penguatan dalam mendukung pertumbuhan&nbsp; siswa yang membutuhkan olahraga pada usia remaja selama masa perkembangannya.</div><div>c. Tanggung Jawab.</div><div>Sikap yang perlu ditumbuhkan pada diri masing masing siswa melalui kegiatan ini merupakan sikap kepekaan siswa akan pentingnya melestarikan kebudayaan nasional dan pentingnya menjalankan perannya sebagai peserta kegiatan Gandrung Sewu sehingga selama mempersiapkan kegiatan tersebut siswa bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas kelompok. Bentuk atau wujud dari rasa tanggung jawab siswa yang mengikuti kegiatan tersebut ialah berusaha dan berlatih dengan sungguh sungguh.</div><div>d. Gotong Royong.</div><div>Sesuai dengan pelaksanaan kegiatan yang melibatkan banyak orang, tentunya diperlukan jiwa yang peka dan saling bekerja sama antar siswa untuk dapat menciptakan irama tari yang kompak dan selaras. Dengan begitu, diperlukan interaksi atau hubungan sosial yang baik antar siswa yang turut serta memeriahkan kegiatan tersebut. Hal itu dapat dijadikan sebagai modal bagi siswa untuk dapat berkomunikasi menambah jaringan pertemanan antar siswa itu sendiri.<br><br></div><div>Berdasarkan nilai yang terkandung dalam kegiatan Gandrung Sewu, adapun kaitan pelaksanaan kegiatan tersebut dengan penguatan pembelajaran pada peserta didik sesuai dengan kodratnya yakni kodrat alam dan kodrat zaman. Sesuai dengan kandungan nilai yang telah dipaparkan, penguatan kodrat alam dapat kita temukan pada nilai kesehatan dan kebugaran, nilai tanggung jawab dan nilai gotong royong. Sedangkan penguatan kodrat zaman terdapat pada kandungan nilai rasa cinta tanah air.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-29 15:15:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402079131</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nasihatul Mila (223174915501) IPS-01 Universitas Negeri Malang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402346187</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Salah satu kekuatan kontek sosio-kultural yang masih ada dan berkembang di daerah tempat tinggal saya hingga sekarang adalah tradisi “<em>Ater-ater</em>”.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; “<em>Ater-ater</em>” merupakan kata dalam bahasa Jawa yang berarti antar atau mengantar. Tradisi “<em>Ater-ater</em>” adalah kegiatan mengirimkan makanan atau sejenisnya kepada sanak-saudara dan tetangga pada waktu yang dianggap membawa berkah, seperti: hari raya idul fitri dan idul adha, maulid nabi, muharram, pernikahan, serta hari-hari penting lainnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi “<em>Ater-ater</em>” antara lain :</div><div>a.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Wujud rasa syukur</div><div>Menilik waktunya, “<em>Ater-ater</em>” merupakan ekspresi rasa syukur atas datangnya waktu yang penuh berkah, seperti: hari raya idul fitri dan idul adha, maulid nabi, muharram, pernikahan, serta hari-hari penting lainnya.</div><div>b.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Mempererat tali silaturrahmi</div><div>Bagi pelaku “<em>Ater-ater</em>”, aktivitasnya diniati untuk bersedekah (sodaqoh), dengan membagikan makanan atau sejenisnya kepada sanak saudara dan tetangga. Makanan atau barang bawaan menjadi semacam magnet perekat bagi interelasi sosial serta menumbuhkan keakraban. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwasannya dalam menjalankan kehidupan, manusia tak mungkin mandiri mutlak dan tidak membutuhkan orang lain.</div><div>c.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Sikap rendah hati</div><div>Dalam penerapannya, tradisi “<em>Ater-ater</em>” biasanya dilakukan oleh seseorang yang ingin membagikan rezekinya kepada orang lain tanpa mengharap balasan.&nbsp;</div><div>Keterkaitan antara kontek tradisi “<em>Ater-ater</em>” dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah dalam tradisi “<em>Ater-ater</em>” biasanya seseorang atau keluarga melibatkan anak mereka dalam kegiatan tersebut, diharapkan si anak dapat melihat sisi positif dan menyerap nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi “<em>Ater-ater</em>” dan dapat melestarikan tradisi tersebut. Dalam hal ini, anak dapat mempertahankan kodrat alam yang sudah melekat pada diri dan lingkungannya.</div><div>Seiring berkembangnya zaman, konteks dari “<em>Ater-ater</em>” itu sendiri bukan selalu mengantar makanan yang sudah matang, ada juga yang mengantar makanan masih dalam bentuk mentah (sembako), karena dilihat dari praktiknya, jika suatu masyarakat merayakan hari besar di mana antar keluarga akan melakukan tradisi “<em>Ater-ater</em>” secara bersamaan, hal tersebut akan menimbulkan penimbunan makanan yang berlebih dan menyebabkan kemubadziran. Dalam hal ini, pemikiran masyarakat mengenai tradisi “<em>Ater-ater</em>” mulai berkembang, bentuk hantaran tidak harus selalu dalam wujud makanan yang sudah matang, melainkan bisa juga makanan yang belum diolah dan hal tersebut dinilai lebih bermanfaat bagi penerima. Hal tersebut di atas, dapat dikaitkan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang kodrat zaman. Manusia dari waktu ke waktu akan belajar, yang menurutnya baik akan ia teruskan, yang menurutnya kurang baik akan ia perbaiki. Dalam hal ini, dapat dikaitkan dengan peran pendidik saat ini, yang perlu mengerti dan memahami kodrat zaman yang ada pada setiap peserta didik.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-29 17:56:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402346187</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ELVIANA FEBRIANTI (223174915511)-PPG PRAJABATAN PIPS 01-UNIVERSITAS NEGERI MALANG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402595475</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Naskah dan Jawaban&nbsp;</strong></div><div><strong>1. Pilihlah salah satu kekuatan kontek </strong><strong><em>sosio-cultural</em></strong><strong> (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</strong></div><div><em>Sosio cultural</em> adalah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang beragam. Kontek <em>sosio cultural</em> yang ada di daerah saya yang relevan dengan pemikiran Ki Hadjar dewantara adalah tradisi <em>Besik Belik</em>. Tradisi ini merupakan kegiatan masyarakat yang dilaksanakan untuk membersihkan sumber air yang ada di wilayah Kabupaten Blitar. Tradisi ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali oleh masyarakat setempat. Kegiatan biasanya dilaksanakan ketika akan memasuki musim penghujan dan merupakan rangkaian dari kegiatan bersih desa.&nbsp;</div><div><strong>2. Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.</strong></div><div>Proses yang dinamis seiring dengan perkembangan zaman sebuah kebudayaan juga akan mengalami perkembangan. Penerapan kearifan lokal sebagai pendamping belajar pendidikan akan beriringan dengan tututan alam dan tuntutan zaman yang terus berkembang, sehingga potensi peserta didik dikembangkan dengan baik sesuai visi Ki Hajar Dewantara. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan merupakan tempat bersemayam benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Ki Hajar Dewantara berkeyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan dijadikan sebagai kunci utama untuk mencapainya.&nbsp;</div><div>Dasar pemikiran lain Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yaitu pendidikan umumnya&nbsp; berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran dan tumbuh anak. Tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun kodrat anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Konsep pembelajaran dari filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu memerdekakan dan berpusat pada peserta didik, tidak bertentangan pada nilai-nilai kemanusiaan, mengikuti perkembangan zaman, dan pembangunan budi pekerti dan berfokus pada proses bukan hasil.&nbsp;</div><div>Menurut Ki Hajar Dewantara budi pekerti adalah perpaduan antara gerak pikiran, perasaan, kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti merupakan keselarasan antara cipta, rasa dan karsa. Keselarasan hidup anak dilatih melalui pemahaman dirinya, dilatih mengelola dirinya agar mampu memiliki kesadaran sosial bahwa mereka tidak hidup sendiri tetapi bermasyarakat. Masyarakat memiliki budaya yang mampu menguatkan budi pekerti yaitu salah satunya melalui tradisi <em>Besik</em> <em>Belik</em>. Tradisi ini merupakan sebuah kegiatan bersih desa yang dijadikan dalam melestarikan lingkungan alam yaitu berupa sumber air. Tradisi <em>Besik Belik</em> mempunyai prinsip untuk menghargai alam sekitar dengan cara membersihkan, merawat, mengembangkan dan mengelola potensi lokal.&nbsp;</div><div>Melalui kegiatan tersebut peserta didik dapat mempraktikkan dimensi profil pancasila dengan saling membantu dan bergotong royong dan menghargai kebudayaan masyarakat. Nilai-nilai luhur yang dapat di tanamkan pada karakter peserta didik yaitu 1) Religius, ucapan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan alam berupa sumber air bersih dan lingkungan yang asri yang dapat dinikmati. 2) Gotong-royong, bekerja sama dengan melaksanakan kegiatan kerja bakti. 3) Toleransi, kegiatan tersebut semua warga berkumpul menjadi satu tanpa membedakan kedudukan dalam masyarakat dan 4) Menghargai, penduduk asli dan pendatang sama-sama menghargai kebudayaan yang ada. Tradisi <em>Besik Belik</em> jika dikontekstualkan dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah akan menjadi penguat karakter terhadap peserta didik sebagai individu dan sebagai warga masyarakat dalam membentuk sikap positif dan kesempurnaan budi pekerti. Karakter luhur daerah merupakan sebuah budaya dalam tumbuh kembang anak secara holistik dan seimbang dalam menghadapi kodrat alam dan kodrat zaman.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-29 21:12:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402595475</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rafi Iqbal Rahmatulloh (223174915532) IPS-01</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402748476</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><em>KEBO-KEBOAN</em></strong><strong> SEBAGAI SARANA MEMPERTEBAL KONTEKS DIRI PESERTA DIDIK SEBAGAI MANUSIA DAN ANGGOTA MASYARAKAT</strong></div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Eksistensi sosial-kultural di Banyuwangi masih sangat kental. Bahkan beberapa kegiatan sosial-kultural dijadikan sebagai salah satu objek wisata unggulan yang dilaksanakan setiap tahunnya. Salah satu bentuk sosial-kultural yang masih sangat eksis adalah tradisi <em>kebo-keboan</em>. Secara umum, tradisi <em>kebo-keboan </em>terdiri dari tiga kegiatan utama yaitu: makan bersama, arak-arakan petani yang memakai kostum mirip kerbau yang disertai dengan kegiatan bersih desa, dan menanam padi di sebagian sawah yang dilakukan oleh petani yang memakai kostum kerbau.&nbsp;<br><br></div><div>Tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Rasa syukur tersebut terwujud dalam bentuk kegiatan makan bersama yang dilakukan oleh semua masyarakat desa yang melakukan tradisi <em>kebo-keboan</em>. Tradisi ini juga dijadikan sebagai sarana untuk berdoa supaya semua petani diberikan kelancaran dan kemudahan dalam merawat tanaman-tanaman yang dibudidayakan.&nbsp;<br><br></div><div>Meskipun dijadikan sebagai objek wisata, tradisi <em>kebo-keboan </em>tidak kehilangan nilai intrinsik-nya. Secara umum, tradisi <em>kebo-keboan</em> dijadikan sebagai pelajaran bagi manusia untuk selalu bersyukur terhadap segala sesuatu yang telah didapatkan dan menjaga alam yang telah memberikan kita berbagai macam kebutuhan yang telah kita nikmati setiap harinya.<br>&nbsp;</div><div>Tradisi kebo­-keboan dapat dijadikan sebagai sarana untuk menebalkan konteks diri peserta didik sebagai manusia dan anggota masyarakat. Kegiatan makan bersama dalam tradisi kebo-keboan mencerminkan bahwa kita tidak bisa hidup sendirian sehingga kita diharuskan untuk hidup rukun dengan orang lain, khususnya tetangga kita. Wujud nilai ini tidak terlepas dari aktivitas pertanian yang mayoritas tidak bisa dikerjakan secara sendirian. Aktivitas pertanian membutuhkan tenaga yang besar sehingga kegiatan ini didominasi oleh aktivitas yang dilakukan dengan bantuan orang lain. Contoh dalam kegiatan panen padi, pemilik sawah tidak bisa melakukannya sendiri. Dia harus meminta bantuan orang lain yang ahli dalam memotong padi, menggiling padi, dan membawa padi ke rumah.&nbsp;<br><br></div><div>Kegiatan kedua dan ketiga dalam tradisi <em>kebo-keboan</em> mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam. Kehidupan kita sangat bergantung kepada alam. Mayoritas kebutuhan manusia khusunya masyarakat desa, mayoritas dipenuhi dari hasil yang diberikan oleh alam. Prosesi bersih desa mengajarkan kita untuk selalu menjaga lingkungan dan merawat dengan baik. Hal ini akan kembali kepada kita dimana kita bisa merasakan hasil yang diberikan oleh alam berupa udara segar, air bersih, hasil panen yang melimpah, dan lain-lain.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-30 00:27:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402748476</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NURIL DINA AHASYIM (IPS 001) 223174915529</title>
         <author>nurildina83</author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402811947</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong> <strong>Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.&nbsp;</strong></div><div>Blitar merupakan kota kecil yang terletak di Jawa Timur yang dikenal sebagai kota kelahiran sang Proklamator Ir. Soekarno. Litar merupakan kota yang sarat akan budaya salah satu contoh budaya dan nilai luhur yang masih dijaga hingga sekarang adalah peringatan <strong>“grebeg pancasila” </strong>yang diperingati setiap bulan Juni. Pada bulan ini terdapat tiga kegiatan di hari-hari penting yaitu lahirnya Pancasila, lahirnya Bung Karno, dan Haul Bung Karno. Semua kegiatan dilakukan sebagai upaya melestarikan tradisi budaya dan juga sebagai pengingat bahwa hari tersebut adalah hari penting dan sakral. Pemerintah Blitar secara rutin melakukan <strong>“Grebeg Pancasila”</strong> dan menjadikannya sebagai event tahunan. <strong>“Grebeg Pancasila” </strong>menampilkan ciri khas budaya masing-masing daerah di Indonesia. Mereka berpawai berkeliling kota yang di mulai dari Alon-alon Kota Blitar dan berakhir di Rumah Dinas Wali Kota Blitar. Tahapan dalam meaksankaan grebeg pancasila terdapat lima tahapan yakni: <em>Bendholan Grebeg, Tirakatan, Upacara Budaya, Kirab Gunungan Limo, dan Kenduri Pancasila </em>(Sumitrasari, 2012)<br><br>2. <strong>Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.<br></strong><br></div><div>Kegiatan grebeg pancasila yang dilakukan sebagai upaya untuk meestarikan tradisi budaya dan memperingati hari besar yang berturut-turut di Bulan Juni, erat kaitannya dengan dasar-dasar pemikiran KHD. Tradisi &nbsp; Grebeg &nbsp; Pancasila&nbsp; memiliki &nbsp; hubungan sangat &nbsp; erat &nbsp; kaitannya &nbsp; dengan &nbsp; nilai-nilai Pancasila.&nbsp; Makna&nbsp; tersebut&nbsp; tersirat&nbsp; dalam&nbsp; setiap&nbsp; prosesi&nbsp; pelaksanaannya.&nbsp;</div><div>a.&nbsp; &nbsp; Pada&nbsp; prosesi <strong>Bedhol Pusaka Nagari</strong>, arak-arakan dilakukan oleh Bregodo Siji, Bregodo Enemdan Bregodo Patang Puluh Lima, dengan artian mengingat kembali 1 Juni&nbsp; 45 adalah lahirnya Pancasila. Nilai&nbsp; yang terkandung didalamnya adalah masyarakat&nbsp; di&nbsp; Kota&nbsp; Blitar&nbsp; saling&nbsp; bekerja&nbsp; bersama-sama&nbsp; dan&nbsp; bahu membahu jalannya kegiatan, yang menandakan adanya nilai gotong royong dan Persatuan didalamnya.&nbsp;</div><div>b.&nbsp; &nbsp; Prosesi Kedua&nbsp; <strong>Ritus&nbsp; Malam&nbsp; Tirakatan,</strong> arti&nbsp; filosofis&nbsp; dari&nbsp; ritus&nbsp; Tirakatan&nbsp; ialah&nbsp; sebagai&nbsp; perenungan,&nbsp; dan menghayati Pancasila selaku nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.</div><div>c.&nbsp; &nbsp; Prosesi Ketiga <strong>Ritus Upaca Budaya</strong>, Prosesi &nbsp; ini &nbsp; mencerminkan &nbsp; nilai&nbsp; Nasionalisme &nbsp; dengan &nbsp; memiliki &nbsp; kesadaran &nbsp; untuk &nbsp; memberikan aspirasinya&nbsp; agar&nbsp; Negara Indonesia&nbsp; bisa&nbsp; lebih&nbsp; baik&nbsp; dan&nbsp; lebih&nbsp; maju.</div><div>d. &nbsp; Prosesi&nbsp; Keempat&nbsp; <strong>Ritus&nbsp; Kirab Gunungan Lima</strong> Gunungan Lima Wujud Gunungan lima yang lancip serta menguncup ini mempunyai arti&nbsp; jika&nbsp; manusia&nbsp; berserah&nbsp; diri dan&nbsp; menyembah hanya kepada&nbsp; Tuhan&nbsp; Yang&nbsp; Maha Esa. Gunungan dalam&nbsp; upacara&nbsp; Grebeg Pancasila&nbsp; sebagai simbol&nbsp; keberadaan&nbsp; Tuhan&nbsp; yang&nbsp; terletak&nbsp; pada&nbsp; tempat tertinggi&nbsp; dan&nbsp; teratas. Gunungan&nbsp; lima&nbsp; berasal&nbsp; dari&nbsp; jumlah&nbsp; sila&nbsp; sila&nbsp; 5. Pada&nbsp; kirab&nbsp; Gunungan&nbsp; Lima tercermin nilai Gotong Royong dimana pada persiapan pembuatan Gunungan Lima dilakukan secara bergotong&nbsp; royong oleh&nbsp; masyarakat&nbsp; di&nbsp; Kota&nbsp; Blitar.</div><div>e.&nbsp; &nbsp; Ritus &nbsp; kelima <strong>Kenduri &nbsp; Pancasila</strong>&nbsp; &nbsp;diselenggarakan &nbsp; dengan &nbsp; duduk &nbsp; lesehan, &nbsp; dengan &nbsp; tujuan &nbsp; buat mendekatkan&nbsp; warga&nbsp; dengan&nbsp; para&nbsp; pejabat,&nbsp; serta&nbsp; menggambarkan&nbsp; pemersatu&nbsp; agar&nbsp; tidak&nbsp; terjalin kesenjangan&nbsp; antara&nbsp; pejabat&nbsp; serta&nbsp; warga.&nbsp; Pada&nbsp; ritus&nbsp; Kenduri&nbsp; Pancasila&nbsp; diundangan&nbsp; pula&nbsp; partisipan dari&nbsp; lintas&nbsp; agama,dimana&nbsp; perihal&nbsp; ini&nbsp; meyakinkan&nbsp; kalau&nbsp; warga&nbsp; Blitar&nbsp; rukun&nbsp; serta&nbsp; damai.</div><div>Dari rangkaian kegiatan grebeg pancasila ini dapat dikorelasikan dengan dasar-dasar pemikiran KHD, bahwa “<em>pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan yang mana benih-benih kebudayaan itu ketika disemai dirawat dijaga ditumbuhkembangkan dengan cara yang benar, dengan cara yang tepat akan berperan membentuk sebuah peradaban”</em> dapat terwujud melalui kegiatan-kegiatan pelestarian kebudayaan, dengan begitu masyarakat Indonesia mengetahui kodrat alam mereka dan dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kodrat zaman&nbsp; dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan budaya. Hal ini diharapan agar sesuai degan tujuan pendidikan KHD yakni benik yang disemai dan dirawat secara tepat akan membentuk sebuah peradaban yang hebat.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-30 01:26:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402811947</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Syahrun Nazulal Quro&#39;in (223174915521) IPS 01</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402938081</link>
         <description><![CDATA[<div>BERSIH DESA (Desa Ngasem Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang)<br><br><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada didaerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</strong></div><div>Memasuki Bulan Suro dalam Kalender Jawa, warga desa di Kabupaten Malang hampir seluruhnya menyelenggarakan tradisi Bersih Desa. Berbagai kegiatan dilaksanakan mulai dari mengadakan kenduri, mengirim sesaji yang diperuntukkan untuk danyang desa atau bahkan menggelar tradisi jawa seperti pertunjukan wayang dan tari-tarian tradisional atau campur sari.&nbsp;</div><div>Di Desa Ngasem Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang, warga bersama perangkat desa mengadakan ritual bersih desa berupa kenduri dan mengirim saji-sajian ke&nbsp; punden yang dipercaya sebagai makam sesepuh desa, (6/9/20).</div><div>Acara dimulai dari Punden Ki Ageng Cermo pada pagi hari acara bersih desa dilaksanakan khotmil Qur'an yang diikuti jamaah dari sekitar punden. Kemudian dilaksanakan kenduri bersama perangkat desa, lembaga desa dan warga desa yang berkeyakinan dengan ritual tersebut. Pada sore hari biasanya diadakan acara Bantengan, malam campursari dan wayang.</div><div>"Bersih Desa merupakan slametan atau upacara adat Jawa untuk memberikan sesaji kepada danyang desa. Sesaji berasal dari warga untuk menyumbangkan makanan. Bersih desa dilakukan oleh masyarakat dusun untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu. Maka sesaji diberikan kepada danyang, karena danyang dipercaya sebagai penjaga sebuah desa," ungkapnya.</div><div>Tradisi Bersih Desa sebagai upacara adat memiliki makna spiritual di baliknya. Bersih Desa bertujuan untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang didapat. Selanjutnya, upacara bersih desa bertujuan untuk memohon perlindungan kepada danyang sebagai penjaga desa dari hal-hal negatif dalam kehidupan sehari-hari.</div><div>&nbsp;</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang<br>&nbsp;dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat</strong></div><div>&nbsp;</div><div>Dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantoro terdapat kodrat alam dan kodrat Zaman. Budaya Bersih desa jikan kita sambungkan dengan kodrat alam dan zaman maka terdapat beberapa hal yang dapat dipergunakan untuk menebalkan&nbsp; konteks siswa sebagai manusia dan anggita masyarakat antaralain:</div><div>a.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Sebagai manusia pancasila salah satu aspeknya adalah beriman bertaqwa dan berakhlak, dalam kegiatan bersih desa tentu sangan lekat dengan aspek profil pancasila ini karena didalamnya terdapat kegiatan keagamaan seperti khotmil qur’an dll.</div><div>b.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pada acara bersih desa juga mengajarkan kerukunan dan jiwa sosial yang ada di masyarakat. Dengan berbagi makanan (kenduri) kita belajar untuk berbagi dengan sesama.&nbsp;</div><div>c.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Acara bantengan, campur sari dan wayang dapat menumbuhkan kodrat alam yang dimiliki peserta didik dengan tetap melestarikan budya nenek moyang dan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia</div><div>d.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Acara bersih desa dapat menebalkan karakter manusia Indonesia</div><div>e.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Semangat gotong royong dalam kegiatan bersih desa juga sangat bermanfaat dalam menebalkan kodrat peserta didik sebagai anggota masyarakat.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-30 03:19:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2402938081</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ahmad ismail sa&#39;addullah (223174915531)PPG UM IPS 01 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2404465347</link>
         <description><![CDATA[<div>Naskah Soal:&nbsp;</div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di<br>&nbsp;daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat<br>&nbsp;dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat.<br><br></div><div>Jawaban:&nbsp;</div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Saya tinggal di Kota Madiun yang salah satu kekuatan kontek sosio-culturalnya dikenal sebagai kota Pendekar yang mana terdapat banyak pusat padepokan yang terdapat di Madiun salah satunya adalah perguruan pencak silat setia hati. Pada setiap awal bulan suro terdapat kegiatan untuk memperingati awal bulan hijriyah dari banyak perguruan pencak silat dengan mengelilingi kota madiun dan mengadakan acara seperti wayang dan lain sebagainya.&nbsp;</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Kesesuaian budaya yang mana terdapat banyak perguruan pencak silat didaerah madiun untuk dipergunakan menebalkan konteks diri siswa sebagai manusia dan anggota masyarakat adalah dengan adanya komunitas dan kelompok masyarakat tersebut siswa dapat menggunakan sebagai sarana dalam mengembangkan fisiknya untuk berkembang menjadi manusia yang sehat secara jasmani dan siswa dapat meningkatkan jiwa sosialnya dengan mengikuti hal positif melalui komunitas ini. Dan jika ada siswa yang berbakat dalam seni pencak silat maka bisa menyalurkan bakatnya. Sebagai sarana untuk menumbuh kembangkan potensi pada diri anak didik agar peserta didik menjadi pribadi dan masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, mampu melakukan gotong royong</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-01 01:57:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2404465347</guid>
      </item>
      <item>
         <title>RIKI NUR HIDAYAT - PPG PRAJAB UM - IPS 01</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2405120652</link>
         <description><![CDATA[<div>BROJO GENI : ANTARA TONTONAN DAN TUNTUNAN<br>Banyak cara untuk merayakan malam satu suro yang bertepatan dengan masuknya bulan Muharram dalam penanggalan kalender Hijriyah. Di Perguruan Islam Pondok atau PIP Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur ada tradisi unik yakni Brojo Geni.&nbsp;<br>Brojo Geni merupakan olahraga atraktif yang cukup memacu adrenalin, pasalnya dibutuhkan nyali untuk bisa bertanding. Tidak seperti biasanya, bola yang digunakan melainkan menggunakan buah kelapa tua dan sudah direndam dengan minyak tanah selama beberapa hari sehingga api terus menyala saat permainan berlangsung.<br>Tidak boleh asal-asalan, lanjut sebelum bermain Brojo Geni, para santri diharuskan melaksanakan beberapa ritual yang menjadi syarat. Hal itu bertujuan agar tahan dari sifat panasnya api dan mara bahaya. Bukan untuk kesombongan, karena konteksnya di dalam pesantren, semua harus berdasarkan keilmuan. Sebelumnya ada semacam ritual atau riyadhoh, seperti puasa, wirid khusus. Tujuannya hanya untuk meminta perlindungan kepada Allah Swt,<br>Dalam budaya Brojo Geni banyak nilai nilai yang bisa diambil untuk penanaman nilai karakater yang bisa ditekankan kepada peserta didik.<br>1.	Religius (Beriman dan Bertaqwa) : Budaya Brojo Geni mengandung nilai yang religius, sebelum melakukan permainan Brojo Geni para santri melakukan ritual atau riyadhoh, seperti puasa dan wirid khusus. Tujuanya bukan untuk kesombongan tetapi meminta perlindungan kepada Allah SWT. Jadi kegiatan apapun harus diawali dengan berdoa dan ingat kepada yang Kuasa.<br>2.	Bernalar Kritis : Semua harus didasari keilmuan, untuk hasil yang baik segala sesuatu harus diawali dengan belajar, tidak ada proses yang instant. Sehingga memunbuhkan motivasi belajar dan menambah pengetahuan.<br>3.	Bergotong Royong : Permainan Brojo Geni adalah permainan sepakbola, hanya yang dijadikan bola adalah kelapa yang dibakar. Dalam permainan harus kompak antara satu tim untuk memenangkan permainan. Jadi ada unsur kolaboratif dalam budaya tersebut, unsur ini bisa ditekankan kepada peserta didik untuk bisa berkolaborasi dalam pembelajaran dan mempermudah dalam penyelesaian masalah.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-01 13:28:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2405120652</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ALVIN NURMA HIDA_IPS01_223174915504</title>
         <author>alvinnurmahida</author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2406561601</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1. Pilihlah salah satu kekuatan kontek sosio-cultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah Anda, yang sesuai dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara.&nbsp;<br></strong><br></div><div>Tradisi pawai obor dimalam hari raya idul adha. Idhul adha adalah hari raya besar umat islam, dalam setiap perayaannya setiap daerah memiliki kegiatan masing-masing. Di daerah Pare, Kediri perayaan malam takbiran selalu diwarnai dengan kegiatan pawai obor. Puluhan anak, remaja, hingga orang tua turut meramaikan pawai obor ini. Mereka sangat antusias berjalan memegang obor, sambil diiringi suara bedug dan kumandang takbir. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun yang tujuannya adalah untuk menyambut, dan menyemarakkan malam idul adha. Rute yang diambil dalam pawai obor yaitu keliling desa yang jauhnya sekitar 400 meter. Tujuan dari pawai obor ini yaitu untuk mengenalkan adik-adik kita mengenai tradisi menyambut hari raya idul Adha. Dengan semangat berkurban dapat memperkuat keimanan dan rasa kemanusiaan antar sesama umat islam.&nbsp;<br><br></div><div><strong>2. Diskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan Dasar-dasar Pemikiran KHD, yang dapat dipergunakan untuk menebalkan Konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyarakat<br></strong><br></div><div>Ki Hajar Dewantara (KHD) dalam pemikirannya menjelaskan bahwa pendidikan dan pengajaran di Indonesia merupakan upaya yang dilakukan sebagai usaha bersama dalam mempersiapkan dan menyediakan kebutuhan hidup manusia baik dalam kehidupan masyarakat maupun berbudaya. Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah untuk mempersiapkan pelajar Indonesia sebagai masyarakat global namun sesuai dengan pancasila dan kearifan lokal. Dalam filosofi pendidikan KHD, melakukan pembaharuan yang terpadu hendaknya selalu mengingat bahwa kepentingan anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup bermasyarakat jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan maupun zaman. Tradisi pawai obor di malam hari raya idhul adha merupakan bentuk kearifan lokal dengan cara mengenalkan anak-anak (peserta didik) mengenai tradisi menyambut hari raya idul adha. Kegiatan ini mengandung nilai-nilai Pancasila dan dapat dikatakan sebagai Pendidikan karakter karena pelaksanaannya melibatkan pikiran, perasaan, jiwa, dan raga. Hal tersebut juga sesuai dengan pemikiran KHD, karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak yang dapat menimbulkan tenaga. Kegiatan pawai obor ini juga salah satu proses menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks diri anak dengan semangat gotong royong ikut berpartisipasi mengikuti kegiatan pawai obor sebagai anggota masyarakat.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-02 12:30:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2406561601</guid>
      </item>
      <item>
         <title>mochammad yusron habibi (223174915539) PPG UM IPS 01</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2410568263</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pilihlah satu kekuatan konteks sosio-kultural (nilai-nilai luhur budaya) yang ada di daerah anda yang sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Deskripsikan kesesuaian tersebut berdasarkan pemikiran KHD, yang dapat digunakan untuk menebalkan konteks diri siswa (kekuatan kodrat) sebagai manusia dan anggota masyatrakat</div><div>Jawaban :&nbsp;</div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Menurut Koentjaraningrat (1984:344) Slametan atau Wilujengan adalah suatu upacara pokok atau unsur terpenting dari hampir semua ritus dan upacara dalam sistem religi orang Jawa pada umumnya dan penganut Agami Jawi khususnya. Suatu upacara slametan biasanya diadakan di rumah suatu keluarga, dan dihadiri oleh anggota-anggota keluarga (dan rumah-tangga) yang pria, dengan beberapa tamu (kebanyakan juga pria), yaitu biasanya tetangga-tetangga terdekat dan kenalan-kenalan yang tinggal tidak terlalu jauh, kerabat-kerabat yang tinggal tidak terlalu jauh, kerabat-kerabat yang tinggal di kota atau dusun yang sama, dan ada kalanya juga teman-teman akrab yang mungkin tinggal agak jauh. Begitu banyaknya macam-macam tradisi slametan yang ada di masyarakat Jawa tentunya mempunyai tujuannya masing-masing misalnya ucapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Kegiatan slametan menjadi tradisi hampir seluruh kehidupan di masyarakat Jawa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Weton adalah hari lahir seseorang dengan pasarannya (Legi, Paing, Pon, Wage, Kliwon). Weton berasal dari kata wetu yang berarti lahir atau keluar yang mendapat akhiran "an" sehingga berubah menjadi kata benda. Selain itu weton dapat diartikan sebagai gabungan antara hari dan pasaran saat bayi dilahirkan ke dunia. Misalnya Senin Pon, Rabu Wage, Jumat Legi atau lainnya. Menurut Suryo S. Negoro, Weton atau wetonan adalah peringatan hari lahir setiap 35 hari sekali. Untuk orang Jawa tradisonal sangat penting untuk mengetahui weton, sesuai dengan kalender Jawa. Dengan mengetahui tanggal, bulan dan tahun kelahiran menurut kalender Masehi, bisa diketahui weton seseorang. Hari kelahiran menurut kalender Jawa atau weton terjadi setiap selapan hari. Slametan Weton ini dilakukan sesudah jam enam sore, karena hari Jawa mengikuti kalender sistem rembulan. Slametan Weton ini bertujuan untuk mendo’akan seseorang yang diperingati hari kelahirannya agar diberi keselamatan, kesehatan, kepintaran dan apapun yang dilakukannya bisa berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apapun. Secara garis besar tujuan slametan ini adalah untuk menciptakan keadaan yang sejahtera, aman, dan bebas dari gangguan makhluk yang tampak maupun yang halus, sehingga tercipta suatu keadaan yang disebut slamet.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Kesesuaian sosio-kultur budaya dalam rangka untuk menebalkan diri siswa adalah mampu mensyukuri berbagai macam rezeki serta pemberian lainnya dari sang maha kuasa pada hari kelahirannya. Slametan weton ini bertujuan untuk memberikan keselamatan hidup bagi seseorang yang di slameti, sehingga dari harapannya slametan ini mampu menjadikan seseorang bisa selamat dari mara bahaya .&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-12-06 12:17:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sinyamin091/r1ceuf43e973hxaz/wish/2410568263</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
