<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Pahlawan Nasional dari Papua by 35_Zati Himmatil Aliyah_XII MIPA 6</title>
      <link>https://padlet.com/ZatiHimmatilAliyah/qwi2v02vdn8r04nk</link>
      <description>Frans Kaisiepo, Silas Papare, dan Marthen Indey</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-08-09 02:50:02 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-04-18 19:41:02 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f1ee-1f1e9.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Frans Kaisiepo (1921-1979)</title>
         <author>ZatiHimmatilAliyah</author>
         <link>https://padlet.com/ZatiHimmatilAliyah/qwi2v02vdn8r04nk/wish/1672352737</link>
         <description><![CDATA[<div>Salah seorang tokoh yang mempopulerkan lagu Indonesia Raya di Papua saat menjelang Indonesia merdeka. Ia berperan dalam pendirian Partai Indonesia Merdeka (PIM) paa 10 Mei 1946. Pada tahun 1946, ia menjadi anggota delegasi Papua dalam konferensi Malino di Sulawesi Selatan, dimana ia menyebut Papua (Nederlands Nieuw Guinea) dengan nama Irian yang diambil dari bahasa Biak dan berarti daerah panas. Namun kata Irian tersebut malah diberinya pengertian lain: " Ikut Republik Indonesia Anti Netherlands (Kemensos, 2013). Dalam konferensi ini, ia juga menentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) karena NIT tidak memasukkan Papua ke dalamnya. Ia lalu mengusulkan agar Papua dimasukkan ke dalam Keresidenan Sulawesi Utara.<br><br>Tahun 1948, ia ikut berperan dalam merancang pemberontakan rakyat Biak melawan pemerintah kolonial Belanda. Setahun setelahnya, ia menolak menjadi ketua delegasi Nederlands Nieuw Guinea ke Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Hagg. Konsekuensi atas penolakannya adalah selama beberapa tahun setelah itu ia dipekerjakan oleh pemerintah kolonial di distrik-distrik terpencil Papua. Tahun 1961, ia mendirikan partai politik Irian Sebagian Indonesia (ISI) yang menuntut penyatuan Nederlands Nieuw Guinea ke negara Republik Indonesia. Wajar bila ia kemudian banyak membantu para tentara penjuang Trikora saat menyerbu Papua.<br><br>Pada tahun terakhir tahun 1960-an, ia berupaya agar Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) bisa dimenangkan oleh masyarakat yang ingin Papua bergabubg ke Indonesia. Proses tersebut akhirnya menetapkan Papua menjadi bagian dari negara Republik Indonesia.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1289027332/d2c7527e9c17dda4a306cdaeb9a5be64/padlet_image_picker_file_359d2960_f7fd_4f9c_875e_a0229a48d846.jpg" />
         <pubDate>2021-08-09 02:51:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ZatiHimmatilAliyah/qwi2v02vdn8r04nk/wish/1672352737</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Silas Papare (1918-1978)</title>
         <author>ZatiHimmatilAliyah</author>
         <link>https://padlet.com/ZatiHimmatilAliyah/qwi2v02vdn8r04nk/wish/1672355413</link>
         <description><![CDATA[<div>Ia membentuk Komite Indonesia Merdeka (KIM) hanya sekitar sebulan setelah Indonesia merdeka. Tujuan KIM yang dibentuk pada bulan September 1945 ini adalah untuk menghimpun kekuatan dan mengatur gerak langkah perjuangan dalam membela dan mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Bulan Desember 1945, ia bersama Marthen Indey dianggap mempengaruhi Batalyon Papua bentukan Sekutu untuk memberontak terhadap Belanda. Akibatnya, mereka berdua ditangkap Belanda dan dipenjara di Holandia (Jayapura).<br><br>Setelah keluar dari penjara, ia mendirikan Partai Kemerdekaan Irian. Karena Belanda tidak senang, ia kemudian ditangkap dan dipenjara di Biak. Partai ini kemudian diundang pemerintah RI ke Yogyakarta. Ia yang sudah bebas pergi ke sana dan bersama dengan teman-temannya membentuk Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta. Sepanjang tahun 1950-an, ia berusaha keras agar Papua menjadi bagian dari Republik Indonesia. Tahun 1962, ia mewakili Irian Barat duduk sebagai anggota delegasi RI dalam Perundingan New York antara Indonesia-Belanda dalam upaya penyelesaian masalah Papua.&nbsp; Berdasarkan "New York Agreemen" ini, Belanda akhirnya setuju untuk mengembalikan Papua ke Indonesia.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1289027332/73a4eeabf4e473406060e6005881337d/padlet_image_picker_file_cdf2ecbf_cf04_444d_bbde_a2f0e98b3ec5.jpg" />
         <pubDate>2021-08-09 02:54:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ZatiHimmatilAliyah/qwi2v02vdn8r04nk/wish/1672355413</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Marthen Indey (1912-1986)</title>
         <author>ZatiHimmatilAliyah</author>
         <link>https://padlet.com/ZatiHimmatilAliyah/qwi2v02vdn8r04nk/wish/1672355959</link>
         <description><![CDATA[<div>Sebelum Jepang masuk ke Indonesia, ia adalah anggota polisi Hindia Belanda. Namun jabatan ini bukan berarti melunturkan sikap nasionalismenya. Keindonesiannya yang ia miliki justru semakin tumbuh tatkala ia kerap berinteraksi dengan tahanan politik Indoensia yang dibuang Belanda ke Papua. Ia bahkan pernah berencana bersama anak buahnya untuk berontak terhadap&nbsp; Belanda di Papua, namun gagal. Antara tahun 1945-1947, Ia masih menjadi pegawai pemerintah Belanda dengan jabatan sebagai Kepala Distrik. Meski demikian, bersama-sama kaum nasionalis di Papua, secara sembunyi-sembunyi ia malah menyiapkan pemberontakan. Tetapi sekali lagi, pemberontakan ini gagal dilaksanakan.<br><br>Sejak tahun 1946, ia menjadi Ketua Partai Indonesia Merdeka (PIM). Ia lalu memimpin sebuah aksi protes yang didukung delegasi 12 Kepala Suku terhadap keinginan Belanda yang ingin memisahkan Papua dari Indonesia. Ia juga mulai terang-terangan mengimbau anggota militer yang bukan orang Belanda agar melancarkan perlawanan terhadap Belanda. Akibat aktivitas politiknya yang kian berani, pemerintah Belanda menangkap dan memenjarakannya.<br><br>Tahun 1962, saat ia tak lagi dipenjara, ia menyusun kekuatan gerilya sambil menunggu kedatangan tentara Indonesia yang akan diterjunkan ke Papua dalam rangka Operasi Trikora. Saat perang usai, ia berangkat ke New York untuk memperjuangkan masuknya Papua ke wilayah Indonesia, di PBB hingga akhirnya Papua (Irian) benar-benar menjadi bagian Republik Indoensia.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1289027332/281cdbff6ffc69206bb87d353e990585/padlet_image_picker_file_43b9065c_230e_464c_9692_5d5f59823a43.jpg" />
         <pubDate>2021-08-09 02:54:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ZatiHimmatilAliyah/qwi2v02vdn8r04nk/wish/1672355959</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Papua</title>
         <author>ZatiHimmatilAliyah</author>
         <link>https://padlet.com/ZatiHimmatilAliyah/qwi2v02vdn8r04nk/wish/1672357914</link>
         <description><![CDATA[<div>Papua adalah wilayah Indonesia yang setelah RI kembali menjadi negara kesatuan pada tahun 1950 pun, tetap berada dalam kendali Belanda. Khusus persoalan Papua, berdasarkan hasil KMB tahun 1949, sesungguhnya akan dibicarakan kembali oleh pemerintah RI dan Belanda "satu tahun kemudian". Nyatanya hingga tahun 1962, ketika Indonesia akhirnya memilih jalan perjuangan militer dalam merebut wilayah ini, Belanda tetap berupaya mempertahankan Papua.<br><br>Meski demikian, dalam kurun waktu selama itu, bukan beratrti rakyat Papua berdiam diri untuk tidak mewujudkan nasionalisme keindonesiaan mereka. Berbagai upaya juga mereka lakukan agar bisa menjadikan Papua sebagai bagian dari negara Republik Indonesia.<br>Muncullah tokoh-tokoh yang memiliki peran besar dalam upaya integrasi tersebut, seperti Frans Kaisiepo, Silas Papare, dan Marthen Indey.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1289027332/ff3614bd05299f2f89cce65ab19d3329/padlet_image_picker_file_e4036397_428b_4e26_99c4_a464ea985637.jpg" />
         <pubDate>2021-08-09 02:56:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/ZatiHimmatilAliyah/qwi2v02vdn8r04nk/wish/1672357914</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
