<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Perlawanan kesultanan Mataram Islam by Candra Prastya</title>
      <link>https://padlet.com/prastyacandra072/qpiiido1kh4oeix2</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-09-21 04:00:43 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-09-21 04:06:31 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Sekilas Padang kesultanan Mataram</title>
         <author>prastyacandra072</author>
         <link>https://padlet.com/prastyacandra072/qpiiido1kh4oeix2/wish/2306116009</link>
         <description><![CDATA[<div>Negara Kesultanan Mataram adalah negara berbentuk<br>kesultanan di Jawa pada abad ke-16. Kesultanan ini didirikan<br>sejak pertengahan abad ke-16, namun baru menjadi negara<br>berdaulat di akhir abad ke-16 yang dipimpin oleh dinasti yang<br>bernama wangsa Mataram Sepanjang abad ke-16, tepatnya pada<br>puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Anyakrakusuma,<br>Mataram adalah salah satu negara terkuat di Jawa, kesultanan<br>yang menyatukan sebagian besar pulau Jawa, yakni sebagian<br>besar wilayah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah kecuali<br>Banten, selain itu juga menguasai daerah Madura, dan Sukadana<br>(Kalimantan Barat) serta Pulau Sumatera (Palembang dan Jambi).<br>Kesultanan ini terdiri dari beberapa wilayah inti mulai dari:<br>kutagara, nagaragung, mancanagara, pasisiran dan sejumlah<br>kerajaan vasal, beberapa di antaranya dianeksasi ke dalam<br>teritori kesultanan, sedangkan sisanya diberikan beragam<br>tingkat otonomi.Kesultanan ini secara de facto merupakan<br>negara merdeka yang menjalin hubungan perdagangan dengan<br>Kerajaan Belanda ditandai dengan kedua pihak saling mengirim<br>duta besar. Anyakrakusuma di bawah kepemimpinannya tidak<br>mengizinkan Serikat Dagang Hindia Timur (VOC) untuk<br>mendirikan loji-loji dagang di pantai utara. Hal ini ditolak karena<br>bila diizinkan maka ekonomi di pantai utara akan dikuasai dan<br>melemah. Penolakan ini membuat hubungan keduanya sejak saat<br>itu merenggang.Menjelang keruntuhannya, Kesultanan Mataram<br>menjadi negara protektorat Kerajaan Belanda, dengan status<br>pzelfbestuurende landschappen.Perjanjian Giyanti membuahkan<br>kesepakatan bahwa Kesultanan Mataram dibagi dalam dua<br>kekuasaan, yaitu Nagari Kasunanan Surakarta dan Nagari<br>Kasultanan Ngayogyakarta. Perjanjian yang ditandatangani dan<br>diratifikasi pada tanggal 13 Februari 1755 di Giyanti ini secara de<br>jure menandai berakhirnya Mataram</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1813507588/8921f132581d4f5d7f607a6f36a31d3d/800px_gapura_masjid_agung_kotagede.jpg" />
         <pubDate>2022-09-21 04:03:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/prastyacandra072/qpiiido1kh4oeix2/wish/2306116009</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Latar belakang perlawanan</title>
         <author>prastyacandra072</author>
         <link>https://padlet.com/prastyacandra072/qpiiido1kh4oeix2/wish/2306118522</link>
         <description><![CDATA[<div>Kerajaan Mataram mulai berdiri tahun 1582, terletak didaerah<br>Kota Gede sebelah tenggara kota Yogyakarta, kerajaan ini<br>dipimpin suatu dinasti keturunan Ki ageng Sela dan Ki Ageng<br>Pemanahan yang mengklaim masih keturunan penguasa<br>Majapahit.<br>Asal usul kerajaan ini adalah berasal dari sebuah kadipaten<br>dibawah Kesultanan Pajang ( Sultan hadiwijaya),berpusat di Bumi<br>Mentaok yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai<br>hadiah atas jasanya mengalahkah Arya Penangsang, selanjutnya<br>Ki Ageng Pemanahan mulai membangun Mataram sebagai<br>tempat pemukiman baru dan persawahan, akan tetapi<br>kehadiranya didaerah ini dan usaha pembangunanya<br>mendapatkan tanggapan penguasa setempat, misalnya Ki Ageng<br>Giring, Ki Ageng Tembayat dan Ki Ageng Mangir. Akan tetapi ada<br>sebagian pejabat yang memberi sambutan baik akan hal itu<br>seperti Ki Ageng Karanglo, walaupun demikian Ki Ageng<br>Pemanahan tetap melakukan pembangunan didaerah tersebut<br>yang berpusat di Plered dan juga mempersiapkan strategi untuk<br>menundukkan siapa saja yang mementang kehadiranya.<br>Tahun 1575 Ki Ageng Pemanahan meninggal dunia dan<br>digantikan oleh putranya bernama Sutawijaya atau Pangerang<br>Ngabehi Loring Pasar, selain beliau bertekad melanjutkan mimpi<br>ayahandanya, dia pun bercita – cita untuk membebaskan diri<br>dari kekuasaan Pajang, sehingga hubungan antara Mataram dan<br>Pajang pun mulai memburuk hingga berujung peperangan.<br>Dalam peperangan ini kerajaan Pajang mengalami kekalahan dan<br>Sultan Hadiwijaya meninggal.<br>Kemudian Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi raja Mataram<br>dengan gelar panembahan senopati . ia mulai membangun<br>kerajaanya dan memindahkan pusat pemerintahan di Kotagede.<br>Pada tahun 1590 kerajaan Mataram menaklukan Madiun, Jipang,<br>Kediri kemudian melanjutkan dengan menaklukan Pasuruan dan<br>Tuban.<br>Sebagai raja islam yang baru beliau mempunyai tekad untuk<br>menjadikan Mataram menjadi pusat budaya dan agam Islam,<br>sebagai penerus kesultanan Demak.<br>Kerajaan Mataram Islam saat itu menganut system Dewa – Raja.<br>Yang berarti kekuasaan tertinggi mutlak berada pada Sultan.<br>Sultan Wijaya meninggal dan dimakamkan diKotagede dan<br>digantikan putranya bernama Mas jolang yang bergelar Prabu<br>Hanyokrowati, pada masa ini tidak banyak mengalami kemajuan<br>dikarenakan beliau meninggal karena kecelakaan saat berburu<br>dihutan krapyak yang kemudian digantikan putra keempatnya<br>yang bergelar Adipati Martoputro, akan tetapi karena Adipati<br>Martoputro menderita penyakit syaraf maka tahta beralih ke<br>putra sulung Mas jolang yang bernama Raden Mas Rangsang,<br>pada masa ini kerajaan mataram mengalami kemajuan dan<br>mengalami masa keemasan.<br>Setelah menaklukan Madura beliau mengganti “ panembahan”<br>dengan “Sesuhunan ( sunan) kemudian menggunakan gelar<br>“Susuhunan Hanyakrakusuma” terakhir tahun 1640 sehabis dari<br>Makkah beliau menyandang gelar “Sultan Agung Senopati Ing Alaga Abdurrahman “ dan beliau memindahkan lokasi kraton ke<br>“Karta “ akibat terjadi gesekan penguasaan perdagangan antara<br>Mataram dan VOC yang berpusat di Batavia.<br>Setelah Sultan Agung meninggal, digantikan putra beliau<br>“Sesuhunan Amangkurat 1, beliau memindahkan lokasi kraton ke<br>Pleret pada tahun 1647 tidak jauh dari “Karta”selain itu beliau<br>juga tidak lagi menggunakan gelar sultan melainkan Sunan (<br>Sesuhunan atau yang pertuan ) pada masa ini kerajaan Mataram<br>kurang stabil karena banyak ketidak puasan dan pemberontakan,<br>pada masanya terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh<br>seorang bangsawan dari Madura bernama Trunajaya yang<br>akhirnya berhasil mengalahkan Mataram , Amangkurat 1<br>melarikan diri dan meningga dalam pelarianya yaitu di<br>Tegalarum ( 1677 )sehingga mendapat julukan Sunan Tegalarum,<br>kemudian diganti oleh putranya Amangkurat II , beliau<br>bergabung dengan VOC untuk mengalahkan pasukan Trunajaya<br>dan akhirnya berhasil .<br>Dalam masa ini Amangkurat II sangat patuh kepada VOC<br>sehingga menimbulkan ketidak puasan dikalangan istana dan<br>akhirnya banyak pemberontakan terjadi lagi. Pada masa ini<br>keraton Mataram dipindahkan ke Kartasura ( 1680 ).<br>Setelah Amangkurat II meninggal diganti Amangkurat III, tetapi<br>VOC tidak senang dengan Amangkurat III karena dia menentang<br>VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I sebagai raja,<br>akibatnya Mataram memiliki dua raja dan inilah yang menjadikan<br>perpecahan Internal, Amangkurat<br>III akhirnya memberontak tapi akhirnya kalah dan ditangkap<br>diBatavia lalu diasingkan di Ceylon,Srilanka.dan meninggal tahun<br>1734.<br>Kekacauan politik dari masa kemasa akhirnya dapat<br>terselesaikan pada masa Pakubuana III setelah wilayah Mataram<br>dibagi menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan<br>Kasunanan Suarakarta tanggal 13 Februari 1755, pembagian<br>wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Gayanti , perjanjian Giyanti<br>adalah kesepakatan yang dibuat oleh pihak VOC</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1813507588/484c33b2ba33b03e89973dd7f06ed685/sultan_agung_mataram.jpg" />
         <pubDate>2022-09-21 04:05:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/prastyacandra072/qpiiido1kh4oeix2/wish/2306118522</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Akhir Perlawanan</title>
         <author>prastyacandra072</author>
         <link>https://padlet.com/prastyacandra072/qpiiido1kh4oeix2/wish/2306119027</link>
         <description><![CDATA[<div>Keberhasilan Mataram dapat dibalas oleh VOC. VOC<br>mengalahkan Mataram dengan menghancurkan lumbung-<br>lumbung padi di Cirebon dan Tegal dengan cara dibakar.<br>Akibatnya, pasukan Mataram yang menyerang VOC kesulitan<br>pangan. Selain itu jarak antara Yogyakarta dengan Batavia,<br>kalahnya persenjataan, dan penyakit malaria menjadi alasan<br>kekalahan Mataram dalam menghadapi VOC.<br>Kegagalan yang kedua kalinya ini tidak membuat Sultan Agung,<br>malah membuat Sultan Agung memunyai keinginan membuat<br>penyerangan yang ketiga. Namun, hal tersebut tidak terwujud<br>karena tahun 1645 Sultan Agung meninggal dunia.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-21 04:06:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/prastyacandra072/qpiiido1kh4oeix2/wish/2306119027</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
