<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kloning K4 KabPas Modul 1.4 Isu-isu Sosial dalam PJOK by Wahyudi Heriyanto</title>
      <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8</link>
      <description>Tuliskan sesuai dengan kondisi yang ada</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-09-23 21:32:50 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-09-28 02:50:49 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/8.0/png/1f60e.png</url>
      </image>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135008075</link>
         <description><![CDATA[<p>pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua murid untuk menciptakan budaya positif.&nbsp;Budaya positif yang dilakukan di sekolah dan kelas harus dilanjutkan di rumah agar menjadi kebiasaan dan karakter yang melekat pada diri murid.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-24 06:39:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135008075</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>mukhammad202</author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135622903</link>
         <description><![CDATA[<p>Setelah saya mempelajari dan berdiskusi modul 1.4. tentang Isu-Isu Sosial dalam PJOK memang sesuai dengan yang terjadi dan saya rasakan di sekolah. Dimana jumlah peserta didik laki-laki dan perempuan tidak seimbang dan disekolah saya juga terdapat siswa penyandang disabilitas, Itu membuat saya kesusahan dalam membagi tim dalam hal pembelajaran, tapi setelah saya mendengarkan penjelasan dari kakak fasilitator dan rekan-rekan PKG PJOK KELAS 12 KAB. PASURUAN. Maka saya merefleksikan aktivitas saya dan berupaya memperbaiki kegiatan belajar  mengajar dengan aset based thinking. Dimana semua masalah bisa kita selesaikan dengan mencari cara yang positif</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-24 12:49:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135622903</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>mukhammad202</author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135634577</link>
         <description><![CDATA[<p>Kebiasaan yang sering terjadi adalah perbedaan gender, tentu ini sangat penting dan perlu diperhatikan sehinga semua siswa mendapatkan hak yang sama sehingga dalam mengikuti pembelajaran PJOK merasa senang dengan tujuan pembelajaran dan konsep gaya hidup sehat sepanjang hayat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-24 12:55:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135634577</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>mukhammad202</author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135639544</link>
         <description><![CDATA[<p>Ya itu dengan cara melakukan beberapa perubahan diantara lain:</p><ol><li><p>Pembelajaran yang berpihak pada murid</p></li><li><p>Memperhatikan kebutuhan murid</p></li><li><p>Mengikuti pembelajaran tentang inklusi</p></li><li><p>Berkolaborasi dengan stakeholder</p></li><li><p>Selalu Refleksi Diri</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-24 12:57:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135639544</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Di dalam kelas kegiatan belajar selalu di isi dengan kegiatan positif. Juga dukungan dan ada kerja sama dengan orang tua. Di usahakan di rumah selalu ada kegiatan positip . Jadi berkolaborasi . </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135695609</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-24 13:22:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135695609</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kebiasaan yang terjadi Perilaku yang tidak sesuai dengan norma kesusilaan baik sudut pandang kemanusiaan dalam kehidupan. Kalau di sekolah sering di jumpai perbedaan gender,bahkan sampai bertengkar. Tapi di dalam pembelajaran PJOK hal-hal seperti di atas tidak boleh terjadi semua siswa bisa mengikuti dan merasakan. Ibaratnya sebuah permainan juga ikut agar tujuan pembelajaran PJOK bisa menyenangkan bagi anak didik kita.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135731410</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-24 13:37:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135731410</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yang perlu di lakukan isu sosial :</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135769681</link>
         <description><![CDATA[<p>1.Menenali Karakteristik siswa</p><p>2.Melibatkan siswa dalam pembelajaran</p><p>3.Biasakan siswa membuat catatan.</p><p>4.Pendekatan secara individual</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-24 13:52:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3135769681</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MUHAMMAD RIEZKY DWI RAMADHONY</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3136992150</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p><strong>Diskriminasi dan Stigma</strong>: Kebiasaan menganggap sebelah mata terhadap kelompok tertentu, seperti etnis minoritas atau orang dengan disabilitas, dapat memperburuk ketegangan sosial.</p></li><li><p><strong>Kurangnya Partisipasi Komunitas</strong>: Minimnya keterlibatan warga dalam kegiatan sosial atau politik bisa menyebabkan kurangnya perhatian terhadap isu-isu yang penting bagi masyarakat.</p></li><li><p><strong>Stereotip Gender</strong>: Kebiasaan patriarki yang kuat bisa menghambat kesetaraan gender dan mengakibatkan kekerasan terhadap perempuan.</p></li><li><p><strong>Budaya Korupsi</strong>: Jika praktik suap dan nepotisme menjadi norma, hal ini dapat merusak kepercayaan masyarakat pada institusi dan mengakibatkan ketidakadilan sosial.</p></li><li><p><strong>Konsumerisme Berlebihan</strong>: Kebiasaan mengutamakan barang-barang material dapat menyebabkan kesenjangan ekonomi dan mengabaikan aspek keberlanjutan.</p></li><li><p><strong>Penyebaran Berita Palsu</strong>: Kebiasaan menyebarkan informasi yang tidak akurat atau hoaks dapat memperkeruh situasi dan memicu konflik.</p></li></ol><p>Mengatasi kebiasaan ini memerlukan pendidikan, dialog terbuka, dan upaya kolaboratif dalam masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 02:36:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3136992150</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3136995494</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p><strong>Edukasi Diri Sendiri</strong>: Pelajari tentang isu-isu sosial yang ada di lingkungan sekitar. Baca buku, ikuti seminar, atau dengarkan podcast untuk memperdalam pemahaman.</p></li><li><p><strong>Berpartisipasi dalam Diskusi</strong>: Terlibat dalam diskusi di komunitas atau forum online untuk berbagi pandangan dan mendengar perspektif orang lain.</p></li><li><p><strong>Keterlibatan dalam Kegiatan Sosial</strong>: Ikut serta dalam organisasi atau komunitas yang fokus pada isu sosial. Ini bisa termasuk relawan di lembaga sosial atau ikut program advokasi.</p></li><li><p><strong>Terapkan Empati</strong>: Cobalah untuk memahami pengalaman dan perspektif orang lain. Empati dapat membantu meredakan konflik dan membangun hubungan yang lebih baik.</p></li><li><p><strong>Sebarkan Kesadaran</strong>: Gunakan platform media sosial atau forum lokal untuk menyebarkan informasi yang benar dan relevan tentang isu-isu sosial.</p></li><li><p><strong>Tindak Lanjut dengan Aksi Nyata</strong>: Setelah memahami isu, ambil tindakan konkret, seperti mengorganisir acara penggalangan dana, kampanye, atau program edukasi di komunitas.</p></li><li><p><strong>Dukung Inisiatif Positif</strong>: Berpartisipasi dalam program-program yang mendukung keadilan sosial, seperti kampanye anti-diskriminasi atau program perlindungan lingkungan.</p></li><li><p><br/></p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-25 02:38:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3136995494</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Isu-isu sosial yang sering muncul dalam pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) di kelas dapat sangat bervariasi, tetapi beberapa contoh umum meliputi:</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3139527886</link>
         <description><![CDATA[<p>1. Bullying atau Perundungan</p><p>Di kelas PJOK, karena sifat aktivitas fisik yang melibatkan persaingan dan kemampuan fisik, siswa yang lebih lemah atau tidak terlalu terampil dalam olahraga seringkali menjadi sasaran perundungan atau diejek oleh teman sekelasnya. </p><p>2. Ketimpangan Gender</p><p>Masih ada anggapan bahwa laki-laki lebih kuat atau lebih pantas dalam olahraga tertentu dibandingkan perempuan. Ini bisa menyebabkan diskriminasi, seperti perempuan yang merasa direndahkan atau diberi peran lebih pasif dalam aktivitas olahraga, atau merasa tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk bersinar.</p><p>3. Body Shaming</p><p>Karena PJOK melibatkan aktivitas fisik dan sering kali pakaian olahraga, isu body shaming sering terjadi, di mana siswa mungkin diejek karena bentuk tubuh mereka. Hal ini bisa menyebabkan ketidakpercayaan diri dan bahkan masalah citra tubuh yang serius.</p><p>4. Eksklusivitas dalam Kelompok atau Tim</p><p>Siswa yang lebih pandai dalam olahraga sering kali membentuk kelompok eksklusif, di mana siswa yang kurang terampil sulit diterima dalam tim. Ini dapat menciptakan suasana yang tidak inklusif dan memarginalkan siswa lain.</p><p>5. Masalah Kesetaraan Akses</p><p>Terkadang ada perbedaan akses fasilitas olahraga antara sekolah yang satu dengan yang lain, atau antara siswa yang memiliki latar belakang sosial ekonomi yang berbeda. Hal ini bisa menyebabkan ketidakadilan dalam kesempatan untuk berpartisipasi penuh dalam pembelajaran PJOK.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-26 04:22:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3139527886</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Menghadapi isu sosial secara pribadi sering kali membutuhkan tindakan yang bertahap dan berkelanjutan. Setiap individu bisa berkontribusi dengan caranya masing-masing. Berikut adalah beberapa langkah umum yang mungkin diambil secara pribadi untuk menghadapi isu sosial:</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3140287957</link>
         <description><![CDATA[<p>1.	Meningkatkan Kesadaran dan Pendidikan Diri Memahami isu sosial melalui membaca, berdiskusi, atau mengikuti pelatihan dan seminar tentang masalah-masalah yang terjadi di sekitar. </p><p>2.	Berbicara dan Berdiskusi Salah satu langkah penting adalah berani membicarakan isu-isu sosial ini di lingkungan sekitar. Diskusi dengan keluarga, teman, dan rekan kerja bisa membuka perspektif baru dan mendorong kesadaran kolektif. Terkadang, hal ini bisa memicu aksi nyata seperti mendukung program sosial atau menciptakan solusi bersama.</p><p>3.	Menjadi Relawan atau Berpartisipasi dalam Kegiatan Sosial Banyak orang yang memilih terlibat langsung dengan menjadi relawan di organisasi sosial, lembaga amal, atau komunitas yang menangani isu sosial tertentu. Ini bisa meliputi kegiatan seperti membantu korban bencana, mengajar anak-anak kurang mampu, atau menjadi bagian dari program advokasi.</p><p>4.	Mengubah Kebiasaan Pribadi Beberapa isu sosial, seperti polusi atau ketidaksetaraan, dapat diatasi dengan mengubah kebiasaan pribadi. Contohnya, mengurangi penggunaan plastik untuk mengurangi sampah, mendukung produk lokal untuk memperkuat ekonomi masyarakat, atau memprioritaskan pembelian dari usaha yang berkomitmen pada prinsip keadilan sosial.</p><p>5.	Menggunakan Media Sosial untuk Membangkitkan Kesadaran Media sosial adalah platform yang kuat untuk menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran tentang isu sosial. Berbagi artikel, opini, atau pengalaman pribadi yang berkaitan dengan masalah sosial dapat membantu membuka mata orang lain dan mendorong tindakan kolektif.</p><p>6.	Mendukung Kebijakan dan Inisiatif Sosial Terlibat dalam politik dengan mendukung calon atau kebijakan yang sejalan dengan nilai-nilai keadilan sosial. Ini termasuk memberikan suara dalam pemilu atau referendum, menghadiri forum publik, atau menandatangani petisi untuk mendukung kebijakan yang dapat membantu menyelesaikan isu sosial.</p><p>7.	Memberikan Donasi atau Dukungan Finansial Jika terlibat langsung terasa sulit, memberikan donasi kepada organisasi yang fokus pada penyelesaian isu sosial juga merupakan bentuk kontribusi yang signifikan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-26 12:25:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3140287957</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kebiasaan yang sering terjadi di suatu daerah bisa sangat bervariasi, tetapi ada beberapa kebiasaan umum yang dapat mempengaruhi munculnya isu-isu sosial. Beberapa contoh kebiasaan yang dapat memicu atau memperkuat isu sosial di masyarakat antara lain:</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3140289156</link>
         <description><![CDATA[<p>1.	Patriarki dan Ketidaksetaraan Gender</p><p>Di beberapa daerah, kebiasaan yang masih memegang teguh budaya patriarki dapat menyebabkan isu-isu seperti kekerasan dalam rumah tangga, ketidaksetaraan dalam pendidikan dan pekerjaan bagi perempuan, serta keterbatasan peran perempuan di ruang publik.</p><p>2.	Kebiasaan Gotong Royong yang Mulai Memudar</p><p>Gotong royong sebagai nilai sosial yang menguatkan rasa kebersamaan kini sering kali tergeser oleh individualisme. Ketika solidaritas dan rasa peduli antartetangga menurun, muncul masalah seperti kesenjangan sosial, kejahatan, dan ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar.</p><p>3.	Konsumsi dan Gaya Hidup Konsumtif</p><p>Kebiasaan masyarakat yang cenderung konsumtif dan mengikuti tren dapat meningkatkan ketimpangan ekonomi, terutama jika diiringi dengan budaya kredit atau utang yang tidak terkontrol. Hal ini juga bisa mendorong masalah seperti kemiskinan dan kriminalitas.</p><p>4.	Budaya Korupsi dan Nepotisme</p><p>Di beberapa daerah, budaya korupsi dan nepotisme bisa menjadi kebiasaan yang turun temurun. Hal ini menciptakan masalah ketidakadilan, ketidakpercayaan pada pemerintah, dan hambatan bagi kemajuan ekonomi dan sosial.</p><p>5.	Perilaku Diskriminatif terhadap Kelompok Tertentu</p><p>Kebiasaan diskriminasi terhadap kelompok minoritas, baik berdasarkan suku, agama, atau ras, dapat memperkuat konflik sosial dan menciptakan ketidakadilan dalam akses terhadap layanan dan kesempatan.</p><p>6.	Pola Hidup Tidak Sehat</p><p>Gaya hidup yang kurang memperhatikan kesehatan, seperti kebiasaan merokok, makan tidak sehat, dan kurang berolahraga, dapat menyebabkan tingginya angka penyakit masyarakat yang berdampak pada beban ekonomi dan sosial, misalnya tingginya biaya kesehatan dan menurunnya produktivitas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-26 12:26:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3140289156</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>solehudin72</author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3140428121</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Masalah diskriminasi dalam partisipasi olahraga, terutama untuk siswa perempuan.</p></li><li><p>Pengaruh bullying dalam konteks olahraga dan aktivitas fisik, serta bagaimana itu mempengaruhi partisipasi siswa.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-26 13:35:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3140428121</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>solehudin72</author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3140434718</link>
         <description><![CDATA[<p>Kebiasaan dalam permainan berbentuk Game, Seperti materi bola besar : Sepak bola. karena siswa perempuan yang lebih banyak.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-26 13:39:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3140434718</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>solehudin72</author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3140452059</link>
         <description><![CDATA[<p>Langka yang saya ambil :</p><ol><li><p>Membatasi permainan kontak fisik antara perempuan &amp; Laki - laki ( Dalam semua aktifitas di lapangan )</p></li><li><p>Memberi pengertian bahwasannya tenaga perempuan &amp; Laki - laki pasti beda.</p></li><li><p>Berusaha tidak membedakan gender karena mereka berhak menerima meteri yang diajarkan</p></li><li><p>salalu revleksi diri.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-26 13:46:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3140452059</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ARIF SUHENDRI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142055641</link>
         <description><![CDATA[<p><br></p><p><strong>1. Isu Gender</strong></p><p>Gender atau jenis kelamin merupakan isu yang tidak asing lagi dalam PJOK. Hal ini dapat dipicu oleh anggapan dari peserta didik perempuan bahwa hanya olahraga tertentu saja yang ditujukan untuk perempuan. Misalnya, pada olahraga sepak bola yang dominan dimainkan oleh laki-laki.</p><p>Dampak dari isu tersebut akan mengakibatkan rendahnya partisipasi dan kontribusi siswa perempuan pada kegiatan fisik dan olahraga. Untuk solusinya, pihak sekolah dapat membentuk tim sepakbola perempuan dengan dukungan fasilitas yang dibutuhkan.</p><p><strong>2. Olahraga Dianggap Sulit</strong></p><p>Dalam PJOK, tentunya ada beragam jenis olahraga yang diajarkan untuk meningkatkan kemampuan fisik siswa. Isu sosial yang disebabkan oleh kondisi ini, yaitu adanya pemikiran bahwa olahraga tersebut sulit dan tidak menyenangkan.</p><p>Permasalahan ini terjadi karena kurangnya pengetahuan siswa terhadap olahraga yang dipelajari. Dampaknya proses pembelajaran akan berlangsung secara tidak maksimal.</p><p>ADVERTISEMENT</p><p>Oleh sebab itu, langkah yang dapat ditempuh di antaranya dengan menampilkan video edukasi tentang beragam permainan olahraga dan menyusun program untuk bermain olahraga tersebut.</p><p><strong>3. Pemilihan Tim Beregu</strong></p><p>Pada permainan beregu, siswa sering kali memilih dan memilah anggota kelompoknya sesuai dengan yang dikehendaki. Akibatnya, ada siswa lain yang tidak memperoleh kelompok.</p><p>Persoalan tersebut dapat disebabkan karena kecenderungan <a rel="noopener noreferrer nofollow" class="components__StyledLink-sc-il899o-0 cMrVkU _918c86772 enabled" href="https://m.kumparan.com/topic/siswa">siswa</a> untuk memilih rekan terdekatnya yang memiliki keunggulan sebagai anggota kelompok. Dampaknya yaitu permainan berlangsung monoton dan timbulnya kesenjangan sosial antar tim.</p><p>Solusi yang bisa dilakukan untuk isi tersebut antara lain dengan pembagian kelompok sesuai keputusan guru dan lebih menanamkan sifat kekeluargaan serta kerukunan dengan seluruh anggota kelas.</p><p>Isu-isu sosial dalam PJOK dapat mengakibatkan dampak yang buruk bagi kualitas pembelajaran. Oleh karenanya, langkah evaluasi perlu dilakukan pengajar, sebagai upaya untuk menciptakan proses pembelajaran yang mendorong kemajuan dan pengembangan diri bagi setiap peserta didik. </p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-27 08:08:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142055641</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lidya Wiji Astitiningtyas</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142079357</link>
         <description><![CDATA[<p>Isu-isu yang sering terjadi : </p><ol><li><p>Perbedaan Gender</p></li><li><p>Memilih tim/ regu/kelompok</p></li><li><p>Pembulian / Perundungan antar anak didik</p></li><li><p>Body shaming</p></li><li><p>Pemilihan jenis olah raga</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-27 08:26:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142079357</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lidya Wiji Astitiningtyas</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142082639</link>
         <description><![CDATA[<p>Kebiasaan yang sering terjadi yaitu:  perbedaan gender, pemilihan tim regu dalam permainan dan perundungan terhadap bentuk atau fisik seseorang</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-27 08:28:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142082639</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lidya Wiji Astitiningtyas</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142087783</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Memberikan pemahaman tentang dampak dari pembulian / perudungan terhadap mental seseorang</p></li><li><p>Melakukan kolaborasi dengan teman sejawat</p></li><li><p>Mengenali karakteristik setiap peserta didik</p></li><li><p>Melakukan pendekatan secara individual kepada peserta didik</p></li><li><p>Adanya dukungan positif dari seluruh warga sekolah</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-27 08:32:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142087783</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142092570</link>
         <description><![CDATA[<p>Beberapa isu sosial yang terjadi dalam pelajaran PJOK di sekolah saya terutama di kelas yang saya ajar :</p><ol><li><p><strong>Perbedaan Minat Berdasarkan Gender</strong>: Seperti yang saya alami, peserta didik perempuan cenderung kurang berpartisipasi dalam kegiatan olahraga tertentu seperti sepak bola atau bola voli, karena mungkin mereka merasa olahraga tersebut lebih dominan dilakukan oleh laki-laki. Hal ini bisa menyebabkan kesenjangan dalam partisipasi dan keterlibatan antara laki-laki dan perempuan.</p></li><li><p><strong>Tekanan Sosial dan Penampilan</strong>: Banyak peserta didik, khususnya perempuan, mungkin merasa canggung atau tidak percaya diri saat berolahraga, terutama jika mereka merasa penampilan fisik mereka akan dinilai oleh teman sebaya. Ini bisa menjadi penghalang untuk berpartisipasi aktif.</p></li><li><p><strong>Perilaku Bullying</strong>: Dalam olahraga yang bersifat kompetitif, terkadang bisa muncul perilaku intimidasi atau perundungan, baik verbal maupun fisik, terutama terhadap anak yang kurang mahir dalam olahraga.</p></li><li><p><strong>Perbedaan Kemampuan Fisik</strong>: Peserta didik yang memiliki kemampuan fisik yang lebih lemah atau berbeda seringkali merasa diasingkan atau tidak diikutsertakan dalam kegiatan kelompok, yang dapat mempengaruhi rasa percaya diri dan partisipasi sosial mereka di sekolah.</p><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-27 08:36:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142092570</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rizki Firmansyah, S.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142104942</link>
         <description><![CDATA[<p>Beberapa isu sosial yang terjadi dalam pelajaran PJOK di sekolah, terutama di kelas yang saya ajar :</p><ol><li><p><strong>Perbedaan Minat Berdasarkan Gender</strong>: Seperti yang user alami, peserta didik perempuan cenderung kurang berpartisipasi dalam kegiatan olahraga tertentu seperti sepak bola atau basket, karena mungkin mereka merasa olahraga tersebut lebih dominan dilakukan oleh laki-laki. Hal ini bisa menyebabkan kesenjangan dalam partisipasi dan keterlibatan antara laki-laki dan perempuan.</p></li><li><p><strong>Tekanan Sosial dan Penampilan</strong>: Banyak peserta didik, khususnya perempuan, mungkin merasa canggung atau tidak percaya diri saat berolahraga, terutama jika mereka merasa penampilan fisik mereka akan dinilai oleh teman sebaya. Ini bisa menjadi penghalang untuk berpartisipasi aktif.</p></li><li><p><strong>Perilaku Bullying</strong>: Dalam olahraga yang bersifat kompetitif, terkadang bisa muncul perilaku intimidasi atau perundungan, baik verbal maupun fisik, terutama terhadap anak yang kurang mahir dalam olahraga.</p></li><li><p><strong>Stereotip dan Labeling</strong>: Ada stereotip dalam olahraga tertentu yang dapat membatasi anak-anak dalam mencoba hal baru. Misalnya, anak laki-laki diharapkan lebih baik dalam sepak bola, sementara anak perempuan cenderung tidak diminta untuk menunjukkan keterampilan mereka dalam olahraga fisik yang sama.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-27 08:45:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142104942</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rizki Firmansyah, S.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142117805</link>
         <description><![CDATA[<p>Ada beberapa kebiasaan yang sering muncul terhadap isu sosial dalam pelajaran PJOK di sekolah saya. Beberapa di antaranya adalah:</p><ol><li><p><strong>Norma Gender Tradisional</strong>: Di banyak daerah, masih ada norma sosial yang kuat terkait peran gender. Anak laki-laki sering didorong untuk aktif dalam olahraga fisik dan kompetitif, sementara anak perempuan mungkin didorong untuk terlibat dalam aktivitas yang lebih pasif atau yang dianggap “feminin”. Hal ini memperkuat stereotip bahwa olahraga seperti sepak bola atau basket adalah untuk anak laki-laki, dan ini tercermin dalam sikap mereka di sekolah.</p></li><li><p><strong>Kurangnya Perhatian terhadap Olahraga di Rumah</strong>: Banyak keluarga mungkin tidak menempatkan olahraga sebagai bagian penting dari gaya hidup. Jika anak-anak tumbuh di lingkungan di mana olahraga tidak diutamakan, mereka mungkin tidak memiliki dorongan atau minat yang kuat untuk berpartisipasi aktif di kelas PJOK.</p></li><li><p><strong>Pengaruh Lingkungan dan Media Sosial</strong>: Dalam beberapa kasus, anak-anak, terutama remaja perempuan, dipengaruhi oleh media sosial yang menekankan pentingnya penampilan fisik dibandingkan kesehatan fisik. Akibatnya, mereka mungkin merasa enggan untuk berpartisipasi dalam kegiatan fisik yang melibatkan banyak gerakan atau berkeringat karena khawatir dengan citra diri mereka di depan teman-teman.</p></li><li><p><strong>Kurangnya Model Peran (Role Models) Olahraga untuk Perempuan</strong>: Di beberapa daerah, anak-anak perempuan mungkin kurang melihat sosok panutan perempuan yang sukses dalam olahraga. Jika tokoh atlet perempuan kurang dipromosikan atau tidak terlihat dalam komunitas atau media, ini bisa menurunkan motivasi anak perempuan untuk ikut serta dalam olahraga.</p></li><li><p><strong>Kurangnya Edukasi tentang Manfaat Olahraga</strong>: Banyak orang tua dan masyarakat mungkin kurang memahami pentingnya aktivitas fisik bagi perkembangan anak. Ini bisa menyebabkan rendahnya dukungan dari rumah terhadap partisipasi aktif anak dalam olahraga. Jika olahraga hanya dianggap sebagai aktivitas “tambahan”, anak-anak juga tidak akan melihatnya sebagai sesuatu yang penting.</p></li><li><p><strong>Tekanan Akademis yang Tinggi</strong>: Di beberapa daerah, terutama yang memiliki tekanan akademis yang tinggi, olahraga mungkin dianggap tidak penting dibandingkan dengan mata pelajaran akademik lainnya. Anak-anak mungkin lebih didorong untuk berprestasi di bidang akademik dan mengabaikan kegiatan fisik.</p></li></ol><p>Faktor-faktor ini bisa mempengaruhi kebiasaan dan sikap anak-anak terhadap pelajaran PJOK di sekolah, yang pada akhirnya memicu munculnya berbagai isu sosial seperti kurangnya partisipasi aktif, perbedaan minat berdasarkan gender, dan ketidakadilan dalam partisipasi olahraga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-27 08:55:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142117805</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rizki Firmansyah, S.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142144000</link>
         <description><![CDATA[<p>Untuk menghadapi isu sosial dalam PJOK di sekolah, ada beberapa langkah yang dapat saya lakukan sebagai guru secara pribadi:</p><ol><li><p><strong>Mendorong Inklusi dan Partisipasi Aktif</strong>:</p><ul><li><p>Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua peserta didik, baik laki-laki maupun perempuan, agar mereka merasa terdorong untuk berpartisipasi aktif.saya bisa memberikan dorongan positif kepada mereka yang kurang percaya diri, terutama anak perempuan, sehingga mereka merasa dihargai dan diperhatikan.</p></li><li><p>Buat kegiatan yang menarik dan variatif yang sesuai dengan minat kedua gender, seperti senam, olahraga rekreasi, atau permainan yang membutuhkan kerjasama.</p></li></ul></li><li><p><strong>Menghilangkan Stereotip Gender</strong>:</p><ul><li><p>Secara aktif menentang stereotip gender yang membatasi partisipasi anak-anak dalam olahraga tertentu. Saya bisa memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik untuk mencoba berbagai jenis olahraga tanpa memandang gender.</p></li><li><p>Memberikan contoh peran (role model) atlet perempuan atau laki-laki yang berprestasi di bidang olahraga yang dianggap “tidak biasa” bagi gender mereka. Ini bisa membantu mengubah cara pandang peserta didik.</p></li></ul></li><li><p><strong>Memberikan Pendidikan tentang Manfaat Olahraga</strong>:</p><ul><li><p>Edukasi peserta didik tentang manfaat jangka panjang dari olahraga untuk kesehatan fisik dan mental. Jelaskan bahwa olahraga bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang menjaga kesehatan, kebugaran, dan kebahagiaan secara keseluruhan.</p></li><li><p>Dorong diskusi di kelas mengenai pentingnya olahraga dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk laki-laki maupun perempuan.</p></li></ul></li><li><p><strong>Menjadi Teladan</strong>:</p><ul><li><p>Sebagai guru, saya bisa menjadi teladan dengan menunjukkan antusiasme dan kecintaan terhadap olahraga. Ketika peserta didik melihat guru mereka aktif dan menikmati aktivitas fisik, mereka lebih cenderung meniru perilaku tersebut.</p></li></ul></li></ol><p>Dengan menerapkan strategi-strategi ini, saya bisa membantu mengurangi ketegangan sosial dalam kelas PJOK dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif serta positif bagi semua peserta didik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-27 09:12:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3142144000</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Setelah saya  pelajari modul 1.4 kita perlu mengingatkan pentingnya minat individu sangat bervariasi dan tidak selalu dapat di katagori kan berdasarkan gender, setiap orang memiliki keahlian yang unik dan dipengaruhi oleh banyak faktor</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3143287512</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-28 01:36:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3143287512</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Rifki</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3143327481</link>
         <description><![CDATA[<p>Stereotipe gender yang kuat seringkali membatasi partisipasi siswa dalam aktivitas olahraga tertentu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-28 02:48:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3143327481</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Rifki</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3143330301</link>
         <description><![CDATA[<p>Sejak dini, anak-anak seringkali dihadapkan pada pembagian olahraga yang kaku. Olahraga seperti sepak bola, basket, dan voli sering dianggap sebagai olahraga laki-laki, sementara olahraga seperti senam, tari, dan bulutangkis dianggap sebagai olahraga perempuan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-28 02:50:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3143330301</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3143330746</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Untuk mengatasi masalah ini, kita perlu:</strong></p><ul><li><p><strong>Mendorong kesetaraan gender:</strong> Menciptakan lingkungan belajar yang inklusif di mana semua siswa merasa dihargai dan memiliki kesempatan yang sama.</p></li><li><p><strong>Mengubah pola pikir:</strong> Mengubah persepsi tentang peran gender dalam olahraga dan mematahkan stereotipe yang ada.</p></li><li><p><strong>Menyediakan beragam pilihan olahraga:</strong> Menawarkan berbagai jenis olahraga yang menarik bagi semua siswa, tanpa memandang gender.</p></li><li><p><strong>Memberikan contoh peran model yang positif:</strong> Menampilkan atlet perempuan yang sukses sebagai contoh bagi siswa perempuan.</p></li><li><p><strong>Meningkatkan kesadaran guru dan pelatih:</strong> Memberikan pelatihan kepada guru dan pelatih tentang pentingnya kesetaraan gender dalam olahraga.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-28 02:51:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/wahyudiheriyanto96/qogcamrfpe82slw8/wish/3143330746</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
