<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Padlet memukau saya by ISNANIYAH ISNANIYAH</title>
      <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-09-18 02:59:35 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-09-18 05:05:09 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Armanda Wisara X_3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124746549</link>
         <description><![CDATA[<p>Berpikir sejarah adalah proses memahami dan menganalisis peristiwa masa lalu serta konteksnya. Berikut adalah beberapa konsep penting dalam berpikir sejarah:</p><p>1. <strong>Konteks Sejarah</strong>: Memahami bahwa setiap peristiwa terjadi dalam latar belakang sosial, politik, dan budaya tertentu.</p><p>2. <strong>Kausalitas</strong>: Menganalisis hubungan sebab-akibat antara peristiwa. Apa yang memicu peristiwa tertentu, dan apa dampaknya?</p><p>3. <strong>Perspektif</strong>: Menggali berbagai sudut pandang dari individu atau kelompok yang berbeda. Ini penting untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif.</p><p>4. <strong>Kritik Sumber</strong>: Mengkaji keaslian dan kredibilitas sumber sejarah untuk memahami bias dan tujuan penulis.</p><p>5. <strong>Kontekstualisasi</strong>: Menempatkan peristiwa dalam konteks yang lebih luas untuk melihat keterkaitannya dengan perkembangan sejarah lainnya.</p><p>6. <strong>Chronologi</strong>: Memahami urutan waktu dari peristiwa untuk melihat bagaimana perubahan terjadi seiring waktu.</p><p>Beberapa referensi yang bisa dijadikan acuan:</p><p>- "Historiografi: Sebuah Pengantar" oleh R. G. Collingwood</p><p>- "The History Manifesto" oleh Jo Guldi dan David Armitage</p><p>- "What is History?" oleh E. H. Carr</p><p>Buku-buku tersebut membahas berbagai aspek berpikir sejarah dan metodologi penelitian sejarah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:25:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124746549</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Konsep berpikir sejarah </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124746871</link>
         <description><![CDATA[<p>Dwi Wira Prasetya </p><p>X-3</p><p>Konsep berpikir sejarah dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: </p><p> </p><p>Konsep berpikir sinkronik</p><p>Mempelajari sejarah dengan ruang lingkup yang luas, tetapi terbatas pada waktu tertentu. Konsep ini berfokus pada aspek-aspek peristiwa, seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya. </p><p> </p><p>Konsep berpikir diakronis</p><p>Mempelajari sejarah dengan melihat suatu peristiwa dari rentang waktu. Konsep ini memanjang dalam waktu, tetapi terbatas dalam ruang. Konsep berpikir diakronis sering disebut juga dengan berpikir kronologis. </p><p> </p><p>Konsep berpikir periodisasi</p><p>Pengelompokkan peristiwa sejarah dalam suatu babak, masa, zaman, atau periode tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama. </p><p> </p><p>Selain itu, dalam literatur berbahasa Inggris, konsep berpikir sejarah juga disebut sebagai "The Five C's" (Lima “C”). Kelima konsep ini adalah: Change over time, Causlity, Context, Complexity, Contingency. </p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:26:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124746871</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tentang konsep berpikir sejarah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124747233</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: siti nur azizah</p><p>Kelas:X-3</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:26:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124747233</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124747447</link>
         <description><![CDATA[<p>Mia Amelia X-3</p><p>Berpikir sejarah adalah proses memahami dan menganalisis peristiwa masa lalu serta konteksnya. Berikut adalah beberapa konsep penting dalam berpikir sejarah:</p><p>1. <strong>Konteks Sejarah</strong>: Memahami bahwa setiap peristiwa terjadi dalam latar belakang sosial, politik, dan budaya tertentu.</p><p>2. <strong>Kausalitas</strong>: Menganalisis hubungan sebab-akibat antara peristiwa. Apa yang memicu peristiwa tertentu, dan apa dampaknya?</p><p>3. <strong>Perspektif</strong>: Menggali berbagai sudut pandang dari individu atau kelompok yang berbeda. Ini penting untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif.</p><p>4. <strong>Kritik Sumber</strong>: Mengkaji keaslian dan kredibilitas sumber sejarah untuk memahami bias dan tujuan penulis.</p><p>5. <strong>Kontekstualisasi</strong>: Menempatkan peristiwa dalam konteks yang lebih luas untuk melihat keterkaitannya dengan perkembangan sejarah lainnya.</p><p>6. <strong>Chronologi</strong>: Memahami urutan waktu dari peristiwa untuk melihat bagaimana perubahan terjadi seiring waktu.</p><p>Beberapa referensi yang bisa dijadikan acuan:</p><p>- "Historiografi: Sebuah Pengantar" oleh R. G. Collingwood</p><p>- "The History Manifesto" oleh Jo Guldi dan David Armitage</p><p>- "What is History?" oleh E. H. Carr</p><p>Buku-buku tersebut membahas berbagai aspek berpikir sejarah dan metodologi penelitian sejarah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:26:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124747447</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Syifa Enjelika Br Sembiring X³</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124747864</link>
         <description><![CDATA[<p>Secara mudahnya konsep berpikir sejarah dibagi menjadi dua pendekatan yaitu pendekatan berpikir sinkronik dan pendekatan berpikir diakronik. Keduanya memiliki konsep yang berbeda, namun sangat berguna untuk membantu analisis sebuah peristiwa yang telah terjadi di masa lalu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:27:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124747864</guid>
      </item>
      <item>
         <title>RANIA PURNAWAN SOERJIE X3 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124748199</link>
         <description><![CDATA[<p>Berpikir sejarah yang menyusun peristiwa secara teratur berdasarkan urutan waktu. Cara berpikir ini bertujuan untuk melatih seseorang berpikir secara berurutan dari awal hingga akhir peristiwa. Sejarah berkaitan dengan konsep waktu, ruang, dan periodesasi atau pembabakan zaman</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:27:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124748199</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Evita rabiya</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124748597</link>
         <description><![CDATA[<p>Konsep berpikir sejarah merupakan <strong>pendekatan guna memahami dan menganalisis peristiwa pada masa lalu</strong>. Nah, konsep berpikir sejarah ada dua, yakni sinkronik dan diakronik. Sinkronik dan diakronik adalah dua konsep yang digunakan untuk mempelajari sejarah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:27:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124748597</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Syifa Enjelika Br Sembiring X³</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124748693</link>
         <description><![CDATA[<p>Secara mudahnya konsep berpikir sejarah dibagi menjadi dua pendekatan yaitu <strong>pendekatan berpikir sinkronik dan pendekatan berpikir diakronik</strong>. Keduanya memiliki konsep yang berbeda, namun sangat berguna untuk membantu analisis sebuah peristiwa yang telah terjadi di masa lalu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:28:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124748693</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Leony San Agustina </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124748854</link>
         <description><![CDATA[<p>Konsep berpikir sejarah merupakan pendekatan guna memahami dan menganalisis peristiwa pada masa lalu. Nah, konsep berpikir sejarah ada dua, yakni sinkronik dan diakronik. Sinkronik dan diakronik adalah dua konsep yang digunakan untuk mempelajari sejarah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:28:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124748854</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Syifa Enjelika Br Sembiring X³</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124749102</link>
         <description><![CDATA[<p>Secara mudahnya konsep berpikir sejarah dibagi menjadi dua pendekatan yaitu <strong>pendekatan berpikir sinkronik dan pendekatan berpikir diakronik</strong>. Keduanya memiliki konsep yang berbeda, namun sangat berguna untuk membantu analisis sebuah peristiwa yang telah terjadi di masa lalu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:28:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124749102</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Leony San Agustina </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124749681</link>
         <description><![CDATA[<p>Konsep berpikir sejarah merupakan <strong>pendekatan guna memahami dan menganalisis peristiwa pada masa lalu</strong>. Nah, konsep berpikir sejarah ada dua, yakni sinkronik dan diakronik. Sinkronik dan diakronik adalah dua konsep yang digunakan untuk mempelajari sejarah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:29:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124749681</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Konsep berpikir sejarah </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124750916</link>
         <description><![CDATA[<p>Dwi Wira Prasetya </p><p>X-3</p><p>Konsep berpikir sejarah dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: </p><p> </p><p>Konsep berpikir sinkronik</p><p>Mempelajari sejarah dengan ruang lingkup yang luas, tetapi terbatas pada waktu tertentu. Konsep ini berfokus pada aspek-aspek peristiwa, seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya. </p><p> </p><p>Konsep berpikir diakronis</p><p>Mempelajari sejarah dengan melihat suatu peristiwa dari rentang waktu. Konsep ini memanjang dalam waktu, tetapi terbatas dalam ruang. Konsep berpikir diakronis sering disebut juga dengan berpikir kronologis. </p><p> </p><p>Konsep berpikir periodisasi</p><p>Pengelompokkan peristiwa sejarah dalam suatu babak, masa, zaman, atau periode tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama. </p><p> </p><p>Selain itu, dalam literatur berbahasa Inggris, konsep berpikir sejarah juga disebut sebagai "The Five C's" (Lima “C”). Kelima konsep ini adalah: Change over time, Causlity, Context, Complexity, Contingency. </p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:30:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124750916</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Referensi tentang konsep berpikir sejarah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124751256</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Nor Halimah</p><p>Kelas : X-3</p><p><br/></p><p>Konsep berpikir sejarah merupakan pendekatan guna memahami dan menganalisis peristiwa pada masa lalu. Nah, konsep berpikir sejarah ada dua, yakni sinkronik dan diakronik.</p><p><br/></p><p>Sinkronik dan diakronik adalah dua konsep yang digunakan untuk mempelajari sejarah. Sinkronik berarti konsep mempelajari sejarah yang sangat luas dengan ruang, tetapi memiliki keterbatasan dalam hal waktu, sedangkan diakronik berarti konsep mempelajari sejarah berdasarkan urutan waktu kejadian sejarah tersebut atau sesuai urutan kronologi peristiwa itu terjadi.</p><p><br/></p><p>Penelitian sinkronik dalam ilmu linguistik digunakan untuk membandingkan bahasa satu dengan yang lain dengan berfokus kepada satu kurun waktu atau satu masa secara mendatar, sesuai dengan waktu saat mempelejari bahasa tersebut, sedangkan penelitian diakronik dalam ilmu linguistik digunakan untuk melihat perbandingan atau perkembangan bahasa pada dua kurun waktu yang berbeda secara menurun.</p><p><br/></p><p>Dalam konsep berpikir, seseorang tentu memiliki cara berpikir masing-masing. Salah satunya adalah cara berpikir atau metode berpikir diakronik dan sinkronik. Metode berpikir diakronik sendiri biasanya menjadi metode berpikir yang dibutuhkan seseorang dalam kaitannya dengan memahami ilmu mengenai ilmu sejarah.</p><p><br/></p><p>Hal ini karena dalam memahami ilmu sejarah, seseorang membutuhkan daya untuk menghafalkan waktu, nama, dan tempat yang terkandung di dalam suatu ilmu sejarah. Kemudian, hal tersebut mengajak kalian dapat merasakan bagaimana pengalaman dalam belajar dan memahami peristiwa di masa lalu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:30:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124751256</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dwi Wira Prasetya X-3 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124752074</link>
         <description><![CDATA[<p>Konsep berpikir sejarah dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: </p><p> </p><p>Konsep berpikir sinkronik</p><p>Mempelajari sejarah dengan ruang lingkup yang luas, tetapi terbatas pada waktu tertentu. Konsep ini berfokus pada aspek-aspek peristiwa, seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya. </p><p> </p><p>Konsep berpikir diakronis</p><p>Mempelajari sejarah dengan melihat suatu peristiwa dari rentang waktu. Konsep ini memanjang dalam waktu, tetapi terbatas dalam ruang. Konsep berpikir diakronis sering disebut juga dengan berpikir kronologis. </p><p> </p><p>Konsep berpikir periodisasi</p><p>Pengelompokkan peristiwa sejarah dalam suatu babak, masa, zaman, atau periode tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama. </p><p> </p><p>Selain itu, dalam literatur berbahasa Inggris, konsep berpikir sejarah juga disebut sebagai "The Five C's" (Lima “C”). Kelima konsep ini adalah: Change over time, Causlity, Context, Complexity, Contingency. </p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:31:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124752074</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Satrio X-3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124752618</link>
         <description><![CDATA[<p>Berpikir sejarah yang mempelajari sejarah dalam kurun waktu tertentu, tetapi dengan ruang lingkup yang lebih luas. Cara berpikir ini mengutamakan struktur dalam suatu peristiwa.Berpikir sejarah yang mempelajari sejarah dalam kurun waktu tertentu, tetapi dengan ruang lingkup yang lebih luas. Cara berpikir ini mengutamakan struktur dalam suatu peristiwa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:31:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124752618</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Musriyatul Zahraeni X-3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124752664</link>
         <description><![CDATA[<p>Quipper Blog - Blog Pendidikan – Referensi untuk Siswa &amp; Guru</p><p>Mapel Sejarah</p><p>Perdalam Konsep Berpikir Sejarah Khusus Buat Kamu yang Kelas 10!</p><p> efridapuspitasariOktober 22, 2019</p><p>konsep berpikir sejarah</p><p><br/></p><p>Aloha, Quipperian! Kali ini ketemu lagi di Quipper Blog dalam pembahasan konsep berpikir sejarah, nih. Ayo, siapa yang selama ini kurang suka sama pelajaran Sejarah karena isinya penuh sama hafalan nama, tanggal, atau peristiwa? Nah, kalau kamu mau bikin pelajaran Sejarah disenangi, sekarang saatnya ubah mindset kamu, Quipperian.</p><p><br/></p><p>Pelajaran Sejarah ini enggak cuma sebatas informasi tentang masa lalu, tapi juga bagaimana kita menginterpretasikan hal-hal bersejarah tersebut. Sebab, yang namanya sejarah biasanya enggak cuma sekadar ‘teks yang terlihat’, tapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor tak terlihat seperti latar belakang budaya pada masanya, nilai sosial yang dijunjung pada masanya, dan lain-lain.</p><p><br/></p><p>Untuk itu, biar kamu bisa jadi ‘ahli sejarah’ atau at least mirip-mirip dengan sejarawan, kamu harus bisa menerapkan konsep berpikir sejarah dalam kehidupan sehari-hari, nih. Secara singkat, konsep berpikir sejarah ada 4, yakni kronologis, periodisasi, diakronis, dan sinkronis.</p><p><br/></p><p>Mau tahu pembahasannya satu per satu? Kuy, langsung simak di bawah ini!</p><p><br/></p><p>Daftar Isi Sembunyikan</p><p>Konsep Berpikir Kronologis</p><p>Konsep Berpikir Periodisasi</p><p>Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo</p><p>Mohammad Yamin</p><p>H.J. de Graaf</p><p>Konsep Berpikir Diakronis</p><p>Konsep Berpikir Sinkronis</p><p>Konsep Berpikir Kronologis</p><p>Secara sempit, kronologi bisa diartikan sebagai urutan waktu kejadian. Untuk itu, konsep berpikir kronologis menuntut kita untuk bisa berpikir secara runtut, teratur, sesuai dengan urutan waktu dan tidak melompat-lompat atau berbalik (anakronis). </p><p><br/></p><p>Dengan konsep berpikir kronologis, sejarah bisa memberikan gambaran utuh suatu peristiwa sesuai dengan urutan waktu kejadian. Dengan kata lain, kronologi bisa membantu merekonstruksi kembali suatu peristiwa bersejarah sesuai dengan urutan waktunya. </p><p><br/></p><p>Nah, dalam kehidupan sehari-hari, konsep berpikir kronologis ini sangat dibutuhkan untuk memecahkan masalah. Kalau kamu enggak berpikir secara runtut dan berkesinambungan, tentu saja kamu enggak bisa memecahkan masalah atau menemukan solusi yang tepat.</p><p><br/></p><p>Konsep Berpikir Periodisasi</p><p>Periodisasi adalah pembabakan waktu yang merupakan salah satu bentuk penulisan sejarah guna memahami rangkaian peristiwa sejarah. Catatan periodisasi sifatnya subjektif (tergantung terhadap tulisan sejarawan) dalam kerangka penulisannya.</p><p><br/></p><p>Menurut Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, periodisasi dibuat berdasarkan derajat integrasi yang pernah dicapai Indonesia pada masa lalu dan dipengaruhi oleh faktor ekonomi yang memengaruhi perkembangan budaya, kultur, politik, dan sosial di Indonesia, sehingga kita bisa membuat periodisasi yang bisa dibedakan jadi 2, yaitu pengaruh Hindu dan pengaruh Islam.</p><p><br/></p><p>Biar kamu enggak bingung, berikut ini merupakan contoh periodisasi sejarah Indonesia menurut beberapa tokoh.</p><p><br/></p><p>Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo</p><p>Prasejarah</p><p>Zaman Kuno</p><p>1)  Masa kerajaan-kerajaan tertua.</p><p>2)  Masa Sriwijaya (dari abad VII – XIII atau XIV).</p><p>3)  Masa Majapahit (dari abad XIV – XV).</p><p>Zaman Baru</p><p>1)  Masa Aceh, Mataram, Makassar/Ternate/Tidore (sejak abad XVI).</p><p>2)  Masa perlawanan terhadap Imperialisme Barat (abad XIX).</p><p>3)  Masa pergerakan nasional (abad XX).</p><p>Masa Republik Indonesia (sejak tahun 1945)</p><p>Mohammad Yamin</p><p>Zaman Prasejarah sampai tahun 0.</p><p>Zaman Protosejarah, tahun 0 sampai abad ke-4.</p><p>Zaman Nasional, dari tahun abad ke-4 sampai abad ke-6.</p><p>Zaman Internasional, yaitu abad ke-16 sampai kira-kira tahun 1900.</p><p>Abad Proklamasi mulai kira-kira tahun 1900.</p><p>H.J. de Graaf</p><p>Dalam buku yang berjudul Geschiedenis van Indonesia tahun 1949, H.J. de Graaf menuliskan periodisasi sejarah Indonesia sebagai berikut.</p><p><br/></p><p>Orang Indonesia dan Asia Tenggara (sampai 1650) yang meliputi:</p><p>1)  Zaman Hindu;</p><p>2)  Zaman penyiaran Islam dan berdirinya kerajaan Islam.</p><p>Bangsa Barat di Indonesia (1511-1800).</p><p>Orang Indonesia pada zaman VOC (1600-1800).</p><p>Organisasi VOC di luar Indonesia.</p><p>Orang Indonesia dalam lingkungan Hindia Belanda (sesudah 1800) diakhiri dengan pemerintahan Ratu Wilhelmina.</p><p>Konsep Berpikir Diakronis</p><p>Diakronis secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, yakni dia dan khronos. Dia punya arti ‘melewati’ atau ‘melintas’, sedangkan khronos artinya ‘perjalanan waktu’. Dengan begitu, kita bisa mendefinisikan diakronis sebagai peristiwa yang dalam prosesnya melewati perjalanan waktu karena subjek dalam sejarah berhubungan dengan segala sesuatu dalam sudut pandang waktu. </p><p><br/></p><p>Dalam konsep berpikir sejarah, diakronis punya makna terhadap suatu peristiwa dengan cara penelusuran di masa lalu. Sebuah peristiwa sejarah tidak berdiri sendiri, tapi pasti dibarengi dengan peristiwa sebelumnya atau yang kita kenal dengan sifat kausalitas (sebab-akibat). Jadi, pola berpikir diakronis sangat mementingkan proses terjadi sebuah peristiwa.</p><p><br/></p><p>Melalui pendekatan diakronis, sejarawan bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan variabel pada sesuatu hingga memungkinkan penyebab sebuah peristiwa yang lahir dari peristiwa sebelumnya untuk ditafsirkan. Misalnya, dalam menjelaskan peristiwa menjelang Sumpah Pemuda, Oktober 1928, harus dijelaskan pula peristiwa-peristiwa yang jadi latar belakangnya.</p><p><br/></p><p>Konsep Berpikir Sinkronis</p><p>Konsep berpikir yang satu ini ialah memahami sebuah peristiwa dengan mengabaikan aspek perkembangannya dan lebih memperluas ruang dalam peristiwa tersebut. Cara berpikir sinkronis sangat memengaruhi kelahiran sejarah baru yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu-ilmu sosial. Pengaruh ini bisa digolongkan dalam 3 jenis, yakni konsep, teori, dan permasalahan.</p><p><br/></p><p>Contoh konsep berpikir sinkronis ialah pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang dijelaskan dengan menggunakan aspek sosial, ekonomi, dan politik. Jadi, dalam mempelajari sejarah, konsep berpikir sinkronis lebih meneliti kepada gejala-gejala yang meluas pada ruang, tapi dalam waktu yang terbatas. </p><p><br/></p><p>Wah, gimana Quipperian, sudah cukup jelas belum pembahasan Quipper Blog mengenai konsep berpikir sejarah di atas? Tenang, kalau masih belum jelas kamu bisa banget kok lanjut belajar bareng Quipper Video. Di sana masih banyak penjelasan lewat video para tutor kece, rangkuman, dan latihan soal berbagai materi mata pelajaran. Mudah-mudahan artikel ini membantu kamu dan sampai jumpa di artikel lainnya, ya!</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:31:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124752664</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Rehan X-3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124753139</link>
         <description><![CDATA[<p>Sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan, Sejarah memerlukan cara berpikir atau konsep berpikir untuk menganalisis peristiwa di masa lampau. Konsep berpikir Sejarah di antaranya adalah :</p><p>1. Diakronis</p><p>Diakronis adalah konsep yang menggunakan sifat Sejarah sebagai sesuatu yang memanjang dalam waktu, tetapi memiliki batasan ruang. Contohnya ialah menjelaskan siapa saja presiden Indonesia dari merdeka hingga sekarang.</p><p>2. Kronologis</p><p>Kronologis adalah konsep berpikir dengan cara menyusun peristiwa Sejarah dengan teratur sesuai urutan waktu. Contohnya ialah peristiwa proklamasi Indonesia diawali dengan dibawanya Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.</p><p>3. Periodisasi</p><p>Periodisasi adalah cara berpikir Sejarah dengan mengelompokkan peristiwa-peristiwa Sejarah ke suatu periode atau zaman sesuai ciri-ciri yang ada. Contohnya adalah periodisasi dinasti di Turki.</p><p>4. Sinkronis</p><p>Sinkronis ialah cara berpikir dengan mempelajari peristiwa-peristiwa Sejarah dalam sebuah waktu, namun dengan ruang lingkup yang lebih luas. Dalam cara berpikir ini, sejarawan harus mengkaji peristiwa tersebut bersama aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya yang menyertainya. Contohnya ketika menganalisis pengaruh masuknya Belanda terhadap aspek-aspek tersebut.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:32:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124753139</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad satrio</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124754128</link>
         <description><![CDATA[<p>Berpikir sejarah yang mempelajari sejarah dalam kurun waktu tertentu, tetapi dengan ruang lingkup yang lebih luas. Cara berpikir ini mengutamakan struktur dalam suatu peristiwa.Berpikir sejarah yang mempelajari sejarah dalam kurun waktu tertentu, tetapi dengan ruang lingkup yang lebih luas. Cara berpikir ini mengutamakan struktur dalam suatu peristiwa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:33:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124754128</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Selvi Aulia X_3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124755004</link>
         <description><![CDATA[<p>Konsep berpikir sejarah mengacu pada cara individu memahami, menafsirkan, dan mengevaluasi peristiwa masa lalu untuk memberi makna pada sejarah. Pemahaman ini tidak hanya tentang menghafal fakta-fakta sejarah, tetapi lebih kepada kemampuan menganalisis peristiwa dalam konteks waktu, tempat, dan kondisi sosial-politik yang melingkupinya. Beberapa elemen penting dalam berpikir sejarah meliputi:</p><p><br/></p><p>1. Kontinuitas dan perubahan: Memahami bagaimana beberapa aspek dari masa lalu berkelanjutan dan berubah seiring waktu.</p><p>   </p><p>2. Sebab dan akibat: Menilai bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi, serta dampak yang dihasilkannya terhadap peristiwa selanjutnya.</p><p><br/></p><p>3. Kontekstualisasi: Memahami peristiwa sejarah dalam konteks waktu dan tempatnya, dengan mempertimbangkan faktor-faktor politik, sosial, budaya, dan ekonomi yang ada.</p><p><br/></p><p>4. Interpretasi dan narasi: Menyadari bahwa sejarah adalah subjek interpretasi, di mana satu peristiwa bisa ditafsirkan dengan cara yang berbeda oleh sejarawan atau oleh kelompok masyarakat tertentu.</p><p><br/></p><p>5. Sumber sejarah: Menilai sumber-sumber yang digunakan dalam studi sejarah, baik itu sumber primer (dokumen, artefak, saksi mata) maupun sumber sekunder (analisis dan tulisan sejarawan), dan memahami kelebihan serta keterbatasan sumber-sumber ini.</p><p><br/></p><p>6. Empati sejarah: Mengembangkan kemampuan untuk memahami perspektif dan pengalaman orang-orang dari masa lalu, dengan mempertimbangkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku pada zamannya.</p><p><br/></p><p>Berpikir sejarah melibatkan pemikiran kritis, interpretatif, dan reflektif untuk memahami peristiwa masa lalu dan bagaimana hal tersebut memengaruhi dunia masa kini.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:34:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124755004</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Siti nur azizah X-3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124756156</link>
         <description><![CDATA[<p>Konsep Berpikir Sejarah – Belajar sejarah memang begitu mengasyikkan. Bahkan dalam belajar sejarah bisa dengan metode pendekatan berpikir lho. Banyak sejarawan yang menerapkan konsep berpikir sejarah untuk analisis suatu peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu.</p><p>Tentunya menggunakan pendekatan berpikir sejarah pada analisis peristiwa yang terjadi pada masa lalu memberikan banyak sekali keuntungan. Beberapa diantaranya adalah mendapatkan informasi yang lebih lengkap hingga lebih runtut urutan waktunya.</p><p>Nah jika dilihat dari dua keuntungan menggunakan sebuah pendekatan berpikir sejarah. Tentunya akan lebih asik lagi jika kita belajar bersama tentang semua yang berkaitan dengan konsep berpikir sejarah dengan menggunakan informasi dalam artikel ini.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:35:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124756156</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jibrin sulaiman</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124757934</link>
         <description><![CDATA[<p>Ilustrasi mempelajari peristiwa sejarah. Foto: Pixabay</p><p>ADVERTISEMENT</p><p>Tidak semua peristiwa yang terjadi pada <strong>masa lampau</strong> merupakan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/sejarah">sejarah</a>. Suatu peristiwa dapat dikatakan sebagai sejarah apabila peristiwa tersebut membawa perubahan bagi masyarakat. Misalnya, perubahan hidup manusia dari masa praaksara ke masa aksara.</p><p>ADVERTISEMENT</p><p>Menurut buku <em>Sejarah Indonesia Paket C Tingkatan V Modul Tema 1</em> karya Sulaiman Hasan dan Anik Irawati, S.Pd (2017: 12), <strong>ilmu sejarah </strong>diperlukan agar seseorang memahami berbagai peristiwa dan pengalaman yang terjadi di masa lampau. Sebab pada dasarnya, apa yang terjadi di masa kini merupakan hasil dari rentetan kejadian dari masa-masa sebelumnya.</p><p>Selain itu, Ir Soekarno juga mengingatkan kepada masyarakat tentang pentingnya mempelajari sejarah melalui slogannya “Jas Merah” atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.</p><p>Untuk menyusun sebuah sejarah juga tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Sejarawan harus bisa menerapkan konsep berpikir tertentu sehingga peristiwa sejarah dapat dikaji secara sistematis dan menyeluruh.</p><p>Ilustrasi menyusun peristiwa sejarah menggunakan konsep berpikir tertentu. Foto: Pixabay</p><p>Konsep Berpikir Sejarah</p><p>Dikutip dari buku <em>Konsep Dasar Berpikir Sejarah Kelas X/Ganjil </em>tulisan Linda Ainiyah, <strong>konsep berpikir sejarah</strong> dibagi menjadi empat macam, yaitu:</p><p>ADVERTISEMENT</p><p><strong>1. Konsep Berpikir Kronologis</strong></p><p>Mempelajari peristiwa sejarah akan selalu berkaitan dengan waktu. Upaya menyusun peristiwa sejarah secara teratur berdasarkan urutuan waktu disebut <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/kronologi">kronologi</a> sejarah.</p><p>Pnyusunan secara kronologi harus dilakukan untuk menghindari terjadinya kerancuan dalam pembabakan waktu sejarah, merekonstruksi masa lalu berdasarkan urutan waktu, serta menghubungkan dan membandingkan kejadian sejarah di tempat lain dalam waktu yang sama.</p><p>Contoh kronologi sejarah adalah lahirnya sebuah kerajaan yang diawali dengan peristiwa perebutan kekuasaan atau pemberontakan. Kelompok yang memenangkan pemberontakan tersebut akan mendirikan kerajaan baru.</p><p>Kemudian secara kronologis digambarkan perkembangan kerajaan baru tersebut. Mulai dari siapa saja yang menjadi raja, peristiwa-peristiwa penting apa saja yang terjadi selama kerajaan itu berdiri, dan bagaimana kerajaan itu berakhir.</p><p>ADVERTISEMENT</p><p><strong>2. Konsep Berpikir Diakronis</strong></p><p>Sejarah melihat suatu peristiwa dari rentang waktu. Oleh sebab itu, sejarah bersifat diakronis yang artinya memanjang dalam waktu, tetapi terbatas dalam ruang.</p><p>Ilmu sejarah lebih mementingkan proses. Ilmu sejarah berusaha menjalankan proses transformasi yang terus berlangsung dari waktu ke waktu dalam kehidupan masyarakat.</p><p>Contohnya adalah masa Demokrasi Liberal pada tahun 1950-1959. Dalam catatan sejarah, di antara tahun tersebut terjadi tujuh kali pergantian kabinet, yaitu:</p><ol><li><p>Kabinet Natsir (6 September 1050- 21 Maret 1951)</p></li><li><p>Kabinet Sukiman (27 April 1951 - 3 April 1952)</p></li><li><p>Kabinet Wilopo (3 April 1952 - 3 Juli 1953)</p></li><li><p>Kabinet Ali Sastroamidjojo (31 Juli 1953 - 12 Agustus 1955)</p></li><li><p>Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 - 3 Maret 1956)</p></li><li><p>Kabinet Ali II (20 Maret 1956 - 4 Maret 1957)</p></li><li><p>Kabinet Djuanda (9 April 1957 - 5 Juli 1959)</p></li></ol><p>ADVERTISEMENT</p><p>Untuk menguraikan peristiwa sejarah di atas dapat direkonstruksi dengan cara berpikir diakronis, yaitu memanjangkan waktu terjadinya <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/demokrasi">Demokrasi</a> Liberal sejak 1950 hingga berakhir dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.</p><p>Ilustrasi peristiwa sejarah yang dibuat dengan konsep berpikir tertentu. Foto: Pixabay</p><p><strong>3. Konsep Berpikir Sinkronis</strong></p><p>Berpikir sinkronik artinya mempelajari sejarah dalam kurun waktu tertentu, tetapi dengan ruang lingkup yang lebih luas. Sejarawan dituntut untuk menerangkan suatu peristiwa secara mendalam dengan mengkaji aspek politik, ekonomi, dan sosial budayanya.</p><p>Konsep ini memandang adanya keselarasan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lain. Jadi, dengan berpikir sinkronik, seseorang dapat mempelajari peristiwa secara mendetail.</p><p>Misalnya ketika mempelajari Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Secara otomatis, seseorang juga akan mengetahui bahwa Sriwijaya mampu membentuk armada angkatan laut terkuat sekaligus mengawasi perairan di Nusantara. Kekuatan militer inilah yang menjadi jaminan keamanan bagi para pedagang di wilayah tersebut.</p><p>ADVERTISEMENT</p><p><strong>4. Konsep Berpikir Periodisasi</strong></p><p>Periodisasi adalah pengelompokkan peristiwa sejarah dalam suatu babak, masa, zaman, atau periode tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama. Ini berbeda dengan kronologi yang merupakan urutan waktu terjadinya peristiwa dari yang paling awal hingga paling akhir.</p><p>Salah satu contoh periodisasi adalah sebagai berikut:</p><ol><li><p><strong>Perodisasi Dinasti-Dinasti di China</strong></p></li></ol><ul><li><p>Dinasti Shang: 1766 SM - 1122 SM</p></li><li><p>Dinasti Chou: 1122 SM - 255 SM</p></li><li><p>Dinasti Chin: 255 SM - 205 SM</p></li><li><p>Dinasti Han: 205 SM - 211 SM</p></li><li><p>Dinasti Tang: 618 - 960</p></li><li><p>Dinasti Sung: 960 - 1279</p></li><li><p>Dinasti Mongol: 1279 - 1369</p></li><li><p>Dinasti Ming: 1369 - 1642</p></li><li><p>Dinasti Manchu: 1644 - 1911</p></li></ul><p>(VIO)</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:37:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124757934</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jibri. Sulaiman</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124759356</link>
         <description><![CDATA[<p>Ilustrasi mempelajari peristiwa sejarah. Foto: Pixabay</p><p>ADVERTISEMENT</p><p>Tidak semua peristiwa yang terjadi pada <strong>masa lampau</strong> merupakan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/sejarah">sejarah</a>. Suatu peristiwa dapat dikatakan sebagai sejarah apabila peristiwa tersebut membawa perubahan bagi masyarakat. Misalnya, perubahan hidup manusia dari masa praaksara ke masa aksara.</p><p>ADVERTISEMENT</p><p>Menurut buku <em>Sejarah Indonesia Paket C Tingkatan V Modul Tema 1</em> karya Sulaiman Hasan dan Anik Irawati, S.Pd (2017: 12), <strong>ilmu sejarah </strong>diperlukan agar seseorang memahami berbagai peristiwa dan pengalaman yang terjadi di masa lampau. Sebab pada dasarnya, apa yang terjadi di masa kini merupakan hasil dari rentetan kejadian dari masa-masa sebelumnya.</p><p>Selain itu, Ir Soekarno juga mengingatkan kepada masyarakat tentang pentingnya mempelajari sejarah melalui slogannya “Jas Merah” atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.</p><p>Untuk menyusun sebuah sejarah juga tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Sejarawan harus bisa menerapkan konsep berpikir tertentu sehingga peristiwa sejarah dapat dikaji secara sistematis dan menyeluruh.</p><p>Ilustrasi menyusun peristiwa sejarah menggunakan konsep berpikir tertentu. Foto: Pixabay</p><p>Konsep Berpikir Sejarah</p><p>Dikutip dari buku <em>Konsep Dasar Berpikir Sejarah Kelas X/Ganjil </em>tulisan Linda Ainiyah, <strong>konsep berpikir sejarah</strong> dibagi menjadi empat macam, yaitu:</p><p>ADVERTISEMENT</p><p><strong>1. Konsep Berpikir Kronologis</strong></p><p>Mempelajari peristiwa sejarah akan selalu berkaitan dengan waktu. Upaya menyusun peristiwa sejarah secara teratur berdasarkan urutuan waktu disebut <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/kronologi">kronologi</a> sejarah.</p><p>Pnyusunan secara kronologi harus dilakukan untuk menghindari terjadinya kerancuan dalam pembabakan waktu sejarah, merekonstruksi masa lalu berdasarkan urutan waktu, serta menghubungkan dan membandingkan kejadian sejarah di tempat lain dalam waktu yang sama.</p><p>Contoh kronologi sejarah adalah lahirnya sebuah kerajaan yang diawali dengan peristiwa perebutan kekuasaan atau pemberontakan. Kelompok yang memenangkan pemberontakan tersebut akan mendirikan kerajaan baru.</p><p>Kemudian secara kronologis digambarkan perkembangan kerajaan baru tersebut. Mulai dari siapa saja yang menjadi raja, peristiwa-peristiwa penting apa saja yang terjadi selama kerajaan itu berdiri, dan bagaimana kerajaan itu berakhir.</p><p>ADVERTISEMENT</p><p><strong>2. Konsep Berpikir Diakronis</strong></p><p>Sejarah melihat suatu peristiwa dari rentang waktu. Oleh sebab itu, sejarah bersifat diakronis yang artinya memanjang dalam waktu, tetapi terbatas dalam ruang.</p><p>Ilmu sejarah lebih mementingkan proses. Ilmu sejarah berusaha menjalankan proses transformasi yang terus berlangsung dari waktu ke waktu dalam kehidupan masyarakat.</p><p>Contohnya adalah masa Demokrasi Liberal pada tahun 1950-1959. Dalam catatan sejarah, di antara tahun tersebut terjadi tujuh kali pergantian kabinet, yaitu:</p><ol><li><p>Kabinet Natsir (6 September 1050- 21 Maret 1951)</p></li><li><p>Kabinet Sukiman (27 April 1951 - 3 April 1952)</p></li><li><p>Kabinet Wilopo (3 April 1952 - 3 Juli 1953)</p></li><li><p>Kabinet Ali Sastroamidjojo (31 Juli 1953 - 12 Agustus 1955)</p></li><li><p>Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 - 3 Maret 1956)</p></li><li><p>Kabinet Ali II (20 Maret 1956 - 4 Maret 1957)</p></li><li><p>Kabinet Djuanda (9 April 1957 - 5 Juli 1959)</p></li></ol><p>ADVERTISEMENT</p><p>Untuk menguraikan peristiwa sejarah di atas dapat direkonstruksi dengan cara berpikir diakronis, yaitu memanjangkan waktu terjadinya <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/demokrasi">Demokrasi</a> Liberal sejak 1950 hingga berakhir dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.</p><p>Ilustrasi peristiwa sejarah yang dibuat dengan konsep berpikir tertentu. Foto: Pixabay</p><p><strong>3. Konsep Berpikir Sinkronis</strong></p><p>Berpikir sinkronik artinya mempelajari sejarah dalam kurun waktu tertentu, tetapi dengan ruang lingkup yang lebih luas. Sejarawan dituntut untuk menerangkan suatu peristiwa secara mendalam dengan mengkaji aspek politik, ekonomi, dan sosial budayanya.</p><p>Konsep ini memandang adanya keselarasan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lain. Jadi, dengan berpikir sinkronik, seseorang dapat mempelajari peristiwa secara mendetail.</p><p>Misalnya ketika mempelajari Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Secara otomatis, seseorang juga akan mengetahui bahwa Sriwijaya mampu membentuk armada angkatan laut terkuat sekaligus mengawasi perairan di Nusantara. Kekuatan militer inilah yang menjadi jaminan keamanan bagi para pedagang di wilayah tersebut.</p><p>ADVERTISEMENT</p><p><strong>4. Konsep Berpikir Periodisasi</strong></p><p>Periodisasi adalah pengelompokkan peristiwa sejarah dalam suatu babak, masa, zaman, atau periode tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama. Ini berbeda dengan kronologi yang merupakan urutan waktu terjadinya peristiwa dari yang paling awal hingga paling akhir.</p><p>Salah satu contoh periodisasi adalah sebagai berikut:</p><ol><li><p><strong>Perodisasi Dinasti-Dinasti di China</strong></p></li></ol><ul><li><p>Dinasti Shang: 1766 SM - 1122 SM</p></li><li><p>Dinasti Chou: 1122 SM - 255 SM</p></li><li><p>Dinasti Chin: 255 SM - 205 SM</p></li><li><p>Dinasti Han: 205 SM - 211 SM</p></li><li><p>Dinasti Tang: 618 - 960</p></li><li><p>Dinasti Sung: 960 - 1279</p></li><li><p>Dinasti Mongol: 1279 - 1369</p></li><li><p>Dinasti Ming: 1369 - 1642</p></li><li><p>Dinasti Manchu: 1644 - 1911</p></li></ul><p>(VIO)</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:38:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124759356</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ririn apriani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124771136</link>
         <description><![CDATA[<p>Konsep berpikir sejarah dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: </p><p> </p><p>Konsep berpikir sinkronik</p><p>Mempelajari sejarah dengan ruang lingkup yang luas, tetapi terbatas pada waktu tertentu. Konsep ini berfokus pada aspek-aspek peristiwa, seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya. </p><p> </p><p>Konsep berpikir diakronis</p><p>Mempelajari sejarah dengan melihat suatu peristiwa dari rentang waktu. Konsep ini memanjang dalam waktu, tetapi terbatas dalam ruang. Konsep berpikir diakronis sering disebut juga dengan berpikir kronologis. </p><p> </p><p>Konsep berpikir periodisasi</p><p>Pengelompokkan peristiwa sejarah dalam suatu babak, masa, zaman, atau periode tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama. </p><p> </p><p>Secara mudahnya konsep berpikir sejarah dibagi menjadi dua pendekatan yaitu pendekatan berpikir sinkronik dan pendekatan berpikir diakronik. Keduanya memiliki konsep yang berbeda, namun sangat berguna untuk membantu analisis sebuah peristiwa yang telah terjadi di masa lalu.</p><p> </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:49:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124771136</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ibrahim DWI wicaksono</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124773438</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><br/></p><p>Mungkin kita sudah tidak awam dengan slogan “jangan sekali-sekali melupakan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/sejarah">Sejarah</a>” atau yang biasa disingkat sebagai Jas Merah ini. Ya, slogan yang diutarakan oleh Presiden Soekarno ini bukan tanpa alasan. Sejarah lah yang mengajarkan kita agar kita belajar bagaimana orang di waktu lampau mengatasi sebuah masalah sehingga kita tidak terjebak pada kesalahan yang sama. Sejarah juga mengajarkan kita untuk tetap mengenang orang-orang yang telah berjasa sehingga hidup kita bisa seperti ini. Dalam penyusunan Sejarah diperlukan cara berpikir Sejarah agar dapat menghasilkan informasi-informasi kepada masyarakat. Simak ulasan mengenai cara berpikir tersebut di bawah ini.</p><p>ADVERTISEMENT</p><p>Cara Berpikir Sejarah</p><p>Mengutip buku <em>Pendidikan Sejarah untuk Membentuk Karakter Bangsa oleh Edy Suparjan </em>(2019:10), menurut Madjid &amp; Wahyudhi Sejarah adalah kejadian-kejadian atau peristiwa pada masa lampau yang terkait dengan kehidupan manusia. Ilmu yang mempelejari tentang kejadian-kejadian itu disebut ilmu Sejarah.</p><p>Sebagai sebuah cabang <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/ilmu-pengetahuan">ilmu pengetahuan</a>, Sejarah memerlukan cara berpikir atau konsep berpikir untuk menganalisis peristiwa di masa lampau. Konsep berpikir Sejarah di antaranya adalah:</p><p>1. Diakronis</p><p>Diakronis adalah konsep yang menggunakan sifat Sejarah sebagai sesuatu yang memanjang dalam waktu, tetapi memiliki batasan ruang. Contohnya ialah menjelaskan siapa saja presiden Indonesia dari merdeka hingga sekarang.</p><p>Ilustrasi Cara Berpikir Sejarah, Foto Pexels Suzy Hazelwood</p><p>2. Kronologis</p><p>Kronologis adalah konsep berpikir dengan cara menyusun peristiwa Sejarah dengan teratur sesuai urutan waktu. Contohnya ialah peristiwa proklamasi Indonesia diawali dengan dibawanya Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.</p><p>ADVERTISEMENT</p><p>3. Periodisasi</p><p>Periodisasi adalah cara berpikir Sejarah dengan mengelompokkan peristiwa-peristiwa Sejarah ke suatu periode atau zaman sesuai ciri-ciri yang ada. Contohnya adalah periodisasi dinasti di Turki.</p><p>4. Sinkronis</p><p>Sinkronis ialah cara berpikir dengan mempelajari peristiwa-peristiwa Sejarah dalam sebuah waktu, namun dengan ruang lingkup yang lebih luas. Dalam cara berpikir ini, sejarawan harus mengkaji peristiwa tersebut bersama aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya yang menyertainya. Contohnya ketika menganalisis pengaruh masuknya Belanda terhadap aspek-aspek tersebut.</p><p>Itulah cara berpikir dalam Sejarah. <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/sejarawan">Sejarawan</a> bisa memilih salah satu dari cara berpikir tersebut, tergantung apa yang ingin diungkap dari sebuah peristiwa Sejarah. (LOV)</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:51:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124773438</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rizqo Noorhidayat X-3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124774241</link>
         <description><![CDATA[<p>Cara Berpikir Sejarah</p><p>Mengutip buku Pendidikan Sejarah untuk Membentuk Karakter Bangsa oleh Edy Suparjan (2019:10), menurut Madjid &amp; Wahyudhi Sejarah adalah kejadian-kejadian atau peristiwa pada masa lampau yang terkait dengan kehidupan manusia. Ilmu yang mempelejari tentang kejadian-kejadian itu disebut ilmu Sejarah.</p><p><br/></p><p>Sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan, Sejarah memerlukan cara berpikir atau konsep berpikir untuk menganalisis peristiwa di masa lampau. Konsep berpikir Sejarah di antaranya adalah:</p><p><br/></p><p>1. Diakronis</p><p>Diakronis adalah konsep yang menggunakan sifat Sejarah sebagai sesuatu yang memanjang dalam waktu, tetapi memiliki batasan ruang. Contohnya ialah menjelaskan siapa saja presiden Indonesia dari merdeka hingga sekarang.</p><p><br/></p><p>2 Kronologis</p><p>Kronologis adalah konsep berpikir dengan cara menyusun peristiwa Sejarah dengan teratur sesuai urutan waktu. Contohnya ialah peristiwa proklamasi Indonesia diawali dengan dibawanya Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.</p><p><br/></p><p>3. Periodisasi</p><p>Periodisasi adalah cara berpikir Sejarah dengan mengelompokkan peristiwa-peristiwa Sejarah ke suatu periode atau zaman sesuai ciri-ciri yang ada. Contohnya adalah periodisasi dinasti di Turki.</p><p><br/></p><p>4. Sinkronis</p><p>Sinkronis ialah cara berpikir dengan mempelajari peristiwa-peristiwa Sejarah dalam sebuah waktu, namun dengan ruang lingkup yang lebih luas. Dalam cara berpikir ini, sejarawan harus mengkaji peristiwa tersebut bersama aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya yang menyertainya. Contohnya ketika menganalisis pengaruh masuknya Belanda terhadap aspek-aspek tersebut.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:52:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124774241</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ibrahim dwi wicaksono</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124775492</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>ADVERTISEMENT</p><p><br/></p><p>Mungkin kita sudah tidak awam dengan slogan “jangan sekali-sekali melupakan Sejarah” atau yang biasa disingkat sebagai Jas Merah ini. Ya, slogan yang diutarakan oleh Presiden Soekarno ini bukan tanpa alasan. Sejarah lah yang mengajarkan kita agar kita belajar bagaimana orang di waktu lampau mengatasi sebuah masalah sehingga kita tidak terjebak pada kesalahan yang sama. Sejarah juga mengajarkan kita untuk tetap mengenang orang-orang yang telah berjasa sehingga hidup kita bisa seperti ini. Dalam penyusunan Sejarah diperlukan cara berpikir Sejarah agar dapat menghasilkan informasi-informasi kepada masyarakat. Simak ulasan mengenai cara berpikir tersebut di bawah ini.</p><p><br/></p><p>ADVERTISEMENT</p><p><br/></p><p>Cara Berpikir Sejarah</p><p>Mengutip buku Pendidikan Sejarah untuk Membentuk Karakter Bangsa oleh Edy Suparjan (2019:10), menurut Madjid &amp; Wahyudhi Sejarah adalah kejadian-kejadian atau peristiwa pada masa lampau yang terkait dengan kehidupan manusia. Ilmu yang mempelejari tentang kejadian-kejadian itu disebut ilmu Sejarah.</p><p><br/></p><p>Sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan, Sejarah memerlukan cara berpikir atau konsep berpikir untuk menganalisis peristiwa di masa lampau. Konsep berpikir Sejarah di antaranya adalah:</p><p><br/></p><p>1. Diakronis</p><p>Diakronis adalah konsep yang menggunakan sifat Sejarah sebagai sesuatu yang memanjang dalam waktu, tetapi memiliki batasan ruang. Contohnya ialah menjelaskan siapa saja presiden Indonesia dari merdeka hingga sekarang.</p><p><br/></p><p>Ilustrasi Cara Berpikir Sejarah, Foto Pexels Suzy Hazelwood</p><p>Ilustrasi Cara Berpikir Sejarah, Foto Pexels Suzy Hazelwood</p><p>2. Kronologis</p><p>Kronologis adalah konsep berpikir dengan cara menyusun peristiwa Sejarah dengan teratur sesuai urutan waktu. Contohnya ialah peristiwa proklamasi Indonesia diawali dengan dibawanya Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.</p><p><br/></p><p>ADVERTISEMENT</p><p><br/></p><p>3. Periodisasi</p><p>Periodisasi adalah cara berpikir Sejarah dengan mengelompokkan peristiwa-peristiwa Sejarah ke suatu periode atau zaman sesuai ciri-ciri yang ada. Contohnya adalah periodisasi dinasti di Turki.</p><p><br/></p><p>4. Sinkronis</p><p>Sinkronis ialah cara berpikir dengan mempelajari peristiwa-peristiwa Sejarah dalam sebuah waktu, namun dengan ruang lingkup yang lebih luas. Dalam cara berpikir ini, sejarawan harus mengkaji peristiwa tersebut bersama aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya yang menyertainya. Contohnya ketika menganalisis pengaruh masuknya Belanda terhadap aspek-aspek tersebut.</p><p><br/></p><p>Itulah cara berpikir dalam Sejarah. Sejarawan bisa memilih salah satu dari cara berpikir tersebut, tergantung apa yang ingin diungkap dari sebuah peristiwa Sejarah. (LOV)</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:53:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124775492</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ahmat Chairul </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124779204</link>
         <description><![CDATA[<p>X-3</p><p>Beberapa referensi utama tentang konsep berpikir sejarah meliputi:</p><p>1. <strong>"Thinking Like a Historian"</strong> oleh John Fea – Membahas cara historian memproses dan menganalisis informasi sejarah.</p><p>2. <strong>"The Landscape of History"</strong> oleh John Lewis Gaddis – Menggali cara berpikir dan metodologi dalam historiografi.</p><p>3. <strong>"Historical Thinking and Other Unnatural Acts"</strong> oleh Sam Wineburg – Menyoroti perbedaan antara berpikir sejarah dan cara berpikir biasa.</p><p>Ini adalah titik awal yang baik untuk mendalami bagaimana sejarah membentuk pola pikir dan metodologi analisis.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:56:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124779204</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ibrahim dwi wicaksono</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124779929</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>ADVERTISEMENT</p><p><br/></p><p>Mungkin kita sudah tidak awam dengan slogan “jangan sekali-sekali melupakan Sejarah” atau yang biasa disingkat sebagai Jas Merah ini. Ya, slogan yang diutarakan oleh Presiden Soekarno ini bukan tanpa alasan. Sejarah lah yang mengajarkan kita agar kita belajar bagaimana orang di waktu lampau mengatasi sebuah masalah sehingga kita tidak terjebak pada kesalahan yang sama. Sejarah juga mengajarkan kita untuk tetap mengenang orang-orang yang telah berjasa sehingga hidup kita bisa seperti ini. Dalam penyusunan Sejarah diperlukan cara berpikir Sejarah agar dapat menghasilkan informasi-informasi kepada masyarakat. Simak ulasan mengenai cara berpikir tersebut di bawah ini.</p><p><br/></p><p>ADVERTISEMENT</p><p><br/></p><p>Cara Berpikir Sejarah</p><p>Mengutip buku Pendidikan Sejarah untuk Membentuk Karakter Bangsa oleh Edy Suparjan (2019:10), menurut Madjid &amp; Wahyudhi Sejarah adalah kejadian-kejadian atau peristiwa pada masa lampau yang terkait dengan kehidupan manusia. Ilmu yang mempelejari tentang kejadian-kejadian itu disebut ilmu Sejarah.</p><p><br/></p><p>Sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan, Sejarah memerlukan cara berpikir atau konsep berpikir untuk menganalisis peristiwa di masa lampau. Konsep berpikir Sejarah di antaranya adalah:</p><p><br/></p><p>1. Diakronis</p><p>Diakronis adalah konsep yang menggunakan sifat Sejarah sebagai sesuatu yang memanjang dalam waktu, tetapi memiliki batasan ruang. Contohnya ialah menjelaskan siapa saja presiden Indonesia dari merdeka hingga sekarang.</p><p><br/></p><p>Ilustrasi Cara Berpikir Sejarah, Foto Pexels Suzy Hazelwood</p><p>Ilustrasi Cara Berpikir Sejarah, Foto Pexels Suzy Hazelwood</p><p>2. Kronologis</p><p>Kronologis adalah konsep berpikir dengan cara menyusun peristiwa Sejarah dengan teratur sesuai urutan waktu. Contohnya ialah peristiwa proklamasi Indonesia diawali dengan dibawanya Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.</p><p><br/></p><p>ADVERTISEMENT</p><p><br/></p><p>3. Periodisasi</p><p>Periodisasi adalah cara berpikir Sejarah dengan mengelompokkan peristiwa-peristiwa Sejarah ke suatu periode atau zaman sesuai ciri-ciri yang ada. Contohnya adalah periodisasi dinasti di Turki.</p><p><br/></p><p>4. Sinkronis</p><p>Sinkronis ialah cara berpikir dengan mempelajari peristiwa-peristiwa Sejarah dalam sebuah waktu, namun dengan ruang lingkup yang lebih luas. Dalam cara berpikir ini, sejarawan harus mengkaji peristiwa tersebut bersama aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya yang menyertainya. Contohnya ketika menganalisis pengaruh masuknya Belanda terhadap aspek-aspek tersebut.</p><p><br/></p><p>Itulah cara berpikir dalam Sejarah. Sejarawan bisa memilih salah satu dari cara berpikir tersebut, tergantung apa yang ingin diungkap dari sebuah peristiwa Sejarah. (LOV)</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:57:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124779929</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ahmat Chairul </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124780128</link>
         <description><![CDATA[<p>x-3</p><p>Beberapa referensi utama tentang konsep berpikir sejarah meliputi:</p><p>1. <strong>"Thinking Like a Historian"</strong> oleh John Fea – Membahas cara historian memproses dan menganalisis informasi sejarah.</p><p>2. <strong>"The Landscape of History"</strong> oleh John Lewis Gaddis – Menggali cara berpikir dan metodologi dalam historiografi.</p><p>3. <strong>"Historical Thinking and Other Unnatural Acts"</strong> oleh Sam Wineburg – Menyoroti perbedaan antara berpikir sejarah dan cara berpikir biasa.</p><p>Ini adalah titik awal yang baik untuk mendalami bagaimana sejarah membentuk pola pikir dan metodologi analisis.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 03:57:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124780128</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rival aldia Akra</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124783053</link>
         <description><![CDATA[<p>Konsep berpikir sejarah dapat dipelajari dari berbagai sumber, di antaranya:&nbsp;</p><p><br/></p><ul><li><p><br/></p></li></ul><ul><li><p>Buku Konsep Dasar Berpikir Sejarah Kelas X/Ganjil karya Linda Ainiyah&nbsp;</p><ul><li><p><br/></p></li></ul></li><li><p>Artikel "Konsep Berpikir Sejarah, Ulasan Lengkap Cara Menganalisis Masa Lalu" di Gramedia&nbsp;</p><ul><li><p><br/></p></li></ul></li><li><p>Artikel "4 Cara Berpikir Sejarah dan Penjelasannya" di <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://kumparan.com">kumparan.com</a>&nbsp;</p><ul><li><p><br/></p></li></ul></li><li><p>Artikel "Cara Berpikir Diakronik, Sinkronik, dan Periodesasi dalam Sejarah" di <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="http://brainacademy.id">brainacademy.id</a>&nbsp;</p><ul><li><p><br/></p></li></ul></li><li><p>Artikel "TENTANG KONSEP BERFIKIR SEJARAH Abstract Abstrak - CORE" di CORE&nbsp;</p><ul><li><p><br/></p></li></ul></li><li><p>Artikel "Mengenal Konsep Berpikir Periodisasi dalam Sejarah" di detikJateng&nbsp;</p><ul><li><p><br/></p></li></ul></li><li><p>Artikel "Konsep Berpikir Sejarah untuk Kelas 10" di Quipper Blog&nbsp;</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 04:00:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124783053</guid>
      </item>
      <item>
         <title>IBRAHIM DWI WICAKSONO</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124786893</link>
         <description><![CDATA[<p>X-3</p><p><br/></p><p><br/></p><p>ADVERTISEMENT</p><p>Mungkin kita sudah tidak awam dengan slogan “jangan sekali-sekali melupakan <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/sejarah">Sejarah</a>” atau yang biasa disingkat sebagai Jas Merah ini. Ya, slogan yang diutarakan oleh Presiden Soekarno ini bukan tanpa alasan. Sejarah lah yang mengajarkan kita agar kita belajar bagaimana orang di waktu lampau mengatasi sebuah masalah sehingga kita tidak terjebak pada kesalahan yang sama. Sejarah juga mengajarkan kita untuk tetap mengenang orang-orang yang telah berjasa sehingga hidup kita bisa seperti ini. Dalam penyusunan Sejarah diperlukan cara berpikir Sejarah agar dapat menghasilkan informasi-informasi kepada masyarakat. Simak ulasan mengenai cara berpikir tersebut di bawah ini.</p><p>ADVERTISEMENT</p><p>Cara Berpikir Sejarah</p><p>Mengutip buku <em>Pendidikan Sejarah untuk Membentuk Karakter Bangsa oleh Edy Suparjan </em>(2019:10), menurut Madjid &amp; Wahyudhi Sejarah adalah kejadian-kejadian atau peristiwa pada masa lampau yang terkait dengan kehidupan manusia. Ilmu yang mempelejari tentang kejadian-kejadian itu disebut ilmu Sejarah.</p><p>Sebagai sebuah cabang <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/ilmu-pengetahuan">ilmu pengetahuan</a>, Sejarah memerlukan cara berpikir atau konsep berpikir untuk menganalisis peristiwa di masa lampau. Konsep berpikir Sejarah di antaranya adalah:</p><p>1. Diakronis</p><p>Diakronis adalah konsep yang menggunakan sifat Sejarah sebagai sesuatu yang memanjang dalam waktu, tetapi memiliki batasan ruang. Contohnya ialah menjelaskan siapa saja presiden Indonesia dari merdeka hingga sekarang.</p><p>Ilustrasi Cara Berpikir Sejarah, Foto Pexels Suzy Hazelwood</p><p>2. Kronologis</p><p>Kronologis adalah konsep berpikir dengan cara menyusun peristiwa Sejarah dengan teratur sesuai urutan waktu. Contohnya ialah peristiwa proklamasi Indonesia diawali dengan dibawanya Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.</p><p>ADVERTISEMENT</p><p>3. Periodisasi</p><p>Periodisasi adalah cara berpikir Sejarah dengan mengelompokkan peristiwa-peristiwa Sejarah ke suatu periode atau zaman sesuai ciri-ciri yang ada. Contohnya adalah periodisasi dinasti di Turki.</p><p>4. Sinkronis</p><p>Sinkronis ialah cara berpikir dengan mempelajari peristiwa-peristiwa Sejarah dalam sebuah waktu, namun dengan ruang lingkup yang lebih luas. Dalam cara berpikir ini, sejarawan harus mengkaji peristiwa tersebut bersama aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya yang menyertainya. Contohnya ketika menganalisis pengaruh masuknya Belanda terhadap aspek-aspek tersebut.</p><p>Itulah cara berpikir dalam Sejarah. <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/sejarawan">Sejarawan</a> bisa memilih salah satu dari cara berpikir tersebut, tergantung apa yang ingin diungkap dari sebuah peristiwa Sejarah. (LOV)</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 04:04:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124786893</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M.muzzammil Al-Fath Ali putra X-3</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124856292</link>
         <description><![CDATA[<p>Konsep berpikir sejarah dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: </p><p> </p><p>Konsep berpikir sinkronik</p><p>Mempelajari sejarah dengan ruang lingkup yang luas, tetapi terbatas pada waktu tertentu. Konsep ini berfokus pada aspek-aspek peristiwa, seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya. </p><p> </p><p>Konsep berpikir diakronis</p><p>Mempelajari sejarah dengan melihat suatu peristiwa dari rentang waktu. Konsep ini memanjang dalam waktu, tetapi terbatas dalam ruang. Konsep berpikir diakronis sering disebut juga dengan berpikir kronologis. </p><p> </p><p>Konsep berpikir periodisasi</p><p>Pengelompokkan peristiwa sejarah dalam suatu babak, masa, zaman, atau periode tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama. </p><p> </p><p>Selain itu, dalam literatur berbahasa Inggris, konsep berpikir sejarah juga disebut sebagai "The Five C's" (Lima “C”). Kelima konsep ini adalah: Change over time, Causlity, Context, Complexity, Contingency</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-09-18 05:05:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/isnaniyah212/qh8n7b5ak8hd6qol/wish/3124856292</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
