<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Perlawanan Rakyat Maluku by Rizky Kurnia Sandy</title>
      <link>https://padlet.com/sndyv18/qbes5bgw3wwi9qqf</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-09-16 16:19:25 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-09-16 16:33:47 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Latar Belakang </title>
         <author>sndyv18</author>
         <link>https://padlet.com/sndyv18/qbes5bgw3wwi9qqf/wish/2300259257</link>
         <description><![CDATA[<div>Latar belakang perlawanan rakyat Maluku mengusir bangsa Belanda karena adanya praktik monopoli dan sistem pelayaran Hongi yang membuat rakyat sengsara. Belanda melaksanakan sistem penyerahan wajib sebagian hasil bumi terutama rempah- rempah kepada VOC.<br><br>Kompeni juga melangsungkan sistem pelayaran Hongi (hongitochten). Dengan cara itu, para birokrat Kompeni dapat menginspeksi satu per satu pulau-pulau di Maluku yang bertujuan menjaga keberlangsungan monopoli rempah-rempah. Kompeni juga punya hak ekstirpasi, yaitu hak memusnahkan pohon pala dan cengkeh jika harganya turun.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-16 16:22:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sndyv18/qbes5bgw3wwi9qqf/wish/2300259257</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Peristiwa </title>
         <author>sndyv18</author>
         <link>https://padlet.com/sndyv18/qbes5bgw3wwi9qqf/wish/2300263797</link>
         <description><![CDATA[<div>Perlawanan rakyat Maluku mengusir bangsa Belanda dimulai karena munculnya praktik monopoli dan sistem pelayaran Hongi yang semakin menyengsarakan dan membuat rakyat menderita.<br><br>Belanda melaksanakan sistem penyerahan wajib sebagian hasil bumi terutama rempah- rempah kepada VOC. Selain itu, juga mengadakan sistem pelayaran Hongi (hongitochten), berupa inspeksi dari Kompeni dengan mengunjungi satu per satu pulau-pulau di Maluku. Tujuannya adalah untuk menjaga keberlangsungan monopoli rempah-rempah.<br>Tidak berhenti sampai di situ, Kompeni juga mengklaim bahwa mereka memiliki hak ekstirpasi, yaitu hak memusnahkan pohon pala dan cengkeh jika harganya sampai mengalami penurunan.<br><br>Pada tahun 1635 di bawah pimpinan Kakiali, Kapitan Hitu perlawanan rakyat Maluku dimulai. Sayangnya, Kakiali tewas terbunuh. Perjuangan lalu dilanjutkan oleh Kapitan Tulukabessy. Perlawanan ini baru dapat dipadamkan pada tahun 1646. Sampai akhir abad ke-18 tak terdengar lagi perlawanan pada VOC.<br><br>Pada 1817 muncul Pattimura yang berasal dari di Pulau Saparua. Dalam perlawanannya, Benteng Duurstede berhasil dihancurkan oleh rakyat Maluku. Bahkan, Residen Belanda Van den Bergh terbunuh dalam peristiwa tersebut. Belanda yang terus membawa pasukan dari Ambon hingga Jawa demi mengalahkan rakyat Maluku akhirnya benar-benar membuat rakyat Maluku harus mundur karena kehabisan pasokan makanan. Demi menyelamatkan rakyatnya dari kelaparan, Thomas Mattulessi atau Patimurra menyerahkan diri. Di ditangkap lalu dijatuhi dihukum mati.<br>Setelah itu, Khristina Martha Tiahahu menggantikan kepemimpinan Pattimura. Sayangnya, perjuangan ini pun harus terhenti saat ia ditangkap dan dibawa ke pengasingan di Jawa. Tiahahu meninggal dunia pada 2 Januari 1818 karena sakit, sehingga akhirnya perjuangan rakyat Maluku pun terhenti.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-16 16:26:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sndyv18/qbes5bgw3wwi9qqf/wish/2300263797</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Akhir </title>
         <author>sndyv18</author>
         <link>https://padlet.com/sndyv18/qbes5bgw3wwi9qqf/wish/2300270425</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Belanda tetap berusaha keras untuk menyelesaikan perang dalam waktu singkat. pada bulan Oktober 1817, pasukan Belanda dikerahkan besar-besaran. Pada suatu pertempuran pada bulan November 1817, Belanda dapat menangkap Pattimura, Anthonie Rebok, Thomas Pattiwael, dan Raja Tiow. Beberapa hari kemudian para pemimpin yang lain pun tertangkap.<br><br>Akhirnya pada bulan Desember 1817, perlawanan padam. Pada tanggal 16 Desember 1817 Pattimura dihukum gantung di Ambon. Kemudian para pemimpin yang lain juga dihukum gantung.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-09-16 16:31:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sndyv18/qbes5bgw3wwi9qqf/wish/2300270425</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sndyv18</author>
         <link>https://padlet.com/sndyv18/qbes5bgw3wwi9qqf/wish/2300273288</link>
         <description><![CDATA[<div>pada penjajahan tercatat sebagai salah satu perlawanan terhebat di negeri ini. Kawasan ini selalu menjadi incaran negara asing karena kekayaan rempah-rempah. Dua negara pernah mencoba menguasai kawasan ini, Portugis lalu kemudian Belanda.<br>Selain Maluku, perlawanan juga terjadi di beberapa daerah, seperti Jawa, Sumatera Barat, dan Aceh. Bentuk perlawanan tersebut dilakukan untuk mengusir penjajah dari Nusantara.<br>Ada dua tokoh yang terlibat dalam perlawanan tersebut, yakni Patimurra sebagai pemimpin perlawanan pertama dan pejuang perempuan Khristina Martha Tiahahu.<br><br>Khristina Martha Tiahahu diketahui menggantikan kepemimpinan Pattimura yang menyerahkan diri demi rakyat. Sayang, perjuangannya harus berhenti ketika ia dibawa ke pengasingan di Jawa dan meninggal dunia.<br><br>Kolonial pun semakin menerapkan kebijakan yang berat terhadap rakyat Maluku, terutama rakyat Saparua setelah perlawanan rakyat Maluku. Monopoli rempah-rempah kembali diberlakukan.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1809279079/c2cc0619470acf48cdeb004818fad0d4/5f8fe93fb3615.png" />
         <pubDate>2022-09-16 16:33:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/sndyv18/qbes5bgw3wwi9qqf/wish/2300273288</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
