<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Magang Litbang Kelompok 2 by Grace Amabella</title>
      <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang</link>
      <description>Refleksi Kritis Terhadap Dinamika Organisasi Kemahasiswaan</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2021-10-19 06:08:33 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-02-15 14:08:49 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>POJOK BERBAGI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1827291965</link>
         <description><![CDATA[<div>Hai sobat Sintesa! Untuk kalian yang gemar berorganisasi, pernahkah kalian mengalami kerja rodi dalam berdinamika didalamnya? Di kesempatan kali ini awak magang sintesa berkesempatan berbagi opini dari salah satu mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang bisa dibilang aktif berorganisasi.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 14:03:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1827291965</guid>
      </item>
      <item>
         <title>[Pojok Berbagi] Organisasi Kampus : Magang Tidak Berbayar Berkedok Organisasi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1827312171</link>
         <description><![CDATA[<div>Oleh : Anisa Putri Arum Sari, Mahasiswi Departemen Politik dan Pemerintahan 2021<br><br>Organisasi mahasiswa di lingkungan kampus semakin lama semakin memiliki daya tarik yang kuat bagi mahasiswa baru. Meskipun pada awalnya organisasi kampus dibentuk sebagai wadah penyaluran kreativitas dan sarana belajar mengenai kepemimpinan. Namun, sekarang sebagian orang menganggap jika berorganisasi merupakan manifestasi lain dari sistem magang tak berbayar atau dikarenakan titik kesamaan bahwa sumber daya manusianya yang dipekerjakan tanpa mendapat imbalan yang jelas.&nbsp;</div><div><br>Menurut Maulida Ashudi, Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, magang dan berorganisasi itu suatu hal yang berbeda, meskipun tujuannya lebih kurang sama, yaitu menambah pengalaman, keahlian, dan relasi. Namun, kedua hal tersebut (magang dan berorganisasi) berbeda karena jika magang dalam sebuah perusahaan kita akan membantu mereka untuk memperoleh profit. Sedangkan berorganisasi memiliki tujuan untuk memberdayakan orang-orang di sekitar. Meskipun mungkin saat berorganisasi akan menyita banyak waktu, pikiran, dan tenaga serta jarang untuk mendapatkan penghargaan. Maulida menganggap jika hal itu merupakan konsekuensi dari keikutsertaan dalam berorganisasi karena sejak awal tidak ada paksaan dalam mengikuti organisasi dan murni keinginan mahasiswa itu sendiri. Oleh karena itu, bagi Maulida, diperlukan tanggung jawab yang besar dan komitmen yang kuat dalam berorganisasi. <em>Nah</em>, jadi gimana temen-temen, apakah kalian sependapat dengan Maulida?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-19 14:08:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1827312171</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1827326295</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1367817736/5c7aed212cbe7e9dbfd41ccadfd6b41a/WhatsApp_Image_2021_10_19_at_9_16_44_PM.jpeg" />
         <pubDate>2021-10-19 14:12:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1827326295</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AXIS 1: Hustle Culture dalam Kehidupan Organisasi Mahasiswa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829275285</link>
         <description><![CDATA[<div>Oleh : Devi Lailatul Fitri Anggraini, HI'21<br><br><em>Hustle culture</em> atau <em>workaholism</em> adalah gaya hidup yang menuntut untuk selalu produktif kapan pun dan dimana pun dengan hanya sedikit waktu untuk istirahat demi menggapai kesuksesan. Istilah <em>workaholism</em> pertama kali dicetuskan oleh Oates yang merujuk kepada orang-orang yang bekerja secara berlebihan hingga membahayakan kesehatan, kebahagiaan pribadi, hubungan interpersonal, dan fungsi sosial mereka (Oates, 1971 dalam Harpaz &amp; Snir, 2003).&nbsp;</div><div><br>Dalam kehidupan organisasi mahasiswa, fenomena itu dianggap lumrah. Jadwal kuliah yang padat ditambah dengan banyaknya program kerja di organisasi membuat sebagian mahasiswa harus merelakan waktu istirahat untuk mengerjakan segala hal tersebut. Fenomena “eksploitasi” diri sendiri ini ramai diperbincangkan terutama dalam cuitan-cuitan di Twitter. Mereka mengeluhkan kegiatan-kegiatan rapat yang dilakukan sering kali hingga menjelang subuh. Apalagi, kadang kala hal yang diperbincangkan dalam rapat&nbsp; tidak substantif, banyak “haha-hihi”, atau isinya hanya ujaran kemarahan sebagian anggota organisasi yang&nbsp; mempermasalahkan hal yang tidak perlu. Belum lagi ketika tenggat pengerjaan tugas-tugas dari organisasi tersebut mematok tenggat waktu<em> </em>pendek yang sebenarnya tidak ada urgensi untuk menyelesaikan hal tersebut dalam waktu dekat. Namun, sebagian dari mereka justru bangga akan hari-hari tanpa tidur dan super sibuk tersebut. Kadangkala mereka mengunggah hal-hal tersebut di sosial media dengan takarir-takarir<em> </em>ambisius yang semakin melegitimasi gaya hidup ini. Ada pula yang mengklaim semua hal ini penting mereka lakukan karena takut tertinggal dari yang lain serta ingin memperbanyak pengalaman untuk memperbagus <em>Curriculum Vitae</em> (CV) demi menyongsong masa depan yang gemilang.&nbsp;<br><br></div><div>Akan tetapi, gaya hidup tersebut dapat berimplikasi pada kesehatan mental maupun fisik dalam jangka panjang. Terlalu memaksakan diri untuk melakukan berbagai hal tanpa istirahat yang cukup malah akan berujung pada kelelahan<em>.</em> Menurut Balducci et al. (2020) bekerja berlebihan secara terus-menerus dapat merusak kesehatan dan tidak selalu mengarah pada peningkatan kinerja atau performa. Sebagai mahasiswa, hal tersebut bukannya tidak mungkin juga akan berpengaruh pada kualitas performa akademik. Meskipun menjadi aktif dan produktif adalah hal yang bagus tetapi, kita tetap harus tahu proporsi. Dengan demikian keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan<em> </em>diperlukan untuk memastikan agar produktivitas kita berkelanjutan dan tidak toksik.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-20 03:49:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829275285</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AXIS 2: Polemik Fenomena Magang Tidak Berbayar dalam Organisasi Mahasiswa</title>
         <author>berlinsya2002</author>
         <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829458275</link>
         <description><![CDATA[<div>Oleh: Berlin S. Situmorang, Sosiologi’21<br><br>Magang pada organisasi menjadi suatu kesempatan mahasiswa dalam belajar dan mengenal organisasi yang diminati. Organisasi kampus menawarkan wadah untuk melatih bakat dan ragam keterampilan<em> </em>menjadi manifestasi penghargaan. Mengikuti kelas perkuliahan untuk memperoleh nilai akademik sesungguhnya belum cukup untuk mengembangkan potensi seorang mahasiswa. Oleh karena itu, mahasiswa dapat menggali berbagai pengetahuan secara lebih dalam melalui magang dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau himpunan-himpunan di universitas.&nbsp;<br><br></div><div>Menurut data National Association of Colleges and Employers 2021, dunia kerja membutuhkan keterampilan yang lumrah diperoleh dari organisasi kampus. Sebab, dengan mengikuti organisasi kampus, kita dapat memperoleh pengetahuan, relasi, dan keahlian baru ataupun mengembangkan kemampuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Secara spesifik, mahasiswa berkesempatan untuk melatih potensi, pengembangan diri, adaptasi, komunikasi, kepimpinan, dan keahlian manajemen. Lebih lanjut, Foubert &amp; Grainger (2006) berpendapat bahwa mahasiswa yang terlibat dalam organisasi kampus menunjukkan tingkat perkembangan yang lebih tinggi di banyak bidang. Perlu diketahui, bahwa kemampuan tersebut tidak dapat diperoleh secara instan, umumnya memerlukan serangkaian waktu dalam jangka panjang</div><div><br>Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa keikutsertaan dalam organisasi menjadi beban tersendiri bagi mahasiswa. Ketidaksesuaian dengan bakat dan minat adalah hal yang paling dasar. Harus menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Bahkan, menurut penelitian mahasiswa Universitas Indonesia, mahasiswa dapat berujung stres ketika mengikuti organisasi yang berlebih (Musabiq dan Karimah, 2018). Salah satu alasannya adalah ketidaksesuaian ekspektasi seseorang akan organisasi yang diikuti. Terlebih lagi, di luar pengaruh organisasi, seperti ketidakmampuan memanajemen waktu, mengikuti kegiatan wajib akademik, dan hal yang serupa cenderung mengakibatkan keikutsertaan organisasi menjadi beban bagi anggotanya. Oleh karena itu, tidak sedikit mahasiswa yang meninggalkan organisasi untuk mendapat kesehatan mental yang baik. Nah, untuk mengetahui sejauh mana baik dan buruknya mengikuti organisasi, hanya dapat ditentukan oleh mahasiswa layaknya diri kamu sendiri!&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-20 05:47:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829458275</guid>
      </item>
      <item>
         <title>POJOK OPINI</title>
         <author>septaniarizki</author>
         <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829692744</link>
         <description><![CDATA[<div>Halo teman-teman Sintesa! Bagaimana sih tanggapan kalian mengenai fenomena hustle culture dan toxic productivity yang saat ini sering diasosiasikan dengan kehidupan berorganisasi?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-20 08:08:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829692744</guid>
      </item>
      <item>
         <title>[Pojok Opini I] Septania Rizki Mahisi</title>
         <author>septaniarizki</author>
         <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829718353</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div>Oleh: Septania Rizki Mahisi, Mahasiswi Ilmu Komunikasi 2020<br><br>Bagi sebagian besar orang, menjadi mahasiswa menyalakan api semangat dalam diri mereka. Semangat ini biasanya dibarengi dengan keinginan untuk menjadi mahasiswa aktif yang umumnya disalurkan melalui kegiatan-kegiatan organisasi kampus. Keinginan ini semakin diperkuat dengan banyaknya organisasi di kampus yang membuka rekrutmen bagi para mahasiswa. Kesempatan yang terbuka lebar mendorong mereka untuk mendaftar di berbagai organisasi. Hal lain yang turut memperkuat keinginan ini adalah banyaknya anggapan bahwa nilai bukanlah segala-galanya dan pengalaman jauh lebih penting dalam dunia kerja. Semakin banyak pengalaman kamu, semakin penuh Curriculum Vitae&nbsp; (CV) kamu, maka semakin baik.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Keaktifan dalam organisasi merupakan hal baik. Namun, kadang para mahasiswa terlalu terpaku pada tujuan “memenuhi CV” sehingga lupa akan kemampuan dan kapasitas diri mereka. Kegiatan-kegiatan organisasi tentunya menyita banyak waktu dan atensi. Hal ini tidak menutup kemungkinan terjadinya pergeseran prioritas yang membuat kegiatan organisasi lebih diutamakan daripada kegiatan akademik. Kemungkinan lain yang dapat terjadi adalah tumbangnya kesehatan fisik dan mental akibat upaya menyeimbangkan kehidupan organisasi dan akademik yang tidak berhasil.&nbsp;</div><div>&nbsp;</div><div>Kegiatan organisasi yang seharusnya dapat meningkatkan produktivitas dan keahlian justru menjadi bumerang dan bersifat kontraproduktif. Sebelum memutuskan untuk berorganisasi, ada baiknya untuk memahami kapasitas diri dan menyesuaikannya dengan organisasi-organisasi yang akan kita ikuti.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-20 08:22:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829718353</guid>
      </item>
      <item>
         <title>[Pojok Opini III] Rahma Kintara Saniya Dafin</title>
         <author>septaniarizki</author>
         <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829720418</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Oleh: Rahma Kintara Saniya Dafin, Mahasiswi Departemen Politik dan Pemerintahan 2021<br><br>Tidak hanya di lingkungan kantoran, dunia perkuliahan pun tak asing dengan peristiwa hustle culture. Ada beberapa faktor yang mendasari seorang mahasiswa mengalami hustle culture<br>1. FOMO (fear of missing out)<br>Ketakutan untuk tertinggal oleh sesuatu yang baru. Termasuk euforia menjadi mahasiswa produktif. Mahasiswa poduktif dicirikan dengan banyaknya kegiatan yang dia ikuti selama masa kuliah. Seseorang yang mengalami FOMO, pada akhirnya meninggalkan makna dan tujuan dari kegiatan yang dia ikuti dan rentan terkena burnout demi mencapai predikat mahasiswa produktif.&nbsp;<br><br>2. Dunia kerja dengan persaingan yang luar biasa, mendorong ketakutan mahasiswa dalam menyongsong kehidupan pra kuliah. Narasi tentang kemudahan mendapatkan kerja dengan banyak pengalaman, menjadikan mahasiswa turut berlomba untuk menambah berbagai kegiatan agar memiliki banyak pengalaman yang bisa dicantumkan dalam CV. Namun, yang sering terjadi, mahasiswa menjadi mudah stress dan kelelahan akibat banyaknya kegiatan yang dia ikuti dan meninggalkan esensi kegiatan itu sendiri.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-20 08:23:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829720418</guid>
      </item>
      <item>
         <title>[Pojok Opini II] Tuffahati Athallah</title>
         <author>septaniarizki</author>
         <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829722838</link>
         <description><![CDATA[<div>Oleh: Tuffahati Athallah, Mahasiswi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan 2021<br><br>Fenomena hustle culture dalam unpaid internship yang terjadi di kalangan mahasiswa saat ini memiliki banyak sekali dampak dalam setiap aspeknya. Salah satu dampaknya yang ingin aku bahas di sini adalah bagaimana pola pikir "lebih sibuk lebih baik" dapat berdampak kepada perekonomian mahasiswa. Dari pengalaman aku pribadi, beberapa teman yang mengglorifikasi adanya hustle culture ini memiliki pandangan bahwa semakin dihiasnya CV dengan kegiatan magang, mereka akan semakin berpeluang untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus ketika lulus. Akan tetapi, yang ingin aku tandai di sini adalah bagaimana cara pandang seperti itu dapat dikatakan kurang baik dan memberikan peluang kepada start-up untuk semakin menggalakkan unpaid internship yang tidak sebanding antara usaha yang dikeluarkan mahasiswa dengan hasil yang didapatkan, terlebih apabila start-up atau organisasi tersebut menghasilkan uang dan bukan berbentuk nonprofit. Selain melanggengkan adanya praktek tenaga kerja yang tidak dibayar, hal ini juga dapat mengganggu keseimbangan kehidupan akademik. Penting bagi kita sebagai mahasiswa untuk dapat mengalokasikan kegiatan dan menentukan skala prioritas dengan baik supaya apa yang kita lakukan tidak terhitung 'sia-sia' dan memang layak untuk dilakukan sehingga berbuah baik di masa depan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-20 08:25:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829722838</guid>
      </item>
      <item>
         <title>POTRET LENSA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829792633</link>
         <description><![CDATA[<div>Oleh : Jihan Nisrina, MKP '21<br>Kehidupan organisasi yang dibayangkan oleh para mahasiswa tidak selalu sesuai seperti keinginan. Organisasi-organisasi yang awalnya menjanjikan akan mampu mengembangkan minat dan bakat mahasiswa, pada realitanya bertolak belakang. Tidak jarang kegiatan-kegiatan yang diadakan justru menambah beban mental pada anggotanya. Beberapa harus bertahan demi pengalaman yang bisa ditulis di selembar kertas CV.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1412106670/85fee99d8e33ea20d4872546de3b46db/Dokumen_2.jpg" />
         <pubDate>2021-10-20 09:03:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829792633</guid>
      </item>
      <item>
         <title>AXIS 3: Budaya Masuk Organisasi Karena Fear Of Missing Out (FOMO)</title>
         <author>graceamabella</author>
         <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829992870</link>
         <description><![CDATA[<div>Oleh: Grace Amabella<br><br>Berpartisipasi dalam organisasi menjadi salah satu agenda sebagian besar mahasiswa, terkhusus mahasiswa baru (maba). Organisasi dapat menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mengekspresikan bakat, menggali kemampuan, mencari relasi, serta wadah untuk menggiring mahasiswa menuju pekerjaan yang diimpikan. Butuh pertimbangan yang kritis dan bijak sebelum memutuskan untuk bergabung dalam suatu organisasi. Pada umumnya, maba atau mahasiswa tahun pertama belum familier dengan kehidupan berorganisasi di universitasnya. Namun, saat melihat ada teman lain yang yakin dengan keputusannya untuk berorganisasi, sebagian mahasiswa tidak jarang menjadi merasa takut tertinggal. Perasaan ini disebut dengan <em>Fear of Missing Out </em>(FOMO<em>)</em>.</div><div>&nbsp;</div><div>FOMO adalah perasaan atau persepsi cemas atau takut ketika mendapati orang lain sedang bersenang-senang, memiliki hidup yang terlihat lebih baik, atau mengalami hal-hal yang menurut kita lebih seru (Elizabeth Scott, 2019). Dalam lingkup kehidupan kampus, kecemasan ini wajar timbul menghantui mahasiswa baru dalam mempertimbangkan keputusannya untuk berorganisasi, terlebih lagi mahasiswa&nbsp; zaman sekarang sangat dekat dengan teknologi dan media sosial. Mahasiswa yang menjelajahi media sosial kerap melihat sesama mahasiswa terlihat aktif dalam berorganisasi sehingga timbul rasa atau pikiran-pikiran cemas, seperti takut tidak seaktif mahasiswa yang lain dan takut kehilangan kesempatan untuk merasakan hal-hal seru yang orang lain rasakan.</div><div>&nbsp;</div><div>Sesungguhnya hal ini dapat merujuk pada dua kondisi. Yang pertama adalah termotivasi untuk mencari peluang berorganisasi yang betul-betul diinginkan. Mahasiswa yang memanfaatkan perasaan FOMO sebagai dorongan untuk mencari organisasi yang tepat adalah tindakan yang tepat. Sebaliknya, kondisi kedua merujuk pada mahasiswa yang larut terlalu dalam akibat timbulnya perasaan FOMO. Ketakutan akan tertinggal oleh mahasiswa lain yang sudah lebih dahulu <em>nyemplung</em> dalam kesibukan berorganisasi, malah membuat mahasiswa mengambil keputusan terlalu cepat. Misalnya, terpaksa mendaftarkan diri ke organisasi tertentu yang ternyata tidak sesuai dengan minat dan kapabilitas, alhasil mahasiswa menjadi kewalahan.</div><div>&nbsp;</div><div>Budaya FOMO<em> </em>ini sesungguhnya dapat dihindari dengan mengizinkan perasaan itu mengalir dalam diri mahasiswa masing-masing, tetapi mahasiswa perlu tetap sadar agar tidak terlalu larut pada perasaan dan pikiran yang takut serta cemas. Mahasiswa yang berhasil mengolah budaya yang buruk tersebut dapat lebih maksimal dalam membuat keputusan. Keikutsertaan dalam organisasi tidak ditujukan untuk eksistensi atau sekedar ‘ikut-ikutan teman’, melainkan untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan menjadi lebih baik. Oleh karena itu, keputusan untuk aktif berorganisasi memerlukan pertimbangan yang matang.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-20 11:03:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1829992870</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Potret Lensa : Puisi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1833619267</link>
         <description><![CDATA[<div><br><strong>Inklusi Organisasi Kami</strong></div><div>Oleh : M Aminudin Sosiologi’21<br><br></div><div>Puisi ini tentang kami</div><div>Organisasi sebuah institusi</div><div>Mengabdi tak harap Kembali</div><div>Integrasi dijunjung tinggi<br><br></div><div>Kontroversi, kontravensi, kompetisi</div><div>Bertikai pingkai awas ekslusi</div><div>Pasti kami hindari</div><div>Guna capai inklusi<br><br></div><div>Lagi, kami perlu integrasi</div><div>Buka ruang diskusi</div><div>Satukan isi hati</div><div>Mari bersinergi capai inklusi</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2021-10-21 14:07:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/graceamabella/maganglitbang/wish/1833619267</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
