<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>02. REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA by Si nyamin</title>
      <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z</link>
      <description>PPG IPS PRAJAB TAHAP 1 SEMESTER GANJIL 2022/2023 KELAS 02 - MENGUBAH PARADIGMA PEMBELAJARAN</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2022-11-08 02:25:49 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2022-11-23 13:05:34 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Petunjuk Menjawab: (isi identitas, di sini)</title>
         <author>nyaminsi</author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2374390603</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Clik tanda (+) di sudut kanan bawah<br>2. Tulislah Jawaban semua nomer di kolom ini<br>3. Pubblish</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-08 05:19:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2374390603</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi Pemikiran KHD</title>
         <author>nyaminsi</author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2374392504</link>
         <description><![CDATA[<div>1.Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan KHD.</div><div>2.Bagaimana perwujudan <strong>‘menuntun’ </strong>yang pernah saya lakukan?</div><div>3.Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan <em>kodrat alam </em>dan <em>kodrat zaman</em>? &nbsp;</div><div>4.Bagaimanakah pemikiran KHD <em>“Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” </em>yang pernah Anda lakukan?</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-08 05:21:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2374392504</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pangestu Gusti Putri  (NIM     : 223174915542)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2382532627</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Tugas Mata Kuliah : Filosofi Pendidikan Indonesia<br></strong><br></div><div><strong>Instruktur : Drs. H. Sinyamin, M.Pd<br></strong>&nbsp;<br><br></div><div>Jawaban :<br><br></div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Sebagi guru, yang saya rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah bahwa sebagai seorang guru, kita juga harus terus berkembang dan terus belajar dalam mengasah kompetensi agar dapat mendorong tumbuh kembang peserta didik kea rah yang diharapkan sesuai tujuan pendidikan nasional. Pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan menjelaskan dasar pendidikan, dimana sebagai seorang guru terdapat pedoman “ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” . dimana peran guru bukan hanya sebatas pendidik, namun guru juga berperan dalam menjadi teladan, pencipta, dan penyemangat seluruh warga sekolah.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Perwujudan <strong>menuntun </strong>versi yang pernah saya lakukan ialah kegiatan pendampingan persiapan acara orientasi mahasiswa baru saat di bangku kuliah. Walaupun belum berpengalaman secara nyata menjadi seorang guru, saya memiliki peran yang hampir sama sebagai seorang guru, yakni saya sebagai pendamping/penasehat adik tingkat saya ketika terlibat dalam kegiatan masa orientasi mahasiswa baru. Dimana saya menuntun adik-adik saya untuk “bebas” mengekspresikan diri dengan memberikan berbagai ide yang ingin mereka usung dalam acara tersebut. Peran saya disini adalah mengarahkan dan memberikan pertimbangan bagi adik-adik say ajika memang dalam kondisinya diperlukan. Sebagai contoh ; saat forum perencanaan konsep acara. Adik saya, saya bebaskan memilih konsep seperti apa yang ingin mereka bangun. Setelah itu, saya membantu mereka untuk mengarahkan bagaimana langkah yang harus dilakukan untuk mempersiapkan acara tersebut dengan matang, mulai dari segi SDM, sumber daya pendukung yang dimiliki dalam organisasi</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Menurut konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, kodrat alam dan kodrat zaman saling berkaitan.&nbsp; Dimana seorang pendidik dalam mendidik peserta didik, seharsunya memperhatikan kodrat zaman anak pada saat itu, walaupun konten atau isi yang ingin disampaikan adalah kodrat alam (nilai-nilai kehidupan, tuntutan alam) pada praktiknya perlu diselaraskan. Maksudnya ialah, mendidik peserta didik harus seuai tuntutan&nbsp; alam dan zaman yang dialami oleh peserta didik tersebut</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Konsep pemikiran KHD “pendidikan yang berhamba pada anak”, memiliki makna bahwa pendidikan harus berorientasi pada perkembangan potensi anak, dimana tugas dan tanggung jawab guru adalah sebagai pelayan bagi peserta didik agar mereka mampu menjadi generasi yang bijaksana dan bermoralkan Pancasila. Hal yang pernah saya lakukan sehubungan dengan ini ialah, saat praktik mengajar, saya menyelipkan beberapa sikap-sikap yang perlu diterapkan dan dibiasakan oleh peserta didik seperti sikap spiritual dengan berdoa sebelum belajar. Kemudian menyediakan berbagai sumber belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik audiotori, visual maupun kinestetik.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-14 08:47:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2382532627</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Riko Febrianto (223174915543) Tugas Mata Kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia (Topik 2, Ekplorasi Konsep)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2382989957</link>
         <description><![CDATA[<div>Jawaban&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; :<br><br></div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Sebagai seorang guru yang saya rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yakni seorang guru perlu belajar untuk terus berkembang. Hal tersebut diperlukan guna dapat mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman peserta didik. Dengan begitu guru dapat membimbing peserta didik untuk menemukan pontesi atau bakat dalam diri peserta didik.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pewujudan menuntun bagi saya yakni dapat berjalan bersama dalam proses pendidikan dan pembelajaran bersama peserta didik. Berjalan bersama yang dimaksud yakni dengan membimbing peserta didik untuk menemukan potensi yang mereka miliki dalam dirinya dan mengembangkan potensi tersebut untuk tercapainya tujuan pendidikan yang mereka ingin capai. Perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan dengan cara membimbing potensi peserta didik dalam kegiatan non akademik pramuka dengan memberikan arahan dan pengajaran sesuai dengan minat dan bakat peserta didik. Kegiatan tersebut saya lakukan untuk tujuan perlombaan yang diikuti peserta didik, dengan melakukan bimbingan dan latihan sehingga peserta didik dapat memperoleh hasil dan capaian yang mereka inginkan.</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman, karena peserta didik hidup, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan berkaitan dengan sosial budaya dan karakter peserta didik, sehingga hal itu perlu melihat aspek pertimbangan kodrat alamnya. Berikutya Pendidikan tentunya disesuaikan dengan kodrat zaman, karena zaman selalu berubah, begitu pula dengan materi pendidikan dan komptensi pendidikan harus mengikuti perkembangan zaman. Sehingga materi yang diperoleh peserta didik nantinya akan bermakna sesuai dengan kondisi zaman yang mereka akan lalui.</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan yang berhamba (bepihak) pada anak yakni dengan pendidikan yang memerdekakan peserta didik. Dengan peran saya sebagai pendidik yakni sebagai pendidik kedepannya akan memahami bahwa pendidikan harus berpusat pada peserta didik, agar mereka dapat mengembangkan potensinya dan bakatnya sesuai minat dan karakteristik yang mereka miliki. Hal ini pernah saya lakukan dalam pedidikan yang berpihak pada peserta didik, dengan membimbing peserta didik dalam memperoleh capaian kegiatan non akademik pramuka sesuai dengan minat dan gaya belajar peserta didik.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-14 14:31:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2382989957</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tolong diperhatikan Cara Menjawab : (baris atas ini untuk identitas) enter menuju baris ke dua isi jawaban</title>
         <author>nyaminsi</author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2383870404</link>
         <description><![CDATA[<div>baris bawah ini untuk jawaban<br><br>Hasil seperti milk M. Riko F dan Pangestu GP</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 01:09:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2383870404</guid>
      </item>
      <item>
         <title>FILOSOFI PENDIDIKAN INDONESIA                                                        Astin Nur Afiani (223174915551) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384013181</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Instruktur : Drs. H. Sinyamin, M.Pd.&nbsp; </strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<br>&nbsp;Jawaban :&nbsp;<br><br>1. Setelah mempelajari materi tentang filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara pada pertemuan kali ini saya merasakan bahwa pendidikan kepada anak itu penting terutama kita harus menerapkan semboyan menghamba kepada anak atau berpihak kepada anak karena pada dasarnya seorang pendidik harus bisa melayani segala bentuk kebutuhan metode belajar siswa yang berbeda-beda.&nbsp;<br>2. Perwujudan menuntun pada dasarnya kita sebagai seorang guru harus bisa mengantarkan anak agar dapat memperbaiki lakunya dalam hidup agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Kita harus menuntunmereka agar mempunyai pribadi yang terampil, berakhlak mulia dan bijaksana sehingga mencapai kebahagiaan dan keselamatan.&nbsp;<br>Adapun perwujudan menuntun yang sudah pernah saya lakukan yaitu dengan menanamkan nilai-nilai pembiasaan yang baik disekolah seperti nilai disiplin yang bida ditunjukkan ketika anak-anak berbaris dihalaman, membuang sampah pada tempatnya, meletakkan sandal kamr mandi sesuai tempat semula dengan rapi, selanjutnya mengajarkan nilai akhlak misalnya kalau berjalan didepan guru harus menunduk, makan dan minum tidak boleh dengan berdiri, berkata-kata tidak boleh yang kotor. Selanjutnya nilai agama yaitu dengan membiasakan anak-anak solat dhuha dan dhuhur berjamaah. Pembiasaan-pembiasaan yang mrnuntun ini harapannya dapat menjadikan siswa menjadi pribadi yang mempunyai nilai positif dalam diri yang akan dijadikan bekal dalam mengahadapi lingkungan dunia luar. &nbsp;<br>3. Pendidikan indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena dua hal ersebut sangat penting bagi penanaman nilai kepada siswa.. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan dimana anak itu berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Artinya bahwa setiap anak sudah mempunyai sifat atau karakternya masing-masing jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tersebut, yang bisa dilakukan guru yaitu menunjukkan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga melebur sifat buruknya.&nbsp;<br>Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai seorang guru harus membekali siswa sesuai dengan zamannya, agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri. Dalam konteks pembelajaran abad 21 budi pekerti tidak bisa dipisahkan dari pendidikan dan pengajaran. Dimana guru harus memberikan contoh teladan kepada siswa dalam mengembangkan budi pekerti. Hal ini bisa dilakukan dengan pembiasaan diskeolah dengan menanamkan nilai-nilai budi pekerti atau akhlak mulia kepada anak.&nbsp;<br>4. Pendidikan yang menghamba kepada anak pada dasarnya merupakan perwujudan dari seorang pendidik untuk memberikan tuntunan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan secara budi (cipta,rasa,karsa) dan pekerti (tenaga) sesuai dengan kodratnya anak. KHD mengkritisi pendidikan yang hanya menjadikan ujian sebagai penentu capaian anak misal dengan nilai raport tinggi, ijazah, namun dari segi pekembangan jiwa soaial hidupnya kurang. Pendidikan yang menghamba pada siswa harus memperhatikan kebutuhan siswa dengan menghadirkan model dan metode belajar yang menggali motivasi sekaligus menyenangkan sehingga kodrat anak bermain itu tetap ada dan muaranya pada tercapainya tujuan pembelajaran.&nbsp;<br>Adapun pemikiran KHD Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak yang&nbsp;<br>pernah saya lakukan yaitu dengan merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan minat peserta didik. Sebelum masuk dalam proses pembelajaran di awal saya membimbing peserta didik untuk lebih mengenal dirinya sendiri apa kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya lalu saya memberikan dorongan motivasi agar mereka dapat memaksimalkan potensi yang mereka miliki.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 02:47:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384013181</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mohtar Rosyid (223174915524) </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384100240</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Instruktur : Drs. H. Sinyamin, M.Pd.</strong><br><br>Jawaban:&nbsp;<br><br>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Saya merasakan bahwa pendidikan itu mempunyai maksa yang luas serta&nbsp; banyak arti dan makna sehingga orang yang berkecipung dalam dunia pendidikan mempunyai stigma yang berbeda dengan orang yang notabenenya tidak pernah berada di dalamnya. Kemudian filosofi pendidikan KHD berorientasi pada kodrat alam sehingga setelah saya mempelajarinya saya merasa bahwa setiap anak mempunyai kebiasaan masing-masing atau ciri khas dari setiap daerahnya.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Perwujudan “menuntun”&nbsp; yang pernah saya lakukan adalah memberikan contoh berpakaian yag rapi kepada peserta didik.&nbsp;</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Karena Indonesia merupakan Negara maritim yang mempunyai banyak pulau di dalamnya kemudian Indonesia juga mempunyai beragam kebudayaan. Dengan dua hal tersebut pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena sejatinya kedua hal tersebut menjadi data atau informasi kepada setiap pendidik dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas supaya pembelajaran di kelas terasa nyaman dan asyik sesuai dengan keadaan peserta didik.</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;“Pendidikan yang berhamba pada anak”&nbsp; yang pernah saya lakukan adalah dengan memposisikan diri sebagai pelayan di kelas. Artinya saya menyediakan apa yang diperlukan peserta didik dalam pembelajaran, memberikan seluas-luasnya kepada mereka dalam mengeksplor materi yang sedang di bahas dari berbagai sumber. Melayani peserta didik dengan baik dan merata.&nbsp; &nbsp;&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 03:55:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384100240</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nunung Nurlaili (223174915514) Tugas Mata Kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia, Topik 2 . Intsruktur: Drs. H. Sinyamin, M.Pd,.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384264627</link>
         <description><![CDATA[<div><br>jawaban:<br><br>1. setelah mempelajari topik ini tentang Dasar-dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya menyadari bahwa sebagai seorang guru harus dapat menyesuaikan diri dengan&nbsp; peserta didik. sebagai seorang guru, kita perlu memahami kebutuhan peserta didik dalam belajar, memahami tahap perkembangan peserta didik, dan dapat mejadi pembimbing yang baik bagi peserta didik. Guru harus berpihak pada apa yang dibutuhkan peserta didik.<br>2. perilaku menuntun yang saya lakukan adalah membimbing peserta didik ketika kesulitan dalam mengerjakan tugas atau kesulitan memahami peserta didik. bersama peserta didik menerapkan kebudayaan baik seperti mengucapkan kata tolong, maaf dan terimakasih.<br>3. karena di Indonesia adalah daerah yang kaya akan sumber daya alam. dimana sumber daya alam tersebut dapat dimanfaatkan dalam mendukung pembelajaran peserta didik. kodrat zaman juga perlu dilakukan seiring waktu yang terus berjalan dan mengalami perkembangan zaman. terutama dalam hal teknologi. Jadi kodrat zaman perlu dilakukan agar dapat terus mengikuti perkembangan yang ada.<br>4. Pendidikan harus berpihak pada peserta didik. Artinya segala bentuk kebijakan yang ada di sekolah harus sesuai dengan  kepentingan peserta didik. peran saya dalam hal itu adalah menerapkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. seperti menyediakan media pembelajaran dan membebaskan peserta didik dalam menghasilkan produk pembelajaran namun tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 06:26:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384264627</guid>
      </item>
      <item>
         <title>JANUAR RAMADHANI HERDIANZA (223174915518) FILOSOFI PENDIDIKAN INDONESIA Instruktur : Drs. H. Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384269731</link>
         <description><![CDATA[<div>Jawaban :<br><br>1. Setelah mempelajari pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya sebagai guru pemikiran yang berubah dari saya adalah bahwa saya harus memberikan tuntunan kepada anak didik dengan lebih sabar dan ikhlas, karena mereka masing-masing unik dan berbeda. Tidak perlu memberikan hukuman yang sifatnya tidak mendidik, memberikan teladan agar mereka bisa melihat dan menirunya. Memberikan pembelajaran yang menyenangkan bagi mereka dengan mencoba berbagai macam model pembelajaran.<br>2. , Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidik itu&nbsp; hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Perwujudan menuntun peserta didik bagi saya adalah ketika pembelajaran dikelas saya memberikan arahan dan bimbingan untuk menemukan informasi yang belum mereka ketahui, memberi contoh ketika berbicara yang baik dan sopan, menghargai pendapat antara satu sama lain, menghormati bapak ibu guru dan orang tua, memberi contoh bahwa makan dan minum harus duduk, membaca doa dan mengawali pembelaaran dengan berdoa.<br>3. Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar dan indonesia mempunyai semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan&nbsp; anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi, yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga menutupi mengaburkan sifat-sifat jeleknya. Jadi sebagai guru kita harus memahami perbedaan karakter setiap peserta didik yang disebut pembelajaran berdiferensiasi yang harus guru pahami.<br>4. Pendidikan yang berpihak pada anak yang saya lakukan dalam pembelajaran di kelas memperhatikan kodrat anak yang masih suka bermain dan ketika anak-anak sedang bermain pasti yang mereka rasakan adalah ‘kegembiraan’ dan itu membuat suatu kesan yang membekas di hati dan pikirannya. Saya memasukan unsur permainan dalam pembelajaran agar siswa senang dan tidak mudah bosan. Apalagi menggunakan permainan-permainan tradisional yang ada, selain menyampaikan pembelajaran melalui permainan , saya juga mendidik dan mengajak anak untuk melestarikan kebudayaan. Hal terpenting yang harus dilakukan seorang guru adalah menghormati dan memperlakukan anak dengan sebaik-baiknya sesuai kodratnya, melayani mereka dengan setulus hati, memberikan teladan <em>(ing ngarso sung tulodho)</em>, membangun semangat (<em>ing madyo mangun karso) </em>dan memberikan dorongan (<em>tut wuri handayani) </em>bagi tumbuh kembangnya anak. Menuntun mereka menjadi pribadi yang terampil, berakhlak mulia dan bijaksana sehingga mereka akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan.</div><div><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 06:30:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384269731</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lina Vinka Kharimah (223174915544) Mata Kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia, Topik 2, Instruktur : Drs. H. Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384585877</link>
         <description><![CDATA[<div>&nbsp;1.&nbsp; &nbsp; Yang saya rasakan setelah mempelajari filosofi Pendidikan dari KHD adalah bahwa saya sebagai seorang guru membantu peserta didik untuk memaksimalkan potensi yang ada didalam dirinya. Selaras dengan pemikiran dari KHD bahwa pendidikan sebagai petani yang akan menanam bibit. Sebagus apapun bibit yang dimiliki tanpa dilakukan perawatan, pemeliharaan yang maksimal maka tidak akan bisa menghasilkan tanaman yang berkualitas. Begitupun sebaliknya walaupun berasal dari bibit yang kurang bagus namun kalau diberikan perawatan maka akan bisa menghasilkan tanaman yang berkualitas.</div><div>Sebagai seorang guru saya membimbing peserta didik untuk lebih mengenal diri mereka secara lebih dalam terkait potensi yang ada dalam dirinya. Setelah mereka memahami potensi dalam dirinya maka akan lebih memudahkan guru untuk membimbing dalam memberikan motivasi dan dorongan agar mereka bisa memaksimalkan potensi yang mereka miliki, sehingga nantinya mereka bisa lebih mandiri, bertanggung jawab serta bisa merencanakan untuk masa depannya.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; Perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan adalah ketika pembelajaran dikelas kita sebagai seorang pendidik hendaknya memberikan arahan dan bimbingan dalam pembelajaran ketika peserta didik mengalami kesulitan dalam pemahaman materi dll. Karena pada dasarnya seorang pendidik harus memberikan arahan atau tuntunan kepada anak dengan mengedepankan keikhlasan dan kesabaran, karena setiap anak memiliki karakteristik yang unik dan berbeda. Sebagai seorang pendidik harus memberikan teladan bagi anak agar bisa mencontoh dari teladan seorang pendidik yang baik, contohnya membuang sampah pada tempatnya.</div><div>3.&nbsp; &nbsp; Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan zaman bahwa pendidik harus mendidik anak sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya. Misalnya cara belajar dan interaksi murid abad ke 21 berbeda dengan murid pertengahan dan akhir abad ke 20, untuk itu seorang pendidik harus melek tehnologi serta memiliki keterampilan abad 21 dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Sedangkan kodrat alam pendidik harus menyesuaiakan dengan keadaan lokal sosial budaya dari murid yang tentunya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Contohnya peserta didik yang berada dilingkungan pesisir tentunya karakteristik dan budayanya berbeda dengan yang berada dilingkungan pegunungan.</div><div>4.&nbsp; &nbsp; Pemikiran Ki Hadjar Dewantara “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah saya lakukan adalah dengan menyesuaikan kodrat anak yang pastinya masih suka dengan permainan. Jadi saya menerapkan media yang sekaligus peserta didik bisa bermain. Contohnya pada saat itu saya menerapkan media game ular tangga, dimana peserta didik yang banyak terlibat aktif dalam permainannya. Selain itu pembelajaran yang dapat saya terapkan dengan menggunakan metode dan pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk dapat mengeluarkan kreatifitas mereka dan memberikan kebebasan untuk memilih dan mengembangkan potensi yang ada pada dirinya sendiri. Pada pembelajaran saat ini harus menerapkan student center sehingga pendidik hanya bersifat sebagai fasilitator atau hanya memfasilitasi setiap kebutuhan dari peserta didik.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 10:45:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384585877</guid>
      </item>
      <item>
         <title>WINDA FAJRIANA (223174915513)                  Filosofi Pendidikan Indonesia, Topik 2, Instruktur: Drs. H.Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384640389</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Yang saya rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantoro adalah, saya menjadi tahu tentang bagaimana menerapkan pembelajaran yang memerdekakan peserta didik. Menurut Ki Hajar Dewantoro pendidikan&nbsp;yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Yaitu kaitannya bagaimana peserta didik seharusnya bebas berpendapat dan dan mencari kebutuhan belajarnya dan peran guru yaitu sebagai penuntun dan pengarah serta fasilitator yang dikatakan bahwa Ki Hajar Dewantoro terkenal dengan sistem among . Dengan mendapat pengalaman seperti itu, maka diharapkan saya nantinya bisa menerapkan hal tersebut untuk menjalankan proses pembelajaran yang terararah.&nbsp;<br>2. Perwujudan menuntun yang pernah saya alami yaitu Pengalaman yang pernah saya lakukan terkait proses pembelajaran untuk merefleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah saya membimbing peserta didik dalam penanaman nilai kedisiplinan di sekolah. Yaitu dengan memberikan aturan-aturan tentang kedisiplinan terutama pada saat jam mata pelajaran saya seperti disiplin tepat waktu dalam hadir di kelas, disiplin saat pengumpulan tugas dan lain-lain, jika mereka ada yang tidak atau kurang disiplin bisa saya berikan nasihat ataupun punishmen sehingga lama-lama kebiasaan disiplin bisa dilakukan dalam jangka waktu kedepannya.&nbsp;<br>3. Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan&nbsp;kodrat alam&nbsp;dan&nbsp;kodrat zaman.&nbsp;<br>Mengapa pendidikan Indonesia harus mempertimbangkan terkiat hal tersebut karena pertama, kodrat alam diartikan sebagai lingkungan alam tempat peserta didik berada, baik kultur budaya maupun kondisi alam geografisnya. Kodrat alam berhubungan juga dengan karakter dasar anak. Ada anak yang disiplin, bertanggung jawab, rajin, jujur, malas, pemalu, penakut, pasif dan sebagainya. Maka selayaknya guru harus bisa menjadi model positif, teladan yang baik bagi mereka, dan tugas guru adalah mengantarkan, mengembangkan, memunculkan bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswanya tersebut. Kemudian kedua, Kodrat zaman, Kodrat zaman diartikan perubahan dari waktu ke waktu. Guru membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya, dan menyesuaikan diri. Dalam konteks pembelajaran sekarang guru harus lebih mengenal teknologi agar menyesuaikan dengan kondisi. proses pembelajaran hendaknya menyesuaikan berbagai diferensiasi yang ada, baik gaya belajar, gaya berpikir, minat, bakat, dan sebagainya.<br>4. Pendidikan yang menghamba pada Anak&nbsp;ditunjukan melalui keikhlasan, kecintaan kita pada setiap anak saat kita mendidiknya. Jiwa seorang pendidik tentu terpanggil untuk menjadikan seorang anak menjadi berilmu dan berakhlak yang baik. Kita sebagai pendidik adalah hal yang sangat penting dan benar karena guru atau pendidik itu adalah pelita dalam anak ujung tombak dalam Pendidikan tentu saja guru harus menghormati anak memperlakukan anak dengan sebaik-baiknya. Seperti pengalaman yang bisa dilakukan yaitu adalah memberikan kebebasan mengajar dengan bahagia berpusat pada anak dan mewujudkan merdeka belajar. Yaitu saat menentukan kebutuhan belajar yang diinginkan siswa salah satu contohnya. Pengalaman saya yaitu, ketika siswa bosan dengan metode pelajaran yang sudah beberapa kali dilakukan, mereka menginginkan metode yang berbeda dari biasanya, kemudian saya sebagai guru mencari metode lain yang relevan dan disenangi siswa sehingga siswa juga suka menerima proses pembelajaran dengan baik.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 11:32:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384640389</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurul Izzah Sofiyah (223174915537) FILOSOFI PENDIDIKAN INDONESIA Instruktur: Drs.H.Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384674442</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Sebagai guru yang saya rasakan yaitu lebih terbuka kepada pembelajaran yang tidak memaksa peserta didik, dalam artian lebih peka akan kondisi peserta didik terutama ketika pembelajaran. filosofi yang mengemukakan “segala perubahan yang terjadi pada murid selalu berhubungan dengan kodrat alam dan zamannya”, membuat saya lebih memahami bahwa guru tidak bisa merubah seorang peserta didik namun hanya bisa mengembangkan kodrat alamnya melalui pembelajaran. Sehingga muncul tekad untuk menjadi guru yang kreatif dalam menciptakan pembelajaran yang peka akan kodrat alam peserta didik.&nbsp;<br>2. Kata "menuntun" yang saya pahami dalam filososfi pengajaran Ki Hajar Dewantara yaitu seorang guru dapat memberi arahan kepada peserta didik agar dapat mencapai kebahagian dan keselamatan dalam hal apapun terutama ilmu. Saat saya menjadi guru, penerapan kata "menuntun" yang saya lakukan yaitu tidak memaksakan peserta didik untuk memahami atau mengerjakan tugas sesuai dengan target yang telah saya tentukan, melainkan sesuai dengan kemampuan peserta didik namun tetap pada arahan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Jika memang ada kesulitan yang dialami peserta didik, saya sebagai guru harus mampu memberikan bimbingan atau treatmen untuk dapat memberikan perubahan berupa kemajuan.&nbsp;<br>3. Karena sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa segala perubahan yang terjadi pada peserta didik selalu ada hubungannya dengan kodrat alam dan kodrat zaman peserta didik. Setiap peserta didik pasti tumbuh dan berkembang tidak lepas pada keadaan lingkungan dan masyarakat yang berbeda. Peserta didik yang tinggal di perkotaan pasti akan menjadi bagian dari masyarakat kota, sedangkan peserta didik yang tinggal di pedesaan akan menjadi masyarakat pedesaan. Sehingga guru harus mempertimbangkan konteks pembelajaran yang sesuai dengan kodrat alam peserta didiknya. Ketika guru peka akan kodrat alam peserta didik dan pembelajaran benar-benar jalan sesuai dengan kodrat alam peserta didik maka peserta didik memiliki kesempatan yang luas untuk mengeksplorasi potensinya dan mampu menemukan pengalaman bermakna.&nbsp;</div><div>Selain itu, guru juga harus mempertimbangkan kodrat zaman, mengingat semua hal yang ada di bumi cenderung dinamis dan berkembang. Sehingga jika guru tidak mempertimbangkan kodrat zaman maka peserta didik bisa tergerus oleh waktu yang menyebabkan sempitnya wawasan.&nbsp;<br>4. Filosofi “menghamba pada peserta didik” yang saya pernah lakukan yaitu peka bahwa semua peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga saya tidak memperlakukan hal yang sama ke semua peserta didik melainkan sesuai dengan karakternya. Contohnya kemarin pada saat materi diaspora bangsa Indonesia kelas 7, sebenarnya saya ingin peserta didik menuangkan diaspora bangsa dengan menggunakan inforgrafis manual. Tetapi nyatanya tidak semua peserta didik jago menggambar. Akhirnya yang saya lakukan mengganti mengerjakan tugas sesuai dengan minat kalian. Hasilnya tentu beragam ada peserta didik yang tetap menggambar infografis ada yang menggunakan video menjelaskan dan ada yang membuat mind mapping.&nbsp;</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 12:02:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384674442</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Fatwa Chulaidar Rasyidi ( 223174915525) FILOSOFI PENDIDIKAN INDONESIA Instruktur: Drs. H. Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384711594</link>
         <description><![CDATA[<div>1.	Sebagai Guru, Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara?<br>Pendidikan dan mengajar tidak dapat dipisahkan. Menurut Ki Hajar Dewantara (KHD), mengajar adalah bagian dari pendidikan. Mengajar adalah proses pendidikan memberikan pengetahuan atau manfaat untuk keterampilan hidup fisik dan intelektual anak-anak. Pendidikan memberikan bimbingan tentang semua kekuatan alam yang dimiliki anak-anak sehingga mereka dapat mencapai tingkat keamanan dan kesejahteraan tertinggi sebagai manusia dan anggota masyarakat. KHD percaya bahwa pendidikan adalah salah satu kunci terpenting untuk menghasilkan manusia Indonesia yang beradab.<br>2.	Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang pernah Anda lakukan?<br>Perwujudan “menuntun” yang sudah saya pernah lakukan adalah dengan mengetahui profil dari peserta didik terutama dari lingkungan dia berasal. Dengan begitu, dalam proses pembelajaran yang saya lakukan adalah membangun suasan belajar sesuai kodrat yang sudah dari peserta didik dapat sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya<br>3.	Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?<br>Jika dilihat dari kodrat alam,dalam proses pembelajan guru harus memahami tentang ingkungan alam tempat peserta didik berada, baik kultur budaya maupun kondisi alam geografisnya.&nbsp; Sedangkan, dilihat dari kodrat zaman, dalam proses pembelajaran guru nmembekali keterampilan kepada peserta didik sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya, dan menyesuaikan diri.<br>4.	Bagaimanakah pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah Anda lakukan?<br>Pendidikan yang berpihak pada anak yang pernah saya lakukan adalah menerapkan proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa yaitu minat, bakat, lingkungan belajar dan potensi agar mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 12:32:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384711594</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M. Fathurrijal Aziz (223173915550) Filosofi Pendidikan Indonesia Intrukstur Drs.H.Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384738970</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; sebagai guru apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara?<br>dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara mengajarkan kepada saya mengenai betapa pentingnya peran peserta didik dalam pembelajaran bahkan beliau berkata untuk memerdekakan dan berpihak sepenuhnya kepada peserta didik dalam proses pembelajaran. pernyataan tersebut sangat cocok di terapkan di kurikulum merdeka ini dengan memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada peserta didik dalam mengekspor pengetahuannya sendiri. selain itu lebih mengetahui peran pendidik untuk pendidikan saat ini yaitu dengan menjadi fasilitator kepada peserta didik dalam proses belajarnya supaya menciptakan pembelajaran yang mengonstruk atau membangun peserta didik.<br>2. menurut saya makna menuntun adalah mengarahkan peserta didik agar mereka tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya ketika dibebas mengembangkan bakat dan minatnya. Contoh Saya berasal dari ponorogo. sesuai kebudayaan yang terkenal di ponorogo yaitu kesenian reog, saya menuntun/membimbing siswa yang berminat di bidang seni untuk mengikuti kegiatan ekstra kesenian tersebut. Walaupun saya tidak secara langsung terjun ke lapangan tetapi saya membantu dengan memberikan bimbingan verbal, memberikan relasi, dan juga memotivasi siswa dalam mengikuti ekstra tersebut.<br>3. karena Seorang guru sekarang mempunyai tugas untuk menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. kodrat alam adalah sesuatu berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada. Jadi anak mempunyai bawaan dasar berdasarkan lingkungan sekitar anak. seperti contoh anak yang hidup dan berkembang di lingkungan pantai sudah otomatis berbeda dengan anak yang lahir dan berkembang di daerah kota.&nbsp;<br>4. terkait pendidikan yang berhamba kepada anak yang pernah saya lakukan yaitu menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran khususnya pada kelas 9 materi dampak globalisasi. saya menyediakan apa yang dibutuhkan siswa seperti contoh beberapa referensi pembelajaran (artikel, video pembelajaran, kasus terkini) dan secara mandiri siswa mengeksplor pengetahuannya terkait dampak globalisasi. untuk memberikan pengalaman baru saya memberikan tugas dengan proyek yaitu infografis dampak globalisasi dengan secara terbimbing.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 12:53:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384738970</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muspita Devi (223174915507) Filosofi Pendidikan Indonesia Instruktur: Drs.H.Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384814135</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Setelah mempelajari filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara saya merasakan bahwa Pendidikan bukanlah sekedar transfer ilmu pengetahuan, namun harus dapat membuat anak memahami dunianya dan dapat memanfaatkan pemahaman tersebut untuk kebahagiaan hidupnya. Dalam penerapannya yakni membelajarkan peserta didik secara merdeka, artinya tanpa paksaan dan tekanan, kebebasan dalam memilih sumber belajar dan cara belajar yang sesuai dengan minat peserta didik namun tetap memperhatikan budi pekerti peserta didik. Proses pembelajaran harus berpusat pada peserta didik yang dimana menjadikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Sehingga sebagai seorang pendidik harus memahami dan memfasilitasi kebutuhan peserta didik agar mereka dapat mengembangkan bakat dan potensi terbaiknya.</div><div>2.&nbsp;Perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan adalah pada proses pembelajaran di kelas saya memberikan bimbingan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami materi hingga mereka paham. Selaras dengan konsep merdeka belajar menurut Ki Hajar Dewantara yakni memberikan keleluasaan bagi murid untuk bekerja dengan mandiri namun tetap membimbing dan memberikan arahan jika membutuhkan bantuan.</div><div>3. Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena kedua hal ini tidak bisa dipisahkan dalam diri anak. Kodrat alam dan kodrat zaman berkaitan dengan nilai-nilai dan sifat-sifat kemanusiaan peserta didik. Seorang anak akan lahir dari kodrat alam berupa potensi, bakat, dan kemampuan yang berbeda sehingga sebagai seorang pendidik kita diharapkan mampu membantu, memotivasi mereka agar bisa tumbuh maksimal sesuai jenjang usia mereka. Sedangkan kodrat zaman lebih kepada bagaimana seorang pendidik mampu membimbing anak memasuki abad 21, untuk itu seorang pendidik harus melek teknologi serta memiliki keterampilan abad 21 dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran agar dalam proses pembuatan materi belajar lebih menarik sehingga minat belajar siswa semakin meningkat.</div><div>4. Pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai Pendidikan yang berhamba pada anak memiliki makna bahwa pembelajaran yang menjadikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Pendidikan yang berhamba pada anak yang pernah saya lakukan adalah merancang pembelajaran dengan sistem student center dimana kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik. Misalnya peserta didik diberikan kebebasan dalam pengumpulan tugas yang disesuaikan dengan gaya belajar dan bakat mereka seperti dalam bentuk gambar, tulisan, maupun video. Saya sebagai pendidik berperan sebagai fasilitator dan memberikan pelayanan&nbsp; pada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Dalam penerapannya peserta didik lebih aktif, mandiri dan menerapkan materi belajar sesuai dengan kemampuan individu masing-masing.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 13:43:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384814135</guid>
      </item>
      <item>
         <title>DWI NOVITA ANGGRAINI (223174915545) FILOSOFI PENDIDIKAN INDONESIA Instruktur: Drs. H. Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384916076</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Pendidikan Ki Hajar Dewantara berdasarkan kepada kebudayaan dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan bangsa dan negara. Mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia sehingga harus memerdekakan manusia dangan segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani. Ki Hajar Dewantar juga memiliki dasar pendidikan yaitu:</div><div>a.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Merdeka: peserta didik diberi kebebasanmemilih pengetahuan untuk mengembangkan bakat dan minat peserta didk.</div><div>b.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Kodrat alam: peserta didik sudah memiliki karakteristik yang berbeda sejak lahir</div><div>c.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Kebudayaan: peserta didik harus memilik pribadi yang budi pekerti dan dapat menemukan jati diri</div><div>d.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Kebangsaan. Peserta didik memiliki rasa persatuan dan kesatuan untuk mempererat kedaulatan bangsa dan negara Indonesia</div><div>e.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Kemanusiaan: memanusiakan manusia saling menghargai satu sama lain sehingga tidak ada perpecahan antar bangsa &nbsp;<br><br></div><div>Setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dapat memahami dan bisa mengimplementasikan pemikiran Ki Hajar Dewantara untuk pendidikan dan pengajaran bangsa Indonesia. Dengan adanya perubahan kurikulum menjadi kurikulum merdeka dapat disimpulkan bahwa terdapat kesamaan tujuan dari pemikiran KHD dan kurikulum merdeka yang&nbsp; berpusat pada peserta didik, penanaman budi pekerti sangat penting. Menekankan pada proses daripada hasil dan proses pembelajaran berlangsung untuk memerdekakan peserta didik.<br>2. Menuntun artinya anak diberi kebebasan dan pendidk sebagai pamong dalam memberi arahan agar tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Salah satunya pada saat proses pembalajaran berlangsung, saat ini proses pembelajaran berpusat peserta didik. Peserta didik diberi kebebasan untuk menggali atau mencari informasi pengetahuan sesuai dengan kebutuhan, minat dan bakat. Akan tetapi pendidik mengawasi proses pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai sehingga peserta didik tidak mencari informasi diluar konteks pembelajaran<br>3. Arti dari kodrat alam yakni manusia sudah mempunyai karakteristik atau ciri khas sejak lahir. Dan kodrat zaman yakni manusia harus mampu bertahan, beradaptasi dan dengan perkembangan zaman sehinggan tidak ketinggalan dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, pendidikan di Indonesia perlu mempertimbangkan dari dua kodrat tersebut. Dua kodrat tersebut harus berjalan beriringan tidak ada yang terlalu menonjol. Meskipun manusia mempunyai karakteristik sejak lahir harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.&nbsp;<br>4. Pendidikan berhamba pada anak adalah menekankan pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu dengan menggunakan model atau metode belajar yang mebangun habit anak menjadi pembelajar sejati yang selalu ingin tahu terhadap informasi dan pengetahuan. Saat proses pembalajaran berlangsung mengamati gaya belajar peserta didik satu kelas yang lebih condong ke arah visual, audio atau kinestetik. Pertemuan pertama proses pembelajaran menggunakan studi kasus, peserta didik mencari permasalahan kelangkaan dan cara mengatasinya. Setelah itu akan dipresentasikan di depan kelas. Peserta didik sangat antusias sekali kalua di beri kesempatan untuk maju ke depan. Oleh karena itu, dapat dilihat peserta didik menyukai proses pembalajaran visual dan kinestetik.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-15 14:36:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2384916076</guid>
      </item>
      <item>
         <title>CINDY SEPTIANA CHOIRUNNISA (223174915517) FILOSOFI PENDIDIKAN Instruktur: Drs. H. Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2385691310</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan KHD?<br></strong><br></div><div>Setelah mempelajari filosofi pendidikan KHD saya sebagai guru tidak merasa “egois” lagi, dalam artian saya sebagai guru tidak lagi memaksa anak didik saya untuk pandai di segala bidang, setelah mempelajari filosofi pendidikan KHD pembelajaran yang saya lakukan menjadi berpihak kepada anak, dengan menyesuaikan kodrat yang dimiliki anak, dengan menyesuaikan perkembangan zaman,&nbsp; &nbsp; &nbsp;maka tujuan pendidikan akan lebih mudah untuk dicapai.&nbsp;<br><br></div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang pernah saya lakukan?<br></strong><br></div><div>Perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan yaitu, mendampingi siswa untuk belajar , menuntun mereka mengembangkan potensi yang mereka miliki berdasarkan kodrat yang mereka miliki tanpa memaksakan kehendak kita kepada anak. Adapun perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan yaitu mendampingi anak-anak di desa saya untuk belajar, saya memulai bimbingan belajar bermula pada saat pandemi, para ibu di desa saya meminta saya untuk mendampingi adik-adik belajar, dikarenakan para ibu tidak sempat untuk mendampingi belajar anak mereka karena masih bekerja. Saya membantu adik-adik untuk pemantaban materi yang telah di berikan oleh guru di sekolah melalui penugasan yang diberikan. Sehingga meski pembelajaran di lakukan secara daring di sekolah, mereka tetap dapat memahami materi dengan baik.<br><br></div><div><strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kondrat zaman?<br></strong><br></div><div>Perlunya pendidikan Indonesia mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman. Anak memiliki kodrat alam yang berhubungan dengan kultur dan lingkungan tempat peserta didik tersebut tumbuh, setiap peserta didik memiliki kodrat alam yang berbeda. Adapun kodrat zaman yang berubah dari waktu ke waktu, perlunya pendidik mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena pendidik harus pandai menyesuaikan diri, mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan kodrat zaman yang selalu berubah dengan tidak mengesampingkan kodrat alam mereka yang berbeda. Anak nberhak mendapatkan pendidikan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman mereka sendiri. Oleh karena itu, menjadi seorang guru harus selalu “update” dalam mengembangkan kompetensinya agar selaras dengan perkembangan zaman, sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.<br><br></div><div><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimana pemikiran KHD “Pemdidikan yang menghamba (berpihak) pada anak” yang pernah anda lakukan?<br></strong><br></div><div>Pemikiran KHD “Pemdidikan yang menghamba (berpihak) pada anak” yang pernah saya lakukan yaitu dengan melakukan pemetaan (diferensisasi) sesuai dengan gaya belajar anak sehingga peserta didik tidak merasa belajar menjadi beban melainkan menjadi kegiatan yang menyenangkan karena berpihak pada mereka. Saya melakuakn pemetaan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik pemetaan ini saya lakukan dengan memberikan penugasan sesuai gaya belajar mereka saya memberikan beberapa pilihan kepada peserta didik saya, untuk memilih jenis jawaban yang mereka kehendaki (menjawab dalam bentuk tulisan catatan, menjawab dalam bentuk persentasi atau menjelaskan dalam bentuk gambar.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-16 00:18:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2385691310</guid>
      </item>
      <item>
         <title>IKRIMA NIDA KENCANA WATI (223174915535) - FILOSOFI PENDIDIKAN INDONENESIA </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386091830</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Instruktur : Drs. H. Sinyamin, M.Pd</strong></div><div><br><br><strong><em>1. Sebagai Guru, Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara?</em></strong><br><br></div><blockquote>Saya sebagai guru, saya menyadari bahwasanya saya belum benar-benar menerapkan filosofi pendidikan dan pengajaran dari Bapak Ki Hajar Dewantara, yakni semboyan "ing ingarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani" dan Pendidikan dan Pengajaran sebagai sebuah "taman". Namun ,dengan mempelajari filosofi pendidikan saya akan berusaha untuk menerapkan filosofi pendidikan dan pengajaran yang menjadi pemikiran Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara dalam proses pendidikan dan pembelajaran, karena ini adalah esensi dari pendidikan dan pengajaran. Saya akan terus berproses belajar dari diri sendiri dan rekan kerja saya. Saya akan terus berkolaborasi dengan semua pihak yang berkepentingan dengan dunia pendidikan. Dengan demikian maka tujuan pendidikan dan pembelajaran dapat tercapai. Selain itu, saya ingin menerapkan filosofi pendidikan dalam kelas sehingga murid-murid saya lebih terlibat aktif dan merasa nyaman dalam setiap proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan memberikan ruang kemerdekaan dalam pendidikan murid-murid saya akan lebih leluasa dalam mengeksplorasi segala kemampuan yang ada dalam dirinya, sehingga murid saya memiliki kreatifitas dan mampu berinovasi.</blockquote><div><br></div><div><strong><em>2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang pernah Anda lakukan? </em></strong><br><br></div><blockquote>Pengalaman yang pernah saya lakukan terkait perwujudan menuntun dalam proses pembelajaran untuk merepleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah saya membimbing peserta didik untuk lebih mengenal diri mereka secara lebih dalam terkait dengan gaya belajar, bakat minat dengan melakukan tes sederhana tentang gaya belajar dan bakat. Setelah mereka memahami siapa diri mereka lengkap dengan kelebihan dan kekurangan akan lebih memudahkan saya sebagai guru pembimbing dalam memberikan motivasi dan dorongan agar mereka bisa memaksimalkan potensi yang mereka miliki, sehingga nantinya mereka bisa lebih mandiri, bertanggung jawab serta bisa merencana masa depannya.&nbsp;</blockquote><div><br></div><div><strong><em>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman? </em></strong><br><br></div><blockquote>KHD menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan <strong>kodrat alam</strong> dan <strong>kodrat zaman</strong>. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi, yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul <strong>sifat-sifat baiknya</strong> sehingga menutupi/mengaburkan <strong>sifat-sifat jeleknya</strong>.<br>Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri. Dalam konteks pembelajaran sekarang, ya kita harus bekali siswa dengan <strong>kecakapan Abad 21</strong>. <strong>Budi pekerti</strong> juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan dan pengajaran yang kita lakukan sebagai guru. Guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan budi pekerti. Kita juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia kepada anak.</blockquote><div><br></div><blockquote>Dalam pembelajaran di kelas hendaknya kita juga harus memperhatikan kodrati anak yang masih suka <strong>bermain</strong>. Lihatlah ketika anak-anak sedang bermain pasti yang mereka rasakan adalah <strong>‘kegembiraan’</strong> dan itu membuat suatu kesan yang membekas di hati dan pikirannya. Hendaknya guru juga memasukan unsur permainan dalam pembelajaran agar siswa senang dan tidak mudah bosan. Apalagi menggunakan permainan-permainan tradisional yang ada, selain menyampaikan pembelajaran melalui permainan , kita juga mendidik dan mengajak anak untuk melestarikan kebudayaan. Hal terpenting yang harus dilakukan seorang guru adalah menghormati dan memperlakukan anak dengan sebaik-baiknya sesuai kodratnya, melayani mereka dengan setulus hati, memberikan teladan <em>(</em><strong><em>ing ngarso sung tulodho</em></strong><em>)</em>, membangun semangat (<strong><em>ing madyo mangun karso</em></strong><em>) </em>dan memberikan dorongan (<strong><em>tut wuri handayani</em></strong><em>) </em>bagi tumbuh kembangnya anak. Menuntun mereka menjadi pribadi yang terampil, berakhlak mulia dan bijaksana sehingga mereka akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan.</blockquote><div><br></div><div>&nbsp;<br><br></div><div><strong><em>4. Bagaimanakah pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah Anda lakukan? </em></strong><br><br></div><blockquote>Pengalaman yang pernah saya lakukan terkait proses pembelajaran untuk merepleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah saya membimbing peserta didik untuk lebih mengenal diri mereka secara lebih dalam terkait dengan gaya belajar, bakat minat dengan melakukan kebebasan dalam pengumpulan tugas&nbsp; disesuaikan dengan gaya belajar dan bakat. Setelah mereka memahami siapa diri mereka lengkap dengan kelebihan dan kekurangan akan lebih memudahkan saya sebagai guru akan dengan mudah menuntun dan konsep menghamba pada siswa saya mulai memiliki rasa hormat dan memuliakan anak,menjadikan anak sebagai teman,menciptakan pembelajaran menyenangkan dengan media belajar permainan,sehingga anak senang pembelajaran mudah diterima</blockquote><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-16 06:11:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386091830</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NAFI ALIN BURHANNUDIN (223174915541) FILOSOFI PENDIDIKAN INDONESIA Instruktur: Drs. H. Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386138279</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Yang saya rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah saya memahami arti pendidikan yang sesuai dengan bangsa Idonesia yaitu pendidikan yang menuntun dan sesuai dengan kodrat alam maupun kodrat zaman.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Perwujudan ‘menuntun’ yang pernah saya lakukan adalah saya memahami karakter peserta didik dan memberikan pembelajaran yang sesuai dengan mereka agar mereka memiliki kebahagian dalam belajar dan dapat mengikuti pembelajaran dengan menyenangkan.&nbsp;</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman Karena setiap anak memiliki karakter yang mereka bawa sejak lahir selain itu zaman yang mereka alami tentunya memiliki perbedaan dengan zaman sebelumnya maka setiap aspek pendidikan hendaknya bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman peserta didik.</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah saya lakukan adalah melayani kebutuhan belajar mereka, memberikan pendampingan ketiak menghadapi kesulitan belajar dan&nbsp; memberikan hak-hak pendidikan yang membahagiakan mereka. &nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-16 07:08:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386138279</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Agung Widiyanto Santoso (223174915522) Filosofi Pendidikan Indonesia Intrukstur Drs.H.Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386428688</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan KHD?<br></strong><br></div><div>Jadi setelah saya mendapatkan pelajaran ini tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara saya sebagai guru merasa pendidikan adalah sebuah hal yang sangat fundamental bagi keberlangsungan negara ini. peran seorang guru harus memberikan perhatian dan perlakuan yang baik agar peserta didik memiliki pengetahuan dan budi pekerti yang baik. dan juga dalam sebuah pembelajaran itu kita harus mengedepankan kebutuhan peserta didik, dimana kita sebagai guru itu memenuhi kebutuhan peserta didik kita.&nbsp;<br><br></div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang pernah saya lakukan?<br></strong><br></div><div>Perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan adalah, memberikan arahan dan membimbing kepada peserta didik saya ketika belajar baik di dalam kelas mapun di luar kelas, saya menuntun dan membimbing mereka untuk mengeluarkan potensi terbaiknya. bagi saya peserta didik saya itu telah dikarunia sebuah petensi berdasarkan kodrat yang mereka masing-masing miliki tanpa memaksakan kehendak kita kepada peserta didik. Adapun perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan adalah menjadi guru PPL di SMPN 5 Malang yang dimana saya selalu menuntut peserta didik saya ketika di dalam kelas maupun di luar kelas. Di dalam kelas saya memberikan arahan dan pengertian yang berkaitan dengan materi yang diajarkan sedangkan di luar kelas saya selalu menuntut peserta didik saya untuk selalu disiplin dalam kebersihan dan juga harus tertib ketika pelaksanaan ibadah.</div><div><strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kondrat zaman?<br></strong><br></div><div>Perlunya pendidikan Indonesia mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman. Jadi seorang peserta didik/anak telah memiliki kodrat alam yang berhubungan dengan lingkungan sosial tempat peserta didik tersebut ada, bisa dipastikan bahwa setiap peserta didik memiliki kodrat alam yang berbeda. selanjutnya adalah kodrat zaman yang semakin kesini itu berubah dari waktu ke waktu, jadi disini perlu seorang pendidik yang bisa memahami dari kodrat alam dan juga kodrat zaman yang ada. pendidik disini harus bisa menyesuaikan dengan keadaan peserta didik. agara kita bisa lebih dekat dengan mereka dan bisa menuntun mereka dengan baik.&nbsp;<br><br></div><div><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bagaimana pemikiran KHD “Pendidikan yang menghamba (berpihak) pada anak” yang pernah anda lakukan?<br></strong><br></div><div>Pemikiran KHD “Pemdidikan yang menghamba (berpihak) pada anak” yang pernah saya lakukan adalah dengan melakukan pembelajaran berdiferensiasi. setelah itu dengan saya mengetahui kebutuhan peserta didik saya, saya melakukan pembelajaran yang menyesuaikan dengan gaya belajar peserta didik saya, baik auditory, visual, maupun kinestetik. jadi dengan itulah saya pernah melakukan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik saya.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-16 11:26:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386428688</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Palupi Hapsari (223174915552) FILOSOFI PENDIDIKAN INDONESIA Instruktur: Drs. H. Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386515412</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan KH</div><div>Dengan adanya materi pembelajaran tentang filosofi pendidikan, saya mendapatkan berbagai ilmu tentang bagaimana seorang pendidik dapat menuntun peserta didiknya untuk dapat mandiri dan merdeka sesuai dengan perkembangan zaman yang ada. Dalam materi pembelajaran ini saya lebih memahami apa itu mendidik dan mengajar. Mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental , jasmani dan rohani. Selain itu saya lebih memahami tentang pendidikan pengembangan budi pekerti (implementasi pendidikan karakter), pada era globalisasi saat ini sangat diperlukan pendidikan tersebut sebab dengan adanya penanaman karakter kepada peserta didik akan menjadikan peserta didik lebih peka terhadap nilai-nilai luhur yang sudah terbentuk sejak zaman nenek moyang dan perlu kita tanamkan sejak dini pada diri peserta didik, agar luhur budaya Indonesia tidak ditinggalkan walaupun sekarang sudah ada campur tangan budaya asing dalam kehidupan masyarakat. Dari materi pembelajaran filosofi pendidikan nasional ini saya juga dapat mengimplementasikan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan sistem among (menuntun peserta didik untuk dapat mencapai keselamatan dan kebahagian) artinya guru itu menjaga, membina dan menididk anak&nbsp; kasih sayang .</div><div>Ø&nbsp; Ing ngarso sung tuladho (maka orang tua atau guru sebagai suri tauladan anak dan siswa).</div><div>Ø&nbsp; Ing madya mangun karso (yang ditengah memberikan semangat ataupun ide-ide yang mendukung).</div><div>Ø&nbsp; Tut wuri handayani (yang dibelakangan memberikan motivasi</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Peruwujudan menuntun yang pernah saya alami yaitu pengalaman yang pernah saya lakukan terkait proses pembelajaran untuk merefleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah saya menuntun dan membimbing peserta didik saya untuk bersikap sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, menuntun peserta didik untuk dapat mengimplementasikan pendidikan karakter untuk dapat mengahadapi kesenjangan perilaku pada era globalisasi ini. Saya mengimplemtasikan pembiasaan kepada&nbsp; peserta didik untuk bersikap mandiri, dewasa, kreatif, dan peka terhadap permasalahan yang ada di lingkungan sekitarnya. jangan biarkan peserta didik berbagai bentuk ketidaksopanan terjadi di kelas, mengajarkan peserta didik mengenai kompetisi serta bantu untuk mengerti kapan hal tersebut berguna dan kapan hal tersebut tak berguna, mengakui kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya, mengajarkan kesantunan secara jelas, yaitu ajarkan kepada peserta didik begaimana mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian dan tidak memotong pembicaraan orang lain. Kegiatan pendidikan karakter di sekolah dapat dilaksanakan melalui: 1) Kegiatan rutin sekolah melalui kegiatan di dalam kelas, kegiatan sekolah, kegiatan di luar sekolah. 2) Kegiatan insidental. 3) Keteladanan. 4) Pengkondisian, dan 5) Pengintegrasian dalam mata pelajaran.<br><br></div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman sebab, dengan adanya pertimbangan kodrat alam dimana kodrat alam ini berkaitan erat dengan sifat, karakter, dan bentuk lingkungan dimana peserta didik itu tinggal, adanya pemahaman ini sebagai seorang pendidik profesional dapat menuntut peserta didik untuk lebih memahami dirinya sendiri secara mendalam sehingga dapat mengeksplorasi minat dan bakat sesuai dengan kemampun yang dimilikinya, selain itu pendidik juga dapat memberikan pendidikan karatert untuk membentuk kepribadian peserta didik lebih&nbsp; baik lagi. Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri. Dalam konteks pembelajaran sekarang, ya kita harus bekali siswa dengan kecakapan Abad 21. Budi<strong> </strong>pekerti juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan dan pengajaran yang kita lakukan sebagai guru. Guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan budi pekerti. Kita juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia kepada anak.<br><br></div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Relevansi pemikirn KHD terkait pendidikan yang berhamba yang pernah saya lakukan ketika saya mengajar adalah, saya sebagai seorang pendidik memiliki rasa ikhlas dan tulus untuk melayani, menuntun, dan membimbing peserta didik saya dalam kegiatan pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mengeksplorasi kemampuannya sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki, dalam hal ini saya sebagai seorang pendidik memfasilitasi setiap kebutuhan pembelajaran peserta didik sehingg tercapainya tujuan dari kegiatan pemeblajaran. Saya sebagai seorang pendidik juga tidak hanya menuntun, dan membimbing tetapi dalam implementasinya saya juga memberikan motivasi pada peserta didik saya untuk selalu mengedepankan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehri-hari<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-16 12:43:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386515412</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rima Widyastuti (223174915502) Filosofi Pendidikan Indonesia  Instruktur: Drs. H. Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386552221</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Yang saya rasakan setelah mempelajarai filosofi pendidikan KHD yaitu bahwa seorang pendidik harus terbuka dan tanggap terhadap perubahan. Hal ini dikarenakan&nbsp; seorang pendidik memiliki tanggung jawab sebagai seorang fasilitator, dimana seorang pendidik harus membimbing peserta didiknya untuk menemukan dan mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya. Dengan demikian, peserta didik nantinya bisa lebih mandiri, bertanggung jawab dan mampu merencanakan masa depannya.<br>2. Perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan adalah ketika membimbing peserta didik dalam memahami materi pembelajaran. Dimana tidak semua peserta didik dapat langsung memahami materi yang saya sampaikan, sehingga saya harus membantu mereka dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan ringan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang sering mereka jumpai dan kemudian dikaitkan pada materi. <br>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman dikarenakan saat ini mudahnya akses pengetahuan dari berbagai sumber dapat mempengaruhi karakter peserta didik. Dengan mudahnya akses informasi tersebut, peserta didik juga harus dapat membatasi diri dari pengaruh budaya luar yang berbeda dengan budaya yang ada disekitar lingkungannya agar tidak melupakan jati dirinya sendiri. Selain itu, pendidikan pada saat ini juga lebih menekankan pada kemampuan peserta didik untuk memiliki keterampilan abad 21 yang lebih modern, sehingga apabila peserta didik tidak dapat beradaptasi dengan perkembangan ini, nantinya mereka akan tertinggal. <br>4. “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak<em>” </em>yang pernah saya lakukan yaitu menerapkan beberapa metode dan media pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk mengeluarkan kreatifitasnya dan memaksimalkan potensi yang ada dalam diri mereka masing-masing. Selain itu, dalam pembelajaran saya lebih sering menerapkan student center dimana peserta didik yang harus lebih aktif dan guru sebatas sebagai fasilitator.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-16 13:10:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386552221</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Chusaini Alfin (223174915509) Filosofi pendidikan Indonesia Instruktur: Drs. H. Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386564866</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Setelah saya mempelajari materi mengenai filosofis Pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara saya selaku guru memahami banyak hal mengenai konsep Pendidikan sendiri apalagi gagasan KHD yang saya anggap sebagai landasan Pendidikan yang cukup memberikan pondasi yang cukup kuat demi keberlangsungan Pendidikan di Indonesia, seperti pada gagasan KHD mengenai Pendidikan AMONG, Pendidikan berbasis Budi pekerti dan lain sebagainya.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Menuntun yang pernah saya lakukan jika di tinjau dari pengalaman saya peribadi saya pernah melakukan konsep menuntun pada murid saya waktu saya mengimplikasikan program literasi disalah satu sekolah yang dimana saya sebagai fasilitator dalam memberikan pemahaman dan pengajaran dalam prose literasi yang dimana saya melakukan pendekatan personal/individu kepada peserta didik yang memerlukan bantuan dan kesulitan dalam melaksanakan program literasi tersebut.</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Karena Pendidikan tidak selamanya absolut atau tetap terkadang kita mengikuti aliran Pendidikan progresiv yang dimana aliran tersebut mengatakan bahwa Pendidikan bersifat fleksibel dan akan berubah jika zaman menuntut untuk berubah. Seperti halnya kodrat alam dan kodrat zaman yang dijelaskan bahwa system Pendidikan adalah proses yang dimana untuk mengembangkan kebutuhan manusia dengan menyesuaikan perkembangan zaman sekarang dan yang akan datang.</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Menurut saya pemikiran berhamba atau berpihak pada anak ini menjelaskan bahwa pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan pada anak atau peserta didik dalam mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya jadi kita sebagai Pendidik memberikan mereka apa yang mereka butuhkan dalam mengembangkan potensinya bukan kita menuntut pada peserta didik mengembangkan sesuai apa yang kita inginkan akan tetapi sesuai dengan minat, bakat, dan keinginan peserta didik itu sendiri.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-16 13:18:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386564866</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dita Famela Aisyiyah (223174915520) FILOSOFI PENDIDIKAN Instruktur: Drs. H. Sinyamin, M.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386592176</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Sebagai Guru, Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara&nbsp;<br>setelah mempelajari filosofi pendidikan, saya menyadari masih banyak kekurangan saya untuk menjadi guru yang sesungguhnya. sebagai seorang pendidik saya menyadari bahwa tugas seorang guru tidak hanya mengajar namun juga mendidik. tidak hanya pada bidang akademik namun juga akhlak perilaku yang sesuai dengan zaman mereka. bagaimana peserta didik menyedari bahwasanya setiap perkembangan zaman pasti mengalami perubahan tetapi kita harus berlandas terhadap profil pelajar pancasila yang menjadikan pijakan untuk kita kedepannya nanti. filosofi pendidikan mengajarkan agar kita mampu untuk memahami bagaimana karakter pendidikan indonesia yang sebenarnya. sebagiamana yang sudah diterangkan oleh KHD jadilah manusia yang selamat raganya dan bahagia jiwanya jadilah manusia yang merdeka yang dapat menentukan arah dan tujuan kita tetapi tetap berlandas terhadap pancasila.<br><br>2. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang pernah Anda lakukan?&nbsp;<br>pada pengalaman yang pernah saya alami saya lebih menekankan peserta didik untuk lebih menganal diri mereka sendiri. dimana peserta didik mampu memahami diri mereka, dengan mengerti dan memahami diri mereka maka mereka akan lebih muda untuk peka terhadap lingkungan mereka. melakukan pendekatan juga merupakan hal penting yang saya terapkan untuk menuntun mereka. bagaimana cara kita untuk lebih mengenal mereka secara lebih dalam. dengan begitu saya lebih mudah untuk mengeksplorasi setiap potensi yang dimiliki peseta didik. memberikan kebebasan untuk saling berpendapat, mengemukakan ide dan memberikan ruang untuk bereskpresi membuat mereka lebih mudah untuk belajar. menyesuaikan dengan apa yang mereka sukai dan selalu mengajar kepada mereka untuk terus bersyukur agar mereka mampu memahami dan mampu bertanggungjawab dengan apa yang mereka miliki.<br><br>3. Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?&nbsp;<br>karena menurut saya kodrat alam dan kodrat zaman sangat penting untuk diperhatikan bagaimana kita mampu memhami karakter peserta didik secara menyeluruh dan bagaimana kita mampu memhamai hal-hal yang sedang peserta didik hadapi atau perkembangan zaman yang sesuai dengan peserta didik. karena pendidikan indonesia mengajarkan peseta didik untuk merdeka artinya disetiap pendidikan yang mereka peroleh mereka harus mendapatkan kebebasan yang mengarah terhadap kesesuaian karakter denggan perkembangan zaman yang ada. bagaimana peserta didik tersebut mendapatkan kebahagian atau kegembiraan yang sesuai dengan usia mereka namun juga tetap mendapatkan hak belajar yang memang harus mereka miliki. jadi kodrat alam dan kodrat zaman harus imbang dan saling berkaitan satu sama lain.<br><br>4. Bagaimanakah pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah Anda lakukan?&nbsp;<br>jadi sebagai guru kita harus membimbing peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, mengajarkan dengan berpusat kepada peserta didik, memberikan ruang untuk berpendapat, maupun berekspresi. memberikan pemahaman bahwa mereka adalah generasi bangsa yang mampu memajukan bangsa mereka sendiri. menyadarkan mereka bahwa mereka adalah sebuah agent of change dengan begitu mereka akan mulai mengenali diri mereka sendiri. mulai peka terhadap apa yang mereka butuhkan apa yang mereka hadapi dan apa yang mereka dapatkan. mengajrakan mereka terhadap kedisiplinan waktu, mampu memanagemen diri mereka sendiri. memberikan kebebasan untuk saling bertukar pendapat dan memberi kenyaman dan pengertin kepeda mereka bahwa belajar adalah suatu hal yang penting&nbsp;dan harus dilakukan sepanjang hayat.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-16 13:35:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386592176</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Achmad Zainollah (223174915523) Filosofi Pendidikan Indonesia. Instruktur: Drs.  H. Sinyamin M. Pd.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386648349</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Sebagai guru apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara?</strong></div><div>Dengan mempelajari filosofi pendidikan menurut KHD saya memahami bahwasanya pada masig-masing peserta didik memiliki perbedaan atau keberagaman, baik dari segi gaya belajar dan potensi yang ada pada diri mereka. Sehingga dirasa penting jika dalam pembelajaran, perbedaan-perbedaan tersebut dapat dipenuhi atau difasilitasi dengan baik agar peserta didik mencapai kebahagian dan keselamatan sesuai tujuan pendidikan yang dimasudkan oleh Ki Hadjar Dewantara.&nbsp;</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Bagaimana perwujudan “menuntun”&nbsp; yang pernah anda lakukan?&nbsp;</strong></div><div><strong>Menuntun yang dimaksudkan dalam pemikiran&nbsp; Ki Hadjar Dewantara ialah&nbsp;</strong></div><div>Dengan memahami perbedaan yag ada pada peserta didik, saya menyesuaikan gaya belajar dan potensi yang mereka miliki untu dikembangkan namun sebeum dilaksanakan hal tersebut saya melakukan profiling&nbsp; terlebih dahulu secara kondisional di lapangan.</div><div><strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</strong></div><div>Indonesia yang memiliki keberaneka ragaman suku dan budaya tentu berpengaruh terhadap kodrat alam peserta didik yang juga berkaitan dengan lingkungan asal peserta didik. Sedangkan pada kodrat zaman tentu peserta didik perlu penyesuaian dengan kemajuan tekhnologi yag amat pesat. Kedua hal tersebut dapat dijadikan&nbsp; alasan tentang betapa pentingnya penerapan konsep kodrat alam dan zaman tersebut ke dalam&nbsp; sistem pendidikan Indonesia</div><div><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Bagaimanakah pemikiran KHD “pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah anda lakukan?</strong></div><div>Pendidikan yang berhamba pada anak ialah berkaitan dengan kebutuhan dan keinginan peserta didik. Baik dari segi model pembelajaran ataupun gaya belajar yang dikehendaki peserta didik. Dalam arti lain bahwasannya guru dituntut untuk menjadi fasilitator yang dapat memenuhi kebutuhan peserta didik&nbsp; yang beragam supaya potensi&nbsp; yang dimiliki peserta didik dapat terbetuk secara maksimal.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-16 14:10:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2386648349</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kamalia (223174915538) Filosofi Pendidikan Indonesia Instruktur: Drs. H. Sinyamin, M. Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2387698987</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Dasar Pendidikan, pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan dan pengajaran tidak dipisahkan, pengajaran (onderwijs) merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai amggota masyarakat.</div><div>Sebagai pendidik memberikan segala kebutuhan siswa sebagai wujud berhamba pada siswa dengan pembelajaran berdiferensiasi, proyek kepemimpinan, ataupun design thinking. bertujuan memberikan kenyamanan siswa dalam belajar yang memiliki karakteristik yang berbeda. Setelah mempelajari pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara, pemikiran yang berubah dari saya adalah bahwa saya harus memberikan tuntunan kepada anak didik dengan lebih sabar dan ikhlas, karena mereka masing-masing unik dan berbeda. Tidak perlu memberikan hukuman yang sifatnya tidak mendidik, memberikan teladan agar mereka bisa melihat dan menirunya. Memberikan pembelajaran yang menyenangkan bagi mereka dengan mencoba berbagai macam model pembelajaran.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Di sekolah tempat PPL yang saya terapkan dalam perwujudan menuntun yaitu mengarahkan siswa tanpa dengan memberikan memaksa dengan memberikan pemahaman yang baik secara bertahap dan terpantau. Walaupun respon dari peserta didik keseluruhan belum baik, namun pendidikan yang menghamba pada murid mulai diterapkan. Dimana pembelajaran terpusat pada peserta didik dan saya sebagai pendidik memfasilitasi dan menuntun mereka dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sama halnya menuntun dari konteks sosial budaya yang dikenal among dengan artian sebagai pendidik menuntun peserta didik dengan sabar melalui memahami diri dalam peserta didi dan berkembang sesuai kemampuan dan keunikannya.</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Dasar Pendidikan anak berhubungan dengan alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan karakter dan lingkungan dimana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Maksudnya bahwa setiap anak mempunyai karakternya masing-masing. Sebagai pendidik tentunya tidak dapat menghapus karakteristik peserta didik. Yang dapat dilakukan yaitu mengarahkan untuk memunculkan karakter&nbsp; yang baik sehingga menutupi sifat-sifat buruknya.&nbsp;</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pendidik dituntun untuk sesuai dengan tahap-tahap secara budi (cipta, rasa, karsa) dan pekerti (tenaga) sesuai dengan kodrat sang anak. Pendidikan yang&nbsp; ekologis ibaratt&nbsp; petani yang menanam berbagai macam bibit tanaman dan memelihara tanaman tersebut sesuai dengan kodratnya. Tuntunan ini bersifat holistik dan tidak lepas dari pendidikan sosial dan kultural.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-17 04:23:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2387698987</guid>
      </item>
      <item>
         <title>YOYOK SUBROTO – 223174915508FILOSOFI PENDIDIKAN INDONESIA INSTRUKTUR : Drs. H. Sinyamin, M. Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2387831963</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Yang saya rasakan setelah mempelajarai filosofi pendidikan KHD yaitu bahwa seorang pendidik harus terbuka dan tanggap terhadap perubahan. Ketika pendidik terbuka akan hal baru dan inovasi maka segala hal yang kita ajarkan maka akan dengan mudah. Dengan demikian, peserta didik nantinya bisa lebih mandiri, bertanggung jawab dan mampu merencanakan masa depannya.<br>&nbsp;2. Perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan adalah ketika<br>membimbing peserta didik dalam memahami materi pembelajaran dan mengajari nya<br>dalam bimbingan belajar ekstrakulikuler. Banyak siswa yang belum memahami<br>materi sehingga kita sebagai pendidik harus menuntun siswa dengan baik dan<br>pelan.&nbsp;<br><br></div><div>3. Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman dikarenakan saat ini mudahnya akses pengetahuan dari berbagai sumber dapat mempengaruhi karakter peserta didik. Dengan adanya memahami kodrat maka sebagai pendidik kita mampu mengajari siswa sesuai pada zamannya&nbsp;<br><br></div><div>4. “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak<em>” </em>yang pernah saya lakukan yaitu menerapkan beberapa<br>model pembelajaran yang menyenangkan peserta didik dan memudahkan pendidik<br>dalam proses pembelajaran. &nbsp;<br>&nbsp;<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-17 07:10:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2387831963</guid>
      </item>
      <item>
         <title>M. LATIF RINALDI ATKAN S.A – 223174915526-FILOSOFI PENDIDIKAN INDONESIA INSTRUKTUR : Drs. H. Sinyamin, M. Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2387835330</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Sebagai guru apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara?</strong></div><div>Pendapat saya tentang Filosofi pendidikan menurut KHD , saya memahami bahwa pada setiap peserta didik memiliki perbedaan atau keberagaman, baik dari segi gaya, minat belajar dan potensi yang ada pada diri mereka. Sehingga dalam aktivitas pembelajaran hal tersebut sangat penting, perbedaan-perbedaan tersebut dapat dipenuhi atau difasilitasi serta diakomodasi dengan baik agar peserta didik mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan Ki Hadjar Dewantara.&nbsp;</div><div><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Bagaimana perwujudan “menuntun”&nbsp; yang pernah anda lakukan?&nbsp;</strong></div><div><strong>Menuntun yang dimaksudkan dalam pemikiran&nbsp; Ki Hadjar Dewantara ialah&nbsp;</strong></div><div>Perwujudan menuntun dalam persepsi saya adalah mengajak, memberi contoh dan menemani bersama.&nbsp;<br>Dengan memahami perbedaan yag ada pada peserta didik, saya berusaha mengadaptasikan gaya belajar mereka dangan potensi yang mereka miliki, pertama sebelum dilaksanakan dan dikembangkan, guru memetakan profiling peserta didik terlebih dahulu dengan mempertimbangkan secara kondisional.&nbsp;</div><div><strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Mengapa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</strong></div><div>Multikultural keberagaman suku budan dan agama yang dimiliki Negara Indonesia tentu berpengaruh terhadap kodrat alam peserta didik karena hal tesebut berkaitan dengan lingkungan asal peserta didik. Sedangkan pada kodrat zaman tentu peserta didik perlu adatif dengan perkembangan dan kemajuan teknologi. Kedua hal tersebut dapat dijadikan&nbsp; alasan tentang betapa pentingnya penerapan konsep kodrat alam dan zaman tersebut ke dalam sistem pendidikan Indonesia</div><div><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Bagaimanakah pemikiran KHD “pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah anda lakukan?</strong></div><div>Pendidikan yang berhamba pada anak adalah berkaitan dengan kebutuhan dan keinginan minat peserta didik. Pendidikan yang menghamba bisa mengakomodasi kehendak peserta didik, baik dari segi model pembelajaran ataupun gaya belajar yang dikehendaki sesuai kebutuhan peserta didik. Di sisi lain guru dituntut untuk menjadi fasilitator yang dapat memenuhi kebutuhan peserta didik&nbsp; yang beragam supaya potensi&nbsp; yang dimiliki peserta didik dapat terbetuk secara maksimal.</div><div>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-17 07:14:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2387835330</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Febty Andini Dwi Rosita (223174915506) Filosofi Pendidikan Indonesia </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2389533389</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>1.</strong> <strong>Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikah KHD.</strong></div><div>Setelah saya mempelajari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara saya merasakan bahwa masih banyak kekurangan saya untuk dikatakan sebagai seorang guru sesungguhnya. Saya menjadi sadar bahwa tugas guru sesungguhnya bukan hanya mengajar, akan tetapi guru harus lebih tanggap dalam hal mendidik peserta didik. Proses mendidik ini tidak hanya dalam konteks akademik dan non akademik, namun guru juga harus mampu mendidik karakter peserta didik agar sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu sebagai seorang guru saya juga harus memiliki sikap terbuka dan bersedia tanggap terhadap perubahan. Hal ini dikarenakan saat ini guru bertugas sebagai fasilitator yang mampu membimbing dan mengoptimalkan potensi beragam yang ada di dalam setiap peserta didiknya. Dengan cara ini harapannya seluruh potensi yang berbeda ini dapat terfasilitasi dengan baik sehingga peserta didik dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sesuai dengan tujuan pendidikan yang dijelaskan oleh Ki Hadjar Dewantara.<br><br></div><div><strong>2.</strong> <strong>Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang pernah saya lakukan?</strong></div><div>Perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan yaitu saya memahami setiap perbedaan yang ada pada peserta didik dan saya tidak memaksakan supaya mereka menjadi pribadi yang sama satu dengan yang lain. Saya mewujudkan ‘menuntun’ ini dengan cara menyesuaikan gaya belajar dan potensi yang dimiliki setiap peserta didik. Hal ini saya lakukan supaya mereka dapat berkembang sesuai porsi masing-masing. Salah satu contoh yang dapat saya berikan yaitu ketika proses pembelajaran berlangsung, saya menerapkan proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Peserta didik saya beri kebebasan untuk mengeksplor materi pembelajaran boleh mencari dari mana saja, akan tetapi walaupun saya memberikan kebebasan tersebut saya tetap mengawasi proses pembelajaran. Proses pengawasan ini saya lakukan supaya kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.<br><br></div><div><strong>3.</strong> <strong>Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</strong></div><div>Ki Hadjar Dewantara pernah berpendapat bahwa pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman. Hal ini dapat dijelaskan bahwa kodrat alam merupakan lingkungan tempat seorang anak bertempat tinggal, sedangkan kodrat zaman merupakan perkembangan zaman yang harus diikuti. Kodrat alam dapat diartikan bahwa setiap anak pasti membawa sifat atau karakter yang telah terbentuk dari lingkungan tempat tinggalnya. Disini guru tidak dapat dapat menghapus karakter tersebut, guru hanya bisa berperan untuk membimbing dan mendidik anak-anak untuk memunculkan sifat baiknya dan mengaburkan sifat-sifat buruknya. Di sisi lain, kodrat zaman dapat diartikan bahwa sebagai guru harus membekali peserta didiknya dengan pengetahuan serta keterampilan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini dilakukan supaya peserta didik dapat hidup dan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada. Peserta didik saat ini harus dibekali kecakapan abad 21 dan juga pendidikan karakter. Guru juga harus selalu memberikan teladan yang baik dalam hal mengembangkan budi pekerti. Kegiatan ini dapat diwujudkan dalam hal pembiasaan sopan santun, disiplin, suka menolong, menghormati guru, dan menyayangi sesama teman. Dengan menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman harapannya peserta didik menjadi pribadi yang santun, terampil, dan berakhlak mulia sehingga dapat mencapai kebahagiaan serta keselamatan yang impikan.<br><br></div><div><strong>4.</strong>&nbsp;<strong>Bagaimanakah pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah Anda lakukan?</strong></div><div>Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah saya lakukan yaitu memerdekakan peserta didik. Kegiatan memerdekakan diri saya lakukan dengan cara memberikan kebebasan peserta didik dalam hal pengumpulan tugas disesuaikan dengan masing-masing gaya belajar peserta didik. Pada saat itu saya memperbolehkan peserta didik untuk mengumpulkan tugas berupa catatan di word, membuat poster, membuat video, mengumpulkan dalam bentuk mind map, atau cara lain yang disenangi peserta didik. Dengan cara di atas dapat memudahkan saya untuk menerapkan konsep menghamba atau berpihak pada anak karena peserta didik merasa dimuliakan dan diberi kebebasan selama belajar. Selain itu peserta didik juga merasa bahwa guru juga dapat dijadikan teman yang memfasilitasi mereka belajar sehingga peserta didik menjadi senang dan materi pembelajaran mudah diterima.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-18 07:25:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2389533389</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ega Ode Ariyanti (223174915536) Tugas Mata Kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia (Topik 2, Eksplorasi Konsep) Instruktur: Drs. H. Sinyamin, M. Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2390566047</link>
         <description><![CDATA[<div>Ega Ode Ariyanti (223174915536)</div><div>Tugas Mata Kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia (Topik 2, Eksplorasi Konsep)</div><div>&nbsp;</div><div>Jawaban:</div><div>&nbsp;</div><div>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Setelah mempelajari filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara saya merasa mata saya terbuka karena menjadi guru tidak hanya mengajar dan mendidik tetapi juga menuntun peserta didik menuju cita-cita peserta didik. Seperti semboyan pendidikan sendiri, “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Hal tersebut bukanlah semboyan semata akan tetapi menjadi seorang guru harus memberi contoh dan menjadi panutan peserta didik, memberi semangat atau ide, dan dari belakang memberikan dorongan. Segala tingkah laku guru diharapkan dapat menjadi contoh perilaku yang baik bagi peserta didik sehingga menjadi guru berarti belajar seumur hidup.</div><div>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Perwujudan menuntun yang pernah saya lakukan adalah ketika mengajar di kelas, saya memberikan materi dan mengajak anak untuk berkelompok guna menyelesaikan tugas. Lalu dimana bagian menuntunnya? Ketika saya memberikan materi pada anak, artinya saya sudah menuntun mereka untuk mempelajari materi yang harus mereka dapatkan. Kemudian berkelompok untuk menyelesaikan tugas yaitu dengan membimbing mereka memecahkan masalah dalam tugas tersebut hingga peserta didik mengerti bagaimana penyelesaian yang benar dari tugas yang saya berikan.</div><div>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Tentu hal tersebut diperlukan karena apabila tidak mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman, bisa jadi pendidikan tidak akan berkembang dan sulit maju. Kodrat alam yaitu mengenai kondisi peserta didik sejak lahir yang dipengaruhi kultur budaya serta kodrat zaman adalah perubahan yang selalu terjadi dari waktu ke waktu harus diperhatikan. Kedua hal tersebut harus diperhatikan sebab anak berhak mendapatkan pendidikan dengan cara yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya sendiri, salah satunya adalah seringnya pergantian kurikulum.</div><div>4.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Pendidikan yang berhamba pada anak dapat diartikan sebagai upaya pendidik memenuhi kebutuhan peserta didik dalam pendidikan. Hal yang pernah saya lakukan adalah menjadi fasilitator bagi peserta didik, baik dari media pembelajaran, sumber belajar, atau LKPD untuk peserta didik. Tentu hal tersebut dapat disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik guna tercapainya tujuan pembelajaran.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-18 23:43:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2390566047</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Moh Habibul Mubin</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2395562853</link>
         <description><![CDATA[<div>1.&nbsp; &nbsp; Sebagai guru apa yang anda rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara?</div><div>Setelah mempelajari filosofi pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara saya tertarik terhadap tujuan mulianya Ki Hadjar Dewantara yang masih related sampai sekarang meskipun zaman sudah berbeda, diman tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu memerdekakan manusia. Disini akan timbul pertanyaan apa itu manusia merdeka? Yakni selamat raganya dan bahagia jiwanya. Dari sini kita bisa kita analogikan</div><div>-&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Semisal kalau kalian berhasil menjadi orang yang merdeka kira kira lingkungan sekitar kalian (keluarga, pertemanan, dll) jadi lebih baik tidak hidupnya?</div><div>-&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Sebuah daerah; keluarga – keluarganya bahagia, orang – orangnya baik-daerahnya maju tidak?</div><div>-&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Kalau di sebuah negara daerah – daerahnya maju negaranya jadi maju atau tidak?</div><div>-&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Kalau negaranya maju yang merasakan efeknya siapa? Ya semuanya dunia merasakan, rakyatnya juga merasakan semua itu terhubung dan itu dimulai dari diri kita masing – masing<br><br></div><div>Memerdekakan satu orang adalah langkah awal memerdekakan satu keluarga<br><br></div><div>Memerdekakan keluarga adalah langkah awal untuk memerdekakan daerah<br><br></div><div>Memerdekakan daerah adalah langkah awal untuk memerdekakan bangsa<br><br></div><div>2.&nbsp; &nbsp; Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang pernah Anda lakukan?</div><div>Memotivasi anak tentang zaman yang terus berubah dan memfasilitasi kebutuhan belajar anak secara personal maupun kelompok.&nbsp;</div><div>3.&nbsp; &nbsp; Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?</div><div>Pendidikan harus mempertimbangkan kodrat alam dan zaman. Seorang anak telah memiliki kodrat alam (potensi, bakat, kemampuan) yang unik, berbeda – beda satu sama lain. Menjadi seorang pendidik, guru diharapkan mampu memfasilitasi mereka agar bisa tumbuh maksimal sesuai jenjang usia mereka. Guru membimbing anak agar hidup mandiri dalam zaman yang terus berubah.</div><div>4.&nbsp; &nbsp; Bagaimanakah pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah Anda lakukan?</div><div>Pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” yang pernah saya lakukan adalah melayani kebutuhan belajar mereka, memberikan pendampingan ketika menghadapi kesulitan belajar dan memberikan hak-hak pendidikan yang membahagiakan mereka.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-11-23 13:05:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nyaminsi/pprv1nxz9dun697z/wish/2395562853</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
