<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Keragaman Budaya by Indhit Monassa</title>
      <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2023-03-13 00:08:08 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2023-03-26 12:58:24 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>SMA Negeri 1 Batu, Jalan Agus Salim, Sisir, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author>indhitmonasza</author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513546771</link>
         <description><![CDATA[<div>Tugas XI IPS 5: Analisislah kebudayaan-kebudayaan yang ada di Jawa Timur dan kaitkan berdasarkan 7 unsur kebudayaan!<br>Tugas XI IPS 4 dan XI LM: Analisislah kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia dan kaitkan berdasarkan 7 unsur kebudayaan!</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/501625647/314f5ae22e2e425faaffe4648e343b53/KERAGAMAN_BUDAYA.pptx" />
         <pubDate>2023-03-13 00:43:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513546771</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Arjuna, Torongrejo, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513824152</link>
         <description><![CDATA[<div>MADURA<br>1. Bahasa: bahasa yang biasa digunakan adalah bahasa madura.&nbsp;<br><br>2. Sistem pengetahuan:&nbsp;<br>• Sistem pengetahuan yang sangat rendah karena tingkat pendidikan yang tidak terlalu tinggi. Hal ini terbukti dengan banyaknya masyarakat yang menempuh jenjang pendidikan di pesantren. Akibatnya sebagian besar&nbsp; masyarakat madura lebih mendengarkan dan mengikuti ucapan, nasehat atau petuah, serta perilaku kyai sebagai pemimpin informal.<br>• Pemikiran masih tradisional, terbukti dengan masih adanya pemanfaatan tanaman sebagai jamu tradisional di tengah tengah era moderenisasi.<br><br>3. Sistem organisasi masyarakat: terdapat aturan normatif yang mengikat berupa ketundukan, ketaatan, kepasrahan.<br><br>4. Sistem peralatan hidup &amp; teknologi: • Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya pada arit dan celurit.<br>• Karapan sapi digunakan sebagai teknologi bercocok tanam.<br><br>5. Sistem mata pencaharian &amp; ekonomi: kondisi geografis madura yang gersang dan sulit ditanami menyebabkan masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai berikut:<br>- industri garam.<br>- ternak sapi.<br>- pertanian subsistem (berskala kecil) seperti singkong dan jagung.<br>- berjualan makanan khas seperti sate.<br><br>6. Sistem religi: masyarakat madura mayoritas beragama Islam.<br><br>7. Kesenian: terdapat tembang macapat, alat musik saronen, tari duplang, karapan sapi, hadrah.<br><br>(Juwita Agustia Putri/17)</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 04:58:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513824152</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Abdul Ghonaim, Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513838194</link>
         <description><![CDATA[<div>Natasya Elfandari XI IPS 5 / 24<br><br>Banyuwangi<br><br>1. Bahasa<br>Bahasa yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat adalah Bahasa Jawa. Adapun untuk berbicara dengan orang yang lebih muda ataupun yang seumuranmenggunakan Ngoko Lugu. Sedangkan untuk berbicara dengan orang yang berumur lebih tua dari kita menggunakan Krama Alus. Selain itu ada juga yang menggunakan bahasa Osing<br><br>2.SISTEM PENGETAHUAN<br>Dari pengetahuan, masyarakat masih menggunakan perhitungan tanggal jawa untuk menentukan hari-hari tertentu, misalnya pernikahan, slametan, pembangunan rumah dan masih banyak lagi.<br><br>3.SISTEM SOSIAL<br>&nbsp;Banyak organisasi masyarakat, misalnya karangtaruna, ibu-ibu PKK, pengajian, senam ria dll. Tidak hanya itu, masyarakat juga bergotong royong dalam kerja bakti.<br><br>4.SISTEM PERALATAN&nbsp;<br>HIDUP DAN TEKNOLOGI<br>Untuk peralatan hidup sudah banyak yang menggunakan barang modern seperti kulkas, kompor gas, dll. Tetapi masih ada juga yang memasak menggunakan kayu bakar.Alat transportasi disini sudah maju. Sebagian besar masyarakat disini mempunyai sepedamotor dan beberapa ada yang mempunyai mobil. Untuk teknologi lainnya sepertiteknologi komunikasi, mayoritas sudah menggunakan smartphone.<br><br>5.SISTEM MATA PENCAHARIAN HIDUP<br>Masyarakat disini mayoritas bekerja sebagai nelayan dan petani.<br><br>6.SISTEM RELIGI<br>Disini mayoritas beragama Islam. Biasanya juga ada acara seperti tradisi slametan, sura, maulid nabi, mitoni, kematian, dll.<br><br>7.KESENIAN<br>Untuk kesenian sendiri, tentunya sesuai dengan kesenian khas Banyuwangiyaitu Gandrung.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 05:11:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513838194</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Lesti, Ngaglik, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513845593</link>
         <description><![CDATA[<div>Sidoarjo<br>1. menggunakan bahasa arek<br>2. tradisinya: lelang bandeng, nyadiran<br>3. kesenian: wayang kulit, reog cemandi, jaran kepang, tari ujung<br>4. cagar budaya: candi pari, candi sumur, candi dermo, candid medulen, candi pamotan.<br>5. Makanan khas : kupang lontong, badeng presto<br>6. Sistem mata pencaharian :sektor perikanan, sebagai pencari ikan di laut, petambak, dan industri olahan ikan.<br>7. Sistem pengetahuan: Sistem pengetahuan yang lumayan karena tingkat pendidikan yang lumayan tinggi. Hal ini terbukti dengan banyaknya masyarakat yang menempuh jenjang pendidikan di berbagai universitas</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 05:18:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513845593</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. A.Ghonaim No.21, Bumiaji, Kec. Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur 65331, Indonesia</title>
         <author>farmaardan</author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513878243</link>
         <description><![CDATA[<div>FARMA ARDAN D.Y.P. XI IPS 5<br><br>SURABAYA<br>Memiliki 7 Unsur Kebudayaan antara lain :</div><ol><li>Bahasa : Bahasa Jawa dan bahasa Indonesia adalah bahasa yang umum digunakan di Surabaya. Selain itu, terdapat juga variasi bahasa Jawa khas Surabaya yang dapat ditemukan di daerah tertentu.</li><li>Sistem pengetahuan : Surabaya memiliki lembaga pendidikan yang berkualitas dan terkenal, seperti Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Selain itu, Surabaya juga memiliki berbagai museum dan galeri seni yang menjadi tempat penyimpanan dan penyebaran pengetahuan.</li><li>Sistem organisasi : Surabaya memiliki berbagai organisasi sosial, keagamaan, dan kebudayaan yang aktif. Misalnya, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah adalah organisasi keagamaan yang besar di Surabaya.</li><li>Sistem peralatan hidup dan teknologi : Surabaya merupakan pusat industri dan perdagangan, sehingga memiliki berbagai teknologi dan peralatan hidup yang modern. Namun, keberadaan teknologi ini tidak menghilangkan kearifan lokal dalam penggunaan dan pembuatan alat-alat tradisional.</li><li>Sistem mata pencaharian dan ekonomi : Surabaya memiliki pelabuhan yang strategis, sehingga menjadi pusat perdagangan dan industri. Selain itu, sektor pariwisata juga memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian kota ini.</li><li>Sistem religi : Surabaya memiliki berbagai agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya. Selain Islam, agama-agama lain seperti Kristen, Hindu, dan Budha juga dianut di Surabaya.</li><li>Kesenian : Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Surabaya memiliki seni dan budaya yang kaya, seperti tari tradisional, musik, dan teater. Selain itu, seni rupa juga berkembang dengan adanya galeri seni dan festival seni yang digelar setiap tahunnya.</li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 05:51:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513878243</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gg. 15, Pesanggrahan, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513888150</link>
         <description><![CDATA[<div>PONOROGO</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1990023983/970b004ac6d40d6f7d460ac440fa6bab/PONOROGO_Anisa_Rohmayda__XI_IPS_5_.pdf" />
         <pubDate>2023-03-13 06:00:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513888150</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Arjuno Kav Baru, Sisir, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513898199</link>
         <description><![CDATA[<div>JOMBANG&nbsp;<br><br>- Bahasa : Bahasa yang digunakan yaitu Boso Njombangan, Boso Njombangan adalah sebuah dialek bahasa Jawa dalam rumpun dialek arekan yang dituturkan di wilayah Kabupaten Jombang, sebagian Kota Mojokerto.<br><br>- Sistem peralatan dan teknologi : Jombang sudah dapat mengikuti perubahan jaman seperti perencanaan smart city, namun masih diperlukan perencanaan yang komprehensif dan terintegrasi, sehingga pemanfaatan teknologi informasi dapat dioptimalkan dan mempermudah pekerjaan.&nbsp;<br><br><br>- Sistem mata pencaharian : Pada data 2017 milik BPS tercatat bahwa masyarakat Jombang mayoritas adalah karyawan swasta dan petani padi.&nbsp;<br><br>- Sistem pengetahuan : Daerah ini memiliki sistem pendidikan yang maju, bahkan Kab Jombang juga disebut Kota Santri karena banyaknya institusi pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayah tersebut.&nbsp;<br><br>- Sistem kekerabatan / organisasi : Sangat kental dengan adat istiadat tradisional, banyak aturan yang lebih mengiring ke arah kejawen.<br><br>- Sistem religi : Mayoritas penduduk islam, karena banyak ponpes yang di dirikan di daerah ini, sehingga mayoritas islam, namun beberapa juga ada nonmus.<br><br>- Kesenian : Jaran Kepang, Wayang Topeng, Besutan, Sandur Maduro, Ludruk Jombang, Tari Remo Boletan, dsb.&nbsp;<br><br>NADYA LINTANG A. / 23 / XI IPS 5</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 06:10:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513898199</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Abdul Gani Bawah Gg. 5, Ngaglik, Kota Batu, Jawa Timur </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513904445</link>
         <description><![CDATA[<div>CHINTYA BELLA R&nbsp;<br>XI IPS 5 (8)<br><br>MADIUN<br><br>1. BAHASA<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Menggunakan bahasa jawa Mataraman dan Bahasa Indonesia<br><br>2. SISTEM PENGETAHUAN<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;• Sistem pengetahuan tergolong rendah dan banyaknya masyarakat merantau djkarenakan kurangnya fasilitas dalam kota<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;• Terdapat juga berbagai macam lembaga pendidikan yang terdapat didesa, baik formal maupun nonformal, diantaranya:<br>- taman kanak-kanak/ raudhatul Adfal, PAUD<br>- Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah<br>- Madrasah Tsanawiyah<br>- Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah<br>- Madrasah Diniyah<br>- dll<br><br>3. SISTEM KEMASYARAKATAN<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Secara Administratif, desa dikepalai oleh seorang Lurah. Seorang Lurah didampingi oleh Carik, Hansip, dll yang biasanya disebut Pamong Desa. Seorang Lurah berkewajiban mengurus rumah tangga desa, mengurus pekerjaan umum, serta mengurus harta benda desa. Masyarakat Bengkak mempunyai tradisi tolong menolong apabila ada peristiwa-peristiwa penting dalam salah satu keluarga ataupun umum.&nbsp;<br><br>4. SISTEM PERALATAN HIDUP &amp; TEKNOLOGI<br>&nbsp; &nbsp; Mulai dari peralatan pertanian sampai perlengkapan sehari-hari pun banyak menggunakan kecanggihan teknologi. Hal ini dikarenakan mudahnya akses menuju kota, sehingga masyarakat desa mudah mengukuti perkembangan teknologi kota. Dari segi berpakaian anak muda desa tak jauh berbeda dengan anak kota, mereka juga mengikuti mode tren masa kini. Perlengkapan hidup masyarakat juga banyak mengadopsi teknologi, misalnya motor, laptop, hp sudah tidak asing lagi.<br><br>5. MATA PENCAHARIAN &amp; EKONOMI<br>&nbsp; &nbsp; Mayoritas masyarakat kota madiun bermata pencaharian sebagai petani dan peternak.<br>Lahan yang digarap di desa berupa lahan tegalan dan sawah. Jenis tanaman yang ditanam adalah padi dan ada juga jenis tanaman palawija ( jagung, cabai, semangka, dll). Hewan yang biasa diternak oleh masyarakat adalah sapi, kambing, dan ayam.<br>Banyak juga masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pedagang, pegawai, usaha jasa, industri rumah tangga, dll. Tetapi yang paling dominan adalah bertani padi.<br><br>6. SISTEM RELIGI<br>&nbsp; &nbsp; mayoritas masyarakat yang menganut agama islam<br><br>7. SISTEM KESENIAN<br>&nbsp; &nbsp; Dalam sistem kesenian ini, masyarakat madiun sama dengan daerah jawa timur lain. Yaitu masih kental dengan budaya jawa seperti seni tari, seni tembang jawa dll.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 06:17:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513904445</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Gang II, Ngaglik, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513931095</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Bahasa:&nbsp;<br>Selain Bahasa Jawa dan Bahasa Madura, masyarakat Jember juga berkomunikasi menggunakan Bahasa Jemberan, yaitu&nbsp;Bahasa Jawa Ngoko yang disisipi bahasa Madura dengan logat khas Jember.<br><br>2. Sistem pengetahuan:<br>•Pelestarian Program Pemberantasan Buta Aksara melalui pendidikan kecakapan hidup<br><br>•Peningkatan Pendidikan Anak Usia Dini melalui pemerataan dan perluasan akses yaitu Taman Kanak-kanak, Raudhatul Adhfal, Kelompok Bermain, dan Taman Penitipan Anak<br><br>•Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan bidang pendidikan<br><br>3. Sistem Organisasi Masyarakat:&nbsp;<br>Di jember terdapat berbagai berbagai kegiatan masyarakat di bidang Keagaamaan, Bidang sosial dan Kemasyarakatan, Bidang ekonomi dan Bidang Pendidikan. Bisa dilihat dari adanya program clusterisasi yang bertujuan untuk mengumpulkan data organisasi kemasyarakatan di Jember<br><br>4. Sistem Peralatan Hidup &amp; Teknologi:<br>•Alat-alat pertanian adalah bajak yang disebut luku, garu untuk melunakkan tanah, cangkul, dan gosrok.&nbsp;<br>•Peralatan dapur antara lain, kuali, kendhil, cowek, kukusan, tampeh, dan sebagainya. Sedangkan alat angkutnya yang terkenal adalah andong, selain itu untuk mengangkut barang digunakan gerobak yang ditarik oleh hewan.<br><br>5. Mata Pencaharian &amp; Ekonomi:<br>Sebagian besar penduduk Kabupaten Jember memiliki mata pencaharian sebagai&nbsp;petani. Oleh karena itu, perekonomian makro maupun mikro ditunjang dari sektor pertanian. Kabupaten Jember dikenal sebagai salah satu daerah penghasil tembakau utama di Indonesia.<br><br>6. Religi:<br>Mayoritas penduduk Kabupaten Jember terdiri atas suku Jawa dan suku Madura, dan sebagian besar beragama&nbsp;Islam.<br><br>7. Kesenian:<br>Di jember terdapat berbagai macam kesenian, yaitu:<br>•Tota'an merpati<br>•Tari Lahbako<br>•Reog di pendalungan<br>•Musik patrol<br>•Larung sesaji papuma<br>•Karapan sapi anak anak<br>•Jaranan<br>•Jaran kencak<br>•Can macanan kaduk<br><br>(Afrendi Zakki / 01)</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 06:47:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2513931095</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Toko Rizal 78</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2514011023</link>
         <description><![CDATA[<div>Caroline Agnesia Alfadira<br>XI IPS 5/07<br><br>Kebudayaan Kota Malang<br><br>1. BAHASA<br>Bahasa yang umum digunakan di daerah Kota Malang adalah bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Namun, ada satu bahasa 'gaul' yang umum digunakan oleh arek Malang yang dicirikan dengan pembalikan kata dari depan ke belakang. Contohnya Malang menjadi 'Ngalam'. Bahasa ini umum ditemukan di lingkungan remaja Malang dan menjadi salah satu ciri khas dari Malang sendiri.<br><br>2. SISTEM PENGETAHUAN<br>Kota Malang dikenal baik sebagai salah satu Kota Pendidikan yang ada di Indonesia. Di Malang sendiri terdapat beberapa perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Seperti Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Politeknik Negeri Malang, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan banyak perguruan tinggi swasta seperti&nbsp; Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Merdeka Malang, Institut Tekologi Nasional, dan Universitas Islam Malang.<br>Di kota ini ada beberapa sekolah yang berada pada jenjang menengah atas yang namanya sudah terkenal hingga tingkat nasional bahkan internasional. Beberapa di antaranya bahkan telah ditetapkan sebagai rintisan sekolah bertaraf internasional, dipelopori oleh SMA Negeri 3 Malang,&nbsp; selanjutnya diikuti oleh SMA negeri lainnya dan SMA Katolik St. Albertus Malang (SMA Dempo).<br>Selain itu banyak pula sekolah-sekolah dari jenjang taman kanak-kanak bahkan kelompok bermain hingga jenjang sekolah menengah pertama yang tak kalah bersaing.<br><br>3. Sistem Organisasi Masyarakat&nbsp;<br>Kota Malang sendiri dipimpin oleh seorang walikota. Namun di beberapa daerah, terutama di pedesaan, masih banyak masyarakat yang menjunjung tokoh-tokoh leluhur ataupun priyayi yang ada di sana. Dalam berorganisasi, masyarakat Malang sendiri terbukti sangat aktif dalam berhubungan sosial dalam organisasi. Beberapa organisasi yang diikuti oleh masyarakat setempat adalah PKK, Karang Taruna, Forum Anak, dan banyak komunitas lainnya.<br><br>4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi<br>Di Malang sendiri teknologi sudah banyak berkembang dan terbilang maju. Di bidang transportasi, para masyarakat mayoritas telah memiliki kendaraan pribadi baik sepeda motor ataupun mobil. Sedangkan untuk kendaraan umum, terdapat bus, angkutan umum, dan kereta. Bahkan di Kota Malang pun terdapat bandara sehingga memungkinkan bepergian melalui jalur udara. Transportasi online pun banyak ditemukan di daerah Malang. Meskipun demikian, ada beberapa transportasi tradisional yang masih dapat ditemukan seperti delman dan becak.<br>Masyarakat Malang juga banyak menggunakan smartphone baik dari anak-anak hingga orang tua. Adanya teknologi ini memungkinkan perubahan gaya hidup masyarakat menjadi lebih canggih.&nbsp;<br><br>5. Sistem Mata Pencaharian<br>Karena letak geografis Kota Malang yang berada di daerah dataran tinggi hingga dataran rendah, mata pencaharian masyarakat setempat sangat beragam. Sebagian besar masyarakat bekerja di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kehutanan. Banyak juga yang bekerja di sektor industri. Selain itu masyarakat daerah pusat kota banyak yang melakukan perdagangan sebagai mata pencaharian mereka. Juga tidak sedikit masyarakat yang bekerja dalam bidang j<br>penyediaan jasa.<br><br>6. Sistem Religi<br>Mayoritas masyarakat Kota Malang menganut agama Islam. Kemudian Kristen, Katolik, sebagian kecil menganut agama Hindu dan Buddha. Ada juga masyarakat yang menganut agama Konghucu. Di Kota Malang sendiri terdapat banyak sekali tempat ibadah berbagai macam agama.<br><br>7. Kesenian&nbsp;<br>Di Kota Malang terdapat banyak tarian tradisional seperti Tari Beskalan, Tari Bedayan Malang, Tari Grebeg Wiratama, dan Tari Topeng Malangan. Selain itu ada juga batik Malang yang telah digunakan dalam upacara adat sejak sebelum tahun 1900-an yaitu batik bermotif Sido Mukti Malang. Ada pula hiburan berupa Ludruk Malang yang sayangnya hanya tersisa sedikit saja kelompok ludruk yang masih aktif di kota Malang.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 07:59:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2514011023</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Wongso No.32, Gunungsari, Kec. Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur 65337, Indonesia</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2514018669</link>
         <description><![CDATA[<div>ALIYA SYARIFATHUL ZAHRA<br>XI IPS 5 - 04<br><br><strong>Ngawi</strong><br><br><em>1. Bahasa</em><br>Bahasa yang sering diucapkan sehari-hari oleh masyarakat Kota Ngawi yaitu bahasa <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia">Indonesia</a> sebagai bahasa resmi. Bahasa <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa">Jawa</a> merupakan bahasa yang menjadi bahasa utama yang mendominan di Kota Ngawi. Juga menggunakan bahasa jawa mataram yang masih terkesan halus<br><br><em>2. Sistem pengetahuan<br></em>- Pendidikan penduduk Kabupaten Ngawi dikatakan masih berada pada tingkat yang rendah. Hal ini tercermin dari pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduknya dimana hanya sedikit masyarakat yang menamatkan jenjang pendidikannya sampai&nbsp; (D1 hingga S3) lalu sisanya masih berijazah SD<br><br><em>3. Sistem organisasi masyarakat<br></em>Ngawi dipimpin oleh seorang camat yang kemudian dibantu oleh sekretaris camat atau sekcam dalam melaksanakan tugasnya, lalu dibantu sekretaris camat. Ngawi merupakan markas dari <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Komando_Distrik_Militer">K</a>odim 0805 dan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Batalyon_Armed_12">Batlyon Armed </a>12yang merupakan komando kewilayahan pertahanan dari TNI Angkatan Darat di wilayah Kabupaten Ngawi Wilayah satuan teritorial Kodim 0805 Ngawi di wilayah Ngawi kota adalah Koramil Ngawi kota.<br><br><em>4. Sistem peralatan hidup dan teknologi</em></div><div>Peralatan dan teknologi masih terbilang maju. Banyaknya transportasi umum juga memudahkan kemana mana, yang dari desa ke kota untuk mengikuti perkembangan zaman, juga dari kota yang ke desa. Perlengkapan sehari hari masyarakat juga terbilang maju karena sudah gampangnya untuk mendapatkan apapun, dari barang elektronik hingga kendaraan bermotor.<br><br><em>5. Sistem mata pencaharian dan ekonomi<br></em>Berdasarkan lapangan pekerjaan utama di Kabupaten Ngawi, penduduk penduduk yang bekerja di sektor, yaitu:</div><ul><li>Pertanian, Kehutanan, Perburuan, dan Perikanan (252403 orang)</li><li>Pertambangan dan Penggalian (7370 orang )</li><li>Industri Pengolahan (37669 orang)</li><li>Listrik, Gas, dan Air (857 orang)</li><li>Bangunan (31943 orang)</li><li>Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan, dan Hotel (88190 orang)</li><li>Angkutan, Pergudangan, dan Komunikasi (7383 orang)</li><li>Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah, dan Jasa Perusahaan (10192 orang)</li><li>Jasa Kemasyarakatan, Sosial Perorang (43982 orang)&nbsp;</li></ul><pre>(BPS, 2019).&nbsp;</pre><div><br><em>6. Sistem religi<br></em>Agama mayoritas di Kecamatan Ngawi adalah Agama <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Islam">Islam</a>, Agama lain yang dianut sebagian penduduk adalah <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kristen">Kristen</a> baik protestan maupun katolik, Agama lain yang dianut oleh penduduk Kecamatan Ngawi selain Islam dan Kristen yaitu <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Buddha">Buddha</a> , <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Hindu">Hindu</a>, dan sisanya adalah <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Aliran_Kepercayaan">Aliran Kepercayaan YME</a>.<em><br></em><br><em>7. Sistem kesenian<br></em>Kesenian yang ada di Ngawi sendiri berbagai macam contohnya seperti:&nbsp;</div><ol><li><a href="https://memoringawitempodulu.wordpress.com/sejarah/kesenian-dan-budaya/dongkrek/">Dongkrek</a></li><li><a href="https://memoringawitempodulu.wordpress.com/sejarah/kesenian-dan-budaya/tari-pentul-melikan/">Tari Pentul Melikan</a></li><li><a href="https://memoringawitempodulu.wordpress.com/sejarah/kesenian-dan-budaya/tari-orek-orek/">Tari Orek-Orek</a></li><li><a href="https://memoringawitempodulu.wordpress.com/sejarah/kesenian-dan-budaya/tari-bedoyo-srigati/">Tari Bedoyo Srigati</a></li><li><a href="https://memoringawitempodulu.wordpress.com/sejarah/kesenian-dan-budaya/keduk-beji/">Keduk Beji</a></li><li><a href="https://memoringawitempodulu.wordpress.com/sejarah/kesenian-dan-budaya/maguti/">Maguti</a></li><li><a href="https://memoringawitempodulu.wordpress.com/sejarah/kesenian-dan-budaya/nyampler/">Nyampler</a></li><li><a href="https://memoringawitempodulu.wordpress.com/sejarah/kesenian-dan-budaya/upacara-kebo-ketan/">Upacara Kebo Ketan</a></li></ol><div><em><br></em><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 08:05:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2514018669</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Dewi Sartika Gang III, Temas, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2514126757</link>
         <description><![CDATA[<div>SANTIKA DINDA SAPUTRI<br>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;XI IPS 5<br><br>- PROBOLINGGO -&nbsp;<br><br>1. BAHASA&nbsp;<br>Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Jawa dan Madura.<br><br>2. SISTEM PENGETAHUAN<br>- Tingkat pendidikan di Probolinggo masih cukup rendah dan memprihatinkan , sebesar 31,51 % masyarakat hanya tamat pendidikan SD. Banyak masyarakat yang memilih putus sekolah dan memilih untuk langsung bekerja atau menikah dini karena pemikiran kebanyakan masyarakat yang masih minim akan pendidikan.<br>- Sekarang masyarakat Kota Probolinggo wajib mengenyam pendidikan selama 12 tahun. Untuk mewujudkannya, Pemkot menggratiskan lembaga negeri, baik SD maupun SMP. Sementara, bagi siswa di lembaga swasta mendapatkan pendidikan murah dan bermutu.<br><br>3. SISTEM KEKERABATAN / ORGANISASI MASYARAKAT<br>- Ikatan kekerabatan dalam masyarakat<br>Probolinggo terbentuk melalui keturunan- keturunan, baik dari keluarga berdasarkan garis keturunan ayah maupun garis ibu pada umumnya. Ikatan kekerabatan antar sesama anggota keluarga lebih erat dari garis keturunan ayah sehingga cenderung 'mendominasi'.<br>- Sistem kekerabatan masyarakat Probolinggo juga sama dengan tradisi Madura dikenal tiga kategori sanak keluarga, yaitu taretan dalem (kerabat inti), taretan semma (kerabat dekat) dan taretan jhau (kerabat jauh) Di luar tiga kategori ini disebut oreng lowar (orang luar atau 'bukan saudara').<br><br>4. SISTEM PERALATAN HIDUP DAN TEKNOLOGI<br>Di Probolinggo teknologi sudah banyak berkembang dan bahkan telah menerima penghargaan smart city . Terdapat juga kegiatan Penguatan Kompetensi Multimedia dan Teknologi Informasi ASN Pertanian Kota Probolinggo agar masyarakat mampu bersaing di era digital. Banyak masyarakat yang menggunakan smartphone , laptop dan banyak yang telah memiliki kendaraan pribadi.<br><br>5. MATA PENCAHARIAN<br>Mayoritas mata pencaharian masyarakat Probolinggo adalah di sektor jasa dan manufaktur , dan juga bertani .&nbsp;<br><br>6. KESENIAN&nbsp;<br>Terdapat kesenian Tari Glipang , Ludruk, Ojung , Karapan Sapi Brujul, Jaran Bodhang dan Jaran Kencak.<br><br>7. SISTEM RELIGI<br>Mayoritas masyarakat Probolinggo menganut agama Islam . Masyarakat masih kental dengan budaya yang ada di daerahnya dan memiliki beberapa upacara yang di percaya masyarakat Probolinggo seperti Upacara Kasada yang diadakan pada saat purnama bulan Kasada (ke dua belas) tahun saka, upacara ini disebut juga sebagai Hari Raya Kurban dan Upacara Petik Laut untuk melambangkan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME atas rahmat dan karunia-Nya kepada seluruh umat.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 09:42:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2514126757</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Ikhwan Hadi Gg. VII, Ngaglik, Batu City, East Java</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2514224400</link>
         <description><![CDATA[<div>Bagustananda Alive Pramudya<br>XI IPS 5 <br>06<br><br>KEDIRI<br>1. bahasa : bahasa Jawa dengan aksen Kediri &amp; bahasa Indonesia<br>2. sistem peralatan dan teknologi : perkembangan teknologi di daerah ini cukup berkembang karena kota ini juga adalah kota yang cukup maju<br>3. sistem mata pencaharian : Kediri dikenal merupakan pusat perdagangan utama untuk <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gula">gula</a> dan industri <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Rokok">rokok</a> terbesar di <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>.Di kota ini juga, pabrik rokok kretek <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gudang_Garam">Gudang Garam</a> berdiri dan berkembang<br>4. sistem pendidikan : IAIN KEDIRI , Institut kesehatan Bhakti&nbsp; Wiyata&nbsp;<br>5. sistem organisasi : masyarakat kota Kediri sebagian besar sudah menjadi warga yang maju dan memiliki pemikiran yang telah berkembang&nbsp;<br>6. sistem religi :mayoritas penduduk daerah ini adalah Islam<br>7. Kesenian : Kota Kediri sering dikenal sebagai kota tahu karena ada satu tempat yang sudah sejak puluhan tahun lalu menjadi sentra pembuatan tahu.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 11:09:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2514224400</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Brantas, Sisir, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2514398347</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Bahasa<br>Penggunaan bahasa Jawa di Blitar adalah dialek Mataraman, yakni dialek Jawa yang sering digunakan oleh mayoritas masyarakat di Jawa Tengah<br><br>2. Pengetahuan<br>Program rintisan wajib belajar 12 tahun merupakan suatu program yang diimplementasikan oleh pemerintah kota Blitar untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kota Blitar. Tetapi warga kota Blitar untuk sekolah sehingga masih adanya siswa yang tidak sekolah dikarenakan&nbsp;<br>permasalahan ekonomi dan karena kondisi geografis dari kota Blitar yang sangat terbatas sehingga pemerintah berupaya untuk meningkatkan dalam bidang perdagangan dan jasa.<br><br>3. Mata Pencaharian<br>Kabupaten Blitar juga terus berkembang dalam sektor pertanian maupun pariwisata rakyatnya. memiliki tanah persawahan yang luas dan mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah bercocok tanam terutama sektor pertanian tanaman pangan dengan hasil utama padi dan palawija, Selain itu Blitar terkenal sebagai kota penghasil cokelat terbesar di Jawa Timur. Selain sebagai komoditas, masyarakat setempat juga membudidayakan pohon cokelat sebagai tempat wisata, salah satunya Kampung Coklat. Oleh sebab itu penduduk sekitar memanfaatkan nya sebagai cuan untuk menambah penghasilan mereka.<br><br>4. Peralatan/ Teknologi<br>Untuk peralatan kehidupan disana sebagaian besar masih menggunakan alat tradisional dan sebagaian kecil yaitu modern. Karena Blitar mayoritas penduduknya yaitu orang desa. Untuk peralatan dapur masih menggunakan kayu bakar dan kompor gas. Mereka sebagian orang juga menggunakan smartphone untuk alat komunikasi&nbsp;<br><br>5. Religi<br>Hal ini menunjukkan bahwa islam merupakan agama terbesar yang dianut oleh penduduk Kabupaten Blitar. Kemudian disusul oleh agama Kristen dengan 1,38%, Katholik 0,94%, dan 2,30% sisanya adalah penduduk beragama Hindu, Budha, Khonghucu, dan penganut kepercayaan<br><br>6. Kesenian<br>Kesenian Jaranan merupakan kesenian khas Jawa Timur, termasuk Kota Blitar yang harus dilestarikan. Selain itu ada Budaya yang sering dilakukan oleh masyarakat Blitar yaitu ada Grebeg Pancasila, Gong kyai Pradah, dan Wayang orang.<br><br>7. Kemasyarakatan<br>Secara Administratif, desa dikepalai oleh seorang Lurah. Seorang Lurah didampingi oleh Carik, Hansip, dll yang biasanya disebut Pamong Desa. Seorang Lurah berkewajiban mengurus rumah tangga desa, mengurus pekerjaan umum, serta mengurus harta benda desa. Masyarakat Bengkak mempunyai tradisi tolong menolong apabila ada peristiwa-peristiwa penting dalam salah satu keluarga ataupun umum.<br><br>Cindy Claudia Br Pinem. XI IPS 5/09<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 13:14:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2514398347</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perumahan Puri Indah, Temas, Batu City, East Java</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2514721585</link>
         <description><![CDATA[<div>Ulung Damar P XI IPS 5/32<br><br>Kebudayaan Kabupaten Nganjuk<br><br>1. Bahasa <br><br>Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh masyarakat Nganjuk. Pada sebagian besar wilayah Nganjuk, masyarakatnya merupakan penutur <a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa_Mataraman">Dialek Mataraman</a> dan dapat dikatakan bahwa Nganjuk adalah salah satu daerah paling timur yang masyarakatnya adalah penutur dialek Mataraman, namun ada sedikit perbedaan untuk beberapa wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Jombang, seperti Kecamatan Kertosono, Kecamatan Patianrowo, dan Kecamatan Jatikalen. Beberapa masyarakat di sana biasa menggunakan campuran antara Dialek Mataraman dan Jombang. Dialek ini merupakan dialek Bahasa Jawa yang mendapat pengaruh campuran antara Dialek Mataraman dan Arekan Jombang.<br><br>2. Sistem Pengetahuan.</div><div><br></div><div>Terdapat beberapa perguruan tinggi di Nganjuk, antara lain:</div><div>Polikteknik Negeri Jember Kampus 3 Nganjuk, Institut Teknologi Mojosari (ITM) dan Sekolah Tinggi Agama Islam KH. Zainuddin Mojosari (STAIZ), Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk (IAI PD), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) dan Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Pomosda, Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul 'Ula Kertosono (STAIM), Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam Krempyang (STAIDA), dan STIKES Satria Bhakti Nganjuk.&nbsp;</div><div><br></div><div>&nbsp;3. Sistem Organisasi Masyarakat</div><div><br></div><div>Kota Malang sendiri dipimpin oleh seorang walikota. Namun di beberapa daerah, terutama di pedesaan, masih banyak masyarakat yang menjunjung tokoh-tokoh leluhur ataupun priyayi yang ada di sana. Dalam berorganisasi, masyarakat Nganjuk sendiri terbukti sangat aktif dalam berhubungan sosial dalam organisasi. Beberapa organisasi yang diikuti oleh masyarakat setempat adalah PKK, Karang Taruna, Forum Anak, dan banyak komunitas lainnya.</div><div><br>4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi&nbsp;</div><div><br></div><div>Di Nganjuk sendiri teknologi sudah banyak berkembang dan terbilang maju. Di bidang transportasi, para masyarakat mayoritas telah memiliki kendaraan pribadi baik sepeda motor ataupun mobil. Sedangkan untuk kendaraan umum, terdapat bus, angkutan umum, dan kereta. Transportasi online pun banyak ditemukan di daerah Malang. Meskipun demikian, ada beberapa transportasi tradisional yang masih dapat ditemukan seperti delman dan becak.</div><div>Masyarakat Nganjuk juga banyak menggunakan smartphone baik dari anak-anak hingga orang tua. Adanya teknologi ini memungkinkan perubahan gaya hidup masyarakat menjadi lebih canggih.</div><div><br>5. Sistem Mata Pencaharian&nbsp;</div><div><br></div><div>Ketika orang pertama kali memasuki Nganjuk, yang ada di penglihatan hanyalah hamparan sawah nan hijau. Luasnya area pertanian menjadikannya sebagai salah satu sentra penghasil padi terbanyak di Jawa Timur. Tidak hanya penghasil padi, Nganjuk punya juga yang membanggakan, seperti melon dan bawang merah (brambang). Melimpahnya jenis pertanian di sana bukanlah hal baru atau unik. Maklum, di daerah yang terkenal dengan angin kencangnya itu rata-rata mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Hampir 80 persen masyarakat Nganjuk menyandarkan kehidupan ekonominya pada lahan pertanian.</div><div><br>6. Sistem Religi&nbsp;</div><div><br></div><div>Mayoritas penduduk di Kabupaten Nganjuk memeluk agama Islam sisanya menganut agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Tokoh agama Islam dari Nganjuk yang terkenal yaitu Kiai Muzajjad atau dipanggil Mbah Jad. Ia adalah pengasuh Pesantren Tirakat. Kabupaten Nganjuk seperti tak pernah absen melahirkan orang-orang alim di setiap zaman.</div><div><br>7. Kesenian&nbsp;</div><div><br></div><div>Ada beberapa kesenian yang berasal dari nganjuk seperti :&nbsp;</div><div>&nbsp;1) Tayub</div><div>&nbsp;2) Wayang Timplong</div><div>&nbsp;3) Tari Mung Dhe&nbsp;</div><div>&nbsp;4) Jaranan</div><div>&nbsp;5) Tari Salipuk&nbsp;</div><div><br><br>&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-13 16:31:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2514721585</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bakso Ibra, Jalan Wukir, Temas, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515230532</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 00:55:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515230532</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Patimura Gang 5, Temas, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515235067</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 00:59:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515235067</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Puri Indah, Beji, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515241836</link>
         <description><![CDATA[<div>ester florescita/14 XI IPS 4</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 01:04:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515241836</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Batu Permata Puri, Beji, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515250720</link>
         <description><![CDATA[P]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 01:11:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515250720</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Melati, Pesanggrahan, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515291005</link>
         <description><![CDATA[<div>-TULUNGAGUNG-<br>1. Bahasa, yang digunakan sehari hari oleh masyarakat Tulungagung yaitu bahasa jawa&nbsp;<br>2. Sistem peralatan dan teknologi di Tulungagung baru saja diresmikan oleh pemerintah Tulungagung dengan tanda tangan elektronik bertujuan untuk memudahkan birokrasi dan pelayanan kepada masyarakat.&nbsp;<br>3. Sistem mata pencaharian di Tulungagung rata rata ber pencaharian sebagai petani, tetapi banyak juga yang sebagai buruh bahkan pekerja swasta. &nbsp;<br>4. Sistem organisasi / kemasyarakatan yang ada di daerah Tulungagung sesuai standar seperti di daerah yang lain, ada perangkat daerah yang meliputi admin pembangunan, pengadaan barang dan jasa, bagian kesejahteraan masyarakat dls.&nbsp;<br>6. Kesenian yang ada di Tulungagung yaitu Jedor atau Jedoran adalah salah satu kesenian (seni musik) tradisional yang ada di Tulungangung, Jawa Timur. Alat musik pada jedoran terdiri dari 6 (enam) alat musik yaitu; tipung lanang, tipung wadon, kempyang, terbang, jedor, dan gendang. Jaranan, Karawitan/campursari, Reog Tulungagung,&nbsp;<br>Ketoprak, seperti : Ketoprak Siswobudoyo.&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 01:39:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515291005</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Patimura Gang 5, Temas, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author>putriatika340</author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515294373</link>
         <description><![CDATA[<div>Bali&nbsp;<br>1. Bahasa&nbsp;<br>Bahasa Bali terdiri atas dua dialek, yaitu (1) dialek Bali Aga atau Bali Mula yang dituturkan oleh penduduk Bali di daerah dataran tinggi di Bali dan (2) dialek Bali Dataran yang dituturkan oleh penduduk yang pada umumnya berdiam di daerah dataran rendah di Bali.<br>2. Pengetahuan&nbsp;<br>bersumber dari Agama Hindu dan budaya India, antara lain sistem pengobatan (ausadha), pembangunan rumah (hastakosalakosali dan hastabhumi) dan lain-lain.<br>3. Oraganisasi sosial&nbsp;<br>Subak merupakan organisasi kemasyarakatan yang dikenal luas oleh masyarakat Dewata Bali.<br>4. Ekonomi&nbsp;<br>selama Juli – September 2022, perekonomian Bali tumbuh sebesar 8,09% dibanding periode yang sama tahun sebelumya. Pencapaian ini jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,72%.<br>5. Peralatan hidup dan teknologi<br>Selain menunjukan kemajuan dalam bidang pengetahuan, Subak dalam peradaban Bali juga menunjukan sebuah kemajuan teknologi yang sudah maju. Terbukti struktur pembuatan terasering di sawah Bali sangat tertata rapi, sistematis. Juga tercermin dalam pengaturan tata letak ruang dan bangunan, yang dimulai dari gapura, lalu paling depan ada pura, hingga ke rumah utama serta ruangan ruangan lain yang memiliki simbol dan filosofi sendiri. Sistem peralatan hidup di Bali juga tercermin dari penemuan peninggalan gerabah Arikamedu dari India. Yang dapat dikatakan bahwa sistem peralatan hidup di Bali sudah modern.<br>6. Sisitem mata pencaharian&nbsp;<br>masyarakat Bali kuna bermata pencaharian sebagai petani atau bercocok tanam. Prasasti dari raja Marakata diungkapkan istilah amabaki (buka tanah), mluku (membajak), atanem (menanam padi), amantum(menyiangi), ahani (menuai), anutu (menumbuk).<br>7. Sisitem religi&nbsp;<br>Masyarakat Pulau Bali sudah sejak dulu terkenal sebagai penganut agama Hindu.<br><br>Atika putri handriyani/XI IPS 4</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 01:42:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515294373</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Wilis III, Sisir, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515305727</link>
         <description><![CDATA[<div>Jawa Timur Kota Batu<br>1. Sistem Bahasa<br>Selain mempelajari mengenai asal usul suatu bahasa tertentu, ditinjau dari kerangka bahasa dunia, dalam antropologi linguistik juga dipelajari masalah dialek atau logat bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi antara berbagai masyarakat yang tinggal di satu rumpun atau satu daerah seperti Jawa. Dalam bahasa Jawa terdapat bahasa Jawa halus seperti bahasa Jawa dialek Solo dan Yogyakarta, sedangkan dialek bahasa Jawa yang dianggap kasar seperti dialek bahasa Jawa Timur.<br><br>2. Sistem Pengetahuan<br>&nbsp;Sistem pengetahuan dalam kultural universal berkaitan dengan sistem peralatan hidup dan teknologi karena sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud di dalam ide manusia.<br><br>3. Sistem Organisasi Sosial<br>Unsur budaya berupa sistem kekerabatan dan organisasi sosial merupakan usaha antropologi untuk memahami bagaimana manusia membentuk masyarakat melalui berbagai kelompok sosial. Tiap kelompok masyarakat kehidupannya diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup dan bergaul dari hari ke hari.&nbsp;<br><br>4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi<br>Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda-benda tersebut. Perhatian awal para antropolog dalam memahami kebudayaan manusia berdasarkan unsur teknologi yang dipakai suatu masyarakat berupa benda-benda yang dijadikan sebagai peralatan hidup dengan bentuk dan teknologi yang masih sederhana. Dengan demikian, bahasan tentang unsur kebudayaan yang termasuk dalam peralatan hidup dan teknologi merupakan bahasan kebudayaan fisik.<br>pada masyarakat tradisional terdapat delapan macam sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik yang digunakan oleh kelompok manusia yang hidup berpindah-pindah atau masyarakat pertanian, yaitu;<br>• Alat-Alat Produktif<br>• Senjata<br>&nbsp;• Perumahan<br>• Alat-Alat Transportasi<br><br>5. Sistem Ekonomi/Mata Pencaharian Hidup<br>&nbsp;Mata pencaharian atau aktivitas ekonomi suatu masyarakat menjadi fokus kajian penting etnografi.<br><br>6. Sistem Religi<br>&nbsp;Kajian antropologi dalam memahami unsur religi sebagai kebudayaan manusia tidak dapat dipisahkan dari religious emotion atau emosi keagamaan.<br>Emosi keagamaan adalah perasaan dalam diri manusia yang mendorongnya melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religius. Emosi keagamaan ini pula yang memunculkan konsepsi benda-benda yang dianggap sakral dan profan dalam kehidupan manusia.<br><br>7. Kesenian<br>Perhatian ahli antropologi mengenai seni bermula dari penelitian etnografi mengenai aktivitas kesenian suatu masyarakat tradisional. Deskripsi yang dikumpulkan dalam penelitian tersebut berisi mengenai benda-benda atau artefak yang memuat unsur seni, seperti patung, ukiran, dan hiasan. Berdasarkan jenisnya, seni rupa terdiri atas seni patung, seni relief, seni ukir, seni lukis, dan seni rias. Seni musik terdiri atas seni vokal dan instrumental, sedangkan seni sastra terdiri atas prosa dan puisi. Selain itu, terdapat seni gerak dan seni tari, yakni seni yang dapat ditangkap melalui indera pendengaran maupun penglihatan. Jenis seni tradisional adalah wayang, ketoprak, tari, ludruk, dan lenong. Sedangkan seni modern adalah film, lagu, dan koreografi.<br><br>Nataneyla Filza A / XI - IPS 4&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 01:51:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515305727</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Lesti, Ngaglik, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515333849</link>
         <description><![CDATA[<div>Elvanisa Popy<br>XI IPS 4<br>13<br><br>Bandung&nbsp;<br><br>1. Bahasa<br>Penduduk asli Provinsi Jawa Barat adalah suku Sunda dan Cirebon, sehingga bahasa sehari-hari yang digunakan warga Bandung adalah bahasa Sunda dan Cirebon.<br><br>2.Sistem pengetahuan&nbsp;<br>Masyarakat Sunda di Kota Bandung, ditandai dengan penanggalan Sunda atau kalender Sunda, yaitu sistem penanggalan yang digunakan oleh masyarakat tradisional Sunda. Bandung juga memiliki beberapa museum terbaik untuk menambah pengetahuan.Selain itu Bandung memiliki beberapa universitas seperti ITB,UNPAD dan STHB.<br><br>3. Sistem organisasi<br>Organisasi di Bandung memiliki berbagai keragaman sosial ,budaya , dan agama . Misalnya organisasi keagamaan MUI dan DMI yang berada di kota Bandung.<br><br>4.Sistem peralatan hidup dan teknologi<br>Alat-alat bercocok tanam baik di sawah maupun di kebun yang terutama adalah cangkul yang disebut pacul, arit, parang, golok yang disebut bedog, dan bajak untuk di sawah. Peralatan rumah tangga antara lain, tikar yang disebut samak atau amparan, kursi yang disebut korsi, meja, lemari yang disebut lomari. Alat-alat dapur antara lain bakul nasi, kukusan atau aseupan, gayung atau siwur, kipas nasi atau hihid. Alat angkutan Suku Sunda adalah delman, keretek, sado, dan gerobak yang disebut roda. Semua alat angkut tersebut ditarik oleh kuda.Di era yang sekarang ini masyarakat di kota Bandung telah menggunakan teknologi yang modern sampai dijuluki Bandung Smart City adalah konsep sebuah kota yang memiliki koneksi terintegrasi dalam berbagai bidang hingga memberikan dampak praktis dan efisiensi.<br><br>5. Sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup<br>Bandung mengalami peningkatan dengan memanfaatkan sistem padat karya. Bandung merupakan pusat perdagangan ekonomi kreatif seperti, berbagai macam kuliner dan fashion.<br>Mata pencaharian di Bandung berbeda beda mulai dari pegawai negeri ,swasta ,petani ,pedagang .Tetapi masyarakat sekitar didominasi pada bidang pertanian , yaitu sekitar 80% maka banyak yang bermatapencaharian petani sayur / bunga.<br><br>6. Sistem religi<br>Masyarakat Sunda sebagai sebuah suku bangsa di Indonesia, memiliki sistem kepercayaan awal yang unik dan masih bertahan sampai saat ini. Sistem kepercayaan tersebut sering dikenal dengan istilah Sunda Wiwitan yang sekarang bertahan hidup pada komunitas masyarakat adat Baduy.<br><br>7. Kesenian<br>Bandung memiliki beberapa kesenian yang terkenal misalnya ,kesenian sisingaan ,tari jaipong ,wayang golek ,calung dan iket Sunda.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 02:15:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515333849</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Songgokerto, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515343158</link>
         <description><![CDATA[<div>1. BAHASA: Bahasa Nggresik'an merupakan gabungan dari beberapa bahasa termasuk Jawa Timuran, Madura, dan Jawa Tengah. Khususnya di daerah bagian Gresik Selatan seperti Pulau Bawean, yang berada 150 km lepas pantai Laut Jawa, masyarakat lokal menggunakan Bahasa Madura yang masih bercampur dengan bahasa Gresik<br><br>2. SISTEM PENGETAHUAN: System online yang ada di perpustakaan daerah Gresik yang baru ini diterapkan memberikan banyak kemudahan bagi para pembaca untuk mempermudah mereka dalam mencari buku – buku bacaan yang dibutuhkan<br><br>3. SISTEM ORGANISASI MASYARAKAT: sistem organisasi masyarakat Gresik yaitu di pimpin oleh bupati, yang kemudian dibantu oleh kepala dinas dalam melaksanakan tugasnya<br><br>4. SISTEM PERALATAN HIDUP &amp; TEKNOLOGI: peralatan dan teknologi masih terbilang maju, banyaknya tranportasi umum juga memudahkan kemana-mana yang dari desa ke kota untuk mengikuti perkembangan zaman juga dari kota ke desa.&nbsp; perlengkapan masyarakat juga terbilang maju&nbsp; karena sudah gampangnya mendapatkan apapun, dari barang elektronik hingga kendaraan bermotor.&nbsp;<br><br>5. SISTEM MATAPENCAHARIAN &amp; EKONOMI: Mayoritas mata pencaharian masyarakat Gresik merupakan petani tambak dan sawah. Kondisi alam di wilayah ini sangat mendukung masyarakat dalam melakukan kegiatan bercocok tanam, berkebun dan budidaya ikan<br><br>6. SISTEM RELIGI: hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama terbesar yang dianut oleh masyarakat gresik kemudian disusul dengan agama Kristen<br><br>7. SISTEM KESENIAN: ada beberapa seni di daerah gresik, yaitu ada tari zavin mandilingan, tari damar kurung, tari tanyang raci, tari pencak macan<br><br><br><br><br>shidqi fauzi rais&nbsp;<br>11 IPS 5</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 02:22:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515343158</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Torongrejo, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515347424</link>
         <description><![CDATA[<div>Zulvianti Dwita Wardhani<br>XI IPS 4 / 35<br><br><strong>Keragaman Budaya Kalimantan Barat<br>Suku Dayak</strong><br><br>1. Bahasa :&nbsp;<br>Bahasa Indonesia adalah bahasa yang secara umum dipakai oleh masyarakat di Kalimantan Barat. Sedangkan untuk bahasa penghubungnya memakai bahasa Melayu Pontianak, Melayu Sambas dan juga Bahasa Senganan, sesuai dengan wilayah penyebarannya.<br><br>2. Sistem Pengetahuan :&nbsp;<br>Sistem pengetahuan masyarakat Dayak Zaman dahulu meliputi :<br>• Pengetahuan tentang alam<br>• Pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan<br>• Pengetahuan tentang tubuh, sifat dan tingkah laku sesama manusia<br>• Pengetahuan tentang ruang dan waktu<br>• Pengetahuan tentang Seni dan musik<br>• Pengetahuan tentang Hukum dan Politik<br>• Pengetahuan tentang filsafat<br>• Pengetahuan tentang sains dan merancang<br>• Pengetahuan tentang peralatan dan Senjata<br><br>3. Sistem Organisasi Masyarakat :&nbsp;<br>Pada Suku Ketapang menganut sistem kekerabatan yang menghitung garis keturunan secara patrilineal, yaitu memperhitungkan anggota keluarga menurut garis keturunan dari ayah atau laki-laki. Orang-orang yang berasal dari satu ayah disebut keturunan garis lurus atau dalam. Berlandaskan pada hubungan perkawinan yang tidak timbal-balik itulah masyarakat Ketapang mengatur hubungan sosial dengan segala hak dan kewajibannya dalam segala kegiatan sosial mereka.<br><br>4. Sistem Religi dan Kesenian :&nbsp;</div><ul><li>Masyarakat Dayak memiliki seni dan kebudayaan yang khas dan terkenal, misalnya tari tambu dan balean dadas. Suku Dayak juga memiliki rumah adat bernama rumah betang yang biasa dihuni lebih dari 20 kepala keluarga.</li><li>Rumah betang umumnya terdiri atas enam kamar. Masing-masing kamar berfungsi untuk menyimpan alat perang, kamar gadis, kamar upacara adat, kamar agama, dan kamar tamu.</li><li>Masyarakat Suku Dayak juga terkenal dengan kesenian tato. Masyarakat Dayak Iban, misalnya, dikenal sebagai salah satu suku tertua yang memiliki kebudayaan merajah tubuh.</li><li>Tarian tradisional Kalimantan Barat adalah Robo-robo. Tari robo-robo ini diadakan pada Rabu terakhir bulan Sapar atau Hijriah, sebagai simbol keberkahan.</li><li>Secara umum, ada empat agama yang dianut oleh mayoritas orang Dayak, yakni Khatolik, Kristen, Islam, dan Kaharingan. Terkhusus untuk Kaharingan, kepercayaan ini merupakan agama asli dari suku Dayak. Kata Kaharingan sendiri diambil dari Danum Kaharingan yang berarti "air kehidupan."</li></ul><div><br>5. Mata Pencaharian dan Ekonomi :<br>Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) memiliki potensi alam yang bisa dikembangkan untuk menunjang perekonomian masyarakat daerah dan mendukung perekonomian nasional.&nbsp;<br>Selain hasil produksi daerah berupa bauksit maupun kelapa sawit, sektor kehutanan dan pertanian juga menjadi pendukung ekonomi masyarakat Kalbar.&nbsp;<br><br>6. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi :&nbsp;</div><ul><li>Tanggui - Topi yang pada umumnya digunakan oleh perempuan Iban Sebaruk ketika pergi ke luar rumah.</li><li>Capan - Alat penampi beras atau padi.</li><li>Takin senangkin - Sebuah wadah yang digunakan untuk membawa padi pada saat panen.</li><li>Kelepai - Sejenis tas cangklong, bentuknya kecil yang pada zaman dahulu digunakan oleh kaum laki-laki membawa peluru senapan pada saat pergi berburu.</li><li>Jangkuk - Wadah yang digunakan untuk membawa kayu bakar ketika pergi ke hutan, bahan kokoh terbuat dari rotan.</li><li>Pengayak - Alat yang digunakan untuk membersihkan padi atau beras.</li><li>Mansai dan Cupai keresing - Alat untuk menangkap ikan dan udang yang terbuat dari uwi (rotan).</li><li>Lanyik - Alat untuk membawa padi dari uma (ladang) menuju pondok ladang (langkau uma) atau ketika ke rumah.</li></ul><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 02:25:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515347424</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Torongrejo, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515350529</link>
         <description><![CDATA[<div>Zulvianti Dwita Wardhani<br>XI IPS 4 / 35<br><br><strong>Keragaman Budaya Kalimantan Barat<br>Suku Dayak</strong><br><br>1. Bahasa :&nbsp;<br>Bahasa Indonesia adalah bahasa yang secara umum dipakai oleh masyarakat di Kalimantan Barat. Sedangkan untuk bahasa penghubungnya memakai bahasa Melayu Pontianak, Melayu Sambas dan juga Bahasa Senganan, sesuai dengan wilayah penyebarannya.<br><br>2. Sistem Pengetahuan :&nbsp;<br>Sistem pengetahuan masyarakat Dayak Zaman dahulu meliputi :<br>• Pengetahuan tentang alam<br>• Pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan<br>• Pengetahuan tentang tubuh, sifat dan tingkah laku sesama manusia<br>• Pengetahuan tentang ruang dan waktu<br>• Pengetahuan tentang Seni dan musik<br>• Pengetahuan tentang Hukum dan Politik<br>• Pengetahuan tentang filsafat<br>• Pengetahuan tentang sains dan merancang<br>• Pengetahuan tentang peralatan dan Senjata<br><br>3. Sistem Organisasi Masyarakat :&nbsp;<br>Pada Suku Ketapang menganut sistem kekerabatan yang menghitung garis keturunan secara patrilineal, yaitu memperhitungkan anggota keluarga menurut garis keturunan dari ayah atau laki-laki. Orang-orang yang berasal dari satu ayah disebut keturunan garis lurus atau dalam. Berlandaskan pada hubungan perkawinan yang tidak timbal-balik itulah masyarakat Ketapang mengatur hubungan sosial dengan segala hak dan kewajibannya dalam segala kegiatan sosial mereka.<br><br>4. Sistem Religi dan Kesenian :&nbsp;</div><ul><li>Masyarakat Dayak memiliki seni dan kebudayaan yang khas dan terkenal, misalnya tari tambu dan balean dadas. Suku Dayak juga memiliki rumah adat bernama rumah betang yang biasa dihuni lebih dari 20 kepala keluarga.</li><li>Rumah betang umumnya terdiri atas enam kamar. Masing-masing kamar berfungsi untuk menyimpan alat perang, kamar gadis, kamar upacara adat, kamar agama, dan kamar tamu.</li><li>Masyarakat Suku Dayak juga terkenal dengan kesenian tato. Masyarakat Dayak Iban, misalnya, dikenal sebagai salah satu suku tertua yang memiliki kebudayaan merajah tubuh.</li><li>Tarian tradisional Kalimantan Barat adalah Robo-robo. Tari robo-robo ini diadakan pada Rabu terakhir bulan Sapar atau Hijriah, sebagai simbol keberkahan.</li><li>Secara umum, ada empat agama yang dianut oleh mayoritas orang Dayak, yakni Khatolik, Kristen, Islam, dan Kaharingan. Terkhusus untuk Kaharingan, kepercayaan ini merupakan agama asli dari suku Dayak. Kata Kaharingan sendiri diambil dari Danum Kaharingan yang berarti "air kehidupan."</li></ul><div><br>5. Mata Pencaharian dan Ekonomi :<br>Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) memiliki potensi alam yang bisa dikembangkan untuk menunjang perekonomian masyarakat daerah dan mendukung perekonomian nasional.&nbsp;<br>Selain hasil produksi daerah berupa bauksit maupun kelapa sawit, sektor kehutanan dan pertanian juga menjadi pendukung ekonomi masyarakat Kalbar.&nbsp;<br><br>6. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi :&nbsp;</div><ul><li>Tanggui - Topi yang pada umumnya digunakan oleh perempuan Iban Sebaruk ketika pergi ke luar rumah.</li><li>Capan - Alat penampi beras atau padi.</li><li>Takin senangkin - Sebuah wadah yang digunakan untuk membawa padi pada saat panen.</li><li>Kelepai - Sejenis tas cangklong, bentuknya kecil yang pada zaman dahulu digunakan oleh kaum laki-laki membawa peluru senapan pada saat pergi berburu.</li><li>Jangkuk - Wadah yang digunakan untuk membawa kayu bakar ketika pergi ke hutan, bahan kokoh terbuat dari rotan.</li><li>Pengayak - Alat yang digunakan untuk membersihkan padi atau beras.</li><li>Mansai dan Cupai keresing - Alat untuk menangkap ikan dan udang yang terbuat dari uwi (rotan).</li><li>Lanyik - Alat untuk membawa padi dari uma (ladang) menuju pondok ladang (langkau uma) atau ketika ke rumah.</li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 02:28:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515350529</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Suropati No.77c, Pesanggrahan, Batu City, East Java</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515400889</link>
         <description><![CDATA[<div>BALI (M.YUSUF XI IPS 4/19)<br>1) sistem religi dan upacara keagamaan<br>&nbsp;Agama mayoritasnya adalah Hindu Dharma, dan walaupun sebenarnya berasal dari India, agama masyarakat Bali adalah perpaduan yang unik dari Hindu, Budha Jawa dan kepercayaan kuno yang hampir punah dan berbeda dari ajaran Hindu yang dilakukan di India sekarang ini.<br>2) sistem dan organisasi kemasyarakatan&nbsp;<br>&nbsp;Subak merupakan organisasi kemasyarakatan yang dikenal luas oleh masyarakat Dewata Bali. Subak secara khusus mengatur dan mengelola sistem pengairan sawah dalam bercocok tanam. Untuk menunjang hasil pertanian yang berkualitas baik, diperlukan sistem irigasi yang berfungsi untuk mengairi sawah agar tidak kering saat musim kemarau tiba.&nbsp;<br>3) sistem pengetahuan<br>&nbsp;Melalui media bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno masyarakat Bali memiliki berbagai sistem pengetahuan yang bersumber dari Agama Hindu dan budaya India, antara lain sistem pengobatan (ausadha), pembangunan rumah (hastakosalakosali dan hastabhumi) dan lain-lain.<br>4) bahasa<br>&nbsp; Bahasa Bali terdiri atas dua dialek, yaitu (1) dialek Bali Aga atau Bali Mula yang dituturkan oleh penduduk Bali di daerah dataran tinggi di Bali dan (2) dialek Bali Dataran yang dituturkan oleh penduduk yang pada umumnya berdiam di daerah dataran rendah di Bali.<br>5) kesenian<br>&nbsp; Selain, wayang kulit, joged bumbung, tari janger, genjek dan calonarang sejumlah kesenian rakyat Bali yang terkadang masih bisa kita temukan adalah drama gong, bondres, sendratari dan arja.<br>6) sistem mata pencaharian hidup<br>&nbsp; Bertani adalah merupakan mata pencaharian hidup pokok dari sebagian terbesar orang Bali. Jenis bercocok tanam terpenting adalah bercocok tanam di sawah. Di samping pertanian di sawah, orang Bali juga mengerjakan usaha perkebunan yang menghasilkan antara lain : kelapa, kopi, cengkeh, kapok, jambu mente, dan tembakau.<br>&nbsp;7) sistem teknologi dan peralatan.<br>&nbsp;Selain menunjukan kemajuan dalam bidang pengetahuan, Subak dalam peradaban Bali juga menunjukan sebuah kemajuan teknologi yang sudah maju. Terbukti struktur pembuatan terasering di sawah Bali sangat tertata rapi, sistematis. Juga tercermin dalam pengaturan tata letak ruang dan bangunan, yang dimulai dari gapura, lalu paling depan ada pura, hingga ke rumah utama serta ruangan ruangan lain yang memiliki simbol dan filosofi sendiri. Sistem peralatan hidup di Bali juga tercermin dari penemuan peninggalan gerabah Arikamedu dari India. Yang dapat dikatakan bahwa sistem peralatan hidup di Bali sudah modern</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 03:10:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515400889</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perum Griya Modern Estate, perumahan Jalan Griya Modern Estate, Oro-Oro Ombo, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515401732</link>
         <description><![CDATA[<div>bilqis syahira, xi ips 4 (11) - YOGYAKARTA&nbsp;<br><br>1. BAHASA<br>Bahasa Jawa merupakan bahasa lokal yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa. Dialek bahasa Jawa dari Jawa Tengah, Yogyakarta bernada sangat halus, tentu berbeda dengan Jawa Timur. Bahasa Jawa di Jawa Tengah pun banyak memiliki perbedaan dengan yang biasa digunakan oleh masyarakat di Yogyakarta.<br>2. SISTEM PERALATAN DAN TEKNOLOGI&nbsp;<br>- Batik : Ciri khas batik Jogja terletak pada latar belakang motif dan hiasan motif. Selain itu, batik ini juga lebih sering menggunakan latar belakang putih. Kalau pun dasarnya hitam atau gelap, tapi warnanya kebiruan.<br>- Kain Lurik : Karena kainnya hadir dalam warna-warna yang indah dan bertekstur halus, kain ini banyak dimodifikasi menjadi ragam busana maupun aksesoris yang fashionable.<br>- Blangkon : Penutup kepala ini terbuat dari kain batik. Blangkon Jogja atau yang sering disebut Blangkon Mondolan ini punya tonjolan bulat di bagian belakangnya.<br>- Keris : Keris adalah senjata tradisional khas Yogyakarta yang digunakan dengan cara menghunus bilahnya pada pertarungan jarak dekat. Bentuk keris biasanya berlekuk dengan gagang, dan dibawa dengan dimasukkan ke dalam wrangkanya.<br>- Tombak : Di Kraton Yogyakarta diketahui ada beragam jenis tombak yang bentuk mata tombaknya bervariasi. Ada yang bercabang 3, ada pula yang seperti kudi, ada yang seperti cakra, dan ada pula yang berbentuk konvensional.<br>- Condroso Yogyakarta : Condroso adalah senjata tradisional Yogyakarta ini berbentuk mirip tusuk konde. Walaupun sering diselipkan diantara konde, tetapi jangan menganggap remeh senjata yang unik ini. Senjata kecil yang berfungsi sebagai tusuk konde tersebut dapat mematikan, terutama merupakan senjata tikam yang dipakai pada saat lawan sedang dalam keadaan lengah.<br>- Gerabah : sebagai alat memasak ataupun wadah-wadah seperti kendi untuk menampung air, mangkuk untuk wadah makanan, gelas untuk wadah minuman, tungku untuk memasak, dan sebagainya. Fungsi gerabah sebagai perhiasan dan penanda status.<br>3. SISTEM MATA PENCAHARIAN&nbsp;<br>Mata pencaharian masyarakat di Yogyakarta adalah bercocok tanam, berdagang, kerajinan (kerajinan perak, kerajinan wayang kulit, dan kerajinan anyaman), dan wisata.<br>4. SISTEM PENGETAHUAN (PENDIDIKAN)<br>Yogyakarta juga sangat kaya dengan sumber pendidikan, seperti narasumber/dosen yang berkualitas, perpustakaan, laboraturium dan pusat-pusat studi yang ada. Kota Yogyakarta juga dikenal memiliki sistem dan suasana belajar yang unggul, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah, sampai perguruan tinggi.&nbsp; Contohnya: Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dsb.<br>5. SISTEM KEKERABATAN DAN ORGANISASI SOSIAL&nbsp;<br>Sistem kekerabatan dalam Kraton Yogyakarta pada prinsipnya sama dengan orang Jawa secara umumnya, yaitu berdasarkan keturunan atau hubungan darah dengan prinsip bilateral dan parental (memperhitungkan garis laki-laki dan garis perempuan)&nbsp;<br>6. SISTEM RELIGI&nbsp;<br>Penduduk Yogyakarta mayoritas beragama Islam yaitu sebesar 92,62%, selebihnya beragama Kristen Katolik 4,50%, kemudian Kristen Protestan 2,68%. Pemeluk agama Kristen di DI Yogyakarta adalah komunitas suku Jawa asli. Sedangkan untuk Kasultanan Yogyakarta kebanyakan pemeluk Agama Islam Jawa kebanyakan bersifat Kejawen dan Sinkretis.<br>7. KESENIAN&nbsp;<br>- ketoprak<br>- Wayang kulit<br>- Wayang Golek<br>- Jathilan<br>- Batik<br>- Sekaten&nbsp;<br>- Karawitan<br>- Sendratari Ramayana&nbsp;</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 03:11:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515401732</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tlekung, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515403131</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Sandra Dewi Andraeni<br>XI IPS 4 / 29<br><br>7 unsur kebudayaan Suku Asmat di Papua<br><br>1. Sistem Bahasa<br><br>Masyarakat suku Asmat memiliki beberapa bahasa yang digunakan sehari-hari, bergantung letak geografisnya. Seperti bahasa Asmat Sawa, Asmat Bets Mbup, Asmat Safan (Asmat Pantai), Asmat Sirat, dan Asmat Unir Sirau.<br><br>2. Sistem Teknologi&nbsp;<br><br>Teknologi yang telah dimiliki oleh suku Asmat antara lain:<br>(a) Alat-alat produktif; jaring yang terbuat dari anyaman sagu, ukiran yang terbuat dari gigi hewan, kapak batu namun seiring dengan berkembangnya zaman mereka beralih ke pisau.<br>(b) Senjata; perisai, tombak dari kulit kayu sagu, dan panah yang ujungnya terbuat dari kuku burung kasuari.<br>(c) Alat transportasi; perahu lesung yang digunakan untuk persiapan suatu penyerangan. Kayu yang digunakan untuk membuat perahu adalah kayu kuning ketapang, bitanggur.<br><br>3. Sistem Mata Pencaharian<br><br>Dari sisi mata pencaharian Suku Asmat yang berada di wilayah pedalaman, biasanya mempunyai pekerjaan sebagai pemburu dan petani kebun, sedangkan mereka yang tinggal di pesisir lebih memilih menjadi nelayan dam pedagang sebagai mata pencaharian. Perbedaan kedua populasi ini disebabkan juga oleh kondisi wilayah tempat mereka tinggal dan besarnya pengaruh masyarakat pendatang yang umumnya lebih terbuka daripada kebudayaan Asmat sendiri.<br><br>4. Sistem Pengetahuan<br><br>Pengetahuan akan alam sekitar sangat diperlukan karena, masyarakat asmat tinggal di tempat terpencil dan ganas dengan rawa-rawa. Masyarakat asmat mengetahui yang harus dilakukan pada perbedaan pasang surut mencapai 4-5 meter. Masyarakat suku asmat akan melakukan pelayaran dari satu tempat ke tempat lain. Pada waktu pasang surut, orang akan berperahu kearah hilir atau pantai dan kembali ke hulu ketika pasang sedang naik. Orang-orang asmat hanya mengenal 3 warna dalam kehidupannya, yaitu merah, putih, dan hitam. Oleh sebab itu, suku asmat perlu mengetahui sifat dan tingkah laku (kebutuhan) antar ,manusia.&nbsp; Tempat tinggal suku Asmat yang berada di daerah dataran rendah membuat mereka perlu mengatasi kesulitan di dalam kehidupannya.&nbsp;<br><br>5. Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial<br><br>Suku Asmat, dalam sistem kekerabatan mengenal tiga bentuk keluarga, antara lain sebagai berikut :<br><br>- Keluarga inti monogami dan kandung poligami<br>- Keluarga luas Uxorilokal<br>Keluarga yang telah menikah, dan kemudian tinggal dirumah keluarga dari pihak istri.<br>- Keluarga Avunkulokal<br>Keluarga yang sudah menikah dan tinggal di rumah keluarga istri dari pihak ibu.<br>Orang – orang suku Asmat sendiri tinggal secara bersamaan dalam suatu rumah panggung dengan dengan luas 3x4x4 meter yang disebut dengan “ Tsyem. Rumah ini juga berfungsi sebagai tempat untuk penyimpanan senjata dan peralatan berburu, bercocok tanam, dan menangkap ikan.<br><br>Suku Asmat memiliki dua jabatan kepemimpinan, yaitu : yang berasal dari unsur pemerintah dan berasal dari masyarakat itu sendiri (kepala suku) tipe kepeminpinan yang sangat berpengaruh kepala suku atau ondoafi. Bila seorang kepala suku telah meninggal dunia, jabatan kepala suku tidak secara otomatis jatuh kepada penerusnya melainkan dipilih dari orang yang berasal dari marga tertua.<br><br>6. Sistem Kesenian<br><br>Secara sederhana kesenian dapat diartikan sebagai segala hasrat manusia terhadap keindahan. Dalam hal kesenian suku Asmat banyak menghasilkan kerajinan yang berupa seni pahat dan ukir. Yaitu benda-benda kesenian hasil ukiran Asmat yang menarik adalah perisai-perisai, tiang-tiang mbis (patung bis/ leluhur), dan tifa.<br><br>7. Sistem Religi&nbsp;<br><br>Suku Asmat percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari patung. Dalam mitologi masyarakat Asmat, Dewa Fumeripits (Sang Pencipta) terdampar di pantai, namun nyawanya diselamatkan oleh sekelompok burung. Dewa Fumeripits selanjutnya tinggal sendirian. Oleh karena itu, ia kemudian membangun sebuah rumah panjang yang diisi dengan patung manusia dan tifa (gendang). Ajaibnya, patung tersebut berubah menjadi manusia dan menari-nari.<br><br>Suku Asmat juga mengenal adanya roh nenek moyang di sekitar lingkungannya. Adapun roh-roh tersebut, yaitu sebagai berikut.<br>- Yi-Ow adalah roh nenek moyang yang baik maka disimbolkan dengan upacara-upacara adat.<br>- Osbopon adalah roh jahat yang membawa penyakit.<br><br>Upacara-upacara besar yang dilakukan oleh suku bangsa Asmat sebagai berikut.<br>- Mbismbu adalah upacara pembuatan mbis (patung nenek moyang yang diukir).<br>- Yentpokmbu adalah upacara pembuatan rumah.<br>- Mbipokkumbu adalah upacara topeng<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 03:12:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515403131</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. WR. Supratma Gg. II, Sisir, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515475358</link>
         <description><![CDATA[<div>Saya memilih daerah banyuwangi<br><br>Bahasa:&nbsp;<br>• bahasa yang digunakan di daerah banyuwangi adalah Bahasa Osing, atau yang juga dikenal sebagai "bahasa dari Banyuwangi" adalah ​sebuah varietas dari bahasa Jawa yang dituturkan oleh suku Osing di Banyuwangi, Jawa Timur. Secara linguistik, bahasa ini termasuk dari cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia.&nbsp;<br><br>Sistem peralatan dan teknologi:&nbsp;<br>• Salah satu Teknologi sangat modern dan terbesar yang ada berada di banyuwangi yaitu pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berada di paiton banyuwangi<br>• Dalam hal penerimaan media massa, masyarakat sana ternyata lebih banyak melihat televisi dan mendengarkan radio. Jika hal ini dianalisa berdasarkan teori dependency dari De Fleur dan Ball Rokeach tentang pertemuan dengan media, maka masyarakat sana termasuk dalam kelompok menengah (middle class) dan bawah (lower class).<br><br>Sistem mata pencaharian:<br>• Banyuwangi merupakan kabupaten agraris dengan mata pencaharian utama penduduk berasal dari pertanian agroindustri. Untuk kegiatan pertanian, komoditi yang banyak dibudidayakan adalah tanaman pangan kopi.<br><br>Sistem pengetahuan:<br>• Sarana pendidikan yang ada, untuk TK 1 buah, dengan jumlah guru 2 orang dan murid 38 orang, SD atau madrasah ibtidaiyah 2 buah, dengan jumlah guru 15 orang dan murid 199 orang.<br>• untuk pendidikan non formal, terdapat pondok pesantren sebanyak 3 buah, dengan jumlah guru atau ustad 3 orang dan santri 52 orang. Kursus menjahit dengan jumlah 1 buah, dengan guru 1 orang dan murid 8 orang.<br>Dalam bidang kesehatan, terdapat 1 buah puskesmas dengan 1 orang perawat dan tenaga bidan 1 orang. Minimnya sarana kesehatan menyebabkan, karena sangat dekat dengan sarana kesehatan di pusat pemerintahan kabupaten.<br><br>Sistem kekerabatan/organisasi:<br>• Sistem kekerabatan pada masyarakat hukum adat Osing di Banyuwangi adalah bersifat patrilineal, dimana sistem pertalian keluarga lebih di titik beratkan pada garis keturunan laki-laki.<br><br>Sistem religi:<br>• Pada awalnya, masyarakat Osing mayoritas beragama Hindu dan Budha. Namun, setelah berkembangnya kerajaan islam, masyarakat Osing banyak yang beralih memeluk agama Islam.<br><br>Kesenian:<br>• Tari sableng<br>• Barong<br>• Angklung<br>• Kendang kempul<br>• Jaranan<br><br>Dhika rochmansya /11/XI IPS 5</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 04:30:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515475358</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Diponegoro, Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author>ridhododok308</author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515530022</link>
         <description><![CDATA[<div>Ridho Mei S.A&nbsp;<br>XI IPS 4/28<br><br>SOLO<br><br><br>1. Bahasa<br>Bahasa yang digunakan di Kota Solo menggunakan dialek Jawa Mataraman (Jawa Tengah), Dialek ini juga digunakan di wilayah Yogyakarta, Magelang, Semarang, Pati, Madiun hingga sebagian wilayah Kediri. Namun dialek wilayah Solo terkenal dengan dialek yang lebih halus dalam penggunaan kata-kata di percakapan sehari-hari.<br><br>2.Sistem pengetahuan&nbsp;<br>Salah satu bentuk sistem pengetahuan yang ada, berkembang, dan masih ada hingga saat ini adalah bentuk penanggalan atau kalender. Bentuk kalender Jawa menurut kelompok para ahli, adalah salah satu bentuk pengetahuan yang maju dan unik yang berhasil diciptakan oleh para masyarakat Jawa kuno, karena penciptaanya yang terpengaruh unsur budaya islam, Hindu-Budha, Jawa Kuno, dan sedikit adanya pengaruh budaya barat. Solo juga memiliki Perguruan tinggi yang unggul yaitu Universitas sebelas maret dan Institut Seni Indonesia&nbsp;<br><br>3. Sistem organisasi<br>Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) merupakan satu organisasi sosial kemasyarakatan di Solo. Organisasi ini didirikan sejak tahun 1932. Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS)dulunya berasal dari gabungan enam organisasi Tionghoa<br><br>4.Sistem peralatan hidup dan teknologi<br>Ada beberapa&nbsp;&nbsp;jenis rumah yang dikenal oleh masyarakat suku Jawa, diantaranya adalah rumah limasan, rumah joglo, dan rumah serotong. Andong merupakan salah satu alat transportasi tradisional di Solo. Andong sebagai salah satu warisan budaya Jawa memberikan ciri khas kebudayaan tersendiri yang hingga kini masih terus dilestarikan, khususnya di&nbsp;Solo. keberadaan Andong di Solo difungsikan sebagai alat transportasi pengangkut barang-barang dagangan ibu-ibu dari pedesaan menuju pasar-pasar tujuan. Selain berfungsi sebagai media pengangkut barang dagangan pasar, Andong juga tidak jarang berfungsi sesuai dengan aslinya sebagai alat transportasi umum bagi masyarakat di Solo dan sekitarnya. Kota Solo tak hanya dikenal dengan tradisi dan budayanya, tapi juga menjelma menjadi salah satu kota modern. Salah satunya ditandai dengan masuknya Solo ke dalam jajaran 10 smart city di Tanah Air. Adapun salah satu bagian dari ekosistem smart city di Solo ialah Solo Technopark yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2009 lalu dan mengalami peremajaan baru-baru ini.&nbsp;<br><br>5. Sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup<br>Kota Solo merupakan sebuah kota yang kurang mempunyai lahan pertanian dan sudah sejak lama mengandalkan sektor perdagangan, jasa, dan industri kreatif. Industri kreatif di Solo meliputi kerajinan, fashion, dan seni pertunjukkan. Pesatnya perkembangan industri kreatif ini di tunjukkan dari nilai ekspor barang hasil industri kreatif seperti mebel ukir dan batik. Hal ini menunjukkan bahwa di kota Solo sangat kental akan budayanya yaitu budaya jawa. Perkembangan budaya dari masa lalu masih dijaga hingga sampai sekarang, sehingga kota Solo dapat menjadi kota dengan budaya jawa yang kental.&nbsp;<br><br>6. Sistem religi<br>The Spirit of Java"&nbsp;slogan dari kota nan indah akan budaya dan keramahan. Termasuk akan keindahan di dalamnya ialah antara tradisi budaya jawa mampu hidup berdampingan dengan komunitas beragama. Sebagai contoh kejawen&nbsp;masih memiliki tempat di hati penduduk Solo hidup bersamaan dengan penganut Islam yang kuat, di Solo terdapat pondok pesantren terkenal pencetak ulama dan ustadz seperti Al-Mukmin Ngruki dan As-Salam kartasura. Bisa kita lihat tradisi dari keraton pun masih terjaga hingga kini. Selain itu ada beberapa masyarakat yang beragama Kristen, katolik, budha dan Hindu<br><br>7. Kesenian<br>1. Sekaten Solo&nbsp;<br>2. Grebeg Sudiro<br>3. Sadranan<br>4. Kirab 1 Suro<br>5. Tari Bedhaya Ketawang merupakan Tari sakral dari&nbsp;Solo.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 05:18:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515530022</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pujon Lor, Kabupaten Malang, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515569184</link>
         <description><![CDATA[<div><br>aullya divara t.a/LM geo-b<br>Suku Asmat Papua<br><br>1. Sistem Bahasa<br><br>Masyarakat suku Asmat memiliki beberapa bahasa yang digunakan sehari-hari, bergantung letak geografisnya. Seperti bahasa Asmat Sawa, Asmat Bets Mbup, Asmat Safan (Asmat Pantai), Asmat Sirat, dan Asmat Unir Sirau.<br><br>2. Sistem Teknologi&nbsp;<br><br>Teknologi yang telah dimiliki oleh suku Asmat antara lain:<br>(a) Alat-alat produktif; jaring yang terbuat dari anyaman sagu, ukiran yang terbuat dari gigi hewan, kapak batu namun seiring dengan berkembangnya zaman mereka beralih ke pisau.<br>(b) Senjata; perisai, tombak dari kulit kayu sagu, dan panah yang ujungnya terbuat dari kuku burung kasuari.<br>(c) Alat transportasi; perahu lesung yang digunakan untuk persiapan suatu penyerangan. Kayu yang digunakan untuk membuat perahu adalah kayu kuning ketapang, bitanggur.<br><br>3. Sistem Mata Pencaharian<br><br>Dari sisi mata pencaharian Suku Asmat yang berada di wilayah pedalaman, biasanya mempunyai pekerjaan sebagai pemburu dan petani kebun, sedangkan mereka yang tinggal di pesisir lebih memilih menjadi nelayan dam pedagang sebagai mata pencaharian. Perbedaan kedua populasi ini disebabkan juga oleh kondisi wilayah tempat mereka tinggal dan besarnya pengaruh masyarakat pendatang yang umumnya lebih terbuka daripada kebudayaan Asmat sendiri.<br><br>4. Sistem Pengetahuan<br><br>Pengetahuan akan alam sekitar sangat diperlukan karena, masyarakat asmat tinggal di tempat terpencil dan ganas dengan rawa-rawa. Masyarakat asmat mengetahui yang harus dilakukan pada perbedaan pasang surut mencapai 4-5 meter. Masyarakat suku asmat akan melakukan pelayaran dari satu tempat ke tempat lain. Pada waktu pasang surut, orang akan berperahu kearah hilir atau pantai dan kembali ke hulu ketika pasang sedang naik. Orang-orang asmat hanya mengenal 3 warna dalam kehidupannya, yaitu merah, putih, dan hitam. Oleh sebab itu, suku asmat perlu mengetahui sifat dan tingkah laku (kebutuhan) antar ,manusia.&nbsp; Tempat tinggal suku Asmat yang berada di daerah dataran rendah membuat mereka perlu mengatasi kesulitan di dalam kehidupannya.&nbsp;<br><br>5. Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial<br><br>Suku Asmat, dalam sistem kekerabatan mengenal tiga bentuk keluarga, antara lain sebagai berikut :<br><br>- Keluarga inti monogami dan kandung poligami<br>- Keluarga luas Uxorilokal<br>Keluarga yang telah menikah, dan kemudian tinggal dirumah keluarga dari pihak istri.<br>- Keluarga Avunkulokal<br>Keluarga yang sudah menikah dan tinggal di rumah keluarga istri dari pihak ibu.<br>Orang – orang suku Asmat sendiri tinggal secara bersamaan dalam suatu rumah panggung dengan dengan luas 3x4x4 meter yang disebut dengan “ Tsyem. Rumah ini juga berfungsi sebagai tempat untuk penyimpanan senjata dan peralatan berburu, bercocok tanam, dan menangkap ikan.<br><br>Suku Asmat memiliki dua jabatan kepemimpinan, yaitu : yang berasal dari unsur pemerintah dan berasal dari masyarakat itu sendiri (kepala suku) tipe kepeminpinan yang sangat berpengaruh kepala suku atau ondoafi. Bila seorang kepala suku telah meninggal dunia, jabatan kepala suku tidak secara otomatis jatuh kepada penerusnya melainkan dipilih dari orang yang berasal dari marga tertua.<br><br>6. Sistem Kesenian<br><br>Secara sederhana kesenian dapat diartikan sebagai segala hasrat manusia terhadap keindahan. Dalam hal kesenian suku Asmat banyak menghasilkan kerajinan yang berupa seni pahat dan ukir. Yaitu benda-benda kesenian hasil ukiran Asmat yang menarik adalah perisai-perisai, tiang-tiang mbis (patung bis/ leluhur), dan tifa.<br><br>7. Sistem Religi&nbsp;<br><br>Suku Asmat percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari patung. Dalam mitologi masyarakat Asmat, Dewa Fumeripits (Sang Pencipta) terdampar di pantai, namun nyawanya diselamatkan oleh sekelompok burung. Dewa Fumeripits selanjutnya tinggal sendirian. Oleh karena itu, ia kemudian membangun sebuah rumah panjang yang diisi dengan patung manusia dan tifa (gendang). Ajaibnya, patung tersebut berubah menjadi manusia dan menari-nari.<br><br>Suku Asmat juga mengenal adanya roh nenek moyang di sekitar lingkungannya. Adapun roh-roh tersebut, yaitu sebagai berikut.<br>- Yi-Ow adalah roh nenek moyang yang baik maka disimbolkan dengan upacara-upacara adat.<br>- Osbopon adalah roh jahat yang membawa penyakit.<br><br>Upacara-upacara besar yang dilakukan oleh suku bangsa Asmat sebagai berikut.<br>- Mbismbu adalah upacara pembuatan mbis (patung nenek moyang yang diukir).<br>- Yentpokmbu adalah upacara pembuatan rumah.<br>- Mbipokkumbu adalah upacara topeng</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 05:53:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515569184</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Samadi gang 1, Pesanggrahan, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515570864</link>
         <description><![CDATA[<div>Eno Priambudi&nbsp;<br>XI LM B Geografi<br><br>Daerah : Padang , Sumatera Barat<br><br>1. Bahasa : Minangkabau dengan dialek yang berbeda seperti dialek pariaman, dialek pesisir selatan, dialek bukittinggi<br><br>2. Mata Pencaharian<br>Nelayan karena penduduk dominan tinggal di daerah pesisir sedangan untuk yang tinggal jauh dari pesisir menjadi petani. perdagangan dan pengrajin kerajinan tangan<br><br>3. Sistem Kekerabatan<br>Kelompok kekerabatan: paruik, kampueng (dipimpin penghulu andiko/ datuek kampung), dan suku (dipimpin seorang penghulu suku).<br>Administrasi masyarakat pedesaan disalurkan kepada penduduk desa melalui panghulu suku dan panghulu andiko.<br>Garis keturunan: garis matrilineal. Seorang termasuk keluarga ibunya bukan keluarga ayahnya. Begitu juga tanah dan harta warisan akan diwariskan kepada anak perempuan.<br>Masyarakat dibagi dalam tiga lapisan besar:<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Bangsawan<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Orang biasa<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Orang yang paling rendah (budak)<br><br>4.Sistem Pengetahuan&nbsp;<br>Anak lelaki usia 7 tahun biasanya akan meninggalkan rumah &amp; tinggal di surau untuk diajarkan ilmu agama dan adat Minangkabau.<br>Di usia remaja, mereka meninggalkan perkampungan untuk menimba ilmu di sekolah/ menimba pengalaman.<br><br>5. Sistem Religi / Keagamaan<br>Mayoritas Islam<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Paham Islam<br>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Wajib menimba ilmu<br>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Wanita tak boleh dipaksa untuk menikah dengan lelaki yang tidak dicintai<br>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Ibu berhak dihormati 3 kali lebih tinggi daripada bapak<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Paham Minangkabau<br>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Anak lelaki ke surau untuk belajar agama<br>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Wanita menentukan pasangannya<br>3.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Bundo Kanduang adalah pemimpin/ pengambil keputusan di Rumah Gadang<br><br>6. Sistem Teknologi<br>bentuk desa (nagari) &amp; bentuk tempat tinggal.<br>Nagari:<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;daerah nagari (pusat desa)<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;taratak (hutan dan ladang)<br>Rumah adat: rumah gadang (rumah panggung):<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Bentuk memanjang, atap menyerupai tanduk kerbau<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Ukuran berdasarkan perhitungan jumlah ruang dalam rumah<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Jumlah ruangan dalam bilangan yang ganjil, mulai dari tiga<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Biasanya memiliki tiga didieh yang digunakan sebagai kamar dan ruangan terbuka (menerima tamu/ berpesta)<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Ada juga yang menambahkan tempat yang disebut anjueng (anjung): bagian yang ditambahkan pada ujung rumah dan dianggap tempat kehormatan<br><br>7. Kesenian<br>Kesenian randai, teater rakyat yang meliputi pencak, musik, tarian, drama :<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Saluang Jo Dendang, serunai bambu dan nyanyian<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Talempong, musik bunyi gong<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Tari Piring, gerakan menyerupai gerakan para petani semasa bercocok tanam<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Tari Payung, menceritakan kehidupan muda-mudi Minang yang selalu riang gembira<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Pidato Adat dan Pencak Silat<br><br>Upacara dan perayaan Minangkabau:<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Turun mandi - upacara pemberkatan bayi<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Sunat rasul - upacara bersunat<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Baralek - upacara pernikahan<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Batagak pangulu - upacara pelantikan penghulu. Turun ka sawah - upacara kerja gotong-royong<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Manyabik - upacara menuai padi<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Maanta pabukoan - mengantar makanan kepada ibu mertua sewaktu bulan Ramadan<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Tanah Ta Sirah - perlantikan seorang Datuk (ketua puak) apabila Datuk yang sebelumnya meninggal dunia<br>·&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;Mambangkik Batang Tarandam - perlantikan seorang Datuk apabila Datuk yang sebelumya telah meninggal 10 atau 50 tahun yang lalu (mengisi jabatan yang telah lama dikosongkan)</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 05:54:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515570864</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Balai dusun Dadapan, Pandanrejo, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515573419</link>
         <description><![CDATA[<div>Galang Trio F XI LM GEO B Daerah Madura<br><br>1. Bahasa keseharian yang digunakan orang madura adalah bahasa madura<br>2. Sistem peralatan dan teknologi masyarakat madura masih tidak terlalu maju. Hal ini dikarenakan kondisi geografis yang terpisah dari pulau jawa. Hal ini membuat teknologi di madura sedikit tertinggal. Seperti di daerah lain yang membajak sawah menggunakan traktor, di madura masih banyak yang menggunakan kerbau atau sapi untuk membajak sawah.<br>3. Mata pencaharian utama masyarakat madura adalah berdagang dan menjadi nelayan untuk masyarakat yang berada di pesisir<br>4. Sistem pengetahuan masyarakat madura masih kurang dalam dikarenakan mereka lebih mengutamakan keagamaan dan kebudayaan nenek moyang mereka, sehingga ilmu pengetahuan mereka tidak dijadikan yang utama.<br>5. Sistem kekerabatan masyarakat Madura dikenal ada tiga katagori sanak keluarga, yaitu taretan dalem (kerabat inti) taretan semma' (kerabat dekat) dan taretan jheu (kerabat jauh)<br>6. Masayarakat madura dikenal sebagai masyarakat yang religius yang sangat fanatik terhadap agamanya.<br>7. Kesenian di madura yang sangat terkenal adalah karapan sapi. Karapan sapi sangat terkenal hingga ke Internasional. Selain itu kesenian di madura seperti tari pecut, tari muang sangkal, saronen, lir sa'alir, dan macopat</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 05:57:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515573419</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Makam Mbah Batu, Jalan Masjid, Bumiaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515575630</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 05:59:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515575630</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bulukerto, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515578918</link>
         <description><![CDATA[<div>Nazwa Alfaretta<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 06:01:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515578918</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Adiwarna Homestay Batu</title>
         <author>neptuneaov79</author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515580304</link>
         <description><![CDATA[<div>Muhammad Rafi Zulkamal XI LM GEO B<br>Kalimantan Timur<br><br>1. BAHASA<br>Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), sedikitnya ada 16 bahasa berbeda yang dituturkan masyarakat Kalimantan Timur. Diantaranya Aoheng,Bahau Diaq Lay,Bahau Ujoh Bilang,Bajau pondong,kenyah,dll.<br><br>2. PERALATAN DAN TEKNOLOGI<br><strong>1. </strong><strong><em>Tanggui<br></em></strong><br></div><div><em>Tanggui</em> adalah topi yang pada umumnya digunakan oleh perempuan Iban Sebaruk ketika pergi ke luar rumah, baik ketika cuaca panas maupun hujan. <em>Tanggui</em> juga biasa dipakai oleh kaum laki-laki. <em>Tanggui</em> terbuat dari <em>terapas, perupuk, tanduh, senggang, resam</em> dan <em>uwi</em> (rotan) labu. <em>Tanggui</em> kebanyakan dibuat oleh kaum perempuan.<br><strong>2. </strong><strong><em>Capan<br></em></strong><br></div><div><em>Capan</em> merupakan alat penampi beras atau padi, yang kadangkala juga digunakan untuk menjemur makanan. Sebuah <em>capan</em> terbuat dari <em>senggang</em> dan <em>uwi labu</em>. “Tulang” yang berada di tepi <em>capan</em> disebut <em>bengkong</em>.<br><strong>3. </strong><strong><em>Takin senangkin<br></em></strong><br></div><div><em>Takin Senangkin</em> adalah sebuah wadah yang digunakan untuk membawa padi pada saat panen, membawa buah asam yang dipetik atau dipungut masaknya dari hutan. Kini takin juga dipakai untuk membawa hasil panen sahang yang merupakan komoditi andalan masyarakat perbatasan umumnya. Takin dibuat oleh kaum perempuan dengan bahan baku dari tumbuhan hutan sekitar yang disebut <em>gerenieh</em> dan <em>senggang</em>.<br><strong>4. </strong><strong><em>Kelepai<br></em></strong><br></div><div><em>Kelepai</em> adalah sejenis tas cangklong, bentuknya kecil yang pada zaman dahulu digunakan oleh kaum laki-laki membawa peluru senapan pada saat pergi berburu. Saat ini, kelepai bisa digunakan untuk menyimpan rokok maupun peralatan pribadi lainnya oleh kaum pria. Kelepai terbuat dari kulit kayu <em>melebu’</em> atau kayu <em>pelai’</em>. <em>Kelepai</em> dibuat oleh kaum laki-laki.<br><strong>5. </strong><strong><em>Jangkuk<br></em></strong><em>Jangkuk</em> adalah wadah yang digunakan untuk membawa padi, membawa kayu bakar, buah-buahan hutan seperti rambutan, durian dan lain-lain. <em>Jangkuk</em> terbuat dari <em>uwi seru’</em> dan <em>uwi labu</em>. <em>Jangkuk</em> bisa dibuat oleh kaum perempuan maupun laki-laki. Memang pada umumnya sebuah <em>Jangkuk</em> lebih banyak dibuat oleh kaum perempuan.<br><strong>6. </strong><strong><em>Pengayak<br></em></strong><br></div><div><em>Pengayak</em> merupakan alat yang digunakan untuk membersihkan padi atau beras dari <em>ampa</em>‘ (ampas) padi. Terbuat dari <em>gerenih</em>, sebuah <em>pengayak </em>dibuat dan digunakan oleh kaum perempuan.<br><strong>7. </strong><strong><em>Lanyik<br></em></strong><br></div><div><em>Lanyik</em> digunakan untuk membawa padi dari <em>uma</em> (ladang) menuju pondok ladang (<em>langkau uma</em>) atau ketika ke rumah. Sebuah <em>Lanyik</em> terbuat dari <em>gerenih</em>, dan tulangnya terbuat dari kayu kecil (<em>laras</em>), <em>bengkong</em> terbuat dari <em>uwi danan</em>. <em>Lanyik</em> dibuat oleh perempuan maupun laki-laki, namun yang menggunakannya adalah laki-laki. Tinggi <em>lanyik</em> kurang lebih 1 meter.<br><br></div><div>3. SISTEM MATA PENCAHARIAN<br><br></div><div>Mata pencaharian masyarakat di Kalimantan Timur adalah bertani, berburu, dan mengumpulkan hasil hutan.<br><br>4. SISTEM PENDIDIKAN<br>dengan sejumlah program dan terobosan yang dilakukan Pemprov melalui Disdik Kaltim, peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan sudah mulai dirasakan di seluruh daerah di Kaltim.<br><br></div><div>Tidak hanya di wilayah perkotaan yang pendidikannya semakin maju, tetapi pendidikan di wilayah perbatasan, pedalaman dan daerah terpencil juga sudah bisa bersaing dengan pendidikan di perkotaan.<br><br></div><div>Terbukti dengan tingkat kelulusan untuk ujian nasional (UN) pada semua jenjang pendidikan di Kaltim dan Kaltara. Bahkan pada 2013 untuk jenjang SMA/SMK/MA, kabupaten, yakni Tana Tidung berhasil mencapai tingkat kelulusan 100 persen.<br><br></div><div>Demikian halnya di beberapa kabupaten yang memiliki wilayah perbatasan, pedalaman dan daerah terpencil, yakni Nunukan dengan tingkat kelulusan 98,47 persen, Kutai Barat (99,46 persen) dan Malinau (92,99 persen). Sedangkan untuk wilayah perkotaan, seperti Samarinda, tingkat kelulusannya 99,37 persen, Balikpapan (99,84 persen), Bontang (99,91 persen) dan Tarakan (99,95 persen).<br><br>5. SISTEM KEKERABATAN DAN ORGANISASI SOSIAL</div><div>Sistem kekerabatan yang dianut oleh suku bangsa Dayak adalah <strong>bilateral, yaitu menarik garis keturunan melalui pihak ayah dan ibu</strong>. Dengan demikian sistem pewarisanpun tidak membedakan anak laki-laki dan anak perempuan.<br><br>6. SISTEM RELIGI<br>untuk sekarang sebanyak 3,32 juta jiwa atau 87,41% penduduk Kalimantan Timur beragama Islam. Penduduk Kalimantan Timur yang beragama Kristen sebanyak 286,15 ribu jiwa (7,52%). Sebanyak 168,14 ribu penduduk di provinsi tersebut memeluk agama Katolik.<br><br>namun beberapa orang yang masih kental kepercayaannya dengan suku dayak memiliki kepercayaannya sendiri. Kompleksnya sistem kepercayaan orang Dayak ditandai juga oleh kemampuan mereka menyerap beberapa unsur keagamaan atau kepercayaan dari luar, seperti pengaruh Cina dalam penggunaan barang‑barang keramik, mangkok dan tempayan yang dianggap memiliki kekuatan magis dan dapat mendatangkan keberuntungan, maupun peng­gunaan berbagai macam dekorasi naga <em>(tambon </em>atau dragon) yang melambangkan secara mitologis Tuhan ter­tinggi yang satu sebagai penguasa dunia. Pengaruh ekstem lainnya berasal dari unsur Hinduisme dan Islamisme. Kedua unsur ini dapat ditemukan dalam istilah‑istilah ke­agamaan yang digunakan untuk menggambarkan Tuhan satu, seperti <em>Mahatara </em>yang mungkin berasal dari istilah dalam agama Hindu <em>Maha Batara </em>yang Berarti Tuhan Maha Besar, maupun <em>Mahatala </em>atau sering <em>Lahatala/ Alatala </em>yang berasal dari ucapan Allah <em>Ta'alah </em>dalam Islam yang berarti Allah Maha Tinggi. Selain itu, Tuhan tertinggi yang satu secara simbolis diekspresikan oleh burung enggang yang menyajikan Ketuhanan dunia “atas”.<br><br>7. KESENIAN<br><br></div><div>Karya Budaya di Kaltim yang baru-baru ditetapkan yaitu <strong>Genikng, Tari Gong, Kelentangan, Tari Ganjur, Tari Perang Dayak, Suliikng Dewa, Tari Dewa Memanah, Tari Ngerangkau, alat musik Sapeq dan Tari Ngarang</strong>.</div><div><br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 06:03:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515580304</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Omah Sae Residence, Jl. Patimura Gg. V, Temas, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515584164</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 06:07:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515584164</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Omah Sae Residence, Jl. Patimura Gg. V, Temas, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author>7rpqz8n2mb</author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515587341</link>
         <description><![CDATA[<div>ALOISA SHERLITANIA R P</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 06:09:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515587341</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Darsono, Ngaglik, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515601997</link>
         <description><![CDATA[<div>👤: RIMA LARASWATI&nbsp;<br>🏫: XI MIPA 5<br><br>📍MADURA<br><br>1. Bahasa&nbsp;<br>Sistem Bahasa Madura<br>Bahasa Madura merupakan bahasa daerah yang digunakan sebagai&nbsp;<br>sarana komunikasi sehari-hari oleh masyarakat Madura baik yang&nbsp;<br>bertempat tinggal Madura dan pulau-pulau kecil di sekitarnya maupun di&nbsp;<br>perantauan. Bahasa Madura memiliki beberapa ciri yang mudah dikenali&nbsp;<br>dan bahkan beberapa di antaranya tidak terdapat pada bahasa-bahasa&nbsp;<br>lainnya termasuk bahasa Arab dan bahasa Indonesia sendiri. Sebagai suatu&nbsp;<br>bahasa, bahasa Madura mempunyai ciri-ciri khas baik dalam bidang&nbsp;<br>fonologi, morfologi, maupun sintaksisnya. Bahasa Madura (Bhâsa Madhurâ; pelafalan [bhɘsa madhurɘ], Pèghu: بْاْسا مادْوراْ‎ ; pelafalan [bhɘsa madhurɘ]) adalah bahasa yang digunakan suku Madura. Bahasa Madura mempunyai penutur kurang lebih 15 juta orang (perkiraan), dan terpusat di Pulau Madura, Jawa Timur atau di kawasan yang disebut kawasan Tapal Kuda terbentang dari Pasuruan, Surabaya, Malang, sampai Banyuwangi, Kepulauan Masalembo, Bawean, serta Pulau Kalimantan.<br><br>2. Sistem Teknologi<br>Letak pulau madura yang terpisah oleh selat madura dari kepulauan jawa membuat kemajuan teknologi masyarakat madura kurang maju. Oleh sebab ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan madura kurang diperhatiakan oleh masyarakat sekitar dan oleh dunia industri. Sehingga madura terlihat kolot dengan keauntentikan budaya yang belum tersentuh oleh modernisasi. Wilayah tersebut yang tepisah oleh selat juga menyebabkan arus globalisasi sulit untuk memasuki kawasan madura yang menyebabkan ketinggalan peradaban dan IPTEK masyarakat madura dengan daerah sekitar.<br>Namun semenjak pembangunan jembatan suramadu yang menghubungkan antara pulau Surabaya dan madura yang melintasi selat madura menjadi harapan mengalirnya dunia industri dari Surabaya. Secara bersamaan hal ini dapat menyebabkan globalisasi merambah wilayah madura. Ini akan berakibat berbagai perubahan di segala bidang khususnya IPTEK.<br>Madura kini bisa merasakan perubahan bagi masyarakatnya dan tidak tertinggal dengan masyarakat lain. Seperti sudah adanya system pengolahan tembakau di madura yang rendah nikotinvarietas prancak N-1, PLTN, dan akan segera menjadi pelabuhan dan kawasan industri baru khusunya di jawa timur.<br>Tidak terlepas dari teknologi modern yang ada di madura teknologi tradisional masyrakat madurapun sangat melekat yaitu cangkul, celurit, dan jala.<br><br>3. Sistem Mata Pencaharian&nbsp;<br>Penduduk yang menghuni wilayah yang kurang subur, menitikberatkan mata pencaharian mereka pada kehidupan laut sebagai nelayan. Karenanya, orang Madura dikenal sebagai pelaut yang tangguh. Ketika arus pelayaran/perdagangan mulai ramai di Nusantara, pelaut-pelaut Madura menunjukkan kepiawaiannya. Mereka memiliki peranan penting dalam arus perdagangan itu sebagai pedagang di tempat perantauan. Pekerjaan sebagai pelaut, mengakibatkan mereka sering berhadapan dengan ombak dan badai, sehingga dalam perkembangan fisiknya orang Madura (Sumenep) memiliki otot lebih kekar dan berwatak lebih keras dalam menghadapi hidup yang penuh dengan tantangan. Di tanah subur mereka bercocok tanam dengan sistem pengairan yang sederhana. Perkembangan saya sejalan dengan peningkatan pengetahuan dan kemampuan mereka dalam memilih kultivar dengan jenis tanaman budi daya. Pengetahuan mereka tentang musim dan iklim semakin berkembang, bahwa bila bintang waluku muncul di langit, pada saat itulah waktu terbaik untuk mulai bercocok tanam. Penguasaan mereka terhadap ilmu perbintangan juga semakin maju. Mereka memfaatkannya untuk menentukan arah angin dalam mengarungi lautan, baik untuk menangkap ikan atau untuk keperluan lainnya.Miskinnya sumber daya alam Madura yang dapat diolah untuk menjual merupakan faktor penentu perkembangan arah sejarah penghuni pulau itu selanjutnya. Kondisi alam lingkungan yang kurang menguntungkan bagi suku bangsa Madura mendorong timbulnya jiwa petualangan yang sangat sesuai sebagai pelaut, perantau, pedagang ataupun pekerja yang ulet.<br><br>4. Sistem Pengetahuan&nbsp;<br>Masyarakat madura masih kurang dalam hal Ilmu pengetahuannya, dikarenakan mereka lebih mengutamakan keagamaan dan kebudayaan nenek moyang mereka, sehingga ilmu pengetahuan mereka tidak dinomer satukan. Hal ini telah terlihat dalam grafik kependudukan masyarakat madura. Sebagian besar masyarakat madura masih mengutamakan religiusitas dibandingkan pendidikan.<br>Masyarakat madura biasanya hanya sekolah hingga Sekolah Dasar (SD) kemudian mereka melanjutkan ke pondok pesantren dikarenakan mereka lebih senang untuk belajar agama dari pada sekolah. Oleh karena itu tingkat pendidikan masyarakat madura tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan masyarakat pulau jawa, pulau Sumatra dan pulau lainnya.<br>Akan tetapi ilmu pengetahuan masyarakat madura dalam hal agama tidak diragukan lagi karena mereka lebih menjunjung tinggi nilai keagamaan dibandingkan dengan pendidikan. Pendidikan sebenarnya juga sangat penting yaitu untuk menunjang kehidupan ekonomi dan kehidupan bermasyarakat. Walaunpun demikian masyarakat madura ulet dalam mencari mata pencaharian, walaupun tidak berpendidikan tinggi masyarakat madura dapat mengandalkan ladang dan kebun mereka untuk dijadikan mata pencaharian mereka, ada pula yang berdagang, usaha dan lainnya.<br>Mereka hanya mengandalkan yang telah nenek moyang mereka turunkan, dan tidak mengandalkan pendidikan mereka. Apabila masyarakat madura mempunyai pola pikir untuk mengimbangi pendidikan dengan keagamaan maka masyarakat madura tidak akan ketinggalan zaman dan kehidupan mereka dapat lebih maju.<br><br>5. Sistem Kekerabatan<br>dalam sistem kekerabatan masyarakat Madura dikenal ada tiga katagori sanak keluarga (kin's men), yaitu taretan dalem (kerabat inti atau core kin), taretan semma' (kerabat dekat atau close kin) dan taretan jheu (kerabat jauh atau peripheral kin).<br><br>6. Sistem Kesenian&nbsp;<br>Kesenian merupakan bagian dari budaya yang menjadi ciri khas suatu daerah tersebut. Kesenian juga sebagai sarana seseorang dalam mengekspresikan yang ada dalam jiwa manusia. Sebagai salah satu suku yang besar, madura memiliki kekayaan kesenian traditional yang banyak, bernilai tinggi, beragam, dan besar sebagai identitas ciri khas suku madura tersebut. Contoh kesenian madura adalah :<br>a. Upacara Pelet Kandhung</div><div>Merupakan salah satu upacara yang ada di suku madura. Upacara yang diadakan untuk seorang ibu yang sedang mengandung. Penyelenggaraan upacara pelet kandhung ini diadakan ketika seorang perempuan yang sedang mengandung telah mencapai tujuh bulan. Sebelum upacara pelet kandhung pada masa kehamilan bulan pertama diadakan upacara nandai, setelah upacara nandai akan diletakan sebuah biji bigilan atau beton (biji nangka) di sebuah leper (tatakan) yang diletakan di atas meja, dansetiap bulannya akan ditambahkan satu biji sampai biji bersebut berjumlah tujuh yang menandakan kehamilan genap mencapai tujuh bulan maka akan diadakan upacara pelet kandhung atau pelet betteng. Upacara ini diperingati dengan sangat meriah namun hanya saat kehamilan pertama kalinya, walaupun upacara pelet kandhung tetap dilaksanakan pada saat kehamilan namun tidak semeriah pertama kalinya. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara pelet kandhung :</div><ol><li>Tahap pelet kandhung (pijat perut)</li><li>Tahap penyepakan ayam</li><li>Tahap penginjakan kepala muda dan telur</li><li>Tahap pemandian</li><li>Tahap orasol (kenduri)</li></ol><div>b. Batik Madura</div><div>Batik merupakan salah satu karya seni asli buatan Indonesia, salah satunya batik buatan madura. Sebagai karya seni budaya batik madura banyak diminati dan digemari oleh konsumen lokal maupun interlokal karena bentuk dan motifnya yang khas madura mempunyai keunikan tersendiri. Corak ragamnnya yang unik dan bebas serta sistem produksinya yang personal atau dikerjakan satuan, masih mempertahankan cara-cara traditional, dan senantiasa menggunakan bahan alami dan ramah lingkungan sehingga itu menjadi daya tarik tersendiri. Batik juga merupaka industri kecil warga yang membanggaklan, bagi suku madura batik bukan hanya sehelai kain namun sudah menjadi ikon budaya yang sering menjadi penelitian banyak institusi. Motif dan warna batik yang tertuang pada kain itu dapat menggambarkan dan merefleksikan masyarakatnya.<br>c. Musik Saronen</div><div>Salah satu kesenian yang ada di madura adalah musik saronen, musik ini sangat kompleks dan serbaguna dapat menghadirkan nuasa sesuai dengan kepentingannya, walau musik saronen merupakan perpaduan dari beberapa alat musik namun yang paling khas atau dominan adalah liuk-liukan alat tiup yang berupa berbentuk kerucut sebagai alat musik utama yang dinamakan saronen.</div><div>Alat musik ini berasal dari desa sendang, kecamatan pragaan, kabupaten sumenep yang berasal dari kata senninan yaitu hari senin. Sebagai suku yang terkenal berwatak keras, polos, terbuka, dan hangat sehinnga jenis musik saronen yang berirama mars dan riang sangat sesuai dengan masyarakat suku madura.</div><div>Musik saronen juga musik yang biasanya mengiringi jika ada karapan sapi dengan dimainkan dengan irama sarka yaitu permainan musik cepat dan dinamis, dan irama lorongan jhalan (irama sedang) diiringi saat perjalanan menuju lokasi karapan sapi. Selain juga digunakan untuk mengiringi pengantin yang keluar dari pintu gerbang menuju pelaminan dengan irama lorongan toju’ memainkan lagu-lagu gending yang lembut.</div><div>Ciri-ciri dari alat musik ini terletak pada model gendang yang menggelembung besar dibagian tengahnya.<br>d. Tari Muang Sangkal</div><div>Tari muang sangkal adalah salah satu tari yang berada di madura. Biasanya tarian ini digunakan sebagai tarian wajib untuk menyambut tamu-tamu yang datang ke daerah madura yaitu sumenep. Gerakan tari tradisional ini tidak pernah terlepas dari kata-kata yang tertera dala al-qur’an sperti kata allahu dan Muhammad, begitu pula dengan batas-batas tangan yang tidak pernah melebihi batas payudara walaupun tari tradisional tersebut telah mengalami banyak perubahan.<br>e. Tari Duplang</div><div>Salah satu tari traditional yang ada di madura, tari ini merupakan tari yang spesifik, unik dan langka. Keunikannya adalah karena tarian ini menggambarkan seorang wanita desa yang bekerja sebagai petani dan terlupakan. Dijalin dan dirangkai dengan gerakan-gerakan indah, lemah lembut, dan lemah gemulai. Langkanya adalah karena tingkat kesulitan yang sangat tinggi sehingga membuat banyak penari segan untuk mempelajarinya, tidak heran jika tari duplang tidak dikenal. Tarian ini diciptakan oleh seorang penari keraton yang bernama Nyi raisa, dan generasi terakhir yang menguasai tarian ini adalah Nyi suratmi. Karena adanya pergantian system pemerintahan tarian ini pun jarang dipentaskan dengan kata lain bisa dikatakan punah.<br>f. Sandhur Pantel</div><div>Sandhur pantel merupakam salah satu ritual upacara adapt yang terdapat di madura. Upacara ini bertujuan sebagai saran menghubung dengan makhluk gaib atau media komunikasi dengab “dzaat tunggal” pencipta alam semesta.</div><div>Kesenian ini tersebar di daerah-daerah madura bagaian timur. Seperti batuputih terdapat ritus Rokat Dandang, Rokat Somor, Rokat Thekos. Di pasongsongan terdapat Sandhur Lorho’. Di Guluk-guluk terdapat Sandhuran Duruding yang dilaksanakan ketika panen jagung dan tembakau berupa nyanyian laki-laki atau perempuan tanpa diiringi musik.</div><div>Namun pada dasarnya, sebenarnya upacara ritual ini bertentangan dengan agama islam dan tidak diajarkan dalam Al-Qur’an maupun sunnah rasul, ini menjadi suatu bid’ah dan haram hukumnya.<br>g. Tembang Macapan</div><div>Merupakan tembang yang digunakan sebagai media untuk memuji Allah sebelum melaksanakan shalat wajib. Tembang macapan ini sangatlah lembut dan membawa kesahduan jiwa. Selain berisi pujian, tembang macapan juga berisi tentang ajaran untuk mencintai ilmu pengetahuan, dan membenahi kerusakan moral dan budi pekerti. Syair tembang macapat adalah investasi hubungan manusia dengan alam semesta dan ketergantungan kepada tuhannya.</div><div>Dari banyaknya kesenian yang ada di madura, suku madura juga tidak lepas dari carok dan celuritnya. Karena merupakan salah satu bagian dalam memperjuangkan harga diri bagi suku madura. Carok dalam bahasa kawi kuno artinya perkelahian. Hal ini dilakukan sebagai cara orang madura untuk menyelesaikan suatu masalah, pemicunya seperti perebutan kedudukan, perselingkuhan, rebutan tanah, maupun dendam turun-temurun. Dan celurit itu merupakan senjata yang digunakan oleh masyarakat madura saat carok itu terjadi.<br><br>7. Sistem Religi<br>Masayarakat suku madura dikenal sebagai etnik yang religius yang sangat fanatik terhadap agamanya. kataatannya yang kuat pada agama disertai pula dengan kepercayaannya terhdap magi dan ritus, seperti dalam kelahiran, perkawinan,kematian,dan lain-lain. Azas-azas kepercayaan tentang magi turut memainkan peranan penting dalam kehidupan masyarakat madura. Pandangan hidup dan kebudayaannya yang unik tercermin dalam berbagai upacara religi,magi, dan tradisi yang mereka selenggarakan.<br>Identitas etnik bagi suatu suku akan mengedepan bila suku itu melakukan hubungan sosial dengan suku lain, karena dalam hubungan sosial itu akan tampak adanya perbedaan identitas mereka. Pada dasarnya identitas etnik bukan alat untuk membedakan diri, melainkan lebih merupakan titik potong dari perilaku, simbol-simbol budaya, nilai-nilai, norma, dan kebiasaaan masing-masiing. Identitas etnik akan tetap ada, walaupun suku atau kelompok tidak melakukan hubungan sosial.<br>gambaran tentang identitas etnik orang madura masih sedikit, apalgi tentang orang madura di pulau madura. Selama ini gambaran yang ada hanya menjelaskan tentang identitas orang madura di Jawa, mereka selalu digambarkan dengan stereotip negatif. Oarng madura dikenal sebagai orang yang keras, pendendam, mudah tersinggung, kurang toleransi dengan orang lain, dan sangat fanatik dalam agamanya. Namun ada pula stereotip yang positif, seperti ulet dalam bekerja, pemberani, dan mudah beradaptasi. Munculnya stereotip ini terjadi karena identitas suku madura dibentuk oleh suku lain, sehingga pandangan mereka sendiri seolah-olah tersembunyi oleh stereotip itu.</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1991432443/ac4e69ddc03b13c62b16e6f8aedb6864/65f2813b0fe6bfebe3d8d2fb38c72175.jpg" />
         <pubDate>2023-03-14 06:24:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515601997</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Nakula, Pendem, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515609147</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama: Alya Febriana Putri Imroni<br>Kelas: XI LM GEO B<br><br>KEBUDAYAAN SUKU BUGIS<br>1. BAHASA<br>Untuk berkomunikasi sehari-hari, suku Bugis menggunakan bahasa dan aksara sendiri, yaitu Lontara.</div><div>Disebut Lontara, karena dulunya aksaranya ditulis pada daun lontar dan menggunakan alat tulis tajam yang berisi tinta hitam. Sama seperti wilayah lainnya, Bahasa Lontara ini juga mempunyai beberapa dialek, yaitu Bone, Makassar, Soppeng, dan Wajo, Dentong, Pattinjo, Maiwa, Wani, Kaluppang, dan masih banyak lainnya. <br><br>2. SISTEM PERALATAN DAN TEKNOLOGI<br>Teknologi yang di gunakan suku bugis salah satunya adalah perahu pinisi yang di gunakan oleh pelaut bugis sejak ratusan tahun lalu.selain perahu, suku bugis juga menggunakan sepeda,bendi,koleksi peralatan menempa besi &amp; hasilnya.<br><br>3. SISTEM MATA PENCAHARIAN<br>Karena masyarakat bugis tersebar di dataran rendah yg subur &amp; pesisir,maka kebanyakan hidup sebagai petani,nelayan &amp; pedagang<br><br>4. SISTEM PENGETAHUAN <br>Suku bugis memiliki pengetahuan yang cukup tinggi yang di dapatkan melalui pendidikan.<br><br>5. SISTEM KEKERABATAN DAN ORGANISASI SOSIAL<br>System kemasyarakatan bugis terbagi atas 3 tingkatan yaitu :<br>•&nbsp; &nbsp; karaeng =menempati kasta tertinggi.mereka adalah kerabat raja yg menguasai ekonomi &amp; pemerintahan.<br>•&nbsp; &nbsp; tumaradeka =kasta kedua dalam system kemasyarakatan bugis.mereka adlh orang orang yg merdeka.<br>•&nbsp; &nbsp; ata=sbg kasta terendah dalam strata social.mereka adalah budak yang biasanya di perintahkan oleh kasta pertama.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;<br><br>6. SISTEM RELIGI<br>Kepercayaan suku bugis adalah islam dan ada pula yg mengikuti kepercayaan tertentu seperti to lotang.<br><br>7. KESENIAN<br><strong>1. Tari Paduppa Bosara</strong>&nbsp;</div><div>Biasanya ditarikan saat kedatangan tamu dan sebagai ucapan selamat datang dari suku Bugis.&nbsp;</div><div><strong>2. Tari Pakarena</strong>&nbsp;</div><div>Tari ini awalnya hanya ditarikan di depan para keluarga bangsawan, tapi sesuai perkembangannya, tari ini dapat dipertunjukkan di kalangan rakyat.&nbsp;</div><div><strong>3. Tari Mabadong</strong>&nbsp;<br>Tari ini hanya dilakukan ketika upacara kematian sebagai wujud berduka kehilangan keluarga.&nbsp;</div><div><strong>4. Tari Pagellu</strong>&nbsp;</div><div>Tari ini biasanya dilakukan untuk menyambut pahlawan yang baru kembali dari medan perang dan membawa berita kemenangan.&nbsp;</div><div><strong>5. Tari Mabbissu</strong>&nbsp;</div><div>Tari ini dilakukan oleh orang-orang yang kebal ketika upacara adat diselenggarakan. Mereka akan mempertunjukkan kesaktian dan keunikan yang mereka miliki.&nbsp;<br>selain itu, ada juga kecapi, suling dan sinrilli</div><div><br><br>SEKIAN TERIMANILAI.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 06:31:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515609147</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan P. Rohjoyo, Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515610751</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Vanessa Alista Vanung / LM GEO-B<br><br><strong>7 Unsur Kebudayaan Suku Toraja<br><br>1. Sistem Bahasa<br><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</strong>Tana Toraja memiliki bahasa yang dominan yaitu bahasa Toraja sebagai dialek yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional merupakan bahasa resmi yang digunakan oleh masyarakat. <br><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Namun, bahasa Toraja pun juga diajarkan pada semua sekolah dasar. Ragam bahasa tersebut meliputi Mamasa, Tae', Kalumpang, Toraja-Sa'dan, Toala', dan Tolondo'.&nbsp; <br><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Mulanya sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi dapat membentuk banyak dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri. Namun, setelah adanya pemerintahan resmi beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh oleh bahasa lain karena adanya proses transmigrasi sejak masa penjajahan.<br><br><br><br><strong>2. Sistem Agama atau Religi<br></strong><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Unsur kebudayaan suku Toraja selanjutnya yaitu sistem agama atau religi. Kepercayaan tradisional suku Toraja adalah animisme politeistik yang bisa disebut aluk atau jalan.&nbsp;<br><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Mitos Toraja mengatakan leluhur datang dari surga dengan menggunakan tangga dan kemudian digunakan oleh suku Toraja sebagai cara berhubungan dengan dewa pencipta atau Puang Matua. &nbsp;<br><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Alam semesta menurut aluk menjadi dunia manusia atau bumi, dunia atas atau surga, dan dunia bawah. Awalnya surga dan bumi menikah dan menghasilkan kegelapan, pemisah yang kemudian muncul cahaya.<br><br><br><br><strong>3. Sistem Kemasyarakatan<br></strong><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Pada masyarakat Toraja awal hubungan keluarga berkaitan dengan kelas sosial. Tingkatan kelas sosial yaitu bangsawan, budak, dan orang biasa yang diturunkan dari ibu. <br><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Dalam kelas sosial ini tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah namun tetap diizinkan untuk menikahi perempuan dari kelas lebih tinggi. Hal ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan status pada keturunan yang selanjutnya.<br><br><br><br><strong>4. Sistem Pengetahuan&nbsp;<br></strong><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Tana Toraja terdapat beberapa sistem yang bisa memberikan suatu pengetahuan secara tidak langsung tentang adat dan istiadat, seperti kesenian upacara Rambu Tuka'.&nbsp;<br><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Rambu Tuka' merupakan upacara selamatan rumah atau upacara perkawinan. Upacara tersebut biasanya dilakukan pada pagi hari dan diharapkan selesai saat sore hari.&nbsp;<br><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Pemotongan hewan kurban juga dilakukan tetapi, jumlahnya tidak banyak seperti pada saat upacara kematian. Hal itu juga yang menyebabkan banyak anggapan jika Upacara kematian di Tanah Toraja memang lebih meriah daripada upacara lainnya. <br><br><br><br><strong>5. Sistem Kesenian<br></strong><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Unsur kebudayaan suku Toraja selanjutnya yaitu sistem kesenian. Terdapat beberapa macam kesenian yang menarik ada di Toraja seperti rumah Tongkonan, ukiran kayu, musik dan tarian serta upacara pemakaman. Berbagai macam kesenian tersebut pasti unik dan berbeda dari suku lainnya.&nbsp;<br><br><br><br></div><div><strong>6. Sistem Teknologi&nbsp;<br></strong><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Pada era desentralisasi sekarang sudah terjadi perubahan beberapa komponen teknologi pertanian di Tana Toraja. Komponen itu meliputi jenis benih, penanaman, pemeliharaan, pengelolaan tanah, pemanenan, pengeringan, pengangkutan, pengolahan, dan penyimpanan.&nbsp;<br><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadi perubahan tersebut yaitu merupakan faktor internal atau inisiatif petani sendiri. <br><br><br><br><strong>7. Sistem Mata Pencaharian<br></strong><br></div><div>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Masyarakat Toraja banyak yang mempunyai sawah sehingga sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani.&nbsp;<br><br>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Rumah tangga suku Toraja suami dan istri sama-sama mencari nafkah, seperti dalam pertanian jika suami mencangkul di sawah istri mempunyai kewajiban menemaninya.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 06:32:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515610751</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Raya Sumber Brantas, Sumber Brantas, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515615846</link>
         <description><![CDATA[<div>Narita Eka Dwi Lestanti <br>LM GEOGRAFI B<br>saya memilih daerah Tengger<br><br>Unsur-unsur kebudayaan di Suku Tengger antara lain;<br>a. <em>Bahasa</em><br>Bahasa Jawa Tengger (dikenali sebagai Cārabasa Tengger oleh masyarakat lokal) adalah suatu bahasa yang dituturkan oleh masyarakat etnis Jawa Tengger, berasal dari wilayah Pegunungan Tengger dan sekitarnya di Jawa Timur. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Suku Tengger adalah bahasa Jawa dengan dialek Tengger (Kawi) atau bisa disebut bahasa Jawa Kuno.<br><br>b. <em>Sistem Pengetahuan</em><br>     1. Keunikan lain dari suku ini adalah mempunyai penanggalan sendiri selain penanggalan Masehi. <br>     2. Seiring perkembangan zaman yang begitu pesat, di daerah tempat tinggal Suku ini sudah dibangun – bangun sekolah. Mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah.<br>Tetapi ada juga sebagian orang yang masih percaya dengan mantra-mantra.<br><br>c. <em>Organisasi Sosial</em><br>Sistem kekerabatan kelompok masyarakat Tengger menganur sistem bilateral. Meski keluarga inti lebih menonjol dalam kehidupan sehari-hari, namun dalam urusan sosial maka kekerabatan bilateral lebih diutamakan. Sistem pewarisan sama seperti tradisi Jawa pada umumnya, yaitu melalui ungkapan sepikul segendongan.<br><br>d. <em>Peralatan Hidup dan teknologi</em><br>Teknologi Suku Tengger sudah mengalami perkembangan. Hal tersebut tak lepas dari peran para wisatawan domestik yang mengenalkan beberapa jenis teknologi kepada masyarakat Tengger.<br><br>e. <em>Mata Pencaharian</em><br>Saat ini sebagian besar masyarakat Tengger bertahan hidup dengan bertani di ladang.Hasil dari pertaniannya adalah kubis, wortel, kentang, tembakau dan jagung. Selain menjadi petani, masyarakat Tengger juga ada yang menjadi pemandu wisata Gunung Bromo.<br><br>f. <em>Sistem Religi</em><br>Sebagian besar masyarakat Tengger memeluk agama Hindu. Tetapi agama Hindu masyarakat Tengger berbeda dengan agama Hindu di Bali. Masyarakat Bali memeluk agama Hindu Dharma sedangkan masyarakat. Tengger memeluk agama Hindu Mahayana.<br>Masyarakat Suku Tengger memiliki tiga prinsip ajaran Hindu yang di dalamya masih ada kepercayaan terhadap nenek moyang. Ketiga prinsip tersebut ialah pemujaan kepada Tuhan, pemujaan kepada leluhur dan pemujaan kepada alam semesta. Kepercayaan yang kuat terhadap roh leluhur amat dipegang teguh oleh Suku Tengger.<br><br>g. <em>Kesenian</em><br>Tari Sodoran merupakan tarian sakral khas masyarakat Tengger yang melambangkan asal-usul manusia. Menurut kepercayaan masyarakat Tengger manusia itu berasal dari Sang Hyang Widi Wasa dan mereka akan kembali kepada-Nya.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://images.solopos.com/2020/10/19-suku-tengger.jpg" />
         <pubDate>2023-03-14 06:37:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515615846</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Suropati No.10, Ngaglik, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author>mauludiyazaskia</author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515624055</link>
         <description><![CDATA[<div>Maulidhiya Zaskia A&nbsp;<br>    XI LM GEO B</div><div><strong>&nbsp;</strong></div><div>7 Unsur Kebudayaan Sunda di Baduy<br><br><strong>1.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Peralatan dan Teknologi</strong><br>Peralatan dan Teknologi masyarakat Baduy berpusat pada daur pertanian yang diolah menggunakan peralatan yang masih sangat sederhana dalam adat Baduy terutama Baduy dalam masyarakat tidak boleh menggunakan peralatan yang modern, mereka mengandalkan peralatan yang masih sangat primitif seperti bedog, kampak, cangkul, dll.<br>Masyarakat Baduy tidak boleh menggunakan peralatan dari luar, salah satu contoh sarana yang mereka buat tanpa bantuan dari peralatan luar adalah bambu, jembatan ini dibuat dengan tidak menggunakan paku untuk mengikat batang bambu menggunakan ijuk, dan untuk menopang pondasi jembatan menggunakan pohon-pohon yang tumbuh ditepi sungai.<br><br><strong>2.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Bahasa</strong><br>Dalam berkomunikasi sehari-hari, masyarakat Baduy menggunakan Bahasa Sunda dialek Sunda-Banten. Bahasa Sunda asli ‘<em>buhun</em>’ yang tidak terpengaruh oleh budaya luar seperti undak-usuk basa, masih tetap digunakan atau dipraktekkan sehari-hari oleh masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar.<br>Sementara itu dalam berkomunikasi dengan masyarakat luar Baduy, mereka dapat menggunakan Bahasa Indonesia, artinya mereka bisa menyesuaikan dengan situasi atau keadaan tergantung dari lawan berbicaranya, meskipun Bahasa Indonesia ini tidak mereka dapatkan dalam pendidikan formal. Mereka juga sudah terbiasa berinteraksi dengan pengunjung. Bahkan mereka sering menjadi penunjuk jalan atau pengangkut barang.<br>Tradisi lisan merupakan suatu tradisi yang masih kuat dirasakan terutama pada masyarakat Baduy Dalam, mereka (Kanekes) hanya menyimpan dan menyampaikan cerita nenek moyang, adat istiadat, dan kepercayaan atau agama melalui lisan secara turun temurun dari satu generasi kepada generasi selanjutnya, artinya arsip atau sumber tertulis bisa dikatakan minim atau bahkan tidak ada.<br><br><strong>3.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Mata Pencaharian</strong><br>Mata pencarian masyarakat Baduy yang paling utama adalah bercocok tanam padi huma dan berkebun serta membuat kerajinan koja atau tas dari kulit kayu, mengolah gula aren, tenun dan sebagian kecil telah mengenal berdagang.<br>Orang Baduy tak saja mandiri dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Mereka tak membeli beras, tapi menanam sendiri. Mereka tak membeli baju, tapi menenun kain sendiri.. Kayu sebagai bahan pembuat rumah pun mereka tebang di hutan mereka, yang keutuhan dan kelestariannya tetap terjaga.<br>Dalam bercocok tanam, mereka tak menggunakan pupuk buatan pabrik. Mereka juga membangun dan memenuhi sendiri kebutuhan untuk pembangunan insfrasuktur seperti jalan desa, lumbung padi, dan sebagainya.<br>Orang Baduy menjual hasil pertaniannya dan buah-buahan melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.<br><br><strong>4.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Organisasi Sosial</strong><br>a.&nbsp; &nbsp; &nbsp; Kelompok Kekerabatan<br>Orang Baduy mengelompok menurut asal keturunan tangtu, yaitu keluarga luar yang tinggal dalam satu kampung. Ada tiga kelompok kekerabatan dalam kesatuan Orang tangtu, yaitu tangtu Cikeusik, tangtu Cikartawana dan tangtu Cibeo. Adapun hierarki kekerabatan itu sesuai dengan urutan Cikeusik, Cikartawana dan Cibeo.<br>b.&nbsp; &nbsp; &nbsp;Kelompok Teritorial<br>Pada awal pertumbuhannya sebuah kampung Orang Baduy yang disebut babakan dapat dianggap sebagai kelompok teritorial terkecil yang terdiri dari dua atau tiga buah rumah dan dihuni oleh keluarga inti yang berkerabat batas antara satu rumah dengan lainnya, adalah tanah yang diratakan lahan untuk Babakan tidak dibatasi dengan tegas karena lahan milik bersama. Bentuk dan bahan rumah keluarga inti sama dengan kampung induknya, dan paling sedikit memiliki 2 pintu yaitu depan dan belakang. Rumah dasar tidak memiliki kamar, dan seluruh ruang rumah itu terdiri dari tiga kerangka, yaitu rangka atap depan, rangka atap belakang, dan rangka atap panjang.<br><br><strong>5.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Sistem Pengetahuan</strong><br>Sistem pengetahuan masyarakat Baduy adalah <em>Pikukuh</em> yang artinya memegang teguh segala perangkat peraturan yang telah di turunkan oleh leluhur. Kelompok masyarakat dalam kehidupan sehari-hari tidak mengenal tulisan segala yang berhubungan dengan peraturan hukum, adat istiadat, kisah-kisah nenek moyang dan kepercayaan mereka diturunkan dan diwariskan kepada anak cucu mereka. Dalam hal pengetahuan masyarakat Suku Baduy memiliki sifat toleransi, tata krama, jiwa sosial, dan teknik bertani yang diwariskan oleh para leluhurnya.<br>Dalam pendidikan modern masyarakat Baduy masih tertinggal jauh, namun mereka belajar secara otodidak, jadi masyarakat Baduy sebetulnya sangat informasional dan mengetahui informasi. Hal ini ditunjang kegemaran sebagai orang<em>warayan</em> atau disebut dengan pengembara. Ada beberapa kemungkinan bahwa masyarakat Baduy telah lama banyak digantikan dengan budaya baru, hal itu menandakan sebetulnya budaya sangat relatif dan adatif di kalangan masyarakat Suku Baduy.<br><br><strong>6.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Kesenian</strong><br>Untuk kesenian sendiri dari alat musik, masyarakat Baduy memiliki Angklung <em>Buhun</em>. <em>Buhun</em> sendiri mempunyai arti tua atau kuno. Hal ini mengindikasikan bahwa kemunculan dari Angklung <em>Buhun</em> sendiri hampir bersamaan dengan kemunculan masyarakat Baduy. Secara spesifik tidak terdapat perbedaan yang terlalu mencolok dari Angklung Buhun terhadap angklung secara umum yang dikenal, hanya yang membedakan pada pernak-pernik saja. Namun masyarakat Baduy sangat menjaga dan juga menggunakan atau mengaplikasikan penggunaan Angklung <em>Buhun</em> dalam upaya penerapan atau pelaksanaan upacara adat mereka. Hal ini juga yang menjadikan Angklung <em>Buhun</em> menjadi ciri khas atau identitas kesenian dari Baduy yang tidak dijumpai ditempat lain sebagai penguat dari bagian kebudayaan mereka.<br><br><strong>7.</strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<strong>Religi</strong><br>Penduduk Baduy menganut agama khusus yang disebut <em>Sunda Wiwitan</em> atau <em>Sunda Asli. </em>Menurut <em>krusemen (garna 1987</em>), agama <em>Sunda</em> <em>Wiwitan</em> itu pada prinsipnya adalah agama Budha yang dipengaruhi oleh Hindu dan Islam. Agama <em>Sunda</em> <em>Wiwitan</em> juga disebut agama Islam Sunda atau agama Adam, mereka mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa yang mereka sebut <em>"Batara Tunggal</em>" dan mereka juga mengakui adanya Nabi Adam, Nabi Muhammad SAW dan syahadat seperti dalam ajaran Islam. Tetapi mereka tidak melaksanakan ibadah agamanya dengan apa yang orang Islam lakukan. Kepercayaan mereka terhadap Islam masih dicampur dengan kepercayaan dan adat istiadat yang kuat.<br>Dalam melaksanakan ibadahnya, orang Baduy dibuktikan dengan membuka ladang atau bercocok tanam. Bercocok tanam merupakan suatu keharusan bagi mereka dan harus dijalankan, maka jika ada diantara mereka yang tidak melaksanakan perintah agama disebut juga orang yang tidak beragama dan agama mereka juga mengajarkan bahwa manusia di dunia ini tidak boleh mencari kesenangan yang berlebih-lebihan dan harus merasa cukup dengan apa yang telah diperolehnya. Berdasarkan agama mereka, mereka harus menjalankan 3 hari dalam satu tahun yang disebut <em>'Kawalu" </em>yang terdiri atas puasa<em> kawalu kahaji, kawalu kadua </em>dan <em>kawalu tutug</em>.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 06:45:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515624055</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Department of Population and Civil Registration Batu City, Jalan Panglima Sudirman, Pesanggrahan, Batu City, East Java</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515710809</link>
         <description><![CDATA[<div>Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahas. Maka dari itu Indonesia memiliki berbagai macam bahasa daerah yang berbeda-beda, namun bahasa persatuan bangsa Indonesia tetaplah Bahasa Indonesia.<br>Untuk sistem pengetahuan dan yang berkaitan dengan sistem peralatan dan teknologi di Indonesia sampai saat ini masih belum bisa merata, ada beberapa daerah yang sangat maju dengan sistem pengetahuan yang ada, tetapi juga ada beberapa daerah yang tertinggal. salah satu penyebab terjadinya ketidakmerataan tersebut adalah karena pembangunan nasional yang tidak merata.&nbsp;<br>Di Indonesia juga banyak sekali sistem organisasi masyarakat yang memiliki ciri khas dan aturannya masing-masing, termasuk kepercayaan, agama, dan lainnya. Walaupun begitu masyarakat Indonesia tetap bersatu dengan adanya aturan dan keberagaman di sekitarnya. Masyarakat Indonesia selalu bisa menjadikan keberagaman dan apapun yang mereka miliki menjadi sebuah potensi untuk mereka dan negara. Seperti halnya tentang mata pencaharian dan ekonomi. Masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah pesisir akan cenderung banyak yang memanfaatkan lingkungannya untuk bekerja menjadi nelayan, tambak udang, produksi garam, dll. begitu juga dengan masyarakat yang tinggal di dataran tinggi, mereka memanfaatkan lingkungannya untuk bekerja sebagai petani, membangun tempat pariwisata, dll</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 08:05:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515710809</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pasar Baru Pujon, Maron, Pujon Lor, Kabupaten Malang, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515733908</link>
         <description><![CDATA[<div>Revando Hardika Putra</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 08:26:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515733908</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pasar Baru Pujon, Maron, Pujon Lor, Kabupaten Malang, Jawa Timur</title>
         <author>revandorevando928</author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515738295</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 08:30:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515738295</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Mbah Joyo, Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515877566</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Nama : Valencia Pasha Oktaviana<br>Kelas : XI LM GEO-B<br></strong><br><strong>Nama Daerah :&nbsp;</strong>DKI Jakarta<br><br><strong>A. Bahasa : </strong>Persebaran Bahasa Betawi ditandai dengan tiga migrasi bahasa Melayu. Migrasi pertama dari Kalimantan Barat ke Pulau Sumatera. Migrasi kedua dari Kalimantan Barat ke Kalimantan Utara. Migrasi ketiga dari Kalimantan Barat ke Pulau Jwa, yakni Jakarta. Ada pula Variasi Dialektis dengan melafalkan bunyi [a]</div><div>dan [ah] jadi [e] ada pula yang jadi [ah]. Selain itu, ada juga permainan bahasa dengan berbicara biasa dan berbicara terbalik. Bahasa Betawi juga sebagai cerminan budaya, orang-orang Betawi bisanya memberikan sesuatu dengan ungkapan atau peribahasa. Ungkapan atau peribahasa bisanya banyak terkait dengan sikap dan pandangan, larangan, sindiran, keterkejutan dan lainnya. Bahasa dan kesantunan juga menjadikan orang Betawi memunyai kekhasan.<br><br><strong>B. Sistem Teknologi :&nbsp;</strong>Pada sistem tenologi ini daerah DKI Jakarta sudah sangat maju, dikarenakan Jakarta menjadi salah satu kota di dunia yang menerapkan konsep <em>Smart City</em> untuk kemajuan kotanya. Konsep <em>Smart City</em> adalah pengembangan kota dengan memanfaatan teknologi dan informasi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Di bawah Dinas Komunikasi, Informasi, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta, dibentuklah Jakarta Smart City sebagai sebuah Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang kini mengelola penerapan <em>Smart City</em> di Jakarta. Salah satunya dengan menghadirkan aplikasi super JAKI (Jakarta Kini) untuk melayani beragam kebutuhan warga Jakarta.<br><br><strong>C. Sistem Mata Pencaharian :&nbsp;</strong>Mata pencaharian orang Betawi ada yang sebagai petani atau peladang yang dulu ada di daerah Pejompongan dan Setia Budi. Selain petani dan peladang ada pula sebagai peternak yang biasanya menernak ayan negeri, kambing, ikan, dan lindung (belut). Ada pula sebagai pekebun yang banyak ditumbuhi sayur-mayur dan buah-buahan. Orang Betawi ada yang sebagai pengrajin, pengrajin pun bermacam-macam barangnya. Ada yang melakukan pembuatan pager dan jaro, tikar, topi, keneron, sepatu, sandal, tas kulit, tahu, kecap, tauco, dan tapai. Orang Betawi pada masanya juga pernah sebagai pengusaha susu,pemilik dan kusir delman atau gerobak, pedangang keliling, penjual jasa, tukang rumah, dan sebagai pegawai.<br><br><strong>D. Sistem Pengetahuan :&nbsp;</strong>Sistem pengetahuan bermacam-macam tapi yang lebih sering dijumpai melalui pengajaran dan pendidikan. Orang-orang Betawi dahulu belajar dibeberapa sekolah seperti; Sekolah Desa (Volksschool), Schakelshool (Sekolah Sambungan), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setingkaat SLTP, HIS (Hollands Inlandsche School), ELS (Europese Lagere School), HBS (Hogere Burgerschool), AMS (Algemeen Middelbare School), STOVIA ( School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), selain sekolah-sekolah tersebut ada pula sekolah Islam.</div><div>Sekolah Islam mulai dari madrasah ibtidaiyah, sekolah arab atau sekolah melayu. Pendidikan tradisional juga diterapkan dalam keseharian, misalnya ngeloni anak supaya cepat tidur, mengajari anak-anaknya iqro’, pendidikan setelah akil baligh, sampai kepada pendidikan lanjut yang tingkatannya lebih sulit seperti mempelajari ilmu-ilmu di dalam kitab kuning. Pelajaran ini biasanya terkait dengan ilmu al-quran, ilmu kalam, ilmu tauhid, ilmu fiqih, kisah nabi, nahwu-shorof, akhlak dan lain sebagainya.<br><br><strong>E. Sistem Kekerabatan :&nbsp;</strong>Sistem kekerabatan dalam Betawi dikenal dengan masyarakat Betawi karena orang-orang Betawi hidup bermasyarakat. Masyarakat Betawi terbagi tiga kelompok yaitu: masyarakat Betawi Kota; masyarakat Betawi yang tinggal di kampung dekat kota; masyarakat Betawi yang tinggal di kampung-kampung yang jauh dari kota. Selain masyarakat Betawi ada pula keluarga Betawi. Keluarga Betawi seperti keluarga pada umumnya. Ada juga rukun tetangga dan rukun warga. Ada pula sistem kekerabatan yang berkaitan erat dengan keluarga dari berbagai generasi. Selain itu, ada pula sapaan atau sebutan, aktivitas sosial: nyambat yang biasanya dalam kegiatan mendirikan rumah, membajak sawah, bikin tarub dan pelampang, serta aktivitas sosial lainnya, seperti: memberi uang, memberi minum, mengurus kematian, melepas haji, nyambut haji. Ada juga aktivita silaturahim seperti ajang nyambat, ajang sedekahan, ajang kondangan, ajang pengajian, solat jumat, dan ajang lebaran.<br><br><strong>F. Sistem Kesenian :&nbsp;</strong>Kesenian Betawi begitu banyak ragamnya mulai yang masih sering dijumpai ataupun jarang. Ada seni sastra Betawi, sastra tulis Betawi. Sastra sebagai sebuah karya seni dapat berupa sastra lisan maupun tulisan. Selain sastra, ada seni suara ada lagu-lagu khas Jakarta. Ada pula seni rupa baik dalam bentuk patung, lukis, kaligrafi maupun hias. Seni musik juga begitu banyak jenisnya, seperti; gambang kromong, tanjidor, gambus, samrah, rebana, marawis, gamelan ajeng, gamelan topeng, dan keroncong tugu. Seni tari juga tak kalah dengan seni musik, memiliki berbagai macam tarian seperti; tari samrah, zafin, topeng Betawi, Blenggo, uncul, pencak silat, dan cokek. Seni lakon Betawi juga bisa dinikamati seperti; lenong dan jinong, topeng Betawi dan Jiping, Blantek, wayang kulit, dan wayang golek.<br><br><strong>G. Sistem Religi :&nbsp;</strong>Sistem religi biasanya terkait dengan kepercayaan dan agama. Agama orang-orang Betawi secara keseluruhan adalah Islam, ada pula beberapa komunitas masyarakat Betawi yang beragama Kristen. Maka dari itu, Betawi selalu identik dengan Islam yang kental. Dikatakan kental dengan Islam karena sejak usia dini anak-anak Betawi diajarkan iqro’, juz amma, bahkan al-quran. Selain itu, orang tua Betawi zaman dahulu menyekolahkan anaknya lebih ke madrasah bahkan pesantren dibanding dengan sekolah umum. Selain peran orang tua, peran guru ngaji juga membuat anak-anak gemar mengaji bersama teman-temannya.</div><div>Kaitannya dengan religi maka kepercayaan orang-orang Betawi terlihat dari pantangan dan larangan yang identik dengan takhayul. Takhayul dapat berbentuk dalam makanan, minuman, binatang, tanda alam, benda, bahkan sampai perilaku orang itu sendiri. Selain itu kepercayaan makhluk halus juga begitu kental dalam mempercayai dan melakukan kegiatan sehari-hari.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 10:33:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515877566</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Semeru, Maron, Pujon Lor, Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur</title>
         <author>revandorevando928</author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515905580</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1991580892/cd510605fb25aa46c39c072ec3090db1/REVANDO_HARDIKA_PUTRA.pdf" />
         <pubDate>2023-03-14 10:58:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515905580</guid>
      </item>
      <item>
         <title>CORDOBA 2 RESIDENCE - Kota Batu, Jalan Asalia, Oro-Oro Ombo, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515916149</link>
         <description><![CDATA[<div>Kendari Sulawesi tenggara<br><br><br>1. Bahasa&nbsp;<br>&nbsp;<br>Bahasa Tolaki merupakan bahasa mayoritas di Provinsi Sulawesi Tenggara&nbsp;<br><br>2. Mata pencaharian<br><br>Mata pencaharian penduduk di Kota Kendari cukup bervariansi, seperti petani, nelayan, pedagang, bidang jasa, pertukangan dan karyawan<br><br>3. Sistem teknologi<br><br>- Alat-alat produktif<br><br>a. Alat bertani ladang :<br><br>- o pade (parang)&nbsp;<br>- o pali (kampak)<br>- rambaha (batu asahan)&nbsp;<br>- potasu (tugal)<br>- saira (sabit)<br>&nbsp;- o sowi (tuai)<br><br>Alat berburu dan menangkap hewan liar :&nbsp;<br><br>- karada (tombak)<br>- o sungga (bambu runcing)<br>- o taho, ohotai, ohopi (untuk menangkap ayam hutan atau burung)<br>&nbsp;- tu'oi (ranjau)<br><br><br>4. Sistem religi<br><br>Kendari Sulawesi tenggara dihuni oleh mayoritas umat beragama Islam&nbsp;<br><br>5. Kesenian&nbsp;<br><br>-Tari Tradisional Molulo<br>- Tari Tradisional Lariangi<br>- Tari Tradisional mowindhako&nbsp;<br><br>6. Sistem pengetahuan<br><br>Sistem pengetahuan Kendari memiliki pengetahuan yang cukup tinggi yang di dapat dari pendidikan karena Kendari merupakan ibu kota provinsi Sulawesi tenggara<br><br>7. Sistem organisasi sosial&nbsp;<br><br>Sistem organisasi sosial dikendari tidak jauh beda seperti kota - kota besar di pulau Jawa maupun sumatera<br><br><br>SATRIA ARKANANTA IRFAN RASYA<br>XI LM GEO B<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 11:08:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2515916149</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Patimura Gg. V, Temas, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author>putttayy2345</author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2516100083</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://docs.google.com/document/d/11Hpo7JGtb1Y6QrjEtkgiEc0i1rHXE7O3IXG77Eo0w5s/edit?usp=drivesdk" />
         <pubDate>2023-03-14 13:22:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2516100083</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Al el Collection, RT.01/RW.02, Junwatu, Sumbersekar, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2516321377</link>
         <description><![CDATA[<div>SADDAM PUTRA GRAHASTHA<br>XI LM GEO B<br><br>"7 Unsur Kebudayaan Kota Batu"&nbsp;<br><br>a. BAHASA<br>Untuk berkomunikasi sehari hari, masyarakat Kota Batu menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa Jawa. Selain bahasa Jawa, bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia juga sering digunakan masyarakat Kota Batu dalam berkomunikasi.<br><br>b. SISTEM PENGETAHUAN<br>Masyarakat Kota Batu dapat dikatakan cukup maju dalam dunia pendidikan dikarenakan banyaknya lembaga pendidik yang terdapat di kota tersebut. Selain itu, banyak juga pelajar dari Kota Batu yang mendunia karena prestasinya.<br><br>c. SISTEM ORGANISASI SOSIAL<br>Sistem organisasi sosial yang ada di Kota Batu sama seperti daerah lain pada umumnya. Tidak memiliki suatu perbedaan yang signifikan seperti beberapa daerah di Indonesia.<br><br>d. SISTEM PERALATAN HIDUP DAN TEKNOLOGI<br>Dalam hal ini, Kota Batu juga dapat dikatakan cukup maju di bidang teknologi, mengapa? karena banyaknya gedung gedung maupun fasilitas yang sudah canggih dan juga adanya pariwisata yang mendunia.<br><br>e. SISTEM EKONOMI DAN MATA PENCAHARIAN<br>Masyarakat Kota Batu memiliki mayoritas mata pencaharian sebagai petani. Dikarenakan letak Kota Batu berada di dataran tinggi, sangat mendukung dalam hal pertanian/perkebunan. Salah satu hasil&nbsp; perkebunan andalan yang menjadi komoditi utama dari Kota Batu adalah apel. Selain dari pertanian dan perkebunan, Kota Batu juga memiliki Pariwisata maju, yang sangat berperan penting dalam perekonomian Kota Batu.<br><br>f. SISTEM RELIGI<br>Mayoritas penduduk Kota Batu menganut agama Islam, banyak sekali tempat peribadatan yang dibangun untuk ibadah penduduk tersebut.<br><br>g. KESENIAN<br>Salah satu kesenian yang terkenal dari Kota Batu adalah Kesenian Bantengan. Kesenian Bantengan merupakan tradisi pertunjukkan seni budaya yang menggabungkan unsur sendratari, olah kanuragan, musik, dan syair/mantra yang dibarengi dengan unsur mistis yang kental. Kesenian Bantengan di Kota Batu juga sudah diakui oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, ditandai dengan sertifikat Warisan Budaya Tak Benda 14 November 2020 pada acara Aktivasi Seni Budaya Daerah.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-14 15:32:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2516321377</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Sarimun, Beji, Batu City, East Java</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2517067378</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><em>Azriel Firoz Okan R.<br>XI IPS 4/ 10<br></em></strong><br><strong>Bahasa</strong><br>Persebaran Bahasa Betawi ditandai dengan tiga migrasi bahasa Melayu. Migrasi pertama dari Kalimantan Barat ke Pulau Sumatera. Migrasi kedua dari Kalimantan Barat ke Kalimantan Utara. Migrasi ketiga dari Kalimantan Barat ke Pulau Jwa, yakni Jakarta. Ada pula Variasi Dialektis dengan melafalkan bunyi [a] dan [ah] jadi [e] ada pula yang jadi [ah]. Selain itu, ada juga permainan bahasa dengan berbicara biasa dan berbicara terbalik. Bahasa Betawi juga sebagai cerminan budaya, orang-orang Betawi bisanya memberikan sesuatu dengan ungkapan atau peribahasa. Ungkapan atau peribahasa bisanya banyak terkait dengan sikap dan pandangan, larangan, sindiran, keterkejutan dan lainnya. Bahasa dan kesantunan juga menjadikan orang Betawi memunyai kekhasan.</div><div><strong>Peralatan dan Perlengkapan Hidup</strong></div><div>Kelengkapan hidup sebagai unsur kebudayaan universal mencakup perumahan tempat tinggal, mata pencaharian, busana, kuliner, alat-alat kerja, dan alat-alat transportasi. Pertama adalah perumahan, terdapat beberapa model perumahan; model gudang, model bapang, dan model joglo. Ada pula tentang tata ruang dan perabot rumah, seperti: tempayan atau gentong, bale atau ta’pang, pendaringan atau tahang, katrol untuk menimba di sumur. Selain itu ada pula peralatan masak, seperti: dandang, kukusan, kenceng, atau periuk, penggorengan dengan sodetnya, klakat, lumpang batu, cobek dan ulekannya. Busana betawi sehari-hari aadalah baju sadaria atau baju koko, bercelana panjang batik atau kain sarung dan memakai peci atau kopiah.Ada pula busana pengantin Betawi, alas kaki, dan tutup kepala. Ada makanan khas Betawi, minuman khas Betawi, peralatan kerja, senjata khas Betawi, alat-alat angkut dan transportasi.<br><strong>Mata Pencaharian</strong></div><div>Mata pencaharian orang Betawi ada yang sebagai petani atau peladang yang dulu ada di daerah Pejompongan dan Setia Budi. Selain petani dan peladang ada pula sebagai peternak yang biasanya menernak ayan negeri, kambing, ikan, dan lindung (belut). Ada pula sebagai pekebun yang banyak ditumbuhi sayur-mayur dan buah-buahan. Orang Betawi ada yang sebagai pengrajin, pengrajin pun bermacam-macam barangnya. Ada yang melakukan pembuatan pager dan jaro, tikar, topi, keneron, sepatu, sandal, tas kulit, tahu, kecap, tauco, dan tapai. Orang Betawi pada masanya juga pernah sebagai pengusaha susu,pemilik dan kusir delman atau gerobak, pedangang keliling, penjual jasa, tukang rumah, dan sebagai pegawai.<br><strong>Sistem Pengetahuan</strong></div><div>Sistem pengetahuan bermacam-macam tapi yang lebih sering dijumpai melalui pengajaran dan pendidikan. Orang-orang Betawi dahulu belajar dibeberapa sekolah seperti; Sekolah Desa (Volksschool), Schakelshool (Sekolah Sambungan), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setingkaat SLTP, HIS (Hollands Inlandsche School), ELS (Europese Lagere School), HBS (Hogere Burgerschool), AMS (Algemeen Middelbare School), STOVIA ( School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), selain sekolah-sekolah tersebut ada pula sekolah Islam mulai dari madrasah ibtidaiyah, sekolah arab atau sekolah melayu. Pendidikan tradisional juga diterapkan dalam keseharian, misalnya ngeloni anak supaya cepat tidur, mengajari anak-anaknya iqro’, pendidikan setelah akil baligh, sampai kepada pendidikan lanjut yang tingkatannya lebih sulit seperti mempelajari ilmu-ilmu di dalam kitab kuning. Pelajaran ini biasanya terkait dengan ilmu al-quran, ilmu kalam, ilmu tauhid, ilmu fiqih, kisah nabi, nahwu-shorof, akhlak dan lain sebagainya.<br><strong>Sistem Kemasyarakatan</strong></div><div>Sistem kemasyarakatan dalam Betawi dikenal dengan masyarakat Betawi karena orang-orang Betawi hidup bermasyarakat. Masyarakat Betawi terbagi tiga kelompok yaitu: masyarakat Betawi Kota; masyarakat Betawi yang tinggal di kampung dekat kota; masyarakat Betawi yang tinggal di kampung-kampung yang jauh dari kota. Selain masyarakat Betawi ada pula keluarga Betawi. Keluarga Betawi seperti keluarga pada umumnya. Ada juga rukun tetangga dan rukun warga. Ada pula sistem kekerabatan yang berkaitan erat dengan keluarga dari berbagai generasi. Selain itu, ada pula sapaan atau sebutan, aktivitas sosial: nyambat yang biasanya dalam kegiatan mendirikan rumah, membajak sawah, bikin tarub dan pelampang, serta aktivitas sosial lainnya.<br><strong>Religi</strong></div><div>Sistem religi biasanya terkait dengan kepercayaan dan agama. Agama orang-orang Betawi secara keseluruhan adalah Islam, ada pula beberapa komunitas masyarakat Betawi yang beragama Kristen. Maka dari itu, Betawi selalu identik dengan Islam yang kental. Dikatakan kental dengan Islam karena sejak usia dini anak-anak Betawi diajarkan iqro’, juz amma, bahkan al-quran. Selain itu, orang tua Betawi zaman dahulu menyekolahkan anaknya lebih ke madrasah bahkan pesantren dibanding dengan sekolah umum. Selain peran orang tua, peran guru ngaji juga membuat anak-anak gemar mengaji bersama teman-temannya.<br><strong>Kesenian</strong></div><div>Kesenian Betawi begitu banyak ragamnya mulai yang masih sering dijumpai ataupun jarang. Ada seni sastra Betawi, sastra tulis Betawi. Sastra sebagai sebuah karya seni dapat berupa sastra lisan maupun tulisan. Selain sastra, ada seni suara ada lagu-lagu khas Jakarta. Ada pula seni rupa baik dalam bentuk patung, lukis, kaligrafi maupun hias. Seni musik juga begitu banyak jenisnya, seperti; gambang kromong, tanjidor, gambus, samrah, rebana, marawis, gamelan ajeng, gamelan topeng, dan keroncong tugu. Seni tari juga tak kalah dengan seni musik, memiliki berbagai macam tarian seperti; tari samrah, zafin, topeng Betawi, Blenggo, uncul, pencak silat, dan cokek. Seni lakon Betawi juga bisa dinikamati seperti; lenong dan jinong, topeng Betawi dan Jiping, Blantek, wayang kulit, dan wayang golek.</div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://goodminds.id/handsome/wp-content/uploads/2021/01/Sejarah-Suku-Betawi.jpg" />
         <pubDate>2023-03-15 02:51:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2517067378</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Bromo Gg. 3 No.1, Sisir, Batu City, East Java</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2517404062</link>
         <description><![CDATA[<div>DINARA PUTRI K<br>XI IPS 4 / 12<br><br><em><mark>-TULUNGAGUNG-</mark></em><br><br>1. Bahasa<br>Bahasa yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat Tulungagung yaitu bahasa jawa&nbsp;<br><br>2. Sistem peralatan dan teknologi&nbsp;<br>Di Tulungagung baru saja diresmikan oleh pemerintah Tulungagung dengan tanda tangan elektronik bertujuan untuk memudahkan birokrasi dan pelayanan kepada masyarakat.<br><br>3. Sistem mata pencaharian&nbsp;<br>Di Tulungagung rata rata ber pencaharian sebagai petani, tetapi banyak juga yang sebagai buruh bahkan pekerja swasta.&nbsp;<br><br>4. Sistem organisasi/kemasyarakatan&nbsp;<br>Di daerah Tulungagung sesuai standar seperti di daerah yang lain, ada perangkat daerah yang meliputi admin pembangunan, pengadaan barang dan jasa, bagian kesejahteraan masyarakat dls.<br><br>6. Kesenian&nbsp;<br>Kesenian yang ada di Tulungagung yaitu Jedor atau Jedoran adalah salah satu kesenian (seni musik) tradisional yang ada di Tulungangung, Jawa Timur. Alat musik pada jedoran terdiri dari 6 (enam) alat musik yaitu; tipung lanang, tipung wadon, kempyang, terbang, jedor, dan gendang. Jaranan, karawitan/campursari. Reog Tulungagung, Ketoprak, seperti : Ketoprak Siswobudoyo.<br><br>7. Sistem religi<br>Penghayat kepercayaan dan pencinta budaya di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menggelar napak tilas upacara adat Sradha Agung di kompleks Candi Pesanggrahan dan Candi Gayatri Prosesinya menyerupai kegiatan "nyekar" dan memanjatkan doa untuk arwah tokoh Hindu era awal Majapahit itu.&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-15 08:39:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2517404062</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lapangan Pujon Lor, Jalan Retawu, Gesingan, Pujon Lor, Kabupaten Malang, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2517598471</link>
         <description><![CDATA[<div>Dyah Laksminta Prabandari<br>13 / XI IPS 5<br><br>Analisis Kebudayaan di Kabupaten Tuban<br><br>1. Bahasa<br>Masyarakat Tuban menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Bahasa Khas Tuban adalah bahasa jawa mataraman yang memiliki dialek atau logat khas Tuban.&nbsp;<br><br>2. Sistem Pengetahuan<br>Tuban merupakan daerah yang cukup maju di bidang ilmu pengetahuan utamanya di bidang keislaman, terbukti dengan banyaknya pondok pesantren terkenal yang berdiri di kota ini. Contohnya&nbsp;</div><ul><li>Pondok Pesantren Langitan.</li><li>Pondok Pesantren Sunan Bejagung&nbsp;</li><li>Pondok Pesantren Hidayatussalam Sanggahan </li></ul><div>Juga terdapat berbagai perguruan tinggi bercorak keislaman seperti Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban dan Institut Agama Islam Al Hikmah Tuban.</div><div><br>3. Sistem Organisasi<br>Kabupaten Tuban dipimpin oleh seorang Bupati yang dibantu oleh segenap jajarannya. Masyarakat Tuban sendiri juga aktif dalam berbagai organisasi seperti : Karang Taruna, Gerakan Pemuda Ansor, Ikatan Pelajar Nadhatul Ulama, Fatayat Muhammadiyah, dll.<br><br>4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi<br>Sistem peralatan hidup di Tuban memiliki ciri khas yang sangat kental dengan budaya Jawa. Peralatan hidup tradisional seperti lesung, lumpang, dan cobek masih sering digunakan oleh masyarakat Tuban dalam kehidupan sehari-hari. Di bidang teknologi, Tuban memiliki sejarah yang panjang sebagai pusat perdagangan. Salah satu contoh teknologi tradisional yang berkembang di Tuban adalah pengolahan gula kelapa. Dalam bidang industri, Tuban memiliki banyak pabrik besar seperti pabrik petrokimia, pabrik semen, dan pabrik kertas. Teknologi modern seperti mesin-mesin industri dan sistem pengolahan yang canggih digunakan dalam pabrik-pabrik tersebut. Secara keseluruhan, unsur kebudayaan sistem peralatan hidup dan teknologi di Tuban menunjukkan adanya perpaduan antara teknologi modern dan tradisional yang masih dijaga keberadaannya oleh masyarakat setempat.&nbsp;<br><br>5. Sistem Mata Pencaharian dan Ekonomi<br>Masyarakat Tuban memiliki mata pencaharian yang beragam, di antaranya adalah pertanian, perikanan, perdagangan, industri, dan jasa. Di bidang pertanian, Tuban dikenal sebagai daerah penghasil bawang putih, tebu, padi, dan sayuran. Di bidang perikanan, masyarakat Tuban mengandalkan hasil laut seperti ikan, udang, dan kepiting. Selain itu, di bidang perdagangan, Tuban memiliki potensi sebagai pusat perdagangan yang strategis karena letaknya yang dekat dengan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Tuban juga&nbsp; memiliki sejumlah sektor ekonomi yang berkembang, di antaranya adalah industri, perdagangan, dan jasa. Di bidang industri, Tuban memiliki beberapa pabrik besar seperti pabrik semen, pabrik kertas, dan pabrik petrokimia. Di bidang perdagangan, Tuban memiliki pasar tradisional seperti Pasar Tanjung dan Pasar Jenu yang menjadi pusat perdagangan bagi masyarakat setempat. Selain itu, di bidang jasa, Tuban memiliki potensi pariwisata yang besar karena keberadaan objek wisata seperti Pantai Boom dan Makam Sunan Bonang.<br><br>6. Sistem Religi<br>Masyarakat Tuban mayoritas menganut agama Islam hal ini bisa dikaitkan dengan sejarah Tuban yang merupakan salah satu daerah pusat penyebaran islam sejak zaman lampau. Meski demikian agama lain seperti kristen, Hindu, dan Buddha juga berkembang di tuban.<br><br>7. Keseniam<br>&nbsp;kesenian yang berkembang di Tuban antara lain: seni tari, musik, dan seni rupa.<br>Kesenian tari di Tuban mencakup beberapa jenis tari tradisional seperti tari topeng, tari bedhaya, dan tari lengger. Tari topeng Tuban adalah salah satu kesenian yang terkenal dan dianggap sebagai identitas budaya kota Tuban. Kesenian musik di Tuban mencakup beberapa alat musik tradisional seperti gamelan, kendang, dan saron. Musik gamelan Tuban terkenal dengan irama yang khas dan digunakan sebagai pengiring dalam pertunjukan kesenian seperti tari topeng dan wayang kulit. Seni rupa di Tuban mencakup berbagai macam karya seni seperti ukiran kayu, patung, dan anyaman bambu. Seni ukiran kayu Tuban terkenal dengan motif-motif yang menggambarkan kehidupan sehari-hari seperti pertanian, kehidupan desa, dan permainan tradisional. Untuk mengenalkan dan melestarikan budayanya pemerintah dan masyarakat Tuban setiap tahunnya mengadakan Festival Kesenian yang menjadi ajang bagi para seniman dan budayawan untuk memperlihatkan karya-karya seni mereka.<br><br><br>Mohon maaf atas keterlambatannya bu, saya baru sembuh</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-15 11:30:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2517598471</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Precet, Sumbersekar, Malang Regency, East Java</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2518555181</link>
         <description><![CDATA[<div>Niken Razaaq&nbsp;<br>XI IPS 5<br><br>Desa Purwodadi, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.<br>&nbsp;<br>&nbsp;1. SISTEM BAHASA<br>&nbsp;Bahasa yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat adalah Bahasa Jawa. Biasanya untuk berbicara dengan orang yang lebih muda ataupun yang seumuranmenggunakan Ngoko Lugu. Sedangkan untuk berbicara dengan orang yang berumurlebih tua dari kita biasanya menggunakan Krama Alus.<br>&nbsp;<br>&nbsp;2. SISTEM PENGETAHUAN<br>&nbsp;Dari pengetahuan, masyarakat masih menggunakan perhitungan tanggal jawauntuk menentukan hari-hari tertentu, misalnya pernikahan, slametan, pembangunanrumah dan masih banyak lagi.<br>&nbsp;<br>&nbsp;3. SISTEM SOSIAL<br>&nbsp;Di daerah tempat tinggal saya, banyak organisasi masyarakat, misalnya karangtaruna, ibu-ibu PKK, pengajian, senam ria dll. Tidak hanya itu, masyarakat disini juga bergotong royong dalam kerja bakti dan juga ada perkumpulan bapak-bapak serta ibu-ibuyang biasanya mengadakan arisan RT.<br>&nbsp;<br>&nbsp;4. SISTEM PERALATAN HIDUP DAN TEKNOLOGI<br>&nbsp;Untuk peralatan hidup sudah banyak yang menggunakan barang modern sepertikulkas, kompor gas, dll. Tetapi masih ada juga yang memasak menggunakan kayu bakar. Alat transportasi disini sudah maju. Sebagian besar masyarakat disini mempunyai sepedamotor dan beberapa ada yang mempunyai mobil. Untuk teknologi lainnya sepertiteknologi komunikasi, mayoritas sudah menggunakan smartphone.<br>&nbsp;<br>&nbsp;5. SISTEM MATA PENCAHARIAN HIDUP<br>&nbsp;Masyarakat disini banyak sekali yang menjadi pedagang dan petani karenadaerah tempat tinggal saya sangat dekat dengan persawahan, bahkan samping atau depanrumah sudah banyak ditemui sawah – sawah masyarakat.<br>&nbsp;<br>&nbsp;6. SISTEM RELIGI<br>&nbsp;Disini mayoritas beragama Islam. Biasanya juga ada acara seperti tradisislametan, sura, mauled nabi, mitoni, kematian, dll.<br>&nbsp;<br>&nbsp;7. KESENIAN<br>&nbsp;Untuk kesenian sendiri, tentunya sesuai dengan kesenian khas Banyuwangiyaitu Gandrung. Kalo di desa saya terkadang janger, wayang kulit, jaranan buto masihada. Tapi kalau umum tetap Gandrung.<br>&nbsp;<br>&nbsp;<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-16 00:55:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2518555181</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Dewi Sartika Gg. 1E, Temas, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2518675217</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Bahasa yang digunakan didaerah saya adalah bahasa Indonesia. Daerah disini sudah mulai mengikuti era jaman sehingga beberapa dari mereka mempunyai teknologi yang diproduksi jaman sekarang contohnya yaitu sepeda listrik, banyak yang menggunakan sepeda tersebut karena lebih ramah lingkungan.  Untuk mencari mata pencaharian disini dengan cara berdagang karena daerah kami dekat dengan pasar Besar KOTA BATU sehingga banyak yang mengambil pekerjaan sebagai pedagang ada juga beberapa yang bekerja sebagai guru SD Negeri.  Disini juga terdapat beberapa organisasi yang masi aktif seperti PKK yang dilakukan oleh ibu ibu, tujuan adanya organisasi ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan. Tidak lupa juga ada organisasi yang mempersatukan pemuda pemudi kampung yang biasa disebut karang taruna. Ada beberapa sesepuh tua yang masi mempercayai adanya ritual, terkadang beliau melakukan aktifitas seperti menyalakan dupa dan lagu-lagu Jawa, tapi disini kami sangat menghargai tradisi mereka. Tidak jauh dari tradisi lampau disini juga sering mempelajari tradisi gamblang dan menari Jawa karena disini masi menjaga tradisi- tradisi Jawa atau tradisi lampau. Sehingga tidak sampai punah atau dilupakan oleh masyarakat desa.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-16 02:27:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2518675217</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Sutan Hasan Halim, Temas, Batu City, East Java</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2519491948</link>
         <description><![CDATA[<div>ANINDYA TSABITA / LM GEOGRAFI B<br><br><br>7 UNSUR KEBUDAYAAN SUKU DAYAK<br>a. sistem bahasa <br>bahasa yang sering dipakai&nbsp; oleh suku dayak&nbsp; dalam kehidupan ada 2, yaitu bahasa pengantar dan bahasa sehari hari<br>-bahasa pengantar adalah bahasa indonesia yang telah digunakan sebagai bahasa pengantar dipemerintahan dan pendidikan<br>-bahasa sehari hari adalah bahasa yang digunakan dalam keseharian (bahasa daerah)<br>b. sistem religi<br>golongan islam merupakan&nbsp; golongan terbesar, sedangkan agama asli dari penduduk pribumi adalah agama kaharingan (berarti air kehidupan). umat kaharingan percaya bahwa lingkungan sekitar mereka banyak makhluk dan roh roh. kepercayaan terhadap roh dan makhluk makhluk tersebut terwujud dalam bentuk keagamaan dan upacara upacara yang dilakukan. <br>c. sistem kekerabatan<br>sistem kekerabatan orang dayak kalimantan tengah, didasarkan pada prinsip keturunan <strong>ambilineal</strong>, yang menghitungkan hubungan kekerabatan melalui laki-laki maupun wanita. pada masa dulu, kekerabatan yang terpenting masyarakat mereka adalah keluarga ambilineal yang timbul kalau ada keluarga luas yang utrolokal,&nbsp; yaitu sebagai dari anak-anak laki-laki maupun perempuan sesudah kawin</div><div>membawa keluarganya masing-masing, untuk tinggal dalam rumah orang tua mereka, sehingga menjadi suatu keluarga luas. pada masa sekarang, kelompok kekerabatan yang terpenting adalah keluarga luas utrolokal yang menjadi isi dari suatu rumah tangga. rumah tangga ini berlaku sebagai kesatuan fisik misalnya dalam sistem gotong royong dan sebagai kesatuan rohanian dalam upacara-upacara agama kaharingan.<br>upacara adat dalam sistem kekerabatan suku dayak ialah perkawinan, kelahiran,dan kematian<br>d. sistem ekonomi<br>sistem ekonomi bagi orang dayak di kalimantan tengah terdiri atas empat macam, yaitu berladang, berburu, mencari hasil hutan dan ikan, menganyam. dalam berladang mereka mengembangkan suatu sistem kerja sam dengan cara membentuk kelompokngotong-royong yang biasanya berdasarkan hubungan tetanggaan atau persahabatan.<br>e. sistem kesenian<br>-tari tarian<br>1. tari gantar<br>2. tari kancet papatai/ tari perang<br>3. tari kancet ledo/ tari gong<br>4. tari kancet lasan<br>5. tari leleng<br>6. tari hudoq kita'<br>7. tari serumpai dan masih banyak lagi<br>-rumah adat<br>rumah adat di kalteng dinamakan rumah betang. rumah itu panjang bawah kolongnya digunakan untuk bertenun dan menumbuk padi dan dihuni oleh ±20 kepala keluarga. rumah terdiri atas 6 kamar, antara lain untuk menyimpan alat-alat perang, kamar untuk pendidikan gadis, tempat sesajian, tempat upacara adat dan agama, tempat penginapan dan ruang tamu. Pada kiri kamam ujung atap dihiasi tombak sebagai penolak mara bahaya.</div><div>-pakaian adat<br>pakaian adat pria kalimantan tengah berupa tutup kepala berhiaskan bulu-bulu enggang, rompi dan kain-kain yang menutup bagian bawah badan sebatas lutu. sebuah tameng kayu dengan hiasan yang khas bersama mandaunya berada di tangan. perhiasan yang dipakai berupa kalung-kalung manikdan ikat pinggang. wanitanya memaki baju rompi dan kain (rok pendek) tutup kepala berhiasakan bulu-bulu enggang, kalung manic, ikat pinggang, dan beberapa kalung tangan.</div><div>f. sistem peralatan atau perlengkapan hidup<br>dalam kehidupan sehari-hari orang suku dayak sudah menggunakan alat-alat yang sudah sedikit maju (berkembang) seperti dalam berburu orang dayak sudah memakai alat-alat yang berkembang seperti : sipet, tombak, perisai, mandau, dan dohong.<br>g. sistem pengetahuan<br>1. dalam berpakaian dulu orang suku dayak sering menggunakan ewah (cawat) untuk pakaian asli laki-laki dayak yang terbuat dari kulit kayu dan kaum wanita memakai sarung dan baju yang terbuat dari kulit kayu, sedangkan pada masa sekarang orang dayak di kalimantan tengah sudah berpakaian legkap seperti : laki-laki memakai hem dan celana dan kaum wanita memakai sarung dan kebaya atau bagi anak muda memakai rok potongan eropa.</div><div>2. zaman dulu para wanita sering menggunakan anting yang banyak agar semakin panjangnya daun telinga semakin cantik wanita tersebut, para lelakinya sering menggunakan tato bahwa semakin banyaknya tato ditubuh lelaki tersebut maka ia akan terliahat gagah dan ganteng.</div><div>3. terkadang mereka sering menggunakan bahasa inggris untuk komunikasi tetapi masih bersifat pasif.</div><div>4. menggandalkan atau menggunakan rasi bintang untuk mengetahui apakah cocok untuk bertanam atau berladang.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-16 14:23:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2519491948</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Indragiri, Sumberejo, Batu City, East Java</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2520709531</link>
         <description><![CDATA[<div>Ajeng Dara Ghaysani / XI IPS 4<br><br>1. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa jawa lokal<br>2. Tradisi yang dijalani biasanya 7 harian<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-17 10:30:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2520709531</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Temas, Batu City, East Java</title>
         <author>nesaindira0506</author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2521977246</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1996743818/9ab87a9a0650169e5ee86969e7ba7c8e/Unsur_budaya_bali_tugas_geografi_nesa_indira_XI_IPS_4.docx" />
         <pubDate>2023-03-19 03:37:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2521977246</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Beji, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2522214709</link>
         <description><![CDATA[<div>Naomi Kezya Cornelia Erika Putri <br>XI IPS 4 / 22<br><br>1. <strong>BAHASA</strong><br>Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah. Dalam satu provinsi bahkan bisa memiliki beberapa bahasa daerah yang telah menjadi budaya sehari-hari bagi masyarakat setempat. Bahasa ini digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain atau orang serumpun.<br>Bahasa daerah yang banyak digunakan adalah bahasa Jawa, sebab sebagian besar penduduk Indonesia adalah suku Jawa. Bahasa nasional negara Indonesia adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Melayu.<br><br>Contoh bahasa daerah di Indonesia:<br>- Sumatera Utara: Batak, Nias, Mandailing<br>- DKI Jakarta: Betawi<br>- Banten: Sunda, Betawi<br>-&nbsp;Kalimantan: Bajau, Banjar, Bahau, Iban, Kayan, Kenya, Klemautan, Milano, Melayu, Ot-Danum<br>-&nbsp;Sulawesi Utara: Bugis, Bada Pesona, Balantak, Banggal, Bantik, Babongko<br><br>2. <strong>SISTEM PERALATAN ATAU TEKNOLOGI</strong><br>Sistem peralatan dan teknologi merupakan salah satu unsur kebudayaan, karena peralatan dan teknologi akan banyak memberikan informasi mengenai kehidupan sehari-hari dari masyarakat.<br>Contoh kebudayaan peralatan dan teknologi :<br>- Batik<br>- Pakaian adat<br>- Patung<br>- Rumah adat<br>- Senjata Tradisional<br><br>3. <strong>SISTEM MATA PENCAHARIAN</strong><br>sistem mata pencaharian tradisional sangat melekat dalam kebudayaan suatu suku bangsa. Sistem mata pencaharian tersebut antara lain adalah:</div><ul><li>Berburu dan meramu</li><li>Beternak</li><li>Bercocok tanam di ladang</li><li>Menangkap ikan</li><li>Bercocok tanam dengan sistem irigasi<br><br></li></ul><div>4. <strong>SISTEM PENGETAHUAN</strong><br>Sistem pengetahuan sangat luas jangkauannya karena menyangkut ide manusia yang tidak terbatas. Sistem pengetahuan merupakan unsur kebudayaan yang digunakan untuk mempertahankan hidupnya. Suatu suku bangsa pasti memiliki pengetahuan, sepeti di bawah ini:</div><ul><li>Alam sekitarnya</li><li>Tumbuhan di sekitar</li><li>Binatang di sekitar</li><li>Zat, bahan mentah atau benda dalam lingkungannya</li><li>Tubuh manusia</li><li>Sifat dan tingkah laku manusia</li><li>Ruang dan waktu</li></ul><div><br>5. <strong>SISTEM KEKERABATAN DAN ORGANISASI SOSIAL</strong><br>Unsur kebudayaan yang satu ini berkaitan dengan cara memahami bagaimana manusia membentuk masyarakat melalui kelompok sosial. Adapun kekerabatan dalam hal ini berarti perkawinan. Selain itu, kekerabatan ini mendefinisikan bahwa dalam sosial, perkawinan akan menghasilkan keturunan. Setiap suku bangsa memiliki sistem kekerabatan yang berbeda dalam hal adat perkawinan ataupun menetap.<br><br>6. <strong>SISTEM RELIGI</strong><br>Fungsi dari religi adalah untuk menjawab pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan gaib atau supranatural yang mereka anggap lebih tinggi posisinya.<br><br></div><div>Dalam mengkaji sistem religi ini tidak bisa dilepaskan dari emosi keagamaan yang merupakan perasaan dalam diri seseorang yang mendorong mereka untuk melakukan perilaku religius. Sistem religius dalam suatu masyarakat akan menimbulkan kebudayaan seperti tempat beribadah, waktu upacara keagamaan, alat untuk upacara keagamaan atau pemimpin acara keagamaan.<br><br>7. <strong>KESENIAN </strong><br>Kesenian berawal dari aktivitas tradisional yang dilakukan oleh masyarakat. Jenis kesenian yang saat ini kita kenal antara lain adalah seni musik, seni tari, seni rupa, seni drama dan seni lainnya. Sebagai unsur kebudayaan, kesenian mampu menunjukkan estetika atau keindahan kebudayaan suatu suku bangsa.<br><br></div><div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-19 13:36:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2522214709</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Kamboja, Pesanggrahan, Kota Batu, Jawa Timur Fransisco enda bintardo xi ips 4</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2524702482</link>
         <description><![CDATA[<div>1. Bahasa<br>Bahasa sehari hari yang digunakan warga kamboja yaitu adalah bahasa jawa&nbsp;<br>2. Kesenian&nbsp;<br>Kesenian di daerah kamboja biasanya bantengan ataupun karnaval<br>3. Tradisi<br>Tradisi yang bisanya di lakukan warga kamboja biasanya 7 hari orang meninggal di adakan tahlil</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-21 04:14:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2524702482</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jl. Trunojoyo Atas, Beji, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2524723961</link>
         <description><![CDATA[<div>Abednego tirta laksana<br>XI IPS 4 / 1<br><br>1. BAHASA<br>Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah. Dalam satu provinsi bahkan bisa memiliki beberapa bahasa daerah yang telah menjadi budaya sehari-hari bagi masyarakat setempat. Bahasa ini digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain atau orang serumpun.<br>Bahasa daerah yang banyak digunakan adalah bahasa Jawa, sebab sebagian besar penduduk Indonesia adalah suku Jawa. Bahasa nasional negara Indonesia adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Melayu.<br><br>Contoh bahasa daerah di Indonesia:<br>- Sumatera Utara: Batak, Nias, Mandailing<br>- DKI Jakarta: Betawi<br>- Banten: Sunda, Betawi<br>- Kalimantan: Bajau, Banjar, Bahau, Iban, Kayan, Kenya, Klemautan, Milano, Melayu, Ot-Danum<br>- Sulawesi Utara: Bugis, Bada Pesona, Balantak, Banggal, Bantik, Babongko<br><br>2. SISTEM PERALATAN ATAU TEKNOLOGI<br>Sistem peralatan dan teknologi merupakan salah satu unsur kebudayaan, karena peralatan dan teknologi akan banyak memberikan informasi mengenai kehidupan sehari-hari dari masyarakat.<br>Contoh kebudayaan peralatan dan teknologi :<br>- Batik<br>- Pakaian adat<br>- Patung<br>- Rumah adat<br>- Senjata Tradisional<br><br>3. SISTEM MATA PENCAHARIAN<br>sistem mata pencaharian tradisional sangat melekat dalam kebudayaan suatu suku bangsa. Sistem mata pencaharian tersebut antara lain adalah:<br>Berburu dan meramu<br>Beternak<br>Bercocok tanam di ladang<br>Menangkap ikan<br>Bercocok tanam dengan sistem irigasi<br><br>4. SISTEM PENGETAHUAN<br>Sistem pengetahuan sangat luas jangkauannya karena menyangkut ide manusia yang tidak terbatas. Sistem pengetahuan merupakan unsur kebudayaan yang digunakan untuk mempertahankan hidupnya. Suatu suku bangsa pasti memiliki pengetahuan, sepeti di bawah ini:<br>Alam sekitarnya<br>Tumbuhan di sekitar<br>Binatang di sekitar<br>Zat, bahan mentah atau benda dalam lingkungannya<br>Tubuh manusia<br>Sifat dan tingkah laku manusia<br>Ruang dan waktu<br><br>5. SISTEM KEKERABATAN DAN ORGANISASI SOSIAL<br>Unsur kebudayaan yang satu ini berkaitan dengan cara memahami bagaimana manusia membentuk masyarakat melalui kelompok sosial. Adapun kekerabatan dalam hal ini berarti perkawinan. Selain itu, kekerabatan ini mendefinisikan bahwa dalam sosial, perkawinan akan menghasilkan keturunan. Setiap suku bangsa memiliki sistem kekerabatan yang berbeda dalam hal adat perkawinan ataupun menetap.<br><br>6. SISTEM RELIGI<br>Fungsi dari religi adalah untuk menjawab pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan gaib atau supranatural yang mereka anggap lebih tinggi posisinya.<br><br>Dalam mengkaji sistem religi ini tidak bisa dilepaskan dari emosi keagamaan yang merupakan perasaan dalam diri seseorang yang mendorong mereka untuk melakukan perilaku religius. Sistem religius dalam suatu masyarakat akan menimbulkan kebudayaan seperti tempat beribadah, waktu upacara keagamaan, alat untuk upacara keagamaan atau pemimpin acara keagamaan.<br><br>7. KESENIAN&nbsp;<br>Kesenian berawal dari aktivitas tradisional yang dilakukan oleh masyarakat. Jenis kesenian yang saat ini kita kenal antara lain adalah seni musik, seni tari, seni rupa, seni drama dan seni lainnya. Sebagai unsur kebudayaan, kesenian mampu menunjukkan estetika atau keindahan kebudayaan suatu suku bangsa.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-21 04:38:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2524723961</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Wastu Asri, Junrejo, Batu City, East Java</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2525685354</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama: Ajeng Mareta<br>Kelas: XI IPS 5<br>Absen: 02<br><br>Unsur Kebudayaan Kota Jember<br><br>1. Bahasa<br>Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat Jember adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa dan Bahasa Madura. Selain ketiga bahasa tersebut masyarakat jember menggunakan bahasa yang disebut Bahasa Jemberan yang merupakan Bahasa Jawa Ngoko (kasar) yang disisipi oleh Bahasa Madura dengan logat khas Jember. Keunikan Bahasa Jemberan terdapat beberapa pengulangan kata dalam pengucapannya yang pengucapannya tidak diucapkan secara lengap seperti lun-alun (alun-alun), ku-mlaku (mlaku-mlaku) dsb. Maupun adanya juga kosakata baru seperti mad (sapaan akrab untuk teman), boh (ungkapan keterkejutan), metaoh (sok tahu), beno rah (biarkan), dsb. Hal ini terjadi dikarenakan banyak masyarakat Madura yang bermigrasi ke Jember untuk mencari pekerjaan maupun hal-hal lain.<br><br>2. Sistem Pengetahuan<br>Kota Jember terkenal dengan adanya salah satu universitas yang cukup dikenal yaitu Universitas Jember atau akrab dipanggil UNEJ. Selain Universitas Negeri Jember, adapula Banyak Universitas maupun Akademi seperti Univeristas Muhammadiyah Jember, Akademi Politeknik Negeri Jember, Institut Agama Islam Negeri, dsb. Selain itu Kota Jember juga mempunyai instansi pendidikan seperti SMA, SMP, dan SD, serta TK yang jelas bersaing di Jawa Timur.<br><br>3. Sistem Organisasi Masyarakat<br>Kota Jember dipimpin oleh Bupati, dimana Kota Jember merupakan Ibu Kota dari Kabupaten Jember. Dalam beberapa kecamatan dipimpin oleh Camat, dalam tingkatan yang lebih kecil seperti RT/RW, dipimpin oleh Ketua RT mauapun Ketua RW. Masyarakat di Jember aktif dalam berorganisasi, dikarenakan adanya Universitas, di Jember juga memiliki Organisasi seperti Organisasi Mahasiswa, adapula Organisasi Wanita Jember, PKK, maupun organisasi lainnya.<br><br>4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi<br>Teknologi di Jember sudah berkembang dengan baik dan terbilang maju. Dalam bidang transportasi Kota Jember memiliki Bandara yang melayani penerbangan kecil, dan dalam jarak yang tidak terlalu jauh seperti Jember-Madura, dan juga Jember-Surabaya. Selain itu juga ada transportasi Online yang memadai sehingga Kota Jember dapat dikatakan maju, selain itu Kota Jember juga memiliki Angkutan Umum yang pada tahun 2022 tarifnya digratiskan untuk masyarakat umum.&nbsp;<br><br>5. Sistem Mata Pencaharian<br>Sebagian besar penduduk Jember bermata pencaharian sebagai Petani, Jember sendiri dikenal sebagai daerah penghasil tembakau utama di Indonesia. Di Kota Jember sendiri, banyak sekali pekerjaan yang bervariasi sepei Perikanan, Peternakan, Pendidikan maupun juga Industri. Banyaknya hasil tembakau mungkin saja terdapat Industri di Jember.<br><br>6. Sistem Religi<br>Masyarakat di Jember didominasi oleh masyarakat yang menganut agama Islam, selanjutnya diikuti oleh agama Kristen dan Katolik, dan diikuti oleh agama agama lain. Jember sendiri memiliki tempat ibadah untuk seluruh umat beragama yang ada.<br><br>7. Kesenian<br>Kota Jember sendiri sering disebut sebagai Kota Karnaval, karena banyaknya karnaval atau pawai yang diadakan di Jember sendiri, selain itu ada juga kesenian Tota'an Merpati yang merupakan sarana sharing bagi pecinta burung merpati, sekaligus juga biasanya merpati yang datang ke Tota'an merpati ini didandani dengan pita maupun pernak pernik lainnya, dan juga ada pula Tarian Lahbako yang bercerita tentang petani yang sedang menanam dan mengolah tembakau, adapula Larung Sesaji Papuma yang dilakukan untuk memperingati rasa bersyukurnya atas hasil alam yang melimpah, bumi maupun laut.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-21 16:15:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2525685354</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bulukerto, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2527318519</link>
         <description><![CDATA[<div>Khamdan Yuaffi<br>XI LM GEOGRAFI B<br><br>Suku Kutai : Kalimantan Timur&nbsp;<br><br>Unsur Kebudayaan Suku Kutai&nbsp;<br><br>&nbsp;1. Bahasa<br><br>Masyarakat Kutai yang terdiri dari banyak sub suku memiliki bahasa yang beragam. Beberapa bahasa sub suku yang sudah tidak dipergunakan lagi dan kemungkinan sudah punah adalah bahasa Umaa Wak, Umaa Palaa, Umaa Luhaat, Umaa Palog, Baang Kelo dan Umaa Sam. Bahasa-bahasa tersebut dulunya lazim digunakan oleh masyarakat Kutai di hulu maupun hilir mahakam. Disamping memiliki beberapa persamaan kosakata dengan bahasa Banjar, Bahasa Kutai juga memiliki persamaan kosakata dengan bahasa Dayak lainnya.<br><br>&nbsp;2. Sistem Pengetahuan<br><br>Ilmu pengobatan pada masyarakat tradisional. Obat dan pengobatan tradisional di kalangan rakyat Kutai Kertanegara sangat beragam. Berbagai macam obat dan pengobatan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu obat dan pengobatan tradisional terhadap sakit atau penyakit luar dan dalam. Selain obat dan pengobatan tradisional, masyarakat Kutai juga mengenal berbagai macam dukun dan ahli pengobatan tradisional. Berbagai macam dukun dan ahli pengobatan ini terbesar di seluruh wilayah Kutai Kertanegara pada khususnya dan Kalimantan Timur pada umumnya. Pada masyarakat modern saat ini sudah terdapat lembaga pendidikan yang memadai mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi seperti beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Mulawarman, Politeknik Negeri Samarinda.<br><br>&nbsp;3. Sistem Organisasi Sosial&nbsp;<br><br>Sistem kekerabatan masyarakat Kutai bersifat patrilineal yaitu garis keturunan ditarik ke pihak laki-laki. Di zaman dahulu, orang Kutai juga terbagi atas kelas-kelas sosial seperti bangsawan, rakyat, dan hamba sahaya. Sisa kaum bangsawan terlihat dari gelar yang mereka pakai seperti Kiamas, Mas, Aji, Raden, dan Pangeran Datu. Saat ini masyarakat Kutai sudah lebih terbuka dan melakukan penggolongan kehormatan berdasarkan tingkat pendidikan yang diperoleh seseorang dan kekayaannya, bukan lagi dari gelar bangsawan.<br><br>&nbsp;4. Sistem Peralatan Hidup Dan Teknologi<br><br>Suku Kutai memiliki peralatan hidup atau teknologi yang digunakan untuk menunjang berbagai kegiatan dalam kehidupan mereka. Sebut saja anyaman atau peralatan rumah tangga yang dihasilkan oleh tangan terampil dari perempuan maupun laki-laki Iban.<br>&nbsp;⁃ Tanggui<br>&nbsp;⁃ Capan<br>&nbsp;⁃ Takin senangkin<br>&nbsp;⁃ Capan&nbsp;<br>&nbsp;⁃ Kelepai<br>&nbsp;⁃ dll..<br><br>&nbsp;5. Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian<br><br>Penduduk asli di pedalaman dahulunya hidup berpindah- pindah (nomaden), hal ini disebabkan karena mata pencaharian utama mereka adalah berladang dengan berpindah-pindah serta berburu. Sedangkan penduduk yang tinggal di daerah pantai dan tepi sungai, selain hidup dengan bercocok tanam secara menetap juga ada yang hidup sebagai nelayan, pedagang dan pegawai atau karyawan di pemerintahan maupun swasta.<br><br>&nbsp;6. Sistem Religi<br><br>Saat ini masih ada&nbsp;Suku Kutai&nbsp;di Desa Kedang Ipil,&nbsp;Kutai Kartanegara&nbsp;yang menganut kepercayaan kaharingan, sama halnya dengan&nbsp;Suku Dayak.<br>Kaharingan adalah kepercayaan masyarakat Dayak yakni menyembah Ranying Hatalla Langit (Tuhan)yang telah menciptakan alam semesta. Penganut kaharingan juga mengenal upacara pembakaran mayat, seperti Ngaben dalam agama Hindu.<br>Kaharingan mempunyai tempat ibadah yang dinamakan&nbsp;Balai Basarah&nbsp;atau&nbsp;Balai Kaharingan. Kitab suci agama mereka adalah&nbsp;Panaturan&nbsp;dan buku-buku agama lain, seperti&nbsp;Talatah Basarah&nbsp;(Kumpulan Doa),&nbsp;Tawar&nbsp;(petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), dan sebagainya.<br><br>&nbsp;7. Kesenian&nbsp;<br><br>Suku Kutai mempunyai tari-tarian adat yang cukup banyak. Beberapa diantaranya adalah tari topeng, tarian dewa, tarian belian dan tarian jepen (tarian rakyat).&nbsp; Selain Tarian adat yang banyak, suku Kutai juga mempunyai lagu-lagu tradisional seperti halnya lagu Penembe, Temindu Pateh, Sumbu Langit, Badat, Perang Tanding, Rangga, Temenggung Berkuda, Kelana Kelijiq, Gunung Sari Anjala, Perbangsa, Gong Golong, dan masih banyak lagi.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-22 15:00:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2527318519</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jalan Raya Selecta, Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2531774493</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Aditya Alea Putra R<br>XI IPS 4 - 02</strong><br><br><mark>BANYUWANGI</mark>&nbsp;<br><br>1. Bahasa&nbsp;<br>Kabupaten Banyuwangi adalah kabupaten yang penduduknya menggunakan beberapa bahasa, yaitu bahasa Jawa baku, bahasa Madura, dialek Banyuwangi, dan sebagian kecil bahasa Bali.<br><br>2. Sistem pengetahuan<br>Dilihat dari pendidikan formal, sebagian besar orang Banyuwangi memiliki tingkat pendidikannya rendah. Namun demikian, saat ini partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan sudah menunjukkan peningkatan. Pada lima tahun terakhir ini sudah ada anak-anak Banyuwangi yang sekolah sampai tingkat SLTA.&nbsp;<br><br>3. Sistem Organisasi Sosial<br>Sistem organisassi sosial. Suku Osing berbeda dengan suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Suku Osing tidak mengenal kasta seperti halnya suku Bali. Pola kekerabatan di masyarakat suku Osing adalah bilateral yang lebih mengararah pada patrilineal. Sistem lembaga masyarakat suku Osing antara lain kepala desa, sekretaris desa, LMD, kaur pemerintahan, kaur kesra, kaur pembangunan, dan kaur keuangan.<br><br>4. Sistem Mata Pencaharian<br>Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten agraris dengan mata pencaharian utama penduduk berasal dari pertanian agroindustri. Untuk kegiatan pertanian, komoditi yang banyak dibudidayakan adalah tanaman pangan kopi.<br><br>5. Sistem Religi<br>kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Buddha seperti halnya Majapahit. Namun berkembangnya kerajaan Islam di Pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Osing. Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Osing juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan. Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan, seperti halnya masyarakat Bali. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M.<br><br>6. Kesenian<br>Kesenian suku Osing sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya Suku Bali. Kesenian utamanya antara lain Gandrung Banyuwangi, Patrol, Seblang, Angklung, Tari Barong, Kuntulan, Kendang Kempul, Janger, Jaranan, Jaran Kincak, Angklung Caruk dan Jedor.<br>Kesenian lain yang masih dipelihara adalah tembang dolanan, khususnya oleh kalangan anak usia sekolah. Contohnya adalah Jamuran dan Ojo Rame-Rame. Sesuai dengan sebutannya, tembang-tembang yang pada umumnya bersyair pendek ini digunakan mengiringi permainan anak-anak. Selain menambah keceriaan anak saat bermain berkelompok, tembang dolanan dapat berfungsi mengajarkan nilai-nilai positif sejak dini. Tembang Jamuran, misalnya, mengajarkan tentang gotong-royong dan Ojo Rame-Rame mengajarkan patriotisme.<br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-03-26 12:58:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/indhitmonasza/plys79vc9isvlsta/wish/2531774493</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
