<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Summary Webinar Kulturfest UI by Quido Triyaputra</title>
      <link>https://padlet.com/quidotriya/pfliiwbxgt8n0w8m</link>
      <description>Made with love</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2020-10-24 16:23:11 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-10-17 08:50:26 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f1e9-1f1ea.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Webinar 1</title>
         <author>quidotriya</author>
         <link>https://padlet.com/quidotriya/pfliiwbxgt8n0w8m/wish/858177382</link>
         <description><![CDATA[<div>Webinar pertama dilaksanakan pada Rabu, 14 Oktober 2020 dengan moderator kak Yohana Toruan. Dalam webinar pertama ini ada 2 pemateri. Ada Ibu Ied Veda Sitepu, seorang Staf Ahli Rektor Universitas Kristen Indonesia dan Kevin Jasutyn, seorang mahasiswa Master Universitas Stuttgart. Kedua pemateri ini akan membahas tema webinar “Perencanaan Karir dalam New Normal”. Yang pertama memberi materi adalah Ibu Ied.</div><div>Ibu Ied dalam webinar ini membawa judul materinya “Meneropong Peluang Kerja Lulusan Humaniora (Di era dan pasca pandemi covid-19)”. Sebelum membahas materi, moderator memancing Ibu Ied bahwa sekarang banyak pekerjaan yang dibatasi geraknya, begitupun magang. Ibu Ied kemudian membahas dan menghubungkannya dengan 5 pengantar materinya yang terdiri dari dampak pandemi, pekerjaan masa depan, masa depan lulusan prodi-prodi Humaniora khususnya studi Jerman, peluang dan tantangan dunia kerja dan persiapan dunia kerja.<br><br></div><div>            Pertama Ibu Ied membahas perubahan masif karena revolusi industri. Jadi revolusi industri sudah terjadi sebanyak empat kali secara berurut : Uap &amp; Air, Listrik, Komputer &amp; Robot,  dan zaman sekarang ada penggabungan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber. Yang mana revolusi ini membantu para pemuda untuk berperan aktif dalam perekonomian nasional.<br><br></div><div>            Ibu Ied juga menjelaskan dampak pandemi covid-19 terhadap pekerjaan/dunia kerja. Ibu Ied mengambil contoh kasus berdasarkan media luar seperti penurunan jam kerja akibat covid, ada juga penelitian yang memperkirakan bahwa 42 % PKH akan kehilangan pekerjaan tetap, pengangguran terbesar ada di anak muda, dan masih banyak lagi kasus lainnya. Khususnya saat ini ada beberapa sektor yang hilang contohnya restoran. Karena dirumah tercipta banyak koki-koki baru sehingga restoran diluar sana sepi, itupun kalau mau makan mereka akan order (makan ditempat). Selain itu ada juga laundry dan hotel yang kesepian. Nah, dibalik dampak ini ternyata muncul peluang baru seperti perkembangan yang pesar dari software engineers, web developers, hingga online security specialist, ada juga delivery commpany (Hermes) yang membuka lowongan baru sebanyak 10.500 karyawan. <br><br></div><div>            Buat saya statement Ibu Ied ini sangat keren bahwa pasca pandemi : gambaran kerja masih agak samar-samar. Mengapa demikian? Itu karena perspektif kerja berubah artinya syarat/ketentuan berganti mengikuti kondisi. Ada juga yang mengatakan banyak yang lebih memilih bekerja dari rumah, dan bergantung pada teknologi. Nah dari statement Ibu Ied ini muncul pertanyaan pentingkah pendidikan tinggi? Pertanyaan ini bisa kita kaitkan dengan mengapa perusahaan mempekerjakan lulusan perguruan tinggi? Itu karena pengetahuan/ide dari lulusan PT pasti banyak dan luas, lulusan PT memiliki keterampilan untuk berpikir logis kritis dan kreatif, mereka juga dapat beradaptasi dengan baik, dan memiliki keinginan besar. Namun hasil teropong Ibu Ied mengatakan bahwa terdapat komplain dari industri terhadap kinerja lulusan PT. Mereka mengatakan bahwa lulusan PT tidak menyiapkan lulusannya untuk kerja, lulusan PT memiliki gelar tapi pengalaman kerja tidak ada,  lulusan PT juga memilih-milih kerja, dll. Maka untuk sekarang ada beberapa skill yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa buat persiapannya jika menjadi lulusan PT nantinya. Skill yang dibutuhkan itu adalah kreatifitas, berpikir analisis dan kritis, aktif dan otak terbuka, komunikasi yang baik, kepemimpinan, skill teknologi, dan masih banyak lagi.<br><br></div><div>            Hal yang paling ditunggu yaitu jawaban bagaimana prospek lulusan Humaniora (prodi Jerman). Dari hasil teropong Ibu Ied ada kabar gembira. Lulusan prodi Humaniora sangat fleksibel. Ini didasarkan atas kategori prodinya yang non-professional dan memiliki banyak peluang kerja karena tidak dikungkung oleh ilmu dan keterampilan yang spesifik (bidang ilmu). Satu hal juga yang ditekankan Ibu Ied bahwa ilmu lulusan Humaniora bukan ilmu yang tidak jelas seperti tudingan orang-orang. <br><br></div><div>            Lanjut ke pemateri kedua, yaitu kak Kevin Jasutyn. Kak Kevin lebih membahas tentang karir dan cara bekerja di Jerman. Untuk yang pertama perencanaan karir. Ada 3 hal yang ditekankan oleh kak Kevin. Pertama temukan passionmu dengan bertanya pada diri sendiri apa yang kamu sukai untuk menunjang karir, apa yang sejauh ini membuat kamu nyaman. Setelah berbincang tentang passion, sekarang tanyakan apa bakat yang kamu miliki. Bakat ini merujuk kepada mata kuliah yang kalian sukai. Kak Kevin menambahkan dengan kata mutiara Alm. Bpk. B.J. Habibie kepada Najwa Shibab “fokus akan mata kuliah yang kita sukai akan membawa ke dunia kerja”. Misalnya kalian suka dengan matkul Fonologi, maka kalian cocok dengan penerjemah atau yang lainnya yang berhubungan dengan fonologi. Poin ketiga yaitu pastikan passionmu jika digabungkan dengan bakatmu akan menjadi reward. Reward yang dimaksud adalah kontribusi kamu kepada masyarakat. Misalnya passionmu adalah berbagi ilmu dan bakatmu di Kemahiran Bahasa Jerman dan kamu merasa cocok menjadi guru. Sekarang bagaimana dengan pekerjaanmu itu bisa berkontribusi dengan lingkunganmu. <br><br></div><div>            Selain membahas cara meniti karir sejak dini, kak Kevin juga membagikan cara kerja di Jerman. Ada 3 hal yang penting : job (portal perusahaan, advertisement, dan fair), dokumen (Motivation Letter, CV, Ijasah), dan kemampuan bahasa jerman (usahakan C1). Untuk motivation letter yang perlu ditekankan adalah cara penulisan (ejaan dan format), motivasi kalian, dan profil singkat kalian usahakan unik dan memuat segala prestasi dan pendidikan kalian karena itu bisa menjadi poin plus buat kalian. Sama seperti CV, tapi usahakan jangan melebih-lebihkan CV kalian. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/782495282/00c50378e0d425e55e35795763cff9c2/hihi.png" />
         <pubDate>2020-10-24 16:23:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/quidotriya/pfliiwbxgt8n0w8m/wish/858177382</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Webinar 2</title>
         <author>quidotriya</author>
         <link>https://padlet.com/quidotriya/pfliiwbxgt8n0w8m/wish/859410959</link>
         <description><![CDATA[<div>Webinar kedua ini dilaksanakan pada Jumat, 15 Oktober 2020 dengan moderator kak Annisa Aviciena. Dalam webinar ini ada 2 pemateri yaitu kak <mark>Fareza Aditya, </mark>mahasiswa Computer Enginering Science di Universitas Teknik Berlin sekaligus ketua PPI Berlin-Brandenburg dan kak Dendi Gumiwang Mirahadikusuma, mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Penerapan Darmstadt sekaligus pengurus PPI Frankfurt dan sekitarnya. Kedua pemateri akan membahas seputar tema webinar yaitu Menjadi lebih Produktif sebagai Dewasa Muda di Era Pandemi. Yang pertama memberi materi adalah kak Fareza.<br><br></div><div>            Kak Fareza lebih membahas tentang pandemi secara global : keadaan Jerman dan rips produktif new normal di Indonesia. Fareza : <em>“So erlebe ich die Corona-Krise in der Muddastadt” (saya mengalami pandemi corona di ibu kota, Berlin)</em>. Pembahasan pertama dia membahas tentang kronologi. Jadi pada tanggal 28 Januari kasus pertama mulai muncul di Jerman. Hingga pada 27 April angka yang terkena virus naik drastis sehingga pemerintah mulai memberlakukan peraturan seperti restoran tutup, fasilitas olahraga ditutup, orang tinggal dirumah, dll. Namun dari tanggal 27 Juni-21 Agustus (ulang tahunku) peraturan-peraturan yang diberlakukan pemerintah diringankan. Kak Fareza juga membagikan beberapa foto yang ia ambil tentang kondisi di Jerman. Nampak dari foto-foto itu bahwa orang-orang memakai masker ketika keluar. Kemudian ia membahas tentang new normal bagi pelajar. Dia menjelaskan bahwa new normal itu kebiasaan baru dimana sebuah keharusan memakai masker, cairan antiseptik, ada jarak ketika berbicara dengan orang lain, belajar online, pembayaran online, dll. Nah dari berbagai kebiasaan-kebiasaan baru tersebut kak Fareza memberi tips apa yang harus kita lakukan seperti mencari informasi yang benar kemudian jika kita sudah memastikan bahwa itu benar maka kita disarankan memberi tahu kepada yang lain, karantina mandiri, dan ikuti aturan. Terakhir, poin yang ingin dijelaskan kak Fareza adalah cara produktif di rumah aja.<br><br></div><div>            Pemateri kedua yaitu kak Dendi. Dia lebih membahas produktif dari perspektif seorang mahasiswa. Untuk yang pertama dia menampilkan foto boxing. Si yang menendang disimbolakan pandemi dan yang terkena tendangan adalah kampus dan organisasi. Yang mana dapat diartikan bahwa pandemi menggangu dunia perkampusan dan perorganisasian seorang mahasiswa yang mana biasanya tatap muka kini hanya tatap media. Selanjutnya, Kak Dendi menjelaskan dampak pandemi terhadap perkuliahan. Dia membagi antara dampak postif dan negatifnya. Untuk dampak negatifnya adalah dengan diam terlalu lama di rumah membuat kita lebih malas, dengan dirumah aja kita membuat kita rindu dengan teman-teman dan menumbuhkan motivasi yang lebih besar untuk selalu ikut kuliah daring sehingga bisa jadi motivasi mengikuti kuliah tatap muka berkurang. Untuk positifnya dengan kuliah online kita bisa mengulang pelajaran dosen dan membuat kita lebih rajin belajar karena kita kehilangan kegiatan (diluar). Selanjutnya dia menjelaskan produktifitas dari sudut pandang seorang mahasiswa. Sebelum masuk di inti materi ada dua pertanyaan dasar yang ditanyakan kak Dendi yaitu ‘apa yang akan diproduksi?’ ‘dan untuk siapa?’. Jawabannya ialah kita memproduksi produk, jasa, dan gagasan yang berguna bagi (siapa?) manusia (diri kita dan orang lain) serta alam. Jadi apakah produktif itu? <em>Produktif ialah pelaksanaan kegiatan yang hasilnya dapat berguna dan bermanfaat bagi diri kita dan orang lain serta alam. </em>Ada banyak kegiatan yang dapat kita lakukan. Kak Dendi kemudian membaginya dalam 2 konteks : 1) kegiatan-kegiatan yang membantu mencapai tujuan di awal. Misalnya tujuan kita adalah ingin memahami cara mentranskipkan bunyi bahasa, maka kegiatannya adalah membaca buku dari mata kuliah fonologi, atau kita ingin memahami Jerman di abad ke-18, maka kegiatan yang layak kita lakukan adalah membaca buku sejarah atau menonton di youtube. Selain kegiatan itu ada juga kegiatan yang menunjang misalnya istirahat, refreshing, dsb. Nah sekarang kak Dendi akan membagikan tips yang ia lakukan untuk bisa produktif. Yang pertama adalah menentukan tujuan. Jadi hal apa yang akan kamu lakukan harus ada tujuannya. Sekecil atau seberat apapun tujuan itu harus kita penuhi. Yang kedua adalah membuat target-target kecil dan tentukan prioritas. Kak Dendi mencontohkan dengan papn tulis kecilnya yang ia gunakan membuat target dan prioritas. Yang ketiga mencari cara efektif untuk bangun setiap hari. Berhubung sekarang zamannya rebahan karena hanya di rumah, maka kak Dendi menyarankan agar kita bangun lebih awal dengan cara kita sendiri dan yang terakhir buat suasana kamar senyaman mungkin.<br>Untuk pembahasan terakhir kak Dendi membahas QLC (Quarter Life Crisis) yang mana bisa menggangu semangat produktifitas kita. Dan kali ini kak Dendi membagikan tips yang ia lakukan untuk menghadapi QLC. <br><br></div><ol><li>Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kak Dendi meluruskan bahwa yang perlu kamu bandingkan adalah diri kamu sendiri. Bandingkan diri kamu dengan yang kemarin, 2 hari lalu, dengan yang hari ini.</li><li>Harus peka namun jangan sampai tertekan</li><li>Gagal itu wajar. Kak Dendi yang menambahkan yang tidak wajar ialah saat kita gagal namun tidak bangkit wkwkwkw.<br><br></li></ol><div>Untuk terakhir kak Dendi menyarankan agar tetap sehat di era new normal. Pertama stay at home dan jaga kesehatan diri sendiri dan orang lain. Kemudian tetap mensyukuri pagi yang diberikan oleh Tuhan, dan pakai, kenakan, gunakan masker selalu.  <br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/782495282/45180af5a66a05a96d7f89c00317ede8/hjhjk.png" />
         <pubDate>2020-10-25 14:24:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/quidotriya/pfliiwbxgt8n0w8m/wish/859410959</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
