<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Posttest Keterampilan Menulis Esai by restiana dwi</title>
      <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-10-31 05:05:01 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-03-06 09:12:20 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Rianni Azka Mazia</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199509856</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><em>Dari mana bahasa modern berasal?</em></strong></p><p><br/></p><p>Sejak munculnya peradaban manusia, bahasa menjadi alat esensial dalam kehidupan sehari-hari. Sejak lahirnya peradaban manusia dari beribu-ribu tahun yang lalu hingga era peradaban modern sekarang, bahasa terus melewati perubahan dan perkembangan. Seperti halnya perilaku atau kegiatan fisik manusia, bahasa juga beradaptasi sesuai dengan zamannya.</p><p><br/></p><p>Ada beberapa teori-teori mengenai perkembangan dan lahirnya bahasa dari ahli-ahli linguistik. Psikolog asal amerika B.F Skinner mengembangkan sebuah teori yang disebut dengan <em>behavioral theory</em> yang menyatakan bahwa anak-anak mempelajari bahasa mereka melalui kondisi dan bantuan lingkungan mereka secara langsung. Ada juga psikolog dari Swiss Jean Piaget yang merumuskan <em>cognitive theory</em> yang mencetuskan bahwa bahasa merupakan hasil dari perkembangan intelek anak secara keseluruhan.</p><p><br/></p><p>Selain itu, ada juga teori-teori mengenai perkembangan bahasa yang diberi nama-nama yang menarik. Pertama, ada sebuah teori yang dikenal sebagai <em>the bow-wow theory</em>, yang menyatakan bahwa bahasa lahir dari suara-suara yang ada di lingkungan alam atau yang kita kenal sebagai onomatopoeia. <em>The ding-dong theory</em> mendukung konsep onomatopoeia dengan mengatakan bahwa bahasa dan perkataan muncul dari suatu respons terhadap objek-objek yang ada di lingkungan untuk mengindikasi suatu kejadian. Selanjutnya ada <em>the la-la theory</em>, dicetus oleh Otto Jeperson dan menjelaskan bahwa bahasa berasal dari suara-suara yang berasosiasi dengan nyanyian, percintaan, dan kegembiraan. Sedangkan <em>the pooh-pooh theory</em> berpendapat bahwa bahasa muncul dari ekspresi reaksi spontan seperti kejutan hingga kesakitan. Terakhir ada <em>the yo-he-ho theory</em> yang mengatakan bahwa bahasa muncul dari seruan para pekerja buruh saat mereka melakukan suatu pekerjaan.</p><p><br/></p><p>Dari teori-teori ini dapat disimpulkan bahwa manusia zaman dahulu manusia mengembangkan bahasa dari mengamati kegiatan, pergerakan, dan bunyi-bunyi yang mereka dengar dan lakukan sehari-hari, seperti suara hewan, suara yang dihasilkan benda-benda, ekspresi manusia, dan lain-lain.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Dengan menggunakan metode perbandingan dan rekonstruksi bahasa, para ahli linguistik menyetujui bahwa bahasa-bahasa yang kita gunakan saat ini dapat ditelusuri kembali ke satu leluhur yang sama, yaitu Proto-Indo-European (PIE) yang berasal dari Eropa tengah sekitar 4500 hingga 2500 tahun sebelum masehi. PIE kemudian tersebar luas ke seluruh eropa, asia minor, hingga India melalui kegiatan migrasi dan perdagangan.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Bahasa berkembang ketika penutur-penutur bahasa yang sama berpisah dan tidak lagi berinteraksi dengan satu sama lain. Maka, penutur-penutur tersebut berkembang secara linguistik ke arah yang berbeda-beda. Sebagai contoh, bahasa inggris termasuk dalam kelompok bahasa Jermanik, jadi banyak sekali kosa kata dalam bahasa inggris tidak jauh dari kosa kata bahasa Jermanik. Bahasa Inggris merupakan hasil dari adaptasi berbagai bahasa terutama Jermanik, Latin, dan Prancis.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia muncul dari pedagang-pedagang melayu yang banyak mengandung kosa kata dari dari bahasa Belanda, Jawa, Arab, dan lain-lain. Kemudian perusahaan dagang VOC Belanda mulai mengadaptasi bahasa Melayu sebagai bahasa administratif mereka karena sering digunakan di area tersebut dalam perdagangan.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Lalu, menjelang kemerdekaan Indonesia, sebuah bahasa nasional diperlukan untuk mempersatu peradaban Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau yang beragam. Karena menggunakan bahasa Belanda yang merupakan bahasa dari penjajah bukan sebuah pilihan bagi penduduk Indonesi, maka ditetapkan bahasa nasional “bahasa Indonesia” yang juga melewati tahap-tahap simplifikasi dan standarisasi hingga membuahkan bahasa Indonesia modern yang kita gunakan hari ini.</p><p><br/></p><p>Perkembangan penulisan bahasa juga bervariasi sesuai dengan asal daerah-daerahnya. seperti simbol-simbol yang mengartikan suatu aksi, alfabet Yunani, hieroglif Mesir, dan masih banyak lagi. Simbol-simbol inilah yang merupakan asal mula alfabet modern yang telah dikembangkan yang kita gunakan hari ini.</p><p><br/></p><p>Sebagai kesimpulan, bahasa modern yang kita gunakan sekarang merupakan hasil rekonstruksi bahasa lama yang digunakan oleh nenek moyang kita. Bahasa seiring berjalannya waktu akan terus melalui proses simplifikasi dan standarisasi sesuai dengan zaman dan wilayahnya, namun tetap mengandung arti aslinya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:21:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199509856</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Safira Hazrati Zharfa.      DARI MEMBACA KE BERBICARA : PERAN LITERASI DALAM PENGUASAAN BAHASA DI KALANGAN PELAJAR</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199516388</link>
         <description><![CDATA[<p>Indonesia berada di era informasi yang identik dengan literasi. Era literasi erat kaitannya dengan kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi yang dituangkan secara lisan dan tertulis. Literasi adalah kemampuan&nbsp; dalam berbicara, menulis, membaca serta kemampuan dalam mengelola informasi dalam berbagai bentuk. Ini mencangkup tidak hanya tentang mengenali huruf dan kata, tetapi juga pemahaman tentang konteks, makna, dan tujuan teks. Literasi penting untuk meningkatkan kemampuan komunikasi seseorang, serta untuk mengakses dan menganalisis informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan literasi yang baik, individu dapat berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat, membuat keputusan yang informasional, dan mengembangkan pemikiran kritis.</p><p><br/></p><p>Selain itu, literasi juga mencakup keterampilan dalam menggunakan teknologi dan media. Dalam era digital saat ini, kemampuan untuk mengevaluasi informasi dari sumber online dan memahami cara menggunakan berbagai platform komunikasi menjadi semakin penting. Literasi tidak hanya membantu individu dalam konteks akademis, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk tantangan di dunia kerja dan kehidupan sosial. Dengan demikian, literasi yang holistik menjadi fondasi bagi individu untuk beradaptasi dan berkembang dalam masyarakat yang terus berubah.</p><p><br/></p><p>Keterampilan literasi memiliki pengaruh penting bagi keberhasilan generasi muda. Keterampilan literasi yang baik akan membantu generasi muda dalam memahami informasi baik lisan maupun tertulis. Dalam pendidikan&nbsp; penguasaan literasi pada pelajar&nbsp; sangat penting dalam mendukung kompetensi-kompetensi yang dimiliki. Kompetensi dapat saling mendukung apabila pelajar dapat menguasai literasi atau dapat diartikan generasi muda melek dan dapat memilah informasi yang dapat mendukung keberhasilan hidup mereka. Pelajar merupakan salah satu komponen yang perlu dilibatkan dalam pembangunan. Hal tersebut disebabkan pelajar adalah SDM yang potensial sehingga dapat mendukung keberhasilan pembangunan. Potensi pelajar yang dimaksud adalah mereka&nbsp; yang memiliki pengetahuan baru, inovatif, dan kreatif yang dapat digunakan untuk membangun bangsa. Sebagai penerus bangsa, pemuda harus mampu melakukan perannya dalam berbagai bidang, termasuk penguasaan bahasa.</p><p><br/></p><p>Literasi yang baik memungkinkan pelajar untuk memperluas kosakata mereka. Kosakata yang kaya mempermudah pelajar dalam mengekspresikan diri secara lebih efektif saat berbicara. Selain itu, pemahaman konteks dari bacaan juga memberikan pelajar wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana dan kapan menggunakan bahasa tertentu. Misalnya, mereka dapat memahami nuansa dalam bahasa formal dan informal, serta berbagai cara menyampaikan emosi atau pendapat.<strong> </strong>Aktivitas membaca juga dapat mendorong diskusi dan presentasi di kelas. Ketika pelajar mendiskusikan bacaan mereka, mereka belajar untuk menyampaikan ide dan pendapat mereka dengan jelas. Ini melatih mereka dalam berbicara di depan umum dan meningkatkan kepercayaan diri mereka. Melalui presentasi, pelajar juga berlatih merangkum informasi dan menyampaikan pesan dengan cara yang menarik dan terstruktur.</p><p><br/></p><p>Melalui literasi, individu belajar untuk memahami berbagai konteks komunikasi, baik formal maupun informal. Ini mencakup pemahaman tentang nada, gaya bahasa, dan cara berkomunikasi yang sesuai dengan audiens yang berbeda. Keterampilan ini sangat penting dalam berbicara, di mana kemampuan untuk menyesuaikan gaya komunikasi dapat membuat perbedaan dalam efektivitas penyampaian pesan.<strong> </strong>Literasi juga mendorong diskusi dan pertukaran ide di kalangan individu. Ketika pelajar membaca dan mendiskusikan bahan bacaan, mereka belajar untuk berbagi pandangan dan mendengarkan pendapat orang lain. Aktivitas ini memperkuat keterampilan berbicara, serta mengajarkan pentingnya kolaborasi dan dialog dalam komunikasi.</p><p><br/></p><p>Meskipun ada banyak manfaat, terdapat tantangan dalam meningkatkan literasi dan keterampilan berbicara. Tidak semua pelajar memiliki akses yang sama terhadap bahan bacaan yang berkualitas. Selain itu, beberapa pelajar mungkin merasa cemas atau kurang percaya diri saat berbicara di depan orang lain. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk menciptakan lingkungan yang mendukung di mana pelajar merasa nyaman untuk berbagi pendapat dan berlatih berbicara.</p><p><br/></p><p>Kesimpulan dari teks ini adalah bahwa literasi mencakup keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan penggunaan teknologi, sangat penting bagi individu, terutama generasi muda, dalam menghadapi tantangan di era informasi. Literasi tidak hanya meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemahaman konteks, tetapi juga mempersiapkan pelajar untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat dan dunia kerja. Meskipun ada tantangan seperti akses terbatas terhadap bahan bacaan dan rasa cemas saat berbicara, pendidik memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung, agar pelajar dapat mengembangkan keterampilan literasi dan berbicara secara efektif. Dengan literasi yang baik, pelajar dapat memperluas kosakata, meningkatkan kepercayaan diri, dan belajar berkolaborasi serta berdiskusi, yang semuanya esensial untuk keberhasilan mereka dalam kehidupan sehari-hari.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:25:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199516388</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Bilanta Lintang Aura</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199521034</link>
         <description><![CDATA[<p>Penggunaan Kata "Bjir" dalam Bahasa Gaul Remaja</p><p><br/></p><p>Pendahuluan</p><p><br/></p><p>Di era digital yang semakin berkembang, bahasa gaul menjadi salah satu bentuk komunikasi yang sangat populer di kalangan remaja. Istilah-istilah baru terus bermunculan, dan salah satunya adalah kata "bjir". Kata ini bukan hanya sekadar istilah, tetapi mencerminkan bagaimana remaja berinteraksi dan mengekspresikan emosi mereka, terutama di media sosial. Dalam konteks ini, "bjir" menjadi representasi dari ekspresi yang kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari di kalangan remaja.</p><p><br/></p><p>Isi</p><p><br/></p><p>Kata "bjir" berasal dari bahasa Jawa yang ditulis sebagai "bajir". Istilah ini awalnya digunakan untuk mengekspresikan rasa kaget, heran, atau terkejut. Namun, seiring perkembangan zaman, "bjir" telah berevolusi menjadi ungkapan yang lebih santai dan akrab, sehingga banyak diterima dalam percakapan di kalangan teman-teman sebaya. Sebagai contoh, saat seseorang melihat video yang mengesankan atau mengherankan, ia bisa berkata, "Bjir, lo lihat video itu?!" yang menunjukkan reaksi terkejut atau kagum.</p><p><br/></p><p>1. Konteks dan Penggunaan</p><p><br/></p><p>Penggunaan "bjir" dalam komunikasi sehari-hari tidak hanya memperlihatkan emosi, tetapi juga menciptakan suasana yang lebih ringan dan informal. Dalam situasi yang cepat dan dinamis seperti interaksi di media sosial, remaja cenderung mencari cara baru untuk mengekspresikan diri. Kata "bjir" menjadi salah satu pilihan karena mampu menyampaikan perasaan dengan cara yang ekspresif dan kreatif. Dalam lingkungan yang terhubung dengan baik, bahasa gaul seperti ini membentuk ikatan sosial di antara remaja, membuat mereka merasa lebih dekat satu sama lain.</p><p><br/></p><p>2. Dampak Sosial dan Budaya</p><p><br/></p><p>Penggunaan kata "bjir" mencerminkan perubahan dalam cara remaja berinteraksi. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media sosial, remaja berusaha untuk menyesuaikan cara mereka berkomunikasi. Istilah slang seperti "bjir" membantu mereka untuk mengekspresikan identitas dan perasaan mereka secara lebih bebas. Ini tidak hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari komunitas yang lebih besar, dengan bahasa yang khas.</p><p><br/></p><p>3. Kontroversi dan Batasan Penggunaan</p><p><br/></p><p>Meskipun kata "bjir" populer, tidak semua orang menerima penggunaannya dengan baik. Beberapa kalangan, terutama yang lebih tua, berpendapat bahwa penggunaan bahasa slang dalam komunikasi bisa dianggap tidak sopan atau kurang profesional. Dalam konteks formal, seperti di sekolah atau dalam lingkungan kerja, penggunaan kata ini bisa menimbulkan kesalahpahaman dan dianggap tidak pantas. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk memahami konteks di mana penggunaan "bjir" tepat dan di mana sebaiknya mereka menggunakan bahasa yang lebih formal.</p><p><br/></p><p>Penutup</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, penggunaan kata "bjir" dalam bahasa gaul remaja mencerminkan dinamika dan kreativitas komunikasi di era modern. Kata ini tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan rasa kaget atau heran, tetapi juga menciptakan kedekatan dan solidaritas di antara remaja. Dengan memahami dan menghargai perkembangan bahasa seperti "bjir", kita dapat lebih baik dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan generasi muda. Selain itu, hal ini juga membantu kita menyadari bagaimana bahasa dapat mencerminkan perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat. Memperhatikan dan menghormati cara berkomunikasi ini dapat mengurangi kesenjangan antara generasi dan memperkuat hubungan antargenerasi.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:28:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199521034</guid>
      </item>
      <item>
         <title>FIDELA AZZAHRA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199521750</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>PENGGUNAAN BAHASA BULUNGAN YANG DIGUNAKAN OLEH MASYARAKAT DI TANJUNG PALAS DAN SELOR</strong></p><p><br></p><p>Bahasa Bulungan merupakah bahasa yang termasuk dalam rumpunan bahasa Austronesia di Kalimantan Utara. Sedangkan menurut A. Cowie (1893), bahasa Bulungan adalah persebaran bahasa Sulu ke selatan yang mencapai Kerajaan Balongan. Yang dimaksud A. Cowie dengan Balongan ini menurut Cense dan Uhienbeck tidak lain adalah Bulungan yang sekarang ini.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Tanjung Palas adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia. Sedangkan Tanjung Selor adalah sebuah Kecamatan dan merupakan pusat pemerintahan atau ibukota dari Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia. Kecamatan ini terletak di Kabupaten Bulungan.&nbsp;</p><p><br/></p><p>bahasa Bulungan ini mempunyai kekerabatan dengan bahasa-baliasa lainnya yang berasal dan dialek Sulu, baik yang di Filipina maupun yang di Kalimantan wilayah&nbsp;</p><p>Malaysia. Menurut&nbsp; A. Covie bahasa Bulungan adalah perkembangan dialek tersendiri dari bahasa Sulu yang paling selatan. Meskipun perkembangan dialek sebagai mana yang dikemukakan itu mungkin saja terjadi, tetapi tidaklah tertutup&nbsp;</p><p>kemungkinan lain, yaitu bahasa Bulungan terjadi dari creole atau percampuran beberapa bahasa dengan inti yang berasal dari bahasa atau dialek Melayu, yang karena kedudukannya pada pusat kerajaan Bulungan, berkembang menjadi bahasa yang bersifat lingua franca bagi seluruh Kerajaan Bulungan pada masa lampau.</p><p><br/></p><p>Bahasa Bulungan yang ada sekarang tidak lain daripada sisa perkembangan bahasa masa lampau yang kemudian menjadi mati bagi perkembangan bahasa Bulungan selanjutnya. Dalam kenyataan, terutama pada masa lampau dan juga masih terjadi pada masa kini, tidak sedikit penduduk yang bukan penutur asli bahasa Bulungan yang dapat berbahasa Bulungan. Namun sebaliknya, sedikit sekali orang Bulungan yang dapat berbahasa daerah lain, misalnya Tidung, Kayan, dan Kenyah meskipun bahasa-bahasa itu terdapat di wilayah Kabupaten Bulungan. Sedangkan pada masa kini bahasa Bulungan adalah bahasa yang terbanyak digunakan di kecamatan Tanjung Palas, bekas pusat Kerajaan Bulurgan dan di Kecamatan terdapat kota Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan.</p><p><br/></p><p>Menurunnya perkembangan bahasa dan budaya Bulungan ini mencapai titik terendah ketika pada sekitar tahun 1965 istana dan rumah adat sebagai sisa atau peninggalan kejayaan Kerajaan Bulungan dihancurkan oleh tangan jahil setempat pada waktu itu. Selain harta benda kerajaan, sebagian besar bangsawan pun lenyap pula tanpa diketahui tempat kuburannya. Kini orang Bulungan, yang merupakan penutur asli bahasa Bulungan mulai bangun kembali dan mulai sadar akan kedudukan dan harga dirinya sebagai salah satu suku bangsa di dalam negara merdeka.</p><p><br/></p><p>Dengan perkembangan yang terus berlanjut jadi banyak bahasa daerah yang dilupakan seperti, bahasa bulungan ini. Banyak penelitian yang tidak meneliti struktur khusus bahasa bulungan, Sehingga di masa kini susah sekali untuk mencari informasi tentang bahasa bulungan. Maka bahasa Bulungan itu penting sekali dipelajari dalam rangka pembangunan dan pembinaan bahasa-bahasa di Indonesia sesuai dengan politik bahasa nasional. Apabila dipelajari balk-balk diperkirakan akan besar sumbangannya bagi perkembangan ilmu perbandingan bahasa di Indonesia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:28:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199521750</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Yumi Adilah Idris</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199532408</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Fenomena Bahasa Gaul di Kalangan Remaja Masa Kini</strong></p><p><br></p><p>Bahasa gaul, atau yang sering disebut “slang,” adalah gaya bahasa yang berkembang pesat di kalangan remaja saat ini. Bahasa ini merupakan hasil dari berbagai modifikasi, singkatan, dan pelesetan dari bahasa Indonesia, bahasa asing, serta dialek-dialek lokal. Karena merupakan campuran yang dinamis, bahasa gaul tidak memiliki struktur yang pasti, melainkan berubah sesuai tren dan perkembangan sosial. Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap globalisasi dan arus informasi yang semakin cepat, terutama melalui media sosial dan platform digital. Kemudahan dalam mengakses informasi mempercepat penyebaran kata-kata gaul, yang pada akhirnya memberikan pengaruh besar dalam kehidupan remaja.</p><p><br></p><p><br></p><p>Majunya globalisasi membuat remaja semakin mudah terpapar pada berbagai informasi dari luar, baik dari televisi, radio, internet, maupun interaksi sosial sehari-hari. Kondisi ini membuat banyak istilah asing masuk ke dalam percakapan sehari-hari dan diadaptasi menjadi bahasa gaul. Perubahan ini memiliki dampak positif dan negatif bagi kehidupan remaja. Di satu sisi, bahasa gaul bisa membantu remaja lebih mudah bergaul, memperluas pertemanan, dan menciptakan ikatan sosial yang kuat dengan sesama remaja. Namun, di sisi lain, hal ini juga menimbulkan beberapa tantangan, seperti risiko penggunaan bahasa yang tidak sopan atau tidak sesuai dalam situasi formal.</p><p><br></p><p>Remaja sering menganggap bahasa gaul sebagai simbol identitas dan gaya hidup. Banyak yang merasa bahwa menggunakan bahasa gaul adalah sesuatu yang “keren” dan modern, sehingga mereka terdorong untuk mengikuti tren ini agar tidak dianggap ketinggalan zaman atau “cupu.” Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa gaul bukan hanya sekadar cara berkomunikasi, tetapi juga sarana bagi remaja untuk mengekspresikan diri dan merasa diterima dalam kelompok sosial mereka. Kata-kata gaul yang awalnya hanya digunakan oleh segelintir orang bisa dengan cepat menyebar karena diulang-ulang dalam berbagai kesempatan, terutama di media sosial.</p><p><br></p><p>Namun, perlu diingat bahwa bahasa gaul dapat memberikan dampak negatif, terutama dalam hal kemampuan remaja untuk berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Banyak kata dan kalimat dalam bahasa gaul yang sebenarnya tidak sesuai dengan tata bahasa Indonesia. Akibatnya, remaja bisa menjadi terbiasa dengan bahasa yang kurang sopan atau tidak baku, bahkan saat berbicara dengan orang tua atau dalam situasi formal. Misalnya, penggunaan bahasa gaul ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua bisa dianggap tidak sopan dan kurang menghargai lawan bicara. Jika tidak dibatasi, penggunaan bahasa gaul yang berlebihan juga dapat mengurangi kemampuan remaja untuk berkomunikasi secara efektif dalam lingkungan profesional atau akademis di masa depan.</p><p><br></p><p>Dalam menghadapi fenomena ini, peran orang tua menjadi sangat penting. Orang tua perlu mengawasi dan memberikan pemahaman kepada anak-anak mereka tentang pentingnya berbicara dengan bahasa yang baik dan sopan. Orang tua bisa menjelaskan kapan sebaiknya bahasa gaul digunakan dan kapan sebaiknya remaja menggunakan bahasa yang lebih formal. Dengan bimbingan yang tepat, remaja dapat belajar memilah kata yang sesuai dalam setiap situasi, sehingga mereka tetap bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan etika berkomunikasi.</p><p><br></p><p>Bahasa gaul di kalangan remaja adalah cerminan dari perubahan sosial yang terjadi di era globalisasi. Bahasa ini memberikan manfaat dalam hal mempererat hubungan sosial antar remaja dan menjadi media ekspresi diri yang kuat. Namun, di sisi lain, bahasa gaul juga memiliki dampak negatif yang perlu diperhatikan, terutama jika penggunaannya berlebihan atau tidak pada tempatnya. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk memiliki kesadaran tentang kapan bahasa gaul pantas digunakan, serta menghargai tata bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam situasi tertentu. Orang tua dan pendidik juga memiliki peran penting dalam membimbing remaja agar tetap dapat menyeimbangkan antara mengikuti tren bahasa dan mempertahankan etika berbahasa yang sopan dan sesuai.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:35:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199532408</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Keneisha Zephania Sihaloho XII-12</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199536611</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Kenapa Aksen Tertentu Dapat Dianggap Menarik</strong></p><p><br/></p><p><strong>Definisi</strong></p><p>Aksen adalah salah satu ciri khas yang membedakan cara bicara seseorang, mencerminkan latar belakang budaya, geografis, dan sosial. Ketika seseorang mendengar aksen yang berbeda, reaksi mereka bisa bervariasi, mulai dari ketertarikan hingga ketidaknyamanan. Beberapa aksen bahkan dianggap lebih menarik daripada yang lain. Kenapa hal ini bisa terjadi? Dalam essay ini, kita akan mengeksplorasi beberapa alasan mengapa aksen tertentu bisa dianggap menarik oleh orang-orang.</p><p><br/></p><p><strong>Keterkaitan Budaya dan Identitas</strong></p><p>Aksen seringkali menjadi jendela ke dalam budaya tertentu. Misalnya, aksen British atau Prancis sering dianggap menarik karena mereka dikaitkan dengan kesan intelektual dan romantis. Ketika seseorang mendengar aksen ini, mereka mungkin membayangkan gaya hidup yang glamour, keanggunan, atau tradisi yang kaya. Keterikatan ini menjadikan aksen bukan hanya sekadar cara berbicara, tetapi juga simbol dari identitas yang lebih besar.</p><p><br/></p><p> <strong>Faktor Sosial dan Media</strong></p><p>Media memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi kita terhadap aksen. Karakter-karakter dalam film atau serial TV sering kali dihidupkan dengan aksen tertentu yang memengaruhi cara kita memandang mereka. Misalnya, karakter dengan aksen Amerika Selatan sering diasosiasikan dengan semangat dan keceriaan. Ketika kita terpapar pada citra-citra positif ini, kita cenderung menginternalisasi pandangan bahwa aksen tersebut menarik.</p><p><br/></p><p> <strong>Asosiasi Emosional</strong></p><p>Aksen juga bisa membangkitkan emosi tertentu. Sebuah studi menunjukkan bahwa suara yang dianggap unik atau berbeda sering kali dapat menarik perhatian lebih, karena membuat pendengar merasa lebih terhubung. Misalnya, aksen yang lembut dan melodius dapat menciptakan kesan kehangatan dan kedekatan. Sebaliknya, aksen yang keras dan tegas bisa dianggap menarik karena menunjukkan kepercayaan diri. Asosiasi emosional ini menciptakan daya tarik yang lebih mendalam.</p><p><br/></p><p> <strong>Efek Keunikan</strong></p><p>Dalam masyarakat yang semakin homogen, keunikan menjadi hal yang dicari. Aksen yang berbeda dari yang biasa kita dengar dapat menjadi daya tarik tersendiri. Misalnya, seseorang dengan aksen yang langka mungkin akan mendapatkan perhatian lebih, hanya karena perbedaan itu sendiri. Keunikan ini menciptakan rasa ingin tahu dan ketertarikan, memicu interaksi sosial yang lebih dalam.</p><p><br/></p><p> <strong>Kesimpulan</strong></p><p>Aksen bukan hanya sekadar cara berbicara; ia adalah representasi dari identitas, budaya, dan pengalaman. Ketika kita mendengar aksen tertentu, kita tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga cerita yang melatarbelakangi cara berbicara itu. Ketertarikan terhadap aksen tertentu mencerminkan kompleksitas hubungan manusia, di mana faktor budaya, sosial, emosional, dan keunikan saling berinteraksi. Dengan memahami fenomena ini, kita dapat lebih menghargai keanekaragaman yang ada di sekitar kita dan memperkaya pengalaman</p><p> komunikasi kita.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:38:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199536611</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Samantha Laurentia Putri Elkana</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199539051</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><p><strong>Fenomena Bahasa Gaul: Antara Kreativitas dan Norma Bahasa</strong></p></blockquote><p><br/></p><p>Bahasa merupakan alat komunikasi yang dimana seiring berjalannya waktu berkembang sesuai dengan dinamika masyarakat. Salah satu fenomena yang menarik dalam perkembangan bahasa adalah munculnya bahasa gaul. Bahasa gaul umumnya digunakan oleh kelompok tertentu dan seringkali dianggap kreativitas linguistik. Namun, penggunaan bahasa gaul juga memicu pertanyaan tentang pelanggaran norma bahasa dan potensi degradasi bahasa baku.</p><p><br/></p><p>Bahasa gaul merupakan cerminan dari kreativitas linguistik. Anak muda, sebagai pengguna bahasa gaul yang dominan cenderung menciptakan kata-kata baru dengan memodifikasi kata-kata lama atau memberi makna baru pada kata yang sudah ada. Fenomena ini menunjukkan kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan perubahan sosial dan budaya, serta mengekspresikan diri dengan cara yang unik. Contohnya, penggunaan kata-kata seperti "nge-<em>hype</em>", "<em>alay</em>", "<em>kepo</em>", dan masih banyak lagi yang dimana istilah tersebut menunjukkan kreativitas dalam menciptakan istilah baru untuk menggambarkan fenomena sosial.</p><p><br/></p><p>Meskipun bahasa gaul menunjukkan kreativitas, penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap pelanggaran norma bahasa. Bahasa baku yang merupakan standar resmi, memiliki aturan tata bahasa, ejaan, dan penggunaan kata yang baku. Penggunaan bahasa gaul yang tidak terkontrol dapat menyebabkan penurunan kualitas bahasa baku dan mengaburkan batas antara bahasa formal dan informal.</p><p><br/></p><p>Untuk menjaga keseimbangan antara kreativitas bahasa gaul dan norma bahasa, peran pendidikan dan bahasa sangatlah penting. Pendidikan bahasa harus mampu menanamkan pemahaman tentang bahasa baku dan pentingnya menjaga kualitas bahasa. Di sisi lain, masyarakat juga harus memiliki kesadaran untuk menggunakan bahasa gaul secara bijak, tanpa mengabaikan penggunaan norma bahasa baku.</p><p><br/></p><p>Fenomena bahasa gaul merupakan bukti dinamika bahasa yang terus berkembang. Di satu sisi, bahasa gaul menunjukkan kreativitas linguistik dan kemampuan beradaptasi masyarakat. Di sisi lain, penggunaan bahasa gaul juga memicu pertanyaan tentang pelanggaran norma bahasa dan potensi degradasi bahasa baku. Untuk menjaga keseimbangan, dibutuhkan peran pendidikan dan kesadaran bahasa agar bahasa gaul dapat menjadi bagian dari kekayaan bahasa</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:39:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199539051</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ahmad Raihan Putradena XII-12</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199539750</link>
         <description><![CDATA[<p>Bahasa Indonesia sebagai Jembatan Komunikasi Antarbudaya di Indonesia</p><p><br></p><p>Indonesia yang kaya akan keberagaman suku, bahasa, dan budaya memerlukan bahasa pemersatu yang dapat menjadi jembatan komunikasi antar budaya, yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.Kehadiran bahasa Indonesia telah menciptakan ikatan sosial yang kuat antar berbagai masyarakat Indonesia.</p><p> </p><p>Bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pemerintahan, hingga  bisnis. Penyebaran bahasa Indonesia  telah menciptakan ruang bersama bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk bertukar pikiran, informasi, dan pengalaman.</p><p> </p><p>Bahasa Indonesia tidak hanya sebagai alat komunikasi, namun juga berperan penting dalam melestarikan kebudayaan nasional.Melalui bahasa Indonesia, kita dapat menghadirkan budaya lokal yang beragam dan kaya kepada masyarakat luas.</p><p><br></p><p>   Karya sastra, seni pertunjukan, dan banyak bentuk ekspresi budaya lainnya dapat diakses oleh orang-orang dari berbagai latar belakang.Hal ini akan membantu Anda lebih memahami keanekaragaman budaya Indonesia.</p><p> </p><p>Bahasa Indonesia saat ini memegang peranan yang sangat penting di dunia.Kami menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan negara lain, khususnya Asia Tenggara. Kami memperkenalkan keindahan budaya dan sejarah Indonesia kepada dunia melalui bahasa Indonesia. Kesimpulannya, bahasa Indonesia  sangat berharga bagi kami. Bahasa Indonesia telah mempersatukan kita, memperlancar interaksi dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia ke luar negeri.Oleh karena itu, kita harus terus berupaya untuk mengembangkan dan mengembangkan bahasa Indonesia agar tetap relevan di masa depan.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:40:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199539750</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Elvaretta</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199542552</link>
         <description><![CDATA[<p>PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP BAHASA INDONESIA MERUPAKAN PELUANG ATAU ANCAMAN?</p><p><br></p><p>Globalisasi telah menjadi fenomena yang tak terhindarkan di era modern ini, mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk bahasa. Di Indonesia, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menghadapi tantangan dan peluang akibat arus global yang semakin kuat. Dalam esai ini, akan dibahas bagaimana globalisasi memberikan dampak ganda terhadap bahasa Indonesia, baik sebagai ancaman maupun peluang untuk pengembangan bahasa dan budaya. Meskipun globalisasi membawa resiko dominasi bahasa asing yang dapat mengikis penggunaan bahasa Indonesia, pada saat yang sama, globalisasi juga membuka peluang bagi pengembangan dan promosi bahasa Indonesia di tingkat internasional.</p><p><br></p><p>Dalam konteks globalisasi, interaksi antarbudaya dan pertukaran informasi menjadi semakin intens. Bahasa berperan sebagai alat komunikasi utama dalam proses ini, dan di Indonesia, bahasa Indonesia berfungsi sebagai simbol identitas nasional. Namun, dengan meningkatnya penggunaan bahasa Inggris dalam berbagai sektor, muncul pertanyaan mengenai nasib bahasa Indonesia di tengah arus global yang kuat. Banyak faktor, seperti kemajuan teknologi dan budaya pop, turut berkontribusi pada perubahan ini, yang memerlukan perhatian serius dari berbagai kalangan. Esai ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh globalisasi terhadap bahasa Indonesia, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta mengeksplorasi peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan bahasa dan budaya Indonesia.&nbsp;</p><p><br></p><p>Salah satu ancaman utama yang dihadapi bahasa Indonesia akibat globalisasi adalah dominasi bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Dalam berbagai aspek kehidupan, seperti bisnis, pendidikan, dan teknologi, banyak istilah dalam bahasa Inggris yang digunakan secara luas. Fenomena ini dapat mengikis penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Misalnya, banyak anak muda lebih memilih berkomunikasi dalam bahasa Inggris atau menggunakan istilah asing dalam percakapan sehari-hari, seperti "sigma," "skibidi," dan "mewing." Penggunaan istilah-istilah ini tidak hanya mengurangi penggunaan bahasa Indonesia yang baku, tetapi juga dapat mengaburkan makna asli dari komunikasi.</p><p><br></p><p>Namun, di sisi lain, globalisasi juga membawa peluang bagi pengembangan bahasa Indonesia. Dengan meningkatnya interaksi internasional, bahasa Indonesia mulai dikenal di berbagai negara. Banyak institusi pendidikan di luar negeri menawarkan program studi bahasa dan sastra Indonesia, yang tidak hanya meningkatkan citra bahasa Indonesia di mata dunia, tetapi juga memfasilitasi pertukaran budaya yang lebih baik. Melalui promosi bahasa Indonesia, masyarakat dunia dapat lebih menghargai keberagaman budaya Indonesia. Misalnya, festival budaya Indonesia yang diadakan di luar negeri sering kali menarik perhatian masyarakat internasional, yang menunjukkan ketertarikan mereka untuk belajar bahasa Indonesia.</p><p><br></p><p>Selain itu, media sosial dan platform digital turut berkontribusi dalam perkembangan bahasa Indonesia. Globalisasi teknologi informasi memungkinkan penggunaan bahasa Indonesia dalam konteks yang lebih luas, mulai dari blog hingga konten video. Generasi muda dapat berinovasi dengan menciptakan istilah baru atau mengadaptasi bahasa gaul yang menggabungkan unsur lokal dan global, menciptakan kekayaan bahasa yang dinamis dan responsif terhadap perubahan zaman. Misalnya, penggunaan istilah-istilah baru dalam meme atau video TikTok menunjukkan bagaimana bahasa Indonesia dapat berevolusi sambil tetap mempertahankan identitasnya. Dengan memahami kedua sisi pengaruh globalisasi ini, penting bagi kita untuk melihat bagaimana bahasa Indonesia dapat bertahan dan berkembang di tengah tantangan dan peluang yang ada.</p><p><br></p><p>Sebagai rekapitulasi, bahasa Indonesia berada di persimpangan antara ancaman dan peluang. Meskipun ada resiko erosi penggunaan bahasa akibat dominasi bahasa asing, globalisasi juga membuka jalan bagi pengembangan dan pengenalan bahasa Indonesia di kancah internasional. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk melestarikan bahasa Indonesia sambil memanfaatkan peluang yang ada untuk meningkatkan kualitas dan statusnya.</p><p><br></p><p>Dari pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa meskipun bahasa Indonesia menghadapi tantangan yang nyata akibat pengaruh globalisasi, ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat posisi bahasa ini. Dengan pendekatan yang seimbang, bahasa Indonesia dapat terus berkembang sebagai bahasa yang kuat di tengah arus global yang terus berubah. Penting bagi kita semua untuk menjaga dan mempromosikan bahasa Indonesia, tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol identitas dan budaya bangsa di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:41:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199542552</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Angelica Amadeo Stevanie XII-12</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199543618</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>PENGARUH BAHASA SLANG/GAUL di KALANGAN GENERASI Z</strong></p><p><br></p><p>Bahasa slang atau bahasa gaul telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari Generasi Z atau yang biasa disebut dengan Gen Z. Dalam era digital ini, bahasa slang berkembang pesat karena dipengaruhi oleh internet, media sosial, dan budaya populer. Penggunaan bahasa slang di kalangan Gen Z bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga mencerminkan cara mereka membentuk budaya dan gaya hidup.  </p><p><br></p><p>Media sosial berperan besar dalam penyebaran bahasa slang di kalangan Gen Z. Platform seperti TikTok, dan instagram telah menciptakan ruang bagi mereka untuk menciptakan kata-kata baru dan membuatnya viral dalam waktu singkat. Contoh kata-kata populer seperti “sigma” (kata yang berarti pemimpin yang dominan, penyendiri, keren, dan populer) atau “fyp” (for your page) digunakan dalam berbagai konteks untuk menunjukkan keterhubungan dengan tren digital. Peran media sosial tidak hanya menyebarluaskan, tetapi juga mendorong inovasi bahasa dengan memperkenalkan modifikasi atau penggabungan bahasa asing dan bahasa lokal.</p><p><br></p><p>Penggunaan bahasa gaul dapat memperkuat identitas kelompok dan menciptakan rasa kebersamaan di antara Gen Z. Bahasa slang memberikan mereka cara untuk merasa lebih dekat dengan teman sebaya dan membedakan diri dari generasi sebelumnya, seperti milenial atau baby boomers. Kata-kata gaul ini sering kali digunakan dalam obrolan untuk menciptakan komunikasi yang lebih santai dan informal, sehingga memperkuat hubungan sosial.  </p><p><br></p><p>Namun, penggunaan bahasa slang yang berlebihan dapat memunculkan beberapa tantangan. Saking cepatnya tren berubah, beberapa kata atau frasa bisa menjadi usang dalam waktu singkat. Selain itu, karena banyak kata-kata gaul bersifat informal, pengguna bisa kesulitan menyesuaikan diri saat harus berkomunikasi dalam situasi formal atau profesional. Bahasa slang juga dapat disalahgunakan, karena beberapa istilah memiliki makna ambigu atau konotasi negatif, penggunaannya yang tidak tepat bisa menimbulkan salah paham. Misalnya, penggunaan istilah gaul dengan makna tertentu di wilayah tertentu bisa diartikan berbeda di tempat lain, terutama di lingkungan yang memiliki latar belakang budaya berbeda.</p><p><br></p><p>Secara keseluruhan, bahasa slang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan Gen Z, baik dari segi sosial maupun budaya. Meskipun terdapat tantangan dalam penggunaannya, seperti berkurangnya kompetensi formal, bahasa gaul tetap menjadi sarana bagi Gen Z untuk mengekspresikan diri, memperkuat hubungan, dan mengikuti tren.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:42:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199543618</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Dimas Fitra</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199545210</link>
         <description><![CDATA[<p>MASUKNYA KATA “MEWING” DI INDONESIA </p><p>   Mewing atau yang lebih dikenal oleh gen z dan gen Alpha yaitu tulang rahang yang dikarenakan jika kita menyebut mewing lebih sering sambil menunjuk dan mengelus tulang rahang kita yaitu sebuah tekhnik yang bertujuan memperbaiki struktur lidah di dalam mulut, istilah mewing tersebut diambil dari nama Mike dan John Mew, dua dokter gigi ortodontis dari inggris.</p><p>  Gen Z dan Gen Alpha menganggap mewing </p><p>yaitu sebuah tren populer di kalangan mereka karena banyaknya persepsi yang telah mereka buat. Hal ini dapat menjadi dampak negatik untuk gen z dan gen alpha karena terlalu gampang terpengaruh dengan tren yang berdatangan ke kalangan mereka.</p><p>  Mewing sendiri dapat membawa dampak positif bagi gen z dan gen alpha karna seperti yang kita ketahui dan kita alami sekarang para generasi tersebut sangat mengedepankan penampilan atau ibaratnya “penampilan adalah segalanya” apalagi jika berkaitan dengan fisik, seperti yang sudah dijelaskan diatas mewing berarti memperbaiki struktur lidah dan mulut yang dimana berarti berdampak positif untuk penampilan.</p><p>  Faktor yang mendorong masuknya mewing di indonesia pastinya adalah faktor teknologi karena seperti yang banyak kita ketahui mewing sendiri masuk lewat media sosial yang disebarkan oleh orang luar negeri dan menjadi tren di indonesia. Media sosial menjadi faktor utama karena gen z dan gen alpha yaitu generasi yang mengunggulkan teknologi.</p><p>  Namun, pandangan generasi sebelumnya terhadap mewing sangat bermacam macam dan lebih cenderung ke arah konservatif atau mempertahankan tradisi yang lama. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi yang masuk untuk generasi lama.</p><p> Penting untuk melihat mewing secara kritis. Hingga saat ini, belum ada cukup bukti yang kuat untuk mendukung semua klaim yang terkait dengan teknik ini. Studi yang ada masih terbatas dan seringkali memiliki teori yang berbeda-beda. Oleh karena itu, sulit untuk menarik kesimpulan yang definitif mengenai efektivitas mewing. Salah satu kekhawatiran utama terkait mewing adalah potensi efek samping yang belum diketahui.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:43:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199545210</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Fabian Azizy Bachtiar </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199546117</link>
         <description><![CDATA[<p>Pentingnya Pelestarian Bahasa Daerah di Era Globalisasi</p><p><br/></p><p>Bahasa, sebagai identitas sebuah bangsa, memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Di era globalisasi seperti sekarang, bahasa asing semakin mendominasi, mengancam keberlangsungan bahasa daerah. Padahal, bahasa daerah menyimpan kekayaan budaya dan pengetahuan yang tak ternilai. Oleh karena itu, pelestarian bahasa daerah menjadi sebuah keharusan. Esai ini bertujuan untuk menyadarkan kita akan pentingnya menjaga kelestarian bahasa daerah di tengah arus globalisasi.</p><p><br/></p><p>Bahasa daerah merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai luhur, kearifan lokal, dan sejarah suatu masyarakat. Hilangnya bahasa daerah berarti hilangnya pula identitas dan kekayaan budaya suatu bangsa. Selain itu, bahasa daerah juga berfungsi sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat dalam lingkup yang lebih kecil. Dengan hilangnya bahasa daerah, interaksi sosial dan keakraban antar anggota masyarakat akan terganggu.</p><p><br/></p><p>Upaya pelestarian bahasa daerah dapat dilakukan melalui berbagai cara. Pertama, pemerintah dapat berperan aktif dalam menyusun kebijakan yang mendukung pelestarian bahasa daerah, misalnya dengan memasukkan muatan lokal dalam kurikulum pendidikan. Kedua, masyarakat juga perlu berperan aktif dalam melestarikan bahasa daerah, misalnya dengan menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anak, atau membuat program-program yang bertujuan untuk mempromosikan bahasa daerah.</p><p><br/></p><p>Pelestarian bahasa daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan masyarakat, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai individu. Dengan menggunakan bahasa daerah, kita turut serta melestarikan kekayaan budaya bangsa. Selain itu, kita juga dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia dengan memasukkan unsur-unsur bahasa daerah.</p><p><br/></p><p>Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa pelestarian bahasa daerah merupakan upaya untuk menjaga identitas dan kekayaan budaya bangsa. Dengan menjaga kelestarian bahasa daerah, kita turut serta melestarikan warisan nenek moyang untuk generasi mendatang. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama berkomitmen untuk melestarikan bahasa daerah agar tidak punah ditel</p><p>an zaman.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:44:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199546117</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ayla Izzaty</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199547366</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><strong>PENGGUNAAN BAHASA ASING DI KALANGAN GEN-Z</strong></p><p><br/></p><p>Generasi Z (Gen-Z), yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, dikenal sebagai generasi yang sangat terhubung dengan teknologi dan internet. Teknologi telah mengubah cara mereka berkomunikasi, mengakses informasi, dan berinteraksi satu sama lain. Salah satu fenomena menarik di kalangan Gen-Z adalah penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, dalam komunikasi sehari-hari. Pengaruh media sosial, game online, musik, film, dan pendidikan global membuat bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Gen-Z. </p><p><br/></p><p>Teknologi dan media sosial termasuk salah satu faktor utama yang menyebabkan penggunaan bahasa asing di kalangan Gen-Z adalah akses tak terbatas terhadap internet dan media sosial. Platform seperti Instagram, Twitter, TikTok, dan YouTube dipenuhi dengan konten internasional yang sebagian besar menggunakan bahasa Inggris. Dengan interaksi lintas negara yang semakin mudah, Gen-Z cenderung menggunakan bahasa asing, khususnya dalam istilah-istilah yang terkait dengan teknologi dan budaya pop global musik, film, dan serial televisi dari negara-negara berbahasa Inggris memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan berbahasa Gen-Z. Fenomena K-pop, meskipun berasal dari Korea, sering menggunakan lirik bahasa Inggris untuk menjangkau audiens internasional.</p><p><br/></p><p>Selain itu, game online seperti Fortnite, Minecraft, dan PUBG juga mendukung komunikasi global dalam bahasa Inggris. Hal ini mendorong Gen-Z untuk menguasai dan menggunakan bahasa asing dalam interaksi sehari-hari. Adanya pendidikan dan keterbukaan terhadap dunia global sistem pendidikan yang semakin menekankan penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, juga berperan dalam meningkatkan kemampuan berbahasa asing di kalangan Gen-Z. Globalisasi dan tuntutan akan kompetensi internasional membuat bahasa asing menjadi kunci untuk mengakses kesempatan karir dan pendidikan yang lebih luas.</p><p><br/></p><p>Erosi bahasa dan identitas lokal penggunaan bahasa asing yang semakin meluas di kalangan Gen-Z dapat menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya erosi bahasa lokal. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional, menghadapi tantangan ketika bahasa asing, khususnya Inggris, semakin sering digunakan dalam berbagai konteks. Campuran bahasa, atau yang sering disebut dengan istilah "bahasa gaul" atau "bahasa campur," semakin lazim di media sosial dan percakapan sehari-hari, yang berpotensi mereduksi penggunaan bahasa Indonesia secara formal.</p><p><br/></p><p>Adaptasi dan Inovasi Bahasa Lokal Meskipun ada kekhawatiran tentang erosi bahasa, penggunaan bahasa asing di kalangan Gen-Z juga dapat dianggap sebagai bentuk adaptasi dan inovasi. Bahasa, sebagai entitas yang dinamis, akan selalu berkembang sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Penggunaan kata-kata atau frasa asing dalam percakapan sehari-hari dapat dianggap sebagai cara baru untuk mengekspresikan diri dan memperkaya kosakata bahasa lokal.</p><p><br/></p><p>Bilingualisme dan kemampuan multibahasa penggunaan bahasa asing di kalangan Gen-Z memberikan peluang untuk membentuk generasi yang bilingual atau bahkan multibahasa. Kemampuan ini menjadi aset penting dalam menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif dan global. Dengan menguasai lebih dari satu bahasa, Gen-Z dapat berkomunikasi dengan lebih luas, mengakses berbagai informasi, dan berpartisipasi dalam diskusi global.</p><p><br/></p><p>Di lain itu, tetap saja muncul tantangan dalam pelestarian bahasa lokal, tantangan besar yang harus dihadapi adalah menjaga pelestarian bahasa lokal. Pemerintah dan institusi pendidikan harus berperan aktif dalam memastikan bahwa bahasa lokal tetap diajarkan dan digunakan secara aktif dalam konteks formal maupun informal. Kolaborasi antara penggunaan bahasa asing dan bahasa lokal perlu dijaga agar identitas kebahasaan tetap terpelihara.</p><p><br/></p><p>Seperti yang sudah umum, penggunaan bahasa asing di kalangan Gen-Z adalah fenomena yang tak terhindarkan seiring dengan perkembangan teknologi, globalisasi, dan pengaruh budaya pop. Meski di satu sisi hal ini membuka pintu bagi Gen-Z untuk berpartisipasi dalam percakapan global, di sisi lain, perlu ada keseimbangan agar bahasa lokal tetap terjaga dan tidak kehilangan relevansinya. Upaya bersama dari pemerintah, pendidik, dan masyarakat sangat diperlukan untuk memastikan bahwa penggunaan bahasa asing tidak mengikis kekayaan bahasa dan identitas nasional yang kita miliki.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:45:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199547366</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Afra Nayla Aisyah XII-12</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199549805</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><em>Rendahnya penggunaan bahasa baku di kalangan remaja</em></strong></p><p><br/></p><p>Bahasa baku adalah bahasa yang dianggap standar dan resmi, memiliki aturan tata bahasa yang jelas dan disusun secara sistematis. Di kalangan remaja, penggunaan bahasa baku cenderung rendah, terutama dalam percakapan sehari-hari atau di media sosial. Kalangan remaja lebih sering menggunakan bahasa gaul, singkatan, atau bahasa campuran (mixing).</p><p><br/></p><p>Rendahnya penggunaan bahasa baku di kalangan remaja semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama di era digital ini. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, seperti pengaruh lingkungan pertemanan, dan media sosial. Penggunaan bahasa baku sering dianggap kaku oleh remaja, sehingga mereka lebih nyaman dengan bahasa sehari-hari yang lebih santai.</p><p><br/></p><p>Kemudian, banyak contoh percakapan dari kurangnya penggunaan bahasa baku. Misalnya, singkatan seperti “gws” (get well soon), “btw” (by the way). Dan ada pula kata kata yang tidak baku seperti “gimana” (bagaimana), “kalo” (kalau). Selain itu, bahasa mixing seperti “ini nge-charge hp” (ini mengisi daya ponsel), “mau nge-zoom” (ingin rapat daring).</p><p><br/></p><p>Selain itu, rendahnya penggunaan bahasa baku dapat menghambat kemampuan remaja saat berkomunikasi dalam konteks formal, dan dapat mengikis kemampuan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Untuk itu, perlu untuk mengedukasi dengan kreatif yang melibatkan sekolah, keluarga, agar semakin paham tentang pentingnya bahasa baku, karena bahasa baku merupakan identitas nasional. Bisa juga dari lingkup pertemanan, dengan membiasakan berkomunikasi menggunakan bahasa baku. Mulai membiasakannya cukup sedikit - sedikit hingga akhirnya terbiasa, bisa juga dengan keluarga seperti ayah, ibu, adik, kakak. Akhirnya banyak kosa kata bahasa baku yang diketahui. Melalui kamus KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) pun juga bisa, dari kamus KBBI ini kita bisa membaca atau mencari kosa kata baku yang banyak dan luas sekali.</p><p><br/></p><p>Penggunaan bahasa baku di kalangan remaja masih rendah dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti media sosial, dan lingkungan sosial. Dampak dari rendahnya penggunaan bahasa baku ini bisa mengancam pelestarian bahasa Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dari berbagai pihak, seperti pendidik, orang tua, dan tokoh masyarakat, untuk membangun kesadaran akan pentingnya penggunaan bahasa baku. Dengan edukasi yang kreatif, remaja dapat menghargai dan melestarikan bahasa Indonesia sebagai bagian penting dari identitas nasional.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:46:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199549805</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Chessy Ivana Sebilang</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199551350</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh media sosial dalam perkembangan bahasa Indonesia di kalangan Generasi muda.</strong></p><p><br/></p><p>Bahasa merupakan salah satu unsur penting dalam berkomunikasi sehari-hari. Seseorang yang memiliki tingkat kemampuan dalam berbahasa dapat dengan mudah menyampaikan gagasan atau pendapatnya dengan penuh kepercayaan diri. Selain itu, penggunaan dalam berbahasa yang benar dapat membuat komunikasi lebih lancar sehingga komunikasi bisa jauh lebih efisien dan efektif untuk dilakukan.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu bangsa yang sifatnya tidak dapat diganggu gugat. Berbahasa Indonesia dengan benar juga dapat menyatukan semua suku maupun berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Seiring dengan perkembangan zaman yang sudah banyak melibatkan teknologi sebagai peran penting dalam pekerjaan manusia, ini juga termasuk faktor utama dari awal mula suatu bahasa dapat rusak-olah tidak ada lagi nilai guna nya. Teknologi yang sering dijumpai atau yang sering digunakan setiap manusia dalam kesehariannya adalah gadget. Dalam bidang teknologi ini, bahasa Indonesia dapat disalah gunakan begitu saja akibat adanya media sosial.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Dalam media sosial masyarakat bebas untuk mengakses hal apapun termasuk dalam penggunaan bahasa yang menurut mereka cocok dengan mereka sendiri misalnya contoh penggunaan bahas gaul. Yang terjadi sekarang adalah makna dari bahasa Indonesia Keadaan yang diganti dengan bahasa asing atau pergeseran dari bahasa Indonesia menjadi bahasa gaul yang terkesan tidak pantas. Contoh penggunaan bahasa gaul dalam media sosial yang sering dijumpai adalah "YGY" yang merupakan pengertian dari "ya guys ya" atau "salty" yang mempunyai makna sendiri dan biasanya ditujukan untuk orang-orang yang mudah terbawa emosional dan mudah kesederhanaan.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Adanya perilaku yang cenderung menyelipkan istilah asing ini dalam bahasa Indonesia disebabkan sikap yang meyakini bahwa akan terlihat modern, dan terpelajar dan tentunya dengan alasan akan mempermudah komunikasi di era milenial. Hal ini tentu saja akan mengancam kemurnian bahasa Indonesia padahal bahasa menjadi bagian terpenting dalam berkomunikasi menggunakan media sosial.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Perkembangan internet pada era Revolusi Industri dapat mempercepat perubahan pemahaman dari bahasa lain. Hal ini kemudian akan menjadi faktor utama dari awal mulanya kerusakan suatu bahasa dan dapat membuat perpecahan suatu bahasa atau kalangan tertentu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:47:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199551350</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199552593</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Nama : Sandya Tristan Simbolon</strong></p><p><strong>Kelas  : XII-12</strong><em> </em></p><p><br/></p><p><strong>DAMPAK PENGGUNAAN BAHASA ALAY PADA KEMAMPUAN BERBAHASA REMAJA</strong></p><p><br/></p><p>Bahasa alay kini menjadi bagian yang umum di kalangan remaja, baik di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa ini ditandai dengan penulisan dan pengucapan yang tidak mengikuti kaidah baku, seperti penggunaan huruf besar-kecil, singkatan, dan kata-kata yang dimodifikasi. Meskipun terlihat menarik, penggunaan bahasa alay memiliki pengaruh besar pada kemampuan berbahasa remaja, baik positif maupun negatif. Berikut ini akan dibahas beberapa dampak penggunaan bahasa alay.</p><p><br/></p><p><strong>Mendorong Kreativitas dalam Berbahasa</strong></p><p>Di sisi positif, bahasa alay bisa meningkatkan kreativitas remaja dalam berbahasa. Remaja sering kali merasa lebih bebas dan percaya diri saat menggunakan gaya bahasa ini, baik dalam tulisan maupun percakapan sehari-hari. Mereka juga dapat menciptakan istilah-istilah baru yang hanya dipahami oleh kelompok atau komunitasnya, sehingga memperkuat rasa kebersamaan di antara teman-teman. Dengan begitu, bahasa alay memberikan ruang bagi remaja untuk berkreasi dan menemukan cara berkomunikasi yang unik, sekaligus menciptakan identitas kelompok yang berbeda dari orang lain.</p><p><br/></p><p><strong>Menurunkan Kemampuan Berbahasa Baku</strong></p><p>Namun, penggunaan bahasa alay yang berlebihan dapat menurunkan kemampuan remaja dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Banyak remaja mengalami kesulitan berkomunikasi secara formal, baik lisan maupun tulisan. Misalnya, ketika berbicara di depan kelas atau berdiskusi resmi, mereka sering kali tanpa sadar menggunakan ungkapan seperti “gitu lho” atau “pake ini itu deh.” Dalam situasi sosial, mereka mungkin merasa canggung berbicara dengan orang yang lebih tua atau dalam acara formal, karena terbiasa dengan gaya bahasa alay. Akibatnya, kemampuan mereka dalam berbahasa baku menurun, yang berdampak pada interaksi sosial mereka.</p><p><br/></p><p><strong>Hambatan dalam Komunikasi dengan Generasi Lain</strong></p><p>Selain itu, penggunaan bahasa alay dapat menimbulkan hambatan dalam komunikasi lintas generasi. Banyak istilah dan gaya bahasa alay yang tidak dipahami oleh orang-orang yang lebih tua, seperti orang tua, guru, atau bahkan atasan dalam dunia kerja. Misalnya, jika seorang remaja berbicara dengan orang yang lebih tua menggunakan kata-kata seperti “gabut” (bosan), “kepo” (ingin tahu berlebihan), atau singkatan seperti “baper” (bawa perasaan), mereka mungkin harus menjelaskan maksudnya terlebih dahulu. Hal ini bisa membuat percakapan menjadi tidak efisien dan kurang lancar, bahkan menimbulkan kesalahpahaman.</p><p><br/></p><p>Sebagai penutup, bahasa alay memang memiliki sisi positif dan negatif. Di satu sisi, bahasa ini dapat meningkatkan kreativitas dan memperkuat ikatan sosial di antara remaja. Namun, di sisi lain, penggunaan bahasa alay yang berlebihan dapat mengurangi kemampuan mereka dalam berbahasa baku dan menimbulkan hambatan dalam komunikasi dengan generasi lain. Oleh karena itu, sebaiknya bahasa alay digunakan secara bijak, dan remaja juga perlu terus melatih kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar agar dapat berkomunikasi dengan lancar di berbagai situasi sosial.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2982895782/d0d546fc415a64cd688949a4e5d7acef/Bahasa_Indonesia.jpg" />
         <pubDate>2024-11-04 01:48:40 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199552593</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ghozi Zahid Syuhada</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199556042</link>
         <description><![CDATA[<p>XII-12</p><p><br/></p><p>Bahasa Melayu di Mindanao dan Pattani: Sebuah Perbandingan</p><p><br/></p><p>Bahasa Melayu, sebagai warisan linguistik yang kaya dari Nusantara, telah menyebar luas dan beradaptasi di berbagai wilayah. Dua di antaranya yang menarik untuk dikaji adalah Mindanao di Filipina Selatan dan Pattani di Thailand Selatan. Meskipun terpisah oleh batas-batas negara, kedua wilayah ini memiliki kesamaan sejarah dan budaya yang mendasari kemiripan bahasa Melayu yang dituturkan di sana.</p><p><br/></p><p>Persebaran dan Kontak Historis</p><p>Penyebaran Bahasa Melayu di Mindanao dan Pattani erat kaitannya dengan sejarah perdagangan maritim di kawasan Nusantara. Kontak antara para pedagang Melayu dengan penduduk lokal di kedua wilayah ini telah berlangsung selama berabad-abad. Akibatnya, Bahasa Melayu mengalami proses akulturasi dengan bahasa-bahasa asli setempat, seperti bahasa-bahasa Austronesia di Mindanao dan bahasa-bahasa Thai di Pattani.</p><p><br/></p><p>Kemiripan Leksikal dan Gramatikal</p><p>Meskipun telah mengalami proses adaptasi, Bahasa Melayu di Mindanao dan Pattani masih menunjukkan sejumlah kemiripan leksikal dan gramatikal. Banyak kosakata dasar, terutama yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari, perdagangan, dan agama, masih dapat dilacak asal-usulnya ke Bahasa Melayu Klasik. Selain itu, struktur kalimat dan pola intonasi juga menunjukkan kesamaan yang signifikan.</p><p><br/></p><p>Pengaruh Bahasa Lokal</p><p>Pengaruh bahasa-bahasa lokal terhadap Bahasa Melayu di Mindanao dan Pattani sangat terlihat pada tingkat fonologi, morfologi, dan sintaksis. Di Mindanao, misalnya, Bahasa Melayu telah menyerap sejumlah fonem dan kata dari bahasa-bahasa Austronesia seperti Tagalog dan Cebuano. Sementara itu, di Pattani, Bahasa Melayu telah mengalami pengaruh yang kuat dari bahasa-bahasa Thai, terutama dalam hal kosakata dan struktur kalimat.</p><p><br/></p><p>Peran Bahasa Melayu dalam Masyarakat</p><p>Bahasa Melayu di Mindanao dan Pattani memiliki peran yang sangat penting dalam masyarakat. Di kedua wilayah ini, Bahasa Melayu berfungsi sebagai lingua franca yang menghubungkan berbagai kelompok etnis dan agama. Selain itu, Bahasa Melayu juga digunakan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, agama, dan pemerintahan.</p><p>Perkembangan Bahasa Melayu di Era Modern</p><p>Pada era modern, Bahasa Melayu di Mindanao dan Pattani menghadapi tantangan yang sama, yaitu pengaruh bahasa-bahasa asing seperti Inggris dan bahasa nasional masing-masing negara. Meskipun demikian, upaya pelestarian dan pengembangan Bahasa Melayu terus dilakukan oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.</p><p><br/></p><p>Kesimpulan</p><p>Bahasa Melayu di Mindanao dan Pattani merupakan bukti nyata tentang dinamika bahasa dalam merespons perubahan sosial dan budaya. Meskipun telah mengalami berbagai bentuk adaptasi, Bahasa Melayu di kedua wilayah ini masih mempertahankan identitasnya sebagai bagian dari rumpun bahasa Austronesia. Studi perbandingan antara Bahasa Melayu di Mindanao dan Pattani dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi pemahaman kita tentang sejarah dan dinamika bahasa di kawasan Nusantara.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:51:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199556042</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Cheery Nicea Priskila Tulili Panandu </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199556265</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Keberagaman Bahasa Daerah di Papua</strong></p><p><strong> </strong></p><p>Bahasa daerah di Papua merupakan salah satu bahasa daerah yang cukup menarik. Bagaimana tidak? Wilayah Papua memiliki kurang lebih 428 bahasa daerah. Angka ini menjadikan Papua sebagai wilayah dengan bahasa daerah terbanyak di Indonesia. Indonesia sendiri mempunyai 718 bahasa daerah, yang tentu lebih dari setengahnya berasal dari Papua. Kira-kira, apa yang menyebabkan wilayah Papua memiliki bahasa daerah yang sangat beragam?</p><p><br/></p><p>Pulau Papua merupakan pulau terbesar kedua di dunia. Total luasnya sekitar 785.753 km². Dari total itu, bagian Indonesia seluas 418.707,7 km², sementara selebihnya wilayah Negara Papua Nugini. Kondisi geografis yang sangat luas ini mengakibatkan terbaginya beberapa bahasa daerah yang berbeda untuk memudahkan komunikasi di suatu wilayah tertentu.</p><p><br/></p><p>Selain itu, wilayah Papua juga dihiasi dengan pemandangan alam yang sangat indah. Ada banyak pegunungan, air terjun, lembah, danau, dan sebagainya. Dalam keterkaitannya dengan keberagaman bahasa daerah di Papua, pegunungan menjadi salah satu faktor utamanya. Pada zaman dahulu, di mana akses komunikasi dan transportasi tidak secanggih sekarang,  pegunungan tinggi yang dipenuhi dengan hutan belantara seolah-olah mengisolasi beberapa kelompok masyarakat, sehingga mereka saling terpisahkan. Hal ini mengakibatkan masyarakat mulai mengembangkan bahasa-bahasa sendiri pada kelompok tertentu.</p><p><br/></p><p>Di samping itu, negara tetangga yang bersebelahan dengan Papua, yakni Papua Nugini merupakan negara dengan bahasa terbanyak kedua di dunia setelah Vanuatu. Dengan populasi sebanyak 9 juta orang, Papua Nugini memiliki 839 bahasa daerah. Dari berbagai bahasa daerah yang ada, bahasa resmi yang digunakan di Papua Nugini adalah Hiri Motu, Tok Pisin, dan bahasa Inggris.</p><p><br/></p><p>Sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita harus bangga dengan kekayaan bahasa daerah yang ada di negeri kita, terutama jika kita mengingat bahwa suatu Pulau di Indonesia, yakni Papua, memiliki lebih dari 400 bahasa daerahnya sendiri. Keberagaman ini merupakan suatu keunikan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Mari kita lestarikan bahasa daerah yang ada dengan tetap mengutamakan bahasa nasional, bahasa Indonesia, sambil terus mengikuti perkembangan zaman.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:51:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199556265</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mutiara Nur Maulida</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199556966</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Trend Kata Fomo di Kalangan Remaja</strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p>PENDAHULUAN </p><p><br/></p><p>Bahasa slang sudah menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari yang sering digunakan, terutama di kalangan remaja.  "FOMO," adalah bahasa gaul yang sering digunakan yang berarti "Fear of Missing Out" adalah salah satu kata gaul yang sangat terkenal di kalangan remaja saat ini. Trend penggunaan kata ini muncul seiring dengan meningkatnya penggunaan sosmed yang di mana remaja sering kali merasa untuk selalu mengetahui bahkan bisa saja mengikuti segala aktivitas yang dilakukan oleh teman-teman mereka. FOMO juga menggambarkan perasaan cemas atau takut ketinggalan sesuatu yang penting atau menyenangkan, seperti acara, tren terbaru, atau pengalaman menarik yang dilakukan oleh orang orang. Dalam lingkungan sosial yang serba cepat dan selalu terhubung, FOMO menjadi cerimanan dari gaya hidup remaja yang terpengaruh.</p><p><br/></p><p>ISI</p><p><br/></p><p>FOMO sering muncul karena tekanan dari lingkungan sosial, yang di mana seseorang merasa perlu untuk selalu terlibat dan terlihat update dengan kegiatan teman-temannya. Perasaan ini bisa muncul saat seseorang melihat teman-temannya membagikan momen yang menyenangkan di media sosial, pada saat itu juga perasaan takut akan ketinggalan sesuatu yang penting dapat muncul. Hal ini menunjukkan adanya tekanan sosial untuk selalu terlihat aktif dan bahagia di social media. </p><p><br/></p><p>Bahasa gaul seperti FOMO juga memainkan peran dalam membentuk identitas sosial remaja. Penggunaan istilah ini bukan hanya sebagai cara untuk mengekspresikan perasaan, tetapi juga menjadi bagian dari bahasa sehari-hari yang menunjukkan bahwa seseorang mengikuti tren. Dengan menggunakan istilah seperti FOMO, remaja bisa merasa lebih terhubung dengan kelompok teman-teman mereka yang memahami dan menggunakan bahasa yang sama. Bahasa gaul ini menjadi semacam simbol budaya yang mencerminkan gaya hidup remaja di era digital, di mana eksistensi sosial sangat dipengaruhi oleh apa yang terlihat di dunia maya.</p><p><br/></p><p>Namun, meskipun tren penggunaan kata FOMO dapat mempererat hubungan sosial di antara remaja, ada dampak negatif yang perlu diwaspadai. Rasa takut tertinggal yang berlebihan dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri. Ketika remaja terlalu fokus pada apa yang mereka lewatkan, mereka mungkin menjadi kurang mampu menghargai momen-momen kecil dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, penting bagi remaja untuk menyadari kapan FOMO mulai berdampak negatif dan mengambil langkah untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan di dunia nyata dan ekspektasi di media sosial.</p><p><br/></p><p>PENUTUP</p><p><br/></p><p>Berdasarkan isi diatas, tren kata FOMO di kalangan remaja mencerminkan pengaruh besar terhadap media sosial kepada kehidupan sosial dan emosional mereka yang terjadi di era digital. Istilah ini tidak hanya menambah variasi dalam bahasa gaul, tetapi juga menggambarkan perasaan dan tantangan yang dihadapi oleh generasi muda saat ini. Dengan lebih memahami fenomena FOMO, remaja diharapkan bisa menjadi lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial dan tidak terjebak dalam tekanan sosial yang berlebihan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:51:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199556966</guid>
      </item>
      <item>
         <title>QARINDRA IRLIHAYASIZESTHA LESMANA</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199560180</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Judul: “Bahasa: Simfoni Kata yang Menyatu dalam Peradaban”</strong></p><p><br/></p><p>Pernahkah kau berfikir tentang bahasa? seperti, bagaimana bahasa bisa ada?, siapa yang pertama kali menciptakan bahasa? dan bagaimana jika di dunia ini tidak ada bahasa? nah mari kita bahas, pertama-tama mari kita mulai dari pengertian bahasa itu sendiri, apasih bahasa itu? Bahasa adalah sebuah simfoni kata yang dimainkan oleh manusia, digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah. Bayangkan saja jika dunia tanpa bahasa tanpa komunikasi dan tak ada cerita, tak ada puisi, bahkan tak ada ungkapan cinta.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Setiap kata yang kita ucapkan adalah hasil dari evolusi ribuan tahun lama nya, disusun dalam kode-kode unik yang mencerminkan sebuah kebudayaan, tradisi, dan nilai-nilai kehidupan. Di dalam bahasa (bahasa Indonesia atau bahasa lain), bisa kita temukan esensi manusia: sebuah keajaiban yang menyatukan, sekaligus membedakan kita.</p><p><br/></p><p>Contoh lain dari bahasa adalah bahasa musik yang&nbsp; memiliki melodi yang khas di setiap daerah. Jika kita mendengarkan dengan cermat, ada irama yang berbeda dalam tiap-tiap bahasa Jawa, Sunda, atau Batak. Ada warna-warna yang berbeda dalam kata-kata bahasa Arab, Mandarin, dan Swahili. Misalnya, masyarakat Jepang memiliki banyak kata yang tak sepenuhnya dapat diterjemahkan ke bahasa lain, seperti “komorebi,” yang menggambarkan cahaya matahari yang menembus dedaunan. Kata ini adalah contoh sempurna dari bagaimana bahasa mengabadikan momen-momen kecil yang sepertinya sederhana, tetapi sebenarnya begitu dalam dan personal. Dari setiap istilah dan ungkapan, kita dapat menangkap cara pandang unik tiap masyarakat terhadap kehidupan.</p><p><br/></p><p>Dalam bahasa juga terdapat jejak sejarah, seperti buku yang menceritakan evolusi manusia. Bahasa Sanskerta dan Latin, meski jarang digunakan, tetap hidup dalam kata-kata modern seperti “karma” atau “aqua,” menunjukkan bahwa bahasa kuno ini telah menyatu dengan budaya global. Bahkan, kata-kata yang kita gunakan sehari-hari, seperti “terima kasih,” memiliki sejarahnya sendiri. Di Indonesia, ungkapan ini mencerminkan nilai saling memberi (terima) dan menerima (kasih) sebagai bentuk interaksi sosial yang hangat. Artinya, setiap bahasa bukan sekadar kumpulan kata, tetapi juga memiliki filosofi hidup yang dalam.</p><p><br/></p><p>Namun, bahasa adalah organisme yang akan terus berubah-ubah. Terutama dalam dunia digital, bahasa akan selalu menemukan bentuk-bentuk baru, seperti singkatan, meme, dan emoji. Meski kadang dianggap merusak tata bahasa formal, gaya bahasa ini adalah bentuk ekspresi modern yang menyatukan generasi. Contohnya, dalam penggunaan “LOL” untuk tertawa atau “TAUNTING” yang artinya selebrasi di dunia gim online ataupun offline dan penggunaan kata “RIZZLER” yang artinya seorang yang membuat kita terpukau dengan godaannya dan seorang yang memiliki aura yang sangat kuat.</p><p><br/></p><p>&nbsp;Bagi orang-orang kelahiran 60an-80an ini sangat aneh dan bagi beberapa dari mereka, kata populer seperti pada zaman sekarang ini sebenarnya adalah bahasa yang hidup, bahasa yang pasti akan terus berubah dan berkembang sesuai kebutuhan zaman itu. Setiap era menemukan gayanya sendiri, seperti dialek dalam kehidupan sehari-hari yang menandai generasi tertentu.</p><p>Di sisi lain, tantangan besar bahasa adalah menjaga keutuhan dan keragamannya di tengah arus globalisasi. Ketika bahasa-bahasa besar seperti Inggris dan Mandarin semakin dominan dan menjadi bahasa utama di dunia ini, banyak bahasa kecil terancam yang mulai terancam punah. Namun, beberapa komunitas tetap gigih menjaga bahasanya agar tetap hidup, seperti masyarakat Baduy yang menolak pengaruh bahasa luar dan memilih mempertahankan bahasa mereka sendiri. Ini bukan hanya soal kata-kata, tetapi soal menjaga jati diri, menjaga semangat yang diwariskan nenek moyang mereka. Ketika bahasa punah, itu bukan sekadar hilangnya cara bicara, melainkan hilangnya warisan peradaban dan kisah-kisah tak tertuliskan.</p><p><br/></p><p>Bahasa juga adalah alat untuk menjembatani perbedaan, menciptakan persatuan di tengah keberagaman. Di negara-negara multikultural, bahasa nasional menjadi identitas kolektif yang memperkuat rasa kebersamaan. Di Indonesia, bahasa Indonesia tidak hanya alat komunikasi, tetapi juga menjadi simbol persatuan dari Sabang hingga Merauke. Bahasa nasional inilah yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar budaya, menghapus sekat-sekat perbedaan dalam satu identitas yang sama. Di sinilah bahasa berperan bukan hanya sebagai alat, tetapi sebagai kekuatan sosial yang menjaga persatuan.</p><p><br/></p><p>Pada akhirnya, bahasa adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia adalah saksi peradaban, penyimpan nilai-nilai luhur, dan alat untuk memahami manusia. Dalam bahasa, kita tak hanya menemukan kata-kata, tetapi juga keajaiban, sejarah, dan kekayaan budaya. Setiap bahasa adalah sebuah dunia kecil yang menawarkan cara pandang berbeda, mengingatkan kita bahwa meski kita berasal dari latar yang berbeda, kita semua adalah bagian dari simfoni manusia yang beraneka ragam namun harmonis. Bahasa bukan hanya alat untuk berbicara, tetapi sebuah warisan yang harus dijaga dengan cinta dan penghormatan, sebab di dalamnya terdapat jiwa sebuah peradaban.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:53:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199560180</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nama: Noor amelia juandani

kelas: XII-12</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199560307</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><strong>pengaruh bahasa gaul terhadap generasi muda</strong></p><p><br/></p><p>Bahasa adalah salah satu alat komunikasi, dan akan terus mengalami dinamika seiring berjalannya waktu dari tahun ke tahun. adanya bahasa gaul menjadi sesuatu yang menarik dalam dunia berkomunikasi, terutama di zaman generasi muda. Penggunaan bahasa gaul dianggap sebagai salah satu bentuk ekspresi diri, usaha untuk membedakan diri dari generasi sebelumnya, serta tempat untuk mempererat ikatan sosial dalam kelompok sebaya. tetapi, di balik sisi positifnya, penerapan bahasa gaul justru banyak&nbsp; menimbulkan sejumlah permasalahan yang perlu kita diperhatikan.</p><p>Salah satu dampak negatif dari penerapan bahasa gaul adalah menurunnya kualitas bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa gaul yang berlebihan dapat mengubah makna dari bahasa tersebut, sulit untuk berkomunikasi, dan dapat merusak tata bahasa Indonesia. Kata-kata baku yang seharusnya dipakai dalam konteks formal seringkali terubah karna adanya bahasa gaul yang lebih kasual. Hal ini bisa berdampak pada penurunan kemampuan berbahasa generasi muda di indonesia, terutama dalam menulis dan berbicara di depan umum.</p><p>selain itu penggunaan bahasa gaul dapat mengikis nilai nilai kesopanan dan kesantunan yang ada di dalam bahasa indonesia.ada beberapa kata atau ungkapan yang berunsur kasar dan dapat menyinggung perasaan orang lain yang ada di sekitar kita.Hal ini dapat menimbulkan konflik sosial atau merusak hubungan antar masyarakat sosial dan dapat menganggu interaksi individu lainnya.Selain itu, penggunaan bahasa gaul juga dapat menimbulkan kesenjangan komunikasi antar generasi. Tidak semua orang, terutama generasi yang lebih tua, Hal ini dapat menyebabkan kesalah pahaman pada sesama. Akibatnya, hubungan antar generasi menjadi kurang harmonis.</p><p>penggunaan bahasa gaul yang terlalu sering dapat menjadi penghambat untuk perkembangan kognitif. Bahasa adalah peran penting untuk membentuk pikiran dan cara berpikir seseorang. Penggunaan bahasa yang terlalu sederhana dan tidak variatif dapat membatasi kemampuan berpikir kritis dan analitis.</p><p>penggunaan bahasa gaul memiliki sisi positif dan negatif. Sebagai generasi muda, kita perlu bijak dalam menggunakan bahasa gaul. Kita perlu membedakan antara penggunaan bahasa gaul yang kreatif dan inovatif dengan penggunaan yang berlebihan dan tidak sesuai dengan konteks. Selain itu, kita juga perlu tetap menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar agar dapat berkomunikasi secara efektif dalam berbagai situasi.</p><p>Pengaruh bahasa gaul terhadap generasi muda adalah suatu hal yang kompleks dan multidimensi. di satu sisi,&nbsp; bahasa gaul bisa menjadi patokan untuk&nbsp; kreativitas dan inovasi, namun di sisi lain juga akan menimbulkan sejumlah masalah. maka dari&nbsp; itu, penting bagi generasi sekarang khususnya anak muda untuk bijak dalam menggunakan bahasa gaul. Penggunaan bahasa gaul haruslah seimbang dengan penggunaan bahasa baku, sehingga tidak mengurangi kemampuan berbahasa dan nilai-nilai kesopanan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 01:53:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199560307</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pricilla Wayne XII-12 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199574976</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Sejarah kata gaul “gw elu”</strong></p><p><br/></p><p>Di kota-kota besar terutama di Jakarta, orang-orang disana sering menggunakan kata “ gw dan elu “ dan beranggapan bahasa gaul tersebut dari orang Betawi. Tetapi kenyataan nya tidak, lalu darimanakah kata “gw dan elu” tersebut?</p><p><br/></p><p>jadi rupanya kata sapaan “elu/lu/elo dan gw/gue” ini merupakan dialek atau aksen bahasa dari Tiongkok Hokkien. Dulunya orang-orang yang ingin merantau ke ibu kota untuk kepentingan berdagang/bisnis menggunakan kata gaul tersebut. Awalnya&nbsp; mereka menyebut “gue” sebagai “saya” dan “lu” sebagai kamu. Akibatnya bahasa gaul tersebut pengaruhi Tionghoa terutama perkembangan bahasa Hokkien zaman dulu di Jakarta dan sekitarnya.</p><p>Menariknya lagi ternyata Tionghoa telah menggunakan bahasa ini sejak abad ke-16. Penggunaan kata ini tersebar karena para pedagang merantau ke Jakarta sehingga bahasa gaul tersebut tersebar luar dengan cepat. Pada saat itu perdagangan di Jakarta sangat pesat sehingga warga lokal terpengaru dengan bahasa Hokkien saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan warga Tionghoa. Dan kemudian bahasa tersebut digunakan&nbsp; dalam kegiatan sehari-hari oleh warga Jakarta dan sekitar nya. Tidak hanya kata “gw/gue dan elu/lo/lu” saja tetapi ada ratusan bahasa Hokkien yang diserap dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).</p><p><br/></p><p>Seiring perkembangan waktu, bahasa “lu/elo/lo dan gw/gue” menjadi bahasa gaul di kota-kota besar terutama Jakarta, dulu nya para para remaja tidak menampik dengan bahasa tersebut. Tetapi karena adanya perkembangan zaman dan kebanyakan orang menggunakan kata gaul tersebut akhir nya banyak yang mulai menggunakan kata tersebut dan menjadikan sebagai kata sehari-hari. Kini bahasa gaul tersebut tersebar luas, tidak hanya kata “gw dan lu” yang menjadi bahasa keseharian anak gaul dan seiring waktu karena adanya media sosial dan televisi, banyak bahasa gaul yang akhirnya menjadi kata keseharian dalam berinteraksi dan komunikasi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-04 02:02:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3199574976</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rania Nadhiifah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201877519</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Bahasa Belanda terhadap kosakata Bahasa Indonesia</strong></p><p><br/></p><p>Seperti yang kita ketahui, Indonesia telah dijajah Belanda kurang lebih 3 abad lamanya. Dalam rentang waktu selama itu, tidak bisa dipungkiri Belanda memliki pengaruh yang besar terhadap</p><p>kehidupan sosial dan kebudayaan di Indonesia, termasuk bahasa. Tanpa kita sadari, banyak sekali kata serapan yang mempunyai kemiripan dengan bahasa belanda. Seperti Kantor- <em>Kantoor</em>, Bioskop-<em>Bioscoop</em>, Apotek-<em>Apotheek, </em>dan masih banyak lagi kata serapan dari bahasa belanda.</p><p><br/></p><p>Lalu, bagaimana kata serapan ini terbentuk sehingga menjadi kata yang sering diterapkan dan menjadi bahasa sehari-hari oleh orang Indonesia? Bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa Melayu lalu berkembang menjadi bahasa utama. Walaupun awalnya berasal dari Bahasa Melayu namun bahasa Indonesia juga sering mengadopsi kata baru dari bahasa asing maupun bahasa daerah termasuk bahasa Belanda.</p><p><br/></p><p>Dengan adanya penjajahan Belanda, Indonesia mengalami banyak akulturasi budaya. Sehingga, kata-kata tersebut mengalami penyesuaian dan menjadi sebuah kata yang baru dalam Bahasa Indonesia. Contoh penyesuaian bahasa tersebut terlihat dari imbuhan -tie dari bahasa Belanda yang menjadi -si dalam bahasa Indonesia. Seperti pada kata <em>Concentratie </em>menjadi konsentrasi, <em>Absentie </em>menjadi absensi, <em>Administratie </em>menjadi administrasi, dan sebagainya.</p><p><br/></p><p>Jadi dapat disimpulkan bahwa memang interaksi antara pribumi dan orang pendatang dari Belanda, mempengaruhi beberapa kosakata yang sudah ada di Indonesia. Dari situ pun, masih dilakukan penyaringan atau penyesuaian dengan cara mencari padanan dengan bahasa daerah agar dapat sesuai dengan pengucapan orang Indonesia. Penyesuaian ini juga dipengaruhi oleh lamanya penerapan bahasa tersebut dan banyaknya individu yang menuturkan.</p><p><br/></p><p>Meskipun tidak semua kosa kata diserap dari Bahasa Belanda, tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa Belanda memiliki pengaruh kepada kebahasaan dan percakapan bahasa Indonesia yang sehari hari kita lakukan.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:36:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201877519</guid>
      </item>
      <item>
         <title>zahira luthfiyah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201881482</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Bahasa Gaul di Era Gen Z</strong></p><p>Bahasa gaul telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari generasi Z, terutama dalam lingkungan sosial dan media digital. Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh dengan teknologi, Gen Z sangat terbiasa berinteraksi melalui media sosial yang mempercepat penyebaran istilah-istilah baru. Istilah gaul seperti "santuy," "fomo," dan "ghosting" merupakan contoh bagaimana bahasa gaul telah menjadi sarana untuk mengekspresikan diri, membangun identitas, dan memudahkan komunikasi di antara sesama mereka. Bahasa ini menjadi ciri khas yang membantu mereka membentuk jati diri dan membedakan diri dari generasi sebelumnya.</p><p>Penggunaan bahasa gaul juga memperkaya perkembangan bahasa Indonesia dengan kosakata yang terus berubah. Setiap istilah gaul yang populer mencerminkan kreativitas dan cara berpikir Gen Z yang berbeda dari generasi lainnya. Bahasa gaul memiliki karakter fleksibel dan responsif terhadap tren, yang menunjukkan bahwa bahasa selalu berkembang sesuai kebutuhan masyarakatnya. Di satu sisi, hal ini menjadikan bahasa Indonesia lebih dinamis. Namun, di sisi lain, banyak orang merasa bahwa munculnya bahasa gaul bisa membuat kesenjangan komunikasi antar generasi semakin lebar karena perbedaan kosakata dan cara bicara.</p><p>Media sosial memiliki peran sentral dalam penyebaran bahasa gaul di kalangan Gen Z. Aplikasi seperti Instagram, TikTok, dan Twitter memudahkan istilah baru untuk menyebar dengan cepat. Video viral, meme, dan konten digital lainnya sering kali menjadi sumber bahasa gaul yang kemudian diadopsi oleh banyak orang. Dalam hitungan hari atau bahkan jam, sebuah istilah dapat menjadi tren yang digunakan secara luas. Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga alat yang mempercepat perubahan bahasa di kalangan generasi muda.</p><p>Meski membawa kreativitas, penggunaan bahasa gaul yang berlebihan juga dapat berdampak negatif pada kemampuan berbahasa formal, terutama dalam konteks pendidikan atau pekerjaan. Saat berada di lingkungan formal, Gen Z sering kali mengalami kesulitan untuk menyesuaikan gaya bahasa mereka. Kebiasaan menggunakan singkatan atau kosakata gaul bisa mempersulit mereka dalam menulis dan berbicara secara formal. Hal ini menjadi tantangan bagi Gen Z, yang perlu menyeimbangkan penggunaan bahasa gaul dengan kemampuan berbahasa formal agar lebih siap menghadapi berbagai situasi komunikasi yang berbeda.</p><p>Selain itu, pengaruh globalisasi turut memperkaya kosakata bahasa gaul Gen Z, terutama dengan adanya serapan dari bahasa Inggris. Istilah seperti "cringe," "baper," dan "vibe" menjadi bukti bagaimana budaya global memengaruhi cara berbicara generasi muda Indonesia. Di satu sisi, hal ini membuat mereka lebih terbuka terhadap budaya asing dan global. Namun, di sisi lain, bahasa daerah bisa terancam tergantikan, karena kosakata lokal semakin jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Dengan segala dampaknya, bahasa gaul menjadi cermin dari kreativitas dan gaya hidup Gen Z, tetapi tetap menuntut keseimbangan agar tidak mengganggu kemampuan komunikasi formal dan budaya lokal.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:39:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201881482</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aflah Naifah A.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201881498</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><em>Penggunaan bahasa gen Z dalam berbahasa sehari hari</em></strong></p><p><br/></p><p><em>Penggunaan bahasa mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, mengikuti dengan adanya kemajuan teknologi serta perubahan zaman yang ada. Begitu pula dengan adaptasi ataupun munculnya bahasa bahasa baru yang sekarang ihhh d  kemajuan teknologi. Sama halnya dengan teknologi, generasi ke generasi pun semakin berkembang.</em></p><p><em>Sebagai contoh penggunaan bahasa sehari hari gen Z.</em></p><p><br/></p><p><em>Gen Z adalah sekumpulan orang yang lahir pada tahun 1997-2012. Sekumpulan orang yang lahir pada tahun tersebut di tahun ini memiliki usia paling tua berumur 27 tahun dan yang paling muda berumur 12 tahun. Penggunaan teknologi juga tentu dipergunakan pada gen Z, dengan teknologi dan kemudahan dalam kegiatan apapun, seperti berkomunikasi ataupun menonton hiburan dari sosial media seperti menonton hiburan dari aplikasi ig, tiktok maupun Twitter.</em></p><p><br/></p><p><em>Penggunaan aplikasi tersebutlah awal mula dari munculnya bahasa baru yang kemudian populer di kalangan gen Z.</em></p><p><em>Seperti contoh penggunaan kata "Cegil" atau Cewe Gila yang merujuk kepada perempuan yang unik dan berusaha untuk menarik perhatian dari sang pujaan hatinya dengan cara cara yang berbeda. Penggunaan kata Cegil pun semakin banyak digunakan dalam bermedia sosial seperti pada konten, komentar ataupun caption di platform Ig, Tiktok, dan Twitter </em></p><p><br/></p><p><em>Namun selain kata Cegil juga banyak kata kata lain yang populer seperti "Cmiiw" atau "correct me if i'm wrong" yang berarti "betulkan saya jika saya salah" yang awalnya populer di kalangan pengguna Twitter dalam berkomunikasi di platform tersebut, ketika seseorang memberikan komentar dalam sebuah konten yang ada namun ia sendiri merasa komentar ataupun pendapatnya masih meragukan ataupun informasinya tidak sepenuhnya akurat.</em></p><p><br/></p><p><em>Tentu dalam penggunaan gen Z ini dapat menimbulkan sisi negatif dan positif dari bahasa bahasa baru yang ada di kalangan gen Z. Seperti sisi positif yang menunjukkan bahwa gen Z memiliki kreativitas dan inovasi yang tergolong bagus karena memperkaya kosakata bahasa dan menunjukkan kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan perubahan zaman. Dan dari sisi negatif yaitu penurunan penggunaan kosakata bahasa Indonesia, penggunaan bahasa yang terlalu santai dan tidak baku dapat berdampak pada penurunan kualitas bahasa secara keseluruhan, terutama dalam konteks formal.</em></p><p><br/></p><p><em>Penggunaan bahasa bahasa gen Z ini tentu dapat digunakan dalam sehari hari, namun dengan adanya bahasa bahasa baru tersebut diharapkan untuk semua pengguna bahasa tersebut tetap menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam penggunaan berbahasa Indonesia dalam konteks sehari hari.</em></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:39:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201881498</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SITI KIARA FAZILA (XII-11)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201882124</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Relasi Kemampuan Berbahasa Seseorang dengan <em>Personality </em>Seorang Individu</strong></p><p><br/></p><p>Keterampilan berbahasa memiliki peran penting bagi kehidupan manusia, karena di setiap terjadinya interaksi dan kontak antar satu individu dengan yang lainnya maka diperlukan bahasa yang menjadi penghubung komunikasi, baik dalam bentuk bahasa yang diucapkan maupun bahasa isyarat atau bahasa tubuh. Banyak sekali bahasa yang terdapat di dunia ini, seperti bahasa Indonesia yang kita gunakan sehari-hari. Kemampuan bahasa dan berbahasa seseorang dapat mengidentifikasi pola jati diri, pola karakter dan pola berpikir seseorang. Mengutip dari buku <em>Bahan Ajar Bahasa Indonesia </em>oleh Masyur M, Amin Tunda (55), dalam Kamus Besar <a rel="noopener noreferrer nofollow" href="https://kumparan.com/topic/bahasa">Bahasa</a> Indonesia (KBBI) keterampilan berbahasa adalah kemampuan seseorang memakai bahasa untuk mempergunakan bahasanya dengan baik. Keterampilan menjadi sesuatu yang dilakukan dengan semaksimal mungkin agar pesan yang ingin disampaikan dapat tersampaikan. Keterampilan berbahasa juga berfungsi untuk mengekspresikan diri. Seseorang yang setiap saat berekspresi diri dapat mengungkapkan perasaan, pikiran, dan keadaannya.</p><p><br/></p><p>Cara berbicara dapat menunjukkan kepribadian seseorang. Ada cara bicara yang ekspresif dan kritis. Ada juga cara bicara yang santai dan tegas. Dari setiap cara berbicara tersebut mempunyai masing-masing kekuatan dan kelemahan. Terkadang seseorang yang cara bicaranya kritis orang tersebut cenderung pemikir, tertutup dan pesimis. Sedangkan orang yang cara bicaranya santai, orang tersebut cenderung baik hati, emosinya seimbang dan mudah sepakat. Menurut Pranowo (2009:3) karena bahasa termasuk media komunikasi maka bahasa merupakan cermin kepribadian seseorang artinya melalui bahasa seseorang dapat diketahui kepribadiannya atau karakternya.</p><p><br/></p><p>Sering terdengar kalimat seperti “Hati-hati dalam berbicara atau berkata..”</p><p>Hal tersebut karena pada saat berbicara maupun saat memberikan komentar atau caption pada media sosial dapat terlihat kepribadian atau sifat-sifat mereka. Seperti orang yang kepribadiannya ekstrovert, sangat cerewet dibandingkan dengan yang introvert. Mereka juga cenderung berbicara dalam tempo cepat. Perempuan ekstrovert biasanya punya teman-kelompok bergosip. Sementara lelaki ekstrovert, lebih cenderung berbicara dengan dirinya sendiri. Dari penelitian di VU University, Amsterdam, ditemukan bahwa orang ekstrovert lebih memilih bahasa yang abstrak, <em>random, </em>dan kadang berarah tidak tentu dan malah melebar kemana-mana. Namun, orang introvert berbicara dengan bahasa yang konkret. Dalam kata lain, orang introvert jauh lebih spesifik dan berhati-hati dalam berbicara. Contohnya seperti seorang ekstrovert yang berbicara dengan sembarang, namun seorang introvert lebih memperhatikan kata-katanya dengan penggunaan kata “mungkin”.</p><p><br/></p><p>Contoh tersebut juga terlihat pada bahasa dalam tulisan-tulisan, pada 2010, sekelompok psikolog Jerman memberikan sekitar 100 siswa, sejumlah kata untuk dikembangkan menjadi cerita pendek. Orang yang berpikiran terbuka membuat tulisan yang jauh lebih kreatif. Sementara orang yang santun, membuat tulisan yang lebih memperlihatkan sudut pandang norma dan sosial. Selain itu terdapat contoh penggunaan bahasa yang digunakan di twitter yang banyak menggunakan umpatan dan kata-kata vulgar serta opini yang dicurahkan sebebas-bebasnya di platform twitter mereka menunjukkan kepribadian yang tidak pemalu dan tidak penakut serta memiliki pemikiran terbuka.</p><p><br/></p><p>Dengan adanya hubungan antara kebahasaan seseorang dengan sifat mereka maka diharapkan untuk menggunakan kaidah kebahasaan dengan sebaik mungkin dengan berbahasa yang baik, sopan dan santun, agar dapat mencerminkan citra yang baik saat berkomunikasi dengan individu lain. Manfaatkan hal ini untuk mengubah cara pandang orang terhadap kita. Misalnya, saat wawancara pekerjaan atau kencan pertama, kita bisa mengubah pilihan kata yang kita gunakan agar dapat menampilkan persona yang diharapkan lawan bicara. Dengan demikian, kemampuan berbahasa yang baik tidak hanya membantu kita dalam menyampaikan pesan secara efektif, tetapi juga dalam membangun citra positif yang dapat membuka berbagai peluang. Oleh karena itu, berlatih untuk berbahasa dengan baik dan menyeluruh adalah investasi penting dalam membentuk kepribadian yang dapat membuat kita dihargai lebih oleh orang lain.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:40:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201882124</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Shifa Oktaviani</title>
         <author>496726</author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201883265</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Penggunaan Bahasa Indonesia dan Jawa dalam Lagu "Abadi" oleh Dendi Nata dan Hendra Kumbara</strong></p><p><br/></p><p><strong>Pendahuluan</strong> </p><p>Lagu "Abadi" yang dinyanyikan oleh Dendi Nata dan Hendra Kumbara merupakan salah satu contoh menarik dari penggabungan dua bahasa dalam musik, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Kombinasi ini tidak hanya memperkaya nuansa lagu, tetapi juga menciptakan kedalaman makna yang mampu menyentuh hati pendengar.</p><p><br/></p><p><strong>Isi</strong></p><p>Salah satu aspek yang menonjol dalam lagu "Abadi" adalah perpaduan antara bahasa Indonesia dan Jawa. Penggunaan bahasa Indonesia memberikan aksesibilitas yang lebih luas bagi pendengar dari berbagai latar belakang, sementara bahasa Jawa menambahkan keaslian dan kekayaan budaya yang mendalam. Misalnya, dalam beberapa bagian lirik, Dendi dan Hendra menggunakan istilah dalam bahasa Jawa yang memberikan nuansa lokal dan memperkuat identitas budaya lagu tersebut. Kata-kata dalam bahasa Jawa yang diambil sering kali memiliki makna yang lebih mendalam dan emosional, yang membuat lirik terasa lebih personal.</p><p><br/></p><p>Gaya bahasa yang digunakan dalam "Abadi" juga sangat menarik. Dalam liriknya, terdapat permainan kata dan metafora yang memperkuat tema cinta abadi. Penggunaan bahasa yang sederhana namun penuh makna memudahkan pendengar untuk meresapi perasaan yang ingin disampaikan. Misalnya, ungkapan-ungkapan dalam bahasa Jawa yang menggambarkan kerinduan dan cinta yang mendalam, dikombinasikan dengan lirik dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami, menciptakan harmoni yang seimbang.</p><p><br/></p><p>Lagu "Abadi" juga menggambarkan keberagaman budaya yang ada di Indonesia, di mana dua bahasa yang berbeda dapat berkolaborasi dalam satu karya seni. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media untuk mengekspresikan identitas dan perasaan. Pendengar dari latar belakang yang berbeda dapat merasakan kedalaman emosional lagu ini, baik dari lirik bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia.</p><p><br/></p><p>Dampak dari penggunaan kedua bahasa ini sangat signifikan, terutama bagi generasi muda. Mereka yang mungkin tidak fasih berbahasa Jawa masih bisa menikmati lagu ini berkat lirik dalam bahasa Indonesia, sekaligus mendapatkan wawasan tentang budaya dan tradisi lokal melalui penggunaan bahasa Jawa. Ini menciptakan jembatan antara generasi yang lebih tua, yang mungkin lebih akrab dengan bahasa Jawa, dan generasi muda yang lebih terbiasa dengan bahasa Indonesia.</p><p><br/></p><p><strong>Penutup</strong></p><p>Penggunaan bahasa Indonesia dan Jawa dalam lagu "Abadi" oleh Dendi Nata dan Hendra Kumbara merupakan contoh yang kaya akan makna dan budaya. Kombinasi kedua bahasa ini tidak hanya memperkaya pengalaman mendengarkan tetapi juga memperkuat identitas budaya. Lagu ini mencerminkan bagaimana bahasa dapat digunakan untuk mengekspresikan cinta dan kerinduan dengan cara yang mendalam dan emosional. Dengan demikian, "Abadi" bukan hanya sebuah lagu, tetapi juga sebuah karya seni yang mengajak pendengarnya untuk merayakan keberagaman bahasa dan budaya di Indonesia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:41:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201883265</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anisa Shafiya</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201885186</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Media Sosial Terhadap Perkembangan Bahasa</strong></p><p><br></p><p>Perkembangan teknologi di era globalisasi semakin memudahkan manusia untuk berkomunikasi satu sama lain. Sarana komunikasi yang berkembang pesat juga mengambil peran penting dalam berkomunikasi dengan orang-orang di berbagai belahan dunia, termasuk media sosial. Media sosial sendiri merupakan sebuah media di internet yang memungkinkan penggunanya untuk merepresentasikan dirinya dan berinteraksi, berkolaborasi, berbagi, dan berkomunikasi dengan pengguna lain untuk menjalin hubungan sosial secara virtual.</p><p>Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi, penggunaan bahasa yang baik dan benar merupakan hal yang sangat penting untuk dipelajari. Tujuan penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar adalah untuk mendorong masyarakat lebih giat belajar dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, agar tidak banyak bahasa yang menyimpang dari tatanan bahasa atau kaidah bahasanya. Namun seperti yang sering di jumpai, bahasa yang biasa digunakan oleh para remaja saat ini adalah bahasa gaul serta bahasa gaul yang digabungkan dengan bahasa Inggris. Bahasa semacam ini dapat menyebar dengan cepat di media sosial seperti "goks" yang berarti gokil, "jamber"yang berarti menanyakan jam berapa, "bucin" yang berarti budak cinta dan masih banyak lagi. </p><p>Hal ini membuat pembaca merasa bahwa ini adalah tren bahasa yang keren dan layak untuk diikuti. Penggunaan bahasa gaul tidak selalu berdampak positif bagi kehidupan remaja karena dapat mempengaruhi kegiatan belajar dan komunikasi mereka di kemudian hari dan mereka juga mungkin tidak memahami bahasa Indonesia yang baik dan benar yang sangat mungkin menjadi kendala dalam studi mereka. </p><p>Oleh karena itu, diperlukan pengawasan orang tua dan pendidikan yang baik dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.</p><p>Kesimpulannya, perkembangan teknologi dan media sosial telah mempengaruhi cara komunikasi, khususnya di kalangan remaja, dengan munculnya bahasa gaul yang sering digunakan. Meskipun bahasa gaul dapat dianggap sebagai tren yang menarik, penggunaan bahasa ini tidak selalu membawa dampak positif. Dikhawatirkan, hal ini dapat menghambat pemahaman terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar, yang penting untuk kegiatan belajar dan komunikasi di masa depan. Oleh karena itu, pengawasan dari orang tua dan pendidikan yang baik sangat diperlukan untuk mendorong penggunaan bahasa yang sesuai.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:42:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201885186</guid>
      </item>
      <item>
         <title>MENJADI INDONESIA DENGAN BAHASA (INDRIYANI LESTARI)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201886861</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Bahasa Indonesia adalah salah satu pemersatu bangsa, mengingat banyaknya daerah, suku, serta budaya yang mempengaruhi kebahasaan di tiap daerah. Dengan adanya bahasa nasional, komunikasi antar daerah menjadi lebih mudah dan efektif. Bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa persatuan dan bahasa nasional pada 28 Oktober 1928, bertepatan dengan peristiwa Sumpah Pemuda. Momen ini menandai pentingnya bahasa dalam membangun identitas dan solidaritas bangsa.</p><p><br/></p><p>Memasuki abad ke-20, rakyat Indonesia menyadari perlunya suatu alat pengikat sebagai bangsa. Para pemuda pada waktu itu sepakat untuk menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu. Bahasa ini telah mengalami perubahan seiring waktu, sehingga berkembang menjadi apa yang kita kenal sebagai Bahasa Indonesia saat ini. Keputusan tersebut tidak hanya mencerminkan kebutuhan praktis, tetapi juga semangat persatuan di antara berbagai suku dan budaya yang ada di Indonesia.</p><p><br/></p><p>Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai bahasa persatuan pada 28 Oktober 1928, yang tercantum dalam ikrar Sumpah Pemuda. Dalam ikrar tersebut, para pemuda menyatakan, "Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia." Pernyataan ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia digunakan oleh seluruh rakyat Indonesia untuk berkomunikasi secara antarsesama, yang merupakan salah satu aspek penting dalam membangun kesatuan bangsa.</p><p><br/></p><p>Dapat disimpulkan bahwa Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pemersatu yang mencerminkan peran pentingnya dalam menyatukan berbagai suku, budaya, dan daerah di Indonesia. Sebagai bahasa resmi negara, Bahasa Indonesia digunakan dalam pemerintahan, pendidikan, dan media, sehingga memudahkan komunikasi antarwarga negara. Selain itu, bahasa ini membangun identitas nasional di tengah keragaman budaya dan bahasa daerah, menciptakan rasa kebersamaan di antara masyarakat.</p><p><br/></p><p>Dengan menggunakan satu bahasa, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat berinteraksi dan memahami satu sama lain. Hal ini membantu mengurangi hambatan dalam masalah komunikasi, yang sering kali menjadi sumber perpecahan. Oleh karena itu, Bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penghubung yang memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks ini, menjaga dan mengembangkan Bahasa Indonesia adalah tanggung jawab kita semua untuk memastikan bahwa bahasa ini terus berfungsi sebagai jembatan antarbudaya dan suku di Indonesia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:44:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201886861</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kaila Risna Amalia </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201887191</link>
         <description><![CDATA[<p>Mengapa bahasa itu penting dalam kehidupan sehari hari.

Bahasa digunakan manusia dalam berbagai situasi dan kondisi. Lewat bahasa, antarmanusia bisa berbicara dan menjalin hubungan. Peran bahasa dalam kehidupan manusia sangatlah besar. Tanpa bahasa, manusia tidak akan bisa memahami pesan atau informasi, mengetahui dan memanggil nama orang atau benda, hingga menceritakan pengalamannya.


Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk identitas budaya. Setiap bahasa membawa kekayaan budaya dan sejarah yang unik. Bahasa tidak hanya sekadar kumpulan kata, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai dan tradisi suatu masyarakat. Contohnya, ungkapan dan frasa dalam suatu bahasa sering kali mencerminkan pola pikir dan pandangan hidup penggunanya. Dengan mempelajari bahasa tertentu, kita juga dapat memahami budaya yang berkaitan, sehingga memperluas wawasan dan pemahaman kita tentang dunia.


Bahasa sangat penting dalam pendidikan. Di sekolah, bahasa digunakan sebagai cara utama untuk menyampaikan pelajaran. Jika siswa menguasai bahasa dengan baik, mereka dapat memahami konsep yang diajarkan, ikut berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. Selain itu, kemampuan berbahasa juga penting untuk menulis tugas dan laporan. Dengan menguasai bahasa, seseorang akan lebih mudah mendapatkan informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan.


Saat ini, bahasa mengalami banyak perubahan akibat perkembangan digital. Media sosial dan teknologi komunikasi telah mengubah cara kita berinteraksi. Penggunaan bahasa gaul dan singkatan semakin umum, dan meskipun ini membuat komunikasi lebih menarik, kita tetap harus menghargai dan memahami bahasa formal. Perubahan bahasa dalam era teknologi menunjukkan betapa fleksibelnya bahasa dan kemampuannya untuk beradaptasi.


Selain itu, bahasa juga merupakan cara untuk mengekspresikan diri. Dengan bahasa, kita bisa menyampaikan perasaan, pemikiran, dan kreativitas. Dalam seni, sastra, dan musik, bahasa digunakan untuk menyampaikan pesan yang mendalam. Contohnya, puisi dan lagu menggunakan keindahan bahasa untuk menyentuh hati dan menginspirasi orang lain. Jadi, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cara untuk berbagi pengalaman dan emosi.


Kesimpulannya, bahasa sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dari komunikasi, identitas budaya, pendidikan, hingga ekspresi diri, bahasa adalah dasar yang menyatukan kita sebagai manusia. Oleh karena itu, kita harus menghargai dan melestarikan bahasa serta menyadari betapa besar pengaruhnya dalam hidup kita.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:44:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201887191</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Shely Eginta Tarigan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201888862</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p> </p><p><strong>Penggunaan Kata "Bah" dalam Dialek Samarinda</strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Bahasa daerah selalu mencerminkan identitas dan karakter masyarakatnya. Salah satu kata yang menarik perhatian dalam dialek Samarinda, khususnya dalam percakapan sehari-hari, adalah kata "bah." Kata ini memiliki fungsi penting dalam komunikasi, karena tidak hanya berperan sebagai kata seru, tetapi juga memperkuat makna emosi dari apa yang diucapkan.</p><p>Kata "bah" sering digunakan sebagai penegasan, ekspresi kejutan, atau sebagai ungkapan emosi, baik positif maupun negatif. Penggunaannya biasanya ditemukan di akhir kalimat untuk memberi tekanan pada pernyataan, dan tergantung pada intonasi pembicara, makna emosionalnya bisa beragam.</p><p>"Bah" sebagai Ciri Khas </p><p>Penggunaan "bah" dalam dialek Samarinda mencerminkan aspek budaya komunikasi yang unik. Kata ini memperkaya bahasa dengan nuansa emosional yang tidak bisa ditemukan dalam penggunaan bahasa formal. "Bah" memberikan kesempatan kepada penutur untuk lebih mengekspresikan perasaannya dengan cara yang langsung, tanpa perlu menggunakan kata-kata panjang.</p><p>Secara linguistik, kata seru seperti "bah" merupakan contoh fenomena pragmatik, di mana kata tersebut lebih menekankan konteks dan niat pembicara daripada arti harfiah. Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat Samarinda menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi yang penuh dengan ekspresi dan makna kontekstual, memperlihatkan budaya mereka yang hidup dan dinamis.</p><p>Penutup</p><p>Penggunaan kata "bah" dalam dialek Samarinda tidak hanya sekadar bentuk ekspresi bahasa, tetapi juga mencerminkan cara masyarakat menegaskan, bereaksi, dan mengekspresikan emosi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan penggunaannya yang fleksibel dan penuh makna, "bah" menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya komunikasi masyarakat Samarinda, memperkaya interaksi sosial dengan warna emosional yang khas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:45:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201888862</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Wilujeng Galih Utamu</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201888949</link>
         <description><![CDATA[<p>Penggunaan Dialek di Indonesia</p><p><br/></p><p>Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah. Ini membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan bahasa terbanyak di dunia. Setiap daerah memiliki bahasa dan dialeknya sendiri. Misalnya, di Pulau Jawa, ada bahasa Jawa, Sunda, dan Betawi yang masing-masing memiliki ciri khas. Maka dari itu, Indonesia memiliki banyak dialek.</p><p><br/></p><p>Dialek atau lebih kerap disebut logat sering kali ditemui saat kita berkunjung ke suatu daerah tertentu. Dialek setiap daerah tentunya berbeda-beda, tergantung setiap daerahnya. Dialek atau logat adalah bagaimana seseorang berbicara bahasa daerah dengan ciri khas tertentu.</p><p><br/></p><p>Dialek berperan penting untuk memudahkan dalam melakukan percakapan, dialek bekerja dengan membantu kita dalam mengindentifikasi apa yang dibicarakan oleh lawan bicara. Dialek juga bisa berperan sebagai bentuk identitas kita. </p><p><br/></p><p>Terciptanya dialek ini karena adanya perbedaan bahasa daerah yang mengalami perkembangan karena pengucapan yang berbeda secara geografis maupun lingkungan sosial. Tentunya banyak ragam dialek di Indonesia seperti dialek bahasa indonesia betawi, dialek melayu medan, melayu ambon, melayu palembang, dialek batak toba dan dialek jawa surabaya, contoh nya orang surabaya yang menggunakan bahasa jawa dengan dialek surabaya seperti "kek" atau yang artinya diberi dalam dialek surabaya sedangkan dalam bahasa jawa memakai "wenehi", kata "aing" yang kerap kali digunakan oleh orang sunda, "lu" dan "gue" yang digunakan oleh orang jakarta dan "napi ajak?" Yang memiliki arti apa kabar di bahasa bali. </p><p>Namun, banyaknya dialek di Indonesia dapat mempersulit komunikasi antar orang dengan dialek yang berbeda dalam bahasa yang sama. </p><p><br/></p><p>Dialek di Indonesia yang sangat beragam mencerminkan keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Dialek-dialek ini memainkan peran penting dalam identitas lokal dan komunikasi sehari-hari. Selain sebagai bentuk komunikasi, dialek juga merupakan simbol identitas sebuah daerah. </p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:45:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201888949</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201889145</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Raisya Aprilia Saputri&nbsp;</p><p>Kelas: XII-11&nbsp;</p><p><br/></p><p><strong>Penggunaan Bahasa Indonesia di Daerah Kalimantan Timur (Samarinda dan Balikpapan</strong>)&nbsp;</p><p><br/></p><p>Bahasa yang digunakan di Kalimantan Timur, antara lain Bahasa Melayu dengan tujuh dialek, yaitu dialek Banua, Banjar Samarinda, Kutai Kota Bangun, Badeng, Kutai Muara Lesan, Kutai Muyub Ulu, Kahala, Bahasa Paser, Bahasa Banjar, Bahasa Kutai, Bahasa Kenyah, Bahasa Aoheng (Penihing), Bahasa Bahau Diaq Lay, Bahasa Bahau Ujoh Bilang, Bahasa Bajau Pondong, Bahasa Basap.</p><p><br/></p><p>Tetapi seperti yang kita tahu bahwa daerah Kalimantan Timur terdapat banyak suku yang mendominasi, antara lain suku Bugis, suku Banjar, suku Kutai, suku Dayak, dan lain lain. Sehingga penggunaan bahasa Indonesia di Kalimantan Timur sendiri memiliki keunikan tersendiri.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Masyarakat Kalimantan Timur memang pada dasarnya menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa daerah dan ditambahkan beberapa imbuhan di depan atau belakang kata maupun kalimat bahkan terkadang memodifikasi struktur kalimat untuk menyesuaikan dengan kebiasaan komunikasi lokal untuk bahasa sehari-hari nya yang membuat hal ini sangat khas dan bernuansa lokal.</p><p><br/></p><p>Secara general kata-kata imbuhan tersebut antara lain "bah", "pang", "nah", "kah". Dan paling sering Bahasa Indonesia dipadukan dengan bahasa Banjar, Kutai, Dayak, dan Bugis. Contoh kalimat, "Coba telepon bubuhanmu nah", yang dimana arti "bubuhan" adalah teman-teman dalam bahasa Banjar dan ditambahkan dengan kata imbuhan "nah" fi akhir kalimat. Secara keseluruhan arti dari kalimat tersebut adalah "Coba telepon (hubungi) teman-temanmu".&nbsp;</p><p><br/></p><p>Dengan penggunaan bahasa di Kalimantan Timur terutama di Samarinda dan Balikpapan yang menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek-dialek bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari yang menggambarkan keunikan dalam kolaborasi budaya dalam berbahasa.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:45:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201889145</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Amelia Putri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201890350</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>XII - 11</strong></p><p><br/></p><p><strong>FOMO: Ketakutan Tertinggal di Era Digital</strong></p><p><br/></p><p><strong>FOMO</strong>, atau Fear of Missing Out, adalah perasaan takut ketika kita merasa tertinggal hal-hal menarik atau penting yang sedang tren di kalangan masyarakat. Istilah ini menjadi semakin populer seiring dengan maraknya orang yang membagikan kehidupannya di media sosial, yang sering kali membuat kita merasa bahwa hidup orang lain selalu menarik dan menyenangkan.</p><p><br/></p><p>Media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok memiliki peran besar dalam menumbuhkan rasa FOMO ini. Kita terus-menerus disuguhi berbagai unggahan tentang liburan mewah, acara eksklusif, dan pencapaian karier. Hal ini dapat memunculkan perasaan bahwa hidup kita tidak seistimewa atau sebahagia hidup orang lain. Akibatnya, kita mungkin menjadi kurang puas dengan hidup kita sendiri.</p><p><br/></p><p>Dari sudut pandang psikologi, FOMO dapat berdampak negatif pada kesehatan mental. Rasa takut tertinggal dapat memicu stres, gangguan kecemasan, bahkan depresi. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering mengalami FOMO cenderung merasa hidup mereka kurang berarti. Mereka terus-menerus membandingkan diri secara negatif, meyakini bahwa hidup orang lain selalu lebih baik.</p><p><br/></p><p>FOMO juga dapat memengaruhi perilaku sosial. Seseorang yang mengalami FOMO mungkin akan memaksakan diri untuk ikut dalam kegiatan atau tren tertentu meskipun sebenarnya mereka tidak benar-benar menikmatinya, hanya demi merasa “tidak tertinggal” dari kelompok sosialnya.</p><p><br/></p><p>Namun, FOMO juga memiliki sisi positif. FOMO dapat mendorong seseorang untuk keluar dari zona nyaman dan lebih aktif mencari pengalaman baru. Misalnya, mereka bisa terdorong untuk mencoba hal-hal baru seperti traveling atau mengembangkan keterampilan baru, termotivasi oleh apa yang mereka lihat di media sosial.</p><p><br/></p><p>FOMO adalah fenomena yang semakin umum di era digital dan media sosial. Meskipun dapat memberikan dorongan untuk eksplorasi dan pengembangan diri, FOMO juga memiliki sisi gelap yang dapat merusak kesejahteraan mental dan memengaruhi perilaku sosial. Penting bagi setiap individu untuk menyadari dampak FOMO dan belajar menyeimbangkan antara menikmati momen di dunia nyata dan mengelola ekspektasi yang sering kali tidak realistis dari dunia maya. Dengan demikian, kita bisa menjalani hidup yang lebih sehat dan puas tanpa merasa selalu tertinggal dari orang lain. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:46:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201890350</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Raihantama Rustam XII-11</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201890810</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Muhammad Raihantama Rustam</p><p>Kelas: XII-11</p><p><br></p><p>JUDUL:Maraknya penggunaan bahasa gen-alpha</p><p><br></p><p>Maraknya penggunaan bahasa gen-alpha saat ini. Gen alpha, adalah anak-anak yang lahir dari tahun 2010 hingga pertengahan 2020-an, tumbuh dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh teknologi dan media sosial.</p><p><br></p><p>Bahasa Gen Alpha dipengaruhi oleh penggunaan istilah yang berasal dari media sosial, video game, dan aplikasi komunikasi. seperti "lol, sigma, skibidi, rizz,mewing" menjadi bagian berkomunikasi sehari-hari mereka. Selain itu, penggunaan emoji juga sangat umum, memperkaya makna komunikasi mereka.</p><p><br></p><p>Teknologi memiliki peran sangat penting dalam pembentukan bahasa Gen Alpha. Dengan akses mudah ke internet dan perangkat pintar, mereka dapat berinteraksi dengan berbagai budaya dan bahasa dari seluruh dunia. Platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram tidak hanya menjadi tempat hiburan dan informasi, tetapi juga sarana pembelajaran dan pengembangan bahasa.</p><p><br></p><p>Perubahan bahasa ini tidak hanya mencerminkan gaya hidup Gen Alpha, tetapi juga mempengaruhi interaksi sosial mereka. Dan berpotensi mengurangi kemampuan mereka untuk berkomunikasi secara mendalam. Ada kekhawatiran jika ketergantungan pada komunikasi digital dapat mengurangi keterampilan komunikasi dan empati, yang penting dalam membangun hubungan yang sehat.</p><p><br></p><p>Bahasa Gen Alpha merupakan cerminan dari perubahan zaman yang dipengaruhi oleh teknologi dan budaya global. Hal ini menciptakan peluang baru untuk ekspresi diri dan interaksi sosial. Memahami bahasa ini penting, tidak hanya bagi mereka yang berinteraksi dengan generasi ini, tetapi juga sebagai alat pengembangan budaya dan pendidikan di masa depan. Seiring dengan perkembangan zaman bahasa Gen Alpha akan terus beradaptasi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:46:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201890810</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perbedaan Bahasa Jawa Timur dengan Bahasa Jawa Barat.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201891152</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Reivva Risdya Qurrota`ayyun</p><p><br/></p><p>Bahasa merupakan salah satu aspek penting dalam kebudayaan yang mencerminkan identitas suatu masyarakat. Di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, terdapat beragam dialek dan ragam bahasa yang berkembang di berbagai daerah. Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah yang digunakan oleh jutaan penduduk, terutama di bagian tengah dan timur Pulau Jawa. Namun, Bahasa Jawa tidaklah seragam; terdapat variasi dialek yang membedakan penutur di wilayah berbeda, seperti Jawa Timur dan Jawa Barat. Perbedaan ini tidak hanya terlihat dari segi kosakata, tetapi juga pada intonasi, tata bahasa, dan pelafalan.</p><p><br/></p><p>perbedaan yang mendasar antara Bahasa Jawa yang digunakan di Jawa Timur dan Jawa Barat:</p><p><br/></p><p>Perbedaan Dialek</p><p>Salah satu perbedaan utama antara Bahasa Jawa di Jawa Timur dan Jawa Barat terletak pada dialeknya. Di Jawa Timur, dialek yang sering digunakan dikenal sebagai Bahasa Jawa Arekan atau Suroboyoan, sedangkan di Jawa Barat dikenal dengan Bahasa Jawa Cirebonan. Bahasa Jawa Arekan cenderung memiliki pelafalan yang lebih keras dan tegas, sedangkan Cirebonan lebih lembut dan cenderung mirip dengan dialek Jawa Tengah dalam beberapa aspek.</p><p><br/></p><p>Kosakata yang Berbeda</p><p>Setiap daerah memiliki kekayaan kosakata yang berbeda. Contohnya, di Jawa Timur, kata "mangan" digunakan untuk "makan", sedangkan di Cirebon, kata yang lebih umum digunakan adalah "dahar". Selain itu, banyak istilah sehari-hari yang berbeda antara kedua wilayah, menambah keunikan masing-masing dialek.</p><p><br/></p><p>Intonasi dan Nada Bicara</p><p>Bahasa Jawa di Jawa Timur, khususnya di Surabaya dan sekitarnya, terkenal dengan nada bicaranya yang lebih lugas dan cenderung kasar. Sementara itu, Bahasa Jawa Cirebonan di Jawa Barat memiliki intonasi yang lebih halus dan lembut. Hal ini mencerminkan karakter budaya masyarakat di kedua wilayah yang sedikit berbeda dalam cara berkomunikasi.</p><p><br/></p><p>Pengaruh Lingkungan dan Budaya</p><p>Perbedaan antara Bahasa Jawa Timur dan Jawa Barat juga dapat dilihat dari pengaruh lingkungan dan budaya lokal. Di Jawa Timur, terutama Surabaya, budaya Arek yang lebih egaliter dan terbuka mempengaruhi gaya bahasa yang dipakai. Sedangkan di Cirebon, yang merupakan percampuran budaya Sunda dan Jawa, menampilkan ragam bahasa yang lebih santun dan formal.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, bahasa Jawa Timur dan bahasa Jawa Barat memiliki beberapa perbedaan yang signifikan, baik dari segi kosakata, pelafalan, maupun intonasi. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh faktor geografis, tetapi juga oleh pengaruh budaya yang berbeda di kedua wilayah tersebut. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat di setiap daerah merupakan cerminan dari identitas budaya mereka, sehingga memahami perbedaan bahasa ini dapat membantu kita lebih menghargai keanekaragaman budaya di Indonesia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:47:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201891152</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penggunaan kata &quot;Anomali&quot; dalam bahasa gaul remaja akibat menonton  Channel YouTube Windah Basudara</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201892584</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Nadine Asya Al Khalifi</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Di era digitalisasi saat ini pada kalangan remaja penggunaan platform media sosial sangatlah banyak terutama untuk menonton hiburan. Di mana hal ini berpengaruh kepada penggunaan bahasa gaul yang ada di kalangan remaja semakin berkembang karena adanya pengaruh dari platform media sosial dan konten kreator, seperti YouTube. Salah satu konten kreator terkenal dan memberikan banyak pengaruh dalam penggunaan bahasa gaul adalah Windah Basudara, yang dikenal sebagai streamer game dan memiliki gaya bicara yang khas serta penggunaan istilah - istilah yang menarik perhatian audiensnya. Salah satu istilah kata yang sering muncul di konten - kontennya dan digunakan oleh remaja dalam bahasa gaul mereka adalah “anomali.” Dalam essay ini, akan dibahas bagaimana kata "anomali" digunakan dalam bahasa gaul remaja.</p><p><br/></p><p>Secara etimologis, kata "anomali" berasal dari bahasa Yunani yang berarti penyimpangan atau ketidakwajaran. Dalam konteks bahasa gaul, penggunaan kata ini telah bergeser dari makna aslinya. Remaja saat ini sering menggunakan "anomali" untuk merujuk pada situasi atau perilaku yang dianggap tidak biasa atau hanya sebagai imbuhan biasa. Misalnya, mereka mungkin berkata, "Gila, itu anomali banget sih!" saat melihat sesuatu yang unik atau mengejutkan ataupun sepertinya “Wah, ada anomali tuh!” saat melihat ataupun membicarakan sesuatu yang menarik.</p><p><br/></p><p>Keberadaan Windah Basudara seorang konten kreator dan streamer game YouTube melalui konten- kontennya yang menghibur dan sebagai influencer yang kerap membahas berbagai topik dan game ini, sering menggunakan kata "anomali" untuk menggambarkan situasi atau karakter yang unik dan tidak biasa di dalam game. Misalnya, ketika mendiskusikan perilaku aneh dalam permainan video atau situasi konyol yang terjadi selama siaran langsung, Windah dengan santai menyebutnya sebagai "anomali." Cara ini membuat kata tersebut terdengar lebih menarik dan mudah diterima oleh remaja, sehingga mereka mulai mengadopsi istilah ini sebagai bahasa gaul dalam percakapan sehari- hari.</p><p><br/></p><p>Dalam bahasa gaul remaja saat ini penggunaan kata "anomali" mencerminkan dinamika bahasa yang terus menerus berubah seiring berjalan waktu. Para remaja mulai menggunakan istilah ini untuk merujuk pada berbagai hal, seperti situasi yang tidak biasa dalam kehidupan sehari- hari, perilaku teman yang aneh, atau bahkan kejadian lucu di media sosial. Contohnya, saat seorang teman melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan atau nalar mereka, mereka mungkin akan berkomentar, "Wah lu anomali banget, sih!"</p><p><br/></p><p>Hal ini menunjukkan bahwa kata "anomali" telah menjadi simbol dari pengamatan remaja terhadap lingkungan sosial mereka. Penggunaan kata ini juga menciptakan nuansa humor dan kebersamaan di antara mereka, sekaligus menandai identitas mereka sebagai generasi yang terhubung dengan konten digital.  Secara keseluruhan, penggunaan kata "anomali" dalam bahasa gaul remaja yang terinspirasi oleh konten dari Windah Basudara merupakan contoh nyata dari bagaimana sosial media dapat mempengaruhi bahasa dan komunikasi. Ini menunjukkan bahwa remaja tidak hanya menerima informasi, tetapi juga aktif mengubah dan menyesuaikan bahasa agar lebih relevan dengan pengalaman dan kehidupan mereka sebagai remaja. Dengan demikian, fenomena ini merupakan cerminan dari kreativitas bahasa di kalangan generasi muda yang terus berkembang.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:47:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201892584</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Chayara Alya Mukhbita </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201893600</link>
         <description><![CDATA[<p>“Perbedaan bahasa kutai zaman dulu dan sekarang”</p><p><br/></p><p>Bahasa Kutai adalah bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Kutai di Kalimantan Timur, yang mencerminkan kekayaan budaya dan identitas mereka. Seperti bahasa lainnya, bahasa Kutai mengalami perubahan akibat pengaruh zaman. Modernisasi, globalisasi, serta interaksi dengan budaya lain menyebabkan bahasa Kutai saat ini memiliki perbedaan dibandingkan versi aslinya di masa lalu.</p><p><br/></p><p>Salah satu perubahan utama terjadi dalam kosakata. Bahasa Kutai pada masa lalu kaya akan kata-kata yang terkait dengan alam dan kehidupan tradisional, seperti perikanan dan pertanian, karena masyarakat Kutai sangat dekat dengan alam. Namun, seiring perkembangan teknologi, kosakata baru dari bahasa Indonesia dan asing mulai masuk, seperti "mobil" dan "telepon", untuk menggambarkan hal-hal modern yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kutai.</p><p><br/></p><p>Pengaruh bahasa Indonesia dan asing juga semakin kuat. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional yang dominan di bidang pendidikan dan media, mulai menggantikan banyak kosakata asli bahasa Kutai. Selain itu, globalisasi dan media sosial memperkenalkan lebih banyak istilah asing, terutama dari bahasa Inggris, yang diserap generasi muda dalam bahasa sehari-hari mereka. Akibatnya, bahasa Kutai zaman sekarang lebih banyak mengandung unsur luar dibandingkan bahasa Kutai di masa lalu yang lebih murni.</p><p><br/></p><p>Perubahan juga terlihat dalam penggunaan bahasa. Di masa lalu, bahasa Kutai merupakan alat komunikasi utama di masyarakat, namun kini penggunaannya mulai berkurang, terutama di kalangan generasi muda di kota-kota besar. Anak-anak muda lebih sering menggunakan bahasa Indonesia atau mencampur dengan bahasa Kutai. Hal ini menyebabkan bahasa Kutai lebih sering digunakan oleh generasi tua, sementara generasi muda berisiko kehilangan kemahiran dalam bahasa ini.</p><p><br/></p><p>Meskipun demikian, upaya pelestarian bahasa Kutai terus dilakukan oleh pemerintah daerah, lembaga kebudayaan, dan masyarakat adat. Salah satunya adalah dengan mengintegrasikan bahasa Kutai ke dalam kurikulum sekolah dan menggunakan bahasa ini dalam berbagai acara budaya. Upaya ini bertujuan agar bahasa Kutai tetap hidup dan relevan, menjaga sejarah dan budaya masyarakat Kutai di tengah tantangan globalisasi yang dapat mengancam keberlangsungan bahasa daerah ini.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:48:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201893600</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Siti Amaliyah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201895141</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Penggunaan Kata “Sepuu” dalam Bahasa Gaul di Kalimantan</strong></p><p><br/></p><p><em>Pendahuluan</em></p><p><br/></p><p>Bahasa merupakan alat komunikasi yang terus berkembang seiring dengan perubahan sosial dan budaya dalam suatu masyarakat. Di berbagai daerah, perkembangan bahasa sering kali dipengaruhi oleh interaksi antar kelompok masyarakat yang menciptakan ragam atau istilah bahasa baru, salah satunya dalam bentuk bahasa gaul. Khususnya di Kalimantan, muncul fenomena unik dalam penggunaan istilah “sepuu” yang tidak hanya merujuk pada makna kekerabatan dalam bahasa Indonesia formal, tetapi memiliki makna lain dalam percakapan sehari-hari atau bahasa gaul. </p><p><br/></p><p><em>Isi</em> </p><p><br/></p><p>Secara umum, dalam bahasa Indonesia formal, kata "sepupu" Merujuk pada hubungan kekerabatan antara anak-anak dari saudara kandung. Dalam konteks keluarga, sepupu adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan kedekatan darah, meski tidak sedekat saudara kandung. Kata ini biasanya digunakan dalam percakapan yang melibatkan keluarga besar dan berfungsi sebagai sebutan yang resmi dan formal. Namun, di luar konteks formal ini, kata "sepupu" mengalami perkembangan makna dalam bahasa gaul, khususnya di beberapa daerah, termasuk Kalimantan.</p><p><br/></p><p>Di Kalimantan, terutama di kalangan anak muda, kata "sepupu" tidak hanya digunakan untuk Merujuk pada kekerabatan keluarga, tetapi telah berubah menjadi istilah dalam bahasa gaul. "Sepupu" sering dipakai untuk menggambarkan hubungan persahabatan yang dekat atau keakraban yang intens antara dua orang, tanpa harus ada hubungan darah. Dalam hal ini, di kalimantan kata "Sepupu" sering kali mendapat tanggapan negatif, kenapa tidak? karena di kalimantan banyak yang mengsalah gunakan arti kata tersebut.</p><p><br/></p><p> Misalnya, ada seseorang yang mengatakan bahwa "dia itu sepupu ku", padalah kenyataan nya orang tersebut bukan lah sepupu nya, dan di kalimantan kata sepupu sering kali di gunakan oleh kaum lelaki untuk menutupin status mereka, yang mungkin sudah mempunyai pacar, tujuan nya agar tidak ketahuan oleh pacar mereka.</p><p><br/></p><p>Selain itu, di beberapa kasus, kata “sepupu” juga dimanfaatkan untuk menghindari kejelasan status hubungan antara dua orang yang sebenarnya tidak memiliki ikatan kekerabatan. Misalnya, saat seorang pria atau wanita ingin menjaga kedekatannya dengan seseorang tanpa menimbulkan kecurigaan di mata orang lain, ia bisa menyebut orang tersebut sebagai “sepupu.” Fenomena ini memperlihatkan bagaimana bahasa gaul bisa memodifikasi makna asli dari suatu kata hingga memiliki konotasi yang berbeda dalam penggunaannya sehari-hari.</p><p><br/></p><p>Perkembangan penggunaan kata “sepupu” dalam konteks sosial ini juga menyoroti bagaimana budaya setempat memengaruhi pemaknaan kata. Perubahan ini tidak hanya terjadi di Kalimantan, tetapi bisa juga ditemukan di beberapa daerah lain, terutama di kalangan anak muda.  sisi, hal ini memperkaya kosakata bahasa Indonesia; namun, di sisi lain, pemanfaatan kata ini secara keliru juga dapat menimbulkan kesalahpahaman dan persepsi negatif.</p><p><br/></p><p><em>Penutup</em> </p><p><br/></p><p>Melalui analisis ini, kita dapat memahami bahwa bahasa tidak hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk mengekspresikan identitas dan hubungan sosial. Penggunaan kata "sepupu" di Kalimantan memberikan bukti kuat bahwa bahasa gaul berperan penting dalam menciptakan nuansa keakraban yang erat di masyarakat, sekaligus menjadi penanda identitas lokal. Pada akhirnya, memahami perkembangan ini dapat membantu kita lebih menghargai keragaman bahasa dan budaya di Indonesia, serta pentingnya melestarikan keunikan bahasa daerah dalam kehidupan sehari- hari.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:49:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201895141</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rizqa Nur Zhafarina </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201896653</link>
         <description><![CDATA[<p>Pengaruh dari Adanya Globalisasi Terhadap Bahasa Indonesia</p><p><br></p><p>Globalisasi merupakan proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Faktor yang terjadi seperti perkembangan teknologi, dan kerja sama internasional menyebabkan munculnya globalisasi. Globalisasi dapat menjadi tantangan baru terutama pada penggunaan bahasa indonesia. Dampak dari adanya globalisasi pada bahasa indonesia bisa saja positif ataupun sebaliknya.</p><p><br></p><p>Salah satu pengaruh paling nyata dari globalisasi adalah masuknya kosakata asing ke dalam bahasa Indonesia. Melalui media massa, internet, dan interaksi dengan budaya asing, kata-kata dari bahasa Inggris, Jepang, dan bahasa lainnya semakin sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran akan terjadinya penurunan kualitas bahasa Indonesia dan hilangnya kekhasan kosa kata asli.</p><p><br></p><p>Bahasa indonesia merupakan bahasa yang digunakan sehari-hari sebagai alat komunikasi satu sama lain. Saat ini bahasa indonesia digunakan secara luas hingga ke internasional sehingga pesatnya perkembangan globalisasi pada masyarakat dapat mempengaruhi penggunaan bahasa. Adapun dampak positif yaitu, bangsa Indonesia dapat mengikuti perkembangan zaman dan dapat bersaing dengan negara lain. Sedangkan dampak negatifnya, bahasa persatuan yang sesuai kaidah lama-lama akan tergeser karena pengaruh dari adanya globalisasi.</p><p><br></p><p>Indonesia memiliki banyak bahasa daerah dari sabang sampai merauke Lalu bahasa indonesia dipilih sebagai alat untuk mempersatukan bangsa indonesia. Sehingga warga negara indonesia harus bisa membedakan mana dampak positif dan mana dampak negatif agar tidak terkena pengaruh dari adanya globalisasi. Dan diharapkan warga negara indonesia dapat melestarikan dan mempertahankan bahasa persatuan yaitu bahasa indonesia agar tidak terkena dampak buruk dari adanya globalisasi.</p><p><br></p><p>Globalisasi telah membawa pengaruh yang kompleks terhadap bahasa Indonesia. Di satu sisi, globalisasi memperkaya kosakata dan membuka peluang bagi bahasa Indonesia untuk dikenal di dunia internasional. Di sisi lain, globalisasi juga mengancam kelestarian bahasa Indonesia dengan masuknya kosakata asing dan perubahan struktur kalimat. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk menjaga kelestarian dan mengembangkan bahasa Indonesia agar tetap relevan di era globalisasi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:50:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201896653</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Frecia Cahya Fradilla </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201899462</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Teknologi terhadap Penggunaan Bahasa pada Generasi Alpha</strong></p><p><br/></p><p>Generasi Alpha yang lahir diantara tahun 2010 hingga 2025 merupakan generasi pertama yang sepenuhnya tumbuh di era digital di mana teknologi memainkan peran penting dalam kehidupan sehari- hari. Sejak usia dini mereka sudah terbiasa dengan penggunaan teknologi seperti smartphone, tablet, laptop maupun komputer, menjadikan teknologi sebagai bagian yang penting dalam aktivitas mereka. Penggunaan teknologi ini mempengaruhi cara mereka berinteraksi, selain itu juga berdampak pada perkembangan bahasa yang mereka gunakan. Media sosial menjadi sarana komunikasi yang paling utama bagi generasi ini yang mengakibatkan perubahan signifikan dalam pola dan gaya bahasa yang digunakan.</p><p><br/></p><p>Teknologi digital menciptakan pola komunikasi baru di kalangan Generasi Alpha. Mereka cenderung menggunakan bahasa yang lebih singkat dan informal, sering kali dalam bentuk singkatan atau akronim, seperti "BRB" (Be Right Back), "OMG" (Oh My God), "FOMO" (Fear of Missing Out), dan "FYI" (For Your Information). Selain itu, penggunaan stiker dan emoji menjadi bagian penting dalam komunikasi sehari-hari mereka untuk mengekspresikan situasi atau emosi. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa yang mereka gunakan semakin visual dan kontekstual. Di satu sisi, perkembangan ini memperkaya cara komunikasi mereka, tetapi di sisi lain, hal ini juga menghadirkan tantangan dalam penggunaan bahasa formal.</p><p><br/></p><p>Generasi Alpha juga menunjukkan ketergantungan yang lebih tinggi terhadap bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, karena mayoritas konten yang mereka konsumsi di internet menggunakan bahasa tersebut. Hal ini tidak hanya memengaruhi kemampuan mereka dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, tetapi juga dapat mengurangi penggunaan bahasa daerah. Banyak kosakata baru dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Inggris, dan ini sering diadopsi tanpa terjemahan, mengakibatkan pergeseran makna dan pola bahasa. Akibatnya, identitas budaya yang melekat dalam bahasa lokal bisa saja melemah seiring waktu, karena mereka lebih sering berkomunikasi menggunakan bahasa asing. </p><p><br/></p><p>Teknologi digital juga mempercepat perubahan gaya komunikasi Generasi Alpha, di mana mereka lebih mengutamakan kecepatan dan efisiensi dalam berkomunikasi. Misalnya, komunikasi melalui pesan teks atau media sosial sering kali singkat dan to the point, dengan sedikit memperhatikan tata bahasa yang benar. Hal ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang terbiasa menggunakan bahasa yang lebih terstruktur dalam surat atau percakapan formal. Akibatnya, kemampuan Generasi Alpha dalam menyusun kalimat dengan struktur formal dan baku bisa saja menurun, karena mereka lebih sering terbiasa dengan pola komunikasi yang ringkas dan informal.</p><p><br/></p><p>Selain perubahan dalam struktur bahasa, cara penulisan juga mengalami perubahan yang cukup signifikan. Generasi Alpha cenderung lebih banyak menulis dengan menggunakan bahasa lisan atau percakapan, seperti penggunaan kata sapaan "gue", "elo", atau "loh" yang lebih akrab dalam lingkungan informal. Penulisan seperti ini sering kali dianggap lebih relevan dan kekinian dalam dunia media sosial. Namun, gaya penulisan yang terlalu lisan ini dapat menimbulkan kesulitan ketika mereka harus beralih ke gaya penulisan yang lebih formal atau akademik.</p><p><br/></p><p>Dengan semakin berkembangnya teknologi, Generasi Alpha juga lebih sering terpapar berbagai bahasa dari berbagai budaya di seluruh dunia melalui media sosial atau game online. Hal ini memang membuka wawasan dan menambah kosakata baru, tetapi di sisi lain juga memicu campur-campur bahasa atau yang dikenal dengan istilah kode switching. Dalam satu kalimat, mereka bisa mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, yang jika tidak disikapi dengan baik, bisa mengaburkan kaidah berbahasa. Ini menjadi tantangan besar bagi generasi ini dalam mempertahankan keaslian bahasa mereka sambil tetap mengikuti perkembangan teknologi.</p><p><br/></p><p>Pengaruh teknologi terhadap penggunaan bahasa pada Generasi Alpha tidak dapat dihindari dan menjadi bagian dari perkembangan zaman. Meskipun teknologi memberikan kemudahan dan variasi dalam berkomunikasi, penting bagi para pendidik dan orang tua untuk mengajarkan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Upaya untuk menyeimbangkan penggunaan bahasa formal dan informal, serta</p><p>mendorong penggunaan bahasa lokal, perlu terus dilakukan agar Generasi Alpha tetap menghargai dan mempertahankan keunikan bahasa dan budaya mereka di tengah perkembangan teknologi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:52:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201899462</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Andi Raisya </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201900902</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Penggunaan Kata "Anomali" dalam Bahasa Slang Remaja </strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pada era digital sekarang, bahasa gaul adalah bahasa yang paling populer digunakan sebagai bentuk komunikasi di antara remaja. Salah satu istilah yang sering kita jumpai adalah kata "anomali". Slang ini sering di gunakan untuk merujuk pada sesuatu yang berbeda dan tidak biasa, tetapi bersifat lebih santai atau bahkan positif. Misalnya ketika ada seseorang atau sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan norma atau kebiasaan umum, tetapi justru dianggap keren dan menarik </p><p><br/></p><p><br/></p><p>Contoh penggunaan kata anomali adalah dalam diskusi tentang tren mode, seorang remaja mungkin berkata, "Fashion dia anomali banget, enggak mainstream." Dalam hal ini, mereka menggunakan kata "anomali" untuk menyoroti gaya fashion yang tidak umum dan menunjukkan bahwa mereka menghargai kreativitas dan keberanian dalam berekspresi. </p><p><br/></p><p>Contoh lainnya bisa ditemukan dalam konteks sosial. Dalam suatu kelompok, seseorang yang memiliki minat atau hobi yang tidak biasa bisa disebut "anomali." Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman minat dianggap positif dan menarik, membuktikan bahwa remaja semakin terbuka terhadap perbedaan</p><p><br/></p><p>Seiring perkembangan zaman sikap remaja terhadap keunikan dan perbedaan yang berkembang di kalangan mereka adalah penerimaan terhadap suatu keberagaman dan perbedaan terhadap antar individu. Di dalam lingkungan sosial yang sering kali menuntut kesamaan, kata "anomali" ada sebagai bentuk kebebasan berekspresi dan mendorong tiap individu untuk bangga dengan jati diri mereka </p><p><br/></p><p><br/></p><p>Kesimpulan: </p><p><br/></p><p>Penggunaan kata "anomali" dalam bahasa slang remaja mencerminkan sikap positif terhadap perbedaan dan keunikan. Melalui istilah ini, remaja tidak hanya mendefinisikan kembali makna sebuah kata, tetapi juga mengajak untuk merayakan perbedaan dalam diri mereka dan orang lain. Dengan demikian, "anomali" tidak hanya menjadi sebuah istilah, tetapi juga simbol dari kebebasan berekspresi dan penerimaan terhadap keberagaman di kalangan generasi muda. Dalam era di mana individualitas sering kali ditekan oleh norma sosial, istilah ini muncul sebagai penegasan bahwa menjadi berbeda adalah hal yang patut dihargai.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:53:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201900902</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Penggunaan Bahasa Toxic di Media Sosial
Pada Kalangan Remaja</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201906350</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>Nama: Shabrina Indriani</p><p>Kelas: XII-11</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Di era globalisasi tentu digitalisasi sudah menjalar liar luas keseluruh belahan dunia</p><p>sehingga banyak anak dibawah umur yang sudah dapat mengandalkan teknologi layaknya orang dewasa. Penggunaan teknologi di era sekarang bahkan sudah tidak dapat dikendalikan lagi karena sudah menjadi kebutuhan primer yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termaksud anak-anak yang masih dibawah umur. Namun digitalisasi dapat membawa dampak positif maupun dampak negatif.</p><p><br/></p><p>Penggunaan media sosial salah satu bentuk digitalisasi yang memiliki dampak positif maupun negatinya, seperti informasi yang dapat tersebar cepat, penggunaannya yang fleksibel sampai dapat melakukan semua hal di digital, salah satunya media sosial. Tapi dibalik banyaknya manfaat terdapat pula beribu dampak negatifnya terutama pada kaidah-kaidah bahasa yang digunakan.</p><p><br/></p><p>Di era sekarang penggunanya cenderung menggunakan bahasa yang kasar (toxic).bahasa yang digunakan merupakan bahasa yang kasar, seperti "anjing" "bodoh"</p><p>"gila" dan lain sebagainya. Kata-kata tersebut dulunya merupakan sebuah istilah</p><p>yang tabu tapi sekarang adalah hal yang normal saat mengatakan hal tersebut. Bahkan orang tua pun menganggap bahwa budaya toxic adalah hal yang sudah biasa terjadi dilingkungan anak-anaknya.</p><p><br/></p><p>Tentu bahasa yang tidak sesuai dengan nilai etika lingkungan dapat menghasilkan generasi toxic dan bermental kasar karena kebiasaan vang sudah dilakukan yang sudah dilakukan sejak dini. Namun, hal tersebut sudah dinormalisasikan bahkan sudah menjadi kebiasaan. Di media sosial ujaran kebencian</p><p>banyak sekali dilontarkan kepada suatu hal,</p><p>menggunakan kata-kata toxic yang dapat membuat beberapa pihak sakit hati.</p><p>Penggunaan bahasa yang toxic di media sosial sudah menjadi kebiasaan sehingga</p><p>bukanlah yang tabu lagi untuk berkata kasar di media sosial.</p><p><br/></p><p>Krisis etika berbahasa ini menjadi masalah besar karena rusaknya moral generasi bangsa terkait dengan berbahasa, budaya yang tidak baik menjadi hal yang dinormalisasikan. Tentu kita sebagai generasi bangsa harus bisa membentuk karakter baik untuk diri sendiri dan generasi yang akan datang</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:57:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201906350</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Maria Vany Grazella Tulit Kurouman </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201907148</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><p><strong>Bahasa Digital: Evolusi Komunikasi di Era Media Sosial</strong></p></blockquote><p><br/></p><p>Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, salah satunya adalah cara kita berinteraksi. Di tengah pesatnya pertumbuhan media sosial, muncul fenomena baru yang dikenal sebagai bahasa digital. Bahasa ini bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan perubahan budaya dan perilaku masyarakat modern. Dalam esai ini, kita akan menjelajahi bagaimana bahasa digital telah berevolusi, karakteristik yang membedakannya dari bahasa tradisional, serta dampaknya terhadap komunikasi sehari-hari.</p><p><br/></p><p>Bahasa digital muncul sebagai respons terhadap kebutuhan untuk berkomunikasi dengan cepat dan efisien di platform media sosial. Di era di mana informasi disampaikan dalam hitungan detik, pengguna mulai mengadaptasi cara mereka berkomunikasi. Singkatan dan akronim seperti “FYI” (For your information) dan “ANW” (Anyway) menjadi hal yang umum. Selain itu, munculnya emoji dan GIF atau sticker sebagai bagian dari komunikasi visual memberikan nuansa baru pada interaksi digital.</p><p><br/></p><p>Salah satu ciri khas bahasa digital adalah fleksibilitasnya. Pengguna sering kali mengubah tata bahasa dan struktur kalimat untuk menyesuaikan konteks. Bahasa yang digunakan di media sosial cenderung lebih informal dan santai dibandingkan dengan bahasa tulis formal. Penggunaan simbol-simbol visual dan format yang beragam juga menciptakan pengalaman komunikasi yang lebih menarik. Misalnya, dalam satu pesan, seseorang dapat menggabungkan teks, gambar, dan video untuk menyampaikan pesan yang lebih bermakna.</p><p><br/></p><p>Evolusi bahasa digital memiliki dampak signifikan terhadap cara kita berkomunikasi. Di satu sisi, bahasa ini memungkinkan komunikasi yang lebih cepat dan efisien. Orang-orang dapat terhubung dengan teman dan keluarga di seluruh dunia. Namun, di sisi lain, ada tantangan yang muncul, seperti potensi kesalahpahaman akibat penggunaan bahasa yang tidak baku. Ketidakjelasan dalam komunikasi sering kali terjadi, terutama ketika konteks tidak sepenuhnya dipahami oleh pihak lain.</p><p><br/></p><p>Selain itu, bahasa digital juga dapat berperan dalam pembentukan identitas sosial. Melalui pilihan kata dan gaya penulisan, pengguna dapat menunjukkan afiliasi mereka terhadap kelompok tertentu. Hal ini menciptakan komunitas virtual yang kuat, tetapi juga bisa memperkuat polarisasi jika tidak dikelola dengan bijak.</p><p><br/></p><p>Bahasa digital adalah cerminan dari perubahan yang terjadi dalam masyarakat kita akibat kemajuan teknologi. Meski menawarkan banyak kemudahan dalam berkomunikasi, kita juga perlu menyadari tantangan yang dihadirkannya. Penting bagi kita untuk menjaga keseimbangan antara inovasi komunikasi dan pemahaman yang jelas agar interaksi sosial tetap bermakna. Dengan terus mengikuti perkembangan bahasa digital, kita dapat memanfaatkan potensi positifnya, sekaligus menghindari dampak negatifnya dalam kehidupan sehari-hari. Seiring dengan evolusi media sosial, bahasa digital akan terus berkembang, dan kita harus siap untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 05:58:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201907148</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dari Slang ke Tren: Bahasa Jaksel dalam Era Globalisasi </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201907545</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Oleh Kirey Orseola Hutagaol</strong></p><p><br/></p><p>Perkembangan bahasa di era globalisasi dipengaruhi oleh interaksi sosial, teknologi, dan keberagaman budaya. Di Jakarta Selatan (Jaksel), pengaruh ini terlihat jelas dengan munculnya gaya bahasa khas di kalangan anak muda. Bahasa yang mereka gunakan merupakan campuran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa daerah, yang mencerminkan gaya hidup urban serta pengaruh global. Fenomena ini dikenal sebagai "Bahasa Jaksel," sebuah gaya komunikasi yang unik dan menjadi tren di kalangan generasi muda saat ini.</p><p><br/></p><p>Bahasa Jaksel mencerminkan identitas dan status sosial penggunanya, terutama di daerah-daerah elit seperti Kemang, Cipete, dan Pondok Indah. Bahasa ini terbentuk dari perpaduan slang, ungkapan populer, dan kosakata bahasa asing. Media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok berperan penting dalam mempopulerkan Bahasa Jaksel. Di platform-platform ini, anak muda sering menggunakan bahasa yang singkat, kreatif, dan penuh emoji atau meme, yang mempercepat penyebaran gaya bahasa ini di kalangan rekan sebaya.</p><p><br/></p><p>Kecakapan dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris, menjadi semakin penting bagi generasi muda di Jakarta Selatan. Dalam era globalisasi, kemampuan berkomunikasi lintas negara menjadi suatu keharusan, dan Bahasa Jaksel menjadi salah satu bentuk adaptasi terhadap kebutuhan tersebut. Anak muda memanfaatkan Bahasa Jaksel untuk mengekspresikan diri secara modern dan sesuai dengan tren global, sembari tetap mempertahankan sentuhan lokal yang menjadikannya unik.</p><p><br/></p><p>Istilah-istilah dalam Bahasa Jaksel, seperti "literally," "which is," dan "unexpected," sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Kata-kata ini digunakan untuk menegaskan atau memperjelas pernyataan dan menggambarkan situasi dengan lebih tepat. Selain itu, ungkapan seperti "honestly," "jujurly," dan "trust issue" merefleksikan kejujuran dan masalah dalam hubungan sosial. Penggunaan istilah-istilah ini menunjukkan bagaimana Bahasa Jaksel menciptakan cara komunikasi yang santai namun tetap bermakna.</p><p><br/></p><p>Bahasa Jaksel juga memiliki manfaat sosial yang signifikan. Gaya komunikasi ini membangun koneksi di antara anak muda, memberikan identitas bersama, dan memperkuat rasa keterikatan di antara kelompok-kelompok tertentu. Dengan menggunakan Bahasa Jaksel, generasi muda dapat lebih ekspresif dan kreatif, menciptakan istilah unik yang mencerminkan gaya hidup serta pemikiran mereka. Kemampuan menguasai Bahasa Jaksel yang memadukan unsur bahasa asing juga meningkatkan daya saing mereka di lingkungan internasional.</p><p><br/></p><p>Namun, fenomena ini juga membawa dampak sosial yang perlu diperhatikan. Bahasa Jaksel sering kali dipandang sebagai bentuk eksklusivitas yang hanya dipahami oleh kelompok tertentu, menciptakan jarak antara mereka dan masyarakat umum. Hal ini dapat menghambat keterlibatan sosial dengan orang yang kurang familiar dengan gaya bahasa ini. Selain itu, dominasi bahasa asing dalam Bahasa Jaksel berpotensi melemahkan identitas budaya lokal, karena semakin jarangnya penggunaan bahasa Indonesia yang baku. Meskipun demikian, Bahasa Jaksel tetap menjadi refleksi dinamis dari kreativitas dan keberagaman budaya generasi muda di era globalisasi.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2989815457/710b7ead564a51ca9480b9f2c59e636b/IMG_1346.jpeg" />
         <pubDate>2024-11-05 05:58:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201907545</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201915637</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Fildzah Hasya Nazifa</p><p><br/></p><p>Kelas XII-11</p><p><br/></p><p>Penggunaan kata HTS dalam bahasa gaul</p><p><br/></p><p>hts adalah singkatan dari hubungan tanpa status, hts menjelaskan hubungan dekat antara pria dan wanita yang bisa dibilang sangat dekat seperti sepasang kekasih, tetapi tanpa adanya status yang jelas, biasanya hts di gunakan untuk menjalin hubungan yg lebih dekat sebelum ke jenjang pacaran atau bisa di bilang pendekatan, tetapi hts ini tidak ada kejelasan antar kedua nya, apakah sepasang kekasih atau hanya malahan sekedar berteman saja.</p><p><br/></p><p>bahasa gaul adalah bahasa yang sering anak muda, terutama kalangan gen z di kehidupan sehari hari, contohnya adalah HTS kepanjangannya yaitu hubungan tanpa status yang tidak jelas. bahasa ini hampir sering di gunakan kalangan gen z.</p><p><br/></p><p>Bahasa gaul, termasuk penggunaan HTS, memberikan kesan yang lebih ringan dan tidak serius, terutama di kalangan anak muda yang tidak ingin terikat pada aturan atau norma yang lebih baku. Istilah HTS menjadi alat untuk mengekspresikan hubungan yang lebih fleksibel, di mana kedua pihak masih bisa merasa nyaman satu sama lain tanpa adanya tekanan untuk memberikan label seperti "pacaran." Fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa bisa mencerminkan budaya dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.</p><p><br/></p><p>dalam bahasa gaul menunjukkan bahasa itu akan berkembang seiring dengan perubahan waktu dan interaksi sosial dan budayanya, contoh nya ada kata singkatan HTS, Semoga pemahaman ini dapat membuka wawasan kita tentang bahasa gaul yang sekarang sering sekali di gunakan.  </p><p><br/></p><p>Penggunaan bahasa gaul seperti HTS menggambarkan kecenderungan anak muda untuk lebih santai dan terbuka dalam menjalani hubungan, meskipun kadang bisa menimbulkan kebingungan atau ketidakpastian. Di balik semua itu, HTS juga menunjukkan bagaimana bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga cerminan dari bagaimana kita memaknai hubungan antar manusia dalam konteks sosial yang lebih luas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 06:04:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201915637</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Naysill Sachel XII-11</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201918393</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Penggunaan atau singkatan bahasa yang<br>digunakan pada platform media sosial twitter</strong></p><p><br/></p><p>Media sosial merupakan platform online yang digunakan pada zaman sekarang sebagai sarana komunikasi dan interaksi bagi penggunanya. Salah satu platform media sosial yang populer adalah Twitter. Berdasarkan buku yang ditulis Hadi (2010:2), pengertian Twitter adalah situs microblog yang memberikan fasilitas bagi pengguna untuk mengirimkan sebuah pesan teks dengan panjang maksimal 140 karakter melalui SMS (Short Message Service), pengirim pesan instan, maupun surat elektronik. Dengan batasan karakter yang ketat ini, pengguna Twitter dituntut untuk berkomunikasi dengan lebih efisien. Salah satu cara yang paling umum digunakan untuk mencapai efisiensi ini adalah melalui penggunaan singkatan. Pada esai ini, saya akan membahas penggunaan singkatan di Twitter dan alasan di balik penggunaannya. <br><br>Singkatan adalah cara memadatkan kata-kata atau frasa untuk menghemat ruang dalam komunikasi tertulis. Di Twitter, pengguna sering kali menggunakan singkatan untuk mempercepat dan mempersingkat pesan teks serta menjaga pesan agar tetap dalam batas karakter yang diizinkan. Misalnya, "BTW" yang merupakan singkatan dari frasa bahasa Inggris "By The Way" yang artinya "ngomong-ngomong", dan "OTW" yang berarti "On The Way" atau "dalam perjalanan". Penggunaan singkatan ini tidak terbatas pada bahasa gaul atau informal saja, tetapi juga mencakup singkatan yang berasal dari bahasa resmi. Contohnya, "CMIIW" (correct me if I'm wrong) sering digunakan dalam diskusi yang lebih serius untuk menambahkan nada sopan dalam berargumen. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan singkatan di Twitter sangat beragam, mencakup berbagai konteks komunikasi. <br><br>Ada beberapa alasan mengapa singkatan sering digunakan di Twitter. Pertama, batasan karakter yang ketat memaksa pengguna untuk berpikir kreatif dalam menyampaikan pesan. Kedua, kecepatan dalam berkomunikasi menjadi sangat penting, terutama dalam situasi di mana informasi harus disampaikan dengan cepat. Ketiga, efisiensi dalam penggunaan ruang juga menjadi faktor penting, karena pengguna ingin menyampaikan sebanyak mungkin informasi dalam satu tweet. Selain itu, tren sosial juga mempengaruhi penggunaan singkatan, di mana semakin banyak pengguna yang menggunakan singkatan, semakin banyak pula pengguna lain yang mengikutinya. Hal ini menciptakan budaya baru dalam berkomunikasi di media sosial. <br><br>Namun, meskipun penggunaan singkatan membawa banyak keuntungan dalam hal kecepatan dan efisiensi, ada juga tantangan yang muncul, terutama dalam perkembangan bahasa formal. Penggunaan singkatan yang berlebihan dapat mengaburkan makna asli dari kata-kata dan frasa, serta menyebabkan kebingungan, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa dengan istilah-istilah tersebut. Selain itu, penggunaan singkatan yang tidak tepat dalam konteks formal dapat mengurangi kredibilitas komunikasi. Oleh karena itu, penting bagi pengguna media sosial untuk bijak dalam menggunakan singkatan, serta mampu menyeimbangkan antara penggunaan bahasa informal dan formal sesuai dengan konteks komunikasi. <br><br>Kesimpulannya, penggunaan singkatan di Twitter merupakan respon alami terhadap batasan karakter platform tersebut, serta kebutuhan untuk berkomunikasi secara cepat dan efisien. Singkatan tidak hanya menjadi bagian dari tren sosial, tetapi juga mempengaruhi cara kita menggunakan dan memahami bahasa. Meskipun membawa keuntungan dalam hal kecepatan dan efisiensi, penggunaan singkatan juga menimbulkan tantangan bagi perkembangan bahasa formal. Oleh karena itu, penting bagi pengguna media sosial untuk bijak dalam menggunakan singkatan, serta mampu menyeimbangkan antara penggunaan bahasa informal dan formal sesuai dengan konteks komunikasi. Dengan cara ini, kita dapat menjaga kejelasan dan efektivitas komunikasi di era digital yang semakin berkembang.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 06:05:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201918393</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bahasa Indonesia Menjadi bahasa formal sehari hari </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201919031</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama : Andira Meykalma Prawigasalwa</p><p><br/></p><p>Sebagai bahasa resmi sehari-hari, bahasa Indonesia memegang peranan yang sangat penting dalam komunikasi masyarakat</p><p>&nbsp;Dalam konteks ini, bahasa formal berarti penggunaan kosakata dan struktur kalimat yang sesuai dengan kaidah tata bahasa normal. Penggunaan bahasa formal sangat penting dalam situasi formal, seperti&nbsp; pidato, presentasi, dan dokumen resmi, yang memerlukan kejelasan dan&nbsp; komunikasi yang serius, bahasa formal membantu pendengar atau pembaca lebih memahami pesan yang disampaikan.</p><p><br/></p><p>Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa formal tidak&nbsp; terbatas pada konteks akademis atau profesional anda juga sebaiknya menggunakan bahasa formal dalam interaksi sehari-hari, terutama saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau dalam situasi yang memerlukan rasa hormat misalnya, penggunaan bahasa formal saat berbicara dengan atasan atau di acara&nbsp; formal dapat menciptakan suasana yang lebih sopan dan menghormati norma-norma sosial yang ada hal ini penting untuk menjaga hubungan antar individu, menjaga keharmonisan dan saling menghargai.</p><p><br/></p><p>Kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan bahasa formal semakin meningkat di era digital saat ini, dimana komunikasi sering dilakukan melalui pesan teks dan media sosial, sangat penting untuk memahami perbedaan&nbsp; bahasa resmi dan tidak resmi meskipun banyak orang cenderung menggunakan bahasa gaul dan informal dalam percakapan sehari-hari,&nbsp; ada situasi tertentu di mana perlu menggunakan bahasa formal untuk menyampaikan pesan dengan lebih akurat dan efektif bahkan dalam lingkungan profesional, penggunaan bahasa formal&nbsp; dapat meningkatkan citra diri seseorang.</p><p><br/></p><p>Pendidikan memegang peranan penting dalam mengenalkan dan membiasakan diri menggunakan bahasa formal di sekolah, siswa diajarkan untuk memahami struktur kalimat yang benar dan menggunakan kosakata standar hal ini tidak hanya akan meningkatkan kemampuan bahasa&nbsp; tetapi juga mempersiapkan untuk berkomunikasi dengan sukses dalam lingkungan profesional di masa depan. Bahasa formal yang baik memungkinkan siswa dengan percaya diri mengemukakan pendapat dan idenya dalam berbagai forum.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 06:06:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201919031</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dwi Sri Rahmania Putri</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201919729</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengungkapan Makna dan Implikasi Istilah "Gacor" yang Sedang Tren di Era Generasi Z</strong></p><p><br/></p><p>Di era Generasi Z sekarang, istilah-istilah baru terus bermunculan dan menjadi tren di kalangan muda. Salah satu istilah yang sedang populer adalah "gacor." Istilah ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama di media sosial maupun dalam interaksi langsung. Namun, sudahkah kita memahami lebih dalam makna dan implikasi di balik istilah ini? Dalam esai ini, saya akan mencoba mengungkapkan makna dan implikasi istilah "gacor" yang sedang tren di kalangan Generasi Z.</p><p><br/></p><p>Istilah "gacor" sendiri memiliki beberapa makna yang berbeda tergantung pada konteksnya. Dalam beberapa kasus, istilah "gacor" digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki kemampuan atau keahlian luar biasa dalam suatu bidang. Misalnya, seseorang yang sangat pandai dalam bermain game atau memiliki kemampuan menulis yang luar biasa. Dalam konteks ini, "gacor" digunakan sebagai bentuk penghargaan atau pujian.</p><p><br/></p><p>Namun, dalam konteks lain, istilah "gacor" juga digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki perilaku atau sikap yang tidak sopan atau tidak pantas. Misalnya, seseorang yang suka mengganggu atau menghina orang lain di media sosial. Dalam konteks ini, "gacor" digunakan sebagai bentuk kritik atau celaan.</p><p><br/></p><p>Dalam beberapa tahun terakhir, istilah "gacor" juga digunakan dalam konteks yang lebih luas sebagai simbol kebebasan dan kemandirian. Dalam konteks ini, "gacor" menggambarkan seseorang yang tidak takut untuk mengekspresikan diri dan memiliki keberanian untuk menjadi diri sendiri.</p><p><br/></p><p>Selain itu, penggunaan istilah "gacor" juga memiliki beberapa implikasi yang perlu dipertimbangkan. Pertama, penggunaan istilah ini dapat memengaruhi cara kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam beberapa kasus, penggunaan istilah "gacor" dapat membuat kita lebih percaya diri dan berani mengekspresikan diri. Namun, istilah ini juga dapat membuat kita lebih agresif dan kurang sopan. Kedua, penggunaan istilah "gacor" juga dapat memengaruhi cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Dalam beberapa contoh, istilah ini dapat membuat kita lebih menghargai keunikan dan keberanian seseorang. Namun, dalam kasus lain, istilah ini dapat membuat kita lebih kritis dan kurang toleran terhadap orang lain.</p><p><br/></p><p>Dapat disimpulkan bahwa istilah "gacor" memiliki makna dan implikasi yang perlu dipertimbangkan dengan bijak. Dalam beberapa kasus, istilah ini dapat memberikan dampak positif, seperti membuat kita lebih percaya diri dan berani mengekspresikan diri. Namun, dalam kasus lain, istilah ini dapat memberikan dampak negatif, seperti membuat kita lebih agresif dan kurang sopan. Oleh karena itu, kita perlu menggunakan istilah ini dengan bijaksana serta mempertimbangkan konteks dan implikasi yang mungkin timbul.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 06:06:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201919729</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Sherilla Weli Anggraeni </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201966501</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><em>Bahasa sebagai Identitas Budaya dalam Era Globalisasi</em></strong></p><p><br></p><p>Bahasa adalah hal yang pasti dan harus dipelajari. Bahasa adalah alat komunikasi yang menjadi bagian penting dari kehidupan bermasyarakat, bahasa juga merupakan bagian penting karena bahasa merupakan identitas budaya. Di seluruh dunia, di setiap negara, di setiap daerah pastinya memiliki bahasa dan gaya bahasanya masing-masing. Di era globalisasi masa sekarang, bahasa merupakan jembatan komunikasi paling penting sebagai alat komunikasi antardaerah maupun antarnegara. Namun adanya globalisasi saat ini juga menjadi tantangan karena bahasa luar atau bahasa global mengancam keberadaan bahasa daerah.</p><p><br></p><p>Bahasa berperan sebagai identitas dari setiap daerah masyarakat. Misalnya, bahasa di daerah Indonesia seperti bahasa Jawa, Sunda, Banjar, Melayu, dan lain-lain. Setiap bahasa daerah memiliki nilai dan budaya khas di masing-masing daerahnya. Dengan demikian bahasa juga menjadi salah satu warisan budaya yang berlanjut dari generasi ke generasi.</p><p><br></p><p>Namun, di era globalisasi saat ini bahasa daerah menghadapi tantangan berat. Dengan adanya kemudahan akses bahasa serta bahasa global seperti bahasa Inggris, semakin mendominasi berbagai bidang seperti pendidikan, teknologi, dan bisnis. Kemampuan menguasai bahasa Inggris memberikan keuntungan salah satunya mudahnya komunikasi dengan daerah luar namun disisi lain, adanya bahasa Inggris atau bahasa lokal ini juga menyebabkan kurangnya penggunaan bahasa lokal setempat.</p><p><br></p><p>Generasi muda cenderung lebih tertarik pada bahasa yang digunakan dalam teknologi dan media sosial sehingga dengan lebih seringnya akses menuju bahasa global maka menyebabkan berkurangnya penggunaan bahasa lokal. Jika tidak segera diatasi, bahasa lokal atau bahasa daerah setempat dapat semakin hilang keberadaannya. Berkurang atau bahkan hilangnya bahasa lokal atau bahasa daerah tersebut menyebabkan lunturnya bahkan hilangnya kebudayaan dan warisan budaya pada daerah lokal setempat.</p><p><br></p><p>Bahasa adalah jati diri serta alat komunikasi yang sangat penting. Penting pula bagi kita untuk menjaga kelestarian bahasa lokal atau daerah untuk menjaga warisan budaya dalam upaya melestarikan kebudayaan. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerjasama untuk menjaga kelestarian bahasa lokal atau daerah misalkan dengan adanya media elektronik atau pendidikan melalui sekolah. Dengan menjaga kelestarian bahasa lokal atau bahasa daerah, kita dapat menghadapi globalisasi tanpa kehilangan warisan budaya daerah kita.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 06:40:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201966501</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Marvel Salawane</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201968980</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh <em>English Day</em> Terhadap Kemampuan Siswa SMA Negeri 10 Samarinda Dalam Berbahasa Inggris</strong></p><p><br></p><p>&nbsp;</p><p>        SMA Negeri 10 atau bisa disebut Smaridasa adalah sekolah unggulan yang ada di Samarinda. Kata “unggulan” tidak sembarang saya ucapkan. Karena memang seperti itu kenyataannya. Setiap warga sekolah memiliki tata krama terhadap yang lebih tua. Seperti selalu memberikan salam kepada yang lebih tua, sopan dalam berbicara dan berperilaku, sikap yang taat terhadap peraturan serta selalu menerapkan budaya SMA Negeri 10 yang sudah ada sejak lama. Warga sekolah juga tidak lupa akan kebaikan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga selalu melaksanakan Sholat bagi yang beragama Muslim, dan rajin membaca Kitab setiap pagi bagi Siswa yang beragama Non Muslim.</p><p><br></p><p>          Hal lain yang menjadikan Smaridasa sekolah unggulan adalah adanya program <em>English Day</em> yang diselenggarakan oleh Organisasi Siswa Intra Sekolah setiap hari Jumat. Program ini mengajak siswa untuk berbahasa Inggris dalam memberi salam dan ketika sedang berbicara dengan orang lain. Ketika program <em>English Day</em>&nbsp; ini diselenggarakan, Organisasi Siswa Intra Sekolah juga akan mengadakan sebuah <em>English Games</em> yang berbeda-beda setiap minggunya.&nbsp;</p><p><br></p><p>        Program <em>English Day</em> ini adalah program yang tidak hanya mengedukasi, tetapi juga seru untuk dijalankan. Hanya saja, masih ada banyak siswa yang belum menerapkan program ini. Siswa-siswa tersebut beralasan lupa atau tidak mahir dalam berbahasa Inggris. Padahal menurut saya, program <em>English Day</em> ini adalah gerbang kesempatan bagi siswa untuk dapat mahir dalam berbahasa Inggris.</p><p><br></p><p>        Program <em>English Day</em> adalah program yang tentu akan menarik banyak perhatian dari masyarakat luar akan Smaridasa. Menurut saya, melalui program <em>English Day</em> ini siswa yang awalnya tidak mahir dalam berbahasa Inggris akan mampu berbahasa Inggris. Memang, tidak semua siswa dapat langsung mahir berbahasa Inggris hanya melalui satu hari menjalani program <em>English Day</em>. Tapi saya yakin, perlahan tapi pasti Siswa akan mampu mahir dalam berbahasa Inggris.</p><p><br></p><p>     Program <em>English Day</em> sudah pasti mampu meningkatkan kemampuan para siswa dalam berbahasa Inggris. Karena siswa yang kurang bisa berbahasa Inggris, dapat berlatih dengan teman yang mahir berbahasa Inggris. Dan tentunya, siswa tidak harus belajar berbicara dan mendengarkan dalam Bahasa Inggris saat <em>English Day</em> saja. Siswa dapat belajar berbicara dan mendengarkan dalam bahasa Inggris bersama teman mereka kapan saja dan di mana saja.&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 06:42:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201968980</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201974742</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>PERUBAHAN BAHASA PADA GEN ALPHA</strong></p><p><br></p><p>Generasi alpha lebih cenderung melakukan perubahan atau pergeseran pada bahasa dalam berkomunikasi. Hal ini menjadikan bahasa baku akan tertimbun perlahan jika generasi alpha terus melakukan pergeseran makna kata dalam berkomunikasi. Hal ini termasuk ke dalam permasalahan perubahan bahasa, karena generasi milenial mengaku sulit memahami bahasa yang digunakan oleh gen alpha. Karakteristik generasi alpha adalah dikelilingi teknologi sejak dini, oleh karena itu generasi alpha cenderung lebih cerdas, lebih kritis, dan cepat memahami sesuatu.</p><p><br></p><p>Perubahan bahasa ini memiliki dampak yang negatif bagi masyarakat, yaitu:</p><ol><li><p><strong>Mengurangi kemampuan berbahasa Indonesia</strong></p></li></ol><p>Banyaknya bahasa gaul yang digunakan dapat membuat generasi muda sulit berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.</p><ol start="2"><li><p><strong>Tidak bisa berkomunikasi dengan lancar</strong></p></li></ol><p>Bahasa gaul yang tidak beraturan dan tidak memiliki makna yang jelas dapat membuat generasi muda tidak mampu berkomunikasi dengan lancar dan akurat.</p><ol start="3"><li><p><strong>Mengikuti tren tanpa memahami makna</strong></p></li></ol><p>Generasi alpha mungkin mengonsumsi bahasa yang bersifat gaul dan abstrak untuk mendapatkan pengakuan dari khalayak. Namun mereka mungkin tidak mengetahui esensi dari makna kata atau bahasa yang mereka pakai.</p><p><br></p><p>Berikut ini adalah 5 Contoh bahasa - bahasa gaul generasi alpha dan artinya:</p><ol><li><p><strong>Rizz</strong></p></li></ol><p>Rizz adalah singkatan dari “Charisma”</p><ol start="2"><li><p><strong>Gyatt</strong></p></li></ol><p>Gyatt adalah sebuah pujian yang biasanya diberikan kepada perempuan dengan bentuk tubuh yang menarik.</p><ol start="3"><li><p><strong>Mewing</strong></p></li></ol><p>Mewing adalah tindakan meletakkan lidah di langit - langit mulut untuk mendapatkan garing rahang yang lebih tajam.</p><ol start="4"><li><p><strong>Skibidi</strong></p></li></ol><p>Skibidi berasal dari seri YouTube viral “Skibidi Toilet” dan memiliki konotasi negatif, sehingga sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang jahat atau buruk.</p><ol start="5"><li><p><strong>Sigma</strong></p></li></ol><p>Sigma adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dominan, pemimpin tunggal, atau individu yang keren dan populer.</p><p><br></p><p>Kita sebagai generasi yang berada di atas generasi alpha harus saling mengingatkan, agar tidak terjadi perubahan bahasa yang meningkat. Kita harus memperbanyak menggunakan bahasa negara kita sendiri yaitu bahasa Indonesia. Kita tidak boleh membiarkan generasi muda menjadi tergantung oleh bahasa kekinian yang tidak jelas maknanya.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2989973894/29a996e41e18cef4c012e5e968557f13/th.jpg" />
         <pubDate>2024-11-05 06:46:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201974742</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ni Putu Rara Anindhita Dewi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201989861</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Penggunaan Bahasa yang Ada di Media Sosial Terhadap Kehidupan Sehari-hari</strong></p><p><br/></p><p>Media sosial merupakan hal yang sudah tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari sebagian orang di seluruh dunia. Karena jejaring sosialnya yang sangat luas, media sosial merubah cara kita dalam berinteraksi dan berkomunikasi. <em>Platform</em> seperti <em>Instagram, Facebook, Twitter, </em>dan lain-lain tidak hanya sebagai sarana untuk berbagi momen tetapi juga sebagai sarana untuk berkomunikasi yang kaya akan ekspresi bahasa. Penggunaan bahasa di media sosial sangat mempengarui pola komunikasi kita sehari-hari, baik dalam konteks formal maupun informal.</p><p><br/></p><p>Salah satu ciri khas bahasa di media sosial adalah penggunaan bahasanya yang lebih santai dan informal atau yang disebut juga dengan bahasa gaul. Dalam berkomunikasi secara <em>online</em>, orang-orang juga biasanya menggunakan singkatan untuk mengekspresikan dirinya, contohnya seperti LOL <em>(laugh out loud) </em>yang mengekspresikan bahwa seseorang sedang tertawa terbahak-bahak. Bahasa gaul yang digunakan dalam media sosial biasanya bertujuan untuk membuat suasana yang lebih dekat antara pengguna.</p><p><br/></p><p>Namun, dibalik semua kelebihan tersebut juga terdapat dampak negatif yang menjadi tantangan kita saat ini. Salah satunya yaitu pengurangan kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Banyak orang terbiasa dalam menggunakan bahasa yang tidak baku atau informal. Ketika sudah mencapai masalah seperti ini, maka seseorang akan sulit ketika berhadapan dengan situasi yang memerlukan komunikasi yang lebih serius seperti dalam dunia pendidikan atau pekerjaan yang menggunakan bahasa formal sebagai alat untuk berkomunikasi. Ketergantungan terhadap bahasa gaul atau informal menyebabkan seseorang kesulitan dalam memahami bahasa Indonesia dalam konteks formal. Tidak hanya itu, kebanyakan bahasa gaul memiliki kosakata yang kasar dan tidak pantas untuk digunakan. Kosakata-kosakata yang muncul ini biasanya tercipta dari tren-tren yang terdapat di media sosial.</p><p><br/></p><p>Media sosial selain sebagai wadah untuk berbagi momen dan informasi juga perlu dimanfaatkan dengan bijak dalam membentuk cara kita berbahasa. Tidak semua bahasa gaul dapat dikatakan baik untuk digunakan di kehidupan sehari-hari. Untuk itu, kita harus dapat memilah bahasa yang pantas dan tidak pantas untuk digunakan. Sebabnya, dalam dunia media sosial juga masih banyak pengguna yang tergolong di bawah umur. Dengan menggunakan bahasa yang baik dalam berkomunikasi, maka akan tercipta suasanya yang nyaman di antara pengguna satu dengan yang lainnya.</p><p><br/></p><p>Penggunaan bahasa formal dalam kehidupan sehari-hari juga perlu diterapkan untuk melatih kemampuan kita dalam berbahasa Indonesia dengan benar. Misalnya dengan membuat cerita pendek lalu dapat diunggah ke media sosial. Dengan demikian, media sosial dapat dimanfaatkan dengan baik serta kemampuan berbahasa kita dapat terlatih. Orang dengan kemampuan berbahasa yang baik biasanya akan lebih mudah dalam konteks berbicara secara formal dan mampu memilih kata-kata dengan benar saat mengutarakan pendapat maupun saat berkomunikasi. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 06:55:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201989861</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Frank Excel Junior Sulistio</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201992568</link>
         <description><![CDATA[<p>Bahasa: Perkembangannya dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Kita</p><p><br/></p><p>~&gt; Bahasa adalah salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia. Lebih dari sekadar alat komunikasi, bahasa memungkinkan kita mengekspresikan perasaan, berbagi ide, dan menyampaikan informasi. Seiring berjalannya waktu, bahasa telah mengalami perkembangan yang signifikan dan memberikan pengaruh besar dalam berbagai aspek kehidupan. Awalnya, tulisan berupa gambar atau simbol sederhana yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Namun, seiring waktu, tulisan berkembang menjadi sistem yang lebih kompleks seperti alfabet yang kita gunakan saat ini. Dengan adanya tulisan, manusia dapat menyimpan dan mewariskan pengetahuan serta cerita dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tanpa tulisan, banyak pengetahuan dan tradisi yang mungkin akan hilang.</p><p>Bahasa juga memiliki peran penting dalam kemajuan budaya. Setiap masyarakat memiliki bahasa atau dialek yang unik, yang mencerminkan nilai-nilai, kebiasaan, dan cara pandang mereka terhadap dunia. Melalui bahasa, budaya dapat dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang. Misalnya, ada budaya yang memiliki banyak kata untuk menggambarkan salju karena salju adalah bagian penting dari kehidupan mereka. Namun tidak hanya manusia, beberapa hewan juga memiliki cara berkomunikasi yang unik. Lumba-lumba, misalnya, menggunakan suara tertentu untuk berkomunikasi dengan kelompoknya. Lebah juga menggunakan tarian untuk memberi tahu teman-temannya tentang lokasi bunga. Meskipun tidak sekompleks bahasa manusia, komunikasi ini sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka.</p><p>Bahasa juga mempengaruhi cara kita berpikir dan melihat dunia. Misalnya, bahasa yang memiliki banyak kata untuk menggambarkan warna tertentu dapat membuat penuturnya lebih peka terhadap perbedaan warna tersebut. Ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya alat komunikasi, tetapi juga mempengaruhi cara kita memahami dan menafsirkan lingkungan sekitar.</p><p>Selain itu, perkembangan bahasa berperan besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan bahasa, penemuan dan teori dapat didokumentasikan, dikaji, dan dikembangkan lebih lanjut. Tanpa bahasa, perkembangan ilmu pengetahuan mungkin akan berlangsung jauh lebih lambat karena tidak ada cara yang efektif untuk menyimpan dan menyebarkan pengetahuan. Namun, perkembangan bahasa juga menghadapi tantangan. Di era globalisasi saat ini, banyak bahasa lokal atau minoritas yang terancam punah. Bahasa-bahasa besar seperti Inggris, Mandarin, dan Spanyol semakin mendominasi, sementara bahasa-bahasa kecil mulai ditinggalkan. Jika bahasa-bahasa ini punah, kita juga akan kehilangan bagian penting dari warisan budaya dan pengetahuan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, penting untuk melestarikan dan mendukung penggunaan bahasa-bahasa minoritas. Bahasa adalah cerminan dari kompleksitas dan keunikan manusia. Dari asal-usulnya yang sederhana hingga peranannya yang vital dalam modernisasi kehidupan, bahasa telah membentuk dan dipengaruhi oleh perjalanan sejarah manusia. Dengan memahami dan menghargai bahasa, kita tidak hanya mengenal diri kita sendiri, tetapi juga memahami dan merayakan keragaman manusia di seluruh dunia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 06:57:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201992568</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Syifa Rahma Yuniar </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201996747</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><strong>Pengaruh Media Sosial Terhadap Tata Bahasa Dalam Berkomunikasi Sehari-Hari</strong></p><p><br/></p><p>Di era modern ini, penggunaan teknologi sudah sangat marak. Teknologi menyediakan berbagai akses informasi, komunikasi, hiburan dan lain-lain. Media sosial merupakan salah satu jenis teknologi komunikasi untuk bertukar pesan, memperoleh informasi, maupun sarana hiburan. Saya sebagai pengguna media sosial merasa bahwa media sosial dapat bermanfaat untuk berbagai aspek. Tetapi melalui pengamatan di lingkungan sekitar, banyak terlihat dampak negatif dari media sosial itu sendiri, contohnya adalah penggunaan bahasa yang tidak etis di lingkungan sekitar. Artinya, media sosial juga memiliki dampak buruk terhadap tata kebahasaan menurut kumparan.com. Munculnya bahasa alay, menggunakan singkatan-singkatan, berkata kasar serta adanya perubahan ejaan akibat dari konten-konten yang disebarkan menjadi hal yang sudah biasa dalam kehidupan sehari-hari. Pengurangan penggunaan media sosial serta menyaring konten yang beredar dapat meminimalisir dampak negatif terhadap perubahan tata bahasa.</p><p><br/></p><p>Banyak sekali mahasiswa yang telah meneliti dan berpendapat bahwa media sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap tata bahasa dalam berkomunikasi. Hal ini dibuktikan dengan munculnya slang, ejaan yang tidak baku dan adanya adopsi bahasa asing seperti ‘<em>selfie, pose, download</em>.’ Hal tersebut menjadikannya bukti bahwa adanya  pergeseran bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari. Pergeseran bahasa sendiri disebabkan oleh adanya persaingan antara bahasa utama dan bahasa kedua yang digunakan para pengguna media sosial maupun masyarakat.</p><p><br/></p><p>Di lingkungan saya sendiri, sudah terjadi perubahan tata bahasa dalam berkomunikasi. Umumnya, para gen z dan gen alpha yang banyak mengalami perubahan tata bahasa. Tak mengherankan karena pengaruh dari konten-konten yang mereka konsumsi, mereka mulai mengikuti cara berbicara dengan berlandaskan konten tersebut. Para remaja cenderung meniru apa yang mereka lihat, serta merasa lebih keren apabila berbicara dengan bahasa yang berbeda daripada orang lain. Contohnya seperti berkata kasar, menggunakan bahasa campuran dan menggunakan slang ‘aneh’ seperti ‘<em>rizz, sigma, gyatt</em>’ dan sebagainya yang kemudian dianggap unik dan keren. Dan kemudian, cara berbahasa seperti itu dinormalisasikan sehingga dianggap sudah biasa (normal) dalam berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Contoh lain, banyak generasi alpha  yang tidak sopan saat berkomunikasi dengan yang lebih tua darinya, bahkan beberapa dari mereka tidak dapat bersikap serius ketika diajak untuk berbicara.  Adanya anggapan tak penting mengenai tata bahasa yang baik dan benar oleh gen z juga membuat bahasa yang digunakan semakin melenceng dan tak sesuai dengan kaidah kebahasaan  dan pengajaran bahasa yang baik dan benar pada generasi muda.</p><p><br/></p><p>Tetapi, perubahan yang terjadi tidak hanya memiliki makna yang buruk maupun negatif . Media sosial juga turut memberikan perubahan yang baik dalam berbahasa, seperti contohnya yaitu media sosial dapat memungkinkan pengguna untuk menggunakan bahasa yang lebih luas dan dapat memfasilitasi pembelajaran yang lebih mudah. Tata bahasa yang digunakan di media sosial cenderung lebih santai atau informal, sehingga dapat membuat para pembaca lebih mudah memahami. Pembawaannya yang santai juga dapat memudahkan kita dalam berinteraksi serta lebih mudah untuk mengekspresikan diri. </p><p><br/></p><p>Dengan demikian, media sosial memiliki pengaruh yang baik terhadap tata bahasa seseorang apabila kita menggunakannya dengan sebaik mungkin. Namun juga dapat berpengaruh yang buruk apabila kita tidak menyaring isi dari konten-konten yang terdapat di media sosial. Kita harus menjadi pribadi yang lebih bijak dalam penggunaan media sosial agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:00:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201996747</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Lia Ramadani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201997997</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Sosial Media Terhadap Penggunaan Bahasa Pada Generasi <em>Alpha</em></strong></p><p><br>Kemajuan teknologi yang semakin meningkat memaksa masyarakat untuk mengikuti arus zaman. Dengan semakin canggihnya teknologi, penggunaan jejaring sosial pun sudah menjadi sarana publik setiap hari. Pada kalangan remaja seperti generasi Z dan generasi <em>alpha</em>, penggunaan media sosial dengan cepat diadaptasi, tak heran jika saat ini setiap remaja setidaknya menggunakan sebuah perangkat digital untuk menunjang setiap aktivitasnya.</p><p>Media dan teknologi digital memiliki pengaruh yang signifikan dalam perkembangan bahasa. Penggunaan media sosial dan teknologi canggih lainnya telah memperluas jangkauan penggunaan bahasa dan mempermudah pembelajaran bahasa. Namun, di sisi lain, teknologi juga mempengaruhi perubahan dalam bahasa dan menghasilkan bahasa baru/kekinian yang memiliki kosakata dan struktur bahasa sendiri.&nbsp;</p><p>Dalam berkomunikasi, khususnya pada zaman digital seperti saat ini, kata-kata sering kali mengalami pergeseran-pergeseran makna. Faktor yang cenderung ditemukan dalam pergeseran makna kata&nbsp; adalah faktor tata krama (kesopanan) dan faktor anggapan masyarakat, hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa ungkapan yang sering kali diungkapkan oleh generasi <em>alpha</em>.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Generasi<em> alpha </em>merupakan generasi yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025, di mana mereka tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang sangat akrab dengan teknologi digital. Berbeda dengan generasi sebelumnya, generasi ini tidak hanya mengenal internet sejak usia dini, tetapi juga terpapar pada berbagai platform media sosial. Media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan Twitter, menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka. Dalam konteks ini, peran media sosial terhadap penggunaan bahasa pada generasi <em>alpha</em> sangat signifikan, mempengaruhi cara mereka berkomunikasi, berinteraksi, dan memahami bahasa.</p><p>Internet dan teknologi turut membuka kesempatan khususnya generasi <em>alpha</em> dalam belajar hal baru tanpa batas. Termasuk penggunaan kosakata atau bahasa baru yang terjadi lewat tutur kata secara langsung maupun melalui media sosial. Peran media sosial yang penggunaannya untuk mengakses semua informasi turut berpartisipasi dalam berbagi dan menciptakan sebuah kosakata baru. Seperti kata <em>sigma, skibidi, rizz, big l, gyatt, mewing,</em> dan<em> ohio </em>merupakan bahasa yang muncul dan kerap digunakan di masa generasi <em>alpha </em>saat ini. Bahasa yang digunakan pada saat ini bisa dikategorikan sebagai kosakata yang disingkat, kosakata yang digabung berupa akronim, kosakata dari suatu peristiwa atau plesetan maupun kata istilah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan efisiensi dalam berkomunikasi. Meskipun demikian, penggunaan bahasa yang tidak baku ini sering kali mengabaikan kaidah tata bahasa yang benar.</p><p>Selain itu, media sosial juga menjadi sarana pembelajaran bahasa yang tidak terduga. Melalui interaksi dengan pengguna dari berbagai belahan dunia, generasi <em>alpha </em>terpapar pada beragam bahasa dan dialek. Mereka belajar untuk memahami konteks dan nuansa bahasa yang berbeda, meskipun terkadang mereka mengadopsi kata-kata asing ke dalam percakapan sehari-hari mereka. Misalnya, istilah-istilah dalam bahasa Inggris sering digunakan dalam percakapan bahasa Indonesia, yang menciptakan campuran bahasa yang unik. Hal ini berpotensi memperkaya kosakata mereka, tetapi juga dapat membingungkan mereka dalam konteks formal.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, peran media sosial terhadap penggunaan bahasa pada generasi <em>alpha </em>sangat kompleks. Meskipun media sosial dapat meningkatkan kreativitas dan memperkenalkan kosakata baru, ada juga risiko terhadap penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa yang benar. Generasi <em>alpha </em>perlu belajar untuk menyeimbangkan penggunaan bahasa di dunia digital dengan bahasa yang baku dan formal, agar mereka dapat berkomunikasi dengan efektif dalam berbagai konteks. Dengan pemahaman yang tepat, generasi ini dapat memanfaatkan media sosial sebagai alat pembelajaran yang bermanfaat tanpa kehilangan keaslian dan keindahan bahasa.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:01:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201997997</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Bahasa Yang Sering Digunakan Gen Z di Media Sosial</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201999374</link>
         <description><![CDATA[<p>Asyifa Nur Azizah</p><p><br/></p><p>Bahasa yang sering digunakan saat ini adalah bahasa yang dibuat oleh generasi Z. Generasi ini mempunyai bahasa yang unik saat berkomunikasi khususnya dalam bermedia sosial. Mereka memodifikasi bahasa untuk memudahkan dalam bermain media sosial.&nbsp; Karena tidak bisa dipungkiri sebagai generasi yang tumbuh dengan teknologi dan internet gen Z memiliki cara berkomunikasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Bahasa yang mereka modifikasi terdiri dari bahasa Indonesia hingga bahasa Inggris. </p><p><br/></p><p>Bahasa yang mereka gunakan disebut dengan Slang. Slang adalah&nbsp;ragam bahasa yang tidak baku dan tidak resmi yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama oleh kelompok sosial tertentu. Gen Z menemukan bahasa ini karena di pengaruhi oleh perkembangan teknologi. Bahasa yang mereka gunakan saat ini sangat mempengaruhi cara berbicara dalam berbahasa indonesia yang baik dan benar. </p><p><br/></p><p>Contoh slang yang sering digunakan oleh Gen Z adalah “LOL” (laugh out loud), “BRB” (be right back), “FOMO” (fear of missing out), "IDC" ( I Dont Care), "IJBOL" (I Just Burst Out Laughing), "YOLO" (You Only Live Once). Walaupun singkatan ini sudah ada sejak dahulu, Gen Z lebih kreatif dalam menciptakan bahasa singkatan yang lebih modern dan unik. Pemakaian singkatan ini bukan hanya mempermudah interaksi, tetapi juga menunjukkan kecepatan dan efisiensi dalam berkomunikasi. </p><p><br/></p><p>Penggunaan GIF, stiker,&nbsp; dan emoji juga merupakan elemen penting dalam komunikasi di media sosial, terutama di kalangan Gen Z. Karena dapat menggambarkan reaksi yang nyata dan menjadikan komunikasi lebih hidup dan mudah dipahami. Selain itu meme juga sering digunakan oleh Gen Z karena digunakan untuk mengekspresikan pandangan atau perasaan dalam cara yang tidak formal dan humoris. </p><p><br/></p><p>Bahasa yang sering digunakan oleh Gen Z sangat mencerminkan perkembangan teknologi dan perubahan dalam berkomunikasi. Dengan bahasa yang penuh dengan ciri khas, Gen Z dapat membangun komunikasi secara global. Bahasa yang Gen Z buat dapat mencerminkan adanya perubahan sosial budaya karena berkembangnya teknologi. Penting juga bagi kita untuk dapat mengikuti dan memahami bahasa Gen Z agar dapat berkomunikasi dengan baik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:02:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3201999374</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Nikita Akthama </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202000794</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><p><strong>Bahasa Indonesia yang memudar dikarenakan bahasa asing tetapi apakah itu hal yang buruk?</strong></p></blockquote><p><br/></p><p><br/></p><p>   Bahasa indonesia adalah bahasa yang digunakan oleh bangsa indonesia. Tetapi bahasa Indonesia memiliki cobaan yaitu dimana penggunaan bahasa ini memudar, terutama pada anak-anak remaja yang sekarang malah suka untuk berbicara dengan bahasa asing yang di anggap mereka bahasa gaul. Fenomena ini dapat dilihat dengan bagaimana anak-anak berbicara yang banyak sekali menggunakan bahasa inggris yang merupakan bahasa asing. namun apakah ini hal yang buruk?</p><p><br/></p><p><br/></p><p>   Salah Satu faktor dari memudar penggunaan bahasa Indonesia adalah bahasa inggris yang merupakan bahasa asing. Cara masuk bahasa inggris ke indonesia adalah melalui sosial media yang sebenar penggunaan bahasa asing memiliki kegunaan yang penting, yaitu untuk berkomunikasi internasional yang dimana orang-orang mudah untuk berkomunikasi dengan orang-orang luar dan dengan tujuan yang lain seperti pendidikan dan penelitian, yang dimana  bahasa asing memberikan kemudahan untuk kita mengakses sumber jurnal ilmiah yang ditulis menggunakan bahasa lain. Selain itu bahasa asing juga berguna dalam meningkatkan keterampilan kognitif seperti meningkatkan kemampuan berpikir agar dapat berpikir lebih kritis dan memperluas kosakata. </p><p><br/></p><p><br/></p><p>   Kegunaan lainnya dapat dilihat dari kemudahan dalam karir dan pekerjaan karena kemampuan berbahasa asing membuka peluang untuk seseorang bekerja di perusahaan internasional maupun industri yang membutuhkan komunikasi lintas bahasa.  namun dari hal positif ini dapat menyebabkan banyak orang menggunakan bahasa inggris yang dimana dapat mudah melupakan kosakata bahasa Indonesia dan dapat mengubah cara orang berkomunikasi ke masyarakat. </p><p><br/></p><p><br/></p><p>   </p><p><br/></p><p><br/></p><p>   Jadi apakah ini adalah hal yang buruk?. Jawaban adalah <strong>tidak</strong> tetapi di suatu sisi lain ada argumen yang menyatakan bahwa pemudaran bahasa Indonesia bisa menjadi dampak negatif. jika tidak ada untuk melestarikannya, maka bahasa asing berpotensi untuk menghilangkan ingatan kosakata bahasa Indonesia. Selama proses ini di imbangi dengan upaya pelestarian, pemudaran bahasa tidak selalu berarti hilangnya identitas.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>   Kesimpulan dari essay ini adalah memudarnya bahasa Indonesia adalah fenomena kompleks yang mencerminkan dinamika sosial dan budaya modern. Walaupun memiliki resiko yang harus dihadapi, namun masuknya bahasa asing memberikan peluang besar dalam kehidupan kita. Maka kunci dari masalah ini iyalah menyeimbangkan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing, seperti melestarikan bahasa indonesia dan budaya budaya tetapi sambil tetap terbuka terhadap perubahan yang terjadi. </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:03:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202000794</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Chika Ayatul Husna</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202002941</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><p><strong>Dampak Penggunaan Bahasa Gaul Pada Remaja</strong>      </p></blockquote><p><br/></p><p>Penggunaan bahasa gaul dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi remaja. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk dapat membedakan situasi yang tepat untuk menggunakan bahasa gaul. Penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja adalah fenomena yang sudah ada sejak lama dan terus berkembang seiring dengan perubahan zaman, ada faktor yang melatarbelakangi maraknya penggunaan bahasa gaul ini yaitu, perkembangan teknologi, keinginan untuk berbeda, perubahan budaya populer dan tekanan teman sebaya. Tujuan utama membuat esai tentang dampan penggunaan bahasa gaul pada remaja adalah untuk memahami lebih dalam tentang fenomena ini.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Bahasa, sebagai alat komunikasi, terus mengalami dinamika seiring perkembangan zaman. Salah satu fenomena menarik adalah maraknya penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja. Bahasa gaul, yang sering kali bersifat informal dan khas kelompok tertentu, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap cara remaja berkomunikasi dan berinteraksi.</p><p><br/></p><ul><li><p>Dampak Positif</p></li></ul><ol><li><p> Kreativitas dan Ekspresi Diri: Bahasa gaul memungkinkan remaja mengekspresikan diri dengan cara yang lebih kreatif dan unik. Mereka dapat menciptakan kata-kata atau frasa baru yang menggambarkan pengalaman dan perasaan mereka secara lebih mendalam.</p></li><li><p>  Penguatan Identitas Kelompok: Penggunaan bahasa gaul yang sama dapat memperkuat ikatan sosial dan rasa memiliki di antara anggota kelompok sebaya. Bahasa gaul menjadi semacam kode atau sandi yang hanya dimengerti oleh kelompok tertentu.</p></li><li><p>  Adaptasi terhadap Perubahan: Bahasa gaul sering kali muncul sebagai respons terhadap perubahan budaya dan teknologi. Remaja dapat dengan cepat mengadopsi kata-kata baru yang relevan dengan minat dan gaya hidup mereka.</p></li></ol><p><br/></p><ul><li><p>Dampak Negatif</p></li></ul><ol><li><p>  Penurunan Mutu Bahasa: Penggunaan bahasa gaul yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan mutu bahasa Indonesia, terutama dalam hal tata bahasa dan ejaan. Hal ini dapat berdampak pada kemampuan remaja dalam berkomunikasi secara formal dan efektif.</p></li><li><p>  Kesulitan dalam Berkomunikasi dengan Generasi Lain: Bahasa gaul yang terus berkembang dapat menyulitkan remaja untuk berkomunikasi dengan orang tua atau generasi yang lebih tua yang tidak memahami makna kata-kata tersebut.</p></li><li><p>  Miskomunikasi: Penggunaan bahasa gaul yang tidak tepat atau terlalu banyak singkatan dapat menyebabkan miskomunikasi dan kesalahpahaman, terutama dalam konteks formal seperti sekolah atau pekerjaan.</p></li></ol><p><br/></p><p>Poin yang dapat kita ambil yaitu :</p><ol><li><p>  Penggunaan Bahasa Gaul: Fenomena penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja sangat umum dan terus berkembang.</p></li><li><p>  Faktor Penyebab: Perkembangan teknologi, keinginan untuk berbeda, pengaruh budaya populer, dan tekanan teman sebaya menjadi faktor utama munculnya bahasa gaul.</p></li></ol><p><br/></p><ul><li><p>Dampak Positif:</p></li></ul><ol><li><p>Kreativitas: Membuka ruang bagi remaja untuk mengekspresikan diri dengan cara yang unik.</p></li><li><p>   Identitas: Memperkuat ikatan sosial dan rasa memiliki dalam kelompok.</p></li><li><p>    Adaptasi: Memungkinkan remaja cepat menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.</p></li></ol><ul><li><p> Dampak Negatif:</p></li></ul><ol><li><p>Penurunan Mutu Bahasa: Menyebabkan penggunaan bahasa Indonesia yang kurang baik.</p></li><li><p> Kesulitan Komunikasi: Menghambat komunikasi dengan generasi yang lebih tua atau dalam situasi formal.</p></li><li><p>Miskomunikasi: Menyebabkan kesalahpahaman dan konflik.</p></li></ol><p><br/></p><p>Penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja adalah fenomena yang kompleks dengan dampak positif dan negatif. Di satu sisi, bahasa gaul dapat menjadi sarana ekspresi diri dan penguatan identitas kelompok. Namun, di sisi lain, penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan mutu bahasa dan kesulitan dalam berkomunikasi. Untuk mengatasi dampak negatif dari penggunaan bahasa gaul, perlu adanya keseimbangan antara penggunaan bahasa gaul dan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Remaja perlu diajarkan untuk menggunakan bahasa yang sesuai dengan situasi dan konteks. Selain itu, orang tua dan pendidik juga perlu berperan aktif dalam membimbing remaja agar dapat menggunakan bahasa secara efektif dan bijaksana.</p><p><br/></p><p>Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan berbahasa remaja. Dengan memberikan contoh yang baik dan menciptakan lingkungan yang mendukung, kita dapat membantu remaja mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:04:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202002941</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Syifa Mahirah </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202004655</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><p><strong>Masalah Perkataan Toxic di Kalangan Remaja</strong></p><p><br/></p></blockquote><p>     Masalah kaidah kebahasaan dapat berupa kesalahan atau kekeliruan dalam penggunaan kata oleh penutur. Kesalahan kaidah kebahasaan ini terjadi karena kita belum menguasai, memahami, atau mengetahui kaidah kebahasaan. Sedangkan kaidah kebahasaan adalah aturan-aturan yang digunakan untuk membentuk kata dan kalimat.</p><p><br/></p><p>     Di masa sekarang banyak terjadi kesalahan yang dilakukan dalam kaidah kebahasaan,terutama di kalangan remaja. Salah satunya adalah perkataan toxic.&nbsp; Ucapan toxic atau kata-kata yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ucapan toxic sering kali menjadi salah satu pemicu perilaku merusak pada remaja, dan mengatasi masalah ini memerlukan pemahaman mendalam tentang akar masalah serta upaya bersama dari berbagai pihak, termasuk keluarga, sekolah, dan masyarakat.</p><p><br/></p><p>     Perkataan toxic atau bahasa yang merugikan semakin menjadi perhatian di kalangan remaja saat&nbsp;</p><p>&nbsp;ini .Toxic merujuk kepada kata-kata atau ungkapan yang dapat menyakiti, merendahkan, atau mempengaruhi kesehatan mental seseorang secara negatif.Dengan adanya perkataan toxic ini ada banyak pihak yang dirugikan oleh perilaku tersebut. </p><p>     Di kalangan remaja perkataan toxic biasanya digunakan untuk membully, mengejek, kaget akan suatu hal, ataupun bahan candaan.&nbsp;</p><p><br/></p><p>     Perkataan toxic akan menimbulkan dampak-dampak negatif,seperti adanya pertengkaran antar remaja, yang biasanya terjadi karena adanya pihak yang merasa tersinggung yang mengakibatkan terjadinya pertengkaran antar remaja. Biasanya pelaku yang melakukan menganggap ucapannya hanya bercanda, tetapi pelaku tidak sadar apa yang orang lain rasakan dari perkataan yang diucapkan olehnya.&nbsp;</p><p><br/></p><p>      &nbsp;Toxic juga bisa menyebabkan terganggu nya kesehatan mental, yang bisa terjadi karena tekanan-tekanan yang ditimbulkan.Tekanan ini dapat menyebabkan stress,depresi,kecemasan yang berlebihan.Di kalangan remaja saat ini banyak remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental yang bisa saja disebabkan oleh perkataan toxic yang diucapkan orang lain. Orang yang merasakan hal ini biasanya merasa tidak percaya diri, dan tidak berharga, yang sangat mengganggu aktivitas yang ingin dilakukannya.&nbsp;</p><p><br/></p><p>     Toxic&nbsp; bisa mengakibatkan kebiasaan buruk ini terus terjadi jika tidak dicegah. Karena perkataan toxic ini sangat banyak diucapkan tidak hanya di kalangan remaja, orang tua dan anak kecil pun ada yang mengucapkan perkataan kotor di kehidupan sehari-hari nya. Perkataan ini bisa mengakibatkan terpengaruhnya orang lain yang mendengarkan untuk memiliki keinginan berkata toxic juga. Banyaknya ucapan toxic yang diucapkan oleh para remaja memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi.Contohnya seperti pengaruh media sosial yang digunakan para remaja. Di media sosial banyak sekali ucapan-ucapan yang tidak seharusnya diucapkan. Hal ini membuat remaja sekarang menurut ucapan atau perkataan yang ada di media sosial tanpa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi.&nbsp;</p><p><br/></p><p>     Faktor selanjutnya yaitu pengaruh dari teman-teman di sekitar. Pengaruh dari teman di sekitar ini sangat besar disebabkan orang yang ikut-ikutan untuk ingin berkata toxic, ini bisa terjadi karena rasa ingin terlihat sama dengan teman yang berkata toxic, dan biasanya juga hanya untuk ikut-ikutan teman saja. Faktor selanjutnya yaitu kurangnya edukasi dari orang tua ataupun guru tentang kesalahan perilaku mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Peran orangtua dan guru sangat penting untuk mencegah perkataan toxic ini. Orang tua ataupun guru bisa mengedukasi anak-anaknya untuk tidak berkata toxic karena tidak sesuai dengan normal kesopanan dan tata cara berbahasa yang baik.&nbsp;</p><p><br/></p><p>     Toxic dikalangan remaja bisa dicegah dengan adanya edukasi yang bisa dilakukan di rumah yang dilakukan oleh orang tua dan di sekolah yang bisa dilakukan oleh para guru. Dengan adanya edukasi ini diharapkan remaja bisa mencegah untuk berkata toxic. Perkataan toxic juga bisa dicegah dengan pengawasan dari orang tua terhadap perilaku yang dilakukan anak baik didunia maya ataupun perilaku sehari-hari bersama teman -temannya. Adanya edukasi di media sosial juga bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah perkataan toxic di kalangan remaja.&nbsp;</p><p><br/></p><p>     Masalah kaidah kebahasaan yang yaitu kesalahan dan kekeliruan dalam berbahasa salah satunya perkataan toxic yang bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti ikut-ikutan teman, kurangnya edukasi, dan pengaruh lingkungan sekitar. Tetapi hal ini bisa dicegah dengan peran orang tua dan guru untuk mengedukasi serta edukasi di media digital khususnya di sosmed. Jika terus dibiarkan perkataan toxic dikalangan remaja akan merugikan orang lain yang ada di sekitar nya. </p><p>      </p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:06:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202004655</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Catherine Kimberly Riata Silaen</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202007056</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Media Sosial terhadap Bahasa Generasi Muda: Positif atau Negatif?</strong></p><p><br>Sebagai salah satu Generasi muda saat ini, saya menyadari akan maraknya penggunaan media sosial di semua kalangan. Di era digitalisasi saat ini yang dimana semua orang bergantung pada gadget, media sosial berperan penting dalam perkembangan hidup seseorang. Bahasa-bahasa yang dilihat sehari-hari di media sosial pun akan mempengaruhi diri kita, baik positif maupun negatif.</p><p><br>Tetapi seiring berjalannya waktu, penggunaan bahasa dalam media sosial menjadi semakin buruk, karena dibiasakannya budaya berbahasa kasar yang sudah sangat normal dalam penggunaan media sosial. Hal ini adalah masalah serius karena kini sudah sangat banyak Generasi Muda menganggap bahwa berkata kasar dan kotor adalah hal lazim. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret 2023 sebanyak 94,16% anak muda Indonesia usia 16-30 tahun pernah mengakses internet. Maka dari itu, penggunaan media sosial&nbsp;akan sangat berpengaruh dalam budaya bahasa Generasi Muda saat ini.</p><p><br></p><p>Akan tetapi, penggunaan media sosial ini tidak hanya memberi pengaruh negatif, tetapi hal positif juga. Dalam media sosial, kita dapat menerima banyak macam informasi-informasi baru akan berita terkini dan hal positif lainnya yang dapat meningkatkan keterampilan kita dalam berbahasa Indonesia, maupun bahasa asing lainnya. Sosial media dapat digunakan sebagai sarana mempelajari bahasa-bahasa asing di seluruh dunia tanpa&nbsp; berbayar. Maka dari itu, tidak ada salahnya anak muda di generasi ini menggunakan sosial media dalam kehidupan sehari-hari.</p><p><br></p><p>Dari semua hal yang saya sampaikan, kita dapat mengetahui bahwa sosial media memiliki banyak manfaat dalam mempelajari kebahasaan dan juga memiliki kekurangan. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kekurangan budaya kebahasaan dalam dunia media sosial. Contoh paling simple adalah orang tua mengawasi anaknya yang dibawah umur dalam bermedia sosial, dan membatasi konten-konten yang diterima oleh sang anak. Peran orangtua akan sangat berpengaruh dalam kehidupan bermedia sosial sang anak. Tanpa pengawasan orang tua, anak dapat menjelajahi konten-konten dewasa di media sosial tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi pada diri mereka sendiri di masa depan. Seperti contohnya, jika seorang anak melihat <em>influencer</em> yang suka berkata kasar, maka anak tersebut akan terpengaruh gaya konten kreator tersebut dan mulai berkata kasar juga. Disitulah pentingnya peran orangtua dalam mengawasi anak bermedia sosial.</p><p><br>Jadi, dapat kita simpulkan bahwa kita harus bijak dalam menggunakan media sosial. Tidak semua hal yang ada di media sosial  dapat memberikan dampak yang positif bagi kita. Mari kita sebagai generasi muda yang maju dan berkembang dalam era digitalisasi ini menggunakan media sosial untuk hal yang positif dan bukan untuk hal yang negatif.&nbsp;</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:07:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202007056</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Azzahra Zharifah Tsurayya</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202008789</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Hilangnya Bahasa Baku Di Era Digital</strong></p><p><br/></p><p>   Di zaman modern ini, perkembangan teknologi telah membawa banyak perubahan dalam berbagai hal dalam kehidupan, termasuk  penggunaan bahasa. Bahasa baku, yaitu bahasa resmi, semakin terpinggirkan oleh bahasa yang informal, masyarakat sudah terbiasa dengan bahasa informal, Hilangnya bahasa baku merupakan fenomena yang perlu mendapat perhatian dan penanganan, mengingat betapa pentingnya menjaga kejelasan dan kesopanan dalam berkomunikasi. </p><p><br/></p><p>   Salah satu alasan utama hilangnya bahasa baku adalah media sosial dan komunikasi digital. Aplikasi seperti Instagram, Twitter, Tiktok, dan WhatsApp sering kali menggunakan bahasa yang singkat dan sering mengabaikan tata bahasa. Misalnya, banyak pengguna media sosial yang lebih suka menggunakan singkatan dan bahasa gaul yang terkadang sulit dipahami oleh orang lanjut usia. Hal ini tidak hanya mengubah cara masyarakat berkomunikasi, tetapi juga dapat mengakibatkan perubahan pemahaman dan penggunaan bahasa baku.</p><p><br/></p><p>   Hilangnya bahasa baku juga akan berdampak besar pada dunia pendidikan. Di sekolah, pengajaran dalam bahasa baku sangat penting untuk mengembangkan komunikasi yang efektif dan keterampilan membaca dan menulis yang baik. Namun, ketika siswa sudah terbiasa dengan bahasa yang tidak baku, maka akan sulit bagi mereka jika diminta untuk menggunakan bahasa yang baku dalam tugas akademik, presentasi, dan ujian. </p><p><br/></p><p>   Menyadari pentingnya bahasa baku, kita perlu melakukan upaya untuk melestarikannya. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang nilai bahasa baku. Program-program pelatihan, seminar, dan kampanye penggunaan bahasa baku perlu diadakan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya komunikasi yang jelas dan efektif. Media sosial juga memiliki peran penting dalam memperkenalkan kembali bahasa baku melalui program-program yang menggunakan bahasa baku.</p><p><br/></p><p>   Kesimpulannya, hilangnya bahasa baku di zaman modern merupakan fenomena yang memerlukan perhatian dan penanganan yang serius. Pengaruh media sosial dan komunikasi digital telah mengubah penggunaan bahasa dan menjadikan bahasa informal menjadi lebih dominan. Penting bagi kita untuk menyadari nilai bahasa baku dan berusaha melestarikannya, terutama dalam komunikasi pendidikan dan profesional. Dengan bekerja sama, pemerintah, lembaga pendidikan, media, dan masyarakat dapat menjaga keberlangsungan penggunaan bahasa baku di masa perubahan yang cepat. Hilangnya bahasa baku bukan hanya hilangnya kaidah kebahasaan saja, namun juga hilangnya identitas budaya.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:08:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202008789</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Salsabila Naima Annikmah </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202010736</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Bahasa Gaul dalam Kehidupan Sehari-hari dan Peluang Hilangnya Bahasa Formal di Era Modern</strong></p><p><br/></p><p>Di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat ini, bahasa gaul telah mengambil peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama di kalangan generasi muda sekarang atau lebih dikenal sebagai generasi z. Bahasa gaul, mencerminkan gaya komunikasi yang lebih santai dan akrab. Namun, terdapat kekhawatiran akan hilangnya bahasa formal yang merupakan bahasa komunikasi yang jelas dan terstruktur. Di berbagai platform media sosial seperti Instagram, Twitter dan TikTok, bahasa gaul seringkali digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Istilah-istilah baru ini berkembang pesat dan menciptakan cara baru untuk berkomunikasi. Dalam perckapan sehari-hari juga sering kali terdapat bahasa gaul, bahasa gaul ini sendiri menciptakan suasana yang lebih akrab dan terkesan informal. Namun, dalam konteks ini, muncul pertanyaan mengenai apakah penggunaan bahasa gaul dapat mengancam keberadaan bahasa formal dalam kehidupan sehari-hari.</p><p><br/></p><p>Istilah-istilah seperti “baper”, “bucin”, dan “gercep” menjadi bagian dari kosakata sehari-hari yang memudahkan kita untuk berkomunikasi. Di dunia media sosial, bahasa gaul sudah sangat berkembang, menciptakan istilah-istilah baru setiap harinya. Hal ini menunjukan bahwa bahasa gaul bukan lagi sekedar salah satu cara untuk berkomunikasi tetapi juga bagian dari identittas budaya generasi muda. Hal ini tidak terlepas dari tantangan yang dihadapi oleh bahasa formal. Dengan semakin seringnya istilah-istilah bahasa gaul yang baru, bahasa formal yang seharusnya digunakan dalam konteks resmi sering kali terlupakan. Banyak remaja yang lebih nyaman menggunakan bahasa gaul dibanding bahasa formal yang akan membuat mereka kebingungan dalam komunikasi yang lebih serius.</p><p><br/></p><p>Penggunaan bahasa gaul yang lebih santai dan tidak terikat aturan tata bahasa yang baku juga membuka kemungkinan untuk hilangnya bahasa formal, yang dianggap kaku dan tidak fleksibel. Dalam dunia pendidikan, meskipun bahasa formal tetap diajarkan, banyak siswa yang lebih sering menggunakan bahasa gaul dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di dalam lingkungan sekolah atau kampus. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa formal bisa menjadi sesuatu yang terkesan tidak modern dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman.</p><p><br/></p><p>Lebih jauh lagi, hilangnya penggunaan orang-orang terhadap bahasa formal mengakibatkan penurunn kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Bahasa formal tidak hanya penting untuk komunikasi yang jelas, dalam dunia kerja kemampuan berbahasa yang baik dan benar dan menggunakan bahasa formal menjadi salah satu syarat penting. Bahasa formal memiliki kekayaan dan struktur yang mencerminkan budaya dan sejarah. Jika penggunaan bahasa formal terus berkurang, ada risiko kehilangan warisan kebahasaan yang penting dan tradisi berbahasa yang kaya.</p><p><br/></p><p>Namun, bukan berarti bahasa gaul harus sepenuhnya dihapuskan. Bahasa gaul merupakan bagian perkembangan dan globalisasi yang alami dan mencerminkan perubahan sosial yang terjadi. Penting untuk mencari keseimbangan antarab bahasa gaul dan bahasa formal sebagai kebahasaan sehari-hari. Pentingnya kedua bahasa ini dapat membantu generasi muda memahami kapan dan di mana masing-masing bahasa harus digunakan.</p><p><br/></p><p>Bahasa gaul memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan sehari-hari, menciptakan kedekatan  dan keakraban di antara generasi muda. Namun, perlu diingat untuk tidak melupakan bahasa formal juga tetap memiliki peran penting dalam komunikasi yang efektif dan profesional. Kedunya dapat berkembang secara berdampingan jika masyarakat mampu menjaga keseimbangan dalam penggunaannya. Dengan pendekatan yang seimbang dapat menciptakan kreativitas </p><p>bahasa gaul tetapi tetap menghargai dan mempertahankan kekayaan dari bahasa formal yang ada.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:10:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202010736</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kylla Kalelin Diasyera </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202014577</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Penggunaan Bahasa Indonesia di Kehidupan Sehari-hari yang Kian Lama Tergantikan oleh Bahasa Asing pada Era Globalisasi</strong></p><p><br/></p><p>     Bahasa adalah alat komunikasi sosial yang berupa sistem simbol bunyi yang dihasilkan dari ucapan manusia. Sistem simbol itu berupa bentuk satuan- satuan, seperti kata, kelompok kata, klausa, dan kalimat yang diungkapkan baik secara lisan maupun tulis. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan sarana untuk berinteraksi dengan manusia lainnya di masyarakat. Untuk kepentingan interaksi sosial itu, maka dibutuhkan suatu wahana komunikasi yang disebut bahasa. Di berbagai negara pastinya menggunakan bahasa yang berbeda-beda, contohnya di Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia. Di berbagai negara pastinya juga memiliki suatu masalah dalam kebahasaan pada era globalisasi, salah satunya yaitu di Indonesia.</p><p><br/></p><p>     Di Indonesia pada era globalisasi mempunyai salah satu masalah dalam kebahasaan, yaitu bahasa Indonesia yang kian lama tergantikan oleh bahasa asing. Banyak masyarakat sekarang yang lebih sering menggunakan bahasa asing daripada bahasa Indonesia di kehidupan sehari-hari, bukan hanya beberapa kalimat saja, tetapi menggunakan bahasa asing dari awal berbicara sampai akhir berbicara. Hal itu dikarenakan perubahan zaman dan ingin ikut-ikutan agar dianggap keren oleh orang-orang. Kebiasaan penggunaan bahasa asing itulah yang menjadikan bahasa asing sering digunakan dalam bahasa sehari-hari di kalangan masyarakat.</p><p><br/></p><p>     Pengaruh dari media sosial dan konten digital dalam bahasa asing juga membuat banyak orang, terutama generasi muda, terpapar dengan bahasa asing. Banyak konten yang menggunakan bahasa asing, yang seringkali dianggap keren oleh kalangan muda karena lebih populer. Pada masa sekarang banyak artikel yang berisi tentang kekhawatiran bahasa Indonesia yang mengalami ancaman oleh bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, sebenarnya sudah sering dikemukakan oleh linguis maupun oleh pemerhati bahasa. Dalam Harian Jogja (23 Juli 2008), Rahardi mengemukakan bahwa bahasa Indonesia kian tergerogoti oleh bahasa asing.</p><p><br/></p><p>     Akan tetapi, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, E. Aminuddin Aziz dalam artikel “Eksistensi Bahasa Indonesia di Tengah Ancaman Bahasa Asing dan Bahasa Gaul” mengatakan Sebaliknya, bahasa gaul dan bahasa asing dapat diserap menjadi sebuah kosakata atau istilah baru dan menambah jumlah kosakata dan istilah dalam bahasa Indonesia. Sebenarnya, menggunakan bahasa asing boleh saja, tetapi jangan sampai bahasa asing menjadi bahasa utama. Banyak para masyarakat di zaman sekarang yang menggunakan bahasa asing di kehidupan sehari-hari, sehingga terkadang lupa dengan bahasa Indonesia. Kita sebagai warga negara Indonesia harus menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa utama.&nbsp;</p><p><br/></p><p>     Kesimpulan yang dapat diambil yaitu, sebagai warga Indonesia kita seharusnya selalu menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama kita, karena kita adalah bangsa Indonesia yang sudah seharusnya kita selalu menggunakan bahasa kita sendiri. Menggunakan bahasa asing boleh, tetapi jangan sampai bahasa kita sendiri yaitu bahasa Indonesia tergantikan dengan bahasa asing. Kita harus mulai menanamkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia sedari dini. Sebagai insan akademis yang dianggap memiliki intelektual yang tinggi, ada baiknya jika kita dapat membagi kapan kita dapat menggunakan bahasa asing dan kapan kita harus menggunakan bahasa Indonesia.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:12:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202014577</guid>
      </item>
      <item>
         <title>David Haryanto </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202020919</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>PENGARUH KAIDAH KEBAHASAAN DALAM MEDIA DEMOKRASI</strong></p><p><br/></p><p>  Indonesia adalah negara demokrasi, maka dari itu setiap masyarakat memiliki hak dalam menyampaikan aspirasi, pendapat dan kritik kepada suatu instansi/pemerintah tetapi hal ini tidak dapat berjalan dengan baik.</p><p><br/></p><p>  Sebagian masyarakat indonesia dalam  demokrasi tidak mengetahui bagaimana cara melakukan demokrasi yang baik dan benar, mereka cenderung menyampaikan suatu kritikan dengan cara yang anarkis, karena sebagian masyarakat berfikir bahwa untuk berdemokrasi harus dengan cara yang anarkis untuk menarik perhatian pemerintah, tetapi hal itu tidak benar dikarenakan aksi anarkis, seperti pengerusakan fasilitas umum, penganiayaan dan penggunaan bahasa yang kurang baik adalah hal yang salah.</p><p><br/></p><p>  Aksi seperti itu tentunya merugikan banyak pihak seperti kerugian negara untuk menanggung hal itu, masyarakat yang tidak bersalah juga terkena dampak dari aksi anarkis seperti blokade jalan, akses fasilitas umum yang terganggu dan merasa takut ketika menjalankan aktivitas sehari-hari. untuk mencegah hal ini terjadi masyarakat perlu diedukasi dengan cara menyampaikan bahasa yang tepat agar kegiatan demokrasi sesuai dengan yang masyarakat inginkan karena, penggunaan bahasa yang kurang tepat seperti melontarkan kata yang rasisme, body shaming dan lain-lain itu adalah hal yang sudah diluar konteks dari menyampaikan kritikan, saran dan pendapat yang baik dan benar, karena penggunaan kaidah kebahasaan yang baik dan benar juga salah satu aspek penting untuk demokrasi yang tepat.</p><p><br/></p><p>  Pemerintah juga harus lebih mempedulikan dan mendengarkan aspirasi, kritik, dan pendapat dari masyarakat. Salah satu faktor masyarakat menggunakan bahasa yang kurang baik pada saat demonstrasi dikarenakan masyarakat tidak dapat menahan emosi, lantaran pemerintah kurang mempedulikan masyarakat ketika masyarakat menyampaikan saran atau kritikan.</p><p><br/></p><p>  Demonstrasi memiliki manfaat yang sangat baik bagi kemajuan suatu negara dalam artian jika demonstrasi ini berjalan dengan baik dan benar. Oleh karena itu kita juga dapat menyampaikan saran dan pendapat kepada suatu instansi asalkan saran atau pendapat kita memiliki tujuan yang positif dan berguna untuk banyak masyarakat yang ada di Indonesia.</p><p><br/></p><p>  Perwujudan negara Indonesia sebagai negara demokrasi yang baik dimulai dari diri kita sendiri. Kita harus berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara ketika menyampaikan saran atau kritikan, apakah yang kita sampaikan itu memiliki tujuan yang positif dan tata cara penggunaan bahasa yang akan kita sampaikan sudah tepat. Jika kita sudah menerapkan aturan tersebut maka kita sudah berkontribusi untuk kebaikan dan kemajuan negara Indonesia.</p><p><br/></p><p>  </p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2989957366/66e298536ff28e5169d755616494fd3c/antarafoto_halte_transjakarta_dibakar_081020_dr_1_1_jpg.webp" />
         <pubDate>2024-11-05 07:16:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202020919</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Napasha Septian Putra</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202021083</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><p><strong>Pengaruh Sosial Media dalam Berbahasa Indonesia</strong></p></blockquote><p><br/></p><p><br/></p><p>      Media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, baik di kalangan remaja maupun orang dewasa. Platform seperti Instagram, Twitter, Line, dan TikTok memiliki pengaruh besar terhadap cara kita berinteraksi, mengakses informasi, dan mengekspresikan diri. Di balik semua manfaat yang ditawarkan, media sosial juga memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan bahasa. Perubahan cara berkomunikasi ini tentunya memiliki dampak, baik positif maupun negatif, yang harus diperhatikan oleh semua orang.</p><p><br>     Penting untuk memahami pengaruh media sosial terhadap cara seseorang berkomunikasi. Di satu sisi, media sosial menawarkan berbagai kemudahan dalam berinteraksi dan bertukar informasi. Namun, di sisi lain, ada potensi risiko seperti penurunan keterampilan komunikasi interpersonal dan terjadinya kesalahpahaman akibat penggunaan bahasa yang kurang formal.</p><p><br>     Salah satu pengaruh media sosial yang paling menonjol adalah kemampuannya dalam memperkenalkan dan menyebarkan kata-kata baru secara cepat. Bahasa slang atau bahasa gaul sering muncul dalam percakapan sehari-hari dan di media sosial. Dalam masyarakat, kata-kata seperti <mark>"unfaedah"</mark>, yang berarti tidak bermanfaat, <mark>"gabut"</mark>, yang berarti bosan, dan <mark>"santuy"</mark>, yang berarti santai, dengan cepat diterima dan digunakan, terutama oleh generasi muda. Penggunaan bahasa yang beragam ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia terus berubah sesuai dengan tren. Dalam esai ini, akan dibahas lebih lanjut tentang bagaimana media sosial mempengaruhi komunikasi generasi muda dan masalah yang dihasilkannya.</p><p><br/></p><p>     Munculnya kreativitas berbahasa adalah salah satu dampak positif media sosial terhadap Bahasa Indonesia. Pengguna sering membuat istilah baru yang menggabungkan bahasa baku dan gaul. Misalnya, kata-kata seperti <mark>"baper"</mark>, yang berarti membawa perasaan, dan <mark>"galau" </mark>menjadi sangat populer dan digunakan secara luas dalam percakapan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa media sosial dapat berfungsi sebagai alat untuk menambah kosa kata bahasa Indonesia dengan kosa kata yang terkait dengan pengalaman dan budaya generasi muda.</p><p><br/></p><p>     Namun, dampak negatif tidak dapat diabaikan di balik keuntungan. Bahasa yang tidak baku semakin meningkat, terutama di kalangan remaja. Banyak pengguna media sosial menggunakan bahasa yang singkat dan tidak formal, yang dapat mengganggu kemampuan berbahasa mereka. Sebagai contoh, penggunaan akronim seperti <mark>"GWS"</mark> (Get Well Soon) atau <mark>"LOL"</mark> (Laugh Out Loud) menggantikan ungkapan yang lebih formal dan mendalam. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan kemampuan berbahasa yang baik dan benar di kalangan generasi muda.</p><p><br/></p><p>     Selain itu, media sosial memiliki potensi untuk menyebarkan hoax atau informasi palsu, yang sering menggunakan bahasa yang provokatif. Kesalahpahaman dan konflik di masyarakat dapat terjadi karena informasi yang tidak akurat. Oleh karena itu, pengguna media sosial harus kritis terhadap informasi yang mereka terima dan memahami dampak dari penggunaan bahasa yang tidak sesuai dalam berkomunikasi.</p><p><br/></p><p>     Secara keseluruhan, bahasa Indonesia terpengaruh secara kompleks oleh media sosial. Di satu sisi, ia meningkatkan kosa kata dan memungkinkan kreativitas berbahasa. Di sisi lain, penggunaan bahasa yang tidak baku dan penyebaran informasi yang salah dapat membahayakan kualitas berbahasa generasi muda. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menggunakan media sosial dengan bijak agar mereka dapat memanfaatkan potensi positifnya tanpa mengabaikan penggunaan bahasa yang tepat.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:16:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202021083</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cinta Nur Amelia</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202021201</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Penggunaan Kata Kasar Bisa Menjadi Masalah</strong></p><p><br/></p><p>Sebagai anak yang lahir di generasi z menuju generasi <em>alpha</em>, kata kata baru semakin banyak dan inilah yang membuat kata kasar tercipta dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukanlah pilihan yang baik untuk menjadikan penggunaan kata kasar di lingkungan masyarakat, karena menjadikan masalah, yaitu merusak Bahasa Indonesia dan membuat perilaku masyarakat terutama anak bangsa tidak sopan. Penggunaan kata kasar ini juga bisa menjadi masalah di sosial media, sesuai data survei SNPHAR 2021 terdapat 32,06% anak laki laki dan 42,61% anak perempuan yang mengalami komentar kata kasar. Maka dari itu masyarakat harus menggunakan pemilihan kata kata yang tepat (diksi), yang tidak mengacu kata kata kasar atau negatif.</p><p><br/></p><p>&nbsp;Karena itu, kata bisa menimbulkan imajinasi yang sama seperti yang dipikirkan atau dirasakan oleh pembicara, maka pembicara harus berusaha secermat mungkin yang dikatakan (Kenaf 2016). Hal ini menunjukkan bahwa jika pembicara menggunakan pemilihan kata yang tepat, pendengar bisa memikirkan hal yang sama tanpa adanya tersinggung dan kesalahpahaman.</p><p><br/></p><p>Selain itu, saya merasa ada banyaknya dampak positif ketika menggunakan pemilihan kata yang tepat. Hal ini tidak mengherankan, karena dengan pemilihan kata yang tepat bisa memberikan dampak meningkatkan efektivitas pesan, dipahami dengan benar, mencegah kesalahpahaman, dan para remaja bisa menikmati inovasi bahasa baru yang muncul. Jadi dengan berbicara dengan orang dan menggunakan pemilihan kata yang tepat, pendengar akan merasakan kedekatan dengan pembicara dan gagasan dapat tersampaikan dengan baik.</p><p><br/></p><p>Akan tetapi, ada beberapa remaja yang masih berpikir bahwa pemilihan kata yang tepat hanya digunakan saat keadaan formal, dan untuk teman sebaya tidak apa apa jika menggunakan kata kasar. Nyatanya, walaupun dalam tidak keadaan formal dan bersama teman sebaya, masyarakat terutama remaja harus tetap menjaga kata katanya saat berbicara. Karena dapat mempengaruhi cara pandang pesan yang diberikan, jadi boleh menggunakan bahasa untuk mengakrabkan diri dengan lawan bicara tanpa adanya merugikan pihak lain saat penggunaan kata tersebut.</p><p><br/></p><p>Dapat disimpulkan bahwa penggunaan kata kasar ini dapat merugikan pihak lain dan menjadikan masalah. Alangkah baiknya, masyarakat Indonesia lebih memilih untuk belajar pemilihan kata yang tepat (diksi) saat berkomunikasi, jadi tidak adanya emosional atau tersinggung, serta persentase korban yang menerima kata kasar pun menurun, karena dampak positif yang didapatkan.&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:16:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202021201</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rakha Naracetta Adhimulya</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202021402</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Penggunaan Bahasa Dalam Pendidikan</strong></p><p><br/></p><p>	Pendidikan merupakan hal yang wajib bagi sebagian besar negara di dunia, termasuk negara Indonesia. Pendidikan pada umumnya adalah suatu kegiatan terencana untuk mewujudkan suasana belajar yang sesuai agar peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya serta mendapat wawasan mengenai moral dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan penting karena pendidikan memiliki peran yang sangat berguna untuk masa depan individu. Pendidikan cukup sering dikaitkan dengan kegiatan belajar di sekolah, karena umumnya sekolah memiliki lingkungan yang kondusif.</p><p><br/></p><p>	Sekolah yang baik tentunya memiliki sistem belajar yang baik pula sehingga bisa mendapat perhatian dari masyarakat. Misalnya dengan kegiatan belajar mengajar secara interaktif dengan bahasa yang baik dan benar agar para peserta didik tidak bosan dan mudah memahami pelajaran yang disampaikan oleh pendidik. Dengan begitu, peserta didik dapat mengembangkan kreativitas berpikir dengan optimal dan sekolah tersebut dapat menghasilkan bibit-bibit berkualitas, sehingga mendapat perhatian dari orang tua peserta didik atau bahkan masyarakat.</p><p><br/></p><p>	Tanpa disadari, hal yang paling berpengaruh dalam pendidikan adalah penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi antara peserta  didik dan pendidik. Agar pendidikan mendapat hasil yang optimal, bahasa harus disesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Pendidikan harus dilakukan secara perlahan dengan menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Dan akan ditingkatkan sesuai dengan berkembangnya kemampuan peserta didik. Banyaknya istilah-istilah ilmiah dalam kegiatan belajar mengajar hanya akan membuat peserta didik bingung dan tidak dapat memahami materi yang disampaikan.</p><p><br/></p><p>	Banyak sekolah yang tidak menyadari hal ini, padahal penggunaan bahasa yang sesuai sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan peserta didik. Jika peserta didik hanya diberi istilah-istilah ilmiah yang tidak mereka pahami, hal itu tidak akan mengembangkan kemampuan peserta didik tetapi hanya akan menyulitkan mereka dalam memahami materi yang disampaikan oleh pendidik. Karena itu, peran pendidik sangat penting, pendidik yang berkualitas tentu akan mengetahui kemampuan para peserta didiknya sehingga ia bisa mendidik mereka dengan baik dan benar menggunakan tingkatan bahasa secara bertahap dan sesuai dengan kemampuan para peserta didiknya.</p><p><br/></p><p>	Selain itu, dengan menggunakan istilah-istilah ilmiah yang tidak dipahami para peserta didik, hal tersebut dapat menghilangkan semangat dan minat peserta didik untuk belajar, baik dalam sekolah maupun belajar di luar sekolah sehingga peserta didik tidak dapat memaksimalkan potensi bakat mereka. Hal seperti ini biasanya terjadi pada jenjang pendidikan SD dan SMP dimana pada umur tersebut mereka belum memiliki mental dan emosi yang baik sehingga mereka mudah kehilangan semangat dan minat belajar dikarenakan masalah-masalah sederhana, hilangnya semangat dan minat belajar tersebut bahkan bisa berlanjut hingga mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Dan hal ini juga terjadi di lingkungan saya saat SMP, dimana pendidik menggunakan istilah-istilah ilmiah yang sulit untuk dipahami sehingga hasil ujian para peserta didik menurun jauh dibanding semester sebelumnya.</p><p><br/></p><p>	Jadi, pendidikan merupakan suatu hal yang wajib dan penting untuk sebagian besar negara di dunia, termasuk negara Indonesia. Salah satu faktor penting dan utama dalam pendidikan adalah bahasa sebagai alat komunikasi antara peserta didik dan pendidik. Bahasa yang digunakan saat kegiatan belajar mengajar tidak boleh terlalu sederhana maupun terlalu rumit, harus disesuaikan dengan kemampuan peserta didik agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan dengan hasil </p><p>yang optimal.</p><p>	</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:17:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202021402</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Muhammad Husni Farisi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202024222</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>PENGGUNAAN BAHASA MELAYU PADA FILM ACTION CENDERUNG KURANG DIMINATI OLEH WARGA INDONESIA</strong></p><p><br/></p><p>Film adalah suatu hiburan yang sangat digemari oleh warga warga di Indonesia. Mulai dari anak anak, remaja, sampai kalangan dewasa sekalipun. Namun warga warga indonesia pasti mempunyai selera terhadap film yang akan ditonton. Salah satu selera warga warga indonesia pada zaman sekarang tidak sukai yaitu film dengan penggunaan bahasa melayu<strong>.</strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Film adalah suatu karya berupa gambar yang hidup dan bergerak. Film dibuat dengan cara merekam seseorang atau sesuatu, setelah itu disuguhkan kepada penonton untuk dinikmat. Didalam film ini tidak hanya berupa gambar yang bergerak, tetapi juga adanya interaksi antara individu didalam film tersebut. Bahasa untuk berinteraksi dapat menjadi suatu ciri khas bagi film tersebut. Malaysia adalah salah satu negara yang membuat film atau kartun menggunakan bahasa resmi mereka yaitu Melayu.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Pada tahun 2024, industri perfilman Malaysia merilis sebuah film berjudul "Sheriff: Narko Integriti", film bergenre action berbahasa melayu ini sangatlah sukses di pasar malaysia, film ini memberikan penonton aksi combat yang epic dan cerita yang sedikit dark. Walaupun di Malaysia film ini dikatakan sangat sukses, namun hal ini tidak terjadi di Indonesia. Beberapa faktor film ini tidak sesukses di Malaysia adalah kurangnya promosi dan tidak tayang di XXI. Tetapi faktor utama mengapa film ini tidak diminati adalah penggunaan bahasa melayu didalamnya. </p><p><br/></p><p><br/></p><p>Bagi warga Indonesia bahasa melayu adalah bahasa yang cenderung tidak bisa dipakai untuk momen momen serius kalimat kalimat seperti " Kitorang nak kasih mati kau " terdengar tidak begitu serius dibandingkan penggunaan bahasa indonesia seperti " Gua bakal bunuh Lo! ". Kurang nya versi gaul dari bahasa Melayu sendiri membuat semua kalimat yang digunakan menjadi baku yang dimana bahasa Melayu dan bahasa Indonesia itu mirip mirip sehingga warga indonesia yang mendengar kalimat tersebut tidak merasakan momen serius pada adegan yang ditampilkam karena bahasa baku yang begitu mirip.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Walaupun bahasa Melayu yang cenderung tidak cocok untuk adegan serius pada film film action dengan cerita yang dalam, tetapi bahasa ini cocok untuk kartun kartun yang menargetkan pasar anak anak, terbukti film serial seperti " Boboiboy ", " Upin &amp; Ipin ", " Ejen Ali " dan " Pada Zaman Dahulu " sangat sukses di pasar Indonesia. Bahasa baku yang mirip dengan bahasa baku Indonesia sangat mudah dipahami bagi anak anal sehingga menjadi tontonan yang sangat populer di Indonesia. Tetapi dikarenakan penggunaan bahasa Melayu hanya populer di film serial anak anak, membuat warga Indonesia berfikir bahwa bahasa Melayu hanya bisa digunakan pada film untuk anak anak sehingga tidak merasa cocok jika mendengar bahasa Melayu pada film dengan tema remaja atau dewasa.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>Dari sini kita tahu bahwa Film Film terdapat keunikannya masing masing, tetapi tergantung kembali dengan selera penonton. Penggunaan bahasa Melayu pada film tidak digemari di Indonesia dikarenakan kurangnya versi gaul dari bahasa tersebut sehingga penggunaan bahasa baku pada adegan serius terdengat tidak cocok bagi penonton Indonesia. Bahasa Melayu yang hanya populer dengan serial anak anak membuat warga Indonesia berfikir bahasa Melayu tidak cocok digunakan pada adegan yang lebih dewasa.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:18:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202024222</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Zacky Ayyatullah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202028290</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Bahasa Indonesia Miskin kosakata</strong></p><p><br/></p><p>Sumpah pemuda menyatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bagi rakyat Indonesia yang bertujuan sebagai alat komunikasi antara suku dan etnis yang beragam di Indonesia. Maka dari itu bahasa Indonesia didesain seobjektif mungkin dan semudah mungkin agar mempermudah komunikasi. Namun ada beberapa warga internet bahkan pak Anies yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia miskin kosakata karena hanya memilki kosakata seperenam dari banyaknya kosakata bahasa Inggris</p><p><br/></p><p>Trend media sosial mengenai miskinnya sukukata bahasa Indonesia menyebar sangat cepat dan mempengaruhi pemikiran generasi muda. Sebenarnya bahasa Indonesia diciptakan untuk mempermudah komunikasi antara suku dan etnis. Maka dari itu, bahasa Indonesia diciptakan semudah dan sesimpel mungkin dengan kosakata yang seobjektif mungkin agar semua masyarakat Indonesia dapat berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Sehingga, sedikitnya kosakata bahasa Indonesia dapat dianggap hal yang bagus dan dapat mempersatukan bangsa kita. Hal ini terbukti sebagaimana tokoh-tokoh pahlawan dulu menggunakan bahasa Indonesia yang objektif agar dapat berkomunikasi dengan tokoh pahlawan lainnya</p><p><br/></p><p>Pernyataan pak Anies mengenai kosakata bahasa Indonesia sedikit karena hanya terdapat seperenam dari bahasa inggris. Menurut saya pernyataan ini tidak relevan, karena di Indonesia sendiri terdapat banyak sekali bahasa daerah. Mulai dari bahasa Banjar, Jawa, Kutai hingga bahasa yang digunakan masyarakat Papua. Karena banyaknya bahasa daerah yang beragam maka dari itu diciptakan bahasa Indonesia agar mempermudah komunikasi antara suku dan etnis. Jika bahasa daerah di Indonesia dibandingkan dari bahasa Inggris maka perbedaannya akan jauh. Selain itu, masyarakat Indonesia juga masih tetap menjaga kebudayaan bahasa daerah mereka dengan cara menggunakan bahasa tersebut. Maka dari itu, bahasa Indonesia digunakan jika masyarakat bertemu seseorang yang tidak paham dengan bahasa daerah mereka. Seperti masyarakat Jawa, kebanyakan masyarakat Jawa mempelajari bahasa Jawa dan menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari serta hanya menggunakan bahasa Indonesia jika bertemu seseorang yang tidak paham dengan bahasa Jawa. Sehingga pernyataan pak Anies mengenai sedikitnya kosakata bahasa Indonesia tidak relevan bagi kebudayaan Indonesia</p><p><br/></p><p>Akan tetapi, suatu kebahasaan pasti akan menyesuaikan dengan dinamika perubahan zaman. Maka bahasa Indonesia juga harus menambah kosakata demi menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Apalagi pada zaman dimana alat komunikasi sangat mudah digunakan. Sehingga juga mempermudah bahasa-bahasa asing datang ataupun bahasa-bahasa gaul tercipta pada kehidupan masyarakat. Seperti kata <em>online</em>, <em>offline</em>, <em>E-mail</em> dan <em>fomo</em> serta <em>baper</em>. Semua kata ini tercipta dari perubahan zaman dan kebudayaan manusia pada internet. Maka kata dari itu harus diciptakan bahasa Indonesianya yaitu daring, luring dan surel serta dua kata akronim yang harus diartikan secara kata per kata. Dengan cepatnya perubahan bahasa pada dunia, maka bahasa Indonesia harus menyesuaikan dan menambahkan kosakata agar dapat beradaptasi dengan perubahan</p><p><br/></p><p>Dari opini-opini tersebut, dapat kita ketahui bahwa bahasa Indonesia tidak miskin kosakata. Tetapi, menyesuaikan dengan kehidupan masyarakat. Kosakata bahasa Indonesia tidak perlu ditambahkan sehingga setara banyaknya bahasa Inggris karena fungsi utama dari bahasa Indonesia adalah dapat digunakan dan dipelajari dengan mudah bagi seluruh rakyat di dunia terutama pada daerah-daerah di Indonesia. Namun, bahasa Indonesia juga tetap perlu menambahkan kosakata yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan perkembangan budaya indonesia</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:21:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202028290</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Angelica Patricia</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202029303</link>
         <description><![CDATA[<p>Pengaruh Pengajaran Bahasa Asing Terhadap Anak Kecil</p><p><br></p><p>Bahasa asing adalah bahasa yang bukan merupakan bahasa asli dari wilayah atau negara tertentu. Di era modern ini, sudah banyak orang tua yang mengajarkan anaknya yang masih kecil bahasa asing sebagai bahasa pertamanya tanpa diselingi berbahasa Indonesia.</p><p><br></p><p>Hal ini dapat membantu untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan berbahasa mereka secara keseluruhan dan dapat lebih mudah untuk belajar bahasa asing lainnya. Hal ini juga memungkinkan anak-anak tersebut lebih percaya diri dalam berkomunikasi serta meningkatkan daya ingat mereka.</p><p><br></p><p>Pengajaran bahasa asing juga membuka wawasan anak-anak terhadap budaya dan bahasa lainnya, dan ini dapat membantu untuk mengembangkan toleransi dan empati terhadap perbedaan, serta meningkatkan kemampuan berinteraksi karena anak-anak tersebut belajar cara mengekspresikan diri mereka.</p><p><br></p><p>Namun, hal ini dapat menyebabkan hal negatif jika tidak diselingi belajar bahasa aslinya. Akibatnya, anak tersebut susah untuk berkomunikasi dengan teman sebayanya karena perbedaan bahasa yang digunakan, hal ini juga memungkinkan anak tersebut merasa terkucilkan. Jika orang tua memang ingin mengajari anaknya berbahasa asing, seharusnya orang tuanya mengajari nya berbahasa asalnya terlebih dahulu.</p><p><br></p><p>Orang tua lah yang sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang anak. Pengajaran bahasa asing terhadap anak kecil tidak hanya memiliki pengaruh positif, tetapi dapat menghasilkan pengaruh yang negatif jika pengajaran bahasa asing tersebut tidak diselingi berbahasa asli wilayah atau negaranya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:22:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202029303</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aisha Kalyca Olinda</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202030478</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pentingnya Penggunaan Kosa Kata Baku</strong></p><p><br></p><p>     Dalam bahasa indonesia ada beberapa kaidah kebahasaan salah satunya adalah penggunaan kosa kata baku. Kata baku adalah kata yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku di dalam bahasa Indonesia. Sedangkan, kata tidak baku itu sebaliknya, yaitu kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan. Penggunaan bahasa yang tidak baku sering kali kita temui di lingkungan sekitar kita,</p><p>dan ironisnya hal tersebut sudah dianggap lumrah. Salah satu penyebab pudarnya</p><p>penggunaan Bahasa Indonesia yang baku adalah adanya pengaruh dari bahasa luar</p><p>atau modernisasi. Hal ini memicu munculnya istilah bahasa gaul di kalangan</p><p>anak muda. Kemunculan bahasa gaul inilah yang menjadi penyebab tergesernya</p><p>Bahasa Indonesia yang baku.</p><p><br></p><p>        Dengan menggunakan kosa kata yang baku kita bisa berkomunikasi dengan jelas dan tepat.  Karena kosa  kata baku  membantu memastikan pesan yang disampaikan dapat dimengerti dengan jelas oleh semua pihak. Bahasa yang baku menghindari ambiguitas dan kesalahpahaman orang orang yang mendengar atau membaca. Penggunaan kosa kata baku juga berperan dalam melestarikan bahasa agar tetap terjaga dari pergeseran yang berlebihan menuju bahasa yang tidak baku.</p><p><br></p><p>      Selain itu menggunakan kosa kata baku juga bisa untuk menjaga keformalan dalam situasi formal, seperti pidato, laporan, atau tulisan akademik, dalam konteks penulisan atau berbicara di depan publik, penggunaan kosa kata baku meningkatkan kredibilitas pembicara atau penulis, karena menunjukkan penguasaan bahasa yang baik.  penggunaan kosa kata baku juga menunjukkan profesionalisme dan keseriusan, ini juga mencerminkan  penghargaan terhadap bahasa indonesia.</p><p><br></p><p>        Meskipun penggunaan kosa kata baku penting dalam banyak situasi, ada beberapa alasan mengapa dalam konteks tertentu kita tidak selalu perlu menggunakannya, contohnya dalam percakapan sehari hari, terutama dengan teman dan keluarga penggunaan kosa kata baku bisa terdengar kaku atau tidak natural. Dalam situasi ini, bahasa yang lebih santai atau tidak baku justru membuat komunikasi lebih cair dan akrab. Tetapi penggunaan kosa kata baku sangat penting dalam kegiatan formal dan bisa melestarikan bahasa indonesia, jika kosa kata baku jarang digunakan maka semakin lama akan menghilang dan tergantikan dengan bahasa gaul.</p><p><br></p><p>    Sebagai kesimpulan, penggunaan kosa kata baku penting dalam beberapa situasi dan menggunakan kosa kata baku juga memiliki beberapa manfaat. Tetapi kita juga tidak harus menggunakan kosa kata baku dalam percakapan sehari hari agar terlihat lebih akrab dan tidak kaku.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:23:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202030478</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nabila Althafunnisa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202033610</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Ancaman Kepunahan Bahasa Daerah: Faktor dan Solusi</strong></p><p><br/></p><p>     Saat ini, Bahasa daerah di Indonesia mengalami beberapa kondisi, yaitu masih aktif dituturkan, terancam punah, dan punah. Kepunahan bahasa bukan sekadar kepunahan kosakata bahasa daerah itu saja, melainkan hilangnya salah satu warisan budaya. Menurut UNESCO dikutip dari panduan Revitalisasi Bahasa Kemdikbud mengatakan “ketika suatu bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga—sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah”.</p><p><br/></p><p>&nbsp;&nbsp; &nbsp; Bahasa daerah atau bahasa regional adalah bahasa yang dituturkan secara turun-temurun di suatu wilayah dalam sebuah negara berdaulat, yaitu di suatu daerah asli, negara bagian federal, provinsi, atau teritori yang lebih luas. Bahasa daerah juga merupakan bagian dari identitas budaya. Nilai-nilai, norma, dan kebiasaan terkandung dalam setiap kata dan ungkapan bahasa daerah. Bahasa daerah menunjukkan kekayaan budaya suatu wilayah selain sebagai cara untuk berkomunikasi dan memiliki makna yang berkaitan dengan konteks budaya tempat yang mereka gunakan.</p><p><br/></p><p>&nbsp;&nbsp; &nbsp; Seiring berjalannya waktu, bahasa daerah dihadapkan dengan berbagai ancaman di tengah era modernisasi dan globalisasi yang berkembang pesat. Dominasi bahasa asing, yang sering menyebabkan penurunan penggunaan bahasa daerah, merupakan ancaman utama. Bahasa-bahasa dunia seperti bahasa Inggris menjadi dominan dalam berbagai aspek kehidupan di era globalisasi, mulai dari bisnis hingga hiburan. Akibatnya, kesempatan dan kebutuhan untuk menggunakan bahasa daerah berkurang, dan generasi muda tidak lagi tertarik untuk mempelajarinya. Hilangnya bahasa daerah memiliki dampak yang sangat besar terhadap identitas budaya dan menyebabkan penurunan dalam pemahaman nilai-nilai tradisional.</p><p><br/></p><p>Upaya kerja sama dari berbagai pihak terutama pada pemerintah diperlukan untuk menghadapi ancaman tersebut. Untuk mempertahankan bahasa daerah, masyarakat harus bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaganya bahasa daerah. Hal ini dapat dicapai dengan mendorong penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, dan mengadakan berbagai program pelestarian bahasa daerah. Contohnya adalah melakukan pendekatan teknologi. Berbagai dialek, kosakata, dan cerita rakyat dalam bahasa daerah dapat didokumentasikan dan disimpan dalam arsip digital negara yang dapat diakses oleh masyarakat secara <em>online</em>, Sehingga memudahkan penelitian dan pembelajaran bahasa daerah bagi masyarakat.</p><p><br/></p><p>&nbsp;&nbsp; &nbsp; Melestarikan bahasa daerah adalah tanggung jawab bagi seluruh masyarakat Indonesia, Dengan menjaga dan melestarikan bahasa daerah, kita dapat menghormati dan menghargai warisan yang telah diberikan oleh nenek moyang sejak dahulu kala untuk diwariskan kepada generasi yang akan datang, sebagai bagian penting dari identitas dan warisan budaya Indonesia yang tak ternilai harganya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:26:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202033610</guid>
      </item>
      <item>
         <title>- Amarda Nurafdilla</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202033811</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><mark>"Dinamika Kebahasaan di Era Generasi Z dan Alpha: Normalisasi Penggunaan Bahasa Kasar dalam Pergaulan di Indonesia" </mark></strong></p><p><br></p><p>Tata kebahasaan anak di Indonesia telah mengalami dinamika yang signifikan seiring berkembangnya zaman, khususnya pada masa generasi Z dan Alpha. Pada dasarnya, bahasa merupakan cerminan dari budaya dan juga perkembangan teknologi serta sosial yang sedang terjadi di masyarakat pada daerah tersebut. Bahasa merupakan hal yang tidak bisa luput dari &nbsp;aspek kebahasaan, terkhusus pada komunikasi dan aktivitas dalam bersosial di masyarakat. Kebahasaan memiliki arti yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah kaidah yang dikenal dengan kaidah kebahasaan. Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan maksud, pemikiran, serta tujuan kepada orang lain, atau yang dikenal dengan lawan bicara. Bahasa merupakan media komunikasi yang harus mengandung maksud yang dapat dipahami oleh lawan bicaranya, atas dasar hal itulah bahasa haruslah disampaikan dengan sebaik-baiknya, dalam hal ini bahasa memiliki kaitan yang disebut dengan kebahasaan. Kebahasaan ialah segala aspek yang berkaitan dengan bahasa sehingga mereka menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu, dapat dikatakan bahwa kebahasaan ialah suatu unsur yang terdapat dalam suatu bahasa, baik itu secara lisan ataupun tulisan. Dalam berbicara tentu terdapat kebahasaan di dalamnya, dan dalam berbahasa memiliki kaidah kebahasaan yang pastinya berbeda-beda pada setiap daerahnya.</p><p><br></p><p>Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang tidak dapat terlepas dari budaya gotong royong yang dimiliki serta keramahannya dalam berkomukasi. Santun dan kesopanan merupakan sebuah identitas bangsa yang selama ini menjadi corak dan budaya yang dikenal oleh masyarakat luar sebagai bagian dari sifat dan kebiasaan dari setiap elemen masyarakat di Indonesia. Atas dasar hal tersebutlah bahasa Indonesia memiliki kaidah kebahasaan yang tidak luput dari norma kesopanan dan kesantunan serta logat yang halus. Karena logat yang halus tersebut, masyarakat luar menganggap bahwasannya Indonesia merupakan sebuah negara dengan keramahtamahan yang kental dan menjadi sebuah ciri khas serta identitas yang diciptakan oleh masyarakat luar khusus kepada bangsa Indonesia. Dalam hal ini membuktikan bahwa bahasa, kebahasaan serta kaidah kebahasaan memiliki peran yang sangat penting dalam menjadi tolak ukur dalam pencerminan adat, kebiasaan dan perilaku dari masyarakat di suatu daerah, dan menjadi sarana bagi mereka dalam melakukan penilaian dan membangun sudut pandang kepada masyarakat pada daerah tersebut. Hal ini dikarenakan kaidah kebahasaan merupakan sebuah aturan, dalil dan juga pedoman yang digunakan masyarakat pada lingkup daerah tentu dalam berbahasa dan berkomunakasi pada setiap aktivitas yang mereka lakukan sehari-harinya, sehingga kebahasaan menjadi cerminan bagi masyarakat luar untuk menilai dan memandang masyarakat pada lingkup daerah tertentu. Atas dasar hal tersebut, dibutuhkan kesadaran dari banyak pihak agar tidak merusak kaidah kebahasaan serta budaya berbahasa yang telah di tanamkan oleh nenek moyang terdahulu. Namun nyatanya, hal ini terjadi banyak penyimpangan dalam aspek kebahasaan yang digunakan dalam sehari-harinya, dan generasi muda terkhusus pada anak remaja pada Generasi Z dan juga anak pada Generasi &nbsp;Alpha menjadi tokoh utama dalam penyimpangan ini.</p><p><br></p><p>Generasi muda saat ini cenderung lebih adaptif terhadap perkembangan-perkembangan tersebut, termasuk dalam tata kebahasaan. Namun, fenomena ini juga membawa dampak yang tidak sepenuhnya positif, seperti meningkatnya penggunaan bahasa kasar atau tidak pantas di kalangan remaja. Sebagian aktivitas dari generasi Z dan Alpha mereka lakukan dengan melibatkan peranan dari teknologi, dan sebagian besar mereka habiskan untuk mengakses berbagai media internet yang semakin mudah tersebar dan dijangkau di era digitalisasi ini, sehingga berbagai media sosial, game daring, dan platform komunikasi online menjadi bagian integral dari kehidupan mereka. Interaksi yang terjadi melalui platform-platform ini sering berlangsung tanpa pengawasan dari orang dewasa, yang mengakibatkan pergeseran dalam norma bahasa yang digunakan oleh anak-anak dan remaja. Penggunaan bahasa kasar atau kata-kata yang dulunya dianggap tabu kini semakin lumrah di kalangan mereka, bukan hanya sebagai bentuk ekspresi diri, tetapi juga sebagai bagian dari tren pergaulan yang menjadi pembiasaan di era ini.</p><p><br></p><p>Salah satu faktor penyebab fenomena ini adalah pengaruh dari konten-konten di media sosial yang tidak selalu mendukung penggunaan bahasa yang sopan. Publik figur, influencer, dan bahkan sesama pengguna media sosial kerap menggunakan bahasa yang kurang pantas dalam konten mereka, yang selanjutnya ditiru oleh para remaja. Hal ini menyebabkan generasi muda melihat bahasa kasar sebagai hal yang biasa, dan mereka mulai menggunakan istilah-istilah tersebut dalam kehidupan dan aktivitas sehari-hari. Penggunaan bahasa kasar yang semakin dinormalisasi ini juga dapat membawa dampak pada kemampuan remaja untuk membedakan antara situasi formal dan informal. Remaja yang terbiasa menggunakan bahasa kasar mungkin kehilangan rasa sopan santun dalam berkomunikasi, baik dengan teman sebaya maupun dengan orang yang lebih tua. Jika hal ini dibiarkan, nilai kesopanan dan rasa hormat terhadap orang lain bisa semakin tergerus di kalangan generasi muda.</p><p><br></p><p>Seperti yang dapat diketahui bersama, Indonesia dikenal sebagai negara ramah tamah karena bahasa halus dan sopan yang mereka gunakan dalam komunikais sehari-hari, hal ini pun juga berlaku dalam komukasi antara masyarakat lokal dengan masyarakat luar, yang menimbulkan rasa kagum dari masyarakat luar akan kebudayaan berbahasa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, sehingga dampak buruk yang terjadi pada rusaknya nilai kesopanan remaja dalam berbasa juga dapat berpengaruh pada cara pandang masyarakat luar pada norma dan budaya yang ada di Indonesia. Dikarenakan, apabila semakin banyak masyarakat yang menggunakan bahasa kasar dan istilah-istilah lainnya yang bertolak belakang dengan kaidah kebahasaan yang tertanam pada norma budaya yang di budayakan oleh nenek moyang sebelumnya, lambat laun hal ini akan menjadi sebuah pembiasaan dan akan di normalisasikan dalam pergaulan, serta pastinya dapat merusak sudut pandang positif dari masyarakat luar yang telah dibentuk oleh nenek moyang dahulu melalui budaya kebahasaan yang satun. Apa bila tidak segera di tangani, hal tabu dari berbicara kasar dapat menjadi normal dikalangan pergaulan remaja dan bisa saja mengubah cara pandang masyarakat luar yang dulunya kagum pada keindahan dan kesopanan serta kesantunan dari tutur kata yang digunakan oleh bangsa Indonesia, menjadi berubah dengan tidak lagi merasa kagum atau bahkan justru merendahkan perubahan  kebudayaan ini.</p><p><br></p><p>Sejatinya sebagai masyarakat Indonesia haruslah kita memiliki kesadaran akan pentingnya pelestarian kebahasaan yang dimiliki oleh bangsa, baik itu tua maupun muda, baik itu pria maupun wanita bahkan anak-anak maupun orang dewasa. Hendaknya kita menjaga kelestarian bahasa dengan meneruskan tradisi yang telah di bentuk oleh nenek moyang dan tidak mengubah atau justru merusak budaya tersebut. Permasalahan ini bukanlah salah dari pelaku semata, mengingat mayoritas masyarakat yang menggunakan bahasa kasar ialah mereka yang masih anak-anak dan berusia remaja, hal ini juga menjadi permasalahan yang menyudutkan bagaimana lalainya pengawasan orang tua dalam pergaulan yang dijangkau oleh anak mereka. Oleh karena itu, peran orang tua, pendidik, dan masyarakat sangat penting untuk memberikan edukasi kepada anak-anak mengenai tata bahasa yang tepat. Edukasi mengenai etika berkomunikasi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, harus diberikan agar generasi muda tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memahami pentingnya menggunakan bahasa dengan bijak dan santun. Diharapkan, generasi Z dan Alpha di Indonesia dapat tumbuh sebagai individu yang cerdas dan berkarakter baik, serta tetap menjunjung tinggi norma kebahasaan yang sopan dan dapat terus membawa budaya berbahasa dari masyarakat Indonesia yang ramah tamah dan menjunjung nilai normal kesopanan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:26:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202033811</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Hesya Azzahra </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202033813</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Bahasa Sebagai Cerminan Budaya</strong></p><p><br/></p><p>Bahasa, lebih dari sekadar alat komunikasi, merupakan cerminan budaya. Ia menyimpan jejak sejarah, nilai-nilai, kepercayaan, dan tradisi suatu kelompok masyarakat. Melalui bahasa, kita dapat memahami bagaimana suatu budaya memandang dunia, bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain, dan bagaimana mereka membangun identitas mereka. </p><p><br/></p><p>Bahasa mencerminkan nilai-nilai dan kepercayaan suatu budaya. Kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan konsep-konsep penting seperti keluarga, kehormatan, dan keberhasilan menunjukkan nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Misalnya, dalam budaya yang menghargai, bahasa mungkin menekankan pentingnya kerja sama dan keseimbangan kelompok. Sebaliknya, budaya yang individualistis mungkin lebih menekankan pada kebebasan pribadi dan pencapaian individual.</p><p><br/></p><p>Bahasa juga mencerminkan cara bagaimana suatu budaya berinteraksi satu sama lain. Tata krama, sopan santun, dan cara penyampaian pesan dalam suatu bahasa menunjukkan bagaimana anggota masyarakat menghargai dan menghormati satu sama lain. Bahasa mungkin menggunakan bentuk sapaan yang berbeda untuk menunjukkan status sosial seseorang. Sebaliknya, mungkin menggunakan bahasa yang lebih informal dan egaliter.</p><p><br/></p><p>Bahasa berperan penting dalam membangun identitas suatu budaya. Bahasa menjadi alat untuk menjaga dan melestarikan tradisi, sejarah, dan nilai-nilai budaya. Melalui bahasa, anggota suatu kelompok masyarakat dapat merasa terhubung dan memiliki rasa persatuan. Misalnya, bahasa daerah atau bahasa tabu menjadi simbol identitas dan kebanggaan bagi suatu kelompok etnis atau suku.</p><p><br/></p><p>Namun, bahasa juga dapat menjadi alat untuk memisahkan dan mengucilkan. Bahasa dapat digunakan untuk memperkuat perbedaan budaya dan menciptakan jurang pemisah antara kelompok masyarakat. Misalnya, penggunaan bahasa yang diskriminatif atau bahasa yang merendahkan dapat menyebabkan konflik dan perpecahan.</p><p><br/></p><p>Bahasa merupakan cerminan budaya yang tak terbantahkan. Ia menyimpan jejak sejarah, nilai-nilai, kepercayaan, dan tradisi suatu kelompok masyarakat. Dengan memahami bahasa suatu budaya, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang cara hidup, cara berpikir, dan cara berinteraksi mereka. Penting untuk menghargai keragaman bahasa dan budaya, serta menggunakan bahasa sebagai alat untuk membangun jembatan dan mempromosikan toleransi dan saling pengertian antar budaya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:26:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202033813</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Azzahra Nabilla Sofian</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202034288</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Bahasa Daerah yang Terancam Punah</strong></p><p><br></p><p>Sudah diketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sekali keragaman, mulai dari suku adat, pakaian, tari-tarian, lagu daerah, upacara adat, bahasa daerah, dan lain-lain. Tentunya memiliki banyak sekali keragaman di negara kita merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Tetapi seiring berkembangnya zaman, keragaman-keragaman yang kita miliki ini mulai tertinggalkan, dan bahkan berujung pada punahnya keragaman tersebut, seperti bahasa daerah. Di Indonesia, terdapat 718 bahasa daerah, tetapi banyak dari bahasa daerah tersebut yang statusnya terancam punah. Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dari Kemendikbudristek, ada 12 bahasa daerah di Maluku, 5 bahasa daerah di Papua, 3 bahasa daerah di Papua Barat, 1 bahasa daerah di Nusa Tenggara Barat, 1 bahasa daerah di Sulawesi Utara, 1 bahasa daerah di Jawa Tengah, dan 1 bahasa daerah di Maluku Utara, yang semuanya terancam punah. Banyaknya bahasa daerah di negara kita yang terancam punah merupakan hal yang harus kita waspadai.</p><p><br></p><p>Punahnya bahasa daerah yang ada di negara Indonesia bukanlah tanpa sebab, ada beberapa faktor yang menyebabkan punahnya bahasa daerah yang ada di negara kita. Salah satu faktor tersebut adalah adanya globalisasi dan modernisasi, ditambah dengan penggunaan teknologi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Globalisasi dan modernisasi yang terjadi di masyarakat menyebabkan beberapa bahasa asing seperti bahasa Inggris menjadi lebih dominan penggunaannya dibandingkan bahasa daerah, sehingga bahasa daerah mulai tertinggalkan. Dan juga ditambah oleh banyak anak muda sekarang yang menganggap menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari merupakan hal yang kurang gaul. Selain itu, dikarenakan masuknya berbagai teknologi di dalam kehidupan kita, banyak budaya-budaya asing yang terserap ke lingkungan termasuk bahasa asing, sehingga bahasa asing tersebut akan lebih sering digunakan dibandingkan dengan bahasa daerah sendiri.</p><p><br></p><p>Selain dikarenakan globalisasi dan modernisasi yang terjadi seiring zaman, serta penggunaan teknologi yang mewarnai kehidupan kita, salah satu faktor lainnya yang menyebabkan punahnya bahasa daerah yaitu dari faktor keluarga. Keluarga yang tidak lagi mengajarkan anggota-anggota mereka yang lebih mudah dengan bahasa daerah menyebabkan bahasa daerah tersebut tidak terwariskan ke generasi selanjutnya dan lama-kelamaan tidak ada lagi yang menggunakan bahasa daerah tersebut sehingga bahasa daerah tersebut tergolong punah. Tentunya penyebab punahnya bahasa daerah ini tidak hanya disebabkan oleh satu keluarga saja, tetapi banyak keluarga yang tidak lagi mengajarkan bahasa daerah mereka kepada keturunannya. Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian lembaga <em>Living Tongues Institute for Endangered Languages </em>yang menyatakan "The Living Tongues meneliti bahasa-bahasa lokal di seluruh dunia. Penelitian itu menyatakan bila kepunahan bahasa paling utama disebabkan di ranah keluarga ketika bahasa tersebut tidak lagi diwariskan,". Salah satu penyebab mengapa kebanyakan keluarga tidak menggunakan lagi bahasa daerah mereka yaitu pemikiran bahwa bahasa daerah tersebut sudah kurang relevan untuk digunakan di zaman sekarang. Dengan adanya globalisasi, maka orang-orang merasa bahwa bahasa asing itu lebih penting untuk dipelajari daripada bahasa daerah. Serta dikarenakan adanya asimilasi budaya yang terjadi di masyarakat, ketika masyarakat mulai bercampur dengan kelompok-kelompok budaya lain, &nbsp;bahasa daerah dapat tergantikan oleh bahasa yang lebih dominan digunakan oleh masyarakat pada daerah tersebut, sehingga penggunaan bahasa daerah tidak dianggap terlalu penting dan para keluarga tidak mengajarkan bahasa daerah tersebut pada keturunannya.</p><p><br></p><p>Ada beberapa upaya yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kepunahan bahasa daerah. Salah satunya dengan cara diselenggarakannya kegiatan budaya yang menggunakan bahasa daerah. Dengan adanya kegiatan budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya, dan lomba yang menggunakan bahasa daerah, maka akan mendorong masyarakat untuk mempelajari dan menggunakan bahasa daerah yang digunakan dalam kegiatan budaya tersebut, apalagi jika kegiatan budaya tersebut dibuat menarik, maka masyarakat akan lebih terdorong untuk mengikuti kegiatan budaya yang ada. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kepunahan daerah yaitu menjadikan bahasa daerah sebagai mata pelajaran dalam kurikulum pendidikan. Dengan dijadikannya bahasa daerah sebagai mata pelajaran, masyarakat seperti anak tingkat sekolah dasar sudah dibiasakan untuk mempelajari dan menggunakan bahasa daerah sejak kecil, sehingga saat dewasa, penggunaan bahasa daerah tersebut tidak dilupakan begitu saja. Kita bisa melihat contoh penerapan bahasa daerah sebagai mata pelajaran ini di daerah Jawa, bahasa Jawa sudah dijadikan sebagai kurikulum untuk dipelajari di sekolah-sekolah. Dan cara lain yang bisa diterapkan untuk mencegah kepunahan bahasa daerah adalah mendorong penggunaan bahasa daerah di tempat publik, seperti dengan cara memasang papan nama jalan, rambu-rambu, dan pengumuman publik dalam bahasa daerah. Dengan dipasangnya berbagai penanda dalam bahasa daerah, orang-orang akan lebih familiar dengan bahasa daerah yang digunakan dan mencegah terjadinya kepunahan pada bahasa daerah tersebut.</p><p><br></p><p>Bahasa daerah merupakan salah satu aset budaya yang sangat berharga, apalagi dengan negara Indonesia yang memiliki 718 bahasa daerah. Tetapi seiring berkembangnya zaman, beberapa bahasa daerah sudah terancam punah, atau bahkan sudah punah. Beberapa faktor yang menyebabkan punahnya bahasa daerah yaitu globalisasi dan modernisasi disertai dengan perkembangan teknologi di zaman sekarang, dan banyaknya keluarga yang sudah tidak mengajari bahasa daerah mereka kepada anak-anaknya. Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah kepunahan bahasa daerah, diantaranya penyelenggaraan kegiatan budaya yang menggunakan bahasa daerah, menjadikan bahasa daerah sebagai mata pelajaran dalam kurikulum pendidikan, dan mendorong penggunaan bahasa daerah di tempat publik. Kita harus waspada dengan kepunahan bahasa daerah yang sedang terjadi akhir-akhir ini, dan mengupayakan agar bahasa daerah yang kita miliki tidak punah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:26:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202034288</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Genice Gavrila</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202036698</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Bahasa Indonesia Sebagai Jembatan Budaya Dan Identitas Bangsa</strong></p><p><br/></p><p>Bahasa adalah alat komunikasi sosial yang berupa sistem simbol bunyi yang dihasilkan dari ucapan manusia. Setiap daerah memiliki bahasanya tersendiri. Namun Bahasa Indonesia bukan hanya sekadar alat komunikasi, melainkan juga alat untuk menyatukan keberagaman budaya di Indonesia dan menjadi identitas negara. Sebagai bahasa resmi negara, Bahasa Indonesia memainkan peran yang sangat penting bagi bangsa yang terdiri dari lebih 17.000 pulau, beragam suku, agama, dan adat istiadat. Dalam keragaman ini, bahasa Indonesia ada sebagai pemersatu.</p><p><br/></p><p>Sebagai jembatan budaya, Bahasa Indonesia membuat terjadinya interaksi antara berbagai kelompok yang memiliki bahasa daerah masing-masing. Bahasa Indonesia memungkinkan seseorang dari suku Jawa berkomunikasi dengan orang dari suku Batak, Papua, Dayak atau Bali, tanpa terhalang oleh perbedaan bahasa lokal atau daerah. Hal ini memungkinkan terjadinya pertukaran budaya, seperti dalam kesenian, musik, dan tradisi, yang pada akhirnya memperkaya identitas bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia juga menjadi simbol identitas nasional. Bahasa Indonesia berperan sebagai alat pemersatu pada masa perjuangan kemerdekaan. Selain itu, Bahasa Indonesia juga menjadi sarana penting dalam pendidikan, media, dan pemerintahan. Bahasa ini digunakan dalam sistem pendidikan di seluruh Indonesia, yang memungkinkan anak-anak dari berbagai daerah untuk mendapatkan pendidikan yang sama. Media massa, juga menggunakan Bahasa Indonesia untuk menyebarkan informasi kepada seluruh masyarakat dengan mudah. Hal ini semakin mempertegas peran Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang menyatukan sekaligus sebagai cerminan identitas bangsa.</p><p><br/></p><p>Kesimpulannya, Bahasa Indonesia lebih dari sekadar alat komunikasi sehari-hari. Ia adalah simbol persatuan, jembatan antarbudaya, dan peneguh identitas bangsa. Bahasa Indonesia harus terus dijaga dan dilestarikan untuk generasi yang akan datang, agar tetap menjadi penghubung yang kokoh antara sejarah, budaya, dan identitas Indonesia yang kaya.</p><p><br/></p><p><strong>Saran:</strong></p><ul><li><p>Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya bahasa Indonesia.</p></li><li><p>Mengembangkan program-program yang mendukung penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.</p></li><li><p>Memanfaatkan teknologi untuk mempromosikan bahasa Indonesia ke kancah internasional.</p></li></ul><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:28:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202036698</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Binar Kanthi Pambayun: Bagaimana Cara Bahasa Dapat Berpengaruh Terhadap Pola Pikir dan Perilaku Seseorang Dalam Kesehariannya? </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202037461</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada zaman modern ini, masyarakat diseluruh belahan dunia semakin memenuhi titahnya sebagai mahkluk sosial dan mulai mengekpansi lingkup interaksi sosialnya secara global dengan masyarakat lain, entah dalam lingkup nasional maupun internasional. Dalam hal ini, sarana paling penting yang mendukung interaksi tersebut adalah bahasa.</p><p><br/></p><p>Bahasa merupakan suatu sarana komunikasi yang digunakan oleh setiap mahkluk hidup untuk berkomunikasi. Hewan pun juga memiliki bahasa tersendiri untuk berkomunikasi dengan sesamanya, manusia merupakan makhluk sosial yang menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya. </p><p><br/></p><p>Seiring dengan berkembangnya zaman, manusia di setiap belahan dunia dengan dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai melahirkan bahasa-bahasa baru yang memiliki berbagai macam bentuk dan memiliki ciri khas dan keunikannya tersendiri. Bentuk-bentuk tersebut meliputi, struktur atau tata bahasa, intonasi atau nada yang digunakan, dan logat atau dialek yang dipakai. Tanpa kita sadari, bahasa-bahasa yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku kita sehari-harinya. </p><p><br/></p><p>Contoh yang kita bisa ambil adalah bahasa jepang. Setiap bahasa pastilah mempunya frasa dan kosa kata unik tersendiri, yang membuat setiap bahasa memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan suatu informasi. Bahasa jepang sendiri juga sama, bahasa Jepang memiliki banyak cara untuk menggambarkan suatu nuansa warna, mereka menggambarkan nuansa warna dalam bentuk yang berbeda-beda. Hal ini, membentuk kepribadian orang jepang menjadi pribadi yang lebih filosofis</p><p><br/></p><p>Bentuk lain juga terjadi pada bahasa Inggris. Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang selalu digunakan oleh masyarakat global yang ingin berkomunikasi dengan masyarakat mancanegara. Seseorang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-harinya, biasanya cenderung cepat dalam berpikir dan lebih teliti dalam melihat berbagai hal. Ini terjadi karena bahasa Inggris dalam tata bahasanya cenderung lebih detail, serta memiliki struktur yang rumit dan kosa kata tersendiri untuk setiap situasi atau kejadian. Salah satu contohnya adalah kata "Buruk". "Buruk" dalam Bahasa Inggris memiliki banyak cara untuk menyebutkannya, berberapanya adalah horrible, worst, bad, dan masih banyak lagi, kata-kata ini digunakan tergantung kondisi dan situasi kapan harus menggunakan kata tersebut. Hal lainnya adalah kata ganti orang dalam bahasa Inggris yang harus menggunakan she, he, it, i, you, they, we. Tata bahasa yang rumit ini mendorong seseorang yang menggunakan bahasa Inggris atau sedang belajar bahasa Inggris untuk melatih fokusnya dan memiliki kemampuan bernalar tinggi.</p><p><br/></p><p>Tak hanya bahasa ibu dan struktur bahasa saja yang menjadikan bahasa sebagai salah satu aspek yang membentuk kepribadian, tapi dialek atau logat suatu bahasa juga sangat berpengaruh dalam membentuk identitas orang tersebut, salah satu contohnya adalah bahasa daerah. Misalnya adalah suku jawa, mereka adalah suku yang tinggal di pulau jawa dan cenderung menggunakan bahasa jawa dalam kehidupan sehari-hari mereka, bahasa jawa merupakan bahasa yang dikenal dengan logat bahasanya yang medok, lembut, pelan, dan terdengar sopan. Faktor ini akhirnya membentuk kebanyakan orang jawa menjadi pribadi yang lemah lembut, menjunjung tinggi tata krama, tenang, dan satun.</p><p><br/></p><p>Berkebalikan dengan suku batak yang menggunakan bahasa batak dalam kesehariannya. Bahasa batak memiliki logat bebicara nyaring dan biasanya terdengar seperti berteriak, dan terkesan kasar saat bertutur kata. Logat ini tercipta karena nenek moyang masyarakat batak yang dahulu tinggal di daerah gunung dan memaksa mereka untuk berteriak saat berbicara agar dapat terdengar oleh lawan bicaranya. Hal ini membentuk kepribadian kebanyakan orang batak menjadi keras dan cenderung blak-blakan.</p><p><br/></p><p>Selain faktor-faktor tersebut, pemilihan kata yang kita gunakan dalam berbahasa juga berpengaruh terhadap pola pikir kita. Orang yang biasa menggunakan bahasa kasar atau kata-kata kotor, akan lebih menunjukkan perilaku yang brutal, kasar terhadap orang-orang disekitarnya, tidak menghargai orang lain, dan cenderung seenaknya. Berlawanan dengan seseorang yang menggunakan bahasa yang baik saat bertutur kata, mereka lebih bisa diterima oleh lingkungan lantaran perilaku mereka yang santun, dan membuat orang merasa dihargai. </p><p><br/></p><p>Dalam hidup, bahasa merupakan sarana primer yang kita butuhkan sebagai makhluk sosial untuk berkomunikasi dengan sesama kita. Saat ini, ada banyak sekali bahasa yang telah berkembang dan digunakan di dunia. Logat, struktur, dan pemilihan kata yang ada dalam bahasa-bahasa kita gunakan tanpa sadar mempengaruhi pola pikir dan cara kita berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:28:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202037461</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kynan Rasya Alfarizi</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202039797</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><p><strong>PENGARUH BURUK GAME ONLINE TERHADAP PENGGUNAAN BAHASA PARA GENERASI MUDA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI</strong></p></blockquote><p><strong>&nbsp;</strong></p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di era yang serba modern ini, game online merupakan salah satu dari banyaknya hal yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada generasi muda yang hidup bersamaan dengan semakin berkembangnya teknologi. Salah satu hal yang paling terpengaruh oleh video game online adalah penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut dapat terjadi dikarenakan pada game online, kita dimungkinkan untuk bersosialisasi dengan orang lain dan dapat mempelajari bahasa-bahasa baru. Tentunya, bersosialisasi di game online tidak selalu berdampak positif, tetapi juga dapat berdampak negatif.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penggunaan bahasa merupakan salah satu dari banyaknya hal yang telah terpengaruh oleh video game online, banyaknya orang yang bersosialisasi di suatu game tertentu telah membawa beberapa dampak negatif bagi para generasi muda, seperti penggunaan bahasa kasar yang tidak baik dan tidak sopan sekarang telah ramai digunakan dan bahkan dianggap sebagai suatu hal yang normal dalam pergaulan sehari-hari.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Beberapa bahasa kasar yang telah sering kita dengar pada saat ini adalah seperti “jancok”, “tolol”, “bangsat”, “goblok”, dan masih banyak lainnya. Bahasa-bahasa tersebut dapat tersebar dengan luas di platform game online dikarenakan adanya orang yang menggunakan bahasa-bahasa kasar ketika sedang berkomunikasi dengan orang lain di game online, mungkin dengan menulis pesan atau menggunakan fitur voice chat, hal ini menyebabkan beberapa orang yang melihat pesan atau mendengar kata-kata orang tersebut, merasa bahwa bahasa kasar adalah bahasa yang gaul dan keren, sehingga mereka mulai ikut-ikutan dan mulai menggunakan bahasa kasar dalam kehidupan sehari-hari.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Game online yang memiliki unsur kompetitif seperti Mobile Legends, Free Fire, Clash Royale, dan lain-lain, merupakan salah satu dari faktor terpenting dalam penggunaan bahasa kasar oleh generasi muda saat ini. Game yang mengharuskan pemainnya untuk bersaing untuk meraih kemenangan dapat memicu penggunaan bahasa kasar, seperti saat seorang pemain kalah dan terpancing emosi, ia akan mengeluarkan kata-kata kasar untuk meluapkan kemarahannya. Selain itu , memprovokasi lawan juga merupakan salah satu dari alasan mengapa kata-kata kasar sering digunakan, tujuannya adalah untuk mengalihkan fokus lawan dan memancing amarahnya.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Game online, yang saat ini telah menjadi hal yang populer di kalangan generasi muda, telah menimbulkan dampak-dampak buruk, salah satunya yaitu penggunaan bahasa kasar yang sekarang telah dianggap normal oleh kebanyakan generasi muda, bahasa-bahasa yang kurang baik tersebut telah tersebar melalui pemain yang bersosialisasi dengan pemain lainnya, seperti saat mengirim pesan dan saat menggunakan voice chat, game yang memiliki unsur kompetitif juga berpengaruh besar dalam penyebaran bahasa kasar, dikarenakan ketika pemain sedang kalah dan emosi, besar kemungkinan bahwa ia akan mengucapkan kata-kata kasar. Oleh karena itu, kita harus bisa menjaga ucapan kita agar bahasa kasar tidak tersebar semakin luas dan memberikan dampak yang lebih parah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:30:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202039797</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Anindya Hanifah Basoeki</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202039804</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Peningkatan Pembelajaran Bahasa Daerah Dengan Pendekatan Nonceramah Pada Pendidikan Formal</strong>&nbsp;</p><p><br></p><p>   Seiring berkembangnya zaman, penggunaan bahasa daerah dalam sehari-hari semakin menurun, terutama dikalangan generasi penerus yaitu generasi Z dan Alpha. Generasi penerus banyak yang menggunakan bahasa asing bahkan lebih dari satu, karena pengaruh tuntutan zaman dimana para remaja dituntut untuk menjadi multibahasa (<em>Multilingual</em>) untuk dapat bersaing dalam dunia pendidikan dan dunia kerja nantinya yang semakin luas dan ketat persaingannya. Selain dari itu juga ada pengaruh sosial media yang di dalamnya tidak ada batasan untuk melihat dan berinteraksi. Hal tersebut, kemudian mempengaruhi sikap bahasa mereka, dimana mereka lebih memilih menggunakan bahasa yang paling mudah digunakan dan banyak dipahami orang-orang. Dari situlah akhirnya penggunaan bahasa daerah mulai ditinggalkan.</p><p><br></p><p>   Hal ini akan sangat buruk bagi kita,&nbsp; karena bahasa daerah kita terancam punah. Sementara bahasa daerah merupakan salah satu dari kekayaan budaya kita yang menjadi identitas kita. Kekayaan budaya kita telah lama menjadi identitas kita yang menjadi daya tarik tersendiri hingga banyak menghasilkan keuntungan bagi kita. Karena keberagaman kita, orang-orang asing jadi tertarik mendatangi Indonesia, dan akhirnya membantu perkembangan negara kita misalnya dari segi perekonomian melalui sektor pariwisata kita. Jadi jika kekayaan kita itu tidak kita pertahankan maka akan punah dan indonesia menjadi tidak semenarik dan seunik itu lagi.</p><p><br></p><p>   Saat ini Indonesia telah mengadakan mata pelajaran bahasa daerah dibeberapa daerah. Namun tidak benar benar optimal, selain karena pengaruh zaman yang mengurangi urgensi penggunaanya, juga karena hal tersebut saat ini menjadi hal yang asing dan dianggap sulit bagi para remaja serta pembelajarannya yang cenderung membosankan seperti ceramah. Oleh karena itu diperlukannya Peningkatan pembelajaran bahasa daerah dengan pendekatan nonceramah pada generasi penerus bangsa dalam pendidkan formal.</p><p><br></p><p>   Pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai permainan yang interaktif seperti yang pertama, dapat dengan bermain peran. Selain menyenangkan, para remaja secara tidak langsung akan fasih berbahasa daerah melalui dialog-dialog yang di ucapkan tokoh yang mereka perankan. Dengan permainan bermain peran atau sandiwara, para remaja secara tidak langsung mereka belajar untuk dapat menuturkan bahasa daerah dari tokoh yang diperankan dengan aksen yang tepat. Sehingga disini remaja akan lebih mudah belajar dan mampu berbahasa daerah melalui aktivitas bermain peran yang menyenangkan. Kedua, dapat diadakannya kuis bahasa daerah disertai dengan hadiah hadiah tertentu untuk memancing antusias remaja. Menggunakan kuis, dapat mengecek pengetahuan remaja&nbsp; tentang kosa kata bahasa daerah.&nbsp;</p><p><br></p><p>   Di era modern ini, generasi penerus mungkin berpikir bahwa bahasa daerah tidak sepenting itu, terlebih masih ada orang tua yang menggunakan bahasa tersebut, atau karena bahasa tersebut tidak dapat benar benar digunakan setiap waktu karena sifatnya yang eksklusif hanya bisa dipahami oleh orang orang dari daerah asal yang sama. Namun hal tersebut salah karena, apabila generasi Z dan Alpha sebagai generasi penerus, yang punya tanggung jawab besar akan bagaimana nasib bangsa dimasa depan tidak dapat menjaga warisan budaya bahasa daerah tersebut, maka budaya tersebut akan punah nantinya. Jika hal tersebut terjadi maka bangsa kita akan kehilangan identitas nya. Serta generasi generasi setelahnya jadi terputus dari akar budaya kita, sehingga mereka akan memiliki rasa bangga yang kurang akan identitas suku atau daerahnya. Akhirnya budaya indonesia jadi lebih seragam dan kehilangan kekayaannya.</p><p><br/></p><p>   Bahasa daerah merupakan salah satu dari kekayaan budaya kita yang menjadi identitas bangsa kita. Pelestariannya dapat diterapkan melalui pendidikan formal sehingga seluruh generasi penerus dapat ikut serta. Pembelajaran bahasa daerah sebaiknya ditingkatkan agar tujuan dari  pelestarian bahasa daerah dapat tercapai. Apabila kita sebagai generasi penerus tidak punya rasa peduli untuk ikut serta melestarikan budaya kita, maka budaya kita akan musnah begitu saja dan kita akan kehilangan identitas dan keunikan kita. </p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:30:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202039804</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nicolas Immanuel Marbun</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202041879</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Sosial Media Dan Bahasa Asing Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar</strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Bahasa Indonesia merupakan salah satu simbol identitas bangsa Indonesia, yang harus dijaga dan dipertahankan dalam segala bentuk interaksi sosial. Namun, perkembangan teknologi dan globalisasi pada zaman sekarang telah membawa tantangan baru dalam penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dua faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah media sosial dan bahasa asing.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Sosial media telah menjadi bagian yang penting dalam kehidupan modern. Dengan jumlah penggunanya yang sangat tinggi, media sosial memberikan ruang yang luas bagi manusia untuk berekspresi dan berinteraksi. Namun, penggunaan media sosial juga membawa risiko kontaminasi bahasa Indonesia. Fenomena munculnya bahasa-bahasa yang tidak baku di platform sosial media seperti “santuy”, “ mager”, “gabut” di kalangan remaja merupakan contoh nyata dari pengaruh media sosial terhadap penggunaan bahasa baku.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Selain media sosial, penggunaan bahasa asing yang mulai digabungkan dengan bahasa Indonesia juga merupakan faktor yang mengancam penggunaan bahasa Indonesia contohnya seperti "Jadi orang itu jangan suka nge-<em>judge</em> orang lain.", dan kata-kata lainnya yang digunakan masyarakat Indonesia seperti “Cringe”, “Lit”, “Salty”, dll. Bahasa asing, terutama bahasa Inggris, telah menjadi penting dalam proses pendidikan dan kompetisi global. Namun, penggunaan bahasa asing yang berlebihan dapat menurunkan citra bahasa Indonesia dan merusak ikon negara Indonesia.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Untuk menjaga penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, ada beberapa cara yang dapat diterapkan:</p><ol><li><p>Dengan cara mengedukasikan generasi muda tentang pentingnya menjaga bahasa Indonesia agar generasi muda tetap menjaga bahasa Indonesia dan tau cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar.&nbsp;</p></li><li><p>Dengan cara menggunakan teknologi untuk menyebarkan cara penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan membuat aplikasi atau situs web yang edukatif terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia.</p></li><li><p>Dengan cara mendorong kreativitas dalam menggunakan bahasa Indonesia tanpa menghilangkan standarnya seperti mengadakan kontes puisi, cerita singkat, dan kontes lainnya yang menggunakan bahasa Indonesia.</p></li><li><p>Dengan cara mengajak partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga bahasa Indonesia seperti mengadakan sosialisasi tentang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama.</p></li></ol><p><br/></p><p>Kesimpulan yang dapat diambil adalah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sangat penting dalam menjaga identitas bangsa kita. Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial dan bahasa asing telah membawa perubahan yang signifikan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Namun, dengan strategi-strategi yang tepat, kita dapat menjaga bahasa Indonesia tetap relevan dan kuat di tengah-tengah perubahan teknologi dan globalisasi dan bahkan membuat bahasa Indonesia menjadi terkenal di negara lain. Mari kita bersama-sama menjaga bahasa Indonesia sebagai warisan bangsa yang patut dibanggakan.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:31:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202041879</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Apakah Penggunaan Bahasa Gaul Mempengaruhi Pertemanan Antar Pelajar?</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202044980</link>
         <description><![CDATA[<p>Bahasa gaul adalah bahasa yang paling populer di zaman sekarang, terutama di kalangan pelajar. Di zaman sekarang, Bahasa gaul adalah bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial dan merupakan wujud kreativitas berbahasa generasi muda, dan biasanya juga digunakan untuk menunjukkan emosi mereka, banyak sekali penggunaan bahasa gaul di zaman sekarang, seperti gabungan dari dua kata, singkatan dari bahasa inggris, dan munculnya berbagai macam kata-kata baru yang mempunyai arti sendiri seperti, <em>Mewing</em>, <em>Rizz</em> dan masih banyak lagi.</p><p><br/></p><p>Dengan adanya bahasa gaul di zaman sekarang ini, membuat orang-orang ingin selalu mengikuti penggunaan bahasa tersebut karena orang yang menggunakan bahasa gaul dianggap terlihat lebih keren dan lebih maju dibanding orang yang tidak menggunakan bahasa gaul, apalagi di kalangan remaja. Biasanya pelajar yang lebih sering menggunakan bahasa gaul memiliki banyak teman karena dianggap memiliki komunikasi yang baik dengan orang lain.</p><p><br/></p><p>Adanya bahasa gaul di kalangan para pelajar ini sebenarnya tidak salah, namun terkadang ada beberapa pelajar yang tidak mengerti penggunaan bahasa gaul dan membuat pelajar tersebut susah untuk berkomunikasi dengan pelajar lain yang menggunakan bahasa gaul, hal itu membuat pelajar tersebut terkadang dijauhi karena dianggap kurang mengikuti tren yang ada.</p><p><br/></p><p>Adanya bahasa gaul yang bermunculan sekarang memang merupakan bentuk kreativitas berbahasa generasi muda. Namun, adanya penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja ini mengakibatkan jarangnya pelajar yang menggunakan bahasa baku, padahal penggunaan bahasa baku harusnya ditanamkan pada pelajar agar tidak hilang dimakan zaman yang setiap harinya muncul berbagai macam kata gaul baru yang dapat menghilangkan kebiasaan dalam menggunakan bahasa baku di kalangan remaja.</p><p><br/></p><p>Penggunaan bahasa gaul yang ada di kalangan pelajar ini seharusnya tidak menjadi pembeda antara pelajar satu dengan pelajar lain, perbedaan penggunaan bahasa harusnya tidak menjadi penghalang para pelajar untuk saling berkomunikasi dan ber</p><p>interaksi. </p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:34:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202044980</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Anindya Suryaningrum</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202074900</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Remaja Menggunakan Bahasa Jaksel Pada Sosial Media</strong></p><p><strong>&nbsp;</strong></p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bahasa Jaksel adalah bahasa gaul yang merupakan campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sebagai Remaja pengguna aktif sosial media kita pasti pernah mendengar atau melihat pengguna sosial media yang lain menggunakan bahasa Jaksel saat berkomentar, ataupun dalam konten-konten yang beredar. Bahasa Jaksel sering digunakan dikehidupan sehari-hari karena penyebarannya yang cepat melalui sosial media. Bahasa Jaksel juga merupakan bahasa untuk membuat konten di sosial media karena penonton menikmati bahasa Jaksel yang menarik.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sosial media adalah platform digital yang memungkinkan pengguna berinteraksi, berbagi konten, dan melakukan aktivitas sosial lainnya. Sebagai remaja yang aktif menggunakan media sosial dan sering memposting atau berkomentar dengan bahasa Jaksel yang mendapat banyak respon di sosial media entah respon positif maupun negatif. Komentar atau Postingan bahasa Jaksel mudah dikenali karena bahasa Jaksel sudah menjadi bahasa gaul bagi remaja membuat komentar atau postingan dengan bahasa Jaksel mendapat banyak respon.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Banyak konten dengan bahasa Jaksel yang diunggah di sosial media. Biasanya konten dengan bahasa Jaksel ini diunggah oleh Remaja yang mebuat konten tentang keseharian mereka, biasanya remaja ini memiliki tingkat sosial yang tinggi. Konten remaja ini menarik dengan bahasa yang digunakan pada kontennya seperti “hari ini i mau pergi sama papi i makan dirumah makan Padang which is makanannya dengan enak, literally bumbunya itu loh bikin i ngiler lagi”. Mebuat penonton senang menonton konten dengan pembawaan bahasa jaksel, dan penonton merespon untuk membuat lebih banyak konten dengan bahasa Jaksel.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Banyak interaksi antar pengguna sosial media yang menggunakan bahasa Jaksel. Menggunakan bahasa Jaksel ini membuat pengguna atau remaja terlihat keren karena dalam berkomentar atau postingan menggunakan bahasa Inggris, walaupun ada beberapa orang berpendapat bahwa orang yang menggunakan bahasa Jaksel masih belajar bahasa Inggris, dan bahwa bahasa Jaksel hanya dapat dimengerti oleh beberapa orang saja. Padahal dalam bahasa Jaksel menggunakan bahasa Inggris yang sederhana dan dapat dipahami oleh kebanyakan orang.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bahasa Jaksel merupakan bahasa yang sering kita temukan dimedia sosial, dengan menggunakan bahasa Jaksel dapat menarik respon terhadap postingan media sosial kita. Bahasa Jaksel juga menyenangkan dibaca karena memiliki khasnya sendiri. Penggunaan bahasa Jaksel sendiri dimedia sosial juga sudah banyak, kerana para pengguna sosial media menggunakan bahasa Jaksel untuk berinteraksi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-05 07:56:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3202074900</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Yoel Flen Tampubolon X-11</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205625902</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Bahasa Inggris terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia dikalangan Generasi Z</strong></p><p><br></p><p>Bahasa adalah sebuah alat komunikasi yang berasal dari manusia. Di seluruh dunia terdapat banyak sekali bahasa dari berbagai Negara untuk berkomunikasi. Indonesia sendiri memiliki banyak sekali bahasa daerah dari setiap suku yang ada. Demi mempermudah komunikasi antar masyarakat, lahirlah bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan Indonesia.</p><p><br></p><p>Pada saat ini, penggunaan bahasa Indonesia mulai memudar seiring dengan adanya globalisasi yang masuk ke dalam Negara Indonesia. Bahasa Inggris yang merupakan bahasa Internasional menjadi salah satu bahasa yang memiliki andil besar terhadap pemudaran bahasa Indonesia.. Hal tersebut didukung oleh adanya modernisasi dimana komunikasi di antara individu maupun kelompok di dunia ini dipermudah dengan teknologi yang semakin canggih. Selain itu, dengan adanya globalisasi dan modernisasi ini generasi Z adalah generasi yang paling merasakan dampaknya, entah itu pengaruh positif maupun negatif.&nbsp;</p><p><br></p><p>Dengan adanya kemudahan dalam berkomunikasi tentunya membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi dalam bersosialisasi dengan seseorang dari Negara lain. Tentunya ini membawa dampak positif yang berpengaruh terhadap kefasihan penggunaan bahasa Inggris. Melalui hal tersebut, Generasi Z dapat memperluas relasinya dengan individu lain. Selain itu, dengan adanya bahasa Inggris dapat menimbulkan akulturasi bahasa yang melahirkan kosakata baru bahasa Indonesia kedepannya yang memperluas keragaman kosakata bahasa Indonesia.&nbsp;</p><p><br></p><p>Meskipun dengan adanya dampak positif dari pengaruh bahasa Inggris, tak bisa dipungkiri bahwa bahasa Inggris juga membawa dampak negatif. Hal tersebut dapat dilihat dari fakta lapangan bahwa banyak sekali Generasi Z yang lebih sering menggunakan bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia, entah itu penggunaan beberapa kata, maupun dalam percakapan sehari-hari. Tak jarang pula, kebanyakan kalangan Generasi Z menggunakan bahasa slang yang menggantikan bahasa Indonesia yang sebenarnya. Hal ini menyebabkan timbulnya sebuah kebiasaan baru pada kalangan Generasi Z yang menggunakan bahasa Inggris di dalam setiap kata-kata yang diucapkan.</p><p><br></p><p>Penggunaan bahasa Inggris memang tak bisa dipungkiri pentingnya dalam era modern sekarang. Meskipun penggunaan bahasa Inggris ini memiliki dampak negatif, kita juga tetap harus melihat sisi positif yang bermanfaat untuk membuka relasi di Generasi Z. Namun, alangkah baiknya agar kalangan Generasi Z dapat memilah untuk menggunakan bahasa Inggris dengan baik dan benar, serta tidak melupakan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan Bangsa Indonesia.&nbsp;</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:17:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205625902</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KHUSNUL NURBAYTI (X-11)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205626862</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><strong>Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Indonesia</strong></p><p><strong>Di Kalangan Remaja</strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p>   Bahasa gaul adalah bahasa yang dimodifikasi dari berbagai bahasa, Termasuk bahasa Indonesia. Bahasa gaul digunakan orang-orang tertentu untuk berkomunikasi di antara kelompoknya. Sedangkan bahasa Indonesia Merupakan bahasa resmi sekaligus nasional di Indonesia, yang digunakan masyarakat untuk berkomunikasi.</p><p><br/></p><p>  Bahasa gaul didefinisikan Sebagai dialek bahasa Indonesia nonformal yang digunakan oleh komunitas tertentu untuk pergaulan namun, akibat adanya bahasa gaul penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat ini memudar hal ini diakibatkan penggunaan bahasa gaul dalam aktivitas sehari-hari yang banyak digunakan kalangan remaja.</p><p><br/></p><p>  Ada pula bahasa gaul yang dipengaruhi media sosial, hampir seluruh kalangan remaja yang menggunakannya. Pengaruhnya bahasa gaul Ini dapat merusak kosakata baku bahasa Indonesia itu sendiri, karena kosakata yang disingkat dan terjadinya penyerapan dari bahasa asing. Selain itu sulit memahami bahasa Indonesia yang baik dan benar, misalnya "Pansos" yang merupakan singkatan dari Panjat Sosial", dan masih banyak lainnya</p><p><br/></p><p>  Pengaruh lain akibat adanya bahasa gaul ini adalah, dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa gaul dikalangan remaja ialah, kebutuhan mengikuti trend interaksi dengan lingkungan sosial serta pengaruh media sosial faktor-faktor ini membuat remaja semakin sering menemukan penggunaan bahasa gaul di kehidupan sehari-hari.</p><p><br/></p><p> Kesimpulan nya, Bahasa gaul memiliki pengaruh positif dan negatif pada bahasa Indonesia tergantung cara kita sebagai remaja menggunakan bahasa gaul tersebut. Namun Kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga menggunakan bahasa Indonesia serta membiasakan diri untuk menggunakan bahasa Indonesia dan meminimalisir Penggunaan bahasa gaul dalam kegiatan dan aktivitas sehari-hari, agar bahasa Indonesia tidak punah dan tidak terhambat perkembangannya</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:18:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205626862</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Amelia Ramadhani Salman x.11    </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205628810</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><strong>Penggunaan Bahasa Indonesia Yang Baik Pada Kegiatan Sehari hari Di Kalangan Remaja</strong></p><p><br/></p><p><br/></p><p>Bahasa indonesia merupakan identitas sebuah bangsa dan memiliki peran penting dalam menyatukan suku dan budaya yang ada di Indonesia. Maka dari itu sebagai remaja kita perlu untuk menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Dalam kehidupan sehari-hari juga perlu untuk melestarikan bahasa dengan cara menggunakan bahasa yang baik dan benar. Di era arus globalisasi sekarang sayangnya para remaja cenderung mengabaikan kosakata bahasa Indonesia yang baik, di mana remaja jaman sekarang lebih banyak yang menggunakan bahasa informal,singkatan dan istilah asing baik di media sosial maupun di kehidupan nyata seperti berkomunikasi secara langsung. Perkembangan bahasa asing yang kini telah mulai memasuki kehidupan para remaja menjadikan bahasa asing menjadi dominan terutama bahasa Inggris, para remaja saat ini sering sekali menggabungkan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Di satu sisi ini menunjukan bahwa penggunaan bahasa di indonesia terus berkembang namun disisi lain hal ini dapat mengurangi penggunaan bahasa indonesia yang baik.</p><p><br/></p><p>Dalam kegiatan sehari hari,para remaja sering sekali menggunakan bahasa Inggris sebagai bahan komunikasi seperti yang sering diucapkan adalah <em>“i like”</em> dan ”<em>story</em>” padahal jika menggunakan bahasa Indonesia yang baik tidak akan mengubah makna dan artinya. Dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dapat memudahkan untuk berkomunikasi kepada sesama dan mencerminkan pribadi yang baik karena bahasa Indonesia yang baik dan benar menggunakan tutur kata yang halus. Dengan menggunakan bahasa Indonesia pada kehidupan sehari-hari kita bisa turut aktif untuk menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia.</p><p><br/></p><p>Sebagai contoh pada sosial media para remaja sering menggunakan bahasa asing atau singkatan yang kurang dipahami untuk berkomunikasi pada akhirnya sering menimbulkan kesalahpahaman padahal jika kita menggunakan bahasa indonesia yang benar kita dapat menyampaikan gagasan atau pesan kita dengan tepat,jelas dan dapat dengan mudah dipahami oleh orang orang yang berada di media sosial dengan latar belakang mereka yang berbeda. Untuk menerapkan pada kehidupan sehari hari para remaja jaman sekarang dapat memulai untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar&nbsp; dengan cara membaca buku pedoman bahasa Indonesia, ini juga dapat membantu meningkatkan minat baca anak muda sekarang, selanjutnya anak muda sekarang dapat mempelajari dan mencari tau lagi tentang kosakata kosakata sering digunakan sehari-hari bisa juga berlatih dengan teman ataupun keluarga. Dengan cara ini remaja jaman sekarang dapat mulai terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari sehingga walaupun indonesia dapat melakukan perkembangan bahasa namun kita sebagai remaja juga dapat melestarikan dan menjaga bahasa Indonesia yang baik dan benar.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan upaya untuk melestarikan bahasa Indonesia dimulai dari para remaja. Kalangan remaja yang sudah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baku dalam kehidupan sehari hari dapat dijadikan teladan untuk memulai menggunakan bahasa Indonesia. Diharapkan kedepannya generasi sekarang dan masa yang akan datang akan mulai membiasakan menggunakan bahasa Indonesia pada kehidupan sehari-hari tanpa ada campuran bahasa asing dan bahasa singkatan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:19:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205628810</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dini Kusuma Ramadhani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205631463</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><em>Peran Bahasa Inggris dalam Komunikasi Sehari-hari</em></strong></p><p><br/></p><p>Di era globalisasi yang semakin pesat, bahasa Inggris telah menjadi <em>lingua franca </em>yang menghubungkan berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia. Kemampuan berbahasa Inggris kini bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan suatu kebutuhan yang semakin mendesak dalam berbagai aspek kehidupan. Bahasa Inggris memainkan peran yang sangat penting dalam komunikasi sehari-hari, mulai dari pendidikan, pekerjaan, teknologi, hingga pariwisata dan budaya.</p><p>Dalam dunia pendidikan, bahasa Inggris membuka pintu menuju pengetahuan global. Banyak sumber belajar berkualitas, seperti buku teks, jurnal ilmiah, dan kursus online, tersedia dalam bahasa Inggris. Hal ini memungkinkan pelajar dan mahasiswa untuk mengakses informasi terkini dan berpartisipasi dalam diskusi akademik internasional.</p><p><br/></p><p>Dalam dunia kerja, bahasa Inggris telah menjadi keterampilan yang sangat dihargai. Banyak perusahaan multinasional menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi mereka, sehingga kemampuan berbahasa Inggris membuka pintu kesempatan karir yang lebih luas. Karyawan yang fasih berbahasa Inggris memiliki keunggulan kompetitif dalam pasar kerja global.</p><p><br/></p><p>Selain itu, dalam era ekonomi global, kemampuan berbahasa Inggris meningkatkan daya saing individu dan perusahaan di pasar internasional. Hal ini sangat penting dalam negosiasi bisnis, presentasi, dan membangun hubungan dengan klien atau mitra dari berbagai negara.</p><p><br/></p><p>Bahasa Inggris telah menjadi alat komunikasi yang tak tergantikan dalam kehidupan sehari-hari di era global ini. Perannya yang signifikan dalam pendidikan, pekerjaan, teknologi, dan budaya menunjukkan betapa pentingnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan. Mengingat pentingnya bahasa Inggris, kita semua didorong untuk terus meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris kita. Baik melalui pendidikan formal, kursus bahasa, atau praktik mandiri, investasi dalam kemampuan berbahasa Inggris akan memberikan manfaat jangka panjang dalam berbagai aspek kehidupan.</p><p><br/></p><p>Akhirnya, mari kita jadikan penggunaan bahasa Inggris sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari kita. Dengan terus berlatih dan menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai konteks, kita tidak hanya meningkatkan keterampilan komunikasi kita, tetapi juga membuka pintu menuju peluang dan pengalaman baru di dunia yang semakin terhubung ini.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:21:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205631463</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ILHAM PRADIPTA TAURIN X-11</title>
         <author>285689_3</author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205637232</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>PENGARUH PENGGUNAAN&nbsp; BAHASA JAWA KRAMA INGGIL DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA SEKOLAH DASAR</strong></p><p><br/></p><p><strong>1.1 PENDAHULUAN</strong></p><p><br/></p><p>Bahasa Jawa, khususnya tingkat krama inggil, merupakan warisan budaya yang sarat akan nilai-nilai luhur. Penggunaan bahasa Jawa krama inggil dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan keluarga dan masyarakat Jawa, telah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan globalisasi, penggunaan bahasa Jawa krama inggil semakin berkurang, terutama di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menggali lebih dalam mengenai pengaruh penggunaan bahasa Jawa krama inggil terhadap perkembangan keterampilan berbicara siswa sekolah dasar.</p><p><br/></p><p><strong>1.2 ISI</strong></p><p><br/></p><p>Keterampilan berbicara merupakan salah satu aspek penting dalam berkomunikasi. Melalui keterampilan berbicara, individu dapat menyampaikan ide, pikiran, dan perasaan kepada orang lain secara efektif. Bahasa Jawa krama inggil mengajarkan siswa untuk berbicara dengan sopan, santun, dan hormat kepada orang yang lebih tua, guru, maupun orang yang dihormati. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya Jawa.</p><p><br/></p><p>Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Jawa krama inggil dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam berbicara di depan umum. Selain itu, bahasa Jawa krama inggil juga dapat melatih siswa untuk berpikir secara logis dan sistematis dalam menyampaikan pendapat. Hal ini dikarenakan bahasa Jawa krama inggil memiliki struktur kalimat yang lebih kompleks dibandingkan dengan bahasa sehari-hari.</p><p><br/></p><p>Dalam konteks pembelajaran di sekolah dasar, penggunaan bahasa Jawa krama inggil dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Siswa akan merasa lebih termotivasi untuk belajar ketika mereka diajak untuk menggunakan bahasa yang mereka kuasai dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, penggunaan bahasa Jawa krama inggil juga dapat memperkuat identitas budaya siswa sebagai orang Jawa.</p><p><br/></p><p>Namun, perlu diakui bahwa ada beberapa tantangan dalam menerapkan pembelajaran bahasa Jawa krama inggil di sekolah dasar. Salah satu tantangannya adalah kurangnya sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang pengajaran bahasa Jawa. Selain itu, minat siswa terhadap pembelajaran bahasa daerah, termasuk bahasa Jawa, cenderung menurun.</p><p><br/></p><p>Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan upaya yang sistematis dan berkelanjutan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan bahasa Jawa di sekolah. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan guru, pengembangan kurikulum yang menarik, serta penyediaan berbagai sumber belajar yang relevan. Selain itu, perlu juga melibatkan peran serta orang tua dan masyarakat dalam melestarikan bahasa Jawa.</p><p><br/></p><p><strong>1.4 KESIMPULAN&nbsp;</strong></p><p><br/></p><p>Penggunaan bahasa Jawa krama inggil memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan berbicara siswa sekolah dasar. Bahasa Jawa krama inggil tidak hanya mengajarkan siswa untuk berbicara dengan sopan dan santun, tetapi juga dapat meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan berpikir logis, dan identitas budaya siswa. Oleh karena itu, perlu adanya upaya yang lebih serius untuk melestarikan dan mengembangkan penggunaan bahasa Jawa krama inggil di kalangan generasi muda.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:25:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205637232</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Inayah Azmi Nadhifah X-11</title>
         <author>inayahazminadhifah05</author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205638016</link>
         <description><![CDATA[<p>"Pengaruh Bahasa Gaul terhadap Bahasa Indonesia"</p><p>Bahasa Gaul atau bahasa pergaulan merupakan bentuk bahasa yang berkembang di kalangan anak muda sebagai alat komunikasi yang lebih santai dan informal. Bahasa ini terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman, dan banyak kosakata atau ungkapan baru yang muncul sebagai bagian dari gaya hidup dan trend. Meskipun bahasa gaul mampu mendekatkan para pengguna dalam percakapan sehari-hari, penggunaannya yang luas juga mempengaruhi bahasa indonesia sebagai bahasa resmi dan baku. </p><p>Dampak positif bahasa gaul terhadap bahasa indonesia, bahasa gaul dapat memperkaya kosakata dalam bahasa indonesia. Banyak istilah dalam bahasa gaul yang pada akhirnya diadopsi dan diterima sebagai bagian dari bahasa indonesia, terutama jika istilah tersebut mempermudah komunikasi. Contohnya, kata “gabut” yang berasal dari bahasa gaul kini sering digunakan untuk menggambarkan rasa bosan atau tidak ada kegiatan. Selain itu, bahasa gaul dapat menjadi sarana ekspresi diri yang lebih bebas, karena banyak kosakata baru yang tidak terikat pada kaidah buku.</p><p>Dampak negatif bahasa gaul terhadap bahasa indonesia di sisi lain, penggunaan bahasa gaul yang terlalu sering dapat mengurangi ketepatan dan keindahan bahasa indonesia. Banyak kosakata bahasa gaul yang tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa indonesia dan dapat menimbulkan ambiguitas dalam komunikasi formal. Contohnya, penggunaan kata-kata seperti “cuma”, ”gue”,atau “lo” dalam situasi formal dianggap tidak sopan. Selain itu, ketergantungan pada bahasa gaul bisa mengakibatkan kesalahan dalam penggunaan bahasa indonesia baku, terutama di kalangan remaja dan anak-anak yang belum mahir dalam membedakan penggunaan bahasa sesuai konteks. </p><p>Pentingnya kesadaran penggunaan bahasa untuk menjaga kemurnian bahasa indonesia tanpa menghilangkan kreativitas dalam berbahasa, penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami konteks penggunaan bahasa. Kesadaran untuk menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar di lingkungan formal dan bahasa gaul di lingkungan pergaulan informal perlu ditanamkan sejak dini. Dengan demikian, bahasa indonesia tetap terjaga kelestariannya sebagai bahasa nasional, sekaligus memberikan ruang bagi bahasa gaul sebagai bentuk ekspresi budaya anak muda.</p><p>Bahasa gaul memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap bahasa indonesia, baik secara positif maupun negatif. Sementara bahasa gaul memperkaya dan menambah variasi kosakata, disisi lain juga menimbulkan risiko degradasi bahasa. Dengan meningkatkan kesadaran berbahasa yang tepat, generasi muda dapat memanfaatkan bahasa gaul sebagai alat komunikasi yang efektif tanpa mengorbankan kelestarian bahasa indonesia.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:25:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205638016</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Julia Nur Choirina</title>
         <author>285701_2</author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205644159</link>
         <description><![CDATA[<p>Dari “Baper” hingga “Ciyee”: Bagaimana Bahasa Gaul Menginvasi Percakapan Sehari-Hari</p><p><br/></p><p>Bahasa Indonesia, seperti bahasa lainnya, terus berkembang seiring perubahan zaman. Salah satu aspek yang paling menarik dari perkembangan ini adalah munculnya bahasa gaul atau bahasa informal yang sering kali berasal dari percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing, singkatan, atau bahkan plesetan kata. Dalam dekade terakhir, kata-kata seperti baper, ciyee, gabut, hingga healing semakin populer dan mendominasi percakapan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana bahasa gaul dapat begitu cepat menginvasi percakapan kita dan apa dampaknya terhadap bahasa Indonesia?</p><p><br/></p><p>Bahasa gaul, pada dasarnya, adalah bentuk ekspresi yang sederhana, cepat, dan mampu menangkap emosi atau situasi dengan singkat. Kata baper, misalnya, merupakan singkatan dari "bawa perasaan" yang secara instan mampu menggambarkan kondisi seseorang yang terlalu sensitif atau mudah tersinggung. Begitu pula dengan kata ciyee, yang sering digunakan untuk menggoda atau mengekspresikan rasa geli terhadap sesuatu. Kata-kata ini tidak hanya mudah diucapkan, tetapi juga langsung dipahami oleh banyak orang, sehingga cepat menyebar dan digunakan dalam berbagai konteks.</p><p><br/></p><p>Salah satu faktor utama yang mendorong popularitas bahasa gaul adalah media sosial. Platform seperti Instagram, Twitter, dan TikTok memungkinkan kata-kata baru menyebar dengan cepat. Sebuah kata atau istilah yang populer di media sosial dapat dengan mudah diadopsi oleh banyak pengguna dalam hitungan hari. Misalnya, istilah gabut yang berarti bosan atau tidak ada kegiatan produktif, mulai banyak digunakan oleh anak muda setelah menjadi tren di media sosial. Media sosial juga memunculkan budaya memes dan caption yang memperkuat penyebaran istilah-istilah gaul ini.</p><p><br/></p><p>Namun, fenomena bahasa gaul tidak hanya soal tren; ia juga mencerminkan kebutuhan masyarakat untuk berkomunikasi dengan cara yang lebih relevan dan santai. Dalam dunia yang serba cepat ini, orang menginginkan komunikasi yang lugas dan tidak kaku. Bahasa gaul menawarkan cara untuk mengekspresikan emosi, humor, dan keakraban secara lebih sederhana. Misalnya, dalam percakapan dengan teman, orang cenderung menggunakan bahasa gaul seperti ciyee atau baper untuk menciptakan suasana santai dan akrab.</p><p><br/></p><p>Di sisi lain, invasi bahasa gaul dalam percakapan sehari-hari juga menimbulkan kekhawatiran. Ada anggapan bahwa penggunaan bahasa gaul yang berlebihan bisa melemahkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baku dan benar. Ketika kata-kata tidak lagi digunakan sesuai aturan tata bahasa, dikhawatirkan generasi muda akan semakin kesulitan dalam memahami atau mengekspresikan diri dengan bahasa Indonesia baku, terutama dalam situasi formal. Misalnya, jika anak muda terbiasa menggunakan istilah-istilah gaul dalam percakapan sehari-hari, mereka mungkin akan merasa canggung atau kurang percaya diri saat harus berkomunikasi dalam bahasa formal.</p><p><br/></p><p>Terlepas dari kekhawatiran tersebut, bahasa gaul pada dasarnya adalah bukti bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup dan dinamis. Penggunaan bahasa gaul tidak harus dilihat sebagai ancaman terhadap bahasa baku, melainkan sebagai tanda kreativitas masyarakat dalam berkomunikasi. Bahasa gaul memungkinkan seseorang untuk menyesuaikan bahasa mereka dengan konteks sosial dan emosional, memberi warna pada percakapan sehari-hari. Satu hal yang penting adalah mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya membedakan situasi formal dan informal, serta kapan menggunakan bahasa yang tepat.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, bahasa gaul merupakan fenomena kebahasaan yang menarik dan unik. Kata-kata seperti baper dan ciyee bukan hanya menjadi bagian dari komunikasi, tetapi juga mencerminkan budaya dan identitas generasi. Selama penggunaannya disesuaikan dengan konteks, bahasa gaul dan bahasa baku bisa hidup berdampingan tanpa saling mengancam. Dalam dunia yang terus berubah ini, bahasa gaul adalah cerminan fleksibilitas bahasa Indonesia, sekaligus bentuk adaptasi budaya terhadap arus globalisasi dan perkembangan teknologi.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:30:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205644159</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Alma Kirana A X-11</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205648851</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Perbedaan Bahasa Daerah Terhadap&nbsp;Penggunaan Bahasa Indonesia</strong></p><p><br></p><p><br></p><p>Setiap daerah atau suku di Indonesia mempunyai bahasa daerah yang berbeda-beda. Indonesia mempunyai banyak sekali bahasa daerah. Bahasa daerah yang ada di Indonesia mencapai 718 bahasa. Bahasa daerah masih sering digunakan dalam kegiatan komunikasi sehari-hari. Hal ini dapat mempengaruhi penggunaan Bahasa Indonesia di setiap daerahnya.</p><p><br></p><p>Bahasa daerah dapat mempengaruhi Bahasa Indonesia dari berbagai sisi, seperti penggunaan kata, tata bahasa, pengucapan kata, dan penggabungan atau penyelipan bahasa daerah di dalam Bahasa Indonesia.Hal<strong> </strong>ini dapat memberikan dampak positif dan juga negatif. Dampak positifnya adalah, bahasa daerah di Indonesia akan terus lestari, misalnya<strong> </strong>Indonesia memiliki banyak kosakata, karena tak jarang bahasa daerah diserap menjadi Bahasa Indonesia. Dampak negatifnya adalah, dapat meningkatkan risiko kesalahpahaman dalam berkomunikasi, terlebih saat berkomunikasi antar daerah atau suku.</p><p><br></p><p>Dikatakan dapat mempengaruhi Bahasa Indonesia karena (Dengan<strong> </strong>pengaruh tersebut), tanpa sadar pembicara akan mencari cara agar ia dapat berkomunikasi dengan lebih mudah. Salah satu cara memudahkan pembicara dalam berkomunikasi adalah menggabungkan bahasa daerah dengan Bahasa Indonesia. penggabungan ini dapat membantu pembicara jika ia tidak mengetahui kosakata tertentu dalam Bahasa Indonesia dan akan lebih nyaman karena menyesuaikan dengan bahasa yang Ia dengar dan gunakan di lingkungan sekitar daerahnya (bahasa daerah).</p><p><br></p><p>Contoh dari penggabungan bahasa daerah dan Bahasa Indonesia adalah “Kamu udah makan <em>po</em>?” “ayo cepat, <em>selak</em> tutup tokonya” yaitu campuran Bahasa Jawa dengan Bahasa Indonesia. Contoh lainnya adalah “<em>Ikam</em> lihat bukuku kah?” “Kulitku <em>behirang</em> habis dari pantai” yaitu campuran Bahasa Banjar dan Bahasa Indonesia.</p><p><br></p><p>Hal-hal tersebutlah yang membuat bahasa daerah dapat mempengaruhi bahasa Indonesia. Dengan adanya dampak positif dan negatif dari pengaruh bahasa daerah ke Bahasa Indonesia, maka pengguna harus cermat dalam menggunakannya. Pengguna harus memperhatikan lawan bicara dan memperhatikan situasi pembicaraan, misal dalam situasi formal atau nonformal (formal/nonformal). Sebaiknya menggunakan penggabungan bahasa dengan lawan bicara yang memakai bahasa daerah yang sama dan di dalam situasi nonformal.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:33:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205648851</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kania Asa Fathinah X-11</title>
         <author>285702_1</author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205650579</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><em>Pelestarian Bahasa sebagai Upaya Menjaga Kearifan Budaya dan Kecerdasan Generasi Bangsa </em></strong></p><p><br/></p><p>Bahasa daerah merupakan warisan budaya yang tak ternilai harganya bagi bangsa Indonesia. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, penggunaan bahasa daerah kini semakin menurun, terutama di kalangan generasi muda yang lebih memilih menggunakan bahasa nasional atau bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari. Fenomena ini sangat mengkhawatirkan mengingat bahasa daerah bukan sekedar alat komunikasi, tetapi juga pembawa nilai-nilai&nbsp; budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Penurunan penggunaan bahasa daerah ini dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga ruang-ruang publik yang semakin jarang menggunakan bahasa daerah sebagai media komunikasi utama. Melalui esai ini, saya ingin mengajak pembaca untuk memahami pentingnya melestarikan bahasa daerah dan mengambil peran aktif dalam upaya pelestariannya sebelum warisan budaya yang berharga ini benar-benar menghilang dari kehidupan masyarakat Indonesia.</p><p><br/></p><p>Bahasa daerah memiliki peran yang sangat fundamental dalam membentuk identitas budaya suatu masyarakat, menjadi penanda keunikan dan kekhasan dari setiap suku bangsa yang ada di Indonesia. Berdasarkan data yang dirilis oleh UNESCO, Indonesia tercatat memiliki lebih dari 700 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, menjadikannya salah satu negara dengan keragaman bahasa terbesar di dunia. Keragaman bahasa ini mencerminkan kekayaan budaya dan cara pandang yang berbeda-beda dari setiap kelompok masyarakat dalam memahami dan memaknai kehidupan. Namun, fakta yang sangat memprihatinkan menunjukkan bahwa 139 bahasa daerah di Indonesia kini terancam punah, dan 15 bahasa daerah telah benar-benar punah tanpa meninggalkan jejak dokumentasi yang memadai. Kondisi ini semakin diperparah dengan minimnya upaya pelestarian dan dokumentasi bahasa daerah, serta kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mempertahankan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya mereka.</p><p><br/></p><p>Berbagai penelitian dalam bidang linguistik telah membuktikan bahwa anak-anak yang menguasai bahasa daerah sekaligus bahasa nasional memiliki kemampuan kognitif yang jauh lebih baik dibandingkan anak-anak yang hanya menguasai satu bahasa. Fenomena ini dijelaskan secara ilmiah melalui penelitian yang dilakukan oleh Dr.&nbsp; Multamia Retno Mayekti Tawangsih Lauder, seorang pakar linguistik terkemuka dari Universitas Indonesia, yang menegaskan bahwa penguasaan bahasa daerah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan pemacahan masalah pada anak-anak. Hal ini disebabkan karena ketika seseorang menguasai lebih dari satu bahasa, otak mereka terlatih untuk berpikir lebih fleksibel dan mampu melihat suatu permasalahan dari berbagai perspektif yang berbeda. Selain itu, penguasaan bahasa daerah juga membantu anak-anak untuk lebih memahami dan menghargai warisan budaya mereka, serta membangun ikatan emosional yang lebih kuat dengan komunitas dan lingkungan sosial mereka.</p><p><br/></p><p>Beberapa pihak mungkin berpendapat bahwa di era global yang serba digital ini, bahasa daerah sudah tidak relevan dan cukup digantikan dengan bahasa nasional atau internasional yang dianggap lebih universal dan memiliki nilai praktis yang lebih tinggi dalam konteks komunikasi modem. Namun, pandangan ini sangat keliru karena mengabaikan fakta bahwa bahasa daerah mengandung kearifan lokal dan cara pandang unik yang tidak dapat ditemukan dalam bahasa lain. Misalnya, beberapa bahasa daerah memiliki istilah-istilah khusus untuk menggambarkan hubungan manusia dengan alam yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing. kekayaan kosakata dan konsep dalam bahasa daerah ini mencerminkan hubungan yang mendalam antara masyarakat tradisional dengan lingkungan alam dan sosial mereka, sesuatu yang semakin langka ditemukan dalam kehidupan modern yang cenderung individualistis dan tercerabut dari akar budaya.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Untuk melestarikan bahasa daerah di era digital ini, kita dapat mengambil berbagai langkah konkret yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan bahasa daerah secara aktif dalam percakapan sehari-hari di lingkungan keluarga, karena keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang berperan penting dalam pewarisan nilai-nilai budaya termasuk bahasa. Selain itu, kita juga dapat memanfaatkan teknologi digital untuk membuat konten-konten kreatif berbahasa daerah yang menarik dan relevan dengan kehidupan masa kini, seperti video, podcast, atau aplikasi pembelajaran bahasa daerah yang interaktif. Tidak kalah pentingnya adalah dukungan aktif terhadap program-program pelestarian bahasa daerah yang diselenggarakan oleh pemerintah atau komunitas-komunitas budaya, baik dalam bentuk partisipasi langsung maupun dukungan moral dan material.&nbsp;&nbsp;</p><p><br/></p><p>Pelestarian bahasa daerah sejatinya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau para ahli bahasa semata, melainkan merupakan tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat Indonesia yang peduli akan kelestarian budaya bangsa. Hilangnya sebuah bahasa daerah bukan sekadar hilangnya sebuah sistem komunikasi, tetapi juga berarti hilangnya sebagian besar dari kekayaan budaya bangsa yang telah diwariskan selama berabad-abad. Mari kita bersama-sama menjaga dan melestarikan bahasa daerah sebagai warisan budaya yang tak tergantikan, sambil tetap beradaptasi dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Ingatlah bahwa ketika kita kehilangan sebuah bahasa, kita tidak hanya kehilangan cara berkomunikasi, tetapi juga kehilangan cara memandang dan memahami dunia, kehilangan filosofi hidup yang telah teruji oleh waktu, serta kehilangan kearifan lokal yang mungkin sangat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan.&nbsp;</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:35:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205650579</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Nabila Qadriyanti X-11</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205652126</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3000896020/e9d426a56f204ee16a7f2249ff023dd0/Essay_bahasa_indonesia_Nabila_Qadriyanti_Laitte_X_11.pdf" />
         <pubDate>2024-11-07 03:36:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205652126</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Nameera bilqiis ashyfa.    X-11 ( Peran generasi muda dalam melestarikan lingkungan)</title>
         <author>285802_2</author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205655020</link>
         <description><![CDATA[<p>Lingkungan adalah salah satu aspek terpenting yang memengaruhi kehidupan manusia. Kondisi lingkungan yang sehat akan menciptakan kualitas hidup yang baik, sebaliknya, kerusakan lingkungan akan berdampak buruk bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sayangnya, dalam beberapa dekade terakhir, berbagai masalah lingkungan seperti pencemaran, pemanasan global, dan hilangnya keanekaragaman hayati semakin menjadi-jadi. Untuk mengatasi masalah ini, generasi muda memiliki peran penting yang tak boleh diabaikan.</p><p><br/></p><p>Generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam melestarikan lingkungan. Dengan akses luas terhadap informasi dan teknologi, mereka dapat mengedukasi diri mereka sendiri tentang masalah lingkungan dan mencari solusi kreatif untuk mengatasinya. Misalnya, pemanfaatan media sosial dapat menjadi alat efektif untuk menyebarkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Generasi muda dapat mempromosikan gerakan ramah lingkungan, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai atau melakukan daur ulang, melalui platform ini.</p><p><br/></p><p>Selain itu, generasi muda dapat terlibat dalam aksi nyata untuk pelestarian lingkungan. Salah satu contohnya adalah dengan mengikuti kegiatan penanaman pohon di daerah yang mengalami deforestasi. Mereka juga bisa berpartisipasi dalam organisasi lingkungan yang fokus pada konservasi alam, seperti membersihkan sungai atau pantai dari sampah. Keterlibatan langsung dalam kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga membantu generasi muda memahami betapa pentingnya menjaga alam.</p><p><br/></p><p>Kesadaran lingkungan juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah dengan menghemat energi dan air, serta memilih produk-produk yang ramah lingkungan. Dengan melakukan hal-hal sederhana ini, generasi muda dapat memberikan dampak positif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan untuk masa depan.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, peran generasi muda dalam melestarikan lingkungan sangatlah penting. Dengan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi, berpartisipasi dalam aksi nyata, dan mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan, generasi muda dapat menjadi pilar utama dalam upaya pelestarian bumi. Jika generasi muda mau peduli dan bertindak mulai dari sekarang, maka masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan dapat tercapai.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:38:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205655020</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mutiara Shofa X-11 Essay B.indo (Peminggiran terhadap Bahasa Indonesia di Dalam ruang Publik)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205655922</link>
         <description><![CDATA[<p>Bahasa atau Bahasa indonesia merupakan alat komunikasi antara satu dengan yang lain. sebagai alat komunikasi, tetapi banyak pendapat lain tentang mendefinisikan bahasa indonesia dalam konteks yang berbeda-beda. Bahasa indonesia yang baik dan benar adalah dengan menerapkan bahasa kaidah dengan konsisten. Dalam melalakukan komunikasi global, Bahasa inggris juga sangat memiliki peran penting dalam bindang pendidikan, pekerjaan bisnis, diplomasi, teknologi dan aspek kehidupan lain nya.</p><p><br/></p><p>Bahasa indonesia memiliki sejarah perkembangan sejak sebelum kemerdekaan republik Indonesia dan setelah kemerdekaan sampai era globalisasi saat ini. Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional dan juga berkedudukan sebagai bahasa negara. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang identitas nasional. dalam perkembangannya bahasa Indonesia mengalami banyak tantangan.</p><p><br/></p><p>Tantangan penggunaan Bahasa Indonesia semakin berat di tengah gegap gempita kemajuan teknologi informasi. Pergeseran bahasa Indonesia dengan bahasa asing semakin nyata. di lihat pada ruang publik yang ada disekitar kita.</p><p><br/></p><p>Bahasa Asing tetap dapat digunakan sebagai pengehela ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, pemakaian nya tetap di tempatkan sesuai dengan kedudukan dan fungsinya. Seperti hal nya penggunaan bahasa daerah.  Bahasa Indonesia harus diletakkan lebih tinggi daripada bahasa lain yang ada di Indonesia, baik bahasa daerah maupun bahasa asing.</p><p><br/></p><p>Penggunaan bahasa Indonesia oleh warga negara indonesia harus diutamakan daripada penggunaan bahasa lain yang ada di Indonesia. Bahasa Daerah perlu di lestarikan dan bahasa Asing perlu untuk di kuasai jika memang diperlukan. Penggunaan bahasa daerah dan bahasa asing sesuai dengan fungsi dan kedudukannya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:39:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205655922</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ahmad Fadhilah Zaki X-11</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205656172</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p><strong>Peran Bahasa dalam Membangun Identitas dan Komunikasi</strong></p><p><br><br></p><p>PENDAHULUAN</p><p><br></p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Bahasa merupakan salah satu unsur paling fundamental dalam kehidupan manusia. Sebagai alat komunikasi, bahasa tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi, tetapi juga sebagai cermin dari identitas sosial dan budaya suatu kelompok masyarakat. Dalam konteks kebahasaan, bahasa menjadi lebih dari sekadar sistem simbol yang digunakan untuk berinteraksi. Ia memiliki kekuatan untuk membentuk cara pandang, nilai-nilai, dan bahkan struktur sosial dalam masyarakat.</p><p><br></p><p>ISI</p><p><br></p><p>Bahasa dan Identitas Budaya.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Setiap bahasa yang digunakan oleh suatu kelompok masyarakat mengandung nilai-nilai budaya yang terakumulasi selama berabad-abad. Bahasa adalah jendela yang memungkinkan kita untuk memahami cara berpikir dan melihat dunia dari perspektif budaya tertentu. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, kita mengenal berbagai ragam kata yang menggambarkan hubungan sosial, seperti "gotong royong", yang mencerminkan nilai kebersamaan dan saling membantu. Demikian pula, bahasa Jawa dengan berbagai tingkatan kesopanan (ngoko, madya, krama) menggambarkan pentingnya tata krama dalam kehidupan sosial. Ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat berkomunikasi, melainkan juga alat pemelihara tradisi dan nilai budaya.</p><p><br/></p><p>Dalam konteks yang lebih luas, bahasa juga bisa menjadi bagian dari identitas etnis dan nasional. Misalnya, bahasa Inggris menjadi simbol globalisasi, sementara bahasa lokal seperti bahasa Sunda, Bali, atau Batak di Indonesia menjadi simbol kedaerahan yang memperkuat rasa kebanggaan etnis. Dengan demikian, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan mempertahankan keunikan budaya suatu kelompok.</p><p><br></p><p>Bahasa sebagai Alat Komunikasi dan Perubahan Sosial.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Selain sebagai alat untuk mengungkapkan identitas budaya, bahasa juga memiliki peran penting dalam proses komunikasi sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa memungkinkan individu untuk berinteraksi, berbagi pengetahuan, serta membangun hubungan interpersonal. Namun, bahasa juga dapat menjadi alat untuk menciptakan atau mengatasi perubahan sosial.</p><p><br/></p><p>Dalam banyak kasus, bahasa digunakan untuk memobilisasi perubahan sosial. Contohnya, dalam gerakan hak asasi manusia atau perjuangan kemerdekaan, penggunaan bahasa yang tepat dapat memobilisasi massa dan menginspirasi perubahan besar. Ucapan-ucapan para pemimpin besar, seperti Martin Luther King Jr. dengan pidato terkenalnya "I Have a Dream", menunjukkan bagaimana bahasa dapat menjadi instrumen kuat dalam perjuangan untuk kesetaraan dan keadilan. Di Indonesia, para pahlawan kemerdekaan menggunakan bahasa sebagai senjata dalam melawan penjajahan, dengan menciptakan narasi kebangsaan yang kuat melalui sastra dan pidato.</p><p><br/></p><p>Di sisi lain, bahasa juga dapat menciptakan ketegangan atau perpecahan dalam masyarakat. Misalnya, dalam masyarakat multibahasa, ketimpangan dalam penggunaan bahasa bisa memperburuk ketegangan sosial. Ketika kelompok dominan memaksakan penggunaan bahasa mereka, kelompok lain yang berbahasa minoritas bisa merasa terpinggirkan dan terdiskriminasi. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya penggunaan bahasa yang inklusif sangat diperlukan dalam masyarakat yang plural.</p><p><br/></p><p>PENUTUP</p><p><br/></p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Bahasa adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia yang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol identitas dan jembatan sosial. Melalui bahasa, kita dapat memahami sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Sebagai entitas yang hidup dan berkembang, bahasa mencerminkan perubahan sosial dan budaya yang terjadi dalam masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga dan merawat keberagaman bahasa, agar kita dapat menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ada di sekitar kita.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:39:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205656172</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nuraini Nadhifah Kemala (X-11)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205656330</link>
         <description><![CDATA[<p>"Dampak Pembelajaran Bahasa Asing di Sekolah"</p><p><br/></p><p>Saat ini, di Indonesia sudah banyak sekolah-sekolah yang mewajibkan pembelajaran tentang bahasa asing. Bahasa asing yang dipelajari pun ada berbagai macam. Namun, bahasa asing yang paling banyak diajarkan adalah Bahasa Inggris. Sebenarnya bahasa yang diajarkan di sekolah tertentu ada lebih dari satu bahasa asing, contohnya seperti Bahasa China, Bahasa Arab, Bahasa Jerman, dan lain-lain.</p><p><br/></p><p>Sejak dari zaman dahulu, bahasa asing sudah mulai diajarkan di jenjang pendidikan wajib, terutama Bahasa Inggris. Bahkan kabarnya Bahasa Inggris akan jadi mapel wajib di tahun-tahun yang akan datang. Karena teknologi yang berkembang pesat, maka komunikasi pun menjadi lebih mudah. Saat ini, apabila ingin berkomunikasi dengan orang yang berada di luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri menjadi semakin mudah. Oleh karena itu, kita paling tidak harus menguasai satu bahasa asing.</p><p><br/></p><p>Sekarang, bahasa asing adalah salah satu yang wajib dikuasai. Mempelajari bahasa asing adalah salah satu modal untuk mencapai impian yang tinggi. Dampak-dampak yang akan muncul pada mempelajari bahasa asing terbagi menjadi dua, yaitu dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif dari mempelajari bahasa asing adalah terbukanya peluang untuk bekerja di luar negeri. </p><p><br/></p><p>Terbukanya peluang untuk bekerja di luar negeri termasuk dalam dampak positif karena dengan mempelajari bahasa asing berarti bisa berkomunikasi dengan orang luar negeri tanpa ada hambatan dalam berkomunikasi, dan juga mempunyai nilai tambah untuk bersaing di dunia pekerjaan. Selain itu, dengan mempelajari bahasa asing di sekolah bisa membuat masyarakat Indonesia semakin berkembang dalam hal teknologi, pendidikan, dan lain-lain. Semua itu karena dengan mempelajari bahasa asing di sekolah maka seseorang bisa melanjutkan studi pendidikan di luar negeri, yang dimana pendidikan di luar negeri lebih kompleks dibandingkan dengan Indonesia.</p><p><br/></p><p>Setelah dampak positif, ada beberapa dampak negatif yang akan didapatkan karena pembelajaran bahasa asing di sekolah. Salah satunya adalah beban yang diterima di sekolah akan semakin besar karena ada tambahan pelajaran bahasa yang tingkatan kesulitannya di tahap sedang-susah. Tambahan pelajaran bahasa akan menjadi salah satu pelajaran yang tidak disukai apabila tata cara penyampaian fasilitator yang susah untuk dipahami. Belajar bahasa termasuk di tahap sedang-susah kesulitannya karena belajar bahasa berarti memahami abjad baru, memahami kosa kata yang banyak, pelafalan yang tidak sama gampangnya seperti Bahasa Indonesia, serta cara merangkai kalimat yang terkadang susah untuk dipahami.</p><p><br/></p><p>Oleh karena itu, untuk memajukan generasi dan mewujudkan GEMAS (Generasi Emas tahun 2045) maka harapannya adalah tiap sekolah-sekolah sudah mulai mengajarkan bahasa asing di tingkatan SD, SMP, dan SMA yang bertujuan untuk memberikan peluang yang lebih besar lagi kepada generasi yang akan datang dalam menjalani hidup. Walaupun ada dampak negatif yang akan muncul apabila dilakukan, tetapi dampak negatif ini masih bisa diatasi seperti membuat pelajaran bahasa di sekolah menjadi menyenangkan dengan digabungkan dengan beberapa games yang berhubungan dengan materi, dan lain-lain. </p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:39:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205656330</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hannifa Putri Alamry X11 Perkembangan Sistem Tulisan dan Kaligrafi Arab di Nusantara</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205656938</link>
         <description><![CDATA[<p>Tulisan Arab dikenal di Nusantara sejak abad ke-13 dan membawa pengaruh besar dalam Pertembangan keagamaan di Nusantara. Para pedagang dan ulama datang dan memperkenalkan tulisan Arab ke Nusantara sebaga alat komunikasi dan sarana penye baran agama islam. Seiring berjalannya waktu masyarakat mulai mengembangkan dan memodifikasi tulisan Arab agar sesuai dengan kebutuhan penduduk lokal seperti aksara Jawi dan Pegon. Selain itu juga berkembang menjadi seni kaligrafi. Saat ini seni dan tulisan Arab berubah menjadi bagian penting dari warisan budaya dan keagamaan di Nusantara.</p><p><br/></p><p>Penyebaran Islam di Nusantara juga hal yang berpengaruh dalam perkembangan seni dan tulisan Arab di Nusantara. Penyebaran Islam dilakukan dengan jalur perdagangan, para pedagang dan juga ulama menggunakan tulisan Arab sebagai alat komunikasi terutama dalam menyebarkan ilmu agama dan menulis teks-teks keagamaan seperti Al-Qur'an. Pada awalnya, tulisan Arab hanya digunakan dalam konteks keagamaan namun masyarakat mulai mengembangkannya atau menggunakannya untuk menulis bahasa Melayu dan Jawa.</p><p><br/></p><p>Selain digunakan untuk alat komunikasi, tulisan Arab juga dikembangkan menjadi seni kaligrafi yang sering kita temui di ornamen masjid, makam, ataupun dekorasi keagamaan. Kaligrafi di Nusantara memiliki ciri khas menggabungkan motif-motif lokal, seperti bentuk bunga dan pola geometris yang unik seni kaligrafi tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi tetapi juga memberikan nilai spiritual dan menambah keindahan tempat-tempat ibadah. Semakin berkembangnya zaman, penggunaan aksara Jawi dan Pegon mulai menurun, terutama setelah aksara latin diperkenalkan di Nusantara. Meskipun demikian, seni kaligrafi Arab masih bertahan dan bahkan mengalami Perkembangan baru. </p><p><br/></p><p>Banyak seniman di Nusantara yang menciptakan karya kaligrafi modern dengan menggabungkan gaya tradisional dan inovasi baru, sehingga kaligrafi Arab tetap relevan dan diminati oleh masyarakat luas. Perkembangan sistem tulisan dan kaligrafi Arab di Nusantara menunjukkan bagaimana masyarakat lokal mampu mengadaptasi pengaruh budaya luar dan menjadikannya bagian dari identitas budaya mereka. Meskipun terdapat banyak tantangan dalam perkembangan seni dan tulisan Arab, namun seni dan tulisan Arab tetap bertahan sebagai warisan yang berharga. Melalui peran ulama, para seniman dan pesantren, tulisan dan kaligrafi Arab diharapkan tetap hidup dan menginspirasi generasi mendatang. Sehingga nilai-nilai Islam dan budaya Nusantara dapat terus dilestarikan.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:40:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205656938</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Hashifa Nuraniyya X-11 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205657118</link>
         <description><![CDATA[<p>Pengaruh bahasa terhadap kehidupan sehari-hari </p><p><br/></p><p>Bahasa muncul dari pikiran kita masing-masing yang kemudian distrukturkan oleh pikiran yang berakhir dengan menjadi sebuah bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Bahasa yang pertama kali dipelajari oleh manusia disebut bahasa ibu. Yang di pelajari dengan rangsangan, respon, dan mendapat imbalan, proses ini disebut proses paling umum dalam perolehan bahasa bagi anak usia dini.</p><p><br/></p><p>Jika di rasa manusia telah mempelajari bahasa ibu, maka manusia dianggap sudah mampu dalam berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa yang telah di pelajari. Komunikasi yang di ciptakan akan membentuk sebuah kelompok komunikasi dengan tutur kata yang luas. Hal ini menimbulkan berbagai bahasa karena adanya perubahan dari berbagai penggunaan bahasa saat sedang berkomunikasi. Variasi tersebut di sebabkan oleh beberapa faktor, Antara lain yaitu faktor keadaan sosial, situasi berbahasa, dan kronologis. </p><p><br/></p><p>Pembahasan gaya bahasa tersebut nanti nya akan timbul kelas sosial yang di sebabkan oleh gaya hidup dalam berbahasa. Salah satu contohnya yaitu, kehidupan kesultanan yang berbeda bahasanya dengan kehidupan rakyat biasa. Hal ini memacu kesenjangan sosial karena perbedaan kebutuhan bahasa dan kebutuhan sosial dari gaya hidup. Orang yang memiliki kelas sosial yang tinggi akan memiliki sebuah kekuasaan dan pengendalian akan suatu hal.</p><p><br/></p><p>Bahasa yang digunakan oleh individu juga dapat menentukan ada di kelas mana individu tersebut dalam berkehidupan sosial. Hal ini berkaitan dengan tingkat pendidikan dan pengaruh latar belakang yang menjadikan orang tersebut disebut mampu secara komunikasi dengan menggunakan bahasa untuk mengungguli individu lainnya.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:40:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205657118</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Friska Warda Aulia. Kelas: x-11</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205658180</link>
         <description><![CDATA[<p>Maraknya penggunaan bahasa gaul dikalangan remaja, dan dampak buruknya</p><p><br></p><p>     Zaman semakin berkembang dan banyak sekali perubahan yang terjadi. Bahkan di zaman yang modern ini, sudah tak asing jika para remaja sering menggunakan bahasa tak baku atau yang biasanya dikenal dengan ‘bahasa gaul’. Maraknya penggunaan bahasa gaul ini dapat menyebabkan dampak buruk, seperti mempersulit penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar, mengurangi pemahaman dan penguasaan bahasa baku, serta menghambat perkembangan bahasa indonesia.</p><p><br></p><p>     Contoh nya, banyak sekali para remaja yang kesulitan dalam belajar atau memahami kalimat dengan bahasa yang baku atau bahkan dapat menimbulkan kesalahpahaman karena makna, terutama bagi orang yang tidak mengikuti perkembangan bahasa gaul. Bahkan akibat terlalu marak nya penggunaan ‘bahasa gaul’ banyak remaja yang berpikir bahwasanya bahasa indonesia itu terlihat kuno, sehingga banyak anak remaja yang mengabaikan penggunaan bahasa indonesia yang baku, baik, dan benar.</p><p><br></p><p>     Meskipun banyak sekali trend ataupun bahasa bahasa singkatan, terjemahan atau yang biasanya lebih akrab dikenal dengan bahasa gaul. Tetapi alangkah baiknya jika kita tetap menggunakan atau bahkan mempelajari, dan melestarikan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Sebagai bahasa indonesia yang baku.</p><p><br></p><p>     Akan tetapi masih banyak  para remaja di indonesia termakan trend yang ada di luaran sana yang merugikan bangsa kita sendiri. Akan tetapi bukan berarti para remaja tidak boleh mengikuti trend yang sedang booming, akan tetapi pilihlah dan ikuti trend yang bermanfaat dan tidak merugikan diri sendiri atau bahkan bangsa kita sendiri.</p><p><br></p><p>    Bahkan tanpa kita sadari Maraknya penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja dapat memberikan dampak buruk terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini dapat mengurangi pemahaman terhadap bahasa baku, menimbulkan kesalahpahaman, serta membuat bahasa Indonesia terlihat kuno di mata sebagian remaja. Meskipun mengikuti tren bahasa gaul boleh saja, penting bagi remaja untuk tetap melestarikan bahasa Indonesia yang baku dan memilih tren yang bermanfaat.</p><p><br></p><p>        </p><p>       Akan tetapi masih saja ramai Penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja, bahkan semakin meluas, bahkan tak sedikit  Dampak buruk penggunaan bahasa gaul. Termasuk pengurangan penguasaan bahasa baku dan potensi kesalahpahaman, Bahasa gaul membuat beberapa remaja menganggap bahasa Indonesia baku terlihat kuno. Maka dari itu Remaja perlu melestarikan dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar bahasa Indonesia tetap terlestarikan dan tidak tercemar dengan bahasa yang tak memiliki struktur yang jelas. Karena bahasa Indonesia adalah bahasa kebangsaan kita.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p>    </p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p>     </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:41:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205658180</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pengaruh Media Sosial dalam Berbahasa</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205660342</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama:Parmahan Jesse Constantin Sagala </p><p>Kelas :X-11</p><p>Media sosial, sebagai platform digital yang menghubungkan miliaran orang di seluruh dunia, telah merubah lanskap komunikasi manusia secara signifikan. Salah satu dampak paling nyata dari revolusi digital ini adalah perubahan dalam cara kita berbahasa. Interaksi yang intens dan instan di berbagai platform media sosial telah membentuk gaya bahasa baru, memperkaya kosakata, namun di sisi lain juga menimbulkan kekhawatiran akan degradasi bahasa.</p><p>Perkaya Kosakata dan Gaya Bahasa</p><p>Media sosial menjadi inkubator bagi lahirnya kata-kata baru, singkatan, dan ekspresi yang unik. Penggunaan emoji, GIF, dan stiker telah menjadi bagian integral dari komunikasi digital. Hal ini mendorong kreativitas dalam mengekspresikan diri dan memungkinkan pengguna untuk berkomunikasi dengan lebih efektif dan efisien. Selain itu, paparan terhadap berbagai dialek dan bahasa asing melalui media sosial memperluas kosakata dan memperkaya gaya bahasa pengguna.</p><p><br/></p><p><strong>Demokratisasi Bahasa</strong></p><p>Media sosial telah mendemokratisasi bahasa dengan memberikan ruang bagi semua orang untuk berpartisipasi dalam percakapan publik. Hal ini memungkinkan suara-suara yang sebelumnya terpinggirkan untuk didengar dan diakui. Namun, di sisi lain, demokratisasi bahasa juga dapat memicu munculnya bahasa yang tidak baku dan penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah.</p><p><br/></p><p><strong>Tantangan dalam Penggunaan Bahasa</strong></p><p>Meskipun media sosial memiliki banyak manfaat dalam memperkaya bahasa, namun juga menimbulkan beberapa tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah munculnya bahasa gaul yang terlalu kasual dan informal sehingga sulit dipahami oleh orang yang tidak familiar dengan konteksnya. Selain itu, penggunaan bahasa yang terlalu singkat dan serampangan dapat menghambat kemampuan berpikir kritis dan analitis.</p><p><br/></p><p><strong>Kesimpulan</strong></p><p>Media sosial telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan bahasa. Namun, pengaruhnya tidak selalu positif. Penggunaan media sosial yang bijak sangat penting untuk menjaga kualitas bahasa dan memastikan bahwa bahasa tetap menjadi alat yang efektif untuk berkomunikasi dan berpikir. Pendidikan bahasa yang relevan dengan perkembangan teknologi sangat diperlukan untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan dalam era digital.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3000885616/e6bea17a8481e16b1bedd03c32d6c6bd/IMG_20241107_WA0028.jpg" />
         <pubDate>2024-11-07 03:42:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205660342</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ghea Ghinaya Herdayanti X-11</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205660871</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Bagaimana Teknologi Membantu atau Menggaggu Proses Belajar</strong></p><p><br/></p><p>Teknologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai keterampilan dalam menciptakan alat hingga metode pengolahan untuk membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan manusia. Semakin berkembangnya zaman, teknologi semakin canggih dan menjadi aspek penting di dunia. Teknologi memegang peranan penting dalam dunia pendidikan, karena dapat membantu dalam proses pembelajaran. Namun, teknologi dalam dunia pendidikan ini juga mempunyai nilai baik dan buruk.&nbsp;</p><p>Penggunaan alat dan aplikasi digital dalam pendidikan membuka peluang besar bagi siswa dan pengajar untuk mengakses informasi lebih mudah. Namun, di sisi lain ketergantungan yang berlebihan pada teknologi juga dapat mengganggu proses belajar. Dengan memahami bagaimana teknologi dapat membantu sekaligus mengganggu proses belajar, kita dapat menemukan cara efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan.</p><p>&nbsp;</p><p>Salah satu manfaat utama teknologi dalam pendidikan adalah kemampuannya untuk menyediakan sumber daya belajar yang lebih luas dan mudah diakses. Melalui internet, siswa dapat mengakses berbagai materi pembelajaran dan video edukatif yang mendalam dan bervariasi. Dengan adanya platform seperti YouTube, Google, Safari, siswa tidak lagi terbatas oleh ruang kelas atau sumber yang ada di sekolah. Mereka dapat belajar secara mandiri di mana pun, memperdalam pemahaman tentang suatu topik, dan mengembangkan keterampilan baru sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka.</p><p>Layanan aplikasi pembelajaran juga dapat membantu siswa untuk berlatih. Dengan adanya teknologi, pembelajaran yang bervariasi, siswa dapat menangkap pembelajaran sesuai dengan cara mereka masing-masing, dan dapat meningkatkan pemahaman siswa. Ini juga dapat membantu siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran secara luring atau tatap muka untuk mendapat pengetahuan atau pendidikan, contohnya seperti saat pandemi Covid-19, seluruh masyarakat menggunakan layanan daring yang membantu dalam proses pendidikan.</p><p>Namun, teknologi juga dapat memberikan dampak buruk dalam proses pembelajaran. Salah satu contoh utamanya adalah kecanduan pada perangkat atau gawai, seperti handphone atau media sosial yang sering kali mengalihkan perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini membuat pembelajaran tidak berjalan baik karena justru menurunkan efektivitas dalam pembelajaran.</p><p><br/></p><p>Teknologi dalam pendidikan memiliki dua sisi yaitu sisi positif dan negatif. Di satu sisi, teknologi membantu dengan adanya layanan yang dapat memberikan informasi yang luas. Namun, di sisi lain teknologi juga dapat mengganggu konsentrasi dalam pembelajaran dan mengurangi kemampuan berpikir kritis. Karena itu, penting bagi kita untuk menggunakan teknologi secara bijak dan memastikan bahwa teknologi menjadi hal yang membantu dalam pendidikan, bukan penghalang.&nbsp;</p><p><br></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:43:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205660871</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cliantha Putri Krisela (X-11)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205664369</link>
         <description><![CDATA[<p>Pengaruh Penggunaan Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia  <br><br>Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang penting dan suatu identitas suatu negara. Peranan bahasa dalam kehidupan manusia sangatlah besar, hampir semua kegiatan yang dilakukan manusia memakai bahasa. Bahasa dapat membantu untuk mendapatkan suatu informasi, menambah ilmu pengetahuan, dan membantu dalam berkomunikasi.  <br><br>Penggunaan bahasa asing sudah banyak digunakan pada pembelajaran pendidikan sejak zaman kolonial Belanda. Di mana saat itu keturunan bangsawan atau kalangan pribumi elite mengikuti pembelajaran sekolah dasar di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Salah satu pembelajaran yang diwajibkan dalam sekolah-sekolahnya yaitu pembelajaran bahasa asing seperti Bahasa Belanda, Bahasa Jepang, dan juga Bahasa Jerman.</p><p><br> Penggunaan bahasa asing sudah sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kata screenshoot, drive True, refresh dan masih banyak lagi. Namun dengan Seiringnya perkembangan zaman, pembelajaran bahasa asing bukan lagi hal yang tidak biasa. Semua orang bisa dengan mudah mempelajarinya. Bahkan pada anak-anak TK pun sudah diberikan pembelajaran bahasa asing, seperti bahasa Inggris. </p><p><br>Pengaruh yang ditimbulkan dari penggunaan bahasa asing ada yang berdampak positif seperti memiliki peluang karir yang luas, karena banyak perusahaan diluar sana yang mencari karyawan yang bisa menguasai lebih dari satu bahasa, dan juga dampak positif lainnya yaitu, bangsa Indonesia dapat mengikuti perkembangan internasional dan mampu bersaing dengan negara lain. Namun disisi lain ada dampak negatif yang ditimbulkan seperti, penggunaan bahasa asing yang berlebihan dapat mengancam kelestarian bahasa dan budaya lokal, dan juga penggunaan bahasa asing yang berlebihan dapat menyebabkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit akan tergeser oleh bahasa asing.<br>  <br> Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia sebagai alat komunikasi dan identitas suatu negara. Penggunaan bahasa asing sudah banyak digunakan pada pendidikan sejak zaman kolonial Belanda dan terus berkembang hingga saat ini. Penggunaan bahasa asing juga menimbulkan dampak yang positif dan negatif. Oleh karena itu, perlu adanya keseimbangan dalam penggunaan bahasa asing agar bahasa Indonesia dan kelestarian budaya tetap terjaga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:45:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205664369</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Faizah Fadlilah X-11</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205665717</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Masuknya Bahasa Gen Alpha dalam kehidupan sehari-hari</strong></p><p>Setiap Tahun Kita memiliki nama nama generasi yang berbeda seperti baby boomers, generasi X, milenial serta Gen z dan generasi yang lahir di 2013 hingga sekarang di sebut gen alpha. 2013 jika di hitung sudah mencapai usia 11 tahun yang artinya sedang di masa aktifnya</p><p>di usia 2013-2015 yang menduduki sekolah dasar dimana usia tersebut sangat aktif dan kreatif.</p><p>Kreatifitas tersebut yang membuat mereka menciptakan model bahasa yang berasal dari kartun atau game yang disebut "skibidi toilet".</p><p>Menurut orang yang lebih dewasa mungkin kartun atau game tersebut sedikit aneh namun menurut mereka itu seru dan menyenangkan sehibgga mereka kecanduan menonton stau memainkan skibidi toilet.</p><p>Bahasa indonesia adalah bahasa persatuan indonesia tapi tidak jarang masyarakat yang ataupun kalangan anak-anak yang membuat bahasa mereka sendiri yang di adaptasi dari kartun dan game yang mereka mainkan.</p><p>dari bahasa yang mereka ciptakan untuk kalangan mereka sendiri</p><p>terdapat sisi positif dan sisi negatif, contoh positif nya adalah mereka dapat mengembangkan sisi kreatifitas mereka di usia yang muda, sisi negatif nya adalah mungkin mereka cenderung lebih suka menggunakan bahasa yang mereka </p><p>ciptakan sendiri.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:46:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205665717</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Adjie Juneard Putra Fandjie </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205667851</link>
         <description><![CDATA[<p>Pengaruh kata "Cok" dalam kehidupan sehari-hari</p><p><br></p><p><br></p><p>Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa sering mencerminkan dinamika sosial dan budaya suatu masyarakat. Salah satu fenomena linguistik yang belakangan ini semakin populer adalah penggunaan kata "cok", yang banyak dijumpai dalam percakapan informal, terutama di kalangan generasi muda. Meskipun kata ini pada awalnya lebih dikenal di kalangan masyarakat Jawa, seiring dengan waktu, kata "cok" telah menyebar dan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di berbagai daerah di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan kata "cok" dalam percakapan sehari-hari serta bagaimana fenomena ini mencerminkan perubahan bahasa yang terjadi dalam masyarakat modern.</p><p><br></p><p>Kata "cok" berasal dari bahasa Jawa, di mana kata ini digunakan sebagai bentuk panggilan akrab antar teman atau dalam situasi yang lebih santai. Dalam konteks bahasa Jawa, "cok" merupakan sapaan yang biasa digunakan di kalangan anak muda atau teman dekat, yang menggambarkan kedekatan dan keakraban. Sebagai contoh, seorang teman dapat menyapa temannya dengan mengatakan "Cok, ayo jalan!" sebagai ajakan untuk berkumpul. Seiring waktu, kata ini menyebar ke berbagai daerah lain, terutama melalui pengaruh media sosial dan budaya populer. Saat ini, penggunaan kata "cok" tidak terbatas hanya pada masyarakat Jawa, tetapi juga digunakan di banyak tempat dengan makna yang serupa, yaitu untuk mengekspresikan keakraban dan informalitas dalam percakapan.</p><p><br></p><p>Selain berfungsi sebagai panggilan atau sapaan, kata "cok" juga sering digunakan untuk mengekspresikan kekaguman, kejutan, atau bahkan rasa kesal dalam situasi tertentu. Dalam percakapan sehari-hari, seseorang mungkin mengatakan "Cok, keren banget!" untuk mengungkapkan kekaguman terhadap sesuatu yang luar biasa, atau "Cok, jangan gitu dong!" sebagai bentuk peringatan atau ejekan ringan. Dalam konteks semacam ini, kata "cok" tidak hanya berfungsi sebagai sapaan, melainkan juga sebagai ekspresi yang memberikan nuansa tambahan dalam percakapan. Keberagaman makna ini menunjukkan fleksibilitas kata "cok" dalam merespons berbagai situasi sosial yang bersifat informal.</p><p><br></p><p>Meskipun kata "cok" sangat populer di kalangan anak muda, penggunaan kata ini tidak jarang menimbulkan kontroversi. Bagi sebagian orang, kata ini dianggap kurang sopan atau terkesan kasar jika digunakan dalam konteks yang lebih formal atau di hadapan orang yang lebih tua. Dalam situasi tertentu, penggunaan kata "cok" dapat dianggap tidak sesuai dengan norma kesopanan atau etika berbicara yang berlaku. Namun, di sisi lain, banyak kalangan muda yang memandang kata ini sebagai bagian dari bahasa gaul yang dianggap wajar digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Perbedaan persepsi ini menunjukkan bagaimana bahasa senantiasa berkembang seiring dengan perubahan sosial, di mana norma bahasa dapat bervariasi berdasarkan kelompok usia, latar belakang, dan konteks percakapan.</p><p><br></p><p>Secara keseluruhan, fenomena penggunaan kata "cok" dalam percakapan sehari-hari mencerminkan dinamika bahasa sebagai alat komunikasi. Kata ini, yang awalnya berasal dari bahasa Jawa, kini telah berkembang dan diterima di kalangan masyarakat Indonesia, terutama dalam percakapan informal. Walaupun terdapat perbedaan pandangan terkait kesopanan penggunaannya, kata "cok" tetap menjadi bagian dari bahasa gaul yang digunakan dalam interaksi sosial, khususnya di kalangan generasi muda. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa bahasa senantiasa berubah, dipengaruhi oleh perkembangan sosial dan budaya, serta kebutuhan untuk mengekspresikan diri dengan cara yang lebih santai dan bebas.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:48:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205667851</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Saabitah Argya Danastri X-11</title>
         <author>saabitahargyad</author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205668236</link>
         <description><![CDATA[<p>    <strong> "Penggunaan bahasa asing terhadap lingkunan yang berbeda"</strong></p><p>     Indonesia menggunakan bahsa indonesia sebagai bahasa utama, namun tidak dapat dilupakan bahwa mempelajari bahsa asing sangatlah penting. Bahasa-bahasa asing yang banyak dipelajari pada masa kini antara lain, bahasa inggris, bahasa cina/mandarin, bahasa prancis, bahasa arab, dan sebagainya. </p><p>    Sabagai bahasa yang paling banyak digunakan bahsa inggris menjadi kemampuan wajib, baik dalam kegiatan sehari-hari maupun untuk melamar kerja ataupun sekolah. Temapat yang sudah pasti akan memberi pembelajaran bahasa inggris adalah disekolah. Di sekolahpun terkadang terdapat club bahasa inggris, yang dapat membantu kembangkan kemampuan beljar bahasa inggris.</p><p>    Tetapi sekolah negeri dengan sekolah swata, bahkan sekolah internasional akan memilki tingkat pembelajaran bahsa asing yang berbeda. khususnya untuk sekolah internasional dimana keseharian disekolahnya menggunakan bahasa asing seperti bahasa inggris termus menerus. hal itu akan menyebabkan siswa siswi nya untuk lebih lancar dalam berbahasa inggris atau asing lainnya. </p><p>    Pada sisi yang lainnya untuk sekolah negeri yang tetap menggunakan bahsa indonesia untuk pelajaran sehari-harinya, hal ini bukan merupakan hal yang buruk justru sebalikny karena indonesia tetap menjaga nasinalismenya. Dengan begitu siswa dan siswi hanya akan menggunakan bahasa inggris tau asing disaat jam pembelajaranya. </p><p>    Dengan begitu sudah daoat terlihat bahwa lingkunagn dapat mempengaruhi kelancara tidak hanya dalam belajar bahasa namun belajar hal-hal yang lainnyan juga.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:48:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205668236</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nufaisa Jauza Koswara X-11</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205668672</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Migrasi Masyarakat Banjar di Samarinda terhadap Bahasa Masyarakat Samarinda</strong></p><p><br><strong>Pendahuluan</strong></p><p><br>Samarinda, sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, telah mengalami pertumbuhan pesat yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah migrasi. Migrasi masyarakat Banjar ke Samarinda sejak abad ke-16 telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan kota Samarinda, termasuk dalam hal bahasa. Bahasa Banjar, yang awalnya dibawa oleh para migran, kini telah menjadi salah satu ciri khas bahasa masyarakat Samarinda.</p><p><br><strong>Isi</strong></p><p><br>1.1 Dominasi Bahasa Banjar di Samarinda&nbsp;</p><p><br>Migrasi besar-besaran masyarakat Banjar ke Samarinda telah mengakibatkan bahasa Banjar menjadi bahasa yang dominan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Banjar tidak hanya digunakan dalam komunikasi antara penutur asli Banjar, tetapi juga dalam interaksi dengan kelompok etnis lainnya yang ada di Samarinda. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:</p><p><br/></p><ol><li><p>Jumlah penduduk</p></li></ol><p>Masyarakat Banjar merupakan kelompok etnis terbesar di Samarinda, sehingga penggunaan bahasa Banjar menjadi sangat luas.&nbsp;</p><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Sejarah</p></li></ol><p>Bahasa Banjar telah digunakan di Samarinda sejak lama, sehingga memiliki akar yang kuat dalam masyarakat.</p><p><br></p><ol start="3"><li><p>Faktor sosial</p></li></ol><p>Bahasa Banjar menjadi simbol identitas dan kebanggaan bagi masyarakat Banjar di Samarinda.&nbsp;</p><p><br></p><p>2.1 Asimilasi dan Akulturasi Bahasa</p><p><br/></p><p>Meskipun bahasa Banjar mendominasi, proses asimilasi dan akulturasi bahasa juga terjadi di Samarinda. Kontak dengan bahasa-bahasa lain seperti bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Dayak menyebabkan munculnya variasi bahasa Banjar yang khas di Samarinda. Beberapa ciri khas bahasa Banjar Samarinda antara lain:</p><p><br/></p><ol><li><p>Pengaruh bahasa Indonesia&nbsp;</p></li></ol><p>Penggunaan kosakata bahasa Indonesia yang semakin meluas dalam bahasa Banjar Samarinda.</p><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Adanya dialek lokal</p></li></ol><p>Munculnya dialek-dialek lokal dalam bahasa Banjar Samarinda yang dipengaruhi oleh asal daerah para migran Banjar.</p><p><br/></p><ol start="3"><li><p>Percampuran dengan bahasa lain</p></li></ol><p>Terjadinya percampuran kosakata dan struktur kalimat antara bahasa Banjar dengan bahasa-bahasa lain.&nbsp;</p><p><br/></p><p>3.1 Peran Bahasa Banjar dalam Identitas Masyarakat Samarinda</p><p><br/></p><p>Bahasa Banjar tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penanda identitas masyarakat Samarinda. Bahasa Banjar menjadi simbol kebersamaan dan kekompakan masyarakat Banjar di tengah keberagaman etnis yang ada. Selain itu, bahasa Banjar juga mengandung nilai-nilai budaya dan adat istiadat masyarakat Banjar yang perlu dilestarikan.</p><p><br/></p><p><strong>Penutup</strong></p><p><br/></p><p>Migrasi masyarakat Banjar ke Samarinda telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan bahasa masyarakat Samarinda. Bahasa Banjar, sebagai bahasa yang dominan, telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Samarinda. Proses asimilasi dan akulturasi bahasa yang terjadi telah melahirkan variasi bahasa Banjar yang unik dan khas Samarinda. Oleh karena itu, pelestarian bahasa Banjar perlu terus dilakukan agar kekayaan budaya dan sejarah masyarakat Samarinda tetap terjaga.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:49:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205668672</guid>
      </item>
      <item>
         <title>peran bahasa dalam kehidupan sehari-hari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205669835</link>
         <description><![CDATA[<p>Yusuf Abdul Latif (x-11)</p><p><br/></p><p><br/></p><p>   Bahasa adalah sarana utama untuk berkomunikasi antar manusia, bahasa menjadi alat yang sangat penting untuk manusia agar bisa berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa, kita menjadi mudah untuk sealing bertukar informasi. Tanpa bahasa kita akan sangat sulit bertukar informasi dan emosi. setiap hari kita menggunakan bahasa baik secara lisan atau bulisan, untuk menyampaikan kebutuhan, keinginan dan perasaan kita kepada orang lain.</p><p><br/></p><p>   Bahasa juga mengambil peran penting dalam membangun hubungan sosial. Melalui bahasa kita dapat mengenal orang lain, memahami perspektif mereka, dan membangun hubungan yang lebih dalam. Di dalam rumah bahasa menjadi sarana mengungkapkan cinta dan kasih sayang. Bahasa dalam lingkup kerja membantu untuk berkolaborasi dengan rekan kerja dan berbagi ide, Bahasa, menjadi alat untuk memperkuat ikatan sosial dan memperdalam rasa saling pengertian. </p><p><br/></p><p>   Dalam dunia pendidikan, bahasa memiliki peranan yang sangat penting. Bahasa menjadi sarana yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. &nbsp;Dalam proses belajar, bahasa berfungsi untuk menyampaikan materi pelajaran, atau memahami konsep-konsep yang rumit. Kemampuan bahasa seorang guru dan murid sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan belajar. Pendidikan yang baik tidak terlepas dari kualitas komunikasi yang baik pula.&nbsp;</p><p><br/></p><p>   Dalam dunia global, bahasa asing menjadi sangat penting untuk berkomunikasi dengan orang lokal. Tanpa bahasa asing kita tidak dapat berkomunikasi dengan orang lokal disana. Dengan bahasa asing pula seseorang bisa menjalin hubungan internasional seperti, dalam bidang bisnis, pendidikan, maupun pariwisata. Dengan belajar bahasa asing, seseorang mampu memperluas wawasannya dan menambah pengalaman.&nbsp;</p><p><br/></p><p>   Secara keseluruhan, bahasa mengambil peran yang snagat penting untuk kehidupan sehari hari. bahasa menjadi sarana berkomunikasi, mulai dari didalam lingkup keluarga hingga lingkup pekerjaan. Bahasa menjadi dasar untuk komunikasi yang efektif. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mengembangkan kemampuan berbahasa, agar mendapat potensi penuh untuk berinteraksi kepada orang lain.&nbsp;</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:50:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205669835</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Atiqah Najla</title>
         <author>atiqahuriya</author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205670646</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Pengaruh Penerapan Bahasa Asing di Lingkungan Sekolah</strong></p><p><br></p><p>Budaya yang dimiliki setiap sekolah pastinya berbeda-beda, salah satunya dalam menggunakan bahasa saat berada di lingkungan sekolah. Pada zaman sekarang, penerapan bahasa asing tidak hanya berlaku di lingkungan perkantoran namun juga di lingkungan sekolah sebagai sarana komunikasi lisan dan tertulis. Sistem pendidikan yang dimiliki oleh sekolah juga menjadi pengaruh bagi peserta didik, contohnya memiliki tuntutan bagi para peserta didik untuk wajib bisa berbahasa Inggris dengan tujuan agar dapat fasih dalam menguasai bahasa asing sejak usia dini. Penerapan ini dibiasakan mulai dari rutinitas sehari-hari yaitu dengan menyapa sesama warga sekolah menggunakan bahasa Inggris di hari tertentu dan menjadikannya sebagai budaya.</p><p><br></p><p>Tentu saja hal ini menimbulkan dampak positif maupun negatif. Apa yang sudah dijadikan sebagai budaya pasti akan terbawa secara individu sampai individu itu sendiri berada di luar lingkungan dimana budaya itu diterapkan. Keahlian dalam berkomunikasi menjadi pengaruh yang paling terlihat apabila fasih berbahasa asing. Tidak hanya dapat berkomunikasi dengan warga lokal namun juga bisa berkomunikasi sampai ke warga internasional. Selain itu, kita dapat dengan mudah mengikut sertakan diri pada kompetisi yang melibatkan kebahasaan karena sudah menguasai bahasa tersebut.</p><p><br></p><p>Adanya dampak positif pasti tidak akan lepas dari terciptanya dampak negatif. Terlalu fokus untuk menguasai keahlian dalam berbahasa asing dapat menghilangkan kefasihan dalam berbahasa lokal. Karena pada dasarnya, kita sebagai pemuda Indonesia memiliki satu sumpah, yaitu</p><p><br></p><blockquote><p>Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia</p></blockquote>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:50:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205670646</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Pengaruh Bahasa Jawa Dalam Kehidupan Sehari-hari</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205672715</link>
         <description><![CDATA[<p>Muhammad Yusuf Ramadhan X-11</p><p><br/></p><p>bahasa jawa memiliki pengaruh </p><p>mendalam di kehidupan sehari-hari bahasa jawa adalah salah satu bahasa daerah yang di tuturkan oleh masyarakat di pulau jawa,indonesia.Bahasa ini termasuk kedalam kelompok bahasa austronesia dan memiliki berbagai dialek seperti kesopanan dan hubungan sosial. Pengaruh bahasa jawa dalam kehidupan sehari-hari di bagi beberapa aspek yaitu:</p><p><br/></p><p>Komunikasi sosial:Bahasa jawa adalah bahasa sehari-hari yang digunakan dalam interaksi anggota keluarga seperti ayah, ibu dan anak, dan juga bahasa jawa dapat digunakan dalam interaksi antar teman dan bisa juga digunakan dalam komunitas.Bahasa jawa di bagi beberapa penggunaan berbagai tingkat bahasa yaitu ngoko, krama dan krama inggil yang mencerminkan hubungan dan penghormatan antar individu. </p><p><br/></p><p>Budaya dan tradisi: Banyak ritual yang di sampaikan melalui bahasa jawa.Bukan hanya ritual tetapi ada juga kesenian dan tradisi yang di sampaikan dengan bahasa jawa seperti wayang kulit pertunjukan seni wayang kulit ini menggunakan boneka datar yang terbuat dari kulit sapi dan biasanya di tampilkan menggunakan bahasa jawa. </p><p><br/></p><p>Identitas kultural: Bahasa jawa menjadi simbol identitas bagi masyarakatnya.penggunaannya menegaskan keunikan budaya jawa dan membantu membedakan komunitas dari daerah lain. salah satu keunikan bahasa jawa adalah kosa kata yang kaya dan juga kosakata yang luas dan beragam termasuk istilah-istilah khususnya. </p><p><br/></p><p>Nilai-nilai moral: Ungkapan pribahasa dan ajaran dalam bahasa jawa sering mengandung nilai-nilai contohnya "ojo dumeh" artinya jangan sombong, ini mengingatkan pentingnya kerendahan hati. ada lagi contohnya yaitu "matur suwun" artinya terimakasih, ini mengingatkan kepada kita pentingnya mengucapkan terimakasih dan mengandung nilai-nilai kesopanan dan menghargai satu sama lain.</p><p><br/></p><p>Secara keseluruhan, bahasa Jawa memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari, terutama di wilayah Jawa. Bahasa ini tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penghubung antara generasi, budaya, dan tradisi. Meskipun tantangan dalam pelestariannya semakin nyata, upaya untuk menjaga kelestariannya masih dapat dilakukan melalui pendidikan dan penggunaan media yang tepat. Keberadaan bahasa Jawa sebagai bagian dari warisan budaya harus terus diperjuangkan agar tetap dapat dirasakan manfaatnya oleh generasi mendatang.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:52:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205672715</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Muhammad Rezky X-11</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205674947</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>DAMPAK PEMBELAJARAN ASING DI SEKOLAH</strong></p><p><br></p><p>Dampak Pembelajaran Bahasa Asing di Sekolah, Pembelajaran bahasa asing di sekolah memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan siswa, baik secara akademis maupun sosial. Di era globalisasi saat ini, kemampuan berbahasa asing menjadi salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan. Dalam esai ini, kita akan membahas beberapa dampak positif dan tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran bahasa asing di sekolah.</p><p><br></p><p><strong>Dampak Positif</strong></p><p>Peningkatan Kemampuan Komunikasi. Pembelajaran bahasa asing memungkinkan siswa untuk berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai negara. Hal ini tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa mereka, tetapi juga membuka kesempatan untuk berinteraksi dengan budaya yang berbeda. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing dapat memfasilitasi kerjasama internasional dan membangun hubungan yang lebih baik di tingkat global.</p><p><br></p><p><strong>Peningkatan Keterampilan Kognitif</strong></p><p>Penelitian menunjukkan bahwa belajar bahasa asing dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Siswa yang belajar bahasa asing cenderung lebih baik dalam menyelesaikan masalah dan berpikir analitis. Proses mempelajari struktur bahasa yang berbeda menstimulasi otak untuk berpikir lebih fleksibel dan terbuka terhadap perspektif baru.</p><p><br></p><p><strong>Kesempatan Karir yang Lebih Luas</strong></p><p>Di dunia kerja yang semakin kompetitif, penguasaan bahasa asing menjadi nilai tambah yang signifikan. Banyak perusahaan mencari karyawan yang mampu berkomunikasi dalam beberapa bahasa. Dengan demikian, siswa yang belajar bahasa asing di sekolah memiliki peluang karir yang lebih baik di masa depan.</p><p><br></p><p><strong>Tantangan dalam Pembelajaran</strong></p><p>Meskipun banyak manfaatnya, pembelajaran bahasa asing di sekolah juga menghadapi beberapa tantangan.</p><p><br></p><p><strong>Kurangnya Sumber Daya</strong></p><p>Banyak sekolah, terutama di daerah terpencil, mengalami keterbatasan dalam hal sumber daya, seperti buku, perangkat lunak, dan pengajar yang berkualitas. Hal ini dapat menghambat efektivitas pembelajaran bahasa asing. Tanpa dukungan yang memadai, siswa mungkin kesulitan untuk menguasai bahasa yang dipelajari.</p><p><br></p><p><strong>Motivasi Siswa</strong></p><p>Beberapa siswa mungkin merasa kurang termotivasi untuk belajar bahasa asing. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurikulum yang monoton atau kesulitan dalam memahami materi. Penting bagi guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang menarik dan menyenangkan agar siswa lebih termotivasi untuk belajar.</p><p><br></p><p><strong>Kesulitan dalam Penguasaan</strong></p><p>Pembelajaran bahasa asing sering kali menghadapi tantangan dalam penguasaan tata bahasa dan pengucapan. Siswa yang tidak terbiasa dengan bunyi dan struktur bahasa asing mungkin merasa frustrasi. Oleh karena itu, metode pengajaran yang inovatif dan menyenangkan sangat diperlukan untuk membantu siswa mengatasi kesulitan ini.</p><p><br></p><p><strong>Kesimpulan</strong></p><p>Pembelajaran bahasa asing di sekolah memiliki dampak yang luas, mulai dari peningkatan kemampuan komunikasi hingga peluang karir yang lebih baik. Meskipun ada tantangan yang harus dihadapi, dengan pendekatan yang tepat dan dukungan yang memadai, pembelajaran bahasa asing dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi siswa. Dalam dunia yang semakin terhubung ini, penguasaan bahasa asing bukan hanya sekadar keahlian, tetapi juga menjadi salah satu kunci untuk memahami dan menghargai keberagaman budaya di sekitar kita.</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 03:53:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205674947</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Khansa Tsabitah Kusuma X-11</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205685725</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><em>Adanya Hubungan Antara Bahasa Jawa Dan</em></strong></p><p><strong><em>Bahasa Banjar</em></strong></p><p><br></p><p>Bahasa adalah alat komunikasi sosial yang berupa sistem simbol bunyi yang dihasilkan dari ucapan manusia. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan sarana untuk berinteraksi dengan manusia lainnya di masyarakat. Untuk kepentingan interaksi sosial itu. Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki beragam suku dan bahasa, Banyaknya bahasa yang dimiliki membuat Indonesia menjadi negara urutan kedua yang memiliki bahasa daerah terbanyak di dunia setelah Papua Nugini. Bahasa yang ada di indonesia seperti bahasa jawa dan bahasa banjar.</p><p><br></p><p>&nbsp;Bahasa jawa adalah bahasa yang utamanya dituturkan oleh masyarakat yang bersuku jawa di wilayah bagian tengah dan timur pulau jawa. bahasa jawa juga dituturkan oleh diaspora jawa di wilayah lain seperti di Sumatra, Kalimantan, Suriname, Belanda dan Malaysia. Sedangkan bahasa banjar adalah sebuah bahasa yang dituturkan oleh suku banjar yang merupakan etnis pribumi yang berasal dari daerah Banjar di Kalimantan Selatan, bahasa banjar juga menjadi lingua franca di daerah lainnya seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan di daerah Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.</p><p><br></p><p>Bahasa Jawa dan bahasa banjar adalah dua bahasa yang memiliki akar budaya dan sejarah. Kedua bahasa ini tidak hanya mencerminkan identitas masyarakatnya, tetapi juga menunjukan interaksi dan pengaruh yang saling menguntungkan di antara keduanya. Dari segi linguistik, kedua bahasa ini memiliki beberapa kesamaan. kedua bahasa ini memiliki kontak yang cukup intens, Terutama di daerah Kalimantan Selatan yang dihuni oleh masyarakat banjar dan jawa. Hal ini menyebabkan terjadinya penyerapan kosakata dan ungkapan dari suatu bahasa ke bahasa lainnya.</p><p><br></p><p>Hubungan bahasa jawa dan banjar tidak hanya mencerminkan segi linguistik, tetapi juga aspek budaya maupun sosial. Aspek budaya juga mencerminkan peran penting dalam hubungan antara bahasa jawa dan bahasa banjar.Masyarakat jawa dan banjar seringkali berinteraksi melalui berbagai kegiatan sosial, seperti perdagangan, pernikahan, dan perayaan budaya. pengaruh budaya jawa terlihat dalam beberapa tradisi atau ritual yang diadaptasi oleh masyarakat banjar. Hal ini menunjukan bahwa meskipun ada perbedaan, ada pula persamaan yang dapat ditemukan dalam masyarakat merayakan kehidupan dan mengekspresikan diri mereka.</p><p><br></p><p>&nbsp;Di sisi Sosial, hubungan antara kedua komunitas ini menciptakan dinamika unik. Masyarakat Banjar yang mayoritas muslim dan masyarakat jawa yang mayoritas hindu dan Muslim seringkali saling bertukar nilai dan norma. Pendidikan dan perdagangan menjadi jembatan yang memperkuat interaksi antara kedua bahasa ini, Bahkan banyak kosakata yang sama di kedua bahasa tersebut. Dengan adanya pengaruh saling menguntungkan, Masyarakat Banjar dan jawa dapat hidup berdampingan dan menciptakan lingkungan yang harmonis meskipun ada perbedaan dalam aspek lainnya.</p><p><br></p><p>Hubungan antara bahasa Banjar dan Bahasa jawa menunjukkan bagaimana dua bahasa yang berbeda dapat saling mempengaruhi dan memperkaya satu sama lain. Melalui interaksi linguistik, budaya, dan sosial, kedua komunitas ini tidak hanya mempertahankan identitas mereka tetapi juga membangun jembatan yang menghubungkan mereka. Dengan demikian, Penting untuk terus melestarikan dan menghargai kekayaan bahasa dan budaya ini demi keberlangsungan dan keharmonisan masyarakat yang lebih luas</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 04:01:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205685725</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kidung Amanta Bernice X-11 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205697585</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>REVITALISASI PENGGUNAAN BAHASA DAERAH DI ERA MODERN</strong></p><p>Bahasa Daerah adalah bahasa yang berasal dari suatu daerah dan diturunkan secara turun menurun oleh nenek moyang disuatu wilayah tersebut. Indonesai adalah berkepulauan yang memiliki banyak suku dan budaya, dan setiap suku pasti memiliki bahasa daerah nya masing-masing. Untuk mempelestarikan budaya disetiap daerah, maka diciptakanlah bahasa daerah.</p><p><br/></p><p>Diera modern ini penggunaan bahasa daerah sudah mulai merenggang dikarenakan masuknya arus globalisasi. Di zaman ini banyak masyarakat yang sudah tidak terlalu memedulikan penggunaan bahasa daerah. Apalagi pada anak generasi Z, mereka banyak yang mengunakan bahasa-bahasa lain. Seperti, bahasa inggris, dan bahasa gaul. Bahasa Inggris emang bagus untuk digunakan, karena bahasa inggris adalah bahasa Internasional. Namun, kadang terdapat beberapa orang yang mencampur-campurkan penggunaan bahasa indonesia dengan bahasa asing tersebut. Hal itulah yang menjadi tantangan untuk penggunaan bahasa daerah, dan perlu dilakukan revitalisasi penggunaan bahasa daerah diera modern</p><p><br/></p><p>Revitalisasi adalah kegiatan yang bertujuan untuk menghidupkan atau membangun kembali sesuatu yang hampir mati atau bahkan sudah mati.</p><p><br/></p><p>Revitalisasi penggunaan bahasa daerah bisa kita mulai dari membiasakan diri. Lalu, kita juga harus mempunyai niat dan mindset, seperti kenapa kita melakukan hal tersebut dan apa dampak yang akan kita dapatkan. Tentunya itu bukan untuk kita saja, tetapi untuk orang lain dan negara. Tujuan kita harus memulai dari hal tersebut adalah karena banyak sekali sekarang orang yang menganggap bahwa penggunaan bahasa daerah itu seperti orang yang ketinggalan zaman dan tidak ada guna dan manfaatnya.</p><p><br/></p><p>Dengan adanya revitalisasi penggunaan bahasa daerah di era modern ini tentunya akan membuahi dampak yang sangat positif. baik untuk diri sendiri, orang lain, suatu daerah, dan negara.</p><p>Dampak positif yang akan kita dapatkan dari kegiatan tersebut adalah, semakin majunya suatu daerah, dapat menghidupkan kembali suatu bahasa daerah yang hampir punah, melahirkan para penutur muda, dan akan mengembalikan kembali cara pandang masyarakat untuk selalu melestarikan bahasa daerah.</p><p><br/></p><p>Penggunaan bahasa asing atau bahasa lain diera modern ini emang susah untuk dihindari. Penggunaan bahasa asing seperti bahasa inggris ini memang memiliki banyak dampak positif, namun alangkah baiknya, kita sebagai masyarakat indonesia yang berkepulauan dan memiliki banyak suku sebaiknya dapat lebih baik dan lebih menonjol untuk menggunakan bahasa sendiri. Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-07 04:13:25 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3205697585</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ALYA AFIFAH MUBARAK </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3209863468</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>"Bahasa gaul menghambat komunikasi antar generasi?"</strong></p><p><br/></p><p>Di era digital ini, bahasa gaul terus berkembang pesat dan menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari, terutama dikalangan anak muda. Setiap generasi mengembangkan kosa kata mereka sendiri, sering kali dengan menciptakan kembali kata-kata baru atau bahkan mengubah arti suatu kata yang sudah ada. Istilah-istilah baru yang muncul, diperkenalkan dan tersebar melalui media sosial dalam waktu yang cepat. Bahasa gaul menjadi simbol kreativitas dan ekspresi diri bagi generasi muda, namun hal ini juga menimbulkan tantangan, terutama dalam komunikasi dengan generasi yang lebih tua. Akibat perbedaan pemahaman istilah dan makna, bahasa gaul sering kali menjadi hambatan komunikasi antar generasi. </p><p><br/></p><p>Bahasa gaul yang selalu berubah-ubah membuat adanya celah antara generasi muda dengan generasi yang lebih tua. Kata-kata seperti "Bucin" (budak cinta), "Gabut" (bosan atau tidak memiliki kegiatan), bahkan istilah-istilah dalam bahasa inggris seperti "Cringe"  atau "Red flag" adalah contoh kata-kata yang biasa digunakan dan mudah dipahami oleh kalangan anak-anak muda sekarang, namun sulit dimengerti oleh kalangan yang lebih tua yang tidak mengerti dengan media sosial dan tren-tren masa kini. Akibatnya, komunikasi antara generasi sering terhambat karena perbedaan pemahaman dari istilah-istilah tersebut. Generasi tua mungkin merasa bingung atau bahkan merasa diabaikan ketika anak muda menggunakan bahasa yang tidak mereka pahami.</p><p>Tidak hanya membuat istilah yang baru, kalangan muda juga terkadang mengubah maksa suatu kata. Misalnya, bagi generasi tua kata "hook up" sering kali berarti berhubungan dengan seseorang baik secara sosial atau untuk pertemuan biasa. Namun seiring berjalannya waktu, arti kata itu berubah, terutama dikalangan anak muda, kata merujuk ke hubungan seksual kasual tanpa adanya ikatan emosional. Adapun kata kata lain yang sama namun memiliki arti yang berbeda, seperti "salty" yang artinya asin tetapi kalangan muda menggunakannya untuk mendeskripsikan seseorang yang iri. "Dope" istilah untuk obat terlarang, yang diubah artikan menjadi keren. Perubahan arti dari kata kata ini juga dapat membuat kesenjangan dimana anak anak muda mungkin tidak memahami arti kata bahasa gaul yang lebih tua, maupun sebaliknya. Karena adanya perbedaan penggunaan suatu kata bisa menyebabkan kesalahpahaman, kebingungan atau salah pengartian dan membuat situasi yang lucu dan canggung karena setiap kalangan mengartikan kata atau frasa berdasarkan konteks mereka sendiri. </p><p><br/></p><p>Kesenjangan ini tidak hanya terjadi dalam lingkungan keluarga, tetapi juga di dunia pekerjaan. Generasi yang lebih muda yang memasuki dunia kerja mungkin sulit untuk berkomunikasi dengan rekan kerja atau atasan yang lebih tua jika mereka terlalu sering menggunakan bahasa gaul dalam percakapan. Dalam situasi ini, penggunaan bahasa yang tidak baku atau bahasa gaul dapat memberikan kesan tidak profesional dan kurang serius, yang akhirnya berdampak pada komunikasi di tempat kerja.</p><p><br/></p><p>Selain itu, bahasa gaul yang viral dan terus berubah bisa mengurangi pemahaman budaya dan nilai yang terkandung dalam bahasa baku. Bahasa Indonesia baku merupakan sarana untuk menjaga identitas dan nilai budaya bangsa. Namun, jika bahasa gaul lebih sering digunakan, ada risiko bahwa nilai-nilai budaya tersebut dapat terpinggirkan. Hal ini bisa mempengaruhi hubungan antar generasi, di mana generasi muda dianggap tidak menghargai bahasa yang lebih formal dan dianggap lebih sesuai untuk komunikasi yang serius atau profesional.</p><p><br/></p><p>Bagaimana pun juga, bahasa gaul juga memiliki sisi positif sebagai cerminan kreativitas dan inovasi linguistik generasi muda. Bahasa gaul bisa menjadi cara bagi anak muda untuk mengekspresikan diri dan menciptakan identitas unik yang membedakan mereka dari generasi sebelumnya. Oleh karena itu, solusi terbaik adalah adanya kesadaran di kedua pihak untuk saling memahami. Generasi muda mungkin perlu mempelajari arti kata yang lebih tua dan dapat belajar menggunakan bahasa yang lebih netral dalam situasi tertentu untuk mempermudah komunikasi, sementara generasi yang lebih tua harus beradaptasi dan dapat lebih terbuka dan mencoba memahami perubahan bahasa yang terjadi agar tetap terhubung dengan kalangan muda.</p><p><br/></p><p>Bahasa gaul, meskipun merupakan ekspresi kreatif generasi muda, bisa menjadi hambatan dalam komunikasi antar generasi jika tidak disertai dengan pemahaman dan toleransi. Untuk menciptakan komunikasi yang efektif, penting bagi setiap generasi untuk memahami perbedaan cara berbahasa dan berusaha menemukan jalan tengah dalam komunikasi sehari-hari. Dengan begitu, bahasa gaul tidak lagi menjadi penghalang, tetapi menjadi bagian dari keanekaragaman bahasa yang memperkaya hubungan antar generasi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-10 16:06:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3209863468</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3212582242</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Maraknya penggunaan bahasa slang gen alpha dikalangan remaja</strong></p><p>Aisha Nugraheni - XII-11</p><p><br/></p><p>Di era digital ini bahasa terus mengalami perubahan, terutama di kalangan generasi muda. Salah satu fenomena kebahasaan yang terjadi adalah maraknya penggunaan</p><p><strong>bahasa gen alpha</strong>. Gen alpha terdiri dari individiu yang lahir setelah tahun 2010. Bahasa gen alpha sendiri sangat dipengaruhi oleh penggunaan teknologi seperti media sosial Tiktok, youtube dan lain lain. Media sosial mendorong kebahasaan yang lebih efisien/ singkat. Penggunaan bahasa singkatan ini menjadi bagian Gen alpha untuk berkomunikasi. Biasanya bahasa gen alpha dibentuk dari tren atau meme yang sedang viral. Contoh dari bahasa gen alpha “mewing, sigma, rizz, skibidi, ohio”singkatan singkatan itu berasal dari meme yang viral di media sosial.</p><p><br/></p><p>Bahasa gen alpha ini menjadi marak di kalangan remaja karna bahasanya terdengar unik dan lucu. Selain itu, bahasa gen alpha ini banyak digunakan di media sosial. Ada beberapa faktor mengapa bahasa gen alpha marak digunakan. Salah satunya adalah bahasa slang memberikan kebebasan ekspresi. Berbeda dengan bahasa formal yang cenderung lebih kaku dan terikat oleh aturan-aturan tata bahasa, slang memberikan ruang bagi kreativitas mengekspresikan diri. Remaja yang menggunakan bahasa Gen Alpha dapat menciptakan istilah-istilah baru atau memodifikasi kata-kata yang sudah ada untuk mengekspresikan perasaan, atau pemikiran mereka dengan cara yang lebih santai dan personal.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-12 06:31:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3212582242</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Vika Syera Ramadhan X-11 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3215028546</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>PENTINGNYA BELAJAR BAHASA INGGRIS UNTUK MASA DEPAN</strong></p><p><br/></p><p>Di era global seperti sekarang ini, akan semakin banyak perkembangan yang terjadi di negeri ini. Mulai dari perdagangan bebas, semakin banyaknya berdiri perusahaan-perusahaan asing di indonesia sehingga penggunaan bahasa internasional seperti bahasa inggris sudah sangat tersebar luas, tentunya untuk para calon <em>entrepreneur </em>dan pencari kerja sudah menjadi suatu keharusan untuk bisa menguasai bahasa Inggris agar bisa mengikuti perkembangan zaman di era globalisasi ini. Berharap dengan adanya esai ini dapat membuat siswa/siswi atau orang-orang diluar sana yang menganggap tidak perlu belajar Bahasa Inggris dapat menimbulkan rasa ingin/semangat untuk belajar Bahasa Inggris. </p><p><br/></p><p>Setiap hari, jutaan orang menggunakan bahasa inggris di tempat kerja maupun di kehidupan sosial. Ketika kepala negara saling bertemu dalam konferensi tingkat dunia, bahasa Inggris menjadi bahasa yang paling sering digunakan. Begitu pula saat orang-orang dari bangsa yang berbeda saling bertemu, bahasa Inggris adalah satu-satunya bahasa penghubung yang digunakan oleh mereka. Jika kamu bekerja di perusahaan asing, maka tuntutan keterampilan bahasa Inggris lebih besar lagi.</p><p>Berkomunikasi via <em>e-mail</em> atau <em>conference call</em>dengan perusahaan pusat ataupun perusahaan cabang di negara lainnya menjadi pekerjaaan sehari-hari bagi mereka yang bekerja di perusahaan asing. Menurut riset, kemampuan bahasa Inggris memiliki kaitan erat dengan kemajuan suatu negara. Kultur dalam satu negara juga dapat berubah seiring dengan keterbukaan mereka terhadap informasi, yang didapatkan dengan inisiatif para warga-nya untuk mendapatkan sumber berita yang kredibel, pengetahuan yang tidak mengenal batas hingga kecenderungan untuk membagikan topik-topik yang bersifat krusial.</p><p><br/></p><p>Mempelajari bahasa ini bukan lagi menjadi satu kewajiban untuk mendapatkan nilai atau peringkat yang bagus di sekolah, namun juga sebagai pertahanan dalam menghadapi arus globalisasi yang kian menantang. Bahasa Inggris dapat membuka akses akan aset tanpa batas yang dibutuhkan oleh orang-orang di Indonesia. Hal ini menyiratkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam peningkatan kualitas bahasa Inggris sumber daya manusianya. Pendekatan yang masif dan pembangunan kesadaran akan peran bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang paling banyak digunakan di dunia merupakan hal yang dibutuhkan sebagai usaha untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia di Indonesia.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-13 11:57:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3215028546</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama : Zaurasavadisyanar Ayu Putri Sunaryo ( X.12 )</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3220362630</link>
         <description><![CDATA[<p><strong><em>"PENGARUH BAHASA ASING&nbsp;</em></strong></p><p><strong><em>DI LINGKUNGAN SEKOLAH”</em></strong></p><p><br/></p><p>Dalam era globalisasi yang semakin pesat, penguasaan bahasa asing menjadi salah satu keterampilan yang sangat penting. Di lingkungan sekolah, kehadiran bahasa asing telah membawa pengaruh yang signifikan, baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positif bahasa asing dalam dunia pendidikan tidak dapat dipungkiri akan keberadaannya. Pembelajaran bahasa asing dapat merangsang perkembangan siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis dan pemecahan masalah. Selain itu, bahasa asing juga membuka jendela dunia yang lebih luas, memungkinkan siswa untuk mengakses informasi dan budaya dari berbagai negara. Hal ini tentu saja akan memperkaya wawasan dan pengetahuan mereka. Di samping itu, penguasaan bahasa asing juga membuka peluang karir yang lebih luas untuk kedepannya. Banyak perusahaan saat ini yang&nbsp; mencari karyawan yang memiliki kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa Inggris. Dikarenakan juga bahasa Inggris merupakan bahasa Internasional, yang mana keberadaannya sangat menjadi prioritas dalam suatu perusahaan atau suatu negara. Karena dengan memiliki kemampuan bahasa Inggris, akan memudahkan bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan orang asing.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Dengan menguasai bahasa asing, siswa akan lebih siap menghadapi persaingan kerja di era globalisasi. Selain itu, bahasa asing juga menjadi syarat penting untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri. Namun dibalik segala pengaruh positifnya, keberadaan bahasa asing di lingkungan sekolah juga menimbulkan beberapa tantangan. Salah satunya adalah potensi penurunan mutu bahasa Indonesia, jika tidak diimbangi dengan pembelajaran bahasa Indonesia yang baik, maka siswa dapat mengalami kesulitan dalam menguasai bahasa mereka sendiri. Selain itu, terlalu banyak mata pelajaran bahasa asing dapat membebani siswa dan mengurangi waktu belajar untuk mata pelajaran lain. Bahasa asing juga dapat menimbulkan diskriminasi terhadap bahasa daerah. Dalam beberapa kasus, bahasa asing dianggap lebih mengikuti zaman dibandingkan bahasa daerah, sehingga menyebabkan siswa kurang menghargai bahasa daerah mereka sendiri.</p><p><br/></p><p>	Di zaman sekarang ini juga mulai banyak singkatan-singkatan menggunakan bahasa asing contohnya adalah : <em>FOMO ( Fear Of Missing Out ), JK ( Just Kidding ) </em>dan masih banyak lagi lainnya. Singkatan-singkatan ini tumbuh dan berkembang dari anak-anak jaman sekarang, hal ini membuat bahasa Indonesia dan bahasa daerah mulai terancam punah penggunaannya, bahkan jarang orang menggunakan bahasa Indonesia baku di jaman sekarang ini. Hal-hal yang perlu kita lakukan agar penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah tidak hilang adalah :</p><ul><li><p>Bangga menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah.</p></li><li><p>Tidak malu menggunakan bahasa indonesia dan bahasa daerah.</p></li><li><p>Menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia dan bahasa daerah, tentunya dengan bahasa yang baik dan benar.</p></li><li><p>Mengajak dan mengajarkan kepada orang lain agar tidak melupakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah, juga dibiasakan untuk selalu menggunakan bahasa daerah apabila berada di suatu daerah, akan tetap apabila tidak mengerti atau kurang paham dengan bahasa daerah tersebut, diusahakan selalu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.</p></li></ul><p><br/></p><p>Bahasa asing memang memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan. Namun, penting untuk diingat bahwa bahasa asing hanyalah salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih luas. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa asing perlu diimbangi dengan pembelajaran bahasa Indonesia yang baik, serta adaptasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan perkembangan zaman tentunya.</p><p><br/></p><p>Untuk memaksimalkan pengaruh positif bahasa asing di lingkungan sekolah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah:&nbsp;</p><ul><li><p>Keseimbangan: Menjaga keseimbangan antara pembelajaran bahasa asing dan bahasa Indonesia.</p></li><li><p>Kurikulum yang Relevan merupakan penyusun kurikulum yang relevan dengan kebutuhan siswa dan perkembangan zaman.</p></li><li><p>Metode Pembelajaran yang menarik merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan efektif.</p></li><li><p>Dukungan dari Semua Pihak merupakan dukungan yang didapatkan dari dukungan&nbsp; semua pihak, antara lain yaitu dukungan dari guru, orang tua dan siswa itu sendiri.</p></li></ul><p><br/></p><p>Dengan demikian, bahasa asing dapat menjadi alat yang ampuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan di masa depan, dimana dalam hal ini mempermudah dalam hal berkomunikasi. Maka dengan demikian sebagai generasi bangsa yang siap untuk menghadapi era globalisasi, minimal anak-anak diusahakan mampu berbahasa asing, minimal bahasa Inggris. Akan tetapi lebih baik lagi apabila anak-anak mampu menguasai beberapa bahasa, sehingga membuat mereka lebih siap lagi dalam menghadapi masa depan.&nbsp;</p><p>Demikian yang bisa saya sampaikan mengenai Teks Essai Ini, semoga bisa&nbsp; menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi kita semua. Saya menyadari Teks Essai yang saya sampaikan ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu saya mohon maaf apabila dalam hal ini masing banyak penjelasan yang kurang sempurna baik dalam mengartikan ataupun dalam penyampaiannya. Akhir kata dari Saya, terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah membaca Teks Essai ini semoga bermanfaat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-17 07:39:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3220362630</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Azzahra Hawwa Putri Hendarsyach         &quot;Menguasai Bahasa Asing Tanpa Kehilangan Identitas Lokal: Kunci Sukses Generasi Masa Depan&quot;                 </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3220369325</link>
         <description><![CDATA[<p>Saat ini penggunaan bahasa asing di kehidupan sehari hari telah menjadi hal yang biasa terjadi. Tidak hanya digunakan oleh orang dewasa atau remaja saja, bahasa asing juga semakin sering digunakan oleh anak anak untuk berkomunikasi, baik dengan teman ataupun keluarga mereka. Anak anak perlu membiasakan diri berkomunikasi dengan bahasa asing atau setidaknya menguasai beberapa kosakata bahasa asing. Seperti penggunaan bahasa inggris, yang telah menjadi bahasa internasional sehingga bermanfaat sebagai alat komunikasi lintas budaya atau daerah.</p><p><br/></p><p>Generasi muda saat ini, terutama Gen Z dan Gen Alpha banyak sekali yang telah terbiasa menggunakan bahasa asing untuk berkomunikasi di kehidupan sehari harinya. Hal itu telah menjadi seperti keterampilan dasar yang sudah umum mereka kuasai. Mereka dapat menguasai kemampuan berbicara bahasa asing tentu saja melalui pembelajaran yang ada di sekolah. Beberapa sekolah atau khususnya sekolah internasional telah menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga kemampuan tersebut lebih dapat mereka kuasai. Tidak hanya di sekolah, anak anak sering kali menggunakan bahasa asing saat berbicara dengan temannya saat bermain game, menonton film yang menggunakan bahasa inggris, ataupun berkomunikasi dengan orang tuanya menggunakan bahasa inggris. Kebiasaan ini secara tidak langsung membantu mereka mengasah kemampuan berbahasa asing di kehidupan sehari-hari mereka.</p><p><br/></p><p>Namun, bagaimana dengan anak-anak yang berasal dari keluarga dengan latar belakang kurang mampu atau kebanyakan orang tua siswa dulunya terbatas untuk mendapatkan akses dalam mengembangkan kemampuan berbahasa asing mereka, sehingga sekarang mereka kesulitan untuk membantu anak-anaknya mempelajari bahasa asing. Hal ini tidak boleh terulang di anak-anak mereka, maka dari itu diperlukan perhatian lebih dalam mengembangkan akses pendidikan bahasa asing bagi anak-anak yang memiliki latar belakang ekonomi kurang beruntung. Dengan disediakannya pelatihan berbahasa asing atau materi pembelajaran yang dapat diakses secara daring, anak-anak tersebut dapat belajar dengan mandiri. Diperlukan juga dukungan dari orang tua untuk mendampingi anak mereka dalam mempelajari bahasa asing.</p><p><br/></p><p>Dengan menguasai bahasa asing sejak kecil, tentu saja mereka akan mendapat banyak sekali manfaat untuk masa depan yang baik bagi mereka. Sebagai contoh, saat ini banyak sekali perusahaan yang menambahkan syarat kemampuan berbahasa asing dalam kualifikasi calon karyawan mereka. Hal ini menunjukan betapa pentingnya penguasaan bahasa asing menciptakan peluang yang baik di masa depan. Namun, perlu diingat bahwa mempelajari bahasa asing tidak selalu membawa dampak baik bag anak-anak. Kemungkinan terburuk yang dapat terjadi seperti anak-anak tidak mengetahui bahasa dan budaya lokal. Anak-anak yang terlalu fokus mempelajari bahasa asing tanpa mempelajari bahasa dan budaya loka, sehingga beresiko kehilangan identitas budaya mereka. Oleh karena itu, peran orang tua maupun guru sangat penting untuk menyeimbangkan pembelajaran bahasa asing dengan pengenalan bahasa dan budaya lokal sehingga anak-anak tetap mengetahui bahasa dan keberagaman budaya lokal.</p><p>&nbsp;</p><p>Menguasai bahasa asing sejak kecil merupakan salah satu langkah penting untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi masa depan yang lebih cerah. Di masa sekarang kemampuan berbahasa asing menjadi salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan. Namun pembelajaran bahasa asing tetap harus di seimbangkan dengan tetap mempelajari bahasa dan budaya lokal yang ada. Sehingga anak-anak dapat menjadi individu yang cerdas berbahasa asing dan bangga akan budaya dan bahasa negara mereka sendiri.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-17 07:53:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3220369325</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3220465797</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama: Khalia Agnetta Manurung</p><p><br/></p><p>Pudarnya Esensi Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja Indonesia</p><p><br/></p><p>Secara umum, bahasa dikenal sebagai alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, ide, atau perasaan. Bahasa resmi nasional, bahasa Indonesia yang juga berfungsi sebagai pemersatu berbagai suku telah diajarkan kepada kita sejak usia dini yang berguna sebagai sarana komunikasi utama dalam kehidupan sehari-hari.</p><p><br/></p><p>Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:88) menyebutkan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer dan digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, juga mengidentifikasikan diri. Bahkan pada tanggal 28 Oktober 1928 pemuda Indonesia telah mengikrarkan janji dengan sepenuh hati dengan harapan akan selalu diterapkan hingga masa kini. Salah satunya berbunyi “Kami putra putri Indonesia mengaku&nbsp; menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Namun sayangnya, di era masa kini ikrar tersebut justru malah kehilangan maknanya.</p><p><br/></p><p>Sebagai contoh sederhana di masa kini bangsa indonesia khususnya&nbsp; para kaum muda justru lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada bahasa aslinya yakni bahasa Indonesia. Seperti saat ingin meminta maaf kita lebih sering mendengar orang mengatakan “sorry” daripada&nbsp; “maaf“ yang di mana kata “sorry” bukanlah termasuk&nbsp; kosakata bahasa Indonesia, melainkan kosakata bahasa Inggris.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Adanya hal tersebut bukan karena mereka tidak tahu cara berbicara bahasa Indonesia, namun munculnya pengaruh budaya barat yang begitu kuat sehingga mulai masuk dan bercampur ke dalam gaya berbicara&nbsp;khususnya para kaum muda.</p><p><br/></p><p>Negara Indonesia yang dihuni oleh lebih dari lima ratus kelompok penutur bahasa daerah dan logat yang dipakai oleh penduduknya yang berjumlah sekitar 200 juta jiwa lebih. Berdasarkan data tersebut, bahasa Indonesia terbilang mampu mendekatkan, sekaligus mempersatukan berbagai golongan etnis di Indonesia sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan lancar dalam kehidupannya sehari-hari.</p><p><br/></p><p>Sumpah Pemuda merupakan akar peristiwa yang terbilang mampu memperkuat penggunaan bahasa Indonesia sehingga berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara sejak tanggal 18 Agustus tahun 1945. Sebagai bangsa Indonesia kita harusnya&nbsp; berbangga kepada bahasa kita karena bahasa Indonesia adalah satu di antara sedikit bahasa dari beberapa negara di dunia&nbsp; yang menjadi bahasa nasional. Hingga detik ini bahasa Indonesia masih berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa pemersatu berbagai suku. Berdasarkan sumber yang didapat, terdapat beberapa negara yang masih menggunakan bahasa asing, yaitu bahasa Inggris sebagai bahasa nasional mereka, seperti India dan Malaysia. Sebagai pelajar pun kita perlu bangga berbahasa Indonesia dan kita sebagai pemuda Indonesia yang memiliki kewajiban untuk memperkenalkan identitas bangsa kita kepada dunia.</p><p><br/></p><p>Seiring berkembangnya zaman modernisasi saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa pemuda akan memiliki rasa gengsi jika tidak bisa berbahasa asing, terlebih lagi bahasa Inggris karena merupakan bahasa Internasional. Bahkan, parahnya lagi adalah ketika mereka melakukan secuil kesalahan saja dalam berbahasa Inggris, maka mereka akan merasa teramat malu. Sebaliknya, mereka justru biasa-biasa saja, bahkan seperti orang yang tak bersalah ketika salah dalam berbahasa Indonesia. Hal itu yang harus kita perhatikan dari pesona bahasa Indonesia yang kini mulai memudar.&nbsp;</p><p><br/></p><p>Sebaliknya bukan orang-orang Indonesia yang akan belajar bahasa asing tetapi orang-orang asing yang akan belajar bahasa Indonesia.&nbsp; Dengan menguasai bahasa Indonesia terlebih dahulu akan menjadi cara kita memperkenalkan bahasa kepada dunia. Tanpa adanya bahasa Indonesia, kita akan kesulitan berkomunikasi dengan satu sama lain.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-11-17 11:20:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3220465797</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NADIA NUR KAMILA RAMADHANI </title>
         <author>nadiakamila0505</author>
         <link>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3220544802</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://docs.google.com/document/d/1autSI_J2_YQiEM6aff9KPhTAghq9neBfRTobLckJi_0/edit?usp=drivesdk" />
         <pubDate>2024-11-17 13:29:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/restianadwi99/p2dxgxxfxem7kcls/wish/3220544802</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
