<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Berbagi  Pengalaman by SARIPUDDIN SAPIRI, S.Pd.SD.</title>
      <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman</link>
      <description></description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-08-23 01:04:41 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-08-28 14:56:37 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Berbagi Pengalaman</title>
         <author>saripuddinsapiri91</author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3552093268</link>
         <description><![CDATA[<p>Sebelum memulai materi ini, luangkan waktu sejenak untuk merefleksikan pengalaman mengajar yang biasa kita lakukan.&nbsp;</p><ol><li><p>Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p></li><li><p>Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?&nbsp;&nbsp;</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-23 01:06:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3552093268</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawaban kelompok bhinneka</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3555565499</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama kelompok:</p><ul><li><p>Kasmuddin k</p></li><li><p>wahyu winanci</p></li><li><p>nurdiana</p></li><li><p>handriani</p></li><li><p>ni ketut riantari</p></li><li><p>ernawati M</p><p>   Jawaban</p><ol><li><p>Mengidentifikasi kesiapan murid,Memahami karakteristik materi pelajaran, Menentukan dimensi profil Lulusan kemudian - membuat desain pembelajaran (menentukan tujuan pembelajaran), Menentukan kerangka pembelajaran (praktis pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, pemanfaatan digital)</p></li><li><p>Merancang pembelajaran dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan , </p></li><li><p>Masih sebagian. Banyak guru masih pakai strategi standar—ceramah, hafalan, latihan soal—yang memang efektif buat transfer informasi, tapi tidak cukup untuk melatih murid berpikir kritis, kreatif, apalagi mendalam.</p></li><li><p>Sebagai Subjek Belajar, bukan ObjekMurid diperlakukan sebagai individu yang aktif, bukan sekadar penerima informasi. Guru memberi kesempatan mereka bertanya, mencoba, salah, lalu memperbaiki. Partner, bukan bawahanGuru tetap pemimpin kelas, tapi bukan "bos mutlak". Relasi yang sehat: guru mengarahkan, murid ikut terlibat. Ada ruang dialog, bukan monolog sepihak. Beragam, bukan seragamPosisi murid diakui sesuai keunikannya. Ada yang cepat tangkap, ada yang butuh waktu. Guru tidak menyamaratakan, tapi mengakomodasi gaya belajar berbeda. Sebagai Pemilik Proses BelajarGuru bukan pusat, tapi fasilitator. Murid diberi ruang untuk eksplorasi, proyek, diskusi. Dengan begitu mereka merasa punya kendali terhadap belajarnya. Mitra RefleksiGuru mendorong murid untuk melihat balik prosesnya—apa yang sudah dipahami, apa yang masih bingung, bagaimana bisa berkembang.</p></li><li><p>Tantangannya antara lain:Waktu Terbatas. Jam pelajaran sempit, murid banyak. Aktivitas refleksi atau eksplorasi sering kepotong karena harus “menyelesaikan silabus”.Kebiasaan Lama. Murid dan guru sudah terbiasa dengan model ceramah dan hafalan. Begitu disuruh eksplorasi/berdiskusi, malah bingung atau pasif.Keragaman Murid. Ada yang cepat tangkap, ada yang butuh waktu lebih. Membuat kegiatan bermakna untuk semua level itu tantangan nyata.Mindset Guru &amp; Murid. Kadang guru sendiri masih melihat "belajar = nilai ujian". Murid pun lebih peduli nilai daripada proses. Sulit bikin pembelajaran yang menggembirakan kalau orientasi hanya angka</p></li></ol></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-26 14:22:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3555565499</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurdiana (sukamaju)</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3555613423</link>
         <description><![CDATA[<p>Kelompok Bhinneka</p><p>1. Kasmuddin kasim</p><p>2. Wahyu Winanci</p><p>3. Nurdiana</p><p>4. Handriani</p><p>5. Ni Ketut Riantari</p><p>6. Ernawati Mahyuddin</p><p>IN1.5.2. Kegiatan Pelatihan Luring 1</p><p>1. Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas? </p><p>2. Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p>3. Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir </p><p>kritis, kreatif, dan mendalam? </p><p>4. Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar? </p><p>5. Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang </p><p>berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan? </p><p>JAWABAN</p><p>1. - Mengidentifikasi kesiapan murid,Memahami karakteristik materi pelajaran, </p><p>Menentukan dimensi profil Lulusan kemudian </p><p>- membuat desain pembelajaran (menentukan tujuan pembelajaran), Menentukan </p><p>kerangka pembelajaran (praktis pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan </p><p>pembelajaran, pemanfaatan digital) </p><p>2. Merancang pembelajaran dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan </p><p>menggembirakan , </p><p>3. Masih sebagian. Banyak guru masih pakai strategi standar—ceramah, hafalan, </p><p>latihan soal—yang memang efektif buat transfer informasi, tapi tidak cukup untuk </p><p>melatih murid berpikir kritis, kreatif, apalagi mendalam.</p><p>4.</p><p> -Sebagai Subjek Belajar, bukan Objek</p><p>Murid diperlakukan sebagai individu yang aktif, bukan sekadar penerima informasi. </p><p>-Guru memberi kesempatan mereka bertanya, mencoba, salah, lalu memperbaiki.</p><p> -Partner, bukan bawahan</p><p>Guru tetap pemimpin kelas, tapi bukan "bos mutlak". Relasi yang sehat: guru </p><p>mengarahkan, murid ikut terlibat. Ada ruang dialog, bukan monolog sepihak.</p><p> -Beragam, bukan seragam</p><p>Posisi murid diakui sesuai keunikannya. Ada yang cepat tangkap, ada yang butuh </p><p>waktu. Guru tidak menyamaratakan, tapi mengakomodasi gaya belajar berbeda</p><p> -Sebagai Pemilik Proses Belajar</p><p>Guru bukan pusat, tapi fasilitator. Murid diberi ruang untuk eksplorasi, proyek, diskusi. Dengan begitu mereka merasa punya kendali terhadap belajarnya.</p><p> -Mitra Refleksi</p><p>Guru mendorong murid untuk melihat balik prosesnya—apa yang sudah dipahami, apa yang masih bingung, bagaimana bisa berkembang.</p><p>5. Tantangannya antara lain:</p><ul><li><p>Waktu Terbatas. Jam pelajaran sempit, murid banyak. Aktivitas refleksi atau eksplorasi sering kepotong karena harus “menyelesaikan silabus”.</p></li><li><p>Kebiasaan Lama. Murid dan guru sudah terbiasa dengan model ceramah dan hafalan. Begitu disuruh eksplorasi/berdiskusi, malah bingung atau pasif.</p></li><li><p>Keragaman Murid. Ada yang cepat tangkap, ada yang butuh waktu lebih.membuat kegiatan bermakna untuk semua level itu tantangan nyata.</p></li><li><p>Mindset Guru &amp; Murid. Kadang guru sendiri masih melihat "belajar = nilai ujian". murid pun lebih peduli nilai daripada proses. Sulit bikin pembelajaran yang menggembirakan kalau orientasi hanya angka.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-26 14:59:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3555613423</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>suharni601</author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3555615801</link>
         <description><![CDATA[<p>Jawaban Kelompok Ceria</p><p>Nama Kelompok : Suharni</p><p>                             Hasan,Rustina             Tariq<em>,Norpa,</em></p><p><em>Yohana N.S,Perawati</em></p><p><br/></p><p><strong>. Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</strong></p><p>Biasanya, guru menyusun <strong>perencanaan pembelajaran (RPP/Modul Ajar)</strong> dengan alur:</p><ul><li><p>Menetapkan <strong>tujuan pembelajaran</strong> (berdasarkan capaian kompetensi dan Profil Pelajar Pancasila).</p></li><li><p>Menentukan <strong>materi inti</strong> dan <strong>kegiatan belajar</strong> (pendahuluan, inti, penutup).</p></li><li><p>Merancang <strong>asesmen</strong> (formatif maupun sumatif).</p></li><li><p>Menyiapkan <strong>sumber belajar/media</strong>.</p></li></ul><p>Namun sering kali perencanaan masih fokus pada <strong>penyampaian materi</strong>, bukan pada <strong>proses eksplorasi dan pemaknaan</strong> oleh murid.</p><p><strong>2. Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</strong></p><p>Prinsip yang sebaiknya digunakan:</p><ul><li><p><strong>Berpusat pada murid</strong> → murid bukan objek, tetapi subjek belajar.</p></li><li><p><strong>Kodrat alam &amp; kodrat zaman</strong> (KHD) → pembelajaran sesuai tahap perkembangan murid dan relevan dengan konteks kehidupan mereka.</p></li><li><p><strong>Pembelajaran mendalam (Deep Learning)</strong> → menekankan pemahaman, keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan refleksi.</p></li><li><p><strong>Diferensiasi</strong> → menyesuaikan strategi dengan kebutuhan, minat, dan kesiapan murid.</p></li><li><p><strong>Keseimbangan olah hati, rasa, pikir, raga</strong> → pembelajaran holistik.</p></li><li><p><strong>Menggembirakan &amp; bermakna</strong> → menciptakan suasana positif agar murid belajar dengan intrinsik.</p></li></ul><p><strong>3. Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</strong></p><ul><li><p>Kadang strategi kita masih <strong>teacher-centered</strong>, misalnya ceramah, tanya jawab sederhana, dan latihan soal.</p></li><li><p>Untuk mendorong <strong>pikir kritis &amp; kreatif</strong>, kita perlu strategi seperti:</p><ul><li><p><strong>Problem Based Learning (PBL)</strong> → murid memecahkan masalah nyata.</p></li><li><p><strong>Project Based Learning (PjBL)</strong> → murid membuat produk nyata.</p></li><li><p><strong>Diskusi kolaboratif</strong> → membandingkan pendapat, memberi argumen.</p></li><li><p><strong>Pertanyaan tingkat tinggi (HOTS)</strong> → bukan sekadar “apa,” tapi “mengapa” dan “bagaimana”.</p></li><li><p><strong>Refleksi diri</strong> → memberi ruang murid menilai dan mengembangkan pemahamannya.</p></li></ul></li></ul><p><strong>4. Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</strong></p><ul><li><p><strong>Sebagai subjek aktif</strong>: murid diberi ruang memilih, mencoba, salah, memperbaiki, dan menemukan.</p></li><li><p><strong>Sebagai pemilik proses belajar</strong>: mereka diajak menetapkan tujuan, membuat aturan kelas (keyakinan), dan mengevaluasi capaian.</p></li><li><p><strong>Sebagai pemimpin kecil</strong>: murid diberi peran (misalnya ketua diskusi, penanggung jawab proyek, fasilitator kelompok).</p></li></ul><p><strong>5. Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</strong></p><p>Beberapa tantangan nyata di lapangan:</p><ul><li><p><strong>Waktu terbatas</strong> → sulit memberi ruang eksplorasi dan refleksi.</p></li><li><p><strong>Kurikulum padat</strong> → fokus mengejar materi, bukan mendalami.</p></li><li><p><strong>Kebiasaan lama</strong> → murid terbiasa pasif, menunggu arahan guru.</p></li><li><p><strong>Variasi kebutuhan murid</strong> → perbedaan minat, kesiapan, dan gaya belajar menuntut diferensiasi.</p></li><li><p><strong>Keterbatasan sumber daya/media</strong> → guru harus kreatif mengolah yang ada.</p></li><li><p><strong>Tekanan asesmen</strong> → guru lebih mengejar nilai ujian daripada proses belajar.</p></li></ul><p>👉 Dari refleksi ini, kita bisa mulai bergeser ke <strong>pembelajaran yang memerdekakan murid</strong>: merancang dengan kesadaran (intentional), memberi makna (relevan dengan hidup murid), dan menggembirakan (suasana positif).</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-26 15:01:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3555615801</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kelompok FreshCare</title>
         <author>intanmayasari82</author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556119995</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Kardin, S.Pd.</p></li><li><p>Intan Febri Mayasari, S.Pd.</p></li><li><p>Asriani, S.Pd.</p></li><li><p>Jayanti, S.Pd.</p></li><li><p>Ramlayani, S.Pd.</p></li><li><p>Lisna, S.Pd.I.</p></li></ol><p><strong>1.&nbsp;&nbsp; Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</strong></p><p>Kita mulai dari tujuan pembelajaran sesuai kurikulum (CP/TP), lalu turunkan ke indikator dan aktivitas belajar. Biasanya kita siapkan RPP/Modul Ajar: sintaks kegiatan (pembukaan, inti, penutup), media yang mendukung, asesmen, serta alokasi waktu. Perencanaan juga mempertimbangkan karakteristik murid—latar belakang, minat, dan kemampuan.</p><p><br/></p><p><strong>2.&nbsp;&nbsp; &nbsp;Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</strong></p><p>1)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berpusat pada murid (student-centered).</p><p>2)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Diferensiasi: memperhatikan kebutuhan belajar yang beragam.</p><p>3)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kontekstual: materi dikaitkan dengan kehidupan nyata.</p><p>4)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kolaboratif dan partisipatif.</p><p>5)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berkesinambungan dan berorientasi pada kompetensi, bukan sekadar penyampaian materi.</p><p>6)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengedepankan Profil Pelajar Pancasila (beriman, berkebinekaan, gotong royong, mandiri, kritis, kreatif).</p><p><br/></p><p><strong>3.&nbsp;&nbsp; Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</strong></p><p><br>Sebagian sudah, misalnya lewat metode diskusi, eksperimen, atau problem based learning. Namun sering kali masih ada hambatan: kegiatan lebih menekankan hafalan daripada analisis, atau fokus ke produk akhir tanpa cukup memberi ruang eksplorasi proses berpikir murid. Jadi, strategi yang kita gunakan perlu terus dievaluasi agar tidak hanya menekankan jawaban benar, tapi juga proses bernalar.</p><p><br/></p><p><strong>4.&nbsp;&nbsp; Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</strong><br>Murid bukan “penerima” pasif, melainkan aktor utama. Guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan pemberi stimulasi. Murid diberi ruang untuk bertanya, mencoba, salah, lalu memperbaiki. Dengan begitu mereka merasa memiliki pengalaman belajarnya sendiri, bukan sekadar mengikuti instruksi.</p><p><br/></p><p><strong>5.&nbsp;&nbsp; Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</strong></p><p>1)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keterbatasan waktu (target kurikulum kadang membatasi ruang eksplorasi).</p><p>2)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Variasi kemampuan murid yang lebar (butuh strategi diferensiasi yang tidak sederhana).</p><p>3)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sarana/prasarana terbatas (media, teknologi, ruang belajar).</p><p>4)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kebiasaan belajar murid yang sudah terbentuk pasif.</p><p>5)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Guru sendiri kadang masih terbiasa dengan pola “transfer materi” daripada fasilitasi proses.</p><p>6)&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tekanan administratif (banyak laporan, dokumen) sehingga fokus ke “kertas” lebih besar daripada ke pengalaman nyata murid.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 00:19:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556119995</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>handriani20</author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556127234</link>
         <description><![CDATA[<p>Kelompok Bhinneka</p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kasmuddin kasim</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Wahyu Winanci</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Nurdiana</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Handriani</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ni Ketut Riantari</p><p>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ernawati Mahyuddin</p><p>&nbsp;</p><p>IN1.5.2. Kegiatan Pelatihan Luring 1</p><p><strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</strong></p><p><strong>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</strong></p><p><strong>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</strong></p><p><strong>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</strong></p><p><strong>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</strong></p><p><br/></p><p><strong>JAWABAN</strong></p><p><br/></p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; - Mengidentifikasi kesiapan murid,Memahami karakteristik materi pelajaran, Menentukan&nbsp; dimensi profil Lulusan kemudian</p><p>- membuat desain pembelajaran (menentukan tujuan pembelajaran), Menentukan kerangka pembelajaran (praktis pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, pemanfaatan digital)</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Merancang pembelajaran dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan ,</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Masih sebagian. Banyak guru masih pakai strategi standar—ceramah, hafalan, latihan soal—yang memang efektif buat <em>transfer informasi</em>, tapi tidak cukup untuk melatih murid berpikir kritis, kreatif, apalagi mendalam.</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebagai Subjek Belajar, bukan Objek</p><p>Murid diperlakukan sebagai individu yang aktif, bukan sekadar penerima informasi. Guru memberi kesempatan mereka bertanya, mencoba, salah, lalu memperbaiki.</p><p>Partner, bukan bawahan</p><p>Guru tetap pemimpin kelas, tapi bukan "bos mutlak". Relasi yang sehat: guru mengarahkan, murid ikut terlibat. Ada ruang dialog, bukan monolog sepihak.</p><p>Beragam, bukan seragam</p><p>Posisi murid diakui sesuai keunikannya. Ada yang cepat tangkap, ada yang butuh waktu. Guru tidak menyamaratakan, tapi mengakomodasi gaya belajar berbeda.</p><p><br></p><p>Sebagai Pemilik Proses Belajar</p><p>Guru bukan pusat, tapi fasilitator. Murid diberi ruang untuk eksplorasi, proyek, diskusi. Dengan begitu mereka merasa punya kendali terhadap belajarnya.</p><p>Mitra Refleksi</p><p>Guru mendorong murid untuk melihat balik prosesnya—apa yang sudah dipahami, apa yang masih bingung, bagaimana bisa berkembang.</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangannya antara lain:</p><p><br/></p><p><strong>Waktu Terbatas</strong>. Jam pelajaran sempit, murid banyak. Aktivitas refleksi atau eksplorasi sering kepotong karena harus “menyelesaikan silabus”.</p><p><strong>Kebiasaan Lama</strong>. Murid dan guru sudah terbiasa dengan model ceramah dan hafalan. Begitu disuruh eksplorasi/berdiskusi, malah bingung atau pasif.</p><p><strong>Keragaman Murid</strong>. Ada yang cepat tangkap, ada yang butuh waktu lebih. Membuat kegiatan bermakna untuk semua level itu tantangan nyata.</p><p><strong>Mindset Guru &amp; Murid</strong>. Kadang guru sendiri masih melihat "belajar = nilai ujian". Murid pun lebih peduli nilai daripada proses. Sulit bikin pembelajaran yang menggembirakan kalau orientasi hanya angka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 00:24:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556127234</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>niriantari991</author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556129137</link>
         <description><![CDATA[<p>Kelompok Bhinneka</p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kasmuddin kasim</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Wahyu Winanci</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Nurdiana</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Handriani</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ni Ketut Riantari</p><p>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ernawati Mahyuddin</p><p>&nbsp;</p><p>IN1.5.2. Kegiatan Pelatihan Luring 1</p><p><strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</strong></p><p><strong>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</strong></p><p><strong>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</strong></p><p><strong>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</strong></p><p><strong>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</strong></p><p><br/></p><p><strong>JAWABAN</strong></p><p><br/></p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; - Mengidentifikasi kesiapan murid,Memahami karakteristik materi pelajaran, Menentukan&nbsp; dimensi profil Lulusan kemudian</p><p>- membuat desain pembelajaran (menentukan tujuan pembelajaran), Menentukan kerangka pembelajaran (praktis pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, pemanfaatan digital)</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Merancang pembelajaran dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan ,</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Masih sebagian. Banyak guru masih pakai strategi standar—ceramah, hafalan, latihan soal—yang memang efektif buat <em>transfer informasi</em>, tapi tidak cukup untuk melatih murid berpikir kritis, kreatif, apalagi mendalam.</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebagai Subjek Belajar, bukan Objek</p><p>Murid diperlakukan sebagai individu yang aktif, bukan sekadar penerima informasi. Guru memberi kesempatan mereka bertanya, mencoba, salah, lalu memperbaiki.</p><p>Partner, bukan bawahan</p><p>Guru tetap pemimpin kelas, tapi bukan "bos mutlak". Relasi yang sehat: guru mengarahkan, murid ikut terlibat. Ada ruang dialog, bukan monolog sepihak.</p><p>Beragam, bukan seragam</p><p>Posisi murid diakui sesuai keunikannya. Ada yang cepat tangkap, ada yang butuh waktu. Guru tidak menyamaratakan, tapi mengakomodasi gaya belajar berbeda.</p><p><br></p><p>Sebagai Pemilik Proses Belajar</p><p>Guru bukan pusat, tapi fasilitator. Murid diberi ruang untuk eksplorasi, proyek, diskusi. Dengan begitu mereka merasa punya kendali terhadap belajarnya.</p><p>Mitra Refleksi</p><p>Guru mendorong murid untuk melihat balik prosesnya—apa yang sudah dipahami, apa yang masih bingung, bagaimana bisa berkembang.</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangannya antara lain:</p><p><br/></p><p><strong>Waktu Terbatas</strong>. Jam pelajaran sempit, murid banyak. Aktivitas refleksi atau eksplorasi sering kepotong karena harus “menyelesaikan silabus”.</p><p><strong>Kebiasaan Lama</strong>. Murid dan guru sudah terbiasa dengan model ceramah dan hafalan. Begitu disuruh eksplorasi/berdiskusi, malah bingung atau pasif.</p><p><strong>Keragaman Murid</strong>. Ada yang cepat tangkap, ada yang butuh waktu lebih. Membuat kegiatan bermakna untuk semua level itu tantangan nyata.</p><p><strong>Mindset Guru &amp; Murid</strong>. Kadang guru sendiri masih melihat "belajar = nilai ujian". Murid pun lebih peduli nilai daripada proses. Sulit bikin pembelajaran yang menggembirakan kalau orientasi hanya angka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 00:25:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556129137</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawaban kelompok Ceria</title>
         <author>norpa72</author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556188703</link>
         <description><![CDATA[<p>Lk.5.1.KELOMPOK CERIA:HASAN,ROSTINA TARIQ,NORPA,YOHANA,SUHARNI,PERA</p><p>WATI</p><p>.1. Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</p><p>Biasanya, guru menyusun perencanaan pembelajaran (RPP/Modul Ajar) dengan alur:</p><p>• Menetapkan tujuan pembelajaran (berdasarkan capaian kompetensi dan Profil</p><p>Pelajar Pancasila).</p><p>• Menentukan materi inti dan kegiatan belajar (pendahuluan, inti, penutup).</p><p>• Merancang asesmen (formatif maupun sumatif).</p><p>• Menyiapkan sumber belajar/media.</p><p>Namun sering kali perencanaan masih fokus pada penyampaian materi, bukan pada</p><p>proses eksplorasi dan pemaknaan oleh murid.</p><p>2. Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p>Prinsip yang sebaiknya digunakan:</p><p>• Berpusat pada murid →( mengembirakan) murid bukan objek, tetapi subjek belajar.</p><p>• Kodrat alam &amp; kodrat zaman (KHD) → ( Bermakna,</p><p>mengembirakan,)pembelajaran sesuai tahap perkembangan murid dan relevan</p><p>dengan konteks kehidupan mereka.</p><p>• Pembelajaran mendalam (Deep Learning) →( Berkesadaran Dan bermakna</p><p>)menekankan pemahaman, keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan refleksi.</p><p>• Diferensiasi → ( mengembirakan )menyesuaikan strategi dengan kebutuhan, minat,</p><p>dan kesiapan murid.</p><p>• Keseimbangan olah hati, rasa, pikir, raga → ( Berkesadaran )pembelajaran</p><p>holistik.</p><p>3. Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid berpikir kritis, kreatif,</p><p>dan mendalam?</p><p>• Kadang strategi kita masih teacher-centered, misalnya ceramah, tanya jawab</p><p>sederhana, dan latihan soal.</p><p>• Untuk mendorong pikir kritis &amp; kreatif, kita perlu strategi seperti:</p><p>o Problem Based Learning (PBL) → murid memecahkan masalah nyata.</p><p>o Project Based Learning (PjBL) → murid membuat produk nyata.</p><p>o Diskusi kolaboratif → membandingkan pendapat, memberi argumen.</p><p>o Pertanyaan tingkat tinggi (HOTS) → bukan sekadar “apa,” tapi “mengapa”</p><p>dan “bagaimana”.</p><p>o Refleksi diri → memberi ruang murid menilai dan mengembangkan</p><p>pemahamannya.</p><p>4. Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</p><p>• Sebagai subjek aktif: murid diberi ruang memilih, mencoba, salah, memperbaiki,</p><p>dan menemukan.</p><p>• Sebagai pemilik proses belajar: mereka diajak menetapkan tujuan, membuat</p><p>aturan kelas (keyakinan), dan mengevaluasi capaian.</p><p>• Sebagai pemimpin kecil: murid diberi peran (misalnya ketua diskusi, penanggung</p><p>jawab proyek, fasilitator kelompok).</p><p>5. Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang</p><p>berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</p><p>Beberapa tantangan nyata di lapangan:</p><p>• Waktu terbatas → sulit memberi ruang eksplorasi dan refleksi.</p><p>• Kurikulum padat → fokus mengejar materi, bukan mendalami.</p><p>• Kebiasaan lama → murid terbiasa pasif, menunggu arahan guru.</p><p>• Variasi kebutuhan murid → perbedaan minat, kesiapan, dan gaya belajar menuntut</p><p>diferensiasi.</p><p>• Keterbatasan sumber daya/media → guru harus kreatif mengolah yang ada.</p><p>• Tekanan asesmen → guru lebih mengejar nilai ujian daripada proses belaj</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 01:02:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556188703</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jawaban kelompok Happy</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556196649</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama kelompok</p><p>*Asnawar</p><p>*Ismawati</p><p>*Nurmi Darmawanti</p><p>*Udamsia</p><p>*Yusrawati</p><p>St.Mardiah</p><p><br/></p><p>Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</p><p><br/></p><p>Jawaban</p><p><br/></p><p>1.Kebiasaan merencanakan pembelajaran di kelas adalah merencanakan pembelajaran dengan membuat tujuan,menyiapkan materi,metode,dan evaluasi,sesuai kebutuhan murid</p><p><br/></p><p>Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p><br/></p><p>Jawaban</p><p><br/></p><p>2.prinsip yang digunakan adalah pembelajaran berpusat pada murid yaitu pembelajaran bermakna,berkesadaran,mengembirakan dan memberikan ruang pada kolaboratif serta refleksi.</p><p><br/></p><p>Apakah strategi yang kita gunakan mendorong murid untuk berpikir kritis,kreatif,dan mendalam</p><p><br/></p><p>Jawaban</p><p><br/></p><p>3.Strategi yang digunakan sudah mengarah pada diskusi ,tanya jawab,dan kerja kelompok namun masih perlu ditingkatkan agar murid lebih aktif berpikir kritis dan kreatif.</p><p><br/></p><p>Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar</p><p><br/></p><p>Jawaban</p><p><br/></p><p>4.Memposisikan murid dalam proses belajar adalah murid sebagai sumber belajar memberi mereka ruang aktif,berpendapat dan berkolaborasi</p><p><br/></p><p>Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran,bermakna,dan menggembirakan</p><p><br/></p><p>Jawaban</p><p><br/></p><p>5.Tantangan yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran,bermakna,dan menggembirakan adalah perbedaan pendapat kemampuan murid,keterbatasan waktu serta kesulitan membuat pembelajaran tetap menyenangkan bagi semua.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 01:08:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556196649</guid>
      </item>
      <item>
         <title>jawaban kelompok Ceria</title>
         <author>norpa72</author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556196938</link>
         <description><![CDATA[<p>Lk.5.1.KELOMPOK CERIA:HASAN,ROSTINA TARIQ,NORPA,YOHANA,SUHARNI,PERA</p><p>WATI</p><p>.1. Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</p><p>Biasanya, guru menyusun perencanaan pembelajaran (RPP/Modul Ajar) dengan alur:</p><p>• Menetapkan tujuan pembelajaran (berdasarkan capaian kompetensi dan Profil</p><p>Pelajar Pancasila).</p><p>• Menentukan materi inti dan kegiatan belajar (pendahuluan, inti, penutup).</p><p>• Merancang asesmen (formatif maupun sumatif).</p><p>• Menyiapkan sumber belajar/media.</p><p>Namun sering kali perencanaan masih fokus pada penyampaian materi, bukan pada</p><p>proses eksplorasi dan pemaknaan oleh murid.</p><p>2. Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p>Prinsip yang sebaiknya digunakan:</p><p>• Berpusat pada murid →( mengembirakan) murid bukan objek, tetapi subjek belajar.</p><p>• Kodrat alam &amp; kodrat zaman (KHD) → ( Bermakna,</p><p>mengembirakan,)pembelajaran sesuai tahap perkembangan murid dan relevan</p><p>dengan konteks kehidupan mereka.</p><p>• Pembelajaran mendalam (Deep Learning) →( Berkesadaran Dan bermakna</p><p>)menekankan pemahaman, keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan refleksi.</p><p>• Diferensiasi → ( mengembirakan )menyesuaikan strategi dengan kebutuhan, minat,</p><p>dan kesiapan murid.</p><p>• Keseimbangan olah hati, rasa, pikir, raga → ( Berkesadaran )pembelajaran</p><p>holistik.</p><p>3. Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid berpikir kritis, kreatif,</p><p>dan mendalam?</p><p>• Kadang strategi kita masih teacher-centered, misalnya ceramah, tanya jawab</p><p>sederhana, dan latihan soal.</p><p>• Untuk mendorong pikir kritis &amp; kreatif, kita perlu strategi seperti:</p><p>o Problem Based Learning (PBL) → murid memecahkan masalah nyata.</p><p>o Project Based Learning (PjBL) → murid membuat produk nyata.</p><p>o Diskusi kolaboratif → membandingkan pendapat, memberi argumen.</p><p>o Pertanyaan tingkat tinggi (HOTS) → bukan sekadar “apa,” tapi “mengapa”</p><p>dan “bagaimana”.</p><p>o Refleksi diri → memberi ruang murid menilai dan mengembangkan</p><p>pemahamannya.</p><p>4. Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</p><p>• Sebagai subjek aktif: murid diberi ruang memilih, mencoba, salah, memperbaiki,</p><p>dan menemukan.</p><p>• Sebagai pemilik proses belajar: mereka diajak menetapkan tujuan, membuat</p><p>aturan kelas (keyakinan), dan mengevaluasi capaian.</p><p>• Sebagai pemimpin kecil: murid diberi peran (misalnya ketua diskusi, penanggung</p><p>jawab proyek, fasilitator kelompok).</p><p>5. Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang</p><p>berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</p><p>Beberapa tantangan nyata di lapangan:</p><p>• Waktu terbatas → sulit memberi ruang eksplorasi dan refleksi.</p><p>• Kurikulum padat → fokus mengejar materi, bukan mendalami.</p><p>• Kebiasaan lama → murid terbiasa pasif, menunggu arahan guru.</p><p>• Variasi kebutuhan murid → perbedaan minat, kesiapan, dan gaya belajar menuntut</p><p>diferensiasi.</p><p>• Keterbatasan sumber daya/media → guru harus kreatif mengolah yang ada.</p><p>• Tekanan asesmen → guru lebih mengejar nilai ujian daripada proses belaj</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 01:08:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556196938</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tugas Lk.5.1 Ceria</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556217188</link>
         <description><![CDATA[<p>Lk.5.1.KELOMPOK CERIA:HASAN,ROSTINA TARIQ,NORPA,YOHANA,SUHARNI,PERA</p><p>WATI</p><p>.1. Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</p><p>Biasanya, guru menyusun perencanaan pembelajaran (RPP/Modul Ajar) dengan alur:</p><p>• Menetapkan tujuan pembelajaran (berdasarkan capaian kompetensi dan Profil</p><p>Pelajar Pancasila).</p><p>• Menentukan materi inti dan kegiatan belajar (pendahuluan, inti, penutup).</p><p>• Merancang asesmen (formatif maupun sumatif).</p><p>• Menyiapkan sumber belajar/media.</p><p>Namun sering kali perencanaan masih fokus pada penyampaian materi, bukan pada</p><p>proses eksplorasi dan pemaknaan oleh murid.</p><p>2. Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p>Prinsip yang sebaiknya digunakan:</p><p>• Berpusat pada murid →( mengembirakan) murid bukan objek, tetapi subjek belajar.</p><p>• Kodrat alam &amp; kodrat zaman (KHD) → ( Bermakna,</p><p>mengembirakan,)pembelajaran sesuai tahap perkembangan murid dan relevan</p><p>dengan konteks kehidupan mereka.</p><p>• Pembelajaran mendalam (Deep Learning) →( Berkesadaran Dan bermakna</p><p>)menekankan pemahaman, keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan refleksi.</p><p>• Diferensiasi → ( mengembirakan )menyesuaikan strategi dengan kebutuhan, minat,</p><p>dan kesiapan murid.</p><p>• Keseimbangan olah hati, rasa, pikir, raga → ( Berkesadaran )pembelajaran</p><p>holistik.</p><p>3. Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid berpikir kritis, kreatif,</p><p>dan mendalam?</p><p>• Kadang strategi kita masih teacher-centered, misalnya ceramah, tanya jawab</p><p>sederhana, dan latihan soal.</p><p>• Untuk mendorong pikir kritis &amp; kreatif, kita perlu strategi seperti:</p><p>o Problem Based Learning (PBL) → murid memecahkan masalah nyata.</p><p>o Project Based Learning (PjBL) → murid membuat produk nyata.</p><p>o Diskusi kolaboratif → membandingkan pendapat, memberi argumen.</p><p>o Pertanyaan tingkat tinggi (HOTS) → bukan sekadar “apa,” tapi “mengapa”</p><p>dan “bagaimana”.</p><p>o Refleksi diri → memberi ruang murid menilai dan mengembangkan</p><p>pemahamannya.</p><p>4. Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</p><p>• Sebagai subjek aktif: murid diberi ruang memilih, mencoba, salah, memperbaiki,</p><p>dan menemukan.</p><p>• Sebagai pemilik proses belajar: mereka diajak menetapkan tujuan, membuat</p><p>aturan kelas (keyakinan), dan mengevaluasi capaian.</p><p>• Sebagai pemimpin kecil: murid diberi peran (misalnya ketua diskusi, penanggung</p><p>jawab proyek, fasilitator kelompok).</p><p>5. Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang</p><p>berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</p><p>Beberapa tantangan nyata di lapangan:</p><p>• Waktu terbatas → sulit memberi ruang eksplorasi dan refleksi.</p><p>• Kurikulum padat → fokus mengejar materi, bukan mendalami.</p><p>• Kebiasaan lama → murid terbiasa pasif, menunggu arahan guru.</p><p>• Variasi kebutuhan murid → perbedaan minat, kesiapan, dan gaya belajar menuntut</p><p>diferensiasi.</p><p>• Keterbatasan sumber daya/media → guru harus kreatif mengolah yang ada.</p><p>• Tekanan asesmen → guru lebih mengejar nilai ujian daripada proses belaj</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 01:19:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556217188</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ramlayani</title>
         <author>ramlayani212</author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556323072</link>
         <description><![CDATA[<p>IN1.5.2. Kegiatan Pelatihan Luring 1</p><p><br></p><p>Pengantar Perencanaan Pembelajaran</p><p>Kelompok : FreshCare</p><p>Anggota :</p><p>Kardin, S.Pd.</p><p>Lisna, S.Pd.I.</p><p>Intan Febri Mayasari, S.Pd.</p><p>Asriani, S.Pd.</p><p>Jayanti, S.Pd.</p><p>Ramlahyani, S.Pd.</p><p><br></p><p>Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</p><p>Kita mulai dari tujuan pembelajaran sesuai kurikulum (CP/TP), lalu turunkan ke indikator dan aktivitas belajar. Biasanya kita siapkan RPP/Modul Ajar: sintaks kegiatan (pembukaan, inti, penutup), media yang mendukung, asesmen, serta alokasi waktu. Perencanaan juga mempertimbangkan karakteristik murid—latar belakang, minat, dan kemampuan.</p><p>Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p>Berpusat pada murid (student-centered).</p><p>Diferensiasi: memperhatikan kebutuhan belajar yang beragam.</p><p>Kontekstual: materi dikaitkan dengan kehidupan nyata.</p><p>Kolaboratif dan partisipatif.</p><p>Berkesinambungan dan berorientasi pada kompetensi, bukan sekadar penyampaian materi.</p><p>Mengedepankan Profil Pelajar Pancasila (beriman, berkebinekaan, gotong royong, mandiri, kritis, kreatif).</p><p>Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</p><p><strong><br></strong></p><p>Sebagian sudah, misalnya lewat metode diskusi, eksperimen, atau problem based learning. Namun sering kali masih ada hambatan: kegiatan lebih menekankan hafalan daripada analisis, atau fokus ke produk akhir tanpa cukup memberi ruang eksplorasi proses berpikir murid. Jadi, strategi yang kita gunakan perlu terus dievaluasi agar tidak hanya menekankan jawaban benar, tapi juga proses bernalar.</p><p><br></p><p>Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</p><p><strong><br></strong></p><p>Murid bukan “penerima” pasif, melainkan aktor utama. Guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan pemberi stimulasi. Murid diberi ruang untuk bertanya, mencoba, salah, lalu memperbaiki. Dengan begitu mereka merasa memiliki pengalaman belajarnya sendiri, bukan sekadar mengikuti instruksi.</p><p>Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</p><p>Keterbatasan waktu (target kurikulum kadang membatasi ruang eksplorasi).</p><p>Variasi kemampuan murid yang lebar (butuh strategi diferensiasi yang tidak sederhana).</p><p>Sarana/prasarana terbatas (media, teknologi, ruang belajar).</p><p>Kebiasaan belajar murid yang sudah terbentuk pasif.</p><p>Guru sendiri kadang masih terbiasa dengan pola “transfer materi” daripada fasilitasi proses.</p><p>Tekanan administratif (banyak laporan, dokumen) sehingga fokus ke “kertas” lebih besar daripada ke pengalaman nyata murid.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 02:18:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556323072</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jayanti,S.Pd</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556361183</link>
         <description><![CDATA[<p>IN1.5.2. Kegiatan Pelatihan Luring 1</p><p><br></p><p>Pengantar Perencanaan Pembelajaran</p><p>Kelompok : FreshCare</p><p>Anggota :</p><p>Kardin, S.Pd.</p><p>Lisna, S.Pd.I.</p><p>Intan Febri Mayasari, S.Pd.</p><p>Asriani, S.Pd.</p><p>Jayanti, S.Pd.</p><p>Ramlahyani, S.Pd.</p><p><br></p><p>Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</p><p>Kita mulai dari tujuan pembelajaran sesuai kurikulum (CP/TP), lalu turunkan ke indikator dan aktivitas belajar. Biasanya kita siapkan RPP/Modul Ajar: sintaks kegiatan (pembukaan, inti, penutup), media yang mendukung, asesmen, serta alokasi waktu. Perencanaan juga mempertimbangkan karakteristik murid—latar belakang, minat, dan kemampuan.</p><p>Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p>Berpusat pada murid (student-centered).</p><p>Diferensiasi: memperhatikan kebutuhan belajar yang beragam.</p><p>Kontekstual: materi dikaitkan dengan kehidupan nyata.</p><p>Kolaboratif dan partisipatif.</p><p>Berkesinambungan dan berorientasi pada kompetensi, bukan sekadar penyampaian materi.</p><p>Mengedepankan Profil Pelajar Pancasila (beriman, berkebinekaan, gotong royong, mandiri, kritis, kreatif).</p><p>Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</p><p><strong><br></strong></p><p>Sebagian sudah, misalnya lewat metode diskusi, eksperimen, atau problem based learning. Namun sering kali masih ada hambatan: kegiatan lebih menekankan hafalan daripada analisis, atau fokus ke produk akhir tanpa cukup memberi ruang eksplorasi proses berpikir murid. Jadi, strategi yang kita gunakan perlu terus dievaluasi agar tidak hanya menekankan jawaban benar, tapi juga proses bernalar.</p><p><br></p><p>Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</p><p><strong><br></strong></p><p>Murid bukan “penerima” pasif, melainkan aktor utama. Guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan pemberi stimulasi. Murid diberi ruang untuk bertanya, mencoba, salah, lalu memperbaiki. Dengan begitu mereka merasa memiliki pengalaman belajarnya sendiri, bukan sekadar mengikuti instruksi.</p><p>Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</p><p>Keterbatasan waktu (target kurikulum kadang membatasi ruang eksplorasi).</p><p>Variasi kemampuan murid yang lebar (butuh strategi diferensiasi yang tidak sederhana).</p><p>Sarana/prasarana terbatas (media, teknologi, ruang belajar).</p><p>Kebiasaan belajar murid yang sudah terbentuk pasif.</p><p>Guru sendiri kadang masih terbiasa dengan pola “transfer materi” daripada fasilitasi proses.</p><p>Tekanan administratif (banyak laporan, dokumen) sehingga fokus ke “kertas” lebih besar daripada ke pengalaman nyata murid.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 02:38:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556361183</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ERNAWATI MAHJUDDIN_Kelompok Bhinneka</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556467978</link>
         <description><![CDATA[<p>1.	Kasmuddin kasim</p><p>2.	Wahyu Winanci</p><p>3.	Nurdiana</p><p>4.	Handriani</p><p>5.	Ni Ketut Riantari</p><p>6.	Ernawati Mahjuddin</p><p><br/></p><p>IN1.5.2. Kegiatan Pelatihan Luring 1</p><p>1.	Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</p><p>2.	Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p>3.	Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</p><p>4.	Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</p><p>5.	Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</p><p><br/></p><p>JAWABAN</p><p><br/></p><p>1.	- Mengidentifikasi kesiapan murid,Memahami karakteristik materi pelajaran, Menentukan  dimensi profil Lulusan kemudian</p><p>- membuat desain pembelajaran (menentukan tujuan pembelajaran), Menentukan kerangka pembelajaran (praktis pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, pemanfaatan digital)</p><p>2.	Merancang pembelajaran dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan ,</p><p>3.	Masih sebagian. Banyak guru masih pakai strategi standar—ceramah, hafalan, latihan soal—yang memang efektif buat transfer informasi, tapi tidak cukup untuk melatih murid berpikir kritis, kreatif, apalagi mendalam.</p><p>4.	Sebagai Subjek Belajar, bukan Objek</p><p>Murid diperlakukan sebagai individu yang aktif, bukan sekadar penerima informasi. Guru memberi kesempatan mereka bertanya, mencoba, salah, lalu memperbaiki.</p><p>Partner, bukan bawahan</p><p>Guru tetap pemimpin kelas, tapi bukan "bos mutlak". Relasi yang sehat: guru mengarahkan, murid ikut terlibat. Ada ruang dialog, bukan monolog sepihak.</p><p>Beragam, bukan seragam</p><p>Posisi murid diakui sesuai keunikannya. Ada yang cepat tangkap, ada yang butuh waktu. Guru tidak menyamaratakan, tapi mengakomodasi gaya belajar berbeda.</p><p> </p><p>Sebagai Pemilik Proses Belajar</p><p>Guru bukan pusat, tapi fasilitator. Murid diberi ruang untuk eksplorasi, proyek, diskusi. Dengan begitu mereka merasa punya kendali terhadap belajarnya.</p><p>Mitra Refleksi</p><p>Guru mendorong murid untuk melihat balik prosesnya—apa yang sudah dipahami, apa yang masih bingung, bagaimana bisa berkembang.</p><p>5.	Tantangannya antara lain:</p><p><br/></p><p>Waktu Terbatas. Jam pelajaran sempit, murid banyak. Aktivitas refleksi atau eksplorasi sering kepotong karena harus “menyelesaikan silabus”.</p><p>Kebiasaan Lama. Murid dan guru sudah terbiasa dengan model ceramah dan hafalan. Begitu disuruh eksplorasi/berdiskusi, malah bingung atau pasif.</p><p>Keragaman Murid. Ada yang cepat tangkap, ada yang butuh waktu lebih. Membuat kegiatan bermakna untuk semua level itu tantangan nyata.</p><p>Mindset Guru &amp; Murid. Kadang guru sendiri masih melihat "belajar = nilai ujian". Murid pun lebih peduli nilai daripada proses. Sulit bikin pembelajaran yang menggembirakan kalau orientasi hanya angka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 03:44:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556467978</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KELOMPOK : SEMANGAT</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556637794</link>
         <description><![CDATA[<p>NAMA KELOMPOK :</p><p>1. Muhammad Kalilwara</p><p>2. Anna Rahayu</p><p>3. Dian Angraeni</p><p>4. Vira Yuniar</p><p>5. Nining Lestari</p><p>6. Nurdiana</p><p>IN1.5.2. Kegiatan Pelatihan Luring 1 (Refleksi Awal)</p><p>Sebelum memulai materi ini, luangkan waktu sejenak untuk merefleksikan </p><p>pengalaman mengajar yang biasa kita lakukan.</p><p>1. Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas? </p><p>2. Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p>3. Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir </p><p>kritis, kreatif, dan mendalam? </p><p>4. Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar? </p><p>5. Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang </p><p>berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</p><p>Berbagilah dalam diskusi kelas agar dapat memastikan bahwa kita menyadari </p><p>pentingnya perencanaan yang matang dalam menciptakan pembelajaran yang </p><p>lebih mendalam dan bermakna bagi peserta didik! Mari kita gunakan refleksi ini </p><p>sebagai dasar untuk menghubungkan pengalaman kita dengan materi yang </p><p>akan dipelajari dalam pelatihan ini!</p><p>JAWABAN :</p><p>Refleksi Awal Pengalaman Mengajar</p><p>1. Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</p><p>Biasanya, perencanaan pembelajaran saya awali dengan menyusun modul ajar </p><p>untuk menentukan tujuan akhir pembelajaran. Menanyakan kabar dan perasaan </p><p>murid sebelum belajar. Fokus utama masih pada pemenuhan target materi dan </p><p>pencapaian kompetensi dasar yang bermakna dan menggembirakan.</p><p>2. Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p>Prinsip yang digunakan adalah efisien dan sesuai capaian pembelajaran. Mencoba </p><p>menyederhanakan materi agar bisa ditangkap dengan cepat dan dapat dicapai oleh </p><p>murid. Memberikan umpan balik sesuai kebutuhan belajar murid atau pendekatan </p><p>yang mendorong partisipasi aktif.</p><p>3. Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir </p><p>kritis, kreatif, dan mendalam?</p><p>Belum sepenuhnya. Kadang saya menggunakan metode diskusi atau tanya jawab, </p><p>tapi belum secara konsisten dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis </p><p>atau kreatif murid. Pembelajaran masih sering bersifat teacher-centered, dengan </p><p>penekanan pada hafalan atau pemahaman</p><p>4. Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</p><p>Murid dapat diposisikan sebagai teman dalam proses belajar mengajar. Dapat </p><p>bertukar informasi, dan ruang untuk eksplorasi dan pertanyaan terbuka. Murid juga </p><p>diposisikan sebagai pelaku utama dalam proses belajar, bukan hanya penerima </p><p>pasif. Sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan murid dalam pembelajaran.</p><p>5. Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang </p><p>berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</p><p>Beberapa tantangan yang sering saya hadapi antara lain:</p><p>• Terbatasnya waktu untuk merancang pembelajaran yang mendalam.</p><p>• Keterbatasan sumber daya atau media yang sesuai.</p><p>• Variasi kemampuan dan karakter murid yang membutuhkan pendekatan </p><p>berbeda-beda.</p><p>• Tekanan untuk menuntaskan materi dalam waktu tertentu.</p><p>Namun tantangan terbesar sebenarnya adalah mengubah pola pikir saya </p><p>sendiri sebagai guru untuk lebih berani bereksperimen dan fokus pada </p><p>proses, bukan hanya hasil akhir.</p><p>Penutup </p><p>Refleksi:</p><p>Melalui refleksi ini menyadari bahwa perencanaan pembelajaran yang matang dan </p><p>sadar tujuan sangat penting untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna dan </p><p>menyenangkan. Berharap pelatihan ini dapat menjadi titik tolak perubahan cara </p><p>berpikir dan cara saya merancang proses belajar agar lebih mendalam, berpusat pada </p><p>murid, dan relevan dengan kehidupan mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 06:00:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556637794</guid>
      </item>
      <item>
         <title>VIRA YUNIAR</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556956218</link>
         <description><![CDATA[<p>KELOMPOK SEMANGAT</p><ol><li><p>Muhammad Kalilwara</p></li><li><p>Anna Rahayu</p></li><li><p>Dian Angraeni Nawawi</p></li><li><p>Vira Yuniar</p></li><li><p>Nining Lestari</p></li><li><p>Nurdiana</p></li></ol><p><strong>1. Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</strong></p><p>Biasanya, perencanaan pembelajaran saya awali dengan menyusun modul ajar untuk menentukan tujuan akhir pembelajaran. Menanyakan kabar dan perasaan murid sebelum belajar. Fokus utama masih pada pemenuhan target materi dan pencapaian kompetensi dasar yang bermakna dan menggembirakan.</p><p><strong>2. Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</strong></p><p>Prinsip yang digunakan adalah <em>efisien dan sesuai capaian pembelajaran</em>. Mencoba menyederhanakan materi agar bisa ditangkap dengan cepat dan dapat dicapai oleh murid. Memberikan umpan balik sesuai kebutuhan belajar murid atau pendekatan yang mendorong partisipasi aktif.</p><p><strong>3. Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?<br></strong>Belum sepenuhnya. Kadang saya menggunakan metode diskusi atau tanya jawab, tapi belum secara konsisten dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis atau kreatif murid. Pembelajaran masih sering bersifat <em>teacher-centered</em>, dengan penekanan pada hafalan atau pemahaman</p><p><strong>4. Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</strong></p><p>Murid dapat diposisikan sebagai teman dalam proses belajar mengajar. Dapat bertukar informasi, dan ruang untuk eksplorasi dan pertanyaan terbuka. Murid juga diposisikan sebagai pelaku utama dalam proses belajar, bukan hanya penerima pasif. Sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan murid dalam pembelajaran.</p><p><strong>5. Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?<br></strong>Beberapa tantangan yang sering saya hadapi antara lain:</p><ul><li><p>Terbatasnya waktu untuk merancang pembelajaran yang mendalam.</p></li><li><p>Keterbatasan sumber daya atau media yang sesuai.</p></li><li><p>Variasi kemampuan dan karakter murid yang membutuhkan pendekatan berbeda-beda.</p></li><li><p>Tekanan untuk menuntaskan materi dalam waktu tertentu.<br>Namun tantangan terbesar sebenarnya adalah <em>mengubah pola pikir saya sendiri sebagai guru </em>untuk lebih berani bereksperimen dan fokus pada proses, bukan hanya hasil akhir.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 11:20:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556956218</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ANNA RAHAYU</title>
         <author>annarahayu76</author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556959909</link>
         <description><![CDATA[<p>KELOMPOK SEMANGAT</p><ol><li><p>Muhammad Kalilwara</p></li><li><p>Anna Rahayu</p></li><li><p>Dian Angraeni Nawawi</p></li><li><p>Vira Yuniar</p></li><li><p>Nining Lestari</p></li><li><p>Nurdiana</p></li></ol><p><strong>1. Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</strong></p><p>Biasanya, perencanaan pembelajaran saya awali dengan menyusun modul ajar untuk menentukan tujuan akhir pembelajaran. Menanyakan kabar dan perasaan murid sebelum belajar. Fokus utama masih pada pemenuhan target materi dan pencapaian kompetensi dasar yang bermakna dan menggembirakan.</p><p><strong>2. Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</strong></p><p>Prinsip yang digunakan adalah <em>efisien dan sesuai capaian pembelajaran</em>. Mencoba menyederhanakan materi agar bisa ditangkap dengan cepat dan dapat dicapai oleh murid. Memberikan umpan balik sesuai kebutuhan belajar murid atau pendekatan yang mendorong partisipasi aktif.</p><p><strong>3. Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?<br></strong>Belum sepenuhnya. Kadang saya menggunakan metode diskusi atau tanya jawab, tapi belum secara konsisten dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis atau kreatif murid. Pembelajaran masih sering bersifat <em>teacher-centered</em>, dengan penekanan pada hafalan atau pemahaman</p><p><strong>4. Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</strong></p><p>Murid dapat diposisikan sebagai teman dalam proses belajar mengajar. Dapat bertukar informasi, dan ruang untuk eksplorasi dan pertanyaan terbuka. Murid juga diposisikan sebagai pelaku utama dalam proses belajar, bukan hanya penerima pasif. Sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan murid dalam pembelajaran.</p><p><strong>5. Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?<br></strong>Beberapa tantangan yang sering saya hadapi antara lain:</p><ul><li><p>Terbatasnya waktu untuk merancang pembelajaran yang mendalam.</p></li><li><p>Keterbatasan sumber daya atau media yang sesuai.</p></li><li><p>Variasi kemampuan dan karakter murid yang membutuhkan pendekatan berbeda-beda.</p></li><li><p>Tekanan untuk menuntaskan materi dalam waktu tertentu.<br>Namun tantangan terbesar sebenarnya adalah <em>mengubah pola pikir saya sendiri sebagai guru </em>untuk lebih berani bereksperimen dan fokus pada proses, bukan hanya hasil akhir.</p></li></ul><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 11:25:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3556959909</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3557011592</link>
         <description><![CDATA[<p>Kelompok Bhinneka</p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kasmuddin Kasim</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Wahyu Winanci</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Nurdiana</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Handriani</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ni Ketut Riantari</p><p>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ernawati Mahyuddin</p><p>&nbsp;</p><p>IN1.5.2. Kegiatan Pelatihan Luring 1</p><p><strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</strong></p><p><strong>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</strong></p><p><strong>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</strong></p><p><strong>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</strong></p><p><strong>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</strong></p><p><br/></p><p><strong>JAWABAN</strong></p><p><br/></p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; - Mengidentifikasi kesiapan murid,Memahami karakteristik materi pelajaran, Menentukan&nbsp; dimensi profil Lulusan kemudian</p><p>- membuat desain pembelajaran (menentukan tujuan pembelajaran), Menentukan kerangka pembelajaran (praktis pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, pemanfaatan digital)</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Merancang pembelajaran dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan ,</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Masih sebagian. Banyak guru masih pakai strategi standar—ceramah, hafalan, latihan soal—yang memang efektif buat <em>transfer informasi</em>, tapi tidak cukup untuk melatih murid berpikir kritis, kreatif, apalagi mendalam.</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebagai Subjek Belajar, bukan Objek</p><p>Murid diperlakukan sebagai individu yang aktif, bukan sekadar penerima informasi. Guru memberi kesempatan mereka bertanya, mencoba, salah, lalu memperbaiki.</p><p>Partner, bukan bawahan</p><p>Guru tetap pemimpin kelas, tapi bukan "bos mutlak". Relasi yang sehat: guru mengarahkan, murid ikut terlibat. Ada ruang dialog, bukan monolog sepihak.</p><p>Beragam, bukan seragam</p><p>Posisi murid diakui sesuai keunikannya. Ada yang cepat tangkap, ada yang butuh waktu. Guru tidak menyamaratakan, tapi mengakomodasi gaya belajar berbeda.</p><p><br></p><p>Sebagai Pemilik Proses Belajar</p><p>Guru bukan pusat, tapi fasilitator. Murid diberi ruang untuk eksplorasi, proyek, diskusi. Dengan begitu mereka merasa punya kendali terhadap belajarnya.</p><p>Mitra Refleksi</p><p>Guru mendorong murid untuk melihat balik prosesnya—apa yang sudah dipahami, apa yang masih bingung, bagaimana bisa berkembang.</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangannya antara lain:</p><p><br/></p><p><strong>Waktu Terbatas</strong>. Jam pelajaran sempit, murid banyak. Aktivitas refleksi atau eksplorasi sering kepotong karena harus “menyelesaikan silabus”.</p><p><strong>Kebiasaan Lama</strong>. Murid dan guru sudah terbiasa dengan model ceramah dan hafalan. Begitu disuruh eksplorasi/berdiskusi, malah bingung atau pasif.</p><p><strong>Keragaman Murid</strong>. Ada yang cepat tangkap, ada yang butuh waktu lebih. Membuat kegiatan bermakna untuk semua level itu tantangan nyata.</p><p><strong>MindsetGuru&amp; Murid</strong>.Kadanggurusendirimasih melihat"belajar=nilaiujian". Murid pun lebih peduli nilai daripada proses. Sulit bikin pembelajaran yang menggembirakan kalau orientasi hanya ang</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-27 12:25:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3557011592</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3558084143</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>KELOMPOK&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : SEMANGAT</strong></p><p><strong>NAMA KELOMPOK&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; :</strong></p><p><strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Muhammad Kalilwara</strong></p><p><strong>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Anna Rahayu</strong></p><p><strong>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dian Angraeni</strong></p><p><strong>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Vira Yuniar</strong></p><p><strong>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Nining Lestari</strong></p><p><strong>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Nurdiana</strong></p><p><strong>&nbsp;</strong></p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</p><p><br/></p><p>&nbsp;<strong>JAWABAN :&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</strong></p><p><strong>1.&nbsp; Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</strong></p><p>Biasanya, perencanaan pembelajaran saya awali dengan menyusun modul ajar untuk menentukan tujuan akhir pembelajaran. Menanyakan kabar dan perasaan murid sebelum belajar. Fokus utama masih pada pemenuhan target materi dan pencapaian kompetensi dasar yang bermakna dan menggembirakan.</p><p><strong>2.&nbsp; Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</strong></p><p>Prinsip yang digunakan adalah <em>efisien dan sesuai capaian pembelajaran</em>. Mencoba menyederhanakan materi agar bisa ditangkap dengan cepat dan dapat dicapai oleh murid. Memberikan umpan balik sesuai kebutuhan belajar murid atau pendekatan yang mendorong partisipasi aktif.</p><p><strong>3.&nbsp; Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</strong></p><p>Belum sepenuhnya. Kadang saya menggunakan metode diskusi atau tanya jawab, tapi belum secara konsisten dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis atau kreatif murid. Pembelajaran masih sering bersifat <em>teacher-centered</em>, dengan penekanan pada hafalan atau pemahaman</p><p><strong>4.&nbsp; Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</strong></p><p>Murid dapat diposisikan sebagai teman dalam proses belajar mengajar. Dapat bertukar informasi, dan ruang untuk eksplorasi dan pertanyaan terbuka. Murid juga diposisikan sebagai pelaku utama dalam proses belajar, bukan hanya penerima pasif. Sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan murid dalam pembelajaran.</p><p><strong>5.&nbsp; Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</strong></p><p>Beberapa tantangan yang sering saya hadapi antara lain:</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Terbatasnya waktu untuk merancang pembelajaran yang mendalam.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keterbatasan sumber daya atau media yang sesuai.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Variasi kemampuan dan karakter murid yang membutuhkan pendekatan berbeda-beda.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tekanan untuk menuntaskan materi dalam waktu tertentu.</p><p>Namun tantangan terbesar sebenarnya adalah <em>mengubah pola pikir saya sendiri sebagai guru </em>untuk lebih berani bereksperimen dan fokus pada</p><p>proses, bukan hanya hasil akhir.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 04:02:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3558084143</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3558088130</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>KELOMPOK&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : SEMANGAT</strong></p><p><strong>NAMA KELOMPOK&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; :</strong></p><p><strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Muhammad Kalilwara</strong></p><p><strong>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Anna Rahayu</strong></p><p><strong>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dian Angraeni</strong></p><p><strong>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Vira Yuniar</strong></p><p><strong>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Nining Lestari</strong></p><p><strong>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Nurdiana</strong></p><p><br/></p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</p><p><br/></p><p>&nbsp;<strong>JAWABAN :&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</strong></p><p><strong>1.&nbsp; Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</strong></p><p>Biasanya, perencanaan pembelajaran saya awali dengan menyusun modul ajar untuk menentukan tujuan akhir pembelajaran. Menanyakan kabar dan perasaan murid sebelum belajar. Fokus utama masih pada pemenuhan target materi dan pencapaian kompetensi dasar yang bermakna dan menggembirakan.</p><p><strong>2.&nbsp; Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</strong></p><p>Prinsip yang digunakan adalah <em>efisien dan sesuai capaian pembelajaran</em>. Mencoba menyederhanakan materi agar bisa ditangkap dengan cepat dan dapat dicapai oleh murid. Memberikan umpan balik sesuai kebutuhan belajar murid atau pendekatan yang mendorong partisipasi aktif.</p><p><strong>3.&nbsp; Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</strong></p><p>Belum sepenuhnya. Kadang saya menggunakan metode diskusi atau tanya jawab, tapi belum secara konsisten dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis atau kreatif murid. Pembelajaran masih sering bersifat <em>teacher-centered</em>, dengan penekanan pada hafalan atau pemahaman</p><p><strong>4.&nbsp; Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</strong></p><p>Murid dapat diposisikan sebagai teman dalam proses belajar mengajar. Dapat bertukar informasi, dan ruang untuk eksplorasi dan pertanyaan terbuka. Murid juga diposisikan sebagai pelaku utama dalam proses belajar, bukan hanya penerima pasif. Sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan murid dalam pembelajaran.</p><p><strong>5.&nbsp; Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</strong></p><p>Beberapa tantangan yang sering saya hadapi antara lain:</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Terbatasnya waktu untuk merancang pembelajaran yang mendalam.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keterbatasan sumber daya atau media yang sesuai.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Variasi kemampuan dan karakter murid yang membutuhkan pendekatan berbeda-beda.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tekanan untuk menuntaskan materi dalam waktu tertentu.</p><p>Namun tantangan terbesar sebenarnya adalah <em>mengubah pola pikir saya sendiri sebagai guru </em>untuk lebih berani bereksperimen dan fokus pada</p><p>proses, bukan hanya hasil akhir.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 04:05:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3558088130</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3558858681</link>
         <description><![CDATA[<p>DIAN ANGRAENI NAWAWI</p><p><strong>KELOMPOK&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : SEMANGAT</strong></p><p><strong>1.&nbsp; Muhammad Kalilwara</strong></p><p><strong>2.&nbsp; Anna Rahayu</strong></p><p><strong>3.&nbsp; Dian Angraeni</strong></p><p><strong>4.&nbsp; Vira Yuniar</strong></p><p><strong>5.&nbsp; Nining Lestari</strong></p><p><strong>6.&nbsp; Nurdiana</strong></p><p><strong>&nbsp;</strong></p><p><strong>1.&nbsp; Bagaimana kita biasanya merencanakan pembelajaran di kelas?</strong></p><p>Biasanya, perencanaan pembelajaran saya awali dengan menyusun modul ajar untuk menentukan tujuan akhir pembelajaran. Menanyakan kabar dan perasaan murid sebelum belajar. Fokus utama masih pada pemenuhan target materi dan pencapaian kompetensi dasar yang bermakna dan menggembirakan.</p><p><strong>2.&nbsp; Prinsip apa yang kita gunakan dalam merancang pembelajaran?</strong></p><p>Prinsip yang digunakan adalah <em>efisien dan sesuai capaian pembelajaran</em>. Mencoba menyederhanakan materi agar bisa ditangkap dengan cepat dan dapat dicapai oleh murid. Memberikan umpan balik sesuai kebutuhan belajar murid atau pendekatan yang mendorong partisipasi aktif.</p><p><strong>3.&nbsp; Apakah strategi yang kita gunakan sudah mendorong murid untuk berpikir kritis, kreatif, dan mendalam?</strong></p><p>Belum sepenuhnya. Kadang saya menggunakan metode diskusi atau tanya jawab, tapi belum secara konsisten dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis atau kreatif murid. Pembelajaran masih sering bersifat <em>teacher-centered</em>, dengan penekanan pada hafalan atau pemahaman</p><p><strong>4.&nbsp; Bagaimana kita memposisikan murid dalam proses belajar?</strong></p><p>Murid dapat diposisikan sebagai teman dalam proses belajar mengajar. Dapat bertukar informasi, dan ruang untuk eksplorasi dan pertanyaan terbuka. Murid juga diposisikan sebagai pelaku utama dalam proses belajar, bukan hanya penerima pasif. Sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan murid dalam pembelajaran.</p><p><strong>5.&nbsp; Tantangan apa yang sering kita hadapi dalam merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan?</strong></p><p>Beberapa tantangan yang sering saya hadapi antara lain:</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Terbatasnya waktu untuk merancang pembelajaran yang mendalam.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keterbatasan sumber daya atau media yang sesuai.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Variasi kemampuan dan karakter murid yang membutuhkan pendekatan berbeda-beda.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tekanan untuk menuntaskan materi dalam waktu tertentu.</p><p>Namun tantangan terbesar sebenarnya adalah <em>mengubah pola pikir saya sendiri sebagai guru </em>untuk lebih berani bereksperimen dan fokus pada</p><p>proses, bukan hanya hasil akhir.</p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-08-28 14:54:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/saripuddinsapiri91/berbagipengalaman/wish/3558858681</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
