<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Indonesian A Portfolio by Nabiha Anindya S</title>
      <link>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio</link>
      <description>My Learner&#39;s Profile</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-07-17 14:15:38 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-30 02:07:57 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/8.0/png/1f9ed.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>Biodata</title>
         <author>nabihaanindya</author>
         <link>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3055746155</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p><mark>Nama Lengkap:</mark> Nabiha Anindya Sarwidi</p></li><li><p><mark>Nama panggilan:</mark> Nabiha</p></li><li><p><mark>Tempat, Tanggal lahir:</mark> Sleman, 8 Februari 2009</p></li><li><p><mark>Alamat:</mark> Jalan Palagan Tentara Pelajar KM 7, Tegalsari no. 11, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta (Dalem Palmon)</p></li><li><p><mark>Pendidikan:</mark></p><ol><li><p>SD Muhammadiyah Condongcatur</p></li><li><p>SMP Negeri 4 Pakem</p></li><li><p>SMA Pradita Dirgantara</p></li></ol></li><li><p><mark>Kontak: </mark><a rel="noopener noreferrer nofollow" href="mailto:nabiha.anindya@praditadirgantara.sch.id">nabiha.anindya@praditadirgantara.sch.id</a></p></li></ul><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2596044146/09bbf28347611f1f8595a27788e8c63f/Screenshot_2024_07_17_at_08_50_38.png" />
         <pubDate>2024-07-17 14:16:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3055746155</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Tugas</title>
         <author>nabihaanindya</author>
         <link>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3056332970</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p>Mengerjakan analisis novel Tartuffe karya Moliere menggunakan enam aspek yang sudah ditentukan.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="https://i.pinimg.com/564x/b3/d1/85/b3d185243f1c1def25fe8e67750dcb76.jpg" />
         <pubDate>2024-07-18 04:38:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3056332970</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Berkenalan Lebih Jauh!</title>
         <author>nabihaanindya</author>
         <link>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3056499395</link>
         <description><![CDATA[<p>Selamat datang di Learner Portofolio Nabiha Anindya Sarwidi! Saya biasa dipanggil Nabiha secara singkat. Saat ini saya bersekolah di SMA Pradita Dirgantara. Selama saya tinggal di Yogyakarta (khususnya di Kabupaten Sleman), saat awal saya berencana untuk belajar di SMA Pradita Dirgantara di Boyolali karena sekolah ini memiliki kurikulum IB khususnya dengan beasiswa! Ini benar-benar memberi saya motivasi untuk belajar lebih giat di sini. Saya yakin saya dapat mengejar karir impian saya di bidang teknik sipil dengan mempertahankan nilai dan kebiasaan baik di sini. </p><p><br/></p><p>Saya mengambil mata pelajaran Bahasa Indonesia A sebagai mata pelajaran kelompok 1 saya di IB Diploma karena:</p><ul><li><p>Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu saya. Saya belajar bahasa Indonesia sejak lahir, dan kata pertama saya diucapkan dalam bahasa Indonesia. Saya yakin menyatakan bahwa saya fasih berbahasa Indonesia.</p></li><li><p>Saya ingin mengetahui berbagai macam karya sastra Indonesia: novel klasik, komik, puisi, dan lagu, serta karya nonsastra: iklan, film, dan majalah. </p></li><li><p>Saya ingin mengetahui dan mendalami isu-isu global melalui karya sastra dan non-sastra Indonesia yang ditulis secara implisit dan/atau non-implisit.</p></li><li><p>Meski sastra tidak terlalu sejalan dengan teknik, tetapi saya berdedikasi untuk mendapat nilai IO 40 dan skor 7 pada subjek ini 😁</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="https://i.pinimg.com/564x/3d/2e/be/3d2ebe680e973c9b39d4efb11038ab9d.jpg" />
         <pubDate>2024-07-18 07:45:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3056499395</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analisis (Draft): Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari</title>
         <author>nabihaanindya</author>
         <link>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3056578774</link>
         <description><![CDATA[<p>Novel ini bertokoh utama Kabul, seorang mantan aktivis dan insinyur yang sedang menggarap proyek pembangunan jembatan dengan harus serta merta membasmi banyak penyelewengan moral. Dilihat sekilas dari sinopsis, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. Namun setelah dibaca dan digali lebih lanjut, novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga baik dari sisi Kabul maupun Basar (Halaman 91). </p><p> </p><ul><li><p>Isu Global: Korupsi, pelanggaran hak asasi, kolusi</p></li><li><p>Bukti: Negeri ini dihuni oleh masyarakat korup, terutama di kalangan birokrat sipil maupun militer, juga orang awamnya. (Halaman 61); Dengan tingkat mutu yang rendah, nilai manfaat bangunan itu pasti rendah pula-umurnya pendek, tingkat keamanan payah, dan seterusnya. Pak Tarya juga tahu kebanyakan bangunan yang saya sebut dibiayai dengan dana pinjaman.(Halaman 79); Dia sudah membayangkan hasil lelang sewa sawah bandha desa, sumber pokok pendapatan desa, akan berkurang sangat banyak gara-gara HUT GLM. (Halaman 98); Bukankah cukup bila aku meminta mereka dengan baik-baik, demi ketenteraman jiwa, menusuk GLM dalam setiap pemilu? Tindakan ini pun bagiku sudah merupakan pelanggaran terhadap hak dasar mereka. (Halaman 100); (Halaman 162); (Halaman 242)</p></li><li><p>Analisis: Maraknya korupsi dinormalisasikan saat itu bersamaan dengan meningkatnya variasi jenis korupsi, seperti korupsi uang rakyat. Kebanyakan bangunan juga didanai oleh dana pinjaman yang semestinya akan ditanggung rakyat. Kolusi juga terjadi dalam buku ini dalam konteks suatu bentuk tindakan berupa persekongkolan yang dilakukan secara rahasia yang memiliki maksud tidak terpuji, contohnya pada kasus pembelian, ikut kelas jauh, atau penjualan ijazah. Manipulasi ini dapat menyebabkan kerugian yang besar bagi negara dalam segi sumber daya manusia, terlebih bila kita ingin memikirkan jangka panjang. Dari sini, Kabul ingin mengerjakan proyek dengan tetap menjunjung tinggi idealismenya, bukan untuk kepentingan sendiri. Banyak pula insinyur yang telah kehilangan komitmen dan tanggung jawab moral profesi mereka sehingga mutu dan keamanan pembangunan rendah, serta tidak merata.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-07-18 10:06:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3056578774</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analisis Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari</title>
         <author>nabihaanindya</author>
         <link>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3278685894</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p><strong>Tema</strong></p><p>Tema besar yang digali pada novel ini adalah <mark>idealisme yang kontras dengan realita</mark> di dunia pembangunan <mark>proyek</mark>. Kabul yaitu tokoh utama, seorang insinyur muda idealis, berusaha mempertahankan prinsipnya di tengah budaya korupsi yang merugikan rakyat kecil. Novel ini mengangkat <mark>kritik terhadap kolusi antara politik dan ekonomi</mark>, terutama saat proyek digunakan untuk kepentingan pribadi atau politik. Pesan utama yang ingin disampaikan penulis adalah kejujuran dan idealisme sangat penting dalam pembangunan, tetapi sering kali sulit dipertahankan dalam sistem yang korup. Penulis juga menekankan pentingnya moralitas dan keberpihakan kepada rakyat kecil.</p></li><li><p><strong>Penokohan</strong></p></li></ol><ul><li><p>Kabul (sebagai tokoh utama): <mark>Idealis</mark>, berprinsip, teguh hati, ramah kepada pekerjanya. Penulis kebanyakan menekankan bahwa Kabul merasa tertekan karena harus menghadapi kenyataan korupsi yang menggerogoti proyek.&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Pak Tarya: Tokoh tua yang <mark>bijak</mark> dan humoris, dapat dilihat dari frekuensi Pak Tarya memberikan nasihat reflektif kepada Kabul melalui cerita masa lalunya dan humor. Hobi memancingnya menjadi simbol refleksi dan ketenangan.&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Dalkijo: <mark>Pragmatis</mark>, egois, pendendam oleh kemiskinan struktural. Ia bahkan bangga dengan keberhasilannya bergulat di sistem korup.&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Wati: Tidak tegas atau <mark>plin-plan</mark>, dapat dilihat dari hancurnya asmara Yos dengan Wati akibat tumbuhnya perasaan Wait kepada Kabul. Kehadirannya membawa keseimbangan dan kehangatan di lingkungan proyek yang didominasi laki-laki.&nbsp;</p></li></ul><p>  <strong> 3. Latar</strong></p><ul><li><p>Tempat: <mark>Desa</mark> terpencil <mark>dekat Sungai Cibawor</mark>. Lokasi proyek menggambarkan keterpencilan yang menjadi simbol rakyat kecil yang sering dilupakan dan pembangunan yang belum merata.&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Waktu: Tahun 1990-an pada <mark>era Pemilu 1992</mark>. Proyek pembangunan jembatan dipercepat untuk kepentingan politik GLM.&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Suasana: Terdapat campuran antara <mark>ketegangan moral</mark> melalui dilema Kabul mengenai idealismenya, dan <mark>kritik sosial</mark> yaitu korupsi.</p><p><strong>4. Alur</strong></p><p>Alur cerita yang digunakan adaalah <mark>alur maju</mark> dengan beberapa <mark>kilas balik</mark>.&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Pembukaan: Pengenalan Kabul sebagai insinyur idealis dan latar proyek jembatan.&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Konflik: Korupsi di proyek mulai terlihat. Rekomendasi Kabul ditolak demi kepentingan politik.</p></li><li><p>Klimaks: Kabul berhadapan dengan kenyataan sistem yang korup dan dilema antara mempertahankan prinsip atau menyerah pada praktik korupsi.&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Penutup: Refleksi Kabul melalui keputusannya untuk keluar dari proyek demi mempertahankan idealismenya.</p><p><strong>5. Konflik</strong></p></li><li><p>Konflik eksternal: Korupsi dalam proyek seperti keinaikan biaya dan suap. Konflik ini menunjukkan bagaimana sistem politik memengaruhi kualitas proyek dan dampaknya pada masyarakat.&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Konflik Internal: Kabul menghadapi dilema moral antara mempertahankan idealisme atau mengikuti "permainan" sistem untuk bertahan.&nbsp;&nbsp;</p></li><li><p>Konflik Sosial: Ketidakadilan terhadap rakyat kecil, seperti dampak buruk pembangunan yang tidak sesuai kebutuhan masyarakat.</p><p><strong>6. Gaya Bahasa</strong></p><p>Ahmad Tohari menggunakan beberapa gaya bahasa, yakni:&nbsp;&nbsp;</p><p>→ Metafora: “Mereka diperlakukan seperti ternak.” pada halaman 242, menunjukkan dampak dari korupsi terhadap <mark>dehumanisasi</mark> rakyat kecil.</p><p>→ Pertanyaan retoris: “Bila mereka lapar dan haus di tengah jalan, siapa yang peduli?” pada halaman 242, menunjukkan bahwa korupsi merupakan <mark>tindakan egois</mark>.</p><p>→ Dialog: “Ya, tragis karena mereka tidak menyadari telah menjadi korban, menjadi tumbal bagi ambisi orang-orang partai.” pada halaman 242, menghadirkan efek negatif yang <mark>menormalisasi</mark> tindakan korupsi terhadap dehumanisasi masyarakat.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-01-02 14:27:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3278685894</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analisis Semua Untuk Hindia karya Iksaka Banu</title>
         <author>nabihaanindya</author>
         <link>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3278732093</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p><strong>Tema:</strong> Kumpulan cerita pendek ini mengupas <mark>dinamika antara penjajah Belanda dan masyarakat pribumi</mark> dalam berbagai aspek, mulai dari cinta, pengkhianatan, hingga kekejaman dan kekerasan kolonialisme. Pesan utama yang ingin disampaikan penulis adalah bahwa sejarah bukan hanya tentang tindakan represif dan <mark>kekuasaan seperti kolonialisme</mark>, tetapi juga <mark>kisah kecil manusia</mark> yang menghadapi konflik moral, sosial, dan politik. Seperti contoh: “<em>Stambul Dua Pedang</em>” yang menggambarkan persaingan cinta dan konflik moral dalam hubungan antarras, “<em>Gudang Nomor 012B</em>” yang menceritakan ketegangan antara hukum kolonial dan korupsi di kalangan penguasa.</p></li><li><p><strong>Penokohan: </strong></p><ul><li><p><mark>Narator</mark>: Setiap cerita menggunakan narator dengan kata ganti aku yang menunjukkan sudut pandang orang pertama, sering kali berprofesi sebagai wartawan, tentara, atau administrator. Tokoh ini biasanya menjadi saksi atau pelaku sejarah dengan pandangan kritis dan selalu memiliki identitas sebagai orang Belanda.</p></li><li><p><mark>Geertje</mark> (Selamat Tinggal Hindia): Wanita Belanda yang pro-pribumi, mencintai tanah Hindia hingga menolak pergi meski revolusi berkecamuk.</p></li><li><p><mark>Nyai Sarni</mark> (Stambul Dua Pedang): Wanita pribumi yang berselingkuh, mencintai seni panggung dan terjebak dalamn hubungan cinta yang rumit.</p></li><li><p><mark>Inspektur Verblekken</mark> (Gudang Nomor 012B): Tokoh Belanda yang menemui seorang wanita pengidap lepra. Meski wanita tersebut seorang Indo, Ia tetap mempertahankan moralnya dan mengantarnya kepada Dokter Willem.</p></li><li><p><mark>Anak Agung Istri Suandari</mark> (Semua Untuk Hindia): Gadis Bali yang sopan dan menjadi simbol kehormatan dan tragedi perang.</p></li></ul></li><li><p><strong>Latar</strong></p><ul><li><p><mark>Tempat</mark>:</p><ul><li><p>Batavia (pusat kekuasaan kolonial, cerita seperti <em>"Bintang Jatuh"</em> dan <em>"Selamat Tinggal Hindia"</em>).</p></li><li><p>Bali (Perang Puputan dalam <em>"Semua untuk Hindia"</em>).</p></li><li><p>Sumatra (perkebunan tembakau dalam <em>"Racun untuk Tuan"</em>).</p></li><li><p>Banten (gerakan Ratu Adil dalam <em>"Tangan Ratu Adil"</em>).</p></li></ul></li><li><p><mark>Waktu</mark>:</p><p>Era kolonial Belanda, dimulai dari pelayaran Cornelis de Houtman (1596) hingga revolusi kemerdekaan Indonesia (1945). Setiap cerita berfokus pada periode sejarah tertentu. Contohnya: Pembantaian orang Cina di Batavia (1740), Perang Puputan di Bali (1906), dan masa pendudukan Jepang (1945).</p></li><li><p><mark>Suasana</mark>:</p><p>Tegang dan reflektif, sering kali menggambarkan ketidakadilan dan kekerasan kolonial.</p></li></ul></li><li><p><strong>Alur</strong>: <mark>Campuran</mark>. Cerita sering dimulai dengan situasi genting, diikuti kilas balik atau dialog untuk memberikan konteks historis.</p></li><li><p><strong>Konflik</strong>: </p><ul><li><p><mark>Konflik eksternal</mark>: melibatkan bentrokan antara penjajah dan pribumi, seperti pemberontakan Untung Surapati atau kekerasan dalam Perang Puputan di Bali, yang menunjukkan perlawanan terhadap sistem kolonial. </p></li><li><p><mark>Konflik internal</mark>: lebih bersifat personal, seperti dilema moral tokoh Belanda yang mulai mempertanyakan nilai kolonialisme yang mereka wakili, misalnya administratur di <em>"Racun untuk Tuan"</em> atau wartawan di <em>"Selamat Tinggal Hindia"</em>.</p></li><li><p><mark>Konflik sosial</mark>: tampak dalam hubungan yang kompleks antara penjajah, nyai, dan penduduk lokal, yang sering kali mencerminkan ketidakadilan struktural. </p></li></ul></li><li><p><strong>Gaya Bahasa</strong></p><p>Gaya bahasa yang digunakan penulis berupa:</p><ul><li><p><mark>Simbolisme</mark>: harimau dalam cerita "Selamat Tinggal Hindia," yang melambangkan bahaya dari perubahan kekuasaan.</p></li><li><p><mark>Diksi</mark>: Istilah kolonial seperti <em>nyai</em>, <em>sinyo</em>, dan <em>jongos</em> sering digunakan untuk menggambarkan hubungan sosial saat itu. Seperti contoh dalam cerpen <em>"Semua untuk Hindia"</em>, narator menyebut pribumi yang direkrut menjadi tentara sebagai “<em>bandit patriot”</em>, mencerminkan diksi penuh ironi untuk menggambarkan peran ambigu para tokoh dalam revolusi.</p></li><li><p><mark>Ironi</mark>: Dalam cerpen <em>"Racun untuk Tuan"</em>, seorang administratur kolonial yang memiliki kekuasaan besar justru memiliki curiga diracuni oleh istri pribuminya, melambangkan ironi kekuasaan kolonial yang terlihat kuat tetapi rapuh di tangan bawahannya sendiri akibat cinta.</p></li></ul></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-01-02 15:37:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3278732093</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analisis Kronik Betawi karya Ratih Kumala</title>
         <author>nabihaanindya</author>
         <link>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3278743283</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>1. Tema</strong></p><ul><li><p>Novel ini memiliki payung besar <mark>perjuangan masyarakat Betawi melawan modernisasi</mark> yang mengancam identitas budaya mereka. Melalui beberapa aspek, penulis menyampaikan pentingnya menjaga budaya lokal di tengah arus perubahan zaman. Novel ini juga menyinggung ironi kehidupan urban, seperti banjir yang menjadi simbol kegagalan modernisasi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.</p></li></ul><p><strong>2. Penokohan</strong></p><ul><li><p><mark>Haji Jaelani:</mark><br>Seorang tokoh Betawi yang religius, pragmatis, tetapi kadang malas menghadapi perubahan besar. Karakternya mencerminkan ketidakberdayaan masyarakat lokal menghadapi modernisasi.</p></li><li><p><mark>Salempang:</mark><br>Calon menantu Haji Jaelani yang mewakili generasi muda. Ia terlihat lebih terbuka terhadap perubahan, tetapi tetap menghormati tradisi.</p></li><li><p><mark>Enoh dan Fauzan:</mark><br>Anak-anak Haji Jaelani yang menunjukkan generasi muda Betawi yang masih terikat budaya, meskipun perlahan mulai dipengaruhi modernitas.</p></li><li><p><mark>Lingkungan Tetangga:</mark><br>Tetangga yang sering bergosip atau bergotong royong menghadapi banjir menunjukkan solidaritas sosial khas budaya Betawi.</p></li></ul><p><strong>3. Latar</strong></p><ul><li><p><mark>Tempat</mark>:<br>Pemukiman Betawi di pinggiran Jakarta yang sering terkena banjir. Latar ini mencerminkan tekanan modernisasi yang mempersempit ruang hidup budaya lokal.</p></li><li><p><mark>Waktu</mark>:<br>Era modern, dengan pembangunan besar-besaran yang tidak memperhatikan lingkungan.</p></li><li><p><mark>Suasana</mark>:<br>Campuran antara humor khas Betawi, kekacauan akibat banjir, dan keprihatinan terhadap perubahan yang mengancam budaya lokal.</p></li></ul><p><strong>4. Alur</strong></p><ul><li><p><mark>Alur maju</mark>:<br>Dimulai dari keseharian Haji Jaelani dan keluarga, hingga konflik yang dihadapi masyarakat Betawi akibat banjir, modernisasi, dan perubahan sosial.</p></li><li><p><mark>Tahapan</mark>:</p><ol><li><p>Pengenalan: Pengenalan kehidupan sehari-hari di lingkungan Betawi.</p></li><li><p>Konflik: Banjir dan modernisasi memengaruhi kehidupan tokoh.</p></li><li><p>Resolusi: Solidaritas tetangga muncul dalam menghadapi banjir, tetapi modernisasi terus berjalan tanpa kompromi.</p></li></ol></li></ul><p><strong>5. Konflik</strong></p><ul><li><p><mark>Eksternal</mark>:<br>Modernisasi kota yang menggeser keberadaan masyarakat Betawi, masalah banjir menjadi simbol tekanan perubahan tersebut.</p></li><li><p><mark>Internal</mark>:<br>Haji Jaelani bergulat dengan dilema antara mempertahankan budya leluhurnya atau menerima modernisasi demi kenyamanan.</p></li><li><p><mark>Sosial</mark>:<br>Ketimpangan antara masyarakat Betawi dengan pembangunan kota yang tidak memperhatikan kepentingan warga lokal.</p></li></ul><p><strong>6. Gaya Bahasa</strong></p><ul><li><p><mark>Personifikasi</mark>: Banjir digambarkan seperti sosok hidup yang datang tanpa permisi, menunjukkan betapa akrab masyarakat Betawi dengan bencana ini. Hal ini dapat dilihat pada kutipan <em>“Banjir datang saat semua terlelap, tanpa permisi.”</em></p></li><li><p><mark>Diksi</mark>: Pilihan kata yang digunakan bersifat sehari-hari dan khas Betawi, seperti istilah <em>babeh</em>, <em>bang</em>, <em>abeh</em>, dan lainnya. Bahasa ini mencerminkan kehidupan sederhana masyarakat Betawi dan memperkuat lokalitas cerita, yang terdapat pada dialog “<em>Pang, maap ye, Babeh kagak bisa nyelametin sofa lu.”</em></p></li><li><p><mark>Citraan visual</mark>: Penulis menggambarkan suasana banjir dengan sangat detail sehingga pembaca dapat membayangkan bagaimana air merendam perabotan dan rumah. Gaya bahasa ini ditunjukkan pada kalimat “<em>Air sudah meninggi hingga kaki-kaki meja terendam, membawa sofa dan sandal jepit ke sudut rumah yang tak terduga.”</em></p></li><li><p><mark>Simbolisme</mark><em>:</em> Sofa yang terendam banjir pada kutipan <em>“Sofa yang basah separuh, sulit kering, seolah-olah mengatakan bahwa ia tidak cocok tinggal di sini.” </em>menjadi simbol harapan dan modernisasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-01-02 15:54:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3278743283</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analisis Tartuffe karya Moliere</title>
         <author>nabihaanindya</author>
         <link>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3278744027</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p><strong>Tema</strong></p><p>Novel<em> Tartuffe</em> mengangkat tema tentang <mark>kemunafikan</mark>, khususnya dalam konteks agama dan moralitas. Melalui karakter Tartuffe, penulis mengeksplorasi bagaimana seseorang dapat <mark>memanipulasi kepercayaan dan keimanan untuk keuntungan pribadi</mark>. Penulis juga ingin menyampaikan <mark>pentingnya kebijaksanaan dan kewaspadaan</mark> terhadap orang-orang yang menggunakan topeng kesalehan untuk menyembunyikan niat buruk. Pesan lain yang tersirat adalah tentang pentingnya integritas, nilai keluarga, dan kritik terhadap fanatisme buta.</p></li><li><p><strong>Penokohan</strong></p><ul><li><p>Tartuffe (sebagai tokoh utama): Seorang pria <mark>licik</mark> dan <mark>manipulatif</mark> yang berpura-pura sebagai orang saleh untuk mendapatkan keuntungan dari keluarga Orgon.</p></li><li><p>Orgon: Kepala keluarga yang terlalu percaya pada Tartuffe, hingga mengabaikan pendapat keluarganya sendiri. Sifatnya <mark>naif</mark>, bodoh, dan <mark>fanatik</mark>.</p></li><li><p>Elmire: Istri Orgon yang <mark>bijaksana dan cerdas</mark>. Ia memainkan peran penting dalam mengungkap kemunafikan Tartuffe.</p></li><li><p>Dorine: Pelayan keluarga yang <mark>cerdas dan blak-blakan</mark>, sering memberikan pandangan kritis terhadap situasi.</p></li><li><p>Damis: Putra Orgon yang <mark>impulsif</mark> tetapi berusaha melindungi keluarganya dari Tartuffe.</p></li><li><p>Mariane: Putri Orgon yang dipaksa menikah dengan Tartuffe meskipun ia mencintai orang lain. Sifatnya mencerminkan <mark>kesetiaan</mark>.</p></li><li><p>Cleante: Saudara ipar Orgon, <mark>rasional dan bijak</mark>, sering menjadi tokoh logis dalam cerita.</p></li></ul></li><li><p><strong>Latar</strong></p><ul><li><p><mark>Waktu</mark>: Cerita berlatar pada pertengahan abad ke-17, mencerminkan suasana sosial dan budaya Prancis pada masa itu terutama dalam konteks agama dan moralitas.</p></li><li><p><mark>Tempat</mark>: Sebagian besar cerita berlangsung di rumah Orgon.</p></li><li><p><mark>Suasana</mark>: Suasana yang digambarkan beragam, mulai dari komedi yang ringan hingga ketegangan akibat intrik dan konflik.</p></li></ul></li><li><p><strong>Alur</strong></p><p>Cerita menggunakan <mark>alur maju</mark> dengan beberapa momen tegang dan penuh kecurigaan. Dimulai dengan pengenalan Tartuffe sebagai orang yang dipercaya Orgon, berkembang dengan konflik ketika keluarganya mencoba membuka mata Orgon, hingga klimaks di mana kemunafikan Tartuffe terungkap. Pada akhirenya, terdapat penyelesaian yang mengejutkan ketika Tartuffe ditangkap atas perintah raja. </p></li><li><p><strong>Konflik</strong></p><p>Konflik utama terjadi antara Tartuffe dan keluarga Orgon dalam <mark>usaha Tartuffe untuk mengambil alih harta keluarga dan kekuasaan</mark> menggunakan kesalehan palsunya. Dampak dari konflik adalah <mark>keluarga Orgon menjadi terpecah</mark> karena perbedaan pandangan tentang Tartuffe. Namun, konflik ini memaksa mereka bekerja sama untuk mengungkap kebenaran dan menyelamatkan keluarga.</p></li><li><p><strong>Gaya Bahasa</strong></p><ul><li><p><mark>Ironi</mark>: Tartuffe berpura-pura menjadi orang yang saleh, namun sebenarnya serakah dan tidak bermoral. Hal ini terdapat pada kutipan saat Tartuffe mengatakan, <em>“Seandainya saya pantas, saya akan mencintai Anda dengan cara yang lebih terhormat.”</em> Padahal, ia mencoba merayu Elmire yang sudah memiliki suami.</p></li><li><p><mark>Imagery</mark>: Terdapat citraan visual yang muncul dalam adegan saat Elmire menggunakan meja sebagai penghalang antara dirinya dan Tartuffe untuk mengungkap kebohongan Tartuffe.</p></li><li><p><mark>Dialog</mark>: Dialog <em>"Tartuffe lebih suci daripada siapa pun yang pernah saya temui. Dia adalah malaikat yang dikirim untuk membimbing kita." </em>menunjukkan bahwa Orgon buta terhadap kenyataan dan terlalu percaya pada Tartuffe. Ini menunjukkan kebodohannya dan menjadi sumber utama konflik.</p></li></ul></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-01-02 15:55:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3278744027</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analisis Tartuffe karya Moliere (Updated)</title>
         <author>nabihaanindya</author>
         <link>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3608691055</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p><mark>Isu Utama</mark></p><ol><li><p><strong>Fanatisme agama</strong></p><ul><li><p>Orgon yang terus mengagung-agungkan Tartuffe melalui perkataan dan perbuatan</p></li><li><p>Perbuatan Orgon: </p><ol><li><p>Menikahkan Marianne dengan Tartuffe dengan keputusan sepihak</p></li><li><p>Membiarkan Tartuffe tinggal dirumahnya</p></li><li><p>Mengutamakan Tartuffe daripada keluarganya (Mengusir Damis anaknya sendiri, tidak memedulikan istrinya yang sedang sakit, mewariskan rumah ke Tartuffe, tidak memercayai perkataan istri sendiri)</p></li></ol></li><li><p>Ny. Pernelle --&gt; tidak memercayai keluarganya</p><p>                     --&gt; melalui perkataannya yang terus menyanjung Tartuffe</p></li></ul></li><li><p><strong>Penyalahgunaan agama</strong></p><ul><li><p>Tartuffe --&gt; Perlakuan: Menggoda Elmire</p><p>               --&gt; Perkataan: Selalu membawa nama Tuhan, manipulatif (maksud &amp; tujuan berbeda), bermuka dua (terlihat pada halaman 132)</p></li></ul></li><li><p><strong>Patriarki --&gt; Dominasi laki-laki</strong></p><ul><li><p><em>Sentralisasi keputusan pada ayah/laki-laki dalam keluarga</em></p><ol><li><p>Orgon menikahkan Marianne dengan Tartuffe</p></li><li><p>Orgon memberi warisan ke Tartuffe tanpa sepengetahuan keluarganya</p></li><li><p>Orgon mengusir Damis</p></li><li><p>Orgon membawa Tartuffe ke rumah tiba-tiba</p></li></ol></li><li><p><em>Suara perempuan tidak dipertimbangkan</em></p><ol><li><p>Elmire tidak dipercaya suaminya, Orgon</p></li><li><p>Marianne tidak berani mengungkapkan pendapatnya sendiri (kontras dengan Damis yang masih berani menentang --&gt; sama-sama sebagai anak tetapi berbeda perlakuan)</p></li></ol></li></ul></li><li><p><strong>Struktur sosial --&gt; Kesenjangan hak antara atas, bawah, dan tokoh agama</strong></p><ul><li><p>Bangsawan memiliki budak/pelayan dinormalisasi</p></li><li><p>Tokoh agama dianggap penting (Tartuffe yang awalnya gelandangan menjadi punya kekuasaan di rumah Orgon karena diangkat)</p></li><li><p>Pelayan diperlakukan dengan kasar dan sesuka hati (sarkasme Orgon ke Dorine, Ny. Pernelle ke Flippote)</p></li><li><p>Hak bersuara/pengambilan keputusan Dorine tidak didengarkan</p><p><br/></p></li></ul></li></ol></li><li><p><mark>Karakterisasi (dapat dilihat dari perkataan, perbuatan, respons dari tokoh lain, serta narasi langsung)</mark></p><ol><li><p>Orgon --&gt; Naif, buta karena fanatismenya, otoriter</p><ul><li><p>Perlakuan: kontras antara keluarga dan Tartuffe</p></li><li><p>Perkataan: kontras antara ke Dorine, Elmire dan Tartuffe</p></li></ul></li><li><p>Tartuffe --&gt; Manipulatif, munafik</p><ul><li><p>Perkataan yang memanfaatkan unsur agama</p></li><li><p>Mencoba meyakinkan Orgon akan kealimannya</p></li><li><p>Berusaha merayu Elmire</p></li><li><p>Memenjarakan Orgon</p></li><li><p>Kontras respons dari tokoh lain </p><p>  (-) Damis, Dorine, Elmire, Marianne, Valere, Cleante</p><p>  (+) Orgon, Ny. Pernelle</p></li></ul></li><li><p>Elmire, Marianne</p></li><li><p>Dorine --&gt; Berani, kritis (rasional), menunjukkan ironi karena posisinya sebagai pelayan tetapi lebih terbuka dan rasional</p><p><br/></p></li></ol></li><li><p><mark>Latar</mark></p><ol><li><p><strong>Tempat</strong> --&gt; Prancis (Rumah Orgon)</p><ul><li><p>Menandakan kekuasaan karena bangsawan</p></li></ul></li><li><p><strong>Waktu</strong> --&gt; Abad 17</p><ul><li><p>Mengindikasikan konteks pemerintahan Prancis masa itu didominasi oleh tokoh agamais, sehingga rentan dengan fanatisme agama</p></li></ul></li></ol></li></ul><p><br/></p><ul><li><p><mark>Simbol</mark></p><ol><li><p>Rumah Orgon --&gt; Simbol kekuasaan (sentralisasi kekuasaan pada Orgon (isu patriarki dan struktur sosial)</p></li><li><p>Tartuffe --&gt; Simbol kemunafikan (mulutnya berkata manis dan penuh unsur rohani saat bersama Orgon, dibelakangnya ia mengejek Orgon)</p></li><li><p>Orgon --&gt; Simbol kenaifan dan otoritas (Buta akan agama hingga mengutamakan orang yang bukan keluarganya, keras kepala, seluruh pengambilan keputusan ada padanya)</p></li><li><p>Dorine --&gt; Simbol keberanian dan ironi (meski merupakan pelayan, ia berani menentang dan bersikap rasional terhadap majikannya, Orgon; membela Marianne dan mengungkapkan isi hatinya kepada Orgon)</p></li><li><p>Elmire --&gt; Simbol feminisme (awalnya tidak dipedulikan Orgon, kemudian tangguh dan berhasil meyakinkan Orgon dengan cerdas)</p></li><li><p>Kursi lipat --&gt; Simbol terungkapnya kebenaran (Tempat bersembunyi Orgon untuk mendengar sisi jahat Tartuffe yang sebenarnya, mencoba merayu istrinya dan mengambil hartanya)</p></li><li><p>Ular --&gt; Simbol tipu daya dan bahaya (Tartuffe menggunakan agama sebagai strategi untuk menipu dan membahayakan keluarga Tartuffe)</p></li><li><p>Merpati --&gt; Simbol kesucian (Merpati sering dikaitkan dengan kekudusan rohani gereja; Tartuffe seolah bercicit atau berbicara dengan membawa nama agama untuk mendapat kekuasaan)</p></li><li><p>Kotak/peti rahasia --&gt; </p></li></ol></li></ul><p><br/></p><ul><li><p><mark>Konsep agama</mark></p><ol><li><p><strong>Agama dijadikan alat untuk meraih keuntungan pribadi</strong></p><ul><li><p>Tartuffe selalu membawa nama Tuhan untuk menjustifikasi perbuatan jahatnya (merayu Elmire, menggoda Orgon)</p></li></ul></li><li><p><strong>Agama dijadikan alat untuk mobilitas sosial</strong></p><ul><li><p>Tartuffe melihat Prancis abad 17 dan Orgon sebagai kesempatan untuk meningkatkan derajatnya dari seorang gelandangan menjadi berkuasa dengan memanfaatkan agama yang pada saat itu menjadi landasan hidup dan politik masyarakat Prancis.</p></li></ul></li><li><p><strong>Agama dimaknai secara fanatis sehingga menghilangkan rasionalitas</strong></p><ul><li><p>Dilihat dari tokoh Orgon yang merupakan seorang bangsawan dan memiliki ideologi yang erat dengan kerohanian. Moliere menggambarkan cerita dengan terus memunculkan Tartuffe dengan kata-kata sucinya tentang agama, bahkan dalam berkehidupan sehari-hari hingga menghilangkan moral dan tanggung jawab Orgon untuk melindungi keluarganya.</p></li></ul></li></ol></li></ul><p><br/></p><ul><li><p><mark>Format dialog</mark></p><ol><li><p>Pembaca mengetahui berbagai perspektif tokoh terhadap Tartuffe (kontras, ada yang memihak dan menentang keberadaan Tartuffe)</p></li><li><p>Perkataan tokoh merepresentasikan karakterisasinya (Tartuffe mengatakan hal yang berbeda di depan Orgon dan anggota keluarga yang lain)</p></li></ol></li></ul><p><br/></p><ul><li><p><mark>Alur</mark></p><ol><li><p><strong>Orientasi</strong> (mengenalkan tokoh, latar keluarga Orgon, dan memperlihatkan perbedaan pandangan antara Orgon dan keluarganya terhadap Tartuffe)</p><ul><li><p>Cerita dibuka dengan gambaran rumah tangga Orgon yang kacau karena hadirnya Tartuffe.</p></li><li><p>Tartuffe tampil seolah-olah sebagai orang suci, penuh kepasrahan, dan rendah hati.</p></li><li><p>Orgon terpesona oleh kepalsuan Tartuffe hingga mengabaikan keluarganya sendiri, sementara anggota keluarga lain (Elmire, Damis, Dorine, Cleante) sudah curiga pada niat buruk Tartuffe.</p></li></ul></li><li><p><strong>Konflik</strong> (memunculkan pertentangan ide)</p><ul><li><p>Orgon makin larut dalam kekagumannya, bahkan ingin menikahkan putrinya, Mariane, dengan Tartuffe.</p></li><li><p>Rencana ini ditentang keras oleh Mariane dan Dorine.</p></li><li><p>Elmire, istri Orgon, juga resah karena Tartuffe justru menunjukkan minat pada dirinya.</p></li></ul></li><li><p><strong>Komplikasi</strong> (mempertegas konflik)</p><ul><li><p>Damis (anak Orgon) mencoba membongkar kebohongan Tartuffe dengan mengungkap rayuan Tartuffe kepada Elmire.</p></li><li><p>Namun, Tartuffe dengan licik memutarbalikkan keadaan, hingga Orgon justru marah pada Damis dan semakin mempercayai Tartuffe.</p></li><li><p>Orgon bahkan menyerahkan warisan dan hak miliknya kepada Tartuffe, menambah krisis dalam keluarga.</p></li></ul></li><li><p><strong>Klimaks</strong> (ketegangan mencapai puncaknya, kebenaran terbongkar)</p><ul><li><p>Elmire mengatur rencana agar Orgon bisa menyaksikan sendiri kelicikan Tartuffe.</p></li><li><p>Ternyata benar: Tartuffe terang-terangan merayu Elmire.</p></li><li><p>Orgon akhirnya menyadari kebenaran yang selama ini diingatkan keluarganya.</p></li><li><p>Namun sudah terlambat, karena surat-surat kepemilikan rumah dan tanah telah berpindah ke tangan Tartuffe. Tartuffe berusaha mengusir mereka dari rumah.</p></li></ul></li><li><p><strong>Resolusi</strong> (memulihkan keseimbangan, menghadirkan keadilan, dan menyampaikan pesan moral)</p><ul><li><p>Tartuffe mencoba memperalat surat-surat dan hukum untuk menghancurkan keluarga Orgon.</p></li><li><p>Namun, raja turun tangan. Tartuffe ditangkap karena kelicikannya, dan hak Orgon dikembalikan.</p></li><li><p>Keluarga Orgon pun bersatu kembali dan terlepas dari pengaruh penipu bertopeng kesalehan itu.</p></li></ul></li></ol></li></ul><p><br/></p><ul><li><p><mark>Fungsi Alur Progresif </mark></p><ul><li><p>Membawa pembacamengikuti perkembangan masalah secara logis dan runtut dari awal hingga akhir.</p></li><li><p>Menegaskan pesan moral bahwa kepalsuan dan kemunafikan, meski tampak menang sementara tetapi akhirnya kalah oleh kebenaran.</p></li><li><p>Menjadikan konflik semakin meningkat secara bertahap (dari kecurigaan kecil, ke ketegangan keluarga, hingga ancaman harta bnda), sehingga pembaca terikat pada cerita.</p></li></ul></li></ul><p><br/></p><ul><li><p><mark>Dampaknya pada Pembaca/Penonton</mark></p><ul><li><p>Menimbulkan emosi bertingkat --&gt; awalnya rasa jengkel pada kebodohan Orgon, kemudian rasa tegang karena liciknya Tartuffe, hingga lega dan puas saat kebenaran menang.</p></li><li><p>Menggugah pembaca agar waspada terhadap kepalsuan dan kemunafikan yang dibungkus kesucian</p></li><li><p>Memunculkan kepuasan dan moral karena alur maju membuat akhir cerita terasa adil dan menyeluruh.</p></li></ul></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-29 06:38:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3608691055</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analisis Aksara Duka (The Scarlet Letter) karya Nathaniel Hawthorne</title>
         <author>nabihaanindya</author>
         <link>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3608729119</link>
         <description><![CDATA[<ul><li><p><mark>Isu utama</mark></p><ol><li><p>Pengaruh ekstrimisme agama terhadap tatanan sosial (menjadi acuan untuk kehidupan bersosial)</p><ul><li><p>Hester dikucilkan selama 7 tahun karena kasus perzinahan</p></li><li><p>Hester dipermalukan di panggung hukuman</p></li><li><p>Hester yang hendak dipisahkan dengan anak kandungnya sendiri</p></li></ul></li><li><p>Marginalisasi gender</p><ul><li><p>Hester yang mengandung dan melahirkan (hanya terungkap dari sisi perempuannya saja)</p></li><li><p>Dipajang menjadi simbol dosa/contoh buruk</p></li><li><p>Pernikahan paksa dengan Chillingworth, menandakan tidak diberikannya hak untuk menolak dan memilih cintanya sendiri</p><p><br/></p></li></ul></li></ol></li><li><p><mark>Karakterisasi</mark></p><ol><li><p>Pearl --&gt; Mutiara/harta yang dimiliki Hester, berkat Tuhan untuk Hester</p></li><li><p>Hester Prynne --&gt; Simbol perjuangan dan feminisme</p><ul><li><p>Menentang keterbatasan menjadi seorang perempuan</p></li><li><p>Menanggung beban dan malu sendiri</p></li><li><p>Berhasil mengubah label 'Adultery' menjadi 'Able' dan 'Angel'</p></li></ul></li><li><p>Roger Chillingworth --&gt; Simbol kekuasaan (laki-laki, dokter)</p><ul><li><p>Memiliki sisi jahat (terobsesi dengan Hester) dan sisi baik (dualisme)</p></li></ul></li><li><p>Arthur Dimmesdale --&gt; Pengecut (lari dari tanggung jawab)</p><ul><li><p>Dipandang baik &amp; suci oleh masyarakat karena seorang rohaniwan</p></li><li><p>Simbol stereotip kepada tokoh agamais pada masa itu</p></li><li><p>Memiliki masalah psikis (menyayat 'A' di dadanya sebagai bentuk rasa menyesal dan bersalah)</p></li></ul></li><li><p>Gubernur --&gt; Simbol kekuasaan (bangsawan)</p><ul><li><p>Buta akan kebenaran (Mengatakan Hester tak mampu merawat Pearl)</p><p><br/></p></li></ul></li></ol></li><li><p><mark>Latar tempat </mark></p><ol><li><p>Pohon mawar </p><ul><li><p>Menunjukkan ketangguhan dan kemampuan bertahan hidup di tengah kekejaman dunia</p></li><li><p>Harapan lembut untuk mengasihani </p></li><li><p>Memberi kesan kontras dengan penjara (Seolah alam mengasihani, tetapi Puritan tidak)</p></li></ul></li><li><p>Panggung hukuman</p><ul><li><p>Alat untuk mempermalukan secara publik (bukan personal)</p></li><li><p>Menjadi alat penyiksaan mental dan membekas</p></li><li><p>Hester menjadi contoh buruk disini</p></li></ul></li><li><p>Rumah Hester</p><p>- Untuk diasingkan (lokasinya di pinggiran, menyatakan marginalisasi)</p></li><li><p>Hutan</p><ul><li><p>Pengungkapan kebenaran yang tersembunyi (Hester menceritakan semuanya pada Dimmesdale, disusul Chillingworth)</p></li></ul><p><br/></p></li></ol></li><li><p><mark>Simbol</mark></p><ol><li><p>Mawar merah --&gt; kontras dengan suasana penjara menyimbolkan kecantikan Hester, serta kemampuannya bertahan hidup di tengah kejahatan masyarakat</p></li><li><p>Huruf merah 'A' --&gt; 'Adultery' atau dosa yang saat itu dilakukannya (penghinaan)</p><ul><li><p>Warna merah: </p><ol><li><p>Darah: rasa sakit, pengorbanan</p></li><li><p>Berani, tangguh</p></li><li><p>Pengakuan dosa</p></li><li><p>Perjuangan mengubah makna 'A'</p></li></ol></li><li><p>Bersifat terbuka karena ditafsirkan berbeda seiring perubahan pandangan masyarakat terhadap Hester (Adultery --&gt; Able, Angel)</p></li></ul></li><li><p>Pearl --&gt; Simbol pengingat dosa orang tuanya. </p><ul><li><p>Pengungkap kebenaran yang ditutup-tutupi (menanyakan 'A' atau kenapa Dimmesdale tidak mau mengakui sebagai ayahnya)</p></li><li><p>Alasan Hester bertahan hidup, bekerja, serta berbuat baik pada masyarakat (memberi harapan untuk menebus dosa)</p></li><li><p>Bersifat terbuka --&gt; penafsiran ganda (beban dan dosa bagi masyarakat, berkat bagi Hester)</p></li></ul></li><li><p>Panggung hukuman --&gt; Rasa bersalah dan alat untuk mempermalukan Hester</p></li></ol></li></ul><p><br/></p><ul><li><p><mark>Konsep agama</mark></p><ol><li><p>Menjadi acuam/landasan hukum untuk melampaui batasan moral (mempermalukan Hester)</p></li><li><p>Alat pengendali masyarakat (Gubernur di panggung hukuman, Pearl yang ingin dipisahkan)</p></li><li><p>Dimmesdale (rohaniwan) berpidato terkait keagamaan untuk menyambut gubernur baru </p></li><li><p>Politik dikaitkan dengan agama (Pemerintahan sangat bergantung pada agama)</p></li></ol></li></ul><p><br/></p><ul><li><p><mark>Tema balas dendam</mark></p><ol><li><p>Chillingworth --&gt; sangat berdedikasi/terobsesi untuk mengungkap selingkuhan Hester. </p><ul><li><p>Hidupnya menjadi tidak bermakna</p></li><li><p>Digambarkan tewas dalam keadaan mengenaskan </p><p><br/></p></li></ul></li></ol></li><li><p><mark>Sudut pandang</mark> --&gt; Orang ketiga serba tahu</p><ul><li><p>Tahu perspektif semua tokoh beserta kebenarannya (melalui narasi langsung)</p></li><li><p>Komentar moralitas</p></li></ul></li></ul><p><br/></p><ul><li><p><mark>Isolasi </mark>--&gt; Pada awalnya membatasi Hester untuk mengangkat derajatnya kembali. Berkat kegigihannya, ia jadi berdaya (mengubah makna huruf 'A' di dadanya).</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-09-29 07:06:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/nabihaanindya/indonesian_a_portfolio/wish/3608729119</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
