<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>REFLEKSI MODUL 3.2 by Narasumber 125</title>
      <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g</link>
      <description>Tuangkan pemahaman Anda dalam belajar mandiri Modul 3.2 pada media padlet berikut: </description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2024-12-10 22:49:08 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-12-11 03:07:23 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url>https://padlet.net/icons/png/1f9e0.png</url>
      </image>
      <item>
         <title>1. Apa hal baru yang Anda pelajari dari modul ini mengenai pendekatan berbasis aset dalam pengelolaan sumber daya sekolah, dan bagaimana pandangan Anda tentang tantangan yang ada di ekosistem sekolah saat ini?
</title>
         <author>kspstkns125</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254768541</link>
         <description><![CDATA[<ol start="2"><li><p>Tantangan apa yang Anda hadapi dalam mengoptimalkan sumber daya sekolah menggunakan pendekatan berbasis aset, dan bagaimana strategi konkret yang Anda akan lakukan untuk memberdayakan tujuh modal utama demi mendukung pembelajaran yang berpihak pada murid?</p></li><li><p>Bagaimana pendekatan berbasis aset ini terhubung dengan pengalaman masa lalu Anda dalam mengelola sumber daya sekolah, relevansinya dalam praktik di sekolah saat ini, dan bagaimana Anda akan mengaplikasikannya untuk menciptakan ekosistem sekolah secara berkelanjutan?</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://live.staticflickr.com/4893/46153104522_8d51deb5cb_b.jpg" />
         <pubDate>2024-12-10 22:52:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254768541</guid>
      </item>
      <item>
         <title>foto dulu</title>
         <author>kasrianianwar08</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254927866</link>
         <description><![CDATA[<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pengelolaan sumber daya sekolah merupakan serangkaian proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap berbagai sumber daya yang dimiliki sekolah, baik fisik maupun non-fisik, untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Dalam konteks ini, sumber daya meliputi manusia (guru, staf, siswa), finansial, material, serta sumber daya alam dan teknologi yang tersedia.</p><p>a.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Sumber Daya Manusia (SDM):</strong></p><p>Guru, kepala sekolah, staf administrasi, serta siswa merupakan aset utama dalam proses pendidikan. Pengelolaan SDM mencakup pengembangan kompetensi, motivasi kerja, serta kolaborasi antar pihak. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan efektif dalam mencapai target pendidikan.</p><p>b.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Sumber Daya Finansial:</strong></p><p>Dana yang diperoleh sekolah, baik dari pemerintah, masyarakat, maupun sumber lainnya, perlu dikelola secara transparan, akuntabel, dan efisien. Perencanaan anggaran harus selaras dengan prioritas kebutuhan sekolah, seperti perbaikan fasilitas, pengadaan bahan ajar, dan peningkatan kualitas pembelajaran.</p><p>c.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Sumber Daya Fisik dan Material:</strong></p><p>Fasilitas seperti gedung sekolah, laboratorium, perpustakaan, dan sarana olahraga memegang peranan penting dalam mendukung pembelajaran. Pemeliharaan dan optimalisasi penggunaan sumber daya ini memastikan bahwa mereka dapat digunakan secara berkelanjutan.</p><p>d.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Teknologi dan Inovasi:</strong></p><p>Di era digital, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan sumber daya sekolah. Teknologi tidak hanya mempermudah administrasi tetapi juga memberikan dampak positif terhadap metode pembelajaran yang lebih interaktif dan modern.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3133156139/1ef7ce2fa116c9d64340a3ce420dae4e/1_____Copy.JPG" />
         <pubDate>2024-12-11 01:30:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254927866</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ni Luh Gede Dian Pondika Cahyaningsih</title>
         <author>nicahyaningsih24</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254929923</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Dari modul ini, saya mengetahui bahwa pengelolaan sumber daya sekolah sebaiknya menggunakan pendekatan berbasis aset/kekuatan (<em>asset-based approach) </em>dimana pendekatan ini merupakan metode praktis untuk mengenali berbagai hal positif dalam kehidupan. Dengan menjadikan kekuatan sebagai fokus utama pemikiran, kita diajak untuk mengarahkan perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang memberikan inspirasi, serta pada kekuatan atau potensi positif yang dimiliki. Adapun aset-aset dalam pengelolaan sumber daya sekolah yaitu modal manusia, modal sosial, modal politik, modal agama dan budaya, modal fisik, modal lingkungan/ alam, modal finansial.</p></li><li><p>Tantangan yang muncul saat saya mengoptimalkan tujuh modal utama untuk mendukung ekosistem pembelajaran di sekolah adalah tantangan politik dan budaya. Dimana sekolah saya merupakan sebuah sekolah swasta yang dinaungi oleh yayasan. Kebijakan sekolah semuanya harus berdasarkan ijin dari yayasan, dan perlu komunikasi yang baik dengan pihak yayasan agar pengelolaan sumber daya sekolah bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Selain itu, tantangan kedua adalah budaya. Sekolah saya memiliki guru yang berasal dari berbagai negara dengan bervariasi budaya. Terkadang, akan ada perbedaan pandangan terhadap budaya lokal yang mempengaruhi aktivitas pengelolaan sumber daya di sekolah. Solusinya adalah melakukan komunikasi dengan semua pihak dan mencari titik tengah yang menjadi win-win solution bagi semua.</p></li><li><p>Menurut pengalaman masa lalu saya, saya sering kali harus bekerja dengan sumber daya terbatas dan mengoptimalkan apa yang tersedia. Pendekatan berbasis aset selaras dengan hal ini karena mendorong saya untuk fokus pada kekuatan dan potensi yang dimiliki sekolah. Saya perlu menunjukkan kreativitas dalam menciptakan materi ajar atau program tanpa memerlukan sumber daya besar, sebuah kemampuan yang menjadi inti dari pendekatan berbasis aset. Untuk ke depannya, saya akan berusaha untuk merancang pembelajaran berbasis proyek atau kegiatan yang mengajak murid untuk mengeksplorasi dan mengembangkan potensi aset lokal.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3108387999/77dab14c9c2a5adcb9b1e1fdb8b3e6cc/Screen_Shot_2024_12_09_at_08_28_00.png" />
         <pubDate>2024-12-11 01:31:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254929923</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>noorsa28</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254930828</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hal baru yang saya pelajari dari modul ini mengenai pendekatan berbasis asetdalam pengelolaan sumber daya sekolah adalah tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya yang berbasis pada asset/ kekuatan, bukan berbasis pada kekurangan/ hambatan. Dengan uraian sebagai berikut : Fokus pada aset dan kekuatan, Membayangkan masa depan, Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut, Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (asset dan kekuatan), Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan, Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan</p><p>Pandangan saya tentang tantangan yang ada di ekosistem sekolah adalah tentang pemahaman konsep tersebut yang belum sama-sama dipahami oleh semua warga sekolah. Sehingga berpikir berbasis aset ini perlu diyakini oleh semua pihak agar mendapatkan pemahaman yang sama. </p></li><li><p>Tantangan yang saya hadapi adalah dalam mengoptimalkan modal manusia dan fisik. Dari segi modal fisik, sarana dan prasarana yang ada di sekolah saya masih kurang memadai dalam mendukung pembelajaran. Masih minim dalam penyediaan peralatan untuk pembelajaran yang berbasis IT. Sehingga memanfaatkan yang ada secara bergantian dan juga terjadwal di setiap kelas. Dari segi modal manusia, sangat perlu untuk menambah wawasan baru tentang pengetahuan kurikulum terbaru dan cara meningkatkan kinerja secara kolaboratif agar mendapat pemahaman yang sama dalam mengelola pembelajaran. Langkah konkret yang akan saya lakukan sebagai guru adalah mengajak guru berkolaborasi dalam memahami pembelajaran yang berpihak pada murid, agar budaya positif bisa terjalin di sekolah dan dapat menunjang program sekolah dalam menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid</p></li><li><p>Pendekatan berbasis aset ini terhubung dengan pengalaman masa lalu saya dalam menggunakan modal fisik sarana prasarana dalam mendukung kegiatan pembelajaran yang berbasis IT masih belum mendukung, karena di daerah sekolah saya sulit jaringan listrik dan internet, sehingga untuk menggunakan perangkat terknologi sangat sulit. Sehingga untuk menggunakan aset/kekuatan yang ada, saya tinggal di daerah kota dapat membuat video pembelajaran terlebih dahulu atau mendownload bahan pembelajaran dari internet. Agar saat digunakan bisa tanpa jaringan internet</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3115582799/ec315b7cdff68bbb320d2419fe461bcd/IMG_20241130_163321a_removebg_preview__1_.png" />
         <pubDate>2024-12-11 01:32:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254930828</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Eza Budiono</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254931617</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hal baru yang saya pelajari dari modul ini adalah bahwa pendekatan berbasis aset adalah kesempatan kita untuk berorientasi pada hal-hal positif yang sudah ada. Kita pun memandang hal-hal yang sudah ada itu dengan positif. Dengan pendekatan berbasis aset ini maka kita akan minim untuk mencari-cari kesalahan atau bersembunyi di balik kalimat "sarana dan prasarana tidak memadai." Namun memang, dalam ekosistem sekolah hal ini juga akan senantiasa mendapatkan tantangan. Bagi saya, tantangan itulah yang membuat menarik hidup kita. Dengan adanya tantangan maka akan tersedia kesempatan untuk berpikir menyelesaikan tantangan yang ada. </p></li><li><p>Tantangan yang dihadapi dalam mengoptimalkan sumber daya ini tentu saja datang dari dalam diri sendiri. Apakah saya mampu, apakah saya ingin? termasuk harus kita sadari bahwa melakukan hal ini butuh keseriusan, berkelanjutan. Ada rasa malas untuk melakukan hal ini yang harus bisa dilawan demi menciptakan pembelajaran yang aman, nyaman, berkualitas bagi peserta didik. Selain itu, para orang tua yang menganggap bahwa segala pendidikan adalah tangggung jawab sekolah menjadi hal yang sangat krusial. Orang tua siswa yang seharusnay menjadi aset malah menjadi penghalang dalam proses pendidikan.</p></li><li><p>Pendekatan berbasis aset ini tentu sangatlah paten jika dilakukan sejak dahulu. Saya berpikir pendidikan kita kaan sudah maju jika ini dilakukan sejak dulu. Hari ini akan saya lakukan di sekolah dan harapannya akan menunjukkan hasil positif untuk keadaan di masa yang akan datang. </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3157333532/6d9223af02d27710cb2cb92ba5dc0126/WhatsApp_Image_2024_12_10_at_10_33_35.jpeg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:33:00 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254931617</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254933196</link>
         <description><![CDATA[<p>Hal baru yang saya pelajari adalah bagaimana pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya dan ekosistem yang ada disekolah, dimana sebuah ekosistem sekolah merupakan hubungan interaksi yang saling berkaitan dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik. Faktor-faktor biotik yang ada disekolah yaitu : Kepala sekolah, Guru, Murid, Wali murid dan Masyarakat sekitar. Sedangkan faktor abiotiknya yaitu : keuangan sekolah dan segala bentuk sarana prasarana yang ada disekolah serta lingkungan alam sekitar.</p><p>Seringkali, kita sebagai pemimpin pembelajaran menemukan berbagai kendala dan hambatan karena&nbsp; hanya berfokus pada masalah atau kekurangan yang ada tanpa kita sadari sebenarnya banyak sekali kekuatan-kekuatan yang ada disekolah.untuk bisa digunakan dalam menyelesaikannnya . Pengelolaan sumber daya aset menjadi sangat penting bagi kita agar dapat memanfaatkannya dalam merancang dan menciptakan lingkungan belajar yang optimal.</p><p>Langkah langkah dalam pengelolaan sumber daya adalah&nbsp;</p><ul><li><p>. Pemetaan ( Inventaris , analisis dan prioritas)</p></li><li><p>&nbsp; Perencanaan (Penyusunan rencana dan Alokasi dana)</p></li><li><p>Pelaksanaan</p></li><li><p>Monitoring dan&nbsp; Evaluasi&nbsp;</p><p><strong>Tantangan yang dihadapi</strong> adalah keterbatasannya sumber daya&nbsp; ( contoh manusia dan finansial)&nbsp; seperti punya lapangan basket , lapangan futsal tetapi guru olah raganya terbatas , atau perlunya Koordinasi antara guru, kepala sekolah, dan staf yayasan&nbsp; seringkali menjadi tantangan dalam mengimplementasikan program-program baru.</p><p>untuk itulah pendekaan yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan dalam pendidikan, termasuk guru, siswa, orang tua, dan komunitas, harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan program. Partisipasi aktif dari semua pihak akan meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap keberhasilan sekolah.&nbsp;</p><p>langkah konkritnya adalah&nbsp; memanfaatkan ketrampilan guru , menggunakan komunitas sebagai tempat belajar bagi guru , memanfaatkan linkungan sebagai tempat belajar&nbsp; dan menjalin kemitraan dalam mendukung program sekolah.</p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3157333750/886ee6cd74d066dc282e4bbdd23aba4f/photo.jpeg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:34:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254933196</guid>
      </item>
      <item>
         <title>SUGIARTI NINGSIH</title>
         <author>giarningsih85</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254933452</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>HAL BARU  Pengelolaan sumber daya sekolah menggunakan pendekatan berbasis aset yang dimiliki oleh sekolah mempunyai karakter titik awal perubahan pola pikir, perubahan positif dari perbincangan sederhana,menanyakan apa yang sudah berhasil dilaksanakan, setiap warga sekolah melakukan perubahan tersebut dan bertanggung jawab, sekolah dibangun dengan melihat potensi tantangan, kekuatan berbanding lurus dengan kekuatan. 7 modal pendekatan berbasis aset adalah manusia, sosial, fisik, lingkungan/alam, finansial,politik, agama dan budaya</p></li></ol><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Tantangan keterbatasan sumber daya seperti finansial dan perbedaan individu strategi untuk mengatasi adalah Kerjasama dengan pihak luar dan peningkatan profesionalisme dengan pelatihan</p></li><li><p>Pendekatan berbasis aset ini berhubungan dengan masa lalu saya yang selalu melihat kelemahan/hambatan sekolah menjadi hambatan. Relevansinya adalah bahwa kita harus melihat aset  yang sekolah miliki untuk dikembangkan menjadi kekuatan sekolah dalam menyusun program sehingga dengan melibatkan 7 modal yang sekolah miliki maka akan mendukung dalam pengembangan program sesuai dengan kekuatan kita</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1965805449/4c62a81a77ffbdf4c094a48dc2804e98/WhatsApp_Image_2024_03_13_at_20_16_07.jpeg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:34:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254933452</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dwi Angga Oktavianto</title>
         <author>dwioktavianto40</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254933470</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hal baru yang saya dapati ialah bahwa ada 7 modal utama  modal utama (manusia, sosial, fisik, lingkungan, finansial, politik, dan budaya) yang dapat dimanfaatkan untuk perkembangan sekolah yang harus diidentifikasi dianalisis dan dimanfaatkan dengan berdasarkan berbasis nilai-nilai kebajikan. Tantangannya ialah merubah persepsi sebagian warga sekolah agar tidak hanya melihat sisi negatif, tetapi bagaimana memandang sisi positif (aset yang kami miliki).</p><p><br/></p></li><li><p> Beirkut ini tantangan</p><p>1) Modal manusia: Kurangnya pelatihan berkelanjutan untuk guru yang sesuai dengan kebutuhan spesifik kompetensi siswa.</p><p>2) Modal sosial: Membangun kepercayaan antara pemangku kepentingan industri dan sekolah, seperti PT Kalimantan Prima Persada.</p><p>3) Modal finansial: Terbatasnya dana untuk pengembangan fasilitas baru.</p><p>4) Modal lingkungan: Adaptasi dengan kebutuhan lokal dan isu lingkungan daerah tambang.</p><p>5) Modal Fisik: Lokasi dengan kontur tidak rata dan RPS yang lumayan lengkap</p><p>6) Nodal politik: Dekat dengan pejabat dinas dan gubernur</p><p>7) Modal budaya: beragam budaya, Banjar, Jawa, Madura</p></li><li><p>Dulu saya juga terlalu banyak melihat dari sisi negatif tentang emmandang sesuatu, terutama pas awal datang ke SMK saya ini. Sekarang saya berusaha mengubah sudut pandang saya mengenanai pengelolaan berbasis aset dari segi positif. Kedepan saya akan mengajak warga sekolah menerapkan pemikiran yang semacam ini.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1771122179/9e977546bf5c0318ca37854294a5739c/Pas_Foto_Dwi_Angga_Oktavianto.jpg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:34:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254933470</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi Modul 3.2 Pemimpin dalam pengelolaan Sumber Daya</title>
         <author>bardiansyah98_</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254933511</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hal baru yang saya pelajari dari modul 3.2 adalah Pengelolaan sumber daya sekolah adalah proses yang penting untuk memastikan bahwa semua sumber daya yang ada digunakan secara efektif dan efisien demi mendukung kegiatan pembelajaran.Perlu memahami bahwa pengelolaan sumber daya mencakup pemanfaatan fasilitas, sarana, dan prasarana yang ada di satuan pendidikan. Hal ini berarti Anda harus memanfaatkan semua sumber daya yang tersedia sesuai dengan peruntukannya. Tantangan nya dalam ekosistem sekarang tergantung dari aset yang dimilki dan kemampuan sumber daya yang mengelola ekosistem sekolah tersebuat</p></li><li><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangan yang kemungkinan akan dihadapi hadapi dalam mengoptimalkan tujuh modal utama untuk mendukung ekosistem pembelajaran di sekolah sangat beragam sebagai berikut ;</p><p>Pertama, dalam hal modal manusia, tantangan utama adalah kurangnya pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru. Hal ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk menerapkan metode pengajaran yang inovatif dan efektif.</p><p>Kedua, modal sosial juga menjadi tantangan, terutama dalam membangun kemitraan yang kuat dengan orang tua dan masyarakat. Jika komunikasi dan kolaborasi tidak terjalin dengan baik, dukungan dari lingkungan sekitar terhadap proses pembelajaran bisa berkurang.</p><p>Ketiga, modal fisik sering kali terhambat oleh keterbatasan fasilitas dan infrastruktur yang memadai. Sekolah yang tidak memiliki ruang belajar yang nyaman atau peralatan yang cukup dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran.</p><p>Keempat, modal lingkungan juga menjadi tantangan, terutama dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung. Faktor-faktor eksternal seperti kebisingan atau polusi dapat mengganggu konsentrasi murid.</p><p>Kelima, dalam hal modal finansial, keterbatasan anggaran sering kali menjadi penghalang untuk mengimplementasikan program-program pendidikan yang berkualitas. Tanpa dana yang cukup, sulit untuk mengadakan kegiatan ekstrakurikuler atau membeli sumber belajar yang diperlukan.</p><p>Keenam, modal politik dapat menjadi tantangan jika ada perubahan kebijakan yang tidak mendukung pengembangan pendidikan. Kebijakan yang tidak konsisten dapat mengganggu rencana jangka panjang sekolah.</p><p>Ketujuh, modal budaya juga harus diperhatikan. Perbedaan nilai dan norma dalam masyarakat dapat mempengaruhi cara pandang murid terhadap pendidikan. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya pendidikan di kalangan masyarakat</p></li><li><p>Pendekatan berbasisi aset ini sangat terhubung dengan pengalaman masa lalu saya dimana ketika saya dapat mulai dengan mengidentifikasi dan memanfaatkan aset yang ada di lingkungan sekitar murid. Hal ini bisa dilakukan dengan melibatkan murid dalam proses pembelajaran yang relevan dengan kehidupan mereka. Misalnya, ketika bisa mengajak murid untuk melakukan proyek berbasis komunitas yang memanfaatkan sumber daya lokal, seperti pada SDN Sungai Gampa 1 sudah memanfaatkan pengembangan lingkungan lokal berbasis lokal dengan menanam cabe rawit, untuk jangka pendek, jangkapnajang menanam pepaya dan jangka panjang menanam jeruk. Dengan cara ini, diharapkan tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang nyata dan bermanfaat bagi murid. relevansi dengan sekarang masih sangat relevan karena dengan melibatkan komunitas sekolah dan murid dapt mengelola aset yang hampir tidak tesentuh tidak termanejemen secara baik.</p><p><br></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2198524392/aee9b4bbb083e4c634d45933e4c8b44c/Bardiansyah.jpeg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:34:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254933511</guid>
      </item>
      <item>
         <title>3.2 pendekatan bebasis aset</title>
         <author>niyuliani072</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254933571</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>hal baru yang saya pelajari adalah</p><p>tentang pengelolaan SDM aset terbesar dan utama yang kita berdayakan yang kita punya adalah sumber daya manusia itu sendiri Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling mempengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:1. Murid</p><p>2. Guru</p><p>3. Kepala Sekolah</p><p>4. Staf/Tenaga Kependidikan</p><p>5. Pengawas Sekolah</p><p>6. Orang Tua</p><p>7. Masyarakat sekitar sekolah</p><p>8. Dinas terkait</p><p>9. Pemerintah daerah</p><p>10. Tokoh Agama, Tokoh masyarakat, hewan dan tumbuhan di sekitar sekolah.</p><p>Dan ada juga faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga</p><p>berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:</p><p>1. Lingkungan alam</p><p>2. Sarana dan prasarana</p><p>3. Keuangan</p><p>Ini sangat saling bergantungan dengan ekosistem sekolah di mana jika kita mampu memberdayakan factor satu dengan yang lainya kita akan memperoleh hal yang terbaik yg kita miliki di lingkungan sekolah kita</p><p>kita memiliki 7 aset modal :</p><p>a.<strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Modal Manusia</strong></p><p>b.<strong>Modal Sosial</strong></p><p>c.<strong>Modal Politik</strong></p><p>d <strong>Modal agama dan budaya</strong></p><p>e.<strong>Modal Fisik</strong></p><p>f<strong>Modal Lingkungan/alam</strong></p><p>g  <strong>Modal Finansial</strong></p><p>Menerapkan pendekatan berbasis aset menciptakan lingkungan yang ramah dan menyenangkan, yang kemudian memicu munculnya pemikiran dan pandangan positif. Pendekatan ini mengubah pola pikir dari fokus pada kekurangan dan kelemahan menjadi penekanan pada kekuatan, kelebihan, dan potensi yang dimiliki</p></li><li><p>Tantangan yang saya hadapi salah satunya adalah bagaimana saya mampu membuat sebuah kegiatan dengan asset yang ada semisal dengan bidang politik, di sini kita harus membuat rancangan terlebih dahulu yang mungkin politikdalam pembelajarann harus soft skill agat tidak menundang anarkis , biasanya kata politk sangat di garis bawahi apalagi dengan anak ddik / siswa nah saat memuat pemetaan asset ersebut saya menggunakan politik sebuah arahan pemilihan calon ketua kelas , di mana anak paud saya ajarkan demokrasi pemilihan dan sll ikut dalam prosesnya sehingga anak yg terplih nebjadi suri tauladan dan anak yg memilih bangga akan hasl pilihanya tantanganya cukup menarik bagaimana saat pemilihandi libatkan semua anakdidik dan wali sampai selesai, yang membawa hasil yg membuat mereka sennag akan pelibatanya, untuk sosial saya pernah berada saat menjadi wali salah satu anak didik saya mengalapi oprasi cukup besar sehingga ketua kelas degan arahan saya dan rapat dengan oran tuasecara virtual , dan merencanakan sampai berlangsung untuk menengoknya dan memberikan sumbangan di setiap anak di kelas, menurut say aitu sebagai cara mngajarkan sosial kepada anakdidik saya.</p></li><li><p>Terhbung dengan masa lalu sangatlah jauh sebelum saya mengenal modul ini , di mana terkadang asset yang di miliki sekolah pun tidak di ketahui apa saja oleh warga sekolah , relevansinya saat ini adalah setelah saya mendapatkan pembelajaran saya mulai megadakan pemetaan asset untuk mengembangkan semua kegiatan yang terdapat di sekolah saya , agar tersusun rapi hal- hal baik apa yang akan kita lakukan kedepanya , dan kedepanya nanti akan selalu mempelajari hal- hal baru lagi dan selalu mengusahakan konsisten dalam sebuah kegiatan yang tentunya menggunakan asset yang sekolah saya punya</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3112257787/50d754f740b024b3c302529b4202ec6b/photo.jpeg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:34:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254933571</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>undrawanjusuf64</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254934206</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p><em>Hal yang baru yang saya pelajari yaitu Sekolah wajib membangun ekosistem yang mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan murid demi terwujudnya Profil Pelajar Pancasila. Sekolah yang memandang semua sumber daya yang dimiliki sebagai suatu kekuatan dan aset, maka sekolah ini tidak akan berfokus pada kekurangan tapi berupaya pada pemanfaatan kekuatan dan aset yang dimiliki. Dengan memanfaatkan asset yang berada di sekolah sebagai modal dalam pengembangan sekolah yaitu modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya. Sumber daya sebagai aset/kekuatan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran yang berpihak pada murid</em></p></li></ol><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Tantangannya adalah belum dipetakannya tujuh modal utama tersebut sehingga belum termanfaatkan dengan maksimal</p><p>Ø&nbsp; Sebagian besar komunitas sekolah belum terbiasa berfikir berbasis asset dan masih memandang segala sesuatu dari segi kekurangan/ berpikir defisit</p><p>Ø&nbsp; Belum kuatnya komitmen warga sekolah untuk saling bergotong royong dalam memanfaatkan asset yang ada demi kemajuan murid-murid.</p><p>Solusinya : Mengadakan kolaborasi dengan semua warga sekolah dan menjalin kemitraan dengan lingkungan ekternal</p></li><li><p>Pendekatan berbasis aset ini pada masa lalu sudah dikenal namun belum dimanfaatkan secara optimal karena belum adanya pemahaman yang mendalam tentang bagaimana memetakan aset yang ada. Pada saat ini untuk pendekatan berbasis aset ini sangat penting dalam rangka menciptakan ekosistem sekolah secara berkelanjutan dengan memanfaatkan 7 aset yang ada dilingkungan sekolah</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1786524319/5db6f923ddfad795efda96868df290c9/UNDRAWAN_PGRI_3X4.jpg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:34:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254934206</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Maryoto.</title>
         <author>maryoto41</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254936082</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pendekatan&nbsp;&nbsp;Berbasis Aset untuk mengelola sumber daya yang dimiliki karena dengan menggunakan pendekatan&nbsp;berbasis aset&nbsp;fokus pada potensi, kekuatan, dan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah. Pendekatan ini memberdayakan sekolah untuk memanfaatkan&nbsp;aset-aset&nbsp;yang ada guna menciptakan perubahan positif.</p><p>Pola pikir pendekatan aset akan menuntun kita fokus pada :</p><p>Aset dan kekuatan</p><p>Membayangkan masa depan</p><p>Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan</p><p>Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan)</p><p>Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan</p><p>Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan.</p><p>Tantangan yang ada : Belum terdatanya aset-aset yang dimiliki yang ada didalam sekolah dan yang ada sisekitar sekolah yg bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran  yang berpusdat pada murid</p></li><li><p>Kolaborasi /kerjasama yang belum padu antar sekolah, orang tua murid dan masyarakat sekitar sekolah tentang aset sekolah.</p><p>Pemahaman tentang aset sekolah : selama ini yang dimaksud aset sekolah adalah bangunan fisik saja, jadi belum menyentu aspek aspek lain seperti: budaya, politik dan sosial belum dimanfaatkan dengan baik untuk mendukung ekosistem pembelajaran di sekolah.</p></li><li><p>Sebelum mempelajari modul 3.2 Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya , memandang aset hanya berupa fisk, bangunan &nbsp;dan tanah, sekarang mengetahui sekolah meliputi dua ekosistem yaitu faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis.</p><p> Dalam melakukan pengelolaan aset kedepannya akan mempraktikkan dialog berkelanjutan dan partisipasi anggota masyarakat, y menghargai keragaman dan mendorong dialog orang tua  yang aktif, partisipasi dan kepemilikan masyarakat atas masa depan.</p><p>Melibatkan seluruh elemen yang ada disekolah, guru, tenaga kependidikan dan siswa , untuk memiliki yang sam dalam pengelolaan aset sekolah.</p><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 01:36:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254936082</guid>
      </item>
      <item>
         <title>lanjutan...</title>
         <author>kasrianianwar08</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254936412</link>
         <description><![CDATA[<ol start="2"><li><p>Tantangan dalam Mengoptimalkan dan &nbsp;mendukung ekosistem pembelajaran di sekolah memerlukan pendekatan yang strategis, kolaboratif, dan berkelanjutan. Sekolah perlu membangun kemitraan dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, untuk mengatasi kendala yang ada. Selain itu, penguatan kapasitas kepemimpinan kepala sekolah dan pengembangan inovasi berbasis lokal dapat menjadi kunci untuk mengoptimalkan tujuh modal utama secara efektif. Dengan demikian, ekosistem pembelajaran yang inklusif dan berkualitas dapat terwujud. Dalam mendukung ekosistem pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan, optimalisasi tujuh modal utama (manusia, sosial, fisik, lingkungan, finansial, politik, dan budaya)</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 01:36:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254936412</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Aris Setiawan</title>
         <author>arissetiawan42</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254936910</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hal baru yang saya pelajari dari modul 3.2 ini yaitu terkait konsep kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya, saya menyadari pentingnya fokus pada pemanfaaan kekuatan/aset dan sumber daya yang ada di sekitar saya. Saya mulai melihat potensi yang dimiliki oleh para murid, rekan kerja, dan komunitas sekolah secara lebih positif dan sudut pandang yang lebih luas. Saya belajar untuk lebih memotivasi diri sendiri dan teman sejawat, mengembangkan tim kerja yang solid, dan menggunakan pendekatan berbasis aset dalam mengatasi tantangan dan mencapai tujuan bersama.</p><p>Selain itu, saya juga mulai memperhatikan cara saya berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. </p></li><li><p>Tantangan yang saya hadapi adalah terkait keterbatasan sumber daya finansial, infrastruktur fisik yang kurang memadai, dan akses terbatas terhadap teknologi informasi menjadi kendala di tempat saya mengabdi, yaitu SMAN 2 Loa Kulu. Selain itu, perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya siswa, serta dinamika hubungan antar warga sekolah juga dapat menghambat upaya optimalisasi. Strategi konkret yang saya lakukan adalah memperkuat kolaborasi dan terus memperbaiki pola komunikasi dengan seluruh warga sekolah, masyarakat sekitar, dan stake holder sekolah. Saya belajar pentingnya komunikasi yang efektif dalam membangun hubungan yang baik dan memperjelas visi serta tujuan yang ingin dicapai. Saya berusaha untuk lebih terbuka terhadap masukan dan ide-ide konstruktif dari orang lain serta belajar untuk lebih baik dalam mengelola konflik dan memecahkan masalah.</p></li><li><p>Sebenarnya, dari awal menjadi guru pada tahun 2005, Saya merasa sudah mulai menerapkan pendekatan berbasis aset dalam mengembangkan program-program pendidikan di sekolah. Saya berusaha untuk memanfaatkan keberagaman bakat dan minat siswa, serta membangun kerjasama yang kuat dengan rekan guru dan orang tua siswa. Saya belajar untuk lebih memotivasi siswa, mengembangkan kepemimpinan di kalangan siswa, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3120306058/8bc612fc5d052d2e732f51a7e1901f01/_aris__21_.jpg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:36:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254936910</guid>
      </item>
      <item>
         <title>I Gusti Ayu Ari Nuratih </title>
         <author>inuratih24</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254937246</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Modul 3.2 memberikan wawasan yang berfokus pada pemimpin dalam pengelolaan sumber daya memberikan pemahaman mendalam tentang peran krusial seorang pemimpin dalam mengoptimalkan segala aset yang dimiliki sekolah. Seorang pemimpin sekolah/pemimpin pembelajaran dimana menjadi sosok sentral yang memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola dan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada. Mulai dari sumber daya manusia (guru, staf), sumber daya fisik (gedung, peralatan), hingga sumber daya finansial (anggaran). Pemimpin harus mampu mengambil keputusan yang tepat dan strategis dalam pengelolaan sumber daya. Keputusan ini harus didasarkan pada data yang akurat dan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti efektivitas, efisiensi, dan keberlanjutan. Kolaborasi dengan komite sekolah, orang tua, dan masyarakat akan memperkuat pengelolaan sekolah dengan memberdayakan 7 aset atau modal utama&nbsp; sesuai dengan Karakteristik PKBA (Pengembangan Komunitas Berbasis Aset).</p></li><li><p><strong>Beberapa tantangan</strong>  yang dihadapi  sekolah dalam mengoptimalkan tujuh modal utama untuk mendukung ekosistem pembelajaran diantaranya :</p><p>a. Perkembangan teknologi yang sangat cepat menuntut sekolah untuk terus beradaptasi dan memperbarui perangkat serta metode pembelajaran</p><p>b. Kebutuhan dan minat siswa terus berubah seiring dengan perkembangan zaman, sehingga kurikulum dan metode pembelajaran harus terus disesuaikan.</p><p>c. Perubahan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan dapat berdampak signifikan pada pengelolaan sumber daya sekolah.</p><p>d.&nbsp;Masyarakat sekitar sekolah memiliki latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi yang beragam, sehingga dapat mempengaruhi partisipasi dan dukungan mereka terhadap kegiatan sekolah</p><p><strong>Strategi dalam&nbsp; menghadapi tantangan tersebut adalah</strong> :</p><p>a.&nbsp;Membangun kemitraan dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha, untuk mendapatkan dukungan finansial, sumber daya manusia, dan akses terhadap teknologi.</p><p>b.&nbsp;Melakukan pelatihan dan pengembangan bagi guru dan staf sekolah untuk meningkatkan kompetensi mereka</p><p>c.&nbsp;Merancang program pembelajaran yang relevan, menarik, dan disesuaikan dengan kebutuhan dan minat siswa</p><p>d. Merancang program pembelajaran yang relevan, menarik, dan disesuaikan dengan kebutuhan dan minat siswa.</p></li><li><p>Pengalaman sebelumnya  Paradigma berpikir yang di gunakan adalah selalu menghawatirkan kendala atau permasalahan yang dihadapi, sehingga kami malah menghindarinya bukan menghadapinya dengan solusi. Maka Pendekatan berbasis aset tersebut telah mendorong peningkatan kualitas pembelajaran melalui beberapa cara yaitu &nbsp;fokus pada kekuatan dan potensi yang dimiliki, melibatkan semua pihak dalam mencari solusi yang akan &nbsp;mendorong munculnya ide-ide kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran, memanfaatkan aset yang sudah ada, sekolah dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan menghindari pemborosan. Pendekatan berbasis aset mendorong sekolah untuk menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, sehingga dapat memperluas akses terhadap sumber daya dan peluang.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2068184325/d094785e8baef64acfc4910205b8ebc7/WhatsApp_Image_2024_12_11_at_09_36_32.jpeg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:37:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254937246</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254937539</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Dari modul yang saya pelajari, pengelolaan sumber daya sekolah merupakan proses strategis dalam mengidentifikasi, mengalokasikan, dan memanfaatkan seluruh aset yang dimiliki sekolah untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal. Pengelolaan yang efektif akan memastikan bahwa semua sumber daya, baik itu manusia, fisik, finansial, maupun sosial, dapat saling bersinergi untuk mendukung proses pembelajaran. </p><p>2.Tantangan dalam mengoptimalkan sumberdaya sekolah menggunakan pendekatan berbasis aset </p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang berbeda-beda sifatnya membutuhkan perencanaan dan koordinasi yang baik.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perubahan yang dinamis: Kebutuhan pembelajaran siswa terus berubah, sehingga pengelolaan sumber daya harus fleksibel dan adaptif.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Terdapat perbedaan persepsi antara berbagai pihak terkait mengenai pentingnya masing-masing modal dan bagaimana cara mengoptimalkannya.</p><p>·&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keterbatasan sumber daya: Terkadang, sekolah menghadapi keterbatasan sumber daya, baik itu finansial maupun sumber daya manusia.</p><p>3.Pada masa lalu saat ingin melakukan perubahan selalu berawal dari masalah. Masa kini dan masa akan datang  yang paling penting adalah memanfaatkan segala potensi yang ada di sekolah sebagai kekuatan untuk mencapai tujuan. Ini berarti tidak hanya fokus pada kekurangan (masalah ), tetapi juga mengidentifikasi dan mengembangkan kekuatan yang sudah dimiliki sekolah.</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3157334501/35ecf10da651d88b48ff7993dc9631f2/Fotoku_dinas.jpeg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:37:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254937539</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254938195</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hal baru yang saya pelajarari adalah Pengelolaan sumber daya sekolah yang melibatkan pemanfaatan secara optimal tujuh modal utama: manusia, sosial, fisik, lingkungan, finansial, politik, dan budaya. </p></li><li><p>Pengelolaan sumber daya sekolah menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kualitas pendidikan. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sumber daya, seperti dana, fasilitas, atau sumber daya manusia yang memadai, yang dapat berdampak pada kualitas pembelajaran dan operasional sekolah. Selain itu, manajemen yang kurang efisien dan kurangnya transparansi dalam pengelolaan sering kali menghambat pemanfaatan aset sekolah secara maksimal. Keterlibatan komunitas yang rendah, termasuk orang tua dan masyarakat, juga dapat menjadi kendala dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan sumber daya.</p></li></ol><p>Strategi untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, penting bagi pengelola sekolah untuk mengadopsi pendekatan kolaboratif, mengoptimalkan pemanfaatan aset lokal, serta terus memperkuat hubungan dengan komunitas dan pemangku kepentingan terkait.</p><ol start="3"><li><p>Di masa lalu, banyak pengelolaan sumber daya dilakukan dengan fokus pada kekurangan dan masalah yang dihadapi, seringkali mengandalkan sumber daya eksternal dan solusi dari luar. pengelolaan sumber daya disekolah cenderung bergantung pada bantuan dana pemerintah atau donasi, dan kurang memperhatikan potensi internal yang dimiliki oleh komunitas atau lingkungan sekitar.</p><p><br/></p><p>masa kini, pendekatan berbasis aset mulai lebih banyak diterapkan, terutama dengan semakin pentingnya pemberdayaan komunitas dan keberlanjutan. Dalam pengelolaan sekolah, ini berarti memanfaatkan sumber daya yang sudah ada, seperti keahlian guru, fasilitas yang ada, serta potensi lokal (misalnya, kerja sama dengan orang tua / komite sekolah, alumni, atau organisasi masyarakat setempat) untuk meningkatkan kualitas pendidikan.</p><p><br/></p><p>Ke depan, pendekatan berbasis aset dapat meningkatkan ketahanan sekolah terhadap perubahan dan krisis, dengan membangun komunitas yang lebih tangguh, mandiri, dan proaktif dalam mencari solusi. Hal ini juga mendukung terciptanya sistem pendidikan yang lebih inklusif, partisipatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.</p></li></ol><ol><li><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3157333776/6abd51c520ff738a611075b40141617f/foto_pgri.jpeg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:37:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254938195</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fitriramadani63</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254938213</link>
         <description><![CDATA[<p>1 Pada modul 3.2 ini saya mempelajarai bahwa <em>Sebagai </em>sebuah ekosistem di sekolah, sumber daya yang ada saling berhubungan/interaksi atau hubungan timbal balik atau saling ketergantungan antara komponen dalam ekosistem. Dalam hal ini adalah komponen biotik yaitu unsur yang hidup dan komponen abiotik, yaitu unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan.&nbsp;</p><p>Faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup) ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. kemudian dengan mempelajarai modul ini saya mendapatkan wawasan bahwa ternyata disekolah saya sudah mempunyai 7 modal utama yang telah dipraktikan sebelumnya </p><ul><li><p><em>modal manusia : GURU, TENDIK, KEPSEK, KOMITE, PENGAWAS, ORANG TUA</em></p></li><li><p><em>modal fisik : RUANG KELAS, TEMPAT BELAJAR, PERPUSTAKAAN, TOILET, RUANG KEPALA SEKOLAH, RUANG GURU</em></p></li><li><p><em>modal sosial : MGMP, K3S DAN KOMBEL SEKOLAH</em></p></li><li><p><em>modal finansial : DANA BOS, DANA KOPRASI</em></p></li><li><p><em>modal politik PUSKESMAS, POLISI, DINAS PENDIDIKAN, DINAS LINGKUNGAN HIDUP</em></p></li><li><p><em>modal lingkungan/alam UDARA, PEPOHONON</em></p></li><li><p><em>modal agama dan budaya. KEGIATAAN KEAGAMAAN JUMAT, SUMBANGAN DUKA, SANTUNAN ANAK YATIM, PERINGATAN HARI BESAR, MENUMBUHKAN 5S, SHALAT DZUHUR BERJAMAAH, PERNINGATAT HARI BESAR</em></p></li></ul><ol start="2"><li><p>Tantangan </p><p>masih ada rekan kerja yang belum mau melihat pendekatan berbasis aset hanya meilhat pada hambatan dan kekurangannya saja </p><p><strong>Mengelola Waktu dan Prioritas</strong></p><p>Pemimpin sering dihadapkan pada tuntutan waktu yang ketat. Tantangan ini mencakup kemampuan untuk mengelola waktu dengan efisien, menetapkan prioritas, dan fokus pada tugas yang memiliki dampak terbesar.</p><p><strong>Menangani Kritik dan Tuntutan Luar</strong></p><p>Pemimpin sering kali menjadi sasaran kritik dan tuntutan dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar organisasi. Menangani tekanan eksternal sambil tetap fokus pada visi dan misi peNDIDIKAN adalah tantangan yang nyata.</p><p><strong>Membangun Keterampilan Komunikasi yang Efektif</strong></p><p>Keterampilan komunikasi yang efektif adalah landasan kepemimpinan yang kuat. Pemimpin harus mampu menyampaikan informasi dengan jelas, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan memotivasi tim melalui komunikasi yang inspiratif.</p><p><strong>Mengembangkan Keterampilan Leadership yang Berkelanjutan</strong></p><p>Tantangan akhir adalah memastikan pengembangan berkelanjutan dalam keterampilan kepemimpinan</p></li><li><p>pendekatan berbasis aset ini sangat terhubung dengan pengalaman saya sebelumnya dimana saya Mengoptimalkan kolaborasi guru dan murid dalam melaksanakan suatu kegiatan.</p></li></ol><p>Memaksimalkan barang-barang yang ada sebelumnya, maupun lingkungan kelas untuk menunjang pembelajaran dan menghias kelas agar kelas menjadi nyaman dan menyenangkan dengan memperbanyak kegiatan literasi</p><p>Cara mengimplementasikan pengelolaan sumber daya di sekolah, </p><p>Memanfaatkan sarana dan prasarana sekolah secara efektif dan efisien.</p><p>&nbsp; Memaksimalkan komunitas sekolah dengan visi bersama untuk kemajuan sekolah dan berbagi praktik baik</p><p>&nbsp; Kolaborasi dengan orang tua untuk mendukung program-program sekolah.</p><p>Adapun implementasi pengelolaan sumberdaya di masyarakat sekitar sekolah</p><p><em>Kolaborasi dengan puskesmas untuk sosialisasi</em></p><p><em>Kolaborasi dengan Polsek untuk sosialisasi anti narkoba, dan pengamanan di sekolah</em></p><ul><li><p><em>Kolaborasi dengan tokoh masyarakat untuk berbagai kegiatan misalnya adiwiyata sekolah.</em></p></li></ul><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 01:37:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254938213</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fitriramadani63</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254938825</link>
         <description><![CDATA[<p>1 Pada modul 3.2 ini saya mempelajarai bahwa <em>Sebagai </em>sebuah ekosistem di sekolah, sumber daya yang ada saling berhubungan/interaksi atau hubungan timbal balik atau saling ketergantungan antara komponen dalam ekosistem. Dalam hal ini adalah komponen biotik yaitu unsur yang hidup dan komponen abiotik, yaitu unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan.&nbsp;</p><p>Faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup) ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. kemudian dengan mempelajarai modul ini saya mendapatkan wawasan bahwa ternyata disekolah saya sudah mempunyai 7 modal utama yang telah dipraktikan sebelumnya </p><ul><li><p><em>modal manusia : GURU, TENDIK, KEPSEK, KOMITE, PENGAWAS, ORANG TUA</em></p></li><li><p><em>modal fisik : RUANG KELAS, TEMPAT BELAJAR, PERPUSTAKAAN, TOILET, RUANG KEPALA SEKOLAH, RUANG GURU</em></p></li><li><p><em>modal sosial : MGMP, K3S DAN KOMBEL SEKOLAH</em></p></li><li><p><em>modal finansial : DANA BOS, DANA KOPRASI</em></p></li><li><p><em>modal politik PUSKESMAS, POLISI, DINAS PENDIDIKAN, DINAS LINGKUNGAN HIDUP</em></p></li><li><p><em>modal lingkungan/alam UDARA, PEPOHONON</em></p></li><li><p><em>modal agama dan budaya. KEGIATAAN KEAGAMAAN JUMAT, SUMBANGAN DUKA, SANTUNAN ANAK YATIM, PERINGATAN HARI BESAR, MENUMBUHKAN 5S, SHALAT DZUHUR BERJAMAAH, PERNINGATAT HARI BESAR</em></p></li></ul><ol start="2"><li><p>Tantangan </p><p>masih ada rekan kerja yang belum mau melihat pendekatan berbasis aset hanya meilhat pada hambatan dan kekurangannya saja </p><p><strong>Mengelola Waktu dan Prioritas</strong></p><p>Pemimpin sering dihadapkan pada tuntutan waktu yang ketat. Tantangan ini mencakup kemampuan untuk mengelola waktu dengan efisien, menetapkan prioritas, dan fokus pada tugas yang memiliki dampak terbesar.</p><p><strong>Menangani Kritik dan Tuntutan Luar</strong></p><p>Pemimpin sering kali menjadi sasaran kritik dan tuntutan dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar organisasi. Menangani tekanan eksternal sambil tetap fokus pada visi dan misi peNDIDIKAN adalah tantangan yang nyata.</p><p><strong>Membangun Keterampilan Komunikasi yang Efektif</strong></p><p>Keterampilan komunikasi yang efektif adalah landasan kepemimpinan yang kuat. Pemimpin harus mampu menyampaikan informasi dengan jelas, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan memotivasi tim melalui komunikasi yang inspiratif.</p><p><strong>Mengembangkan Keterampilan Leadership yang Berkelanjutan</strong></p><p>Tantangan akhir adalah memastikan pengembangan berkelanjutan dalam keterampilan kepemimpinan</p></li><li><p>pendekatan berbasis aset ini sangat terhubung dengan pengalaman saya sebelumnya dimana saya Mengoptimalkan kolaborasi guru dan murid dalam melaksanakan suatu kegiatan.</p></li></ol><p>Memaksimalkan barang-barang yang ada sebelumnya, maupun lingkungan kelas untuk menunjang pembelajaran dan menghias kelas agar kelas menjadi nyaman dan menyenangkan dengan memperbanyak kegiatan literasi</p><p>Cara mengimplementasikan pengelolaan sumber daya di sekolah, </p><p>Memanfaatkan sarana dan prasarana sekolah secara efektif dan efisien.</p><p>&nbsp; Memaksimalkan komunitas sekolah dengan visi bersama untuk kemajuan sekolah dan berbagi praktik baik</p><p>&nbsp; Kolaborasi dengan orang tua untuk mendukung program-program sekolah.</p><p>Adapun implementasi pengelolaan sumberdaya di masyarakat sekitar sekolah</p><p><em>Kolaborasi dengan puskesmas untuk sosialisasi</em></p><p><em>Kolaborasi dengan Polsek untuk sosialisasi anti narkoba, dan pengamanan di sekolah</em></p><ul><li><p><em>Kolaborasi dengan tokoh masyarakat untuk berbagai kegiatan misalnya adiwiyata sekolah.</em></p></li></ul><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 01:38:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254938825</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NI MADE CITARIANI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254939244</link>
         <description><![CDATA[<p>Hal baru yang saya pelajari dari modul ini mengenai pendekatan aset dalam pengelolaan sumber daya sekolah adalah <strong>· terkait pengambilan keputusan yaitu </strong>Setiap keputusan harus mempertimbangkan dampaknya pada perkembangan murid, hubungan antar komunitas sekolah, dan lingkungan belajar secara keseluruhan. <strong>Pendekatan Berbasis Aset dalam Pengelolaan Sumber Daya Sekolah </strong>mengajarkan untuk melihat potensi yang ada, baik pada individu maupun komunitas sekolah, sebagai kekuatan untuk mencapai tujuan. Setiap sumber daya sekolah baik materiil maupun non-materiil (seperti bakat guru atau dukungan orang tua) dapat dimanfaatkan untuk menciptakan solusi kreatif. Kepemimpinan murid memberi ruang kepada murid untuk mengambil inisiatif, melatih keterampilan kolaborasi, dan membangun karakter. <strong>Pemahaman baru</strong>: Murid bukan hanya penerima, tetapi juga subjek aktif yang mampu memimpin, berkontribusi, dan membawa perubahan positif.  pandangan saya terhadap tantangan yang ada di sekolah saat ini adalah dalam batasan wajar karena setiap individu mempunyai pandangan yang berbeda jadi bagaimana memaknai perbedaan itu untuk mewujudkan visi yang ada disekolah untuk mencerdaskan anak bangsa, saling menghargai, komunikasi yang efektif, berkolaborasi</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 01:38:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254939244</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fitriramadani63</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254939299</link>
         <description><![CDATA[<p>1 Pada modul 3.2 ini saya mempelajarai bahwa <em>Sebagai </em>sebuah ekosistem di sekolah, sumber daya yang ada saling berhubungan/interaksi atau hubungan timbal balik atau saling ketergantungan antara komponen dalam ekosistem. Dalam hal ini adalah komponen biotik yaitu unsur yang hidup dan komponen abiotik, yaitu unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan.&nbsp;</p><p>Faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup) ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. kemudian dengan mempelajarai modul ini saya mendapatkan wawasan bahwa ternyata disekolah saya sudah mempunyai 7 modal utama yang telah dipraktikan sebelumnya </p><ul><li><p><em>modal manusia : GURU, TENDIK, KEPSEK, KOMITE, PENGAWAS, ORANG TUA</em></p></li><li><p><em>modal fisik : RUANG KELAS, TEMPAT BELAJAR, PERPUSTAKAAN, TOILET, RUANG KEPALA SEKOLAH, RUANG GURU</em></p></li><li><p><em>modal sosial : MGMP, K3S DAN KOMBEL SEKOLAH</em></p></li><li><p><em>modal finansial : DANA BOS, DANA KOPRASI</em></p></li><li><p><em>modal politik PUSKESMAS, POLISI, DINAS PENDIDIKAN, DINAS LINGKUNGAN HIDUP</em></p></li><li><p><em>modal lingkungan/alam UDARA, PEPOHONON</em></p></li><li><p><em>modal agama dan budaya. KEGIATAAN KEAGAMAAN JUMAT, SUMBANGAN DUKA, SANTUNAN ANAK YATIM, PERINGATAN HARI BESAR, MENUMBUHKAN 5S, SHALAT DZUHUR BERJAMAAH, PERNINGATAT HARI BESAR</em></p><p><br/></p></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 01:38:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254939299</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>tincenatalia52</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254939521</link>
         <description><![CDATA[<p>Tince Natalia </p><ol><li><p>Hal baru yang saya pelajari dari modul ini tentang Sekolah sebagai Ekosistem yang merupakan tata interaksi yang membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya (faktor biotik ,murid,guru,kepala sekolah, orangtua dan abioti seperti lingkungan alam, sarana dan prasarana serta keuangan)</p><p>2. Pendekatan berpikir berbasis aset dan pendekatan berpikir berbasis kekurangan</p><p>3. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset</p><p>4. Tujuh Modal Utama ( manusia, sosial,fisik,lingkungan, finansial, politik, dan budaya)</p></li><li><p>Tantangan yang saya hadapi dalam mengoptimalkan sumber daya sekolah untuk mengoptimalkannya yaitu perbedaan cara pandang terhadap aset dan peluang, serta lebih cenderung kepada kekurangan daan tantangan </p></li><li><p>Pendekatan berbasik aset saat ini dulu saya melihat sesuatu dengan kekurangan dan menyalahkan oranglain, sekarang saya menubah cara pandang dengan pengelolaan berbasis aset dan melihat peluang yang ada </p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3115584285/20d3bae1b508081a3593a4f329cb6a93/IMG_20230502_083152.jpg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:38:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254939521</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>fitriramadani63</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254940100</link>
         <description><![CDATA[<ol start="2"><li><p>Tantangan </p><p>masih ada rekan kerja yang belum mau melihat pendekatan berbasis aset hanya meilhat pada hambatan dan kekurangannya saja </p><p><strong>Mengelola Waktu dan Prioritas</strong></p><p>Pemimpin sering dihadapkan pada tuntutan waktu yang ketat. Tantangan ini mencakup kemampuan untuk mengelola waktu dengan efisien, menetapkan prioritas, dan fokus pada tugas yang memiliki dampak terbesar.</p><p><strong>Menangani Kritik dan Tuntutan Luar</strong></p><p>Pemimpin sering kali menjadi sasaran kritik dan tuntutan dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar organisasi. Menangani tekanan eksternal sambil tetap fokus pada visi dan misi peNDIDIKAN adalah tantangan yang nyata.</p><p><strong>Membangun Keterampilan Komunikasi yang Efektif</strong></p><p>Keterampilan komunikasi yang efektif adalah landasan kepemimpinan yang kuat. Pemimpin harus mampu menyampaikan informasi dengan jelas, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan memotivasi tim melalui komunikasi yang inspiratif.</p><p><strong>Mengembangkan Keterampilan Leadership yang Berkelanjutan</strong></p><p>Tantangan akhir adalah memastikan pengembangan berkelanjutan dalam keterampilan kepemimpinan</p></li><li><p>pendekatan berbasis aset ini sangat terhubung dengan pengalaman saya sebelumnya dimana saya Mengoptimalkan kolaborasi guru dan murid dalam melaksanakan suatu kegiatan.</p></li></ol><p>Memaksimalkan barang-barang yang ada sebelumnya, maupun lingkungan kelas untuk menunjang pembelajaran dan menghias kelas agar kelas menjadi nyaman dan menyenangkan dengan memperbanyak kegiatan literasi</p><p>Cara mengimplementasikan pengelolaan sumber daya di sekolah, </p><p>Memanfaatkan sarana dan prasarana sekolah secara efektif dan efisien.</p><p>&nbsp; Memaksimalkan komunitas sekolah dengan visi bersama untuk kemajuan sekolah dan berbagi praktik baik</p><p>&nbsp; Kolaborasi dengan orang tua untuk mendukung program-program sekolah.</p><p>Adapun implementasi pengelolaan sumberdaya di masyarakat sekitar sekolah</p><p><em>Kolaborasi dengan puskesmas untuk sosialisasi</em></p><p><em>Kolaborasi dengan Polsek untuk sosialisasi anti narkoba, dan pengamanan di sekolah</em></p><ul><li><p><em>Kolaborasi dengan tokoh masyarakat untuk berbagai kegiatan misalnya adiwiyata sekolah.</em></p></li></ul><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 01:39:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254940100</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>sumarna41</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254940756</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pendekatan berbasis aset dalam pengelolaan sumber daya sekolah adalah sebuah paradigma yang berfokus pada pengidentifikasian, pemanfaatan, dan pengembangan <strong>kekuatan dan potensi yang dimiliki sekolah</strong>, dibandingkan hanya berfokus pada kekurangan atau tantangan. Pendekatan ini mengedepankan <strong>optimisme, kolaborasi, dan pemberdayaan</strong> semua elemen dalam komunitas sekolah. </p><p>Akan jadi tantangan jika kompetensi dan motivasi warga sekolah dan steakholder rendah.</p></li><li><p>Modal manusia : Keterbatasan kompetensi, Motivasi rendah</p><p>Modal Sosial&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Minimnya keterlibatan orang tua, masyarkat, dan stikholder</p><p>Modal Budaya&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Adanya keengganan menerima inovasi</p><p>Langkah konkritnya.  Fokus pada pelatihan dan &nbsp;pendampingan untuk meningkatkan kompetensi dan motivasi</p><p>Membangun kepercayaan melalui komunikasi yang terbuka yang melibatkan semua pemangku kepentingan</p></li><li><p>Pendekatan berbasis aset dalam pengelolaan sumber daya sekolah adalah sebuah paradigma yang berfokus pada pengidentifikasian, pemanfaatan, dan pengembangan <strong>kekuatan dan potensi yang dimiliki sekolah</strong>, dibandingkan hanya berfokus pada kekurangan atau tantangan. Pendekatan ini mengedepankan <strong>optimisme, kolaborasi, dan pemberdayaan</strong> semua elemen dalam komunitas sekolah. inilah yang memungkinkan dapat dikembangkan dimas ayang akan datang.</p><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1782946625/4548965a5b9f960c3e9705487fc5950a/Foto_Bapa.jpg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:39:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254940756</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi 3.2</title>
         <author>ekafatmagol</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254941527</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hal baru yang saya pelajari pada modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya yang saya pahami yaitu dalam mengelola sumber daya sekolah terdapat tujuh modal utama yang dapat dimanfaatkan sebagai aset untuk mengembangkan potensi sekolah yang dijadikan kekuatan, diantaranya modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik dan modal agama dan budaya. Dengan ke tujuh modal/aset utama tersebut diharapkan mampu terciptanya ekosistem biotik maupun abiotik yang dapat mengembangkan pendidikan di lingkungan sekolah terutama yang berpihak kepada murid.</p></li><li><p>Tantangan yang biasa dihadapi ekosistem pembelajaran di sekolah saya yaitu modal manusia,fisik, finansial, dan politik. Hal tersebut dikarenakan banyak guru yang belum memiliki kompetensi sesuai bidang pendidikan berkebutuhan khusus dan kurangnya pelatihan dan pengembangan keprofesian. Masih ada guru yang memilih berada di zona nyaman sehingga kualitas diri dalam pembelajaran di kelas tidak termaksimalkan dan berkembang. Sarana dan prasarana yang belum terpenuhi sesuai kebutuhan membuat ruang gerak terbatas, demikian juga anggaran terbatas penggunaannya membuat ekosistem tidak termaksimalkan serta aset/modal politik terkait kebijakan-kebijakan yang kurang fleksibilitasnya sehingga berpengaruh dalam proses pengembangan sekolah.&nbsp;Strateginya dengan memanfaatkan komunitas sekolah sebagai tempat untuk belajar bersama dalam merefelksikan pembelajaran dan menemukan solusi terbaik untuk perkembangan murid, kemudian yang berkaitan dengan sarana prasarana serta anggaran diusulkan untuk membuat anggaran berdasarkan program maupun kebutuhan prioritas utama sehingga proses pembelajaran dapat terlaksana sesuai tujuan yang diharapkan. </p></li><li><p>Jika masa lalu memiliki pola pikir bahwa aset itu hanyalah yang berhubungan dengan keuangan/sarana prasarana. Ternyata setelah belajar dalam PGP ini aset memiliki 7 macam yang dipergunakan untuk mendukung pembelajaran yang berpihak pada murid. Saat ini di sekolah sudah tidak lagi memiliki wawasan seperti terdahulu, kami sudah memanfaatkan 7 aset utama untuk mengembangkan sekolah yang berpihak pada murid. Dalam mengaplikasikannya kami bersama-sama warga sekolah mengidentifikasi aset yang dimiliki berdasarkan 7 modal dasar utama lalu menyusun program sekolah yang mengutamakan kepentingan murid. sehingga ekosistem dapat berkelanjutan.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3108996423/6c7f57c9fd472a4debf75b5321874725/photo.jpeg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:40:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254941527</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rahcmadsitorus42</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254942531</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hal  baru yang saya pelajari adalah&nbsp; Pengelolaan sumber daya sekolah merupakan suatu cara pandang dan dasar tindakan kita untuk melihat sekolah sebagai sumber kekuatan dengan memanfaatkan ekosistem sekolah, baik itu ekositem biotik dan abiotik yang ada didalamnya.</p></li><li><p>Berhubung saya baru mutasi ke sekolah yang baru maka tantangan yang saya rasakan adalah belum adanya pemetaan yang lengkap mengenai sumber daya yang ada di sekolah. Strategi konkret yang akan saya lakukan untuk memberdayakan tujuh modal utama adalah dengan menggerakkan seluruh komunitas sekolah sesuai dengan perannya masing-masing.</p></li><li><p>Pengalaman saya pada masa lalu dalam mengelola sumber daya sekolah terlalu fokus pada lingkungan/alam dan finansial sehingga tidak dapat berjalan secara maksimal. Agar dapat berjalan secara berkelanjutan kita perlu mengoptimalkan lima modal lain yaitu : manusia, sosial, politik, agama dan budaya, dan modal fisik.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2985272169/34562adde2dffd37b89893b899ed07e6/Screenshot_2024_12_09_083119.png" />
         <pubDate>2024-12-11 01:40:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254942531</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Suprihatin 1. hal baru yang saya suprihatin 1 hal baru yang saya pelajari dalam modul ini :pengelolaasn 7 ast sumber daya manusia, sosial, politik, lingkungan sosaila/budaya, lingkungn alam , finansial</title>
         <author>hsuprihatin096</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254944349</link>
         <description><![CDATA[<p>pandangan saya terhadap tantangan yangada dalam ekosismtem bahwa dengan lingkungan aset yang ada perlu adanya pengawasan dan pengorganisasian memerlukan pendekatan dalam pengelolaannya </p><p>pendekatan berbasis aset berhbungan dangan pengalaman masa lalu dalam mengelola aset sekolah perlu pendekatan emosiaonla akan pengtingnya pengelolaan sumber daya </p><ol start="2"><li><p>tantangan yang dihadapi kurangnya pemahaman guru tentang pengelolaan sumber daya dalm hal 7 aset sumber daya, rendahnya keterlibatan orang tua dalam mendukung program pengeloalan sumber daya, lingkungan belajar kurang mendukung</p></li><li><p>relevansinya terkhadap ekosismtem sekolah pendekatan berbasis aset</p></li></ol><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 01:42:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254944349</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Refleksi modul 3.2</title>
         <author>inayati75</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254944350</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hal baru yang saya pelajari dari modul ini mengenai pendekatan berbasis aset dalam pengelolaan sumber daya sekolah adalah pentingnya mengidentifikasi dan memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh setiap anggota komunitas sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga orang tua dan memberdayakan seluruh anggota warga sekolah untuk ikut berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan. Pandangan saya tentang tantangan yang ada di sekolah saat ini menjadikannya sebagai modal atau aset yang apabila dikelola dengan baik akan membawa dampak positif untuk seluruh warga sekolah.</p></li><li><p>Tantangan yang saya hadapi dalam mengoptimalkan sumber daya sekolah menggunakan aset adalah kurangnya kesadaran bahwa sekolah memiliki aset yang luar biasa dan sulitnya mengidentifikasi aset yang dimiliki , kemudian strategi yang saya lakukan untuk memberdayakan tujuh modal utama untuk mendukung pembelajaran yang berpihak pada murid adalah dengan mengaktifkan komunitas belajar dan melibatkan pemangku kepentingan seperti komite skeolah dan orang tua dalam mengambil kebijakan untuk pembejaran yang berpihak pada murid</p></li><li><p>Pendekatan berbasis aset ini terhubung dengan masa lalu saya dalam mengelola sumber daya saat saya menjadi kepala TK Ganda Suli dimana saya bersama dengan guru, komite sekolah, dan orang tua menggali aset yang ada disekolah dan membuat program pembelajaran di sekolah, Relevansinya sekarang saya bersama dengan guru sudah memiliki tambahan penghasilan dari kantin yang sama sama dikelola dan penghasilannya digunakan untuk kegiatan program yang telah disusun bersama orang tua</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1966913378/21e204d3426fba692199f16845ff1c58/Foto_Ina_4.jpg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:42:15 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254944350</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rimpunambarita13</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254944517</link>
         <description><![CDATA[<p>2 </p><p><br/></p><ol><li><p>Mengoptimalkan tujuh modal utama (manusia, sosial, fisik, lingkungan, finansial, politik, dan budaya) untuk mendukung ekosistem pembelajaran di SMA Seminari tentu bukanlah tugas yang mudah. Setiap modal ini memiliki tantangan tersendiri yang harus dihadapi, terutama dalam konteks sekolah yang memiliki nilai-nilai khusus dan karakteristiknya sendiri. Berikut adalah tantangan yang mungkin dihadapi dalam mengoptimalkan ketujuh modal utama tersebut:</p><p>1. Modal Manusia (Human Capital)</p><ul><li><p>Tantangan:</p><ul><li><p>Keterbatasan kompetensi dan kualitas pengajaran: Di SMA Seminari, yang mungkin memiliki fokus tertentu seperti pendidikan agama atau pembentukan karakter, terdapat kesulitan dalam menyeimbangkan antara kualitas pendidikan umum dan nilai-nilai rohani atau spiritual yang diusung.</p></li></ul></li><li><p>Solusi Potensial:</p><ul><li><p>Meningkatkan pelatihan dan pengembangan profesional untuk guru, dengan fokus pada pengajaran berbasis karakter dan integrasi antara pembelajaran umum dengan pendidikan agama.</p></li></ul></li></ul><p>2. Modal Sosial (Social Capital)</p><ul><li><p>Tantangan:</p><ul><li><p>Keterlibatan orang tua dan masyarakat: Di SMA Seminari, orang tua mungkin tidak memiliki keterlibatan langsung&nbsp; mengenai peran mereka dalam pendidikan anak, terutama dalam hal pengembangan karakter dan pendidikan. Keterlibatan mereka terbatas pada dukungan dan motivasi dikarenakan siswa SMA Seminari tinggal di asrama.</p></li></ul></li><li><p>Solusi Potensial:</p><ul><li><p>Membuka lebih banyak peluang bagi orang tua dan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan sekolah, misalnya melalui forum diskusi, kegiatan sosial, atau penguatan pendidikan karakter berbasis keluarga.</p></li></ul></li></ul><p>3. Modal Fisik (Physical Capital)</p><ul><li><p>Tantangan:</p><ul><li><p>Keterbatasan fasilitas dan infrastruktur: Di banyak sekolah, termasuk SMA Seminari, mungkin terdapat kekurangan fasilitas yang memadai untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi, ruang kelas yang nyaman, atau fasilitas olahraga dan seni yang memadai.</p><p>Solusi Potensial:</p></li></ul><ul><li><p>Mengoptimalkan penggunaan fasilitas yang ada dengan cara yang lebih efisien, misalnya memaksimalkan penggunaan ruang kelas untuk berbagai kegiatan, serta melakukan perawatan rutin terhadap fasilitas.</p></li></ul></li></ul><p>4. Modal Lingkungan (Environmental Capital)</p><ul><li><p>Tantangan:</p><ul><li><p>Lingkungan fisik yang kurang kondusif: Lingkungan sekolah yang bising, kurangnya ruang terbuka hijau, atau masalah kebersihan dapat mengganggu kenyamanan dan fokus siswa dalam belajar.</p></li></ul></li><li><p>Solusi Potensial:</p><ul><li><p>Melakukan perbaikan dan penataan lingkungan sekolah agar lebih nyaman, hijau, dan aman, dengan melibatkan siswa dalam kegiatan pemeliharaan dan kebersihan lingkungan.</p></li></ul></li></ul><p>5. Modal Finansial (Financial Capital)</p><ul><li><p>Tantangan:</p><ul><li><p>Keterbatasan anggaran: SMA Seminari, seperti banyak sekolah lainnya, sering kali menghadapi keterbatasan dana untuk mendukung berbagai kebutuhan pendidikan, dari fasilitas hingga pengembangan profesional bagi guru.</p></li></ul></li><li><p>Solusi Potensial:</p><ul><li><p>Meningkatkan usaha untuk mencari dana tambahan melalui berbagai program fundraising, kerjasama dengan alumni, atau menggali potensi pendanaan dari lembaga atau yayasan yang mendukung pendidikan.</p></li></ul></li></ul><p>6. Modal Politik (Political Capital)</p><ul><li><p>Tantangan:</p><ul><li><p>Keterbatasan dukungan kebijakan pendidikan: Terkadang kebijakan pemerintah terkait pendidikan, khususnya dalam hal anggaran atau kebijakan kurikulum, tidak sepenuhnya mendukung kebutuhan atau visi khusus yang dimiliki oleh sekolah-sekolah seperti SMA Seminari.</p></li></ul></li><li><p>Solusi Potensial:</p><ul><li><p>Membangun hubungan yang lebih kuat dengan pihak-pihak terkait, seperti pemerintah daerah, lembaga pendidikan tinggi, dan organisasi pendidikan lainnya, untuk mempengaruhi kebijakan yang lebih mendukung.</p></li></ul></li></ul><p>7. Modal Budaya (Cultural Capital)</p><ul><li><p>Tantangan:</p><ul><li><p>Tantangan dalam menjaga keseimbangan antara budaya lokal dan modernitas: SMA Seminari mungkin menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara budaya dan nilai-nilai agama yang kental di sekolah dengan tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan tuntutan dunia kerja.</p></li></ul></li><li><p>Solusi Potensial:</p><ul><li><p>Mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan agama dalam pembelajaran sehari-hari secara kreatif, sehingga siswa dapat menghargai keberagaman namun tetap teguh pada nilai-nilai yang diajarkan.</p><p><br/></p></li></ul></li></ul></li><li><p>Berikut ini adalah beberapa cara pendekatan berbasis aset terhubung dengan pengalaman saya dalam mengelola sumber daya sekolah dan bagaimana saya akan mengaplikasikannya di SMA Seminari:</p><p>1. Mengoptimalkan Sumber Daya Manusia (Guru dan Staf)</p><ul><li><p>Pengalaman Masa Lalu: Di sekolah sebelumnya, saya mengelola tim guru dalam proyek-proyek pengembangan kurikulum dan pembelajaran. Salah satu hal yang saya temukan adalah menggali kekuatan individu di dalam tim lebih efektif daripada sekadar mengatasi kekurangan. Misalnya, ada guru yang ahli dalam teknologi, ada yang memiliki kemampuan luar biasa dalam pengelolaan kelas, dan ada yang memiliki pemahaman mendalam tentang pengajaran berbasis nilai. Ketika kami fokus pada keunggulan masing-masing, kami bisa saling melengkapi dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih holistik.</p></li><li><p>Aplikasi di SMA Seminari: Di SMA Seminari, saya akan menerapkan pendekatan ini dengan lebih sistematis, memetakan kekuatan setiap guru dan menyusun kolaborasi lintas disiplin. Misalnya, guru agama, matematika, dan seni bisa bekerja sama untuk merancang proyek berbasis nilai-nilai lokal yang menyatukan ilmu pengetahuan dengan kebudayaan dan agama. Ini bukan hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga mempererat hubungan antar guru dan membangun tim yang lebih solid.</p></li></ul><p>2. Kolaborasi dengan  Orang Tua</p><ul><li><p>Pengalaman Masa Lalu: Saya pernah mengelola sebuah program pengabdian masyarakat yang melibatkan orang tua dan masyarakat sekitar dalam kegiatan sekolah, seperti kegiatan ekstrakurikuler atau seminar. Dengan pendekatan ini, kami tidak hanya mendapat dukungan eksternal dalam bentuk dana atau fasilitas, tetapi juga dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan praktis yang dibawa oleh orang tua dan anggota komunitas.</p></li><li><p>Aplikasi di SMA Seminari: Pendekatan berbasis aset menekankan pentingnya kolaborasi dengan komunitas. Di SMA Seminari, saya akan memperkuat kemitraan dengan orang tua, alumni, dan komunitas gereja untuk mendukung program-program sekolah. Sebagai contoh, saya bisa mengadakan kegiatan pengajaran di luar kelas yang melibatkan masyarakat, seperti pelatihan keterampilan untuk siswa yang dipandu oleh orang tua atau alumni yang memiliki keahlian tertentu. Ini tidak hanya memperkaya pembelajaran siswa, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan dukungan terhadap sekolah.</p></li></ul><p>3. Menumbuhkan Budaya Sekolah yang Berkelanjutan dan Inklusif</p><ul><li><p>Pengalaman Masa Lalu: Saya pernah terlibat dalam membangun budaya sekolah inklusif, yang tidak hanya menghargai keberagaman tetapi juga memanfaatkan aset kultural dan sosial untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pembelajaran siswa. Salah satu langkah penting adalah mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam setiap aspek pembelajaran, baik melalui seni, budaya, maupun kegiatan keagamaan.</p></li><li><p>Aplikasi di SMA Seminari: Mengingat SMA Seminari memiliki nilai-nilai agama dan budaya yang kuat, saya akan memanfaatkan aset budaya dan agama yang ada di sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan berkelanjutan. Misalnya, mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam pembelajaran sehari-hari, serta memperkenalkan budaya lokal dalam kegiatan sekolah untuk membentuk karakter siswa yang lebih kuat dan berakar pada tradisi. Ini akan mendukung penciptaan ekosistem sekolah yang berkelanjutan, di mana seluruh elemen sekolah, dari siswa hingga orang tua dan alumni, merasa terlibat dan memiliki peran dalam mengembangkan sekolah.</p></li></ul><p>4. Menciptakan Program Berbasis Aset untuk Pengembangan Karakter</p><ul><li><p>Pengalaman Masa Lalu: Salah satu program yang saya kelola adalah program pengembangan karakter berbasis keterlibatan masyarakat. Kami melibatkan berbagai pihak untuk memberikan pelatihan kepada siswa, seperti keterampilan hidup, kepemimpinan, dan pengelolaan emosi. Program ini tidak hanya mengajarkan keterampilan praktis, tetapi juga memperkenalkan siswa pada nilai-nilai kerja sama dan kepedulian sosial.</p></li><li><p>Aplikasi di SMA Seminari: Di SMA Seminari, saya akan menciptakan program pengembangan karakter berbasis komunitas, di mana siswa dapat belajar langsung dari orang tua, alumni, atau anggota gereja yang memiliki pengalaman dalam bidang kepemimpinan dan pelayanan sosial. Program ini akan memanfaatkan sumber daya manusia yang ada di sekitar sekolah dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat dalam kegiatan sosial berbasis nilai-nilai agama yang dapat memperkuat pembentukan karakter mereka.</p></li></ul><p><br/></p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 01:42:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254944517</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>rimpunambarita13</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254944587</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Berikut adalah hal-hal baru yang saya pelajari dari modul ini mengenai pendekatan berbasis aset, serta pandangan saya tentang tantangan yang ada di SMA Seminari saat ini.</p><p>Hal Baru yang Dipelajari dari Modul Ini:</p><ol><li><p>Pendekatan Berbasis Aset yang Proaktif dan Kolaboratif:</p><ul><li><p>Pendekatan berbasis aset menekankan pada pemberdayaan seluruh elemen yang ada di sekolah, termasuk sumber daya manusia, sosial, fisik, lingkungan, finansial, politik, dan budaya. Dalam hal ini, bukan hanya sekadar mengatasi kekurangan, tetapi lebih pada menggali dan mengoptimalkan potensi yang sudah ada.</p></li><li><p>Apa yang baru bagi saya adalah pemahaman bahwa setiap sekolah memiliki aset unik—baik yang terlihat seperti tenaga pengajar yang terampil, fasilitas yang baik, atau yang lebih halus seperti hubungan sosial di komunitas, budaya lokal yang kuat, dan nilai-nilai agama yang hidup. Pendekatan ini mengingatkan kita untuk melihat sumber daya yang ada bukan sebagai sekadar kekurangan, tetapi sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan.</p></li></ul></li><li><p>Pemberdayaan dan Kolaborasi untuk Keberlanjutan:</p><ul><li><p>Modul ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan alumni untuk mendukung keberlanjutan dan kesuksesan pendidikan. Di SMA Seminari, misalnya, pendalaman nilai-nilai agama dan budaya lokal dapat menjadi aset yang sangat berharga untuk menciptakan program-program pembelajaran yang lebih relevan dan bermakna.</p></li><li><p>Yang lebih penting adalah bagaimana pemberdayaan semua pihak untuk berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya, baik itu dalam pengelolaan fasilitas, dana, maupun program sekolah. Ini sangat sesuai dengan visi pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan.</p></li></ul></li><li><p>Fokus pada Solusi Berbasis Komunitas:</p><ul><li><p>Pendekatan berbasis aset mengajak kita untuk melibatkan komunitas dalam setiap proses pengelolaan sumber daya. Pendekatan ini mengingatkan kita untuk lebih menghargai dan mengoptimalkan jaringan sosial, serta bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mendukung tujuan pendidikan.</p></li><li><p>Di SMA Seminari, misalnya, orang tua dan masyarakat sekitar bisa dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran, seperti program pengabdian masyarakat atau pembelajaran berbasis proyek yang mengaitkan pelajaran dengan realitas kehidupan sehari-hari.</p></li></ul></li><li><p>Evaluasi dan Refleksi untuk Peningkatan Berkelanjutan:</p><ul><li><p>Yang menarik adalah bagaimana pendekatan berbasis aset menekankan pentingnya evaluasi berbasis potensi untuk menilai sejauh mana sumber daya yang ada digunakan secara maksimal. Evaluasi ini tidak hanya melihat kekurangan atau masalah, tetapi juga melihat potensi dan capaian yang sudah ada untuk dirayakan dan diperkuat lebih lanjut.</p></li></ul></li></ol><p>Tantangan yang Ada di SMA Seminari Saat Ini:</p><p>Sebagai sekolah yang berfokus pada pengembangan karakter dan kualitas spiritual, SMA Seminari menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan fisik atau finansial, tetapi juga terkait dengan bagaimana memanfaatkan sumber daya sosial dan kultural yang ada di sekolah dan komunitas sekitar. Berikut beberapa tantangan yang ada di SMA Seminari saat ini dalam menerapkan pendekatan berbasis aset:</p><ol><li><p>Pengelolaan Sumber Daya Manusia yang Terbatas:</p><ul><li><p>SMA Seminari seringkali menghadapi keterbatasan dalam hal jumlah tenaga pengajar dan staf yang memiliki kompetensi spesifik di berbagai bidang. Meskipun banyak guru yang terampil, namun banyak program pembelajaran yang belum dapat mengoptimalkan seluruh potensi guru karena keterbatasan waktu dan sumber daya. Solusinya adalah dengan memanfaatkan keterlibatan alumni, orang tua, dan masyarakat untuk menjadi mitra dalam pengembangan pendidikan, baik melalui pembelajaran berbasis proyek atau sebagai mentor dalam program tertentu.</p></li></ul></li><li><p>Keterbatasan Infrastruktur dan Fasilitas:</p><ul><li><p>Infrastruktur yang ada di SMA Seminari mungkin belum sepenuhnya memadai untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi dan metode interaktif lainnya. Namun, sekolah bisa mengoptimalkan fasilitas yang ada dengan cara pemanfaatan ulang ruang dan fasilitas secara fleksibel, serta memperkenalkan penggunaan teknologi sederhana yang dapat mendukung pembelajaran, seperti penggunaan aplikasi berbasis web atau media sosial untuk diskusi dan kolaborasi.</p></li></ul></li><li><p>Pengelolaan Keuangan yang Terbatas:</p><ul><li><p>Keterbatasan dana seringkali menjadi tantangan besar dalam pengelolaan sumber daya di SMA Seminari. Namun, dengan pendekatan berbasis aset, tantangan ini bisa diatasi dengan lebih kreatif. Misalnya, mengoptimalkan sumber daya lokal, seperti bekerja sama dengan organisasi gereja atau lembaga sosial yang memiliki visi dan misi serupa, untuk mendukung program-program pendidikan di sekolah.</p></li><li><p>Selain itu, menciptakan program penggalangan dana yang melibatkan komunitas, seperti event amal atau donasi dari alumni, dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat sumber daya finansial sekolah.</p></li></ul></li><li><p>Pengembangan Kurikulum yang Berbasis Aset Lokal:</p><ul><li><p>SMA Seminari perlu menyesuaikan kurikulum dengan nilai-nilai lokal yang kuat dan relevansi dengan konteks lokal yang ada. Namun, tantangannya adalah bagaimana menjembatani kurikulum nasional dengan potensi budaya lokal dan agama. Salah satu solusinya adalah dengan memperkuat program ekstrakurikuler berbasis budaya dan agama yang bisa melibatkan masyarakat sekitar dalam proses pembelajaran.</p></li></ul></li></ol><p>Dari modul ini, saya belajar bahwa pendekatan berbasis aset memberikan cara pandang yang berbeda dalam mengelola sumber daya sekolah, yaitu dengan fokus pada potensi dan kekuatan yang ada, bukan hanya pada kekurangan atau masalah yang ada. Di SMA Seminari, tantangan utamanya adalah bagaimana mengelola sumber daya yang terbatas (baik itu manusia, fisik, maupun finansial) dengan lebih kreatif dan kolaboratif, serta memanfaatkan potensi budaya dan sosial yang ada di sekitar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan menerapkan pendekatan berbasis aset secara lebih terstruktur dan terencana, SMA Seminari dapat mengoptimalkan segala sumber daya yang ada untuk mendukung keberlanjutan dan keberhasilan program-program pendidikan di sekolah.</p><p><br/></p><p><br/></p></li></ol><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3115586595/6a96b8ac0f6be14a805ed2af79e3825d/FOTO_PP.jpg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:42:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254944587</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Khoyum</title>
         <author>khoyumsupardi04</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254944943</link>
         <description><![CDATA[<p>Hal baru yang saya pelajari dari modul ini mengenai pendekatan berbasis aset ada faktot biotik dan faktor abiotik yang kedua faktor ini merupakan satu kesatuan .</p><p>faktor yang menghambat suatu rencana dengan cara melakukan pendekatan komunitas berbasis aset atau kekuatan dan untuk mengelola sumber daya utama yang ada disekolah, Satuan pendidikan&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; melaksanakan, dan mengawasi kegiatan pendidikan agar efisiensi dan efektivitas penyelenggara pendidikan dapat tercapai seperti yang disyaratkan dalam <strong>standar pengelolaan Pendidikan</strong> yang disebut dengan&nbsp; Pengembangan Komunitas Berbasis Aset(PKBA) .  </p><ol start="2"><li><p>adapun pandangan tentang tantangan dalam ekosistem ini akan selalu adanya keterbatasan daya dan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah serta pendaan yang terbatas sehingga tidak dapat mengoptimalkan perbaikan</p></li><li><p>pendekatan berbasisi aset ini sangat terhubung dengan pemgalaman saya masa lalu saat pertama saya bertugas di sekolah  saya melibatkan orang tua untuk mendukung terwujudnya fasilitas  di sekolah. kedepannya akan lebih di tingkatkan untuk memberdayakan seluruh aset yang di miliki oleh sekolah</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3120309984/cf5ad122c8287bceea9ad006d68b8f7e/phas_foto_khoyum_supardi.jpg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:42:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254944943</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ni Made Citariani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254945358</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Tantangan yang Dihadapi:</strong></p><p> Kurangnya pemetaan potensi sekolah secara menyeluruh,  Keterbatasan dukungan finansial atau SDM dalam &nbsp;mengembangkan&nbsp;&nbsp;aset yang ada,  Kurangnya kepercayaan pada kemampuan murid untuk memimpin dan  Keterbatasan waktu dan ruang untuk mengimplementasikan program kepemimpinan murid.</p><p><strong>Strategi Konkret:</strong></p><p><strong>1. Untuk Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Kebajikan</strong>:</p><p>Melibatkan seluruh pemangku kepentingan (guru, orang tua, dan komite ) dalam proses pengambilan keputusan. Mengintegrasikan nilai kebajikan ke dalam visi, misi, dan budaya sekolah.</p><p><strong>2. Untuk Pengelolaan Sumber Daya Berbasis Aset</strong>:</p><p> Melakukan pemetaan aset sekolah secara partisipatif dengan melibatkan komunitas sekolah dan  Mengembangkan program berbasis potensi lokal, seperti kerjasama dengan masyarakat sekitar.</p><p><strong>3. Untuk Kepemimpinan Murid</strong>:</p><p>Membuat kegiatan rutin yang melibatkan murid sebagai penggerak utama, seperti &nbsp;proyek sosial, piket dan menjadi pemimpin setiap  berdoa, memberikan latihan dan pendampingan kepada murid untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan mereka.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 01:43:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254945358</guid>
      </item>
      <item>
         <title>NI MADE CITARIANI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254949682</link>
         <description><![CDATA[<p> Dalam pengalaman saya, keputusan sering kali didasarkan pada prosedur atau kebutuhan mendesak. Dengan nilai kebajikan, saya menyadari pentingnya memastikan keputusan tersebut sejalan dengan prinsip keadilan dan dampak positif, Pendekatan ini relevan karena saya sering mengandalkan potensi lokal (seperti keterlibatan orang tua dan komunitas) dalam kegiatan sekolah. Namun, penerapannya perlu lebih terstruktur.</p><p><strong>Kepemimpinan Murid</strong></p><p>· Sebelumnya, saya lebih banyak memimpin program tanpa melibatkan murid sebagai pemimpin aktif. Konsep ini membuka wawasan tentang pentingnya peran murid sebagai subjek, bukan hanya objek Pendidikan.</p><p><strong>Integrasi Konsep untuk Masa Depan</strong></p><p>· Mengintegrasikan nilai kebajikan dalam budaya sekolah melalui program pelatihan untuk guru dan murid.</p><p>· Mengembangkan sistem pemetaan aset sekolah yang sistematis untuk memanfaatkan potensi maksimal.</p><p>· Menciptakan ruang bagi murid untuk berlatih memimpin, seperti melalui program mentoring atau kegiatan komunitas.</p><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 01:44:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254949682</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>ridwanspd61_</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254950772</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hal baru yang saya pelajari dalam modul 3.2 ini sangat banyak. Salah satunya adalah pendekatan berbasis aset/kekuatan dan pendekatan berbasis kekurangan/hambatan serta jenis-jenis aset dalam sebuah organisasi. Dan menurut saya tantangan yang ada itu merupakan hal yang biasa, sebab tanpa tantangan sebuah kemajuan tidak akan terjadi.</p></li><li><p>Tantangan yang saya hadapi:</p><ol><li><p>Tidak semua guru memiliki kompetensi yang merata, terutama dalam memahami dan menerapkan Kurikulum Merdeka atau metode pembelajaran yang inklusif.</p></li><li><p>Membangun hubungan yang kuat antara pihak sekolah, orang tua, dan komunitas lokal seringkali terkendala oleh perbedaan persepsi atau kurangnya komunikasi.</p></li><li><p>Keterbatasan sarana dan prasarana, seperti ruang kelas, alat peraga, atau fasilitas olahraga, terutama di sekolah yang memiliki sumber daya terbatas.</p></li><li><p>Posisi sekolah terletak dipinggir jalan raya sehingga selalu terjadi polusi suara dan adanya goncangan truk besar.</p></li><li><p>Anggaran operasional sering kali tidak mencukupi untuk mengakomodasi semua kebutuhan pengembangan pembelajaran.</p></li><li><p>Kebijakan pendidikan yang berubah-ubah sering kali menyulitkan sekolah untuk merencanakan program jangka panjang.</p></li></ol><p>Startegi menghadapinya adalah manajemen kepemimpinan yang baik dan benar</p></li><li><p>Sebenarnya pendekatan ini sudah ada sejak dahulu, hanya saja tidak mengetahui konsep seperti yang ada saat ini sehingga tidak maksimal penerapannya. Relevansinya dengan saat ini, konsep ini sangat baik diterapkan di kelas dan satuan pendidikan terlebih untuk mengatasi beragam masalah saat ini. Dan untuk kedepannya, konsep ini sangat baik di tanamkan kepada seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, kepala sekolah, hingga orangtua siswa.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2198441279/0d561cbdbdc2240470738445242250fa/PAS_PHOTOo.png" />
         <pubDate>2024-12-11 01:45:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254950772</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Mohamad Etango</title>
         <author>mohamadetango76</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254952341</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hal baru yang saya peroleh modul ini adalah :</p></li></ol><p>Pengelolaan sumber daya sekolah  adalah merupakan proses yang sangat penting dalam memastikan berjalannya kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien. Sumber daya yang dimaksud di sini sangat beragam, mulai dari sumber daya manusia (guru, staf), sumber daya fisik (gedung, ruang kelas, laboratorium), sumber daya keuangan, hingga sumber daya informasi.</p><p>&nbsp;</p><p>Manfaat pengelolaan Sumber Daya Sekolah:</p><p>a.&nbsp;Meningkatkan kualitas pembelajaran: Dengan sumber daya yang memadai dan terkelola dengan baik, proses belajar-mengajar dapat berlangsung lebih efektif.</p><p>b.&nbsp;Meningkatkan efisiensi: Pengelolaan yang baik akan meminimalkan pemborosan dan memaksimalkan penggunaan sumber daya.</p><p>c.&nbsp;&nbsp;Mencapai tujuan pendidikan: Dengan sumber daya yang terarah, sekolah dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.</p><p>Meningkatkan kepuasan stakeholder: Baik guru, siswa, orang tua, maupun masyarakat akan merasa puas dengan layanan pendidikan yang diberikan.</p><p><br/></p><ol start="2"><li><p>Tantangan yang dihadapi dalam mengoptimalkan Sumber daya sekolah adalah </p><p>a.&nbsp;Keterbatasan Sumber Daya:</p><ul><li><p>Finansial: Anggaran yang terbatas sering kali menjadi kendala utama dalam memenuhi kebutuhan sekolah, baik untuk perawatan sarana prasarana, pengembangan program, maupun peningkatan kesejahteraan guru.</p></li><li><p>Manusia: Kurangnya tenaga pengajar yang berkualitas dan merata, serta tingginya beban kerja guru dapat menghambat proses pembelajaran yang optimal.</p></li><li><p>Fisik: Kondisi gedung sekolah yang kurang memadai, fasilitas yang terbatas, dan kurangnya ruang terbuka hijau dapat mempengaruhi kenyamanan dan efektivitas pembelajaran.</p></li></ul><p>b.&nbsp;Perbedaan Tingkat Kesadaran dan Komitmen:</p><ul><li><p>Staf: Tidak semua staf memiliki kesadaran yang sama tentang pentingnya mengoptimalkan sumber daya sekolah.</p></li><li><p>Komite Sekolah: Kurangnya partisipasi aktif dari komite sekolah dalam mendukung program-program sekolah.</p></li><li><p>Orang Tua: Rendahnya tingkat partisipasi orang tua dalam kegiatan sekolah.</p></li></ul><p>c.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perubahan Lingkungan yang Dinamis:</p><ul><li><p>Teknologi: Perkembangan teknologi yang cepat menuntut sekolah untuk terus beradaptasi dan memperbarui sarana prasarana.</p></li><li><p>Kurikulum: Perubahan kurikulum yang sering terjadi membutuhkan penyesuaian yang cepat dari guru dan siswa.</p></li><li><p>Kebijakan Pemerintah: Perubahan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan dapat berdampak langsung pada pengelolaan sumber daya sekolah.</p></li></ul><p><br/></p><p>c.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kondisi Sosial Budaya:</p><ul><li><p>Keberagaman: Keberagaman latar belakang siswa dapat menjadi tantangan dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif.</p></li><li><p>Nilai-nilai: Perbedaan nilai-nilai antara sekolah dan masyarakat dapat mempengaruhi proses pembelajaran</p></li></ul><p>Strategi mengahadapi tantangan :</p><p>Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:</p><ul><li><p>Perencanaan yang matang: Menyusun rencana strategis yang melibatkan seluruh komponen sekolah.</p></li><li><p>Meningkatkan kapasitas: Melakukan pelatihan dan pengembangan bagi guru dan staf.</p></li><li><p>Kolaborasi: Membangun kerjasama dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.</p></li><li><p>Evaluasi yang berkelanjutan: Melakukan evaluasi secara berkala dan memanfaatkan hasilnya untuk perbaikan.</p></li><li><p>Teknologi: Memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya</p></li></ul></li><li><p>Pendekatan berbasis aset adalah : </p><ul><li><p>Meningkatkan optimisme: Dengan fokus pada potensi, kita akan lebih optimis dalam menghadapi tantangan.</p></li><li><p>Mendorong kreativitas: Kita akan terpacu untuk mencari solusi inovatif dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.</p></li><li><p>Memperkuat kolaborasi: Pendekatan ini mendorong kerja sama antar anggota komunitas sekolah.</p></li><li><p>Meningkatkan efektivitas: Dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, kita dapat mencapai hasil yang lebih baik.</p></li></ul><p><br/></p></li><li><p>Pengalaman Masa Lalu sebagai Landasan</p><ul><li><p>Mengidentifikasi Kekuatan dan Kelemahan<strong>:</strong> Melihat kembali pencapaian dan tantangan di masa lalu dapat membantu mengidentifikasi kekuatan yang dapat dipertahankan dan kelemahan yang perlu diperbaiki.</p></li><li><p>Mempelajari Pelajaran Berharga<strong>:</strong> Setiap pengalaman, baik sukses maupun gagal, mengandung pelajaran berharga yang dapat dijadikan acuan untuk mengambil keputusan di masa depan.</p></li><li><p>Membangun Budaya Belajar<strong>:</strong> Dengan merefleksikan pengalaman masa lalu, sekolah dapat membangun budaya belajar yang berkelanjutan, di mana semua anggota komunitas sekolah terdorong untuk terus belajar dan berkembang.</p></li></ul><p>Relevansinya dengan Masa Kini</p><ul><li><p><strong>Memetakan Sumber Daya:</strong> Melakukan pemetaan yang komprehensif terhadap semua sumber daya yang dimiliki sekolah, baik itu sumber daya manusia, fisik, maupun sosial.</p></li><li><p><strong>Mengidentifikasi Kebutuhan Siswa:</strong> Melakukan asesmen yang mendalam untuk memahami kebutuhan dan minat siswa.</p></li><li><p><strong>Mengembangkan Inovasi:</strong> Mendorong guru dan siswa untuk berpikir kreatif dan mengembangkan ide-ide baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran</p></li></ul><p>Cara mengaplikasikannya adalah :</p><ul><li><p>Melakukan Pemetaan Sumber Daya yang Komprehensif</p></li><li><p>Membangun Kemitraan yang Kuat</p></li><li><p>Melakukan Pengembangan Kurikulum yang Relevan</p></li><li><p>Membangun Budaya Sekolah yang Positif</p></li><li><p>Melakukan Pemanfaatan Teknologi secara Efektif</p></li><li><p>Melakukan Pengembangan Profesional Berkelanjutan</p></li></ul></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2111171960/9bbcd706ff5f33c3c18591fbf143883e/Screenshot__433_.png" />
         <pubDate>2024-12-11 01:46:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254952341</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Trisno Aji</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254952383</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Tentang Penglolaan sumber daya bagi sekolah dalam modul dengan pendekatan tujuh aset/modal utama yaitu&nbsp;modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik dan modal agama dan budaya. Ketujuh modal ini berimplikasi satu dengan lainnya. Pendekatan ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi yang sudah ada secara optimal untuk mendukung ekosistem pembeajaran efektif. pandangan saya terhadap tantangan yang ada di ekosistem sekolah adalah tentang pemahaman saya sendiri atau juga warga sekolah yang lain yang belum terlalu memahami bagaimana konsep pengelolaan asset tersebut. sehingga perlu pemahaman yang mendalam dan persamaan persepsi pada berpikir basis aset tersebut</p></li><li><p>Tantangan yang dihadapi adalah keterbatasannya sumber daya&nbsp; ( contoh manusia dan finansial)&nbsp; seperti halaman untuk pembelajaran olah raga, tetapi guru olah raganya terbatas , atau perlunya Koordinasi antara guru, kepala sekolah, dan staf seringkali menjadi tantangan dalam mengimplementasikan program-program baru. Serta tantangan serta modal politik terkait kebijakan-kebijakan yang kurang fleksibilitasnya sehingga berpengaruh dalam proses pengembangan sekolah. langkah konkritnya Sebagai Kepala Sekolah berperan penting sebagai pengambil kebijakan dalam memanfaatkan aset/modal sosial dengan membangun kolaborasi sekolah dengan masyarakat.&nbsp; Mendefinisikan visi sekolah yang berpusat pada siswa dan berorientasi pada masa depan, membentuk tim kerja yang solid dan kolaboratif, melibatkan seluruh komponen sekolah., mengalokasikan Sumber Daya Secara Efektif: membangun kemitraan dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, dunia usaha, dan komunitas, untuk mendapatkan dukungan dan sumber daya tambahan, menerapkan sistem evaluasi yang berfokus pada hasil belajar siswa dan dampak program yang dilaksanakan.</p></li><li><p>pendekatan berbasis aset ini tentu dahulunya saya belum memahami, yang saya pahami dahulu itu yang namanya aset itu hanya bangunan fisik yang ada dilingkungan sekolah saja. dan terlalu banyak terlihatnya sisi negatifnya saja bahwa tidak diperhatikan oleh pemerintah.sekarang saya  melakukan hal yang mengenai pengelolaan aset dengan pemikiran yang tercerahkan dengan mengoptimalkan 7 modal utama/ aset bagi sekolah, dengan mengajak warga sekolah menerapkan pemikiran yang positig dengan memaksimalkan sumber daya manusia nya juga dengan harapan mendapatkan hasil yang psoitif dimasa depan</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3157333599/52b048c48b1c6fcdbce50dff21c08966/photo.jpeg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:46:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254952383</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254964474</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Pendekatan berbasis aset di sekolah dapat memberikan dampak positif bagi sekolah, guru, dan siswa. Dengan pendekatan ini, sekolah dapat:&nbsp;</p></li></ol><ul><li><p>Mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga menjadi lebih mandiri, berkualitas, dan berdaya saing tinggi&nbsp;</p></li><li><p>Membangun budaya positif di sekolah&nbsp;</p></li><li><p>Menumbuhkan karakter anak, salah satunya kedisiplinan.</p><p>dan tantangan terutama kesiapan waktu bagi rekan disekolah dan pelaksnaan yang terprogram dan runtut.</p><ol start="2"><li><p>Tantangan yang dihadapi dalam mengoptimalkan sumber daya sekolah menggunakan pendekatan berbasis aset adalah:</p><ul><li><p>Belum sepenuhnya dapat memanfaatkan masyarakat di sekitar sekolah dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan parenting di sekolah karena terbentur dengan aktifitas orang-tua anak.</p></li><li><p>Sekolah masih sering melihat kelemahan murid&nbsp;terutama dalam pengembangan berbagai kompetensi anak.</p><p><br/></p><p>3. Pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas, yaitu dengan memiliki pemikiran positif dan menerapkan pendekatan berbasis aset yang pada akhirnya akan memaksimalkan potensi.</p></li></ul></li></ol></li></ul>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3157333378/97662d156b9760516612930952371e5d/mama.jfif" />
         <pubDate>2024-12-11 01:55:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254964474</guid>
      </item>
      <item>
         <title>lanjutan</title>
         <author>kasrianianwar08</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254965083</link>
         <description><![CDATA[<ol start="3"><li><p>Pendekatan berbasis aset terhubung dengan masa lalu dalam pengelolaan sumber daya sekolah dengan cara memanfaatkan kekuatan dan potensi yang sudah ada, baik berupa budaya, kearifan lokal, maupun sumber daya fisik yang telah digunakan sebelumnya. Hal ini menciptakan kesinambungan dan keberlanjutan. Di masa mendatang, pendekatan ini memungkinkan sekolah untuk terus mengoptimalkan sumber daya yang ada dengan inovasi yang berkelanjutan, mengadaptasi perubahan zaman, dan memperkuat keterlibatan komunitas. Dengan mengedepankan potensi yang sudah terbukti efektif, sekolah dapat berkembang lebih optimal tanpa mengabaikan nilai dan praktik baik yang telah ada. seperti halnya pengelolaan dana sekolah dari koperasi dan sumbangan komite untuk membantu penanganan anggaran sekolah</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 01:55:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254965083</guid>
      </item>
      <item>
         <title>I Ketut Budiasa</title>
         <author>ibudiasa46</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254968466</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hal baru yang saya pelajari dari modul ini mengenai pendekatan berbasis aset dalam pengelolaan sumber daya sekolah, Hal baru yang saya pelajari dari modul ini mengenai pendekatan berbasis aset dalam pengelolaan sumber daya sekolah adalah bahwa pendekatan ini mengajarkan kita untuk melihat dan memanfaatkan kekuatan, potensi, serta sumber daya yang telah dimiliki oleh sekolah, baik dari segi individu, komunitas, maupun lingkungan sekitar. Pendekatan ini menekankan kolaborasi, kreativitas, dan inovasi dalam mengatasi masalah, serta mengubah sudut pandang dari melihat keterbatasan menjadi melihat peluang. Pandangan saya tentang tantangan yang ada di ekosistem sekolah saat ini adalah kesenjangan sumber daya manusia idak semua sekolah memiliki akses yang setara terhadap sumber daya seperti fasilitas, teknologi, atau dana. Ini menyebabkan disparitas dalam kualitas pendidikan.</p></li><li><p>Tantangan yang saya hadapi dalam mengoptimalkan sumber daya sekolah menggunakkan pendekatan berbasis aset, Sering kali sulit untuk mengetahui secara rinci semua aset yang dimiliki, baik itu kemampuan individu, fasilitas, atau jaringan komunitas.</p><p>Strategi konret yang saya lakukan untuk memperdayakan tujuh modal utama demi mendukung pembelajaran murid membudayakan dan mengintegrasikan nilai-nilai lokal dan tradisi ke dalam pembelajaran. misalnya melibatkan murid untuk menjaga dan memelihara aset.</p></li><li><p>Pendekatan berbasis aset ini terhubung dengan pengalaman masa lalu saya dalam mengelola sumber daya sekolah, dimana adanya keterbatasan saya menggunakan fasilitasi seperti proyektor, internet, komputer. relevansi praktik disekolah saat ini, dan bagaimana saya akan mengaplikasikan untuk menciptakan ekosistem sekolah secara berkelanjutan adalah dengan berpikir kritis apa yang bisa digunakan dalam pembelajaran. saya menggunakan sumber daya yang memiliki dan mengkomunikasikan dengan orangtua. membangun kemitraan terkait apa yang dibutuhkan.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/1195213997/1fa71e698909db81826296b6f7828fcf/photo_pak_budi_2.jpg" />
         <pubDate>2024-12-11 01:58:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254968466</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254985182</link>
         <description><![CDATA[<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pemahaman say tentang pengelolaan sumber daya yang diperoleh dari modul ini adalah :</p><p>a.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pendekatan berbasis aset ini juga digunakan sebagai dasar paradigma Inkuiri Apresiatif</p><p>(IA) yang sudah dibahas sebelumnya pada modul 1.3, dimana paradigma IA ini percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi.</p><p>b.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut dengan</p><p>Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka kerja yang</p><p>dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, di mana keduanya adalah pendiri dari 15 ABCD Institute di Northwestern University, Amerika Serikat. Pendekatan PKBA menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Sekolah bisa kita pandang sebagai sebuah komunitas. Karena itu, sekolah dapat belajar tentang bagaimana menjadi komunitas yang sehat dan tangguh. Bank of I.D.E.A.S (2014) menyebut bahwa karakteristik komunitas yang sehat dan resilien adalah sebagai berikut:</p><p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mempraktikkan dialog berkelanjutan dan partisipasi anggota masyarakat, yaitu perilaku yang menghargai keragaman dan mendorong dialog penduduk yang aktif, partisipasi dan kepemilikan masyarakat atas masa depan.</p><p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menumbuhkan komitmen terhadap tempat, yaitu perilaku akan memperkuat koneksi warga baik komunitas, lingkungan, dan ekonomi lokal mereka.</p><p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Membangun koneksi dan kolaborasi, yaitu perilaku yang mendorong perencanaan dan tindakan kolaboratif, jaringan dan hubungan yang kuat antara penduduk, organisasi, bisnis, dan komunitas.</p><p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengenal dirinya sendiri dan membangun aset yang ada, yaitu perilaku yang menemukan, memetakan, menghubungkan, dan memanfaatkan sumber daya seluruh komunitas yang ada.</p><p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Membentuk masa depannya, yaitu perilaku yang memungkinkan visi komunitas Bersama tentang masa depan, sebagaimana tercermin dalam tujuan praktis komunitas, rencana 17 aksi, dan peringkat prioritas, ditambah dengan keinginan untuk tidak membahayakan kesejahteraan generasi mendatang.</p><p>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bertindak dengan obsesi ide dan peluang, yaitu perilaku yang mendorong pencarian tanpa akhir untuk ide-ide baru dan tepat, kemungkinan pengembangan dan sumber daya internal dan eksternal komunitas.</p><p>7.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Merangkul perubahan dan bertanggung jawab, yaitu perilaku yang memperkuat kemampuan masyarakat untuk mengatasi perubahan dan pulih dari krisis, pola pikir yang berfokus pada optimisme, harapan, dan yakin bahwa 'kita bisa melakukannya'.</p><p>8.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menghasilkan kepemimpinan, yaitu perilaku yang terus-menerus memperluas dan</p><p>memperbaharui kapasitas kepemimpinan masyarakat.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 02:09:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254985182</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254986756</link>
         <description><![CDATA[<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tantangan yang saya hadapi adalah sikap ketidak pedulian dari rekan sejawat, mereka masih sulit untuk digerakan masih perludiberikan pemahaman yang lebih mendalam lagi.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 02:10:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254986756</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254988047</link>
         <description><![CDATA[<p>3. konsep dari pendekatan berbasis aset dalam pengelolaan sumber daya sekolah yang menurut Anda paling penting adalah pendekatan metode inkuiri aprisiatif (BAGJA) konsep ini dapat mendorong peningkatan kwalitas pembe;lajaran dengan sangat baik karena guru dapat menggali potensi anak didik dengan sangat baik, dimana anak dan guru berkolaborasi untuk menemukan aset-aset yang bisa dikelola dengan baik.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-12-11 02:10:49 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3254988047</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>suryanto98</author>
         <link>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3255077652</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Dari modul 3.2, saya mempelajari pendekatan berbasis aset dalam pengelolaan sumber daya sekolah, yang menekankan pada pengidentifikasian dan optimalisasi potensi yang sudah dimiliki sekolah, termasuk sumber daya manusia, sosial, fisik, finansial, lingkungan, politik, dan budaya. Pendekatan ini mengajarkan pentingnya berfokus pada kekuatan dan peluang yang ada, alih-alih terjebak pada kekurangan atau kendal</p></li></ol><p>Saya merasa mendapatkan perspektif yang segar mengenai cara melihat ekosistem sekolah. Pendekatan ini memberikan semangat optimisme, karena mengajarkan bahwa setiap sekolah, terlepas dari keterbatasan yang ada, memiliki potensi untuk berkembang jika sumber daya dikelola secara strategis. Namun, saya juga merasa tertantang mengingat implementasi pendekatan ini memerlukan perubahan pola pikir di seluruh pemangku kepentingan, yang tidak selalu mudah dilakukan.</p><p>Hal baru yang saya pelajari adalah bahwa pendekatan berbasis aset dapat menciptakan ekosistem sekolah yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Saya juga menyadari bahwa sering kali potensi di sekolah belum dimaksimalkan karena fokus terlalu besar pada kendala, seperti keterbatasan anggaran atau fasilitas.<br>Pandangan saya terhadap ekosistem sekolah saat ini menjadi lebih kritis sekaligus optimis. Banyak aset yang mungkin selama ini dianggap kecil, seperti keahlian komunitas lokal atau semangat kolaborasi siswa, ternyata dapat menjadi sumber daya yang sangat berharga jika dikelola dengan baik.</p><p>Di masa depan, saya akan:</p><p>Mengadakan inventarisasi aset sekolah: Melibatkan seluruh warga sekolah untuk mengidentifikasi potensi yang dimiliki, baik fisik maupun non-fisik.</p><p>Membangun kolaborasi: Mengajak komunitas lokal, alumni, dan orang tua untuk mendukung program sekolah.</p><p>Mengintegrasikan aset dalam pembelajaran: Merancang kurikulum yang memanfaatkan potensi lingkungan sekitar, seperti program berbasis proyek atau kegiatan kewirausahaan siswa.</p><p>Mengubah pola pikir: Mendorong semua pihak di sekolah untuk melihat masalah sebagai peluang dan aset sebagai kekuatan.</p><p>Pendekatan berbasis aset ini memberikan dasar yang kuat untuk menciptakan perubahan positif di sekolah, berorientasi pada kebutuhan murid, dan mendorong keberlanjutan program-program pembelajaran.</p><p>&nbsp;</p><p>2. Dalam mengelola sumber daya sekolah menggunakan pendekatan berbasis aset, saya menghadapi tantangan utama seperti: Kurangnya kesadaran dari seluruh pemangku kepentingan terhadap potensi aset yang dimiliki. Keterbatasan kolaborasi antara pihak sekolah dan komunitas local, Hambatan birokrasi dalam pengelolaan anggaran atau implementasi kebijakan. Dan Ketidakseimbangan distribusi sumber daya antar sekolah, khususnya di daerah terpencil.</p><p>Saya merasa tantangan tersebut cukup kompleks dan memerlukan pendekatan yang strategis. Namun, pendekatan berbasis aset memberikan perspektif positif karena mengajarkan bahwa setiap sekolah memiliki potensi untuk mengatasi tantangan ini. Ada rasa optimisme bahwa dengan kolaborasi dan inovasi, tantangan tersebut dapat diubah menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang berpihak pada murid.</p><p>Saya belajar bahwa keberhasilan pendekatan berbasis aset bergantung pada: Pemetaan aset yang akurat dan melibatkan berbagai pihak, termasuk guru, siswa, orang tua, dan Masyarakat, Pemahaman bahwa setiap modal utama (manusia, sosial, fisik, lingkungan, finansial, politik, dan budaya) saling terkait dan harus dioptimalkan secara sinergis. Dan Pentingnya kepemimpinan yang visioner untuk menggerakkan seluruh pihak dalam memanfaatkan aset yang ada demi mendukung kebutuhan belajar murid.</p><p>Untuk mengoptimalkan tujuh modal utama, saya akan menerapkan strategi konkret berikut:</p><ol><li><p>Modal Manusia:</p><p>Memberikan pelatihan dan pengembangan kompetensi guru sesuai kebutuhan sekolah.</p><p>Meningkatkan keterlibatan siswa melalui pembelajaran berbasis proyek yang relevan dengan lingkungan mereka.</p></li><li><p>Modal Sosial:</p><p>Membangun jejaring kolaborasi dengan komunitas lokal, alumni, dan mitra sekolah untuk mendukung program pembelajaran.</p></li><li><p>Mengadakan forum diskusi rutin untuk menyelaraskan visi antara sekolah dan pemangku kepentingan.</p></li><li><p>Modal Fisik:</p><ul><li><p>Memanfaatkan fasilitas sekolah secara maksimal, seperti ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium.</p></li><li><p>Menginisiasi program gotong royong untuk memperbaiki fasilitas sekolah yang rusak.</p></li></ul></li><li><p>Modal Lingkungan:</p><ul><li><p>Mengintegrasikan pembelajaran berbasis lingkungan, seperti praktik daur ulang atau pertanian sederhana, ke dalam kurikulum.</p></li><li><p>Membangun kesadaran murid terhadap pelestarian lingkungan sekolah.</p></li></ul></li><li><p>Modal Finansial:</p><ul><li><p>Mengelola anggaran secara transparan dan mengajukan proposal dana ke pihak eksternal, seperti CSR atau pemerintah daerah.</p></li><li><p>Melibatkan siswa dalam program kewirausahaan sederhana untuk mengembangkan potensi finansial sekolah.</p></li></ul></li><li><p>Modal Politik:</p><ul><li><p>Berkoordinasi dengan dinas pendidikan untuk mendukung kebijakan yang mendukung pembelajaran inklusif dan berbasis aset.</p></li><li><p>Mengadvokasi kebutuhan sekolah secara aktif melalui forum resmi.</p></li></ul></li><li><p>Modal Budaya:</p><ul><li><p>Mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal ke dalam pembelajaran untuk memperkuat identitas siswa.</p></li><li><p>Melibatkan masyarakat adat atau tokoh budaya dalam program sekolah.</p></li></ul></li></ol><p>&nbsp;</p><p>3. Pendekatan berbasis aset mengingatkan saya pada pengalaman masa lalu saat mengelola sumber daya sekolah. Dalam beberapa program, saya dan tim berupaya memanfaatkan potensi lokal, seperti melibatkan orang tua siswa dalam kegiatan gotong royong atau memanfaatkan fasilitas lingkungan sekitar untuk pembelajaran kontekstual. Namun, pendekatan tersebut belum terstruktur dan strategis sehingga hasilnya belum optimal.</p><p>Saat ini, pendekatan berbasis aset menjadi relevan untuk praktik di sekolah karena banyak tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan anggaran, kebutuhan pembelajaran inklusif, serta tuntutan keberlanjutan program. Pendekatan ini memberikan kerangka kerja yang terfokus pada optimalisasi kekuatan yang sudah dimiliki sekolah.</p><p>2. Perasaan</p><p>Saya merasa pendekatan ini memberikan cara pandang baru yang lebih positif dan memberdayakan. Pendekatan ini membantu mengalihkan perhatian dari keterbatasan menjadi potensi yang dapat dioptimalkan. Ada perasaan antusias karena pendekatan ini sejalan dengan prinsip kolaborasi dan inovasi yang sering saya lakukan di masa lalu, tetapi kini lebih terarah dan terintegrasi.</p><p>3. Pembelajaran</p><p>Saya belajar bahwa pendekatan berbasis aset memiliki relevansi tinggi dalam menciptakan ekosistem sekolah yang berkelanjutan. Konsep ini tidak hanya memberdayakan sumber daya fisik, tetapi juga memperkuat aspek sosial, budaya, dan lingkungan sekolah. Pendekatan ini juga mengajarkan pentingnya membangun jejaring kolaborasi dengan komunitas lokal serta memandang murid sebagai aset utama dalam ekosistem pembelajaran.</p><p>4. Penerapan di Masa Depan</p><p>Untuk mengaplikasikan pendekatan ini dalam menciptakan ekosistem sekolah yang berkelanjutan, saya akan:</p><ol><li><p>Menghubungkan pengalaman masa lalu dengan praktik saat ini:</p><ul><li><p>Melakukan refleksi terhadap pengalaman masa lalu dalam mengelola sumber daya, mengidentifikasi apa yang berhasil dan apa yang perlu ditingkatkan.</p></li><li><p>Menggunakan pendekatan berbasis aset untuk memperbaiki praktik-praktik yang kurang optimal.</p></li></ul></li><li><p>Mengintegrasikan aset ke dalam program pembelajaran:</p><ul><li><p>Merancang pembelajaran berbasis proyek yang memanfaatkan potensi lingkungan lokal dan keahlian masyarakat sekitar.</p></li><li><p>Menggunakan fasilitas sekolah dan komunitas secara kreatif untuk mendukung pembelajaran kontekstual.</p></li></ul></li><li><p>Membangun ekosistem berkelanjutan:</p><ul><li><p>Melibatkan semua pemangku kepentingan (guru, siswa, orang tua, dan komunitas) dalam pemetaan dan optimalisasi aset.</p></li><li><p>Merancang program-program sekolah yang tidak hanya mendukung pembelajaran murid saat ini, tetapi juga memperkuat ekosistem jangka panjang, seperti program lingkungan hijau atau kewirausahaan berbasis komunitas.</p></li></ul></li><li><p>Melakukan evaluasi berkelanjutan:</p><ul><li><p>Menerapkan sistem monitoring untuk memastikan bahwa setiap modal yang dimanfaatkan memberikan dampak positif pada kualitas pembelajaran.</p></li><li><p>Menyesuaikan strategi pengelolaan aset berdasarkan hasil evaluasi dan kebutuhan murid.</p></li></ul></li></ol><p>&nbsp;</p>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/3115583251/7a23ca524f95fb844595ddec6b3c8905/photo.jpeg" />
         <pubDate>2024-12-11 03:07:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/kspstkns125/n8vhj350wzgl776g/wish/3255077652</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
