<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>INDO A LEARNER&#39;s PROFILE by Lovenia Alanza</title>
      <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0</link>
      <description>Keep in track with my design, works, and portofolio!</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2023-10-06 02:01:55 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2024-07-19 05:12:50 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>SUMMARY</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790080953</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Latar belakang tempat yang sering terjadi banjir.</p></li><li><p>pemancing tua bermain seruling dengan lirih (samar). (Pak Tarya)</p></li><li><p>Pemuda datang menikmati alunan suling. (mas kabul)</p></li><li><p>Pak Tarya tukang mancing, Mas Kabul insinyur pelaksana pembangunan jembatan (kepala pelaksana pembangunan jembatan nilai ratusan juta/miliar)</p></li><li><p>Ternyata Pak Tarya pensiunan pegawai Kantor Penerangan, ketika muda pernah lama mengembara ke Jakarta</p></li><li><p>Pak Tarya menutupi identitasnya, dia juga pernah bekerja di penerbitan sebagai wartawan.</p></li><li><p>Kepala desa (Pak Basar), teman kuliah mas kabul (Pak Basar sospol, mas Kabul teknik).</p></li><li><p>Bah yang datang mengganggu pembangunan jembatan, beton pancang miring akibat pohon hanyut, dan pekerjaan harus dimulai dari awal.</p></li><li><p>Kerusakan membuat kerugian, kerugian bisa dihindari bila menunggu sampai musim kemarau (rekomendasi perancang), namun penguasa proyek dan pemimpin politik lokal memaksa selesi sebelum pemilu 1992 (ajang kampanye)</p></li><li><p>Page 17: Kerugian bisa dijadikan alasan tambahan biaya, tambahan biaya di korup (orang proyek suka makan uang proyek)</p></li></ol><p>Akan terjadi tarik-ulur antara ikan dan peman- cing, yang sesungguhnya adalah tarik-ulur antara harapan berhasil dan kecemasan terhadap kemungkinan gagal. Ini- lah makna itu. Bukankah keterlibatan dalam tarik-ulur an- tara harapan berhasil dan kemungkinan gagal sangat me- menuhi kebutuhan dasar manusia bermain? <em>Homo ludens?</em></p><ol start="11"><li><p>Kabul bertanya bagaimana agar ia bisa dipercaya tidak korup (sebagai orang proyek), Pak Tarya diam, Kabul dipanggil kepala proyek (Pak Dalkijo).</p></li><li><p>Seruling dialunkan lagi, teringat 40 tahun lalu, jembatan berdiri megang namun sengaja diledakan (1948) oleh para Pemuda untuk menghalau tank tentara Belanda.</p></li><li><p>Ayah pak Tarya menghalau Pemuda (kerugian jembatan lebih besar daripada keuntungan), dianggap kolab belanda, ditembak mati di jembatan oleh Pemuda. (Peristiwa mengatasnamankan semangat revolusi 1945)</p></li><li><p>40 tahun kemudian, Wilayah seberang jembatan hancur menjadi terbengkalai (tertinggal)</p></li><li><p>warung nasi Mak Sumeh (perempuan tegal), operator alat berat (siringo-ringo), mandor (kang acep), pemasok bahan bangunan (atay), sopir (hutauruk), tukang batu (bejo), tukang las (cak mun); 3 pelayan warung: Sri, Mita, Sonah; Banci (tante ana) nama asli Daripan, untuk mendapat pengakuan dia perempuan, walau lahir sebagai laki laki; paman martasatang (operator rakit penyebrangan dekat tapak proyek), Sawin (anak Kang Martasatang), seorang kernet tukang batu; Wati (penulis kantor proyek); Narsun (kuli pembuat batu-bata, 5 anak kurus), Karji (di lampung melarat), Rasmin (penjul kambing, beli sawah), Sawinah (dulu gemuk, sekarang kurus menjaga warung), Satim (paling nakal, sekarang penyadap nira, 25 tahun jatuh dari pohon kelapa dan meninggal, 4 anak yatim tidak terurus); Baldun (; Wiyoso/Yoso/Yos (Wati boyfriend, the science semester 5 of college kid); Gogi (Yos’s friend)</p></li><li><p>Orang desa &amp; proyek primitif, serakah, mementingkan diri sendiri).</p></li><li><p>Kabul masi bujangan, orang yang Sudan mapan dan cukup umur untuk menikah, selalu ada stereotipe laki-laki yang sudah dewasa untuk segera menikah, atau lelaki yang sudah mapan rekat dengan pertanyaan “kapan nikah?”</p></li><li><p>Lingkaran proyek terasa lelaki (manly); pelaksana, mandor, kuli, mesin molen, generator, batu kali, godam, pipa-pipa, paku bumi, besi beton, teras dan kasar mewakili kelelakian.</p></li><li><p>Wati menyeimbangkan neraca miring (perempuan di proyek). Pengisi keceriaan diantara lelaki</p></li><li><p>Kecurangan/kebocoran yang terjadi demi kepentingan diri sendiri (atasan berkuasa), dari pemerintah, politikus, hingga warga kampung.</p></li><li><p>Permainan kecurangan (biaya proyek yang minus, menjadikan kualitas bahan bangunan menurun), semua dianggap wajar, permainan dianggap wajar, dan semua memainkannya, kabul terasa tak bisa apa-apa.</p></li><li><p>Untuk terhindar dari bayang masa lalu kemiskinan, dan bayang-bayang hidup enak, pragmatis (pak Dalkijo), ingin meras paling atas (jor-jor an), realistis, penghilangan idealisme, dilakukan, karena untuk mencapai indo bersih, susah.</p></li><li><p>Jalanan tidak pernah aman, pengendara truk yang menyalip dengan body yang besar, motor tida-tiba menyalip, membahayakan.</p></li><li><p>Agama sekedar formalitas (e.g. Islam KTP), dan terkadang dipermainkan (lelaki, nitip absen masjid, bilang sedang datang bulan, hanya untuk nongkrong santai karena malas).&nbsp; Orang yang beragama, masih bisa melakukan hal yang tak terpuji.</p></li><li><p>Perempuan cantik saling dibandingkan, rambut jika bisa jangan pendek, rok jangan pendek dan ketat, blazer jangat berkancing rendah, mata jelalatan lelaki selalu ada.</p></li><li><p>Perintah atasan adalah nomor satu, jika tidak dipatuhi, jabatan jadi korbannya. Pak Basar selaku kades harus selalu pusing memikirkan jabatannya.</p></li><li><p>Kejujuran sekarang bukan hal biasa, hustru dianggap konyol, korupsi dan realistis meraup keuntungan demi diri sendiri barulah hal biasa.</p></li><li><p>Banyak anak anak yang seharusnya menempuh pendidikan malah mengerjakan pekerjaan berat (proyek), dan tak punya masa depan yang jelas selain bekerja untuk makan.</p></li><li><p>Judi dan miras adalah biasa, menjual perempuan adalah biasa </p></li><li><p>Kabul dan Basar bingung mengenai kerusakan yang dibuat GLM pada proyek dan anggaran, namun mereka tidak berhenti untuk menyerah saat itu, mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka dengan sebisa mungkin mengurangi dampak dari kerakusan dan kuasa GLM untuk desa.</p></li><li><p>Negara adalah rajanya, pemerintah sebagai pengatur, Rakyat sebagai babu (feodalisme).</p></li><li><p>Sebuah proyek identik dengan adanya ‘tumbal’, sifat animisme di tengah masyarakat sangat tinggi.</p></li><li><p>Page 150: jangan gampang terhasut hoax dan omongan orang lain, pakai logika dan tetap berpikir bijak.</p></li><li><p>Proyek pembangunan memang menguntungkan bagi masyarakat setempat, namun harap diprrhatikan bahwa setiap hal mempunyai dampak baik maupun dampak buruk. Ada orang yang bisa kehilangan pekerjaannya akibat proyek (martasatang), dan ada orang yang bingung untuk bekerja bila proyek sudah selesai (Sawin).</p></li><li><p>UU No. 18 Tahun 1990; pemborong wajib menjamin bangunan yang dikerjakan bisa dimanfaatkan setidaknya selama 10 tahun. Namun sekira-kiranya, orang sudah tahu bahwa penegakan hukum di Indonesia sudah tidak efektif, sehingga orang-orang akan mudah melanggar dan mengganggap hukum di Indonesia adalah untuk dilanggar. (page 209)</p></li><li><p>Ki Hajar Dewantara: <em>Numpak montor sinambi sawan tangis atau mikul dhawet sinambi rengeng-rengeng (hidup banyak harta namun terus gelisah karena selalu diburu oleh keserakhan sendiri atau hidup sederhana sambil mengembangkan rasa, dan dengan cara ini orang bisa ayem).</em> Orang jaman sekarang, kebanyakan memilih yang pertama, asal ada uang, kegelisahan apapun tidak menjadi kekhawatiran. yang berarti. Orang tidak peduli hidup mereka kotor atau tidak, asal berkecukupan dan berada di ‘atas’. (page 222)</p></li><li><p>“pemilik proyek adalah 2 nama, dengan 1 entitas; pemerintah &amp; GLM” (page 228)</p></li><li><p>Ketika tidak setuju dengan perintah atasan,&nbsp; mereka akan mengambil l langkah represif yang merugikan kita dan memaksa kita untuk menuruti kemauan mereka. (page 229)</p></li><li><p>Orang tua, adalah tempat kita bisa beristirahat, berteduh, dan mendapat kasih sayang sepanjang masa, maka hormatilah dan sayangi orang tuamu. (page 237)</p></li><li><p>Orang-orang politik tidak manusiawi, perbedaan kasta antara orang kampung dan petani yang diperlakukan rendah, dengan politikus ambis yang bermegah ria dengan segala kekayaannya.</p></li><li><p>Orang-orang tidak menyadari bahwa mereka menjadi korban dan tumbal bagi ambsi orang partai, dan tidak sadar bahwa mereka sangat mudah ditipu serta dimobilisasi karena kurangnya pengetahuan mereka akan hak-hak politik mereka. Kebodohan massa dimanfaatkan untuk tujuan politik licik ‘orang besar’.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-15 02:01:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790080953</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ANALISI PSIKO</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790083134</link>
         <description><![CDATA[<p>BAB 4-5: 191-255</p><p><br></p><ol><li><p>Id:</p></li></ol><p>Ketidaksadaran kabul akan rasa ketergantungannya &amp; kebutuhannya akan sosok wanita yaitu wati</p><p>Idealisme dan keras kepala Kabul</p><ol start="2"><li><p>Superego:</p></li></ol><p>harga diri akan keinsinyuran</p><p>ke frustrasi an kabul</p><p>ke gelisahan kabul</p><p>rasa tanggung jawab kabul kepada masyarakat</p><ol start="3"><li><p>Ego:</p></li></ol><p>Tindakan menolak perintah atasan</p><p>melakukan hal yang dilakukan pak basar akan melukai ppandangan dan prinsip kabul</p><p>Mengeluarkan diri dari proyek: <strong>Di antara dua pilihan dalam kata-kata Ki Hajar Dewantara <em>numpak montor sinambi sawan tangis </em>(punya kekayaan meski itu hasil mencuri dan hidup gelisah) atau <em>mikul dhawet sinambi rengeng-rengeng</em> (hidup sederhana tapi tenang)<em>, </em>batin Kabul akhirnya memilih yang kedua.</strong></p><p><br></p><p>Id: prinsip idealisme kabul akan proyek (regulasinya) &amp; prinsip jujur, bertanggungjawab, jangan merugikan orang lain (morality); kabul gelisah dan berfikir</p><p>Superego: Melihat kekacauan proyek, Kabul ingin keluar dari proyek untuk mempertahankan idealisme nya<br>Ego: Kabul mempertahankan idealismenya, dia keluar dari proyek.<br><br>Ego: Kabul melawan perintah atasan; Kabul memilih idealisme dan ajaran orangtuanya; Kabul keluar dari proyek<br>Id: merasa tidak mampu untuk menghadapi setiap permasalahan proyek, Kabul ada keinginan keluar dari proyek setelah tahu bahwa proyek sekorup itu.</p><p>Superego: Masih ada rasa kemanusiaan yang besar untuk mengembalikan proyek seperti yang seharusnya (sesuai regulasi) dan sesuai idealisme kabul (perlawanan untuk pembenaran kabul).</p><p><br></p><p>“Maaf, pak. Keputusan saya tak isa ditarik lagi. Saya keluar”.</p><p>(OOP/KNTU/Tohari,2015:230)</p><p><br></p><p>Pada akhirnya adalah Kabul. Meski protagonis dalam novel ini, Kabul tak sepenuhnya ideal. Ini bukan proyek pertamanya bersama Dalkijo. Dia bertahan karena masih harus menanggung hidup ibu dan dua adik. Tapi, Kabul kemudian tak bisa lagi membendung kegelisahannya. Dia merasa keinsinyurannya dicabik-cabik kepentingan politik. Dia pun sampai pada satu titik di mana harus mengambil sikap; setidaknya sekali saja dalam hidup. <strong>Di antara dua pilihan dalam kata-kata Ki Hajar Dewantara <em>numpak montor sinambi sawan tangis </em>(punya kekayaan meski itu hasil mencuri dan hidup gelisah) atau <em>mikul dhawet sinambi rengeng-rengeng</em> (hidup sederhana tapi tenang)<em>, </em>batin Kabul akhirnya memilih yang kedua. </strong>Dia teringat dengan ibunya yang dia sapa Biyung. Sang Biyung tetap sanggup menyekolahkan dia dan dua adiknya hingga perguruan tinggi dengan hidup sederhana: memilih menanak <em>inthil </em>daripada nasi sehingga bisa berhemat dan menabung.</p><p><br></p><p>Trauma psikis yang telah dialami oleh tokoh utama Kabul diakibatkan karena permasalah pembangunan jembatan yang dipimpin oleh seorang atasan yang tidak bijak. Kabul juga mengetahui bahwa ada permainan dalam kegiatan pembangunan proyek di sungai cibawor. Perilaku frustasi yang dialami oleh tokoh utama Kabul dalam Novel Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari karena dalam proses pembangunan jembatan terhalang banjir, selain itu hujan terus mengguyur, ditambah dengan bahan yang digunakan tidak memenuhi standar mutu kualitas pembangunan jembatan. Konflik kejiwaan tokoh utama Kabul dalam Novel Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari disebabkan id dari Kabul belum terlampiaskan karena pembangunan jembatan yang tidak baik dan menimbulkan frustasi pada superego-nya. Dalam tindakan rilnya, tuntutan tindakan pada superego telah mengubah perilakunya, yang berakibat munculnya rasa cemas, perasaan khawatir apabila tuntutan superego-nya belum terpuaskan atau terpenuhi. Perilaku trauma psikis dalam novel Orang-Orang Proyek meliputi kecemasan realistis, kecemasan neurotis, dan kecemasan moral. Faktor-faktor yang menimbulkan kecemasan realistis nampak pada ketika dia mengetahui ambrolnya tiang penyangga jembatan yang terkena dampak dari banjir. Dan kecemasan neurotik timbul saat dirinya harus menentukan dirinya atas dampak dari pembangunan jembatan yang sarat akan kecurangan.</p><p><br></p><ol start="3"><li><p>Kecemasan neurosis adalah suatu kecemasan yang erat kaitannya dengan mekanisme-mekanisme pelarian diri yang negativ banyak disebabkan rasa bersalah atau berdosa, serta konflik-konflik emosional serius dan kronis berkesinambungan, dan frustasi-frustasi serta ketegangan-ketegangan batin.</p></li></ol><p><br></p><p>Besok Dalkijo datang. Dan menunggu hari esok rasanya seperti menunggu gumpal kekecewaan yang kian pekat. Kabul sangat gelisah. -216<br><br>id: keinginan berkaitan dengan naluri (ingin <br>Kabul ingin agar proyek dilaksanakan dengan kejujuran. <br>untuk <br>Superego: 1. Kabul harus berfikir bahwa mental kabul penting</p><ol start="2"><li><p>Idealismenya cukup moral.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-15 02:03:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790083134</guid>
      </item>
      <item>
         <title>The &#39;WORDS&#39;</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790087813</link>
         <description><![CDATA[<p>Page 27: Waktu itu umurku tujuh belas, dan kau belum dua puluh. Lalu kaunikahi Mathilde Blumhard dengan toko barang-barang kelontongnya, dan aku dengan si tua Zachanassian dari Armenia dengan uang-nya yang bermilyar-milyar. Aku ditemukannya di sebuah bordil di Hamburg. la tertarik karena rambut merahku kumbang gaek keemasan itu.<br><br>Page 29: Kecelakaan pesawat terbang, di Afghanistan. Aku satu-satunya yang merangkak keluar dari reruntuhan. Awak pesawat mati semuanya. Aku tidak bisa dimatikan.<br><br>Page 31: WALIKOTA: Doktor Nüsslin, dokter kami.</p><p>Dengan kacamata didekatkan ke hidung, Claire .Z memperhatikan dokter yang mencium tangannya) <br>ZACHANASSIAN : Interesan. Anda membuat surat keterangan kematian?<br>DOKTER (bingung) : Surat keterangan kematian? ZACHANASSIAN : Kalau ada yang mati?</p><p>DOKTER: Ah — tentu saja, Nyonya. Itu kewajiban. Peraturan resmi.</p><p>ZACHANASSIAN : Lain kali tulis serangan jantung.<br><br>Page 34-35: Meski aku semasa kecil tidak seperti yang dipaparkan walikota dalam kata sambutannya tadi: aku biasa kena pukul di sekolah, dan kentang untuk Janda Boll itu hasil curian bersama Ill, dan bukan karena hendak menyelamatkan mak comblang tua itu dari kematian, melainkan karena ingin merasakan tidur dengan Ill di sebuah ranjang, yang lebih nyaman daripada dalam hutan atau di lumbung. <br><br>Page 36: Claire Zachanassian, waktu itu masih bernama Klara Wäscher, mengajukan tuntutan terhadap diri Anda, Tuan I, yang dinyatakannya adalah ayah anaknya.</p><p><br></p><p>Page 39: Aku menjadi lonte.<br><br>Page 60: Di mana pun aku menikah, pers selalu hadir. Mereka perlu aku, dan aku memerlukan mereka.<br><br>Page 71-72: Mereka sudah biasa. Pernikahanku sekali ini tergolong yang paling singkat. Hanya yang dengan Lord Ismael saja yang lebih singkat lagi. Ada urusan apa kalian kemari ini?<br><br>Page 74: Saat itu musim dingin, ketika aku meninggalkan kota ini, dengan pakaian model matros dan rambut dikepang dua, dengan perut gendut karena sudah hamil tua, sementara penduduk melihat kepergianku sambil "nyengir". Aku duduk sambil menggigil kedinginan dalam kereta ekspres ke Hamburg; tapi sementara bentuk lumbung Peter menghilang di balik bunga- bunga salju yang berhamburan, aku membulatkan tekad bahwa pada suatu waktu aku pasti akan kembali. Dan sekarang aku sudah kembali.<br><br>Page 75: Oleh dunia, aku dijadikan lonte, sekarang dunia kujadikan bordil. Siapa yang tidak bisa membayar harus menerima saja, jika ingin ikut menari. Kalian ingin ikut menari. Hanya yang membayar sajalah yang terhormat, dan aku membayar. Güllen sebagai imbalan untuk satu pembunuhan, perkembangan ekonomi untuk mayat seseorang. Ayo, kita berangkat!<br><br>Page 86: Terhadap nyonya tua sialan itu, biangnya lonte itu, yang di depan mata kita tanpa malu berganti-ganti lelaki, yang hendak menjaring jiwa kita?<br><br>Page 97: Perasaanku tidak enak. Lelaki dipelihara gunanya untuk dipamerkan, bukan sebagai sesuatu yang praktis. <br><br>Page 101-102: Di atas panggung yang biasanya dipakai untuk berbagai kegiatan perkumpulan dan di mana rombongan teater kota Kalberstadt biasa mengadakan pertunjukan dalam rangka turne kemari, kini tampak sudah berkumpul para warga yang terdiri atas kaum pria. Begitulah tradisinya di sini, menurut keterangan yang baru saja diberikan oleh walikota. Kaum wanitanya duduk di ruang penonton. Itu juga sudah merupakan tradisi. <br><br>Page 111: Serangan jantung.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-15 02:06:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790087813</guid>
      </item>
      <item>
         <title>5 Q and Evidence #1</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790088130</link>
         <description><![CDATA[<p>Pilihlah 5 pertanyaan dan berikan bukti di setiap jawabanmu!</p><p>1. Mengapa Claire mengganti nama suaminya, kepala pelayannya, kasimnya, dan kaki tangannya? Apa yang mungkin dikemukakan di sini mengenai hubungan antara</p><p>kekuasaan dan dehumanisasi?</p><p>a. Penggantian nama ini untuk menciptakan keadaan dimana para pelayan, suami, kasim, serta kaki tangannya dapat melupakan identitas mereka yang dulu, sehingga mereka tidak terikat dengan masa lalu, namun hidup dengan sebagaimana Claire mau terhadap mereka. Dengan adanya penggantian nama ini, hanya kuasa Claire yang berlaku pada mereka, dan setiap hak hidup mereka bergantung pada Claire dan mereka tidak lagi memiliki dominasi akan hidup mereka. </p><p><strong>Bukti: </strong></p><p>ZACHANASSIAN : Ayo, Moby, beri hormat. Sebenarnya Pedro namanya, tapi Moby lebih bagus. Dan lebih cocok dengan Boby — itu nama pelayan pribadiku. <strong>Dia 'kan untuk seumur hidup, jadi suami-suami harus disesuaikan dengan namanya.</strong> (halaman 18)</p><p><br></p><p>b. Kekuasaan absolut yang Claire punya terhadap mereka menandakan perbedaan posisi dalam konteks kasta kemanusiaan, sebagai penanda bahwa mereka adalah lebih rendah darinya, bahwa mereka harus tunduk pada kuasa yang dipegang Claire atas mereka. Hal ini ditunjukkan sebagai perilaku Claire untuk merendahkan orang-orang lainnya dengan pertanda bahwa ia yang berkuasa, ditilik dari bagaimana dengan begitu mudahnya, Claire mengubah nama seseorang yang merupakan identitas hidup seseorang sejak lahir dengan menamakan mereka sesuka hatinya , seolah orang-orang tersebut adalah bonekanya, yang bisa ia mainkan sesuka hati, dan ia mempunyai kendali penuh atas hidup mereka. Adanya tingkatan manusiawi yang Claire buat sehingga orang lain seperti bukan manusia adalah akibat atau pengaruh dari kekuasaan yang dia punya.</p><p><strong>Bukti: </strong></p><ol><li><p>ZACHANASSIAN : Ayo, Moby, beri hormat. Sebenarnya Pedro namanya, tapi Moby lebih bagus. Dan lebih cocok dengan Boby — itu nama pelayan pribadiku. <strong>Dia 'kan untuk seumur hidup, jadi suami-suami harus disesuaikan dengan namanya.</strong> (halaman 18)</p></li><li><p>KEDUA LELAKI TUA: Kami dari rombongan nyonya tua. Rombongan nyonya tua. Kami dinamakannya Koby dan Loby. (halaman 22)</p></li></ol><p><br></p><p>2. Di akhir drama, apakah Claire benar-benar mendapatkan keadilan? Berapa harganya?</p><p>a. Dalam keadaan keadilan (konsep keadilan) yang Claire minta terhadap warga, Claire mendapatkan keadilannya. Permintaan Claire untuk menuntut keadilah adalah dengan membunuh Alfred Ill, tuntutan ini pun dipenuhi oleh warga Gullen, dimana pada bukti kedua dan ketiga, Claire mendapatkan Ill yang sudah meninggal, dan memberi cek kepada walikota, sebagai pertanda 'keadilan' nya yang telah terpenuhi.</p><p><strong>Bukti:</strong></p><ol><li><p>PELAYAN : Dan kini Anda menuntut keadilan, Claire Zachanassian?</p><p>ZACHANASSIAN : Kini aku mampu menuntutnya. Satu milyar untuk Gullen, jika ada yang mau membunuh Alfred Ill. (halaman 39)</p></li><li><p>ZACHANASSIAN : (Dengan wajah kaku) : Buka selubungnya, Boby.</p><p>(Pelayan menyingkap kain taplak yang menutupi muka Ill. Claire Z. memandangi Il lama-lama, tanpa berkutik.) ZACHANASSIAN : Kini ia sudah kembali seperti dulu lagi, macan kumbang itu. Tutupi lagi dia.</p><p>(Pelayan menutupi wajah Il dengan kain taplak.) ZACHANASSIAN :Gotong dia, masukkan ke peti mati. (Roby dan Toby menggotong Il ke kiri, lalu keluar). (halaman 111)</p></li><li><p>ZACHANASSIAN : Ini ceknya. (Claire Z. menyodorkan secarik kertas kepada walikota, lalu ia keluar dengan dibimbing oleh pelayan). (halaman 112)</p><p><br></p></li></ol><p>b. 1 milliar untuk nyawa Ill, sang mantan kekasih.</p><p><strong>Bukti:</strong></p><p>PELAYAN : Dan kini Anda menuntut keadilan, Claire Zachanassian?</p><p>ZACHANASSIAN : Kini aku mampu menuntutnya. Satu milyar untuk Gullen, jika ada yang mau membunuh Alfred Ill. (halaman 39)</p><p><br></p><p>4. Atas kejahatan atau kejahatan apa saya bersalah? Apakah dia pernah mencapai penebusan?</p><p>a. Saya disini adalah Ill. Ia menghamili Claire, namun tidak mengakui itu anaknya ketika di sidang, serta menyewa orang untuk menutupi kesalahannya. Keadilan yang seharusnya Claire dapatkan direbut oleh Ill dan menjadikan Ill yang seharusnya bersalah, mendapatkan kebebasan dari hukuman nya.</p><p><strong>Bukti:</strong></p><ol><li><p>PELAYAN: Kita kembali ke tahun 1910. Waktu itu saya</p><p>hakim kepala di Güllen, dan harus menangani suatu perkara perdata. Claire Zachanassian, waktu itu masih bernama Klara Wäscher, mengajukan tuntutan terhadap diri Anda, Tuan I, yang dinyatakannya adalah ayah anaknya.</p><p>(Ill membisu)</p><p>PELAYAN : Waktu itu Anda membantah kebenaran tun-</p><p>tutan itu, Tuan I. Anda mengajukan dua orang saksi. (halaman 36)</p></li><li><p>PELAYAN: Begitu kalian bersumpah di depanku. Di depan pengadilan, di hadapan Tuhan. Apakah sumpah kalian itu benar?</p><p>KEDUA LELAKI TUA: Kami bersumpah palsu, bersumpah palsu.</p><p>PELAYAN: Kenapa, Ludwig Sparr dan Jakob Huhnlein? (halaman 37)</p></li><li><p>KEDUA LELAKI TUA: Kami disogok oleh Il, kami disogok oleh I.</p><p>PELAYAN : Dengan apa?</p><p>KEDUA LELAKI TUA: Dengan arak satu liter, arak satu liter. (halaman 38)</p></li><li><p>PELAYAN : Itulah kejadiannya: seorang hakim, seorang</p><p>tersangka, dua saksi palsu, sebuah keputusan</p><p>yang keliru pada tahun 1910. Betul begitu, penggugat?</p><p>(Claire Z. berdiri)</p><p>ZACHANASSIAN : Betul. (halaman 38)</p></li></ol><p>b. Ill takut akan hukuman yang ia dapatkan, dan menjadi dilema dalam kepalanya. Dia akan mengatakan setuju pada imbalan dari pemberian Claire 1 milyar untuk keadilan, namun dengan ketakutannya ia tidak ingin mengakui bahwa ia bersalah, sehingga karena ia tidak ingin dihukum mati, maka ia akan membiarkan dirinya diincar dengan perasaan takut akan kematian yang hendak ia hadapi, sekaligus membiarkan kematian itu menghampiri dirinya dalam konteks dilematis.</p><p><strong>Bukti:</strong></p><ol><li><p>WALIKOTA: Karena Andalah, hibah itu ditawarkan kepa- da kita, Alfred I. Apakah itu Anda sadari.</p><p>(Ill menjawab dengan suara menggumam)</p><p>REPORTER RADIO: Anda harus lebih keras bicaranya -</p><p>agar bisa didengar para pendengar kita.</p><p>ILL: Ya.</p><p>WALIKOTA :Apakah Anda bersedia menerima keputusan</p><p>kita bersama mengenai diterima tidaknya hibah dari Claire Zachanassian? (halaman 105)</p><p>ILL: Saya bersedia menerimanya. (halaman 106)</p></li></ol><p>Pada bukti 1 dan 2, keputusan untuk menyerahkan Ill diterima oleh Ill sendiri.</p><ol start="2"><li><p>WALIKOTA: Barang siapa dengan tulus bertekad ingin menegakkan keadilan, harap mengacungkan tangan.</p><p>(Semua mengacung kan tangan ke atas, kecuali Ill) (106)</p></li></ol><p>Akan tetapi, bila diminta kerelaan diri sendiri untuk menegakkan keadilan, Ill tidak menginginkan hal tersebut.</p><ol start="3"><li><p>WALIKOTA : Ayolah, Alfred I.</p><p>( I menjatuhkan rokoknya ke lantai, melumat-lumatnya dengan kaki. Lalu dengan lambat berjalan ke tengah- tengah panggung, membelakangi penonton.)</p><p>WALIKOTA: Masuklah ke dalam lorong.</p><p>(Ill ragu) (halaman 110)</p></li></ol><p>Ill akan tetap ragu sampai akhir untuk menyerahkan nyawanya, namun ia tidak lari dari yang dianggap sebagai hukuman atas ketidakadilan berdasarkan hukum Claire.</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-15 02:06:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790088130</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ANALISIS</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790090098</link>
         <description><![CDATA[<p>Theme: Reklamasi<br>Narrative: “Apakah Selalu begini?? Demi <strong>memenangkan yang BESAR </strong>harus <strong>mengalahkan yang kecil ???”<br></strong>“Nasiiib ‘mak…”<br>Language: satir, ironi<br>graphic: 1. Ekspresi: menangis (air mata yang mengucur), dahi mengernyit, bibir melengkung ke bawah (menandakan rasa sedih, kecewa, pasrah)</p><ol start="2"><li><p>Gesture: membawa perlengkapan kebutuhan hidup; baskom dengan piring dan teko, kardus berisi buku, tas berupa kantong kuning</p></li><li><p>Background: luluh lantak bangunan melebur, alat excavator yang sedang mengeruk reruntuhan bangunan, rumah rakyat miskin yang hanya terbuat dari kayu dan seng (terlihat kumuh) yang masihi berdiri, target selanjutnya untuk diruntuhkan.</p></li><li><p>colour: realistic colour, realita hidup.</p></li></ol><p><br></p><p>pertanyaan pemantik:</p><p>Bagaimana teks dan gambar dibangun untuk menyampaikan pesan komik?</p><p><br><br>Thesis:</p><p>Teks dan elemen pada komik ini membentuk sebuah ilham kepada masyarakat&nbsp; untuk membuka mata mereka akan situasi pemerasan rakyat kecil yang sedang terjadi hingga sekarang melalui gaya penggambaran karakter yang realistis dengan keadaan yang sebenarnya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-15 02:07:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790090098</guid>
      </item>
      <item>
         <title>- The Journal of  a pretending Journalist</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790171174</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-15 03:02:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790171174</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Presentation Psikoanalisis in Orang Orang Proyek</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790195205</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://www.canva.com/design/DAFumY5iNdI/DNTVuqtW5a2Sy0mYY39K5g/edit?utm_content=DAFumY5iNdI&amp;utm_campaign=designshare&amp;utm_medium=link2&amp;utm_source=sharebutton" />
         <pubDate>2023-11-15 03:19:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790195205</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Presentation oof Jagat Raya Short Movie</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790196682</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://www.canva.com/design/DAFtHGNCIAQ/HddNWAc96jVbCbATUxtmbA/edit?utm_content=DAFtHGNCIAQ&amp;utm_campaign=designshare&amp;utm_medium=link2&amp;utm_source=sharebutton" />
         <pubDate>2023-11-15 03:20:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790196682</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Presentation of Sampul Majalah presented Ibu Susi</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790197981</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://www.canva.com/design/DAFqiwuikm4/XTlwKfzKRLp7Et-FTSmhsA/edit?utm_content=DAFqiwuikm4&amp;utm_campaign=designshare&amp;utm_medium=link2&amp;utm_source=sharebutton" />
         <pubDate>2023-11-15 03:21:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790197981</guid>
      </item>
      <item>
         <title>The Psikoanalisi essay of Orang Orang Proyek</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790202757</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://docs.google.com/document/d/1Wf7vqXqQ-PgW9EV3BnrXYiBz1B60Bpqlb1LBES4diRc/edit?usp=sharing" />
         <pubDate>2023-11-15 03:25:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790202757</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ANALISIS KOMIK</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790210290</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://docs.google.com/document/d/1L5lvLycglfA3bzGoqdG0c-86aJaSFeGgJLMYDAozq9Q/edit?usp=sharing" />
         <pubDate>2023-11-15 03:31:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790210290</guid>
      </item>
      <item>
         <title>5 Q and Evidence #2</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790410063</link>
         <description><![CDATA[<p>6. Apa yang penting dari adegan di stasiun kereta api saat saya mencoba melarikan diri dari Guellen?</p><p>Ill paranoid melihat warga-warga yang mengerubuni dia ketika ingin pergi.</p><p><strong>Bukti:</strong></p><ol><li><p>Kepala stasiun berdiri sambil memberi hormat di depan stasiun. Il datang dari latar belakang sambil membawa sebuah koper yang kelihatan sudah tua. Il memandang berkeliling. Dengan lambat, seperti secara kebetulan saja, dari segala arah berdatangan penduduk kota Güllen. Il ragu-ragu, berhenti.) (halaman 64)</p></li></ol><p>Ketika Ill ingin lari dari Gullen dengan menaiki kereta akibat tidak ingin dibunuh atas dasar timbal dari keadilan yang diinginkan Claire, penduduk kota Gullen mengepung Ill. Hal ini menciptakan paranoid kepada Ill bahwa rakyat itu menahan Ill untuk pergi secara tidak langsung. </p><p><strong>Bukti</strong>:</p><ol start="2"><li><p>WARGA (serempak): Ya, mau ke mana?</p><p>ILL: Ke stasiun.</p><p>WALIKOTA : Kami antar Anda.</p><p>WARGA (serempak): Kami antar Anda! Kami antar Anda! (Semakin banyak warga Güllen bermunculan.)</p><p>ILL: Wah, itu tidak perlu. Sungguh! Jangan repot-repot. WALIKOTA: Anda hendak bepergian, I?</p><p>ILL : Ya, saya hendak pergi.</p><p>POLISI : Ke mana?</p><p>LIL : Tidak tahu. Ke Kalberstadt, lalu terus -</p><p>GURU : Begitu - lalu terus.</p><p>LIL : Maunya ke Australia. Entah dengan jalan bagaima- na, tapi saya pasti akan bisa mengumpulkan</p><p>uang untuk itu.</p><p>(Il meneruskan langkah, ke arah stasiun) </p><p>WARGA (semua) : Ke Australia! Australia! </p><p>WALIKOTA : Kenapa?</p><p>LIL (malu) : Orang 'kan tidak bisa terus tinggal di satu tempat saja - dari tahun ke tahun.</p><p>(Ill lari, sampai di stasiun. Warga selebihnya menyusul dengan santai, mengerubunginya.) (halaman 65)</p></li><li><p>GURU: Anda lihat, betapa populernya Anda.</p><p>WALIKOTA: Seisi kota datang mengantar.</p><p>SEMUA: Seisi kota! Seisi kota!</p><p>ILL : Aku tidak meminta kalian datang.</p><p>LELAKI KEDUA ; Masa mengucapkan selamat jalan saja tidak boleh.</p><p>WALIKOTA: Sebagai kawan-kawan lama.</p><p>SEMUA: Sebagai kawan lama! Sebagai kawan lama! (Bunyi kereta api datang. Kepala stasiun mengambil tongkat aba-aba. Seorang kondektur muncul dari kiri, seperti baru saja meloncat turun dari kereta.) KONDEKTUR : Gülleeen!</p><p>WALIKOTA: Itu kereta Anda sudah datang. SEMUA : Kereta Anda! Kereta Anda!</p><p>WALIKOTA: Nah, Il, selamat jalan.</p><p>SEMUA: Selamat jalan! Selamat jalan!</p><p>DOKTER: Semoga Anda hidup senang untuk selanjutnya! SEMUA: Hidup senang untuk selanjutnya! Hidup senang untuk selanjutnya!</p><p>(Seluruh warga Güllen berkerumun mengelilingi Il) (halaman 66)</p></li><li><p>WALIKOTA: Kami sama sekali tidak mengepung Anda. ILL : Minggir!</p><p>GURU: Kami 'kan sudah minggir.</p><p>SEMUA: Kami sudah minggir, kami sudah minggir!</p><p>ILL: Pasti nanti ada yang menahan aku.</p><p>POLISI: Omong kosong. Anda naik saja ke kereta, nanti</p><p>akan melihat sendiri bahwa itu omong kosong. </p><p>Ill :Pergi!</p><p>(Tidak ada yang pergi. Beberapa orang berdiri dengan tangan dimasukkan ke kantung celana.)</p><p>WALIKOTA: Saya tidak mengerti apa mau Anda. Terserah Anda jika mau pergi. Sana - naiklah ke kereta.</p><p>Ill: Ayo pergi!</p><p>GURU: Rasa takut Anda benar-benar menggelikan.</p><p>(Ill berlutut)</p><p>LIL : Kenapa kalian begitu rapat berdirinya!</p><p>POLISI: Dia sudah gila.</p><p>LIL : Kalian hendak menghalang-halangi aku. WALIKOTA: Sana - naiklah!</p><p>(SEMUA: Naiklah, Naiklah! Naiklah!</p><p>LIL (lirih): Pasti nanti ada yang menahan, jika aku naik ke atas kereta. (halaman 67)</p></li></ol><p>Paradigma yang telah tercipta dalam kepala Ill adalah suatu keadaan psikologis yang ingin warga capai, bahwa secara tidak langsung, mereka ingin menahan Ill agar tidak pergi dan membunuh Ill untuk memenuhi persyaratan Claire, dengan memberikan cemas berlebih sebagai acuan Ill dalam bertindak. Ill yang dipenuhi paradigma ini tidak berdaya untuk melawannya, sehingga walaupun ia takut untuk dibunuh, ia tetap tidak berani untuk naik kereta dengan alasan ia takut ada yang menariknya. </p><p><strong>Bukti:</strong></p><ol start="5"><li><p>GURU: Sana, cepatlah naik!</p><p>ILL: Aku tahu, pasti nanti ada yang menahan aku! Ada</p><p>yang memegangi.</p><p>KEPALA STASIUN : Ya - berangkat!</p><p>(Kepala stasiun mengangkat tongkat aba-aba, kondektur meloncat seperti naik ke atas kereta. Il meringkuk sambil menutupi muka dengan kedua tangan, dikelilingi warga Güllen.)</p><p>POLISI :Nah sekarang keretanya sudah berangkat! (Semua meninggalkan Il yang tetap meringkuk. Mereka berjalan dengan lambat-lambat ke belakang dan menghilang di sana.)</p><p>ILL: Habis riwayatku! </p><p>(halaman 68)</p></li></ol><p>Ketika Ill menyuruh mereka pergi, tak ada yang pergi, namun ketika Ill tidak jadi naik, mereka lekas pergi. Hal ini menyiratkan keinginan warga untuk menahan Ill agar tidak pergi melalui perlakuan seolah membiarkan Ill pergi dengan menciptakan tuduhan dalam pikiran Ill bahwa mereka akan menahan Ill secara jumlah mereka yang mengepung Ill. Rakyat Gullen bertindak seolah mereka tidak ingin membunuh Ill-untuk rasa kemanusiaan, namun nyatanya, mereka menginginkan uang yang dijanjikan Claire dengan imbalan nyawa Ill-demi keadilan.</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-15 07:07:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790410063</guid>
      </item>
      <item>
         <title>5 Q and Evidence #3</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790410360</link>
         <description><![CDATA[<p>13. Claire berkata kepada Dokter dan Kepala Sekolah: "Perasaan kemanusiaan, Tuan-tuan, tidak masuk akal bagi seorang jutawan biasa; dengan sumber daya keuangan seperti milik saya, Anda mampu menciptakan tatanan dunia baru. Dunia mengubah saya menjadi pelacur. Saya akan merubah dunia menjadi rumah bordil." Mengapa pidato ini penting, dan apa yang diungkapkannya mengenai pengaruh kekayaan?</p><p>Claire ingin menyindir warga-warga Gullen bahwa sejatinya mereka hanya peduli terhadap uang, selayaknya dulu ketika ia di sidang. Warga tidak terlalu peduli terhadap keadilan, dan dengan adanya uang, warga dibutakan oleh keinginan menjadi kaya. Bahwa rasa kemanusiaan, keadilan, akan tunduk pada yang dinamakan kekayaan. </p><p><strong>Bukti:</strong></p><ol><li><p>CLAIRE:  "Siapa yang tidak bisa membayar harus menerima saja, jika ingin ikut menari. Kalian ingin ikut menari. Hanya yang membayar sajalah yang terhormat, dan aku membayar. Güllen sebagai imbalan untuk satu pembunuhan, perkembangan ekonomi untuk mayat seseorang. Ayo, kita berangkat!"</p></li></ol><p>Kalimat pidato Claire setelah itu menunjukan begitu rendahnya ia memandang warga bahwa demi imbalan perkembangan ekonomi, ia akan membayar semua nilai kemanusiaan, keadilan, dan asusila dengan harta yang dia punya. Claire memberikan satir bahwa jika punya uang, maka yang lain akan tunduk padanya, dan ia yang berkuasa, terlepas dari setiap norma dan hukum yang ada.</p><ol start="2"><li><p>GURU: "-Namun karena kami memahami Anda sampai sedalam-dalamnya, berilah kami keberanian untuk menuntut lebih banyak dari Anda: lupakanlah pikiran balas dendam yang membawa petaka, janganlah kami Anda pojokkan sampai habis-habisan; " (halaman 74)</p></li><li><p>GURU: Kami datang ini sehubungan dengan Tuan I. ZACHANASSIAN : Ah - dia meninggal dunia?</p><p>GURU: Nyonya! Bagaimanapun juga, kami mash berpe- gang pada prinsip-prinsip peradaban Barat kita. ZACHANASSIAN : Kalau begitu, kalian mau apa? GURU: Apa boleh buat, warga Güllen selama ini telah membeli berbagai macam barang.</p><p>DOKTER : Yang lumayan banyaknya.</p><p>(Keduanya mengusap keringat)</p><p>LACHANASSIAN : Terlibat utang?</p><p>GURU : Habis-habisan.</p><p>ZACHANASSIAN :Meski punya prinsip-prinsip itu? GURU : Kami 'kan cuma manusia biasa.</p><p>DOKTER : Dan kini utang-utang itu harus kami lunasi. ZACHANASSIAN : Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan. (halaman 72)</p></li></ol><p>Mereka masih menolak untuk mengikuti apa yang Claire mau. Namun, uraian satir yang Claire telah ungkapkan, diperjelas oleh bagaimana sebelumnya para rakyat tidak ingin untuk tunduk pada permintaan Claire demi uang 1 milyar, dengan mengorbankan Ill. Akan tetapi, dilaksanakanlah juga penebusan untuk keadilan itu atas nama hati nurani akan keadilan yang seharusnya Claire terima - dengan mengorbankan Ill.</p><p><strong>Bukti:</strong></p><ol start="4"><li><p>WALIKOTA: "Dengan ini hibah dari Claire Zachanassian diterima. Bukan karena uangnya,-" (halaman 106)</p></li><li><p>WARGA KOTA (serempak): Bukan karena uangnya, WALIKOTA: Melainkan demi keadilan.</p><p>WARGA KOTA (serempak) : Demi Keadilan.</p><p>WALIKOTA : Dan karena terdorong desakan hati nurani. WARGA KOTA (serempak): Karena desakan hati nurani. WALIKOTA : Karena kita tidak bisa hidup, jika kita mem-</p><p>biarkan saja ada suatu kejahatan di antara kita. WARGA KOTA (serempak) : Karena kita tidak bisa hidup, jika kita membiarkan saja ada suatu kejahatan di</p><p>antara kita.</p><p>WALIKOTA: Yang harus ditumpas.</p><p>WARGA KOTA (serempak): Yang harus ditumpas. WALIKOTA: Agar jiwa kita tidak rusak.</p><p>WARGA KOTA (serempak) : Agar jiwa kita tidak rusak. WALIKOTA: Dan nilai-nilai kita yang keramat.</p><p>WARGA KOTA (serempak) : Dan nilai-nilai kita yang</p><p>keramat. (halaman 107)</p></li><li><p>WALIKOTA : Ayolah, Alfred I.</p><p>( I menjatuhkan rokoknya ke lantai, melumat-lumatnya dengan kaki. Lalu dengan lambat berjalan ke tengah- tengah panggung, membelakangi penonton.)</p><p>WALIKOTA: Masuklah ke dalam lorong.</p><p>(Ill ragu)</p><p>POLISI : Ayo cepat!</p><p>(Dengan lambat Il memasuki lorong yang membisu. Se- sampai di ujung, ia dihadang oleh pesenam. Il berhenti, berbalik, melihat orang-orang yang tadi membentuk ol- rong kini merapat. Il jatuh berlurut. -) (halaman 110)</p></li><li><p>WARTAWAN I : Ada apa di sini?</p><p>(Kerumuman manusia buyar, para warga mengelompok sambil membisu di latar belakang. Yang tinggal hanya dokter, berlutut menghadapi jenazah yang diselubungi taplak meja. Dokter berdiri, melepaskan stetoskopnya.) DOKTER : Serangan jantung.</p><p>WALIKOTA : Meninggal karena kegembiraan yang me-</p><p>luap-luap.</p><p>WARTAWAN I: Karena kegembiraan meluap-luap. WARTAWAN I : Kehidupan nyata memang menyajikan kisah-kisah indah.</p><p>WARTAWAN I : Kita harus memburu deadline.</p><p>Para wartawan bergegas ke kamar belakang. Dari kiri datang Claire Z., diringi pelayan pribadi. Claire Z. melihat jenazah di lantai, berhenti, lalu dengan lambat pergi ke tengah-tengah panggung, membelakangi penonton.) ZACHANASSIAN : Bawa dia kemari.</p><p>(Roby dan Toby datang membawa usungan, meletakkan Il di atasnya, lalu membawanya ke tempat Claire Z. dan meletakkannya di depan kakinya.)</p><p>ZACHANASSIAN : (Dengan wajah kaku) : Buka selubungnya, Boby.</p><p>(Pelayan menyingkap kain taplak yang menutupi muka Ill. Claire Z. memandangi Il lama-lama, tanpa berkutik.) (halaman 111)</p></li><li><p>ZACHANASSIAN : Ini ceknya. (Claire Z. menyodorkan secarik kertas kepada walikota, lalu ia keluar dengan dibimbing oleh pelayan).</p><p>(Pentas bersuasana meriah. Kota yang makmur, bernada Happy-end. Stasiun yang sudah dipugar dihiasi umbul- umbul, gaba-gaba, poster, lampu neon. -) (halaman 112)</p></li></ol><p>Pada bukti ke 8, para rakyat dengan santainya bergembira dan tidak ada duka akan kehilangan Ill, menunjukan ketidakpeduliaannya mereka terhadap sosok Ill, dan hanya memedulikan mengenai uang yang mereka terima dari Claire. Bahwa pada akhirnya, hukum yang mereka ikuti adalah hukum dari Claire dengan iming-iming kekayaan, juga keadilan yang adalah keadilan sesuai dengan kemauan Claire. Pidato itu menunjukan bagaimana mudahnya memperbudak seseorang demi kekayaan, dan menunjukan secara langsung pengaruh kekayaan yang Claire punya membuat ia dengan mudah menundukan setiap hukum dan rasa hati manusia demi kalut akan uang, yang diberikan oleh situasi Ill yang terbunuh atas dasar 'keadilan'.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2023-11-15 07:08:18 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790410360</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Presentation Femininity Literary Criticism in Der Besuch Der Alten Dame</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790412029</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://www.canva.com/design/DAF0BczQCjA/Z5R0Ozm6prp3KwY1TOXsjg/edit?utm_content=DAF0BczQCjA&amp;utm_campaign=designshare&amp;utm_medium=link2&amp;utm_source=sharebutton" />
         <pubDate>2023-11-15 07:09:50 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790412029</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sang Pembebas, Sutardji Calzoum Bachri</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790859429</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://www.canva.com/design/DAF0N9OXvAw/P0D77sbw8V5e-uFHZtYlXw/edit?utm_content=DAF0N9OXvAw&amp;utm_campaign=designshare&amp;utm_medium=link2&amp;utm_source=sharebutton" />
         <pubDate>2023-11-15 13:45:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2790859429</guid>
      </item>
      <item>
         <title>A POEM titled &quot;SILIR SINDIR SELIWIR &quot;</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2795811671</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2168940570/7598f6120f7c73750220f7fc64730e50/1.png" />
         <pubDate>2023-11-20 03:53:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2795811671</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Analisis Pidato Bapak Anies</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2844013014</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://docs.google.com/document/d/1cwMU_ZlYTilJ8om-768Cb4aurK3GSkxrg-UCLowNF_I/edit?usp=sharing" />
         <pubDate>2024-01-10 10:02:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2844013014</guid>
      </item>
      <item>
         <title>1. Sebutkan perbedaan budaya indonesia pada zaman itu dan budaya barat yang kamu temukan dari novel salah asuhan?</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848046000</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p><strong>Ikatan keluarga setelah menikah</strong><br>Pada budaya barat, pasangan sami-istni yang sudah menikah terlepas dari ‘kekangan’ ikatan dengan orangtua, dan diperbolehkan untuk mengambil keputusan sendiri dengan keluarga yang baru<br>Namun, pada budaya Indonesia lampau, pasangan suami-istri tetaplah harus mengabdi pada adat orangtua mereka dan terikat akan keputusan mereka.<br><br><strong>Bukti: [35]</strong> Pada kecilnya yang menjadi keluarganya hanyalah; ayah-bundanya, adik-kakaknya. Setelah ia besar, dipilihnya sendiri buat istrinya; dan ayah bundanya, apalagi mamak bilainya atau 'tua-tua di dalam kampung' harus menerima saja pilihannya itu jika tidak berkenan—boleh menjauh! Dan setelah beristri, bagi orang itu yang menjadi keluarga ialah, istrinya dan anak-anaknya saja. <br><br>Tapi kita di sini kebat-mengebat, takluk-menaklukkan, tanya-menanya dengan tidak ada hingganya. Sebelum beristri, dalam beristri, hendak bercerai, tidak putus-putuslah kita dari percampuran orang-orang lain yang belum tentu berhati tulus kepada kita.<br></p></li><li><p><strong>Pertemanan dan Pandangan terhadap Kedekatan dengan Lawan Jenis<br></strong>Pada kaum Bumiputra, pergaulan antar lawan jenis tidaklah lumrah, bahkan dengan saudara karib sekalipun. Berlaku bagi seorang bujang maupun gadis, barang bersentuhan sudah haram dan tidak diperbolehkan, terlebih begitu rapuhnya nama Anak gadis (seorang perempuan bumiputra) sehingga ketika ia berdekatan dengan lawan jenis, maka direndahkan.<br>Berbeda dengan pergaulan bangsa Barat yang begitu bebas dan longgar. <br><br>Bukti: [2] Bangsamu, bangsa Eropa, amat melonggarkan pergaulan laki-laki dengan perempuan. Nyonya yang bersuami sudah galib dibawa-bawa dan dikepit oleh seorang tuan lain, dengan tidak ada undang-undang tersurat atau tidak tersurat yang melarangnya. </p><p><br/></p><p>[4] Dalam pergaulan bangsaku, bangsa Eropa, sungguh longgarlah pergaulan antara laki-laki dengan perempuan…<br><br>…Tetapi dalam pergaulan bangsamu, apabila di tanah Sumatra ini, lain keadaannya. Jangankan dengan perempuan lain, dengan ahlinya yang paling karib, sekalipun dengan adik atau kakaknya sendiri, sudah disebut janggal, apabila ia bergaul atau duduk bersenda gurau, bahkan berjalan berdua-dua. Dan buat bersinggungan kulit dengan perempuan lain, kata bangsamu, sudah haram.</p></li><li><p><strong>Hal Berpakaian</strong></p><p>Pada bangsa Barat, lazimlah untuk mengenakkan pakaian yang lebih terbuka dibandingkan dengan orang Timur yang menutup dirinya. Namun berdasarkan adat kesopanan dengan memakai pakaian mewah yang berisikan suatu simbol kekayaan dan kemegahan berupa pakaian terbuka, akan tetap dianggap rendahlah piyama yang lebih tertutup namun mempunyai makna selayaknya kesederhanaan yang tak patut ditunjukkan.</p><p><br/></p><p>Bukti: [3] Di tanah Arab perempuan menutup badan sampai ke muka-muka, tapi di tanah Amerika banyak benar kota-kota ramai di pantai laut, tempat nyonya dan tuan-tuan berkeliaran saja memakai baju renang, sampai ke rumah-rumah minum. Tetapi lihatlah pula</p><p>setengah bangsa Barat—jika nyonya rumah berani turun tanah memakai baju piyama, yang nyata lebih menutup kulit dari pakaian dansa, maka nyonya yang berpakaian piyama turun ke tanah itu akan disebutkan 'melanggar adat sopan santun'.</p></li><li><p><strong>Pandangan akan Bangsa satu sama lain</strong></p><p>Bangsa Barat memandang bangsa Timur</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-14 12:38:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848046000</guid>
      </item>
      <item>
         <title>2. Bagaimana undang-undang perkawinan orang barat dengan orang timur di novel salah asuhan dan apa pengaruhnya terhadap karakter yang ada?</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848046203</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p><strong>Perbedaan gender sangatlah signifikan<br></strong>Terhadap lelaki bangsa barat yang memperistrikan seorang ‘nyai’, dianggaplah berjasa,<br>Namun bila nyonya Barat bersuami dengan bumiputra, akan dicabut haknya sebagai orang Eropa.<br><strong><br></strong>Bukti:<strong> [17] </strong>Tapi lain sekali keadaannya pada pertimbangan orang Barat itu, kalau seseorang nyonya Barat sampai bersuami, bahkan beranak dengan orang sini. Terlebih dahulu nyonya itu dipandang seolah-olah sudah menghinakan dirinya sebagai bangsa Barat; dan dikatakan sudah 'membuang diri' kepada orang sini. <strong>Di dalam undang-undang negeri ia pun segera dikeluarkan dari hak orang Eropa<br></strong></p></li><li><p><strong>Terhadap Corrie dan Hanafi <br><br></strong>Corrie dan Hanafi dikucilkan dari masyarakat, dan tak dianggap hidup di keluarga masing-masing (bangsa masing-masing)<br><strong><br>Corrie: </strong>Corrie dikucilkan dari pergaulan bangsanya, dan tidaklah diterima di masyarakat manapun, hidupnya hanyalah suaminya, dan tidak bisa berharap kepada haknya yang bukan sebagai kelas atas, namun seorang nyonya Barat Bumiputra yang telah turun kelas. Hilanglah gairahnya untuk menjalani hidupnya.<br><br><strong>Bukti: [192]</strong> …seorang pun tak ada yang menghinakannya, tapi sementara itu, m<strong>ereka berasa tersisih</strong> dari pergaulan yang banyak…<br><br><strong>[194] </strong>Pemandangan Corrie menjadi layu, seolah-olah orang yang baharu sembuh daripada penyakit keras.<br><br><strong>[197]</strong> “Sebab dunia berasa sempit bagiku setelah aku bersuami.<br><br><strong>Hanafi: </strong>haknya sebagai orang Eropa menanggalkan kebumiputraannya sehinga ia tak lalu dipandang oleh bangsa leluhurnya. Hanafi terasingkan, dan dianggap tak lalu.<br><br>Bukti: [193] …berkumpul-kumpul dahulu bercengkerama, sambil membuat perjanjian akan melancung ataupun pesiar di kota Betawi. Tapi<strong> seorang pun tak ada ingatan hendak membawa Hanafi bersama-sama</strong>…</p><p><br></p><p>[263] Di kantor engkau sangat disukai oleh kawan-kawanmu, tapi sementara itu, seorang pun tak ada yang datang berkunjungan ke tempat kediamanmu. <strong>Itulah tandanya bahwa engkau disisih.</strong></p><p><br></p><p>Jadi bencana-bencana yang menima rumah tanggamu itu sudah mengecilkan hatimu berdua, memecah keamanan di dalam hidup bergaul suami-istri, dan merusakkan keteguhan hatimu berdua. Segala kemasygulan kepada orang lain, karena masing-masing tak kuasa memerangi nafsu, sudah ditumpahkan kepada suami atau istri sendiri; dengan hal yang demikian, lama kelamaan akan habislah segala manisnya di dalam hidup pergaulan, diganti oleh pahit pahangnya saja. Cintamu kedua belah pihak berangsur-angsur kurang, perkara yang sejengkal menjadi sehasta, sehasta menjadi sedepa, kian hari kian dalamlah jurang membatasi kedua suami-istri."</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-14 12:38:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848046203</guid>
      </item>
      <item>
         <title>3. Bagaimana menurutmu identitas diri pada hanafi?</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848046934</link>
         <description><![CDATA[<p>Hanafi telah memimikrikan adat Barat melalui hegemoni kolonialisme, ia ingin membangun identitas persamaan dengan kaum penjajah,</p><p><br>Leluhur Hanafi ialah seorang bumiputra di Sumatera Barat yang menjunjung adat istiadat kolot. Akan tetapi, sebagai seorang yang sudah diasuh dengan budaya barat, dikenalkan budaya Barat dan bergaul dengan bangsa Barat sedari kecil, Hanafi berpikir dan bertingkah selayaknya seorang Barat. Maka, ia menolak akan identitas seorang Bumiputra karena ia pun tidak berkenan akan adat istiadat bumiputra dan telah membawa pola pikir barat selama ia hidup. <br><br><strong>Hanafi menolak identitas sebagai Bumiputra</strong> dan <strong>beranggapan sebagai orang Eropa</strong> secara hidupnya sudah terlanjur dididik secara Barat. Maka engganlah dia mengikuti pengajaran Bumiputra untuk mentaga kehormatan yang telah dipegangnya.<br><br>Bukti: [262] ...pada rasa bangsaku, engkau masih Bumiputra, dan engganlah mereka menerima engkau, bila engkau menyerbukan diri memasuki bangsa itu. Pada pendapat mereka, lebih tinggilah derajatmu sebagai manusia, bila engkau tinggal kekal di dalam bangsamu saja, tapi menyatakan perindahanmu saja terhadap kepada bangsanya, bangsa Eropa. Jika engkau melakukan</p><p>sedemikian niscaya kehormatannya kepadamu akan lebih</p><p>besar, dipandangnya dirimu sebagai seorang Bumiputra</p><p>yang sopan dan terpelajar. Tapi secara yang engkau lakukan</p><p>sekarang, sekali-kali tiadalah disukainya. Itulah semua rasa</p><p>dan perasaan itu tidak dapat dikemudi-kemudikan, walau</p><p>oleh yang mengandung perasaan itu sekalipun."</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-14 12:39:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848046934</guid>
      </item>
      <item>
         <title>4. Apa saja sifat kebelanda-belandaan Hanafi? Mengapa Hanafi mencemooh bangsa dan adatnya?</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848047048</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Hanafi melepaskan identitas dirinya sebagai orang Minangkabau, dan juga warisan agama dari orangtuanya.</p><p><br/></p><p>Bukti: [29] Segala hal –ikhwal yang berhubungan dengan orang Melayu, dicatat dan dicemohkannya, sampai kepada adat lembaga orang Melayu dan agama Islam tidak mendapat perindahan serambut juga. Adat lembaga disebutkan ‘kuno’, agama Islam ‘takhyul’. Tidak heran kalau ia hidup tersisih benar dari pergaulan orang Melayu. Hanya kepada ibunya ada melekat hatinya” </p></li><li><p>Perabotan dan tata letak rumah Hanafi yang menurut aturan Belanda</p><p>Bukti: [28] Tapi sepanjang hari orang tua itu termangu-mangu saja, karena dari beranda muka sampai ke dapur dan kamar mandi diperbuat secara aturan rumah orang Belanda. Perempuan Bumiputra dari kampung memang lebih senang duduk bersimpuh daripada duduk di atas kursi. Ia gemar sekali berkunjung-kunjungan dengan orang lain. Tempat sirih, tempat ludahnya dan dapur, itulah barang-barang yang sangat digemarinya melihat setiap hari: itulah dunianya.</p></li><li><p>Adat menikah Hanafi dan Rapiah</p><p>Hanafi tidak ingin menggunakan pakaian adat yang menunjukan adat istiadat Minangkabau, yang menurut Hanafi adalah sebuah aib</p><p>Bukti: [85] Pakaian mempelai secara yang masih dilazimkan sekarang di negerinya, yaitu pakaian secara zaman dahulu, disebutkannya "anak komidi Stambul". Jika ia dipaksa memakai secara itu, sukalah ia urung saja, demikian katanya dengan pendek. Setelah timbul pertengkaran di dalam keluarga pihaknya sendiri akhirnya diterimalah, bahwa ia memakai 'smoking',</p><p>yaitu jas hitam, celana hitam dengan berompi dan berdasi putih. Tapi waktu hendak menutup kepalanya sudah berselish pula. Dengan kekerasan ia menolak pakaian destar saluk, yaitu pakaian orang Minangkabau. Bertangisan sekalian perempuan, meminta supaya ia jangan menolak tanda keminangkabauan yang satu itu, yaitu selama beralat saja. Jika peralatan sudah selesai, bolehlah ia memakai sekehendak hatinya pula.</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-14 12:39:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848047048</guid>
      </item>
      <item>
         <title>5. Bagaimana kebiasaan adat melayu (minangkabau) terhadap perempuan &amp; apa kewajiban (peran) suami menurut adat itu?</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848050772</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p><strong>Perempuanlah yang Melamar Pihak Terkait</strong></p><p>Pada kebanyakan adat istiadat pernikahan, lazim halnya bila pihak lelaki, meminta pihak wanita untuk menjadi pasangannya, dan akan dipinanglah wanita itu, namun dalam adat Minangkabau, patutlah seorang lelaki menunggu untuk dilamar oleh wanita, dan memilih siapa yang akan dinikahinya.</p><p><strong><br>Bukti: [75]</strong> Menurut adat yang kita pakai bukankah engkau—orang japutan'-yang seharusnya mengejar-ngejar gadis, meminta-minta kasihnya, melainkan patutlah engkau memilih di antara yang datang saja, yang mana yang engkau sukai. Secara adat kita di Minangkabau, sebaik-baik meminta—buat laki-laki—lebih mulialah jika ia diminta."</p></li></ol><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-14 12:49:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848050772</guid>
      </item>
      <item>
         <title>6. Bagaimana peran wanita pada novel salah asuhan digambarkan? [dengan pendekatan feminisme &amp; post-colonialism (efek-efek setelah kemerdekaan) , perannya apa]</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848051481</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p><strong>Corrie<br></strong>Corrie sebagai cinta pertama Hanafi mampu berkelakuan lebih bebas dan mampu mempunyai kuasa untuk bisa berteman dan berperingai selaku seseorang yang mempunyai kehendak untuk campur tangan dalam hidup seorang lain. Oleh karena itu, setiap perkataan dan perbuatannya adalah pemikiran kedua dan tidak gampang untuk mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang lain. Dengan adanya pendirian, lelaki cerdas seperti Hanafi yang mencari prestasi dan berjuang akan masa depan yang cerah menjadi tertantang untuk bisa ber’sahabat’ dengan semangat yang sama. Sehingga ada yang bisa mengoreksi hanafisme, mengatur hanafisme, dan bisa diandalkan.<br><br>Corrie adalah batu Pandang Hanafi atas perempuan yang sederajat dengannya, dan berharap bila sudah mencapai strata yang sama, akan memperoleh pengakuan sebagai kaum Barat, namun yang terjadi sebaliknya.<br><br>Bukti: [199] Engkau menyatakan kesakitan hatimu dengan ... mengeluarkan kata-kata tajam pada istrimu dengan tidak ada pasal atau karena, sedang aku,</p><p>istrimu yang seolah-olah 'digencet' oleh kedua belah pihaknya, yaitu oleh kawan-kawan dan oleh suami sendiri, aku sendiri menyatakan keangusan hatiku dengan fill serupa ini, yang kaukatakan serupa berasa rugi karena memberi itu.</p><p><br/></p></li><li><p><strong>Ibu Hanafi [Mariam]<br></strong>Sebagai Ibu, ibunya hanya memperturutkan saja segala kehendaknya dengan tidak melakukan kekerasan sekali juga. Ibunya menjadi tolak ukur ke khilaf-an Hanafi ketika menyadari kesalahannya.</p><p><br/></p><p>Bukti: [242] Meskipun bagaimana juga fil Hanafi yang sudah-sudah, si ibu masih mengandung pengharapan, bahwa anak yang sedang tersesat itu, lambat launnya akan pulang jua kembali, asal sabar ia menanti. Hanafi, Rapiah, Syafei, tiga orang makhluk yang dirasanya sebagai darah dagingnya sendiri. Tidak akan sehat rasa badannya, bila salah seorang dari yang bertiga itu mendapat bencana, atau bercerai dari badannya.</p><p><br/></p><p>[266] Pada malam itulah Hanafi baru dapat 'mengulak' utangnya kepada ibunya, yaitu utang, yang kira-kira belum akan langsai terbayar, meskipun ia memperbuat mahligai tinggi bagi ibunya itu. Hanafi mengakulah sekarang, bahwa ibunya bukan orang bodoh, oleh karena itu makin timbullah adab dan cinta kepada orang tua itu, sebab selamanya itu ibunya hanya memperturutkan saja segala kehendaknya dengan tidak melakukan kekerasan sekali juga.</p></li><li><p><strong>Rapiah <br></strong>Rapiah adalah sosok wanita ideal yang merupakan sosok istri selayaknya yang dicita-citakan oleh pria bumiputra untuk kawin. Rapiah adalah sosok intan yang menerima akan apa yang diperintahkan terhadap hidupnya, dan hidup menurut standar masyarakat. Maka Hanafi beristrikan Rapiah tidaklah seperti yang dicita-citakan Hanafi akan sosok yang berperingai, sehingga dipandanglah Rapiah sebagai hanya istri boneka. Oleh karena sifat kebarat-baratannya, Hanafi menolak untuk mempunyai Istri orang Timur dan merendahkan Rapiah, oleh sebab sifat dan sikapnya yang penyabar, berdiam diri, seperti tanpa jiwa.<br><br>Bukti: [105] Bagaimanakah Ibu hendak membanding-bandingkan anak kampung dengan anak Belanda! Kalau Ibu berkehendak aku mengikatkan diri seumur hidup kepada seorang perempuan sebagai Rapiah itu, yang takut melihat Belanda, yang bergulung-gulung di dapur saja sebagai koki, yang tidak berani membuka tutur, lain daripada hal-ikhwal dapur saja, yang tidak sekali-kali menurutkan gerak zaman atau memperlihatkan tertib dan kesopanan sekarang, yang memandang akan rumah dan dapur itulah saja alam dunianya.</p></li></ol><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-14 12:50:13 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848051481</guid>
      </item>
      <item>
         <title>7. Nilai pelajaran hidup apa yang kamu dapatkan dari membaca salah asuhan (tidak usah diberi bukti)</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848051605</link>
         <description><![CDATA[<ol><li><p>Tidaklah sesuatu sepantasnya kita paksakan tanpa melihat pandangan terbuka akan sesuatu yang belum pasti dan tanpa persiapan</p></li><li><p>Pandangan hidup kolot bukanlah kebenaran atau kesalahan namun semua perlu dipikipkan konsekuensinya sebagai seroang berakal. Hendaklah setiap adat isiadat yang ada dan budaya yang ditekankan disaring dan tidak lantan ditekankan untuk diajarkan kepada generasi selanjutnya tanpa mengetahui adagia perbedaan zaman yang ada.</p></li><li><p>Bertahan hidup di dunia berarti mengikuti alur harmoni kehidupan, biarlah untuk menjaga pertemanan sosial kita berperilaku back dan sopan serte tidak melanggar kewajiban kita. Alangkah indahnya bila setiap perbuatan diperlakukan sesuai norma dan dengan sopan santun supaya tidak membatasi pergaulan kita.</p></li><li><p>Sebagai manusia, hendaklah jangan melakukan sesuatu didasarkan suruhan orang ataupun tidak berkehendak sendiri. Karena bila dipaksakan, tidaklah maksimal hasil yang didapatkan. Lakukan setiap pekerjaan berdasarkan niat dan keinginan hati untuk mendapat hasil yang memuaskan dan tidak dengan setengah hati, namun apapun yang didapatkan akan menyenangkan diri sebab ketulusanmu telah menyelamatkan atas kekecewaan.</p></li><li><p>Hormati dan sayangilah orangtuamu</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-01-14 12:50:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/2848051605</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Annotation Lit</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043843881</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2168940570/56b845265c4d07c9d5a054cf276350cc/IO_Annotation_INDO_A_Literature_2.docx" />
         <pubDate>2024-07-03 02:21:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043843881</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Video IO </title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043846728</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://drive.google.com/file/d/12J-4_cgrGbCQAoVczueP4DeHEpzfvHo-/view?usp=share_link" />
         <pubDate>2024-07-03 02:23:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043846728</guid>
      </item>
      <item>
         <title>LALIO</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043847122</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2168940570/b6e35a6cfa5fd9c1466bb03595971c6b/1LALIO_Lovenia_2.docx" />
         <pubDate>2024-07-03 02:24:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043847122</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Outline IO</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043848264</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2168940570/28fce839807cded97a58e7cfbda26c6a/Outline_IO.docx" />
         <pubDate>2024-07-03 02:24:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043848264</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Annotation Non-Lit</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043848734</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/2168940570/378552c30ea0033e274328ccb7bc3479/IO_Annotation_INDO_A_Non_Literature.docx" />
         <pubDate>2024-07-03 02:25:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043848734</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Video Practice</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043852886</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://drive.google.com/file/d/1EMifBa62lFZEP6vKPlCuKpol--5fS_dg/view?usp=share_link" />
         <pubDate>2024-07-03 02:28:10 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043852886</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Kama Dara</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043859010</link>
         <description><![CDATA[<p>Aku mengharapkan kama, aku menciptakan lara, andaikata berakhir nestapa, ragaku akan tetap juita, lain dengan hatiku yang tak kunjung ikhlas. Tak tergapai memang tidak apa-apa, usaha dan takdir akan membawamu dalam rancangan lain. Meskipun demikian, aku tak mau dimadu takdir dengan kekalahan, sejatinya itu tiada ragaku, sesungguhnya bukan batinku. Aku tak mau kecewa, kecewa akan harapanku, kecewa akan ekspetasiku, kecewa akan kecintaanku, dan kecewa akan kesayanganku. Aku tidak pernah berpikir untuk menetap, hanya sekadar singgah dan menitipkan piala. Lantas adakah materi yang kubawa? Tak sadar aku, tumbuh rasa cintaku. Kesayanganku, aku tak ingin sekedar singgah, dan hidup tatkala aku gemilau. Aku mengharapkan kehadiranmu di setiap langkah hidupku, niscaya kelam menjadi hangat, duka menjadi sayang, hatiku hancur, namun afiat. Aku kini sedih, sekali lagi meninggalkan rumahku, menantang gemerus mimpi yang membawaku kepada pintu kebajikan. Dikala arindamaku bukan sekadar fatalis seorang dara, arindamaku, menyenangi duniaku bersama kesayanganku.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-07-03 02:32:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043859010</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043875695</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://www.canva.com/design/DAGJ2j8UyUc/DJNdrVrdvb6yPmyWK3mnsg/edit?utm_content=DAGJ2j8UyUc&amp;utm_campaign=designshare&amp;utm_medium=link2&amp;utm_source=sharebutton" />
         <pubDate>2024-07-03 02:45:46 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043875695</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Salah Asuhan Notes (Part 1)</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043883399</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Salah asuhan (novel amalgamasi)</strong></p><p><br></p><p>vii: tema pernikahan antarbangsa yang</p><p>menimbulkan banyak persoalan.</p><p>X: liefde (cinta); plicht (kewajiban); ziel</p><p>xiii: culture shock (kaget budaya).</p><p>Bab 1: kotsa Solok</p><p>1: gaullah</p><p>2; galib ; pelbagai</p><p>3: fiil (perangai, tingkah laku)</p><p>4: ahli karib; sembilan puluh sembilan persen</p><p>Adat budaya: yang menjadi</p><p>pertikaian tutur bagi kita ialah hal adat lembaga sesuatu bangsa di dalam 'pergaulannya'.</p><p>Dalam pergaulan bangsaku, bangsa Eropa, sungguh longgarlah pergaulan antara laki-laki dengan perempuan, sebagai kaukatakan tadi. Tapi sebab sudah 'galib', tidaklah akan cepat orang berbuat fitnah atau menyangka buruk, apabila kelihatan laki-laki bergaul dengan perempuan</p><p>lain, yang bukan ahli karibnya.</p><p><br></p><p>Tetapi dalam pergaulan</p><p>bangsamu, apabila di tanah Sumatra ini, lain keadaannya. Jangankan dengan perempuan lain, dengan ahlinya yang paling karib, sekalipun dengan adik atau kakaknya sendiri, sudah disebut janggal, apabila ia bergaul atau duduk bersenda gurau, bahkan berjalan berdua-dua. Dan buat bersinggungan kulit dengan perempuan lain, kata bangsamu, sudah haram.</p><p><strong>Conclusion: perempuan dalam kaum bumiputra dianggap strata paling rendah hingga bila dikatakan jalan berduaan antara pria dan jadis, martabat gadis itu rendah, dan rapuh nama Anak gadis.</strong></p><p><br></p><p>5: cawak; lampai; jangat; tangguk;</p><p>6: Had je me maar!”;</p><p>7: "Minah, kau datang lat,"</p><p>9: pakansimu;</p><p>13: traktasi</p><p>15: bupet;</p><p>Watak corrie: “Sama es, Non?"</p><p>"Sudah tentu, kerbau! Tentu saja sama es, banyak es, satu pon, dua pon!</p><p>72: pekasih (guna-guna untuk membangkitkan rasa cinta kasih) &amp; kebaji (guna-guna yang membuat suami istri saling berbantah sehingga bercerai)</p><p><br></p><p>81: berkehiliran (Tidak berketentuan, tidak berujung pangkal)</p><p>82: harik;</p><p>disarakinya;</p><p>mengganjur surut</p><p>84: gEREsEh-pEsEH</p><p>90: misbruik (penyalahgunaan kekuasaan)</p><p>98: mencabik arang (Arang = mulut; mencabik arang = berteriak-teriak dengan mulut lebar.)</p><p>105: besluit (the judgement)</p><p>111: potlot (pensil)</p><p>114: renten (bunga uang)</p><p>139: sedarun (Serempak sekaligus)</p><p>142: rumpangnya (tinggal/tempoh)</p><p>147: terkucak (Menjadi kurang sehat atau kurus sekali)</p><p>148: aangetekend (Surat tercatat)</p><p>154: 'paradam parodom' (persetan)</p><p>157: Binnenlandsch Bestuur (pemerintahan dalam Negeri)</p><p>1..: verlov (cuti)</p><p>1…: sedarun (serentak)</p><p>191: met beleid, begrijpen en vergeven</p><p>192: lid</p><p>205: gezelschaps-dame</p><p>224: Voorzitter Bestuur.</p><p>236: berkecindan = bercanda</p><p>251: pittig &amp; pikant =pedas</p><p>252: disudu = disendoki</p><p>Keras ditakik lunak disudu; Artinya : Kurang berpikir dalam melakukan suatu perbuatan pada akhirnya bisa mendatangkan kesulitan.</p><p><br></p><p><strong>Susahnya amalgamasi</strong></p><p>16: “Karena masing-masing manusia dihinggapi oleh suatu penyakit "kesombongan bangsa". Sekalian orang, masing-masing dengan perasaannya sendiri, menyalahi akan bangsanya, yang menghubungkan hidup kepada bangsa yang lain, meskipun kedua orang menjadi suami-istri itu sangat berkasih-kasihan.<br></p><p>18: Bumiputra yang minta dipersamakan haknya dengan Eropa, selama-lamanya tidak boleh menghilangkan lagi hak itu dan kembali menjadi</p><p>Bumiputra pula, karena tidaklah ada sesuatu pasal di dalam undang-undang, yang boleh menggugurkan haknya sebagai orang Eropa.</p><p>Tapi seseorang perempuan ia turut mengurangi derajat bangsa Eropa. <br></p><p>22: masygul;</p><p>“Bagiku Bumiputra tidak patut mendapat perindahan kecuali mamaku sendiri saja.”<br></p><p>24: “Keadaan yang serupa itu, apalagi kalau masa bercinta-cintaan sudah terlampau, api berahi sudah dingin, niscaya akan meracun hatimu dan akan memecah empedumu berdua. Pergaulan antara engkau berdua pun akan terancam.”</p><p><br></p><p><strong>Durhaka Hanafi</strong></p><p>28: "Ibu orang kampung dan perasaan Ibu kampung semua," demikian ia berkata, kalau ibunya mengembangkan permadani di beranda belakang, buat menanti tamu yang sesama tuanya.<br></p><p>29: Yang sangat menyedihkan hati ibunya ialah karena bagi Hanafi segala orang yang tidak pandai bahasa Belanda, tidaklah masuk bilangan. Segala hal-ikhwal yang berhubungan dengan orang Melayu, dicatat dan dicemoohkannya, sampai kepada adat lembaga orang Melayu dan agama Islam tidak mendapat perindahan serambut juga. Adat lembaga disebutkan 'kuno',</p><p>agama Islam 'takhyul'. Tidak heran, kalau ia hidup tersisih benar dari pergaulan orang Melayu. Hanyalah kepada ibunya ada melekat hatinya.<br></p><p>33: langsai;<br></p><p>36: Kalau Hanafi sudah "leseng" serupa itu, ibunya tinggal berdiam diri. Sia-sia buat membantahnya, karena makin lama makin tak dapatlah diartikan buah tuturnya. Dan kalau ia</p><p>masih dibantah, anak yang berasa dirinya sudah terpandai itu tidak segan-segan lagi berkata kepada ibunya, bahwa sia-sia benar bagi orang yang ontwikkeld dan beschaafd akan memperkatakan hal filosofie, dan sociologie, dan 'kebatinan dalam' dengan seorang perempuan kampung ."<br></p><p>37: Kesakitan dan kepiluan hati ditanggungnya dengan sabar, karena belum putus harapannya akan memperbaiki anaknya yang seorang itu. Tambahan lagi saudara tuanya, Sutan Batuah, guru kepaladi Bonjol, yang berugi besar turut menyekolahkan Hanafi, dan datang menemui kemenakannya bermaksud hendak menjemput menjadi menantu, sudah pulang kembali dengan</p><p>merentak dan belum memberi keputusan. Itulah yang hendak diselesaikan oleh orang tua itu, waktu ia memberani-beranikan hati pula bertukar pikiran dengan <strong>si anak yang durhaka itu.</strong></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-07-03 02:51:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043883399</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Salah Asuhan Notes (Part 2)</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043885202</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Bab 6: Segala sesuatu ada Konsekuensinya</strong></p><p><br></p><p>62: Ibu Hanafi tidak pernah membawa anaknya bertutur tentang halnya dengan Corrie, karena <strong>ia takut kalau-kalau anaknya akan durhaka.</strong></p><p><br></p><p>63: Segala sesuatu memberatkan hati ibu Hanafi buat membawa anaknyaberunding tentang halnya dengan Corrie, sebab ia khawatir, kalau kalau buah hatinya, anak seorang yang sangat dikashinya itu, pada hari tuanya sungguh-sungguh akan <strong>meracun hatinya.</strong></p><p><br></p><p>75: "Sudah berapa orangkah gadis yang dibawa di atas talam ke muka Ibu dan berapa pula uangnya menyertai masing-masing?"</p><p><br></p><p><strong>Bab 7: Sakit hati akan berpengaruh pada kondisi jiwa yang mempengaruhi kondisi fisik</strong></p><p><br></p><p>95: Dituduhnya Rapiah sudah mengujah dan berbuat fitnah kepada nyonya Assisten Residen hingga ia sampai kehilangan sahabatnya;</p><p><br></p><p>Hanya ibu Hanafi saja yang makan hati, melihat perangai anak yang demikian kejam kepada istrinya. Hanya ia segan akan menimbulkan pertengkaran dengan ananya sepanjang hari, takut kalau-kalau anak itu makin durhaka;</p><p><br></p><p>Sedang Syafei pun takut kepada ayahnya!</p><p><br></p><p>97: Setelah Corrie enyah dari pergaulannya, maka dicoba-cobanyalah akan memenuhi tempat kosong itu dengan Suze;</p><p><br></p><p>98: “Sampai kering kerongkonganku memanggil si Buyung, seorang pun tidak menyahut!" kata Hanafi sambil membelalakkan matanya kepada istrinya.</p><p><br></p><p>99: "Kedua budakmu sedang menyediakan makanan buat junjungannya, Hanafi!" sahut ibunya dengan tajam,</p><p><br></p><p>101: Sambil merentakkan anak itu ke tangan ibunya, dikatainyalah istrinya di muka kawan-kawannya dengan segala nista dan penghinaan, hingga ketiga tamu itu menjadi resah dan tidak berketentuan rasa lagi.</p><p><br></p><p>104: "Oh, Ibu, jika Ibu hendak menyesal, janganlah aku Ibu sesali, baiklah Ibu menyesali diri sendiri. Siapakah yang memberikan istri serupa itu kepadaku?”;</p><p><br></p><p>"Ibu masih berbuat atas diriku sebagai kanak-kanak. Ibu sendiri mencarikan aku istri yang serupa itu, yang meracun hatiku sepanjang hari. Yang sudah menceraikan aku dengan kawan-kawanku, yang akhirnya akan dapat pula menceraikan aku dengan Ibu. Ibu pula yang mencampur mulut bila aku sedang mengajar istri yang tidak tahu ketertiban itu;</p><p><br></p><p>Turutkanlah ibumu mengucap menyebut nama Allah, supaya lapang bumi Allah bagimu dan tidak akan bertutur lagi dengan sejauh itu tersesatnya.</p><p><br></p><p>106: Anak itu sudah buta dan tuli akan segala yang baik di dalamnkehidupan dan pergaulan bangsanya sendiri. Rupanya ia memandang buruk saja, asal sudah berhubungan dengan kebumiputraan.</p><p><br></p><p>109: Hanafi, mudah-mudahan Tuhan yang bersifat murah akan mengampuni juga segala dosamu, sebagai ibumu yang engkau durhakai ini dengan lillahi taala sudah pula mengampuni akan</p><p>dikau.”;</p><p><br></p><p>Amboi! Kerugian Ibu tentang menyerahkan aku</p><p>ke sekolah yang Ibu sebut, apakah tidak menjadi kewajiban bagi seorang ibu menyerahkan ananya ke sekolah? Apakah tidak secukupnya kubayar kembali dan mash akan kuteruskan membayarnya dengan bunga berlipat ganda pula daripada jumlah kerugian Ibu?"</p><p><br></p><p><strong>Bab 10: segalal kesedihan akan timbul kesayangan</strong></p><p><br></p><p>131: Dengan tidak setahuku pula, ibuku sudah menggadaikan aku pada mamak itu, artinya setamat aku bersekolah, buat pembayar utangku itu, Engku Sutan Batuah ada hak buat mengambil aku menjadi menantunya.</p><p><br></p><p><strong>Bab 11: Janganlah melupakan hutang, dan melupakan apa yang shearusnya menjadi tanggungjawabmu</strong></p><p><br></p><p><strong>Bab 12: Kasih seorang Ibu sepanjang masa</strong></p><p><br></p><p>159: Sia-sia bagi Rapiah, buat menanti-nantikan pulangku, dan sekali-kali janganlah ia bercita-cita hendak datang ke Betawi.</p><p><br></p><p>162: Di sini Engku Hanafi baharu orang kecil, tapi di Betawi, di kota besar itu, di dalam pergaulan orang-orang Belanda yang dikatakannya masuk bagian 'lapisan atas', 'Tuan' Hanafi, yang akan menjadi orang Belanda, akan malu mempunyai ibu serupa orang tua buruk ini.</p><p><br></p><p>163: Entah karena<strong> salah asuhan </strong>entah karena salah campuran, tapi anak itu sangat mengasingkan hidupnya. Berlain pemandangannya dengan kita, berlain pendapatnya, berlain perasaannya.</p><p><br></p><p><strong>Bab 13: Jangan durhaka; Kendalikan ekspetasimu agar ketika realita yang terjadi tidaklah sesuai harapan</strong></p><p><br></p><p>168: Perceraian dengan ibuku itu sekali-kali tidak kucari, Corrie, tidak kusengaja memperbuatnya. Meskipun aku sudah keluar dari bangsaku dan dengan bangsa sendiri sudah tidak seikhwan, siapakah yang akan dapat memutuskan tali silaturahim antara ibu dengan anak? Dalam hatiku aku masih beribu, hanya kalau ibuku sampai hati akan membuang ananya, karena anak itu berikhtiar hendak mencapai tingkat kehidupan yang setinggi-tingginya, <strong>ya apa boleh buat.</strong> <strong>Segala korban tidaklah kupandang berat, Corrie ... buat engkau!"</strong></p><p><br></p><p><br></p><p><strong>Perbandingan Budaya</strong></p><p>35: "Itulah yang kusegankan benar hidup di tanah Minangkabau ini, Bu. Di sini semua orang berkuasa, kepada semua orang kita berutang, baik utang uang maupun utang budi. Hati semua orang mesti dipelihara dan laki-laki perempuan itu dipergaduh-gaduhkan dari luar buat menjadi suami-istri. Itulah yang menarik hatiku pada adat orang Belanda. Pada kecilnya yang menjadi keluarganya hanyalah; ayah-bundanya, adik-kakaknya. Setelah ia besar, dipilihnya sendiri buat istrinya; dan ayah bundanya, apalagi mamak bilainya atau 'tua-tua di dalam kampung' harus menerima saja pilihannya itu jika tidak berkenan—boleh menjauh! Dan setelah beristri, bagi orang itu yang menjadi keluarga ialah, istrinya dan anak-anaknya saja.</p><p><br></p><p>Tapi kita di sini kebat-mengebat, takluk-menaklukkan, tanya-menanya dengan tidak ada hingganya. Sebelum beristri, dalam beristri, hendak bercerai, tidak putus-putuslah kita dari percampuran orang-orang lain yang belum tentu berhati tulus kepada kita.<br></p><p>36: algemene ontwikkeling;&nbsp; moraal, principes,</p><p>geweten; gewetenloos; handelstransacties; Westersche beschaving; lesent<br></p><p>37: ontwikkeld; beschaafd</p><p><br></p><p>145: Sebagai seorang perempuan kampung, ia sangat pula mempergantungi segala pertandaan itu.</p><p><br></p><p>150: Allah taala bersifat murah, tidakkan ada takdir turun atas hamba-Nya, yang tidak</p><p>memberi manfaat jua kelak, meskipun pada awalnya turun bencana."</p><p><br></p><p><strong>Kebimbangan Corrie akan liefde</strong></p><p>41: Perasaan Corrie terhadap kepadanya sudah berubah pula, tapi cintakah ia pada Hanafi?</p><p><br></p><p>"Ha!" kata Corrie pula dalam hatinya, "Tokek itu jarang bohongnya. Mari kita lihat . tidak-'tokek!' cinta-'tokek!'—tidak'- tokek!' cinta-'tokek!' tidak-'tokek!' cinta."</p><p><br></p><p>Katanya tokek itu keberuntungan</p><p><br></p><p>42: Oh, ia Corrie du Bussee, akan menjerit bila</p><p>bercerai dengan Hanafi? Orang Melayu!</p><p><br></p><p><strong>Ketidaksenangan Hanafi sebagai pribumi</strong></p><p>52: "Engkau tahu bahwa aku pun tak senang tinggal di sini, Corrie! Tapi apa boleh buat, ibuku, pekerjaanku! Hal ini semua mengikat diriku di sini. Di dalam beberapa pekan ini, sudahlah Solok menjadi surga dunia bagiku, tapi buat nanti, ia pun akan menjadi sunyi pula."</p><p><br></p><p><strong>Percintaan Hanafi dan Corrie</strong></p><p>53: dan tidak disengaja-sengaja, sekonyong-konyong kedua belah tangannya sudah memeluk pinggang Corrie, dan sambil menekan dada gadis itu ke dadanya, diciumnyalah Corrie berkali-kali pada bibirnya, matanya, pada keningnya dan pipinya.</p><p><br></p><p>Apabila Hanafi mencium bibirnya, membalaslah ia dengan tidak sengaja.</p><p><br></p><p><em>Conclusion: jagalah kesadaran diri</em></p><p><br></p><p><br></p><p>58: Sengaja Corrie mengarang surat serupa itu, supaya Hanafi jangan menulis surat kepadanya.</p><p><br></p><p>70: Perbuatan Corrie di dalam percintaan yang bermula sekali sudah memadamkan nafsunya di dalam cita-cita yang serupa itu</p><p><br></p><p><strong>Majas</strong></p><p>74: Kehendak hati memeluk gunung, apa daya</p><p>tangan tak sampai."</p><p><br></p><p>77: jika kail panjang sejengkal, jangan lautan hendak diduga;</p><p>Tapi dalam menimbang tali teraju janganlah engkau lupa</p><p><br></p><p>78: Penyakit mabuk dek enggang terbang tinggi!</p><p><br></p><p>80: rasa belah pulalah jantungnya;</p><p>Harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan engkau lepaskan.</p><p><br></p><p>87: Ke Minangkabau, bukanlah turun ke tanah,</p><p><br></p><p>88: Sebagai laku sarang penyengat dipalu dengan tongkat</p><p><br></p><p>98: mencabik arang (Arang = mulut; mencabik arang = berteriak-teriak dengan mulut lebar.)</p><p><br></p><p>159: Seiring bertukar jalan, sekandung tidak sebau.</p><p><br></p><p>162: gaeknya (neneknya);</p><p><br></p><p>229: mustahil ada asap jika tak ada api.</p><p><br></p><p>235: Ibu sendiri telah menyangka kepecahan telur ayam sebutir saja.</p><p><br></p><p>250: "tak pandai membedakan antara sendok dengan garpu"</p><p><br></p><p>260: habis manis sepah dibuang!</p><p><br></p><p>265: timbullah alam yang baru di dalam kalbuku<br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-07-03 02:52:55 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043885202</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Salah Asuhan Notes (Part 3)</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043886679</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Misogynist</strong></p><p>Bahwa perempuan tetap akan di titik terendah, namun perempuan Barat lebih tinggilah dari Laki Bumiputra, namun serendah itulah seorang gadis Bumiputra</p><p><br></p><p>80: Lalu dibanding-bandingkannya antara Corrie dengan Rapiah. Corrie anak terpelajar dan oleh karena itu tekebur. Di dalam segala perkara ia menempatkan dirinya, <strong>kalau tidak di atas, sekurang-kurangnya sama dengan Hanafi</strong>. Tetapi itu pun telah mendatangkan kebaikan padanya, asal saja Corrie tidak berasa di atas tentang kebangsaan dari Hanafi. Belum lagi jadi istrinya, kata penghinaan sudah lalu-lalang saja dikeluarkannya.</p><p><br></p><p>Di sebelah Corrie berdiri Rapiah. Pelajarannya sederhana, <strong>tentu ia insaf akan dirinya</strong>. Di dalam sesuatu hal <strong>tak mungkin ia akan berasa ada di atas Hanafi</strong>, apalagi jika Hanafi sudah menjadi suaminya. Sebenarnya di dalam halnya serupa ini, serupa Rapiah itulah yang patut menjadi istrinya. Sebab ia tidak mengharap lagi akan istri yang setuju dengan cita-citanya, jadi ia mesti kawin juga, penyenangkan hati ibunya hanyalah Rapiah yang boleh diambilnya. Sekalian buat melunaskan utang … !</p><p><br></p><p>81: Sedang yang engkau kehendaki, ialah orang yang akan menaruh keyakinan, bahwa <strong>ia sudah 'membuang' diri buat menurutkan kamu.</strong></p><p><br></p><p>82: Bukankah mudah, secara adat orang timur,</p><p>buat berlaku sekehendak hati atas istrinya?</p><p><br></p><p>95: Hanafi makin lalu-lalang kepada Rapiah, yang akhirnya dipandangnya bukan lagi 'istri', melainkan 'babu' yang diberikan kepadanya dengan paksa.</p><p><br></p><p><strong>Persamaan Corrie dan Hanafi</strong></p><p>118: Jika ia hendak disuruh melakukan sesuatu apa, janganlah dengan memaksa atau memerintah, melainkan biarkanlah ia melakukan sendiri akan buatan itu, karena jika tidak berkenan pada hatinya, maka akan dilakukannya juga sebab terpaksa, tapi buatan tidak akan sempurna.</p><p><br></p><p>122: Tapi insafkah engkau apa artinya hidup, karena orang itu mesti hidup saja? Sekarang aku mengerti, apa sebabnya ada orang yang mati karena jemu hidup."</p><p><br></p><p>123:&nbsp; Tidaklah perlu Corrie beritanya serupa itu kepadanya, karena Hanafi sendiri sudah dua tahun merasai hidup itu karena terpaksa mesti hidup saja. Masih entenglah hidup itu bagi Corrie,</p><p>karena ia sendiri tidak berkewajiban, kuasa atas dirinya, boleh memilih suami yang dikehendakinya.</p><p><br></p><p><strong>Corrie termakan Hanafi</strong></p><p>133: “-Percaya benarlah aku, bahwa segala sulit tempat engkau berdiri, Hanafi. Secara faham yang tertib daripada kausiksa perempuan itu dengan kehidupan serupa itu, lebih baik engkau lepaskan jalan baginya buat menempuh kehidupan lain…“</p><p><br></p><p>134: Janganlah engkau cemas tentang itu, Corrie, karena dengan tidak engkau mengeluarkan nasihat serupa itu, sudah lama aku berkira-kira hendak bercerai dengan istriku, karena hidup serupa ini meracun hatinya, meracun hatiku, meracun hati ibuku.</p><p><br></p><p><strong>Kemuslihatan Corrie</strong></p><p>Corrie tetap mengharapkan Hanafi untuk butus dari istrinya untuk dia sendiri.</p><p><br></p><p>135: Berulang-ulang Corrie bertanya dalam hatinya, apakah sebabnya maka darahnya sudah berdebar-debar setelah mendengar riwayat peruntungan Hanafi itu? Sukakah ia, bila</p><p>Hanafi bercerai dengan istrinya?</p><p><br></p><p>138: Corrie berasa bahwa jantungnya berdebar-debar pula, sedang seluruh darahnya berasa naik ke kepala.</p><p><br></p><p>139: Kata yang sepatah itu bagi Corrie amat jelas artinya, darahnya naik pula ke kepala, dan—suka citalah ia.</p><p><br></p><p><strong>Isi pantun/puisi</strong></p><ol><li><p><strong>106-108</strong></p></li><li><p><strong>146-148</strong></p></li></ol><p><br></p><p><strong>Sebuah Ungkapan Hardikan</strong></p><p>155: “Benar, Bu, semua orang Belanda demikian adatnya, asal kita tidak bersalah."</p><p><br></p><p><strong>Ungkapan Kekecewaan</strong></p><p>164: Ah! Hanafi darah dagingku sendiri, anak yang kuanakkan. Mustahil, bahwa Tuhan yang bersifat murah di hari kemudian tidak akan mengembalikan anak itu kepada ibu yang melahirkannya;</p><p><br></p><p>Yakinlah engkau, Rapiah! Ibu tahu akan hina dan bodoh Ibu. Tetapi meskipun demikian, anak yang tersesat itu tiadalah akan Ibu cari-cari, melainkan hendak Ibu nantikan sampai ia mendapat ilham dan pulang sendiri mencari ibunya. Tuhan Yang Mahakuasa tak akan alpa tentang mengembalikan anak yang tersesat itu kelak kepada jalan yang lurus. Sabar-sabarlah engkau, Rapiah! Marilah kita bersama-sama menempuh kehidupan yang baru.”</p><p><br></p><p><strong>Hanafi menjadi Barat</strong></p><p>168: Dengan besluit Pemerintah telah diaku sama hak Hanafi, 'Commies' pada Departemen B.B. dengan hak bangsa Eropa, dengan memakai nama turunan 'Han,' dan dizinkan ia buat seterusnya memakai nama <strong>Christiaan Han'.</strong></p><p><br></p><p><strong>Perdebatan Hanafi dan Corrie</strong></p><p>169: Mulai dari waktu ini kubelakangi bangsaku sama sekali, Hanafi sudah hilang, segala jejakku yang tinggal di belakang kita hapuslah—sudilah engkau menjadi istriku, Corrie!" ;</p><p><br></p><p>"Berilah aku berpikir dahulu, Han! Kemerdekaan yang</p><p>baru kudapat belum mudah kukorbankan pula buat hidup dalam kongkongan. ;</p><p><br></p><p>Aku suka menanti setahun, dua tahun, sampai sepuluh tahun! Yang kuminta sekarang hanyalah keputusan</p><p>hatimu, Corrie! Sukakah engkau menjadi istriku? Hal yang serupa itu biasanya tidak guna dipikir-pikirkan lagi, karena keputusannya sudah harus lama dalam kandungan. ;</p><p><br></p><p>Jika engkau ketahui sekarang, bahwa aku tak suka, apalah engkau hendak terjun ke dalam sungai, Hannie? ;</p><p><br></p><p><strong>Kebijakan Corrie</strong></p><p>172:&nbsp; Di dalam hal hendak bersuami-istri itu, baik laki-laki maupun perempuan, terlebih dahulu menurutkan hawa nafsunya saja. Segala pikiran yang sehat kelindunganlah oleh hawa dan nafsu itu. Buat</p><p>diriku sendiri entahlah. ;</p><p><br></p><p>Secara hidupku bergaul dengan engkau selama ini, itulah yang sangat kusukai. ;</p><p><br></p><p>173:&nbsp; Jika Corrie sudah mengambil putusan tentu Hanafi akan mendengarnya, baik dari surat, ataupun dari mulut Corrie sendiri.</p><p><br></p><p><strong>Hati Corrie</strong></p><p>174: -hatinya amat berat memperkenankan kehendak Hanafi itu. Tapi sementara itu, diketahuinya pula, bahwa sangat beratlah pula hatinya bercerai dengan Hanafi. ;<br><br>Yang dirasanya pada ketika</p><p>itu ialah, bahwa yang tinggal di belakang, seolah-olah bahagian</p><p>dari tubuhnya sendiri. ;<br><br>Belum sebulan Hanafi menanti, maka dengan girang hati ia sudah menerima surat dari Corrie demikian bunyinya. ;</p><p><br></p><p>177: "Hendak pulang saja ke Betawi. Di situ kita kawin dengan diam-diam saja."</p><p><br></p><p>178: "Sungguh benar pendapatmu, Han," sahut Corrie, seolah-olah berkata pada dirinya sendiri. "Asal kekal percintaan kita dan kekal kita hidup berkasih-kasihan."</p><p><br></p><p><strong>Bab 14: Cinta tidak bisa dipaksakan</strong></p><p><br></p><p>181: -bahwa timbul-timbullah suatu keyakinan di dalam hatinya, bahwa <strong>akan aman sentosa hidupnya, bila ia tidak bertemu dengan Hanafi </strong>di dalam perjalanan kehidupannya.</p><p><br></p><p>182: Hanya yang diketahuinya, bahwa ia sebagai ... setengah terpaksa menerima Hanafi jadi suaminya, karena... kasihan! <strong>Ya cinta Corrie kepada Hanafi</strong></p><p><strong>semata-mata hanya berdasar kepada kasihan.</strong></p><p><br></p><p><strong>Perilaku Hanafi</strong></p><p>186: Itulah yang kucita-citakan di dalam hal bersuami-istri. Istri itu bukan buat di dapur saja gunanya."</p><p><br></p><p>191: met beleid, begrijpen en vergeven (with prudence, understanding and forgiving)</p><p><br></p><p>Sudah tentu aku suka menerima akan keadaanmu secara adanya, Cor, sebab kucinta engkau, karena ... engkau!"</p><p><br></p><p><strong>Bab 15: Jangan ragu ragu untuk bercinta, jangan bercinta dengan ragu-ragu</strong></p><p><br></p><p><strong>Konsekuensi amalgamasi</strong></p><p>192: <strong>Mula-mula Hanafi dan Corrie menjadi lid </strong>daripada kumpulan bermain tenis yang terdiri dari pegawai-pegawai kantor Gubernemen di Betawi. Sekalian kawan-kawan itu menunjukkan adat yang</p><p>tertib pada mereka; seorang pun tak ada yang menghinakannya, tapi sementara itu, m<strong>ereka berasa tersisih</strong> dari pergaulan yang banyak. Jika mereka hendak pulang, maka kawan-kawan itu keluar tempat bermain dengan bertoboh-toboh atau</p><p><br></p><p>193: berkumpul-kumpul dahulu bercengkerama, sambil membuat perjanjian akan melancung ataupun pesiar di kota Betawi. Tapi<strong> seorang pun tak ada ingatan hendak membawa Hanafi bersama-sama</strong>, bahkan mengganjur dirilah mereka, bila Hanafi</p><p>dengan istrinya menghampiri perkampungan itu.</p><p><br></p><p>194: Pemandangan Corrie menjadi layu, seolah-olah orang yang baharu sembuh daripada penyakit keras</p><p><br></p><p>195: “ -secara Corrie dahulu, Corrie yang sehat pikirannya, yang hidup berbantah-bantahan dengan aku, yang pandai tertawa dan merajuk, yang pandai menangis dan membujuk, yang ... ya, Corrie dahulu, yang mengikat diriku sampai tertawan! Corrie! Apakah yang sudah terjadi atas dirimu setelah engkau menjadi istriku, maka fiil engkau sekarang bagai bumi dengan langit perbedaannya dengan fiil dahulu?"</p><p><br></p><p>197: “Sebab dunia berasa sempit bagiku setelah aku bersuami."</p><p><br></p><p>198: Jika benar demikian, bukanlah hal itu timbulnya dari sebab cinta kasihku kepada suami sudah kurang, tidak sekali-kali, Han, rupanya tidak lain karena batinku tidak kuat menghadapi hidup begini: disisih orang!</p><p><br></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-07-03 02:54:16 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043886679</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Salah Asuhan Notes (Part 4)</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043887844</link>
         <description><![CDATA[<p><strong>Bab 16: Tindakilah setiap perbuatanmu dengan penuh memikirkan konsekuesinya; janganlah engkau melakukan sesuatu yang dapat kau sesali di kehidupan depan; menyadarkan akan persamaan hak dan kewajiban.</strong></p><p><br></p><p>212: "Aku menuduh engkau berzina!" ;</p><p><br></p><p>..Maka dengan tidak berkata sepatah juga lagi masuklah ia ke kamar, membuka pakaian dan tidak keluar lagi. Corrie mengempas ke sofa, menangis tersedu-sedu sampai petang</p><p>hari…</p><p><br></p><p>216: Kaukumpulkanlah bukti- bukti dan saksi-saksi buat Raad van Justitie, supaya disahkan</p><p>perceraian kita oleh pengadilan negeri. Buat saat ini aku hendak mendahului perceraian itu. Semenit pun aku tak sudi serumah lagi dengan engkau!"</p><p><br></p><p><strong>Bab Bercerai: Klimaks</strong></p><p><strong>Bab Menempuh Hidup Baru: Klimaks</strong></p><p>263: Di kantor engkau sangat disukai oleh kawan-kawanmu, tapi sementara itu, seorang pun tak</p><p>ada yang datang berkunjungan ke tempat kediamanmu. Itulah tandanya bahwa engkau disisih.</p><p><br></p><p>jadi bencana-bencana yang menimpa rumah tanggamu itu sudah mengecilkan hatimu berdua, memecah keamanan di dalam hidup bergaul suami-istri, dan merusakkan keteguhan hatimu berdua. Segala kemasygulan kepada orang lain, karena masing-masing tak kuasa memerangi nafsu, sudah</p><p>ditumpahkan kepada suami atau istri sendiri; dengan hal yang demikian, lama kelamaan akan habislah segala manisnya di dalam hidup pergaulan, diganti oleh pahit pahangnya saja. Cintamu kedua belah pihak berangsur-angsur kurang, perkara yang sejengkal menjadi sehasta, sehasta menjadi sedepa, kian hari kian dalamlah jurang membatasi kedua suami-istri."</p><p><br></p><p><strong>Nyonya Bumiputra</strong></p><p>229: Nyonya tahu sendiri, bahwa nama perempuan itu tidak ubah keadaannya dengan barang porselein. Jika ia sudah bercacat, tak mungkin dapat diperbaiki lagi.</p><p><br></p><p><strong>Pemikiran Rapiah yang Modern</strong></p><p><br></p><p>236: "lika secara kita di kampung, belumlah janggal benar keadaan yang serupa itu, Piah. Meskipun rambutnya sudah putih, cucunya sudah memenuhi kampung, tapi ia orang</p><p>'japutan'. Masih banyak benar gadis yang boleh didapatnya, asal ia suka." ;</p><p><br></p><p>Ibu pun tidak bersuami; lebih kurang sudah lima belas tahun Ibu hidup meranda, oh, alangkah patutnya, jika Ibu saja menerimanya? Ah, Bu, aku ingin berayah demang. Terimalah, Bu!"</p><p><br></p><p>238: Pasal keaiban lama meranda itu, aibkah bagi seorang perempuan dan keluarganya, bila ia meranda?"</p><p><br></p><p>239: Secara adat kita di Minangkabau, lebih kariblah Hanafi kepadanya daripada engkau, anak kandungnya. Tapi ayahmu sudah berkerat rotan dengan kemenakannya, demi anak yang celaka itu sudah menceraikan engkau daripada menjadi istrinya."</p><p><br></p><p>242:&nbsp; Janganlah Ibu cemas tentang itu, dapatlah aku sendiri menyelesaikannya kelak, bila ayahku atau mamakku sudah melahirkan maksudnya berterang-terang. Sepatah umpatan atau sesalan tak akan</p><p>kuberi jatuh atas Ibu."</p><p><br></p><p>243: …Rapiah sekali-kali tidak akan mengganti Hanafi.</p><p><br></p><p>244: Adakah patut, jika engkau katakan musuh akan orang yang tidak kau kenal, dan tidak kenal kepadamu?"</p><p><br></p><p><strong>Perangai ibu</strong></p><p>242: Meskipun bagaimana juga fil Hanafi yang sudah-sudah, si ibu masih mengandung pengharapan, bahwa anak yang sedang tersesat itu, lambat launnya akan pulang jua kembali, asal sabar ia menanti. Hanafi, Rapiah, Syafei, tiga orang makhluk yang dirasanya sebagai darah dagingnya sendiri. Tidak akan sehat rasa badannya, bila salah seorang dari yang bertiga itu mendapat bencana, atau bercerai dari badannya.</p><p><br></p><p><strong>Preferensi Hanafi</strong></p><p>251: Adakah cintanya kepada Rapiah? Tidak, cinta sungguh tak ada dirasainya pada istri yang passief itu. Hanafi hanya bisa cinta kepada istri yang 'liar', yang 'gagah', yang ... pittig dan actief sebagai Corrie!</p><p><br></p><p><strong>Stereotip Barat terhadap Timur</strong></p><p>"Piet!" kata Hanafi dalam bernafsu, "Perkataan 'memikat</p><p>ke dalam jaring' itu sangat kejinya, dan sekali-kali tidak</p><p>kusangka bahwa ia akan bisa terhambur dari mulutmu. Kita</p><p>bercampur gaul sudah lama; menilik ketulusan hatimu selama</p><p>ini kepadaku heranlah aku, apa sebabnya engkau turut-turut</p><p>pula dengan yang banyak memakai kata-kata yang sekeji itu.</p><p>Corrie dengan aku berkenalan sejak kecil, boleh dikatakan</p><p>semula-mula kami ingat ada di dunia ini; waktu ia menjadi</p><p>nyonyaku, sudahlah umurnya dua puluh satu. Aku meminta</p><p>kepadanya dengan selesai, tak adalah jaring atau pikat yang</p><p>aku pergunakan."</p><p><br></p><p><strong>Budaya Lampau</strong></p><p>253: Di dalam rumah kekuasaan nyonya itu memang lebih besar daripada kekuasaan tuan, jadi tentu tak akan ada dayamu-</p><p>254: -buat menyenangkan hatiku hidup di dalam rumahmu.</p><p><br></p><p>259: dari bermula engkau. . . memikat Corrie masuk ke dalam jaringanmu.</p><p><br></p><p><strong>peran wanita</strong></p><p>266: Pada malam itulah Hanafi baru dapat 'mengulak' utangnya kepada ibunya, yaitu utang, yang kira-kira belum akan langsai terbayar, meskipun ia memperbuat mahligai tinggi bagi ibunya itu. Hanafi mengakulah sekarang, bahwa ibunya bukan orang bodoh, oleh karena itu makin timbullah adab dan cinta kepada orang tua itu, sebab selamanya itu ibunya hanya memperturutkan saja segala kehendaknya dengan tidak melakukan kekerasan sekali juga.</p><p><br>Rapiah —seorang istri yang sabar dan yakin kepada suami. Benar, cinta Hanafi kepadanya tidak ada, tak mungkin akan diperoleh oleh Rapiah. Hanafi tak dapat menimbulkan rasa yang gaib itu di dalam kalbunya, karena sesungguhnya ia tak cinta kepada Rapiah. Tapi kasihan—pilu rasa hatinya, apabila dikenangnya akan nasib perempuan yadng semalang itu yang senantiasa adab dan yakin kepada suami sebagai Hanafi, yang menyia-nyiakan hidupnya, dan memandang dia sebagai hamba sahayanya saja serta tidak memberi tanah setapak jua tempat dia bergerak! Rapiah benar berhati mulia hanya sayang sekali ia tak pandai mengikat hati laki-laki semacam Hanafi. Benar emas Rapiah itu, tapi Hanafi gemar kepada logam lain yang lebih sulit akan memperolehnya daripada emas.</p><p><br></p><p>Corrie—oh, sesungguhnya banyak benarlah yang menyakitkan hatinya ditimbulkan oleh Corrie. Terutama sekali kata-katanya di hari perceraian. Bukanlah dengan terus terang ia menyatakan sesalnya 'karena sudah membuang diri, menurutkan orang Melayu. Bukankah rendah sekali penghinaan yang serupa hendak melekatkan tanganlah ia kepada perempuan yang menghinakannya itu. Tapi … sebalik lagi. Apakah ia, Hanafi, tidak turut bersalah? Tidak mulai bersalah? Ya, jika dipikir-pikirkannya, kesalahan Corrie belum berapa, salahnya ialah karena si suami yang celaka mulai memperbuat kesalahan besar. Sungguh besar cinta Corrie dahulu kepadanya, tapi sekarang dua helai surat Hanafi dikirimkannya kembali dengan tidak dibuka dibacanya!</p><p><br></p><p><strong>Corrie yang Malang</strong></p><p>273: "Kholera!”</p><p><br></p><p>"Kemarin pagi ia dibawa ke Rumah Sakit Paderi, karena diperintah oleh yang memegang kekuasaan…<br></p><p>277: "Apakah istriku sudah .?"</p><p>"Sudah berpindah ke negeri yang kekal,"</p><p><br></p><p>306: "Secara adat kita di Minangkabau, hak Rapiah dengan mamanya ada lebih besar atas Syafei, dari hak engkau, meskipun engkau ayah Syafei. Tapi terlebih dahulu baiklah Ibu bertanya akan hal-ikhwalmu sendiri. Di manakah nyonyamu?</p><p><br></p><p>3.. : Ada yang berkata,</p><p>Ulando Muno, ada pula yang memberi gelar Bagindo Pusung</p><p><br></p><p>317: Meskipun ia tidak mengindahkan sesuatu agama, tapi secara pendapatnya yakinlah ia, bahwa di hari kemudian pastilah ia akan bertemu kembali dengan</p><p>istrinya yang sangat dicintainya itu.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-07-03 02:55:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3043887844</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Stilistika OOP</title>
         <author>loveniaalanza</author>
         <link>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3054708453</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><ol><li><p>Metafora:<strong><br>a. Akarnya mencuat ke&nbsp; atas&nbsp; seperti&nbsp; tangan-tangan&nbsp; yang&nbsp; ingin&nbsp; mengapai&nbsp; sesuatu&nbsp; untuk&nbsp; bertahan.</strong> (OOP/NKTO/Tohari, 2015:6)<br>b. Biasa, <strong>karena perut saya perut ular</strong>, bila sudah kenyang maunya dibawa tidur. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:49)<br></p></li><li><p>Perumpamaan:<br>a. Pagi ini <strong>Sungai Cibawor kelihatan letih</strong>. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:5)<br>b. <strong>Cibawor seperti sedang digelontor dari hulu dengan bah besar yang pekat berlumpur… </strong>(OOP/NKTO/Tohari, 2015:5)<br>c. Seekor <em>jengger </em>harus dijadikan tumbal. Kang Martasatang mengartikan <strong><em>jengger </em>sama dengan perjaka atau lelaki muda. </strong>(OOP/NKTO/Tohari, 2015:138)<br>d. <strong>Sesekali langit tergores oleh cahaya meteor atau bintang berpindah.</strong> (OOP/NKTO/Tohari, 2015:73)</p></li><li><p>Personifikasi:<br>a. <strong>Iramanya menyapa batu-batu, pucuk-pucuk pinang, ikut mengalir bersama air Sungai Cibawor, lalu berbaur dan melayang bersama desau angin. </strong>(OOP/NKTO/Tohari, 2015:13)<br>b. Agaknya juga, Dalkijo memang benar­ benar me­nyimpan dendam yang berat terhadap <strong>hantu yang bernama kemiskinan yang mencengkeram dia di masa anak-anak. </strong>(OOP/NKTO/Tohari, 2015:34)<br>c. <strong>Dalkijo telah berhasil men­tas dari kubang kemelaratan</strong> dan ingin menikmati sendiri status sosialnya yang baru sebagai orang kaya <em>anyaran</em>. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:69)<br>d.<strong> Matahari langsung menatap Kabul dengan sinarnya </strong>yang panas ketika dia melangkah ke halaman. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:110-111)<br>e. <strong>Bulan muda sudah menyentuh bayangan pohon-pohon kelapa jauh di barat. </strong>(OOP/NKTO/Tohari, 2015:167)</p></li><li><p>Antitesis:<br>a. Kamu itu anak <strong>pinter tapi <em>guoblok</em></strong><em> </em>juga. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:195)</p></li><li><p>Pleonasme:<br>a. Tidak biasa selingkuh, apa lagi selingkuh. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:78)</p></li><li><p>Perifrasis:<br>a. Dan&nbsp; bila&nbsp; matahari&nbsp; telah&nbsp; tenggelam,&nbsp; proyek&nbsp; seakan&nbsp; berubah&nbsp; menjadi pasar &nbsp; malam &nbsp; bagi &nbsp; penduduk &nbsp; kampung &nbsp; sekitarnya (OOP/NKTO/Tohari, 2015:17)<br>b.&nbsp; Ketika &nbsp; kokok &nbsp; ayam &nbsp; pertama terdengar,&nbsp; bulan&nbsp; yang&nbsp; hanya&nbsp; tinggal&nbsp; sepertiga&nbsp; bulatan&nbsp; masih&nbsp; sepenggalah&nbsp; di&nbsp; atas&nbsp; ufuk barat. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:136)</p></li><li><p>Prolepsis:<br>a. Hati-hati, banyak lumpur, jangan sampai terpeleset (OOP/NKTO/Tohari, 2015:12)</p></li><li><p>Hiperbola:<br>a. Yah, Mas Kabul, orang <strong>seumur saya sudah digerogoti ketuaan</strong>. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:82)<br>b. Lama- kelamaan tubuhnya yang kering dan tua itu kelihatan makin samar sebelum akhirnya benar-benar hilang ditelan kegelapan. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:84)</p></li><li><p>Litotes:<br>a. Saya anak petani kecil. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:78)</p></li><li><p>Satire:<br>a.&nbsp; Saya&nbsp; menunggu&nbsp; omongan&nbsp; kalian,&nbsp; kok malah&nbsp; sepi? (OOP/NKTO/Tohari, 2015:45)<br>b. Kalian memang bodoh, jadi pantas kelaparan. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:132)</p></li><li><p>Ironi:<br>a. Ah, kami rakyat kecil tahu kok, apa arti pengelembungan biaya bagi&nbsp; orang-orang&nbsp; proyek. Eh, maaf. Mulut saya ini la- tah. He-he-he. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:12)</p></li><li><p>Sinisme:<br>a. Maka, apakah kata ”korupsi” dikenal dalam sistem kekuasaan kerajaan? Tidak. … ”Korupsi” hanya ada pada kamus negara republik. Tapi republik belum pernah tegak di negeri ini. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:171)<br>b. Truk-truk sarat manusia lelaki dan perempuan tumbal ambisi para politikus mengekor di ujung konvoi yang begitu panjang. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:241-242)</p></li><li><p>Sarkasme:<br>a. “He, kok kamu jadi tolol, Saudara Insinyur?” (OOP/NKTO/Tohari, 2015:121)<br>b. “Brengsek kamu! Pemilik proyek adalah rakyat, tahu?” (OOP/NKTO/Tohari, 2015:228)</p></li><li><p>Metonomia: <br>a. Di belakang <strong>Mercedez Benz</strong> sang Ketua membuntut puluhan mobil bagus lainnya. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:241)</p></li><li><p>Aliterasi:<br>a. Remang rumah-rumah, remang pepohonan, dan remang tanah. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:140)</p></li><li><p>Anafora:<br>a. Mak Sumeh,&nbsp; perempuan&nbsp; Tegal,&nbsp; juga&nbsp; datang&nbsp; dengan&nbsp; warung&nbsp; nasinya.&nbsp; Mak&nbsp; Sumeh&nbsp; yang wartegnya ada dimana-mana tak pernah absen dalam setiap proyek. (OOP/NKTO/Tohari, 2015:17)</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2024-07-16 13:05:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/loveniaalanza/mlggefwn14ockes0/wish/3054708453</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
