<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Bahasa Indonesia by uniq</title>
      <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic</link>
      <description>Asyiknya membaca cerita rakyat (Hikayat)</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2018-11-22 00:25:18 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-11-04 18:31:42 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>TUGAS HIKAYAT</title>
         <author>unique01_wb</author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306875106</link>
         <description><![CDATA[<div>Carilah satu hikayat kemudian tentukan ide pokok,unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. sertakan gambar hikayatnya seperti di bawah ini</div>]]></description>
         <enclosure url="http://2.bp.blogspot.com/_lUy76YLj500/SxOQuM9oifI/AAAAAAAAAFc/Vnpkd3U7U44/s1600/Hikayat+Munsyi+Abdullah.jpeg" />
         <pubDate>2018-11-22 00:29:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306875106</guid>
      </item>
      <item>
         <title>HIKAYAT MALIM DEMAM</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306879724</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>"MALIM DEMAN”<br><br>Muhammad Sulwan Paradita<br></strong><br></div><div>IDE POKOK <br>Paragraf 1 : - perkawinan malim demam.<br>Paragraf 2 : - kembalinya puteri bungsu ke kayangan bersama anaknya (malim dewana).<br>Paragraf 3 : - penyesalan malim demam.<br>Paragraf 4 : - perkelahian antara malim demam dan mambang molek untuk membawa kembali keluarganya ke dunia.</div><div><a href="https://smadgreen.blogspot.com/2014/03/hikayat-malim-deman-beserta-unsur.html"><strong>UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK HIKAYAT</strong></a><strong><br>Unsur Intrinsik</strong>1. Tema<br>    Tema yang diambil dalam  hikayat “Malim Deman” adalah tentangKehidupan seorang raja.</div><div><br>2. Penokohan<br>    Malim Deman : Bijaksana<br>    Bukti :<br>      “Malim Deman adalah putera raja dari Bandar Muar yang  sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya”<br>    Nenek Kebayan : Penolong.<br>    Bukti :<br>      Dengan bantuan nenek kebayan juga, ia berasil mencuri selendang putri bungsu.<br>    Putri Bungsu : Mudah tersinggung atau mudah marah.<br>    Bukti :  <br>      “Puteri Bungsu sangat masyghul hatinya”<br>    Raja Jin : Licik.<br>    Bukti : <br>      “Raja jin bersedia meminjamkan burung borak kepada   Malin Deman dengan syarat . . .”<br>    Malim Dewana : Penurut.<br>   Bukti :<br>      “Maka ia pun terbang kembali kekayangan dengan anaknya Malim Dewana”.</div><div><br>3. Latar/Setting<br> Latar Tempat :   <br>     Bandar Muar<br>     “selang berapa lama, mereka pun kembali ke Bandar Muar”<br>     Rumah  Nenek Kebayan<br>     “akhirnya, sampailah ia kerumah nenek Kebayan”<br>     Kayangan<br>     “sesampainya di kayangan didapatinya Puteri Bungsu . . .”<br>Latar Suasana :<br>     Suasana Menegangkan :<br>     “Malim Deman mengalahkan mambang molek denganmenyambung ayam, maka timbullah  pertikaman <br>     antara keduanya”<br>     Suasana Senang:<br>     “Sekali lagi Malim Deman sekeluarga pun turun kembali ke dunia semula”<br><br>4.  Alur : Maju<br>- Ekposisi (Tahap perkenalan):<br>   “Malim deman adalah putera raja dari Bandar Muar yang sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya”<br>- Penampilan Permasalahan:<br>   “setelah besar, Malim Deman bermimpi seorang wali Allah menyuruhnya pergi kerumah nenek kebayan <br>   untuk mendapatkan puteri bungsu dari kayangan sebagai istrinya”<br>- Komplikasi (Tahap Permasalah) :<br>   “puteri bungsu sangat masyghul hatinya. Kebetulan pula ia menemukan kembali baju kayangan. Maka ia pun terbang kembali kekayangan dengan anaknya Malin Dewana”<br>- Tahap Klimaks :<br>   “sesampainya di kayangan didapatinya Puteri Bungsu akan dikawinkan dengan Mambang Molek. Malim <br>   Deman mengalahkan Mambang dalam menyambung ayam. Maka timbullah pertikaman antara keduanya”<br>- Tahap Ketegangan Menurun:<br>   “sekali lagi Malim Deman sekeluarga pun turun ke dunia semula”.</div><div><br>5. Sudut Pandang<br>    “Akhirnya, sampailah ia kerumah nenek kebayan “<br>    Dari data di atas digambarkan bahwa penulis menggunakan Sudut pandang orang ketiga serba tahu.</div><div><br>6. Gaya Bahasa<br>     Penggunaan bahasanya sulit di mengerti.<br>     Menggunakan bahasa melayu kuno.<br>     Menggunakan kata penghubung maka dalam awal kalimat, contoh:<br>     “Maka berapa lama, mereka pun kembali ke Bandar Muar”.</div><div><br>7.  Amanat<br>     Keluarga itu sangat penting dalam  kehidupan  kita, jadi jangan kita sia-siakan keluarga kita tersebut.<br>     Saling tolong-menolonglah  terhadap sesama, tetapi jangan tolong-menolong dalam berbuat kejahatan.<br>     Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.<br><strong><br>Unsur Ekstrinsik </strong><br>Nilai Pendidikan<br>- Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div><br>Nilai Moral<br>- Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain. Kita harus bersikap bijaksana dalam <br>-  menghadapi segala hal di dalam hidup kita.</div><div><br>Nilai Budaya<br>- Kita harus saling menghormati terhadap sesama.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336018519/2091b7946c280f6208037f20a6352e1e/71861350_8A12_4504_8C94_B96E1C1550C7.jpeg" />
         <pubDate>2018-11-22 01:04:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306879724</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Michelin Jeanette Imanuela</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306880149</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:08:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306880149</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Naila Syarif</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306880354</link>
         <description><![CDATA[<div>cerita hikayat<br><br>Judul :<br>   <br>   <strong> “PERKARA SI BUNGKUK DAN SI PANJANG”<br></strong><br>Ide Pokok:<br>paragraf 1:<br>    Suatu hari terdapat sepasang suami istri yang hendak menyebrang sungai. Namun, mereka tidak menemukan perahu untuk menyebrang sungai tersebut. Karena laki-laki tua tersebut tidak mengetahui kedalaman sungai tersebut.<br><br>Paragraf 2:<br>   Bedawi itu memanfaatkan laki-laki tua dengan berbohong bahwa sungainya dalam dengan ia memendekkan tubuhnya sampai lehernya tertutup air.<br><br>Paragraf 3:<br> Bedawi itu merasa sangat beruntung karena dengan dengan kelicikannya, ia membawa perempuan itu dan bekal barang-barang sepasang suami istri tersebut. Di tengah-tengah sungai Bedawi itu mencoba merayu perempuan tersebut dengan mengejeknya bahwa seorang wanita cantik tetapi mempunyai suami yang bungkuk.<br><br>Paragraf 4:<br>  Setelah itu mereka berjalan-jalan. Dari kejauhan, orang tua bungkuk itu merasa heran dengan tingkah laku Bedawi dan istrinya tersebut. Lalu ia memutuskan untuk menyusul mereka, ia nekat untuk menyeberangi sungai walaupun taruhannya nyawa. Setelah turun ke sungai, orang tua bungkuk tersebut heran karena ternyata sungai tersebut tidaklah dalam airnya.<br><br>Paragraf 5:<br> Sesampainya di tepi sungai, orang tua tersebut pergi ke dusun Masyhudulhakk untuk mengadukan masalahnya tersebut. Setelah itu, Masyhudulhakk memanggil Bedawi dan perempuan tersebut dan menanyakan ‘’siapakah perempuan itu?”<br>  Bedawi pun menjawab bahwa perempuan itu adalah istrinya yang telah dinikahinya. Akan tetapi, orang tua tersebut menyangkal perkataan Bedawi bahwa perempuan itu adalah istrinya.<br><br>Paragraf 6:<br>Lalu Masyhudulhakk menanyakan kepada perempuan itu, siapakah sebenarnya suaminya tersebut. Lalu wanita itu menjawab bahwa suaminya itu adalah Si Panjang, Masyhudulhakk pun kembali bertanya kepada mereka tetapi secara bergantian, untuk yang pertama adalah perempuan itu, dia mengaku bahwa suaminya adalah si panjang. <br><br>Paragraf 7:<br>giliran Si Panjang yang ditanyai oleh Masyhudulhakk, apakah benar bahwa perempuan itu adalah istrinya, Si Panjang pun dengan yakin menjawab bahwa perempuan itu adalah istrinya, namun setelah ditanyai oleh Masyhudulhakk siapa nama mertua laki-laki dan perempuan serta dimana mertuanya tinngal, ia tidak dapat menjawabnya.<br><br>Paragraf 8:<br> Masyhudulhakk melanjutkan pertanyaannya kepada orang tua bungkuk tersebut, apakah benar perempuan tersebut adalah istrinya, ia menjawab dengan yakin bahwa perempuan itu adalah istrinya. <br><br>Paragraf 9:<br>pengakuan tersebut sudah diketahui siapa yang salah dan siapa yang benar. Orang tua bungkuk itu sudah terbukti bahwa dialah yang benar dan Bedawi itulah yang salah. Akhirnya, Bedawi dan perempuan itu pun mengakui kesalahannya dan mendapatkan hukuman dari Masyhudulhakk sebanyak 100 kali.<br><br>Paragraf 10:<br>Dari cara Masyhudulhakk memecahkan masalah dengan kemampuan dan kecakapannya, membuat Masyhudulhakk semakin terkenal kearifan dan kebijaksanaannya di dalam masyarakat.<br><br><br><br>Unsur Intrinsik:<br><br>· Tema  : Kesetiaan dan Pengkhianatan dalam Cinta</div><div>· Tokoh :</div><div>ü  Masyhudulhakk : arif, bijaksana, suka menolong, cerdik, baik hati.</div><div>ú  …Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu.</div><div>ú  Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.</div><div>ú  …..Maka pikirlah 5) Masyhudulhakk,"Baik kepada seorang-seorang aku bertanya, supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu.</div><div>ü  Si Bungkuk : setia pada istrinya, suka mengalah, mudah percaya.</div><div>ú  Maka kata orang tua itu, "Istri hamba, dari kecil nikah dengan hamba.</div><div>ú  Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya, hingga lehernya juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata orang tua itu, "Tuan hamba seberangkan apalah 2) hamba kedua ini.</div><div>ú  Maka kata orang tua itu kepada istrinya, "Pergilah diri dahulu." Setelah itu maka turunlah perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu.</div><div><br></div><div>ü  Si Panjang / Bedawi : licik, egois.</div><div>ú  Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, "Untunglah sekali ini!</div><div>ú  Maka kata Bedawi itu, "Bahwa perempuan itu telah nyatalah istri hamba; lagi pula perempuan itu sendiri sudah berikrar, mengatakan hamba ini tentulah suaminya.</div><div>ü  Istri Si Bungkuk : mudah dirayu, tidak setia, suka berbohong, egois.</div><div>ú  hamba jadikan istri hamba." Maka berbagai-bagailah katanya akan perempuan itu.Maka kata perempuan itu kepadanya, "Baiklah.</div><div>ú  ….maka diperiksa pula oleh Masyhudulhakk. Maka kata perempuan itu, "Si Panjang itulah suami hamba.</div><div>·         Setting : </div><div>ü  tempat :</div><div>ú  tepi sungai : Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya.</div><div>ú  Sungai : turunlah perempuanitu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu</div><div>ü  Suasana :</div><div>ú  menegangkan: Maka pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga.</div><div>ú  Mengecewakan:  "Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku mati.Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu.</div><div>ú  Membingungkan: Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu. Syahdan maka gemparlah.</div><div>ü  Waktu : tidak diketahui </div><div>·         Alur : Alur maju</div><div>ü  Eksposisi : </div><div>Mashudulhakk arif bijaksana dan pandai memutuskan perkara-perkara yang sulit  maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai.</div><div>ü  Complication : </div><div>….serta dilihatnyaperempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, "Untunglah sekali ini!</div><div>ü  Rising action : </div><div>Maka sampailah kepada pertengahan sungai itu, maka kata Bedawi itu kepada perempuan itu, "Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini? Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan hamba, hamba ambit, hamba jadikan istri hamba."</div><div>ü  Turning point : </div><div>Maka orang tua itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk. Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun datanglah dengan perempuan itu. Masyhudulhakk, "Baik kepada seorang-seorang aku bertanya, supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu.</div><div>ü  Ending   : </div><div>Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang tua itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan celaka itu. Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali.</div><div>· Poin of View : </div><div>ü  orang ke-3 : </div><div>Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.</div><div>·   Amanat : </div><div>ü  Jangan berbohong karena berbohong itu tidak baik, merupakan dosa, dan hanya akan menimbulkan kerugian pada diri kita sendiri</div><div>ü  Bantulah dengan ikhlas orang yang membutuhkan bantuan</div><div>ü  Syukurilah jodoh yang telah diberikan Tuhan, yakini bahwa jodoh itu baik untuk kita</div><div>ü  Jangan mengambil keputusan sesaat yang belum dipikirkan dampaknya</div><div>ü  Jadilah orang yang bijaksana dalam mengatasi suatu masalah<br><br><strong>Unsur ekstrinsik :<br></strong><br></div><div>·         Nilai religiusitas :       kita harus selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah. Jangan pernah merasa iri dengan apa yang tidak kita miliki karena apa yang te;ah diberikan Allah kepada kita adalah sesuatu yang memang terbaik untuk kita. Janagn seperti yang ada pada hikayat mashudulhakk.</div><div><br></div><div>·         Nilai moral : </div><div>Janganlah  sekali-kali  kita memutar balikkan fakta, mengatakan bahwa yang salah itu benar dansebaliknya, karena bagaimanapun juga kebenaran akan mengalahkan ketidak benaran.</div><div>·         Nilai social budaya : </div><div>Sebuah kesalahan pastilah akan mendapat sebuah balasan, pada hikayat ini diterangkan bahwa seorang yang melakukan keslahan seperti berbohong maka akan did era sebanyak seratus kali. (<em>Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali</em>.)</div><div>·         Kepengarangan : </div><div>Hikayat mashudulhakk ini dari salah satu naskah lama (Collectie v.d. Wall) dengan diubah di sana-sini setelah dibandingkan dengan buku yang diterbitkan oleh A.F. v.d. Wall (menurut naskah yang lain dalam kumpulan yang tersebut).Dalam Volksalmanak Melayu 1931 (Balai Pustaka) isi naskah yang dipakai v.d. Wall itu diringkaskan dan sambungannya dimuat pula, dengan alamat "Masyudhak".. Dinantinya.</div><div><br><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336019517/9989df7049ffff647e00ae531b0601d2/9BB4AD6B_7698_4733_8223_3D1BC65FF06E.jpeg" />
         <pubDate>2018-11-22 01:09:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306880354</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sharon epl</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306880637</link>
         <description><![CDATA[<div>Ide pokok :<br>Paragraf 1 : <br>Pada zaman dahulu kala ada seorang pengembara dari Laut Selatan bernama Raden Budog. Pada suatu hati,Raden Budog bermimpi mengembara ke utara dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik.<br><br>Paragraf 2 : <br>Berhari-hari bayangan mimpi itu tidak pernah bisa hilang dari ingatan Raden Budog. Lalu diputuskannya bahwa dia akan pergi mengembara. <br><br>Paragraf 3 :<br>Setelah semuanya dirasa siap, Raden Budog segera menunggang kuda kesayangannya, berjalan ke arah utara<br><br>Paragraf 4 : <br>Lima hari perjalanan telah ditempuhnya. Walaupun begitu Raden Budog belum juga mau turun dari kudanya. Dia juga tidak menyadari badannya sudah lemah karena perutnya kosong, begitu pula kudanya.<br><br>Paragraf 6 : <br>Raden Budog terus memacu kudanya menapaki jalan-jalan terjal dan mendaki hingga tiba di Gunung Walang yang sekarang ini menjadi kampung Cimahpar.<br>Sejenak Raden Budog istirahat di Gunung Walang. Dia membuka bekalnya dari makan dengan lahap.<br><br>Paragraf 7:<br>Tidak seperti biasanya, kuda dan anjing kesayangannya itu diam saja seolah tak perduli ajakan tuannya. "Aku harus segera menemukan gadis pujaanku. Kalau kalian tidak mau menuruti perintahku dan tetap diam seperti karang, akan kutinggalkan kalian di sini!" teriak Raden Budog sambil meneruskan perjalanan, meninggalkan anjing dan kuda kesayangannya.<br><br>Paragraf 8 :<br>Maka Raden Budog melanjutkan pengembaraannya seorang diri. Dalam benaknya telah ada kesayangan lain yang ingin segera ditemukannya. Gadis pujaan yang muncul dalam mimpinya itu benar-benar memenuhi benaknya, sehingga goloknya pun tertinggal di Batu Cawar. <br><br>Paragraf 9 :<br>Berhari-hari Raden Budog terus mengembara menyusuri pesisir pantai. Wajah gadis yang menghiasi mimpinya memenuhi pikirannya sepanjang perjalanan, menyalakan semangat dalam dadanya. Rasa bosan, lelah dan letih tak dihiraukannya.<br><br>Paragraf 10 :<br>Suatu ketika hujan turun dengan derasnya, Raden Budog berlindung di bawah pohon. Dari balik pasir, tiba-tiba berhamburan penyu-penyu besar dan kecil menuju laut. Penyu-penyu itu seakan gembira menyambut datangnya air hujan. Tempat itu kini dikenal dengan nama Cipenyu. <br><br></div><div><br>Unsur intrinsik<br>Alur/plot         : alur maju<br>Latar/setting  :<br>a. Latar tempat :<br>Gunung Walang (sekarang menjadi kampong Cimahpar.)<br>Tali Alas (sekarang menjadi pilar.)<br>Pantai Ciwar <br>-Legon Waru<br><br>-Kali Cah<br>-Gua Meumpeuk<br>-Rumah Nyi Sitti<br><br>b.Latar waktu : Pada zaman dahulu<br><br>4. Tokoh dan karakter tokohm :<br><br>a. Raden Budog : Gagah, perkasa, tidak peduli kepada peliharaannya, pantang menyerah, keras kepala.<br><br>b. Kuda dan Anjing : patuh kepada majikannya, rela berkorban,<br><br>c. Nyi Sitti : Tegas, penyayang, baik dan ramah<br><br>d. Sri Poh Haci : baik, cantik, anak Nyi Sitti.<br><br>6. Sudut Pandang: Orang ketiga sebagai pengamat.<br><br> 7. Amanat :<br><br>-Dengarkanlah nasehat dan larangan orang-otang disekitar kita yang berbuat baik kepada kita.<br>-Jangan menjadi orang yang keras kepala.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336020290/9c17ee6ff6b3c14a46f9b462d37732d6/legenda_asal_mula_tanjung_lesung.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 01:12:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306880637</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306880824</link>
         <description><![CDATA[<div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:13:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306880824</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Monica Angelique Simamora</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306880896</link>
         <description><![CDATA[<blockquote><br></blockquote>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:14:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306880896</guid>
      </item>
      <item>
         <title>HIKAYAT INDERA BANGSAWAN</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306880956</link>
         <description><![CDATA[<div>"INDERA BANGSAWAN"<br>Muhammad Farhan <br>X Mipa 7<br>Ide Pokok:<br>-Paragraf 1:Pada suatu hari Raja Indera Bungsu dari kerajaan Negeri Kobat Syahrial menginginkan anak. Beliau lantas mengutus orang - orang yang diperintah oleh patihnya untuk membaca do'a Qunut dan bersedekah kepada fakir miskin.<br>-Paragraf 2:Sejak kecil kedua anak baginda itu dididik dengan baik. Mereka tumbuh dengan akhlak dan perilaku yang baik. Saat usia mereka telah mencapai tujuh tahun, Raja Indera Bungsu memerintahkan kedua putranya untuk belajar mengaji kepada Mualim Sufian.<br>-Paragraf 3:Sang ayah mulai bimbang untuk menentukan siapa yang pantas menggantikannya memerintah kerajaan. Kembimbangan itu karena kedua putranya sama- sama pandai dan berakhlak baik.<br>-Paragraf 4:Pada suatu malam, sang Baginda Raja bermimpi tentang buluh perindu. Sang Raja sangat terpesona dengan buluh tersebut yang memiliki suara sangat merdu. Keesokan harinya, Baginda Raja menceritakan mimpinya tersebut pada kedua anaknya. Ia pun membuat sebuah sayembara untuk kedua putranya, barangsiapa yang bisa mendapat buluh perindu, dialah yang akan menggantikan dirinya untuk menjadi raja.<br>-Paragraf 5:Syah Peri berjalan dan terus berjalan hingga ia menemukan suatu taman dan sebuah mahligai. Dalam mahligai itu, Syah Peri menemukan sebuah gendang. Dipukulinya gendang tersebut keras-keras. Pada saat dia sedang memukul gendang itu didengarnya suara lain yang berasal dari dalam gendang. Syah Peri lalu merobek gendang tersebut dengan pisaunya. Betapa kagetnya Syah Peri karena dia mendapati seorang Putri dan dayang-dayang nya sedang bersembunyi di dalam gendang.<br>-Paragraf 6:Tak lama kemudian raksasa Garuda datang hendak membunuh sang Putri. Syah Peri segera menyelamatkan Sang Putri dan bertarung melawan raksasa Garuda.<br>-Paragraf 7:Di lain tempat, Indera Bangsawan menemukan suatu padang yang tidak cukup luas. Di dalam padang itu terdapat sebuah gua yang dihuni oleh raksasa perempuan. Indera Bangsawan bertemu dengan raksasa perempuan itu. Dijadikannya raksasa perempuan itu sebagai neneknya.<br>-Paragraf 8:Raja Kabir akan menyerahkan putrinya, Putri Kemala Sari kepada Buraksa sebagai upeti agar kerajaan itu tidak di hancurkan oleh Buraksa. Setelah Indera Bangsawan berhasil masuk di wilayah kerajaan dengan menyamar sebagai budak berambut keriting.<br>-Paragraf 9:Indera Bangsawan segera bergegas untuk mengejar dan mencari Buraksa tersebut. Dengan kepandainnya, Indera Bangsawan berhasil menemukan Buraksa lebih dulu dari yang lain, dan akhirnya ia dapat mengalahkan Buraksa. Indera Bangsawan juga memotong mata dan hidung Buraksa yang berjumlah tujuh itu untuk dipersembahkan kepada Raja Kabir.<br>-Paragraf 10:Selang beberapa hari, Indera Bangsawan berangsur-angsur sembuh. Syah Peri dan istrinya lantas mengajak Indera Bangsawan dan istrinya untuk kembali ke kerajaan Kobat Syahrial. Baginda raja Indera Bungsu sangat bahagia melihat kepulangan kedua putranya yang didampingi juga oleh istrinya. Indera Bangsawan langsung menyerahkan buluh perindu kepada sang ayah.<br>Unsur Intrinsi:<strong><br>1. Tema</strong><br>Siapa menanam akan memeteik hasilnya.<br><br><strong>2. Tokoh</strong><br><strong>a. Protagonis</strong><br>Raja Indera Bungsu, Putri Sitti Kendi, Syah Peri, Indera Bangsawan, Mualin Sufian, Raksasa Perempuan, Putri Ratna Sari, Putri Kemala Sari.</div><div><strong>b. Antagonis</strong><br>Raksasa Garuda.</div><div><strong>c. Tritagonis</strong><br>Raja Kabir.<br><br><strong>3. Penokohan<br>a. Raja Indera Bungsu</strong><br>Sabar dalam menghadapi ujian: selalu berdoa memohon kepada Allah untuk diberikan putra.<br>Dermawan, suka tolong menolong, dan perhatian terhadap rakyatnya : beliau sering membagikan sedekah kepada fakir miskin.<br>Penyayang dan perhatian terhadap kedua putranya : kedua putranya dididik dengan baik sehingga tumbuh dengan akhlak dan perilaku yang baik.<br><br><strong>b. Putri Sitti Kendi</strong><br>Sabar dan tawakal dalam menghadapi ujian : selalu berdoa memohon kepada Allah untuk diberikan putra. Sayang dan perhatian terhadap kedua putranya : kedua putranya dididik dengan baik sehingga tumbuh denngan akhlak dan perilaku yang baik.<br><br><strong>c. Syah Peri</strong><br>Patuh kepada kedua orang tuanya: melaksanakan perintah Baginda Raja Indera Bungsu untuk mencari buluh perindu.<br>Perhatian dan pantang menyerah : selalu peduli dengan keadaan saudara kembarnya.Pemberani : berhasil mengalahkan raksasa Garuda untuk menyelamatkan Putri Ratna Sari dan dayang- dayang.Suka menolong : menyelamatkan Putri Ratna Sari dari serangan raksasa Garuda dan berusaha menyembuhkan Indera Bangsawan.<br><br><strong>d. Indera Bangsawan</strong><br>Patuh kepada kedua orang tua : melaksanakan perintah Baginda Raja untuk mencari buluh perindu.<br>Pantang menyerah : berhasil mendapatkan buluh perindu dan berusaha mengejar melawan raksasa Buraksa.<br>Pemberani dan suka menolong : berhasil mengalahkan raksasa Buraksa untuk menyelamatkan Putri Kemala Sari, dan rakyat Raja Kabir.<br>Menghargai usaha orang lain : memberikan Batu Khitmat kepada Syah Peri untuk membalas kebaikan Syah Peri yang telah menyelamatkan nyawanya<br><br><strong>e. Mualin Sufian</strong><br>Suka t menolong : mau mengajarkan berbagai ilmu yang ia miliki kepada kedua putra Baginda Raja Indera Bungsu.<br><br><strong>f. Raksasa Garuda</strong><br>Jahat : menyerang negra Putri Ratna Sari.<br><br><strong>g. Putri Ratna Sari</strong><br>Suka menolong : menolong dayang- dayangnya dari serangan raksasa Garuda dengan bersembunyi di dalam gendang.<br><br><strong>h. Putri Kemala Sari</strong><br>Patuh kepada kedua orang tua : mau dijadikan upeti oleh sang ayah, Raja Kabir.<br><br><strong>i. Raksasa Perempuan</strong><br>Suka menolong : banyak memberikan pengalaman baiknya, memberikan ilmu-ilmu, memberikan buluh perindu, dan memberikan sebuah senjata berupa sarung kesaktian untuk melawan Buraksa kepada Indera Bangsawan.<br><br><strong>j. Raksasa Buraksa</strong><br>Jahat : meluluh lantakkan negara yang dimpin Raja Kabir.<br><br><strong>k. Raja Kabir</strong><br>Mudah menyerah : :takluk kepada raksasa dan akan menyerahkan putrinya sebagai upeti kepada raksasa Buraksa<br><br><strong>4. Lattar/ setting</strong><br><strong>a. Lattar tempat</strong><br>Negeri Kobat Syarial : kerajaan yang dipimpin Baginda Raja Indera Bugsu.<br>Di hutan : Syah Peri dan Indera Bungsu pergi ke hutan utnuk mencari buluh perindu.<br>Disebuah taman : Syah Peri bertemu dan menyelamatkan Putri Ratna Sari dan dayang- dayangnya dari serangan raksasa Garuda.<br>Di gua : Indera Bangsawan bertemu dengan raksasa perempuan di gua kemudian dijadikannya sebagai neneknya<br>Negeri antah berantah : negeri yang dipimpin Raja Kabir yang pada saat itu tengah diserang raksasa Buraksa.<br><br><strong>b. Lattar waktu</strong><br>Peristiwa dalam kutipan hikayat terjadi pada keseluruhan waktu (pagi, siang, sore, dan malam).<br><br><strong>c. Lattar suasana</strong><br>Bahagia : Syah Peri dan Putri Ratna Sari beserta dayng- dayangnya selamat dari serangan raksasa Garuda yang telah dikalahkan Syah Peri; Idera Bangsawan dapat mengalahkan raksasa Buraksa dan hidup bahagia bersama Putri Kemala Sari; Indera Bangsawan berhasil mendapatkan buluh perindu yang diinginkan ayahnya, dan kembali ke negeri Kobat Sayhrial dengan selamat; Indera Bangsawan dinobatkan menjadi raja Kobat Syahrial menggantikan ayahnya; dan Syah Peri dengan kerajaanya.</div><div><br>Sedih : di tengah perjalanan dalam mencari buluh perindu Syah Peri dan Indera Bangsawan terpisah karena angin topan, hujan lebat dan awan yang gelap gulita. Pada saat itu Putri Ratna Sari diserang raksasa Garuda, dan negara Raja Kabir diserang raksasa Buraksa; Indera Bangsawan tiba- tiba jatuh sakit.<br><br><strong>5. Sudut pandang</strong><br>Orang ketiga serba tahu.<br><strong><br>6. Alur</strong><br>Alur pada hikayat tersebut adalah alur maju. Alasannya karena hikayat menceritakan awal raja Indera Bungsu yang tidak memiliki anak, Indra Bangsawan diasuh oleh raksasa dan dianggap sebagai neneknya sampai akhirnya Indra Bangsawan menyamar menjadi budak berambut keriting sebagai Si Hutan masuk di kerajaan antah berantah. Dengan kepandaian yang dimiliki Indra Bangsawan, Buraksa dapat dikalahkan. Pada akhirnya indra Bangsawan dihadiahi oleh Raja Kabir utuk menjadi suami Putri Kemala Sari.<br><br><strong>7. Amanat</strong><br>a. Hendaklah kita selalu mengingat Allah SWT.<br>b. Hendaklah kita saling tolong- menolong.<br>c. Hendaklah kita tidak mudah menyerah.<br>d. Hendaklah kita selalu bersikap sportif dan jujur.<br><br><strong>8. Gaya bahasa</strong><br>Majas metafora : Tuan puteri terharu akan kesetiaannya dan menamainya si Kembar.<br><strong>Unsur Ekstrinsik:<br>1. Nilai religius</strong><br>Hal ini dibuktikan dengan beberapa peristiwa yang dilakukan beberapa tokoh. Contohnya, melakukan pembacaan doa qunut, membagikan sedekah kepada fakir miskin, dan berpasrah kepada Allah. Hubunganya dengan nilai masa kini yaitu pembacaan doa qunut kurang dilaksanakn apalagi orang- orang metropolitan, mereka hanya menganggap itu adalah budaya pada nenek moyang mereka.<br><strong><br>2. Nilai sosial</strong><br>Saling menolong sesama.<br><br><strong>3. Nilai moral</strong><br>Tidak mudah menyerah, selalu berusaha, bersikap sportif, jujur dan menghargai usaha orang lain.<br><strong><br>4. Nilai budaya</strong><br>Pada jaman dahulu masih ada perjodohan dan kepercayaan akan kesaktian benda.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336018772/ac5c4cafae4aefae6b0a9557dd5ce9e0/images__1_.jpeg" />
         <pubDate>2018-11-22 01:14:35 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306880956</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dewa syahputra pratama</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306881234</link>
         <description><![CDATA[<div>HIKAYAT SRI RAMA<br> Ide pokok:<br>Paragraf 1 :Sri Rama dan Laksamana pergi mencari Sita Dewi. Mereka berjalan menelusuri hutan rimba belantara namun tak juga mendapat kabar keberadaan Sita Dewi.<br>Paragraf 2 :Sri Rama merasa haus dan menyuruh Laksamana untuk mencarikannya air. Sri Rama menyuruh Laksamana untuk mengikuti jatunya anak panah agar dapat menemukan sumber air. <br>Paragraf 3 :Mereka bertemu dengan seekor burung besar bernama Jentayu yang tertambat sayapnya dan yang sebelah rebah. Sri Rama bertanya padanya mengapa sampai Jentayu seperti itu. Jentayu menceritakan semuanya pada Sri Rama tentang pertarungannya melawan Maharaja Rawana.<br>Paragraf 4 :Jentayu berpesan pada Sri Rama jika akan pergi menyeberang ke negeri Langka Puri, Sri Rama tidak boleh singgah ke tepi laut karena di sana terdapat gunung bernama Gendara Wanam. <br><br><br><br><br></div><div> </div><div><strong>Unsur-unsur intrinsik Hikayat Sri Rama:</strong></div><div><strong>Tema</strong>: Kesetiaan dan pengorbanan</div><ul><li>bukti: Para patik Sri Rama berani berkorban nyawa demi membantu Sri Rama yang sedang kesulitan mencari Sita Dewi. Mereka bakti akan perintah Sri Rama dengan menunujukkan kesetiaan mereka pada Sri Rama.</li></ul><div><strong>Alur</strong>: Maju</div><ul><li>bukti: Sri Rama mencari Sita Dewi yang dibawa lari oleh Maharaja Rawana. Dia berhasil menemukan petunjuk tentang keberadaan Sita Dewi saat bertemu dengan Jentayu. Namun, Jentayu mati setelah menceritakan tentang pertarungannya melawan Maharaja rawana. Mayat Jentayu dibakar di atas tangan Sri Rama.</li></ul><ol><li><strong>Penokohan</strong>: diceritakan secara dramatik (tidak langsung)</li><li><strong>Tokoh</strong>:</li><li>Tokoh utama: Sri Rama</li><li>Tokoh tambahan: Laksamana, Sita Dewi, Maharaja Rawana, Jentayu, Dasampani, burung jantan, dan bangau.</li><li><strong>Setting/latar cerita</strong></li><li>Latar waktu: siang hari</li></ol><div>bukti: pada paragraf enam kalimat pertama pada hikayat</div><ol><li>Latar tempat: di hutan rimba belantara</li></ol><div>bukti: pada paragraf pertama kalimat kedua</div><ol><li>Latar suasana: bahagia, mengaharukan</li></ol><div>bukti: Sri Rama terharu melihat kesetiaan Jentayu atas pengabdiannya menolong Sita Dewi.</div><ol><li><strong>Sudut pandang</strong>: menggunakan orang ketiga sebagai pelaku utama</li><li><strong>Amanat</strong>: hargailah pengorbanan seseorang yang telah rela mati demi menbantu kita.</li></ol>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336019618/af41de4004e15225766fd3b9e94d0c38/IMG_5672.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 01:17:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306881234</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ivaniel</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306881540</link>
         <description><![CDATA[<div>Sahibul hikayat telah diriwayatkan dalam Kitab Tajul Muluk, mengisahkan seekor burung yang bergelar burung cenderawasih. Adapun asal usulnya bermula dari kayangan. Menurut kebanyakan orang lama yang arif mengatakan ianya berasal dari syurga dan selalu berdamping dengan para wali. Memiliki kepala seperti kuning keemasan. Dengan empat sayap yang tiada taranya. Akan kelihatan sangat jelas sekiranya bersayap penuh adanya. Sesuatu yang sangat nyata perbezaannya adalah dua antena atau ekor ‘areil‘ yang panjang di ekor belakang. Barangsiapa yang melihatnya pastilah terpegun dan takjub akan keindahan dan kepelikan burung cenderawasih. Amatlah jarang sekali orang memiliki burung cenderawasih. Ini kerana burung ini bukanlah berasal dari bumi ini. Umum mengetahui bahawa burung Cenderawasih ini hanya dimiliki oleh kaum kerabat istana saja. Hatta mengikut sejarah, kebanyakan kerabat-kerabat istana Melayu mempunyai burung cenderawasih. Mayoritas para peniaga yang ditemui mengatakan ia membawa tuah yang hebat. Syahdan dinyatakan lagi dalam beberapa kitab Melayu lama, sekiranya burung cenderawasih turun ke bumi nescaya akan berakhirlah hayatnya. Dalam kata lain burung cenderawasih akan mati sekiranya menjejak kaki ke bumi. Namun yang pelik lagi ajaibnya, burung cenderawasih ini tidak lenyap seperti bangkai binatang yang lain. Ini kerana ia dikatakan hanya makan embun syurga sebagai makanannya. Malahan ia mengeluarkan bau atau wangian yang sukar untuk diperkatakan. Burung cenderawasih mati dalam pelbagai keadaan. Ada yang mati dalam keadaan terbang, ada yang mati dalam keadaan istirahat dan ada yang mati dalam keadaan tidur. Walau bagaimanapun, Melayu Antique telah menjalankan kajian secara rapi untuk menerima hakikat sebenar mengenai BURUNG CENDERAWASIH ini. Mengikut kajian ilmu pengetahuan yang dijalankan, burung ini lebih terkenal di kalangan penduduk nusantara dengan panggilan Burung Cenderawasih. Bagi kalangan masyarakat China pula, burung ini dipanggil sebagai Burung Phoenix yang banyak dikaitkan dengan kalangan kerabat istana Maharaja China. Bagi kalangan penduduk Eropah, burung ini lebih terkenal dengan panggilan ‘Bird of Paradise‘. Secara faktanya, asal usul burung ini gagal ditemui atau didapathingga sekarang. Tiada bukti yang menunjukkan ianya berasal dari alam nyata ini. Namun satu lagi fakta yang perlu diterima, burung cenderawasih turun ke bumi hanya di IRIAN JAYA (Papua sekarang), Indonesia saja. Tetapi yang pelik namun satu kebenaran burung ini hanya turun seekor saja dalam waktu tujuh tahun. Dan ia turun untuk mati. Sesiapa yang menjumpainya adalah satu tuah. Oleh itu, kebanyakan burung cenderawasih yang anda saksikan mungkin berumur lebih dari 10 tahun, 100 tahun atau sebagainya. Kebanyakkannya sudah beberapa generasi yang mewarisi burung ini. Telah dinyatakan dalam kitab Tajul Muluk bahawa burung cenderawasih mempunyai pelbagai kelebihan. Seluruh badannya daripada dalam isi perut sehinggalah bulunya mempunyai khasiat yang misteri. Kebanyakannya digunakan untuk perubatan. Namun ramai yang memburunya kerana ‘tuahnya’. Burung cenderawasih digunakan sebagai ‘pelaris’. Baik untuk pelaris diri atau perniagaan. Sekiranya seseorang memiliki bulu burung cenderawasih sahaja pun sudah cukup untuk dijadikan sebagai pelaris. Mengikut ramai orang yang ditemui memakainya sebagai pelaris menyatakan, bulu burung cenderawasih ini merupakan pelaris yang paling besar. Hanya orang yang memilikinya yang tahu akan kelebihannya ini. Namun yang pasti burung cenderawasih bukannya calang-calang burung. Penuh dengan keunikan, misteri, ajaib, tuah. [Phoenix/infokito]. Unsur intrinsik pada Hikayat 1 : 1. Tema : Hikayat Burung Cendrawasih. 2. Seting a. Tempat : Papua di Indonesia . b. Waktu : Siang hari. c.Suasana : Menakjubkan. 3.Alur : Mundur. 4.Penokohan a.Protagonis : Burung Cend</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:19:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306881540</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Wahyu nurdin</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306881672</link>
         <description><![CDATA[<div>Ada saja cara Abu Nawas berdoa agar dirinya mendapatkan jodoh dan menikah. Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya, akhirnya Abu Nawas mendapatkan istri yang cantik dan shalihah. Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa. Kala masih bujangan, seperti pemuda lainnya, ia juga ingin segera mendapatkan jodoh lalu menikah dan memiliki sebuah keluarga.<br> <br> Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita. Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah. Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu. Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT.<br> <br> “Ya Allah, jika memang gadis itu baik untuk saya, dekatkanlah kepadaku. Tetapi jika memang menurutmu ia tidak baik buatku, tolong Ya Allah, sekali lagi tolong pertimbangkan lagi ya Allah,” ucap doanya dengan menyebut nama gadis itu dan terkesan memaksa kehendak Allah.<br> <br> Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya. Berjalan lebih tiga bulan, Abu Nawas merasa doanya tak dikabulkan Allah. Ia pun introspeksi diri.<br> <br> “Mungkin Allah tak mengabulkan doaku karena aku kurang pasrah atas pilihan jodohku,” katanya dalam hati.<br> <br> Kemudian Abu Nawas pun bermunajat lagi. Tapi kali ini ganti strategi, doa itu tidak diembel-embeli spesifik pakai nama si gadis, apalagi berani “maksa” kepada Allah seperti doa sebelumnya.<br> <br> “Ya Allah berikanlah istri yang terbaik untukku,” begitu bunyi doanya.<br> <br> Berbulan-bulan ia terus memohon kepada Allah, namun Allah tak juga mendekatkan Abu Nawas dengan gadis pujaannya. Bahkan Allah juga tidak mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri. Lama-lama ia mulai khawatir juga.<br> Takut menjadi bujangan tua yang lapuk dimakan usia.<br> <br> Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul. Abu Nawas memang cerdas. Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit “diplomatis” dengan Allah. Ia pun mengubah doanya.<br> <br> “Ya Allah, kini aku tidak minta lagi untuk diriku. Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah. Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan. Maka, berikanlah ia menantu,” begitu doa Abu Nawas.<br> <br> Barangkali karena keikhlasan dan “keluguan” Abu Nawas tersebut, Allah pun menjawab doanya.<br> <br> Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas. Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya. Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah.<br> Analisis Unsur Intrinsik <br> <br> <br> Tema<br> <br> Tentang perjalanan hidup: Doa dan usaha Abu Nawas untuk mendapatkan pendamping hidup.<br> <br> Alur<br> <br> Alur yang digunakan Mundur, karena terdapat flashback. <br> <br> Perkenalan: Ada saja cara Abu Nawas berdoa agar dirinya mendapatkan jodoh dan menikah. Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya, (paragraf 1)<br> <br> Penyelesaian: akhirnya Abu Nawas mendapatkan istri yang cantik dan shalihah. Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa. (paragraf 1)<br> <br> Masalah: Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita. Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah. Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu (paragraf 2)<br> <br> Klimaks: Berbulan-bulan ia terus memohon kepada Allah, namun Allah tak juga mendekatkan Abu Nawas dengan gadis pujaannya. Bahkan Allah juga tidak mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri. Lama-lama ia mulai khawatir juga. Takut menjadi bujangan tua yang lapuk dimakan usia (paragraf 8)<br> <br> Falling action: Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul.Abu Nawas memang cerdas. Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit “diplomatis” dengan Allah. Ia pun mengubah doanya. Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas. Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya. Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah (paragraf terakhir).<br> <br> <br> <br> Penokohan<br> <br> Abu Nawas: Ambisius, cerdas, cerdik, semangat, dan tidak pantang menyerah/ tidak mudah putus asa.<br> <br> Bukti: Para paragraf 1 (pertama): "Ada saja cara Abu Nawas berdoa agar dirinya mendapatkan jodoh dan menikah. Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya,"<br> <br> <br> <br> Sudut Pandang<br> <br> Orang ketiga serba tahu, karena pengarang tahu hinggai si hati si tokoh Abu Nawas.<br> <br> Bukti: Pada kalimat "Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul. Abu Nawas memang cerdas. Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit “diplomatis” dengan Allah. Ia pun mengubah doanya".<br> <br> <br> <br> Latar/Setting<br> <br> Waktu: Pagi, siang, dan malam hari dalam waktu berbulan-bulan.<br> <br> Bukti: Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya. Berjalan lebih tiga bulan.<br> <br> <br> Tempat: Rumah atau Tempat Ibadah.<br> <br> Bukti: Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya.<br> <br> <br> Suasana: Khusyuk dan Bahagia.<br> <br> Bukti Khusyuk: Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT.<br> <br> Bukti Bahagia: Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas. Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya. Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah.<br> <br> <br> <br> Amanat<br> <br> Doa, usaha, ikthiar, dan tawakal lah, maka Allah SWT akan memberi apa yang kita mau/inginkan. Jodoh sudah berada ditangan Allah SWT.Analisis Unsur Ekstrinsik<br> <br> <br> Nilai-nilai<br> <br> <br> Nilai Moral, terdapat pada kalimat: Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya, akhirnya Abu Nawas mendapatkan istri yang cantik dan shalihah. Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa.<br> <br> Nilai Religius, terdapat pada kalimat: Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu.<br> <br> Nilai Sosial Budaya, terdapat pada kalimat: Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah. Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan. Maka, berikanlah ia menantu<br> <br> <br> </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:20:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306881672</guid>
      </item>
      <item>
         <title> ANDI YEHUDA GEORGE MATANDUNG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306881903</link>
         <description><![CDATA[<div>  </div><div>     Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik<br>     Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna.<br>     Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. “Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?” tanya raja.</div><div>    Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas.<br>    Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian.</div><div>    Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!” ajak Puteri Nila.<br>Anakku yang rajin dan baik budi!            Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!” kata sang raja. </div><div>    Sudahlah Ayah, tak mengapa.Yang penting, ayah sudah kembali.<br>     Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. <br>    Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah <br>    Astaga! Kita harus menguburnya!” seru Puteri Jingga.<br>    Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. <br>     Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya.<br>   </div><div>UNSUR INTRINSIK</div><div><strong>Alur/plot</strong>         : Alur Maju</div><div>                          Bukti : karna dalam cerita ini tidak menceritakan tentang masa lalu.</div><div><br></div><div><strong>Tema  </strong>            : Kekeluargaan, Kerajaan danKasih sayang tulus seorang anak kepada                                 ayahnya.</div><div><br></div><div><strong>Latar/setting  :</strong></div><div>1.    Latar tempat :<br><strong>Kerajaan</strong> (bukti: hikayat ini mengisahkan tentang kerajaan jaman dahulu.)<br><strong>Taman (</strong>bukti : tanpa ragu, putri kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu.)<br><strong>Danau</strong> (bukti : ketika sang raja tiba di istana kesembilan putrinya masih bermain di danau.)<br><strong>Teras istana</strong> (bukti : sementara putri kuning sedang merangkai bunga di teras istana.)</div><div>2.    Latar waktu : Pada zaman dahulu kala</div><div>3.    Latar suasana : Sedih (bukti: berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil menemukan Putri Kemuning. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya.)</div><div><br></div><div><strong>Tokoh:</strong></div><div>1.      Protagonis       : Raja dan Putri Kuning</div><div>2.      Antagonis        : Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, Putri Kuning dan 2 putri lainnya.</div><div><br></div><div><strong>Karaker tokoh-tokoh</strong></div><div>1.      Raja :<br><strong>Bijaksana</strong> (bukti: sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana)<br><strong>Penyayang</strong> (bukti: sang raja sangat menyayangi anak-anaknya)</div><div>2.      Putri kuning :<br><strong>Baik hati</strong> (bukti: karna para inang sibuk untuk menuruti permintaan kakak-kakaknya, taman menjadi tidak ada yang membersihkan. Tapi dengan senang hati putri kuning mau membantu membersihkan taman.)<br><strong>Penyabar </strong>(bukti: “Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Putri kuning diam saja dan menyapu sampah sampah itu.)<strong> </strong><br><strong>Ramah</strong> (bukti: Sebaliknya ia selalu riang dan tersenyum ramah kepada siapa pun.)</div><div>3.      Puteri Hijau         : <strong>Jahat,  mudah iri (</strong>bukti:Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri)</div><div>4.      Kakak-kakak putri kuning : <strong>Nakal, manja, jahat</strong>. (bukti: sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka, merampas kalung putri kuning, menangkap dan memukul kepala putri kuning sampai putri kuning meninggal dan menguburnya tanpa memberitahu ayahnya (raja).</div><div><br></div><div><strong>Sudut Pandang</strong>          : Orang Pertama dan orang ketiga.</div><div><br><strong>Amanat :</strong><br>-Berlaku baiklah kepada sesama saudara kita<br>-Berfikirlah terlebih dahulu ketika kita akan bertindak</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>UNSUR EKSTRINSIK</div><div><strong> Nilai Sosial</strong></div><div>Mencoba untuk lebih baik</div><div><strong> Nilai Agama</strong></div><div>Berbuat baik walaupun dibalas kejahatan</div><div>(Bukti agama islam)</div><div><em>“Sesungguhnya rahmat Allah Swt amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” </em>(QS. Al-A’raf: 56)</div><div><em>“Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang bepergian) dan hamba sahayamu (pembantu).”</em>(QS. An-Nisa [4]: 36).</div><div><em>“Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yg lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.”</em> (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 96)</div><div><em>“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.”</em> (QS. Ar-Rahman [55]: 60).</div><div><em>“Mereka itu diberi pahala dua kali lipat disebabkan kesabaran mereka dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.”</em>(QS. Al-Qashash [28]:54)</div><div><em>“Siapa yang datang membawa kebaikan, baginya pahala yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan siapa yang datang membawa kejahatan, tidaklah diberi balasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan seimbang dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.”</em> (SQ. Al-Qashash [28]:84)</div><div>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</div><div>إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6</div><div>فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)</div><div>“<em>Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula</em>.” (QS. Al Zalzalah: 1-8)</div><div><br></div><div>فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)</div><div>“<em>Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula</em>.“</div><div>يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا</div><div>“<em>Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh</em>.“ (QS. Ali Imran: 30).</div><div><br></div><div> Nilai Moral</div><div>Keburukan akan terbongkar dengan sendirinya walaupun ditutupi.</div><div><strong> Nilai Budaya</strong></div><div>Sopan dan santun kepada orang tua, Pada jaman dahulu tentang pemberian nama putri atau putra.</div><div><br></div><div><strong>Gaya Bahasa :</strong></div><div>Majas metafora : <em>Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi!</em></div><div><br></div><div>Majas ironi      : <em>"Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku”</em></div><div>Majas Paradoks<em> : Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.</em></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:22:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306881903</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Wahyu nurdin</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306881912</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:22:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306881912</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ivaniel</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306881996</link>
         <description><![CDATA[<div> Sahibul hikayat telah diriwayatkan dalam Kitab Tajul Muluk, mengisahkan seekor burung yang bergelar burung cenderawasih. Adapun asal usulnya bermula dari kayangan. Menurut kebanyakan orang lama yang arif mengatakan ianya berasal dari syurga dan selalu berdamping dengan para wali. Memiliki kepala seperti kuning keemasan. Dengan empat sayap yang tiada taranya. Akan kelihatan sangat jelas sekiranya bersayap penuh adanya. Sesuatu yang sangat nyata perbezaannya adalah dua antena atau ekor ‘areil‘ yang panjang di ekor belakang. Barangsiapa yang melihatnya pastilah terpegun dan takjub akan keindahan dan kepelikan burung cenderawasih. Amatlah jarang sekali orang memiliki burung cenderawasih. Ini kerana burung ini bukanlah berasal dari bumi ini. Umum mengetahui bahawa burung Cenderawasih ini hanya dimiliki oleh kaum kerabat istana saja. Hatta mengikut sejarah, kebanyakan kerabat-kerabat istana Melayu mempunyai burung cenderawasih. Mayoritas para peniaga yang ditemui mengatakan ia membawa tuah yang hebat. Syahdan dinyatakan lagi dalam beberapa kitab Melayu lama, sekiranya burung cenderawasih turun ke bumi nescaya akan berakhirlah hayatnya. Dalam kata lain burung cenderawasih akan mati sekiranya menjejak kaki ke bumi. Namun yang pelik lagi ajaibnya, burung cenderawasih ini tidak lenyap seperti bangkai binatang yang lain. Ini kerana ia dikatakan hanya makan embun syurga sebagai makanannya. Malahan ia mengeluarkan bau atau wangian yang sukar untuk diperkatakan. Burung cenderawasih mati dalam pelbagai keadaan. Ada yang mati dalam keadaan terbang, ada yang mati dalam keadaan istirahat dan ada yang mati dalam keadaan tidur. Walau bagaimanapun, Melayu Antique telah menjalankan kajian secara rapi untuk menerima hakikat sebenar mengenai BURUNG CENDERAWASIH ini. Mengikut kajian ilmu pengetahuan yang dijalankan, burung ini lebih terkenal di kalangan penduduk nusantara dengan panggilan Burung Cenderawasih. Bagi kalangan masyarakat China pula, burung ini dipanggil sebagai Burung Phoenix yang banyak dikaitkan dengan kalangan kerabat istana Maharaja China. Bagi kalangan penduduk Eropah, burung ini lebih terkenal dengan panggilan ‘Bird of Paradise‘. Secara faktanya, asal usul burung ini gagal ditemui atau didapathingga sekarang. Tiada bukti yang menunjukkan ianya berasal dari alam nyata ini. Namun satu lagi fakta yang perlu diterima, burung cenderawasih turun ke bumi hanya di IRIAN JAYA (Papua sekarang), Indonesia saja. Tetapi yang pelik namun satu kebenaran burung ini hanya turun seekor saja dalam waktu tujuh tahun. Dan ia turun untuk mati. Sesiapa yang menjumpainya adalah satu tuah. Oleh itu, kebanyakan burung cenderawasih yang anda saksikan mungkin berumur lebih dari 10 tahun, 100 tahun atau sebagainya. Kebanyakkannya sudah beberapa generasi yang mewarisi burung ini. Telah dinyatakan dalam kitab Tajul Muluk bahawa burung cenderawasih mempunyai pelbagai kelebihan. Seluruh badannya daripada dalam isi perut sehinggalah bulunya mempunyai khasiat yang misteri. Kebanyakannya digunakan untuk perubatan. Namun ramai yang memburunya kerana ‘tuahnya’. Burung cenderawasih digunakan sebagai ‘pelaris’. Baik untuk pelaris diri atau perniagaan. Sekiranya seseorang memiliki bulu burung cenderawasih sahaja pun sudah cukup untuk dijadikan sebagai pelaris. Mengikut ramai orang yang ditemui memakainya sebagai pelaris menyatakan, bulu burung cenderawasih ini merupakan pelaris yang paling besar. Hanya orang yang memilikinya yang tahu akan kelebihannya ini. Namun yang pasti burung cenderawasih bukannya calang-calang burung. Penuh dengan keunikan, misteri, ajaib, tuah. [Phoenix/infokito]. Unsur intrinsik pada Hikayat 1 : 1. Tema : Hikayat Burung Cendrawasih. 2. Seting a. Tempat : Papua di Indonesia . b. Waktu : Siang hari. c.Suasana : Menakjubkan. 3.Alur : Mundur. 4.Penokohan a.Protagonis : Burung C</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336018441/1625dde3f58fc3af3d82a1811e7cc39b/Screenshot_2018_11_22_09_16_29_599_com_UCMobile_intl.png" />
         <pubDate>2018-11-22 01:23:07 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306881996</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Michelin Jeanette Imanuela</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306882415</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:25:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306882415</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nurul fadill</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306882552</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:26:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306882552</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Michelin Jeanette Imanuela                  nsur Intrinsik: 1.   Tema                : Balas dendam2.   Alur                  : Alur maju Demikianlah malam demi malam keadaan itu berlangsung selama 1001 malam.3.  Setting              :Tempat             :  istana yang megahWaktu                : menjelang subuh dan malam hari4.  Suasana            :Mengharukan: Ketika putri Syahrazat merelakan dirinya untuk diserahkan kepada Raja5.  Perwatakan    :Raja, kejam : ia telah membunuh hampir seluruh wanita di sekitarnyaRaja, penyayang : ia sangat sayang kepada putranyaPutri Syahrazat, penyayang : ia sangat sayang kepada ayahnya, sehingga ia tidak tega kalau ayahnya yang akan dibunuhPutri Syahrazat, sabar dan sopan : ia meminta dengan sabar dan sopan agar sebelum ia dibunuh, ia diperbolehkan untuk bercerita6.  Amanat : Kita jangan pernah berpikiran buruk terhadap sesuatu hal yang pernah mengecewakan kita, karena belum tentu sesuatu yang kita anggap buruk sama dengan yang pernah menahan mengecewakan kita.Unsur Ekstrinsik : Nilai kemanusiaan : Raja sangat tidak berperikemanusiaan karena telah membunuh hamper semua wanitaNilai kasih sayang : Putri Syahrazat mengorbankan dirinya agar Raja tidak membunuh Ayah yang sangat disayanginya.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306883268</link>
         <description><![CDATA[<div>Ide pokok </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:30:12 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306883268</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rindi Antika Pratikasari Gosal</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306883976</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>HIKAYAT PANJI SEMIRANG</strong><br><br> <strong>Ide pokok</strong><br> Suatu kerajaan yang mana berita tentang Galuh Cendera Kirana yang mana putri  dari Baginda Raja Nata yang amat ta`lim dan hormat kepada orangtuanya  akan bertunangan dengan Raden Inu Kini telah terdengar beritanya oleh Galuh Ajeng . Mendengar berita ini Galuh Ajeng sangat teriris hatinya dan menangislah ia mlihat keadaan ini. Melihat hal ini Paduka Liku yang tak lain adalah ayah dari galuh ajeng sangat menyayangkan hal tersebut. Sangat sedih ia melihat tingkah laku putrinya tersebut.<br> dendam di dalam hati Paduka Liku sehingga ia berencena untuk membunuh Galuh Cendera Kirana serta Paduka Nata. Ia meracuni makanan yang hendak mereka makan yang mana makanan tersebut telah dipersiapkan oleh dayang-dayang istana. Agar jikalau Galuh Cendera Kirana mati maka pastilah putrinya Galuh Ajeng yang kelak menggantikan posisi Galuh Cendera Kirana untuk ditunangkan dengan Raden Inu Kini begitu pula dengan Raja Nata yang apabila mati, kelak Raja Liku yang akan menggantikan posisinya.<br> <br> <strong><em>Unsur-Unsur Intrinsik</em></strong><br> <br> Tema Silsilah Panji Semirang<br> <br> Latar Suasana<br> <br> Bahagia ( Terlalu amat berkasih-kasihan empat bersaudara,…)<br> <br> Latar Waktu<br> <br> Zaman dahulu ( Sebermula pada zaman dahulu kala ada raja di Tanah Jawa empat bersaudara…)<br> <br> Latar Tempat<br> <br> -Tanah Jawa ( Sebermula pada zaman dahulu kala ada raja di Tanah Jawa<br> <br> empat bersaudra,……)<br> <br> -Kuripan ( Yang tua menjadi ratu di Kuripan)<br> <br> -Daha ( yang tengah menjadi ratu di Daha)<br> <br> -Gegelang ( yang bungsu menjadi ratu di Gegelang)<br> <br> -Karang Banjar Ketapang ( …, maka dipungutkan inang pengasuh dengan<br> <br> sepertinya dan diberi pekarangan oleh Baginda di Karang Banjar Ketapang.)<br> <br>  <br> <br> Watak Tokoh<br> <br> Raja: periang ( …..pada segenap tahun utus-mengutus, empat buah negeri itu terlalu amat baik perintahnya dan periksanya akan segala rakyatnya,…..Dan termasyurlah pada segala negeri di Tanah Jawa akan raja empat buah negeri itu, terlalu baik perintahnya,…..)<br> <br> Nata Kuripan: agung ( ….dan sikapnya dan jejak keagung-agungan), mau menerima pendapat ( Setelah sang nata mendengar kata Permaisuri demikian maka dipikirkan sang Nata, benarlah seperti kata Permaisuri.), tekun (Maka sang Nata dan Permaisuri pun memujalah dua laki istri kepada segala macam Dewa-Dewa siang dan malam empat puluh hari empat puluh malam.)<br> <br> Permaisuri: tekun (Maka sang Nata dan Permaisuri pun memujalah dua laki istri kepada segala macam Dewa-Dewa siang dan malam empat puluh hari empat puluh malam.), berkeinginan kuat (ingin rasanya ia hendak berputera laki-laki yang baikparasnya.)<br> <br> Sudut Pandang<br> <br> Orang ketiga tunggal ( Karena tidak melibatkan sang pencerita di dalamnya)<br> <br> Gaya bahasa<br> <br> -Menggunakan majas repetisi (terdapat dalam kata “maka”)<br> <br> -Menggunakan majas hiperbola (…..dan mendam kula dan menghabiskan segala rerawitan isi laut dan darat.)<br> <br> Nilai-Nilai (<strong><em>Unsur Ekstrinsik</em></strong>)<br> <br> •Religi ( terdapat dalam pemujaan dewa)<br> <br> •Kesabaran dan ketekunan (ketika sang Nata dan Permaisuri menyembah<br> <br> dewa selama 40 hari 40 malam)<br> <br> •Kerukunan ( terdapat dalam empat bersaudara yang berkasih-kasihan)<br> <br> •Pengharapan ( terdapat dalam keinginan Nata dan Permaisuri dalam<br> <br> mendapatkan anak).<br> </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336018433/d36d0b833f06facaedfdcef411addca5/images.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 01:35:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306883976</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nur Alifya putri.s</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306884309</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:37:59 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306884309</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Monica Angelique </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306884378</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:38:32 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306884378</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Resinta</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306884427</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:38:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306884427</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Monica Angelique Simamora</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306884649</link>
         <description><![CDATA[<div><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:40:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306884649</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Eveline.M.S.P</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306884751</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:40:51 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306884751</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Rika anriyani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306884893</link>
         <description><![CDATA[<div>Kelas:X mipa.7</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:41:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306884893</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Andi Nurul Aulia Ingriani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306885766</link>
         <description><![CDATA[<div>X MIPA 7<br><br>Si Miskin<br><br>ide pokok.<br><br>Karena sumpah Batara Indera, seorang raja keinderaan beserta permaisurinya bibuang dari keinderaan sehingga sengsara hidupnya<br><br>mereka selalu diburu dan diusir oleh penduduk, serta dianiaya <br><br>Ketika isterinya mengandung, ia menginginkan makan mangga yang ada di taman raja.<br><br>Pergilah si Miskin menghadap raja memohon mempelam<br><br>lahirlah anaknya yang pertama laki-laki bernama Marakarmah.<br><br><br>Si miskin mendapatkan sebuah tajau yang penuh berisi emas. Berdirilah sebuah kerajaan.<br><br>Si Miskin berganti nama Maharaja Indera Angkasa dan isterinya bernama Tuan Puteri Ratna Dewi. Negerinya diberi nama Puspa Sari. Dan lahirlah anaknya yang kedua, bernama Nila Kesuma.<br><br>Maharaja Indera Dewa di negeri Antah Berantah, menjadi iri hati kepada maharaja indra<br><br>Para ahli nujum mengatakan bahwa Marakarmah dan Nila Kesuma itu kelak hanyalah akan mendatangkan celaka saja bagi orangtuanya.<br><br></div><div>Maka, dengan hati yang berat pergi selama-lamanya putra-putrinya itu.<br><br>Negeri Puspa Sari musnah terbakar.<br><br>Nila Kesuma ditemu oleh Raja Mengindera, dan bernama Mayang Mengurai.<br><br>Marakarmah menjadi anak angkat Nenek Kebayan yang kehidupannya berjual bunga.<br><br> Marakarmah mencari ayah bundanya yang telah jatuh miskin kembali. <br><br>Kerajaan Puspa sari kembali seperti dulu.<br><br>Marakarmah pergi ke negeri mertuanya menggantikannya menjadi Sultan Mangindera Sari menjadi raja di Palinggam Cahaya.<br><br><br><br></div><div><strong><br>Unsur Intrinsik dalam hikayat Si Miskin</strong></div><div>1.      Tema :  Kunci kesuksesan adalah kesabaran. Perjalanan hidup seseorang yang mengalami banyak rintangan dan cobaan.</div><div>2.       Alur : Menggunakan alur maju, karena penulis menceritakan peristiwa tersebut dari awal permasalahan sampai akhir permasalahan.</div><div> </div><div>3.    Setting/ Latar :</div><div>·         Setting Tempat : Negeri Antah Berantah, hutan, pasar, Negeri Puspa Sari, Lautan, Tepi Pantai Pulau Raksasa, Kapal, Negeri Palinggam Cahaya.</div><div>·         Setting Suasana : tegang, mencekam dan Ketakutan, bahagia, menyedihkan</div><div> </div><div>4.    Sudut Pandang Pengarang : orang ketiga serba tahu.</div><div>5.    Amanat :</div><div>·         Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang adil dan pemurah.</div><div>·         Janganlah mudah terpengaruh dengan kata-kata oran lain.</div><div>·         Hadapilah semua rintangan dan cobaan dalam hidup dengan sabar dan rendah      hati.</div><div>·         Jangan memandang seseorang dari tampak luarnya saja, tapi lihatlah ke dalam hatinya.</div><div>·         Hendaknya kita dapat menolong sesama yang mengalami kesukaran.</div><div>·         Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.</div><div>·         Hidup dan kematian, bahagia dan kesedihan, semua berada di tanan Tuhan, manusia hanya dapat menjalani takdir yang telah ditentukan.</div><div><br><br><strong>Unsur Ekstrinsik dalam Hikayat Si Miskin</strong></div><div>1. Nilai Moral</div><div>     Kita harus bersikap bijaksana dalam menghadapi segala hal di dalam hidup kita.</div><div>     Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain.</div><div>2. Nilai Budaya</div><div>     Sebagai seorang anak kita harus menghormati orangtua.</div><div>     Hendaknya seorang anak dapat berbakti pada orang tua.</div><div>3. Nilai Sosial</div><div>     Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>     Hendaknya kita mau berbagi untuk meringankan beban orang lain.</div><div>4. Nilai Religius</div><div>     Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.</div><div>     Percayalah pada Tuhan bahwa Dialah yang menentukan nasib manusia.</div><div>5. Nilai Pendidikan</div><div>     Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>     Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.</div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336018395/721c938ea72a2896e2bc5e3af3a9f640/download__4_.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 01:48:24 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306885766</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Wahyu Nurdin</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306886053</link>
         <description><![CDATA[<div>HIKAYAT ABU NAWAS<br>Ide pokok paragraf 1<br> Abu Nawas berdoa agar dirinya mendapatkan jodoh dan menikah. Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya, akhirnya Abu Nawas mendapatkan istri yang cantik dan shalihah. Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa<br> Ide pokok paragraf 2<br> Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita. Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah. Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu<br> Ide pokok paragraf 3<br> Abu Nawas memang cerdas. Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit “diplomatis” dengan Allah. Ia pun mengubah doanya.<br> <br> “Ya Allah, kini aku tidak minta lagi untuk diriku. Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah. Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan. Maka, berikanlah ia menantu,” begitu doa Abu Nawas.<br> Ide pokok paragraf 4<br> <br> Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawa<br> Unsur Instrinsik<br> <br> 1.)    Tema<br> <br> Perjalanan hidup : Usaha dan doa seseorang untuk mendapatkan pendamping hidup.<br> <br> 2.)    Alur :  “Mundur”, karena terdapatflashback.<br> <br> a.       Perkenalan : Ada saja cara Abu Nawas berdoa agar dirinya mendapatkan jodoh dan menikah. Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya....dst (paragraf 1)<br> <br> b.      Penyelesaian : ..... akhirnya Abu Nawas mendapatkan istri yang cantik dan shalihah. Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa.(paragraf 1)<br> <br> c.       Masalah : Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita. Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah. Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu.(paragraf 2)<br> <br> d.      Klimak : Berbulan-bulan ia terus memohon kepada Allah, namun Allah tak juga mendekatkan Abu Nawas dengan gadis pujaannya. Bahkan Allah juga tidak mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri. Lama-lama ia mulai khawatir juga. Takut menjadi bujangan tua yang lapuk dimakan usia.(paragraf 8)<br> <br> e.       Falling action :  Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul.Abu Nawas memang cerdas. Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit “diplomatis” dengan Allah. Ia pun mengubah doanya. Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas. Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya. Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah.(paragraf terakhir)<br> <br> 3.)    Penokohan<br> <br> -          Abunawas : cerdas, cerdik, ambisius, semangat dan tidak mudah putus asa<br> <br> -          Bukti tersurat : Ada saja cara Abu Nawas berdoa agar dirinya mendapatkan jodoh dan menikah. Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya,...(paragraf 1)<br> <br> 4.)    Sudut Pandang<br> <br> -          Orang ketiga serba tahu, karena pengarang tahu sampai isi hati si tokoh.<br> <br> -          Bukti : Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul. Abu Nawas memang cerdas. Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit “diplomatis” dengan Allah. Ia pun mengubah doanya.(paragraf 11)<br> <br> 5.)    Latar /Setting<br> <br> a.       Waktu          :  pagi, siang, dan malam dalam waktu berbulan bulan.<br> <br> -          Bukti : Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya. Berjalan lebih tiga bulan,<br> <br> b.      Tempat          : Rumah / tempat ibadah<br> <br> - Bukti : Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya.<br> <br> c.       Suasana        : Khusyuk dan Bahagia.<br> <br> - Khusyuk, bukti : Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyukkepada Allah SWT.<br> <br> - Bahagia, bukti : Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas. Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya. Keluarganya pun berjalanmawaddah warahmah.<br> <br> 6.)    Amanat<br> <br> -          Doa, usaha, ikhtiar, dan tawakallah, maka Allah memberi apa yang kita inginkan.<br> <br> -          Jodoh ada ditangan Tuhan.<br> <br> <br> B.     Unsur Ekstrinsik<br> <br>   Nilai nilai<br> <br> 1.)    Nilai moral, terdapat di kalimat :<br> <br> - Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya, akhirnya Abu Nawas mendapatkan istri yang cantik dan shalihah. Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa.(paragraf1)<br> <br> 2.) Nilai Religius, terdapat di kalimat :<br> <br>      - Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu.(paragraf 4)<br> <br>       3.) Nilai sosial budaya, terdapat di kalimat :<br> <br> - Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah. Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan. Maka, berikanlah ia menantu.(paragraf 10)<br> <br> </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336018433/ba488c5fbdf0b4b5a08ad4ffc185d365/images.jpeg" />
         <pubDate>2018-11-22 01:50:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306886053</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306886080</link>
         <description><![CDATA[<div>Alif fahrezi<br><br>X mipa 7<br><br>Hikayat Gunung Tidar Dan<br>Tombak Kiai Panjang<br><br>Ide pokok<br><br>1.dahulu kala Tanah Jawa ini masih berupa hutan belantara yang tiada seorangpun berani tinggal di sana.<br>2.Gunung Tidar pada mulanya hanya ditinggali oleh para jin dan setan yang konon dipimpin oleh salah satu jin bernama Kiai Semar.<br>3.Alkisah, datanglah seorang manusia yang terkenal berani untuk mencoba membuka wilayah Tidar untuk ditinggali,ksatria berani ini berasal dari tanah jauh,konon ia berasal dari negeri Turki, bernama Syekh Bakir dan ditemani Syekh Jangkung.<br>4.Mendengar ancaman Kiai Semar, ia lalu mengalah.<br>5.Dengan adanya tombak sakti itu, maka amanlah Gunung Tidar dari kekuasaan para jin dan makhluk halus.<br><br>Unsur-unsur intrinsiknya :<br>     1. Tema                                           : Gunung Tidar Dan Tombak Kiai Pajang.<br>2. Seting                           <br>a. Tempat                            : Gunung Tidar, hutan.<br>b. Waktu                              : 40 hari, siang dan malam hari.<br>c.Suasana                            : Menegangkan, Menakutkan.<br>3.Alur                                              : Maju.<br>4.Penokohan<br>a.Protagonis                       : Syekh Bakir ,Syekh Jangkung.<br>b.Antagonis                        : Kiai Semar.<br>c.Tritagonis                         : 7 pasang Manusia.<br>d.Figuran                             : Masyarakat, jin, mahluk halus, sahabat Syekh Bakir.<br>5.Amanat                                      : Janganlah menjadi Orang yang serakah.<br>6.Sudut pandang                       : Orang ke tiga.<br>7.Gaya bahasa                            : Majas, peribahasa.<br> <br>Usur-unsur ekstrinsiknya             : Bernilai pendidikan, nilai sosial, nilai keagamaan.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336018924/a235532ecebef71b04c2fb7bccf24fe4/1542849844261.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 01:50:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306886080</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Monica Angelique Simamora</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306886390</link>
         <description><![CDATA[<div>ANALISIS HIKAYAT RAJA DONAN :</div><div>·         Unsur Instrinsik : </div><div><br></div><div>1.            Tema : </div><div>Keistimewahan dan kepahlawanan seorang putera raja</div><div>2.            Plot :</div><div> Maju </div><div>   3.            Latar :</div><div><br></div><div>1.      Latar tempat :</div><div>Istana Raja Madong Bongsu , Gunung mandi angin , dan Pulau Sembilan </div><div>2.      Latar waktu :</div><div>-          Pada zaman pertembungan budaya hindu-islam, buktinya ada unsur kesaktian (Hindu:orang mati dihidupkan kembali, Islam : doa Raja Donan dimakbulkan.).</div><div>3.      Latar Suasana :</div><div>Bahagia,menegangkan, menakutkan, menyedihkan.</div><div>4.            Karakter : </div><div>a) Raja Donan :  </div><div>Pintar : Raja Donan, Temenggung Bendahara dan Mak Inang Tanda Pengasuh menjelma menjadi gabus</div><div>Berani : Raja Donan kemudiannya berpura-pura baik sebagai satu   muslihat untuk membunuh Raja Mambang Nan Bongsu.</div><div>Penolong : Raja Donan melayang ghaib ke negeri Gunung Mandi Angin unutk membantu ayahandanya.</div><div>         b) Ayah Raja Donan </div><div> Zalim : Raja Madong Bongsu percaya kepada tilikan enam orang nujum dan mengambil keputusan untuk membunuh puteranya.</div><div>Insaf : Raja Madong Bongsu insaf dengan kesilapan yang telah dilakukan dan berhasrat untuk mencari anakandanya</div><div>          c) Temenggung Bendahara dan Mak Inang Tanda</div><div>              Baik hati :Sebagai pengasuh Raja Donana </div><div>          d) Raja Mambang Nan Bongsu</div><div>             Serakah : Pembunuh ayah Raja Donan</div><div>5.            Amanat : </div><div>Jangan terlalu percaya perkataan orang lain . Kita harus mengurangi rasa kekejaman terutama kepada anak .</div><div>6.            Sudut pandang :</div><div>Sudut pandang orang ke-3 sebagai pengamat</div><div>·              UNSUR EKSTRINSIK :</div><div>1.      Nilai Religius :</div><div>Bukti : . Kemudian<strong> berseru-seru kepada Allah S.W.T </strong>dan membangkitkan asal usul keturunannya.</div><div>2.      Silsilah :</div><div>Bukti : Baginda dikurniakan seorang putera yang lahir dengan penuh keajaiban. Apabia dilahirkan, puteranya jatuh ke tikar, tikar koyak, jatuh ke lantai, lantai patah dan akhirnya jatuh ke tanah.</div><div>3.      Nilai moral :</div><div>Bukti :</div><div> -  Raja Madong Bongsu percaya kepada tilikan enam orang nujum dan mengambil keputusan untuk membunuh puteranya.</div><div>- Namun, hasrat baginda tidak kesampaian kerana dihalang oleh Temenggung Bendahara dan Mak Inang Tanda Pengasuh.</div><div>4.      Nilai pendidikan :</div><div> -Kemudian burung gagak mengajar Raja Donan cara untuk membuat seruling.</div><div>-Raja Donan menjadikan Raja Mambang Nan Bongsu sebagai bapa angkatnya dan belajar ilmu persilatan dengannya.</div><div><br></div><div>Ide pokok <br> Paragraf 1 : Kisah berlaku di Gunung Mandi Angin yang diperintahkan oleh raja Madong Bongsu.Baginda di karuniakan seorang Putra yang lahir dengan penuh keajaiban.<br><br>Paragraf 2 : Raja Madong Bungsu memanggil Nujum Nan Tujuh untuk menilik nasib baik maupun masib buruk putranya.<br><br>Paragraf 3 : Ketika Raja Donan beranjak remaja,ia menebang pohon untuk membuat seruling.Lalu Burung gagak buta datang bersama anaknya dan terjadi sebuah keajiban pada burung gagak.<br><br>Paragraf 4 : Raja Donen mendengar bunyi dentuman bedil dari arah negri ayahandanya yang memberi alamat bahwa Gunung Mandi terancam musuh.<br><br>Paragraf 5 : </div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:53:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306886390</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: risquita alwani Salsabila </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306886798</link>
         <description><![CDATA[<div><br>Hikayat Jaya lengkara<br>IDE POKOK<br>1<br> cerita tersebut menceritakan seorang raja yang terlalu besar kerajaannya, Saeful Muluk namanya, Ajam Saukat nama kerajaanya. Adapun raja ini telah berkawin dengan Putri Sukanda Rum. Tetapi oleh karena permaisurinya tidak beranak, ia berkawin dengan Putri Sukanda baying-bayang. Hatta berapa lamanya, Puteri Sukanda bayang-bayangpun beranak anak kembar yang diberi nama Makdam dan Makdim. <br>                                 2<br>       Permaisuri takut kehilangan kasih sayang raja sama sekali, lalu berdoa meminta anak. Doanya dikabulkan. Hatta berapa lamanya, ia pun beranaklah seorang anak laki-laki yang terlalu baik rupanya. Anak itu ialah Jaya Lengkara. Adapun semasa Jaya Langkara jadi itu, negeri pun terlalu makmur, makanan murah dan banyak pedagang yang datang pergi. Segala ahli nujum, hulubalang dan rakyat sekalian juga mengucap syukur kepada Alloh.<br>                              3<br>Kemudian raja menyuruh anaknya yang lain ,Makdam dan Makdim pergi bertanyakan nasib Jaya Langkara pada seorang kadi. Kadi itu meramalkan bahwa Jaya Langkara akan menjadi raja besar yang terlalu banyak sakti dan segala raja-raja besar tiada yang dapat melawannya dan segala margastua juga tunduk kepadanya dengan khidmat. Mendengar ramalan yang demikian, Makdam dan Makdim menjadi sakit hatinya. Mereka berdusta kepada ayahanda mereka dengan mengatakan, jikalau Jaya Langkara ada dalam negeri, negeri akan binasa, beras padi juga akan menjadi mahal. Raja termakan fitnah ini dan membuang Jaya Langkara dengan bundayanya dari negeri.<br>                               4<br>Naga guna menyelamatkan Jaya Langkara. Bersama-sama mereka akan pergi ke negeri Peringgi. Jaya Langkara menewaskan seorang ajar-ajar dan memaksanya masuk islam. Dengan bantuan raja jin yang sudah masuk islam, ia membebaskan Makdam dan Makdim dari penjara. Ratna Kasina dan Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdam.Bunga Kumkuma putih juga sudah diperolehnya.<br>                              5<br>Mangkubumi mesir coba mengambil bunga itu dari jaya langkara dan ditewaskan. Jaya Langkara mengampuni dia, bila mendengar sebab-sebab ia ingin mendapat kan bunga itu. Jaya Langkara pergi ke Mesir dan memohon supaya puteri Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdim. Permaohonan nya diterima dengan baik oleh raja Mesir. Bersama –sama dengan Ratna Kasina, Jaya Langkara berangkat ke negeri Ajam Saukat dan menyembuhkan penyakit raja yang tak lain adalah ayahnya.<br>                                6<br> Selang berapa lamanya, Jaya Langkara kembali ke hutan untuk mencari bundanya.Ratna Kasina menyusul tidak lama kemudian, karena tidak tahan di ganggu oleh Makdam dan Makdim yang sudah ke negeri Ajam Saukat. Karena berahi mereka akan putri Ratna Kasina, Makdam dan Makdim coba membunuh Jaya Langkara. Naga guna menyelamatkan dan membawanya bersama-sama dengan Puteri Ratna Kasina ke negeri Madinah. Raja Madinah sangat bergembira. Jaya Langkara dikawinkan dengan puteri Ratna Kasina. Raja Madinah sendiri juga berkawin dengan bunda jaya langkara. Hatta berapa lamanya. Jaya Langkara pun menjadi raja, negeri Madinah pun terlalu makmur dan besar kerajaannya. Segala raja besar pun menghantar upeti ke madinah setiap tahun.<br><br>Unsur Intrisik Hikayat Melayu “ Jaya Lengkara”<br><br>1. Tema: perebutan tahta dan kedengkian saudara Jaya lengkara di kerajaan Ajam Saukat.<br>2. Penokohan:<br>• Saeful Muluk→ mudah terpengaruh ( mempercayai fitnah Makdam dan makdim terhadap Jaya Lengkara. )<br>• Putri Sukanda Rum.<br>• Putri Sukanda bayang-bayang.<br>• Makdam dan Makdim→pemfitnah, irihati ( memfitnah Jaya lengkara karena iri hati. )<br>• Jaya Lengkara→suka menolong, pemaaf ( walaupun telah difitnah oleh Makdam dan Makdim tapi Jaya Lengkar tetap memaafkannya). Bijaksana ( memimpin kerajaan dengan bijaksana). Tabah, sabar (Jaya Lengkara tetap tabah menerima segala cobaan yang menimpanya)<br>• Ratna Dewi.<br>• Ratna Kasina.<br>• Naga→ penolong (menolong Jaya Lengkara yang tengah kesusahan).<br>• Mangkubumi Mesir→jahat ( mencoba merampas bunga Kumkuma Putih).<br>• Raja Madinah→ baik hati (menerima kedatangan Jaya Lengkara dan menikahkannya dengan Ratna Kasina).<br>3. Latar:<br>• Tempat:<br> Ajam Saukat (…..di Kerajaan Ajam Saukat).<br> Negeri Peringgi (…..mereka kenNegeri Peringgi).<br> Mesir ( Jaya Lengkara pergi ke Mesir).<br> Hutan (….pergi ke hutan untuk mencari bundanya).<br> Madinah (….bersama dengan Ratna Kasina pergi ke Madinah).<br>• Suasana:<br> Menyedihkan (raja mengusir jaya lengkara dan Ibunya).<br> Bahagia (Raja Madinah sangat bahagia).<br>• Alat :<br> Bunga Kumkuma Putih (bunga Kumkuma Putih juga sudah diperolehnya).<br> Upeti (Segala raja besar pun menghantet upeti ke Madinah setiap tahun).<br>4. Sudut Pandang : orang ketiga serba tahu.<br>5. Alur : maju<br>Tahapan :<br>• Pengenalan: raja mendapatkan anak dari kedua istrinya yaitu Makdam dan Makdim, Jaya Lengkara.<br>• Konflik : raja menyuruh Makdam dam Makdim ke seorang Kadi untuk menanyakan nasib jaya Lengkara.<br>• Penanjakan: Makdam dan Makdim berdusta kepada ayahnya dan memfinah Jaya Lengkara. Hingga akirnya Jaya lenkara dan ibunya diusir dari kerajaan.<br>• Klimaks: ketika bunga Kumkuma telah didapatkan oleh jaya Lengkara, magkubumi Mesir mencoba untuk merbut dri tangan Jaya Lengkara.<br>• Anti klimaks: Jaya Lengkar pergi ke hutan untuk mencari ibunya, kemudian Ratna Kasina meenyusul karena tidak tahan diganggu oleh Makdam dan Makdim. Makdam dan Makdim yang marah kepada jaya Lengkara mencoba untuk membunuhnya.<br>• Ending: jaya Lengkar diselamatkan oleh naga dan dibawa ke Madinah. Dan dikawinkan dengan Ratna Kasina serta dijadikan raja. Negeri Madinah pun makmur dan besar.<br>6. Amanat:<br>• Iri hati dan dengki akan mengkalahkan dan mencelakakan diri sendiri.<br>• Meneggakan keadilan dan kebenaran harus dilakukan untuk mensejahterakan rakyat.<br>• Memaafkan kesalahan orang lain adalah salah satu bentuk menciptakan kedaimaan.<br>7. Nilai:<br>• Agama:<br> Jangan suka memfitnah orang lain.<br> Jangan iri kepada orang lain.<br> Berdo’alah dengan sungguh-sungguh.<br> Jangan mudah percaya dengan ramalan.<br>• Sosial:<br> Tolong-menolonglah dengan sesama.<br>•Moral:<br> Jangan menjadi seorang pendendam.<br>Jangan iri kepada orang lain.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336019913/d63543c7feec3618aa8215f0aeee342f/IMG_20181122_095830.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 01:56:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306886798</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306886846</link>
         <description><![CDATA[<div>Dahulu kala, ada seorang anak raja yang memiliki 10 orang putri yang dia beri nama dengan berbagai nama-nama warna. Istri sang raja sendiri telah lama meninggal usai melahirkan anak bungsu mereka, Putri Kuning. Berbeda dengan anak-anaknya yang lain, Putri Kuning ini mempunyai perilaku yang amat baik, tidak seperti kaka-kaknya yang bandel dan manja.<br><br></div><div>Suatu hari, sang rasa hendak pergi ke suatu tempat untuk suatu keperluan. Ke-9 putri-putrinya meminta dibawakn oleh-oleh yang mewah dari sang raja. Sementara itu, Putri Kuning tidak meminta apa pun, dan hanya berharap supaya sang raja pulang dengan selamat.<br><br></div><div>Singkat kata, sang raja pulang membawa oleh-oleh. Namun, oleh-oleh tersebut tidak diberikan untuk ke-9 putrinya, melainkan kepada Putri Kuning Seorang. Putri Hijau dan saudara-saudara Putri Kuning lainnya cemburu dan berniat untuk memberi pelajaran kepada adik mereka.<br><br></div><div>Tanpa sepengetahuan sang raja, Putri Kuning dipukul oleh kakak-kakaknya hingga meninggal dan dikuburkan di suatu tempat yang tak jauh dari istana. Mengetahui anaknya menghilang, sang raja pun mencari-cari putri bungsunya, namun tak jua ditemukan.<br><br></div><div>Suatu ketika, sang raja melihat sebuah bunga berwarna kuning yang tumbuh di sebuah tanah. Ternyata, tanah tersebut adalah kuburan dari anak bungsu sang raja. Melihat bunga itu, sang raja pun lantas menamainya dengan bunga kemuning.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 01:57:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306886846</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rheynaldy </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306887354</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>HIKAYAT AMIR HAMZAH”</strong>         </div><div>            Negeri Medain diperintah oleh seorang raja bernama Kobad Syahriar dan perdana menteri bernama Khawajeh Alqasy. Suatu ketika, Khawajeh Alqasy membunuh Bekhti Jamal, teman dekatnya, untuk mendapatkan harta bendanya. Sebelum meninggal, Bekhti Jamal berpesan kepada Khawajeh Alqasy untuk menjaga istri Bekhti Jamal dan anak yang dikandungnnya.</div><div>Anak Bekhti Jamal lahir dan diberi nama Buzur Jamal. Pada umur sembilan tahun, dia sudah menjadi seorang ahli nujum yang pandai dan ingin mencari pembunuh ayahnya. Suatu ketika, raja Kobad Syahriar bermimpi dan tidak dapat ditafsirkan oleh Alqasy. Raja meminta Buzur Jamal datang ke istana dan menafsirkan mimpinya. Buzur kemudian membeberkan segala kejahatan Alqasy sehingga Alqasy dihukum mati dan segala harta bendanya diberikan pada Buzur. Buzur akhirnya menjadi ahli nujum raja Kobad Syahriar. Buzur meramalkan bahwa raja akan dikaruniai seorang anak yang sebaiknya diberi nama Nusyirwan dan musuh kerajaan akan datang dari Arab. Karena ketakutan terhadap hal itu, raja memeritahkan membunuh semua wanita yang hamil.</div><div>            Di Mekah, Abdul Muttalib dikaruniai anak yang diberi nama Amir Hamzah (selanjutnya disebut Hamzah), sedangkan Omayya al-Darmri dikaruniai anak yang diberi nama Amir Ibn Omaya (selanjutnya disebut Amir). Buzur yang mendapat tugas membunuh semua wanita hamil dan bayi tidak membunuh kedua bayi tersebut. Di Negeri Medain, raja Kobad telah mangkat dan digantikan oleh Nusyirwan. Bekhtek, anak Alqasy, diangkat menjadi menteri.</div><div>Ketika berumur tujuh tahun, Hamzah dan Amir sudah memiliki kekuatan yang luar biasa. Mereka mampu menewaskan pegulat yang tak terkalahkan.</div><div><em>            </em>Mereka juga berguru pada seorang ahli pemanah. Hamzah mendapat panah Ishak dan kekuatannya bertambah. Di taman Sulaiman keduanya mendapat kuda yang hebat dan berbagai senjata. Kekuatan yang mereka miliki digunakan untuk menolong orang lain. Mereka menyelamatkan upeti Mekah untuk Nusyirwan dari serangan penyamun Mokbil Halabi. Di Yaman, Hamzah mengalahkan Puteri Hamai Taif yang hanya mau menikah dengan orang yang mampu mengalahkannya. Namun, Hamzah tidak menikahinya dan memberikannya kepada Tauk Tariq yang sangat mencintainya. Hamzah juga mengalahkan Amir Ibnu Ma’di Karib yang kemudian menjadi pengawal Hamzah bersama keempat puluh saudaranya. Mendengar keberanian Hamzah, Nusyirwan ingin bertemu dengannya. Seorang pahlawan Nusyirwan tidak menyukai hal itu sehingga Hamzah terpaksa mengalahkannya. Gustehem, pahlawan Nusyirwan yang lain berniat membunuh Hamzah, tetapi akhirnya dikalahkan oleh Hamzah.</div><div>            Hamzah jatuh cinta pada Mihrnigar, putri Nusyirwan. Hal itu tidak disukai Nusyirwan sehingga ia mengirim anaknya untuk menangkap Hamzah. Akan tetapi, keduanya malah ditawan oleh Hamzah. Akhirnya, pada hari ketiga, kedua putra Nusyirwan dikembalikan. Nusyirwan mendapat surat dari raja Syelpal dari Serendib yang memberitahukan bahwa dirinya telah diusir dari kerajaan oleh seorang raksasa bernama Lendehur. Bekhti mengusulkan agar memberikan Mihrnigar kepada orang yang mampu mempersembahkan kepala Lendehur. Hal ini dimaksudkan agar Hamzah dibunuh oleh Lendehur. Hamzah pergi ke pulau kediaman Lendehur. Dalam perjalanan, hal-hal aneh terjadi. Hamzah juga mendapatkan jimat dari Adam, Ibrahim, Ismail, dan Sulaiman. Peperangan pun dimulai dan setelah tujuh belas hari berperang, Lendehur dapat dikalahkan oleh Hamzah. Gustehem mengutus seorang perempuan untuk menyanyi dan meracuni Hamzah. Hamzah tertidur selama 40 hari. Lendehur yang telah masuk Islam mengusir Gustehem. Mengetahui korbannya masih hidup, Gustehem melarikan diri ke Zubin, Turkestan. Hamzah sembuh dan segera memulihkan kerajaan Syelpal. Hamzah kembali ke negerinya dengan membawa Lendehur.</div><div><em>            </em>Bekhtek mengingatkan bahwa syarat perkawinan Hamzah dengan Mihrnigar adalah kepala Lendehur. Lendehur bersedia kepalanya dipenggal. Ketika Nusyirwan memerintahkan memenggal kepala Lendehur, Hamzah memerintahkan Amir menangkap Bekhtek dan memukulnya bertalu-talu. Bekhtek menyuruh Nusyirwan mengelabuhi Hamzah dengan membunuh seorang wanita dan mengatakan Mihrnigar telah meninggal. Hal ini diketahui oleh Amir.</div><div>            Bekhtek kembali berniat membunuh Hamzah dan menyuruh Nusyirwan mengadakan sayembara. Barang siapa mampu mengalahkan tiga orang raja yang tidak mau membayar upeti akan dikawinkan dengan Mihrnigar. Hamzah bersedia melaksanakan tugas itu. Qarun yang bertugas sebagai penunjuk jalan disuruh Bekhtek meracuninya, tetapi semuanya diketahui oleh Hamzah. Di Yunan Hamzah membunuh Adir, raja Yunan. Semua kemenakan Adir masuk Islam. Di Rum, ia mengalahkan raja Rum yang kemudian bersama dengan semua kemenakannya masuk Islam. Di Mesir, Hamzah ditipu oleh Aziz dan dikurung di dalam sebuah pulau. Mokbil yang mendengar hal itu segera menuju pulau tersebut. Raja pulau tersebut telah menikah dengan putri Aziz yang bernama Zuhrah Banu. Ibrahim menampakkan diri dan menemui Zuhrah Banu. Kemudian, Zuhrah Banu membunuh suaminya dan mengembalikan senjata Hamzah. Aziz pun dibunuh oleh putrinya sendiri. Mereka segera kembali ke Mesir dan melangsungkan pernikahan Zuhrah Banu dan Mokbil setelah Zuhrah Banu masuk Islam.</div><div>            Hamzah melawan Nusyirwan. Gustehem bersama anak-anaknya dibunuh oleh Hamzah. Hamzah sendiri dilukai oleh Zubin dan dibawa ke Mekah. Pada suatu ketika, Nusyirwan, Bekhtek, dan Zubin diculik oleh musuh. Setelah mengalami berbagai hal, mereka akhirnya dikembalikan. Di Bukit Qaf, ada dua kota yang diperintah oleh peri Islam bernama Azra dan peri kafir bernama Ifrit. Ifrit mengusir Azra dari kerajaan. Hamzah datang dan membunuh Ifrit. Azra memberikan topi Sualiman yang ajaib kepada Hamzah. Dalam perjalanan pulang Hamzah tertidur dan ditangkap oleh Habra Diw, anak Ifrit. Hamzah kemudian membunuh Habra Diw. Hamzah jatuh cinta pada Asman, kemenakan raja, dan menikahinya. Dari perkawinan ini lahir seorang putri yang diberi nama Quraisy. Hamzah berkata bahwa kecantikan Quraisy seperti Mihrnigar. Asman cemburu dan pergi meninggalkan Hamzah. Hamzah mencari Asman hingga memasuki sebuah gua yang dihuni banyak jin dan mengusir mereka yang tinggal di sana. Hamzah sampai di sebuah taman yang sangat indah. Di sana ia diperdaya oleh seorang peri kafir dan seekor burung menyelamatkan Hamzah.</div><div>            Semua penduduk kekurangan makanan. Amir ibn Ma’di Karib meminta makanan kepada para khalifah dan menangkis semua serangan perampok. Di sebuah negeri Amir ibn Ma’di dipilih menjadi raja. Dia mengambil seorang permaisuri. Esok harinya, permaisuri mangkat. Hamzah muncul dan seluruh penduduk kota masuk Islam. Kemudian terjadilah peperangan. Tentara musuh dimusnahkan. Bekhtek, Zubin, dan Nusyirwan melarikan diri ke Homum, Damaskus. Hamzah mengirim utusan kepada Homum di Damaskus. Askar Damaskus tewas. Sementara itu, putri Nasir hamil dengan cara yang tidak wajar. Pada suatu malam, putri Nasir menemukan selimut Hamzah dan kemudian mengenakannya. Dengan serta merta, putri Nasir hamil dan melahirkan seorang anak yang diberi nama Omar ibn Hamzah.</div><div>            Hamzah meminang Mihrnigar dan mendapat restu dari Nusyirwan. Bekhtek menganjurkan agar istana Zubin dirampok. Hamzah mengikuti saran itu dan semua harta bendanya dirampas habis. Kemenakan Gul-rukh dijadikan istri Omar. Istri dan ibunya juga dijadikan istri oleh Amir ibn Ma’di Karib dan Amir. Bekhtek melarikan diri ke Behman di Turkestan. Tentara Hamzah tiba dan terjadilah peperangan. Behman dan Bekhtek dapat dikalahkan. Hamzah yang mendengar Mekah dikepung oleh Syaddad Abu Omar Habsyi segera kembali dan mengalahkan musuh. Syahddad dapat dikalahkan dan masuk Islam. Syahddad menyerang Medain. Nusyirwan dan Bekhtek berhasil ditawan.</div><div>            Kobad, anak Hamzah dibunuh oleh Zubin. Zubin diam-diam mendekati Mihrnigar dan membunuhnya. Hamzah sangat berduka atas kejadian tersebut. Qaren, anak raja Akko menculik dan memenjarakan Hamzah dan Mokbil. Saudara perempuan Qaren mendapat wahyu untuk membebaskan mereka. Hamzah dibebaskan dan Qaren dibunuh. Hamzah pun menikah dengan saudara perempuan Qaren. Alju-Syeh Gezi, Qimas, dan Keyus datang menyerang tentara Hamzah. Ketiganya dikalahkan dan masuk Islam. Hamzah juga jatuh cinta pada dan kawin dengan putri Gil-Sowar. Seorang putri Cina, Urnekir yang cintanya ditolak Hamzah menjadi cemburu dan berniat membunuh Hamzah dan istri barunya. Rencana itu gagal dan Urnekir terbunuh oleh putri Gil-Sowar. Nusyirwan berduka karena kekasihnya, Urnekir, meninggal. Ia menyamar sebagai pedagang dan mengembara ke Negeri Cina. Dalam perjalanan ia dirampok. Nusyirwan bekerja sebagai penjaga api untuk mendapatkan makanan. Permaisuri menulis surat kepada Hamzah untuk mencari Nusyirwan. Sebagai rasa terima kasih, Hamzah dikawinkan dengan putri Nusyirwan. Bekhtek merasa iri dan berniat jahat kepada Hamzah.</div><div>            Raja Malek dan Raja Erdebil, Cup Gurden, termakan hasutan Malek dan mengerahkan tentaranya untuk melawan Hamzah. Keduanya dapat dikalahkan dan masuk Islam. Putri Gil-Sowar telah melahirkan seorang anak yang tidak ingin dipelihara oleh Hamzah. Anak itu, Badi ul-Zaman dihanyutkan ke sungai dan dipelihara oleh Putri Asman di Bukit Qaf. Setelah dewasa, Badi pergi mencari ayahnya dan diterima. Amir sangat marah kepada Bekhtek yang menjdai biang keladi dari banyaknya pembunuhan. Ia menyamar sebagai seorang tukang masak dan membunuh Bekhtek.</div><div>            Gawilingi mengirim Zerduhsht yang membawa pasukan harimau untuk menyerang tentara Hamzah. Pasukan harimau itu dihancurkan oleh Herum dan Amir. Gawilingi berhasil ditaklukkan Hamzah dan bertaubat. Zerduhsht terbakar dan mati di dalam kamarnya. Hamzah menemui Nabi Muhammad dan belajar agama Islam. Hamzah pun menjalankan segala perintahnya. Muhammad mendapat kabar bahwa orang kafir sedang menghimpun kekuatan untuk melawannya. Akhirnya terjadilah peperangan. Gawilingi dibunuh oleh Pur Hindi. Hamzah marah dan membunuh Pur Hindi.</div><div>            Ibu Pur Hindi mengumpulkan tentara dari Rum, Syam, Habsyi, dan Zengebar untuk menyerang tentara Hamzah. Harmuz juga membawa bala tentaranya yang begitu banyak untuk mengepung Mekah dan sampai di Bukit Uhud. Tentara Nabi Muhammad diporak-porandakan oleh tentara musuh. Satu pahlwan Islam gugur, Lendehur, Sa’d ibn Omar, dan Amir Ibn Ma’di Karib. Kaki Ali kena panah dan gigi Nabi Muhammad pecah dua. Hamzah marah dan segera menyerang tentara musuh. Ia mengejar Hurmuz dan membunuhnya.</div><div>Hamzah mulai tidak tenang karena kasut kaki kudanya lepas. Ia teringat ramalan Buzur yang mengatakan bahwa ia akan mati jika kasut kaki kudanya lepas. Ibu Pur Hindi yang sudah lama mengintainya memotong kaki kuda Hamzah hingga Hamzah terjatuh dan kemudian Hamzah dibunuh. Ibu Pur Hindi teringat bahwa Hamzah memiliki seorang anak yang mungkin akan membalas dendam. Ia kemudian meminta maaf kepada Nabi Muhammad. Nabi pun memaafkannya.</div><div>            Asman dan Quraisy datang dengan seribu peri dari Mekah dan meminta agar ibu Pur Hindi diserahkan kepada mereka. Pada waktu itu surat al-Jin diwahyukan. Nabi Muhammad menerangkan kepada putri Hamzah, jika Hamzah tidak meninggal, ia tidak dapat mencapai syahadat dan tinggal di surga. Nabi menyuruhnya memandang ke langit dan tampaklah Hamzah sedang duduk di surga dan sangat dimuliakan Allah. Asman dan Quraisy pun memuji Allah.</div><div><br></div><div><strong>“HIKAYAT AMIR HAMZAH”</strong></div><div><strong>Unsur Intrinsik Hikayat Amir Hamzah<br>Tema</strong></div><div>“Hikayat Amir Hamzah” merupakan salah satu naskah yang bernuansa Islam, yaitu berisi tentang cerita kepahlawanan Amir Hamzah yang sering berperang membela agama Islam. Amir Hamzah adalah seorang pahlawan Islamyang sangat ditakuti oleh kaumkafir Quraisy dan sangat populer di kalangan umat Islam</div><div><br></div><div><strong>Tokoh-tokoh</strong></div><div>a.       Kobad Syahriar</div><div>b.      Khawajeh Alqasy</div><div>c.       Bakhti Jamal</div><div>d.      Buzur Jamir</div><div>e.       Amir Hamzah</div><div>f.       Mihrnigar</div><div>g.      Nusyirwan</div><div><br></div><div><strong>Nilai-nilai</strong></div><div>Nilai persahabatan       : Khawajeh dan Bakhti bersahabat</div><div>Nilai kemanusiaaan     : a. Khawajeh membantu janda Bakhti Jamal</div><div>                                      b. Amir Hamzah menolong orang-orang</div><div>Nilai keagamaan          : Hamzah membantu menyelamatkan upeti Mekah</div><div><br></div><div><strong>Sinopsis Hikayat Amir Hamzah</strong></div><div><br></div><div>Dalam Hikayat ini dikisahkan Seorang yang gagah berani bernama Amir Hamzah, beliau diminta oleh Syah Persia untuk menghukum Landahur yang telahmerampas Serandib. Pada awalnya Landahur menulis surat tentang rencanapenangkapan Landahur yang dikirimkan ke Landahur . Surat itu dikirimkan oleh Umar Umaiyah. Pada saat Umar Umaiyah telah sampai di istana Landahur, ia memberikan surat itu dan dengan sedikit tipuan ia mencuri mahkota Landahur. Landahur sangat marah ketika Umar Umaiyah mencuri mahkotanya, Landahur melempar cakmarnya tetapi cakmar itu ditangkap oleh Umar Umaiyah lalu dibawa kabur. Saat Landahur mengejar Umar Umaiyah ia malah bertemu dengan Amir Hamzah dan Umar Umaiyah. Ketika Landahur mengetahui bahwa Amir Hamzah adalah orang yang ingin menangkapnya ia pun mengajak Amir Hamzah untuk bertarung dan Landahur kalah dalam pertarungan itu. Tetapi Landahur mengelak dan beralasan ia kalah karena tidak ada yang menyaksikan mereka bertarung.</div><div>Landahur pun mengajak bertanding ulang pada keesokan harinya di istanaLandahur dengan disaksikan orang banyak. Karena hari itu Landahur kalah, maka iamenjamu Amir Hamzah di istananya. Sayangnya pada saat di istana ketikaLandahur sedang menjamu Amir Hamzah ia minum terlalu banyak yang membuat iamenjadi sangat mabuk dan akhirnya Amir Hamzah dan Umar Umaiyah pun kembalitanpa diketahui oleh siapapun. Ketika ia sampai di tempat asalnya Umar Umaiyahmenceritakan semuanya kepada lasykar Arab dan Persia, dan mereka pun bersukacita mendengarnya.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336018486/849e8ffc361a77d9606497c0f17cc55a/images__1_.jpeg" />
         <pubDate>2018-11-22 02:00:17 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306887354</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Eveline.M.S.P</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306887388</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Hikayat Si Miskin</strong></div><div>Ada seorang suami istri yang dikutuk hidup miskin. Pada suatu hari mereka mendapatkan anak yang diberi nama Marakarma, dan sejak anak itu lahir hidup mereka pun menjadi sejahtera dan berkecukupan. Ayahnya termakan perkataan para ahli nujum yang mengatakan bahwa anak itu membawa sial dan mereka harus membuangnya.Setelah membuangnya, mereka kembali hidup sengsara. Dalam masa pembuangan, Marakrama belajar ilmu kesaktian dan pada suatu hari ia dituduh mencuri dan dibuang ke laut. Ia terdampar di tepi pantai tempat tinggal raksasa pemakan segala. Ia pun ditemukan oleh Putri Cahaya dan diselamatkannya.</div><div>Mereka pun kabur dan membunuh raksasa tersebut. Nahkoda kapal berniat jahat untuk membuang Marakarma ke laut, dan seekor ikan membawanya ke Negeri Pelinggam Cahaya, di mana kapal itu singgah.</div><div>Marakrama tinggal bersama Nenek Kebayan dan ia pun mengetahui bahwa Putri Mayang adalah adik kandungnya. Lalu Marakarma kembali ke Negeri Puspa Sari dan ibunya menjadi pemungut kayu. Lalu ia memohon kepada dewa untuk mengembalikan keadaan Puspa Sari. Puspa Sari pun makmur mengakibatkan Maharaja Indra Dewa dengki dan menyerang Puspa Sari. Kemudian Marakrama menjadi Sultan Mercu Negara.</div><div> </div><div><strong>Unsur Intrinsik dalam hikayat Si Miskin</strong></div><div>#Tema            :Kunci kesuksesan adalah kesabaran. Perjalanan hidup seseorang yang mengalami banyak rintangan dan cobaan.</div><div>#Alur               :Menggunakan alur maju, karena penulis menceritakan peristiwa tersebut dari awal permasalahan sampai akhir permasalahan.</div><div>#Setting/ Latar :</div><div>-Setting Tempat : Negeri Antah Berantah, hutan, pasar, Negeri Puspa Sari, Lautan, Tepi Pantai Pulau Raksasa, Kapal, Negeri Palinggam Cahaya.</div><div>-Setting Suasana : tegang, mencekam dan Ketakutan, bahagia, menyedihkan,</div><div>#Sudut Pandang Pengarang : orang ketiga serba tahu.</div><div>#Amanat :</div><div>– Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang adil dan pemurah.</div><div>– Janganlah mudah terpengaruh dengan kata-kata oranlain.</div><div>– Hadapilah semua rintangan dan cobaan dalam hidup dengan sabar dan  rendah hati.</div><div>– Jangan memandang seseorang dari tampak luarnya saja, tapi lihatlah ke dalam hatinya.</div><div>– Hendaknya kita dapat menolong sesama yang mengalami kesukaran.</div><div>– Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.</div><div>– Hidup dan kematian, bahagia dan kesedihan, semua berada di tanan Tuhan, manusia hanya dapat menjalani takdir yang telah ditentukan.</div><div> </div><div><strong>Unsur Ekstrinsik dalam Hikayat Si Miskin</strong></div><div>1. Nilai Moral</div><div>–         Kita harus bersikap bijaksana dalam menghadapi segala hal di dalam hidup kita.</div><div>–         Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain.</div><div>2. Nilai Budaya</div><div>–         Sebagai seorang anak kita harus menghormati orangtua.</div><div>–         Hendaknya seorang anak dapat berbakti pada orang tua.</div><div>3. Nilai Sosial</div><div>–         Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>–         Hendaknya kita mau berbagi untuk meringankan beban orang lain.</div><div>4. Nilai Religius</div><div>–         Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.</div><div>–         Percayalah pada Tuhan bahwa Dialah yang menentukan nasib manusia.</div><div>5. Nilai Pendidikan</div><div>–         Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>–         Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:00:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306887388</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Andi Indra Putra H.Amrullah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306887692</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>02. HIKAYAT AMIR</strong></div><div> </div><div>Dahulu kala di Sumatra, hiduplah seorang saudagar yang bernama Syah Alam. Syah Alam mempunyai seorang anak bernama Amir. Amir tidak uangnya dengan baik. Setiap hari dia membelanjakan uang yang diberi ayahnya. Karena sayangnya pada Amir, Syah Alam tidak pernah memarahinya. Syah Alam hanya bisa mengelus dada.</div><div>Lama-kelamaan Syah Alam jatuh sakit. Semakin hari sakitnya semakin parah. Banyak uang yang dikeluarkan untuk pengobatan, tetapi tidak kunjung sembuh. Akhirnya mereka jatuh miskin.</div><div>Penyakit Syah Alam semakin parah. Sebelum meninggal, Syah Alam berkata”Amir, Ayah tidak bisa memberikan apa-apa lagi padamu. Engkau harus bisa membangun usaha lagi seperti Ayah dulu. Jangan kau gunakan waktumu sia-sia. Bekerjalah yang giat, pergi dari rumah.Usahakan engkau terlihat oleh bulan, jangan terlihat oleh matahari.”</div><div>”Ya, Ayah. Aku akan turuti nasihatmu.”                                      </div><div>Sesaat setelah Syah Amir meninggal, ibu Amir juga sakit parah dan akhirnya meninggal. Sejak itu Amir bertekad untuk mencari pekerjaan. Ia teringat nasihat ayahnya agar tidak terlihat matahari, tetapi terlihat bulan. Oleh sebab itu, kemana-mana ia selalu memakai payung.</div><div>Pada suatu hari, Amir bertmu dengan Nasrudin, seorang menteri yang pandai. Nasarudin sangat heran dengan pemuda yang selalu memakai payung itu. Nasarudin bertanya kenapa dia berbuat demikian.</div><div>Amir bercerita alasannya berbuat demikian. Nasarudin tertawa. Nasarudin berujar, ” Begini, ya., Amir. Bukan begitu maksud pesan ayahmu dulu. Akan tetapi, pergilah sebelum matahari terbit dan pulanglah sebelum malam. Jadi, tidak mengapa engkau terkena sinar matahari. ”</div><div>Setelah memberi nasihat, Nasarudin pun memberi pijaman uang kepada Amir. Amir disuruhnya berdagang sebagaimana dilakukan ayahnya dulu.</div><div>                                                                                                                                 3</div><div>Amir lalu berjualan makanan dan minuman. Ia berjualan siang dan malam.Pada siang hari, Amir menjajakan makanan, seperti nasi kapau, lemang, dan es limau. Malam harinya ia berjualan martabak, sekoteng, dan nasi goreng. Lama-kelamaan usaha Amir semakin maju. Sejak it, Amir menjadi saudagar kaya.<br><br>Hikayat Si Miskin adalah cerita daerah yang berkisah tetang perjalanan hidup Si Miskin dan anak-anaknya.<br><br>Gagasan-gagasan pokok dalam teks Hikayat si Miskin adalah:<br><br>1. Seorang raja di Keindraan dibuang dan dikutuk menjadi miskin oleh dewa Batara Indera, dia kemudian dikenal senagai Si Miskin<br><br>2. Si Miskin dan istrinya pergi ke Negara Antah Berantah dimana mereka diusir-usir karena pakaianya yang compang-camping dan terpaksa tinggal di hutan.<br><br>3. Istri Si Miskin hamil dan mengidam mangga dari kebun raja Negeri Antah Berantah. Di Miskin pun berupaya mengambilnya.<br><br>4. Setelah melahirkan, anaknya adalah laki-laki dan diberi nama Marakarmah (anak yang lahir dalam kesulitan)<br><br>5. Si Miskin dan keluarganya tiba-tiba menjadi kaya setelah menemukan tajau berisi emas.<br><br>6. Dengan kekayaan ini Si Miskin mendirikan Kerajaan Puspa Sari dan menamakan dirinya Maharaja Indera Angkasa dan isterinya bernama Tuan Puteri Ratna Dewi. Ia kemudian memiliki anak kedua yang bernama Nila Kesuma.<br><br>7. Karena kekayaannya kerajaan ini mengundang iri kerajaan Antah Berantah. Rajanya kemudian mengatur agar ahli nujum berbohong terhadap ramalannya dan mengatakan bahwa kedua anak itu akan membawa bencana.<br><br>8. Akhirnya Marakarmah dan Nila Utama diusir akibat ramalan palsu itu.<br><br>9. Di pengasingan Marakarmah dituduh mencuri dan dibuang ke laut. Sementara Nila Utama bertemu dan menikah dengan Putera Mahkota kerajaan Palinggam Cahaya.<br><br>10. Sementara Marakarmah akirnya mendarat dan bertemu dengan Cahaya Chairani yang ditawan para raksasa. Mereka berhasil melarikan diri dan menumpang kapal. Namun nahkoda kapal tertarik dengan Cahaya Chairani dan membuang Marakarmah kel laut lagi sehingga dia dimakan ikan.<br><br>11. Marakarmah berhasil keluar dari perut ikan dan bekerja pada Nenek Kebayan yang menjual bunga dan bisa bertemu kembali dengan Cahaya Chairani.<br><br>12. Marakarmah kemudian bertemu lagi dengan adiknya Nila Kusema.<br><br>13. Marakarmah kemudian kembali ke orang tuanya yang lagi-lagi menjadi Si Miskin dan membantu membangun kembali kerajaannya.<br><br>14. Akhirnya, Marakarmah pergi negara mertuanya dan memggantikan mertuanya debagai raja.<br><br>Unsur intrinsik<br><br>1. Tema<br><br>Tema kutipan Hikayat Si Miskin yaitu nasib dua bersaudara karena miskin atau penderitaan orang miskin ketika mengatasi kebutuhan hidup. Atau, orang miskin selalu menderita dalam mengatasi kesulitan hidup.<br><br>Bukti:<br><br>“Diamlah adinda jangan menangis, karena kita orang ceaka, di manakah kita boleh mendapat susu, lagi kita orang sudah dibuangkan orang.”<br><br>2. Tokoh dan penokohan<br><br>Tokoh dalam hikayat yaitu Mara Karmah, Puteri Nila Kesuma, dan pemilik kebun.<br><br>Penokohan:<br><br>a. Mara Karmah bersifat penyayang, tekun, dan pemberani<br><br>Bukti:<br><br>1) Maka diberinyalah kepada adiknya ketupat itu sebelah, maka dimakannyalah. Dan barang di mana Ia bertemu dengan air, maka dimandikannyalah akan saudaranya.<br><br>2) Di sanalah ia banyak beroleh kesaktian, diberi oleh segala anak raja-raja itu<br><br>3) ”Tiada aku lari, karena aku tiada berdosa kepadamu<br><br>b. Puteri Nila Kesuma bersifat cengeng<br><br>Bukti:<br><br>1) . . . maka tuan Puteri Nila Kesuma itu pun menangis hendak minum susu.<br><br>2) Setelah habis ketupat itu, maka tuan Puteri Nila Kesuma itu pun menangis pula hendak makan.<br><br>c. Pemilik kebun bersifat ceroboh dan pemarah.<br><br>Bukti:<br><br>Maka ditamparinyalah dan digocohnya akan Mara Karmah itu seraya berkata, “Bohonglah engkau ini!”.<br><br>3. Latar<br><br>Latar tempat<br>Peristiwa penggalan hikayat terjadi di tempat-tempat yang dilalui Mara Karmah selama perjalanan (gunung, padang luas, tasik, dusun).<br><br>Bukti:<br><br>1) Syahdan berapa Iamanya, ia berjalan itu, maka beberapa bertemu dengan gunung yang tinggi-tinggi dan padang-padang yang luas-luas, dan tasik yang berombak seperti laut<br><br>2) Maka ia pun berjalanlah berkeliling pagarnya itu menanti orang yang empunya kebun itu.<br><br>Latar waktu<br>Peristiwa dalam kutipan hikayat terjadi pada keseluruhan waktu (pagi, siang, sore, malam) dan tidak dijelaskan secara mendetail.<br><br>Bukti:<br><br>Mara Karmah pun berjalan menuju bunyi ayam berkokok itu.<br><br>Latar sosial<br>Latar sosial menjelaskan keadaan tokoh yang memprihatinkan karena penderitaan yang dialami.<br><br>Bukti:<br><br>a) Maka dilihatnya tubuh Mara Karmah itu habis bengkak-bengkak dan berlumur darah, dan tiada bergerak lagi.<br><br>b) .. . maka diikatnyalah dengan tali dan bahunya sampai kepada kakinya<br><br>4. Sudut pandang<br><br>Sudut pandang kutipan hikayat tersebut yaitu sudut pandang persona ketiga “dia” karena pengarang adalah seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh cerita dengan menyebutkan nama atau kata ganti ia, dia, dan mereka.<br><br>Bukti:<br><br>Mara Karmah pun melompat, lalu disambarnya burung itu, dapat ditangkapnya, lalu diberikan kepada saudaranya.<br><br>5. Alur<br><br>Kutipan hikayat beralur maju. Kutipan hikayat menceritakan awal penderitaan Mara Karmah. Kemudian, cerita perjalanan Mara Karmah dengan berbagai pengalaman. Terakhir, peristiwa pemilik kebun menyakiti Mara Karmah karena dituduh mencuri.<br><br>6. Amanat<br><br>Amanat yang terdapat dalam kutipan hikayat sebagai berikut.<br><br>Janganlah menuduh orang dan menganiaya orang sebelum tahu persoalannya.<br>Tetaplah jujur dan berlaku baik meskipun dalam keadaan tidak punya dan menderita.<br>Berkasih sayanglah dengan saudara.<br>C. Unsur Ekstrinsik dalam Kutipan Hikayat Si Miskin<br><br>Unsur ekstrinsik<br><br>1. Kasih sayang terhadap saudara harus tercipta dalam suasana apa pun.<br><br>2. Menuduh orang dan menganiaya tanpa bukti yang jelas sangat menyakitkan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:02:23 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306887692</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nur alifya putri.s</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306888167</link>
         <description><![CDATA[<div><br>HIKAYAT  KALILA DAN DAMINA</div><div><br></div><div>A.    SINOPSIS “ HIKAYAT KALILA DAN DINA”</div><div><br></div><div>Ada seekor lembu benama Sjatrabah yang mengikuti tuannya membawa barang  dagangan untuk berniaga, saat  sampai di sebuah hutan, Sjatrabah terperosok kesebuah lubang lumpur. Tuannya mencoba untuk membantunya, tapi ia gagal. Tuannya pun meninggalkan Sjatrabah dengan seorang hambanya, hambanya itu juga berusaha mengeluarkannya dari lubang tersebut, tapi ia juga gagal seperti tuannya tadi. Hamba tadi juga mengikuti tuannya  meninggalkan Sjatrabah. Akhirnya Sjatrabah sendiri yang berusaha mengeluarkan dirinya sendiri  dari lubang  lumpur tersebut,  dengan berbagai cara yang dilaluinya akhirnya ia bisa mengeluarkan dirinya sendiri dari lubang lumpur tersebut.</div><div> Sjatrabah bingung, karena ia tidak  tahu bagaimana cara menemukan  tuannya yang meninggalkannya tadi. Karena hari sudah mulai gelap, ia memutuskan untuk sementara  menetap dihutan tadi. Ia memilih untuk lebih masuk kedalam hutan tadi dan  memakan  rerumputan yang ada di sana. Suara remasan rumput dimulutnya itu terdengar hingga ke telinga Raja Singa,  Raja Singa pun khawatir  mendengar  suara tersebut,  karena  di hutan itu juga banyak  hewan buas.  Diantaranya adalah Kalila dan Damina yakni  dua serigala yang bijak, pandai dan bertugas mencari makan untuk  Raja Singa,  namun akhir - akhir  ini Kalila menjadi  jengkel  karena Raja Singa jarang  mengunjungi  rakyatnya,  Kalila pun menceritakan  hal  itu  kepada  sahabatnya Damina.</div><div>Setelah mendengar cerita tersebut Damina menghadap ke Raja Singa dan menjelaskan perihal masalah tersebut, Damina memberi sebuah solusi. Setelah beberapa lama, datanglah Damina  bersama Sjatrabah, Sjatrabah pun menceritakan apa saja yang terjadi, ia pun diperbolehkan Raja Singa untuk  tinggal menjadi rakyat. Raja Singa sudah  mulai  percaya  terhadap Sjatrabah, karena ia mulia, baik dan ikhlas  dalam berkawan. Ternyata kedekatan Sjatrabah  dengan Raja Singa tidak segani oleh Damina. Damina merasa posisi sudah diambil alih oleh Sjatrabah. Damina sudah mempersiapkan rencana  untuk menghancurkan Sjatrabah, ia menyebarkan fitnah untuk Sjatrabah.</div><div> Akhirnya Raja Singa percaya  dan menyuruh Sjatrabah untuk dibunuh, sebenarnya dalam hati, Raja Singa sangat berduka atas  kematian sahabatnya itu. Kejahatan tidak akan selamanya tertutupi, ternyata  fitnah yang dilakukan Damina mulai diketahui oleh Ibu Raja Singa. Lalu, beliau menemui Raja Singa dan mengatakan  kepadanya bahwa kematian  Sjatrabah   karena fitnahan dari Damina. Mendengar hal itu Raja Singa pun memerintahkan para ajudannya untuk menangkap Damina dan memenjarakannya. Kalila, sahabat Damina sangat rindu kepadanya, sampai terlalu lama menuggunya ia hingga mati. Akhirnya, Damina  dijatuhi hukuman mati. Ia menerimanya  karena ia sudah tidak sanggup lagi  sebas sudah kehilangan sahbatnya Kalila.</div><div><br></div><div>B.     UNSUR INTRINSIK “ HIKAYAT KALILA DAN DAMINA”</div><div>·          Tema        : Kesyirikan</div><div>·         Latar          :</div><div> 1. Tempat             : Hutan, Kerajaan,</div><div> 2. Waktu              : Jaman dahulu, Malam hari</div><div> 3. Suasana            : Menegangkan,   </div><div>·         Alur           : Maju</div><div>·         Tahap Alur            :</div><div>1.      Perkenalan                               : Paragraf 1  dan Paragraf 2 kalimat 1 dan 2</div><div>2.      Pemunculan Masalah              : Paragraf  2  kalimat 3  sampai terakhir</div><div>3.      Klimaks                                   : Paragraf 3</div><div>4.      Ketegangan menurun              : Paragraf 4</div><div>5.      Penyelesaian                            : Paragraf 4 kalimat terakhir</div><div>·         Bahasa       : Dominan bahasa Indonesia dan ada sebagian bahasa klise ( bahasa melayu)</div><div>·         Tokoh dan Perwatakan     :</div><div>1.      Perkembangan Tokohnya        :</div><div>a)      Statis               : Kalila, Ibu Raja Singa, Tuan Sjatrabah, Hamba Tuan  dari Sjatrabah        </div><div>b)      Dinamis           : Damina, Raja Singa</div><div>2.      Peran   :</div><div>a)      Protagonis       : Sjatrabah</div><div>b)      Antagonis        : Damina</div><div>c)      Tritagonis        :  Kalila</div><div>3.      Tokoh dalam Cerita    :</div><div>a)      Tokoh Utama              :  Sjatrabah, Damina, Raja Singa</div><div>b)      Tokoh Bawahan          : Kalila, Ibu Raja Singa, Tuan Sjatrabah, Hamba   Tuan dari Sjatrabah,</div><div>4.      Perwatakan     :</div><div>a)      Fisik    : </div><div>b)      Batin   :</div><div>Damina                                    :  Licik,</div><div>Kalila                                       : Bijak, pandai ,</div><div>Hamba   Tuan dari Sjatrabah  : Apatis</div><div>Ibu Raja Singa                                    : Peduli, Tegas,</div><div>Raja Singa                               : Tegas</div><div>Sjatrabah                                 : mulia, baik dan ikhlas  dalam     berkawan</div><div>Tuan Sjatrabah                        :  Apatis</div><div>·         Sudut Pandang     : Orang ke tiga serba Tahu</div><div>·         Amanat     : Kajahatan (fitnah) tidak akan selamanya tertutupi, karena   kebenaran pasti akan terbukti.     </div><div><br></div><div>C.     UNSUR EKSTRINSIK “ HIKAYAT KALILA DAN DAMINA”</div><div>·         Biografi Pengarang     :</div><div>Baidaba, seorang filsuf India yang hidup pada abad 3 Masehi. Menulis buku Hikayat Kalilah &amp; Dimmah untuk Dabsyalim, Raja India. Karyanya mengandung kisah-kisah alegoris atau kiasan dalam bahasa binatang (fabel) yang dimaksudkan sebagai kritik dan nasihat kepada seorang raja yang lalim. Melalui fabel-fabelnya , Baidaba bermaksud meluruskan berbagai penyimpangan yang dilakukan sang Raja dalam sgenap sepak-terjang politik kekuasaan dan perjalanan hidupnya. Karena kandungan kearifannya sangat berbobot dan dituturkan dalam bahasa yang mudah dipahami, sehingga karyanya mampu bertahan hingga sekarang.</div><div>Dalam hikayat ini disebut bahwa pengarangnya bernama Baidapa. Konon nama ini merupakan sebuah bentuk yang sudah rusak dari nama Sanskerta Widyapati yang bisa diartikan sebagai "Raja Ilmu Pengetahuan". Sedangkan judul hikayat Kalila dan Daminah konon merupakan sebuah bentuk rusak dari Karn</div><div>·         Keadaan    Budaya            :</div><div>Hikayat Kalila dan Daminah adalah sebuah hikayat dalam bahasa Melayu yang merupakan sebuah terjemahan daribahasa Arab. Tetapi karya sastra ini bukanlah sebuah karangan asli dalam bahasa Arab pula, melainkan sebuah terjemahan daribahsa Persia kuna. Karangan dalam bahasa Persia Kuna ini pada gilirannya merupakan terjemahan daribahsa Samsekerta. Dalam bahasa Sanskerta karya sastra ini disebut Panca Tatra.</div><div><br></div><div><br></div><div>D.     NILAI -  NILAI  DALAM “ HIKAYAT KALILA DAN DAMINA”</div><div>·         Nilai Moral                        : Semua bentuk Kejahatan pasti akan musnah jika dilawan dengan kebaikan</div><div>·         Nilai Religius                    : Agama mengajarkan bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, hal itu terbukti dalam hikayat ini.</div><div>·         Nilai Pendidikan               :  Memberikan sebuah pelajaran berharga bahwa sekecil apapun yang kita lakukan   pasti ada balasannya.</div><div>·         Nilai Sosial Budaya          :  Menddidik kita untuk senantiasa  berhati mulia, baik dan  ikhlas  dalam berkawan</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336019517/492e28005dd98ce92ef23adc14b94959/BAA154C8_4B81_43AA_AE1D_E3C6D8A1E5D9.jpeg" />
         <pubDate>2018-11-22 02:05:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306888167</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306888361</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama :IVANIEL KLS:X. MIPA 7 Hikayat Burung Cenderawasih Ide pokok: 1. Sahibul hikayat telah diriwayatkan dalam Kitab Tajul Muluk, mengisahkan seekor burung yang bergelar burung cenderawasih. 2. Adapun asal usulnya bermula dari kayangan. Menurut kebanyakan orang lama yang arif mengatakan ianya berasal dari syurga dan selalu berdamping dengan para wali. 3.Memiliki kepala seperti kuning keemasan. 4.Dengan empat sayap yang tiada taranya. 5.Akan kelihatan sangat jelas sekiranya bersayap penuh adanya 6.Barangsiapa yang melihatnya pastilah terpegun dan takjub akan keindahan dan kepelikan burung cenderawasih. 7.Amatlah jarang sekali orang memiliki burung cenderawasih. 8.Amatlah jarang sekali orang memiliki burung cenderawasih. 9.Telah dinyatakan dalam kitab Tajul Muluk bahawa burung cenderawasih mempunyai pelbagai kelebihan. 10.Mengikut ramai orang yang ditemui memakainya sebagai pelaris menyatakan, bulu burung cenderawasih ini merupakan pelaris yang paling besar. 11.Hanya orang yang memilikinya yang tahu akan kelebihannya ini. Namun yang pasti burung cenderawasih bukannya calang-calang burung. Unsur intrinsik pada Hikayat 1 : 1. Tema : Hikayat Burung Cendrawasih. 2. Seting a. Tempat : Papua di Indonesia . b. Waktu : Siang hari. c.Suasana : Menakjubkan. 3.Alur : Mundur. 4.Penokohan a.Protagonis : Burung Cendrawasih. b.Tritagonis : Para wali. c.Figuran : Kaum Kewrabat Istana. 5.Amanat : Burung Cendrawasih sangat bermanfaat sebagai pelaris. 6.Sudut pandang : Serba tahu. 7.Gaya bahasa : Majas. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336018441/acf5a8ff678444486971218e40fea60b/Screenshot_2018_11_22_09_16_29_599_com_UCMobile_intl.png" />
         <pubDate>2018-11-22 02:06:43 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306888361</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Ide pokok :Unsur-unsur intrinsik Hikayat Sri Rama:Tema: Kesetiaan dan pengorbananbukti: Para patik Sri Rama berani berkorban nyawa demi membantu Sri Rama yang sedang kesulitan mencari Sita Dewi. Mereka bakti akan perintah Sri Rama dengan menunujukkan kesetiaan mereka pada Sri Rama.Alur: Majubukti: Sri Rama mencari Sita Dewi yang dibawa lari oleh Maharaja Rawana. Dia berhasil menemukan petunjuk tentang keberadaan Sita Dewi saat bertemu dengan Jentayu. Namun, Jentayu mati setelah menceritakan tentang pertarungannya melawan Maharaja rawana. Mayat Jentayu dibakar di atas tangan Sri Rama.Penokohan: diceritakan secara dramatik (tidak langsung)Tokoh:Tokoh utama: Sri RamaTokoh tambahan: Laksamana, Sita Dewi, Maharaja Rawana, Jentayu, Dasampani, burung jantan, dan bangau.Setting/latar ceritaLatar waktu: siang haribukti: pada paragraf enam kalimat pertama pada hikayatLatar tempat: di hutan rimba belantarabukti: pada paragraf pertama kalimat keduaLatar suasana: bahagia, mengaharukanbukti: Sri Rama terharu melihat kesetiaan Jentayu atas pengabdiannya menolong Sita Dewi.Sudut pandang: menggunakan orang ketiga sebagai pelaku utamaAmanat: hargailah pengorbanan seseorang yang telah rela mati demi menbantu kita.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306888905</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:09:42 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306888905</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Resinta</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306888985</link>
         <description><![CDATA[<div><strong><br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:10:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306888985</guid>
      </item>
      <item>
         <title>DEDY DARMAWANX.MIPA 7 3 orang sahabat yang selalu berkelana. Mereka adalah Kendi, Buyung, dan Awang. Suatu ketika mereka beristirahat di bawah pohon besar untuk melepas peluh dan penat perjalanan. Keadaan mereka sangat payah, kelapar dan kehausan. Buyng dan Kendi yang tidak menerima keadaan tersebut berkeluh kesah, dengan tamaknya mereka berhayal tentang makanan dan berjaji dengan sombongnya akan menghabiskan seluruh makanan tersebut.  IntrinsikTema             : Balasan atas Perilaku BurukTokoh dan Penokohan   :-  Buyung (Antagonis) : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji, tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka mengeluh-  Kendi (Antagonis)  : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji, tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka mengeluh.-  Awang (Protagonis) : Berprilaku baik, tidak sombong, menepati janji, mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, bersifat baik.-  Pohon tua (Tirtagonis) : Suka berbelas kasih pada semua makhluk, bersifat baik.Latar    (Setting)        :-  Tempat             : Di hutan.-  Waktu         : --  Suasana            : KelaparanAlur (Plot)          : Maju.-  Perkenalan         : Paragraf  1-  Penanjakan         : Paragraf  2 - 7-  Klimaks            : Paragraf  8 - 13-  Puncak klimaks     : Paragraf  14 - 23-  Anti klimaks       : Paragraf  24 - 27Sudut Pandang (POV)   : Orang ketiga diluar cerita/orang ketiga serba tau.Amanat           :       Janganlah membuat janji yang tidak dapat kau tepati apalagi dengan sombongnya kau lontarkan janji tersebut seolah-olah kau dapat menepatinya namun kenyataannya kau tidak dapat menepatinya.Pesan Moral     :    Setiap kata-kata yang terucap harus dapat dikontrol, kita juga tidak di benarkan untuk berkata sombong apalagi berjanji denagn janji yang tidak mungkin dapat kau tepati. Janganlah juga kau menjadi orang yang tamak, karena suatu saat nanti pasti akan ada balasan bagi orang-orang yang memiliki sifat yang buruk.Unsur EkstrinsikNilai Budaya     : Terlihat bahwa dari jaman dulu kita diharuskan dan diajarkan untuk memiliki sifat dan berprilaku baik.Nilai Sosial          : Terlihat pada sikap Awang yang sedang menasehati teman- temannya agar tidak berprilaku tamak dan sombong . Berikut kutipannya : “Janganlah kamu berdua tamak sangat dan bercakap besar pula. Aku pun lapar juga. Bagi aku, kalau ada nasi sepinggan sudah cukup,” bagian terjemahan : “Kalian tidak boleh berlaku tamak dan membual seperti itu. Aku pun juga kelaparan. Bagiku, nasi sepingan pun sudah cukup untuk  mengatasi kelaparanku ini, “Nilai Filsafat            : -Nilai Ekonomi         : -Nilai Politik             : -Kesamaan hikayat lain dengan hikayat “PENGEMBARA YANG LAPAR” :Kisah Pengembara dan Pohon BeringinPada suatu siang yang panas, seorang pengembara sedang berjalan di sebuah padang rumput. Karena sudah cukup jauh berjalan, ia merasa lapar dan haus. Ia melihat sebatang pohon beringin besar di tepi padang rumput dan memutuskan untuk beristirahat sejenak.Sang pengembara pun duduk di bawah pohon beringin yang sangat rindang itu. Ia kemudian membuka bekalnya dan mulai makan.Setelah makan dan minum, ia merasa mengantuk. Ia pun merebahkan tubuhnya dengan akar pohon beringin sebagai bantalnya. Ia memandangi daun pohon beringin yang rindang dan melihat buah-buah beringin yang merah kecil-kecil di sela-sela daun.Pengembara itu tersenyum dan berkata kepada dirinya sendiri, “Aneh sekali, pohon sebesar ini mempunyai buah yang sangat kecil. Pantasnya buahnya paling tidak sebesar kepalan tanganku ini, mungkin bahkan lebih besar lagi.”Hembusan angin semilir dan suara desir daun-daun beringin membuat mata pengembara pun makin berat. Ia pun jatuh tertidur.Pada suatu saat angin kencang bertiup dan buah-buah beringin berjatuhan. Beberapa di antaranya jatuh menimpa tubuh dan wajah sang pengembara. Sebuah bahkan mengenai hidungnya. Terkejut, ia pun terbangun. Ia mengusap-usap hidungnya yang sekarang kotor karena air buah beringin yang pecah.Sadar bahwa hidungnya tadi kejatuhan buah merah kecil itu, ia pun berkata, “Alangkah bodohnya aku. Untunglah buah beringin hanya sebesar ini. Apa jadinya bila buahnya besar?”Sang pengembara memandangi pohon beringin dengan sulur-sulur yang berayun pelan karena hembusan angin. Ia pun bangkit dan melanjutkan perjalanannya.</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306889150</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336026749/720fba1871045fb63fa627821576eac5/2af156ea9fae7d00_1_.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 02:11:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306889150</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Rika anriyani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306889617</link>
         <description><![CDATA[<div>Kelas:X mipa.7<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:14:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306889617</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama:Rika anriyani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306889889</link>
         <description><![CDATA[<div>Kelas:X mipa.7<br>Ide pokok<br><br>Struktur teks keong mas:<br>1. Candra Kirana bertunangan dengan Inu Kertapati<br>2. Galuh ajeng iri dan memfitnah Galuh Candra Kirana<br>3. Candra Kirana diusir dan disihir menjadi keong.<br>4. keong mas dibuang kelaut dan ditemukan janda dadapan<br>5. inu kertapati mencari keong mas<br>6. inu kertapati sampai di rumah janda dadapan dan bertemu keong mas/candra kirana<br>7. inu kertapati dan candra kirana kembali ke istana<br>8. galuh ajeng dihukum dan diusir. candra kirana dan inu kertapati menikah.<br><br> <br> <br>A.<br> <br>UNSUR INTRINSIK DARI CERITA RAKYAT “KEONG MAS”<br> <br><br> <br>TEMA : perjuangan seorang wanita untuk mempertahankan hidupnyayang telah dikutuk menjadi keong mas<br><br> <br>ALUR : ALUR MAJU yaitu : alur yang peristiwanya berurutan mulaidari cerita awal hingga akhir<br><br> <br>LATAR :1.<br> <br>LATAR TEMPAT : Kerajaan daha, Rumah penyihir,sungai,rumahnenek,desa dadapan,tengah hutan2.<br> <br>LATAR WAKTUPagi hari,sore hari dan malam hari3.<br> <br>LATAR SUASANASedih,bahagia,kekawatiran,ketegangan.<br><br> <br>SUDUT PANDANG : ORANG KETIGA<br> <br>yaitu cerita dikisahkanmenggunakan kata ganti orang ketiga, seperti: mereka dan dia.<br><br> <br>TOKOH : CANDRA KIRANA(KEONG MAS), DEWI GALUH, RADEN INUKERTAPATI(PANGERAN),PENYIHIR,NENEK,BAGINDAKERTAMATRA,KAKEK SAKTI.<br><br> <br>PENOKOHAN/PERWATAKAN:1.<br> <br>CANDRA KIRANA (KEONG MAS) : memiliki watak tabah,baikhati,sabar.2.<br> <br>DEWI GALUH : memiliki watak yang selalu iri,tamak,jahat dandengki.3.<br> <br>RADEN INU KERTAPATI(PANGERAN) : memiliki watakpemberani,penolong,baik hati, dan bijaksana4.<br> <br>PENYIHIR (BURUNG GAGAK) :memiliki watak jahat.5.<br> <br>NENEK : memiliki watak penolong,baikhati,pemurah,pengasih,penyayang.6.<br> <br>BAGINDA KERTAMATRA : baik hati.7.<br> <br>KAKEK SAKTI :memiliki watak cerdik,penolong<br><br> <br>AMANAT : janganlah memiliki sifat iri hati dan dengki kepadaseseorang karena apabila kita memiliki sifat iri hati akan membuatkita kehilangan akal sehat.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:16:58 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306889889</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306890507</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/325772176/9bb5cf4b9be413f4cb469b892bd5df1c/2_ec0b8898dc.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 02:21:45 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306890507</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Reza Trevis</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306890547</link>
         <description><![CDATA[<div>Hikayat Tanjung Lesung<br>Alur/plot         : Alur maju<br>        Bukti : karna dalam cerita ini tidak menceritakan tentang masa lalu.<br><br> <br><br>Tema              : Keras kepala, tidak mau mendengarkan nasehat.Latar/setting  :<br>a.       Latar tempat :<br><br>-Gunung Walang (Bukti : sekarang menjadi kampong Cimahpar.)<br><br>-Tali Alas (Bukti : Sekarang menjadi pilar.)<br><br>-Pantai Ciwar (Bukti : Raden Budog kemudian melanjutkan perjalanan ke pantai Cawar. Begitu sampai di pantai yang indah itu Raden Budog segera berlari dan terjun ke laut, berenang-renang gembira. Perjalanan yang begitu melelahkan Iitu seolah lenyap oleh segarnya air pantai Cawar.)<br><br>-Legon Waru (Bukti : . Sesampainya di Legon Waru, Raden Budog kembali merasakan kelelahan. )<br><br>-Kali Cah ( Bukti : “Dasar kali banjir!” gerutu Raden Budog tak sabar menunggu banjir surut. Tempat ini sampai sekarang terkenal dengan Kali Caah yang berarti kali banjir.)<br><br>-Gua Meumpeuk ( Bukti : Tidak jauh dari Karang Meumpeuk, tibalah Raden Budog pada sebuah muara sungai yang airnya sangat deras.)<br><br>-Rumah Nyi Sitti ( Bukti : “Maaf, Kisanak. Saya seorang janda dan tinggal dengan anak perempuan saya satu-satunya. Saya tidak berani menerima tamu laki-laki, apalagi sampai menginap,” jawab Nyi Siti dengan tegas dan segera menutup pintu.)<br><br> <br><br>b.  Latar waktu : Pada zaman dahulu<br><br>4. Tokoh dan karakter tokohm :<br><br>a. Raden Budog : Gagah, perkasa, tidak peduli kepada peliharaannya, pantang menyerah, keras kepala.<br><br>b. Kuda dan Anjing : patuh kepada majikannya, rela berkorban,<br><br>c. Nyi Sitti : Tegas, penyayang, baik dan ramah<br><br>d. Sri Poh Haci : baik, cantik, anak Nyi Sitti.<br><br>6. Sudut Pandang          : Orang ketiga sebagai pengamat.<br><br> 7. Amanat :<br><br>-Dengarkanlah nasehat dan larangan orang-otang disekitar kita yang berbuat baik kepada kita.<br>-Jangan menjadi orang yang keras kepala.</div><div><br></div><div><br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:22:04 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306890547</guid>
      </item>
      <item>
         <title>sazkia</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306890738</link>
         <description><![CDATA[<div>Unsur Intrinsik</div><div> </div><div>Tema             : Balasan atas Perilaku Buruk</div><div> </div><div>Tokoh dan Penokohan   :</div><div> </div><div>-  Buyung (Antagonis) : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji,</div><div> tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka</div><div> mengeluh</div><div>-  Kendi (Antagonis)  : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji,</div><div> tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka</div><div> mengeluh.</div><div>-  Awang (Protagonis) : Berprilaku baik, tidak sombong, menepati janji, mensyukuri</div><div> takdir dan pemberian dari tuhan, bersifat baik.</div><div>-  Pohon tua (Tirtagonis) : Suka berbelas kasih pada semua makhluk, bersifat baik.</div><div> </div><div>Latar    (Setting)        :</div><div> </div><div>-  Tempat             : Di hutan.</div><div>-  Waktu         : -</div><div>-  Suasana            : Kelaparan</div><div> </div><div>Alur (Plot)          : Maju.</div><div> </div><div>-  Perkenalan         : Paragraf  1</div><div>-  Penanjakan         : Paragraf  2 - 7</div><div>-  Klimaks            : Paragraf  8 - 13</div><div>-  Puncak klimaks     : Paragraf  14 - 23</div><div>-  Anti klimaks       : Paragraf  24 - 27</div><div> </div><div>Sudut Pandang (POV)   : Orang ketiga diluar cerita/orang ketiga serba tau.</div><div> </div><div>Amanat           :</div><div>  </div><div>    Janganlah membuat janji yang tidak dapat kau tepati apalagi dengan sombongnya kau lontarkan janji tersebut seolah-olah kau dapat menepatinya namun kenyataannya kau tidak dapat menepatinya.</div><div> </div><div>Pesan Moral     :</div><div> </div><div>    Setiap kata-kata yang terucap harus dapat dikontrol, kita juga tidak di benarkan untuk berkata sombong apalagi berjanji denagn janji yang tidak mungkin dapat kau tepati. Janganlah juga kau menjadi orang yang tamak, karena suatu saat nanti pasti akan ada balasan bagi orang-orang yang memiliki sifat yang buruk.</div><div> </div><div>Unsur Ekstrinsik</div><div> </div><div>Nilai Budaya     : Terlihat bahwa dari jaman dulu kita diharuskan dan diajarkan</div><div> untuk memiliki sifat dan berprilaku baik.</div><div>Nilai Sosial          : Terlihat pada sikap Awang yang sedang menasehati teman-</div><div> temannya agar tidak berprilaku tamak dan sombong . Berikut</div><div> kutipannya : “Janganlah kamu berdua tamak sangat dan</div><div> bercakap besar pula. Aku pun lapar juga. Bagi aku, kalau ada</div><div> nasi sepinggan sudah cukup,” bagian terjemahan : “Kalian tidak</div><div> boleh berlaku tamak dan membual seperti itu. Aku pun juga</div><div> kelaparan. Bagiku, nasi sepingan pun sudah cukup untuk</div><div> mengatasi kelaparanku ini, “</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:23:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306890738</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Resinta</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306890776</link>
         <description><![CDATA[<div>Ide pokok<br>- Syahdan hiduplah seorang pemuda yatim piatu pada zaman dahulu kala. Malim Deman namanya<br>- Di sekitar sawah milik ibu Malim Deman itu tinggal seorang janda tua. <br>- Pada suatu malam Malim Deman kembali menjaga tanaman padinya. <br>- Menjelang waktu pagi datang, tujuh bidadari itu berniat kembali ke khayangan. <br>- Sepeninggalan kakak-kakaknya, si bungsu menangis. Dia ketakutan untuk tinggal dibumi Malim Deman lantas mendekati dan menghibur si bidadari bungsu<br>- Malim Deman kembali ke rumahnya setelah mengantarkan bidadari bernama Putri Bungsu ke rumah Mandeh Rabiah.<br>- Sejak saat itu Malim Deman kian rajin berkunjung ke rumah Mandeh Rabiah untuk menemui Putri Bungsu<br>- Putri Bungsu semula sangat berbahagia bersuamikan Malim Deman.<br>- Putri Bungsu menjadi sangat bersedih melihat perangai buruk suaminya<br>- Putri Bungsu menjadi sangat bersedih melihat perangai buruk suaminya<br>-Malim Deman panik dengan terburu-buru dia segera kembali ke rumah untuk menemui istri dan anaknya. Namun terlambat. Sesampainya dirumah, istri dan anaknya sudah tidak ada<br><br>U<strong>nsur instrinsik</strong></div><div><strong>1.</strong> <strong>Tema</strong></div><div>    Tema yang diambil dalam  hikayat “Malim Deman” adalah tentangKehidupan seorang raja.</div><div><strong>2.</strong> <strong>Penokohan</strong></div><div>    Malim Deman : <br>      Bijaksana.</div><div>    Bukti :<br>      “Malim Deman adalah putera raja dari Bandar Muar yang  sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya”</div><div>    Nenek Kebayan :<br>      Penolong.</div><div>    Bukti :<br>      Dengan bantuan nenek kebayan juga, ia berasil mencuri selendang putri bungsu.</div><div>    Putri Bungsu : <br>      Mudah tersinggung atau mudah marah.</div><div>    Bukti :  <br>      “Puteri Bungsu sangat masyghul hatinya”</div><div>    Raja Jin : <br>       Licik.</div><div>    Bukti : <br>      “Raja jin bersedia meminjamkan burung borak kepada   Malin Deman dengan syarat . . .”</div><div>    Malim Dewana :<br>      Penurut.</div><div>   Bukti :<br>      “Maka ia pun terbang kembali kekayangan dengan anaknya Malim Dewana”.</div><div> </div><div><strong>3.</strong> <strong>Latar/Setting</strong></div><div> Latar Tempat :  <em> </em><br><em>     Bandar Muar</em></div><div>     “selang berapa lama, mereka pun kembali ke Bandar Muar”</div><div>                  <em>Rumah  Nenek Kebayan</em></div><div>     “akhirnya, sampailah ia kerumah nenek Kebayan”</div><div>             <em>Kayangan</em></div><div>     “sesampainya di kayangan didapatinya Puteri Bungsu . . .”</div><div> </div><div>Latar Suasana :</div><div>     Suasana Menegangkan :</div><div>     “Malim Deman mengalahkan mambang molek denganmenyambung ayam, maka timbullah  pertikaman <br>     antara keduanya”</div><div>     Suasana Senang:</div><div>     “Sekali lagi Malim Deman sekeluarga pun turun kembali ke dunia semula”</div><div><strong>4.</strong>  <strong>Alur</strong></div><div>    Maju</div><div>- <strong>Ekposisi (Tahap perkenalan):</strong></div><div>   “Malim deman adalah putera raja dari Bandar Muar yang sangat bijaksana, lagi sangat elok rupanya”</div><div>- <strong>Penampilan Permasalahan:ji 7</strong></div><div>   “setelah besar, Malim Deman bermimpi seorang wali Allah menyuruhnya pergi kerumah nenek kebayan <br>   untuk mendapatkan puteri bungsu dari kayangan sebagai istrinya”</div><div>- <strong>Komplikasi (Tahap Permasalah) :</strong></div><div>   “puteri bungsu sangat masyghul hatinya. Kebetulan pula ia menemukan kembali baju kayangan. Maka ia <br>   pun terbang kembali kekayangan dengan anaknya Malin Dewana”</div><div>- <strong>Tahap Klimaks :</strong></div><div>   “sesampainya di kayangan didapatinya Puteri Bungsu akan dikawinkan dengan Mambang Molek. Malim <br>   Deman mengalahkan Mambang dalam menyambung ayam. Maka timbullah pertikaman antara keduanya”</div><div>- <strong>Tahap Ketegangan Menurun:</strong></div><div>   “sekali lagi Malim Deman sekeluarga pun turun ke dunia semula”.</div><div><strong>5.</strong> <strong>Sudut Pandang</strong></div><div>    “Akhirnya, sampailah ia kerumah nenek kebayan “</div><div>    Dari data di atas digambarkan bahwa penulis menggunakan Sudut pandang orang ketiga serba tahu.</div><div><strong>6. Gaya Bahasa</strong></div><div>     Penggunaan bahasanya sulit di mengerti.</div><div>     Menggunakan bahasa melayu kuno.</div><div>     Menggunakan kata penghubung maka dalam awal kalimat, contoh:</div><div>     “Maka berapa lama, mereka pun kembali ke Bandar Muar”.</div><div><strong>7.</strong>  <strong>Amanat</strong></div><div>     Keluarga itu sangat penting dalam  kehidupan  kita, jadi jangan kita sia-siakan keluarga kita tersebut.</div><div>     Saling tolong-menolonglah  terhadap sesama, tetapi jangan tolong-menolong dalam berbuat kejahatan.</div><div>     Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.</div><div><strong> </strong></div><div><strong> Unsur Ekstrinsik</strong> <br>Nilai Pendidikan</div><div>- Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>Nilai Moral</div><div>- Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain. Kita harus bersikap bijaksana dalam <br>   menghadapi segala hal di dalam hidup kita.</div><div>Nilai Budaya</div><div>- Kita harus saling menghormati terhadap sesama.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336019913/1e066f72c851aa17356253bc826bf555/IMG_20181122_102911.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 02:24:03 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306890776</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306891959</link>
         <description><![CDATA[<div>Fathul Mubhin s.<br>X mipa 7<br>HIKAYAT  KALILA DAN DAMINA<br>Ide Pokok<br>1.Ada seekor lembu benama Sjatrabah yang mengikuti tuannya membawa barang  dagangan untuk berniaga, saat  sampai di sebuah hutan, Sjatrabah terperosok kesebuah lubang lumpur.<br>2.Sjatrabah bingung, karena ia tidak  tahu bagaimana cara menemukan  tuannya yang meninggalkannya tadi.<br>3.Setelah mendengar cerita tersebut Damina menghadap ke Raja Singa dan menjelaskan perihal masalah tersebut, Damina memberi sebuah solusi.<br>4.Akhirnya Raja Singa percaya  dan menyuruh Sjatrabah untuk dibunuh, sebenarnya dalam hati, Raja Singa sangat berduka atas  kematian sahabatnya itu.<br>B. UNSUR INTRINSIK “ HIKAYAT KALILA DAN DAMINA”<br>          Tema        : Kesyirikan<br>         Latar          :<br> 1. Tempat             : Hutan, Kerajaan,<br> 2. Waktu              : Jaman dahulu, Malam hari<br> 3. Suasana            : Menegangkan,   <br>         Alur           : Maju<br>         Tahap Alur            :<br>1.      Perkenalan                               : Paragraf 1  dan Paragraf 2 kalimat 1 dan 2<br>2.      Pemunculan Masalah              : Paragraf  2  kalimat 3  sampai terakhir<br>3.      Klimaks                                   : Paragraf 3<br>4.      Ketegangan menurun              : Paragraf 4<br>5.      Penyelesaian                            : Paragraf 4 kalimat terakhir<br>         Bahasa       : Dominan bahasa Indonesia dan ada sebagian bahasa klise ( bahasa melayu)<br>         Tokoh dan Perwatakan     :<br>1.      Perkembangan Tokohnya        :<br>a)      Statis               : Kalila, Ibu Raja Singa, Tuan Sjatrabah, Hamba Tuan  dari Sjatrabah        <br>b)      Dinamis           : Damina, Raja Singa<br>2.      Peran   :<br>a)      Protagonis       : Sjatrabah<br>b)      Antagonis        : Damina<br>c)      Tritagonis        :  Kalila<br>3.      Tokoh dalam Cerita    :<br>a)      Tokoh Utama              :  Sjatrabah, Damina, Raja Singa<br>b)      Tokoh Bawahan          : Kalila, Ibu Raja Singa, Tuan Sjatrabah, Hamba   Tuan dari Sjatrabah,<br>4.      Perwatakan     :<br>a)      Fisik    : <br>b)      Batin   :<br>Damina                                    :  Licik,<br>Kalila                                       : Bijak, pandai ,<br>Hamba   Tuan dari Sjatrabah  : Apatis<br>Ibu Raja Singa                                    : Peduli, Tegas,<br>Raja Singa                               : Tegas<br>Sjatrabah                                 : mulia, baik dan ikhlas  dalam     berkawan<br>Tuan Sjatrabah                        :  Apatis<br>         Sudut Pandang     : Orang ke tiga serba Tahu<br>         Amanat     : Kajahatan (fitnah) tidak akan selamanya tertutupi, karena   kebenaran pasti akan terbukti.     <br> <br>C. UNSUR EKSTRINSIK “ HIKAYAT KALILA DAN DAMINA”<br>         Biografi Pengarang     :<br>Baidaba, seorang filsuf India yang hidup pada abad 3 Masehi. Menulis buku Hikayat Kalilah &amp; Dimmah untuk Dabsyalim, Raja India. Karyanya mengandung kisah-kisah alegoris atau kiasan dalam bahasa binatang (fabel) yang dimaksudkan sebagai kritik dan nasihat kepada seorang raja yang lalim. Melalui fabel-fabelnya , Baidaba bermaksud meluruskan berbagai penyimpangan yang dilakukan sang Raja dalam sgenap sepak-terjang politik kekuasaan dan perjalanan hidupnya. Karena kandungan kearifannya sangat berbobot dan dituturkan dalam bahasa yang mudah dipahami, sehingga karyanya mampu bertahan hingga sekarang.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336024731/27bcf6a95a5073307420d750d2396db1/1543026924591752420341.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 02:33:08 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306891959</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dedy DarmawanX.mipa 7</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306892233</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:34:48 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306892233</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Si pengembara lapar</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306892409</link>
         <description><![CDATA[<div><br><br>Unsur Intrinsik</div><div> </div><div>Tema             : Balasan atas Perilaku Buruk</div><div> </div><div>Tokoh dan Penokohan   :</div><div> </div><div>-  Buyung (Antagonis) : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji,</div><div> tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka</div><div> mengeluh</div><div>-  Kendi (Antagonis)  : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji,</div><div> tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka</div><div> mengeluh.</div><div>-  Awang (Protagonis) : Berprilaku baik, tidak sombong, menepati janji, mensyukuri</div><div> takdir dan pemberian dari tuhan, bersifat baik.</div><div>-  Pohon tua (Tirtagonis) : Suka berbelas kasih pada semua makhluk, bersifat baik.</div><div> </div><div>Latar    (Setting)        :</div><div> </div><div>-  Tempat             : Di hutan.</div><div>-  Waktu         : -</div><div>-  Suasana            : Kelaparan</div><div> </div><div>Alur (Plot)          : Maju.</div><div> </div><div>-  Perkenalan         : Paragraf  1</div><div>-  Penanjakan         : Paragraf  2 - 7</div><div>-  Klimaks            : Paragraf  8 - 13</div><div>-  Puncak klimaks     : Paragraf  14 - 23</div><div>-  Anti klimaks       : Paragraf  24 - 27</div><div> </div><div>Sudut Pandang (POV)   : Orang ketiga diluar cerita/orang ketiga serba tau.</div><div> </div><div>Amanat           :</div><div>  </div><div>    Janganlah membuat janji yang tidak dapat kau tepati apalagi dengan sombongnya kau lontarkan janji tersebut seolah-olah kau dapat menepatinya namun kenyataannya kau tidak dapat menepatinya.</div><div> </div><div>Pesan Moral     :</div><div> </div><div>    Setiap kata-kata yang terucap harus dapat dikontrol, kita juga tidak di benarkan untuk berkata sombong apalagi berjanji denagn janji yang tidak mungkin dapat kau tepati. Janganlah juga kau menjadi orang yang tamak, karena suatu saat nanti pasti akan ada balasan bagi orang-orang yang memiliki sifat yang buruk.</div><div> </div><div>Unsur Ekstrinsik</div><div> </div><div>Nilai Budaya     : Terlihat bahwa dari jaman dulu kita diharuskan dan diajarkan</div><div> untuk memiliki sifat dan berprilaku baik.</div><div>Nilai Sosial          : Terlihat pada sikap Awang yang sedang menasehati teman-</div><div> temannya agar tidak berprilaku tamak dan sombong . Berikut</div><div> kutipannya : “Janganlah kamu berdua tamak sangat dan</div><div> bercakap besar pula. Aku pun lapar juga. Bagi aku, kalau ada</div><div> nasi sepinggan sudah cukup,” bagian terjemahan : “Kalian tidak</div><div> boleh berlaku tamak dan membual seperti itu. Aku pun juga</div><div> kelaparan. Bagiku, nasi sepingan pun sudah cukup untuk</div><div> mengatasi kelaparanku ini, “</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:36:21 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306892409</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306892489</link>
         <description><![CDATA[<div>DEDY DARMAWAN<br>X.MIPA 7<br><br>pada suatu hari kisah tiga orang sahabat, Kendi, Buyung dan Awang yang sedang mengembara,mereka tiba di kawasan hutan tebal, Di kawasan itu mereka tidak bertemu dusun atau kampung. Mereka berhenti dan berehat di bawah sebatang pokok ara yang rendang, Bekalan makanan pula telah habis.<br><strong>Unsur Intrinsik</strong></div><div><br></div><div><strong>Tema             :</strong> Balasan atas Perilaku Buruk</div><div><br></div><div><strong>Tokoh dan Penokohan   :</strong></div><div><br></div><div>-  Buyung (Antagonis) : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji,</div><div> tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka</div><div> mengeluh</div><div>-  Kendi (Antagonis)  : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji,</div><div> tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka</div><div> mengeluh.</div><div>-  Awang (Protagonis) : Berprilaku baik, tidak sombong, menepati janji, mensyukuri</div><div> takdir dan pemberian dari tuhan, bersifat baik.</div><div>-  Pohon tua (Tirtagonis) : Suka berbelas kasih pada semua makhluk, bersifat baik.</div><div><br></div><div><strong>Latar    (Setting)        :</strong></div><div><br></div><div>-  Tempat    <strong>         :</strong> Di hutan.</div><div>-  Waktu         : -</div><div>-  Suasana            : Kelaparan</div><div><br></div><div><strong>Alur (Plot)          :</strong> Maju.</div><div><br></div><div>-  Perkenalan         : Paragraf  1</div><div>-  Penanjakan         : Paragraf  2 - 7</div><div>-  Klimaks            : Paragraf  8 - 13</div><div>-  Puncak klimaks     : Paragraf  14 - 23</div><div>-  Anti klimaks       : Paragraf  24 - 27</div><div><br></div><div><strong>Sudut Pandang (POV)</strong>   : Orang ketiga diluar cerita/orang ketiga serba tau.</div><div><br></div><div><strong>Amanat   </strong>        :</div><div>   </div><div>    Janganlah membuat janji yang tidak dapat kau tepati apalagi dengan sombongnya kau lontarkan janji tersebut seolah-olah kau dapat menepatinya namun kenyataannya kau tidak dapat menepatinya.</div><div><br></div><div><strong>Pesan Moral</strong>     :</div><div><br></div><div>    Setiap kata-kata yang terucap harus dapat dikontrol, kita juga tidak di benarkan untuk berkata sombong apalagi berjanji denagn janji yang tidak mungkin dapat kau tepati. Janganlah juga kau menjadi orang yang tamak, karena suatu saat nanti pasti akan ada balasan bagi orang-orang yang memiliki sifat yang buruk.</div><div><br></div><div><strong>Unsur Ekstrinsik</strong></div><div><br></div><div><strong>Nilai Budaya     : </strong>Terlihat bahwa dari jaman dulu kita diharuskan dan diajarkan</div><div> untuk memiliki sifat dan berprilaku baik.</div><div><strong>Nilai Sosial          : </strong>Terlihat pada sikap Awang yang sedang menasehati teman-</div><div> temannya agar tidak berprilaku tamak dan sombong . Berikut</div><div> kutipannya : “Janganlah kamu berdua tamak sangat dan</div><div> bercakap besar pula. Aku pun lapar juga. Bagi aku, kalau ada</div><div> nasi sepinggan sudah cukup,” bagian terjemahan : “Kalian tidak</div><div> boleh berlaku tamak dan membual seperti itu. Aku pun juga</div><div> kelaparan. Bagiku, nasi sepingan pun sudah cukup untuk </div><div> mengatasi kelaparanku ini, “</div><div><strong>Nilai Filsafat            : -</strong></div><div><strong>Nilai Ekonomi         : -</strong></div><div><strong>Nilai Politik             : -</strong></div><div><br></div><div><br></div><div><strong>Kesamaan hikayat lain dengan hikayat “PENGEMBARA YANG LAPAR” :</strong></div><div><br></div><div><strong>Kisah Pengembara dan Pohon Beringin</strong></div><div><br></div><div>Pada suatu siang yang panas, seorang pengembara sedang berjalan di sebuah padang rumput. Karena sudah cukup jauh berjalan, ia merasa lapar dan haus. Ia melihat sebatang pohon beringin besar di tepi padang rumput dan memutuskan untuk beristirahat sejenak.</div><div><br></div><div>Sang pengembara pun duduk di bawah pohon beringin yang sangat rindang itu. Ia kemudian membuka bekalnya dan mulai makan.</div><div><br></div><div>Setelah makan dan minum, ia merasa mengantuk. Ia pun merebahkan tubuhnya dengan akar pohon beringin sebagai bantalnya. Ia memandangi daun pohon beringin yang rindang dan melihat buah-buah beringin yang merah kecil-kecil di sela-sela daun.</div><div><br></div><div>Pengembara itu tersenyum dan berkata kepada dirinya sendiri, “Aneh sekali, pohon sebesar ini mempunyai buah yang sangat kecil. Pantasnya buahnya paling tidak sebesar kepalan tanganku ini, mungkin bahkan lebih besar lagi.”</div><div><br></div><div>Hembusan angin semilir dan suara desir daun-daun beringin membuat mata pengembara pun makin berat. Ia pun jatuh tertidur.</div><div><br></div><div>Pada suatu saat angin kencang bertiup dan buah-buah beringin berjatuhan. Beberapa di antaranya jatuh menimpa tubuh dan wajah sang pengembara. Sebuah bahkan mengenai hidungnya. Terkejut, ia pun terbangun. Ia mengusap-usap hidungnya yang sekarang kotor karena air buah beringin yang pecah.</div><div><br></div><div>Sadar bahwa hidungnya tadi kejatuhan buah merah kecil itu, ia pun berkata, “Alangkah bodohnya aku. Untunglah buah beringin hanya sebesar ini. Apa jadinya bila buahnya besar?”</div><div><br></div><div>Sang pengembara memandangi pohon beringin dengan sulur-sulur yang berayun pelan karena hembusan angin. Ia pun bangkit dan melanjutkan perjalanannya.</div><div><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336026749/ef6f24fd60740f1c67344d376eeaa672/Screenshot_20181122_104937.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 02:36:54 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306892489</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisa Latumahina</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306892708</link>
         <description><![CDATA[<div>HIKAYAT PATANI <br><br>- Sebuah kisah di sebuah kerajaan bernama kerajaan Maligai yang dipimpin oleh seorang raja bernama Paya Tu Kerub Mahajana. Sang raja memiliki seorang  putra bernama Paya Tu Antara. Suatu hari sang raja meninggal dan  posisinya digantikan oleh anaknya, Paya Tu Antara yang menamai dirinya Paya Tu Naqpa.<br><br>- Paya Tu Naqpa merupakan seorang raja yang gemar berburu. Suatu hari ia mendengar kabar bahwa daerah di tepi laut memiliki banyak binatang untuk diburu. <br><br>- Sang raja memiliki sebuah rencana untuk memindahkan negerinya ke tempat yang dihuni oleh rusa putih gemilang, untuk mewujudkan rencana ini maka pada malam harinya sang raja mengumpulkan semua menteri hulubalangnya untuk diajak berdiskusi mengenai rencana pemindahan negeri maligai ke tempat yang dihuni oleh rusa putih. <br><br>- Pada suatu ketika, tiba-tiba sang raja jatuh sakit dan tidak ada satu tabib pun yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Akhirnya, karena putus asa yang berkepanjangan, sang raja memerintahkan kepada semua hulubalangnya untuk mengumumkan sayembara mengenai bagi siapa saja yang mampu menyembuhkan penyakit raja, maka akan diangkat sebagai menantu. Namun, sampai sayambara ini diumumkan belum ada satu pun orang yang berhasil menyembuhkan penyakit raja.<br><br>- Hingga pada akhirnya, sayembara ini diumumkan ke sebuah kampong bernama kampong pasai. Di kampong pasai terdapat seorang pasai bernama Syaikh Sa’id yang bisa menyembuhkan penyakit sang raja namun dengan syarat raja Payu tu naqpa harus memeluk agama islam.<br><br>- Sesampainya di Istana, raja Payu Tu naqpa bersedia menerima syarat yang diajukan oleh Syaikh Sa’id untuk memeluk agama islam.  Dan hanya dalam waktu tujuh hari, Syaikh Sa’id berhasi menyembuhkan penyakit raja. Namun ternyata setelah sembuh, raja Payu Tu naqpa mengingkari janjinya untuk memeluk agama islam.<br><br>- Setelah dua tahun berlalu, ternyata penyakit yang diderita sang raja datang lagi. Mengetahui hal ini, sang raja meminta Syekh Sa’id untuk kembali mengobatinya, dan kali ini pun ia berjanji akan menepati janjinya untuk masuk islam. Namun, sang raja kembali mengingkari janjinya untuk memeluk agama islam.<br><br>- Setahun kemudian, penyakit yang diderita sang raja kembali lagi dan kali ini penyakitnya lebih parah dari sebelumnya. Sang raja pun kembali memanggil Syekh Sa’id untuk mengobatiya. Tetapi kali ini, Syekh Sa’id ingin sang raja untuk benar-benar menepati janjinya dan tidak ingkar lagi. Mengetahui hal ini, raja Payu Tu naqpa kembali berjanji untuk memeluk agama islam dan tidak mengingkari janjinya lagi. <br><br>- Setelah itu, Raja Payu Tu naqpa kembali memanggil Syekh Sa’id untuk mengajarkannya cara untuk masuk Islam.<br><br>- Tidak lama setelah itu, banyak penduduk Maligai yang masuk Islam. Mereka mendirikan shalat dan tidak makan babi lagi. Walaupun begitu, sang raja tetap melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan Islam.<br><br>- Unsur Intrinsik:<br><br>Tema        : Penyebaran agama<br><br>(Dimulai ketika baginda raja di negeri tersebut terkena penyakit parah yagn tidak bisa disembuhkan para dukun dan tabib di sana. Hingga akhirnya seorang Syekh bernama Sa’id mampu menyembuhkan dia dengan syarat sang raja harus masuk Islam)<br><br>Alur         : Maju<br><br>(Cerita yang dimulai dari awal mula hingga akhir ditandai dengan kata-kata yang bermakna kemudian, lalu, sesudah itu, akhirnya, dan lain-lain)<br><br>Tokoh  : 1. Paya Tu Antara/Paya Tu Naqpa: Gemar memburu, orang yang ingkar, patuh hanya pada       saat terdesak, raja yang baik.<br><br>(Saat ia pergi berburu ke daerah tepi laut, berjanji hingga dua kali namun tidak ditepati, ia menepati janjinya ketika ia terdesak setelah ia sakit ketiga)<br><br>2. Syaikh Sa’id : Baik, suka menolong, sabar, tegas dan religius.<br><br>(Sebagai seorang syekh, Syekh Sa’id sangat religius menyebarkan agama yang dianutnya yaitu agama islam, ia juga tidak sungkan untuk membantu orang, bahkan walaupun dikhianati sampai 2 kali oleh sang raja yang dengan tulus ia bantu, ia tetap sabar dan tetap mau membantu raja untuk ketiga kalinya, tapi ia tetap bertindak tegas untuk tidak akan memberikan bantuan untuk keempat kalinya) <br><br>Latar<br><br>a). Tempat: Kampung Mahligai, istana, tepi laut, rumah Encik Tani dan istrinya, Kampung Pasai.<br><br>b). Waktu: Pagi hari dan siang hari (Pagi-pagi hingga datang mengelincir matahari)<br><br>Gaya bahasa: Melayu dan sulit dimengerti serta klise atau diulang-ulang.<br><br>(Bahasa yang digunakan merupakan Bahasa Melayu dan banyak kalimat yang sulit dimengerti seperti “Pagi-pagi hingga datang mengelincir matahari.” Dan banyak terdapat pengulangan kata seperti ‘arkian’ dan ‘hatta’.)<br><br>Sudut pandang: Pengamat<br><br>(Cerita ini seperti dikisahkan oleh seseorang dan menggunakan diaan seperti “Inilah suatu kisah yang diceterakan oleh orang tua-tua, asal raja yang berbuat negeri Patani Darussalam itu”)<br><br>Amanat:  Hendaklah orang menepati janjinya dan tidak bermain-main dengan perkataan mereka. Selalu sabar dan ikhlas dalam membantu sesame pasti akan mendapatkan balasan yang baik. Menyebarkan agama bisa dengan berbagai cara asalkan kita teguh dalam pendirian dan kepercayaan kita. </div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336019517/1f3245509ec1bbefd3ba19dca71fff9a/359C968B_AFDD_4402_94AB_D37A670E0A02.jpeg" />
         <pubDate>2018-11-22 02:38:44 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306892708</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Eko Suryanto Malaleo                                                                                 HIKAYAT SRI RAMAIde pokokParagraf 1 :Pada suatu hari, Sri Rama dan Laksamana pergi mencari Sita Dewi. Paragraf 2 :Saat Sri Rama dan Laksamana berjalan di dalam hutan, mereka bertemu dengan seekor burung jantan dan empat ekor burung betina.Paragraf 3 :Malam tlah berganti siang. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor bangau yang sedang minum di tepi danau. Paragraf 4 :Setelah Sri Rama memohon doa, ia kembali melanjutkan perjalanan. Paragraf 5 :Mereka bertemu dengan seekor burung besar bernama Jentayu yang tertambat sayapnya dan yang sebelah rebah. Paragraf 6 :Jentayu berpesan pada Sri Rama jika akan pergi menyeberang ke negeri Langka Puri, Sri Rama tidak boleh singgah ke tepi laut karena di sana terdapat gunung bernama Gendara Wanam.Paragraf 7 :Sri Rama menyuruh Laksamana  mencari tempat yang tidak terdapat manusia dengan memberinya sebuah tongkat.Paragraf 8 :Beberapa lama kemudian, api itu padam. Unsur-unsur intrinsik Hikayat Sri Tema : Kesetiaan dan pengorbanan-Bukti : Para patik Sri Rama berani berkorban nyawa demi membantu Sri Rama yang sedang kesulitan mencari Sita Dewi. Mereka bakti akan perintah Sri Rama dengan menunujukkan kesetiaan mereka pada Sri Rama.Alur : MajuBukti: Sri Rama mencari Sita Dewi yang dibawa lari oleh Maharaja Rawana. Dia berhasil menemukan petunjuk tentang keberadaan Sita Dewi saat bertemu dengan Jentayu. Namun, Jentayu mati setelah menceritakan tentang pertarungannya melawan Maharaja rawana. Mayat Jentayu dibakar di atas tangan Sri Rama.Penokohan : diceritakan secara dramatik (tidak langsung)Tokoh :1.)Tokoh utama : Sri Rama2.)Tokoh tambahan : Laksamana, Sita Dewi, Maharaja Rawana, Jentayu, Dasampani, burung jantan, dan bangau.Setting/latar cerita :1.)Latar waktu : siang hariBukti: pada paragraf enam kalimat pertama pada hikayat2.)Latar tempat : di hutan rimba belantarabukti: pada paragraf pertama kalimat kedua	3.)Latar suasana : bahagia, mengaharukanBukti: Sri Rama terharu melihat kesetiaan Jentayu atas pengabdiannya menolong Sita Dewi.Sudut pandangmenggunakan orang ketiga sebagai pelaku utamaAmanat hargailah pengorbanan seseorang yang telah rela mati demi menbantu kita.Gambar</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306893029</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336025370/23bcd1e69b2723fd99d8d6b549536f97/images.jpeg" />
         <pubDate>2018-11-22 02:41:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306893029</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: Andi Nurul Aulia Ingriani</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306893334</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>Kelas: X MIPA 7<br>Si Miskin<br>ide pokok:<br><br>Karena sumpah Batara Indera, seorang raja keinderaan beserta permaisurinya bibuang dari keinderaan sehingga sengsara hidupnya. <br><br>Mereka selalu diburu dan diusir oleh penduduk, serta dianiaya <br><br>Ia menginginkan makan mangga yang ada di taman raja.<br><br>Pergilah si Miskin menghadap raja memohon mempelam. <br><br>lahirlah anaknya yang pertama laki-laki bernama Marakarmah.<br><br>Si miskin mendapatkan sebuah tajau yang penuh berisi emas. <br><br>Si Miskin berganti nama Maharaja Indera Angkasa dan isterinya bernama Tuan Puteri Ratna Dewi. Negerinya diberi nama Puspa Sari. Dan lahirlah anaknya yang kedua, bernama Nila Kesuma.<br><br>Maharaja Indera Dewa </strong>jadi iri hati kepada puspa sari<br>para ahli nujum itu dikatakan bahwa Marakarmah dan Nila Kesuma itu kelak hanyalah akan mendatangkan celaka saja bagi orangtuanya.</div><div><strong><br><br><br><br><br></strong><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:43:27 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306893334</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lisa Latumahina </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306893346</link>
         <description><![CDATA[<div>HIKAYAT PATANI<br><br>- Sebuah kisah di sebuah kerajaan bernama kerajaan Maligai yang dipimpin oleh seorang raja bernama Paya Tu Kerub Mahajana. Sang raja memiliki seorang  putra bernama Paya Tu Antara. Suatu hari sang raja meninggal dan  posisinya digantikan oleh anaknya, Paya Tu Antara yang menamai dirinya Paya Tu Naqpa.<br><br>- Paya Tu Naqpa merupakan seorang raja yang gemar berburu. Suatu hari ia mendengar kabar bahwa daerah di tepi laut memiliki banyak binatang untuk diburu. <br><br>- Sang raja memiliki sebuah rencana untuk memindahkan negerinya ke tempat yang dihuni oleh rusa putih gemilang, untuk mewujudkan rencana ini maka pada malam harinya sang raja mengumpulkan semua menteri hulubalangnya untuk diajak berdiskusi mengenai rencana pemindahan negeri maligai ke tempat yang dihuni oleh rusa putih. <br><br>- Pada suatu ketika, tiba-tiba sang raja jatuh sakit dan tidak ada satu tabib pun yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Akhirnya, karena putus asa yang berkepanjangan, sang raja memerintahkan kepada semua hulubalangnya untuk mengumumkan sayembara mengenai bagi siapa saja yang mampu menyembuhkan penyakit raja, maka akan diangkat sebagai menantu. Namun, sampai sayambara ini diumumkan belum ada satu pun orang yang berhasil menyembuhkan penyakit raja.<br><br>- Hingga pada akhirnya, sayembara ini diumumkan ke sebuah kampong bernama kampong pasai. Di kampong pasai terdapat seorang pasai bernama Syaikh Sa’id yang bisa menyembuhkan penyakit sang raja namun dengan syarat raja Payu tu naqpa harus memeluk agama islam.<br><br>- Sesampainya di Istana, raja Payu Tu naqpa bersedia menerima syarat yang diajukan oleh Syaikh Sa’id untuk memeluk agama islam.  Dan hanya dalam waktu tujuh hari, Syaikh Sa’id berhasi menyembuhkan penyakit raja. Namun ternyata setelah sembuh, raja Payu Tu naqpa mengingkari janjinya untuk memeluk agama islam.<br><br>- Setelah dua tahun berlalu, ternyata penyakit yang diderita sang raja datang lagi. Mengetahui hal ini, sang raja meminta Syekh Sa’id untuk kembali mengobatinya, dan kali ini pun ia berjanji akan menepati janjinya untuk masuk islam. Namun, sang raja kembali mengingkari janjinya untuk memeluk agama islam.<br><br>- Setahun kemudian, penyakit yang diderita sang raja kembali lagi dan kali ini penyakitnya lebih parah dari sebelumnya. Sang raja pun kembali memanggil Syekh Sa’id untuk mengobatiya. Tetapi kali ini, Syekh Sa’id ingin sang raja untuk benar-benar menepati janjinya dan tidak ingkar lagi. Mengetahui hal ini, raja Payu Tu naqpa kembali berjanji untuk memeluk agama islam dan tidak mengingkari janjinya lagi. <br><br>- Setelah itu, Raja Payu Tu naqpa kembali memanggil Syekh Sa’id untuk mengajarkannya cara untuk masuk Islam.<br><br>- Tidak lama setelah itu, banyak penduduk Maligai yang masuk Islam. Mereka mendirikan shalat dan tidak makan babi lagi. Walaupun begitu, sang raja tetap melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan Islam.<br><br>Unsur Intrinsik:<br><br>Tema        : Penyebaran agama<br><br>(Dimulai ketika baginda raja di negeri tersebut terkena penyakit parah yagn tidak bisa disembuhkan para dukun dan tabib di sana. Hingga akhirnya seorang Syekh bernama Sa’id mampu menyembuhkan dia dengan syarat sang raja harus masuk Islam)<br><br>Alur         : Maju<br><br>(Cerita yang dimulai dari awal mula hingga akhir ditandai dengan kata-kata yang bermakna kemudian, lalu, sesudah itu, akhirnya, dan lain-lain)<br><br>Tokoh  : 1. Paya Tu Antara/Paya Tu Naqpa: Gemar memburu, orang yang ingkar, patuh hanya pada       saat terdesak, raja yang baik.<br><br>(Saat ia pergi berburu ke daerah tepi laut, berjanji hingga dua kali namun tidak ditepati, ia menepati janjinya ketika ia terdesak setelah ia sakit ketiga)<br><br>2. Syaikh Sa’id : Baik, suka menolong, sabar, tegas dan religius.<br><br>(Sebagai seorang syekh, Syekh Sa’id sangat religius menyebarkan agama yang dianutnya yaitu agama islam, ia juga tidak sungkan untuk membantu orang, bahkan walaupun dikhianati sampai 2 kali oleh sang raja yang dengan tulus ia bantu, ia tetap sabar dan tetap mau membantu raja untuk ketiga kalinya, tapi ia tetap bertindak tegas untuk tidak akan memberikan bantuan untuk keempat kalinya) <br><br>Latar<br><br>a). Tempat: Kampung Mahligai, istana, tepi laut, rumah Encik Tani dan istrinya, Kampung Pasai.<br><br>b). Waktu: Pagi hari dan siang hari (Pagi-pagi hingga datang mengelincir matahari)<br><br>Gaya bahasa: Melayu dan sulit dimengerti serta klise atau diulang-ulang.<br><br>(Bahasa yang digunakan merupakan Bahasa Melayu dan banyak kalimat yang sulit dimengerti seperti “Pagi-pagi hingga datang mengelincir matahari.” Dan banyak terdapat pengulangan kata seperti ‘arkian’ dan ‘hatta’.)<br><br>Sudut pandang: Pengamat<br><br>(Cerita ini seperti dikisahkan oleh seseorang dan menggunakan diaan seperti “Inilah suatu kisah yang diceterakan oleh orang tua-tua, asal raja yang berbuat negeri Patani Darussalam itu”)<br><br>Amanat:  Hendaklah orang menepati janjinya dan tidak bermain-main dengan perkataan mereka. Selalu sabar dan ikhlas dalam membantu sesame pasti akan mendapatkan balasan yang baik. Menyebarkan agama bisa dengan berbagai cara asalkan kita teguh dalam pendirian dan kepercayaan kita.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336019517/41f50f0ff59d8ad93a253c82d9b545bd/6273F98E_0104_44C2_8DCA_9AC6A8E9E4CE.jpeg" />
         <pubDate>2018-11-22 02:43:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306893346</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Monica Angelique Simamora</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306893410</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:44:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306893410</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Monica Angelique Simamora</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306893457</link>
         <description><![CDATA[<div>ANALISIS HIKAYAT RAJA DONAN :</div><div>·         Unsur Instrinsik : </div><div><br></div><div>1.            Tema : </div><div>Keistimewahan dan kepahlawanan seorang putera raja</div><div>2.            Plot :</div><div> Maju </div><div>   3.            Latar :</div><div><br></div><div>1.      Latar tempat :</div><div>Istana Raja Madong Bongsu , Gunung mandi angin , dan Pulau Sembilan </div><div>2.      Latar waktu :</div><div>-          Pada zaman pertembungan budaya hindu-islam, buktinya ada unsur kesaktian (Hindu:orang mati dihidupkan kembali, Islam : doa Raja Donan dimakbulkan.).</div><div>3.      Latar Suasana :</div><div>Bahagia,menegangkan, menakutkan, menyedihkan.</div><div>4.            Karakter : </div><div>a) Raja Donan :  </div><div>Pintar : Raja Donan, Temenggung Bendahara dan Mak Inang Tanda Pengasuh menjelma menjadi gabus</div><div>Berani : Raja Donan kemudiannya berpura-pura baik sebagai satu   muslihat untuk membunuh Raja Mambang Nan Bongsu.</div><div>Penolong : Raja Donan melayang ghaib ke negeri Gunung Mandi Angin unutk membantu ayahandanya.</div><div>         b) Ayah Raja Donan </div><div> Zalim : Raja Madong Bongsu percaya kepada tilikan enam orang nujum dan mengambil keputusan untuk membunuh puteranya.</div><div>Insaf : Raja Madong Bongsu insaf dengan kesilapan yang telah dilakukan dan berhasrat untuk mencari anakandanya</div><div>          c) Temenggung Bendahara dan Mak Inang Tanda</div><div>              Baik hati :Sebagai pengasuh Raja Donana </div><div>          d) Raja Mambang Nan Bongsu</div><div>             Serakah : Pembunuh ayah Raja Donan</div><div>5.            Amanat : </div><div>Jangan terlalu percaya perkataan orang lain . Kita harus mengurangi rasa kekejaman terutama kepada anak .</div><div>6.            Sudut pandang :</div><div>Sudut pandang orang ke-3 sebagai pengamat</div><div>·              UNSUR EKSTRINSIK :</div><div>1.      Nilai Religius :</div><div>Bukti : . Kemudian berseru-seru kepada Allah S.W.T dan membangkitkan asal usul keturunannya.</div><div>2.      Silsilah :</div><div>Bukti : Baginda dikurniakan seorang putera yang lahir dengan penuh keajaiban. Apabia dilahirkan, puteranya jatuh ke tikar, tikar koyak, jatuh ke lantai, lantai patah dan akhirnya jatuh ke tanah.</div><div>3.      Nilai moral :</div><div>Bukti :</div><div> -  Raja Madong Bongsu percaya kepada tilikan enam orang nujum dan mengambil keputusan untuk membunuh puteranya.</div><div>- Namun, hasrat baginda tidak kesampaian kerana dihalang oleh Temenggung Bendahara dan Mak Inang Tanda Pengasuh.</div><div>4.      Nilai pendidikan :</div><div> -Kemudian burung gagak mengajar Raja Donan cara untuk membuat seruling.</div><div>-Raja Donan menjadikan Raja Mambang Nan Bongsu sebagai bapa angkatnya dan belajar ilmu persilatan dengannya.</div><div><br></div><div>Ide pokok </div><div> Paragraf 1 : Kisah berlaku di Gunung Mandi Angin yang diperintahkan oleh raja Madong Bongsu.Baginda di karuniakan seorang Putra yang lahir dengan penuh keajaiban.</div><div><br></div><div>Paragraf 2 : Raja Madong Bungsu memanggil Nujum Nan Tujuh untuk menilik nasib baik maupun masib buruk putranya.</div><div><br></div><div>Paragraf 3 : Ketika Raja Donan beranjak remaja,ia menebang pohon untuk membuat seruling.Lalu Burung gagak buta datang bersama anaknya dan terjadi sebuah keajiban pada burung gagak.</div><div><br></div><div>Paragraf 4 : Raja Donen mendengar bunyi dentuman bedil dari arah negri ayahandanya yang memberi alamat bahwa Gunung Mandi terancam musuh.</div><div><br></div><div>Paragraf 5 : Raja Madong Bongsu berjaya membunuh Raja Mambang Nan Tua bersama lima lagi Raja Mambang.</div><div><br></div><div>Paragraf 6 : Raja Donan telah menghidupkan kembali ayahandanya yang telah dibunuh Raja Mambang nan Bongsu.<br><br></div><div><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/306965780/ef529833ed83d785f343ad380272ff27/IMG_2554.png" />
         <pubDate>2018-11-22 02:44:38 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306893457</guid>
      </item>
      <item>
         <title>nama : saskia </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306894527</link>
         <description><![CDATA[<div>Ide pokok<br>1. Diceritakan kisah tiga orang sahabat yaitu Kendi, Buyung, dan Awang yang sedang mengembara. Mereka membawa bekalan makanan seperti beras, daging, susu, dan buah-buahan. Biasanya, apabila mereka kelelahan, mereka berhenti untuk sekedar beristirahat atau hanya menggenyangkan perut. Jika dalam perjalanan mereka bertemu sebuah desa, biasanya mereka akan singgah membeli makanan untuk bekal perjalanan.<br><br>2. Pada suatu hari, mereka tiba dikawasan hutan belantara. Di kawasan tersebut, mereka tidak menemukan desa atau kampung dalam perjalanan. Mereka berhenti dan beristirahat di bawah sebatang pohon tua yang yang sangat besar dan sangat rindang. Perbekalan makanan mereka sudah habis tak menyisa. Dan ketiga sahabat itu mulai kelaparan.<br><br>“Hei, jika ada nasi yang sebanyak kawah pun, aku akan menghabiskannya seorang diri,” tiba-tiba Kendi mengeluh. Dia memegangi perutnya yang sedari tadi belum diisinya. Dan badannya ia sandarkan pada pohon tua yang sangat besar itu.<br><br>“Jika aku kelaparan seperti ini, ayam panggang sepuluh ekor pun akan aku habiskan,” kata Buyung pula.<br><br>“Kalian tidak boleh berlaku tamak dan membual seperti itu. Aku pun juga kelaparan. Bagiku, nasi sepingan pun sudah cukup untuk mengatasi kelaparanku ini, “ Kata Awang.<br><br>Kendi dan Buyung tertawa mendengar kata-kata yang diucapkan Awang barusan.<br><br>“Hanya dengan nasi sepinggan saja, bagaimana bisa perutmu itu bisa kenyang? Padahal kau juga merasakan kelaparan yang sama seperti yang kami derita!”<br><br>4.Dari kejauhan ternyata perbualan mereka tadi didengar oleh pohon tua besar itu. Setelah mendengar keluhan ketiga pengembara tersebut, pohon yang merasa kasihan terhadap mereka itu lalu menggugurkan tiga helai daun miliknya.<br><br>Bubb! Terdengar bunyi seperti benda yang terjatuh ditelinga Kendi, Awang, dan Buyung. Mereka langsung mencari-cari asal suara tersebut di dicelah-celah semak. Mereka mencari-cari suara tersebut dari arah yang berlawan-lawanan.<br><br>“Wah, ada nasi sekawah!” kata Kendi heran dan menjerit karena ia kaget melihatnya. Dia menghampiri nasi sekawah yang masih beruwap itu. Tanpa berfikir lebih lama, ia memakan nasi tersebut dengan lahapnya.<br><br>“Ayam panggang sepuluh ekor! Wah, enaknya!” teriak Buyung dari arah timur. Tiba-tiba air liurnya menetes. Selera makannya muncul seketika. Dengan pasti ia mngambil ayam yang paling besar lalu memakannya dengan lahap.<br>5. Melihat Kendi dan Buyung yang telah mendapatkan makanan, Awang berjalan semakin dalam ke arah semak-semak tersebut. Ketika Awang melewati daun kelembak, tampak olehnya sepinggan nasi berlauk terhidang di hadapannya. Awang tersenyum, dan mengucap syukur karena telah mendapat rezeki. Ia memakan nasi sepingan itu dengan tenang.<br><br>Selepas makan, Awang merasa kenyang. Ia beristirahat ditempat semula, di bawah pohon tua besar sambil memperhatikan Kendi dan Buyung yang sedang makan dengan lahapnya.<br><br>6. “Urgh!” Kendi bersendawa. Perutnya sangatlah kenyang. Nasi di dalam kawah itu masih tersisa banyak. Ia tidak mampu lagi menghabiskan semua nasi tersebut. “kenapa kamu tidak menghabiskan kami?” tiba-tiba nasi di dalam kawah itu bertanya pada Kendi.<br><br>“Aku sudah kenyang,” jawab Kendi<br><br>“Bukankah kamu berjanji akan menghabiskan kami sekawah?” tanya nasi itu lagi.<br><br>“Tapi perutku sudah kenyang,” jawab Kendi.<br><br>7. Tiba-tiba nasi itu berkumpul dan mengejar Kendi. Kawah itu menyekap kepala Kendi dan nasi-nasi itu menggerogoti tubuh Kendi. Kendi menjerit meminta tolong.<br><br>8. Buyung juga kekenyangan. Ia hanya dapat menghabiskan seekor ayam saja. Sembilan ekor ayam lagi tersisa di tempat pemanggang. Kerena terlalu banyak makan, perutnya berasa mual. Melihat baki ayam-ayam panggang itu saja, ia meresa muak dan hendak muntah. Buyung segera pergi meninggalkan ayam-ayam itu ke dalam semak.<br><br>“Kenapa kamu tidak menghabiskan kami?” tiba tiba ayam panggang itu berbicara.<br><br>“Aku sundah nenyang.” Kata Buyung. “makan seekorpun aku sudah muak,” katanya lagi<br><br>Tiba-tiba muncul Sembilan ekor ayam jantan dari celah-celah semak di tempat itu. Mereka berlari ke arah Buyung.<br><br>Ayam-ayam itu mematuk dan mengoyak tubuh Buyung. Buyung melompat-lompat sambil meminta tolong.<br><br>9.Awang bagaikan bermimpi melihat teman-temannya. Kendi terpekik dan terlolong. Buyung melompat-lompat dan berguling-guling di atas tanah. Awang tidak dapat berbuat apa-apa. Ia seperti terpukau melihat kejadian itu.<br><br>10.Akhirnya Kendi dan Buyung mati. Tinggallah Awang seorang diri. Ia meneruskan semua perjalanannya.<br><br>Sebelum berangkat, Awang mengambil sepinggan nasi yang telah habis. Sebutir pun tidak menyisa di dalam pinggan itu.<br><br>11. “Pinggan ini akan mengingatkan aku supaya tidak berlaku sombong dan tamak. Makan itu secukupnya jangan berlebihan agar tidak mubazir,” kata Awang lalu ia pergi meninggalkan tempat tersebut.<br><br>Unsur Intrinsik<br><br>Tema             : Balasan atas Perilaku Buruk<br><br>Tokoh dan Penokohan   :<br><br>-  Buyung (Antagonis) : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji,<br> tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka<br> mengeluh<br>-  Kendi (Antagonis)  : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji,<br> tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka<br> mengeluh.<br>-  Awang (Protagonis) : Berprilaku baik, tidak sombong, menepati janji, mensyukuri<br> takdir dan pemberian dari tuhan, bersifat baik.<br>-  Pohon tua (Tirtagonis) : Suka berbelas kasih pada semua makhluk, bersifat baik.<br><br>Latar    (Setting)        :<br><br>-  Tempat             : Di hutan.<br>-  Waktu         : -<br>-  Suasana            : Kelaparan<br><br>Alur (Plot)          : Maju.<br><br>-  Perkenalan         : Paragraf  1<br>-  Penanjakan         : Paragraf  2 - 7<br>-  Klimaks            : Paragraf  8 - 13<br>-  Puncak klimaks     : Paragraf  14 - 23<br>-  Anti klimaks       : Paragraf  24 - 27<br><br>Sudut Pandang (POV)   : Orang ketiga diluar cerita/orang ketiga serba tau.<br><br>Amanat           :<br>   <br>    Janganlah membuat janji yang tidak dapat kau tepati apalagi dengan sombongnya kau lontarkan janji tersebut seolah-olah kau dapat menepatinya namun kenyataannya kau tidak dapat menepatinya.<br><br>Pesan Moral     :<br><br>    Setiap kata-kata yang terucap harus dapat dikontrol, kita juga tidak di benarkan untuk berkata sombong apalagi berjanji denagn janji yang tidak mungkin dapat kau tepati. Janganlah juga kau menjadi orang yang tamak, karena suatu saat nanti pasti akan ada balasan bagi orang-orang yang memiliki sifat yang buruk.<br><br>Unsur Ekstrinsik<br><br>Nilai Budaya     : Terlihat bahwa dari jaman dulu kita diharuskan dan diajarkan<br> untuk memiliki sifat dan berprilaku baik.<br>Nilai Sosial          : Terlihat pada sikap Awang yang sedang menasehati teman-<br> temannya agar tidak berprilaku tamak dan sombong . Berikut<br> kutipannya : “Janganlah kamu berdua tamak sangat dan<br> bercakap besar pula. Aku pun lapar juga. Bagi aku, kalau ada<br> nasi sepinggan sudah cukup,” bagian terjemahan : “Kalian tidak<br> boleh berlaku tamak dan membual seperti itu. Aku pun juga<br> kelaparan. Bagiku, nasi sepingan pun sudah cukup untuk <br> mengatasi kelaparanku ini, “<br>Nilai Filsafat            : -<br>Nilai Ekonomi         : -<br>Nilai Politik             : -<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 02:54:05 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306894527</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ANEI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306903106</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 04:06:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306903106</guid>
      </item>
      <item>
         <title>ANDI NURUL AULIA INGRIANI</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306903108</link>
         <description><![CDATA[<div>X MIPA 7<br><br>Si Miskin<br>ide pokok:<br><br>Karena sumpah Batara Indera, seorang raja keinderaan beserta permaisurinya bibuang dari keinderaan sehingga sengsara hidupnya. <br><br>mereka selalu diburu dan diusir oleh penduduk, serta dianiaya <br><br>istrinya menginginkan makan mangga yang ada di taman raja.<br><br>Pergilah si Miskin menghadap raja memohon mempelam. <br><br>lahirlah anaknya yang pertama laki-laki bernama Marakarmah.<br><br>Si miskin mendapatkan sebuah tajau yang penuh berisi emas. Berdirilah sebuah kerajaan.<br><br>Si Miskin berganti nama Maharaja Indera Angkasa dan isterinya bernama Tuan Puteri Ratna Dewi. Negerinya diberi nama Puspa Sari. Dan lahirlah anaknya yang kedua, bernama Nila Kesuma.<br><br>Maharaja indera Dewa menjadi iri hati  kepada Indera Angkasa<br><br>Ahli nujum mengatakan bahwa Marakarmah dan Nila Kesuma akan mendatangkan celaka.<br><br>dengan hati yang berat dan amat terharu disuruhnya pergi putra-putrinya itu.<br><br>Negeri Puspa Sari musnah terbakar.<br><br>karena disangka mencuri, Marakarmah dipukuli orang banyak, kemudian dilemparkan ke laut. <br><br>Nila Kesuma ditemu oleh Raja Mengindera Sari,yangmenjadi isterinya dan bernama Mayang Mengurai.<br><br>Marakarmah menjadi anak angkat Nenek Kebayan yang berjual bunga.<br><br>Marakarmah mencari ayah bundanya yang telah jatuh miskin kembali. <br><br>Dengan kesaktiannya diciptakannya kembali Kerajaan Puspa Sari <br><br>Negeri Antah Berantah dikalahkan oleh Marakarmah, yang dirajai oleh Raja Bujangga Indera.<br><br>Marakarmah pergi ke negeri mertuanya dan menggantikan mertuanya itu  menjadi raja di Palinggam Cahaya.<br><br><strong>Unsur Intrinsik dalam hikayat Si Miskin</strong></div><div>1.      Tema :  Kunci kesuksesan adalah kesabaran. Perjalanan hidup seseorang yang mengalami banyak rintangan dan cobaan.</div><div>2.       Alur : Menggunakan alur maju, karena penulis menceritakan peristiwa tersebut dari awal permasalahan sampai akhir permasalahan.</div><div> </div><div>3.    Setting/ Latar :</div><div>·         Setting Tempat : Negeri Antah Berantah, hutan, pasar, Negeri Puspa Sari, Lautan, Tepi Pantai Pulau Raksasa, Kapal, Negeri Palinggam Cahaya.</div><div>·         Setting Suasana : tegang, mencekam dan Ketakutan, bahagia, menyedihkan</div><div> </div><div>4.    Sudut Pandang Pengarang : orang ketiga serba tahu.</div><div>5.    Amanat :</div><div>·         Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang adil dan pemurah.</div><div>·         Janganlah mudah terpengaruh dengan kata-kata oran lain.</div><div>·         Hadapilah semua rintangan dan cobaan dalam hidup dengan sabar dan rendah      hati.</div><div>·         Jangan memandang seseorang dari tampak luarnya saja, tapi lihatlah ke dalam hatinya.</div><div>·         Hendaknya kita dapat menolong sesama yang mengalami kesukaran.</div><div>·         Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.</div><div>·         Hidup dan kematian, bahagia dan kesedihan, semua berada di tanan Tuhan, manusia hanya dapat menjalani takdir yang telah ditentukan.</div><div> </div><div><strong>Unsur Ekstrinsik dalam Hikayat Si Miskin</strong></div><div>1. Nilai Moral</div><div>     Kita harus bersikap bijaksana dalam menghadapi segala hal di dalam hidup kita.</div><div>     Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain.</div><div>2. Nilai Budaya</div><div>     Sebagai seorang anak kita harus menghormati orangtua.</div><div>     Hendaknya seorang anak dapat berbakti pada orang tua.</div><div>3. Nilai Sosial</div><div>     Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>     Hendaknya kita mau berbagi untuk meringankan beban orang lain.</div><div>4. Nilai Religius</div><div>     Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.</div><div>     Percayalah pada Tuhan bahwa Dialah yang menentukan nasib manusia.</div><div>5. Nilai Pendidikan</div><div>     Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.</div><div>     Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336018395/1ad7cb41eac3ac9705dc51847fc94490/download__4_.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 04:06:02 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306903108</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306905558</link>
         <description><![CDATA[<div>Unsur-unsur intrinsiknya:<br>1. Tema                               : Buaya perompak<br>2. Seting<br>a. Tempat                    : Sungai, gua<br>b. Waktu                     : Berhari<br>c.Suasana                     : Mengagumkan, tegang.<br>3.Alur                                 : Mundur.<br>4.Penokohan<br>a.Protagonis                : Aminah,<br>b.Antagonis                 : Buaya ( Somad)<br>c.Tritagonis                 : Orang yang mencari rotan dihutan<br>d.Figuran                     : Warga<br>5.Amanat                            : -Tetaplah berusaha meski belum membuahkan hasil.<br>                                             -Jangan suka merampas hak milik Orang lain          <br>6.Sudut pandang                : Serba tau<br>7.Gaya bahasa                    : Peribahasa.<br> <br>Unsur-unsur ekstrinsiknya: Bernilai sosial, nilai pendidikan, nilai keagamaan.</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 04:28:30 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306905558</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306905734</link>
         <description><![CDATA[<div>Yusuf abdi saputra<br>X mipa 7<br><br>HIKAYAT : BUAYA PEROMPAK<br><br>Ide pokok<br>1.Alkisah, Sungai Tulang Bawang sangat terkenal dengan keganasan buayanya.<br>2.Pada suatu hari, kejadian yang mengerikan itu terulang kembali.<br>3.Sementara itu, di sebuah tempat di dasar sungai tampak seorang gadis tergolek lemas.<br>4.Ayah, Ibu, aku ada di mana? gumam Aminah setengah sadar memanggil kedua orangtuanya.<br>5.Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam sebuah gua.<br>6.Wah, sungguh banyak perhiasan di tempat ini.<br>7.Baru saja Aminah mengungkapkan rasa kagumnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara lelaki menggema.<br>8.Tidak usah takut. Benda-benda ini adalah milikku.”<br>9.Alangkah terkejutnya Aminah, tak jauh dari tempatnya duduk terlihat samar-samar seekor buaya besar merangkak di sudut gua.<br>10.Wujud anda buaya, tapi kenapa bisa berbicara seperti manusia?<br>11.Tenang, Gadis cantik! Wujudku memang buaya.<br>12.Kenapa wujudmu berubah menjadi buaya?<br>13.“Dulu, aku terkena kutukan karena perbuatanku yang sangat jahat.<br>14.Dari mana Anda memperoleh makanan?”<br>15.“Kalau aku butuh makanan, harta itu aku jual sedikit di pasar desa di tepi Sungai Tulang Bawang saat bulan purnama tiba. <br>16.Tanpa disadarinya, Buaya Perompak itu telah membuka rahasia gua tempat kediamannya.<br>17.“Hai, Gadis Cantik! Siapa namamu?<br>18.“Namaku Aminah. Aku tinggal di sebuah dusun di tepi Sungai Tulang Bawang,” jawab Aminah.<br>19.“Wahai, Buaya! Bolehkah aku bertanya kepadamu?” tanya Aminah<br>20.Ada apa gerangan, Aminah? Katakanlah!” jawab Buaya itu.<br>21.Mengapa Anda menculikku dan tidak memakanku sekalian?” tanya Aminah heran.<br>22.“Ketahuilah, Aminah! Aku membawamu ke tempat ini dan tidak memangsamu, karena aku suka kepadamu.<br>23.Mendengar pertanyaan buaya itu, Aminah jadi gugup.<br>24.Mendengar pertanyaan buaya itu, Aminah jadi gugup.<br>25.Kedua, keburukan sifat suka merampas hak milik orang lain.<br><br>Unsur-unsur intrinsiknya:<br>1. Tema                               : Buaya perompak<br>2. Seting<br>a. Tempat                    : Sungai, gua<br>b. Waktu                     : Berhari<br>c.Suasana                     : Mengagumkan, tegang.<br>3.Alur                                 : Mundur.<br>4.Penokohan<br>a.Protagonis                : Aminah,<br>b.Antagonis                 : Buaya ( Somad)<br>c.Tritagonis                 : Orang yang mencari rotan dihutan<br>d.Figuran                     : Warga<br>5.Amanat                            : -Tetaplah berusaha meski belum membuahkan hasil.<br>                                             -Jangan suka merampas hak milik Orang lain          <br>6.Sudut pandang                : Serba tau<br>7.Gaya bahasa                    : Peribahasa.<br> <br>Unsur-unsur ekstrinsiknya: Bernilai sosial, nilai pendidikan, nilai keagamaan.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336030718/2467b32a723e2ec2c21ae505feff162b/1542853384877.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 04:30:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306905734</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Lea vilona H</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306908343</link>
         <description><![CDATA[<div><strong>“Hikayat Bunga Kemuning”</strong></div><div>            Dahulu kala ada seorang raja yang memiliki 10 orang puteri yang diberi nama Puteri Jambon, Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Ungu, Puteri Kelabu, Puteri Biru, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning.Istri raja meninggal dunia setelah melahirkan Puteri Kuning. Ke-9 puteri sangat manja dan nakal, berbeda dengan si bungsu Puteri Kuning yang ramah dan baik hati.</div><div>            Suatu hari raja hendak pergi jauh. Ke-9 puterinya meminta oleh-oleh yang mewah, namun Puteri Kuning hanya memint ayahnya kembali dengan selamat.</div><div>            Ketika sang raja pulang, ia memberi Puteri Kuning sebuah kalung batu hijau. Puteri Hijau merasa cemburu, ia bersama saudaranya yang lain memukul kepala Puteri Kuning hingga ia meninggal. Tanpa sepengetahuan orang-orang istana, ke-9 puteri mengubur Puteri Kuning.</div><div>            Mengetahui puteri bungsunya hilang, sang raja mencarinya, namun pencariannya tak membuahkan hasil.</div><div>          Suatu hari tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning.Karena tanaman tersebut nampak seperti Puteri Kuning, maka sang raja menamainya Puteri Kemuning.</div><div><br><br></div><div><br></div><div>UNSUR INTRINSIK</div><div><strong>Alur/plot</strong>         : Alur Maju</div><div>                          Bukti : karna dalam cerita ini tidak menceritakan tentang masa lalu.</div><div><br></div><div><strong>Tema  </strong>            : Kekeluargaan, Kerajaan dan Kasih sayang tulus seorang anak kepada                                 ayahnya.</div><div><br></div><div><strong>Latar/setting  :</strong></div><div>1.    Latar tempat :<br><strong>Kerajaan</strong> (bukti: hikayat ini mengisahkan tentang kerajaan jaman dahulu.)<br><strong>Taman (</strong>bukti : tanpa ragu, putri kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu.)<br><strong>Danau</strong> (bukti : ketika sang raja tiba di istana kesembilan putrinya masih bermain di danau.)<br><strong>Teras istana</strong> (bukti : sementara putri kuning sedang merangkai bunga di teras istana.)</div><div>2.    Latar waktu : Pada zaman dahulu kala</div><div>3.    Latar suasana : Sedih (bukti:berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil menemukan Putri Kemuning. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya.)</div><div><br></div><div><strong>Tokoh:</strong></div><div>1.      Protagonis       : Raja dan Putri Kuning</div><div>2.      Antagonis        : Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, Putri Kuning dan 2 putri lainnya.</div><div><br></div><div><strong>Karaker tokoh-tokoh</strong></div><div>1.      Raja :<br><strong>Bijaksana</strong> (bukti: sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana)<br><strong>Penyayang</strong> (bukti: sang raja sangat menyayangi anak-anaknya)</div><div>2.      Putri kuning :<br><strong>Baik hati</strong> (bukti: karna para inang sibuk untuk menuruti permintaan kakak-kakaknya, taman menjadi tidak ada yang membersihkan. Tapi dengan senang hati putri kuning mau membantu membersihkan taman.)<br><strong>Penyabar </strong>(bukti: “Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Putri kuning diam saja dan menyapu sampah sampah itu.)<strong> </strong><br><strong>Ramah</strong> (bukti: Sebaliknya ia selalu riang dan tersenyum ramah kepada siapa pun.)</div><div>3.      Puteri Hijau         : <strong>Jahat, mudah iri (</strong>bukti: Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri)</div><div>4.      Kakak-kakak putri kuning :<strong>Nakal, manja, jahat</strong>. (bukti: sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka, merampas kalung putri kuning, menangkap dan memukul kepala putri kuning sampai putri kuning meninggal dan menguburnya tanpa memberitahu ayahnya (raja).</div><div><br></div><div><strong>Sudut Pandang</strong>          : Orang Pertama dan orang ketiga.</div><div><br><strong>Amanat :</strong><br>-Berlaku baiklah kepada sesama saudara kita<br>-Berfikirlah terlebih dahulu ketika kita akan bertindak</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>UNSUR EKSTRINSIK</div><div><strong> Nilai Sosial</strong></div><div>Mencoba untuk lebih baik</div><div><strong> Nilai Agama</strong></div><div>Berbuat baik walaupun dibalas kejahatan<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 04:56:53 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306908343</guid>
      </item>
      <item>
         <title> ANDI YEHUDA GEORGE MATANDUNG</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306910408</link>
         <description><![CDATA[<div>    Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik<br>     Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna.<br>     Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. “Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?” tanya raja.</div><div>    Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas.<br>    Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian.</div><div>    Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!” ajak Puteri Nila.<br>Anakku yang rajin dan baik budi!            Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!” kata sang raja. </div><div>    Sudahlah Ayah, tak mengapa.Yang penting, ayah sudah kembali.<br>     Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. <br>    Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah <br>    Astaga! Kita harus menguburnya!” seru Puteri Jingga.<br>    Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. <br>     Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya.<br>   </div><div>UNSUR INTRINSIK</div><div><strong>Alur/plot</strong>         : Alur Maju</div><div>                          Bukti : karna dalam cerita ini tidak menceritakan tentang masa lalu.</div><div><br></div><div><strong>Tema  </strong>            : Kekeluargaan, Kerajaan danKasih sayang tulus seorang anak kepada                                 ayahnya.</div><div><br></div><div><strong>Latar/setting  :</strong></div><div>1.    Latar tempat :<br><strong>Kerajaan</strong> (bukti: hikayat ini mengisahkan tentang kerajaan jaman dahulu.)<br><strong>Taman (</strong>bukti : tanpa ragu, putri kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu.)<br><strong>Danau</strong> (bukti : ketika sang raja tiba di istana kesembilan putrinya masih bermain di danau.)<br><strong>Teras istana</strong> (bukti : sementara putri kuning sedang merangkai bunga di teras istana.)</div><div>2.    Latar waktu : Pada zaman dahulu kala</div><div>3.    Latar suasana : Sedih (bukti: berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil menemukan Putri Kemuning. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya.)</div><div><br></div><div><strong>Tokoh:</strong></div><div>1.      Protagonis       : Raja dan Putri Kuning</div><div>2.      Antagonis        : Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, Putri Kuning dan 2 putri lainnya.</div><div><br></div><div><strong>Karaker tokoh-tokoh</strong></div><div>1.      Raja :<br><strong>Bijaksana</strong> (bukti: sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana)<br><strong>Penyayang</strong> (bukti: sang raja sangat menyayangi anak-anaknya)</div><div>2.      Putri kuning :<br><strong>Baik hati</strong> (bukti: karna para inang sibuk untuk menuruti permintaan kakak-kakaknya, taman menjadi tidak ada yang membersihkan. Tapi dengan senang hati putri kuning mau membantu membersihkan taman.)<br><strong>Penyabar </strong>(bukti: “Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Putri kuning diam saja dan menyapu sampah sampah itu.)<strong> </strong><br><strong>Ramah</strong> (bukti: Sebaliknya ia selalu riang dan tersenyum ramah kepada siapa pun.)</div><div>3.      Puteri Hijau         : <strong>Jahat,  mudah iri (</strong>bukti:Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri)</div><div>4.      Kakak-kakak putri kuning : <strong>Nakal, manja, jahat</strong>. (bukti: sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka, merampas kalung putri kuning, menangkap dan memukul kepala putri kuning sampai putri kuning meninggal dan menguburnya tanpa memberitahu ayahnya (raja).</div><div><br></div><div><strong>Sudut Pandang</strong>          : Orang Pertama dan orang ketiga.</div><div><br><strong>Amanat :</strong><br>-Berlaku baiklah kepada sesama saudara kita<br>-Berfikirlah terlebih dahulu ketika kita akan bertindak</div><div><br></div><div><br></div><div><br></div><div>UNSUR EKSTRINSIK</div><div><strong> Nilai Sosial</strong></div><div>Mencoba untuk lebih baik</div><div><strong> Nilai Agama</strong></div><div>Berbuat baik walaupun dibalas kejahatan</div><div>(Bukti agama islam)</div><div><em>“Sesungguhnya rahmat Allah Swt amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” </em>(QS. Al-A’raf: 56)</div><div><em>“Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang bepergian) dan hamba sahayamu (pembantu).”</em>(QS. An-Nisa [4]: 36).</div><div><em>“Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yg lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.”</em> (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 96)</div><div><em>“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.”</em> (QS. Ar-Rahman [55]: 60).</div><div><em>“Mereka itu diberi pahala dua kali lipat disebabkan kesabaran mereka dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.”</em>(QS. Al-Qashash [28]:54)</div><div><em>“Siapa yang datang membawa kebaikan, baginya pahala yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan siapa yang datang membawa kejahatan, tidaklah diberi balasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan seimbang dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.”</em> (SQ. Al-Qashash [28]:84)</div><div>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</div><div>إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6</div><div>فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)</div><div>“<em>Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula</em>.” (QS. Al Zalzalah: 1-8)</div><div><br></div><div>فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)</div><div>“<em>Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula</em>.“</div><div>يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا</div><div>“<em>Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh</em>.“ (QS. Ali Imran: 30).</div><div><br></div><div> Nilai Moral</div><div>Keburukan akan terbongkar dengan sendirinya walaupun ditutupi.</div><div><strong> Nilai Budaya</strong></div><div>Sopan dan santun kepada orang tua, Pada jaman dahulu tentang pemberian nama putri atau putra.</div><div><br></div><div><strong>Gaya Bahasa :</strong></div><div>Majas metafora : <em>Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi!</em></div><div><br></div><div>Majas ironi      : <em>"Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku”</em></div><div>Majas Paradoks<em> : Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.</em></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336020184/8abe6d0b1832808ca8141d81d92976b7/Screenshot_2018_11_22_13_19_39_47.png" />
         <pubDate>2018-11-22 05:15:33 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306910408</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306973355</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama: Intan Serafine Londong Allo<br>Kelas: X MIPA 7<br>Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia<br>Judul: Hikayat Bunga Kemuning<br><br><br><br><br><br>​*Ide Pokok<br><br>*Paragraf 1: kesibukan raja telah membuat putri-putrinya tumbuh menjadi anak yang manja dan nakal<br><br>*Paragraf 2: Si Bungsu Kuning tumbuh menjadi anak yang berbeda dari semua saudarinya.<br><br>*Paragraf 3: Sang Raja pergi dan menanyakan oleh-oleh kepada para anaknya. sang bungsu berharap keselamatan ayahnya.<br><br>*Paragraf 4: Sang Raja datang membawakan oleh-oleh batu hujau untuk sang bungsu.<br><br>*Paragraf 5: pada perebutan kalung, bungsu kuning meninggal dan dikubur oleh saudara-saudaranya.<br><br>*Paragraf 6: Sang Raja mengirim anak-anaknya pergi jauh belajar. tiba-tiba tumbuh bunga berwarna kunging dan Raja menamainya bunga kemuning<br><br><br>*Unsur Intrinsik<br>-Alur/plot         : Alur Maju<br>-Tema              : Kekeluargaan, Kerajaan dan Kasih sayang tulus seorang anak kepada                                  ayahnya.<br><br>-Latar/setting  :<br>     1.    Latar tempat : Kerajaan, taman, danau, teras     istana <br>     2.    Latar waktu : Pada zaman dahulu kala<br>     3.    Latar suasana : Sedih<br>-Tokoh:<br>      1.      Protagonis       : Raja dan Putri Kuning<br>      2.      Antagonis        : Putri Jingga, Putri Nila, Putri     Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, Putri Kuning dan 2 putri lainnya.<br><br>-Karaker tokoh-tokoh<br>         1. Raja:    Bijaksana, penyayang <br>        2. Putri kuning:  Baik hati, penyabar, ramah <br>        3.Puteri Hijau         : Jahat, suka iri hati<br>        4. Kakak-kakak putri kuning : Nakal, manja,    jahat. <br>-Sudut Pandang:  Orang Pertama dan orang ketiga.<br>-Amanat :<br>*Berlaku baiklah kepada sesama saudara kita<br>*Berfikirlah terlebih dahulu ketika kita akan bertindak<br><br><br><br>*Unsur Ekstrinsik<br>-Nilai Sosial: Berbuat baiklah kepada semua orang<br>-Nilai Agama:Kasihilah sesamamu manusia seperti    kamu mengasihi dirimu sendiri<br>-Nilai Moral :Keburukan akan terbongkar dengan sendirinya walaupun ditutupi.<br>-Nilai Budaya:Sopan dan santun kepada orang tua, Pada jaman dahulu tentang pemberian nama putri atau putra.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336108817/be7009cd31b48e46adf7bb35210663d0/bungakemuning_riau.gif" />
         <pubDate>2018-11-22 10:22:28 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306973355</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306974165</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama: Intan Serafine Londong Allo<br>Kelas: X MIPA 7<br>Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia<br>Judul: Hikayat Bunga Kemuning<br><br><br><br><br><br>​*Ide Pokok<br><br>*Paragraf 1: kesibukan raja telah membuat putri-putrinya tumbuh menjadi anak yang manja dan nakal<br><br>*Paragraf 2: Si Bungsu Kuning tumbuh menjadi anak yang berbeda dari semua saudarinya.<br><br>*Paragraf 3: Sang Raja pergi dan menanyakan oleh-oleh kepada para anaknya. sang bungsu berharap keselamatan ayahnya.<br><br>*Paragraf 4: Sang Raja datang membawakan oleh-oleh batu hujau untuk sang bungsu.<br><br>*Paragraf 5: pada perebutan kalung, bungsu kuning meninggal dan dikubur oleh saudara-saudaranya.<br><br>*Paragraf 6: Sang Raja mengirim anak-anaknya pergi jauh belajar. tiba-tiba tumbuh bunga berwarna kunging dan Raja menamainya bunga kemuning<br><br><br>*Unsur Intrinsik<br>-Alur/plot         : Alur Maju<br>-Tema              : Kekeluargaan, Kerajaan dan Kasih sayang tulus seorang anak kepada                                  ayahnya.<br><br>-Latar/setting  :<br>     1.    Latar tempat : Kerajaan, taman, danau, teras     istana <br>     2.    Latar waktu : Pada zaman dahulu kala<br>     3.    Latar suasana : Sedih<br>-Tokoh:<br>      1.      Protagonis       : Raja dan Putri Kuning<br>      2.      Antagonis        : Putri Jingga, Putri Nila, Putri     Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, Putri Kuning dan 2 putri lainnya.<br><br>-Karaker tokoh-tokoh<br>         1. Raja:    Bijaksana, penyayang <br>        2. Putri kuning:  Baik hati, penyabar, ramah <br>        3.Puteri Hijau         : Jahat, suka iri hati<br>        4. Kakak-kakak putri kuning : Nakal, manja,    jahat. <br>-Sudut Pandang:  Orang Pertama dan orang ketiga.<br>-Amanat :<br>*Berlaku baiklah kepada sesama saudara kita<br>*Berfikirlah terlebih dahulu ketika kita akan bertindak<br><br><br><br>*Unsur Ekstrinsik<br>-Nilai Sosial: Berbuat baiklah kepada semua orang<br>-Nilai Agama:Kasihilah sesamamu manusia seperti    kamu mengasihi dirimu sendiri<br>-Nilai Moral :Keburukan akan terbongkar dengan sendirinya walaupun ditutupi.<br>-Nilai Budaya:Sopan dan santun kepada orang tua, Pada jaman dahulu tentang pemberian nama putri atau putra.</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336108817/3cefbfaec56b7c3fa4488839af137791/bungakemuning_riau.gif" />
         <pubDate>2018-11-22 10:25:20 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306974165</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rita Ruth Chendra</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306980184</link>
         <description><![CDATA[<div>Hikayat Bayan Bijak</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 10:45:22 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306980184</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Rita Ruth Chendra</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306982967</link>
         <description><![CDATA[<div>Hikayat Bayan Bijak<br><br>Khojan Mubarok memiliki anak laki-laki yang diberi nama Khojan Maimun.<br> <br> Sampai umur Khojan Maimun lima belas tahun ia dipinangkan dengan Bibi Zainab.<br> <br> Khojan Maimun membeli seekor burung bayan jantan dan burung tiung betina.<br> <br> Sebelum Khojan Maimun pergi perniagaan di laut, berpesanlah dia pada istrinya itu, jika ada barang suatu pekerjaan, mufakatlah dengan dua ekor unggas itu.<br> <br> Raja Ajam berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok<br> <br> Pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu. Maka bernasihatlah burung tiung itu sehingga marahlah Bibi Zainab dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.<br> <br> Maka Bayan berpikir, jika ia menjawab seperti yang dikatakan Tiung maka dia pun akan mati.<br> <br> Setiap malam, Bibi Zaenab selalu bertemu dengan anak Raja, dan Bayan selalu bercerita hingga 24 kisah dan 24 malam terus bercerita, hingga akhirnya Bibi Zaenab insyaf terhadap perbuatannya.<br> <br> Unsur intrinsik<br> Tema : Kesetiaan istri kepada suaminya<br> <br> Alur : Maju<br> <br> Tokoh :<br> -Khojan Maimun<br> -Bibi Zainab<br> -Bayan<br> -Burung tiung<br> -Anak raja Ajam<br> -Khojan Mubarok<br> <br> Penokohan :<br> -Khojan Maimun : bijaksana dan berbakti pada istrinya<br> -Bibi Zainab : tidak setia dan emosional<br> -Bayan : pintar dan cerdik<br> -Burung tiung : bijaksana<br> -Anak raja Ajam : tidak tahu diri<br> -Khojan Mubarok : penyabar<br> <br> Latar<br> -Latar waktu : siang hari dan malam hari<br> -Latar tempat : negara Ajam dan rumah Khojan Maimun<br> -Latar suasana : menegangkan<br> <br> Sudut pandang : Sudut pandang orang ketiga serba tahu<br> <br> Gaya bahasa : Pengarang cenderung menggunakan bahasa melayu.<br> <br> Amanat :<br> - Berfikirlah dahulu sebelum bertindak.<br> - Setialah dalam menjalin hubungan.<br> - Dengarkanlah baik-baik nasihat yang diberikan kepada kita karena itu akan memberikan petunjuk kepada kita agar menjadi manusia yang lebih baik.<br> - Dalam berkeluarga, seorang istri sudah sewajibnya untuk mematuhi segala apa yang dikatakan suaminya asal tidak mengarahkan kita kepada jalan yang buruk.<br> <br> Unsur ekstrinsik<br> <br> 1. Agama<br> Berbaktilah kepada suami. Ketika suami merantau seorang istri harus menjaga dirinya dari laki-laki lain. Jika seorang istri pergi tanpa izin dari suaminya, maka dia akan menyesal kelak nantinya.<br> <br> 2. Moral<br> Jangan memaksakan kehendak kepada orang lain, dan harus mau mendengarkan pendapat orang lain.<br> <br> 3. Sosial<br> Perselingkuhan di kalangan masyarakat<br> <br> 4. Budaya<br> Budaya perjodohan anak saudagar kaya dengan anak saudagar kaya pula.<br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336117074/4f26434242cb5fd0044613f1a2dbcc98/7920308_1e7602b6_ce3c_4a4d_9ffc_28fcf446d51b_jpg.webp" />
         <pubDate>2018-11-22 10:53:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306982967</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: nurul fadillah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306986365</link>
         <description><![CDATA[<div>Hikayat bayan budiman<br>Ide pokok:<br>Seorang  istri harus patuh pada suaminya -kita harus setia pada satu pasangan Harus tawakal dalam menghadapi cobaan. -Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal. Jangan gegabah dalam mengambil keputusan. <br>Unsur- unsur intrinsik yang terdapat dari hikayat tersebut adalah :<br><br>¯Tema : seorang burung yang memberi nasihat kepada Tuannya untuk menghindari perbuatan tercela.<br><br>¯Alur : Maju<br><br>·Pengenalan : “….Tak lama setelah beliau berdoa kepada Tuhan, lalu saudagar Mubarok pun mempunyai seorang anak laki- laki dari istrinya yang diberi nama Khojan Maimun.<br><br>Setelah Khojan Maimun berusia lima tahun, ayahnya menyerahkan kepada guru-guru untuk mengajarinya mengaji hingga umurnya lima belas tahun. Saat umurnya lima belas tahun, Khojan Maimun dinikahkan dengan saudagar kaya, sangat cantik, bernama Bibi Zainab.”<br><br>·Pemunculan Masalah: “….Hatta beberapa lama di tinggal suaminya, ada anak Raja Ajam berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok. Berkencanlah mereka untuk bertemu melalui seorang perempuan tua.”<br><br>·Klimaks : “….Maka pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu, maka bernasehatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT. maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati….”<br><br>·Antiklimaks : “….Maka berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita tersebut. Maka Bayan pun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud agar ia dapat memperlalaikan perempuan itu.”<br><br>·Penyelesaian : “….maka di berilah ia cerita- cerita hingga sampai 24 kisah dan 24 malam burung tersebut bercerita, hingga akhirnyalah Bibi Zainab pun insaf terhadap perbuatanya dan menunggu suaminya Khojan Maimum pulang dari rantauannya.”<br><br>¯Tokoh dan Penokohan :<br>a.Khojan Mubarok : sholeh dan kaya. (analitik)<br>Bukti 1. : “Khojan Mubarok namanya, terlalu amat kaya, akan tetapi ia tiada beranak. Tak seberapa lama setelah ia berdoa kepada Tuhan,…”<br>Bukti 2 : “….maka di serahkan oleh bapaknya mengaji kepada banyak guru…”<br>b.Khojan Maimun : berbakti kepada istrinya. (analitik)<br>Bukti : “….Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut, lalu minta izinlah dia kepada istrinya.”<br>c.Bibi Zainab : sangat cantik, kaya, dan gegabah.(analitik dan dramatik).<br>Bukti 1 : “….ia di pinangkan dengan anak saudagar yang kaya, amat elok parasnya, namanya Bibi Zainab.”<br>Bukti 2 : “….Maka pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu, maka bernasehatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT. maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.” (dramatik).<br>d.Burung Tiung : pemberi nasihat yang bijaksana. (analitik)<br>Bukti : “….Maka pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu, maka bernasehatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT.”<br>e.Burung Bayan : bijaksana, pemberi pitutur yang baik. (analitik)<br>Bukti 1 : “….berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita tersebut. Maka Bayan pun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud agar ia dapat memperlalaikan perempuan itu….”<br>Bukti 2 : “….Hatta setiap malam, Bibi Zainab yang selalu ingin mendapatkan anak raja itu, dan setiap berpamitan dengan bayan, maka di berilah ia cerita- cerita hingga sampai 24 kisah dan 24 malam burung tersebut bercerita,…”<br>¯Latar atau Setting :<br>Latar Tempat :<br>«Di Negara Ajam : “Sebermula ada saudagar di negara Ajam.”<br>«Di rumah : “….lalu di bawanya ke rumah….”<br>Latar Waktu : -<br>Latar suasana : Menegangkan<br>Bukti 1 : “….maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.”<br>Bukti 2 : “Lalu, Bibi Zainab pun pergi mendapatkan bayan yang sedang berpura-pura tidur, maka bayan pun berpura- pura terkejut dan mendengar kehendak hati Bibi Zainab pergi mendapatkan anak raja. Maka bayan pun berpikir bila ia menjawab seperti tiung maka ia juga akan binasa.”<br>¯Sudut Pandang : Orang Ketiga.<br>Bukti : “Sebermula ada saudagar di negara Ajam. Khojan Mubarok namanya, terlalu amat kaya, akan tetapi ia tiada beranak.” dan meliputi isi hikayat itu menggunakan sudut pandang orang ketiga<br>¯Amanat : seorang istri haruslah menaati dan berbakti pada suaminya dan jangan gegabah pada saat diberi nasihat ataupun kritikan.<br>¯Gaya Bahasa :mudah dipahami, pengarang cenderung menggunakan bahasa Melayu. <br><br>Agama<br>·   Berbaktilah kepada suami. Ketika suami merantau seorang istri harus menjaga dirinya dari laki-laki lain. Jika seorang istri pergi tanpa izin dari dasar, maka dia akan menyesal kelakakangan.<br>"... hingga akhirnyalah Bibi Zainab pun insaf terhadap perbuatannya dan menunggu kekuatan Khojan Maimun pulang dari rantauannya." (Paragraf ke-7 kalimat ke-5)<br>“Maka bernasehatlah dia tentang perbuatannya yang menjerat aturan Allah Swt. (Paragraf ke-4 kalimat ke-4) ”<br>·   Selalu berserah diri dalam meminta hajat kepada Allah Swt.<br>"Tak tahu lama setelah dia berdoa kepada Tuhan, Maka saudagar Mubarokpun beranaklah," Seorang anak laki-laki yang memberi nama Khojan Maimun. " (Paragraf ke-1 kalimat ke-3)<br>·   Senantiasa dari masjid<br>“Pak Lurah mengumumkan bahwa masjid kampung satu-satunya yang berada di jalan utaam, akan segera dipindah ke pemukiman berimpitan dengan rumah-rumah warga dengan alas an agar kami lebih dekat menjangkaunya. Supaya masjid senantiasa tambahan jamaah. ” (Paragraf ke-10 kalimat ke-2 dan ke-3)<br>·   Bersyukur untuk semua hal.<br>"Dia akan selalu mensyukuri mimpi, meski percaya mimpi tak akan mengubah apa-apa" (Paragraf ke-8 kalimat ke-5)<br>·  Tidak percaya bahwa hanya Tuhan yang mementukan dan mengetahui nasib kedepannya.<br>"Namun diam-diam ketika sedang dipijit, Kurit seorang warga kampung yang terkenal suka ceplas-ceplos, meminta Darko meramalkan nasibnya." (Paragraf ke-13 kalimat ke-1)<br><br>2<br>Moral<br>·   Jangan memaksakan kehendak kepada orang lain, dan harus mau mendengarkan pendapat orang lain.<br>“Maka bernasehatlah dia tentang perbuatannya yang menjerat aturan Allah Swt. Maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati. ” (Paragraf ke-4 kalimat ke-4 dan 5)<br>·   Sikap sholeh yang  mengaku Khojan Maimun dan dibagikan.<br>"Tak tahu lama setelah dia berdoa kepada Tuhan, Maka saudagar Mubarokpun beranaklah," Seorang anak laki-laki yang memberi nama Khojan Maimun. " (Paragraf ke-1 kalimat ke-3)<br>“..Maka ditempatkan oleh bapaknya mengaji kepada banyak guru sampai usia Khojan Maimun lima belas tahun.” (Paragraf ke-2 kalimat ke-1)<br>·   Sikap kebijaksanaan yang dimiliki burung tiung.<br>“Maka bernasehatlah yang ditentang perbuatannya yang mengubah aturan Allah Swt.” (Paragraf ke-4 kalimat ke-4)<br>·   Sikap gegabah Bibi Zainab melenyapkan nyawa (membunuh burung tiung).<br>"Maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati." (Paragraf ke-4 kalimat ke-5)<br>·  Seorang pemimpin sudah tidak bisa menyalah gunakan kebijakan yang diberikan untuk tujuan pribadi.<br>"Namun, berhamburan kabar Pak Lurah akan menghubungkan tanah masjid dan sekitarnya dengan orang-orang kota untuk sebuah proyek pasar masuk kampung."<br>(Paragraf ke-11 kalimat ke-1)<br>·  Kita harus ramah terhadap orang lain dan peduli kepada sesama.<br> “Selain itu, Darko memiliki pembawaan sikap yang ramah, tidak mengherankan ketika orang-orang kampung segera merasa akrab dengan dirinya.” (Paragraf ke-7 kalimat ke-1)<br>"Dan jika ada warga yang meninggal, Darko kerap membantu para penggali kubur."<br>(Paragraf ke-17 kalimat ke-8)<br>·   Kita harus ikhlas dan rendah hati dalam menolong orang lain.<br>“Melayani pelanggannya dengan tulus dan sama rata, tanpa pernah melakukan apa pun.” (Paragraf ke-6 kalimat ke-2)<br> “Darko hanya tersenyum sambil gelengkan kepala berkali-kali isyarat kerendahan hati, seakan berkata bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa selain memijat.” (Paragraf ke-13 kalimat ke-2)<br>·  Menolak tubuh yang diberi ajakan yang salat.<br>"Seperti biasa, Darko hanya menggeleng sambil tersenyum."<br>(Paragraf ke-25 kalimat ke-3)<br>3<br>Sosial<br>·   Perselingkuhan di kalangan masyarakat<br>“Hatta beberapa lama di tinggal keras, ada anak Raja Ajam yang berkuda, berikan rupa Bibi Zainab yang terlalu elok. Maka berkencanlah mereka untuk bertemu melalu seorang perempuan tua. ” (Paragraf   ke-4 kalimat ke-1 dan ke-2)<br><br>·      Selamatkan para warga didirikan kubur jika ada seorang warga yang meninggal.<br>"Esoknya, diasyhat yang sangat cerah, Pak Lurah mengumpulkan beberapa warga-terutama lelaki-guna-bagi perlengkapan penguburan ke tengah pemukiman." (Paragraf ke-27 kalimat ke-6)<br><br>Budaya<br>·      Budaya perjodohan anak saudagar kaya dengan anak saudagar kaya pula.<br>“Ia dipinangkan dengan anak saudagar kaya, amat elok parasnya, namanya Bibi Zainab.” (Paragraf ke2- kalimat ke-2)<br>·      Putra saudagar di negeri Ajamfaat sudah cukup umur akan dipindahkan oleh orang tua untuk mengaji.<br>“Setelah berumurnya Khojan Maimun lima tahun, kemudian diangkat oleh bapaknya mengaji ke banyak guru usia hingga usia Khojan Maimun lima belas tahun.” (Paragraf ke-2 kalimat ke-1)</div>]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336119982/3e951f8047f412ed4e8ecf7bb56963ef/IMG_20181122_190634.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 11:05:11 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306986365</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Nama: saskia</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306992934</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-22 11:32:01 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306992934</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306993406</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="https://padlet-uploads.storage.googleapis.com/336119982/106c679a0d32418bcdce8ddc90d8e90b/IMG_20181122_193336.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 11:34:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306993406</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Safira Putri Sabrina</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306996893</link>
         <description><![CDATA[<div>X MIPA 7<br><br>HIKAYAT TALAGA WARNA<br><br>1. Ide pokok:<br><br>Pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja yang bernama prabu suwartalaya yang baik dan bijaksana, bersama istrinya yang bermana purbamanah.  <br><br>Mereka belum memiliki anak. Maka dari itu, prabu pergi untuk bertapa di tengah hutan dan memohon dikaruniai seorang anak. Beberapa bulan kemudian, sang ratu pun hamil.  <br><br>Tidak terasa sembilan bulan berlalu,  sang ratu melahirkan seorang putri dan diberi nama Gilang Rukmini.  Tahun demi tahun berlalu,  sang putri menjadi seorang gadis yang tercantik di kerajaan itu,  segala keinginannya di kabulkan oleh orang tuanya tanpa terkecuali.  Hal itu yang membuatnya menjadi anak yang manja dan tidak mau diatur. <br><br>Saat perayaan ulang tahun sang putri yang ke-17 tahun,  sang raja menyiapkan hadiah spesial,  yaitu sebuah kalung yang dihiasi dengan permata dan emas berwarna-warni serta merupakan pemberian rakyat dari penjuru negeri,  tetapi sang putri menolak dan melempar kalung tersebut ke tanah. Hal itu membuat semua rakyat terpukul, tidak terkecuali sang permaisuri.  <br><br>Saat kesedihan melanda desa tersebut,  tiba-tiba keluar air dari tempat kalung itu dilemparkan, dan membentuk sebuah telaga dengan Warna-warna yang indah. <br><br>Warna yang indah itu dipercaya timbul dari kalung tersebut. Dan sekarang, danau itu bernama talaga warna. <br><br><br>2.  Unsur Intrinsik<br><br>Tema : Tent kemanusiaan.<br><br>Alur    : alur maju.<br><br>Tokoh dan watak :<br>Raja Prabu Suwartalaya : penyayang, bijaksana, baik hati.<br>Ratu Purbamanah : penyayang, penyabar.<br>Putri Gilang Rukmini : Manja, pemarah, kurang ajar.<br><br>Latar : <br>Latar waktu : Zaman dahulu,Beberapa bulan kemudian,Sembilan bulan kemudian, tahun demi tahun,  siang hari.<br>Latar tempat : Sebuah kerajaan di jawa barat, di tengah hutan. <br>Latar suasana : Sedih, senang, mengejutkan.<br><br>Sudut pandang : orang ketiga tunggal.<br><br>Gaya bahasa  :  Antiklimaks  (meruntutkan kata-kata dalam satu hirarki mulai dari tingkat yang tinggi ke tingkat yang paling rendah.)<br><br>Amanat atau Pesan Moral Cerita :<br>Pemberian yang tulus dari seseorang sebaiknya kita terima dengan baik, meski mungkin tidak seperti yang kita inginkan. Menghormati pemberian orang lain adalah salah satu contoh hidup rukun.<br><br><br><br>3. Unsur ekstrinsik<br><br>Nilai sosial : Ketika rakyat memberikan permata dan emas untuk putri Gilang Rukmini. <br><br>Nilai moral : Sang putri menolak dan membuang perhiasan pemberian rakyat. <br><br>Nilai kepercayaan : Pada saat prabu pergi ke tengah hutan dan bertapa agar dikaruniai anak. <br><br>Nilai budaya : <br>Rakyat yang sangat patuh terhadap sang raja,  dan bertapa di tengah hutan untuk mengabulkan keinginan. <br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://www.educastudio.com/wp-content/uploads/2015/12/CFT0011_Riri_Telaga_Warna_thumb.jpg" />
         <pubDate>2018-11-22 11:49:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/306996893</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/307848468</link>
         <description><![CDATA[<div>Nama : Hezkiel karel<br>Kelas : X MIPA 7<br>Judul : Hikayat Seorang Kakek dan Seekor Ular<br><br>A.	ide pokok<br>Pada zaman dahulu, ada seorang kakek yang sangat disegani oleh penduduk. Ia sangat taat beragama dan berotot juga pandai otaknya.  Suatu hari, ia tengah duduk-duduk ditempat kerjanya. Namun, tiba-tiba seekor ular menghampirinya dan meminta tolong. Ular itu beralasan bahwa ia sedang dikejar-kejar pemburu, maka dari itu ia ingin bersembunyi di mulut kakek.<br>Namun setelah ular itu selamat, ternyata ia malah tidak mau keluar dan malah mengancam kakek untuk memakannya. Kakek bingung, namun pasrah akan takdir yang akan menimpanya. Setelah meminta tolong pada Allah, ternyata ia mendengar suara. Berkat kata-kata dari suara itulah ular itu keluar dan kakek pun selamat.<br>B.    Apresiasi unsur intrinsik<br>1.     Tema			: Balas Budi<br>2.      Perwatakan tokoh	:<br>a)      Si Kakek	: Baik hati, pandai, taat, terlalu mudah percaya pada siapapun, suka  menolong dan pasrah.<br>-          Baik Hati : Dia rela menolong ular yang bahkan bisa membahayakan nyawanya sendiri.<br>-          Pandai : Selain dikenal alim dan taat, ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer.<br>-          Taat : Ia dikenal takut kepada Allah, gandrung pada kebenaran, beribadah wajib setiap waktu, menjaga salat lima waktu dan selalu mengusahakan membaca Al-Qur’an pagi dan petang.<br>-          Terlalu mudah percaya pada siapapun : Dia terlalu percaya bahkan pada hal yang dia endiripun tahu jika itu dapat membunuhnya.<br>-          Suka menolong : bukankah aku telah menyelamatkanmu, tetapi sekarang aku pula yang hendak kamu bunuh?<br>-          Pasrah : Terserah kepada Allah Yang Esa sajalah. Dia cukup bagiku, sebagai penolong terbaik .<br>b)      Ular 	: Licik, jahat, suka berbohong, dan tidak tahu balas budi.<br>-          Licik : Buktinya kamu biarkan saja musuhmu masuk ke mulutmu, padahal semua orang tahu bahwa ia ingin membunuhmu setiap ada kesempatan.<br>-          Jahat : Sekarang kuberi kamu dua pilihan, terserah kamu memilih yang mana; mau kumakan hatimu atau kumakan jantungmu? Kedua-duanya sama-sama membuatmu sekarat.<br>-          Suka berbohong : Pada awalnya dia berjanji hanya akan bersembunyi, tetapi ternyata dia juga mengancam untuk memakan hati atau jantung si kakek.<br>-          Tidak tahu balas budi : Setelah diberi pertolongan oleh kakek, bukannya berterima kasih, ular itu malah mau membunuh kakek.<br>c)      Suara penolong : Baik hati, suka menolong.<br>-          Baik hati : Dia ada disaat yang tepat. Saat kakaek akan dibunuh oleh ular itu.<br>-          Suka menolong : Tuhan yang telah memberi pertolongan dengan mengirimkan seorang juru penyelamat untuknya.<br><br>3.       Jenis alur beserta tahapan peristiwa	: Jenis alurnya maju.<br>Tahapan peristiwanya dimulai dari paragraf 1 yaitu pengenalan tokoh utama.<br>Paragraf 2 dan 3 yaitu penyebab permasalahan.<br>Paragraf 4 dan 5 yaitu bagian klimaks.<br>Paragraf 6 yaitu bagian peleraian.<br>Paragraf 7 yaitu bagian penyelesaian.<br><br>4.     Setting			:<br>Suatu hari, kakek itu sedang duduk di tempat kerjanya. Suasananya sangat tenang dan santai. Namun ular datang dengan gugup. Setelah ular itu berhasil selamat, ular itu mau memakan kakek tersebut. Namun, sang kakek ingin pergi ke sebatang pohon yang ada di suatu tempat yang lapang. Suasanapun menjadi tegang. Namun, menjadi tenang kembali saat ular itu sudah berhsil dikeluarkan dai tubuh kakek. Kakek itupun merasa bahagia dan sangat bersyukur pada Yang Kuasa.<br><br>5.      Amanat			:a. Jangan terlalu percaya kepada orang lain apalagi 						   yang mampu menjadi ‘musuh dalam selimut’ bagi kita.<br> b. Kebaikan pasti akan selalu dibalas dengan kebaikan.<br> c. Allah pasti akan menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang  taat  	kepada-Nya.<br>6.     Sudut pandang		: Orang Ketiga Pelaku Utama.<br><br>7.      Majas			:<br>a.       Majas Sinekdokhe pars prototo: Tiba-tiba seekor ular 			        		         menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.<br>b.      Majas Metafora: Selain dikenal alim dan taat, ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer.<br>c.       Majas Simile: cukuplah Allah Yang Maha Esa bagai penolongku.<br><br>8.      Pengalaman		:<br>1)      Menolong orang harus dengan suatu alasan.<br>2)      Menolong tidak boleh asal-asalan.<br>3)      Tidak boleh terlalu percaya pada orang asing.<br><br>9.      Gagasan			:<br>1.      Kakek tersebut adalah orang yang baik hati dan suka menolong, namun terlalu mudah percaya pada ular.<br>2.      Ular itu mungkin dapat berencana licik, namun orang jahat akan mendapat kebrukan pula.<br>3.      Kakek yang pasrah akhirnya dapat pertolongan dari Allah, dan iapun selamat.<br><br><br>C.    Unsur Ekstrinsik<br>1)    Nilai Moral		: Kita dapat belajar bahwa menolong orang itu memang baik, namun kita juga harus memikirkan pula tentang akibat dari pertolongan kita itu.<br>2)    Nilai Pendidikan	: Kita dapat belajar bahwa perbuatan baik juga akan mendapatkan balasan yang baik pula.<br>3)    Nilai Religius		: Allah akan selalu melindungi hamba-Nya yang taat kepada-Nya.<br>4)      Nilai Sosial		: Menolong sesama yang membutuhkan adalah hal yang baik, apalagi bila memang sedang membutuhkan pertolongan.<br>5)    Nilai Budaya		: Budaya tolong-menolong antara kiat memang harus selalu diterapkan dimanapun dan kapanpun.<br>6)    Nilai Estetika		: Hubungan antar umat manusia yang saling tolong-menolong dan pertolongan Allah yang terkadang tak terduga.<br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2018-11-26 15:58:56 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/307848468</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Safira Putri Sabrina</title>
         <author>samaryuzaki897</author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/857777421</link>
         <description><![CDATA[<div>X MIPA 7<br><br>HIKAYAT TALAGA WARNA<br><br>1. Ide pokok:<br><br>Pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja yang bernama prabu suwartalaya yang baik dan bijaksana, bersama istrinya yang bermana purbamanah.  <br><br>Mereka belum memiliki anak. Maka dari itu, prabu pergi untuk bertapa di tengah hutan dan memohon dikaruniai seorang anak. Beberapa bulan kemudian, sang ratu pun hamil.  <br><br>Tidak terasa sembilan bulan berlalu,  sang ratu melahirkan seorang putri dan diberi nama Gilang Rukmini.  Tahun demi tahun berlalu,  sang putri menjadi seorang gadis yang tercantik di kerajaan itu,  segala keinginannya di kabulkan oleh orang tuanya tanpa terkecuali.  Hal itu yang membuatnya menjadi anak yang manja dan tidak mau diatur. <br><br>Saat perayaan ulang tahun sang putri yang ke-17 tahun,  sang raja menyiapkan hadiah spesial,  yaitu sebuah kalung yang dihiasi dengan permata dan emas berwarna-warni serta merupakan pemberian rakyat dari penjuru negeri,  tetapi sang putri menolak dan melempar kalung tersebut ke tanah. Hal itu membuat semua rakyat terpukul, tidak terkecuali sang permaisuri.  <br><br>Saat kesedihan melanda desa tersebut,  tiba-tiba keluar air dari tempat kalung itu dilemparkan, dan membentuk sebuah telaga dengan Warna-warna yang indah. <br><br>Warna yang indah itu dipercaya timbul dari kalung tersebut. Dan sekarang, danau itu bernama talaga warna. <br><br><br>2.  Unsur Intrinsik<br><br>Tema : Tent kemanusiaan.<br><br>Alur    : alur maju.<br><br>Tokoh dan watak :<br>Raja Prabu Suwartalaya : penyayang, bijaksana, baik hati.<br>Ratu Purbamanah : penyayang, penyabar.<br>Putri Gilang Rukmini : Manja, pemarah, kurang ajar.<br><br>Latar : <br>Latar waktu : Zaman dahulu,Beberapa bulan kemudian,Sembilan bulan kemudian, tahun demi tahun,  siang hari.<br>Latar tempat : Sebuah kerajaan di jawa barat, di tengah hutan. <br>Latar suasana : Sedih, senang, mengejutkan.<br><br>Sudut pandang : orang ketiga tunggal.<br><br>Gaya bahasa  :  Antiklimaks  (meruntutkan kata-kata dalam satu hirarki mulai dari tingkat yang tinggi ke tingkat yang paling rendah.)<br><br>Amanat atau Pesan Moral Cerita :<br>Pemberian yang tulus dari seseorang sebaiknya kita terima dengan baik, meski mungkin tidak seperti yang kita inginkan. Menghormati pemberian orang lain adalah salah satu contoh hidup rukun.<br><br><br><br>3. Unsur ekstrinsik<br><br>Nilai sosial : Ketika rakyat memberikan permata dan emas untuk putri Gilang Rukmini. <br><br>Nilai moral : Sang putri menolak dan membuang perhiasan pemberian rakyat. <br><br>Nilai kepercayaan : Pada saat prabu pergi ke tengah hutan dan bertapa agar dikaruniai anak. <br><br>Nilai budaya : <br>Rakyat yang sangat patuh terhadap sang raja,  dan bertapa di tengah hutan untuk mengabulkan keinginan. <br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://www.educastudio.com/wp-content/uploads/2015/12/CFT0011_Riri_Telaga_Warna_thumb.jpg" />
         <pubDate>2020-10-24 05:11:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/857777421</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Safira Putri Sabrina</title>
         <author>samaryuzaki897</author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/857777781</link>
         <description><![CDATA[<div>X MIPA 7<br><br>HIKAYAT TALAGA WARNA<br><br>1. Ide pokok:<br><br>Pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja yang bernama prabu suwartalaya yang baik dan bijaksana, bersama istrinya yang bermana purbamanah.  <br><br>Mereka belum memiliki anak. Maka dari itu, prabu pergi untuk bertapa di tengah hutan dan memohon dikaruniai seorang anak. Beberapa bulan kemudian, sang ratu pun hamil.  <br><br>Tidak terasa sembilan bulan berlalu,  sang ratu melahirkan seorang putri dan diberi nama Gilang Rukmini.  Tahun demi tahun berlalu,  sang putri menjadi seorang gadis yang tercantik di kerajaan itu,  segala keinginannya di kabulkan oleh orang tuanya tanpa terkecuali.  Hal itu yang membuatnya menjadi anak yang manja dan tidak mau diatur. <br><br>Saat perayaan ulang tahun sang putri yang ke-17 tahun,  sang raja menyiapkan hadiah spesial,  yaitu sebuah kalung yang dihiasi dengan permata dan emas berwarna-warni serta merupakan pemberian rakyat dari penjuru negeri,  tetapi sang putri menolak dan melempar kalung tersebut ke tanah. Hal itu membuat semua rakyat terpukul, tidak terkecuali sang permaisuri.  <br><br>Saat kesedihan melanda desa tersebut,  tiba-tiba keluar air dari tempat kalung itu dilemparkan, dan membentuk sebuah telaga dengan Warna-warna yang indah. <br><br>Warna yang indah itu dipercaya timbul dari kalung tersebut. Dan sekarang, danau itu bernama talaga warna. <br><br><br>2.  Unsur Intrinsik<br><br>Tema : Tent kemanusiaan.<br><br>Alur    : alur maju.<br><br>Tokoh dan watak :<br>Raja Prabu Suwartalaya : penyayang, bijaksana, baik hati.<br>Ratu Purbamanah : penyayang, penyabar.<br>Putri Gilang Rukmini : Manja, pemarah, kurang ajar.<br><br>Latar : <br>Latar waktu : Zaman dahulu,Beberapa bulan kemudian,Sembilan bulan kemudian, tahun demi tahun,  siang hari.<br>Latar tempat : Sebuah kerajaan di jawa barat, di tengah hutan. <br>Latar suasana : Sedih, senang, mengejutkan.<br><br>Sudut pandang : orang ketiga tunggal.<br><br>Gaya bahasa  :  Antiklimaks  (meruntutkan kata-kata dalam satu hirarki mulai dari tingkat yang tinggi ke tingkat yang paling rendah.)<br><br>Amanat atau Pesan Moral Cerita :<br>Pemberian yang tulus dari seseorang sebaiknya kita terima dengan baik, meski mungkin tidak seperti yang kita inginkan. Menghormati pemberian orang lain adalah salah satu contoh hidup rukun.<br><br><br><br>3. Unsur ekstrinsik<br><br>Nilai sosial : Ketika rakyat memberikan permata dan emas untuk putri Gilang Rukmini. <br><br>Nilai moral : Sang putri menolak dan membuang perhiasan pemberian rakyat. <br><br>Nilai kepercayaan : Pada saat prabu pergi ke tengah hutan dan bertapa agar dikaruniai anak. <br><br>Nilai budaya : <br>Rakyat yang sangat patuh terhadap sang raja,  dan bertapa di tengah hutan untuk mengabulkan keinginan. <br><br><br></div>]]></description>
         <enclosure url="https://www.educastudio.com/wp-content/uploads/2015/12/CFT0011_Riri_Telaga_Warna_thumb.jpg" />
         <pubDate>2020-10-24 05:12:06 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/857777781</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/915744969</link>
         <description><![CDATA[<div>Pengembara yang lapar</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-12 09:30:29 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/915744969</guid>
      </item>
      <item>
         <title></title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/970088142</link>
         <description><![CDATA[<div>Hikayat seorang kakek dan seekor ular</div>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2020-11-30 05:52:36 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/970088142</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Cerpen tentang pengembara yang cerdik kemudian buatlah unsurnya</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/2336549797</link>
         <description><![CDATA[]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2022-10-12 07:05:26 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/unique01_wb/mjh9r163nbic/wish/2336549797</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
