<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0">
   <channel>
      <title>Kolaborasi Ide Inspiratif by Peserta PPG 00872</title>
      <link>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7</link>
      <description>Bagikan ide cerita inspiratif Anda bersama gambar AI yang mendukung ide tersebut.</description>
      <language>en-us</language>
      <pubDate>2025-04-16 14:06:30 UTC</pubDate>
      <lastBuildDate>2025-09-25 13:05:46 UTC</lastBuildDate>
      <webMaster>hello@padlet.com</webMaster>
      <image>
         <url></url>
      </image>
      <item>
         <title>Petunjuk</title>
         <author>peserta00872</author>
         <link>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3412523847</link>
         <description><![CDATA[<ol><li>Pikirkan sebuah ide untuk cerita inspiratif yang ingin Anda tulis</li><li>Tuliskan judul cerita Anda di bagian subjek</li><li>Jelaskan ide cerita Anda secara singkat di bagian deskripsi</li><li>Gunakan fitur “AI image” untuk membuat gambar yang sesuai dengan ide cerita Anda</li><li>Setelah semua siswa memposting ide mereka:<ul><li>Baca ide-ide teman Anda</li><li>Berikan komentar yang konstruktif</li><li>Berikan bintang pada ide yang menurut Anda paling menarik</li></ul></li></ol>]]></description>
         <pubDate>2025-04-16 14:06:37 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3412523847</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Dari Barang Bekas untuk Udara yang Lebih Sehat</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413368319</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p> </p><p><br/></p><p>        Saya tinggal di daerah pinggiran kota yang sering terkena asap dari pabrik dan pembakaran liar. Udara di sekitar kami sering berbau menyengat dan penuh polusi. Banyak anak-anak di lingkungan saya mengalami gangguan pernapasan, termasuk adik saya sendiri. Hal ini membuat saya prihatin dan mulai berpikir untuk mencari solusi, meskipun saya hanyalah seorang pelajar SMA dari keluarga sederhana.</p><p>       Saat duduk di bangku SMA, saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah mungkin membuat alat penyaring udara dari barang-barang bekas? Saya tahu saya tidak punya modal besar, tapi saya percaya ide sederhana bisa membawa perubahan. Dengan semangat dan rasa ingin tahu, saya mulai merakit alat dari kipas angin rusak, arang aktif dari tempurung kelapa, serta saringan dari kain bekas. Hasilnya adalah alat penyaring udara sederhana yang saya buat di rumah.</p><p>       Namun, tantangan terberat bukanlah membuat alat itu, melainkan membuktikan bahwa alat ini benar-benar bisa bekerja. Banyak warga meragukan hasil karya saya. “Mana mungkin alat dari batang bekas bisa bersihkan udara?” begitu komentar sebagian dari mereka. Saya dianggap hanya anak kampung yang main-main dengan barang rongsokan. Kepercayaan orang sekitar menjadi tembok tinggi yang sulit saya tembus.</p><p>            Saya tidak menyerah. Saya terus menguji alat tersebut, memperbaiki kekurangannya, dan mendokumentasikan hasilnya. Saya bahkan melakukan demonstrasi langsung ke rumah-rumah warga untuk menunjukkan perbedaan kualitas udara. Pelan-pelan, kepercayaan mulai tumbuh. Warga mulai mencoba alat saya, dan hasilnya membuat mereka yakin. Sekarang, alat penyaring udara buatan saya telah digunakan di beberapa RT di lingkungan kami.</p><p>         Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menciptakan solusi. Selama kita punya tekad dan keberanian untuk mencoba, perubahan bisa dimulai dari hal kecil. Bukan soal seberapa canggih alatnya, tapi seberapa besar niat dan manfaat yang dibawanya. Saya bangga bisa memberi napas yang lebih sehat bagi lingkungan saya—dari barang bekas yang dipandang sebelah mata.</p><p><br/></p><p>karya kelompok: panting</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-17 03:32:57 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413368319</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Jangan Buang Waktu Terlalu Sering Mengeluh</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413372547</link>
         <description><![CDATA[<p>karya Kelompok Agung </p><p>1) Nur Azzahwa</p><p>2) Risna Putri Salabila</p><p>3) Muhammad Aldi</p><p><br/></p><p>Di sebuah desa, hiduplah seorang anak yang bernama Aldi. Setiap hari Aldi tersebut menerima keluhan yang diucapkan oleh banyak warga desa. Hal tersebut terus berulang-ulang hingga suatu hari, Aldi tersebut melakukan sebuah tindakan.</p><p>Ia mulai mengumpulkan semua orang desa dan menceritakan sebuah lelucon. Semua orang tertawa ketika mendengarkan lelucon Aldi tersebut. Di hari kedua, Aldi tersebut kembali mengumpulkan orang-orang desa. Aldi tersebut menceritakan lelucon yang sama dengan hasil akhir para penduduk desa menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Di hari ketiga, Aldi kembali menceritakan lelucon yang sama. Namun, respons yang diberikan oleh penduduk desa sedikit berbeda dari dua hari sebelumnya.</p><p>Salah satu penduduk desa mulai bertanya mengapa Aldi membacakan lelucon yang sama. Mereka merasa bosan dengan lelucon yang sama. Aldi pun menjawab, “Jika pada lelucon yang sama kalian bisa bosan dan tidak bisa tertawa, namun mengapa dengan masalah yang sama tetap saja bisa buat kalian menangis?” Penduduk desa tersebut terlalu memikirkan satu masalah dalam hidupnya tanpa mencari jalan keluar. Yang mereka lakukan hanyalah mengeluh, mengeluh, dan mengeluh tanpa ada tindakan.</p><p>Tanpa sadar kita juga sering seperti para penduduk desa yang suka mengeluh terhadap masalah yang sedang dihadapi. Bahkan, kita kerap kali berfokus terhadap masalah bukan bagaimana cara untuk menyelesaikannya. Hal inilah yang membuat kita tetap berada di posisi yang sama. Kita harus berani mencoba untuk menyelesaikan masalah. Mengeluh saja tidak akan menyelesaikan masalah.</p><p>Mari kita mulai mencari jalan keluar dari masalah yang kita hadapi daripada hanya diam dan merasa pusing terhadap permasalahan yang sedang dialami tanpa memikirkan bagaimana cara menyelesaikannya.</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-17 03:36:09 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413372547</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Di balik pintu terkunci</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413373569</link>
         <description><![CDATA[<p><br/></p><p>sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung, terdapat sebuah rumah tua yang sudah lama ditinggalkan. Rumah itu dikenal dengan cerita-cerita aneh yang beredar di kalangan penduduk desa. Konon, setiap malam, terdengar suara langkah kaki berat yang datang dari dalam rumah, meski tidak ada seorang pun yang terlihat.</p><p>Maya, seorang gadis muda yang baru adapindah ke desa itu, mendengar tentang rumah tersebut dari teman-temannya. Penasaran dengan semua kisah misterius itu, ia memutuskan untuk mengunjungi rumah itu sendiri pada suatu malam yang gelap.</p><p>Setibanya di depan rumah, Maya merasa jantungnya berdebar kencang. Pintu depan rumah itu tampak kokoh dan tertutup rapat, namun ada sebuah jendela kecil di sisi kiri yang sedikit terbuka. Maya dengan hati-hati mendekati dan mengintip ke dalam. la tidak melihat apapun yang mencurigakan, kecuali bayangan samar yang bergerak di dalam ruangan.</p><p>Tanpa pikir panjang, Maya memutuskan untuk masuk. la mengendap-endap melalui jendela kecil dan melangkah ke dalam rumah yang gelap dan berdebu. Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari lantai atas, dan Maya merasa seakan ada yang mengamatinya dari balik bayang-bayang.</p><p>Dengan hati-hati, Maya menaiki tangga tua yang berderit. Semakin ia mendekat ke lantai atas, suara itu semakin jelas, seakan ada seseorang yang menunggunya. Saat tiba di atas, Maya menemukan sebuah pintu kayu besar yang terkunci rapat. Entah kenapa, ia merasa harus membuka pintu itu.</p><p>Dengan segenap tenaga, Maya berhasil memutar kunci pintu yang berkarat. Begitu pintu terbuka, ia disambut oleh sebuah ruangan kosong dengan dinding-dinding yang dipenuhi gambar-gambar aneh. Di tengah ruangan, terdapat sebuah cermin besar yang berbingkai emas tua. Ketika Maya melihat ke dalam cermin, bayangannya tidak muncul. Tiba-tiba, suara berat itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Maya membalikkan tubuhnya, hanya untuk melihat sosok tinggi dan gelap berdiri di sudut ruangan, matanya kosong, seolah-olah menunggu sesuatu.</p><p>"Saya tidak ingin menyakitimu," kata sosok itu dengan suara serak. Maya terdiam, merasa ketakutan sekaligus penasaran. "Siapa kamu?" tanyanya, suaranya hampir berbisik.</p><p>"Saya adalah penjaga rahasia rumah ini," jawab sosok itu. "Dan kamu... sudah mengetahui segalanya."</p><p>Maya mulai merasakan bahwa kehadirannya di sana bukan kebetulan. Rumah tua ini menyimpan sebuah misteri besar, dan ia adalah orang yang dipilih untuk mengungkapnya.</p><p>Dengan keberanian yang ia kumpulkan, Maya memutuskan untuk mendengarkan cerita penjaga rumah itu, meski itu berarti ia harus menghadapi </p><p>kenyataan yang jauh lebih gelap daripada yang pernah ia bayangkan</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>mana kelompok: kurung kurung</p><p>1 muhammad hafidz badai</p><p>2 edi saputra</p><p>3 m. raykhan saputra</p><p>4.annissa liana aufa</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-17 03:36:52 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413373569</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Harta yang berharga adalah keluarga</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413374405</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada suatu hari yang cerah ada satu keluarga yang berisi ber anggota 4 orang terdiri dari ayah ibu kakak dan adik suatu hari mereka sedang berlibur hingga saat di tempat liburan mereka menyewa sebuah vila yang berisi 2 kamar namun saat itu sang kakak tidak ingin satu kamar bersama sang adik setelah itu sang kakak pun berkata kepada kedua orang tua nya bahwa ia tidak ingin satu kamar dengan sang adik karena sang kakak ingin melakukan aktivas nya sendiri tanpa gangguan sang adik namun orang tua mereka berkata kalau m</p><p>Mereka sudah terlanjur menyewa vila yang berisi 2 kamar sang kakak pun marah karena keinginannya tidak di turuti sang orang tua lalu sang kakak pun pergi ke dalam kamar lalu ia pun melepaskan amarahnya ke sang adik hingga berkata kalau sang adik mengganggu ketenangannya dan ia tidak bisa melakukan aktivasi pribadinya sang adik pun dimarahin habis habisan mendengar amarah kakanya sang adik pun merasa sakit hati karena ada perkataan sang kakak yang menyakiti hatinya sang adik pun pergi keluar dan ia berkeliling vila untuk mencari angin namun sang adik tidak ingat jalan pulang ke vila sang kakak yang sadar pun bahwa ia sudah berlebihan memarahi sang adik ia pun gelisah karena sang adik tidak kunjung pulang ke vila ia pun berlari ke orang tuanya untuk bertanya keberadaan sang adik namun orang tuanya juga tidak tau dimana sang adik orang tuanya pikir sang adik masih bersama sang kakak lalu mereka bertiga pun mencari sang adik di sekitar vila namun tidak ketemu di sisi lain sang adik bertemu dengan penjaga vila lalu ia minta tolong untuk mengantarkan ke vila yang orang tuanya sewa setelah itu mereka pun sampai di vila itu dengan ditunggu orang tua dan kakaknya dan saat itu sang kakak langsung memeluk sang adik karena ia merasa bersalah telah memarahi adiknya ia pun sadar dengan kesalahannya dan sang adik pun memaafkan sang kakak lalu orang tua mereka berterima kasih kepada penjaga vila karena telah mengantarkan anak mereka yang selama berjam jam mereka cari, setelah itu orang tua mereka pun menasihati sang kakak agar tidak boleh egois dan tidak boleh meluapkan emosi kepada orang lain dan akhirnya mereka sama sama kembali melanjutkan liburan keluarga mereka yang sudah mereka rencanakan.</p><p><br/></p><p>Dari kisah tersebut bisa kita ambil bahwa semarah apapun kita kepada saudara kita jangan sampai berkata yang menyakiti hati saudara kita karena jika ia tidak ada kita juga akan merasakan kehilangan dan merasa bersalah.</p><p><br/></p><p>Nama kelompok:terbang madihin</p><p>Anggota kelompok: rahman nazril, adinda shafira, ria marinis</p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-17 03:37:31 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413374405</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Perjuangan Seorang Ayah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413377234</link>
         <description><![CDATA[<p>Orang tua pasti akan melakukan apa saja dan selalu berjuang demi anaknya, begitu juga dengan kisah ayah yang satu ini. Ayah tersebut bernama Jalandhar Nayak yang mempunyai 3 orang anak. Jalandhar bersama keluarganya tinggal di desa terpencil bagian timur India.</p><p>   Ia dan keluarganya bahkan menjadi satu-satunya keluarga yang masih tinggal di desa Gumsahi, negara bagian Orissa, bagian timur India karena orang lain sudah pindah ke desa lain yang memiliki akses jalan dan fasilitas yang lebih layak.</p><p>   Ketiga anak Jalandhar bersekolah di kota yang berjarak sekitar 10 km dari tempat tinggalnya. Anak-anaknya harus melewati medan yang terjal dengan mendaki 5 bukit dan butuh waktu 3 jam untuk sampai ke sekolahnya. Sehingga anaknya sulit untuk pulang setiap akhir pekan apalagi untuk pulang-pergi setiap hari.</p><p>    Jalandhar sangat ingin untuk hidup bersama dengan ketiga anaknya itu setiap hari. Namun karena keadaannya yang serba sulit, Jalandhar harus rela membiarkan anak anaknya untuk menuntut ilmu di tempat yang jauh dan bertemu dengannya setiap akhir pekan.</p><p>     Karena keinginannya tersebut akhirnya ayah tiga orang anak ini memutuskan untuk membuka jalan baru. Dengan peralatan sederhana seperti linggis dan kapak, Ia membuka jalan dengan rute yang lebih mudah. Ia memotong batu dan menyingkirkan batu-batu besar.</p><p><br/></p><p>Kegiatan membuka jalan ini telah dilakukannya selama 2 tahun terakhir, ia memulai pekerjaan setiap pukul 6 pagi dan bekerja selama kurang lebih 8 jam setiap harinya. Hingga saat ini, Jalandhar sudah berhasil membuat jalan sepanjang 8 km yang menurut laporan reporter media lokal yang dilansir dari BBC India, jalan tersebut bahkan bisa dilewati kendaraan. Jalandhar berharap jika jalan yang dibuatnya sudah jadi, ketiga anaknya bisa pulang lebih sering di akhir pekan atau saat liburan sekolah tiba.</p><p>     Aksi perjuangan ayah yang satu ini menarik perhatian masyarakat dan pemerintah India. Jalandhar sangat peduli terhadap kelestarian lingkungan. Selama pembangunan jalan tersebut, ia selalu berusaha agar tidak ada pohon yang ditebang. Kerja kerasnya membuahkan hasil, ia diberikan upah oleh pemerintah dan untuk 7 km rute yang belum diselesaikan untuk mencapai sekolah sang anak, akan dilanjutkan oleh pemerintah.</p><p>  Dari perjuangan Jalandhar, kita bisa mengambil pelajaran bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga dan ayah merupakan pahlawan tanpa tanda jasa yang rela berjuang dan berkorban demi kesuksesan anak-anaknya.</p><p><br/></p><p><br/></p><p>karya kelompok : sape</p><p>nama kelompok : </p><p>-Riana nabilla </p><p>-Ahmad wildan musthofa</p><p>-Rassya arta perdana</p><p>-Siti mariatul kibtiah</p><p>                  </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-17 03:39:47 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413377234</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Senyum di Tengah Derita</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413386223</link>
         <description><![CDATA[<p>Nama kelompok:Gambus Banjar</p><p>- Alanies Syafina Ramadhani</p><p>-Akmal Binuril Azmi</p><p>-M. Iman Nazuti</p><p><br/></p><p>Di sebuah desa terpencil, hiduplah seorang anak laki laki bernama Okta . Ia baru berusia sebelas tahun, namun sudah kehilangan ayah tercinta karena kecelakaan Motor . Sejak itu, ibunya bekerja keras sebagai penjual kue untuk membesarkan Okta dan adik perempuan nya yang masih sekolah dasar. Kehidupan mereka sangat sederhana, penuh keterbatasan.</p><p><br/></p><p>Masalah demi masalah datang silih berganti dalam hidup Okta. Setelah ditinggal sang ayah, kehidupan keluarganya menjadi semakin sulit. Namun, keadaan bertambah rumit ketika ibunya jatuh sakit karena terlalu sering bekerja tanpa istirahat yang cukup. Tubuhnya lemah, dan tidak sanggup lagi berjualan seperti biasa.</p><p>Keadaan itu memaksa Okta menggantikan peran ibunya. Sepulang sekolah, ia harus berjualan kue sendiri, dan juga harus mengurus adik perempuan nya yang masih sekolah dasar. Ia belajar di malam hari dalam keadaan lelah dan mengantuk. Akibatnya, nilai-nilainya menurun dan ia mulai sering datang terlambat ke sekolah.</p><p><br/></p><p>Pada suatu pagi, ia dipanggil oleh gurunya karena terlambat dan terlihat mengantuk di kelas, juga karena nilai nilainya yang menurun.</p><p>Teman-temannya mulai mengejeknya karena penampilannya lusuh dan nilai pelajarannya menurun.</p><p><br/></p><p>"Apa kamu tidak serius sekolah, Okta? " tanya gurunya.</p><p><br/></p><p>Dengan mata berkaca-kaca, Okta menjawab pelan,</p><p>"Saya ingin sekali belajar, Bu... tapi Ibu saya sakit, saya harus membantu di rumah dan berjualan kue agar bisa membantu ekonomi keluarga dan agar adik saya tetap bisa bersekolah." Jawab Okta. </p><p><br/></p><p>Perkataan Okta menyentuh hati gurunya. Sang guru bersama pihak sekolah mengunjungi rumah Okta dan mengetahui kondisi keluarganya. Sekolah lalu memberikan bantuan, serta mendaftarkan Okta dalam program beasiswa. Beberapa tetangga ikut membantu menjaga adiknya Okta dan membeli kue buatan ibunya.</p><p>Setelah itu, Okta bisa kembali fokus belajar. Dengan semangat dan ketekunan, ia berhasil meraih prestasi demi prestasi. Ia lulus dengan nilai terbaik, memperoleh beasiswa hingga ke perguruan tinggi, dan akhirnya menjadi seorang dokter.</p><p><br/></p><p>Okta kembali ke desanya dan membangun klinik untuk membantu orang-orang yang dahulu membantunya. Ia tetap sederhana dan murah senyum, karena ia tahu bahwa senyum adalah kekuatan yang mampu mengubah derita menjadi harapan.</p><p><br/></p><p>Jangan pernah menyerah walau hidup terasa berat. Dalam setiap kesulitan, tetaplah tersenyum dan berbuat baik, karena senyuman dan ketulusan hati bisa menjadi kekuatan untuk menghadapi segala derita.</p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-17 03:47:19 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413386223</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Singa si raja hutan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413389009</link>
         <description><![CDATA[<p>     Dahulu kala di sebuah hutan, hiduplah se ekor singa yang dibenci oleh teman-teman nya karena sifat nya yang begitu jahat dan rakus.  </p><p>     Suatu hari monyet mengadakan sebuah pesta buah, seluruh hewan yang ada dihutan termasuk singa di undang ke pesta tersebut.</p><p>      Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba para hewan langsung bergegas ke rumah monyet untuk mengadakan pesta, mereka pun bersenang-senang di pesta tersebut disisi lain singa tidak ikut bersenang-senang melainkan dia berdiri disamping meja yang penuh dengan buah-buahan.</p><p>     Tanpa hewan lain ketahui ternyata singa diam-diam mengambil semua buah yang ada dimeja, si kelinci pun menyadari hal itu bahwa buah yang ada di meja telah habis, dia pun bergegas memberi tau kepada hewan hewan lainnya, mereka pun langsung mencari tau siapa pelaku nya.</p><p>      Kancil yang bijak pun mencari tau siapa pelakunya, dia menyadari tidak ada singa di tempat itu padahal sebelumnya dia ada, lalu dia bergegas ke tempat tinggal singa dia menemukan singa yang sedang memakani buah-buahan, singa pun terkejut melihat sang kancil </p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p><br/></p><p>nama kelompok:</p><p>anggota:</p><p>m nasri</p><p>wilda hasana</p><p>rabiah adawiyah</p><p>      </p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-17 03:48:39 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413389009</guid>
      </item>
      <item>
         <title>KISAH SEORANG TUKANG KAYU </title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413393842</link>
         <description><![CDATA[<p>Pada zaman dahulu kala ada seorang tukang kayu miskin yang tinggal bersama keluarganya, didekat sebuah sungal yang sangat dalam. Pada suatu hari, tukang kayu sedang bekerja di tepi sungai, namun tiba-tiba saja kapak nya terlempar ke dalam sungalPada zaman dahulu kala ada seorang tukang kayu miskin yang tinggal bersama keluarganya, didekat sebuah sungal yang sangat dalam. Pada suatu hari, tukang kayu sedang bekerja di tepi sungai, namun tiba-tiba saja kapak nya terlempar ke dalam sungai</p><p> </p><p>"Oh apa yang harus aku lakukan? Aku kehilangan kapak milikku satu satunya sementara aku tidak punya uang untuk membell yang baru" Untungnya ia tidak menyerah begitu saja, tukang kayu mulai memanggil Rama untuk meminta bantuan tiba-tiba saja Rama telah muncul dan berdiri dihadapannya</p><p><br/></p><p>"Ada masalah apa, pak, sehingga anda memanggil ku?" Tanya Rama sopan "Tolong bantulah saya, Rama. Aku kehilangan kapak ku yang masuk ke dalam sungal sementara aku tidak punya uang untuk membeli kapak baru karna aku sangat miskin" jawab tukang kayu itu"</p><p><br/></p><p>"Saya akan membantu mul", ucap Rama yang dengan sigap langsung menyelam ke dalam sungal yang dalam. Tidak berapa lama kemudian ia muncul dipermukaan dengan kapak emas yang indah di tangannya, "Inikah kapak milik mu?" Tanya Rama</p><p><br/></p><p>Tukang kayu orang yang jujur. Mengelakan kepalanya, "kapak itu bukan milikku, kapakku hanyalah kapak blasa dan tidak terbuat dari emas"</p><p><br/></p><p>KELOMPOK SERUNAI BANJAR</p><p><br/></p><p>-NANDA AMELIA</p><p><br/></p><p>-RIZARINA JULIANTI</p><p><br/></p><p>-RAHMAT RAMADHAN</p><p><br/></p><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-17 03:52:34 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413393842</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Sarjana gorengan</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413869079</link>
         <description><![CDATA[<p> Sejak kecil Amar suka menulis karya sastranya, dia tinggal di desa yang agak jauh dari kota bersama neneknya. Amar yang hidup serba kekurangan dengan terpaksa membantu neneknya dengan berjualan gorengan di sekolah.</p><p> Saat berjualan di sekolah, temannya mengatakan, "orang miskin seperti kamu mau menjadi penulis? Paling sekedar mimpi," mendengar ucapan temannya, Amar kemudian merenung sejenak.</p><p>  Sepulang sekolah, Amar bercerita kepada neneknya, "Nek, mungkin aku ingin menyerah saja untuk menjadi penulis, karena kata teman temanku tidak berguna juga untuk bermimpi kalau kita adalah orang miskin," mendengar ucapan Amar neneknya mengatakan, "Cu, kalau kamu ingin menyerah sekarang, yang ada kamu tidak berubah sama sekali. Lebih baik kamu belajar untuk mengubah dirimu sendiri, BJ Habibie pernah berkata, "keberhasilan bukanlah milik orang yang pintar, keberhasilan adalah kepunyaan mereka yang senantiasa berusaha." Jadi, belajarlah untuk meraih masa depanmu, karena hidupmu masih panjang."</p><p> Mendengar ucapan neneknya, Amar pun mulai giat belajar, dan membantu neneknya berjualan di sekitar desa. Beberapa bulan kemudian, ujian akan diadakan, Amar yang sudah mendapat motivasi dari neneknya langsung belajar dengan bersungguh sungguh. Setelah hasil ujian di edarkan kepada siswa, Amar mendapat nilai standar, tapi nilai Bahasa Indonesia Amar tergolong lebih tinggi dari semua siswa. </p><p> Mendengar kabar dari temannya yang seorang guru di sekolah tersebut, seorang dosen dari Universitas Indonesia dengan sigap menuju rumahnya Amar. Sesampainya di rumah Amar, dosen tersebut ingin menguji Amar terlebih dahulu, untuk memastikan Amar benar benar pintar dalam Bahasa Indonesia. Dari semua soal yang diberikan, Amar berhasil menjawab semuanya, dosen tersebut menawarkan beasiswa kuliah untuk jurusan sastra Indonesia setelah mendengar impian Amar. Tapi Amar mengatakan, "jika aku pergi ke kota, bagaimana dengan nenekku?" Kemudian, neneknya mengatakan, "kamu pergilah ke kota untuk menimba ilmu disana, nenek disini baik baik saja karena nenek masih bisa menjaga diri," setelah itu, Amar kemudian ikut dengan dosen tersebut dan berpamitan dengan neneknya.</p><p> Selama 4 tahun berkuliah, Amar berhasil meraih Sarjana Sastra. Setelah merayakan kelulusan, Amar mendengar kabar kalau neneknya sudah meninggal dunia sejak 2 bulan yang lalu. Kemudian, dia mengunjungngi makam neneknya, dalam pikirannya Amar teringat motivasi dari neneknya, sehingga Amar menulis karya sastranya tapi ditolak, berjuang untuk menjadi penulis dan terus menulis karya sastra, hingga akhirnya karya sastra milik Amar diterima dan mulai di terbitkan, hingga akhirnya Amar sukses menjadi seorang penulis yang terkenal.</p><p>  Memang kita mudah menyerah karena omongan dari orang lain, hiraukan saja ucapan orang orang itu dan fokus untuk mengembangkan diri sendiri. Menyerah bukan pilihan yang baik kalau ingin berubah, meskipun kita memiliki kekurangan masing masing jika kita mau mengembangkan kelebihan kita, maka kesuksesan akan datang.</p><p><br/></p><p>   Cerita dari kelompok kanung</p><ol><li><p>Salsabila kholisa (sebagai pemberi aspirasi ide cerita)</p></li><li><p>Muammar Qaddafy (sebagai sumber inspiratif)</p></li><li><p>Oktaviandi (sebagai penulis dari semua ide anggota kelompok)</p></li></ol>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-17 10:58:41 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3413869079</guid>
      </item>
      <item>
         <title>Renungan sang ayah</title>
         <author></author>
         <link>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3421573181</link>
         <description><![CDATA[<p>Di sebuah desa kecil yang damai, hiduplah seorang pria paruh baya bernama pak Rahman bersama putrinya, Rara. Pak Rahman adalah seorang tukang kayu sederhana yang setiap hari bekerja keras membuat perabotan rumah untuk dijual. Meskipun penghasilannya tidak banyak, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak semata wayangnya.</p><p>Rara adalah seorang remaja yang cerdas dan memiliki semangat belajar tinggi. la selalu ingin mencapai kesuksesan dan memiliki kehidupan yang lebih baik dari ayahnya. Namun, seiring bertambahnya usia, Rara mulai merasa malu dengan pekerjaan ayahnya yang dianggapnya tidak bergengsi. Apalagi, teman-temannya di sekolah berasal dari keluarga yang lebih kaya dan memiliki orang tua dengan pekerjaan yang lebih terhormat di matanya.</p><p>Suatu hari sepulang sekolah, Rara pulang dengan wajah murung. Pak Rahman yang sedang menghaluskan kayu melihat perubahan ekspresi anaknya dan bertanya, "ada apa, nak? Kau tampak tidak bahagia".</p><p>Rara mendesah berat dan berkata, "ayah kenapa kita tidak bisa seperti keluarga teman-temanku? Mereka hidup nyaman, tidak perlu bekerja keras seperti ayah. Aku malu, ayah. Setiap kali teman teman ku bertanya tentang pekerjaan ayah, aku selalu merasa minder".</p><p>Pak Rahman terdiam sejenak. la bisa memahami perasaan anaknya, namun ia juga ingin Rara memahami makna sebenarnya dari pekerja keras dan kehidupan. Dengan senyum bijak, ia mengajak Rara ke bengkel kerjanya. Di sana, ia mengambil sepotong kayu yang masih kasar dan memberikannya kepada Rara.</p><p>"nak, buatlah sesuatu dari kayu ini, "kata pak Rahman.</p><p>"Rara memandang kayu itu dengan bingung, "bagaimana caranya, ayah?aku tidak tahu harus membuat apa".</p><p>Pak Rahman tersenyum, "nah, begitulah hidup,nak. Orang yang melihat sesuatu hanya dari luarnya tidak akan pernah tahu nilai sejatinya. Seperti kayu ini, mungkin kau hanya melihatnya sebagai sepotong kayu yang kasar dan tidak berharga.tapi ditangan orang yang terampil,ia bisa menjadi sesuatu yang indah dan berguna".</p><p>Rara masih merasa ragu dengan kata-kata ayahnya. Suatu hari, di sekolahnya diadakan sebuah lomba keterampilan tangan, di mana setiap siswa harus membuat suatu karya dari bahan mentah. Tanpa pilihan lain, Rara pun meminta bantuan ayahnya.</p><p>Dengan sabar,pak Rahman mengajari Rara cara mengukir, menghaluskan, dan membentuk kayu menjadi sebuah miniatur rumah yang indah.</p><p>Awalnya, Rara merasa kesulitan, namun perlahan ia mulai memahami bahwa setiap goresan kecil memiliki arti dan membentuk sesuatu yang lebih besar.</p><p>Ketika hasil akhirnya selesai, Rara terkejut.miniatur rumah yang ia buat bersama ayahnya terlihat sangat indah dan penuh detail. Dengan bangga ia membawa karyanya kesekolah dan ternyata berhasil memenangkan perlombaan. Guru-guru dan teman-temannya memuji keterampilan Rara, dan ia baru menyadari betapa berharganya keahlian yang dimiliki ayahnya.</p><p>Sejak saat itu, pandangan Rara terhadap ayahnya berubah.ia tidak lagi merasa malu dengan pekerjaan ayahnya, justru ia semakin bangga.ia mulai memahami bahwa setiap pekerjaan, sekecil apapun, memiliki nilai tersendiri jika di kerjakan dengan ketulusan dan keterampilan</p><p>Suatu malam, Rara berkata kepada ayahnya, "ayah, aku ingin belajar lebih banyak tentang pertukangan. Aku ingin bisa membuat sesuatu dengan tanganku sendiri, seperti ayah."</p><p>Pak Rahman tersenyum haru."tentu,nak.aku akan mengajarimu dengan senang hati".</p><p>Sejak kejadian itu, Rara tidak lagi memandang rendah pekerjaan ayahnya.lya belajar bawal kesuksesan bukan hanya tentang kekayaan, tetapi juga tentang kerja keras, dan kemampuan untuk melihat nilai dalam hal-hal sederhana.</p><p>Jika tumbuh menjadi seseorang yang sukses, namun ia tidak pernah melupakan ajaran ayahnya. Setiap kali ia melihat kayu mentah, ia selalu teringat bagaimana sesuatu yang tampak sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang luar biasa ditangan orang yang</p><p>tepat.</p><p><br/></p><p>nama kelompok: </p><p>Kuriding</p><ol><li><p>M. Rizki</p></li><li><p>Ana Malisa</p></li><li><p>Arcahya Kalila Sadewo </p></li></ol><p><br/></p>]]></description>
         <enclosure url="" />
         <pubDate>2025-04-23 13:44:14 UTC</pubDate>
         <guid>https://padlet.com/peserta00872/mc51ji9qlzq59et7/wish/3421573181</guid>
      </item>
   </channel>
</rss>
